The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA TP. 2020/2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by m.wara, 2021-07-12 19:09:56

KARYA UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA TP. 2020/2021

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Cleo Abraham Mordekhai
XII IPS-1/04

Gambar yang saya buat ini berjudul “Terperangkap”. Maksud dari lukisan saya ini adalah pada
sisi samping lukisan saya menggambar apa yang terlihat seperti bumi, tetapi mengapa bumi
berbentuk seperti kubus/balok. Saya mengibaratkan bumi/dunia yang adalah tempat tinggal kita,
saat ini karena situasi sedang sangat buruk dimana sedang terjadi pandemi di dunia itu maka
bumi yang seharusnya berbentuk seperti bola berubah menjadi kubus/balok yang juga
menandakan bahwa kita terperangkap dan tidak bisa berbuat apa-apa. KIta saat ini terutama
saya sebagai remaja sangat terperangkap di dalam sebuah kotak yang tidak memiliki jalan keluar.
Hal tersebut saya pertegas dengan adanya gambar jendela di bagian sisi atas lukisan saya. Jendela
tersebut menggambarkan bahwa kotak/dunia yang saat ini kita rasakan tidak memiliki jalan
keluar. Sehingga pada lukisan saya hanya terdapat jendela tetapi tidak ada pintu. Kita hanya bisa
melihat dari dalam melalui jendela tersebut. Tetapi jendela tersebut juga menandakan bahwa
meskipun saat ini kita sedang terperangkap, jendela tersebut masih memberikan kita harapan
untuk bisa melihat keluar, seperti kita masih bisa berinteraksi dengan saudara atau teman-teman
kita meskipun hanya melalui cara online dan belum bisa bertemu secara fisik, kita masih bisa
bersekolah melalui cara online, dan masih banyak hal lain lagi yang dapat kita lakukan meskipun
tidak secara fisik. Sehingga selama kita masih punya jendela tersebut maka harapan untuk hari
depan yang lebih baik pasti akan tetap ada juga.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Dias Dione
XII IPS-1/05

Judul : “Beradaptasi Tanpa Kehilangan Jati Diri”
Alat dan Bahan : Cat akrilik, palet, kuas, dan kardus.
Media : Tote Bag
Latar Belakang dan Deskripsi Karya :

Berdasarkan narasi yang diberikan, saya paham betul bagaimana rasanya dikejutkan dari
kehidupan normal, ke kehidupan era baru. Bagi saya, jika pandemi ini dilihat dari sisi negatif,
selamanya akan terus buruk dan menjadi penyesalan. Tetapi, jika kita melihat dari sisi positifnya,
dunia yang kini jadi lebih minim polusi, manusia yang kini semakin peduli terhadap kesehatanya,
bahkan kini di Singapura kebun binatang dilarang keberadaanya, karena kesadaran mereka akan
bagaimana rasanya dikurung (karantina), sangatlah tidak mengenakan. Era ini juga, banyak
orang-orang yang justru menemukan cara baru untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Berangkat dari hal itu, saya dapat menyimpulkan bahwa orang yang akan bertahan di era ini
adalah orang yang bisa beradaptasi dengan keadaan. Cara beradaptasi yang dimaksud disini
adalah melihat kembali mimpi yang dulu pernah ada sebelum pandemi, kemudian gambarkanlah
dengan situasi sekarang. Dari banyaknya mimpi yang pernah ada, seleksilah mana yang kiranya
bisa direalisasikan di era sekarang. Sehingga, bisa dikatakan kebutuhan yang ada saat ini jauh
berbeda dengan era sebelum pandemi. Tetapi, jika berbicara kebutuhan eksistensi anak muda,
saat ini sepertinya masih terus diperlukan. Melihat masa remaja adalah masa mencari jati diri
sehingga, ada maupun tidak adanya Covid-19 ini, eksistensi masih menjadi kebutuhan anak

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

muda.
Mendengar kata adaptasi, yang langsung terpikirkan oleh saya adalah hewan bunglon. Bunglon
memiliki kemampuan untuk mengubah warna tubuhnya sesuai dimana dirinya ditempatkan,
untuk melindungi diri dari musuh. Bila ini dikaitkan dengan kondisi manusia, bunglon disini
diibaratkan sebagai manusia, dan covid diibaratkan sebagai musuh, yang dimana manusia harus
bisa bertahan melindungi dirinya dari musuh (Covid-19).
Dalam karya saya kali ini, saya menggambarkan banjir dan gunung meletus karena, di Indonesia
saat ini kedua bencana tersebut paling marak terjadi. Sedangkan, covid dan langit cerah dengan
gedung-gedung bertingkat, menggambarkan suasana Jakarta yang dipenuhi gedung, dan Jakarta
yang terus menjadi urutan pertama penyumbang pasien Covid-19. Dari semua permasalahan itu,
terdapat bunglon yang memiliki warna sesuai dengan suasana apapun dari ke empat situasi yang
ada. Beradaptasi dengan keadaan itulah yang ingin disampaikan sebagai cara anak muda
menghadapi situasi ini.

Engelbertus Jethro Anjaru Prosperthyean
XII IPS-1/06

Saya menggambar ini karena pada masa remaja ini kita mencari eksistensi kita dan sedang
mencari jati diri kita. Lalu anak remaja jika dilarang maka akan semakin di lakukan. Pada gambar
ini, saya menggambar di atas kertas karton kuning berbentuk segitiga. Segitiga kuning biasanya
digunakan untuk perinatan atau larangan namun pada gambar ini tidak ada lambang larangan
karena anak muda akan susah dilarang jadi saya memutuskan untuk tidak menggambar lambang
larangan. Dan gambar wanita perokok adalah suatu bentuk dari anak remaja yang sedang
mencari eksistensi dan mencari jati dirinya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Francesco Raquell Nitto
XII IPS-1/07

Judul : Eksistensi Merubah Sudut Pandang Manusia
Latar Belakang :

Setelah saya membaca teks “ Metamorfosis Masa Remaja ” maka saya berfikir untuk
membuat sisi negatif dari eksistensi karena saya tertarik dengan kata “eksistensi.” Bagi saya
remaja di usia 15-18 merupakan remaja yang sedang bertumbuh, remaja yang ingin mengenal
tempat dan dunia yang ditempatinya. Sehingga akhirnya remaja ini pun sedang mencari jati
dirinya dengan cara bergaul dengan banyak teman kemudian menjadikan orang lain figur atas
dirinya lalu berpergian dari sana kemari. Pada jaman sekarang para remaja menjadikan figur atas
dirinya sangat lah mudah tinggal membuka gadget yang mereka miliki lalu cari di internet,
youtube, instagram, dll. Hal-hal yang saya sebutkan di atas merupakan dampak positif nya.
Namun sekarang kita bahas mengenai dampak negatif dari eksistensi, saya melihat dampak
negatif eksistensi ini dari teman-teman sebaya saya yang menurut saya tidak ada bedanya semua
pasti nongkrong, ingin bermain, ingin pacaran, dll. Sehingga kalau saya lihat mereka akan jarang
sekali menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga. Kemudian mulai membangun dunia
mereka sendiri yang akhirnya merubah sudut pandang mereka mengenai apapun seperti mereka
akan merasa keluarga sangat membosankan. Dan dampak lainnya adalah eksistensi ini membuat
kita ingin menjadi seperti orang lain sehingga timbulah kata insecure atau tidak percaya diri. Hal
itu merupakan dampak dari eksistensi yang sudah sangat merusak diri para remaja, yang sudah
memegang kontrol atas diri mereka. Dan pada masa kini Covid-19 melanda dan itu bukan menjadi
halangan untuk tidak membuat mereka merayakan eksistensi mereka bersama teman-teman.
Justru eksistensi ini berkerjasama dengan globalisasi. Menggunakan gadget-gadget, tekhnologi,

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

dan aplikasi para remaja ini pun tetap bisa saling berkumpul. Bahkan ada beberapa remaja yang
melanggar protokol kesehatan, mereka bertemu secara langsung tatap muka mengobrol padahal
sudah diberitau jangan berkumpul, tetapi para remaja tetap susah di bilangin karena dampak
dari eksistensi tersebut. Tidak berfikir jauh kedepan hanya memikirkan dirinya sendiri dan
kepuasaan atas dirinya. Hal dan dampak negatif ini yang menjadi latar belakang saya
menghasilkan karya seni seperti itu

Makna Gambar :
1. Karton berwana biru yang berada di sekitar kepala wanita artinya adalah sebenarnya maskud

dari karton tersebut adalah aura-aura yang seperti selalu menghantui remaja. Aura ini di
timbulkan karena ingin menjadi seperti orang lain yang berada di media sosial dan
semacamnya sehingga para remaja selalu merasa ingin memperbaiki dirinya. Padahal dirinya
sudah sangat sempurna.

2. Wanita berwarna hitam artinya adalah wanita tersebut sudah terkena dampak negatif dari
eksistensi

3. Wanita memandang wajah ke smartphone artinya wanita ini mewakilkan para remaja jaman
sekarang yang tidak pernah bisa terlepas dari gadget.

4. Gambar gear dan garis-garis putih di kepala wanita artinya adalah gear selalu disangkut
pautkan dengan yang namanya kontrol atau kendali dan ditaruh di kepala karena kendali
atas diri kita adalah otak dan gear tersebut sudah dirusak oleh adanya pengaruh eksistensi

5. Gambar wajah dan garis-garis biru yang melintang artinya adalah gambar wajah itu
sebenarnya merupakan foto keluarga dan garis biru itu merupakan kaca yang retak atau
pecah, dampak dari eksistensi.

6. Gambar bangunan artinya remaja di umur 15-18 tahun sedang mencoba untuk menemukan
jati dirinya sehingga ia pun membangun dunia nya sendiri

Alat dan Bahan :
1. Pensil untuk menggambar sketsa
2. Drawing pen berwarna putih
3. Gunting
4. Lem
5. Double tape
6. Kertas karton berwarna hitam dan biru

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Fransiskus Aris
XII IPS-I/08

Alat dan bahan :
1. Toples kaca kecil
2. Karton
3. Spidol
4. Lem
5. Cat air
Ide untuk menggambarnya adalah menyajikan perbandingan antara tahun 2020 dan 2021

serta perbandingan antara belajar dulu dan belajar sekarang. Saya merasa tahun 2020 adalah
tahun yang cukup penuh dengan cobaan. Pada 1 Januari 2020, beberapa wilayah Indonesia
dilanda banjir dan pada 2 Maret 2020 Covid-19 mulai masuk ke Indonesia. Kemudian diputuskan
untuk PJJ dan akhirnya setiap siswa harus memiliki aplikasi untuk pembelajaran online. Saya
merasa bahwa eksistensi saya sebagai anak muda dan siswa memerlukan aplikasi sebagai bentuk
kehadiran saya. Jika tidak mempunyai aplikasi dan mengaksesnya saya tidak akan dianggap hadir.
Bukan hanya sekolah, masa PJJ ini membuat saya perlu mengaktifkan berbagai media sosial demi

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
menjaga relasi pertemanan saya dengan teman-teman lain. Jika tidak saya tidak akan dianggap
ada oleh teman-teman (kecuali saat mulai masuk seminari). Hal tersebut berlangsung sampai
tahun ini. Namun pada tahun 2021 ini banyak warga yang sudah mendapatkan vaksinasi dan
mulai ada usaha untuk pemulihan ekonomi. Walaupun ditengah pandemi ini masih ada juga
bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Indonesia.

Kemudian, saya juga menyertakan gambar dan tulisan belajar dulu dan sekarang. Saya
sempat mengalami sekolah yang hanya membutuhkan alat tulis, tas dan seragam. Kehadiran saya
bukan ditentukan oleh berapa banyak gadget yang saya miliki atau aplikasi apa yang ada dalam
gadget saya, namun sungguh kehadiran di sekolah. Eksistensi saya pun bisa diakui tanpa harus
memiliki gadget dan aplikasi untuk belajar. Sekarang sudah menjadi lain sekali dan saya harus
memiliki gadget yang mumpuni untuk belajar.

Fransiskus Arya Kusuma Aji
XII IPS-1/09

Grateful
Masa pandemi merupakan suatu hal yang merugikan banyak pihak. Banyak orang yang
terkena dampaknya dari berbagai aspek. Banyak orang yang terkena PHK, keluarga yang
meninggal hingga sekolah ditutup. Sekolah ditutup berdampak pada para remaja yang
waktunya kebanyakan digunakan untuk bersosialisasi atau mencari jati dirinya. Tapi
terkadang banyak dari kita yang lebih dulu mengeluh tanpa melihat sisi baik dari suatu hal.
Hal inilah yang saya tuangkan dalam karya uprak saya. Saya menggunakan media kaset DVD
bekas dan mengubahnya menjadi interpretasi pemikiran saya. Saya menggambarkan sebuah
kaset hitam disertai gambar ombak. Warna hitam yang kelam tersebut melambangkan masa-

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
masa susah yang kita alami sebagai remaja khususnya pada masa pandemi ini. Sedangkan
ombak tersebut melambangkan suatu ide dan aksi dari kita sebagai remaja. Ombak yang saya
lukis terinspirasi dari karya pelukis jepang Katsushika Hokusa yang berjudul “ Under the
Wave of Kanagawa”. Alasan saya membuat lukisan dan latar belakang teersebut karena
banyak dari kita kaum remaja yang tidak melihat kesempatan untuk mengembangkan diri
kita sendiri dalam masa pandemi ini. Maka yang kita perlukan untuk mengeksekusikan diri
kita sebagai remaja adalah bersyukur dan mencari kesempatan dan kita gunakan
semaksimal mungkin.

Franzeska Amaliana Dewi Lestari
XII IPS-1/10

Alat dan bahan :
 Bohlam bekas
 Cat Acrylic dan kuas
 Lem cair
 Selotip

Judul : Dum spiro, spero
Jenis Karya : Lukisan Abstrak

Saya sebagai remaja yang duduk di bangku kelas 3 SMA, saya memiliki banyak harapan untuk
masa depan saya. Saat saya kelas 10 mungkin harapan saya untuk bisa menyelenggarakan
Gonzfest sebagai kelas 12, dan sekarang harapan saya untuk bisa bertemu teman-teman dan bisa
bersekolah di perguruan tinggi sesuai keinginan saya secara langsung.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Tetapi dengan adanya pandemi ini, kami semua diambang ketidakpastian. Ketidakpastian ini
berupa keraguan dan kecemasan akan masa depan kami kelas 12, bagaimana nanti kuliah,
bagaimana ujian penerimaannya, dan masih banyak hal lagi yang tak bisa teruraikan.

“Dum spiro, spero”, judul yang saya ambil untuk karya saya. Ungkapan ini berasal dari Bahasa
Latin yang berarti “Selama saya masih bernapas, saya tetap berharap”. Melalui ungkapan
tersebut saya ingin agar saya selalu optimis dan berharap terbaik, karena selama saya masih
hidup pasti semua hal membawa berkat untuk saya dan orang sekitar, dan setiap hari yang saya
lewati adalah anugerah dari Tuhan.

Media yang saya pilih adalah bohlam, dan saya menggambar matahari di sisi biru dan bulan di
sisi hitam. Latar belakang mengibaratkan langit siang dan malam yang berwarna biru dan hitam,
biru itu adalah siang hari dimana mayoritas kejadian yang baik terjadi (karena terang), hitam
adalah langit malam dimana mayoritas kejadian yang buruk terjadi karena pada saat malam
seharusnya seseorang beristirahat (karena gelap).
Tetapi ada bulan dan matahari yang keduanya memiliki satu tugas yang sama yaitu untuk
memberi cahaya agar dunia cerah, saya memilih warna emas untuk kedua matahari dan bulan
tetapi matahari ada warna lainnya sedangkan bulan hanya perpaduan hitam dan emas.

Dengan perpaduan unsur-unsur tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa di setiap kejadian
buruk pasti ada hal terang yang bisa kita ambil jadi pada dasarnya kejadian buruk dan baik itu
bisa dibilang sama, tinggal bagaimana cara kita memandangnya. Saya memilih lampu
berdasarkan pengalaman saya, setiap ada kejadian baik dan buruk pasti saya selalu
merenungkannya dan melalui itu munculah ide-ide dan gagasan untuk saya jadikan karya, dan
bohlam melambangkan ide dan gagasan.

Pandemi ini memang kejadian yang sangat buruk, tetapi saya bersyukur karena saya

mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran baru selama pandemi ini. Dengan semua yang
saya alami, saya optimis bahwa pandemi akan segera berakhir dan akhirnya kita semua pun bisa
mengejar cita-cita kembali.

Selama pembuatan karya ini saya mengalami kesulitan dalam pewarnaannya karena sukar untuk
mengering, jadi catnya saya campur dengan lem agar bisa cepat kering dan catnya tidak luntur.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Gregorius Abimanyu Putra Hutomo
XII IPS-1/11

Judul karya : Namun.
Ide karya : Di dalam karya tersebut bisa dilihat bahwa ada seorang manusia yang berusaha
berbicara dengan orang yang disebelah kanan, namun yang di sebelah kanan malah
meremehkan serta menjauhkan diri dari manusia tersebut. Karya yang saya buat merupakan
sebuah bentuk visualisasi dari beberapa kesulitan para remaja yang sedang berhadapan dengan
banyak hal terutama di kondisi seperti sekarang ini. Orang berwarna jingga di kanan merupakan
sebuah bentuk manifestasi dari segala pertanyaan, segala masalah, segala keluh kesah anak
muda, yang digambarkan menjadi seorang pribadi yang jahat. Meski begitu kita kaum muda
harus terus bangkit dan tidak boleh kalah oleh segala tantangan duniawi yang ada, berhenti
melihat segala kekhawatiran, angkat kepala, tegakkan badan, lihat kedepan, dan jalani hidup
dengan senyuman.
Alat dan bahan : Cat akrilik, gunting, karton bergaris, flat brush, spidol putih

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Gregorius Prasetyo
XII IPS-1/12

alat dan Bahan:
kertas karton berwarna putih
cat air warna biru dan hijau
spidol hitam
pensil
penghapus
kuas
Ide mengenai gambar:

Saya mendapatkan ide dari menjawab pertanyaan yang ada di dalam teks. saya
mengambil tema eksistensi di dalam media sosial. karena menurut saya remaja di zaman
sekarang mendominasi menggunakan media sosial. media sosial tidak lepas dengan penggunaan
jaringan internet, maka di dalam gambar saya membuat gambar lambang wifi yang
menggambarkan jaringan internet. menurut saya eksistensi remaja dalam media sosial sebelum
pandemi dan sesudah pandemi tidak berubah. Bahkan di masa pandemi ini, remaja semakin
sering “ketergantungan terhadap internet pada remaja di masa pandemi ini juga lebih tinggi,
yakni mencapai angka 19,3% dengan rata-rata penggunaan 11,6 jam per harinya”. dari data
tersebut menyatakan bahwa remaja bisa dibilang tidak bisa luput dari media sosial. dan dari
media sosial jugalah remaja diakui eksistensinya oleh teman temannya, sebelum masa pandemi
ataupun saat masa pandemi ini.

Dalam gambar terdapat background. background tersebut saya lukis menggunakan cat
air dan menggambarkan bumi yang dimana perubahan bumi tak luput dari tingkah remaja. di
gambar tersebut saya menggambar banyak orang orang yang saya gambarkan sebagai remaja,
banyak gambar orang yang mengelilingi wifi tersebut menggambarkan para remaja yang sebelum
masa pandemi ataupun saat masa pandemi tak luput dari internet dan menggunakan internet

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

sebagai sarana untuk supaya eksistensi mereka diakui oleh teman temannya. dan dari situ saya
menggambarkan 2 sisi berbeda remaja yang menggunakan internet dan media sosial. sisi
pertama adalah sisi positif remaja menggunakan internet yang bisa menambah atau dipandang
eksistensi oleh temannya, yaitu mereka menggunakan media sosial sebagai sarana untuk
sekolah, membantu teman teman mereka yang kesusahan terhadap pelajaran, menghasilkan
uang, berinovasi melalui internet, mereka bisa mengembangkan diri dan minat mereka melalui
internet, dan mereka menambah ilmu pengetahuan dari internet dengan membaca berita, novel,
buku,dll. Sedang dalam sisi lainnya adalah sisi negatif remaja yang ingin di akui eksistensinya dari
media sosial melalui hal yang keliru, seperti mereka menjadi bermain game hingga larut malam
dan tidak memedulikan sekolahnya, mereka mencari cinta ataupun kenikmatan dunia melalui
internet dengan membuka situs terlarang, mereka menyebarkan berita yang tidak benar (hoax)
dan mereka menggunakan internet sebagai wadah jual beli obat obatan terlarang, narkoba.
Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/334163/pandemi-ketergantungan-terhadap-
internet-meningkat-5-kali-lipat

Ignatius Alberto Adrianto
XII IPS-1/13

Judul : Jati Diri Dalam Piramida
Bangun ruang piramida ini dengan warnanya dari warna hijau sebagai dasar, kemudian oranye
atau jingga, lalu merah dan terakhir kuning berarti urutan pencarian jati diri remaja yang tengah
mengalami proses pertumbuhan dan pencarian teman sebaya. Latar belakang saya menggambar
bangun ruang tersebut adalah terpikir sesaat untuk membuat piramida dari kertas karton. Lalu
pewarnaannya dinamis dengan warna yang identik dengan panas.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Laurentius Nico Hernando
XII IPS-1/14

Alat dan bahan :
 Papan triplek
 Lem aibon
 Timer
 Pilog putih
 Cat air

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

 Kuas
 Engsel
 Pensil 2B
 Spidol hitam

Refleksi

Pandemi virus Corona-19 belum mengalami grafik yang landai di muka bumi ini. Hal ini
semakin menyulitkan manusia dalam bermobilisasi memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia
dihadapkan pada masa sulit seperti ini, khususnya para remaja yang sedang mencari jati dirinya.
Remaja sebagai generasi penggerak bangsa, seharusnya tidak mengatakan takut pada Covid-19
tetapi haruslah dilawan. Dilawan dalam hal ini bukan seperti tidak mematuhi aturan yang sudah
diberikan oleh pemerintah, tetapi melawan untuk membantu sesama yang kesulitan. Kesulitan
yang dimaksud yaitu orang - orang kehilangan pekerjaan sampai orang - orang yang tidak tahu
lagi bagaimana caranya untuk bertahan hidup dalam masa yang sulit ini.

Sebuah inovasi hadir didalam masyarakat dari berbagai kalangan, terutama pemuda dan
pemudi. Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sesama, remaja sebagai generasi penerus
bangsa membuat inovasi untuk menolong sesama tetapi tidak harus terjun langsung memberi
kepada orang yang menjadi target untuk diberi.

Teknologi pada zaman dewasa ini sungguh menunjang kebutuhan setiap manusia yang
menggunakannya. Dalam masa pandemi ini, teknologi digunakan untuk membantu sesama yang
kesulitan, contohnya saja pada yang sudah saya gambar yaitu pemuda, pemudi, dan remaja
menyumbang uang dengan total Rp.4.000.000 (terlihat pada gambar gawai). Disitu muncul
inovasi yang tadinya memberi secara langsung tetapi pada masa pandemi seperti ini tidak bisa
seperti itu karena memicu resiko penularan Covid-19. Maka dari itu, tetap ada jalan untuk
berbagi kepada sesama. Hal inilah yang ingin saya terapkan untuk hari kedepannya. Menolong
sesama tetapi tidak harus secara langsung, tetapi dengan menggunakan teknologi yang canggih
untuk menolong sesama.

Indahnya saling berbagi juga dirasakan di dalam gambar yang sudah saya gambar. Disini
saya mendapat pelajaran bahwa memberi itu tidak kenal batas. Tidak ada batasan untuk
memberi walaupun sesulit rintangan yang dihadapi untuk memberi.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Maria Jasmine Putri Subiyanto
XII IPS 1/15

Judul : Sempurna
Tema : Metamorfosis Masa Remaja

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

PENJELASAN TENTANG KARYA SENI
Saya membuat gambar ini karena menurut saya, gambar ini dapat mengekspresikan serta

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya refleksikan melalui tulisan yang sudah diberikan.
Latar belakang saya memilih gambar ini karena nama saya, yaitu Jasmine. Seolah-olah, sosok
yang berada pada karya ini adalah diri saya yang direpresentasikan menjadi sebuah bunga. Jadi,
gambar ini memiliki kedekatan secara personal terhadap diri saya. Ide gambar yang saya pilih
akan saya narasikan sebagai berikut.

Tentunya, remaja kebingungan dalam mencari jati dirinya di situasi pandemi Covid-19
yang dapat menjadi sebuah tantangan bagi kaum muda. Namun, setelah merefleksikan
pengalaman-pengalaman yang saya lewati, justru saya bisa melihat sisi positif selama masa
pandemi ini.

Menurut saya, pandemi bisa dimanfaatkan sebagai waktu untuk refleksi dan memperbaiki
diri sendiri. Dengan kata lain, melakukan self-growth atau self-care. Hal ini bisa direalisasikan
dengan cara menggali dan mengetahui potensi-potensi yang mungkin sebelumnya diabaikan
akibat kehidupan sosial bersama teman-teman sebelum pandemi. Pandemi dapat menjadi
sarana bagi kita untuk fokus terhadap perkembangan diri sendiri.

Oleh sebab itu, saya menggambar sebuah bunga yang mekar dan indah. Selain
merepresentasikan diri saya sendiri, saya juga ingin menyampaikan bahwa bunga ini
menggambarkan diri kita yang berkembang dan “growing” selama pandemi ini, atau istilahnya,
to become the most perfect version of ourselves. Karena alasan ini juga, saya menamai karya ini
dengan judul “Sempurna”. Saya meletakkan bunga tersebut di daerah kepala, karena area
tersebut melambangkan organ vital kita, yaitu otak. Semua tingkah laku, pikiran-pikiran kita
selama pandemi, semua pasti berasal dari otak kita. Dengan mekarnya bunga tersebut, saya ingin
menggambarkan bahwa telah terjadi pula perkembangan positif di dalam diri kita.

Kebutuhan yang remaja miliki menurut saya tidak sama dengan kebutuhan sebelum
pandemi, karena justru dengan pandemi ini, kebutuhan kita lebih berpusat kepada diri kita
sendiri. Kita menjadi lebih peka terhadap apa yang kita suka, apa yang kita tidak suka, dan
sebagainya. Alhasil, kita jadi lebih mengetahui bagaimana caranya mengembangkan diri kita
secara maksimal.

Simbol self-growth pada bunga yang mekar tersebut merupakan wadah realisasi
pemenuhan kebutuhan yang dilakukan oleh remaja selama masa pandemi ini. Kita dapat
mengimplementasikan self-growth melalui hobi-hobi baru, kegiatan baru yang kita temui selama
pandemi. Implementasi tersebut merupakan bentuk nyata dalam pemenuhan kebutuhan yang
bisa dilakukan oleh remaja saat ini. Istilahnya, banyak hal-hal yang dapat ditemui dalam
kehidupan sehari-hari selama pandemi yang bisa membuat kita bermetamorfosis menjadi pribadi
yang lebih baik lagi.

Tak hanya itu saja, simbol ini juga menggambarkan bahwa pandemi dapat menjadi wadah
bagi kita untuk menyiapkan diri dalam terjun ke masyarakat. Dengan self-growth, kita menjaga
kebaikan diri kita baik secara mental maupun fisik. Karena hal tersebut, kita menjadi siap dalam
menerjunkan diri ke masyarakat ketika pandemi sudah selesai. Persiapan remaja untuk terjun ke
dunia luar tidak harus melalui sosialisasi bersama teman-teman sebaya, tetapi bisa melalui
perbaikan pribadi serta refleksi terhadap diri sendiri. Melalui pandemi, kita belajar untuk
berkembang dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sama halnya seperti bunga yang terdapat
pada gambar saya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Marvelo Pietro Boekan
XII IPS 1/16

1. Judul: Game of mistakes
2. Latar belakang:

Pandemi Covid-19 yang tidak kunjung usai membuat aktivitas saya sebagai seorang
remaja terhambat. Saya hanya bisa berdiam diri di rumah dan melakukan rutinitas yang
sama setiap harinya. Kerinduan terhadap keramaian dan suasana sekolah, kerinduan
bertemu dengan teman-teman, dan rasa ingin kembali seperti sedia kala selalu
menghiasi pikiran dan perasaan saya. Dulu saya selalu bermain dan berkompetisi dalam
hal sepakbola yang adalah hobi saya. Saya sangat mencintai permainan sepakbola
karena itu membuat saya merasakan bahagia. Bermain di atas lapangan hijau disinari
matahari atau air hujan selalu menjadi momen berkesan yang belum dapat saya rasakan
lagi sampai sekarang.
Cara yang bisa saya lakukan untuk tetap bisa merasakan bahagianya bermain bola
adalah dengan berlatih sendirian menjalankan hobi saya. Memang hening, sepi, tidak
ada teriakan. Namun sebagai manusia kita harus beradaptasi. “Football is a game of
mistakes” yang artinya kita pasti membuat kesalahan dan selalu berlatih untuk
memperbaikinya. Melalui lukisan ini saya ingin memberikan pesan bahwa sebanyak
apapun kesalahan kita, akan selalu ada cara untuk memperbaikinya jika kita terus
berlatih dan terus berjuang, karena buat saya berhenti bukanlah pilihan.
3. Alat dan bahan yang digunakan:

 Kanvas kecil
 Cat Acrylic
 Kuas
 Tissue dan koran

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
THE SUN AND THE MOON : SOULMATES

Bahan dan Alat : Talenan kayu berbentuk hati, kuas, gouache paint.
Pertanyaan Narasi :

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

a. Apakah kebutuhan pada umumnya anak remaja masa pandemic ini masih sama dengan

kebutuhan mereka sebelumnya, yaitu teman-teman yang mengakui eksistensinya?

b. Cara apa yang bisa ditempuh agar kebutuhan pada umumnya remaja itu terpenuhi?

Selama masa pandemi, tentu yang paling terasa perubahannya bagi remaja adalah berkurangnya
sosialiasi bersama dengan teman-teman sebayanya. Remaja pun terpaksa terkurung di rumah
bersama dengan anggota keluarga. Sarana untuk bertemu teman hanyalah melalui videocall atau
telepon. Memang saya juga mengakui bahwa lingkungan teman itu menjadi salah satu
pembentuk utama karakter saya dan para remaja lainnya. Di usia golongan remaja madya pun
pasti mayoritas remaja sudah menemukan orang-orang yang mereka akui teman atau sahabat
namun masih memiliki perjalanan yang panjang dalam hidup dan kelak akan bertemu banyak
orang-orang baru.
Saya adalah orang yang percaya untuk memanfaatkan kesempatan yang ada di situasi manapun.
Dalam masa pandemi ini, manusia dilarang untuk egois, untuk tetap di rumah agar penyebaran
virus corona tidak meluas. Tentu tidak banyak yang bisa dilakukan para remaja dalam rangka
bertemu teman-temannya selain melalui videocall atau telepon. Memang mungkin banyak yang
kesepian bahkan stress dengan situasi new normal ini, namun di saat yang sama banyak manfaat
yang bisa diambil.
Secara tidak langsung, remaja diberi lebih banyak waktu untuk diri sendiri, dengan adanya
perubahan durasi waktu belajar di sekolah. Remaja bisa mengenal dirinya sendiri,
mengembangkan hobi baru, melakukan apa yang disukai, dan berefleksi. Apa yang sebenarnya
ingin dia lakukan di masa depan? Apa hasratnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat benar-
benar dijawab sendiri tanpa ada pengaruh dari teman-temannya. Hal ini dapat membantu remaja
untuk benar-benar memutuskan jalan hidupnya sesuai apa yang dirinya inginkan. Selain itu, saya
pribadi juga merasakan bahwa selama pandemi, kita bisa mengenal benar-benar siapa sahabat
kita. Siapa yang setiap hari menanyakan kabar melalui chat, siapa yang terus diajak video call,
dsb. Hal ini dapat menjadi pemicu kesadaran bagi para remaja bahwa sebenarnya kita sudah bisa
merasa cukup atau puas dengan kelompok teman yang kita miliki.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu remaja masih membutuhkan teman-
teman yang mengakui eksistensinya, namun juga seringkali remaja memutuskan segala hal dalam
hidupnya karena pengaruh dari teman-temannya. Para remaja dapat menggunakan waktu
sendiri di masa pandemi ini untuk setidaknya benar-benar merefleksikan segala hal dalam
hidupnya, tanpa pengaruh siapapun. Mendapat masukan juga penting, tapi di akhir hari ini
adalah hidup masing-masing orang sehingga pastikan bahwa kita semua menjalani hidup sesuai
yang kita inginkan. Dalam mengatasi kebutuhannya di masa new normal ini, remaja harus banyak
berefleksi juga produktif dalam berkegiatan. Tidak lupa untuk belajar dan membantu orang tua
di rumah namun juga aktif dalam melakukan hobinya bahkan menemukan hobi baru untuk
mengisi waktu luang. Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget, melainkan
harus belajar untuk mengistirahatkan diri dari gadget dan media sosial. Tidak lupa istirahat dan
makan minum yang cukup. Di sisi lain, para remaja tidak boleh melupakan teman-temannya.
Teman-teman merupakan unsur yang penting dalam hidup, mereka menemani di masa sedih
maupun bahagia. Sekedar mengobrol setiap hari, menanyakan kabar, mungkin melakukan
aktivitas bersama melalui videocall akan lebih baik untuk menjaga relasi dengan teman-teman.
Dalam gambar ini, saya menggunakan gambar matahari dan bulan sebagai representasi remaja.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Baru-baru ini saya menonton documentary mengenai angkasa dan itu sangat menginspirasi saya.
Matahari dan bulan merupakan dua benda angkasa yang berbeda namun saling melengkapi.
Matahari menerangi bumi di siang hari dan bulan di malam hari. Keduanya tidak pernah muncul
atau bertemu secara langsung, yang menurut saya menggambarkan situasi kita di masa ini di
mana kita tidak bisa bertemu dengan teman-teman. Mereka juga hanya berdua, menandakan
bahwa di masa ini kita dapat benar-benar sadar siapa sahabat kita, siapa yang menanyakan kabar,
yang diajak berbicara setiap hari. Matahari dan bulan juga memiliki caranya masing-masing
dalam menerangi bumi. Matahari merupakan bola gas api yang panas sehingga memancarkan
sinar sendiri sedangkan bulan membutuhkan matahari untuk memantulkan cahaya. Situasi ini
menggambarkan bahwa ada remaja yang sudah menemukan dirinya sendiri, sudah nyaman
dengan dirinya sendiri namun ada juga yang masih membutuhkan pedoman atau contoh dalam
memilih keputusan hidup. Setiap remaja pasti memiliki perbedaannya masing-masing namun
perbedaan tersebut tidak boleh menjadi hambatan dalam memilih teman. Para remaja pasti
memiliki tujuan yang sama, untuk melanjutkan hidup dengan bahagia namun dengan caranya
sendiri-sendiri dan hal itu bukanlah sesuatu yang buruk. Perbedaan menjadikan diri masing-
masing orang unik.

Michael Julian Jansen
XII IPS-1/18

Bahan : Masker, Cat Air, Pensil
Judul : Senyum Bayangan

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Ada alasan mengapa saya memilih menggambar di masker. Yaitu karena masa pandemi ini kita
harus bepergian kemana-mana memakai masker. Dengan masker senyum kita selalu tertutupi.
Namun dengan begitu kebahagiaan yang didapat dari pandemi ini tidaklah menghilangkan
senyuman atau kebahagiaan. Justru menambah kebahagiaan kita seperti semakin dekat dengan
keluarga, banyak berkenalan dengan teman baru secara online, dilatih untuk lebih mengenal diri
sendiri, dan lainnya.

Nathanael Cahya Satya Graha Gangkut
XII IPS-1/19

Ide gambar tersebut adalah pandemi membuat kita harus di rumah dan membatasi aktivitas kitas
dengan orang lain agar tidak menularkan virus. Pada gambar ini rumah saya buat siluet warna
hitam artinya apa siluet ini saya terinspirasi dari bayangan artinya kemanapun ingin melangkah
ada rumah yang selalu membayangi. Berawan dengan warna jingga menunjukkan ini sekitar jam
4-5 sore waktu itu saya menemukan ide gambar ini sekaligus menjadi latar waktu. Satu hal yang
paling saya suka adalah warna langit yang menunjukan banyak warna hal itu seperti menjadi
rangkuman dari gambar ini jadi bukan karena kita di rumah saja kita harus tetap memberi warna
dalam kehidupan. Warna itu melambangkan semangat, gairah, ketenangan, bahkan sisi pesimis
yang muncul namun yang pasti adalah kita semua di bawah kolong langit sebagai manusia yang
bisa taqwa.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Priscilla Tjung
XII IPS-1/20

Judul : Bersosialisasi Melalui Genggaman
Ide Gambar :

ide dari gambar ini adalah pandemi Covid-19 yang sedang melanda saat ini. dengan
adanya covid-19 maka kita sebagai remaja yang biasanya sering bersosialisasi bersama teman-
teman sekarang hanya dapat berkomunikasi lewat media sosial saja. maka dari itu saya
menggambar ini berdasarkan pengalaman pelukis pribadi.

Raia Chandara Wahab
XII IPS-1/21

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Penjelasan Karya Seni Ujian Praktik The Art Of Letting Go
Betul faktanya bahwa dengan adanya pancemi Covid-19 kehidupan remaja berubah 180 derajat.
Masa-masa muda yang seharusnya bisa dihabiskan bersama teman-teman menjadi mustahil.
Namun, dengan hal tersebut menjadi salah satu dampak negatif dari pandemi ini, ada sisi
positifnya juga, dan sisi positif itulah yang di tuangkan ke dalam karya seni saya. Berjudul “The
Art Of Letting Go”, karya tiga dimensi berupa diorama kecil yang saya buat, terinspirasi dari
pengalaman pribadi saya ketika pandemi Covid-19 ini. Selama pandemi, saya memiliki lebih
banyak waktu luang untuk diri saya sendiri sehingga saya menjadi banyak berefleksi. Dari refleksi
yang saya lakukan, saya sadar bahwa ada banyak hal negatif yang harus saya tinggalkan. Maka
dari itu, pandemi ini mendorong saya untuk meninggalkan dan melepaskan habit jelek yang saya
miliki dan lebih fokus ke bakat-bakat dan kelebihan saya yang bisa diasah. Hal ini menyebabkan
kepercayaan diri saya serta keberanian untuk keluar dari zona nyaman meningkat. Sampai
akhirnya, tercapailah self growth :)

Bahan yang saya gunakan:
- Container tanpa tutup
- Foam berwarna (sebagai media menggambar)
- Spidol
- Drawing pen
- Lem

Ray Abel Reshawna
XII IPS1/22

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Renungan dan jawaban pertanyaan dari narasi Metamorfosis Masa Remaja :
Sebagai remaja, saya sangat setuju dengan narasi Metamorfosis Masa Remaja. Narasi
Metamorfosis Masa Remaja sangatlah sesuai dengan keadaan saat ini. Bahkan, saya sendiri
mengalami hal tersebut. Perubahan gaya hidup dan aktivitas dari sebelum dan saat pandemi
sangatlah berbeda. Menurut saya sendiri, saat ini remaja masih perlu diakui eksistensinya
masing-masing, hanya caranya saja berbeda. Dari yang sebelumnya bisa langsung, sekarang
mungkin memerlukan waktu lebih karena berbagai keterbatasan. Melihat situasi saat pandemi
ini, memang banyak hal yang perlu usaha lebih. Contohnya, bagi mereka yang senang olahraga
kolektif seperti sepakbola, saat ini sangat susah untuk kembali berolahraga kolektif. Perlu usaha
dan biaya tambahan seperti sewa lapangan, dan tentunya tes Covid - 19.

Bagi para remaja, memang pandemi ini menjadi salah satu masa yang tidak menyenangkan
bahkan bisa menjadi sangat sulit. Namun, selalu ada jalan keluar dibalik setiap permasalahan.
Agar para remaja dapat mengembangkan kehidupan sosialnya, sebaiknya mulai dari
mengembangkan diri sendiri terlebih dahulu. Mengingat keterbatasan interaksi secara langsung,
alangkah lebih baiknya pada masa “Di rumah ini” kita mengembangkan diri kita masing-masing,
lebih mengenal kembali jati diri kita dan menambah serta mengasah keterampilan. Jika dirasa
sudah cukup dan mumpuni. Mulai libatkan orang lain, seperti keluarga. Selalu minta restu kepada
keluarga. Tanyakan pendapat kepada teman, cerita dengan teman, bekerja sama dengan teman.
Memang saat ini bertemu secara langsung susah dilakukan, namun masih ada aplikasi conference
call seperti Zoom Meeting atau Google Meet. Interaksi yang diadakan secara virtual ini harus
tetap berjalan selama pandemi. Hal tersebut dapat membuat rasa kekerabatan semakin erat dan
membuat para remaja saling menyadari bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi ini.
Intinya, secara umum para remaja perlu beradaptasi dengan baik. Tentunya dengan bantuan
orang-orang terdekat mereka seperti keluarga dan para sahabat. Kemudian, selalu jaga relasi
dengan baik terhadap sesama, karena dari situ pengakuan akan eksistensi seorang remaja akan
mulai didapatkan.

Latar belakang dan ide pemilihan gambar :
Latar belakang dari gambar yang dibuat adalah kondisi pandemi ini yang mempengaruhi
kehidupan dan aktivitas sosial para remaja. Seperti yang ada di narasi Metamorfosis Masa
Remaja, remaja memerlukan pembuktian dan aktualisasi diri. Hal tersebut biasanya dan mudah
didapatkan dari teman-teman sebaya. Sedangkan saat pandemi ini, kehidupan dan aktivitas
sosial berubah drastis. Dari yang sebelumnya bisa berkelana sana-sini dan menikmati waktu
bersama teman-teman, berubah menjadi duduk di tempat yang sama selama setengah hari.

Gambar yang dibuat terdapat pada dua sisi, karena gambar ini dibuat pada sebuah tas (tote bag)
maka gambar dibuat pada kedua sisi tas. Sisi gambar yang pertama merefleksikan dinamika
remaja selama pandemi. Mengingat sifat remaja yang pada dasarnya ingin berkumpul bersama
teman-teman, mendapat pengakuan, selalu eksis dan lain-lain, hal tersebut sulit didapatkan
selama masa pandemi. Oleh sebab itu, gambar di sisi pertama seperti remaja yang sedang sedih,
tidak tahu apa yang dipikirkan, ada rasa stres dalam dirinya karena ketidakpastian situasi
pandemi. Warna yang mendominasi sisi gambar pertama adalah warna gelap. Hal tersebut
memiliki arti bahwa dinamika yang dijalani terasa suram, sedih, tidak ada kepastian.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Sisi gambar yang kedua merupakan kebalikan dari sisi gambar yang pertama. Pada sisi ini
merefleksikan dinamika remaja sebelum dan setelah pandemi. Dimana remaja yang aktif dan
selalu cekatan. Pada sisi gambar kedua, terdapat dua sosok, yang memiliki arti seorang remaja
ditemani oleh temannya, kerabatnya. Hal tersebut juga memiliki arti bahwa sebelum dan setelah
pandemi, kehidupan remaja seringkali banyak dihabiskan bersama dengan teman-temannya.
Kemudian, pada sisi gambar yang kedua ini warna yang mendominasi adalah warna terang.
Warna terang menandakan semangat remaja yang selalu membara, remaja yang selalu ceria dan
riang. Selain menandakan sebagai dinamika sebelum masa pandemi, sisi gambar yang kedua juga
menandakan bahwa remaja bisa dan mampu melewati ketidakpastian pandemi yang telah
melandanya.
Alat dan bahan yang digunakan untuk gambar ini adalah tas (tote bag) sebagai media untuk
menggambar. Kemudian, kuas dan cat akrilik digunakan untuk menggambar.

Renata Luisa Kusuma
XII IPS-1/23

Jendela

Media: kardus bekas yang ujung-ujungnya dirapikan.
Alat: cat air
Pada saat membaca narasi yang diberikan, yang terlintas dipikiran saya adalah perjalanan saya
selama setahun terakhir. Mengenai bagaimana pandemi telah merenggut hampir setengah
waktu saya mengenakan seragam putih abu-abu. Mengenai berapa banyak kesempatan yang
saya lewatkan karena saya harus diam di rumah. Tentang banyaknya perasaan yang saya miliki

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

hanya dapat disalurkan dibatasi tembok-tembok kamar. Mungkin banyak remaja di luar sana
yang tetap pergi keluar rumah dan berkumpul, tetapi selama hampir setahun ini saya hanya
berdiam di rumah, sering kali di kamar. Setelah adanya pandemi ini, saya menyadari bahwa saat
ini saya bisa mengakses apa saja melalui semua teknologi yang saya miliki. Saya memiliki
“jendela” untuk menengok keluar dan melepaskan diri dari rasa lelah dan jenuhnya menatap
tembok berwarna putih di sekitar saya. Tentu saya merasa kesal dan marah akan adanya
pandemi, tetapi saya ingin memfokuskan karya saya kali ini pada semua kesempatan yang
menunggu saya di luar sana. Banyaknya waktu yang saya miliki untuk memfokuskan kegiatan
pada diri saya sendiri, memperbaiki diri. Maka dari itu saya membuat lukisan sebuah jendela
kamar di depan meja yang menunjukkan luar angkasa. Karena saat ini saya masih harus belajar
dan berlatih sembari mengingat bahwa diluar sana, ke depannya nanti akan ada seribu bintang
yang dapat saya gapai.

Robert Augusta
XII IPS-1/24

Saya mendapatkan ide untuk menggambar ilustrasi tersebut ketika sedang merenung menjelang
tidur. Latar belakang dari ilustrasi tersebut yaitu seorang remaja yang masih labil dan dalam
tahap pencarian jati diri akan berusaha untuk mencari 'pegangan'. Remaja tersebut merasa
bingung harus melakukan apa dan memerlukan seseorang yang dapat
mendukung/meyakinkannya yaitu seorang teman. Pada masa tersebut, kebanyakan remaja lebih
terbuka terhadap teman dibandingkan keluarga. Oleh karena itu pada masa Pandemi seperti ini,
kebanyakan remaja akan merasa kehilangan 'pegangan' atau merasa 'pegangan' tersebut sangat
rapuh karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama-sama secara langsung.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Pada ilustrasi tersebut terdapat tangan yang ingin menggapai cahaya, tapi terjebak oleh rantai.
Tangan tersebut melambangkan remaja, cahaya melambangkan 'pegangan', dan rantai
menggambarkan situasi Pandemi Covid-19. Seharusnya bila dalam situasi normal, tangan
tersebut dapat dengan mudah menggapai cahaya. Namun dengan kehadiran rantai yang
menjebak tangan tersebut, akan sangat sulit bagi tangan untuk menggapai cahaya.

Samuel Praditya
XII IPS-1/25

Judul : Kesedihan Dalam Penjara
Latar belakang :
Di masa pandemic ini remaja sangatlah sulit menemukan jati diri mereka, sehingga mereka
terpaksa harus mengurung diri di rumah mereka masing-masing dan tidak keluyuran. Yang
mereka rasakan bagaikan sel di penjara.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Stefanus Satrio Indroko
XIIS-1/26

Gambar ini berjudul “REALITA IMAJINASI”
Gambar ini juga sekaligus menjawab pertanyaan dan permenungan yang diajukan kepada

saya untuk direalisasikan menjadi sebuah karya. Gambar ini memiliki arti yaitu di masa pandemi
seperti ini pemerintah mencanangkan segala kegiatan yang sifatnya melibatkan banyak orang
harus dihentikan dan dibatasi sehingga segala kegiatan tersebut dilakukan dari rumah saja, dan
kita sebagai anak muda yang diharuskan untuk tetap dirumah saja dan melakukan segala aktivitas
di rumah merupakan suatu hal yang sangat tidak menyenangkan karena segala aktivitas kita
dibatasi demi memutus rantai penyebaran covid19 di Indonesia, dan hal tersebut saya
ilustrasikan dengan segala akses keluar masuk rumah sudah ditutup menggunakan kayu kayu
yang diposisikan menghadang jalur akses tersebut, sehingga tidak ada akses keluar maupun
masuk ke dalam rumah, seakan akan memaksa kita untuk dirumah saja, walaupun sebetulnya
itulah yang terjadi di realita kehidupan kita saat ini. Walaupun begitu, kreativitas anak muda tidak
boleh pudar sehingga segala macam cara harus dicoba untuk menyokong perkembangan daya
kreativitas yang kita miliki agar kita sebagai anak muda tidak mati kutu berdiam dirumah saja,
karena kita tidak akan tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir, sehingga kita yang harus
menyesuaikan diri dengan situasi seperti ini dan mencari cara agar dapat bertahan hidup dengan
mnegembangkan daya kreativitas.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Theresia Putri Nauli Nainggolan
XII IPS-1/28

Saya menggambar 3 orang yang sedang melakukan video call, dimana mereka sering bertukar
kabar dan sering menyapa satu sama yang lain. Hal ini menunjukkan salah satu cara yang dapat
dilakukan atau bahkan hal yang sering dilakukan para remaja dalam bersosialisasis dengan
kerabatnya. Meskipun sedang pandemic, tetapi masih bisa berkomnikasi dengan teknologi yang
sudah berkembang. Meskipun tetap terasa bedanya, namun dapat mengobati kerinduan. Video
call ini dapat memenuhi kebutuhan remaja selama pandemi.

William Airland Sangga Buana
XII IPS-1/28

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Ide dan hal yang melatarbelakangi pemilihan gambar tersebut :

Saya memilih ide untuk menggambar seseorang yang sedang mengikuti kelas online tersebut
karena saya menggambarkan apa yang biasa saya alami selama masa pandemi ini. Mulai dari
bangun pagi, mandi, dan sarapan, kemudian dilanjutkan dengan kelas hingga siang hari, lalu
belajar mempersiapkan tugas atau ulangan dan ujian, saya habiskan kebanyakan waktu saya di
duduk di kursi dan menatap layar laptop saya dari pagi hingga siang selama masa pembelajaran
jarak jauh ini. Hal yang melatarbelakangi saya menggambar gambar ini adalah perasaan jenuh
dan bosan yang saya rasakan selama pandemi ini berlangsung, saya merasa rindu dengan masa
sekolah saya secara offline, walaupun harus berjalan jauh dari rumah ke sekolah, tetapi saya
merasa lebih produktif daripada seharian duduk menatap layar laptop yang terkadang membuat
punggung serta mata saya sakit.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Alessandro Carlo Aprilio
XIIS-2 /01

A Sky Full Of Lighters
Alasan saya memilih tema tersebut adalah karena kondisi anak muda dalam pandemi ini seperti
korek api yang menyala dalam langit yang gelap. Korek api mempunyai bentuk dan pola yang
beragam. Walaupun memiliki ciri dan bentuk yang bermacam-macam tetapi guna dan cara kerja

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

dari korek itu tetap. Seperti anak muda dalam pandemi ini yang walaupun segala keterbatasan
ketika pandemi, ketika mereka mempunyai dorongan dan sumbu untuk bernyala maka mereka
akan dapat menyala dan juga berkembang ketika pandemi. Walaupun memiliki caranya masing2
dan berbeda tetapi mereka akan tetap berkembang dengan caranya masing-masing dan juga
dapat menyinari orang-orang disekitarnya juga.

Andreas Limanda
XII IPS-1/02

Di Gambar ini menunjukan bahwa seorang remaja warna hitam yang melambangkan depresi
yang mulai kita kenal di masa remaja warna kuning yang melambangkan mimpi yang indah
namun sulit untuk dikeluarkan atau diekspresikan sampai membuat itu kacau pikiran nya. Warna
biru tua di yang mengelilingi orang yang diselingi warna hijau warna biru tua melambangkan
kesedihan yang selalu membuat pikiran kacau juga saat remaja warna hijau tua melambangkan
ketenangan yang kita cari atau sesuatu yang kita lampiaskan saat kesedihan muncul di masa
muda ini karena pada masa muda ini kita yang harus nya mencari pengalaman dan melakukan
hal positif dan bersosialisasi tetapi itu semua sedang tidak bisa dirasakan atau terhalangi karena
pandemi covid 19 saat ini sehingga kita menjadi lebih stress dan merasa depresi. Warna merah
melambangkan emosi yang sering muncul atau masih labil saat di umur umur masih remaja ini
tanduk merah yang membuat menentukan kita karena di masa umur kita ini hanya kita sendiri
yang menentukan dan kita yang memilih apakah kita ingin menjadi orang yang jahat atau orang
baik. Warna kuning yang melingkar adalah rohani karena kita tetap tidak boleh terlepas dari
berdoa agar kita tetap di luruskan dengan Tuhan. Warna biru muda yang terang melambangkan
masa depan yang cerah yg menanti kita tapi belum tercapai sampai semua nya bisa kita
kendalikan dan menghadapi nya dengan bijak dan tenang disitulah kita siap menerima masa
depan kita.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Antonius Bimo Widhianto
XII IPS-2 / 03

Semakin Aku Menahan, Covid Semakin Tertekan

Dalam karya seni Semakin Aku Menahan, Covid Semakin Tertekan yang dibuat oleh pelukis,
pelukis menerapkan istilah work from home dalam karyanya. Di rumah saja tampak semakin
membosankan seiring waktu work from home hampir satu tahun. Namun sadarkah kita, melalui
work from home ini kita dapat memperdalam pengetahuan kita mengenai teknologi? Teknologi
yang kita gunakan secara bijaksana akan menyadari bahwa ada banyak aplikasi yang dapat
mempermudah pekerjaan.

Kegiatan work from home, tidak membuat kita pupus harapan untuk berinteraksi dengan
teman-teman dan juga tetap dapat melakukan kegiatan kreatif lainnya. Aplikasi media sosial
membantu mendekatkan pelukis kepada saudara dan teman-teman sekolahnya yang sekarang
terbatasi oleh jarak. Proses pendekatan itu terjadi melalui kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh yang
dilaksanakan melalui aplikasi WhatsApp Meeting.

Atap rumah berwarna cokelat dan lampu yang menyala mengajarkan kepada kita untuk
merendahkan hati dan merendahkan diri. Pandemi Covid-19 membuktikan secara nyata bahwa
kekuatan Tuhan melalui Alam Semesta tidak ada tandingannya dan dengan menyadari

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

kelemahan kita sebagai manusia maka disitulah Allah memberi kita kekuatan, sehingga makin
hari kita dipenuhi sukacita dan pengharapan.

Suntikan vaksin Covid-19 yang tidak ada jarum, gadis yang sedang duduk, dan virus
Corona yang diinjak dilukiskan sebagai wujud ungkapan pelukis, bahwa dengan Work from home
membuktikan kita berperan aktif dalam pencegahan penularan Covid-19. Hal tersebut karena
dengan work from home kerumunan orang tidak terjadi dan risiko penularan menjadi sangat
rendah. Gadis yang sedang duduk tersebut diungkapkan oleh pelukis bahwa Pandemi mengajak
kita semua untuk mampu menahan nafsu pribadi, bukan untuk kepentingan pribadi melainkan
kepentingan bersama.

Lukisan sederhana dari hasil permenungan pelukis selama Pembelajaran Jarak Jauh.
Ternyata ada makna mendalam yang terjadi dari Pandemi Covid-19 ini. Maka dari itu mari saya
mengajak kita semua untuk menghayati Pandemi Covid-19 ini sebagai pengalaman iman yang
luar biasa.
Charitas Christi Urget Nos !

Aurelius Dismas Maruti Ferdinandus
XII IPS-2/04

Ide yang saya miliki adalah berupa menggambar di totebag berupa abstrak. Pertama saya mewarnai
totebag saya yang hitam dengan warna paduan pink, ungu, dan putih. Arti dari perpaduan warna
tersebut adalah emosi siswa yang sedang berpadu antara senang, sedih, kecewa, dan macam-
macam yang dirasakan kami. Titik merah yang berbentuk melingkare menandai virus Covid yang
seakan “mengurung” kita untuk tetap di rumah. Lalu di situ ada titik-titik hitam putih yang
menunjukkan sindividu siswa. Putih adalah individu yang masih optimis akan hidup dan masih
bisa menjalani hidup dengan normal. Lalu, mereka yang hitam adalah individu yang sudah psimis

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
dan hitam memudar adalah individu yang sudah jatuh dalam depresi dan berdampak buruk bagi
mental. Diatasnya ada bentuk sinyal berwarna biru yang menandakan sinyal internet untuk belajar
dan kegiatan sehari-hari bagi kita yang melakukan kegiatan di rumah. Saya mendapat ide ini dari
kenyataan di dunia nyata di mana banyak siswa-siswi yang merasa putus asa akan hidup selama
pandemi. Membuat mereka merubah gaya hidup mereka selama terkurung di rumah dan merubah
kegiatan mereka. Mereka juga terpaksa memutus interaksi sosial secara langsung dan
mengubahnya menjadi interaksi sosial virtual yang tentu saja memiliki “rasa” yang berbeda.
Mereka yang tidak beradaptasi akan merasa sangat putus asa dan jatuh dalam kedepresian.

Davalezka Daud Reinhard Maccray
XII IPS-2/05

Latar Belakang pemilihan gambar: Di masa pandemi ini semua orang terpaksa untuk membatasi
kegiatannya tidak terkecuali remaja.Di masa ini remaja tidak bisa mengembangkan serta
menemukan jati dirinya melalui sosialisasi seperti sebelum pandemi.Gambar ini menjelaskan
tentang bumi yang sedang dilanda pandemi virus Covid 19.Kemudian ada beberapa gambar
aplikasi yang pada masa ini berhubungan erat dengan remaja dan semua orang di masa
kini.Melalui beberapa aplikasi tersebut mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan
melakukan sosialisasi serta ada juga yang digunakan sebagai hiburan untuk menghilangkan rasa
jenuh.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Driananda Triarsa Soeharto
XII IPS-2 / 06

Alat dan bahan : cat akrilik, palet, kuas, dan kertas
media :papan jalan

Berdasarkan pertanyaan reflektif dari narasi saya merasakan perbedaan kebutuhan dari masa
sebelum pandemi dan sekarang. Ketika sebelum pandemi kita membutuhkan teman yang dimana
kita dapat bercerita keluh kesah kita. Berbedanya dengan masa pandemi adalah karena tidak ada
tatap muka secara langsung yang membuat rasanya menjadi beda. Kebutuhan remaja di tengah
pandemi juga meningkat karena membutuhkan peralatan yang sesuai supaya dapat mengikuti
pembelajaran daring dengan lancar dan remaja harus memiliki kuota yang cukup untuk dapat
melewati pembelajaran daring. Kita harus bisa beradaptasi dengan perubahan pola interaksi ini
supaya kita dapat menjadi seperti gunung yang kokoh.

Cara yang bisa kita lalui supaya kebutuhan interaksi dapat tercukupi sudah dimudahkan
dengan kemajuan teknologi. Dengan adanya kemajuan teknologi, kita dapat berinteraksi dengan
sesama melalui zoom dan line, dan kita harus bisa tetap saling menguatkan satu sama lain. Kita
harus menjadi seperti gunung yang dapat membantu pohon di sekitarnya sehingga dapat tumbuh
menjadi pohon yang lebat.

Di masa pandemi, para remaja harus menjalani aktivitas sekolahnya di rumah. Biasanya bila
ada ulangan siswa bisa langsung tutor dengan teman teman nya, tetapi sekarang hanya bisa
tutor melewati zoom. Karena keterbatasan kontak dengan teman temannya beberapa siswa
mengalami stres berat. Stres ini saya lambangkan melalui pandemi, US(Ujian Sekolah), dan
UTBK. Tingkatannya pun berbeda beda. Ketika pandemi siswa masih mengalami stres ringan
sehingga saya pilih rasa kuning, kemudian naik ke ujian sekolah dimana siswa lebih panik

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

bagaimana mempersiapkan diri untuk melewatinya saya melambangkannya dengan warna
oranye. Kemudian siswa masuk ke tahap yang menentukan masa depannya yaitu UTBK, saya
lambangkan tingkat stres siswa dengan warna merah. Saya memilih untuk melambangkan siswa
dengan gunung karena bagi saya gunung itu sesuatu yang sangat kuat. Ia dapat melewati
berbagai cuaca ekstrim dan tetap berdiri kokoh. Di puncak gunung saya menaruh adanya salju
yang mengingatkan siswa kita harus tetap menjalani semua rintangan dengan kepala dingin.
Kemudian adanya awan abu abu yang melambangkan musibah banjir kemarin yang diderita
banyak warga. Saya membuat adanya pohon di sebelah gunung supaya kita menjadi seperti
gunung itu, Kita membantu orang di sekitar kita supaya bisa tumbuh menjadi pohon yang lebat.
Untuk langitnya saya memilih warna oranye, karena warna oranye memberi kesan hangat dan
bersemangat serta merupakan symbol dari optimis dan percaya diri.

Faith Flower Venezuela Mantik
XII IPS-2/07

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

ILUSTRASI
Searching for Identity
ALAT & BAHAN
Media : Kanvas Oval 20x30 cm
Alat : Cat Akrilik Kuas Pensil 4B Spidol2.

LATAR BELAKANG GAMBAR
Searching for Identity Judul yang saya pilih adalah “Searching for Identity” yang memiliki arti yaitu
mencari jati diri. Saya memilih judul tersebut karena masa remaja dapat diartikan sebagai masa
pencarian jati diri. Para remaja sedang berada pada kondisi kebingungan dan masih berusaha
untuk menemukan jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka juga disibukkan dengan berbagai
macam pikiran yang membuat mereka labil dalam menentukan pilihan mereka. Ilustrasi yang
saya buat menginterpretasikan keadaan remaja pada masa pandemi ini. Pada masa pandemi ini,
para remaja memiliki keterbatasan untuk berinteraksi dengan sesamanya. Padahal pada tahap
ini, remaja sangat membutuhkan sosialisasi secara langsung dengan temanteman sebayanya.
Masa pandemi juga mengakibatkan para remaja kesulitan untuk mengeksplorasi potensi yang
ada dalam dirinya. Banyak kegiatan yang dibatasi selama masa pandemi ini, padahal kegiatan-
kegiatan tersebut berguna untuk meningkatkan potensi dalam diri para remaja. Ilustrasi yang
saya buat menampilkan seorang remaja putri yang sedang duduk di tangga. Ia sedang melihat
pemandangan di luar rumahnya melalui jendela kaca yang besar. Ilustrasi tersebut dapat
memiliki 2 makna. Pertama, kondisi remaja putri tersebut yang hanya bisa “melihat” dunia luar
melalui jendela kaca besar, memiliki makna bahwa kondisi pandemi sekarang membuat semua
orang harus tinggal di dalam rumahnya masing-masing. Hal tersebut menghambat para remaja
untuk mengembangkan potensi dalam diri mereka dan menghambat proses pencarian jati diri
mereka. Merekaa tidak bisa mengeksplorasi dunia luar secara bebas karena dihantui oleh
ketakutan akan COVID-19. Kedua, ilustrasi remaja putri yang terlihat sedang merenung menatap
pemandangan gedung pada malam hari, memiliki arti bahwa masa remaja adalah proses
pencarian jati diri. Gedung-gedung yang ada dalam ilustrasi tersebut menggambarkan jati diri.
Para remaja harus berpikir dan mencari “gedung” atau jati diri mereka yang sebenarnya.
Kebutuhan remaja pada masa pandemi ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan masa sebelum
pandemi. Para remaja membutuhkan ruang dan arahan untuk bisa mencapai jati diri mereka yang
sebenarnya. Perbedaannya pada masa pandemi dan sebelum pandemi adalah ruang untuk
remaja mengeksplorasi jati diri mereka semakin terbatas, maka harus dibuat inovasi atau ruang
baru untuk remaja mengeksplorasi jati diri mereka. Inovasi baru yang juga bisa menjadi cara
untuk memenuhi kebutuhan eksplorasi para remaja adalah webinar atau workshop. Kedua
inovasi tersebut dapat menambah ilmu dan keahlian baru bagi para remaja, serta dapat
membuat para remaja bersosialisasi dengan orang lain

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Genoveva Amitya Duhita
XII IPS-2/08

Ide Gambar dan Latar Belakang
Gambar tersebut memperlihatkan tentang kondisi remaja yang beraktivitas di dalam rumah saja
sejak adanya pandemi covid – 19 ini. Dalam gambar terlihat bahwa rumah merupakan tempat yang
paling “aman” dari virus covid – 19. Semua kegiatan dilakukan dari dalam rumah dan sifatnya

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

sendirian atau mandiri. Belajar dilakukan secara online, dan cara remaja yang biasanya menghibur
diri dengan bermain ke mall atau berpergian bersama teman – temannya akibat covid – 19 ini
remaja terlihat menghibur diri sendiri dengan bermain alat musik. Para remaja tidak bisa keluar
rumah karena diluar rumah berbahaya dan terlihat disekeliling mereka terdapat virus covid – 19
yang sangat berbahaya. Remaja digambarkan berwarna biru muda bukan tanpa alasan. Secara
khusus Saya memilih warna biru muda karena warna biru muda sendiri menggambarkan langit,
laut, dan juga ibaratnya seperti kebebasan, kata yang sangat menggambarkan remaja. Sedangkan
warna latar hijau disitu menggambarkan keadaan lingkungan di luar selama pandemi ini meskipun
menjadi semakin “bersih” namun dikarenakan covid – 19, orang – orang tetap berada di dalam
rumah dan tidak bisa menikmati ke-alamian lingkungan. Sedangkan warna latar biru – orange di
sekliling menggambarkan virus covid – 19 menghantui dari pagi sampai pagi lagi atau bisa
dikatakan setiap harinya virus ini menghantui masyarakat. Virus covid – 19 digambarkan
berwarna merah karena virus ini seakan – akan “berani” karena virus ini menyerang masyarakat
tidak peduli akan usia, pekerjaan, status, agama, ras atau apapun.

Gisella Tanisha
XII IPS-2 / 09

DUE LATI

(TWO SIDES)

Due Lati, atau dua sisi, adalah konsep yang saya ambil untuk karya seni ini. Seperti konsepnya,
karya yang saya buat ini dapat dilihat dari 2 sisi yaitu sisi bright/terang dan sisi dark/gelap.
Namun, selain dapat dilihat dari 2 sisi, gambar ini juga bisa dilihat dari dua sudut pandang.

SUDUT PANDANG 1.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Sudut pandang 1 ini adalah pandangan kehidupan normal para remaja, sebagai bentuk “muka
dan diri” yang ditunjukkan ke orang lain dan bentuk “muka dan diri” yang disimpan rapat-rapat
dan hanya diketahui pribadi.

Sisi yang terang dan menyenangkan (sebelah kanan) merupakan perumpamaan dari kenyataan
yang para remaja hadapi sekarang, yaitu bahwa pribadi yang ditunjukkan kepada orang-orang
adalah pribadi yang selalu dalam rasa senang, pribadi yang selalu merasakan hal-hal senang,
seperti misalnya relasi dengan teman-teman terdekat, kesukaan para remaja untuk berjalan-
jalan / travelling yang akan selalu di update di sosial media, makanan-makanan enak yang
membuat mereka senang dan orang lain tergiur, lagu-lagu yang bisa meningkatkan semangat dan
menjadi anthem bersama, dan rekomendasi-rekomendasi film yang seru untuk ditonton. Sisi
terang inilah yang sering dilihat orang lain dari diri para remaja yang sedang dalam masa
pertumbuhan ini, dimana yang mereka ingin jalani adalah hidup yang menyenangkan tanpa
beban dan yang mereka cari adalah validasi dari orang lain supaya bisa fit-in dalam kelompok
sosial yang diingini.

Sisi yang gelap dan menyedihkan (sebelah kiri) merupakan perumpamaan dari kenyataan
sebenarnya bahwa dibalik kehidupan menyenangkan yang dilihat orang, para remaja masa kini
juga memiliki struggle nya sendiri yang memang tidak orang lain ketahui dan terkadang hanya
diri mereka sajalah yang tau akan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Sebagai remaja yang
dipersiapkan untuk menghadapi segala hal di masa depan, seperti misalnya kelanjutan jenjang
pendidikan yaitu mencari kuliah, para remaja seringkali merasa terbebani akan tuntutan-
tuntutan tersebut dan terkadang merasa bahwa yang menentukan masa depan mereka bukanlah
diri mereka sendiri melainkan orang lain yang menuntut ini itu. Rasa lelah dan stress turut
membebani mereka sehingga muncul banyak pikiran-pikiran negatif seperti misalnya tiba-tiba
merasa tidak punya teman dan lain-lain.

SUDUT PANDANG 2.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Sudut pandang yang kedua ini adalah pandangan akan kondisi sebelum dan setelah terjadinya
pandemi
dan perubahan-perubahan yang terjadi.

Sisi yang terang menggambarkan masa-masa remaja hidup sebelum adanya pandemi, yaitu
bahwa mereka bisa bersenang-senang dengan teman, jalan-jalan pergi ke luar kota atau luar
negeri bersama keluarga, makan-makanan enak dan wisata kuliner kemana saja, menonton film
bersama-sama, dan datang ke acara musik untuk bersenang-senang tanpa harus khawatir
tentang virus mematikan.

Sisi yang gelap merupakan keadaan para remaja setelah terjadinya pandemi dimana para remaja
harus bertahan diri di rumah masing-masing. Adanya perubahan kebiasaan inilah yang
menyebabkan remaja seperti terpuruk akan keadaan dimana perhatian mereka jadi terpusat
pada diri sendiri seperti misalnya diharuskan untuk belajar terus-menerus, dimana mereka mulai
merasakan kesulitan ekonomi sebab kesulitan yang dihadapi sekarang, dimana para remaja
menjadi stress karena dalam kesendirian ini juga masih harus memikirkan masa depan yaitu
terutama kuliah, dimana para remaja masih harus memenuhi tuntutan nilai yang bagus, dan
dimana para remaja mulai merasa bahwa teman-teman yang ada selama ini bukanlah teman
yang sebenarnya karena mereka merasa tidak diperhatikan, tidak ada kontak-kontakan, dan
hubungi pada saat butuh saja. Semua hal ini menjadi beban yang harus dipikul para remaja yang
menjadi semakin berat bahkan ketika pandemi berlangsung. Banyak kebutuhan yang sulit untuk
dipenuhi karena halangan keadaan pandemi. Tujuan hidup mereka sekarang bukanlah hanya
untuk bersenang-senang, melainkan harus memikirkan cara untuk survive dari lelah fisik dan
mental di tengah pandemi dan untuk bisa maju dengan baik ke masa depan.

Greogorius Ewaldo See
XII-S-2/10

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Media sosial: Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Media sosial membuat kita menjadi manusia yang bisa berinteraksi dengan cepat ke seluruh
orang di dunia. Namun kita menjadikan media sosial dan juga gadget menjadi sangat dekat
dengan kita dan menjadi bagian dalam hidup kita masing-masing. Tak bisa dipungkiri bahwa
dengan adanya pandemi ini kita menjadi semakin dekat dengan teknologi dan gadget kita
masing-masing, apalagi dengan semua yang serba online pada masa ini. Kita menjadikan media
sosial menjadi kebutuhan nomor satu dari hidup kita, kita bisa saja kehilangan apa saja kecuali
gadget dan media sosial kita. Di satu sisi memang bagus kemajuan teknologi ini, tapi kita harus
ingat bahwa media sosial ini membuat kita kurang berinteraksi dengan orang-orang di sekitar
kita. Kita jadi abai dengan keadaan sekitar kita dan terus menatap layar handphone kita, bahkan
jika kita sedang berbicara dengan orang lain secara langsung kita akan terus menatap layar
handphone kita.

Situasi ini yang kemudian memberi saya inspirasi, melihat kenyataan sosial yang ada di sekitar
saya yaitu kondisi yang saya lihat berdasarkan cerita di atas. Namun yang lebih ironisnya adalah
anak muda dan anak kecillah yang menjadi semakin candu akan handphone dan media sosial,
mereka sibuk akan “dunia maya” mereka dan menjadi sangat abai akan keadaan sekitar mereka.
Perhatian mereka hanya pada layar handphone dan tidak berinteraksi dengan sesama mereka
bahkan pada saat berkumpul bersama. Kata “menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang
jauh” terpikirkan ketika saya melihat masalah ini dan saya terinspirasi akan kata-kata ini yang
menyadarkan saya akan keadaan yang harus dihadapi pada masa-masa ini.

Gambar ini menjelaskan bahwa ada seorang laki-laki di sebelah kiri yang sibuk bermain
handphone padahal temannya di sebelah kanan yang tidak memegang handphone tidak
mempunyai teman berbicara, apalagi mereka duduk tidak berjauhan satu sama lainnya. Latar
belakang buku-buku menggambarkan bahwa kita semakin jarang membaca buku dan
mementingkan gadget serta media sosial kita. Padahal buku merupakan jendela dunia dan kita
bisa mengaksesnya kapan saja tidak terbatas waktu dan juga tempat.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Ignatius Loyola Arya Wibisana
XII IPS-2/11

IDE GAMBAR UPRAK SENI
Alat dan Bahan :

 Cajon
 Kuas
 Cat Akrilik
Makna Gambar
Usia remaja memang merupakan masa-masa dimana kita mencari jati diri yakni dengan bermain
dan memperbanyak relasi dengan teman-teman, selain itu cinta pertama memang selalu terjadi
ketika kita menginjak usia remaja. Perasaan menyukai sesama lain jenis karena tertarik dengan
sifat dan perilakunya telah ada ketika kita remaja. Namun dengan adanya keberadaan pandemi
sayangnya semua harus berubah. Menurut saya kebutuhan remaja sekarang masih tetap sama
yakni belajar dan bermain. Dengan bermain bersama teman maka beban hidup pelajar secara
tidak langsung akan berkurang dan bisa menjadi sarana untuk refreshing. Maka sebagai generasi
milenial, kita diajak untuk menggunakan segala teknologi dengan maksimal. Adanya social media
seperti line, whatsapp, dan zoom dapat digunakan untuk bertemu teman secara virtual dan
belajar. Dunia menjadi terhubung melalui adanya teknologi. Sudah seharusnya kita
menggunakan seluruh media tersebut dengan bijak.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Penjelasan Gambar
 Gambar line dan zoom : merupakan media yang saya gunakan untuk terhubung dengan
teman-teman
 Gambar wajah : gambar wajah yang murung merupakan ekspresi remaja yang sedih
ketika tidak dapat beradaptasi dengan suasana pandemi.
 Latar belakang merah : merupakan suasana hati pelajar yang merasakan bahwa pandemi
sama buruknya dengan neraka, karena kebebasan untuk berkarya menjadi terhambat dan
seluruh kegiatan tidak dapat dilakukan bertatap muka.

Marcelino
XII IPS-2/12

Sekadar Pertanyaan Reflektif
Sudah satu tahun covid-19 menyebar dengan begitu cepatnya di Indonesia dan memakan ribuan
korban nyawa. Sejak diumumkannya covid-19 ini oleh Presiden Joko Widodo tanggal 3 Maret
2020, semua kegiatan masyarakat menjadi sangat terbatas dan hampir saja lumpuh. Seluruh
lapisan masyarakat terkena dampak dari penyebaran virus yang mematikan ini, termaksuk
remaja. Satu hal yang pasti dirasakan oleh seluruh masyarakat termaksuk remaja dalam hal ini
ialah perubahan. Perubahan menuntut adaptasi. Remaja tetaplah remaja. Mereka masih
memiliki kebutuhan remaja seperti pada umumnya walau ada dalam masa pandemi ini.
Kebutuhan untuk diakui eksistensinya merupakan kebutuhan natural yang muncul sebagai
seorang remaja. Kebutuhan untuk diakui eksistensinya tidak bisa dihilangkan namun yang pasti
ialah mencari cara-cara kreatif dan efektif untuk memenuhi kebutuhan itu. Teknologi modern
memberikan cara-cara kreatif dan efektif untuk memecahkan masalah ini sehingga para remaja
masih dapat saling berkomunikasi satu sama lain sehingga kebutuhan untuk diakui eksistensinya
masih dapat terpenuhi. Platform seperti ZOOM Meeting, YouTube, Instagram, Tik-Tok, dan lain-
lainnya dapat menjadi sarana mengakui dan diakui eksistensi seseorang apabila digunakan secara

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

bijaksana. Ide 4 orang remaja yang sedang melakukan percakapan melalui platfom ZOOM
Meeting tersebut berasal dari kehidupan sehari-hari di masa pandemi ini dimana seluruh remaja
khususnya peserta didik SMA Kolese Gonzaga yang dari pagi hingga siang harus menatap layar
komputer atau laptop mereka setiap hari. Melakukan ZOOM Meeting bukan hanya sebagai
sarana belajar namun sebagai sarana pengakuan eksistensi seperti mengobrol dan saling berbagi
cerita bersama di luar jam sekolah. Namun ada yang membedakan antara siswa/i yang ada di
gambar atas dan gambar bawah. Siswa/i yang ada di gambar atas memiliki Marcelino / XII IPS 2 /
12 Ujian Praktek Seni raut muka yang berseri-seri, senang, dan bersyukur walau dalam keadaan
seperti ini. Namun reaksi siswa/i yang ada di gambar bawah memperlihatkan sebaliknya. Mereka
memperlihatkan raut muka yang cemberut, sedih, dan tidak bersyukur. Hal itulah yang
realitasnya ada sekarang ini dan berdasarkan pengamatan saya sendiri setiap hari. Ada siswa
yang menerima keadaan apa adanya, namun ada pula siswa yang mengeluh atas keadaan seperti
sekarang ini. Siswa yang ada di gambar atas memperlihatkan bahwa mereka optimis akan hari
depan, percaya bahwa semuanya akan berlalu dengan baik, dan produktif. Sebaliknya mereka
yang ada di gambar bawah tidak percaya bahwa hari esok akan lebih baik hari ini karena mereka
sudah pesimis terhadap keadaan. Oleh karena itu karya ini sebenarnya hanya ingin memberikan
sekadar pertanyaan reflektif melalui media gambar kepada kita semua khususnya remaja SMA
Kolese Gonzaga, “Kamu mau jadi remaja yang bahagia dan bersyukur atas keadaan atau mau
pesimis dan tidak percaya akan hari depan yang baik di masa pandemi ini? “ Seperti ember yang
digunakan sebagai bahan karya ini yang mampu menampung banyak debit air, percayalah Tuhan
mampu menampung setiap penderitaan dan harapan kita semua. Gambar ini ingin mengajak
semua remaja khususnya remaja SMA Kolese Gonzaga untuk menjadi pribadi dan remaja yang
bersyukur, optimis, ceria, bahagia, produktif dan berpengharapan bahwa hari esok lebih baik dari
hari ini karena pandemi akan segera berlalu. Gambar ini juga ingin mengajak kita menjadi remaja
yang di gambar atas yang masih memiliki prestasi yang gemilang walau belajar secara daring.
Menjadi pribadi yang percaya bahwa Tuhan selalu memperhatikan hamba-Nya yang sedang
berjuang di dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita remaja SMA Kolese Gonzaga menjadi pribadi
yang bersyukur, optimis, ceria, bahagia, produktif, dan berpengharapan di tengah keterbatasan.
Ad Maiorem Dei Gloriam.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Margaretha Aurelia
XII IPS-2/3

Proses

Hasil

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Dalam hasil karya yang saya buat, saya mewakilkan beberapa ekspresi remaja di masa
pandemi COVID-19 ini. Sejak pandemi ini, keadaan menjadi berubah. Awalnya bisa bertemu dan
berinteraksi langsung tatap muka dengan teman-teman kita, namun karena adanya pandemi ini
interaksi saya dan teman-teman saya terhalang oleh layar kaca perangkat kami masing-masing dan
harus menahan rindu dengan kegiatan yang biasanya kami lakukan di sekolah. Kami sedih dan
kecewa karena angkatan kami tidak bisa merasakan masa-masa terakhir di SMA Kolese Gonzaga
sebelum kami akan melanjutkan pendidikan di universitas yang berbeda-beda. Namun di sisi lain,
kami juga diberikan rasa senang dan sangat bersyukur karena kami lebih bisa menghabiskan waktu
dengan keluarga. Kami juga jadi bisa memiliki waktu luang untuk beristirahat di rumah setelah
online school selesai. Pandemi COVID-19 ini juga membuat kita tidak berhenti untuk berkreasi
dan mengembangkan bakat kami.

Dari perasaan serta keluh kesah yang saya rasakan ketika pandemi ini, membuat saya ingin
membuat hasil karya abstract sehingga dalam hasil karya tersebut terdapat berbagai macam
ekspresi / perasaan. Warna yang saya pilih adalah warna-warna yang cerah untuk mengekspresikan
perasaan senang dan bersyukur ketika masa pandemi ini. Dan terdapat beberapa tangisan air mata
yang menunjukkan ekspresi kapan pandemi ini akan cepat berlalu? Sehingga kami dapat bertemu
teman-teman kami dan melakukan aktivitas seperti yang dilakukan sebelum adanya pandemi ini.

Dalam hasil karya ini, saya menggunakan topeng, cat poster, dan cat air.

Maria Imaculata Akeyla Widhaardisa
XII IPS-2/14

Ide Gambar dan Latar Belakang
Sejak pandemi COVID-19, lebih dari 80% kegiatan harus kita lakukan dari dalam rumah,

terisolasi dari satu-sama lain. Hal-hal sepele seperti sekadar pergi ke kafe, restoran atau mall

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

menjadi sangat dibatasi. Sebenarnya itu bukanlah hal yang krusial untuk saya. Sebagai pribadi,
saya tidak mewajibkan diri saya untuk pergi ke mall setiap minggu. Tidak selalu menghabiskan
akhir pekan di luar rumah, tetapi saya juga tidak ingin bohong kalau saya betul-betul rindu untuk
melakukan hal-hal tersebut.

Ide gambar dan latar belakang hasil ujian praktek saya dipicu oleh kerinduan saya
terhadap aroma-aroma baru yang sering saya temui sebelum adanya pandemi ini. Bau kopi
yang menyengat di kafe pojok jalan, aroma harum toko parfum di mall, sampai aroma buku
yang biasa ditemui sehari-hari. Maka dari itu, saya memutuskan untuk melukis lilin aroma saya.
Gambar abstrak yang terdapat pada permukaan tempat lilin menggambarkan perasaan saya
semasa pandemi. Kadang biru pilu, kadang merah membara, kadang juga biru yang
menenangkan. Setiap warna yang saya torehkan di atas kaca merupakan cerminan hati saya.

Michael Armando Damanik
XIIS-2/15

Masa remaja adalah masa dimana para remaja mencari jati dirinya yang sesungguhnya di
manapun mereka berada,terkadang malah mereka ingin menonjolkan dirinya dan ingin menjadi
lebih hebat di antara segalanya khusunya dalam masa pertemanan mereka, yang selalu
menginginkan kebebasan serta kebahagiaan. Semua hal tersebut terus berjalan seiring
berjalannya waktu, dimana remaja terkesan liar dengan kebebasannya dan sulit di atur sehingga
menimbulkan banyak tempat yang menjadi tempat berkumpulnya mereka atau tempat
pelampiasan mereka yang bisa di anggap sebagai rumah kedua bersama teman temannya. siklus
itu selalu berjalan dan sama, dimana kesenangan antar kelompok remaja adalah nomor satu di
antara segalanya bahkan keluarga, namun semua itu berakhir saat adanya virus covid 19 ini yang
merusak segala kebiasaan dan siklus yang ada di antara para remaja, tidak adalagi acara kumpul

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

dan bersenang senang dan semua hanya di rumah dengan menghabiskan waktu dengan
keluarga. selama di rumah, para remaja menjadi lebih dekat dengan keluarganya yang tidak
seperti dulu yang selalu menuhankan temannya dan mengesampingkan keluarga. Itu semua tidak
bertahan lama, sampai mereka jenuh dan melampiaskan semua itu bukan kepada keluarga,
karena bagi mereka keluarga tidak lagi dapat memberikan kesenangan lagi. Target selanjutnya
adalah handphone yang menjadi racun bagi mereka, yang membuat semua yang telah di bangun
dengan keluarga seakan sirna. Dengan handphone membuat mereka lupa akan kehidupan nyata
dan di bius dengan indahnya dunia maya yang penuh akan kesenangan dan mereka seakan
terpenjara dengan alat tersebut dan tak dapat keluar, keluarga terabaikan dan tidak lagi
mengenal dunia luar.
Maka saya menggambar orang yang terkurung di dalam handphone dan seakan tersedot ke
dalamnya, karena handphone seakan menghipnotisnya hingga remaja itu terjerumus akan dunia
barunya. saya menggambar dengan cat minyak dan bahan lukisannya adalah gitar. Saya
membuat ini karena zaman sekarang banyak remaja yang seakan menuhankan handphone
sehingga lupa akan kehidupannya dan lupa segalanya sampai merusaknya.

Mikael Devanda Aji
XII IPS-2/16

Ide gambar
Goresan di belakang wajah menggambarkan tantangan dan hambatan yang dihadapi pada saat
pandemi. Warna ungu melambangkan kesedihan saat pandemi. Warna hijau melambangkan
kehidupan dan kegembiraan yang melawan segala kesedihan itu. Alis dan mata yang tajam
artinya adalah para remaja saat ini butuh fokus untuk menghadapi banyak hal seperti tantangan


Click to View FlipBook Version