The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-06-11 00:12:01

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra

Agus Sulaeman, Goziyah

Keterangan:
n = Banyak sampel yang diinginkan
N = Populasi
e = Tingkat kesalahan yang diinginkan

Sebagai contoh penghitungan Rumus Slovin:
Populasi responden PT. Germany Aircraft Indonesia berjumlah 200

pegawai, maka sampel yang kita ambil sebagai penelitian jika menggunakan
rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5% adalah:

N = 200 orang (jumlah populasi/pegawai)
e=
e2 = 0,05 dikuadratkan (0,05 x 0,05 = 0,0025)

200
n=

1+ (200 x 0,0025)

= 200 = 200

1+ 0,5 1,5

= 133,3 dibulatkan 133 orang/responden.

Selain menggunakan rumus di atas, dalam penentuan sampel terhadap
populasi, Roscoe dalam buku Research Methods For Business memberikan
saran-saran tentang ukuran sampel untuk penelitian sebagai berikut:
a. Ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan

500 sampel.
b. Bila sampel dibagi dalam kategori (misalnya: pria-wanita, pegawai negeri-

pegawai swasta, dan lain-lain) maka jumlah sampel setiap kategori minimal
30 orang pegawai.

41

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Contoh: Sampel kategori

Jenis Kelamin Jumlah Sampel Pekerjaan Jumlah Sampel
Pria 30 orang
Wanita 30 orang Pegawai Swasta 30 orang
Total sampel
60 orang Pegawai Negeri 30 orang

Total sampel 60 orang

c. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (misalnya:
korelasi atau regresi berganda), maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali
dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya variabel penelitiannya ada 5
(independen + dependen), maka jumlah anggota sampel = 5 x 10 = 50
responden. Jadi rumusnya:

Rumus: Jumlah variabel x 10

Sebagai contoh:

Jumlah variabel (independen + dependen) = 5 variabel

X1 : Gaya Kepemimpinan

X2 : Kepuasan Kerja Variabel Independen (X)

X3 : Motivasi Kerja

X4 : Kompensasi

Y : Kinerja Pegawai Variabel Dependen (Y)

5 variabel x 10 = 50 pegawai/responden (sampel minimal)

5. Contoh Menentukan Ukuran Sampel
Akan dilakukan penelitian untuk mengetahui tanggapan kelompok

masyarakat terhadap peleyanan pendidikan yang diberikan oleh pemerintah
daerah tertentu. Kelompok masyarakat itu terdiri 1000 orang, yang dapat

dikelompokkan berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu lulusan S1 = 50, D3 = 300,
SMK = 500, SMP = 100, SD = 50 (populasi berstrata).

Sebelum menentukan jumlah sampel berdasarkan strata pendidikan,
terlebih dahulu tentukan jumlah sampel secara umum berdasarkan 1000
populasi dengan menggunakan rumus sampel di atas. Maka di dapat, bila jumlah
populasi 1000, dengan kesalahan 5%, maka jumlah sampelnya:

42

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

n = 1000
1 + (1000 x 0,052)

n = 1000

1 + (1000 x 0,0025)
n = 1000

1 + 2,5
n = 286 orang/responden

Selanjutanya, karena populasi berstrata, maka sampelnya juga berstrata.
Stratanya ditentukan menurut jenjang pendidikan. Dengan demikian masing-
masing sampel untuk tingkat pendidikan harus proporsional sesuai dengan
populasi. Maka dilakukan penghitungan dengan cara:
S1 = 50/1000 x 286 = 14
D3 = 300/1000 x 286 = 86
SMK = 500/1000 x 286 = 143
SMP = 100/1000 x 286 = 28
SD = 50/1000 x 286 = 14

Jadi, masing-masing untuk jenjang pendidikan, untuk S1 dapat
menggunakan 14 responden, D3 menggunakan 86 responden, SMK
menggunakan 143 responden, SMP menggunakan 28 responden, dan SD
menggunakan 14 responden.

C. Data dan Sumber Data dalam Penelitian Kualitatif
Terdapat perbedaan yang mendasar dalam pengertian antara pengertian

“populasi dan sampel” dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian
kuantitatif, populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah
sebagian dari populasi itu. Populasi itu misalnya penduduk di wilayah tertentu,

43

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

jumlah pegawai pada organisasi tertentu, jumlah guru dan murid di sekolah tertentu
dan sebagainya.

Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh
Spradley dinamakan “social situation” atau situasi sosial yang terdiri atas tiga
elemen, yaitu: tempat (place), pelaku (actors), aktivitas (activity) yang berinteraksi
secara sinergis. Situasi sosial tersebut, dapat di rumah berikut keluarga dan
aktivitasnya atau orang-orang di sudut-sudut jalan yang sedang mengobrol, atau di
tempat kerja, di kota, desa, di sekolah atau wilayah suatu negara. Situasi sosial
tersebut, dapat dinyatakan sebagi obyek penelitian yang ingin dipahami secara lebih
mendalam “apa yang terjadi” di dalamnya. Pada situasi sosial atau obyek penelitian
ini peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas (activity) orang-orang
(actors) yang ada pada tempat (place) tertentu.

Tetapi, obyek penelitian kualitatif juga bukan semata-mata pada situasi sosial
yang terdiri atas tiga elemen tersebut, tetapi juga bisa berupa peristiwa alam,
tumbuh-tumbuhan, binatang, kendaraan, dan sebagainya. Seorang peneliti yang
mengamati secara mendalam tentang perkembangan tumbuh-tumbuhan tertentu,
kinerja mesin, menelusuri rusaknya alam, adalah merupakan proses penelitian
kualitatif.

Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi karena penelitian
kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dan
hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi, tetapi ditransferkan ke tempat
lain pada situasi sosial yang memiliki kesamaan dengan situasi sosial pada kasus
yang dipelajari. Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden,
tetapi sebagai narasumber atau partisipan, informan, teman dan guru dalam
penelitian. Maka dari itu, dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah
“populasi dan sampel” tetapi menggunakan istilah “data dan sumber data”. Sampel
dalam penelitian kualitatif, juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis
karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori. Sampel dalam
penelitian kualitatif juga disebut sebagi sampel konstruktif karena dengan sumber
data dari sampel itu dapat dikonstruksikan fenomena yang semula masih belum
jelas.

44

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Menurut Lofland (1984, dalam Moleong, 2013: 157), data utama dalam
penelitian kualitatif ialah berupa kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Pada penelitian kualitatif, peneliti memasuki situasi sosial tertentu, yang
dapat berupa lembaga pendidikan tertentu, melakukan observasi dan wawancara
kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut. Penentuan
sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan secara purposive, yaitu
dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu (Sugiyono, 2011: 299). Hasil
penelitian tidak akan digeneralisasikan ke populasi karena pengambilan sampel
tidak dilakukan secara random. Hasil penelitian dengan metode kualitatif hanya
berlaku untuk kasus situasi sosial tersebut. Hasil penelitian tersebut dapat
ditransferkan atau diterapkan ke situasi sosial (tempat lain), apabila situasi sosial
lain memiliki kemiripan atau kesamaan dengan situasi sosial yang diteliti.

D. Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah

purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah teknik
pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan
tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang
kita harapkan atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan
peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti. Snowball sampling adalah
teknik pengambilan sampel sumber data yang pada awal jumlahnya sedikit, lama-
lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit
itu tersebut belum mampu memberikan data yang lengkap, maka mencari orang lain
lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sampel
sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama
menjadi besar.

Lincoln dan Guba (1994:133) mengatakan bahwa penentuan sampel dalam
penelitian kualitatif sangat berbeda dengan penentuan sampel dalam penelitian
kuantitatif. Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif tidak didasarkan

45

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

perhitungan statistik. Sampel yang dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi
yang maksimum bukan untuk digeneralisasikan.

Jadi, penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan saat peneliti
mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. Caranya yaitu,
peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang
diperlukan, selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari sampel
sebelumnya itu, peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan
akan memberikan data lebih lengkap. Jadi, unit sampel yang dipilih makin lama
makin terarah sejalan dengan makin terarahnya fokus penelitian. Penentuan unit
sampel (responden) dianggap telah memadai apabila telah sampai kepada taraf
“redundancy” (datanya telah jenuh, ditambah sampel lagi tidak memberikan
informasi yang baru), artinya bahwa dengan menggunakan sumber data selanjutnya
boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti. Jadi,
yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah “tuntas” dan “kepastian”
perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada, bukan banyaknya sumber
data.

Dalam proposal penelitian kualitatif, sampel sumber data yang dikemukakan
masih bersifat sementara. Namun demikian pembuat proposal perlu menyebutkan
siapa-siapa yang kemungkinan akan digunakan sebagai sumber data. Misalnya
akan meneliti gaya belajar anak jenius, maka kemungkinan sumber datanya adalah
orang-orang yang dianggap jenius, keluarga, guru yang membimbing, serta kawan-
kawan dekatnya. Selanjutnya, misalkan meneliti tentang gaya kepemimpinan
seseorang, maka kemungkinan sumber datanya adalah pemimpin yang
bersangkutan, bawahan, atasan, dan teman sejawatnya, yang dianggap paling tahu
tentang gaya kepemimpinan yang diteliti.

Spradley menyatakan bahwa sampel sebagai sumber data atau sebagai
informan sebaiknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi,

sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayatinya.
2. Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan

yang tengah diteliti.

46

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

3. Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi.
4. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil “kemasannya”

sendiri.
5. Mereka yang pada mulanya tergolong “cukup asing” dengan peneliti sehingga

lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau narasumber.

47

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

BAB IV

Pengembangan Instrumen Penelitian

A.Pendahuluan
Mutu suatu penelitian salah satunya dapat ditentukan dengan Instrumen

penelitian yang digunakan. Sehingga Instrumen memegang peranan yang sangat
penting dalam suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh
akan sangat ditentukan oleh kualitas atau validitas instrumen yang digunakan, di
samping prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami
karena instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika
instrumen yang digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan
reliabel maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan
sesungguhnya di lapangan. Sedangkan jika kualitas instrumen yang digunakan tidak
baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang
diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga
dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan
instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat
sendiri. Instrumen yang telah tersedia pada umumnya adalah instrumen yang sudah
dianggap baku untuk mengumpulkan data variabel-variabel tertentu.

Dengan demikian, jika instrumen baku telah tersedia untuk mengumpulkan
data variabel penelitian maka kita dapat langsung menggunakan instrumen tersebut,
dengan catatan bahwa teori yang dijadikan landasan penyusunan instrumen
tersebut sesuai dengan teori yang diacu dalam penelitian. Selain itu konstruk
variabel yang diukur oleh instrumen tersebut juga sama dengan konstruk variabel
yang hendak diukur dalam penelitian. Akan tetapi, jika instrumen yang baku belum
tersedia untuk mengumpulkan data variabel penelitian, maka instrumen untuk
mengumpulkan data variabel tersebut harus dibuat sendiri oleh peneliti.

48

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Dalam rangka memahami pengembangan instrumen penelitian, maka
berikut ini akan dibahas mengenai beberapa hal yang terkait, diantaranya
pengertian konstruk, Variabel, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas.

B. Konstruk (Variabel)
Sebelum membahas teori Kuantitatif, peneliti perlu memahami variabel-

variabel dan jenis-jenisnya yang akan digunakan dalam membangun teori. Variable
merujuk pada karakterisitik atau atribut seorang individu atau suatu organisasi yang
dapat diukur atau di observasi Cresswell, (2010:76). Ahli psikologi lebi suka
menggunakan istilah konstruk (ketimbang variabel), yang memiliki konotasi gagasan
yang lebih abstrak ketimbang istilah yang didefinisikan secara spesifik. Namun
demikian, ilmuwan sosial biasanya menggunakan istilah variable.

Konsep adalah abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada
kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan. Suatu konsep adalah
elemen dari proposisi seperti kata adalah elemen dari kalimat. Konsep adalah
abstrak di mana mereka menghilangkan perbedaan dari segala sesuatu dalam
ekstensi, memperlakukan seolah-olah mereka identik. Konsep adalah universal di
mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap ekstensinya.

Konsep-konsep dasar penelitian meliputi: konsep, konstruk, dan variabel.
Konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal
khusus Kerlinger, misalnya: 10 m, 11,5 gallon dijeneralisasikan sebagai "volume".
Merah, hijau, kuning, dijeneralisasikan sebagai "warna". Membaca buku,
mendengarkan kuliah, mengerjakan pekerjaan rumah dijeneralisasikan sebagai
"belajar". Volume, warna, dan belajar adalah konsep. Tetapi setelah pengertiannya
dibatasi secara khusus sehingga dapat diamati, ia berubah menjadi "konstruk".
Dengan perkataan lain bahwa konstruk adalah konsep yang dapat diamati dan
diukur.

Kerlinger (1973:28) mengemukakan bahwa teori merupakan seperangkat
konstruk (variabel-variabel), definisi-definisi, dan proposisi proposisi yang saling
berhubungan yang mencerminkan pandangan sistematik atas suatu fenomena

49

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

dengan cara memerinci hubungan antarvariabel yang ditunjukan untuk menjelaskan
fenomena alamiah.

Berdasarkan teori di atas teori merupakan seperangkat konstruk (atau
variabel) yang saling berhubungan, yang berasosiasi dengan proposisi atau
hipotesis yang memerinci hubungan antar variabel. Suatu teori dalam penelitian bisa
saja berfungsi sebagai argumentasi, pembahasan, atau alasan. Creswel (2014:15)
mengemukakan Teori biasanya membantu menjelaskan (atau memprediksi)
fenomena yang muncul di dunia. Usaha mengetahui bagaimana dan mengapa
variabel-variabel dan pernyataan rasional saling berhubungan satu sama lain.
Mengapa variabel bebas X, berpengaruh atau berefek pada variabel terikat Y?
Dalam hal ini, teori akan menyediakan penjelasan atas ekspektasi atau prediksi atas
keterhubungan ini. Pembahasan mengenai teori biasanya muncul di bagian tinjauan
pustaka atau bagian tinjauan pustaka atau di bagian khusus, seperti landasan teori,
logika teoritis, atau perspektif teoretis.

Konstruk merupakan jenis konsep tertentu yang berada dalam tingkatan
abstraksi yang lebih tinggi dari konsep dan diciptakan untuk tujuan teoritis
tertentu.Konsep dihasilkan oleh ilmuwan secara sadar untuk kepentingan
ilmiah.Konstruk dapat diartikan sebagai konsep yang telah dibatasi pengetiannya
(unsur, ciri, dan sifatnya) sehingga dapat diamati dan diukur.untuk mengukur
konstruk, maka perlu untuk mengidentifikasi nilai atau nilai bisa berasumsi. Sebagai
contoh konstruk kepribadian dapat diukur dengan mendefinisikan dua tipe
kepribadian, introvert dan ekstrovert, dapat diukur melalui skor yang terdapat dari 30
pertanyaan, yang semakin tinggi skornya menunjukkan kepribadian introvert
seseorang dan semakin rendah skor menunjukkan kepribadian ekstrover. Jadi
konstruk berubah menjadi variabel apabila konstruk tersebut sifat-sifatnya sudah
diberi nilai dalam bentuk bilangan.
1.Variabel
a.Pengertian dan Macam Variabel

Istilah “variabel” merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap
jenis penelitian. Arikunto (2006:125) mendefinisikan variabel sebagai gejala yang
bervariasi misalnya jenis kelamin, karena jenis kelamin mempunyai variasi: laki-laki-

50

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

perempuan; berat badan, karena ada berat 40 kg dan sebagainya. Gejala adalah
objek penelitian, sehingga bervariasi. Sedangkan Creswel (2014:28) variabel
merujuk pada karakteristik atau atribut seorang indivdu atau suatu organisasi yang
dapat diukur atau diobsevasi. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu
penelitain.

Variabel adalah kondisi-kondisi atau karakteristik-karaktristik yang oleh
pengeksperimen dimanipulasi, dicontrol atau diobservasi”. Konsep yang mempunyai
bermacam-macam nilai. Dalam penelitian, variabel dibagi dalam tiga kategori: (1)
independent variable dan dependent variable, (2) variabel aktif dan variabel atribut,
(3) variabel kontinum dan variabel diskret.Variabel yang diduga sebagai penyebab
disebut variabel bebas dan variabel yang diduga sebagai akibat atau yang
dipengaruhi disebut variabel terikat. Menurut Suharsimi (2006: 121) terdapat
beberapa jenis variabel, yakni:
b.Varibel Diskrit dan Kontinue

1) Variabel Diskrit
Variabel Diskrit disebut juga variabel nominal atau variabel kategori
karena hanya dapat dikategorikan atas 2 kutub yang berlawanan yakni
“ya” dan “tidak”. Misalnya ya wanita, atau dengan kata lain: “wanita-pria”,
”tidak hadir”, “atas-bawah”, angka-angka digunakan dalam variabel diskrit
ini untuk menghitung, yaitu banyaknya pria, banyaknya yang hadir dan
sebagainya. Maka angka dinyatakan sebagai frekuensi.

2) Variabel Kontinu
Variabel Kontinu dipisahkan menjadi variabel kecil yaitu:
(a) Variabel ordinal, yaitu variabel yang menunjukan tingkatan misalnya
panjang, kurang panjang, pendek, untuk sebutan lain adalah variabel
“lebih kurang” karena yang mempunyai kelebihan dibandingkan yang
lain. Contoh Dhinar terpandai, Toni pandai, Nana tidak pandai.
(b) Variabel interval, yaitu variabel yang mempunyai jarak, dibanding
dengan variabel lain, sedang jarak itu sendiri dapat diketahui dengan
pasti. Misalnya jarak Balaraja-Kronjo 25 km, sedangkan Kronjo-

51

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Jakarta 120 km. Maka selisih jarak Kronjo-Jakarta, yaitu 95 km.
Dibandingkan dengan variabel ordinal, jarak dalam variabel ordinal
tidak jelas. Jarak kepandaian antara Dhinar dan Tundreng tidak dapat
diukur.
(c) Variabel ratio, yaitu variabel perbandingan. Variabel ini dalam
hubungan antar -sesamanya merupaka sekian kali. Misalnya berat Pak
Selamet 90 kg, sedangkan anaknya 40 kg. Maka pak selamat beratnya
dua kali berat anaknya.
c. Variabel dependen dan Independen
Dalam hal terdapat hubungan antara dua variabel, misalnya antara
variabel Y dan variabel X, jika variabel Y disebabkan oleh variabel X, maka dapat
dikatakan:
Y = variabel dependen
X = variabel independen
Contoh:
Jika dipikirkan ada hubungan antara motivasi belajar dan prestasi belajar,
di mana dengan meningkatnya motivasi belajar, prestasi belajar juga
akan meningkat, maka:
 Prestasi Belajar = variabel dependen (terikat dengan motivasi)
 Motivasi Belajar = variabel independen (variabel bebas) yang akan
mempengaruhi prestasi belajar
a) Variabel Aktif dan Variabel Atribut

Variabel aktif merupakan variabel yang dimanipulasikan oleh peneliti. Jika
peneliti memanipulasikan metode mengajar, cara menghukum mahasiswa, maka
metode mangajar, cara menghukum, adalah variabel aktif, karena variabel ini
dapat dimanipulasikan. Sementra Variabel atribut merupakan variabel yang tidak
dapat atau sukar untuk dimanipulasi. Variabel atribut umumnya merupakan
karakteristik manusia seperti intelegensia, jenis kelamin, status sosial,
pendidikan, sikap, dan sebagainya. Variabel yang merupakan inanimate objects
juga merupakan contoh variabel atribut seperti populasi, rumah tangga, daerah
geografis, dan sebagainya

52

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

2.Karekteristik Pengukuran Instrumen

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, oleh karena itu harus
ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen
penelitian. Jadi, instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk
mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Menurut Suharsimi
(2006:134), instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan
digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut
menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.

Di dalam kegiatan penelitian, wawancara, observasi kuesioner, dan
dokumentasi, yang kesemuanya merupakan sebagian dari metode pengumpulan
data. Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode
wawancara, maka di dalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewancara
menggunakan alat bantu. Secara minimal alat bantu tersebut berupa ancer-ancer
pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai catatan, serta alat tulis untuk menuliskan
jawaban yang diterima. Ancer-ancer ini disebut pedoman wawancara. (interview
guide). Oleh karena pedoman wawancara ini merupakan alat bantu, maka disebut
juga instrumen pengumpul data. Dengan demikian maka dalam menggunakan
metode wawancara, instrumennya adalah pedoman wawancara.

Instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan suatu metode.
Untuk beberapa metode, kebetulan istilah bagi instrumennya memang sama dengan
nama metodenya:
a. Instrumen untuk metode tes adalah tes atau soal tes;
b. Instrumen untuk metode angket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner;
c. Instrumen untuk metode observasi adalah chek-list; dan
d. Instrumen untuk metode dokumentasi adalah pedoman dokumentasi atau dapat

juga chek-list.
Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan

untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan
selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian
dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan

53

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

penyusunan instrumen, maka perlu digunakan “matrikpengembangan instrumen”
atau kisi-kisi instrumen”.

Untuk dapat menetapkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti,
maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti,
dan teori-teori yang pendukungnya.Penggunaan teori untuk menyusun instrumen
harus secermat mungkin agar diperoleh indikator yang valid. Caranya dapat
dilakukan dengan membaca berbagai referensi.

Instrumen penelitian itu merupakan salah satu komponen penting yang
diperlukan dalam proses penelitian. Dalam konteks pembelajaran, instrumen
penelitian jenis tes dijadikan alat untuk mengukur hasil belajar. Kadangkala dalam
proses pembelajaran, aspek evaluasi hasil belajar ini diabaikan. Artinya, dosen, guru
atau instruktur terlalu memperhatikan penyajian pelajaran saja. Perkuliahan atau
pelajaran berjalan baik, praktikum berjalan rapi, namun saat membuat tes atau soal
praktikum, tidak lagi melihat tujuan pembelajaran yang pernah dibuatnya di SAP
atau RPP. Akibatnya, tes hasil belajar yang dibuat terkesan seperti jatuh dari langit
saja. Artinya, dosen atau guru membuat soal tes menjadi seadanya atau seingatnya
saja, tanpa harus memenuhi kriteria pembuatan tes yang baik dan benar. Misalnya
apakah soal ujian tersebut sudah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan;
apakah memperhatikan aspek kognitif, afektif atau psikomotorik dan sebagainya.
Penyusunan tes hasil belajar yang menggunakan instrumen untuk keperluan
penelitian, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Tes tersebut fungsinya dapat memperoleh informasi tentang kemampuan subjek

penelitian.
b. Mendiskusikan tentang fungsi penilaian untuk memperoleh pemahaman tentang

hal-hal apa saja yang dapat dinilai melalui pelaksanaan suatu tes. Apakah
sekedar memberi nilai untuk menentukan lulus atau tidaknya mahasiswa atau
siswa tersebut. Ataukah ada fungsi-fungsi lain yang ingin dicapai melalui
penilaian tersebut, misalnya data yang diperoleh digunakan untuk penelitian.
c. Menentukan kriteria penilaian untuk kepentingan penelitian. Ini berarti untuk
melakukan penilaian yang baik dibutuhkan mutu soal tes yang baik pula. Dalam
praktek pengajaran, tes dilaksanakan dengan memberikan serangkaian soal tes

54

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

hasil belajar. Semakin bermutu tes yang diberikan maka semakin terandalkan
pula penilaian yang diperoleh dan hal ini berdampak pada makin baik data yang
diperoleh untuk keperluan penelitian.
d. Merancang soal-soal yang diberikan kepada sunjek penelitian dalam suatu
struktur yang sedemikian rupa, sehingga jumlah dan derajat kesukaran soal yang
tetap relevan dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
dalam Rancangan Kegiatan Belajar Mengajar (RKBM).
e. Mengingat derajat kesukaran soal dapat berbeda satu dengan lainnya, tiap-tiap
soal perlu mendapat bobot soal menurut relevansinya dengan tujuan belajar.
f. Sesudah proses membuat, menstrukturkan dan menentukan bobot soal, maka
soal-soal tersebut disajikan melalui ujian. Setelah itu dilakukan pengukuran dan
penilaian hasil untuk keperluan penelitian.
3.Jenis-jenis Metode atau Instrumen Pengumpul Data

Berbicara tentang jenis-jenis metode dan instrumen pengumpulan data
sebenarnya tidak ubahnya dengan berbicara maslah evaluasi. Mengevaluasi tidak
lain adalah memperoleh data tentang status sesuatu dibandingkan dengan standar
atau ukuran yang telah ditentukan, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan
pengukuran. Mendasarkan pada pengertian ini, maka apabila kita menyebut jenis
data dan alat atau instrumen pengumpulan data, maka sama saja dengan menyebut
alat evaluasi, atau setidak-tidaknya hampir seluruhnya sama.

Secara garis besar, maka alat evaluasi yang digunakan dapat digolongkan
menjadi dua macam, yaitu:
a. Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan
untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat
yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
b. Angket atau Kuesioner (questionnaires)
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tenang pribadinya, atau
hal-hal yang ia ketahui. Kuesioner dipakai untuk menyebut metode maupun

55

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

instrumen. Jadi dalam menggunakan metode angket atau kuesioner instrumen
yang dipakai adalah angket atau kuesioner.
c. Interview (interview)
Interview yang sering juga disebut dengan dengan wawancara atau kuesioner
lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer).
Untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer). Interview
digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk
mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan,
prhatian, sikap terhadap sesuatu.
d. Observasi
Orang seringkali mengartikan observasi sebagai suatu aktiva yang sempit, yakni
memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Di dalam pengertian
psikologi, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi
kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan
seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan,
penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap.
e. Skala Bertingkat (Rating) atau rating scale
Rating atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala.
Walaupun bertingkat ini menghasilkan data kasar, tetapi cukup memberikan
informasi tertentu program atau orang. Instrumen dapat dengan mudah
memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang
menjalankan tugas, yang menunjukan frekuensi munculnya sifat-sifat.
f. Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis
seperti buku-buku, majalah, dokumen, perturan-peraturan, notulen rapat, catatan
harian, dan sebagainya.
4.Validitas dan Reliabilitas

Validitas dan reliabilitas merupakan dua unsur yang tak terpisahkan dari suatu
alat ukur. Suatu alat ukur yang telah memenuhi unsur validitas dapat dikatakan
bahwa alat ukur tersebut juga memenuhi unsur-unsur reliabilitas. Namun demikian,
suatu alat ukur yang telah memenuhi unsur-unsur reliabilitas belum tentu alat ukur

56

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

tersebut juga memenuhi unsur-unsur validitas. Reliabilitas sendiri belum merupakan
kriteria yang cukup untuk menyimpulkan bahwa alat ukur tersebut sudah valid. Jadi,
bisa terjadi bahwa ada alat ukur yang reliabel namun tidak valid. Alat ukur yang valid
dan reliabel untuk penelitian yang satu belum tentu valid dan reliabel untuk
penelitian lainnya.

Kalau reliabilitas mengacu pada konsistensi dari hasil pengukuran, validitas
suatu alat ukur mengacu pada sejauh mana hasil pengukurannya dapat
menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Bila dalam suatu tes kemampuan
berbicara dalam bahasa Inggris A mendapatkan nilai lebih tinggi dari B, dan C
mendapatkan nilai yang sama dengan B, maka perbedaan antara A dan B serta
kesamaan antara B dan C merupakan fakta di lapangan. Fakta sehari-hari harus
menunjukkan bahwa A memang mempunyai kemampuan berbicara dalam bahasa
Inggris lebih baik dari B dan C, dan B mempunyai kemampuan yang relatif sama
dengan C. Seandainya hasil tes tersebut dapat menggambarkan fakta yang
sesungguhnya, alat ukur yang digunakan untuk menilai kemampuan berbicara
dalam bahasa Inggris tersebut dapat dikatakan sebagai alat ukur yang valid.

Dari penjelasan tersebut bisa terjadi ada suatu alat ukur yang reliabel namun
tidak valid. Bila alat ukur yang digunakan sudah valid, alat ukur tersebut dapat
dikatakan sudah memenuhi aspek reliabilitas, karena suatu alat ukur yang
mempunyai reliabilitas rendah berarti alat ukur tersebut tidak valid.
a. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan
atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih
mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti
memiliki validitas rendah.

Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
diinginkan. Sebuah instrumen dikatakn valid apabila dapat mengungkap data
dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen
menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran
tentang validitas yang dimaksud.

57

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Memperoleh instrumen yang valid peneliti harus bertindak hati-hati sejak
awal penyusunnanya. Dengan mengikuti langkah-langkah penyusunan
instrumen, yakni memecah variabel menjadi sub-variabel dan indiktor baru
memuaskan butir-butir pertanyaannya, penliti sudah berhati-hati. Apabila cara
dan isi tindakan ini sudah betul, dapat dikatakn bahwa peneliti sudah boleh
berharap memperoleh instrumen yang memiliki validitas logis. Dikatakn validitas
logis karena validitas ini diperoleh dengan suatu usaha hati-hati melalui cara-
cara yang benar sehingga menurut logika akan dicapai suatu tingkat validitas
yang dikehendaki.

Ada dua macam validitas sesuai dengan cara penyajiannya, yaitu validitas
eksternal dan validitas internal.
1) Validitas Eksternal

Instrumen yang dicapai apabila data yang dihasilkan dari instrumen tersebut
sesuai dengan data atau informasi lain yang mengenai variabel penelitian
yang dimaksud.
2) Validitas Eksternal
Validitas eksternal dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian
instrumen dengan instrumen secara keseluruhan. Dengan kata lain sebuah
instrumen dikatakan memiliki validitas internal apabila setiap bagian
instrumen mendukung “missi” instrumen secara keseluruhan, yaitu
mengungkap data variabel yang dimaksud.

Sementara itu, dalam penelitian pengajaran bahasa asing ada lima jenis
validitas dari alat ukur, yaitu validitas tampilan, validitas isi, validitas prediktif,
validitas konstruk, dan validitas kesetaraan.
a. Validitas Tampilan (Face validity)

Ada kemungkinan validitas tipe ini tidak terlalu ilmiah dan hanya berdasarkan
kebiasaan yang ada, misalnya format penyusunan pilihan-pilihan dalam soal
pilihan ganda.Seiring dengan perkembangan teori belajar bahasa asing,
validitas tampilan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.Contohnya
saja untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris dalam bentuk tulisan
sudah mulai popular sehingga tes semacam TOEIC (test of English for

58

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

International Communication) atau JLPT (Japanese Language Proficiency
Test) yang dilaksanakan secara tertulis dan valid.
b. Validitas Isi (Content validity)
Validitas isi terkait dengan seluruh butir-butir soal yang ada dalam suatu alat
ukur. Untuk memenuhi validitas tipe ini peneliti harus melihat seluruh indikator
yang berupa butir-butir soal dan menganalisisnya apakah alat ukurnya secara
keseluruhan telah mewakili dari materi yang akan diukur. Contoh validitas isi
adalah tes bakat kebahasaan. Bakat kebahasaan sering didefinisikan sebagai
kemampuan dasar seseorang untuk belajar bahasa yang mencakup ranah
kosa kata, minat, analisa kebahasaan, pembedaan suara dan kemampuan
berasosiasi antara simbol dan suara. Bila alat ukur tersebut dikembangkan
berdasarkan definisi itu, alat ukur tersebut harus memenuhi ke lima ranah
tersebut.
c. Validitas Prediktif (Predictive validity)
Validitas alat ukur yang terkait dengan kemampuan memprediksi fenomena di
masa mendatang disebut validitas prediktif. Validitas ini mengambarkan
sejauh mana hasil tes dari suatu alat ukur mempunyai korelasi dengan suatu
keberhasilan belajar di masa mendatang. Dengan kata lain, suatu alat ukur
yang mempunyai validitas prediktif dapat digunakan untuk memprediksi
apakah seseorang akan lebih berhasil atau kurang berhasil dalam belajar
sesuatu.
d. Validitas Konstruk (Construct validity)
Validitas konstruk diperlukan untuk alat ukur yang mempunyai beberapa
indikator dalam mengukur satu aspek atau konstruk. Bila ada alat ukur yang
mempunyai beberapa aspek dan setiap aspek diukur dengan beberapa
indikator, indikator yang sejenis harus berasosiasi positif satu dengan lainnya.
Sebaliknya, indikator-indikator tersebut harus berasosiasi negatif dengan
indikator lainnya bila indikator tersebut mengukur aspek yang berbeda atau
berlawanan.

59

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

e. Validitas Kesetaraaan (Concurrent validity)
Alat ukur yang baru dikembangkan dalam suatu penelitian membutuhkan
validitas kesetaraan. Validitas kesetaraan mengukur sejauh mana alat ukur
yang baru tersebut dapat dikorelasikan dengan alat ukur sejenis yang sudah
terbukti validitasnya.

b. Reliabilitas
Reliablitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup

dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen
tersebut sudah baik. Instrumennya yang baik tidak akan bersifat tendensius
mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen
yang sudah dapat dipercaya, yang realiabel akan menghasilkan data yang dapat
dipercaya juga. Apabila memang datanya benar sesuai dengan kenyataannya,
maka berapa kali pun diambil, tetap akan sama. Realibilitas menunjuk pada
tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya dapat dipercaya, jadi dapat
diandalkan.

Pengertian umum menyatakan bahwa instrumen penelitian harus reliabel.
Dengan pengertian inisebenarnya kita dapat salah arah (mis leading) yang
diusahakan dapat dipercaya adalah datanya, bukan semata-mata instrumennya.
Ungkapan yang mengatakan bahwa instrumen harus reliabel sebenarnya
mengandung arti bahwa instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu
mengungkap data yang bisa dipercaya. Apabila pengertian ini sudah tertangkap
maka akan tidak begitu menjumpai kesulitan dalam menentukan cara menguji
reliabilitas instrumen.

Secara garis besar ada dua jenis reliabilitas, yaitu reliabilitas eksternal
dan reliabilitas internal. Seperti halnya pada pembicaraan validitas, dua nama ini
sebenarnya menunjuk pada cara-cara menguji tingkat reliabilitas instrumen. Jika
ukuran atau kriteriumnya berada di luar instrumen maka dari hasil pengujian ini
diperoleh reliabilitas eksternal. Sebaiknya jika perhitungan dilakukan
berdasarkan data dari instrumen tersebut saja, akan menghasilkan reliabilitas
internal.

60

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

1. Reliabilitas Eksternal
Ada dua cara untuk menguji reliabilitas ekstrenal suatu instrumen yaitu

dengan teknik paralel dan teknik ulang. Apabila peneliti ingin menggunakan
teknik pertama yakni teknik paralel, peneliti mau tidak mau harus menyusun
dua stel instrumen kedua instrumen tersebut sama-sama diujicobakan
kepada sekelompok responden saja (responden mengerjakan dua kali)
kemudian hasil dari dua kali tes uji coba tersebut dikorelasikan, dengan teknik
korelasi product-moment atau korelasi person. Dari data dua kali uji coba dari
dua instrumen yang satu dipandang sebagai nilai X, yang satu Y. Tinggi
rendahnya indeks korelasi inilah yang menunjukan tinggi rendahnya
reliabilitas instrumen. Oleh karena dalam menggunakan teknik ini peneliti
mempunyai dua instrumen dan melakukan dua kali tes, maka disebut teknik
double test double trial.

Teknik reliabilitas eksternal yang kedua adalah teknik ulang. Dengan
menggunakan teknik ini peneliti hanya menyusun satu perangkat instrumen.
Instrumen tersebut diujicobakan kepada sekelompok responden, hasilnya
dicatat. Pada kali lain instrumen tersebut diberikan kepada kelompok yang
semula untuk dikerjakan lagi, dan hasil yang kedua juga dicatat kemudian
kedua hasil tersebut dikorelasikan. Dengan teknik ini peneliti hanya
menggunakan satu tes tetapi dilaksanakannya dua kali uji coba. Maka teknik
ini juga disebut sebagai teknik single test double trial.
2. Reliabilitas Internal

Kalau reliabilitas eksternal diperoleh dengan cara mengolah hasil
pengetesan yang berbeda, baik dari instrumen yang berbeda maupun yang
sama, reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu
kali hasil pengetesan. Ada bermacam-macam cara untuk mengetahui
reliabilitas internal. Pemilihan suatu teknik didasarkan atas bentuk instrumen
maupun selera peneliti. Kadang-kadang penggunaan teknik yang berbeda
menghasilkan indeks reliabilitas yang berbeda pula. Hal ini wajar saja karena
kadang-kadang dipengaruhi oleh sifat atau karakteristik datannya sehingga
dalam penghitungan diperoleh angka berbeda sebagai akibat pembulatan
angka. Namun demikian untuk beberapa teknik, diperlukan persyaratan-
persyaratan tertentu sehingga peneliti tidak begitu saja memilih teknik-teknik
tersebut.

61

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

BAB V

Analisis Data Kuantitatif Statistik Deskriptif
dan Statistik Inferensial

A. Pendahuluan
Analisis data merupakan salah satu proses penelitian yang dilakukan setelah

semua data yang diperlukan dikumpulkan secara lengkap guna memecahkan
permasalahan yang diteliti. Analisis data merupukan langkah keempat dalam
penelitian ilmiah. Data yang sudah dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis
baik menggunakan teknik statistiK maupun tidak. Tujuan dari analisis data adalah
untuk menguji hipotesis serta menjawab pertanyaan penelitan. Analisis data
sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan
membangun hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai upaya
untuk menunjukan dukungan pada tema dan hipotesis. Ketajaman dan ketepatan
dalam penggunaan alat analisis sangat menentukan keakuratan pengambilan
kesimpulan, karena itu kegiatan analisis data merupakan kegiatan yang tidak dapat
diabaikan begitu saja dalam proses penelitian. Kesalahan dalam menentukan alat
analisis dapat berakibat fatal terhadap kesimpulan yang dihasilkan dan hal ini akan
berdampak lebih buruk lagi terhadap penggunaan dan penerapan hasil penelitian
tersebut. Dengan demikian, pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai teknik
analisis mutlak diperlukan bagi seorang peneliti agar hasil penelitiannya mampu
memberikan kontribusi yang berarti bagi pemecahan masalah sekaligus hasil
tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Secara garis besarnya, teknik analisis data terbagi ke dalam dua bagian,
yakni analisis data kuantitatif dan kualitatif, yang membedakan kedua teknik
tersebut hanya terletak pada jenis datanya. Untuk data yang bersifat kualitatif (tidak
dapat diangkakan) maka analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif,
sedangkan terhadap data yang dapat dikuantifikasikan dapat dianalisis secara
kuantitatif, bahkan dapat pula dianalisis secara kualitatif.

62

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Bab ini secara spesifik akan membahas mengenai analisis data kuantitatif.
Analisis data kuantitatif menggunakan pendekatan statistik. Tingkat pekerjaannya
(tahap yang ada dalam kegiatan statistik), statistik sebagai ilmu pengetahuan dapat
dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu: (1) Statistik Deskriptif dan (2) Statistik
Inferensial.

B. Landasan Teori
Penjabaran hasil penelitian dalam statistik terdapat dua langkah yaitu dengan

menjabarkan hasil-hasil penelitian berupa fenomena–fenomena yang telah diteliti
secara deskriptif (Statistik Deskriptif), dan dari hasil penjabaran data-data tersebut
secara deskriptif diolah untuk menguji hipotesis, kemudian diambil keputusan
(Statistik Inferensial).

Dari pengertian kedua jenis statistik tersebut dapat ditemukan 6 (enam)
fungsi statistik :
1. Pengumpulan data (data collection atau collection of data).
2. Penyusunan, pengolahan atau pengorganisasian data (summarizing).
3. Tabulasi dan penyajian atau penggambaran data (tabulation and report).
4. Analisis data (data analyzing atau analyzing of data).
5. Penarikan kesimpulan (conclusion), pembuatan perkiraan (estimation), atau

penyususan ramalan (prediction).
6. Melakukan generalisasi penelitian terhadap sampel, kepada populasi.

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa statistik deskriptif memiliki (4) empat
fungsi, yaitu fungsi 1 sampai dengan fungsi 4. Sedangkan statistik inferensial
memiliki 6 (enam) fungsi, yaitu fungsi 1 sampai dengan fungsi 6.

Sebelum mempelajari statistik inferensial seorang peneliti harus mempelajari
statistik deskriptif terlebih dahulu agar terjadi pemahaman yang komprehensif dari
awal hingga kesimpulan hasil dari data yang dianalisa.
1.Statistik Deskriptif

Gay, L.R (2009:303) Statistik adalah sebuah susunan prosedur untuk
mendeskripsikan, mensintesiskan, menganalisa, dan menginterpretasikan data
kuantitatif. Deskreptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data

63

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul.
Tahap pertama menganalisi data adalah mempersiapkan data itu sendiri. Lalu,
tahapan dalam mempersiapkan data itu dimulai dengan menilai data, membuat
codebook, menentukan tipe skor yang digunakan, memilih program komputer,
memasukan data kedalam program untuk dianalisis dan membersihkan data.

a. Menilai Data
Ketika mengumpulkan data pada sebuah instrumen atau checklist,

dibutuhkan beberapa sistem untuk menilai data. Menilai data itu sendiri diartikan
bahwa peneliti memberikan skor berupa angka ke masing-masing respon
kategori untuk masing-masing pertanyaan pada instrumen yang digunakan untuk
mengumpulkan data. Contohnya: orang tua merespon pertanyaan survei berikut.
”Para siswa diberikan kesempatan untuk memilih sekolahnya sendiri”. Maka
orang tua akan memilih jawaban

.......................... (Sangat setuju) (5)
...........................(Setuju) (4)
............................(Ragu-ragu) (3)
............................(Tidak setuju) (2)
............................(Sangat tidak setuju) (1)

Angka-angkat pada masing-masing respon jawaban itu adalah nilai/skor
data. Setelah memberikan nilai pada data, selanjutnya adalah membuat
codebook. Codebook adalah daftar variabel atau pertanyaan yang
mengindikasikan bagaimana peneliti akan memberikan skor pada respon dari
instrumen atau checklist. Contohnya:
variable 1. Gender--- (1) male, (2) female.
variable 2. Parents--- (1) married, (2) divorced, (3) separated.
b. Menentukan Tipe-Tipe Data untuk Dianalisis

Peneliti menentukan apa tipe skor yang digunakan dari instrumen
sebelum menyusun suatu analisis skor. Hal ini penting karena tipe dari skor akan
mempengaruhi bagaimana cara memasukan data ke dalam file komputer untuk
dianalisis. Sebagai contoh ada 3 jenis skor, yaitu; single item scores, summed
scores on a scale, dan net or differece score.

64

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

 Single item scores adalah skor masing-masing individu untuk masing-masing
pertanyaan.

 Summed scores adalah jumlah skor individu pada keseluruhan pertanyaan
pada variabel yang sama . peneliti menjumlahkan semua skor individu untuk
menghitung skor keseluruhan sebuah variabel.

 Difference Score adalah skor pada studi kuantitatif yang mempresentasikan
suatu perbedaan atau perubahan pada masing-masing individu.

c. Memilih Program Statistik
Peneliti memilih program statistik untuk menganalisis data mereka setelah

mereka memberikan nilai pada data tersebut. Beberapa petunjuk yang bisa
diikuti untuk memilih program statistik.
 Mencari program dengan dokumentasi tentang bagaimana menggunakan

program (tutorial).
 Kemudahan dalam penggunaan adalah salah satu faktor penting dalam

memilih sebuah program.
 Mencari program yang memiliki tipe statistik yang akan menjawab pertanyaan

penelitian dan hipotesis.
 Pastikan bahwa program bisa menganalisis jumlah data dalam data base.
 Pilih program dengan kemampuan menampilkan grafik dan tabel yang bisa

digunakan dalam laporan penelitian.
 Pilih program yang digunakan di kampus, maka akan mudah untuk

berkonsultasi ketika muncul pertanyaan.
d. Memasukan data
Memasukan data dilakukan ketika peneliti mentransfer data dari respon-respon
pada instrumen ke suatu file komputer untuk kemudian dianalisis.
e.Merapikan dan menyikapi data yang hilang

Merapikan data adalah proses memeriksa data untuk skor yang di luar
barisan yang diterima. Satu cara untuk melakukan hal ini adalah memeriksa
dengan melihat langsung data. Data yang hilang adalah data yang hilang pada
database karena peserta tidak memberikan data. Ada beberapa cara untuk
menyikapi data yang hilang, pertama adalah memiliki instrumen yang bagus

65

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

yang membuat semua peserta bersedia melengkapi dan bisa menjawab semua
pertanyaan jadi, data hilang tidak akan terjadi. Kedua, eliminasi peserta dengan
skor yang hilang dari data analisis dan hanya memasukan peserta dengan data
yang komplit. Atau bisa dengan memasukan angka untuk data yang hilang pada
database. Ketika variabelnya adalah variabel kategori, bisa memasukan nilai ”-9”
untuk semua data yang hilang. Namun ketika variabelnya kontinue, prosesnya
mejadi lebih kompleks (Creswell, 2015:190).
2.Statistik Deskriptif Pendidikan

Terdapat 3 ide dalam deskriptif statistik yang membantu merangkum
keseluruhan kecendrungan hasil atau tendensi pada data. 3 ide tersebut adalah
Tendensi Pokok, Variabilitas, dan Relative Standing
Figure 1. Contoh kerangka statistik dalam penelitian pendidikan

Statistik Deskriptif
Tendensi Pokok

Mean
Median
Mode
Variabilitas
Variance
Standard deviation
Range
Relative Standing
z Score
Percentile ranks

a. Tendensi Pokok
Tendensi pokok adalah rangkuman angka yang mepresentasikan satu

nilai dalam satu distribusi skor. Tendesi Pokok terdiri atas skor rata-rata (mean),
skor tengah (median), dan skor yang paling sering muncul (mode)

Mean adalah statistik deskriptif yang paling popular digunakan untuk
mendeskripsikan respon dari semua peserta terhadap item-item dalam

66

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

instrumen. Untuk menghitung jumlah mean, total skor dibagi oleh jumlah peserta.
Sedangkan Median adalah nilai tengah dari semua skor. Cara penghitungannya
adalah skor dibagi menjadi dua bagian, 50% pada bagian atas dan 50% pada
bagian bawah. Setelah nilai mean dan median ditentukan, dapat pula ditentukan
nilai mode. Mode adalah nilai yang paling sering muncul pada baris skor. Pada
table 2 di bawah ini, nilai mode digunakan untuk mengetahui skor paling umum
dalam berbagai nilai pada suatu variabel (Creswell:2012:9).

Table 2. Statistik Deskriptif untuk variabel kategori, “Peer Group Affiliation”

Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent

Athletes 12 24.0 24.0 24.0

Valid Singers 14 28.0 28.0 52.0
Punkers 13 26.0 26.0 78.0

Other 11 22.0 22.0 100.0

Total 50 100.0 100.0

Grafik 1. Peer Group Affiliation
Pada grafik di atas, terlihat bahwa kategori “Singers” frekuensinya lebih banyak

dibandingkan kategori lainnya. Penggunaan mode sangat berarti pada informasi

variabel kategori seperti pada grafik 1 di atas.

b.Variabilitas

Variabilitas mengindikasikan penyebaran skor dalam satu distribusi. Ada 3
hal pada variabilitas yang perlu dipahami, yaitu: (1) Range, (2) Variance, (3)
Standar Deviation. 3 hal tersebut mengindikasikan jumlah dari variabilitas dalam
satu distribusi skor. Range adalah perbedaan antara skor tertinggi dan terendah
pada item dalam satu instrument. Seperti pada table 1. Nilai terendah adalah 60
dan nilai tertinggi adalah 99, maka nilai range pada skor tersebut adalah 39 poin.

Variance mengindikasikan penyebaran skor disekitar nilai mean. Cara

menghitung variance adalah sebagai berikut:

- Hitung selisih antara nilai mean dan baris skor untuk masing-masing individu

- Kuadratkan hasil selisih nilai tersebut untuk masing-masing individu

67

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

- Jumlahkan nilai hasil kuadrat skor untuk semua individu
- Lalu, hasilnya dibagi dengan total jumlah individu

Contoh dari varian dapat dilihat pada table 1 Statistik Deskriptif skor siswa.
Nilai variance berguna untuk menghitung Standard Deviation. Standard deviation
menyediakan informasi yang berguna dan sebagai indicator dari penyebaran
skor. Standar Deviation adalah kuadrat dari variance dan arti dari Standard
deviation menjadi jelas ketika digambarkan pada grafik distribusi teoritis skor.
c. Relative Standing

Relative Standing adalah statistik yang menggambarkan satu skor
berhubungan ke satu kelompok skor. Pada Relative standing terdapat Percentile
Rank dan z Score. Percentile Rank adalah persentase peserta dalam distribusi
skor tertentu atau dibawah skor tertentu. Sedangkan z Score adalah bentuk
popular dari skor standar. Skor standar adalah perhitungan skor yang
menghubungkan peneliti untuk membandingkan skor dari skala yang berbeda-
beda. Nilai mean dan standard deviation pada z Score adalah 0 dan 1. Nilai z
Score memberikan keuntungan kepada peniliti untuk bisa membandingkan skor
dari satu instrumen ke skor dari instrumen yang lain. Menggunakan skor yang
standar juga penting untuk menghitung statistik. Prosedurnya adalah skor
standar tersebut dikurangi dengan nilai mean, lalu dibagi dengan standard
deviation.
d. Statistik Inferensial

Tugas utama statistika inferensial adalah melakukan estimasi, menguji
hipotesis, dan mengambil keputusan. Inference is the process of drawing
conclusions about a population on the basis of measurements or observations
made on a sample of individuals from the population (Creswell,2012:17) Statistik
Inferensial adalah proses penarikan kesimpulan terhadap populasi berdasarkan
ukuran atau observasi yang ditarik dari sampel.

Bagian-bagian yang termasuk kategori dalam statistik inferensial adalah
statistik parametrik dan statistik nonparametik. Penggunaan statistik parametrisk
dan nonparametrik tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis.
“Statistik parametrik memerlukan terpenuhi banyak asumsi. Asumsi yang utama

68

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

adalah data yang dianalisis harus berdistribusi normal. Statistik nonparametrik
tidak menuntut terpenuhi banyak asumsi, misalnya data yang akan dianalisis
tidak harus berdistribusi normal (Creswell, 2012:18).
e. Statistik Parametrik

Parametrik berarti parameter. Parameter adalah indikator dari suatu
distribusi hasil pengukuran. Indikator dari distribusi pengukuran berdasarkan
statistik parametrik digunakan untuk parameter dari distribusi normal. Apa yang
dimaksud dengan distribusi normal? Bagaimana mengetahui sebuah data
berdistribusi normal atau tidak? Hal ini penting sekali untuk diketahui karena
berdasarkan normal atau tidaknya distribusi ini baru dapat ditentukan apakah uji
statistik parametrik atau nonparametrik yang digunakan.

Distribusi normal baku adalah distribusi normal yang memiliki rata-rata nol
dan simpangan baku satu. Distribusi ini juga dijuluki kurva lonceng (bell curve)
karena grafik fungsi kepekatan probabilitasnya mirip dengan bentuk lonceng.
Grafik 2. Contoh gambar yang menunjukkan data berdistribusi normal Contoh
metode statistik parametris di antaranya adalah Uji-T (1 atau 2 sampel),
perancang percobaan (One-Way Anova),(2-way ANOVA).
f. Statistik Nonparametrik

Istilah nonparametrik pertama kali digunakan oleh Wolfowitz, pada tahun
1942. Metode statistik non-parametrik merupakan metode statistik yang dapat
digunakan dengan mengabaikan asumsi-asumsi yang melandasi penggunaan
metode statistik parametrik, terutama yang berkaitan dengan distribusi normal.
Istilah lain yang sering digunakan untuk statistik nonparametrik adalah statistik
bebas distribusi (distribution-free statistics) dan uji bebas asumsi (assumption-
free test). Statistik nonparametrik banyak digunakan pada penelitian-penelitian
sosial. Data yang diperoleh dalam penelitian sosial pada umunya berbentuk
kategori atau berbentuk rangking. Uji statistik nonparametrik ialah suatu uji
statistik yang tidak memerlukan adanya asumsi-asumsi mengenai sebaran
datapopulasi. Uji statistik ini disebut juga sebagai statistik bebas sebaran
(distribution free).

69

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

BAB VI

Analisis dan Interpretasi Data Kualitatif

A. Pendahuluan

Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas
pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar
penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut
metodologi penelitian, di samping pemahaman hasil penelitian yang akan lebih
proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan. Seperti
adanya pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Setiap pendekatan terdapat prosedur-
prosedur yang harus dilalui.

Adapun untuk kualitatif prosedur yang harus dilalui yaitu menganalisis data
dan menginterpretasinya. Kruger dalam Emzir (2012:173) dikatakan bahwa
penelitian adalah detektif yang melihat kecenderungan dan pola yang muncul lintas
berbagai kelompok atau di dalam individu. Proses analisis dan interpretasi
melibatkan pengujian disiplin, pemahaman kreatif, perhatian cermat pada tujuan
studi penelitian. Analisis dan interpretasi secara konseptual merupakan proses yang
terpisah. Proses analisis dimulai dengan perakitan materi-materi mentah dan
pengambilan suatu tinjauan mendalam atau gambaran total dari proses
keseluruhan. Jadi dalam analsis dilakukan proses pengurutan data, penyusunan
data ke dalam pola, kategori, dan satuan deskriptif dasar. Sedangkan pada
interpretasi melibatkan pengikatan makna dan signifikansi kepada analisis,
penjelasan pola deskriptif, melihat pada hubungan dan keterkaitan diantara dimensi-
dimensi deskriptif. Ketika proses ini sudah lengkap, peneliti harus melaporkan
interpretasi dan kesimpulannya.

Menurut para ahli seperti Creswell (2012:275) menyatakan analisis data
adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi terus-menerus terhadap
data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan analitis, dan menulis catatan singkat
sepanjang penelitian dan melibatkan pengumpulan data yang terbuka, yang

70

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan umum, dan analisis informasi daripada
partisipan dan memerlukan pemahaman bagaimana untuk mempertimbangkan dan
menggambarkan teks, sehingga kita dapat menjawab bentuk pertanyaan penelitian
kita.

Menurut Gay (2009:458) menganalisis data dalam penelitian kualitatif harus
meringkas data ke dalam suatu cara yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan. Analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa “Data
analysis is the process of systematically searching and arraging the interview
transcripts, fieldnotes, and others materials that you accumulate to increase your
own undesrstanding of them and to enable you to present what you have discovered
to others”. Artinya bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-
bahan lain, sehingga mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada
orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data,
menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola,
memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan
yang dapat diceritakannya kepada orang lain.

Gay,Mills Airasian (2012:216) mengemukakan bahwa “Data analysisis critical
to the qualitative research process. It is to recognition, study, and understanding of
interrelationship and concept in your data that hypotheses and assertions can be
developed and evaluated”. Artinya analisis data merupakan hal yang kritis dalam
proses penelitian kualitatif. Analisis digunakan untuk memahami hubungan dan
konsep dalam data sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan dievaluasi. Gaal,
Meredith (2007:235) menyatakan bahwa : “Analysis of any kind involve a way of
thinking. It refers to systematic examination of something to determine its parts, the
relation among parts, and the relationship to the whole. Analysis is a search for
patterns”. Analisis dalam penelitian jenis apapun, adalah merupakan cara berfikir.
Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk
menentukan bagian, hubungan antar bagian, dan hubungannya dengan
keseluruhan. Analisis adalah untuk mencari pola.

71

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Berdasarkan pemaparan para ahli tersebut dapat dikemukakan di sini bahwa,
analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang
akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri
maupun orang lain.

Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis
berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan
tertentu atau menjadi hipotesis. Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan
berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang-ulang
sehingga selanjutnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut diterima atau
ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Bila berdasarkan data yang dapat
dikumpulkan secara berulang-ulang dengan teknik triangulasi, ternyata hipotesis
diterima, maka hipotesis tersebut berkembang menjadi suatu teori. Analisis data
dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di
lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data
lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.
In fact, data analysis in qualitative research is on going activity that occurs
throughout the investigative process rather than after process. Dalam kenyataannya,
analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data dari pada
setelah selesai pengumpulan data.

Dalam analisis data pada penelitian kualitatif terdapat juga langkah
menginterpretasi data. Interpretasi data adalah suatu usaha yang dilakukan untuk
menemukan arti atau jawaban dari data.
B.Analisis Data Kualitatif
1. Analisis sebelum di lapangan

Menurut Sugiyono (2007:336) penelitian kualitatif telah melakukan analisis
data sebelum memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data hasil studi
pendahuluan atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan fokus
penelitian. Namun demikian fokus penelitian ini masih bersifat sementara di

72

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

lapangan. Data yang ada dapat berubah sesuai dengan penemuan-penemuan yang
didapat di lapangan nantinya.
2. Analisis selama di lapangan Model Miles dan Huberman

Menurut Miles dan Huberman (1984) ada tiga macam kegiatan dalam analisis
data kualitatif, yaitu:

a. Reduksi Data
Dalam mereduksi data, setiap peneliti akan dipandu oleh tujuan yang akan

dicapai. Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah pada temuan. Oleh karena
itu, kalau peneliti dalam melakukan penelitian, menemukan segala sesuatu yang
dipandang asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus
dijadikan perhatian dalam melakukan reduksi data.

Reduksi data merupakan proses berfikir sensitif yang memerlukan
kecerdasan dan keluasan serta kedalaman wawasan yang tinggi. Bagi peniliti
yang masih baru, dalam melakukan reduksi data dapat mendiskusikan pada
teman atau orang lain yang dipandang ahli. Melalui diskusi itu, maka
wawasan peneliti akan berkembang, sehingga dapat mereduksi data-data
yang dimiliki nilai temuan dan pengembangan teori yang signifikan.
b. Data Display (penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan
data. Kalau dalam penelitian kuantitatif penyajian data ini dapat dilakukan dalam
bentuk tabel, grafik, phie card, pictogram dan sejenisnya. Melalui penyajian data
tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga
akan semakin mudah dipahami.
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian
singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini
Miles dan Huberman (1984) menyatakan “the most frequent form of display data
for qualitative reserch data in the past has been narrative tex”, yang paling sering
digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks
yang bersifat naratif.
Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa
yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah

73

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

dipahami tersebut. ”looking at displays help us to understand what is happening
and to do some thing-further analysis or caution on that understanding” Miles dan
Huberman (1984). Selanjutnya disarankan, dalam melakukan display data, selain
dengan teks naratif, juga dapat berupa grafik, matrik, network (jejaring kerja) dan
chart.
c. Conclusion Drawing/verification

Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman
(1984:170) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang
dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan
bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data
berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal,
didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke
lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan
kesimpulan yang kredibel.

Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat
menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga
tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah
dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang
setelah penelitian berada di lapangan.

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan
temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa
deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang
atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan
klausal atau interaktif, hipotesis, atau teori.
3. Analisis data dan interpretasi di lapangan menurut Bogdan dan Biklen

Analisis data dan Interpretasi di lapangan Menurut Bogdan dan Biklen
(1982: 134-135):
a. Dorong diri Anda untuk membuat keputusan yang mempersempit studi yang

dilakukan. Pertama adalah mengumpulkan data secara luas, mencari subjek
yang berbeda, menjelajahi ruang fisik untuk memperoleh suatu pemahaman
yang luas mengenai parameter dari latar, subjek dan masalah yang menarik

74

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

perhatian. Kedua, adalah mengembangkan fokus penelitian berdasarkan apa
yang mungkin dilakukan dan apa yang menarik perhatian, persempit ruang
lingkup pengumpulan data. Dari kegiatan itu semua lakukan tiga atau empat
kali kunjungan atau beberapa kali wawancara awal.
b. Dorong diri Anda untuk memutuskan jenis studi yang ingin dilaksanakan yang
terdiri dari studi kasus organisasi, studi observasi, studi sejarah hidup dan
sebagainya.
c. Kembangkan pertanyaan-pertanyaan analitis. Pertama, merumuskan
pertanyaan yang bersifat umum untuk suatu studi. Pertanyaan tersebut
penting karena dapat memberikan fokus pada pengumpulan data dan
membantu penyusunan ketika diproses. Contohnya mengenai sebuah kasus
tentang “Program pelatihan kerja untuk para pengangguran”.
d. Rencanakan sesi pengumpulan data berdasarkan apa yang ditemukan dalam
observasi pendahuluan. Tujuannya adalah untuk mengejar arah-arah yang
spesifik dalam sesi pengumpulan data berikutnya. Contohnya: Pertanyaan
yang berbentuk untuk menanyakan kepada diri kita sendiri apa yang masih
belum kita ketahui dalam penelitian yang sedang kita lakukan, kemudian kita
harus memutuskan jika ingin menghabiskan lebih banyak waktu disuatu
tempat dari pada tempat yang lain, rencanakanlah untuk melihat suatu
aktivitas spesifik atau rencanakan untuk mewawancarai subjek tertentu
dengan pertanyaan spesifik yang ada di dalam pikiran anda.
e. Tulis banyak “komentar pengamat” tentang ide yang anda hasilkan. Catatan
lapangan berisikan komentar pengamat, komentar pengamat adalah bagian
dari catatan lapangan dan tempat peneliti mencatat pendapat dan
perasaannya sendiri.
f. Tulis memo untuk diri anda sendiri tentang apa yang anda pelajari. Dimana
dikembangkannya hubungan dalam ringkasan antara komentar-komentar
pengamatan dan memberikan kesempatan untuk merefleksikan isu-isu yang
muncul dalam latar dan hubungannya dengan isu-isu teoritis, metodologis,
dan substantif yang lebih luas

75

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

4. Analisis data dan interpretasi setelah pengumpulan data menurut Bogdan
dan Biklen
Banyak pengamat berpengalaman mengetahui apa yang akan dilakukan

setelah mereka lama beristirahat. Mereka membiarkan bahan-bahan mengendap,
mengambil cuti, atau mengerjakan sesuatu yang terbengkalai disebabkan oleh
waktu untuk mengumpulkan data, dan kembali lagi setelah merasa segar dan rasa
lelah hilang.
5. Analisis data menurut L. R. Gay

a. Identifikasikan tema-tema dari data yang dikumpulkan secara induktif dari
tema-tema yang besar menjadi tema yang lebih kecil.

b. Untuk setiap tema ataupun kelompok data dapat dibuat kode, umpamanya
kode untuk perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, maupun hasilnya.

c. Ajukan pertanyaan-pertanyaan kunci: siapa, apa, di mana, kapan, dan
mengapa?

d. Buatlah review keorganisasian dari unit yang diteliti dari visi misi, tujuan,
struktur sekolah, dan lain-lain.

e. Petakan secara visual faktor-faktor yang terkait atau melatarbelakangi dan
diakibatkan oleh sesuatu hal. Misalnya faktor-faktor yang melatarbelakangi
dan diakibatkan oleh proses pembelajaran, hasil belajar, kegagalan siswa,
dan lain-lain.

f. Buatlah bentuk penyajian dari temuan dalam bentuk tabel, grafik, dan lain-
lain.

g. Kemukakan apa yang belum atau tidak ditemukan dalam penelitian,
kemudian identifikasikan.(2011:146)

C. Interpretasi Data Kualitatif
1. Interpretasi data menurut Moleong

Interpretasi data menurut Moleong (2013:197) dijabarkan ke dalam (1) tujuan,
(2) prosedur umum, (3) peranan hubungan kunci, (4) peranan introgasi data, (5)
langkah penafsiran data dengan analisis komparatif.
a) Tujuan interpretasi data

Menurut Schaltzman dan Straus (1973:215) memiliki tiga tujuan, yaitu:

76

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

1) Deskripsi semata-mata, yaitu analis menerima dan menggunakan teori dan
rancangan organisasional yang telah ada dalam suatu disiplin. Hasil analisis
data, menafsirkan data tersebut dengan jalan menemukan kategori dalam
data yang berkaitan dengan yang biasanya dimanfaatkan dalam cara
bercakap-cakap.

2) Deskripsi analitik, yaitu rancangan yang dikembangkan dari kategori-kategori
yang ditemukan dan hubungan yang disarankan atau yang muncul dari data.

3) Teori subtantif, yaitu teori dasar analis harus menampakkan rancangan yang
telah dikerjakan dalam analisis, kemudian mentransformasikan ke dalam
bahasa disiplinnya (sosiologi dan sebagainya) yang akhirnya membangun
identitasnya sendiri walaupun dilakukan dalam kaitan antara objek yang
dianalisis atau proses tradisional.

b) Prosedur umum interpretasi data
Interpretasi data yang sudah menjadi bagian dari teori dan dilengkapi dengan

penyusunan hipotesis yang kemudian diformulasikan baik dengan cara deskriptif
maupun proposional. Dengan alasan agar paradigma alamiah yang dipegang tidak
dapat dicampuradukkan dengan paradigma yang lain. Setelah menyelesaikan tahap
penyusunan kategori dan hipotesis, selanjutnya adalah menuliskan teori dengan
bahasa disiplin ilmu masing-masing dengan memilih salah satu diantara beberapa
cara penulisan, seperti argumentasi, deskripsi, perbandingan, analisis proses,
analisis kausatif dan pemanfaatan analogi.
c) Peranan hubungan kunci dalam interpretasi data

Yaitu suatu metafora, model, kerangka umum, pola yang menolak, atau garis
riwayat. Hubungan tersebut dimanfaatkan untuk menghaluskan hubungan dengan
hubungan suatu kategori dengan kategori lainnya yang berfungsi sebagai aturan
tetap untuk digunakan sebagai kriteria inklusi-eksklusi.
d) Peranan introgasi terhadap data

Hal ini dilakukan dengan mengajukan seperangkat pertanyaan pada data
sehingga terungkap banyak persoalan dari data itu sendiri dengan menggunakan
dua macam cara pengajuan pertanyaan, yaitu cara substantif dan logis,
dimaksudkan untuk memperoleh jarak dan variasi dalam perspektif yang akan

77

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

menghasilkan pertanyaan dan model. Substantif disini dimaksudkan kosakata
abstrak yang berasal dari disiplin ilmu sendiri, misalnya ideologi, kerja, prilaku
kolektif, gerakan sosial dan kharisma. Sedangkan pertanyaan logis meliputi:
komparasi, historis, berfikir analogis, dan proses kerja.
e) Langkah-langkah interpretasi data dengan metode analisis komparatif

Yaitu metode umum seperti halnya metode ekpsperimen dan statistik. Pada
awalnya analisis komparatif digunakan untuk menganalisis satuan sosial berskala
besar seperti organisasi bangsa dan lembaga. Namun saat ini metode tersebut
dapat digunakan untuk satuan sosial baik berukuran besar maupun kecil.

2. Interpretasi Data Menurut L. R. Gay
Teknik Interpretasi data menurut Gay (2011:167):

a. Hubungkan hasil-hasil analisis dengan teori-teori pada bab sebelumnya.
b. Hubungkan atau tinjauan dari teori yang relevan dengan permasalahan yang

dihadapi.
c. Perluaslah hasil analisis dengan mengajukan pertanyaan berkenaan dengan

hubungan, perbedaan antara hasil analisis, penyebab, implikasi dari hasil
analisis sebelumnya.
d. Hubungkan temuan dengan pengalaman pribadi.
e. Berilah pandangan kritis dari hasil analisis yang dilakukan.
3. Enam langkah yang saling terkait yang terlibat dalam analisis data kualitatif
dan interpretasi menurut J. W. creswell
a. Peneliti perlu mempersiapkan dan mengatur data untuk dianalisis. Proses ini
melibatkan menyimpan dan menyalin data dan memutuskan apakah data
dianalisis dengan tangan atau komputer. Langkah berikutnya adalah untuk
mengeksplorasi data dan kode. Hal ini melibatkan membaca database dan
kemudian menerapkan langkah-langkah yang terlibat dalam coding. Langkah-
langkah ini untuk mengidentifikasi segmen teks dan kemudian untuk menetapkan
label kode ke segmen berdasarkan makna peneliti melihat di segmen teks. Kode
ini kemudian digunakan dalam membentuk gambaran tentang fenomena pusat
atau dari konteks (atau pengaturan) penelitian. Kode juga dikelompokkan

78

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

bersama untuk membentuk tema yang lebih luas yang digunakan dalam
penelitian sebagai temuan kunci. Dari analisis ini, peneliti mewakili data dalam
temuan melalui angka, tabel, peta, dan diskusi rinci tema. Representasi ini
kemudian menginformasikan interpretasi yang lebih luas dari temuan, dan ini
dibahas sebagai kesimpulan umum dan dibandingkan dengan literatur yang ada.
Kesimpulan dari penelitian yang juga perlu menyampaikan keterbatasan
penelitian serta penelitian masa depan. Hal ini penting juga untuk memvalidasi
keakuratan temuan melalui beberapa strategi seperti memeriksa anggota dan
triangulasi.
b. Menyiapkan dan mengatur data untuk dianalisis. Dalam sebuah penelitian
kualitatif, manajemen data awal terdiri dari pengorganisasian data,
menyalinwawancara dan catatan lapangan mengetik, dan membuat keputusan
untuk menganalisa data dengan tangan atau dengan komputer. Beberapa
program perangkat lunak yang baik yang tersedia untuk analisis komputer.
c. Jelajahi dan berikan kode data pada penelitian kualitatif dengan cara melalukan
analisis awal data dengan membaca melalui kode data untuk mendapatkan
pengertian umum dari data. Analisis utama data kualitatif terdiri dari pengkodean
data. Proses pengkodean adalah salah satu mengurangi teks atau data base
gambar untuk mendeskripsikan tema seperti orang, tempat, atau peristiwa. Ini
dilakukan dengan memeriksa baris demi baris teks data base, menanyakan diri
sendiri apa yang dikatakan peserta, dan kemudian menetapkan label kode ke
segmen teks.
d. Coding digunakan untuk membangun deskripsi dan tema kode kemudian
digunakan untuk mengembangkan deskripsi orang dan tempat. Coding juga
digunakan untuk mengembangkan tema yang menyajikan abstraksi yang lebih
luas dari kode. Tema-tema ini mungkin berlapis atau terorganisir untuk
menceritakan sebuah cerita, atau mereka juga dapat saling berhubungan untuk
menggambarkan kompleksitas fenomena tersebut.
e. Mewakili dan laporkan temuan di lapangan pada penelitian kualitatif berupa
temuan angka, diagram, tabel perbandingan, dan tabel demografis. Mereka
melaporkan temuan dalam diskusi narasi yang terdiri dari berbagai bentuk,

79

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

seperti kronologi, pertanyaan, atau komentar tentang perubahan bahwa
pengalaman peserta. Menafsirkan temuan dari pelaporan di lapangan dan
mewakili temuan, peneliti kualitatif membuat interpretasi mengenai arti dari
penelitian. Interpretasi ini terdiri dari laporan personal yang dilihat dengan
membuat perbandingan antara temuan dan literatur, serta menyarankan
keterbatasan untuk penelitian di masa depan.
f. Validasi akurasi temuan, yaituu ntuk memeriksa ketepatan penelitian yang
dilakukan, peneliti kualitatif sering menggunakan prosedur validasi seperti
pemeriksaan anggota, triangulasi, dan audit. Maksud dari memvalidasikan
adalah memiliki peserta, peninjau eksternal atau sumber data sendiri
memberikan bukti keakuratan informasi dalam laporan kualitatif.

80

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

BAB VII

Penelitian Survei dan Penelitian Korelasional Analisis Jalur
(Path Analysis)

A.Pendahuluan

Peneliti pendidikan bahasa dan sastra sebagian besar masih belum tertarik
meneliti dengan jenis penelitian kuantitatif. Pandangan ini karena pendidikan bahasa
dan sastra berfokus pada penelitian kualitatif yang objeknya bahasa dan sastra yang
hanya bisa dijelaskan dengan interpretasi terhadap data bahasa dan sastra yang
ditemukan di lapangan. Pemikiran ini sungguh perlu benahi karena untuk meneliti
bahasa dan sastra juga membutuhkan metode kuantitatif untuk permasalah tertentu
dalam bidang bahasa dan sastra. Misalnya bila kita ingin meneliti, pengaruh bahasa
gaul pada mahasiswa SMA di Indonesia

Selain itu, dari sejarah perkembangan penelitian menunjukkan bahwa penelitian
kuantitatif (penelitian tradisional/positivistik) lebih dahulu hadir dibandingkan penelitian
kualitatif. Penelitian kuantitatif lebih ilmiah karena memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu
konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Sedangkan penelitian
kualitatif (metode baru/postpositivistik) juga disebut metode artistik karena proses
penelitiannya bersifat seni (kurang terpola) dan bersifat interpretatif terhadap data yang
ditemukan secara ilmiah apa adanya di lapangan (Sugiyono, 2007:7-8).

Sebagai peneliti pendidikan bahasa dan sastra, penelitian kuantitatif juga harus
dikuasai karena memiliki keutamaan di dalamnya, terutama dalam mengembangkan
konsep bahasa dan sastra dan memahami cara penelitian kuantitatif yang mampu
menyelesaikan masalah pendidikan bahasa dan sastra cukup dengan
menggeneralisasikan populasi dengan bantuan sampel.

Jenis penelitian kuantitatif yang dapat dipilih sebagai salah satu alternatif
penyelesaian masalah di bidang pendidikan bahasa dan sastra, yaitu penelitian survei
dan korelasional analisis jalur. Kedua penelitian ini memiliki karakteristik dan
keunggulan masing-masing. Akan tetapi, yang terpenting adalah ketika kita akan
meneliti timbul pertanyaan “Apakah penelitian yang kita rencanakan cocok dengan
metode yang akan kita gunakan?”. Untuk itu, kita perlu memahami jenis penelitian

81

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

survei dan korelasional analisis jalur, siapa tahu permasalahn penelitian yang kita
rencanakan dapat dijawab dengan salah satu penelitian tersebut. Kemudian, bisa jadi
kita berminat meneliti dengan jenis penelitian survei dan korelasional analisis jalur
apabila kita sudah memahami konsep keduanya. Untuk itu, makalah ini akan mencoba
memberikan pemahaman tentang penelitian survei dan korelasional analisis jalur.

B. Penelitian Survei
1. Hakikat Penelitian Survei

Secara etimologi, survey berasal dari Bahasa Latin yang terdiri dari suku kata
sur yang merupakan turunan kata Latin super yang berarti di atas atau melampui.
Sedangkan suku kata vey berasal dari kata Latin videre yang berarti melihat. Gay,
Mills, dan Airasian (2011:184) memberikan gambaran bahwa penelitian survey
sebagai berikut.
“Survey research involves collecting data to test hypotheses or to answer quetions about
people's opinions on some topic or issue. A Survey is an instrument to collect data that
describe one or more characteristics of a spesific population”.

Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa penelitian survei merupakan
metode penelitian yang hanya melibatkan pengumpulan data untuk menguji
hipotesis atau menjawab pertanyaan tentang pendapat orang pada beberapa topik
atau masalah. Dengan kata lain penelitian survei adalah alat untuk mengumpulkan
data yang menjelaskan satu atau lebih karakteristik populasi tertentu.

Creswell (2015:752) mengemukakan bahwa penelitian surveiy merupakan
merupakan jenis penelitian kuantitatif yang prosedurnya diawali dengan peneliti
mengadministrasikan survei pada suatu sampel atau pada seluruh populasi orang
untuk mendeskripsikan sikap, pendapat, perilaku, atau ciri khas khusus populasi.
Artinya dalam penelitian survei, peneliti mengumpulkan data kuantitatif bernomor
dengan menggunakan kuesioner, sebagai contoh, kuesioner yang dikirim melalui
pos atau wawancara, misalnya wawancara satu-lawan-satu dan menganalisis
datanya secara statistik untuk mendeskripsikan tren tentang respons terhadap
pertanyaan dan untuk menguji pertanyaan atau hipotesis penelitian. Langkah

82

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

berikutnya, yaitu peneliti menginterpretasikan makna data dengan menghubungkan
hasil uji statistik dengan penelitian terdahulu.

Perlu diketahui, bahwa rancangan survei berbeda dengan penelitian
eksperimental karena dalam penelitian survei tidak melibatkan perlakuan yang
diberikan kepada partisipan oleh peneliti. Peneliti tidak memanipulasi kondisi secara
eksperimental, sehingga peneliti survei tidak dapat menjelaskan sebab-akibat
seperti yang dapat dilakukan oleh peneliti eksperimental. Dengan demikian
penelitian survei biasanya mengorelasikan variabel, namun fokus mereka lebih
diarahkan pada belajar tentang populasi dan kurang diarahkan pada kegiatan
menghubungkan variabel atau memprediksi hasil, seperti fokus dalam penelitian
korelasional.

Kemudian, menurut Zechmester (dalam Emzir, 2014), penelitian survei
sebagai kegiatan mengilustrasikan prinsip-prinsip penelitian korelasional dan
melengkapinya dengan cara yang tepat dan efektif untuk mendeskripsikan
pemikiran, pendapat, dan perasaan orang yang melibatkan sampling dengan
melibatkan penggunaan suatu set pertanyaan awal yang pada umumnya berbentuk
kuesioner. Sampling dalam hal ini merupakan suatu prosedur yang menyebabkan
sejumlah elemen khusus digambarkan dari kerangka sampling (sampling fram) yang
mewakili daftar aktual elemen-elemen yang mungkin dalam populasi dan
keterwakilan sampel dapat diperoleh dengan sangat baik melalui penggunaan
sampling probability daripada penggunaan sampling nonprobabiliti. Lebih lanjut
Emzir menjelaskan bahwa hasil dari penelitian survei diperoleh untuk suatu sampel
yang dipilih secara hati-hati sehingga dapat dipergunakan untuk mendeskripsikan
seluruh populasi objek penelitian yang menarik perhatian kita.

Penelitian suvei mengkaji populasi (universe) yang besar maupun kecil
dengan menyeleksi serta mengkaji sampel yang dipilih dari populasi itu, untuk
menemukan insidensi, distribusi, dan interelasi relatif dari variabel-variabel
(Kerlinger, 2004:660). Kemudian, penelitian survei digunakan untuk memecahkan
masalah-masalah isu skala besar yang aktual dengan populasi sangat besar,
sehingga diperlukan sampel ukuran besar. Akan tetapi, pengukuran variabelnya
lebih sederhana dengan instrumen yang sederhana dan singkat. Arah minat

83

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

penelitian survei ialah membauat taksiran yang akurat mengenai karakteritik-
karakteristik keseluruhan populasi dengan mengkaji sampel-sampel yang ditarik dari
populasi tersebut. Kajian ini menjadi penting karena adanya kesulitan-kesulitan yang
dihadapi dalam mengkaji keseluruhan populasi secara utuh.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian survei
merupakan salah satu jenis penelitian kuantitatif berupa alat untuk mengumpulkan
data yang menjelaskan satu atau lebih karakteristik atau ciri khas populasi yang
berskala besar melalui sampling mengenai sikap, pemikiran, pendapat, perilaku, dan
perasaan dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama yang dianalisis
secara statistik.

2. Menentukan Penggunaan Penelitian Survei
Menurut Creswell (2015:753) penggunaan penelitian survei dilakukan ketika

kita akan mendeskripsikan tren-tren dan menentukan opini individual tentang
berbagai kebijakan di masyarakat. Misalnya, ketika kita ingin mengetahui opini
mahasiswa tetang perilaku menganiaya dalam hubungan pacaran atau kita
bertujuan menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi program
sekolah, misalnya keberhasilan program botik dalam pendidikan sains. Maka,
penelitian yang paling tepat kita gunakan adalah jenis penelitian survei.

3. Sejarah Perkembangan Penelitian Survei
Penelitian survei merupakan salah satu dari metode ilmiah yang masih cukup

baru. Penelitian ini berkembang mulai dari abad kedua puluh. Penelitian survei
dipandang sebagai salah satu cabang penelitian ilmiah dalam ilmu sosial. Prosedur-
prosedur dan metode-metodenya telah dikembangkan terutama oleh psikolog,
sosiolog, ekonom, ilmuwan politik, dan statistikawan.

De Landsheere ( dalam Creswell, 2015:754) menjelaskan bahwa penelitian
survei sudah ada sejak tahun 1817, pada saat Marc Antoni Julian de Paris
merancang sebuah survei internasional sepanjang 34 halaman tentang sistem
pendidikan nasional. Kemudian, pada tahun 1890-an, G. Stanley Hall menyurvei
anak-anak, dan pada 1907, Pittburgh Survey memeriksa berbagai masalah sosial,

84

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

termasuk masalah pendidikan mulai dari perencanaan pendidikan untuk gedung-
gedung sekolah sampai masalah anak-anak slowlearners (lambat belajar) di kelas
Bodgan& Biklen (dalam Creswell, 2015:754).

Survei berikutnya sudah mulai menjadi survei modern sejak periode Perang
Dunia I sampai Perang Dunia II. Pada periode ini terdapat perkembangan dalam
teknik sampling dan beragam skala pengukuran. Survei menemukan aplikasi luas di
banyak bidang ilmu sosial, termasuk riset pasar, jurnalisme, riset opini publik, dan
organisasi serta amal (Neuman, 2000). Pada pertengahan abad berbagai upaya
dilakukan untuk menetapkan pertanyaan-pertanyaan terstandar melalui survei di
U.S. Department of Agriculture (Departemen Pertanian Amerika Serikat). Beberapa
skala yang dikembangkan melalui pengembangan skala Likert (misalnya, sangat
setuju sampai sangat tidak setuju). Selain itu, berbagai pedoman ditulis untuk
menulis pertanyaan yang jelas, menstandarkan pertanyaan wawancara, melatih
pewawancara, dan memeriksa konsistensi di antara para pewawancara.

Pada masa Perang Dunia II, kegiatan penelitian survei memeriksa masalah-
masalah yang sentral sebagai upaya perang, seperti moral prajurit, kapasitas
produksi untuk berbagai senjata, dan efektivitas strategi. Melalui penelitian survei,
para peneliti menyempurnakan dan mengembangkan teknik asesmen besar
mereka, yang memungkinkan lahirnya organisasi penelitian sosial besar di
universitas Amerika setelah perang. Sebagai contoh, para peneliti mendirikan pusat
penelitian sosial di Berkeley (Survey Research Center), di University of Chicago
(National Opinion Research Center), dan di University of Michigan (Institut for Social
Research). Kemudian, organisasi polling (jajak-pendapat) seperti Gallup, Roper, dan
Rand Corporation, mendalami pemahaman tentang pengumpulan data skala besar.
Pendirian organisasi jajak-pendapat dan survei, ditambah penggunaan computer,
ketersediaan arsip dan penyimpanan data, dan dana dari pemerintah federal,
membantu memantapkan popularitas survei di bidang pendidikan pada pertengan
abab ke-20.

Perkembangan penelitian survei pada beberapa terakhir ini, dilakukan oleh
pemerintah federal maupun Negara bagian telah mendanai berbagai survei nasional
dan negara bagian, seperti Youth Risk Behavior Survey (Survei Perilaku Berisiko

85

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Remaja) yang dikembangkan oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention
(Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat) (Valois dan Mc
Kewon, 1998). Survei elektronik seperti wawancara telepon dengan bantuan
komputer, pengenalan suara, touch-tone data entry, dan pendekatan lain,
merepresentasikan inovasi di bidang kuesioner yang diadministrasikan sendiri, yang
memanfaatkan computer dan telepon (Babbie, 2013). Beberapa individu sudah
semakin banyak menggunakan situs Web dan Internet untuk mengumpulkan data
survei (Sills & Song, 2002). Peneliti survei sekarang dapat membuat online survei
(survei daring dalam jaringan), menempatkan kuesioner dalam format word
processing (pemrosesan kata), dan menciptakan sebuah fail hiperteks dan
meletakkan berbagai survei di situs Web (Nesbary, 2000). Survei dan komunikasi
elektronik mungkin akan merevolusi penggunaan dan aplikasi penelitian survey di
masa depan.

4. Jenis Rancangan Penelitian Survei
Creswell (2015:755-756) mengemukakan ada dua jenis rancangan survei,

yaitu cross-sectional dan longitudinal. Untuk rancangan cross-sectional, peneliti
survei hanya mengumpulkan data tentang sikap, pendapat, dan keyakinan saat ini.
Sedangkan rancangan longitudinal digunakan untuk meneliti individu dari waktu ke
waktu. Kemudian, menurut Zechmester (dalam Emzir, 2014:40) rancangan
penelitian survei terbagi menjadi tiga jenis, yaitu rancangan lintas-seksional (the
cross-sectional design), rancangan sampel bebas suksesif (the successive
independent samples design), dan rancangan longitudinal (the longitudinal design).
Rancangan penelitian lintas-seksional hanya difokuskan pada pendeskripsian
karakteristik dari suatu populasi atau perbedaan antara dua atau lebih populasi pada
satu titik waktu. Dalam mendeskrisikan perubahan terhadap sikap atau opini pada
waktu yang lama memerlukan penggunaan rancangan sampel bebas suksesif atau
rancangan longitudinal. Khusus rancangan longitudinal biasanya lebih disukai
karena memungkinkan peneliti untuk menilai perubahan individu secara khusus dan
menghindari masalah sampel suksesif yang tidak dapat dibandingkan. Berikut

86

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

gambar yang menunjukkan rancangan penelitian survei khusus dalam bentuk cross-
sectional dan longitudinal.

Waktu Pengumpulan Data

Penelitian dari Waktu ke Waktu Penelitian pada Satu Titik Waktu
Longitudinal Cross-sectional

Tren-tren Perubahan Perubahan Sikap Kebutuhan Evaluasi
dalam dalam pada dan masyarakat program
populasi praktik
kelompok beberapa
yang sama subpopula orang yang
dari waktu sama dari
ke waktu si yang
diidentifika waktu ke
si oleh cirri waktu

khusus
yang sama
dari waktu
ke waktu

Tren Kohort Panel Perbandingan Asesmen
Kelompok Nasional

Gambar 1. Jenis Rancangan Cross-sectional dan Longitudinal
(Creswell, 2015:756)

Berikut penjelasan mengenai penelitian survey dengan rancangan cross-
sectional dan longitudinal .

a. Rancangan Survei Cross-Sectional
Penelitian survei dengan rancangan cross-sectional berkerja dengan

mengumpulkan data pada satu titik waktu (Creswell, 2015:756). Tujuan
rancangan ini untuk mengevaluasi program misalnya bagi para pengambil
kebutusan. Misalnya, ketika anak-anak sekolah menengah mengerjakan survei
tentang teasing (perilaku menggoda/menggangu), mereka merekam data

87

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

tentang pandangan mereka saat itu sehingga memiliki keunggulan dalam
mengukur sikap atau praktik saat ini dan menyediakan informasi dalam waktu
singkat.

Terdapat beberapa bentuk rancangan cross-sectional, yaitu: (1) rancangan
penelitian dalam memeriksa sikap, keyakinan, pendapat/opini, atau praktik saat
ini. Sebagai contoh, tiga orang penulis melaksanakan survei tentang praktik guru
pelajaran membaca di sekolah (Morrison, Jacobs, dan Swinyard, 1999).
Penelitian ini dimaksudkan untuk menghubungkan guru-guru pelajaran membaca
personal-rekreasional di sekolah dasar dengan praktik mengajar baca-tulis
mereka. Dengan menggunakan daftar guru sekolah dasar nasional (yang
diperoleh dari perusahaan milis profesional), peneliti mengirimkan 3.600
kuesioner melalui pos ke sampel probabilitas. Dari sampel ini, 52,3% merespons
kuesioner empat-halaman yang terdiri dari 21 pertanyaan dan beberapa item
yang menanyakan tentang informasi demografis seperti gender, umur, dan
jumlah tahun pengalaman mengajar. Secara keseluruhan, para penulis
menyimpulkan bahwa para guru yang melihat dirinya sebagai pembaca lebih
berkemungkinan untuk menggunakan praktik pengajaran baca-tulis yang
direkomendasikan jika dibandingkan dengan para guru yang tidak melihat dirinya
sebagai pembaca (misalnya, “Bacakan keras-keras sebuah buku bergambar
kepada kelas Anda”).

(2) Rancangan cross-sectional yang membandingkan dua kelompok
pendidikan atau lebih dalam kaitnnya dengan sikap, keyakinan, pendapat, dan
praktik. Dalam rancangan ini, membandingkan siswa dengan siswa, siswa
dengan guru, atau siswa dengan orang tua, atau mungkin membandingkan
kelompok lain di ranah pendidikan dan sekolah. Misalnya, penelitian
membandingkan 98 guru SMP pedesaan dan perkotaan dari 11 sistem sekolah
di Georgia dan Nort Carolina dalam kaitannya dengan sumber stress dan gelaja
burnout (kejenuhan) (Abel dan Sewell, 1999). Dalam kelompok ini terdiri atas 52
guru pedesaan dan 46 guru perkotaan (sampel nonprobabilitas) yang mau
berpartisipasi secara sukarela dalam penelitian ini. Peneliti mengirimkan paket
yang terdiri atas dua istrumen, Sources of Stress Questionnaire (Kuesioner

88

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Sumber Stres) dan Maslach Burnout Inventory (Inventori Kejenuhan Maslach),
ke distrik-distrik sekolah yang berpartisipasi. Para guru mengirimkan kembali
kedua istrumen itu melalui pos kepada peneliti. Analisis statistic terhadap
datanya menunjukkan stres yang lebih tinggi untuk para guru perkotaan
dibandingkan para guru pedesaan karena kondisi kerja dan hubungan staf yang
buruk.

(3) Rancangan cross-sectional yang dapat mengukur kebutuhan masyarakat
akan pelayanan pendidikan yang berkaitan dengan program, pelajaran, proyek
fasilitas sekolah, atau keterlibatan di sekolah atau dalam perencanaan
masyarakat. Sebagai contoh, kebutuhan masyarakat warga Hispanik yang hanya
berbahasa Spanyol di Florida yang diteliti oleh Batsche, Hernandez, dan
Montenegro (1999). Dalam penelitian ini, para peneliti survei menjangkau
menjangkau warga Hispanik dengan menggunakan metode yang lebih cocok
untuk warga non-Hispanik. Untuk mengoreksinya, mereka merancang prosedur
untuk survei wawancara asesmen untuk mengidentifikasi kebutuhan dan prioritas
untuk program pelayanan manusia di Tampa Bay, wilayah Florida. Untuk
menyusun instrumen, para peneliti menterjemahkan intrumennya ke dalam
bahasa Spayol dan meminta masyarakat Hispanik setempat untuk meninjaunya,
kemudia menerjemahkan balik ke bahasa Inggris untuk mengidentifikasi
diskrepansi. Para peneliti juga melaksanakan rapat publik untuk menjelaskan
maksud dan pentingnya maksud dan pentingnya asesmen kebutuhan. Selain itu,
para peneliti juga menjadwalkan waktu wawancara untuk menghindari peristiwa
keagamaan dan libur budaya yang diikuti oleh warga Hispanik.

(4) Rancangan cross-sectional tentang asesmen skala-besar siswa atau
guru, sebagai contoh penelitian tingkat Negara bagian atau survei nasional yang
melibatkan ribuan partisipan. Sebagai contoh, Higher Education Research
Institute at the University of California, Los Angeles, melaksanakan suatu survei
dosen pada 1992-1993 ke seluruh lembaga yang menyelenggarakan pendidikan
tinggi yang totalnya mencakup 2.582 college dan universitas. Instrumen empat
halaman mengakses banyak faktor tentang dosen dan menghasilkan sampel
sebanyak 29.771 dosen purna-waktu college dan universitas. Day dan Hurtando

89

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

(1996) menganalisis data nasional ini untuk menelaah sikap terhadap upaya
lembaga untuk meregulasi bentuk-bentuk pidato di kampus. Mereka menemukan
bahwa sebagian besar dosen mendukung pelarangan “pidato kebencian” di
kampus, tetapi jauh kurang mendukung hak administrator untuk melarang
pembicara ekstrim.

5.Rancangan Survei Longitudinal
Rancangan survei longitudinal melibatkan prosedur survei berupa

pengumpulan data tentang tren dengan populasi yang sama, perubahan dalam
kelompok kohort, atau subpopulasi, atau perubahan dalam kelompok panel dari
individu yang sama dari waktu ke waktu. Dalam rancangan survei longitudinal,
partisipannya bisa orang yang sama atau berbeda. Sebagai contoh, penelitian
terhadap orang yang sama adalah penelitian tentang lulusan SMA dan pekerja
pelayanan makanan, atau agensi asuransi) 1, 2, dan 5 tahun setelah lulus.
Contoh lain, misalnya tindak lanjut dengan para lulusan program atau sekolah
untuk mempelajari pandangan mereka tentang pengalaman pendidikan mereka.

Dalam rancangan longitudinal, kita perlu memahami istilah trend study, cohort
study, dan panel study. Trend study (kajian tren) merupakan rancangan survei
longitudinal yang melibatkan pengidentifikasian populasi dan pemeriksaan
berbagai perubahan dalam populasi tersebut dari waktu ke waktu. Dengan
harapan peneliti dapat menggunakan data tersebut untuk mengakses bagaimana
tren berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, rancangan yang popular yaitu
Gallup Poll yang digunakan selama pemilihan umum untuk memantau tren-tren
dalam populasi voter mulai dari pemilihan primer sampai final.

Cohort Study merupakan suatu rancangan penelitian longitudinal di mana
peneliti mengidentifikasi suatu populasi berdasarkan ciri khusus tertentu dan
setelah itu meneliti subpopulasi tersebut dari waktu ke waktu. Seluruh anggota
kohort harus memiliki ciri khusus yang sama, misalnya meneliti populasi yang
berumur 18 tahun pada 2001. Jika umur adalah ciri khususnya, peneliti meneliti
kelompok itu sebagai umur kelompok. Sebagai contoh, kelompok kohort 18
tahun diteliti pada 2001. Lima tahun kemudian pada tahun 2006, sekelompok

90

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi


Click to View FlipBook Version