BAB 24
Aku memasuki rumah tepat pukul 7 malam dan ketika tiba disana suasana
masih terlihat gelap gulita karena sepertinya Gadis belum juga pulang. Tadi
siang dia sudah meminta izin kepadaku untuk pergi ke mall dengan Bahar
karena ingin membeli novel sekaligus jalan-jalan.
Kulepaskan ikatan dasi yang terasa mencekik leherku seharian ini.
Kunyalakan tv meski tak kutonton sama sekali, setidaknya rumah ini tak
begitu sunyi. Aku kemudian berjalan menuju arah dapur untuk mengambil
minuman dingin dan setelahnya aku kembali ke ruang tengah.
Aku mengirimkan pesan kepada Gadis untuk menanyakan apakah dia masih
lama atau sudah dalam perjalanan pulang namun pesanku belum juga dibalas
dan karena terlalu khawatir aku pun menelponnya namun sekali lagi aku
harus kecewa karena Gadis tak bisa dihubungi. Disaat seperti inilah
terkadang aku menyesal tak pernah meminta nomer telepon Bahar
kepadanya.
Tak lama aku mendengar suara motor dan langsung saja kulangkahkan kaki
untuk melihat siapa yang datang. Dari balik jendela aku melihat Gadis yang
sedang turun dari motor bocah tengik yang bernama Stevan itu.
Bukannya dia bilang pergi dengan Bahar?
Pintu rumah terbuka, Gadis terkejut mengetahui aku berdiri di dekat sana.
Aku memandanginya lekat tanpa senyuman dan tanpa sapaan hangat seperti
biasanya. Gadis kemudian mendekat dan menyalami tanganku.
"Akang kapan pulang? sudah makan?"
"Kenapa bisa diantar Stevan? katanya pergi sama Bahar?"
"Iya tadi rencananya juga pergi sama Bahar doang terus tiba-tiba Stevan mau
ikutan jadinya Gadis gak enak nolaknya. Kalo masalah dianter pulang tadinya
juga mau sama Bahar tetapi dia tiba-tiba di suruh pulang cepet sama
maminya, Gadis jadi gak enak kalo minta dianterin. Ya sudah mau tak mau
Gadis ikut Stevan untuk diantar pulang" ceritanya panjang lebar.
"Kenapa handphonenya gak aktif?" Gadis kemudian membuka tasnya dan
mengambil handphonenya yang ternyata mati.
"Baterainya habis dan Enengkan gak pernah bawa charger atau powerbank"
Aku menarik nafas lalu menariknya ke dalam pelukanku dan kuusap
rambutnya perlahan.
"Lain kali bawa charger atau powerbank biar handphonennya gak kehabisan
baterai, Akang sangat khawatir. Tahu?"
"Maaf Akang"
"Akang bukannya marah Neng, Akang hanya gak suka kalo Eneng gak bisa
dihubungin seperti tadi"
"Iya Akang" Aku kemudian mencium bibirnya dan dia kembali tersenyum.
"Sudah makan?" tanyaku kembali
"Sudah tadi di traktir Bahar katanya traktiran buat 10 subscriber channel
YouTubenya"
"Dia punya channel YouTube?"
"Punya, isinya ya gitu tutorial make-up"
Siapa yang mau menonton kalo make-upnya seperti itu?, tanyaku dalam hati.
******
Setelah mandi dan mengerjakan PR aku bersiap pergi tidur namun Akang
masih di ruang kerjanya. Sepertinya pekerjaannya masih banyak dan aku tak
ingin menganggunya.
Tiba-tiba saja aku teringat dengan perkataan Stevan saat di restauran tadi.
Setidaknya kekhawatiranku bahwa Stevan tidak menyukai wanita itu salah
besar karena jelas-jelas dia bilang sedang menyukai wanita. Tapi siapa? Apa
lebih cantik dan populer dari Laura makanya dia menolak wanita itu?
Karena belum mengantuk juga akhirnya aku memilih untuk membuka dan
memainkan handphone milikku. Saat acara makan siang terakhir kali di
rumah, Bahar membuatkanku instagram. Baru satu foto yang ku upload yakni
fotoku, ibu, dan Akang tempo hari saat berlibur ke Pulau Seribu dengan
caption keluarga.
Orang-orang yang ku follow juga belum banyak yakni hanya Akang, mbak
Maura, mbak Vita, Om Bram dan tentu saja Bahar. Entah mengapa tiba-tiba
saja aku menjadi penasaran dengan isi instagram mereka.
Yang pertama kubuka adalah Bahar, isinya tidak jauh dari foto selfienya
dengan berbagai gaya dan juga kehaluaannya dengan artis-artis Korea yang
dia edit. Ada sekitar 1000-an foto, astaga.
Kedua ada mbak Maura dan aku cukup takjub dengan isinya. Kebanyakan
adalah foto-foto mbak Maura yang sedang berlibur bersama keluarganya
atau berfoto dengan gaya sedang menenteng banyak kantong belanjaan
merek terkenal dan tak lupa barang-barang mewahnya. Akang pernah cerita
bahwa mbak Maura itu seorang shopaholic. Semua fotonya terkesan mewah
dan cantik. Ada sekitar 500-an foto.
Ketiga, Om Bram. Fotonya lucu-lucu. Kebanyakan foto selfie yang hasilnya
kadang blur atau menampilkan kesan foto yang diambil secara asal. Tidak
terlalu banyak hanya sekitar 50-an.
Keempat mbak Vita, tidak ada foto selfie hanya foto berupa pemandangan,
makanan atau foto orang-orang dengan segala aktivitasnya. Cukup banyak
sekitar 200-an.
Dan terakhir Akang, hanya ada tiga foto. Foto pertama foto ibu mertuaku
dengan caption ibu. Kedua, foto Akang dengan mbak Vita dan mbak Maura
dengan caption-nya sahabat, dan terakhir foto sebuah tangan dengan cincin
tanpa caption apapun.
Apa ini tangan Akang?
Ah, tak banyak foto di instagramnya padahal aku kira bisa melihat-lihat foto
Akang. Setelah bosan memainkan handphone aku langsung mematikan
lampu dan pergi tidur.
******
Kupandangi box yang masih kusimpan di laci meja kerjaku setelahnya aku
keluar menuju tempat sampah di depan rumah. Kubuka box tersebut dan
kurobek foto didalamnya setelahnya aku buang seluruh isinya. Selamat
tinggal masa lalu.
Setelah membakar semuanya aku kembali ke dalam kamar dan sepertinya
Gadis sudah tertidur dengan sangat nyenyak. Saat sedang ingin memejamkan
mata suara handphone milik Gadis berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Aku mencoba mengabaikannya namun tak hanya satu pesan tetapi beberapa
pesan masuk. Karena penasaran dan takutnya penting aku mengambil
handphone tersebut di atas nakas. Sebuah nomer asing dengan sebuah pesan
yang dapat kubaca sekilas, ini aku Stevan.
Aku penasaran tapi ragu untuk membukanya bagaimanapun itu privasi Gadis
tapi aku suaminya, aku bingung. Sudahlah besok pagi saja aku tanyakan aku
tak ingin menjadi suami yang suka mengotak-atik handphone istriku tanpa
seizinnya.
Pagi Hari
Saat sarapan aku terus memandangi istriku yang sibuk dengan roti selai
cokelatnya dan saat telah selesai dia mengambil handphone yang sedari tadi
dia taruh di meja makan.
Sepertinya dia sudah membaca pesan dari pria bernama Stevan semalam
terlihat dari jari-jarinya yang seperti sedang menuliskan sesuatu.
"Apa ada hal penting? tumben kamu main handphone pagi-pagi?"
Selama ini memang Gadis jarang bermain handphone dalam artian chatting
dengan orang lain. Selain aku, ibu, dan Bahar yang kerap kali memberinya
pesan dia hanya sesekali chatting dengan Vita dan Maura.
"Stevan semalam mengirimi pesan dia memberitahu nomernya Kang dan aku
disuruh simpan. Boleh?"
Apa aku bisa menolak jika dia jujur begini?
"Tak masalah toh kalian bertemankan?"
"Tidak juga" jawabnya cepat.
"Maksudnya?"
"Eneng jarang ngobrol sama stevan Kang lagian juga beda kelas yang
namanya teman tuh kaya Eneng sama Bahar atau Akang sama mbak Vita dan
mbak Maura" jelasnya. Aku tersenyum mendengar jawabannya.
Apa yang kupikirkan coba?
BAB 25
Sejak tadi pagi Bahar tidak banyak bicara seperti biasanya setiap kutanya dia
hanya menjawab tidak apa-apa. Apa ini terkait dengan perintah orangtuanya
yang kemarin menyuruh pulang cepat?
Sampai jam istirahat Bahar masih tetap diam bahkan dia tidak
memperdulikan gincunya yang sudah memudar padahalkan biasanya Bahar
paling tidak suka kalo warna bibirnya tidak merah.
Aku mengajaknya ke kantin namun sekali lagi dia menolak dengan alasan
tidak lapar. Aku meninggalkannya sendirian dikelas selain karena aku
memang sangat lapar, aku juga tidak ingin mengganggunya aku yakin dia
akan bercerita jika ingin.
Saat sedang berjalan seorang diri tiba-tiba saja ada yang memanggil namaku.
Kutengok ke kanan dan ke kiri serta belakang ternyata Stevan dan kedua
temannya.
"Mau kemana?"
"Kantin"
"Sendirian? Bahar kemana? Biasanya selalu berdua"
"Dia katanya gak lapar jadi aku perginya sendirian"
"Yaudah bareng kita aja, gak apa-apa kan guys?" Kedua temannya hanya
mengangguk tanda setuju. Aku ingin menolak karena merasa tak nyaman
namun ragu mengatakannya dan tanpa menunggu jawabanku Stevan
langsung menarik tanganku dan secara reflek aku melepasnya dengan
cepat. Dia dan ketiga temannya cukup terkejut dengan responku berusan,
apa aku sudah berlebihan?
"Ayo, nanti keburu ramai" ucapku mengalihkan rasa takut yang tiba-tiba
muncul.
Kami berempat berjalan ke kantin. Entah perasaanku saja atau memang
demikian, aku merasa diperhatikan oleh siswa-siswi lainnya.
Saat dikantin aku memesan nasi dan soto serta es teh manis. Aku makan
dengan sangat lahap tak ada kesan jaim meski ada tiga pria tampan
disekelilingku.
"Pelan-pelan Dis gak ada yang bakalan minta kok lagian kalo masih lapar
nanti tambah aja, aku yang bayar. Nanti perut kamu sakit karena makan
buru-buru atau enggak tersedak" ucap Stevan sambil menatapku. Aku yang
ditatap demikian merasa canggung dan membuatku langsung tersedak.
Stevan reflek memberikanku minum dan menepuk punggungku.
"Tuh kan baru juga dikasih tahu" omelnya. Setelah mengucapkan terima
kasih aku kembali fokus pada makanan milikku tapi dengan ritme yang lebih
pelan.
Setelah makan kufikir Stevan dan kedua temannya tidak akan mengikutiku
namun semuanya salah. Mereka bahkan mengajakku ke pinggir lapangan
untuk duduk menikmati sisa waktu istirahat. Aku ingin menolak tapi bingung
bagaimana caranya.
Ketiganya membicarakan soal basket dan tugas sekolah dan sesekali
mengenai game atau modifikasi motor. Aku hanya diam mendengarkan tanpa
mengerti isi dari pembicaraan ini.
Aku memandang ke arah lapangan melihat siswa-siswa lain yang sedang
bermain basket, futsal atau sekedar jalan dan duduk di pinggir lapangan
seperti kami.
"Semalam kamu gak diomeli sama om kamu kan pas tahu aku yang antar?"
tanya Stevan mengangetkanku.
"Oh, apa? Eh, enggak kok. Aku bilang kalo Bahar disuruh pulang cepet jadi
kamu yang anterin aku" jujurku.
"Lain kali aku boleh main ke rumah kamu?"
"Apa? Hmm, nanti aku tanya dulu ya"
"Ke om kamu?"
"Iya" aduh aku merasa bersalah karena memanggil suamiku dengan sebutan
om. Maaf Akang.
"Kamu suka bunga ya Dis?"
"Kamu tahu dari mana?"
"Casing handphone kamu bunga, tas kamu ada motif bunganya, terus itu
kunciran kamu juga bunga. Oh iya, aku bahkan pernah liat dompet kamu juga
gambar bunga"
"Iya aku suka bunga tapi gak ada yang spesifik sih semuanya aku suka"
"Kalo boneka?" Aku terdiam sebentar.
"Gak tau, aku juga gak pernah main boneka dari kecil"
"Terus waktu kecil kamu main apaan? Biasanya anak perempuan main
boneka kan?"
"Iya, tapi dulu bapak dan ibuku tidak mempunyai banyak uang jadi daripada
uangnya buat beli boneka mendingan buat makan. Palingan waktu masih
kecil aku main gundu, layangan, atau enggak main taplak gunung" ceritaku
"Sorry, terus orang tuamu masih tinggal di Bandung atau bagaimana?
maksudku Bahar pernah bilang kalo kamu pindahan dari sana"
"Mereka udah gak ada sejak aku kelas 1 SMA"
"Sorry, aku gak tau" sesalnya.
"Gak apa-apa, kamu tenang aja"
"Terus foto perempuan tua yang pernah aku lihat bukannya kamu bilang itu
ibumu?" Cecarnya, ya tuhan aku harus bilang apa?
Tak lama bel masuk berbunyi dan jujur aku merasa seperti baru saja selamat
dari maut dan tanpa menjawab pertanyaan Stevan sebelumnya aku langsung
undur diri dan lari menuju kelas.
Sesampainya di dalam kelas, aku menghembuskan nafas lega namun saat
melangkahkan kaki ke tempat dudukku dan Bahar, aku tak mendapati Bahar
sedang ada disana seperti sebelumnya. Apa dia ke kantin?, tanyaku dalam
hati.
Karena penasaran aku bertanya kepada Nancy yang duduk di belakang kami.
Nancy bilang Bahar izin pulang karena sakit akupun yang mendengar hal
tersebut langsung meneleponnya namun tak diangkat tak lama guru
sejarahku sudah masuk dan akhirnya aku hanya mengiriminya pesan
menanyakan kabarnya, apa dia sakit atau bagaimana.
******
Aku pulang dengan membawakan es campur untuk Gadis karena tadi pagi dia
bilang ingin dibelikan ini jika aku pulang kerja nanti. Aku masuk ke dalam
rumah dan mendapatinya sedang menelepon dapat kudengar nama Bahar
yang dia sebut.
Gadis melihatku dan tak lama dia menghentikan aktivitas meneleponnya.
Gadis datang mendekatiku yang tengah minum di depan kulkas dan langsung
menyalamiku dan memelukku.
"Teleponan dengan Bahar?" tanyaku basa-basi
"Iya, tadi dia pulang cepet makanya Eneng telepon takut Bahar kenapa-
kenapa. Akang bawa apa? tunjuknya ke bungkusan yang kutaruh di atas meja
makan.
"Es campur pesanan Eneng tadi pagi. Akang juga beliin martabak cokelat keju
kesukaan Eneng"
Dia langsung melepas pelukan kami dan berjalan menuju meja makan untuk
membuka bungkusan yang kubawa. Gadis tersenyum dan langsung kembali
memelukku.
"Akang mandi dulu setelah itu kita makan malam baru makan cemilan yang
Akang belikan"
Setelah mandi dan makan makan malam, kami berdua kini duduk di balkon
kamar sambil menikmati es campur dan martabak dan dengan manjanya
Gadis meminta dipangku olehku.
"Enak gak martabak dan es nya?"
Dia mengangguk karena tidak bisa bicara efek mulut yang kepenuhan
makanan. Aku membelai pipinya dan rambutnya seperti biasa.
"Tadi di sekolah ngapain aja?"
"Belajar terus pulang. Tidak seru karena tidak ada Bahar"
"Emang Bahar sakit apa? Kata kamu dia jarang sakit?"
"Gak tahu, dia belom mau cerita. Katanya cuman migrain. Akang di kantor
ngapain aja?"
"Kerja" jawabku singkat.
"Ih, tahu kerja tapi kerjanya ngapain aja?" ucapnya sedikit kesal dengan
memanyunkan bibir mungilnya. Kukecup bibirnya lalu ku gigit tanda gemas.
"Sakit Akang ih" omelnya
"Tadi pagi Akang ada meeting sama client sampe siang terus makan siang
abis itu ke lapangan buat ngecek perkembangan proyek di Tanjung Priuk
sama Vita setelahnya balik ke kantor buat meriksa laporan karyawan lain"
"Pasti capek ya Kang"
"Enggak juga lagian yang namanya kerja pasti capek sayang"
"Akang mau dipijetin gak?" tawarnya
"Gak usah nanti malah kamu yang jadi capek" namun meski kutolak dia tetap
saja memijat bahuku dan lenganku. Awalnya pijatan biasa namun lama-
kelamaan menjadi seperti sebuah godaan untukku.
"Akang bobok yuk" pintanya sambil mengalungkan lengannya ke leherku.
Aku menatap wajahnya yang merah padam dan sedikit sayu. Aku membelai
pipinya kembali
"Mau bobok beneran atau bobok yang lain?" godaku. Gadis tersenyum lalu
membenamkan wajahnya di curuk leherku lalu menjilatinya disana.
"Mau main dulu tapi" ucapnya menggoda.
BAB 26
Dua hari ini Bahar tidak masuk sekolah dengan alasan sakit dan hal tersebut
benar-benar membuatku merasa khawatir. Selama ini Bahar selalu bilang
bahwa ia memang tipe orang yang jarang sakit bahkan dirinya mengaku ingin
mencoba pingsan ketika upacara sekolah tapi tak pernah berhasil sehingga
mengetahui Bahar yang sudah dua kali tak masuk sekolah dengan alasan
sakit serta melihat dirinya yang akhir-akhir ini sedikit berbeda benar-benar
membuatku penasaran akan kondisinya. Aku sudah meminta izin kepada
Akang jika hari ini Bahar tidak masuk sekolah kembali aku ingin
menjenguknya dan Akang pun mengizinkan bahkan tadinya Akang juga
menawarkan untuk mengantarku namun aku tahu akhir-akhir ini
pekerjaannya sangat banyak sehingga aku menolak tawarannya.
Sepulang sekolah aku sudah bersiap untuk pergi ke rumah Bahar bahkan aku
sempat menanyakan alamat Bahar ke wali kelasku dengan mengatakan ingin
menjenguknya serta memberikan beberapa catatan pelajaran agar dia tak
tertinggal. Di saat sedang menunggu ojek yang biasa mangkal di halte dekat
gedung sekolah tiba-tiba saja Stevan dan motornya sudah berhenti di
depanku.
"Mau pulang? ayo aku antar" tawarnya
"Enggak, aku mau ke rumah Bahar. Dia sudah 3 hari tidak masuk sekolah jadi
aku mau menjenguknya"
"Ya sudah naik, biar aku antar sekalian ikut menjenguknya" aku sempat ragu
tapi aku fikir Bahar pasti akan merasa senang karena akan dijenguk oleh
seseorang yang selalu dia sebut sebagai my Future husband dan siapa tahu
setelah dijenguk oleh Stevan, Bahar menjadi cepat sembuh.
Aku naik ke atas motornya lalu memakai helm pemberiannya. Seperti
sebelumnya, Stevan memintaku berpegangan karena akan mengebut. 20
menit kemudian kami telah tiba di rumah Bahar dimana dapat kulihat
rumahnya sangat besar dan mewah.
Kami memencet bel rumahnya dan tak lama seorang satpam penjaga keluar
dan menanyakan keperluan kami. Setelah memberitahukan maksud
kedatangan kami dan melihat seragam sekolah yang kami gunakan akhirnya
sang satpam tersebut pun mengizinkan kami untuk masuk. Saat didepan
pintu masuk rumah Bahar ada seseorang yang kembali menyambut
kedatangan kami.
"Kalian temennya den Kama?" tanya wanita tersebut. Aku sempat ragu untuk
menjawabnya namun teringat nama panjang Bahar yakni Baharudin
Kamajaya aku langsung tahu siapa yang beliau maksud.
"Iya, bu." Jawabku dan Stevan.
"Ayo masuk non-den. Silahkan duduk biar saya panggil den Kamanya".
Setelah mengucapkan hal tersebut, wanita yang ternyata merupakan salah
satu asisten rumah tangga di rumah Bahar pun pergi menuju lantai dua
dimana mungkin kamar Bahar berada dan tak lama Bahar pun turun
menemui kami dengan piama hello Kittynya.
"Kamu sakit apa Bahar? Kenapa gak masuk sekolah?" tanyaku langsung
setelah Bahar duduk di sebelahku.
"Gak apa-apa beb, cuman migrain aja nih kepala barbie"
"Masa migrain sampe hampir 3 hari, kamu udah periksa ke dokter?"
"Udah beb, tenang aja sih. Btw my future husband dateng juga? Pasti kangen
ya sama Hwasa Mamamoo?"
"Ih kamu mah Bahar, masih sakit sempet-sempetnya begitu" kesalku padanya
namun jujur ada perasaan lega setelah melihatnya yang seperti biasa,
mungkin pilihan menerima tawaran Stevan untuk mengizinkannya ikut
menjenguk Bahar tadi adalah pilihan yang tepat karena terbukti Bahar sudah
terlihat kembali ceria dan setelahnya kami bertiga mengobrol hingga sore
hari. Tiba-tiba saja handphoneku berbunyi, dari Akang. Setelah berjalan
sedikit menjauh dari tempat duduk kami barulah aku mengangkat telepon
dari Akang.
"Hallo assalamualaikum Kang"
" . . . ."
"Masih di rumah Bahar tapi udah mau pulang kok"
"...."
"Kenapa?"
" . . . ."
"Gak usah Kang, Eneng bisa pulang sendiri kok atau enggak nanti Eneng bisa
minta tolong Stevan untuk mengantar pulang ke rumah kebetulan tadi dia
ikut menjenguk dan rumah kami juga searah."
". . . ."
"Beneran Akang, gak apa-apa"
" . . . ."
"Yasudah jika Akang memaksa. Iya waalaikumsalam"
******
Hari ini aku sengaja pulang cepat agar bisa mengajak Gadis makan malam di
luar. Segera setelah keluar kantor aku meneleponnya untuk menanyakan
keberadaannya dan ternyata dia masih di rumah Bahar.
Aku menawarinya untuk ku jemput namun dia menolak dengan alasan bisa
pulang sendiri. Tadinya aku hampir mengiyakan sampai akhirnya nama itu
terucap. Gadis bilang Stevan ikut menjenguk jadi dia bisa meminta tolong
Stevan mengantarkannya pulang karena arah rumah mereka yang sama.
Langsung saja aku menolaknya dan dengan sedikit pemaksaan akhirnya
Gadis setuju jika aku menjemput dirinya.
Setelah mendapatkan alamat yang dikirimkan oleh Gadis, akupun segera
menuju ke rumah Bahar dan hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai. Aku
mengirimkannya pesan mengatakan bahwa aku sudah berada di depan
rumah Bahar dan menunggu dirinya di dalam mobil dan tak lama dia datang
bersama Bahar dan Stevan.
Aku ikut keluar dari mobil untuk sekedar berbasa-basi. "Kamu sakit apa
Bahar?" tanyaku
"Gak apa-apa om, cuman migrain aja. Kalo aku tahu jika aku sakit bakal
dijenguk cogan udah dari dulu aja aku sakit ya" ucapnya.
"Ih Bahar jangan ngomong gitu ah, yang sakit aja mau sehat kamu yang sehat
malah mau sakit. Inget omongan itu doa" omel Gadis.
Bahar nampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan omelan Gadis karena dia
masih saja senyum-senyum sendiri.
Aku melihat Stevan yang berdiri dalam diam dibelakang Bahar dan Gadis dan
sepertinya sedari tadi dia terus menatapku entah mengapa selalu begitu
setiap dia bertemu denganku. Setelah berbasa-basi sebentar aku dan Gadis
pamit undur diri.
Di dalam mobil Gadis terus saja melihat ke arah jendela. Aku menarik
tangannya dan mengecupnya sehingga membuatnya dia menoleh dan
tersenyum ke arahku.
"Kita makan diluar yuk Neng lagipula sudah lama kan kita tidak makan
diluar?"
"Gak pulang dulu Kang?"
"Gak usah sayang langsung aja, takutnya nanti lebih macet dan kelamaan di
jalan terus kita telat makan malamnya" Gadis mengangguk tanda setuju.
Sepanjang perjalanan kami tidak terlalu banyak bicara dan entah karena
bosan atau apa Gadis pun akhirnya tertidur.
Saat sudah sampai di depan restauran tujuan kami aku pun berusaha untuk
membangunkannya, Gadis sempat menolak dan malah mengajak untuk
pulang saja. Aku kemudian mencium bibirnya berulang kali agar dia mau
membuka mata dan taktik ini akhirnya berhasil.
Kami masuk dengan Gadis yang mengandeng tanganku erat dan dapat
kulihat beberapa orang pengunjung melihat kearah kami. Mungkin mereka
berfikir macam-macam karena melihat seorang pria dewasa dengan pakaian
kantornya sedang bergandengan tangan dengan siswa SMA. Sudahlah aku tak
perduli lagi pula salahku juga yang memilih langsung pergi kesini dan tak
mengganti pakaian kami terlebih dahulu.
Kami memilih duduk di sudut restauran yang memberikan pemandangan
malam Jakarta karena suasana outdoor aku memberikan jasku kepada Gadis
agar dia gunakan.
Makanan kami datang, baik aku dan Gadis langsung memakannya karena
sepertinya kami berdua sudah sangat kelaparan.
"Akang, Eneng boleh nambah gak? porsinya sedikit banget" keluhnya
"Terserah Eneng, pokoknya makan sampe kenyang"
Tak lama makanannya telah habis aku memanggil pelayan setelah
sebelumnya menanyakan dia ingin makan apa. Selagi menunggu makanan
datang kembali aku dan Gadis sama-sama melihat gedung-gedung Jakarta
yang menjulang tinggi.
"Akang tahu gak kalo apa yang terjadi sama Eneng sekarang ini masih seperti
mimpi buat Eneng"
"Kenapa memangnya?"
"Eneng bisa sekolah disekolah bagus dengan seragam bagus dan gak perlu
khawatir nunggak SPP atau uang buku, selalu punya uang jajan bahkan
berlebih, terus makan enak di tempat seperti ini"
"Masih banyak yang akan Eneng terima kedepannya"
"Tapi Eneng takut Akang" kini dia menatapku sedih. Aku belai pipinya dan
menatap matanya yang seperti ingin menangis.
"Apa yang Eneng takutkan?"
"Takut bangun dari mimpi indah ini Akang. Eneng takut Akang akan pergi
dan meninggalkan Eneng sendirian sama seperti ayah dan ibu"
"Jodoh, maut, dan rezeki sudah ada yang mengaturnya sayang. Akang, Eneng,
atau siapapun tak bisa menolak dan menghindarinya. Tapi yang bisa Akang
usahakan dan janjikan selama maut belum memisahkan kita adalah Akang
akan selalu berada disisi Eneng dan anak-anak kita kelak, membahagiakan
kalian dan terus menyayangi kalian sepenuhnya"
"Emang Akang mau punya anak berapa?"
"Kalo bisa sih yang banyak, Akang anak tunggal jadi tahu rasanya tidak
mempunyai saudara seperti apa tapi balik lagi Akang tetap bersyukur
berapapun Tuhan percayakan kepada kita nanti. Kalo Eneng?"
"12 biar nanti rumah kita ramai" aku langsung tertawa mendengar jawaban
polos istriku barusan.
12? Apa kami sanggup?
"Gak kebanyakan sayang?"
"Ya udah 6 atau 8 deh, soalnya Eneng juga tahu Kang rasanya sendirian
bagaimana dan Eneng tidak mau seperti itu lagi dan Eneng juga berharap
agar anak-anak Eneng tidak pernah merasakan hal tersebut"
"Anak kita sayang" kubelai pipinya perlahan.
"Muda, kamu disini? Sama siapa?"
BAB 27
Aku senang sekali malam ini, Akang mengajakku makan malam di tempat
yang indah meski awalnya aku merasa sedikit malas karena sudah sangat
mengantuk tapi ketika sampai dan melihat pemandangannya rasa kantukku
hilang seketika.
Makanan disini enak tapi sayang porsinya sedikit dan mahal pula. Untung
saja aku datang dengan Akang jadi tak perlu khawatir jika disuruh mencuci
piring karena tak punya uang untuk membayarnya nanti.
Setelah mengutarakan kekhawatiran yang selama ini aku rasakan semuanya
menjadi lebih baik, baik untuk fikiran maupun perasaanku apalagi ketika
Akang menyebut anak kita.
"Muda kamu disini? Sama siapa?" aku dan Akang menoleh ke sumber suara
yang saat ini tengah berdiri di dekat meja kami, Ada dua orang pria dewasa
dimana satu orang yang berbicara tadi begitu asing wajahnya bagiku namun
tidak dengan yang satunya lagi dan seketika melihat dirinya aku benar-benar
ingin pulang saat ini juga.
AKU MAU PULANG!
"Apa kalian berdua janjian disini Richard?" tanya pria yang tak kukenal
tersebut. Aku melihat Akang yang kini tengah menatap mantan kekasihnya
dan rasanya aku mau menangis sekarang juga. Aku genggam erat tangan
Akang sehingga kini fokusnya kembali kepadaku dan Akang kembali
tersenyum kearahku.
"Hai Dre, apa kabar? kapan balik dari Jerman?" tanya Akang kepada pria yang
berdiri di sebelah Richard sedari tadi.
"Belum lama, hei kau belum menjawab pertanyaanku tadi, kau bersama
siapa? adikmu? tapi bukankah kau anak tunggal setahuku?"
"Wanita ini bukan adikku tetapi istriku. Perkenalkan namanya Gadis. Gadis
kenalkan ini Andrew temanku sewaktu di Jerman" aku dapat melihat
keterkejutan pada wajah pria bernama Andrew tersebut saat Akang
memperkenalkan siapa diriku padanya.
Tanpa meminta izin kepadaku ataupun Akang terlebih dahulu, pria ini segera
menarik kursi diantara aku dan Akang karena memang meja ini terdapat
empat kursi.
"Oh, jadi berita itu benar ternyata, kukira hoax. Hai Richard, apa kau akan
terus berdiri disana?" Apa-apaan om-om ini?, ucapku dengan rasa kesal di
dalam hati.
"Adik kecil, tidak apa-apa kan kami bergabung dengan mu dan suamimu?
bagaimanapun aku sudah lama tak bertemu dengan suamimu" ucapnya
sambil tersenyum manis. Aku hanya diam meski sebenarnya ingin menolak
permintaannya barusan tetapi aku takut dikira tak sopan olehnya lagipula
Akang pun sepertinya juga tak berniat melarang om-om ini untuk duduk di
meja kami.
Pria bernama Richard kini juga ikut duduk diantara kami lebih tepatnya di
sebelah Akang.
AKU MAU PINDAH TEMPAT DUDUK!.
"Aku tak menyangka kau justru memilih daun muda untuk dinikahi,
maksudku apa tidak terlalu belia gadis ini. Oh iya berapa usiamu manis?"
"Apa hal tersebut salah? lagipula usianya sudah cukup untuk ku nikahi, 18
tahun bukan lagi usia anak-anak jika kau tak tahu Andrew"
"Aku hanya tak menyangka saja kufikir jikapun kau akhirnya menikah tentu
dengan wanita yang sedikit lebih DE.WA.SA" dapat kudengar ada penekanan
di kata dewasa yang diucapkan pria ini, menyebalkan.
"Hai adik manis kau kelas berapa?"
"12" ucapku ketus.
"Jangan memanggilnya seperti itu dia istriku Andrew tolong hargai dia"
"Hei, just kidding buddy and sorry jika itu menyakitimu. Aku seperti ini
orangnya" dasar sok kenal, ucapku dalam hati.
"Kenapa kalian berdua seperti orang asing sih? Apa semenjak pu.... maksudku
apa karena sudah lama tak bertemu sehingga membuat kalian berdua
menjadi canggung?"
"Tidak" ucap Akang dan Richard bersamaan.
"Hai, kita bertemu lagi" ucap om Richard kepadaku. Aku hanya tersenyum
tipis sebagai bentuk sopan santun kepadanya.
Makananku telah datang dan aku langsung memakannya dengan sangat cepat
biar nanti ada alasan untuk cepat pulang ke rumah lagipula aku sudah benar-
benar tak suka berada disini dengan dua pria dewasa yang tiba-tiba ikut
makan malam bersama kami saat ini, mereka berdua sangat menyebalkan
menurutku.
Sangking terburu-burunya aku sampai tersedak. Akang langsung berdiri
menghampiriku dan memberikanku minum lalu menepuk punggungku.
Akang berjongkok sambil melihat wajahku khawatir. Baiklah rasa kesalku
sedikit hilang tapi hanya sedikit, benar-benar sedikit pokoknya.
"Pelan-pelan sayang perutmu bisa sakit nanti" ah, menyenangkan mendengar
Akang berbicara demikian terlebih di depan Richard.
******
Aku tak menyangka akan bertemu Richard disini bersama Andrew pula. Aku
hanya khawatir jika Gadis akan marah dengan keberadaan Richard
bagaimanapun dia tahu masa lalu kami berdua tapi sejujurnya aku jauh lebih
takut dengan mulut Andrew. Aku mengenalnya dengan sangat baik, dia
sangat suka berbicara bahkan tanpa difikirkan terlebih dahulu. Andrew tahu
bagaimana masalaluku dan Richard karena kami bertiga memang berteman
cukup dekat.
Saat aku mengajak Richard ke Jerman untuk liburan, aku tak sengaja bertemu
Andrew di salah satu club. Andrew sama sepertiku, seorang gay bahkan kami
pernah menghabiskan beberapa malam bersama. Aku mengenalnya sejak
kuliah dan akrab sampai akhirnya aku memutuskan kembali ke Indonesia.
Aku yang sedang bersama Richard langsung mengenalkannya dan ternyata
mereka berdua juga saling mengenal. Entah dunia yang sempit atau dunia
kami yang sempit.
Andrew langsung saja duduk di kursi kosong di meja kami, aku ingin
melarangnya tapi aku takut dia akan berkata macam-macam. Lihat saja dia
bahkan sudah hampir mengatakan sesuatu yang aku jamin akan membuat
Gadis marah kepadaku nanti.
Aku melihat Gadis makan dengan sangat cepat, aku yakin dia merasa tak
nyaman dan ingin segera pulang saat ini namun aku memahami sikapnya
tersebut. Tak lama Gadis tersedak sehingga aku langsung berdiri
mendekatinya dan memberikannya minum serta menepuk-nepuk
punggungnya perlahan.
"Pelan-pelan nona, aku tak akan mengambil makananmu" ucap Andrew
kepada Gadis. Aku tahu dia hanya bercanda tapi waktunya tak tepat.
"Akang ayo pulang" rengeknya kepadaku.
"Maaf sepertinya kami harus pulang"
"Hei, baru juga bertemu dan kau ingin berpisah? Come on"
"Lain kali, saat ini sepertinya istriku sedang tidak enak badan"
"Okelah, kutunggu perjumpaan kita kembali buddy" Aku hanya mengangguk.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Gadis terus memeluk lenganku erat
dan setibanya di dalam mobil Gadis langsung memelukku sambil menangis.
"Sudah, tidak apa-apa" ucapku sambil mengelus dan mengecup kepalanya.
"Akang jangan bertemu mereka, Eneng gak suka. Pokoknya gak boleh"
"Iya tidak akan. Kalau pun nanti harus bertemu maka Eneng akan Akang
kasih tahu atau Akang ajak sekalian"
"Kenapa harus ketemuan lagi sih?" tanyanya yang kini sudah mulai mereda
isak tangisnya.
"Akang kan masih ada kerjasama dengan mereka, jadi besar
kemungkinannya untuk bertemu itu ada sayang"
"Gak bisa diganti orang lain saja?"
"Nanti akan Akang usahakan, sudah jangan menangis lagi. Eneng pasti masih
lapar, kan tadi belom habis makanannya. Kita pergi cari tempat makan lain
saja gimana?"
"Tapi gak mau di restauran, makanannya sedikit gak bikin kenyang. Eneng
mau ayam penyet. Boleh ya Kang"
"Boleh tapi berhenti nangis dulu, nanti dikira abis Akang apa-apain lagi dan
ingat sambalnya jangan banyak-banyak takut nanti sakit perut". Setelahnya
Gadis langsung menghapus air matanya sambil tetap memelukku.
"Akang cium"
BAB 28
Hari ini pak Slamet mengadakan ulangan dadakan, kepalaku sakit karena tak
tau harus menulis apa tadi saat ujian writing.
"Bahar, nanti kita beli cilok di depan yuk yang diujung jalan arah sekolah"
"Ya ampun beb, gak bisa lebih jauhan lagi? kenapa gak cilok di sekolah aja sih,
tuh mang Oman dagang juga"
"Gak mau, maunya yang disana"
"Ya udah tapi traktir ya"
"Kamu mah minta traktir melulu. Harusnya aku yang minta kamu kan orang
kaya" sindirku.
"Denger ya beb, yang kaya itu orang tua gw, gw mah kismin duit aja masih
minta"
"Aku juga hasil minta kok jadi sama aja aku juga kismin kaya kamu"
"Bedalah beb, ingat ya ada ungkapan uang suami itu uang istri dan uang istri
itu ya uang istri paham. Nah berhubung uang laki elo banyak berarti sama
artinya uang elo juga banyak"
"Alasan aja kamu mah, pokoknya nanti anterin aku ya. Ya udah aku yang
traktir tapi kamu belinya 2000 aja lumayan dapet 3. Ingat katanya mau diet
biar mirip Rose blekping"
Saat hendak jalan ke arah kantin tiba-tiba saja Laura and the geng
menghadangku dan Bahar. Ada apa ini?
"Elo yang namanya Gadis?" tanya Laura kepadaku sambil menatapku dari
atas ke bawah.
"Iya, ada apa ya?"
"Gw bilangin sama elo ya, JANGAN SOK KECANTIKAN JADI CEWEK" ucapnya
sambil mendorong bahuku untung saja ada Bahar yang menahannya.
"Eh ciwi-ciwi yang katanya paling hitz seantero sekolah, hellooo..... kalian
fikir ini sinetron ikan terbang apa pake acara main labrak-labrak orang aja"
ucap Bahar kepada mereka bertiga.
"Eh bencong, diem lo gak usah ikut campur urusan perempuan" jawab salah
satu teman Laura yang kalo tidak salah bernama Diana.
"Eh, cewek bar-bar. Seenaknya elo panggil gw bencong. Gw glepak pingsan
lo"
"Pokoknya gw peringatin sama elo jangan pernah dekitin Stevan lagi. Kalo
sampe gw ngeliat elo sama stevan, abis elo sama gw. Paham?" Ketiganya
langsung pergi meninggalkan aku dan Bahar yang masih emosi.
"Yaelah, gw rasa ya beb dia itu stress karena cintanya ditolak. Dasar cewek
gelo. Udah ayok gw laper lagian malu diliatin, berasa artis aja hihihi" kulihat
sekitar dan memang sepertinya kami menjadi bahan tontonan siswa lainnya
sedari tadi.
Lagipula apa maksud dari perkataan Laura barusan? Aku dan Stevan kan
memang tak punya hubungan apapun selain berteman layaknya aku dan
Bahar.
******
Pintu ruanganku terbuka, Andrew datang ke kantor tanpa pemberitahuan
sebelumnya dan sepertinya dia juga tahu jika aku akan melarangnya kesini
jika dia bertanya terlebih dahulu karena bagaimanapun aku masih sedikit
kesal dengan sikapnya tempo hari.
Aku terpaksa mempersilahkannya untuk masuk dan duduk di sofa
ruanganku. Aku menyuruh seorang OB membawakan minuman untuk kami
berdua. Setelah OB suruhanku keluar aku langsung mendekatinya yang
duduk santai di sofa sambil melihat-lihat ruang kerjaku sedari awal masuk.
"Gw tau apa yang mau elo katakan. Jadi cepatlah masih banyak yang mesti gw
kerjain".
"Santai bro, elo marah karena gw datang tanpa kasih tau atau elo masih
marah soal insiden di restauran?"
"Keduanya. Ada apa?"
"Sorry kalo begitu. Oke langsung aja karena waktu gw juga terbatas. Gw fikir
berita elo menikah dengan perempuan itu hoax dan soal hubungan elo dan
Richard, beneran kalian sudah putus? maksud gw bukannya kalian saling
mencintai bahkan berencana menikah"
"Elo lihat sendirikan istri gw kemaren dan soal gw sama Richard kami sudah
putus sebelum gw menikah lebih tepatnya gw yang pergi memutuskan
hubungan kami dan sejujurnya kabar gw akan menikah dengan Richard
diluar negeri itulah yang sebenarnya hoax"
"Apa elo menikah buat status sosial? maksud gw biar dikira pria normal?"
"Bukan, gw menikah karena memang sudah saatnya gw menikah"
"Elo benaran udah berhenti jadi gay?"
"Ya, sekarang gw hanya akan bersama Gadis istri gw" jawabku yakin.
"Baiklah, gw akan percaya tapi..... apa istri elo tau soal masalalu elo dan soal
Richard makanya dia sampe seperti itu kemarin?"
"Maksudnya?”
"Hei, kita ini sudah dewasa. Kita juga tidak cukup bodoh untuk tahu bahwa
istri kecil elo itu sedang cemburu buta kemaren"
"Gadis tau semuanya. Maksud gw soal masalalu gw dan soal Richard"
"Dan gw yakin dia gak tau soal gw, karena dia terlihat hanya cemburu pada
Richard"
"Enggak, dia gak tau mantan gw yang lain selain Richard karena memang gw
juga enggak ingin membahasnya kecuali beberapa kali gw cerita soal para
gigolo yang gw bayar"
"Well, gw udah mendengar secara langsung hal ini dari elo sekarang. Jujur
pas gw ketemu Nick di Italia bulan lalu dan dia bercerita soal elo yang sudah
menikah gw punya asumsi sendiri gw fikir pernikahan elo hanya untuk
sebuah status jika elo benar-benar menikah dengan perempuan. Namun
minggu lalu saat ketemu Richard gw jadi semakin paham akan sesuatu, kalian
berpisah secara tidak baik tapi gw gak akan nyalahin elo karena elo berhak
atas pilihan hidup elo sendiri dan harus gw akuin kalo istri elo hebat karena
dia tetep cinta meski tau masalalu elo bagaimana"
"Yah, gw pun mengakuinya. Berapa lama di Indonesia?"
"Nanti malam gw balik, makanya gw kesini sekalian mau kasih kabar kalo gw
akan menikah akhir musim gugur tahun ini".
"Menikah? Dengan Jack?"
"Jack hanya masalalu lagipula kami sudah putus karena dia ketahuan
berselingkuh. Gw akan menikah dengan Martin. Kau ingat kan siapa Martin?"
"Jangan bilang kalau maksud elo Martin yang botak itu? yang dulu pernah elo
jahili di awal kuliah?"
"Yup, 100 untukmu Mud. Gw bertemu lagi dengannya setelah kita lulus
kuliah. Sudah lama sekali bukan? Gw bertemu lagi dengannya saat gw baru
putus dan kabur ke Chile untuk menenangkan hati yang patah dan disanalah
kami bertemu kembali dan entah bagaimana akhirnya kita memilih bersama.
Oh iya, dia seorang duda dengan dua anak"
"Kau gila"
"Elo tau gw Mud. Sudahlah gw harus pergi sekarang. Jika undangannya sudah
selesai akan gw kirimkan padamu dan gw harap elo datang. Elo juga boleh
mengajak istri kecil lo jika dia penasaran bagaimana sepasang pria akan
menikah"
Setelah mengatakan hal tersebut Andrew pamit karena memang dia harus
bersiap-siap karena malam nanti harus kembali ke Jerman. Andrew dan
kegilaannya memang tak pernah terpisah namun dia salah satu teman
terbaikku sejak aku tinggal dan melanjutkan pendidikan di Jerman.
Semoga kau berbahagia, doaku tulus untuk si gila Andrew.
BAB 29
Berita mengenai Laura yang melabrakku tempo hari semakin tersebar luas di
lingkungan sekolah khususnya dikalangan para siswa. Entah karena ini
adalah Laura sang selebgram sekaligus siswi paling cantik dan hits atau
memang mereka yang suka bergosip.
Sekarang setiap kali aku berjalan di sekolah banyak mata yang
memandangku sambil berbisik-bisik sehingga membuatku cukup risih
karenanya entah apa yang mereka bicarakan tentang diriku dan aku tak
terlalu peduli dan ambil pusing itu semua.
"Gadis, bisa kita bicara sebentar" tanya Stevan yang sepertinya telah
menungguku di depan kelas sedari tadi.
"Ada apa Stevan? katakan saja ada perlu apa kamu mencariku" Sejujurnya
aku tak mau berbicara lagi dengannya untuk sementara waktu karena
bagaimanapun dialah penyebab utama aku seperti ini.
"Kau ingin kita bicara disini? Kau yakin?" tanyanya kepadaku. Aku melihat
sekeliling dan sudah banyak pasang mata yang mengawasi kami berdua
sedari tadi.
"Tidak jangan di sekolah nanti aku akan mengabarimu dimana kita akan
berbicara"
"Baiklah aku tunggu" setelahnya Stevan pergi meninggalkanku sendiri
dengan banyak pasang mata yang kian memperhatikan diriku, huft berasa
menjadi selebriti jika begini dan aku harap tidak ada yang berbicara macam-
macam soal kejadian barusan.
Sepulang sekolah aku mengirim pesan kepada Stevan untuk bertemu disalah
satu kafe yang sangat jauh dari sekolah bagaimanapun aku tak mau ambil
resiko jika ada siswa yang melihat kami bersama karena jika hal tersebut
terjadi sudah dapat aku pastikan aku akan semakin terkenal dan
digunjingkan. Apakah ini efek samping berteman dengan pria paling populer
disekolah? tadinya aku berniat mengajak Bahar sekalian menemaniku karena
aku tak ingin pergi hanya berdua dengan Stevan namun dia bilang dia harus
pulang cepat karena perintah orang tuanya. Memang akhir-akhir ini Bahar
selalu langsung pulang ke rumah dan tak pernah lagi mampir ke mall untuk
sekedar cuci mata dan itu semua karena perintah orangtuanya yang sangat
Bahar takuti. Entah apa yang terjadi karena Bahar tak pernah mau bercerita
kepadaku dan aku juga tak ingin menanyakannya jika dia sendiri tak ingin
melakukannya. Biarlah, nanti juga dia akan bercerita jika butuh teman.
Setibanya di lokasi tujuan aku sudah bisa melihat Stevan yang tengah duduk
manis di sudut kafe sambil meminum minumannya. Kulangkahkan kaki
menuju tempatnya kini duduk. Kutarik kursi didepannya dan kutatap
wajahnya dengan raut sedikit kesal.
"Aku sudah tiba, sekarang kau bisa mengatakan apa yang ingin kamu
katakan" ucapku langsung padanya
"Tidak ingin pesan minum atau makan dulu?" tawarnya kepadaku.
Aku memanggil pelayan kafe dan memesan minuman, sejujurnya sejak
disekolah aku sudah merasa haus. Selama menunggu minumanku kami
berdua terdiam. Aku masih terlalu lelah karena harus naik ojek motor lebih
dari 30 menit apalagi cuaca yang sangat panas diluar sana.
Setelah minumanku tiba dan aku meneguknya dalam sekali sedotan kini aku
sudah punya energi untuk berbicara dengan Stevan.
"Ada apa? jika ini menyangkut soal gosip di sekolah antara aku dan Laura aku
sendiri juga tidak tau" ucapku jujur. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa
Laura bersikap dan berkata demikian. Apa benar kata Bahar tadi pagi bahwa
Laura hanya cemburu kepadaku? Mana mungkin maksudku wanita seperti
Laura saja ditolak apalagi wanita seperti diriku? Dasar Bahar tukang halu.
"Kau sepertinya sangat haus apa mau pesan lagi?"
"Tidak, cepatlah Stevan aku harus pulang"
"Maaf melibatkanmu dalam masalah ini tapi apa yang ku katakan pada Laura
benar adanya"
"Maksudmu?"
"Dia bertanya kepadaku apa aku dekat dan suka padamu? Dia mendengar
kabar kita pergi ke kantin bersama tempo hari disaat Bahar sakit dan kau
berjalan ke kantin sendirian, kau ingat?" Aku menggangguk.
"Tapi bukankah kita pergi bersama teman-temanmu yang lain jadi tidak bisa
dikatakan bersama dalam artian berduaan bukan?"
"Ketika dia menyatakan perasaannya aku menolaknya dengan mengatakan
bahwa ada seseorang yang kusukai"
"Wanita yang sama seperti kau ceritakan padaku dan Bahar?"
"Iya, dan kau tau siapa dia? Itu kamu Gadis. Kamu wanita yang kusukai
selama ini"
Apa yang dikatakannya tadi? Dia menyukaiku? Aku? Tapi kenapa?
Bagaimana? Aku tak secantik dan sekaya wanita yang selama ini mengejar-
ngejarnya dan kami tak cukup dekat untuk bisa saling jatuh cinta, maksudku
untuk membuatnya jatuh cinta kepadaku.
"Kau pasti terkejut. Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu dan semakin
menyukaimu saat mengenalmu"
"Aku.... aku.... aku tidak bisa. Maaf Stevan"
"Karena kau sudah menikah?" Tanyanya yang semakin membuatku terkejut.
"Kau pasti ingin tau dari mana aku bisa mengetahuinya bukan? Sejak
pertama melihatmu dan suamimu aku sudah curiga, kalian seperti sepasang
kekasih. Kecurigaanku semakin bertambah saat kita bertemu di bioskop saat
itu. Kau tau, aku bahkan melihat kalian berciuman disana. Kufikir kamu
hanya berkencan dengan pria dewasa namun saat tau kalian juga telah
tinggal bersama aku semakin merasa itu aneh. Aku tau kau gadis baik-baik
jadi tidak mungkin kalo kamu adalah.... maaf baby girl dari seorang sugar
daddy. Dan maaf, sebenarnya aku juga menyuruh seseorang untuk mencari
tau tentang kalian berdua dan semuanya menjadi semakin jelas, kalian
sepasang suami istri"
"Kau tau tapi pura-pura tidak tau? kenapa?"
"Karena aku yakin kau punya alasan untuk menutupinya. Maaf karena aku
tidak bisa menahan rasa sukaku kepadamu. Jika kalian hanya berpacaran
mungkin aku akan berusaha merebutmu darinya namun kalian menikah dan
aku tau kau sangat mencintai suamimu jadi aku mencoba mundur"
"Aku tidak pernah menyangka bahwa alasanku menolak Laura akan
berakibat seperti ini. Aku tak pernah mengatakan pada siapapun soal
perasaanku selain pada kedua sahabatku tapi kau tenang saja soal kau yang
sudah menikah mereka tak tau dan aku juga tak berniat memberitahu
siapapun. Maaf jika perasaanku membuatmu mengalami hal yang tak begitu
menyenangkan"
Kutatap wajah sedih Stevan sedari tadi. Stevan tak salah justru aku yang
berbohong padanya sejak awal. Aku tak jujur mengenai statusku namun
siapa sangka pria tampan dan mempesona seperti dirinya akan jatuh cinta
kepada wanita biasa seperti diriku.
"Maaf tak jujur padamu sedari awal Stevan, aku hanya takut jika ada yang
mengetahui bahwa aku telah menikah maka aku akan dikeluarkan dari
sekolah dan masalah perasaanmu padaku aku ucapkan terimakasih aku
merasa tersanjung mengetahui pria sepertimu menyukaiku tapi maaf aku
mencintai suamiku"
"Tidak masalah, cinta tak harus memiliki bukan? Tapi kita masih bisa
berteman kan?"
"Kau masih mau berteman denganku?"
"Tentu saja, untuk apa kita bermusuhan? Kau teman perempuan pertama
untukku bersamamu cukup menyenangkan. Mungkin inilah yang membuatku
jatuh cinta kepadamu"
"Akan aku fikirkan karena bagaimanapun aku harus bertanya ke Akang
dahulu"
"Kau akan melaporkannya? Tentang perasaanku juga? Penolakan darimu?
Serta yang lainnya?"
"Tak ada rahasia antara aku dan Akang" ucapku bangga.
"Jika dia tau mana mungkin dia akan mengizinkan kita berteman?"
"Akang itu pria dewasa"
"Kau fikir pria dewasa tak bisa cemburu?"
"Untuk apa Akang cemburu. Aku hanya mencintainya dan tak pernah
menyukaimu" jawabku jujur.
"Wah, tak kusangka kau bisa kejam juga Gadis"
"Aku hanya berbicara jujur Stevan"
"Terserah"
BAB 30
Aku tak pernah menyangka bahwa cinta pertamaku adalah istri orang.
Hai, perkernalkan namaku Stevan William Oey. 18 tahun dan seorang single.
Kalau boleh jujur dan sedikit sombong aku adalah most wanted di sekolah.
Aku tampan dan mantan ketua OSIS serta Klub Basket sekolah. Aku juga
cukup pintar dan berasal dari keluarga kaya jadi bukan hal aneh banyak
perempuan yang menyukai dan mengejar-ngejar diriku sedari dulu namun
sayang tak ada yang berhasil menarik perhatianku.
Perempuan-perempuan yang menyatakan cintanya kepadaku cenderung
mirip satu sama lain yakni wanita cantik dengan dandanan dan style yang
sama satu dengan yang lainnya, mungkin mereka mempunyai idola yang
sama juga sehingga terlihat persis hingga suatu hari aku melihat dia.
Dia yang datang ke sekolah dengan seragam kebesaran, rok yang cukup
panjang, rambut ekor kuda, dan beberapa aksesoris bunga yang menempel di
tubuhnya. Wajahnya menggemaskan dengan sorot mata yang sangat indah
menurutku.
Semuanya berawal dari ketidaksengajaan diriku yang melempar bola basket
sehingga mengenai kepalanya dan dia jatuh pingsan, apa lemparanku yang
terlalu kuat atau memang dia yang terlalu lemah?
Aku langsung membopongnya ke UKS untuk mendapatkan penanganan. Aku
menungguinya pingsan hingga beberapa saat namun yang membuatku
tertarik dan menganggapnya sangat menggemaskan adalah disaat pingsan
dia mengingau dengan menyembutkan nama-nama bunga. Dasar cewek
aneh. Tak lama dia tersadar ku fikir dia akan seperti perempuan-perempuan
sebelumnya saat berhadapan denganku, sok cantik, sok jaim, atau sok malu-
malu mau tapi aku salah karena dia berbeda.
Saat dia sadar gadis ini langsung pergi dan cenderung menghindariku,
padahal aku sudah berbaik hati untuk mengantarnya pulang bagaimanapun
dia terluka karena diriku jadi aku harus bertanggungjawab bukan?.
Penolakannya membuatku sadar bahwa ternyata tidak semua perempuan di
sekolah menyukaiku dan jujur aku sedikit tersinggung dengan sikapnya,
maksudku selama ini kan perempuan-perempuan di sekolah selalu mencoba
menarik perhatianku meski semuanya berakhir gagal.
Kufikir penolakannya adalah sebuah taktik agar aku mengejarnya layaknya
drama-drama sinetron atau novel romantis yang kerap kali Milly, adik
sepupuku tonton dan baca tapi ternyata tidak, aku salah mengiranya
demikian karena dia bahkan seperti tidak peduli dengan keberadaanku.
Tanpa sadar terkadang aku jadi memperhatikannya dan semakin aku
perhatikan semakin menarik. Awalnya aku mengira pria gemulai yang selalu
bersamanya adalah pacarnya karena mereka selalu berdua kemana-mana
selama di sekolah tapi ternyata bukan dan entah kenapa aku merasa lega
sekaligus senang.
Selain itu juga entah mengapa aku ingin dekat dengannya namun semakin
aku berusaha mendekatinya maka semakin dia menolakku, menarik.
Saat kembali ingin mendekatinya tiba-tiba saja datang seorang pria dewasa
yang menjemputnya di sekolah. Gadis, wanita yang selama ini bersikap cuek
kepadaku ternyata langsung berlari dan memeluk pria asing ini dan aku
cukup terkejut melihatnya demikian namun mungkin saja itu ayahnya atau
kakaknya atau saudara lainnya dan pendapatku semakin dibenarkan ketika
pria tersebut mengenalkan diri sebagai om Gadis tapi entah mengapa aku
mencurigai sesuatu maksudku mereka berdua lebih terlihat seperti pasangan
kekasih dibandingkan om dan keponakan.
Aku tipe orang yang selalu mengedepankan logika dan lebih mempercayai
apa yang kulihat dan aku dengar sendiri. Aku tak percaya jika itu hanya
sebuah argumen, penilaian, dan sesuatu yang tak pasti atau hanya sebuah
gosip namun entah mengapa dengan Gadis membuatku sedikit suka berfikir
macam-macam padahal aku tak mengetahui apapun tentangnya. Dari semua
opsional kecurigaanku, aku bahkan pernah berfikir bahwa hubungan Gadis
dan om-nya adalah hubungan layaknya baby girl dan sugar daddy lagipula itu
bukan hal yang aneh di Jakarta.
Tapi memikirkan Gadis menjadi perempuan yang seperti itu membuatku
membenci diriku sendiri karena aku yakin dia adalah gadis baik-baik. Bahkan
sangking penasarannya aku sampai menyuruh seseorang untuk mencari tau
mengenai Gadis dan tentunya hubungan dengan pria dewasa tersebut.
Aku cukup terkejut mengetahui laporan yang kuterima setelah beberapa hari
orang suruhanku mengintai dan mencari tau mengenai dirinya. Dimana
laporan tersebut bukan hanya mengenai latarbelakang Gadis namun juga
statusnya sebagai istri pria tersebut. Entah mengapa mengetahui semua itu
membuatku sedih, kecewa, dan marah. Apa aku cemburu dan patah hati? Dan
jujur perasaan itu semakin muncul saat melihat Gadis bersama pria yang
menurut informasi adalah suaminya. Oh iya, satu fakta lain yang aku
dapatkan bahwa mereka dijodohkan sehingga mungkin saja tak ada cinta
diantara keduanya namun sekali lagi pendapatku tersebut salah karena aku
dapat melihat dengan jelas bagaimana tatapan dan sikap mereka berdua
selama ini bahkan aku sempat melihat mereka berciuman mesra saat di
dalam bioskop.
Aku tak tahu seberapa besar rasa ketertarikan diriku padanya atau mungkin
sudah tahap cinta? Teman-temanku yang tahu bahwa aku tertarik dengannya
selalu mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta. Benarkah?
Aku tau jika ini benar-benar rasa cinta maka semuanya salah dan sia-sia
namun saat ditanya apa aku menyukai seseorang aku akan menjawab IYA.
Suka bolehkan?
Itulah yang menjadi awal permasalahan antara Laura dan Gadis. Penolakan
dan pengakuanku kepada Laura bahwa aku menyukai wanita lain
membuatnya penasaran dan akhirnya tau siapa wanita yang kumaksud
tersebut. Wanita dan kemampuan menganalisisnya sangat hebat bahkan
melebihi anggota FBI dan CIA padahal aku tak pernah memberitahu secara
jelas mengenai wanita yang kusukai dan aku yakin teman-temanku juga tidak
mungkin membocorkannya apalagi kepada Laura. Cukup sekali persahabatan
kami hampir rusak karena wanita ular itu.
Saat mendengar kabar Laura yang melabrak Gadis di sekolah aku merasa
bersalah apalagi karena hal tersebut pulalah Gadis menjadi bahan omongan
seluruh siswa di sekolah selain itu juga sebenarnya aku juga sudah sangat
ingin mendengar langsung semua tentang dirinya karena setidaknya itu akan
semakin membuatku sadar diri bahwa dia istri orang.
Semuanya kini telah jelas dan terbuka. Aku tau statusnya dan dia tau
kebenaran mengenai perasaanku. Aku di tolak tapi aku tidak terlalu kecewa
karena bagaimanapun aku sudah tau sebelumnya. Jadi fase-fase patah hati
yang mendalam sudah berhasil kulewati dengan baik meski sulit.
Bagaimanapun dia cinta pertamaku dan sepertinya memang benar bahwa
jarang kita akan bersama dengan cinta pertama kita.
Kini kami berdua duduk di sebuah kafe yang jauh dari sekolah. Mengobrol
banyak hal dan saling menertawakan akan kebodohan masing-masing.
Sejujurnya hanya dengan seperti ini saja yakni dapat mengobrol dan
bercanda layaknya teman sudah cukup membuatku senang.
Selamat tinggal Gadis, selamat tinggal cinta pertamaku, dan selamat
berbahagia istri orang.
BAB 31
Tak terasa masa SMA-ku kurang dari 3 bulan lagi untuk lulus, kini aku dan
siswa-siswi lainnya tengah sibuk mempersiapkam ujian nasional dan ujian
sekolah.
Aku dan Stevan semakin dekat sebagai teman layaknya aku dengan Bahar.
Tak pernah kusangka bahwa aku akan mempunyai dua orang teman pria
dibandingkan wanita mungkin dalam dunia persahabatan, aku dan Akang
tertukar karena Akang mempunyai dua sahabat wanita dan aku mempunyai
dua sahabat pria.
Akang sendiri sudah kuberitahu mengenai perasaan Stevan kepadaku tempo
hari, seperti biasa kami akan saling jujur satu sama lain karena kata Akang
kejujuran dalam rumah tangga itu penting. Seburuk apapun kabar yang ada
akan lebih baik jika kita dengar dari pasangan kita bukan dari orang lain.
Akang awalnya tak suka aku berteman dengan Stevan, bagaimanapun dia
pernah menyukaiku akan tetapi selalu aku jelaskan bahwa itu hak-nya dan
aku tak bisa memaksanya untuk menyukai siapapun termasuk diriku dan
selalu aku tegaskan bahwa aku tak pernah sekalipun menyukainya. Selain itu
juga Stevan anak yang baik bahkan dia sering mentraktirku dan Bahar di
sekolah. Masalah Laura entah bagaimana dia sudah tak mencari gara-gara
denganku lagi jadi mau aku jalan bertiga atau bahkan berdua dengan Stevan
dia tak akan bereaksi apapun. Gosip aku dan Stevan tetap ada bahkan kami
diberitakan telah berpacaran namun aku dan Stevan tak mau ambil pusing,
namanya juga gosip. Kita bersama karena kita berteman lagipula masih ada
batasan yang jelas dalam pertemanan kami.
Hari minggu ini aku, Bahar, dan Stevan berencana belajar bersama di
rumahku, Akang sudah mengizinkan juga dan sekarang aku tengah
menunggu mereka berdua yang katanya sedang berada di jalan namun belum
juga sampai sejak sejam yang lalu.
"Belum datang juga sayang?" tanya Akang saat melihatku duduk di ruang
tengah sambil menonton televisi.
"Belum, padahal udah sejam pas terakhir mereka bilang kalau sudah di jalan.
Apa macet banget ya Kang?"
Akang duduk di sampingku dan memelukku. "Mungkin, tenang saja pasti
datang kok kalian kan sudah janjian mau belajar bersama"
"Akang masih gak suka aku temenan sama Stevan?"
"Sedikit, cuman Akang percaya sama Eneng" aku tersenyum mendengar
jawabannya.
"Akang cium" ucapku manja dan Akang pun langsung menciumku, mulai dari
kening, hidung, mata, pipi dan terahhir bibir.
"Akang kita gak mau jenguk mbak Maura lagi? mau lihat dedek bayinya"
"Besok saja ya, bagaimana? Sepulang sekolah akang jemput" aku
menggangguk untuk mengiyakan sarannya.
Mbak Maura telah melahirkan kemarin siang lebih cepat dari perkiraan, bayi
laki-laki kembali. Belum diberikan nama namun bayinya sangat tampan.
Ketika melihatnya kemarin aku langsung jatuh cinta pada pandangan
pertama. Kulitnya merah dan bibirnya kecil, hidung mancung dan suara
tangisannya sangat lucu.
Aku jadi kembali memikirkan soal anak, sampai sekarang aku belum hamil
padahal tanpa sepengetahuan Akang aku sudah berhenti minum pil dan kami
cukup sering melakukannya.
"Memikirkan apa? Masih soal bayi Maura?"
"Eh, hmm iya. Lucu ya Kang. Nanti kalo kita punya anak pasti juga lucu"
"Tentu saja, mamanya saja lucu begini" ya ampun aku meleleh, Akang
memanggilku mama.
"Emang Akang nanti mau dipanggil apa? Mbak Maura dan om Bram dipanggil
mami-daddy, mbak Vita dan mas Darren dipanggil ibu-ayah. Akang?"
"Apa saja, Daddy oke, ayah boleh, papa gak apa-apa, bapak juga gak masalah"
"Gimana kalo papa-mama aja? Atau abi-umi?"
"Apapun sayang, terserah kamu saja karena Akang akan mengikuti
semuanya"
Tak lama bel rumah berbunyi dan menganggu aktivitas bermesraan kami
berdua. Aku pergi untuk membuka pintu dan disana telah berdiri Bahar dan
Stevan sambil membawa sekantong penuh cemilan.
"Nih beb, kita baik kan? Datang tanpa tangan kosong" ucap Bahar sambil
memberikan sekantong plastik besar salah satu toko swalayan terkenal.
"Kalian beli apa saja?" Tanyaku sambil melihat-lihat isi belanjaan. Ada ciki,
minuman soda, biskuit, dan lain-lain. Padahal mereka tak perlu membeli ini
semua karena aku sudah menyiapkan makanan dan minuman sedari pagi.
Aku mengajak mereka ke taman belakang yang terdapat gazebo disana.
Setelah sebelumnya memanggil Akang untuk sekedar berbasa-basi. Tak ada
raut cemburu diantara Akang dan Stevan karena memang tak ada yang perlu
dicemburui oleh keduanya.
Aku datang dengan membawa makanan dan minuman buatanku, es Doger,
kue bolu dan kue cokelat.
"Wah, kayanya enak nih beb"
"Makan yang banyak aku sengaja bikin banyak banget kok soalnya aku tau
kamu kan makannya gak bisa kalo cuman sepotong"
"Kamu yang bikin Dis?" Tanya Stevan sambil memasukkan kue cokelat ke
dalam mulutnya enak, gumamnya
"Iya, kebetulan aku memang suka memasak dan bikin kue jadi kalo kalian
main kesini lagi aku akan masakin makanan kesukaan kalian deh, yah selama
makanannya gak aneh-aneh saja"
"Beneran ya beb, kalo gitu kita setiap minggu belajarnya di rumah elo aja
deh"
"Huuu, itu sih maunya kamu Bahar" ucapku sambil tertawa.
******
Aku sedikit mengintip Gadis dan kedua temannya dari atas balkon kamar
kami, ketiganya tengah tertawa sambil belajar bersama. Dasar anak muda.
Aku senang semuanya berjalan baik, hubungan kami berdua, sekolah Gadis,
dan keadaan ibu. Sampai saat ini aku tak pernah menyesali keputusanku
menikahi Gadis. Masalah cinta? Entahlah. Aku mengikuti saran Vita untuk
menjalaninya saja tanpa perlu berfikir berlebih.
Maura mengirimkan foto bayinya kepadaku karena aku memang sengaja
meminta kepadanya. Sejak Vita melahirkan sebenarnya aku menjadi suka
meminta foto bayi-bayi mereka. Bahkan di galeri handphone ku cukup
banyak sekali foto bayi, baik foto bayi Vita maupun Maura lagipula keduanya
juga kerap kali berbagi foto dan info soal anak-anak mereka di grub
percakapan kami padahal kan mereka tinggal seatap.
Aku kembali memikirkan tentang anak apalagi minggu lalu saat aku bertemu
teman sekolahku di sebuah restauran sehabis meeting aku melihatnya
sedang bersama ketiga anaknya dan istrinya yang sedang makan siang
disana. Kami berbicara sebentar namun selama berbincang aku selalu fokus
dengan balita yang sedari tadi dia gendong.
Apa aku akan demikian juga? Membiarkan istriku makan dan aku yang
menjaganya saat kami pergi makan diluar seperti ini?
Ponselku kembali berbunyi tapi bukan dari Maura melainkan nomer tak
dikenal. Nomer tersebut hanya mengirimkan sebuah pesan kepadaku.
Apa kamu bahagia? Sepertinya begitu.
Aku mencoba menelepon nomer tersebut namun tak bisa dihubungi dan
ketika sekali lagi kucoba hasilnya pun tetap sama. Entahlah beberapa hari ini
pesan dari nomer asing sering ku dapat dan pertanyaannya selalu sama
yakni, apakah kamu bahagia?.
BAB 32
"Akang, berapa lama besok perginya?" tanya Gadis sambil memeluk
punggungku dari belakang saat aku sedang memasukan pakaian milikku ke
dalam koper.
"2 hari sayang, Akang harus mengecek proyek yang ada di Bali"
"Gak bisa lebih cepet lagi?"
"Akang juga maunya begitu tapi kan ini pekerjaan dan tanggung jawab Akang
sayang"
"Nanti Eneng kesepian Akang, Eneng ikut boleh tidak?" Kubalikkan badanku
dan menghadapnya lalu membelai pipi chubbynya perlahan.
"Eneng kan sekolah masa mau bolos? nanti kalo Eneng kesepian tingga
telepon Akang dan ibu, atau Eneng mau menginep di rumah Maura?"
"Enggak usah Kang, Eneng cuman mau sama Akang" ucapnya manja sambil
kian memelukku erat.
"Kalo Eneng tidak sibuk mempersiapkan ujian juga akan Akang ajak tetapi
karena sebentar lagi mau ujian jadi lebih baik Eneng fokus belajar. Akang
janji akan usahakan pulang secepatnya"
"Mbak Vita juga ikut?"
"Enggak, dia megang proyek yang di Semarang sekarang"
"Terus Akang kesana sama siapa? Berapa orang? Cewe atau cowo?"
"Bertiga dengan Akang. Satu cewe dan satu cowo"
"Cantik? Ganteng?"
"Lumayan"
"Gak boleh deket-deket" aku segera mencubit pipinya kembali karena gemas.
"Terus Akang harus jauh-jauhan gitu? Ya gak mungkinlah sayang" ucapku
memberi pengertian padanya.
"Akang gak boleh genit ya pokoknya jangan senyum-senyum biar gak ada
yang terpesona"
"Iya, nanti Akang akan kaya Darren diam dan tak berekspresi, mau?"
Setelah selesai dengan pakaian yang akan aku bawa, aku langsung mengajak
Gadis pergi tidur karena memang sudah cukup malam. Bagaimanapun besok
dia harus bangun pagi dan pergi sekolah. Kumatikan lampu kamar dan
memeluknya erat.
"Akang masa akhir-akhir Bahar jadi pendiem lagi deh"
"Diam bagaimana? Lagipula sejak kapan? Terakhir ke rumah kita minggu lalu
dia masih seperti biasanya Akang lihat"
"Beneran Akang, Bahar juga jadi jarang pake lipstik. Bibirnya jadi gak merah
merekah lagi. Sudah gitu sekarang kalo makan cuman dua piring pas
istirahat"
"Memang selama ini makannya berapa piring?"
"Empat termasuk pencuci mulut seperti siomay atau batagor" aku tertawa
mendengar cerita Gadis mengenai Bahar, anak itu memang unik.
"Apa Eneng masih belum tau masalah Bahar yang dulu itu?"
"Belum, Eneng mau tanya tapi takut dikira ikut campur. Tapi Eneng
penasaran Akang, gimana ya?".
"Mungkin Bahar hanya sedang pusing karena sudah mau ujian sayang"
"Iya kali ya Kang. Oh iya, kemaren Stevan dapat pernyataan cinta lagi loh
Kang dari adik kelas. Cantik orangnya"
"Kamu cemburu?" tanyaku sambil menatap wajahnya lekat. Gadis
menggelengkan kepalanya dan semakin masuk ke dalam dada bidangku yang
Shirtless.
"Enggaklah, kalo itu Akang baru Eneng cemburu. Akang di liatin aja Eneng
udah kesel apalagi kaya gitu"
"Terus diterima?"
"Enggak, katanya masih berusaha untuk menyatukan hatinya yang patah"
"Seneng dong Eneng dengernya" ledekku.
"Iyalah, gak nyangka kalo Eneng yang membuatnya begitu" ucapnya sambil
tertawa.
"Jangan genit sayang ingat sudah ada yang punya"
"Akang juga jangan genit ingat udah ada yang punya"
Aku membelai kepalanya seperti biasa, aku selalu suka melakukan itu semua
seperti sebuah kewajiban dariku untuknya.
"Akang, hmm.... Eneng mau itu" cicitnya
Aku paham maksudnya tapi tak yakin karena sudah sangat malam namun
sebelum bisa menolaknya Eneng sudah duduk diatas perutku. Aku
melihatnya sedang menatapku dengan mata sayunya. Baiklah sepertinya satu
ronde tak masalah.
******
Seharian ini aku perhatikan Bahar terus saja menarik nafasnya. Sepertinya
masalahnya cukup besar dan sulit terselesaikan. Aku ingin bertanya namun
ragu.
"Beb, pulang sekolah kita pergi ke kafe yuk, gw traktir deh. Gw lagi males
pulang ke rumah soalnya"
"Berdua aja atau sama Stevan juga?"
"Berdua aja deh, gw... gw... gw mau curhat" apa ini tentang masalah yang
selama ini menganggunya?
"Yaudah, nanti aku minta izin sama Akang dulu ya tapi Har" meski Akang
sedang pergi ke luar kota aku tetap harus meminta izin kepadanya jika ingin
keluar rumah.
Sepulang sekolah kami menaiki motor matic pink milik Bahar menuju salah
satu kafe yang tak jauh dari sekolah. Kami memesan banyak makanan karena
sepertinya nafsu makan Bahar telah kembali.
"Kamu kenapa sih Har, cerita aja sama aku" aku dapat melihat ada keraguan
di wajah Bahar. Bahar akhir-akhir terlihat berbeda tak seperti biasanya yang
ceria dan heboh. Sudah hampir 3 hari dia lebih banyak diam dan melamun.
"Tapi janji jangan kasih tau siapa-siapa dan jangan ngetawain atau ngeledek
gw nanti. Oke?" Ancamnya kepadaku yang langsung aku setujui lagi pula aku
memang tak pernah cerita kepada siapapun kecuali Akang namun jika Bahar
berkata demikian sepertinya ada satu hal yang akan kurahasiakan dari
suamiku.
"Orang tua gw mau jodohin gw sama anak temennya"
"Perempuan?" tanyaku yang kini sangat penasaran dengan cerita Bahar.
"Iyalah beb perempuan, jangan ngadi-ngadi deh lo"
"Terus kamu gak suka sama dia?"
"Iya, selain gw gak suka acara perjodohan gw juga semakin gak mau pas tau
siapa orangnya"
"Memang siapa? Kamu udah ketemuan?"
"Udah, hampir setiap hari lagi di sekolah"
"Setiap hari disekolah? Anak sekolah kita? Aku kenal dong?"
Bahar menarik nafas kembali dan dia menatapku dengan tatapan yang sulit
kuartikan.
"Kenal, bahkan pernah ngelabrak elo"
Tunggu, jangan bilang kalo......
"Laura. Laura Bellani Wijaya"
ASTAGA BAGAIMANA BISA?
"Kamu serius? Gak lagi bercanda kan sama aku? Kamu gak ngeprank aku kan
Har?" tanyaku heboh untuk memastikan semuanya. Ini semua sangat
mengejutkanku bahkan dibandingkan keinginan ibu mertuaku dulu untuk
menikah dengan Akang.
"Ya enggaklah beb, buat apaan juga gw bohongin atau nge-prank elo? Orang
tua gw bilang ini demi kebaikan gw juga makanya mereka mau jodohin gw
sama salah satu anak temennya. Gw menolak tapi gak bisa berbuat banyak
dan dengan terpaksa gw mengikuti acara pertemuan itu beberapa waktu lalu
dan disaat itulah gw baru tau kalo yang mau dijodohin ke gw itu Laura"
"Terus Laura gimana? Dia menerima?"
"Enggak, dia minta gw bilang sama orang tua gw kalo gw menolak padahal
tanpa dia minta gw juga udah pasti nolak beb, cuman ya tadi gw gak bisa
melakukan apa-apa. Gw sadar diri kali kalo masih bergantung sama orang tua
makanya kalo gw bikin mereka marah abis gw yang ada. Bisa-bisa gw gak
dikasih makan dan diusir dari rumah. Asal elo tau ya, orang tua gw itu
O.TO.RI.TER! Jadi hal-hal buruk yang gw sebutkan tadi akan sangat mungkin
terjadi. Gw belum mau jadi gelandangan beb".
"Terus sekarang gimana? Kamu terima dong?"
"Enggak tau, gw masih bingung. Lagipula semuanya bakal diomongin lagi pas
kita berdua udah lulus sekolah".
"Laura kan cantik Har, kamu gak suka cewek cantik?" Oh iya aku lupa Bahar
lebih suka pria tampan.
"Aduh, Suzy bingung" setelahnya kami tak membicarakan itu lagi. Kini aku
tau masalah apa yang Bahar miliki dan mengapa Laura terkesan menghindar
denganku saat disekolah, mungkin bukan menghindariku tapi Bahar calon
suaminya.
BAB 33
Aku baru saja selesai menelepon Gadis, dia meminta izin padaku untuk pergi
ke kafe bersama Bahar sepulang sekolah nanti. Dia juga berkata rindu dan
memintaku untuk cepat pulang padahal aku baru pergi tadi pagi.
Saat ini aku sedang meeting dengan penanggung jawab proyek di Bali kami
membicarakan sudah sejauh mana progress pembangunan hotel dan
kendala lainnya.
Setelah selesai meeting di sore hari, aku memilih pergi ke pantai yang tak
terlalu jauh dari tempatku menginap untuk menikmati pemandangan
matahari terbenam. Aku duduk di salah satu kursi yang disediakan sambil
meminum minuman soda dan jangan lupa kacamata hitam andalanku untuk
menikmati pemandangan sore ini. Aku mengirimkan foto pemandangan
pantai di depanku kepada Gadis dan menuliskan pesan jika suatu hari aku
akan mengajaknya berlibur kesini berdua namun hingga 10 menit aku
menunggu pesan balasan darinya, Gadis belum juga membalas dan mungkin
saja saat ini dia masih sibuk mengobrol dengan Bahar.
Bali adalah salah satu tempat favorit liburanku bersama Richard di
Indonesia. Kami berdua sering berlibur akhir pekan disini. Menikmati
ketenangan pantai di pagi dan sore hari serta menikmati kebisingan malam
di sebuah club adalah tujuan kami berdua.
Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar bahwa dia telah memiliki
kekasih baru, entah siapa namanya. Syukurlah setidaknya dia akan
melupakan diriku karena bagaimanapun juga aku sungguh ingin dia bahagia
dan tak pernah mengharapkan diriku kembali padanya. Aku tahu aku egois
dan sangat jahat padanya namun kami berdua sesungguhnya saling
mengetahui bahwa hubungan selama 4 tahun yang kita berdua jalani adalah
sebuah kesia-siaan karena bagaimanapun aku tak pernah dan tak akan bisa
memberikannya sebuah pernikahan layaknya pasangan gay lainnya.
Richard sebenarnya telah beberapa kali melamarku meski tau apa jawabanku
namun dia tak menyerah bahkan setahun yang lalu, Richard juga kembali
melamarku di pulau ini. Dia ingin kami berdua menikah dan memiliki anak
dengan cara adopsi, bayi tabung atau mencari ibu pengganti. Intinya Richard
ingin kami bersama dan jika memungkinkan membentuk sebuah keluarga
bahagia.
Sedari awal hubungan ini, kami berdua sebenarnya memutuskan lebih
kepada hubungan layaknya friend with benefit maka dari itu meski kami
memang bersama namun aku ataupun dia tak pernah melarang jika siapapun
diantara kami ingin bersama atau berhubungan dengan wanita. Maksudku,
jika dia atau aku menginginkan anak dan membentuk keluarga normal kami
bisa menikah dengan seorang wanita namun hubungan kami bisa tetap akan
berlanjut. Jahat memang tapi begitulah pemikiran kami dulu.
Bukan hal aneh atau baru jika banyak pasangan gay yang memiliki pemikiran
seperti kami yakni memilih menikahi seorang wanita untuk menutupi
dirinya yang sebenarnya atau untuk mendapatkan seorang anak dengan cara
yang tepat atau juga dikarenakan desakan pihak keluarga untuk berumah
tangga seperti diriku dulu namun setiap aku berniat demikian, Maura dan
Vita selalu memarahi dan menasehatiku:
A' meski elo tidak mencintai wanita yang akan elo nikahi nanti setidaknya
hargai dirinya dan perasaannya. Sesuatu yang dilakukan dengan kebohongan
hanya akan berakhir dengan kesengsaraan. Apa salahnya melajang jika itu
membuat lo bahagia dan tak menyakiti siapapun.
Kata-kata itu selalu terngiang di dalam fikiranku bagaimanapun aku selalu
diajarkan untuk menghargai semua makhluk hidup terutama kaum
perempuan jadi bagaimana mungkin aku menyakitinya dengan segala
kebohongan yang akan menyebabkan luka setidaknya dengan Gadis aku
sedari awal sudah jujur. Dia menerimaku apa adanya begitupun aku. Dia
sudah mencintaiku tinggal aku yang harus berusaha sekarang untuk
mencintainya.