The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pemuda adalah gambaran pria impian banyak wanita. Tampan, mapan, dan rupawan. Namun di usinya yang menginjak 41 tahun dia masih tetap melajang, bukan karena karena tak memiliki pasangan namun kekasihnya adalah seorang pria. Yup, Pemuda adalah pria gay yang didesak segera menikah oleh ibunya.
Gadis, seorang perempuan desa polos yang berjuang untuk hidup dan masa depannya. cita-citanya sederhana yaitu dapat menamatkan pendidikan hingga SMA. Namun semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia dia harus putus sekolah dan bekerja menjadi seorang pembantu hingga suatu hari majikannya meminta dia menikahi putra semata wayangnya yang berusia dewasa.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hyekura, 2022-01-12 01:51:35

My Husband is Gay

Pemuda adalah gambaran pria impian banyak wanita. Tampan, mapan, dan rupawan. Namun di usinya yang menginjak 41 tahun dia masih tetap melajang, bukan karena karena tak memiliki pasangan namun kekasihnya adalah seorang pria. Yup, Pemuda adalah pria gay yang didesak segera menikah oleh ibunya.
Gadis, seorang perempuan desa polos yang berjuang untuk hidup dan masa depannya. cita-citanya sederhana yaitu dapat menamatkan pendidikan hingga SMA. Namun semenjak kedua orangtuanya meninggal dunia dia harus putus sekolah dan bekerja menjadi seorang pembantu hingga suatu hari majikannya meminta dia menikahi putra semata wayangnya yang berusia dewasa.

Keywords: Romance

Baiklah wanita ini adalah pilihanku, masa depanku.

******

Setelah membersihkan badan kembali aku dan Akang bersiap untuk pergi
makan diluar. Akang mengajakku pergi ke salah satu restauran mewah.
Restauran ini sangat indah dan berada di lantai tertinggi sebuah gedung
sehingga kami berdua bisa melihat pemandangan Kota Jakarta. Selain itu,
suasana romantis kini tercipta dengan alunan musik piano secara live. Ah,
aku selalu membayangkan hal ini ketika menonton drama Korea namun tak
menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi kepadaku. Untung saja aku
memakai pakaian bagus, hadiah Akang diawal pernikahan kami.

"Suka dengan tempatnya?" tanya Akang setelah selesai memesan makanan
untuk kami. Aku hanya mengikuti pesanannya saja karena jujur jangankan
tau makanan apa yang dihidangkan membaca nama menunya saja aku tak
bisa karena berbahasa Perancis.

"Suka, bagus Kang tempatnya"

"Syukurlah jika kau menyukainya sayang"

"Tadi itu siapa Kang? Pria yang datang ke rumah" tanyaku penasaran. Siapa
pria tampan dengan wajah blasteran yang mampir ke rumah tadi karena
jujur aku penasaran apa semua teman Akang berwajah rupawan ya?

"Teman sekaligus rekan bisnis, ada urusan kantor yang mendesak makanya
dia datang ke rumah"

"Oh begitu. Tampan ya Kang, pasti keturunan bule"

"Jadi maksud Eneng dia lebih ganteng dari Akang?" tanya Akang dengan
wajah dibuat sesedih mungkin. Lucu.

"Bagi Eneng akan yang paling tampan" ucapku sedikit merona. Ingat,
menyenangkan suami kan berpahala.

"Bisa saja kamu sayang. Gimana tadi di sekolah dan pertandingan basketnya?
Seru?"

"Pertandingannya seru dan sekolah Eneng yang berhasil menang"

"Seru ya jadi anak muda?"

"Ih akang, Eneng kan belom hamil mana ada anak" Akang tertawa

"Maksud Akang menjadi muda bukan anak Muda alias anak Akang loh Eneng
sayang" tuh kan, aku meleleh setiap dia memanggilku dengan sebutan manis
seperti sayang, cinta, baby girl, gadisku, dan sebutan mesra lainnya. Saat
sedang menikmati makan malam kami, tiba-tiba saja sepasang pria dan
wanita mendekati meja kami. Aku ingat dia mbak Vita salah satu sahabat
Akang.

"Loh AA’ disini?" tanyanya sambil menarik kursi di sebelahku

"Bu, jangan ganggu mereka" ucap pria yang kalau tidak salah bernama
Darren, suaminya mbak Vita.

"Apa sih yah? sebentar doang kok lagian ibu hanya menyapa tapi pegal untuk
berdiri. Gak apa-apa kan ya A', namanya juga wanita setelah melahirkan"

"Perasaaan elo tuh udah melahirkan hampir dua bulan deh Vit" jawab Akang
sambil memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.

"Masih dua bulan A' belum dua tahun jadi masih baru. Eh, hai Gadis kamu apa
kabar? makin cantik deh setiap kita ketemu." aku malu jika wanita cantik
sepertinya mengatakan aku cantik.

"Mbak Vita bisa aja" jawabku malu sambil tersenyum.

"Ayo, katanya lapar"

"Ih, ayah kok jadi bawel banget sih. Udah deh diem-diem aja kaya biasanya.
Tenang tanpa banyak kata terucap" omel mbak Vita kepada suaminya. Sejak
kapan berbicara seperti itu disebut bawel? Setelah berbicara sebentar
keduanya undur diri dan duduk di sudut restauran lainnya. Pasangan yang
sama-sama menawan, pikirku.

"Masih inget kan sama Vita dan Darren?"

"Temen Akang yang pernah ke rumah ibu kan?"

"Iya, kamu tau kan kalo Vita itu menantu Maura?"

"Iya, kok bisa sih Kang. Lucu suamiku anak dari sahabatku kaya judul
sinetron ya Kang"

"Jodoh gak pernah ada yang tau, sama kaya kita berdua" aku membenarkan
ucapan Akang barusan. Siapa sangka aku yang hanya seorang pembantu akan
menikah dengan anak majikan.

"Lusa Akang harus ke Semarang ada masalah pekerjaan disana mungkin
sekitar 3-5 hari baru pulang tapi nanti Akang usahakan pulang secepatnya.
Eneng gak apa-apa kan jika ditinggal?"

"Gak apa-apa Kang, udah biasa juga. Dulu setelah ayah dan ibu tiada Eneng
tinggal sendirian"

"Kalo seandainya Eneng takut ajak temen saja menginap, tapi ingat jangan
ajak Bahar"

"Akang mah lucu ih, ngapain Eneng ngajak Bahar nanti yang ada Eneng diajak
main salon-salonan mulu" Bahar tuh memang suka banget dandan dia
bahkan pernah bilang bahwa cita-cita nya adalah menjadi makeup artis
selain tentunya menjadi istri Jaehyun.

"Kamu suka main salon-salonan sama dia?"

"Enggak juga tapi lebih sering nemenin dia dandan apalagi kalo mau istirahat,
jam kosong, pelajaran olahraga, atau mau pulang sekolah"

"Hampir setiap waktu ya. Kenapa Eneng gak ikut belajar makeup sama Bahar
kalo begitu?"

"Enggak ah, Eneng gak suka makeup-an lagian Eneng gak punya alatnya"

"Kalo akang belikan, apa Eneng mau belajar dandan?"

"Belikan bedak dan lipstik?"

"Semuanya"

"Kan mahal Kang, Bahar aja bilang dia beli lipstik mesti nabung sebulan
apalagi semuanya?"

"Eneng lupa kalo Akang banyak uang?" Jawab Akang sombong. Iya juga ya,
Akang kang kaya tapi masa iya aku minta beli banyak barang sekaligus dan
mahal pula harganya.

"Jangan difikirkan, uang Akang uang Eneng juga. Dulu Akang kerja buat ibu
sekarang selain buat ibu juga buat Eneng dan nanti buat anak-anak kita" ya
Tuhan, hatiku menghangat mendengar Akang berbicara demikian.

"Makasih akang. Maaf merepotkan"

"Tidak merepotkan sayang, kalo baru makeup mah masih murah. Maura saja
meminta tas kulit buaya setiap 3 bulan sekali pada Bram. Vita selalu meminta
sepatu dan pakaian bermerek setiap musim jadi kalo hanya makeup masih
sangat murah"

Ya Allah, apa orang kaya memang suka membuang uang ya lagian kasian
buayanya dijadiin tas. Terus musim apa lagi yang ada di indonesia selain
musim hujan dan kemarau?

BAB 9

Pagi-pagi sekali Akang sudah berangkat ke bandara menuju Semarang dan
aku kini sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah setelah menelpon ibu
mertuaku yang mengatakan rindu kepada kami berdua. Aku juga sangat
merindukan beliau, ibu menyayangiku seperti putri kandungnya sendiri dan
aku juga telah menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Jujur ada rasa bersalah
ketika mengingat aku dan Akang yang justru menunda momongan agar aku
bisa bersekolah. Maaf ibu.

Mengenai anak sejujurnya aku juga menjadi semakin ragu. Aku menjadi lebih
egois sekarang karena enggan untuk meninggalkan sekolahku kembali jika
aku nanti hamil. Aku ingin menikmati masa mudaku dan menikmati menjadi
siswa sekolah menengah. Apa aku salah? Akang tidak pernah melarang jika
aku ingin pergi keluar dan bermain dia akan memperbolehkan selama aku
meminta izin darinya terlebih dahulu. Akang juga tidak melarangku jika aku
nanti ingin lanjut kuliah tapi kapan aku hamilnya? Aku masih sangat muda
namun Akang? dia sudah kepala 4.

Pernah kutanyakan suatu hari kepada Akang, jika nanti aku melanjutkan
kuliah apa kita akan menundanya kembali? dan Akang bilang bahwa
mahasiswa tidak dilarang menikah dan hamil. Akang adalah suami yang baik
dan pengertian dan aku sangat bersyukur atas hal itu. Megenai masa lalunya
jujur aku juga masih ragu dan takut. Aku tidak ingin menghakiminya namun
berbagai pertanyaan dan pemikiran selalu muncul dalam kepalaku. Akan
tetapi hal yang paling mengkhawatirkanku adalah bagaimana jika aku jatuh
cinta kepadanya namun Akang tetap tidak menyukaiku, tidak menyukai
perempuan.

Meskipun ragu itu selalu muncul namun semuanya kupasrahkan. Hingga saat
ini Akang tidak pernah kasar baik secara fisik maupun verbal kepadaku.
Akang juga selalu memanjakan diriku dan memenuhi semua kebutuhanku.

Akang menyayangiku dan selalu mengatakan sedang berusaha belajar
mencintaiku jadi apalagi yang perlu aku khawatirkan?

Rasa penasaran dengan mantan kekasih Akang sebelumnya juga terus
menghantuiku, siapa dia? apakah tampan? Apakah masih muda? atau
bagaimana mereka bisa bersama? Satu-satunya informasi yang kuketahui
hanya hubungan mereka yang sudah berakhir semenjak Akang memutuskan
untuk menikahiku.

Sesampainya di sekolah, Bahar langsung menyambutku heboh seperti
biasanya. Bahar langsung bercerita kalau tadi pagi dia disenyumi Stevan saat
melewati lorong kelas.

"Yakin kamu Har itu senyumannya untuk kamu?" tanyaku memastikan.

"Yakinlah, emang ya pesona eike tuh cetar membahana menyinari dunia
menembus cakrawala"

"Udah gak mau jadi istrinya Jaehyun?"

"Yang mana aja oke, kanan-kiri sip"

"Ada-ada aja kamu Har. Oh iya, nanti jadi kamu menemani aku membeli
make-up?"

"Jadi dong, lagian tumben lo tiba-tiba mau belajar makeup? dulu gw ajakain
gak pernah mau"

"Lagi pengen aja, lagian lama-lama ngeliatin kamu make-up kayanya menarik
dan menyenangkan"

"Yaudah tapi nanti traktir gw beli gincu ya"

"Iya, tapi jangan mahal-mahal"

"Tenang, cuman 500 ribu doang kok beb" Apa? Hanya sebuah lipstik dan
harganya semahal itu?

******

Pekerjaanku ternyata lebih banyak dari yang kukira sebelumnya. Masalah
proyek disini lebih rumit dari laporan yang diberikan sekretarisku beberapa
hari yang lalu. Sekarang aku tidak lagi akan bertemu dengan Richard terkait
proyek ini karena Richard telah menyerahkan sepenuhnya kepada
sekretarisnya Jeff dan berdasarkan informasi dari Jeff, Richard sedang berada
di Jerman saat ini.

"Katakan kepada pak Richard bahwa saya sangat menyesal dan meminta
maaf karena masalahnya menjadi seperti ini" ucapku kepada Jeff.

"Tuan Richard mengatakan bahwa semuanya harus selesai sebelum dia
kembali dari Jerman"

"Akan saya usahakan"

Setelah meeting dengan Jeff selesai akupun memilih untuk kembali ke hotel
untuk mengistirahatkan tubuh ku yang sangat lelah. Aku berbaring di atas
ranjang dan menatap langit-langit kamar hotel, apa kabar Gadis ya? Aku
merindukannya karena bagaimanapun kami berdua kerap kali menghabiskan
waktu bersama akhir-akhir ini sehingga aku merasa telah menjadi terbiasa di
dekatnya jadi jika tak ada dirinya seperti ada yang kurang. Aku segera
mengambil handphone milikku di dalam saku celana dan meneleponnya.

"Halo assalamualaikum Neng, kamu dimana kenapa berisik sekali?"

" . . ."

"Oh begitu, pergi dengan Baharkan?"

" . . ."

"Iya tidak apa-apa kamu bisa berbelanja apapun sayang gunakan saja kartu
debit yang Akang berikan. Kalo mau beli baju dan sepatu juga gak masalah"

" . . . ."

"Iya, Akang sudah kembali ke hotel sekarang nanti malam baru pergi lagi. Oh
iya Neng, maaf sepertinya Akang akan lebih lama disini karena masalah
proyeknya lebih rumit dari perkiraan Akang kamu beneran gak apa-apa
Akang tinggal di rumah sendirian?"

" . . . ."

"Memang Eneng tidak rindu sama Akang?"

" . . . ."

"Karena Akang rindu makanya Akang telepon sayang"

". . . ."

"Yasudah, Akang mau mandi dulu nanti Akang telepon lagi.
Assalamualaikum". Kutaruh handphone milikku disisi ranjang lainnya dan
menyelami segala pemikiran yang berkecamuk dalam kepalaku tentang
semua hal yang terjadi denganku akhir-akhir ini.

******

Ah, aku malu jika Akang bersikap seperti tadi. Rindu katanya? Akang, Eneng
juga rindu banget, ucapku dalam hati.

"Kenapa lo beb senyum-senyum gak jelas?" tanya Bahar sambil berjalan ke
arahku dengan menenteng keranjang yang berisi banyak make-up yang
sedari tadi dia pilihkan untukku.

"Gak apa-apa, udah selesai belum milihnya?"

"Udah tapi kita masih harus beli liptint"

"Kamu yakin Har kalo harus sebanyak ini?" tanyaku saat melihat keranjang
yang dibawa Bahar yang hampir terisi penuh.

"Aku cuman butuh make-up standart yang bisa aku pake ke sekolah dan
jalan-jalan Bahar bukan mau jadi penata rias"

"Ya ini beb. Ini tuh masih sedikit banget lagian gw tuh hanya beli yang
dibutuhkan buat elo" ku cek barang-barang belanjaan tersebut. Apa-apaan
ini? Kenapa ada banyak lipstik yang di pilih? terus bedaknya juga ada tiga,
belum yang lainnya dimana 1 jenis barang terdapat beberapa macam merk.

"Satu barang satu jenis aja, kenapa ini banyak banget"

"Lipstik itu gak bisa satu warna doang beb, terus ini tuh namanya lipbam, ini
masker bibir, ini bedak, ini coushion, trus ini tuh yang bedak taburnya.
Semuanya beda fungsi kali beb"

"Tapi kan....." belum sempat aku melanjutkan perkataanku Bahar langsung
menarikku ke kasir dan betapa terkejutnya aku mengetahui total
belanjaanku yakni hampir seharga satu buah motor bebek. Semoga saja
Akang tidak marah saat mengetahuinya.

"Nih beb belanjaan elo terus ini lipstik punya gw ya" ucapnya sambil kedip-
kedip manjalita.

"Udah ih, kaya abis dirampok aja tuh muka lo"

"Emang" jawabku sedikit sewot

"Cantik butuh modal beb. Udah ah, makan yuk gw yang traktir deh tapi yang
dibawah 50 ribu ya soalnya uang jajan gw lagi sakaratul maut biasa nyokap
gw kalo ngancam pake acara potong uang jajan" Setelahnya kami berdua
pergi ke restauran cepat saji yang berada di dalam mall.

"Tumben elo bisa pulang sore, laki elo gak marah?" aku tersedak saat Bahar
mengatakan hal tersebut.

"Maksud kamu?" tanyaku gugup

"Emang suami elo gak marah elo balik sore begini beb?"

"Kamu...... kamu tahu dari mana kalo aku sudah bersuami?" tanyaku
penasaran karena sampai saat ini aku memang tak pernah bercerita kepada
siapapun mengenai statusku termasuk kepada Bahar.

"Yaelah beb, eike gak buta dan bego kali. Pertama tuh cincin di jari manis elo
cincin nikah kan?" Kulihat cincin nikahku dan setelahnya aku reflek menaruh
tanganku dibawah meja.

"Kedua, sering banget gw liat hasil karya laki elo di leher. Tuh cupangan mau
elo pamerin seantero sekolah? dan ketiga, gw pernah ngeliat elo lagi ciuman
sama laki lo di depan pagar rumah. Inget gak, dulu kan gw pernah ke rumah
elo nganter buku elo yang ketinggalan di tas gw. Nah pas gw anter gw liat dan
denger kali elo manggil tuh om-om ganteng akang suami. Hebat lo kecil-kecil
jadi manten, ganteng pula suami lo, berapa umurnya? kayanya lebih tua. Ups
sorry beb gak maksud menghina"

Sudah ketauan jadi untuk apa berbohong?

"Kita udah menikah sebelum aku masuk sekolah, dijodohkan. Dia anak
majikanku saat aku menjadi pembantu di Bandung. Bahar, hmm . . aku
mohon jangan . . . jangan . ."

"Tenang beb, meski gw suka gosip tapi gw pantang gosippin temen gw
sendiri"

"Kamu anggap aku temen?"

"Iyalah, kita duduk bareng, makan bareng, shopping bareng dan ngobrol
bareng apalagi kalo bukan temen? Jangan bilang elo gak anggap gw temen
lagi selama ini?" tanyanya sedikit sedih dan kecewa.

Aku langsung menggeleng, itu tidak benar. "Enggak, kamu selalu aku anggap
temen hanya saja aku gak tau kamu juga begitu. Makasih ya udah mau jadi
temen aku" ucapku tulus.

"Jadi sekarang gw bisa tenang dong"

"Maksudnya?"

"Elo gak akan gebet my future husband Stevan"

BAB 10

Aku kembali pulang ke rumah setelah seminggu lebih berada di Semarang.
Kubuka pintu dan tak ada siapapun, Gadis pasti masih berada di sekolah saat
ini. Sebenarnya aku juga tidak mengatakan padanya bahwa akan kembali hari
ini kerena memang ingin memberinya sebuah kejutan. Sudah dua bulan kami
menikah dan dua bulan tinggal bersama sebagai suami-istri. Cinta? Aku tak
tahu namun yang pasti aku menyayanginya.

Ibu mengatakan akan ke Jakarta bulan depan, rindu kepada kami katanya.
Salahku juga karena sejak kembali ke Jakarta belum berkunjung ke Bandung
lagi. Aku harus bersiap-siap jika bertemu ibu, dulu pertanyaannya selalu
sama kapan menikah?. Sekarang juga akan selalu sama, kapan cucu ibu hadir?
Apa aku harus kembali egois untuk meminta Gadis segera hamil? tapi
melihatnya selalu tersenyum saat akan pergi ke sekolah membuatku tak tega.
Pihak sekolah sudah mengetahui keadaan kami yang memang sudah menikah
dan mereka mengizinkan asal tidak ada pihak lain yang mengetahui hal ini
serta tidak akan menganggu kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Aku ingin segera masuk ke kamar untuk mandi lalu pergi tidur karena selama
di Semarang aku hanya tidur beberapa jam saja dalam sehari. Untung saja
persoalan disana sudah selesai dengan baik dan kuharap tak ada masalah
apapun lagi terkait proyek ini. Saat hendak memejamkan mata untuk tidur
tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Aku segera bangun dari ranjang dan
langsung berjalan ke ruang kerja milikku. Ku ambil kunci loker yang kutaruh
di dekat vas bunga samping meja kerjaku lalu membukanya dan setelahnya
aku mengambil sebuah box berukuran sedang yang berada di sana. Box ini
berisi beberapa foto milikku dan Richard saat kami berpacaran dulu serta
terdapat juga cincin couple milikku pemberian darinya 3 tahun lalu. Aku
memang belum membuangnya, entah mengapa?

Aku pandangi satu persatu foto kami berdua yang diambil di beberapa
negara saat pergi berlibur. Foto saat di Jepang dengan memakai Yukata, foto

saat sedang berada di salah satu restauran di kota New York, dan foto saat
kami sedang menikmati salju di Rusia.

Apa kabarnya sekarang? apa dia sudah kembali dari Jerman?

Astaga apa yang kupikirkan? aku yang memutuskannya, aku yang
meninggalkannya dan aku yang melukainya bukan?

Aku tahu hubungan kami berdua adalah hubungan yang salah, mencintai
sesama jenis. Sebuah hubungan yang sangat sulit bahkan tak dapat diterima
dan dimengerti baik secara sosial, hukum, apalagi agama.

Flashback
"Ini untukmu. Aku sengaja memesan cincin ini untuk kita berdua, cincin
couple yang di pesan khusus dari merk ternama" ungkap Richard saat kami
bertemu di kantorku.

"Benarkah? pasti mahal" jawabku sambil melangkah ke sofa dimana Richard
sedang duduk dan setelahnya menciumnya sekilas, tentu setelah memastikan
pintu dan jendela ruanganku tertutup rapat.

"Aku merindukanmu sayang" ungkapnya sambil membelai pipiku. Richard
memang terkadang bersikap manja kepadaku. Sikap dinginnya akan berubah
bahkan menghilang jika dia bertemu denganku. Richard lebih muda 10 tahun
dariku namun kemampuannya dalam dunia bisnis tak perlu lagi
dipertanyakan.

"Anniversary nanti aku mau mengajakmu berlibur ke Maldives, gimana?"
tanyaku sambil menatap wajahnya secara intens. Richard memiliki mata
yang tajam namun sangat indah untuk ditatap.

"Tidak jadi ke Jerman? bukannya kemaren kita setuju untuk pergi kesana?"

"Aku lebih suka sinar mentari daripada dinginnya salju"

"Ada aku, aku bisa menghangatkan dirimu" setelahnya kami kembali
berciuman dengan panas.

"Kutunggu nanti malam di apartemen, aku keluar sekarang bisa gawat jika
karyawanmu mencurigai kita berdua nanti" setelah mengatakan demikian
Richard pergi meninggalkanku dan cincin couple kami.

******

Hari ini pak Slamet memberikan ulangan dadakan dan membuat kepalaku
seketika sakit. Aku dan bahasa Inggris sangat tidak cocok. Akang pernah
menyuruhku mengambil kursus dan saat itu aku menolak namun kini aku
akan menerima penawarannya itu. Jujur aku malu ketika pak Slamet
menyuruhku maju ke depan kelas untuk membaca teks yang ada dibuku
seperti beberapa waktu lalu. Pelafalan ku buruk sehingga membuat murid
lain yang mendengarnya menertawaiku. Berbicara tentang Akang, sejak
semalam dia belum juga menghubungiku. Saat sedang melamunkan Akang
tiba-tiba saja seseorang menepuk punggungku dari belakang.

"Astaghfirullah setan alas" ucapku spontan. Terdengar suara tawa seorang
anak laki-laki dan tak lama dapat kulihat wajah Stevan yang sudah berdiri di
hadapanku.

"Kamu lucu banget sih" ujarnya.

"Ada apa? kamu cari siapa?" tanyaku langsung padanya.

"Gak cari siapa-siapa dan gak ada apa-apa juga cuman mau nyapa kamu
doang. Gak boleh?"

"Kita berdua enggak sedekat itu untuk saling menyapa satu sama lain" dapat
kulihat wajah terkejutnya saat aku mengatakan hal tersebut lagipula apa
yang kukatakan barusan adalah sebuah fakta di antara kami berdua. Kami

tidak saling mengenal kecuali mengetahui nama dan kelas masing-masing,
kami tak seakrab itu untuk berbincang layaknya aku dengan Bahar.

Eh, Bahar kemana sih? ke toilet lama banget dari tadi gak balik-balik? Jangan
bilang di buang air besar?, tanyaku dalam hati.

"Ngelamunin apaan sih? sampe aku ngomong gak dijawab"

"Eh, maaf. Kamu bilang apa?" tanyaku bingung karena sempat tak
mendengarnya berbicara.

"Aku bilang, aku mau deket sama kamu dan mau jadi temen kamu. Boleh?"

"Aku gak suka berteman dengan anak cowok" jawabku singkat.

"Terus temen kamu yang sering sama kamu itu apa kalo bukan cowok?" Eh
iya juga sih tapi Bahar kan pengecualian.

"Pokoknya aku gak terima penolakan, karena biasanya aku yang suka nolak.
Mulai sekarang kita teman" ucapnya penuh percaya diri dan setelahnya
Stevan pergi untuk kembali ke lapangan bermain basket dengan beberapa
temannya tadi.

******

Menjelang sore kudengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok belia
Gadis dengan seragam sekolahnya.

"Loh, Akang kapan pulang?" tanyanya terkejut.

"Tadi jam 10 pagi, Eneng baru pulang?" kulihat jam sudah menunjukkan
pukul 5 sore. Gadis kemudian duduk disebelahku setelah mencuci tangan dan
menyalamiku.

"Ada kelas tambahan dan tadi Eneng juga ikut ujian remedial" ceritanya

"Remedial apa? Matematika? Bahasa Inggris?"

"Tadi matematika dan sepertinya besok bahasa Inggris"

"Kalo kamu merasa kesulitan dalam pelajaran Akang bisa kasih kamu guru
les, gimana?" Saranku kepadanya kembali karena dulu aku memang pernah
menawarinya les saat dia bercerita kalau sedikit mengalami kesulitan dalam
mengikuti pelajaran sekolah.

"Tapi pasti mahal Kang"

"Gak usah khawatir itu masalah Akang apalagi ini demi sekolah Eneng"
ucapku sambil membelai rambut ekor kudanya.

"Hmm, apa boleh Eneng les bahasa Inggris di tempat Bahar Kang? biar nanti
Eneng ada temennya"

"Dimana?"

"Didekat sekolah, seminggu 3x. tapi berhubung mulainya agak sore jadi
lesnya bisa sampe malam. Apa boleh?" tanyanya ragu

"Boleh, nanti Akang daftarkan atau Eneng mau daftar sendiri? biar nanti
Akang kasih uangnya untuk daftar"

"Beneran Kang?" Aku hanya tersenyum sebagai jawaban.

"Oh iya Neng, akhir pekan ini teman-teman Akang akan datang ke rumah
untuk makan siang disini karena sejak Akang menikah dan Vita melahirkan
kita gak pernah lagi mengadakan acara kumpul-kumpul. Padahal dulu
hampir setiap ada waktu kita akan melakukannya"

"Ya sudah, Akang kasih tau aja mau Eneng masakin apa?"

"Apa saja tapi kalo kamu capek nanti kita pesan di luar saja"

"Enggak usah Akang lagian juga tamunya pasti gak banyak"

"Iya sih cuman satu keluarga besar. Maura-Bram dan si kembar. Vita-Darren
dan bayi mereka".

******

Aku sudah selesai melakukan registrasi untuk les bahasa Inggris dengan
ditemani Bahar. Lumayan harganya tapi semoga berkah ilmunya. Jujur aku
juga sangat minder kalo denger Akang berbicara dengan orang lain dengan
bahasa inggris bahkan Akang juga pernah berbicara lain seperti bahasa
Jepang dan Cina. Akang pernah bilang kalau dia memang bisa 5 bahasa.
Indonesia, Inggris, Cina, Jepang dan Jerman. Oh iya satu lagi, Sunda.

"Bengong aja lo beb kesambet setan janda baru tau rasa lo"

"Ih, Bahar mah. Amit-amit ya. Aku gak mau jadi janda muda"

"Bukan elo tapi setan oneng"

"Pokoknya jangan sebut kata-kata janda. Inget omongan itu doa" ancamku
kepadanya.

"Iye-iye, sorry morry strawberry deh beb. Eh btw, kapan elo mau kenalin gw
sama laki elo?"

"Nanti aja Akang masih sibuk"

"Alah, bilang aja lo takut si Akang suka sama gw. Iya kan?" celotehnya. Aku
terdiam mendengar penuturannya.

"Kenapa lagi lo beb? bercanda kali gw yakali dia suka sama gw?" Kamu gak
tau aja Har suamiku itu seperti apa.

"Udah yuk beb keburu malem nanti. Gw mau nonton sinetron azab nih.
Judulnya bagus kekasihku menghamili ibu tiriku dan dibunuh ayah
kandungku"

Aku dan Bahar berpisah di halte tak jauh dari sekolah karena memang
tempat les kami dan sekolah sangat dekat dan masih satu wilayah. Hari ini
Bahar tidak membawa motor karena motornya sedang mogok. Setelah Bahar
naik ojek tinggallah aku sendirian di halte menunggu angkot namun saat
sedang menunggu sebuah motor yang kukenal berhenti di depanku dan
kemudian si pemilik motor tersebut membuka helmnya.

"Sendirian aja neng, perlu Abang temenin dan anterin gak?"

"Gak perlu, mahal ongkosnya kalo naik ojek motor"

"Hahahha, lucu deh kamu Dis. Udah naik cepet sama kamu mah gratis deh
atau kalau mau bayarnya pake cinta aku sih gak akan nolak" gombalnya.

"Gak makasih saya udah punya seseorang" ups keceplosan.

"Yaelah, siapa? Bahar? udah buruan naik gak ada angkot di jam sekarang dan
liat tuh udah mau mendung dan gelap, ingat banyak preman disini. Kalo
kamu lupa ada anak sekolah kita yang di copet minggu lalu" aku kini menjadi
takut setelah mendengar ucapannya. Bahar memang pernah cerita bahwa
ada adik kelas yang menjadi korban copet saat di halte dekat sekolah ketika
sedang sendirian menunggu jemputan. Apa aku terima saja ya tawarannya?
daripada nanti aku juga dicopet terus dibunuh.

"Ya udah kalo kamu nolak. Bye Gadis" belum sempet Stevan menyalakan
motornya kembali aku buru-buru memegang ujung jaketnya.

"Ikut" cicitku. Stevan tersenyum mendengar ucapanku lalu menyerahkan
helm miliknya kepadaku.

"Nih pake jangan lupa pegangan" setelahnya kami berdua membelah jalanan
ibukota dengan kecepatan penuh untuk menghindari hujan yang sepertinya
akan segera turun. Sesampainya di depan kompleks aku meminta Stevan
berhenti. Seperti dulu, aku hanya mengizinkannya mengantarku sampai
disini.

"Kamu masih takut dimarahin orang tua kalo diantar cowok ya? masa aku
nurunin kamu disini lagi sih?" Belom sempat menjawabnya tiba-tiba saja
mobil Akang berhenti di sebelah kami dan kaca mobil diturunkan.

"Gadis, pulang sama siapa?"

BAB 11

Saat hendak memasuki komplek perumahan tempat tinggalku, aku melihat
Gadis tengah dibonceng oleh seorang pria yang juga masih menggunakan
seragam sekolah yang sama dengannya, apa dia yang bernama Bahar?,
tanyaku dalam hati sedikit penasaran dengan sosok yang selalu diceritakan
oleh Gadis saat di rumah.

"Gadis pulang sama siapa?" tanyaku padanya melalui jendela mobil yang
kubuka.

"Akang" Gadis terlihat terkejut dan gugup. Kulirik sekilas pria yang masih
duduk manis di atas motornya tersebut, tampan.

Apa Bahar setampan ini? seingatku bukan seperti ini gambaran Bahar yang
selalu diceritakan Gadis padaku, monologku di hati dengan tatapan
menyelidik dan terkesan kurang sopan padanya.

"Selamat sore om, maaf saya temen Gadis di sekolah kebetulan tadi saya
melihat Gadis sendirian duduk di halte dan karena sudah sore dimana angkot
sudah tak beroperasi serta cuaca yang tadi cukup mendung maka saya
menawarkan diri untuk mengantarkan Gadis pulang ke rumah yang ternyata
juga searah sama saya" jelas pria itu panjang lebar.

Aku segera mengucapkan terima kasih padanya sambil tersenyum ramah dan
tanpa menunggu perintahku Gadis juga langsung berpamitan dengannya lalu
ia masuk ke dalam mobilku. Pemuda itupun langsung menancapkan gas
motornya pergi meninggalkan kami dengan sangat cepat. Dasar anak muda,
gerutu ku kembali melihatnya yang mengebut seperti tadi. Tunggu, apa Gadis
tadi naik motor dengan kecepatan seperti itu?

"Tadi itu Bahar?" tanyaku saat kami berdua telah samapai dan masuk ke
dalam rumah.

"Bukan Kang, tadi itu namanya Stevan. Dia hanya menolong Eneng. Awalnya
Eneng sudah menolak tawarannya tapi karena memang sudah mau gelap dan
mendung terus sudah tidak ada angkutan umum lagi makanya Eneng nebeng
sama dia. Apalagi Minggu lalu ada adek kelas yang dicopet dan di gangguin
preman. Serem Kang"

"Begitu, kalau seandainya memang kejadian seperti ini terjadi lagi maka
Eneng bisa menghubungi Akang biar Akang jemput. Jangan menunggu
sendirian di tempat sepi, mengerti?" Gadis hanya mengangguk sambil
menundukkan kepalanya.

"Sudah jangan takut Akang sebenarnya tidak marah sama Eneng hanya
merasa khawatir apalagi Eneng kan tanggung jawab Akang, sekarang dan
seterusnya” ucapku sambil mengelus kepalanya lembut.

“Sekarang Eneng mending mandi sana, bau asam"

"Akang juga bau asam" ucapnya dengan bibir mengerucut gemas.

******

Akhir pekan ini aku, Maura serta Vita kembali mengadakan acara kumpul-
kumpul sekalian merayakan syukuran pernikahanku, syukuran lahiran Vita,
dan syukuran Maura yang sebentar lagi mau melahirkan. Yah, kami memang
memilih merapelnya dalam satu hari mengingat kesibukan kami semua yang
justru membuat kegiatan rencana syukuran selalu mundur dari waktu ke
waktu.

"Elo catering dimana Mud? enak banget masakannya gw mau mesen dong"
tanya Maura kepadaku sambil terus mengunyah makanan di piringnya.
Kulihat ini sudah piringnya yang ketiga, entah efek hamil, lapar, atau doyan.

"Gadis yang masak" jawabku bangga.

"Enak makanan buatan kamu Dis, om suka kapan-kapan bikinin lagi ya
apalagi rendangnya. Liat tuh bumil sampe semakin mirip gajah bengkak"
dengan gerakan cepat Maura langsung memukul bahu suaminya sampe
garpu dan sendok ditangan Bram terjatuh lalu terbatuk-batuk.

"Siapa yang bikin aku jadi gajah bengkak? sembarangan kalo ngomong" ucap
Maura sambil memasukkan potongan ayam ke dalam mulutnya.

"Bagus mi, hajar lagi biar jera" ucap Vita yang mencoba memanasi keadaan di
antara kedua mertuanya.

"Eh, menantu durhaka kamu ya Vit. Mertua berantem bukannya dipisah
malah didukung" cerca Bram.

"Diam mas, kamu yang salah. Awas aja sampe aku denger istilah gajah
bengkak lagi aku usir kamu dari rumah bukan dari kamar lagi"

"Ampun sayang, bercanda. Ya elah bumil sensitif deh"

Suasana meja makan sangat ramai. Bram dan Maura yang masih adu
argumen dengan sebutan gajah bengkak, si kembar yang makan sambil
menganggu keponakannya. Vita yang masih memanasi pertengkaran Bram-
Maura, dan tentu saja Darren yang makan dalam keadaan tenang serta diam.

******

Aku senang semuanya menyukai masakan buatanku. Sangat menyenangkan
mendengar banyak suara di rumah, mungkin karena selama ini aku hidup

sendirian sehingga melihat dan mendengar banyak orang bicara serta
bersenda gurau seperti ini begitu membahagiakan untukku.

"Oh iya, gimana sekolah kamu?" tanya mbak Vita saat kami berdua berada di
dapur. Saat ini aku sedang menyiapkan kue bolu buatanku sebagai makanan
penutup untuk semuanya dengan dibantu olehnya. Mbak Vita mengambil
sepotong bolu yang telah aku taruh di piring dan memasukkannya ke dalam
mulutnya. "Enak" ucapnya sambil mengacungkan satu jempolnya kepadaku.

"Baik mbak, bulan depan sudah masuk minggu UTS jadi mesti banyak
belajar"

"Pasti berat ya sekolah disaat sudah menikah"

"Alhamdulillah enggak mbak apalagi Akang sangat baik kepadaku jadi
akunya juga gak merasa berat atau kerepotan"

"Syukurlah, A'Muda memang pria yang sangat baik kamu gak salah pilih
meski..... eh, maksudku aku bisa jamin kalo A' Muda tidak akan pernah
menyakitimu. Sepanjang yang kutahu dia pria lembut yang tidak akan
menyakiti orang-orang yang disayanginya. Kamu pasti tahu bagaimana dia
sangat menyayangi ibunya bukan? serta sikapnya padaku dan mbak Maura
apalagi denganmu istrinya" lanjutnya sambil tersenyum.

Aku setuju dengan ucapan mbak Vita karena menurutku juga Akang adalah
pria terbaik yang selama ini kukenal. Cinta? mudah saja untukku jatuh cinta
padanya atau mungkin saat ini aku justru sudah jatuh cinta kepadanya
namun mengenai perasaan Akang kepadaku..... entahlah aku tidak tahu dan
bingung.

"Jangan memikirkan apapun yang belum pasti, jalani saja semuanya"
nasehatnya masih dengan tersenyum tulus kepadaku. Setelah berbincang

sebentar di dapur aku dan Mbak Vita berjalan menuju ruang tengah dimana
semuanya berada.

"Lama banget" ucap mas Darren

"Ibu lagi nanya-nanya soal resep kue tadi, siapa tahu nanti bisa coba bikin di
rumah"

"Masa?" tanya mas Darren kembali. Sepertinya perang part-2 siang ini akan
terjadi. Entah kenapa ayah dan anak sama-sama suka sekali meledek istri
mereka. Memang benar ungkapan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

******

Setelah semuanya pulang aku dan Gadis membersihkan ruang tengah
bersama sambil mengucapkan terima kasih karena Gadis sudah bersedia
direpotkan untuk menyiapkan semuanya.

"Akang, besok mau bantu Eneng gak? Senin ada ujian percakapan di tempat
les" tanyanya.

"Tentu. Apa semuanya baik-baik saja?"

"Eneng masih belom pandai berbahasa Inggris"

"Tidak apa-apa namanya juga belajar" ucapku menyemangatinya.

"Akang" panggilnya kembali kepadaku, kufokuskan diriku kembali
kepadanya sekarang.

"Ada apa? katakan" Gadis terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

"Begini, apa kita akan benar-benar menunda soal anak?"

"Kenapa? Ibu bertanya lagi? bilang saja belom rezeki" jawabku sambil
mengelus kepalanya dan mengecupnya.

"Tapi kan kita menikah karena ibu ingin cucu"

"Kita akan memberikannya tapi tidak sekarang. Eneng hanya perlu fokus
dengan sekolah dan les bahasa inggris saja saat ini nanti setelah lulus baru
kita akan membicarannya lagi. Sudah Eneng jangan memikirkan hal itu lagi,
kita menikah memang karena ibu tapi bagaimanapun Akang dan Eneng yang
menjalani semuanya. Oh iya, apa Eneng masih meminum pil yang Akang
berikan?"

"Iya, masih Eneng minum tapi apa Akang beneran akan mengizinkan Eneng
untuk kuliah?" tanyanya kembali kepadaku. Kududukkan Gadis
dipangkuanku, kubelai rambutnya dan ku kecup pipinya.

"Eneng tidak ingin kuliah?" tanyaku lembut

"Pengen tapi pasti mahal"

"Tidak masalah"

"Tapi kalo Eneng hamil, gimana?" tanyanya kembali mengenai topik
kehamilan.

"Sayang, dunia SMA dan perkuliahan sangat berbeda. Di SMA menikah dan
hamil dianggap sangat tidak pantas dan tabu akan tetapi jika sudah kuliah
justru tak masalah. Banyak kok yang menikah dan mempunyai anak sambil
tetap kuliah namun sedikit sekali yang seperti itu saat masih SMA. Mereka
akan dikeluarkan dari sekolah dan dipandang sebelah mata. Setelah kamu

lulus SMA baru kita bicarakan kembali Eneng mau hamil silahkan mau
menunda juga tak masalah karena Akang tak akan memaksa"

Kulihat Gadis menangis mendengar perkataanku, langsung saja aku peluk
tubuh mungilnya untuk menenangkan dirinya dan setelahnya membawanya
ke dalam kamar kami. Sore ini menjadi cukup panas bagi kami berdua.
Apapun keinginannya sebisa mungkin akan kupenuhi karena Gadis adalah
istriku. Istri kecil Muda.

******

Hari ini aku dan Akang pergi ke mall untuk membeli buku bahasa inggris
untukku. Kulirik penampilanku dan penampilannya.

Aku menggunakan kaos putih dan celana jeans serta sepatu kets putih dan
tas selempang berwarna hitam. Sementara Akang? Dia memakai celana jeans
dipadukan kemeja hitam yang digulung hingga siku dan kancing yang dibuka
dua. Tampan dan selalu tampan.

Lihat saja banyak wanita yang kini melirik kearahnya dan jujur AKU TAK
SUKA!!!. Ku rangkul lengannya yang berotot sambil bergelayut manja biar
semua wanita tersebut tahu bahwa pria tampan ini sudah ada yang punya,
yaitu AKU. Akang hanya tersenyum sambil sesekali mengelus rambutku. Lagi-
lagi aku terpana dan meleleh karenanya, sungguh aku suka diperlakukan
demikian olehnya.

Saat kami sedang berjalan tiba-tiba saja seseorang datang dan mendekat. Pria
dengan tampilan layaknya pesohor negeri.

"Muda?" ucapnya kepada Akang. Dapat kulihat Akang sedikit terkejut dan
gugup, berbeda dengan pria yang barusan menyapa karena kini ia terlihat
sangat bahagia.

"Sudah lama kita gak ketemu, sejak putus dan kamu sama Richard kamu
menjauh dariku. Oh iya, kamu lagi apa dan dengan siapa?" tanyanya.

Akang tidak langsung menjawab, dia menatapku dan menggenggam
tanganku.

"Aku sudah tidak dengannya Nick, aku sudah menikah dan dia istriku" ucap
Akang tegas. Kulihat pria yang dipanggil Nick tadi sangat terkejut mendengar
penuturan Akang padanya barusan.

"Kamu menikah? dengan perempuan dan bukan dengan Richard? Kufikir
gosip soal pernikahanmu itu bohong?"

Apa dia bilang? Richard? Apa mungkin Richard yang itu? jadi dia?

BAB 12

Saat sedang berjalan-jalan di mall dengan Gadis, kami tidak sengaja bertemu
dengan Nick. Nick adalah salah satu gigolo langganan ku dulu. Nick
menyapaku dan mengatakan sesuatu yang selama ini ingin kurahasiakan,
Richard.

"Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kami sudah berpisah,
aku menikah dan bahagia dengan pernikahanku" kutatap Nick dengan wajah
dingin dan tajam, kuyakin dia mengerti arti dari tatapan dan kalimatku saat
ini yang kutujukan kepadanya. Setelahnya Nick undur diri dengan alasan ada
janji dengan seseorang. Kini hanya tinggal aku dan Gadis yang sedari tadi
hanya diam terlebih setelah mendengar semua yang dikatakan Nick barusan
namun aku tahu apa yang saat ini sedang difikirkannya dan itu membuatku
khawatir. Aku semakin erat mengenggam tangannya dan merangkulnya.

"Jangan difikirkan, itu hanya masa lalu dan kamu masa depanku" ucapku
mantap. Gadis tetap saja diam tak menanggapi. Aku mengangkat dagunya dan
menatap wajah belianya dengan intens dan dia terlihat seperti mau
menangis. Kecewakah kepadaku?

Aku mengajaknya kembali pulang dan berjalan menuju mobilku di parkiran,
masalah buku nanti aku akan memesankan lewat online saja. Sepanjang
perjalanan Gadis tetap tak bersuara dan aku hanya membiarkannya karena
setibanya di rumah nanti akan kujelaskan semuanya.

Sesampainya dirumah Gadis langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam
kamar sementara aku segera mengikutinya dari belakang. Dia masuk ke
dalam selimut dan dapat kudengar suara isak tangisnya. Hatiku sedih
mendengarnya menangis seperti itu dan hal tersebut semua dikarenakan
oleh diriku.

"Maafkan Akang sayang"

"Kenapa Akang gak cerita kalo mantan Akang itu namanya Richard?"

"Akang sudah tak ada hubungan dengannya lagi. Percayalah" pintaku sambil
berusaha menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Kuangkat dirinya dan
kupangku. Dia berusaha menolak tapi aku lebih kuat. Kulilitkan tanganku di
tubuhnya agar Gadis berhenti meronta dan berontak.

"Bohong, buktinya dia ke pernah ke rumah. Akang pasti mesra-mesraan. Apa
kalian masih berpacaran?" Ucapnya masih sambil menangis sesenggukan.

"Masalah dia ke rumah, Akang baru tau saat dia mengirimkan pesan. Saat itu
akang menolak semua panggilannya, tak membalas semua pesannya bahkan
menghindarinya meski alasan pekerjaan. Sungguh sayang tolong Eneng
percaya sama Akang"

Gadis terdiam menatap wajahku sambil sesekali menarik hingus dari
hidungnya.

"Sudah Akang katakan bukan bahwa Akang sudah putus dengan kekasih
Akang saat memutuskan menikahimu. Akang memang tidak pernah
mengatakan kepadanya soal pernikahan kita berdua. Hanya sehari sebelum
kita menikah Akang mengiriminya pesan perpisahan. Saat dia datang di
pernikahan kita Akang juga sangat terkejut. Seperti yang Akang bilang, Akang
selalu menghindarinya. Hari dimana dia datang ke rumah kita Akang
mengatakan semua kepadanya. Akang mengakhirinya dan kami sampai saat
ini tidak pernah berbicara apalagi bertemu kembali" jelasku panjang lebar.

"Apa Akang pernah berniat menikahinya?"

"Tidak, karena Akang tahu itu tidak mungkin"

"Akang mencintainya?"

"Dulu atau sekarang?"

"Keduanya"

Kuelus pipinya dan kuhapus air matanya yang masih keluar. Kuambil sapu
tangan disaku dan ku lap hingusnya.

"Dia kekasih Akang terlama. Kami saling menyukai makanya bersama tapi
keadaan tak memungkinkan kami berdua untuk bersama. Kami bisa saja
menikah dan dia memang selalu menawarkan tapi Akang selalu menolak.
Eneng pasti tau alasannya"

"Karena ibu?"

"Salah satunya. Selain itu juga, Akang belum siap jika banyak orang yang
mengetahui kondisi Akang. Maksud Akang..... Akang malu. Itu masa lalu Gadis
dan sekarang ada kamu, Akang melupakannya dan Akang ingin memulai lagi
semuanya dengan baik dan benar dan itu denganmu. Akang hanya minta
kamu percaya dan menunggu. Kamu bisa?"

"Entahlah" jawabnya menunduk

"Sulit memang bagimu untuk memahami dan mempercayaiku Gadis tapi
Akang hanya bisa mengatakan hal ini bahwa Akang ingin membahagiakanmu,
sebagai pria, sebagai suami, dan kelak sebagai ayah dari anak-anak kita.
Kamu wanita pertama dan terakhir bagiku"

"Apalagi ada yang Akang rahasiakan dari Eneng? Jika iya katakanlah karena
Eneng lebih suka Akang jujur sekarang"

Baiklah, jujur memang adalah langkah terbaik dan kuceritakanlah semua
tentang masalaluku dan kebiasaanku yang suka one night stand dengan para
gigolo, termasuk dengan Nick serta kisah cintaku dengan beberapa mantan-
mantanku termasuk Richard.

"Apa sekarang Eneng semakin jijik dengan Akang?" tanyaku khawatir. Gadis
diam dan hanya memandangiku.

"Sebelum kita menikah Eneng sudah tahu tentang keadaan Akang tapi jujur
mengetahui semuanya membuat Eneng sedikit terkejut. Terima kasih karena

Akang sudah jujur dengan Eneng. Eneng enggak mau bohong bahwa Eneng
sedikit kecewa dan bingung sekarang tapi Eneng mau memberikan Akang
satu kesempatan lagi dan Eneng harap Akang tidak mengecewakan diri
Eneng kembali"

Setelah mendengar penuturannya, kucium tangannya dan kubawa kepalanya
bersandar ke dadaku. Kukecup kepalanya berulang kali dan berjanji bahwa
Gadis bisa mempercayaiku.

******

Kupandangi wajah tampan di sampingku yang saat ini tertidur dengan lelap.
Kubelai wajahnya lembut, Akang pasti kecewa dengan sikapku semalam
ucapku pelan karena tak ingin dirinya terbangun.

Aku manusia biasa dan mendapati salah satu mantan suamiku dan terlebih
itu seorang lelaki wajar jika aku bersikap demikian. Aku sadar bahwa kami
berdua tidaklah sempurna tapi aku tahu bahwa kami berdua berusaha dalam
pernikahan ini. Aku bangun dari tempat tidur dan melangkah keluar menuju
dapur. Kubuka kulkas dan mengambil air dingin, kepalaku perlu didinginkan.

Sambil duduk di meja makan, aku mengingat kembali pertemuan awalku
dengan Akang di rumah ibu mertuaku, permintaan ibu yang menyuruhku
menikah dengan putranya, pengakuan Akang di halaman belakang, dan
lamarannya di rumah sakit hingga saat ini.

Kutarik nafas dalam-dalam karena keraguan itu sempat muncul namun kini
perlahan sirna. Aku akan berusaha. Aku seorang istri sah dan tidak akan
kubiarkan para pelakor merebutnya, tidak perempuan apalagi lelaki.

Apa yang harus kulakukan agar Akang mencintaiku? Aku tahu Akang
menyayangiku tapi itu belum cukup untukku karena aku ingin dicintai
olehnya karena kalau boleh jujur sepertinya aku sudah mencintainya.

Segera kuambil handphoneku yang ada dikamar dan kembali ke luar menuju
ruang tengah. Tanpa mengenal waktu aku menelpon Bahar yang kuyakin saat
ini sedang tidur nyenyak.

"Halo, assalamualaikum Har. Maaf ini Gadis"

"Eh anak manusia, lo tau ini jam berapa?" Kulihat jam di dinding, pukul 2
pagi.

"Maaf Har tapi aku butuh saran dari kamu. Kumohon"

"Apaan sih? penting banget kayanya"

"Soal suamiku"

"Kenapa sama suami elo?"

"Kamu tahu kan kami menikah karena dijodohkan? Aku tau dia
menyayangiku tapi aku mau lebih. Aku ingin akang mencintaiku. Aku takut
dia di rebut". Cicitku.

"Aduh Gadis yang sudah tak gadis lagi. Elo tuh ya gw kira apaan. Wajar sih
laki situ tuh emang incaran top buat para pelakor. Bagus sadar."

"Ya udah makanya aku nanya sama kamu sekarang. Aku harus apa?"

"Elo yakin mau ngelakuin apa saja?"

"Iya" jawabku mantap, apapun akan kulakukan dan tak akan kubiarkan
Akang pergi baik diambil Nick, Richard atau pria dan wanita lainnya.

"Kasih dia anak, iket dia dengan anak"

"Maksudnya?"

"Yah elo hamil lah. Emang elo gak mau hamil anaknya apa? Apa elo mau laki
elo hamilin orang lain?"

"Mau tapi aku kan masih sekolah" lagipula Akang gak akan menghamili
wanita lain tau deh pria lain. Eh, tapi pria kan gak bisa hamil.

"Elo mau putus sekolah atau putus ikatan perkawinan? ingat ya, modelan
suami elo tuh banyak yang incer. Lengah dikit ngeraung-raung ntar
dipojokan lo. Lagian kita sekolah tinggal 7 bulan lagi, elo bikin sekarang juga
belum tentu langsung jadi"

"Apa gak ada saran lain?" tanyaku kembali.

"Enggak ada. Saran gw cuman itu. Udah deh pikirin lagi sebelum terlambat.
Udah ah, gw mau tidur. Tidur cukup membantu meremajakan kulit bye"

Setelah berbicara dengan Bahar, kepalaku semakin sakit. Apa yang harus
kulakukan? mengikuti sarannya atau melakukan hal lain? tapi apa? Tuhan
bantu aku. Ayah-ibu Gadis bingung.

BAB 13

Hubunganku dengan Gadis kembali membaik dan aku pun berusaha
membuktikan ucapanku dulu. Hari ini aku memberanikan diri mendatangi
seorang psikater untuk mengetahui keadaanku serta melakukan terapi dan
konseling yang dibutuhkan. Bagaimanapun aku harus berusaha meski aku
tau tak semudah itu. Dulu, aku pernah mencoba berobat namun hasil yang
kudapat tak sesuai harapan. Aku fikir mungkin saat itu memang aku belum
memilki alasan kuat untuk berubah terlebih aku sangat mencintai mantan
kekasihku sehingga aku hanya mengikuti konseling beberapa kali pertemuan
dan setelahnya menyerah.

Aku menceritakan kondisiku sejujur-jujurnya. Sejak kapan aku tertarik
dengan pria, mengapa, bagaimana, dan hal-hal lainnya sementara sang
psikiater hanya mendengarkan dan sesekali mencatat ucapanku. Sesi
konseling pertama telah selesai dan dia memintaku datang kembali dua
minggu lagi. Jujur ada sedikit perasaan lega setelah sesi konseling ini, entah
mengapa tapi yang pasti semua ini kulakukan demi istri kecilku dan demi
pernikahan kami berdua.

Aku mengirimkannya pesan dan mengatakan bahwa akan menjemputnya di
sekolah namun hingga 5 menit kutunggu Gadis belum juga membalas pesan
tersebut, mungkin masih belajar pikirku akan tetapi aku tetap menjalankan
mobilku ke arah sekolahnya dan berharap ia akan merasa senang dengan
kedatanganku yang mendadak ini. Entah mengapa aku ingin membelikannya
bunga sehingga sebelum tiba ke sekolah Gadis, aku menyempatkan diri ke
toko bunga untuk membeli seikat bunga untuknya. Aku tak tahu bunga
kesukaannya apa, akan kutanyakan nanti namun sekarang pilihanku jatuh
kepada mawar putih yang menurutku sangat indah. Bunga cantik untuk gadis
cantik.

10 menit aku menunggunya di depan gerbang dan tak lama kulihat Gadis
berjalan bersama dengan dua pria. Satu tinggi tegap dan satunya lumayan

berisi. Kulambaikan tangan kepadanya, dia sedikit terkejut namun kemudian
tersenyum manis kearahku dan dengan cepat Gadis berlari meninggalkan
kedua temannya. Melihatnya demikian aku reflek tersenyum kepadanya dan
saat Gadis sudah di depanku aku mengelus rambut ekor kudanya.

"Akang sudah lama menunggu? Eneng baru saja membaca pesannya dan baru
mau dibalas eh tidak taunya Akang sudah nongol saja di sini"

"Belum terlalu lama kok. Akang sengaja nunggu Eneng karena mau mengajak
makan siang bersama, kebetulan Akang ambil cuti hari ini jadi kita bisa pergi
berdua. Dan setelah makan siang kita bisa lanjutkan pergi menonton film
atau bermain ke suatu tempat karena Akang akan menuruti keinginan Eneng
seharian ini." mendengar penuturanku barusan membuat senyuman di bibir
istriku ini semakin lebar sehingga menampilkan deretan gigi rapinya dan
tentu saja matanya menampilkan kebahagiaan dan itu membuatku juga
merasa bahagia.

"Oh iya, tunggu sebentar Akang punya sesuatu buat Eneng" kubuka pintu
penumpang belakang dan mengambil bunga yang tadi kubeli. Ku berikan
padanya dan Gadis reflek melompat memelukku.

"Aduh duh.... dunia berasa milik berdua ya, yang lain masih KPR" ucap salah
satu temannya yang bertubuh berisi tadi sedangkan yang satunya hanya
berdiri dalam diam sambil menatapku menyelidik. Ah, aku ingat dia teman
Gadis yang tempo hari mengantar, siapa namanya? Kevin? Kevan? Stevan?

"Apaan sih kamu Bahar. Iri ya aku dapet bunga dari cogan?"

"Kamu dijemput ayahmu ya Dis?" apa katanya? Bocah ini mengira aku ayah
Gadis? Apa aku setua itu?

"Eh, dia bukan ayah aku tapi......." Gadis terdiam sesaat karena mungkin
bingung mau menjawab apa.

"Saya om-nya Gadis" ucapku sambil mengulurkan tangan.

"Selamat siang om" jawabnya kemudian. Bisa kulihat raut wajah sedih Gadis
mendengar jawabanku barusan dan mungkin saja dia juga merasa bersalah
karena mengenalkan suaminya ssbagai om.

Saat aku sudah selesai berjabat tangan dengan pria yang mengenalkan
namanya sebagai Stevan tadi tiba-tiba saja pria yang satunya menarik
tanganku dengan cepat dan hal tersebut membuat Gadis langsung memukul
lengannya.

"Pelit amat sih lo, gw kan juga mau kenalan. Kenalin om nama aku Lalisa
Manoban tapi di akte ditulis Baharudin Kamajaya cuman untuk om spesial,
om bisa panggil aku Jennie"

"Ih, Bahar jangan ganjen. Udah yuk kita pergi aja" Gadis langsung menarikku
ke dalam mobil meninggalkan kedua temannya tadi.

******

Aku cukup terkejut saat melihat keberadaan Akang yang telah tiba di depan
gerbang sekolah untuk menungguku pulang. Saat kelas usai dan aku
membuka handphone milikku, aku melihat pesan yang dikirim Akang
beberapa waktu lalu yang mengatakan akan menjemputku di sekolah dan
tentu saja hal tersebut membuatku merasa senang. Aku sudah bersiap-siap
hendak berlari ke gerbang sekolah sampai tiba-tiba Stevan mencegahku di
depan lapangan. Stevan mengajakku menonton film, katanya ada film bagus
di bioskop dan dia bingung mau mengajak siapa untuk menonton bersama.
Bukannya teman dia banyak ya? Fikirku dalam hati dan saat hendak menolak
ajakan Stevan, entah dari arah mana tiba-tiba saja Bahar sudah muncul di
sebelahku dan dia langsung mengiyakan ajakan Stevan.

"Ikut...... Jennie ikut ya" ucapnya.

"Maaf Stevan tapi aku gak bisa" setelahnya kutinggalkan mereka berdua
namun keduanya justru mengikutiku di samping kanan-kiri. Di depan sana
dapat kulihat Akang bersandar pada mobilnya, tampan. Lihat saja banyak
siswi perempuan yang memandanginya.

HEI PRIA ITU PUNYAKU!!

Aku langsung berlari dan tersenyum kearahnya. Aku juga sangat terkejut saat
Akang memberikan sebuket bunga mawar putih kepadaku. Ah, aku bahagia
sekali. Kucium aroma bunga itu dalam-dalam sampai kedua pria tadi kembali
mengikutiku menyusul ke depan mobil Akang.

Saat Stevan bertanya siapa Akang, aku bingung untuk menjawabnya. Aku
ingin menjawab suami tapi ragu dan aku yakin Akang mengetahuinya maka
dari itu Akang cepat-cepat mengenalkan diri sebagain om ku. Jujur saja aku
merasa sedih dan kecewa mendengarnya bukan kepada Akang tetapi kepada
diriku sendiri hingga di dalam mobil aku terus menunduk dan enggan
melihat wajah tampan Akang.

"Kamu kenapa? gak suka sama bunganya? Maaf ya, Akang gak tau bunga
kesukaan Eneng apa. Sekarang Eneng bilang biar nanti Akang belikan"

"Semuanya, Eneng suka semua bunga" jawabku. Apalagi bunga bank
Kang. Tentu kalimat ini hanya kuucapkan di dalam hati.

"Terus Eneng kenapa? marah karena Akang mengenalkan diri tadi sebagai
om? maaf ya Akang tahu Eneng pasti bingung mau jawabnya tadi makanya
Akang reflek bilang begitu"

"Maaf Akang" sesalku

"Gak apa-apa, nanti kalo kamu sudah yakin mengungkapkannya baru kamu
bisa bilang kalo pria tampan ini suami kamu ke semua orang" Aku tersenyum
mendengarnya. Pria di sebelahku ini memnag baik dan pengertian, aku
beruntung bukan?

"Akang cuti kenapa?" tanyaku heran karena setauku Akang itu workaholic,
Akang jarang mengambil cuti jika tidak dalam kondisi darurat.

"Ke psikater" aku menatapnya bingung. Maksudnya?

"Akang mau berusaha berubah demi Eneng, demi kita. Jadi akang mohon
percaya dan tunggu Akang. Bisa kan?"Aku menggangguk dan disaat lampu
merah menyala aku langsung mencium bibir Akang tanpa ragu dan malu.

"Eneng sayang Akang" ucapku

"Akang juga menyayangi Eneng" dan setelahnya kami kembali berciuman
hingga bunyi klakson mobil dibelakang berbunyi untuk memberi tahu bahwa
lampu sudah berubah menjadi hijau.

Kami pergi ke salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan dan setelah makan
siang bersama Akang mengajakku menonton film, film yang tadi Stevan
katakan. Film romatis. Sepanjang menonton film aku dan Akang terus
bergandengan tangan bahkan sesekali Akang mencuri cium dariku. Malu tapi
aku senang.

Setelah menonton Akang juga mengajakku berbelanja. Akang mengizinkanku
membeli apapun bahkan ketika aku rasa kantong belanjaan milikku sudah
banyak Akang tetap menyuruhku membeli yang lainnya. Puas berbelanja
kami pergi makan malam disalah satu restauran Jepang. Ini pertama kalinya
aku ke tempat ini.

"Akang, Eneng gak suka makanan mentah" ucapku sambil berbisik sesaat
setelah melihat daftar menu.

Akang tak menjawab, dia sibuk memilihkan makanan untukku dan
untukknya. "Akang memilihkan sushi yang tidak mentah untukmu juga
ramen"

Saat masih menunggu makanan milik kami datang, telepon Akang berbunyi.
Aku memandangi suamiku, dia terlihat tampan disaat sedang menerima

telepon dari seseorang. Wajah tampan, badan tegap, perhatian dan romantis.
Kebaikan apa yang kulakukan sehingga mendapatkan suami sepertinya.
Meski sudah berumur wajah Akang tidak menunjukkan bahwa dia sudah tua.
Akang malah terlihat tampan yang dewasa. Lihat saja baik di sekolah maupun
di mall banyak wanita yang meliriknya sedari tadi. Kesal . . .kesal. . .kesal.

"Kamu kenapa?" tanya Akang setelah memasukkan handphonenya kembali
ke saku celana.

"Akang punya Eneng pokoknya" jawabku manja.

"Iya, Akang punya Eneng" dia mengatakannya sambil menatap dan mengelus
rambutku. Tentu saja sikapnnya ini kembali membuatku merona dan
melayang.

"Ini mas makanannya, maaf menunggu lama" suara pelayan restauran saat
mengantarkan makanan ke meja kami "dan ini pesanan adiknya" ucapnya
kemudian.

APA? ADIK? AKU ISTRINYA.

BAB 14

Semenjak keluar dari restauran Gadis berubah menjadi pendiam. Aku ingin
menanyakannya apakah aku mempunyai kesalahan lain yang membuatnya
demikian atau hal lainnya yang mampu membuat mood-nya berubah tiba-
tiba menjadi seperti itu namun aku mencoba berfikiran positif yakni
mungkin saja Gadis merasa lelah setelah seharian belajar di sekolah dan aku
yang langsung mengajaknya menonton serta berbelanja.

Sesampainya di rumah, Gadis langsung berbaring di atas ranjang sementara
diriku yang memang sudah ingin mandi langsung pergi ke kamar mandi
untuk membersihkan diri. Selesai mandi aku masih melihat Gadis yang tetap
berbaring di ranjang tanpa sekalipun memejamkan matanya. Kuhampiri
dirinya dan bertanya ada apa sebenarnya namun Gadis hanya diam dan
beranjak dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi.

5 menit

10 menit

15 menit

Dan 30 menit berlalu

Aku mulai khawatir, Gadis bukan tipe wanita yang suka mandi lama apalagi
ini sudah malam. Saat hendak bangun dari ranjang kudengar pintu kamar
mandi terbuka dan terlihat sosok Gadis yang hanya memakai handuk putih
sebatas paha masih dengan rambut basahnya.

Aku memandanginya heran karena tak seperti biasanya dia keluar kamar
mandi dengan penampilan seperti itu. Gadis mendekat dan langsung duduk
di atas pangkuanku menatap mataku dan sedetik kemudian mencium
bibirku. Awalnya hanya sebatas ciuman ringan namun ketika Gadis menggigit
bibir bawahku, aku langsung membuka mulutku dan ciuman itu berubah
menjadi lumatan bergairah.

Dengan satu tangan mungilnya dia membelai sesuatu yang dibawah
membuatku mengerang dan mengadahkan kepala keatas. Setelahnya Gadis
langsung menciumi rahang dan leherku bahkan menjilatinya. Tangan satunya
juga tidak tinggal diam, dia membuka kancing piamaku satu persatu dan
setelah selasai Gadis berdiri untuk membuang handuknya asal dan tak lupa
menurunkan celana dan boxerku hingga kami bertelanjang bersama.

Gadis kemudian kembali duduk di atas pangkuanku dan kembali
mencumbuku. Setelah beberapa saat dia mengarahkan milikku ke miliknya.
Kami mendesah bersama. Aku membiarkan Gadis memimpin percintaan
kami kali ini.

Sejujurnya aku bingung, kami memang sering bercinta tapi semua itu aku
yang memulai atau lebih kepada aku yang meminta kepadanya, tapi kini?
Gadis yang berinisiatif terlebih dahulu. Entah berapa lama kami
melakukannya sampai kami mendapatkan pelepasan bersama dan aku
kembali mengeluarkannya di dalam rahimnya. Kami bedua terdiam,
mengumpulkan kembali energi yang terkuras. Setelah dirasa cukup Gadis
menatapku dan kubalas menatapnya. Tak butuh waktu lama untuk kami
melanjutkan ronde selanjutnya hingga beberapa kali permainan dengan
banyak gaya tak dapat ku sebutkan. Hingga tubuh kami berdua lelah dan tak
sanggup lagi.

******

Pagi ini tubuhku terasa sakit dan pegal. Aku tak sanggup bangun dari tempat
tidur. Kubuka mataku perlahan dan tak menemukan Akang disampimg
seperti pagi biasanya, kemana Akang? tanyaku dalam hati.

Kutatap langit kamar dengan masih berbaring, memikirkan kejadian kemarin
hingga subuh tadi. Aku cemburu, cemburu setengah mati. Aku tak suka jika
Akang di lirik dan di goda oleh perempuan apalagi pria lain bahkan kepada

Bahar yang kemarin bercanda dengan menggodanya aku juga cemburu. Aku
tak suka saat Bahar tiba-tiba menarik tangan Akang untuk bersalaman
dengannya, aku tak suka wanita yang memandanginya baik di sekolah
ataupun mall dan aku tak suka saat mbak-mbak di restauran kemarin
berbicara genit kepada Akang.

Apa dia bilang kemarin? Adik? mana ada adik yang melakukan hal seperti
semalam kepada kakaknya?

Aku kesal setengah mati. Aku tahu Akang tak salah karena Akang memang
terlahir tampan dan mempesona, tapi tetap saja aku tidak suka. Benar kata
Bahar tempo hari, jika aku lengah sedikit saja maka akan dipastikan banyak
wanita dan pria yang akan merebut Akang dariku. dan diriku hanya bisa
menangis karena menyesal.

AKANG PUNYAKU, DIA SUAMIKU.

Entah karena terlalu takut kehilangan atau apa, aku mulai menggoda Akang
semalam bahkan kami melakukannya lebih lama dan panas dari biasanya.
Aku yakin Akang sudah mencintaiku, mana ada gay yang begitu bernafsu
dengan perempuan seperti semalam? Lihat saja berapa bayak bercak merah
keunguan di sekujur tubuhku apalagi dibagian leher, dada, perut dan paha
dan belum lagi aku yang saat ini tak sanggup berdiri. Baiklah untuk pertama
kalinya aku memilih membolos sekolah.

Kulirik jam beker yang berada di sebelah tempat tidurku dan ternyata sudah
menunjukkan pukul 09.00 pagi, aku yakin Akang pasti sudah berangkat kerja.
Ada sedikit rasa kecewa yang kurasakan karena kufikir aku akan
mendapatinya disebelahku saat terbangun nanti. Saat sedang asyik melamun
tanpa kusadari pintu kamarku terbuka dan menampilkan sosok Akang yang
datang sambil membawa makanan di atas nampan.

"Eneng sudah bangun? Akang siapkan sarapan untuk Eneng" aku menatap
nampan yang Akang bawa, sepiring nasi goreng dan segelas air mineral.

"Akang masak?" tanyaku tak percaya.

"Iya, semoga Eneng suka" jawabnya sambil mengecup keningku.

"Eneng gak tau kalo Akang bisa masak?" kumasukkan sesendok nasi goreng
tersebut ke dalam mulut, enak.

"Akang sudah lama tinggal sendirian jadi memasak nasi goreng bukan hal
sulit sayang" Akang memanggilku sayang, duh jadi seneng deh.

Setelah menghabiskan nasi goreng buatan Akang aku hendak pergi ke kamar
mandi namun rasa perih di area sensitifku masih sangat terasa.

"Aww"

"Apa masih sakit?" tanya Akang khawatir dan tanpa perlu menunggu
jawaban dariku, Akang langsung menggendongku menuju kamar mandi. Aku
kembali menatapnya sambil mengalungkan kedua tangan di lehernya,
kukecup bibirnya berkali-kali dan Akang hanya tersenyum.

"Jangan menggoda Akang sayang, kamu masih sakit"

******

Hari ini ibu datang ke rumah kami. Semenjak mendapatkan kabar bahwa ia
akan berkunjung, baik aku dan Gadis merasa sangat bahagia dan tak sabar
menanti kedatangannya karena memang sudah cukup lama aku dan Gadis
tak pernah mengunjunginya selain karena kesibukannku dan beberapa
kegiatan sekolah Gadis yang tak memungkinkan untuk kami pergi ke
Bandung meski di kala weekend.

Ibu dijemput oleh orang suruhanku karena sejak pagi aku cukup sibuk
terlebih ada beberapa pertemuan yang tak bisa di ganti apalagi di batalkan.
Aku baru tiba di rumah saat waktu menjelang malam. Saat aku tiba dan

belum mendapatinya tiba, aku menelpon orang suruhanku tersebut dan ia
bilang bahwa mereka terjebak macet dan akan tiba sekitar 30 menit lagi.
Gadis juga sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk menyambut ibu, ia
sudah selesai memasak makanan kesukaannya.

Suara mobil terdengar, aku dan Gadis langsung berjalan menuju teras depan
menyambut kedatangan ibu.

"Kalian menunggu ibu ya?" tanyanya sambil tersenyum.

"Ibu apa kabar?" tanya Gadis yang menyalami tangannya dan setelahnya aku
mendekat dan memeluk ibuku sangat erat.

"Malu sama pegawai dan istrimu kasep" ucapnya

Setelah menaruh barang-barang milik ibu, aku pergi ke ruang makan untuk
makan malam bersama. Aku melihat dua wanita berbeda usia sedang
bersenda gurau disana. Hatiku menghangat menyaksikannya semuanya dan
tanpa sadar aku menangis, menangis bahagia. Kuhapus air mata ini dan
berjalan mendekati keduanya.

"Bagaimana pekerjaanmu nak?"

"Masih tetap sama bu, sibuk"

"Sekolahmu Gadis?"

"Alhamdulillah mau persiapan ujian semester sebentar lagi bu"

"Baguslah, tapi hubungan kalian berdua baik-baik saja kan?" tanyanya
dengan wajah khawatir.

"Baik bu, malah sangat baik. Iya kan sayang?" tanyaku kepada Gadis yang
menunduk malu.

"Iya bu, Akang sangat baik dan memanjakan Gadis disini" jawabnya. Ibu yang
mendengar hal tersebut hanya tersenyum sambil memegang kedua tangan
kami.

"Syukurlah, ibu bahagia mendengarnya berarti bisa dong kalian kasih ibu
cucu secepatnya"

"Doakan saja bu, kami berusaha namun Tuhan yang menentukan" jawabku
bijaksana.

******

Aku sangat senang ibu mertuaku ada disini karena aku sangat
merindukannya meski kami hampir setiap hari saling memberi kabar melalui
sambungan telepon namun tetap saja aku merindukannya. Ibu sudah
kuanggap seperti ibu kandungku sendiri bahkan saat ini tanpa sungkan aku
berbaring di atas pahanya sambil beliau membelai rambutku.

"Kamu beneran bahagiakan Gadis?" tanyanya tiba-tiba.

"Maksud ibu apa?" Kutatap wajah ibu dalam-dalam

"Tidak berbohong kepada ibu tentang kebahagiaan pernikahan kalian
berdua"

"Gadis dan Akang tidak berbohong bu. Kami memang sampai saat ini masih
saling belajar mencintai dan hingga kini rumah tangga kami berdua baik-baik
saja bahkan sangat baik jika itu yang ibu khawatirkan"

"Baguslah, tapi apa kalian berdua melakukannya?" tanya ibu mertuaku ragu.
Aku yang ditanya seperti itu hanya diam karena malu.

"Kenapa? apa belum juga sampai saat ini?" Wajahnya menyiratkan
kekecewaan dan kesedihan.

"Tidak, kami sudah melakukannya. Sering malah" cicitku sambil membuang
pandangan dari ibu mertuaku.

"Benarkah? kamu tidak berbohong pada wanita tua ini kan?"

"Tidak ibu, bahkan kemarin malam kami melakukannya. Lihat saja tanda-
tanda ini" aku menunjukkan keganansan Akang di atas ranjang semalam dan
sedetik kemudian ibu mertuaku tertawa.

"Ibu tak tahu kalo Muda bisa berubah jadi vampir begini?" Ya tuhan aku
malu.

"Apa Muda sudah putus dari pacarnya?" tanyanya kemudian. Tunggu ibu tau
dari mana soal mantan kekasih Akang?

BAB 15

Namaku Desi Lestari. Saat ini usiaku telah menginjak usia 63 tahun, usia yang
cukup untuk memiliki cucu bukan?.

Aku mempunyai seorang putra bernama Pemuda Putra Perkasa.

Diusianya yang menginjak kepala 4, dia masih belum juga menikah dan
sebagai seorang ibu tentu aku merasa khawatir. Putraku tampan, mapan,
berbakti sebagai anak, sopan serta penyayang dan penuh kasih sayang, apa
lagi masalahnya?

Setiap aku bertanya mengenai pernikahan, putraku hanya menjawab, belom
ketemu jodohnya kali bu, doakan saja.

Selain iri dengan teman-temanku yang selalu menceritakan mengenai cucu
dan menantu mereka, aku juga khawatir jika aku kelak telah tiada maka
dengan siapa lagi anakku nanti di dunia ini?

Entah berapa banyak wanita yang kukenalkan padanya namun semua
berakhir sama, GAGAL. Ada saja alasannya, terlalu cantiklah, pintarlah,
sexylah, mudalah, dll.

Aku khawatir dan perasaan itu semakin menjadi bahkan tanpa
sepengetahuannya aku membayar seseorang untuk mengikutinya. Mungkin
saja kan putraku sebenarnya memiliki kekasih tetapi belum siap
mengenalkannya kepadaku, ibunya.

Sebulan setelah orang suruhanku mengikuti putraku, betapa terkejutnya aku
mendapati laporan beserta foto-foto dirinya. Muda bersama seseorang,
berpelukan bahkan berciuman namun masalahnya bukan dengan seorang
wanita melainkan pria. Aku syok hingga berpegangan pada kursi yang
kududuki. Aku tak kuasa menahan rasa sedih, marah, dan kecewa kepada
putra kebanggaanku hingga akhirnya aku dilarikan ke rumah sakit.

Entah berapa lama aku baru tersadar kembali namun ketika bangun aku
mendapati putraku duduk memegang tanganku sambil menangis. Ya tuhan,
benarkah kabar yang kudapat mengenai dirinya beberapa waktu lalu?

Aku hanya diam sampai dia mengangkat kepalanya dan menatapku terkejut
karena mendapatiku yang telah sadar.

"Ibu sudah sadar, Muda panggilkan dokter sebentar" setelahnya dia
memanggil dokter untuk memeriksa keadaanku.

"Keadaan ibu Desi sudah cukup stabil namun beliau tetap harus diawasi.
Hindari stress apalagi hal-hal yang mengejutkan bagi dirinya bagaimanapun
kondisi dan umurnya sudah sangat membahayakan kesehatan jantungnya"

"Terima kasih dokter" ucap Muda dan setelahnya dokter dan suster tersebut
meninggalkanku dan Muda berdua dalam keadaan sama-sama sibuk dalam
pikiran masing-masing hingga beberapa saat anakku itu akhirnya kembali
bersuara.

"Ibu mau minum atau makan sesuatu? biar Muda belikan" tanyanya dengan
sangat lembut. Muda putraku selalu berbicara begitu denganku baik dulu dan
sampai kapanpun.

"Ibu haus, ambilkan minum nak" dia pun langsung mengambil gelas di meja
samping ranjang dan membantuku meminumnya. Aku kembali teringat
mengenai pemberitahuan orang suruhanku dan tanpa sadar air mataku
kembali berlinang.

"Ibu kenapa? apa ada yang sakit? biar Muda panggilkan dokter lagi ya?"
belum sempat anakku kembali memanggil dokter aku sudah menahannya.

"Ibu hanya rindu dengan putra ibu" bohongku.

"Maaf ya bu, aku jarang mengunjungi ibu di Bandung" sesalnya. Kupeluk
tubuhnya erat begitupun dia, putraku yang kusayangi lebih dari siapapun di
dunia ini.

Aku dirawat selama 3 hari dan selama itu juga Muda menungguiku sambil
bekerja dengan laptopnya. Dia bilang dia akan mengambil cuti hingga
seminggu atau mungkin lebih tergantung keadaanku meski tetap harus
mengontrol pekerjaan bawahannya melalui telepon ataupun email katanya.

Muda merawatku dengan penuh kasih sayang dan tak henti-hentinya dia
mengkhawatirkan diriku. Menyuapiku makan, membantuku ke kamar mandi
bahkan mengajak jalan-jalan dengan kursi roda. Aku bersyukur memilikinya.

Aku seorang janda, sudah lama bahkan sebelum Muda lahir ke dunia ini.
Sejak saat itu aku hanya memilikinya begitupun sebaliknya. Aku tak punya
keluarga begitupun suamiku, kami berdua anak panti yang besar bersama,
jatuh cinta, dan memutuskan menikah muda. Sayang, tahun kedua
pernikahan kami suamiku mengalami kecelakaan. Suamiku korban tabrak
lari dan sampai saat ini pelakunya belum kuketahui.

Kupandangi wajah tampan putraku, dia tersenyum dan aku membalasnya.
Kuberanikan diri bertanya kepadanya .

"Kapan kamu menikah nak?"

"Nanti bu, belom ketemu jodohnya" jawabnya selalu.

"Mau sampai kapan nak? Sebentar lagi usiamu 41 tahun dan ibu sudah terlalu
tua, ingat kita tak memiliki keluarga lain. Ibu tak ingin meninggalkan dirimu
seorang diri di dunia" ucapku sambil menetaskan air mata. Muda
menghapusnya dengan tangannya dan mencium kedua punggung tanganku.

"Ibu akan berumur panjang" doanya untukku

"Apa kamu memiliki seseorang yang kamu cintai?" tanyaku gugup

"Ada, yaitu ibu" jawabnya kembali.

"Ibu serius Pemuda, seseorang yang ingin kau ajak untuk menghabiskan
masa tuamu kelak selain ibu tentunya"

"Belum ada, jikapun ada akan kubawa dia kepada ibu dan jika ibu setuju
maka aku akan langsung menikahinya"

"Jika ibu tak menyetujuinya?"

"Maka pernikahan itu tak akan terjadi" Kubelai kepalanya dengan lembut,
berapapun umurnya dia tetap putraku yang ingin kusayang dan kumanja.

"Asal dia wanita baik ibu akan menyetujuinya" Ia hanya tersenyum dan
kembali mengecup kedua punggung tanganku.

Aku memutuskan tak menghiraukan laporan orang bayaranku tempo hari,
mungkin saja dia salah memberi laporan. Tidak mungkin anakku seperti itu.
Dia putraku, putra kebanggaanku.

******

Kupandangi wajah Gadis belia yang saat ini sedang memijat kakiku. Gadis
manis dan baik hati yang sudah enam bulan lamanya bekerja di rumahku.

"Gadis berapa umurmu saat ini?" tanyaku penasaran.

"18 tahun nyonya" jawabnya pelan

"Sudah cukup umur untuk menikah dan mempunyai anak kalo begitu"
kupandangi kembali wajahnya dalam diam dan entah pemikiran darimana
aku ingin Gadis menikahi anakku Muda.

Kuutarakan keinginanku padanya, dia cukup terkejut ketika mendengarnya
namun aku tak menyerah. Aku akan terus memintanya agar ia setuju karena
aku merasa Gadis adalah pasangan yang baik untuk putraku satu-satunya.

Beberapa hari kemudian aku meminta anakku untuk datang ke rumah, selain
untuk menyuruhnya menikahi Gadis aku memang sudah sangat rindu. Muda


Click to View FlipBook Version