194 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD rakyat khas Lombok yakni cerita putri mandalika. Yang mana penggabungan kata ini berasal dari kolaborasi antara model pembelajaran dan juga cerita putri mandalika. Dapat diartikan bahwa matic story putri mandalika merupakan model pembelajaran yang membuat siswa bisa mengembangkan rasa percaya diri juga keberanian mereka dalam berbicara ataupun bercerita dan menambah pengetahuan mereka tentang cerita yang ada di daerah mereka sendiri yang mana didalam cerita tersebut terkandung nilai-nilai kehidupan yang melekat di dalam kehidupan masyarakat seperti nilai kebaikan, budi pekerti, dan lainnya Model pembelajaran matic story putri mandalika ini yang diterapkan pada KD 3.5 yang berbunyi menguraikan pendapat pribadi tentang isi buku sastra (cerita, dongeng, dan sebagainya), dan juga KD 4.5 yakni mengomunikasikan pendapat pribadi tentang isi buku sastra yang dipilih dan dibaca senduru secara lisan dan tulis yang didukung oleh alasan. Dengan hadirnya KD tersebut mengisyaratkan bahwa cerita yang diangkat mampu digunakan untuk mengunggkapkan pendapat pribadi siswa, sehingga model pembelajaran ini akan mengangkat tema yang berkaitan dengan cerita rakyat yang ada di daerah Lombok, seperti cerita putri mandalika dan lain sebagainya. Adapun Langkah-langkah dalam model pembelajaran matic story putri mandalika adalah sebagai berikut: a. Guru membuka pembelajaran. Disini siswa diajak oleh guru untuk sama-sama membuka pelajaran dengan berdoa bersama menurut kepercayaan masingmasing b. Guru menjelaskan materi yang akan dipelajari. Pada tahapan ini siswa menyimak ataupun bertanya bila ada masalah yang tidak dimengerti disaat guru memberikan penjelasan tentang materi yang dibahas pada saat itu
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 195 c. Guru menyiapkan sebuah tongkat dan menyiapkan nama-nama siswa yang akan berperan dalam cerita tersebut. Setelah membahas materi guru akan menyiapkan tongkat dan nama siswa yang akan diberikan tugas seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. d. Guru kemudian berjalan menuju siswa dan memberikan siswa tongkat, setiap siswa yang mendapatkan tongkat akan bertugas sesuai dengan peran yang diberikan oleh guru. Pada tahapan ini e. Setelah itu guru kembali menjelaskan setiap tugas yang sudah diberikan f. Guru mengarahkan setiap siswa untuk mencari naskah cerita yang akan dipelajari di internet ataupun ditempat lainnya, ini akan membuat siswa bertanggung jawab atas tugas yang diberikan g. Guru juga menyuruh siswa untuk membaca dan menulis kembali naskah cerita yang sudah dicari karna ini akan memungkinkan minat baca dan menulis siswa bisa dikembangkan h. Guru memeberikan kebebasan kepada siswa untuk berimajinasi ataupun mencontohkan peran yang diperagakan baik di rumah maupun didalam kelas sebelum mempraktikkan cerita tersebut i. Guru membimbing semua siswa untuk mempraktikan naskah cerita yang sudah didapatkan j. Guru memberikan kesimpulan kepada siswa tentang cerita tersebut k. Guru melakukan evaluasi/penilaian l. Guru menutup pembelajaran Prediksi Pengimplementasian Matic Story Putri Mandalika Pengimplementasian model matic story putri mandalika dalam proses pembelajaran akan menjadikan siswa aktif dan juga terpacu untuk membangkitkan rasa percaya diri dan keberanian siswa dalam mengungkapkan ide-ide kreatifnya yang masih tersimpan dalam pikiran mereka dan juga
196 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD menumbuhkan pendidikan karakter siswa. Hal ini disebabkan karena siswa didorong untuk berpikir secara kreatif yang mana juga mendayagunakan pikiran siswa sebagai proses pemerolehan informasi dari apa yang sudah mereka ketahui. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran Matic Story putri mandalika membuat siswa lebih aktif dan antusias pada saat kegiatan pembelajaran, hal tersebut terjadi karena siswa belajar dengan cara individu ataupun berkelompok, serta dengan menggunakan model pembelajaran tersebut dapat merangsang pemikiran siswa untuk mengungkapakan ide/gagasannya mengenai sebuah pokok bahasan, kemudian siswa dapat membaca dan menuliskan kalimat dan menjelaskannya setelah memahahi materi yang telah dipelajari. Penerapan model pembelajaran ini dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Model pembelajaran matic story putri mandalika ini juga akan menjadikan siswa lebih mengenal budaya yang ada di Lombok, hal ini disebabkan karena siswa diminta untuk mencari tahu tentang cerita rakyat atau budaya yang ada di Lombok. Tak hanya terbatas pada mencari tahu saja, namun dampak yang diberikan pada model ini yakni menambah minat membaca dan menulis siswa juga melatih keberanian siswa dalam mengemukakan pendapatnya dan mengetahui nilai-nilai nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan pelajaran, pandangan hidup dan lain sebagainya. Diperkuat dengan pendapatnya Aisyah Puspita Sari, M. Nasirun, Anni Supraptidalampenelitianyangberjudul“penerapanmediatalkingstickuntuk meningkatkan keterampilan berbicara anak usia dini di Tk Pertiwi 1 Kota Bengkulu” Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada anak kelompok B2 TK Pertiwi 1 Kota Bengkulu dapat disimpulkan bahwa: (1) Kegiatan
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 197 pembelajaran menggunakan media talking stick dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak yang meliputi aspek ketepatan pengucapan (pelafalan), kenyaringan suara, pilihan kata, sikap tubuh, ekspresi dan pandangan dan kelancaran berbicara yang dapat meningkatkan aspek perkembangan bahasa anak dengan baik. (2) Kegiatan pembelajaran menggunakan media talking stcik dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak, terbukti pada siklus I keterampilan berbicara anak mencapai nilai rata-rata 3,31 dengan kriteria cukup, dan meningkat pada siklus II mencapai nilai rata-rata 4,44 dengan kriteria baik. Maka berdasarkan uraian di atas dan juga diperkuat dengan temuan dalam penelitian di atas, maka matic story putri mandalika ini akan mampu meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas IV. Di mana siswa akan memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapat pribadinya melalu model ini. Model ini juga memberikan rasa percaya diri siswa dalam proses mengemukakan pendapat pribadi untuk mengasah keterampilan berbicaranya, karena model ini mampu menjadikan siswa merasa nyaman dan menyenangkan selama proses pembelajaran
198 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Daftar Pustaka Aisyah Puspita Sari, Nasirun. M , Suprapti. A. (2017) Penerapan Media Talking Stick Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Di Tk Pertiwi 1 Kota Bengkulu. Jurnal Ilmiah Potensia, Vol. 2 (2), 126-130 Bunanta, M. (1998). Problematika: Penulisan Cerita Rakyat di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Dany Arya Pratama. 2020. Perancangan Buku Pop Up Cerita Rakyat Lombok Putri Mandalika. Skripsi. Program studi desain komunikasi visual Fakultas teknik dan desain Universitas Bumigora Mataram Fathurrohman, Muhammad. (2015). Model-Model Pembelajaran Inovatif: Alternatif Yang Menyenangkan. Jogjakarta: Ar-Ruzz media. Firmansyah, M. B. (2017). Model Pembelajaran Diskusi Berbasis Perilaku Berliterasi Untuk Keterampilan Berbicara. Jurnal Ilmiah Edukasi & Sosial, Volume 8, Nomor 2, September 2017, hlm. 119–125 Hajar, Gde Artawan, I Nengah Suandi. 2020. Penerapan Metode Talking Stick Berbantuan Media Visual Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Teks Eksposisi. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia, Vol 9 No 1, Maret 2020 Mawar Sri Wulan Br. Sibuea1. Dian Syahfitri. 2018. Metode Tongkat Berbicara (Talking Stick) dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara Menanggapi Cerita Pendek. Jurnal Penelitian dan Pengembagan Sains dan Humaniora, Vol 2(1) April 2018, h. 30-35 Ni Ketut Trianti Lestari, Mg. Rini Kristiantari, Ni Nyoman Ganing (2017). Pengaruh Model Pembelajaran Talking Stick Berbantuan Lagu Daerah Terhadap Hasil Belajar IPS. Journal of Education Research and Evaluation. Vol.1 (4) pp. 290-297. Retnawati, H. (2016). Pertama Dalam Hambatan Guru Matematika Sekolah Menerapkan Kurikulum Baru. Jurnal Menengah Cakrawala Pendidikan, 3(3), 390–403.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 199 Shoimin, Aris. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz media. Sri Rezki Maulina Azmi. (2019). Peningkatan Keterampilan Berbicara Menggunakan Metode Bercerita Siswa Kelas V Sekolah Dasar. JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH ISSN 2615 – 4307 (Print) February 2019, II (1): 7 – 11. Sri Wahyuni, dkk. (2013). Penerapan Metode Talking Stick Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas IV Di SDN Posona. Jurnal Kreatif Tadulako Online (Vol.1 NO.1, 2018) Ummul, khair. (2018). Pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra (BASASTRA) di SD dan MI. AR-RIAYAH : Jurnal Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 1.
200 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD BAGIAN XII BIBO SAS BAGI PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN Resy Ardiansyah, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Membaca merupakan salah satu keterampilan bahasa yang penting bagi kehidupan manusia. Pembelajaran membaca sebaiknya diajarkan sejak dini agar anak mampu membaca dan melaksanakan kegiatan sehari-hari dengan baik (Santrock 2007). Selain berguna bagi kehidupan, membaca juga penting untuk memperoleh pengetahuan yang sangat luas Aulia, dkk (2019, hlm. 964). Membaca menjadi salah satu alat komunikasi bagi anak untuk dapat menyerap pengetahuan yang diajarakan, baik di sekolah maupun di rumah. Selain itu dengan membaca wawasan anak akan bertambah luas. Pada kelas rendah, membaca merupakan suatu hal yang sulit dan susah untuk dijelaskan. Dalam meningkatkan kemahiran dalam membaca permulaan bagi siswa kelas rendah ada banyak model dan media pembelajaran yang dapat diterapkan salah satunya Bibo SAS. Tujuan dari penulisan ini untuk mendeskripsikan media pembelajaran Bibo SAS dalam upaya meningkatkan membaca permulaan siswa kelas 1. Bibo SAS merupakan penggabungan antara media Big Book dengan bantuan metode SAS di dalamnya. Media Bibo SAS ini, dikemas sedemikian rupa dan menarik agar menambah minat membaca bagi siswa dengan disertai dengan gambar-gambar yang menarik serta dengan penulisan yang sesuai dengan metode SAS itu sendiri. Ada beberapa manfaat dalam menggunakan media Bibo SAS ini diantaranya: 1) Pembelajaran jauh lebih menarik dengan adanya bantuan media pembelajaran; 2) Media dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik; 3) Ukuran media yang besarsehingga lebih jelas terlihat; 4) Ukuran huruf dan besar serta penambahan metode SAS menjadi nilai tambah dalam media Bibo SAS ini. Dengan media ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam meningkatkan minat membaca permulaan bagi siswa kelas rendah di sekolah dasar.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 201 Permasalahan Pembelajaran Menurut data statistik dari (UNESCO) pada tahun 2017, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi yang rendah. Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat terakhir diisi oleh Botswana. Sedangkan Finlandia menduduki peringkat pertama dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100%. Selain itu, data penelitian Internasional The Programme for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2015, bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia berada pada peringkat ke 64 dari 72 negara. Skor rata-rata membaca yang diperoleh siswa Indonesia adalah 397, dengan skor rata-rata Internasional 496. Data ini menunjukkan bahwa kemampuan dalam membaca siswa Indonesia di dunia Internasional masih rendah. Oleh karena itu pembelajaran membaca sangat penting diajarkan sejak dini supaya anak mampu membaca dan memahami kegiatan apa yang akan dilakukan dalam sehari-harinya. Sesuai dengan data tersebut, dilapangan banyak ditemukan anak-anak yang enggan membaca buku. Salah satu alasan mereka tidak tidak mau membaca karena mengalami kesulitan dalam membaca. Literasi berbahasa berfokus pada pengembangan keterampilan dasar individu untuk memahami dan menggunakan keterampilan berbahasa seperti keterampilan berbicara, membaca, menulis, dan menyimak sebagai bagian yang integral Rahman (2018, hlm. 14). Literasi ini penting untuk dikuasai siswa karena bahasa untuk alat berkomunikasi, mengekspresikan perasaan, dan memahami suatu gagasan. Untuk mendapatkan keterampilan literasi tersebut, perlu latihan sejak dini. Sebagaimana pendapat Hartati. (2015, hlm. 145) yang menyatakan bahwa keterampilan membaca diperoleh seseorang ketika mereka memasuki pendidikan formal serta pembelajaran utama dan pertama bagi siswa sekolah dasar di kelas awal. Keterampilan membaca permulaan diberikan saat anak
202 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD berada di kelas rendah, di sekolah dasar. Keterampilan ini penting diberikan di awal karena dapat mendukung terlaksananya proses pembelajaran, memahami bidang studi lain, dan sebagai dasar bagi keterampilan membaca lanjut. Usia ideal untuk mengenalkan bacaan adalah dari empat setengah sampai enam tahun Hainstock (dalam Kurniaman, 2017, hlm 150). Inilah saatnya mengalihkan dengan mudah minat anak dalam bahasa lisan. Marlina (2017, hlm. 410) menyatakan bahwa kesulitan- kesulitan umum yang dihadapi anak dalam belajar membaca adalah: (1) pramembaca pada umumnya kesulitan anak dalam kurangnya memahami huruf; (2) membaca suara, kesulitannya pada (a) membaca kata demi kata, (b) pemarafrasean yang salah, (c) kesalahan pengucapan, (d) penghilangan, (e) pengulangan, (f) pembalikan, (g) penggantian, dan (3) pemecahan kode (dekoding) yang meliputi (a) kesulitan konsonan, (b) kesulitan vokal, (c) kesulitan kluster, diftong, digraf, (d) kesulitan menganalisis struktur kata, dan (e) tidak mengenali makna kata dalam kalimat. Oleh sebab itu, guru harus memberikan upaya yang terbaik agar siswa memperoleh kemampuan membaca yang baik. Masalah lain yang berkaitan dengan cara menyampaikan pembelajaran adalah masih terdapatnya pembelajaran yang lebih berpusat pada guru dibandingkan siswa. Hal ini dapat dipahami bahwa dengan karakter siswa yang cenderung aktif, guru memilih menggunakan metode yang menjadikan siswa diam di kursi masing-masing sambil menghafal huruf-huruf. Dengan metode seperti itulah, siswa merasa pembelajaran membaca permulaan jadi membosankan dan sulit dipahami. Wajar apabila dikemudian hari siswa menjadi malas membaca. Metode yang kurang kreatif dan tidak melibatkan siswa, serta tidak ada media yang digunakan, merupakan kendala yang harus diatasi agar dapat
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 203 menjawab tantangan di era persaingan global yang penuh dengan informasi sekarang ini. Untuk menuju masyarakat yang memiliki kegemaran membaca yang tinggi tentunya harus diawali pengajaran membaca yang menunjukkan kesan menyenangkan, sehingga pengajaran membaca permulaan adalah awal untuk menanamkan pandangan tersebut. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan maka dibutuhkan sebuah inovasi dalam pembelajaran guna peningkatan membaca permulaan di kelas rendah. Solusi yang dapat diterapkan yakni dengan penggunaan media Bibo SAS. Media Bibo SAS sendiri merupaka pengkolaborasian antara media Big Book dengan motode SAS. Media Bibo SAS ini dikembangkan dengan harapan dapat meningkatkan minat membaca dan mengatasi permasalahan dalam membaca permulaan di keklas rendah. Teori Konseptual Bibo SAS Media pembelajaran Bibo SAS merupakan media pembelajaran yang mengkolaborasikan antara media Big Book dengan menggunakan metode SAS dengan tujuan dapat meningkatkan membaca permulaan siswa kelas 1 di sekolah dasar. Berikut teori yang mendukung media pembelajaran ini. a. Membaca Permulan Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal yang diharapkan bagi anak dapat mendukung terhadap kemampuan anak, meliputi kesanggupan, kecakapan, kekuatan untuk berusaha dengan diri sendiri. (Partijem, Mohammad Zain, Milman Yusdi, 2017). Kegiatan membaca dalam memperoleh pengetahuan terdiri dari beberapa aktivitas. Keterampilan membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Pada kelas-kelas dasar yang dikenal dengan istilah membaca permulaan. Penekanan
204 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD membaca pada tahap ini adalah perseptual yaitu pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa. Hal yang diutamakan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas adalah agar siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan tepat dan lancar. (Alfiahesty Choirotun Nafiah, Farida Rahim, 2016). Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan. Membaca permulaan merupakan proses keterampilan kognitif. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang morfem. Sedangkan proses kognitif menunjuk pada pengguanaan lambanglambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat. b. Metode SAS (Struktural Analitik Sistetik) Metode SAS adalah suatu metode yang diawali secara keseluruhan yang kemudian dari keseluruhan itu dicari dan ditemukan bagian-bagian tertentu dan fungsi-fungsi bagian itu. Setelah mengenal bagian-bagian serta fungsinya kemudian dikembangkan pada struktur totalitas seperti penglihatan semula. Metode SAS dapat merangsang anak didik untuk melibatkan diri secara aktif, karena anak didik selain mendengarkan, melafalkan, dan mencatat, juga mempergunakan alat peraga. Metode Struktur Analisis Sintaksis (SAS) merupakan metode membaca permulaan yang dalam operasionalnya memiliki langkah membaca secara struktur, analisis, dan sistaksis. Menurut Solchan (2009), metode Struktural Analitik Sintetik merupakan metode yang mengawali pembelajarannya dengan menampilkan dan memperkenalkan sebuah kalimat utuh. Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil yang disebut
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 205 kata. Proses analisis atau penguraian ini terus berlanjut hingga sampai pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf. Dipilihnya metode SAS karena siswa mulai melafalkan huruf,suku kata, kata, dan kalimat sederhana dengan menggunakan vokal, lafal dan intonasi yang tepat (Mulyati, 2009). Menurut Akhadiyah, dkk (1991) langkah-langkah metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) ini dilaksanakan dalam dua periode sebagai berikut: a. Periodemembaca permulaan tanpa buku, antara lain: (1) merekambahasa anak; (2) bercerita dengan gambar; (3) membaca gambar; (4) membaca gambar dengan kartu kalimat; (5) proses struktural (s); (6) proses analitik (a); (7) proses sintentik (s) dan b. periode membaca dengan buku. Menurut Hairuddin, dkk (2007) menjelaskan bahwa proses penguraian atau penganalisisan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan Struktural Analitik Sintetik (SAS), meliputi: a) Kalimat menjadi kata-kata; b.) Kata menjadisuku-suku kata, dan; c) Suku kata menjadi huruf-huruf. Selanjutnya dari huruf, suku kata dan kalimat. Kelebihan metode SAS menurut Kurniasih dan Sani (2016) yaitu: (1) Metode ini dapat sebagai landasan berfikir analisis; (2) Dengan langkah-langkah yang diatur sedemikian rupa membuat anak mudah mengikuti prosedur dan akan dapat cepat membaca pada kesempatan berikutnya; (3) Berdasarkan landasan linguistik metode ini akan menolong anak dalam menguasai bacaan dengan lancar. Metode yang dijelaskan diatas bukanlah metode yang terbaik sebab “tidakadametodeterbaikdanjugatidak adametodeterburuk”.Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Metode yang terbaik adalah metode yang cocok dengan pemakaiannya, maksudnya yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa (Kurniaman, O 2016). c. Media Big Book
206 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Media buku besar (big book) adalah sebuah media pembelajaran yang berupa buku bacaan yang memiliki ukuran, tulisan, dan gambar yang besar. Media big book memiliki karakteristik khusus yang dibesarkaan, baik teks maupun gambarnya, sehingga memungkinkan terjadinya kegiatan membaca bersama antara guru dan murid. Guru dapat memilih big book yang isi cerita dan topiknya sesuai dengan minatsiswa atau sesuai dengan tema pelajaran. Bahkan, guru dapat membuat sendiri big book sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik”. (Umar Sulaiman, 2017). Media Big Book biasanya dicetak dengan ukuran besar. Ukuran besar yang dimaksud adalah ukuran A3 yang disajikan supaya lebih terlihat jelas. Terdapat kata-kata yang sesuai dengan nama gambar dengan ukuran huruf yang besar pula. Gambar yang ada di dalam media Big Book adalah gambar mengenai bagian-bagian tubuh manusia yang kata-katanya terdiri dari dua suku kata. Dengan membaca big book secara bersama-sama, timbul keberanian dan keyakinan dalam diri siswa bahwa mereka sudah bisa membaca, dapat mengembangkan semua aspek kebahasaan, dapat disekingi percakapan yang relevan mengena isi cerita bersama siswa sehingga topik bacaan semakin berkembang sesuai pengalaman dan imajinasisiswa. Penggunaan big book perlu mendapat perhatian khusus. Selain pembuatannya memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Big book pun membutuhkan pemikiran serius. Penggunaan di dalam kelar perlu diatur sehingga pembelajaran membaca dan menulis bisa menjadi efektif (Umar Sulaiman, 2017). Big book dapat melibatkan ketertarikan anak dengan cepat karena gambar yang dimilikinya, mengandung irama yang menarik bagi anak, memiliki gambar yang besar, ada tulisan yang diulang-ulang, memuat kosakata yang direncanakan dan sebagian diulangulang, mempunyai alur cerita yang
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 207 sederhana. (Sundari Septiyani, Nina Kurniah, Solehuddin, dkk, 2017). Media big book memiliki beberapa kelebihan yaitu: 1) memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat dalam situasi nyata dengan cara yang tidak menakutkan; 2) memungkinkan anak melihat tulisan yang sama ketika guru membaca tulisan tersebut; 3) memungkinkan anak secara bersama-sama dengan bekerjasama memberi makna pada tulisan didalamnya; 4) memberikan kesempatan dan membantu anak yang mengalami keterlambatan membaca untuk mengenali tulisan dengan bantuan guru dan teman lainnya; 5) mengembangkan semua aspek bahasa termasuk kemampuan keaksaraan dan pengungkapan bahasa; 6) dapat diselingi dengan percakapan yang relevan mengenai isi cerita bersama anak sehingga topik bacaan dan isi berkembang sesuai pengalaman dan imajinasi anak. (Sundari Septiyani, Nina Kurniah, Lynch, Madyawati, 2017) d. Media Pembelajaran Bibo SAS Media pembelajaran Bibo SAS merupakan salah satu inovasi dalam media pembelajaran yang mengkolaborasikan antara media Big Book dengan berbantuan Metode SAS di dalamnya. Media ini memiliki beberapa ciri sehingga mudah untuk diingat dan digunakan dalam berbagai materi yang relevan selama dalamupaya meningkatkan kesulitan membaca permulaan siswa kelas 1 sekolah dasar. Adapun ciri-ciri dari media Bibo SAS ini antara lain : a) Ukuran media yang besar dengan ukuran A3 b) Dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik c) Tulisan-tulisan yang besar d) Tulisan yang digabungkan dengan metode SAS Selain ciri-ciri tersebut, media Bibo SAS ini juga mempunyai karakteristik lain seperti penggunaan media yang tidak sulit, harganya yang terjangkau, serta proses pembuatan yang tidak rumit. Selain itu juga, media ini bisa dibawa
208 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD kamana saja karena tidak berat dan bisa digunakan baik pembelajaran didalam kelas maupun di luar kelas. Pengembangan Bibo SAS Media big book di Indonesia sudah digunakan di beberapa pelajaran dan jenjang pendidikan. Banyak peneliti yang mengembangkan media pembelajaran ini di tingkat Sekolah Dasar. Adapun penelitian yang terkait dengan pengembangan inovasi ini yaitu, penelitian yang dilakukan oleh Alfiah Fitriani, dkk (2018), bertujuan untuk membantu siswa dalam membaca permulaan dengan metode suku kata dengan bantuan media Big Book pada kelas 1. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa Hasil uji kelayakan media big book menunjukkan bahwa media big book sangat layak digunakan dalam pembelajaran dengan persentase penilaian ahli media sebesar 86,5%, dan dari ahli materi sebesar 80,3 %. Berdasarkan hasil belajar pretest dan posttest media big book efektif digunakan dalam pembelajaran, dengan hasil t-testsebesar 0,00 < 0,05 dan N-Gain sebesar 0,74 dengan kategori tinggi. Dapat disimpulkan bahwa media big book efektif terhadap keterampilan membaca permulaan dengan metode suku kata siswa kelas satu. Selain itu juga penelitian serupa dilakukan oleh Khoirun Nisa dan Ganes Gunansyah pada tahun 2017 dalam Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar (volume 05 nomor 03) dengan judul“Penggunaan Media Pembelajaran big book Terhadap Kemampuan Literasi Informasi Siswa Kelas V SDN I Cerme Kidul Gresik. Penelitian ini dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas di kelas V SDN 1 Cermai Kidul Gresik”. Penggunaan media big book dalam upaya meningkatkan keterampilan memahami literasi menunjukkan hasil yang memuaskan. Dengan hasil peningkatan yang baik setelah menggunakan media big book untuk
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 209 membantu pembelajaran di SD. Hal ini terbukti dari hasil post test jauh lebih besar dari hasil pre test.Sehingga didapatkan hasil post test di kelas eksperimen lebih besar daripada hasil post test di kelas kontrol, yang membuktikan bahwa siswa telah dapat dan mampu dalam mengerjakan soal sesuai dengan informasi yang diperoleh serta mampu untuk mengaplikasikan informasi yang telah diperoleh melalui media pembelajaran big book. Berdasarkan hasil dari bebrapa peneliti yang dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan media Big Book sangan cocok dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan keterampilan membaca permulaan pada siswa kelas 1 Sekolah Dasar, namun dalam pengembangannya media big book yang penulis kembangkan adalah dengan mengkolaborasikan antara media Big Book dengan metode SAS (Struktural Analitik Sintetik). Pengunaan media dalam pembelajaran dapat membantu siswa dalam memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat mempermudah siswa dalam memahami sesuatu. Dalam meningkatkan keterampilan membaca permulaan pada kelas rendah dengan menggunakan media big book dengan metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif karena adanya penggunaan media dan metode pembelajaran yang tepat.
210 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Gambar 5. Media Bibo SAS Media Bibo SAS sendiri merupakan media pembelajaran yang bisa diciptakan oleh guru dengan mengkolaborasikan media Big Book dengan metode SAS yang disesuikan dengan materi serta siswanya. Adapun pengembangan yang dilakukan pada media Bibo SAS adalah dengan memberikan gambar serta tulisan yang besar sehingga memudahkan siswa dalam mengenali huruf, mengeja ataupun membacanya. Selain itu juga, dibuat cerita pendek yang menarik yang dapat dinyayikan agar siswa lebih aktif dan bersemangat dalam belajar membaca permulaan. Selain itu juga bentuk tulisan yang menggunakan metode SAS di dalamnya, dapat mempermudah dalam membaca permulaan bagi siswa kelas 1 sekolah dasar. Adapun yang membedakan media Bibo SAS ini dengan media Big Book pada umunya adalah pada bentuk tulisan yang ada di dalam buku tersebut. Dalam Bibo SAS setiap lembarnya memiliki gambar yang sama namun bentuk tulisan serta ukurannya yang berbeda sesuai dengan metode SAS itu sendiri yang mana pada gambar
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 211 pertaman dituliskan dengan kalimat yangutuh, lembar kedua dituliskan persuku kata, kemudian di lembar ketiga diuraikan menjadi per huruf. Sehingga dengan demikian, diharapkan siswa mampu meningkatkan keterampilan membaca permulaannya. Prediksi Pengimplementasian Media Bibo SAS Pengimplementasian media Bibo SAS dalam proses pembelajaran akan menjadikan siswa aktif dan juga tertarik dalam mengikuti disetiap aktivitas pembelajaran yang dirancang oleh guru. Hal ini disebabkan dengan adanya media pembelajaran yang menarik yang disertai dengan gambar-gambar yang menarik dan tulisan yang besar. Media pembelajaran ini juga akan mengatasi kejenuhan dan kesulitan siswa dalam proses pembelajaran khususnya pada membaca permulaan kelas 1 sekolah dasar. Sebelum pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan media Bibo SAS dilaksanakan, guru harus menyiapkan atau menyediakan RPP yang telah dibuat diimplenetasikan pada kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Materi yang diberikan adalah teks kalimat sederhana tentang membaca permulaan dengan tema diriku. Adapun langkah-lagkah dalam pembelajaran dengan menggunakan media Bibo SAS sebagai berikut. a. Pertama, Guru Membuka Kelas Pada langkah ini, guru membuka kelas dengan memberikan salam kepada siswa. Selain itu juga guru menanyakan kabarserta kesiapan siswa dalam melaksanakan proses pelajara. Guru juga bisa melakukan ice breaking agarsiswa lebih bersemangat dan lebih tertarik dalam mengikuti pembelajaran lalu diikuti dengan guru mengabsensi kehadiran siswa. b. Kedua, Guru Memberikan Apersepsi Pada langkah ini, guru memperlihatkan media Bibo SAS yang telah dibuat. Lalu guru mengajak siswa untuk melihatserta menanyakan siswa gambar
212 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD cover apa yang dilihat dari media tersebut yaitu gambar manusia. Selanjutnya guru mengaitkan gambar yang dilihat siswa dengan diri siswa serta mengajak dan memperkenalkan siswa nama-nama da bagian bagian dalam tubuh manusia. Pada tahap ini bisa diselingi dengan aktifitas bermain seperti kepala pundak lutut kaki sembari diperagakan. c. Ketiga, Guru Membagi Kelompok Pada langkah ini, guru melakukan pembagian kelompok sebanyak media Bibo SAS yang telah dibuat. Pembuatan kelompok dibuat dengan tujuan supaya media yang dibuat dapat dilihat jelas dan digunakan oleh siswa, serta pengondisian yang lebih tertib dan optimal. Selain itu juga dengan berkelompok, siswa lebih percaya diri dan melatih kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan. d. Keempat, Guru Menjelaskan Materi Pada tahap ini, pembelajaran dimulai dengan siswa mendengarkan dan mengamati penjelasan dari guru mengenai materi ajar yang akan di sampaikan yaitu dimulai dengan guru bercerita tentang yang ada di anggota tubuh manusia. Inti kegiatan pembelajaran adalah guru memberikan contoh membaca permulaan dengan suara nyaring dan menggunakan intonasi yang jelas, kemudian siswa mengikuti. Guru memberikan contoh membaca permulaan sesuai denga langkah-langkah yang digunakan yaitu metode SAS dimulai dari membaca kalimat utuh (Tubuhku), kemudian menguraikan kata menjadi suku kata (Tu- buh-ku), kemudian menguraikan suku kata menjadi huruf (T-U-B-U-HK-U) lalu menggabungkan huruf menjadi suku kata kata (Tu- buh-ku) dan – menggabungkan suku kata menjadi kelimat utuh (Tubuhku). e.Kelima, Melatih Membaca Permulaan
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 213 Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan sebelumnya dilakukan secara berulang. Siswa dan guru melakukan tanya jawab terkait membaca kalimat sederhana dengan membaca permulaan menggunkan metode SAS tersebut. Untuk memahami lebih lanjut siswa berdiskusi dengan teman sebangkunya mendiskusikan bagaimana membaca yang baik dan benar terkait dengan teks kalimat sederhana yang telah dicontohkan oleh guru sebelumnya. Kemudian guru menunjuk salah satu siswa yang berani mencoba membaca kalimat sederhana tersebut menggunakan suara nyaring dan intonasi yang jelas. Sekiranya semua siswa sudah cukup paham membaca kalimatsederhana dengan metode SAS guru memberikan ujian mandiri tes lisan untuk mengukur kemampaun membaca permulaan siswa setiap individu dengan menggunakan metode SAS. f. Keenam, Tahap Penilaian dan Evaluasi Pada tahap ini, seperti yang sudah dicontohkan oleh guru sebelumnya siswa membaca kalimat sederhana yang disertai oleh gambar yang ada di media Bibo SAS yaitu gambar bagian anggota tubuh manusia dengan bertuliskan “Kaki Kiri”. Setiap siswa satu persatu maju ke depan kelas untuk membaca kalimat sederhana yang telah diberikan dan dicontohkan oleh guru sebelumnya. Kemudian guru melakukan penilain hasil belajar siswa yaitu kemampuan membaca permulaan pada setiap siswa yang maju. Penilaian yang dilakukan oleh guru adalah: a) Membaca kalimat utuh (Struktural). b) Menguraikan kalimat menjadi kata – suku kata – huruf(Analisis). c) Menggabungkan huruf menjadi suku kata – kata – kalimat utuh(Sintesis). d) Melafalkan dengan intonasi.
214 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Setelah melakukan tes uji lisan, guru melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan melibatkan siswa dengan cara bertanya jawab untuk perbaikan langkah selanjutnya dan melakukan evaluasi pembelajaran. g.Ketujuh, Mengakhiri Pembelajaran Pada tahap ini, setelah kegiatan pembelajaran selesai guru dan siswa menutup pembelajaran dengan membaca doa sesudah belajar yang dipimpin oleh ketua kelas. Sebelum guru meninggalkan kelas siswa diingatkan kembali untuk pembelajaran dipertemuan selanjutnya. Kemudian guru meninggalkan kelas dengan mengucapkan salam.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 215 Daftar Pustaka Akhadiah, S, dkk. (1991). Bahasa Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Aminah, S., & Yuliawati, F. (2018). Pengaruh Metode Struktur Analitik Sintetik (SAS) Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Kelas I Di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kleco 1 Yogyakarta. AL-BIDAYAH: Jurnal Pendidikan Dasar Islam. 10 (1), 1-16. Aulia, M., Adnan., Yamin M. (2019). Penggunaan big book dalam pembelajaran membaca permulaan di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu. 3 (3), 963-969. Fatriani, A., & Samadhy, U. (2018). PENGEMBANGAN MEDIA BIG BOOK TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN METODE SUKU KATA. Joyful Learning Journal, 1-9. Hairuddin, dkk. (2007). Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Hartati, T & Cuhariah, Y. (2015) Pendidikan bahasa dan sastra indonesia di sekolah dasar kelas rendah. Bandung: UPI Press. Kurniaman, O., & Noviana, E. (2017). Metode Membaca SAS (Struktural Analitik Sintetik) Dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Di Kelas I SD 79 Pekanbaru. Jurnal Primary Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. 5 (2). 149-157. Kurniasih, I & Sani, B. (2016). Ragam Pengembangan Model Pembelajaran. Jakarta: Kata Pena. Marlina, R. (2017). UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA MELALUI METODE SCRAMBLE PADA PESERTA DIDIK KELAS 1 SD NEGERI 002 BENTENG KECAMATAN SUNGAI BATANG. Jurnal Primary Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, 6(2), 409-418 Mulyati, Y. (2009). Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.
216 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Nafiah, Alfiahesty Choirotun. (2016). PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI METODE SCRAMBLE KALIMAT SISWA KELAS II SDN 1 SEDAYU. Jurnal Yogyakarta: Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 24 Tahun ke-5. Nisa, Khoirun & Gunansyah, Ganes. (2017). Penggunaan Media Pembelajaran Big book Terhadap Kemampuan Literasi Informasi Kelas V SD N 1 Cereme Kidul Gresik. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 5 (1): 1374. Partijem. 2017. Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Flannel Pintar Kelompok A Tk Negeri Pembina Bantul., Jurnal Pendidikan Anak, Volume 6, Edisi 1 PISA. (2015). Programme for International student assesment PISA. Rahman. (2018). Kecakapan Literasi di sekolah Dasar: Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Santrock, J. W. (2017). child Development. Boston:Mc graw-Hill. Septiyani, Sundari., Kurniah, Nina. 2017. Pengaruh Media Big Book Terhadap Kemampuan Berbicara pada Anak Usia Dini, Jurnal Potensia, PGPAUDFKIPUNIB, V o l . 2 N o . 1 Solchan, T.W. (2009). Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Sulaiman, Umar. 2017. Pengaruh Penggunaan Media Big Book Dalam Pembelajaran Terhadap Keterampilan Literasi Siswa Kelas Awal Madrasah Ibtidaiyah Negeri Banta-Bantaeng Makassar Jurnal al-Kalam .Vol. IX No. 2.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 217 BAGIAN XIII PEMANFAATAN MEDIA AIR POPUDUS BERBASIS FIKSI LOKAL BAGI PENINGKATAN SISWA BERPENDAPAT Hilwa Layyina, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Pendidikan di sekolah dasar memiliki peran penting karena merupakan tahapan perkembangan bagi pendidikan maupun pribadinya. Usia sekolah dasar kelas IV berada pada tahap operasional konkret. Di mana anak mampu memecahkan masalah yang bersifat konkret. Salah satunya dalam permasalahan pembelajaran adalah kemampuan berpendapat siswa dalam KD 3.5 menguraikan pendapat pribadi tentang isi buku sastra atau cerita fiksi pada kelas IV sekolah dasar. Untuk mengatasi hal tersebut peneliti mengembangkan Media AIR POPUDUS yang dihubungkan antara model dan media pembelajaran yang dikaitkan dengan cerita kearifan lokal KUDUS di dalam media tersebut terdapat permainan yang akan membuat siswa senang dan tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran. Penelitian ini sejalan dengan hasil dan dari jurnal penelitian lain yang berhubungan dengan variabel pada penelitian ini. Sehingga adanya peningkatan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media dan model pembelajaran berpengaruh terhadap kemampuan dan motivasi belajar siswa pada kelas IV SD pada muatan Bahasa Indonesia mengenai materi mengemukkan pendapat dalam cerita fiksi yang dikaitkan dengan kearifan lokal Kudus. Permasalahan Pembelajaran Seiring dengan perkembangan zaman dunia pendidikan pun harus ikut berubah. Guru sekarang dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pembelajaran. Guru kreatif adalah guru yang mampu menggunakan berbagai metode, media, model maupun pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Umumnya guru kreatif selalu peka terhadap
218 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD kebutuhan siswa. Guru kreatif akan selalu mengembangkan desain pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa. Guru kreatif tidak akan menyampaikan materi pembelajaran saja, tanpa memikirkan materi tersebut bisa terserap atau tidak oleh siswa. Suasana pembelajaran yang dilakukan bersama guru yang kreatif akan terasa menyenangkan dan jauh dari unsur membosankan. Sejauh ini masih jarang sekali ditemukan guru-guru yang menemukan inovasi pembelajaran. Lagi-lagi guru cukup menggunakan metode, media, model maupun pendekatan yang itu-itu saja dalam pembelajaran. Guru yang tidak mau kreatif dan inovatif adalah guru yang egois kafena tidak pernah mau memikirkan cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru yang egois juga tidak mau berfikir dengan pembelajaran yang monoton seperti itu apakah siswa bisa memahami pelajaran yang diberikan. Inovasi pembelajaran dinilai sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang aktif, efektif dan efisien. Ide, gagasan, tindakan yang dianggap baru dalam bidang tertentu, untuk memecahkan masalah yang muncul. Inovasi biasanya muncul karena adanya keresahan pihak tertentu (misalnya guru) tentang penyelenggaraan kegiatan (misalnya pembelajaran) dalam mengatasi masalah yang terjadi. Inovasi dalam pembelajaran ini penting untuk menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan efektif untuk mencapai tujuan-tujan pembelajaran. Sejauh ini, kegiatan pembelajaran di kelas seringkali dinilai menjadi sangat membosankan karena belum menggunakan model pembelajaran aktif, efektif, dan efisien. Guru masih menjadi pusat dari kegiatan pembelajaran. Dalam Pembelajaran terdapat siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran tidak hanya disebabkan penggunaan model melainkan media juga
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 219 . Sebagian guru dalam mengajar cenderung menggunakan metode ceramah dan guru kurang bisa menggunakan media yang tepat dalam pembelajaran, menggunakan media itu repot dalam pembelajaran dengan jadwal mengajar guru yang padat, kehadiran media dalam proses pembelajaran mempunyai arti yang cukup penting. Kesulitan materi yang akan disampaikan kepada siswa dapat dibantu dengan menggunakan media, selain itu penggunaan media dan bahan ajar yang akan menjadikan materi lebih menarik. Meskipun media dapat membantu siswa dan guru dalam proses pembelajaran, namun keberadaan media yang kurang tersedia di sekolah akan menjadi kendala bagi seorang guru dan ditambah lagi kurang tersedianya waktu dalam pembuatan media guru. Guru yang dalam menggunakan media tidak sesuai dengan materi yang diajarkan juga menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. Guru masih memakai atau menggunakan pembelajaran konvensional, dimana guru yang berperan aktif sementara siswa lebih banyak diam, mencatat dan mendengarkan sehingga pembelajaran menjadi monoton, sehingga motivasi belajar siswa kurang dan hasil belajar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia masih belum sesuai dengan harapan. Siswa tidak berkonsentrasi dalam menyimak pelajaran yang dijelaskan guru,hal ini di sebabkan kurangnya konsentrasi dan daya tarik dari cara atau metode dalam proses belajar mengajar. Model dan media pembelajaran yang di terapkan oleh guru tidak menarik perhatian murid, seharusnya guru menggunakan model dengan bantuan media pembelajaran sehingga anak lebih fokus. Teori Konseptual Media AIR POPUDUS Media AIR POPUDUS merupakan perpaduan antara model dan media pembelajaran, model pembelajaran AIR ialah model pembelajaran yang menganggap suatu pembelajaran yang efektif jika memperhatikan tiga hal yaitu
220 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Auditory, Intellectually and Repetition. Auditory berarti indera telinga digunakan dalam belajar dengan cara menyimak, berbicara, presentasi argumentasi, mengemukkan pendapat, dan menanggapi. Intellectually berarti kemampuan berpikir perlu dilatih melalui latihan benalar, menciptakan, memecahkan masalah, mengkonstruksikan, dan menerapkan. Repettion berarti pengulangan diperlukan dalam pembelajaran agar pemahaman lebih mendalam dan luas, siswa perlu dilatih melalui pengerjaan, soal pemberian tugas dan kuis. Sedangkan media POPUDUS merupakan media Pop Up Kudus seperti buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur tiga dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik, mulai dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamanya. Dalam media POPUDUS terdapat permaian ular tangga yang nantinya dalam media tersebut terdapat kartu soal yang materinya dikaitkan dengan cerita kearifan lokal yang ada di Kudus. Dari hubungan antara model dan media tersebut saling berhubungan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapat pribadi dalam cerita fiksi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang dikaitkan dengan cerita kearifan lokal yang ada di Kudus, adapun mengenai kajian konseptual yang terdapat dalam artikel ini sebagai berikut: a. Pengertian Bahasa Indonesia Bahasa merupakan suatu ungkapan yang mengandung maksud untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu yang dimaksudkan oleh pembicara bisa dipahami dan dimengerti oleh pendengar atau lawan bicara melalui bahasa yang diungkapkan. Kanzunnudin (2016:4) menjelaskan bahwa bahasa dinyatakan sebagai lambang bunyi yang arbitter, karena lambang-lambang bunyi tersebut adanya berdasarkan kesepakatan masyarakat pemakai bahasa yang bersangkutan.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 221 Setiap negara memiliki bahasa nasional, demikian pula bangsa Indonesia yang memiliki bahasa nasional yaitu Bahasa Indonesia yang memiliki fungsi khusus bagi bangsa Indonesia yaitu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama bangsa di Indonesia. Susanto (2013:242) menyatakan bahwa pembelajaran Bahasa Indoensia terutama disekolah dasar tidak akan terlepas dari empat keterampilan berbahasa, yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut harus dimiliki seseorang agar dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik, baik secra lisanmaupaun tertulis. Berdasarkan uraian pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa komunikasi bagi bangsa Indonesia yang dipakai untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama bangsa Indonesia. b. Materi Mengomunikasikan Pendapat Pribadi dari Cerita Fiksi Mengomunikasikan atau meyampaikan suatu pendapat merupakansalah satu aspek dari keterampilan bahasa dalam aspek berbicara. Dalam menyampaikan pendapat dimuka umum terbagi menjadi beberapa jenis. Salah satunya yaitu jenis berbicara untuk melaporkan. Tarigan (2015:30) menjelaskan bahwa berbicara untuk melaporkan dilaksanakan jika seseorang berkeinginan untuk: 1. Memberi atau menanamkan pengetahuan 2. Menetapkan atau menentukan hubungan-hubungan antar benda-benda 3. Menerangkan atau menjelaskan sesuatu proses 4. Menginterprestasikan atau menafsirkan sesuatu persetujuan atau pun menguraikan sesuatu secara tulisan. Berbicara merupakan alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik. Hal ini sesuai dengan tujuan berbicara menurut Tarigan (2015:16) yaitu unuk berkomunikasi. Dengan berkomunikasi kita dapat untuk saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan dan keinginan melalui sebuah kata. kemampuan
222 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD berbicara dalam mengemukakan atau mengkomunikasikan pendapat mampu memberikan siswa keberanian dalam berkomunikasi. Untuk mengungkapkan suatu pendapat siswa harus mempersiapkan apa yang akan disampaikan, siswa yang lainnya bisa mendukung argument yang disampaikan oleh temannya atau bisa juga memperluas komentar. Nurgiyantoro (2013:2) menjelaskan bahwa fiksi merupakan suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Fiksi diartikan sebagai cerita rekaan, namun tidak semua yang mengandung unsur rekaan disebut dengan karya fiksi. Wellek & Warren dalam Nurgiyantoro (2013:8) mengemukakan bahwa realitas dalam karya fiksi merupakan ilusi kenyataan dan kesan yang menyakinkan yang ditampilkan, namun tidak selalu merupakan kenyataan sehari-hari. Dunia fiksi banyak yang mengandung unsur berbagai kemungkinan dari pada kenyataan nyata, hal itu terjadi diakibatkan oleh kreativitas pengarang yang bersifat tidak terbatas. pengarang dapat mengkreasi dan memanipulais berbagai masalah kehidupan yang sedang dialaminya baik itu nyata maupun tidak nyata, sehingga pengarang dapat mengemukakan sesuatu atau menghasilkan sebuah karya yang hanya mungkin terjadi, dapat terjadi, walau secara faktual tidak pernah terjadi. c. Model Pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) Model pembelajaran AIR merupakan singkatan dari Auditory, Intellectually, Repetition. Gaya pembelajaran Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) merupakan gaya pembelajaran yang mirip dengan model pembelajaran Somatic, Auditory, Visualization, Intellectually (SAVI) dan pembelajaran Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK). Huda (2013:289) menytakan bahwa terdapat perbedaanya yang terletak pada pada pengulangan (Repetisi) yang
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 223 bermakna pendalaman, perluasan, dan pemantapan dengan cara pemberian tugas dan kuis (Huda, 2013:289). Shoimin (2014:29) menyatakan bahwa belajar bermodel auditory, yaitu belajar mengutamakan berbicara dan mendengarkan. Gaya belajar auditorial adalah gaya yang mengakses segala jenis bunyi dan kata, baik yang diciptakan maupun diingat. Maka guru sebaiknya melakukan hal-hal berikut ini, seperti: (1) melakukan diskusi kelas atau debat, (2) meminta siswa untuk presentasi, (3) meminta siswa untuk membaca teks dengan keras, (4) meminta siswa untuk mendiskusikan ide mereka secara verbal, (5) melaksanakan belajar kelompok (Huda, 2013:290). Meier (2013:95) mengatakan bahwa pikiran auditory kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita terus-menerus menangkap dan menyimpan informasi Auditory, bahkan tanpa kita sadari. Dan ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting otak kita menjadi aktif. Menurut Meier (20013:99) intelektual adalah penciptaan makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk berpikir, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru, dan belajar. Intellectually juga bermakna belajar haruslah menggunakan kemampuan berfikir, konsentrasi, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengontruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan (Shoimin, 2014:29). Repetition merupakan pengulangan dengan tujuan memperdalam dan memperluas pemahaman siswa yang perlu dilatih melalui pengerjaan soal, pemberian tugas, dan kuis (Huda, 2013:291). Pengulangan dalam kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar pemahaman siswa lebih mendalam, disertai pemberian soal dalam bentuk tugas latihan atau kuis. Melalui pemberian tugas diharapkan siswa lebih terlatih dalam menggunakan pengetahuan yang didapat untuk menyelesaikan soal dan mengingat apa yang telah diterima. Sementara pemberian kuis dimaksudkan agar siswa siap menghadapi ujian atau tes yang
224 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD dilaksanakan sewaktu-waktu serta melatih daya ingat dari siswa (Shoimin, 2014:30). Jika guru menjelaskan suatu unit pelajaran, guru harus mengulangnya dalam beberapa kali kesempatan. Ingatan siswa tidak selalu stabil, karena itu siswa mudah lupa dengan materi yang sudah diajarkan. Untuk itulah guru membantu mereka dengan pengulangan pelajaran yang sedang atau sudah dijelaskan. Pelajaran yang diulang akan memberi tanggapan yang jelas dan tidak mudah dilupakan, sehingga siswa bisa dengan mudah mengingat materi pelajaran yang diajarkan. Pengulangan bisa diberikan secara teratur, pada waktu-waktu tertentu, atau setiap kali materi pelajaran selesai diberikan maupun pada saat-saat tertentu jika dianggap perlu (Slamet dalam Huda, 2013:291-292). Adapun langkah-langkah pembelajaran AIR (Auditory, Intellectually, Repetition) menurut Shiomin (2014:30) sebagai berikut: a) Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. b) Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru. c) Setiap kelompok mendiskusikan tentang materi yang mereka pelajari dan menuliskan hasil diskusi tersebut dan selanjutnya untuk dipresentasikan di depan kelas (Auditory). d) Saat diskusi berlangsung siswa mendapat soal atau permasalahan yang berkaitan dengan materi. Masing-masing kelompok memikirkan cara menerapkan hasil diskusi serta dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah (Intellectually). e) Setelah selesai berdiskusi, siswa mendapat pengulangan materi dengan cara mendapatkan tugas atau kuis untuk tiap individu (Repetition). Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan seperti halnya pada model pembelajaran AIR.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 225 Berdasarkan uraian tentang model pembelajaran AIR (Auditory, Intellectual, Repetition) tersebut peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran AIR (Auditory, Intellectual, Repetition) sangat tepat dan efektif diterapkan pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV. Karena model pembelajaran AIR merangsang siswa untuk belajar secara efektif melalui proses auditory, membantu siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan membangun pengetahuannya, selain itu melalui model AIR siswa dapat mempelajari materi pelajaran secara lebih mendalam melalui kuis maupun pengerjaan soal sebagai proses pengulangan. d. Media POPUDUS (Pop Up Kudus) Media pembelajaran sangat dibutuhkan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran untuk membantu siswa dalam memahami materi. Arsyad (2016:3) menjelaskan bahwa media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah bearti ‘tengah’, ‘perantara’, ‘pengantar’. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Ringkasnya media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesanpesan pembelajaran. Hal ini diperkuat dengan penjelasan Sadiman (2014:6) menyatakan media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan yang dimaksud yaitu sebuah bahan atau meteri dalam pembelajaran yang disampaikan oleh guru kepada siswa. Dalam proses belajar mengajar, kehadiran media sangat membantu dan cukup penting dalam kegiatan proses pembelajaran. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang di sampaikan dapat di bantu dengan kehadiran media. Briggs dalam Sadiman (2014:06) menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Dengan demikian, siswa akan mudah memahami materi jika ada bantuan media dari pada hanya teori – teori saja.
226 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Media Pop Up merupakan sebuah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur tiga dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik, mulai dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka Dzuanda dalam Dewanti, Toenlioe, Soepriyanto (2018:222). POPUDUS ini dirancang dengan kreasi sekreatif mungkin sehingga mampu menumbuhkan minat belajar siswa yang akan berdampak pada hasil belajar siswa. Juga akan membantu guru supaya siswa dapat mengimplementasikan contoh menjadi lebih konkrit. Dalam penerapan media pembelajaran POPUDUS, permainan media tersebut mengaitkan pembelajaranya dengan materi kearifan lokal atau budaya yang ada di Kudus. Sehingga siswa dalam pembelajaran juga mengetahui materi tentang cerita fiksi yang dikaitkan mengenai kearifan lokal yang ada di Kudus. Adupun langkah-langkah penggunaan media yang dihubungkan dengan model pembelajaran yang di berinama media AIR POPUDUS, sebagai berikut: 1. Guru menyajikan materi pembelajaran. 2. Siswa dibagi menjadi beberpa kelompok, terdiri dari 4-5 kelompok. 3. Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru. 4. Siswa bersama - sama membuka media POPUDUS, kemudian setelah membuka perwakilan kelompok akan di suguhkan gambar yang memiliki unsurtiga dimensi beserta pertanyaan atau kuis dalam permainan POPUDUS. 5. Ketua kelompok melakukan hom pim pa dengan kelompok yang lainya siapa yang akan bermain terlebih dahulu. 6. Selanjutnya ketua pada giliran kelompok yang menang hom pim pa dipersilahkan melempar dadu dan memajukan dadunya beberapa petak sesuai dengan angka hasil lemparan dadu.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 227 7. Mengambil kartu soal yang sudah disedikan oleh guru dalam permainan POPUDUS. 8. Siswa berdiskusi untuk menjawab kuis atau kartu soal selanjutnya dipresentasikan di depan kelas (Auditory). 9. Apabila menjawab dengan benar akan mendapatkan 10 point, dimana point tersebut akan menambah nilai kelompok. 10. Selanjutnya apabila siswa pemain tidak bisa menjawab maka akan diberikan punishment 11.Lakukanlah bergantian kelompok, lalu masing-masing kelompok yang akan menjawab kuis atau kartu soal memikirkan jawabnya agar dapat meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah (Intellectual). 12. Setelah selesai bermaian sambil diskusi untuk menjawab kuis atau kartu soal yang terdapat di media POPUDUS, siswa mendapatkan pengulangan materi dengan cara mendapatkan tugas untuk setiap individ (Repetition). 13.Guru memberikan kesimpulan diikuti dengan menutup pelajaran dengan berdoa bersama. Dari beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa media sangat penting dalam proses pembelajaran karena media sangat membantu siswa dan guru untuk menyampaikan materi agar tujuan pembelajaranya tercapai dengan baik. Maka dari itu media yang akan peneliti gunakan adalah media POPUDUS singkatan dari “Pop Up Kudus”. e. Kearifan Lokal Kearifan lokal dan keunggulan lokal mempunyai hubungan yaitu sama – sama ingin mengunggulkan budaya. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya. Asmani (2012:29) menyatakan keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang menjadi ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi, komunikasi, ekologi, dan lain sebagianya. Keunggulan lokal
228 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD harus di kembangkan dari potensi daerah. Potensi daerah mempunyai sumber spesifik yang dimiliki oleh suatu daerah, misalnya potensi budaya yang ada Kudus yang mengunggulkan wisata religi, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Pemerintah dan masyarakat kota Kudus sudah menjadikan keunggulan mengenai wisata religi yang ada di kota Kudus,sehingga ekonomi di wilayah kota tersebut dapat berkembang dengan baik. Purwanto (2012:16) menyatakan bahwa Kearifan lokal di ungkapkan dalam bentuk kata-kata bijak (falsafah) berupa nasehat, pepatah, pantun, syair, folklore (cerita lisan) dan sebagainya; aturan, prinsip, norma dan tata aturan sosial dan moral yang menjadi sistem sosial; ritus, seremonial atau upacara tradisi dan ritual; serta kebiasaan yang terlihat dalam perilaku sehari-hari dalam pergaulan social. Sistem pembelajaran dalam kurikulum 2013 dirancang terpadu antara satu muatan dengan muatan lainnya dengan pembelajaran tematik. Kegiatan dilakukan pendekatan saintifik yang meliputi kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan sehingga efektif. Pembelajaran tematik seharusnya dikaitkan dengan lingkungan siswa yang mengarah kepada tercapainya pengetahuan maupun pengenalan lingkungan sekitar siswa dan penanaman nilai-nilai karakter yang terkandung dalam kearifan local tersebut. Kearifan lokal bukan hanya tepat diterapkan dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan siswa serta sebagai penanaman karakter dan membekali siswa untuk menghadapi segala permasalahan diluar sekolah. Pembelajaran tematik menggunakan kearifan lokal dengan guru merancang dan mengembangkan pembelajaran. Shufa (2018:51) menyatakan adapun upaya guru bias dilaksanakan dengan mengidentifikasi potensi daerah,
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 229 menentukan fungsi dan tujuan, menentukan kriteria bahan kajian, dan menyusun RPP berbasis kearifan lokal. Adapun potensi yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu pendapat dalam cerita fiksi yang di kaitkan denga cerita-cerita yang berkembang di Kudus dan sekitarnya. Alasan memilih kearifan lokal tersebut, karena relevan dengan materi yang akan diajarkan. Pengembangan Media AIR POPUDUS Media pembelajaran merupakan alat yang digunakan sebagai sebuah penghubung bagi guru dengan siswa dengan harapan dapat menghantarkan pengetahuan baru yang memberikan pembelajaran yang bermanka. Menurut Musfiqon (2016) media pembelajaran diartikan sebagai alat bantu yang sengaja digunakan sebagai perantara dalam menyampaikan materi pembelajaran sehingga menjadi lebih efektif, dan efisien. Pernyataan Musfiqon diatas diperkuat dengan pendapat Kosasih (2016) bahwa media pembelajaran sebuah alat yang digunakan untuk memperoleh pembelajaran yang bermakna sehingga siswa terlibat pada pengalaman pada proses pembelajaran, serta mampu meningkatkan kemampuan melihat, mendengara,merasakan, menghayati, mencium serta mencici pembelajaran itu, karena dengan menggunakan alat belajar yang menyenangkan akan meningktakan aktivitas mental, emosional, dan intelektualnya, sehingga media itu merupakan bahan atau pondasi pembelajaran yang sebenarnya. Kriteria pemilihan media pembelajaran bersumber dari konsep bahwa media menjadi sumber instruksional secara keseluruhan dari penentuan media itu sebagai sumber belajar. Musfiqon (2016) menyebutkan bahwa ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran, sebagai berikut; a) tujuan
230 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD pembelajaran sesuai dengan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran; b) isi pembelajaran mendukung fakta, konsep, prinsip dan generalisasi pelajaran; c) media berbentuk praktis, luwes serta bertahan lama; d) terampilnya guru dalam menggunakan media pembelajaran; e) sasaran pengelompokan media pembelajaran; f) mutu teknis. Dzuanda (2011) menyatakan bahwa media pembelajaran dapat berupa media dua dimensi ataupun tiga dimensi. Salah satu media yang dapat digunakan adalah media pop-up book. Pop-up Book merupakan buku yang memiliki unsur tiga dimensi dan memberikan visualisasi cerita yang menarik. Dengan demikian, siswa tidak akan merasa bahwa media pembelajaran mereka kurang atraktif dan monoton sehingga mematikan minat belajar mereka (Haryoko dan Purnama, 2013). Media pop-up book memiliki beberapa manfaat, menurut Siregar dan Rahma (2016) di antaranya (1) mengajarkan anak untuk menghargai buku dan merawatnya dengan baik. (2) Manfaat lainnya adalah mendekatkan anak dengan orangtua karena pop-up book memberikan kesempatan orangtua mendampingi anak saat menggunakannya (3) Media pop-up dapat mengembangkan kreativitas anak. (4) Media pop-up Merangsang imajinasi anak (5) Menambah pengetahuan serta memberikan pengenalan bentuk pada benda. (6) Media untuk menumbuhkan minat baca pada anak. Oleh karena itu, penggunaan popup book sebagai media pembelajaran dapat membantu guru untuk menyampaikan materi pembelajaran dengan baik, menarik, dan dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa. Pengembangan dalam penelitian ini adalah Media AIR POPUDUS merupakan hubungan antara model dan media pembelajaran, dari model Auditory, Intellectually, Repetition (AIR) yang dikaitkan dengan media
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 231 pembelajaran POPUDUS singaktan dari Pop Up Kudus yang dalam media Pop Up tersebut dikaitkan dengan cerita kearifan lokal yang di Kudus. Fajarini (2014: 123) mengemukakan bahwa kearifan lokal merupakan pandangan hidup, ilmu, serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam penelitian ini, konten materi pop-up book mengangkat cerita lokal di Kabupaten Kudus, yakni cerita kearifan yang ada di Kudus, seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, Pabrik Djarum, Dandangan dsb. Kenyataan di lapangan menyatakan bahwa buku-buku yang beredar saat ini adalah buku-buku yang berkonten kebudayaan asing. Hal inilah yang menjadi dasar dan alasan untuk mengangkat cerita kearifan lokal sehingga diharapkan nilai-nilai kearifan dan kebudayaan di Indonesia sudah tertanam sejak dini dan membentengi diri siswa dari kebudayaan asing. Media AIR POPUDUS di dukung oleh temuan penelitian Wulandari (2018) yang berjudul “Pop-Up Legenda Sindoro Sumbing Berbasis Kearifan lokal sebagai Media LiterasiSiswa” yang di dalam penelitian tersebut sama-sama mengaitkan dengan kearifan lokal dalam media pop Up yang terdapat materi cerita legenda atau cerita fiksi dalam lingkungan sekitarnya. Sedangkan, menurut penelitian Syamsijulianto (2020) yang berjudul “Penerapan Media Pembelajaran Mobuya pada Indahnya Keragaman Budaya Bangsaku di Sekolah Dasar” dalam penelitianya juga sama-sama menggunakan media yang mengaitkan kearifan lokal yang ada di Indonesia dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV. Adapun media dan langkah-langkah, sebagai berikut:
232 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Gambar 6. Contoh Media POPUDUS (Pop Up Kudus) Langkah-langkah dalam permainan POPUDUS, sebagai berikut: 1. Guru menyajikan materi pembelajaran. 2. Siswa dibagi menjadi beberpa kelompok, terdiri dari 4-5 kelompok. 3. Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru. 4. Siswa bersama - sama membuka media POPUDUS, kemudian setelah membuka perwakilan kelompok akan di suguhkan gambar yang memiliki unsur tiga dimensi beserta pertanyaan atau kuis dalam permainan POPUDUS. 5. Ketua kelompok melakukan hom pim pa dengan kelompok yang lainya siapa yang akan bermain terlebih dahulu. 6. Selanjutnya ketua pada giliran kelompok yang menang hom pim pa dipersilahkan melempar dadu dan memajukan dadunya beberapa petak sesuai dengan angka hasil lemparan dadu. 7. Mengambil kartu soal yang sudah disedikan oleh guru dalampermainan POPUDUS.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 233 8. Siswa berdiskusi untuk menjawab kuis atau kartu soal selanjutnya dipresentasikan di depan kelas (Auditory). 9. Apabila menjawab dengan benar akan mendapatkan 10 point,dimana point tersebut akan menambah nilai kelompok. 10. Selanjutnya apabila siswa pemain tidak bisa menjawab maka akan diberikan punishment 11. Lakukanlah bergantian kelompok, lalu masing-masing kelompok yang akan menjawab kuis atau kartu soal memikirkan jawabnya agar dapat meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah (Intellectual). 12. Setelah selesai bermaian sambil diskusi untuk menjawab kuis atau kartu soal yang terdapat di media POPUDUS, siswa mendapatkan pengulangan materi dengan cara mendapatkan tugas untuk setiap individ (Repetition). 13. Guru memberikan kesimpulan diikuti dengan menutup pelajarandengan berdoa bersama. Prediksi Pengimplementasian Media AIR POPUDUS Pengimplementasian media AIR POPUDUS dalam proses belajar akan sangat membantu dan cukup penting dalam kegiatan proses pembelajaran, kerena dalam kegiatan ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan kehadiran media pembelajaran apalagi media tersebut di kaitkan dengan model pembelajaran. Dengan demikian, siswa akan mudah memahami materi mengenai pendapat pribadi dalam cerita fiksi yang diaitkan dengan kearifan lokal Kudus di bandingan jika hanya teori-teori saja menjelaskan materi tersebut. Dengan digunakan Auditory Intellectually Repetition (AIR) berbantuan POPUDUS pada materi pendapat pribadi dalam cerita fiksi mampu memberikan inovasi dalammuatan bahasa indonesia karena dengan menggunakan model AIR
234 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan dan partisipasi mereka dalam pembelajaran. Selain itu, siswa lebih memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan secara komprehensif yang mengutamakan berbicara dan mendengarkan tidak hanya itu siswa dengan kemampuan rendah dapat merespon permasalahan dengan cara berkelompok maupun individu. Media POPUDUS merupakan sebuah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur tiga dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik, mulai dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka. Media POPUDUS ini dirancang dengan kreasi sekreatif mungkin sehingga mampu menumbuhkan minat belajar siswa yang akan berdampak pada hasil belajarsiswa dan dalam kegiatan pembelajaran akan lebih menyenangkan dan tidak membosankan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 235 Daftar Pustaka Arsyad, Azhar. 2016. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Asmani, Jamal. M. 2012. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. Yogyakarta: DIVA Press. Dzuanda. 2011. Design Pop-Up Child Book Puppet Figures Series? Gatotkaca?.Jurnal Library ITS Undergraduate, (Online), (http://library.its.undergraduate.ac.id). Diakses 15 Januari 2018. Dzuanda, D. (2011). Perancangan Buku Cerita Anak Pop-Up Tokoh-Tokoh Wayang Berseri Seri Gatotkaca (Unpublished Thesis). Retrieved fromhttp://digilib.its.ac.id/ITS-Undergraduate-3100009035043/5380. Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Fajarini, U. (2014). Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Karakter. Jurnal Sosio Didaktika: Social Science Education Journal, 1(2), 123-130. doi: 10.15408/sd.v1i2.1225. Kanzunnudin, Mohammad. 2016. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Magnum Pustakan Utama. Kosasih, E. (2016). No Title. Bandung: Penerbit Yrama Widya. Meier, Dave. 2013. Metode pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual). Jakarta: Raja Grafindo Persada. Musfiqon, H. (2016). No Pengembangan Media Dan Sumber PembelajaranTitle. Jakarta: Prsestasi Pustaka. Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Purwanto, j. 2012. Beberapa Unsur Pembentukan Estetika Karawitan Jawa Gaya Surakarta. Jurnal Seni Budaya Vol 10. Sadiman, Arief S. 2014. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatanya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
236 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Shufa, N. F. 2018. Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah Dasar: Sebuah Kerangka Konseptual. Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 1 No. 1, Februari 2018 Hal. 48-53. Siregar, A., dan Rahmah, E. (2016). Model Pop Up Book Keluarga Untuk Mempercepat Kemampuan Membaca Anak Kelas Rendah Sekolah Dasar. Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan, 5(1), 10-21. doi: 10.24036/6288-0934. Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group. Syamsijulianto, T,. Penerapan Media Pebelajaran Mobuya pada Indahnya Keragaman Budaya Bangsaku di Sekolah Dasar. http://dx.doi.org/10.28926/briliant.v3i4.449. Tarigan, H. G. 2015. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Wulandari, A., dan Hapsari N.R.P.T. (2018). Pop-Up Legenda Sindoro Sumbing Berbasis Kearifan Lokal sebagai Media Literasi Siswa. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 2(2), 130-139.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 237 BAGIAN XIV MODEL FISH PIC STORY DALAM PENINGKATAN DAYA IMAJINASI MENULIS CERITA FIKSI PADA SISWA KELAS TINGGI Lintang Ayu Fitriyani, S.Pd. Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Semarang Email: [email protected] Pendahuluan Daya imajinasi sangat diperlukan ketika siswa menulis cerita fiksi. Daya imajinasi tersebut tidak selalu langsung hadir ketika siswa hendak menulis cerita fiksi. Siswa harus diberi stimulus yang sesuai agar daya imajinasi siswa dapat meningkat sehingga siswa dapat membuat cerita fiksi dengan memaksimalkan daya imajinasinya. Stimulus yang dapat diberikan oleh siswa bisa berupa model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan daya imajinasi siswa adalah model pembelajaran fish pic story. Model pembelajaran fish pic story mengkolaborasikan teknik lanjut cerita, teknik 5W+1H, dan media gambar berseri agar dapat menstimulus daya imajinasi siswa dalam menulis cerita fiksi. Model pembelajaran ini memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa dengan mengajak siswa untuk berimajinasi menulis cerita fiksinya sendiri dengan bantuan unfinished story atau cerita yang belum selesai dan gambar cerita berseri. Model fish pic story juga didukung oleh teknik 5W+1H untuk memunjulkan ide imajinatif siswa.
238 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD Permasalahan Pembelajaran Kurikulum terus dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang meliputi relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, efisiensi, dan efektifitas. Kurikulum juga dikembangkan berdasarkan pada berkembangnya ilmu pengetahuan,seni, dan teknologi secara dinamis,sehingga sistem pendidikan harus menyesuaikan hal tersebut melalui suatu kurikulum. Kurikulum di Indonesia sudah diganti atau dikembangkan sebanyak 11 kali, dari kurikulum 1947 hingga kurikulum 2013 yang masih berlaku sampai dengan sekarang. Bahkan kurikulum 2013 ini terus direvisi agar sesuai dengan berbagai faktor yang berkaitan. Kurikulum 2013 memiliki perbedaan yang signifikan dengan kurikulum yang berlaku sebelumnya terutama pada jenjang sekolah dasar yaitu pengemasan pembelajaran yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri dibentuk menjadi pembelajaran tematik integratif. Pembelajaran tematik integratif merupakan suatu sistem pembelajaran yang mengintegerasikan konsep dan kompetensi beberapa mata pelajaran menjadisatu kesatuan pembelajaran yang utuh dengan menggunakan suatu tema. Pembelajaran tematik integratif ini menyatukan beberapa kompetensi pada mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran yang diintegrasikan dari kelas I hingga kelas VI yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 bertujuan agar siswa mampu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah memiliki 4 keterampilan berbahasa yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa. Keterampilan tersebut meliputi menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 239 tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan, antara keterampilan yang satu dengan yang lain saling mempengaruhi. Terkait dengan konsep literasi pada Kurikulum 2013, diartikan sebagai kemampuan siswa dalam menulis dan membaca. Kemampuan berliterasi merupakan suat bentuk integrasi dari kemampuan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berpikir kritis. Pengembangannya literasi merupakan upaya meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa yang berhubungan dengan keberhasilannya dalam meraih prestasi akademis. Hal tersebut ditandai dengan kemampuan dan kegemarannya dalam membaca makna tersurat maupun tersirat, kemampuan menulis secara tepat dan jelas, serta dapat mengembangkan kemampuan tersebut melalui berbagai kegiatan sehari-hari di sekolah, maupun di masyarakat. Menulis merupakan suatu proses kegiatan berekspresi yang dilakukan oleh penulis. Menulis merupakan suatu kegiatan melukiskan atau menurunkan suatu bahasa kedalam bentuk lambang-lambang grafik, sehingga orang yang membaca lambing-lambang grafik tersebut dapat memahami maksud dari penulis (Mardika, 2017:29). Menulis bertujuan agar ide–ide penulis dapat didengar atau dibaca oleh orang lain melalui lambing-lambang grafis atau tulisan. Sehingga, keterampilan menulis melibatkan perkembangan kognitif, motorik dan bahasa siswa. Karakteristik perkembangan kognitif, motorik, dan bahasa pada siswa kelas IV sekolah dasar sudah memungkinkan mereka untuk dapat mengungapkan ide/gagasan dan imajinasi kedalam bentuk tulisan. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV sekolah dasar terdapat pokok bahasan tentang cerita fiksi yang memerlukan ide/gagasan, serta imajinasi siswa. Cerita fiksi merupakan sebuah karya sastra yang di dalamnya terdapat unsur-unsur cerita seperti pada umumnya, namun yang berbeda yaitu cerita fiksi bersifat khayalan atau imajinatif. Kisah yang disuguhkan oleh cerita
240 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD fiksi berasal dari khayalan atau imajinasi penulisnya dan tidak harus sejalan dengan keadaan dan kebenaran di kehidupan nyata. Ketika menulis cerita fiksi, siswa masih kebingungan untuk menemukan, merangkai, dan mengungkapkan idenya menjadi sebuah tulisan. Ide merupakan daya imajinasi yang muncul ketika ada stimulus baik dari dalam diri atau dari luar yang bersifat sugestif. Pada umumnya proses mencari ide didasarkan oleh pengalaman dan pengamatan pada kehidupan nyata. Sumber pengalaman pribadi hanya terbatas pada peristiwa yang dialami. Namun, sumber pengamatan kehidupan tidak terbatas. Banyak masalah di sekeliling siswa yang dapat dijadikan sebagai ide sebuah cerita, namun diperlukan stimulus agar siswa bisa menyalurkan ide imajinasinya dengan baik. Stimulus bisa berupa pembiasaan pada siswa untuk berpikir imajinatif dan dapat menyalurkannya dalam bentuk tulisan. Pembiasaan ini seharusnya dapat diterapkan sedini mungkin, agar menjadi fondasi yang kuat bagi siswa. Sekolah dasar sebagai dasar pembentukan siswa, memegang peran penting dalam pembiasaan berpikir imajinatif siswa. Pembiasaan ini harus dikemas dengan menyenangkan agar siswa tertarik dan dapat menyalurkan idenya dengan maksimal. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu strategi yang dapat menstimulus ide atau daya imajinatif siswa pada keterampilan menulis cerita fiksi. Solusi yang dapat diterapkan yaitu dengan menggunakan model pembelajaran fish pic story yang merupakan pengkolaborasian beberapa teknik dan media, meliputi teknik lanjut cerita, teknik 5W+1H, dan media gambar berseri. Melalui pengkolaborasian beberapa teknik, strategi, dan media inilah diharapkan dapat meningkatkan daya imajinatif siswa dalam menulis cerita fiksi.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 241 Teori Konseptual Fish Pic Story Model pembelajaran Fish Pic Story merupakan suatu model pembelajaran yang mengkolaborasikan beberapa strategi, teknik, dan media pembelajaran agar dapat meningkatkan daya imajinatif siswa. Penggabungan dari beberapa teknik, dan media ini bertujuan untuk saling melengkapi agar dapat memaksimalkan kelebihan yang dimiliki dan meminimalisir kendala. Adapun teori yang mendukung model pembelajaran ini, sebagai berikut: a. Daya Imajinasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Secara singkat imajinasi adalah khayalan. Imajinasi adalah kemampuan menciptakan citra dalam pikiran atau angan-angan tentang sesuatu yang belum pernah dialami dalam kenyataan (Muzakki: 2011:81). Imajinasi merupakan unsur yang dapat membantu manusia untuk merekam peristiwa yang telah berlalu dan yang akan datang. Imajinasi tidak sama dengan realitas. Oleh karena itu, suatu sastra tidak terikat dengan kenyataan, dan kebenaran. Imajinasi berbeda dengan fantasi. Istilah fantasi lebih berkaitan dengan daya untuk membayangkan sesuatu khususnya hal yang tidak real atau tidak mungkin terjadi. Sedangkan khayalan lebih diartikan sebagai ilusi. Imajinasi lebih dilihat sebagai daya manusiawi yang bersifat intuitif, yang mengutamakan faktor rasa (Nugraheni & Dhyajeng A. S., 2016:19). Liang, dkk, (2012:366) menunjukkan bahwa imajinasi adalah fungsi yang esensial bagi kehidupan manusia karena ada empat cara untuk menghubungkan imajinasi dengan kenyataan. Pertama, imajinasi berasal dari pengalaman seseorang yang berdasarkan kenyataan. Kedua, produk akhir imajinasi individu memiliki asosiasi yang kompleks dengan kenyataan/fenomena. Jenis asosiasi
242 Inovasi Pembelajaran Bahasa SD ketiga antara fungsi imajinasi dan realitas terkait emosi. Setiap emosi sesuai dengan gambar tertentu, dan memiliki kapasitas untuk memicu kesan dan pikiran pada saat tertentu. Terakhir, imajinasi yang secara eksternal telah diwujudkan ke dalam bentuk yang nyata menjadi objek yang ada dalam kenyataan. Sehingga didapatkan bahwa daya imajinasi merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menciptakan citra pada anganangan atau pikirannya dan bersifat intuitif. Adapun indikator imajinatif menurut Liang (2012:367) sebagai berikut: a) Transformasi Imajinasi membantu orang dalam mentransfer fungsi dari satu objek ke lainnya yang sebelumnya tidak memiliki fungsi seperti itu. Individu yang imajinatif biasanya mereka yang membuat hubungan yang bermanfaat antara ide-ide yang tampaknya berbeda di berbagai bidang, dan itu yang memproyeksikan diri ke dalam situasi yang tidak biasa. Transformasi merepresentasikan kemampuan untuk melakukan tugas dengan mentransformasikan pengetahuan di berbagai bidang belajar. b) Kristalisasi Aktivitas imajinatif adalah mengkristal budaya, ia menegaskan bahwa semua objek kehidupan bersama muncul sebagai kristalisasi imajinasi. Jadi, kristalisasi muncul sebagai indikator imajinasi yang merepresentasikan kemampuan individu untuk mengekspresikan ide-ide abstrak dengan menggunakan contoh-contoh konkret. c) Efektivitas Efektifas merepresentasikan kemampuan individu untuk menghasilkan ide yang efektif untuk mencapai tujuanyang diinginkan.
Inovasi Pembelajaran Bahasa SD | 243 d) Elaborasi Elaborasi merupakan kemampuan individu untuk mencari perbaikan dengan memformalkan ide. e) Eksplorasi. Eksplorasi merupakan kemampuan individu untuk menjelajahi hal yang belum diketahui. f) Intuisi Intuisi dapat didefinisikan sebagai cara mengetahui langsung, pengetahuan sebagai wawasan, atau pemahaman secara keseluruhan. Intuisi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan asosiasi langsung ke suatu target. g) Kebaruan Kebaruan yaitu kemampuan individu untuk menciptakan ide-ide yang tidak biasa. h) Produktifitas Produktivitas merepresentasikan kemampuan individu untuk menghasilkan banyak ide. i) Sensibilitas Sensibilitas merepresentasikan kemampuan individu untuk membangkitkan perasaan selama proses penciptaan. b. Keterampilan Menulis Menulis merupakan suatu kegiatan melukiskan atau menurunkan suatu bahasa ke dalam bentuk lambang-lambang grafik, sehingga orang yang membaca lambing-lambang grafik tersebut dapat memahami maksud dari penulis (Mardika, 2017:29). Menulis juga berkaitan dengan pemahaman bahasa dan kemampuan berbicara (Putri, 2018). Putri (2018) juga menjelaskan bahwa proses belajar menulis merupakan suatu proses neurofisiologis. Akan terjadi