dahaga, saya tak bisa dihentikan untuk menimba ilmu yang begitu
mudah saya dapatkan bersama IGI.
Ada hal yang sangat luar biasa yang membuat saya terkagum-
kagum, ternyata Pelatih/ Coach dalam pelatihan yang saya ikuti juga
berprofesi guru. Hasil yang didapat ternyata lebih baik dari pada
pelatihan yang disampaikan oleh para ahli dan dosen pendidikan,
yang kebanyakan mahir dalam teori. Coach dari guru justru sangat
memudahkan dalam belajar, sikap sabar dalam menghadapi peserta,
dan kemampuan menjelaskan materi pelatihan ternyata sangat baik
dan mudah dipahami. Hal ini yang kemudian menumbuhkan
keinginan untuk dapat melakukan seperti yang dilakukan oleh para
Coach, berbagi ilmu dengan guru-guru yang lain. Sungguh suatu hal
yang sangat indah, apalagi ternyata motto IGI adalah Sharing and
Growing Together (Berbagi dan tumbuh bersama).
C. TNP dan Sagusaku
Semua yang ada saat ini ternyata tidak lepas dari peran
pemimpin IGI saat ini. Setelah beberapa saat bergabung bersama IGI
dan sempat diajak oleh Kak Rose (Ibu Dr. Rusnanie, M.Pd., Ketua
Harian IGI), mengikuti TNP di Kemendikbud RI tahun 2018.
Sungguh aura luar biasa yang terpancar dari organisasi ini, yang
membuat saya merinding bercampur kagum. Tenyata organisasi yang
saya ikuti ini memang luar biasa, meski semua anggotanya adalah
guru yang masih aktif mengajar juga tergolong orang-orang hebat.
Pancaran kecerdasan sangat tergambar dengan sangat jelas saat para
penanggung jawab kanal pelatihan mendapat giliran satu persatu
mempresentasikan kanalnya. IGI memang tempatnya orang-orang
yang luar biasa dan sangat hebat, itu pikiran saya saat itu. Apa yang
saya lihat di TNP membuat semangat membara untuk ikut terlibat
sebagai pelatih untuk membantu teman-teman guru khususnya di
Kalimantan Tengah yang masih agak tertinggal. IGI di luar
Kalimantan ternyata sudah sedemikan berkembang.
Sejak mengikuti kegiatan TNP dan mengikuti pelatihan
beberapa kanal akhirnya saya menjatuhkan pada satu pilihan kanal,
yaitu Sagusaku dibawah pimpinan Ibu Nurbadriyah atau yang akrab
disapa Bu Nurbad. Saya tidak salah pilih, minat dan kemampuan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 191
dalam menulis sangat terasah di sini. Membuat saya merasa terharu
adalah akhirnya dapat mencapai keinginan menjadi Pelatih/ Coach
Sagusaku. Saya meras beruntung karena berkesempatan mengikuti
TOC Sagusaku, sebuah kegiatan yang memberikan bekal bagi calon
Coach/ Pelatih Sagusaku, dan hingga kini saya sudah melatih di 4
kabupaten/ kota di wilayah Kalimantan Tengah.
D. Mengenal lebih Dekat Sosok MRR
Dalam kegiatan TNP, saya mulai mengenal sosok pimpinan
tertinggi di IGI, yaitu Muhammad Ramli Rahim atau yang akrab
disapa MRR. Meski saat itu hanya bertegur sapa sejenak dengan
Beliau, karena diajak oleh Kak Rose, saya menangkap aura luar biasa
dari seorang MRR. Seorang yang low profile, sangat jauh dari kesan
eksklusif seperti penampilan seorang pemimpin berkaliber nasional.
Di acara itu saya melihat bagaimana MRR datang di saat acara
belum mulai, bahkan tanpa sungkan bercanda dengan anggota IGI
yang datang dari bebagai daerah dan baru sekali bertemu. Sebuah
pemandangan yang tidak biasa namun indah untuk dilihat, sembuah
harmoni yang begitu alami.
Kekaguman saya pada sosok MRR bertambah, manakala
Beliau berbicara menyampaikan sambutan dalam acara tersebut.
Begitu menjiwainya dalam menyampaikan berbagai fenomena guru
di daerah, dan semua yang disampaikan pernah saya alami. Dengan
gaya bahasa yang lugas dan flash membuat apa yang disampaikan
menjadi sangat menarik untuk disimak. Pembawaan beliau tidak
lepas dari pengalaman yang telah dilaluinya sebagai jurnalis, yang
lugas dan to the point. Beberapa kebijakan IGI yang dilontarkan
yang terkesan „berani‟ dan tidak biasa tak jarang menuai pro dan
kotra khususnya mereka yang anti perubahan. Saya sendiri sebagai
pengurus IGI di kabupaten, kadang membuat beberapa rekan kerja
yang tidak suka dengan kehadiran IGI menjadikan kesempatan itu
untuk menghujat IGI. Tentu saja ini membuat saya menjadi sedikit
kurang nyaman dan berusaha mencari tahu, mengapa MRR
menyampaikan hal tersebut, sehingga saya bisa memberi penjelasan
yang tepat.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 192
Bicara tentang IGI saat ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai
terobosan yang dilakukan oleh seorang MRR. Sepak terjang beliau di
IGI memang membuat banyak orang kagum terhadapnya. Bagi
sebagian orang yang sudah mengenal baik MRR sejak masa
mudanya tentunya tidak begitu terkejut dengan apa yang
dilakukannya. Itu pula yang membuat saya tertarik untuk lebih kenal
dengan sosoknya, dari pencarian di dunia maya bukanlah hal yang
sulit.
E. Sekilas tentang MRR
MRR dilahirkan di sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi
Selatan, tepatnya di Maros pada tanggal 23 Mei 1978. Di sinilah
MRR menghabiskan masa kecilnya yang indah. Saat beranjak remaja
MRR melanjutkan studi SMA hingga perguruan tinggi di Kota
Makassar hingga berhasil menuntaskan S-1 di Universitas
Hasanuddin (Unhas).
Bakat menjadi pemimpin mulai terasah saat MRR kuliah di
Universitas Hasanuddin, Beliau bergabung dengan berbagai
organisasi mahasiswa intra kampus (senat) hingga organisasi
mahasiswa di luar kampus. Sebagai bukti kecakapan memimpinnya
dapat dilihat dari beberapa kali dipilih sebagai ketua dalam berbagai
organisasi mahasiswa yang diikutinya, sebut saja di antaranya
sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas MIPA, Ketua
Dewan Kader Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas MIPA, Ketua
Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas MIPA Unhas, dan
beberapa jabatan lain di berbagai organisasi mahasiswa di luar
Universitas.
Usai menyelesaikan studi di Universitas Hasanuddin, MRR
mendirikan Grup Ranu, induk perusahaan yang membawahi berbagai
usahan di bidang pertambangan hingga pendidikan. Kecintaan MRR
pada dunia pendidikan Ia buktikan dengan tetap menjadi guru di
yayasan di SMK Kehutanan Widya Nusantara di kampung
halamannya, di Maros. Selain itu MRR juga sesekali menjadi dosen
tamu di almamaternya dan Universitas Islam Timur Makassar.
Keberadaan MRR dalam IGI mulai populer sejak beliau
menjabat sebagai Ketua Wilayah Sulawesi Selatan, dan semakin
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 193
bersinar tatkala IGI Sulawesi Selatan ditunjuk sebagai tuan rumah
dalam Konggres II IGI di Kota Makassar pada tanggal 30-31 Januari
2016, dan dalam konggres ini secara aklamasi MRR terpilih sebagai
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia periode 2016-2021
menggantikan Satria Dharma.
Ada sebuah komitmen yang tidak berubah saat menjabat
Ketua Umum IGI, yaitu bertekad fokus pada program peningkatan
kompetensi guru di seluruh Indonesia. MRR sadar bahwa untuk
mewujudkan tekad itu tidak mudah dan tidak mungkin dilakukan
hanya dari dalam diri IGI sendiri, oleh karena itu berkat
kepiawaiannya dalam bernegosiasi akhirnya pada masa
kepemimpinannya IGI berhasil menggandeng berbagai lembaga
terkait peningkatan kompetensi guru ini. Selain fokus terhadap
peningkatan kompetensi guru, MRR juga menggerakkan IGI untuk
melakukan advokasi terhadap para guru yang membutuhkannya.
Advokasi itu dilakukan dari pengurus daerah, wilayah hingga pusat.
Demikian informasi yang saya dapatkan tentang MRR di Internet
(sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ramli_Rahim,
diunggah pada tanggal 10 Nopember 2020), menambah kekaguman
saya pada sosok MRR.
Dalam tulisan singkat ini saya ingin menyajikan beberapa
pemikiran MRR terkait beberapa hal tentang keberadaan guru di
tanah air. Pemikirannya memang berangkat dari fenomena yang
terjadi di lapangan, dan mungkin tidak pernah terbaca oleh para
pemangku kebijakan dalam dunia pendidikan. Tulisan ini perpaduan
antara pemikiran MRR yang disampaikan secara langsung dengan
fakta yang saya temui di daerah saya.
F. Kemandirian Organisasi
Ada hal yang sangat berbeda saat saya bergabung dengan IGI.
Jika selama ini di organisasi yang lama dana tidak menjadi masalah
dalam kegiatan, karena selain mengambil iuran anggotanya setiap
bulan organisasi tersebut memiliki dana tambahan dana dari
pemerintah daerah. Namun tidak demikian halnya di IGI. IGI adalah
organisasi yang benar-benar mandiri dari segi pendanaan, dalam
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 194
artian tidak tergantung dari dana pemerintah daerah. Sejak awal
berdirinya memang IGI membiayai kegiatannya sendiri.
Awalnya saya ragu, apakah dengan cara itu IGI bisa
melakukan kegiatannya? Sementara iuran anggota IGI tidak ada.
Setelah belajar dari teman-teman IGI yang lebih dulu bergabung,
saya baru tahu cara mendapatkan dana kegiatan tanpa
menggantungkan dari dana bantuan pemerintah. Dalam beberapa
sambutan yang disampaikan oleh MRR, saya semakin paham
mengapa hal ini dilakukan. Salah satunya agar IGI bisa independen
dalam mengatur keuangan yang tanpa tekanan dari pihak manapun.
Karena menurut MRR, saat kita menerima bantuan dana kegiatan
dari pemerintah maka kerap kali terjadi pemotongan-pemotongan
sementara penerima harus melaporkan sejumlah dana yang tertulis di
draft. Dengan dana mandiri menyebabkan IGI tidak terikat.
Terkait masalah pendanaan, beliau memberikan solusi, yaitu
dengan menggandeng pihak swasta yang tidak mengikat. Dengan
kata lain, perlu menjalin kemitraan atau mencari sponsor yang
bersedia diajak kerjasama dalam satu kegiatan.
Kemandirian IGI juga ditunjukkan dalam pengadaan pelatih.
Pelatih IGI adalah anggota IGI sendiri, yang memiliki kemampuan
untuk melatih. Banyak keuntungan dengan cara ini, antara lain
pertama, guru lebih pandai dalam menjelaskan materi pelatihan
sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kedua, pelatih dari guru
menjadikan materi yang disampaikan tepat sasaran, karena pelatih
seorang guru maka ia akan lebih mengetahui apa yang dibutuhkan di
lapangan. Ketiga, adalah biaya yang relatif murah, apalagi bila
pelatih dari daerah itu sendiri. Keempat, tidak sulit mencari
narasumber, mengingat anggota IGI banyak yang memiliki
kompetensi yang layak menjadi Pelatih/ Coach.
G. MRR dan Fenomena Botol Kosong yang Tertutup
Awalnya saya mencoba menafsirkan apa yang dimaksud
dengan kalimat “Botol Kosong yang Tertutup”, namun saya sulit
menemukan maknanya, hingga MRR sendiri menjelaskan kepada
kami maksud dari kalimat tersebut. Ternyata itu adalah sebuah
perumpamaan yang menggambarkan kondisi sebagian guru yang ada
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 195
di negeri ini. Sebuah kondisi yang menyebabkan mengapa
pendidikan di Indonesia sulit maju.
Berdasar dari sebuah pemikiran MRR yang mengatakan
bahwa dunia pendidikan di Indonesia bisa bangkit dari
keterpurukannya jika pemerintah mau meningkatkan kompetensi
gurunya. Mengingat bahwa guru adalah ujung tombak pendidikan.
Guru harus ditingkatkan kemampuannya/ kompetensinya. Guru
harus mengubah mindset-nya, menjadi guru pembelajar. Apa yang
didapat semasa kuliah tidak lagi bisa mendukung tugas mendidik,
karena dunia pendidikan terus mengalami perubahan. Banyak ilmu
baru yang harus dipelajari.
Rendahnya kompetensi guru dapat dilihat melalui Ujian
Kompetensi Guru (UKG) yang pernah dilakukan di tahun 2016
beberapa waktu yang lalu terhadap seluruh guru di Indonesia. Hasil
dari UKG membuat keprihatinan bersama, karena hasilnya sangat
tidak baik, artinya mayoritas guru dinyatakan tidak kompeten. Tentu
bisa dibayangkan, siswa yang dihasilkan dari guru yang ternyata
tidak kompeten dalam tugasnya. Ini salah satu potret buram
pendidikan Indonesia.
Sayangnya hasil UKG tidak membuat Dinas Pendidikan
mengambil tindakan untuk mengadakan perbaikan kualitas guru.
Buktinya tidak ada peningkatan pelatihan guru agar kompetensinya
bisa ditingkatkan. Kalau pun ada pelatihan itu hanya menyentuh
sebagian kecil guru, dan yang diberangkatkan hanya guru yang itu-
itu saja, yang tentunya guru yang „dekat‟ dengan orang Dinas
Pendidikan. Sehingga bagi sebagian besar guru (termasuk saya),
pelatihan itu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu saja.
Salah satu dampaknya adalah kesulitan untuk memenuhi persyaratan
kenaikan pangkat, khususnya poin pengembangan diri.
Melihat kondisi seperti itu yang akhirnya mendorong MRR
dan petinggi IGI kemudian berinisiatif melakukan pergerakan secara
masif untuk mengadakan pelatihan guru di daerahnya masing-masing
yang dilakukan oleh guru sendiri. Semangat sharing and growing
together ternyata mampu membuat sesuatu yang mustahil dapat
dilakukan oleh IGI. Dengan dana terbatas tanpa mengemis pada
pemerintah, IGI bergerak ke seluruh penjuru Indonesia. Pelatih yang
memberikan materi tidak lain adalah anggota IGI di daerah itu
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 196
sendiri, dengan asumsi bahwa sebenarnya guru adalah orang yang
paling tepat untuk melatih guru yang lain. Dengan demikin dana
yang dikeluarkan bisa ditekan seminimal mungkin.
Namun rencana baik memang harus melalui ujian. Seperti
halnya dalam IGI, kegiatan pelatihan guru yang diselenggarakan di
daerah-daerah tidak selalu berbuah manis. Pelatih-pelatih yang
diturunkan pada umumnya masih berusia muda, harus memberikan
materi pelatihan kepada guru yang jauh lebih senior (bahkan di
antaranya mereka melatih gurunya sendiri), ternyata mendatangkan
masalah tersendiri. Anggapan pelatih menggurui gurunya, dan sikap
memandang rendah karena pelatih yang masih belia membuat
kendala tersendiri bagi pelatih yang diturunkan di daerahnya sendiri.
Istilah “Botol Kosong yang Tertutup” adalah kalimat yang
cukup menggambarkan kondisi guru di daerah. Banyak guru yang
tidak tahu namun tidak mau diberi tahu. Guru merasa hebat tapi
sebenarnya mereka tidak memiliki kemampuan. Banyak guru yang
tidak kompeten tidak mau diberi pelatihan. Guru semacam itu ibarat
tutup botol yang sulit di buka untuk diisi. Mereka merasa sudah
cukup dengan ilmu yang mereka punya, yang didapat saat mereka
duduk di bangku kuliah. Banyak di antara guru yang tidak kompeten
itu yang tidak mau lagi meningkatkan kompetensi, dengan
mempelajari hal-hal baru dengan berbagai alasan seperti karena
faktor usia, dan masa tugas yang hampir purna. Keengganan itu
ditambah lagi ketika mereka menjumpai ternyata pelatihnya adalah
murid yang pernah dididiknya dulu. Sehingga guru tidak mau dilatih
oleh pelatih yang masih muda usia.
Kondisi yang demikian akhirnya membuat MRR mengambil
kebijakan untuk mengadakan pertukaran pelatih. Pelatihan dengan
pemateri silang, sehingga yang mengisi pelatihan di suatu daerah
adalah pelatih dari daerah lain. Ternyata kebijakan MRR itu berhasil,
terbukti tidak ada lagi komentar miring dari peserta pelatihan.
Melakukan pertukaran pelatih bukan hal yang mudah, meski pelatih
IGI memiliki komitmen bersedia melatih tanpa dibayar, tentu saja
jangan membebani pelatih yang bertugas. MRR tidak tinggal diam,
melalui lobi dengan mitra IGI akhirnya kegiatan pertukaran pelatih
dapat terlaksana, sehingga biaya transport menuju daerah pelatihan
dapat diupayakan, sedangkan akomodasi pelatih selama di daerah
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 197
menjadi tanggung jawab pengurus daerah IGI setempat, sehingga
tidak membebani pelatih yang bertugas.
Ternyata sistem pelatihan IGI mulai membawa hasil, kini
sudah semakin banyak guru-guru yang kini mulai tertarik untuk turut
serta dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh IGI. Apalagi
ternyata hasilnya dapat diaplikasikan dalam aktivitas mengajar. Kini
botol-botol itu sudah mulai terbuka untuk menerima ilmu yang
disampaikan oleh pelatih IGI. Sisi positif lain dari kebijakan MRR
untuk melakukan pertukaran pelatih IGI ke berbagai daerah ternyata
membuat motivasi tersendiri untuk ikut melatih, karena kesempatan
dapat mendatangi daerah yang jauh dari daerahnya, dengan
perjalanan ditanggung oleh PP IGI. Meski saya sebagai salah satu
Coach Sagusaku tidak mungkin terbang jauh, karena terkendala izin
suami. Saya tetap merasa bahagia melatih guru-guru di kabupaten
seputar Kalimantan Tengah.
H. MRR, dan Mindset Guru Amplop
Fenomena lain yang bisa ditemukan di lapangan adalah
mindset guru amplop. Mindset guru amplop ini saya temui saat saya
bertugas di daerah Kalimantan Tengah. Saat undangan pelatihan
yang ditanyakan ada amplop apa tidak, amplop yang dimaksud
adalah uang saku yang diberikan kepada guru yang mengikuti
pelatihan. Mental ini tentu saja sangat merusak mental guru,
sehingga saat mengikuti pelatihan yang menjadi target adalah
amplop yang diterima bukan seberapa banyak materi yang mampu
dikuasai dan bisa di-share kepada guru-guru lain di tempatnya
bertugas. Sehingga dapat dimengerti mengapa meski sudah berkali-
kali mengikuti pelatihan, namun tidak membekas pada dirinya
maupun kepada orang lain.
Mindset guru amplop, pada akhirnya pelatihan menjadi
incaran guru untuk dapat berangkat sebagai peserta. Guru yang
diberangkatkan adalah guru yang memiliki hubungan baik atau yang
dikenal oleh pejabat di Diknas. Sehingga saat di lokasi pelatihan
yang terjadi adalah sebagai ajang reuni saja, karena yang berangkat
orangnya sama, itu dan itu lagi.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 198
Melihat kenyataan yang memprihatinkan ini, membuat IGI di
bawah pimpinan MRR berusaha menghapuskan „penyakit akut‟ ini
dari diri guru-guru. Dengan menyelenggarakan pelatihan guru
berbayar. Dana yang digunakan bukanlah untuk mencari keuntungan
dari penyelenggaraan, melainkan untuk dipergunakan mendanai
kegiatan yang dilaksanakan. Dana yang ada diputarkan untuk
konsumsi makan, minum peserta, dan transport pelatih.
Di beberapa daerah informasinya bahkan bisa
menyelenggarakan pelatihan guru dengan nol rupiah alias tanpa
dana. Bagaimana caranya? Ya, semua diupayakan mandiri, dari
makan dan minum membawa sendiri, tempat menggunakan fasilitas
sekolah, seperti aula atau ruang kelas, hingga pemateri yang ikhlas
berbagi. Karena IGI bukanlah organisasi profit yang berorientasi
pada keuntungan material dalam setiap pelaksanaannya.
Sungguh sebuah fenomena yang baru bagi guru-guru pada
umumnya. Pengalaman saya pertama mengajak dan
menyelenggarakan pelatihan guru berbayar sempat membuat Kepala
Dinas Pendidikan kabupaten tempat kami agak sulit memutuskan/
memberikan izin melaksanakan kegiatan tersebut. Bukan tanpa
alasan terasa berat memutuskan, dari alasan takut menjadi temuan
oleh KPK. Padahal dalam saat audiensi sudah saya sampaikan
kepada Kepala Dinas, peruntukan dananya untuk apa saja, dan kami
siap dimintai pertanggungjawaban terhadap penggunaan dana
tersebut. Keberatan pihak dinas lainnya adalah kebiasan selama ini
dinas menyelenggarakan pelatihan itu selalu memberikan uang saku
bukan malah membayar. Setelah meyakinkan Kepala Dinas,
akhirnya beliau mengizinkan, dengan berbagai persyaratan. Akhirnya
kegiatan pun dilaksanakan.
Tidak berhenti situ saja, tantangan yang dihadapi saat awal
menyelenggarakan kegiatan pelatihan berbayar meski sudah
mendapatkan izin dari Kepala Dinas Pendidikan. Tantangan
berikutnya adalah mendapatkan peserta pelatihan, ada beberapa yang
menyatakan ingin ikut namun menanyakan ada amplopnya atau
tidak, ingin ikut daftar hanya mengingikan sertifikat kegiatannya.
Mengubah mental amplop bukannya perkara mudah, karena harus
menyadarkan dan meyakinkan bahwa banyak manfaatnya jika
mengikuti pelatihan.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 199
Apa yang dilakukan IGI (baca melakukan pelatihan berbayar)
sesungguhnya sangat tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.
Dari perkembangan pelatihan di IGI hasilnya justru luar biasa.
Dengan pelatihan berbayar justru membuat peserta akan berusaha
untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh karena merasa
sudah membayar sehingga ada rasa sayang jika tidak dilakukan
dengan sungguh-sungguh.
Ada peraturan yang merupakan komitmen dalam setiap
pelatihan yang dilaksanakan IGI di mana pun itu, antara lain:
1. Pelatihan IGI (apa pun jenis pelatihannya) tidak menjual
sertifikat, artinya setiap peserta harus mengikuti kegiatan
dari awal hingga akhir serta mengerjakan tugas yang
ditugaskan oleh pelatih selama kegiatan.
2. Sertifikat diberikan hanya kepada peserta yang telah
lengkap tugasnya.
3. Peserta pelatihan usai kegiatan memiliki kompetensi
sesuai materi yang diajarkan selama pelatihan.
Kini apa yang digagas oleh MRR menghilangkan amplop, dan
membuat pelatihan yang berbayar sudah mulai diterima oleh guru.
Pada masa pandemi Covid-19 menyebabkan guru harus memilki
kemampuan tambahan terutama dalam penguasaan dalam bidang
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kalau dulu guru sangat
susah diajak maju, terutama yang berkaitan dengan TIK. Namun
adanya masa pandemi Covid-19 merupakan momen kebangkitan
guru, mendidik, memberikan latihan. Guru tidak menanyakan berapa
harga pelatih yang harus dibayar. Sekarang meski berbayar guru kini
lebih antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan IGI. Sebuah
capaian yang luar biasa, akhirnya IGI mampu merubah mental
amplop di kalangan guru.
I. MRR Bergerak dan Menggerakkan
Bergerak dan menggerakkan, mengingatkaku dengan pesan
yang sering kali disampaikan olah Kak Rose saat memberikan
motivasi kepada saya selaku pengurus daerah IGI Kabupaten
Katingan, bahwa organisasi seharusnya bergerak. Demikian pula
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 200
dengan IGI yang harus punya pergerakan, sehingga keberaannya
dapat dilihat dan dirasakan. Oleh sebab itulah pada masa
kepemimpinan MRR, saat pelantikan pengurus kami diminta
menandatangani pernyataan, bahwa bila selama enam bulan tidak
ada pergerakan yang dilakukan oleh sebuah kepengurusan, maka
kepengurusan tersebut harus dibekukan.
Pernyataan itu dibuat guna memotivasi kepada kepengurusan
agar terus mengadakana kegiatan dalam upaya peningkatan
kompetensi guru di daerahnya. IGI adalah organisasi penggerak,
dengan semangat sharing and growing together membuat IGI terus
bersemangat melakukan kegiatan dan berbagi manfaat.
Apa yang dilakukan dalam hal ini adalah dengan mendahului
memberikan contoh terlebih dahulu. MRR sudah melakukan hal
tersebut, menghadiri diberbagai kegiatan IGI di seluruh nusantara
merupakan sebuah gerakan moral yang dilakukan MRR untuk
memotivasi seluruh anggota IGI mau juga bergerak, tanpa lelah
beliau keliling Indonesia selain untuk mendatangi kegiatan yang
dilakukan oleh Pengurus IGI daerah, sekaligus melakukan kegiatan
konsolidasi organisasi. Dalam kegiatan kunjungan ke daerah MRR
sudah bergerak, dan menggerakkan secara langsung. Ada hal yang
ternyata kita tidak tahu, ternyata MRR mewajibkan dirinya untuk
menulis di setiap melakukan kunjungan daerah, tulisan singkat
kemudian dibagi ke media massa.
Menjadikan diri kita sebagai model merupakan cara yang
efektif untuk mengajak orang lain. Jika kita ingin menggerakkan
orang lain, maka kita harus mau bergerak. Karena orang diam-diam
mengamati apa yang dilakukan. MRR sudah mencontohkan hal itu.
Dari apa yang dilakukan MRR, perlu dicontoh, karena
menggerakkan bisa juga dillakukan dengan cara mengungkapnya
melalui tulisan yang kemudian diunggah di media sosial. Agar apa
yang kita pikirkan dapat tersebarluas.
Pergerakan yang dilakukan IGI tidak hanya berada di wilayah
yang ada anggota IGI-nya saja, melainkan keberadaan IGI bisa
dinikmati oleh semua orang/ guru. Dalam IGI sangat menjunjung
tinggi persaudaraan. Beberapa pelatihan yang kami laksanakan,
kegiatan diikuti oleh berbagai guru, baik PNS maupun bukan PNS.
Dengan demikian kemanfaatan IGI akan semakin dirasakan guru-
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 201
guru di daerah. IGI bergerak tidak hanya di kota yang sudah ada
kepengurusan IGI, melainkan juga bergerak ke daerah yang belum
ada kepengurusan IGI, dengan harapan akan segera bisa berdiri
kepengurusan IGI di daerah tersebut.
Demikian pemikiran dari MRR yang dapat disampaikan,
semoga bisa menginspirasi kita semuanya khususnya sebagai
anggota IGI. Meski di periode yang akan datang MRR sudah tidak
mau menjabat Ketua IGI lagi, tapi semoga semangat membesarkan
nama IGI dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Selama
periode kepengurusan di bawah pimpinan MRR, banyak sekali
kemajuan, dan mampu menggerakkan organisasi dengan baik. Apa
yang menjadi komitmen awal Beliau untuk meningkatkan
kompetensi guru, benar-benar dilaksanakan. Semoga Berkah .
=====
Diana Mulawarmaningsih, S.Ag, lahir di Balikapapan 21
Juli. Saat ini bertugas di SMAN 2 Katingan Hilir sebagai Guru
BK. Belajar dan Menekuni dunia menulis di awali pada
tahun2017.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 202
CAHAYA MRR DI RUANG IGI
Oleh:
Rina Oktopiani
Organisasi profesi adalah organisasi yang anggotanya adalah
para praktisi yang menetapkan diri mereka sebagai profesi dan
bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang
tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka sebagai
individu. Menurut undang-undang nomor 14 tahun 2005 disebutkan
bahwa guru wajib membentuk organisasi profesi baik di tingkat
nasional maupun tingkat daerah, untuk tingkat nasional organisasi
profesi guru sudah lama eksis misalnya seperti PGRI dan IGI. Secara
hukum tugas organisasi profesi guru salah satunya ialah menyusun
kode etik profesi guru untuk menjadi rambu-rambu bagi seorang
guru dalam menjalankan hak dan kewajiban profesionalnya. Sebelum
tahun 2017, penulis hanya mengenal satu organisasi profesi yaitu
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Tepatnya pada bulan
April di tahun 2017, ketika itu penulis mengikuti salah satu kegiatan
workshop menulis yang diadakan oleh SAGUSAKU (Satu Guru Satu
Buku). Penulis diajak oleh beberapa teman yang sekarang sudah
memiliki jabatan penting di Ikatan Guru Indonesia (IGI) nasional,
wilayah dan daerah.
Melalui kegiatan tersebut, penulis mengenal organisasi profesi
yang luar biasa yaitu IGI. Selanjutnya mulailah penulis mencari
informasi tentang apa itu IGI dan tujuannya. Berdasarkan
penelusuran penulis menemukan, bahwa IGI ini sebenarnya telah
dibentuk sejak tahun 2009, tepatnya 26 November 2009 disahkan
oleh Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia dengan
surat keputusan nomor AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009. IGI ketika
itu belum terlalu terdengar gaungnya, terbukti ketika itu penulis yang
sudah mengajar sejak tahun 2010 tidak pernah mendengar tentang
IGI tersebut masuk ke daerah. Bahkan setelah 7 tahun lamanya
penulis mengajar, barulah mengetahui bahwa ada organisasi lain
selain PGRI yang juga merupakan organisasi profesi guru.
Pada kegiatan Satu Guru Satu Buku di tahun 2017 tersebut
penulis diberi gambaran atau dikenalkan dengan Ikatan Guru
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 203
Indonesia secara lebih spesifik. Apa yang menjadi tujuan dan prinsip
dari terbentuknya IGI sebagai sebagai suatu organisasi profesi guru.
Kesempatan itu pun tidak penulis sia-siakan untuk menjadi bagian
dari niat baik Ikatan Guru Indonesia yang memiliki motto “Sharing
and growing together”. Ketika itu yang menjadi narasumber adalah
penanggung jawab kanal pelatihan Satu Guru Satu Buku
(SAGUSAKU), yaitu Ibunda tercinta Nurbadriyah yang memberikan
gambaran jelas tentang IGI dan cita-cita luhurnya. Berdasarkan
informasi tersebut, maka Penulis memastikan diri untuk menjadi
anggota.
Sejak mengenal IGI pada tahun 2017 tersebut, penulis terus
mencari informasi lebih lanjut tentang IGI. Hal pertama yang penulis
cari adalah informasi tentang apa saja pelatihan yang diberikan
organisasi yang baru penulis kenal tersebut. Muncullah istilah kanal
pelatihan IGI. Penulis sangat terkejut dengan banyaknya kanal-kanal
pelatihan IGI yang berkembang dan mengambil peran luar biasa
untuk meningkatkan kompetensi guru. Terdapat 67 kanal pelatihan
IGI yang terbentuk dan telah melakukan pelatihan di seluruh
Indonesia di tahun 2018. Jadi, bagi guru terutama yang berstatus
Pegawai Negeri Sipil, tidak ada lagi alasan untuk mengeluhkan
permasalahan kenaikan pangkat, yang mensyaratkan adanya
pengembangan diri yaitu Diklat. Maka, bergabung dalam organisasi
ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dalam memenuhi
segala persyaratan tersebut. Dengan adanya kana-kanal pelatihan IGI
yang beragam, maka guru bisa memilih sesuai dengan minat,
keinginan atau hobi yang mereka miliki. Dengan demikian guru
memiliki keleluasaan dalam memilih pengembangan diri yang
mereka lakukan, tidak berfokus hanya kepada mata pelajaran mereka
masing-masing.
IGI merupakan organisasi profesi yang bersifat nasional,
independen, netral, mandiri dan tidak memihak pada kepentingan
politik manapun. IGI berpedoman pada satu hal, yaitu IGI sebagai
organisasi profesi guru menekankan kepada anggota untuk selalu
mengabdikan diri sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat,
dan guru dalam melaksanakan tugas, fungsi dan perannya, serta turut
memperjuangkan hak-hak guru dan membela kepentingan guru
dengan tetap mengedepankan keseimbangan dan proporsionalitas.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 204
IGI muncul dipicu oleh adanya semangat untuk meningkatkan mutu
dan profesionalisme serta kesejahteraan guru. Sebagai sebuah
organisasi profesi, IGI memiliki kode etik yang harus dijunjung
tinggi oleh semua anggota IGI tanpa terkecuali. Penulis sangat
kagum dengan prinsip yang mendasari organisasi IGI tersebut.
Penulis sangat tertarik sekali dengan salah satu kode etik IGI, di
mana anggota IGI senantiasa belajar sepanjang hayat untuk
meningkatkan mutu dan melakukan pengembangan profesional
berkelanjutan, menguasai IT, dan pembelajaran abad 21. Memegang
teguh prinsip dan kode etik aturan hukum, serta bersama-sama
memperjuangkan mutu pendidikan nasional. Hal tersebut menjadi
dasar bagi IGI untuk terus bekerja bersama dan tanpa henti
mengembangkan kompetensi guru di berbagai daerah.
Sebagai organisasi profesi, IGI memiliki mars yang menjadi
penyemangat dan selalu dikumandangkan dalam setiap kegiatan-
kegiatan IGI. Lirik dari mars IGI memberikan gambaran secara
umum cita-cita dan nilai luhur organisasi tersebut. Pada bait-bait
mars tersebut tertulis dengan jelas visi mulia, yaitu mencerdaskan
bangsa, mendidik generasi mulia, dan menjunjung kehormatan serta
kode etik guru Indonesia. Bersumpah menjadi guru sejati, mengabdi
untuk negeri, menjadi mutiara Ibu Pertiwi, itu adalah cita-cita mulia
yang ingin diwujudkan oleh IGI tentunya didukung oleh semua
Anggota IGI. Guru di mata IGI adalah guru yang bermutu, jujur, dan
profesional, mampu menjadi pelopor perubahan, pantang mengajar
kalau tidak belajar. IGI mempunyai tujuan sebagai organisasi yang
selalu terdepan dalam ilmu serta selalu sharing and growing
together. Nilai-nilai mulia tersebutlah yang menjadi motivasi dan
kekuatan untuk IGI terus maju dan berjaya.
Penulis Semakin kagum terhadap organisasi profesi guru yang
satu ini, sehingga muncullah dalam pemikiran penulis, “Siapakah
sebenarnya yang berada di balik kesuksesan IGI tersebut?” 67 kanal
pelatihan luar biasa yang terbentuk bukanlah hal yang mudah.
Bagaimana sosok yang membuat IGI mampu berkembang dan
memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk bisa meningkatkan
kompetensi mereka. Hasil telusur, bertanya, browsing, dan diskusi
sesama teman IGI. Akhirnya sampailah penulis menemukan
seseorang yang sangat luar biasa perannya dalam memajukan IGI.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 205
Seorang pria berasal dari Sulawesi Selatan yang dikenal dengan
sebutan MRR. Siapa Beliau dan bagaimana sepak terjang Beliau
dalam memajukan IGI menjadi topik yang sangat menarik untuk
dibicarakan.
Dia adalah sosok yang sangat luar biasa, Muhammad Ramli
Rahim yang biasa dikenal dengan sebutan MRR. Beliau adalah
putera daerah kelahiran Maros, sebuah kabupaten yang terletak di
provinsi Sulawesi Selatan. Lahir pada tanggal 23 Mei 1978, sehingga
pada saat ini Beliau berumur 42 tahun. Ayah dari 6 orang anak ini
adalah lulusan Universitas Hasanuddin Sulawesi Selatan. Sejak kecil
Muhammad Ramli Rahim menghabiskan masa kecilnya di kampung
halamannya. Di sanalah Ramli menuntut ilmu dari mulai pendidikan
dasar hingga menengah. Hingga Beliau melanjutkan kuliah ke
Universitas Hasanuddin atau Unhas di Kota Makassar. Sebagai
seorang mahasiswa, MRR sudah banyak berkecimpung dalam dunia
organisasi. Jiwa kepemimpinannya sudah mulai terlihat ketika Beliau
tercatat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Islam komisariat
Fakultas MIPA Unhas, dan juga pernah menjabat sebagai Ketua
Umum Senat Mahasiswa Fakultas MIPA Unhas. Beberapa prestasi
Beliau dalam organisasi itu memang sudah terlihat sejak duduk di
bangku kuliah. Setelah selesai mengemban gelar sarjananya MRR
mendirikan grup Ranu, PT Ranu Prima college, salah satu Yayasan
Ranu Prima, dan banyak lagi PT Ranu lainnya. Selain itu, MRR juga
menjadi seorang guru tetap di Yayasan SMK Widya Nusantara
Maros, dan sering menjadi dosen tamu di Universitas Makassar.
Berbicara tentang penghargaan yang telah dimiliki oleh MRR,
ada beberapa penghargaan yang sangat luar biasa yang telah dicapai.
Diantaranya penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Pembangunan
dari Harian Berita Kota Makassar di tahun 2013 dan tahun 2015.
Beliau juga mendapat Gelar sebagai Tokoh Pemuda Inspiratif dari
majalah Makassar Terkini pada tahun 2016. MRR adalah seorang
Bisnisman yang juga aktif dalam berbagai organisasi
kemasyarakatan yang memberikan peluang baginya untuk terus
berkarya dan menerima berbagai penghargaan. Peran MRR dalam
dunia pendidikan di Makassar juga sangat luar biasa. Perusahaan
yang dibangun bersama istrinya Nurfitriani Andi Alimuddin
bergerak di bidang pendidikan juga beberapa kali telah mendapatkan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 206
penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia. Salah satu dari beberapa penghargaan itu ialah
The Best Favorite College of The Year pada tahun 2014 di ajang
Leading Excellent Innovation Awards. Di tahun 2015 Prima Ranu
College kembali mendapat penghargaan dari Indonesia Achievement
Center sebagai The Best Leading Education of The Year 2015.
Di tahun 2017, dimana penulis baru mengenal IGI,
Muhammad Ramli Rahim mendapat penghargaan dari Gubernur
Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Penghargaan tersebut ialah
terkait usaha dan prestasi dalam meningkatkan kompetensi guru di
Sulawesi Selatan bersama IGI Sulawesi Selatan. Jadi penghargaan
dan apresiasi yang diberikan kepada MRR tidaklah salah adanya dan
itu merupakan hal yang sangat luar biasa. Terkait kiprahnya di IGI,
MRR terpilih sebagai ketua IGI Sulawesi Selatan, yang kemudian
secara aklamasi terpilih menjadi ketua IGI Nasional. Kongres kedua
IGI tersebut berlangsung pada tahun 2016 mulai dari tanggal 30
sampai 31 Januari 2016 di Kota Makassar. Beliau secara aklamasi
terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia periode 2016-
2021. Kongres yang berlangsung itu mempercayakan tampuk
kepemimpinan IGI kepada Daeng MRR dari Makassar. Kepercayaan
ini bukanlah hal yang tidak main-main. Berbagai Penghargaan yang
telah dimilikinya, menjadikan salah satu tolak ukur untuk
menjadikan Beliau sebagai orang nomor satu di IGI. Apa lagi
melihat kiprah Beliau yang terkait dengan eksistensinya dalam
mengembangkan kompetensi guru. Loyalitasnya kepada organisasi
sudah tidak diragukan lagi. Kecintaan dan keinginan Beliau untuk
meningkatkan kompetensi para pendidik menjadi modal kuat untuk
mengembangkan organisasi IGI. Hal tersebutlah yang menjadikan
Beliau sangat dikagumi dan diteladani dalam organisasi IGI.
Bagaimana kehadiran MRR begitu memberikan perubahan
dalam perkembangan Ikatan Guru Indonesia? Di tengah kegelisahan
para pendidik Beliau hadir membawa suatu pencerahan. Tidak peduli
harus berkorban dalam bentuk apapun, demi kemajuan pendidikan di
Indonesia, MRR terus bergerak, rela berkorban apapun demi untuk
meningkatkan kompetensi guru di Indonesia. Jika kita bertanya pada
diri sendiri, maukah kita berkorban seperti Beliau? Rela
mengeluarkan dana pribadi yang tidak kecil untuk melangsungkan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 207
berbagai kegiatan organisasi, rela meninggalkan sementara segala
aktivitas bisnis, perusahaan, demi memajukan organisasi IGI dan
tentunya memajukan para guru di Indonesia. Saat ini, sangat sulit
mencari sosok yang mau berkorban jiwa raga sepenuhnya demi
pengabdian untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Jika kita mengingat kembali sejarah pendidikan Indonesia,
tentunya dunia pendidikan tidak terlepas dari tokoh pendidikan Ki
Hajar Dewantara. Beliau adalah Bapak Pendidikan Indonesia, yang
mendedikasikan hidupnya murni hanya untuk pendidikan. Filosofi Ki
Hajar Dewantara sangat familiar di dalam dunia pendidikan, yang
hingga saat ini masih menjadi suatu filosofi yang mendasari sistem
pendidikan di Indonesia. Patrap triloka yang digaungkan oleh Ki
Hajar Dewantara, yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun
karsa, dan tut wuri handayani merupakan filosofi yang wajib
dipegang oleh seorang pendidik. Ki Hajar Dewantara mengajarkan
bagaimana seorang pendidik harus selalu ikhlas menghambakan diri
kepada sang anak dan selalu memberikan hal terbaik kepada peserta
didiknya.
Jika Ki Hajar Dewantara adalah tokoh Pendidikan di eranya
yaitu pada tahun 1889 - 1959, maka MRR adalah tokoh pendidikan
yang sangat luar biasa pada era tahun 2000an. Bagi pembaca yang
belum mengenal betul sosok MRR, mungkin berpikir bahwa tidaklah
tepat membandingkan Ki Hajar Dewantara dengan MRR. Ki Hajar
Dewantara (KHD) adalah seseorang yang luar biasa, guru hebat yang
mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan melalui sekolah
Taman Siswa. Tetapi penulis di sini tidak bermaksud
membandingkan, tetapi memberikan contoh model untuk mengambil
keserupaan di antara keduanya. Hal-hal penting filosofi Ki Hajar
Dewantara yang serupa dengan apa yang dilakukan oleh MRR,
Beliau menjadi teladan dalam setiap perbuatan dan tindakan baik,
secara organisasi pribadi maupun di lingkungan pendidikan. MRR
juga seorang guru di SMK kehutanan Widya Nusantara. Hal yang
membedakan MRR dengan KHD, yaitu cara pengabdiannya. Jika
KHD penekanannya kepada kemampuan peserta didik, maka MRR
memberikan penekanan kepada kemampuan atau kompetensi guru
sebagai pendidik. Dilihat dari cara hidup, MRR hidup dengan boleh
dikatakan materi yang cukup karena bisnis yang dibangunnya.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 208
Sementara KHD memberikan pengajaran dalam segala keterbatasan
di zaman itu.
Ketika MRR dilantik sebagai Ketua Umum IGI pada tahun
2016, IGI sama sekali tidak memiliki dana. Bahkan kongres IGI
kedua yang diadakan di Makassar pada tahun itu dilaksanakan tanpa
adanya dana sama sekali yang dimiliki oleh bendahara atau kas IGI.
Sebagai tuan rumah, MRR harus berpikir bagaimana melaksanakan
kongres tanpa adanya sepeser dana pun yang IGI miliki. Kemudian
Bapak Dr. Ir. Indra Djati Sidi, MSc menghubungi MRR dan
menanyakan nomor rekening untuk menyalurkan bantuan dana
mengadakan kongres di Makassar. Pada waktu itu Beliau
mengirimkan dana sebesar Rp 5.000.000,- sebagai modal melakukan
kongres. Memanfaatkan dana seadanya maka kegiatan kongres dapat
terlaksana. Kemudian setelah kongres selesai, sama seperti
sebelumnya bahwa IGI tidak memiliki dana sama sekali. Kenapa?
karena waktu itu keanggotaan IGI masih belum banyak seperti
perkembangannya di tahun 2020 ini. MRR menyadari betul bahwa
IGI tidak memiliki cukup dana untuk melakukan berbagai kegiatan.
Hal tersebut mengharuskan Ia untuk rela dan ikhlas merogoh
kantong sendiri demi tetap berjalannya kegiatan yang memiliki itikad
baik mengembangkan kompetensi guru.
Sejak Ia dinobatkan sebagai orang nomor satu di IGI, sosok
yang juga pernah masuk dalam bursa calon Bupati Maros ini
bertekad untuk tetap pada program peningkatan kompetensi guru
seperti yang telah dilakukannya ketika memimpin IGI Sulawesi
Selatan. Tekad tersebut akan direalisasikan Beliau dengan cara
menjalin berbagai kerjasama dengan berbagai lembaga terkait
peningkatan kompetensi guru. Walaupun fokus IGI terhadap
kompetensi guru, tetapi di bawah kepemimpinan MRR ini juga tetap
melakukan advokasi terhadap para guru yang memerlukan. Advokasi
dilakukan oleh pengurus daerah wilayah atau pusat sesuai
kepentingan. Begitu besarnya dedikasi MRR terhadap IGI, Beliau
tidak hanya rela berkorban secara materi, untuk berbagai kegiatan
IGI, tetapi Beliau juga meninggalkan kehidupan politiknya untuk
sementara. Seperti yang diketahui dari berbagai sumber, bahwa MRR
merupakan politisi dari salah satu partai yang cukup terkenal dan
besar di panggung politik. Sosok yang pernah memperoleh ribuan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 209
suara di panggung pemilihan Caleg Kabupaten Maros di tahun 2014
ini, rela mengundurkan diri dengan alasan untuk dapat fokus pada
IGI. Ramli Rahim sejak menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Guru
Indonesia berniat untuk mendedikasikan dirinya demi kemajuan
organisasi profesi mulia ini.
Dalam kehidupan setiap manusia tentunya memiliki seorang
tokoh yang dikagumi, walaupun tokoh itu belum kita kenal. Begitu
juga dengan MRR, Beliau sangat mengagumi salah satu khalifah di
dalam perkembangan umat Islam yaitu Umar bin Abdul Aziz. Sosok
tersebut digelar dengan Umar kedua, yang tidak lain adalah
keturunan dari Khalifah Umar Bin Khattab, tepatnya cicit dari sang
Khalifah. Apa yang menjadikan MRR begitu mengagumi Umar bin
Abdul Aziz? Karena di masa pemerintahannya, Umar bin Abdul
Aziz inilah yang benar-benar bisa mewujudkan negara yang gemah
ripah loh jinawi. Umar bin Abdul Aziz mampu mewujudkan hal
tersebut, dengan tidak ada hutang negara dan tidak ada kemiskinan di
masa itu. Tentunya sebagai manusia biasa, kita tidak bisa mengikuti
sepenuhnya apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz tersebut.
Namun apa yang telah dilakukannya menjadi inspirasi bagi MRR
untuk mengembangkan IGI agar menjadi organisasi yang mandiri.
Menyadari hal tersebut, MRR meyakini bahwa tidak ada
keberhasilan jika tidak dimulai dari sumber daya yang dimiliki
sendiri. Hal tersebutlah yang menjadi keyakinan MRR dalam
hidupnya. Hal itu juga yang menjadi motivasi Beliau mau
mengorbankan segala sumber daya milik pribadi demi kepentingan
organisasi. Beliau berkeyakinan bahwa jika ingin melakukan
perubahan, maka harus diri sendirilah yang bergerak memulai
perubahan tersebut.
Berbicara tentang keikhlasan seorang guru, idealnya setiap
guru adalah orang-orang yang ikhlas mengabdi bagi bangsa dan
negara. Namun fakta berbicara lain, mayoritas guru yang katanya
ikhlas melakukan apapun untuk dunia pendidikan sebenarnya
tidaklah demikian. Kita bisa melihat banyak oknum guru yang yang
tidak mau mengeluarkan uang sendiri untuk mengikuti berbagai
pelatihan. Mereka hanya mengharap panggilan, mengharapkan jatah
dari Dinas Pendidikan Kabupaten ataupun panggilan dari
Kemendikbud, dengan keinginan selain mendapatkan ilmu mereka
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 210
juga ingin mendapatkan amplop. Ini Tentu saja tidak sejalan dengan
konsep yang dimiliki oleh MRR. Beliau bukannya menerima, tetapi
justru rela memberikan apa yang dimiliki.
MRR dalam usaha mengembangkan IGI juga memanfaatkan
dan memaksimalkan kekuatan jaringan yang telah Ia miliki sebelum
menjabat sebagai Ketua Umum. Salah satu kekuatan jaringan
tersebut ialah kedekatan Beliau dengan Bapak Anies Baswedan,
yang ketika itu masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan
Nasional. Ketika itu Pak Menteri hadir ke Sulawesi Selatan bersama
dengan dua rekannya yang dikemudian hari juga memiliki jabatan
penting di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia. Orang tersebut adalah Pak Pranata sebagai Dirjen GTK
dan Pak Totok yang hingga sekarang menjabat sebagai Kepala
Balitbang. Mereka hadir di kediaman MRR, berdiskusi dan saling
berbagi masukan untuk dunia pendidikan. Kedekatan MRR dengan
tokoh-tokoh tersebut memberikan kemudahan tersendiri baginya
dalam menyelesaikan segala urusan di Kementerian, karena telah
diakui sebagai sahabat dari para petinggi-petinggi di Kementerian
termasuk Bapak Anies Baswedan yang sekarang menjabat sebagai
gubernur DKI Jakarta. Semua itu adalah buah pengorbanan ketika
MRR sebelum menjadi ketua IGI mau mengorbankan segala
kepentingan pribadinya untuk hal-hal tertentu terkait organisasi.
MRR rela meninggalkan segala usaha yang telah Ia bangun
selama ini demi untuk memfokuskan dirinya memajukan IGI. Bukan
hanya pengorbanan meninggalkan anak dan istri dalam waktu
berhari-hari, tapi juga meninggalkan berbagai usaha yang telah
dibangun dengan susah payah demi menjalankan tugas sebagai Ketua
Umum IGI. Termasuk usaha di bidang pendidikan, yang ketika itu
baru mulai dirintis berbentuk bimbingan belajar. Seketika semua
usaha dan bisnis itu terabaikan hanya demi tugas mulia untuk
mengembangkan kompetensi guru melalui IGI. Mulai dari biaya
perjalanan yang mayoritas dari kantong sendiri. Beliau melakukan
perjalanan terbang ke berbagai daerah tanpa harus peduli dana itu
dikeluarkan dari mana. Bahkan hingga banyak yang mengira IGI
memiliki banyak dana sehingga pimpinannya bisa berangkat ke mana
saja. Namun, mereka tidak tahu apa yang dilakukan MRR dibalik
perjalanan mulia tersebut. Merogoh kantongnya sendiri dan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 211
memaksimalkan sumber daya yang Ia miliki demi bergerak terus
maju serta memberikan contoh kemandirian dalam berorganisasi.
Bagi MRR menjadi suatu pantangan untuk meminta dana dari pihak
manapun demi untuk kegiatan Ikatan Guru Indonesia. Justru MRR
selalu memberikan atau menawarkan bantuan kepada pihak-pihak
tertentu.
Sebenarnya ada peluang bagi MRR untuk mengajukan
pinjaman atau bantuan dana dari Kemendikbud melalui proposal
kegiatan. Apalagi ketika itu yang menjadi Menteri Pendidikan adalah
sahabatnya sendiri yaitu Anies Baswedan. Bukanlah hal yang yang
sulit untuk mendapatkan dana bantuan tersebut, tetapi MRR tidak
melakukannya. Bahkan hingga Anies Baswedan tidak lagi menjabat
menteri, tidak sekalipun Ia mengajukan permohonan tersebut. Hal itu
dilakukan karena MRR tidak ingin adanya intervensi dari pihak
manapun terhadap kegiatan atau keberlangsungan IGI, sehingga Ia
tidak menerima berbagai bantuan yang ditawarkan oleh
Kemendikbud. Karena ketika itu Kemendikbud menawarkan paket-
paket pelatihan yang harus sesuai dengan keinginan mereka. Hingga
pada suatu saat MRR mengajukan proposal kegiatan dengan caranya
sendiri. Proposal yang diajukan disesuaikan dengan pola pelatihan
gayanya IGI. Beberapa tahun berusaha agar proposal yang diajukan
diterima oleh Kemendikbud. Padahal ketika itu MRR hanya meminta
bantuan tiket pesawat dan juga penginapan untuk para pelatih-pelatih
yang diterbangkan ke berbagai daerah. Tetapi pihak berwenang tidak
menyetujui atau tidak mengakses proposal tersebut dikarenakan
mereka sudah punya paket-paket pelatihan yang sudah dibandrol
sesuai aturan mereka.
MRR berusaha fokus dengan pengembangan kompetensi guru
dengan lebih mengedepankan pelatihan sesuai kebutuhan, serta
menghadirkan narasumber yang juga berprofesi sebagai guru. IGI
kemudian mempersiapkan pelatih-pelatih nasional untuk siap
diterjukan dan mengembangkan kompetensi rekan-rekan gurunya di
daerah masing-masing. Terlaksanalah Training of Trainer (TOT) di
Surabaya yang disponsori oleh Samsung. Tema TOT adalah literasi
berbasis digital. Kegiatan dilaksanakan pada 6 Oktober 2016 di
LPMP Jawa Timur. Training of trainer (TOT) di Surabaya
merupakan langkah awal di masa kepemimpinan MRR dalam upaya
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 212
mencetak pelatih-pelatih nasional. Sesuai dengan visi dan misi yang
telah MRR sampaikan sebagai Ketua Umum IGI, maka TOT ini
adalah langkah awal mewujudkan perpanjangan tangan ketua dalam
upaya meningkatkan kompetensi guru di berbagai daerah.
TOT yang berlangsung selama 4 hari dimulai pada tanggal 6
hingga 9 Oktober 2016 tersebut memiliki visi mulia. Kegiatan diikuti
oleh 150 guru dari berbagai daerah kota/ kabupaten/ wilayah di
Indonesia. Guru-guru yang menjadi peserta pada kegiatan ini adalah
guru-guru hebat yang terpilih. Mereka nantinya akan mengemban
tugas mulia menyampaikan hasil TOT ke daerah masing-masing.
TOT ini mengajak para guru untuk berliterasi produktif di Surabaya.
Pelatihan dijadikan ajang untuk mengidentifikasi variasi pelatihan
guru Indonesia untuk menghadirkan pembelajaran berbasis IT yang
menyenangkan dan menggembirakan di ruang-ruang kelas. Pelatihan
berbasis IT dengan memanfaatkan Tablet A8 dalam pembelajaran
melibatkan pihak Samsung sebagai pelatih nasional dan narasumber.
Semua tidak terlepas dari usaha MRR menjalin kerja sama dan
melakukan negosiasi dengan pihak Samsung. MRR tidak meminta
bantuan dalam bentuk dana, tetapi menawarkan kepada Samsung
terlibat langsung meningkatkan kompetensi guru. Kemampuan guru
yang ingin sekali ditingkatkan pada kegiatan ini ialah kemampuan
dalam menggunakan teknologi, sehingga guru-guru Indonesia
mampu bersaing secara nasional dan internasional. Segala upaya
tersebut dilakukan tidak lain semata-mata untuk meningkatkan
gengsi guru sebagai seorang pendidik profesional.
Ketika itu IGI di bawah kepemimpinan MRR sudah memiliki
beberapa variasi pelatihan dan beberapa pengurus pusat yang
memiliki kemampuan khusus yang kemudian akan dibuat menjadi
beberapa kanal. Kanal 1 yang dipimpin Mampuono, kanal 2 yang
dipimpin Abdul Karim, kanal 3 yang dipimpin Slamet Riyanto,
Kanal 4 yang dipimpin Abdul Kholiq, kanal 5 yang akan dipimpin
Elyas. Kanal-kanal ini akan mendalami lebih jauh, apa saja yang
dapat kita lakukan dari Tablet guru untuk membuat guru-guru kita
kreatif dalam pembelajaran di kelas sehingga siswa senang belajar,
bukan terpaksa belajar. Para peserta TOT akan terdistribusi ke dalam
kanal-kanal tersebut.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 213
Lima kanal ini yang terbentuk pada saat itu sifatnya hanya
sementara, jika ada peserta yang punya kemampuan khusus dan bisa
membuat diklat guru dimana guru yang dilatih nantinya punya
kemampuan dan kreativitas khusus juga, kita akan membentuk kanal
baru dan kita berharap ada 10 atau lebih kanal pelatihan IGI dengan
variasi yang berbeda-beda. Target MRR di tahun 2016 itu bukanlah
target biasa. Terbukti pada Temu Nasional Pelatih (TNP) tahun 2018
terbentuk 67 kanal. Perkembangan pesat dalam dunia pelatihan IGI
ini tentunya bukan sesuatu yang selalu berjalan mulus. Karena untuk
mencapai suatu tujuan tentu banyak aral melintang yang bisa
dijadikan sebagai cambuk pemecut, atau bisa saja malah
menjatuhkan keinginan mulia tersebut.
Begitu juga yang terjadi pada IGI ketika selesai melaksanakan
TOT di Surabaya. Para peserta kembali ke daerahnya masing-masing
dengan harapan bisa berbagi ilmu pengetahuan yang baru diperoleh
kepada rekan-rekan guru. Ternyata timbul masalah baru, rendahnya
motivasi yang dimiliki oleh guru-guru di daerah untuk mengikuti
pelatihan. Selidik punya selidik, ternyata salah satu penyebabnya
ialah para pelatih yang masih muda. Guru-guru senior merasa
mereka tidak layak memberikan pelatihan karena masih kurangnya
pengalaman. Apalagi gengsi guru yang merasa dirinya paling hebat
karena sudah pernah mengikuti berbagai diklat yang diberikan oleh
kemendikbud atau LPMP. Para guru yang sudah memperoleh
penghargaan, merasa para pelatih IGI yang baru mereka kenal ini
belum mumpuni untuk memberikan pelatihan kepada mereka.
Fenomena ini oleh MRR disebut sebagai “Botol kosong tetapi
tertutup”. Padahal lmu yang akan diberikan adalah ilmu baru yang
jelas-jelas belum mereka kuasai. Tetapi keegoan sebagian besar guru
tersebut mengalahkan keinginan mereka untuk belajar.
MRR sebagai Ketua Umum IGI tentu harus mencari strategi
yang tepat untuk mengatasi fenomena tersebut. Bagaimana caranya
agar ilmu yang telah dibekalkan kepada para trainer IGI tersebut bisa
tersampaikan. Strategi jitu harus segera ditemukan agar bisa
membuka tutup botol kosong tersebut. Maka dilakukanlah pertukaran
pelatih antar daerah. Karena melihat tren bahwa guru akan lebih
tertarik mengikuti pelatihan jika pelatihnya adalah pelatih dari luar
daerah mereka. MRR kemudian mengirim pelatih dari satu daerah ke
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 214
daerah lain. Misalnya pelatih dari Maluku dikirim ke Surabaya, atau
sebaliknya. Ternyata strategi ini sangat efektif dalam mengundang
dan mengajak rekan guru tertarik mengikuti pelatihan yang
dilakukan oleh IGI. Karena dalam pikiran mereka, sesuatu yang
hebat atau menakjubkan jika pelatih itu adalah mereka yang jauh dari
daerah asal. Inilah terkadang yang menyebabkan bangsa Indonesia
lebih kagum dengan produk luar negeri. Bukan karena kualitas,
tetapi karena populeritas. Bahkan beberapa fenomena kita ketahui,
banyak sekali produk dalam negeri yang kemudian dijual di luar
negeri. Produk tersebut kemudian malah dibeli kembali oleh
masyarakat Indonesia sebagai oleh-oleh yang dibawa pulang.
Selain fenomena botol kosong tetapi tertutup, fenomena
amplop juga mewarnai perkembangan pelatihan yang ditaja oleh IGI.
IGI berkembang dengan kemandirian, jadi tentunya para peserta
yang mengikuti kegiatan IGI benar-benar mereka yang
menginginkan perubahan dalam diri mereka. Hal tersebut dibuktikan
dengan keikhlasan peserta menggunakan dana pribadi untuk
mendaftar dan melakukan perjalanan dari tempat tugas mereka
masing-masing. Masih banyak guru yang enggan bergerak menimba
ilmu jika harus mengeluarkan dana pribadi. Pembaca bisa
membandingkan ketika ada pelatihan yang dibiayai atas dana APBD
ataupun APBN, maka para pesertanya adalah peserta langganan.
Artinya, itu-itu saja orang terpanggil, para guru senior yang sudah
memiliki link dengan panitia pelaksana misalnya. Pelatihan yang
mengganti biaya perjalanan dan akomodasi tentunya akan banyak
peminat. Sementara pelatihan yang semua dana bersumber dari dana
pribadi akan sepi peminat. Tetapi fakta berbicara lain, walaupun
pelatihan IGI terlaksana dengan biaya mandiri, tetap selalu diminati
terutama bagi mereka yang mau menyongsong perubahan dalam
dunia pengajaran. Hal tersebut terjadi dikarenakan ilmu-ilmu yang
diberikan pelatih IGI adalah ilmu-ilmu baru. IGI dalam memberikan
pelatihan lebih banyak langsung kepada aksi nyata. Memberikan
bukti dan hasil, tidak hanya sekedar teori. Itulah yang menjadi daya
tarik IGI dalam memberikan pelatihan hingga mampu berkembang
seperti saat ini.
Pertukaran pelatih IGI ini tentunya juga memberikan
pengalaman luar biasa bagi para pelatih. Mereka bisa mengunjungi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 215
berbagai daerah di Indonesia dan disambut dengan sangat istimewa
di daerah tujuan. Begitulah IGI mengapresiasi para pelatih nasional
yang selalu ikhlas berbagi di manapun mereka berada. Kegiatan
pelatihan terus berjalan dan berkembang seiring waktu. Nama IGI
semakin dikenal melalui berbagai kanal yang dimilikinya. Dalam
setiap kegiatan, para pelatih selalu menyampaikan visi dan misi IGI
sebagai Organisasi Profesi. Bagaimana sistem keanggotaan dan apa
saja keuntungan yang diperoleh oleh anggota IGI. Perlahan tapi pasti
keanggotaan IGI semakin maju dan berkembang.
Satu di antara target MRR sebagai ketua umum IGI ialah
menghadirkan IGI di minimal 80% kabupaten/kota di Indonesia.
MRR melihat peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan di daerah-
daerah terpencil. Maka MRR memilih pelatih-pelatih IGI yang
sangat berkompeten dalam melakukan elaborasi serta mampu
berargumentasi secara persuasif untuk dikirim masuk ke daerah-
daerah yang belum ada anggota IGI. Hingga tahun 2020, bisa
dikatakan tidak ada kabupaten/kota di Indonesia yang belum
terjamah oleh IGI. Walaupun belum ada kepengurusan, tetapi paling
tidak sudah ada keanggotan yang terdata di IGI pusat.
Hal yang sama juga terjadi dalam organisasi IGI kabupaten
Indragiri Hilir (Inhil). Sejak terbentuknya kepengurusan IGI daerah
kabupaten pada tanggal 1 April di tahun 2017, perkembangan pesat
terus terjadi. Tercatat hingga November 2020 jumlah keanggotaan
IGI Inhil mendekati angka 500. Pencapaian tersebut bukan sesuatu
yang mudah terjadi dalam rentang waktu 3 tahun. Di bawah
kepemimpinan MRR, IGI Inhil melakukan berbagai kegiatan guna
memperkenalkan IGI serta meningkatkan kompetensi. Tidak peduli
betapa susahnya masuk ke pelosok daerah, mengunjungi sekolah,
belum lagi cemoohan orang yang tidak senang dengan adanya IGI,
para IGIers Inhil terus maju dan berkembang tak terbatas.
Pembentukan kepengurusan IGI Inhil di tahun 2017 bertepatan
dengan kegiatan pelatihan dari kanal SAGUSAKU di kota
Pekanbaru. Ketika itu terdapat 40 orang guru Inhil yang terlibat
dalam kegiatan tersebut, semua dengan dana mandiri. Inhil
mencatatkan diri sebagai peserta terbanyak dalam kegiatan luar biasa
tersebut. Target pelatihan adalah satu guru menghasilkan satu buku.
Dari 40 peserta Inhil, kemudian dibentuklah kepengurusan IGI
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 216
daerah, dan penulis sendiri masuk ke dalam kepengurusan tepatnya
pada bidang Pengembangan Kompetensi IGMP SMP/MTs.
Berbekal dari kegiatan SAGUSAKU tersebut, IGI Inhil
melahirkan sebelas orang guru penulis dengan karya-karya perdana
mereka. Kegiatan IGI Inhil yang paling aktif yaitu GELIS atau
Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan ini mengajak para guru dan
peserta didik untuk terlibat aktif menjadi seorang penulis. Beberapa
buku antologi peserta didik lahir sebagai karya-karya luar biasa. Pada
tanggal 9 – 10 Desember 2017, IGI Inhil melaksanakan kegiatan
SAGUSAKU perdana di kota Tembilahan dengan narasumber
alumni Sagusaku 1 Pekanbaru. Kegiatan inipun melahirkan para
penulis-penulis hebat dengan karyanya yang luar biasa. Tidak
berhenti pada kegiatan tersebut, berbagai pelatihan tidak hanya di
bidang menulis terus digencarkan oleh IGI Inhil. Pelatihan
merancang Penelitian Tindakan Kelas (PTK), merancang
penyusunan Penetapan Angka Kredit (PAK), dan workshop terkait
dengan motivasi. IGI Inhil juga sukses mengundang tokoh
Hypnotherapi Subur Putera ke sekolah yang ada di Inhil.
Beberapa guru penulis lahir melalui program SAGUSAKU
dan terus berkarya hingga saat ini. Tidak hanya guru, peserta didik
juga banyak yang telah mengukir tulisannya dalam karya buku
antologi dan buku solo. Bisa dikatakan IGI Inhil tidak ada matinya.
Tahun 2020 di tepatnya di bulan Maret, datanglah wabah yang
menyebabkan kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan, pendidikan
mengalami perubahan yang drastis. Tiba-tiba pembelajaran di
sekolah-sekolah terhenti. Para karyawan melakukan pekerjaan dari
rumah. Peserta didik terpaksa menahan rindu untuk bertemu teman
dan gurunya untuk waktu yang tidak diketahui. Wabah itu ialah
kehadiran Virus yang tak dirindukan, Covid-19 atau disebut juga
sebagai Corona. Apakah IGI berhenti berkarya? Justru momen ini
dijadikan sebagai tantangan untuk membantu pemerintah dalam
dunia pendidikan. Pembelajaran yang awalnya berada dalam satu
kelas, berlangsung tatap muka, dimana guru bisa melihat langsung
gesture wajah dan tubuh peserta didik dalam memberikan tanggapan
mengajar. Seketika berubah, komunikasi sebagian besar hanya bisa
dilakukan searah. Melalui chat tulisan atau pesan suara lewat grup-
grup Whatsapp.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 217
MRR sebagai ketua IGI terpanggil untuk membantu guru
menghadapi masa pandemi ini. Beliau harus memikirkan berbagai
strategi baru dalam mengembangkan kompetensi guru. Terutama
yang menjadi fokus tujuan adalah kemampuan guru mengelola media
pembelajaran berbasis internet. Melalui kanal-kanal IGI yang
semakin berkembang, peningkatan kompetensi guru tersebut tetap
bisa terlaksana. Bahkan, masa pandemi ini memberikan waktu yang
lebih banyak bagi kawan-kawan guru mengikuti berbagai workshop
online. Di samping itu, sistem keanggotaan IGI yang modern
memberikan kemudahan bagi anggota untuk mengikuti berbagai
workshop gratis yang tersedia. IGI di bawah kepemimpinan MRR
juga sudah memiliki website Guru Pembelajar IGI di alamat
https://gurupembelajar.igi.or.id/. Melalui website ini, guru yang ingin
mengikuti berbagai workshop online bisa mendaftar dan login cukup
dengan satu akun menggunakan nomor KTA yang dimilikinya. Di
website tersebut tersedia berbagai kanal yang aktif dalam
meningkatkan kompetensi guru. Anggota tinggal memilih kanal yang
disukai dan juga waktu yang disesuaikan dengan kesibukan atau
rutinitas yang dimiliki.
Begitu juga dengan IGI kabupaten Inhil, adanya pandemi
menjadi peluang dan tantangan untuk terus berbagi meningkatkan
kompetensi guru di Inhil khususnya dan juga daerah lain.
Terbentuklah kegiatan Webinar Daring IGI Inhil Gemilang (WDIG).
Hingga pada November 2020 sudah masuk kepada bagian kelima.
Disetiap bagian terdiri dari 5 – 8 edisi. Narasumber didatangkan dari
berbagai penjuru tanah air, baik dari kalangan guru maupun
pengawas, bahkan praktisi dan tokoh masyarakat yang peduli dengan
pendidikan. Mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah, IGI Inhil
terus berkembang. Awalnya kegiatan WDIG hanya menggunakan
layanan Zoom yang gratis. Mengingat banyaknya ketertarikan
peserta dari berbagai daerah, maka pengurus IGI Inhil berusaha
untuk berpindah ke layanan Zoom premium yang menampung 100
orang partisipan.
Setelah berpindah ke layanan Zoom premium, peserta WDIG
semakin bertambah. Bahkan hampir di setiap edisi peserta melebihi
kuota yang ditetapkan, yaitu 100 orang. Panitia harus tetap
mengakomodir kawan guru yang tidak mendapatkan kursi di Zoom,
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 218
dengan cara melakukan streaming youtube. Hingga tulisan ini dimuat
sudah lebih dari 16 narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan
WDIG. Penulis sendiri merasakan pergerakan yang sangat positif
dari teman-teman sejawat yang dulunya acuh terhadap kehadiran
IGI. Saat ini mereka sudah banyak merasakan keuntungan dari ilmu
yang diberikan oleh IGI Inhil. Pada masa kepemimpinan MRR
jugalah, kerja sama dengan salah satu Provider terkenal dapat
terlaksana sehingga anggota IGI mendapatkan kemudahan dalam
melaksanakan tugas selama pembelajaran jarak jauh (PJJ). IGI Inhil
semakin berkembang dan membahana di ruang-ruang pembicaraan
IGI tingkat nasional.
IGI tidak pernah berhenti memberikan yang terbaik sebagai
suatu organisasi profesi guru. Satu program yang luar biasa
diluncurkan untuk memberikan apresiasi kepada guru yang
melakukan kunjungan ke rumah peserta didik di masa pandemi.
Sebagaimana yang diketahui, bahwa PJJ bukan hanya melalui
pembelajaran daring, tetapi juga pembelajaran luring terutama untuk
peserta didik yang memiliki keterbatasan dalam fasilitas gadget
ataupun kesulitan jangkauan jaringan. Program tersebut dinamakan
“Guru Kunjung”, yaitu suatu dedikasi tanpa batas, sebuah perbuatan
melebih batas pengabdian guru apalagi bagi mereka yang
menjalankan Gerakan Guru Kunjung sebelum viralnya Guru
Kunjung. Sebagai penghargaan atas dedikasi tanpa batas itu, IGI
memberikan penghargaan berupa Bantuan Langsung Tunai yang
akan ditransfer langsung dari rekening IGI ke rekening sang guru
kunjung. Target pemberian bantuan tersebut adalah 1000 orang guru
kunjung. Pada awal pengumuman melalui website IGI pada tanggal
15 Agustus 2020, diumumkan bahwa besaran bantuan adalah Rp
250.000,00. Kemudian dengan penuh kebanggaan besaran bantuan
tersebut meningkat dan diserahkan sebesar Rp 800.000,00 langsung
ditransfer ke rekening penerima bantuan.
Mungkin muncul beberapa pertanyaan dari para pembaca.
Kenapa harus memilih IGI sebagai organisasi profesi. Ibaratkan kata
pepatah, tak kenal maka tak sayang, maka sebaiknya sebagai orang
yang berpendidikan dan mendidik, seorang guru sebelum
menjustifikasi atau memberikan label kepada sesuatu hal, hendaknya
lebih dahulu melakukan penyelidikan yang mendalam. Jangan hanya
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 219
berdasarkan kepada pesan dari mulut ke mulut yang tidak jelas
sumbernya dan juga kevalidannya. Misalnya, ketika baru mengenal
kata IGI tidak sedikit orang yang berpandangan negatif,
bahwa adanya organisasi ini hanyalah untuk menyaingi organisasi
yang sudah ada dan untuk memecah belah para guru. Padahal itu
sama sekali tidak benar! Orang yang berkata seperti itu adalah orang-
orang yang belum mengenal IGI dengan baik. Mereka hanya
mengetahui dari namanya saja, tetapi tidak menganalisis lebih
mendalam. Apa tujuannya dan apa motivasi serta niat baik IGI
tersebut.
Beberapa alasan yang mungkin bisa dijadikan bahan bagi
pembaca untuk memilih IGI sebagai organisasi profesi, sudah
penulis paparkan sebelumnya. IGI selalu memberikan kesempatan
yang sama pada semua anggota untuk mengembangkan potensi dan
meningkatkan kompetensi di bidangnya. IGI juga memberikan
kesempatan anggota untuk menjadi pelatih di seluruh Indonesia.
Tidak ada perbedaan dalam hak tersebut, semua sama baik itu
anggota lama maupun anggota baru. Terdapat lebih dari 67 kanal
yang bisa diikuti dan disesuaikan dengan minat dan bakat para guru.
Jadi, sebagai guru tidak monoton hanya kepada salah satu bidang
saja. Dengan adanya kanal-kanal pelatihan di IGI, guru bisa memilih
pelatihan mana yang akan diikutinya. IGI memiliki narasumber yang
melatih di seluruh tanah air baik yang diberikan honor maupun tidak.
Karena sesuai dengan motto IGI yaitu sharing and growing together.
Orang-orang yang bergabung di IGI adalah orang-orang yang benar-
benar mempunyai cita-cita luhur untuk mengembangkan potensi
serta meningkatkan kualitas pembelajaran.
Begitu juga halnya dengan diri penulis, mendapatkan
kesempatan mengenal IGI pada ada tahun 2017 melalui kanal
SAGUSAKU atau Satu Guru Satu Buku. Penulis memantapkan
hatinya untuk bergabung dalam organisasi tersebut dan juga terlibat
dalam kepengurusan IGI Kabupaten Indragiri Hilir. Selama
bergabung menjadi anggota IGI maupun pengurus IGI banyak hal-
hal positif yang penulis dapatkan yang paling utama ialah
kesempatan berbagi dengan teman-teman guru yang difasilitasi oleh
IGI. Pelatih-pelatih IGI adalah mereka yang memiliki niat suci
mengembangkan kompetensi guru. Maju mundurnya sebuah
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 220
pendidikan benar-benar tergantung kepada guru sebagai pelaku. Jika
gurunya memiliki kompetensi yang baik, maka menjadi modal yang
luar biasa untuk meningkatkan kompetensi peserta didiknya. IGI
selalu memberikan ruang bagi guru-guru yang ingin berbagi dan
saling memotivasi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di
Indonesia.
Begitu banyak perkembangan yang telah dicapai IGI di bawah
kepemimpinan MRR. Penulis sendiri merasakan dampak
perkembangan dan perubahan tersebut. IGI semakin dikenal di
ruang-ruang guru. Ketika orang-orang membicarakan IGI, maka
mereka sudah memiliki bayangan bahwa orang IGI adalah guru
hebat yang selalu mau berbagi dengan siapa saja. Tak lelah walau
hanya disambut dengan senyuman, itu adalah apresiasi yang luar
biasa yang bisa dirasakan oleh para pelatih IGI. Jika saat ini masih
ada perdebatan mengenai lahirnya IGI, maka itu hanyalah sekelumit
suara yang tidak perlu untuk ditindaklanjuti. Tidak bisa dipungkiri
bahwa masih ada yang mencela dan merendahkan apa yang
dilakukan IGI. Bukan zamannya lagi untuk memperdebatkan hal-hal
kecil yang tiada habisnya. IGI adalah organisasi profesi yang resmi
bukan ilegal. Bahkan di hari-hari peringatan guru sudah ada edaran
untuk mengenakan pakaian organisasi guru selain organisasi PGRI.
Ini menunjukkan bahwa IGI sudah mendapatkan pengakuan di mata
nasional.
Masih banyak orang yang mencemooh dan merendahkan apa
yang dilakukan IGI. Suara-suara sumbang tersebut tidak zamannya
lagi untuk dibantah. Tidak perlu berdebat panjang, cukup berikan
bukti bukan janji. Hari ini yang dibutuhkan adalah aksi nyata dan
turun tangan berbuat hal kecil yang jauh lebih berarti dibandingkan
hanya bisa berkomentar tanpa melakukan apapun. Apalagi hanya
bisa mencela. Sebaiknya antar organisasi profesi melakukan
kordinasi dan bersinergi dalam meningkatkan kompetensi guru.
MRR menekankan kepada semua anggota IGI untuk selalu
mengedepankan perubahan, meningkatkan kompetensi tanpa henti
walau berbagai aral melintang IGI takkan pernah melangkah
mundur. Maju dan jaya bersama IGI, berikan apa yang bisa diberikan
untuk kemajuan bangsa dan Negara.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 221
=====
Rina Oktopiani, M.Pd, seorang guru Matematika yang
bertugas di SMPN 2 Reteh Kab. Indragiri Hilir Prov.
Riau. Penulis juga salah satu pengurus Ikatan Guru
Indonesia Indragiri Hilir (IGI Inhil). Penulis aktif
mengikuti berbagai lomba baik daerah maupun tingkat
nasional. Saat ini penulis juga lolos dalam seleksi calon
guru penggerak.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 222
MEMBANGUN KEMANDIRIAN GURU
Oleh :
Suprihadi
Ikatan Guru Indonesia (IGI) berdiri secara resmi pada tahun
2009. Pada tanggal 26 November 2009, Ikatan Guru Indonesia
disahkan oleh pemerintah melalui Surat Keputusan
Kementerian Hukum dan HAM.Sejak saat itu Ikatan Guru Indonesia
resmi berstatus sebagai organisasi guru di Indonesia.
Sebelum ada IGI, organisasi guru yang sudah lama berdiri
adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).Berhubung
banyak aspirasi guru yang tidak tersalurkan, organisasi IGI hadir
untuk memenuhi berbagai tuntutan guru yang ingin berinovasi dan
meningkatkan kompetensi lebih baik. Apalagi tuntutan bagi guru
PNS yang akan naik pangkat dan golongan harus membuat karya
tulis ilmiah dan melakukan kegiatan yang memerlukan pelatihan
khusus.
Fakta lain, kiprah Ikatan Guru Indonesia sebenarnya sudah
mulai bergerak jauh sebelum pengesahan Kemenkumham. Sejak
tahun 2000 di Bandung sudah ada cikal bakal organisasi guru
bernama Klub Guru Indonesia (KGI) yang di kemudian hari berubah
menjadi Ikatan Guru Indonesia. Satria Dharma didaulat menjadi
ketua umum Ikatan Guru Indonesia sejak pengesahan
oleh Kemenkumham hingga tahun 2016. Pada bulan Januari 2016
Ikatan Guru Indonesia mengadakan kongres di Makassar dan
terpilihlah Muhammad Ramli Rahim (MRR) sebagai Ketua Umum
Ikatan Guru Indonesia menggantikan Satria Dharma, masa
kepengurusan tahun 2016-2021.
Biografi Muhammad Ramli Rahim (MRR)
MRR dilahirkan pada tanggal 23 Mei 1978.Masa kecil
Muhammad Ramli Rahim dihabiskan di kampung halaman, Maros,
sebuah kabupaten yang merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi
Selatan. Di Maros pulalah tempat Ramli menuntut ilmu dari
pendidikan dasar hingga menengah. Setelah menamatkan pendidikan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 223
menengah, Ramli melanjutkan ke pendidikan tinggi di Kota
Makassar, Universitas Hasanuddin atau UNHAS.
Selama studi di Universitas Hasanuddin inilah jiwa
kepemimpinan MRR mulai terlihat. Di kampus yang terletak di ibu
kota Provinsi Sulawesi Selatan ini, Ramli tercatat pernah
menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas
MIPA Unhas, Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas MIPA
Unhas, Ketua HMI Cabangan Makassar Timur, Ketua Parlemen
Mahasiswa Unhas, Ketua Dewan Kader Himpunan Mahasiswa
Kimia Unhas, Ketua Dewan Kader Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas MIPA Unhas, serta beberapa jabatan lain terkait
mahasiswa di luar Universitas Hasanuddin.
Selepas dari studi di Universitas Hasanuddin, Ramli
mendirikan Grup Ranu, yakni perusaan yang bergerak di bidang
pendidikan, perumahan, dan pertambangan. Di bawah bendera Grup
Ranu ini, Ramli mendirikan PT. Ranu Prima College, PT. Ranu
Niaga Prima, PT. Ranu Globalindo Investama, PT. Ranu
Transporindo Indonesia, PT. Ranuland Indonesia, PT. Ranu Nusantra
Insfrastruktur, serta Yayasan Ranu Prima. Selain itu, Ramli juga aktif
mengajar sebagai guru tetap yayasan di SMK Widya Nusantara
Maros serta menjadi dosen tamu di Universitas Hasanuddin
dan Universitas Islam Timur Makassar.
Dengan memperhatikan perjalanan aktivitas saat masih kuliah
dan setelah lulus kuliah, dapat disimpulkan kesibukan atau kecintaan
terhadap organisasi begitu besar. Beberapa organisasi diikuti
kemudian beberapa usaha digeluti.Hal itu menunjukkan MRR
bukanlah “anak mami” yang manja dan banyak diam di rumah.
Kiprah MRR
Dengan semangat Sharing and Growing Together, Ikatan
Guru Indonesia (https://www.igi.or.id/) mendorong guru-guru
Indonesia meningkatkan kompetensinya secara mandiri.Untuk
memiliki kemampuan yang lebih baik, guru tidak harus terlalu
bergantung pada upaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan
kompetensi guru.Selain itu, tidak bergantung pada anggaran. Guru
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 224
harus mandiri jika ingin lebih maju, terampil, dan meningkat
kemampuannya dalam mengahadapi era digital.
Di bawah kepemimpinan MRR, pengurus di 34 provinsi dapat
terbentuk. Anggota IGI sudah tersebar di 495 kabupaten/kota dari
total 514 kabupaten/kota di Indonesia. IGI berhasil melatih 1,5 juta
guru dalam jangka waktu 3 tahun kepengurusan MRR.
Guru-guru anggota IGI dibangun dengan pola memandirikan
guru untuk meningkatkan kompetensi diri. Memasuki era 4.0 Ikatan
Guru Indonesia sesungguhnya sudah jauh lebih awal mempersiapkan
semua itu. Ikatan Guru Indonesia dominandihuni oleh guru-guru usia
muda dengan kemampuan teknologi yang sangat bisa diandalkan.
Dalam wawancara di televisi tahun 2017 saat menyambut
HGN, MRR menyampaikan bahwa pelaksanaan peningkatan
kompetensi guru belum dilakukan secara maksimal. Banyak hal yang
menjadi penyebab, antara lain: 1) metodologi pelatihan guru yang
dilaksanakan cenderung banyak ceramah, yang tidak dapat
diterapkan di lapangan. Hal yang dibutuhkan guru adalah kreativitas
pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa; 2) guru yang ikut
pelatihan hanya itu-itu saja.
Kini, Ikatan Guru Indonesia memiliki lebih dari 100 jenis
kanal pelatihan dan dilatihkan setiap saat kepada guru-guru
di seluruh Indonesia sehingga hampir bisa dipastikan apapun
kebutuhan guru, IGI mampu membantu untuk meningkatkan
kompetensi sesuai keperluan. Tidaklah mengherankan Ikatan Guru
Indonesia kini sangat diminati oleh guru-guru yang ingin
meningkatkan kompetensi dan keluar dari zona nyaman.Harapan
mereka dapat memiliki kemampuan lebih baik terutama
dalam bidang teknologi pengajaran.
Ada hal menarik dalam IGI, para guru yang akan mengikuti
pelatihan diberi pemahaman bahwa sebagai guru harus menghindari
budaya amplop (uang). Maksudnya, para pelatih dan guru yang
mengikuti pelatihan harus menghindarkan diri jauh-jauh dari budaya
menerima amplop (uang) sehabis pelatihan.Hal ini memang sulit
pada awalnya.
Budaya yang dibangun oleh pemerintah, setiap mengikuti
pelatihan peningkatan kompetensi guru, baik pelatih maupun peserta
harus membubuhkan tanda tangan untuk bukti menerima amplop
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 225
karena sudah mengikuti pelatihan. Jika hal seperti itu dibudayakan
terus-menerus, anggaran sebesar apa pun tidak akan cukup dan
peningkatan kompetensi guru belum ada jaminan sesuai dengan yang
diharapkan.
Berbeda dengan kebiasaan yang dibangun IGI.Setiap peserta
pelatihan justru harus berkontribusi untuk biaya konsumsi yang jelas-
jelas dinikmati lagi oleh peserta.Setiap pelatihan, iuran yang harus
dibayarkan sangat minim, bahkan untuk guru yang sudah menjadi
anggota IGI sering digratiskan.
Berbagi dan tumbuh bersama benar-benar dijadikan
semboyan yang selalu digelorakan oleh pengurus IGI pusat, provinsi,
maupun kabupaten/kota. Dengan semangat berbagi, kendala yang
dihadapi akan dapat ditanggulangi bersama-sama.
IGI merupakan satu di antara puluhan organisasi guru di
Indonesia.Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan selalu melirik keberadaan IGI. Pendapat atau masukan
dari MRR terhadap kebijakan pemerintah selalu menjadi berita yang
hangat.
Pada saat pemerintah menggulirkan program Guru Penggerak,
IGI sudah lebih dahulu melakukan aksi atau gerakan. Dalam masa
siswa BDR (belajar dari rumah) IGI mampu mencetak sekitar seribu
guru pelatih selama pandemi Covid-19.Guru-guru ini dianggap yang
paling siap dengan model pembelajaran jarak jauh.Berbagai kanal
pelatihan IGI menggerakkan guru-guru untuk belajar model-model
pembelajaran daring tiada kenal jeda.
Guru dari berbagai pelosok negeri dapat belajar daring secara
gratis dan berkelanjutan. Video-video yang dihasilkan dalam
pelatihan bertebaran di grup-grup WA.Semua guru Indonesia dapat
memeroleh tutorial secara gratis melalui youtube.
Pada masa kepemimpinan MRR, kerja sama dengan pihak
ketiga boleh dikatakan sangat sukses. Salah satu perusahaan besar
yang tertarik dengan IGI adalah perusahaan Samsung. Berbagai
kegiatan IGI disponsori oleh Samsung. Berbagai agenda IGI dibiayai
penyelenggaraannya oleh Samsung, terutama agenda pelatihan
peningkatan kompetensi guru.
Selain bekerja sama dengan perusahaan swasta, MRR selalu
berkomunikasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 226
Bukan pemandangan yang aneh ketika ada acara di televisi, MRR
diajak berdialog dengan pengurus organisasi guru dan pejabat
Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Hal itu menujukkan
bahwa kiprah MRR tidak hanya pada level daerah tetapi sudah
merambah level tingkat nasional.
Setiap menjelang Hari Guru, dialog-dialog semakin
intensif.MRR selalu tampil menyuarakan keberadaan guru honorer
yang belum sejahtera, pemerataan guru yang belum terjadi, dan
kompetensi guru yang masih harus ditingkatkan.
Kondisi Guru Indonesia
Mengutip data Kemendikbud, jumlah guru pada 2019-2020
tercatat di SD sebanyak 744.763 guru, SMP ada 32.530 guru, SMA
ada 13.755 guru, dan SMK hanya 7.277 guru.Perkiraan total semua
guru PNS 1,5 juta. Jika ditambah dengan guru honorer ditaksir
mencapai 3,7 juta guru.Apakah jumlah guru itu sudah mencukupi?
Tentu masih kurang. Sering kita baca melalui media cetak maupun
elektronik, ada sekolah yang sangat kurang guru yang harus
mengajar peserta didik.Padahal pemerintah berkewajiban untuk
menyiapkan dan mendistribusikan guru ke sekolah-sekolah yang
masih kekurangan.Ironisnya, di beberapa sekolah, ada guru yang
menumpuk. Berhubung kekurangan jam nengajar, ada yang diberi
tugas tambahan sebagai petugas perpustakaan atau wakil kepala
sekolah (pura-pura), agar terpenuhi kewajiban 24 jam per minggu.
Kondisi kekurangan guru lebih diperparah dengan booming
masa pensiun.Dari data yang berhasil dikumpulkan jumlah guru yang
pensiun sebanyak 72.976 pada tahun 2020. Kemudian sebanyak
60.757 guru pensiun pada 2021, sejumlah 86.650 guru pensiun pada
2022, selanjutnya ada 83.841 guru pensiun pada 2023, dan ada
78.420 guru pensiun pada 2024. Jika ditotal, dalam lima tahun ke
depan, jumlah guru yang pensiun sebanyak 382.644 guru.
Apakah pemerintah sudah siap untuk mengangkat PNS baru?
Kemudian, bagaimana dengan kompetensi guru yang sudah ada dan
guru yang akan direkrut sebagai pegawai pemerintah? Untunglah IGI
sudah menyiapkan semuanya. Guru akan belajar metode mengajar,
model mengajar, media pembelajaran, perangkat pembelajaran jarak
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 227
jauh (PJJ) atau pembelajaran luring, semua sudah disiapkan pelatih-
pelatihnya.
Guru tinggal klik website IGI, informasi bertebaran setiap
hari.Apalagi pada masa pandemi Covid-19, berbagai pelatihan
semakin meningkat volumenya.Siang, sore, hingga malam hari selalu
dapat ditemukan informasi atau “iklan” pelatihan yang
diselenggarakan oleh IGI.
Kondisi guru yang dilihat MRR dari sisi kompetensi ibarat
botol kosong yang tertutup.Seperti kita ketahui bahwa orang yang
belum memiliki banyak ilmu atau keterampilan, dapat diibaratkan
seperti botol kosong.Kondisi guru rata-rata di Indonesia bukan hanya
seperti botol kosong yang siap diisi atau diberi pembelajaran.Namun,
mereka seperti botol kosong yang tertutup. Menurut MRR, botol
kosong yang tertutup diartikan seperti orang yang belum banyak
memiliki pengetahuan dan kompetensi tetapi tertutup, tidak mau
dilatih atau diberi tambahan pengetahuan dan keterampilan.
Pelatih IGI umumnya masih berusia muda. Saat para pelatih
IGI akan mengadakan kegiatan di daerah sendiri, adakalanya „tidak
dianggap‟ atau diremehkan oleh guru-guru yang lebih senior.Untuk
itu, IGI membuat strategi yang brilian. Pelatih dari satu daerah
diminta mengisi ke daerah lain. Bahkan, bukan hanya antar
kabupaten,mereka diminta melatih ke provinsi lain. Ada juga diminta
memberikan pelatihan di pulau yang agak jauh dari tempat tugas
guru tersebut,bahkan di tempat terpencil. Dengan cara seperti itu
para peserta pelatihan begitu penasaran dengan pelatih yang
„diimpor‟ dari daerah lain. Rasa penasaran itulah yang membuat
peserta pelatihan begitu banyak setiap ada kegiatan pelatiah yang
diadakan oleh IGI.
Banyak daerah yang anggota IGI-nya langsung meningkat
tajam setelah diadakan pelatihan di daerah itu.Para guru umumnya
tertarik dengan IGI karena aksi atau kegiatan yang dilakukan benar-
benar nyata untuk meningkatkan kompetensi mereka. Daya tarik
masuk menjadi anggota IGI antara lain tidak adanya iuran bulanan.
Umumnya, suatu organisasi mewajibkan anggotanya untuk
melakukan iuran tiap bulan demi kelangsungan organisasi. Untuk
IGI, iuran bulanan memang ditiadakan. Hal itulah yang membuat
banyak guru tertarik untuk menjadi anggota IGI.Apalagi jika ada
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 228
pelatihan, biaya atau kontribusi untuk anggota IGI lebih hemat
(murah) dibandingkan dengan peserta yang bukan anggota IGI.
Komentar Mantan Ketum 2000-2016
Untuk mengetahui perkembangan IGI di bawah
kepemimpinan MRR, penulis menghubungi Bapak Satria Darma,
Ketua IGI periode pertama tahun 2000-2016. Penulis menanyakan
perkembangan IGI, Bapak Satria Darma mengatakan bahwa
Perkembangan IGI selama 4 tahun ini luar biasa pesat dan
mengagumkan. Ketum IGI beserta seluruh pengurus IGI Pusat,
Wilayah dan Daerah benar-benar telah melakukan pekerjaan yang
sangat besar dan lompatan yang jauh. Saya sangat tercengang dengan
apa yang telah mereka capai selama ini.
Penulis kemudian menanyakan apakah dalam kepengurusan
baru nanti, periode 2021-2026 perlu ada terobosan baru untuk
peningkatan kompetensi guru. Bapak Satria Darma mengatakan
bahwa terobosan baru itu selalu diperlukan disesuaikan dengan
situasi dan kondisi yang menuntutnya. Tapi saya yakin bahwa
kepengurusan baru nanti juga akan mampu memberikan terobosan-
terobosan baru dalam mengembangkan kompetensi guru.
Pertanyaan terakhir sosok yang dapat memimpin IGI periode
mendatang seperti apa? Bapak Satria Darma mengatakan bahwa
Sosok yang punya jiwa kepemimpinan yang tinggi, berani berkorban
bagi organisasi, bisa diterima oleh semua pihak, dan telah terbukti
mampu memotivasi para guru di daerahnya masing-masing.
Komentar Tokoh IGI
Komentar Bapak Marjuki, dari IGI Jawa Timur. Tantangan
IGI: kualitas pelatih perlu ditingkatkan, Para pelatih perlu
dikumpulkan untuk diadakan TOT. Bagaimana mengukur dampak
hasil pelatihan perlu dilakukan.
Komentar dari Kalimantan Selatan, Bapak Gusti Surya: guru
harus berakhlak tinggi, bersikap simpati dan empati. Perlu
mengefektifkan hal-hal yang sudah ada. Banyak orang hebat di IGI,
tinggal bagaimana memberdayakan mereka.IGI adalah organisasi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 229
nonprofit. Sudah banyak organisasi atau lembaga yang mempercayai
keberadaan IGI.
Komentar Bapak Mampuono dari IGI Jawa Tengah:
terwujudnya guru berbudi. Terus menumbuhkan belajar sepanjang
hayat, membumikan ajaran Ki Hajar Dewantara, dan meningkatkan
wawasan global anggota IGI. Perlu memperbaiki sistem dan
amandemen AD/ART, membuat rencana terstruktur dan terukur.
Konflik yang terjadi pada internal organisasi dapat diselesaikan jika
ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dapat menjadi kontrol
bagi siapa saja.
Komentar Bapak Danang dari IGI DKI : Pemimpin tidak harus
mengerjakan semuanya.Namun, pemimpin harus mampu
menggerakkan dan sinergis. IGI tidak boleh dibenturkan dengan
organisasi guru yang lain,perlu standarisasi pelatihan. Kontribusi IGI
dalam hal siswa inklusi (berkebutuhan khusus) sudah dilakukan
walaupun masih dalam keterbatasan.
Komentar Bapak Jasmin dari IGI Sulawesi Tenggara:
Pertumbuhan IGI sangat luar biasa. Tata kelola organisasi dipastikan
diiringi tupoksi yang jelas. Peraturan organisasi harus dibuat lebih
jelas. Penatausahaan keuangan harus lebih baik. Struktur organisasi
harus kolektif kolegial.Setiap unsur dari organisasi harus bekerja
lebih baik.IGI bukan oposan pemerintah. Permasalahan guru berkutat
pada empat hal yaitu distribusi, kesejahteraan, kompetensi, dan
perlindungan guru. IGI harus berkolaborasi dengan organisasi guru
yang lain dalam menghadapi berbagai persoalan guru perlu
identifikasi masalah saat PJJ berjalan. Perlu bekerja sama dengan
organisasi guru lain untuk menyelesaikan berbagai masalah
pendidikan.
Komentar Bapak Khairuddin dari Aceh:IGI harus sebagai
organisasi profesi. Fokus kesejahteraan guru harus diutamakan. IGI
mempunyai ciri peningkatan kompetensi guru.kelemahan IGI antara
lain daerah-daerah apakah sudah mandiri, apakah daerah-daerah
dapat bersinergi dengan para pembuat kebijakan (stakeholder).Sisi
advokasi belum terlihat,Perlindungan guru belum kuat,Perlu ada
presidium tidak tunggal.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 230
Berbagai Kanal IGI
Ada lebih seratus kanal pelatihan IGI. Pada grup WA yang
berisi para pelatih workshop, setiap saat dapat ditemukan promosi
atau iklan terkait kegiatan workshop, seminar, webinar, zoom
meeting, dan sejenisnya. Kegiatan pelatihan yang rata-rata gratis
tersebut begitu banyak jenis dan ragamnya.
Beberapa kanal yang sering mengadakan kegiatan antara lain:
Sagusaku ( Satu Guru Satu Buku); Sagusavi (Satu Guru Satu Video
Pembelajaran). Dalam masa pandemi Covid-19, kanal ini paling
popular karena kegiatan pembuatan video pembelajaran sangat
diminati para guru. Kemudian kanal Sagusanov (Satu Guru Satu
Inovasi). Penanggung jawab Sagusanov adalah Abd. Kholiq, S.Kom.
kemudian kanal SADAR (Sarasehan dalam Jaringan). SADAR
adalah ruang diskusi bagi seluruh guru Indonesia melalui vicon
(video conference). Sebelum booming kegiatan meeting online atau
daring saat pandemi Covid-19, kegiatan SADAR sudah eksis terlebih
dahulu.
Pada masa-masa sebelumnya, pernah ada kanal yang begitu
digemari dan dilatihkan di mana-mana, seperti kanal Metode
Menemu Baling (Menulis dengan Mulut dan Membaca dengan
Telinga) ; Sagusata (satu Guru satu Cerita); dan beberapa kanal lain
yang jumlahnya puluhan.
Kanal Sagusagu yang Mempesona
Penulis mengetahui kanal pelatihan Sagusaku (Satu Guru Satu
Buku) melalui grup MGMP Bahasa Indonesia SMP Nasional pada
awal tahun 2017-an. Saat itu penulis belum begitu tertarik mengingat
kesibukan sebagai kepala sekolah.Namun, begitu tugas tambahan
sebagai kepala sekolah penulis lepaskan, ketertarikan itu begitu
besar.
Awal mengenal pelatihan sagusaku atas informasi dari Ibu
Diana Masdik yang mengadakan workshop menulis di Kota
Balikpapan. Satu pekan sebelum workshop di Kota Minyak itu,
penulis baru saja mengikuti worshop kepenulisan di Kota Samarinda.
Perbedaan biaya sangat mencolok.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 231
Saat saya mengikuti workshop di Kota Samarinda, biaya
sebesar tiga ratus ribu rupiah. Usai workshop, para peserta dilepas
begitu saja. Mau menulis terserah, tidak menulis tidak ada tuntutan
dari penyelenggara atau panitia.
Berbeda dengan workshop sagusaku di Kota Balikpapan.
Begitu dua hari selesai workshop, justru tantangan menulis 30 hari
baru dimulai. Kami, para peserta workshop diminta menulis setiap
hari minimal tiga halaman.Workshop yang dilaksanakan pada
tanggal 27-28 Januari 2018 itu benar-benar memacu peserta untuk
proaktif menulis. Ada sanksi berat jika dalam satu hari tidak
mengirimkan tiga lembar tulisan kepada mentor. Sanksi berupa
denda tulisan lebih banyak yang harus disetorkan lewat surel (surat
elektronik).
Pada hari kedua workshop di Kota Balikpaan, yaitu tanggal 28
Januari 2018, Ibu Diana Masdik menginformasikan bahwa pada
bulan Februari 2018 akan dilaksanakan ToT (Training of Trainer)
Sagusaku. Salah satu persyaratan untuk mengikuti ToT tersebut
adalah setiap peserta harus sudah menerbitkan satu buku solo.
Ada kepanikan penulis rasakan,minat untuk mengikuti ToT
sangat besar. Sementara, buku solo sedang dalam proses. Untunglah,
penulis “hanya” menulis cerita pendek. Buku solo yang akan penulis
susun berupa buku kumpulan cerita pendek. Dalam satu hari rata-rata
penulis dapat menyelesaikan satu cerpen.
Penulis sangat beruntung, mentor yang mengisi workshop di
Kota Balikpapan tersebut akan ikut berangkat juga mengikuti ToT di
asrama haji Donoyudan Jawa Tengah. Jalan mulus pun terbentang.
Rekomendasi bahwa saya sudah menyelesaikan buku kumpulan
cerpen saya peroleh. Buku dalam proses penerbitan. Kebetulan
mentor tersebut memiliki penerbitan sendiri sehingga proses dapat
dipercepat. Dari sekian peserta workshop, penulis adalah peserta
yang paling cepat menyelesaikan buku solo dan yang pertama selesai
dicetak di penerbit milik mentor itu.
Ada rasa haru dan bahagia saat penulis berhasil terdaftar
menjadi salah satu peserta ToT di Jawa Tengah tersebut. Dari grup
WA yang dibuat untuk peserta ToT, penulis dapat mengetahui asal
daerah para peserta. Peserta dari tiga pulau besar di Indonesia ada
semua, yaitu dari Sulawesi, Sumatera, Kalimantan. Peserta dari
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 232
Pulau Jawa tidak dapat diragukan lagi. Penulis baru menyadari
bahwa IGI memang luar biasa. Semua peserta datang dengan biaya
mandiri.Transpor, akomodasi, dan konsumsi, semua ditanggung
masing-masing peserta. Namun, semangat tampak luar biasa.
Rasa kekeluargaan benar-benar terjalin begitu kental. Dalam
grup WA, para peserta saling menginformasikan proses perjalanan
menuju tempat kegiatan ToT. Sebagian besar peserta adalah guru
yang sudah banyak menerbitkan buku antologi maupun buku solo.
Saat berkumpul di lokasi acara, ada beberapa peserta yang
menawarkan buku-buku yang disusunnya. Sebagai orang baru di
Sagusaku, penulis membeli beberapa buku yang ditawarkan. Tekad
penulis sudah bulat bahwa Sagusaku akan menjadi rumah baru untuk
menimba ilmu dan mengembangkan kreativitas bidang tulis -
menulis yang selama beberapa puluh tahun tertahan oleh kesibukan
sebagai kepala sekolah.
Pertemuan dengan PJ (Penanggung Jawab) Sagusaku, Ibu Nur
Badriyah, untuk pertama kali merupakan pertemuan yang sangat
fenomenal. Tidak semua anggota IGI, khususnya pegiat literasi buku
(penulis buku) yang berkesempatan dapat bertemu muka langsung
dengan Bu Noerbad (nama panggilan Ibu Nur Badriyah). Demikian
pula pertemuan dengan para „pentolan‟ Sagusaku seperti BHP (nama
asli Guslaini), Teddy Handika, dan beberapa „pengurus‟ lain
merupakan suatu pertemuan yang dapat meningkatkan semboyan
IGI, yaitu berbagi dan tumbuh bersama.
Pelaksanaan ToT di Jawa Tengah pada 16-18 Februari 2018
telah mengukuhkan penulis sebagai Pelatih Nasional Sagusaku.
Walaupun bekal belum banyak dimiliki, upaya terus meningkatkan
kompetensi selalu penulis lakukan. Informasi-informasi seputar
kegiatan sagusdaku di berbagai daerah selalu penulis ikuti dengan
cermat.
Pulang dari ToT, penulis menjadi panitia kegiatan workshop
Sagusaku di kabupaten sendiri. Penulis belum siap untuk menjadi
mentor atau pemateri. Untuk itu, panitia meminta mentor yang
mengisi workshop di Kota Balikpapan untuk mengisi workshop di
Kabupaten Penajam Paser Utara, tempat tinggal kami, pada tanggal
10-11 Maret 2018.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 233
Dengan memperhatikan tahap demi tahap cara mentor
memberikan materi dan melatih peserta untuk menulis buku, penulis
mulai memahami proses yang seharusnya dilakukan oleh seorang
pelatih. Berbagai referensi sagusaku penulis cari dan simpan untuk
bekal menyusun materi pelatihan sendiri.
Dengan modal satu buku kumpulan cerpen sudah diterbitkan
dan sertifikat Pelatih Nasional Sagusaku, penulis cukup percaya diri
saat diminta mengisi materi kepenulisan pada pertemuan KKG
(kelompok Kerja Guru) Sekolah Dasar, dan pertemuan IGTK (Ikatan
Guru Taman Kanak-Kanak).
Dengan beberapa kali menjadi mentor pada pertemuan skala
kabupaten, penulis merasa cukup percaya diri saat diminta Pengurus
Sagusaku untuk mengisi workshop Sagusaku di wilayah Provinsi
Aceh. Tidak tanggung-tanggung, kontrak langsung diberikan untuk
empat kegiatan di empat kabupaten secara berturut-turut. Mulai
tanggal 21 hingga 30 September 2018 saya diberi kesempatan untuk
„berwisata‟ menjelajah empat kabupaten. Empat kabupaten yang
penulis kunjungi adalah Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh
Tengah, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Bireun.
Perhitungan panitia sangat teliti,penulis diminta berangkat
pada tanggal 21 september 2018. Jenis pesawat diminta memilih
sesuai keinginan. Penulis pun memilih pesawat bukan yang mahal
atau memilih pesawat yang memberikan fasilitas mewah. Pilihan
jenis pesawat disesuaikan dengan waktu sampai atau tiba di tempat
tujuan. Penulis ingin tiba di tempat tujuan tidak terlalu malam
mengingat kabupaten yang akan dikunjungi cukup jauh dari bandara
tujuan.
Tanggal 22 dan 23 September 2018 penulis mengisi workshop
di Kabupaten Gayo Lues. Lokasi acara berada di ketinggian. Suhu
udara cukup dingin. Kemudian pada sore hari tanggal 23 September
2018, penulis harus berangkat menuju kabupaten kedua, yaitu
Kabupaten Aceh Tengah di Takengon. Tanggal 24 dan 25 September
2018 mengisi workshop di sana. Pada tanggal 25 senja, penulis harus
melakukan perjalanan menuju kabupaten ketiga, yaitu Kabupaten
Bener Meriah.
Pada tanggal 26 dan 27 September 2018 dengan penuh
semangat penulis mengisi workshop di sana. Selanjutnya, pada
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 234
tanggal 27 senja, panitia dari Kabupaten Bener Meriah meluangkan
waktu untuk mengantar penulis menuju kabupaten keempat, yaitu
kabupaten Bireun. Acara workshop tanggal 28 dan 29 September
2018.
Penulis sangat bersyukur karena semua acara workshop
Sagusaku dapat berlangsung dengan lancar. Kalau ada sedikit
kendala, misalnya pengeras suara atau tampilan di layar proyektor
agak terlambat, itu dapat dimaklumi. Secara umum workshop
berjalan sukses.
Beberapa peserta dari keempat kabupaten itu sudah berhasil
menerbitkan buku solo. Penulis sangat bersyukur diberi kesempatan
untuk berkunjung ke provinsi yang cukup jauh di ujung Pulau
Sumatera. Pengalaman itu akan menjadikan semangat penulis untuk
lebih banyak berkarya dan selalu berbagi agar dapat tumbuh bersama
penulis-penulis yang antusias.
Kegiatan Sagusaku yang fenomenal selanjutnya berlangsung
pada bulan Februari 2019, tepatnya pada tanggal 14 Februari 2019.
Saat itu secara serentak diadakan worshop Sagusaku pada lebih
seratus titik di Indonesia. Penulis merasa cukup terhormat diberi
kesempatan untuk mengisi Seminar Sagusaku yang dihadiri lebih
dari tiga ratus peserta baik dari kalangan guru, kepala sekolah, dan
pengawas sekolah.
Pesona Sagusaku selalu penulis tularkan kepada teman-teman
di tempat tugas kami. Beberapa teman pengawas sudah berhasil
penulis ajak untuk menulis buku. Demikian pula beberapa kepala
sekolah dan guru-guru yang berada di wilayah Kabupaten Penajam
Paser Utara.
Dengan memberikan contoh buku terbit yang sudah penulis
susun, banyak guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang
tertarik untuk ikut menerbitkan buku solo atau buku antologi
bersama penulis lain.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 235
Catatan Penutup
IGI sebagai organisasi profesi guru hadir untuk memandirikan
guru. Untuk peningkatan kompetensi, guru tidak hanya menunggu
uluran tangan dari pemerintah. Guru harus mandiri dalam hal
pendanaan untuk lebih profesional, dan harus mau berbagi. Sesuai
semboyan IGI “sharing and growing together”. Berbagi adalah
upaya untuk melanggengkan pengetahuan. Semakin sering guru mau
berbagi akan semakin meningkat keterampilan guru tersebut. Dengan
berbagi semua guru akan mendapatkan pengetahuan dan
keterampilan yang setara, kemudian tumbuh bersama. Ilmu
pengetahuan begitu luas, semakin banyak digali akan semakin
kurang. Ibarat minum air laut, semakin kita minum, kita akan merasa
kehausan.
MRR sudah memberikan contoh dalam hal kemandirian.Saat
terpilih sebagai ketua umum IGI, MRR sudah banyak menggunakan
sumber daya pribadi untuk mengembangkan IGI dan yang utama
mengembangkan kompetensi guru yang mau belajar dan lebih
meningkat profesionalismenya. MRR juga berupaya Membangun
Kemandirian Organisasi Guru; Membangun Kemitraan Strategis dan
Berkelanjutan; Membangun Pengelolaan Sistem Keuangan Modern;
Membangun Sistem Keanggotaan yang Canggih; Menerobos
Belantara Guru; Berpikir Out Of The Box; Membangun Manajemen
Terbuka; Menulis seperti Wartawan dan Berbicara seperti Orator;
Banyak hal yang sudah dilakukan IGI dengan ketum MRR.
Kanal demi kanal baru tumbuh.Kanal yang sudah ada, sebagian
semakin besar dan tumbuh dengan dukungan guru dari berbagai
pelosok negeri.Gema adanya organisasi IGI semakin terdengar nyata.
IGI tidak dapat dipamndang dengan sebelah mata.Banyak orang
“hebat” di belakang IGI. Kemampuan dalam hal penerapan teknologi
terkini tidak diragukan lagi. Pelatihan demi pelatihan selalui
memenuhi “iklan” di grup-grup WA maupun di medsos yang lain.
Setiap hari informasi webinar, zoomeeting, dan aktivitas kanal-kanal
IGI muncul bak iklan di televisi. Dengan begitu, guru yang belum
tahu tentang IGI akan terbuka matanya dan akan ikut atau terlibat
dalam kegiatan-kegiatan yang akan meningkatkan kompetensi
mereka.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 236
IGI akan tetap ada dengan dukungan guru Indonesia. IGI akan
semakin jaya dengan semakin banyak “orang pintar” yang bergabung
dan mau berbagi. IGI hadir untuk meningkatkan kompetensi guru,
peduli pada kebutuhan guru, dan akan menjadi referensi bagi
pemerintah dalam mengambil kebijakan strategis.
Sumber :
(https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ramli_Rahim).
========
Suprihadi menjadi guru SMA Penajam, Kaltim selama 17
tahun (1987-2004), kemudian menjadi kepala sekolah
selama 13 tahun (2004-2017).Sejak Juni 2017 menjadi
pengawas sekolah tingkat SMP hingga sekarang.Untuk
mengenal lebih dekat dengan Suprihadi,silakan buka
https://www.facebook.com/supri.hadi.56 atau kontak WA
081346494525.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 237
TOKOH MUDA PEMBAHARUAN
Oleh
Since, M.Pd.
Masa kecil Muhammad Ramli Rahim dihabiskan di kampung
halaman, Maros, sebuah kabupaten yang merupakan bagian
dari Provinsi Sulawesi Selatan. Di Maros pulalah tempat Ramli
menuntut ilmu dari pendidikan dasar hingga menengah. Setelah
menamatkan pendidikan menengah, Ramli melanjutkan pendidikan
tinggi di Kota Makassar, Universitas Hasanuddin atau Unhas.
Selama studi di Universitas Hasanuddin inilah jiwa kepemimpinan
MRR mulai terlihat. Di Kampus yang terletak di Ibu Kota Provinsi
Sulawesi Selatan ini, Ramli tercatat pernah menjadi Ketua Himpunan
Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas MIPA Unhas, Ketua
Umum Senat Mahasiswa Fakultas MIPA Unhas, Ketua HMI
Cabangan Makassar Timur, Ketua Parlemen Mahasiswa Unhas,
Ketua Dewan Kader Himpunan Mahasiswa Kimia Unhas, Ketua
Dewan Kader Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas MIPA Unhas,
serta beberapa jabatan lain terkait mahasiswa di luar Universitas
Hasanuddin.
I. MRR Menggunakan Sumber Daya Pribadi
Kiprah Muhammad Ramli Rahim di kepengurusan Ikatan
Guru Indonesia (IGI) diawali ketika ia terpilih sebagai Ketua IGI
Wilayah Sulawesi Selatan. Saat masih menjadi Ketua IGI Wilayah,
diselenggarakan kongres di Makassar. Pada Kongres II IGI tersebut
MRR terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Ikatan Guru
Indonesia periode 2016-2021.
Setelah disahkan sebagai orang nomor satu di IGI, sosok yang
pernah masuk dalam bursa calon Bupati Maros ini bertekad untuk
tetap pada program peningkatan kompetensi guru seperti yang telah
dilakukannya ketika memimpin IGI Sulsel. Oleh karena itu, pada
masa kepemimpinannya, IGI akan menjalin kerjasama dengan
berbagai lembaga terkait peningkatan kompetensi. Kendati fokus
terhadap peningkatan kompetensi guru, di bawah kepemimpinan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 238
sosok yang sering dipanggil MRR, IGI juga tetap melakukan
advokasi terhadap para guru yang memerlukan. Advokasi dilakukan
oleh pengurus daerah, wilayah, atau pusat sesuai kepentingan.
Awal kepemimpinan MRR modal yang dimiliki IGI hanya
5.000.000 rupiah yang dikirim oleh pak Indra Djati Sidi sebagai
modal pelaksanaan kongres II. Itupun atas permintaan langsung dari
Pak Indra. Bukan atas permintaan MRR. Setelah selesai kongres,
otomatis IGI tidak memiliki dana lagi. MRR sangat sadar untuk
semua kekurangan ini, yang berarti ke depan apapun yang akan
dilakukan haruslah merogoh kocek sendiri, alias menggunakan dana
pribadi dalam menjalankan roda organisasi IGI. Kondisi seperti ini
bukan sesuatu yang baru dalam organisasi IGI menuju
Profesionalisme Guru, pendiri IGI Bapak Satrya Darma
mengungkapkan bahwa ada perbedaan pendapat antara dua kubu
dalam pengurus di tubuh organisasi IGI yang saat itu masih bernama
KGI (Klub Guru Indonesia) tentang dari mana biaya peningkatan
mutu guru didapatkan, yang kubu pertama menginginkan agar
anggaran peningkatan mutu guru harus diperoleh dari donatur, baik
pribadi maupun corporate (melalui CSR), dan guru tidak boleh
mengeluarkan uang untuk mendapatkan manfaat guna peningkatan
mutunya (Sirikit). Sementara yang kubu kedua, justru sebaliknya
mengatakan bahwa guru harus bisa membiayai dirinya sendiri guna
meningkatkan kwalitasnya. Dengan cara ini ada keinginan dalam
tubuh guru untuk menjadi bermutu dan professional. Keadaan ini
membuktikan bahwa di awal kepemimpinan MRR, dana IGI
memang tidak tersedia.
Untuk mengantisipasi ketiadaan dana ini, langkah selanjutnya
yang dilakukan adalah berusaha menjaring dana dengan
memaksimalkan kekuatan jaringan yang dimiliki beliau sebelum
menjadi Ketua Umum IGI. Kekuatan jaringan ini diperoleh MRR
ketika pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu dijabat
bapak Anies Baswedan) memilih bertandang ke rumah beliau.
Gubernur Sulawesi Selatan telah mengundang Pak Menteri sebanyak
3 kali, namun Pak Menteri lebih memilih rumah MRR untuk
disambangi. Inilah jaringan yang dimaksud. Hal ini terwujud karena
sebelumnya telah terjalin jaringan yang kuat antara keduanya.
Meskipun demikian, MRR tidak serta merta meminta dukungan dana
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 239
kepada beliau, walau telah berkali-kali Kemendikbud menyarankan
agar membuat proposal permohonan bantuan dana untuk membiayai
gerakan IGI dalam rangka meningkatkan kompetensi dan
keprofesionalan guru.
Dalam kunjungan Pak Menteri juga didampingi oleh Pak
Pranata yang kemudian menjadi Dirjen GTK, dan Pak Toto yang
sampai sekarang masih kepala Balitbang. Kemudian di akhirnya,
muncul cerita di Kementrian Pendidikan bahwa yang menjadi ketua
IGI adalah sahabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pak Anis
Baswedan. Cerita ini menguntungkan MRR, dalam menjalin
hubungan-hubungan yang berkaitan dengan kementerian menjadi
lebih mudah dan leluasa untuk usaha meluaskan dan mengokohkan
organisasi Profesi guru Ikatan Guru Indonesia.
Apapun yang dilakukan di awal dengan kekuatan dan
mengorbankan hal-hal yang sifatnya pribadi justru menjadi landasan
awal IGI untuk bergerak. Pengorbanan pribadi ini termasuk
diantaranya adalah menggunakan dana pribadi sebagai modal awal
bergerak. Tidak menimbang-nimbang, bila hendak bergerak demi
IGI, maka keuangan yang dipakai adalah pribadi dari perusahaan
yang dikelolanya. Keinginan kuat untuk menjadikan IGI
bermartabat, diakui dan sejajar dengan organisasi profesi guru
lainnya membuat MRR tidak pernah beritindak setengah-setengah.
Obsesinya agar IGI berada di 34 Provinsi di Indonesia dan
merambah ke seluruh daerah yang ada di setiap Provinsi tersebut,
menerbangkan sosok MRR ke seluruh pelosok Nusantara.
Kegigihannya ini selain karena keinginan pribadi yang sadar bahwa
IGI harus berbeda dengan organisasi profesi guru yang lain, hal ini
juga sesuai dengan program kerja IGI periode 2016-2021 bidang
organisasi yakni terpenuhnya target sejuta anggota dalam kurun
waktu 5 tahun. Dana IGI yang minim atau bahkan bisa dikatakan nol
(0), tidak membuatnya mundur. MRR sama sekali tidak
mengurungkan niatnya dalam mewujudkan obsesinya. Maka
bergeraklah MRR dengan dana pribadi, yang pada mulanya tidak
pernah diperhitungkan jumlahnya. Tidur di Bandara untuk sebuah
penerbangan bukan sesuatu yang aneh dan baru bagi MRR. Selalu
dilakukannya dalam perjalanannya ke daerah-daerah untuk
pengembangan IGI. Selain bandara, Mushollah adalah „hotel‟ yang
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 240