The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-06-11 00:12:01

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra

Agus Sulaeman, Goziyah

pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode
eksperimen, di sekolah dengan tenaga pendidik dan kependidikan, di rumah dengan
berbagai responden, pada suatu seminar, diskusi, di jalan dan lain-lain. Bila dilihat
dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer
dan sumber sekunder. Menurut Sugiyono (20011:6) Sumber primer adalah sumber
data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan data sumber
sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Sedangkan
Creswell (2010:267) Prosedur-prosedur pengumpulan data dalam penelitian
kualitatif melibatkan empat strategi, yaitu (1) observasi kualitatif, (2) wawancara
kualitatif, (3) dokumen-dokumen kualitatif, (4) materi audio dan visual.

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam
penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik
pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview
(wawancara), kuesioner (angket), dokumentasi dan gabungan/triangulasi. Data
primer penelitian ini adalah berupa Mantra masyarakat Kabupaten Tangerang yang
digunakan oleh tokoh adat, orang pintar, yang berupa data lisan didapatkan
langsung dari sumber data, yakni tokoh adat, orang pintar, masyarakat Kabupaten
Tangerang.

Data dikumpulkan dengan metode simak atau penyimakan, yaitu menyimak
Mantra masyarakat Kabupaten Tangerang yang digunakan oleh tokoh adat, orang
pintar, masyarakat Kabupaten Tangerang, baik secara lisan maupun tulis. Menurut
Mahsun (2014:92) Metode simak dapat disejajarkan dengan metode pengamatan

291

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

atau observasi dalam ilmu sosial, khususnya antropologi. Di samping itu, juga
digunakan metode cakap, yaitu metode penyediaan data dengan melakukan
percakapan antara peneliti dan informan. Metode ini dapat disejajarkan dengan
metode wawancara dalam ilmu sosial, khususnya antropologi.

Data lisan dikumpulkan dengan metode simak yang dibantu dengan teknik dasar
sadap dan teknik lanjutan simak libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Teknik
sadap digunakan untuk menyadap pemakaian bahasa Mantra secara lisan pada
tokoh adat, orang pintar, masyarakat Kabupaten Tangerang. Teknik simak libat
cakap dilakukan dengan menyimak sekaligus berpartisipasi dalam pembicara.
Peneliti terlibat langsung dalam dialog baik secara aktif maupun reseptif. Aktif,
artinya peneliti ikut berbicara dalam dialog sedangkan reseptif artinya hanya
mendengarkan pembicara informan. Peneliti berdialog sambil menyimak pemakaian
bahasa informan untuk mendapatkan mantra Banten. Saat penerapan teknik simak
libat cakap juga disertai teknik rekam, yaitu merekam dialog atau pembicaraan
informan. Rekaman ini selanjutnya ditranskripsikan dengan teknik catat.

Di samping dengan metode simak, data dalam penelitian ini juga dikumpulkan
dengan metode cakap. Metode cakap dibantu dengan teknik dasar teknik pancing,
sedangkan teknik lanjutnnya adalah teknik cakap semuka, teknik rekam, dan teknik
catat. Teknik pancing dilakukan dengan pemancingan. Artinya, peneliti mengajukan
berbagai macam pertanyaan agar informan mau mengeluarkan mantra Banten.
Teknik pancing dilakukan dengan langsung, tatap muka atau bersemuka. Pada saat
teknik pancing dan teknik cakap semuka diterapkan, sekaligus dioperasikan teknik

292

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

rekam. Artinya, peneliti merekam pembicaraan dalam teknik pancing dan teknik
cakap semuka. Hasil rekaman itu kemudian ditindaklanjuti dengan teknik catat.

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara tidak
terstruktur atau terbuka (Unstructure interview), adalah wawancara bebas, di mana
pewawancara tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara
sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data. Pedoman wawancara hanya
berupa garis-garis besar permasalahan yang ditanyakan.

Karakteristik informan.

Menurut Fatimah (2010:22) Kriteria informan secara tradisional adalah dengan
kriteria NORMS (bahasa Inggris) Nonmobile-Order-Rural-dan Males. Jadi seorang
informan harus memiliki keaslian, dalam arti tidak pernah bepergian (Nonmobile), lebih
luas (Order), tinggal dipedalaman (Rural), dan laki-laki (Males). Selain itu
Djadjasudarma juga menambahkan beberapa kriteria lagi yaitu informan dengan lafal
yang standar, artinya tidak memiliki kelainan dalam melafalkan fonem-fonem bahasa
yang diteliti, usia, geografis, stratifikasi sosial, dan pendidikan. Menetapkan informan
yang memiliki syarat, yaitu (1) mengetahui budayanya dengan baik, (2) terlibat
langsung, (3) menerima tindakan budayanya apa adanya, tidak basa-basi, (4) memiliki
waktu yang cukup.

Untuk mendapatkan data khususnya data lisan dibutuhkan informan. Informan
yang baik, harus memenuhi beberapa kriteria informan, yaitu:

293

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

(1) Tokoh adat, orang pintar, pawang, bumoh, dan penutur asli bahasa Jawa, dan
Sunda yang berdomisili di Kabupaten Tangerang dan mengetahui tentang
Mantra Banten;

(2) Berusia antara 45-75 tahun dan tidak pikun sehingga mampu memberikan
informasi berupa data yang reperesentatif;

(3) Tidak cacat wicara;
(4) Berpendidikan serendah-rendahnya setingkat SD;
(5) Bisa diajak berkomunikasi;
(6) Bersedia menjadi informan;
(7) Jujur dan tidak dikucilkan oleh masyarakat disekitarnya; dan
(8) Mempunyai pengetahuan dan keterampilan berbahasa memadai
G. Prosedur Analisis Data

Dalam menganalisis data digunakan metode padan dan metode agih. Menurut
Fatimah (2010:120) Metode padan adalah metode analisis bahasa yang alat
penuturnya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang
bersangkutan, sedangkan metode agih adalah metode analisis bahasa dengan alat
penentu yang berasal dari bahasa itu sendiri. Metode padan yang digunakan dalam
menganalisis data penelitian ini adalah metode padan referensial yang alat penentunya
adalah mitra wicara. Metode padan digunakan dalam menentukan fungsi dan makna
mantra Banten, sedangkan metode agih digunakan untuk mengetahui klasifikasi dan
bentuk mantra Banten. Untuk mendapatkan hasil analisis data yang baik dilakukan
sejumlah tahapan. Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah (1) transkripsi data dari
bahasa lisan ke dalam bahasa tulis dan mencatat data tertulis, (2) pengalih bahasaan

294

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

mantra Banten dari bahasa jawa, sunda ke dalam bahasa Indonesia, (3)
mengelompokan mantra Banten, (4) menentukan bentuk mantra Banten, (5) menelaah
fungsi mantra Banten, (6) menentukan makna yang terkandung dalam mantra Banten,
dan (7) menentukan dinamika pemakaian mantra Banten pada masyarakat
berdasarkan kelompok umurnya. Untuk menentukan dinamika pemakaian mantra
Banten, mantra Banten yang telah diklasifikasikan berdasarkan lingkup pemakaian,
dan topiknya diklarifikasi dengan teknik cakap semuka kepada responden. Responden
itu diambil secara acak yaitu dua orang dari setiap kecamatan yang ada di Kabupaten
Tangerang.

Selain menggunakan metode di atas untuk menganalisis data, dalam penelitian
bahasa (etnografi) juga menggunakan metode analisis data, yaitu, analisis domain
(domein), analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema kultural.
(Spradley, 1997:260).

a. Analisis domain (domein)
Analisis domain pada umumnya dilakukan untuk memperoleh gambaran yang
umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau objek penelitian.
Data diperoleh dari grand tour dan miniature question. Hasilnya berupa
gambaran umum tentang objek yang diteliti, yang sebelumnya belum pernah
diketahui. Analisis ini juga dilakukan terhadap data yang diperoleh dari
pengamatan berperanserta /wawancara atau pengamatan deskriptif yang
terdapat dalam catatan lapangan. Ada enam tahap yang dilakukan dalam
analisis domein yaitu : (1) memilih salah satu hubungan semantik untuk memulai
dari Sembilan hubungan semantik yang tersedia: strict inclusion (jenis), spatial

295

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

(ruang), cause effect (sebab akibat), rationale ( rasional), location for action
(lokasi untuk melakukan sesuatu), function (fungsi), means-end (cara mencapai
tujuan), sequence (urutan), attribution (atribut), (2) menyiapkan lembar analisis
domain, (3) memilih salah satu sampel catatan lapangan yang dibuat terakhir,
untuk memulainya, (4) mencari istilah acuan dan istilah bagian yang cocok
dengan hubungan semantik dari catatan lapangan, (5) mengulangi usaha
pencarian domein sampai semua hubungan semantik habis, dan (6) membuat
daftar domein yang ditemukan.
b. Analisis Taksonomi
Analisis taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul
berdasarkan domein yang telah ditetapkan. Ada tujuh langkah yang dilakukan
dalam analisis taksonomi yaitu: (1) memilih salah satu domein untuk dianalisis,
(2) mencari kesamaan atas dasar hubungan semantik yang sama yang
digunakan untuk domein itu, (3) mencari tambahan istilah bagian, (4) mencari
domein yang lebih besar dan lebih inklusif yang dapat dimasukan sebagai sub
bagian dari domein yang sedang dianalisis, (5) membentuk taksonomi
sementara, (6) mengadakan wawancara terfokus untuk mencek analisis yang
telah dilakukan, dan (7) membangun taksonomi secara lengkap.
c. Analisis komponen/komponensial
Pada analisis komponensial, yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain
bukanlah keserupaan dalam domain, tetapi justru yang memiliki perbedaan yang
kontras. Data ini dicari melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang
terseleksi. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi tersebut,

296

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat
ditemukan. Delapan langkah yang dilakukan dalam analisis komponen yaitu: (1)
memilih domein yang dianalisis, (2) mengidentifikasi seluruh kontras yang telah
ditemukan, (3) menyiapkan lembar paradigma, (4) mengidentifikasi dimensi
kontras yang memiliki dua nilai, (5) menggabungkan dimensi kontras yang
berkaitan erat menjadi satu, (6) menyiapkan pertanyaan kontras untuk ciri yang
tidak ada, (7) mengadakan pengamatan terpilih untuk melengakapi data, dan (8)
menyiapkan paradigma lengakap.
d. Analisis tema kultural
Analisis tema atau discovering cultural thema, sesungguhnya merupakan upaya
“mencari benang merah” yang mengintegrasikan lintas domain yang ada.
Dengan ditemukan benang merah dari hasil analisis domain, taksonomi, dan
komponensial tersebut, maka selanjutnya akan dapat tersusun sesuatu
“konstruksi bangunan” situasi sosial/objek penelitian yang sebenarnya masih
gelap atau remang-remang, dan setelah dilakukan penelitian, maka menjadi
lebih terang dan jelas. Memilih salah satu dari tujuh cara untuk menemukan
tema, yaitu (1) melebur diri, (2) melakukan analisis komponen terhadap istilah
acuan, (3) perspektif yang lebih luas melalui pencarian domein dalam
pandangan budaya, (4) menguji dimensi kontras seluruh domein yang telah
dianalisis, (5) mengidentifikasi domein terorganisir, (6) membuat gambar untuk
memvisualisasi hubungan antar domein, (7) mencari tema universal, dipilih satu
dari enam topik: konflik sosial, kontradiksi budaya, teknik kontrol sosial,

297

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

hubungan sosial pribadi, memperoleh dan memepertegas status dan

memecahkan masalah.

H. Pemeriksaan Keabsahan Data

Kegiatan Pengecekan keabsahan data atau validitas dalam penelitian kualitatif
merupakan upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan
prosedur-prosedur seperti berikut:

1. Kredibilitas merupakan validitas internal, yaitu derajat akurasi desain

penelitian dengan hasil yang dicapai atau kepercayaan terhadap data

hasil peneltian kualitatif dan dilakukan dengan cara:

a. Ketekunan pengamatan, berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan

berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan

peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.

b. Triangulasi

Triangulation is qualitive cross-validation it assesses the sufficiency of the data

according to the converegence of multiple data sources or multiple data

collection procedures William. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini

diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai

cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber,

triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Triangulasi menggunakan

beberapa sumber, metode, peneliti, teori, pembahasan sejawat, analisis

kasus negative, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota.

Berikut beberapa narasumber yang akan diwawancarai dengan dasar kualifikasi

pemilihannya yaitu, keahlian dan latar belakang pendidikan narasumber.

298

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

1. Prof .Dr. Suprani,M.Pd.
Guru Besar Tetap Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau merupakan putra asli daerah Kabupaten
Tangerang.

2. Prof.Dr.H. ILzamudin Makmur, M.Pd.
Guru Besar Tetap Tadris Bahasa Inggris IAIN SMH Banten. Beliau
merupakan putra asli Banten.

3. Mufti Ali, Phd.
Direktur pusat kajian Bantenologi IAIN SMH Banten. Beliau merupakan putra
asli Banten.

c. Review Informan Kunci (member check), meninjau ulang informan kunci dengan
pola partisipatoris terkait dengan data yang diperoleh peneliti tentang realitas
dan makna, dan akan memastikan nilai kebenaran sebuah data yang diperoleh
pada saat wawancara terdahulu. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa
jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.
Pelaksanaan member check dapat dilakukan setelah satu periode pengumpulan
data selesai atau setelah mendapat satu temuan atau simpulan.

d. Perpanjang keikutsertaan/pengamatan, berarti peneliti kembali kelapangan,
melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah
ditemui maupun yang baru, artinya bahwa narasumber dan peneliti akan
terbentuk rapport, semakin akrab, saling terbuka dan saling memercayai.
Rapport is a relationship of mutual trust and emotional affinity between two or
more people (Susan Stainback, dalam Moleong 2013:369).
Catatan: langkah keempat dilakukan jika data dianggap masih belum memadai.

299

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

2. Transferabilitas (keteralihan)

Transferabilitas merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif.
Validitas eksternal menunjukan derajat ketetapan atau dapat diterapkannya hasil
penelitian ke populasi di mana sampel tersebut diambil. Nilai transfer ini
berkenaan dengan pertanyaan, hingga hasil penelitian dapat diterapkan atau
digunakan dalam situasi lain. Oleh karena itu, supaya orang lain dapat
memahami hasil penelitian kualitatif sehingga ada kemungkinan untuk
menerapkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti dalam membuat laporannya
harus memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Bila
pembaca laporan penelitian memperoleh gambaran yang sedemikian jelas,
“semacam apa” suatu hasil penelitian dapat diberlakukan (transferability), maka
laporan tersebut memenuhi standar transferabilitas. Transferabilitas berkaitan
erat dengan realibilitas dan validitas. Atas dasar itu maka peneliti menentukan
tiga strategi untuk menstransferbilitas, yaitu : pertama, peneliti memberikan detail
tentang fokus penelitian, peran peneliti, kedudukan informan, dan dasar
penelitian, kedua diterapkan triangulasi dan beberapa metode lain dalam
pengumpulan dan analisis data, ketiga, strategi pengumpulan dan analisis data
akan dilaporkan secara detail untuk memberikan gambaran yang jelas dan
akurat mengenai metode-metode yang digunakan dalam penelitian ini.
3. Dependabiltas (kebergantungan)
Dalam penelitian kualitatif, uji dependabilitas dilakukan dengan melakukan sudit
Terhadap keseluruhan proses penelitian dengan langkah-langkah sebagai
berikut: bagaimana peneliti menentukan fokus/masalah, memasuki lapangan,
menentukan sumber data, melakukan analisis data melakukan uji keabsahan
data, sampai membuat kesimpulan,
1. Konfirmabilitas (kepastian dan objektivitas)
Uji konfirmabilitas mirip dengan uji dependebilitas, sehingga pengujian dapat

dilakukan bersamaan. Uji konfirmabilitas berarti menguji hasil penelitian,

berkaitan dengan proses yang dilakukan,

300

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

2. Auditing, pemeriksaan kesahihan data, berarti pengecekan ulang proses
penelitian dari metodologi penelitian berupa pengumpulan data melalui
wawancara, dan dilanjutkan dengan analisis data dengan menggunakan metode
padan dan agih, serta pengecekan keabsahan data sampai penarikan
kesimpulan. Kegiatan ini dilakukan melalui konsultasi intensif dengan
pembimbing dan konsultasi dengan informan kunci.

301

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

BAB XIII

Penelitian Kualitatif
(Penelitian Naratif dan Studi Kasus)

A.Pendahuluan
Secara garis besar ada dua pendekatan dalam penelitian, yakni pendekatan

kuantitatif atau penelitian kuantitatif (quntitative research) dan pendekatan kualitatif atau
penelitian kualitatif (qualitative research). Selain itu, dalam pelaksanaannya pada jenis
penelitian tertentu, mungkin saja menggabungkan kedua jenis pendekatan penelitian
itu, yang disebut metode gabungan (mixed methods).

Penelitian kualitatif bertolak dari filsafat konstruktivisme yang berasumsi bahwa
kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif, dan suatu pertukaran informasi sosial yang
diinterpresatikan oleh individu-individu. Para peneliti kualitatif percaya bahwa kenyataan
merupakan konstruksi sosial, bahwa individu-individu atau kelompok-kelompok
memperoleh dan memberi makna terhadap kesatuan-kesatuan tertentu apakah itu
peristiwa-peristiwa, orang-orang, proses-proses atau obyek-obyek. Orang membuat
konstruksi untuk memahaminya dan menyusunnya kembali sebagai sudut pandang
persepsi dan sistem kepercayaan. Persepsi orang adalah apa yang dia yakini “nyata”
padanya, dan apa yang mengarahkan kegiatan, pikiran, dan perasaannya. Penelitian
kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau
perspektif partisipan. Penelitian kualitatif diarahkan lebih dari sekedar memahami
fenomena tetapi juga mengembangkan teori.

Kebanyakan pertanyaan penelitian kualitatif berfokus pada topik-topik yang
bersifat analitis, mengajukan pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa” dari fenomena-
fenomena. Untuk kemudian diikuti secara lebih terurai dengan pertanyaan: “siapa”,
“apa”. “di mana”, dan “kapan”. Penelitian kualitatif difokuskan pada meneliti, individu,
kelompok, proses, organisasi, atau sistem. Creswell berpandangan bahwa, penelitian
kualitatif diandaikan seperti selembar kain rumit yang terdiri atas benang halus, banyak
warna, tekstur yang berbeda, dan berbagai campuran bahan. Di dalam kerangka
pandangan dunia dan melalui lensa-lensa tersebut terdapatlah pendekatan-pendekatan

302

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

terhadap penelitian kualitatif, seperti penelitian naratif, fenomenologi, teori dari dasar

(grounded theory), etnografi, dan studi kasus.

Pengalaman dalam kehidupan individu diceritakan kepada orang lain. Mereka

memberikan pandangan mereka tentang kelas, sekolah, masalah pendidikan dan latar

dimana mereka bekerja. Penelitian naratif adalah merupakan salah satu penelitian

kualitatif, dimana peneliti melakukan studi terhadap satu orang individu atau lebih untuk

memperoleh data tentang sejarah perjalanan dalam kehidupannya. Data tersebut

selanjutnya oleh peneliti disusun menjadi laporan yang naratif dan kronologis. Ketika

individu menceritakan kehidupannya kepada peneliti, mereka merasa didengarkan.

Informasi yang mereka berikan kepada peneliti berupa cerita pengalaman-pengalaman

pribadi. Data yang berupa cerita dilaporkan menggunakan desain penelitian naratif.

Sedangkan penelitian kasus adalah suatu penelitian yang dilakukan secara intensif,

terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau

dari wilayahnya, maka penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subjek yang sangat

sempit. Akan tetapi, ditinjau dari sifat penelitian, penelitian kasus lebih mendalam.

Sugiyono (20107:45) mengatakan bahwan studi kasus adalah merupakan salah satu

jenis penelitian kualitatif, dimana peneliti melakukan ekplorasi secara mendalam

terhadap program, kejadian, proses, aktivitas terhadap satu orang atau lebih. Suatu

kasus terikat oleh waktu dan aktifivitas dan peneliti melakukan pengumpulan data

secara mendetail dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data dan

dalam waktu yang berkesinambungan.

Dalam makalah ini, pembahasan difokuskan pada Penelitian Kualitatif,

khususnya pada jenis Penelitian Naratif dan PenelitianKasus.

B.Penelitian Naratif

1. Definisi Penelitian Naratif
Creswell (2015:1017) mengutip istilah naratif berasal dari kata kerja ‘to

narrate’ atau to tell (as a story) in detail atau menceritakan secara terperinci. Dalam

rancangan penelitian naratif, Cresswell mengatakan bahwa peneliti

mendeskripsikan kehidupan individu, mengumpulkan dan menceritakan tentang

kisah kehidupan orang-orang, dan menulis narasi tentang pengalaman individual.

303

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Definisi lain yang dikemukakan Gay, Mills dan Airasian (2009:384), penelitian
naratif adalah penelitian dimana pengalaman hidup diceritakan secara metodologis.
Penelitian ini berfokus pada studi satu orang atau individu yang juga membahas arti
pengalaman yang diceritakan oleh individu.

Penelitian naratif biasanya digunakan ketika peneliti ingin membuat laporan
naratif dari cerita individu. Peneliti membuat ikatan dengan partisipan dengan tujuan
supaya peneliti maupun partisipan merasa nyaman. Bagi partisipan berbagi cerita
akan membuatnya merasa ceritanya itu penting dan merasa didengarkan.

Penelitian naratif juga digunakan ketika cerita memiliki kronologi peristiwa.
Penelitian ini berfokus pada gambar mikroanalitik (cerita individu) daripada gambar
yang lebih luas tentang norma kebudayaan, seperti dalam etnografi, atau teori-teori
umum dan abstrak, seperti dalam grounded theory.

Tren atau kecenderungan mempengaruhi perkembangan penelitian naratif
dalam bidang pendidikan. Cortazzi dalam Creswell (2015:1020) mengemukakan tiga
faktor. Pertama, sekarang ini ada peningkatan perhatian pada refleksi guru. Kedua,
perhatian lebih ditekankan pada pengetahuan guru (apa yang mereka tahu,
bagaimana mereka berpikir, bagaimana mereka menjadi profesional, dan
bagaimana mereka membuat tindakan dalam kelas). Ketiga, pendidik mencoba
membawa suara guru ke permukaan dengan memberdayakan guru untuk
melaporkan tentang pengalaman mereka.

Berikut ini contoh dalam buku Cresswell (2015:1017) yang memberikan
pemahaman tentang apa itu penelitian naratif:
Maria memilih rancangan naratif untuk proyek penelitiannya tentang kepemilikan
senjata yang dimiliki oleh siswa-siswa kelas menengah. Millie adalah teman Maria,
ia menceritakan masalahnya kepada ibu maria bagaimana menemukan siswa di
sekolah menengah yang menyembunyikan senjata didalam loker. Maria meneliti
pertanyaan ini: “Apa cerita guru yang menemukan siswa yang menemukan senjata
di sekolahnya?” Maria menginterview Millie dan mendengarkan ceritanya tentang
pengalamannya dengan siswa, dengan guru lainnya, dan dengan kepala sekolah.
Cerita itu dimasukkan ke dalam kronologi yang mudah dari kejadian awal sampai
diskusi tindak lanjut.untuk menjadikan cerita seakurat mungkin, Maria

304

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

mengkolaborasikannya dengan Millie dengan menulis cerita, dan ia membagi
laporan tertulis sebagaimana hal itu diungkap. Maria menggunakannya dalam
penelitian naratif.

2. Tujuan Penelitian Naratif
Penelitian naratif bertujuan untuk mendapatkan informasi penting dari nara

sumber melalui cerita dan laporannya. Dalam pendidikan Gay, Mills dan Ariasian
(2009:384) mengatakan bahwa penelitian naratif ini akan membantu untuk
memahami isu-isu yang berkembang dalam proses belajar-mengajar melalui cerita
guru dan menceritakan kembali cerita tersebut. Selain itu, penelitian naratif akan
membantu para peneliti pendidikan untuk menyampaikan suara hati guru untuk
menghindari perdebatan dalam dunia pendidikan.

3. Jenis-Jenis Desain Naratif
Cresswell (2015:1022) menunjukkan ada beberapa contoh jenis bentuk

penelitian naratif antara lain adalah autobiografi, biografi, dokumen pribadi, riwayat
hidup, personal accounts, etnobiografi, autoetnografi, testimoni Amerika Latin, cerita
hidup dan sebagainya. Jika peneliti merencanakan melakukan studi naratif, maka
perlu mempertimbangkan jenis studi naratif apa yang akan dilakukan. Dalam studi
naratif, untuk mengetahui jenis naratif apa yang akan digunakan memang penting,
tetapi yang lebih penting adalah mengetahui karakteristik esensial dari tiap-tiap
jenis. Lima pertanyaan berikut ini yang akan membantu dalam menentukan jenis
studi naratif:
a. Siapa yang menulis atau mencatat cerita?

Menentukan siapa yang menulis dan mencatat cerita individu adalah perbedaan
mendasar dalam penelitian naratif. Biografi adalah bentuk studi naratif dimana
peneliti menulis dan mencatat pengalaman orang lain. Naratif otobiografi individu
yang menjadi subjek studi yang menulis laporannya.
b. Berapa banyak bagian kehidupan yang dicatat dan disuguhkan?

Riwayat hidup adalah suatu naratif dari keseluruhan pengalaman hidup
seseorang. Fokusnya sering meliputi titik balik atau peristiwa penting dalam
kehidupan individu. Dalam pendidikan, studi naratif secara khusus tidak meliputi

305

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

laporan dari suatu keseluruhan kehidupan tetapi malah berfokus pada suatu bagian
atau peristiwa tunggal dalam kehidupan individu.
c. Siapa yang menyediakan cerita?

Faktor ini secara khusus relevan dalam pendidikan, dimana tipe pendidik atau
tenaga pendidik menjadi fokus dalam beberapa studi naratif. Sebagai contoh, naratif
guru merupakan personal account guru tentang pengalamannya di dalam kelas.
Studi naratif yang lain berfokus pada siswa di dalam kelas. Beberapa individu yang
lain dalam latar pendidikan dapat memberikan cerita, misalnya tenaga administrasi,
pramusaji, tukang kebun dan tenaga kependidikan yang lain.
d. Apakah lensa teoritis digunakan?

Suatu pandangan teoritis dalam penelitian naratif adalah pedoman perspektif
atau ideologi yang menyediakan kerangka untuk menyokong kelompok atau individu
dalam laporan tertulis. Pandangan teoritis untuk Amerika latin menggunakan
pandangan “testimonios”, untuk cerita tentang wanita menggunakan perspektif
“feminist”.
e. Dapatkah berbagai bentuk naratif digabungkan?

Suatu studi naratif mungkin berupa biografi karena peneliti menulis dan
melaporkan tentang partisipan dalam penelitiannya. Penelitian juga dapat berfokus
pada suatu studi pribadi dari seorang guru. Hal ini dapat menunjukkan suatu
peristiwa dalam kehidupan seorang guru, misalnya pemecatan guru dari sekolah,
menghasilkan suatu naratif pribadi. Jika individunya seorang wanita, peneliti akan
menggunakan perspektif teoretis “feminist” untuk menguji kekuatan dan mengontrol
masalahnya. Pada akhirnya menghasilkan suatu naratif dari kombinasi beberapa
unsur yang berbeda yaitu gabungan dari biografi, personal account, cerita guru, dan
perspektif “feminist”.

4. Ciri-Ciri Khusus Kunci Penelitian Naratif
Menurut Cresswel (2015:1025), penelitian naratif memiliki beberapa

karakteristik bersama. Peneliti naratif mengeksplorasi suatu penelitian masalah
pendidikan dengan memahami pengalaman individu. Tinjauan pustaka memainkan
sedikit peran, khususnya dalam mengarahkan pertanyaan penelitian dan peneliti

306

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

memberi tekanan pada pentingnya pengetahuan dari partisipan dalam suatu latar
atau setting. Pengetahuan ini diperoleh dari cerita. Cerita merupakan data dan
peneliti secara khusus mengumpulkannya melalui wawancara atau percakapan
informal. Datanya disebut “field text” atau teks lapangan (Clandinin & Connelly,
2000), yang memberikan data kasar/mentah bagi peneliti untuk dianalisis seperti
yang diceritakan berdasarkan unsur masalah, karakter, latar, tindakan dan resolusi.

Peneliti membuat cerita naratif dan seringkali mengidentifikasi tema-tema
atau kategori-kategori yang muncul. Peneliti menulis atau menyusun kembali cerita
menurut kronologi kejadian, mendeskripsikan penglaman masa lalu, sekarang dan
masa depan dalam latar atau konteks tertentu. Sepanjang proses mengumpulkan
dan menganalisis data, peneliti berkolaborasi dengan partisipan, kemudian peneliti
dapat menjalin cerita menjadi laporan akhir.

Tujuh karakteristik utama penelitian naratif yaitu: pengalaman individu,
kronologi pengalaman, pengumpulan cerita, restorying, coding tema, konteks atau
latar dan kolaborasi. Tujuh karakteristik ini menjadi pusat penelitian.

Peneliti naratif berfokus pada pengalaman satu individu atau lebih. Peneliti
mengeksplorasi pengalaman-pengalaman individu. Pengalaman yang dimaksud
pengalaman pribadi dan pengalaman sosial. Penelitian naratif berfokus memahami
pengalaman masa lalu individu dan bagaimana pengalaman itu memberi kontribusi
pada pengalaman masa sekarang dan masa depan.

Memahami masa lalu individu seperti juga masa sekarang dan masa depan
adalah salah satu unsur kunci dalam penelitian naratif. Peneliti naratif menganalisis
suatu kronologi dan melaporkan pengalaman individu. Ketika peneliti berfokus pada
pemahaman pengalaman ini, peneliti memperoleh informasi tentang masa lalu,
masa sekarang dan masa depan partisipan. Kronologi yang dimaksud dalam
penelitian naratif adalah peneliti menganalisis dan menulis tentang kehidupan
individu menggunakan urutan waktu menurut kronologi kejadian (Cortazzi, 1993).

Peneliti memberi tekanan pada pengumpulan cerita yang diceritakan oleh
individu kepadanya atau dikumpulkan dari beragam field texts. Cerita dalam
penelitian naratif adalah orang pertama langsung secara lisan yang mengatakan

307

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

atau menceritakan. Cerita biasanya memiliki awal, tengah dan akhir. Cerita secara
umum harus terdiri dari unsur waktu, tempat, plot dan adegan.

Peneliti naratif mengumpulkan cerita dari beberapa sumber data. Field texts
dapat diwakili oleh informasi dari sumber lain yang dikumpulkan oleh peneliti dalam
desain naratif. Cerita dikumpulkan dengan cara diskusi, percakapan atau
wawancara.

Cerita pengalaman individu yang diceritakan kepada peneliti diceritakan
kembali dengan kata-kata sendiri oleh peneliti. Peneliti melakukan ini untuk
menghubungkan dan mengurutkannya. Restorying adalah proses dimana peneliti
mengumpulkan cerita, menganalisisnya dengan unsur kunci cerita (waktu, tempat,
plot dan adegan) dan kemudian menulis kembali cerita itu untuk menempatkannya
dalam urutan kronologis. Ada beberapa tahap untuk melakukan restory :
a. Peneliti melakukan wawancara dan mencatat percakapan dari rekaman suara.
b. Peneliti mencatat data kasar/mentah dengan mengidentifikasi unsur kunci cerita.
c. Peneliti menceritakan kembali dengan mengorganisir kode kunci menjadi suatu

rangkaian atau urutan. Rangkaian yang dimaksud adalah latar (setting), tokoh
atau karakter, tindakan, masalah dan resolusi.

Peneliti naratif dapat memberi kode dari cerita atau data menjadi tema-tema
atau kategori-kategori. Identifikasi tema-tema memberikan kompleksitas sebuah
cerita dan menambah kedalaman untuk menjelaskan tentang pemahaman
pengalaman individu. Peneliti menggabungkan tema-tema menjadi kalimat
mengenai cerita individu atau memasukannya sebagai bagian terpisah dalam suatu
penelitian. Peneliti naratif secara khusus memberi tema utama setelah proses
restory.

Peneliti menggambarkan secara terperinci latar atau konteks dimana
pengalaman individu menjadi pusat fenomenanya. Ketika melakukan restory cerita
partisipan dan menentukan tema, peneliti memasukkan rincian latar atau konteks
pengalaman partisipan. Latar atau setting dalam penelitian naratif boleh jadi teman-
teman, keluarga, tempat kerja, rumah dan organisasi sosial atau sekolah.

Peneliti dan partisipan berkolaborasi sepanjang proses penelitian. Kolaborasi
dalam penelitian naratif yaitu peneliti secara aktif meliput partisipannya dalam

308

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

memeriksa cerita yang dibukakan atau dikembangkan. Kolaborasi bisa meliputi
beberapa tahap dalam proses penelitian dari merumuskan pusat fenomena sampai
menentukan jenis field texts yang akan menghasilkan informasi yang berguna untuk
menulis laporan cerita pengalaman individu. Kolaborasi meliputi negoisasi hubungan
antara peneliti dan partisipan untuk mengurangi potensi gap atau celah antara
penyampai naratif dan pelapor naratif.

Kolaborasi juga termasuk menjelaskan tujuan dari penelitian kepada
partisipan, negoisasi transisi dari mengumpulkan data sampai menulis cerita dan
menyusun langkah-langkah untuk berbaur dengan partisipan dalam penelitian.

5. Masalah-Masalah Potensial Dalam Mengumpulkan Cerita
Apakah cerita itu autentik? Partisipan mungkin saja memberikan data atau

cerita palsu (Connelly dan Clandinin, 1990). Data palsu menimbulkan masalah bagi
peneliti karena peneliti sangat bergantung pada informasi dari partisipan. Kumpulan
field texts, triangulasi data, member checking dapat membantu memastikan bahwa
data yang dikumpulkan baik (Cresswell, 2015:1025).

Partisipan mungkin saja tidak dapat menceritakan cerita/kejadian yang
sebenarnya. Ketidakmampuan ini dapat muncul ketika pengalaman itu sungguh
terlalu menakutkan untuk dilaporkan atau terlalu buruk untuk diceritakan.
Ketidakmampuan ini juga muncul ketika individu takut menerima sanksinya jika
mereka menceritakan pengalamannya. Siapa yang memiliki cerita? Dalam
melaporkan cerita, peneliti beresiko melaporkan cerita yang belum mendapat izin
untuk diceritakan. Peneliti harus mendapat ijin untuk melaporkan cerita dan
menjelaskan kepada individu tujuan dan manfaat cerita pada awal memulai
penelitian.

Apakah suara partisipan hilang pada akhir laporan naratif? Ketika melakukan
restory, mungkin saja laporan merefleksikan cerita peneliti dan bukan cerita
partisipan. Penggunaan secara luas kutipan partisipan, bahasa yang tepat dari
partisipan dan dengan hati-hati menyusun waktu dan tempat cerita, dapat
membantu mencegah terjadinya masalah ini. Masalah yang berhubungan adalah
apakah peneliti mengambil keuntungan dengan mengorbankan atau merugikan

309

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

partisipan. Memberikan timbal balik atau balasan kepada partisipan misalnya
memberikan penghargaan kepada partisipan dalam penelitian atau menjadi
sukarelawan bagi partisipan akan menguntungkan baik partisipan maupun peneliti

.
6. Langkah-Langkah Dalam Penelitian Naratif

Pendidik atau peneliti yang melakukan studi naratif melewati proses yang
sama tanpa memperhatikan jenis atau bentuk penelitian naratif. Cresswell
(2015:1039-1044) memaparkan tentang tujuh langkah utama, khususnya selama
peneliti melakukan studi naratif. Pada bagian berikut ini akan dibahas tujuh langkah
dalam melakukan penelitian naratif.
a. Mengidentifikasi satu pusat fenomena untuk dieksplorasi yang menunjukkan

suatu masalah pendidikan.
Proses penelitian dimulai dengan memfokuskan pada masalah penelitian untuk
diteliti dan diidentifikasi. Satu pusat fenomena untuk dieksplorasi. Walaupun
fenomena yang ditarik dalam penelitian adalah cerita (Connelly dan Clandinin,
1990), tetapi peneliti perlu untuk mengidentifikasi suatu masalah atau
keprihatinan peneliti pada suatu kondisi/keadaan tertentu. Peneliti berusaha
untuk memahami pengalaman pribadi atau sosial dari seorang individu atau lebih
dalam lingkup pendidikan.
b. Secara sengaja (purposefully) memilih seorang individu untuk mempelajari
tentang satu fenomena tersebut.
Peneliti mencari seorang individu atau lebih yang dapat memberikan suatu
pemahaman tentang fenomena itu. Partisipan mungkin seseorang yang khas
atau seseorang yang sangat penting untuk penelitian karena ia telah mengalami
masalah tertentu atau situasi tertentu. Walaupun kebanyakan studi naratif
meneliti hanya individu tunggal, peneliti dapat meneliti beberapa individu dalam
penelitian, masing-masing dengan cerita berbeda yang dapat menimbulkan
konflik atau malah saling mendukung satu sama lain.
c. Mengumpulkan cerita dari individu tersebut.
Peneliti mengumpulkan field texts (data) yang akan memberikan cerita dari
pengalaman partisipan. Boleh jadi langkah terbaik untuk mengumpulkan cerita

310

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

adalah memiliki cerita partisipan tentang pengalamannya melalui percakapan
atau wawancara. Peneliti dapat mengumpulkan field texts atau teks lapangan
dari sumber yang lain juga, seperti jurnal atau catatan harian, mengamati
individu dan membuat “fieldnote” atau catatan lapangan, mengumpulkan surat-
surat yang dikirim oleh individu, mengumpulkan cerita individu dari anggota
keluarganya, mengumpulkan dokumen-dokumen resmi mengenai individu,
mengumpulkan foto-foto dan barang-barang pribadi yang lain dan mencatat
pengalaman-pengalaman hidup individu.
d. Restory atau menceritakan kembali cerita individu.
Proses ini meliputi pemeriksaan data kasar/mentah, mengidentifikasi unsur-
unsur cerita di dalamnya, mengurutkan atau mengorganisir unsur-unsur cerita
dan menyajikan ulangan cerita yang menggambarkan pengalaman partisipan.
Peneliti melakukan restory karena pendengar dan pembaca akan lebih
memahami cerita yang diceritakan oleh partisipan jika peneliti mengurutkan
menjadi urutan yang logis. Apakah peneliti mengeidentifikasi unsur-unsur cerita?
Bagaimana peneliti mengurutkan dan mengorganisir unsur-unsur cerita? Peneliti
naratif membedakan unsur-unsur cerita menjadi pilihan, misalnya, waktu, tempat,
plot, dan adegan merupakan unsur utama terdapat dalam restory oleh peneliti.
e. Berkolaborasi dengan partisipan yang memberi cerita.
Peneliti secara aktif berkolaborasi dengan partisipan sepanjang proses
penelitian. Kolaborasi ini dapat mengasumsikan beberapa bentuk, seperti
negoisasi masuk ke tempat penelitian dan negoisasi dengan partisipan, bekerja
secara dekat dengan partisipan supaya mendapatkan field texts untuk
memahami pengalaman partisipan, menulis dan menceritakan cerita dalam
kalimat atau kata-kata peneliti sendiri.
f. Menulis laporan naratif tentang pengalaman partisipan.
Langkah utama dalam proses penelitian adalah supaya peneliti menulis dan
menyajikan cerita dari pengalaman partisipan. Restorying peneliti tentu saja
merupakan pusat dalam laporan naratif. Selanjutnya peneliti harus memasukkan
suatu analisis untuk menyoroti tema khusus yang muncul sepanjang cerita.
g. Validasi keakuratan laporan

311

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Peneliti juga perlu melakukan validasi keakuratan dari laporan naratifnya. Ketika
berkolaborasi dengan partisipan, validasi ini dapat terjadi melalui kegiatan
penelitian. Beberapa validasi praktis seperti member checking, triangulasi di
antara sumber-sumber data dan mencari bukti-bukti dapat membantu
menentukan keakuratan dan kredibilitas laporan naratif.

7. Mengevaluasi Penelitian Naratif
Sebagai salah satu bentuk penelitian kualitatif, penelitian naratif perlu

konsisten dengan kriteria penelitian kualitatif. Menurut Cresswell (2008:516), ada
aspek-aspek spesifik naratif dalam membaca dan mengevaluasi studi naratif yang
harus dipertimbangkan. Daftar pertanyaan berikut ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi laporan penelitian naratif.
a. Apakah peneliti berfokus pada pengalaman individu?
b. Apakah fokus pada seseorang atau beberapa orang individu?
c. Apakah peneliti mengumpulkan cerita suatu pengalaman individu?
d. Apakah peneliti malakukan restory cerita partisipan?
e. Dalam restorying, apakah suara partisipan terdengar seperti suara peneliti?
f. Apakah peneliti mengidentifikasi tema-tema yang muncul dari cerita?
g. Apakah cerita ini termasuk informasi tentang tempat atau latar dari individu?
h. Apakah cerita memiliki kronologis, urutan temporal termasuk masa lalu,

sekarang, dan masa depan?

C.PENELITIAN KASUS
1. Pengertian Penelitian Kasus

Sejak tahun 1993, seiring dengan semakin populernya penelitian studi kasus,
banyak pengertian penelitian studi kasus telah dikemukakan oleh para ahli tentang
penelitian studi kasus Secara umum, pengertian-pengertian tersebut mengarah
pada pernyataan bahwa, sesuai dengan namanya, penelitian studi kasus adalah
penelitian yang menempatkan sesuatu atau obyek yang diteliti sebagai ‘kasus’.
Tetapi, pandangan tentang batasan obyek yang dapat disebut sebagai ‘kasus’ itu
sendiri masih terus diperdebatkan hingga sekarang. Penelitian studi kasus adalah

312

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

suatu pendekatan penelitian kualitatif, yang dilakukuan dengan cara mengeksplor
sebuah kasus atau beberapa kasus, di mana di dalam pengumpulan data dilakukan
secara terperinci melalui observasi, wawancara, dokumen dan materi audiovisual
atau laporan dari sebuah kasus yang didasarkan tema atau topik tertentu
(Cresswell, 2008:135).

Pada penelitian kualitatif, terdapat obyek penelitian yang harus dipandang
secara khusus, agar hasil penelitiannya mampu menggali substansi terperinci dan
menyeluruh dibalik fakta. Obyek penelitian yang demikian, yang disebut sebagai
‘kasus’, harus dipandang sebagai satu kesatuan sistem dibatasi (bounded system)
yang terikat pada tempat dan kurun waktu tertentu. Sebagai sistem tertutup, kasus
terbentuk dari banyak bagian, komponen, atau unit yang saling berkaitan dan
membentuk suatu fungsi tertentu.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metode yang tepat untuk dapat
mengungkapkan mengapa dan bagaimana bagian, komponen, atau unit tersebut
saling berkaitan untuk membentuk fungsi. Metoda tersebut harus mampu menggali
fakta dari berbagai sumber data, menganalisis dan menginterpretasikannya untuk
mengangkat substansi mendasar yang terdapat dibalik kasus yang diteliti. Metode
penelitian tersebut adalah metode penelitian studi kasus.

Pengertian lain didefinisikan oleh Yin (2012:57) bahwa penelitian studi kasus
adalah sebuah metode penelitian yang secara khusus menyelidiki fenomena
kontemporer yang terdapat dalam konteks kehidupan nyata, yang dilaksanakan
ketika batasan-batasan antara fenomena dan konteksnya belum jelas, dengan
menggunakan berbagai sumber data. Dalam kaitannya dengan waktu dan tempat,
secara khusus Yin menjelaskan bahwa obyek yang dapat diangkat sebagai kasus
bersifat kontemporer, yaitu yang sedang berlangsung atau telah berlangsung tetapi
masih menyisakan dampak dan pengaruh yang luas, kuat atau khusus pada saat
penelitian dilakukan.

Secara sekilas, metode penelitian ini sama dengan metoda penelitian
kualitatif pada umumnya. Tetapi jika penjelasan Yin secara teoritis maupun dalam
bentuk contoh-contoh praktisnya dipelajari lebih seksama, maka akan didapatkan

313

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

beberapa kekhususan yang menyebabkan metoda penelitian ini memiliki perbedaan
siginifikan dengan metoda penelitian kualitatif lainnya.

Secara umum, pengertian-pengertian tersebut mengarah pada pernyataan
bahwa, sesuai dengan namanya, Penelitian Studi Kasus adalah penelitian yang
menempatkan sesuatu atau obyek yang diteliti sebagai ‘kasus’.

2. Jenis-Jenis Penelitian Kasus
Beberapa pakar mengemukakan jenis-jenis penelitian studi kasus dalam

penjelasan yang berbeda-beda. Perbedaan penentuan jenis tersebut disebabkan
oleh cara pandang masing-masing pakar terhadap posisi dan kedudukan kasus di
dalam penelitian. Meskipun demikian, secara umum, terdapat pandangan yang
sama di antara mereka, yaitu memposisikan dan memperlakukan obyek penelitian
sebagai kasus. Smith (2009: 245) membagi penelitian studi kasus berdasarkan
karakteristik dan fungsi kasus di dalam penelitian. Stake sangat yakin bahwa kasus
bukanlah sekedar obyek biasa, tetapi kasus diteliti karena karakteristiknya yang
khas. Hal ini sesuai dengan penjelasannya menyatakan bahwa penelitian studi
kasus bukanlah sekedar metoda penelitian, tetapi adalah tentang bagaimana
memilih kasus yang tepat untuk diteliti. Berdasarkan hal tersebut, Smith (2009:176)
membagipenelitian studi kasus menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:
a. Penelitian Studi Kasus Mendalam

Penelitian studi kasus mendalam (intrinsic case study) adalah penelitian studi
kasus yang dilakukan dengan maksud untuk yang pertama kali dan terakhir kali
meneliti tentang suatu kasus yang khusus. Hal ini dilakukan tidak dengan
maksud untuk menempatkan kasus tersebut mewakili dari kasus lain, tetapi lebih
kepada kekhususan dan keunikannya. Pada awalnya, penelitianya mungkin tidak
bermaksud untuk membangun teori dari penelitiannya, tetapi kelak mungkin ia
akan dapat membangun teori apabila kasus tersebut memang menjadi satu-
satunya di dunia. Pada umumnya, para peneliti studi kasus mendalam ini
bermaksud untuk meneliti atau menggali hal-hal yang mendasar yang berada
dibalik kasus tersebut. Kata intrinsic itu sendiri, menurut Kamus Merriam-
Webster adalah sebagai berikut: 1 a : belonging to the essential nature or

314

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

constitution of a thing *the intrinsic worth of a gem* *the intrinsic brightness of a
star* b : being or relating to a semiconductor in which the concentration of charge
carriers is characteristic of the material itself instead of the content of any
impurities it contains 2 a : originating or due to causes within a body, organ, or
part *an intrinsic metabolic disease*b : originating and included wholly within an
organ or part *intrinsic muscles* Pengertian tentang intrinsic di atas menunjukkan
bahwa penelitian studi kasus mendalam bermaksud menggali hal yang
mendasar (esensi) yang menyebabkan terjadinya atau keberadaan dari suatu
kasus.
b. Penelitian Studi Kasus Intrumental
Penelitian studi kasus intrumental (instrumental case study) adalah penelitian
studi kasus yang dilakukan dengan meneliti kasus untuk memberikan
pemahaman mendalam atau menjelaskan kembali suatu proses generalisasi.
Dengan kata lain, kasus diposisikan sebagai sarana (instrumen) untuk
menunjukkan penjelasan yang mendalam dan pemahaman tentang sesuatu
yang lain dari yang biasa dijelaskan. Melalui kasus yang ditelitinya, peneliti
bermaksud untuk menunjukkan adanya sesuatu yang khas yang dapat dipelajari
dari suatu kasus tersebut, yang berbeda dari penjelasan yang diperoleh dari
obyek-obyek lainnya.
c. Penelitian Studi Kasus Jamak
Penelitian studi kasus jamak (collective or mutiple case study) adalah penelitian
studi kasus yang menggunakan jumlah kasus yang banyak. Penelitian studi
kasus ini adalah pengembangan dari penelitian studi kasus instrmental, dengan
menggunakan kasus yang banyak. Asumsi dari penggunaan kasus yang banyak
adalah bahwa kasus-kasus yang digunakan di dalam penelitian studi kasus
jamak mungkin secara individual tidak dapat menggambarkan
karakteristikumumnya. Masing-masing kasus mungkin menunjukkan sesuatu
yang sama atau berbeda-beda. Tetapi apabila dikaji secara bersama-sama atau
secara kolektif, dapat menjelaskan adanya benang merah di antara mereka,
untuk menjelaskan karakteristik umumnya. Kasus-kasus di dalam penelitian studi
kasus jamak dipilih karena dipandang bahwa dengan memahami mereka secara

315

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

kolektif, dapat meningkatkan pemahaman terhadap sesuatu, dan bahkan dapat
memperbaiki suatu teori dengan menunjukkan fakta dan bukti yang lebih banyak.
Smith (2009: 182) menunjukkan contoh-contoh penelitian studi kasus kolektif
adalah dengan menunjuk pada buku-buku kumpulan dari artikel-artikel yang
membahas suatu isu yang sama. Di dalam buku tersebut, editornya harus
mampu menunjukkan benang merah dari masing-masing artikel, sehingga
pembacanya akan mendapatkan pemahaman menyeluruh yang mendalam
tentang isu tersebut berdasarkan kajian yang dilakukan pada masing-masing
artikel. Sementara itu, Creswell (2015:347) menyatakan bahwa jenis-jenis
penelitian studi kasus ditentukan batasan dari kasus, seperti seorang individu,
beberapa individu, sekelompok, sebuah program atau sebuah kegiatan.
Disamping itu, jenis-jenis tersebut dapat ditentukan berdasarkan penentuan
maksud dari analisis kasusnya. Penjelasan Creswell tentang jenis-jenis
penelitian studi kasus secara umum mirip dengan Smith (2009:189), karena
memang berpedoman kepada penjelasan Stake.

Berdasarkan maksud analisis kasusnya tersebut, Creswell (2015), membagi
penelitian studi kasus dapat dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:
1.Penelitian studi kasus intrumental tunggal

Penelitian studi kasus instrumental tunggal (single instrumental case study)
adalah penelitian studi kasus yang dilakukan dengan menggunakan sebuah
kasus untuk menggambarkan suatu isu atau perhatian. Pada penelitian ini,
penelitinya memperhatikan dan mengkaji suatu isu yang menarik perhatiannya,
dan menggunakan sebuah kasus sebagai sarana (instrumen) untuk
menggambarkannya secara terperinci.
2.Penelitian studi kasus jamak
Penelitian studi kasus jamak (collective or multiple case study) adalah penelitian
studi kasus yang menggunakan banyak (lebih dari satu) isu atau kasus di dalam
satu penelitian. Penelitian ini dapat terfokus pada hanya satu isu atau perhatian
dan memanfaatkan banyak kasus untuk menjelaskannya. Di samping itu,
penelitian ini juga dapat hanya menggunakan satu kasus (lokasi), tetapi dengan
banyak isu atau perhatian yang diteliti. Pada akhirnya, penelitian ini juga dapat

316

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

bersifat sangat kompleks, karena terfokus pada banyak isu atau perhatian dan
menggunakan banyak kasus untuk menjelaskannya. Yin (2003a, 2009)
mengatakan bahwa untuk melakukan penelitian studi kasus jamak ini, dapat
menggunakan penelitian replikasi yang logis, yaitu dengan menggunakan suatu
prosedur yang sama yang diberlakukan untuk setiap isu atau kasus. Peneliti
kemudian melakukan generalisasi pada setiap isu atau kasus dan
memperbandingkannya pada akhir kajian.

3.Penelitian studi kasus mendalam
Penelitian studi kasus mendalam (intrinsic case study) adalah penelitian yang

dilakukan pada suatu kasus yang memiliki kekhasan dan keunikan yang tinggi.
Fokus penelitian ini adalah pada kasus itu sendiri, baik sebagai lokasi, program,
kejadian atau kegiatan. Penelitian studi kasus mendalam ini mirip dengan penelitian
naratif yang telah dijelaskan di depan, tetapi memiliki prosedur kajian yang lebih
terperinci kepada kasus dan kaitannya dengan lingkungan disekitarnya secara
terintegrasi dan apa adanya. Lebih khusus lagi, penelitian studi kasus mendalam
merupakan penelitian yang sangat terikat pada konteksnya, atau dengan kata lain
sangat terikat pada lokusnya (site-case). Pendapat Smith (2009) dan Creswell
(20015) di atas jika digambarkan secara diagramatis, dapat dilihat pada gambar di
bawah. Pada gambar tersebut juga diilustrasikan dengan contoh judul-judul yang
menggambarkan isi dari masing-masing jenis. Contoh penelitian studi kasus
mendalam yang diberikan dengan judul ‘Kemacetan Lalu-lintas di Kawasan
Malioboro, Yogyakarta, menunjukan adanya keterpaduan antara kasus dengan
lokasi penelitiannya. Sementara itu, contoh untuk penelitian studi kasus instrumental
tunggal yang berjudul Kemacetan Lalu Lintas di Yogyakarta, Studi Kasus: Kawasan
Malioboro, dan contoh jamaknya adalah ‘Kemacetan Lalu Lintas di Yogyakarta,
Studi Kasus: Kawasan Gejayan dan Malioboro, menunjukkan adanya penggunaan
istilah ‘studi kasus’. Penggunaan istilah tersebut secara khusus untuk menunjukkan
bahwa kasus yang dipergunakan bersifat sebagai sarana (instrumen) pembukti atas
konsep atau teori peneliti

317

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

3.Tujuan Penelitian Kasus
Peneliti menggunakan metode penelitian studi kasus bertujuan untuk

memahami obyek yang ditelitinya. Gay, Mills & Airasian (2009:216) memaparkan
bahwa penelitian kasus bertujuan untuk mengungkapkan kekhasan atau keunikan
karakteristik yang terdapat di dalam kasus yang diteliti. Selain itu, penelitian kasus
dapat memberikan informasi mengenai keberadaan serta keterlibatan di dalam
suatu kejadian, dengan menyediakan analisis terperinci mengenai kejadian tersebut.

4.Karakteristik Penelitian Kasus
Ada beberapa konsep penting yang perlu dipahami tentang apa sebenarnya

Penelitian Studi Kasus. Hal ini penting untuk diketahui sebelum melakukan kegiatan
penelitian, karena masih banyak kalangan peneliti, atau peminat pendidikan yang
menilai bahwa Penelitian Studi Kasus itu sama, baik dari segi pendekatan dan
strategi analisis datanya dengan penelitian kuantitatif. Berikut ini beberapa
karakteristik Penelitian Studi Kasus di sekolah (D. Gall, J. Gall, Borg, 2007), antara
lain:
a. Penelitian Studi Kasus merupakan salah satu bentuk strategi penelitian kualitatif

yang berparadigma pospositivisme. Ada tiga paradigma penelitian kualitatif,
yaitu: (1) Paradigma Pospositivis, yang memiliki lima macam Strategi Penelitian
Kualitatif yaitu: Studi Kasus; Etnografi; Interaksionis Simbolik; Naturalistis Inquiry;
Grounded Theory. (2) Paradigma Konstruktivis, yang memiliki tiga macam
Strategi Penelitian Kualitatif, yaitu: Etnometodologi; Etnografi Teks; Action
Research/Penelitian Tindakan. (3) Paradigma Posmodernis, yang memiliki satu
Strategi Penelitian Kualitatif, yaitu Pluralisme Inferensial (Bakri, 2002).
b. Penelitian Studi Kasus pendidikan merupakan suatu penelitian atau pendekatan
untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasi suatu kasus (case)
pendidikan (pembelajaran) dalam konteksnya secara natural (alami) tanpa
adanya intervensi dari pihak luar. Kasus (case) bisa dalam bentuk: (1) sederhana
atau kompleks; (2) individual (kasus tunggal) atau kelompok (cluster / multi
kasus); (3) statis atau dinamis.

318

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

c. Penelitian Studi Kasus pendidikan lebih menjadi wilayah kegiatan penelitian
ilmiah para guru BP/BK, sedangkan kegiatan penelitian guru mata pelajaran
adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Studi Kasus pendidikan
berkaitan dengan upaya mencari pemecahan kasus yang dihadapi oleh peserta
didik, baik secara individu atau kelompok, baik berkaitan dengan kesulitan
belajar, masalah karir dan masalah kepribadian menyimpang.

d. Kasus yang diangkat dalam penelitian harus memenuhi dua hal yaitu: (1) spesifik
dan (2) mempunyai batasan (bounded system) yang jelas (Salim, A. 2001).
Selain itu, Penelitian Studi Kasus dapat dibedakan menjadi tiga tipe yaitu: (1)
Studi kasus ekspalanatoris; (2) Studi kasus eksploratoris; dan (3) Studi kasus
deskriptif (Yin, Robert, K. 1981).

e. Penelitian Studi Kasus pendidikan yang dilakukan guru BP/BK di sekolah lebih
banyak menggunakan tipe Studi kasus deskriptif, dengan model analisis datanya
bersifat deskriptif kualitatif atau interaksional (siklus).

5.Sistematika Penelitian Kasus
1. Merumuskan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Apakah yang dijadikan unit
studi itu dan sifat-sifat, saling hubungan serta proses-proses yang mana akan
menuntun penelitian.
2. Merancangkan cara pendekatannya. Bagaimana unit-unit itu akan dipilih?
Sumber-sumber data mana yang tersedia. Metode pengumpulan data mana
yang akan digunakan?
3. Mengumpulkan data.
4. Mengorganisasikan data dan informasi yang diperoleh itu menjadi
rekonstruksi unit studi yang koheren dan terpadu secara baik.
5. Menyusun laporannya dengan sekaligus mendiskusikan makna hasil
tersebut.

6.Desain Penelitian Kasus
Gay (2009:428) menyatakan secara khusus peneliti dalam penelitian kasus

sebaiknya melakukan proses sebagai berikut:
1. Menentukan pertanyaan masalah.
2. Mendefinisikan kasus dalam penelitian.

319

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

3. Menentukan peranan perkembangan teori dalam seleksi kasus.
4. Menentukan kerangka kerja dari konsep dan teori penelitian kasus tersebut.
5. Menentukan apakah penelitian kasus itu termasuk penelitian kasus tunggal atau

jamak.

7.Strategi Analisis Data Dalam Penelitian Kasus
Proses analisis bukti (data) dalam Penelitian Studi Kasus adalah tahap yang

“paling sulit dan rumit”, diperlukan kejelian, ketelitihan dan latihan-latihan. Yin (2012)
menyatakan bahwa ada beberapa konsep yang perlu dipahami tentang analisis
bukti (data) dalam Penelitian Studi Kasus antara lain:
1. Sebelum melakukan analisis data dalam Penelitian Studi Kasus, hal-hal yang

perlu dilakukan oleh (peneliti) adalah: (a) latihan-latihan intensif perlu
direncanakan dan dilakukan; (b) protokol studi kasus perlu dikembangkan dan
dilakukan penyempurnaan kembali; dan (c) perlu ada penelitian perintis (pra
penelitian atau kajian awal). Apabila desain penelitiannya multi kasus, maka
melakukan protokol studi kasus dan pra penelitian adalah sebuah keharusan.
2. Harus ada dalam protokol studi kasus adalah: (a) tinjauan umum objek penelitian
studi kasus, (b) prosedur atau tahapan kerja di lapangan yang harus dilakukan,
(c) pertanyaan-pertanyaan tentang kasus yang akan diteliti, yang spesifik, pakai
tabel-tabel. Pertanyataan bisa dari pihak yang diwawancarai; dari kasus
individual; dari kasus multi; dari kasus luar atau dari sumber literatur; (d)
tuntunan atau pedoman dalam pembuatan laporan studi kasus.
3. Proses analisis data (bukti) dalam CSR adalah terdiri dari (a) pengumpulan bukti
(data) dari beragam sumber; (b) pengujian bukti; (c) pengkategorian atau
pengelompokan bukti; (d) pentabulasian atau pengkombinasian kembali bukti-
bukti untuk menunjuk pada proposisi atau teori awal saat penelitian; dan (e)
pemberian interpretasi dan penarikan kesimpulan. Kelima proses tersebut dapat
dilakukan baik pada kasus tunggal atau multikasus.
4. Dalam proses analisis bukti (data) CSR disarankan menggunakan perpaduan
atau beberapa teknik analisis, seperti: (a) memasukkan informasi ke dalam
daftar yang berbeda; (b) membuat matriks kategori dan menempatkan buktinya

320

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

kedalam kategori; (c )mentabulasi frekuensi peristiwa yang berbeda; (d)
memeriksa keberagaman tabulasi dan hubungannya dengan menskor serta
menghitung mean-nya; dan (e) memasukkan informasi ke dalam urutan
kronologis atau menggunakan skema waktu. Ada dua macam analisis bukti
(data) dalam penelitian studi kasus, yaitu: Pertama, Analisis Dominan. Bentuk
analisis dominan ini dibagi lagi menjadi tiga macam sub analisis dominan, yaitu:
(a) Analisis pejodohan pola; (b) Analisis penjelasan; dan (c) Analisis deret waktu.
Kedua, Analisis Kurang Dominan. Bentuk analisis kurang dominan ini dibagi lagi
menjadi tiga macam sub analisis kurang dominan, yaitu: (a) Analisis unit-unit
terjalin; (b) Analisis observasi berulang; dan (c) Analisis sekunder lintas kasus.
Jadi, untuk melakukan analisis data (bukti) dalam penelitian studi kasus banyak
sekali macamnya, peneliti bisa memilih salah satu sub analisis atau memadukan
dua sub analisis dalam penelitiannya
5. Dalam tulisan singkat ini dijelaskan gambaran dari dua sub analisis dominan
yaitu: analisis penjelasan dan analisis deret waktu. Pertama, analisis penjelasan.
Dalam analisis ini peneliti menjelaskan: (a) protokol studi kasus; (b) setelah
protokol studi kasus, kasus yang diteliti, dijelaskan berdasarkan teori-teori, atau
hasil-hasil penelitian terdahulu, atau jurnal ilmiah (mengapa dan bagaimana)
kasus tersebut; (c) setelah memahami secara teoritis tentang kasus tersebut,
kemudian peneliti memasuki, memahami, mengkaji kondisi realitasnya,
kenyataan sehari-hari (mengapa dan bagaimana) kasus tersebut, dijelaskan
secara sistematis, logis berdasarkan beragam sumber data yang ada di
lapangan secara valid atau dapat dipertanggungjawabkan; dan (d) melakukan
interpretasi data dan kesimpulan. Kedua, analisis deret waktu. Dalam analisis ini
peneliti melakukan: (a) protokol studi kasus; (b) setelah protokol studi kasus,
melakukan observasi tentang kasus yang dikaji dalam waktu tertentu (minggu
atau bulan), dengan berpedoman pada lembar observasi yang secara rinci
memuat aspek-aspek (variabel-variabel) yang diobservasi atau diteliti; (c)
melakukan tabulasi data hasil observasi, kemudian diinterpretasi atau dijelaskan
argumentasi atau dinarasikan secara logis, sistematis (mengapa dan
bagaimana) kasus tersebut; (d) setelah dilakukan langkah-langkah pemecahan

321

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

masalah dalam kurun waktu tertentu (satu minggu atau satu bulan) berdasarkan
masukan hasil observasi pertama, kemudian dilakukan observasi lagi pada
minggu atau bulan berikutnya dan hasilnya ditabulasi dengan dihitung
frekuensinya, kemudian diinterpretasi lagi (mengapa dan bagaimana) kasus
tersebut; (e) ketika dipandang telah cukup datanya dalam mengungkap atau
mengkaji kasus tersebut, observasi baru dihentikan. Analisis deret waktu bisa
dilakukan pada kasus tunggal atau kasus multi, baik untuk variabel bebas atau
variabel terikat. Dalam analisis data penelitian studi kasus bisa menggunakan
perpaduan dua analisis tersebut, bisa juga hanya memakai salah satu macam
sub analisis tersebut di atas.

322

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

DAFTAR PUSTAKA

Afifudin dan Beni Ahmad Saebani. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Pustaka Setia.

Arifin, Zainal. 2012. Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Remaja
Rosdakarya, Bandung.

Bahtiar, A. Aswinarko. 2013. Metode Penelitian Sastra. Tangerang : Pustaka Mandiri.

Bogdan C Robert, Biklen, Knopp Sari. 1982.Qualitative Research For Education; An
Introduction to Theory and Methods. Boston: Pearson Education.

Bungin, Burhan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Prenada Media.

Creswell, John W. Research Design.2008. Qualitative and Quantitative Approach Sage
Publication: London.

-------------------2010.diterjemahkan oleh Achmad Fawaid. Research Design: Pendekatan
Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Edisi Ketiga). Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

----------------------2012 Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating
Quantitative and Qualitative Research (Fourth Edition). New Jersey: Pearson,
Education.

____________ 2014. Research Design. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

-------------------- 2012.Educational Research Fourth Edition.Boston: Pearson Education.

-------------------- 2015. Educational Research, Planning, Conducting, and Evaluating
Quantitative and Qualitative (Diterjemahkan oleh Soetjipto, Helly Prajitno, dkk.
Edisi ke-5). USA: Pearson Education, Inc.

Danim, S. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Pustaka Setia, Bandung.

Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook Qualitatif Research.
Terjemahan oleh Dariyatno, dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Djajasudarma. Fatimah.2010. Metode linguistik. Bandung :Refika Aditama.

Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta:Raja
Grafindo Persada.

-------------------2012. Metode Penelitian Pendidikan: Kuantitatif & Kualitatif: Korelasional
Ekperimen Ex Post facto Etnografi grounded Theory Action Reseach, Edisi Revisi,
Rajaggrafindo Persada, Jakarta.

323

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

---------------.2012. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: Rajawali Pers.
----------------2014. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta:Raja

Grafindo Persada.

---------------2015. Metodologi Penelitian Pendikan: Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta:
Rajawali Pers.

Endraswara, Suwardi.2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori,
dan Aplikasi (Edisi Revisi). Yogyakarta: Med Press.

Fraenkel, J.R. dan N.R. Wallen. 2007. How to Design and Evaluate Research in
Education (Sixth Edition). New York: McGraw-Hill Education.

Furqon dan Emi Emilia.2010. Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. SPs UPI: Bandung.

Gall, Meredith, Joyce P. Gall, dan Walter R. Borg. 2007. Educational Researcei: An
Introduction (Eighth Edition). USA: Pearson Education, Inc.

Gay, L.R., Geoffrey E. Mills, dan Peter Airasian. 2009. Educational Research:
CompetenciesFor Analysis and Applications (Ninth Edition). New Jersey:
Pearson Education.

Gay, L.R. dkk., 2009. Educational Research: Competencies for Analysis.Columbus.
Ohio.

Gay. L.r., Mills. G. E., Airasian. P.2009. Educational Research: Competencies for
Analysis and Applications. Ninth Edition. New Jersey: Pearson Education.

Gay, L.R., Geoffrey EMills, dan Peter Airasian. 2011. Educational Research
Competencies for Analysis and Applications (Tenth Edition). USA: Pearson
Education, Inc.

Gay. Mills. Airasian. 2012. Educational Reseach: Competence for Analysis and
Applications. Tenth Edition. Person Education, Inc, USA.

G.Lodico, Marguerite, Dean T. Spaulding, Katherine H. Voegtle. 2006. Methods in
Educational Research: From Theory to Practice. San Fransisco: Jossey-Bass.

Guba, Egon G. dan Yvonna S. Lincoln, Competing Paradigm in Qualitative Research,
In. Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (eds.), Handbook of Qualitative
Research. Sage Publications: California. 1994.

Ihalauw, J.J.O.I. 2004. Bangunan Teori. Satya Wacana Universty Press, Salatiga.

Jabrohim (editorial).2012. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

324

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Kadir,2015. Statistika Terapan konsep, contoh dan analisis data dengan program
SPSS/Liserel dalam penelitian Jakarta : Rajawali Press.

Kerlinger. F.M.2004, Foundation of Behavioral Research. USA: Pearson Education, Inc.

Krippendorf, Klaus. Content Analysis: An Introduction to Its Methodology. London Sage
Publications, 2004.

Mahsun. 2013. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Matthew B Milles and Huberman, Michael A. 1984.Qualitative Data Analysis.London:
Sage Publication.

McMillan, James H., Sally Schumacher. Research in Education: A Conceptual
Introduction. New York: Addison Wesley Longman, 2001.

Mertler, Craig. 2009. Action Research: Teachers as Researchers in The Classroom.
America:SAGE.

Mills, Geoffrey. 2003. Action Research. Columbus: Prentice Hall.

Moleong, Lexy J. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mundir H. 2013. Statistik Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nurgiyantoro, Burhan.2010. Penilaian Pembelajaran Bahasa (Berbasis
Kompetensi). BPFE. Yogyakarta.

Ostovar, Seyyed Alidan Namaghi. 2011. Teaching asa Disciplined Act: A Grounded
Theory. Journalof LanguageTeaching and Research,Vol.2,No.4,pp. 837-
843,July2011. ISSN 1798-4769. Academy Publisher Manufacture Finland.

Prastowo. Andi. 2010. Memahami Metode-metode Penelitian (Suatu Tinjaun Teoretis
dan Praktis). Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Purwanto. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta. Muhammadiyah University Press.

Riadi, Edi.2014. Metode Statistika Parametrik dan Non Parametrik Untuk Penelitian
Ilmu Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka Mandiri.

325

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Robert Bogdan and Steven J. Taylor, Introduction to Qualitative Research Method – A
Phenomenological Approach to the Social Sciences. New York: John Wiley &
Sons, 1975.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta.

----------------2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta.

-------------- 2011. Metode Penelitian Pendidikan Kombinasi, Bandung: Alfabeta.

---------------2013. Memahami Penelitian Kualitatif.Bandung: Alfabeta.

Siregar, S. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi Dengan Perbandingan
Perhitungan Manual & SPSS. Jakarta: Kencana.

Siswantoro. 2011. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Slavin, Robert. E. 2009. Cooperative Learning (Teori, Riset, dan Praktik).

Bandung : Nusa Media.

Sukardi. 2003.Metodologi Penelitian, Bumi Aksara, Jakarta.

Sulaeman. Agus. 2016. Mantra Masyarakat Banten, Kajian Etnografi di Kabupaten
Tangerang. Proposal Disertasi PB UNJ.

Sulaeman. Agus. 2016. Analisis Kumpulan puisi siswa SMPN 1 Kronjo. Jurnal
Penelitian. Cakra Bahasa. Unhaer Ternate.

Sulaeman.Agus. 2015. Analisis Kumpulan Puisi Doa Untuk Anak Cucu Karya WS
Rendra. Jurnal penelitian. Jurnal Perspektif Pendidikan: STKIP PGRI
Lubulinggau.

Sulaeman.Agus.215. Peningkatan hasil Belajar Dengan Metode CIRC SMAN 11
Kronjo. Jurnal Penelitian. Cakra: UNHAER Ternate.

Suharsimi. A. 2006. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Sukmadinata, Nana .S. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Rosdakarya.

Sumanto , 2005, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.

Sumarsono.2012. Sosiolnguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Smith, Jonathan A. 2009. diterjemahkan oleh Budi Santosa. Psikologi Kualitatif:
Panduan Praktis Metode Riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Spradley, James.P.1997. Metode Etnografi.(Terjemahan Misbah Zulfah Elizabeth).
Yogyakarta: Tiara Wacana

326

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Syamsuddin, AR, M.S. dan Vismaia S. Damaianti. 2011. Metode Penelitian Pendidikan
Bahasa. Rosda: Bandung.

Tim Program Pascasarjana.2012. Buku Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi.
Pascasarjana UNJ: Jakarta.

Tim FKIP UMT. 2015. Buku Pedoman Penulisan Skripsi. FKIP UMT Press

Titscher, Stefan, Michael Mayer, Ruth Wodak, dan Eva Vetter.2009. diterjemahkan
oleh Gazali dkk. Metode Analisis Teks dan Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yin .K.Robert. 2012. Studi Kasusu Desain dan Studi Kasus. Jakarta; Raja Grafindo.

Yoni, Acep, S.S, dkk. 2012. Menyusun Penelitian Tindakan Kelas, Familia, Yogyakarta.

327

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

GLOSARIUM

Advokasi 4: Bentuk tindakan yang menjurus pada pembelaan, dukungan,
atau suatu bentuk rekomendasi, yaitu dukungan aktif. sebagai suatu bentuk
usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik dengan berbagai macam pola
komunikasi persuasif.

Aksiologi 7: Cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana
manusia menggunakan ilmunya

Akurasi 5: Akurasi adalah ukuran seberapa dekat suatu hasil pengukuran
dengan nilai yang benar atau diterima dari kuantitas besaran yang diukur.

Aparatur 5, 6, 7: Aparatur adalah perangkat, aparat, atau alat negara dan
pemerintah alat kelengkapan negara terutama meliputi bidang kelembagaan,
ketatalaksanaan, dan kepegawaian, yang mempunyai tanggung jawab
melaksanakan roda pemerintahan sehari-hari. pamong desa yang bertugas
menjaga kelancaran administrasi desa dan menggerakan sumber daya manusia
di desa. Misalnya, kepala desa, kepala dusun.

Assosiatif 18: Asosiatif adalah proses sosial yang mengarah pada bentuk
kerja sama dan menciptakan kesatuan

Eksperimen 8, 22: Sebagai suatu penelitian yang dengan sengaja peneliti
melakukan manipulasi terhadap satu atau lebih variabel dengan suatu cara
tertentu sehingga berpengaruh pada satu atau lebih variabel lain yang di ukur

Eksplosasi 5: Eksplorasi, disebut juga penjelajahan atau pencarian,
adalah tindakan mencari atau melakukan penjelajahan dengan tujuan
menemukan sesuatu; misalnya daerah tak dikenal, termasuk antariksa
(penjelajahan angkasa), minyak bumi (eksplorasi minyak bumi), gas alam,
batubara, mineral, gua, air, ataupun informasi.

Epistimologi 7: cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter
dan jenis pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta
pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh
setiap manusia.

328

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Etnografi 8: Tulisan tentang/ mengenai bangsa
Evaluasi 8: Sebagai proses pengukuran atau penilian akan evektivitas
strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan yang diinginkan
Fenomena 9: Fenomena adalah rangkaian peristiwa serta bentuk keadaan
yang dapat diamati dan dinilai lewat kaca mata ilmiah atau lewat disiplin ilmu
tertentu.
Intervening 22: Variable yang secara teoritis mempengaruhi hubungan
antara variabel independen dengan variabel dependen menjadi hubungan yang
tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.
Introvert 50: Sikap atau karakter seseorang yang memiliki orientasi
subyektif secara mental dalam menjalani kehidupannya.
Karakteristik 2, 20, 21, 25: Karakteristik adalah mengacu kepada karakter
dan gaya hidup seseorang serta nilai-nilai yang berkembang secara teratur
sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan mudah di perhatikan
Memodifikasi 5: Modifikasi adalah cara merubah bentuk sebuah barang
dari yang kurang menarik menjadi lebih menarik tanpa menghilangkan fungsi
aslinya,serta menampilkan bentuk yang lebih bagus dari aslinya.
Metodologis 1, 17: Metodologi adalah ilmu-ilmu/cara yang digunakan
untuk memperoleh kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara
tertentu dalam menemukan kebenaran, tergantung dari realitas yang sedang
dikaji.
Multivariate 42: Berhubungan dengan metode-metode statistik yang
secara bersama-sama (simultan) melakukan analisis terhadap lebih dari dua
variabel pada setiap objek atau orang.
Naratif 8: Jenis karangan yang mengungkapkan suatu kisah, peristiwa,
atau pengalaman pribadi berdasarkan urutan-urutan kejadian atau peristiwa.
Objektif 5: Sikap yang lebih pasti, bisa diyakini keabsahannya, tapi bisa
juga melibatkan
perkiraan dan asumsi.
Ontologi 5: Salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari
Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret.

329

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Paradigama 318: Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk
pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan
membentuk citra subjektif seseorang mengenai realita dan akhirnya akan
menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu

Persepsi 5, 6, 7: Tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan
informasi sensoris guna memeberikan gambaran dan pemahaman tentang
lingkungan

Pragmatik 8: Suatu cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan
antara konteks dan makna. Ilmu ini mempelajari bagaimana penyampaian
makna tidak hanya bergantung pada pengetahuan linguistik (tata bahasa,
leksikon, dll) dari pembicara dan pendengar, tapi juga dari konteks penuturan,
pengetahuan tentang status para pihak yang terlibat dalam pembicaraan,
maksud tersirat dari pembicara.

Predikat 5: Bagian kalimat yang menandai apa yang dikatakan oleh
pembicara tentang subjek.

Pretes 151: Suatu bentuk pertanyaan, yang dilontarkan guru kepada
muridnya sebelum memulai suatu pelajaran. Pertanyaan yang ditanya adalah
materi yang akan diajar pada hari itu (materi baru).

Postes 151: merupakan bentuk pertanyaan yang diberikan setelah
pelajaran/materi telah disampaikan. Singkatnya, post test adalah evalausi akhir
saat materi yang di ajarkan pada hari itu telah diberikan yang mana seorang guru
memberikan post test dengan maksud apakah murid sudah mengerti dan
memahami mengenai materi yang baru saja diberikan pada hari itu.

Regresi 42: Suatu metode analisis statistik yang digunakan untuk melihat
pengaruh antara dua atau lebih variabel. Hubungan variabel tersebut bersifat
fungsional yang diwujudkan dalam suatu model matematis.

Rekomendasi 16: Memberitahukan kepada seseorang atau lebih bahwa
sesuatu yang dapat dipercaya, dapat juga merekomendasikan diartikan sebagai
menyarankan, mengajak untuk bergabung, menganjurkan suatu bentuk perintah.

Reliabilitas 56: adalah konsistensi dari serangkaian pengukuran atau
serangkaian alat ukur.

330

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Reliable 5: Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian
alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat
ukur itu dilakukan secara berulang.

Retorik 5: Kalimat tanya yang tidak menghendaki jawaban atau tidak
mengharuskan adanya jawaban, kalimat tanya retorik ini biasanya mengarah
pada bentuk pernyataan pemberi semangat, kritik ataupun gagasan.

Skunder 4: kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan primer
terpenuhi. Contoh: pendidikan , pariwisata, rekreasi.

Stimulus 21: hal – hal yang merangsang terjadinya kegiatan belajar,
seperti pikiran, perasaan dan lain – lain yang dapat ditangkap melalui alat indera.

Studi kasus 8: Pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang
subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu

Subjektif 5, 18: Subjektif adalah lebih kepada keadaan dimana seseorang
berpikiran relatif, hasil dari menduga duga, berdasarkan perasaan atau selera
manusia.

Trangulasi 180, 183: teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data itu.

331

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

RIWAYAT HIDUP PENULIS

AGUS SULAEMAN. Lahir di Tangerang pada 16 Juni

1980. Sulung dari pasangan Piyan alm dan Manah. Kelana

pendidikannya dimulai dari: SDN 1 Lontar Kecamatan

Kemiri SMPN1 Kronjo Kecamatan Kronjo; SMA Paradigma

Mauk Kecamatan Mauk yang kesemuanya berada di

Kabupaten Tangerang; S1 STKIP Setia Budhi Rangkas

INDEKS Bitung Banten Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia (Lulus tahun 2010). S2 Pasca Sajana Universitas
A Sultan Ageng Tirtayasa Jurusan Bahasa Indonesia (lulus

Action research 203, 210, 21t2ahun 2013). Melanjutkan S3 Jurusan Pendidikan Bahasa

Activity 23, 43 di Universitas Negeri Jakarta Tahun Ajaran 2015/2016.

Actor 23, 43 Lulus tahun 2018.

AAddHMvviedoonakkiykaaaassthii(84udmenugr a1n2 Mulyati Sariman dan dikaruniai dua orang putra AH.Sultan Wahyu
tahun) dan Hafiz Adam Chussaery (umur 4 tahun).
AfPfiefundgianladmananSoaregbaannisi a2s2i8a,n2t3ar1a, l2a3in2:
Afifudin 2- 3 Ketua Osis SMPN 1 Kronjo Kabupaten Tangerang (1997-1999)
Aksiolog-i 7 Ketua Hima Prodi Diksastrasiada IKIP Setia Budhi Rangkas Bitung Lebak-
Aksiologis 5Banten (2007-2009)
Akurasi 5- Ketua logistik pemekaran Kabupaten Tangerang Barat (2009-2012)
AAAlmnteaarliensarisgtiiv-ndegom(h8S2yi0enp1kaoe2ntr-ht22ae0r2s1is0i3sH).3im2a Pendidikan Bahasa Indonesia Pascasarjana UNTIRTA
AnPaelnisgiaslakmuraanngpedkoemrjianaanny2a2n0g digelutinya antara lain:

Analyzin-g ofKceopvaalariaBnacgeia1n23Riset And Development (R&D) PT. SGS HASKO Group
Antecedent B2a1laraja (2002-2009). di Kecamatan
Aparatur- 5, O6,w7ner PD ASM. Bidang Pertanian dan perdagangan
Arikunto 50 Sukamulya (2006-Sekarang).

Assosiat-if 18Guru SMPN 2 Mekar Baru Kabupaten Tangerang (2009-2013).

Atkinson- daDnoHsaemn mTertaspley 2P6r0o,d2i 6P2e,ndidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP

Avtion reseaUrncihve2r0si1tas Muhammadiyah Tangerang. (2013-Sekarang).

AxBieabl ecoradpinagK2a7ry3a ilmiah terbaik yang sudah dipublikasikan antara lain:

B- Interferensi morfologi dialek Bahasa Jawa Kronjo Banten dalam Karangan
Babbie 86 Narasi Siswa Kelas VII SMPN 2 Mekar Baru Kabupaten Tangerang. Vol.1
Bahtiar danNAos.1w. inISaSrkNo.9275712338912003 Gramatika PPs Untirta.
BBBaaatkssrsci h137188--9
Kemampuan Berbicara Anak Penyandang Aphasia Wernicke
(Kajian Psikolinguistik Pada Siti KhodijahAnak Usia 10 Tahun ). Vol .2 No.2

Bodgan biklIeSnS8N5. 2089-611. Cakra Bahasa FKIP Khairun Ternate.
Bogdan -danJaBvikalneense73L,a8n5guage of Banten Dialects in Tangerang Regency. Vol .02. No.1
Boog dan GIaSlSl 1N9. 12,51409-28,211968. DOAJ. JELL-STIBA EIC.
Boogin 1-47 Speech Act Imperative in Teaching English on PGSD Students Vol. 2 No.2

Bounded sy2s0te1m7. 2IS6S1N, 2265340-8216. DOAJ. JELL-STIBA EIC.

Breatme-nt 1S2t5ructure Sunda In Tangerang Regency in Territory Use. DOAJ, SINTA ISSN

Burns 203 e.2502-2261 Vol. 3 No.1 2017. DOI.10.24235/ileal .v3Il.1555.

- Mantra Structure Of Banten And Its Implication In Literary Learning. Terindex

DOAJ, GOGEL SCHOLAR, EBSCO, SINTA RISTEKDIKTI ISSN: 2442- 332
Metodologi Pen8e4li8ti5a.nVBoahl.a4saAdparnilSa2s0tr1a8.Kuhattnpti:t/a/etijfo, Kuuranlaitla.stitfkdiapn-pEgtnroi-grafi

sumbar.ac.id/index.php/jurnal-gramatika/index

-

C 333
Campbell Fisk 6
Census study 105
Chamaz 279
Check list 53
Chi-kuardat 124, 167
Clandinin dan Connelly 307-310
Cluster sampling 230
Cluster sampling 38
Codebook 64
Coding 273
Coding 78, 79
Cohort study 90
Collective or multiple 315, 316
Conclusion 63
Conclusion drawing/ verification 73
Concurrent 8
Concurrent validity 60
Conditional propositions 275
Confirming/ disconfirming sampling 172
Confrimbilty 183
Construk validity 59
Content validity 59
Contruktivism 7, 8
Corbin 10
Correlational research 118
Cortazzi 307
Co-varying 120
Credibility 182
Criterion 22
Critical sampling 170
Critical theory 7, 8
Cross conditional 107
Cross- sectional 86, 87
Cybersastra 242, 247, 248

D
Daganadan celikb 116
Damnianti 4
Das sein 14, 15
Das Sollen 14, 15
Das vorschlay 15
Data analyzing 63
Data collection 63
Data display 73

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Day hurtando 89 334
De Landsheere 84
Decade 7
Denim 126
Denzin 6
Dependent 42, 52
Dependent variable 51
Depender 21, 22
Difference score 64, 65
Dimensialliced properties intervening 273
Directional hypothesis 32
Disproportionate stratified 37
Distribution free 69
Dokumen tatif 23
Dunn 17

E
E. walpole 158
Effect22
Eksperimen 8, 22
Eksplosasi 5
Eksternal validty 130
Ekstrovet 50
Emzir 109, 114
Emzir 2, 8, 14
Emzir 86, 91
Endrswara 235-249
Epistimologi 7
Epistomologis 5
Esterberg 177, 178
Estimation 63
Etchikal 13
Ethnografi 8
Evaluasi 8
Ex post facto 118, 125
Expert judgement 198
Extrame case sampling 170

F
Face validity 59
Factorial design 145
Faenkel dan Wallen 228, 229, 235
Fatimah 280, 293, 294
Fenomena 9
Fetterman 8
Field text 307, 308

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Fieldnote 176 335
Filosofis 8
Firestone 7
Focus group interviews 102
Focus group interviews 91
Fonomenologi 8
Furkon dan Emilia 8

G
G Lidicon 10, 11, 12, 13, 14, 24, 26, 27, 28
Gaal Meridith 71
Gallup poll 90
Gatabizah 174
Gay 202, 210
Gay 319
Gay, Mills, dan airasian 82
Gejala burnout 88
Generalisasi 43
Generalisasi 5
Gependabilty 182
Getekeepers 173, 177
Grand tour 295
Grouded theory 259, 270-276, 303, 304
Grounded theory 8
Guba dan Licoln 7
Guiding hypothesis 32, 33

H
H. voegle 10, 11, 12, 13, 14, 24, 26, 27, 28
Hammesley dan Atkinson 173
Hernandes 89
Holistic 159
Holistik 23
Holsti 228
Homogeneus sampling 171
Hopkin 204
Howe 7

I
Ihalauw 5
In depth interview 167
In service learning 106
Inanimate objects 52
Independent 21, 22, 31
Independent 42, 52
Independent 5

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Independent variable 21, 22, 23 336
Independent variable 51
In-depth interview 178
Infirmatical approach 23
Informed consent 95
Instrumental case study 315
Interesting topic 13
Internal validty 130
Interpretive 166
Interpretive research 165
Intervening 22
Intervening variable 110
Interview avide 53
Intinticcase study 314
Introvert 50

J
Jacobs 88

K
Kadir 110, 111, 115
Karakteristik 2, 20, 21, 25
Kawsal 19
Kerlibger 49
Kerlinger 83
Key informan 23
Koherensi eksplanatori 272
Kolersi 42
Komparatif 18
Komprehensif 63
Konsisten 7
Konstruk 49
Konstruktivisme 4
Konteks 5
Kontinum skor 21
kontrol 22
Kredibilitas 9
Kriplendorf 227
Krugen dan Emzir 69
Kura lewin 203

L
Learning by doing 204
Licoln dan Guba 45
Literal 23
Longitudinal 86, 87, 90

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Lotland 44 337

Mahsun 291
Mailed questinnaires 91, 98, 99

M
Manageable 13
Manifestasi 1
Mann-whitney viest 154
Marc Antoni Julian de Paris 84
Marison 88
Mathing 122
Maximal variation sampling 170,172
Mayrins 234, 235
Mc Cracken 7
Mc Millian 2, 10, 11, 15
Mediating22
Member checking 184
Memodifikasi 5
Metodologis 1, 17
Metodologis 5
Miler dan Hubermn 73, 74
Mills 202
Miniature question 295
Mix methals 8
Mixed methods 302
Moderating 22
Moleong 253, 257
Moleong 280, 284
Montenegoro 89
Multivariate 42

N
Naratif 8
Natural setting 291
Nesbary 86
Nevman 85
Non directional hypothesis 32
Non probabilitas 88
Non probality sampling 38
Norton stewart 17
Null hypothesis 31
Numeric 118
Numerik 8
Nurgianto 218

O

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Objektif 5 338
Ontologis 5
Open coding 273
Opportiunistic sampling 171
Oprasionalisasi 1
Out come 22

P
Panel study 90
Paradigm 318
Parsipatory 8
Participant observation 175
Partisipatif murni 23
Partisipatori 4
Path analysis 109, 140
Peer debriefer 184
Peer group affiliation 67
Percentile rank 69
Perdicantor 21
Persepsi 5, 6, 7
Pittburgh Survey 84
Place 23, 43
Pollicaly minded 261
Positivism 7, 8
Positivisme 4
Post positivism 7, 8
Postpositivistik 165
Pradopo 241
Pragmatik 8
Prastowo 185
Prediction 63
Predictive validity 59
Predikat 5
Pretes 151
Primary source 25
Primer 4
Probabillty 115
Probality sampling37
Problem based learning 146, 150, 151, 155, 157
Profidenty 108
Proportionate stratified random sampling 37
Proposional 37, 43
Proposive167
Protes 151
Purposeful sampling 169, 170
Purposive 44

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Purposive sampling 230 339
Purposive sampling 45
Purwanto 14, 16, 17

Q
Questinnaires 55
Quintative research 302

R
Rallis 7
Random sampling 230
Range 67
Rapport 104
Rating scale 56
Ratna 185
Ratna 249, 241
Ratna 279
Reabilitasi eksternal 61
Reabilitasi internal 61
Realibitas 47, 48
Reciprocal 166
Redudancy 46
Reduksi data 73
Regresi 42
Rekomendasi 16
Relative standing 64, 65
Reliabilitas 56
Reliable5
Reloative standing 69
Rependabilty 182
Rependent 21, 31
Rependent variable 21
Rependent variable 51
Replicable 227
Research methods for business 41
Researchable 13
Retorik 5
Riadi 159, 152
Richard L. Dodson 108
Richardt 7
Roscoe 41
Rumus slovin 40, 41

S
Saebani 23
Salim 318

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Sampling fram 83 340
Sampling frame 104, 105
Sampling frame 106
Sampling insedental 39
Sampling kuota 39
Sampling purposive 39
Sampling simtematis 38
Sanapian faisal 179
Schumaher 1, 10, 11, 25, 27
Secondary source 25
Sehaltzam dan Straus 76
Sekuensial 8
Selective coding 273, 275
Self-reflective 202
Semistructure interview 178
Sharing analysis 182
Significant13
Siklus penelitian etnologi 264
Sills dan song
Silmutan 5
Simple random sampling 37
Single item scores 64, 65
Single observation 174
Siregar 146, 148, 150, 151, 156
Siswanto 137
Siswanto 186, 187
Skunder 4
Slowlearners 85
Smith 314, 316
Snowball 167
Snowball sampling 172
Snowball sampling 45
Sosiokultural 259
Spekulasi 17
Sponsor ship 95
Spradley 287
Spradley 46
Square test 120
Stanback 177
Standar deviation 67, 68
Stanleyhall 84
Statis 5
Statistic non paragmetik 69
Statistic parametric 69
Status qou 263
Stimulus 21

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi


Click to View FlipBook Version