orang yang berumur 23 tahun yang diteliti. Mereka bisa individu yang sama atau
tidak sama dengan yang diteliti pada 2001.
Panel Study yaitu suatu rancangan penelitian longitudinal yang mana peneliti
memeriksa orang yang sama dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, siswa tahun
terakhir SMA yang diteliti pada 1998 (yang akan lulus pada 1999) akan menjadi
orang yang sama yang diteliti pada 2000, setelah 1 tahun setelah lulus, dan
sekali lagi pada 2002, 2 tahun setelah lulus. Rancangan panel, memiliki
kelemahan yaitu individunya sulit ditemukan, khususnya 2 tahun setelah lulus
dari SMA. Rancangan panel juga memiliki kelebihan, yaitu individu-individu yang
diteliti selalu sama, yang memungkinkan peneliti untuk menentukan perubahan
aktual pada individu tertentu sehingga memang panel study merupakan tipe
yang paling taat-asas di antara ketiga rancangan longitudinal.
6. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Survei
Creswell, (2015:766) menjelaskan bahwa dalam penelitian survey, biasanya
peneliti dalam mengumpulkan data menggunakan teknik kuesioner dan wawancara.
Walaupun para ahli lebih memfokuskan hanya pada teknik kuesioner jenis tertutup
yang mampu diukur secara kuantitatif sedankan wawancara cukup sulit untuk
mengolah secara statistiknya.
Kuesioner merupakan suatu formulir yang digunakan dalam rancangan survei
yang diisi oleh partisipan dalam penelitian dan memberikan informasi personal atau
demogratis dasar. Sedangkan wawancara berupa formulir di mana peneliti mencatat
jawaban yang diberikan oleh partisipan dari pedoman wawancara, mendengarkan
jawaban atau mengamati perilaku, lalu mencatat respons-respons pada survei.
Dalam wawancara survei kuantitatif, peneliti menggunakan wawancara terstruktur
atau semiterstruktur yang sebagian besar terdiri dari pertanyaan tertutup,
menyediakan opsi respons kepada orang yang diwawancarai (interview), dan
mencatat respons mereka. Dalam hal ini juga pewawancara menanyakan
pertanyaan terbuka tanpa opsi-opsi jawaban dan mendengarkan serta mencatat
komentar interview.
91
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Menurut Creswell, (2015:767) terdapat beberapa tipe kuesioner yang
digunakan dalam penelitian survei kuantitatif yaitu kuesioner yang dikirim melalui
pos (mailed questionnaires) dan kuesioner berbasis Web (web-
basedquestionnaires). Kemudian, terdapat tiga tipe wawancara yang biasa
digunakan dalam penelitian survei, yaitu wawancara satu-lawan-satu (one-on-one
interviews), wawancara kelompok terfokus (focus group interviews), dan wawancara
telepon (telephone interviews). Untuk lebih jelasnya beberapa bentuk teknik
pengumpulan data penelitian survei dapat dilihat pada gambar berikut.
Siapa yang Mengisi atau Mencatat Datanya?
Partisipan Peneliti
Kuesioner Kuesioner Satu-lawan- Dengan Suatu Melalui
Yang Diposkan Elektronik Telepon
Satu Kelompok
Wawancara Wawancara Wawancara
Individual Kelompok Telepon
Terfokus
Gambar 2. Bentuk-Bentuk Teknik Pengumpulan Data Penelitian Survei
(Creswell, 2015:767)
Dari gambar 2 di atas, dapat dijelaskan beberapa hal, yaitu Mailed
questionnaires menurut Creswell (2015:767) merupakan salah satu bentuk
pengumpulan data dalam penelitian survei di mana peneliti mengirimkan kuesioner
yang melalui pos kepada para anggota sampel. Sedangkan menurut Emzir
(2014:40) survei pos digunakan untuk menghindari bias pewawancara dan sangat
cocok untuk pengujian topik pribadi atau yang memalukan. Peneliti dapat
mengembangkan kuesioner yang sudah ada, atau menggunakan kuesioner yang
mereka temukan dalam kepustakaan. Prosesnya terdiri atas menentukan atau
mengembangkan suatu kuesioner, mengirimkannya kepada sampel populasi,
menggunakan kontak berulang-ulang dengan sampel untuk memperoleh tingkat
92
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
respons yang tinggi, memeriksa potensi bias dalam respons-respons, dan
menganalisis datanya.
Kelebihan mailed questionnaires, yaitu cara yang cukup nyaman untuk
menjangkau sampel populasi yang tersebar secara geografis, pos memfasilitasi
pengumpulan data cepat dengan hanya membutuhkan waktu 6 minggu saja, dan
bersifat ekonomis karena hanya membayar biaya penggandaan dan pengeposan.
Sedangkan kelemahan mailed questionnaires, yaitu ada kemungkinan instrumen
kuesioner tidak dikembalikan oleh partisipan karena merasa tidak memiliki investasi
pribadi apapun dalam penelitian dan partisipan bisa saja keliru menafsirkan item-
item pada survei karena peneliti tidak memiliki sarana untuk menjelaskan berbagai
pertanyaan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengontruksikan dan
menganalisis kuesioner yang dikirimkan melalui pos, yaitu surat pengantar untuk
mengundang partisipan melengkapi kuesioner, bentuk dan kontruksi kuesioner,
prosedur statistik yang lazim digunakan untuk menganalisis data dari kuesioner
yang dikirimkan melalui pos.
Surat pengantar merupakan komponen utama kuesioner yang dikirimkan
melalui pos yang terdiri atas sebuah surat pengantar yang mengundang partisipan
untuk ikut ambil bagian dalam penelitian dan melengkapi instrumen. Berikut contoh
surat pengantar pada bagian depan kuesioner yang dikirimkan melalui pos.
Komponen Surat 10 Juli 2004
Pengantar
Rekan-rekan sejawat Yth.,
Pentingnya Sebagai pendatang baru di profesi urusan kemahasiswaam, Anda tentu
Partisipan memiliki cara untuk meningkatkan praktik Anda. Program persiapan
pascasarjana, asosiasi, dan para professional berpengalaman pasti
mengetahui tentang strategi yang paling berguna bagi Anda dan professional
lain untuk membantu meningkatkan pengembangan, kompetensi, dan
komitmen professional di bidang itu. Tanggapan Anda terhadap survei ini akan
sangat meningkatkan pemahaman kami tentang itu.
Maksud Saya melaksanakan penelitian untuk mengeksplorasi bagaimana para
Penelitian professional yang masih baru di bidang kemahasiswaan meningkatkan praktik
mereka. Saya ingin mengukur sejauh mana para professional baru
menggunakan strategi individual maupun kolaboratif (artinya berinteraksi
93
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Jaminan dengan professional lain) termasuk refleksi, dan kesempatan untuk
pengembangan. Saya juga akan mengukur bagaimana para professional baru
Sponsorship melihat keterampilan dan pengetahuannya. Populasi saya adalah professional
Waktu baru di bagian barat-tengah Amerika Serikat dan Kanada.
Penyelesaian
Pengembaian Tentunya partisipasi Anda dalam penelitian ini bersifat sukarela. Kerahasiaan
anonimitas Anda akan dijamin. Pengembalian survei kepada saya atas
Sponsorship persetujuan Anda karena tanggapan Anda akan dikumpulkan bersama yang
lain. Meskipun survei ini dikode untuk memungkinkan tindak-lanjut dengan
non-responden, Anda tidak akan diidentifikasi secara individual dengan
kuesioner atau tanggapan-tanggapan Anda. Mohon dipahami bahwa
penggunaan data ini akan terbatas untuk peelitian ini, sesuai otoritas
Universitas Nebraskadi Lincoln, meskipun hasilnya pada akhirnya nanti (dan
semoga) akan disajikan dalam format selain disertasi, seperti artikel jurnal
atau presentasi konferensi. Anda juga berhak untuk mengemukakan masalah
apapun kepada kami di nomor di bawah ini, pembimbing utama saya Dr. John
Cresswell di Jurusan Psikologi Pendidikan UNL yang alamatnya disebutkan di
atas, atau Dewan Peninjau Institusional UNL.
Saya sangat menghargai partisipasi Anda dalam penelitian ini. Surveinya akan
waktu kira-kira 15-20 menit.Mohon kesediaan Anda untuk mengirimkan
kembali surveinya dalam waktu dua minggu (sampai dengan 25 Juli)
dengan amplop berperangko dan beralamat terlampir. Hal ini akan
menghemat waktu pengeposan tindak-lanjut kepada Anda.
Jika Anda telah menggeluti bidang ini selama lebih dari lima tahun, mohon
berikan catatan sebanyak mungkin pada item #1 dan kembalikan seluruh
instrumennya kepada saya.
Terima kasih atas ketertarikan dan partisipasi Anda dalam penelitian ini. Saya
benar-benar menghargai waktu yang Anda luangkan untuk penelitian ini.
Hormat saya,
Kimberly VanHorn-Grassmeyer
Associate Director, Student Assistance Center
University of Kansas, Lawrence KS 66045
913.864.4064; [email protected]
Gambar 3. Surat Pengantar dalam Kuesioner yang Dikirim melalui Pos (Kimberly Van Horn-
Grassmeyer dalam Creswell, 2015:767)
94
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Dari gambar 3 di atas dapat dijelaskan beberapa hal, yaitu (1) pentingnya
partisipan, maksudnya untuk mendorong beberapa individu agar mau melengkapi
kuesioner, mereka perlu mengetahui mengapa mereka dikirimi instrumen. Beberapa
kalimat pertama menunjukkan pentingnya penerima instrumen dan makna respons
mereka. Sering kali membantu untuk memulai surat pengantar dengan pernyataan
ini, seperti yang telah dicontohkan. (2) Maksud penelitian, artinya masukkan suatu
pernyataan yang secara ringkas, menunjukkan niat atau maksud penelitian.
Pernyataan ini bukan hanya menginformasikan kepada partisipan tentang sifat
penelitian, tetapi juga memenuhi penyediaan “informed consent” yang sangat
penting dengan mengidentifikasi maksud penelitian untuk partisipan. (3) Jaminan
kerahasiaan, artinya untuk memenuhi informed consent dan agar etis, peneliti
menjamin kerahasiaan individu (yaitu dengan tidak mengidentifikasi individu secara
spesifik). (4) Sponsorship, artinya surat pengantar juga harus memasukkan nama
dosen pembimbing maupun institusi di mana VanHorn-Grass-meyer bekerja. Selain
itu, tulislah suratnya di atas kertas berkepala surat untuk menambahkan
sponsorship tambahan. Kemudian, yang terakhir (5) Waktu penyelesaian dan
pengembalian, dalam hal ini tambahkan pada surat perkiraan banyaknya waktu
yang akan diperlukan untuk mneyelesaikan survey dan prosedur untuk
mengembalikan instrumen kepada penulis.
Konstruksi kuesioner secara keseluruhan, maksudnya kita mampu
menuangkan masalah yang akan disusun dalam bentuk kuesioner yang
mengandung fitur-fitur konstruksi kuesioner yang baik. Berikut contoh kuesioner
yang dapat digunakan dalam kuesioner yang dikirimkan melalui pos.
95
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
MENINGKATKAN PRAKTIK:
PROFESIONAL BARU DI BIDANG URUSAN KEMAHAISSWAAN
I. DEMOGRAFI
1. Tahun bekerja di bidang kemahasiswaan:
a. saat ini masih Mahasiswa Pascasarjana
b. 0 sampai dengan 2 tahun
c. lebih dari 2 tahun, sampai dengan 5 tahun
d. lebih dari 5 tahun
Jika d, jangan mengerjakan surveinya. Kembalikan dengan amplop yang telah disediakan. Terima kasih.
2. Pengalaman praktis program pascasarjana (centang pilihan berikut yang sesuai dengan pengalaman Anda):
a. asisten dalam pengabdian mahasiswa (pengalaman pelatihan yang dibayar)
b. pratikum dalam pengabdian mahasiswa (pengalaman pelatihan yang dibayar)
c. hubungan monitoring dengan seorang administrator tingkat menegah atau tingkat senior
d. interaksi kelompok sebaya seperti studi kasus, prolem-solving
e. interaksi kelompok sebaya yang lebih bersifat sosial
f. pengalaman di-luar-kelas lain: .
3. Asosiasi profesional nasional di mana Anda menjadi anggota (pilih 1-3 sesuai tingkat kepentingan bagi Anda):
a. AAHE d. AERA g. NAPSA
b. AACPA e. ASHE h. NAWE/NAWDAC
c. ACUHO f. NACA i. Lain-lain: .
4. Gender: a. Perempuan b. Laki-laki
II PRAKTIK PROFESIONAL
1. Sebutkan jumlah dana institusi yang Anda terima pada tahun akademis sebelumnya untuk partisipasi dalam konferensi
dan Lokakarya pengembangan profesi di luar kampus:
a.tidak ada c. $100 sampai $250 e. $501 sampai $1000
b. kurang dari $100 d. $251 sampai $500 f. lebih dari $1000
2. Sebutkan jumlah dana pribadi yang Anda keluarkan pada tahun akademis sebelumnya untuk partisipasi dalam
konferensi dan lokakarya pengembangan profesi di luar kampus:
a.tidak ada c. $100 sampai $250 e. $501 sampai $1000
b. kurang dari $100 d. $251 sampai $500 f. lebih dari $1000
3. Apa saja biaya pengembangan profesi (penuh atau sebagain) yang diserap institusi Anda untuk Anda?
(centang pilihan manapun yang sesuai, boleh lebih dari satu)
a. dana keanggotaan asosiasi untuk lebih dari satu asosiasi
b. dana keanggotaan asosiasi untuk satu asosiasi saja
c. seminar dan lokakarya di kampus
d. retret staf
e. langganan jurnal dan newsletters professional
f. release time (waktu di luar tugas normal) untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang telah diprogramkan
g. release time untuk refleksi dan pembaruan pribadi
h.releasetime untuk kursus yang berkaitan dengan pekerjaan saya
i. bantuan biaya untuk kursus yang berkaitan dengan pekerjaan saya
4. Sejauh mana Anda merasa bahwa program pascasarjana yang menyiapkan Anda untuk pekerjaan di bidang
kemahasiswaan?
SECARA AKADEMIS:a. sama sekali tidak SECARA PENGALAMAN: a. sama sekali tidak
b. sedikit b. sedikit
c. cukup baik c. cukup baik
d. sangat baik d. sangat baik
Gambar 4. Contoh Kuesioner yang Dikirim melalui Pos 96
(Kimberly VanHorn-Grassmeyer dalam Creswell, 2015:789)
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Lanjutan
Survei Peningkatan praktik, halaman 2
Dengan menggunakan skala 1-5 di bawah ini, tunjukkan, dengan melingkari jawaban yang paling tepat, sejauh mana Anda setuju
dengan pernyataan-pernyataan di bawah ini:
1 2 3 45
Sangat tidak setuju tidak setuju netral setuju sangat setuju
12345 5. Saya memiliki komitmen pribadi yang kuat terhadap pertumbuhan dan perkembangan
professional saya
12345
12345 6. Tentang praktik professional saya, saya menghargai pendapat:
12345 a. rekan sejawat saya
12345 b. mentor saya
c. teman sesama program pascasarjana
12345
12345 7. Ketika merefleksikan tentang praktik saya, saya tahu lebih banyak daripada yang hisa saya
jelaskan.
12345
12345 8. Saya percaya insting saya sama baiknya dengan rekan-rekan sejawat yang saya hormati.
12345 9. Saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi pada pengembangan professional
12345 kemahasiswaan lain.
12345 10. Intitusi saya mengharapkan pengembangan professional berkelanjutan dan stafnya.
12345 11. Saya tahu bahwa saya perlu meningkatkan secara sadar praktik professional saya.
12. Saya senang berbicara dengan professional lain tentang pengambilan keputusan dan praktik
12345
12345 professional saya.
13. Saya paling tahu apa yang akan saya butuhkan untuk membimbing praktik saya.
12345 14. Saya memiliki perasaan terhubung dengan bidang kemahasiswaan
12345 15. Saya memiliki tanggung jawab professional untuk terus-menrus belajar dan berkembang dalam
12345 pekerjaan sehari-hari saya.
12345 16. Saya mendapatkan manfaat dari refleksi kolaboratif dengan rekan-rekan sejawat.
12345 17. Saya percaya institusi saya mestinya memastikan bahwa saya tumbuh sebagai seorang
12345 professional.
12345 18. Saya menganggap diri saya seorang administrator kemahasiswaan yang kuat.
12345 19. Saya berharap untuk terus bekerja di bidang kemahasiswaan selama paling tidak sepuluh tahun.
12345 20. Saya menerima dorongan untuk pertumbuhan dan pengembangan professional berkelanjutan
dari:
a. rekan sejawat di institusi saya
b. pejabat kemahasiswaan senior saya
21. Masih banyak yang harus saya pelajari dari pengalaman dan praktik.
22. Saya menerima dorongan untuk pertumbuhan dan pengembangan professional berkelanjutan
dari:
a. rekan sejawat saya
b. mentor saya
c. teman sesama program pascasarjana
23. Saya merasa mampu dan percaya diri dalam pekerjaan saya.
Gambar 5. Lanjutan Contoh Kuesioner yang Dikirim melalui Pos
(Kimberly VanHorn-Grassmeyer dalam Creswell, 2015:790)
97
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Lanjutan
Survei Peningkatan praktik, halaman 3
1 2 3 45
Sangat tidak setuju tidak setuju netral setuju sangat setuju
24. Saya menjaga jaringan atau hubungan yang kuat dengan:
12345 a. rekan-rekan sejawat saya
12345 b. mentor saya
12345 c. teman sesama program pascasarjana
12345 25. Saya percaya bahwa pengembangan professional saya adalah tanggung jawab saya.
12345 26. Saya lebih suka pengawasan ketat atas berbagai kegiatan saya di titik karier saya ini.
12345 27. Saya sudah mempelajari sebanyak mungkin tentang teori pengembangan mahasiswa.
12345 28. Saya sanggup berfungsi secara mandiri dalam peran professional saya.
12345 29. Saya memiliki tanggung jawab professional untuk mengembangkan/memajukan bidang
kemahasiswaan.
Dengan menggunakan skala 1 -5 di bawah ini, tunjukka, dengan melingkari jawaban yang paling tepat, seberapa teratur Anda
mempraktikkan kegiatan-kegiatan di bawah ini:
1 2 3 45
Tidak pernah jarang kadang-kadang secara teratur sering
12345
30. Paling tidak satu di antara ukuran-ukuran kinerja institusional saya 9misalnya, tinjauan tahunan,
12345
12345 tujuan tahunan) adalah ekspektasi untuk pertumbuhan dan pengembangan professional.
12345
12345 31. Saya membaca jurnal dan terbitan berkala professional untuk mengikuti perkembangan bidang ini.
12345 32. Saya meluangkan waktu untuk refleksi kolaboratif (dengan professional lain).
12345 33. Saya menyatakan bertanggung jawab ketika membuat keputusan yang buruk secara professional.
12345
12345 34. Saya secara sadar memikirkan kembali dan menerapkan teori ketika saya akan melaksanakan
12345
pengambilan keputusan dan praktik professional.
12345
35. Saya mengikuti berbagai konferensi bahkan ketika saya diharapkan untuk memenuhi secara
pribadi sebagian besar biaya keikutsertaan.
36. Saya memanfaatkan keahlian orang lain (yang disebutkan dalam a-b-c) untuk meningkatkan
praktik professional saya:
a. rekan-rekan sejawat saya
b. mentor saya
c. teman sesama program pascasarjana
37. Setelah mengambil tindakan atau menerapkan strategi, saya melakukan refleksi untuk
menentukan apakah tindakan itu tepat, dan bagaimana saya harus menanggapi dengan cara
yang berbeda di masa mendatang.
38. Saya mengantisipasi tindakan saya di berbagai situasi professional.
39. Saya mencari kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pembelajaran professional saya
dengan profesional-profesional lain. Sebutkan apa saja yang telah Anda lakukan untuk itu:
a. menulis untuk publikasi di jurnal professional, newsletter, dll.
b. mempresentasikan sesi-sesi dalam retret, lokakarya, dan/atau konferensi
c. berkolaborasi dengan orang lain yang mencari advis dan bantuan
d. cara lain: .
Gambar 6. Lanjutan Contoh Kuesioner yang Dikirim melalui Pos
(Kimberly VanHorn-Grassmeyer dalam Creswell, 2015:791)
98
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Lanjutan
Survei peningkatan praktik, halaman 4
1 2 3 45
Sangat tidak setuju tidak setuju netral setuju sangat setuju
12345 40. Saya menjabat di komite, satuan tugas, kelompok ad hoc, dll. tingkat institusi.
12345 41. Saya mencari kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik professional saya.
12345 42. Saya mengikuti berbagai konferensi asosiasi profesi (regional/negara bagian atau nasional)
12345 Untuk pertanyaan ini hanya: 1=tidak pernah, 2=jarang, 3=beberapa tahun, 4= setiap tahun,
12345 5=lebih dari setahun sekali.
12345 43. Saya merasa percaya diri ketika mengambil keputusan professional yang sangat sulit.
44. Saya mencatat pemikiran saya tentang praktik professional dalam catatan/buku harian.
12345 45. Saya secara sadar memikirkan kembali dan menerapkan pengalaman pribadi saya ketika akan
melaksanakan pengambilan keputusan dan praktik professional.
46. Saya meluangkan waktu untuk refleksi professional individual.
III. PERTANYAAN-PERTANYAAN DENGAN JAWABAN SINGKAT
Jawablah secara singkat pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, bilamana perlu dengan menggunakan lembar tambahan
47. Pikirkan kembali tentang salah satu keputusan professional paling sulit yang pernah Anda buat dalam profesi Anda saat ini,
yang melibatkan situasi bersama orang lain (rekan sejawat, mahasiswa, supervise (orang yang disupervisi)
Jelaskan bagaimana Anda mencapai keputusan itu, faktor-faktor yang Anda pertimbangkan, dengan siapa Anda berkonsultasi
sebelum memutuskan, dan apa yang Anda lakukan setelah itu?
48. Menurut pendapat Anda, apa definisi seorang professional kemahasiswaan yang kompeten? Apakah Anda menggambarkan
diri Anda sendiri termasuk di dalamnya? Mengapa atau mengapa tidak?
TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASI DAN TANGGAPAN TERUS TERANG ANDA 99
Mohon kembalikan survei Anda dalam amplop berperangko terlampir sebelum 25 Juli
Gambar 7. Lanjutan Contoh Kuesioner yang Dikirim melalui Pos
(Kimberly VanHorn-Grassmeyer dalam Creswell, 2015:792)
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Dari gambar 4 s.d. gambar 7, dapat dijelaskan bahwa instrumen tersebut
mengandung fitur-fitur konstruksi kuesioner yang baik. Kuesioner ini pendek dan
mendorong professional yang sibuk untuk mengembalikannya. Instrumen yang baik
dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan demografis atau personal yang dapat
dijawab dengan mudah oleh responden, dan dalam proses menjawab pertanyaan-
pertanyaan itu, mereka menjadi committed untuk melengkapi formulirnya. Untuk
variasi, penulis menggunakan tipe-tipe pertanyaan tertutup yang berbeda, termasuk
mencentang respons yang sesuai (misalnya, jumlah tahun bekerja), skala tingkat
persetujuan (sangat tidak setuju samapi sangat setuju), dan skala frekuensi (tidak
pernah sampai sering).
Contoh kuesioner tersebut juga bersisi item-item terbuka untuk mendorong
partisipan mengelaborasi pengalaman dan definisi (misalnya, “Apa definisi
professional kemahasiswaan yang kompeten?”). Kemudian, instrument ini
mengandung layout yang menyenangkan dengan banyak ruang kosong di antara
pertanyaan-pertanyaan dan digunakannya satu skala (misalnya, sangat tidak setuju
sampai sangat setuju) untuk banyak pertanyaan sehingga partisipan tidak
mengulang-ulang respons. Atau dapat memasukkan instruksi penutup dengan
mengucapkan terima kasih kepada responden untuk kesediaan mereka
berpartisipasi.
Langkah berikutnya, yaitu menganalisis data kuesioner penelitian, yang perlu
diperhatikan, apabila peneliti membandingkan kelompok atau menghubungkan
variabel, analisis statistik data kuesionernya lebih jauh dari sekedar analisis
deskriptif sederhana. Berikut langkah-langkah dalam menganalisis data kuesioner
yang dikirimkan melalui pos:
a. Mengidentifikasi tingkat respons dan bias respons dengan cara mengembangkan
tabel untuk persen respons terhadap survei dan mengembangkan tabel untuk
wave analysis bias respons.
b. Menganalisis data secara deskriptif untuk mengidentifikasi tren-tren umum,
dengan cara menghitung dan menyajikan tabel statistic deskriptif (mean, variasi,
dan kisaran) untuk masing-masing pertanyaan pada instrument, menganalisis
data untuk mengembangkan profil demografis dari sampel (menganalisis
100
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
pertanyaan-pertanyaan tentang faktor personal), dan menganalisis data untuk
memberikan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan deskriptif (bila ada).
c. Menulis laporan yang menyajikan hasil deskriptif atau penggunaan statistik
cangggih dengan langkah-langkah: (1). mengembangkan skala dengan
menggabungkan pertanyaan-pertanyaan pada instrumen (mengorelasikan item-
item dengan menggunakan prosedur statistik analisis faktor); (2) memeriksa
reabilitas skor pada skala menggunakan koefisien konsistensi internal; (3)
memeriksa validitas skor pada skala (atau faktor), yaitu menggunakan analisis
faktor; dan (4) menganalisis data menggunakan statistik inferensial untuk
menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian (membandingkan kelompok,
menghubungkan variabel) (Creswell, 2015:794).
Berikutnya tipe kuesioner berbasis web merupakan suatu instrumen survei
untuk mengumpulkan data yang tersedia di dalam computer (Creswell, (2015:768).
Beberapa program sofeware tersedia untuk merancang, mengumpulkan, dan
menganalisis data survei dengan contoh-contoh pertanyaan dan formulir (misalnya,
lihat Qualtrix di qualtrics.com/survey-software atau Survey Monkey di
surveymonkey.com). Perlu dipikirkan dalam penggunaan tipe ini, kara dikhawatirkan
tingkat respons yang rendah. Pengguna internet sering mengubah alamat surelnya.
Survei sering kali tidak didasarkan pada sampling random, sehingga sulit untuk
menarik kesimpulan ke populasi umum. Akan tetapi survei berbasis web
memungkinkan penyurveian yang efektif dan ekonomis seluruh populasi.
Wawancara satu-lawan-satu merupakan tipe pengumpulan data penelitian
survei yang mana peneliti melaksanakan wawancara dengan seorang individu
dalam sampel dan mencatat respons terhadap pertanyaan tertutup (Creswell,
2015:769). Prosesnya melibatkan pengembangan atau menemukan instrumen dan
melatih pewawancara tentang prosedur wawancara yang baik.pelatihan ini terdiri
atas belajar bagaimana memberikan instruksi selama wawancara, menjaga
kerahasiaan tentang wawancara (tetapi memang kurang melindungai anonimitas),
menanyakan pertanyaannya tepat seperti pedoman wawancara, menyelesaikan
wawancara dalam waktu yang dialokasikan, bersikap sopan, dan tidak menyisipkan
pendapat pribadi ke dalam wawancara. Jika lebih dari satu pewawancara
101
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
digunakan, peneliti melatih semua individu untuk menggunakan prosedur yang
sama sehingga mode pengadministrasiannya tidak mengintroduksikan bias ke
dalam penelitian. Dengan bentuk pengumpulan data wawancara satu-lawan-satu
mampu menghasilkan tingkat respons yang tinggi karena peneliti menjadwalkan
wawancara sebelumnya dan partisipan sampel biasanya merasa diwajibkan untuk
menyelesaikan wawancaranya. Kemudian, menurut Emzir (2014:40) wawancara
satu-lawan-satu atau disebut dengan wawancara personal biasanya memiliki tingkat
respons yang lebih tinggi dan melengkapi fleksibilitas yang lebih besar.
Tipe pengumpulan data penelitian survei berikutnya, yaitu Focus Group
Interviews yang mana peneliti menemukan atau mengembangkan instrument survei,
mengadakan pertemuan dengan sekelompok kecil orang (biasanya empat sampai
enam orang) yang dapat menjawab pertanyaan, dan mencatat komentar mereka
pada instrument. Salah satu kelemahan wawancara kelompok terfokus yaitu karena
mengharuskan peneliti untuk menemukan konsensus tentang berbagai
pertanyaannya sehingga skor dapat ditandai bagi seluruh dalam kelompok. Selain
itu, beberapa individu mungkin mendominasi percakapannya, yang menghasilkan
respons-respons yang tidak merefleksikan konsensus kelompok.
Tipe pengumpulan data penelitian survei yang terakhir yaitu Wawancara
Telepon yang mana peneliti merekam beberapa komentar partisipan terhadap
beberapa pertanyaan pada instrumen melalui telepon (Creswell, 2015:771). Tugas
peneliti mengembangkan atau menemukan suatu instrumen, memperoleh nomor
telepon para partisipan dalam sampel, melakukan panggilan telepon, dan meminta
partisipan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada instrumen. Wawancara
telepon memungkinkan peneliti untuk mengakses dengan mudah para interview
yang tersebar secara geografis. Kemudian menurut Emzir (2014:40) wawancara
telepon atau survei telepon biasanya memiliki tingkat respons yang lebih tinggi dan
melengkapi fleksibilitas yang lebih besar serta metode pilihan untuk kebanyakan
survey singkat. Akan tetapi, dalam wawancara telepon, peneliti tidak dapat melihat
komunikasi nonverbal apapun di pihak partisipan, dan orang sering kali tidak
menyukai kontak telepon akibat pengalaman pribadi sebelumnya dengan telepon
102
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dari perusahaan survei yang meminta informasi. Berikut, contoh pedoman
wawancara telepon.
Jadwal Wawancara Terstruktur A
Lembar Kode Pewawancara
Informasi Pra-Wawancara
Identitas Pewawancara (1-2)
Nomor Kode Institusi (3-5)
Tanggal Wawancara (6-10)
Kode Disiplin (Carnegia) untuk Interviewee (11-12)
Jenis Kelamin Interviewee (1) Perempuan (2) Laki-laki (13)
[Catatan bagi Pewawancara: Beri tanda # pada tape counter Anda untuk kutipan yang secara potensial menarik]
Informasi Wawancara
Pengantar Pewawancara
Kami menghargai kesediaan Anda untuk diwawancarai hari ini. Seperti kami katakana
sebelumnya, maksud proyek kami adalah untuk mewawancarai para ketua jurusan (atau yang
setara) yang dianggap luar biasa dalam membantu para dosen di kampus college dan universitas
untuk mengidentifikasi cara-cara untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan professional
para dosen di unit mereka. Proyek ini disponsori oleh Lily Endowment and TIAA-CREF, dan
informasinya akan digunakan dalam penyiapan handbook praktis.
Wawancara berlangsung selama 30 menit samapi 40 menit. Dalam komunikasi kita
sebelumnya, kami telah menjelaskan sifat-sifat pertanyaan wawancara kami. Apakah sekarang
sudah bisa mulai masuk ke pertanyaan-pertanyaan itu? (Berhenti untuk menunggu respons)
4. Bagaimana cara Anda terseleksi? (25)
(1) Pencarian nasional .
(2) Penunjukan administratif .
(3) Dipilih oleh dosen .
(4) Lain-lain .
5. Saya mohon kesediaan Anda untuk memberikan beberapa informasi tentang penunjukan Anda
Apakah Anda memilih masa jabatantertentu dalam tahun kalender? (Probe: ditunjuk kembali?)
(1) Ya, # tahun
(2) Tidak .
(3) Tidak pasti . (26-27)
Bila ya, apakah masa jabatannya tipikal di kampus Anda?
(1) Ya, .
(2) Tidak .
(3) Tidak pasti . (28)
Apakah Anda menjabat karena keinginan dosen di unit atau administrator Anda?
(1) Dosen, .
(2) Administrator .
(3) Kombinasi tertentu antara keduanya . (29)
6. Berapa Anda berharap untuk tetap berada di posisi Anda Sekarang?
(1) Tidak tahu .
(2) Jumlah tahun .
(3) Terserah dekan saya .
(4) Selama saya mau .
(5) Terserah fakultas . (30)
Gambar 8. Contoh Pedoman Wawancara Telepon (Creswell, 2015:798)
103
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Dari gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa tugas peneliti dalam menyusun
pedoman wawancara harus memperhatikan beberapa hal, di antaranya: (1) kalimat
pengantar untuk membantu membangun rapport dan mengarahkan wawancaranya
(misalnya, banyaknya waktu yang dibutuhkan); (2) kotak-kotak yang ditandai
dengan jelas dengan instruksi untuk masing-masing pertanyaan dalam wawancara
sehingga setiap pewawancara pada tim penelitian akan menanyakan pertanyaan
yang sama; (3) opsi respons tertutup untuk masing-masing pertanyaan, dengan
ruang kosong di antara pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan pewawancara
untuk menulis komentar tambahan; dan (4) nomor di antara tanda kurung untuk
menunjukkan nomor kolom untuk mengode respons ke dalam tabel data untuk fail
komputer untuk keperluan analisis data.
6. Pengambilan Sampel dari Populasi dalam Penelitian Survei
Dalam penelitian biasanya menyeleksi dan meneliti sampel dari populasi dan
menggeneralisasikan hasil dari sampel tersebut ke populasinya. Langkah pertama
dalam pengambilan sampel, kita perlu mendefinisikan tiga istilah, yaitu populasi,
populasi target atau sampling frame, dan sampel. Berikut gambar tentang ketiga
istilah dalam dalam proses pengambilan sampel dalam penelitian survei tersebut.
Populasi
adalah kelompok individu yang memiliki cirri khusus yang
membedakan mereka dengan kelompok lain
Populasi Target atau Sampling Frame adalah daftar aktual
unit sampling dari mana sampel diseleksi
Sampel adalah kelompok partisipan dalam 104
penelitian yang diseleksi dari populasi target dari
mana peneliti menggeneralisasikannya ke populasi
target secara keseluruhan
Gambar 9. Perbedaan antara Populasi,
Populasi Target (Sampling Frame), dan Sampel (Creswell, 2015:765)
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Dari gambar 2 di atas dapat diinformasikan bahwa tingkat paling luas adalah
populasi, di mana sekelompok individu memiliki cirri khusus yang membedakan
mereka dengan kelompok-kelompok lain. Sebagai contoh, kita mungkin memiliki
populasi yang terdiri atas para guru SMA, individu-individu yang semuanya
mengajar di SMA, atau konselor sekolah, individu-individu yang menduduki posisi
konselor di semua tingkat sekolah pendidikan. Dalam tingkat yang lebih spesifik,
peneliti tidak selalu meneliti seluruh populasi karena mereka tidak dapat
mengidentifikasi individu-individunya atau karena mereka tidak bisa mendapatkan
daftar namanya (daftar digunakan jika mengirimkan kuesioner melalui pos). Dalam
istilah praktis, peneliti meneliti suatu target population (populasi target atau sampling
frame). Daftar ini merupakan daftar atau catatan individu dalam populasi yang dapat
diperoleh seorang peneliti. Sebagai contoh, peneliti mungkin memperoleh daftar
seluruh guru SMA di suatu distrik sekolah. Daftar tersebut merupakan populasi
target atau sampling frame. Dari populasi target, peneliti memilih suatu sampel. Di
tingkat paling spesifik, peneliti memilih suatu sampel dari populasi target.
Bentuk sampling yang taat asa adalah menggunakan sampling random
dengan menerapkan prosedur seperti menggunakan tabel nomor random. Dalam
proses ini, peneliti menyeleksi suatu sampel yang mewakili populasi sehingga klaim
atau kesimpulan dapat ditarik dari sampel ke populasi. dalam penelitian survei,
penting untuk menyeleksi sampel sebesar mungkin agar sampel tersebut akan
memperlihatkan ciri-ciri khusus yang serupa dengan populasi target.
Kemudian, bisa juga terjadi kemungkinan dalam penelitian survei untuk
meneliti populasi secara keseluruhan karena populasinya kecil atau yang disebut
dengan census study (sensus) yang memungkinkan kesimpulan ditarik ke seluruh
bagian populasi. Dengan demikian, sampling random, pengujian hipotesis, dan
penggunaan statistik inferensial tidak diperlukan. Untuk tipe penelitian ini, peneliti
survei sekadar melaporkan statistik deskriptif tentang populasi secara keseluruhan.
105
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
7. Langkah-langkah dalam Melaksanakan Penelitian Survei
Creswell (2015:801-805) mengemukan ada bebrerapa langkah dalam
melaksanakan penelitian survey, di antaranya:
a. Memutuskan apakah survei adalah rancangan terbaik untuk digunakan
Perlu diketahui penelitian survei membantu mendeskripsikan tren dalam
populasi atau mendeskripsikan hubungan di antara variabel atau
membandingkan kelompok. Dalam arti penelitian survei cocok untuk mengakses
tern atau ciri-ciri khusus populasi; atau mengidentifikasi kebutuhan suatu
masyarakat sehingga dapat mengadministrasikannya dalam waktu singkat
dengan sifat yang ekonomis dan menjangakau populasi yang tersebar secara
geografis dengan memina tanggapan partisipan secara anonim.
b. Mengidentifikasi Pertanyaan atau Hipotesis Penelitian
Penelitian survei cocok untuk menguji hipotesis karena Anda akan
meneliti sampel untuk menarik kesimpulan tentang populasi. Bentuk pertanyaan
atau hipotesisnya dapat berupa:
1) Mendeskripsikan ciri khusus atau tren populasi orang, misalnya frekuensi
pemakaian tembakau di kalangan siswa SMA laki-laki.
2) Membandingkan kelompok dalam kaitannya dengan atribut tertentu, seperti
perbandingan guru dan administrator tentang sikap terhadap masa “in-
service learning”.
3) Membandingkan dua variabel atau lebih, seperyi survei guru untuk
menghubungkan “kejenuhan” ddengan jumlah tahun mengajar.
c. Mengidentifikasi Populasi, Sampling Frame, dan Sampel
Dalam penelitian survei, dalam menetapkan sampel dimulai dengan
mengidentifikasi populasi. Langkah ini membutuhkan pendefenisian populasi,
penentuan jumlah orang yang ada di dalamnya, dan pengasesan daftar nama
(sampling frame) yang bisa didapatkan untuk sampelnya. Selain itu, populasinya
mungkin perlu distratifikasi sebelum proses sampling dan dengan demikian ciri-
ciri khusus terpilih populasinya (misalnya, laki-laki dan perempuan) terwakili
dalam sampel. Kemudian, setelah menetapkan populasi target (sampling frame)
106
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
barulah kita memilih sampel yang lebih baik dengan menggunakan prosedur
sampling random.
d. Menentukan Rancangan Survei dan Prosedur Pengumpulan Data
Peneliti harus menetapkan apakah penelitian surveinya dalam bentuk
cross-sectional atau longitudinal. Keputusan ini berkaitan dengan sifat masalah
yang diteliti, akses ke partisipan, dan waktu yang tersedia bagi peneliti untuk
mengumpulkan data. Misalnya, mempelajari tentang perkembangan longitudinal
keterampilan sosial remaja di sekolah mengharuskan untuk mengikuti remaja
dari waktu ke waktu dan menggunakan waktu ekstensif untuk mengumpulkan
data.
e. Mengembangkan atau Menemukan Instrumen
Sebenarnya lebih mudah untuk menemukan instrumen daripada
mengembangkannya. Standar validitas dan reliabilitas konstrak perlu diterapkan
pada skor-skor dari instrumen yang sudah ada sebelum Anda memilih untuk
digunakan. Pemeriksaan validitas dan reliabilitas skor-skor dari instrumen
tersebut selama analisis data sangat penting.
f. Mengadministrasikan Instrumen
Dalam mengadministrasikan instrumen membutuhkan waktu yang paling
lama dalam penelitian survei. Hal ini melibatkan dan mendapatkan izin untuk
melaksanakan penelitian dan menggunakan prosedur untuk mengumpulkan
data, seperti melatih pewawancara atau menyiapkan kuesioner untuk diposkan.
Hal ini membutuhkan tidak lanjut terus-menerus untuk mencapai tingkat respons
yang tinggi, memeriksa bias respons jika menggunakan kuesioner, dan
menyiapkan data untuk analisis dengan mengode informasi dari instrumen ke
dalam fail komputer.
g. Menganalisis Data untuk Menjawab Pertanyaan atau Hipotesis Penelitian
Prosedur analisis data akan merefleksikan tipe pertanyaan atau hipotesis
penelitian yang direncanakan untuk dijawab oleh peneliti dalam penelitiannya.
Analisis terdiri atas mencatat tingkat respons, memeriksa bias respons,
melaksanakan analisis deskriptif terhadap seluruh item-nya, dan setelah itu
107
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
menjawab pertanyaan deskriptif. Hal ini mungkin juga melibatkan pengujian
hipotesis atau pertanyaan penelitian dengan menggunakan statistik inferensial.
h. Menulis Laporan
Dalam menulis laporan penelitian survei, seharusnya menggunakan struktur
kuantitatif standar yang terdiri atas kata pengantar, tinjauan kepustakaan,
metode, hasil, dan diskusi. Kemudian sebutkan dibagian “metode” penelitian,
informasi terperinci tentang prosedur survei. Masukkan juga di bagian
“diskusi/pembahasan” komentar tentang daya generalisasi hasil ke populasi.
8. Contoh Hasil Penelitian Survei
Penelitian survei dapat kita contohkan dari hasil penelitian yang dilakukan
oleh Richard L. Dodson dengan judul penelitian “Kentucky Principal Perceptions of
the State’s N ew Teacher Evaluation System: A Survey Analysis”. Penelitian ini
meneliti bagaimana persepsi publik kepala sekolah di Kentucky tentang sistem
evaluasi guru baru mereka dan ujian kemahiran mereka dan lulus dalam rangka
untuk mengevaluasi staf mereka. Sebuah survei online terbanyak adalah dengan
308 dari sekitar 1.100 kepala sekolah di Kentucky menjawab, menghasilkan tingkat
tanggapan 28%. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar kepala sekolah
Kentucky tidak senang dengan sistem evaluasi guru yang barudan tes profidenty
yangharus mereka ambil.
Tanggapan disarankan bahwa rata-rata tiga perubahan mereka akan
membuat ke sistem evaluasi atau tes profidenty; dan hasilnya komentar positif yang
langka. Target perbaikan mencakup sistem perangkat lunak yang digunakan untuk
memasukkan evaluasi guru, tujuan pertumbuhan evaluasi mahasiswa dan bagian
suara mahasiswa, serta lebih banyak pelatihan dari negara tentang cara
menggunakan instrumen evaluasi baru. Mayoritas prindpals mungkin meninggalkan
pekerjaan mereka dari awal yang direncanakan karena harus melaksanakan
instrumen evaluasi baru; paling mungkin juga pergi lebih awal dari yang
direncanakan karena peningkatan jumlah evaluasi guru mereka harus melakukan
sebagai darisistem atau karena peningkatan penekanan pada nilai tes evaluasi
guru. Sebagian responden, bagaimanapun, setuju bahwa menggunakan sistem
108
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
evaluasi yang baru telah meningkatkan program pengajaran sekolah mereka dan
bahwa instrumen baru adalah lebih baik untuk instrumen evaluasi guru lama
mereka. Sebagian besar responden nerasa tidak siap untuk melaksanakan sistem
evaluasi baru.
C. Penelitian Korelasional Analisis Jalur (Path Analysis)
1. Hakikat Penelitian Korelasional Analisis Jalur
Creswell (2015:697) mengemukakan bahwa penelitian korelasional analisis
jalur atau path analysis merupakan penelitian korelasional yang menggunakan suatu
prosedur statistik untuk melihat kemungkinan hubungan kausal di antara tiga
variabel atau lebih yang memengaruhi suatu hasil. Dengan analisis korelasional
analisis jalur, kita dapat menentukan faktor apa yang memiliki pengaruh langsung
pada hasil dan faktor apa yang mana yang dimediasi oleh variabel. Prosedur dalam
analisis jalur dimulai dengan menetapkan suatu teori, mengukur vartiabelnya,
mencari korelasi di antara variabel, dan setelah itu mengurangi daftar variabelnya
sehingga jumlahnya lebih sedikit berdasarkan korelasi mereka dan bagaimana
mereka mengklaster menjadi satu.
Gay, Mills, dan Airasian (2012:215) juga menjelaskan bahwa path analysis
atau analisis jalur sebagai berikut.
Path analysis also allows us to see the relations and patterns among a number of variable.
the outcome of a path analysis is a diagram that shows how variables are related to one
another. ... An extension of path analysis that is more sophisticated and powerful is called
structural equation modeling, or LISREL, after the computer program used to perform the
analysis.
Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa analisis jalur sebagai
penelitian korelasional yang memungkinkan kita untuk melihat hubungan dan pola di
antara sejumlah variabel. Hasil dari analisis jalur adalah diagram yang menunjukkan
bagaimana variabel terkait satu sama lain. Perpanjangan analisis jalur yang lebih
canggih dan kuat disebut pemodelan persamaan struktural, atau LISREL, setelah
program komputer yang digunakan untuk melakukan analisis.
Kemudian, menurut Emzir (2014:50) penelitian korelasional rancangan
analisis jalur (path analysis design) merupakan penelitian korelasional yang
109
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
berfungsi untuk menentukan mana dari sejumlah jalur yang menghubungkan satu
variabel dengan variabel lainnya sehingga mampu membuat penyataan-pernyataan
tentang sebab dan akibat. Sukardi (2003:53) juga menjelaskan path analysis
merupakan teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis hubungan sebab
akibat yang inheren antar variabel yang disusun berdasarkan urutan temporer
dengan menggunakan koefesien jalur sebagai besaran nilai dalam menentukan
besarnya pengaruh variabel independen exogenous terhadap variabel dependen
endogenous.
Kadir (2015:239) juga menjelaskan analisis jalur (path analysis) merupakan
teknik analisis statistika yang digunakan untuk menguji hubungan kausal antara
variabel bebas dan variabel tak bebas. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa
esensi dari analisis jalur didasarkan pada sistem persamaan linear. Analisis jalur
berbeda dengan analisis regresi, di mana analisis jalur memungkinkan pengujian
dengan menggunakan variabel mediating/intervening. Sistem hubungan kausal atau
sebab akibat menyangkut dua jenis variabel, yaitu variabel bebas (independent)
yang diberi simbol X1, X2, …., Xk dan variabel tak bebas (dependent) yang diberi
simbol Y1, Y2, …., Yi. Kemudian, dalam analisis jalur dapat berupa pengaruh
langsung maupun tidak langsung.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian
korelasional analisis jalur (path analysis) merupakan jenis penelitian kuantitatif yang
berusaha menguji hubungan sebab akibat (kausal) antara variabel bebas
(independent) dan variabel tak bebas (dependent) sehingga dapat diperoleh
pengaruh secara langsung maupun tidak langsung (mediating/intervening) yang
perhitungannya dibantu dengan analisis statistik.
Pengaruh tidak langsung suatu variabel bebas terhadap variabel tak bebas
adalah pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas melalui variabel lain
yang disebut variabel antara (intervening variabel). Dalam analisis jalur juga dikenal
istilah variabel eksogen dan variabel endogen. Variabel eksogen atau variabel yang
“mempengaruhi” adalah variabel yang variannya diasumsikan terjadi bukan karena
sebab-sebab dalam model. Sedangkan variabel endogen atau variabel yang
“dipengaruhi” adalah variabel yang variasinya terjelaskan oleh variabel eksogen
110
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
ataupun variabel endogen lain dalam model sehingga pusat dalam analisis jalur
adalah pola hubungan sebab akibat.
Analisis jalur terdapat dua pola hubungan yang dapat dungkapkan, yaitu pola
hubungan untuk meramalkan atau menduga variabel respons Y atas nilai-nilai
variabel predikator X1, X2, …., Xk atau pola hubungan yang mempelajari besarnya
pengaruh variabel penyebab X1, X2, …., Xk terhadap sebuah variabel akibat, baik
pengaruh langsung, tak langsung maupun pengaruh total. Dari telaah statistika telah
diketahui bahwa untuk tujuan peramalan/pendugaan variabel Y atas X1, X2, …., Xk
maka pola hubungan dapat dipelajari secara tepat melalui model regresi, sedangkan
untuk tujuan mempelajari pola hubungan sebab akibat maka pisau analisis yang
tepat adalah dengan analisis jalur model struktural.
Penelitian korelasional analisis jalur menggunakan model berbentuk diagram
jalur dalam menggambarkan hubungan kausal atau sebab akibat antara variabel
yang akan diselidiki dan besarnya. Diagram jalur merupakan alat untuk melukiskan
secara grafis struktur hubungan sebab-akibat antar variabel bebas, intervening, dan
variabel terikat. Untuk mempresentasikan hubungan tersebut diagram jalur
menggunakan symbol anak panah berarah-berkepala satu (single-headed arrow)
yang member makna adanya pengaruh langsung variabel eksogen terhadap
variabel endogen. Selain itu, anak panah juga menghubungkan error dengan setiap
variabel endogen dan untuk anak panah berkepala dua (double-headed arrow)
merepresentasikan hubungan antara dua variabel. Selanjutnya, setiap variabel
eksogen dan endogen yang akan dianalisis dalam model simbolkan dalam bnetuk
“kotak” sedangkan variabel lain yang tidak dianalisis dalam model atau error (e)
digambarkan berbentuk lingkaran (Kadir, 2015:242).
Sedangkan untuk memperoleh besarnya pengaruh langsung variabel
eksogen terhadap variabel endogen dinyatakan dengan koefisien jalur. Notasi atau
simbol dari koefisien jalur dituliskan sebagai pijdi mana i menyatakan akibat
(endogen) dan j menyatakan sebab (eksogen). Sebagai contoh, notasi p21 dimaknai
sebagai pengaruh langsung variabel X1terhadap variabel X2 , begitu pula notasi py2
berarti pengaruh langsung variabel X2 terhadap Y. Berikut beberapa model diagram
jalur disertai persamaan strukturalnya.
111
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
1. Model diagram jalur sederhana dengan 3 variabel (X1, X2, dan Y)
Persamaan struktural untuk diagram di atas, sebagai berikut.
X2 = p21X1 + ε
Y = py1X1 + py2X2+ ε
2. Model diagram jalur dengan 4 variabel (X1, X2,X3 dan Y)
Persamaan struktural untuk diagram di atas, sebagai berikut.
X2 = p21X1 + ε
X3 = p31X1 + p32X2+ ε2
Y= py1X1 + py2X2+ py3X3 + ε3
3. Model lain dari diagram jalur dengan 4 variabel (X1, X2,X3 dan Y)
112
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Persamaan struktural untuk diagram di atas, sebagai berikut.
X3 = p31X1 + p32X2+ ε1
Y= py1X1 + py2X2+ py3X3 + ε2
4. Model diagram jalur melibatkan 6 variabel (X1, X2,X3, X4, X5 dan Y)
Persamaan struktural untuk diagram di atas, sebagai berikut.
X5 = p51X1 + p52X2+ p53X3 + p54X4 + ε1
Y= py1X1 + py2X2+ py3X3 + py4X4 + py5X5 + ε3
Dari beberapa model variabel di atas, diagram jalur di atas, terlihat bahwa
untuk variabel yang sama dapat dibentuk lebih dari satu model diagram jalur,
misalnya (X1, X2,X3 dan Y) dapat membentuk dua model, yaitu model (2) dan model
(3). Model mana yang akan dipilih selalu didasarkan pada kerangka teori yang
dibangun peneliti.
2. Kapan Anda Menggunakan Penelitian Korelasional Analisis Jalur
Penelitian korelasional analisis jalur digunakan saat kita akan
menghubungkan dua variabel atau lebih yang hubungannya bersifat kausal atau
sebab akibat yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung Creswell
(2015:666). Rancangan ini memungkinkan Anda untuk memprediksi suatu hasil,
misalnya prediksi bahwa kemampuan, kualitas sekolah, motivasi siswa, dan tugas
akademis memengaruhi prestasi siswa. Kemudian, rancangan ini bisa dilakukan jika
Anda mengetahui dan dapat menerapkan pengetahuan statistik yang didasarkan
pada perhitungan uji statistik korelasi analisis jalur.
113
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
3. Prosedur Dasar Penelitian Korelasional Analisis Jalur
Emzir (2014:41-43) mengemukakan bahwa pada dasarnya penelitian
korelasional dapat mengikuti prosedur sebagai berikut:
a. Pemilihan Masalah
Permasalahan dalam penelitian korelasional harus mampu didukung oleh teori
dan pengalaman karena peneliti bertugas melihat kemungkinan ada tidaknya
hubungan antar variabel sehingga mampu menguji hipotesis dari hubungan yang
diharapkan secara ilmiah. Kemudian, variabel yang dilibatkan harus diseleksi
berdasarkan penalaran deduktif dan penalaran induktif.
b. Sampel dan Pemilihan Instrumen
Sampel penelitian korelasional minimal berjumlah 30 subjek dan biasanya
menggunakan metode sampling yang dapat diterima. Kemudian, instrumen yang
baik harus dipilih berdasarkan pengembangan pengukuran yang valid dan
reliable terhadap variabel yang akan diteliti. Jika variabel yang tidak memadai
dikumpulkan, koefisien korelasi yang dihasilkan akan mewakili estimasi tingkat
korelasi yang tidak akurat. Apabila pengukuran yang digunakan tidak secara
nyata mengukur variabel yang diinginkan, koefisien yang dihasilkan tidak akan
mengindikasikan hubungan yang diinginkan. Instrumen penelitian yang biasa
digunakan yaitu tes dan kuesioner karena mampu menghasilkan data statistik.
c. Desain dan Prosedur
Dalam disain korelasional sebenarnya tidaklah rumit ketika kita sudah
memahami bahwa dua atau lebih skor yang diperoleh dari setiap jumlah sampel
yang dipilih, satu skor untuk setiap variabel yang diteliti, dan skor berpasangan
selanjutnya dikorelasikan. Koefisien korelasi yang dihasilkan mengindikasikan
tingkatan/derajat hubungan antara kedua variabel tersebut. Kemudian, dalam
mengaitkan hubungan antar varoabel, kita perlu menetapkan desain penelitian
korelasi yang tepat.
d. Analisis Data dan Interpretasi
Data yang sudah diakumulasikan dikorelasikan di antara kedua variabel (antara
variabel independent dan dependent) sehingga hasilnya adalah koefisien
korelasi. Koefisien korelasi angka desimel, antara 0,00 dan + 1,00, atau -0,00
114
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dan -1,00, yang mengindikasikan dengan hubungan dua variabel. Jika koefisien
mendekati + 1,00; kedua variabel tersebut mempunyai hubungan positif.
Sedangkan koefisien yang mendekatati -1,00 kedua variabel tersebut memiliki
hubungan yang negatif.
Kemudian untuk interpretasi suatu koefisien korelasi bergantung pada
bagaimana ia akan gunakan. Dalam studi prediksi, signifikansi statistik
merupakan nilai kedua dari koefisien dalam memudahkan prediksi yang akurat.
Signifikansi statistik mengacu pada apakah koefisien yang diperoleh berbeda
secara nyata dari zero (0) dan mencerminkan suatu hubungan yang benar,
bukan suatu kemungkinan hubungan; keputusan berdasatkan signifikansi
statistik dibuat pada suatu level kemungkinan (probability) yang diberikan.
4. Teknik Analisis Data Penelitian Korelasional Analisis Jalur
Langkah-langkah dalam menganalisis data hasil penelitian analisis jalur
secara manual sebagai berikut:
a. Memasukkan data ke dalam tabulasi berdasarkan variabelnya;
b. Meneliti membangun kerangka teoretis sehingga menghasilkan model
hipotetik;
c. Menentukan matrik korelasi;
d. Menentukan koefisien jalur;
e. Uji signifikansi kefisien jalur; dan
f. Menetapkan hasil pengujian hipotesis.
Kemudian, langkah-langkah dalam menganalisis data hasil penelitian analisis
jalur menggunakan SPSS (Kadir, 2015:261-269) sebagai berikut:
a. Masukkan data ke dalam data view dan nama variabel ke dalam variabel
view serta memastikan bahwa kolom mewakili variabel dan baris mewakili
responden.
b. Selanjutnya klik analyze, lalu pilih regressiondan linear;
c. Masukkan X2 ke kotak dependent i dan X1 ke dalam kotak Independent (s),
pilih Backward di kotak method untuk memproses struktur 1 berikut. X2 import
ke dependent dan X1 import ke independen.
115
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
d. Pilih statistics, lalu klik Model fit, Rsquared change, Deskriptives, dan
Estimates, kemudian continue,OK.
e. Akan muncul Output SPSS dan interpretasi untuk struktur 1.
f. Dilanjutkan lagi dengan memproses struktur 2 yaitu X3 import ke dependent
dan X1 dan X2 import ke independent. Pilih statistics lalu continue, ok (maka
akan muncul hasil model summary, ANOVA, Coefficients.
g. Dilanjutkan dengan struktur 3 masukkan Y ke kotak dependent serta X1 , X2 ,
dan X3 ke dalam kotak independent, isikan backwardpada kotak method.
Kemudian, pilih statistics lalu continue, ok. Maka akan diperoleh Model
Summary, Coefficiens.
h. Menentukan model kausal empiris antara X1, X2, X3 , dan Y.
i. Pengujian Kecocokan Model.
5. Contoh Penelitian Analisis Jalur
Salah satu contoh penelitian analisis jalur dilakukan oleh Doğana dan Çelikb
dengan judul penelitian “Examining the Factors Contributing to Students’ Life
Satisfaction”. Dalam penelitian ini, penulis meneliti hubungan antara kepuasan hidup
siswa, keterlibatan sekolah, dankepercayaan di dalam kelas. Analisis dilakukan
tentang bagaimana kepuasan hidup siswa berbeda menurut perumahan mereka,
jenis sekolah, dan tingkat kelas. Skala kepuasan mahasiswa multidimensi,
keyakinan skala di kelas, dan keterlibatan sekolah, untuk mengumpulkan data dari
sampel 287 SMA siswa. Dalam penelitian ini, koefisien korelasi Pearson, analisis
jalur,T-Test, uji Welch, dan uji T2 Tamhane inidigunakan untuk menganalisis data.
Kebaikan-of-fit indeks mengenai analisis jalur menunjukkan bagaimana variabel
seperti keterlibatan sekolah dan keyakinan di dalam kelas memprediksi kepuasan
hidup siswa, menunjukkan bahwa model diterima. Model cukup dapat menjelaskan
hubungan antara yang diamati dengan variabel tersirat (x2 = 209,69, df = 60, x2 / df
= 3,49, p = 0.00, RMSEA = 0,09, NFI = 0,92, NNFI = 0,93 CFI = 0,94, IFI = 0,94, RFI
=0,90, GFI = 0,88, AGFI = 0,82, dan SRMR = 0,07).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan hidup siswa SMA menurun
dengan meningkatnya tingkat kelas. Ditemukan bahwa siswa yang tinggal di asrama
116
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
sekolah memiliki kehidupan yang lebih tinggikepuasan dibandingkan mereka yang
tinggal dengan keluarga mereka. Selain itu, ditemukan bahwa siswa yang belajar di
sekolah tinggi seni rupadan sekolah tinggi olahraga memiliki kepuasan hidup lebih
tinggi daripada mereka yang belajar di sekolah-sekolah tinggi biasa.
117
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
BAB VIII
Penelitian Kausal Komparatif dan Eksperimen
A. Pendahuluan
Dalam penelitian pendidikan setidaknya dikenal dua jenis penelitian, yaitu
penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah deskriptif dan data yang
dikumpulkan lebih mengambil bentuk kata-kata atau gambar daripada angka-angka,
sedangkan, penelitian kuantitatif adalah analisis statistik dan data yang dikumpulkan
lebih mengambil bentuk yang dapat dihitung (numeric). Pada penelitian kuantitatif
terdapat beberapa jenis penelitian. Penelitian kuantitatif terbagi menjadi penelitian
eksperimen, deskriptif korelasional, evaluasi dan kausal komparatif. Penelitian
korelasional dan kausal komparatif sukar dibedakan karena kedua penelitian ini
mempunyai manipulasi dan hal yang sama mengenai interpretasi hasil. Akan tetapi,
terdapat pula perbedaan antara keduanya. Studi kausal komparatif biasanya melibatkan
dua atau lebih kelompok dan satu variabel bebas.
Penelitian kausal komparatif memiliki kesamaan dengan penelitian korelasi,
merupakan penelitian yang bersifat ex post facto, yaitu penelitian yang variabel-
variabelnya telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel terikat dalam
suatu penelitian. Di lain pihak, penelitian korelasi (correlational research) adalah suatu
penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan apakah ada
hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Pada penelitian kausal
komparatif, peneliti mengambil satu atau lebih akibat dan menguji data tersebut dengan
menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab, hubungan, dan maknanya.
Pendekatan dasar kausal komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dari
mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya kemudian berusaha
mencari kemungkinan variabel penyebabnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat yang berdasarkan pada
pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari kembali faktor penyebab melalui
118
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
data tertentu. Dalam bab ini akan dijelaskan pengertian penelitian kausal komparatif
dan eksperimen.
B. Penelitian Kausal Komparatif
1. Pengertian Penelitian Kausal Komparatif
Metode penelitian yang berhubungan dengan penelitian korelasi adalah
penelitian kausal komparatif (hubungan sebab-akibat). Dalam penelitian kausal
komparatif, peneliti berusaha menentukan penyebab atau alasan dari keberadaan
perbedaan dalam perilaku atau status objek yang diteliti (Gay, Mill dan Airasin,
2012:228). Secara mendasar, kausal komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang
diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya,
kemudian berusaha mencari kemungkinan variabel penyebabnya. Atau dengan kata
lain dalam penelitian kausal komparatif peneliti berusaha mencermati pertanyaan
penelitian what is the effect of X? Sebagai contoh, dalam kasus pendidikan, apa
yang terjadi bila mahasiswa baru (semester satu tahun pertama) belajar TOEFL,
tanpa melalui kuliah matrikulasi, sebagaimana mahasiswa tersebut berbagai latar
belakang pendidikan anatara lain SMA, SMK, MAN, dan lainya?
Menurut Kerlinger di dalam Emzir (2012:119) penelitian kausal komperatif
yang disebut juga penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang
sistematis tempat ilmuwan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung
karena eksistensi dari varibel tersebut telah terjadi, atau karena variabel tersebut
pada dasarnya tidak dapat dimanipulasi.
2. Tujuan Penelitian Kausal Komparatif
Adapun tujuan penelitian kausal komparatif adalah untuk melihat perbedaan
dua atau lebih situasi, peristiwa, kegiatan, atau program yang sejenis atau hampir
sama yang melibatkan semua unsur atau komponennya. Peneliti menyelidiki
kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan cara berdasar atas pengamatan
terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi
penyebab melalui data tertentu.
119
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
3. Prosedur Penelitian Kausal Komparatif
Ada lima tahapan yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian kausal
komparatif antara lain: (a) penentuan masalah penelitian; (b) penentuan kelompok
yang memiliki karakteristik yang ingin diteliti; (c) pemilihan kelompok pembanding;
(d) pengumpulan data; dan (e) analisis data.
Dalam perumusan masalah penelitian atau pertanyaan penelitian, kita
berspekulasi tentang penyebab fenomena berdasakan penelitian sebelumnya, teori,
atau pengamatan. Sebagi contoh: “Siswa yang sudah menggunakan komputer di
rumah sebelum mengikuti pelajaran di kelas 1 SD akan memiliki skor prestasi
belajar yang lebih tinggi daripada siswa yang tidak memiliki komputer di rumah.”
Penentuan kelompok yang memiliki karakteristik yang ingin diteliti, misalnya
siswa yang sudah dapat menggunakan komputer sebelum masuk SD, karena di
rumahnya ada komputer, dapat dilakukan dengan melihat kelompok homogen yang
paling kecil yang memiliki variabel kritis tersebut.
Pemilihan kelompok pembanding, dengan mempertimbangkan karakteristik
atau pengalaman yang membedakan kelompok harus jelas dan didefinisikan secara
operasional (Setiap kelompok mewakili populasi yang berbeda). Mengontrol variabel
ekstra untuk membantu menjamin kesamaan kedua kelompok. Hal ini dapat
dilakukan dengan: (a) pemadanan pasangan yang adil pada anggota dari kedua
kelompok; (b) membandingkan sub-sub kelompok yang sama (misalnya, tinggi,
menegah, dan rendah). Analisis faktor memungkinkan perbandingan statistik dari
variabel bebas dan variabel kontrol secara bersama-sama dalam kombinasi; (c)
menyamakan kedua kelompok secara statistik dengan co-varying variabel
penelitian.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian
yang memenuhi persyaratan validasi dan reliabilitas. Analisis data dimulai dengan
analisis statistik deskriptif menghitung rata-rata dan simpangan baku. Selanjutnya
dilakukan analisis yang lebih mendalam dengan statistik inferesial. Hal ini dapat
digunakan beberapa analisis anatara lain: (a) menggunakan t-test untuk melihat
perbedaan rata-rata untuk kedua kelompok. (b) menggunakan ANAVA untuk melihat
perbedaan rata-rata untuk tiga kelompok atau lebih. (c) menggunakan square test
120
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
atau chi-kuadrat untuk membandingkan frekuensi kelompok (jika peristiwa muncul
lebih sering dalam satu kelompok).
Penelitian kausal komparatif mengindentifikasi hubungan yang mungkin
mengarah pada studi eksperimen. Hubungan sebab-akibat yang ditetapkan melalui
penelitian kausal komparatif sangat sedikit dan tentatif. Untuk melihat hubungan
sebab-akibat sebenarnya hanya ada satu cara, yaitu dengan melakukan penelitian
eksperimen. Penelitian kausal komparatif sering dilakukan karena alasan-alasan
berikut: (a) data mungkin sudah ada atau sudah ada terjadi, (b) peneliti kausal
komparatif memungkinkan penyelidikan variabel yang tidak dapat atau tidak boleh
diteliti secara eksperimental. (c) penelitian kausal komparatif melengkapi petunjuk
awal untuk studi eksperimental. (d) Penelitian kusal komparatif lebih murah daripada
penelitian eksperimental.
4. Desain Penelitian Kausal Komparatif
Desain dasar penelitian kausal komparatif melibatkan pemilihan dua
kelompok yang berbeda pada beberapa variabel bebas dan membandingkan
variabel terikat yang mengindikasikan peneliti memilih dua kelompok subjek, tanpa
mengacu pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara ketat, walaupun
mungkin mengacu lebih akurat sebagai kelompok-kelompok perbandingan. Kedua
kelompok mungkin berbeda, satu kelompok memiliki karakteristik yang tidak dimiliki
oleh kelompok lain atau kelompok yang memiliki pengalaman yang tidak dimiliki oleh
kelompok lain (kasus A) atau kedua kelompok mungkin berbeda dalam tingkatan,
satu kelompok memiliki lebih dari satu karakteristik daripada kelompok lain atau
kedua kelompok mungkin memiliki perbedaan jenis pengalaman (Kasus B). Sebagai
contoh kasus A, dua kelompok, satu kelompok di antanya terdiri atas anak-anak
hiperaktif, atau dua kelompok, satu kelompok di antaranya menerima palatihan
prasekolah. Pada contoh kasus B, dua kelompok, satu kelompok terdiri atas individu
dengan konsep diri tinggi dan kelompok yang lainya terdiri atas individu dengan
kosep diri rendah atau dua kelompok, satu kelompok memperoleh pelajaran
matematika melalui pengajaran terprogram dan kelompok yang lain memperoleh
pelajaran matematika melalui pengajaran dengan bantuan komputer. Dalam kedua
121
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
kasus, kedua kelompok dibandingkan pada beberapa variabel terikat atau
mengumpulkan data yang telah tersedia, seperti sebagai hasil tes baku yang telah
dilakukan oleh sekolah.
Pemilihan dan penentuan kelompok pembanding adalah bagian yang sangat
penting dari prosedur kausal komparatif. Karakteristik atau pengalaman yang
berbeda dari kedua kelompok harus didefinisikan secara jelas dan operasional,
sebagaimana setiap kelompok mewakili suatu populasi yang berbeda. Cara
bagaimana kedua kelompok didefinisikan akan memengaruhi generalisasi hasil
penelitian. Jika seorang peneliti membandingkan antara satu kelompok siswa yang
kehidupan rumahnya tidak stabil dengan satu kelompok siswa yang kehidupan
rumahnya stabil, istilah kehidupan rumah yang tidak stabil harus mengacu pada
jumlah sesuatu, seperti sebagai suatu rumah dengan seseorang ibu yang pemabuk
(peminum), atau seseorang bapak yang brutal, atau kombinasi dari berbagai faktor.
Jika sampel dipilih dari populasi yang telah didefinisikan, pemilihan secara acak
umumnya metode pemilihan yang disukai. Pertimbangan yang penting dalam
pemilihan sampel adalah perwakilan dari setiap populasi dan sama mengenai
variabel kritis yang lain dari variabel bebas. Sebagaimana dengan studi eksperimen,
tujuanya adalah memiliki kelompok yang sedapat mungkin sama pada semua
variabel yang relevan, kecuali variabel bebas. Untuk menentukan kesamaan dari
kelompok-kelompok, informasi pada sejumlah latar belakang dan keadaan variabel
yang sedang berlaku dapat dikumpulkan. Untuk meningkatkan kesamaan, atau
untuk memperbaiki ketidaksamaan yang teridentifikasi, terdapat sejumlah prosedur
kontrol bagi peneliti.
5. Prosedur Kontrol
a. Pemadanan ( Macthing)
Pemadanan merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam
penelitian eksperimen. Peneliti telah mengidentifikasikan suatu variabel yang
dipercaya akan berhubungan dengan performansi pada variabel terikat, maka
dapat mengontrol variabel tersebut dengan cara pemadanan pasangan dari
subjek. Kemudian, untuk setiap subjek dalam satu kelompok, peneliti harus
122
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
menemukan satu subjek dalam kelompok kedua dengan skor yang sama pada
variabel control. Masalah utama dengan cara pemadanan pasangan adalah
bahwa ada subjek yang tetap/tidak berubah yang tidak memiliki pasangan dan
harus dieliminasi dari penelitian. Masalah akan menjadi lebih serius bila peneliti
berusaha terus memadankan pada dua atau lebih variabel.
b. Perbandingan kelompok Homegen atau Subkelompok
Perbandingan kelompok homegen atau subkelompok merupakan teknik
membandingkan kelompok yang homogen yang ada di dalam variabel. Sebagai
contoh, jika IQ antara 85 dan 115 (IQ rata-rata), tentu saja prosedur ini juga lebih
menurunkan jumlah subjek dalam penelitian di samping menghambat
penggeneralisasian temuan.
Tujuan utama dari perbandingan kelompok homegen adalah membentuk
subkelompok di dalam setiap kelompok yang mewakili semua tingkatan dari
variabel kontrol. Sebagai contoh, setiap kelompok dapat dipecah ke dalam
subkelompok IQ, tinggi (di atas 116), rata-rata (85 sampai 115), dan rendah (84
ke bawah). Subkelompok perbandingan dalam setiap kelompok dapat
dibandingkan, sebagai contoh IQ tinggi dan IQ tinggi. Untuk menambah
pengontrolan terhadap variabel, teknik ini telah mengalami kemajuan yang
memungkinkan peneliti melihat jika variabel bebas memengaruhi variabel terikat
secara berbeda pada tingkatan yang berbeda dari variabel kontrol.
c. Analisis Kovarian (Analysis of Covariance)
Analisis kovarian adalah teknik statistik yang digunakan untuk
menyesuaikan perbedaan-perbedaan kelompok yang dari awal terhadap variabel
yang digunakan dalam studi kausal komparatif dan studi eksperimen. Pada
dasarnya, analisis kovarian mengatur skor pada suatu variabel terikat untuk
perbedaan awal pada variabel lain (dugaan bahwa performansi pada variabel
lain berhubungan dengan performansi pada variabel terikat). Sebagai contoh,
dalam penelitian perbandingan efektivitas dua metode pembelajaran, misalnya
metode pengajaran X dan Y pada kelas 5 SD untuk menyelesaikan masalah
123
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
matematika. Kemudian, peneliti memberikan tes kedua kelompok tersebut
setelah metode pengajaran X dan Y diterapkan. Dari hasil yang didapat,
kelompok yang diaplikasikan metode Y, dengan skor lebih tinggi daripada
kelompok yang diapliksikan metode X. perbedaan ini menyarankan bahwa
kelompok Metode Y akan lebih unggul daripada kelompok Metode X pada akhir
studi karena subjek kelompok mulai lebih tinggi kemampuan matematikanya
daripada kelompok yang lainya. Analisis kovarian penerapan skor dari metode Y,
dikeluarkan yang pada awalnya berhasil sehingga diakhir studi hasilya dapat
dibandingkan dengan jelas, seolah-olah kedua kelompok tersebut mulai sama.
d. Analisis dan Interpretasi Data
Analisis data penelitian kausal komparatif melibatkan suatu variasi statistik
deskriptif dan inferensial. Semua statistik yang dapat digunakan dalam penelitian
eksperimen dapat digunakan dalam penelitian kausal komperatif. Statistik yang
paling umum digunakan adalah rata-rata (mean).
Statistik inferesial yang paling umum digunakan adalah uji t yang
digunakan untuk melihat apakah terdapat suatu perbedaan yang signifikan
antara rata-rata dari dua kelompok, analisis varian (ANOVA) yang digunakan
untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata dari
tiga kelompok atau lebih. Uji chi-kuadrat yang digunakan untuk membandingkan
frekuensi kelompok, yaitu untuk melihat apakah suatu kejadian sering muncul
dalam satu kelompok daripada kelompok yang lain.
Interpretasi dari temuan dalam suatu penelitian kausal komparatif
memerlukan kehati-hatian yang lebih besar. Kekurangan mengenai randomisasi,
manipulasi, dan kontrol jenis lain dari karakterisrik penelitian eksperimen adalah
kesulitan untuk menetapkan hubungan sebab akibat dengan tingkat kepercayaan
yang sangat besar. Hubungan sebab akibat mungkin dalam kenyataan/fakta
menjadi kebalikan dari suatu yang dihipotesiskan (dikatakan sebab mungkin
akibat atau sebaliknya) atau terdapat faktor ketiga yang merupakan penyebab
“nyata” dari kedua sebab (variabel bebas) dan akibat (variabel terikat). Dalam
124
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
banyak kasus, kausalita terbalik bukanlah alternatif yang layak dan tidak perlu
dipertahkan.
6. Keunggulan dan Kelemahan Penelitian Kausal Komparatif
Beberapa keunggulan dan kelemahan penelitian kausal komparatif.
Keunggulan dan kelemahan penelitian ini sebagai berikut.
Keunggulan Penelitian kausal komparatif
a. Metode kausal komparatif adalah suatu penelitian yang baik untuk
berbagai keadaan jika metode eksperimen tidak dapat digunakan.
1) Apabila tidak memungkinkan untuk memilih, mengontrol, dan
memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan
sebab-akibat secara langsung.
2) Apabila pengontrolan terhadap semua variabel kecuali variabel bebas
sangat tidak realistis dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal
dengan lain-lain variabel yang berpengaruh.
3) Apabila kontrol di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak
praktis, terlalu mahal, atau dipandang dari segi etika diragukan/
dipertanyakan.
b. Studi kausal-komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna
mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam
kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana dan yang sejenis
dengan itu.
c. Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dan rancangan dengan
kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal-komparatif itu
lebih dapat dipertanggungjawabkan.
7. Kelemahan Penelitian Kausal Komparatif
a. Kelemahan utama setiap rancangan ex post facto adalah tidak adanya
kontrol terhadap variabel bebas. Dalam batas-batas pemilihan yang dapat
dilakukan, peneliti harus mengambil fakta-fakta yang dijumpainya tanpa
kesempatan untuk mengatur kondisi-kondisinya atau memanipulasikan
variabel-variabel yang memengaruhi fakta-fakta yang dijumpainya itu. Untuk
dapat mencapai kesimpulan yang sehat, peneliti harus mempertimbangkan
125
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
segala alasan yang mungkin ada atau hipotesis-hipotesis bandingan yang
diajukan dimungkinkan memengaruhi hasil-hasil yang dicapai. Sejauh peneliti
dapat dengan sukses membuat justifikasi kesimpulannya terhadap alternatif-
alternatif lain itu, dia ada dalam posisi yang secara relatif kuat.
b. Sulit untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang
relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-faktor yang
sedang diselidiki.
c. Kenyataan bahwa faktor penyebab bukanlah faktor tunggal, melainkan
kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk
menghasilkan efek yang disaksikan sehingga masalah menjadi sangat
kompleks.
d. Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab
ganda, tetapi dapat pula disebabkan oleh suatu sebab pada kejadian tertentu,
oleh lain sebab, dan pada kejadian lain.
e. Apabila hubungan antara dua variabel telah ditemukan, mungkin sulit untuk
menentukan mana yang sebab dan mana yang akibat.
f. Kenyataan bahwa dua atau lebih faktor yang saling berhubungan tidaklah
selalu memberi implikasi terhadap adanya hubungan sebab-akibat.
Kenyataan itu mungkin hanyalah karena faktor-faktor tersebut berkaitan
dengan faktor lain yang tidak diketahui atau tidak terobservasi.
g. Menggolong-golongkan subjek ke dalam kategori dikotomi (misalnya:
golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan pembandingan,
menimbulkan persoalan-persoalan karena kategori-kategori seperti itu
bersifat kabur, bervariasi, dan tidak mantap. Seringkali penelitian yang
demikian itu tidak menghasilkan penemuan yang berguna.
h. Studi komparatif dalam situasi alami tidak memungkinkan pemilihan subjek
secara terkontrol. Menempatkan kelompok yang telah ada mempunyai
kesamaan dalam berbagai hal, kecuali pada variabel bebas yang dianggap
sulit.
126
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
C. Penelitian Eksperimen
1. Definisi
Gay, Mill dan Airasin (2012:228) mendefinisikan penelitian eksperimental
merupakan penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis untuk
menciptakan (establish) hubungan sebab akibat (cause-effect). Sementara Creswell
(2012:294) menyatakan penggunaan eksperimen adalah untuk menciptakan
hubungan sebab akibat (cause-effect) antara dua variabel, variabel bebas dan
variabel terikat. Artinya, peneliti berusaha mengontrol semua variabel yang dapat
memengaruhi hasil kecuali variabel bebas. Sebagiamana Wiersman (dikutip Emzir,
2008:63) mendefinisikan eksperimen sebagai suatu situasi penelitian yang
sekurang-kurangnya satu variabel bebas, yang disebut sebagai variabel
eksperimental, sengaja dimanipulasi oleh peneliti.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian
eksperimen termasuk dalam penelitian kuntitatif. Di dalam penelitian eksperimen
ada perlakuan (treatment). Dengan demikian, metode penelitian eksperimen
merupakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh
perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.
2. Tujuan
Berdasarkan hal tersebut, tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk
meneliti pengaruh dari suatu perlakuan (treatment) tertentu terhadap gejala suatu
kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan
yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/
membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode
pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMA atau untuk
menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila
dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen
disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau
pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya, sedangkan yang
dimaksud dengan menilai tidak terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi
atas pengaruh treatment yang dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa
127
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh
tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama, tetapi diberi perlakuan
yang berbeda.
3. Karakteristik
Danim (2002:35) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimen,
yaitu (a) Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib
ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi
langsung, maupun random (acak). (b) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar
(base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimen. (c) Penelitian ini
memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi
variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel
pengganggu yang mungkin memengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi
tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan,
termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan
subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
(d) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian
eksperimen, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada
saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (e) Validitas
eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan
penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi
yang sama. (f) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel
perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
Kemudian selain itu, dalam penelitian eksperimen ada tiga unsur penting
yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian yaitu manipulasi,
pengendalian, dan pengamatan.
a. Manipulasi (Manipulation)
Manipulasi langsung oleh peneliti terhadap paling sedikit satu variabel bebas
merupakan karakteristik yang membedakan penelitian eksperimen dari jenis
penelitian lainya. Manipulasi variabel bebas merupakan sebuah konsep yang sulit
128
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
untuk dipahami oleh peneliti. Secara sederhana, manipulasi bermaksud agar peneliti
memilih perlakuan-perlakuan dan memutuskan kelompok yang akan diperlakukan
(treatment). Sebagai contoh, seandainya variabel bebas di dalam penelitian
merupakan review tahunan guru, maka peneliti dapat memutuskan tiga bentuk
kelompok, yang mewakili tiga level variabel bebas. Kelompok pertama menerima
tanpa ada review. Kemudian, kelompok kedua menerima satu review. Kelompok
ketiga menerima dua review. Terdapat banyak variabel bebas dalam pendidikan
yang dapat dimanipulasi (variabel aktif) dan yang tidak dapat dimanipulasi. Kita
dapat memanipulasi variabel seperti metode pengajaran dan ukuran besar
kelompok, tetapi kita dapat memanipulasi variabel seperti jenis kelamin atau status
sosial ekonomi. Artinya, kita tidak dapat meminta siswa menjadi laki-kali atau
perempuan karena sudah fitrahnya siswa menjadi laki-laki atau perempuan. Agar
dapat memanipulasi suatu variabel, kita yang harus menentukan siapa akan menjadi
apa atau siapa akan mendapat apa.
b. Pengendalian (Control)
Pengendalian (control) mengacu pada usaha-usaha peneliti untuk
melepaskan pengaruh variabel dari pada variabel bebas. Dengan kata lain,
rancangan penelitian eksperimen, kelompok sebaiknya membedakan hanya variabel
bebas. Sebagai contoh, seandainya peneliti melakukan penelitian untuk menguji
apakah tutor siswa lebih efektif dari pada tutor orang tua dalam pengajaran
membaca di kelas satu SD. Di dalam penelitian ini, diduga tutor siswa merupakan
anak yang lebih tua dari kelas yang lebih tinggi, sedangkan tutor orang tua adalah
anggota dari PTA. Dapat diduga juga bahwa tutor siswa membantu setiap anggota
kelompok selama satu jam per hari dalam sebulan, sebagaimana dalam tutor orang
tua membantu setiap anggota kelompok selama dua jam per minggu dalam sebulan.
Akhirnya, diduga hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa tutor siswa
menghasilkan nilai membaca yang lebih tinggi daripada tutor orang tua.
c. Pengamatan (Observation)
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh manipulasi variabel bebas terhadap
variabel terikat dalam suatu penelitian eksperimental, pengamatan perlu dilakukan.
129
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Pengamatan dilakukan pada ciri-ciri tingkah laku subjek yang diteliti. Dalam
melakukan pengamatan ini peneliti melakukan pengukuran dengan menggunakan
intrumen. Sebagi contoh, bila peneliti melakukan penelitian eksperimen untuk
mengetahui apakah metode tertentu mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar
matekatika, maka setelah pelaksanaan perlakuan pengukuran pada prestasi belajar
matematika pada kedua kelompok eksperimental dan kelompok kontrol dengan
menggunakan tes matematika. Hasil tes kemudian dibandingkan untuk mengetahui
apakah terdapat perbedaan yang signifikan.
4. Perlakuan Validitas Eksperimental
a. Validitas Internal
Validitas internal merupakan tingkat perbedaan yang diamati terhadap
variabel terikat adalah hasil manipulasi langsung dari variabel bebas. Dengan kata
lain, pengujian terhadap validitas internal memfokuskan pada perlakuan-perlakuan
atau penjelasan-penjelasan lawan yang dapat memengaruhi hasil (outcome) dari
penelitian eksperimental. Ada banyak faktor yang memengaruhi setiap validitas
internal antara lain: historis, kematangan, testing, instrumen, regresi statistik, seleksi
subjek yang berbeda, moralitas, interaksi seleksi maturasi.
1) Historis
Historis mengacu pada kejadian yang terjadi pada penelitian yang bukan
bagian perlakuan eksperimental, tetapi kemungkinan memengaruhi variabel
bebas. Semakin lama penelitian berlangsung, semakin lama pula historis
menjadi suatu masalah. Misalnya seperti kejadian bom meledak, wabah flu, atau
kejadian-kejadian akhir yang bersifat global (menyeluruh) yang kemungkinan
menghasilkan sebuah pengaruh historis. Sebagai contoh, anggaplah kita
melakukan serangkaian seminar yang dirancang untuk meningkatkan moral
partisipasi guru. Antara waktu yang yang kita lakukan pada seminar tersebut dan
waktu kita mengadakan moral post-test, sehubungan dengan berita di media
mengumumkan bahwa masalah-masalah tingkat anggaran pemerintah,
membiayai sekolah di daerah adalah signifikan dikurangi, dan berjanji menaikkan
untuk guru akan ditunda. Dengan demikian, kejadian seperti itu dapat
130
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dikendalikan pengaruh seminar dengan mudah yang telah diadakan, nilai moral
post test kemungkinan dapat dipertimbangkan lebih rendah.
Karena penelitian tidak muncul dalam suatu kevakuman, subjek penelitian
sering mengalami peristiwa lingkungan yang berbeda satu sama lain. Peristiwa
ini dapat memainkan peran dalam performansi mereka sehingga harus
diperhatikan. Satu cara untuk menjamin bahwa peristiwa tersebut tidak
berpengaruh terhadap studi adalah mengontrolnya, atau membuat pengalaman
setiap orang identik kecuali untuk variabel bebas. Karena hal ini sering dapat
memperkecil risiko ini, penggunaan randomisasi sering dapat memperkecil risiko,
menjamin bahwa peristiwa yang muncul di luar dalam satu kelompok juga
mungkin muncul dalam kelompok yang lain. Untuk mengatasi masalah ini, kita
dapat menggunakan desain penelitian dua kelompok dengan satu kelompok
kontrol.
2) Maturasi
Maturasi mengacu pada perubahan fisik, intelektual, dan emosi yang
mungkin muncul secara alami pada diri subjek selama suatu periode waktu.
Dalam studi, perubahan-perubahan tersebut kemungkinan memengaruhi
performansi subjek pada pengukuran variabel terikat. Hal ini terjadi pada studi
yang diselesaikan dalam waktu yang panjang. Karena subjek menjadi lebih tua
dan kemungkinan lebih terkoordinasi, tidak termotivasi, khawatir dan bosan.
Maturasi lebih dari suatu perlakuan dalam banyak studi yang dirancang untuk
menguji keefektifan pelatihan program psikomotor pada usia tiga tahun
kemudian studi dirancang untuk membandingkan dua metode pengajaran
aljabar. Khusunya jika siswa praremaja dilibatkan, siswa praremaja biasanya
cepat berubah secara biologis. Sebagaimana halnya dengan historis, peneliti
tidak dapat mengontrol munculnya maturasi, tetapi dapat mengontrol
kemunculan.
131
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
3) Testing
Testing mengacu pada peningkatan nilai pada postes hasil dari subjek
yang telah mengikuti pretes sebelumnya. Dengan kata lain, pengambilan pretes
kemungkinan meningkatkan nilai subjek pada post test tanpa memerhatikan
apakah ada perlakuan atau pengajaran. Testing merupakan suatu perlakuan bila
waktu antara kedua testing singkat, pretes dilakukan pada September tidak akan
memengaruhi performansi pada post tes yang dilakukan pada Juni. Menguji
perlakuan terhadap internal validitas kebanyakan berlangsung pada studi yang
mengukur informasi yang faktual yang dapat diulang kembali. Sebagai contoh,
pengambilan pretest pada persamaan aljabar tidak akan meningkatkan
performansi pada post test yang sama. Suatu cara yang jelas untuk
mengendalikan testing adalah menggunakan suatu desain penelitian yang tidak
melibatkan prates. Cara lain untuk mengendalikan testing adalah dengan
menggunakan bentuk alternatif, satu bentuk prates dan yang lain untuk postes.
Itulah faktor yang sekurangya harus diperhatikan bila memilih instrumen
pengukuran dan desain eksperimental.
4) Instrumen
Instrumen mengacu pada ketidakreliabelan atau kurang konsistensi,
dalam instrumen pengukuran yang mungkin menghasilkan penilaian performansi
yang tidak valid. Instrumen kemungkinan memunculkan validitas dalam berbagai
cara yang berbeda. Masalah mungkin muncul seandainya peneliti menggunakan
dua tes yang berbeda, yaitu satu untuk pretest dan satu lagi untuk post tes, dan
tes tersebt tidaklah sama kesulitanya. Sebagai contoh, seandainya post tes lebih
sulit daripada pretes, kemungkinan peningkatan secara aktual. Alternatifnya,
seandainya post test tidak sulit daripada pretest, kemungkinan peningkatan yang
terjadi. Seandainya data dikumpulkan melalui pengamatan, peneliti kemungkinan
tidak dapat mengamati atau menilai perilaku dengan cara yang sama pada akhir
studi sebagaimana pada awal studi. Pada kenyataanya, seandainya mereka
sadar kealamian studi, mereka dapat hanya merekam perilaku yang dapat
mendukung hipotesis peneliti. Seandainya data dikumpulkan dengan
menggunakan alat sehingga hasilnya tidak akurat. Oleh karenanya, peneliti
132
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
harus hati-hati memilih test, mengingatkan pengamat, dan alat mekanik. Peneliti
dapat memilih suatu disain eksperimental yang dapat mengendalikan faktor ini.
Untuk mengatasi masalah ini kita dapat menggunakan desain penelitian yang
melibatkan skor pretest dan post test.
5) Regresi statistik
Regresi statistik biasanya muncul pada penelitian-penelitian tempat
subjek dipilih sesuai dengan skor yang paling tinggi dan rendah. Regresi statistik
cendrung pada subjek yang skornya paling tinggi pada pretest dan post test.
Kecendrunganya adalah skor bergerak mundur (regresi), atau bergerak ke arah
rata-rata. Misalnya, seorang peneliti ingin menentukan keefektifitasan suatu
metode pengajaran kemampuan mengeja terhadap siswa yang kemampuanya
mengejanya rendah. Peneliti dapat melakukan tes 100 soal, dengan pilihan
berganda (4 pilihan), soal tersebut dibuat dalam bentuk bacaan (reading), subjek
memilih bacaan yang tepat dari setiap soal. Peneliti memilih 30 siswa yang
skornya paling rendah. Sekarang anggaplah siswa yang tidak mengikuti prates
yang mengetahui satu pun dari kosakata dan yang diterka pada setiap
pertanyaan soal. Siswa diharapkan mendapat 25 skor hanya dengan menebak
Namun, beberapa siswa menebak dengan jelek, mendapat skor rendah dari 25,
dan ada yang mendapatkan di atas 25. Seandainya siswa tersebut dites kedua
kali, tanpa ada perlakuan dan skor diharapkan 25. Jadi siswa yang mendapat
skor sagat rendah pada tes pertama diharapkan memiliki skor paling tinggi 25
pada tes kedua, dan siswa yang memiliki skor paling tinggi pada tes pertama
juga diharapkan memiliki skor paling tinggi 25. Oleh karenanya, kapanpun
subjek dipilih sesuai dengan skor tinggi atau performansi rendah, regresi statistik
merupakan sebuah perlakuan yang cocok untuk internal validitas.
6) Seleksi Subjek yang Berbeda
Seleksi subjek yang berbeda merupakan pemilihan subjek yang memiliki
perbedaan sebelum dimulai penelitian yang memperbolehkan penghitungan
secara parsial terhadap perbedaan-perbedaan yang ditemukan pada post test.
133
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Perlakuan pada kelompok-kelompok merupakan perbedaan sebelum penelitian
dimulai adalah lebih banyak saat peneliti membandingkan kelompok yang sudah
terbentuk. Anggapah, sebagai contoh, kita mendapat izin dua kelas untuk ikut
serta dalam penelitian. Kita tidak bisa menjamin bahwa kedua kelas tersebut
adalah tidak sama. Bisa jadi nasib mereka tidak baik, satu kelas untuk
kehormatan dan satu lagi untuk remedial. Hal ini tidak menguntungkan,
seandainya kelas kehormatan melakukan lebih baik pada post test, oleh
karenanya kelompok yang sudah ada sebaiknya dihindari sedapat mungkin.
Maka karena keterpaksaan dalam penggunaanya, peneliti sebaiknya memilih
kelompok yang sama sedapat mungkin dan sebakinya dilakukan pretest untuk
mengecek kesamaan awal.
7) Moralitas
Moralitas atau pergeseran mengacu pada pengurangan jumlah subjek
penelitian. Pengurangan ini muncul pada saat subjek individu mengundurkan diri,
yang dapat memberikan efek pada penelitian. Moralitas membuat masalah
khusunya validitas saat kelompok yang berbeda keluar untuk alasan tertentu dan
frekuensi yang berbeda. Oleh karenanya, peneliti dapat menilai moralitas
kelompok-kelompok tersebut dengan mendapatkan informasi demografi tentang
kelompok subjek sebelum studi dimulai dan kemudian menentukan apakah
mengganti kelompok yang telah beruah pada akhir studi.
8) Interaksi Seleksi Maturasi
Efek dari seleksi yang berbeda dapat memengaruhi efek yang lain seperti
histori, testing, yang menghasilkan perlakuan interaksi internal validitas. Dengan
kata lain, seandainya kelompok yang sudah terbentuk diikutsertakan dalam studi,
satu kelompok boleh jadi lebih beruntung atau tidak beruntung dari perlakuan
atau mendapat keberuntungan atau tidak beruntung. Hal ini disebabkan oleh
faktor-faktor maturasi, histori, atau testing. Efek interaktif yang paling umum
adalah Interaksi Seleksi Maturasi. Seadainya subjek dipilih ke dalam kelompok
perlakuan maturasi pada nilai yang berbeda selama studi.
134
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
b. Validitas Eksternal
1) Interaksi Pretest-Perlakuan
Interaksi pretest-perlakuan muncul bila respons subjek atau reaksi yang
berbeda pada perlakuan karena mereka telah mengikuti pretest. Pretes mungkin
menyintesiskan atau menyiagakan subjek hakikat perlakuan, efek perlakuan
berbeda dari yang diperoleh subjek yang tidak mengikuti pretes. Dengan
demikian, hasilnya hanya dapat digeneralisasikan pada kelompok yang
mendapat prates yang lain. Hasil penelitian yang tidak dapat digeneralisasikan
pada populasi yang tidak mendapat pretest yang darinya sampel dipilih. Masalah
potensial ini lebih atau kurang serius bergantung pada subjek, hakikat tes,
hakikat perlakuan, dan lama studi. Studi yang melibatkan perubahan sikap
misalnya, khususnya dapat sukses pada masalah ini.
2) Gangguan Perlakuan Jamak
Gangguan Perlakuan Multiple muncul bila efek dari perlakuan awal
membuat kesulitan menduga keefektifan perlakuan selanjutnya. Sebagai contoh,
diduga kita tertarik membandingkan dua pendekatan meningkatkan perilaku
kelas, modifikasi perilaku hukuman badan. Selama dua bulan, teknik modifikasi
perilaku diterapkan sistematik kepada subjek, dan diakhir periode kita
menemukan perilaku signifikan yang lebih baik daripada sebelumnya studi
dimulai. Dua bulan berikutnya, subjek yang sama dihukum dengan fisik seperti
ditampar dengan tangan, dan lainnya. Kapanpun mereka salah berperilaku,
diakhir bulan kedua perilaku adalah sama baiknya setelah dua bulan
memodifikasi perilaku. Dari penjelasan tersebut, dapatkah kita menyimpulkan
bahwa modifikasi perilaku dan hukuman fisik merupakan metode efektif dari
kontrol perilaku? Tentu saja tidak. Tujuan dari modifikasi perilaku adalah untuk
menghasilkan perilaku perbaikan sendiri oleh subjeknya. Itulah sebabnya
perilaku yang berkelanjutan setelah intervensi dihentikan. Oleh karenanya,
gangguan perlakuan multiple kemungkinan juga muncul saat subjek yang telah
berpartisipasi dalam studi diseleksi untuk pengikutsertaan yang lainya khususnya
terhadap studi yang tidak ada hubungannya.
135
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
3) Interaksi Seleksi Perilaku
Interaksi seleksi perilaku, perlakuan yang lain terhadap validitas populasi
muncul saat studi penemuan-penemuan yang hanya mengaplikasikan kelompok
yang terlibat dan bukan perwakilan efek perlakuan di dalam perluasan perlakuan.
Interaksi ini muncul saat subjek studi pada satu tingkat variabel bereaksi dengan
berbeda kepada perlakuan daripada subjek yang berpotensi di dalam populasi.
Pada tingkat yang lain, yang telah bereaksi, sebagai contoh, peneliti melakukan
studi pada keefektifan pengajaran berbasis mikrokomputer pada pencapaian
siswa SMP belajar matematika. Kelas yang ada pada peneliti dapat mewakili dari
keseluruhan tingkat kemampuan yang lebih rendah, dan yang mengakhiri
kemampuan spektrum untuk siswa SMP (sebagai contoh: populasi target). Jika
tidak, efek positif ditunjukkan oleh subjek dalam sampel yang valid hanya pada
kemampuan siswa yang lebih rendah, daripada populasi target dari semua siswa
SMP tersebut. Dengan cara yang sama, pengajaran bebasis mikrokomputer
muncul ketidakefektifan pada sampel, kemungkinan yang masih efektif pada
populasi target. Oleh karenanya, populasi yang dapat dikenai sering berbeda
jauh dari populasi target tertentu, tempat populasi yang diberikan menjadi
berlaku bagi peneliti dapat membuat generalisasi dari temuan dapat
dipertanyakan, tidak soal seberapa valid eksperimen secara internal.
4) Spesifilitas Variabel
Spesifisitas adalah sebuah ancaman terhadap generalisasi hasil
penelitian tanpa rancangan, khususnya penelitian eksperimen. Ada studi yang
diberikan memiliki variabel spesifisitas. Studi dilakukan terhadap subjek khusus,
menggunakan instrumen khusus untuk mengukur pada waktu tertentu. Hasil
generalisasi dapat berlangsung singkat dan lama muncul ketika studi
berlangsung. Perlakuan ini mengacu pada interaksi histori dan efek perlakuan
dan menggambarkan situasi tempat kejadian yang tidak ada hubungannya
dengan penelitian sehingga mengubah hasil penelitian. Oleh karenanya,
sehubungan dengan perlakuan yang berasosiasi dengan spesifisitas, peneliti
harus mendefinikan variabel-variabel secara operasional yang memiliki makna di
136
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
luar rancangan eksperimenal dan harus hati-hati membuat kesimpulan dan
generalisasi.
5) Pengaturan Reaktif
Pengaturan reaktif merupakan perlakuan-perlakuan kepada validitas yang
diasosiasikan sedemikian rupa yang mana studi diadakan, perasaan, dan sikap
subjek yang terlibat. Dalam usaha menjaga tingkat kontrol yang tinggi, peneliti
dapat menciptakan lingkungan eksperimen yang tinggi secara arti fisial dan
dapat menghalangi generalisasi temuan pada setting non eksperimental jenis
lain pengaturan reaktif berasal dari pengetahuan subjek yang melibatkan dalam
eksperimen atau perasaan mereka yang dalam berbagai cara menerima
perhatian khusus. Oleh karenanya, efek bahwa pengetahuan atau perasaan
seperti itu dapat terjadi pada perilaku subjek.
6) Interferensi Perlakuan Jamak
Interferensi perlakuan jamak bisa terjadi saat subjek yang sama menerima
lebih dari satu perlakuan. Hal ini mengacu pada efek perlakuan yang
menyulitkan untuk menilai keefektifan perlakuan yang lebih belakang. Tujuan
modifikasi perilaku adalah untuk menghasilkan perilaku yang dipelihara sendiri.
Misalnya berlangsung setelah intervensi langsung dihentikan. Oleh karenanya,
perilaku yang baik diperhatikan oleh subjek di akhir studi dapat secara baik
disebabkan oleh keefektifan modifikasi perilaku sebelumnya dan meskipun ada
hukuman badan.
7) Kontaminasi dan Bias Pelaku Eksperimen
Kontaminasi muncul bila keakraban peneliti dengan subjek memengaruhi
hasil penelitian, penelitian dapat dengan tidak sengaja memengaruhi perilaku
mereka atau menjadi subjektif dalam penelitian perilaku mereka. Kontaminasi
sama dengan yang diasosiasikan dengan efek dalam hal pengetahuan tentang
perilaku subjek dalam situasi dapat mewarnai penilaian berkenaan dengan
perilakunya yang lain. Misalnya, jika peneliti mengetahui Susi adalah seorang
siswa yang baik. Peneliti mungkin cenderung untuk menentukan tingkat
kepemimpinan kelompoknya sedikit lebih baik dari yang seharusnya.
Seharusnya harapan peneliti berkenaan dengan hasil belajar dapat secara aktual
137
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
berkontribusi terhadap produksi hasil belajar tersebut. Mengetahui subjek dalam
kelompok dapat menyebabkan peneliti secara tidak sengaja menjadi bias dalam
penilaian penampilan mereka.
5. Desain Penelitian Eksperimen
Validitas eksperimen merupakan fungsi langsung dari tingkatan untuk
variabel eksperimen yang dikontrol. Seandainya variabelnya tidak dikontrol, akan
sulit untuk dievaluasi efek variabel bebas dan generalisabilitis. Yang dikontrol oleh
desain penelitian eksperimen yaitu (1) mengontrol semua varibel luar; (2) desain
yang baik mengontrol banyak sumber ketidakvalidan; dan (3) desain yang jelek
hanya mengontrol sebagian.
a. Pengontrolan Variabel Luar
Perandoman merupakan cara yang terbiasa mengontrol banyak variabel
ekstraneous pada waktu yang sama. Perandoman harus digunakan sedapat
mungkin, subjek sedapat mungkin harus dipilih secara acak dari satu populasi,
perlakuan sedapat mungkin harus diperuntungkan kepada kelompok secara acak,
dan segala sesuatu yang dapat Anda pikirkan, sedapat mungkin harus
diperuntungkan secara acak. Oleh karenanya, perandoman efektif dalam
menciptakan kesamaan, kelompok keterwakilan yang perlu pada semua variabel
yang sesuai dipikirkan peneliti, dan kemungkinan sesuatu yang tidak dipikirkan
peneliti.
b. Pemadanan
Pemadanan adalah suatu teknik untuk penyamaan kelompok pada satu
variabel atau lebih yang telah diidentifikasikan peneliti sebagai berhubungan dengan
performansi pada variabel terikat. Pendekatan yang paling umum digunakan untuk
pemadanan melibatkan penempatan anggota pasangan secara random, satu
anggota untuk setiap kelompok. Dengan kata lain, setiap subjek yang ada, peneliti
berupaya menemukan subjek yang lain sama atau skor yang sama pada variabel
kontrol. Masalah utama dengan pemadanan adalah adanya subjek yang tidak
berubah, yang tidak memiliki padanan dan harus dieliminasi dari studi. Faktor ini
138
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
mungkin merugikan peneliti banyak subjek, khususnya jika pemadanan diusahakan
pada dua variabel atau lebih.
c. Perbandingan Kelompok atau Subkelompok Homogen
Cara lain untuk mengontrol variabel ekstraneous adalah membandingkan
kelompok yang homogen tentang variabel tersebut. Sebagai contoh, jika IQ
ditentukan sebagi variabel ekstraneous, peneliti dapat memilih kelompok subjek
dengan IQ antara 85 dan 115 ( rata-rata). Peneliti kemudian menempatkan separuh
secara random pada kelompok kontrol. Tentu saja prosedur ini mengurangi subjek
dalam studi dan tambahan lagi membatasi kemampuan generaliasasi temuan. Oleh
karenanya, jika penempatan random dimungkinkan, penggunaan subkelompok yang
homogen dapat berarti jika seseorang ingin garansi tambahan berkenan dengan
kesamaan kelompok pada variabel kontrol.
d. Penggunaan Subjek sebagai Pengendalian
Penggunaan subjek sebagai pengontrol diri mereka sendiri melibatkan
pemajanan (exposing) kelompok yang sama pada perlakuan-perlakuan yang
berbeda, satu perlakuan pada suatu waktu. Ini akan membantu mengontrol
perbedaan subjek karena subjek yang sama menerima kedua perlakuan. Suatu
masalah dengan pendekatan ini dalam studi yang sama merupakan efek lanjutan
dari perlakuan terhadap berikutnya. Jika menggunakan contoh sebelumnya, akan
menjadi sangat sulit untuk mengevaluasi keefektifan.
e. Analisis Kovarian
Analisis kovarian adalah suatu metode statistik untuk penyamaan kelompok
yang dibentuk secara random pada satu atau lebih variabel kontrol. Dalam arti,
analisis kovarian mengatur skor pada suatu variabel terikat untuk perbedaan awal
pada beberapa variabel lain, seperti sebagai skor prates, IQ, kesiapan membaca,
bakat musik. Dalam contoh yang diberikan sebelumnya, untuk studi
membandingkan keefektifan dua metode kelompok belajar, peneliti dapat
menghitung kovariansi pada IQ kemudian menyamakan skor pada pengukuran hasil
belajar dalam fraksi. Walaupun analisis kovarian dapat digunakan dalam studi bila
kelompok tidak dapat dibentuk secara random. Itu digunakan lebih tepat daripada
menggunakan randomisasi. Sebagai ganti randomisasi, sebagai contoh, dapat
139
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
temukan bahwa dua kelompok berbeda secara signifikan dalam istilah skor pretest-
post test. Analisis kovarian dapat digunakan dalam kasus seperti itu untuk
memperbaiki atau menyesuaikan skor postes untuk perbedaan pretest awal.
Perhitungan analisis kovarian, sama sekali rumit, prosedur yang panjang dan Anda
tidak ingin melakukan banyak dengan tangan. Suatu keberuntungan, terawat
program komputer yang dapat melakukanya pekerjaan tersebut untuk Anda jika
Anda mengetahui bagaimana menggunakanya.
f. Jenis Desain Kelompok
1. Desain Pra-Eksperimental (Pre-Experimental Designs)
Desain Pra-Eksperimental tidak dilakukan dengan baik untuk mengontrol
perlakuan-perlakuan untuk memvaliditas. Karena gagal memasukkan kelompok
kontrol dan sebaiknya dihindari. Pada kenyatanya, hasil studi berdasarkan
Desain Pra-Eksperimenal adalah begiu dapat dipertanyakan desain tersebut
tidak berguna pada tujuan penelitiannya. Oleh karenanya, sebaiknya melakukan
investigasi lebih awal terhadap masalah penelitian.
2. Desain Experimental Sebenarnya (True-Experimental Designs)
True-experimental designs mengontrol hampir semua perlakuan-
perlakuan terhadap internal validitas dan eksternal validitas. Eksperimen yang
sebenarnya sering dianggap sebagai satu-satunya metode penelitian yang dapat
secara tepat mengukur hubungan sebab akibat. Berikut adalah beberapa jenis
desain true-experimental designs.
a. Desain Kelompok Kontrol Prates-Postes (The Pretest-Posttest Control
Group Design)
Desain Kelompok Kontrol Prates-Postes menggunakan paling sedikit
dua kelompok. Setiap kelompok dibentuk dengan sistem acak. Kedua
kelompok tersebut sama-sama diberikan pretest dan setiap kelompok
mendapatkan perlakuan, kemudian diakhir studi diadakan postest kepada
kedua kelompok tersebut. Adapun tujuan secara umum kelompok kontrol
140
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi