paling nyaman baginya saat berkegiatan. Adventure, demikian
dinikmatinya dengan segala rasa syukurnya pada sang Khalik
Pencipta Alam Semesta. Berpetualang melebarkan sayap demi
kemajuan sebuah organisasi IGI.
Bila dilihat dari kehidupan pribadinya, MRR adalah seorang
pengusaha yang bergerak di dunia pendidikan, perumahan, dan
pertambangan. Dari Wikipedia diperoleh data usaha MRR yakni PT.
Ranu Prima College, PT. Ranu Niaga Prima, PT. Ranu Globalindo
Investama, PT. Ranu Transporindo Indonesia, PT. Ranuland
Indonesia, PT. Ranu Nusantra Insfrastruktur yang bernaung di bawah
bendera Ranu Group. Dengan usaha yang menggurita, tentu tidak
ada masalah di awal penggunaan dana perusahaan pribadi. Namun
karena keseriusannya mengurus pengembangan IGI, perusahaan
menjadi terbengkalai tidak terurus maksimal, bahkan beliau
sampaikan malah hampir tidak terurus sama sekali. Kerugian yang
diderita tidaklah sedikit karena mencapai milyaran rupiah. Adakah
seorang pemimpin yang bersedia berkorban sedemikian hanya untuk
sebuah organisasi yang tidak menjanjikan pengembalian dana-dana
pribadinya yang terpakai? Bila dipikirkan secara akal sehat,
jawabnya hanya MRR.
Selain menggunakan dana pribadi dalam bergerak
mengembangkan dan memajukan IGI, MRR harus pula
menggunakan kekutan kemampuan berpikir sendiri tentang apa saja
yang harus dilakukan sebagai Ketua Umum periode II. Karena
memang IGI harus memiliki seorang leader yang memiliki
kemampuan dasar untuk menunjukkan bahwa arah organisasi adalah
benar.
Selain pengorbanan dari segi materi, tenaga dan pikiran, ada
pengorbanan lain yang tidak kalah pentingnya, yakni pengorbanan
keluarga. Meninggalkan anak dan istri dalam waktu yang panjang,
tentu bukanlah hal mudah, baik bagi sosok MRR sendiri maupun dari
pihak istri dan anak-anak. Secara pribadi MRR pernah bercerita saat
awal menjadi Katua Umum IGI, keharmonisan keluarga menjadi
taruhan. Keluarga hampir retak karena kesibukan MRR yang
dominan berarah ke IGI daripada keluarga dan usaha. Istri dan anak
merasa terabaikan. Si buah hati sampai harus memeluk kaki sang
ayah, memohon agar tidak pergi meninggalkan mereka, namun sang
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 241
ayah hanya memeluknya sesaat, menggendongnya, namun tetap
pergi walau dengan hati dan perasaan yang tidak bisa digambarkan
kepedihannya. Istri sampai hampir habis kesabarannya dalam fungsi
sebagai istri, walaupun Alhamdulillah Allah masih memberi rasa
mawaddah warahma dalam hati mereka berdua (MRR dan isteri),
sehingga semua bisa kembali seperti biasa, bisa saling memahami,
meskipun riak-riak kecil tetap menyertai. Untuk apa dan siapa semua
itu???…. Untuk sebuah organisasi yang telah bertekad akan
dibesarkannya yaitu IGI (Ikatan Guru Indonesia) yang demikian
dicintai dan dibanggakannya sebagai wadah baginya beramal jariyah
untuk bekal dikehidupan nanti. Dalam IGI MRR bisa berbagi apa
saja yang dimilikinya tanpa pamrih.
II. MRR Membangun Kemandirian Organisasi Guru
Kemandirian adalah sikap (perilaku) dan mental yang
memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, benar, dan
bermanfaat; berusaha melakukan segala sesuatu dengan jujur dan
benar atas dorongan dirinya sendiri dan kemampuan mengatur diri
sendiri, sesuai dengan hak dan kewajibannya, sehingga dapat
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya; serta
bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang telah diambilnya
melalui berbagai pertimbangan sebelumnya.
Sejalan dengan hal di atas, Satria Darma (2019) sebagai
pendiri IGI dalam Bersama IGI menuju Profesionalisme Guru,
mengatakan, “ Organisasi profesi guru ini (IGI) harus:
1. mandiri
2. independen
3. digunakan oleh guru untuk memajukan profesinya
4. meningkatkan kompetensinya, karirnya, wawasan
kependidikannya, perlindungan profesinya, kesejahteraan
dan pengabdian kepada masyarakat.
Di akhir tulisannya, Satria Darma berkata “ Bendera
kebangkitan guru telah kukibarkan”.
Memaknai kemadirian yang dicanangkan pendiri IGI tersebut,
MRR dalam wawancara langsung secara virtual tanggal 5 November
2020 yang dilaksanakan komunitas 1000 penulis SAGUSAKU,
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 242
menyampaikan bahwa membangun kemandirian dapat dilaksanakan
dengan membaginya menjadi 2 yaitu:
a. kemandirian dari segi pelatihan
b. kemandirian dari segi sumber dana.
2.1 Kemandirian Pelatihan
Membangun kemandirian guru bagi MRR berawal dari pikir
beliau bahwa selama ini organisasi kita hampir seluruhnya
bergantung pada hal-hal di luar kita, misalnya pelatihan-pelatihan
guru yang dilaksanakan oleh Pemerintah atau oleh beberapa
organisasi guru hampir seluruh pelatihnya berasal dari dosen dan
para birokrat. Hal ini menurut MRR merupakan indikasi bahwa guru-
guru tidak memiliki kemandirian dalam pelatihan guru. Berangkat
dari pola pikir inilah MRR berusaha membangun kemandirian para
guru dalam pola pelatihan “pelatih guru haruslah berasal dari guru itu
sendiri”.
Kegiatan pelatihan bagi guru pada dasarnya merupakan suatu
bagian yang integral dari manajemen dalam bidang ketenagaan di
sekolah dan merupakan upaya untuk mengembangkan pengetahuan
dan keterampilan guru sehingga pada gilirannya diharapkan para
guru dapat memperoleh keunggulan kompetitif dan dapat
memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Dengan kata lain,
mereka dapat bekerja secara lebih produktif dan mampu
meningkatkan kualitas kinerjanya. Nach… inilah yang oleh MRR
selayaknya dilakukan sendri oleh guru, bukan dari non guru.
Keuletan MRR dalam mengelola organisasi profesi guru IGI
ini sangat tampak nyata. Dalam blog Female (2020) dikatakan
“Periode Kedua IGI 2006-2021 telah menandakan masuknya IGI ke
dalam babak baru organisasi guru. Di bawah kepemimpian Ketua
Umum Muhammad Ramli Rahim dan Sekjen Mampuono, IGI seperti
terbang tinggi dalam peningkatan kompetensi guru dan
pengembangan organisasi. Pengembangan Kompetensi dan
Organisasi ini adalah usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka
memandirikan guru-guru melalui pelatihan-pelatihan diseluruh
Indonesia dengan kanal-kanal yang terus berkembang sejak
kepemimpinan MRR. Hanya dalam setahun IGI berhasil melakukan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 243
workshop dan diklat yang melibatkan 156.000 guru dengan 575
pelatih dan 17 kanal pelatihan guru”.
Guru dilatih menjadi Coach dalam sebuah pelatihan Trainer
yang nantinya akan menjadi pelatih yang turun ke daerah dengan
keikhlasan. Semboyan IGI sharing and growing together menjadi
dasar terbentuknya trainer-trainer yang mengedepankan kesetaraan.
Saling berbagi pada sesama guru, yang sudah tahu wajib berbagi
ilmunya kepada yang belum tahu, yang belum tahu wajib bertanya
kepada yang sudah tahu, tanpa ada perasaan lebih atau kurang.
Indah… membuahkan rasa nyaman dalam lubuk hati, antara pelatih
dan yang dilatih.
Tahun 2018 sudah terbentuk 67 kanal. Ke 67 Kanal ini
merupakan kanal yang launcing di depan Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan pada kepemimpinan MRR sebagai Ketua Umum IGI.
Kanal-kanal tersebut beserta deskripsinya adalah bukti sekaligus
sebagai sarana mempersiapkan kemadirian guru dalam pelatihan
untuk merealisasikan piker MRR yakni “pelatih guru sebaiknya
adalah guru juga”.
2.2 Kemandirian Sumber Dana
Membangun kemandirian dari segi Sumber Dana, MRR sudah
bertekad tidak akan meminta-minta kepada kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan, meskipun waktu itu yang jadi Mendikbud adalah
pak Anies Baswedan yang menurut banyak orang adalah sahabat
MRR. Sampai pergantian Menteri Pendidikan, tetap tidak terbersit
untuk mengajukan proposal.Kenapa….karena alasan yang sangat
kuat, yakni tidak ingin kultur dan karakter yang sudah terbina dalam
IGI diganggu orang lain sebagai akibat dari kucuran dana yang
diberikan dan diterima IGI dari mereka. MRR tidak ingin IGI didikte
oleh sang pemberi dana. Sebagai contoh efek tidak baiknya ketika
Kemendikbud mencairkan 200.000.000 untuk kegiatan di Maros dan
kegiatan di Palembang, dirasakan oleh MRR dapat menimbulkan
rasa iri karena tidak semua mendapatkan dalam jumlah yang sama.
Maka hingga kini IGI adalah organisasi profesi yang tidak
mengandalkan APBD ataupun APBN. Tidak mudah melakoni hal
ini, karena sesungguhnya IGI sangat membutuhkan dana dalam
pertumbuhan dan pergerakannya.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 244
MRR berusaha membangun kemandirian IGI dari segi sumber
dana melalui jalinan kerja sama dengan beberapa perusahaan dengan
system sponsor. System sponsorship inilah yang kemudian dirubah.
Kalau dahulunya berdasarkan basis kegiatan, maka dirubah menjadi
kebebasan IGI melaksanakan kegiatan, dan kemandirian dalam
pengelolaan dana sponsor, yang penting target yag diharapkan
tercapai. Selama ini yang sudah banyak membantu adalah
perusahaam elektronik SAMSUNG. Kerjasama dalam melatih guru-
guru untuk menigkatkan kemapuan menggunakaan IT, khususnya
penggunaan Tablet dalam proses belajar mengajar. Kerjasama ini
saling menguntungkan. Omset penjualan tablet Samsung meningkat
saat IGI membantu agar guru-guru menggunakan Tablet dalam
proses pembelajarannya. Semulanya hanya 1000 menjadi 150.000
penjualan Samsung dalam setahun. Jadi prinsipnya bukan meminta,
tapi penawaran memberi bantuan kepada mereka, dengan
membangun budaya penggunaan Tablet di kalangan guru-guru, bila
sukses, silahkan membantu IGI.
Kelanjutan dari kerjasama IGI dan Samsung dalam bentuk
kolaborasi membuka SSLC (Samsung Smart Class Learning). Dayu
Akbar (2019) dalam Samsung Indonesia dan IGI Makassar
Kembangkan Konsep Paperless School menjelaskan bahwa Sejak
2017, Samsung berkolaborasi dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI)
dengan meresmikan Samsung Smart Learning Class (SSLC), sebuah
ruang kelas berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
SSLC hadir sebagai wadah untuk memberikan pelatihan penggunaan
gadget dan teknologi bagi para guru anggota IGI dan mendorong
kegiatan belajar mengajar yang lebih interaktif. Kini, SSLC di IGI
Makassar juga digunakan sebagai ruang sekolah berkonsep paperless
school bernama Ranu Harapan Islamic School (RHIS) yang didirikan
atas inisiatif pengurus IGI Makassar. “Sejak diresmikan pada tahun
2017, SSLC di IGI Makassar dan program-programnya telah
memfasilitasi pelatihan pemanfaatan teknologi dalam kegiatan
mengajar yang diikuti oleh lebih dari 800 guru di Sulawesi Selatan.
Kami menyambut baik inisiatif pengurus IGI yang memperluas
fungsi Samsung Smart Learning Class (SSLC) di IGI Makassar
menjadi sekolah Ranu Harapan Islamic School,” kata Kang
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 245
HyunLee, Vice President Corporate Business and Corporate
Affairs Samsung Electronics Indonesia.
Para guru memanfaatkan fasilitas SSLC dan mengikuti
pelatihan setiap akhir pekan dengan jadwal yang sudah ditetapkan
oleh Dinas Pendidikan Provinsi maupun IGI Makassar selaku
pengelola SSLC. Antusiasme mereka tidak hanya ditunjukkan saat
pelatihan berlangsung, namun setelahnya mereka juga
mengimplementasikan beberapa materi yang telah diajarkan, seperti
pemeriksanaan hasil ujian berbasis Android yang meningkatkan
efisensi kerja. Selain itu, para guru juga sudah mulai terbiasa
membuat video untuk menyampaikan materi pembelajaran mereka
sehingga lebih interaktif dan membuat murid lebih semangat
mengikuti proses belajar di kelas.
Dengan tujuan memaksimalkan manfaat SSLC, maka pada
hari Senin sampai Jumat, kelas digunakan untuk kegiatan belajar
mengajar RHIS. Dikembangkan dengan konsep paperless school,
RHIS menjalankan kegiatan pembelajarannya tanpa menggunakan
kertas, spidol, maupun pinsil, namun menggunakan perangkat
standar untuk kelas berbasis ICT.
Sebagaimana yang telah difasilitasi oleh Samsung untuk
SSLC, maka siswa-siswa RHIS pun dapat menikmati pembelajaran
dengan memanfaatkan 23 unit Samsung Galaxy Tab A with S-Pen,
televisi Samsung dan koneksi internet yang ada di dalam SSLC.
Selain itu, para siswa RHIS juga dibimbing oleh tenaga pengajar
terbaik dari berbagai sekolah di Sulawesi Selatan yang sudah
mendapatkan pelatihan dasar penggunaan tablet dan e-learning dari
tim Samsung dan IGI Makassar.
Selain di IGI Makassar, SSLC juga hadir di enam lokasi
lainnya yaitu, SMA Negeri Unggulan MH Thamrin Jakarta, SMA
Pangudi Luhur Jakarta, Brawijaya Smart School Malang, SMA Plus
Negeri 17 Palembang, SMA Islam Al-Azhar 12 Makassar, SMA
Negeri 5 Balikpapan, SMA Bina Amal Semarang, SMA
Muhammadiyah 2 Surabaya dan SD YPK Waupnor, Biak, Papua.
Kerjasama IGI dan Samsung sebagai bentuk kemadirian dalam
usaha mendapatkan dana melalui simbiosis mutualima, telah
melahirkan ratusan pelatih-pelatih nasional. Sebagai contoh yang
telah dilakukan oleh Jawa Timur berikut: IGI selalu melaksanakan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 246
kegiatan yang luar biasa untuk peningkatan mutu guru di Indonesia.
Pada tanggal 6 s.d 9 Oktober 2016 melaksanakan TOT Literasi
Produktif berbasis IT di LPMP Jawa Timur. Begitu semangatnya
peserta TOT dalam mengikuti kegiatan tersebut mulai jam 8 pagi
sampai jam 12 malam, sehingga seluruh peserta dapat mengikuti
kegiatan mulai awal hingga usai.
TOT ini terlaksana tak lepas dari dukungan PT Samsung, dari
pihak Samsung menjelaskan dengan rinci cara memanfaatkan tablet
A8 agar dapat digunakan dalam pembelajaran.Dijelaskan pula
bagaimana caranya mengoptimalkan penggunaan tablet A8. Tidak
hanya itu, PT Samsung pun memberikan dana CSR nya sebesar 1 M
untuk tahun ini dan akan memberikan 2 M untuk tahun depan dari
dana CSR nya. Semoga kerjasama IGI dengan PT Samsung terus
berlanjut untuk membantu peningkatan mutu guru di Indonesia.
Seiring dengan itu IGI melaksanakan program SAGUSATAB yaitu
Satu Guru Satu Tablet. Melalui sagusatab seluruh peserta TOT
menawarkan ke guru – guru di seluruh Indonesia produk Samsung
yaitu tablet A8. Melalui tablet A8, kita bisa menulis dengan mulut
dan membaca dengan telinga. Bisa juga membuat komik untuk
pembelajaran dan masih banyak lagi manfaat lainnya yang akan
didapat ketika menggunakan produk dari PT Samsung yaitu tablet
A8.
Melalui TOT Literasi Produktif Berbasis IT, IGI benar-benar
menggandakan pelatih nasional agar dapat melatih guru – guru di
seluruh Indonesia. Kehadiran IGI harus benar – benar dirasakan oleh
seluruh guru.Training of Trainer (TOT) yang pesertanya sebanyak
150 orang tersebut dilatih untuk menjadi seorang pelatih.
Diantaranya ada kelas SAGUSANOV (Satu Guru Satu Inovasi), di
kelas ini pesertanya mendapatkan materi pembuatan inovasi
pembelajaran melalui android. Seluruh peserta yang mengikuti kelas
ini dapat membuat aplikasi yang berbentuk apk, sehingga dapat
diinstal di android bahkan dapat di upload ke playstore. Materi
sagusanov disampaikan oleh bapak Kholiq. Tidak hanya bapak
kholiq saja yang memberikan materi, tapi ada juga bapak Elyas
memberikan materi membuat video dengan mudah. Peserta dilatih
untuk membuat video yang nantinya dapat dimanfaatkan dalam
proses pembelajaran di sekolah masing – masing. Semua aplikasi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 247
yang digunakan melalui tablet A8. Selain kelas SAGUSANOV ada
pula kelas SAGUSAMPI, SAGUSABLOG, SAGUSAKTI, SERDU
SAGUSATAB dan kelas SAGUSAKU. Seluruh peserta tak dapat
mengikuti kelas – kelas tersebut secara bersamaan. Karena,
terbatasnya waktu setiap peserta hanya dapat mengikuti satu kelas
saja. Sebelum masuk kelas – kelas tersebut telah dipaparkan oleh
narasumber, materi apa saja yang akan dipelajari di kelas – kelas
tersebut sebagai pengenalan awal. Sehingga, peserta dapat memilih
kelas untuk mempelajari lebih dalam lagi materi dari kelas
tersebut.Setelah TOT selesai, pelatihan pun dilanjutkan melalui grup
telegram dari masing – masing kelas dan grup untuk seluruh peserta
TOT. Peserta bisa share kembali materi yang telah didapat dan
membagikan pengalamannya ketika melatih guru – guru di
daerahnya masing – masing.
Sebanyak 150 orang yang digandakan oleh IGI untuk menjadi
seorang Pelatih Nasional Literasi Produktif Berbasis IT. Semoga dari
pelatih yang sudah digandakan tersebut dapat menggandakan lagi
pelatih – pelatih yang baru. Sehingga, guru – guru di seluruh
Indonesia dapat menerapkan budaya literasi produktif berbasis IT.
Seluruh guru nantinya dapat berbagi dan belajar bersama guru – guru
lainnya yang didampingi oleh pelatih nasional. Harapannya pengurus
pusat IGI (Ikatan Guru Indonesia) tak hanya sampai di sini saja
program TOT nya, tapi harus diprogramkan TOT yang lainnya juga
agar seluruh anggota IGI dapat meningkatkan kompetensi melalui
pelatihan yang akan disampaikan oleh pelatih nasional.
Kondisi pandemic Covid-19 saat ini menjadikan kerjasama ini
tampak semakin berkembang. Pola pembelajaran jarak jauh secara
online menggunakan media dan sarana internet semakin
mendekatkan guru dan murid pada gadget sebagai sarana utama
Pembelajaran Jarak jauh. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan IGI
bersama Samsung sangat memberi makna dan menaikkan
kemampuan guru dalam penggunaan gadget. Beberapa kebijakan
yang diberikan Samsung terhada anggota IGI misalnya pembayaran
tablet boleh diangsur, atau memberikan potongan harga yang
jumlahnya bervariasi. Selain itu, untuk CSR Samsung langsung
memberikan dananya.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 248
III. MRR Bergerak dan Menggerakkan
MRR tidak pernah tinggal diam, terus bergerak tanpa kenal
lelah. Terbang sampai ke pelosok negeri untuk mengembangkan
organisasi IGI. Bagi MRR, bagimana kita bisa menggerakkan orang
lain, apabila kita sendiri tidak bergerak, alias diam. Prinsip beliau ini
diambil dari sikap idolanya yakni Khalifah Umar bin Abdul Aziz
cicit dari Umar bin Khattab yang digelari Umar II. Seorang
pemimpin yang sukses membawa negaranya menjadi “gemah ripah
loh jinawi”, negara tanpa kemiskinan. Sang Khalifah dalam
melakukan sesuatu terlebih dahulu dimulai dari dirinya sendiri.
Tidak mengajak seseorang sebelum dirinya terlebih dahulu
malakukannya.
Gerakan-gerakan MRR yang dimulai dari dirinya lalu
menggerakkan telah membuahkan hasil. IGI menjadi organisasi guru
yang selalu dipertimbangkan keberaannya untuk dimintai pendapat
dalam mengambil suatu kebijakan. Beberapa hasil tersebut antara
lain: 10 Usulan Ikatan Guru Indonesia Ke Menteri Nadiem. Menteri
Nadiem pun sangat antusias dengan gagasan IGI. "Dan inilah yang
diajukan Ikatan Guru Indonesia," melalui siaran pers yang diterima
BisnisNews.id di Jakarta.
Berikut 10 hal yang disampaikan IGI dalam upaya Revolusi
Pendidikan Dasar dan Menengah di Indonesia.
1. Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan Pendidikan
Karakter berbasis agama dan pancasila menjadi mata pelajaran
utama di Sekolah Dasar dan karena itu, Pembelajaran Bahasa
Inggris di SMP dan SMA dihapuskan karena seharusnya sudah
dituntaskan di SD. Pembelajaran bahasa Inggris fokus ke
percakapan, bukan tata bahasa.
2. Jumlah Mata Pelajaran di SMP menjadi maksimal 5 mata
pelajaran dengan basis utama pembelajaran pada Coding dan
di SMA menjadi maksimal 6 mapel tanpa penjurusan lagi
mereka yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilahkan
memilih SMK.
3. SMK karena fokus pada keahlian maka harus menggunakan
sistem SKS, mereka yang lebih cepat ahli bisa
menuntaskan SMK dua tahun atau kurang, sementara mereka
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 249
yang lambat bisa saja sampai 4 tahun dan ujian
kelulusan SMK pada keahliannya bukan pada pelajaran
normatif dan adaptif. SMK tidak boleh kalah dari BLK yang
hanya 3, 6 atau 12 bulan. LPTK diwajibkan menyediakan
Sarjana Pendidikan atau Alumni PPG yang dibutuhkan SMK.
4. Jabatan Pengawas Sekolah dihapuskan hingga jumlah guru yang
dibutuhkan mencukupi. Jabatan pengawas sekolah boleh
diadakan kembali jika jumlah kebutuhan guru sudah terpenuhi,
tidak ada lagi guru honorer dan semua guru sudah berstatus PNS
atau Guru Tenaga Kontrak Profesional dalam Status PPPK
dengan pendapatan minimal setara Upah minimum yang
ditetapkan pemerintah sesuai standar kelayakan
hidup. Hilangnya tanggung jawab mengajar kepada Kepala
Sekolah, seharusnya dimaksimalkan fungsinya, sehingga
keberadaan pengawas sekolah untuk sementara bisa diabaikan.
5. Seluruh beban administrasi guru dibuat dalam jaringan (online)
dan lebih disederhanakan, RPP cukup 1-2 halaman tapi jelas
tujuan dan aplikasi pembelajaran, tak ada lagi berkas
administrasi dalam bentuk “hard copy”, verifikasi keaslian
dilakukan secara acak dengan kewajiban menunjukkan berkas
asli, bukan Foto Copy.
6. Pengangkatan Guru berdasakan kompetensi dan kebutuhan
kurikulum yang nantinya dibuat. Uji Komptensi Guru wajib
dilaksanakan minimal sekali dalam 3 (tiga tahun).
7. Sistem Honorer dihapuskan sehingga tak ada lagi guru yang
mengisi ruang kelas yang statusnya tidak jelas, harus jelas
statusnya, apakah PNS, PPPK atau GTY. Pendapatan Guru
minimal mencapai Upah Minimum yang ditetapkan pemerintah
berdasarkan minimal kelayakan hidup.
8. Jika kurikulum diubah, maka bimtek harus ditiadakan dan
diganti dengan vidoe tutorial dengan kewajiban uji secara acak
terhadap pemahaman kurikulum. Anggaran bimtek dialihkan
untuk rekruitmen guru.
9. Anggaran Peningkatan Kompetensi Guru dihapuskan dan upaya
peningkatan kompetensi guru diserahkan kepada organsiasi
profesi guru berdasarkan acuan kompetensi yang dibutuhkan.
Anggaran Pelatihan Guru dialihkan untuk rekruitmen
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 250
guru. Organisasi profesi guru diberikan legalitas dalam
melaksanakan upaya peningkatan kompetensi guru, pemerintah
cukup melakukan uji terhadap standar kompetensi guru yang
diinginkan. Organisasi profesi guru harus segera mendapatkan
pengesahan setelah melalui verifikasi dan sepenuhnya
pembinaan guru diserahkan kepada organisasi profesi guru
dalam pengawasan Pemerintah.
10. Mengatur kembali penentuan “sekolah daerah tertinggal-
terpencil-terdepan-terkebelakang sesuai kondisi sekolah, bukan
berdasarkan data Kementerian Desa Dan Transmigrasi.
Ditambahkan oleh Nurbadriyah (2020) dalam MRR dan IGI
menjelaskan; Siapa yang tak mengenal Ikatan Guru Indonesia di lima
tahun terakhir ini? semua tidak lain karena sepak terjang ketua umum
Ikatan Guru Indonesia, Muhammad Ramli Rahim yang sangat luar
biasa. Sosok pemimpin yang tegas dan berani mensiarkan IGI ke
seluruh pelosok negeri. Kepiawaiannya menggerakkan organisasi
patut diteladani. Banyak guru yang selama ini merasa dalam
tempurung dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk tampil di
depan publik, karena kehadiran MRR , mampu membangkitkan jiwa
guru yang selama ini hidup segan mati tak mau. Kini banyak guru
yang mampu menunjukkan keeksistensiennya di berbagai bidang.
Beliau mampu mewujudkan mimpi para guru Indonesia untuk
berkiprah bukan hanya di daerah tetapi juga di tingkat nasional.
Beliau mampu membuka mata pendidikan Indonesia agar
melibatkan semua guru dalam setiap kegiatan peningkatan
pendidikan. Karena selama ini didapati hanya guru tertentu yang
mendapat panggilan untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan
dinas pendidikan maupun kemendikbud.
Sejak kepengurusan IGI di hampir 534 kab/kota dilantik, guru
Indonesia semakin menggelora meningkatkan kompetensinya di
bidang teknologi, pembelajaran, dan kepenulisan. Guru-guru IGI
sesuai mottonya “Sharing and Growing Together” tanpa perlu
didanai pemerintah, terus bergerak dan menggerakkan. Berbagi dan
menggali ilmu ke seluruh pelosok negeri untuk peningkatan
pendidikan Indonesia. Semangat mereka tersulut. Kompetensi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 251
mereka tergali dan jiwa berbagi mengaliri para guru hebat Ikatan
Guru Indonesia.
Kini gaung Ikatan Guru Indonesia sudah terdengar sampai ke
luar negeri. Kini guru-guru dalam Ikatan Guru Indonesia berhasil
mengukir banyak prestasi. Nama Ikatan Guru Indonesia sudah tak
asing lagi. Hampir seluruh pejabat negeri mengakui pendidikan
Indonesia semakin berkualitas dengan bermunculannya guru-guru
yang tak kenal lelah berjuang dan berbagi kompetensi melalui wadah
IGI.
Jaya terus IGI, maju terus IGI, teruslah belajar jika ingin terus
mengajar. Ciptakan banyak karya agar guru selalu mulia bukan
hanya di mata manusia, tetapi juga di mata Sang Pencipta. Karena
sejatinya satu guru hebat akan menghasilkan jutaan manusia yang
lebih hebat, bermartabat, dan bermanfaat. Bergeraklah, karena hanya
dengan bergerak kita dapat menggerakkan ribuan bahkan jutaan
orang. Semangat menggerakkan yang dilakukan IGI sangat sesuai
dengan MARS IGI yang menjadi semangat bagi para IGIERS itu
sendiri.
Hal senada diungkapkan Fitriadi (2020) dalam IGI Bergerak
kenapa harus takut? Ikatan Guru Indonesia atau disingkat dengan
IGI adalah sebuah organisasi profesi guru yang legal menurut hukum
di Indonesia. Pergerakan IGI merupakan sebuah kenicayaan
membantu pemerintah meningkatkan kompetensi guru serta
membuat guru-guru untuk merdeka, yaitu merdeka dalam berkarya
dan merdeka dalam bertindak.
Keberadaan IGI saat ini sudah menjadi sebuah lokomotif
perubahan dalam dunia pendidikan, dalam meningkatkan kompetensi
guru melalui berbagai macam bentuk pelatihan dengan ruhnya
literasi.
Hampir lebih 2 juta guru dilatih oleh IGI secara gratis maupun
menggunakan anggaran mandiri tanpa menggunakan anggaran
Pemerintah. Apa yang IGI lakukan hanya semata mata untuk
peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, jadi keberadaan IGI
jangan menjadi saingan apalagi menjadi lawan karena anggota IGI
jelas bergerak membantu para guru, bukan untuk mencari sanjungan
apalagi jabatan di negeri ini.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 252
Mereka-mereka yang merasa IGI ini adalah sebuah pergerakan
yang bisa mengganggu, baik secara kekuasan maupun secara politik,
itu adalah sebuah kesalahan besar, apalagi mereka yang memiliki
kekuasan berusaha mengucilkan, menghambat serta menghantam IGI
agar tidak berkembang.
IGI tanpa didukung oleh penguasa juga akan terus bergerak
dengan jati dirinya sebagai organisasi milenial yang terus membantu
para guru meningkatkan kompetensinya. IGI tanpa sanjungan dari
penguasa juga akan terus bermanuver dengan berbagai program
program unggulan untuk memerdekakan para guru dalam berkarya.
Jadi tidak perlu takut, jika IGI akan menjadi lokomotif
pembawa perubahan besar di dunia pendidikan bangsa ini. IGI
dengan motto sharing and growing together (berbagi dan tumbuh
bersama) sudah melekat dalam jiwa raga guru-guru hebat Indonesia
yang menginginkan pendidikan ini menjadi lebih maju.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ramli_Rahim
http://www.jaringanpelajaraceh.com/artikel/mrr-dan-igi/
http://www.jaringanpelajaraceh.com/artikel/igi-bergerak-kenapa-
harus-takut/
https://www.igi.or.id/mrr-ketum-igi-dan-mendikbud-nm.html
https://igisurabaya.wordpress.com/2017/12/21/mars-igi-ikatan-guru-
indonesia/
https://bisnisnews.id/detail/berita/reformasi-pendidikan-di-indonesia-
ini-10-usulan-ikatan-guru-indonesia--ke-menteri-nadiem
https://www.igi.or.id/igi-menggandakan-pelatih-nasional.html
=====
Since, M.Pd. tempat Lahir : Enrekang (Sulsel), 13 April
1968. Suami, Ponadi, SE. Anak Adi S. , M. Eko. S,
Rahman, Siti Dwi.S, Fatimah Tri. S, Maulana.I, Sindi.M.
Mengajar di SMP Rujukan Negeri 5 Jayapura Papua. Ketua
Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Papua periode 2018-
2023.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 253
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 254
MRR MERETAS FENOMENA BOTOL KOSONG TERTUTUP
Oleh :
Bambang Sugiantoro
Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2015 Pasal 1 tentang
Guru dan Dosen disebutkan bahwa “guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.
Seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, peran guru juga
menjadi beragam. Peran guru tidak hanya sebatas sebagai pengajar
dan pendidik saja, tetapi juga berperan sebagai inspirator, motivator,
konselor, dan sahabat. Bahkan mungkin sebagai orang tua pengganti
orang tua mereka di rumah. Oleh karena itu, peran guru sangatlah
besar karena guru merupakan salah satu pihak yang
bertanggungjawab atas pondasi yang dibuat dalam pembentukan
karakter peserta didik.
Keberadaan guru dalam pembelajaran itu menduduki peran
yang sangat penting, guru merupakan seperangkat penguasaan
kemampuan yang ada dalam dirinya agar dapat menunjukkan kinerja
secara tepat dan efektif. Menjadi seorang guru minimal harus
mempunyai keahlian khusus yang distandarkan secara kode etik
keprofesian karena guru adalah media untuk menuntaskan
kebodohan suatu Bangsa.
Guru dalam menjalankan tugas, harus memiliki standar
kompetensi yang mencakup: kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial, dan profesional. Kompetensi guru adalah kemampuan seorang
guru dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap
dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Seorang guru akan
mampu menjalankan tugasnya dengan baik apabila memiliki
kemampuan yang sesuai dengan bidang keahliannya. Guru dalam
mengajar harus memiliki kompetensi mengajar agar mampu
menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan.
Kompetensi guru yang profesional akan menjadikan mutu
pendidikan di Indonesia lebih baik lagi.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 255
Disamping itu guru dituntut untuk berprestasi, seperti tertera
pada pasal 24, ayat (3) Undang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa
prestasi guru berupa, antara lain:menghasilkan peserta didik
berprestasi akademik dan non akademik, menghasilkan karya tulis,
menghasilkan invensi dan inovasi pembelajaran. Sementara tuntutan
kualitas guru meliputi kemampuan pedagogik, sosial, profesional dan
kemampuan kepribadian. Ranah kemampuan tersebut apabila
dijabarkan akan sarat dengan berbagai keterampilan yang harus ia
penuhi.
Permasalahan utama yang dihadapi guru adalah upaya
pengembangan karir dan peningkatan mutu adalah; kesempatan
mengikuti pelatihan bagi guru tidak merata, kuota pelatihan tidak
sebanding dengan banyaknya jumlah guru.
Masih banyak guru-guru yang tidak bisa mengikuti pelatihan
karena estimasi waktu pelatihan yang sangat sempit sehingga materi
pelatihan tidak dipahami secara utuh oleh guru. Sementara Jumlah
materi pelatihan cukup banyak. Tidak jarang pelatihan-pelatihan
yang telah ada dan diikuti, tidak relevan dengan permasalahan dan
kebutuhan para guru sehingga pelatihan-pelatihan yang telah diikuti
tidak membawa pengaruh dalam peningkatan kualitas mengajar.
Permasalahan guru lainnya yakni kurangnya keterampilan
dalam melakukan penelitian berkaitan dengan pembelajaran. Kondisi
ini sering terjadi disebabkan frekuensi dan pengalaman melakukan
penelitian yang masih kurang disertai rutinitas mengajar guru telah
padat sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk melaksanakan
penelitian. Kelemahan dalam menulis karya ilmiah menjadi
sedangkan karya ilmiah tersebut sangat diperlukan oleh guru dalam
rangka peningkatan karir.
Salah satu upaya peningkatan mutu guru yakni dengan cara
menggagas pendirian Ikatan Guru Indonesia (IGI). Gagasan
pendirian IGI ini berasal dari diskusi di mailing list antara guru dan
para praktisi pendidikan, dan dilanjutkan dengan aksi nyata melalui
pelatihan-pelatihan peningkatan kompetensi guru dengan nama Klub
Guru Indonesia (KGI). Sambutan para guru di berbagai kota di
Indonesia nampaknya cukup baik, sehingga di mana-mana kegiatan
yang diadakan KGI selalu disambut hangat. Beberapa kota dan
propinsi bahkan mulai mendirikan perwakilan cabang/wilayah.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 256
Apresiasi yang diberikan Mendiknas, Dirjen PMPTK dan
beberapa pejabat di Kemdiknas, serta dukungan pemerintah
daerah (Gubernur dan Bupati/Walikota) setempat, makin
mempercepat perttumbuhan organisasi ini secara resmi, akhirnya
pemerintah mengesahkan KGI sebagai organisasi profesi guru
dengan nama Ikatan Guru Indonesia (IGI), melalui SK Depkumham
Nomor AHU-125.AH.01.06.Tahun 2009, tertanggal 26 November
2009. Sejak saat itu, semua atribut KGI, mulai dari website, logo,
alamat mailing list, nama tabloid, blog, dan lain-lain, semuanya
berubah menjadi IGI. Melalui wadah IGI, diharapkan para guru
dapat mengubah dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada pihak
lain dan sekaligus bersiap menjadi lokomotif penggerak perubahan
bagi bangsa.
Mengapa dalam hal ini guru harus mengubah dirinya
sendiri, karena gurulah para pemimpin sejati yang sebenarnya. Guru
yang memegang peran sebagai pemimpin perubahan. Untuk dapat
menjadi pemimpin perubahan, guru harus melakukan perubahan dari
dirinya sendiri. Guru tidak selayaknya meminta pihak mana pun
untuk mengubah dirinya. Sekali guru melakukan perubahan dalam
dirinya, maka roda perubahan akan bergerak dengan sendirinya.
Guru sebaiknya dapat menggerakkan bangsa ini, apalagi kalau hanya
menggerakkan dirinya sendiri. Gurulah yang harus menyelesaikan
masalah pendidikan. Pemerintah hanya bertugas sebagai lembaga
yang mengurus dan mengelola administrasi pendidikan. Itulah
sebabnya mengapa Ikatan Guru Indonesia didirikan.
Hal tersebut di atas sesuai dengan tujuan didirikannya IGI
yakni : 1) Menjadi sebuah forum yang terbuka bagi para guru, pegiat
dan pengamat pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia, termasuk meningkatkan kualitas diri
masing-masing di bidang pendidikan dan keguruan; 2) Menjadi
sebuah wadah tercetusnya ide-ide segar yang berorientasi pada
meningkatnya mutu generasi muda penerus bangsa; 3) Mendorong
profesionalisme keguruan serta pendewasaan dan kemandirian para
siswa, baik yang masih dalam proses belajar maupun lulusan;4)
Meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat luas, untuk
bersama-sama membangun masa depan melalui pendidikan yang
berkualitas bagi generasi muda.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 257
Salah satu upaya yang dilakukan Muhammad Ramli Rahim
(MRR) melalui Organisasi profesi Ikatan Guru Indonesia yakni
memberikan pelatihan-pelatihan bagi guru-guru di Indonesia dalam
rangka menjawab permasalahan yang dihadapi oleh guru. MRR
memaksimalkan potensi para guru untuk dilatih sehingga menjadi
pelatih nasional dalam bidang tertentu dan mau mengembangkan
potensinya serta memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap
amanah yg diembannya.
Solusi yang diberikan MRR yakni dengan menukar pelatih
Nasional dari provinsi tertentu ke provinsi yang lain. Hal ini
dikarenakan nara sumber yang biasanya guru ditemui adalah nara
sumber yang pada umumnya sudah senior atau berusia lanjut yang
berasal dari Kemdikbud, LPMP, Kepala Sekolah, Guru Berprestasi,
dsb. Sementara jika pelatih nasional dari IGI kebanyakan masih
berusia muda. Jika pelatih nasional IGI dari provinsi yang sama
kemungkinan guru-guru tersebut akan banyak yang mengabaikan apa
saja yg di sampaikan pemateri tersebut.
Solusi yang diberikan MRR yakni dengan menukar pelatih
Nasional dari provinsi tertentu ke provinsi yang lain untuk membuka
fenomena guru yang ada di daerah tersebut dengan cara membuka
wawasan dan pengetahuannya. Dikarena fenomena yg dialami guru
sebenarnya adalah seperti fenomena botol kosong dimana botol
kosong itu seharusnya perlu diisi apa yang guru tidak ketahui dengan
cara membuka botolnya. Namun cara membuka botol tersebut juga
harus diketahui sehingga botolnya bisa terisi dengan baik.
Upaya MRR Membangun kemandirian organisasi guru
dilakukan dengan melakukan program berbasis kegiatan.
Sebagai seorang guru yang muda dan masih sangat energik saat itu.
Keingin tahuan saya begitu tinggi. akan adanya seminar, pelatihan
maupun workshop. Keingintahuan saya itu saya cari melalui
bertanya dengan kawan maupun mencari di internet.
Setelah lama dalam pencarian tersebut maka saya menemukan
beberapa kegiatan yang di adakan di daerah jawa pada umumnya.
Saya sangat berkeinginan mengikuti kegiatan tersebut. Sayangnya
posisinya sangat jauh dan saya sempat menanyakan kegiatan tersebut
jika memungkinkan dapat dilaksanakan juga di daerah yang
lain.Namun untuk sementara ini kegiatan masih dilaksanakan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 258
terpusat di jawa. Dengan bersabar hati akhirnya saya merelakan tidak
mengikuti kegiatan itu untuk sementara waktu.
Seiring berjalannya waktu akhirnya saya menemukan
berbagai kegiatan pelatihan yang di adakan oleh Klub Guru
Indonesia (KGI) yang kegiatannya banyak dilakukan di daerah jawa.
Saat itu saya sangat berkeinginan untuk mengenal lebih jauh tentang
KGI yang akhirnya menjadi organisasi profesi yang bernama Ikatan
Guru Indonesia (IGI).
Ikatan Guru Indonesia (IGI),merupakan salah satu organisasi
profesi guru yang diakui pemerintah melalui SK Depkumham Nomor
AHU-125.AH.01.06.Tahun 2009, tertanggal 26 November
2009.Sejak saat itu, semua atribut KGI, mulai dari website, logo,
alamat mailing list, nama tabloid, blog, dan lain-lain, semuanya
berubah menjadi IGI. IGI sebagai sebuah organisasi profesi bersifat
independen, netral, dan mandiri dengan visi memperjuangkan mutu,
profesionalisme dan kesejahteraan guru Indonesia, serta turut secara
aktif mencerdaskan kehidupan bangsa.
Demi mewujudkan visi di atas maka IGI mengajak para guru,
kepala sekolah, pemerhati pendidikan, serta semua komponen
masyarakat yang memiliki kepedulian pada dunia pendidikan,
bersedia memperluas wawasan dan saling berbagi pengalaman untuk
bersama-sama IGI memajukan dunia pendidikan Indonesia.
Seiring berjalannya waktu maka IGI keanggotaannya
semakin banyak dan semakin besar yang tersebar dari provinsi Aceh
hingga Provinsi Papua. Sekarang ini jumlah keanggotaan IGI
berjumlah 99933 anggota. Apalagi semenjak IGI membuka
kesepatan bagi guru untuk membuka cabang untuk menjadi pengurus
baik di wilayah maupun di daerah maka peluang dan kesempatan
menjadi anggota semakin dipermudah. Banyak guru tertarik ikut
pelatihan yang di adakan ikatan guru Indonesia dikarenakan
pelatihan yang di adakan oleh IGI itu memang pelatihan yang
sangat dibutuhkan guna menjawab permasalahan yang di hadapi
guru di dalam kelas.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 259
Kebanyakan dari guru itu sudah mengenal Ikatan Guru
Indonesia melalui browsing di internet namun sebagian guru masih
ragu cara mendaftar menjadi anggota. Untungnya panitia pelaksana
kegiatan biasanya memberikan kesempatan dan waktu untuk Tanya
jawab maupun promosi sekilas tentang IGI. Dikarenakan sudah
mengenal IGI berikut juga pelatihannya maka biasanya guru akan
tertarik untuk menjadi anggota IGI.
Upaya yang dilakukan MRR MRR sehingga begitu dekat
di hati para guru yakni dengan membangun kemandirian organisasi
dalam ini Ikatan Guru Indonesia. MRR mengajak kepada seluruh
pengurus Pusat, Wilayah maupun Daerah agar tidak bergantung
pada tenaga Dosen, widiaswara LPMP maupun nara sumber dari
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. MRR mengajak seluruh
pengurus pusat, pengurus wilayah maupun daerah agar mandiri
dalam mengelola pelatihan. Dengan cara memaksimalkan para
pelatih nasional yang ada dalam kanal-kanal pelatihan IGI untuk
melatih guru-guru di seluruh Indonesia.
Dengan adanya kemandirian tersebut maka organisasi ini
akan semakin berkembang dan semakin menghargai antara satu
sama lainnya sebagai contoh apabila suatu daerah akan
mengadakan pelatihan Satu Guru satu Buku (SAGUSAKU) maka
Pengurus Daerah/Pengurus Wilayah harus minta nara sumber
melalui Kanal sagusaku tersebut dan meminta izin untuk
terlaksananya kegiatan tersebut. Kemandirian yang diciptakan
MRR memberikan kesempatan dan peluang besar kepada para
pelatih nasional dalam melatih guru khususnya anggota IGI yang
tersebar seluruh Indonesia. Dengan kemandirian tersebut juga
memberikan peluang untuk membesarkan kanal yang ia pilih.
Dengan moto Sharing and Growing Together, Ikatan Guru
Indonesia akan menjadi komunitas yang tepat bagi para guru dan
siapa saja yang tertarik dan peduli pada pentingnya memajukan
dunia pendidikan dan keguruan.
Siapapun guru dan latar belakangnya dapat melakukan sharing
dan growing together karena pada prinsip bahwa para guru haruslah
memberi (to share) lebih dahulu agar ia dapat maju dan berkembang
(to grow). Guru tidak ditampilkan dalam posisi pasif (penerima)
belaka namun justru dalam posisi aktif (memberi dan berbagi dengan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 260
sesama). Dalam sharing dan growing together itu guru tersebut tidak
harus guru senior ataupun guru berprestasi namun jika guru itu sudah
mau berbagi dengan sesama guru untuk maju bersama dan
berkembang bersama tanpa ada diskriminasi. Selain program
berbasis kegiatan peningkatan kompetensi, MRR berupaya
merubah Mindset Guru Amplop.
Berdasarkan SK Depkumham Nomor AHU-
125.AH.01.06.Tahun 2009, tertanggal 26 November 2009, akhirnya
pemerintah mengesahkan KGI sebagai organisasi profesi guru
dengan nama Ikatan Guru Indonesia (IGI). Sejak saat itu, semua
atribut KGI, mulai dari website, logo, alamat mailing list, nama
tabloid, blog, dan lain-lain, semuanya berubah menjadi IGI. Melalui
wadah IGI, diharapkan para guru dapat mengubah dirinya sendiri
tanpa harus bergantung pada pihak lain dan sekaligus bersiap
menjadi lokomotif penggerak perubahan bagi bangsa.
Sejak diakui pemerintah IGI terus bergerak dari provinsi Aceh
sampai dengan provinsi Papua. IGI bergerak dengan kemandirian
organisasi dan semuanya dilakukan secara bersama dan gotong
royong tanpa pamrih. Bahkan pengurus maupun pelatihnya baik di
tingkat pusat, maupun tingkat daerah itu rela untuk bersilaturahmi
maupun melatih tanpa dibayar.
Kegiatan lain juga yang membutuhkan kerjasama tim untuk
keberhasilan organisasi juga dikerjakan secara bersama dengan
memaksimalkan kemandirian organisasi yang bersumber dari tiap-
tiap anggota IGI dengan memberikan kesempatan yang sama pada
semua anggota untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan
kompetensi dibidangnya.
IGI sebagai sebuah organisasi profesi bersifat independen,
netral, dan mandiri dengan visi memperjuangkan mutu,
profesionalisme dan kesejahteraan guru Indonesia, serta turut secara
aktif mencerdaskan kehidupan bangsa.
MRR melaIui IGI secara berangsur angsur ingin mengubah
mindset guru yang masih berorientasi pada amplop. Dikarenakan
masih ada sebagian guru beranggapan jika diundang mengikuti
pelatihan, maka mindsetnya masih pada amplop tersebut. Sementara
di IGI semua pelatihan yang di adakan panitia pelaksana. Semua
dilakukan dengan mandiri. Bahkan pelatih nasional dalam suatu
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 261
kanal tertentu sanggup mengeluarkan dana pribadi untuk melatih
guru air walaupun tanpa diberikan honor.
Mindset guru amplop sebaiknya sudah harus dihilangkan.
Dikarenakan dengan masih berfikir pola seperti itu maka guru akan
kurang serius dalam mengikuti pelatihan. Jadi dengan cara
membayar pelatihan maka guru tersebut akan berusaha untuk
mempelajari materi pelatihan tersebut dengan sungguh-sungguh.
MRR juga sangat memperhatikan terhadap pelaksanaan pelatihan
yang diadakan oleh seluruh kanal yang ada di IGI dimana dalam
mengikuti pelatihan di IGI, maka ada kriteria ataupun standard yang
harus dicapai sehingga peserta tersebut dikategorikan lulus. Setelah
peserta dinyatakan lulus maka peserta berhak mendapatkan sertifikat
pelatihan. Jadi dengan cara membayar pelatihan maka guru tersebut
akan berusaha untuk mempelajari materi pelatihan tersebut dengan
sungguh-sungguh
Dengan adanya pola yang di sebutkan di atas, membuat guru-
guru semakin serius untuk belajar dan membuat guru semakin melek
pengetahuan, informasi maupun teknologi melalui pelatihan-
pelatihan yang diadakan oleh IGI. Hal tersebut juga yang membuat
pergerakan IGI semakin disukai dan dicintai. Guru-guru akan
mengetahui konsekuensinya jika ia tidak dapat menyelesaikan tugas
pelatihan maka ia tidak bisa lulus juga tidak dapat sertifikat
pelatihan. Dikarenakan IGI ingin ingin memberikan salah satu solusi
peningkatan mutu guru dalam kegiatan belajar maupun peningkatan
karir pribadi untuk naik pangkat/jabatan.
Disamping itu juga IGI memberikan suatu alternatif
pemecahan masalah yang sangat mudah dan terjangkau. Hal ini dapat
dibuktikan melalui serangkaian kegiatan maupun pelatihan yang
biaya pelatihannya terjangkau oleh guru, sehingga guru dapat
mengikuti pelatihan tersebut tanpa terbebani biayanya.
Dengan adanya regulasi semacam itu membuat semua guru
benar-benar serius dalam mengikuti pelatihan. Hal ini terlihat di
setiap adanya pelatihan yang diselenggarakan oleh Panitia
penyelenggara. Dari mulai daftar kehadiran sampai dengan tugas
peserta pelatihan semuanya harus lengkap dan diikuti oleh peserta
pelatihan.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 262
Demikianlah informasi pergerakan MRR melalui Ikatan Guru
Indonesia yang sudah berlangsung dari tahun 2016 hingga tahun
2020. Semoga strategi yang dilakukan MRR ini dapat dijadikan
acuan perubahan dalam pendidikan di Indonesia.
=====
Bambang Sugiantoro, M.Pd, guru SMAN 1
Lawang Kidul Muara Enim Sumatera Selatan.
Beliau adalah peraih juara 3 Guru SMA
Berprestasi Provinsi Sumatera Selatan tahun 2016
dan Finalis Guru SMA Berprestasi Provinsi
Sumatera Selatan Tahun 2017. Ketua Daerah IGI
Kabupaten Muara Enim. Pelatih Nasional Satu
guru satu buku (SAGUSAKU)
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 263
MESIN GENERATOR GURU BERKARYA, MEREKAM
JEJAK PENDIDIKAN BERSAMA IGI DI MASA
KEPEMIMPINAN MRR
Oleh :
Chalen Nur Aprilian Feliana, S.Pd
Saya, Chalen Nur Aprilian Feliana, S.Pd guru biasa yang
merasa beruntung mendapat kepercayaan dan kesempatan turut
terpilih menjadi salah satu kontributor dalam Buku MRR Jilid 2.
Momentum berharga ini tak akan saya sia-siakan, saya berusaha
mengasah pikir, rasa lewat aksara ini. Sungguh, ini merupakan
kepercayaan yang luar biasa. Berada diantara para sahabat SaguSaku
IGI yang telah banyak karya dan pengalamannya telah lama
berkecimpung di IGI.
Namun, saya tak putus asa. Kobaran semangat dari Bu Nur
Badriyah membakar jemari-jemari saya untuk berusaha
menggoreskan pengalaman, pikir, dan pendapat saya tentang IGI.
Karena berkat mengenal IGI ditahun ini saya meraih juara 2 Guru
Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, mewakili
Kabupaten Katingan. Dimana saat tahun 2018 saya pernah
berkesempatan pula mengikuti seleksi Guru Prestasi Tingkat
Provinsi tetapi belum meraih juara, karena saya sadar saat itu belum
memiliki karya inovatif berupa karya buku. Kini tahun 2020 betu-
betul menjadi tahun literasi untuk saya dan itu karena IGI.
Mengenalnya baru seumur jagung, namun cinta pada
Organisasi Profesi Guru Ikatan Guru Indonesia (IGI) ini tak ingin
seumur jagung. Motto IGI Sharing and Growing Together, Berbagi
dan Tumbuh Bersama tidak hanya slogan belaka. Terbukti 86 kanal
IGI memotivasi guru seluruh Indonesia untuk berkarya. Salah satu
dari 86 kanal tersebut adalah SaguSaku (Satu Guru Satu Buku)
dibawah PJ Sagusaku, Ibu Nur Badriyah, M.Pd (Wakasek Kurikulum
di SMAN 5 Cilegon, Tim Pengembang Mutu dan Ketua MGMP
Bahasa Indonesia di Cilegon, Banten, Sekretaris I IGI, Koordinator
IGI mata pelajaran Bahasa Indonesia Nasional Seluruh Jenjang) dan
rentetan prestasi lainnya yang membuat semua orang kagum.
Kiprahnya menggerakkan guru-guru untuk belajar menulis, mampu
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 264
menulis, menjadi penulis, dan memiliki karya buku sendiri terus
didengungkan tiada henti ke penjuru Nusantara.
“Jangan menghitung-hitung tenaga dan biaya, teruslah
mengalir seperti air.Biarkan pintu-pintu rezeki terbuka dari arah
mana pun, Insya Allah berkah”
Demikian salah satu pernyataannya pada Pelatihan SaguSaku
Menulis IGI yang diselenggarakan oleh IGI Wilayah Kalimantan
Tengah bertempat di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan
Tengah, Palangka Raya tanggal 24-26 Januari 2020. Energi yang luar
biasa mengalir ke seluruh jiwa 78 orang peserta yang hadir
mengikuti kegiatan tersebut.
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Selama
ditetapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) Pandemi
Covid 19, falling in love itu semakin membara, kehadiran IGI
melalui SaguSaku Menulis Smart membawa kesejukan yang luar
biasa, hadirnya bagai penyejuk ruh di tengah galau Pandemi.
Motivasi menulis, dan materi dari beberapa motivator hebat
dihadirkan untuk meningkatkan kompetensi dan wawasan peserta
yang bergabung dalam Grup SMS IGI. Peserta seluruh penjuru
Nusantara dari sabang sampai merauke semua terikat dalam ikatan
aksara dan tekad kuat untuk tumbuh dan maju bersama. Terbang
bersama bagai bintang benderang.
Tingkatkan Kompetensi, Raih Berjuta Prestasi, Merdeka
Berekspresi, dan Gemilang Berprestasi bagai pemantik bagi saya
untuk terus menjadi Penggerak. Bergerak dan menggerakkan
menjadi energi tersendiri bagi saya untuk bisa memantaskan diri
sebagai IGI-ers.
Menebar kebaikan meramaikan, menyemarakan aksi Road
Show Wisata Literasi GELIS (Gerakan Literasi Sekolah) begitu
atmosfer keseruan dirasakan setelah mengikuti Diklat Menulis
Sagusaku IGI yang saya tempuh dari menyeberang sungai dengan
fery penyeberangan, lalu angkutan umum menuju kota provinsi
dengan menempuh perjalanan 4 jam. Tidak membuat saya merugi
karena semua biaya perjalanan, akomodasi, dan kegiatan harus
meroggoh kantong pribadi. Justru saya termasuk orang-orang yang
BERUNTUNG karena melalui IGI terbuka mata dan hati saya
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 265
melihat perubahan, perkembangan dan siap hadapi tantangan besar
sebagai guru.
Menjadi pejuang GELIS memberi sensasi yang luar biasa pada
diri saya, memotivasi menulis itu mudah ke beberapa sekolah
menjadi gebrakan yang luar biasa, masyarakat tahu action nyata IGI.
Siswa dan guru berpacu untuk mampu menulis. Saya, guru
penggerak GELIS tampil bangga dengan PIN IGI kebanggaannya
yang tersemat dalam dada.
IGI lahir pada tanggal 26 November 2009, hadir untuk
mejdadi solusi bagi peningkatan kompetensi dan profesionalisme
guru. Dengan beragam program kegiatan diantaranya Forum Ilmiah,
IGI Publishing, Layanan Internet, dan Aksi Nyata. Demikian
pertama saya mengetahui cikal bakal IGI yang disampaikan oleh Dr.
Rusnanie, M.Pd (Ketua Harian IGI Pusat) pada kegiatan Diklat
Menulis SaguSaku IGI yang pertama saya ikuti di Palangka Raya.
Menikmati betul kebermanfaatan IGI, membuat saya semakin
kagum atas dedikasi sosok Muhammad Ramli Rahim (Ketua IGI
Nasional) yang di dapuk sebagai Ketua Umum saat kongres II IGI di
Makasar. MRR menuturkan sejarah perjuangan dan sepak
terjangnya dalam mengemban amanah kepemimpinannya, yang
telah berhasil menggaungkan dan semakin menggelorakan nama IGI
kini dan nanti, saat acara special yang bertepatan dengan Hari Ulang
Tahun Beliau ke-42 tahun pada tanggal 23 Mei 2020 lalu di acara
live streaming menggunakan aplikasi webex bertajuk Bincang Santai
MRR dengan peserta SaguSaku Menulis Smart IGI. Itulah kali
pertamanya saya mengenal sosok ketua IGI.
Muhammad Ramli Rahim adalah Ketua Umum Ikatan Guru
Indonesia (IGI) periode 2016-2021. Muhammad Ramli Rahim yang
biasa disapa MRR ini terpilih secara aklamasi pada Kongres II IGI
yang berlangsung tanggal 30-31 Januari 2016 di Kota Makasar.
Selain itu, Beliau juga merupakan guru SMK Kehutanan Widya
Nusantara ini juga adalah Presiden Direktur Ranu Corp, gugus
perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan, real estate,
distribusi, dan pertambangan.
Ibarat pohon semakin tinggi menjulang semakin ia harus
mampu bertahan terhadap terpaan angin bahkan badai sekalipun.
Pengorbanan dan perjuangannya terhadap tumbuh kembangnya IGI
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 266
hingga menyesampingkan kepentingan pribadinya, bahkan
keluarganya. Jatuh bangun usaha, kerikil tajam perdebatan, debu
kritikan mampu MRR tepis dengan kekuatan dan keyakinan penuh
demi perkembangan IGI agar terus menebar kebaikan dan kemajuan
guru Indonesia sesuai dengan motto IGI “Sharing and Growing
Together” Indahnya Berbagi dan Tumbuh Bersama.
Prinsip ini berarti bahwa para guru haruslah “memberi” (to
share) lebih dahulu agar ia dapat maju dan berkembang (to grow).
Guru tidak ditampilkan dalam posisi pasif (penerima) belaka namun
justru dalam posisi aktif (memberi dan berbagi dengan sesama).
Deretan nama-nama hebat pendiri IGI lainnya diantaranya
Ahmad Rizali, Bagiono, Satria Dharma, yang menuturkan bagaimana
fase tumbuh kembang IGI. Bermula dari sebutan nama Klub Guru
Indonesia (KGI) ibarat bayi yang “merengek” hingga harus bolak
balik masuk inkubator. Hingga berubah nama menjadi IGI (Ikatan
Guru Indonesia) melalui perjalanan yang berliku tajam, penuh
gesekan. Namun gesekan yang terjadi adalah sebuah keniscayaan
sebuah organisasi yang sedang tumbuh. Ibarat organisme, IGI juga
melewati fase stroming, remaja awal menuju remaja dan dewasa.
Luar biasa, perjalanan IGI di tahun ke-11 usianya sebuah usia
yang sungguh belia, namun kelincahan dan energiknya melebihi
ukuran usianya.
Jumpa dan kenal IGI pertama dalam bingkai Diklat Menulis
SaguSaku Januari 2020 di Palangka Raya, Kota Cantik
Hadirnya bagai oase di gurun terik
Dipandu Pelatih dan Founder SaguSaku IGI yang penuh
energik
Berpadu menulis dalam raga, jiwa dan tekad berkarya jadi
pemantik
21 hari menembus cakrawala literasi sebagai pejuang
GELIS beraksi
Merangkul 14 sekolah dalam Road Show Wisata Literasi
Elegan menyebar virus menulis ke semua generasi
Memotivasi menulis itu mudah untuk tingkatkan prestasi
60 tulisan tergores dalam menulis tiap hari tiada henti
Penyejuk ruh di tengah galau pandemi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 267
SaguSaku Menulis Smart sangat berarti
Terwujud buku tunggal dan antologi impian hati untuk negeri
Terima kasih IGI, terus kepakan sayap melalui karya dan aksi
nyata untuk Indonesia, kado persembahan dari saya, guru di tepi
Sungai Katingan, Kalimantan Tengah.
Kini, dibulan November 2020, sepuluh bulan sudah saya
mengenal IGI. Berkat IGI saya jadi lebih percaya diri karena telah
memiliki karya buku sendiri. Lewat buku karya perdana Mengukir
Asa di Bumi Penyang Hinje Simpei, Sebuah perjalanan hidup
seorang guru di tanah rantau, dengan tekad kuat mendedikasikan
dirinya untuk mengabdi pada keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Betul-betul membawa berkah tersendiri untuk saya.
Karya kecil namun begitu istimewa, buku perdana tersebut
kini telah menyebar di daerah saya. Pada kesempatan kegiatan saya
menjadi MC tak segan saya membawa buku karya perdana tersebut
dan memberikannya kepada Bupati dan Wakil Bupati Katingan,
Kepada Dinas Pendidikan Katingan, Camat Katingan Tengah tempat
domisili saya. Dan juga kepada sahabat Sagusaku Menulis Smart IGI
dimana saya turut menjadi anggota di dalamnya.
Hati ini semakin yakin berkat bergabung dengan IGI
membuka mata hati, pikiran dan langkah saya. Semangat IGI sebagai
Organisasi Profesi Guru yang terus berusaha meningkatkan
kompetensi guru untuk meraih berjuta prestasi begitu menggema
didada saya, dan kembali mencari tahu sosok orang hebat yang
begitu dengan loyalitas tinggi memajukan IGI.
Kembali sosok tegas Muhammad Ramli Rahim tak lepas dari
semakin benderangnya nama IGI. Eksistensi IGI telah menyebar ke
seluruh penjuru tanah air. IGI mampu menembus menerobos
belantara guru. Di masa Pandemi Covid-19 ini saat saya benar-benar
merasakan manfaat IGI, karena disaat semua orang bingung dengan
apa yang harus dilakukan untuk mensikapi pembelajaran di masa
Pandemi ini, MRR tampil dengan tegas diberbagai siaran televisi
menyatakan sikap bahwa biarkan di masa Pandemi ini, siswa belajar
dari rumah, beri perlindungan kepada anak-anak kita agar mereka
tidak jadi korban paparan Covid-19, dan kesempatan ini digunakan
bagi guru-guru untuk meningkatkan kompetensinya. Sehingga pada
saat sekolah kembali dibuka guru sudah memiliki kompetensi yang
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 268
maksimal. Karena berdasarkan Ujian Kompetensi Guru (UKG) tahun
2015 nilai rerata pedagogik dan profesional yang diperoleh guru-
guru se-Indonesia di angka 56,69. Sungguh ini sangat dibawah
standar minimum bagi seorang pendidik untuk itu IGI bergerak
dengan 86 kanal menampung keterampilan, bakat, dan potensi guru
di berbagai bidang.
Artinya MRR bersama IGI mendobrak paradigma yang luar
biasa, MRR mampu sebagai penggerak dan menggerakkan seluruh
guru-guru yang tersebar di pelosok Indonesia. Terobosan IGI melaui
kanal-kanalnya yaitu di Bidang Menulis ada Sagusaku, Menemu
Baling, SaguSakti, SaguSamod, Sagusakupat, Sagusae, Sagusabet,
Sagusapen, Sagukanal, Sagusata, Sagusado, Sagusabook, Sagusaper.
Di bidang media ada Sagusanov, Sagusamik, Sagusandrow,
Sagusabot, Sagusamed, Sagusavid, Sagusapijar, Sagusaminov,
Sagusamoran, Sagutape, Sagusateg, Sagusampi, Sagusavpres,
sagusavi, Sagusantri, dan Sagusamep.
Dalam layanan internet terdapat Sagusablog, sagusasoft,
Sagumanisan, Sagusafis, Sagukaya, Sagusaka, Saguseni,
Sagupointer, Sagusati, Sagusadistro, Sagusacat, Sagusalist,
Saguspeda, Sagusagame, Sagudelta, Sagusapop. Dalam Aksi nyata
IGI bergerak dengan 19 kanal yaitu Sagupasi, Sagutabi, Sadar
Sidaring, Sagusabola, Sagusagu, Sagusabad, Sagusaqu, Sagupegtas,
Saguwarna, Sagusage, Sagusapir, Sagusatefa, Sagusalay, Sagusalin,
Sagusaib, Sagudihati, Saguberen, Maluku Belajar dan Sagusarif.
Luar biasa, terasa kurang dua jempol tangan ini diacungkan
atas sepak terjang MRR dalam memajukan IGI. Terlebih dari
bincang-bincang bersama MRR terkait penulisan buku ini. MRR
menggunakan sumber daya pribadinya. Perjalannan MRR
memajukan IGI dari nol rupiah kas yang ada di IGI, wajarlah sebagai
organisasi baru belum memiliki sumber dana.
Dan, MRR dengan tulus pasang badan untuk menggerakkan
IGI agar semarak diseluruh pelosok negeri. Kini saat Kemendikbud
meminta untuk meng-kalkulasi dana yang telah dikeluarkan MRR,
maka dengan berat hati tanpa maksud menyombongkan diri ternyata
1,2 Milyar dana yang telah dikeluarkannya. Amazing, begitu besar
angka yang dicapainya, namun saat bergerak merintis, membangun
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 269
IGI, MRR tak pernah menghitung-hitung materi. Ia dengan tulus
ikhlas sebagai penggerak guru-guru di Indonesia.
Sosok MRR membangun IGI bukanlah lepas dari segala
cobaan, namun begitu MRR mampu menghadapi cobaan, tantangan
tersebut sebagai peluang. Kiprahnya membangun kolaborasi dan
kemitraan, sinergi IGI dengan Lembaga Lain menunjukkan kembali
prestasi yang ditorehnya mengemudikan nahkoda kapal organisasi
IGI untuk terus berkomitmen selalu mengembangkan
profesionalisme guru. Diantaranya dengan Organisasi profesi guru,
profesional, LSM, dengan beberapa perusahaan diantaranya
Samsung, telkom, Pertamina, Datascrip, NEC, Indosat, Telkomsel,
Kompas Grup, Sampoerna foundation, Pesona Edu, Pnnacle, dan
lain-lain.
Bersama pemerintah, IGI bersinergi dengan Kemdiknas,
Kemenag, Pemda, Perguruan Tinggi dan juga lembaga pendidikan.
Dalam media, IGI bersinergi dengan media cetak, media elektronik,
media online.
Tak diragukan lagi MRR terus melejit membangun IGI dari
yang paling dasar hingga kini mampu terbang mengudara ke seluruh
pelosok negeri.
MRR mampu menerobos belandara guru, hal ini saya alami
sendiri. Saya dulu sebelum mengenal IGI belum banyak orang tahu
dimana itu Katingan. Namun sejak saya mengenal IGI, berkenalan
dengan Sahabat Sagusaku Menulis Smart IGI yang mempunyai
anggota guru-guru di seluruh pelosok negeri, akhirnya daerah saya
dikenal. Saya pun demikian, awalnya tak tahu tentang beberapa
kabupaten di Indonesia, kini saya jadi tahu dan kenal daerah-daerah
di Indonesia.
Nilai plusnya lagi kami saling memberi inspirasi satu sama
lain. Itulah IGI, mampu menjadi mesin generator guru-guru di
seluruh pelosok Indonesia untuk berkarya.
Setiap kata yang dituturkan MRR mampu membangkitkan
semangat. Dedikasinya untuk terus bertekad memajukan IGI
memotivasi saya untuk juga terus bergerak. Bergeraklah, Selagi
Masih Ada Waktu demikian saya memotivasi diri dari kobaran
semangat MRR.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 270
"Seekor semut kecil membawa rempah-rempah kue berjalan di
karpet, ia begitu semangat membawa rempahan kue itu yang tak
sebanding dengan ukuran tubuhnya terlebih lagi disebuah karpet
yang tampak terjal." (Muhammad Rifqi, Tuhan dalam Rumus-rumus
Fisika). Membaca tulisan diatas, bisa kita bayangkan seekor semut
saja memiliki daya juang yang tinggi untuk memperoleh apa yang ia
inginkan, apa yang ingin diraihnya. Ia yakin betul bahwa Sang Maha
Pencipta bersamanya. Nah, bagaimana dengan kita sebagai manusia
yang diberi kemampuan lebih oleh Sang MahaPencipta. Janganlah
takut bergerak terlebih untuk berlomba-lomba dalam kebaikan
(Fastabiqul Khairat).
Ruh IGI yang dikobarkan MRR di setiap tuturnya dalam
kesempatan membuka pelatihan lewat virtual membuat saya kagum.
Karenanya tak salah MRR dengan bahasanya yang lugas mampu
mengobarkan semangat guru-guru dipelosok Indonesia untuk mau,
dan mampu bergerak dan menggerakkan. Menyebarkan virus-virus
kebaikan.
Setiap perlombaan pasti ada ukuran dan batasnya. Dalam
perlombaan diperlukan media untuk bergerak itulah dimensi ruang.
Contohnya dalam F1, membutuhkan arena sirkuit yang begitu luas.
Pertandingan sepakbola memerlukan lapangan yang ukurannya jelas,
bahkan penontonnya pun membutuhkan kapasitas ukuran bisa 40
ribu bahkan lebih. Tetapi harus diingat bahwa setiap jenis
perlombaan selalu menggunakan stopwatch. Apa artinya ini? Waktu
adalah batasan usia atau hidup kita. Setiap orang berlomba-lomba
dalam berbuat baik, beramal dan berkarya, bukan menjadikan orang
lain pesaingnya.
Setiap orang harus berpacu, berlomba menghadapi waktu yang
diberikan pada dirinya. Uniknya, waktu itu dirahasiakan kapan batas
akhirnya--setiap orang berbeda-beda. Bisa jadi waktunya pendek,
bisa jadi waktunya cukup panjang. Tetapi semuanya pasti dibatasi
waktu. Lalu apa makna rahasianya? Berlomba-lomba untuk beramal
didunia, memberi manfaat bagi orang lain, tepatnya berlomba-lomba
dalam kebaikan adalah menitikberatkan pada aspek kualitas, bukan
kuantitas.
Mengapa? Karena setiap orang memiliki batasan waktu yang
berbeda-beda. Jika hanya aspek kuantitas yang diperhatikan, maka
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 271
menjadi tidak adil jika setiap orang yang harus mengumpulkan amal
baik sebanyak-banyaknya , sementara waktu yang diberikan berbeda-
beda. Nah, karena aspek kualitas yang menjadi ukuran penilaiannya,
maka siapapun manusia yang lahir dan hidup di dunia sebagai ladang
tempat untuk menanam amal dengan berbuat yang terbaik.
Yuk, sama-sama berlomba-lomba dalam hal kebaikan dan
merenung kesalahan untuk memohon ampunan pada-Nya. Mumpung
kita masih di beri waktu demikian ujar syair lagu Ebiet G. Ade.
Begitulah saya menggambarkan sepak terjang MRR dalam
menggerakan guru-guru.
Tak hanya mampu menjadi penggerak dan menggerakan,
MRR pun mapu membakar guru-guru untuk terus belajar, belajar,
dan terus belajar. Berlatih, berlatih dan terus berlatih untuk terus
memperluas kapasitas diri, kompetensi dirinya, karena sosok guru
sebagai ujung tombak wajah pendidikan dimasa depan. Di tangan
gurulah lahir pemimpin-pemimpin bangsa berkualitas dizamannya
nanti.
Kobaran semangat MRR itu menggugah adrenalin saya
sebagai guru di daerah pinggiran Kalimantan Tengah untuk bisa
memperluas kapasitas diri saya. Akhirnya saya tekadkan dalam diri
bahwa “Memperluas Kapasitas Diri di Tengah Tantangan, Siapa
Takut!”
"Tidak, bagiku tidak ada kalah dan menang! Sebab sudah
kuputuskan bahwa kemenangan sudah pasti untukku saja. Kalah
tinggal pada mereka yang lain : yang mengeluh bila terjatuh, yang
menangis bila teriris, yang berjalan berputar-putar dalam belantara."
(Sutan Takdir Alisyahbana dalam Kalah dan Menang). Jadilah
pemenang, bukan pecundang. Itulah syarat untuk bisa meningkatkan
kemampuan dalam melakukan suatu pekerjaan atau menyongsong
kesuksesan dalam berbagai hal. Seorang pemenang akan selalu
menjadikan segala peristiwa yang dijalaninya sebagai pelajaran, baik
itu keberhasilan maupun kesalahan-kesalahan yang telah
dilakukannya. Ketika terjadi kesalahan, ia tidak akan menyalahkan
pihak lain atau menimpakan kesalahan itu kepada orang lain, tapi
menjadikannya pelajaran berharga bagi perbaikan kinerjanya ke
depan.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 272
Awalnya saya ragu akan bisa menulis dan memiliki karya
buku, terlebih dilihat dari kualifikasi pendidikan saya. Namun, hal itu
justru merupakan tantangan tersendiri untuk mencoba memperluas
kapasitas diri. Dengan motivasi dan bimbingan pelatih. Dan itu
berkat IGI. Kapasitas itu adalah ketangguhan menghadapi kesulitan.
Suatu kemampuan untuk terus berjuang dan memberikan hasil yang
terbaik dalam berbagai kondisi yang ada, meskipun diliputi oleh
persoalan-persoalan yang dianggap sukar untuk diatasi.
Tantangan kedepan semakin komplek, Pandemi mengajarkan
kita banyak hal untuk lebih kreatif dan berusaha beradaptasi dengan
kondisi yang ada. Sebagai contoh guru dituntut lebih kreatif didalam
mengajar dengan menyajikan pembelajaran yang menggunakan
perangkat ilmu dan teknologi. Ibarat kata Teori Darwin bahwa
makhluk hidup yang tak mampu beradaptasi dengan lingkungannya
maka ia akan punah.
Nah, kalau kita manusia, makhluk sempurna yang diberi
kelebihan akal dan pikiran oleh Sang Pencipta dituntut untuk mampu
menghadapi tantangan tersebut, jika tidak maka akan tergurus arus
kompleksitas kehidupan yang setiap hari kita dituntut bergerak lebih
cepat, dengan kapasitas dan kemampuan yang lebih besar.
Karena itu mari bersama kita memperluas kapasitas diri kita di
segala bidang. Jika menemui kesulitan yakinlah sesudah kesulitan
pasti ada kemudahan. Indra Utoyo (Direktur CIO Telkom dan Pakar
ICT) dalam bukunya Manajemen Alhamdulillah Melejitkan
Kepemimpinan Diri dengan Teori Quranik menyatakan bahwa
pribadi berkapasitas selalu melihat setiap kesulitan sebagai peluang
dan tugas.
Hidup adalah ujian. Hidup dianggap sebagai media
pengasahan atas kualitas kediriannya sebagai manusia. Hidup
dilukiskan sebagai layar kreasi, kuas motivasi dan gelombang
berhikmah yang sangat ampuh demi meraih kualitas diri yang
tangguh. Jadi, ayo bergerak tuk memperluas kapasitas diri. Ini adalah
salah satu tulisan yang saya goreskan bersama sahabat SaguSaku
Menulis Smart IGI yang setiap hari kami ditempa untuk menulis
setiap hari.
Lagi, IGI mengajarkan saya terus dan terus ingin berkarya.
Petik Bintang, SaguSaku IGI Jembatan Karya Guru
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 273
"SaguSaku-IGI ingin menjadikan penulis bintang semuanya,
bukan bintang semaunya."
Kalimat yang disampaikan Bu Nurbadriyah, M.Pd Founder
SaguSaku IGI menjadi pemantik tersendiri bagi saya. Jalan menjadi
penulis itu perlahan demi perlahan terbentang luas di depan para
peserta dalam balutan Grup SaguSaku Menulis Smart termasuk saya
yang awalnya hanya turut menyimak tulisan-tulisan rekan-rekan guru
hebat se-Indonesia. Lalu mencoba memberanikan diri untuk turut
menulis huruf demi huruf yang terangkai dalam kata dan kalimat.
Tempaan dalam grup SMS IGI sejak pertengahan Maret lalu
hingga kini bukanlah suatu perjalanan yang mudah. Menulis tiap hari
tiada henti hingga akhirnya melewati tahap demi tahap level yang
dilalui hingga kini berada di level 7 merupakan perjuangan yang luar
biasa. Sebuah kegiatan yang di ramu begitu apik oleh orang-orang
hebat di dalamnya terlebih Bu Nurbadriyah selaku PJ Sagusaku IGI
memberi pencerah dan penyejuk jiwa selama masa Pandemi ini.
Bagaimana tidak karena selain membiasakan menulis setiap hari,
kami diberi suguhan materi yang sangat luar biasa dari para
motivator hebat di Indonesia yang berbagi ilmu untuk meningkatkan
wawasan dan kompetensi kami sebagai peran utama seorang
pendidik.
Satu moment dalam satu pekan ini yang tak terlupa dalam
proses perjalanan meraih mimpi sebagai seorang penulis adalah
SaguSaku IGI yang bekerja sama dengan AQLIS TV memberi ruang
yang luar biasa dahsyat untuk kami mempersembahkan Kado Untuk
Negeri. Rasa haru biru menyelimuti hati kami. Bagaimana tidak, 50
guru se-Nusantara yang tergabung dalam grup SMS IGI di beri
kesempatan tampil live streaming mempersembahkan karya
hebatnya. Bagai bintang sehari semua mata terpusat pada seluruh
peserta yang tampil dengan luar biasa memaparkan perkenalan,
kesan-kesan dan karyanya.
Mari kita bergerak bersama, ada kemauan namun tak ada
kesungguhan mustahil menggapai bintang. Sebuah obsesi ingin
memiliki buku karya sendiri saat menyadari kekurangan diri saat
mengikuti Seleksi Guru Berprestasi Tingkat Provinsi menjadi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 274
cambuk terbesar untuk bisa dan berusaha memantaskan diri agar
terus dapat meningkatkan kompetensi. SaguSaku IGI, bagai
jembatan penghubung guru-guru menghasilkan karya hebat. Menulis
dan membaca dua aktivitas yang menjadi ruh dalam pendidikan dan
pengajaran. Jika kita sendiri sebagai guru segan, merasa tidak
sempat, atau beribu alasan lainnya menggelayut dalam hati kita maka
raga pun akan segan untuk melangkah akhirnya jalan menuju bintang
pun terhalang.
Bersama bergerak, yakin suatu saat kelak jejak kita kan
dikenang. Walau terlihat sulit saat ini namun kan menjadi kenangan
di masa mendatang. Ruh untuk terus bergerak inilah yang betul-betul
mengalir diseluruh nadi saya. Bersama IGI dibawah kepemimpinan
MRR saya sangat bersyukur memberi kesempatan saya mengenal
IGI.
Sekali lagi hal ini membuktikan bahwa IGI benar-benar
berperan sebagai mesin generator, mesin penggerak bagi guru yang
ingin berkarya, guru yang ingin mengembangkan terus
kompetensinya, guru yang ingin meraih sejuta prestasi di dalam
mengembangkan pendidikan Indonesia, mencerdaskan kehidupan
bangsa yang tercermin pada Pembukaan UUD Negara RI tahun 1945
alinea ke 4.
Ini artinya IGI sangat bersinergi dengan program-program
Kemdikbud untuk terus menggerakkan guru-guru Indonesia aktif dan
berinovasi, mempunyai nilai lebih terhadap perannya sebagai guru
tak hanya menjalankan tugas utamanya mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, menilai dan mengevaluasi sebagaimana
yang terdapat pada UU no 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Salah satu langkah yang dilakukan dalam menggerakkan guru-
guru aktif adalah sebagai penggerak GELIS (Gerakan Literasi
Sekolah), Kemdikbud memiliki program sama dalam
pengembangannya mewujudkan sekolah model yang memenuhi 8
Standar Nasional Pendidikan, salah satunya menerapkan GLS
(Gerakan Literasi Sekolah), Sagusaku IGI melalui GELIS tak hanya
sekedar normatif program, tapi BERGERAK.
MRR di kepemimpinannya membangun IGI melalui Gerakan
Internet Keluarga (IGA) fokus kegiatannya melakukan kampanye
dan edukasi pemanfaatan internet secara sehat dan amanuntuk
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 275
peningkatan kualitas keluarga Indonesia, dengan dukungan utama
dari CSR Telkom. MRR mampu mempelopori Gerakan Indonesia
Membaca. Membangun Peradaban Melalui Budaya Membaca,
dimana Gerakan Indonesia Membaca (GIM) saat ini sudah
mendapatkan donasi sekitar 120 ribu buku dari PT Sinergi Pustaka
Indonesia dan akan disebar ke SD/MI.
MRR, akhirnya saya mewakili guru-guru di daerah
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengabdian,
membangun IGI menjadi besar.
Dan tentu perjalanan masih panjang, saya yakin MRR tetap
terus membangun di IGI. Ragam jejak kehidupan masih akan
dijalani, ukiran-ukiran prestasi membangun IGI akan terus terukir.
Entah sampai kapan, tak ada seorangpun tahu. Pastinya selama hayat
masih dikandung badan dan masa masih mengiringi langkah, serta
napas masih berhembus diurat leher komitmen bersama IGI akan
terus terpatri.
Karena sejatinya, hidup melalui pengabdian adalah sebuah
perjalanan membangun rumah untuk hati. Bersama membangun
rumah itu dengan pondasi keikhlasan, dinding kesabaran,
atapkebenaran, hingga kelak akan yakin mampu menutup lubang-
lubang kekecewaan, ketidakpastian, dan keraguan denga terus penuh
perjuangan. Bekerja dengan cinta, berarti menyatukan diri dengan
diri kita sendiri, dengan orang lain dan Sang Pemberi Cinta.
Semoga MRR selalu sehat dalam lindungan Allah SWT.
Tumbang Samba, 10 November 2020
Penuh syukur pada pukul 23.50 WIB
======
Chalen Nur Aprilian Feliana, S.Pd kelahiran Cirebon,
10 April 1979. Adalah guru mata pelajaran IPA di
SMPN 1 Katingan Tengah. Domisili di Tumbang
Samba, Kab. Katingan, Kalimantan Tengah. S1
pendidikan biologi, Universitas Palangkaraya. Juara 2
Guru Berprestasi tingkat Provinsi Kalimantan Tengah
tahun 2020.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 276
SEPAK TERJANG MUHAMMAD RAMLI RAHIM
TERHADAP PERKEMBANGAN IGI
Oleh :
Emmawati, S.Pd.
Ibarat kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Sebelumnya
dalam tulisan ini akan saya perkenalkan terlebih dahulu apa itu IGI,
bagaimana IGI tersebut , apa yang ada di kanal IGI. Ikatan Guru
Indonesia (IGI) adalah organisasi guru yang dilinisiasi sejak tahun
2000 dengan nama Klub Guru Indonesia dibawah kepemimpinan
Ahmad Rizali dan secara resmi berbadan hukum pada tanggal 26
November 2009 dan disyahkan oleh Kementrian Hukum dan HAM
dengan Surat Keputusan No. AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009
dengan Ketua Umum Satrian Dharma dan Sekjen Muhammad Ihsan
dari Jatim serta Indra Djati Sidi dari Jabar sebagai Ketua Dewan
Pembina.
Kepengurusan baru 2016-2021 juga telah terdaftar di
Kemenhumkam dengan Surat Keputusan Nomor AHU-
0000308.A.H.01.08.Tahun 2016 dengan Ketua Umum Muhammad
Ramli Rahim dari Sulsel dan Sekjen Mampuono dari Jawa Tengah.
IGI lahir dari keprihatinan akan rendahnya kompetensi guru
Indonesia, pemerintah dalam kajian berbagai pihak dianggap belum
sukses mengangkat kompetensi guru, sementara organisasi guru yang
ada saat itu tak berbuat apapaun dalam rangka peningkatan
kompetensi guru.Sejak mendapat pengesahan resmi dari pemerintah
sebagai organisasi guru, IGI terus berkonsentrasi penuh pada
peningkatan kompetensi guru. Bagi IGI, ujung pangkal dari semua
persoalan pendidikan di Indonesia ada pada rendahnya kompetensi
guru Indonesia baik kompetensi profesional, kompetensi paedagogik,
kompetensi sosial maupun kompetensi kepribadian.
Periode Kedua IGI 2006-2021 telah menandakan masuknya
IGI ke dalam babak baru organisasi guru. Dibawah kepemimpian
Ketua Umum Muhammad Ramli Rahim dan Sekjen Mampuono, IGI
seperi terbang tinggi dalam peningkatan kompetensi guru dan
pengembangan organisasi. Kini IGI sudah hadir di 34 provinsi di
Indonesia dengan lebih dari 400 kabupaten/kota. Tak satupun
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 277
minggu sepanjang Februari 2016 hingga saat ini yang tidak diisi
seminar, workshop, diklat atau simposium kecuali saat Idul Fitri.
Hanya dalam setahun IGI berhasil melakukan workshop dan
diklat yang melibatkan 156.000 guru dengan 575 pelatih dan 17
kanal pelatihan guru.
Di era kini, kita mengenal berbagai gerakan dan program IGI
di antaranya :
1. Gerakan Guru Berintegritas
2. Gerakan Hemat Energi dan Penciptaan Energi Baru dan
Terbarukan.
3. Gerakan peningkatan kemampuan guru Inklusi dan
pendidikan untuk semua
4. Gerakan Guru Saudara
5. Gerakan Bayar Balik
Memasuki tahun 2017, IGI kembali memasuki babak baru, IGI
pun bertransformasi menjadi Induk organisasi guru dengan 100
Organisasi berbasis mata pelajaran dibawah nauangannya. Hal ini
terjadi karena pengembangan kompetensi guru memasuki babak baru
berbasis mata pelajaran. Dengan fokus pada mata pelajaran
diharapkan ke depan IGI mampu menjawab keterbatasan literasi
berbasis mata pelajaran dan rendahnya kompetensi profesionalisme
guru.
Dari 100 organisasi dibawah naungan IGI ini, beberapa di
antaranya sudah bergerak di seluruh Indonesia misalnya Ikatan Guru
Mata Pelajaran (IGMP) Bahasa Indonesia menyelenggarakan TOC
literasi produktif dan Diklat Sagusaku berbasis tablet di 34 provinsi
di Indonesia dengan target 1700 buku dari 1700 guru dalam 10
bulan, lalu Ikatan Guru Mata Pelajaran (IGMP) Matematika yang
akan menyelenggarakan Diklat Sagusapad dan perubahan paradigma
dari menghitung matematika menjadi berpikir matematika di 50
kabupaten/kota di Indonesia.
IGK SD/MI dan IGK PAUD akan menyelenggarakan master
coach camp non IT di Jakarta, lalu dilanjutkan di 34 provinsi di
Indonesaia dan seterusnya. Sementara IGMP Kimia akan
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 278
menyelenggarakan teacher innovation for new and renewable energy
(TINRE 2017) IGMP Kimia di 34 Provinsi di Indonesia.
Pendidikan vokasi juga akan menjadi fokus perhatian khusus
bagi IGI, 64 IGMP berbasis SMK telah dibentuk dan akan bekerja
bersama-sama guru dalam kelompok keahliannya mengembangkan
kemampuan guru yang lainnya. Dengan bantuan teknologi dari
produk Samsung ini, semua akan jauh lebih mudah.
Dengan hadirnya Samsung Smart Learning Class di Makassar,
IGI bisa lebih fokus mengembangkan kemampuan guru spesifik pada
mata pelajaran yang mereka ampuh.
Khusus untuk penggunaan tablet, IGI akan menggelar
Indonesia Tablet Learning (ITL) di 34 Provinsi di Indonesia untuk
mendorong inovasi-inovasi pengajaran berbasis tablet. IGI berharap
pola pembelejaran di sekolah yang dulu menggunakan kapur ke
spidol lalu ke laptop beralih total ke tablet dalam empat tahun ke
depan. Tentunya gerakan ini membutuhkan dukungan dari berbagai
pihak agar pembelajaran menyenangkan, menggembirakan dan jauh
lebih efektif dapat diwujudkan.
Berbagai kanal yang ada di dalam organisasi IGI ini,
mempermudah para guru untuk memilih kanal mana yang dan
diminati oleh para guru. Tinggal kita sebagai guru menyesuaikan
pilihan dan kegiatan apa yang kita minati. Ini dari berbagai
keuntungan kita untuk bergabung dengan IGI. Setelah saya baca dan
saya lihat di medsos bagaimana IGI mulai mengepakan sayapnya di
dunia maya, saya baru tahu bahwa IGI adalah organisasi yang paling
tepat untuk guru yang kreatif dan inovatif.
Memang awalnya saya belum tahu bahwa banyak sekali
organisasi profesi guru yang ada dan telah disyahkan oleh
pemerintah, sebelumnya saya hanya mengetahui PGRI.
Alhamdulilah dengan banyak membaca, punya teman yang hebat
akhirnya kenal dengan IGI. Saya mulai tertarik dan bergabung
dengan IGI pada tahun 2019, ibarat kata keanggotaan saya sebagai
IGI baru seumur jagung. Hari ini mungkin masyarakat bahkan
sebagian guru di negeri kita terutama daerah saya belum begitu
familiar terhadap organisasi profesi pendidik ini. Secara fungsi dan
tujuan sebenarnya semua organisasi di negeri ini bermuara yang
sama layaknya sungai Indragiri tetap bermuara ke laut Malaka jua.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 279
Setiap organisasi mempunyai keistimewaan dan keunikan
masing- masing, begitu juga dengan IGI memiliki juga keistimewaan
tersendiri terkait dengan keberadaan sebuah frasa yang sangat
bermakna “Sharing and Growing Together” sebuah frasa layaknya
sabda raja yang selalu berkeinginan untuk “Saling Berbagi dan
Tumbuh Bersama” dari setiap pendidik yang menjadi anggotanmya.
IGI senantiasa ibarat magnet bagi para pendidik yang mempunyai
keinginan untuk mengasah kemampuan kualitas diri sebagai wujud
insan yang berkeinginan untuk berkembang mengikuti kemajuan
zaman. Melalui IGI baik lewat dunia nyata maupun dunia maya
banyak pendidik yang bergabung dan saling berbagi ilmu,
pengalaman, info peningkatan mutu pendidikan ataupun sejenak
meliburkan diri dari rutinitas mengajar dengan mencari kawan
sepemikiran demi meningkatkan mutu diri.
Keberagaman anggota IGI bisa kita lihat dari asal daerahnya,
serta berbagai disiplin ilmu yang dimiliki. Keberagaman ini tidaklah
menjadikan aral rintangan untuk berkembang, karena seluruh
anggota IGI memilik tujuan yang sama yaitu adanya rasa kepedulian
terhadap dunia pendidikan di negeri yang kita cintai ini, sehingga
perbedaan tersebut dapat kita selaraskan. Dengan adanya kepedulian
terhadap dunia pendidikan ini, menurut hemat saya ini merupakan
seberkas harapan baru di dunia pendidikan, para insan pendidik
saling mengisi dan tumbuh bersama menyulam kekurangan tanpa
terkesan menggurui dan digurui, semuanya ini untuk meningkatkan
mutu kualitas pembelajaran bagi tunas penerus bangsa dalam proses
pembelajaran baik internal maupun eksternal.
Nah, inilah keunikan dan tantangan tersendiri bagi seluruh
anggota IGI untuk saling menjaga keharmonisan dalam
berorganisasi. Inilah yang saya rasakan setelah saya masuk menjadi
anggota IGI wilayah Kabupaten Indragiri Hilir. Walaupun memang
saya masih baru dalam keanggotaan IGI, tapi saya dapat melihat dan
merasakan sendiri. Dalam organisasi IGI saya menemukan konsep
bahwa kita semua adalah saudara tanpa perbedaan asal daerah, umur
dan basis keilmuaan. Tak pernah terjadi konfllik walaupun ada
perbedaan dalam sudut pandang dalam menyelesaikan suatu masalah
melalui dialog.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 280
Selaian itu keharmonisan antaranggota di setiap cabang IGI
terlihat sangat harmonis. Ini terlihat adanya kesinambungan dalam
berkawan secara kehidupan nyata maupun dalam kehidupan dunia
maya. Saling tegur sapa antarpengurus, anggota dengan pengurus
pusat sangat terjalin dengan baik. Hali ni karena kita mempunyai
satu kesamaan dan satu tujuan. Dari beberapa paparan yang saya
sampaikan di atas, ada rahasia dibalik mengapa saya masuk dalam
keanggotaan IGI ini.
Adanya keselarasan dan kekompakan, ini merupakan faktor
kunci bagi kita untuk saling memiliki dan saling bertanggung jawab
atas keberhasilan dunia di negeri kita tercinta. Dengan memberikan
cahaya, menghindari mengutuk kegelapan, serta memberi solusi atau
tidak hanya mengkritik saja. Bagi saya, keselaran hanya akan
membuat bencana dalam berorganisasi. Mengingat banyaknya
perbedaan dalam keanggotaan IGI dan jika tidak semua
diakomodasikan dengan baik maka menghasilkan orientasi yang
berbeda dalam berorganisasi, dan ini semua tidak saya temukan di
dalam IGI.
IGI lebih mengedepankan kebersamaan, oleh karena itu
jarang saya jumpai benturan argumen yang berujung konflik dalam
organisasi. Masing- masing anggota dalam IGI mendapatkan tempat
dan peran masing – masing sehingga tidak terjadi disharmonisasi
hubungan antaraanggota. Menurut gambaran saya di IGI lebih
bersifat umum karena anggota IGI pada khususnya mampu menjadi
pionir jembatan untuk memberi solusi masalah dalam ruang lingkup
pendidikan di negeri ini baik untuk era sekarang dan mendatang.
Dalam IGI perbedaan tidak menganggu dan mengusik untuk saling
berbagi, namun sebaliknya perbedaan itu akan menambah khazanah
informasi rutinitas sebagai pendidik agar mampu berkembang dan
meningkatkan kompetensi diri.
Sikap saling terbuka dalam organisasi, dapat memudahkan
untuk menerima unsur masukan, untuk kemajuan bersama. Dengan
keterbukaan inilah, proses interaksi timbal balik terbentuk dari setiap
anggota. Proses ini juga akan memupuk sikap saling memahami dan
menghormati masing-masing kelebihan dan kekurangan karena sikap
saling memahami dan menghormati sudut pandang. Maka akan dapat
memunculkan rasa memiliki dan merima perbedaan tersebut tanpa
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 281
menghilangkan ciri asli anggota dari segala potensi yang dimiliki.
Hasilnya di IGI tidak saya temukan adanya pihak- pihak yang merasa
terusik walaupun berbeda sudut pandang.
Adapun rahasia kecil lainnya mengapa saya tertarik dengan
IGI adalah karena setiap anggota IGI diberi kebebasan dalam
memberikan usul, saran ekskporasi diri, selagi hal tersebut sesuai
dengan kaidah dan membuat kemajuan bersama. Selain itu, IGI juga
diberi kebebasan untuk menjunjung budayanya sendiri denga syarat
tidak merendahkan budaya orang lain sehingga ini bisa menghindari
terjadinya disharmoni sosial dalam organisasi.
Inilah sedikit rahasia kecil mengapa hati saya tergerak dan
tergugah untuk masuk dalam organisasi IGI. Alhamdulilah saya
menemukan IGI yang mampu bersinergi dengan pribadi saya.
Melalui IGI saya akan mewujudkan diri “ Menjadi Guru Yang
Beruntung” kedatanganya ditunggu, petuahnya diharapkan, mimpi
dan asanya diwujudkan pada siswa- siswinya. Melalui IGI saya akan
menyemaikan mimpi pertiwi di dunia pendidikan. Kejayaan IGI ini
tidak terlepas dari usaha dan perjuangan dari pendiri dan ketum IGI.
Salah seorang Ketum IGI yang sangat berperan adalah Muhammad
Ramli Rahim. Siapa beliau ? Apa sepak terjang beliau di dalam IGI?
Muhamamd Ramli Rahim adalah Ketua Umum Ikatan Guru
Indonesia (IGI) periode 2016-2021. Muhammad Ramli Rahim yang
biasa disapa MRR ini terpilih secara aklamasi pada Kongres II IGI
yang berlangsung tangal 30-31 Januari 2016 di Kota Makassar.
Selain itu, Muhammad Ramli Rahim, Guru SMK Kehutanan Widya
Nusantara Ini juga adalah Presiden Direktur Ranu Corp, gugus
perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan, real estate,
distribusi, dan pertambangan.
Masa kecil Muhammad Ramli Rahim dihabiskan di kampung
halaman, Maros, sebuah kabupaten yang merupakan bagian
dari Provinsi Sulawesi Selatan. Di Maros pulalah tempat Ramli
menuntut ilmu dari pendidikan dasar hingga menengah. Setelah
menamatkan pendidikan menengah, Ramli melanjutkan ke
pendidikan tinggi di Kota Makassar, Universitas Hasanuddin atau
Unhas.
Selama studi di Universitas Hasanuddin inilah jiwa
kepemimpinan MRR mulai terlihat. Di Kampus yang terletak di ibu
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 282
kota Provinsi Sulawesi Selatan ini, Ramli tercatat pernah
menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas
MIPA Unhas, Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas MIPA
Unhas, Ketua HMI Cabangan Makassar Timur, Ketua Parlemen
Mahasiswa Unhas, Ketua Dewan Kader Himpunan Mahasiswa
Kimia Unhas, Ketua Dewan Kader Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas MIPA Unhas, serta beberapa jabatan lain terkait
mahasiswa di luar Universitas Hasanuddin.
Selepas dari studi di Universitas Hasanuddin, Ramli
mendirikan Grup Ranu, yakni perusahaan yang bergerak di bidang
pendidikan, perumahan, dan pertambangan. Di bawah bendera Grup
Ranu ini, Ramli mendirikan PT Ranu Prima College, PT Ranu Niaga
Prima, PT Ranu Globalindo Investama, PT Ranu Transporindo
Indonesia, PT Ranuland Indonesia, PT Ranu Nusantra Insfrastruktur,
serta Yayasan Ranu Prima. Selain itu, Ramli juga aktif mengajar
sebagai guru tetap yayasan di SMK Widya Nusantara Maros serta
menjadi dosen tamu di Universitas Hasanuddin dan Universitas
Islam Timur Makassar.
Memimpin Ikatan Guru Indonesia
Kiprah Muhammad Ramli Rahim dalam kepengurusan Ikatan
Guru Indonesia diawalinya ketika terpilih menjadi Ketua Ikatan Guru
Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan. Saat masih menjadi Ketua IGI
Wilayah inilah, Ikatan Guru Indonesia menyelenggarakan kongres di
Makassar. Pada Kongres II IGI tersebut MRR terpilih secara
aklamasi sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia periode 2016-
2021
Setelah disahkan sebagai orang nomor satu di IGI, sosok yang
pernah masuk dalam bursa calon Bupati Maros ini bertekad untuk
tetap pada program peningkatan kompetensi guru seperti yang telah
dilakukannya ketika memimpin IGI Sulsel. Oleh karena itu, pada
masa kepemimpinannya, IGI akan menjalin kerjasama dengan
berbagai lembaga terkait peningkatan kompetensi ini.
Kendati fokus terhadap peningkatan kompetensi guru, di
bawah kepemimpinan sosok yang sering dipanggil MRR ini IGI juga
tetap melakukan advokasi terhadap para guru yang memerlukan.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 283
Advokasi dilakukan oleh pengurus daerah, wilayah, atau pusat sesuai
kepentingan.
Penghargaan
Aktivitasnya dalam mengelola bisnis dan organisasi
kemasyaratan membawa Muhammad Ramli Rahim menerima
beberapa penghargaan. Penghargaan tersebut antara lain Tokoh
Penggerak Pembangunan dari Harian Berita Kota Makassar (2013
dan 2015) serta Tokoh Pemuda Inspiratif dari Majalah Makassar
Terkini (2016).
Selain dirinya secara personal, perusahaan yang dikelola
Ramli bersama istri, Nurul Fitriany Andi Alimuddin, juga tercatat
beberapa kali menerima penghargaan. Pengharaan tersebut di
antaranya The Best Tutoring Highly Recommended of The Year dari
Indonesia Achievment Center. Penghargaaan yang
ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia, Muhammad Nuh, tersebut diberikan kepada Prima Ranu
College tanggal 7 Februari 2014 di Grand Inna Hotel Bali. Masih
pada tahun yang sama, Prima Ranu College mendapat
penghargaan The Best Favorite College of The Year 2014 pada
ajang Leading Excellent Innovation Award di Grand Sahid Hotel
Jakarta tangal 5 Desember 2014. Tahun 2015, Prima Ranu College
kembali mendapat penghargaan dari Indonesia Achievment Center
sebagai The Best Leading Education of The Year 2015. Penghargaan
ini diberikan di Grand Clarion Hotel tanggal 5 Juni 2015.[butuh
rujukan]
Tahun 2017 Muhammad Ramli Rahim mendapat penghargaan
dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Penghargaan
tersebut terkait usaha dan prestasinya dalam meningkatkan
kompetensi guru di Sulawesi Selatan bersama Ikatan Guru Indonesia
Sulawesi Selatan.
Sepak terjang Muhammad Ramli Rahim terhadap IGI, terlihat
nyata dari usaha beliau membiayai pergerakan IGI dengan kocek
pribadinya. Pada awal berdirinya organisasi IGI ini tidak memiliki
modal apapun. Sebuah organisasi bila tidak ada dana bagaimana
akan berjalan. Di sinilah peran Bapak MRR, IGI walaupun tidak
memiliki dana, tapi masih bisa melakukan berbagai gebrakan. Seperti
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 284
mengadakan kongres IGI di Sulawesi, sedikitpun pada saat itu dana
IGI kosong, tapi alhamdulilah berkat pengorbanan dan usaha dari
bapak MRR, kongres tersebut dapat berjalan dengan sukses, tidak itu
saja IGI sudah banyak menerbangkan para guru untuk memberi dan
menerima ilmu dari dan ke berbagai daerah di Indonesia, nah dari
mana semuanya ini kalau bukan memakai dana pribadi milik MRR.
Selain pengorbanan harta, pengorbanan untuk keluarga pun beliau
lakukan, ya MRR sering terbang ke mana- mana dalam urusan
organisasi IGI ini. Anak istri sering ditinggal dalam waktu yang
panjang, kemudian semenjak beliau sibuk di organisasi IGI, beliau
tidak dapat lagi mengurusi beberapa perusahaannya. Tapi, ini semua
beliau lakukan dengan iklas, hanya satu tekad beliau bagaimana
supaya IGI dapat terbang melalang buana tidak saja untuk wilayah
Indonesia tapi bisa sampai dikenal di luar dari negara Indonesia. IGI
harus dibangun dari kekuatan sendiri, tidak mengajak seseorang
tanpa melakukan sesuatu terhadap diri sendiri
Menurut MRR, kita harus mencari kemampuan lain untuk
membangun IGI, ya selain merogoh kocek sendiri, kekuatan lain
adalah memaksimalkan kekuatan pribadi untuk membangun IGI.
Bapak MRR mempunyai hubungan baik dengan Menteri Pendidikan
Bapak Anis Baswedan. Dengan ada hubungan baik secara pribadi
dapat mempermudah langkah bapak MRR, untuk bergerak. Di
kemedikbud beliau disebut – sebut sahabat Menteri, ya
keuntungannya langkah IGI semakin lancar dan mudah. Mengorban
kan hal-hal yang bersifat pribadi di awal itu menjadi sesuatu
landasan awal untuk IGI bergerak . Modal lain adalah kemampuan
berpikir harus dilakukan secara mandiri secara mandiri harus kita
miliki. Sehingga arah organisasi itu bisa jelas. Menggunaakan
kekutan pribadi untuk membangun IGI, perjuangan yang nyata dari
seorang MRR.
MRR membangun kemadirian organisasi guru, selama ini
organisasi guru selalu bergantung kepada hal-hal di luar kita
misalkan, kita akan mencari pelatih untuk para guru. Nah, hampir
semua pelatih guru berasal dari dosen dan perusahaan lainnya. Jadi
kita selama ini diguru- guru sehingga kita tidak mandiri. Ya
sebagaimana kita ketahui sebelum IGI ada PGRI sangat bergantung
pada keberadaan para dosen dan orang- orang birokrat. Sehingga
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 285
para guru tidak mempunyai kemadirian yang sesungguhnya. Oleh
karena itu, MRR sangat mengharapkan yang pertama kali dibangun
di dalam organisasi IGI itu adalah “sebuah kemandirian” Bagaimana
cara membangun kemandirian itu? Salah satunya adalah
menghadirkan pelatih- pelatih yang lahir dari para guru itu sendiri.
Salah satu adanya kanal Sagusaku. Pertama sekali kita menghadirkan
para pelatih di Sagusaku diambil dari kalangan para guru. Awalnya
memang mereka belum terbiasa member pelatihan, ya wajar ada
kekurangannya.
Berkat mereka sering memberi pelatihan, mereka banyak
belajar, mengetahui kelemahannya, dan mau memperbaiki
kekurangan tersebut akhirnya para guru tersebut sudah menjadi
pelatih yang profesional. Itulah sebenarnya harapan MRR, agar IGI
dapat menghadirkan pelatih- pelatih internal dari kalangan guru
sendiri. Guru itu saling berbagi sesama mereka. Adapun kemandirian
lain yang dibangun oleh MRR adalah kemandirian disisi anggaran.
MRR bertekat tidak akan meminta- minta bantuan ke Kemendikbud,
walaupun beliau ada hubungan baik dengan orang -orang di
Kemendikbud. Sampai-sampai Kemendikbud yang menawarkan
bantuan kepada IGI, tetapi belum menemukan kesepakatan. Prinsip
dari MRR adalah Kemendikbud membantu tapi dengan syarat
mereka tidak boleh menganggu kultur dan karakter yang sudah
dibangun oleh IGI.
Kemandirian yang dibangun oleh MRR adalah segala hal
dapat dilakukan sendiri, tidak bergantung pada dosen, atau
perusahaan lainnya, kemudian bila kita mau memakai sponsor ya
harus diubah dulu menjadi berbasis kegiatan, semua kegiatan
diserahkan kepada IGI. Salah satu contoh sponsor yang dipakai
adalah sponsor dari PT Samsung.
Kemandirian dalam pengelolaan keuangan. IGI yang pertama
kali melakukan manejemen keuangan yang terbuka dan
menggunakan metode yang canggih. Sehingga perselisihan mengenai
keuangan akan dapat dihindari.
MRR juga membangun kemitraan yang berkelanjutan, agar
IGI dapat berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Kebiasaan
suatu organisasi adalah mencari sponsor dalam setiap kegiatannya,
ini sudah dilakukan oleh IGI sendiri. Salah satu perusahaan yang
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 286
telah melakukan kerja sama dengan IGI adalah Samsung. Bagaimana
kerjasama yang dilakukan IGI dengan Samsung? Yaitu IGI
membantu penjualan Samsung tablet, dengan cara membudayakan
pemakaian tablet terhadap guru-guru dan pembiasaan penggunaan
tablet dalam pembelajaran.
Samsung memberi penghargaan kepada IGI bukan dari hasil
penjualan tablet Samsung yang meningkat secara signifikan tapi
karena IGI telah membantu membudayakan penggunaan Samsung
dalam kegiatan pembelajaran. Penghargaan yang diberikan samsung
terhadap IGI salah satunya adalah samsung memberikan sensor cip
di Makasar dan dibangunkannya kelas belajar Samsung di Makasar.
Dengan adanya kerjasama samsung dengan IGI menjadikan
Samsung Indonesia lebih maju daripada Samsung di India.
Ini baru beberapa sepak terjang yang dilakukan MRR terhadap
kemajuan IGI selama beliau memegang jabatan Ketum IGI. Harapan
kami walaupun MRR kelak tidak lagi menjabat sebagai Ketum IGI.
Kami masih membutuhkan pemikiran- pemikiran yang cemerlang
dari MRR. Terima kasih atas semua gebrakan yang MRR lakukan,
semoga kedepannya IGI lebih berjaya lagi. Aamiin.
=====
Emmawati, S.Pd. SD, wanita yang berprofesi sebagai
seorang guru di SDN 010 Tembilahan Kab. Indragriri Hilir
Prov. Riau, merupakan sosok guru yang aktif mengikuti
kegiatan tulis menulis menulis baik SAGUSAKU IGI, 30
Habe, dll.
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 287
GELOMBANG PERUBAHAN ALA MRR
Oleh :
Damsianus Sepulo Tukan, S.Pd
Nurbadriyah, sosok guru muda banyak ilmu dan wawasan
serta berbakat, selalu memberi dukungan dalam pelaksanaan
program Gerakan Literasi Nasional (GLN). Melalui Gelis ala IGI,
selalu menyapa literasi di seluruh nusantara. Di tengah badai Covid -
19, penanggung jawab kanal Sagusaku ini selalu dengan gigih
menyerukan literasi nasional melalui bukti nyata karya buku Jilid 2
MRR. Buku yang berisi perjalanan Ketua Umum IGI
dipersembahkan pada akhir masa jabatannya. Memang benar bahwa
kita sedang dilanda badai corona, virus ganas itu. Datang tak
diundang dan memporakporandakan hampir di setiap sendi
kehidupan kita, termasuk sendi pendidikan menjadi lumpuh.
Namun, kita harus percaya bahwa badai akan berlalu. corona
memang virus, tapi bukan virus pelemah kreativitas para guru tanah
air.
Sebagai Sekretaris IGI Flores Timur, saya menerima tawaran
sekaligus tantangan walaupun sedang dilanda seribu satu kesibukan.
Selain di sekolah juga dipercayakan sebagai trainer di sekolah SMP
Negeri 1 Larantuka, tempat diriku mengabdi. Memang padat pada
bulan November 2020 ini, tapi harus tetap semangat untuk
menghasilkan tulisan. Guru muda berbakat, tidak ada kata : Tidak!
Di sela-sela kesibukan, kuberanikan diri untuk mengambil tantangan
ini.
MRR Membangun Kemandirian Organisasi Guru
MRR, nama yang tidak asing lagi terdengar di telinga,
siapapun mereka, apalagi yang sudah tergabung di IGI. MRR, tiga
(3) huruf yang sudah viral di pelosok tanah air ini, sebenarnya
pemilik dengan nama lengkap Muhammad Ramli Rahim, Ketua
umum IGI periode 2016/2021 . Sejauh pengamatan saya, sejak
bergabung di IGI Flores Timur, sosok MRR memang sangat luar
biasa. Mampu menyatukan seluruh guru di tanah air dalam waktu
yang sangat singkat. Hanya dalam waktu lima tahun. Hal ini bagi
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 288
saya sangatlah sulit untuk mengikuti jejak MRR. Sosok pemimpin itu
bersifat mutlak jika mampu merangkum seluruh anggotanya dalam
sebuah organisasi seperti organisasi profesi IGI. Menjadi pemimpin
memang tidak semudah membalikan telapak tangan kita.
Membutuhkan proses dan penuh perjuangan yang keras. Apalagi
kondisi saat itu dengan minim dukungan dari pemerintah atau
lembaga yang mempunya tujuan yang sama yaitu ikut mencerdaskan
anak bangsa. Jika kita telaah lebih jauh, sangatlah sulit merangkul
seluruh guru hinggga ke pelosok negeri ini. Namun, tidak bagi
pemimpin yang satu ini. Di tengah keterbatasan baik finansial
maupun dukungan moril lainnya, dengan sederhana MRR menyulap
IGI dalam kurun waktu hanya lima tahun berkembang sangat pesat,
maju hingga ke pelosok negeri ini. Apa rahasia dibalik kesuksesan
MRR? Jawaban sangat sederhana, membangun IGI dari kekuatan
berpikir yaitu kekuatan kita, jika mau berkembang dan maju. Jika
kita melihat hanya sepintas, maka sangatlah tidak mungkin. Tetapi,
jika kita analisis lebih jauh maka sangatlah mudah. Kekuatan kita
mampu meluluhlantakan apapun tantangan kita bahkan sekalipun
musuh kita. Sangat signifikan dengan para pemimpin besar kita dulu.
Bung Karno, presiden pertama kita, hanya meminta 10 anak muda
Indonesia, dan terbukti mampu mengguncangkan dunia ini. Hanya
bermodal semangat persatuan dan kesatuan, mampu membawa
Indonesia ke singgahsana. Bebas dari belenggu penjajah. Merdeka!
Indonesia mampu mendapat tempat di mata dunia. Di akui sebagai
negara merdeka. Hanya dengan mengandalkan kekuatan kita. Miris
bahkan sama dengan pikiran MRR, bahwa MRR bukan butuh uang,
bukan juga minta fasilitas organisatoris apalagi minta sekretariat
yang mewah. MRR juga bukan minta tiket peswat untuk bertemu
para guru nusantara. Bukan senjata api buatan Rusia. Juga bukan
tentang sebuah nama MRR. Tetapi, yang MRR butuhkan adalah
kekuatan kita.
Kekuatan kita ada pada kita. Dari kita, oleh kita dan untuk
kita. Sama persis dengan moto semangat gotong royong nenek
moyang kita sejak dahulu kala. Saya adalah Anda, dan Anda adalah
saya. Saya dan anda adalah kita. Kita adalah IGI, dan IGI adalah
Indonesia. IGI maju karena kita. IGI jaya juga karena kita. Siapa lagi
kalau bukan kita, dan kapan lagi kalau bukan sekarang. Dan itu
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 289
sudah dibuktikan oleh yang tehormat MRR yang memimpin IGI
sejak tahun 2016, sosok suara pemimpin yang menggelegar. Mampu
menerobos sekat tapal batas. Antara gunung dan lembah, juga antara
lautan dan ngarai. Bukan rintangan untuk MRR. Sosok pemimpin
yang langka. Penuh dengan kemolekan pada zaman yang canggih
seperti saat ini. Memang menjadi panutan dan suri teladan bagi
generasi berikutnya. Jujur jika diminta untuk memilih siapa sosok
pemimpin yang menginspirasi? Saya harus jujur dengan suara hati
saya bahwa MRR tetap mendapt tempat di hatiku. Sosok pemimpin
yang sangat sederhana namun menggiurkan karena menginspirasi.
Sosok pemimpin yang perjuangannya penuh totalitas. Berani
meninggalkan keluarga, bahkan segala usaha-usaha pendukug
ekonomi keluarga, seperti properti perumahan, pertambngan bahan
galian C, juga bimbingan belajar. Sungguh perjuangan yang luar
biasa. Sosok pemimpin muda yang rela meninggalkan semuanya
bahkan anak istri demi mendekatkan pelayayan kepada anggota IGI
yang berjumlah ribuan orang. Kiprah sosok pemimpin muda seperti
ini memang tidak mudah.
Membangun organisasi sebesar IGI memang sangat sulit.
Apalagi sesuai visi misi IGI yaitu meningkatkan kompetensi guru,
pastinya membutuhkan banyak pelatih. Siapa yang akan melatih
guru-guru Indonesia, terutama guru-guru IGI? Memang sulit pada
masa itu, tidak semua akses jaringan telekomunikasi baik dan lancar
seperti sekarang. Namun, bagi sosok MRR tidak menjadi kendala
yang besar. Seribu satu kendala akan bisa dilalui dengan baik jika
kita fokus. Fokus pada tujuan kita. Fokus pada apa yang mau dicapai.
Sangat sederhana tetapi tidak semua mendapatkan pikiran seperti
MRR. Jika ingin mandiri, kita harus andalkan kekuatan berpikir kita.
Kita tidak lagi bergantung pada orang lain. Hampir sebagian besar
pelatih guru Indonesia itu datangnya dari para dosen dan jabatan
setingkatnya, demikian kalimat yang begitu terdengar seperti terlepas
saja dari mulut seorang MRR. Sepertinya ini lidah pemimpin yang
pengaruhnya sangat kuat. Menggelegar dan masuk menusuk hingga
ke sanubari jiwa kita. Mengakar dan kembali tumbuh mekar
semerbak mewangi hingga ke pelosok negeri seperti yang telah kita
rasakan saat ini. Ini baru pemimpin. Pemimpin milenial masa kini.
MRR membalikkan kebiasaan yang sudah teratur secara struktural
Strategi MRR Mengubah Pendidikan Indonesia Melalui IGI | 290