******
Dua malam tidur sendiri benar-benar membuatku kesepian. Mbak Maura
sebenarnya meneleponku ketika tau Akang akan pergi dinas untuk menginap
dirumahnya namun aku menolak. Aku cuman ingin Akang disini,
disampingku dan memelukku.
Mulai minggu depan kegiatan belajarku juga akan semakin padat hal ini
dikarenakan seluruh siswa kelas tiga akan mendapatkan kelas tambahan
hingga sore hari untuk mempersiapkan ujian yang tinggal beberapa waktu
sehingga jadwal les bahasa inggrisku dan Bahar harus dipindahkan ke malam
hari.
Aku membuka kembali handphoneku dan membaca kembali pesan-pesan
antara aku dan Akang. Ya tuhan, aku semakin merindukannya sekarang.
Seharian Akang belum meneleponku. Aku ingin menghubunginya namun
takut jika dia benar-benar sangat sibuk sehingga tak sempat menelpon ku,
lihat saja pesanku sedari jam istirahat sekolah saja belum dibaca olehnya.
Hingga pukul 22.00 mataku belum juga mau terpejam aku sudah membaca
buku pelajaran agar mengantuk tapi gagal aku bahkan mendengarkan lagu
pengantar tidur dan itu juga berakhir gagal. Aku tak bisa tidur kalau belum
mendengar atau melihat Akang sepertinya.
Kuberanikan diri menelepon Akang, aku yakin dia tak akan marah namun
hingga panggilan ke-4 Akang tidak juga mengangkatnya.
Apa akang sesibuk itu ya?
Aku memutuskan mengakhiri panggilan telepon dan memilih pergi ke ruang
ganti milikku dan Akang. Aku mengambil salah satu kemeja kerja miliknya
dan kucium aromanya seketika aku merasa bahagia. Aku buka piama tidurku
dan menggantikannya dengan kemeja Akang, kebesaran memang tapi sangat
nyaman. Setelahnya aku kembali ke tempat tidur dan mungkin saja sekarang
aku sudah bisa tidur nyenyak karena ada aroma Akang yang akan menemani
diriku saat ini.
Saat sedang berusaha terlelap handphone milikku berbunyi aku sebenarnya
enggan menjawab namun karena kontak nomerku tak begitu banyak maka
aku bisa menyimpulkan kalo tidak Bahar yang akan curhat pasti Akang,
karena hanya mereka berdua yang berani menelepon diriku di jam seperti
ini. Kuambil handphoneku dan mendapati nomer Akang dan tanpa menunggu
panggilan itu berakhir langsung saja kujawab.
"Halo assalamualaikum Akang. Kenapa baru diangkat"
"..."
"Eneng gak bisa tidur, kangen. Akang, Eneng mau video call" setelahnya aku
langsung mengganti telepon dari Akang ke mode video call dan terlihat wajah
tampan Akang yang sangat lelah.
"Itu bukannya kemeja Akang?"
"Iya, Eneng pake ini biar bisa tidur. Ada aroma Akang soalnya" Akang tentu
saja tertawa mendengar ucapanku barusan.
"Akang baru pulang? Pasti capek"
"Iya, Akang kan harus ngebut kerjanya biar besok siang bisa pulang nemuin
Eneng"
"Akang udah makan? Makan apa tadi?"
"Sudah sama klien, makan bebek betutu. Nanti kalo kita ke Bali Akang ajak
Eneng kesana makanannya enak jadi Eneng pasti suka"
"Iya, janji ya Kang. Terus besok Akang sampe di Jakarta jam berapa?"
"Akang naik pesawat jam 12.00 mungkin jam 14.00 sudah sampai. Kenapa?
Eneng mau akang jemput sekolah?"
"Akang gak capek kalo jemput Eneng?"
"Asal Eneng seneng capek Akang hilang"
Entah berapa lama kami berbicara sampe akhirnya aku mengantuk. Akang
sudah memintaku tidur sedari tadi tapi aku terus menolak, "jangan dimatiin
teleponnya sampe Eneng tidur nya kang" pintaku.
Alhasil aku memejamkan mata dengan handphone yang masih menyala dan
menampilkan wajah Akang yang juga ikut terbaring di ranjangnya. Tiba-tiba
saja aku dapat mendengar suara bel berbunyi di kamar Akang, aku langsung
membuka mataku dan mendapati Akang yang terbangun untuk membuka
pintu kamarnya. Aku tak dapat melihat siapa yang datang. Jika di Jakarta
hampir pukul 24.00 apalagi di Bali? Namun aku bisa mendengar suara
seseorang, suara lelaki.
Siapa? Siapa yang datang di jam seperti ini? Jangan bilang kalo . . .
BAB 34
Saat ini aku sedang melakukan video call dengan istriku, Gadis. Dia meminta
agar aku mematikannya saat dia sudah tertidur dan aku menurutinya.
Kupandangi wajahnya yang sedang terlelap dengan gemas namun saat asyik
memandangi wajah belia Gadis bel kamar hotel ku berbunyi. Aku enggan
sebenarnya namun siapa tau ada urusan penting.
Aku bangun dari kegiatan rebahan ku di kasur dan membukakan pintu,
ternyata salah satu karyawan yang ikut dinas ke Bali denganku yang datang.
Aku menyuruhnya masuk dan menanyakan ada hal penting apa sehingga ia
datang ke kamarku tengah malam begini.
Tak lama aku mendengar suara tangisan seorang perempuan, aku baru ingat
belum mematikan handphone milikku yang sedang melakukan video call
dengan Gadis. Langsung saja aku berjalan ke arah kasur dan mengambil
handphone milikku tersebut. Kulihat wajah Gadis yang sedang menangis
histeris disana, entah karena apa. Aku yang khawatir langsung
menanyakannya, "kenapa sayang? kok menangis?"
Gadis tak langsung menjawab malah suara tangisannya semakin kencang.
Sungguh aku panik dengan keadaannya sekarang.
"Akang selingkuh" tuduhnya.
Apa maksudnya aku selingkuh?
"Eneng ngomong apa sih? Siapa yang selingkuh? Akang kan kerja sayang"
ucapku dengan tenang.
"Bohong, itu ada suara lelaki. Siapa coba yang datang tengah malam ke kamar
kalo bukan selingkuhan Akang?" Astaga Gadis, kuremas rambutku
mendengar penuturannya tadi kepadaku.
"Sayang dengarkan Akang, itu bukan selingkuhan Akang. Itu suara Soni" aku
melirik ke arah Soni yang sepertinya menahan untuk tidak tertawa
mendengar pembicaraanku dengan istriku.
"Jadi selingkuhan Akang namanya Soni? Huwaaaa......" Gadis semakin kencang
menangis sekarang. Aku menarik nafas ku perlahan agar fikiranku tetap
tenang karena bagaimanapun menghadapi istri belia terkadang memang
susah-gampang. Kupanggil Soni agar mendekat dan kuberikan handphone
milikku kepadanya, biar dia saja yang menjelaskan. Soni terlihat bingung
namun akhirnya dia cepat mengerti setelah aku memelototinya.
"Selamat malam bu, perkenalkan nama saya Soni saya karyawan pak Muda
bu"
"Kar.... kar.... karyawan?" tanya Gadis tergugu.
"Iya bu saya karyawannya bukan selingkuhannya. Kebetulan saya sudah
menikah dan memiliki seorang putri" curhat Soni kepada Gadis.
"Saya datang ke kamar pak Muda hanya untuk memberikan informasi
mendesak soal pekerjaan kok bu bukan buat bermesraan karena
bagaimanapun saya masih sangat mencintai istri saya di rumah"
"Benarkah?" Gadis masih tak percaya sepertinya. Langsung saja aku ambil
handphone milikku dan menyuruh Soni keluar dari sini. Setelah Soni keluar
dan pintu tertutup aku kembali berbicara dengan Gadis.
"Sayang kenapa kamu masih tidak percaya sama Akang?" Tanyaku sedikit
kecewa.
"Eneng cuman khawatir Akang, apalagi...." Gadis tak melanjutkan ucapannya
mungkin ragu atau takut jika terus berbicara.
"Apalagi dia seorang pria? Kamu takut Akang akan bersama pria lain di
kamar ini?" tanyaku to the point dan Gadis hanya terdiam mendengar semua
omongannku. Aku paham dengan pemikirannya tersebut, mungkin dia akan
lebih cemburu jika aku berduaan dengan pria di dalam kamar hotel
dibandingkan dengan perempuan.
"Sayang dengar, tak pernah ada di dalam kamus hidup Akang istilah
perselingkuhan baik dulu ataupun sekarang, cuman kamu satu-satunya. Jujur
Akang sedikit kecewa dengan pikiran dan tuduhan mu sekarang ini namun
Akang mencoba untuk memaklumi. Dengan masa lalu Akang pasti sulit
bagimu untuk mempercayai Akang sepenuhnya" ucapku dengan sorot mata
kecewa yang tak bisa kututupi darinya.
"Akang minta sama Eneng tolong percaya Akang dan tolong tunggu Akang.
Akang tau Akang terlalu banyak meminta tapi Akang tetap akan memohon
kepada Eneng. Eneng mau kan?" Dia hanya menunduk tanpa berniat
menjawab.
"Akang ingin bersama Eneng sekarang dan kedepannya. Akang ingin Eneng
orang yang pertama yang Akang lihat saat bangun dan orang yang terakhir
dilihat sebelum Akang tidur. Akang ingin menjadi ayah bagi anak-anak
Eneng. Akang ingin membahagiakan Eneng dan ... Akang.... mencintai Eneng"
******
"Akang mencintai Eneng"
Aku mengangkat wajahku dan kembali menatap wajah suamiku. Akang
bukan hanya terlihat semakin lelah namun juga sedih dan kecewa, ini salahku
karena aku yang cemburu buta padanya.
Aku semakin menangis sesegukan tak mampu berkata apapun entah kenapa
tiba-tiba bibirku terasa kelu. Kami berdua terdiam beberapa saat, menyelami
pikiran masing-masing. Sampai tiba-tiba handphone milikku mati karena
kehabisan baterai. Aku ingin kembali menghubunginya namun takut. Aku
letakkan handphone tersebut ke meja di samping ranjang dan aku kembali
menangis. Entah menangis karena kecewa atas sikapku dan merasa bersalah
kepada Akang atau menangis bahagia mendengar kata cinta dari Akang yang
selama ini aku tunggu.
Hingga pukul 03.00 pagi aku masih belum bisa tertidur padahal mataku
sudah sangat bengkak karena kebanyakan menangis. Aku langkahkan kaki ke
arah kulkas di dapur untuk mengambil es batu untuk kugunakan
mengompres mataku.
Aku kompres mataku sambil duduk di sofa ruang tengah dan selanjutnya aku
melamun. Entah karena energi ku yang kini telah habis karena kebanyakan
menangis atau karena aku sudah merasa mengantuk, hingga akhirnya aku
akhirnya terlelap di sofa dengan sekantung es yang masih tertempel di kedua
mataku.
Entah berapa lama aku tertidur namun mataku masih sangat enggan untuk
terbuka. Aku sangat merasa nyaman dengan tidurku sekarang. Entah
perasaanku saja atau memang benar aku merasa sedang dipeluk erat oleh
seseorang, kini rasa nyaman itu berubah menjadi rasa takut. Setan kah?
Perampok kah? Siapa?
"Maaf sayang, maaf" ucap seseorang sambil mengelus rambutku.
Aku kenal suara ini, suara yang kurindukan selama dua hari terakhir. Suara
yang masih kudengar hingga tengah malam namun berakhir dengan
membuatnya kecewa dan sedih karena diriku. Aku beranikan membuka mata
karena sesungguhnya rasa penasaranku lebih besar dari rasa takutku.
"Akang" gumam ku. Benar dugaan ku, dia suamiku.
"Kau sudah bangun? Kenapa tidur di sofa?" tanyanya dengan nada khawatir
dan dengan wajah yang terlihat sangat lelah.
"Kenapa Akang sudah pulang? Jam berapa sekarang?" tanyaku panik. Hari ini
aku ada ujian matematika, bagaimana kalau aku telat?
"Jam 10 lewat, Akang pulang dengan penerbangan pertama. Akang gak bisa
tidur semalaman karena khawatir. Kenapa Eneng matikan telepon
Akang?" Aku terdiam lalu menunduk. Akang menarik daguku agar kembali
melihatnya.
"Akang tak marah sayang hanya bertanya"
"Baterai handphone Eneng habis semalam dan Eneng masih takut kalo
menghubungi Akang kembali" jujurku.
"Kenapa? Kamu takut mendapati Akang beneran selingkuh?" Aku langsung
menggeleng.
"Tidak Akang, maaf soal itu. Eneng takut Akang marah karena sikap Eneng
yang keterlaluan"
Akang semakin erat memelukku dan mencium kepalaku. "Akang tidak marah,
jujur sedikit kecewa tapi tak sampai marah. Apa Eneng masih tak percaya
sama Akang?"
"Tidak, Eneng percaya"
"Maaf membuat Eneng khawatir bahkan berfikir demikian"
Aku memeluk Akang sangat kuat karena aku hanya ingin Akang tau bahwa
aku sangat mencintainya.
"Maafin Eneng juga Akang sudah bikin Akang kecewa dan khawatir. Terus
kerjaan Akang?"
"Akang tinggal karena merasa cemas dengan istri akang yang sedang
merajuk"
"Mas Soni juga pulang ke Jakarta?"
"Enggak, Akang tahan dia disana untuk mengurus pekerjaan. Biarlah nanti
Akang kasih bonus tambahan asal istri Akang gak marah lagi"
"Eneng kesiangan, padahal ada ulangan matematika" ceritaku
"Nanti tinggal ikut ulangan susulan. Kenapa? takut gak bisa nyontek?"
tuduhnya kepadaku sambil tersenyum
"Eneng gak pernah nyontek ya Kang"
"Iya gak nyontek tapi cemburuan melulu kerjaannya" setelahnya aku dan
Akang menghabiskan hari kami dengan saling berpelukan dan bermesraan di
kamar. Meluapkan rasa rindu dan saling meminta maaf atas kejadian
semalam.
"Akang beneran sudah cinta sama Eneng?"
BAB 35
"Akang beneran udah cinta sama Eneng?" ada pengharapan ditatapannya
kepadaku saat ini.
Aku yakin ini cinta. Rasa ingin melindungi, keinginan untuk bersama, dan
takut kehilangan. Adakah yang masih ingin meragukan apakah ini benar
perasaan cinta? Jelaskan padaku sekarang jika penafsiran ku salah?
Kukecup bibirnya lama dan dalam. Gadis membalasnya, ciuman kami
semakin intens hingga nafas kami berdua semakin kian menipis.
"Tolong jangan ragukan perasaan Akang" pintaku padanya sambil tetap
saling menatap mencari jawaban satu sama lain. Gadis kemudian tersenyum,
senyuman yang sangat indah. Bahagia rasanya diriku melihatnya. Gadis
kembali menangis tapi tetap tersenyum. Kuhapus air matanya perlahan dan
kubelai pipinya dengan lembut.
"Kenapa lagi sayang? Apa Akang menyakitimu lagi?"
"Sebaliknya, Akang membuat Eneng bahagia. Sangat bahagia sampai
menangis"
"Jika itu tangisan bahagia maka akan Akang biarkan"
"Jadi sekarang kita sudah saling cinta?" tanyanya polos.
"Iya, dan akan seperti itu kedepannya. Terima kasih sudah menunggu Akang
ya sayang. Terima kasih sudah menerima Akang dan masa lalu Akang. Akang
cinta Eneng"
"Eneng juga cinta Akang"
Tanpa sadar aku juga ikut menangis dengannya tentu ini adalah sebuah
tangisan bahagia seperti dirinya. Gadis belia dipelukan ku ini adalah
segalanya bagiku. Jujur aku tak pernah menyangka akan memiliki perasaan
seperti ini kepada seorang wanita selain ibuku. Gadis dengan segala kebaikan
dan sikap polosnya serta rasa cintanya yang ikhlas menerima diriku apa
adanya nyatanya mampu meluluhkan hatiku yang selama ini tertutup rapat
untuk seorang perempuan. Gadis wanita yang menjadi cinta pertama dan
juga akan menjadi cinta terakhirku.
Setelah berbincang-bincang sebentar dan saling terbuka dengan perasaan
masing-masing kami berdua kembali tertidur karena sejujurnya aku juga
sangat lelah dan belum tidur semalaman akibat terlalu cemas dengan wanita
ini yang tiba-tiba saja mematikan sambungan teleponnya dan tak bisa
dihubungi kembali disaat kesalahpahaman diantara kami berdua belum
terselesaikan. Suami mana yang tidak akan cemas disaat seperti itu?
Menjelang sore kami berdua duduk di gazebo taman belakang sambil
menikmati oleh-oleh yang sempat ku belikan untuknya disela-sela kesibukan
ku kemaren.
"Akang mau disuapin" pintanya manja.
"Sini, duduk di pangkuan Akang" dia langsung duduk di pangkuanku sambil
memeluk leherku erat. Tanganku kini sibuk menyuapinya dan sesekali
mencubit pipinya.
"Sakit sayang" senang sekali mendengarnya berkata demikian
"Gak apa-apa kan kalo Eneng manggil Akang sayang juga?"
"Akang justru senang kok, kenapa mesti keberatan. Bagaimana sekolah? Dan
apa kabar dengan Bahar? Kamu sudah tau masalahnya apa?"
"Sekolah seperti biasa sedang sibuk untuk persiapan ujian. Soal Bahar, Eneng
gak bisa cerita. Rahasia"
"Kenapa begitu?"
"Bahar yang minta, gak apa-apa kan Kang kalo Eneng gak ceritain?"
"Gak apa-apa kalo alasannya seperti itu sayang. Eneng sudah tau mau
melanjutkan kuliah dimana dan jurusan apa?" Dia diam sejenak lalu
tersenyum. Gadis meraba rahangku lalu mengecupnya.
"Eneng mau punya anak".
Aku cukup terkejut dengan ucapannya barusan karena bagaimanapun
pernyataannya membuatku terharu. Gadis 18 tahun di pangkuanku ini
mengatakan bahwa dia ingin memiliki anak denganku.
"Akang kenapa menangis? Akang gak suka ya?"tanyanya dengan wajah sedih.
"Akang bahagia. Terima kasih sayang. Terima kasih" ucapku seraya
memeluknya.
"Tapi Eneng belum hamil sampe sekarang"
"Kita kan memang menundanya sayang, kamu masih minum pil yang Akang
kasih kan?" Dia menggeleng.
"Sebenarnya udah enggak semenjak..... bulan madu? atau sebelumnya?
Pokoknya sekitaran itu"
"Kenapa?"
"Karena Eneng ingin segera punya anak agar Akang cepet cinta sama Eneng"
astaga aku semakin merasa bersalah karena telah membuatnya berfikir
hingga demikian.
"Jangan berfikir seperti itu sayang, Akang cinta Eneng karena Eneng bukan
karena hal lain termasuk anak. Mengerti?"
"Maaf Akang. Tapi kenapa Eneng sampai saat ini belum hamil juga ya? Kita
kan sering melakukannya" tanyanya polos
"Anak itu amanat yang sangat besar sayang. Mungkin Tuhan ingin kita lebih
lama mengalami fase berpacaran dan Eneng di suruh fokus sama sekolah"
"Tapi Akang sudah tua, bentar lagi 42. Masa mau nunda? Nanti anak kita lahir
malah mengira Akang kakeknya lagi bukan bapaknya"
"Kamu menyesal menikahi pria tua ini sayang?"
"Enggak, apa Akang menyesal menikahi bocah seperti ini?"
"Sama sekali tidak tapi kamu jangan bilang tua dong sayang, dewasa. Umur
boleh 40-an tapi penampilan kaya 20-an kan?"
"Akang jangan ganteng-ganteng banget kenapa? Eneng suka cemburu kalo
Akang diliatin orang lain kaya mereka gak pernah lihat cowo ganteng aja".
"Yang penting kan Akang cuman ngeliatin Eneng".
"Ihhh.... Akang gombal deh, belajar dari mana sih?"
"Masa? Akang gak belajar sayang cuman meniru Darren aja"
"Mas Darren? Suaminya mbak Vita? Yang jarang ngomong itu? Yang mukanya
datar selalu?"
"Hus, jangan terlalu jelas mengungkapkannya sayang hahahaha. Asal kamu
tau ya, Darren itu tukang gombal, perayu ulung, makanya si Vita yang hatinya
sedingin es dan sekeras batu bisa luluh" jelasku.
"Masa sih Kang? Gak percaya ah. Setiap ketemu aja mukanya datar gitu,
ngomong cuman seadanya"
"Tapi itu pesonanya sayang, jadi....... " kuceritakan awal mula kisah Darren
dan Vita bagaimana mereka kenal, bagaimana mereka akhirnya menjalin
hubungan, dan lain sebagainya..
******
Hari ini aku sangat bahagia. Seharian aku dan Akang saling bermesraan. Aku
sudah jujur mengenai keinginanku untuk hamil anaknya. Akang senang
mendengarnya dan aku jauh lebih senang setelah mengetahui hal tersebut.
Akang tetep menyuruhku untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi
dan jika nanti aku hamil tak masalah jika ingin cuti.
Kini hidupku sangat bahagia aku tak pernah menyangka permintaan ibu
mertuaku yang dulu adalah majikanku yang akan membuatku seperti ini.
Sejak awal sesungguhnya aku tak yakin akan pernikahan yang kulakukan
dengan Akang. Status sosial, jarak usia, dan fakta mengenai dirinya yang
Akang katakan dulu membuatku ragu sedari awal namun semuanya ku
pasrahkan kepada Gusti Allah SWT. Aku tak berharap apapun sebenarnya
karena selama ada seseorang yang bersamaku, bagiku itu sudah cukup
mengingat aku tak ingin kembali sendirian. Namun seiring berjalannya
waktu aku tak bisa menolak pesona Akang. Dia tampan sebagai pria, dia baik
sebagai manusia, dan dia sempurna sebagai suami.
Akang juga menerimaku apa adanya. Aku yang seorang gadis miskin, yatim
piatu, serta hanya lulusan SMP sementara Akang?
Ia menyayangiku tanpa pernah aku yang meminta, dia memperlakukanku
layaknya sebagai istri sedari awal yakni memberikanku nafkah lahir dan
batin, dia selalu berusaha membahagiakan diriku dan berjuang demi
pernikahan kami berdua. Aku beruntung bukan?.
Kini harapanku hanya tinggal seorang anak. Aku ingin segera hamil anak
Akang memberikannya banyak keturunan agak rumah kami sangat ramai
bagaimanapun aku dan Akang tau bagaimana rasanya kesepian karena
menjadi anak tunggal.
"Apa yang kamu pikirkan sayang" tanya Akang saat kembali dari membeli
martabak manis untukku.
"Akang, kita periksa ke dokter yuk"
"Kamu sakit?"
"Enggak, maksud Eneng ke dokter kandungan. Periksa kenapa Eneng belum
hamil juga sampai sekarang"
Akang mendekatiku setelah menaruh bungkusan martabak di meja makan.
"Masih memikirkan soal anak rupanya. Kamu beneran ingin cepat hamil? Apa
tidak mau menunggu sampai lulus sekolah? Akang tak masalah menunggu
sebentar lagi" aku menggeleng.
"Kan ke dokter juga belum tentu langsung hamil Akang. Eneng cuman mau
nanya kenapa belum hamil meski sudah tidak minum pil dan kita melakukan
itu. Eneng cuman mau periksa. Boleh ya?"
"Yasudah, nanti kita ke dokter"
"Kapan?"
"Senin depan setelah kamu pulang sekolah, bisa?"
"Bisa, nanti Eneng gak usah ikut pelajaran tambahan saja kalau begitu"
"Jangan sayang, masa bolos lagi?"
"Gak apa-apa, kalo cuman sekali. Kelasnya juga gak wajib Akang sehingga
tidak akan mempengaruhi absensi"
"Yasudah terserah Eneng saja kalau begitu"
"Kang, Akang pernah ceritakan kalo mbak Maura ikut program bayi kembar.
Apa Akang setuju kalo kita ikut program?"
"Kalo bisa secara alami untuk apa sayang? Lagian Maura seperti itu memang
karena dia ada sedikit masalah dengan kondisinya dulu lagipula itu tidak
mudah"
"Tapi Eneng mau punya anak banyak"
"Yasudah bikin saja terus sampe banyak"
"Emang Akang sanggup?"
"Seharusnya Akang yang bilang begitu, Eneng emang sanggup melahirkan
banyak anak? Badan mungil begini?"
"Biar mungil Akang tetep cinta kan?"
"Selalu sayang"
BAB 36
Hari ini aku dan Gadis berencana pergi mengunjungi dokter kandungan di
rumah sakit milik Bram. Setelah membuat janji dengan dokter Sarah, aku
menjemput Gadis di sekolahnya yang memilih membolos untuk ikut
pelajaran tambahan.
"Akang nanti kalo bu dokternya bilang sesuatu yang buruk bagaimana?" ucap
Gadis penuh kekhawatiran sambil memegang tanganku erat ketika kami
menunggu giliran panggilan di lorong ruang tunggu rumah sakit.
Dapat kudengar beberapa orang membicarakan kami berdua dengan segala
praduganya. Aku tidak menyalahkan mereka karena dengan keadaan dan
penampilan kami sekarang hal tersebut tak mungkin terhindarkan. Aku dan
Gadis lebih terlihat seperti ayah dan putrinya ketimbang suami dengan
istrinya. Selain itu, Gadis datang masih dengan seragam sekolahnya karena
tak mau pulang terlebih dahulu ke rumah untuk sekedar berganti pakaian
karena ingin segera menemui dokter dan mengetahui hasilnya jadi
bagaimana mungkin penampilan dan keberadaan kami berdua tidak menarik
perhatian pengunjung lainnya saat ini.
"Sayang, tidak baik berbicara seperti itu. Ingat omongan adalah doa"
nasehatku sambil mengelus rambutnya lembut.
Tak lama nama Gadis pun dipanggil lalu kami berdua masuk. Aku yang
memang sudah mengenal dengan dokter Sarah menyapanya terlebih dulu.
"Siang Sarah, apa kabar?"
"Alhamdulillah kabarku baik om. Maaf tidak sempat hadir di acara
pernikahan om kemarin karena tiba-tiba saja ada pasien darurat yang harus
segera aku tangani. Apa ini istri om?" tanya Sarah sambil mempersilakan
kami berdua duduk. Sarah memang orang yang ramah kepada siapapun dan
juga mudah akrab sehingga meski tak terlalu sering bertemu dengannya tak
membuat kami berdua merasa canggung satu sama lainnya.
"Iya Sarah om mengerti. Perkenalkan namanya Gadis dan Gadis ini Sarah"
keduanya saling berjabat tangan. Setelah sedikit berbasa-basi aku langsung
berbicara kepada Sarah mengenai apa yang membuat istri kecilku ini merasa
khawatir sehingga datang kemari menemuinya.
"Bagaimana Sarah?" tanyaku setelah selesai bertanya banyak hal kepadanya
tentu saja sebelum kemari aku sudah mencari banyak informasi agar bisa
kutanyakan sekaligus dan menjadi jelas semuanya baik untukku dan Gadis
tentunya.
"Pemakaian kontrasepsi tidak terbatas usia sebetulnya om. Tidak perlu takut
kandungan kering seperti mitos yang tidak benar yang beredar di
masyarakat. Sebenarnya boleh saja menggunakan kontrasepsi segera setelah
menikah namun waktu yang dibutuhkan wanita untuk kembali ke masa
subur tergantung pada metode atau alat kontrasepsi yang digunakannya
dulu. Selain itu, perlu diperhatikan dan diingat pula bahwa kehamilan juga
bisa terjadi karena berbagai faktor lainnya"
"Biasanya usaha yang dilakukan akan membuahkan kehamilan setelah 3
bulan atau paling lama 1 tahun karena potensinya berbeda-beda. Setelah
berhenti atau tidak menggunakan alat kontrasepsi tubuh memerlukan waktu
untuk membersihkan hormon dari dalam tubuh karena bagaimanapun Pil KB
mengandung hormon estrogen dan progestin (progesteron buatan) yang
bekerja mencegah pembuahan antara sel telur dan sperma".
"Dan ini yang perlu dicatat juga bagi setiap pasangan, bahwa peluang
kehamilan bisa ditingkatkan dengan mengetahui waktu ovulasi ketika siklus
menstruasi sudah kembali normal. Setelah menghitung masa subur, om dan
Gadis bisa berhubungan intim untuk menambah kemungkinan pembuahan.
Perlu dipahami, sperma dapat bertahan dalam rahim dan tuba falopi selama
tiga hari namun sel telur hanya mampu bertahan hidup 12-24 jam setelah
dilepaskan. Maka dari itu, berhubungan intim dengan pasangan sebelum
ovulasi juga bisa menambah peluang kehamilan" ucap Sarah panjang lebar
kepada kami berdua.
"Jadi belum tentu karena Gadis mandul kan dokter?" tanya Gadis yang sudah
ingin menangis sedari tadi.
"Begini saja jika Om dan Gadis tidak keberatan bagaimana kalau kalian
berdua mengikuti tes setidaknya untuk memastikan keadaan kedua
pasangan dan setelah hasil tes keluar kita bisa berkonsultasi lebih lanjut"
"Baiklah, lakukan saja Sarah kami tidak keberatan sama sekali bagaimanapun
tujuan kedatangan kami memang untuk mengetahui hal tersebut" ucapku
yakin sambil memegang tangan Gadis erat untuk saling memberi kekuatan
untuknya dan untuk diriku sendiri. Setelahnya baik aku dan Gadis melakukan
pemeriksaan kesuburan di sebuah ruangan dengan diantarkan oleh seorang
perawat.
Sepanjang perjalanan pulang Gadis hanya diam. Aku sudah berusaha
mengajaknya berbicara namun dia tetap tidak menanggapi apapun bahkan
sesampainya di rumah Gadis langsung masuk ke dalam kamar dan menangis
di atas ranjang. Aku mendekatinya dan memeluknya erat.
"Sayang" kupanggil dia dengan lembut sembari mengusap rambut dan
mencium keningnya.
"Gimana kalo ada masalah sama keadaan Eneng Akang? Gimana kalo Eneng
gak bisa hamil? Gak bisa kasih Akang anak dan ibu cucu?"
"Sayang, kita belum dapat kabar apapun jadi jangan berfikir macam-macam.
Apapun yang terjadi kita harus menanggungnya bersama. Mengerti?"
"Ta..... ta.... pi kalau" belum sempat Gadis melanjutkan ucapannya aku
langsung mendaratkan bibirku ke arah bibirnya dan menciumnya dalam dan
lembut. Setelah dirasa tangisan Gadis mereda dan nafas kami berdua mulai
menipis aku pun segera melepas panggutan bibir kami dan memeluknya
erat.
"Sudah, jangan difikirkan lagi. Apa Eneng tidak lapar? Mau Akang masakin
atau makan di luar? Eneng bilang saja maunya apa?" Gadis menggelengkan
kepalanya.
"Eneng cuman mau Akang"
******
Entah berapa lama aku menangis dan berakhir dengan kelelahan lalu
tertidur. Ku buka mataku perlahan dan mendapati kamar tidurku kosong.
Kemana perginya Akang?
Aku mencoba memanggil Akang beberapa kali namun tak ada balasan.
Dengan malas aku mengambil handphone yang kuletakkan di dalam tas
milikku. Terdapat 14 panggilan tak terjawab dan 5 pesan dati Bahar serta 4
panggilan tak terjawab dan 3 pesan dari Stevan.
Kubuka pesan dari keduanya. Mereka berdua sama-sama menanyai
keberadaanku yang tak ikut kelas tambahan dan mengangkat teleponnya.
Aku memang tidak mengatakan apapun kepada mereka soal kunjunganku ke
dokter kandungan. Tak lama, ponselku kembali berbunyi, dari Bahar. Aku
pun segera menerima panggilan video call darinya.
"Aduh beb, kemana aja sih lo sepulang sekolah? Bolos aja, gak inget udah mau
ujian akhir? Eh itu mata kenapa? Abis di sengat tawon lo sampai bengkak
begitu"
"Kaya kamu gak pernah bolos aja Har. Aku tuh ada urusan dadakan makanya
gak ikut kelas tambahan. Kamu hubungin aku cuman mau nanya soal ini? Aku
gak apa-apa, cuman habis nonton drama Korea yang sedih terus nangis"
bohongku.
"Astaga Gadis yang udah gak gadis lagi, ada-ada aja lo. Oh iya, No, no, no gw
telepon lo karena gw punya info buat elo"
"Info apaan?"
"Kasih tau gak yaaaa"
"Ya sudah kalo kamu gak mau bilang aku tutup nih" ancamku. Bahar yang
mendengar ancaman ku langsung memasang wajah kesalnya.
"Gak asyik lo beb. Ya udah Rose blekping kasih tau. Gw gak jadi di jodohin
sama Laura" cerita Bahar antusias.
"Kok bisa? Bukannya kamu gak berani nolak ya karena takut diusir orangtua
kamu dari rumah dan jadi gelandangan?"
"Emang. Lagian yang membatalkan keluarga Laura bukannya gw"
"Oh, begitu. Terus?" tanyaku yang jadi lumayan kepo dengan cerita Bahar.
"Soalnya si Laura udah kabur duluan dari rumah dan gak akan pulang sampe
perjodohan kami dibatalkan. Pantesan aja tuh anak gak pernah keliatan di
sekolah, taunya kabur. Berani juga dia. Nah karena itulah keluarganya
ngebatalin perjodohan kami. Yah, meski bokap-nyokap gw ngamuk sih
karena merasa terhina"
"Terus kamunya?"
"Gw? Ya senenglah. Gila aja lo beb. Gak kebayang gw kalo beneran kawin
sama si Laura. Asal elo tau ya, gw sama Laura itu musuh abadi dari dulu. Kita
itu tercipta untuk jadi rival bukan untuk jadi pasangan yang kasmaran"
"Saingan? Kalian saingan hal apa? Kok aku gak pernah tau?"
"Waktu SD kita saingan jadi ketua kelas, SMP saingan jadi ketua PMR, dan pas
SMA kita saingan jadi ketua cheerleader. Yah meski dia yang selalu menang
dan gw yang selalu kalah"
"Kamu pernah ikut PMR dan Cheerleader?"
"Pernahlah beb, itu ekskul kan ekskul eksklusif bagi ciwi-ciwi cantik dan hits
macem gw"
Ya ampun Bahar kapan kamu sadarnya sih?
Kami berdua pun akhirnya lanjut mengobrol tentang banyak lainnya hingga
tak lama Akang datang dengan membawa nampan berisi makanan dan
minuman untukku.
"Bahar udah dulu ya suamiku udah pulang"
"Ih gitu ya beb, laki pulang gw ditinggal. Bye" Bahar langsung memutuskan
video call kami berdua. Akang duduk disebelahku sambil tersenyum manis.
"Video call dengan Bahar?"
"Iya, dia mau curhat tadi"
"Padahal kalian hampir setiap hari ketemuan masih ada lagi yang belum
sempat dia curhatin?" tanya Akang bingung.
"Namanya juga Baharudin Kamajaya Kang. Akang darimana? Eneng cariin
dari tadi"
"Akang habis dari depan beli makan buat Eneng. Ini akang belikan soto ayam
kesukaan Eneng yang di ujung komplek. Makan ya, Akang suapi" aku
mengangguk dan menerima suapan dari Akang.
"Akang gak makan?"
"Enggak, nanti saja" aku langsung menghentikan sendok yang sedang Akang
arahkan kembali ke mulutku.
"Kita makannya bareng aja Kang, sepiring berdua"
"Nanti Eneng gak kenyang. Eneng kan kalo makan banyak" ucap Akang
sambil mencium pipiku.
"Eneng kan masih masa pertumbuhan jadi wajar makan banyak" ucapku
beralasan.
"Akang, ulang tahun nanti Akang mau kado apa?" tanyaku sambil ikut
menyuapinya.
"Masih lama sayang, masih tiga minggu lagi"
"Kan cuman nanya Akang. Cepetan Akang jawab kenapa?"
"Apa saja, apapun itu dari Eneng akan Akang terima"
"Emang gak ada yang akang pengenin gitu?" Akang menggeleng.
"Gak ada, Akang udah punya semuanya. Akang punya ibu dan Eneng"
BAB 37
Akhirnya laporan pemeriksaan kesehatan kami berdua telah keluar.
Alhamdulillah tidak ada masalah apapun diantara kami, semuanya normal
dan mungkin hanya memang belum rezeki saja dari Tuhan sehingga sampai
saat ini Gadis belum juga mengandung.
Setelah melakukan konsultasi kembali dengan Sarah beberapa hari yang lalu,
kondisi Gadis sudah tidak terlalu bersedih seperti sebelumnya dan kini dia
mencoba memasrahkan semuanya sambil tetap berusaha seperti saran Sarah
kepada kami sewaktu konsultasi.
Kesibukan Gadis mempersiapkan ujiannya juga cukup banyak membantu
mengalihkan kesedihannya soal anak dan kehidupan rumah tangga kamipun
semakin baik dan mesra, Gadis yang semakin bersikap manja kepadaku dan
aku yang selalu senang memanjakannya.
"Kapan kamu ujian nasionalnya sayang?" tanyaku kepadanya sambil
memeluknya erat setelah perjuangan kami memperoleh anak dengan cara
yang menyenangkan.
"Bulan depan Kang"
"Eneng sudah tau mau kuliah jurusan apa?"
"Kalo Eneng hamil, Eneng mau nunda kuliah dulu Kang”
“Kalo belum hamil?”
“Kalo belum di kasih mungkin Eneng kuliah mau ambil jurusan psikologi
anak Kang, boleh?"
"Tentu sayang, memang kenapa kamu mau ambil jurusan itu? Akang fikir
mau ambil sastra Korea biar kalau nonton gak pake subtitle lagi" ucapku
sambil tersenyum
"Ih, akang mah suka gitu. Bahasa Inggris aja Eneng belum fasih sok-sokan
mau belajar bahasa Korea. Lagian Eneng mau ambil jurusan itu karena biar
ilmunya Insyaallah bisa Eneng gunain buat mendidik anak kita ke depannya"
ya Tuhan, hatiku menghangat mendengar penuturannya barusan.
"Makasih ya sayang kamu selalu mau berkorban untuk Akang. Terima kasih"
ucapku tulus kepadanya
"Kenapa Akang bilang begitu? Siapa yang berkorban? Eneng ngelakuinnya
juga karena ingin. Eneng ingin jadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga
besar kita kelak"
"Kamu beneran mau punya banyak anak?"
"Iyalah, makanya Akang ayo kita buat lagi"
Aku sih yes kalo diminta begini sepanjang malam.
******
Satu bulan kemudian
"Duh beb, pala eike sakit kebanyakan belajar"
"Yah kamu sih belajar beberapa jam sebelum ujian"
"Ih, biasanya ya yang dadakan itu lebih bisa masuk ke otak"
"Terserah kamu aja deh Har. Oh iya, kamu beneran nanti mau pergi ke Korea
sehabis lulus sekolah? Memang orangtua kamu udah setuju? Kan kamu
pernah cerita katanya mereka nyuruh kamu untuk masuk Akmil"
"Gak jadi beb, audisi online gw kemaren gagal lagian gw juga udah sepakat
sama orang tua gw kalo kemaren audisi gw gagal lagi yaudah gw ikutin
kemauan mereka asal gak ada lagi acara perjodohan kaya kemaren itu.
Mending gw mengabdikan diri pada negara daripada mengabdikan diri pada
Laura"
"Kamu mah aneh deh, dijodohkan sama cewek cantik kok nolak. Lagian tuh
ya gak selamanya yang namanya perjodohan itu buruk, aku contohnya"
"Iya deh iya, yang kehidupan rumah tangganya bak drama Korea. Asal elo tau
ya beb, gw tuh gak suka sama tuh cewe mau dia secakep apa gw gak minat"
"Terus kamu minatnya sama cowok ganteng gitu?" tanyaku kepo dan sedikit
khawatir bercampur takut
"Maybe" setelahnya Bahar kembali sibuk dengan bedak dan kaca yang ada
ditangannya dan menyingkirkan buku yang tadinya berniat untuk dia baca
kembali sebelum bel berbunyi dan ujian berlangsung.
Tidak terasa sebentar lagi waktu kelulusan. Aku tak pernah menduga bahwa
akan bersekolah kembali bahkan dengan status sebagai istri seseorang.
Aku selalu bersyukur atas semua yang terjadi padaku. Benar kata bapak dan
ibu bahwa Tuhan tidak akan memberikan hambanya cobaan dibatas
kemampuan kita sebagai umatnya dan Tuhan juga tidak akan selalu
memberikan kesedihan dalam hidup ini.
Aku yang telah menjadi yatim piatu kini mempunyai keluarga bahkan berniat
menambahkan anggota yang banyak kelak. Aku yang dulu hidup susah tak
punya uang bahkan kini tak perlu memusingkan apapun karena memiliki
suami kaya yang sangat royal. Aku yang dulu sangat merasa rendah diri kini
mulai bersyukur atas semuanya. Aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang.
******
Siang tadi Gadis menelponku dan mengatakan bahwa dia mau berkunjung
kerumah Maura untuk bermain dengan anak dan cucu dari sahabatku
tersebut. Gadis telah selesai dengan ujiannya dan tinggal menunggu hari
kelulusan serta tanggal ujian masuk universitas.
Setelah aku menyatakan perasaan ku kepadanya tiga bulan yang lalu, baik
aku dan Gadis sama-sama semakin belajar mengenai satu sama lain serta
bagaimana kehidupan rumah tangga yang ingin kita bangun saat ini dan
dikemudian hari. Intinya kami berdua sama-sama saling belajar kembali
mengenai kehidupan rumah tangga.
Suka dan duka dapat kami lewati hingga hari ini dengan baik. Kejujuran,
kepercayaan, dan komunikasi adalah hal yang kami pegang teguh satu sama
lain. Semuanya kami bicarakan dengan baik agar tak ada salah paham
dikemudian hari. Disinilah peranku sebagai suami dan pria dewasa di uji
terutama jika Gadis kembali bersedih mengenai kapan dirinya akan hamil
anak kami.
Sebagai suami aku akan terus mendukung Gadis dan mengatakan bahwa tak
masalah jika memang belum mendapatkannya, toh kami menikah juga baru
setahun anggap saja masih masa pacaran dan masih dalam proses saling
mengenal lebih dalam.
Ibu juga sudah tidak menanyakan apapun soal cucu kepada kami berdua
karena dia bilang selama kami berbahagia itu sudah tak menjadi masalah lagi
baginya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" ucapku tanpa melihat siapa yang datang.
"Hai Mud, apa kabar" suara ini? Aku melihat siapa yang datang ke ruanganku
dan benar dugaan ku, Richard.
"Hai, aku baik. Bagaimana denganmu" jawabku sedikit berbasa-basi. Ini
pertemuan pertama kami kembali setelah sebelumnya kami saling menjauh
satu sama lain.
"Baik, aku datang karena ingin memberikanmu ini" Richard memperlihatkan
sebuah undangan di tangannya dan jika ku perhatikan seperti.... undangan
pernikahan?
"Kau akan menikah?" tanyaku sedikit terkejut.
"Iya, dan dengan seorang wanita" ucapnya yang kini tengah duduk santai di
sofa. Akupun mendekatinya dan menjabat tangannya sebagai bentuk ucapan
selamat. Namun kenapa? Maksudku apa dia seperti diriku yang ingin berubah
atau bagaimana? Aku yakin Richard melihat raut wajahku yang cukup
bingung sekarang dengan semua informasi darinya. Dia tersenyum lalu
berkata, "terjadi sesuatu dan aku memutuskan menikah"
"Maksudmu?"
"Aku akan memiliki anak. Aku tak dapat menceritakan secara detailnya
namun intinya aku akan menikah dan ku harap kau datang sebagai teman
mungkin?"
"Well, sekali lagi selamat untuk pernikahanmu dan calon anakmu. Kudoakan
kau berbahagia"
"Entahlah, yang pasti setidaknya keluargaku akan memiliki penerus" setelah
mengucapkan hal tersebut Richard pamit undur diri karena akan pergi ke
tempat lain namun sebelum dia keluar dia mengatakan sesuatu kepadaku.
"Maaf untuk beberapa pesanku yang menganggumu dulu. Semoga kita
berdua bisa berbahagia dengan pasangan dan keluarga kita masing-masing"
kini Richard telah pergi dari ruanganku dan meninggalkan undangan
pernikahannya di meja dekat sofa.
Kupandangi undangan pernikahan Richard yang kini sudah ada di tanganku.
Kalian mau tau perasaanku sekarang? Jujur aku terkejut bukan karena masih
memiliki cinta untuknya hanya saja mengetahui Richard akan menikah
dengan seorang wanita dan segera memiliki anak membuatku heran.
Bukankah dia berpacaran dengan pria lain sebelumnya? Sudahlah, apapun itu
kudoakan yang terbaik untuknya.
Selamat tinggal Richard, selamat tinggal masa laluku.
Aku pulang sekitar pukul 19.00 malam setelah sebelumnya menjemput Gadis
di rumah Maura. Seharian ini Gadis bermain dengan anak dan cucu Maura
karena Vita dan Darren menitipkan anak mereka untuk pergi ke luar kota
karena masalah pekerjaan.
"Akang, tau gak tadi Indo udah bisa duduk sendiri loh"
"Oh ya, terus?" tanyaku kepada Gadis mengenai anak Vita dan Darren
tersebut. Oh iya, aku sepertinya belum mengenalkan nama anak mereka.
namanya lucu dan unik, Indonesia Dakara Wijaya dan panggilannya Indo.
"Iya, udah gitu giginya juga udah tumbuh dua, lucu deh. Gembil-gembil semok
cakep gitu" ucapnya dengan nada suara dan wajah yang sangat
menggemaskan.
"Oh ya Kang, sebenarnya Eneng udah penasaran dari dulu soal arti nama
anak mbak Vita dan mas Darren. mbak Vita sama mas Darren pasti jiwanya
nasionalis banget ya, sampe nama anaknya dikasih nama seperti itu"
"Setau Akang, Vita memang mau kasih nama anaknya Indonesia baik untuk
cewe ataupun cowo. Cowo panggilannya Indo dan cewe panggilannya Ina
tapi untuk alasan pastinya kenapa, Akang gak tahu sayang"
"Nanti kalo kita punya anak mau dikasih nama apa?"
"Eneng maunya gimana? Akang ikut saja"
"Ih, akang harus nyumbang nama juga dong masa Eneng doang"
"Yang penting kan Akang ikut berpartisipasi dalam proses pembuatannya
sayang, itu lebih penting"
"Ih, Akang mah mesum" ucap gadis sambil memukul lenganku dengan
wajahnya yang merona. Gemas sekali aku dibuatnya.
"Tapi Eneng seneng kan kalo Akang mesum nanti sampe dirumah kita coba
lagi ya sayang biar cepet jadi bayinya" ucapku sambil menaik-turunkan alis
untuk menggodanya.
BAB 38
Aku dan Gadis kini masih bergelung di bawah selimut tanpa sehelai
benangpun menutupi tubuh kami berdua bahkan milikku masih di dalam
miliknya setelah sebelumnya kami saling melepaskan hasrat masing-masing
yang kian membara.
"Sayang, tadi siang Richard ke kantor Akang" ucapku sambil mengelus lengan
polosnya. Gadis langsung mendongak ke atas untuk melihat wajahku dan
dapat kulihat terdapat amarah di matanya.
"Dengarkan Akang dulu sayang, Richard datang untuk memberikan
undangan pernikahannya"
"Dia menikah? dengan pacar barunya?" tanya gadis yang masih menampilkan
wajah tak sukanya jika aku menyebut nama mantan kekasihku itu.
"Entahlah, tapi yang pasti dia akan segera menikah dengan seorang wanita
dan sebentar lagi dia juga akan menjadi seorang ayah"
"Benarkah? kok bisa?"
"Kenapa? Mungkin saja Richard sama seperti Akang ingin membina keluarga
yang semestinya. Lagipula memang dari dulu Richard ingin memiliki anak"
"Syukurlah jika begitu, tapi ......"
"Kenapa?"
"Mas Richard saja sudah mau punya anak, kita kapan ya Kang?"
"Berdoa saja sayang dan tetep usaha karena itu sudah rezekinya Richard dan
kita tak boleh iri. Mengerti?"
"Terus kapan acara pernikahannya Kang?"
"Akhir pekan ini. Eneng mau datang kan?"
"Hmm, kalo gak datang bisa gak?"
"Kenapa?"
"Ntar Akang gagal move on lagi"
"Hahahah, sayang dengarkan Akang. Akang sudah move on dari dulu kan
cintanya Akang sekarang hanya buat Eneng seorang. Lagian bagaimanapun
masalalu kami berdua Richard tetap rekan bisnis Akang sayang dan dapat
dipastikan kami akan tetep bertemu dan saling berkomunikasi meski hanya
untuk urusan pekerjaan. Tapi kalo kamu memang keberatan dan tak suka, ya
sudah kita tidak perlu datang nanti dan akan Akang sampaikan kepada Jeff
sekretarisnya"
"Ya sudah ayo kita datang Kang lagian Eneng juga kepo sama wanita yang
bisa meluluhkan mas Richard"
"Kamu lama-lama jadi seperti Bahar, suka kepo"
"Ish, gak ada ya cuman sedikit doang. Kalo Bahar mah keponya kebangetan."
Aku hanya tertawa mendengar penuturannya. Istri kecilku ini memang
sangat menggemaskan.
"Oh iya Kang, Bahar mau masuk Akmil dong"
"Benarkah? Serius kamu sayang? Bahar? Masuk Akmil?"
"Iya, besok dia berangkat selain itu juga Stevan cerita kalo dia berhasil lulus
ujian di salah satu universitas bergengsi di Amerika. Eneng sedih, semuanya
sedang berjalan meraih impian dan masa depannya masing-masing"
"Kenapa Eneng sedih? Eneng juga bisa kan? Hanya saja kalo mau ikut Akmil
dan kuliah di luar negeri Akang gak setuju. Nanti Akang tidurnya sama siapa?
Masa sama guling lagi"
"Ish, siapa yang mau kaya gitu sih? Enggak ya Kang, nanti Akang di gondol
pelakor lagi. Amit-amit. Maksud Eneng, sedih saja sudah lulus sekolah terus
nanti kita jadi jarang ketemuan seperti biasanya"
"Sayang, hidup itu terus berjalan dan begitupun dengan kita. Memang sih
Akang gak bisa mengantikan posisi temen-temen Eneng tapi percayalah kalo
Akang akan selalu ada bersama Eneng"
"Selama Akang bersama Eneng itu udah cukup. Eneng hanya sedikit sedih
karena temen Eneng mau pergi jauh tapi Eneng lebih seneng karena mereka
pergi untuk masa depan mereka"
"Kita doakan saja semoga Stevan dan Bahar berhasil dengan studinya, oh
terutama Bahar semoga dia gak kabur saat pelatihan nanti"
******
Aku kini sedang menonton tayangan kartun favoritku sambil menunggu
Akang pulang bekerja sebentar lagi. Sudah seminggu aku tak pergi
kemanapun, sekolah telah selesai dan hanya perlu mengambil ijazah
sementara ujian masuk universitas sudah terlaksana beberapa waktu yang
lalu sehingga aku hanya perlu menunggu hasil ujian keluar dan jika berhasil
langsung daftar ulang dan mengikuti proses selanjutnya.
Bulan depan acara ulang tahun pernikahan mbak Vita dan mas Darren, aku
berencana memberikan mereka hadiah buatan tangan. Setelah meminta
pendapat Bahar kemaren malam aku telah memutuskan akan merajut
sebuah sweater couple untuk mereka berdua.
Berbicara soal Bahar dan Stevan, seperti ceritaku kepada Akang mereka kini
tengah berjuang demi masa depan. Stevan belum menghubungiku lagi
setelah acara perpisahan kami sehari sebelum dia berangkat ke Amerika
sementara Bahar setiap ada kesempatan dia pasti akan menghubungiku dan
bercerita bahwa dia ingin pulang, astaga Bahar padahal sebelum berangkat
dia sangat bersemangat karena akan terus melihat pria tampan nan gagah
dengan seragamnya.
Usahaku dan Akang untuk mendapatkan anak belum sirna, setidaknya kata-
kata penyemangat Akang dan nasehat dokter Sarah serta Mbak Vita dan
mbak Maura selalu menjadi sumber kekuatan diriku. Akang selalu bilang
untuk tidak perlu khawatir karena aku masih muda dan sehat. Iya sih, aku
justru khawatir kepada suamiku tersebut, Akang kan sudah tua mau punya
anak umur berapa? usianya sudah 42 tahun jangan sampai anak kami
memanggilnya kakek dan bukannya ayah.
Karena haus aku pergi ke arah dapur untuk mengambil minum namun tiba-
tiba saja aku terpeleset dan jatuh terduduk di lantai. Tak lama berselang
darah merembes di kedua kakiku.
Kuambil handphone di sakuku dengan susah payah dan setelahnya aku
berhasil menghubungi Akang.
"Hallo sayang"
"A.... a....kang" ucapku terbata
"Sayang, kamu kenapa?"
"Saaa.... kit Kang"
"Tunggu, Akang sebentar lagi sampai di rumah" setelahnya Akang langsung
mematikan ponsel miliknya.
Tuhan aku kenapa? Perutku sakit sekali.
******
Aku menerima telepon dari Gadis dan dapat kudengar dia seperti sedang
kesakitan. Seperti orang gila, aku melajukan mobilku dengan kecepatan
maksimal biarlah jika nanti aku ditilang karena nyawa istriku jauh lebih
penting sekarang.
Untung saja jarakku saat ini tak terlalu jauh dari rumah dan kurang dari 10
menit kemudian aku telah tiba dan langsung masuk ke dalam hingga
akhirnya aku menemukan Gadis yang merintih kesakitan di lantai dekat arah
dapur.
"Sayang, kamu kenapa?" tanyaku khawatir melihat dirinya yang kini tengah
mengeluarkan darah dan mengotori bagian paha hingga betisnya.
"A..... a.... kang ssaa.... kit" aku langsung mengendong Gadis dan membawanya
ke rumah sakit terdekat.
Tuhan tolong lindungi istri kecilku.
Tak kuhiraukan beberapa kendaraan yang memaki dan mengklakson ke arah
mobilku karena memang saat ini aku menyetir layaknya pembalap F1. Gadis
terus saja merintih kesakitan di kursi belakang dan hal tersebut semakin
membuatku kalut dan takut. Tak ku pedulikan lagi apa itu peraturan lalu
lintas dan keselamatan berkendara karena memang difikaranku saat ini
hanya menyelamatkan istriku.
Setibanya dirumah sakit, aku sudah seperti orang kesetanan dimana aku
terus memanggil petugas medis dengan suara nyaring untuk memeriksa
keadaan Gadis hingga akhirnya seorang dokter dan perawat datang dan
mencoba memeriksa keadaan Gadis yang semakin membuatku khawatir. Aku
yang masih terus menggenggam tangannya di minta keluar agar bisa
dilakukan pemeriksaan dan dengan terpaksa aku keluar setelah
mengucapkan semuanya akan baik-baik saja kepada Gadis yang masih
menangis kesakitan dan ketakutan.
Aku menunggu sambil berdoa dan air mataku kian deras keluar karena rasa
khawatir yang begitu besar karena takut kehilangan istriku. Entah apa yang
terjadi padanya namun melihat kondisinya tadi hanya hal-hal negatif yang
bersarang dalam fikiranku saat ini.
Dokter akhirnya keluar dan memberitahu keadaan Gadis kepadaku.
"Kondisi istri anda sudah membaik. Untung saja tidak terjadi pendarahan
hebat. Lain kali tolong dijaga kondisinya ya pak agar kejadian seperti ini tidak
terulang kembali"
"Dokter, apa yang terjadi dengan istri saya? Kenapa dia mengeluarkan
darah?"
"Istri anda sepertinya terbentur dengan cukup kuat sehingga janin di dalam
perutnya sedikit mengalami guncangan. Namun syukurlah sekarang
semuanya baik-baik saja tetapi perlu diperhatikan bahwa istri anda harus
istirahat total dan tidak boleh banyak bergerak serta jangan lupa minum
vitamin dan makan makanan bergizi"
Aku terdiam mendengar penuturan dokter tersebut.
Apa katanya tadi? Janin? Apa maksudnya Gadis kini tengah hamil?
"Saya juga akan memberikan resep penguat kandungan dan seperti ucapan
saya sebelumnya saya harap bapak selaku suami dapat menjaganya dengan
baik karena jika hal seperti ini terjadi kembali dengan berat hati saya
mengatakan bahwa kondisi janin istri anda mungkin tak akan selamat
mengingat usianya yang masih muda dan begitupun dengan istri anda"
Setelahnya dokter dan perawat tersebut pergi meninggalkan diriku. Aku
langsung menghampiri istri kecilku yang kini sedang terlelap dengan infus di
tangannya. Ku pegang tangannya perlahan dan tiba-tiba saja arah
pandanganku tertuju kepada perutnya yang masih rata.
"Terima kasih sayang, kamu telah menjadi anak papa yang kuat. Maaf jika
papa tidak sadar kalau kamu sudah hadir diantara kami selama ini. Maaf
karena papa tidak bisa menjaga kamu dan mama dengan baik. Papa janji hal
seperti ini tidak akan terulang kembali supaya papa dan mama bisa melihat
kamu lahir di dunia ini. Terima kasih nak" kuelus lalu kukecup perut Gadis
kembali dengan perasaan haru.
Ya tuhan, aku akan menjadi seorang ayah. Aku akan memiliki anak bersama
Gadis istriku tercinta.
Aku terus menangis sambil memegang tangan Gadis, sebuah tangisan bahagia
dari seorang calon ayah.
BAB 39
Aku terbangun dan kini berada di sebuah ruangan putih dengan aroma khas
yang sangat tidak kusukai. Aku ingat sebelumnya aku terjatuh dan
mengeluarkan darah dan dengan susah payah menelepon Akang.
Aku membuka mataku perlahan dan menemukan Akang tertidur
disampingku sambil memegang tangan kiriku erat. Kubelai rambut Akang
yang berantakan dan tak lama kemudian Akang terbangun.
"Sayang, kamu sudah sadar? Apa masih sakit? Bilang sama Akang kamu mau
apa?" tanyanya dengan wajah khawatir. Kubelai pipinya dengan sebelah
tanganku yang satunya sambil berusaha tersenyum.
"Haus Kang" ucapku pelan. Akang langsung bangun dan mengambilkan ku
minum setelahnya dia membantuku untuk meminum air tersebut. Setelah
selesai Akang kembali membaringkan ku sambil terus membelai rambut
milikku.
"Akang Eneng kenapa? Kok dirawat di sini? Kita pulang yuk"
"Shutt..... kata dokter, Eneng harus di rawat beberapa hari di sini baru setelah
itu kita pulang dan sesampainya di rumah Eneng harus banyak istirahat dan
gak boleh melakukan apapun"
"Maksudnya?"
"Eneng cukup beristirahat tanpa melakukan pekerjaan apapun, nanti Akang
akan carikan asisten rumah tangga untuk kita"
"Eneng cuman jatuh Akang bukannya lumpuh jadi gak perlu sampai
segitunya, Eneng gak mau ah"
"Gak ada penolakan, apalagi ini demi anak kita sayang" ucapnya sambil
tersenyum hangat
Anak? Anak kita? Maksudnya? Aku?
"Maksud Akang..... Eneng sedang....."
"Iya sayang, saat ini ada Muda junior atau Gadis junior di dalam sini" ucap
Akang sambil mengelus perutku. Sontak aku langsung menangis haru.
Akhirnya sesuatu yang aku tunggu kini datang demi menyempurnakan
kebahagian kami berdua.
Aku terus saja menangis entah itu tangisan bahagia karena mengetahui kabar
ini atau tangisan sedih karena hampir saja mencelakakan malaikat kecil kami.
Akang terus berusaha menenangkanku sambil terus mengelus perutku.
Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata aku akan menjadi seorang ibu
dari pria yang kucinta.
"Akang sudah beritahu ibu?"
"Belum, besok pagi baru akan Akang telepon. Kamu beneran sudah gak apa-
apa sayang? atau ada yang kamu inginkan saat ini?"
Aku menggeleng karena memang saat ini yang ku butuhkan hanya perhatian
serta dukungan dari Akang, suamiku tercinta.
"Akang, kapan kita bisa lihat dedek bayinya?" tanyaku antusias dan tak sabar
untuk melihatnya.
"Besok pagi kita langsung ke dokter kandungan sekalian kita periksa si dedek
bayinya" Aku benar-benar tak sabar menunggu esok pagi.
Tuhan terbitkan matahari secepat mungkin.
******
Aku dan Gadis saat ini tengah di ruangan dokter Sarah. Sejak bangun tidur
Gadis sudah bertanya kapan kami akan bertemu dokter dan melihat bayi
kami berdua.
Gadis sedang berbaring dengan Sarah yang memeriksa dengan alat USG
miliknya.
"Lihat om, bayinya masih sangat kecil" ujar Sarah semangat. Aku terdiam
menyaksikan semuanya. Di layar itu aku melihat sebuah titik hitam sebesar
kacang yang dikatakan Sarah barusan adalah anakku dan Gadis. Jujur saja
aku sangat senang bahkan sampai menitikkan air mata begitupun dengan
Gadis. Kami berdua menangis bahagia menyaksikan keadaan anak kami
melalui alat USG.
Setelah selesai pemeriksaan Gadis dan aku mendengarkan perkataan Sarah
mengenai keadaan bayi kami.
"Selamat sekali lagi ya om, bayinya sehat meski sebelumnya sedikit
bermasalah. Selama sang ibu beristirahat dan asupan gizinya baik Insyaallah
semuanya lancar. Oh iya om, untuk sementara jangan melakukan hubungan
suami istri dulu karena kondisi Gadis yang masih lemah. Mungkin sebulan
atau dua bulan kedepannya baru boleh"
"Apa ada hal lainnya yang harus kami perhatikan lagi Sarah?"
"Untuk sementara hanya itu, Sarah juga sudah memberikan resep vitamin
dan penguat janin. Ingat ya Gadis kamu harus banyak beristirahat dan jangan
stress. Oh iya, usia kandungan bayinya sekitar 3 minggu dan untuk
pemeriksaan selanjutnya bisa kita lakukan bulan depan"
Setelah selesai berkonsultasi aku dan Gadis kembali keruangan rawat inap.
Setelah membaringkannya aku segera menelpon ibu untuk memberikan
kabar bahagia ini. Dapat kudengar suara tangisan dan ucapan syukur ibu dan
setelahnya beliau mengatakan akan ke Jakarta nanti siang.
Aku juga sudah menghubungi Vita agar dia menghandle beberapa persoalan
pekerjaan karena aku akan mengambil cuti beberapa hari untuk menjaga
Gadis. Oh jangan lupakan Maura yang juga ku hubungi dan seperti dugaanku
dia berteriak histeris dan mengatakan akan kesini nanti siang sambil ingin
melakukan pemeriksaan untuk bayinya.
Kulihat Gadis masih terus menatap foto USG bayi kami dengan senyuman
kebahagiaan. Tak henti-hentinya juga dia mengelus perutnya sambil sesekali
mengajak berbicara.
"Akang" panggilnya kepadaku saat aku sedang mengupas jeruk untuknya.
"Kenapa sayang? Kamu menginginkan sesuatu?"
"Kapan kita pulang?"
"Beberapa hari lagi setidaknya sampai keadaan Eneng benar-benar
membaik"
"Tapi Eneng udah baikan. Eneng gak betah disini. Disini bau obat"
"Namanya juga rumah sakit sayang. Sabar ya, demi dedek bayi. Eneng mau
kan?" Gadis kemudian mengangguk dan memintaku memeluknya.
Ya ampun bayi besar ini akan segera memiliki bayi kecil.
******
Tiga hari aku dirawat dirumah sakit dan tiga hari pula Akang selalu merawat
dan memperhatikan diriku. Ibu mertuaku juga sudah datang di malam hari
setelah paginya dihubungi oleh Akang.
Sesampainya dirumah aku langsung di suruh istirahat kembali.
Sesungguhnya aku sangat bosan terus berbaring sepanjang waktu namun
mengingat kondisiku yang memang sangat lemah dan takut membahayakan
bayi di kandunganku akhirnya aku hanya bisa pasrah.
Ibu memutuskan untuk sementara waktu tinggal di Jakarta untuk menemani
dan mengurusku jika Akang sudah kembali bekerja dan untuk urusan rumah
tangga mbak Parmi turut diboyong kemari.
Oh iya, dua hari lalu aku juga sudah memberitahukan soal kehamilanku
kepada Bahar dan Stevan saat keduanya menghubungiku. Stevan berkata jika
dia kembali ke Indonesia nanti dia akan mengunjungiku dan kemungkinan
disaat bayiku sudah lahir karena memang dia belum bisa kembali ke
Indonesia secepatnya sementara Bahar dia bahkan berencana akan langsung
kembali ke Jakarta untuk bertemu denganku karena berita ini namun aku
tahu alasan sesungguhnya adalah dia sudah tidak kuat disana. Orang Bahar
biasanya megang lipstik tiba-tiba disuruh megang senjata yah susah.
"Sayang, Akang mau ke supermarket sebentar apa ada yang mau dibeli?"
"Hmm, sebenarnya Eneng mau cilok di gang dekat sekolah Kang, boleh?"
"Baiklah tapi tidak pakai bumbu apapun ya"
"Gak enak dong nanti Kang, Eneng mau pake bumbu kacang, kecap dan saus"
"Tanpa saus dan tak ada penolakan. Jangan makan makanan yang pedas dulu
sayang. Okey! Akang berangkat ya" setelahnya Akang mencium keningku dan
pergi.
Tak lama pintu kamarku kembali terbuka dan memperlihatkan ibu yang
sedang membawa segelas jus jeruk untukku. Aku duduk dan menerimanya
dengan senyuman, sungguh dilayani seperti ini bahkan oleh ibu membuatku
sendiri membuatku tak enak hati meski ibu selalu bilang bahwa hal tersebut
justru bukan masalah dan membuatnya senang karena bagaimanapun ini
juga untuk cucunya.
"Apa kamu sudah mengalami mual-mual Gadis?"
"Alhamdulillah enggak bu hanya merasa cepat mengantuk dan lelah"
"Syukurlah jika begitu, tidak apa-apa itu hal biasa bagi ibu hamil apalagi
kalau sedang hamil muda. Pokoknya kamu harus banyak istirahat dan makan
makanan bergizi dan jika ngidam sesuatu katakan saja ya, jangan ditahan. Ibu
gak mau nanti cucu ibu ileran hahahah"
"Maaf ya bu membuat ibu repot begini" ucapku tulus
"Gak ada yang direpotkan kalaupun harus berterima kasih tentunya itu ibu
dan Muda. Terima kasih karena kamu sudah mau mengandung dan
melahirkan cucu dan anak untuk kami. Makasih ya sayang" ibu mengelus
kepalaku sambil tersenyum dan seketika aku langsung memeluknya dan
menangis.
"Terima kasih ibu, terima kasih sudah bersedia menerima Gadis sebagai
menantu ibu dengan segala kekurangan Gadis dan terima kasih ibu juga telah
menyayangi Gadis seperti putri ibu sendiri. Gadis sayang sama ibu"
"Ibu juga mau terima kasih sama kamu karena sudah mau menjadi menantu
untuk ibu dan istri untuk anak ibu. Mengandung dan melahirkan cucu untuk
ibu. Terima kasih sayang" keduanya saling berpelukkan erat sambil
menangis bahagia.
Siapa yang menyangka bahwa takdir kehidupan akan seperti ini bagi Gadis
dan Muda. Menemukan dan saling belajar menerima satu sama lainnya
dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing berusaha untuk
percaya bahwa segala niatan baik akan membawa mereka kepada sebuah
kebaikan lainnya.
Gadis mencintai Muda
Muda mencintai Gadis
Gadis menerima kekurangan Muda
Dan Muda belajar menerima semuanya.
Manusia memang tidak ada yang sempurna begitu juga dalam cinta karena
sesungguhnya kesempurnaan cinta hanya akan didapat jika kita mau
menerima segalanya dan terus berupaya mencari arti cinta itu sendiri.
BAB 40
Usia kandunganku sudah berjalan 7 bulan dan hari ini kami akan
mengadakan acara pengajian untuk selamatan 7 bulanan bayiku dan Akang.
Sejak pagi mbak Maura dan mbak Vita sudah sibuk membantu ibu mertuaku
mempersiapkan semuanya di dapur sementara aku dilarang melakukan
apapun dan hanya disuruh beristirahat di dalam kamar.
Akang, om Bram dan mas Darren juga telah selesai mempersiapkan beberapa
keperluan lainnya dan kini tengah mengobrol di gazebo belakang karena
sepertinya Akang akan kembali berguru kepada dua orang yang sudah lebih
dahulu menjadi seorang ayah dibandingkan dirinya.
Selama aku hamil, aku benar-benar tidak boleh melakukan apapun
mengingat kandunganku saat ini memang cukup lemah terlebih di awal
kehamilan sempat mengalami kejadian buruk namun Tuhan masih
melindungi malaikat kecil kami. Selain itu juga, di trimester pertama semua
gejala ibu hamil seperti ngidam dan mual lebih banyak dialami oleh Akang.
Pernah suatu hari di jam 2 pagi Akang terbangun dan pergi keluar rumah
hanya untuk mencari dan memakan nasi Padang akibat sebelum tidur dia
menonton tayangan mukbang bersama diriku di YouTube. Pernah juga
beberapa waktu yang lalu Akang tiba-tiba membeli 5 buah durian dan
memakannya sendirian padahal dulu jangankan memakannya mencium
aromanya saja Akang sudah sangat tidak suka.
Hingga saat ini baik aku dan Akang belum menanyakan jenis kelamin bayi
kami karena kami memang tidak ingin mengetahuinya lebih dahulu biar
menjadi kejutan saat melahirkan nanti lagipula selama bayi kami sehat itu
sudah cukup.
Mengenai pendidikanku, sebenarnya aku dinyatakan telah lulus di salah satu
universitas di Jakarta namun aku mengajukan cuti untuk sementara waktu
karena dengan kondisiku sangat tidak memungkinkan untuk ikut
perkuliahan dan Akang serta ibu mertuaku juga melarangnya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" perintahku saat pintu kamarku diketuk dan betapa terkejutnya
diriku melihat Bahar dengan penampilan barunya. Tubuh kurus dan kekar
serta seragam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya dan jangan lupakan
warna kulitnya yang kini menjadi kecoklatan namun terlihat tampan. Jujur
aku tak mengenalinya ketika dia masuk namun saat melihat namanya di
nametag seragamnya dan dia memanggil namaku aku langsung
mengenalinya. Suaranya tetep sama namun sudah tidak ada nada atau alunan
lembut mendayu seperti dulu hanya suara bass sexy yang ada.
"Bahar itu kamu?"
"Apa kabar beb, sorry baru bisa jenguk. Baru dapat libur soalnya" dia datang
mendekatiku dan memelukku. Akupun ikut memeluknya.
Ya ampun sahabatku sudah kembali ke kodratnya.
"Kamu kok jadi ganteng banget sih, macho lagi"
"Lebih ganteng dari suamimu?" godanya kepadaku
"Enggaklah, masih gantengan Akang"
Setelahnya kami berdua banyak bercerita mengenai satu sama lain karena
memang 6 bulan lebih tak berjumpa dan untuk berkomunikasi pun juga
semakin jarang mengingat dirinya yang sibuk pelatihan dan aku yang sibuk
berbaring di atas kasur.
******
Saat ini aku sedang bertanya banyak hal kepada dua suami sahabatku
mengenai peran seorang ayah. Bagaimanapun mereka adalah seniorku dalam
dunia orangtua.
Selama beberapa bulan ini aku selalu belajar baik bertanya langsung maupun
membaca buku bahkan aku mengikuti kelas online mengenai cara mengasuh
anak. Bagaimanapun ini pengalaman pertamaku jadi aku harus banyak
belajar namun kepalaku tiba-tiba pusing dan diriku kembali mual.
"Mual lagi Mud?" tanya Bram saat melihat keadaanku.
"Iya, padahal udah 7 bulan masih aja suka mual apalagi kalo pagi hari".
"Sama kamu kaya Darren bahkan Darren merasakannya sampe 9 bulan. Iya
kan son?"
"Hmm"
"Tapi gw seneng dan bersyukur karena seenggaknya bukan Gadis yang
mengalami ini semua"
"Ceileh..... bucin sampe segitunya" ledek Bram kepadaku.
"Maaf, emang situ enggak?" ledekku balik kepada pria tua di depanku ini.
"Eh tapi masih ada yang lebih bucin sih. Tuh" tunjuk Bram kepada anaknya.
Jadilah kami saling meledek satu sama lain. Ralat! Aku dan Bram yang saling
meledek dan menggoda Darren sementara Darren hanya diam
mendengarkan omong kosong kami berdua dan setelahnya dia pergi seperti
biasa.
Dasar pria kutub.
Acara pengajian akan segera dimulai, beberapa tamu sudah datang begitupun
dengan seorang tamu pria berseragam yang dapat kukatakan cukup tampan.
Siapa dia?
Pria tersebut datang bersama Gadis dan saling bersenda gurau. Aku yang
terbakar cemburu langsung saja mendekati keduanya yang kini berada di
dapur sambil keduanya tertawa.
"Sayang" panggilku kepada Gadis dan seketika baik Gadis dan pria tersebut
menengok ke arah diriku
"Akang, sudah rame tamunya?"
"Belum tapi sudah mulai berdatangan. Kamu sudah selesai siap-siapnya?"
"Sudah" jawab Gadis masih dengan tersenyum manis kearahku. Aku hanya
membalasnya singkat dan setelahnya tatapanku terus menuju kepada pria
asing disebelahnya tersebut.
Tunggu, kaya pernah lihat tapi dimana ya?
"Aduh om ngeliatinnya jangan pake nafsu gitu dong" ucap pria tersebut
kepadaku sambil tersenyum. Dih, amit-amit ucapku dalam hati.
"Kamu siapa?" tanyaku sedikit ketus karena dengan sikap kurang ajarnya dia
kini merangkul istriku. Langsung saja kutepis tangannya dan menarik Gadis
ke dalam pelukanku.
Enak saja main peluk-peluk istri orang.
"Akang jangan gitu ih, ini tuh Bahar tau" ucap Gadis sambil menahan
senyumnya melihat sikap posesif dan cemburuku kepada pria yang dia
panggil Bahar tadi.
Bahar? Bahar sahabat Gadis di SMA? Pria gendut yang suka dandan dan
dipaksa masuk Akmil oleh orangtuanya? Ini Bahar yang itu?
Aku menatap pria didepanku dari atas hingga bawah dan terus seperti itu
hingga beberapa kali. Aku tau itu tindakan yang sangat tidak sopan tapi masa
sih Bahar yang itu jadi Bahar yang ini. Perbedaannya sangat mencolok.
"Udah sih om ngeliatin aku sampe segitunya. Aku tau aku ganteng tapi please
udahan kenapa"
"Eh, ma.... maaf Har tapi kamu beda banget. Ternyata gak sia-sia kamu masuk
Akmil"
"Duh om, manusia kesekian yang bilang kaya gitu" setelahnya kami bertiga
berbincang sebentar sampai ibu memanggil kami karena para tamu dan pak
ustadz yang akan memimpin acara ini telah datang.
******
Acara 7 bulanan ku telah selesai satu jam yang lalu. Semua tamu undangan
sudah pulang termasuk Bahar padahal aku masih ingin mengobrol
dengannya namun dia bilang dia ada urusan lain dan akan datang kembali
jika ada waktu.
Mbak Maura sedang menidurkan bayinya di kamar tamu dan mas Bram
sedang menjaga si kembar. Sementara mbak Vita dan mas Darren sedang
mengobrol dengan ibu di ruang tengah. Aku sendiri masih berada di meja
makan karena sejak memasuki trimester kedua nafsu makan ku semakin
meningkat entah sudah berapa kilogram beratku bertambah. Akang datang
dengan segelas susu hamil untukku dan memilih ikut duduk di kursi
sebelahku.
"Diminum sayang susunya" aku mengambil gelas tersebut dan meminumnya.
Satu lagi perbedaan dariku saat hamil selain bentuk tubuhku yakni sekarang
aku suka minum susu padahal dulu aku sangat tidak menyukainya.
Akang seperti biasa akan mengelus rambutku dan mengecup pipiku. Akang
selalu bilang dia semakin merasa gemas dengan diriku yang semakin
menggendut ini, yah meski dia bilangnya bukan gendut tapi montok.
"Kang, kok tadi istrinya mas Richard gak ikut dateng sih?" tanyaku sedikit
kepo.
FYI, sebulan yang lalu istri mas Richard telah melahirkan sepasang bayi
kembar. Hubungan diantara kami juga semakin baik khususnya antara Akang
dan mas Richard meski kini hubungan keduanya lebih terkait kepada
masalah pekerjaan.
"Tadi Richard bilang istrinya sedang tidak enak badan namun dia menitipkan
salam dan kado untuk kita. Kadonya juga sudah Akang taruh di kamar"
"Nanti jangan lupa salam balik ya Kang dan bilang terima kasih buat
kadonya"
"Iya, sekarang mending kita ke kamar karena kamu pasti capek kan setelah
acara tadi. Bagaimanapun ingat pesan Sarah sayang kalo kamu gak boleh
capek dan harus banyak beristirahat"
"Eneng gak capek kok Kang, lagian juga daritadi kan Eneng cuman duduk
doang. Sebentar lagi ya, Eneng bosen di dalam kamar terus"
"Yasudah hanya sebentar dan setelahnya kita ke kamar untuk beristirahat"
aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju karena percuma juga aku
membantah keinginan Akang, tak akan bisa. Lagipula ini juga demi
keselamatan bayi kami berdua.
"Akang...." Panggilku seraya memeluknya dari samping dan langsung
dibalasnya dengan erat sambil terus mengecup puncak kepala ku.
"Kenapa sayang?"
"Hmm, mau jenguk dedek bayinya gak Kang?" tanyaku sambil mengedipkan
sebelah mata untuk menggoda suamiku tercinta.
BAB 41
Sejak 30 menit yang lalu ibu terus saja meneleponku untuk menanyakan
keberadaanku saat ini serta memberitahukan bahwa Gadis sudah akan
melahirkan dan kini sedang dibawa ke rumah sakit.
Sebenarnya aku sudah mengambil cuti sejak beberapa hari yang lalu
mengingat jadwal persalinan Gadis yang semakin dekat dan aku tidak ingin
mengambil resiko apapun termasuk tidak bisa berada di sampingnya di saat
ia melahirkan nanti seperti saat ini namun sejak semalam sekretaris ku
sudah menghubungi dan memberitahu bahwa ada hal mendesak yang harus
segera kutangani dan mengharuskanku datang ke kantor pagi ini tanpa bisa
diwakilkan oleh siapapun sehingga dengan sangat terpaksa aku pun
berangkat ke kantor dan saat sedang meeting tiba-tiba saja aku mendapatkan
kabar dari ibu jika Gadis mau melahirkan. Tanpa memikirkan apapun lagi
aku langsung pergi dan meminta maaf kepada pihak-pihak lainnya yang
kutinggal saat meeting tengah berlangsung.
Aku kembali mengendarai mobilku seperti pembalap F1 serta tak lupa
memanjatkan doa demi keselamatan istri dan anakku. Sungguh diriku saat ini
benar-benar merasa ketakutan jika hal buruk terjadi kepada keduanya
karena kepergian ku bekerja sehingga tak bisa berada di samping mereka
saat ini.
Tuhan lindungi mereka berdua.
Setibanya dirumah sakit ibu langsung memberitahu bahwa Gadis sudah
dibawa kedalam ruang persalinan. Aku menantikan semuanya dengan
perasaan resah dan gelisah. Aku berjalan mondar-mandir di depan ruang
bersalin sambil terus berdoa memohon keselamatan serta kelancaran untuk
semuanya saat ini. Rasanya aku bisa gila karena tidak mengetahui keadaan
istriku dan bayiku di dalam sana. Apakah Gadis sudah melahirkan atau
belum? Bagaimana keadaan bayi serta berjenis kelamin apa dirinya? Sungguh
aku tak sabar dengan semuanya.