The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA TP. 2020/2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by m.wara, 2021-07-12 19:09:56

KARYA UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA TP. 2020/2021

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

cara untuk mampu bersaing dengan masyarakat. Dan melakukan semua itu hanya dalam
lingkungan keluarga, berbeda dengan biasanya yang dikelilingi oleh teman-temannya.
Tentu muncul perasaan stress, gelisah, kebingungan, sedih, marah dan bertanya-tanya
mengapa situasi ini sangat tidak adil.
2. Ide yang saya dapat dari ilustrasi di atas adalah suatu solusi untuk membantu mengatasi
hal tersebut. Dalam masa pandemi ini saya melihat diri saya sendiri serta beberapa teman
saya, yang menurut terlalu keras pada diri sendiri, termasuk saya. Penuh penyesalan serta
kebingungan karena jadwal UTBK serta perkuliahan yang dipercepat sehingga kita
bertanya-tanya mengapa tidak adil ya rasanya. Hal itu mendorong kami untuk terus-
menerus bekerja keras demi mengejar ketertinggalan kami, bahkan sampai terkadang
menyakiti diri sendiri dengan tidak beristirahat, kurang makan atau minum, dan lain-lain.

Solusi yang muncul di pikiran saya adalah kita harus mencintai diri sendiri, mampu
menyayangi diri kita sendiri di tengah situasi seperti ini. Kita tidak butuh eksistensi kita
diakui karena yang memutuskan diri kita akan bahagia atau tidak itu bukanlah orang lain
melainkan diri kita sendiri. Oleh karena itu saya membuat karya saya berdasarkan
mencintai diri sendiri atau bahasa populernya self love. Saya juga memilih media yaitu
tatakan gelas, dan ada makna dibaliknya. Saya pribadi ingin diingatkan secara konstan
untuk mencintai diri sendiri, dan saya melihat sekeliling saya apa kira-kira barang yang
saya gunakan sehari-hari yang dapat mewujudkan ide tersebut. Akhirnya muncul yaitu
tatakan gelas. Kemudian saya memesan tatakan gelas dari kayu polos dari pengrajin kayu
dekat rumah saya kemudian melukis di atas tatakn gelas tersebut. Saya melukis dengan
cat akrilik dan spidol untuk menegaskan kembali garisnya. Dalam gambar saya terdapat
seorang perempuan yang sedang memeluk dirinya sendiri dan dilatarbelakangi oleh
gambar hati. Maknanya adalah ketika kita memberikan rasa cinta kepada diri kita sendiri
kita pasti akan merasakan kebahagiaan. Kita butuh kebahagiaan tersebut dan terus
mencintai diri kita sendiri untuk terus berjuang melewati masa pandemi ini bersama-
sama. Saya pribadi setelah menggunakan tatakan gelas ini selama beberapa hari senang
karena saya benar-benar merasa diingatkan oleh tatakan gelas ini dan saya senang karena
tujuan saya dapat terwujud.

Sekian penjelasan dari saya mengenai karya ujian praktik seni, semoga dapat bermanfaat
bagi pembaca dan mohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Angela Latisha Wisnawati
XII A-2/05

Membuka Jendela
Saya menggambar beberapa jendela sebagai representasi dari ruang-ruang apartemen (tempat
tinggal) yang didalamnya tampak banyak orang-orang melakukan aktivitasnya masing-masing.
Ada yang bernyanyi, menari, berkumpul dengan keluarga, dan bermain dengan hewan
peliharaan. Namun, walaupun demikian mereka menerima bantuan dari ‘tetangga-tetangganya’
seperti beberapa orang tampak mengeluarkan melodi lagu, sedangkan beberapa yang lain
menari mengikuti melodi yang dinyanyikan.
Perpaduan dari gambar-gambar tersebut ingin menjelaskan bahwa, di tengah situasi pandemi ini
memang kami para remaja merasa terhambat dan merasa kesulitan dalam menemukan jati diri.
Sehari-hari hanya di rumah. Namun gambar ini ingin mengingatkan bahwa walaupun kita para
remaja merasa sendiri dan kesepian, sebenarnya ada berbagai cara untuk masih bisa saling
membantu. Banyak sumber inspirasi yang bisa kita peroleh, dengan cara bersikap lebih terbuka.
Sikap lebih terbuka ini juga direpresentasikan oleh jendela-jendela yang dibuka sehingga
memampukan satu sama lain untuk saling membantu dan terbantu. Sama halnya dengan para
remaja, mungkin sebelum pandemi ini bisa memandang segala hal dari jauh saja, menyimak saja,
mendengarkan saja, tetapi tidak pernah menjadi orang yang meminta bantuan, bertanya, dan
memulai.
Lewat gambar ini saya ingin mengingatkan dan mengajak para remaja untuk berani membuka
diri serta peduli terhadap sesama yang membutuhkan bantuan.
Ide awal dari bentuk gambar ini terinspirasi dari kejadian di Italia Maret 2020 lalu saat mereka
harus menjalani lockdown, mereka berusaha menghibur diri dan menghibur satu sama lain

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

dengan bernyanyi bersama dari balkon serta jendela tempat tinggal masing-masing. Bagi saya
kejadian itu sungguh menginspirasi, besarnya dukungan satu sama lain bisa memutar balikkan
situasi sedih menjadi gembira.
Bahan : Pouch berbahan kanvas
Alat: Cat minyak dan spidol

Antonine Allysa
XII A-2/06

Dalam gambar ini, terdapat botol berisi air yang sedang dituang kedalam sebuah wadah
lainnya, yaitu alumunium foil. Ini mencerminkan kehidupan kita yang dipaksa untuk berpindah
ke wadah yang lain dengan terpaksa dan secara tiba-tiba. Kita, remaja yang merupakan air, harus
bisa menyesuaikan diri beradaptasi dengan pola hidup yang baru yang akan kita jalani selama
beberapa waktu kedepan. Pemilihan wadah aluminium foil terdapat maknanya, dimana wadah
yang sekarang kita hidupi, merupakan wadah yang tak tetap bentuknya, dapat berubah-ubah
sewaktu-waktu tergantung kondisi yang ada. Ini memaksa kita untuk menjadi air yang mudah
beradaptasi dimanapun ia berada. Caranya dengan tetap menjaga suhu/atmosfer kita agar tetap
bisa menjadikan kita seperti air yang mengalir agar tetap bisa beradaptasi dengan matahari kita
masing-masing. Kita yang di rumah saja dipaksa untuk menyesuaikan matahari kita sendiri,
karena hanya kita yang tau kondisi kita sendiri di rumah, bagaimana akan nyaman untuk
mengerjakan tugas-tugas dirumah, menjaga diri dari banyak godaan, dll. Banyak cara yang kita
bisa lakukan dengan keadaan masing-masing, seperti mencari hobi baru, memasak, melukis,
tetap terkoneksi dengan teman-teman secara daring, dan mencari kebahagiaan sendiri di rumah.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Bonifasius Alvianto Satria Pamungkas
XII A-2/07

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Anantara

Pandemi. Sudah hampir satu tahun yang lalu kami semua dirumahkan dan mengerjakan
segala sesuatu dari rumah. Kami yang awalnya berangkat pagi pulang malam untuk bersekolah,
sekarang harus 24/7 berada di rumah. Belajar di rumah, berdoa di rumah, dan yang paling merasa
kosong adalah ketika tidak bisa untuk bertemu dan bersua bersama teman-teman secara
langsung. Saya pribadi, karena bersamaan dengan pelayanan sebagai senat, bersama 11 orang-
orang hebat di sekitar saya harus memutar otak untuk menemukan pelayanan yang terbaik bagi
komunitas. Bagi saya pribadi, senatlah yang memberikan kenyamanan dan kebahagiaan bagi saya
untuk terus semangat dan bertahan walaupun dengan segala kesibukan dan tanggung jawab
yang ada. Ketika banyak orang yang mencari eksistensi dan sedang dalam “masa pencarian”,
ketika berada di senat merupakan sebuah anugerah dan kesempatan yang amat besar untuk
melayani dan bertemu dengan 11 orang yang senantiasa saling menguatkan dan memberikan
“jiwa” bagi saya. Kebutuhan untuk bersosialisasi ini sebenarnya sudah amat saya rasakan ketika
sebelum pandemi waktu itu.

Masuk ke dalam pandemi, situasi memang benar-benar berubah. Memang ada euforia
ketika banyak orang ingin merasakan hari libur di masa sibuk waktu itu. Lama-kelamaan rasa
jenuh dan kehampaan benar-benar terasa ketika diri merasa sangat kesepian. Tetapi di saat
bersamaan, kami selalu berkomunikasi dan bersosialisasi lewat line, zoom, maupun google
meet.

Komunikasi dan sosialisasi. Bagi saya itulah kebutuhan remaja karena kami perlu tempat
untuk mengaduh dan mengeluh. Kami perlu tempat untuk bersandar dan mengisi hari-hari
dengan passion kami. Kelabilan kami memang berdampak kepada hal-hal buruk tetapi disitulah
kami menerima berbagai warna dalam kehidupan. Berbagai pengalaman suka, duka, jatuh, dan
bangkit benar-benar menampar dan membentuk kami.

Gambar ini saya buat di tempat alat tulis kayu dengan bentuk tabung. Ide awal gambar
ini adalah pengalaman dan kebutuhan saya sebagai remaja yang betul-betul berwarna. Seperti di
narasi sebelumnya, teman-teman senat yang saya bangga untuk sebut sebagai keluarga, saya
ingin menuangkannya di karya ini karena selama pandemi merekalah yang mengisi waktu saya
menjadi terbaik. Merekalah yang memenuhi kebutuhan saya sebagai remaja baik emosi maupun
kebutuhan untuk menjadi manusia yang memiliki rasa.

Saya ingin menggambar mereka dengan 12 sosok dengan tiga jenis warna yaitu biru,
merah, dan hitam. Merah berarti berani, biru berarti tenang, dan hitam berarti kami tetap
bekerja walau kesannya tidak kelihatan. Di kiri kanan kami berdua belas terdapat dua gedung
yang sebenarnya mewakili salah satu basecamp kami yaitu rumah Enjie yang terletak di Kuningan
dimana banyak sekali gedung tinggi disana. Saya sendiri beberapa kali berkunjung ke sana dan
bagi saya, rumah Enjie memberikan memori khusus bagi kami dimana kami sering berkumpul.
Gedung tersebut ada dua dimana yang satu berwarna dingin dan yang satu berwarna panas.
Artinya adalah ditengah sikap dan pikiran remaja yang labil dan sering bertolak belakang satu
sama lain, mereka berdua belaslah yang berada di tengah hati saya untuk teringat untuk
senantiasa melayani dan memberikan yang terbaik. Di atas sosok kami berdua belas terdapat
beberapa tempat dimana kami berkumpul yaitu line, google meet, dan zoom. Aplikasi itulah yang
menggantikan ruangan offline dimana kami masuk bersama-sama ke dunia virtual untuk
menghadapi berbagai tantangan dan rintangan. Di bagian depan terdapat dua lukisan abstrak

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

yang dibatasi garis kuning. Ada yang warna gelap dan terang. Dua lukisan abstrak tersebut berarti
perasaan remaja yang sering berubah dan terombang-ambingkan oleh suasana. Beda warna itu
juga berarti situasi yang amat kontras ketika kami beranjak dari dunia offline ke dunia virtual
ketika semuanya hanya dibatasi layar kaca di depan mata. Di sebelah 12 sosok itu juga terdapat
batu yang berarti kami harus kuat atau tough untuk melanjutkan kehidupan kedepannya. Di
bagian bawah juga terdapat warna kebiruan yang berarti kami harus melanjutkan kehidupan
walaupun kita merasa terombang-ambingkan di lautan yang luas tetapi pada akhirnya kita harus
fokus terhadap tujuan kita kedepannya. Di sekitar aplikasi yang kami gunakan untuk
berkomunikasi juga terdapat lingkaran hijau yang melambangkan virus corona, Di satu sisi virus
corona memang membawa dampak negatif tetapi ada banyak makna yang bisa diambil akibat
pandemi. Pada akhirnya kita harus mengucap syukur dalam segala hal. Bisa dilihat dari atas,
tulisan tersebut sejajar dengan gambar senat dan virus corona. Senatlah yang menjadi anugerah
yang saya sangat syukuri dan di tengah situasi pandemi seperti ini, kita harus tetap bersyukur.

Anantara sendiri saya jadikan judul karya dan judul narasi ini karena artinya adalah an dan
antara yang berarti tidak ada jarak diantara kita berdua belas. Kami juga memiliki lagu yang berisi
cerita kami setahun ke belakang. Karya ini saya dedikasikan untuk senat 2020/2021 yang mengisi
dan memberikan pengalaman yang sangat berharga selama pandemi ini.

https://m.soundcloud.com/user-758033688/anantara-2?ref=clipboard&p=i&c=1
Berikut adalah lagu yang menceritakan oleh kami. Lagu ini diciptakan oleh Phoebe Sidarta
/ XI IPA 5.

Clara simon
XII A-2/08

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
ESPERANCE
esperance adalah kata lain dari hope/harapan. Didalam gambar ini ada harapan seorang anak
untuk dapat kembali merasakan hidup normal sebelum covid-19 menyerang. Dimana
kehidupan awal dimana semua aktivitas dapat dijalankan dengan normal, sekarang sudah tidak
dapat berjalan seperti biasanya.
Didalam ilustrasi digambarkan seorang anak yang ingin mencapai harapannya untuk dapat
hidup normal namun tertutup oleh pagar depannya. Disini,pagar tersebut menghalang harapan
sang anak yang ingin kluar dari zona sekarang.

Edmundus Wisnu Prasetyaji
XII A-2/09

Ide yang saya dapatkan adalah dari pengalaman saya sendiri. Saya saat berada di sekolah, saya
dapat berinteraksi dengan teman teman di sekolah. Saya juga biasanya belajar bersama teman
dalam bentuk tutor di kantin belakang. Tetapi saat pandemi menyelubungi dunia, saya menjadi

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

merasa kesepian dan tidak ada teman sekolah yang bisa ngobrol dengan saya secara langsung.
Rasanya benar benar sangat beda. Saya menjadi penyendiri di rumah dan saya biasanya hanya
duduk, belajar, mengerjakan tugas, makan, dan tidur setiap harinya. Saya gambar apa yang saya
rasakan setiap harinya. Itu merupakan gambaran dari kamar saya. Dan benda benda yang saya
gambar merupakan benda yang setiap harinya saya pakai. Saya juga menggambarkan saya sendiri
jika saya belajar pada sore hari. Suasana yang saya rasakan terlihat pada latar belakang yang
berwarna biru tua, kesepian.

Fabian Darma
XII A-2/10

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Judul Karya: “Zoom Meeting”
Berdasarkan narasi yang diberikan saya membuat karya yang merupakan salah satu

media untuk remaja dan semua orang untuk memenuhi kebutuhan sosial yaitu berkomunikasi
dengan orang lain. Dengan adanya covid-19 maka semua orang harus membiasakan diri untuk
tetap di rumah. Namun hal itu juga membuat kesulitan bergaul dan bersosialisasi dengan orang
lain sehingga kita harus bisa bergaul dan bersosialisasi secara online dangan salah satu media
yang sering digunakan yaitu zoom. Sehingga saya mendapatkan ide untuk membuat karya dari
media tersebut. Lalu agar karya saya memiliki unsur yang menarik saya menambahkan keyboard
agar menjadi sebuah laptop yaitu alat yang selalu kita gunakan dalam masa pandemi ini. Saya
menggunakan karton, lem tembak, dan drawing pen untuk membuat karya ini.

Ganendra Wiratara
XII A-2/11

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Pemaknaan dan inspirasi:
Dalam lukisan ini, digambarkan adanya gambar bumi dibalik layar tablet atau gawai.
Dilambangkan adanya bumi di dalam tablet tersebut adalah untuk menggambarkan bahwa saat
ini, di era digital ini, buku bukanlah lagi jendela dunia, melainkan dunia internetlah menjadi
jendela menuju dunia. Karna inilah dilambangkan adanya teralis jendela pada layar tersebut.
Pada gambar juga terdapat garis garis yang menunjukkan koneksi yang dimiliki oleh pelukis.
Yang menjadi inspirasi dari lukisan ini adalah pengalaman pelukis selama masa pandemi dalam
memenuhi kebutuhannya sebagai remaja dalam bersosialisasi. Sang penulis telah mengalami
pengalaman yang baru dalam bersosialisasi yaitu dengan berkomunikasi dan bertemu orang
baru secara daring yaitu melalui media sosial. Pengalaman ini menjadi pelajaran yang berharga
bagi pelukis dan pelukis juga bisa melihat bahwa dalam bersosialisasi, ada banyak cara dan
banyak media.

Georgius Vito Raditya
XII A-2/12

Ide dan Latar Belakang
 Ide dan latar belakang yang saya gambar untuk kali ini adalah media intenet. Di dalam
pandemic ini remaja menjadi susah berkembang karena tidak boleh keluar. Selain itu

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

mereka pasti juga bosan di rumah karena kehabisan kegiatan dan juga tidak bis bertemu
dengan temannya. Tetapi dengan media teknologi internet remaja menjadi mempunyai
berbagai kegiatan untuk dilakukan. Kegiatan yang dapat dilakukan berupa bermain
game, menonton video, belajar, sampai berbincang dengan teman atau orang
lain.Beberapa contoh dari media itu adalah youtube, maxilla firefox, facebbok dan
twitter seperti yang saya gambar. Dengan adanya media-media ini remaja menjadi
dapat berkembang tanpa harus keluar. Saya mendapat ide ini dari kegiatan sehari-hari
yang saya lakukan di rumah.

Geraldine Rachel Gutama
XII A-2/13

“WE WILL SURVIVE”
Sebuah kalimat pendek yang sangat powerful maknanya bagi orang-orang terutama remaja yang
sedang berjuang untuk ‘hidup’ seutuhnya di masa pandemi ini. Banyak hal yang mati, banyak juga
yang tumbuh tergantung bagaimana kita merawat hari-hari kita. Bagi para remaja, yang sekarang
paling dibutuhkan adalah dukungan mental dan semua itu bisa didapatkan dari mana saja, tetapi
yang paling menyentuh pasti dari orang-orang terdekat seperti teman dan keluarga. Tidak hanya
dukungan mental, para remaja juga membutuhkan waktu bagi dirinya sendiri dan waktu untuk
dikelilingi dengan orang-orang yang dicintai.
Bagi saya sendiri, hal-hal yang saya sebutkan di atas menjadi alasan saya untuk melukis gambar
ini. Saya bisa sampai di titik ini karena sahabat, teman, dan keluarga saya yang tidak pernah

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

berhenti menyokong dan menopang saya terutama di masa pandemic ini. Bentuk bulat pada
karya saya menandakan bahwa perjalanan ini tidak akan ada ujungnya, selalu memutari siklus
yang sama. Namun, setiap memutari siklus baru, saya akan selalu belajar untuk membenahi diri.

Warna latar biru saya dedikasikan untuk Senat, 11 orang yang mengisi hidup saya setahun
kebelakang. 11 orang yang mau menerima saya dan ada untuk saya selama masa-masa yang
berat ini. Warna biru adalah warna latar dari lagu ‘Anantara’, sebuah lagu yang diciptakan oleh
salah satu anggota Senat 2020/2021 untuk merangkum kisah kita selama setahun lebih melayani
komunitas. Frame melingkar yang berwarna-warni namun abstrak juga menggambarkan tentang
kami, 12 orang yang punya latar belakang masing-masing, 12 orang yang punya karakter unik, 12
orang yang punya emosinya masing-masing, berani melebur jadi satu, berani menyatukan
pikiran, menyatukan diri untuk bisa memberi pelayanan terbaik. Tidak terbatas hubungan secara
professional, kami menyatukan hati sebagai keluarga yang mengisi kekosongan satu sama lain.
Sampai sekarang pun setelah lengser, bond kami tetap terjaga dan akan terus ada selama kami
masih bisa.

Gerda Yogi Samudra
XII A-2/14

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Cara apa yang bisa ditempuh agar kebutuhan pada umumnya remaja itu terpenuhi?

Dari sisi pandang saya sebagai remaja, kita sebagai manusia dan makhluk sosial tidak
mungkin bisa berbohong dan merasa baik-baik saja saat kesepian di masa pandemi Covid-19 ini.
Satu-satunya cara untuk memenuhi keinginan untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan
pertemanan adalah dengan menggunakan bantuan aplikasi online dan media sosial yang bisa
menghubungkan kami yang terpisah dengan jarak.

Pada masa pandemi ini pasti remaja tidak lagi melihat suatu validasi dan eksistensi
sebagai suatu prioritas dalam bertahan di tengah pandemi ini. Bukan pesimis tapi lebih realis,
karena ideal masing-masing orang berbeda. Dengan adanya pandemi ini remaja didorong untuk
berpikir kreatif dan produktif walaupun terhalang situasi bukan berarti mimpi terhenti. Dengan
pandemi ini setiap remaja berusaha bertahan dengan kaki sendiri dan berusaha memperbaiki diri
mempersiapkan masa pasca pandemi.

Dari ide di atas, saya membuat sebuah karya menggunakan media karton hitam
berbentuk lingkaran yang menggambarkan “lingkup” seorang remaja yang terdapat pada
gambar. Saya memilih warna hitam sebagai background karena kebanyakan remaja kehilangan
masa asyiknya karena pandemi ini dan tak disangka sebentar lagi sudah beranjak dewasa.

Remaja dalam gambar ini memiliki 3 kepala dengan ekspresi yang berbeda2 yaitu sedih,
biasa, dan gembira. Ide ini diambil dari dewa Asura dari Buddha, karena Asura ini dikenal sebagai
dewa yang egois dan keras namun tetap menjaga baik orang kesayangannya. Hal ini
menunjukkan seorang remaja yang seringkali masih mau mendengarkan egoisme dalam dirinya
sendiri dan pergi keluar rumah di kala pandemi, namun ia juga peduli dengan keluarga dan
temannya dengan cara mematuhi protokol. 3 kepala dengan 3 ekspresi tadi juga menggambarkan
remaja yang mudah berubah suasana hatinya karena tuntutan mental masalah sekolah, keluarga,
dan lain-lain. 3 kepala dengan 3 ekspresi ini juga bisa diartikan sebagai metamorfosis remaja
dimana pada awal pandemi kita semua sedih tidak bisa keluar rumah, lalu kita mulai terbiasa
dengan situasi #stayathome, lalu kita mulai bisa menerima keadaan dan tersenyum karena sudah
bertemu masa new normal.

Saya juga memberikan ia kalung berbentuk kunci karena remaja di tengah pandemi ini
ada yang membuka pertemanan baru ataupun menutup pertemanan lama.

Fitur zoom di bawah juga menunjukkan remaja yang mengikuti pelajaran online, lalu tidak
mau tutup suara karena ia membutuhkan komunikasi dengan orang lain, ada juga peserta zoom
(-∞) karena pengalaman pribadi saya yang jadi semakin jauh dengan banyak teman. Remaja
tersebut juga dikelilingi oleh virus corona dan aplikasi sosial media yang membantunya
bersosialisasi di tengah pandemi ini.

Pada akhirnya remaja akan terus menemukan caranya sendiri dalam berkomunikasi
dengan sesama di masa pandemi ini, seperti pada sosial media. Namun validasi dan pengakuan
bukan lagi menjadi prioritas, karena remaja hanya mau didengar dan mendengar. Dan apapun

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
cara seorang remaja untuk bermetamorfosis dalam kehidupan sosial, pasti mereka akan
menemukan akhir yang bahagia seperti pada ekspresi ketiga pada remaja tersebut.

Gregorius Mikhael Hansel
XII A-2/15

Kondisi pandemi Covid-19 membuat kisah perjalanan para siswa kelas 12 harus terhambat
sampai di sini. Tatap muka beralih ke tatap layar dari matahari terbit sampai teriknya cahaya
surya. Kelas 12 seharusnya menjadi masa-masa akhir untuk bisa merasakan indahnya masa-masa
bersekolah sebelum menjalani kehidupan sebenarnya di dunia kuliah. Dari yang biasanya sering
berkumpul dan mengobrol bersama di sekolah, sekarang hanya sebatas melihat wajah satu sama
lain melalui layar kaca.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Bagaimanapun sebuah eksistensi menjadi hal yang masih penting hingga saat ini. Eksistensi di
masa pandemi sangat membantu siswa siswi masing-masing dalam mendapatkan pertolongan
dari temannya, contohnya bisa saling membantu jika ada tugas yang masih belum dipahami, bisa
mengajarkan atau tutor kepada teman yang masih kebingungan dengan pelajaran, dll. Oleh
karena itu hubungan antar teman harus tetap terjaga satu sama lain. Hal ini digambarkan di
gambar saya yaitu terdapat sebuah handphone yang melambangkan siswa masih tetap keep-in-
touch dengan teman-temannya meskipun di saat pandemi seperti ini.

Siswa kelas 12 yang saat ini sedang mempersiapkan dirinya untuk terjun di dunia perkuliahan
juga
terhambat karena tak bisa lagi pergi ke sekolah untuk belajar tatap muka. Oleh karena itu
diadakan metode pembelajaran lain yaitu pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring.
Dengan hal ini siswa tetap bisa belajar seperti biasa, hanya medianya saja yang berbeda.
Pembelajaran masih dilaksanakan sampai saat ini guna mempersiapkan para siswa untuk menuju
universitas yang diimpikan. Salah satu cara konkritnya yaitu melaksanakan PJJ dengan
menggunakan Zoom, seperti yang terlihat di gambar saya terdapat sebuah laptop dengan tulisan
Zoom di layarnya yang melambangkan siswa saat ini tetap belajar seperti biasa menggunakan
platform tersebut. Selain itu juga ada buku berupa modul dan lembar kertas yang merupakan
tugas mandiri. Hal ini menandakan siswa tetap aktif belajar, mengerjakan tugas maupun ulangan
meskipun di masa sulit saat ini.

Lalu sekedar tambahan di gambar saya terdapat sebuah sarapan yang berupa 2 helai roti dan
minuman hangat yang melambangkan bahwa memang siswa harus tetap sarapan di pagi hari
sebelum memulai harinya dalam belajar online. Juga terdapat jam tangan yang menunjukkan
bahwa siswa juga harus memperhatikan waktu dalam berkegiatan sehari-hari karena time
management sangatlah penting, terutama waktu yang berjalan sangat cepat akhir-akhir ini.

Gregorius Raka Amornanta Wirasena
XII A-2/16

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Dari permenungan yang telah diberikan tentang kebutuhan dan kelakuan remaja madya,
terbesit di pikiran saya apa saja cara yang dapat dilakukan oleh remaja apalagi pada masa
pandemi ini. Saya selaku remaja madya yang berusia 17 tahun bertanya-tanya kembali tentang
apa yang menjadi prioritas bagi saya dalam masa pandemi ini. Setelah berpikir dan merenungkan
kembali hal-hal yang menjadi kebutuhan bagi remaja madya saat ini, saya memiliki beberapa ide
tentang perbuatan yang seharusnya dilakukan pada masa pandemi. Oleh karena itu saya rangkai
beberapa ide menjadi sebuah kesatuan karya berupa gambar.

Narasi Karya

Remaja madya adalah remaja yang berusia kisaran 16 - 18 Tahun. Pada masa-masa ini
remaja sangat membutuhkan pengakuan entah dari teman, orangtua ataupun orang-orang lain.
Selain pengakuan, remaja juga sibuk mencari jati dirinya. Apakah ia seorang pesimistis, optimistis,
atau yang lainnya. Karena masa pandemi covid 19 melanda seluruh dunia, maka proses yang
seharusnya dilewati oleh remaja bisa terlewati begitu saja tanpa ada kegiatan-kegiatan yang
dapat menunjang kebutuhannya untuk berkembang. Oleh karena itu, menurut saya ada
beberapa hal yang dapat menunjang kebutuhan remaja madya pada masa covid 19. Pertama,
perbanyak interaksi dengan teman sebaya, entah virtual maupun pertemuan kecil-kecilan
terbatas di suatu tempat. Interaksi sangat dibutuhkan agar seorang remaja dapat menemukan
tempat semestinya bagi diri dalam kehidupan. Kedua, eksplor diri lebih dalam dengan melakukan
hal-hal yang disukai. Dengan begitu, remaja dapat menentukan arah dengan lebih tepat karena
mengetahui apa yang menjadi minat dan akan ia jalani terus menerus. Ketiga, Bersyukur dan
berefleksi terhadap segala sesuatu. Dengan bersyukur, seorang remaja tidak akan pernah merasa
kekurangan dan mengurangi kemungkinan stres dan depresi. Kemudian dengan berefleksi
seseorang dapat mengetahui kekurangan yang dimilikinya sehingga dapat mengetahui apa yang
harus diperbaiki. Kemudian terakhir yang tidak kalah penting adalah membuat rencana hidup
untuk kedepannya. Rencana bertujuan untuk memperbaiki segala kekurangan di masa lalu, serta
menentukan kemana seorang remaja akan melangkah untuk kedepannya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Ignatius Christian Wisnu Ardyanto
XII A-2/17

Alasan : Latar belakang saya memilih gambar ini yaitu saya rindu dengan suasana belajar di
sekolah. Berbeda sekali suasananya Ketika hanya bisa bertatap muka dengan teman -teman
kelas. Semangat pun juga tidak sebesar saat di kelas. Dilihat dari gambar tersebut, ana k-anak
atau remaja berada di seberang sekolah yang berusaha untuk membuat suatu alat untuk dapat
menyeberang. Namun di suatu Ketika terdapat halangan yang besar yaitu virus corona. Pada
akhirnya mereka bingung bagaimana cara melewati hal yang seperti ini.
Quote pada gambar: kita dibuat sadar bahwa sekuat, sepintar, sesehat atau sekaya apapun
manusia, ternyata Ketika didatangkan wabah virus menjadi lemah dan tidak berdaya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Joanna Hasian Serevina
XII A-2/18

Bahan: tote bag kain polos
Alat: spidol warna, cat akrilik
Ide gambar: Dengan adanya pandemi ini, anak remaja bisa mengambil sisi positifnya dengan cara
menunjukkan eksistensinya melalui kegiatan positif yang menghasilkan suatu hal, misalnya
sebuah seni yang sekedar menjadi pemanis ruangan pribadi mereka. Dengan begitu selain
mengisi waktu kosong kegiatan sehari-harinya, remaja sekaligus dapat menghasilkan produk
nyata kreasi seni yang unik atau barang yang tidak di dapatkan di tempat lain karena produk ini
merupakan hasil olahan kreativitas sendiri dan seperti halnya tas ini juga bisa dijual untuk
menghasilkan uang di masa pandemi ini.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Ada pun produk yang saya pilih adalah menghias totebag atau tas belanja yang kita pakai
sehari-hari agar terlihat berbeda dengan milik orang lain. Saya memilih untuk menggambar
seorang perempuan yang sedang berlatih ballet. Dalam ilustrasi ini saya ingin menggambarkan
tentang bagaimana di masa pandemi ini seorang siswa dapat berekspresi atau berlatih suatu hal
yang menjadi hobinya, karena kebanyakan pelajar saat ini sulit keluar rumah sehingga harus
beraktivitas sendirian, tetapi dengan melakukan hobinya mereka tetap bisa mengisi waktu
luangnya. Selain itu dengan melakukan hobi mereka, remaja bisa menghasilkan sebuah karya seni
yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dalam ilustrasi ini, perempuan tersebut
menghasilkan tarian balet. Seni yang bisa dihasilkan oleh remaja tidak hanya tarian seperti ini
saja, tetapi banyak contoh lainnya. Misalnya, lukisan, keramik pajangan dari tanah liat, atau hal
lainnya yang termasuk ke dalam bagian dari karya seni.

Jorgen Christopher
XII A-2/19

Karya yang saya buat untuk ujian praktik ini adalah jahitan pada masker. Menurut saya
menggunakan media masker adalah pilihan saya yang tepat karena di masa pandemic seperti ini
karya saya bisa dipakai kemana-mana dan ada gunanya.
Saya menjahit masker ini bersama oma saya. Gambar di masker tersebut merupakan hasil dari
sketsa yang saya buat sebagai inspirasi. Tetapi sayangnya sketsa tersebut tidak sengaja dibuang
oleh oma saya.
Gambar di masker tersebut merupakan perempuan-perempuan yang berbeda-beda. Saya
membuat gambar tersebut sebagai bentuk apresiasi saya kepada para wanita di dunia ini.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Bagaimana mereka sangat gagah dan tangguh serta saya sangat bersyukur atas perempuan-
perempuan yang telah membantu saya dan ingin menjadikan dunia ini menjadidunia yang lebih
baik.

Jovan Kierana
XII A-2/20

Di masa pandemi ini, kebutuhan para remaja tetaplah bersosialisasi dengan kawannya dan
menunjukkan eksistensinya, namun hal ini menjadi lebih sulit dari biasanya karena PSBB yang
ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Para remaja yang sebelumnya bisa dengan mudah saling
menggapai dan bertemu kawannya secara langsung tidak lagi dapat melakukannya sejak
pandemi. Demi mewujudkan kebutuhan mereka, mereka pun mencari segala cara untuk menjaga
hubungan mereka dan menunjukkan eksistensi mereka. Satu-satunya hal yang dapat membantu
kebutuhan mereka untuk tetap berhubungan adalah gadget dan koneksi internet. Kedua hal ini
membantu para remaja untuk tetap terkoneksi satu sama lain. Hal inilah yang membuat saya
menggambar kedua tangan yang ingin menggapai satu sama lain, dengan gadget berupa ponsel
sebagai penghubung mereka. Saya menggambar di kertas berbentuk bulat seperti bubble, yang
menggambarkan situasi saat ini dimana para remaja merasa terkurung di dalam bubble zona
aman, yaitu rumah, karena adanya virus Covid-19 ini.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Kenji Amadeus
XII A-2/21

Gitar Senar Tunggal
Saya mendapatkan ide ini dari narasi yang telah diberikan. Saya memilih gitar karena suaranya
yang merdu saat bila dimainkan 6 senarnya, namun suaranya kurang enak didengar bila hanya
ada 1 senar. Melambangkan bahwa kita harus memiliki teman, untuk menghasilkan sesuatu yang
tidak bisa dihasilkan sendiri.
Selain itu saya juga menggambar gelombang-gelombang, yang melambangkan bahwa hidup tidak
akan selalu naik ataupun turun. Walau tidak lurus, tetapi kita akan merasakan keduanya.
Kemanisan hidup dilambangkan dengan warna biru, dan pahitnya dilambangkan dengan warna
merah

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Matthew Kurniawan
XII A-2/22

1. Apakah kebutuhan di masa pandemi sama seperti sebelum pandemi? Yaitu teman-teman
yang mengakui eksistensinya? Menurut saya jawabannya adalah iya. Di masa pandemi ini
tentu kita tidak bisa bertatap muka langsung dengan teman-teman kita. Kita hanya bisa
bertemu secara virtual dan tidak bisa melakukan interaksi secara fisik (kontak langsung).
Tentu pengakuan dari teman bahwa eksistensi kita tetap ada itu perlu. Karena tidak
banyak orang yang merasa kesepian, sedih, ataupun depresi di masa pandemi. Banyak hal
yang berlangsung selama pandemi ini. Kita tidak tahu apa yang sedang dialami teman kita.
Bisa saja dia sedang sedih, kesepian, namun menutupinya dengan senyumannya. Tentu
itu tidak baik jika diteruskan terus menerus. Hal itu bisa membuat seseorang menjadi
depresi, putus asa, yang berakibat pada kesehatan mental seseorang. Kemudian, cara
yang ditempuh remaja mempersiapkan diri terjun ke masyarakat saat pandemi seperti ini

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
adalah salah satunya perbanyak interaksi dengan orang-orang yang berada di sekitar,
mau secara langsung ataupun virtual. Komunikasi saat ini sangatlah penting agar
eksistensi kita tetap diakui oleh teman dan juga kita bisa lebih aktif di lingkungan
masyarakat.
2. Gambar tersebut melambangkan orang yang sedang berbahagia karena mendapatkan
perhatian ataupun pengakuan dari teman-temannya ataupun lingkungan di sekitarnya.
Kemudian, baju yang ia pakai merupakan baju yang resmi/jas seumpama ia sedang ke
pesta/acara formal bersama teman-temannya.

Michael Kenang
XII A-2/23

“Think Outside the Box”

Pada gambar ini, saya menggambarkan bahwa anak-anak remaja pada zaman sekarang harus
dapat berpikir secara lebih dan unik. Para remaja harus dapat “think outside the box” yaitu
berpikir lebih dari biasanya dan di luar kotak. Disini remaja harus mampu keluar dari zona
nyaman nya untuk dapat beradaptasi dalam lingkungan yang baru ini. Tidak mudah untuk para

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

remaja untuk berkembang pada masa pandemi ini, maka diperlukan pemikiran dan cara
berpikir yang lebih agar remaja dapat terus berkembang.

Natasya Trialda Musu
XII A-2/24

Pencarian jati diri pada masa remaja bagaikan sebuah perjalanan mengarungi lautan.
Terombang-ambing kesana kemari, mencari ombak yang sekiranya paling mencerminkan diri
sendiri. Supaya setidaknya, eksistensi pun dapat diakui. Ada yang lari mengejar ombak tertinggi,
mengejar ombak terdalam, atau bahkan mengejar ombak tersunyi. Tak selamanya ombak yang
didambakan itu menjamin keselamatan, bahkan terkadang luka dan darah menjadi sanksinya
(digambarkan dengan warna merah pada perahu). Tapi setidaknya, rasa sakit itulah yang juga
memberi pelajaran. Pelajaran untuk lebih mengenal dan menghargai diri sendiri, supaya nantinya
tidak tersakiti lagi.
Sejatinya, langkah pertama yang sebenarnya harus dilakukan oleh remaja sebelum terjun
mencari ombaknya masing-masing adalah dengan mempersiapkan diri. Salah satunya dengan
mengenal, mencintai, dan memenuhi diri supaya 'kapal'nya masing-masing dapat bertahan
selama perjalanan. Tak jarang, diluar sana banyak orang terlalu fokus pada eksistensi dengan
mengejar ombak yang didambakan. Tanpa sadar bahwa kapalnya sendiri belum siap, ia belum
cukup mencintai dirinya sendiri sehingga masih ada lubang yang perlu diperbaiki. Hasilnya?
Kapalnya karam, tenggelam di tengah lautan karena masih menggantungkan harga dirinya
sebatas pada pada pengakuan kelompok tertentu.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Pada masa pandemi, lautan yang sudah begitu luas kini harus ditambah lagi dengan langit yang
semakin gelap. Rasanya semakin sulit untuk melihat ke sekitar, hanya bisa mengandalkan kerlap
bintang sebagai panduan. Tetapi tidak selamanya kegelapan membawa malapetaka. Sebaliknya,
kegelapan terkadang juga memberi jawaban. Jawaban mengenai siapa yang benar-benar teman
oleh karena bertahan, atau teman yang hanya singgah dan pergi kembali jika kebutuhannya
sudah terpenuhi.

Nathaniel Ravindra
XII A-2/25

-Sebuah Gitar Kardus-
Dalam mengembangkan pikiran dan sifat seorang remaja, kreativitas dan eksplorasi sangat
dibutuhkan. Sebuah gitar sederhana dengan beberapa pasang senar bisa digunakan seorang
remaja untuk menciptakan ratusan nada, irama, dan perpaduan bunyi yang menghasilkan sebuah
melodi merdu yang indah untuk didengar. Di usia yang sangat muda ini, seorang manusia
seharusnya mencoba semua hal yang bisa digapai untuk mencari passion yang dicinta nya. Musik
selain sebagai sarana seni yang indah untuk di dengar juga bisa menjadi kanvas kosong bagi
seorang remaja untuk berkarya, berkreasi, dan menjelajahi ribuan perpaduan melodi. Dengan
kreativitas yang cukup, seorang remaja pasti bisa mengembangkan dirinya dan menemukan hal-
hal yang dia amat cintai.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Selain itu selain mencari passionnya, seorang remaja seharusnya sadar akan semua kehancuran
yang sedang terjadi di lingkungan sekitarnya. Pemanasan global dan perubahan iklim yang tinggi
akan mempengaruhi kehidupan manusia di masa depan. Memang perubahan iklim tak akan
berlangsung dengan cepat, melainkan terjadi secara perlahan. Namun pantaslah seorang remaja
untuk memikirkan generasi-generasi penerusnya yang akan tinggal di bumi yang sama
dengannya, dan memikirkan tentang kerusakan lingkungan sejak saat ini. Kardus, bahan yang jika
dipakai sendiri sebagai satu lembar tidak akan berguna sama sekali, namun jika dibentuk menjadi
bentuk-bentuk istimewa akan menjadi objek yang mempunyai banyak fungsi. Bersamaan dengan
kerusakan lingkungan yang terjadi, kardus merupakan salah satu masalah, karena jumlah kardus
yang diproduksi setiap hari sangat banyak dan melebihi kebutuhan manusia. Daur ulang adalah
salah satu solusi untuk memecahkan masalah ini.

Nicholaus Tuk Risang Watang
XII A-2/26

Ide dan Latar belakang :
Ide yang saya temukan sebelum membuat gambar ini adalah jika remaja tidak bisa bertemu
temannya secara tatap muka mengapa tidak melakukan secara online saja. Dengan banyaknya
cara untuk berkomunikasi pada zaman modern ini hal seperti “Face Call” dan “Chatting” sudah

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

menjadi hal biasa untuk remaja. Pada gambar ini saya membentuk kertas seperti wajah
manusia yang memakai headphone mengartikan dia sedang mendengarkan sesuatu di
rumahnya. Dalam wajah manusia tersebut membentuk 2 sisi wajah. Kedua sisi tersebut
memiliki warna belakang yang berbeda menyimbolkan bahwa mereka sedang berjauhan namun
mereka terlihat senang karena mereka dengan hpnya bisa berkomunikasi tanpa ada halangan
waktu dan tempat

Nicolas Nathan Samudra
XII A-2/27

Foto (1) Foto (2)

Foto (3)

Dari Foto 1, itu menjelaskan tentang seorang bernama Pranadipa berumur remaja 16 tahun itu
dari awal (kertas karton di tengah dari paling kanan awal) itu dia tidak mempunyai teman baru
karena masih memilih mana teman yang bisa dia jalani sebagai sahabat. Pranadipa bertemu
dengan teman baru dia dengan banyak ekspresi dan memiliki gaya yang berbeda (kertas karton

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

di tengah bagian tengah bawah dan ke kiri bawah). Pranadipa pada saat dia berpikir situasi di luar
rumah, dia berpikir mau jadi apa setelah melewati masa remaja ini (SMA). Di sebelah kanan
kertas karton bagian tengah paling atas kanan dan kertas karton di kanan itu menjelaskan dia
memiliki cita-cita menjadi seorang creator dan inovatif seperti standup comedy, fotografer,
konten basket, seniman, dan kolab main basket gamers (2k). kalau kertas karton bagian tengah
di paling atas kiri dan kertas karton kiri itu menjelaskan menjadi seorang sukses tetapi sesuai
profesi more than seni seperti presiden, chef, guru, business kopi, dan menjadi seorang dokter.
Di saat itu Pranadipa itu masih pusing dan masih belum kesana untuk menjadi apa untuk
kehidupan selanjutnya.

Dari Foto 2, itu menjelaskan dari paling atas kertas karton itu adalah Covid 19 telah melanda di
dunia dalam arti virusnya sudah ada dan akan terjadi di seluruh dunia. Pranadipa sering bertemu
temen deket dia di kafe, mall, restoran, dan sebagainya itu saling berdekatan kayak sahabat sejati
bisa ngobrol sampe lupa waktu. Dan itu pada saat blm terjadi covid 19 (gambar paling kanan
bawah kertas karton). Setelah terjadi Covid 19, seorang pranadipa mau bertemu dengan teman
tetapi harus dikasih jarak (pada gambar kertas karton paling bawah sebelah kiri dikasih jarak min
1 Meter) karena takutnya kena virus covid trs dinyatakan positif pada saat swab antigen dan
sebagainya. Pranadipa merasa kayak membawa kecewa dan terharu sehingga pemikirannya
menjadi sempit dan terhalu hilang seluruhnya. Gambar di bagian tengah kertas karton pada
malam hari dia bermimpi buruk karena setelah covid 19 melanda, imajinasi untuk cita-cita
tersebut terjadi terhambur dan hilang kayak kertas langsung dibuang tempat sampah tanpa
disadari bahwa ada kertas didalamnya ada gambar imajinasi untuk melanjuti kehidupan
selanjutnya. Dia merasa sedih dan membawa suara teriak yang keras keras amat sampai bertanya
pun juga seperti seorang memakai microphone tetapi suaranya di maksimalkan sehingga suara
terlalu keras dan sampai keluar rumah merasa terganggu. Dia bertanya kepada tuhan dalam hati
nurani dia “mengapa tuhan ini bisa terjadi?” sampai berkali-kali dia mengatakan itu sambal
menangis terbahak dan bahkan susah tidur sampe tengah malam lebih dari jam 2 pagi.

Dari Foto 3, itu menjelaskan kehidupan sehari-hari untuk melebihi kecukupan dalam melanjutkan
hidup dia meskipun di rumah saja karena terjadi pandemic covid 19 (gambar paling atas kertas
karton). Yaitu membikin konten youtube di recording trs share ke ig atau ke youtube langsung,
memasak apapun dari bahan yang tersedia, memainkan instrument seperti piano untuk
refreshing ide untuk memikir kedepan atau untuk hidup selanjutmya, menyanyi sambil di
recording untuk iseng atau share ke sosmed, dan kalau bisa ketemu teman melewati aplikasi
apapun. yang penting bisa ketemu teman sekelas atau ketemu teman lama dan masih banyak
lagi untuk ngeshare pengalaman, curhat, edisi kangen, pengen ketemu untuk mengajak ngobrol
setelah selama-lamanya tidak ketemu.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Paramita Artanti Putri A.S
XII A-2/28

Judul gambar: Kedewasaan Dalam Pandemi
Media: kipas lipat dan cat akrilik
Latar belakang ide gambar ilustrasi:
Berdasarkan teks metamorfosis masa remaja, remaja membutuhkan teman-teman sebayanya
untuk berkembang, mencari jati dirinya, untuk bersosialisasi dan lainnya. Dengan adanya teman
sebaya, setiap remaja bisa berkembang bersama-sama saling melengkapi satu sama lain. Sejak
adanya pandemi Covid-19 yang dimulai pada bulan April 2020, kebutuhan remaja tersebut harus
terhalang dengan tidak bertemu satu sama lain hingga waktu yang belum jelas. Keterpaksaan
untuk berada di dalam rumah 24 jam, duduk di depan laptop dengan hanya memandang layar
kaca aplikasi zoom meeting, bukanlah suatu hal mudah bagi remaja yang harus menerima masa
muda-nya untuk berada di dalam rumah saja, atau mungkin menjadi sejarah baru dalam

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

hidupnya. Proses adaptasi yang cukup panjang hingga akhirnya membuat saya semakin
menerima akan pandemi yang tak kunjung selesai. Sekitar hampir satu tahun pandemi
berlangsung, saya mendapatkan banyak pelajaran baru yang semakin mendewasakan. Menurut
saya, adanya pandemi bukan suatu halangan remaja untuk berkembang, tetapi sebagai upaya
untuk maju, dan yang terpenting adalah mindset. Pandemi bukan halangan, malahan pandemi
yang mendewasakan saya. Sesuai dengan apa yang saya ilustrasikan, banyak sekali kegiatan
positif yang bisa dilakukan sejak adanya pandemi. Orang yang sedang bermain gitar
mengilustrasikan bahwa pandemi memberikan kesempatan kepada remaja untuk
mengembangkan bakat dan hobinya. Saya pun merasakan hal tersebut, selama pandemi saya
memiliki waktu luang untuk memasak alias menjalankan hobi saya sekaligus mengasah
kemampuan memasak saya. Saya juga mengilustrasikan orang yang sedang berolahraga.
Seseorang yang tadinya tidak pernah berolahraga, namun sejak pandemi ia mulai berolahraga,
entah hanya untuk mengisi waktu luang atau bahkan untuk menjaga kesehatan tubuh.
Selanjutnya, saya mengilustrasikan sekelompok orang yang sedang virtual meeting. Hal ini sangat
berhubungan erat dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang saya jalani saat ini. Setiap
pertemuan harus dibatasi dengan layar kaca, rasa rindu untuk tertawa lepas bersama teman-
teman tanpa harus dibatasi dengan masker. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan saat ini adalah
dengan melakukan pertemuan virtual. Ilustrasi terakhir yang juga sangat berharga sejak adanya
pandemi adalah 24 jam berkumpul bersama keluarga. Mungkin sebelum adanya pandemi, saya
hanya bertemu orangtua saat malam hari dan hari libur, selebihnya saya habiskan waktu di
sekolah. Dengan adanya pandemi saya merasa bahwa pandemi semakin mendekatkan hubungan
antar anggota keluarga dan saya yakin pula hal ini tidak terjadi dalam diri saya saja, namun
hampir setiap keluarga lainnya. Kumpul untuk makan bersama atau hanya sekedar menyapa satu
sama lain di pagi hari akan menjadi hal berharga yang selalu dirindukan. Dari hal tersebut dapat
saya simpulkan bahwa pandemi mengajak saya untuk belajar bersyukur dan menerima segala
sesuatu. Kesehatan adalah kunci utama untuk saat ini. Saya diajak untuk bersyukur dan tidak
mengeluh serta menikmati setiap detik kesehatan yang Tuhan berikan kepada kami. Maka bisa
dikatakan bahwa pandemi mendewasakan pola pikir saya sebab saya selalu diajak untuk melihat
celah positif dari setiap tantangan yang ada. Pandemi bukanlah suatu hambatan remaja untuk
berkembang, melainkan tantangan yang mendewasakan.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Priscilla Palma Amorettha
XII A-2/29

Tulisan mengenai ide gambar:
Saya membuat gambar ini dengan ide saya membuat potongan gambar bumi dan bumi tersebut
saya buat bukan bentuk bulat sempurna tetapi dengan bentuk seperti virus tepatnya virus
Corona. Saya membuat seperti itu menggambarkan kalau dunia saat ini sedang diserang oleh
adanya pandemi COVID-19. Lalu, di dalam bentuk bumi tersebut saya juga membuat sebuah
rumah. Menandakan kalau selama pandemi ini, kita harus tetap di rumah saja. Di rumah itu, saya
menggambar saya dan keluarga. Menandakan kalau keluarga bukan hanya orang yang tinggal di
rumah. Namun, keluarga adalah rumah. Rumah disini maksudnya adalah tempat dimana kita
untuk pulang, tempat kita untuk tumbuh dan berkembang. Tempat dimana kita merasakan kasih
dan cinta yang tulus. Tempat dimana saya dapat merasakan rasa aman dan nyaman. Lalu, juga
ada sebuah gambaran tentang di dalam hati saya, tentang apa saja yang saya rasakan selama
pandemi ini. Dimana, saat pandemi ini dengan di rumah saja juga membuat saya sulit bertemu
dan bersosialisasi dengan teman-teman, merasakan kebingungan, ragu akan diri sendiri, merasa
kesusahan saat sekolah, dan masih banyak hal yang mengganggu diri saya. Namun, sebenarnya
saya tidak boleh terlalu banyak memikirkan banyak hal yang dapat membebankan diri sendiri.
Karena masih ada keluarga, yang selalu ada. Keluarga yang siap membantu saya dalam
menghadapi masalah-masalah yang saya hadapi. Jadi, hanya dengan keluarga, kebutuhan remaja
saya masih dapat terpenuhi. Terutama, dengan kebijakan yang mengharuskan kita di rumah agar

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

tidak menyebarkan virus COVID-19. Kita juga bisa menjadi lebih dekat dengan keluarga dan bisa
menghabiskan waktu lebih banyak. Yang sebelumnya mungkin, pada sibuk dengan pekerjaan dan
urusannya masing-masing. Jadi, kita tetap harus bersyukur dengan apa yang terjadi dalam hidup.

Raguel Pringgada
XII A-2/30

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Sebagai remaja, saya tumbuh sebagai seorang pribadi yang mencari jati diri dalam segala situasi
dan lingkungan yang saya hadapi. Masa SMP merupakan masa dimana saya mencari jati diri saya
pertama kali. Menjadi pelajar yang juga meluangkan waktu untuk bermain serta menyesuaikan
diri dalam lingkungan. Tidak jarang saya salah memilih prioritas antara bermain dan belajar.
Namun saya bersyukur penyertaan Tuhan selalu menyertai saya dan memberikan saya hikmat
untuk berhasil menuju ke jenjang berikutnya yaitu SMA.

Di masa SMA, saya memulai sebuah perjalanan yang cukup panjang dengan hal yang kurang
berkenan dengan peraturan sekolah. Namun saya bersyukur, karena dengan itu saya dapat
memetik sebuah pelajaran yang sangat berharga dan menjadi lebih berhati-hati lagi dalam
aktivitas yang saya lakukan. Seiring waktu berjalan, saya menjadi lebih dewasa dalam mengambil
keputusan. Saya mulai berfikir dengan matang sebelum mengambil tindakan. Belajar untuk
mengetahui mana yang baik untuk dilakukan dan yang terbaik untuk dipersembahkan kepada
Tuhan.

Namun di tengah-tengah masa dimana saya sedang berproses menjadi pribadi yang semakin baik
lagi, virus korona menerjang bak musibah besar yang menghancurkan suasana. Segala kebiasaan
dan kegiatan yang telah saya biasakan dalam hidup sehari-hari, harus saya rombak dan saya
sesuaikan dengan situasi pandemi yang ada. Pembelajaran yang saya jalani secara offline di
sekolah, mendadak berubah menjadi pembelajaran online yang seringkali tidak semaksimal
pembelajaran di sekolah. Dengan berat hati, saya mencoba untuk menjalani kegiatan dalam
situasi pandemi.

Di awal masa pandemi, semua terasa berat dan terkesan menyusahkan. Rasanya hanya
mengeluh dan tidak bisa bersyukur dengan situasi yang ada. Namun seiring berjalan waktu, saya
menyadari bahwa pandemi merupakan anugerah dari Tuhan yang membuat saya menjadi pribadi
yang bisa mengevaluasi diri lebih lagi. Saya dapat mengatur waktu dengan lebih baik agar
mencapai nilai yang lebih baik juga. Meskipun segala sesuatu yang saya lakukan dalam situasi
sebelum pandemi tidak dapat saya jalani dengan keadaan yang sama. Saya tetap bersyukur
dengan adanya pandemi.

Dalam lukisan yang telah saya buat, saya menggambarkan diri saya yang sedang menjalani
aktivitas dalam situasi pandemi. Saya tetap berkembang dengan aplikasi seperti zoom dan hal
lainnya yang mendukung pembelajaran serta komunikasi secara online. Saya menjalani hobi,
aktivitas, sekolah, maupun cita-cita yang saya kejar dalam situasi keterbatasan di masa pandemi.
Sebagai remaja, saya tetap berjuang untuk mengejar cita-cita saya yaitu menjadi abdi negara.
Saya berlatih, belajar, serta berdoa dengan tekun agar mencapai tujuan saya yang telah
direncanakan oleh Tuhan dengan sedemikian rupa untuk kebaikan saya. Saya yakin bahwa
remaja masa kini akan tetap bertahan dan terus berjuang dalam kuasa dan perlindungan Tuhan
walaupun berbagai rintangan datang menerjang.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Regina Clara Marie
XII A-2/31

Saya memilih untuk menggambar daur hidup kupu-kupu karena saya melihat kemiripan dalam
hidup kupu-kupu dengan remaja di masa sekarang ini. Fase ulat mirip dengan masa remaja yang
kebingungan dalam mencari jati diri. Ulat ini dikelilingi oleh ranting dan dedaunan pohon yang
menggambarkan bahwa pada masa tersebut remaja dikelilingi oleh teman-teman. Kemudian si
ulat mulai membuat kepompongnya yang menggambarkan remaja pada masa sekarang yang
harus menghadapi pandemi Covid-19 dan mengharuskan mereka untuk karantina dan
berkegiatan hanya dari rumah. Ulat dalam kepompong menyiapkan diri untuk menjadi sebuah
kupu-kupu nantinya, sama seperti kita yang harus menyiapkan diri untuk terjun ke masyarakat
dalam masa pandemi ini. Salah satu hal yang dibutuhkan pada masa itu bukanlah teman untuk
mengakui eksistensi, melainkan teman untuk menemani, berjuang, dan melangkah maju
bersama. Teman yang suportif, seperti ranting tempat kepompong bergantung. Setelah melalui

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
berbagai proses dalam mempersiapkan diri di kepompongnya, ulat pun berubah menjadi kupu-
kupu yang cantik yang siap terbang bebas ke alam. Sama seperti kita yang nantinya akan lulus
dari SMA lalu melanjutkan ke jenjang selanjutnya dimana kita akan terjun ke masyarakat.

Urban Gading Satrio Wicaksono
XII A-2/32
“REFLEKSI”

Ketika saya membaca bacaan tersebut, yang langsung terbesit di pikiran saya bukanlah yang
sosok remaja tersebut dalam bacaan tersebut hadapi, melainkan diri saya sendiri.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Karya ini saya beri nama “Refleksi” sebagai wujud hasil permenungan saya. Ide berawal dari
sampul album musisi Indonesia, yang karya musiknya membantu saya untuk tetap tenang dan
bertahan di tengah kesulitan apapun. Alunan musik dalam album mencerminkan isi hati manusia
dalam kesehariannya.

Berhubung ada kardus tersedia dirumah, media saya tentukan berupa kardus. Cat akrilik dan
pulpen gambar sudah dimiliki, tentunya dengan peralatan pensil, penghapus, dan cutter. Sesuai
dengan saya sebagai remaja yang bermetamorfosis, saya menggunakan warna dasar yang cukup
abstrak bagi diri saya sendiri, sehingga warna biru-hitam untuk warna kulit, dan coklat untuk
warna rambut. Bagian hati dan kepingannya akan tampak menonjol dengan warna yang vibrant.
Disitu saya tulis kata-kata kunci sebagai refleksi akan tumbuh dan berkembangnya seorang
remaja.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Alexander Owen
XII IPA-3/01

Saya membuat gambar tersebut dialasi dengan meja kayu yang tidak asing lagi dipandang saat
di rumah. Saya menggambar sebuah bunga mawar dengan bunganya mencerminkan bahwa
anak muda harus dapat berkembang dari alas kosong yaitu meja kayunya dan menjadi daun
dan lama lama menjadi bunga mawar yang indah. Anak muda pada jaman pandemi ini harus
dapat berkembang, melewati batasan diri, jauh dari zona nyaman yang biasa dilakukan. harus
mencari cara baru untuk dapat beradaptasi dari pandemi ini, sehingga dapat menghasilkan
sesuatu yang berguna bagi masa depan bangsa.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Aloisius Adias Anggoro
XII IPA-3/02

Latar Belakang
Di era pandemi ini, waktu luang semakin banyak sehingga waktu itu berpikir dan me-time
semakin banyak pula. Hak ini memengaruhi daya pikir remaja. Pemikiran atau kebutuhan yang
tadinya hanya memikirkan pembuktian diri ke publik atau eksistensi telah dibelokan oleh
pemikiran pembentukan diri menuju dewasa. Para remaja mulai memikirkan kebutuhan dan
tanggung jawab mereka yaitu masa depan. Mereka mulai mengelola mimpi, visi misi dan
berjuang demi cita-cita mereka. Karya ini menyuguhkan visualisasi pemikiran serta realitas
kehidupan, dimana untuk menggapai tujuan dan masa depan kita, perlu adanya perjuangan dan
proses.
Pada bagian ini melukiskan seorang individu yang sedang berpikir mengenai aspek-aspek
kehidupan di depannya. Siapakah aku? Pada bagian ini, melukiskan fase pertama pendewasaan
diri, yaitu penemuan jati diri, topeng-topeng tersebut merupakan visualisasi dari sifat-sifat
manusia Aloisius Adias Anggoro Perihal: Realitas XIIA3/2Diatas sana Bagian ini melukiskan
impianimpian besar yang tak terhingga beserta pikiran-pikiran tak terbatas milik manusia.
Mengais Bagian ini memvisualisasikan rintanganrintangan dalam perjalanan hidup menuju cita-
cita. Tanda tanya (?) digambarkan sebagai kejutan-kejutan yang tak terduga yang diluar tangan
manusia. Detak Bagian ini menggambarkan jantung yang tetap berdetak tanda perjuangan yang
tak kenal lelah. Individu yang terus melawan rintangan meskipun telah terlukai oleh
proses.Bintang Bagian ini menggambarkan ujung dari perjalanan dimana cita-cita telah tercapai

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Alvaro Radhitya Amboro
XII IPA-3/03

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Makna dari gambar yang saya buat adalah, gambaran dari kehidupan seorang anak yang sedang
belajar. Tetapi semua itu berubah seketika ketika pandemi COVID-19 melanda. Untuk
memenuhi kebutuhan nya dalam belajar ia kemudian beralih dengan belajar virtual melalui
laptop yang ia miliki. Pada karya ini terdapat 4 gambar dalam satu kubus tanpa tutup yang
memiliki arti yang berbeda-beda.

Anastasia Agatha Tjeyadi
XII IPA-3/04

Judul: Living in Isolation
Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia, semua orang dari tiap pihak mengalami kemunduran
dan rintangan dalam menjalankan aktivitas dalam kehidupan sehari-harinya yang biasanya
merupakan rutinitas. Sekarang remaja tidak bisa lagi bertemu dan bersosialisasi secara
langsung. Ide dari gambar saya adalah ketika para remaja menggunakan waktu isolasi yang ada
untuk mengenal dirinya lebih dalam lagi. Mungkin saat di lingkungan teman-teman dan sekolah,
remaja cenderung mengikuti tren dan hanya mengikuti sebuah mayoritas baik dalam hal
berpakaian, berperilaku, dan berpendapat. Akan tetapi setelah para remaja menghabiskan
waktu sendiri dan bersama keluarga, maka sikap dirinya yang sebenarnya akan muncul dan
semakin hari semakin lebih mengenal diri sendiri.
Kebutuhan remaja saat pandemi COVID-19 telah bergeser, dari yang mempedulikan sekali
pendapat teman sebaya akan dirinya menjadi sepenuhnya hanya peduli akan pendapat diri
mereka sendiri dan mereka bisa lebih percaya diri. Yang remaja saat ini butuhkan adalah
motivasi dan semangat dari diri mereka sendiri agar dapat mencapai goal dan tujuan mereka.
Cara sederhana yang bisa ditempuh adalah dengan rajin merefleksi, berolahraga dengan rutin,
mengembangkan diri dengan baca buku dan mengikuti webinar atau workshop. Semua

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
kebutuhan ini tentunya juga selalu melibatkan elektronik seperti laptop dan handphone untuk
mendampingi dan menjadi suatu jembatan koneksi jarak jauh dengan teman sekolah maupun
teman baru.

Andrew Nugrah Dwi Putra
XII IPA-3/05

Deskripsi Seni:
Seni yang saya buat menggunakan batu 5 buah sebagai media lukis saya untuk menuangkan ide dan isi
pemikiran saya. Pandemi Covid-19 memang membuat pergerakan kita sangat tertahan. Apalagi hanya
harus berdiam diri di rumah saja. Tapi hal itu saya rasa bukanlah sebuah halangan bagi kita untuk berkarya.
Bukanlah halangan bagi kita untuk mewujudkan impian kita.
Sangat disayangkan apabila kita ingin keluar dan berkarya namun masih tidak peduli bahwa kita masih di
tengah pandemi. Peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah tentunya untuk kebaikan kita semua.
Juga sudah seharusnya kita mematuhi protokol kesehatan yang ada. Dengan gerakan 5M, itu sudah sangat
cukup dari kita untuk memutus rantai penularan virus corona. Sesuai dengan apa yang saya lukis di kelima
batu tersebut. Batu pertama dari kiri menggambarkan untuk selalu menggunakan masker saat di luar
rumah atau berkarya di luar rumah. Batu kedua dari kiri menggambarkan menjaga jarak ketika berada di

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

luar rumah atau berkarya di luar rumah. Batu yang tengah menggambarkan cuci tangan dimana kita harus
selalu menjaga kebersihan terutama tangan kita. Batu keempat dari kiri menggambarkan menjauhi
kerumunan dimanapun kita berada. Batu terakhir menggambarkan untuk tetap di rumah dan mengurangi
mobilitas untuk keluar rumah apalagi untuk urusan tidak penting seperti nongkrong dan lain-lain.

Angela Queenie Andhita
XII IPA-3/06

Ide Gambar Pandemi Covid-19 ini mengubah segala unsur kehidupan. Semua orang dituntut
untuk tetap bertahan hidup ditengah masa yang sulit ini. Semua orang pastinya mengalami
kesulitan, tidak terkecuali anak-anak dan remaja. Saya menggambar seorang anak/remaja yang
sedang berada di sebuah taman menggunakan media casing handphone. Masa pandemi ini
menghambat perkembangan remaja karena remaja berada di rumah setiap hari, dan media
pengembangan dirinya pun juga terbatas. Saya menggambar seorang remaja yang sedang berada
di taman atau alam karena sebelum masa pandemi, sebagai seorang remaja pastinya memiliki
kesibukan untuk belajar dan belajar. Seringkali remaja terlalu sibuk belajar hingga lupa waktu dan
lama kelamaan melupakan lingkungan sekitarnya. Karena adanya pandemi ini, remaja dapat lebih
peka terhadap lingkungan, menghabiskan waktu di alam, berinteraksi dengan alam, mencoba
hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan, menghabiskan waktu diluar rumah, dan
lain-lain. Rumput dan bungabunga di sekitar remaja tersebut juga seakan-akan memeluk remaja
tersebut. Rerumputan dan bunga-bunga serta makhluk hidup lainnya seakan-akan mengatakan
kepada remaja tersebut “semuanya akan baik-baik saja.” di masa pandemi ini. Alam akan selalu
menjadi rumah bagi semua orang. Langitnya juga menampilkan warna biru yang sangat cerah
menggambarkan perasan bahagia remaja tersebut. Selain itu, bentuk ❤ di sebelah remaja
tersebut menggambarkan bahwa hari-harinya selalu penuh oleh kasih sayang dari orangtua,
teman, kerabat, dan lainnya sehingga di masa pandemi ini remaja dapat tetap bertumbuh dan
berkembang tanpa kekurangan satu apapun.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Anindita Angelique Novia Pratita Sari
XII IPA-3/07

Media yang saya gunakan adalah pembatas buku berbentuk lingkaran
Makna atau ide dari gambar tersebut adalah mengibaratkan bagaimana situasi yang
dihadapinterutama remaja di masa pandemic ini. Saat ini bagi saya pribadi setiap remaja
kebutuhan yang sangat dan sulit diwujudkan adalah kehadiran teman sebaya secara fisik. Karena
bagaimana pun usia 15 – 18 than membutuhkan seseorang yang sama-sama merasakan apa yang
sedang mereka hadapi. Ada pula garis semu yang memisahkan jarak antara kedua kaktus tersebut
karena saat rasanya memang segala teknologi dapat mendekatkan kita tapi pasti berbeda
rasanya dengan kehadiran secara fisik teman-teman yang sama-sama melewati hal yang juga kita
lewati. Mengapa kaktus? Karena kaktus memiliki tubuh yang penuh dengan duri dan bisa saja
merugikan atau menyakiti siapapun yang menyentuh mereka, sama seperti saat ini kita tidak tau
apabila kita bertemu satu sama lainnapakah hal itu akan menyakiti atau merugikan diri kita dan
teman kita masing-masing. Seperti yang bis dilihat di sisi kaktus berwarna putih terdapat origami
warna-warni yang menggambarkan bahwa sebenarnya di luar “lingkaran pandemic” tersebut
dunia luar sangat dibutuhkan untuk para remaja baik untuk tumbuh kembang mental dan
pemikiran mereka ataupun untuk kebutuhan sosial.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Aubrey Theodore Godeliva Sitepu
XII IPA-3/08

Judul Karya : Rehat
Latar Belakang :
Menggambarkan pikiran remaja yang begitu lelah dengan keadaan online. Pikiran-pikiran
tersebut selama ini hanya terbenam di dalam kepala tanpa bisa dibagi dan diobati karena jauhnya
jarak antar kerabat. Berbagai rasa depresi, memikirkan masa depan, ujian dan lain lain membuat
banyak remaja tentunya seakan mesin yang tidak berperasaan. Untuk itu saya merasa "saya ingin
keluar dari dunia online dan untuk sementara berhenti". Hal ini digambarkan dengan kepala
laptop yang di charge karena terlalu lelah. Teks chatbox di samping menggambarkan aspirasi
pikiran yang tak tersampaikan karena pikiran tersebut terperangkap di dunia maya

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Babtista Putri Grahani
XII IPA-3/09

Remaja di Era Pandemi

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Masa remaja erat kaitannya dengan masa pencarian jati diri. Pada masa sebelum
pandemi, banyak remaja yang mencari jati dirinya melalui perjumpaan dengan teman-teman
mereka, baik itu di sekolah atau ruang publik lainnya. Para remaja yang ingin mencari jati dirinya,
pasti akan mencari pengakuan dari orang-orang di sekitarnya. Dulu, semuanya sangat mudah
karena remaja-remaja ini cukup berperan dalam banyak kegiatan di sekolah, di lingkungan, dll.
Namun dengan keadaan yang terbatas seperti sekarang, bahkan bertemu saja sulit, dan harus
lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, para remaja mencari cara lain untuk menemukan
jati dirinya.

Dari ilustrasi gambar yang saya buat, yang pertama, saya menggambarkan tampilan layar
zoom meeting, dengan keterangan workshop webinar online. Makna dari gambar ini yaitu, pada
masa pandemi ini cara untuk berkomunikasi dan mencari pengakuan dari orang lain adalah
mengikuti banyak kegiatan online. Banyak remaja yang kini berinovasi untuk membuat acara
yang tidak terbatas ruang dan waktu, banyak juga yang berpartisipasi di dalamnya sehingga
pengalaman-pengalaman didapat secara tidak terbatas. Adanya sarana pengembangan diri
online semacam ini dapat menambah relasi, pengalaman, dan pengetahuan para remaja dalam
usaha mencari jati dirinya. Lewat banyak kegiatan online, para remaja dapat berkembang
sebagaimana pada saat offline, bahkan melebihinya, karena jangkauan online lebih luas. Dengan
mengembangkan diri terus menerus di masa pandemi ini, memanfaatkan teknologi semaksimal
mungkin untuk menjangkau pengetahuan dari banyak tempat yang jauh, kehidupan sosial remaja
tetap akan berkembang. Relasi dan kompetensinya bertambah banyak, sehingga siap terjun ke
tengah masyarakat dalam ‘new normal’ ini.

Dari gambar kedua yang saya buat, yaitu gambar keluarga inti yang sedang menghabiskan
waktu bersama di ruang keluarga sambil menonton tv. Maknanya adalah perubahan yang terjadi
semenjak pandemi. Kebutuhan kita akan pengakuan eksistensi dari teman-teman semasa offline,
tergantikan dengan kebutuhan pengakuan eksistensi dari keluarga. Maksudnya, jika kita dulu
mencari tempat berkarya, eksplorasi, dan menghabiskan waktu di luar, bersama teman, kini di
masa pandemi, kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat diwujudkan bersama keluarga. Hubungan
para remaja dengan teman-temannya tetap ada lewat komunikasi online, namun tetap saja lebih
dari 50% kehidupan sehari-hari remaja tsb akan berkutat di tengah keluarga masing-masing.
Hubungan dengan keluarga pun semakin erat, dan para remaja dapat menyadari bahwa jati
dirinya dapat ditemukan di rumah, bersama keluarganya sendiri dengan cara bertukar pikiran
dan pengalaman.

Media dan Alat : Tas, Cat Akrilik, Spidol

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Bagas Aryo Sadewo
XII IPA-3/10

Afeksi untuk Pemuda
Gambar yang saya buat berjudul Keinginan pemuda. DI gambar tersebut terlihat 5 warna
: Kuning, ungu, pink, Hijau dengan sedikit putih dan Biru Tua. Lalu ada gambar Hape sejenis
smartphone dan 2 orang serta hati. Gambar ini saya buat dengan media Pot yang mempunyai
tanaman yang subur berada di atasnya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Warna-warna tersebut menggambarkan aplikasi media sosial yang sungguh terkenal :
Instagram yang dilambangan sebgaai kuning ungu dan pink, LINE yang dilambangkan dengan
hijau sedikit putih, dan Facebook yang dilambangkan sebagai biru. smartphone melambangkan
cara yang kita bisa gunakan untuk memberi afeksi kepada orang lain, khususnya pemuda yang
sering menggunakan gadget, lalu hati yang melambangkan afeksi sebagai sumber utama
seseorang menjadi manusia. 2 orang tersebut melambangkan kita semua, para pemuda yang
harus saling berbagi kasih melalui gadget dan dengan menaati protokol yang berlaku. gambar
yang sederhana melambangkan kesederhanaan dan niat yang tulus untuk memberi afeksi,
bukannya pelayanan yang bombastis tetapi penuh tipu muslihat dan kemunafikan. Berbagai hal
tersebut dapat memberi kebutuhan afeksi yang cukup untuk menguatkan kita para pemuda, yang
dilambangkan sebagai tanaman yang tumbuh subur.

Covid 19 sekarang sudah berada di mana mana, dan hal itu membuat kita tidak bisa
bersosialisasi dengan leluasa. Padahal, sebagai makhluk sosial, kita berkaitan erat dengan sesama
kita. Setiap hari kita harus memberi dan menerima afeksi yang secukupnya, baik kepada orang
lain maupun diri sendiri. Afeksi menjadi faktor utama seseorang menjadi manusia.

Pemuda pun demikian. Pemuda pemuda ingin diakui, karena membutuhkan suatu afeksi.
Tanpa afeksi, mereka akan menjadi lelah secara mental dan berusaha mendapatkan afeksi
melalui jalur keras. Hal ini menjadi krisis dimana Covid 19 merajalela dan kesempatan untuk
saling memberi dan menerima afeksi semakin langka. Orang sibuk untuk memenuhi kebutuhan
sendiri, tanpa memperdulikan orang lain.

Mental seseorang ibaratkan tanaman yang saya gunakan sebagai media gambar saya.
Dengan adanya nutrisi yang cukup, yaitu afeksi, tanaman dapat tumbuh dengan subur. Banyak
cara untuk memberikan afeksi kepada orang orang, misalnya dengan sapaan setiap hari, yang
bisa kita berikan melalui teknologi yang ada di sekitar kita, seperti misalnya LINE, Facebook, dan
Instagram. dengan hal hal itu, kita dapat saling mengasihi dan memberi afeksi kepada orang lain,
sehingga kita menjadi kuat secara mental, seperti tanaman yang subur ketika diberi nutrisi yang
cukup.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Bernard Maximus Weber
XII IPA-3/11

Sebuah lukisan dengan seni 3d berupa ikan yang menggambarkan sebuah remaja yang terisolasi
dari kehidupan sosial yang menjatuhkan dia dengan membuat sebuah lingkaran yang menjaga
dirinya dari hubungan yang buruk.

Caroline Vania Putrisantosa
XII IPA-3/12

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Karya saya ini menceritakan tentang kedua sahabat yang terpaksa terpisah untuk sementara
waktu dikarenakan pandemi. Mereka ternyata menemukan jati diri dan kebahagiaan tersendiri
dengan berkumpul dan menghabiskan waktu dengan keluarga mereka.

Cecilia Ardina Listiarini
XII IPA-3/13

MAKNA GAMBAR
Gambar tersebut bercerita tentang segala kebutuhan remaja termasuk menjalani hobi-hobinya.
Ada bernyanyi, menggambar apapun itu. Di masa pandemi ini yang sekarang segala hal sangat
terbatas. Kebutuhan-kebutuhan remaja masih sama. Meskipun kita sekarang berada di rumah
dan dibatasi bertatap muka, kebutuhan remaja untuk bersosialisasi dengan sesamanya masih
sama. Tetapi, masih ada hal yang bisa dilakukan oleh para remaja di rumah. Ini bisa menjadi
kesempatan mereka semua untuk mengembangkan bakat minat mereka. Meskipun berada di
rumah, mereka bisa mengatasi sedikit kejenuhan dengan mengembangkan sesuatu yang mereka
sukai. Meskipun terkadang di rumah merasa jenuh, tidak bisa kemana-mana, rasanya penuh
keterbatasan, dan kita tidak bisa bercanda dengan orang lain, kita masih bisa melakukan sesuatu
yang bermanfaat


Click to View FlipBook Version