i. Pendekatan pragmatis, yang berhubungan dengan resepsi pembaca terhadap
karya sastra.
j. Pendekatan objektif, yang menitikberatkan pada karya sastra terkait
strukturalisme atau struktur intrinsik.
5. Peranan Penelitian Sastra
Mengenai peranan penelitian sastra, Tuloli (1990:902) dalam Endraswara
(2008:10) menjelaskan bahwa penelitian sastra memiliki peranan penting dalam
kehidupan manusia, dan juga memiliki pengaruh positif terhadap pembinaan dan
pengembangan sastra itu sendiri. Peranan sastra ini akan tercapai optimal apabila
penelitian sastra tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh. Berkaitan dengan
peranan sastra, Pradopo (1990:942) dalam Endraswara (2008:10) juga
mengemukakan bahwa penelitian sastra berperan untuk memahami makna karya
sastra sedalam-dalamnya. Berdasarkan pada pernyataan tersebut, dapat diketahui
bahwa penelitian sastra berfungsi bagi kepentingan di luar sastra dan kemajuan
sastra itu sendiri. Berkaitan dengan kepentingan di luar sastra, penelitian sastra
akan berhubungan dengan aspek-aspek di luar sastra, seperti psikologi, filsafat,
dan sebagainya. Adapun kepentingan bagi sastra itu sendiri ialah untuk
meningkatkan kualitas cipta karya sastra.
Endraswara (2008:11) menyatakan bahwa penelitian sastra mampu
berperan mengungkapkan fenomena di balik sastra sebagai ungkapan hidup
manusia. Adapun ungkapan kehidupan yang disatukan melalui ide, emosi,
imajinasi, dan estetika tersebut yang menjadi sasaran peneliti sastra. Penelitian
sastra akan berusaha menjelaskan maksud apa yang ada di balik sebuah karya
sastra.
Berkaitan dengan peranan penelitian sastra, seorang peneliti sastra tidak
hanya harus menafsirkan apa saja yang dianggap fenomena luar biasa dalam
karya sastra, tetapi juga harus memberikan penilaian dan pertanggungjawaban.
Berkaitan dengan hal tersebut, dapat diketahui bahwa tugas seorang peneliti
sastra itu mulia. Adapun Ratna (2009:19) menjelaskan bahwa penelitian sastra
harus dapat menguraikan sekaligus mengorganisasikan karya sastra sesuai tujuan
penelitian. Oleh sebab itu, peneliti sastra harus mampu mengevaluasi karya
241
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
sastra. Pada intinya, peneliti sastra tidak hanya bertugas untuk kepentingan
akademis atau ilmiah, tetapi juga bertugas untuk memberikan pencerahan
perkembangan sastra dan menjelaskan apa saja yang ada di balik penciptaan
karya sastra tersebut.
6. Jenis-jenis Penelitian Sastra
Endraswara (2008) memaparkan jenis-jenis penelitian sastra. Adapun
penelitian sastra yang dipaparkan tersebut berjumah 23 jenis. Penelitian-penelitian
tersebut terdiri atas penelitian ekspresivisme sastra, penelitian romantisme sastra,
penelitian simbolisme sastra, penelitian mistisme sastra, penelitian fenomenologi
sastra, penelitian hermeneutik sastra, penelitian formalism sastra, penelitian
strukturalisme genetik, penelitian strukturalisme dinamik, penelitian strukturalisme
semiotik, penelitian estetika sastra, penelitian stilistika sastra, penelitian sosiologi
sastra, penelitian psikologi sastra, penelitian antropologi sastra, penelitian resepsi
sastra, penelitian sastra bandingan, penelitian feminisme sastra, penelitian sastra
lisan, penelitian sastra postmodernisme, penelitian sastra postkolonialisme,
penelitian cybersastra, dan penelitian sastra model analisis isi. Adapun berikut ini
merupakan intisari dari jenis-jenis penelitian sastra tersebut.
a. Penelitian ekspresivisme sastra
Menurut Endraswara (2008:30), penelitian ekspresivisme sastra memandang
karya sastra sebagai ekspresi, curahan, gagasan, angan-angan, dan pikiran
pengarang. Berdasarkan pada penjelasan tersebut, penelitian ekspresivisme
didasarkan pada aspek latar belakang kepengarangan, kepribadian pengarang,
serta berbagai hal terkait pengarang akan diungkap peneliti untuk melengkapi
pemahaman tentang teks sastra. Penelitian ekspresivisme ini dipelopori oleh
Longinus dan dikembangkan oleh Wordsworth (penyair Inggris terkenal).
Contoh penelitian ekspresivisme sastra ini, seperti penelitian Ekspresi Tokoh
Utama dalam Novel Jomblo Karya Dina Mardiana (Sebuah Penelitian
Ekspresivisme Sastra) yang ditulis oleh Nur Fa’i Hamidah, STKIP PGRI
Terpadu Al-Mardliyah, yang mengungkap sisi ekspresivisme tokoh utama yang
digambarkan oleh pengarang novel tersebut.
242
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
b. Penelitian romantisme sastra
Penelitian romantisme sastra berprinsip bahwa karya sastra merupakan kisah
kehidupan manusia yang penuh liku-liku yang diungkapkan dengan bahasa
yang indah (Endraswara, 2008:33). Adapun bahasa yang indah dapat
menyentuh emosi pembaca sehingga keindahan menjadi fokus dalam
penelitian romantisme sastra. Contoh penelitian romantisme sastra ini, seperti
penelitian Arjuna Wiwaha oleh Seno Sastroamidjojo dan I Kuntara
Wiryamartana yang tampak mengagungkan Arjuna Wiwaha sebagai karya
sastra klasik masa lalu.
c. Penelitian simbolisme sastra
Endraswara menjelaskan bahwa penelitian simbolisme sastra mengacu pada
karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam menggunakan
simbol tertentu. Adapun kecermatan dari seorang peneliti sangat dibutuhkan di
dalam penelitian simbolisme sastra. Hal ini dikarenakan peneliti harus meneliti
simbol-simbol dalam data karya sastra. Contoh penelitian simbolisme sastra ini,
seperti peneliti pada Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil Kepengin Mabur.
d. Penelitian mistisme sastra
Penelitian mistisme sastra mengacu pada karya sastra yang mengungkapkan
bentuk mistik (Endraswara, 2008:35). Peneliti harus dapat memahami konsep
mistik secara fasih. Contohnya pada karya sastra yang berbau mistik, seperti
Kecubung Pengasihan karya Danarto, hanya dapat dipahami ketika peneliti
memahami konsep mistik kejawen secara fasih.
e. Penelitian fenomenologi sastra
Penelitian fenomenologi sastra berkaitan dengan penelitian yang mengkaji
karya sastra sebagai gejala alamiah dalam kehidupan yang mengandung
fenomena (Endraswara, 2008:39). Karya sastra berasal dari idealisme dan
filosofi pengarang. Di dalam penelitian fenomenologi sastra harus memiliki
pengetahuan bahasa yang memadai dan juga pengetahuan filsafat yang luas.
f. Penelitian hermeneutik sastra
243
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Hermeneutik berarti tafsir. Adapun hermeneutik berusaha memahami makna
sastra yang ada di balik struktur (Sumaryono, 1996:106; dalam Endraswara,
2008:42). Hermeneutik ini berusaha menafsirkan karya sastra atas dasar logika
linguistik.
g. Penelitian formalisme sastra
Penelitian formalisme sastra ditekankan pada kajian sastra dan bahasa yang
digunakan pencipta karya sastra. Menurut Endraswara (2008:48) dalam
penelitian formalisme sastra, unsur-unsur yang ditekankan adalah alur dan
motif dalam cerita. Adapun motif di sini merujuk pada insiden-insiden yang
terjadi dalam alur.
h. Penelitian strukturalisme genetik
Endraswara (2008:56) menjelaskan bahwa penelitian strukturalisme genetik
memandang karya sastra dari dua sudut, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Adapun
studi diawali dari kajian unsur intrinsik sebagai data dasar. Selanjutnya, peneliti
menghubungkan karya sastra dengan realita dalam masyarakat. Strukturalisme
genetik ini mampu pula menggambarkan pemikiran pemilik cerita. Dalam
penelitian ini, karya dipandang sebagai sebuah refleksi zaman, yang dapat
mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya.
Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan
unsur-unsur intrinsik karya sastra.
i. Penelitian strukturalisme dinamik
Endraswara (2008:63) mengemukakan bahwa penelitian strukturalisme
dinamik membedah karya sastra yang merupakan tampilan pikiran,
pandangan, dan konsep dunia dari pengarang itu sendiri dengan
menggunakan bahasa sebagai tanda dan juga membedah karya sastra
berdasarkan intrinsik dan ekstrinsiknya. Adapun penelitian strukturalisme
dinamik menekankan pada struktur, tanda, serta realitas. Contoh penelitian
strukturalisme dinamik, seperti penelitian novel Saman karya Ayu Utami.
244
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
j) Penelitian strukturalisme semiotik
Penelitian strukturalisme semiotik berkaitan dengan penelitian sastra yang
mengungkap tanda-tanda dalam karya sastra. Adapun Endraswara (2008:64)
menguatkan bahwa aspek struktur dihubungkan dengan tanda-tanda. Tanda
sekecil apa pun terkait semiotik tetap diperhatikan dalam penelitian ini.
k) Penelitian estetika sastra
Penelitian estetika sastra mengungkapkan keindahan karya sastra. Peneliti
harus mampu menangkap keindahan di dalamnya (Endraswara, 2008:68).
Penelitian estetika sastra difokuskan pada aspek yang menyebabkan karya
sastra menjadi indah dan menarik.
l) Penelitian stilistika sastra
Penelitian stilistika sastra berkaitan dengan penelitian penggunaan gaya
bahasa secara khusus dalam karya sastra (Endraswara, 2008:72). Penelitian
dalam hal ini memerlukan pemahaman mendalam tentang gaya bahasa dan
mencari seberapa jauh penguasaan gaya bahasa pencipta karya sastra
tersebut.
m) Penelitian sosiologi sastra
Endraswara (2008:77) mengemukakan bahwa penelitian sosiologi sastra
melihat sastra sebagai cermin kehidupan sosial. Dalam hal ini, antara sastra
dengan masyarakat memiliki keterkaitan, dan sosiologi berusaha mencari
pertautan antara sastra dengan pernyataan masyarakat dalam berbagai
dimensi. Contoh penelitian sosiologi sastra, seperti penelitian Serat Katalidha,
yakni karya dari pujangga R. Ng. Ranggawarsita yang mengkritisi terjadinya
masa yang tidak menentu.
n) Penelitian psikologi sastra
Penelitian psikologi sastra meneliti perwatakan tokoh secara psikologis, juga
aspek pemikiran dan perasaan pengarang ketika menciptakan karya tersebut
(Endraswara, 2008:96). Adapun di dalam penelitian psikologi sastra terdapat
penelitian psikoanalisis sastra. Penelitian ini mengkaji psikologi dalam karya
sastra berkaitan dengan kejiwaan. Endraswara (2008:98) menjelaskan bahwa
245
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
psikoanalisis sastra mengungkap kejiwaan tokoh dalam karya sastra dan juga
mengungkapkan landasan psikoanalisis, seperti ide, ego, dan superego, dan
permasalahan kejiwaan, seperti hysteria, maniak, skizofrenia, dan gangguan
lainnya. Adapun penelitian ini diharapkan dapat membawa perubahan
kepribadian seseorang menjadi lebih baik setelah menikmati karya sastra.
o) Penelitian antropologi sastra
Endraswara (2008:107) mengemukakan bahwa penelitian antropologi sastra
memadukan sastra dan antropologi karena sama-sama membahas tentang
manusia. Di dalam penelitian antropologi sastra, peneliti mengungkap akar
tradisi atau subkultur serta kepercayaan seorang penulis yang tergambar di
dalam karya sastra. Dalam kaitan ini, tema-tema nasional yang diwariskan
turun-temurun akan menjadi perhatian tersendiri.
p) Penelitian resepsi sastra
Penelitian resepsi sastra mengungkapkan bagaimana tanggapan pembaca
terhadap karya sastra (Endraswara, 2008:117). Dalam hal ini, karya sastra
diteliti dengan mengacu pada keberterimaan pembaca.
q) Penelitian sastra bandingan
Penelitian sastra bandingan mengacu pada penelitian yang ingin mencari
pengaruh karya sastra yang satu dengan yang lain. Di samping itu, penelitian
ini juga menentukan mana karya sastra yang benar-benar orisinil dan mana
yang tidak orisinil (Endraswara, 2008:129). Adapun peneliti dalam hal ini
memahami karya sastra bukan hanya sebagai isi, melainkan juga pada aspek
perbedaan dan hubungan satu karya dengan karya lainnya. Contohnya,
penelitian novel karya N.H. Dini yang berjudul Hati yang Damai (sewaktu N.H.
Dini menjadi warga negara Indonesia), dan Pada Sebuah Kapal (sewaktu
menjadi warga negara Perancis).
r) Penelitian feminisme sastra
Penelitian feminisme sastra difokuskan pada karya sastra yang memuat
patriarki, bertujuan untuk menelaah teks-teks yang dibuat perempuan,
menelaah teks-teks yang dipusatkan pada perempuan, dan untuk
246
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
mengeksplorasi konstruksi kultural dari gender dan identitas (Kuiper dalam
Sugihastuti dan Suharto, 2002: 68, Endraswara, 2008: 146).
s) Penelitian sastra lisan
Endraswara (2008:151) menjelaskan bahwa penelitian sastra lisan mengacu
pada penelitian karya sastra yang penyebarannya disampaikan dari mulut ke
mulut secara turun-temurun. Penelitian sastra lisan membutuhkan kecermatan
tersendiri. Hal ini dikarenakan sastra lisan ada yang murni dan tidak murni.
Sastra lisan murni berupa dongeng, legenda, cerita yang tersebar secara lisan
dalam masyarakat. Sastra lisan murni berbaur dengan tradisi lisan yang hanya
berupa penggalan cerita sakral yang berasal dari tradisi leluhur. Ketika peneliti
akan mengambil bahan untuk penelitian sastra lisan, peneliti hendaknya
memperhatikan enam ciri sastra lisan, seperti dipaparkan Endraswara (2008:
151).
Enam ciri sastra lisan tersebut, yakni:
(1) Lahir dari masyarakat yang polos, belum melek huruf, tradisional.
(2) Menggambarkan budaya yang tidak jelas penciptanya.
(3) Menekankan aspek khayalan, sindiran, jenaka, pesan mendidik.
(4) Melukiskan tradisi tertentu.
(5) Banyak menggunakan ungkapan.
(6) Kadang bersifat menggurui.
t) Penelitian sastra postmodernisme
Endraswara (2008:168) menjelaskan bahwa penelitian sastra postmodernisme
mengacu pada penelitian karya sastra yang penuh parodi terhadap kehidupan.
u) Penelitian sastra postkolonialisme
Penelitian sastra postkolonialisme mengacu pada penelitian karya sastra yang
memuat perjuangan kedudukan, keadilan, hukum, ideologi, dan kekuasaan
penjajah terhadap yang terjajah (Endraswara, 2008:180).
v) Penelitian cybersastra
Penelitian cybersastra muncul ketika budaya internet mulai hadir di
masyarakat. Cybersastra merupakan aktivitas sastra yang memanfaatkan
komputer atau internet (Endraswara, 2008:183). Munculnya cybersastra ini
247
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
menghadirkan realitas tersendiri bagi peneliti sastra, namun peneliti harus
benar-benar memilah cybersastra yang tepat.
w) Penelitian sastra model analisis isi
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peneliti yang melakukan
penelitian sastra model analisis isi, antara lain:
1) Pemahaman analisis isi sastra
Endraswara (2008:161) menjelaskan bahwa analisis isi sastra merupakan
upaya pemahaman karya dari aspek ekstrinsik dan juga intrinsik. Aspek
penting dari analisis isi sastra adalah bagaimana hasil analisis tersebut
dapat diimplikasikan dalam kehidupan.
2) Karakteristik analisis isi sastra
Analisis isi sastra merupakan strategi untuk menangkap pesan karya sastra.
Adapun tujuan analisis isi ialah membuat inferensi. Inferensi diperoleh
melalui identifikasi dan penafsiran. Adapun inferensi juga didasarkan ada
konteks yang melingkupi karya sastra. Berkaitan dengan hal tersebut,
Endraswara (2008:161) seorang peneliti analisis isi sastra harus memiliki
target tertentu. Adapun dalam sastra, analisis isi memiliki tiga karakteristik
berdasarkan penjelasan dari Endraswara (2008:162). Karakteristik analisis
isi terdiri atas objektivitas (teori yang memadai dan kemampuan analisis
yang andal), sistematis (memanfaatkan langkah-langkah yang jelas),
generalisasi (memahami secara menyeluruh untuk memperoleh inferensi).
3) Penentuan unit analisis isi
Pengadaan data karya sastra dilakukan melalui pembacaan secara cermat.
Pembacaan berulang-ulang akan membantu peneliti bekerja dengan data.
Bacaan dipilah selanjutnya ke dalam unit kecil agar mudah dianalisis
(Endraswara, 2008:162). Contohnya, apabila yang diteliti berupa puisi,
maka unit datanya dapat berupa baris, bait puisi.
4) Penentuan sampel
Di dalam penentuan sampel, apabila dokumen yang diteliti cukup kompleks,
maka peneliti dapat menggunakan penentuan sampel bertahap. Apabila
karya sastra yang diteliti berupa karya sastra yang dipublikasikan di
248
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
majalah, harus ditentukan terlebih dahulu, judul majalah, tanggal atau tahun
terbit, rubrik, dan tentang permasalahan apa yang akan diteliti. Begitu pula
apabila yang akan dianalisis berupa karya buku, peneliti dapat melakukan
tahap penentuan sampel, seperti menentukan kapan tahun terbitnya, apa
temanya. Apabila peneliti hendak melihat karya-karya masa kini, tahun-
tahun penerbitan terakhir (3-5 tahun akhir) dapat digunakan sebagai
sampel. Adapun masalah isi diambil secara purposive, misalnya
berdasarkan pengetahuan peneliti tentang karya-karya mutakhir
(Endraswara, 2008: 163).
5) Inferensi
Di dalam analisis isi, inferensi dibuat terlebih dahulu baru dilakukan analisis
data. Dalam membuat inferensi, peneliti harus sensitif terhadap data
(Endraswara, 2008:164). Inferensi akan mendasari penjabaran analisis
selanjutnya.
6) Analisis
Analisis isi, khususnya analisis isi sastra, umumnya menggunakan kajian
kualitatif dengan ranah konseptual. Endraswara (2008:164) menyatakan
bahwa ranah ini menghendaki pemadatan kata-kata yang memuat
pengertian.
7) Validitas dan reliabilitas
Endraswara (2008:164) menjelaskan bahwa penelitian sastra dapat
menggunakan validitas semantik, yakni mengukur tingkat kesensitivan
makna dalam konteks. Adapun reliabilitas yang digunakan dalam penelitian
sastra model analisis isi adalah keakuratan, yakni penyesuaian antara hasil
penelitian dengan kajian pustaka yang telah dirumuskan (Endraswara,
2008:168). Reliabilitas didasarkan pada ketekunan peneliti dalam
pengamatan dan pencatatan.
7. Contoh-Contoh Penelitian Sastra
Berikut ini adalah contoh-contoh penelitian sastra, antara lain:
a. Disertasi berjudul “Gangguan Psikis Tokoh dalam Kumpulan Cerpen Al
Kabus (Halusinasi) Karya Najib Kailani (Sebuah Tinjauan Psikologi Sastra)”
249
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
yang ditulis oleh Zuriyati, Program Studi Pendidikan Bahasa, Program
Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta, tahun 2006. Penelitian ini
merupakan penelitian psikologi sastra dengan analisis isi. Dalam disertasi
ini, dibahas konflik dominan bernuansa kejiwaan yang mengangkat tema
berhubungan dengan orang-orang yang menyikapi hidup dengan keliru.
Gangguan psikis yang dibahas, meliputi skizofrenia, egois, otoriter, shock,
hysteria, halusinasi, sadis, frustasi, dan obsesi.
b. Disertasi “Nilai-Nilai Budaya dalam Cerita Kaba Minangkabau (Analisis
Struktural dan Semiotika)” yang ditulis oleh Abdurahman, Program Studi
Pendidikan Bahasa, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta,
tahun 2006. Hasil penelitian ini menunjukkan lima hal, antara lain:
(1) Kaba Minangkabau memiliki alur kronologis.
(2) Tokoh utama cerita terdiri atas berbagai tingkat sosial, yang berkarakter
baik dan buruk.
(3) Latar cerita umumnya setelah masuknya agama Islam dan dalam masa
penjajahan Belanda.
(4) Tema Kaba umumnya berkaitan dengan persoalan hidup, pengubahan
nasib.
(5) Nilai-nilai budaya yang ditemukan berkaitan dengan pandangan
terhadap hakikat karya, terhadap hakikat waktu, dan terhadap hakikat
alam.
c. Disertasi “Nilai-Nilai Humaniora dalam Antologi Puisi “Blues untuk Bonnie”
Karya WS Rendra (Suatu Kajian Struktural Semiotik)” yang ditulis oleh
Luisya Kamagi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Program Pascasarjana,
Universitas Negeri Jakarta, tahun 2014. Hasil penelitian ini menunjukkan
tiga hal, antara lain:
(1) Nilai humaniora ditinjau dari struktur batin dapat disimpulkan sebagai
berikut. Tema (sense) yang mendominasi ketigabelas puisi dalam
antologi “Blues untuk Bonnie” adalah kritik sosial atau protes sosial.
Rasa (feeling) yang mendominasi adalah kegelisahan batin. Nada (tone)
adalah nada sinis, nada protes. Tujuan, amanat (intention): kita harus
250
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
peduli, memiliki rasa humanis terhadap masyarakat tertindas, terlebih
rakyat kecil, miskin tidak berdaya, kaum marjinal (ketertindasan orang
yang mampu bicara).
(2) Nilai humaniora ditinjau dari struktur fisik dapat disimpulkan bahwa
tipografi ketigabelas puisi dalam antologi puisi “Blues untuk Bonnie”
umumnya merupakan puisi narasi berbentuk balada atau puisi narasi
yang berakhir dengan kesedihan.
(3) Nilai-nilai humaniora berdasarkan kajian semiotik terdapat nilai
moralitas, simpati, empati, kasih sayang, kepedulian, kebersamaan, dan
toleransi.
D.CONTOH SISTEMATIKA METODOLOGI PENELITIAN SASTRA
Judul (Analisis Kumpulan Puisi Doa Untuk Anak Cucu Karya WS
Rendra).
A. Pendekatan dan Metode Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
penelitian analisis isi. Penelitian bidang apapun senantiasa memerlukan objek
utama. Penelitian sastra adalah karya sastra dengan berbagai genrenya seperti
puisi, novel, cerpen, drama, dan sejenisnya baik berasal dari sastra lama/klasik
maupun modern. Berbagai genre sastra yang menjadi objek penelitian mencakup
segala kategorinya (Bahtiar dan Aswinarko, 2013:7).
Penelitian ini menggunakan metode analisis isi. Menurut Bahtiar dan
Aswinarko (2013 :17-18) menyatakan bahwa metode isi berhubungan dengan
isi komunikasi, baik secara verbal, dalam bentuk bahasa maupun nonverbal
yang menyangkut isi dan pesan komunikasi dalam kehidupan manusia
seperti arsitektur, pakaian, alat rumah tangga, dan sebagainya. Termasuk
masalah-masalah sosial, politik, ekonomi dalam ilmu-ilmu sosial. Tetapi
251
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dalam karya sastra, isi yang dimaksudkan adalah pesan-pesan yang terdapat
di dalamnya. Isi dalam metode analisis isi terdiri dua macam, yaitu isi laten
dan isi komunikasi. Isi laten adalah isi yang terkandung dalam dokumen dan
naskah, sedangkan isi komunikasi adalah pesan yang terkandung sebagai
akibat komunikasi yang terjadi. Isi laten adalah sebagaimana dimaksudkan
oleh penulis, sedangkan isi komunikasi adalah isi sebagaimana terwujud
dalam hubungan naskah dengan konsumen. Dengan kata lain, isi komunikasi
pada dasarnya juga mengimplikasikan isi laten, tetapi belum tentu sebaliknya.
Objek formal metode analisis isi adalah komunikasi. Analisis terhadap isi
laten akan menghasilkan arti, sedangkan analisis terhadap isi komunikasi
akan menghasilkan makna.
Kaitan dengan penelitian tersebut, terdapat beberapa langkah yang dilakukan
oleh peneliti yaitu :
1. Membaca keseluruhan puisi
2. Memilih dan menentukan puisi
3. Menandai kata dan kelompok kata yang berpotensi mengandung citraan
4. Mengelompokkan kata dan kelompok kata tersebut berdasarkan citraan masing-
masing
5. Memasukkan kata dan kelompok kata yang mengandung citraan ke dalam tabel
analisis
6. Menganalisis unsur citraan yang terdapat di dalam puisi
7. Menyimpulkan hasil analisis puisi
B. Sumber dan Jenis Data Penelitan
Sumber data merupakan suatu tindakan untuk mendapatkan sebuah
informasi. Lofland berpendapat bahwa sumber data utama dalam penelitian
kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti
252
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu pada bagian ini jenis datanya dibagi
ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis. Jika peneliti menjadi
pengamat berperanserta pada suatu latar penelitian tertentu, kegiatan tersebut akan
dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bergantung pada suasana dan keadaan yang
dihadapi. Pada dasarnya kegiatan penelitian kualitatif dilakukan secara sadar,
terarah dan senantiasa bertujuan memperoleh suatu informasi yang diperlukan
(dalam Moleong, 2013:157-158).
Dalam hal ini sumber data penelitian adalah sumber buku kumpulan puisi
Doa untuk Anak Cucu karya W. S. Rendra dan dapat dikelompokkan menjadi data
seperti berikut ini :
1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama. Data
primer dari penelitian ini adalah buku Kumpulan Puisi Doa untuk Anak Cucu
karya W. S. Rendra.
2. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data-data yang bersumber dari buku
referensi yang berkaitan dengan objek yang menjadi peneliti.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi atau kajian
kepustakaan, dalam hal ini kajian terhadap teks Kumpulan Puisi Doa untuk Anak
Cucu karya W. S. Rendra. Kumpulan puisi ini menjadi sumber data utama dalam
penelitian. Kajian kepustakaan dilakukan dengan penghayatan secara langsung dan
pemahaman arti secara rasional. Untuk melaksanakan hal tersebut, dapat
dikembangkan melalui rambu-rambu studi dokumentasi yang berfungsi sebagai
instrument penelitian.
Teknik studi dokumentasi diterapkan dengan beberapa langkah sebagai
berikut :
253
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
1. Peneliti membaca secara kritis sumber data dalam Kumpulan Puisi Doa untuk
Anak Cucu karya W. S. Rendra. Pembaca secara teliti untuk memahami makna
yang terdapat di dalam sumber data.
2. Peneliti membaca secara berkesinambungan dan berulang-ulang sumber data
dalam Kumpulan Puisi Doa untuk Anak Cucu karya W. S. Rendra.
3. Peneliti membaca sekali lagi sumber untuk memberi tanda bagian-bagian teks
Kumpulan Puisi Doa untuk Anak Cucu yang diangkat menjadi data dan dianalisis
lebih lanjut. Penandaan ini disesuaikan dengan sumber data.
D. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif (penelitian analisis isi) peneliti bertindak sebagai
instrumen penelitian di bantu tabel analisis.
Tabel.1
Citraan Kumpulan Puisi Doa untuk Anak Cucu karya W. S. Rendra
No Citraan Kutipan Jumlah
Puisi
1. a. Penglihatan
b. Pendengaran
c. Gerak
d. Perabaan
e. Penciuman
f. Pengecapan
g. Suhu
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan suatu proses pengungkapan pengurutan
data tentang unsur citraan yang terdapat dalam Kumpulan Puisi Doa untuk Anak
Cucu karya W. S. Rendra ke dalam ketegori dan kesatuan uraian sehingga pada
254
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
akhirnya dapat ditarik kesimpulan tentang unsur citraan yang dilengkapi dengan
data pendukung.
Setelah data terkumpul secara keseluruhan, kemudian data diklasifikasikan,
dideskripsikan, dianalisis berdasarkan masalah penelitian. Proses analisis data yaitu
Reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/verifikasi.
1. Reduksi Data
Dalam mereduksi data lebih memfokuskan pada hal-hal yang penting
dicari citraan dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah
direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas. Data-data yang dipilih
hanya data yang berkaitan dengan masalah yang akan dianalisis dalam hal ini
unsur citraan yang berkenaan puisi yang terdapat dalam kumpulan puisi Doa
untuk Anak Cucu karya W. S. Rendra.
2. Penyajian Data
Setelah data direduksi, kemudian dilakukan penyajian.Hal yang penting
terlebih dahulu membaca buku penelitian sastra supaya mudah dipahami.
Kemudian membaca kumpulan puisi Doa untuk Anak Cucu untuk di analisis
sehingga dapat diperoleh unsur citraan yang digunakan.
3. Kesimpulan/verifikasi
Pada tahap ketiga dibuat penarikan kesimpulan tentang hasil analisis
yang diperoleh dalam bentuk teks pada setiap kata kunci yang terdapat dalam
kumpulan puisi Doa untuk Anak Cucu karya W. S. Rendra. Sehingga hasil yang
diperoleh benar-benar valid.
255
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Ketiga kategori tersebut saling berkesinambungan maka dari itu harus
dilakukan secara terus-menerus mulai dari awal sampai dengan penelitian
berakhir.
G. Keabsahan Data
Untuk meyakinkan bahwa deskripsi data yang disajikan diatas adalah data
yang abash dan memiliki derajat kepercayaan dilakukan teknik penjaminan
keabsahan melalui :confirmability, credibility, transferability, dependenbility.
1. Objektivitas (confirmability)
Bermakna sebagai proses kerja yang dilakukan untuk mencapai kondisi
objektif. Untuk mencapai keobjektivitasan maka peneliti telah membuat desain
penelitian secara baik dan benar, fokus penelitian ditepatkan, kajian teori yang
serelevan mungkin, melakukan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan
fokus permasalahan dalam penelitian, analisis data dilakukan secara benar dan
hasil penelitian yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Kesahihan internal (credibility)
a. Meningkatkan Ketekunan
Peneliti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan
berkesinambungan.Peneliti melakukan pengecekan kembali apakah data
yang ditemukan itu salah atau tidak, dapat memberikan deskripsi data yang
akurat dan sistematis.Peneliti juga meningkatkan ketekunan membaca
berbagai referensi dan hasil penelitian terkait.
256
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
b. Triangulasi
Menurut Moleong (2013:330) Triangulasi data adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar
data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap
data itu.Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan
melalui sumber lainnya. Hal itu dapat dicapai melalui:
1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2) Membandingkan yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang
dikatakannya secara pribadi.
3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi
penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai
pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang
berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan.
c. Diskusi Teman Sejawat
Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan mendiskusikan hasil
penelitian yang masih bersifat sementara kepada teman-teman S1 yang
sedang atau pernah mengadakan penelitian dengan fokus penelitian pada
konflik, kritik sosial, dan nilai moral karya sastra.Pertanyaan dan saran pada
saat diskusi dicatat dan dijadikan bahan perbaikan hasil penelitian
sementara.
257
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
3. Kesahihan eksternal (transferability)
Tahap ini berkenaan dengan hasil penelitian yang dapat ditransfer oleh
orang lain dan dapat diaplikasikan dalam situasi lain, untuk mencapai kesahihan
eksternal penulis meneliti dengan sistematis, rinci, jelas dan bisa
dipertanggungjawabkan.
4. Keterandalan (dependability)
Keterandalan adalah berupa bentuk untuk menguji dan sudah tercapainya
data dalam sebuah penelitian. Maka dengan ini, peneliti siap apabila data yang
disajikan akan dilakukan audit kembali terhadap keseluruhan penelitan yang
dimulai dari menentukan fokus masalah, memasuki lapangan pengambilan data
penelitian, analisis data penelitian, uji keabsahan penelitian sampai pada
simpulan penelitian.
258
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
BAB XII
Penelitian Etnografi Dan Grounded Theory
A. Pendahuluan
Penelitian kualitatif seiring waktu mampu berkembang dalam mengatasi
permasalahan penelitian dengan metode ilmiah dan prosedur sistematisnya.
Perkembangan ini berdampak pada lahirnya beberapa jenis penelitian kualitatif yang
pada dasarnya memiliki beberapa kemiripan terutama bersifat seni atau kurang terpola
dan hasil penelitiannya lebih berhubungan dalam menginterpretasi data yang
ditemukan di lapangan serta memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik
(Sugiyono, 2007:7-8).
Jenis penelitian kualitatif yang terus mengalami perkembangan yaitu penelitian
etnografi dan grounded theory. Kedua jenis penelitian ini sudah mampu berdiri dalam
menjawab permasalahan-permasalahan penelitian dan membantu dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan. Untuk itu, penting membahas tentang penelitian
etnografi dan grounded theory baik itu dari hakikat, jenis, ciri khusus, teknik
pengumpulan data, dan teknik analisis datanya. Dengan harapan kita sebagai tenaga
pendidik mampu memahami dan menjadikan penelitian etnografi dan grounded theory
sebagai salah satu alternatif metode penelitian yang dapat kita digunakan dan berbagi
ilmu kepada mahasiswa dan teman sejawat.
Penelitian etnografi dan grounded theory pada dasarnya dapat digunakan dalam
dunia pendidikan, tetapi kita harus memahami terlebih dahulu kapan kita harus memilih
kedua metode ini sebagai metode penelitian yang tepat dalam penelitian yang kita
rencanakan.
B. Penelitian Etnografi
1) Hakikat Penelitian Etnografi
Emzir (2015:143-145) mengemukakan bahwa etnografi sebagai salah satu
jenis penelitian ilmu sosial yang kajiannya difokuskan pada makna sosiologi
dengan cara observasi, wawancara, dan dokumen yang diperoleh dari informan
yang memahami tentang berbagai fenomena sosiokultural dalam suatu
259
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
masyarakat tertentu. Dalam hal ini, etnografi bertujuan menjelaskan pemahaman-
pemahaman kultural umum yang berhubungan dengan fenomena yang sedang
diteliti.
Atkinson dan Hammersley (dalam Denzin dan Lincoln, 2009:316)
menjelaskan bahwa etnografi merupakan penelitian terhadap sejumlah kasus atau
satu kasus secara detail dengan cara mengeksplorasi sifat dasar kasus dari
fenomena sosial dengan cara interpretasi makna dan fungsi berbagai tindakan
manusia secara eksplisit sebagai suatu produk umum mengambil bentuk-bentuk
deskripsi dan penjelasan verbal tanpa harus terlalu banyak memanfaatkan analisis
kuantifikasi dan statistik. Dalam penelitian etnografi jenis data tidak terstruktur atau
seperangkat kategori yang masih menerima peluang bagi analisis tertentu. Artinya,
data etnografi belum dirumuskan dalam bentuk kode.
Penelitian etnografi juga dijelaskan oleh Gay, dkk. (2009:423) sebagai
penelitian yang mengkaji tentang pola budaya dan perspektif dari partisipan dalam
menjalani kehidupan mereka. Dalam hal ini Gay, dkk. menjelaskan budaya
sebagai seperangkat sikap, nilai, konsep, keyakinan, dan praktik bersama sebagai
anggota masyarakat. Ciri khusus yang disampaikan oleh Arasian ini bahwa
penelitian etnografi lebih fokus pada meneliti budaya dari partisipan sebagai
anggota masyarakat baik itu dari sikap, nilai konsep, keyakinan, dan kegiatan
kerja sama di antara anggota masyarakat.
Creswell (2015:932) juga mengemukakan tentang hakikat penelitian
etnografi yang menyatakan bahwa etnografi sebagai prosedur rancangan
penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasi
pola-pola perilaku, keyakinan, dan bahasa yang sama pada kelompok budaya
yang sama yang berkembang seiring berjalannya waktu. Budaya menurut Creswell
dapat mencakup bahasa, ritual, struktur ekonomi dan politik, tahap kehidupan,
interaksi, dan gaya komunikasi. Pekerjaan peneliti etnografi yaitu menghabiskan
waktu yang cukup lama di lapangan untuk mewawancarai, mengobservasi, dan
mengumpulkan berbagai dokumen tentang kelompok untuk memahami perilaku,
keyakinan, dan bahasa mereka. Dengan kata lain, ciri-ciri etnografi menurut
Creswell yaitu (1) bertema budaya, (2) kelompok yang berbudaya sama, (3) pola
260
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
perilaku keyakinan, dan bahasa yang sama, (4) kerja lapangan, (5) deskripsi,
tema, dan interpretasi, (6) konteks atau ranah (setting), dan (7) refleksivitas
peneliti.
Lebih lanjut Creswell (2015:933) menjelaskan bahwa penelitian etnografi
kita gunakan ketika kita ingin mengkaji kelompok dengan tujuan memberikan
pemahaman tentang masalah budaya yang lebih luas, budaya yang sama,
kelompok yang sudah cukup lama bersama-sama dan telah mengembangkan
nilai, keyakinan, dan bahasa yang sama. Misalnya, hubungan informal di antara
para guru yang berkumpul di tempat favorit untuk bersosialisasi.
Kemudian, Gall, dkk. (2007:500) menjelaskan bahwa penelitian etnografi
melibatkan studi intensif tentang fitur dari budaya tertentu dan pola dalam fitur
tersebut. Dengan kata lain peneliti etnografi bekerja lebih fokus dalam meneliti
aturan kehidupan nyata di mana budaya dimanifestasikan, umumnya menghindari
memperkenalkan, jenis situasi dibuat menjadi pengaturan, dan memperhatikan
semua aspek tersebut yang mengungkapkan pola budaya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian
etnografi merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang bertujuan
mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasi pola-pola budaya baik
berupa sikap, nilai, konsep, keyakinan, ritual, struktur ekonomi dan politik, bahasa,
dan kegiatan kerja sama di antara anggota masyarakat tertentu.
2) Jenis Penelitian Etnografi
Dalam perkembangannya, penelitian etnografi menurut Creswell (2015:937-944)
terbagi menjadi tiga jenis, yaitu etnografi realis, studi kasus, dan etnografi kritis.
Etnografi realis merupakan pendekatan populer yang digunakan para antropolog
budaya yang menjelaskan situasi dalam pandangan orang ketiga dan melaporkan
secara objektif tentang informasi yang dipelajari dari partisipan di lapangan. Ada tiga
tugas peneliti etnografi realis, yaitu (1) menarasikan penelitian dari suara orang ketiga
yang tidak memihak dan melaporkan tentang observasi terhadap partisipan dan
pandangan mereka berdasarkan fakta; (2) melaporkan data objektif dengan gaya
terukur yang tidak dicemari bias, tujuan politik, dan judgment pribadi; dan (3)
261
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
menghasilkan pandangan partisipan melalui kutipan yang diedit dengan cermat dan
memiliki kata final tentang interpretasi dan presentasi budaya.
Studi kasus lebih difokuskan pada sebuah program, peristiwa, atau tindakan
yang melibatkan individu, bukan kelompok itu sendiri. Studi kasus dalam hal ini
mencoba mengeksplorasi secara mendalam terhadap bounded system, misalnya
kegiatan, peristiwa, proses, atau individu berdasarkan pengumpulan data ekstensif.
Kemudian jenis penelitian etnografi kritis mencoba mengadvokasikan emansipasi
kelompok-kelompok yang terimajinalisasi di masyarakat kita. Peneliti etnografi kritis
biasanya adalah individu yang politically minded yang mencoba melalui penelitiannya,
mengadvokasikan untuk menentang ketidaksetaraan dan dominasi. Misalnya,
etnografer kritis meneliti sekolah-sekolah yang memberikan hak istimewa kepada tipe-
tipe siswa tertentu, menciptakan situasi yang tidak adil di antara anggota golongan
sosial yang berbeda, dan mengekalkan anak laki-laki adalah partisipan yang vokal dan
anak perempuan adalah partisipan yang diam di kelas. Dalam etnografi kritis
komponen utama yang diteliti adalam faktor-faktor, seperti orientasi bermuatan nilai,
pemberdayaan para pemberi wewenang yang lebih besar, menantang status quo, dan
peduli tentang kekuasaan dan kontrol.
Gay, dkk. (2009:426) juga menjelaskan bahwa peelitian etnografi terbagi menjadi
etnografi kritis, etnografi realis, dan etnografi studi kasus. Menurut Gay, etnografi kritis
merupakan bentuk etnografi yang sangat dipolitisir yang ditulis oleh peneliti untuk
melakukan advoasi terhadap ketidaksetaraan dan dominasi kelompok-kelompok
tertentu yang ada di masyarakat termasuk sekolah. Etnografi realis yaitu penelitian
yang bertujuan menggunakan kategori umum untuk mendeskripsikan budaya,
menganalisis, dan menginterpretasi kehidupan keluarga, aktivitas, pekerjaan sosial, dan
statusnya dalam masyarakat atau cenderung berfokus pada tema budaya. Sedangkan
etnografi studi kasus memfokuskan pada menggambarkan kegiatan dari kelompok
tertentu dan pola perilaku bersama kelompok yang berkembang dari waktu ke waktu.
3) Teknik Pengumpulan Data Penelitian Etnografi
Atkinson dan Hammersley (dalam Denzin dan Lincoln, 2009:317) menjelaskan
bahwa peneltian etnografi sebagai jenis penelitian sosial disarankan untuk
262
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
menggunakan teknik pengumpulan data jenis observasi partisipan, karena kita tidak
dapat meneliti realitas sosial tanpa menjadi bagian dari realitas itu sendiri. Dari sudut
pandang ini dapat dijelaskan bahwa observasi partisipan sebagai model penelitian
dengan ciri keterlibatan sang peneliti dengan realitas dunia itu sendiri karena
esensisnya dalam penelitian sosial, posisi peneliti sebagai instrumen utama. Emzir
(2012:39) menjelaskan bahwa observasi partisipan merupakan kegiatan observasi yang
dilaksanakan oleh peneliti yang berperan sebagai anggota yang berperan serta dalam
kehidupan masyarakat topik penelitian. Dalam kegiatan penelitian, posisi peneliti tinggal
atau hidup bersama anggota masyarakat dan ikut terlibat dalam semua aktivitas dan
perasaan mereka. Selain itu, ada dua peran peneliti sebagai observasi partisipan, yaitu
berperan sebagai anggota peserta dalam kehidupan masyarakat dan berperan
mengumpulkan data tentang perilaku masyarakat dan perilaku individunya. Dengan
demikian, observasi partisipan mampu memiliki validitas yang tinggi karena data yang
dikumpulkan berasal dari lingkungan yang alami dan memahami sesuatu yang
tersembunyi karena langsung masuk dalam konteks sosial masyarakat.
Kemudian, menurut Emzir (2015:143) dalam penelitian etnografi menggunakan
tiga teknik pengumpulan data, yaitu teknik wawancara, observasi, dan dokumen. Dari
ketiga jenis teknik pengumpulan data ini menghasilkan kutipan (hasil wawancara),
uraian (hasil observasi), dan kutipan dokumen (hasil dari dokumen). Kemudian, dari
ketiga hasil tersebut menghasilkan suatu produk berupa uraian naratif. Dalam uraian
naratif biasanya terdiri dari tabel, diagram, dan artefak tambahan yang membantu
penceritaan.
Gay, dkk. (2009:427-429) mengemukakan bahwa dalam penelitian etnografi
dapat menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, di antaranya observasi
partisipan, dan catatan lapangan. Observasi partisipan dapat berupa observasi
partisipan yang aktif dan observasi pasif. Sedangkan catatan lapangan dikumpulkan,
direkam, dan disusun selama ditempat penelitian. Kemudian, untuk keabsahan data
Gay menyarankan untuk menggunakan triangulasi dalam hal ini menggunakan
beberapa metode, strategi pengumpulan data, dan sumber data untuk mendapatkan
gambaran yang lebih lengkap dari topik yang diteliti dan untuk mengecek kebenaran
informasi.
263
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Dengan demikian, dari beberapa pendapat di atas, teknik atau metode
pengumpulan data yang dapat digunakan dalam penelitian etnografi yaitu observasi,
wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Untuk jenis observasi adalah teknik
yang harus digunakan dan yang paling baik adalah observasi partisipan.
4) Prosedur Penelitian Etnografi
Spradley di dalam (Emzir, 2015:157) mengemukan dalam penelitian etnografi
menggunakan prosedur siklus yang terdiri dari enam langkah: (1) pemilihan suatu
proyek etnografi; (2) pengajuan pertanyaan etnografi; (3) pengumpulan data etnografi;
(4) pembuatan suatu rekaman etnografi; (5) analisis data etnografi; dan (6) penulisan
sebuah etnografi. Untuk lebih jelasnya mengenai prosedur siklus penelitian etnografi
dapat ditunjukkan dengan gambar berikut.
Collecting
ethnographic
data
Asking Making
ethnographic ethnographic
questions record
Selecting an Analyzing
ethnographic ethnographic
project data
Writing an
ethnographic
Gambar 1. Siklus Penelitian Etnografi
(Spradley, 1980:29 dalam Emzir, 2015:157)
Dari gambar 1 di atas, dapat dijelaskan bahwa prosedur siklus penelitian
etnografi, langkah pertama yaitu pemilihan suatu proyek etnografi dengan
mempertimbangkan ruang lingkup dari penyelidikan yang akan dilakukan. Menurut
Hymes (dalam Emzir, 2015:160-161) terdapat tiga model penelitian etnografi yang
dapat membantu dalam menggambarkan fokus suatu proyek penelitian, yaitu etnografi
264
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
komprehensif, etnografi berorientasi topik, etnografi yang berorientasi pada hipotesis.
Etnografi komprehensif dengan cara mencari dokumen suatu jalan tol ke kehidupan.
Peneliti etnografi melakukan etnografi komprehensif dalam sebuah desa yang
diinginkan melalui observasi partisipan, mencoba mendeskripsikan rentangan luas
tentang adat istiadat, yang tujuannya ingin melingkupi sebagian besar wilayah dari
masyarakat tersebut sebelum penyelesaian penelitian. Etnografi berorientasi pada
topik, maksudnya mempersempit fokus pada satu atau lebih aspek kehidupan yang
diketahui ada dalam suatu masyarakat. Misalnya, sebagai peneliti etnografi memilih
suatu topik, seperti hubungan kekerabatan, perilaku tunasusila, atau kegiatan ibadah.
Kemudian, model yang berorientasi pada hipotesis yang berarti dalam pemilihan awal
dari suatu proyek dan data yang dikumpulkan dipengaruhi oleh suatu set hipotesis.
Misalnya, hipotesis tentang budaya berbahasa masyarakat Jawa Barat yang santun,
sehingga ketika kita mengumpulkan data berpatokan pada hipotesis ciri-ciri kesantunan
berbahasa masyarakat Jawa Barat.
Langkah kedua yaitu pengajuan pertanyaan etnografi sebagai pekerjaan awal
yang dilakukan sebelum memasuki lapangan. Terdapat tiga jenis pertanyaan utama
etnografi, yang mengarah pada jenis observasi di lapangan. Pertanyaan pertama yaitu
“pertanyaan deskriptif” yang masih bersifat umum/luas sperti “Siapa orang yang ada di
sini?” “Apa yang mereka lakukan?”, dan “Apa latar fisik dari situasi sosial itu?”.
Kemudian, dilanjutkan dengan pertanyaan struktural dan pertanyaan kontras untuk
penemuan. Beberapa pertanyaan ini akan membimbing peneliti untuk membuat
observasi lebih terfokus.
Spradley (dalam Emzir, 2015:163-164) mengemukakan bahwa sebagai alternatif
subpertanyaan topikal dapat melaksanakan 12 langkah sebagai berikut: (1) Apa situasi
sosial yang akan diteliti? Dalam hal ini peneliti memilih suatu sosial; (2) Bagaimana
seseorang melakukan observasi terhadap situasi tersebut? Dalam kegiatan ini peneliti
melakukan observasi partisipan; (3) Apakah yang sudah terekam tentang situasi
tersebut? Dalam tahap ini, peneliti membuat rekaman etnografi; (4) Apakah yang sudah
teramati tentang situasi tersebut? Dalam kegiatan ini, peneliti melakukan observasi
deskriptif; (5) Apakah domain kultural yang muncul dari studi situasi tersebut? Dalam
hal ini, peneliti melakukan analisis domain; (6) Apakah lebih spesifik, observasi terfokus
265
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dapat dibuat? Dalam tahap ini, peneliti melakukan observasi terfokus; (7) Apa
taksonomi yang terlihat dari observasi terfokus tersebut? Dalam tahap ini, peneliti
melakukan analisis taksonomi; (8) Melihat secara lebih selektif, observasi apa yang
dapat dilakukan? Dalam tahap ini, peneliti melakukan observasi selektif; (9) Apa
komponen-komponen yang muncul dari observasi tersebut? Dalam kegiatan ini, peneliti
melakukan analisis komponen; (10) Apa tema-tema yang terlihat? Dalam tahap ini,
peneliti melakukan observasi selektif; (11) Apa inventori kultural yang terlihat? Dalam
tahap ini, peneliti mengambil inventori kultural; dan (12) Bagaimana seseorang dapat
menulis etnografi? Pada tahap ini, peneliti melakukan kegiatan menulis sebuah
etnografi.
Langkah ketiga yaitu pengumpulan data etnografi sebagai tugas utama kedua
dalam siklus penelitian etnografi. Pengumpulan data etnografi yaitu dengan cara
observasi partisipan yang mana peneliti mengamati aktivitas seseorang, karakteristik
fisik situasi sosial, dan apa yang akan menjadi bagian dari tempat kejadian. Proses
pengumpulan data ini terkait dengan tigas jenis pertanyaan etnografi, yaitu melakukan
observasi deskriptif, observasi selektif, dan observasi terfokus.
Langkah keempat yaitu pembuatan suatu rekaman etnografi atau catatan
etnografi. Beberapa kegiatan dalam merekam dan mencatat dalam penelitian etnografi,
yaitu pengambilan catatan lapangan, pengambilan foto, pembuatan peta, dan
penggunaan cara-cara lain untuk merekam observasi yang dilakukan peneliti. Hasil
rekaman dan catatan ini penting untuk membangun hubungan antara observasi dan
analisis.
Langkah kelima yaitu analisis data etnografi. Dalam kegiatan analisis
sebenarnya peneliti melakukan suatu proses penemuan pertanyaan. Data yang perlu
dianalisis adalah data dari hasil observasi, wawancara, dan dokumen. Terdapat empat
jenis analisis dalam penelitian etnografi, yaitu analisis domain, analisis taksonomi,
analisis komponen, dan analisis tema. Analisis domain cara kerjanya memperoleh
gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau situasi sosial. Melalui
pertanyaan umum dan pertanyaan rinci, peneliti menemukan berbagai kategori atau
domain tertentu sebagai pijakan penelitian selanjutnya. Semakin banyak domain yang
dipilih, semakin banyak waktu yang diperlukan untuk penelitian.
266
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Kegiatan analisis taksonomi adalah mencoba mendeskripsikan domain-domain
yang dipilih menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internalnya. Hal ini dilakukan
dengan melakukan pengamatan yang lebih terfokus. Berikutnya, analisis komponensial,
dengan cara mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara
mengontraskan antar elemen. Kegiatan ini dilaksankan melalui observasi dan
wawancara terseleksi melalui pertanyaan yang mengontraskan. Kegiatan analisis yang
terakhir yaitu analisis tema budaya dengan cara mencari hubungan di antara domain
dan hubungan dengan keseluruhan, yang dilanjutkan dengan menyatakannya ke dalam
tema-tema sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.
Langkah yang ke enam yaitu penulisan sebuah etnografi yang membutuhkan
waktu yang intensif. Dalam kegiatan ini peneliti melaporkan hasil dari analisis dari
setiap temuan baik dari hasil data observasi, wawancara, dan dokumen. Peneliti harus
pintar mengemas hasil penelitian dari ketiga data tersebut sehingga menghasilkan
laporan etnografi yang mampu menjawab pertanyaan penelitian.
Kemudian, Spradley (dalam Creswell, 2015:960-961) mengemukakan ada 12
langkah dalam melaksanakan penelitian etnografi yaitu menemukan informan,
mewawancarai informan, membuat catatan etnografis, melontarkan pertanyaan-
pertanyaan deskriptif, menganalisis wawancara-wawancara etnografis, membuat
analisis ranah/domain, melontarkan pertanyaan struktural, membuat analisis taksonomi,
melontarkan pertanyaan kontras, membuat analisis komponensial, menemukan tema-
tema budaya, dan menulis etnografi.
5) Teknik Analisis Data Penelitian Etnografi
Atkinson dan Hammersley (di dalam Denzin dan Lincoln, 2009:316) menjelaskan
langkah-langkah menganalisis data penelitian etnografi dimulai dari: (1) interpretasi
makna berbagai tindakan manusia; (2) interpretasi fungsi berbagai tindakan manusia;
(3) mendeskripsikan berbagai tindakan manusia; dan (4) penjelasan secara verbal
tanpa harus terlalu banyak memanfaatkan kuantifikasi dan statistik dari berbagai
tindakan manusia.
Emzir (2015:165) mengemukakan bahwa analsis data penelitian kualitatif
sebagai satu kesatuan dari prosedur penelitian etnografi yang bersifat siklus dan
penelitian etnografi dalam analisis data sebagai suatu proses penemuan pertanyaan
267
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dari hasil observasi partisipan. Lebih lanjut Emzir (2015:165-166) menjelaskan bahwa
terdapat empat jenis analisis dalam penelitian etnografi, yaitu analisis domain, analisis
taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema. Keempat jenis analisis ini bagi
peneliti yang sudah berpengalaman dapat melakukan bentuk-bentuk analisis berbeda
secara simultan selama periode penelitian. Sedangkan bagi peneliti pemula dapat
melakukannya dalam urutan yang sistematis dari keempat langkah analisis tersebut.
Kegiatan analisis yang pertama yaitu analisis domain yang cara kerjanya
memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau situasi sosial.
Melalui pertanyaan umum dan pertanyaan rinci, peneliti menemukan berbagai kategori
atau domain tertentu sebagai pijakan penelitian selanjutnya. Semakin banyak domain
yang dipilih, semakin banyak waktu yang diperlukan untuk penelitian.
Kegiatan analisis taksonomi adalah mencoba mendeskripsikan domain-domain
yang dipilih menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internalnya. Hal ini dilakukan
dengan melakukan pengamatan yang lebih terfokus.
Kegiatan analisis komponensial, dengan cara mencari ciri spesifik pada setiap
struktur internal dengan cara mengontraskan antar elemen. Kegiatan ini dilaksankan
melalui observasi dan wawancara terseleksi melalui pertanyaan yang mengontraskan.
Kegiatan analisis yang terakhir yaitu analisis tema budaya dengan cara mencari
hubungan di antara domain dan hubungan dengan keseluruhan, yang dilanjutkan
dengan menyatakannya ke dalam tema-tema sesuai dengan fokus dan subfokus
penelitian.
6) Contoh Penelitian Etnografi
Salah satu contoh penelitian etnografi yaitu hasil penelitian yang dilakukan oleh
Syahrun R. Dengan judul “Representasi Kesantunan Tindak Tutur Berbahasa Indonesia
dalam Pembelajaran di Kelas (Kajian Etnografi Komunikasi)”. Penelitian mencoba
mengkaji aspek-aspek berikut: (1) bentuk kesantunan tindak tutur ber-BI guru dan
siswa, (2) fungsi kesantunan tindak tutur ber-BI guru dan siswa, dan (3) strategi
penyampaian kesantunan tindak tutur ber-BI guru dan siswa.
Metode penelitian yang digunakan menggunakan model kualitatif dengan
ancangan etnografi komunikatif. Kajian ditekankan pada penggunaan tutur serta pola
dan fungsi tutur dalam tindak dan dalam situasi/peristiwa tutur. Subjek penelitian adalah
268
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
guru dan siswa di SMAN 11 Kronjo Kabupaten Tangerang Guru-guru tersebut yaitu
guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Agama Islam, Sejarah, Ekonomi, Biologi, dan
PPKN. Sedangkan siswanya yaitu siswa kelas XI (menggunakan kurikulum berbasis
kompetensi) dan kelas XII (menggunakan kurikulum KTSP). Siswa yang dijadikan
subjek dipilih dengan teknik snow ball, artinya secara acak. Penelitian ini mempunyai
dua jenis data, yakni data tuturan, data catatan lapangan, dan wawancara. Sedangkan
analisis data menggunakan model interaktif. Teknik analisis data dilakukan melalui
beberapa tahapan, yaitu (a) data yang diperoleh baik melalui observasi, catatan
lapangan, dan wawancara yang diklasifikasikan sesuai dengan karakteristik masing-
masing data. Data percakapan kelas berupa transkrip rekaman pembelajaran
dikelompokkan berdasarkan kesamaan wujudnya, baik berupa bentuk, fungsi, maupun
strategi kesantunan; (b) data yang telah ditranskripsikan dan dikelompokkan tersebut
lalu dianalisis melalui analisis model interaktif. Reduksi dilakukan mulai dari
pengumpulan data di lapangan hingga analisis setelah data terkumpul. Reduksi data
dalam penelitian ini dilakukan dengan cara berikut: data berupa tuturan guru dan siswa
(pada catatan lapangan, transkrip rekaman, dan hasil wawancara) dibaca dengan
cermat setelah itu dilakukan identifikasi, pengodean, dan pengelompokan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa paradigma kajian tindak tutur secara
fungsional dalam pembelajaran di kelas memandang tindak tutur sebagai identitas
sosial dan budaya pemakainya. Fenomena kesantunan dalam percakapan dalam
pembelajaran di kelas merupakan fenomena sosial budaya yang tidak dapat dilepaskan
dari tradisi berbahasa penuturnya. Dengan demikian, keberagaman bentuk, fungsi, dan
strategi kesantunan tindak tutur ber-BI dalam percakapan dalam pembelajaran di kelas,
di SMAN 11 Kronjo Kabupaten Tangerang menggambarkan sosial budaya pemakainya.
Dalam representasi bentuk kesantunan tindak tutur ber-BI guru dan siswa,
digunakan beragam modus tuturan. Modus tuturan tersebut terdiri atas modus
deklaratif, interogatif, dan imperatif. Kesantunan dengan modus deklaratif
mempresentasikan perintah, permintaan, nasihat, dan pujian. Kesantunan dengan
modus interogatif mempresentasikan permintaan, penagihan janji siswa,
pengklarifikasian pemahaman siswa, dan pemberian peringatan. Kesantunan dengan
modus imperatif mempresentasikan ajakan, permintaan, dan perintah. Pelunakan daya
269
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
ilokusi terdapat pada tuturan bermodus deklaratif dan interogatif sehingga tuturan
terasa santun sedangkan tuturan bermodus interogatif cenderung memiliki efek
penguatan daya ilokusi sehingga terasa kurang santun.
Fungsi kesantunan tindak tutur ber-BI guru dan siswa dalam tindak direktif
direpresentasikan ke dalam fungsi permintaan, pengizinan, menasehati, perintah, dan
melarang. Kemudian strategi kesantunan tindak tutur ber-BI guru dan siswa
direpresentasikan ke dalam bertutur secara langsung dan tidak langsung. Bertutur
secara langsung direalisasikan ke dalam bertutur dengan imperatif dan bertutur dengan
imperatif pelesapan frasa. Bertutur secara tidak langsung direpresentasikan dalam
bertutur dengan kesantunan positif, negatif, dan samar-samar.
C. Penelitian Grounded Theory (Teori Dasar)
1. Hakikat Penelitian Grounded Theory
Galsser dan Strauss (dalam Emzir, 2015:193) mengemukakan bahwa penelitian
grounded theory merupakan teori umum dari metode ilmiah yang bekerja dengan
proses generalisasi, elaborasi, validasi, konsistensi, reproduksi, dari teori ilmu sosial
sehingga menemukan aturan yang dapat diterima dalam membantu ilmu pengetahuan
berupa pengembangan atau penurunan teori secara tertutup menjadi pernyataan
naratif, suatu gambaran visual, atau serangkaian hipotesis atau proposisi yang
berhubungan dengan konteks fenomena yang dikaji. Dengan kata lain penelitian
grounded theory bertujuan untuk mengembangkan teori secara induktif dari suatu data
yang diputuskan secara memadai untuk domainnya dengan memerhatikan sejumlah
kriteria evaluatif.
Penelitian grounded theory menurut Creswell (2015:844) merupakan suatu
prosedur kualitatif sistematis yang digunakan untuk menghasilkan teori yang
menjelaskan di tingkat konseptual luas, suatu proses, tindakan, atau interaksi tentang
suatu topik subtantif. Dari pengertian ini dapat dijelaskan bahwa penelitian grounded
theory menjelaskan suatu proses kejadian, kegiatan, tindakan, dan interaksi pendidikan
yang terjadi dari waktu ke waktu. Kemudian, pekerjaan peneliti grounded theory bekerja
melalui prosedur sistematis untuk mengumpulkan data, mengidentifikasi kategori atau
tema, menghubungkan kategori itu, dan membentuk suatu teori yang menjelaskan
270
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
prosesnya. Lebih lanjut, Creswell menjelaskan bahwa grounded theory memiliki ciri-ciri
khusus, seperti pendekatan proses, pengambilan sampel teoretis, analisis data
komparatif konstan, kategori inti, menghasilkan teori, dan memo (catatan peneliti di
sepanjang proses penelitian untuk mengelaborasi ide-ide tentang data). Dengan
demikian, penelitian grounded theory ini digunakan ketika kita membutuhkan teori
karena teori-teori yang sudah ada tidak menangani permasalahan yang kita atau para
partisipan yang kita rencanakan untuk diteliti atau ketika penjelasan luas tentang suatu
proses.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian grounded
theory merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan prosedur
sistematis yang digunakan untuk menghasilkan teori yang menjelaskan di tingkat
konseptual luas sehingga menemukan aturan yang dapat diterima dalam membantu
ilmu pengetahuan berupa pengembangan atau penurunan teori secara tertutup menjadi
pernyataan naratif, suatu gambaran visual, atau serangkaian hipotesis atau proposisi
yang berhubungan dengan konteks fenomena yang dikaji.
2. Beberapa Prinsip Metodologi Grounded Theory
Menurut Haig (di dalam Emzir, 2015: 196-209) terdapat beberapa prinsip
metodologi grounded theory, yaitu perumusan masalah, deteksi fenomena, penurunan
teori (theory generation), pengembangan teori, penilaian teori (theory appraisal), dan
grounded theory yang direkonstruksi. Dalam merumuskan masalah, prinsip yang perlu
diperhatikan bagi para peneliti grounded theory, yaitu membangun dari sesuatu yang
aktual dari permasalahan yang ada, mencirikan masalah, memberikan struktur
permasalahan, memberikan semua batasan dalam perumusan masalah, dan
menentukan fokus penelitian.
Prinsip deteksi fenomena berkaitan dengan penyulingan fenomena dari data,
dan dimulai dari reduksi data menggunakan metode statistik atau dengan berbagai cara
misalnya dengan reliabilitas data sehingga membentuk basis untuk mengakui bahwa
fenomena itu benar-benar ada. Penggunaan metode statistik hanya sebagai bantuan
langsung dalam pendeteksian fenomena, tetapi bukan dalam konstruksi teori-teori yang
bersifat menjelaskan. Dalam hal ini harus dibedakan antara fenomena dan data.
Fenomena meliputi objek, keadaan, proses, dan peristiwa ataupun ciri lain. Sedangkan
271
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
data merupakan rekaman atau laporan yang secara perseptual dapat diakses dan
diamati serta terbuka bagi pemeriksaan publik. Dengan demikian, data berada dalam
fakta dan data bertindak sebagai bukti bagi fenomena yang diteliti.
Penurunan teori (theory generation) berkaitan dengan pola kerja dengan
penalaran induktif yang dapat juga membentuk perumusan ide-ide teoretis. Glasser dan
Strauss (di dalam Emzir, 2015:203) menjelaskan bahwa grounded theory muncul
secara induktif dari sumber data sesuai dengan metode “constant comparison” atau
“perbandingan tetap”. Sebagai suatu metode penemuan, metode perbandingan tetap
merupakan campuran pengodean sistematis, analisis data, dan prosedur sampling
teoretis yang memungkinkan peneliti membuat penafsiran pengertian dari sebagian
besar pola yang berbeda dalam data dengan pengembangan ide-ide teoretis pada level
abstraksi yang lebih tinggi, daripada deskripsi data awal. Metode perbandingan tetap
juga sebaiknya mengacu pada pola abduktif secara alami. Pola abduktif mencirikan
kesimpulan kreatif yang bersifat ilmiah yang dilibatkan dalam penurunan teori dengan
sejumlah besar heuristik yang melalui proses kodefikasi sehingga mampu
menghasilkan penjelasan potensial dari fenomena yang terkadang membingungkan.
Prinsip pengembangan teori dalam metodologi grounded theory berhubungan
dengan pola bahwa teori sebagai suatu proses sebagai suatu kesatuan yang pernah
berkembang, bukan sebagai suatu produk yang sempurna. Cara dalam
mengembangkan teori dasar dapat melihat suatu perspektif baru dan mekanisme
generatif dalam menjelaskan efek yang berbeda dari suatu kasus. Teori juga dapat
diturunkan secara abduktif dan dikembangkan melalui perluasan analogis.
Prinsip penilaian teori (theory appraisal) berkaitan dengan bagaimana sebuah
teori mengandung data yang empiris dan terpercaya. Beberapa penilaian teori yaitu
dengan metode AEA yang mempertimbangkan penilaian sistematis teori-teori yang
sudah matang yang secara esensial menjadi materi kesimpulan pada penjelasan yang
paling baik dibandingkan dengan bukti saingannya. Kemudian, cara kedua dengan cara
koherensi eksplanatori oleh Thagard. Koherensi eksplanatori diterapkan dengan
operasi tujuh prinsip, yaitu simetris, penjelasan, analogi, prioritas data, kontradiksi,
kompetisi, dan keberterimaan. Dalam menentukan koherensi eksplanatori suatu teori
272
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
disusun dalam tiga kriteria, yaitu (1) consilience yang berarti menjelaskan secara luas,
(2) penyederhanaan, dan (3) analogi.
Prinsip yang terakhir yaitu grounded theory yang direkonstruksi. Prinsip ini
mengandung makna bahwa penelitian grounded theory sebagai metode ilmiah umum
yang bekerja dalam merekonstruksi teori secara filosofis dan dipahami sebagai suatu
laporan akurat.
3. Jenis-jenis Penelitian Grounded Theory
Creswell (2015:848-857) mengemukakan bahwa penelitian grounded theory
terbagi menjadi tiga rancangan, yaitu rancangan sistematis, rancangan emerging
design, rancangan konstruktivistik. Rancangan sistematis menekankan pada
penggunaan langkah-langkah analisis data yang berupa coding terbuka, aksial, dan
selektif serta pengembangan suatu paradigma logis atau gambar visual dari teori yang
dihasilkan. Ada tiga istilah dalam coding, yaitu open coding, axial coding, dan selective
coding. Open coding (pengodean terbuka) merupakan jenis pengodean dari data yang
diperoleh dari beberapa sumber dengan cara memberikan kategori yang diperluas
dengan kategori khusus, properti, dan dimensionallized properties. Axial coding
(pengodean aksial) bersifat kategori yang dihubungkan dengan kategori lain yang
mempunyai kondisi kausal/penyebab (faktor yang mempengaruhi fenomena inti),
strategi (tindakan yang diambil dalam merespons fenomena inti), dan kondisi
kontekstual serta intervening (faktor situasional khusus dan umum yang memengaruhi
strategi), dan konsekuensi (hasil dari menggunakan strategi). Fase ini melibatkan
penggambaran diagram yang disebut coding paradigm yang memotret antar hubungan
antara kondisi kausal, strategi, kondisi kontekstual intervening, dan konsekuensi.
Kemudian, selective coding menyediakan penjelasan abstrak untuk proses yang
sedang diteliti dalam proses penelitian. Tahapan selective coding bekerja dengan
menulis alur cerita yang menghubungkan kategori dan menyortir memo pribadi tentang
ide teoretis.
Rancangan kedua, yaitu rancangan emerging design yang dikembangkan oleh
Glaser (1992 dalam Creswell, 2015, 885-886) memiliki sifat konseptual yang paling
abstrak dan teori didasarkan pada data dan tidak dipaksa menjadi teori, serta harus
memiliki kriteria cocok (fit), bekerja (work), relevan, dan dapat dimodifikasi
273
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
(modifiability). Prosedur rancangan emerging design dengan prosedur yang
menghasilkan kategori dengan memeriksa data, memperhalus kategori menjadi
kategori yang semakin sedikit jumlahnya, membandingkan data dengan kategori yang
timbul, dan menulis suatu teori tentang beberapa proses yang terlibat dalam diskusi
kelas. Sedangkan rancangan konstruktivistik yang dikembangkan oleh Charmaz (2006)
menekankan pada makna yang dilekatkan oleh partisipan dalam suatu penelitian.
Tugas peneliti dalam rancangan ini menjelaskan perasaan individu ketika mereka
mengalami suatu fenomena atau proses serta menyebutkan keyakinan dan nilai peneliti
juga mengelakkan diri dari kategori yang telah ditetapkan sebelumnya. Kemudian,
naratif ditulis secara lebih eksplanatoris, lebih diskursif, dan menggali lebih dalam
asumsi dan makna bagi individu dalam penelitian.
4) Teknik Pengumpulan Data Penelitian Grounded Theory
Emzir (2015:209-210) mengemukakan bahwa teknik atau metode pengumpulan
data penelitian grounded theory dapat berupa wawancara, pengamatan, dan dokumen.
Wawancara sebaiknya didasarkan pada beberapa pertemuan di lapangan sehingga
mampu menyerap atau menemukan informasi yang kontinu untuk menambah hingga
tidak ada lagi yang dapat ditemukan suatu kategori. Kategori yang baik harus mampu
mewakili unit informasi yang tersusun dari peristiwa, kejadian, dan instansi. Kemudian,
untuk data pengamatan dan dokumen dilakukan secara zigzag yaitu dengan keluar
lapangan untuk memperoleh informasi, menganalisis data, dan seterusnya. Khusus
untuk wawancara, partisipan yang akan diwawancarai dipilih secara teoretis sehingga
mampu membantu peneliti membentuk teori yang paling baik. Dengan menggunkan
teknik atau metode wawancara, pengamatan, dan dokumentasi mampu memberikan
informasi yang kompleks dan mendalam sehingga nantinya dapat membandingkan
informasi dengan kategori yang muncul atau disebut dengan metode komparatif
konstan.
5) Prosedur dan Teknik Analisis Data Penelitian Grounded Theory
Creswell (2015: 878-882) mengemukakan bahwa prosedur penelitian grounded
theory, di antaranya: (1) memutuskan apakah rancangan grounded theory adalah
rancangan terbaik untuk menjawab permasalahan penelitian. Rancangan grounded
theory tepat digunakan apabila kita ingin mengembangkan atau memodifikasi teori,
274
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
menjelaskan proses, dan mengembangkan abstraksi umum tentang interaksi dan
tindakan banyak orang; (2) Mengidentifikasi proses untuk diteliti; (3) mencari
persetujuan dan akses, berarti harus mendapatkan persetujuan dari dewan peninjau
institusional dan membutuhkan akses ke individu-individu yang dapat memberikan
insight tentang proses yang direncanakan; (4) melaksanakan pengambilan sampel
teoretis yang biasanya mencari partisipan yang akan diwawancarai; (5) mengode data;
(6) menggunakan selective coding dan mengembangkan teori; (7) memvalidasi teori
bias dengan triangulasi, memeriksa data terhadap kategori, dan membandingkan
dengan proses yang sudah ada yang ditemukan dalam kepustakaan; dan (8) menulis
laporan penelitian grounded theory.
Kemudian, teknik analisis data penelitian grounded theory dijelaskan oleh
Strauss dan Corbin (dalam Emzir, 2012:137) terdiri atas beberapa langkah sebagai
berikut:
a. Pengodean terbuka (open coding), dalam hal ini peneliti membentuk kategori awal
dari informasi tentang fenomena yang dikaji dengan pemisahan informasi menjadi
beberapa segmen. Dalam setiap kategori, peneliti menemukan beberapa propertics,
atau subkategori, dan mencari data untuk membuat dimensi atau memperlihatkan
kemungkinan ekstrim pada kontinum property tersebut.
b. Pengodean berporos (axial coding), dalam hal ini peneliti bekerja merakit data
dalam cara baru setelah open coding. Rakitan data ini dipresentasikan
menggunakan paradigma pengodean atau diagram logika yang mana peneliti
mengidentifikasi fenomena sentral, menjajaki kondisi kausal (kategori yang
memengaruhi fenomena), menspesifikasikan strategi (yaitu tindakan atau interaksi
yang dihasilkan dari fenomena sentral), mengidentifikasi konteks dan kondisi yang
menengahinya (kondisi luas dan sempit yang memengaruhi strategi), dan
menggambarkan konsekuensi (hasil dari strategi ) untuk fenomena tersebut.
c. Pengodean selektif (selective coding), dalam hal ini peneliti mengidentifikasi “garis
cerita” dan menulis cerita yang mengintegrasikan kategori dalam model pengodean
poros. Pada tahap ini, proposisi bersyarat (conditional propositions) atau hipotesis
biasanya disajikan.
275
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Setelah melakukan ketiga tahap tersebut, peneliti dapat mengembangkan dan
menggambarkan secara visual suatu matrik kondisional yang menjelaskan kondisi
sosial, historis, dan ekonomis yang memengaruhi fenomena sentral.
6) Contoh Penelitian Grounded Theory
Penelitian Grounded Theory dapat dicontohkan dari hasil penelitian yang
dilakukan oleh Ostovar dan Namaghi dengan judul “Teaching as a Diciplined Act: A
Grounded Theory”. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi mengapa pengajaran
bahasa di sekolah-sekolah menengah umum di Iran begitu dangkal dan terputus dari
beasiswa. Data wawancara dikumpulkan dan dianalisis melalui prosedur Grounded
Theory. Pengumpulan data dan analisis berulang menghasilkan mengajar sebagai
tindakan disiplin sebagai kategori inti. Guru melakukan apa yang mereka ketahui
karena arahan yang mengikat dan surat edaran untuk menentukan satu set tindakan
yang diperbolehkan. Set tindakan ini kemudian sebagai praktek naturalisasi yang baik
melalui tim pengajaran, skema evaluasi, dan kriteria promosi. Praktik disiplin
memerlukan skill karena guru tidak menemukan kesempatan untuk menggunakan
pengetahuan dan keterampilan profesional mereka.
D.CONTOH SISTEMATIKA METODOLOGI PENELITIAN ETNOGRAFI
Judul (Mantra Masyarakat Banten Kajian Etnografi di Kabupaten Tangerang)
A.Tujuan Penelitian
Penelitian harus mempunyai tujuan dan maksud tertentu, dalam
penelitian ini, tujuan yang ingin hendak dicapai adalah:
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh
pemahaman mendalam tentang puisi lama (Mantra) Banten. Yang merupakan salah
satu puisi lama /sastra lisan sebagai warisan budaya masyarakat Kabupaten
Tangerang.
276
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan Klasifikasi dan bentuk puisi lama (Mantra)
Banten dalam masyarakat Kabupaten Tangerang.
b. Mendeskripsikan Ciri khas kebahasaan puisi lama (Mantra) Banten
dalam masyarakat Kabupaten Tangerang.
c. Mendeskripsikan Penggunaan puisi lama (Mantra) Banten dalam
masyarakat Kabupaten Tangerang..
d. Mendeskripsikan fungsi puisi lama (Mantra) Banten dalam
kehidupan masyarakat Kabupaten Tangerang.
e. Melestarikan sastra lisan sebagai warisan budaya sehingga tidak
punah.
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1) Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Tangerang, yang merupakan salah satu
dari Kabupaten yang berada di Lingkungan Provinsi Banten. Kabupaten Tangerang
terdiri dari 29 Kecamatan yaitu: Kecamatan Balaraja, Kecamatan Kresek, Kecamatan
Gunung Kaler, Kecamatan Jayanti, Kecamatan Sukamulya, Kecamatan Mekar Baru,
Kecamatan Kronjo, Kecamatan Mauk, Kecamatan Kemiri, Kecamatan Rajeg,
Kecamatan Pasar Kemis, Kecamatan Sindang Asih, Kecamatan Cikupa, Kecamatan
Karawaci, Kecamatan Sepatan, Kecamatan Sepatan Timur, Kecamatan Sukadiri,
Kecamatan Paku Haji, Kecamatan Teluk Naga, Kecamatan Kelapa Dua, Kecamatan
Jambe, Kecamatan Cisoka, Kecamatan Cisauk, Kecamatan Panongan, Kecamatan
Solear, Kecamatan Legok, Kecamatan Curug.
2) Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian didasarkan pada jawdal yang telah ditetapkan
sebelumnya. Jadwal tersebut dibuat, melalui saat observasi awal hingga pada
penulisan laporan penelitian. Tahap-tahapan pengumpulan data dirancang sistematis
277
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
sehingga dalam pelaksanaanya berjalan sangat efektif dan tak sedikit pun waktu
terbuang sia-sia. Tentu kendala ingin menemui informan yang diperlukan ternyata yang
bersangkutan tidak berada ditempat, namun kendala itu teratasi terutama karena
didasari oleh ketekunan dan kesabaran peneliti menunggu informan. Jadwal
pelaksanaan penelitian mulai dari Desember 2016.
C. Latar Penelitian
1) Deskripsi Latar/subjek
Latar /subjek dalam penelitian ini adalah kegiatan para tokoh adat,
orang pintar yang dipercaya mempunyai kepintaran tertentu. Masyarakat
Kabupaten Tangerang dalam arti sempit dan luas. Dalam arti sempit yaitu
pengobatan, asihan, jampe kesaktian, dan keselamatan, sebelum memulai
kegiatan biasanya didahului dengan ngadoa/rajah/baca mantra oleh dukun/tokoh adat.
Dalam arti luas adalah tokoh adat dalam kategori orang pintar. Yaitu semua aktivitas
yang berkenaan dengan pengucapan mantra oleh para pawang, tokoh adat dan orang
pintar. Dalam penelitian ini subjek penelitiannya berupa teks atau korpus mantra
masyarakat Kabupaten Tangerang Banten.
1) Karakteristik Informan
Model penelitian etnografi memiliki karakteristik sebagai berikut :
(1) Mengetahui budayanya dengan baik, (2) terlibat langsung
(3) menerima tindakan budaya apa adanya, dan tidak akan berbasa basi, dan
(4) memiliki waktu yang cukup. Dalam hal ini peneliti menentukan informannya
secara acak mengingat penduduknya memiliki karakteristik yang sama.
278
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
2) Entri
Peneliti merupakan orang asli pribumi yang dibesarkan dalam lingkungan
masyarakat tersebut, dan sangat mengenal budaya masyarakat sekitar,
baik bahasa maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Selain itu peneliti juga
merupakan asli masyarakat sekitar yang lahir dan di besarkan di Kabupaten
Kabupaten.
3) Peran Peneliti
Peneliti yang merupakan asli orang pribumi Kabupaten Tangerang sangat
mengenal seluk beluk budaya masyarakat Kabupaten Tangerang dalam hal ini
mantra Banten. Peneliti tidak kesulitan mendapatkan data yang dibutuhkan,
karena keseharian peneliti sangat akrab dengan aktivitas masyarakat.
Peneliti juga dibantu oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa
Indonesia Universitas Muhammadiyah Tangerang. Kegiatan penelitian
semacam ini berfungsi untuk menghasilkan penelitian yang komprehensif dan
menyeluruh.
D. Metode dan Prosedur Penelitian
1. Metode Penelitian
Menurut Ratna (2009:34) Metode dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk
memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab
akibat berikutnya. Sebagai alat sama dengan teori, metode berfungsi untuk
menyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif dan metode etnografi, karena
mendeskripsikan karekter suatu kelompok atau masyarakat sebagai subjek yang akan
diteliti.
279
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Sedangkan Sugoiyono (2009:15) Metode penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti
pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci,
pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik
pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis dan bersifat induktif/kualitaif, dan
hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Tetapi Fatimah (2010:11) Metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang dapat diamati. Metodologi kualitatif merupakan prosedur yang
menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan di masyarakat bahasa.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendekatan kualitif yang menggunakan data lisan suatu
bahasa memerlukan informan. Pendekatan yang melibatkan masyarakat bahasa ini
diarahkan pada latar dan individu yang secara holistik sebagai bagian dari suatu
kesatuan yang utuh.
Metode etnografi pada dasarnya merupakan bidang yang sangat luas dengan
variasi yang sangat besar dari praktisi dan metode. Bagaimanapun, pendekatan
etnografi secara umum adalah pengamatan berperan serta sebagai bagian dari
penelitian lapangan menurut Moleong (2007:26) Etnografi adalah kajian tentang
kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat
istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, dan bahasa. Sedangkan Sumarsono (2012:309)
Metode etnografi merupakan salah satu strategi penelitian kualitatif yang di dalamnya
peneliti menyelidiki suatu kelompok kebudayaan di lingkungan yang alamiah dalam
periode waktu yang cukup lama dalam pengumpulan data utama, data observasi, dan
280
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
data wawancara. Akan tetapi menurut Creswell (2010:20) Metode etnografi adalah
sebuah metode penelitian yang bermanfaat dalam menemukan pengetahuan yang
tersembunyi dalam suatu budaya atau komunitas. Tidak terdapat consensus tentang
apakah makna budaya secara pasti, tetapi sebagian besar ahli sosiologi dan antropolgi
percaya bahwa budaya merujuk pada sikap, oengetahuan, nilai-nilai. Dan kepercayaan
yang memengaruhi perilaku dari suatu kelompok tertentu. Senada juga pendapat Emzir
(2010:18) Penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah,
dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang
tertarik secara alamiah. Jelas definisi ini memberikan gambaran bahwa penelitian
kualitatif mengutamakan latar alamiah, metode alamiah, dan dilakukan oleh orang yang
mempunyai perhatian alamiah, penelitian kualitatif adalah upaya menyajikan dunia
sosial , dan perspektifnya di dalam unia, dari segi konsep, perilaku, persepsi, dan
persoalan tentang manusia yang diteliti.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang
tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Penelitian
kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti yang
rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik yang rumit. Secara lebih spesifik
moleong mendefnisikan penelitian kualitaif adalah penelitian yang bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya
perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan dengan cara deskripsi
dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
281
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Selain menggunakan metode etnografi untuk menyelidiki budaya mantra
masyarakat Kabupaten Tangerang, dalam penelitian ini juga menggunakan metode
analisis isi untuk memahami makna yang terkandung dalam mantra.
Jadi dalam penelitian kualitatif adalah penelitian yang memaparkan fenomena
alamiah secara holistik dan dengan cara mendeskripsikan data lisan yang dihasilkan
dari metode etnografi dengan dalam bentuk kata-kata dan bahasa, juga dalam hal ini
untuk mengkaji mantra menggunakan analisis ini.
2.Prosedur Penelitian
Pendekatan kualitatif dalam mendesain studi berisi fitur-fitur yang unik. Pertama,
peneliti merencanakan suatu pendekatan umum untuk studi, suatu rencana yang detail
tidak akan cukup memberikan isu-isu penting yang berkembang dalam suatu studi
lapangan. Kedua sebagian isu merupakan problematika bagi peneliti kualitatif, seperti
sebarapa sebarapa banyak literatur yang dimasukan dalam studi tersebut, seberapa
banyak teori harus mengarahkan studi, dan apakah seseorang memerlukan verifikasi
atau laporan tentang ketepatan perhitungan. Ketiga, format aktual untuk suatu studi
kualitatif bervariasi apabila dibandingkan dengan format penelitian tradisional.
Penelitian kualitatif menggunakan metode-metode ilmiah dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi sebuah topik atau fokus.
2) Melakukan tinjauan pustaka.
3) Mendefnisikan peran peneliti.
4) Mengelola jalan masuk lapangan dan menjaga hubungan baik di lapangan.
282
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
5) Memilih partisipan.
6) Menulis pertanyaan-pertanyaan bayangan.
7) Pengumpulan data.
8) Analisis data.
9) Interpretasi dan disseminasi hasil.
Langkah-langkah penelitian kualitatif dengan metode etnografi sebagai berikut:
1) Menetapkan informan yang memiliki syarat, yaitu (1) mengetahui budayanya
dengan baik, (2) terlibat langsung, (3) menerima tindakan budayanya apa
adanya, tidak basa-basi, (4) memiliki waktu yang cukup.
2) Melakukan wawancara dengan informan secara kekeluargaan dengan
menginformasikan tujuan etnografi yang meliputi perekaman, pencatatan,
wawancara dan dokumentasi. Wawancara hendaknya dilakukan secara alamiah
sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi informan.
3) Membuat catatan etnografi yang berupa laporan ringkas, laporan yang diperluas,
atau jurnal lapangan untuk diberikan analisis dan interpretasi.
4) Mengajukan pertanyaan deskriptif yang bertujuan merefleksikan konteks
setempat.
5) Melakukan analisis wawancara etnografi,yaitu yang dikaitkan dengan simbol dan
makna yang disampaikan informan. Tugas peneliti adalah memberikan sandi
simbol-simbol budaya serta mengidentifikasi aturan-aturan penyandian.
6) Membuat analisis domain, yakni peneliti membuat istilah pencakupan tentang
apa yang dinyatakan informan. Istilah domain harus memiliki hubungan semantis
yang jelas.
283
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
7) Mengajukan pertanyaan struktural, yakni bertujuan untuk melengkapi pertanyaan
deskriptif.
8) Membuat analisis taksonomi, yakni memfokuskan pertanyaan yang telah
diajukan.
9) Mengajukan pertanyaan yang kontras, yaitu untuk mencari makna yang berbeda.
10) Membuat analisis komponen, yakni dilakukan pada saat kita telah berada di
lapangan. Hal ini untuk menjaga fleksibilitas data, yang memungkinkan
tambahan data melalui wawancara ulang maupun dengan informan.
11) Menemukan tema-tema budaya, yang merupakan puncak analisis etnografi.
12) Menulis etnografi, yakni membuat karya tulis berdasarkan dari hasil penelitian.
Menulis etnografi dilakukan secara deskriptif dengan bahasa yang lugas dan
jelas. (Emzir,2010:14).
Menurut Moleong (2013:127) Tahapan/prosedur penelitian sebagai berikut:
1. Tahap pra-lapangan
1) Menyusun rancangan penelitian
Tahap ini mulai dari penyusunan proposal meliputi latar belakang masalah,
fokus penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian, kajian pustaka,
dan metode penelitian.
2) Memilih lapangan penelitian
Cara terbaik yang perlu ditempuh dalam penentuan lapangan penelitian ialah
dengan jalan mempertimbangkan teori substantif dan dengan mempelajari
serta mendalami fokus serta rumusan masalah penelitian. Memilih lapangan
284
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
untuk melihat apakah terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang ada di
lapangan.
3) Mengurus perizinan
Pertama-tama yang perlu diketahui oleh peneliti ialah siapa saja yang
berwenang memberikan izin bagi pelaksanaan penelitian. Tentu saja peneliti
jangan mengabaikan izin meninggalkan tugas yang pertama-tama perlu
dimintakan dari atasan peneliti sendiri.
4) Menjajaki dan menilai lapangan
Tahap ini belum sampai pada titik yang menyingkapkan bagaimana penelitian
masuk lapangan dalam arti mulai mengumpulkan data yang sebenarnya.
5) Memilih dan memanfaatkan informan
Informan adalah orang-dalam pada latar penelitian. Fungsinya jelas bukan
sebagai informan polisi yang biasanya diambil dari bekas penjahat kemudian
dimintakan mengawasi sambil melaporkan perbuatan kriminal bekas-rekan-
rekannya sehingga mereka secepatnya dapat tertangkap.
6) Menyiapkan perlegkapan penelitian
Peneliti hendaknya menyiapakan tidak hanya perlengkapan fisik, tetapi
segala macam perlengkapan penelitian yang diperlukan.
7) Persoalan etika penelitian
Salah satu ciri utama penelitian kualitatif ialah orang sebagai alat atau
sebagai instrumen yang mngumpulkan data. Hal itu dilakukan dalam
pengamatan berperanserta, wawancara mendalam, pengumpulan dokumen,
foto, dan sebagainya.seluruh metode itu pada dasarnya menyangkut
285
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
hubungan peneliti dengan orang atau subjek penelitian. Peneliti akan
berhubungan dengan orang-orang , baik secara perseorangan maupun
secara kelompok atau masyarakat, akan bergaul, hidup, dan merasakan
serta menghayati bersama tata cara dan tata hidup dalam masyarakat itu
biasanya ada sejumlah peraturan, norma agama, nilai sosial, hak dan nilai
pribadi, adat, kebiasaan, tabu, dan semacamnya, yang hidup dan berada di
antara mereka.
2. Tahap pekerjaan lapangan
1) Memahami latar penelitian dan persiapan diri
Untuk memasuki pekerjaan di lapangan, peneliti perlu memahami latar
penelitian terlebih dahulu. Di samping itu, ia perlu mempersiapkan dirinya,
baik secara fisik maupun secara mental di samping ia harus mengingat
persoalan etika. Peneliti hendaknya mengenal adanya latar terbuka dan latar
tertutup. Di samping itu, peneliti hendaknya tahu menempatkan diri, apakah
sebagai peneliti yang dikenal atau yang tidak dikenal.
2) Memasuki lapangan
Dalam tahap ini ada tiga kriteria yang harus diperahtikan yaitu: keakraban
hubungan, mempelajari bahasa, dan peran penelti.
3) Berperanserta sambil mengumpulkan data
Pada tahap akhir ini peneliti memerinci pekerjaan sebagai berikut:
pengarahan batas studi, mencatat data lapangan, petunjuk tentang cara
mengingat data, kejenuhan, keletihan, dan istirahat, meneliti suatu latar yang
didalamnya terdapat pertentangan, dan yangterakhir analisis lapangan.
286
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
3. Tahap analisis data menurut Mahsun (2014:119) adalah sebagi berikut:
1) Analisis data.
1) Metode padan Intralingual
Metode ini adalah metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan
unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa
maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda.
2) Metode padan ekstralingual
Metode ini digunakan untuk menganalisis unsur yang bersifat
ekstralingual, seperti menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang
berada di luar bahasa.
Analisis Etnografi menurut Spradley (1997:140) sebagai berikut:
1) Analisis domain
Dengan menggunakan konsep-konsep relasional ini, etnografer dapat
menemukan sebagian besar prinsip-prinsip yang dimiliki oleh sebuah
kebudayaan untuk menyusun simbol-simbol ke dalam domain-domain.
Analisis domain dimulai dari penggunaan hubungan-hubungan semantik.
2) Analisis taksonomik
Yaitu analisis yang mengarah perhatian si peneliti pada struktur internal
dari domain-domain itu.
3) Analisis komponen
Analisis komponen merupakan suatu pencarian sistematik berbagai
atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol
budaya.
287
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
4) Analisis tema budaya
Analisis tema budaya sebagi prinsip kognitif yang bersifat tersirat maupun
tersurat berulang dalam sejumlah domain dan berperan sebagai suatu
hubungan diantara berbagai subsistemmakna budaya.
3) Interpretasi data
Intepretasi data yaitu menulis hasil kajian untuk memaparkan hasil kajian
etnografi.
Dari uraian di atas peneliti menyintesis prosedur penelitian sebagai berikut:
1) Menyusun rencana penelitian
2) Mengidentifikasi fokus
3) Memilih informan
4) Melakukan wawancara
5) Mengorganisir dan mengklasifikasikan data wawancara
6) Memvalidasi data
7) Menganalisis data
E. Data dan Sumber Data
Menurut Sugiyono (2011:6) Dalam penelitian kualitif istilah data merujuk pada
material kasar yang dikumpulkan peneliti dari dunia yang sedang diteliti; data adalah
bagian-bagian khusus yang membentuk dasar-dasar analisis. Data meliputi apa yang
dicatat orang secara aktif selama studi, seperti transkrip wawancara dan catatan
lapangan, observasi. Data juga termasuk apa yang diciptakan orang lain dan yang
ditemukan peneliti, seperti catatan harian, fotograf, dokumen resmi dan artikel surat
288
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
kabar. Data adalah bukti dan sekaligus isyarat. Data kualitatif adalah data yang
berbentuk kata, kalimat, gerak tubuh, ekspresi wajah, bagan, gambar, dan foto.
1.Jenis Data
Data kualitatif dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu data kualitatif empiris
dan data kualitatif bermakna. Data kualitatif empiris adalah data sebagaimana adanya
(tidak diberi makna), sedangkan data kualitatif bermakna adalah data dibalik fakta yang
tampak. Jenis data dibagi ke dalam empat jenis, yaitu:
a. Kata-kata dan tindakan.
b. sumber tertulis,
c. foto
d. Data statistik.
2. Sumber Data
Sumber data primer adalah data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data, yaitu Mantra masyarakat Kabupaten Tangerang. Data diambil dari
setiap Kecamatan, mengingat keterbatasan penelitian maka data dalam penelitian ini
dibatasi pada pengambilan sampel di setiap Kecamatan diambil 2 informan secara
random sampling menggunakan teknik ordinal (tingkatan sama), pengambilan data
sampel ini merujuk pendapat ahli. Sekedar ancer-ancer, maka apabila subjeknya
kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian
populasi. Tetapi, jika jumlah sebjeknya besar, dapat diambil antara 10-15% atau 20%-
25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari:
a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana.
289
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari subjek, karena hal ini, menyangkut
banyak sedikitnya data.
c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang
resikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik.
(Suharsimi, 2006:134).
Kebanyakan peneliti beranggapan bahwa semakin banyak sampel, Atau
semakin besar persentase sampel dari populasi, hasil penelitian akan semakin baik.
Anggapan ini benar, tetapi tidak selalu demikian hal ini tergantung dari sifat-sifat atau
ciri-ciri yang dikandung oleh banyak penelitian dalam populasi. Selanjutnya sifat-sifat
atau ciri-ciri tersebut bertalian erat dengan homogenitas subjek dalam populasi.
Data sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan
data kepada pengumpul data, misalnya dokumen. Observasi, wawancara, dokumen
pribadi dan resmi, foto, rekaman, gambar, dan percakapan informal semuanya
merupakan sumber data kualitatif. Sumber yang paling umum digunakan adalah
observasi, wawancara, dan dokumen, kadang-kadang dipergunakan secara
bersama-sama, dan kadang-kadang secara individual. Semua jenis data ini memiliki
satu aspek kunci secara umum: analisisnya terutama tergantung pada keterampilan
integrative dari peneliti. Interpretasi diperlukan karena data yang dikumpulkan
jarang berbentuk angka dan arena data kaya rincian dan panjang
F.Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai
sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan
290
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi