PERHATIAN!
Dimohon untuk tidak menyebarluaskan e-book ini secara bebas.
Buku digital My Husband Is Gay tidak untuk dibagikan secara
gratis serta pembaca dilarang menjualnya kembali ke pihak-pihak
lain. Mari saling menghargai antara pembaca dan penulis.
Terima Kasih.
Prolog
Pemuda adalah gambaran pria impian banyak wanita. Tampan, mapan, dan
rupawan. Namun di usinya yang menginjak 41 tahun dia masih tetap
melajang, bukan karena karena tak memiliki pasangan namun kekasihnya
adalah seorang pria. Yup, Pemuda adalah pria gay yang didesak segera
menikah oleh ibunya.
Gadis, seorang perempuan desa polos yang berjuang untuk hidup dan masa
depannya. cita-citanya sederhana yaitu dapat menamatkan pendidikan
hingga SMA. Namun semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia dia harus
putus sekolah dan bekerja menjadi seorang pembantu hingga suatu hari
majikannya meminta dia menikahi putra semata wayangnya yang berusia
dewasa.
BAB 1
"Gadis, saat ini umur kamu berapa?" tanya nyonya Desi kepadaku saat aku
sedang memijat kakinya yang kelelahan sepulang dari pasar beberapa waktu
yang lalu.
"18 tahun nyonya" jawabku sambil tersenyum sopan kepadanya.
"Sudah cukup umur untuk menikah dan mempunyai anak kalau begitu" aku
sedikit bingung dengan peryataan nyonya Desi barusan, peryataan wanita
paruh baya yang sudah setengah tahun ini menjadi majikanku.
Perkenalkan namaku Gadis. Gadis Ayu Wulandari. Seorang yatim piatu, gadis
putus sekolah, dan saat ini bekerja sebagai seorang pembantu rumah
tangga. Kedua orangtuaku sudah tiada sejak setahun lalu dan karena tak
memiliki kerabat serta uang aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan
memilih bekerja di sawah milik pak kades untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari namun sayangnya semua itu tak mencukupi. Dengan tekad kuat,
aku meminta kepada salah seorang tetanggaku untuk mencarikan pekerjaan
di kota, apapun. Dan disinilah aku sekarang menjadi seorang pembantu.
"Bagaimana Gadis, kamu bersedia?" tanya nyonya Desi kepadaku. Tunggu,
bersedia untuk apa?
"Maaf nyonya, maksudnya?" tanyaku sedikit gugup, takut ketahuan sedari
tadi melamun.
"Menikah dengan anak saya, Pemuda" Menikah dengan tuan Muda?
Ya Allah Gusti, mimpi apa aku semalam?
******
"Iya bu, nanti ya. Saya masih sibuk. Insyaallah akhir pekan nanti saya pulang
ke rumah"
"......."
"Iya, sudah ya bu saya masih harus kerja. Assalamualaikum".
Kuputuskan sambungan telepon dari ibu. Ini sudah pertanyaannya yang ke-
25 kali dalam dua minggu terakhir. Pertanyaan yang sama, kapan menikah?.
Sesungguhnya aku bukannya tidak ingin menikah hanya saja apa ibuku akan
menyetujui pasanganku?
Hai, perkenalkan namaku Pemuda. Pemuda Putra Perkasa. 41 tahun dan
seorang.....Gay.
Di usiaku saat ini banyak teman-temanku yang sudah menikah dan memiliki
beberapa orang anak, sedangkan aku? Sebenarnya aku memiliki seorang
kekasih, namanya Richard tapi kami tidak bisa menikah, ah...,bukan tidak bisa
namun aku yang memilih tidak ingin menikah dengannya. Aku takut ibu akan
shock dan penyakit jantungnya kumat jika dia tau orientasi seksualku. Saat
sedang melamun tiba-tiba saja Vita datang dengan perut besarnya.
"A' ini laporan yang elo minta kemaren sekalian gw mau ngingetin selama gw
cuti nanti jangan ajak gw ngobrol soal kerjaan"
"Hari terakhir? kapan lahiran?"
"Perhitungannya dua minggu lagi tapi bisa lebih cepet atau sebaliknya"
"Kenapa gak cuti dari kemaren-kemaren aja sih?"
"Gak apa-apa kepengen aja. Sabtu ini jadikan kita syukuran rumah baru elo?"
"Enggak, gw mau pulang ke Bandung. Tadi ibu telpon dan nyuruh gw pulang"
"Disuruh kawin lagi ya elo?"
"Menikah Vit. Yah.....gitu deh. Pusing gw"
"Elo gak mau jujur aja A'?"
******
Menikah dengan tuan Muda? Ya Tuhan, pemikiran darimana yang didapat
nyonya Desi? apa dia sebegitu putus asanya karena putra satu-satunya belom
juga menikah?
Tuan Muda, dia bukan hanya kaya tapi juga tampan. Dia ramah dan baik hati.
Aku ingat ketika awal bertemu dengannya ketika baru datang ke rumah ini,
dia......bersinar. Dia mirip aktor Korea favoritku, Jo Insung. Tapi apa aku
pantas dengannya? aku kan jelek dan miskin? Bagaimanapun aku harus sadar
diri, siapa aku dan siapa dirinya. Selain itu perbedaan usia kami sangatlah
jauh. Dia tampan tapi tua.
Ah, apa yang kupikirkan? belom tentu dia mau dengan gadis sepertiku. Dia
pasti dikelilingi banyak wanita cantik dan pintar. Teman-temannya saja yang
pernah kulihat ketika mereka berlibur kesini beberapa bulan lalu semuanya
berwajah tampan dan cantik. Mungkin benar orang tampan dan cantik hanya
akan berteman dengan sesamanya apalagi menikah?
Lagipula aku juga masih ingin melanjutkan sekolah, aku tak ingin hanya
menjadi lulusan SMP. Aku mau membanggakan bapak dan ibu meski hanya
lulusan SMA, setidaknya lebih tinggi. Baiklah, kuanggap permintaan nyonya
Desi kepadaku hanya sebuah gurauan. Aku disini untuk bekerja dan mencari
uang yang banyak agar bisa sekolah kembali.
Ibu-bapak, Gadis rindu. Tanpa sadar aku menangis, memang seperti ini setiap
kali aku memikirkan mereka. Kuhapus air mata ini dan memilih mengambil
air wudhu untuk salat isya kemudian tidur. Cukup kesedihanku hari ini,
besok akan ada hari dan harapan yang baru Gadis. Semangat!.
******
Akhir pekan ini aku pulang ke Bandung, kusempatkan mampir ke toko kue
favorit ibu dan membeli sebuket bunga mawar merah kesukaannya. Yah, aku
pria romantis kalo kata orang-orang. Ibuku adalah segalanya bagiku dan
sebagai seorang anak aku akan berusaha mengabulkan semua
permintaannya, terkecuali menikah yang entah kapan bisa kuwujudkan.
"Assalamualaikum, bu. Ibu. Muda pulang bu" aku masuk ke dalam rumah
sambil membawa barang-barang yang ku beli tadi namun hingga berada di
ruang tengah aku masih belom melihat ibu di manapun, kemana beliau?
"Tuan Muda, maaf nyonya sedang pergi keluar katanya mau membeli
sesuatu"
"Oh Gadis rupanya, baiklah. Oh iya, kue ini kamu simpan di kulkas dan
bunganya kamu taruh di kamar ibu ya, saya mau ke kamar dulu bilang saya
sudah sampai nanti ke ibu" perintahku kepada Gadis.
"Baik tuan" setelahnya dia pergi ke dapur dan aku naik ke lantai dua dimana
kamarku berada. Menjelang sore ibu tiba di rumah. Ah, aku merindukannya.
Merindukan ibu dan masakannya. Sudah tiga bulan aku tak pulang, aku hanya
terlalu malas jika ibu sudah bertanya soal kapan aku akan membawa calon
menantu untuknya. Ia tak salah, aku yang tak bisa.
"Kapan kamu sampai?" tanya ibu saat ia memasuki kamarku. Aku yang
sedang memeriksa beberapa file di depan laptop kemudian berdiri dan
menghampiri ibu, memeluknya dengan erat. Rindu.
"Siang tadi, sudah makan?"
"Makan siang sudah. Kamu sudah? apa menunggu ibu?"
"Iya, sudah lama kita tidak makan bersama. Ibu temani aku ya. Oh iya, aku
bawa kue dan bunga kesukaan ibu" dapat kulihat senyum ibu yang indah.
Senyum yang kusuka dari wanita yang paling kucinta. Sesampainya di ruang
makan dapat kulihat ibu telah menyiapkan beberapa makanan kesukaanku:
sayur asam, ayam goreng, dan sambal terasi. Pasti semuanya enak.
"Masakan ibu semakin enak saja" ucapku saat memasukkan nasi ke-2 dalam
piringku.
"Enak?" tanyanya sambil menaruh ayam goreng untukku.
"Iya, apa selama tiga bulan ini ibu belajar memasak? keterampilan ibu
meningkat"
"Bagus kalo kamu suka namun bukan ibu yang masak tapi Gadis"
"Gadis? pintar memasak rupanya" jawabku jujur, harus kuakui masakannya
sangat enak. Wanita itu terlihat keluar dari dapur dan membawakan kue
yang kubawa tadi.
"Ini nyonya, tadi tuan Muda membawanya untuk nyonya"
"Gadis, duduk disini nak" ujar ibuku sambil menunjuk kursi di sebelahku.
Gadispun menurut namun dia terlihat ragu dan malu-malu ketika akan
menarik kursi di sebelahku bahkan sepertinya dia kini tak ingin melihat ke
arahku, ada apa dengannya?
"Muda, ibu mau bicara" baiklah sepertinya aku sudah tidak bisa menghindar.
Ketika ibu berkata mau berbicara artinya itu adalah hal yang sangat penting
dan aku yakin pasti soal pernikahan. Ku taruh sendok dan garpu lalu
mengelap bibir dengan serbet kemudian menaruh perhatianku sepenuhnya
kepada ibu.
"Ada apa bu?" tanyaku basa-basi
"Kapan kamu menikah? apa sudah punya calonnya?" Tanya ibu to the point.
"Belum bu, aku sibuk bekerja" aku berbohong.
"Mau sampai kapan kamu melajang? apa kamu tak iri dengan teman-
temanmu yang menikah dan punya anak? dulu ibu fikir kamu dekat dengan
Vita tapi dia malah menikah dengan pria lain" ibu memang pernah berharap
aku dan Vita bersama.
"Vita itu teman Muda bu, dulu, sekarang, bahkan nanti"
"Jadi kamu tidak sedang dekat dengan orang lain?" Dekat Bu tapi bukan
dengan wanita melainkan pria. Ah, aku hanya bisa menjawabnya dalam hati.
"Tidak Bu" dapat kulihat ibu mengangguk-anggukkan kepala, entah tanda
mengerti, berfikir atau apapun.
"Baiklah, kalo begitu kamu bisa menikah dengan Gadis kan?"
"APA?" Jawabku terlalu terkejut.
BAB 2
"APA?" aku reflek berteriak karena terkejut dengan ucapan ibu barusan. Apa
yang barusan ibu katakan? menikah? dengan gadis kecil ini?. Kutarik nafas
dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Sabar Muda sabar.
"Bu, apa maksud ibu? mana mungkin Muda menikah dengan Gadis?
Dia.....masih kecil bu" tolakku secara halus. Aku tidak mungkin menolaknya
dengan mengatakan, aku seorang gay bu.
"Dia sudah 18 tahun, sudah cukup umur untuk menikah dan memiliki anak"
"Bu, meski namaku Muda tapi aku sudah tak muda lagi bu jadi tidak mungkin
aku menikahi Gadis. Kasihan dia"
"Karena kamu sudah tua makanya ibu suruh menikah, mau sampai kapan
kamu melajang? sampe umur berapa Muda? lagipula kalo Gadis menikah
sama kamu justru dia bisa berbahagia. Ibu yakin sayang"
Ya tuhan, ibu sudah mengeluarkan jurus memohonnya dengan panggilan
sayang. Aku bingung dan takut. Bingung dengan permintaan ibu dan takut
untuk menolaknya, alasan apa lagi sekarang yang harus aku berikan?
"Gadis, saya mau tanya sama kamu. Apa kamu bersedia menikah dengan
saya?" Kuarahkan badan dan pandangan ke arah Gadis di sebelah,
menatapnya dengan tatapan seperti saya tidak ingin karena jika ia menolak
maka akan memudahkanku menolaknya juga namun yang dilakukan Gadis
saat ini hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Gadis?" Panggilku sekali lagi.
"Sa....sa...saya tidak tahu tuan" jawabnya sedikit terbata. Apa maksudnya
dengan tidak tahu?.
"Gadis, jangan takut, kalo kamu merasa keberatan maka kamu berhak
menolaknya. Jangan takut. Oke"
"Muda, jangan menghasutnya" potong ibu dengan nada sedikit kesal.
"Bu, jangan memaksanya. Aku tahu ibu benar-benar ingin aku menikah dan
memberikan cucu. Aku mengerti bu, tapi jangan memaksa orang lain"
"Ibu tidak pernah memaksa" pungkasnya.
"Baiklah, saya tanya sekali lagi Gadis. Kamu bersedia jika menikah dengan
saya?" Kini aku dan ibu menatapnya dengan lekat dan dia tetap saja
menundukkan kepala.
"Saya.....bersedia tuan"
******
Ketika nyonya Desi menyuruhku duduk disebelah tuan Muda sungguh aku
sangat gugup. Apakah nyonya akan bertanya sekarang dengan menyuruhku
duduk di sebelahnya? Ya tuhan apa yang harus aku lakukan?.
Saat nyonya Desi bertanya dapat kulihat wajah tuan Muda yang sangat
terkejut dan secara refleks dia berteriak. Aku takut. Ku tundukkan kepala
karena bingung harus bersikap bagaimana. Kini dapat kudengar kedua
majikanku sedang beradu argumen dan membuatku semakin merasa
bersalah dan bingung.
"Saya tanya sekali lagi Gadis, kamu bersedia menikah dengan saya?" Aku
bingung. Mau menolak tapi aku takut begitupun sebaliknya. Aku merasa
rendah diri, namun......
"Saya bersedia tuan" entahlah kenapa aku berani menjawab
demikian. Kutegakkan kepala dan melihat raut wajah bahagia nyonya Desi di
depan dan ketika kutengok ke samping wajah tuan muda seperti bertanya
mengapa kau terima Gadis?
"Tapi nyonya-tuan saya punya syarat" ujarku sedikit lancang.
"Apa? katakan Gadis, insyaallah ibu dan Muda akan penuhi" jawab bu Desi
antusias.
"Gadis boleh melanjutkan sekolah lagi?" Baiklah mungkin jika aku menikah
aku bisa memenuhi salah satu impianku, menamatkan SMA secepatnya
apalagi aku berhenti ketika akan menginjak kelas 3, sayang sekali bukan?.
"Kamu mau sekolah lagi?" tanya tuan Muda dengan ekspresi yang tak dapat
ku mengerti.
"I....iy....Iya tuan, saya mau melanjutkan sekolah karena itu impian orangtua
saya" jawabku kembali menundukkan kepala.
"Baiklah" ucap bu Desi cepat.
"Tapi kalian jangan menunda memberikan cucu buat ibu nanti kita cari dan
daftarkan sekolah yang bersedia menerima siswa yang sudah menikah dan
boleh hamil" ucap bu Desi penuh keyakinan. Apa ada sekolah yang
demikian?
"Terima kasih nyonya" hanya itu yang bisa ku katakan.
"Bagaimana Muda? alasan apalagi yang mau kamu berikan?" tanya nyonya
Desi kepada putranya.
"Bisa saya bicara berdua dengan Gadis bu? ada yang ingin saya tanyakan dan
katakan"
"Jangan mencoba menghasutnya untuk menarik kembali keputusannya
barusan" ancam nyonya Desi sambil melangkahkan kaki dari ruang makan
untuk kembali ke kamarnya.
"Mari kita berbicara di halaman belakang" setelahnya tuan Muda berdiri dan
berjalan duluan sementara aku mengikutinya dari belakang.
******
Aku tak menyangka bahwa wanita itu akan menerimanya. Maksudku,
kenapa? apa dia mengincar uang? tapi dari penampilannya dia tak seperti itu,
akan tetapi terkadang penampilan luar tidak bisa dijadikan patokan bukan?
"Boleh saya bertanya kenapa kamu menerima keinginan ibuku?"
"Karena saya tidak mempunyai alasan untuk menolaknya tuan" jawabnya
masih dengan menundukkan kepala.
"Banyak Gadis. Usia kita yang jauh, kamu yang masih ingin sekolah, atau
kamu yang belom siap menikah apalagi mempunyai anak karena terlalu
muda"
"Jika saya menolak pria seperti tuan, itu namanya saya tidak tau diri. Maaf
tuan, jika tuan memang tidak menyukainya saya akan menolaknya" jawaban
macam apa itu, tadi menerima dan sekarang menolak? Ibu pasti akan
mengira aku yang telah menghasutnya kalaupun ingin menolak kenapa tidak
dari tadi saja?
"Saya tidak ingin kamu merasa terpaksa karena ibuku. Saya juga tidak ingin
kamu hidup dengan pria seperti saya" ucapku sedikit pelan di akhir kalimat.
"Tuan, saya menerimanya karena memang saya ingin dan nyonya tidak
pernah memaksa lagipula apa yang saya katakan tadi memang jujur, saya
memang tidak mempunyai alasan untuk menolak tuan. Tuan tampan dan
mapan justru saya yang seharusnya merasa beruntung jika nyonya bersedia
menerima saya sebagai menantu. Saya juga merasa mungkin dengan
menikah maka saya bisa kembali ke sekolah secepatnya" jawabnya panjang
lebar, aku tak tau dia bisa banyak bicara seperti ini.
"Usia kita terlalu.....jauh"
"Dikampung saya bahkan ada gadis ABG yang menikahi kakek-kakek"
"Saya.....saya.....tidak mencintai kamu"
"Saya juga tidak atau mungkin belum mencintai tuan"
"Saya....saya.....tidak suka perempuan" jawabku jujur. Entah kenapa aku harus
jujur kepadanya saat ini.
"Saya juga tidak suka .....APA TUAN?" tanyanya terkejut
"Saya katakan saya tidak suka perempuan, saya gay".
******
Apa yang tuan Muda katakan tadi? dia tidak suka perempuan? dia gay? Ya
Allah mana mungkin pria tampan, mapan, dan rupawan sepertinya suka
pisang? apa ini kebohongannya agar aku menolak? apa sebegitu tidak
inginnya dia menikahiku?
"Saya hanya ingin jujur agar kamu tidak menyesal. Inilah alasan kenapa saya
belum menikah dan tidak pernah membawa calon menantu kepada ibu saya"
jelasnya sambil membuang wajah ke samping, enggan menatapku.
"Apa tuan bersungguh-sungguh?" tanyaku kembali. Aku bertanya hanya
karena ingin memastikan. Bukan, bukan karena merasa jijik hanya ingin
memastikan kembali pendengaranku barusan. Tanpa aku dan tuan Muda
sadari ternyata nyonya Desi menguping pembicaraan kami berdua di dekat
pintu sejak awal dan setelah dia mendengar pengakuan tuan Muda barusan,
dia pingsan.
"NYONYA" teriakku sambil berlari ke arah nyonya Desi.
******
Ibu mendengarnya. Beliau mendengar pengakuanku sebagai seorang gay.
Ibu pingsan di dekat pintu, aku yang mendengar Gadis berteriak dan berlari
langsung mengarahkan pandangan kepadanya dan disanalah ibu, Pingsan.
Kubawa ibu langsung ke rumah sakit bersama Gadis. Rasa cemas dan
bersalah kini menyerang diriku sepenuhnya. Aku takut, bagaimanapun hanya
ibu yang kumiliki di dunia ini sebagai keluarga.
"Keluarga pasien nyonya Desi?" tanya seorang dokter wanita ketika ia keluar
dari ruang pemeriksaan. Aku segera menghampirinya dan bertanya
bagaimana keadaan ibu.
"Kondisi pasien masih lemah terlebih pasien juga memiliki riwayat jantung.
Saya sudah memberikan obat dan saat ini pasien sedang tertidur. Saya akan
segera memindahkannya ke kamar rawat jika sudah membaik. Bapak bisa
mengurus semuanya terlebih dahulu di ruang administrasi. Selain itu, saya
harap pasien tidak mengalami shock kembali karena ini akan berbahaya bagi
keselamatannya"
"Terima kasih dokter" setelah dokter tersebut pergi, aku menyuruh Gadis
menemani ibu selagi aku megurus keperluan administrasi.
Kupandangi wajah ibu dengan rasa bersalah karena bagaimanapun akulah
yang membuatnya menjadi seperti ini sekarang. Maaf, maaf, dan maaf adalah
kata yang hanya bisa ku ucapkan dalam hati saat ini. Aku mengecewakan
wanita yang kucintai. Aku membuatnya menangis padahal senyumannya
adalah hal yang terpenting bagiku. Itu semua karena diriku.
"Tuan, ini saya belikan makanan dan minuman untuk tuan". Gadis
memberikan satu buah kantong plastik berisikan makanan dan minuman
untukku, sepertinya dia tadi keluar untuk membeli ini semua.
"Terima kasih. Kamu sudah makan?"
"Sudah tuan, tadi" setelahnya kami berdua terdiam, sibuk dengan fikiran
masing-masing.
"Gadis, apakah sekarang kamu masih bersedia menikah dengan saya?".
BAB 3
"Gadis sekarang kamu masih bersedia menikah dengan saya?"
Aku hanya bisa terdiam, bingung. Pria di depanku bukan hanya tidak
mencintaiku tapi dia juga tidak pernah mencintai wanita. Aku harus
bagaimana?
"Apa tuan sekarang berubah pikiran?"
"Saya bertanya kepada kamu?"
"Saya tidak tahu tuan" ku tundukkan kepala sambil memegang kedua
tanganku erat.
"Jika ibuku sudah sadar, aku akan mengabulkan permintaannya termasuk
menikah denganmu"
"Jika saya menolak?"
"Saya akan memohon" jawabnya putus asa.
"Saya tau mungkin kamu merasa jijik dengan saya, saya mengerti. Tapi saya
hanya tidak ingin membuat ibu saya lebih bersedih"
"Saya tidak merasa begitu tuan, saya hanya bingung. Lagipula mungkin
nyonya sudah mendengarnya jadi...." entah mengapa sulit bagiku untuk
melanjutkan ucapanku kepada tuan Muda. Saat tuan Muda hendak berbicara
kembali, nyonya Desi tiba-tiba saja membuka matanya.
"Ibu, ibu sudah sadar? Saya panggilkan dokter ya" tanya tuan Muda bernada
penuh kekhawatiran namun belum sempat tuan Muda memanggilkan dokter
atau suster, tangan nyonya Desi sudah menahannya.
"Tidak usah" jawab nyonya Desi lemah.
"Bu, ibu masih pucat wajahnya. Saya khawatir"
"Apa kamu akan menikah dengan Gadis, Muda?"
"Ibu/nyonya" jawabku dan tuan Muda bersamaan.
"Kenapa? apa benar yang ibu dengar?" tanyanya kemudian menangis pilu.
Dapat kulihat wajah tuan Muda yang sangat sedih bahkan sampai menitikkan
air mata.
"Maaf bu" hanya itu yang beliau ucapkan dan setelahnya nyonya Desi
menangis lebih kencang.
Aku tak tega melihat ini semua, aku jadi teringat dengan ibuku yang telah
tiada dan bagaimanapun aku sudah menganggap nyonya Desi seperti ibuku
sendiri sehingga aku tak kuasa melihatnya sedih seperti ini.
"Nyonya salah dengar, lagipula saya dan tuan Muda akan menikah, benarkan
tuan?" tanyaku pada tuan Muda dan dia terlihat cukup terkejut namun hanya
sesaat setelahnya dia menggenggam tanganku dan berkata,"kami akan
menikah bu".
******
Setelah aku dan Gadis menyatakan ketersediaan kami berdua untuk segera
menikah, ibu kembali sedikit ceria. Entah apa yang dipikirkannya. Dia bahkan
memintaku untuk secepatnya menikah kalau bisa besok, siri tak apa sebelum
semua berkas selesai. Semakin cepat semakin baik katanya namun aku
segera menolaknya karena aku tak ingin menikahi Gadis secara siri. Setelah
pembicaraan beberapa saat, kami sepakat bahwa bulan depan di minggu
ketiga adalah waktu yang kami pilih. Ibu sempat menolak namun tidak
memaksa lagi.
Setelah keadaan ibu membaik, aku membawanya pulang. Beliau dirawat
selama 3 hari dan selama itu juga aku mengambil cuti dadakan. Aku kini telah
kembali ke Jakarta, kembali bekerja dan menyiapkan segala hal terkait
pernikahanku dan Gadis. Aku memutuskan menikah di Jakarta dan ibu
menyetujuinya.
"Mud, beneran elo mau nikah? sama perempuan? bukan sama kekasih elo si
Richard-Richard itu?" Tanya Maura saat ia masuk ke dalam ruangan ku. Aku
memang sudah menceritakan soal pernikahanku kepada Maura dan Vita,
semalam melalui video call grub.
"Iya"
"Demi apa? serius lo?" tanyanya yang sepertinya sangat tidak percaya.
"Iya"
"Allahu Akbar, demi apa lo? tuh si Vita masih nanya ke gw buat segera
konfirmasi kembali ke elo takutnya kita salah denger, bukan Richard tapi
Gadis. Btw ini Gadis yang kerja di rumah ibu elo kan? yang pernah kita temui
beberapa bulan lalu waktu liburan ke Bandung?"
"Iya"
"Elo tuh ya, panjangan dikit kenapa sih jawabnya? mau jadi Darren kedua?
Hah?"
"Yang gw bilang semalam beneran. Gw akan menikah dengan seorang wanita
bukan pria. Dengan Gadis bukan Richard. Ngerti?"
"Tuh Vit, denger sendiri kan pengakuan Muda?" Sejak kapan Maura
melakukan video call dengan Vita?.
"AA’....., SERIUS? elo gak ngeprank gw kan? Gila gila gila, elo balik-balik
langsung punya calon aja" teriaknya di seberang sana, dasar bumil.
"Jangan teriak-teriak, langsung lahiran baru tau rasa lo" cecar Maura
memarahi.
"Iya maaf, abis ini berita bukan sembarang berita mami mertua" dasar
menantu dan mertua alay.
"Udah deh, kalian berdua daripada teriak-teriak mending bantu gw nyiapin
semuanya. Waktu gw gak banyak"
"Ya udah A', nanti gw hubungin EO yang gw pake buat pernikahan gw
kemaren terus nyuruh mereka hubungi elo. Aduh..... mami perut aku sakit.
AAAAHHHH" aku dan Maura panik setengah mati, sepertinya Vita akan
melahirkan sekarang.
******
Hari yang ditunggu tiba, kini aku telah selesai dirias. Kutatap wajahku di
cermin, cantik. Uang memang memiliki kekuatan bahkan mampu untuk
mengubah upik abu menjadi tuan putri. Nyonya dan tuan menyiapkan
segalanya dengan cepat dan mewah. Aku hanya mengikuti keduanya.
Terserah.
Dapat kudengar suara ketukan pintu di ruanganku berada dan terlihat
sesosok wanita cantik masuk, nyonya Maura. Aku pernah bertemu dua kali
dengannya dan keluarganya, yakni saat mereka berlibur ke rumah nyonya
Desi dan beberapa waktu lalu saat menyiapkan pernikahan ini.
"Ayo kita keluar, Muda sudah selesai ijab kabul" ucapnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja aku menangis. Ayah-ibu aku telah menikah dan telah menjadi
milik seseorang doakan aku berbahagia. Kulangkahkan kakiku menuju tempat
ijab kabul. Kulihat tuan Muda yang kini telah berstatus suamiku terlihat
sangat tampan dengan pakaian adat Sunda. Ya Allah, benarkah dia jodohku?
suamiku?.
Setelah sampai aku disuruh duduk dan menandatangani berkas-berkas
pernikahan setelahnya bapak penghulu menyuruhku mencium tangan tuan
Muda, sentuhan pertama kami. Dengan tangan bergetar aku menyalami dan
mencium telapak tangannya. Ini pertama kalinya aku bersentuhan secara
intim dengan lawan jenis. Kami berdua berfoto dan mengucapkan terima
kasih kepada bapak penghulu di depan setelahnya melangkah menuju kursi
nyonya Desi yang saat ini tengah menangis bahagia.
"Semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah"
doanya kepada kami berdua.
******
Kini aku telah menikah dan menjadi suami dari seorang wanita muda
bernama Gadis. Kulihat ibu tersenyum bahagia sedari tadi dan tanpa sadar
aku ikut tersenyum. Bidadari ku bahagia apalagi yang kuinginkan?.
"Selamat ya AA’ semoga cepet-cepet dikasih baby, kalo bisa perempuan biar
nanti kita bisa besanan" kelarkar Vita dengan semangat.
"Beneran udah sehat?" Tanyaku kepadanya khawatir.
"Udahlah A', udah dua minggu lebih juga. Aduh A', elo yang nikah kenapa gw
yang mewek ya?" Ucapnya sambil menangis sesegukan.
"Sudah, ayo kita makan. katanya lapar" ajak Darren suami kanebonya;
julukan sayang Vita kepada Darren. Akhirnya mereka berpamitan, Vita masih
sesegukan dan Darren berdiri memeluk bahu Vita disampingnya sambil
menggendong putra mereka.
"Selamat ya Muda, pinter juga kamu milih istri, masih muda" ucap Bram
suami Maura. Setelahnya Maura langsung mencubit pinggang suaminya.
"Mas, apaan sih? Emang ya kamu tuh gak bisa lihat daun muda dikit. Emang
aku kurang muda buat kamu?"
"Ya ampun yang, kamu mah segalanya buat aku" rayu Bram.
"Gombal. Sekali lagi selamat ya. Oh iya Gadis, selamat ya. Kamu cantik
banget" setelahnya mereka berdua pergi menuju anak, menantu, dan cucu
yang tengah sibuk makan di pojokan.
"Kamu capek?" tanyaku kepada Gadis yang terlihat sedikit kelelahan.
"Enggak tuan, kaki saya hanya sedikit terasa pegal karena memang tidak
pernah pake sepatu tinggi seperti ini sebelumnya"
"Kamu duduk saja atau mau ke kamar untuk beristirahat?"
"Tidak tuan, saya gak apa-apa"
"Baiklah, tapi jika lelah langsung istirahat saja" perintahku kepadanya.
"Selamat ya Muda" ucap seseorang yang membuatku sangat terkejut.
BAB 4
"Selamat ya Muda" ucap Richard saat hendak menyalamiku.
Aku terkejut, sungguh bagaimana dia bisa tau tentang pernikahanku?. Sejak
memutuskan menikah aku memang menjauhi Richard dan menyatakan ingin
putus dengannya melalui sambungan telepon namun aku tidak mengatakan
alasan sebenarnya. Darimana dia tau soal pernikahanku? Apa Richard
mendengar dari kolega bisnis kami atau orang kantorku?
"Terkejut? seharusnya aku yang begitu tapi sudahlah aku tidak tahu kalo
kamu sudah....berubah" ucapnya sambil menatapku tajam. Aku hanya
terdiam mendengar semuanya. Aku yakin dia marah, kesal dan kecewa. Ini
salahku memutuskannya begitu saja. Aku dan Richard sudah bersama lebih
dari 4 tahun. Dia kekasih yang paling lama menjalin hubungan denganku. Dia
pria tampan dan penuh perhatian serta setia.
"Terima kasih mas" ucap Gadis sambil tersenyum ke arah Richard.
Richard langsung mengarahkan pandangannya kepada Gadis. Dia
memandang Gadis dari atas hingga kebawah seperti sedang menilai.
Setelahnya Richard tersenyum dan pergi. Kupandangi punggung lebarnya
dari belakang. Maaf Richard, hanya itu yang dapat kuucapkan dalam hati
******
Acara pernikahanku dan tuan Muda sudah selesai beberapa waktu yang lalu
dan saat ini kami berdua sedang berada di dalam kamar hotel yang sudah
dihiasi dengan kumpulan kelopak bunga mawar merah dan sepasang handuk
berbentuk angsa di atas ranjang. Tuan sedang mandi saat ini dan jujur aku
merasa sangat gugup sekarang, apakah tuan Muda akan langsung meminta
haknya malam ini sebagai suami? tapi bukankah dia tidak suka perempuan?
Aku duduk di pinggir ranjang dengan gelisah, menautkan kedua tanganku
sambil mengerakkan kaki yang menggantung. Pintu kamar mandi terbuka,
memperlihatkan tuan Muda yang sangat tampan setelah membersihkan diri.
"Tidurlah kalau memang sudah mengantuk" katanya sambil mengambil
handphonenya di meja dekat ranjang.
"Apa.... apa tuan tidak akan meminta hak tuan malam ini?" tanyaku dengan
berani namun dengan nada suara yang terdengar ketakutan.
Dia menghela nafas dan berkata, "tidak, jadi cepat tidur" kemudian dia
berbaring di ranjang dan kembali menaruh handphonenya.
"Kamu gak keberatan kan kalo saya tidur disini?"
"Tidak tuan, biar saya yang tidur di sofa"
"Kamu gak suka tidur seranjang sama saya?"
"Maksudnya tuan?"
"Kenapa tidur di sofa?"
"Apa tidak masalah saya tidur di sini?"
"Tidak, saya suami kamu dan kamu istri saya wajar jika kita satu ranjang.
Cepat tidur, matikan lampunya karena saya tidak bisa tidur jika dalam
kondisi lampu menyala" kuturuti keinginannya, kufikir dia akan menyuruhku
tidur di sofa atau di lantai tadinya syukurlah suamiku tak sekejam itu.
Hari baru dengan kisah baru. Kubuka mataku dengan ucapan penuh syukur
dan kemudian melihat sesosok pria tampan tertidur dengan sangat nyenyak.
Aku terkejut.
"Astaghfirullah, kenapa aku bisa lupa kalo sudah menikah kemarin dan dia
suamiku" ucapku bermonolog sambil tertawa pelan. Aku pergi ke kamar
mandi untuk segera melakukan kewajiban sebagai umat muslim.
Pukul 09.00 pagi aku dan tuan Muda sudah bersiap untuk turun ke restauran
namun sebelum itu dia memintaku duduk karena ada hal penting yang ingin
dia sampaikan.
"Mulai minggu depan kamu sudah bisa bersekolah dan setiap minggunya
saya akan kasih kamu uang saku. Selain itu, saya harap panggilan kamu ke
saya berubah. Saya bukan lagi majikan kamu. Saya suami kamu baik secara
agama maupun hukum" jelasnya secara tegas.
Sekolah? Aku bisa kembali sekolah?
"Terima kasih tu . . maksud saya itu.... itu, maaf saya harus panggil apa ya?"
tanyaku sedikit bingung.
"Kamu bisa panggil saya apapun kecuali tuan"
"Baiklah kalo begitu..... Akang?" Jawabku. Tuan Muda kan orang Sunda wajar
jika aku panggil demikian bukan?.
"Terserah" setelahnya dia mengajakku pergi sarapan. Aku langsung
mengikutinya karena memang sudah merasa lapar sedari tadi.
******
Rumah baru dengan istri yang baru kunikahi beberapa hari yang lalu. Setelah
melangsungkan pernikahan aku dan Gadis memilih menghabiskan waktu di
Bandung tempat ibu untuk sementara waktu sekaligus membujuknya agar
ibu bersedia tinggal bersama kami di Jakarta namun beliau menolak.
"Nanti saja kalau cucu ibu sudah lahir" ucapnya dengan lembut sehingga
akupun akhirnya mengalah dan kembali ke Jakarta bersama Gadis, tentu saja
setelah kami mendapatkan pembantu baru untuk ibu sebelumnya.
Aku dan Gadis memutuskan untuk tetap satu kamar dan satu ranjang. Meski
kami menikah tanpa cinta aku tetap tidak ingin menganggap pernikahan ini
main-main. Aku akan berusaha, berusaha menyukai perempuan dan
mencintainya. Apakah itu mungkin?.
Gadis nampak berbahagia saat keluar kamar dengan seragam sekolahnya. Dia
tersenyum sepanjang jalan menuju meja makan. Ah, dia kini terlihat sangat
belia dengan rambut kuncir ekor kudanya, menggemaskan.
"Akang mau makan pake apa? tadi Eneng udah masak nasi goreng atau mau
roti seperti biasa?" tanyanya masih tetep tersenyum. Ya, kami berdua
memutuskan memanggil dengan panggilan Akang-Eneng.
"Nasi saja, saya lapar. Kamu juga cepat makan biar tidak telat"
"Iya Kang" setelahnya kami berdua sarapan dan berangkat. Aku
mengantarkannya ke sekolah lalu setelahnya akan menuju kantor. Saat
sampai di sekolah, Gadis tidak langsung turun namun duduk diam tanpa
berniat keluar. Kupandangi dia dalam diam dan dia tiba-tiba saja
mengulurkan tangannya. Astaga aku lupa, uang jajan. Ku keluarkan uang 5
lembar seratus ribuan dan kuberikan padanya. Ia menatapku dengan
bingung.
"Akang, Eneng itu mau salim" jawabnya. Oh salim rupanya. Kuberikan
tanganku untuk ia salami setelahnya ia mengadahkan kedua tangannya untuk
meminta uang tadi.
"Ingat, ini uang jajan kamu selama seminggu nanti kalo memang ada
keperluan sekolah lain yang mesti dibeli katakan saja. Mengerti?" Dia hanya
menganggukkan kepala dan setelahnya keluar dari mobil sambil tetap
tersenyum bahagia.
******
Seragam baru, sekolah baru, dan uang jajan banyak. Ya Allah, aku gak pernah
menyangka akan mendapatkan hari seperti ini dalam waktu
dekat. Kulangkahkan kaki dengan riang kedalam sekolah. Kulihat sudah
banyak siswa-siswi yang berdatangan. Ah, teman baru. Sekolah ini sangat
besar dan sepertinya sekolah anak orang kaya terlihat dari banyaknya siswa
yang diantar memakai mobil dan barang-barang bagus yang dipakai mereka,
tas, sepatu, aksesoris, dll.
"Misi misi misi. Lisa blekping mau lewat" ujar seorang pria tambun agak
kemayu ke arahku.
"Eh, neng minggir keles. Gak tau apa istrinya Jaehyun mau lewat?"
"Eh maaf maaf mas, silahkan"
"Sembarangan eike tuh sis bukan mas" jawabnya sedikit kesal.
"Elo anak baru ya?"
"Iya mas eh sis"
"Kelas berapa?"
"12 IPS 1"
"Really? Sekelas dong kita. Ya udah masuk yuk. Beruntung lo ketemu Yoona
SNSD." Duh..... dia itu siapa sih? tadi ngakunya Lisa blekping terus istri
Jaehyun sekarang Yoona SNSD yang bener yang mana?
"Nama situ siapose?"
"Gadis sis"
"Tapi beneran masih gadis kan? sorry sorry, just kidding beb modelan elo
mah gw yakin masih gadis masa janda" aku hanya tersenyum kecut
mendengarnya. Saya bukan janda suami saya masih hidup ucapku dalam hati.
"Sis namanya siapa?" Tanyaku kemudian
"Nama gw sih Aluna Sagita tapi di akte lahir Baharudin Kamajaya" jawabnya
dengan suara sedikit ngebass di ujung kalimat. Lucu.
"Pindahan darimana?"
"Bandung"
"Oh begindang. Eh, karena elo anak baru biar gw yang memperkenalkan
sekolah kita tercinta sekalian gw mau cuci mata sebelum belajar".
"Terima kasih"
Setelahnya kami berdua pun berjalan mengelilingi sekolah yang sangat besar
menurutku bahkan sepertinya 3x lipat lebih luas dari sekolahku dulu di
kampung.
"Itu ruang musik dan yang diujung sana lab komputer. Kantin ada di dekat
taman belakang dan ruang guru di ujung kanan gedung sebelah" jelas Bahar
kepadaku.
"Oh, kalo kelas kita?"
"Tuh" tunjuk Bahar ke ruangan di depan kami berdua.
"Dan...... itu adalah bintang sekolah kita, namanya Stevan. Mantan Ketua OSIS
sekaligus ketua tim basket sekolah. Selingkuhan gw ya itu. Awas kalo elo
lirik-lirik " ancam Bahar kepadaku. Ku ikuti pandangan Bahar yang saat ini
seperti sedang terpesona kepada sesosok pria tinggi dan putih di depan
kelasnya. Tampan.
******
"Tolong proyek yang di Semarang kamu bantu, sepertinya Martin sedikit
kesulitan dengan orang lapangan yang disana"
"Baik pak. Kalo begitu saya permisi dulu"
Sepulang dari cuti menikah pekerjaanku menumpuk karena beberapa proyek
yang sedang kutangani mengalami masalah. Seperti tadi contohnya, proyek
yang ada di Semarang tengah kacau. Para pekerja mengadakan mogok karena
insiden kecelakaan kerja salah satu rekan mereka. Mereka enggan bekerja
jika tuntutan mereka tak terpenuhi. Ini sebenarnya bukan kesalahan
perusahaan, murni kecelakaan pribadi tapi mereka tetap saja menuntut.
Aku harus segera menyelesaikannya bukan karena takut dimarahi petinggi
hanya saja jika masalah ini berlanjut aku harus bertemu Richard kembali
karena ini adalah proyek yang berkaitan dengan perusahaan miliknya. Sejak
acara pernikahanku kami sama sekali tidak saling berjumpa dan memberi
kabar satu sama lain. Tiba-tiba saja telepon diruanganku berbunyi "ada apa
Santi?" tanyaku kepada sekretarisku.
"Maaf pak, ada pak Richard ingin bertemu" baru saja ku bahas tentang
dirinya dan kini dia justru datang ke kantorku.
"Izinkan dia masuk" setelahnya kututup telepon dan menyiapkan diri
bertemu mantan kekasihku itu.
"Sepertinya kamu bahagia Muda"
BAB 5
Richard datang.
Dia masuk sambil menatapku dengan intens. Duduk di sofa dan tanpa
berbasa-basi dia langsung berkata, "Sepertinya kamu berbahagia Muda?"
Aku hanya terdiam antara bingung atau enggan menanggapi.
"Well, aku datang kesini karena masalah pekerjaan jadi jangan
memandangiku seperti itu"
"Masalah proyek di Semarang akan segera diselesaikan kamu tenang saja"
"Baiklah, aku hanya ingin memastikan" kami berdua saling terdiam
menyelami pikiran masing-masing. Aku ingin meminta maaf dan
menyelesaikan semuanya. Sekarang. Bagaimanapun ada Gadis disisiku kini
meski aku tidak mencintainya setidaknya aku tidak ingin menyakiti dirinya.
"Maaf soal hubungan kita Richard"
"Aku tidak bisa memaksa karena dari awal kau memang tidak ingin menikah
denganku, aku mengerti. Kau terlalu penakut"
"Aku akui bahwa diriku memang seorang pengecut maka dari itu aku ingin
meminta maaf padamu. Maaf meninggalkan dirimu tapi aku tidak menyesal.
Aku ingin hidup normal"
"Apa kau sudah tidak mencintaiku?"
"Aku tidak membencimu dan aku ingin menyudahi semuanya, masa lalu kita
berdua. Bagaimanapun ada hati yang ingin kujaga"
"Wanita itu? perempuan belia yang kau nikahi maksudmu?"
"Iya, wanita itu. Gadis namanya"
Sunyi kembali datang namun tak lama Richard berdiri dari duduknya.
"Jika kau berubah fikiran kau bisa menghubungiku kembali" setelahnya dia
keluar dari ruanganku.
******
"Elo beneran beb gak mau nebeng gw nih? tenang eike selalu bawa 2 helm
buat jaga-jaga kalo ada cogan mau nebeng" tawar Bahar kepadaku saat kami
berdua pulang sekolah.
"Makasih Bahar tapi aku naik angkot aja" jawabku. Selain tidak enak dengan
Bahar karena baru mengenalnya aku juga tidak ingin Bahar tau tentang
diriku, lebih tepatnya statusku. Bukan karena aku malu telah menikah hanya
aku takut pandangan dirinya tentang diriku yang masih sekolah tapi sudah
menikah dengan om-om pula.
"Ya udah deh eike jalan ya beb. Bye bye sakalaka boom boom see you
tomorrow"
Saat berjalan ke arah lapangan sekolah tiba-tiba saja kepalaku terbentur bola
dengan cukup keras. Sakit rasanya.
"Hei, bangun kamu gak apa-apa?" tanya seseorang yang masih bisa kudengar
sebelum jatuh pingsan.
Kubuka mataku secara perlahan, kepalaku sakit. Kulihat sekeliling namun
aku tak tahu ini dimana?
"Sudah sadar? maaf soal tadi. Kamu pingsan karena terbentur bola yang aku
lempar" ucap seseorang yang kuketahui tadi pagi bernama Stevan.
"Aku dimana?"
"UKS. Btw kamu gak punya Handphone? maaf, tadi aku lancang buka tas
kamu soalnya aku mau menghubungi keluargamu"
"Aku gak punya" jawabku jujur
"Serius? hari gini gak punya handphone? eh sorry aku gak bermaksud
menghina kamu cuman aneh aja mendengarnya"
"Iya gak apa-apa"
"Ya udah kalo kamu udah baikan, biar aku anterin kamu pulang. Btw nama
kamu siapa? aku Stevan"
"Gak usah makasih. Saya bisa pulang sendiri. Sudah tidak pusing kok"
"Enggak enggak. Aku gak mau kamu pingsan lagi di jalan jadi mendingan
kamu nurut aja biar aku anterin pulang"
"Beneran, saya udah baikan. Saya permisi kalo begitu. Assalamualaikum" aku
langsung bangun dari atas ranjang, keluar dari ruang UKS dan berlari menuju
gerbang sekolah agar bisa menaiki angkot. Aku tidak mau diantar olehnya.
Sesampainya dirumah rasanya sangat melegakan memang rumah adalah
tempat terbaik. Kulepas sepatu dan meletakkannya di rak sepatu lalu
bergegas ke dapur mengambil minum. Kulihat sekeliling rumah dan sepi,
sepertinya Akang belom pulang wajar saja ini masih pukul 4 sore. Setelah
tubuhku tidak lagi berkeringat aku memutuskan mandi dan membersihkan
rumah lalu memasak. Bagaimanapun aku adalah seorang istri selain seorang
pelajar.
Pukul 19.30 semua masakan telah siap, sayur sup, ikan goreng, dan sambal
balado, Akang memang suka masakan rumahan. Tak lama aku mendengar
suara mobil Akang dan pintu rumah terbuka.
"Assalamualaikum. Gadis kamu dimana? lihat apa yang Akang bawa"
Aku segera berlari menuju ruang tamu kusalimi tangannya dan kuambil tas
kerjanya. Kulihat dia membawa beberapa bungkusan. "Duduk sini"
perintahnya.
"Akang bawain kamu martabak manis, ibu pernah bilang kamu suka makan
ini kan? dan ini buat kamu juga" diserahkannya bungkusan martabak
kesukaanku dan satu kantong lagi yang kulihat adalah box handphone,
sebuah handphone keluaran terbaru.
"Ini buat Eneng Kang?" tanyaku tak percaya. Mimpi apa aku dapat handphone
sebagus dan semahal ini?.
"Iya, kamu gak punya handphone saya jadi susah menghubungi kamu. Saya
sudah save nomer saya dan ada di panggilan pertama. Saya juga save nomer
ibu, Maura, dan Vita buat jaga-jaga"
Tanpa sadar aku langsung memeluknya sembari mengucapkan terima kasih
karena sejujurnya belum pernah aku mendapatkan hadiah seperti ini dari
siapapun. "Makasih Akang"
"Senang?" tanyanya sambil mengelus kepalaku. Aku hanya mengangguk
sambil memegang handphone baruku.
"Kamu ngerti cara pakainya?"
Kulepaskan pelukan kami dan menggeleng. Aku belom pernah punya
handphone sebelumnya, apalagi yang secanggih ini dan dengan sabar Akang
mengajari serta menginstal beberapa aplikasi untukku.
"Kamu masak apa?" kami berdua kini berjalan menuju meja makan. Akang
langsung membuka tudung yang ada di meja dan tersenyum.
"Pasti enak. Akang mau mandi dulu, kamu siapin nasi Akang ya" aku
mengangguk dan dia pergi ke dalam kamar kami untuk mandi.
******
Setelah makan malam, aku dan Gadis memilih menonton televisi di ruang
tengah sambil menikmati martabak manis yang kubawa.
"Bagaimana di sekolah? sudah punya teman?"
"Sudah, namanya Bahar. Orangnya lucu"
"Bagus jika begitu, tadi disekolah belajar apa saja?"
"Bahasa Inggris. Matematika dan kesenian. Eneng buruk semuanya Kang"
jawabnya sambil menundukkan kepala, mungkin malu.
"Gak apa-apa, namanya juga belajar dan sekolah wajar kalo gak bisa kalo
mahir jadi guru kamu bukan siswa"
"Terus saat pulang sekolah Eneng sempat pingsan" ceritanya padaku. Aku
memang memintanya untuk selalu bercerita tentang keseharian kami agar
kami berdua semakin dekat.
"Pingsan? kenapa? apa ada yang terluka?" tanyaku khawatir.
"Terkena bola basket, tadi ada yang main basket di lapangan sekolah tapi
udah gak apa-apa kok hanya sedikit pusing makanya pingsan"
"Lain kali hati-hati dan kalo kenapa-kenapa kamu wajib hubungi Akang. Ingat
Akang wali Eneng sekarang"
"Iya Kang"
"Duduk sini" perintahku. Gadis memang sedari tadi duduk di kursi seberang
kursiku, setelah mendengar perintahku dia langsung berpindah posisi duduk
disebelahku. Aku langsung memeluknya dan menyenderkan kepalanya di
dada ku.
"Biasakan seperti ini. Kita kan sedang sama-sama belajar untuk saling
mencintai. Eneng bisa kan?"
Gadis hanya diam meresapi semua kata-kataku. Aku tahu dia pasti sedang
merasa bingung dengan semua perkataan dan perlakuanku kini.
"Memikirkan apa?" tanyaku sambil menatapnya dengan sedikit menunduk.
"Akang sudah putus sama pacar Akang sebelumnya?" tanyanya pelan. Ya, aku
memang sudah bercerita tentang masa laluku dan mantan kekasihku
kepadanya namun tidak menyebutkan nama tentunya.
"Sudah lama bahkan sebelum kita menikah. Jangan terlalu difikirkan" ucapku
sambil mengelus rambutnya lalu mencium pipinya kemudian berlanjut ke
bahu dan kini ke ceruk lehernya. Sungguh aku sedang berusaha sekarang,
aku harus bisa belajar mencintai wanita ini karena ia telah menggorbankan
dirinya.
"Dia menerimanya?"
"Mungkin. Terlepas apapun keputusannya Akang tidak peduli. Kamu percaya
Akang?"
Gadis menatapku dengan intens seperti sedang mencari kejujuran dari
ucapanku barusan.
"Eneng percaya Akang kan?" tanyaku kembali setelahnya aku mencium
bibirnya. Awalnya hanya sebuah kecupan ringan namun lama kelamaan
menjadi sebuah lumatan. Aku tahu ini pasti ciuman pertama baginya, Gadis
terlihat sangat gugup dan amatir. Dia hanya memejamkan mata dan
memajukan sedikit bibir mungilnya karena sepertinya dia bingung harus
bereaksi bagaimana.
"Buka mulutmu dan ikuti aku sayang" ucapku disela ciuman kami. Gadis
menuruti perintahku dan sedetik kemudian lidahku bertemu dengan
lidahnya, kami saling memanggut mencari kepuasan dari ciuman ini.
Gadis mengalungkan kedua lengannya ke leherku dan ciuman kami semakin
menghanyutkan kami berdua. Aku mengangkatnya agar dia duduk di
pangkuanku. Aku memegang tengkuknya untuk memperdalam ciuman kami
serta kembali tanganku juga tak tinggal diam bergerilya ke beberapa bagian
tubuhnya. Dia terkejut namun pasrah saja atas perbuatanku. Dengan sedikit
ragu aku bertanya padanya yang juga sudah menatapku dengan tatapan sayu,
"Bolehkan Akang meminta hak Akang malam ini?"
BAB 6
Aku telah memutuskan untuk belajar mencintai istriku. Jujur setelah bertemu
Richard siang tadi aku sempat goyah terhadap keputusanku sebelumnya dan
tergoda untuk kembali kepadanya.
Kucium bibir mungil istriku, awalnya hanyalah sebuah kecupan ringan
hingga berakhir menjadi lumatan panas. Dari pelukan hangat menjadi sebuah
cumbuan menggoda. Aku harus bertindak agar pemikiran seperti tadi siang
tidak kembali datang dalam diri dan pikiranku karena bagaimanapun itu
adalah hal yang salah dan inilah yang kulakukan.
"Bolehkan Akang meminta hak Akang malam ini?" dapat kulihat wajah
terkejut Gadis saat aku bertanya demikian namun dia hanya mengangguk
tanda setuju.
Kubopong tubuhnya tanpa melepas ciuman kami berdua. Kubaringkan dia di
atas ranjang dan kini aku sudah berada di atas tubuhnya dengan menopang
tubuh besarku dengan kedua siku ku agar tak menimpanya. Kupandangi
wajah belianya, apakah harus kulakukan sekarang? Jujur aku sempat ragu
dan tak tega namun setelah kembali yakin atas permintaanku tadi padanya
aku langsung berdiri dan melepas pakaian yang melekat pada tubuhku
kemudian berlanjut membantu Gadis membuka pakaian miliknya. Malam ini,
untuk pertama kalinya aku bercinta dengan wanita, dengan Gadis istri
kecilku.
******
Badanku terasa pegal dan rasanya sakit sekujur tubuh. Kupandangi selimut
yang menutupi tubuh polosku dan suamiku. Ah, semalam kami
melakukannya. Kini aku bukan lagi seorang gadis kecil namun wanita
dewasa. Ada rasa bangga karena bisa memberikannya kepada suamiku.
Kutatap wajahnya yang tertidur pulas. Selalu tampan. Entah keberanian
darimana sehingga aku menyentuh wajahnya. Alisnya yang tebal, hidungnya
yang mancung, matanya yang tajam namun penuh kehangatan dan terakhir
bibirnya yang manis. Mengingat ciumannya semalam membuatku malu
dan...... ingin lagi rasanya.
Ada apa denganku? kenapa aku jadi mesum seperti ini? apa ini efek samping
setelah melepas keperawanan?
Tiba-tiba saja Akang membuka matanya dan menatapku, "Sudah puas
memandangi wajah tampan suamimu, hah?"
Aku terkejut dan berusaha untuk segera menjauhkan tanganku dari
wajahnya namun Akang berhasil menghentikannya "Pegang saja jika ingin
karena semua yang ada di diri Akang adalah milik Eneng sekarang" aku
kemudian tersenyum malu mendengar ucapannya dan sedetik kemudian
Akang kembali mencium bibirku "Morning kiss, biasakan itu mulai dari
sekarang"
Setelah saling memandang beberapa saat, aku dan Akang memutuskan untuk
bersiap pergi ke sekolah dan kantor namun saat hendak turun dari ranjang
aku merasa kesakitan khususnya diarea intimku. Perih dan kebas.
"Apakah masih terasa sakit?" tanyanya khawatir
"Sedikit"
"Apa sebaiknya Eneng tidak usah masuk sekolah saja? nanti biar Akang
telepon pihak sekolah mengatakan Eneng tidak masuk karena sakit"
"Tidak usah Kang. Lagian Eneng juga baru masuk sehari masa sudah bolos
sekolah sih Kang"
"Tapi Eneng masih merasa kesakitan. Apa Eneng yakin bisa berjalan jika
kesakitan begitu? Maaf ya sayang Akang menyakitimu".
"Gak apa-apa, nanti juga hilang sakitnya. Mungkin ini efek sampingnya Kang.
Wajar karena Eneng baru melepas keperawanan. Hmm..... apa Akang senang?
maksud Eneng......"
"Senang, terima kasih atas hadiahnya semalam. Eneng hebat" pujinya
kepadaku.
"Yasudah, ayo Akang gendong ke kamar mandi sekalian kita mandi bersama.
Bagaimana?" tanya Akang menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya
kemudian Akang menggendongku ke kamar mandi dengan kondisi kami
berdua yang sama-sama masih polos tanpa sehelai benangpun menutupi.
Hubunganku dengan Akang semakin membaik meski dari awal Akang
memang sudah sangat baik kepadaku. Kegiatan kami masih sama, berangkat
ke sekolah dan ke kantor bersama, saling memberi kabar setiap waktu,
makan malam bersama, bercerita mengenai kegiatan kami seharian dan
bermesraan di manapun khususnya di atas ranjang.
Setelah malam pertama tersebut, kami berdua menjadi lebih terbuka untuk
menunjukkan rasa kasih sayang dan kepemilikan satu sama lain. Berpelukan,
berciuman, dan bercinta sering kami lakukan namun setelahnya Akang akan
memberiku pil pencegah kehamilan.
"Minum ini agar kamu gak hamil sayang" Jujur aku sedikit terkejut dan
kecewa ketika Akang berkata demikian. Maksudku bukankah kami menikah
agar ibu mertuaku cepat memiliki cucu tapi.....
"Kenapa Kang? Akang gak mau punya anak dari Eneng?" tanyaku tanpa bisa
menutupi raut sedihku darinya.
"Bukan begitu sayang, Akang hanya ingin Eneng fokus sekolah sekarang dan
setelah Eneng lulus sekolah baru kita akan memiliki anak"
"Tapi..... ibu....."
"Jangan khawatir jika kita tak memberi tahunya bahwa kita menunda maka
ibu tak akan tahu bukan?. Nanti jika ibu bertanya kita hanya perlu bilang
bahwa memang belum dikasih sama Tuhan".
"Apa tidak masalah Kang?"
"Tidak, Eneng percaya Akang kan?"Aku tidak menjawab hanya mengangguk
tanda setuju.
"Istirahatlah, besok Eneng harus sekolah"
Aku kemudian berusaha untuk tidur sambil memeluk suamiku. Harum
tubuhnya adalah kesukaanku dan tentu saja dada bidang Akang adalah
tempat ternyaman bagiku.
Pagi hari seperti biasanya aku akan menyiapakan semua keperluan Akang
untuk bekerja. Pakaian, makanan, tas, dll. Saat sedang menyiapakan pakaian
Akang, tiba-tiba saja handphone milik Akang berbunyi. Sedikit ragu untuk
melihatnya bagaimanapun tindakan tersebut cukup tidak sopan meski Akang
adalah suamiku namun aku cukup penasaran siapa yang menelepon pagi-
pagi begini.
Kulirik handphone Akang yang ditaruh di atas meja samping ranjang kami
dan terlihat sebuah nama, Richard. Siapa dia? tak lama handphone akang
berhenti bersuara mungkin si penelepon tau bahwa tak akan diangkat. Disaat
itu pulalah Akang keluar dari kamar mandi.
"Tadi ada telepon Kang"
"Telepon? dari siapa sayang?"
"Richard".
******
Jantungku seakan berhenti berdetak ketika Gadis menyebutkan nama itu.
Nama yang sedang kucoba hapus dari ingatanku.
"Apa Eneng mengangkatnya?" tanyaku sedikit khawatir.
"Tidak, lagipula tidak sopan Akang. Apa Akang tidak masalah jika Eneng
mengangkat telepon milik Akang?"
"Tidak apa-apa, kamu istriku" ya, memang tidak masalah jika Gadis melihat
bahkan memainkan handphone milikku karena memang tidak ada rahasia
apapun yang kusembunyikan darinya kecuali nama mantan kekasihku itu.
Setelahnya Gadis keluar untuk menyiapkan sarapan kami berdua. Langsung
saja aku mengambil handphone itu dan melihat nama yang tertera di daftar
panggilan tak terjawab, benar dari Richard. Ingin rasanya meneleponnya
kembali menanyakan ada keperluan apa hingga menelepon pagi-pagi begini,
maksudku bisa saja kan hal penting mengenai pekerjaan. Akan tetapi aku
ragu, kuputuskan hanya mengiriminya pesan singkat untuk menanyakan ada
keperluan apa sehingga dia meneleponku pagi-pagi. Kutunggu lima menit
namun tidak juga ada balasan darinya. Gadis kembali masuk ke dalam kamar
dan memintaku untuk cepat sarapan karena sudah siang.
"Kang, ayo sarapan nanti kita telat. Eneng ada upacara bendera hari ini"
"Iya, ayo" kami berdua pergi sarapan dengan sedikit tergesa-gesa karena
memang sudah cukup telat apalagi ini hari senin jalanan pasti lebih macet
dari hari biasanya. Setelahnya kami berdua menaiki mobil menuju sekolah
Gadis terlebih dahulu.
"Ini uang jajan Eneng minggu ini dan ini bonus karena nilai ulangan Eneng
kemaren mendapat nilai bagus"
"Beneran buat Eneng Kang? ini banyak banget. 2x lipat dari biasanya"
"Iya, nanti setiap nilai ulangan Eneng bagus akan Akang kasih hadiah
tambahan uang jajan"
"Beneran?" tanyanya heboh dan langsung mencium bibirku kilat namun saat
Gadis ingin melepaskannya segera ku tahan dengan memegang tengkuknya
untuk memperdalam ciuman kami berdua sampai akhirnya dia memukul
dadaku karena kehabisan nafas. Kulepaskan ciuman panas kami sambil
menyenyuh bibir mungilnya dengan jempolku. Dia tersenyum dan kubalas
dengan senyuman juga, setelahnya Gadis keluar dari mobil.
Saat hendak melanjutkan perjalanan tiba-tiba saja handphoneku berbunyi
menandakan terdapat pesan masuk. Kuambil handphone milikku dari atas
dasbor mobil dan kulihat dari siapa pesan tersebut dan benar saja dugaan ku,
Richard.
"Bisa kita bertemu? Kumohon" isi pesan balasan darinya.
BAB 7
"Bisakah kita bertemu? Kumohon"
Aku ragu untuk membalasnya namun dengan pemikiran mungkin karena
pekerjaan aku memutuskan menghubunginya kembali.
"Ada apa Richard?"
"..."
"Jika ini bukan soal pekerjaan jangan menghubungiku lagi karena aku tak
ingin menyakiti istriku"
" . . ."
"Lupakan Richard, itu hanya masalalu"
" . . ."
"Maaf Richard jawabanku masih sama seperti kemarin. Aku tak mungkin
kembali bersamamu dan mengenai kerjasama kita aku akan meminta
seseorang menggantikan diriku karena kurasa ini yang terbaik untuk kita
berdua" setelah mengatakan semuanya segera kuputuskan telepon kami
secara sepihak. Aku masih berada di dekat gerbang sekolah Gadis dan belom
beranjak sedikitpun dari sana. Ternyata pengaruh Richard masih sangat
besar bagi diriku.
Flashback
Dentuman suara musik klub begitu memekakkan telinga namun suara bising
seperti ini jauh lebih baik daripada suara sunyi apartemen milikku. Aku
butuh minum untuk kembali menyegarkan pikiranku akibat pekerjaan yang
melelahkan. Saat sedang minum sendirian tiba-tiba saja ada seseorang yang
mendekatiku, seorang pria.
Klub ini memang klub khusus kaum gay seperti diriku, jadi tidak heran jika
semua pengunjungnya adalah kaum pria. Dibandingkan klub malam pada
umumnya aku menyukai klub ini, membuatku merasa tidak berbeda. Pria di
sebelahku terus memperhatikan diriku namun aku pura-pura tidak tahu saja
karena aku yakin dia ingin mengajakku berkenalan.
"Aku tidak tahu bahwa kamu pengunjung klub ini" suara ini seperti pernah
kudengar.
Kondisi pencahayaan di klub yang begitu remang ditambah keadaanku yang
sudah mabuk membuat penglihatan ku sedikit buram. Dia mendekat.
"Apa kau mau kutemani?" tanyanya kembali sambil memegang tanganku.
Kulihat tangannya yang begitu kekar dan terasa hangat saat memegang
telapak tanganku, kuarahkan pandanganku ke wajahnya. Saat aku bisa
memfokuskan penglihatanku kembali aku cukup terkejut dengan sosok pria
di sebelahku ini. Dia Richard. Richard Andreas, seorang CEO disalah satu
perusahaan ternama di negeri ini yang juga merupakan salah satu klient yang
proyeknya tengah ku tanggani.
Kutatap wajah tampannya dengan lekat, dia memang sudah menarik
perhatianku sejak awal bertemu. Entah bagaimana awalnya hingga kami
berdua akhirnya berciuman di depan meja bar dan jangan heran karena
pemandangan seperti ini adalah pemandangan yang sangat biasa disini dan
inilah awal mula hubungan kami berdua dimulai, hubungan yang manis dan
indah bagi kami berdua. Sudah kukatakan bukan dia kekasihku yang paling
lama bertahan disisiku?
Dia pria yang dulu pernah sangat kucintai.
******
"Eh beb, nanti elo temenin Irene Red Velvet nonton pertandingan basket ya
sepulang sekolah" ucap Bahar kepadaku saat kami berdua sedang makan
dikantin.
"Gak ah, Har. Aku mau pulang aja belom izin juga sama orang rumah"
"Ih, bentar aja sih. Sekalian cuci mata dan fikiran tau, lumayan liat cogan
gratis. Emang elo gak suka apa liat cogan?" Ngapain? Aku juga udah punya
suami cogan kok, jawabku tentu saja dalam hati.
"Enggak ah, nanti kesorean banget lagi"
"Ih, kaku deh ye. Udah pokoknya elo ikut gak ada penolakan apapun nanti
eike traktir cilok deh. Ya..... ya..... please" mohon Bahar dengan tatapannya
yang kedip-kedip manja.
"Aku telepon orang rumah dulu, kalo diizikan maka nanti aku temani tapi jika
enggak maka jangan paksa aku lagi ya" Bahar setuju dan aku langsung
menelepon suamiku setelah tentunya menyingkir dari hadapan Bahar agar
dia tidak mendengar percakapan kami berdua.
"Assalamualaikum Kang"
" . . ."
"Eehh, begini Kang. Eneng mau izin pulang telat. Bahar mau ngajakin Eneng
nonton pertandingan basket sepulang sekolah. Tadi udah Eneng tolak tapi dia
maksa makanya Eneng nanya Akang dulu boleh apa enggak Eneng nonton?"
"..."
"Sebelum Maghrib insyaallah sudah selesai Kang"
"..."
"Beneran? Ya udah nuhun atuh Kang. Assalamualaikum" setelah berhasil
meminta izin kepada Akang aku segera kembali kemeja tempat aku dan
Bahar makan tadi namun tiba-tiba saja kepalaku membentur tubuh
seseorang. Kuangkat kepalaku ke atas karena memang badan orang yang tadi
aku tabrak jauh lebih tinggi dari diriku.
"Ternyata kamu lagi" ucapnya
"Eh, maaf saya gak sengaja"
"Gak apa-apa, kamu baik-baik saja kan? Oh iya, gak terjadi apapunkan setelah
insiden lemparan bola aku tempo hari?"
"Enggak ada kok, saya baik-baik saja"
"Syukurlah, btw kamu nanti nonton pertandingan basket kan? Aku harap
kamu datang dan kasih aku semangat. Oke"
"Iya, nanti saya datang dengan teman saya kok"
"Bagus. Kalo gitu sampai jumpa lagi di lapangan" setelahnya Stevan pergi
dengan teman-temannya yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan
kami berdua. Entah perasaanku saja atau memang semua orang dikantin
memandangku? Aku kembali ke mejaku dan mendapatkan Bahar sedang
menatapku tajam.
"Sejak kapan situ deket sama my future husband Stevan?"
"Hah, Siapa yang deket?"
"Itu tadi ngobrol-ngobrol ceria"
"Aku gak sengaja nabrak badan dia, lagian dulu dia pernah lempar kepalaku
pake bola basket sampe pingsan"
"Serius? Ya Tuhan, ternyata bukan wajahnya aja yang tampan tapi kuat juga.
Omaigat rahim gw tiba-tiba menghangat" ucap Bahar dengan suara centil
ngebass-nya.
Sepulang sekolah, sesuai janji dengan Bahar kami berdua akhirnya pergi
menonton pertandingan basket antar sekolahku dengan sekolah lain. Entah
karena pertandingan final atau memang banyak siswa yang menyukai basket
dapat kulihat banyak penonton yang memberi dukungan, terutama kaum
perempuan.
"Aduh panas banget ini sinar mentari mending kita minggir dulu ke bawah
pohon yuk. Bedak gw bisa luntur nanti belom juga di lirik Stevan"
"Kamu ngapain sih dandan kaya ondel-ondel begini Har?" tanyaku heran saat
ia kembali mengoleskan lipstik merah ke bibirnya yang tebal.
"Sembarangan lo, ini tuh bukan ondel-ondel style tapi ini tuh western style"
"Apa harus kaya begini? lipstik merah, bulu mata tebal, eyeshadow warna
biru dan pipi kamu itu merah banget kaya abis ditampar tahu gak?"
"Udah deh, kalo gak tau trend makeup diem-diem bae. Oke"
Baiklah aku diem saja mungkin memang aku yang ketinggalan zaman.
Pertandingan basket akhirnya di mulai. Bahar langsung menarik tanganku
untuk segera ke pinggir lapangan. Bahar kemudian menyingkirkan orang-
orang agar kami berdua dapat berdiri paling depan.
Pertandingan berjalan sangat seru, kedua tim begitu lihai dalam bermain.
Setiap pemain sekolahku berhasil memasukkan bola kami bersorak dan
betepuk tangan dengan kencang begitupun sebaliknya ketika tim lawan yang
berhasil memasukkan bola kami akan menyorakinya namun yang pasti
ketika Stevan yang berhasil memasukkan bola, baik siswa di sekolahku
ataupun sekolah lawan khususnya siswi perempuan akan bersorak heboh.
Badanku terasa lelah dan lengket akibat berkeringat karena terlalu
bersemangat saat menonton pertandingan. Tim basket sekolahku berhasil
menang dengan skor tipis. Saat hendak menunggu angkot di halte tiba-tiba
saja ada sebuah motor berhenti di depanku. Aku melirik kekanan dan kekiri
memastikan adakah orang lain disana namun tidak ada siapapun kecuali
diriku sendiri. Orang tersebut kemudian turun dari motornya dan
melepaskan helm miliknya, terlihat wajah Stevan disana.
"Kamu belom pulang?"
"Lagi nunggu angkot"
"Oh, mau aku antar? Siapa tau kita searah" tawarnya
"Tidak terimakasih, saya naik angkot aja" tolakku secara halus.
"Udah sore, angkot udah gak ada jam segini"
"Beneran?" Aduh,bagaimana ini aku pulang? memang aku sudah menunggu
cukup lama dan tak ada satupun angkot yang melintas sejak tadi.
"Udah ayo aku antar, daripada kemalaman. Kamu gak usah khawatir aku
orang baik kok" belum sempat aku menjawab kembali ucapannya, Stevan
langsung menarik tanganku menuju motornya dan memberikan helm yang
dia ambil di dalam jok.
"Pakai ini dan pegangan yang erat ya" aku hanya menuruti perintahnya
karena sejujurnya aku juga takut kalo tidak berpegangan padanya. Setelah
memberitahukan alamatku kami berdua pun pergi meninggalkan halte.
Semoga Akang belom pulang, doaku dalam hati.
Perjalanan cukup singkat karena Stevan membawa motornya dengan
kencang. Aku bahkan hampir kena serangan jantung saat dia menyalip
kendaraan lain di jalan. Ketika hendak sampai di depan komplek rumah, aku
segera meminta Stevan untuk menurunkanku disana.
"Udah, sampai disini aja"
"Kenapa? memang rumah kamu dimana?"
"Gak apa-apa, udah deket kok. Aku tinggal jalan kaki sebentar"
"Kenapa gak aku antar sampe depan rumah kamu sekalian kalo udah deket?"
"Enggak usah, aku gak mau"
"Kamu takut dimarahin orangtuamu ya?" tanyanya sok tau. Aku hanya
mengangguk, bingung mau menjawab apa karena gak mungkin kan aku
bilang, aku takut suamiku salah paham. Dia akhirnya mengerti dan
menurunkanku disana. Setelah mengucapkan terima kasih padanya Stevan
kemudian melajukan motornya kembali.
Aku berjalan sedikit cepat karena harus segera menyiapkan makan malam
karena ini sudah terlalu sore namun saat hampir tiba di depan rumah aku
bisa melihat seseorang berdiri disana dengan bersandar pada mobilnya. Aku
pun mendekatinya dan sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana ya?
"Maaf mas, cari siapa ya?"
"Oh, maaf menganggu. Saya Richard"
BAB 8
Aku mempersilahkan pria bernama Richard tersebut untuk masuk ke dalam
teras rumah. Aku ingat dia pernah datang di acara pernikahanku dengan
Akang.
"Sebentar ya mas, saya ambilkan minum"
"Terima kasih, maaf jika merepotkan"
Setelahnya aku masuk ke dalam rumah untuk menyediakan minum bagi
tamu namun tidak berselang lama aku bisa mendengar suara mobil Akang.
Setelah selesai menyiapkan minuman dan beberapa cemilan aku langsung
membawanya ke teras sekaligus untuk menyambut kepulangan suamiku
setelah bekerja. Akang dan temannya terlihat seperti sedang membicarakan
hal yang sangat penting namun aku tak dapat mendengarnya dengan jelas
karena mereka berbicara cukup pelan.
Saat Akang melihatku datang, dia berhenti berbicara dan tersenyum
kearahku. Kubalas senyumannya dan manaruh nampan di meja lalu
menyalaminya.
"Akang udah pulang? tumben cepat. Maaf Eneng belum masak." ucapku sesal.
"Tidak apa-apa nanti kita bisa makan diluar. Kamu baru pulang sayang?"
tanyanya saat Akang melihatku masih dengan menggunakan seragam
sekolah lengkap dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ya sudah Eneng masuk dulu, mandi dan ganti baju sekalian siap-siap
setelahnya baru kita pergi makan di luar" perintahnya. Aku menurutinya dan
meninggalkan mereka berdua di teras. Kupandangi sekali lagi keduanya,
benarkan ucapanku dulu bahwa orang tampan akan berteman dengan orang
tampan lainnya.
******
Aku segera pulang saat mendapatkan pesan dari Richard yang mengatakan
akan menungguku di rumah karena seharian ini aku benar-benar
menghindarinya. Setelah pembicaraan di telepon tadi pagi, dia terus
berusaha untuk menghubungiku kembali namun semuanya kutolak. Ketika
Richard meneleponku tidak pernah aku angkat, ketika dia mengirimkan
pesan tidak pernah juga kubalas bahkan ketika dia datang ke kantor aku
menyuruh sekretarisku mengatakan bahwa aku tidak ada di tempat.
"Apa maumu Richard? kenapa kau terus mengangguku?" tanyaku setelah
kami berdua duduk di depan teras.
"Kenapa menghindariku Muda?"
"Aku sudah menikah"
"Lantas? aku tau kamu masih mencintaiku"
"Richard please, aku tidak ingin menyakitinya. Gadis wanita baik yang
bersedia menikah denganku meski tau masa laluku".
"Kau menyesal dengan semuanya? dengan cinta kita? masalalu kita?"
"Aku hanya ingin melangkah maju Richard. Maafkan aku jika aku
menyakitimu. Kau juga pantas berbahagia dan itu bukan denganku"
"Bagaimana bisa kau dengan mudah melupakan 4 tahun kebersamaan kita?
kau menolak setiap aku ajak menikah, aku mengerti. Kau menikah dengan
wanita lain dan tak mengabariku aku memaklumi karena kufikir ini memang
jalan terbaik bagi kita. Kufikir kau tidak mengabariku karena tak ingin
menyakitiku. Kufikir meski sudah menikah kita tetap akan bersama. Tapi apa
sekarang? Kenapa Muda?"
"Sudah kukatakan aku ingin berubah"
"Apakah mungkin?"
"Maka dari itu tolong jangan hubungi aku lagi selain sebagai rekan bisnis
Richard. Kau pria baik dan aku tak ingin menyakitimu"
"Tapi kau sudah menyakitiku Muda"
"Maaf" kami berdua terdiam beberapa saat. Aku bingung. Jujur aku sedih
melihatnya seperti ini. Richard adalah pria tampan nan gagah serta terkenal
akan arogansinya namun Richard disebelahku kini terlihat begitu..... lemah.
"Apa tidak mungkin bagi kita untuk kembali bersama?"
"Tidak"
"Kau yakin?"
"Iya"
Setelahnya dia berdiri dan melangkah keluar halaman rumahku namun
sebelumnya dia kembali berkata, "aku mencintaimu Muda baik dulu,
sekarang, dan mungkin nanti. Ingat itu! namun harus aku akui aku juga
membencimu sekarang"
Ya, bencilah diriku Richard karena itu lebih baik bagi kita berdua, ucapku
dalam hati.
Richard pergi tanpa lagi melihat ke belakang, ini yang terbaik fikirku. Aku
mencintainya namun kami tak mungkin bersama. Mulai saat ini kau hanya
masa laluku dan Gadis adalah masa depanku. Kulangkahkan kakiku ke dalam
rumah menuju kamar dan melihat Gadis yang baru selesai mandi. Ku
pandangi wajahnya sesaat dan kutarik tubuhnya mendekatiku. Kucium
bibirnya dan ku usap kulit wajah mulusnya.
"Bolehkan?" tanyaku kepadanya dan dia hanya mengangguk. Sore ini akan
menjadi sore panas bagi kami berdua.