The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA TP. 2020/2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by m.wara, 2021-07-12 19:09:56

KARYA UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA TP. 2020/2021

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
dan hambatan tersebut. Mata yang bulat dan berwarna biru artinya meski harus fokus tetapi kita
harus memiliki pikiran dan pandangan yang jernih dan memikirkan masa depan. Senyuman
berarti meski banyak sekali kesedihan yang dihadapi, kita tetap harus tersenyum agar hati kita
tidak hancur.

Paskalis Bawika Wistara Pamulu
XIIS-2/18

“Arabelle”
“berpikir akan sebuah luka dan ketakutan yang sangat mendalam akan kehilangan,
namun perlahan semuanya dapat terobati dan dihadapi. selagi masih sanggup, namanya juga

berimajinasi…”

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Kalimat kutipan diatas merupakan cerita yang diungkapkan dari lukisan Arabelle ini, lukisan
ini menceritakan akan adanya perasaan dan pikiran seorang remaja yang merasakan bagaimana
rasanya menjadi seorang remaja. Dalam masa remaja, memang orang ini memang banyak berfikir
tentang perasaannya, pikirannya, perbuatannya, hingga perannya di dalam masyarakat luas. Dalam
menjalani hidupnya seorang remaja ini memiliki banyak peristiwa baik dan buruk yang dijalan, banyak
apresiasi yang ia dapatkan, tapi tak sebanyak luka yang ia dapatkan. Semua berawal dari sebuah
pikiran, mana yang mau dituju, yang positif kah? yang negatif kah? tergantung dia merepresentasikan
mana yang positif, mana yang negatif. Mungkin bisa dibilang dalam masa pertumbuhan pada tahap
remaja, orang ini tidak dapat menjalani masa remaja dengan sempurna karena adanya hambatan
besar bagi seluruh dunia, yaitu virus Covid-19, dalam masa seperti ini remaja tidak dapat bertemu
dengan teman-teman sebayanya, orang yang selalu bersama dalam kelompok sepermainannya.
Dalam masa remaja, sangat wajar dalam mempunyai keinginan untuk menujukkan eksistensi diri, dan
dalam masa seperti ini para remaja semakin banyak bersuara dan semakin banyak yang berkarya, di
sisi lain remaja memang tidak luput dari rasa ingin menunjukkan eksistensi diri, dan masa seperti ini
menjadi masa yang membuat masyarakat menganggap bahwa masa pandemi ini adalah masa yang
menyebalkan dan tidak dapat diterima, namun banyak hal yang dapat berubah, remaja dalam masa
pandemi mungkin memang tidak dapat menyempurnakan masanya sebagai remaja, namun dengan
adanya pandemi seperti ini justru remaja bisa menyempurnakan dirinya sendiri sebagai remaja,
banyaknya keluhan dan gelisah terhadap masa-masa yang dijalanni, luka, derita, gerutu, dan cinta,
yang pada akhirnya dapat dicurahkan menjadi sebuah karya yang menunjukkan bahwa diri seorang
remaja sebenarnya mampu ditunjukkan dari jati diri sendiri dalam masa seperti ini. Maka di dalam
lukisan tersebut terdapat orang yang sedang bermimpi akan tujuan hidupnya dan rasa ingin mengenal
dirinya sendiri lebih dalam, di belakang manusia tersebut ada tulisan “rasa takut yang dihadapi, rasa
luka yang terobati” dan seperti adanya ledakan yang menunjukkan adanya perasaan yang gencar dan
bergelora di dalam hati, pikiran, dan perasaan. Yang melatar belakangi pemilihan gambar tersebut
adalah cerminan dari diri saya yang sangat suka berfikir dan merasakan dan menikmati setiap momen
yang dialami, dan saya tidak akan pernah menilai baik buruknya suatu kejadian atau perbuatan,
karena saya selalu berfikir bagaimana saya merepresentasikan hal itu menjadi sesuatu yang positif
atau negatif. Dan untuk menutupi ujian praktek ini saya ingin mengatakan bahwa, saya sebagai
remaja yang mencintai seni juga mengakui bahwa, lukisan ini juga tidak akan ada bila tidak ada masa
seperti ini, jadi, hal buruk yang datang pada kehidupan kita janganlah kita jadikan sesuatu yang buruk
yang membekas kepada diri kita, namun bagaimana cara kita untuk tetap menemukan sebuah
kebaikan yang lebih berguna untuk hidup kita sendiri dari peristiwa pahit itu.

LAMPIRAN

Alat : Kuas
 Triplek
 Palette


Bahan :
 Krayon
 Cat akrilik
 Posca (spidol)

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Ragil Sinatrio Trisdewastu
XII IPS-2/ 19

“Pita Nostalgia”

Pandemi covid 19 ini memaksa saya untuk berdiam diri di rumah dan melakukan isolasi, dan hal
itu harus saya lakukan karena kedua orang tua saya yang sudah memasuki usia yang cukup rentan
untuk terkena penyakit apalagi virus covid 19 ini. Saya sebagai anak bungsu yang tidak bisa diam
dan “pecicilan” pastinya sangat sulit untuk harus berjam-jam diri di rumah tanpa melakukan
kegiatan diluar. Pada suatu sore badan saya yang tidak bisa diam ini mencari cara untuk tidak
bosan, saat itulah saya menemukan kaset jadul yang dulunya sering dipakai oleh ayah saya.
Saya pun bergegas mencari kaset-kaset pita lama milik ayah saya untuk dimainkan di kaset tipe
tersebut. Mulai dari sanalah saya mengisi hari-hari saya dengan “mengulik” dan mencari tahu
latar belakang lagu-lagu jadul yang aransemennya menarik dan tidak pasaran. Hampir setiap hari
saya mempelajari lagu-lagu di kaset itu dan juga memutar lagu-lagunya sambil belajar. Daripada
bermain game Saya lebih memilih untuk mendengarkan musik-musik yang sudah tidak populer
di di era milenial ini. Hal itulah yang melatarbelakangi saya untuk membuat lukisan kaset dengan
bahan cat air dan kuas di atas sebuah media talenan yang saya beli di pasar.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Renatta Adya Aurel Terra
XIIS2/20

Judul : Apa, dan Harus Bagaimana?

Media : Kertas gambar

Alat : Cat warna, pensil warna, pulpen 0.5

Makna Karya :

Penggambaran mengenai dua buah kondisi yang sangat berbeda, antara sebelum

pandemi dan saat pandemi. Hal ini digambarkan lewat patahan yang terlihat sebagai pembatas

antara situasi sebelum pandemi dan pada saat pandemi. Saat sebelum pandemi, remaja

disibukkan dengan banyak pertanyaan yang ada di otak mereka yang berkaitan dengan pencarian

jati diri mereka, tentang siapa mereka, mau jadi apa mereka dan hal-hal lainnya. Pada saat

sebelum pandemi juga, remaja diberikan kebebasan untuk memilih dan bersosialisasi dengan

orang lain, hal ini ditunjukkan dengan adanya plang arah yang menunjukkan mau seperti apa

remaja ke depannya. Kertas tersebut dibentuk tidak beraturan, sebagai wujud dari isi kepala

remaja yang tidak teratur, abstrak dan juga penuh kelabilan. Keteraturan ini juga diwujudkan

dengan pewarnaan latar gambar yang dibuat tidak beraturan arahnya.

Pada saat pandemi, remaja tidak lagi terfokus dengan pencarian jati diri mereka. Mereka

lebih berpikir untuk bagaimana mereka bisa tetap survive di masa pandemi ini, dan bahkan

seringkali hal yang dikeluhkan oleh para remaja pada saat pandemi ini yaitu bagaimana

kesehatan mental mereka yang sering kali dipertanyakan.

Digambarkan juga situasi pada masa sebelum pandemi diberi warna merah yang ada sisi

gelap dan juga bagian terangnya pada latarnya dan situasi pada saat pandemi yang diberi warna

abu-abu dan ada juga sisi gelap terangnya. Dari pewarnaan ini, menggambarkan pemikiran

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

orang-orang pada umumnya bahwa situasi sebelum pandemi lebih baik daripada situasi setelah
pandemi. Akan tetapi, dari adanya sisi gelap dan terang dari masing-masing sisi ini saya ingin
menggambarkan bahwa dari masing-masing sisi tersebut, ada baik dan ada buruknya. Ada hal
positif dan negatif yang bisa dirasakan oleh kita para remaja dalam masa pencarian jati diri.

Selain itu, tokoh yang ada di dalam gambar itu adalah seorang perempuan, ini saya ambil
berdasarkan kisah pribadi saya tentang pencarian jati diri, dan maka itu saya menggambarkan
diri saya di dalam gambar tersebut. Pada situasi sebelum pandemi, dituliskan tanda bahwa harus
mengikuti kata hati (follow your heart), dimana di dalam pencarian jati diri tersebut, sebaiknya
kita mengikuti kata-kata hati kita. Hal ini saya gambar juga sebagai bentuk dari kelabilan remaja
yang seringkali terjadi dalam masa pandemi dan saya ingin memberikan makna bahwa dalam
pencarian jati diri, hendaknya mengikuti apa yang kita pikirkan dan bukan berdasarkan ikut-
ikutan.

Pada sisi bagian saat pandemi, terlihat perempuan itu sedang memakai tangga dan juga
ada lingkaran dan tangga yang menggantung di lingkaran cahaya itu. Hal yang ingin saya
sampaikan adalah remaja tersebut pada masa pandemi ini harus dapat keluar dari zona gelap
tersebut menuju sesuatu yang terang (masa depan) dengan menggunakan tangga, akan tetapi
tangga yang digunakan tidak utuh, bagian bawahnya tidak ada. Maka dari itu, jika perempuan
tersebut ingin naik menuju ke cahaya tersebut, harus memiliki bagian tangga yang patah tersebut
supaya ia bisa naik menuju cahaya itu. Makna dari gambar tersebut adalah sebagai remaja di
masa pandemi ini, sebenarnya memikirkan 2 hal, yaitu bagaimana mental tetap terjaga dan
bagaimana usaha untuk mencapai masa depan. Masa depan sebenarnya sudah kelihatan dan
sudah tertata dengan baik, tapi yang menjadi tugas remaja tersebut adalah bagaimana usaha dan
caranya supaya ia bisa sampai ke masa depan tersebut, seperti di dalam gambar tersebut adalah
dengan menyambung tangga yang gilang tersebut.

Apa yang dipikirkan remaja pada saat sebelum pandemi dan saat pandemi sebenarnya
intinya sama, adalah bagaimana remaja bisa mengambil peran di dalam masyarakat, bisa
memiliki keunikannya itu sendiri, dan juga bagaimana remaja bisa mencapai apa yang menjadi
masa depannya walau banyak kendala yang ada di dalam otak para remaja yang masih sangat
labil dan sangat mudah untuk goyah.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Riky Chandra Saputra
XII IPS-2/21

Judul karya
Mengobati Rasa Rindu Dengan Virtual Meeting
Pertanyaan pertama apakah kebutuhan pada umumnya anak -anak remaja dimasa pandemic ini
masih sama dengan kebutuhan mereka sebelumnya yaitu teman yangmengakui eksistensinya?

Kebutuhan tersebut masih sama yaitu teman yang mengakui eksistensinya. Itu
merupakan kebutuhan psikologis manusia terutama pada masa remaja. Mereka membutuhkan
orang lain untuk untuk membuat dirinya menjadi lebih dewasa. Orang lain tersebut merupakan
anggota keluarga mereka. Dari sini kita juga mengetahui bahwa manusia padahakikatnya dalah
mahluk sosial artinya mereka tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain untuk
memenuhi kebutuhan manusia
Bagaimana cara yang di tempuh agar kebutuhan pada umumnya remaja itu trepenuhi?

Tujuan tersebut sekarang di tempuh dengan cara yang berbeda kalau dulu adalah dengan
nongkrong dan main di lapangan serta keluar rumah ,sekarang menjadi di dalam rumah dengan
memanfaat kan teknologi informasi berupa virtual meeting yang memakai koneksi internet entah
itu melalui W.A ,Line, Zoom atau Google Meet.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Dari gambar yang saya buat ide awalnya dalah sebuah keresahan hati saya yang rindu
akan keluarga karena tidak bertemu dari 8 bulan yang lalu. Di dalam diri ,saya merasakan ada
sesuatu yang hilang dan itu membuat saya menjadi tidak bisa hidup sepenuhnya dalam
keseharian saya. Ternya sesuatu yang hilang itu adalah separuh jiwa saya yaitu keluarga. Hal ini
semua disebabkan covid-19 yang membuat jarak terpisah sangat jauh dan lama saking lamanya
separuh jiwa saya hilang yaitu keluarga. Walaupun dengan virtual meeting tetap saja saya belum
bisa mengobati rindu saya sepenuhnya hanya menahan agar rindu itu tidak menjadi berat.
Saya merindukan keluarga saya di rumah karena mereka adalah orang-orang penduking utama
saya untuk melangkah dan mengambil keputusan kedepannya yaitu menjadi seorang imam.
Mereka adalah tempat dimana saya bisa pulang bersender di bahunya dan mensharingkan semua
yang telah terjadi pada saya, saling bertukar cerita dan bercanda tawa dalam kebahagian. Mereka
juga yang membuat semangatku menjadi pulih kembali. Aku bersyukur memeliki keluarga yang
seperti itu . trimakasih tuhan atas apa yang telah Engkau beri melalui keluargaku ,semoga mereka
tetap sehat-sehat saja dan baik-baik saja sehingga ketika aku pulang kerumah aku bisa
menyambut mereka dengan kebahagiaan.amin.

Sesilia Aurora Andini
XII IPS-2/22

Gambar saya adalah gambar bunga diatas talenan, yang melatar belakangi terbentuknya
gambar ini adalah saya berfikir sekarag ini remaja benar-benar diuji karena dihadapi dengan
situasi pandemic covid-19 ini, kemudian juga dismaping itu banyak remaja yang sedang
mempersiapkan diri untuk lanjut kejenjang penddikan lanjutan. Bunga dan taelenan
maksudnya adalah dimana sekarang ini disamping kita harus mempersiapkan diri untuk

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
pendidikan selanjutnya, kita juag harus mengimbangi diri dengan melakukan sesuatu yang
berguna dan juga melakukan sesuatu yang kita senangi atau mencari kegiatan baru yang
positif, untuk saya sendiri selama pandemi Covid-19 ini saya mengimbangi diri saya dengan
melakukan hobi saya yaitu menggambar dan melukis, disamping itu juga saya memulai
kegiatan baru yang ternyata asik juga yaitu bercocok tanam dan juga memasak, karena kedua
hal baru itu maka saya terinspirasi untuk mengambar bunga diatas talenan karena kedua hal
ini memiliki arti bagi diri saya sendiri yaitu kegiatan baru yang mulai saya gemari ditengah
pandemi ini, saya ingin mengajak bagi remaja / teman lainya adalah dengan mencoba
melakukan hal baru dalam situasi ini, selain untuk refreshing juga kita jadinya punya
pegetahuan baru.

Skolastika Gizanta M.A
XII IPS-2 / 23

Ide gambar untuk ujian praktik saya adalah daya kreatif para remaja di tengah pandemi. Dalam
gambar yang saya buat di dinding ini, tergambar sebuah jendela yang dipenuhi oleh bunga yang

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

berwarna warni dan dikelilingi oleh dua pohon. Bunga melambangkan para remaja yang dapat
tetap mekar dan memberikan keindahannya (spirit khas remaja) di tengah pandemi. Di dalam
jendela tergambar tiga perempuan yang tengah berbaring saling bercengkrama. Kemudian ada
balon balon berwarna warni yang didalamnya tergambar aktivitas-aktivitas positif yang bisa
dilakukan di rumah selama pandemi yaitu self-care dengan menggunakan masker wajah,
mengadakan zoom-meeting untuk mengatasi rasa kangen dengan kerabat atau teman-teman,
bermain dengan binatang peliharaan, membuat karya seni seperti lukisan, belajar memasak
suatu hidangan, mendengarkan musik untuk relaksasi, menggunakan smartphone/gadget untuk
hal yang positif, belajar bercocok tanam, menikmati makanan yang disukai, berolahraga secara
terataur, dan tidak lupa untuk istirahat yang cukup. Disini bukan berarti bahwa ketiga remaja
boleh bertemu satu sama lain, namun hanya ilustrasi bahwa masing-masing dari remaja tersebut
mempunyai ide kreatif masing-masing mengenai apa yang dapat mereka lakukan di rumah.
Kemudian ada beberapa gambar virus sebagai lambang virus Covid-19. Dan tergambar juga
awan-awan dan matahari. Matahari menggambarkan sinar keceriaan remaja yang tak akan pudar
di masa pandemi ini. Di dalam salah satu awan tergambar pemadangan gunung dengan tanda
tanda silang berwarna merah sebagai lambang bahwa untuk kegiatan liburan, saat ini tidak dapat
kita lakukan. Di dalam gambar ini saya memberikan banyak warna-warna cerah dan meriah serta
efek gradasi untuk menggambarkan suasana gembira dan indahnya masa remaja yang penuh
warna dan berkesan dalam hidup.

Hal yang melatarbelakangi munculnya ide gambar ialah kondisi pandemi saat ini. Kondisi
pandemic yang memaksa kita untuk diam di rumah dan melakukan segala kegiatan tanpa keluar
dari tempat tinggal kita. Oleh karena keterbatasan ini, kita tak dapat bertemu satu sama lain
untuk sekedar bercengkrama, bertukar cerita ataupun pikiran. Sudah setahun lamanya kita
berdiam diri di rumah, saya sebagai seorang remaja sangat merasa kurang nyaman. Sebagai
remaja umumnya saya pergi ke sekolah, bertemu dengan teman-teman, mengeksplorasi dunia
luar, dan membuat pengalaman serta kenangan yang baru. Namun di saat seperti ini, saya sendiri
awalnya tidak bisa beradaptasi dengan kenyataan ini, saya merasa kebingungan dan putus
harapan. Masa remaja adalah masa dimana saya mencari jati diri saya, mencari hal apa yang saya
sukai, dan apa yang menjadi passion saya. Namun saya sadar bahwa masa pandemi ini janganlah
menjadi batu sandungan bagi saya untuk tetap berkembang dan bersinar layaknya seorang
remaja yang penuh dengan keceriaan dan energi positif. Saya yakin ada banyak kegiatan /
aktivitas bermanfaat yang tetap bisa kita lakukan meski kita hanya berada di rumah saja.
Menjadikan rumah sebagai ruang yang nyaman untuk berkembang dan bertumbuh diselingi oleh
aktivitas positif bagi saya cukup untuk mengatasi kegelisahan diri mengenai masa remaja saya
yang menjadi khas karena pernah diwarnai oleh pandemi Covid-19.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Theresia Carissa Indurasmi
XII IPS-2/24

Ide Gambar & Latar Belakang
Untuk Tugas Uprak Seni saya membuat sebuah rumah yang ada anggota keluarga di dalam rumah
tersebut. Saya terfikir untuk membuat sebuah rumah berisi anggota keluarga karena dari judul
yang diberi menurut saya keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam tumbuh
kembang sang anak. Orang tua sebagai pedoman anak dalam bertingkah dan berperilaku dan
keluarga juga menjadi guru atau mentor pertama seorang anak. Tumbuh kembang seorang anak
biasanya terbentuk dari lingkup terkecilnya yaitu keluarga. Jadi jika seorang anak dididik dari
keluarga yang baik ia akan tumbuh menjadi anak yang baik tetapi misalnya dia tumbuh dari
keluarga yang “broken home” mungkin ia dapat tumbuh menjadi seorang anak yang memiliki
trauma tersendiri. Saya sebagai anak yang digolongkan sebagai remaja masih membutuhkan
peran orang tua, semenjak merajalelanya pandemi Covid-19 di seluruh dunia kami diharuskan
berada dirumah untuk memutuskan rantai penyebaran virus tersebut. Covid-19 tidak hanya
memberi pengaruh buruk namun juga ada sisi positifnya yaitu saya dapat bertemu bersama
dengan mama saya dirumah setiap hari karena mama saya juga WFH. Covid-19 juga merupakan
virus yang tidak bisa diremehkan karena virus ini menyebar dengan begitu gampang dan faktanya
banyak sekali orang yang meninggal di Indonesia akibat virus ini. Saya tidak bisa membayangkan
bagaimana rasanya menjadi bagian dari keluarga yang harus kehilangan anggota keluarganya
akibat virus ini dan terlebih lagi proses pemakaman yang tidak bisa dihadiri keluarga. Jadi intinya
adalah sayangi dan hargai setiap momen bersama keluarga sebelum kehilangan mereka dan jaga
kesehatan supaya menjaga keluarga tetap utuh.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Valentinus Andoko
XII IPS-2 / 25

FLAT
Flat atau datar merupakan gambaran hidup saya selama pandemi covid-19 ini terjadi. Saya
terkurung di rumah dalam waktu yang cukup lama agar tidak tertular virus corona. Ya, memang
benar saya menahan diri di rumah dan sampai sekarang saya masih dalam kondisi sehat-sehat
saja. Namun, sehat hanya sebatas fisik jasmani bukan secara mental jiwa dalam diri saya. Maka
dari itu lukisan saya jika dilihat memang membosankan dan biasa-biasa saja. Tidak ada yang
menarik dari gambar yang saya buat diatas piring kecil. Garis hitam di atas melambangkan rumah
yang melindungi saya dari wabah virus corona. Namun justru membuat saya jadi bosan, mudah
lelah, stress, dan kesepian. Saya memilih warna putih sebagai warna netral dan tidak dominan
karna itulah yang terjadi dalam hidup saya. Ada alasan pula mengapa saya memfoto karya
tersebut di atas kasur dan pencahayaan berasal dari flashlight smartphone yaitu karena hampir
setiap aktivitas yang saya lakukan selalu diatas kasur. Lukisan ini tidak menarik? ya memang karna
itu adalah cerminan perasaan saya saat ini yang sangat membosankan.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Vallery Jessica Sidenden
XII IPS-2/26

Dari teks dia tas, hal yang paling saya tangkap adalah mengenai masalah yang remaja alami.
Mungkin sebelum pandemi ini melanda, kebutuhan anak untuk diakui eksistensi nya akan lebih
mudah terpenuhi karena kita dapat berinteraksi dan bertemu secara langsung. Tetapi,
bagaimana saat pandemi melanda?
Menurut saya secara personal, pada saat pandemi melanda, banyak sekali masalah yang juga ikut
timbul. Saya merupakan seseorang yang bisa dipanggil “social butterfly”, dimana saya memang
sangat suka dan mahir dalam bersosialisasi. Setelah pandemi ini melanda, saya tidak dapat lagi
berinteraksi secara langsung dengan teman-teman yang lain, dan hal ini awalnya membuat saya
stress dan tertekan. Dalam konteks sekolah, teman menurut saya merupakan salah satu suporter
terbesar saya dalam meraih berbagai prestasi di sekolah (baik bidang akademik maupun non
akademik). Tetapi, saat pandemi ini melanda, saya sangat merasakan betul rasa “individualis”
yang muncul pada saat online class. Hal ini karena, saya merasa bahwa sekolah tidak seasik dulu
dan saya juga tidak bisa berinteraksi secara bebas dengan teman-teman lain. Pada awal online
class dimulai, saya masih susah untuk beradaptasi. Saya merasa, bahwa salah satu sumber
terbesar saya dalam mencari semangat untuk bersekolah itu hilang. Untungnya, seiring
berjalannya online class, saya dapat beradaptasi dengan baik dan saya bahkan mendapatkan
magna cumlaude.
Jika dihubungkan dengan karya yang saya buat, pesan yang saya ingin sampaikan adalah
mengenai “masalah-masalah” yang menimpa saya pada saat pandemi ini melanda.
Potongan-potongan abstrak itu menggambarkan masalah-masalah yang terjadi di dalam
hidup saya, dan garis warna warni yang tergambar itu merupakan lambang saya dalam

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
mengekspresikan perasaan serta jalan yang saya tempuh untuk menyelesaikan masalah
tersebut.
Sebenarnya, potongan-potongan abstrak ini jika digabungkan akan terbentuk menjadi
satu bagian. Semuanya akan melengkapi satu sama lain layaknya sebuah puzzle. Saya
membentuk bagian bagian ini menjadi terpisah dan belum menjadi satu, karena saya
merasa bahwa saya masih belum bisa memecahkan semua masalah yang melanda saya
pada saat pandemi ini, sehingga saya belum bisa dikatakan “bersatu”.

Yosef Christofer Radityo
XII IPS-2/27

Ini merupakan keadaan remaja di dalam pandemi dimana terus terang di dalam hati
merasakan kesedihan, dimana adanya keterbatasan dalam mencari jatidiri karena diharuskan
stay at home. Dan menurut saya untuk mengatasi dan memenuhi kebutuhan remaja itu
dengan diberikan rasa kasih sayang oleh orang tua dan juga bisa berinyeraksi melalui aplikasi
seperti zoom. Juga remaja dalam masa pandemi ini bisa lebih memehami dirinya melalui
examen. Melaui examen remaja bisa lebih mengerti dirinya sendiri harus bagaimana.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Abigail Simatupang
XII IPS 3/1

Judul : Pieces of Youth
Media : Art paper ukuran A4
Alat : Pensil warna, cat air, kuas, drawing pen, dan pensil (untuk sketsa)
Ide : Sebagai remaja, tak jarang kita merasa hilang arah, tidak dimengerti dan bahkan bingung
mengenai diri kita sendiri. Masa remaja pun sering disebut orang - orang sebagai masa bagi
seseorang untuk menemukan jati dirinya. Tetapi, apakah proses menemukan jati diri seseorang
bisa dilakukan dengan cepat? Tentunya tidak!
Maka dari itu, saya mengibaratkan kehidupan remaja seperti puzzle pieces. Dimana, seseorang
bisa saja berdiri seorang diri. Tetapi, dalam kesendirian itu seseorang akan mengalami kesulitan
dalam mengenali dan memahami dirinya. Maka dari itu, kita tidak hanya bisa berdiri sendiri dan
memerlukan orang - orang lain di sekitar kita, dan menurut saya dalam pembentukan diri dan
proses menuju adulthood peran keluarga dan teman menjadi yang paling penting dan utama.
Dengan adanya dukungan dari kedua pihak tersebut, maka seseorang akan bisa menemukan jati
dirinya. Hal ini semakin berlaku dalam masa pandemi ini, terutama karena setiap hari orang yang
paling sering ditemui adalah keluarga, dan teman hanya bisa kita temui secara virtual. Dengan
dukungan dari orang - orang di sekitar, seseorang akan bisa merasa dicintai, dihargai, dan
menyadari self worth yang dimilikinya.
Dengan ide itu, saya menggambarkan bahwa kita berada dalam perjalanan bersama individu di
gambar yang pertama. Bisa dilihat bahwa individu di gambar pertama (kiri atas) hidup dalam
dunia yang monoton, dan dia masih mengalami kebingungan. Ia tidak tahu apa yang dia inginkan
dan merasa bahwa dirinya tidak dimengerti dan tidak layak untuk memperoleh apapun. Tetapi di

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

gambar kedua, ada keluarga dengan background warna panas. Menggambarkan kehangatan
yang keluarga berikan untuk seorang individu. Dalam masa remaja, dan khususnya pandemi ini
keluarga menjadi orang yang kita temui sehari - hari dan tentunya berperan penting dalam
membangun jati diri kita. Ketiga, pada gambar yang terletak di kiri bawah terlihat teman - teman
yang ada berada pada foto. Hal ini menunjukkan bahwa selama pandemi ini, jarang sekali kontak
fisik dapat dilakukan dan segala hal dilakukan secara virtual. Warna yang digunakan juga
merupakan warna dingin, karena menurut saya persahabatan pasti mengalami naik dan turun
dan sering kali juga banyak perselisihan yang terjadi. Tetapi dengan perselisihan yang terjadi,
seorang individu dapat menjadi erat satu dengan yang lain. Teman sebaya juga menjadi
pembentuk kepribadian individu dan diperlukan dalam usaha untuk menemukan jati diri
seseorang. Terakhir pada gambar di kanan bawah, terlihat bahwa individu sudah tersenyum dan
lingkungannya sudah penuh warna. Hal ini menggambarkan bahwa individu sudah menemukan
jati dirinya sendiri dan memahami dirinya.
Maka, sebenarnya keempat gambar bisa saja berdiri sendiri, tetapi seperti kepingan puzzle bila
disatukan keempat gambar ini akan saling berhubungan dan menjelaskan suatu cerita. Maka dari
itu, karya ini dinamakan pieces of youth.

Alexzandra Novena Louhenapessy
XII IPS 3/2

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Renungan
Sebagai seorang remaja sendiri, berelasi dan menjaga hubungan tentunya lebih sulit.

Pandemi memang tidak dapat diprediksi, sehingga semulanya hal-hal kecil seperti sentuhan,
pelukan, bercengkrama, dan sebagainya tidak dapat dilakukan dengan mudah sekarang. Manusia
adalah makhluk sosial, berelasi dengan keluarga saja tidak cukup. Kebutuhan manusia selama
pandemi dengan sebelum hadirnya pandemi masih sama saja; tetap membutuhkan hubungan di
luar lingkaran keluarga seperti persahabatan atau pertemanan. Dengan berkat perkembangan
teknologi, hambatan-hambatan tersebut dapat teratasi. Seperti berkomunikasi tidak langsung
melalui video call, SMS, chat message, dst. Menurut saya sendiri, kebutuhan tersebut sudah
dapat teratasi dan tertutupi karena adanya sosial media dan teknologi. Situasi akan sangat terasa
sulit bila tidak ada sosmed serta teknologi canggih. Dengan itu kebutuhan tersebut tetap
terpenuhi dengan cara yang evolusioner yaitu secara tidak langsung. Situasi pandemi memang
memaksakan banyak sekali kegiatan yang harusnya lebih mudah tercapai menjadi lebih sulit
untuk dikabulkan. Memenuhi kebutuhan tersebut yang harus diakali secara kreatif karena dalam
situasi pandemi dan kita memaksakan untuk bertatap muka, maka penyebaran virus akan
semakin marak. Oleh karena itu, dengan singkat berkatnya perkembangan teknologi, situasi
pandemi menjadi lebih mudah untuk diatasi. Teman-teman dan relasi lainnya masih sangat
penting untuk perkembangan remaja tetapi dalam hal berhubungan dan berkomunikasi harus
secara aman, yaitu melalui sosial media. Kebutuhan umum remaja seperti berelasi tetap dapat
tercapai dengan mudah dengan adanya teknologi yang canggih, seperti bila seseorang ingin
membeli barang kebutuhan pelajar dapat dilakukan melalui e-commerce. Selain itu, untuk
berkomunikasi atau mengirim barang dapat dilakukan oleh pihak lain. Sehingga kebutuhan
umum remaja sudah tercapai pula berkat perkembangan teknologi.

Ide dan Latar Belakang Karya
Dalam membuat karya seni ujian praktek, saya memiliki beberapa poin agar mempermudah
untuk dipilah, seperti:
Latar Belakang : Saya ingin menggambarkan situasi saya pribadi dalam karya saya. Oleh karena
itu, ide-ide yang terlahirkan dapat menunjukkan sisi kehidupan saya sendiri dalam bentuk karya
seni. Semua aspek dari bentuk karton, pemilihan warna, dst. itu menjadi aspek dari hal-hal di
kehidupan saya. Karya yang saya ingin hasilkan harus menunjukkan sebuah bentuk teknologi
(yang saya pilih handphone) dikarenakan sarana yang saya gunakan untuk menjaga relasi dapat
dilakukan dengan handphone saja. Dari segala aplikasi dan fitur dari handphone itu dapat
mempermudah saya untuk menjaga relasi-relasi dan hubungan persahabatan saya.

 Bentuk heksagon(segi-enam) : makna esoterik dari heksagon adalah bentuk segi-enam
dapat ditemukan di seluruh alam dunia, beberapa agama terorganisir mengakui bahwa
bentuk heksagon adalah simbol harmoni dan keseimbangan. Relasi bentuk heksagon
sendiri itu agar perjalinan hubungan/relasi dengan sahabat dapat tercipta dengan
harmonis dan seimbang.

 Roda-roda dan lingkaran menjadi simbol bahwa kehidupan akan terus berlanjut seperti
roda yang terus berputar dan dimanapun posisi anda berada pada suatu saat akan
mengalami posisi dibawah yang lagi mengalami duka dan posisi diatas yang
melambangkan suka-suka kehidupan. Roda juga menjadi harapan pandemi dapat segera
berakhir.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

 Gadis menggunakan masker emas : Gadis karena pembuat karya tersebut adalah seorang
gadis juga dan menunjukkan bagaimana cara pembuat karya sendiri dapat menjaga
hubungan dengan teman-temannya. Untuk masker yang berwarna emas itu
menunjukkan bahwa sedang terjadi pandemi COVID-19 dan warna emas mengingatkan
bahwa menggunakan masker itu esensial dan wajib dilakukan.

 Warna biru dalam bentuk abstrak sebenarnya menjadi simbol air dan laut karena air dan
laut merupakan suatu hal yang mengikuti bentuk lingkungan (misalnya wadah kotak yang
dimasukkan air akan menghasilkan air berbentuk kotak, wadah berbentuk hati akan
membuat air berbentuk seperti hati, dst.). Jadi dengan pikiran kita yang menjadi simbol
air itu menunjukkan bahwa kita harus bisa fleksibel dan beradaptasi pada situasi
sekarang. Sehingga, tidak ada kata tidak mungkin dalam menghadapi situasi yang lagi sulit
dalam mencari hal yang positif. Selain itu ini juga menunjukkan bahwa pikiran manusia
sangat kreatif dan luas seperti lautan, sehingga kreatifitas dapat dihasilkan.

 Karton kuning yang menjadi bingkai lukisan tersebut berbentuk heksagon menunjukkan
bahwa kita yang memang dibatasi dalam sebuah bingkai tetap masih bisa menimbulkan
sisi harmonis dan keseimbangan antara kebahagiaan dan kesedihan baik untuk diri sendiri
dan orang lain. Walaupun kita sedang dikarantina (bingkai), kami tetap harus
memperhatikan keseimbangan hidup kita (kebahagiaan dan kesedihan, suka duka) dan
juga menjaga keharmonisan antara diri kita sendiri maupun orang disekitar kita.

 Handphone berwarna emas : simbol bahwa komunikasi dapat terjaga antara satu sama
lain dan berwarna emas karena itu merupakan salah satu sarana komunikasi yang
terutama digunakan. Dengan adanya handphone, persahabatan dapat tercapai dan
terjangkau walaupun situasi sedang tidak mendukung.

Amathor Juan Hasoloan
XII IPS-3/03

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Mencari Eksistensi Di Tengah Pandemi
Dimasa remaja madya (middle adolescent) yang berumur 15-18 tahun, mereka sedang mencari
eksistensi. inti dari gambar yang saya buat, remaja sekarang sedang mencari eksistensi, apalagi
sekarang masa pandemi. Banyak orang-orang memanfaatkan gadget untuk mencari eksistensi.
Setelah saya me-research di berbagai platform media masa, terbukti bahwa banyaknya orang
yang baru-baru ini terkenal karena beberapa media sosial yang berupa Instagram, Tiktok,
Youtube, dan masih banyak lagi. Mereka mencari eksistensi di dunia maya, mereka mencari
eksistensi dengan karya-karya mereka atau mencari sensasi. Ketika sudah terkenal, mereka
menghabiskan waktu hanya untuk menatap gadget dan melihat perkembangan followers dan
like yang mereka dapatkan, oleh karena itu mereka jarang bersosialisasi di dunia asli. Mengapa?
Karena mereka merasa dunia maya bisa mendapatkan teman dan kepopuleran daripada dunia
asli, juga mereka merasa nyaman tinggal di media sosial. Dimasa pandemi ini, juga banyak orang-
orang yang meluangkan waktu untuk bermain game sampai dirinya jago. Saya juga beberapa kali
melihat dan me-research beberapa media sosial, seperti Instagram dan TIkTok. Disana banyak
orang-orang yang memperlihatkan gameplay ketika bermain game seperti Mobile Legends,
PUBGM, dan FreeFiree. Ketika melihat gameplay yang bagus, maka banyak netizen yang tertarik
dan alhasil orang-orang yang memperlihatkan gameplay ketiga bermain game bisa mendapatkan
kepopuleran. Mereka dapat memanfaatkan waktu dimasa pandemi ini untuk mengasah skill dan
mencari kepopuleran. Oleh karena, terus menerus bermain game dan mencari kepopuleran,
mereka jadi malas untuk bersosialisasi di luar, karena mereka merasa dengan duduk dan
memperlihatkan gameplay mereka sudah mendapat ketenaran daripada harus kesana-kemari
mencari kepopuleran tetapi susah malah tidak mendapatkannya.
Makna Gambar:

 Latar Belakang
Warna merah putih dan kertas yang bergelombang, menandakan kita berada di Negara
Kesatuan Republik Indonesia dan bergelombang menandakan Sang Saka Merah Putih
sedang berkibar.

 Handphone yang dipenuhi Aplikasi yang sedang Hits
Handphone dan aplikasi-aplikasi disini menandakan media orang-orang untuk
mendapatkan eksistensi di tengah pandemi ini, bahkan sebelum pandemi ada.

 Tangan Berdoa
Berarti banyak orang yang menyembah handphone. Banyak orang yang lebih
mementingkan gadget untuk bersosialisasi. Mereka merasa mereka bisa hidup dari
gadget, sehingga banyak orang yang malas bersosialisasi.

 Virus berwarna hijau
Menandakan bahwa kita sekarang ini hidup dimasa pandemi. Masa-masa yang
memungkinkan orang untuk berhenti keluar dan diam dirumah, sehingga banyak waktu
untuk bermain gadget dan berbagai macam aplikasi didalamnya.

Alat dan Bahan:
 Pensil untuk menggambar sketsa
 Spidol untuk menebalkan garis
 Cat air untuk mewarnai

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
 Kertas sebagai media menggambar
 Gunting untuk menggunting latar
 Laptop untuk mencari tutorial menggambar

Angeline Indira Nauli Sihombing
XII IPS-3/04

JUDUL : Suara Remaja
MEDIA : Topi Caping
ALAT : Cat akrilik dan spidol
LATAR BELAKANG

Lukisan yang saya buat memiliki judul “SUARA REMAJA”. Alasan saya memilih judul
tersebut karena lukisan yang dibuat berisi kata-kata yang menggambarkan suasana hati di tengah
pandemic ini. Dimana, para remaja harus berada di rumah selama 24 jam tidak berinteraksi
secara langsung oleh teman-temannya. Saya memilih tulisan-tulisan ini sesuai denga apa yang
saya rasakan selama ini. Topi caping ini diibaratkan hati ( yang digambarkan dengan tembok ) dan
kotak-kota berisi gambar serta tulisan motivitasi ataupun isi hati diibaratkan sebagai suasana hati

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

yang menempel tidak bisa diungkapkan. Tidak dapat dipungkiri, banyak remaja diluar sana
bingung dengan situasi seperti ini dan seorang remaja yang seharusnya ngobrol bersama teman,
bersekolah, bersenang-senang dan lainnya menjadi terhambat dengan situasi seperti ini. Maka
dari lukisan ini saya tidak hanya ingin menyampaikan suara hati yang saya rasakan, namun saya
ingin menyampaikan kalimat motivasi atau penyemangat untuk teman-teman diluar sana yang
mungkin sulit untuk mendapatkan sebuah semangat hidup. Warna-warna dari setiap poster saya
mengambil warna terang agar lukisan saya bisa menjadi pusat perhatian dengan warna yang
menarik. Pada poster pertama yang memiliki latar belakang hijau muda dengan gambar seorang
perempuan dan bertuliskan “CHEER UP” yang artinya seorang perempuan selalu memberikan
semangat dengan senyum lebar di wajahnya. Perempuan ini saya ibaratkan mama saya yang
selalu mensupport saya sebagai remaja, selalu mendukung dan memberikan semangat. Selain
itu, seorang wanita ini juga menggambarkan teman-teman perempuan saya yang selalu siap
menjadi tempat curhat serta memberikan semangat apapun situasi dan kondisinya. Pada poster
kedua yang bertuliskan “STAY AT HOME” itu menggambarkan situasi setahun kebelakang dimana
kebijakan baru untuk berada di rumah yang masih berlangsung sampai sekarang. Saya
memberikan warna terang pada poster ini karena ingin menyampaikan bahwa kita berada di
rumah juga harus bisa terang seperti kita diluar. Hal ini berarti, jangan memikirkan bahwa stay at
home itu berat, melainkan kita harus tetap bisa tumbuh seperti kehidupan biasanya. Dengan
warna-warna terang ini, tulisan “STAY AT HOME” ini menjadi menarik dan tetap di rumah itu
menyenangkan. Warna- warna tersebut memiliki makna masing-masing, yaitu warna merah
memiliki makna keberanian dan juga kekuatan hal ini berarti saat kita berada di rumah kita harus
berani untuk melakukan hal yang banyak memiliki perubahan serta kita harus memiliki kekuatan
dalam kehidupan sehari-hari agar bisa hidup dengan Bahagia di tengah situasi sulit ini. Warna
biru memiliki makna untuk menenangkan pikiran dan membantu untuk berkonsentrasi. Dengan
pikiran kita yang tenang dan selalu memikirkan hal yang positif maka jiwa dan raga kita juga akan
sehat dan selalu semangat. Warna orange memberikan makna optimis dan percaya diri, hal ini
berarti kita berada di rumah diajarkan untuk selalu optimis dan percaya diri. Dimana mental kita
diuji untuk mengenal lebih dalam dengan diri kita sendiri agar kepercayaan diri dapat terbangun.
Warna pink memberikan makna kepedulian, ditengah pandemic seperti ini banyak sekali orang-
orang diluar sana yang sangat membutuhkan pertolongan. Maka kepedulian kita akan diuji,
seberapa tingkat kepedulian kita terhadap orang lain. Seperti halnya, bazar amal yang diadakan
di sekolah seberapa besar partisipasi anak-anak terhadap penggalangan dana untuk sesame.
Pada poster ketiga, yang memiliki gambar seorang perempuan, dengan digambarkan tubuh
bagian dalam. Sehingga perasaan-perasaan yang selama ini muncul dapat dilihatkan melalui
lukisan ini. Poster ini digambarkan dengan latar belakang berwarna biru, merah dan hijau dengan
bentuk garis-garis berantakan dan tidak memiliki ukuran yang sama. Latar belakang berantakan
memiliki makna sebagai gambaran kehidupan banyak orang di masa pandemic ini kasarnya
berantakan atau tidak teratur dan mengalami kesulitan yang cukup banyak. Garis-garis yang tidak
memiliki ukuran yang sama berarti, porsi perasaan yang dirasakan masing-masing manusia tidak
sama dan ada yang lebih menyedihkan ataupun biasa saja. Maka dari itu, tulisan yang ada di
tubuh itu dikatakan sebagai perasaan yang saya alami selama masa pandemi ini. Untuk gambar
terakhir saya memberikan judul lukisan ini dengan “SUARA REMAJA” di atas pita yang memiliki
warna menarik dan indah untuk dipandang.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Denni

XII IPS-3/05

Saya memilih gambar tersebut karena sesuai dengan teks yang ada. Dimana teks berisi tentang
kehidupan remaja di masa pandemi. Saya memikirkan bahwa segala kegiatan berjalan di rumah,
karena adanya virus Covid-19. Dengan begitu segala perkembangan yang dialami oleh para
remaja harus mereka rasakan di dalam rumah. Saya menggambarkan bumi memakai masker
sebagai tanda dari adanya Covid-19, lalu ada rumah dan dengan 2 latar yang berbeda yaitu sore
dan malam hari. Di gambar saya ingin menunjukkan bahwa kehidupan tidak normal seperti
biasanya, semua terlihat sepi dan sunyi. Namun, keadaannya juga mencekam dengan saya
tuangkan warna yang cerah. Keadaan rumah yang saya gambarkan dimaksudkan untuk
menyampai kan keadaan rumah yang sudah membosankan bagi kehidupan remaja yang ingin
kebebasan.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Fabian Alvalen Wicaksono
12 IPS-3/06

Karya Seni saya Berjudul Love and Support
Yang melatarbelakangi karya seni ini adalah pada pertanyaan " apakah kebutuhan Umum Remaja
pada masa pandemic ini masih sama?", dan jawabannya tentu tidak dikarenakan pada tahun ini
para remaja sudah mulai adanya homeschooling dan mereka jarang keluar karena masa
pandemic ini.
Yang mereka Butuhkan Sekarang Adalah " Love and Support " karena kesehatan Mental sangat
dibutuhkan dan mereka butuh support yang tinggi utk mengatasi itu. Support bukan hanya dari
uang saja melainkan Perhatian Ortu dan Orang tua Sebagai Pendengar yang baik. Dalam support
itu mereka akan menemukan Love atau kasih sayang dari lingkungan sekitarnya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Farrell Emmanuel Parsaoran Hutagalung
XII IPS-3/07

Judul : Sebatas layar

Alat dan bahan : cat akrilik, kuas, pensil.

Media : totebag

Deskripsi dari karya :

Covid 19 merupakan pandemic yang sangat berpengaruh terhadap kita para manusia. Bukan

hanya Kesehatan tapi mental juga. Menurut saya pandemic ini merupakan sebuah hal buruk yang

pernah terjadi di hidup saya, pertama saya sebagai remaja tidak dapat pergi ketemu dengan

teman saya, tidak bisa belajar bersama-sama disekolah dan masih banyak lagi.

Tapi yang saya tahu adalah bagaimana kita menyikapi pandemic ini. Jika kita melihat terus

pandemic ini sebagai hal yang buruk maka akan selalu buruk. Tapi jika kita melihat dari perspektif

yang baik kita bisa melihat bahwa pandemic ini ada positifnya loh seperti misalnya, saya jadi bisa

lebih dekat ke keluarga, yang tadinya saya suka pergi dan lebih banyak meluangkan waktu

bersama teman. Kedua adalah mungkin pandemic ini dikasih Tuhan kepada kita para manusia

untuk memperbaiki bumi, seperti polusi berkurang, dll, karena pandemic ini

Kenapa saya gambar ada orang yang sedang menelpon serta ada laptop??
Karena dipandemic sekarang saya sebagai pelajar merasa bahwa saya hanya bisa bertemu teman
saya hanya sebatas layar, dan bukan hanya teman tapi keluarga besar saya, dll. Pastinya hal ini
bagi kita anak remaja sangatlah menyedihkan menghabiskan waktu kita dirumah, walau kita bisa
dekat lebih ke keluarga tapi kita sebagai remaja pasti ingin menyoba hal baru, tp saya selalu
bersyukur karena saya masih sehat serta keluarga saya sehat. Semoga kedepannya kita sudah

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
bisa beraktivitas seperti biasa lagi dan bisa lebih menjaga Kesehatan, serta menjadi lebih bersih.
Dan semua itu saya pelajari karena pandemic ini, jadi ada loh hal positifnya dari pandemic ini.

Gabriella Gui
XII IP- 3/ 08

Tema : Metamorfosis Remaja
Judul : Integritas Diri
Media : Tote bag kanvas
Alat : Cat akrilik, gouache, spidol

Setelah merenungi narasi serta pertanyaan yang menyertai, saya memilih yin dan yang
sebagai konsep ilustrasi gambar. Latar belakang saya memilih konsep ini karena saya ingin
menunjukkan aspek emosional remaja yang sedang dalam tahap intensitas yang tinggi. Aspek
emosional terbagi menjadi dua, yaitu emosi positif dan negatif, begitu pula dalam lambang yin
dan yang memandang adanya keseimbangan pada kehidupan melalui aspek negatif (yin) dan
aspek positif (yang). Menurut saya, remaja madya (menengah) merupakan masa yang paling
kompleks. Remaja dituntut untuk beralih dari masa remaja awal yang cenderung kekanak-
kanakan ke masa remaja akhir yang mengharuskan mereka untuk dapat bersikap lebih dewasa
dan kritis. Ditambah banyak tuntutan eksternal seperti jenjang pendidikan yang ikut beralih.
Umumnya remaja di tahap ini harus mulai memikirkan penjurusan akademik yang lebih khusus
sesuai dengan minat dan bakat serta tujuan hidupnya karena pilihan mereka ini menjadi salah
satu penentu besar masa depan mereka. Kebingungan akan pencarian jati diri membuat aspek

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

emosi menjadi yang paling menonjol karena sering terjadi pergumulan batin dalam menentukan
mana yang baik dan buruk untuk dirinya.

Situasi pandemi Covid-19 yang tiba-tiba melanda ini memperparah keadaan dan menjadi
batu besar yang membatasi kebebasan remaja. Remaja di masa ini membutuhkan banyak
masukkan dari orang lain. Cara untuk mendapatkan itu yaitu dengan berinteraksi. Namun, dalam
kondisi ini manusia terpaksa masuk ke dalam dunia virtual. Interaksi sulit dilakukan secara tatap
langsung karena perbedaan waktu, kepentingan, aktivitas, dan lain sebagainya sehingga banyak
remaja yang menganggap pandemi ini sebagai ajang “pembuktian” untuk melihat mana yang
benar-benar teman dan yang bukan.

Menurut saya, kebutuhan umum remaja di masa pandemi ini berbeda dari sebelumnya.
Selama pandemi, remaja lebih terfokus pada dirinya sendiri. Banyaknya waktu yang mereka
habiskan di rumah membuat remaja semakin mengenal dirinya, apa yang dirinya suka dan tidak,
potensi diri, keinginan, dan kebutuhan mereka. Bagaimanapun juga manusia adalah makhluk
sosial, remaja tetap perlu melakukan interaksi sosial untuk mencurahkan isi hati dan memperluas
wawasan serta sudut pandang. Dengan demikian, remaja dapat menjadi pribadi yang matang.
Untuk mewujudkan kebutuhan tersebut, cara yang menurut saya paling mendasar dan harus
dilakukan setiap remaja yaitu dengan integrasi diri. Integrasi diri dapat dilakukan melalui
berdamai dengan diri sendiri, bersikap optimis namun juga memvalidasi kesedihan dan rasa
kesepian, dan tidak selalu menyalahkan diri sendiri. Dengan begitu akan terwujud integritas diri,
yaitu keadaan yang menunjukkan kesatuan utuh dalam diri sehingga memiliki potensi yang
memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Untuk bisa terjun ke kehidupan yang lebih luas,
pertama-tama kita harus bisa percaya pada diri kita, karena jika tidak, orang lain tidak akan bisa
memberikan masukkan yang tepat untuk kita.

Konsep yin dan yang pada gambar saya ilustrasikan di dua aspek berbeda, internal dan
eksternal. Lingkaran yang menjadi pusat gambar mengilustrasikan keadaan internal remaja,
dalam hal ini adalah emosi. Emosi terbagi menjadi dua bagian yang berbeda namun diciptakan
saling berdampingan, yaitu emosi positif dan negatif. Bagian berwarna oranye menggambarkan
emosi positif dan bagian berwarna biru menggambarkan emosi negatif. Warna oranye sendiri
melambangkan optimisme dan kepercayaan diri sedangkan biru melambangkan sisi melankolis,
kesepian, kesedihan, dan kegelisahan. Aspek eksternal terilustrasikan pada warna latar yang
sebagian hitam dan sebagian putih. Hitam melambangkan pengaruh buruk dan putih adalah
pengaruh baik. Hal ini menunjukkan berbagai bentuk pengaruh dari luar diri (masyarakat) baik
maupun buruk dapat memengaruhi pendirian individu remaja. Kedua tangan yang saling
berjabatan menunjukkan terciptanya integrasi dalam diri. Ketika remaja sudah dapat berdamai
secara internal, maka terbentuklah integritas diri yang diilustrasikan oleh lidah matahari
berwarna oranye muda. Integritas ini memancarkan kewibawaan dan kehangatan. Bila remaja
dapat menciptakan integritas pada dirinya, maka mereka sudah mencapai tahap kematangan dan
mampu membedakan tindakan baik dan buruk serta bersifat selektif terhadap pengaruh

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
eksternal. Yin dan yang merupakan dua aspek yang selalu berlawanan, namun jika bersatu
mereka menjadi harmonis. Saya percaya kita bisa menjadi matahari untuk diri kita sendiri dan
juga orang lain jika kita bisa menciptakan integritas diri.

Georgia Aurell Winata
XII IPS-3 / 09

Saya membuat gambar seperti kartu tarot yang digambar pada tempat yang saya buat dengan
air dry clay. Tempat ini kegunaannya untuk menaruh perhiasan, kunci, atau barang kecil lainnya.
Pada proyek yang saya buat, terdapat matahari besar yang melambang kan jati diri atau inspirasi
anak muda. Lalu, matahari ini terhalangi oleh dua tangan yang melambangkan COVID-19 yang
melanda pada Maret 2020 lalu, sehingga inspirasi-inspirasi yang ada susah untuk didapatkan
anak muda karena terhalangi pandemi COVID-19. Sedangkan, di bawah kedua tangan tersebut
terdapat dua tangan lagi dengan awan yang seperti menarik kedua tangan yang menghalangi
matahari. Ini melambangkan bahwa kita sebagai anak muda tidak hanya diam saja selama
pandemi ini, melainkan kita tetap berusaha agar jati diri yang selama ini kita cari dapat kita temui
dengan segera. Lalu, terdapat tiga bunga matahari yang mekar yang merupakan hasil yang baik
dari usaha anak muda yang tetap berusaha beradaptasi dengan pandemi yang sekarang sedang
berlangsung.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Glenniel Yemima Wajong
XII IPS-3/10

Keheningan Dalam Kebisingan
Akrilik, Cermin (30x24cm), Modelling Clay
Pengantar
Perihal menjadi seorang remaja :
Waktu yang cukup lama diperlukan agar ia mampu memahami keseluruhan dari apa yang telah
diperkenalkan padanya. Upaya pemahaman itu tidak selalu berjalan dengan mulus. Dunia seakan
tampak keruh apabila ia sedang mengalami tekanan demi tekanan yang lambat laun menciptakan
situasi yang memunculkan banyak tanda tanya. Terlepas dari itu, perlahan remaja akan belajar
untuk berhenti mengeluh dan menerima kenyataan bahwa dunia ini memang keruh. Dengan
begitu, ia akan tumbuh menjadi pribadi dengan batin yang kuat. Terlebih lagi, ia akan menjadi
pribadi yang menghargai setiap momen dalam kehidupan yang memberi secercah warna dalam
kesehariannya yang kusam.
Perihal menjadi seorang remaja, di tengah pandemi Covid-19 :
Memahami sisi pahit kehidupan sulit bila dilakukan sendiri. Usia dan beban hidup seakan
bertumbuh bersama. Maka prinsip bahwasanya ‘manusia adalah makhluk sosial’ sangat
mencerminkan kondisi remaja yang kini tengah berupaya membentuk dirinya agar mampu

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

menghadapi lika liku kehidupan dan mengupayakan yang terbaik dari situasi yang tidak baik.
Interaksi dengan sesama adalah salah satu privilese yang kita miliki, sebab interaksi dalam bentuk
apapun akan menghasilkan pengalaman yang nantinya akan kita maknai sebagai suatu
pembelajaran kehidupan. Sayangnya, privilese tersebut kini hilang akibat pandemi yang
memaksa kita memprioritaskan kesehatan kita diatas yang lainnya, termasuk interaksi. Kondisi
ini tanpa disadari merusak batin, dimana kini batin terus-menerus mengisi kepala dengan pikiran
negatif yang menghambat remaja untuk maju.

Keheningan Dalam Kebisingan :
Bunga Teratai (Lotus Flower) menjadi simbol filosofis yang melekat bagi penganut agama Hindu
dan Budha. Bunga yang tumbuh di habitat dengan air yang keruh dan penuh lumpur ini menjadi
lambang dari kemurnian dan kelahiran baru.
Sama seperti remaja yang kini tengah dihantui pikiran negatif akibat situasi yang menciptakan
perubahan negatif di segala aspek kehidupan (terutama ancaman bagi kesehatan), filosofi bunga
teratai ini seakan mengajak remaja untuk tetap berupaya untuk tumbuh. Menggunakan kondisi
negatif ini, berusaha untuk belajar darinya. Jangan selalu berharap akan diberi nutrisi dari orang
lain, karena pada kenyataannya, dunia tidak akan dengan mudah memberikan segala sesuatu
yang kita inginkan. Kita harus berupaya, supaya bisa tetap menggapai eksistensi yang kita
butuhkan sebagai dorongan untuk terus berusaha dalam mencapai jati diri sejati. Dalam kata lain,
kita harus bisa berakar melalui pengalaman-pengalaman yang kita lalui, termasuk pengalaman
kegagalan dan penuh dukacita, sebab pengalaman tersebut (terlepas dari bentuk dan
kesulitannya) yang akan mengajarkan kita bagaimana kita bisa kuat menghadapi kehidupan.
Bunga Teratai menjadi cerminan bahwa untuk bisa menonjol itu susah. Keunikan itu susah untuk
dimiliki. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk kita memiliki keunikan kita masing-masing.
Lagipula, keunikan menjadi suatu hal yang dapat menjadi aset berharga bagi kita, asalkan kita
mampu mengolahnya dengan bijak, seperti bunga teratai yang mampu memberi setitik estetika
di tengah kekeruhan kolam penuh lumpur.
Perihal seberapa keras kita berupaya tergantung pada diri kita dan pada lingkungan dimana kita
berada. Kesulitan kita bisa saja menjadi keringanan orang lain, dan kebalikannya.

Proses Pembuatan :
Air : Menggunakan teknik pouring dengan cat akrilik dan air. Karena tidak bisa sepenuhnya
mengatur arah cat, dan karena rasio air dan cat setiap kali penuangan berbeda, maka
menghasilkan bentuk yang ireguler dengan perpaduan warna yang berbeda pula setiap hasil
penuangan. Media cermin yang tidak menyerap air pun menyebabkan cat dan air untuk bergerak
dengan cepat dan lancar.
Bunga : Menggunakan modelling clay dan dibentuk dengan tangan. Ukuran kelopak tidak
seluruhnya sama, dan tekstur juga tidak seluruhnya sama (dikarenakan perbedaan jenis dan
waktu pengeringan masing masing clay). Warna menggunakan cat akrilik

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Ignatius Loyola Galih Lintang Ardhyanta
XII IPS-3/11

Makna dari gambar saya:
Jadi saya menggambar saya sendiri, atau anggapan refleksi saya sendiri terhadap pencarian jati
diri saya selama saat saya berada di kelas 11 sem 2 sampai kelas 12 sem 1. Saya itu udah lega
setelah karya tulis sudah berlalu dan saya tinggal fokus pada dunia perkuliahan walaupun harus
menempuh uprak dan US saat kelas 12. Walaupun saya sudah santai, tapi saya masih bingung
untuk memilih jurusan dan rencana ke depan saya apa gitu. Seperti saya tidak mengenal diri saya.
Hobi banyak seperti fotografi, games, teater, music, dan banyak lagi. Tapi yang saya taruh di
gambar hanya yang tadi saya sebutkan. Terus corona pun terjadi, semua kegiataan sekolah
dibatasi dan kita diharuskan belajar di rumah yang dimana di rumah itu saya jarang banget untuk
berinteraksi dengan keluarga. Jadi, awal-awal bulan itu ada rasa kangen untuk sekolah dan
bertemu dengan teman-teman tapi itu harus ditahan untuk memutuskan rantai penyebaran virus
dengan #stayathome. Ya selama 1 atau 2 semester itu saya mencoba mencari jati diri saya dengan
ikut webinar/workshop/consuling, tapi malah membuat saya lebih bingung dengan jati diri dan
minat bakat saya mengarah kemana. Tapi setelah memutuskan konsul ke orang tua saya, saya
pun merasa saya itu memang kenal diri saya, hanya dengan stress di rumah dan belajar di rumah
yang membuat saya buta terhadap diri saya itu.
Didalam gambar tersebut di baju orangnya, tergambar seperti garis-garis jeruji besi yang
mengambarkan saya itu masih tidak mau terbuka dengan yang lain terutama dengan keluarga.
Orangnya memakai masker karena ini refleksi saya saat masa karantina mandiri. Terdapat tanda
tanya diatas kepala tersebut dengan warna-warna bermacam karena saya tidak tahu saya itu apa,
jadi saya mempertanyaan diri saya dan arti macam-macam warna tersebut adalah gambaran saya
yang masih labil dalam memilih saat masa remaja madya. Dan terdapat tulisan “SIAPAKAH
SAYA?” karena seperti saya bilang saya masih bingung dengan saya yang dimana sudah mau
masuk ke dunia perkuliahan, tapi saya masih mempertanyakan jati diri saya. Tulisan itu menutup
mata karena saya merasa malu dengan menunjukan mata saya karena saya aja masih bingung
siapa jati diri saya sedangkan di umur saya itu sudah harusnya berkontribusi pada masyarakat
setidaknya ke keluarga. Tapi saya sadari bahwa setiap orang punya time zone sendiri-sendiri,
tidak bisa kita banding-bandingkan dengan orang lain.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Joan Beth
XII IPS-3/12

Judul Karya :
“The Immense Blooming”

Latar Belakang Karya:
Bagi saya, bertumbuh sebagai remaja di tengah pandemi adalah hal yang sangat sulit untuk
dilakukan. Banyak kemungkinan yang tidak terealisasi. Kesempatan untuk menghabiskan masa-
masa akhir di SMA juga sirna begitu saja. Ketika saya berada di rumah selama berbulan-bulan,
ternyata saya menemukan sisi-sisi lain dari diri saya. Saya mengenal kerapuhan saya, ketakutan
saya, dan keraguan saya yang belum pernah saya gubris selama ini. Saya menelusuri diri saya
lebih dalam.
Dalam masa pandemi ini pula saya berusaha untuk memperbaiki diri, mengingat bahwa kegiatan
sehari-hari saya sekarang didominasi oleh waktu untuk diri sendiri. Rentang waktu yang lama itu
memberikan saya ruang untuk belajar hal baru dan meninggalkan hal buruk yang sebelumnya
ada pada diri saya.
Kebutuhan saya sebagai remaja di pandemi ini kemudian terpenuhi dengan beberapa tahap yang
saya sederhanakan dalam karya saya. Pertama adalah soal memberanikan diri untuk keluar dari
zona nyaman. Kedua, bersiap dengan perpisahan. Ketiga, menerima diri sendiri secara utuh.
Terakhir, menerima dan merasakan kejenuhan untuk kemudian bangkit kembali.
Ada banyak hal yang ternyata saya nikmati, namun baru saya tekuni. Salah satunya adalah
kesukaan saya pada bunga. Sedari dulu, saya selalu suka dengan bunga. Mereka selalu

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
menguncup, namun nantinya akan mekar. Meskipun pernah layu, mereka akan tumbuh lagi di
musim berikutnya. Oleh karena itu, saya menamakan karya saya sebagai “The Immense Bloom”
atau berarti Mekar yang Luar Biasa. Walau masa muda saya tersita karena pandemi, diri saya
mendapat kesempatan untuk bersemi. Kini saya mekar, jauh lebih terang dan besar dari sebelum-
sebelumnya.

Sketsa Awal Karya, Konsep Lingkaran Bertumpuk

Deskripsi Karya:
Saya membagi gambar ke dalam beberapa lingkaran. Ada yang menggambarkan sepatu sedang
melangkah, orang berpelukan, orang bercermin sambil berlutut, juga balkon rumah.
a. Lingkaran pertama : Gambar Kaki Sedang Melangkah

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

memberanikan diri untuk mencoba hal-hal baru. Salah satunya adalah kecintaan saya
terhadap fashion. Saya mencoba untuk membuka toko baju, bahkan menjadi model untuk
toko baju online milik teman saya. Hal itu belum pernah saya lakukan sebelum pandemi,
karena saya terlalu takut untuk mengekspresikan diri. Pada gambar ini, kaki itu melangkah
dari tempat dengan warna hitam putih sebagai lambang dari kemonotonan atau zona
nyaman. Ruang baru yang akan dipijak berwarna warni, sebagai gambaran dari hal-hal
baru yang akan ditemui dan dicoba oleh saya. Saya memberanikan diri untuk keluar dari
zona nyaman.

b. Lingkaran Kedua : Berpelukan

Lingkaran kedua saya artikan sebagai dua hal. Pertama, pelukan ini mewakili perpisahan
yang harus saya rasakan selama pandemi, khususnya perpisahan dengan teman-teman.
Kedua, pelukan juga menggambarkan perpisahan saya dengan kegiatan sehari-hari yang
biasanya saya lakukan, namun pada akhirnya harus saya lepaskan.
Latar tembok terlihat berantakan (merah), sebagai penggambaran perasaan saya yang
campur aduk dalam menghadapi perpisahan-perpisahan karena pandemi.
Ide gambar ini adalah pelukan perpisahan, yang kerap dilakukan ketika seseorang
berpisah. Warna-warna yang cukup terang dan mencolok saya pilih karena ingin
menggambarkan perasaan yang kuat.

c. Lingkaran Ketiga: Bercermin

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Pada lingkaran ini saya menggambarkan perasaan yang sangat dekat dengan diri saya.
Saya menggambarkan sesosok perempuan yang sedang melihat bayangannya pada
cermin, dan terdapat tulisan “My Own Home” atau rumah saya sendiri. Selama pandemi
ini, saya sering merasa sepi. Setiap orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing.
Saya tidak bisa terus bergantung kepada mereka. Pada akhirnya saya sadar bahwa saya
hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Saya adalah orang yang selalu ada bagi saya.
Masa pandemi ini juga membuat saya sering membuka media sosial, dan menjumpai
orang lain yang sangat cantik. Ketika melihat cermin, saya banyak mengeluh karena
merasa kurang memenuhi standar kecantikan yang ada. Namun semakin ke sini, saya
sudah bisa menerima diri saya apa adanya. Lagi-lagi, saya adalah rumah bagi diri saya
sendiri. Artinya, saya juga harus menyayangi dan mengapresiasi diri saya lebih lagi.
Dalam gambar tersebut, terdapat majalah (warna ungu) dan gadget yang tergeletak di
karpet kuning, sebagai tanda bahwa saya sudah tidak peduli lagi dengan standar
kecantikan yang ada.
Ide gambar ini muncul ketika saya sedang mendengarkan lagu “Be Okay Again Today”.
Terdapat lirik ‘...you are your own home’. Ketika mendengar lagu itu, saya sedang sedih
karena merasa kesepian. Lalu, sekejap saya langsung menggambarkan apa yang ada di
pikiran saya.

d. Lingkaran Keempat : Balkon Rumah

Lingkaran keempat menggambarkan suasana balkon rumah yang berwarna warni dengan
seorang perempuan yang terlihat jenuh. Hal ini juga menggambarkan perasaan saya
selama pandemi. Meski suasana rumah ramai dan riuh, kadang saya merasa jenuh dan
bosan. Menurut saya hal ini manusiawi, karena saya juga tidak dapat memaksakan diri
saya untuk terus ceria setiap saat. Namun pada akhirnya, saya akan bangkit dari rasa
jenuh itu, yang saya anggap sebagai fase “layu” atau “kuncup” dari proses pertumbuhan
saya, dan kembali mekar.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
e. “Blooming Now”

Blooming now berarti mekar sekarang. Pada titik ini, saya menyadari bahwa dengan
keluar dari zona nyaman, berdaptasi dengan perpisahan yang terjadi, serta menerima diri
sendiri baik saat ceria maupun jenuh sudah mengantarkan saya kepada puncak keutuhan
diri saya (untuk sekarang). Saya sudah berhasil mekar.
f. Penggambaran Lingkaran
Bentuk lingkaran saya pilih karena merupakan bentuk yang menggambarkan keutuhan.
Garis lingkaran terus menyatu tanpa ujung. Begitu juga dengan proses pertumbuhan saya
di tengah pandemi ini.
g. Gambar yang Bertumpuk Satu Sama Lain

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Keempat gambar yang saya lukiskan di atas lingkaran-lingkaran terlihat bertumpuk satu
sama lain, kemudian di tingkat paling atas terdapat kata “Blooming Now”. Maksud yang
ingin saya sampaikan adalah, dalam rangka memenuhi kebutuhan saya sebagai remaja di
tengah pandemi yaitu suatu keutuhan diri (saya ibaratkan sebagai proses mekarnya
bunga), peristiwa-peristiwa dalam lingkaran harus saya rasakan terlebih dahulu.
Peristiwa dan perasaan itu adalah penopang saya dalam mencapai immense blooming
saya.
Bahan Karya:
Bahan yang digunakan adalah kerta karton dan kardus. Kardus digunakan untuk menimbulkan
efek tiga dimensi. Setiap lingkaran disusun bertumpuk dengan ganjalan kardus di bawahnya.

Alat Karya:
Spidol, pulpen, cutter, lem.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Marcellino Ivan Kristadi
XII IPS-3/13

SEMANGATKU ADALAH SUMBER IMUNKU, DAN IA MENANG!
Ide gambar ini adalah diri saya sendiri. Saya adalah remaja yang terdampak pandemi virus corona
secara langsung belakangan ini. Ya, saya terkena virus corona. Shock. Tidak bisa tidur pada hari
Kamis, 4 Februari saat saya dinyatakan positif walau sudah mencoba untuk menenangkan diri.
Selama perjalanan saya positif virus corona, gambar ini menceritakan refleksi saya. Di kepala
saya, terjadi pertarungan yang sangat hebat. Antara sumber virus vs penangkal virus. Di sini saya
menggambarkan kemenangan penangkal virus. Lihat bubble pikiran yang pertama dan terakhir?
Ya. Itulah sumber virus, yang aku yakin virus itu hanya datang ke tubuhku untuk pertama dan
terakhir. Sumber virus yang aku yakini di bubble pertama adalah hawa nafsuku yang tidak sehat.
Pornografi. Menyedihkan, bukan? Di masa pandemi ini aku tentu kesepian, jauh dari
kebutuhanku, dimana aku butuh pelukan terutama dari satu perempuan di kelasku yang bisa
membangun mood ku tiap saat, dan di situlah aku diterpa oleh hawa nafsu berlebih, dan akhirnya
jatuh. Pornografi membuat aku lemas, dan ya disitulah mungkin imunku lemah sehingga mudah
terserang penyakit. Di bubble terakhir, sumber virusku adalah kebiasaan yang tidak sehat. Sering
begadang tanpa alasan pada jam 1 ke atas. Penyebabnya apa? Malas, ingin sekali bermain gadget
seharian, akhirnya aku jauh dari kebutuhanku sebagai siswa yakni belajar dan jatuhnya begadang.
Bubble kedua dan keempat adalah upayaku untuk melawan bubble pertama dan terakhir. Bubble
kedua melawan bubble pertama. Aku percaya kalau aku mengandalkan Tuhan 1 x 24 jam pasti
bisa melawan nafsu birahi 1 x 24 jam. Keretakan bubble pertama menandakan bahwa ia mulai

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
kalah. Bubble ketiga melawan bubble keempat. Bubble ketiga berisi bahwa belajar itu harus
dinikmati, bukan dibawa stres, karena stres menurunkan imun. Nah karena nikmat belajar,
akhirnya melawan rasa malas di bubble keempat untuk bermain gadget tak kenal waktu,
berujung pada begadang dan mungkin pornografi yang menurunkan imun. Karena saya bilang
bubble pertama dan terakhir sumber virus, maka mereka membuat virus di tubuh saya. Tetapi
imun saya berhasil mengeroyok virusnya (dilambangkan dengan vitamin2) karena aku punya
semangat dalam Tuhan dan semangat belajar, aku bisa mencapai kebutuhanku. Aku tidak
kesepian karena aku punya Tuhan, dan aku bisa belajar, tidak menjauh dari kebutuhan akan haus
ilmu. Pada akhirnya dengan kekuatan semangat dari Tuhan dan dari diri sendiri, maka aku bisa
sembuh dari virus. Bisa dilihat di ilustrasi tubuh saya paling bawah, akhirnya si virus menangis
karena kalah. Jika kita ingin memenuhi kebutuhan kita, bahkan di masa pandemi sampai terkena
pandemi sekalipun, Tuhan bisa menjadi solusi bagi diri ini. Tuhan menguatkan kita agar kita
bersemangat memenuhi kebutuhan kita.

Maria Davina Ayuningtyas
XII IPS-3/14

Judul Karya : Senandika Kawula Muda
Media : Kaca bulat bekas jam dinding
Alat : Cat acrylic, pensil ( untuk sketsa ), dan kuas

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Ide yang melatarbelakangi gambar :

Di masa pandemi covid-19 sekarang ini, kebutuhan jasmani sebagian besar orang-orang
sudah terpenuhi dengan cukup tetapi ada kebutuhan lainnya yang berkurang terlebih selama
pandemi ini. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan rohani, lebih spesifiknya lagi adalah
kebutuhan sosial bagi setiap orang. Sebagai makhluk sosial, kita manusia tidak bisa hidup tanpa
adanya orang lain disekitar kita terlebih orang-orang terdekat, seperti teman, keluarga dan
saudara. Kebutuhan sosial tersebut dapat diwujudkan dengan cara melakukan interaksi satu
sama lain, jika tidak terjadi interaksi maka kebutuhan itu tidak akan terpenuhi. Perubahan yang
terjadi secara drastis dan tiba-tiba ini menjadikan kita tidak siap menghadapi segala sesuatu,
terutama keterbatasan dalam berinteraksi dengan sesama. Sebagai remaja yang sedang dalam
proses mencari jati dirinya sendiri, saya merasakan hal tersebut. Pandemi covid-19 ini sungguh
mengubah segalanya, bagi seorang remaja pertemanan sangatlah dibutuhkan. Di masa ini,
pertemanan dibutuhkan sebagai sarana untuk saling mengisi satu dengan yang lain dan
eksistensinya diakui oleh para teman sebayanya. Namun pada kenyataannya, hal tersebut
semakin sulit didapatkan oleh setiap remaja. karena terhalang dengan adanya pandemi.
Diperlukan usaha yang besar untuk mewujudkan hal tersebut. Jika di lihat di masa sekarang ini,
pengakuan eksistensi dari teman-teman sebaya bagi remaja,sudah tidak sama lagi seperti
sebelumnya atau bahkan harus dikesampingkan terlebih dahulu. Masih banyak lagi kebutuhan
bagi remaja di masa pandemi ini yang harus diperhatikan dan didapatkan, sulit nya berinteraksi
secara tatap muka dengan teman-teman sebaya mendorong kita sebagai remaja agar mampu
menyerap perkembangan teknologi yang ada serta menerima pelajaran sekolah yang juga
mengalami perubahan. Dua hal tersebut lebih dibutuhkan bagi remaja di masa sekarang. Sebagai
remaja yang berhasil dalam menyerap teknologi, mengikuti perkembangan dan mampu
menyesuaikan diri dengan proses belajar sekarang ini, maka kebutuhan sebenarnya bagi remaja
sudah terpenuhi. Selain itu juga, remaja lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dan bersama
dengan keluarga, kebersamaan dan cinta kasih yang diberikan keluarga juga sudah mencukupi
kebutuhan yang diperlukan remaja.

Seperti terlihat pada gambar yang saya buat, terdapat banyak unsur-unsur yang
mendukung ide saya. Media gambar yang saya pilih, yaitu kaca bekas jam dinding yang memiliki
makna tersendiri yaitu dengan terbatasnya aktivitas keluar rumah memunculkan ide bagi saya
untuk menggunakan barang bekas yang ada di rumah dan menjadikannya sesuatu yang indah
dan berguna. Dilanjutkan dengan makna dari masing-masing elemen yang terdapat di dalam
gambar, seperti ombak besar yang akan menenggelamkan 3 remaja saya gambarkan seperti
pandemi covid-19 yang sudah memakan banyak korban dan tentu saja pemilihan warna gelap
juga melambangkan kegelapan yang kita alami sekarang, sukacita yang ada semakin meredup
hanya ada dukacita. 3 remaja yang berada di dalam rumah dan siap dihantam oleh ombak besar
menggambarkan cara yang ditempuh oleh remaja sekarang ini agar kebutuhan umumnya
terpenuhi. Rumah yang menjadi tempat berlindung saat virus corona menyerang, hal itu menjadi
cara bagi remaja untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukannya, karena di dalam rumah kita
belajar dan mendapatkan banyak hal terutama selama bersama keluarga seperti yang sudah
tertulis dalam ide saya. Saya menggambarkan 3 orang remaja yang berada dalam rumah masing-
masing, itu menunjukkan bahwa kebutuhan setiap remaja berbeda-beda maka dari itu cara tiap
remaja berbeda dalam memenuhi kebutuhannya berbeda juga. Walaupun pada gambar, remaja

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

berada dalam rumahnya masing-masing mereka tetap berdampingan satu sama lain. Jika
dihubungkan dengan kehidupan sekarang, teknologi menjadi penghubung para remaja untuk
saling memenuhi kebutuhannya satu sama lain. Kemudian langit yang berwarna ungu cerah
menjadi penyeimbang kegelapan dari ombak, yang artinya walaupun di dunia sekarang ini sedang
dilanda oleh pandemi yang membawa dukacita, tetap masih ada langit cerah yang membawa
sukacita yang dapat menjadi harapan bagi remaja untuk kembali hidup normal bahkan lebih baik
karena sudah pernah mengalami masa-masa yang menyulitkan dan kita dapat hidup bahagia
kembali.

Judul yang saya pilih untuk gambar yang saya buat adalah “Senandika Kawula Muda”.
Senandika sendiri memiliki arti suara batin dan kawula muda memiliki arti orang muda atau
dalam gambar saya artikan sebagai remaja. Jadi kesimpulannya arti dari judul tersebut adalah
suara batin remaja yang telah dipendam selama pandemic.

Mario Avellino Darma Utama
XII IPS 3- 15

Dari permenungan yang saya kontemplasikan, untuk menjawab sebuah pertanyaa tersebut
terbesit dalam pikiran peran orangtua. Seperti yang remaja pada umumnya dan termasuk diri
saya, kita semua dipisahkan dengan jarak untuk bertatap muka dan berjumpa dengan teman
sebaya kita. Konsekuensinya adalah kebutuhan untuk bersosialisasi dalam upaya penemuan jati
diri menjadi tertahan dan melambat. Sehingga, akhirnya kami semua mencoba untuk memulai
pencarian jati diri di rumah masing-masing.

Kamipun melakukan segala aktivitas di rumah. Melakukan aktivitas bersama keluarga.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Melalui permungan yang saya dapatkan, saya mempelajari bahwa keluarga adalah agen
sosialisasi utama dan pertama bagi setiap anak. Keluarga menyediakan lingkungan pembelajran
mendasar atau dengan kata lain menjadi sekolah pertama bagi anak. Dengan intensnya
komunikasi dengan orangtua, secara tidak langsung saya merasakan interaksi ini sangat penting
untuk menghasilkan partisipasi sosialyang cukup efektif bagi masa depan saya.

Saya merenungkan melalui pengalaman di rumah, pola asuh dan setiap ajaran serta nilai yang
diberikan terbilang cukup dalam mempelajari jati diri saya sendiri. Di rumah saya dididik oleh
ayah dan mama. Saya merasa ada perbedaan dari pola asuh yang mereka berikan. Oleh
sebabnya, kenapa saya menggambar kepala yang berbentuk love itu diartika bahwa setiap
orangtua dan kita semua mempunyai keunikan dan perbedaan bahasa cinta. Bahasa cinta adalah
cara seseorang atau individu untuk mengekspresikan rasa cintanya kepada orang lain. Bahasa
cinta ini terdiri dari kata-kata positif, waktu yang berkualitas, sentuhan fisik, bantuan yang tulus,
dan yang terakhir adalah menerima hadiah. Oleh karena itu, saya menggambarkan pola asuh
orangtua yang saya alami ini membentuk kepribadian diri saya, karena menurut saya dalam
membentuk pribadi kita ditentukan dari penilaian diri sendiri.

Saya memilih sebuah batu sebagai media ataupun yang melatarbelakangi gambar ini. Batu
merupakan benda yang padat terbentuk dari berbagai komposisi minteral pun memiliki makna.
Saya merenungkan bahwa batu tercipta melalui proses yang panjang. Terseleksi dari butir-butir
pasir yang baik dan melalui proses alam sehingga menjadi padat. Saya merenungkan dari proses
untuk menjadi sebuah batu mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang kuat dalam
mengalami berbagai permasalahan dan rintangan kehidupan. Kita selalu terikat oleh proses
dalam sebuah pencapain. Karena proses merupakan bagian dari suatu perkembangan dan
perubahan.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Martinus Arkananta Gavra Irianto
XII IPS-3/16

Ide Gambar Ujian Praktik Seni Budaya “Adolescent”

Media : Akrilik pada papan kayu
Ukuran : 40 x 50 cm

Adolescent yang dalam bahasa Inggris berarti remaja, merupakan karya yang
menggambarkan kehidupan remaja di tengah pandemi. Lukisan ini memiliki 5 mandala yang salah
satunya memiliki bentuk melingkar. Mandala dengan bentuk lingkaran dengan warna yang
bermacam-macam memiliki makna representasi kehidupan remaja yang memiliki banyak warna
dan sisi. Warna ini melambangkan kehidupan remaja yang seharusnya memiliki banyak teka-teki
tanpa adanya repetisi seperti sekarang ini.

4 Mandala lain yang memiliki bentuk “tajam” dan warna yang monoton melambangkan
banyaknya perubahan yang terjadi di kala virus covid-19 melanda. Bentuk tajam dari mandala ini
melambangkan wujud dari virus corona yang berupa mahkota. Pilihan warna dari mandala ini

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
melambangkan aspek kehidupan manusia yang secara dinamis berubah dikarenakan pandemi.
Remaja masa kini dihadapkan dengan banyak tantangan di segala aspek kehidupan mereka.
Kehidupan yang seharusnya diwarnai dengan warna dari setiap nafasnya, kini seakan-akan
dipenjara oleh keadaan. Namun, perubahan yang terjadi, tidak boleh membuat mandala kita
menjadi abu-abu, namun kita harus berusaha supaya warna yang akan hadir, lebih cerah dan asri
dari yang sebelumnya.

Lukisan ini juga diperuntukan untuk mengapresiasi siapa saja yang tetap mampu bertahan
hidup di tengah situasi yang tidak menentu. Semoga kita semua selalu diberikan berkat dan
kesehatan dari yang Esa serta senantiasa hidup bersama dalam damai dan sejahtera.

Matius Enos Arkanathanias
XII IPS3 / 17

Judul : Waktu Berjalan
Teknik : Acrylic
Media : Canvas Oval
Karya yang saya buat adalah gambaran keadaan anak-anak muda yang sekarang terpaksa
berhenti melanjutkan karya mereka. Mereka terpaksa harus berhenti mengejar cita-cita mereka.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Pandemi ini merupakan salah satu kejadian yang merugikan hampir seluruh masyarakat di dunia.
Namun disini karya saya ingin menggambarkan bahwa walaupun dalam keadaan pandemi waktu
terus berjalan. Waktu dilambangkan oleh jam yang digambarkan di atas badan manusia dan
berjalan yang melambangkan tubuh manusia yang bisa berjalan. Walaupun kita dalam keadaan
pandemi dan terpaksa berhenti berkarya namun itu bukan sebuah alasan. Dibalik semua karya
kita yang terpaksa berhenti waktu tetap berjalan. Waktu tetap berjalan dan kita harus bisa
mencair jalan keluar untuk mengatasi masalah ini. Dibalik masalah selalu ada solusi. Kita harus
bisa mengembangkan ide-ide baru yang berguna agar kita bisa bertahan di masa pandemi ini.
Warna latar yang saya gunakan adalah biru, biru melambangkan ketenangan seperti dalam masa
pandemi ini kita harus bisa tenang agar kita tidak membuat keputusan yang merugikan diri
sendiri. Saya juga menentukan waktu yang menunjukan tanggal hari kemerdekaan Indonesia
yaitu 17 Agustus 1945. Terlihat dari detik 17 jam 8 dan menit 45. Dari situ saya ingin
menggambarkan bahwa para pahlawan telah berjuang pada tanggal tersebut agar negara kita
bisa merdeka. Karena itu kita sebagai anak bangsa harus juga bisa berjuang dengan segala cara
agar dapat selamat di masa pandemi ini.

Michael Ludovico Palma De Manggut
XII IPS-3 / 18

Eksistensi Di Masa Pandemi
Usia remaja (15-18 tahun) membutuhkan teman sebaya dan lagi sering-seringnya ingin keluar
rumah. Pada usia ini, remaja ingin mencari jati diri diluar sana. Kesenangan, eksistensi diri, dan
pengakuan dari remaja sebaya kerap terdapat pada pencarian jati diri masing-masing remaja.
Namun, semua tak lagi sama ketika pandemi corona melanda negara Indonesia. Banyak anak-
anak muda yang dulunya sering keluar dan mencari kesenangan kini tertahan di rumah dalam

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

jangka waktu yang tidak diketahui akan berjalan sampai kapan.

Pandemi corona memang membawa bencana bagi anak muda di Indonesia. Akan tetapi,
seiring berjalannya waktu mulai ada anak muda yang berpergian keluar rumah dengan alasan
mencari kesenangan dikala peliknya kondisi luar sana dan mencari jati diri. Tentunya ini
membahayakan dan merugikan banyak pihak berhubung ganasnya virus corona yang sudah
mewabah ke jutaan masyarakat Indonesia. Dalam situasi yang sangat sulit ini, banyak remaja
kebingungan, apakah mereka harus bertahan dirumah demi menyelamatkan dirinya dari bahaya
pandemi atau mereka harus keluar rumah dikala sulitnya situasi ini dianggap “teman” oleh
remaja sebaya mereka dan bisa mempertahankan eksistensi?

Situasi sulit saat ini dialami oleh banyak remaja. Ingin memenuhi kebutuhan pribadi tapi
terhalang pandemi. Tapi kalau tidak terpenuhi, nanti tidak bisa mempertahankan eksistensi.
Disini, hal yang harus diperhatikan adalah kata “sulit” dari kalimat sebelumnya. Sulit bukan
berarti bahwa remaja tidak bisa membuat pilihan. Sulit bukan berarti bahwa remaja tidak bisa
mencari jati dirinya. Sulit juga bukan berarti bahwa remaja tidak bisa mempertahankan eksistensi
dirinya dimata remaja sebaya. Dari situasi ini, kreativitas untuk mencari jalan keluar mulai
tercipta.

Semenjak pandemi corona melanda, banyak aplikasi-aplikasi yang muncul di kehidupan
masyarakat, terutama remaja Indonesia yang dapat dikatakan “mengisi” hari-hari dan bisa
dikatakan juga sebagai “alat pertahanan eksistensi” dari remaja itu sendiri. Contohnya ada
TikTok, Instagram, Twitter, Zoom, dan ketika tulisan ini dibuat muncul fenomena Clubhouse yang
lagi ramai-ramainya digunakan oleh banyak user yang muncul dari kalangan anak remaja.
Terdapat juga game-game yang saat pandemi digandrungi oleh para remaja, yaitu Among Us dan
juga Valorant. Aplikasi-aplikasi berubah menjadi “tongkrongan” bagi anak-anak muda yang saat
ini tertahan dirumah dan tidak bisa bertemu teman-teman mereka.

Hadirnya aplikasi-aplikasi ini membuat banyak anak remaja menjadikannya sebagai
sebuah media untuk mempertahankan eksistensi. Dengan hadirnya aplikasi-aplikasi yang sudah
disebutkan diatas, anak remaja saat ini tidak perlu lagi khawatir kebutuhan akan eksistensi dan
pengakuan dari teman-temannya tidak terpenuhi. Aplikasi ini membantu banyak remaja untuk
mencari teman, berbicara satu sama lain, memberikan saran, curhat, dan banyak hal tanpa harus
memikirkan resiko akan terkena virus corona yang saat ini sedang ganas-ganasnya di Indonesia.
Anak remaja Indonesia tidak perlu khawatir lagi kesenangannya terganggu dengan hadirnya
aplikasi ini. Memang, kehadiran secara online dari aplikasi tidak akan bisa menggantikan
kenangan manis yang tercipta jika remaja sebaya saling bertemu di satu tempat. Akan tetapi
dengan keadaan di negeri yang saat ini masih tidak pasti, setidaknya kebutuhan remaja akan
ruang lingkup sosial yang luas dan pengakuan dari temannya serta eksistensi di lingkungannya
tetap terpenuhi.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Nathania Evangelique Benita
XII IPS-3/19

Penjelasan Ide Gambar
Disini saya membuat semacam kerangka lampion dengan satu sisi dilepas. Lampion disini
diibaratkan dengan sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut terdapat seorang perempuan
remaja, sebagai simbol para remaja saat ini dengan pakaian warna biru dan merah, biru dan
merah biasa digunakan sebagai tanda akan dua benda yang sangat berbeda. Sehingga warna biru
dan merah pada baju di remaja tersebut menunjukkan seorang remaja yang sedang berada di
situasi yang berbeda, atau bahkan situasi yang berbeda bercampur dalam satu wadah sehingga
mengharuskan sang remaja untuk bisa membuat sesuatu yang baru dari perpaduan perbedaan
tersebut. Saya menggunakan warna hitam karena memberikan kesan sempit, yang memberikan
arti bahwa remaja dalam kondisi sekarang ini gerak-geriknya terbatas dalam lingkungan yang
kecil, yaitu keluarga, dikarenakan COVID yang membuat kita semua harus menetap di rumah.
Di setiap sisi lampion menggambarkan bagaimana situasi yang berkebalikan. Bagian atas
menunjukkan perubahan yang terjadi setelah adanya COVID, seperti penggunaan teknologi yang
lebih intens, juga ruang lingkup interaksi yang terbatas hanya di rumah, tidak ada interaksi
langsung dan menjadi terpusat pada sosial media. Bagian bawah menunjukkan lingkungan dulu
sebelum adanya COVID, dimana buku masih lebih banyak digunakan terutama dalam
pembelajaran, ruang lingkup interaksi yang cukup luas bisa bertemu dengan teman-teman, orang

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
lain dengan berbagai macam topik yang dibahas, serta interaksi secara langsung.
Dengan demikian, karya saya ini menunjukkan bagaimana remaja menghadapi situasi yang
keterbalikan dengan ruang lingkup yang terbatas / sempit di tengah pandemic ini, dan berusaha
untuk menemukan sesuatu yang baru dalam perpaduan dua kondisi yang keterbalikan.

Oskar Febrianus Banu Sadin
XII IPS-3/20

Mengenai gambar ini saya mengilustrasikan perasaan saya saat pandemi digabung dengan
pelajaran online, Dirumah saya hanya merasakan stress , tugas yang banyak, berita covid yang
menegangkan , juga pelajaran jarak jauh yang sulit dimengerti saat diterangkan.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Rachela Realdine
XII IPS-3/21

Makna dari lukisan yang telah saya buat adalah sesuai dengan kehidupan saya serta
orang-orang disekitar saya khususnya para remaja yang selama 1 tahun ini setiap harinya
melakukan kegiatan belajar melalui online saja tanpa bertemu secara langsung karena ada
pandemi Covid 19 ini. Kehidupan yang seketika berubah, awalnya menyenangkan karena setiap
harinya bertemu dengan teman disekolah tapi selama 1 tahun ini tidak pernah bertemu untuk
belajar di sekolah. Awalnya memang menyenangkan karena tidak harus dating kesekolah tapi
semua itu hanya senang sementara saja. Semakin lama pembelajaran semakin membuat para
remaja bosan hanya berdiam di rumah saja, lelah, dan banyak anak yang depresi karena harus
terus menatap gadgetnya. Terlalu Lelah untuk terus memakai masker ketika ingin keluar rumah.
Kami para remaja hanya ingin untuk tidak belajar hanya dari zoom saja, terus-terusan diberikan
tugas dari sekolah atau PR atau setiap hari harus mengecek classroom untuk absen dan melihat
ada tugas atau tidak, bahkan kami sudah bosan untuk ulangan secara daring. Kami hanya ingin
corona ini cepat berakhir sehingga kami bisa berinteraksi Kembali karena dengan pandemic ini
kami sebagai para remaja kehilangan jati diri kami. Maka dari itu saya ingin menyampaikan

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
aspirasi saya dari lukisan yang telah saya buat.
Bahan yang saya gunakan adalah kanvas 21x30 cm
Alat: cat air, spidol dan pensil untuk menggambar draft.

Stefanus William Eka Chandra
XII IPS-3/22

Gitar merupakan hal yang dekat dengan kehidupan hampir seluruh remaja. Apalagi dengan
keadaan Covid-19 membatasi saya untuk keluar rumah akhirnya gitar menjadi teman saya
dalam menghadapi segala tantangan. Saya menggambar nuansa lautan dengan tulisan nama
saya dan gambar gedung-gedung perkotaan. Gambar nuansa laut mengartikan bahwa dalam
masa remaja terkadang kita ingin berteman dan bergaul dengan siapa saja, bahkan akhirnya
meninggalkan quality time dengan keluarga. Laut yang luas mencerminkan kebebasan, disana
kita dapat melakukan apa saja, bergaul, menemui teman baru dan lain-lain. Terkadang
kebebasan menjadi candu bagi remaja, hal tersebut menjadikan remaja selalu mencari dan
ingin selalu mendapat kebebasan. Namun kebebasan yang diberikan terkadang menjadikan
remaja tersesat, seperti gurita hitam yang terlihat kebingungan.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Vallian Yoga Pratama
XII IPS-3/23

Gambar ini merupakan hasil permenungan saya mengenai kasus sosial yang menjadi bahan
soal. Media yang saya gunakan untuk menggambar adalah bekas figura foto yang saya potong.
dan saya menggambar di bagian belakang figura tersebut.
Gambar ini menceritakan seorang anak remaja yang merasa kehilangan. Saya membaginya
menjadi 2 bagian, yang sebelah kanan adalah sebelum masa pandemi covid-19, dan yang
sebelah kiri sesudah terjadinya covid-19.

1. Bagian kanan
Pada gambar ini saya menggambar seorang remaja yang dengan berbagai talenta,
bakat, dan eksistensinya yang sedang sangat berkembang. Berbagai bidang sudah
dikembangnya mulai dari pendidikan, musik, olahraga, media sosial, dan hubungan
sosial antar temannya. Semua berjalan baik adanya dan hal ini sudah menjadi bagian
dari hidupnya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

2. Bagian kiri
Pandemi mulai menjalar masuk secara cepat, dan membuat semua terhambat. Gambar
yang saya buat di bagian kiri lebih sedikit dibandingkan dengan yang kanan. Hal ini
dikarenakan selama pandemi semua hal banyak yang tidak bisa dilakukan. Selama
pandemi hanya virus dimana-mana, masker, sarung tangan, obat dan vaksin yang
sekarang-sekarang ini sedang ramai diperbincangkan. Remaja yang sedang eksis-
eksisnya dipaksa untuk merubah gaya hidupnya, gaya bersosialisasinya ketika pandemi
datang. Dengan masker yang digunakan dan rambut gondrongnya berarti remaja ini
sudah berubah penampilannya dan ini merupakan gaya hidup barunya yang akan
dimulai.

Ide menggambar seperti ini saya dapatkan ketika melihat pengalaman-pengalaman pribadi saya
yang seharusnya dulu ada, namun sekarang terpaksa ditiadakan. Yang biasa saya lakukan,
namun sekarang tidak bisa dilakukan. Saya menjadikan gambar ini sebagai sebuah cermin untuk
kembali melihat bagaimana di masa lalu, karena merasa kangen dan rindu dengan segala
bentuk eksistensi yang biasanya terjadi. Karena pada akhirnya lebih baik melihat masa lalu dan
kita sehat, daripada memaksakan segala sesuatu di masa pandemi ini yang menjadi bahaya
sendiri bagi diri kita.

Vincentius Seto Wicaksono
XII IPS-3/24


Click to View FlipBook Version