The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA TP. 2020/2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by m.wara, 2021-07-12 19:09:56

KARYA UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA TP. 2020/2021

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Christopher Satrio Binatoro
XII IPA-3/14

Hal yang paling pertama terlintas di kepala saya adalah mengenai rumah, rumah menjadi tempat
saya berdinamika selama 24/7 dan hampir semua remaja di masa pandemi. Tentu nya agar kami
para remaja dapat berdinamika dengan baik tentunya kami harus membuat rumah senyaman
mungkin. Saya menganalogikan orang tua sebagai fondasi dan badan rumahnya dimana orang
tua membangun rumah dari 0 membangun keluarga dari 0 dengan penuh cinta kasih dan
pengharapan kepada anaknya, dan seorang anak dalam jenjang remaja hingga dewasa harus
menjadi atap rumah yang mampu menerima segala terpaan dan melindungi rumah agar rumah
dapat menjadi nyaman dan tentram oleh sebab itu saya menggambar memilih menggambar atap
rumah dengan gunung yang menggambarkan ketentraman di dalam rumah.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
David Gensada Mathist
XII IPA-3/15

Gambar tersebut mungkin sangat tidak enak untuk diliat. Namun menurut saya sendiri, gambar
ini memiliki arti bahwa ditengah-tengah situasi yang kurang mengenakkan, kita sendiri lah yang
harus berubah dan menyesuaikan dengan situasi. Seperti yang digambarkan, ada warna yang
tampak sangat kontras dengan warna lainnya. Hal tersebut mengartikan bahwa warna tersebut
yang harus menyesuaikan diri dengan warna yang lain.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Felicia Putri Dewanto
XII IPA-3/16

Judul Karya : Senyumku Untuk Layar
Acrylic On Mixed Media.
Karya ini saya buat dengan menggunakan media karton yang digunting, casing handphone, dan
sarung tangan latex. Kemudian saya menggunakan cat akrilik untuk melukis di atas ketiga media
tersebut. Adapun latar belakang dari karya yang saya buat ini adalah saya ingin menyampaikan
bahwa situasi belakangan sampai saat ini membuat kita harus hidup melalui media online, dan
media online sangat mudah membuat kita membohongi diri sendiri dan orang lain.

Seperti di saat sedang ZOOM, para guru dan murid terlihat seperti saling melaksanakan
kegiatan belajar mengajar dengan antusiasnya di depan layar. Tetapi apakah kita semua saling
tahu dan saling mengerti apa yang kita ingini sebenarnya?

Melalui karya ini, saya ingin mengekspresikan rasa duka dan cemas setiap insani yang
harus selalu ditutup-tutupi saat online; padahal tersayat setengah mati di dalam hati.

Bukankah kita rindu kebebasan?

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Fransiscus Xaverius Albertus Hambali
XII IPA-3/17

Kegagalan Ekspresi

Saya menggambarkan ekspresi para remaja yang liar dan tidak terkendali ( garis putih
yang liar ). Saya memilih warna biru untuk menggambarkan kedalaman, sebagaimana laut yang
tidak memiliki batas. Itulah sebabnya saya membentuk media kertas yang saya gunakan menjadi
seperti gelombang. Mengapa warna putih ( eskpresi ) hanya di tengah? Hal ini saya sengaja buat
agar menunjukkan pandangan saya, bahwa ekspresi para remaja di zaman ini sungguh terbatas.
Atau kita sebenarnya hanya sedang membatasi diri. Itulah sebabnya, tidak ada warna putih yang
sampai di ujung warna biru itu.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Gertrude Beata Utomo Putri
XII IPA-3/18

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Ide dan latar belakang dari gambar :
Di gambar saya, saya menceritakan tentang bagaimana solusi kita semua yang terjebak

dalam pandemic virus corona. Solusi tersebut adalah meet-up dengan teman-teman melalui
virtual (Zoom Meeting). Tidak hanya bertemu dengan teman-teman saja, tetapi juga melakukan

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
pembelajaran jarak jauh melalui Zoom Meeting. Saya menggambar beberapa adegan teman-
teman saya ketika saya berada di dalam kelas. Seperti ada yang baru bangun tidur saat mengikuti
kelas online, ada juga yang mematikan kameranya, ada juga yang menggunakan virtual
background saat kelas online berlangsung, ada juga yang hanya terlihat setengah dari kepala saja
saat menyalakan kamera, ada yang excited mengikuti kelas online, dan masih ada beberapa
contoh lainnya. Kemudian, makna dari tulisan-tulisan yang berada di tengah merupakan kalimat-
kalimat yang biasa saya dengar selama terjebak pandemic saat ini. Selain itu, ada kalimat motivasi
yang bermaksud untuk menyemangati teman atau anggota keluarga yang sedang tidak baik
kondisinya. Tidak hanya untuk kelas online saja, Zoom Meeting juga dipergunakan untuk temu
kangen dengan teman-teman yang sudah berbeda negara atau kota. Selain itu, sering dipakai
juga untuk menghadiri rapat online. Menurut saya, di masa sulit seperti ini, Zoom Meeting
berperan sangat penting bagi kita semua. Oleh karena itu, saya menggunakan hal tersebut
sebagai inspirasi saya dalam membuat ujian praktik seni budaya ini. Sebenarnya, tidak hanya
zoom meeting saja. Masih ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk meet-up secara onine.
Seperti Google Meet, Line, Whatsapp, Instagram, dan masih banyak lagi.

Gisella Karina Emaputri
XII IPA-3/19

ANTONIA

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Nama Antonia berarti keanggunan dan kekuatan. Dalam hasil karya seni saya, terdapat dominasi
dua elemen warna yakni panas dan dingin. Keduanya terbelah namun menyatu di tengah.
Lambang warna merah ialah semangat, tekad, kekuatan yang dimiliki Antonia dalam
menjalankan hidup terutama di pandemi. Sedangkan sisi dingin melambangkan sisi lain dari
panas, yakni kesedihan, lelah, kebimbangan yang ada di diri kita dalam menjalani masa pandemi.
Antonia itu memiliki kesamaan dengan saya karena kita selalu berusaha menjadi yang tangguh
dan mau semua orang bisa melihat kalau kita kuat, namun kita tidak bisa terus menerus memaksa
untuk menyembunyikan kesedihan di diri sendiri. Segala perasaan campur aduk antara senang
dan sedih itu dipersatukan oleh lampu di badan sebagai penyatunya. Lampu di tengah badan
melambangkan refleksi dan potensi serta menjadi tempat untuk istirahat dan melihat ke dalam
diri serta mengakui eksistensi dan potensi yang kita punya di hidup ini.

Pesan Antonia :
Pandemi ini susah untuk dijalani tapi bukan berarti tidak bisa dilanjutkan. Tidak apa-apa untuk
bersedih namun tidak selamanya kita terpuruk dan menjadi biru. Lihatlah kembali ke dalam
lampu diri kamu. Disana kamu sadar kalau senang dan sedih adalah bagian dari hidup dan kamu
akan sadar jika mau menyalakan lampu di hatimu untuk menyinari hari-hari selanjutnya.

We may not be the best, but we are far away from the worst. (Kita mungkin bukan yang terbaik,
tapi kita jauh dari terburuk)
-Avicii

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Jonathan Hizkia Burju Simanjuntak
XII IPA-3/20

Saya menggambar ini karena menurut saya pada gambar ini ada solusi yang tepat untuk
mengatasi permasalahan yang disajikan. Saya menggambar Rumah sebagai Simbol Interaksi yang
dilangsungkan di rumah masing masing. Sementara saya menggambar Keempat kotak beserta
warna serta orang sebagai bentuk komunikasi melalui zoom/meet atau aplikasi tatap muka
virtual lainnya. Saya juga menggambar Awan putih yang artinya mereka terhindar dari virus
corona (Bentuk-bentuk virus hijau yang ada diluar awan putih). Menurut saya dengan
menggunakan zoom/meet atau aplikasi tatap muka virtual lainnya dari rumah masing masing,
Remaja tetap dapat bersosialisasi dengan teman sebaya. Menggunakan solusi ini kesehatan
remaja juga dapat terjamin. Solusi ini juga cukup simpel karena membutuhkan internet dan juga
perangkat (seperti laptop,hp, dan juga komputer). Berkomunikasi dari rumah masing masing
artinya remaja dapat menghindari pertemuan di luar rumah dan tentu saja menghindari resiko
terkena pandemi Covid-19. Solusi ini juga sejalan dengan anjuran pemerintah yang
menganjurkan agar masyarakat “Dirumah Saja”. Dengan cara ini Remaja tetap dapat
bersosialisasi dengan temannya dan dapat tetap sehat, serta terhindar dari virus Corona.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Joseph Nicholas
XII IPA-3/21

Situasi setelah adanya pandemi seperti mawar. Di beberapa aspek terlihat indah seperti bunga
mawar. Kita semakin dekat dengan keluarga, polusi berkurang, dan lain-lain. Namun di beberapa
sisi juga ada negatifnya seperti duri yang ada pada batang mawar. Kita jadi sulit bertemu dengan
teman-teman, sekolah daring, dan masih banyak lagi.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Joshua Glorius Kelman Harahap
XII IPA-3/22

ILUSTRASI MENGENAI GAMBAR
Dalam mempersiapkan masa depan, kita membutuhkan waktu banyak dan bantuan orang

dalam persiapannya. Namun, dengan adanya virus Covid-19 di dunia ini, membuat segala sesuatu
yang sudah direncanakan menjadi berubah. Kegiatan sehari-hari berubah 180 derajat. Sekarang,
rata-rata para pelajar memiliki kegiatan yang sama setiap harinya. Hanya bangun tidur, belajar,
lalu istirahat kembali. Tidak ada kegiatan sampingan, maupun bertemu teman-teman. Apalagi
bagi para pelajar kelas 12 SMA, sudah sibuk mempersiapkan diri untuk ke jenjang kuliah. Mereka
mulai mengikuti bimbingan pelajaran, dan lain-lain.

Pada gambar ini, dapat terlihat sepasang mata dimana mata yang satu terbuka dan mata
yang satu tertutup. Mata yang terbuka melambangkan kerja keras para pelajar untuk
mendapatkan nilai yang baik, untuk berhasil ujian praktik, untuk mendapatkan universitas yang
diinginkan. Sedangkan mata yang tertutup melambangkan para pelajar sebenarnya capek dan
jenuh akan semua ini, akan keadaan yang sama setiap harinya, terlebih lagi mereka terperangkap
dalam satu ruangan yang tidak berubah dari hari ke hari. Mereka juga merasa belum siap secara
mental untuk menghadapi rintangan di dunia luar.

Untuk semakin siap menghadapi masa depan, kedua mata harus terbuka. Solusi agar
mata yang tertutup menjadi terbuka adalah mengambil waktu luang untuk beristirahat dan
sementara mengalihkan pikiran ke hal lain yang bisa menghilangkan stress, seperti melakukan
hobi masing-masing, karena untuk berfungsi dengan baik, manusia butuh energi yang banyak dan
kesegaran agar bisa melaksanakan sesuatu dengan maksimal.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Juan Davis
XII IPA-3/23

Duka dan Suka dibalik Bencana
Selama masa pandemi ini kita para remaja pun pasti mengalami masa-masa seperti ini.
masa-masa dimana kita para remaja dalam masa fase mulai untuk mencari jati diri kita dan mulai
untuk bersikap dengan bebas. oleh karena itu saya menggambar 2 permukaan yang berbeda,
yang menggambarkan dengan masa dahulu dan sekarang. hal ini menunjukan suatu kehidupan
yang berbeda, suatu kehidupan dimana terdapat pada waktu sebelum terjadi pandemi dan hidup
dimana setelah pandemi itu terjadi. dari setiap gambar dan warna yang saya berikan pun memiliki
artinya sendiri dimana warna kuning untuk langit saya artikan sebagai suatu cuaca yang tidak
baik, dimana dikala itu Jakarta masih sering mengalami cuaca yang sangat buruk karena tidak
terawatnya lingkungan yang ada. sebaliknya di gambar setelahnya langit saya gambar sebagai
warna biru yang terlihat sebuah bulan yang terang. disitu saya bertujuan untuk memberikan
suatu gambaran bahwa langit yang ada pada Jakarta saat ini menjadi lebih terang dan lebih bersih
sehingga bulan tersebut pun dapat terlihat dengan jelas dan baik. bila kita melihatnya lebih teliti
lagi, kita akan melihat ada beberapa orang yang diam diatas gedung-gedung yang tinggi. hal itu
saya gambarkan agar bertujuan untuk memberikan kesan dan arti bahwa anak muda pada saat
itu memiliki jiwa yang bebas dan lepas. mereka bersama-sama berpetualang menemukan hal
yang baru bersama. sedangkan bila kita lihat di sisi yang lain kita akan melihat terdapat seorang
anak yang hanya diam di rumah. Namun ia tidak hanya diam di rumah dengan seorang diri,
melainkan ia pun diam bersama orangtuanya. berdiam di rumah, bercengkrama kembali dengan
keluarga dan menikmati masa-masa bersama dengan keluarga. dari hal ini pun saya
mendapatkan sebuah pelajaran pula bahwa pada nyatanya pandemi yang hadir di dalam hidup

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

kita ini dapat menjadi sebuah anugerah dan dapat pula menjadi sebuah malapetaka. anugerah
yang hadir adalah sebuah perbaikan baik itu bagi alam yang kita tinggali selama ini dan juga
perbaikan bagi hubungan kita dengan keluarga yang kita miliki. di satu sisi pada nyatanya pun
kita juga tidak terlepas dari teman-teman sebaya kita, karena di masa modern ini kita pun dapat
tetap saling berkomunikasi dengan teman-teman kita. Namun memang kita sendiri pun tetap
mengalami suatu rasa duka dimana kita akan merasakan suatu rasa kehilangan, baik itu dari
keluarga kita sendiri, teman-teman, ataupun orang yang kita kenal sekali pun. Namun itulah
hidup yang kita jalani sekarang, perjalanan hidup yang penuh dengan warna

Margaretha Amanda Ivana Putri
XII IPA-3/24

Tulisan mengenai ide gambar dan yang melatarbelakangi pemilihan gambar tersebut!
Ide dan latar belakang pemilihan gambar adalah dimana terdapat sebuah rumah yang

ditempati oleh seorang anak remaja. Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, kebanyakan remaja
sangat bingung dan depresi tentang bagaimana kelanjutan hidupnya. Hubungan dengan keluarga
dan teman semakin merenggang, nilai sekolah yang tidak baik dan juga khawatir akan mental
dirinya sendiri. Disitu juga digambarkan 3M yang dimana itu adalah protokol utama dalam masa
Covid-19. 3M tersebut diantaranya adalah menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain,
mencuci tangan serta memakai masker. Di bagian pinggir rumah tersebut dibuat berduri yang
bermakna bahwa dengan tetap di dalam rumah kita akan terlindungi dari virus Covid-19.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Michael Juan Edgar Sulistiyo Darmawan
XII IPA-3/25

Alasan saya memilih gambar :
Saya memilih untuk menggambar 2 tangan yg sedang membuka tangannya dan yg satu

lagi sedang memegan hand sanitizer. Dari gambar tersebut saya ingin merepresentasikan situasi
di masa pandemi ini yg kemana pun kita pergi perlu menyediakan hand sanitizer untuk menjaga
kebersihan diri dan hal itu berlaku bagi semua kalangan usia, khususnya remaja. Digambar itu
saya juga menggambar bercak-bercak dengan warna terang yang menggambarkan kami para
remaja walaupun dimasa seperti ini tidak hanya duduk diam dan pasif. Warna terang tersebut
adalah representatif dari pikiran-pikiran dan usaha kami untuk tetap berkarya, karena berhenti
bukanlah pilihan

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Mikhael Raditya Prabaswara
XII IPA-3/26

Ide dari gambar saya muncul dari keluhan-keluhan teman saya yang mengatakan bahwa sekolah
online itu sulit. terlebih lagi, sebagai siswa kelas 12 yang akan melanjutkan ke jenjang kuliah.
sekolah online ini bisa dibilang sebagai “neraka” bagi sebagian murid. oleh karena itu warna latar
yang saya gunakan adalah warna hangat perpaduan dari merah orange dan kuning yang
menggambarkan sebagai panasnya “neraka”. orang yang sedang duduk memegang senter adalah
kita semua. di gambar tersebut senter itu menggambarkan tentang pencarian jati diri. di sinar
senter tersebut terdapat aktivitas aktivitas yang biasa dilakukan selama masa pandemi seperti
zoom, chat, hingga youtube. emoticon senyum dan sedih menggambarkan suasana hati yang
terkadang senang dan sedih ketika sekolah online. lambang hati menggambarkan cinta di masa
remaja. masa remaja identik dengan tumbuhnya rasa cinta namun di masa pandemi ini, cinta
menjadi terhalang karena jarak dan waktu. senter tersebut memiliki arti “menerangkan dalam
gelap” yang berarti walaupun di masa sulit seperti ini masih ada hal positif yang dapat diambil.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Nicolaus Bevan Pramudito
XII IPA-3/27

Remaja, Pikiran, dan Harapan
Setiap manusia pasti akan mengalami mengalami masa remaja. Remaja adalah masa
perkembangan manusia, di mana masa ini merupakan masa seseorang untuk mencari jati diri
dan dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Dalam masa remaja, seseorang mengalami
berbagai macam pikiran dan pergolakan batin, antara masalah pertemanan, percintaan,
keluarga, pendidikan, hingga masa depan. Perjuangan di masa remaja ini akan menentukan masa
depan mereka.
Masa pandemi COVID-19 membuat remaja harus semakin kreatif meski dengan segala
keterbatasan. Semua tidaklah sama dengan yang sebelumnya. Pikiran-pikiran dan ketakutan
semakin bertambah. Namun, ada satu pelajaran yang dapat diambil seorang remaja di masa
pandemi ini. Di masa pandemi ini, remaja bisa menemukan dirinya dengan cara yang berbeda,
yaitu melalui refleksi. Remaja sejatinya butuh ketenangan, butuh rehat sejenak dari segala
pikiran, segala aktivitas yang serba padat. Di masa inilah remaja diberi kesempatan melihat ke
dalam dirinya, ketika ia sendiri, ketika ia berada dalam keluarga, siapakah aku ini? Mimpi-mimpi
apa yang aku kejar?
Lukisan ini dilukis di atas pecahan genteng. Dalam gambar ini, dilukiskan ada seorang gadis
melihat ke arah anak kecil yang sedang memberi makan burung. Anak gadis itu sedang duduk di
bawah pohon, menikmati kesendirian yang ada, di mana ia sedang memikirkan tujuan hidupnya
ke depan. Gadis itu terus bergumul dalam pikirannya. Namun kemudian ia melihat anak kecil
yang bergembira di tengah malam sedang memberikan makan kepada burung. Ia menyadari
bahwa terus berkutat dalam pikiran tidak akan menyelesaikan masalah. Mungkin seringkali ia
sebelumnya terlalu memikirkan orang lain, sedangkan ia jarang melihat dirinya sendiri. Ia belajar

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

dari anak kecil bahwa hidup harus dinikmati dengan caranya masing-masing. Ia memiliki harapan
hidup, yang disimbolkan dengan burung. Harapan itulah yang ia kejar sebagai tujuan hidup. Yang
lainnya ia serahkan kepada Tuhan, yang disimbolkan dengan bulan yang menerangi malam gelap.
Bintang-bintang adalah pemanis hidup, orang-orang yang menemani, yang ada di sekitar kita.
Harapan harus disertai dengan doa, agar segala yang telah dilakukan bisa menghasilkan sesuatu
yang maksimal.

Patrick Gregori Caya Tarigan
XII IPA-3/28

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Latar belakang dari karya saya adalah di bagian sisi luar kotak kaset pita terdapat bumi, namun
jika bumi tersebut kita buka maka akan ada luar angkasa yang belum kita jelajahi lebih dari
setengahnya. Pada masa pandemi ini kita dipaksa untuk berdiam diri di rumah. Tentu hal ini
sangat bertentangan dari manusia yang dasarnya adalah makhluk sosial terutama pada usia
remaja. Maka dari itu, sebenarnya yang perlu kita singkap lebih lanjut adalah apa yang ada dalam
diri kita masing-masing. Karena terkadang, kita tidak bisa mengetahui isi dari diri kita sebenarnya
dan selama ini orang-orang terdekat kita lah yang membantu kita menemukannya. Jelajahilah
diri kita sendiri, kenalilah diri kita sendiri, dan dengan itu kita bisa menjadi pribadi yang utuh dan
sinkron.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Radinka Genevieve Theopilia
XII IPA-3/29

Gambar ini menggambarkan mengenai kesepian., di mana selama pandemic ini saya merasa
dunia saya menjadi sepi. Hanya tatapan laptop yang saya lihat, melihat teman-teman saya hanya
di layar laptop. Bahkan dunia ini juga sepi. Biasanya saya bepergian, sekarang tidak bisa. Malam
mengambarkan kesepian tersebut, dimana suasana malam selalu sepi, gelap, dan seram. Namun
pelan-pelan malam tersebut menjadi kebiasaan. Sekarang saya harus menyesuaikan diri dengan
kesepian ini.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Stanislaus Tivan Prasetyadi
XII IPA-3/30

Alasan saya menggambar demikian berdasarkan cerita dan pengalaman pribadi. Pada tahun 2020
akhir tepatnya November, rencana pendakian sudah diatur. Namun semua kegiatan tersebut
batal akibat pemimpin pendakian tim saya terpapar covid-19. Gambar sebelah kanan ialah
imajinasi asiknya berkegiatan bersama teman. Gambar sebelah kiri ialah fakta tahun pandemic.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Tristan Raphael Widiputra Harsono
XII IPA-3/31

Lukisan yang saya buat menggambarkan tentang situasi perasaan anak remaja di masa pandemic.
Dimana ombak yang tadinya tenang harus terombang-ambing karena pandemi ini. Walau ada
guncangan baru tapi kita tetap harus berjalan maju demi Kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
AMDG

Viorinna Darasthita
XII IPA-3/32

Pembatas buku ini memiliki dua sisi yang berlawanan. Sisi pertama memiliki latar belakang ungu
dan hijau, yang dikenal sebagai warna dingin. Perwujudan rasa seppi. Juga memiliki gambar
laptop,buku, danjam yang menunjukkan waktu subuh. Sisi ini menggambarkan saat pertamakali
siswa memasuki masa PJJ. Hari-hari siswa dipenuhidengan benda-benda yang tidak berwarna,
alasannya karena rutinitas yang “membosankan” bersama benda-benda ini.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Sisi kedua memiliki latar belakang merah dan kuning, dikenal sebagai warna panas. Perwujudan
rasa senang. Juga tedapat gambar kuncup bunga. Sisi ini menunjukkan saat siswa bisa
beradaptasi dengan PJJ. Ide-ide mulai bermunculan layaknya kuncup bunga yang siap
memunculkan mahkota indah. Bunganya berwarna dikarenakan siswa menyadari bahwa dalam
keterbatasan, siswa tetap bisa menemukan kelebihannya.

Widyadhari Padmavati
XII IPA-3/33

The Journey
Selama masa pandemi ini, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan diri saya sendiri. Bagi
saya yang seorang introvert, saya melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mendalami diri
saya lebih lagi. Biasanya hari-hari saya dikelilingi orang lain, dengan aktivitas tanpa henti.
Sekarang, saya memiliki kesempatan untuk duduk dan memproses segala kejadian dalam hidup
saya dan yang terpenting, mengenal diri saya lebih dalam lagi. Saya melakukan hal tersebut
dengan kegiatan simple seperti yoga yang ada di lukisan saya. Sekarang hanyalah permulaan
perjalanan saya untuk menemukan diri saya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Abraham Arindra Sarwanawadya
XII IPA-4/01

Setelah saya merenungkan wacana yang sudah diberikan, saya menyadari bahwa
kehidupan yang saya jalani saat ini sangat berarah kepada suatu pemikiran yang entah mengapa
sifatnya 2 dimensi, arah gerak saya terbatas untuk maju, mundur, atau diam di tempat. Saya
sungguh bingung pada kondisi saya saat ini, entah harus bagaimana saya kedepannya. Sekarang
kondisinya sudah demikian dan banyak hal-hal penting yang saya sesali karena baru
menyadarinya akhir akhir ini. Sehingga dari situ saya terpikirkan untuk membuat karya seni yang
sifatnya 2 dimensi karena entah mengapa ruang 2 dimensi menjadi ruang yang tepat untuk
menuangkan perasaan saya saat ini terasa sempit.

Kemudian, saya juga sangat jenuh pada kondisi saat ini, saya memerlukan hiburan di
tengah rasa kejenuhan ini dan entah mengapa banyak sekali orang yang memilih suatu game
menjadi hiburan mereka. Bagi saya ini bukan hal yang tepat karena game juga membuat Lelah,
saya butuh istirahat sejenak untuk melihat apakah yang saya lakukan sudah benar, bagaimanakah
langkah kedepan yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki. Namun, di sisi lain saya sangat rindu
akan keasikan bermain game, melupakan waktu seakan waktu tidak ada harganya. Dari situ saya
mencoba untuk mencari referensi apa yang bisa saya tuangkan mengenai game, kejenuhan, dan
2 dimensi. Akhirnya saya menemukan seorang karakter dari Super Mario Bros, Mario. Mario ini
merupakan karakter yang ikonik dan sangat sering menjadi siluet industry game. Pandangan saya
terhadap Mario Bros adalah game tersebut penuh dengan repetisi, berbentuk kotak, dan sempit.
Entah mengapa terbangun stigma demikian, sehingga saya membuat siluet dari Mario sebagai
karya seni saya dari hasil permenungan saya yang sangat jenuh ini.

Siluet tersebut saya tempel tepat di atas Kasur saya untuk mengingatkan bahwa saya
harus bisa keluar dari kejenuhan ini. Alasan mengapa saya menggunakan sticky notes sebagai

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
media gambar adalah karena akhir akhir ini saya sering menggunakan barang tersebut untuk
mencatat gagasan atau ide ide yang harus saya ingat untuk kedepannya. Sehingga sticky notes
ini menggambarkan bahwa gagasan yangs saya buat ini harus saya telan dalam dalam.

Adrian Ksatria Boediman
XII IPA-4/02

Ide ini muncul karena saya ingin menggunakan sebuah benda yang sederhana, namun banyak
artinya. Saya kemudian memilih batu karena batu itu menyerupai manusia, ada banyak sekai,
namun tidak satupun sama. Batu tersebut saya cat dengan warna yang dinamakan sebagai
‘cherry sunburst’ dan saya mencoba untuk menggambar figur kayu maple api seperti di gambar
berikut :

Saya memilih untuk menggambar seperti ini karena kayu maple api adalah salah satu kayu maple
yang diberikan oleh banyak orang, karena penampilannya yang menarik. Saya juga memilih
warna tersebut karena warna tersebut identik dengan gitar yang saat ini saya punya. Pesan dari

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

seni yang saya buat adalah, bahwa pada masa pandemi ini kita tidak bisa hanya diam
menjalankan sehari - hari dengan biasa. Kita harus berusaha mencari hal - hal lain dalam pandemi
ini seperti berkarya karena pandemi ini meskipun buruk memberi orang lebih banyak waktu
luang. Kita harus menjadi orang yang menarik, menjadi seseorang yang menonjol. Jangan
menjadi batu yang begitu-begitu saja, jadilah batu yang menarik, unik, menonjol menjadi batu
yang susah untuk dijumpai bahkan mustahil, sama seperti figur kayu maple api di sebuah batu.

Albertus Stanley Hendarmawan
XII IPA-4/03

Metamorfosis Masa Remaja
Menjawab pernyataan bahwa remaja disibukkan dengan berbagai macam pikiran, karena
memang belum tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri,
optimis atau pesimis, idealis atau materialis, dan sebagainya – yang terlintas dalam pikiran saya
dalam pembuatan karya seni ini adalah membuat sesuatu yang berwarna-warni. Terlintas dalam
diri saya untuk membuat sepatu sebagai media penyalur ide. Sepatu menurut saya memiliki arti
tersendiri. Sepatu bagi saya tidak hanya sekedar menjadi kebutuhan sandang. Khususnya bagi
remaja yang diwajibkan untuk memakai sepatu di sekolah, sepau juga menjadi sarana ekspresi
diri. Sepatu sangat lekat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Bagi saya sepatu memiliki arti
seabagai cerminan kepribadian sang pemakai. Banyak sekali jenis sepatu, dengan motif maupun
warna yang berbeda-beda. Sudah selayaknya sepatu menjadi gamabran kepribadian seseorang
secara tidak langsung, tentang bagaimana mereka khususnya pemuda memiliki kepercayaan diri
dalam mengekspresi diri melalui sepatu yang digunakan. Gaya seni yang saya gunakan adalah
pop art, dengan mengedepankan warna-warni 4 warna sebagai warna yang serasi namun
mencolok. Warna-warni ini melambangkan semangat pemuda yang berani beda dan tetap ceria.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Selayaknya dalam menggunakan sepatu yang memeberikan pemuda kepercayaan diri dalam
berekspresi.

Alvaro Pratama Maharto
XII IPA-4/04

Rindu Seperti Dulu
Karena disaat PJJ ini saya selalu menggunakan telepon atau gadget untuk berkomunikasi
dan belajar, saya terinspirasi untuk membuat telepon model lama dari tanah liat. Mengapa
model lama dan bukan model yang modern? Karena saya sangat merindukan bertemu dan
bermain bersama dengan teman-teman saya seperti dulu, karena itu saya melambangkan hal
tersebut dengan telepon jaman dahulu. Menurut saya remaja membutuhkan komunikasi dan
pelajaran dari orang lain. Masa remaja merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju
dewasa, sehingga banyak perubahan yang terjadi di dalam dirinya. Terkadang perubahan
tersebut bisa menimbulkan masalah, salah satu solusinya adalah membina komunikasi dengan
sesama. Khususnya pada pandemi Covid-19 ini, remaja membutuhkan teman untuk bermain dan
bercerita sehingga mereka dapat menikmati masa remaja.
Banyak yang bisa didapat saat berkomunikasi dengan orang lain seperti, menambah
wawasan, mengisi waktu luang, sebagai hiburan, menjalin relasi dengan orang lain, dan lain lain.
Dalam masa pandemi ini, komunikasi sangat diperlukan dalam pembelajaran jarak jauh.
Walaupun sulit untuk menjalani pjj, remaja harus bisa berkomunikasi sehingga mendapatkan
wawasan yang baru dan mendapat nilai yang baik. Selanjutnya adalah mengisi waktu luang dan
hiburan. Dalam konteks ini remaja biasanya melakukan kegiatan bersama teman temannya,

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

contohnya adalah bermain games ataupun pergi jalan jalan bersama. Ini merupakan kegiatan
yang sering dilakukan remaja untuk melepas penat, namun terkadang mereka lupa waktu.
Setelah itu, menjalin komunikasi dengan orang lain sangatlah penting sehingga kedepannya
mereka akan memiliki jangkauan komunikasi dan konektivitas yang kuat. Jika ini terjadi maka
akan membantu mereka saat nantinya sudah mulai bekerja.

Kebutuhan pada anak remaja dimasa pandemik ini sudah berbeda dengan kebutuhan
lama karena mereka, kebutuhan baru mereka hanyalah internet dan gadget untuk
berkomunikasi, sekolah ataupun hiburan. Dikarenakan pandemi covid-19 ini mereka tidak bisa
bepergian sesuka hati mereka sehingga mereka biasanya hanya menonton atau bermain untuk
melepas penat. Teman teman sebaya para remaja pastinya juga masih sama mengakui
eksistensinya, namun saya yakin mereka semua sangat rindu untuk bertemu dan bermain
bersama lagi. Selanjutnya, cara yang dapat ditempuh oleh remaja adalah tetap semangat dengan
tujuan yang akan dicapai karena usaha tidak akan menghianati hasil. Mereka juga harus dapat
berkomunikasi dengan teman teman sehingga dapat melewati masa masa SMA ini dengan
maksimal dan dapat lulus dengan memuaskan.

Anastasia Arkania Satyawan
XII IPA-4/05

Judul: Berlapis
Media dan alat: Boneka matryoshka kayu, spidol, cat acrylic

Dalam karya ini, saya menggunakan boneka matryoshka polos, yaitu sejenis boneka kayu yang
dapat diisi dengan boneka yang lebih kecil yang berasal dari Rusia. Saya memanfaatkannya
sehingga boneka tersebut menggambarkan layer-layer perasaan yang saya pribadi rasakan
selama pandemi ini.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Pada boneka pertama, saya sengaja hanya mengecat sebagian dari boneka tersebut untuk
melambangkan diri saya sebagai remaja madya, yang masih setengah dewasa. Kemudian pada
bagian atas, saya menggambar seorang petugas medis yang menggunakan masker yang telah
berjuang banyak untuk menangani situasi pandemi ini dan merawat banyak orang.

Pada boneka kedua, saya menggunakan 2 pola berbeda yang mirip. Kedua pola yang berbeda ini
melambangkan bagaimana saya, sebagai remaja yang masih ‘campur aduk’ dan labil. Masih
bingung dan asing akan keadaan sekitarnya. Di sini saya juga melambangkan bagaimana kedua
pola tersebut mirip namun tidak sama persis, menunjukan bagaimana saya masih bimbang
mencari jati dirinya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Pada boneka ketiga, ini menggambarkan tujuan saya untuk lulus dan mencapai kesuksesan,
namun untuk mencapai tujuan tersebut saya masih perlu banyak belajar, baik secara akademis,
maupun melalui pengalaman.

Pada boneka keempat, terdapat 2 sisi, di mana sisi yang biru menggambarkan diri saya yang
merasa terperangkap selama masa pandemi ini. Di sisi hijau, ini melambangkan bagaimana saya
memerlukan keberadaan serta bantuan orang lain dalam hidup saya. Saya sangat mensyukuri

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
keberadaan mereka. Mereka telah membantu, menenangkan saya, mendengarkan keluh kesah
saya, dan lain-lain.

Pada boneka kelima, yaitu terakhir, saya hanya memberi gambar hati kecil ditengah. Ini untuk
mengingatkan saya untuk terus berbuat baik kepada orang lain, serta tidak lupa untuk
menerima serta mengurus diri saya.

Archangela Danna Tetriana
XII IPA-4/06

Pada karya tersebut saya menggambar dan melukis di atas tote bag yang saya miliki. Saya
menggambar seorang anjing yang sedang berada pada kandang rumahnya dengan rerumputan,
pada kandang anjing tersebut juga tertulis ‘LOVE’. Mengapa saya memilih gambar seperti itu?
Selama pandemi para remaja kehilangan kebiasaan sehari-harinya dan perlu beradaptasi dengan
dunia virtual. Keseharian biasa bangun pagi, berangkat ke sekolah, beraktivitas bersama teman-
teman, pulang bertemu dengan keluarga. Perasaan ketika bimbang dan jatuh lebih mudah untuk
bangkit dan berdiri lagi ketika bertemu tatap muka secara langsung, dikelilingi oleh banyak orang
setiap harinya membuat kita lupa dengan segala kebimbangan kita. Berbeda jauh dengan saat

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

ini, masa pandemi, setiap remaja melakukan aktivitas belajar hanya sebatas di rumah masing-
masing dan sendirian. Nyatanya masa remaja adalah masa ketika seseorang menemukan jati diri
dengan mengembangkan bakat-bakat yang mereka miliki, mereka menelusuri sampai sejauh
mana ability para remaja. Dalam mencari jati diri, tentu seseorang menemukan titik kegagalan,
emosi remaja pun sedang tidak stabil. Tidak semua remaja mampu memperoleh semangat untuk
bangkit dan mencobanya kembali, maka itu kenapa seseorang remaja memperlukan perhatian,
dukungan, dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya. Kebutuhan remaja selama pandemi
tentu masih bisa terpenuhi dengan segala keterbatasan yang ada, tetapi hanya ketika spirit dan
lingkungan yang mendukung. Seekor anjing bagi saya sendiri bagaikan seorang teman yang
menemani dan menghibur saya dikala saya sedang merasa jenuh. Sebelum pandemi, kita terbiasa
disibukkan dengan kegiatan sehari-hari kita sehingga terkadang lupa dengan apa yang disekeliling
kita. Melihat seekor anjing yang selalu gembira kapanpun dan dimanapun, selalu bisa
membuatku tenang dan juga semangat kembali untuk tidak menyerah. Gambar anjing yang
tersenyum gembira adalah sebagai wujud dedikasi ku terhadap mahluk ciptaan Tuhan yang selalu
menemani dan menghiburku dari pagi hingga malam. Kalung dengan bentuk hati pada leher
anjing tersebut sebagai wujud bentuk kepedulian adalah suatu hal yang remaja butuhkan dan
perlu remaja berikan kepada sesama pula. Rumah atau kandang anjing tersebut adalah sebagai
suatu lambang bahwa selama pandemi ini, kita para remaja yang masih bisa melanjutkan
aktivitas dalam rumah, harus bersyukur dan berbahagia karena memiliki atap dan dinding yang
melindungi dari segala bahaya. Maka kesempatan selama pandemi ini lah kita gunakan untuk
merefleksikan diri, berbuat lebih kepada orang lain, karena ini saatnya kita untuk bergerak dan
berbagi, sama seperti seekor anjing yang selalu setia dan melindungi pemiliknya bagaimanapun.
Kita pun harus belajar untuk menjadi seseorang yang loyal kepada sesama. Rerumputan pada
karya tersebut mengilustrasikan bahwa walau kita hanya di rumah, jangan sampai kita sebagai
anak muda melupakan lingkungan bumi kita yang sekarang ini sedang mengalami global
warming. Aktivitas kita banyak menggunakan tenaga listrik, AC, dan lain-lain maka janganlah kita
lupa untuk menghemat apabila tidak digunakan. Selain itu kata LOVE menyiratkan bahwa, untuk
remaja berkembang tidak selalu mulu harus dari orang lain yang memberikan ruang, namun pada
masa pandemi ini kita juga dapat berkarya untuk memulai duluan untuk memberikan ruang
untuk diri sendiri dan orang lain. Seekor anjing adalah pendengar yang terbaik, walaupun
mungkin tidak memahami apa yang kita bicarakan, ataupun merespons apa yang kita ceritakan.
Namun, setidaknya segala kekhawatiran kita dapat kita luapkan kepada mereka dan dengan
memiliki seekor anjing bagi ku membuatku tetap produktif untuk mengurusinya.

Ariel Theophilus Natama
XII IPA-4/07

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Remaja pada saat ini sedang sangat tertekan dengan keadaan yang ada. Tidak hanya untuk kami
para anak SMA kelas 3, tapi semua lapisan remaja. Semuanya merasa tidak “penuh” karena
pandemi ini. Merasa kreativitasnya dibunuh dengan adanya pandemi ini. Pada gambar saya ini,
saya menggambarkan sebuah lukisan abstrak dengan berbagai warna cerah. Sebagian dari
dompet yang berwarna hitam adalah contoh pemikiran-pemikiran dan ide-ide yang mati pada
masa pandemi ini. Bagian yang cerah menggambarkan betapa indahnya jika ide-ide kreativitas
kita menyala. Dan kita harus berusaha untuk tetap menyalakan sisi kreatif kita, jangan sampai
termakan oleh sisi “gelap” kita.

Calvin Winata
XII IPA-4/08

Gambar ini memiliki Ide mengenai alam angkasa yang luar yang selalu membesar. Kita bisa lihat
bahwa banyak sekali bintang bintang dilangit, bintang itu diartikan bagai teman teman kita masa
remaja. Mereka yang bisa kita lihat tetapi jauh dikarenakan jarak yang dihasilkan akibat tidak bisa
bertemu di dunia asli. Kenyataannya semakin lama covid ini semakin jauh jarak diantara kita.
Mungkin kita tidak bisa menyadarinya tapi kenyataannya jarak mulai terbentang diantara kita
seperti jarak antar bintang yang semakin membesar.

Bulan itu diartikan sebagai diri saya, bulan merupakan objek yang tidak bisa menghasilkan
cahaya tanpa terang matahari, saya merasa membutuhkan dorongan teman teman saya agar
bisa menjadi berguna bagi orang lain.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Cesilia Margareth Barek Ratu Makin
XII IPA-4/09

(Melukis di kotak/kardus bungkus earphone)

Setelah merenungi narasi yang diberikan, saya melukis dua burung yang sedang bertengger di
pohon sakura dengan langit biru luas nan bersih sebagai latar belakangnya. Alasan saya memilih
untuk melukis seperti gambar yang saya lampirkan di atas adalah karena pada saat pandemi ini,
yang saya pribadi – sebagai remaja – butuhkan adalah waktu tenang. Dunia tengah dilanda
tragedi besar yang belum pernah generasi kita rasakan sebelumnya. Segala sesuatu dirombak
untuk membantu beradaptasi, termasuk system sekolah. Semua jadi serba online. Sebagai
remaja kelas tiga SMA, saya sangat merasakan tekanan bagi angkatan kami. Sebentar lagi kami
akan lulus dari SMA dan masuk ke jenjang kuliah, tetapi masih dalam kondisi hari esok yang
belum pasti. Kapan bisa masuk? Kapan pandeminya selesai? Kapan bisa keluar rumah dengan
tenang? Kapan bisa bertemu teman-teman lagi? Semua pertanyaan tersebut belum terjawab
bahkan sampai sekarang. Ditambah dengan ujian-ujian yang harus kami tuntaskan, wajar apabila
angkatan saya merasa tertekan dan jenuh. Tiap hari bangun pukul 7.30 dan sekolah sampai sore,
belum lagi saya dan teman-teman yang lain yang masih harus bimbel untuk mempersiapkan
UTBK. Situasi sedang genting seperti ini, tapi kenapa jadwal kami semakin sibuk? Maka dari itu,
saya memutuskan untuk menggambar seperti yang saya lampirkan di atas. Saya pribadi sangat
menyukai alam, ketika saya sedang resah ataupun sedih, biasanya saya mengambil waktu untuk
sekedar menghirup udara segar di taman rumah saya dan menjauh dari gawai-gawai saya.
Mengapa dua burung, pohon sakura, dan langit biru? Dua burung tersebut saya maksudkan untuk
melambangkan diri saya yang sekarang dan diri saya dari masa depan. Kami sedang berbagi
cerita, saya sedang berkeluh kesah tentang sulitnya menjalani hari-hari di masa pandemi ini, dan
diri saya dari masa depan bersedia mendengarkan lalu nantinya menyemangati saya untuk terus
berjuang. Terus berjuang, karena masa depan saya masih menunggu saya dengan tangan yang
terbuka lebar.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Christophorus Marcellino Adi Raharjo
XII IPA-4/10

Merenung untuk Menjadi Lebih Baik

Lukisan saya ini menuangkan ide saya yang berasal dari kehidupan anak remaja yang di masa
SMA ini. Banyak sekali kenangan-kenangan di masa sebelum pandemi covid-19 ini. Saya
menggambarkan bumi seperti yang dilingkupi oleh virus, dan mengharuskan untuk bersosialisasi
secara online. Saya menggambarkannya dengan seorang pribadi yang merenung. Dimana
merenungkan kerinduan untuk dapat melakukan kegiatan tanpa terhalang oleh pandemi ini.
Banyak kegiatan yang hanya bisa dilakukan dalam angan-angan dalam perenungan tersebut.
Pertemanan remaja seakan-akan lenyap dan menjadi tak sedekat dahulu, berteman jarak jauh
sambil menunggu bumi tentram. Di gambar itu remaja yang hanya merenung namun para remaja
juga harus kreatif agar tidak terpuruk dalam pandemi ini. Dalam perenungan itu, para remaja
harus memiliki ketangguhan agar cita-cita yang dimilikinya dapat terwujud dan dapat menjadi
pribadi yang baik.
Alat = Cat air, kuas, pensil
Bahan = Kertas Sketchbook A3

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Dania Kartini Raharjo
XII IPA-4/11

Sebagai seorang remaja, adanya pandemi covid 19 ini sangatlah mengganggu kebiasaan dan
kegiatan saya, terutama sebagai siswa kelas 12 dimana pada saat ini seharusnya sedang
menghabiskan masa-masa terakhir SMA nya bersama teman-teman.
Dengan adanya pandemi yang tidak ada kejelasan kapan selesainya, dan juga berita-berita buruk
yang tidak berhenti berdatangan, membuahkan lingkungan yang menekankan. Ditemani juga
dengan kesibukkan sekolah dan karantina di rumah yang terkadang terasa menyesakkan, sebagai
seorang remaja yang saya butuhkan adalah sebuah pelarian dimana saya bisa menghibur diri dan
melepas lelah. Selain itu, pada masa-masa seperti ini yang juga saya butuhkan adalah dukungan
dari teman-teman saya. Dan semua hal tersebut dapat saya dapatkan melalui internet dan media
sosial.
Jadi bagi saya ketika ditanya ‘apa yang saya butuhkan sebagai remaja di masa pandemi ini ?’, hal
pertama yang muncul di pikiran saya adalah internet/media sosial. Dari situ saya teringat akan
sebuah istilah, yaitu “surfing the internet” yang berarti berselancar di dunia maya, istilah ini biasa
digunakan ketika seseorang sedang bermain internet/media sosial. Dengan dasar istilah tersebut
saya mendapatkan sebuah ide membuat suatu gambar dimana sebuah figur sedang berselancar
di sebuah ‘ombak internet’ dengan menggunakan handphone nya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Dean Justin Siahaan
XII IPA-4/12

Di masa pandemi ini kita semua diharuskan untuk tetap berada di rumah. maka dari itu selama
pandemi ini kita dapat melampiaskan emosi kita melalui seni. dengan bertema mencari jati diri
remaja saya mengekspresikan emosi saya melalui masker yang saya cat. saya mendapat ide ini
karena di masa pandemi ini sudah sangat lumrah melihat orang dengan menggunakan masker
dan masker sendiri merupakan salah satu barang yang kita gunakan agar diri kita tidak mudah
terkena virus Covid-19 ini. maka dari itu saya mempunyai ide dengan memberi corak abstrak
pada masker saya agar terlihat berbeda dari masker yang orang lain gunakan.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Eveneser Putra Kristanto
XII IPA-4/13

Dalam gambar yang saya gambar pada media tote bag, saya menggambar lambang headset dan
wifi. Dalam kehidupan sekarang ini setiap remaja pasti membutuhkan kedua itu. Tetapi dengan
kondisi seperti sekarang ini yaitu pandemi Covid-19 hal itu menjadi yang no 1. Memang eksitensi
setiap ada anak muda pasti berkuran tetapi dengan adanya kedua hal itu setiap manusia
khususnya anak muda menjadi lebih kreatif lagi membuat eksistensi mereka di dunia maya atau
melalui social media. Contohnya seperti dalam hal sekolah untuk tutor kita biasanya
menggunakan aplikasi zoom dimana kita bisa bertatap muka dan mendegarkan satu sama lain.
Dalam gamabr tersebut terdapat 4 warna yang pertama biru, warna biru melambangkan muda,
sebuah permulaan dan percaya diri. Kemudian warna merah melambangkan pandemi sekarang
ini yaitu kita terutama diIndonesia sedang mengalami banyak musibah salah satunya pandemi
Covid-19. Kemudian warna hitam melambangkan manusia yang masi belum bisa saling bersatu
contohnya masi banyak yang melanggar protokol kesehatan. Kemudian latar belakang berwarna
putih melambangkan pada akhirnya Tuhan akan menyempurnakan ini semua dan tujuan dari apa
yang kita alami pasti semua itu baik dan suci.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Ezra Christopher Kid Manopo
XII IPA-4/14

Saya mengambil tema luar angkasa untuk lukisan saya. Luar angkasa sendiri memiliki banyak
arti, untuk saya sendiri luar angkasa memiliki makna bahwa saya dan teman - teman saya tidak
benar - benar terpisah ( terutama karena ada pandemi yang membuat saya dan teman - teman
saya tidak bisa bertemu bertatap muka secara langsung ) karena kami masih dibawah langit yang
sama. Lalu di dalam lukisan juga saya gambarkan objek - objek luar angkasa yang terbawa arus
gravitasi, ini bisa diartikan sebagai kehidupan para remaja yang hanya bisa mengikuti arus
kehidupan, misalnya seperti remaja pada kondisi pandemi sekarang ini dari yang sebelumnya
setiap hari pergi ke sekolah bertemu dan bersosialisasi dengan teman - temannya jadi hanya bisa
bertemu lewat media sosial dan jadi jarang bertemu. Dan ada gambar satelit di tengah sebagai
pengingat tanpa adanya satelit, maka kegiatan belajar akan sangat sulit, karena satelit juga para
remaja bisa mengurangi sedikit rasa rindu dengan teman - temannya.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Ferdinandus Hermawan Wiraputra
XII IPA-4/15

Ide saya disini adalah memiliki konsep yang simple namun bermakna. Karya ini menunjukkan
bahwa manusia itu memiliki topeng di dalam kehidupannya. Manusia selalu memalsukan diri
mereka sendiri untuk diterima di dalam sosialita. Namun ketika Covid-19 menyerang Indonesia,
kita semua terpaksa untuk stay at home atau tinggal di rumah. Dengan kita yang tinggal di rumah
saja, kita belajar untuk mencintai diri kita sendiri. Berdampak kepada kepercayaan diri kita sendiri,
pada akhirnya kita bisa membuka topeng kita sendiri dan menjadi diri kita sendiri. Didalam konsep
ini, saya melihat bahwa konsep ini dibuat agar membiarkan kita yang menerima sosialita dengan
diri kita sendiri bukan untuk memalsukan diri sendiri agar bisa diterima di sosialita dunia ini.
Tergambar mulut yang menandakan senyuman, kesedihan, dan juga raut wajah datar. Hal itu
menggambarkan topeng yang sering dipakai oleh kita sebagai orang-orang.
Karya ini dilatar belakangi oleh diri saya sendiri. Dimana saya selama covid-19 bisa mempelajari
diri saya sendiri, dan juga memperbaiki diri saya sendiri. Selama covid-19 saya belajar untuk
menerima diri saya sendiri apa adanya, dan saya pun juga mencintai diri saya sendiri. Dengan saya
membuat konsep ini saya berfikir bahwa saya sendiri pun juga pernah ada di fase tersebut namun
mengingatkan bahwa diri kita sendiri lebih penting dari orang lain.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Filipus Seno Wisasmita
XII IPA-4/16

Penjelasan :
Gambar yang saya buat adalah berdasarkan fakta bahwa remaja saat pandemi saat ini sedang
berusaha untuk beradaptasi dengan situasi Covid-19. Remaja harus melewati rintangan yang
berada di depan mata mereka. Remaja yang sedikit lagi terjun ke masyarakat, harus mengetahui
kenyataan pahit bahwa dunia ini sedang tidak baik-baik saja akibat pandemi. Pertemanan para
remaja tidak semata-mata hilang, mereka berteman dan bersosialisasi dari jauh sambil
memantau bumi mereka yang sedang sakit. Cara para remaja memenuhi kebutuhannya adalah
dengan cara belajar daring dan mempelajari masyarakat. Harapan kuat para remaja menyinari
dunia yang membuat banyak orang sadar bahwa dalam masa pandemi ini masih ada suatu celah
untuk mencapai cita-cita mereka.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Halim

XII IPA-4/17

ide dari lukisan tersebut adalah dari tema yang saya baca bahwa seorang perempuan
melambangkan aktivitas yang disukainya dan mengapa hitam karena itu semua tertutup oleh
covid19 yang melanda sejak tahun lalu. mengapa berwarna hijau, karena itu warna yang
melambangkan bahwa ia sangat menyukai aktivitasnya dan tidak akan pernah berhenti
menyukainya maka itu akan tetap terang selamanya dan tidak pernah padam. hitam yang di
bagian kanan merupakan pandemi yang ia terus lewati dan tetap bertahan dengan semua yang
ia miliki agar bisa terus berkarya dan menjalankan hobinya.
Dan dari diri saya sendiri saya juga menggambar itu dikarenakan saya suka dengan tekniknya
dan hasil yang diberikannya.

Johannson Eleazar
XII IPA-4/18

Ide yang melatarbelakangi gambar ini berasal dari renungan bacaan Seni yang diberikan, dimana
para remaja mengalami perubahaan keaadan dimana semua kebutuhan-kebutuhannya yang

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

dulu terhalang oleh suatu keadaan yang baru dan besar sehingga harus beradaptasi agar dapat
menjalani keadaan tersebut. Kebutuhan anak remaja pada masa pandemi sebenarnya masih
sama saja, tetapi cuma caranya yang harus beradaptasi untuk mendapatkan kebutuhan-
kebutuhan tersebut dalam masa pandemi ini. Seperti pada saat sebelum pandemi, remaja
bersosialisasi secara langsung tatap muka namun pada saat ini remaja memenuhi kebutuhan
sosialisasi tersebut secara daring. Remaja dalam juga dalam mencari jati diri dan pengakuan
eksistensi, membuat menjadi lebih aktif dalam media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Pada masa pandemi ini juga, remaja tidak jarang merasa bosan dan tidak betah dirumah
terus-menerus. Pada gambar ini juga menggambarkan perasaan remaja dimana merasa
terkurung dan dibatasi oleh karna situasi pandemi. Seperti yang dapat dilihat di gambar bahwa
remaja seperti terkurung pada suatu ruangan yang sangat sempit. Menggambarkan perasaan
bosan dan jenuh yang selalu dikamar. Walaupun remaja masih dapat mencari cara lain untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya seperti sebelum pandemi, tetapi tetap saja kondisi yang
dialami saat ini, remaja belum terlalu beradaptasi sehingga menimbulkan ketidaknyamanan hati.

Jonathan Japerson Mulia
XII IPA-4/19

Gambar ini merupakan gambar laptop diatas meja yang saya gambarkan sebagai meja belajar
anak anak Gonzaga di masa pandemi ini. Kami yang terpaksa belajar secara daring dengan
semua suka dan dukanya. Dibelakang meja itu ada 3 warna yang menggambarkan perasaan dari
murid-murid yang jenuh, bosan dan bingung. Namun, di bawah terdapat warna abu-abu
sebagai bentuk netral saya terhadap pandemi. Walaupun kita tidak dapat berkumpul namun,
tulisan GONZ yang tebal adalah bentuk dari tidak pudarnya nilai nilai dan rasa bangga kita
terhadap Kolese Gonzaga.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Mahiswari Kusumawardhani
XII IPA-4/20

Langit dan Ombak
Langit kadang disebut dengan hal yang indah dan tenang, hal itu menggambarkan zona nyaman
yang dialami remaja sebelum pandemi. Dan akhirnya ombak datang, seperti hal tiba-tiba. Hal
yang datang tiba-tiba memang kadang menghancurkan, namun juga bisa dipandang dengan
indah. Sepatu yang digambarkan selalu serupa dengan pasangannya akhirnya berbeda satu
dengan yang lainnya. Untuk mempertahankan dan untuk beradaptasi.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Marcelino Vito Hartono
XII IPA-4/21

Saya memilih gambar virus karena virus covid-19 adalah penyebab kita harus tetap di
dalam rumah, tidak boleh berkumpul di luar. Virus ini menginfeksi dan tersebar dengan sangat
cepat ke segala penjuru dunia. Belum ada obat untuk mengobati pasien yang terinfeksi covid-19.
Vaksin pun belum dapat diterima oleh semua masyarakat. Kita masih harus belajar dari rumah
dan bekerja dari rumah. Bagi remaja yang sedang berkembang dan mencari jati diri, pandemi ini
seperti jalan buntu. Kita hanya bisa diam di rumah dan aktifitas yang bisa dilakukan sangat
terbatas. Kita sulit untuk menemukan hal baru dan menarik jika hanya berada di rumah. Pelajaran
yang dilakukan secara daring tidak terlalu juga efektif. Remaja mudah bosan dan menjadi malas
untuk mengikuti pelajaran karena tidak bisa bertatap muka dan bertemu teman-teman secara
langsung. Saya berharap pandemi ini cepat berakhir agar kita semua dapat kembali bertemu dan
berkumpul dengan teman-teman.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Maria Angelica Putri
XII IPA-4/22

Ide dan Latar Belakang Gambar:
tema : Metamorfosis Masa Remaja

Direction (Arah)
Seorang perempuan yang berada di tengah gambar adalah gambaran seorang remaja yang
sedang melewati masa-masa remajanya. Terdapat dua jalan yang sebelah kanan melambangkan
sisi gelap dan sebelah kiri menggambarkan sisi terang. Terdapat tanda panah belok kanan di
tengah dan di jalanan sebelah kanan terdapat orang-orang yang memilih jalan tersebut yang
menggambarkan sebuah halangan untuk si perempuan dalam memilih jalan. Lalu terdapat
bentuk semacam TV sebagai bingkai yang menggambarkan situasi dalam pandemi dimana kita
hanya bisa melihat kondisi luar secara tidak langsung baik lewat TV, HP, radio, maupun koran.
Makna dari lukisan ini adalah seorang perempuan (remaja) yang sedang menjalani masa
remajanya dimana ia masih mencari jati dirinya. Ia berjalan dan ia melihat terdapat dua jalan
yang berlawanan dan sudah terlihat dengan jelas oleh dirinya bahwa sebelah kanan buruk dan
sebelah kiri baik, namun ia melihat rambu lalu lintas yang mengarah ke kanan dimana di jalan
sebelah kanan juga sudah terlihat ada banyak orang yang melewatinya. Ia menjadi bimbang harus
memilih yang mana, di satu sisi ia tahu bahwa sebelah kiri terlihat lebih baik dan terang
sedangkan yang kanan benar-benar bertolak belakang, Namun, ia melihat lebih banyak orang

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

yang menuju ke arah kanan padahal dirinya juga tidak tahu tujuan dari orang-orang tersebut. Ini
menggambarkan sifat remaja sekarang dimana ia diberi pilihan yang ia tahu satu baik dan satu
buruk, lalu teman-temannya memilih yang menurutnya buruk dan ia pun jadi ikut memilih pilihan
yang buruk itu karena tidak mau dijauhi teman-temannya. Seorang remaja tentunya adalah masa
dimana waktu untuk mencari teman, sehingga jati diri sulit ditemukan karena terkadang mereka
suka meninggalkan jati diri demi mencari teman.
Selain itu, terdapat bingkai yang berupa TV yang menggambarkan apa yang dilihat sekarang
adalah melalui TV atau tidak secara langsung. Hal tersebut terjadi karena sekarang adalah masa
pandemi dimana orang-orang diharuskan untuk tidak keluar rumah jika tidak ada hal pentin.
Termasuk para remaja yang jadi bersekolah di rumah dan tidak dapat bertemu teman-temannya.
Sehingga ini juga menggambarkan bahwa remaja di masa pandemi ini hanya bisa menjalani masa
remaja melalui virtual. Diperlukannya banyak usaha lebih besar untuk dapat mencari jati diri di
masa kini karena para remaja tidak dapat melakukan atau bertindak secara langsung.

Maria Bernadetta Nadya Blandina
XII IPA-4/23

Ide karya ( warm hugs ):
Seorang remaja tumbuh dengan berbagai macam perasaan. Ada rasa marah, iri,

mencintai, dan masih ada banyak perasaan yang mungkin belum terungkap. karya ini
merupakan karya yang mengungkapkan salah satu emosi itu yaitu rasa cinta. Ketika kita tumbuh
menjadi seorang remaja dan pada masa-masa remaja ini rasa sayang merupakan suatu hal yg
krusial, antara rasa sayang dari orang tua, teman, atau keluarga. Hal ini membuat kita tidak
merasa kesepian dan membuat kita merasa lengkap. Terutama pada masa pandemi ini dimana
kita jauh dari kegiatan di luar dan jauh dari orang-orang yang mungkin biasanya kita bertemu,
membuat kita harus beradaptasi lagi. Rasa kasih sayang ini bisa dari keluarga membantu kita
untuk beradaptasi dan tidak merasa seperti kita sendiri.

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Hati yang saya gambarkan terlihat sedang dipeluk , hal ini menggambarkan perasaan hati
kita ketika merasakan kasih sayang untuk atau dari orang lain. Cipratan warna yang keluar dari
hati tersebut merupakan gambaran berbagai perasaan yang bisa dirasakan seseorang karena
dicintai maka cipratan itu berwarna -warni. Dan bunga yang ada di gambar tersebut
menggambarkan rasa bahagia.
untuk media yang saya gunakan adalah tote bag. tote bag ini melambangkan layaknya
tas yang digunakan untuk membawa sesuatu, pada karya saya yang satu ini digunakan untuk
membawa kebahagiaan dan harapan.

Maria Petrina B. Saragih
XII IPA-4/24

Ide dari lukisan yang saya buat adalah renungan dari teks yang diberikan, berupa reminisi dari
kehidupan sebelum pandemi sampai saat ini. Awalnya bertemu teman-teman di sekolah setiap
hari, sekarang hanya bisa bertemu dibatasi sebuah layar. Transisi antara kedua keseharian yang
kontras itu tentunya menimbulkan emosi dan pikiran bergejolak. Rasa kesepian, penat, stress,
dll, yang hanya bisa dilalui sendiri di rumah masing-masing. Namun, hidup harus terus berjalan

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
dengan segala upaya dari pihak-pihak yang bersangkutan. Kita harus terus belajar, bersosialisasi,
dan meneruskan hidup meskipun dengan cara-cara baru. Judul lukisan adalah SFWS.

Maria Virginia Ruth Buluama
XII IPA-4/25

Judul karya : Pellagia
Untuk ujian praktek kali ini saya memilih untuk melukis pada celana jeans putih saya. Material
yang saya gunakan adalah, fabric paint, acrylic paint, kuas, celana jeans/denim putih.
Apa yang saya lukis

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021

Disini saya melukis 2 lukisan kecil yang di bingkai, beberapa awan serta beberapa ubur -ubur.
Lukisan pertama adalah lukisan sunset di atas awan dengan warna sunset yang beragam seperti
pelangi. Di Bawah lukisan ini terdapat 2 ubur – ubur dewasa yang seolah – olah akan masuk ke
dalam lukisan tersebut. Lukisan kedua adalah lukisan awan berwarna – warni yang sedang hujan.
Dan dibawahnya terdapat 2 ubur – ubur, namun kali ini ubur – ubur tersebut bentuknya berbeda.
Di bagian bawah kaki, saya melukiskan awan kelabu beserta petir, serta 2 objek yang tampak
seperti koral laut.
Coral yang berwarna ungu tersebut sebenarnya bukanlah coral, ia adalah ubur – ubur juga. Begitu
pula dengan ke – 3 bubble yang ada persis diatasnya.
Ubur – ubur
Disini ubur – ubur melambangkan diri saya selama pandemi. Sebelum dilanjutkan saya akan
mnejleaskan terlebih dahulu bagaimana fase pertumbuhan ubur – ubur. Ubur – ubur memiliki fase
pertumbuhan sebagai berikut :
Ubur – ubur memiliki siklus hidup. Siklus tersebut dimulai dari ketika larva atau telur ubur – ubur
berenang bebas di lautan. Kemudian larva ubur – ubur akan menempel di terumbu karang
membentuk polyp. Setelah itu perlahan – lahan polyp akan melepaskan dirinya dan berenang bebas
menjadi epiphyra yang selanjutnya akan mengarungi lautan dan tumbuh menjadi ubur – ubur
dewasa.

Makna lukisan
Mengapa saya memilih ubur – ubur untuk melambangkan diri saya dan mengapa saya memilih
untuk melukis lukisan itu?
Kehidupan saya sebelum pandemi di ibaratkan larva ubur – ubur yang berenang bebas di laut.
Tidak terganggu, nyaman dan damai. Namun ketika pandemi menyerang, yang saya ibaratkan
dengan badai awan kelabu berpetir, semuanya berubah. Kehidupan saya berputar 180 derajat, dan
bisa dibilang saya berada di masa – masa terendah ketika saya berada diawal pandemi. Kesehatan
mental dan fisik saya menurun, begitu pula nilai sekolah saya. Ini saya ibaratkan dengan polyp
yaitu larva ubur-ubur yang jatuh dan melekat di awan kelabu. Saya merasa tidak dapat terbebas
dari badai yang ada didalam diri saya.
Namun saya sadar, bahwa mengeluh dan menyerah maka saya tidak akan dapat maju. Maka dari
itu saya memutuskan untuk melepaskan diri dari cengkraman kesedihan, yang saya lambangkan
dengan ubur – ubur yang menjadi epyphyra (ubur – ubur muda yang terbalik). Disini Epyphyra
tampak akan masuk ke dalam lukisan hujan. Itu melambangkan hidup saya yang mulai melepaskan
badai dan masalah dalam hati saya yang diselesaikan melalui banyak tangisan emosional (saya
banyak menangis). Tapi pada akhirnya saya akan agak sedikit lega.
Namun setelah itu epyphyra berenang lebih tinggi lagi ke atas, ke lukisan sunset berwarna warni
dan dalam prosesnya telah menjadi ubur – ubur dewasa atau medusa. Lukisan sunset ini

melambangkan hidup saya yang kini lebih berwarna, lebih ceria. Dan medusa melambangkan diri
saya yang selama pandemi banyak belajar dari orang lain dan menjadi pribadi yang lebih dewasa
dari sebelumnya.
Lukisan ini juga memiliki pesan bahwa saat pandemi semua orang berkesusahan, melihat kebawah
yang tampak hanyalah kesedihan. Namun kita tetap berharap pada diri kita sendiri dan pada
akhirnya saat kita melihat ke atas kita dapat melihat langit penuh warna, kebahagiaan hasil jerih
payah kita sendiri. Dan bahwa sebenarnya kita bisa menciptakan happy ending kita masing –
masing.

Inspirasi

UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Lukisan ‘Colorful sunset’ terinspirasi dari desain Charaf Tajer untuk Casablanca. Koleksi pria
‘Rainbow’ SS21
Lain – lain
Ubur – ubur yang saya lukis adalah spesies Pelagia Noctiluna. Ini adalah ubur – ubur dengan
karakter yang menurut saya paling mirip dengan diri saya, dan yang paling indah untuk dilukis.

Mikael Adimas Pradayan
XII IPA-4/26

Di dalam masa ini kami para remaja diwajibkan untuk di rumah karena wabah virus corona. disini
adalah masa yang sangat membingungkan karena harusnya ini masa kita untuk bereksplorasi
dengan dunia luar. Kita sangatlah stress dengan hal yang baru kita hadapi. Kita tidak bisa ketemu
teman, kesulitan belajar dan harus bisa menjaga kesehatan. Karena hal itu tak banyak murid
untuk stress. Tapi kita punya pelangi di atas kita. kita akan selalu berharap semua akan baik.
Masih ada hari esok untuk dinanti. Kita harus bisa beradaptasi. Harus bisa bersyukur dengan
segala sesuatu sekecil apapun. Dan ternyata akhirnya kita belajar bahwa hal ini bukanlah hal
untuk ditangisi karena masih banyak perjuangan yang telah dikorbankan. Banyak nyawa
ditumbalkan demi kesenimbungan hidup kita masing masing.


Click to View FlipBook Version