Dalam menyikapi masa pandemi covid 19 terkait dengan
pendidikan MRR memiliki gagasan di antaranya hendaknya
pemerintah melakukan pengadaan gawai bagi siswa yang
membutuhkan. Namun dengan sistem peminjaman layaknya
meminjam buku di perpustakaan."Bukan diberikan tapi dipinjamkan,
sistemnya seperti perpustakaan zaman dulu, ambil buku di
perpustakaan kemudian dikembalikan pada waktunya, atau
diperpanjang peminjamannya. Demikian yang diungkapkan MRR
melalui media. Semakin terlihat betapa MRR ingin sekali
memajukan pendidikan Indonesia dimulai dari dsarnya, yaitu
kompetensi guru dan siswa. Bukan tidak beralasan MRR
berpendapat seperti itu karena proses pembelajaran daring (online)
yang harus dilaksanakan karena pandemi ini memang memerlukan
sarana yang tidak murah apalagi mengingat keberagaman kondisi
ekonomi masyarakat di negara kita. Jangankan kebutuhan yang tiba-
tiba yang sudah jelas penting untuk kehidupan sahari-hari masih
kesulitan untuk mendapatkannya. Dengan cara diberikan pinjaman
gawai yang memang sangat diperlukan untuk pembelajaran daring
pembelajaran akan tetap berlangsung meskipun tidak harus ke
sekolah. Pemerintah tinggal minta kontribusi kepada perusahaan-
perusahan besar di bidang telekomunikasi untuk mengatasi kondisi
darurat akibat pandemi. Jika semua itu dilakukan tidak akan ada lagi
siswa yang belajar harus ke luar rumah gabung temannya yang
memiliki gawai, kadang satu gawai digunakan oleh empat orang.
Kondisi demikian akan semakin mengurangi capain hasil proses
pembelajaran dalam kondisi pandemi meskipun sudah dilakukan
penyederhanaan kurikulum atau penguranga kompetensi dasar. Akan
lebih baik lagi jika gawai itu dibagikan bukan dipinjamkan kepada
siswa yang belum memilikinya karena keterbatasan daya beli. Hal itu
memungkinkan sekali untuk dilakukan pemerintah karena Indonesia
ini negara kaya dan betul-betul kaya jika para pemegang
kebijakannya adalah orang-orang yang amanah.
MRR menyoal beban kurikulum yang terlalu berat buat siswa,
menurut beliau samapi sekarang Mendikbud Nadiem Makrim
menemukan jalan buntu untuk menyerdehanakan kurikulum. MRR
bahkan mengatakan bahwa ketidakberhasilan pendidikan di
Indonesia salah satu penyebanya adalah beban kurikulum yang
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 41
terlalu berat untuk siswa. Hal ini disampaikanya dalam sebuah media
elektronik “Karenanya, IGI kata Ramli, sejak awal sudah meminta
pemerintah pusat dan menyampaikan langsung ke mendikbud
Nadiem Makarim, bahwa beban mata pelajaran yang dialami oleh
siswa, sesungguhnya menjadi masalah utama rendahnya kualitas
pendidikan kita. Namun, hingga saat ini MRR menatakan bahwa
upaya penyederhanaan kurikulum masih mengalami jalan buntu.
Dengan tegas juga MRR mengatakan bahwa Nadiem Makarim
seolah tidak punya formulasi untuk menuntaskan masalah jumlah
mata pelajaran yang sangat membebani anak didik ini. Standar
penugasan oleh guru juga tidak diatur, baik oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan Provinsi maupun
Dinas Pendidikan Kabupaten Kota. Karena itu, bisa dibayangkan jika
setiap guru memberikan satu saja tugas setiap minggu, maka setiap
siswa akan mendapatkan 14-16 tugas yang harus dituntaskan,
sebelum mata pelajaran dilanjutkan minggu depannya," ujar MRR
yang juga merupakan Ketua Umum Jaringan Sekolah Digital
Indonesia.
Terkait dengan peristiwa yang mengagetkan dan sangat
memprihatinkan dunia pendidikan ketika seorang siswi SMA di
Gowa, Sulawesi Selatan berusia 16 tahun, nekat mengakhiri
hidupnya dengan meminum racun. Diduga siswa tersebut
mengalami depresi akibat terlalu banyak tugas pembelajaran daring.
Menurut MRR, korban memang kerap bercerita pada teman-
temannya perihal sulitnya akses internet di kampung, sulitnya
mengakses internet di kediamannya menyebabkan tugas-tugas
daringnya menumpuk. Mirisnya, MI merekam aksi bunuh dirinya
dalam sebuah video. MRR menilai bahwa peristiwa itu bukan
kejadian tunggal. Stres yang dialami siswa akibat PJJ yang tidak
memiliki standar khusus dan cenderung sangat memberatkan siswa
dari sisi tugas-tugas guru telah mengakibatkan siswa itu depresi.
Lebih lanjut MRR mengatakan, jumlah mata pelajaran yang sangat
banyak ditambah dengan mudahnya guru memberikan tugas kepada
siswa, menjadi beban yang begitu berat bagi siswa. Ada 14 hingga
16 mata pelajaran kata , tentu bukan sesuatu yang mudah apalagi
dengan dukungan jaringan internet yang tidak memadai. Oleh karena
itu, kejadian bunuh diri oleh siswa di kabupaten Gowa ini,
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 42
seharusnya menjadi alarm yang sangat keras kepada pemerintah. Dan
dengan tegas memperingatkan pemerintah, bahwa masalah
penugasan-penugasan ini adalah sesuatu yang sangat serius
memberikan dampak depresi kepada siswa. Kepala sekolah dan para
guru konseling mampu mengetahui dan mengukur beban yang
dialami oleh siswa, akibat banyaknya penugasan yang dilakukan oleh
para guru di suatu sekolah terhadap satu siswa. Hal ini, bisa menjadi
standar bagi guru-guru di sekolah tersebut untuk memberikan
penugasan kepada siswanya.
Begitulah MRR yang selalu tanggap dan peduli dengan
berbagai peristiwa yang terjadi di dunia pendidikan. Benar atau tidak
tanggapan-tanggapannya kembali pada penerimaan masing-masing
sekalipun MRR selalu berbicara apa adanya. Semoga pemikiran-
pemikirannya tentang dunia pendidikan Indonesia dapat menjadi
masukan untuk perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.
=====
Neli Fori Karliana, M.Pd. Lahir di Pandeglang pada
tanggal 19 Jui 1966 di Pandeglang, mengajar di SMAN
2 Pandeglang dengan tugas dan kewajiban tambahan
sebagai Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Provinsi
Banten, Ketua AGBSI (Asosiasi Guru Bahasa dan
Sastra Indonesia) Provinsi Banten, Ketua IGI
Kabupaten Pandeglang. Predikat yang pernah
disandang di antaranya menjadi finalis guru berprestasi
tingkat nasional, instruktur K13, instruktur Guru
Pembelajar. Tahun 2019 dikukuhkan menjadi Guru Inti Nasional untuk
mata pelajaran Bahasa Indonesia melalu program Kemitraan Kemendikbud.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 43
GAUNG SPIRIT MAKASSAR KE PESISIR SUMATERA
Oleh :
Hendri Burhan
Sebagai anggota IGI aktif sejak mendapat KTA pada tahun
2018, saya tak pernah sekali pun berinteraksi bahkan bertemu dengan
Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim (MRR). Sebagai salah
satu pengurus di wilayah Riau, saya hanya fokus sharing and
growing together di daerah asal saya, dan sesekali saja ke luar
daerah. MRR atau Daeng Ketum, begitu panggilan beliau yang kerap
saya dengar, memimpin organisasi yang sangat mengedepankan
kompetensi guru ini dari timur Indonesia, tepatnya di Makassar –
Sulawesi Selatan, tempatnya berasal, bermukim, dan berkarir sebagai
guru, pengusaha, dan pemimpin berbagai organisasi.
Namun tentunya sebagai anggota yang peduli akan
kelangsungan IGI, saya cukup „kepo‟ dengan sosok ketum ini. Di
media sosial facebook saya memang berteman dengannya, itu pun
karena dia yang duluan meminta pertemanan, dan selama masa
pertemanan itu, akun MRR pernah memberi like satu kali pada
postingan saya.
Mengapa saya sangat ingin tahu? Tentunya tak lepas dari
kiprah IGI yang perlahan tapi pasti mampu menggelisahkan orprof
guru lain yang sudah nyaman bersisian dengan pemerintah, dan juga
mengusik perhatian pemerintah pusat. Saya yang pada mulanya
apatis dan acuh dengan IGI akhirnya menjadi „maniak‟ karena berkat
IGI inilah bakat terpendam saya muncul dan menari-nari di
permukaan, dikenal banyak orang lintas provinsi maupun lintas
pulau, bahkan menyeberang ke negara tetangga. Memang belum
seterkenal yang lain, tapi paling tidak lebih banyak dari sebelumnya.
Lewat kanal Satu Guru Satu Buku (Sagusaku), IGI membuat
saya kembali percaya diri, percaya bahwa Tuhan „benar-benar ada‟,
Bahkan lewat IGI, saya pun dikenal ormas-ormas lain dan secara
sukarela berkontribusi pula demi kemajuan literasi. Sejak bergabung
dengan IGI, saya pun berkiprah di FTBM (Forum Taman Baca
Masyarakat) Riau, dan itu sudah memnbuat saya cukup sibuk dan
bahagia. Sibuk karena saya juga seorang ASN guru yang punya
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 44
kewajiban dengan siswa dan institusi tempat saya mengabdi, bahagia
karena pada akhirnya saya merasa hidup sangat bermanfaat untuk
banyak orang.
Ikatan Guru Indonesia (IGI) merupakan organisasi profesi
guru yang disahkan oleh pemerintah melalui SK Depkumham Nomor
AHU-125.AH.01.06.Tahun 2009, tertanggal 26 November 2009, dan
diperbarui dengan Nomor: AHU-0000308.AH.01.08. Tahun 2016.
Sangat menarik memang pola yang dikembangkan IGI untuk
meningkatkan kompetensi guru, banyak hal-hal baru yang tak
terpikir oleh orprof lain, bahkan cenderung frontal alias out of the
box (ini akan saya bahas lebih dalam di bagian ketiga). Salah
satunya adalah pelatihan yang diadakan IGI berbeda dari yang biasa
dilakukan. Jika selama ini peserta yang dibayar, di IGI sebaliknya,
peserta yang harus membayar. Hal aneh ini memang menjadi
kontroversi pada awalnya, namun kini sudah mulai bisa diterima
berbagai kalangan, dan itu tak lain karena pelatihan yang ditaja IGI
memang memberi manfaat, tidak sekadar mendapat sertifikat dan
uang jalan, lalu pulang tanpa ada perubahan yang signifikan untuk
pendidikan.
1. Siri’ Na Pacce
(MRR dan Nyali Bugis Makassar)
Daeng Ketum, saya lebih senang sapaan ini daripada MRR,
chemistry-nya lebih terasa, meskipun di daerah asalnya, sapaan
„daeng‟ adalah milik kebanyakan orang. Jika orang Makassar
otomatis akan dipanggil daeng, persis mas di Jawa, uda di Sumatera
Barat, atau bli di Bali. Daeng untuk Ramli adalah sebuah apresiasi
akan kemampuan dan keberaniannya menakhodai kapal pinisi besar
bernama IGI dari tahun 2016 sampai 2021.
Dikutip dari wikipedia, masa kecil Daeng dihabiskan di
kampung halaman, Maros, Sulawesi Selatan. Di Maros pulalah
tempat Daeng menuntut ilmu dari pendidikan dasar hingga
menengah, kemudian hijrah ke Kota Makassar, meneruskan
pendidikan di Universitas Hasanuddin. Kampus inilah kawah
candradimuka Daeng menjadi calon leader handal. Tercatat selama
di sana Daeng menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 45
Komisariat Fakultas MIPA Unhas, Ketua Umum Senat Mahasiswa
Fakultas MIPA Unhas, Ketua HMI Cabangan Makassar Timur,
Ketua Parlemen Mahasiswa Unhas, Ketua Dewan Kader Himpunan
Mahasiswa Kimia Unhas, Ketua Dewan Kader Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas MIPA Unhas, serta beberapa jabatan lain terkait
mahasiswa di luar Universitas Hasanuddin.
Berbekal jabatan seabreg itulah kematangan Daeng ditempa.
Usai menamatkan studi, Daeng tak hanya mengajar sebagai guru
tetap yayasan di SMK Widya Nusantara Maros, atau menjadi dosen
tamu di Universitas Hasanuddin dan Universitas Islam Timur
Makassar. Daeng juga mendirikan Grup Ranu, dengan berbagai anak
perusahaan yang bergerak mulai dari pendidikan hingga
infrastruktur.
Daeng terpilih secara aklamasi pada Kongres II IGI yang
berlangsung tangal 30-31 Januari 2016 di Kota Makassar. Sejak itu
Daeng bertekad untuk tetap pada program peningkatan kompetensi
guru seperti yang telah dilakukannya ketika memimpin IGI Sulsel.
Di masa kepemimpinannya, IGI menjalin kerjasama dengan berbagai
lembaga terkait peningkatan kompetensi ini, salah satunya yang kita
kenali adalah Samsung. Kapal pinisi IGI makin mantap berlayar
mengarungi lautan pendidikan dengan berbagai badai dan
gelombangnya. IGI pun mulai diperhitungkan, dan terus berlanjut
hingga sekarang.
Saya tidak tahu persis bagaimana karakter seorang Daeng
Ketum, namun secara umum berdasarkan etnis dia berasal, Daeng
adalah seorang „boemaks‟ (Boegis Makassar) walaupun sebenarnya
suku Bugis dan Makassar itu berbeda. Ada empat kelompok suku
terbesar di Sulsel yaitu: Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Suku
Bugis Makassar tersohor sebagai kaum pelaut yang berani sejak
dahulu kala hingga sekarang. Sebagai pelaut yang kerap „bergaul‟
dan akrab dengan angin dan gelombang lautan, maka sifat-sifat
dinamis dari gelombang yang selalu bergerak tidak mau tenang itu,
mempengaruhi jiwa dan karakter orang Bugis Makassar.
Dalam Program Belajar dari Rumah yang ditayangkan di
TVRI pada Rabu, 13 Mei 2020 yang mengambil tema "Mengenal
Masyarakat Bugis Makassar" untuk SD kelas 4-6. Disebutkan
kehebatan orang Bugis Makassar pada masa lalu, yaitu:
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 46
Suku Bugis dikenal sebagai pelaut handal. Di mana piawai
mengarungi lautan dan samudera
Orang Bugis Makassar terkenal dengan memiliki pribadi yang
tangguh, pemberani dan pantang menyerah.
Orang Bugis Makassar terkenal sebagai pengembara ulang.
Orang Bugis Makassar terkenal dengan mengarungi samudera
menuju negeri asing. Mereka rela menanggalkan semua atribut
dan meninggalkan tanah leluhurnya.
Orang Bugis Makassar menguasi pesisir Sumatera mulai dari
bagian timur hingga pesisir selatan.
Orang Bugis Makassar mampu mengendalikan dan
mengontrol semua perdagangan. Mereka menguasai jalur
pelayaran selat Malaka hingga pesisir utara Pulau Kalimantan.
Orang Bugis Makassar merupakan penguasa lautan yang
dihormati dan disegani para pedagang, para pelaut, bahkan
bajak laut juga hormat kepada orang Bugis.
Berbagai kerajaan khususnya kerajaan Melayu meminta
perlindungan untuk melakukan pengamanan.
Suku Bugis sendiri tergolong ke dalam suku-suku Deutero
Melayu (Melayu muda). Dalam situs Dinas Komunikasi Informatika
dan Statistik Kabupaten Wajo, kata bugis berasal dari kata to Ugi,
yang berarti orang Bugis. Penamaan Ugi merujuk pada raja pertama
kerajaan China yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo, yaitu
La Sattumpugi. Beberapa kerajaan Bugis klasik seperti Luwu, Bone,
Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng, dan Rappang. Suku
Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo,
Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, dan Barru.
Masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan
pesisir. Suku Bugis juga dikenal piawai merantau mengarungi
samudra. Wilayah perantauan mereka hingga ke Malaysia, Filipina,
Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar, dan Afrika Selatan.
Penyebab merantau disebutkan antara lain karena konflik antara
kerajaan Bugis dan Makassar, serta konflik sesama kerajaan Bugis
pada abad ke-16, 17, 18, dan 19. Hal ini menyebabkan banyaknya
orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya
merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 47
Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada
pertengahan abad ke-17, suku Bugis juga merantau ke Kalimantan
Selatan, Sumatera, dan Semenanjung Malaysia. Mereka pergi
menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu dan turut terlibat dalam
perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Karena itu banyak raja-
raja di Johor yang merupakan keturunan Bugis.
Orang Bugis Makassar memang dikenal pemberani, tegas,
bahkan dalam beberapa hal penaik darah, suka mengamuk, dan
sanggup melakukan apa saja untuk mempertahankan harga diri
(sungguh saya sudah memperhalus kalimat ini karena kutipan
aslinya cukup ekstrim, -pen).
Saya pun baru paham ternyata ungkapan terkenal „sekali layar
terkembang pantang surut ke belakang‟ bukanlah milik orang
Melayu saja. Nenek moyang orang Bugis Makassar yang pelaut
sejati ternyata sudah menyebut ini. Semboyan tersebut sebetulnya
adalah sebuah penggalan Syair Sinrili’. Sinrili‟ adalah salah satu
bentuk kesenian lokal Suku Makassar yang tergolong dalam seni
sastra bersenandung tutur diiringi petikan kecapi. Penggalan syair
yang dijadikan motto tersebut adalah:
Takunjunga’ bangung turu’
Nakugunciri’ gulingku
Kuallengi Tallanga Natoalia
yang artinya: layarku telah kukembangkang, kemudiku
telah kupasang, aku memilih tenggelam dari pada melangkah
surut. Semboyan itu melambangkan betapa masyarakat Suku Bugis
Makassar memiliki tekad dan keberanian yang tinggi dalam
mengarungi kehidupan ini, sekaligus menunjukan semangat
kepribadian yang pantang mundur untuk tetap maju menuju
kebenaran meski nyawa harus menjadi taruhannya.
Sebetulnya, semboyan itu adalah hasil penggalian dari
“falsafah” Suku Bugis Makassar, yakni: “Siri’ Na Pacce”. Siri’
adalah rasa malu dari sesuatu yang tabu; sedang pacce adalah pedih
yang mengajarkan untuk mengutamakan rasa kesetiakawanan dan
kepedulian sosial daripada kepentingan diri sendiri. Seperti yang
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 48
diungkapkan Rizal Ramli. saat tampil pada acara debat publik
sebagai salah satu kandidat Capres 2014 Konvensi Rakyat, di
Ballroom Graha Pena, Makassar, Sulawesi Selatan. Rizal lebih
memilih untuk mengorbankan dirinya dengan dipenjara (juga rela
dipecat) asalkan bisa memperjuangkan kepentingan orang banyak.
Suku Bugis Makassar berpandangan, bahwa jika Siri’ Na
Pacce tidak dimiliki oleh seseorang, maka perilaku seseorang
tersebut dapat melebihi tingkah laku binatang, tidak memiliki rasa
malu, harga diri, dan kepedulian sosial. Istilah Siri’ Na Pacce
sebagai sistem nilai budaya sangat abstrak dan sulit didefenisikan,
karena Siri’ Na Pacce hanya bisa dirasakan oleh penganut budaya
itu. Namun nilai filosofis dari Siri’ Na Pacce adalah merupakan
gambaran dan pandangan hidup yang dapat menggerakkan dan
menjadikan orang bisa tampil sebagai sosok yang reaktif, pelindung,
militan, konsisten, optimis, loyal, bernyali kuat, dan berjiwa
konstruktif nan cerdas.
Barangkali itulah mengapa orang-orang Bugis Makassar bisa
melahirkan tokoh-tokoh cerdas, tegas, dan berkarakter. Sebut saja
Sultan Hassanudin yang dikenal dengan julukan „ayam jantan dari
Timur‟, Bacharudin Jusuf Habibie, Muhammad Jusuf Kalla, Mario
Teguh, Eka Tjipta Widjaya, Riri Riza, Najwa Shihab, Abraham
Samad, Remy Silado, Aksa Mahmud, dan masih banyak lagi. Semua
tokoh itu tak hanya mengubah daerah asalnya, namun juga ke
seluruh penjuru Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara.
Bagaimana dengan Daeng sendiri?
Beberapa tahun kepemimpinannya di IGI rasanya sudah bisa
memberikan gambaran bagaimana Siri’ Na Pacce mengalir di darah
Makassar-nya. Rasanya tak heran lagi jika kita mendengar Daeng
begitu sering dan tanpa ragu mengkiritisi kebijakan pemerintah soal
pendidikan. Mulai dari carut marut pembelajaran jarak jauh,
penghapusan Ujian Nasional (UN), pengalihan kewenangan
pemerintah daerah soal guru, fenomena guru penggerak, dan banyak
lagi. Daeng bahkan terang-terangan menyangsikan kapasitas Nadiem
Makarim sebagai mendikbud. “Tahu apa Nadiem soal pendidikan
negeri ini?” katanya pada Republika, 23/10/19).
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 49
Tanpa bermaksud propaganda, saya merasa Daeng sah-sah
saja disejajarkan dengan tokoh-tokoh Makassar paling berpengaruh
di atas, tak peduli berada di urutan berapa. Setidaknya sebagai Ketua
Umum IGI, Daeng cukup mempengaruhi mindset pendidikan
Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Dalam hal ini saya yakin
dengan obyektivitas saya. Meskipun lahir, besar, dan berdarah
Sumatera, saya tak pernah mengusung seseorang dengan alasan
primordialisme dan sukuisme.
Secara pribadi apa keuntungannya bagi saya? Hingga detik ini,
bahkan ketika tulisan ini diselesaikan, saya belum pernah berbicara
sepatah pun, atau chat sehuruf pun dengan Daeng. Saya bersikap
juga atas nama orprof yang saya banggakan: Ikatan Guru Indonesia.
Seperti halnya Indonesia yang majemuk, anggota IGI pun terdiri dari
berbagai latar belakang yang amat beragam. Hanya orang-orang
yang berani, tegas, dan cerdaslah yang bisa memimpin orprof ini.
Sejauh ini saya melihat Daeng dengan segala karakternya sangat
berhasil. Karena itu, siapa pun nanti yang menakhodai kapal besar
bernama IGI, ia hendaknya memiliki sifat khas Bugis Makassar tadi,
tak peduli ia berasal dari semenanjung di Aceh atau ujung teluk di
Papua.
2. Falsafah Umar bin Abdul Aziz
(MRR Menggunakan Sumber Daya Pribadi)
Berbicara mengenai organisasi tentu tidak akan terlepas dari
konsepsi sumber daya manusia (SDM). Berdasarkan beberapa
literatur dapat dikatakan bahwa SDM bagi organisasi adalah asset
atau unsur yang paling penting di antara unsur-unsur lainnya. SDM
sangat berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan pencapaian
tujuan organisasi.
Berbicara tentang SDM, tentunya termasuk pemimpinnya.
Inilah pekerjaan berat yang harus dilakukan seorang
pemimpin/leader dalam memulai sebuah usaha yang boleh dikatakan
tak ada modal sama sekali. Kecakapan seorang pemimpin benar-
benar diuji, dan hal itu juga yang dialami Daeng saat ditunjuk
menjadi Ketua Umum. Saat itu dana yang dibutuhkan untuk
menggerakkan organisasi benar-benar tak ada, organisasi pun
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 50
notabene masih belum familiar di masyarakat. “Kita tak ada uang
sama sekali. Bahkan dana yang dibutuhkan pengurus pusat untuk
mengadakan kongres awal nyaris tidak ada,” cerita Daeng lewat
zoom meeting beberapa saat lalu.
Jadi bagaimana Daeng menaklukkan tantangan pertamanya
sebagai pemimpin IGI? Tak lain adalah dengan memaksimalkan
sumber daya pribadi. Apa maksudnya sumber daya pribadi? Sumber
daya pribadi (personal resources) adalah evaluasi diri yang positif
terkait dengan ketahanan dan merujuk kepada individu yang
memiliki kemampuan untuk mengontrol dan memberikan dampak
yang baik pada lingkungan mereka (Hobfoll, Johnson, Ennis, dan
Jackson, 2003). Pengertian lain menurut pakar psikologi, sumber
daya pribadi merupakan aspek diri yang secara umum dihubungkan
dengan kegembiraan dan merujuk pada perasaan individu mengenai
kemampuan mereka untuk mengontrol dan memberikan dampak
pada lingkungan mereka (Xanthopoulou et al., 2007).
Sumber daya pribadi diyakini memberi pengaruh yang
signifikan terhadap dedikasi, totalitas, dan optimisme seseorang.
Daeng meyakini ini karena ia sangat kagum dengan sosok seorang
khalifah yang menjadi idolanya hingga sekarang. “Saya
mengidolakan seorang tokoh yang tak pernah saya lihat sama sekali.
Seorang tokoh yang dikenal sebagai Umar II. Beliau adalah Umar
bin Abdul Aziz, cicit Umar bin Khatab.”
Apa yang membuat Daeng begitu mengagumi khalifah yang
berkuasa dari tahun 717 sampai 720 saat ia masih berusia 35 tahun
ini? Meski masa kekuasaannya yang terbilang singkat, Umar bin
Abdul Aziz merupakan salah satu khalifah yang paling dikenal
dalam sejarah Islam. Dia dipandang sebagai sosok yang saleh dan
kerap disebut sebagai khulafaur rasyidin kelima. Hingga kini,
menurut Daeng, ia belum menemukan pemimpin yang seperti Umar
II. “Kita bisa melihat satu-satunya pemimpin yang bisa membuat
sebuah negeri yang tanpa kemiskinan hanyalah Umar bin Abdul
Aziz. Istilahnya sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi. Hingga
kini saya tak menemukan pemimpin yang seperti beliau. Hanya
Umar bin Abdul Aziz.”
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 51
Tak seperti penguasa kebanyakan yang begitu ambisi
mengincar kursi kekuasaan, Umar justru menangis ketika tahta
dianugerahkan kepadanya. ”Cabutlah pembaiatan kalian!” serunya
sambil berurai air mata. Namun majelis yang terdiri dari para
pemimpin, menteri, ulama, penyair, dan panglima pasukan, tetap
pada pilihannya. Mereka menjawab, ”Kami tidak menginginkan
selain Anda!” Ia kemudian memangku jabatan itu, sedang ia sendiri
membencinya.
Keadilan dan kearifannya selama menjabat gubernur sangat
mengesankan. Adil, jujur, sederhana dan bijaksana. Itulah ciri khas
kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tak salah bila sejarah
Islam menempatkannya sebagai „khalifah kelima‟ yang bergelar
Amirul Mukminin, setelah Khulafa Ar-Rasyidin. Pada era
kepemimpinannya, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas
kejayaan yang mengharumkan nama Islam.
Tanpa ragu, Umar membersihkan harta kekayaan para pejabat
dan keluarga Bani Umayyah yang diperoleh secara tak wajar. Ia lalu
menyerahkannya ke kas negara. Semua pejabat korup dipecat.
Langkah itu dilakukan khalifah demi menyejahterakan dan
memakmurkan rakyatnya. Baginya, jabatan bukanlah alat untuk
meraup kekayaan, melainkan amanah dan beban yang harus
ditunaikan secara benar.
Masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, meski hanya dua
tahun setengah bulan, keadilan benar-benar tegak. Rasa aman
meliputi seantero negeri. Harta begitu melimpah ruah. Banyak yang
bersaksi bahwa sebelum beliau wafat, masyarakat sudah dalam
kondisi makmur.
Teladan yang diberikan Umar bin Abdul Aziz tersebut
diterapkan pula oleh Daeng, meskipun dengan rendah hati ia
mengatakan, “Sebenarnya tak pantas, karena saya jauh dari beliau.
Umar II adalah tokoh yang luar biasa, tetapi kita bisa meneladani
kepribadiannya.”
Bagi seorang Daeng, tidak ada istilahnya mengajak orang
tanpa kita memulainya lebih dahulu. Itu artinya harus dicontohkan
dari awal. Itulah sebabnya saat diterpa problem berat tak ada dana
setelah ditunjuk menjadi ketum, Daeng tetap fokus dan percaya diri.
Modal awalnya adalah saat dihubungi Dr. Ir. Indra Djati Sidi, MSc.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 52
yang saat itu memegang jabatan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah (Dikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional
(Depdiknas). “Pak Indra Djati Sidi meminta nomor rekening dan
langsung mengirim lima juta rupiah sebagai modal awal pelaksanaan
Kongres Makassar.”
Sadar akan semua kekurangan dalam organisasi yang
dipimpinnya, Daeng dengan bijaksana memulai semuanya dengan
merogoh kocek sendiri. Selain itu, Daeng juga berusaha
memaksimalkan kemampuan pribadi yang dimilikinya, di antaranya
mempunyai koneksi dengan beberapa orang penting.
Ada beberapa keuntungan, misalnya saat Anies Baswedan
sebelum menjadi mendikbud berkunjung ke rumahnya di Makassar.
Kunjungan Anies Baswedan ini menjadi perbincangan umum di
Makassar, karena beredar kabar bahwa Gubernur Sulsel sudah tiga
kali mengundang Anies Baswedan berkunjung ke kediamannya,
namun tidak sekali pun ditanggapi. “Saya ingat Pak Anies datang
bersama tiga sahabatnya yang belakangan menjadi petinggi penting
di Kemdikbud,” kata Daeng.
Tentu saja ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Daeng.
Setelah Anies Baswedan menjadi menteri, tiga sahabat itu menjadi
modal yang memudahkan urusannya di Kemdikbud, khususnya yang
berkaitan dengan pengembangan organisasi IGI yang dipimpinnya.
Daeng menjadi orang yang sibuk, terbang bolak-balik Jakarta –
Makassar, sehingga orang-orang jadi bertanya-tanya, uang dari mana
Daeng bisa terbang ke mana-mana? Namun Daeng menepis
anggapan aji mumpung, bagaimana pun ia harus mampu „menjual‟
agar organisasinya yang terbilang masih seumur jagung diyakini para
petinggi. “Leader harus mampu memperlihatkan kemampuan secara
dasar bahwa arah organisasi itu benar,” kata Daeng lagi.
Semua yang dilakukan bukan berarti tak ada pengorbanan.
Harus ada yang dikorbankan untuk mencapai satu tujuan, walaupun
berat namun harus dilakukan. Di antaranya yang pasti adalah waktu
yang sangat kurang untuk keluarga. “Meninggalkan anak dan istri
dalam waktu yang panjang tentu saja tidak mudah. Saya juga
meninggalkan banyak hal yang selama ini menjadi kewajiban saya,
di antaranya perusahaan yang saya bangun, perumahan, tambang,
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 53
bimbel, dan sekolah. Saya meninggalkan semua itu untuk fokus ke
IGI.”
Sejarah juga mencatat, pengorbanan seorang pemimpin sejati
yang akhirnya tak sia-sia. Salah satu perubahan yang paling luar
biasa dalam sejarah bisnis Amerika secara dramatis memperlihatkan
Hukum Pengorbanan. Itu terjadi di Chrysler Corporation di awal
tahun 1980-an. Chrysler kacau balau ketika itu, walaupun
sebelumnya pernah memiliki sejarah sukses. Perusahaan yang berdiri
sejak tahun 1920-an ini menjadi perusahaan mobil terbesar kedua di
dunia, lebih unggul dibandingkan Ford.
Namun menjelang tahun 1970-an, perusahaan ini merosot
dengan cepat. Pada tahun 1978, pangsa pasarnya turun dari 25 persen
menjadi tinggal 11 persen. Dan segalanya menjadi lebih parah.
Organisasinya hampir bangkrut. Lalu pada bulan November 1978
Chrysler merekrut pemimpin baru. Namanya adalah Lee Iacocca. Ia
adalah presiden Ford Motor Company, posisi kepemimpinan
tertinggi, dan membukukan keuntungan luar biasa sebesar $ 1.8
milyar dalam dua tahun terakhir berturut-turut. Secara finansial,
Iacocca tak perlu lagi bekerja seumur hidup.
Tetapi Iacocca rela mengundurkan diri pada tahun 1978, dan
bersedia menerima undangan Chrysler yang nyaris bangkrut untuk
memimpin. Iacocca merasa tertantang dan menyadari perusahaan itu
butuh kepemimpinan yang kuat untuk dapat bertahan. Iacocca
menerima tawaran tersebut, namun juga harus berkorban. Yang
pertama adalah dalam soal keuangan. Upah yang diperolehnya di
Chrysler hanya separuh lebih dari yang diperolehnya sebagai
presiden di Ford. Pengorbanan lainnya dalam kehidupan
keluarganya. Di Ford, Iacocca selalu bangga dengan fakta bahwa ia
bekerja keras dari Senin hingga Jumat, namun selalu meluangkan
hari Sabtu, Minggu, dan sebagian besar Jumat malam untuk
keluarganya. Dan jika ia pulang, ia tinggalkan masalah-masalahnya
di kantor.
Namun untuk memimpin Chrysler, ia harus bekerja hampir
nonstop. Di atas segalanya, jika ia pulang, ia tidak bisa tidur.
Belakangan Iacocca menggambarkan Chrysler selama ini dikelola
seperti sebuah toko kelontong, padahal sedemikian besar. Tak ada
system keuangan yang baik, metode produksi serta pasokannya
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 54
kacau, produknya berkualitas buruk, dan hampir seluruhl divisinya
dikelola oleh wakil-wakil presiden yang keras, yang tidak mau
bekerjasama sebagai satu tim. Moral karyawan sangat rendah,
loyalitas pelanggan merupakan yang terburuk dalam bisnis ini, dan
perusahaan terus merugi.
Setidaknya ada suatu pengorbanan yang dilakukannya ketika
itu yang mendapatkan reaksi positif dari pers. Iacocca memangkas
upahnya sendiri menjadi hanya satu dolar setahunnya. Ketika itu, ia
mengingatkan, "Kepemimpinan berarti memberikan teladan. Jika
Anda memegang posisi kepemimpinan, orang akan mengikuti segala
gerak gerik Anda".
Ia susul tindakannya itu dengan permintaan terhadap yang lain
untuk juga rela berkorban. Ia minta para eksekutif top Chrysler utnuk
bersedia dipangkas upahnya sebesar 10 persen. Lalu ia minta dan
mendapatkan konsesi dari serikat buruh dan bank yang berkerjasama
dengan perusahaannya itu. Agar Chrysler sukses, mereka semua
harus rela berkorban bersama-sama. Dan akhirnya mereka pun
sukses. Pada tahun 1982, Chrysler menghasilkan keuntungan dari
operasi sebesar $925 juta, yang terbaik dalam sejarahnya. Dan pada
tahun 1983, perusahaan ini mampu melunasi hutang-hutangnya.
"Terkadang kita lupa bahwa posisi tidak dapat membeli
kesetiaan!" Kepatuhan mungkin bisa kita dapatkan, namun untuk
mendapatkan kesetiaan, dedikasi tinggi, kerja keras, seorang atasan
membutuhkan usaha dan kesungguhan untuk membuktikan bahwa
dirinya layak disebut pemimpin.
IGI harus dibangun kekuatan kita dulu, memulai dari diri kita
sendiri. Harus dicontohkan dari awal. Seperti halnya Umar bin Abdul
Aziz, Ia beserta seluruh keluarganya rela hidup sederhana dan
menyerahkan harta kekayaannya ke baitul mal (kas negara). Daeng
pun meneladaninya, salah satunya dengan cara merogoh koceknya
sendiri untuk memulai impian besar akan organisasi IGI yang kelak
menjadi besar dan menjadi salah satu barometer peningkatan
kemampuan kompetensi guru di Indonesia.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 55
3. Tanpa Inovasi, Kita akan Punah Sebelum Waktunya
(MRR Berpikir Out of the Box)
Apa yang harus dilakukan jika ingin IGI berkembang?
Berpikir out of the box! “Kita hanya bisa membangun IGI dengan
berpikir tidak biasa. Memikirkan sesuatu yang tak pernah dipikirkan
orang,” tegas Daeng selanjutnya. Konsep yang membuat mata terjaga
meski malam kian larut. Daeng yang masih bersemangat meski
sehari itu dipadati kegiatan.
”Kita tak boleh berpikir biasa-biasa saja, Jika IGI hanya
menjalankan apa yang sudah dijalankan PGRI, kemendikbud, atau
dinas pendidikan, maka kita takkan bisa menjadi IGI yang seperti
sekarang. Kita bisa melihat sudah banyak IGI melakukan hal-hal
yang selama ini tidak terpikirkan orang. Maka berpikir di luar yang
dipikirkan orang menjadi suatu keharusan.”
Daeng tak berlebihan, jauh beberapa abad silam pemikiran ini
sudah dikedepankan juga. Albert Einstein secara ekstrim
mengatakan, “Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil
berbeda akan tetapi masih menggunakan cara-cara yang sama.”
Secara pribadi itulah yang membuat saya tertarik menjadi
anggota IGI di saat daerah saya hingga kini masih bisa dihitung jari.
IGI benar-benar melakukan banyak hal-hal baru yang menawarkan
kesempatan untuk guru-guru berkompetensi untuk menyalurkan
bakatnya. Hal yang tak pernah saya dapatkan dari orprof lain meski
sudah menjadi anggotanya puluhan tahun. Selama di PGRI 22 tahun
lamanya, saya tak mendapatkan apapun yang berarti selain uang gaji
yang dipotong setiap bulan untuk iuran. Hingga kini saya tak
mengerti apa guna iuran itu, dan tak pernah merasakan manfaatnya
secara langsung. PGRI sarat seremoni, dengan penunjukan pengurus
berdasarkan jabatan fungsional dan bukan keahlian.
Setelah 22 tahun, saya memendam bakat dan kemampuan
menulis, ingin menulis tapi tidak tahu bagaimana prosedurnya, dan
membuat buku hanyalah angan-angan tanpa kepastian kapan
terwujud. Begitu IGI menyapa, semua mimpi saya terwujud tanpa
waktu lama. IGI benar-benar memandang kompetensi guru tak
peduli apa dan bagaimana latar belakangnya. Berkat IGI, saya telah
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 56
menciptakan buku, mengajak ribuan guru menulis buku,
mengenalkan desain grafis, ilustrasi, dan seni. Berkat IGI saya bisa
terbang ke sana-sini, tampil di depan orang banyak, dan makin
dikenal orang banyak.
Semua itu saya lakukan tentunya diawali dengan falsafah
memanfaatkan sumber daya pribadi. Saya rela merogoh kocek untuk
bisa mengikuti pelatihan perdana, dan meminjam uang ke mana-
mana agar bisa bertemu dan berkumpul dengan IGIers seluruh
Indonesia di Solo. Banyak yang heran dan mengatakan saya bodoh
mau-maunya buang-buang uang jutaan rupiah untuk tiket pesawat
yang mahal. “Seharusnya kita yang dibayar, bodoh sekali kita yang
membayar untuk semua itu,” demikian cela orang-orang dekat saya.
Bahkan tantangan itu datang dari keluarga, di saat ekonomi sulit,
utang banyak dan kredit rumah sudah tiga bulan menunggak, saya
malah dengan „bodohnya‟ meminjam uang tak sedikit hanya untuk
ke Solo.
Saya tak peduli, saya sudah berpikir out of the box, melanggar
tradisi yang kadung melekat, meninggalkan zona nyaman dan mau
bersusah-payah demi sebuah pengakuan eksistensi diri yang terkubur
22 tahun lebih! Saya mencoba memberi pemahaman, menjelaskan
falsafah „jika ingin mendapat ikan yang lebih besar, umpannya harus
besar pula’. Kapan mau maju jika umpan kita „cacing‟ melulu dan
hanya mendapat ikan kecil yang tak berharga?
Seringkali dalam pekerjaan semua orang menekan kita,
pimpinan, rekan kerja dan lingkungan kerja yang memerintah tanpa
memberi solusi. Pada saat itu biasanya kita hanya mampu berpikir
bagaimana bisa keluar dari tekanan secepat mungkin. Dengan segala
cara, kalau perlu mengorbankan diri dengan tingkatan emosi yang
tinggi.
Agar dapat keluar dari tekanan dengan cara “Think out of the
box”, kita jangan membuat batasan-batasan tertentu dalam pikiran
kita, hilangkan semua itu dan ciptakanlah pengalaman sebanyak
mungkin yang dapat merubah tekanan menjadi peluang, keluar dari
zona nyaman yang selama ini membelenggu pikiran kita, lihat dari
perspektif yang berbeda dalam setiap permasalahan, jangan takut
anda dianggap aneh karena berbeda tetapi jadikanlah perbedaan itu
menjadi hal unik yang sangat berharga di mata orang lain.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 57
Berpikir out of the box atau think out of the box secara singkat
kita kenal dengan istilah “berpikir kreatif”. Harus berani melakukan
sesuatu yang berbeda, dengan demikian kita akan menciptakan
sesuatu yang berbeda dibandingkan orang lain, memiliki nilai yang
lebih. Secara sederhana dimaknai sebagai mencoba pendekatan dan
cara-cara baru dan inovatif; berbeda dari yang biasa dilakukan.
Pendekatan itu diperlukan untuk menemukan ide-ide segar yang
mungkin belum terpikirkan sebelumnya.
Cara berpikir out of the box pertama kali diperkenalkan oleh
seorang matematikawan Inggris bernama Henry Ernest Dudeney
lewat sebuah teka-teki yang ia ciptakan. Selain Henry, Edward de
Bono juga mengartikan cara berpikir di luar kotak sebagai cara
berpikir lateral. Ia berkata, “Seseorang tidak dapat menggali lubang
di tempat yang berbeda dengan menggali lebih dalam lubang yang
sama.”
Ini memiliki arti bahwa seseorang tidak akan menemukan hal
yang baru, hal yang tidak pernah ditemui dan dialami sebelumnya
jika masih berada pada cara pemikiran yang sama. Seseorang harus
berani mengambil keputusan untuk keluar dari „kotak‟ tersebut, zona
nyaman yang dimiliki, maka barulah hal-hal baru, inovasi,
pengalaman, dan keberhasilan baru yang tidak terbayangkan bisa
menghampiri diri seseorang.
Hal ini juga berlaku bagi seorang yang berprofesi sebagai
auditor zaman now. Mengingat derasnya arus teknologi informasi
yang sangat cepat berubah dan berinovasi secara menyeluruh, maka
untuk menyambut tantangan ini diperlukan sumber daya auditor yang
memiliki cara berpikir unik zaman now, yakni mulai berpikir out of
the box.
Out of the box thinking, bisa juga diterjemahkan secara harfiah
sebagai pemikiran yang keluar dari kotak. Sebenarnya sangat tepat,
karena kita hidup dalam kotak-kotak. Kotak pekerjaan, kotak
keluarga, kotak organisasi, kotak pertemanan dan yang lainnya. Arti
yang lebih mendalam tentang istilah out of the box thinking adalah,
mampu membuat pemikiran yang tidak biasa atau pemikiran yang
mengandung inovasi. Jika kita bisa sekali-sekali keluar dari kotak
dan melihat ke dalam, akankah lebih baik?
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 58
Apapun bidang yang kita sukai, dengan berpikir seperti ini
akan membuat kita lebih maju dibanding orang lain. Seseorang yang
out of the box thinking mampu untuk mengimplementasikan sesuatu
yang biasa tmenjadi luar biasa. Tapi, bagaimana melakukannya?
Bagaimana kita mengembangkan kemampuan untuk menghadapi
masalah dengan cara yang tak biasa? Untuk memiliki keterampilan
istimewa ini, ada perubahan perilaku yang perlu dilakukan. Apa saja
itu?
1. Berhenti menyalahkan, mulailah mengambil tanggung
jawab
Orang yang biasa berpikir out of the box cepat mengambil
tindakan dan siap bertanggung jawab atas tindakannya.
2. Seringkali dianggap aneh, bahkan ditertawakan ketika
datang dengan ide-ide yang tak biasa.
Sementara orang takut dibilang „gila‟ ia malah suka
berteman dengan „kegilaan‟. Meskipun begitu, karena hal ini
kita bisa melatih mental untuk bisa mengatur mind mapping
kita agar bisa menciptakan ide yang segar dan dapat
membuat inovasi yang luar biasa.
3. Berhenti Komplain, mulailah berorientasi pada solusi
Sedikit-sedikit mengeluh, kemudian protes. Selalu mencari
celah yang bisa membuatnya melontarkan ganjalan adalah
ciri kebanyakan orang yang tak memiliki tujuan. Orang yang
berpikir out of the box biasanya fokus pada upaya mencari
solusi yang paling tepat dari setiap permasalahan. Bagi dia,
persoalan ibarat sebuah teka-teki yang perlu dipecahkan,
bukan untuk dikeluhkan.
4. Berhenti defensif, mulailah proaktif
Bertahan dari serangan mungkin pilihan paling aman. Tapi
itu sesungguhnya menunjukkan sikap pasif dan
ketidakberdayaan. Untuk bisa menghasilkan ide yang
cemerlang, kita harus berani keluar dari zona nyaman.
Keluarlah dari rutinitas, dan buatlah terobosan.
5. Berpandangan Terbuka dan penuh rasa ingin tahu
Tidak merasa paling benar sendiri dan terbuka terhadap
pandangan baru adalah ciri orang yang berpikir out of the
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 59
box. Rasa keingintahuan yang besar mendorongnya untuk
mencari cara atau pendekatan yang dilakukan banyak orang
untuk mendapatkan informasi. Ia tidak pernah puas hanya
dengan satu jawaban dan akan terus mencari dan mencari
hingga rasa ingin tahunya terpuaskan. Ia juga sangat suka
mempelajari ilmu-ilmu baru agar dapat menunjang
kemampuannya dalam meningkatkan kreativitas dan
mengimplementasikannya menjadi sebuah inovasi. Dari situ
kemudian lantas lahir ide-ide segar dan inovasi baru yang
bermanfaat.
Out of the box yang diterapkan IGI bisa kita lihat dari berbagai
kanal yang menggawanginya. Selain Sagusaku, IGI punya puluhan
kanal yang semua bermuara pada peningkatan kompetensi guru di
segala bidang yang relevan dengan kapasitasnya sebagai pendidik.
Kanal yang selama ini kita kenal sebagai kali atau saluran air besar,
di IGI mempunyai makna yang lain.
Dengan tidak menyimpang dari pengertian dasar bahwa kanal
merupakan “terusan atau saluran” maka kita dapat mengenal istilah-
istilah tersebut yang dilekatkan pada berbagai sektor. Hal ini juga
digunakan Ikatan Guru Indonesia IGI yang merupakan organisasi
guru profesional dalam rangka mendukung visi dan misinya. Kanal
IGI dimaksudkan sebagai saluran pelatihan bagi guru-guru IGI yang
ingin mendalami kompetensi yang ada, terdapat Beberapa kanal
Pelatihan IGI yang sudah dan terus berjalan yaitu;
1. Sagusala (satu guru satu laptop), laptop tentunya harus
dimiliki oleh setiap guru, namun bagaimana pemanfaatan secara
efektif dan berkualitas, itu yang perlu dikembangkan. Tidak
sedikit guru-guru kita yang belum mengerti dan memanfaatkan
tool-tool yang ada di laptop atau mungkin saja mereka tidak
mengerti. Nah kanal ini membantu guru memaksimalkan laptop
tersebut.
2. Sagusatab (satu guru satu tab), penggunaan tablet A8
yang bekerja sama dengan samsung yang dapat mendukung
pembelajaran di kelas, Tab A8 yang dipesan IGI memiliki spek
khusus dengan fitur-fitur lengkap yang diharapkan oleh IGI
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 60
membantu dan memudahkan guru-guru IGI dalam melaksanakana
KBM di kelas, berbasis IT, dan pelatihan pemanfaatan tab
tersebut langsung diberikan oleh samsung dan trainer-trainer
bersertifikat Samsung.
3. Sagusanov (satu guru satu inovasi), guru IGI
mengembangkan suatu Inovasi dan tidak jalan ditempat, kanal ini
membantu guru-guru IGI menggali inovasi yang ada agar
pembelajaran bervariasi dengan metode dan strategi yang efektif
dan menyenangkan.
4. Sagusablog (satu guru satu blog), pemanfaatan blog
oleh guru dalam pembelajaran merupakan keharusan saat ini,
sehingga guru-guru IGI diharapkan memiliki blog sendiri, setiap
guru IGI memiliki blog untuk pembelajaran di kelas.
5. Sagusaku (satu guru satu buku), kanal ini menuntun
guru untuk rajin membaca dan menulis. Disini guru yang tadinya
tidak terbiasa membaca dan menulis, akan tertarik dan terpicu
untuk menulis. Jika sudah terbiasa menulis, dan tulisannya
dikumpulkan maka akan menjadi suatu buku. Ini menjadi sesuatu
yang luar biasa, karena menjadi sebuah prestasi bahwa guru-guru
IGI mempunyai karya karya yang dibukukan.
6. Sagusamik (satu guru satu komik), komik yang selama
ini dijadikan bacaan atau cerita saja, kanal ini membuat komik
menjadi media pembelajaran yang menarik. Gambar-gambar dan
dialog dalam komik pembelajaran bisa menjadi metode yang
efektif dikelas, sehingga pembelajaran menjadi menarik dan
menyenangkan.
Perkembangan dan perluasan kanal-kanal yang ada di IGI
nampaknya masih terus bertambah sesuai dengan kebutuhan dan ide-
ide cemerlang dari guru-guru IGI yang memiliki keahliannya namun
tidak terakomodir dari kanal yang ada. Bagaimana guru-guru IGI
bisa menguasai dan mengikuti semua kanal yang ada, dipersilakan
seuai dengan kemampuan dirinya dan dapat membagi waktu dalam
mengikuti pelatihan kanal tersebut.
Hebatnya lagi pelatihan kanal-kanal di IGI tetap bisa
berlangsung dengan online atau daring (dalam jejaring), yang saat ini
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 61
terus berlangsung adalah menggunakan media telegram. Kita bisa
mengikuti kanal pelatihan yang ada menggunakan telegram dengan
bergabung dalam grup telegram tersebut, seperti grup telegram
sagusanov, sagusablog, dan kelas komik IGI.
Motto “sharing and growing together” membuat
berkembangnya kanal-kanal yang ada di IGI banyak diminati,
semangat berbagi dari teman-teman guru IGI membuat kita tidak lagi
mengenal jarak, tidak lagi mengenal usia, tidak lagi mengenal malas,
tidak lagi ada halangan, semua terlihat mudah dan sederhana. Inilah
hakekat sejati dari manusia yang diberikan oleh Allah SWT. (dikutip
dari Abdul Marta Nurdin S, ST., M.Pd, Ketua Bidang Diklat IGI
Kota Tangerang)
Oleh karena itu kemampuan berpikir di luar kotak dibutuhkan,
perlu ada keterbukaan untuk berani melakukan cara yang berbeda
pada suatu hal dan melakukan hal-hal yang berbeda dari rutinitas dan
kebiasaan yang ada. Melihat segala sesuatu dengan perspektif yang
berbeda akan menghasilkan inovasi. Tidak semua permasalahan dan
tantangan harus menggunakan cara yang rumit karena belum tentu
solusinya menyelesaikan masalah, tapi lakukan dengan pendekatan
yang berbeda dengan cara perspektif yang berbeda agar dapat
memangkas akar masalah. Tanpa inovasi dalam kehidupan ini,
seperti yang sudah terbukti dengan evolusi makhluk hidup. kita akan
punah sebelum waktunya.
Diselesaikan di Bangkinang, Kampar
Selasa, 10 November 2020
==========
Hendri Burhan, sejak 1998 adalah seorang guru SMP
di Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Mulai aktif di IGI sejak tahun 2018, dan berkhidmad di
kanal Sagusaku sebagai desainer sampul buku dan
ilustrasi, meskipun menulis bukan hal yang asing
baginya. Penulis juga pengurus di Pengurus Forum
Taman Baca Masyarakat (FTBM) Riau.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 62
IGI MENJADI ORGANISASI BESAR DI BAWAH MRR
Oleh
Teddy Handika
Pergerakan awal
Tepat pada tanggal 26 November 2009, Ikatan Guru Indonesia
(IGI) disahkan oleh pemerintah melalui Surat Keputusan
Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU-125.AH.01.06.Tahun
2009. Sejak saat itu IGI resmi berstatus sebagai organisasi guru di
Indonesia. Sebenarnya IGI sudah bergerak sejak tahun 2000 di
Bandung dengan nama Klub Guru Indonesia (KGI). Satria Dharma
didaulat menjadi ketua umum sejak pengesahan oleh Kemenkumham
hingga tahun 2016. Kemudian Januari 2016 IGI mengadakan
kongres ke II di Makassar dan terpilihlah Muhammad Ramli Rahim
(MRR) sebagai Ketua Umum saat itu.
Sejak terpilih menjadi ketua umum IGI, MRR melakukan
perjalanan ke seluruh wilayah Indonesia untuk melantik
kepengurusan dan memberikan semangat juang kepada para guru
untuk bergerak bersama membangun organisasi dalam upaya
menciptakan kemandirian. Pada kepemimpinan kedua IGI tidak lagi
dalam upaya membangun eksistensi, tetapi bagaimana IGI mampu
memberikan manfaat kepada anggotanya yakni guru di seluruh
Indonesia.
Ikatan Guru Indonesia kemudian berkembang sangat pesat
hadir di 34 provinsi seluruh Indonesia dalam jangka waktu 5
tahun kepengurusan. IGI hadir hampir di seluruh kabupaten/ kota dan
terus berperan dalam upaya meningkatkan kompetensi guru
Indonesia yang menjadi konsentrasi utama dalam bentuk kegiatan
Seminar, Worksop, dan Diklat/ Pelatihan. Dengan semangat
“Sharing and Growing Together”, Ikatan Guru Indonesia
mendorong guru meningkatkan kompetensinya secara mandiri
sehingga tidak lagi harus terlalu bergantung pada program kegiatan
yang dieslenggarakan oleh pemerintah.
Guru IGI dibangun dengan pola memandirikan untuk
meningkatkan kompetensi diri. Memasuki era 4.0 Ikatan Guru
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 63
Indonesia sesungguhnya sudah jauh lebih awal mempersiapkan
semua itu, karena IGI dihuni dominan oleh guru-guru muda dengan
kemampuan teknologi yang sangat mumpuni. Kini IGI
memiliki lebih dari 100 jenis kanal pelatihan dan dilatihkan setiap
saat kepada guru-guru di seluruh Indonesia sehingga hampir bisa
dipastikan apapun kebutuhan guru, IGI mampu membantu untuk
meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan. Tidaklah heran IGI kini
sangat diminati oleh guru-guru yang mau meningkatkan kompetensi
dan keluar dari zona nyaman sehingga mereka memiliki kemampuan
tinggi terutama dalam bidang teknologi pengajaran.
Awal pergerakan IGI yang kuikuti dimulai pada kegiatan
Training of Trainer (ToT) Literasi Produktif berbasis IT di
LPMP Jawa Timur Surabaya pada tanggal 6 s.d. 8 Oktober 2016.
Gerakan Literasi IGI juga harus punya ciri khas dan menarik
minat, untuk itulah IGI menggandeng SAMSUNG sebagai mitra
dengan produk andalannya Tablet A8.
MRR Pribadi yang Menggerakkan
IGI harus dibangun oleh kita dulu, dari awal kegiatan IGI tidak
mempunyai uang kas setelah kongres II di Makasar untuk melakukan
pergerakan awal. Sehingga untuk memulai langkah pertama
pergerakan MRR sebagai Ketua Umum IGI yang baru pada saat itu
harus merogoh kocek sendiri utuk berkunjung ke seluruh Ibu Kota
Provinsi seluruh Indonesia. Langkah kedua yang dilakukan adalah
memaksimalkan jaringan yang dimiliki untuk mendapatkan sponsor
dan mitra kerja sama, MRR yang sudah sukses sebagai pengusaha
telah mempunyai banyak jaringan yang bisa memuluskan strategi
tersebut.
Perusahaan akan memberikan kepercayaan kepada suatu
organisasi kemasyarakatan terutama dalam lingkup profesi adalah
kinerja nyata yang telah dilakukan, sehingga untuk membangun
kepercayaan tersebut dibutuhkan strategi khusus. Kekuatan berpikir
harus dilakukan, IGI wajib mempunyai leader yang berawal dari
kemampuan berpikir untuk melakukan perencanaan matang
membuat suatu kegiatan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 64
Pengorbanan lain dalam melakukan awal pergerakan, MRR
harus meninggalkan keluarga dalam periode waktu perjalanan
berkeliling ke seluruh wilayah Indonesia. Selain itu meninggalkan
Perusahaan yang sudah memiliki banyak cabang usaha diantaranya
bidang properti, pertambangan, bimbingan belajar, dan sekolah
yayasan. Selama melakukan gerakan tersebut, konsentrasi MRR
lebih tercurahkan ke IGI sehingga perusahaan yang sudah dibangun
dari awal harus diurus langsung oleh sang isteri.
Apa yang dilakukan MRR lima tahun terakhir ini, sangat
dirasakan oleh pergerakan IGI saat sekarang. Strategi awal yang
dilakukan MRR telah membuahkan hasil yang luar biasa, dan
dirasakan dampaknya saat ini. Guru kreatif, mempunyai kemampuan
berpikir yang tinggi serta menjadikan setiap anggota yang memiliki
kapasitas yang besar menjadi leader di setiap daerah untuk membuat
pergerakan yang berjalan secara berkesinambnan di setiap daerah.
Bukti nyata yang dilakukan oleh IGI menarik minat banyak
perusahaan lainnya untuk menjadi mitra dan spronsorsif kegiatan.
Berita Viral
MRR mempunyai kemampuan dan bakat yang luar biasa
sebagai pemimpin, terutama dalam hal menulis dan berorasi. Menulis
seperti wartawan, menulis dengan sangat cepat, menggerakkan,
akurat, dan membuat orang lain tergugah meskipun hanay tulisan
pendek. Tulisan pendek yang sering dibagikan MRR secara berantai
melalui pesan WhatsApp seperti broadcast sangat enak dibaca
bahkan membuat orang lain seolah tersihir. Tulisan MRR mampu
menggugah alam bawah sadar dari yang membaca, bahwa apa yang
dtulis tersebut merupakan kebenaran dan wajib digerakkan bersama-
sama.
Kemampuan berorasi selama masa kepemimpinannya telah
dikenal banyak orang dengan ciri khas yang sangat kuat, mempunyai
daya Tarik dan kharismatik tersendiri. Dalam setiap menyampaikan
kata sambutan dalam suatu kegiatan beliau sudah terbiasa tidak
menggunakan teks, tetapi apa yang disampaikan dapat menggerakan
semangat juang untuk membangun dunia pendidikan Indonesia ke
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 65
masa depan yang lebih baik karena kunci dari majunya suatu negara
adalah bergantung pada kualitas pendidikannya.
Bakat yang luar biasa dari seorang MRR adalah
kemampuannya melemparkan isu ke media, misalnya hapuskan
sistem honorer yang ditanggapi negatif oleh banyak guru honorer
dan menjadi viral. Padahal setelah diklarifikasi maksud dari isu
tersebut adalah menyampaikan protes keras ke Pemerintah untuk
memuliakan guru, sistem guru honorer membuat masa depan guru
tersebut tidak jelas dan mendapatkan gaji jauh di bawah standar upah
minimal pekerja. Pemerintah hendaknya membangun sistem
pengelolan honorer yang jelas, mengangkatnya menjadi Pegawai
Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) dengan pendapatan
bulanan yang jelas dengan sumber dana dari APBN. Harus ada solusi
untuk memuliakan guru dan membebaskan guru dari status
“honorer” karena status guru honorer dengan pendapatan
Rp.100.000/bulan bahkan kurang dari itu sesungguhnya adalah
penghinaan terhadap profesi guru.
Berita viral selanjutnya adalah penghapusan Jabatan Pengawas
Sekolah, sebenarnya kedua ini disampaikan oleh MRR pada saat
kegiatan Nadiem Mendengar. Mendikbud Nadiem Makarim pada
tanggal 4 November 2019 mengundang Ikatan Guru Indonesia
bersama organisasi dan komunitas guru lainnya pada forum diskusi.
Setiap organisasi atau komunitas hanya boleh diwakili oleh satu
orang saja, dan Nadiem membuka pembicaraan dengan meminta
seluruh undangan tidak mengangkat masalah tapi memberikan solusi.
IGI yang diwakili langsung oleh MRR sebagai Ketua Umum,
diberi kesempatan dan ternyata Menteri Nadiem sangat antusias
dengan gagasan IGI dan terus mencecarnya dengan begitu banyak
pertanyaan dari setiap point yang disampaikan. Sepuluh Hal yang
diajukan Ikatan Guru Indonesia dalam upaya revolusi pendidikan
dasar dan menengah di Indonesia adalah:
1. Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan Pendidikan
Karakter berbasis agama dan pancasila menjadi mata pelajaran
utama di Sekolah Dasar dan karena itu, Pembelajaran Bahasa
Inggris di SMP dan SMA dihapuskan karena seharusnya sudah
dituntaskan di SD. Pembelajaran bahasa Inggris fokus ke
percakapan, bukan tata bahasa.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 66
2. Jumlah Mata Pelajaran di SMP menjadi maksimal 5 mata
pelajaran dengan basis utama pembelajaran pada Coding dan di
SMA menjadi maksimal 6 mapel tanpa penjurusan lagi mereka
yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilahkan memilih
SMK.
3. SMK karena fokus pada keahlian maka harus menggunakan
sistem SKS, mereka yang lebih cepat ahli bisa menuntaskan
SMK dua tahun atau kurang, sementara mereka yang lambat
bisa saja sampai 4 tahun dan ujian kelulusan SMK pada
keahliannya bukan pada pelajaran normatif dan adaptif. SMK
tidak boleh kalah dari BLK yang hanya 3, 6 atau 12 bulan saja.
LPTK diwajibkan menyediakan Sarjana Pendidikan atau
Alumni PPG yang dibutuhkan SMK.
4. Jabatan Pengawas Sekolah dihapuskan hingga jumlah guru yang
dibutuhkan mencukupi. Jabatan pengawas sekolah boleh
diadakan kembali jika jumlah kebutuhan guru sudah terpenuhi,
tidak ada lagi guru honorer dan semua guru sudah berstatus PNS
atau Guru Tenaga Kontrak Profesional dalam Status PPPK
dengan pendapatan minimal setara Upah minimum yang
ditetapkan pemerintah sesuai standar kelayakan hidup.
Hilangnya tanggungjawab mengajar kepada kepala sekolah
seharusnya dimaksimalkan fungsinya sehingga keberadaan
pengawas sekolah untuk sementara bisa diabaikan.
5. Seluruh beban administrasi guru dibuat dalam jaringan (online)
dan lebih disederhanakan, RPP cukup 1-2 halaman tapi jelas
tujuan dan aplikasi pembelajarannya, tak ada lagi berkas
administrasi dalam bentuk “hard copy”, verifikasi keaslian
dilakukan secara acak dengan kewajiban menunjukkan berkas
asli, bukan Foto Copy
6. Pengangkatan Guru berdasakan kompetensi dan kebutuhan
kurikulum yang nantinya dibuat. Uji Komptensi Guru wajib
dilaksanakan minimal sekali dalam 3 (tiga tahun)
7. Sistem Honorer dihapuskan sehingga tak ada lagi guru yang
mengisi ruang kelas yang statusnya tidak jelas, harus jelas
statusnya, apakah PNS, PPPK atau GTY. Pendapatan Guru
minimal mencapai Upah Minimum yang ditetapkan pemerintah
berdasarkan minimal kelayakan hidup.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 67
8. Jika kurikulum diubah, maka bimtek harus ditiadakan dan
diganti dengan vidoe tutorial dengan kewajiban uji secara acak
terhadap pemahaman kurikulum. Anggaran bimtek dialihkan
untuk rekruitmen guru
9. Anggaran Peningkatan Kompetensi guru dihapuskan dan upaya
peningkatan kompetensi guru diserahkan kepada organsiasi
profesi guru berdasarkan acuan kompetensi yang dibutuhkan.
Anggaran Pelatihan Guru dialihkan untuk rekruitmen guru.
Organisasi profesi guru diberikan legalitas dalam melaksanakan
upaya peningkatan kompetensi guru, pemerintah cukup
melakukan uji terhadap standar kompetensi guru yang
diinginkan. Organisasi profesi guru harus segera mendapatkan
pengesahan setelah melalui verifikasi dan sepenuhnya
pembinaan guru diserahkan kepada organisasi profesi guru
dalam pengawasan Pemerintah.
10. Mengatur kembali penentuan “sekolah daerah tertinggal-
terpencil-terdepan-terkebelakang sesuai kondisi sekolah, bukan
berdasarkan data Kemendes.
Sepuluh usulan IGI yang disampaikan oleh MRR di atas pada
perkembangan selanjutnya menjadi dasar kebijakan Kemendikbud
yaitu RPP satu lembar yang dituangkan dalam Permendikbud No. 14
Tahun 2019. Permendikbud ini disambut antusias oleh sebagain
besar guru yang merasakan terbebani dengan RPP yang super
komplit yang bisa menghabiskan puluhan halaman. Guru
mendapatkan manfaat yang sangat besar, RPP yang dibuat lebih
fokus pada tujuan dan kegiatan apa yang akan dilakukan, serta
penilaian seperti apa yang hendak diberikan kepada peserta didiknya.
Mendikbud di bawah kepemimpinan Nadiem Makarim
melakukan perombakan kurikulum yang besar-besaran yang akan
memasuki tahap piloting di tahun 2021. Dari beberapa pembahasan
di awal apa yang disampaikan IGI melalui 10 poin penting di atas
mendapat perhatian khusus menjadi masukan perubahan kurikulum
tersebut. Selain itu Kemendikbud memberikan ruang pada organisasi
profesi guru memberikan peran maksimalnya untuk membangun
sistem pendidikan nasional secara bersinergi, baik dalam bentuk ide
pemikiran dan program kerja. Peluncuran Program Organisasi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 68
Penggerak yang secara resmi akan dijalankan pada tahun 2021
merupakan wujud nyata jikalau solusi yang ditawarkan IGI
mendapatkan perhatian khusus oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia.
MRR Menjadi Pusat Berita
IGI memandang pendidikan secara menyeluruh, tidak hanya
berdasarkan kepentingan kelompok apalagi sekedar kepentingan
pribadi. IGI memberikan solusi bukan menjadi bagian dari masalah,
ciri khas ini menjadikan MRR sebagai pusat berita untuk diminta
pendapatnya terhadap berbagai kebijakan pendidikan. Apa yang
disampaikan beliau terkadang memicu kontraversi dan membuat
banyak orang terkaget dan sadar akan kebenaran yang terjadi selama
ini. Ketika Presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang anak
muda sukses berusia 35 tahun tentu saja hal ini menjadi sebuah
kegembiraan bagi Ikatan Guru Indonesia karena hampir bisa
dipastikan ide dan pemikiran-pemikirannya akan sangat sesuai dan
sejalan dengan IGI.
Sepuluh usulan Ikatan Guru Indonesia ketika bertemu dengan
Nadiem Makarim bersama 29 organisasi guru di Indonesia,
mendapat perhatian khusus bukan hanya oleh Mendikbud Nadiem
Makarim tapi menjadi perhatian khusus guru-guru di seluruh
Indonesia. Ide-ide IGI memang tidak biasa dan cenderung akan sulit
diterima oleh beberapa pihak yang masih berada di zona nyaman
atau sulit menerima perubahan. Ide dan pemikiran IGI adalah ide-ide
masa depan yang kemudian diharapkan mampu mempersiapkan
peserta didik bukan untuk masa kini tetapi mempersiapkannya untuk
masa depan.
Tulisan yang biasanya dibagikan oleh MRR melalui pesan
WahtsApp pada perkembangan selanjutnya menjadi sumber berita
banyak portal berita online nasional, sehingga dalam beberapa
kesempatan MRR selaku Ketua Umum IGI menjadi narasumber di
berbagai media arus utama (mainstream media). Kebijakan
pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang harus dilakukan oleh
semua sekolah di Indonesia karena pandemi Corona pendapat MRR
diminta oleh banyak media. Pendapat yang disampaikan MRR tidak
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 69
hanya banyaknya permasalahan yang terjadi, tetapi menawarkan
berbagai solusi yang harus dilakukan Pemerintah dan Sekolah.
IGI dibangun dengan jaringan yang kuat melalui guru-guru
yang militan dalam berorganisasi, keadaan ini menjadikan MRR
sebagai pusat berita bagi media untuk dijadikan narsumber utama
untuk mengetahui permasaahan dan solusi yang terjadi di dunia
pendidikan Indonesia. Kemampuan menulis dan berorasi yang luar
biasa membuatnya menjadi perhatian utama banyak media berita,
dan keadaan ini membuat IGI semakin dikenal oleh masyarakat
umum dan sudah menjadi organisasi besar setelah lima tahun berlalu.
Semua yang disampaikan oleh MRR bukan hanya pendapat belaka,
tetapi lebih banyak menyampaikan apa yang telah dilakukan oleh
guru-guru yang tergabung dalam IGI di seluruh Indonesia.
Menyampakan apa yang telah dilakukan akan menjadi pendapat dan
solusi yang efektif dibandingkan hanya pendapat tanpa dasar
pengalaman nyata.
Awal Pergerakan IGI
Pergerakan IGI dari awal tidak bisa dipungkiri oleh teladan
yang diberikan oleh pemimpinnya. MRR setiap datang ke Dinas
Pendidikan bukan meminta dana, tetapi menawarkan diri untuk
memberikan kontribusinya terhadap program pendidikan di daerah
tersebut. IGI menawarkan bantuan dalam bentuk program kegiatan
yang hanya perlu diberi dukungan dan motivasi oleh pemerintah
tanpa perlu pusing memberikan anggaran biaya terhadap pelaksanaan
program tersebut.
Nadiem Makarim dalam pidatonya yang sudah disebarkan
untuk dibacakan pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 2019
sangat jelas terlihat keinginan beliau untuk fokus menyiapkan
pelajar kita untuk masa depan yang lebih baik, beliau juga
menginginkan guru-guru Indonesia tidak terbebani dengan beban
administrasi yang begitu berat. Nadiem berkeinginan anak-anak kita
tidak terkungkung dengan kurikulum dan karena itu IGI memandang
diperlukannya inovasi dengan menyederhanakan jumlah mata
pelajaran agar mampu mempercepat penguasaan bahasa dunia bagi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 70
anak-anak dan menjadikan lulusan SMK memiliki keterampilan serta
keahlian sehingga mudah diserap oleh lapangan kerja di masa depan.
Sebagai upaya dan komitmen serius, IGI mempersiapkan guru
yang memiliki kompetensi yang tinggi maka IGI bersedia mengambil
tanggung jawab dari pemerintah untuk meningkatkan kompetensi
guru tanpa harus diberikan anggaran. Ikatan Guru Indonesia hanya
membutuhkan legitimasi agar pelatihan apapun yang dilakukan oleh
IGI diakui dan mendapat penghargaan yang layak dari pemerintah.
Awal pergerakan IGI dimulai pada kegiatan Training of
Trainer (ToT) Literasi Produktif berbasis IT di LPMP Jawa
Timur Surabaya pada tanggal 6 s.d. 8 Oktober 2016. Gerakan
Literasi IGI juga harus punya ciri khas dan menarik minat, untuk
itulah IGI bermitra dengan SAMSUNG memanfaatkan produk
andalannya Tablet A8. Sesuai dengan tuntutan zaman jargon
SAGUSATAB didengungkan, Satu Guru Satu Tablet yang
mengajak guru untuk membeli Tablet A8 untuk media
pembelajaran di kelas. Gerakan SAGUSATAB dilanjutkan
dengan gerakan SAGU-SAGU yang lainnya untuk
memaksimalkan pengguaan Tablet bagi guru, di antaranya
SAGUSANOV (Satu Guru Satu Inovasi), SAGUSAKU (Satu
Guru Satu Buku), SAGUSAKTI (Satu Guru Satu Karya Tulis
Ilmiah), SAGUSABLOG (Satu Guru Satu Blog), dan pemanfaatan
Tablet dalam media pembelajaran lainnya seperti Menemubaling
dan komik pembelajaran.
Kegiatan ToT ini bertujuan menciptakan kemandirian guru
dalam melaksanakan kegiatan pelatihan. Selama ini guru sangat
tergantung dari luar untuk menghadirkan pelatih/ narasumber,
pada umumnya berasal dari dosen atau perusahaan. IGI
menghadirkan pelatih dari guru itu sendiri, karena yang lebih
tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang menjadi kendala selama
ini adalag guru itu sendiri. Guru yang mempunyai berbagai
prestasi dan bakat unik diundang dalam kegiatan ToT untuk
dilatih oleh para trainer handal yang sudah tergabung atau
bersinergi dengan IGI. Selanjutnya guru tersebut akan terjun ke
lapangan melatih guru-guru yang ada di lingkungan kerjanya
sendiri dan berlanjut ke daerah sekitarnya.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 71
IGI Memberikan Bukti Nyata
Januari 2016 Muhammad Ramli Rahim atau yang lebih
dikenal dengan sebutan MRR dilantik menjadi Ketua Umum IGI
periode 2016-2021, pada Oktober di tahun yang sama sudah
mampu melaksanakaan kegiatan yang luar biasa tanpa bantuan
dana APBN dari Pemerintah. Suatu gebrakan yang tidak masuk
akal, dan pergerakan ini berlanjut tanpa henti serta semakin
gencar. Hadir di setiap sudut tempat, berusaha mengisi
kekeringan pelatihan bagi guru yang terkendala dana hibah dari
Pemerintah.
Januari 2018 kegiatan yang berhasil mengumpulkan para
Pelatih untuk menyusun program yang lebih serius. Semua yang
hadir datang dengan dana transportasi dan akomodasi sendiri,
kesadaran akan pentingnya berbagi dan tumbuh bersama.
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, jikalau hanya
mengharapkan kemampuan dana Pemerintah, rasanya hal yang
mustahil cita-cita pendidikan nasional dapat segera terwujud.
Dahulu kita berjuang mengalahkan penjajah, dan sekarang
berjuang mengalahkan bangsa sendiri dari kebodohan.
Pada kegiatan Temu Nasional Pelatih (TNP) yang
diselenggarakan tanggal 5 dan 6 Januari 2018 di Gedung A
Kemendikbud Jakarta menghasilkan 67 Kanal baru, yang
sebelumnya pada tahun 2016 tidak sampai 10 kanal. Kanal-kanal
yang dinyatakan lolos akan diberikan legalitas untuk melatih ke
seluruh daerah se-Indonesia Pada tahun selanjutnya bermunculan
lagi kanal-kanal pelatihan baru dengan diawali kata SAGU dan
ciri khasnya masing-masing. Kegiatan yang awalnya pergerakan
membuat berbagai perusahaan tertarik dan menjalin kerja sama
dengan IGI dalam penyaluran dana CSR dan bagi hasil.
Tahun 2018 dan 2019 merupakan agenda padat pengiriman
pelatih ke setiap pelosok daerah di 34 Provinsi yang diberikan
tiket pesawat oleh dana kas Pengurus Pusat IGI. Ini dapat
terwujud berkat perjuangan dan pengorbanan serta kecerdasan
dari MRR yang didukung penuh oleh para relawan yang
tergabung dalam Pengurus Organisasi dan Pengurus Kanal
Pelatihan. Suatu perjuangan yang luar biasa, MRR bergerak
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 72
dengan kas PP yang nol rupiah berkunjung ke berbagai tempat
dengan dana pribadi atas nama IGI. Tanpa ada yang mau
mengorbankan diri, nama besar IGI tidak akan bisa terdengar
seperti sekarang.
IGI sudah mempersiapkan guru sebelum wabah Pandemi
terjadi, saat virus Corona menyebabkan pembelajaran tatap muka
dihentikan para guru IGI sudah siap menjalankan pembelajaran
daring dengan menggunakan berbagai tool dan teknologi digital
dengan baik. Di masa pandemi malah memberikan hikmah yang
besar dan memberi ruang gerak dan peran IGI jauh lebih baik dan
masiv. Kehadiran IGI di daerah tanpa batas daerah lagi.
Tahun 2020 dengan segala keterbatasan pergerakan secara
tatap muka, IGI tetap terdepan dalam melaksanakan kegiatan
seminar dan pelatihan melalui daring. Semua bergerak dari
pengurus daerah, wilayah, pusat, dan kanal pelatihan IGI untuk
meningkatkan kompetensi guru Indonesia. Terima kasih MRR,
perjuanganmu untuk dunia pendidikan luar biasa, IGI bisa
menjadi besar karena hal gila yang dilakukan dan tak terpikir
oleh akal sehat. Berkatmu IGI menjadi organisasi yang besar dan
mulai diperhitungkan keberadaanya. Ada hikmah luar biasa yang
dirasakan, “IGI membuatku bangga menjadi Guru”.
Sumber:
https://www.igi.or.id/guru-kompeten-indonesia-maju-sambutan-
ketum-igi-pada-hgn-dan-hut-igi-2019.html
https://youtu.be/yjX_p9UbW88
=====
Teddy Handika, lahir 19 Desember 1980 di Muara Enim,
Sumatera Selatan. Mengajar di SMAN 1 Gunung Megang
sejak tahun 2015 sampai sekarang. Tahun 2016 sebagai
Pengurus Wilayah Ikatan Guru Indonesia (PW IGI)
Sumatera Selatan, dan sejak Januari 2019 sebagai PP IGI.
Aktivitas pengembangan keprofesian berkelanjutan
banyak dilakukan oleh penulis sejak aktif di IGI, dimana
gerakan IGI sangat aktif dan masif baik kegiatan secara
tatap muka atau pun daring.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 73
SEBUAH KABAR BAGI ANAK NEGERI
Oleh :
Marliah Yoesoef
“Jangan tanya seberapa besar yang akan kamu
dapatkan,tapi tanyalah apa yang mampu kamu berikan.”
Agaknya ini menjadi kalimat pembuka yang cocok ketika kita
mengupas sepak terjang seorang ketua umum IGI yang akan berakhir
masa jabatannya ini.
Muhammad Ramli Rahim yang lebih dikenal dengan sebutan
MRR, merupakan sosok pemimpin yang humble. Senyum yang
selalu mengembang di ujung bibir menandakan kejernihan hati dan
sikap yang bersahaja. Salah satu falsafah yang dipegang erat olehnya
adalah, “Bagaimana saat memandang ke kiri kita bersedih, namun
mampu tersenyum saat kau berpaling ke kanan. Hal ini
menjadikannya lebih bijak dan optimis dalam memandang hidup.
Jika ditelisik lebih dalam, dari satu moment sambutannya di
acara GESS (Global Educational Supplies & Solutions) Assembly
Hall, Jakarta 2019, MRR terlihat begitu kagum pada seorang
Khalifah yang bernama Umar Bin Abdullah Aziz. Hal ini terlihat
saat matanya berbinar ketika menceritakan sosok idola yang
merupakan cucu dari Khalifah Umar bin khatab ini. Baginya Umar
sangat menginspirasi. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang
sederhana, adil dan bijaksana. Banyak tindakan dan keputusan yang
dilakukan Umar ratusan tahun yang lalu, coba diaplikasikan MRR
saat menjadi ketua umum di Ikatan Guru Indonesia ini.
Menurutnya, seorang Umar bin Abdul Aziz walaupun masa
pemerintahannya relatif singkat, yaitu sekitar tiga tahunan akan tetapi
sangat spektakuler. Banyak perubahan yang beliau lakukan. Sebelum
beliau diangkat menjadi khalifah Dinasti Umayyah kedelapan, beliau
merupakan seorang tokoh yang kaya raya dan hidup dalam
kemewahan. Beliau suka berpesta pora dan menghambur-hamburkan
uang negara. Akan tetapi setelah diangkat menjadi khalifah, beliau
berubah total. Banyak ide yang beliau lontarkan dan laksanakan, dari
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 74
membukukan hadist, mendamaikan antara Muawiyyah, Syiah, serta
Khawarij, menghentikan peperangan, mencegah caci maki terhadap
Khalifah Ali bin Abi Thalib. Memperbaiki tatanan yang ada dalam
masa kekhalifannya, misal menaikkan gaji untuk para gubernurnya,
meratakan kemakmuran dengan memberi santunan kepada fakir dan
miskin, serta memperbarui dinas pos. Menyamakan kedudukan
bangsa bangsa Arab, mengurangi beban pajak dan menghentikan
pembayaran jizyah bagi orang islam baru. Perhatiannya juga sangat
besar pada ilmu pengetahuan dengan mengirim utusan untuk belajar
keluar, sehingga muncul ahli ilmu tertentu yang semakin banyak dan
mendalam seta melakukan reformasi sistem zakat dan shodaqoh,
sehingga pada zamannya tidak ada lagi kemiskinan. Negara yang
dipimpinnya menjadi Negara Gemah Limpah Loh Jenawi, semua
rakyatnya hidup dalam kebahagiaan, kemakmuran, dalam rasa aman
dan nyaman.
Sikap total Umar saat menjadi khalifah, disamping
memberikan sumbangsih pemikiran bagi dunia juga memberikan
dampak luar biasa bagi negara yang dipimpinnya. Hal inilah yang
begitu menginspirasi MRR. Selanjutnya, kemampuan Umar dalam
pengambilan keputusan yang selalu dilatarbelakangi berbagai hal di
sekitarnya semisal toleransi dan kebermanfaatan juga menjadi modal
bagi MRR untuk membawa IGI sehingga menjadi salah satu
organisasi profesi yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Lima tahun bersama MRR, bendera IGI begitu berkibar di
dunia pendidikan. Banyak pengambilan kebijakan merupakan suara
IGI. Usia muda IGI, tidak lagi menjadi seperti anak bawang.
Gerakan yang dilakukan para guru yang tergabung dalam IGI
sangat massive baik di ibu kota negara, provinsi, kabupaten, bahkan
daerah-daerah terpencil. Keberadaan IGI semakin diperhitungkan,
Langkah dan kegiatannya kini menjadikan banyak wajah berpaling
untuk melihat lebih jelas dan gamblang dengan rasa ingin tahu yang
besar.
Agaknya dogma “Berbuatlah jangan berhitung untung rugi,
cukup Allah saja yang menakarnya” benar-benar kini terpatri di jiwa
IGIers. Secara perlahan tapi pasti dogma tersebut menjalar di setiap
diri kita melalui loyalitas MRR.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 75
Butuh leader yang kuat untuk sebuah organisasi dengan mimpi
yang besar. Karena banyak sekali harapan tumbuh di hati para guru
yang berabung di IGI. Guru-guru militan dengan pola pikir penuh
inovasi yang selalu berupaya berbuat, memberikan manfaat untuk
orang banyak. Dan hal ini untuk lima tahun ke belakangan nyaris
sempurna oleh MRR. IGI harus tersetting di pikiran setiap orang
sebagai organisasi yang bermartabat ungkap MRR berulang kali
disetiap pertemuan. Organisasi yang terus bergerak dan
menggerakkan walau tanpa bantuan sekalipun. IGI harus memiliki
nilai tawar yang tinggi karena bukan organisasi yang berharap
semata-mata ada kucuran dana dari APBN. Ini adalah organisasi di
mana setiap anggota harus siap untuk memberi bukan meminta. Dan
ini bukan hanya sekedar omong doang dari seorang MRR.
Ketika terpilih lima tahun yang lalu MRR sebagai ketua
umum , IGI hanya memiliki modal lima juta rupiah dari PP untuk
menyelenggarakan sebuah kongres. Tak perlu berpikir lama maka
MRR mengambil langkah singkat yaitu dengan merogoh koceknya
sendiri. Syukurnya MRR berlatar belakang seorang pengusaha sukses
sebagai pemilik tambang galian C, pengusaha property, pemilik
bimbel, pendiri sekolah yang tak segan-segan untuk merogoh
koceknya bagi kemanjuan IGI yang dipimpinnya. Dalam
perjalanannya sebagai ketua umum, MRR sangat fokus mengurus IGI
sehingga agak sulit membagi waktu untuk menjalankan
perusahaannya. Namun, karena komitmen yang kuat ia tidak
memerdulikan hal tersebut. Untuk sebuah kemajuan pasti ada yang
yang harus dikorbankan ungkapnya.
Menjadi anggota IGI cukup hanya membayar lima puluh ribu
diawal sebagai pengganti biaya pembuatan kartu selanjutnya gratis
seumur hidup merupakan sesuatu yang terlihat aneh. Bagaimana
mungkin menggerakkan mesin organisasi tanpa iuran atau lainnya.
Apakah mungkin menumbuhkan semangat berorganisasi dengan
menggunakan dana pribadi anggota? Aneh sih, tapi ini nyata terjadi
di IGI. MRR selalu berharap semua anggota urunan dana dan
sumbangsih pemikiran setiap melakukan gerakan. Sehingga dalam
setiap gerakannya para anggota IGI jarang bergesekan atau
bersinggungan di lapangan karena bukan bermental mengharap materi
saat melebur di organisasi. Banyak aksi nyata yang dilakukan IGIers
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 76
hingga ke daerah terpencil sekalipun yang bertujuan meningkatkan
kompetensi guru Indonesia hanya dengan merogoh kocek sendiri.
Semangat berbagi yang di tularkan MRR dan pengurus lainnya
menjadi teladan bagi anggota IGI. Sehingga gerakan dari akar rumput
hingga ke level nasional sama yaitu bermanfaat untuk orang lain
tanpa mengharapkan imbalan berupa materi.
Pemimpin itu teladan terlihat di IGI, dimana banyak hal yang
dilakukan sang pemimpin menjadi model bagi yang lainnya. Banyak
kegiatan yang dilakukannya dan dapat dipastikan selalu memakai
uang pribadi. Orang IGI itu kaya, ya bisa jadi, karena begitu gampang
mengeluarkan dana untuk mengejar apa yang ia mau (dalam tanda
kutip semisal mengejar satu ilmu yang ia tidak ketahui) maka ia akan
mencarinya melalui kegiatan pelatihan atau workshop. Begitu juga
soal membeli buku agaknya sudah termaindset bahwa guru itu di
tangannya adalah buku, jadi timbul rasa malu jika tidak membeli
buku paling tidak sebulan satu buku. Karena buku juga menjadi
refrensi IGiers untuk melahirkan buku karyanya yang lain.
Selanjutnya jika IGi mengadakan suatu pelatihan dan mentornya
adalah anggota IGI maka jangan tanya berapa, jawabannya adalah
terserah yang penting ada transport menuju kewilayah pelatihan..
Ada semacam rasa malu yang merembes di setiap kita bila segala
sesuatu diukur dengan untung dan rugi secara materi. Di setiap
pelatihan yang diselenggarakan oleh IGI maka para panitia tahu
bahwa yang ikut pelatihan dapat dipastikan sedang serius mendulang
ilmu maka biasanya tiket pelatihan juga sangat ekonomis dengan
materi yang berisi. Dan pola pikir seperti ini agaknya sudah
mengkulminasi di hati setiap IGIers. Banyak pelatihan yang
diselenggarakan IGI, sering tidak dikutip bayaran jika mentornya
adalah anggota IGI dan kita tahu para mentor sedang
mengembangkan dirinya sekaligus menggerakkan audiensnya. Para
mentor tak perduli apa yang didapat, baginya memberi kebaikan itu
adalah bagian dari perintah sang pencipta. Lakukan kebaikan maka
kebaikan akan mendatangimu, ciri khas mentor yang membuat IGI
menjadi bangga akan dedikasinya.
Buah dari suatu kebaikan yang ditanam oleh para pendiri,
ketum, dan anggota IGI ternyata memberikan side efek yang luar
biasa, yaitu banyaknya dukungan yang diberikan perusahaan-
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 77
perusahaan besar semisal Garuda, Wardah, Samsung dan lain
sebagainya dalam mendukung gerakan yang dilakukan IGI dengan
moto Sharing and Growing Together. Tahun 2018 merupakan salah
satu moment disamping moment hebat lainnya, yaitu saat IGI
mempersembahkan Berbagi Untuk Negeri dengan mengirimkan para
pelatih dalam kegiatan melatih menulis hingga ke pelosok negeri dari
Sabang hingga ke Merauke, dan penulis ada di barisan tersebut
sebagai mentor yang melatih ke Aceh. Begitu banyak yang merasakan
manfaat dari kegiatan ini. Salah satunya, banyak guru yang dulu
hanya bermimpi bisa menulis ternyata kini mampu melahirkan satu
buku solo dari tangannya atau berbentuk antologi. Banyak guru yang
dulu hanya menunggu dipanggil untuk dilatih saat ini mencari sendiri
pelatihan sesuai dengan kebutuhannya dengan mengeluarkan dana
pribadi. Dulu guru paling alergi dengan IT kini banyak yang melek
teknologi. Perlahan tapi pasti diharapkan gerakan yang dilakukan IGI
berbuah manis yaitu lahirnya guru yang tercerdaskan.
Disamping loyalitas tinggi yang coba di tularkan MRR,
kemampuan untuk mandiri dan berhitung kekuatan diri juga menjadi
prioritas yang diangkat oleh MRR. Menggerakkan IGI dengan
ketiadaan dana perlu pemikiran jernih, sehingga hanya mereka yang
memang ingin melihat perubahan di dunia pendidikan saja yang mau
berjibaku di sini. Disamping itu setiap orang yang terlibat dalam suatu
organisasi juga harus mengetahui arah pergerakannya benar atau
melenceng untuk melihat nilai keikhlasan disana. Berapa nilai yang
akan dibayar oleh Allah cukup hanya menjadi rahasiaNya saja, kita
sebagai umat cukup meyakini saja bahwa Allah tahu yang terbaik
untuk umatnya. Sebuah peristiwa besar (di mata MRR) pernah
dirasakan oleh beliau, yaitu saat seorang politikus Anis Baswedan
berada di Makasar mengunjungi kediamannya disaat pejabat lain
menanti kehadirannya. Hal ini merupakan peristiwa yang luar biasa
bagi MRR. Ia merasa ini merupakan cara Allah membalas apa yang
telah ditanamnya dahulu. Berbuat saja tanpa perlu menakarnya cukup
Allah yang menghitungnya. Lagi-lagi menjadi sebuah keyakinan yang
terus digadang-gadangkannya.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 78
Menulis dan Ke-IGI-an
Tahun 2017 adalah moment pertama kala cinta menjatuhkan
pilihannya. Saat itu tanpa sengaja bersama beberapa Teman guru
membaca pengumuman ada kegiatan meningkatkan kompetensi
melalui kegiatan menulis di ibu kota Provinsi Riau. Sensasi kenangan
masa lalu terasa begitu menguap menerima tantangan untuk menulis
dan melahirkan buku dengan deadline hanya tiga bulan. Tidak
memiliki kemampuan, nol pengetahuan tak menghalangi tekad untuk
melahirkan satu buku tak perduli berjenis apapun itu. Target serta
plane A dan B diajari disana agar siap jika menerima hambatan atau
halangan serta mampu mencari solusinya.
Hambatan menulis memang terjadi, rencana awal akan menulis
buku berjenis biografi terhadap salah satu tokoh politik yang sukses
secara finansial dan menjadi tokoh yang menginspirasi batal setelah
proses menulis sudah menunjukkan angka selesai ditingkat 85 persen.
Tak ingin berlama patah hati maka segera mengubah plane menuju B.
Satu hal yang menjadi penguat bahwa apa yang terjadi merupakan
cara Allah untuk menguji kita untuk naik derajat. Dengan
memanfaatkan waktu yang hanya tinggal sebulan maka penulisan
diarahkan menulis kumpulan puisi yang merupakan kegiatan yang
paling disenangi penulis. Teringat kembali, saat mengikuti kegiatan
workshop yang diadakan oleh IGI di Provinsi Riau yang menjadi
moment kedekatan dengan IGi dan segala aktivitas di dalamnya.
Awalnya, saat pelatihan menulis, yang terpikirkan hanyalah
menulis buku, menjadi peserta duduk, diam, tenang, dan pulang. Tak
terpikir sedikitpun bahwa saat ini panitia akan membentuk dan
melantik IGI di daerah asal peserta yang datang, dan aku di daulat
menjadi salah satu koordinatornya. Indragiri hilir, pada saat itu,
adalah pemecah rekor untuk jumlah peserta yang hadir. Tak
tanggung-tanggung sekitar 46 orang berangkat menuju Pekanbaru
untuk mendapatkan kemampuan menulis walau pada akhirnya hanya
tinggal 13 orang yang bertahan hingga titik darah penghabisan.
Setelah struktur IGI untuk di daerah Kabupaten Indragiri Hilir
terbentuk. kami sebagai pengurus belum melakukan kegiatan apapun
kecuali mengejar target untuk menulis. Puncak penghargaan dari
menulis adalah pengarang buku di undang untuk mengikuti kegiatan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 79
pameran pendidikan terbesar Global Educational Supplies &
Solutions (GESS) di Senayan, Jakarta dan ini adalah goal sekaligus
hadiah yang luar biasa.
Menjadi salah satu peserta di acara GESS ini, ternyata
menjadi titik awal dari kepesertaan diberbagai kegiatan yang ditaja
oleh IGI, dalam hal ini kanal SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku).
Sebuah acara yang luar biasa dengan bermodalkan komunikasi
melalui WhatsApp dan rapat pun menggunakan whatsApp atau zoom
semua rangkaian kegiatan disusun sedemikian rupa, rapi, dan penuh
sensasi. Bertegur sapa hanya melalui WA namun terasa bagaikan
bersaudara. Berlatar belakang visi misi yang sama sekaligus di
dorong oleh komitmen dan kekuatan dari para para leader di IGI,
walau info ini hanya dibaca melalui media informasi, namun telah
mampu menumpuhkan semangat perubahan. Di acara GESS ini
semua pendiri dan pengurus IGI di bawah kepemimpinan MRR turun
gunung berupaya mempererat tali silaturrahmi dan konsolidasi. Saat
itu sang ketua umum melempar satu kalimat berbisa yang mampu
menghentak bagi yang hadir yaitu, “Selalu berusaha menjadi guru
yang menginspirasi siswa, pembelajar sepanjang hayat, dan bicara
seperti layaknya seorang orator, serta mengasah kemampuan menulis
seperti wartawan.”
MRR lagi-lagi membuat kami terhenyak dengan berbagai
pola pikir yang coba ditularkannya. Tuntutan untuk terampil menulis
menjadi gambaran program selanjutnya yang akan di capai IGI.
Melalui gerakan GELIS (Gerakan Literasi Sekolah) ada semacam
pesan yang diselipkan disana. Sasaran Gelis seyogyanya bukanlah
siswa semata. Namun, IGI tak ingin ada kesan menggurui disana.
Sebenarnya IGI sedang menghela para guru yang dikunjungi oleh
Tim Gelis IGI untuk berani menulis. Menulis saat itu seperti
keterampilan yang hanya dimiliki segelintir orang. Penulis adalah
istilah ekslusif bagi mereka yang memiliki kecerdasan tinggi hingga
mampu menulis. Namun, melalui gerakan dan gebrakan yang
dilakukan IGI semua kita berhak untuk menulis dan menyandang
gelar menjadi penulis tanpa perlu mempertanyakan kualitas dari
tulisan yang dihasilkan. “Menulislah agar dunia tahu kau pernah ada”
sepertinya menjadi kata pemantik agar setiap kita berani untuk
menulis.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 80
Untuk program Gelis sendiri dapat dinyatakan sebagai
program unggulan yang sukses dan telah dengan sengaja mengajak
murid dan guru untuk berkarya. Banyak karya siswa yang lahir disaat
ini baik berupaya karya solo ataupun antologi yang semuanya secara
eksplisit mengabarkan bahwa siswa saja mampu untuk menulis
apalagi para guru yang notabene pernah menjadi mahasiswa dimana
dalam kegiatan belajarnya tak pernah lepas dari pengasahan
keterampilan menulis dan berbicara. Ada rasa haru setiap melihat
ekspresi bahagia dan bangga saat melihat siswa yang memegang
buku hasil menulisnya yang dikumpul berupa antologi atau pun solo.
Malah, beberapa sekolah mengapresiasi pencapaian tersebut dengan
memberi keringanan untuk tidak membayar SPP bagi siswa selama
dua bulan. Kemudian gerakan menulis juga membuat beberapa guru
merasa menyayangkan jika tidak ikut mengambil kesempatan untuk
turut andil mencoret-coret pemikirannya hingga akhirnya mengikuti
jejek siswanya melahirkan satu buku hasil kegiatan tersebut. Goal
yang diharapkan Tim Gelis berbuah manis.
Sebenarnya menulis dapat kita nyatakan sebagai penyakit
gatal yang apabila di garuk akan menimbulkan rasa ketagihan. Dan
ini yang terjadi saat kita telah melahirkan satu buku maka akan
membuat kita mencari waktu untuk menulis dan menerbitkan buku
lainnya lagi. Namun, tidak dipungkiri bahwa kegiatan ini memang
membutuhkan wadah untuk penyalurannya serta menampung hingga
bisa diproses di penerbitan. Ketika kita terlibat dalam kegiatan
menulis di IGI, syukurnya link ke perusahaan penerbit telah
dibangun terlebih dahulu oleh IGI terutama Tim SAGUSAKU
sehingga anggota mendapat refrensi terkait penerbit yang amanah,
murah, dan menjaga kualitas. Sungguh berkah bisa terlibat dan
menjadi bagian dari IGI. IGI itu organisasi yang luar biasa, bukan
hanya sekadar wadah bagi para anggotanya. IGI dengan gaya
kepemimpinan MRR, support semua pengurusnya baik pusat,
wilayah, dan daerahnya, pergerakan kanal-kananlnya, serta spirit
para anggotanya membuat para anggota IGI merasa menjadi tuan
rumah di organisasinya. Setiap anggota IGi memiliki kesempatan
yang sama untuk turut andil berbuat untuk negeri, pergerakan sekecil
apapun tetap diberi support dan apresiasi.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 81
Berada di IGI selalu memberikan aura inovasi. MRR dalam
setiap pertemuan virtual sekalipun, selalu mencoba memberikan ide
besar yang membuat anggota merasa harus ikut andil untuk
mengimplementasikannya. Kreativitas dan semangat memberi pada
akhirnya lahir dari tiap anggota yang secara perlahan tapi pasti
menaikkan nilai tawar IGI di mata setiap orang yang mau tak mau
mengikuti segala sepak terjang para IGIers. Keikutansertaan para
guru menjadi anggota IGI merupakan buah dari keringat ikhlas para
pemimpin dan anggota yang selalu bergerak dan menggerakkan.
Banyak guru hebat tergabung di IGI karena kesadaran akan
pentingnya andil guru dalam memecahkan banyak masalah baik
besar atau masalah kecil yang ada di tengah-tengah pendidikan di
Indonesia.
Terkait hasil kegiatan Gelis yang telah dilakukan para IGIers
Indragiri hilir, telah melahirkan banyak karya dari guru dan siswa.
Disuatu moment, sebanyak 84 buku dilouncing dengan rangkaian
acara yang spektakuler sebagai bentuk penghargaan bagi para
penulis. Saat itu penulis diundang untuk menghadiri acara louncing
yang dana penyelenggaraannya berasal dari apresiasi perusahaan
besar yang telah memperhatikan kemajuan dari gerakan literasi
sekolah dan sepak terjang IGI Inhil dalam meningkatkan kompetensi
guru. Begitulah. IGI yang selalu berupaya memberikan suatu
penghargaan bagi para juara yang telah menulis dengan hatinya dan
juga telah memberikan kontribusi positif bagi kemajuan dunia
pendidikan. Bagi kebanyakan kita tak terbayangkan akan mampu
melahirkan satu buku dan itu akan menjadi hal yang paling berkesan
bagi siswa dan guru yang terlibat. Semua itu kini bukan hanya mimpi
disiang bolong, namun nyata di depan mata. Penerbit buku yang dulu
mulai loyo karena banyak orang yang berubah menjadi penikmat
bahan bacaan melalui media elektronik kini dapat bernafas kembali
karena semangat para guru meramaikan dunia penulisan. Semua nilai
positif ini diharapkan menjadi salah satu kode bagi kita, akan
perjuangan berliterasi yang akan berbuah pada manisnya
peningkatan kecerdasan peserta didik dan pendidiknya.
Memberi manfaat untuk orang banyak selalu diulang-ulang
untuk penguatan hati para IGIers. Serangkaian kegiatan yang telah di
taja IGI kab Indragiri hilir merupakan bukti kebermanfaatan itu.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 82
Sebuah negeri dipelosok nun jauh disana, membutuhkan guru-guru
kreatif yang akan bahu membahu untuk memberikan warna bagi
pendidikan di Indonesia. Berbagai pelatihan yang gratis, berbayar,
disubsidi selalu di gelar oleh IGI dengan harapan mampu
meningkatkan rasa butuh akan ilmu bagi para guru. Guru-guru di
daerah kebanyakan sudah merasa aman di zonanya, sehingga merasa
tidak lagi membutuhkan pelatihan-pelatihan terlebih jika harus
berbayar. Maka IGI Indragiri Hilir berupaya selalu melakukan
inovasi dalam setiap kegiatannya agar menarik minat para guru
untuk mengikuti kegiatan tersebut dan syukur ternyata kini para guru
di Inhil mulai membutuhkan pelatihan meskipun berbayar.
Mengapa harus terus berinovasi, itulah IGIers yang tak
pernah cepat merasa puas akan semua pencapaian. Ada semacam
kebutuhan untuk terus menginspirasi para guru karena pekerjaan
besar untuk menuntaskan berbagai permasalah di dunia pendidikan
tak akan mampu di tangani oleh satu orang atau satu organisasi saja,
perlu tekad yang kuat untuk mengentaskan berbagai penghalang
yang ada. Perlu kekompakan dan kebersamaan semua guru di
Indonesia agar tercapai tujuan pendidikan yang diamanatkan undang-
undang dasar 1945. IGI selalu berupaya menjadi terdepan dalam
perubahan maindset guru dan selalu berupaya mendorong
peningkatan kompetensi para guru. Sulit? Pasti, namun bukan berarti
tak mungkin dilakukan. Tekad dan semangat yang tak pernah mati
merupakan salah satu cara menjaga semangat diri.
IGI memang terus berinovasi, berupaya menjadi organisasi
yang tak dipandang sebelah mata. Walau masih seumur jagung.
Langkah nyata dan gebrakan IGI sungguh membuat alam sekeling
selalu tersentak. Melalui kegiatan semisal Delaying yang di adakan
di Solo maka pengurus IGI berupaya melakukan konsulidasi
sekaligus melakukan workshop untuk meningkatkan kompetensi para
IGIers. Sesuai dengan moto SAGUSAKU IGI sendiri “Tingkatkan
Prestasi Raih Sejuta Prestasi” agaknya benar-benar mempengaruhi
alam berpikir para guru yang menjadi anggota IGI. Semua guru
merasa butuh untuk meningkatkan semangatnya agar terus mampu
mengupgrade diri dengan mendatangi semua sumber ilmu serta
meneguknya bagai selalu dalam keadaan dahaga. Tak ada lagi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 83
kendala dan halangan yang menjadi batu sandungan jika semangat
sudah berapi-api dan membara.
Jika ditanya lebih jauh perjalanan untuk mendatangi sumber
ilmu apakah memakai dana pemerintah? Maka jawabannya adalah
tidak. Sebagaimana yang telah dilakukan MRR maka para guru IGI
juga rela merogoh koceknya sendiri untuk menjemput ilmu yang
dibagikan secara gratis oleh para pakar yang ada di IGI sendiri. Jika
kita bicara masalah kemampuan para pakar yang ada di IGI maka
kita akan terkagum-kagum dibuatnya. Para pakar yang ada disini
disentralkan pada kanalnya masing-masing. Ada sekitar 64 kanal
yang dibentuk di tubuh IGI dengan syarat pembentukan kanal
melalui proses seleksi yang luar biasa ketatnya. Kanal ini sendiri
bertujuan untuk menjadi tempat penyaluran kemampuan, kesukaan,
atau keinginan para IGIers untuk memilih apa yang dirasa ia
butuhkan. Kita ambil contoh kanal Sagusaku yang beberapa kali
sudah disebut-sebut. Sagusaku (Satu Guru Satu Buku) merupakan
kanal yang menuntun guru untuk rajin menulis dan membaca. Di
kanal ini para guru yang tadinya tidak terbiasa melakukan kegiatan
menulis dan membaca akan tertarik dan terpicu untuk menulis dan
menjadikan hasil bacaannya sebagai refrensinya. Harapannya
pembiasaan menulis ini akan melahirkan satu karya buku solo atau
antologi.
Selanjutnya ada kanal Sagusanov yaitu satu guru satu inovasi
pembelajaran. Kanal ini merupakan tempat para guru untuk
menggerakkan berbagai inovasi agar pembelajaran di ruang kelas
tidak membosankan. Di kanal ini para guru dibantu untuk menggali
inovasi yang ada agar pembelajaran menjadi bervariasi dengan
metode dan strategi yang efektif dan menyenangkan. Sementara
Sagusablog (Satu Guru Satu Blog) adalah kanal yang yang
memanfaatkan blog untuk kegiatan pembelajaran. Saat zaman sudah
mengutamakan IT maka kemampuan penguasaannya semisal
penggunaan blog sudah dituntut sesuai dengan perkembangan
zamannya. Selanjutnya adalah Sagusatab (Satu guru satu tab).
Penggunaan tablet A8 untuk pembelajaran di kelas dengan spek
khusus yang didukung fitur lengkap agar memudahkan guru IGI
dalam pembelajaran di kelas-kelasnya yang berbasis IT. Bermula
dari sinilah maka Samsung merasa perlu menjadi bagian dari
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 84
pemberi support bagi pengembangan kompetensi guru terutamanya
para guru yang tergabung di IGI dengan memberikan diskon atau
bantuan tiket pesawat dan lain sebagainya.
Selanjutnya di kanal IGI, ada juga Sagusala (Satu guru satu
laptop). Dapat dipastikan bahwa laptop adalah salah satu syarat
kepemilikan guru disamping buku absen, buku catatan harian, dan
lain-lain. Di zaman sudah semaju ini IGI menganggap penting untuk
meningkatkan skill guru di bidang pemanfaatan laptop. Tidak
dipungkiri bahwa masih banyak guru yang belum mampu
memfungsikan laptop untuk pembelajaran malah ada yang sama
sekali tidak mampu atau malah belum memanfaatkan atau
mengalokasikan uang peningkatan mutu (sertifikasi) untuk membeli
laptop. Nah, melalui salah satu kanalnya IGI merasa perlu untuk
mengingatkan para guru Indonesia akan pentingnya peningkatan
mutu diri di hadapan para siswanya para generasi milenial yang
dipastikan sangat akrab dengan alat canggih ini. Beberapa tahun ke
depan perlu dipikirkan oleh kita bersama bahwa kita akan
menghadapi siswa para level generasi alfa maka kecanggihan guru
harus mampu untuk mendampingi para peserta didik kita ini yang
lebih lagi di penggunaan aplikasi tekhnologi
Daring Nan Semriwing
Pembelajaran semasa pandemi, ini sungguh luar biasa
nikmatnya. Para guru diuji kesabarannya dalam menghadapi siswa
yang terasa ogah-ogahan memasuki ruang kelas maya yang disiapkan
oleh gurunya. Siswa beranggapan mereka sedang libur sehingga
mengabaikan keberadaan kelas mayanya seperti Zoom, GCR,
Webex, google meet dan lain sebagainya. Lain lagi orang tua yang
sebagian besar mengiyakan pernyataan sang ananda sehingga tanpa
rasa risih bertanya kapan anak masuk sekolah, terlalu lama liburnya,
dan lain sebagainya. Nah loh, ada yang miss disini, komunikasi yang
tidak sejalan antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan siswa.
Disinilah kesabaran guru di uji dimasa pandemi
Teringat pernyataan dari Mas menteri Nadiem Makariem
terkait pembelajaran daring. Mas menteri pernah melempar wacana
terkait pemberlakuan proses pembelajaran jarak jauh secara
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 85
permanen setelah Pandemi Covid-19 berakhir. Terkait hal ini MRR
selaku ketua ketua umum IGI merespon pernyataan tersebut.
Menurutnya, Mas materi harus mampu menjelaskan maksud dari
pembelajaran daring yang akan permanen. Karena menurutnya
pembelajaran tidak bisa dilaksanakan tanpa tatap muka. Selanjutnya
MRR menyebutkan bahwa pendidikan akan sulit dilakukan seratus
persen. Aspek pedagogik mungkin saja terpenuhi namun,
pembangunan karakter akan sulit diaplikasikan.
Selannjutnya terkait pernyataan MRR tersebut, kini diraskan
oleh para guru di kelas mayanya. Jarak antara siswa dan guru terasa
semakin melebar saja terlebih jika siswa tersebut adalah anak yang
indekost agar bisa bersekolah disuatu tempat. Saat daring begini,
maka siswa akan pulang kampung dan akan sulit sekali untuk masuk
ke kelas virtual karena jaringan yang tidak mendukung. Nah, kendala
yang seperti ini yang juga belum mampu dihadapi para guru yang
juga memiliki berbagai keterbatasan. Butuh semangat bagi para guru
untuk mencari solusi bagi berbagai kendala saat pembelajaran
menggunakan daring.
Saat ini dan hingga kapan dunia pendidikan mulai
membiasakan diri bergelut dengan rutinitas online, sejak dari belajar,
mengirim tugas, hingga eksekusi hasil pembelajaran. Jika dulu kita
hanya mengenal ojek atau belanja online maka kini merambah pada
belajar online. Situasi baru yang coba di nikmati oleh semua kita,
sejak dari masyarakat, orang tua, pendidik, hingga anak didik. resah
dan menimbulkan berbagai rasa di setiap kita. Namun, ada hikmah
yang menjadi point penting saat ini, bahwa keberadaan pendidik tak
tergantikan oleh apapun. Secanggih apapun teknologi, namun nilai
human tak mampu untuk dikesampingkan di sana.
Pendidik adalah ibu kandung yang selalu nyinyir dalam
memperjuangkan masa depan anaknya. Jika karena kenyinyirannya
menjadi dasar untuk meragukan cintanya, maka ada yang salah
dalam pola pikir bangsa ini. Lihatlah dan rasakan kedalam hati
seorang ibu pada anak yang dilahirkannya. Maka, begitu pula
kedalaman hati pendidik pada anak didiknya. Ada prestise yang
digantungkan pendidik disana, jadi jangan tanyakan lagi seberapa
besar cintanya yang harus kau balas. Bertanyalah seberapa kuatnya
kau ingin menjadikan nyata harapnya yang menjadi sematan untuk
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 86
masa depanmu. Kini kadar cinta itu semakin nyata saat kita tak bisa
bersitatap karena situasi saat ini. Banyak kita yang menjadi frustasi
dengan kungkungan yang membelenggu tapi tak mampu untuk
mengenyahkannya. Sering bertanya kapan situasi dulu akan kembali
lagi.
Selain hal tersebut, kemampuan IT para guru juga sedang diuji
saat ini. beberapa guru yang elergi terhadap IT kini menjerit
menghadapi kesulitannya ketika dituntut untuk menggunakan
pembelajaran daring. Bayangkan jika keadaan seperti ini berlanjut
hingga waktu yang tidak diketahui agaknya semua guru Indonesia
harus mulai membiasakan dirinya pada penggunaan IT. Di IGI
sendiri, para anggotanya sudah sedari awal dibiasakan dengan barang
yang berbau IT sehingga ketika kondisi pandemi seperti ini tidak lagi
merasa terkejut. Berbagai pelatihan terkait IT dengan menggunakan
kanal-kanalnya masing sudah sangat sering dilakukan. Seperti
biasanya para IGIers sangat tertantang ketika menerima informasi
terkait pelatihan atau workshop. Pelatihan yang ditaja oleh IGI
melalui webex atau zoom sudah sangat sering dilakukan sehingga
guru IGI sudah familiar dengan segala yang berbau IT.
IT bagi IGI sebuah keniscayaan. Jika ingin berkembang maka
bertemanlah dengan IT, jangan malah berlari”. Ungkapan yang
terpikir saat ini. Betapa visionernya MRR saat mendesind kebutuhan
akan kanal-kanal bagi guru untuk menyelenggarakan kegiatan
peningkatan kompetensi.. Organisasi profesi yang baru seumur
jagung ini, didirikan tahun 2009. Hal ini memberikan banyak
kontribusi yang luar biasa. Beberapa guru yang pada saat pandemic
begini gencar mencari ilmu melalui kegiatan webinar baik melalui
zoom, google meet, webex, atau WA. Guru IGI tak lagi merasa
canggung untuk masuk ke ruang maya malah lebih bergairah. Saat
pandemi banyak waktu luang untuk mencari peluang. Berbagai
webinar diikuti untuk melepaskan sisi ruang keilmuan yang masih
member peluang untuk diisi.
Secara pribadi sejak daring digesa oleh karena situasi
pandemi, banyak sekali ilmu yang telah berhasil dikuasai terkait
penggunaan aplikasi-aplikasi. Dulu kata alergi IT mungkin adalah
kata yang tepat yang tersandang di bahu. Namun, dengan berjalannya
waktu saat bergabung di IGI maka timbul pemikiran sampai kapan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 87
menghindar dan menjauh dari IT. Sampai kapan menutupi rasa malu
dengan alasan dibuat-buat hanya untuk memuaskan hati. Sampai
kapan berbohong pada diri dengan menyatakan diri unggul disini
bukan disana. Maka sampai pada satu titik kesadaran diri bahwa guru
adalah pembelajar sejati dan berupaya tak puas akan ilmu yang
secuil. Salah satu trik mendekati IT adalah, “Mencintai IT melalui
seni”. Itulah yang terjadi pada diri. Lelah? Pasti karena diusia yang
tidak muda lagi berupaya mendekati IT dan mencoba mencintai.
Namun, itulah salah satu berkah Pandemi jika kita mau mengambil
sisi positif dari sebuah peristiwa. Bisa dibayangkan, selama pandemi
banyak guru yang dapat memberikan pembelajaran melalui daring
yang jika memiliku kuota tak perlu melakukannya di sekolah. Nah,
disaat menunggu peserta didik mengantarkan tugasnya maka para
Cikgu dapat mengikuti pelatihan diri, baik yang di tawarkan oleh IGI
atau banyak pihak lain, baik yang berjenis IT atau pun bukan. Karena
sesungguhnya saat kita masuk ke webinar yang ditawarkan secara
otomatis kita telah mencoba familiar dengan IT. Terlebih jika kita
mengikuti pelatihan berjenis IT sudah barang tentu kemauan kita,
walau kagok secara perlahan namun pasti kita telah melunturkan rasa
takut atau canggung dengan IT.
IGI memberikan banyak tawaran pelatihan, sehingga tinggal
guru yang menentukan mana yang ia suka. Untuk Indragiri hilir saja,
kota kecil diujung Riau juga turut meramaikan acara sejenis webinar
yang sudah menjadi rutinitas. Dalam seminggu IGI Indragiri Hilir
telah menyelenggarakan dua webinar yaitu Senin dan hari Kamis lain
lagi jika ada moment khusus. Timbul pertanyaan dari mana dana
membeli ZOOM? Maka jawabannya ini adalah bentuk keikhlasan
kami membangun negeri walau dengan bakti yang belum tentu
berarti. Para IGIers Indragiri Hilir mendekatkan diri ke Ilahi melalui
urunan untuk membeli kuota sehingga banyak para guru yang
semoga mendapat mamfaat dari pelatihan ini. bisa jadi banyak guru
yang mengikuti hanya skadar ingin endapatkan sertifikat saja namun
itu tak membuat langkah kami terhenti, karena semoga nitanya para
guru akan berubah dengan berjalannya waktu nanti. Semoga apa
yang diberi bernilai di mata Ilahi Robbi. Langkah dari IGI Indragiri
Hilir merupakan sebuah terobosan untuk memenuhi kebutuhan dan
kehausan guru akan ilmu. Setiap sesi dibuka dengan kuota hanya
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 88
untuk 100 orang membuat banyak orang akan merasa kecewa,
namun hal tersebut dapat diobati melalui link Youtube. Karena
semua guru IGI adalah pembelajar sejati maka banyak kecanggihan
IT yang coba dikuasaai agar semua kebutuhan guru terfasilitasi.
Terkait dengan IT, khusus untuk Indragiri Hilir sudah
mencoba untuk konsisten memfasilitasi keingintahuan dan kemauan
para guru terhadap ilmu terkait pembelajaran, media, RPP daring,
pembuatan animasi pembelajarn dan lain sebagainya yang dilakukan
melalui media zoom. Animo guru yang luar biasa membuat TIM
Daring Inhil Gemilang menjadi lebih termotivasi
Dalam beberapa kegiatan MRR juga pernah menjadi narasuber
di Daring Webinar Indragiri Gemilang. Bunda Paud, Ibu Zulaikha
Wrdan, yang merupakan istri dari bupati Indragiri Hilir, bapak
Kepala Dinas Pendidikan, begitupun beberapa pejabat di level
pemerintah daerah, rekan hebat yang berprestasi, dan yang memiliki
ilmu untuk dibagi. Di IGI semua memiliki kesempatan untuk berbagi
dan menerima ilmu. Karena IGI yakin bahwa semua manusia
memiliki potensi yang dapat dikembangkan jika disuport oleh orang
disekelilingnya. Pada dasarnya tidak ada manusia yang bodoh, lemah
atau yang lainnya, yang ada sering sekali karena kurang motivasi.
Sesungguhnya motivasi dapat berasal dari dalam dan luar diri
individu. Motivasi diri memiliki kekuatan yang kuat untuk
menyokong diri menjadi hebat disuatu saat nanti. Sebagaian besar
dari isi kegiatan webinar yang dilakukan di IGI Indragiri Hilir
memiliki misi ini. setiap narasumber diharap mampu mensuport guru
yang ada didalamnya yang tak terbiasa berbagi suatu saat nanti
muncul keberanian untuk merasakan nikmatnya menjadi seorang
pembicara.
Sebagai anggota IGI ada asa yang tak dapat di pungkiri,
harapan disuatu saat nanti akan lahir ketua umum baru setelah
berakhirnya masa kepemimpinan MRR.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 89
HARAPAN IGI
Kami butuh pemimpin tak banyak janji tapi bukti,
ketua umum yang mampu menjadi model bahwa harga diri
adalah sesuatu yang berarti
Nilai diri yang di kaji bukan karena sokongan sana sini tapi
karena Ilahi Robi
Lahirnya pemimpin sejati yang memulai dengan hati yang
dapat diuji dan dapat dipertanggungjawabkan disuatu saat nanti.
Bukan hanya sekadar meraih prestasi namun menghilangkan
keberkahan disana sini
Banyak calon pemimpin yang saat mencalonkan diri
menghilangkan nilai diri
Melakukan terobosan yang sebenarnya merendahkan harga
dirinya
Mencari suara dengan cara yang tidak elegan
Mencuri sokongan dengan mematikan hakikat diri.
Bagaimana mungkin membangun harga diri organisasi
saat mengawalinya dengan mata hati yang tuli
Bagaimana mungkin membangun citra diri
dengan orientasi yang tertutupi oleh nafsu yang terlukai
Bagaimana mungkin membangun harapan kami dengan cara
menzolimi pemilih suara nanti
Kami bukan guru yang tertutup hati
Seolah kami tidak tahu yang ingin kau puasi nanti
Kami bukan insan yang ingin kau lukai
Maka kami harus ingatkan kini
Harapan kami murni ingin membangun negeri
Harap kami kau disana karena misi anak negeri
Bukan karena harta dan tahta
Luruskan niat agar keberkahan kan kau terima suatu saat nanti
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 90