20 menit kemudian keluar seorang perawat yang memberitahu bahwa Gadis
ingin aku ikut masuk ke dalam untuk menemaninya melahirkan. Dengan
berbagai macam perasaan yang melingkupi, kulangkahkan kakiku kedalam
ruang persalinan tersebut dan kulihat Gadis yang tengah berjuang
melahirkan buah cinta kami.
Wajahnya dipenuhi peluh keringat dan menampilkan ekspresi kesakitan.
Melihat hal tersebut aku langsung menggenggam tangannya dan mencium
keningnya. Kembali kupanjatkan doa di telinganya dan mengucapkan kata-
kata cinta untuk menyemangati dirinya yang masih terus berjuang
mengeluarkan bayi kami.
"S..... sa..... kit Akang"
"Ayo sayang kamu pasti bisa. Sebentar lagi malaikat kecil kita akan
memperlihatkan wajahnya kepada mama papanya. Akang cinta kamu Neng"
Gadis mencakar, memukul, menjambak rambut, bahkan menggigit tanganku
hingga terluka dan berdarah namun semua itu belumlah setara dengan rasa
sakit yang dia alami. Aku hanya bisa membiarkan dirinya menjadikan diriku
sebagai tempat pelampiasan rasa sakitnya saat ini.
Hoek
Hoek
Hoek
Seketika jantungku terasa berhenti dan air mata kini tak lagi dapat
kubendung. Terdengar suara paling indah di dunia menurutku kini, suara
tangis bayiku. Gadispun juga terlihat sama denganku yakni menangis haru
dengan wajahnya yang terlihat sangat letih.
"Selamat ya om, Gadis. Alhamdulillah bayinya sehat dan sangat cantik"
Sarah memberikan bayi kecilku kepada Gadis untuk selanjutnya
mendapatkan air susu pertamanya. Dengan perasaan takjub dan haru aku
melihat malaikatku yang sedang menangis sambil mencari sumber
kehidupannya kepada Gadis.
Untuk pertama kalinya aku mengazani putriku, sungguh ini pengalaman luar
biasa untukku dan aku tak akan pernah bisa melupakannya. Ada perasaan
senang, sedih, tak percaya, dan juga perasaan takjub menyaksikan bagaimana
semuanya terjadi. Sungguh hal tersebut semakin membuatku mengetahui
segala Maha Kuasa-Nya sebagai sang pencipta.
******
Suara tangisan menggema di ruang persalinan, menandakan bahwa bayi
kecilku kini telah lahir di dunia. Meski lelah dan kesakitan namun rasa
bahagia lebih dominan kurasakan saat ini. Dokter Sarah memberikan bayi
kecil cantik tersebut kepadaku dan dapat kulihat wajah mungilnya yang
begitu menggemaskan.
Untuk pertama kalinya aku memberikan air susuku kepadanya, sungguh ini
pengalaman yang luar biasa. Meski selalu ku bayangkan bagaimana rasanya
jika ada seorang bayi yang menyusu langsung kepadaku namun rasanya tak
seperti dugaanku. Maksudku, ini benar-benar jauh lebih membahagiakan dari
bayanganku sebelumnya.
Setelah selesai menyusu dan diazankan, dokter Sarah meminta izin untuk
membawa bayiku ke ruangan khusus para bayi yang baru lahir dan aku akan
dibawa ke ruang rawat untuk pemulihan. Dengan berat hati karena tak ingin
berpisah, kuberikan buah hatiku kepada seorang perawat untuk dibawa.
Mama sayang kamu.
Akang selalu menemaniku dan tak pernah melepaskan tangannya untuk
menggenggam tanganku. Kulihat matanya masih mengeluarkan air mata dan
bibirnya tak berhenti mengembangkan senyuman. Kini kami berdua saling
memandang dalam diam mengutarakan perasaan cinta dalam tatapan kami
berdua.
"Terima kasih sayang dan Akang mencintaimu, sangat. Dulu, sekarang, dan
selamanya" ucapnya yang semakin membuatku menangis bahagia.
Entah berapa lama aku tertidur namun ketika aku membuka mata dapat
kulihat semuanya sudah berkumpul di dalam kamar rawat inap milikku. Ada
mbak Maura dan om Bram, Mbak Vita dan mas Darren serta ibuku yang
masih mengobrol. Akang yang menyadari bahwa diriku telah sadar langsung
mendekatiku dan mencium keningku.
"Haus?" tanyanya dan aku hanya mengangguk. Setelahnya Akang
membantuku minum dan membaringkan diriku kembali.
"Dedek bayinya kemana Kang?"
"Masih di ruangannya nanti akan dibawa oleh suster kesini untuk Eneng
susui" aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Akang.
"Selamat ya Gadis sudah menjadi seorang ibu" ucap mbak Maura kepadaku
dan beberapa ucapan selamat lainnya dari mbak Vita, om Bram dan mas
Darren. Terakhir ibu yang langsung memelukku sambil menangis.
"Terima kasih sayang kamu memang anugerah buat keluarga ibu"
"Ibu jangan bilang seperti itu, Gadis sayang ibu"
Tak lama pintu ruanganku terbuka dan menampilkan seorang perawat yang
membawa bayiku untuk segera aku susui. Semuanya pergi meninggalkan
kamar dan hanya menyisakan aku, Akang dan bayi kami.
"Lihat, wajahnya mirip Akang kan?" Akupun ikut memperhatikan bayi kami
yang saat ini sedang menyusu dalam dekapanku.
"Tapi bibirnya mirip sama Eneng"
"Iya, tapi keseluruhan mirip sama Akang"
"Ish, Eneng yang hamil 9 bulan Eneng juga yang kesakitan pas lahiran tapi
wajahnya mirip sama Akang banget" keluhku sambil menatap wajah bayi
kecilku yang sangat menggemaskan.
"Bagus dong, berarti pas pembuatannya Eneng cinta banget sama Akang"
godanya kepadaku sambil tersenyum dan mengelus pipi bayi kami. Aku
sontak mencubit perutnya karena kesal setelahnya kami berdua tertawa dan
menyaksikan sang malaikat kecil kami yang sedang menyusu.
"Akang sudah tau mau kasih nama siapa untuk dedek bayinya?"
"Memang Eneng beneran tidak ingin memberinya nama? Maksudnya tidak
ada nama yang ingin Eneng selipkan di nama anak kita?"
"Akang aja yang kasih nama nanti anak selanjutnya baru Eneng yang kasih"
"Baru selesai lahiran masih mau langsung hamil lagi? Badan Akang saja
masih sakit karena keganasan Eneng di ruang persalinan tadi" tanyanya yang
diselingi tawa sambil menunjukkan beberapa bekas luka akibat perbuatanku
kepadanya saat melahirkan.
"Kenapa? Akang lupa kita mau punya banyak anak. Karena Akang sudah tua
makanya kita harus kejar setoran"
"Astaga, lembur lagi dong nanti sayang"
"Gak apa-apa, lagian Akang juga suka kan?" Godaku sambil tersenyum
"Selalu, apalagi kalo lemburnya sama Eneng"
BAB 42
7 tahun kemudian
Pagi hari adalah waktu paling sibuk untuk diriku. Bagaimana tidak? Aku
harus mengurus suami dan kelima anakku secara bersamaan karena mereka
benar-benar tak ingin jika bukan aku yang melakukannya meski ada ibu dan
beberapa asisten rumah tangga yang membantuku untuk mengurus
pekerjaan di rumah dan anak-anak.
Enam tahun yang lalu aku dan Akang memutuskan untuk mengikuti program
kehamilan anak kembar seperti mbak Maura dulu. Alasannya simpel karena
aku dan Akang menginginkan mempunyai banyak anak dan mengingat jika
aku ingin hamil lagi serta memiliki banyak anak maka akan memakan waktu
yang lama apalagi suamiku sudah cukup tua dan kuliahku kerap kali tertunda
sehingga memanfaatkan kemajuan ilmu kedokteran adalah pilihan bijak bagi
kami berdua ketika itu. Alhamdulillah melalui program ini aku langsung
dikaruniai 4 orang anak dan semuanya laki-laki sehingga putri kecilku kini
mempunyai 5 pelindung untuk dirinya kelak. Oh tidak, mungkin 6 orang
pelindung karena aku kini kembali diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk
kembali memiliki anak.
Aku bahagia dengan kehidupanku. Suami yang kucintai dan sangat
mencintaiku serta dikaruniai anak-anak yang sangat menggemaskan. Ibu
juga sudah tinggal bersama kami sejak 6 tahun yang lalu karena selain aku
dan Akang tak tega membuatnya tinggal sendirian, ibu juga tak sanggup jika
harus berjauhan dari semua cucunya apalagi sejak ia mengetahui aku tengah
mengandung 4 orang anak ibu langsung memutuskan untuk tinggal bersama
kami.
Akang juga telah membelikan kami rumah baru yang jauh lebih besar karena
memang jumlah anggota keluarga kami yang bertambah.
Kuliahku? Aku kini adalah seorang mahasiswi semester akhir dan jujur saja
kini aku bisa sedikit bersikap tenang menghadapi kehamilan ke-3 ku karena
tidak perlu mengambil cuti kembali. Hal ini dikarenakan kuliahku hanya
tinggal menulis skripsi. Tapi jika boleh jujur, sebenarnya kehamilan yang
sekarang benar-benar tak direncanakan sama sekali, mungkin ada rencana
menambah anak tetapi setelah aku lulus kuliah lebih tepatnya. Ya sudahlah,
rezeki tak boleh ditolak apalagi rezeki anak. Toh memang kami berniat ingin
mengalahkan keluarga petir yang terkenal itu.
"Sayang, dasi aku yang kamu belikan bulan lalu kok gak ada ya di lemari?"
"Mama, Nayshilla mau rotinya pake selai cokelat bukan strawberry"
"Mama Abang mau susu"
"Mama Kakak mau roti"
"Mama Mas mau mamam nasi enggak mau roti"
"Mama AA gak mau mamam"
Lihat? Bagaimana pagiku tak sibuk. Kelima anakku dan suamiku selalu
memanggil namaku meski sebenarnya sudah ada 4 orang pengurus rumah
yang membantuku namun semuanya hanya mau diriku yang melayani.
"Sayang ini kemeja Akang kok yang warna hitam juga gak ada ya?"
"Kan bisa pake warna lain Kang, lagian yang itu juga bagus kok. Akang tetep
cakep"
"Istriku memang pintar kalo memuji" Akang mencium bibirku dan hampir
saja kebablasan kalo saja ibu tak menegur kami berdua yang tengah
bermesraan di ruang makan.
"Kalian ini masih pagi sudah berbuat mesum di depan anak"
"Maaf bu, khilaf" ucap Akang sambil tertawa dan kini duduk di kursi untuk
memulai sarapannya.
Setelah menyiapkan sarapan untuk semuanya aku ikut duduk dan mulai
bergabung. Makan adalah waktu tertenang dalam rumah ini selain waktu
tidur karena anak-anak akan lebih fokus dengan makanannya dan memilih
untuk diam. Setelah selesai sarapan Akang pergi ke kantor dan tak lupa
mengantar kelima anakku ke sekolah.
Setelah semuanya pergi akupun juga mulai bersiap-siap untuk berangkat
kuliah. Setelah berpamitan kepada ibu, aku pergi ke kampus dengan mobil
pemberian Akang untukku bersama Pak Dadang, supir keluargaku karena
memang Akang tak pernah mengizinkanku pergi dengan angkutan umum
atau tanpa supir yang menemani. 40 menit perjalanan akhirnya aku tiba di
kampus dan untungnya belum terlambat karena pagi ini aku ada janji untuk
bimbingan dengan dosen pembimbingku. Setelah selesai bimbingan skripsi,
aku berencana akan langsung pulang dan menjemput kelima anakku di
sekolah.
Handphone milikku berbunyi dan tertera nama Bahar disana.
"Hallo assalamualaikum Har"
"...."
"Iya, aku ingat kok. Hari Sabtu, jam 8 di restauran yang di Kemang kan?"
" . . . ."
"Iya, kamu tenang aja. Eh tapi gak apa-apa nih aku bawa pasukan banyak
karena aku jamin pasti pada mau ikut semua kalo aku pergi lagian Akang juga
tidak akan mengizinkan kalo aku pergi sendirian"
"...."
"Oke. Waalaikumsalam"
Reuni masa SMA? Ah, sudah lama aku tak bertemu dengan teman-teman
sekolahku dulu. Apa mereka sudah berubah ya dan bagaimana kabarnya? Oh
iya, apa Stevan juga akan datang nanti?
Berbicara mengenai Stevan, Stevan hanya pernah kembali ke Indonesia di
saat aku merayakan ulang tahun pertama Nayshilla setelahnya dia belum
pernah kembali lagi ke sini, entahlah sepertinya dia benar-benar sibuk
dengan pendidikannya di sana namun demikian komunikasi kami tetap dan
terus terjalin dengan baik. Setidaknya kami masih saling memberi kabar
lewat chat grub yang dibuat Bahar sejak masa SMA dulu tapi memang tak
bisa sering-sering karena kesibukan kami masing-masing. Jadi kangen
semuanya kan.
******
Seperti pagi di hari-hari biasanya, setelah sarapan aku akan mengantar
kelima malaikat kecilku ke sekolah.
Nayshilla Putri Perkasa,
Devan Putra Perkasa,
Kevan Putra Perkasa,
Levan Putra Perkasa, dan
Nevan Putra Perkasa.
"Papa hari minggu nanti Nayshilla mau berenang di rumah bang Indo,
boleh?" tanya putri sulungnya disaat aku sedang menyetir.
"Boleh, tapi gak boleh lama-lama. Terakhir kali kamu berenang kamu
langsung demam karena kelamaan bermain air"
"Iya papa" aduh manisnya putriku ini.
Setelahnya kulirik melalui kaca spion untuk melihat keempat jagoanku yang
duduk di kursi belakang. Keempatnya memiliki wajah yang serupa namun
memiliki sifat yang jauh berbeda antara satu sama lainnya dan sejujurnya
saja kerap kali membuat kepalaku sakit karena tingkah pola mereka. Untung
anak sendiri dan tentunya ku sayang.
Devan memiliki sifat layaknya anak pertama yang berani dan terkadang juga
seperti seorang pemimpin. Sifatnya juga sedikit keras kepala dan memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi akan hal-hal baru di sekitarnya. Sejujurnya
pertanyaan-pertanyaannya sering membuatku dan Gadis bingung untuk
menjawab dan mejelaskannya namun sebisa mungkin kami memberi
pemahaman yang bisa dimengerti untuk anak seusianya.
Kevan lebih seperti anak yang pintar dan cukup dewasa untuk usianya
namun sedikit galak atau jutek dengan orang lain apalagi orang yang tak
dikenalnya.
Levan lebih kepada tipe anak penakut bahkan dengan adiknya yakni Nevan
dia sering kali dibuat menangis namun diantara anakku yang lainnya dia
lebih sensitif dan perasa atau peka terhadap sesuatu.
Sementara Nevan bisa dikatakan memiliki jiwa bebas dan dialah yang kerap
kali membuat ulah diantara anak-anak ku yang lainnya.
"Papa, jangan lupa nanti belikan AA’Nevan mobil-mobilan seperti punya
Fernando kemarin" ucapnya sambil menjahili kakaknya Levan dan kurasa
sebentar lagi Levan akan mengadu dan menangis.
"Papa, AA’ Nevan nakalin mas" rengeknya
"AA’ jangan usil sama Mas-nya"
Semua anakku tidak ada yang mau dipanggil adik lagipula Gadis memang tak
ingin ada yang dipanggil dengan panggilan demikian, biar tak ada yang akan
bersikap manja katanya dulu. Karena bingung dengan istilah panggilan
akhirnya meski tanpa memiliki darah Jawa, Nayshilla dipanggil mbak dan si
cengeng Levan dipanggil mas.
Mbak Nayshilla, Abang Devan, kakak Kevan, Mas Levan, dan AA Nevan.
"Mas Levan, AA’Nevan bisa diem gak? Kakak tuh lagi baca buku tau" ucap
Kevan kesal karena kegiatan membacanya sedikit terganggu.
"Kalian semua diam" ancam Abang Devan. Dan seperti biasanya semua
menurut dengan sang tetua.
Yah beginilah pagiku setiap mengantar mereka ke sekolah yakni tak pernah
sepi dan selalu membuatku merasa senang dan bersyukur akan kehadiran
mereka semua di dalam hidupku.
Setelah sampai disekolah kelimanya salim dan berpamitan kepadaku
sementara aku kembali mengendarai mobil ke arah kantor. Kulihat jam di
tanganku dan sepertinya aku akan terlambat datang ke kantor serta dapat
kupastikan Vita akan marah-marah karena pagi ini kami memang ada
meeting penting. Padahalkan disini aku yang menjadi bos, untung sahabat
rasa saudara.
BAB 43
Acara reuni SMA-ku diadakan cukup meriah dan banyak teman-teman
sekolahku dulu yang datang baik yang kukenal baik, hanya sekedar kenal
bahkan yang tak kukenal sekalipun. Hampir semuanya datang dengan
pasangannya masing-masing atau ada juga yang sudah membawa anak
namun terdapat pula beberapa orang yang terlihat datang seorang diri.
Aku dan pasukanku kini sudah menempati sebuah meja di dekat pojokan
tempat acara berlangsung mengingat aku tak ingin nanti anak-anak ku akan
berbuat rusuh terutama si jahil Nevan.
Beberapa teman sekelas ku dulu datang menyapa diriku dan seperti
dugaanku sebelum datang kesini kebanyakan dari mereka terkejut melihat
diriku yang telah menikah dan memiliki banyak anak.
Kini aku tengah menunggu Bahar yang sejak satu jam lalu berkata bahwa dia
sudah dijalan namun hingga saat ini belum juga sampai.
"Gadis" ucap seorang pria tampan dengan senyuman menawan yang sangat
mengejutkanku.
Stevan, pria itu datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Padahal sejak kami
tau acara reuni ini, baik aku ataupun Bahar sudah menanyakannya apakah
dia akan pulang ke Indonesia dan datang ke acara ini atau tidak di dalam
grub chatting kami namun Stevan tak pernah mengungkit apapun khususnya
soal kedatangannya saat ini. Stevan tidak banyak berubah dia justru semakin
tampan diusianya sekarang dengan tubuhnya yang juga semakin berotot.
"Stevan kamu datang? apa kabar? kapan sampai di Indonesia?" tanyaku
sambil menyuruhnya duduk di kursi kosong di depanku.
"Kemarin lusa, sorry sengaja gak kasih kabar biar surprise. Wah, Nayshilla
sudah semakin besar dan cantik. Hai sayang ingat sama om gak?" tanya
stevan kepada putriku yang kini sedang duduk dipangkuan papanya.
Nayshilla hanya tersenyum malu sebagai jawaban atas perkataan Stevan
barusan sambil sesekali menatapnya dengan tatapan malu-malunya.
Sepertinya putriku ini menyukai Stevan, lihat saja tingkahnya yang seperti ini
kepada orang asing yang sudah sangat lama tak ditemuinya bahkan aku
sangat yakin jika Nayshilla tidak ingat kalau pernah bertemu dengan Stevan
sebelumnya.
"Sini sayang biar om pangku, dulu waktu Nayshilla masih kecil dan om
pulang ke Indonesia buat bertemu Nay, om sering gendong dan pangku Nay.
Sini sayang" tanpa rasa malu atau canggung Nayshilla pindah dari pangkuan
papanya menuju pangkuan Stevan. Tentu saja Akang yang mengetahui
kelakuan genit putrinya ini menjadi kesal belum lagi Stevan yang tertawa
saat membawa Nay ke pangkuannya seperti sedang meledek Akang yang
berhasil merebut perhatian putri kesayangannya dengan cepat.
"Om ganteng" puji Nay sambil tersenyum kepada Stevan dan sekali lagi
Stevan yang mendengar hal tersebut kembali tertawa sambil mengelus
rambut putriku.
"Nayshilla gak boleh gitu sama om-om genit" ucap suamiku sambil menatap
Stevan kesal.
"Yaelah om, siapa tau kan gak dapat mamanya tapi dapet anaknya" ucap
Stevan tanpa rasa takut. Untung saja Bahar segera datang sehingga
perdebatan diantara keduanya dapat dihentikan sebelum terjadi.
Semenjak memasuki ruangan acara hingga ke mejaku dapat kulihat jika
banyak pandangan terutama dari kaum perempuan yang mengarah kepada
Bahar saat ini. Tentu saja Bahar sekarang sangat berbeda dengan Bahar yang
dulu. Tubuh gemuknya kini sudah berotot. Kulit putihnya berubah menjadi
kecokelatan namun terlihat sexy dan jangan lupa wajahnya yang tak kalah
tampan dari Stevan.
Apa mereka tidak sadar ya kalo dia tuh si Baharrudin Kamajaya teman sekolah
kita dulu?, tanyaku dalam hati saat memerhatikan para tamu undangan
lainnya yang masih memerhatikan Bahar dan Stevan sejak tadi.
"Apa kabar bro, kirain udah gak mau pulang ke sini" ucap Bahar
sambil menepuk bahu Stevan pelan. Melihat hal tersebut justru membuatku
sedikit terkikik karena di zaman sekolah dulu jika Bahar dan Stevan bertemu
yang ada hanyalah Bahar yang akan memberikan kiss jauh kepada Stevan dan
Stevan yang mendapatkannya akan menoyor kepala Bahar karena merasa
kesal dengan sikapnya.
Waktu telah banyak berlalu, lagi-lagi aku tersenyum jika mengingat masa-
masa SMA-ku yang meski singkat namun sangat berarti.
"Makin macho aja lo jadi tentara"
"Iya dong, kayanya sekarang jadi cakepan gw deh dibanding elo" ledek Bahar
pada Stevan.
"Nayshilla, om mau tanya. Menurut Nay cakepan om apa dia?" tanya Stevan
pada putriku. Keduanya kini menatap putriku dengan tatapan berharap. Aku
dan Akang hanya menyaksikan semuanya dalam diam karena kami juga
penasaran dengan jawaban Nayshilla karena sebelumnya dia selalu
menempel kepada Bahar dan sekarang dengan mudahnya pindah haluan ke
Stevan.
"Cakepan papa Nay" ucap Nayshilla sambil berusaha turun dari pangkuan
Stevan dan kembali duduk di pangkuan Akang. Dan benar saja Akang
langsung menciumnya dan memuji bahwa Nayshilla memiliki selera yang
sangat bagus dalam menilai pria.
"Ini baru putri papa yang pintar"
Stevan dan Bahar mendengus kesal mendengar jawaban Nayshilla barusan.
Andai ketiganya tau kalo sebenarnya Nay memiliki misi sendiri dengan
jawabannya tadi.
"Papa, nanti beliin Nayshilla boneka teddy ya" bisiknya kepada Akang yang
masih bisa kudengar.
Tuh kan apa aku bilang tadi, Nayshilla yang pintar namun manja dan papanya
yang terlalu memanjakan dirinya sehingga mudah tertipu rayuan dan
sanjungannya.
******
Sepanjang acara reuni sekolah Gadis, aku membiarkan istriku berbincang
dan menikmati kebersamaan dirinya dengan teman-temannya sementara
aku mengurus kelima anakku.
Nayshilla anak yang manis, lihat saja dia kembali duduk tenang di pangkuan
Stevan sambil memakan es krim miliknya sementara keempat jagoanku saat
inilah yang berulah. Lebih tepatnya Nevan yang sibuk berlari kesana-kemari
dan Levan yang juga ikut berlarian. Sementara Kevan dan Devan tengah
menikmati makanan mereka sambil sesekali beradu argumen mengenai telur
atau ayam duluan yang ada di dunia.
Setelah berhasil menangkap kedua jagoan kecilku yang sangat menguras
tenaga, kini aku mengajak mereka duduk manis dan mengatakan jika mereka
bisa berkelakuan baik aku akan membelikan mereka hadiah di akhir pekan.
Tentu saja setelah mendengar hal tersebut semuanya berubah menjadi anak
pendiam yang kalem.
"Akang kita pulang duluan yuk, Eneng udah mulai capek nih. Kasian juga
dedek bayinya"
"Yasudah, tapi tunggu mereka selesai makan ya. Eneng kan tau kalo soal
makanan pada gak bisa diganggu jadi harus menunggu mereka selesai
makan dan kenyang dulu"
"Iya, Kang. Eneng ke kamar mandi sebentar deh kalo begitu" pamitnya
kepadaku.
"Mau akang temenin?"
"Nanti anak-anak sama siapa?"
"Ada Stevan dan Bahar yang bisa dimanfaatkan keberadaannya sayang"
Setelah meminta tolong kepada mereka berdua aku pun mengantar Gadis ke
kamar kecil namun bukannya kembali ke meja kami seusai dia
menyelesaikan kegiatannya di dalam sana, Gadis malah mengajakku ke
taman belakang restauran yang tak jauh dari toilet.
"Duduk di luar sebentar ya Kang, cari angin" pintanya kepadaku sambil
tersenyum manis dan tentu saja aku menyetujui apalagi jika dia sudah
berwajah imut seperti tadi. Dan disinilah kami berdua sekarang, duduk di
kursi belakang taman restauran sambil menikmati angin malam. Kupeluk
tubuh montok Gadis dengan erat agar dia tak merasa kedinginan karena
angin malam yang cukup kencang.
Ingat, angin malam tak baik bagi ibu hamil.
"Nanti anak-anak nyariin kita gak ya sayang?" tanyaku kepadanya yang kini
sedang menyandar di dadaku. kukecup puncak kepalanya dan kuelus
rambutnya seperti biasa.
"Enggak akan Kang. Nayshilla sedang sibuk sama idola lama dan barunya.
Sementara si kembar pasti sudah menurut jadi anak manis berkat iming-
iming hadiah yang akan Akang berikan tadi"
"Benar juga kamu sayang, Alhamdulillah kita punya waktu untuk berduaan"
"Gak nyangka ya Kang sekarang kita udah mau punya anak ke-6 aja"
"Iya, siap-siap ke-7 ya Neng" godaku kepadanya sambil mencubit hidungnya
gemas.
"Nanti mau single, double, triplet atau berapa Kang?"
"Langsung 4 lagi aja biar poll jess"
"Ish, udahan deh Kang. Kasian nanti anak kita pas udah gede ngeliat
bapaknya udah tua banget" ledeknya sambil tertawa.
"Sembarangan kamu Neng, gini-gini stamina dan wajah Akang tuh masih
muda seperti nama Akang tau gak? Lihats aja nanti anak kita akan lebih
banyak daripada Bram yang cuman 4 dan Darren yang cuman 1"
"Dikira kita lagi lomba bikin anak apa Kang?"
"Sebenernya Akang mah terserah dan se-dikasihnya saja, yang sekarang juga
sudah cukup. Lagian Akang juga kasian kalo Eneng hamil melulu kaya anak
kucing"
"Ish, Eneng tuh lagi kejar setoran karena Akang udah tua" ledeknya kembali
kepadaku dan setelahnya kami berdua hanya saling diam dan menikmati
moment berduaan yang sangat jarang terjadi karena akan selalu diganggu
oleh anak-anak.
"Kang, tau gak kalo Eneng tuh cinta banget sama Akang. Bagi Eneng Akang
pria paling sempurna yang Allah kirim dan kasih buat Eneng. Makasih ya
Kang, udah mau jadi suami dan papa buat keluarga kita"
"Akang juga cinta pake banget sama Eneng dan Akang juga mau bilang terima
kasih Eneng sudah mau jadi istri dan mama bagi keluarga kita. Makasih ya
sayang kamu mau mengurus keluarga kita dan Akang. Akang harap kita akan
selalu berbahagia seperti ini"
"Amin. Akang mau cium dong"
"Disini? Sekarang?"
"Iya, sepi juga" dan setelahnya kami berdua pun berciuman, yang awalnya
hanya sebuah kecupan kini berubah menjadi lumatan. Tak dipedulikan lagi
bahwa sekarang kami berada ditempat umum lagipula kami ini suami istri
jadi kalo ke grebek ya tidak akan jadi masalah bukan?
TAMAT
BAB 44
Aku kembali ke Indonesia setelah hampir 7 tahun menetap di Amerika. Aku
sengaja tidak memberitahu siapapun mengenai kepulangan ku kecuali
kepada kedua orangtuaku karena memang ingin memberikan kejutan untuk
semuanya khususnya kepada Gadis, cinta pertamaku yang belum bisa aku
lupakan dan sejujurnya juga masih kusayangi hingga saat ini.
Entahlah mengapa rasa sayang itu masih ada dan belum juga hilang meski
sudah beberapa kali aku berkenalan dan dekat dengan wanita lain di sana
namun selalu berakhir gagal. Gadis seperti masih memiliki tempat tersendiri
di dalam hati dan pikiranku padahal sudah sejak lama dia menolakku bahkan
tak pernah sekalipun dia memberikanku kesempatan untuk masuk ke dalam
hatinya.
Astaga cinta pertama yang menyulitkan atau memang aku yang sengaja
mempersulit diriku sendiri?
Setelah menyapa beberapa teman dan kedua sahabatku yakni Ando dan
Kaesar yang ternyata datang bersama pasangan mereka masing-masing, aku
kemudian lebih memilih pergi menyapa dan duduk bersama dengan Gadis
dan keluarganya. Setidaknya kalau dengan mereka, aku tidak akan
menyaksikan adegan bermesraan seperti kedua sahabatku tunjukkan tadi
yang sepertinya sengaja bersikap demikian di depanku lagipula aku juga
merindukan si manis Nayshilla dan ingin berjumpa dengan ke-4 jagoan Gadis
yang belum pernah kutemui sebelumnya. Astaga jika mengingat Gadis hamil
kembar 4 membuatku merasa terkejut dan takjub kembali. Maksudku wanita
itu dengan tubuh kecilnya sanggup hamil 4 orang anak sekaligus.
Nayshilla yang kusapa dan kuajak duduk di pangkuanku ternyata langsung
mendekatiku, tadinya aku fikir dia akan seperti anak kecil pada umumnya
yang takut dengan orang asing apalagi aku hanya pernah bertemu dengannya
sekali saat dia berulang tahun yang pertama.
Wajahnya lebih mirip seperti Om Muda namun dia memiliki bibir seperti
Gadis. Nayshilla sangat cantik dan menggemaskan atau memang semua anak
kecil seperti ini? Entahlah aku sendiri kurang memiliki pengalaman dengan
anak-anak selain dengan anak Gadis tersebut.
"Om ganteng" ucap gadis kecil yang saat ini duduk di pangkuanku. Aku yang
mendengar hal tersebut entah mengapa menjadi sangat bahagia dan lebih
bahagia ketika melihat wajah om Muda yang terlihat sedikit kesal mendengar
penuturan jujur dari putri kesayangannya untukku barusan.
"Nayshilla gak boleh gitu sama om-om genit" ucap om Muda kepada putrinya.
Astaga bukannya dia yang seharusnya dipanggil om-om genit? gak sadar diri
memang suaminya Gadis ini, runtukku tentunya dalam hati.
"Yaelah om, siapa tau kan gak dapat mamanya tapi dapet anaknya" ucapku
spontan yang langsung mendapat pelototan dari mantan rivalku dulu.
Tak lama Bahar datang, penampilannya berubah total aku yakin banyak yang
tak mengenali dirinya jika dia tak mengenalkan dirinya sendiri.
Kami mengobrol banyak hal mengenai diri kami masing-masing selama
beberapa tahun silam. Meski memiliki grub chat namun kami sangat tidak
aktif bahkan sebelum undangan mengenai reunian ini di bahas oleh Bahar di
grub, sepertinya sudah hampir 3 bulan tak ada notifikasi apapun yang
muncul di grub kami.
Wajar saja, Gadis sibuk dengan kelima anaknya dan bayi di kandungannya.
astaga, sekali lagi harus kuakui bahwa suami tua Gadis ini sungguh perkasa.
Bahar sibuk dengan kegiatannya mengurus negara sementara aku sibuk
dengan pekerjaan lagipula perbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika
juga menjadi kendala terbesar untuk komunikasi kami.
Gadis dan Om Muda meminta izin untuk pergi ke toilet dan menitipkan anak-
anaknya kepadaku dan Bahar namun ternyata Bahar justru ikut-ikutan pergi
dengan alasan ada urusan dan janji penting lainnya.
Kulihat ke-4 jagoan Gadis yang sedang duduk manis di depan kursi
seberangku dan kini tengah fokus dengan makanan mereka tanpa berniat
melakukan hal lainnya kecuali sesekali berdebat dengan saudara kembarnya
namun hanya sebentar dan kemudian kembali tenang. Sekali lagi aku kagum
kepada Gadis karena dia telah membuktikan bahwa dirinya adalah ibu yang
luar biasa karena mampu mendidik dan mengajari anak-anaknya dengan
baik seperti ini sementara Nayshilla masih duduk tenang dipangkuanku
sambil sibuk memakan ice creamnnya dan sepertinya juga dia tidak berniat
untuk turun dari pangkuanku.
"Om ganteng nanti main ke rumah aku ya. Nanti kita main masak-masakan"
ucapnya kepadaku yang hanya kuangguki sebagai jawaban dengan sesekali
mengelus kepala dan rambutnya tanda gemas dan sayang.
"Memang Nay bisa masak? Masak apa?"
"Hmm, masak bohongan om. Kan aku gak boleh main api sama mama dan
papa masih kecil katanya jadi bahaya. Nanti kalo Nay udah gede baru Nay
masakin buat om. Sekarang mah pura-pura aja" ya Tuhan, gemas sekali aku
dengannya. Langsung saja kucium pipi chubbynya dan dia ternyata ikut
mencium pipi kanan-kiriku.
"Ehem, sayang kok main cium-cium aja sih? Gak boleh apalagi sama om-om
genit" ucap om Muda saat datang dan melihat kelakuan putri kesayangannya
kepadaku tadi.
"Papa aja suka cium Nay, kenapa om ganteng gak boleh?"
"Ya bedalah. Papa kan papa Nayshilla tapi om ini kan bukan papa Nayshilla.
Jelas beda dan gak bolehlah"
"Ya udah nanti om ganteng jadi suami Nay aja kalo begitu. Kan papa juga suka
cium mama. Kata papa, karena papa suami mama makanya boleh cium-cium"
aku, Gadis dan Om Muda tentu saja sangat terkejut mendengar penurunan
gadis 7 tahun ini. Pemikiran dari mana coba yang di dapat Nay untuk
menikah diusianya sekarang ini. Aku saja baru tau cinta pas kelas 3 SMA
itupun belum memikirkan menikah.
Pasti ajaran Om Muda ini, tuduh ku kembali kepadanya yang tentu saja
kuucapkan dalam hati.
"Jangan dong sayang, nanti papa sama siapa?"
"Papa sama mama. Nay sama om ganteng. Iya kan om?" Aku yang sedari tadi
hanya diam mendengar perdebatan kecil antara ayah dan putrinya tersebut
hanya memilih tersenyum karena bingung harus menjawab apa. Disatu sisi
aku tak ingin Nayshilla sedih serta bingung ingin menjawab dan menjelaskan
hal tersebut kepadanya dan di sisi lainnya aku takut dengan tatapan Om
Muda yang menyeramkan.
"Nay kan masih kecil jadi gak boleh bicara seperti itu nanti kalo sudah besar
baru boleh. Mengerti sayang" ucap Gadis memberitahu putrinya dengan
lembut dan penuh pengertian.
"Iya mama, tapi om harus janji kalo Nayshilla sudah besar kita menikah ya
om"
"Iya sayang" ucapku pasrah. Yah sudahkan lagipula hanya ucapan seorang
anak berusia 7 tahun jadi anggap saja sebuah omong kosong.
"Janji kelingking om" pintanya kepadaku sambil menarik tanganku untuk
menautkan jari kelingking kami berdua. Akupun memberikan janji kelingking
kepadanya setelahnya dia kembali asyik dengan ice cream miliknya dan
mengabaikan tatapan tajam papanya barusan sementara Gadis hanya bisa
menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya.
BAB 45
Hai perkenalkan namaku Baharudin Kamajaya, saat ini usiaku 26 tahun dan
berprofesi sebagai seorang anggota TNI KOPASSUS.
Wajah tampan, badan atletis, pekerjaan bagus dengan sebuah pangkat
lumayan tinggi serta berasal dari keluarga kaya dan terpandang membuat
banyak wanita menginginkan diriku untuk menjadi kekasih mereka. Lihat
saja sedari aku masuk tempat berlangsungnya acara reuni SMA-ku ini banyak
pasang mata yang memandangku dan berusaha menggoda diriku.
Huft, dulu saja ketika aku tak semenarik ini mereka seakan jijik denganku
dan enggan menatap atau bahkan melirik diriku seperti sekarang. Sampai
aku melihat wanita itu. Wanita yang dahulu dijodohkan orangtuaku beberapa
tahun silam, Laura.
Penampilannya sangat berbeda dari dulu. Pakaian sexynya berubah menjadi
pakaian gamis yang menutupi lekuk tubuh indahnya yang tinggi semampai
bak model victoria secret. Wajahnya juga tak dihias seperti dulu cukup
dengan makeup tipis namun tetap memancarkan aura kecantikan yang
elegan. Dan sikap kasarnya sepertinya juga berubah menjadi lebih lembut
terlihat dari caranya berjalan, berbicara, tertawa, dan bahkan bersikap
kepada teman-teman dulu sepanjang aku memperhatikan dirinya Sedari tadi.
Apa benar ini Laura yang dulu? Atau jangan-jangan dia punya kembaran dan
meminta kembarannya untuk datang ke acara reuni ini, fikirku.
"Assalamualaikum Bahar, kamu apa kabar?" tanya Laura kepadaku sambil
tersenyum ramah saat kami tak sengaja bertemu di meja prasmanan untuk
mengambil makanan.
"Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar Laura? Sepertinya kamu berbeda"
"Alhamdulillah aku juga baik, seharusnya aku yang bilang seperti itu. Kalo
saja Diana tidak mengatakan bahwa pria ini adalah kamu aku yakin aku tak
akan mengenali kamu yang sekarang"
"Benarkah? Kamu sekarang sibuk apa?" tanyaku sedikit berbasa-basi.
"Aku menjalankan toko kue di daerah Bintaro dan sibuk dengan putraku"
"Kau sudah menikah?" tanyaku penasaran bagaimanapun dia adalah mantan
calon istriku, sedikit kepo tak apa kan? Lagipula sepertinya sifat kepoku
belum berkurang sampai saat ini, susah hilang sepertinya.
"Sudah bercerai malah. Kamu sendiri? Sudah menikah? Atau om dan tante
kembali menjodohkanmu seperti dulu?"
"Maaf, aku tak tahu. Hmm, aku belum menikah dan orangtuaku juga tak
pernah lagi berusaha menjodohkan ku dengan siapapun. Hanya kamu yang
pernah menjadi calonku".
"Begitu, semoga kamu cepat menemukan jodoh yang baik kalau begitu. Aku
permisi ya, aku mau kembali ke teman-temanku" aku mengangguk dan
mempersilahkannya namun Laura kembali menatap dan memandangku
sekilas.
"Itu isinya udang, seingatku kamu alergi udang kan? Jangan dimakan kalo
kamu tidak mau gatel-gatel seperti waktu pertemuan pertama kita di acara
perjodohan dulu". Setelah mengatakan hal tersebut Laura pergi
meninggalkan diriku yang kini tengah mengingat moment tersebut.
Flashback
"Pokoknya papi minta kamu jaga sikap ya Bahar. Jangan kebanyakan klemar-
klemer kaya banci begini, malu papi sama mami nanti" ancam papi untuk
kesekian kalinya kepadaku di dalam mobil.
Hari ini acara pertemuan antara keluargaku dan keluarga calon istriku.
Astaga, aku bocah SMA dan disuruh menikah apalagi dengan cara dijodohkan.
Memang aku Gadis apa yang bersedia menikah muda lewat jalur perjodohan?
namun nyatanya memang demikian karena aku tak punya kuasa untuk
menolak. Daripada hidup susah dan menjadi gelandangan di jalan, pikirku jika
mengingat ancaman papi-mami sebelumnya.
Kini kami telah tiba dirumah keluarga calon istriku dan setelah
membunyikan bel tak lama sepasang suami istri dan seorang anak
perempuan cantik yang sangat kukenal berdiri di depan pintu menyambut
kami. Betapa terkejutnya diriku melihat musuh bebuyutanku sedari SD yakni
Laura si cewe monster yang ternyata adalah wanita yang dipilih untuk
dijodohkan kepadaku oleh kedua orangtuaku. Dapat kulihat Laura yang juga
sama terkejutnya dengan diriku. Lihat saja wajahnya yang tiba-tiba menjadi
kaku sekaligus pucat seakan-akan sehabis melihat hantu.
"Ayo silahkan masuk dan sebaiknya kita langsung makan malam saja,
bagaimana?" tanya mami Laura kepada ketiga tamunya dan tentunya
langsung disetujui oleh kedua orangtuaku.
Kini kami semua sudah duduk dimeja makan dan saling berbincang, lebih
tepatnya kedua orangtuaku dan orangtua Laura sementara aku dan Laura
berpura pura sibuk dengan makanan kami.
Aku yang memang sudah tidak berniat dengan perjodohan ini semakin tidak
menginginkannya saat tahu siapa pasanganku kelak. Astaga yang ada nanti
rumah tangga kami bukannya harmonis malah baku hantam karena rebutan
bedak dan lipstik setiap hari.
Aku mengambil sedikit sup yang kelihatannya cukup enak dan menggugah
seleraku sedari tadi namun saat aku memakannya tak lama tubuhku bereaksi
menjadi gatal dan menimbulkan bentol-bentol kemerahan.
Astaga, apa ada udang di dalam sup ini?
"Bahar kamu habis makan udang? Alergi kamu kumat" tanya mami dengan
wajah penuh kekhawatiran. Dengan susah payah dan masih dengan
menggaruk-garuk sekujur wajahku yang kuyakini semakin hancur, aku
menunjuk sup yang tadi ku makan.
"Apa ini ada udangnya?" tanya mamiku kembali dan diangguki oleh mami
laura dengan cepat.
"Itu sup udang jeng, apa Bahar alergi udang? Maaf kami tak tahu" setelahnya
mami meminta izin untuk membawaku ke kamar tamu untuk beristirahat
sebentar dan meminum obat alergiku yang memang selalu aku bawa
kemanapun. Mengingat dulu aku hampir mati karena lupa membawa obat
milikku sehingga sejak saat itu mami selaku memeriksa dan memastikan
obat tersebut selalu kubawa.
Setengah jam kemudian obatnya sudah mulai bereaksi dan badanku
terutama wajahku sudah tak gatal atau bentol lagi.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" perintahku. Laura datang dengan nampan ditangannya dan duduk di
pinggir ranjang yang kini sedang ku tempati.
"Nih, mami gw nyuruh gw bawaan ini buat elo gendut" Laura menyodorkan
nampan yang berisi potongan buah-buahan dan segelas air mineral.
"Elo tuh udah jelek, gendut, bego lagi. Masa gak tau kalo ada udang di dalam
supnya?" ucapnya tanpa rasa beban karena memang lidah tak bertulang.
"Jaga sikap elo ya sama calon suami" ancamku padanya secara refleks yang
tentu saja langsung membuatnya melotot ke arahku.
Astaga aku bilang apa tadi? Ya tuhan tolong Jennie blekping sekarang dari
terkaman singa Afrika ini.
"Ish, amit-amit. Pokoknya gw menolak perjodohan ini dan gw minta elo
jangan sampe ngomong apa-apa sama anak-anak disekolah. Mau ditaruh
dimana muka gw kalo mereka tahu gw dijodohin sama dugong macem elo"
"Elo kira gw mau dan suka apa? Kalo gak karena orang tua gw ngancem bikin
gw jadi gembel gw juga ogah"
"Dasar banci pengecut" setelahnya Laura pergi meninggalkan diriku yang
menahan kesal setengah mati padanya.
Flashback Off
Aku mengingat semuanya seperti kejadian tersebut baru saja terjadi. Kemana
Laura dan sikap kasarnya? Astaga, kenapa pula aku memikirkan dirinya
terus. Akupun kembali kemeja milikku setelah mengambil makanan namun
entah mengapa tatapan mataku terus saja mengarah ke Laura yang masih
asyik berbincang sambil tertawa dengan teman-teman nya di meja seberang.
"Gadis lama banget deh. Kemana sih tuh pasutri? Toiletnya ngantri apa ya?"
tanya Stevan yang duduk di sebelahku sambil memangku Nayshilla.
"Elo mah udah gw bilang tadi jangan mau, mereka berdua tuh lagi mojok buat
bermesraan"
"Astaga, anak udah mau enam masih aja"
"Kan memang Gadis mau bikin kesebelasan jadi masih kurang setengah lusin
lagi lah"
Stevan kembali terdiam sambil menggelengkan kepalanya dan kembali sibuk
mengelap wajah Nayshilla yangsudah belepotan dengan ice cream yang dia
makan sejak tadi.
Sekali lagi, kini tanpa sadar aku kembali memandangi dan memperhatikan
Laura yang tengah menelepon seseorang entah siapa namun seketika
wajahnya menjadi panik.
Ada apa?
Laura berpamitan dan berlari keluar restauran. Entah ada apa dengan diriku,
secara reflek dan tanpa menunggu lama aku langsung menyusul dirinya
untung saja Gadis dan Om Muda sudah kembali dari toilet. Aku pamit kepada
Stevan dan mengatakan bahwa tiba-tiba saja teringat sudah memiliki janji
dan urusan penting lainnya. Sontak Stevan yang mendengar diriku seakan
ingin kabur dan meninggalkan dirinya dengan ke-5 anak kecil dari cinta
pertamanya langsung memakiku namun aku tak peduli dan tanpa kembali
berkata apapun aku langsung pergi meninggalkan Stevan.
Aku berhasil mengejar Laura dan melihat dirinya yang tengah berdiri gelisah
sambil berusaha menghentikan sebuah taksi namun gagal. Setelah mengatur
nafas agar kembali normal akupun berjalan mendekatinya dan bertanya ada
apa.
"Elo kenapa? Kalo butuh tumpangan biar gw antar. Sekalian gw mau pergi ke
daerah sekitar tempat tinggal elo" bohongku padanya yang masih dapat
kulihat jika dirinya kini tengah merasa sangat cemas.
Laura sempat menolak namun ketika dia kembali mendapatkan telepon dari
seseorang dia pun langsung menerima tawaranku.
Di dalam mobil Laura masih memperlihatkan wajah paniknya namun dia
masih berusaha bersikap tenang di hadapanku.
"Makasih Bahar atas tawarannya, sungguh makasih banyak maaf jika aku
ngerepotin kamu"
"Gak masalah, sekalian searah ini. Tapi kalo boleh aku tau kamu kenapa?
Panik gitu" tanyaku yang tak bisa menahan rasa kepoku sedari tadi.
"Anakku tiba-tiba sakit padahal sebelumnya dia baik-baik saja" dan
setelahnya Laura bercerita tentang putranya hingga kami sampai di
rumahnya.