UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Paulus Andhika
XII IPA-4/27
Mental Remaja Digital
Ide gambar yang saya buat berdasarkan realita remaja masa kini. Remaja masa Covid-19 hanya
duduk didepan layar digital sebagai usaha untuk tetap mendapatkan perkembangan masa remaja
yang terarah. Pertemuan dengan teman-temannya hingga kegiatan sekolah pun harus dilakukan
melalui daring. Hal ini merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk membantu para
remaja dalam perkembangannya di masa pandemi Covid-19 walaupun memilki efek samping
yang mengerikan, khususnya dalam hal psikologis. Dalam hal psikologis dapat berupa kecemasan
dengan intensitas yang beragam. Kecemasan yang dialami remaja tingkat SMA dapat berakibat
pada permasalahan lain seperti kemampuan, konsentrasi performa akademik, dan masalah
perilaku. Banyak para remaja yang mengalami rasa bosan ketika mereka harus berada di rumah
dengan waktu yang sangat lama. Tidak bisa bertemu dengan teman-temannya merupakan
sejumlah dampak yang wajar dan banyak terjadi pada remaja.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Rafael Vedaputra Ranidyanto
XII IPA-4/28
Saya mencoba untuk membuat 3D drawing tapi mungkin kurang bagus hasilnya. Pandangan yang
saya buat untuk gambar ini adalah suasana ketika kita semua harus beralih ke pembelajaran
daring dan di gambar tersebut menjelaskan tentang situasi setelah beberapa lama menjalankan
pembelajaran secara daring. Dari posisi duduk orang tersebut sudah menunjukan bentuk
kelelahan dalam bersikap duduk yang tegak karena orang tersebut telah duduk dengan waktu
yang sangat lama. Lalu, di layar komputernya ada kamera yang menunjukkan muka dan postur
tubuh orang itu yang masih tegak dan semangat, itu menunjukkan keadaan dimana semua ini
belum berubah. Saya menggunakan 3D drawing seperti tembok berlubang karena itu
menggambarkan cita-cita yang ingin orang itu raih sudah berbeda dan lebih sulit lagi karena harus
beradaptasi dengan kondisi lain yaitu yang ada di dalam tembok itu. Tetapi meskipun kondisi
semakin susah untuk diikuti, kita tidak boleh menyerah dan harus tetap berjuang demi cita-cita
kita.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Regita Tamaya Simorangkir
XII IPA-4/29
Dari hasil renungan dari narasi itu, saya tuangkan apa yang saya pikirkan ke dalam lukisan di atas
botol kaca. Media botol yang saya pakai menggambarkan bagaimana remaja banyak menyimpan
di dalam dirinya. Sebagai seorang remaja yang mencari jati dirinya, mereka banyak mencari
informasi yang dapat mencerahkan arah tujuan hidup saya. Informasi itu mereka simpan dan
nantinya akan mereka gunakan.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Mengenal diri sendiri tidak hanya dari bacaan-bacaan atau internet, tetapi juga dari hal-
hal yang kita temui secara langsung. Sebagai contoh, seorang remaja yang sadar akan
kecintaannya akan laut, saat ia berenang di laut bersama keluarganya. Karena pandemi hal-hal
itu terhalang. Kita tidak dapat lagi keluar rumah ketika kita butuh inspirasi dari dunia luar.
Sehingga, remaja merasa harapan mereka untuk menjadi jati dirinya terkikis secara pelan-pelan.
Bahkan, ada juga yang nekat keluar rumah, membahayakan kesehatan diri dan orang lain untuk
bertemu dengan teman karena saat ini yang di pikiran remaja, rumah itu seperti penjara. Lalu,
saya berpikiran apakah penjara adalah gambaran yang tepat?
Selama perjalanan hidup kita, kita melewati berbagai pengalaman, ada yang terang
(menyenangkan, menggembirakan), dan ada yang gelap (pengalaman kegagalan, keputusasaan).
Pengalaman - pengalaman tersebut terkadang kita anggap merupakan hal yang membentuk kita.
Tetapi, yang sebenarnya membentuk diri kita adalah apa yang kita lihat dari pengalaman tersebut
dan apa yang kita lakukan berdasarkan pengalaman tersebut.
Dari situ, saya terinspirasi untuk menggambarkan pemikiran tersebut. Saya
menggambarkan ada tiga mata yang mengakar. Mata-mata tersebut berbeda warna
menggambarkan titik-titik kehidupan. Jika titik itu sudah terlewati maka akan membentuk
cabang akar baru di mana akan ada titik baru yang harus dihadapi. Titik yang terakhir di gambar
tersebut adalah titik di saat ini, di saat semua orang menghadapi satu hal yang sama yaitu
pandemi virus korona. Remaja yang sedang di tengah menggapai cita-citanya mengeluh dan
berharap hidupnya ditahan sejenak. Namun, nyatanya waktu tetap berjalan, mereka tetap
bertambah usia. Karena itu, salah satu hal yang diajarkan pandemi adalah adaptasi,
dilambangkan ikan di dalam refleksi mata. Sudut pandang kita dari situasi ini mempengaruhi
langkah kita. Jika kita melihatnya sebagai penjara, maka langkah kita mencari cara untuk kabur
atau sekadar cara untuk menghabiskan waktu. Maka, seperti ikan, kita harus mencoba mencari
celah, beradaptasi. Mengeluh sebenarnya hanya akan menutup pintu pikiran kita yang lain.
Ketika berhenti mengeluh, banyak ide-ide yang muncul. Sebagai remaja juga, saya menjadi
terpikir mencoba hal baru, memasak, merajut, membaca, mempelajari bahasa lain, atau
mempelajari materi atau fakta unik, seperti sains, sejarah dan lainnya. Ide-ide memulai hal
tersebut muncul saat kita melihat situasi yang kelihatan buntu secara terbuka. Kemudian, dari
ide-ide itu, remaja masih tetap berkembang menemukan siapa dirinya. Sehingga untuk di situasi
ini, pengakuan dari orang lain tidak terlalu mempengaruhi proses pengenalan jati diri pada
remaja. Melainkan, pengakuan dari dirinya sendiri.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Sarah Dhita Anggraeni
XII IPA-4/30
Secorak Dirimu Padaku
Ilustrasi ini merupakan self-portrait mixed media. Saya menggunakan cat akrilik untuk melukis
dan kertas untuk membuat bunga.
Masa remaja dianggap sebagai masa labil, yaitu dimana individu mencari jati dirinya. Hal ini
membuat remaja mudah sekali terpengaruh oleh orang lain. Bagi saya, mereka yang sangat
mempengaruhi perilaku saya adalah teman-teman sekolah saya. Layaknya spons, saya menyerap
kebiasaan-kebiasaan mereka, dari cara bicara, berpikir, bahkan pemahaman saya. Namun adanya
pandemi membuat saya menghabiskan setiap harinya dengan keluarga saya. Teman-teman yang
awalnya ngobrol setiap hari, kini hampir tidak pernah berbincang di luar sekolah. Kini, saya
mengambil kebiasaan dari keluarga saya, terutama Ibu saya. Pandemi membuat saya lebih dekat
dengan ibu saya. Tidak pernah saya sangka kami memiliki banyak persamaan. Salah satunya
adalah menyukai tanaman. Suatu kesukaan yang tidak tahu dari mana asalnya. Apakah
kegemaran itu sudah ada sejak lama atau tumbuh karena ibu saya. Bunga pada karya
menyimbolkan ibu saya. Ibu saya sangat mencintai tanaman. Tidak ada hari dimana ia tidak
merawat tanaman di kebun rumah. Tidak hanya itu, dia juga menjadi perangkai bunga di gereja
dan sangat menyukai kegiatan tersebut. Jadi, tidak ada hal yang lebih cocok menyimbolkan ibu
saya daripada bunga. Bunga-bunga di kepala saya melambangkan pengaruh Ibu yang tumbuh
pada saya. Karenanya, saya menjadi menyukai hobi sepertinya, menjadi lebih mirip
dengannya. Sedangkan bunga yang ada pada mata mengartikan pengaruh ibu saya terhadap
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
cara pandang saya. Semakin sering kami berbincang, semakin saya memahaminya. Semakin saya
melihat hal-hal dari sudut pandangnya. Suatu hal yang awalnya tidak pernah saya pahami.
Thomas Aditya Aryaputra
XII IPA-4/31
Saya memberi judul lukisan saya Pandemic Warrior yang saya ambil ilustrasinya dari sebuah
acara televisi bernama Ninja Warrior dimana seorang peserta menyelesaikan serangkaian
tantangan yang diatur dalam sebuah waktu tertentu. Alasan saya memilih konsep ini ialah karena
menurut saya acara tv Ninja Warrior tersebut mirip situasinya dengan saat ini dimana sekolah
dan test untuk masuk perguruan tinggi menjadi tantangan bagi siswa saat ini. Tantangan tersebut
saya gambarkan sebagai gunung di lukisan saya. Gambar orang yang ada di lukisan itu saya
gambarkan sebagai siswa yang bersiap untuk menghadapi tantangan tersebut. Siswa tersebut
menghadapi tantangan tersebut yang dikejar waktu dan juga tekanan dari orang-orang sekitar.
Ditambah lagi karena adanya pandemi. Situasi ini mirip dengan peserta Ninja Warrior dimana
semua tantangan nya dikejar oleh waktu dan semuanya harus dihadapi sendiri. Mungkin saja
saat latihan dia dibantu oleh teman atau keluarganya, tapi pada akhirnya semua tantangannya
harus dihadapi sendiri.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
William Wibowo
XII IPA-4/32
Alasan latar belakang dari karya yang saya buat diatas adalah sebab pada semasa korona ini saya
sebagai seorang pelajar sangat berubah dengan hobi saya dimana saya menjadi orang yang suka
menggambar banyak hal dan bermain suatu game yang bernama counter strike global offensive
yang merupakan game tembak tembakan di komputer dan di dalam game tersebut terdapat
suatu senjata dengan desain seperti gambar dibawah ini yang dikenal dengan “fire serpent AK”
Saya sangat tertarik dengan desainnya hingga saya memutuskan agar senjata airsoft yang saya
miliki akan saya ubah bongkar dan cat menggunakan cat minyak dan piloks hingga mendapat
hasil seperti yang diatas, bagi saya karya saya sesuai dengan team adolescent sebab saya sendiri
sebagai adolescence atau remaja suka bermain game tersebut sama seperti 24 juta pemain aktif
game tersebut di dunia ini.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Wilona Kalya
XII IPA-4/33
Jantan
Ayam jantan sering kali digunakan untuk melambangkan kejagoan. Ia “jago” karena
memang merupakan salah satu binatang yang dipertandingkan orang-orang. Untuk bertahan
hidup, banyak ayam jantan harus bertanding sekuat tenaga melawan musuhnya sekuat apa pun
itu. Walaupun saya pribadi tidak setuju dengan konsep mengadu ayam, saya rasa kita dapat
memetik sebuah filosofi dari hal simpel ini. Siapa yang kuat adalah yang bertahan di atas ring dan
melanjutkan kehidupannya, sedangkan yang kalah dipersilahkan turun dari ring atau bahkan
mengalami cacat dan mati. Dari sini, saya merasa bahwa perjuangan melawan pandemi COVID-
19 bukan hanya dari aspek komunitas. Walau kita harus membantu sesama dalam kesulitan ini,
diperlukan “kejagoan” dalam diri kita layaknya ayam jantan untuk dapat melewati masa sulit ini.
Bantuan sebesar apa pun dari sesama tidak akan berarti jika tidak ada daya juang dari dalam diri
kita sendiri untuk tidak mau dikalahkan dengan situasi dan kondisi. Hal ini yang saya sering lihat
pada teman seumuran saya, di mana banyak yang sudah menyerah/pasrah atas tanggung jawab
mereka karena situasi dan kondisi ini. Walaupun memang dapat dimengerti, bukan berarti kita
harus menyerah begitu saja. Terakhir, selain harus memiliki daya juang atau “kejagoan” layaknya
ayam jantan, bukan berarti kita boleh menindas sesama hanya karena kita yang ingin keluar dari
ring sebagai “pemenang”. Itulah mengapa saya menulis tulisan tambahan “Be Kind” yang artinya
berbaik hatilah. Banyak remaja yang demi validasi dari sesama, rela menindas orang lain.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Adrianus Raditya Indriyatno
XII IPA-5/01
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Tidak terasa 2 Maret 2021 kemarin, virus Covid-19 sudah setahun menetap dan masih
menghantui masyarakat Indonesia. Semua sektor kehidupan terdampak dan berubah, termasuk
kehidupan para pelajar di seluruh wilayah Nusantara. Kehidupan bersekolah berubah, dan
berdampak pada kehidupan sosial remaja, termasuk saya sendiri. Bersosialisasi secara daring
dalam jangka waktu yang lama bukanlah hal yang mudah. Kenyataannya, sebagai seorang
manusia, saya juga membutuhkan sentuhan dan afeksi yang dapat dirasakan secara langsung.
Namun, saya harus bersikap realistis. Interaksi yang teraman adalah secara daring, melalui layar.
Aplikasi-aplikasi yang hadir menjadi sarana, bukan hanya untuk bersekolah tetapi juga
mengeratkan pertemanan yang sudah dijalin selama pandemi ini. Virus Covid-19 ini memang
menjadi musuh bersama, tetapi ada berkah yang hadir di dalamnya.
Saya menjadi mampu mengembangkan kemampuan teknologi dan kreativitas secara daring.
Penggunaan Zoom menjadi sesuatu yang sudah lazim untuk mengobrol dan saling membagikan
pengalaman dengan sesama. Pandemi ini tidak akan hilang dalam waktu yang cepat, dan akan
terus mengitari kehidupan kita sekarang ini. Namun, jangan sampai persahabatan yang sudah
terjalin hilang. Justru, ini menjadi kesempatan untuk semakin menguatkan satu sama lain.
Masa-masa ini juga dapat menjadi masa-masa untuk berefleksi dengan diri sendiri, melihat ke
belakang apa-apa yang sudah saya lakukan di masa lalu. Saya pun memilih warna ungu, karena
identik dengan masa permenungan. Ada kesempatan untuk berjumpa dengan diri sendiri dan
Tuhan, di masa-masa yang sulit ini. Benda berbentuk tabung saya pilih menggambarkan pandemi
yang masih berputar di kehidupan ini. Potret seorang remaja di bagian paling depan akan saya
gambar untuk menunjukkan bahwa saya dan teman-teman saya akan siap menghadapi pandemi
ini dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Berbagai macam aplikasi menunjukkan sarana yang masih
mengeratkan satu sama lain dan saling belajar untuk menemukan jati diri serta keunikan yang
dimiliki. Dan, di masa ketika vaksin sudah hadir ini, pengharapan kami menjadi semakin besar
dan optimis akan masa depan yang menanti. Ad Maiora Natus Sum. ‘Aku dilahirkan untuk hal-hal
besar’.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Alexander Reinhard Sinaga
XII IPA-5/02
Dari karya yang telah saya buat. Saya membuat semacam potongan karton yang dibentuk
menyerupai layar komputer dan mouse. Saya awalnya berencana membuat semacam gambar
aplikasi yang serupa dengan Line dan Whatsapp. Yang ingin saya sampaikan melalui gambar itu
adalah pandemi bukanlah suatu alasan dimana komunikasi menjadi berhenti. Komunikasi
sungguh penting bagi kita yang hidup sebagai makhluk sosial.Meskipun, hanya bisa
berkomunikasi secara daring namun komunikasi tidak berhenti ketika kita tetap terus
bersosialisasi secara daring. Mengingat kondisi pandemi saat ini yang sama sekali tidak
memungkinkan untuk bertemu satu sama lain.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Alissa Erin Tangyong
XII IPA-5/03
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Judul: Aklimatisasi
Karya seni yang telah saya ciptakan menggambarkan situasi dimana seorang remaja
harus meninggalkan rumah lamanya dan pindah sendiri ke lingkungan yang baru. “Rumah yang
lama” ini bukan hanya berbicara tentang sebuah tempat, melainkan mencakup orang-orang yang
ikut mewarnainya serta kebiasaan-kebiasan yang telah tertanam di rumah lama tersebut. Karya
ini berbicara tentang meninggalkan sesuatu yang telah membuat kita nyaman untuk suatu hal
yang baru. Dalam “dunia yang lama”, saya menggambarkan beberapa hal yang sering saya
jumpai dalam kehidupan saya sehari-hari selama masa remaja di Indonesia ini, seperti SMA saya,
keluarga saya, motor (gojek), tempat tidur nyaman miliki saya, dan lain-lain. Benda-benda ini
merepresentasikan hal-hal yang identik dengan rumah saya di Indonesia.
Saat beranjak dewasa, saya telah menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan saya
di luar negeri dan puji Tuhan doa saya telah dijawab. Namun, hal ini berarti saya harus
meninggalkan seluruh rumah saya di sini untuk mencari rumah baru di luar sana. Rumah baru
dengan orang-orang dan kebiasaan-kebiasaan yang baru. Hal tersebut direpresentasikan oleh
gambar gedung universitas, layar kaca laptop sebagai tanda mode sekolah online, Opera House
yang menjadi salah satu icon Australia, yaitu negara tempat tinggal baru saya, dan lain-lain.
Semua hal baru ini menanti saya seiring saya beranjak dewasa.
Di tengah kedua dunia tersebut, ada seorang remaja yang merepresentasikan diri saya
yang saat ini sedang berada dalam perjalanan untuk beradaptasi. Ada seorang remaja yang
mempersiapkan dirinya untuk menyambut lembaran baru dalam hidupnya tanpa melupakan
lembaran lama yang telah menghiasi. Warna yang saya gunakan juga menggambarkan
pencampuran antara warna dunia baru dan warna dunia lama, yaitu ungu sebagai hasil
pencampuran dari merah dan biru.
Karya ini sangat personal bagi saya karena merupakan curahan hati saya atas apa yang
sedang saya lalui saat ini, saat saya beranjak dari remaja menjadi dewasa di tengah pandemi.
Karya ini juga membantu saya menjadi yakin bahwa rumah bukanlah suatu tempat, melainkan
suatu perasaan. Dimana saya merasa nyaman, di situ saya berada di rumah. Jadi, saya tidak
perlu takut untuk menghadapi langkah baru dalam hidup saya.
Anselmus Abimayung Prayudi
XII IPA-5/04
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
"Stay Social"
Saya memilih judul tersebut karena kita sekarang sudah jarang bahkan tidak bertemu orang-
orang seperti teman,saudara, atau orang yang sering kita temui saat pandemi melanda dunia
terutama di negara kita. Adanya pandemi ini kita di rumah saja sehingga timbul rasa-rasa yang
merusak suasana kita seperti kebosanan,kangen, rindu, dan lain-lain. Namun adanya sosial media
dalam teknologi sekarang yang sangat canggih, kita masih bisa ngobrol dengan teman-teman
yang kita rindukan. Kita bisa bertemu dengan teman kita lewat sosial media seperti zoom,line
dan lainnya. Sehingga rasa rindu,kangen,dan kebosanan lainnya segera dipulihkan. Singkatnya
saya terkesan dengan memilih judul ini karena kita masih bisa ngobrol dengan teman-teman kita
yang sudah jarang ketemu atau main bareng. Walaupun jauh di mata namun dekat di hati.
Christofer Albert Thendean
XII IPA-5/05
Pada kesempatan menggambar ujian praktek ini sendiri, saya sendiri menggambarkan sebuah
gambar yang menggambarkan 2 orang remaja yaitu seorang perempuan dan seorang laki-laki.
Diantara kedua orang tersebut dihubungkan dengan tangan yang saling memegang pundak dan
melewati layar handphone. Gambar ini sendiri memiliki 2 latar yang berbeda yang satu di kota
dan yang lainnya berada di desa. Dari kedua gambar ini sendiri ingin menyampaikan sebuah
pesan terutama bagi remaja di masa pandemi ini. Dalam masa pandemi ini sendiri kita tidak boleh
berputus asa dan kehadiran kita tetap dapat diketahui oleh dunia. Melalui berbagai kemudahan
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
yang terdapat pada masa sekarang ini, kita dapat dengan mudah terhubung yaitu bisa melalui
berbagai macam sosial media yang ada. Melalui hal ini seharusnya bisa menjadi hal yang sedikit
menggembirakan. Pertemanan Pun juga bisa terjaring melalui media sosial dan waktu serta ruang
dapat dilewati. Tidak perlu berada di waktu dan tempat yang sama, namun bisa saling bertatap
muka secara langsung tanpa harus bertemu. Kita juga tidak perlu ragu lagi sebagai orang muda,
dalam gambar ini juga menyampaikan bahwa kita dapat mengeksplorasi berbagai macam hal di
tengah wabah ini dan bisa berkreasi secara lebih banyak lagi. Sehingga kita bisa tetap hadir dan
bertemu dengan siapapun dan tidak hanya terbatas pada teman saja melainkan lebih luas lagi.
Cara agar kita tetap bisa diakui sebagai remaja adalah dengan cara yang tepat yaitu menyalurkan
berbagai macam bakat dan ide serta kreatifitas yang kita miliki seperti melalui sosial media yang
ada.
Clara Aurelia
XIIA-5/06
Ide dari lukisan yang saya buat adalah di bagian kiri lukisan menggambarkan masa-masa pada
saat masih belajar offline di sekolah. Seluruh kegiatan belajar-mengajar dapat berjalan dengan
lancar dan jauh lebih efektif. Para siswa-siswi jauh lebih cepat menangkap pelajaran yang
diberikan oleh bapak/ibu guru tersebut. Namun sayangnya pada 16 Maret 2020, kita semua
harus melaksanakan pembelajaran secara daring dikarenakan pandemi covid-19. Seluruh
kegiatan dan aktivitas sekolah harus dilaksanakan secara daring. Pembelajaran menjadi kurang
efektif dan sedikit sulit untuk dimengerti oleh sebagian besar murid. Pembelajaran jarak jauh
terasa sangat berat sekali. Rasa malas pun mulai mengontrol tubuh kita. Warna biru tua pada
background di bagian kanan lukisan melambangkan kemalasan, kesedihan, sulit mengerti pada
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
saat belajar, dll. Namun berkat aplikasi seperti zoom meetings, google classroom dan microsoft
word, kegiatan pembelajaran jarak jauh dapat terlaksanakan jauh lebih efektif dibandingkan
pada awal-awal karantina. Zoom meetings dapat kita gunakan untuk bertemu secara virtual
dengan guru-guru dan teman-teman sekelas. Google classroom dapat kita gunakan untuk
membaca materi-materi pembelajaran yang telah diberikan oleh bapak/ibu guru. Microsoft
Word dapat kita gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru.
Masih banyak aplikasi lain yang dapat kita gunakan untuk membantu pelaksanaan PJJ, Setelah
menggunakan zoom meetings, google classroom, dan microsoft word, warna biru tua pada
background perlahan berubah menjadi warna biru muda. Biru muda ini menandakan bangkitnya
kembalinya semangat belajar para murid di masa pandemi ini. Maka teruslah maju walaupun
banyak rintangan.
Cleo Abraham Mordekhai
XII IPS-1/03
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Gambar yang saya buat ini berjudul “Terperangkap”. Maksud dari lukisan saya ini adalah pada
sisi samping lukisan saya menggambar apa yang terlihat seperti bumi, tetapi mengapa bumi
berbentuk seperti kubus/balok. Saya mengibaratkan bumi/dunia yang adalah tempat tinggal kita,
saat ini karena situasi sedang sangat buruk dimana sedang terjadi pandemi di dunia itu maka
bumi yang seharusnya berbentuk seperti bola berubah menjadi kubus/balok yang juga
menandakan bahwa kita terperangkap dan tidak bisa berbuat apa-apa. KIta saat ini terutama
saya sebagai remaja sangat terperangkap di dalam sebuah kotak yang tidak memiliki jalan keluar.
Hal tersebut saya pertegas dengan adanya gambar jendela di bagian sisi atas lukisan saya. Jendela
tersebut menggambarkan bahwa kotak/dunia yang saat ini kita rasakan tidak memiliki jalan
keluar. Sehingga pada lukisan saya hanya terdapat jendela tetapi tidak ada pintu. Kita hanya bisa
melihat dari dalam melalui jendela tersebut. Tetapi jendela tersebut juga menandakan bahwa
meskipun saat ini kita sedang terperangkap, jendela tersebut masih memberikan kita harapan
untuk bisa melihat keluar, seperti kita masih bisa berinteraksi dengan saudara atau teman-teman
kita meskipun hanya melalui cara online dan belum bisa bertemu secara fisik, kita masih bisa
bersekolah melalui cara online, dan masih banyak hal lain lagi yang dapat kita lakukan meskipun
tidak secara fisik. Sehingga selama kita masih punya jendela tersebut maka harapan untuk hari
depan yang lebih baik pasti akan tetap ada juga.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Dexiderio Diamonte Haposan Sianturi
XII IPA-5/07
Gambar kali ini saya membuat ilustrasi yang mewakili perasaan teman-teman saya yang telah
saya lihat. Saya menggambarkan dimana ada siluet seorang siswa yang membungkuk terhadap
beberapa logo yang terkenal dikalangan anak sekolah khususnya kelas 12, yaitu logo Google
Classroom, Zoom Meeting melambangkan sekolah, LTMPT, Inten, dan BTA melambangkan
tuntutan siswa tersebut yaitu berjuang untuk mengikuti SBMPTN. Lalu diatas dan dibawah siswa
tersebut terdapat balon bicara yang tergambar bahwa siswa tersebut kini tidak dapat
menyampaikan perasaannya dan kehilangan pertemanannya, juga mengalami tekanan yang
begitu besar. Disekitar terdapat bola-bola merah yang berbentuk seperti virus yang menandakan
bahwa ada Virus Corona disekitarnya. Siswa tersebut juga terlihat menggunakan masker selagi
membawa tas sekolah. Seperti yang sudah saya singgung diatas, saya menggambar ini
berdasarkan curhatan teman-teman saya yang sedang berjuang ditengah pandemi ini, dimana
mereka harus belajar untuk lulus dari SMA, juga untuk mempersiapkan ujian bersama menuju
PTN yang mereka harapkan. Tidak sedikit dari mereka yang bercerita kepada saya bahwa mereka
sering kali hilang motivasi namun mau tidak mau harus melakukan kewajibannya atau mereka
akan gagal sehingga seringkali mereka tertekan saat menjalankan kewajiban mereka. Sebenarnya
saya prihatin melihat kondisi teman-teman saya, maka saya berusaha sebisa saya untuk tetap
mendukung dan menyemangati teman-teman saya yang sedang berjuang menghadapi rintangan
ditengah pandemi ini.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Dionisius Devio Ezra Prasetyo
XII IPA-5/08
Informasi mengenai karya seni:
Dalam masa pandemi ini, masa remaja banyak habis di dalam rumah saja. Untuk itu, salah satu
hal yang dapat dilakukan oleh remaja adalah memanfaatkan teknologi Internet. Dengan
menggunakan Internet, kita dapat melakukan chatting, bertemu secara virtual dengan berbagai
aplikasi video call, mencari bahan untuk belajar, sekaligus mencari informasi tentang pandemi
yang sedang berlangsung ini. Seluruhnya dilambangkan dalam gelembung-gelembung yang ada
pada gambar. Namun, dalam menggunakan Internet, para remaja juga harus memperhatikan
waktu, yang dilambangkan oleh jam pasir dalam gambar.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Gabriel Posenti Garrin Primaditya Dwianta
XII IPA-5/09
Ide dari Gambar
Konsep yang saya ambil adalah kondisi seseorang dalam masa pandemi ini. Saya menggunakan
cat air dan besek sebagai media gambar karena banyak di rumah. Warna yang saya pakai hanya
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
warna merah, hitam dan biru muda. Saya menggunakan warna merahh dan hitam sebagai warna
dominan untuk mendeskripsikan keadaan pada masa pandemi yaitu gelap dan mencekam. Ada
gambar matahari hitam, yang seharusnya matahari memberikan cahaya yang menenangkan
matahari di konsep saya adalah matahari hitam yang memberikan keputus asaan. Lalu saya
menggunakan warna merah untuk warna langit sehingga kesannya langit nya berwarna merah
darah yang mencekam. Lalu ada orang yang berwarna biru terang melambangkan orang yang
masih berusaha untuk tenang menerima keadaan belum tercemari keputusasaan. Masih dapat
bersinar di dalam masa-masa gelap. Di sekitar orang banyak yang mati dia masih berusaha untuk
tidak jatuh dalam keputusasaan. Karya saya ini terinspirasi pada keadaan saya dulu waktu h-1
UAS semester 2 kelas 11. Disitu saya dalam keadaan sangat-sangat sedih karena kakek saya yang
di jogja meninggal setelah terkena covid-19. Seketika dunia terang yang saya lihat menjadi gelap.
Makin lama bukannya membaik tapi makin memburuk karena banyak orang meninggal. Dunia
yang saya lihat telah berubah. Jadi dari situ sumber inspirasi saya. Seseorang yang tetap berusaha
berdiri tegak ketika banyak orang jatuh, putus asa dan mati di masa-masa yang gelap ini.
Giacinta Challysta Chrisandi
XII IPA-5/10
Karya saya dinamakan “Tidak Runtuh Diterpa Badai”
Alasan saya memilih nama tersebut adalah kaum muda (termasuk saya) memang rata-
rata sangat terpengaruh oleh lingkungan, terutama pertemanan. Rasanya… seperti kosong ketika
tidak bersama teman untuk sehari saja. Namun, di keadaan pandemi ini, pribadi seorang muda
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
juga harus kuat. Menjauhkan diri dari sesuatu yang menjadi adiksi memang tidak mudah. Itu
termasuk dalam sebuah perjuangan hebat.
Menahan diri untuk dirumah, bersama keluarga 24/7 merupakan tantangan yang cukup
berat. Kita tidak pernah tahu yang sebenarnya terjadi di dalam rumah. Apakah damai? Apakah
komunikasinya baik? Atau adakah kegiatan bersama yang bisa menghilangkan penat? Belum
tentu. Ditambah kegiatan belajar mengajar yang kesannya hanya memberikan tugas dan tugas
saja, karena perasaan sepi dan jenuh itulah kaum muda merasa sangat berat.
Di lukisan saya, tepat di tengah tergambar 2 topeng yang berbeda. Topeng pertama di
kanan menunjukkan bahwa walaupun ada pandemi, kaum muda masih bisa tersenyum bahagia.
Sedangkan, di sebelah kiri bawah, topeng yang menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Keduanya menunjukkan perasaan yang bertolak belakang. Mungkin kita bisa melihat orang lain
tersenyum, tapi kita tidak selalu tau dengan keadaan hati yang sebenarnya.
Di sekitar topeng tersebut, terdapat aplikasi-aplikasi yang sangat banyak digunakan ketika
pandemi. Ada Zoom, Google Classroom, Instagram, Whatsapp dan lain-lain. Ini menggambarkan
bahwa pastinya kita sudah hidup dengan aplikasi tersebut untuk menjalankan keseharian. Ini juga
berarti kehidupan sosial tetap harus berjalan walaupun secara virtual.
Di bagian dalam, ada bagian hitam penuh dengan bintang-bintang. Itu saya artikan
sebagai atap rumah, yang walaupun kadang gelap, tapi tetap bisa indah didalamnya kalau kita
mau saling memperhatikan dan tetap bersyukur apapun keadaan kita.
Terakhir, di bagian luar, saya menggambarkan bumi. Artinya, apapun yang terjadi di dunia
saat ini, kehidupan tetap harus berjalan. Bumi tidak berhenti berputar, begitu juga roda
kehidupan. Terutama para kaum muda, harus bisa mencari jalan keluar atas apapun rintangan
yang dihadapi. Kami juga harus bisa menjadi pelopor untuk menemukan hal-hal baru supaya
mendukung kehidupan di masa depan.
Suasana yang saya gambarkan memang terlihat menyedihkan, tetapi selalu ada celah
dimana saya bisa melihat titik cerah dalam kesedihan tersebut.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Harvinder Singh
XII IPA5/11
Dimensi : 30 x 27 cm.
Ide gambar luar : Saya memilih rumah karena rumah merupakan tempat tinggal yang permanen
dan ketika pandemi ini kita selalu berada dalam rumah dan tidak keluar-keluar.
Ide gambar dalam : Saya memilih untuk menggambar kegiatan-kegiatan yang saya lakukan
selama di rumah agar bisa tetap aktif dan menunjukkan eksistensi saya melalui aktivitas sehari-
hari. Selain itu ada waktunya ketika di rumah saat pandemi ini menjadi lebih banyak waktu
bersama keluarga, sehingga saya bisa membahas mengenai kegiatan di sekolah dan mungkin
kuliah bagi saya sendiri sembari menonton bareng atau makan bareng. Saya menggambarkan
ilustrasi tersebut berdasarkan kegiatan saya sehari-hari.
Teknik : membuat sketsa dengan pensil lalu diwarnai dengan spidol dan pensil warna lalu
ditebalkan dengan drawing pen sketsa pensil tadi.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Joseph Mikael Egar Mahardhika
XII IPA-5/12
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Alasan memilih ilustrasi tersebut karena menurut saya dari ilustrasi saya, saya melihat
banyak sekali kemiripan dengan anak muda yang sedang beranjak dewasa. Tema besar dari
ilustrasi saya adalah Laut, Mengapa memilih laut? karena saya melihat kemiripan suasana remaja
dengan suasana laut yang bergerak begitu bebas dan begitu liar sangat tidak pasti dan mudah
berubah dengan cepat, layaknya suasana hati dan sosial remaja yang masih labil dalam
menentukan sesuatu. Lalu saya juga menambahkan gambar kapal, kapal disini melambangkan
individu individu dari remaja itu sendiri, terombang-ambing kesana kemari mengikuti keadaan
dan tidak bisa mengontrol nya tetapi kita bisa mengontrol kemana kita akan pergi jika kita
mengatur layar kita dengan benar. Ada juga garis putih yang diberikan aksen garis merah, garis
ini melambangkan mercusuar. Mengapa mercusuar? saya melihat mercusuar ini seperti kekuatan
dari atas yang maha kuasa, kita tidak tahu pasti siapa yang ada disana tetapi yang kita tau kita
akan selalu ditunjukkan jalan oleh “mercusuar” itu. Lalu yang terakhir, mengapa memilih sepatu
sebagai tempat menaruh ilustrasi tersebut? karena dengan sepatu saya ingin menggambarkan
bahwa dalam kehidupan remaja ini kita harus terus maju terlepas dari suasana, masalah, dan
segala kebingungan yang kita alami. Kita harus tetap bergerak karena semua ini tidak selamanya
dan pasti ada akhirnya dan untuk melihat akhir dari semua kita harus terus maju.
Joshua Sebastian Hugo Hammal
XII IPA-5/13
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Ide Gambar
Gambar ini dibikin sesuai ide mengenai permasalahan perkembangan remaja di masa
pandemi. Ada beberapa hal yang bisa diambil dari hasil seni tersebut.
Pertama adalah kedua tangan, tangan yang dibawah adalah tulang manusia sedangkan di
atas adalah tangan manusia yang utuh. Tulang tangan menggambarkan remaja yang istilahnya
sudah sekarat akibat tinggal di rumah terus. Tangan tersebut mencoba mencari bantuan namun
bingung mau kemana. Sehingga latarnya gelap gulita layaknya buta arah. Tangan manusia utuh
melambangkan teman dan keluarga yang mencoba untuk membantu si remaja. Latarnya
memiliki warna yang cerah karena memberikan sebuah suasana hangat dan masa depan yang
cerah.
Kedua adalah bentuk kertas seperti jam pasir. Ini melambangkan waktu yang penting
untuk perkembangan remaja. Remaja harus secara cepat dibantu untuk perkembangan mereka
karena sebentar lagi mereka akan memasuki masa dewasa yang penuh disiplin dan budaya yang
ketat.
Dan itulah ide yang ada pada gambar tersebut. ini dilatarkan karena banyak sekali remaja
yang kurang bisa berkembang akibat isolasi yang lama. Keluarga, teman, maupun sekolah harus
bisa menolong mereka sebelum waktu remaja mereka habis.
Kasimirus Lambok
XIIA-5/14
Cermin Bahagia
Refleksi berasal dari kata Re dan Flectere. Re berarti kembali, Flectere berarti cermin.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Refleksi berarti kembali bercermin. Hal ini lah yang menjadi ide saya dan latar belakang saya
dalam pemilihan gambar. Remaja madya dihadapkan dengan berbagai macam pilihan yang
membuatnya menjadi pribadi yang dewasa. Di usia 15-18 tahun ini, merupakan situasi yang
membingungkan dalam pencarian jati diri. Banyak orang tua akhirnya memberikan kebebasan
bagi anak-anaknya dalam memilih jalan yang terbaik untuknya. Namun, dengan kebebasan yang
diberikan, apakah remaja madya itu bisa benar-benar memilih dengan benar? Ilustrasi yang saya
buat adalah seorang pemuda sedang bercermin di kamar mandi rumahnya, tersenyum dengan
hasil imajinasi cerminan kesuksesannya sendiri. Poin permenungan yang gambarkan ini yaitu
cermin, kamar mandi, dan tersenyum.
Cermin itu sendiri merupakan inti permenungan saya, yaitu refleksi. Refleksi diri adalah
proses perenungan dan analisis terhadap diri sendiri tentang segala kebiasaan, pikiran, perasaan,
dan keputusan yang telah dilakukan selama menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan itu, saya
belajar untuk lebih memahami diri dan mengetahui segala kelebihan dan kekurangan yang saya
miliki. Di situasi pandemi ini, saya sendiri sebagai seorang remaja madya tidak bisa pergi kemana-
mana. Saya pernah mengalami kesepian dan hidup yang berjalan tanpa arah. Refleksi membantu
saya. Waktu senggang yang lebih banyak karena selalu di rumah memberikan kesempatan lebih
untuk saya dalam berefleksi. Refleksi diri membantu saya bahwa dalam kehidupan di dunia,
eksistensi adalah sebuah kebahagiaan semu. Dengan segala kesadaran akan kelemahan dan
kelebihan yang direnungkan selama refleksi, saya mengetahui hal-hal yang semestinya dilakukan
dan diperbaiki, serta membuat saya mengerti batasan yang saya miliki. Niat-niat yang sudah saya
bangun selama refleksi pada akhirnya akan berbuah sukses di kemudian hari. Situasi pandemi ini
sudah seharusnya menjadi kesempatan para remaja madya untuk meluangkan diri berefleksi.
Kesempatan yang berharga ini jangan disia-siakan, mengingat sebelum pandemi ini, para remaja
memiliki kesibukan yang lebih daripada setelah pandemi.
Kamar mandi merupakan tempat yang ajaib menurut saya. Di kamar mandi, saya seakan
menjadi diri sendiri. Melepas segala perasaan dan imajinasi selama mandi. Kamar mandi itu
sendiri maknanya adalah dalam segala situasi apapun sebelum pandemi atau tidak, saya sadar
untuk semakin mencintai diri sendiri apa adanya. Kesadaran akan diri sendiri yang demikian
membuat saya lebih optimis. Selama pandemi, sosial media menjadi ajang bagi para remaja
untuk menunjukkan kehebatan mereka masing-masing. Saya menyadari bahwa setiap manusia
adalah pribadi yang unik, jadi postingan teman-teman saya yang luar biasa keren itu bukan
membuat saya menjadi minder dan malah membanding-bandingkan. Saya justru bisa
mengapresiasi dan memuji kehebatan teman-teman saya sebagai wujud syukur saya juga. Kamar
mandi adalah menjadi diri sendiri.
Tersenyum sendiri adalah bahagia pada pilihan sendiri. Kesuksesan atau pemaknaan
eksistensi sendiri bukan tergantung pada suatu materi, banyaknya uang, berapa banyak likes
pada sosial media, bukan itu. Bahagia adalah pilihan. Melalui refleksi, saya semakin bisa
menikmati hal-hal sederhana. Langit cerah, hidup damai, hembusan kuat nafas segar, dan
sebagainya. Saya menemukan makna dari setiap pengalaman, entah baik atau buruk.
Kesimpulannya, kemampuan berefleksi membantu saya untuk berdiskresi untuk memilih dengan
hati yang bebas dan bahagia, membantu saya semakin mencintai diri sendiri dalam pencarian jati
diri.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Made Adistha Subaga
XII IPA-5/15
Jawaban soal:
1. Dari narasi diatas saya merasakan bahwa pada masa pandemi ini banyak remaja yang
berkembang untuk menjadi lebih baik. Walaupun banyak dari mereka terpisah untuk
bertemu secara offline mereka tetap dapat berhubungan secara online, dan mereka ada
yang berkembang membantu sesama secara offline.
2.
Dari jawaban saya no 1 saya membuat seni seperti gambar. Alasan saya melukis seni saya di
speaker, karena speaker melambangkan suara dan penguat opini. Remaja akan melanjutkan jejak
pendahulunya oleh karena itu speaker/pengeras suara ini menjadi lambang untuk menjadikan
jalan tersebut lebih bagus. Saya memulai mengecat speaker saya dari belakang ke depan karena
dan membuat objek membesar dari belakang ke depan karena menurut saya itu melambangkan
perkembangan dari awal pandemi ke sekarang (mulai beradaptasi). Bentuk dan warna yang
berbeda di tiap speaker karena tidak semua remaja memiliki pemikiran yang sama, mereka akan
saling berargumen untuk menghasilkan outcome terbaik dari kedua pemikiran yang berbeda.
Warna putih dan ciprakan-ciprakan putih yang ada di speaker adalah ilmu yang belum diterima
dan difilter yang akan diterima pada akhirnya.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Marcelius Ray Gunawan
XII IPA-5/16
1. Gambar Karya Seni
2. Ide dan Latar Belakang Gambar
Tema
Gambar yang saya buat ini sebenarnya dengan konsep jam pasir yang memiliki arti kita semua
berada di situasi yang sama yaitu pandemi COVID - 19 tetapi dengan makna jam pasir yaitu waktu
tetap berjalan sehingga mengharuskan semua orang khususnya remaja untuk bisa menemukan
cara baru untuk beradaptasi dan cara yang lain untuk mencari jati diri dan menggapai cita cita
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
sehingga pandemi seperti saat ini bukan menjadi halangan yang memberhentikan semua cita cita
dalam diri seorang remaja melainkan suatu tantangan untuk bisa semakin mengejar dan bisa
mendapatkan nya serta menjadi orang yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lain karena
sebagai pejuang COVID - 19 juga pejuang untuk diri sendiri dalam meraih cita - cita
Isi Gambar
Pada isi gambar dapat dilihat pada bagian atas adalah pohon dengan rantai yang ada tanpa daun
yang lebat dan menjatuhkan beberapa bentuk daun yang berwarna warna dan posisinya terbalik
menuju pohon yang tumbuh subur dengan rumput rumput hijau dan beberapa batang pohon
yang masih kecil dan akan tumbuh. Makna dari isi gambar ini adalah ketika jam pasir sudah dibalik
maka waktu akan mengalir dan disini jam pasir sudah dibalik sehingga waktu sudah mengalir.
Suatu kehidupan manusia pasti menuju kepada suatu cita cita atau mimpi yang harus digapai
dengan susah payah dan harus berjuang secara kuat sehingga bisa mendapatkan impian yang
sudah di cita citakan sejak kecil. Pada gambar pohon tanpa rantai digambarkan sebagai masa lalu
yang sudah terjadi kemudian banyak daun daun dengan warna yang berbeda beda jatuh memiliki
makna bahwa banyak pelajaran yang sudah didapatkan dan bisa dibawa ke masa depan yang
sangat cerah dan subur. Kemudian gambar pohon yang subur dan rerumputan digambarkan
sebagai cita cita yang akan dituju, digambarkan secara cerah dan subur karena cita cita
merupakan suatu yang indah dan bermanfaat bagi diri manusia sendiri dan bisa berguna juga
untuk orang lain. Intinya adalah Masa lalu yang sudah terjadi membawa beberapa pelajaran
penting untuk bisa dibawa sebagai bekal nantinya untuk menggapai cita cita yang indah.
Komposisi Warna
Jam pasir memiliki warna coklat tua pada umumnya, tetapi saya memberi warna hitam dan coklat
tua pada bagian atas sebagai bukti bahwa masa lalu dengan latar yang kurang berwarna dan
kurang cerah kemudian menjadi warna biru tua sebagai warna latar dari rantai pohon tanpa daun
kemudian terjadi transisi warna menjadi warna biru laut disaat pelajaran pelajaran yang sudah
didapatkan untuk menggapai cita - cita. Akhirnya setelah sampai pada impian kita, warna menjadi
cerah seperti langit biru muda yang indah. Terakhir, warna dasar jam pasir menjadi warna coklat
muda sebagai bukti bahwa dasar dari cita cita adalah selalu terang dan memiliki masa depan yang
cerah sehingga sebagai manusia khususnya remaja harus bisa untuk meraih cita cita yang sudah
di impikan, jangan sampai menyerah ditengah jalan karena warna yang cerah selalu ada di depan
mata.
Kesimpulan
Kesimpulan gambar ini adalah perubahan dari masa yang lalu sampai ke masa depan dan
membawa berbagai pelajaran penting untuk bekal di masa depan dalam meraih dan menggapai
cita cita. Di masa pandemi ini, semua orang semakin kreatif dan inovatif dalam mencari cara agar
semua yang dibutuhkan bisa didapatkan sehingga membuat manusia menjadi lebih kreatif dan
mau mengutarakan ide yang dimiliki nya untuk menggapai cita cita dan mencari jati diri sehingga
berhenti di masa pandemi bukanlah suatu pilihan. Pertanyaan nya adalah sebagai remaja apakah
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
berani untuk terjun meninggalkan masa lalu dan kebiasaan lama untuk bisa berubah dan meraih
cita cita yang sudah di impikan demi diri sendiri dan banyak orang lain?
Maria Goretti Kalinda Darma
XII IPA-5/17
Teman-teman yang mengakui eksistensinya mungkin bukan lagi menjadi prioritas bagi remaja di
masa-masa seperti ini, terutama remaja seusia saya yang sebentar lagi akan meninggalkan masa-
masa SMA dan harus mempersiapkan diri untuk menghadapi jenjang selanjutnya (entah itu
kuliah ataupun hal-hal lainnya). Menurut saya, yang remaja butuhkan saat ini adalah kepastian
mengenai apa yang mereka ingin lakukan di masa depan dan bagaimana mereka mencari serta
mengenal jati dirinya. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, mereka juga harus mempertahankan
hubungannya dengan teman-temannya (hubungan sosial mereka harus tetap terjaga). Cara
untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan tersebut (menurut saya) berbeda untuk tiap remaja.
Oleh karena itu, tidak heran apabila remaja memiliki banyak kekhawatiran yang akhirnya
membuat pikiran mereka terpenuhi oleh berbagai macam hal. Saya pun merasakan hal yang
sama. Saya harus bisa membagi waktu dan pikiran saya ke berbagai macam hal. Mulai dari
persiapan kuliah dan BTA hingga tugas-tugas serta ujian yang sekolah selenggarakan. Di saat yang
bersamaan, saya juga harus menyempatkan waktu untuk diri saya sendiri dan menjaga
komunikasi dengan teman-teman saya. Di masa pandemi seperti ini yang mengharuskan kita
berada di rumah dan melakukan segala sesuatunya dari rumah membuat saya mengingat
kembali hal-hal yang dulu suka saya lakukan namun terhalang karena padatnya jadwal. Hal-hal
seperti berkreasi dengan tanah liat, melukis dengan tinta cina, menyelesaikan drakor dan series,
dan sebagainya. Melakukan hal-hal tersebut ternyata membuat mood saya membaik dan saya
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
pun menjadi senang. Oleh karena itu, saya sangat bersyukur masih bisa menemukan hal-hal baik
di masa sulit seperti ini. Dari sana lah saya akhirnya memiliki ide untuk mengerjakan ujian praktik
seni. Saya membuat ilustrasinya di bagian belakang tempat kacamata dan membaginya ke dua
sisi. Sisi kiri yang berhubungan dengan pelajaran dan masa depan (BTA, Google Classroom, Zoom,
dan kacamata) dan sisi kanan yang berhubungan dengan hal-hal yang saya sukai (LINE, kissasian
untuk menonton drakor, Spotify, dan tanah liat). Lalu, di bagian tengah ada orang yang berlatar
hitam dan memiliki bulatan-bulatan warna. Orang itu saya anggap sebagai diri saya sendiri
(remaja) yang mulai mengenal dan memberi ‘warna’ untuk dirinya. Dari warna-warna tersebut,
orang itu pun mulai mengetahui apa yang ingin ia lakukan dan bagaimana prosesnya dalam
menemukan jati dirinya.
Mary Grace
XIIA-5/18
Ujian Praktek Seni Budaya
Latar Belakang/Ide Lukisan :
Pertama-tama saya menggambar diatas media tote bag/tas berbahan blacu, suatu hal
yang baru bagi saya sekaligus menantang bagi saya yang seorang amatir dibidang menggambar
dan melukis. Kemudian ketika membaca ilustrasi teks yang diberikan oleh guru hal yang pertama
terpikirkan oleh saya tentu adalah segala platform-platform dan aplikasi online yang menjadi
lebih sering digunakan semenjak karantina ini. Sebagai seorang extrovert, saya pribadi merasa
sangat kesepian karena tidak dapat bertemu secara langsung dengan teman-teman saya, dan
memang benar kebutuhan untuk diakui atau merasakan peran diri saya sendiri ditengah
komunitas sosial memang sangat sulit. Satu-satunya cara yang saya anggap paling baik untuk
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
semuanya adalah melalui aplikasi-aplikasi online seperti yang terlukis ada Line, Whatsapp,
Instagram, Hangout, Zoom, Snapchat, dll.
Melalui aplikasi-aplikasi itu saya bisa merasakan kedekatan dan kebersamaan dari teman-
teman, keluarga dan sesama siapapun itu diluar sana secara lebih dekat. Ditengah gambar
terdapat kotak-kotak kecil yang saya ibaratkan sebagai layar yang saya tatap setiap hari untuk
bertemu dengan teman. Untuk dapat terus bersosialisasi, menyatakan kehadiran saya ditengah
lingkungan sosial, saya terus bersuaha menjalin komunikasi dengan teman-teman saya melalui
video call, dll. Warna-warna cerah yang saya berikan didalam layar-layar video call bermakna
harapan, energi positif, kebahagiaan yang saya dapatkan dan juga berikan saat saya sedang
bersosialisasi. Kemudian ada juga beberapa bendera yang saya gambarkan ditengah layar-layar
itu sebagai simbolisasi bagaimana sebenarnya situasi ini bisa menjauhkan yang dekat (saya
dengan teman sehari-hari saya di sekolah) namun juga bisa mendekatkan yang jauh. Sebagai
contoh nyata, saya menjadi lebih dekat dengan teman saya yang berada di Amerika semenjak
karantina ini karena kami semua menjadi lebih terbiasa dengan platform-platform online ini,
perbedaan waktu dan hari bukanlah lagi menjadi masalah. Kemudian juga saya bisa berkenalan
dengan beberapa budaya/teman baru dari negara-negara lain. Bagi saya pribadi, kebutuhan
untuk bersosialiasi sangatlah penting untuk perkembangan diri saya, dan dengan cara ini saya
merasa karantina bukanlah menjadi penghalang bagi saya, justru saya menjadi lebih mengerti
dan mendapat banyak kesempatan untuk belajar dan melihat banyak hal baru.
Kemudian Figur-figur yang ada, tentu yang ditengah itu adalah saya yang kemudian
disamping kanan dan kiri saya ada ibu dan bapak saya. Ibu saya yang kebetulan sakit sejak taun
lalu dan juga ayah saya, yang tidak pernah lelah dalam mendukung saya. Dengan adanya
karantina ini saya menjadi lebih dekat dengan kedua orangtua saya. Sebagai anak tunggal yang
kedua orang tuanya bekerja, sebelumnya kami hanya memiliki waktu dimalam hari itupun kalau
saya tidak sibuk dengan sekolah dan mereka tidak terlalu lelah setelah bekerja. Dengan segala
kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, mereka tanpa lelah mendukung dan mensupport
saya dari belakang, menuntun dan memastikan saya untuk selalu berada di jalan yang benar dan
berani untuk maju tanpa takut apa yang berada dibelakang saya karena mereka menjaga saya.
Adanya gambar kedua orang tua saya disitu adalah karena saya ingin menunjukkan betapa
orangtua saya memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan diri saya, mereka selalu
berusaha yang terbaik untuk memenuhi kebetuhan perkembangan saya baik secara material
maupun mental.
Dibagian paling atas/belakang terdapat jendela yang diluarnya tergambar langit biru
dengan beberapa virus bertebangan sebagai simbol dari keadaan pandemic Covid-19 saat ini.
Disini saya ingin menyampaikan bahwa walaupun virus corona menguasai dunia saat ini, namun
warna biru cerah yang saya berikan di langit merupakan makna bahwa besar bagi harapan kita
semua untuk dapat bangkit dan sembuh dari situasi malang sementara ini. Jendela ini saya taruh
paling belakang dengan makna, bahwa virus corona ini tidak akan bisa dilawan apabila kita egois
dan maju secara individu. Oleh karena itu kita semua harus bersatu untuk mewujudkan harapan
yang cerah itu, dalam konteks ini, saya, kedua orang tua saya, dan teman-teman saya, bersatu
dan mewujudkan harapan dan kebutuhan kita masing-masing secara bersama demi kebaikan
bersama pula.
Sebagai penutup, mungkin saya pintar dalam mendeskripsikan apa yang saya lukiskan
pada media tas sederhana ini, namun secara garis besar hal yang ingin saya sampaikan adalah,
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
pandemic covid ini memang berat bagi kita semua dan tidak ada yang tau pasti kapan ini semua
akan berlalu. Pandemi ini menjadi tantangan bagi setiap pribadi, dalam hal ini kami para remaja
menjadi semkain sulit menemukan tempat/peran kami ditengah lingkup masyarakat dan teman-
teman. Namun bukan berarti pandemic ini akan menghentikan perkembangan kita untuk
menjadi pribadi yang dewasa dan mengenal diri kita sendiri serta lingkungan kita. Banyak cara
bagi kita remaja untuk dapat perlahan menemukan jati diri kita, bagi saya pribadi saya
melakukannya dengan tetap menjalin komunikasi yang baik dan seadanya dengan teman-teman
saya melalui aplikasi-aplikasi dan platform online. Selain itu menjaga relasi yang baik dengan
keluarga juga menjadi salah satu pendukung utama bagi saya untuk dapat mengembangkan diri.
Melalui karya ini saya ingin menyampaikan pula harapan yang lebih baik, apabila kita tidak egois
dan berfokus pada setiap hal baik yang ada.
Nathania Asalee
XII IPA-5/19
JUDUL GAMBAR 'Penjara Terindah' / 'The Most Beautiful Prison'
LATAR BELAKANG GAMBAR Kesan pertama yang terlintas di benak saya saat membaca narasi
singkat "Metamorfosis Masa Remaja" adalah terperangkap. Terperangkap akibat pandemi
COVID-19 yang melanda seluruh pelosok dunia. Dalam hal ini tidak hanya terperangkap secara
fisik di tempat tinggal masing-masing, tetapi terperangkap dalam rutinitas sendiri, terperangkap
dalam jatuh bangun sendiri, terperangkap dalam keterbatasan dan kekurangan sendiri, dan
masih banyak lagi. Saya menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan, keberadaan orang lain
adalah hal yang sangat penting, hal yang menentukan siapa diri kita dan akan jadi siapa diri kita.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Sebagai remaja, di transisi emas ini, masa akhir sekolah masuk ke perkuliahan, adalah waktu yang
sangat berpengaruh di hidup saya. Dalam kurun 1 tahun terakhir, saya mengalami banyak
perubahan, dari cara berpikir, cara menghadapi kenyataan, cara menilai orang, dan cara
beradaptasi di suatu tempat baru. Dalam kurun 1 tahun ke depan, saya merasa akan
mengepakkan sayap saya selebar mungkin menyusuri dunia, terjun ke kenyataan yang paling
nyata, dan merintis lika-liku hidup sendiri. Namun pandemi ternyata menelan semua ekspetasi
dan harapan saya, menahan kepakan sayap saya, bahkan menahan saya untuk keluar dari zona
nyaman saya, perlindungan saya. Perasaan dan kesan ini saya tuangkan dalam gambar
kepompong-kepompong yang bukan berisi ulat sutra, namun berisi manusia, tepatnya remaja
yang tampak sedih. Pandemi ini membuat para remaja, termasuk saya, tidak bisa mengepakkan
sayap menjadi kupu-kupu cantik. Kami terperangkap didalam kepompong buatan kami masing-
masing, entah sampai kapan hingga akhirnya kami bisa keluar dari kepompong tersebut. Setiap
waktu yang terbuang didalam kepompong itu, tidak bisa digantikan, tidak bisa dikembalikan, dan
tidak bisa dibayarkan. Inilah penjara terindah kami, keterbatasan kami masing-masing, tanpa ada
orang lain yang bisa melengkapinya.
ALAT Cat Air (Watercolor), Drawing Pen, dan Brush Pen
BAHAN Watercolor Paper
Nikitta Pristia
XII IPA-5/20
Media : Watercolor Paper, cat air, pensil, selotip, gunting
Setelah saya berusaha membaca dan memahami artikel ‘Metamorfosis Masa Remaja’, saya
kemudian berfokus pada satu bagian yaitu “Kebutuhan – kebutuhan yang semula bisa dipenuhi
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
tanpa kesulitan, sekarang menjadi mimpi yang untuk mewujudkannya perlu usaha baru.”
Sejujurnya saat awal karantina, saya merasa semua akan tetap baik-baik saja melainkan hal ini
memberikan saya waktu untuk berefleksi sendiri, melepaskan diri sejenak dari keseharian saya
yang sibuk setiap harinya. Namun, ketika karantina ini diperpanjang dan hingga saat ini hampir 1
tahun penuh, saya mulai merasakan lelah bertubi-tubi, bukannya terlepas dari kehidupan sehari-
hari yang sibuk dan monoton, saya malah menciptakan rutinitas kehidupan saya lainnya yang
lebih sibuk, lebih monoton, dan lebih membosankan. Bahkan menurut saya, kehidupan saya saat
ini jauh lebih tidak sehat dan tidak berguna dibanding kehidupan saya sebelum karantina. Maka
itu, saya merenungkan kalimat itu sambil memikirkan pengalaman saya pribadi untuk
mendapatkan ide konsep ini.
Pada dasarnya, saya ingin menekankan tentang situasi yang saya rasakan saat ini dimana saya
merasakan kesepian di tengah keramaian, dan merasakan kekurangan di antara segala hal yang
saya miliki. Pada karya saya, saya menggambarkan seorang anak sendirian berdiri di tanah bumi
ini yang menggambarkan perasaan kesepian dimana ada keramaian di bumi. Saya juga
menggambarkan pohon-pohon di pinggir bukit. Hal ini menggambarkan semua hal yang
sebenarnya saya miliki saat ini tetapi terasa jauh bahkan tidak ada, seperti teman-teman,
sekolah, dan lain sebagainya. Lalu saya menggambarkan langit yang indah dan dilengkapi
bintang-bintang, hal ini yang mewakili 2 hal yaitu, mimpi-mimpi indah saya yang ingin saya gapai
dan beberapa ‘kebutuhan’ yang belum saya miliki namun kedua hal ini terlalu jauh dari saya dan
sulit untuk dicapai. Saya juga menggambarkan anak remaja itu sedang mengangkat salah satu
tangannya dengan maksud berusaha meraih bintang-bintang itu. Lalu, ada sinar besar di sekitar
anak itu, hal ini maksudnya adalah hal-hal yang ada didekatnya namun ia melupakannya dan
hanya melihat kearah bintang-bintang. Bagi saya, sinar itu saat ini adalah kedua orangtua saya
yang mungkin mereka tidak terlihat banyak membantu saya dalam menjalani semua kesulitan
saya saat ini, tetapi saya bisa bertahan berkat mereka yang selalu mendoakan saya, mendukung
saya, memikirkan, juga mengurus saya, bahkan selalu berusaha memenuhi kebutuhan saya. Jadi,
inti dari ilustrasi yang saya gambarkan ini adalah meskipun semua hal terasa jauh dan hilang di
saat pandemi seperti ini, pasti ada kok yang menguatkan kita untuk terus maju menggapai hal-
hal itu dan mimpi adalah awal kesuksesan kita nanti.
Jadi, menjawab pertanyaan yang ada, menurut saya kebutuhan saya sebagai seorang remaja
tidak berubah sebelum maupun sesudah pandemi. Lalu, cara yang bisa saya tempuh saat ini
untuk memenuhi kebutuhan saya adalah mengubah pandangan saya dan lebih melihat dari apa
yang saya miliki terlebih dahulu dan terus melangkah maju.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Raphael Christopher Suharso
XII IPA-5/21
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Proyek ujian praktek ini adalah sebuah kubus dengan ilustrasi pada semua sisi. Pada
bagian atas ada gambaran manusia yang gembira dalam latar belakang putih, sedangkan pada
bagian bawah yang tertutup terdapat gambaran manusia yang merasa sedih dalam latar hitam
yang invers dibandingkan bagian atas. Pada sisi lain kubus merupakan ilustrasi inti yang
dikembangkan dari teks yang diberikan. Ilustrasi tersebut menceritakan seorang remaja yang
sedih dan depresi karena banyak hal negatif yang sedang terjadi dalam kehidupannya seperti
Coronavirus, masalah finansial, masalah sosial, dan stress dari sekolah. Kemudian matanya ditarik
pada sebuah komputer dan mulai menggunakannya. Seiring waktu remaja tersebut menjadi lebih
gembira dan pikiran negatifnya hilang.
Ide yang saya dapatkan dari teks yang diberikan adalah teknologi yang membantu remaja
pada masa pandemi ini. Komputer pribadi merupakan salah satu teknologi yang paling
membantu dalam kondisi di mana interaksi tatap muka sangat terbatas. Komputer
memungkinkan beberapa kegiatan tatap muka secara online dengan aplikasi dan website
tertentu seperti “google classroom” dan media sosial. Remaja ini memiliki badan putih untuk
melambangkan keadaan remaja sebagai kanvas kosong yang akan diisi dengan personalitas dan
lain-lain. Awan putih pada sisi samping terakhir mewakili permulaan kreativitas dan rasa
kenyamanan, serta awan tersebut memakan tempat yang sebelumnya terisi dengan pikiran
negatif dan membuat latar belakang lebih cerah. Gambar pada atap dan alas kubus merupakan
invers dari sesama yaitu warna dan emosi remaja. Gambaran di alas kubus lebih mengarah pada
perasaan negatif karena melambangkan bahwa dalam setiap orang bisa ada sisi yang tidak
terlihat dan biasanya sisi itu merupakan sesuatu yang negatif. Dibandingkan sisi atap kubus di
mana remaja yang sama terlihat bergembira tetapi memiliki wujud gelap di dalamnya yang
mewakili sisi tertutup tersebut, tertangkap dalam diri dan tidak ditunjukan ke luar.
Raymond Hutapea
XII IPA-5/22
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
"springfield"
Saya merasa bahwa di kalangan remaja sekarang mungkin ada lagi kebutuhan yang harus
dipenuhi selain perihal peran sosial atau lingkungan. saya sendiri yang merupakan kebutuhan
saya sekarang adalah ketenangan mental untuk menghadapi segala hal yg mendatang seperti
usbn dan kuliah. prinsip yang saya pegang dari dulu adalah apapun situasinya saya selalu
mengutamakan ketenangan saya. maka cara saya menggambarkan tenang adalah lewat ilustrasi
padang rumput.gambaran tenang atau santai saya yang saya sering pikirkan blakangan ini adalah
diri saya tiduran di bawah pohon ditengah padang rumput yang sepi dibawah langit cerah disertai
angin sejuk
Sachio Theodore
XII IPA-5/23
Ide dari karya gambar yang saya buat adalah menjawab tentang cara memenuhi kebutuhan pada
remaja di masa pandemic ini. Menurut saya orang tua yang paling berperan besar dalam
memenuhi kebutuhan tersebut. Karena setiap harinya yang selalu kita temui yaitu orang tua
ataupun keluarga di rumah. Memang benar pada masa remaja eksistensi merupakan salah satu
kebutuhan remaja. Mereka akan terus mencari jati dirinya dengan melakukan apapun yang
mereka sukai. Terkadang jati diri yang mereka temukan bisa saja terbawa arus yang salah. Maka
dari itu PJJ ini seharusnya menjadi ajang para orang tua untuk dapat membantu anaknya dalam
menemukan jati dirinya. Orang tua harus mengetahui setiap kebutuhan anak remajanya. Dari
pengalaman saya dan teman, banyak dari para remaja yang keluar dari rumah karena keluarga
yang tidak harmonis. Hal tersebut karena kebutuhan remaja yang tidak terpenuhi, yaitu
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
hubungan dengan orang tua yang baik. Maka dari itu saya membentuk kertas kartonnya berupa
simbol komunikasi yang saling bertindihan. Simbol komunikasi yang di atas saya menggambarkan
seorang anak dan ibunya yang sedang berbicara satu sama lain. Makna yang ingin saya sampaikan
adalah di masa pandemic ini orang tua harus bisa menjadi temannya, seperti dapat saling
menuangkan isi hati, ataupun berkomunikasi dengan baik. Orang tua juga dapat menuntun sang
anak remajanya untuk mencari jati dirinya. Dengan begitu kebutuhan sang remaja dapat
terpenuhi. Tidak hanya itu saja, simbol komunikasi di bawah saya menggambarkan remaja yang
mengupload fotonya di sosial media. Makna tersebut adalah bukti nyata bahwa kebutuhan
remaja di masa pandemic ini masih sama dengan kebutuhan mereka sebelumnya yaitu mencari
eksistensi dan jati diri. Sosial media saat ini sering kali menjadi tempat komunikasi dengan
seseorang sekaligus menjadi tempat untuk menunjukan atau menampilkan foto kita. Menurut
saya pribadi yang juga menampilkan foto di sosial media itu merupakan bentuk keremajaan saya,
dimana dengan memposting foto saya mencari perhatian dari teman-teman saya sebagai bentuk
eksistensi. Di masa pandemic ini hal ini menjadi sesuatu yang sering terjadi karena kurangnya
kontak langsung dengan teman-teman. Kesimpulannya adalah cara agar kebutuhan remaja
terpenuhi di masa pandemic ini adalah peran orang tua yang dapat berperan sebagai teman yang
dapat saling berkomunikasi dengan baik, serta mendukung kebutuhan sang anak.
Sangayu Piwulang Sae
XII IPA-5/24
Menurut saya, mengenai pemenuhan kebutuhan sosial remaja di kala pandemi ini tidak mungkin
untuk terjadi secara optimal. Saya merasa, remaja generasi saya ini seperti sedang menjadi kelinci
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
percobaan. Bagaimana tidak, ribuan tahun manusia sudah berevolusi dengan gaya hidup
bersama-sama, berinteraksi fisik dengan sesama, berkomunikasi tidak hanya melalui mulut,
tetapi juga seluruh wajah, dan juga bahasa tubuh. Hal-hal inilah yang membentuk manusia
menjadi makhluk sosial saat ini. Tapi kemudian hal ini berubah total dalam waktu sangat singkat.
Pergerakan dibatasi, interaksi fisik hampir tidak ada sama sekali. Lalu bagaimana membentuk
manusia yang seperti saat ini, jika saat ini situasi yang ada berbeda sama sekali dengan situasi
yang membentuk manusia saat ini. Itulah kenapa menurut saya generasi saya sedang menjadi
kelinci percobaan. Percobaan siapa? Entah siapa yang memegang kendali. Tetapi apa yang
menjadi situasi saat ini, akan membentuk manusia yang di saat yang akan datang yang tentunya
akan berbeda dengan manusia di saat ini.
Lalu apa yang bisa kami lakukan dalam menghadapi ketidakmungkinan tersebut. Di satu sisi tentu
ingin sekali bisa hidup dengan ‘normal’. Untuk bisa bertemu lagi tanpa ada kekhawatiran akan
tertular virus, suatu kondisi yang pasti akan sangat menyenangkan. Tetapi di sisi lain, apalagi
setelah melewati satu tahun dalam kondisi yang aneh ini, saya menyadari mungkin memang
sudah saatnya kita menerima. Menerima disini bukan pasrah dan tidak melakukan apa-apa,
menerima disini lebih kepada berhenti menolak, berhenti mengelak, dan pun berhenti untuk
takut. Situasi aneh inilah normal yang baru. Dan sebetulnya tidak masalah untuk menerima
kenormalan yang baru ini. Kita sadari saja bahwa memang kita sedang menjadi kelinci percobaan,
dan mari nanti lihat sama-sama generasi seperti apa yang akan terbentuk dari kondisi aneh yang
kini jadi normal ini. Manusia macam apa yang akan hidup di masa yang akan datang. Mungkin
terkadang lebih baik menjalaninya dengan kesadaran, daripada khawatir atau menerka-nerka
apa yang akan terjadi. Karena dari kekhawatiean dan terkaan itu, yang mungkin muncul justru
adalah kemunduran. Mungkin saja, jika kita sadar dan menerima, aneh yang kini normal ini bisa
mendorong kita untuk maju. Karena toh hidup akan terus bergerak, kita yang harus
menyesuaikan pergerakannya dengan bergerak pula, kita yang memilih, kita ingin bergerak
kemana?
Maka dari itu saya membentuk kertas menjadi bentuk yang aneh. Ini melambangkan kondisi aneh
saat ini, yang harus kita lihat sebagai normal. Orang di tengah, sebagai tokoh utama,
melambangkan manusia-manusia saat ini yang harus memilih mau bergerak kemana. Di
sekitarnya ada beberapa jalur. Jalur-jalur itu ada yang membawanya keluar, ada yang
membawanya ke jalur buntu. Tetapi jika menemukan jalan buntu, sebetulnya kita bisa putar balik
dan mencari jalan lain sampai akhirnya menemukan jalan keluar. Keluar kemana? Keluar dari rasa
aneh yang menghasilkan rasa terperangkap. Jika kita sudah berada di luar, kita bisa melihat
keanehan itu dengan lebih indah. Dengan adanya warna-warna disana, dan motif-motif,
menunjukkan dalam perjalanan akan ada banyak cerita, ada banyak yang akan terjadi, bentuknya
beragam. Tetapi tidak perlu merasa takut, karena pada akhirnya semua yang dilewati ini menuju
jalan keluar.
Dan di luar, kita bisa menengok kembali apa yang sudah kita lewati, kita lihat lagi beragam bentuk
dan warna itu, sambil tersenyum bangga pada diri sendiri karena sudah berhasil melewati itu
semua. Sudah berhasil keluar. Menjadi manusia seperti apa? Tidak ada yang tahu. Mari kita lihat
sama-sama.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Sara Dyah Puspowati
XII IPA-5/25
Benang Merah
Lukisan ini dibuat di media yang berbentuk kubus untuk bisa menggambarkan sisi-sisi yang
berbeda. Empat sisi dari kubus ini melukiskan masing-masing seorang perempuan yang fisiknya
terlihat sangat berbeda. Raut muka mereka juga digambarkan murung. Perempuan-perempuan
ini disatukan oleh “benang merah” sebuah analogi dari insecurity. Tidak ada definisi pasti di KBBI
mengenai kata ini, tapi intinya insecurity itu memiliki arti ketidakpuasan atas diri sendiri atau
kurangnya percaya diri akan sesuatu hal yang spesifik. Mereka dihubungkan dengan benang
merah ini karena setiap orang memiliki insecurity yang berbeda-beda, bahkan pada orang yang
terlihat “sempurna” sekalipun. Pesan dari karya ini adalah bahwa kita harus belajar bersyukur
dan sadar bahwa kita ini sudah cukup apa adanya, berhenti membandingkan diri sendiri dengan
orang lain, dan bisa menerima diri sendiri apa adanya.
Topik ini sangat erat dengan perkembangan remaja zaman sekarang apalagi sejak munculnya
media sosial. Kadang perasaan insecure muncul akibat dari perbandingan yang kita lakukan
sendiri. Membandingkan diri sendiri mulai dari selebriti sampai teman sendiri. Tidak akan pernah
puas jika kita belum bisa sadar bahwa cara berpikir seperti ini salah.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Sebastian Putra Cahyadi
XII IPA-5/26
Saya menggambar ini karena hal inilah yang selalu saya pikirkan saat masa lockdown ini. Dimana
saya memikirkan untuk keluar, melihat alam yang begitu luas dan indah tetapi juga harus
memikirkan pandemi dan virus yang merajalela. Selain itu, uji PTN yang semakin lama makin
dekat, juga hiburan yang harus saya imbangkan dengan waktu belajar. Tetapi pada akhirnya, saya
berada di zona nyaman saya yaitu di kamar tanpa membuat aksi yang sangat pasti untuk
menempuh keempat itu. Sehingga gambar tengkorak menggambarkan betapa lamanya saya di
ruangan itu.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Yakob Habinsaran Bonapasu
XII IPA-5/27
1. Setelah saya membaca dan merenungkan teks yang ada saya menyadari satu hal yang
sangat penting, yaitu bahwa kita generasi remaja madya tahun 2021 adalah generasi
pilihan. Seperti yang kita ketahui, Tuhan tidak akan memberi ujian diluar kemampuan
umat-Nya. Maka dari itu setelah saya renungkan, Tuhan tahu bahwa kita bisa melewati
masa labil kita yang ditambah dengan situasi saat ini. Masa remaja madya yang saya dan
teman-teman saat ini alami dapat diilustrasikan seperti sebuah roda yang terus bergerak
dan tidak tahu dimana bagian atas, bawah, kanan, maupun kiri. Hal ini seperti kita yang
hilang arah dan kesulitan mencari tujuan yang sebenarnya ingin kita tempuh. Cara satu-
satunya agar arah tersebut dapat terlihat jelas adalah dengan menyanggah satu sisi
sehingga roda berhenti berputar dan bersama-sama dapat menentukan tujuan masing-
masing. Yang saya maksud dengan menyanggah satu sisi roda adalah kita generasi muda
harus memiliki visi yang sama meski arah atau tujuan yang berbeda.
2. Gambar tersebut adalah pemandangan sehari-hari remaja madya di tahun ini yaitu laptop
diatas meja setiap harinya. Bentuk dari gambar tersebut adalah roda yang latar
belakangnya sudah saya jelaskan dan sesuai dengan ilustrasi nomor 1. Saya memilih
gambar laptop karena kondisi kita saat ini yang harus mengikuti pembelajaran secara
online. Didepan laptop tersebut ada sebuah jendela yang memperlihatkan bintang yang
artinya saat ini, bukanlah buku yang menjadi jendela dunia tetapi laptop. Alasan saya
memakai background batik adalah untuk tetap mengingatkan kita sebagai anak muda
agar tidak berselancar terlalu jauh dalam dunia maya yang bisa membutakan kita akan
kondisi negara dan sekitar meski kita tidak bisa memantau secara langsung.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Yosua Imanuel Tjia
XII IPA-5/28
Renungi Pikiran dan Perjalanan
Di saat pandemic seperti saat ini setiap orang mungkin merasa kesepian dan bosan. Dengan
kesendirian ini membuat banyak orang yang menjadi berpikir dan merenung. Banyak hal yang
dipikirkan saat ini Pendidikan, orang-orang yang ada di sekitar kita dan tidak kita temui selama
pandemic ini, hati yang terluka karena masa lalu, virus corona yang melanda dunia ini, dan masih
banyak lagi. Dengan merenung, pikiran akan lebih jernih untuk berpikir banyak hal. Hal ini
menurut saya ialah kebutuhan para remaja untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Judul ini saya ambil dikarenakan banyak al yang kita renungkan ialah isi pikiran dan perjalanan ke
depan. Isi pikiran ini misalnya tentang teman-teman yang kita kangeni, sesame yang kita kangeni,
cinta yang tak kunjung dating, sakit hati karena masa lalu, dan lainnya. Perjalanan kesepian
misalnya Pendidikan, keluarga, dan lainnya. Kadang kita sampai menghela nafas karena hal-hal
yang kita renungi ini.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Zanetta Charissa Eliezer Bangun
XIIA-5/29
Dadu Anak Remaja
Ide bentuk karya saya ini saya dapat dari dadu. Dadu akan menentukan nasib seseorang dalam
permainan. Apakah akan melangkah dekat, melangkah jauh, atau malah melangkah mundur?
Sebagai remaja, saya sering dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Di kubus yang saya buat, terdapat
ilustrasi mengenai pilihan-pilihan dan pemikiran yang saya sering hadapi. Pilihan yang
berlawanan masing-masing terletak di sisi yang berlawanan. Apakah saya sudah tahu waktu atau
masih menunda-nunda? Apakah saya menjaga kesehatan di tengah pandemi atau masih keluar
dengan alasan tidak penting? Apakah saya sudah mencintai diri sendiri atau masih membenci diri
sendiri? Itu hanya perwakilan dari berbagai macam pemikiran remaja. Bentuk kubus yang tidak
rapi menunjukkan sifat remaja yang mudah rapuh, labil, tidak sempurna, tetapi masih senantiasa
dibentuk oleh lingkungan sekitar untuk menjadi lebih dewasa.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Aloysius Reiner Togi Sinaga
XII IPS-1/01
Pada cerita tersebut saya menangkap bahwa remaja adalah masa-masa dimana seseorang mencari
jati diri, menemukan sahabat, menelaah hal baik dan buruk dan mulai melihat masa depan.
Menurut saya disini adalah momen krusial karena banyak remaja yang salah masuk pergaulan dan
berakhir di penjara. Tetapi ada juga remaja yang mencari lingkungannya untuk menjadi lebih baik.
Hal ini juga sangat berkaitan dimana remaja membutuhkan sosok orangtua. Orangtua sangat
berperan penting untuk mengawasi perkembangan anaknya untuk tetap di jalan yang benar dan
agar anaknya sukses kelak di masa mendatang.
Saya menggambar dua tangan dimana ada dua buah balon kata berisi gambar hati. Dan kertas juga
saya potong bergambar hati. Dua tangan saling berpegangan artinya adalah cinta kasih orang tua.
Orangtua menyalurkan rasa cinta kepada anaknya melalui beragam cara, bisa dengan berpelukan,
mencium ataupun berpegangan tangan. Saya memilih berpegangan tangan karena paling mudah
untuk digambar.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Anastasya Sagita Angel
XII IPS-1 / 02
Pada masa pandemi ini, saya sebagai anak remaja merasa sangat terkurung. Rutinitas
saya sehari hari seperti bertemu teman, berpergian dengan teman dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan bertemu seseorang secara langsung menjadi hal yang sangat rumit.
Pandemi ini membuat keseharian seluruh orang berubah. Kita diminta untuk beradaptasi dengan
situasi ini lewat menaati protokol kesehatan. Di awal pandemi, mungkin kegiatan mengurung diri
sendiri di dalam rumah dapat dibilang rumit. Namun semakin hari, kita menjadi terbiasa di dalam
rumah dan jarang bepergian.
Selama masa karantina ini, saya menemukan beberapa hobi baru yang saya gunakan
sebagai sarana untuk mencari jalan keluar akan kejenuhan di dalam rumah. Seperti kegiatan
melukis, menonton drama korea, belajar untuk utbk, dan berolahraga. Menurut saya, hobi baru
yang terbilang sangat mengambil peran dalam masa karantina ini adalah olahraga. Karena
olahraga, saya selalu merasa bugar, sehat, tidak sakit sakitan, sekaligus menjaga bentuk tubuh.
Olahraga menjadi aktivitas yang menginspirasi saya untuk membuat sebuah karya seni. Dari
karya seni saya tersebut, dapat terlihat sebuah dumbell(alat olahraga) yang terletak di masker.
Dumbell tersebut melambangkan akan aktivitas olahraga yang sudah saya jalani selama beberapa
bulan ini. Saya letakkan di masker karena, menurut saya peran olahraga yang sekarang saya
lakukan dapat terjadi karena adanya pandemi ini. Mungkin jika tidak ada pandemi maka saya
tidak akan sering berolahraga secara mandiri di rumah untuk menjaga kesehatan, imun dan
bentuk tubuh.
UJIAN PRAKTIK SENI BUDAYA T.P. 2020-2021
Beatrix Bethania Budiarti
XII IPS-1/03
Ide gambar
1. Pada gambar tersebut terlihat seorang yang melepas topeng yang artinya seseorang yang
melepas pribadi nya yang lama dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kupu-kupu yang
keluar dari topeng yang telah dibuka juga menggambarkan pribadi yang lebih baik pula
dan dengan kupu-kupu juga menjadi gambaran kebebasan remaja tersebut dalam
mengekspresikan dirinya yang dengan bebas.
2. latar belakang
Dari gambar tersebut saya ingin menggambarkan bahwa remaja di masa pandemi ini
menunjukan pribadi yang baru dan jauh lebih baik dari sebelumnya dan dapat dilihat dari
seorang perempuan yang melepas topengnya dan keluar lah kupu-kupu yang
melambangkan kepribadian yang baru yang ia buat selama pandemi berlangsung. selama
pandemi membuat remaja itu merefleksikan dirinya dan menjadi seorang yang lebih baik
pula. Dari kupu-kupu itu saya juga ingin memberi tahu bahwa selama pandemi semua
remaja juga bebas untuk berekspresi dengan bebas seperti kupu-kupu yang terbang
dengan bebas di udara dimana itu adalah salah satu cara mereka memenuhi
kebutuhannya.