terlalu sibuk dengan pekerjaan, bagaimana dia bisa memiliki kekasih,
menikah, dan memberiku cucu jika terus sibuk bekerja?
Saat Muda datang aku langsung mengutarakan keinginanku dan tentu
saja Muda menolak namun aku tak mau menyerah. Muda meminta waktu
untuk berbicara dengan Gadis. Aku persilahkan namun aku juga khawatir
bagaimana kalo Muda malah memaksa Gadis menolak permintaanku.
Tanpa sepengetahuannya keduanya aku menguping di balik pintu dekat
halaman belakang rumah dan benar seperti dugaan ku bahwa Muda
berusaha meyakinkan Gadis untuk menolaknya namun saat aku ingin
menghentikannya tiba-tiba saja putraku mengatakan sesuatu yang
membuatku kembali terkejut. Pengakuan dirinya yang sama dengan laporan
orang suruhanku dulu. Aku pingsan. Aku kembali syok karena saat ini
mengetahui dan mendengarkannya langsung dari bibir putraku.
Tuhan jika aku meninggal sekarang jagalah putraku dan berikanlah dia jodoh
yang baik dan berlawanan jenis. Doaku sebelum benar-benar tak sadarkan
diri.
******
Aku kembali sadar dan mendapati diriku tengah berada di dalam ruangan
inap rumah sakit. Dapat kudengar pembicaraan antara Gadis dan Muda. Aku
enggan membuka mata, entah mengapa aku ingin memberikan waktu
keduanya berbicara.
"Saya akan memohon. Saya tau mungkin kamu merasa jijik dengan saya, saya
mengerti tapi saya hanya tidak ingin membuat ibu saya lebih bersedih" ucap
putraku pilu.
"Saya tidak merasa begitu tuan, saya hanya bingung. Mungkin nyonya sudah
mendengarnya jadi..... " belum sempat Gadis melanjutkan ucapannya aku
langsung bersuara karena aku tak sanggup lagi mendengarkan semua ini.
"Ibu, ibu sudah sadar? saya panggilkan dokter ya" tanya Muda bernada
penuh kekhawatiran namun sebelum dia memanggil dokter aku
menghentikannya.
"Tidak usah" ucapku lemah
"Bu, ibu masih pucat wajahnya, saya khawatir"
"Apa kamu akan menikah dengan Gadis, Muda?" tanyaku langsung kepada
keduanya yang saat ini berdiri si sisi kanan ranjang.
"Ibu/nyonya" jawab keduanya serempak
"Kenapa? Apa benar yang ibu dengar?" tanyaku sambil menangis karena tak
dapat menahan semua kesedihan dan kekecewaanku.
"Maaf bu" ucapnya dengan wajah penuh penyesalan, sedih rasanya
melihatnya demikian namun sejujurnya aku juga cukup marah dan kecewa
dengan dirinya, dengan pengakuannya dan dengan ...... orientasinya yang ia
katakan kepada Gadis.
"Nyonya salah dengar, lagipula saya dan tuan Muda akan menikah, benarkan
tuan?" ucap Gadis kemudian. Aku terkejut dan menatap wajah keduanya
hingga kemudian Muda berkata, "kami akan menikah Bu"
BAB 16
"Apa Muda sudah putus dari pacarnya?"
Aku terkejut dengan pertanyaan ibu mertuaku barusan, maksudku dari mana
ibu tahu mengenai Akang yang dulu memiliki kekasih atau jangan-jangan ibu
juga tau mengenai rahasia yang selalu Akang sembunyikan darinya selama
ini dan apa mungkin malam itu bukan pertama kalinya beliau
mengetahuinya?.
"Ibu tahu semuanya Gadis bahkan sebelum insiden malam itu. Maaf
membohongi kalian"
Mungkin beliau dapat melihat kebingungan diriku atas peryataannya
sehingga ibu kemudian menceritakan semuanya kepadaku mulai dari orang
suruhannya sampai kejadian malam itu di rumah sakit. Jujur aku sangat
terkejut karena tak pernah menduganya sama sekali. Kupandangi wajah ibu
mertuaku dan dia terlihat sangat merasa bersalah namun aku mencoba
mengerti dirinya dan kuberikan senyum menenangkan untuknya serta
mencoba mengatakan melalui tatapan mata dan senyum di bibirku bahwa itu
bukan kesalahannya dan ibu tak perlu merasa bersalah kepada diriku.
"Gadis hanya terkejut karena ibu mengetahui semuanya. Gadis tidak marah
kepada ibu justru Gadis mau berterima kasih karena ibu mau menikahkan
Akang dengan wanita seperti Gadis" ungkapku jujur.
"Jangan mengatakan demikian nak, ibu yang seharusnya bersyukur dan
berterima kasih. Terima kasih karena kamu mau menerima putra ibu apa
adanya, tetap bersama dengannya dan mau membantunya selama ini"
Kupeluk tubuh ibu mertuaku ini dengan erat agar dia tau bahwa aku sangat
menyayanginya dan seketika air matakupun mengalir tanpa bisa kubendung
lagi. Aku bersyukur dipertemukan oleh mereka, dua orang yang paling
kusayang di dunia ini; suami dan ibu mertuaku. Setelah cukup menangis aku
segera melepas pelukan kami, kasian ibu pasti merasa sesak karena kupeluk
erat.
"Ibu selalu mendoakan kebahagiaan kalian, karena kalian anak-anak ibu
tersayang" ucapnya tulus.
Aku yang mendengar perkataannya kembali menangis namun bukan tangis
kesedihan melainkan sebuah tangis kebahagiaan.
******
Pagi ini aku harus kembali ke kantor setelah mengambil cuti selama dua hari.
Gadis juga akan kembali ke sekolah karena kemarin aku menyuruhnya
membolos dengan alasan sakit yang sebenarnya adalah rencana kami bertiga
untuk pergi berlibur karena memang sudah lama aku tak mengajak mereka
berdua berlibur apalagi dengan ibu sehingga mumpung ibu ada di dekatku
maka aku memutuskan untuk mengambil cuti dan pergi jalan-jalan dengan
kedua wanita yang sangat kusayangi di dunia ini.
"Kang, masa kita tinggalin ibu dirumah sendirian?" tanya Gadis saat kami
sedang bersiap-siap di kamar.
"Kita antarkan ibu ke rumah Maura kebetulan dia sudah mengajukan resign
minggu lalu jadi Maura bisa menemani ibu selama kita pergi" jelasku.
"Kenapa Kang? Kan sayang sama kariernya" tanyanya polos.
"Tanpa bekerjapun Maura dapat hidup mewah sayang. Asal kamu tahu Bram
itu pemilik beberapa rumah sakit di negeri ini. Maura bekerja hanya karena
dia ingin tapi beberapa waktu lalu dia bilang sudah bosan bekerja dan ingin
fokus jadi ibu rumah tangga saja menikmati uang suami"
"Oh, begitu ya Kang. Terus mbak Vita apa dia juga ikutan resign seperti ibu
mertuanya?"
"Enggak, dia lebih workaholic dari kita berdua dan asal kamu tahu bekerja
adalah belahan jiwanya. Bahkan dulu dia pernah bilang bahwa dirinya tak
ingin menikah. Dia bilang, AA’ aku tuh udah menikah dengan pekerjaanku".
Gadis tertawa mendengar penuturanku tentang kedua sahabat karibku
tersebut.
"Oh iya, Neng. Nanti pulang jam berapa?"
"Jam 5-an Kang. Hari ini cuman ada tes di tempat les jadi gak terlalu malam
pulangnya"
"Mau akang jemput? sekalian nanti kita jemput ibu bersama"
"Boleh"
"Yasudah ayo kita keluar pasti ibu sudah menunggu untuk sarapan bersama"
******
Pagiku yang indah kembali dimulai, setelah dua hari membolos aku kembali
ke sekolah.
"Duh, yang abis honeymoon seger bener neng" ledek Bahar saat kami
berpapasan di lapangan basket sekolah.
"Siapa yang honeymoon sih? Orang aku tuh sakit" bohongku
"Yaelah beb, tampang kaya elo mah tampang jarang sakit, virus, kuman,
bakteri dan kawan-kawannya malah minder ketemu imun elo"
"Itu mah bukan aku tapi kamu kali Har, mereka takut sama tampang kamu"
setelah meledeknya aku berlari menghindari amukan Bahar namun tiba-tiba
saja aku menabrak seseorang.
"Kayanya hobi kamu tuh nabrakin diri ke aku deh Dis" ucapnya sambil
mengelus kepalaku. Sontak sikapnya yang demikian membuatku langsung
mundur beberapa langkah darinya.
"Maaf Stevan, aku gak sengaja. Aku lagi kabur dari.... " belum selesai
omonganku kepadanya tiba-tiba saja Bahar datang sambil menyenggol diriku
hingga terpelanting ke arah samping.
"Morning, my future husband Stevan. Makin sparkling dan glowing aja deh tuh
muka"
"Bahar, kamu mah main dorong-dorong aja untung aku gak jatuh tahu"
ucapku sedikit kesal.
"Ya sorry beb, abis pesona cintaku ini sudah tak terelakkan lagi" dasar Bahar
bucin Stevan. Setelahnya aku pergi menuju ke kelas namun Stevan segera
menahan lenganku.
"Nanti pulang sekolah aku antar ya" tawarnya
"Gak bisa, aku ada les lagian juga nanti dijemput" jelasku padanya.
"Sama om kamu itu?"
"Iya" setelahnya aku melepaskan tangan Stevan di lenganku dan melanjutkan
lagi langkahku menuju kelas tanpa berniat menengok ke arahnya lagi
bersama Bahar yang masih setia berdiri di depan Stevan.
"Kalo yayang mau antar pulang, bebeb Sakura Izone bersedia kok"
"Mending gw antar kuntilanak daripada elo Bahar"
******
Aku menunggu Gadis di depan tempat kursusnya dan mengikuti perintahnya
untuk menunggu di dalam mobil saja. 15 menit kemudian Gadis keluar
dengan wajah sedihnya. Dia masuk ke dalam mobil dan langsung memelukku
menangis.
"Ada apa sayang?" tanyaku lembut sambil membelai pipinya. Gadis tidak
menjawab melainkan hanya memberikan secarik kertas hasil ujiannya. Dapat
ku mengerti kini jika Gadis bersedih karena nilainya yang kurang
memuaskan.
Kubelai rambut ekor kudanya perlahan dengan penuh kasih sayang.
"Gak apa-apa sayang namanya juga belajar nanti Akang bantu belajar di
rumah, gimana?". Gadis sedikit tenang setelah mendengar ucapanku dan dia
kemudian menatapku.
"Akang, minta cium" ungkapnya sambil menunjuk bibir mungilnya. Akupun
langsung menciumnya perlahan namun saat hendak melepaskan tautan bibir
kami berdua Gadis seakan menolak dengan memegang tengkuk leherku agar
ciuman kami semakin dalam. Gadis membelitkan lidahnya di dalam mulutku
dan aku menyambutnya hingga kami berdua pun berciuman cukup lama di
dalam mobil.
"Akang ayo pulang, rindu ibu" ungkap manjanya kembali. Aku langsung
menghidupkan mesin mobil dan melaju ke rumah Maura.
45 menit perjalanan akhirnya kami berdua sampai di rumah Maura. Gadis
masih terlelap dalam tidurnya, terlihat menggemaskan dan damai. Aku
membangunkannya dengan sedikit rasa tak tega.
"Sayang bangun, sudah sampai" Gadis kemudian membuka matanya dan
sigap terduduk.
"Udah nyampe di rumah mbak Maura Kang?"
"Iya, ayo turun"
Dapat kulihat wajah takjubnya melihat rumah Maura yang sangat mewah
karena ini memang pertama kalinya aku mengajaknya ke sini. Aku kemudian
menggandeng tangan Gadis untuk menuju ke dalam rumah Maura. Seorang
pelayan membukakan pintu dan meyuruh kami langsung menuju ke ruang
makan.
"Tuan dan Nyonya sudah menunggu tuan Muda di meja makan" ucap pelayan
tersebut sopan.
Kami melangkahkan kaki ke ruang makan dan sayup-sayup terdengar suara
tawa ibu, Maura dan si berisik Vita.
"Kalian sudah sampai?" tanya ibuku. Aku dan Gadis langsung
menghampirinya dan menyalami tangannya.
"Sini Dis duduk disamping aku. Minggir kamu yah" ucap Vita kepada Gadis
sambil mengusir Darren yang berada di sampingnya.
"Gak usah mbak, aku duduk disini aja deket Akang"
"Duh, gak mau dipisahin nih kayanya" jawab Maura kemudian. Gadis
menunduk dan memegang lenganku pertanda malu setelahnya dapat
kudengar suara berisik dari mertua dan menantu ini untuk kembali meledek
istriku.
"Berisik" ucap Darren setelah sekian lama.
"Udah deh, kamu diem aja" jawab Vita tak mau kalah. Darren hanya
menggelengkan kepala dan melanjutkan bermain dengan anaknya.
Setelah makan malam dan berbincang beberapa saat aku, ibu, dan Gadis
pamit undur diri. Bagaimanapun besok Gadis masih harus sekolah dan ibu
berniat kembali ke Bandung karena ada salah satu pegawainya yang tiba-tiba
masuk ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ibu bercerita tentang kesehariannya hari ini, hal yang
sudah cukup lama tak kudengar dan lakukan karena jarang menemuinya.
Beliau bercerita bahwa seharian ini dia mengajari Maura membuat kue
namun semuanya gagal. Ibu juga mengatakan sangat menyenangkan bermain
dengan anak dan cucu Maura yang menggemaskan, serta ibu bercerita bahwa
Darren masih belum berubah, tetap pendiam seperti dulu bahkan katamya
selama ibu dirumah Maura tadi, dia baru mendengar suara Darren yang
mengatakan berisik dan itupun langsung disuruh diam sama oleh Vita.
Aku memandang ke arah Gadis yang sedari tadi duduk di sampingku. Sejak
tadi tak aku mendengar suaranya yang mana biasanya akan menyahuti cerita
ibu dan benar saja dia telah tertidur kembali
"Gadis sudah tidur ya Mud?"
"Iya Bu, seperti kelelahan"
"Ibu senang karena dia yang menjadi menantu ibu"
"Muda juga bu"
BAB 17
Waktu ujian semester semakin dekat sehingga akhir-akhir ini aku lebih fokus
dan sibuk dalam menyiapkan ujian semester karena bagaimanapun aku tak
ingin mengecewakan Akang dengan nilai yang jelek. Bahasa inggrisku juga
semakin membaik karena Akang benar-benar membantuku belajar di rumah
setidaknya aku harap ketika ujian berlangsung nanti aku tak kesulitan seperti
biasanya dan berakhir dengan remedial.
Aku sedang menunggu Bahar yang katanya ingin pergi ke toilet sejak tadi
untuk merapikan riasannya.
Beb, sekolah itu penting tapi menjaga penampilan di sekolah jauh lebih penting
apalagi kalo banyak cogan di sekitar, itulah perkataan Bahar setiap kali dia
berdandan atau sekedar merapikan riasannya yang cukup membahana itu.
Sambil menunggu Bahar datang kembali aku memilih memainkan
handphone milikku yang kutaruh di saku seragam. Kubuka galeri foto yang
berisi bukan hanya fotoku tetapi juga foto Akang dalam beberapa gaya yang
kuambil secara diam-diam namun foto bertiga milikku dengan Akang dan ibu
adalah favoritku. Foto yang kami ambil di saat liburan dadakan beberapa
waktu yang lalu. Kami berfoto dipinggir pantai di daerah kepulauan seribu
dimana kami bertiga saling berpegangan tangan dan tersenyum ke arah
kamera.
"Kamu lagi liatin apa sih sampai senyum-senyum begitu?" tanya Stevan
sambil ikut duduk di sebelahku dan akupun langsung buru-buru
menonaktifkan layar handphone milikku.
"Gak sopan lihat-lihat" jawabku ketus.
"Maaf deh kalo kamu gak suka sama sikapku barusan aku beneran gak
bermaksud apa-apa kok tapi itu tadi aku gak sengaja lihat, itu kamu lagi foto
sama siapa? ibumu?" Ih, kepo banget sih nih cowok.
"Iya" jawabku singkat. Benarkan beliau ibuku, ibu mertua.
"Pulang sekolah kita makan yuk atau nonton gitu"
"Aku harus pulang, aku gak suka pergi-pergi" bohongku. Aku memang gak
suka pergi kalo bukan sama Akang.
"Sebentar aja, kalo enggak aku anter pulang gimana?" tawarnya kembali
tanpa menyerah.
"Aku lebih suka pulang sendiri"
"Aku punya salah ya Dis? maksudku kamu seperti tidak meyukaiku dan
seakan selalu menghindar" Aku menatapnya bingung. Apa aku keterlaluan?
aku kan hanya tidak ingin pergi jalan-jalan atau sekedar keluar bermain dan
diantar olehnya karena bagaimanapun aku sudah menikah dan memiliki
suami.
"Bukan begitu, aku hanya memang tak suka berpergian dan lebih senang
pulang sendiri maaf kalo kamu tersinggung"
"Jadi kamu gak membenciku?"
"Enggak, lagian kenapa aku harus membencimu?" tiba-tiba Stevan tersenyum
dan harus aku akui bahwa senyumnya tersebut semakin membuatnya
terlihat tampan.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya" dia dengan tiba-tiba mengelus
kepalaku dan jujur aku sangat terkejut dan tidak suka dengan tindakannya
tersebut apalagi dia sudah cukup kurang ajar menurutku, maksudku
bagaimanapun aku sudah ada yang memiliki meski dia tak tau mengenai itu
tapi kan tak pantas jika dia bersikap seperti tadi apalagi kami tak sedekat itu
dan aku memang tak ingin jika ada lelaki lain yang menyentuhku selain
Akang suamiku tercinta.
"Ehem....ehem....misi-misi Sowon Gfriend mau duduk" ucap Bahar
mengagetkan kami berdua dan tanpa rasa bersalah ataupun berdosa dia
menyempil diantara kami berdua.
"Sempit Bahar" ucapku sambil bergeser ke samping.
"Sorry beb, gw suka berada di tengah-tengah"
******
Persoalan proyek di Semarang benar-benar membuatku sakit kepala. Satu
masalah selesai dan masalah lainnya muncul. Tiba-tiba saja warga di sekitar
proyek pembangunan protes dan mengadakan unjuk rasa dan tentunya hal
ini membuat pihak dari perusahaan Richard terus meminta penjelasan
kepadaku.
Siang ini aku ada temu janji dan meeting dengan Richard di kantornya.
Setelah sekian lama akhirnya kami berdua kembali berjumpa. Kutarik nafas
dalam-dalam untuk meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja
dan entah mengapa perasaanku sedikit tak tenang antara gugup dan tak
nyaman. Bagaimanpun aku masih merasa bersalah dengan dirinya namun
kami tetap harus profesional apalagi ini adalah proyek besar yang berkaitan
dengan banyak pihak. Jangan sampai karena masalah pribadi kami semuanya
menjadi kacau dan merugikan orang lain.
Setelah menyampaikan kepada Richard bahwa aku telah tiba dan sudah
berada di depan ruangannya, Jeff mempersilahkan aku masuk dan setelahnya
aku mendapatinya tengah duduk di kursi kebesaran miliknya. Richard duduk
sambil tetap fokus pada layar laptop di depannya. Dia tak banyak berubah
hanya sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Jeff kemudian menyuruhku
duduk di sofa dan dia meninggalkan kami berdua. Aku menunggu Richard
dalam diam. Kuarahkan pandanganku kemana saja asal bukan
kearahnya. Tiba-tiba saja bayanganku dan Richard yang kerap kali
bermesraan di ruangan ini seakan muncul kembali. Kugelengkan kepalaku
dan memutuskan untuk menunduk karena kufikir ini lebih baik.
"Apa kau sakit? kenapa menggerakkan kepala lalu menunduk?" tanya
Richard sambil berjalan ke arah sofa tempatku duduk.
"Tidak, hanya sedikit lelah"
"Maaf menyuruhmu kesini. Jika kau merasa kurang nyaman aku akan
menyuruh orang lain ke depannya"
"Tidak, aku tak masalah. Bagaimanapun kita harus profesional"
"Syukurlah jika begitu" setelahnya kami berdua membicarakan masalah
proyek di Semarang. Sejam berlalu dan aku berniat kembali ke kantor namun
sebelum itu Richard mengatakan sesuatu.
"Bisakah kita makan siang bersama? jika tidak bisa sebagai teman aku tak
masalah jika harus sebagai rekan bisnis"
Aku cukup terkejut dengan keinginannya dan cukup susah menolaknya.
Benar, bagaimanapun masalalu kami sekarang kami hanya rekan bisnis dan
tak lebih.
"Baiklah"
Richard mengajakku makan di restauran favorit kami berdua. Dia bilang dia
sudah lama tak makan disini, tepatnya sebelum aku menghilang tanpa kabar
dan menikah dengan Gadis.
Richard memesankan makanan kesukaanku begitupun dengan dirinya. Kami
Tidak banyak bicara bahkan ketika makanan datang dan kami berdua selesai
memakannya.
"Apa kita benar-benar tidak bisa bersama kembali Muda?" kutatap wajahnya
yang sarat akan kesedihan dan permohonan.
"Maaf Richard, aku ingin melupakan semuanya. Aku bahkan pergi menemui
psikiater kembali untuk membantuku menjalani terapi"
"Kau yakin akan berhasil? Bagaimana jika gagal kembali"
"Yakin, karena sekarang ada seorang wanita yang menunggu dan
mengharapkan cintaku"
"Aku sangsi hal itu, aku mengenal dirimu Muda. Kau tidak menyukai wanita
buktinya dulu kau gagal bahkan untuk sekedar konsultasi"
"Aku menyukai mereka. Ibuku, Maura, Vita, dan Gadis istriku dan masalah itu,
aku yakin kali ini akan berhasil" setelah mengatakan demikian aku pergi
meninggalkan Richard disana. Aku enggan menengok ke belakang. Richard
belum berubah, dia masih ingin aku kembali padanya.
******
Malam minggu ini Akang mengajakku pergi menonton film. Akang juga
memintaku untuk berdandan cantik karena akan makan malam di restoran
mewah, merayakan nilai ujianku yang meningkat apalagi bahasa Inggris yang
untuk pertama kalinya mendapat nilai 90.
"Sudah siap?" tanya Akang kepadaku.
"Cantik gak Kang?" Aku memutar tubuhku di depannya. Aku menggunakan
mini dress selutut berwarna kuning cerah dan mengerai rambut sebahuku
lalu tak lupa flatshoes hitam dan tas selempang berwana kuning yang senada
dengan pakaianku.
Akang mendekat dan mencium bibirku. "Eneng selalu cantik dimata Akang"
gombalnya.
Setelah selesai bersiap-siap kami berdua pergi ke salah satu mall. Oh iya,
malam ini Akang tampil sangat menawan. Kemeja putih dan celana jeans
serta sepatu kets yang membuatnya menjadi lebih muda dari usianya. Aku
sempat ragu haruskah pergi atau tidak karena hingga saat ini aku masih tak
suka jika Akang dipandangi perempuan apalagi pria genit diluaran sana dan
ingin rasanya Akang ku simpan sajadi rumah tapi mana mungkin?
Sesampainya di mall, aku mengandeng tangan Akang erat, menunjukkan
kepemilikan atas dirinya olehku. Aku bermanja-manja kepadanya, entah
mengapa aku suka bersikap seperti ini hanya kepadanya. Biarlah toh dia
suamiku dan aku istrinya serta kami sah secara hukum dan agama jadi tak
masalah jika aku bersikap seperti itu bahkan di depan umum.
Kami kembali menonton film romatis, kondisi bioskop sangat ramai karena
memang sedang malam minggu. Banyak sepasang kekasih yang datang dan
memilih menonton film yang sama dengan kami.
Pintu bioskop masih 15 menit lagi dibuka, Akang pergi membeli makanan
dan minuman untukku. Saat sedang menunggu, tiba-tiba saja seseorang
duduk di sebelahku. Kuarahkan pandanganku kepadanya.
Stevan? Sedang apa dia disini?
"Kamu nonton sama siapa Dis? Bahar?" tanyanya kepadaku namun aku hanya
diam seribu bahasa.
"Kamu makin cantik kalo berdandan seperti ini"
"Kamu ngapain disini Stevan?"
"Nonton. Aku nemenin sepupuku, tuh lagi beli popcorn terus aku ngeliat
kamu. Tadinya aku fikir salah orang makanya aku kesini, eh ternyata beneran
kamu. Kamu belom jawab kesini sama siapa?"
"Sama saya"
BAB 18
"Sama saya"
bocah ini lagi rupanya.
Saat hendak mengantri untuk membeli makanan dan minuman,
pandanganku tak lepas dari Gadis namun saat dia sedang duduk sendirian
tiba-tiba saja seorang pria mendekatinya. Aku secepat mungkin
menyelesaikan pembayaran, bagaimanapun Gadis itu sangat lugu sehingga
aku takut Gadis akan digoda oleh pria aneh.
"Loh om nonton sama Gadis?" tanyanya yang melihatku sedang membawa
popcorn dan soda.
"Iya, kenapa? kamu keberatan?" jawabku sedikit kesal, entah mengapa.
"Eh, enggak om. Maksud saya aneh aja ngeliat keponakan sama om-nya
berduaan di bioskop pas malam minggu gini" dia istri saya bocah bukan
keponakan, runtukku dalam hati tentunya.
"Stevan kamu kemana aja sih? Aku cariin juga dari tadi" Ujar seorang wanita
muda yang terlihat sedikit kesal kepada bocah tengik ini.
"Milly, kenalin ini temanku namanya Gadis dan ini om-nya" Milly menyalami
Gadis lalu diriku namun anehnya wanita ini terus menatapku sedari tadi.
"Salam kenal om. Namaku Milly, sepupu Stevan"
"Iya sama-sama"
Tak lama setelahnya penjaga pintu masuk bioskop membuka pintu dan
menyuruh penonton segera masuk karena film akan segera diputar. Aku
langsung menyuruh Gadis untuk masuk karena entah mengapa aku tak suka
dengan bocah tengik ini jadi rasanya ingin segera pergi dari hadapannya.
"Kamu nonton film ini juga? duduk di kursi mana? siapa tau kita sebelahan"
Gadis melihat tiket menonton kami dan memberitahu dimana kursi kami dan
untungnya berbeda dengan bocah ini.
Di dalam bioskop Gadis lebih banyak diam, entah kenapa. Apa mungkin dia
marah karena aku terlalu lama membeli makanan? Tapi kan antriannya
cukup panjang.
"Kamu kenapa?" tanyaku sambil membelai rambutnya saat film tengah
diputar.
"Gak apa-apa, lagi kesel aja"
"Iya, kesel kenapa? kita kan mau senang-senang katanya"
"Udah gak mood" jawabnya.
Aku hanya bisa pasrah dan menunggunya kembali ceria adalah jalan terbaik.
Wanita dan amarahnya sangat menyeramkan dan jika begini aku teringat
Vita.
******
Aku kesal setengah mati terutama kepada Milly sepupu Stevan yang genit
itu.
Saat dia melihat Akang, tatapannya berubah. Milly menatap Akang terpesona
dan lama. Aku cemburu. Udah gitu Akang menerima uluran tangannya dan
tersenyum pula.
ENENG GAK RELA!
Aku yang tadinya ingin bersenang-senang sambil bermesraan dengan Akang
tiba-tiba jadi sebal setengah mati. Tahu gitu aku gak usah setuju untuk pergi
ke mall.
Akang bertanya keadaanku karena sepertinya dia tau bahwa aku sedang
merajuk. Bukan salahnya memang tapi aku tidak bisa menutupi rasa
cemburuku. Aku cemburu Akang dekat dengan pria tetapi aku juga cemburu
Akang dekat dengan wanita. Aku percaya Akang tapi tidak dengan mereka.
Selama film diputar aku benar-benar tak bisa menikmatinya, film romantis di
depan sana terasa film horor bagiku. Aku ingin cepat pulang. Aku hanya ingin
berduaan dengan Akang di rumah.
Aku memperhatikan Akang yang fokus menonton sambil memakan popcorn,
tampan bahkan disaat suasana gelap seperti ini.
Aku tidak peduli lagi, entah Stevan melihatnya atau tidak karena aku hanya
ingin semua orang tahu termasuk Milly bahwa Akang milikku, punyaku. Aku
bersandar di bahunya sambil menggenggam tangannya dan samar-samar aku
melihat Akang sepertinya sedikit terkejut namun hanya sebentar setelahnya
dia tersenyum.
"Akang, minta cium" ujarku tanpa tahu malu dan tanpa banyak bicara Akang
langsung menciumku cukup lama biarkan saja dikira mesum di bioskop, toh
sama suami sendiri.
"Udah gak marah lagi?" tanyanya setelah kami selesai berciuman.
"Masih, tapi bukan sama Akang" Akang terlihat bingung mendengar
jawabanku
"Terus Eneng marah sama siapa?"
"Sama orang-orang gatel yang mandangin Akang" Akang menarik ujung
hidungku lalu mencubit pipiku gemas.
"Kamu ada-ada saja sayang"
"Beneran Akang, abis ini kita pulang aja ya gak usah makan di luar makannya
dirumah aja"
"Akang sudah reservasi loh lagipula jarang banget kan kita makan di luar?"
"Ya sudah, tapi inget ya Akang gak boleh ganjen sama siapapun"
"Emang kapan Akang ganjen sayang?"
"Tadi, itu ngapain tangannya megang-megang tangan Milly?"
"Bukan pegang-pegang sayang tetapi salaman tanda perkenalan"
"Ck, pokoknya gak boleh bilang aja bukan muhrim" Akang hanya tersenyum
menanggapi kecemburuanku dan setelahnya kami berdua terdiam dan
kembali fokus menonton film. Tanpa aku dan Akang sadari ada sepasang
mata yang sejak tadi memperhatikan kami berdua.
******
Setelah makan malam aku dan Gadis kembali kerumah, malam ini sangat
menyenangkan. Kutemukan sisi baru dari istriku yakni jika di sudah cemburu
sangat menyeramkan. Benar kata Vita, panasnya api neraka terkadang kalah
oleh panasnya rasa cemburu seorang wanita.
Jalanan yang padat karena banyak yang beraktivitas di luar rumah tak
membuatku merasa bosan karena Gadis terus saja bercerita tentang hal
apapun. Mulai dari gebetan baru Bahar yang merupakan adik kelas, tentang
guru bahasa inggrisnya yakni pak Slamet yang kini sering memuji Gadis di
kelas, atau tentang drama korea yang dia tonton akhir-akhir ini bersama
Bahar di sekolah.
"Akang, masa ya sih Bahar sehabis lulus SMA mau ke Korea katanya"
"Oh ya, mau ngapain? kursus make-up?"
"Bukan, mau daftar menjadi trainee di SM biar bisa ketemu Sehun EXO setiap
hari"
"Astaga, anak itu"
"Akang, main tebak-tebakan yuk"
"Boleh"
"Tebak ya Kang, burung- burung apa yang suka pergi ke WC?" Astaga mesti
aku jawab nih?
"Apa memangnya?" tanyaku sok polos.
"Dijawab Akang, masa gak tau sih?"
"Yah burung itu" jawabku sambil menunjuk sesuatu. Gadis mengikuti arah
yang kutunjuk dan kemudian dia memukul lenganku keras.
"Ih, Akang mah serius atuh masa itu jawabannya"
"Terus apaan dong Neng?"
"Burung Pipit" aku diam mencermati jawabannya. Astaga itu maksudnya.
"Lagi ya Kang, serius atuh jawabnya. Hewan-hewan apa yang paling sehat?"
"Singa?"
"Bukan"
"Gajah?"
"Bukan"
"Gorilla?"
"Bukan Akang, nyerah gak nih?"
"Oke Akang nyerah. Memang hewan apa Neng?"
"Ular. Ularaga" astaga Eneng. Jujur ingin rasanya aku tertawa mendengar
tebak-tebakkannya yang sedikit absurd menurutku tapi sebisa mungkin aku
tahan.
"Sekali lagi Kang, kucing-kucing apa yang paling romantis?"
Aku diam sebentar untuk berfikir, memang ada ya kucing yang demikian?
"Anggora? Persia? Kucing kawin?" Jawabku asal. Aku bodoh dalam tebak-
tebakan.
"Salah semua. Yang bener adalah....... Kucingnya padamu Akang" jawabnya
yang membuatku terkejut.
******
Setelah memberikan jawaban atas tebak-tebakan konyol ku Akang hanya
diam dan fokus kejalan raya bahkan hingga sampai dirumah Akang masih
belum berkata apa-apa. Aku kecewa, sedih, marah dan tentu saja malu. Aku
menyatakan cinta tapi Akang malah tak menanggapi apapun.
Sesampainya di rumah aku langsung turun dari mobil dan hendak masuk ke
dalam rumah, sayang kunci rumah ada sama Akang jadi acara merajukku
gagal.
Akang membukakan pintu dan secapat kilat aku langsung masuk ke dalam
rumah. Saat di depan pintu kamar Akang menahan lenganku.
"Kamu marah sama Akang?" Iya, Akang beneran gak tau atau pura-pura gak
tau? ucapku dalam hati karena saat ini aku enggan menjawab
pertanyaannya.
"Lihat Akang sayang" dia menarikku untuk menghadapnya. Kami saling
berpandangan dalam kesunyian.
"Akang gak punya perasaan sama Eneng?" tanyaku berani
"Perasaan cinta maksud Eneng? Apa semua perbuatan Akang tak meyakinkan
Eneng?” tanyanya kepadaku sambil tetap menatap wajahku.
"Eneng gak tau Akang" seketika Akang langsung mencium bibirku, lembut
dan lama.
"Eneng punya Akang" ucapnya disela-sela ciuman kami dan malam romantis
ini kami akhiri dengan penyatuan penuh hasrat keduanya.
Semoga perasaan Eneng terbalaskan, doaku dalam hati.
BAB 19
Kehidupan rumah tanggaku dengan Gadis berjalan baik meski sampai saat ini
kata cinta belum juga terlontar dari bibirku.
Aku tak ingin membohonginya, maksudku aku tak ingin mengatakan I LOVE
YOU namun pada kenyataannya perasaanku belum seperti itu. Aku
menyayanginya namun belum mencintainya. Bukan berarti aku juga masih
ingin bersama Richard ataupun pria lainnya, TIDAK karena aku hanya ingin
bersama Gadis saat ini dan seterusnya.
Sebentar lagi Gadis akan libur semester dan aku berniat mengajaknya
honeymoon karena semenjak menikah kami belum melakukannya. Aku sibuk
bekerja dan dia sibuk sekolah.
Pagi ini aku berniat menanyakannya, apakah ada tempat yang ingin dia
datangi untuk honeymoon kita nanti. Aku tengah bersiap-siap di dalam kamar
sementara Gadis tengah menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Setelah
selesai memasangkan dasi aku berjalan ke ruang makan, disana aku melihat
Gadis tengah mengolesi roti sambil bernyanyi, lucu.
"Akang ayo kita sarapan" ucapnya manja.
Akhir-akhir ini Gadis tak malu lagi untuk menunjukkan sikap dan
keinginannya kepadaku baik itu sikap manja, cemburu, ataupun jika dia ingin
bercinta bahkan Gadis juga tak sungkan lagi mengungkapkan rasa cintanya
kepadaku. Responku? hanya mencium bibirnya sebagai jawaban. Jahat
memang tapi aku tak ingin berbohong.
Kutarik kursi di sampingnya, kukecup keningnya dan Gadis terlihat
tersenyum senang dengan perbuatanku tadi. Ya, dia memang pernah bilang
jika ia menyukai sikapku yang kerap kali mengelus rambutnya dan mengecup
keningnya selain tentunya memanjakannya di atas ranjang, sefrontal itu
memang sikap dan cara bicaranya sekarang kepadaku berbeda saat awal
kami bertemu dan menikah tapi sejujurnya juga itu membuatku lebih senang
dan tenang karena aku tau setidaknya dia berusaha keras dalam rumah
tangga kami dan tentunya bersedia bersama denganku dengan segala
kekuranganku.
"Eneng kapan liburan semesternya?"
"Sebentar lagi Kang, kenapa?"
"Mau ajak Eneng honeymoon kita belom sempat honeymoonkan semenjak
menikah? Eneng fikirkan saja mau kemana nanti Akang yang urus
semuanya"
"Beneran Kang?"
"Iya sayang"
Setelah sarapan seperti biasa aku mengantarnya pergi ke sekolah dan
sepanjang perjalanan Gadis terus saja bercerita tentang kegiatan di
sekolahnya dan pertemanan dengan Bahar. Lama-lama aku merasa ikut
berteman dengan Bahar karena tau semua tentangnya dan kegiatannya.
"Eneng sekolah yang baik ya, yang rajin biar pintar dan ingat jangan nakal.
Akang pulang malam jadi Eneng gak usah nungguin Akang di rumah, makan
saja duluan begitupun tidur. Kalo takut makan sendirian ajak saja Bahar
makan di luar"
"Kenapa gak ajak makan di rumah aja Kang?"
"Enggak boleh sayang. Bahar lelaki dan Eneng perempuan jadi tidak boleh
berduaan apalagi malam-malam, Bahar boleh ke rumah kalo ada Akang.
Mengerti?"
"Iya Akang kalo gitu Eneng sekolah dulu ya. Assalamualaikum"
Setelah memastikannya masuk ke dalam sekolah aku berangkat menuju
kantor. Hari ini jadwalku sangat padat, pagi ini saja aku ada meeting dengan
client. Handphoneku berbunyi menunjukkan nama Vita Charm di layarnya,
dia pasti menelepon untuk menanyakan keberadaanku saat ini.
"Ada apa Vit?"
" . . . ."
"Iya, ini udah otw kok. 20 menit lagi gw sampai"
" . . . ."
"Iya bawel" tuh kan benar dugaanku Vita akan mengomel. Poor darren
sebagai suaminya.
******
Selama jam pelajaran berlangsung aku tidak bisa fokus sama sekali, di
fikaranku hanya ada Akang, Akang, dan Akang. Kayanya beneran deh aku tuh
udah jadi BUCIN kalo kata Bahar. BUCIN: Budak Cinta. Bahkan saat ini aku
sepertinya lebih fokus dan bersemangat memikirkan tempat mana yang ingin
kudatangi bersama Akang untuk honeymoon nanti dibandingkan
memikirkan angka-angka di papan tulis di depan sana, sungguh aku tak bisa
menikmati dan berkonsentrasi dalam kegiatan belajar-mengajar saat ini.
Bel istirahat berbunyi dan aku langsung mengambil handphone untuk
menelepon Akang di dalam tas. Aku keluar kelas meninggalkan Bahar yang
sedari tadi meneriaki namaku dan mencari tempat kosong agar bisa
menelepon Akang tercinta.
"Halo Akang, assalamualaikum"
"..."
"Ini lagi istirahat makanya bisa nelepon. Akang lagi apa?"
" . . ."
"Enggak ada apa-apa cuman mau telepon aja sekalian mau bilang jangan lupa
makan nanti siang ya Akang" ucapku sambil tersenyum-senyum.
Setelahnya aku dan Akang menelepon cukup lama sampai tidak sadar jam
istirahat telah selesai, ya ampun aku belum jajan dan makan.
Aku kembali ke kelas sambil tersenyum, meski lapar tapi hati senang.
"Dari mana lo? Gw panggil-panggil gak nyaut terus gw cariin gak ada" cecar
Bahar saat melihatku kembali ke dalam kelas.
"Ada deh, kepo ih kamu Bahar" dapat kulihat wajahnya yang kesal karena
jawabanku barusan kepadanya.
"Ya udah, jangan marah atuh Bahar nanti aku traktir deh pulang sekolah.
Kamu boleh makan apa saja" dan setalah aku mengatakan hal tersebut Bahar
langsung menoleh kepadaku dengan wajah berbinar
"Beneran ya, awas kalo bohong tapi dalam rangka apa elo traktir beb? Ulang
tahun bukan, dapat nilai bagus juga bukan, atau jangan-jangan syukuran.....
hamil" ucapnya berbisik di akhir kalimat.
"Ih Bahar apaan sih, bukan begitu. Aku tuh lagi gak ingin makan sendirian.
Akang lembur jadi aku mau ajak kamu makan bersama. Ya udah kalo
kamunya gak mau"
"Ih, siapa yang gak mau coba? hari gini masa nolak gratisan sih, rugi tau beb"
Sepulang sekolah sesuai janji, kami berdua pergi ke salah satu restauran di
mall setelah sebelumnya Bahar meminta ditemani ke toko kosmetik karena
mau membeli maskara.
Makanan kami berdua datang, aku dan Bahar langsung menyantapnya
karena jujur saat ini aku sangat kelaparan.
"Har, Akang mau aku ajak honeymoon. Menurut kamu kemana ya?" tanyaku
ke Bahar.
"Elo mau honeymoon? ke tempat yang romatislah, Maldives misalnya. Emang
elo gak punya tempat yang pengen elo datangin banget gitu?"
"Enggak tau aku bingung. Selama sama Akang mah kemana aja aku seneng"
jawabku sambil tersenyum malu.
"Ih, kesurupan setan kasmaran lo. Ke Korea aja beb, biar sekalian gw nitip
skincare"
"Masa aku mau honeymoon malah kamu suruh beliin skincare sih?"
"Sekali mendayung beb, dua tiga pulau terlampaui. Btw gimana saran gw
dulu yang soal hamidun?"
"Aku bingung Har. Aku pengen hamil apalagi hamil anaknya Akang dan biar
gak ada yang ganggu Akang lagi tapi aku kan masih sekolah, sayang bentar
lagi mau ujian nasional" keluhku.
"Iya sih beb, ya udah deh sebaiknya menurut elo aja bagaimanapun gw mah
dukung-dukung aja sebagai sohib lo"
"Tapi aku takut Har, setiap jalan sama Akang terus Akang diliatin cewe lain
aja aku langsung cemburu" apalagi sama cowo ganteng, untuk yang ini aku
ucapkan di dalam hati tentunya.
"Susah sih beb kalo punya laki tampan terus kaya apalagi laki
yang modelannya suami elo. Gw aja suka panas dingin di dekatnya" langsung
saja aku melotot ke arah Bahar, enak saja punya temen sendiri mau diembat
juga.
"Yaelah beb, tuh mata awas keluar. Bercanda kali. Meski perwujudan gw
macem Park Min Young gw paling anti ambil suami orang keleus apalagi
punya temen sendiri, haram bagi diri gw sebagai pelakor".
Tuh kan, aku tuh paling gak bisa dan gak suka kalo Akang digodain sama
siapapun baik cewek cantik apalagi cowok ganteng.
BAB 20
Aku dan Gadis saat ini tengah bersiap-siap menuju bandara Soekarno Hatta.
Gadis sudah selesai dengan ujiannya dan nilainya cukup memuaskan
setidaknya ada peningkatan dalam nilai-nilainyanya terutama dalam
pelajaran bahasa inggris yang selalu dia keluhkan kepadaku karena
mengalami kesulitan.
Beberapa waktu lalu dia mengatakan ingin pergi ke Korea, entah apa
alasannya. Aku mengikutinya saja selama dia senang aku juga senang.
Semua barang bawaan sudahku keluarkan dari bagasi taksi yang kami naikki.
Dapat kulihat wajah bahagia sekaligus gugup Gadis disampingku.
"Kenapa sayang?" tanyaku sambil mengelus rambutnya yang kian panjang.
"Eneng gugup dan takut Akang. Ini pertama kalinya Eneng naik pesawat dan
keluar negeri"
"Jangan takut, pegang tangan Akang aja ya kalo Eneng khawatir dan gugup"
Setelah melakukan Check-in dan lain-lain kini aku dan Gadis sudah duduk di
dalam pesawat. Gadis tak henti-hentinya memandang ke arah jendela sambil
tersenyum. Kupasangkan sabuk pengaman untukknya dan kukecup pipinya.
"Akang kita terbangnya berapa lama?" tanyanya antusias.
"7-8 jam. Kalo Eneng ngantuk tidur aja"
Pengumuman mengenai pesawat akan segera lepas landas sudah terdengar,
Gadis semakin erat menggenggam tanganku. Matanya tertutup dan mulutnya
komat-kamit, mungkin berdoa.
Selama perjalanan tak henti-hentinya dia melihat ke jendela, padahal kami
mengambil penerbangan malam sehingga tak ada yang bisa di lihat kecuali
langit yang gelap atau sesekali kilauan dari pancaran lampu yang terlihat
berkedap-kedip di bawah sana. Gadis bercerita bahwa dulu sewaktu kecil dia
sangat ingin naik pesawat terbang dan ayahnya berjanji akan mewujudkan
impiannya namun sayang semua itu belum terwujud karena kedua
orangtuanya telah berpulang ke Rahmatullah terlebih dahulu.
"Jangan sedih, Akang gak suka ngeliat Eneng bersedih. Akang selalu ingin
membahagiakan Eneng dan membuat Eneng tersenyum" ucapku
menenangkan.
Setelah beberapa saat Gadis tertidur sambil bersandar di bahuku. Ku tatap
wajahnya dalam diam. Cantik, muda, dan menggemaskan. Ku kecup bibirnya
dan kubelai pipinya dan entah sejak kapan hal ini seakan telah menjadi
kebiasaanku jika berada didekatnya.
Aku semakin rajin menjalani terapi, dokter bilang semua ini tergantung dari
diriku sendiri. Aku selalu meyakinkan diri bahwa ada seseorang yang
menunggu cintaku. Aku benar-benar ingin berubah dan aku benar-benar
ingin mencintainya.
Aku sudah tak pernah lagi bertemu dan berkomunikasi mengenai apapun
dengan Richard. Jika ada masalah dalam pekerjaan, Richard akan mnyuruh
sekretarisnya Jeff untuk menemuiku. Aku juga sudah lama tidak datang ke
klub. Beberapa gigolo yang pernah kupakai jasanya sempat menghubungiku
kembali namun aku katakan bahwa aku sudah menikah dan berubah. Aku
benar-benar ingin memutuskan hubunganku dengan masa laluku.
Memikirkannya semakin membuat kegamanganku berkurang. Aku yakin
bahwa Gadis yang saat ini tertidur di sampingku adalah belahan jiwaku, masa
depanku.
******
Kuhirup udara pagi Seoul, dingin.
Aku benar-benar tak dapat menyembunyikan rasa kagumku. Bandara yang
selalu aku lihat saat nonton drama Korea di sekolah dengan Bahar kini ada di
hadapanku dengan suamiku yang juga seperti aktor korea.
Setelah pemeriksaan dan mengambil barang di bagasi aku dan Akang sudah
dijemput pihak hotel tempat kami menginap. Sedari tadi aku sudah banyak
mengambil foto dengan berbagai gaya menggunakan handphone milikku.
Kulihat salju dimana-mana, indah tapi dingin. Aku bahkan sudah memakai 3
baju dan 2 jaket. Akang terus menggenggam tanganku memberikan
kehangatan. Ah, aku terpesona lagi dan lagi dengan suamiku ini.
"Kita ke hotel, sarapan lalu jalan-jalan"
"Kita mau kemana Akang?"
"Taman bermain, Eneng pasti suka" aku mengangguk saja karena selama
dengan Akang aku pasti suka.
Kurebahkan badan di kasur yang empuk dan rasanya tak ingin melepaskan
diri dengan tempat ini dan posisi ini.
Akang memutuskan untuk makan di dalam kamar dibandingkan ke restauran
di lantai dasar, sebenarnya aku juga sudah sangat lelah setelah 8 jam di
dalam pesawat apalagi udara dingin semakin membuatku cepat lapar dan
aku butuh makan sekarang.
"Capek ya sayang?" Aku hanya mengangguk dan Akang ikut berbaring di
sebelahku dan memandangi wajahku. Dibelainya pipiku dan rambutku. Aku
suka Akang yang selalu seperti ini.
"Akang peluk, dingin" ucapku sangat manja. Akang langsung mendekat dan
memelukku erat, harum. Rasanya tak ingin lepas karena kini aku berada di
tempat ternyaman.
Bel kamar kami berbunyi menandakan makanan kami telah datang. Akang
langsung bangun dan membawakannya untuk kami berdua. Akang
menyuruhku duduk di sofa dan mulai menyuapiku. Aku benar-benar
dimanjakan olehnya bagai seorang ratu.
Selesai makan dan membersihkan diri kami pergi ke tempat tujuan. Taman
bermain Everland. Tempat ini sangat indah dan di beberapa sudut telah
dipenuhi salju serta telah dihiasi seindah mungkin dengan dekorasi natal.
Banyak pasangan muda dan keluarga yang datang kesini. Aku dan Akang
mencoba beberapa permainan ekstrim meski sebenarnya Akang enggan
menaikinya namun aku sedikit memaksanya. Mungkin karena faktor U,
Akang cepat sekali merasa lelah.
Setelah makan, Akang langsung menyuruhku untuk pergi ke tempat
selanjutnya dan aku hanya mengikutinya saja. Kami berdua melanjutkan
perjalanan honeymoon kami untuk pergi ke Namsan Seoul Tower.
Ya ampun, ini kan tempat yang sering aku lihat di drama. Bahar pasti iri jika
nanti kuceritakan.
Aku dan Akang naik kendaraan yang seperti kereta gantung menuju atas
tower. Setibanya di atas dapat ku lihat banyak sekali gembok yang terpasang.
Ah, ada adegan dimana pria dan wanita memasangkan gembok mereka disini
lalu kuncinya dibuang aku juga mau yang seperti itu. Pemandangan dari sini
juga sangat indah, aku bisa melihat kota Seoul. Benar-benar menyenangkan.
"Ayo kita pasang" Akang datang dengan membawa gembok dan menuliskan
nama kita berdua. Aku hanya menyaksikan semuanya. Jujur semenjak tiba di
Korea, tak pernah pudar senyum di wajahku sedikitpun dan semua ini karena
sikap perhatian dan romantis Akang suamiku.
Setelah memasang dan membuang kuncinya aku dan Akang saling menatap
satu sama lain. Aku tanpa rasa malu mencium suamiku di tempat umum,
biarlah di dalam drama yang ku tonton banyak kok adegan seperti ini.
******
Malam telah tiba, aku dan Gadis memutuskan kembali ke hotel setelah
mengunjungi beberapa tempat seharian ini. Meski lelah dapat kulihat
pancaran kebahagiaan dari Gadis dimana senyum tak pernah luntur dari
wajahnya sejak pagi dan besok pagi kami berdua berencana akan pergi ke
Pyongchang untuk bermain ski.
Gadis keluar dari kamar mandi dan langsung naik ke tempat tidur dan
memelukku.
"Akang makasih ya, Eneng seneng banget hari ini. Terus besok kita mau
kemana?"
"Kita akan main ski" dia menatapku dengan raut khawatir.
"Tapi Eneng gak bisa mainnya Akang"
"Nanti Akang ajari, jangan takut"
"Emang Akang bisa?"
"Lumayan, Akang sering main dulu"
"Kalo Eneng gak bisa?"
"Ya gak apa-apa, namanya juga belajar mana ada yang langsung mahir"
"Akang, Eneng mau pergi ke istana dong"
"Istana?"
"Iya yang suka Eneng tonton di drama sama Bahar. Eneng mau foto-foto
disana pakai baju Korea, apa namanya Kang?"
"Hanbok"
"Iya itu. Boleh ya Kang?"
"Apapun buat Eneng. Ada lagi yang Eneng inginkan?"
Setelahnya Gadis menceritakan apa-apa saja yang ingin dia lakukan dan lagi-
lagi semua itu berdasarkan drama Korea yang sering dia tonton dengan
Bahar.
"Akang, Eneng mau ketemu BTS"
BAB 21
Perjalanan honeymoonku dan Akang sangat menyenangkan. Akang
memperlakukanku sebagai seorang ratu dimana semua yang aku inginkan
sebisa mungkin dia wujudkan, sayang aku tak bisa bertemu BTS.
Sebenarnya Akang masih mempunyai beberapa hari lagi cuti akhir tahun
tetapi kami memutuskan akan menghabiskan waktu berlibur kami ke
Bandung untuk menemui ibu mertuaku dan merayakan malam pergantian
tahun disana.
Aku sudah membeli banyak sekali oleh-oleh selain gantungan kunci dan
aksesoris, skincare adalah oleh-oleh yang paling banyak kami beli. Mbak
Maura, mbak Vita, dan Bahar sudah mewanti-wanti pesanan mereka sejak
kami berangkat.
Hari ini Akang mau mengadakan acara makan siang bersama di rumah
sekaligus membagikan oleh-oleh katanya, aku juga disuruh mengundang
Bahar untuk datang ke rumah dan aku yakin dia pasti akan merasa senang
karena akhirnya ia bisa datang berkunjung dan masuk ke dalam rumahku
setelah sekian lama keinginanya selalu ku tolak dengan berbagai alasan.
Bukan berarti penolakanku karena tak suka dengan dirinya yang datang
berkunjung akan tetapi memang tak bisa apalagi Akang memang tak
mengizinkan lelaki manapun termasuk Bahar berkunjung jika tak ada dirinya
di rumah sehingga selama ini dia hanya bisa mengantar atau melihat diriku
dari depan pagar kalo aku nebeng dengannya.
Bahar datang terlebih dahulu dia datang dengan tampilan dan dandanan
yang sangat nyentrik khas Bahar.
Setelah mengajaknya berkeliling rumah atas permintaan dia tentunya, kami
berdua kini duduk di taman belakang sambil memakan cemilan yang aku beli
di Korea sebagai oleh-oleh.
"Duh yang abis honeymoon, mukanya mah cerah ceria bersinar ya"
"Masa sih" kupegang wajahku dan tersenyum malu.
"Emang keliatan banget ya Har?"
"Iyalah, mana ada acara honeymoon yang gak menyenangkan"
"Sok tau kamu kaya pernah honeymoon aja"
"Eh, temen-temen suami elo belom pada dateng ya? padahal gw udah laper
banget daritadi apalagi tadi pagi gw sengaja cuman sarapan nasi uduk dan
lontong sayur doang biar nanti bisa makan banyak"
"Itu udah banyak banget Bahar, kamu aja yang kalo makan kaya orang
kesurupan" jawabku heran dengan dirinya dan porsi makannya.
Saat tengah asik mengobrol tiba-tiba saja mas Darren datang sambil
menelepon seseorang, aku yang sudah ingin menyapa langsung
mengurungkan niat.
"Duh beb, itu siapose? ganteng bingits. Ya Allah, apakah ini jodoh hamba?"
Aku langsung memukul lengan Bahar pelan dan berbisik kepadanya, "Jangan
jadi pelakor deh, mas Darren tuh udah menikah dan punya anak"
Setelah selesai menelepon, mas Darren menyapaku dengan wajah datarnya.
"Kamu disini?"
"Siang mas Darren, kapan sampe? yang lainnya mana mas?"
"Barusan, di ruang tengah" jawabnya irit. Setelahnya mas Darren masuk
kembali.
Ya ampun kok bisa sih mbak Vita kuat dengan suami model beginian. Tampan
sih tapi..... pelit bicara.
"Kayanya kita keasyikan ngobrol deh sampe gak sadar udah pada dateng. Yuk
ke depan" ajakku kepada Bahar. Kami berdua kemudian menuju ruang
tengah dan menyapa semuanya.
Setelah berbincang dan membagikan oleh-oleh kami pergi ke ruang makan.
Masakan kali ini Akang beli di luar, Akang bilang dia tidak tega kalo aku harus
masak banyak sendirian seperti dulu. Aduh, bagaimana aku gak makin cinta
coba?
******
Siang ini aku dan Gadis mengadakan makan siang di rumah, sekitar pukul
10.00 pagi Bahar sahabat Gadis sudah muncul di depan pagar dengan
tampilannya yang unik bin nyentrik.
Mereka berdua bersenda gurau di taman belakang, entah apa yang
dibicarakann sementara aku memilih duduk di ruang tengah sambil
mengecek beberapa file pekerjaan. Beberapa saat kemudian kudengar
beberapa suara. Itu pasti mereka.
"Dimana Gadis?" tanya Maura kepadaku
"Sama temennya lagi ngobrol di belakang"
Aku tak langsung memanggil Gadis, mungkin dia dan Bahar sedang
berdiskusi penting. Biarlah.
Semua sibuk dengan kegiatannya. Maura yang sudah hamil besar meminta
suaminya memijat kakinya karena merasa pegal. Si kembar sedang bermain
dengan Vita dan bayinya dan Darren sibuk menerima telepon mungkin
karena terlalu berisik dia pergi ke tempat lain.
Tak lama setelah Darren kembali Gadis dan Bahar muncul. Bahar
mengenalkan dirinya seperti pertama kali kami bertemu.
Banyak hal yang kami bicarakan, aku dan Vita tentu membicarakan
pekerjaan karena bagaimanapun kami berdua adalah seorang workaholic
sementara Maura terlihat asyik mengobrol dengan dua remaja tersebut.
Anak-anak sedang bermain dengan Bram, sementara Darren menonton
televisi.
"Tahun baru nanti mau bikin acara bakar-bakaran gak? tapi dirumah gw aja
ya, ini perut udah makin sulit diajak kerjasama" ucap Maura sambil mengelus
perut besarnya dengan lembut.
"Gak bisa, gw sama Gadis mau ke Bandung kayanya"
"Yaudah, nanti aja kita bakar-bakaran abis kalian balik dari sana. Salam sama
ibu ya Mud"
"Kapan perkiraan lahiran?"
"Dua bulan lagi, cuman kayanya cecar lagi kaya si kembar cuman gw masih
mau usahain normal"
"Udah ketahuan jenis kelaminnya?"
"Belum lihat nanti aja biar surprise, lagian juga mau cewek atau cowok sama
aja. Sedikasihnya sama Allah aja"
"Hamil dan melahirkan itu sakit gak mbak?" tanya Gadis spontan
"Ya sakit cuman setimpal kok apalagi ketika kita lihat anak kita lahir ke dunia
rasanya tuh sulit di jabarkan tapi lebih banyak bahagianya. Kamu sudah ingin
program kehamilan Gadis?"
"Akang bilang tunggu lulus dulu baru nanti dibicarakan lagi mbak" Gadis
menatapku dan aku hanya tersenyum sambil membalas menatapnya.
"Gak apa-apa, apapun itu selama kalian bahagia menjalaninya gak masalah.
Sesiapnya aja" nasehat Maura kepada kami berdua.
Anak
Sejujurnya aku ingin memilikinya sedari dulu. Ketika akhirnya menikah
dengan Gadis keinginan itu semakin kuat kumiliki mungkin dengan
kehadiran seorang anak aku juga akan semakin cepat mencintainya namun
aku tak boleh egois karena Gadis masih sekolah dia juga masih sangat belia
untuk hamil dan melahirkan sehingga aku berusaha menekan perasaan dan
keinginan tersebut sementara waktu.
Aku membayangkan akan jadi sosok ayah yang bagaimana kelak? Apakah
seperti Bram yang penuh perhatian namun sulit melakukan pendekatan
terhadap anak? atau seperti Darren terlihat acuh namun sangat mengenal
anaknya dengan sangat baik?
Apakah nanti aku akan memiliki putra yang tampan? ataukah putri yang
cantik dan menggemaskan? Ah, membayangkannya saja membuatku bahagia.
Andai tuhan memberikanku kesempatan ini lebih cepat.
******
Mendengar pembicaraan antara Akang dan mbak Maura soal hamil dan anak
membuatku kembali memikirkannya. Dapat kulihat Akang begitu menyukai
anak kecil, anak mbak Maura dan mbak Vita juga begitu dekat dengan Akang
bahkan dibanding dengan ayah kandung mereka sendiri. Akang juga terlihat
selalu bahagia jika bermain dengan mereka. Aku yakin jika kami memiliki
anak, Akang akan menjadi ayah yang sangat penyayang.
Melihat perut mbak Maura yang membesar aku jadi membayangkan
bagaimana jika aku hamil. Apakah akan sebesar itu atau justru lebih besar
lagi? Lalu bagaimana tampang anak kami kelak? Cantikkah? Tampankah?
Aku berharap agar segera diberikan kesempatan itu dan sejujurnya aku juga
sudah menghentikan meminum pil yang selalu Akang berikan kepadaku
setiap kami berdua telah selesai berhubungan suami-istri.
Aku sangat ingin mengandung dan melahirkan anak Akang. Masalah sekolah?
Kurang dari 6 bulan lagi aku lulus lagipula aku sudah menikah toh kalo hamil
sudah ada bapaknya.
Semakin hari aku semakin yakin bahwa Akang adalah segalanya untukku.
Bersamanya aku merasa bukan hanya memiliki suami yang akan menjaga
dan menyayangiku namun juga mendapatkan sosok orangtua yang
kurindukan. Bersama Akang aku nyaman, bersama Akang aku merasa lebih
baik, dan bersama Akang aku bahagia.
BAB 22
Pagi pertamaku di tahun baru. Kupandangi wajah tampan Akang yang masih
terlelap tidur di sampingku. Semalaman kami berdua bergadang sampai
pukul 3 pagi karena membicarakan banyak hal.
Ibu sudah tertidur dari jam 9 malam namun menjelang pergantian tahun
kami membangunkannya untuk bermain kembang api bersama sebagai
ungkapan kebahagiaan menyambut tahun yang baru.
"Akang bangun yuk, gak enak sama ibu kalo kita bangunnya kesiangan"
Akang tidak merespon omongannku dia semakin memeluk erat guling yang
sedari tadi ada dalam pelukannya dan bodohnya bisa-bisanya aku merasa
cemburu dengan guling itu.
"Akang ayo ih bangun. Gak enak kalo kita kesiangan"
Akang membuka matanya namun hanya sebentar lalu dipejamkan kembali.
"Gak apa-apa sayang, ibu mengerti kok lagian kita kan tidurnya juga hampir
menjelang pagi" Akhirnya aku membiarkan Akang kembali tidur dan
memutuskan mandi dan keluar bertemu ibu.
Kulangkahkan kaki ke dapur dan taman belakang, biasanya ibu selalu ada
disana entah untuk memasak atau mengurus bunga-bunganya namun ibu tak
ada di kedua tempat tersebut.
Aku kembali teringat kenangan-kenangan yang kumiliki di rumah ini selama
bekerja sebagai seorang pembantu. Meski menjadi seorang pembantu, ibu
selalu baik kepadaku. Apa yang dia beli dan makan akan dia bagi kepadaku
bahkan beliau selalu menyuruhku untuk makan semeja dengannya. Ibu juga
kerap kali membelikanku barang entah itu baju, sepatu atau tas. Ibu bilang
dia dulu ingin sekali punya anak perempuan tapi sayang ayah mertuaku pergi
begitu cepat dan ibu enggan menikah lagi.
Aku duduk di ruang tengah rumah ini, banyak foto ibu dan Akang yang
dipajang. Dari Akang masih bayi hingga foto terakhir kami bertiga saat
liburan ke Pulau Seribu dan dapat kulihat sebesar apa mereka berdua saling
menyayangi. Dulu ibu selalu bercerita tentang Akang. Akang yang beginilah
Akang yang begitulah. Aku sempat tak percaya, mana mungkin ada pria
sesempurna Akang seperti yang dijelaskan oleh ibu dan menganggapnya
hanya sebagai ungkapan kebanggaan layaknya ibu pada umumnya terhadap
anaknya namun kini aku menyetujui semua perkataan ibu dahulu bahwa
Akang memang nyaris sempurna bukan hanya sebagai anak tetapi juga
sebagai suami setidaknya bagiku dan ibu.
Sedari kecil Akang anak yang pintar dan penurut. Akang pandai banyak hal,
pelajaran, olahraga, musik, dan berbahasa. Akang juga sudah mandiri sedari
kecil dia kerap kali membantu ibu berjualan. Katanya waktu kecil hidup ibu
dan Akang sangat susah ibu bahkan pernah berjualan kue keliling sambil
mengendong Akang yang masih bayi. Ibu bekerja keras sampai akhirnya
berhasil membuka toko kue dan Alhamdulillah kini toko kue ibu sangat
disukai dan ramai pembeli bahkan ibu sudah punya merk dagangnya sendiri
dan memiliki 10 cabang. Selain toko kue, ibu juga merambah bisnis
perkebunan. Ibu bilang 15 tahun yang lalu dia membeli sebuah tanah di
perkampungan dan menjadikannya perkebunan aneka sayuran. Sekarang
perkebunan ibu sudah menjadi distributor beberapa restoran besar di
daerah Bandung dan Jakarta.
Saat sedang memandangi foto-foto Akang tiba-tiba saja ibu datang bersama
Parmi, orang yang menggantikan ku bekerja setelah menikah.
"Ibu darimana? Gadis cariin dari tadi"
"Dari pasar membeli ini" ibu menunjukkan beberapa kantong belanjaannya
kepadaku dimana di dalamnya terdapat sayuran, buah dan daging.
"Ibu mau masak makanan kesukaan kalian berdua"
"Ibu istirahat saja biar Gadis yang memasak"
"Gak usah, kamu duduk manis saja atau jalan-jalan dengan Muda. Ibu jarang
masak jadi mumpung kalian disini biar ibu yang masak"
"Tapi ibu nanti lelah"
"Tidak sayang, meski ibu sudah tua tetapi ibu tidak lemah jadi kamu jangan
khawatir"
Setelahnya aku tak berkata apapun lagi sehingga mau tak mau aku menuruti
keinginan ibu. Aku kembali ke dalam kamar untuk membangunkan Akang
namun sepertinya dia sudah bangun dan sedang mandi terdengar suara
gemericik air dari arah kamar mandi.
******
Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang segar. Saat
hendak mengambil pakaian aku melihat Gadis sudah duduk manis di pinggir
ranjang.
"Akang kita jalan-jalan yuk" ajaknya saat aku mengambil kaos di dalam
lemari. Aku memang menaruh beberapa pakaian di sini sehingga jika pulang
ke Bandung aku tak perlu mengkhawatirkan soal pakaian.
"Mau kemana?"
"Kemana aja asal naik motor soalnyakan Eneng belom pernah dibonceng
pakai motor sama Akang" aku mendekatinya lalu mencium pipinya. Harum.
"Tahu dari mana kamu kalo Akang bisa naik motor?" Aku memang sangat
jarang menaiki motor terlebih ketika tinggal di Jakarta bukan karena gengsi
melainkan lebih nyaman saja apalagi jika musim hujan.
"Ibu pernah cerita kalo Akang pernah hampir masuk geng motor tapi gak jadi
karena ada perpeloncoan" aku tertawa mendengarnya memang dulu aku
pernah diajak salah satu teman sekolahku ikut geng motor karena akan
dianggap keren dan bodohnya aku setuju-setuju saja namun saat salah
seorang dari mereka mengatakan ada syarat untuk menjadi bagian geng
yakni harus tahan banting dengan cara mampu bertahan saat di pukul aku
langsung mengurungkan niatku. Aku mau ikut geng motor bukan geng
pegulat.
"Tapi Akang sudah lama sekali tidak naik motor lagian mau naik motor siapa?
Dirumah ini tidak ada motor sayang"
"Pinjem aja Kang sama Kang Ucup diakan punya motor terus nanti kita
naiknya pelan-pelan aja. Mau ya Kang" Gadis merayuku dengan memelukku
erat. Baiklah jika sudah begini aku bisa apa?
Setelah makan siang, aku pergi menemui Kang Ucup yang juga bekerja di
rumah ibu sebagai tukang kebun untuk meminjam motor padanya. Setelah
diizinkan aku dan Gadis langsung berpamitan kepada ibu untuk pergi, entah
mau kemana karena kami berdua hanya berkendara tanpa tahu tujuan. Saat
melihat ada toko bunga Gadispun memintaku untuk berhenti disana untuk
sekedar mampir.
Kami melihat-lihat berbagai jenis bunga, sepertinya Gadis memang sama
seperti ibu yakni sama-sama menyukai bunga. Apa semua wanita demikian
adanya? Ah tidak, Vita benci bunga yang dibikin menjadi buket. Vita pernah
bilang, sama aja gw membunuh makhluk ciptaan tuhan karena dia harus
dipisahkan dari akarnya dan mati dalam kurun waktu beberapa hari saja
setelah di petik, kan gak guna juga jadinya karena ujung-ujungnya masuk
tempat sampah dan dibuang begitu aja sementara Maura alergi terhadap
serbuk bunga namun keduanya sama-sama suka bunga bank sungguh sebuah
ikatan yang kuat antara menantu dan mertua.
"Akang tahu gak arti bunga anyelir?" Gadis menunjuk bunga yang memiliki
kelopak cantik yang bergelombang.
"Tidak, memang artinya apa?"
"Jika warnanya putih maknanya adalah cinta yang murni dan kesetiaan. Jika
warnanya merah artinya rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam dan jika
dua warna artinya aku tidak dapat bersamamu. Terus tahu gak kalo arti
bunga yang ini?" Kali ini Gadis menunjuk bunga berwarna kuning cerah,
sekali lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak tahu.
"Cinta yang sedih. Eneng sangat menyukai bunga ini dulu tapi semenjak tahu
artinya Eneng membencinya"
Setelah puas melihat-lihat kami memutuskan membeli bunga Krisan. Gadis
bilang bunga ini melambangkan kejujuran. Kami kemudian melanjutkan
perjalanan meski sempat berhenti ke beberapa tempat dari mulai toko ikan
hias, toko kue dan berakhir di taman.
Lelah berkeliling seharian kami memilih kembali pulang kerumah sambil
membawa hasil belanjaan kami tadi yakni sebuket bunga Krisan, dua ekor
ikan cupang, dan sepotong cake cokelat.
Tak terasa waktu liburan kami di rumah ibu harus berakhir, setelah
berpamitan pulang kami berdua masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil
untuk kembali ke Jakarta karena mulai besok aku dan Gadis harus memulai
kembali aktivitas kami seperti sedia kala.
"Senang?" tanyaku kepada Gadis yang sedang asyik menatap ke jendela
samping. Gadis menoleh dan tersenyum manis.
"Senang, apalagi pulang-pulang anggota keluarga kita bertambah" ucap Gadis
sambil memamerkan dua ikan cupang yang masih didalam wadah plastik.
Asal kalian semua tahu Gadis memberi mereka nama jahe dan kunyit. Ada-
ada saja.
BAB 23
Semester baru dimulai, aku sengaja datang lebih awal karena jujur aku sudah
sangat rindu dengan sekolahku tercinta. Sebentar lagi aku akan lulus jadi
sebisa mungkin aku ingin menikmati banyak moment selagi sempat.
Dari kejauhan sudah terdengar suara Bahar yang ngebass namun mendayu
saat sedang menggoda beberapa siswa yang nongkrong di depan kelas.
"Morning beb, gimana Bandung?" tanyanya sambil duduk di kursi sebelahku
lalu mengeluarkan kaca dan gincu andalannya.
"Masih pagi Bahar lagian itu aja bibir kamu masih merah merekah nanti kalo
ketahuan guru kamu bisa diomeli lagi gak ada kapok-kapoknya ya kamu"
"Aduh beb, gw tuh beli karena mau gw pake bukan mau gw simpen" dia
kemudian kembali sibuk mengoleskan lipstik ke bibir tebalnya. Dia sangat
menyukai bibirnya, katanya mirip bibir Angelina Jolie.
"Duh tahun baru gw gak seru banget deh beb. Masa nih ya, tahun baruan gw
cuman nontonin pacar di laptop" curhatnya kepadaku.
Selama liburan akhir tahun aku memang jarang mengaktifkan handphone
milikku karena aku ingin menikmati liburanku dan Akang lagipula siapa yang
akan menghubungiku? Handphone milikku hanya menyimpan beberapa
nomer yakni nomer Akang, ibu, mbak Vita, mbak Maura, dan Bahar. Dulu
Stevan pernah memintanya namun tak pernah kuberi.
"Bukannya kamu bilang mau liburan ke puncak terus mau menginap di villa
keluargamu?." Bahar ini juga salah satu anak orang kaya, seingatku ayahnya
adalah salah satu kepala cabang Bank besar di Jakarta dan ibunya adalah
seorang designer ternama tanah air bahkan kedua kakak perempuannya
adalah seorang model internasional.
"Enggak jadi, mami dan papi gw sibuk begitupun kedua kakak gw, sedih.
Padahal nih ya setiap tahun kita selalu bikin acara gitu pas tahun baruan"
"Yah, mungkin memang lagi banyak kerjaan kali Har"
"Yaudah sih ya, yang penting kan ikut meriahkan kegiatan tahun baruan
meski lewat mimpi" Bahar ini tipe orang yang jarang bersedih dia selalu
berfikiran positif dan itu pulalah yang membuatku suka berteman
dengannya. Selain itu Bahar adalah sosok yang sederhana karena meski
berasal dari keluarga kaya raya ia tak seperti kebanyakan siswa di sekolah
ini. Bahar masih setia dengan motor matic pink-nya sebagai alat transportasi
ke sekolah yang mana kebanyakan siswa di sini diantar jemput oleh supir
atau membawa mobil pribadi dan jikapun naik atau membawa motor
tentunya bukan sembarang motor yang aku yakin harganya setara dengan
mobil. Uang jajannya juga tak terlalu beda jauh denganku maksudku uang
jajan yang kudapat setelah menikah dari Akang padahal jika untuk ukuran
anak orang kaya tentunya uang jajan Bahar termasuk sedikit apalagi gaya
hedonisme siswa-siswi di sekolah ini semakin menunjukkan bahwa Bahar
kesulitan dalam uang jajan sehingga jika dirinya menginginkan sesuatu
seperti lipstik, Bahar harus menghemat sehingga tak jarang kami kerap kali
memilih jajan di pinggir jalan di dekat sekolah setiap sepulang dari sekolah
dibandingkan makan di cafe seperti siswa lainnya.
"Beb, tadi gw lihat si Stevan di lorong gedung sebelah dan elo tau dia lagi di
tembak sama Laura anak kelas 12 IPS 3 yang cantik banget itu"
Laura, siapa yang tidak kenal dengan dirinya bahkan aku yang jarang bergaul
di sekolah pun tahu tentangnya. Mantan ketua cheerleader, siswi paling
cantik dan gaul di sekolah, anak pemilik yayasan, dan seorang selebgram.
"Bukannya kamu pernah cerita ya kalo dia pacaran sama kak Tio? anak futsal
yang pernah kamu taksir dulu"
"Udah putus kali beb, udah lama itu. Nih ya, gw dengar-dengar katanya tuh
sebenarnya Laura itu udah naksir lama sama Stevan bahkan sejak kelas satu
tapi Stevan selalu dingin dan cuek makanya Laura milih pacaran sama cowo
lain. Cuman katanya lagi, itu semua sekedar pelampiasan dan cara membuat
Stevan cemburu tapi sayangnya gagal. Bahkan nih ya, pernah dulu pas kelas 2
dia pacaran sama sahabat Stevan. Elo tau Ando kan? Mereka pacaran 4
bulanan gitu tapi ujung-ujungnya putus dan bahkan tuh berita pernah heboh
dimasanya soalnya setelah putus dari Laura Ando berantem sama Stevan
cuman yah cowok kali ya abis main gebuk-gebukkan ya udah selesai. Beda
sama kita kaum hawa beb, kalo berantem sampai kiamat juga belum tentu
saling memandang".
"Terus diterima?" tanyaku penasaran
"Enggaklah, ditolak mentah-mentah. Aduh malu banget deh tuh si Laura tapi
gw bingung deh beb, yang modelan Laura aja ditolak apalagi kita ya?" Eh elo
kan gak masuk itungan ya kan udah sold out".
Tak lama bel masuk berbunyi, aku dan Bahar langsung diam karena pak
Slamet sudah masuk ke dalam kelas dan kami pun memulai kegiatan belajar-
mengajar kembali.
******
Aku sedang memeriksa beberapa file mengenai proyek baru yang harus
segera aku tangani namun tiba-tiba pintu ruangan diketuk oleh seseorang.
"Masuk" perintahku. Kulihat Vita masuk sambil membawa dua kantong berisi
makanan dan minuman.
"A’, nih gw bawain makanan dan minuman buat elo. Pasti elo lupa deh kalo
udah jam makan siang" kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul
13.00 lewat selalu begitu jika aku terlalu fokus bekerja.
"Thanks, udah makan?" tanyaku sambil berjalan ke arah sofa dimana Vita
sedang duduk.
"Udah, tadi mau ngajak makan bareng tapi gak jadi soalnya anak-anak gak
mau kalo makan siang bareng bos, katanya nanti yang ada tuh makanan gak
bisa dicerna dengan baik kalo elo ikutan"
"Memang gw semenakutkan itu apa? masih galakkan elo kali. Enggak inget lo
gimana garangnya elo sama cowo dulu?"
"AA’ yang selalu membahas soal pekerjaan bahkan di jam istirahat itu sangat
menyebalkan, tau. Lagian gw mah dulu cuman gahar sama cowo yang suka
gw doang kali A’" elaknya.
"Vit, gw mau curhat dong" ucapku padanya. Vita adalah teman yang sangat
enak untuk diajak berdiskusi mengenai apapun yah, kecuali soal asmara tapi
dia paling baik untuk menjadi pendengar termasuk kisah cinta.
"Apa sih? kayanya serius banget"
"Soal Gadis"
"Kenapa? bukannya hubungan kalian baik-baik saja selama ini?" terlalu baik
malah ucapku dalam hati.
"Hubungan kami baik tapi sampai saat ini gw belum bisa mengucapkan kata
cinta untuknya" Vita terdiam sesaat untuk berfikir.
"Maaf ya A' gw nanya begini tapi elo gak ada niatan balikan sama pak Richard
kan?"
"Enggak" jawabku cepat
"Menjalin hubungan dengan para gigolo yang dulu?"
"Apalagi itu. Elo tau kan gw bahkan ikut terapi dan berkonsultasi ke
psikiater. Gw benar-benar ingin memulai semuanya Vit gw gak mau
menyakiti siapapun. Gadis sudah banyak berkorban buat gw dan ibu"
"A', cinta itu banyak wujudnya dan bahkan kadang kita gak sadar kalo kita
sudah jatuh cinta dengan seseorang jadi jawaban terbaik adalah jalani saja
semuanya. Elo punya niat untuk mencintai dan berubah aja menurut gw udah
bagus, tinggal bagaimana kalian berdua ke depannya untuk terus saling
mengerti dan belajar saling menerima. Cinta itu wujudnya abstrak A’ kalo
menurut gw sulit di jelaskan karena gak sesimple itu"
"Kalo sampai kapanpun rasa cinta itu tidak pernah muncul?"
"Jalani saja dulu A' nanti jawabannya akan muncul".
******
Hari ini aku dan Bahar ingin pergi ke mall. Aku berniat membeli novel dan
Bahar membeli lipstik baru. Kadang aku heran sering banget kayanya dia
membeli lipstik. Itu dipakai atau dimakan? Aku saja satu belum habis-habis.
Saat sedang menunggu Bahar yang katanya mau merapihkan bulu matanya di
kamar mandi, aku melihat Stevan sedang bermain basket seorang diri di
lapangan sekolah dan tanpa sadar aku terus menatapnya dan memikirkan
perkataan Bahar tadi pagi.
"Setau gw tuh ya, Stevan itu gak pernah pacaran padahal banyak cewek yang
suka dan menyatakan cinta sama dia, sebelas dua belaslah kaya Laura". Cerita
Bahar tadi pagi. Apa Stevan juga seperti Akang dulu ya tidak menyukai
wanita cantik melainkan pria tampan?
Terlalu larut memikirkan hal tersebut tanpa sadar Stevan sudah duduk di
sebelahku. Aku yang terkejut karena keberadaannya langsung menatapnya
bingung.
"Hari ini kamu gak dijemput sama om kamu Dis?"
"Enggak, aku sama Bahar mau pergi ke mall"
"Mau ngapain?"
"Beli novel dan lipstik"
"Boleh ikut?"
"Siapa? kamu?" Stevan menggangguk. Aku berfikir apa tidak masalah jika
Stevan ikut kami berdua tetapi sepertinya dia sedang sedih. Ada apa?
"Tapi kita naik motor, masa mau bonceng tiga?" Kilahku
"Nanti aku ikutin kalian dari belakang, gimana?"
"Yasudah ikut saja tapi kalo kamu bosen jangan nyalahin aku ya" tak lama
Bahar muncul dan dirinya sudah selesai berdandan terlihat dari lipstiknya
yang merah menyala dan pipinya yang seperti abis di pukuli banyak orang.
Setelah membeli apa yang kami inginkan, kami bertiga pun pergi ke salah
satu tempat makan karena memang perut yang sudah harus di isi.
"Kamu beli lipstik banyak banget Har?" tanya Stevan sambil melihat-lihat isi
belanjaan kami.
"Yang ini buat ke sekolah, ini buat ke mall, ini buat les, terus yang ini buat di
rumah" jelasnya.
"Oh iya Stevan, tadi pagi katanya elo di tembak Laura ya?" tanya Bahar
langsung. Stevan yang mendengar pertanyaan Bahar hanya mengangguk lalu
menghela nafas dalam-dalam.
"Udah nyebar beritanya ya?" Stevan bertanya sambil melihatku.
"Hot topik hari ini" ucap Bahar menggebu.
"Iya, tapi gw tolak"
"Kenapa? Laura kan cantik?" Entah kenapa aku jadi ikutan bertanya.
"Maaf" cicitku saat sadar telah terlalu ikut campur
"Ada perempuan lain yang aku suka dan aku harap dia juga suka sama aku"