bertujuan mengukur perubahan dan pretest untuk menilai perbedaan antara
kedua kelompok sebelum distudikan. Oleh karena itu, sangat perlu kedua
keompok diperlakukan dengan cara yang sama untuk mengontrol sebagai
sosialisasi, demikian pula dengan mengizinkan kelompok kontrol untuk
berperan serta dalam berbagai kegiatan.
b. Desain Hanya kelompok Kontrol Postest (The Posttest-Only Control
Group Design)
Desain Hanya kelompok Kontrol Postest adalah sama dengan Desain
Kelompok Kontrol Prates-Postes, tetapi tidak ada pretest, subjek-subjek
paling sedikit dua kelompok dan dibentuk dengan acak. Kemudian, dilakukan
perlakuan terhadap kelompok tersebut. Post test diberikan kepada setiap
subjek untuk menentukan jika ada perbedaan antara kedua kelompok.
c. Desain Solomon Empat Kelompok (The Solomon Four-Group Design)
Desain Solomon Empat Kelompok merupakan kombinasi dari “The
Pretest-Posttest Control Group Design dan The Posttest-Only Control Group
Design”. Desain ini menempatkan subjek secara random pada salah satu dari
empat kelompok. Dua kelompok diberikan pretest dan dua kelompok tidak,
satu dari kelompok pretest dan satu dari kelompok nonpretest diberi
perlakuan eksperimental. Keempat kelompok diberi postes. Masing-masing
memiliki sumber ketidakvalidan (interaksi perlakuan-pretes dan moralitas
masing-masing) kombinasi dua desain ini menghasilkan desain yang
mengontrol interaksi perlakuan prates dan moralitas. Cara yang benar untuk
menganalisis data yang dihasilkan melalui aplikasi desain, analisis varian
faktorial 2x2. Dua variabel bebas adalah variabel perlakuan dan variabel
pretest, dengan kata lain, apakah suatu kelompok diberikan pretest atau tidak
adalah variabel bebas, hanya karena ia sebagai variabel eksperimental.
Analisis faktorial mengatakan pada peneliti apakah perlakuan efektif dan
apakah ada interaksi antara perlakuan secara berbeda pada post test
141
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
daripada kelompok yang tidak diberi prates, maka terawat kemungkinan
suatu interaksi pretest-perlakuan.
3. Desain Experimental Semu (Quasi-Experimental Designs)
a. Desain Kelompok Kontrol yang Tidak Sepadan (The Nonequivalent
Control Group Design)
Desain ini sagat mirip dengan pretest-posttest kontrol group design
yang telah dibahas sebelumnya. Desain Kelompok Kontrol yang tidak
sepadan merupakan dua kelompok perlakuan yang dilakukan pretest
perlakuaan dan postes. Kekurangan penempatan secara random menambah
sumber ketidakvalidan yang tidak dapat diasosiaikan dengan desain
kelompok kontrol prates-postes, mungkin regresi dan interaksi antara
pemilihan dan variabel seperti maturasi, histori, dan testing. Kelompok yang
lebih sama, yang lebih baik, peneliti melakukan segala usaha untuk
menggunakan kelompok yang sedapat mungkin sama.
Perbandingan kelas aljabar tingkat lanjut dengan suatu kelas aljabar
remedial, sebagai contoh, tidak akan digunakan unuk menyamakan secara
statistik, analisis kovarian dapat digunakan untuk menyamakan secara
statistik kelompok tersbut. Keuntungan desain ini adalah bahwa kelas-kelas
yang digunakan sebagaimana adanya, pengaruh yang mungkin dari
penyelenggaraan reaktif dapat dikurangi. Subjek penelitian tidak menyadari
bahwa mereka dilibatkan dalam studi. Sebagaimana dalam desain kelompok
kontrol pretest-postes, desain kelompok yang tidak sepadan dapat
merepresentasikan X1 dab X2 daripada X lawan tanpa X dan juga dapat
diperluas dengan melibatkan lebih dari dua kelompok.
b. Desain Rangkaian Waktu (The Time-Series Design)
Desain rangkaian waktu merupakan suatu ketelitian/elaborasi dari
desain satu kelompok pretest-postest. Satu kelompok diberi pretest
berulangkali, diberikan perlakuan, kemudian diberikan postes berungkali. Jika
skor suatu kelompok secara perlu sama pada sejumlah pretest dan kemudian
secara signifikan meningkat mengikuti perlakuan, penelitian akan lebih yakin
tentang keefektifan perlakuan daripada hanya diberikan satu pretest dan satu
142
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
postest. Sebagai contoh, jika seorang dosen statistik mengukur kecemasan
beberapa kali sebelum memberikan buku kecilnya kepada mahasiswanya,
dia akan dapat melihat jika kecemasan berkurang secara alamiah. Namun,
historis masih merupakan masalah dalam desain ini, karena sesuatu mungkin
terjadi antara pretest terakhir dan awal postest, efek yang dikacaukan dengan
perlakuan. Instrumen juga mungkin menjadi masalah, tetapi bukan masalah
yang diharapkan jika tidak untuk beberapa alasan penelitian mengubah
instrumen mengukur selama penelitian. Interaksi pretest, perlakuan juga
merupakan masalah validasi. Jelaskan bahwa jika satu pretest dapat
berinteraksi dengan suatu perlakuan, maka lebih dari satu pretest hanya
dapat membuat persoalan lebih buruk.
Sementara analisis statistik yang tepat untuk desain ini adalah analisis
statistik yang agak lanjut, penentuan keefektifan perlakuan secara mendasar
melibatkan analisi pola dari skor tes.
c. Desain Berimbang ( Conterbalanced design)
Dalam desain berimbang semua kelompok menerima semua
perlakuan, tetapi dalam urutan yang berbeda. Dalam desain untuk tiga
kelompok dan tiga perlakuan, jumlah kelompok dapat dilibatkan dua atau
lebih, pembatasanya adalah jumlah kelompok sama dengan jumlah
perlakuan. Urutan kelompok dalam menerima perlakuan ditentukan secara
random. Sementara subjek mungkin mendapat pretest, desain ini biasanya
dilakukan bila kelompok yang ada harus digunakan dan bila pelaksanaan
pretest tidak mungkin dan mungkin dilakukan. Perbandingan kelompok statis
juga dapat digunakan dalam situasi seperti itu, tetapi desain berimbang dapat
mengontrol beberapa sumber ketidakvalidan tambahan. Sebagai contoh,
anggaplah terdapat tiga kelompok dan tiga perlakuan (atau dua perlakuan
dan satu kelompok kontrol). Kelompok 1 menerima perlakuan 1 dan posttest,
kemudian menerima perlakuan 2, dan posttes, kemudian menerima
perlakuan 3 dan posttest. Kelompok 2 menerima perlakuan 3, kemudian
perlakuan 1, dan kemudian perlakuan 2, dan diberi posttes setelah masing-
masing perlakuan. Kemudian kelompok 3, kemudian menerima 1, dan diberi
143
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
posttest setelah masing-masing perlakuan. Untuk menentukan keefektifan
perlakuan, rata-rata performasi kelompok untuk setiap perlakuan dapat
dibandingkan. Dengan kata lain, skor posttest semua kelompok untuk
perlakuan pertama dapat dibandingkan dengan skor posttest dari semua
kelompok untuk perlakuan kedua, dan selanjutnya bergantung pada jumlah
kelompok dan perlakuan.
Satu kelemahan unik dari desain ini adalah interfensi perlakuan ganda
yang potensial yang dapat timbul bila kelompok yang sama menerima lebih
dari satu perlakuan. Dengan demikian, desain berimbang hanya digunakan
bila perlakuan-perlakuan seperti yang menyingkapkan pada yang satu tidak
akan memengaruhi evaluasi terhadap keefektifan yang lain. Tentu saja, tidak
banyak situasi dalam pendidikan yang terdapat kondisi seperti ini. Anda tidak
akan dapat mengajar kosep geometri yang sama kepada kelompok yang
sama menggunakan berbagai metode pengajaran yang berbeda. Terdapat
prosedur analisis canggih yang dapat diaplikasikan untuk menentukan baik
pengaruh perlakuan maupun pengaruh urutan perlakuan. Menurut Sugiyono
(2007:76). Desain eksperimen semu dapat digambarkan sebagi berikut:
Nonequivalent Control Group Design
O1 X O2
O1 X O2
Time Series Design
O1 O1 O1 X O2 O2 O2
Counterbalanced Design
X1 O2 X2 O2 X3 O2
X1 O2 X2 O2 X3 O2
X1 O2 X2 O2 X3 O2
Keterangan:
X = Perilaku
O1 = Pretes
O = Postes
R = Randomisasi
144
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
d. Desain Faktorial (Factorial Design)
Desain faktorail mengacu pada desain yang memliki lebih dari satu
variabel bebas dan sekurangnya satu yang dimanipulasi oleh peneliti. Tujuan
dasar dari desain ini adalah pengembangan (elaborasi) dari desain true-
experimental dan mengizinkan terhadap dua atau lebih variabel, secara
individual dan dalam interaksi satu sama lain. Dalam pendidikan, variabel
bebas diselidiki menggunakan secara terisolasi. Setelah satu variabel bebas
diselidiki menggunakan desain variabel tunggal, akan bermanfaat bila
kemudian meneliti variabel tersebut dalam kombinasi dengan satu atau lebih
variabel lain. Beberapa variabel bekerja secara berbeda pada tingkat-tingkat
yang berbeda terhadap variabel lain, satu metode pengajaran matematika
mungkin lebih efektif untuk siswa yang mempunyai bakat yang tinggi,
sementara metode yang lain mungkin lebih efektif untuk siswa yang
mempunyai bakat yang rendah.
Desain faktorial yang paling sederhana, 2x2, memerlukan empat
kelompok, sebagimana diilustrasikan dalam gambar berikut:
Contoh desai factorial 2 x 2
Variabel Eksperimen Jenis Pengajaran
Variabel Atribut (kontrol)
Terprogram Tradisional
Tinggi
IQ Rendah Kelompok-1 Kelompok-2
Kelompok-3 Kelompok-4
Adapun tujuan desain faktorial adalah untuk menentukan apakah efek
suatu variabel eksperimen dapat digeneralisasikan lewat semua level dari
suatu variabel kontrol dan desain faktorial dapat juga menunjukkan hubungan
yang tidak dapat dilakukan oleh desain eksperimen variabel tunggal.
145
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
D.CONTOH METODOLOGI PENELITIAN EKSPERIMEN
Judul (Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap
Kemampuan Menulis Teks Eksposisi Pada Siswa Kelas VII SMPN 1 Kronjo
Kabupaten Tangerang)
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Peneilitian ini dilakukan di SMPN 1 Kronjo Kabupaten Tangerang. Sekolah
ini berada di Desa Pagedangan Udik Kecamatan Kronjo Kabupaten Tengerang
Propinsi Banten
B. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan
kebenaran yang juga merupakan pemikiran kritis (critical thinking). Penelitian
meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, memformulasikan
hipotesis atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-
kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati untuk menentukan apakah ia
cocok dengan hipotesis”.(Siregar, 2014: 2).
Dalam metode kuantitatif peneliti menggunakan penelitian Quasi
Eksperimen dengan jenis Nonequivalent Control Group Desaign.
Nonequivalent Control Group Desaign. Peneliti menggunakan dua kelompok
yang terdiri atas kelompok eksperimen dalam menggunakan model Problem
Based Learning dan kelompok kontrol yang tidak menggunakan model Problem
Based Learning Pemilihan kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak
dipilih secara acak (random). Hasil pretest yang baik bila nilai kelompok
146
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
eksperimen tidak berbeda secara signifikasi, maka rancangan ini dapat
digunakan sebagai berikut:
Tabel . 1
Rancangan Penelitian
KELOMPOK PRETEST PERLAKUAN POSTTEST
X
EKSPERIMENTAL -
KONTROL
Keterangan: = Data hasil pretes/postest kelas eksperimental
X = Data hasil pretes/postest kelas kontrol
= Perlakuan yang dieksperimental
C. Populasi dan Sampel
Menurut Bungin (2006:30), adapun pengertian populasi dan sampel yaitu:
1) Populasi
“Populasi berasal dari bahasa inggris population yang berarti jumlah
penduduk. Dalam metode penelitian, kata populasi amat popular dipakai untuk
penyebutkan serumpun/sekolompok objek yang menjadi sasaran
penelitian.Populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek
penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara,
gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup dan sebagainya” .
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik SMPN 1
Kronjo Kabupaten Tangerang kelas VII, semester genap, Tahun Ajaran
2015-2016 yang terdiri dari empat kelas yaitu sebagai berikut:
147
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
No Kelas Tabel. 2
1 VII. A Jumlah Populasi
2 VII. B
3. VII C Jumlah Siswa
4. VII D 42
Jumlah 40
41
40
163
2) Sampel
Menurut Siregar (2014:30), sampel adalah suatu prosedur pengambilan
data dimana hanya sebagian populasi saja yang diambil dan dipergunakan
untuk menentukan sifat serta ciri yang dikehendaki dari suatu populasi Pada
penelitian ini, sampel diambil dengan cara memilih 2 kelas dan dari 4 kelas,
dimana 1 kelas akan dijadikan eksperimen dan 1 kelas lagi akan dijadikan
kelas kontrol.
Penelitian Eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab
akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau
lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi yang tidak dikenai
perlakuan” (Siregar, 2014: h.5).
Pada umumnya, penelitian eksperimental dilakukan dengan menempuh
langkah-langkah sebagai berikut :
148
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
1. Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan
permasalahan yang hendak dipecahkan.
2. Mengindentifikasi dan mendefinisikan masalah.
3. Melakukan studi literature dan beberapa sumber yang relevan,
memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan
merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
4. Membuat rencana penelitian yang di dalamnya mencangkup
a. Mengindentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi
memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen.
b. Menentukan cara mengontrol
c. Memilih rancangan penelitian
d. Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili
serta memilih sejumlah subjek penelitian.
e. Membagi subjek dalam kelompok control maupun kelompok
eksperimen.
f. Membuat instrument, memvalidasi instrument dan melakukan studi
pendahuluan agar diperoleh instrument yang memenuhi
persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan.
g. Mengindentifikasi prosedur pengumpulan data dan menentukan
hipotesis.
5. Melaksanakan eksperimen.
6. Mengumpulkan data kasar dan proses ekperimen.
149
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
7. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel
yang telah ditentukan.
8. Menganalisis data dan melakukan tes signifikasi dengan teknik
statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya (
Siregar, 2014: 6).
Adapun kelas yang dipilih adalah kelas VII.A sebagai kelas
eksperimen, merupakan kelas yang menggunakan model Problem Based
Learning dan kelas VII.B sebagai kelas control, merupakan kelas yang
tidak menggunakan model Problem Based Learning. Dalam pemilihan
kelas sampel ini penulis mnggunakan teknik purposive sampling dengan
berdiskusi dengan guru kelas VII.
Tabel. 3
Jumlah Sampel
Kelompok Kelas Jumlah Siswa
Eksperimen VII.B 40
Kontrol VII.D 40
D. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2002), “Teknik Pengumpulan Data yang umum digunakan
dalam penelitian adalah: Wawancara, Kuesioner dan Observasi” (Siregar, 2014
h. 18). Teknik pengumpulan dalam penelitian ini adalah :
150
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
1) Tes
Tes adalah pengukuran yang sudah direncanakan oleh guru untuk melihat
sejauhmana kemampuan yang dimiliki masing-masing siswa dengan tujuan yang
telah ditentukan.Tes yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah tes
berbentuk esay.
Tes yang akan dilakukan terbagi atas 2 bagian yaitu :
a) Pretes yaitu tes yang diberikan sesudah melaksanakan pembelajaran tanpa
memberikan perlakuan (tidak menggunakan model Problem Based Learning)
b) Postes yaitu tes yang diberikan sesudah melaksanakan pembelajaran
dengan memberikan perlakuan (menggunakan model Problem Based Learning).
E. Instrumen Variabel Terikat
1. Definisi Konseptual
Kemampuan menulis bagi para siswa adalah untuk menyalin, mencatat,
dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Tanpa memiliki kemampuan
menulis, siswa akan mengalami banyak kesulitan dalam melaksanakan tiga jenis
tugas tersebut. Sedangkan eksposisi adalah karangan yang bertujuan utama
untuk memberitahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu.
2. Definisi Operasional
Kemampuan menulis karangan teks eksposisi siswa merupakan hasil
belajar yang telah dicapai oleh siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Kemampuan menulis karangan teks eksposisi dapat diketahui dari hasil tes yang
telah dikerjakan oleh siswa adalah siswa harus mengetahui tema, penulisan
151
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
karangan teks eksposisi, ketepatan isi dalam paragraf, kesesuaian isi dengan
judul, ketepatan susunan kalimat, ketepatan penggunaan ejaan.
Tabel. 4
Kriteria Penilaian
No Aspek/ 4 Tingkat Kualitas 1
Kriteria 32
Memenuhi 3
Struktur struktur
1 Teks (identifikasi, Memenuhi 2 Memenuhi 1
Eksposi
klasifikasi, dan struktur struktur
si deskripsi
bagian)
2 Isi Dideskripsikan Dideskripsikan Dideskripsika Dideskripsika
sccara jelas, secara jelas n secara n secara
menarik, dan tetapi kurang biasa kurang biasa, tidak
efektif menarik dan menarik dan menarik dan
kurang efektif kurang efektif tidak efektif
3 Kalimat Kalimat Kalimat Pemakaian Pemakaian
terpakai terpakai kalimat kalimat dan
secara benar secara benar kurang benar hubungan
dan hubungan dan hubungan dan antar kalimat
antar kalimat antar kalimat hubungan tidak jelas
jelas kurang jelas antar kalimat
kurang jelas
Banyak
kesalahan Banyak
Ejaan Ejaan tepat, Sedikit ejaan ejaan dan kesalahan
4 dan tanda baca tepat, tanda sulit ejaan, tidak
tanda benar dan baca benar dimengerti ada tanda
baca lengkap dan lengkap serta tanda baca dan sulit
baca kurang dimengerti
lengkap
Keterangan : 152
Rumus :
Hasil skor yang di peroleh
= ............... × 100 =
Hasil skor maksimal
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Variabel Tabel. 4 Bentuk Ranah
Kisi-kisi Instrumen Soal
C2
Kompetensi Dasar Indikator Esai C3
Kemampuan Menulis Teks Mampu
Menulis Teks Eksposisi “Banjir” menuliskan
teks “Banjir”
Eksposisi sesuai struktur
teks eksposisi
Keterangan:
C2 = Pemahaman
C3 = Penerapan
Dengan aspek penilaian kemampuan menulis teks eksposisi pada penelitian
ini adalah sebagai berikut:
Prosedur Penilaian:
1. Menugasi siswa untuk membuat persiapan menulis
2. Menugasi siswa untuk menulis teks eksposisi sesuai dengan persiapan
yang sudah dibuat
3. Siswa yang lain dan peneliti mengadakan penilaian dengan
menggunakan rubrik penilaian kemampuan menulis.
153
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Tabel. 5
Validitas Instrumen
Variabel Menulis Teks Eksposisi
Indikator
- Menentukan langkah-langkah menyusun teks ekposisi
Kompetensi Dasar - Mengenal struktur teks eksposisi
Bentuk Soal (Uraian) - Membuat teks eksposisi secara tertulis
Menyusun teks hasil observasi, tanggapan deskriptif,
eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek sesuai dengan
karakteristik yang akan dibuat secara lisan maupun
tulisan.
Buatlah sebuah karangan dengan tema “Banjir”. Minimal
dua paragraf.
1. Dr. Kamiri, M.Pd. …………………………….
(Dosen FKIP UMT)
Tanda Tangan 2. Enung Nurhayati, Ph.d. …………………………….
Para Ahli (Dosen FKIP PBSI UMT)
3. Agus Sualeman,M.Pd.
(Dosen FKIP PBSI UMT) ……………………………
3. Uji Validilitas Isi
Dalam uji validilitas, penelitian menggunakan uji validilitas isi. Menurut
Siregar (2014), “validilitas atau kesahihan adalah menunjukkan sejauh mana
suatu alat ukur mampu mengukur apa yang ingin diukur (a valid measure if it
successfully measure the phenomenon). Oleh karena itu, materi yang
154
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
diajarkan tertera dalam kurikulum maka validilitas isi ini sering disebut
validilitas kurikuler. Validilitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat
penyusunan dengan cara merinci materi kurikulum atau materi buku
pelajaran.
F. Instrumen Variabel Bebas.
1. Definisi konseptual
Model dalam pembelajaran untuk meningkatkan efektifitas di dalam
komunikasi dan kemajuan siswa dalam proses belajar mengajar yang terjadi
didalam kelas, agar peserta didik lebih mudah dalam memahami bahan
pembelajaran yang disampaikan guru, maka memerlukan adanya bantuan model
pembelajaran sebagai sarana penunjang. Model pembelajaran Problem Based
Learning merupakan bentuk model pembelajaran yang mudah dilakukan.Hanya
dengan memberikan metode eksperimen sebagai suatu rencana didalam
pembelajaran karangan teks eksposisi, bisa berupa benda, atau yang lainnya
yang di jadikan sebagai eksperimen membuat karangan teks eksposisi.
2. Definisi Operasional
Dalam oprasional ini guru memperkenalkan model pembelajaran Problem
Based Learning lah sebagai sarana penunjang untuk kegiatan pembelajaran
setelah guru usai memperkenalkan model pembelajaran, guru menjelaskan
jenis-jenis karangan teks eksposisi dan syarat-syarat membuat karangan teks
eksposisi terlebih dahulu. Guru mulai memberikan intruksi kepada siswa untuk
memperhatikan dan mulai meneliti melalui metode eksperimen yang ada didalam
model Problem Based Learning yang digunakan, dari metode eksperimen yang
155
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
di gunakan dapat dipakai seperti lingkungan sekolah dan kelas yang di
bandingkan lalu di jelaskan melalui tulisan oleh siswa dengan menggunakan
kalimat EYD.
G. Hipotesis statistik
Menurut Siregar (2014:39), “Hipotesis statistik merupakan jenis hipotesis
yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik. Hipotesis ini dirumuskan
berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka
(kuantitatif).
Hipotesis statistik postes
H0 :µ1 = µ2
Penggunaan model Problem Based Learning tidak berpengaruh terhadap
kemampuan menulis karangan eksposisi pada siswa kelas VII SMPN1
Kronjo
H1 : µ1 ≠ µ2
Penggunaan model Problem Based Learning berpengaruh terhadap
kemampuan menulis karangan eksposisi pada siswa kelas VII SMPN 1
Kronjo.
Hipotesis Statistik Pretes
H0 :µ1 = µ2
Tidak terdapat perbedaan pengaruh model Problem Based Learning
terhadap hasil belajar bahasa Indonesia dengan kemampuan menulis
siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.
156
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
H1 : µ1 ≠ µ2
Terdapat perbedaan belajar bahasa Indonesia terhadap kemampuan
menulis yang diberi dengan pengaruh model Problem Based Learning.
µ1 : rata-rata kemampuan menulis kelas eksperimen yang menggunakan
model Problem Based Learning.
µ2 : rata-rata kemampuan menulis kelas kontrol tidak menggunakan
Problem Based Learning.
Jika µ1 = µ2 maka H0 gagal ditolak, artinya penggunaan model Problem Based
Learning tidak berpengaruh terhadap keterampilan bebicara pada siswa
kelas VII SMPN 1 Kronjo
Jika µ1 ≠ µ2 maka H0 diterima, artinya penggunaan model Problem Based
Learning berpengaruh terhadap kemampuan pada siswa kelas VII SMPN
1 Kronjo.
H. Teknik Analisis Data
Langkah selanjutnya dari penelitian ini yaitu mencari keterkaitan antara
variabel X dan variabel Y dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Statistika deskritif.
Menurut Sugiono (2012:29), Statistik deskriptif adalah statistik yang
berfungsi untuk mendiskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek
yang mendeskripsikan atau member gambaran terhadap obyek yang diteliti
melalui data sempel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan
analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.
157
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Beda dengan pendapat E. Walpole (dalam Riadi, 2014: 39). Statistika
deskriptif adalah metode yang dilakukan berkaitan dengan pengumpulan dan
penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna.
Prosedur dalam staistik deskriptif menggunakan teknik penyajian data
sebagai berikut:
a. Tabel Distribusi Frekuensi
Tabel distribusi frekuensi digunakan agar data terlihat lebih
informative maka sejumlah data tersebut perlu disajikan dalam
suatu table. Adapun langkah untuk membuat tabel distribusi
frekuensi data kelompok sebagai berikut:
1) Tentukan data terkecil (Dmin) dan data terbesar (Dmax)
2) Tentukan rentang data, yaitu R=Dmax-Dmin
3) Tentukan banyaknya kelas dengan menggunakan kaidah
empiris Sturges :k= 1+3,3 log (n), dengan k = banyak kelas dan
n = banyak data. Jika hasil & bukan merupakan bilangan bulat
maka k dibulatkan.
4) Tentukan panjang kelas interval (1) dengan aturan i =
5) Tentukan kelas-kelasnya sehingga mencangkup semua nilai
data
6) Tentukan frekuensi tiap kelas misalnya menggunakan Tally.
b. Histogram
Histogram adalah salah satu bentuk penyajian yang
menggunakan data hasil penelitian untuk menggambarkan atau
158
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
melukiskan pasangan surutnya suatu keadaan dan statistik dengan
garis atau gambar agar lebih mudah dipahami oleh pembaca data.
c. Poligon Frekuensi
Poligon frekuensi adalah grafik yang dibuat dengan
menghubungkan titik-titik tengah tiap interval kelas secara beruntut-
runtut.Poligon frekuensi dapat diperoleh dengan menghubungkan
titik-titik tengah dari puncak-puncak persegi panjang histogram.
d. Table distribusi frekuensi kumulatif
Frekuensi kumulatif adalah frekuensi data semua nilai yang
kurang atau lebih dari batas kelas suatu interval kelas tersebut.
(Riadi, 2014:40)
Dalam statistika deskriptif juga terdapat retera atau pemusatan data
sebagai berikut :
a. Rerata aritmatik (Mean) untuk data kelompok
Keterangan :
X = rerata
fi =frekuensi kelas
xi = titik tengah kelas
n = banyak data
b. Median untuk data berkelompok
)
(Riadi, 2014:47)
159
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Keterangan :
Me = media
Lo = tepi bawah kelas media
F = frekuensi kumulatif/ total sebelum kelas median
F = frekuensi kelas median
n = banyak data
c. Modus untuk data berkelompok
Me = Lo + I (
Keterangan :
Mo = modus
Lo = tepi bawah kelas modus
I = interval kelas
bi = selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas
sebelumnya.
b 2 = selisih frekuensi kelas sesudahnya
d. Simpang baku untuk data berkelompok.
(Riadi, 2014:64)
Keterangan : 160
x = titik tengah
f = frekuensi
S = simpang baku
I = interval kelas
N = banyak sampel / data
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
2. Statistik inferensial
Menururt Sugiono (2012:148) statistik inferensional adalah teknik statistic
yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberikan untuk
populasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji normalitas dan uji
homogenitas, kemudian dilanjutkan dengan pengujian hipotesis.
a. Uji Normalitas Chi Kuadrat
Langkah-langkah untuk melakukan uji normalitas sebagai berikut :
1) Gunakan table distribusi frekuensi dengan menggunakan tepi bawah kelas
dan diakhiri dengan tepi atas kelas.
2) Hitunglah nilai normal standar tiap tepi kelas dengan rumus
( Riadi, 2014:94).
Keterangan :
Z = niali normal standar
x = tepi kelas
X = rerata variabel
S = simpang baku ( standar deviasi)
3) Gunakan table Z (table A1/A2) untuk menghitung luas di bawah kurva
normal.
4) Hitung besar peluang dengan cara menghitung luas masing-masing nilai Z,
kemudian hitung selisih luas antar kelas.
5) Hitunglah frekuensi ekspektasi (fe) dengan rumus :
Fe = n x selisih luar antar kelas
Keterangan :
fe = frekuensi ekspektasi
n = jumlah
161
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
6) Hitunglah nilai Chi Kuadrat dengan rumus :
1 (Sugiono, 2010:107)
Keterangan :
X² = nilai chi kuadrat
fₒ = frekuensi yang diobservasi
fh =frekuensi ekspektasi
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan antar dua
keadaan atau populasi. Penguji homogenitas dilakukan dengan uji
homogenetis dua varians, rumus homogenitas yang dilakukan adalah uji
fisher (Uji-F) yaitu :
(Riadi, 2014:104)
Keterangan :
S² terbesar = varian terbesar
S² terkecil = varian terkecil.
c. Uji Hipotesis
Uji ini digunakan untuk mengetahui perbedaan kondisi sebelum dan
setelah perlakuan kelompok tidak saling berpasangan, jenis data yang
digunakan harus bersekala interval, atau rasio terdapat dua rumus uju 1
untuk sample independem yaitu the separate model t-test dan the pooled
variance model t-test. Peneliti menggunakan rumus the separate model t-test
dan the pooled variance model t-test dengan ketentuan sebagai berikut :
162
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
The separate Model T-tes
(Riadi, 2014:159)
n1 = n2 sample homogen dk = n1 + n2 – 2
ni = n2 sample tidak homogeny dk = n1 – 1 atau n2 -1
n1 ≠ n2 sample tidak homogeny = ( /2) + terkecil
Selisih n1 dan n2
The pooled variance model t-test
(Riadi, 2014:159)
jika n1 = n2 sample homogen dk = n1+n2 – 2
n1 ≠ n2 sample homogeny dk = n1+n2 – 2
n1 = n2 sample tidak homogen dk = (n1 – 1) atau (n2 – 1)
keterangan:
= penguji
= penguji
= banyaknya sample 1
= banyaknya sample 2
163
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Jika sampel dalam penelitian ini berdistribusi tidak normal, maka peneliti akan
melanjutkan dengan analisis uji beda non parametric. Adapun analisis uji beda yang
akan digunakan adalah uji beda Mann-Whitney U test dengan rumus sebagai berikut:
=.+ -
(Riadi, 2014: 220)
Atau
=.+ -
Sedangkan untuk :
Keterangan :
= penguji
= penguji
= jumlah rangking sampel 1
= jumlah rangking sampel 2
= banyaknya sampel 1
= banyaknya sampel 2
164
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
BAB IX
Pengumpulan Data dan Pemeriksaan Keabsahan
Penelitian Kualitatif
A.Pendahuluan
Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif merupakan salah satu jenis
penelitian yang banyak dilakukan dalam beberapa dekade terakhir. Penelitian ini
merupakan pengembangan dari penelitian-penelitian dibidang ilmu sosial yang
bertumpu pada asumsi filosofis (pendekatan naturalistis interpretif). Berbeda dengan
penelitian kuantitatif, penelitian ini memiliki karakteristik seperti: 1) naturalistik, 2) data
deskriptif, 3) berurusan dengan proses, 4) induktif, dan 5) fokus pada makna.
Pengumpulan data dalam penelitian merupakan hal yang strategis karena salah
satu tujuan dari penelitian adalah untuk mengumpulkan data. Seorang peneliti kualitatif
harus dapat memahami berbagai teknik pengumpulan data. Proses pengumpulan data
kualitatif pada dasarnya sama dengan proses penelitian kuantitatif. Peneliti memulai
dengan memilih lokasi penelitian dan partisipan, mengajukan permohonan, menyimpan
data dan mengolah data.
Pemeriksaan keabsahan data penelitian kualitatif perlu dilakukan oleh seorang
peneliti. Keabsahan data penelitian kualitatif merujuk pada masalah kualitas data dan
ketepatan metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian. Ada berbagai strategi
yang bisa dilakukan peneliti sehingga validitas dan reliabilitas penelitian kualitatif
semakin dapat dipertanggung jawabkan.
Bab ini berfokus pada pembahasan mengenai penelitian kualitatif, khususnya
definisi dan karakteristik penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data kualitatif, dan
pemeriksaan keabsahan data pada penelitian kualitatif.
B.Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif
1) Definisi dan Karakteristik Penelitian Kualitatif
Metode kualitatif dikenal sebagai metode baru atau postpositivistik, artistik,
dan interpretive research. Hal ini ditegaskan oleh Sugiyono (2012:7) bahwa metode
kualitatif dikatakan sebagai metode baru karena popularitasnya belum lama,
165
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dikatakan sebagai metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat
postpositivisme, yaitu filsafat yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang
holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat
interaktif (reciprocal). Selain itu, metode ini dikatakan sebagai metode artistik karena
proses lebih bersifat seni (kurang terpola), dan disebut sebagai metode interpretive
karena hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang
ditemukan di lapangan.
Dalam penelitian kualitatif menggunakan objek yang alamiah atau
menggunakan pendekatan naturalistik interpretif di mana objek berkembang apa
adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak memengaruhi
dinamika pada objek tersebut. Bogdan dan Biklen dalam Emzir (2014:2)
menjelaskan bahwa naturalistik ini menjadi karakteristik penelitian kualitatif yang
utama. Dikatakan naturalistik karena penelitian kualitatif memiliki latar aktual
sebagai sumber langsung data dan peneliti merupakan instrumen kunci. Instrumen
pada penelitian ini adalah orang atau human instrument yaitu peneliti itu sendiri.
Karakteristik kedua yaitu penelitian kualitatif adalah penelitian deskriptif. Data yang
dikumpulkan lebih mengambil bentuk kata-kata atau gambar daripada angka-angka.
Hasil penelitian tertulis berisi kutipan-kutipan dari data yang mengilustrasikan dan
menyediakan bukti presentasi seperti transkrip wawancara, catatan lapangan,
fotografi, videotape, dokumen pribadi, dan lain-lain. Ketiga, karakteristik penelitian
kualitatif adalah berurusan dengan proses. Artinya, penelitian kualitatif lebih
berkonsentrasi pada proses daripada dengan hasil atau produk. Keempat, analisis
data bersifat induktif, yaitu berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dan
kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori. Seorang peneliti kualitatif
yang merencanakan dan mengembangkan berapa jenis teori tentang apa yang telah
diteliti, arah yang dituju akan datang setelah pengumpulan data atau setelah peneliti
menghabiskan waktu dengan subjeknya, Karakteristik kelima yaitu penelitian
kualitatif tidak menekankan pada generalisasi tetapi lebih ke makna, yaitu
kepedulian yang esensial pada pendekatan kualitatif atau apa yang disebut
perspektif partisipan. Misalnya, dalam dunia pendidikan, peneliti memfokuskan pada
perspektif orang tua mengenai anak-anak mereka.
166
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Untuk lebih memahami metode penelitian kualitatif, perhatikan tabel mengenai
karakteristik penelitian kualitatif berikut.
No Indikator Karakteristik
1. Desain a. Umum
b. Fleksibel
2. Tujuan c. Berkembang, dan muncul dalam proses penelitian
a. Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif
3. Teknik b. Menemukan teori
Pengumpulan c. Menggambarkan realitas yang kompleks
Data d. Memeroleh pemahaman makna
a. Participant observation
4. Instrumen b. In depth interview
Penelitian c. Dokumentasi
d. Triangulasi
5. Data a. Peneliti sebagai instrumen (human instrument)
b. Buku catatan, tape recorder, camera, handycam, dan
6. Sampel/sumber
data lain-lain.
a. Deskriptif kualitatif
7. Analisis b. Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan
tindakan responden, dokumen, dan lain-lain.
a. Kecil
b. Tidak representatif
c. Purposive, snowball
d. Berkembang selama proses penelitian
a. Terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian
b. Induktif
c. Mencari pola, model, tema, teori
8. Hubungan dengan a. Empati, akrab supaya memperoleh pemahaman yang
167
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
No Indikator Karakteristik
responden/peserta mendalam
b. Kedudukan sama bahkan sebagai guru, konsultan
c. Jangka lama, sampai datanya jenuh, dapat
ditemukan hipotesis atau teori
9. Usulan Desain a. Singkat, umum bersifat sementara
b. Literatur yang digunakan bersifat sementara, tidak
menjadi pegangan utama
c. Prosedur bersifat umum, seperti akan merencanakan
tour/piknik
d. Masalah bersifat sementara dan akan ditemukan
setelah studi pendahuluan
e. Tidak dirumuskan hipotesis, karena justru akan
menemukan hipotesis
f. Fokus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data
awal dari lapangan
10. Kapan penelitian Setelah tidak ada data yang dianggap baru/jenuh
dianggap selesai?
11. Kepercayaan Pengujian kredibilitas, dependabilitas, proses dan hasil
terhadap hasil penelitian
penelitian
Sumber: Sugiyono (2012:14-16)
2) Strategi Penentuan Sample dan Pengumpulan Data pada Penelitian
Kualitatif
Creswell (2012:205) menyatakan bahwa terdapat lima tahapan proses
pengumpulan data kualitatif, yaitu: 1) mengidentifikasi peserta untuk keperluan
menentukan strategi sampling, 2) menghubungi calon peserta (individu/situs)
melalui ijin, 3) mempertimbangkan jenis informasi untuk menjawab pertanyaan
penelitian, 4) merancang instrumen untuk pegumpulan data atau perekaman
informasi, dan 5) mengelola prosedur pengumpulan data kualitatif.
168
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Terkait dengan tahapan tersebut, setelah tahapan mengidentifikasi peserta,
lalu apa sajakah pendekatan-pendekatan sampling yang dapat digunakan dalam
menyeleksi peserta dan situs? Creswell (2012:206-210) menjelaskan teknik
sampling pada penelitian kualitatif yaitu Purposeful Sampling. Jenis sampling ini
bertujuan untuk menyeleksi orang atau situs yang dianggap paling tepat untuk
membantu peneliti memahami fenomena yang diteliti atau mengembangkan
pemahaman yang lebih detail. Jenis sampling ini terbagi menjadi dua kategori yaitu
sebelum pengumpulan data dan setelah pengumpulan data dimulai. Perhatikan
bagan berikut.
KAPAN SAMPLING DILAKUKAN?
SEBELUM PENGUMPULAN DATA SETELAH PENGUMPULAN DATA DIMULAI
TUJUAN? mendeskripsikan kasus TUJUAN? menyelidiki kasus yang
yang mengilustrasikan
mengembangkan situasi secara dramatis mengambil keuntungan sesuai (dikonfirmasi) atau
banyak Critical Sampling dari kasus apapun yang tidak sesuai
perspektifMaxim berkembang Confirming/Disconfirm
al Variation Mendeskripsikan beberapa Opportunistic ing Sampling
Sampling sub kelompok secara Sampling
mendalam Homogeneous
Mendeskripsikan kasus Sampling mengalokasikan orang
yang mengganggu atau
mencerahkan atau situs untuk diteliti
Extreme Case Snowball Sampling
Sampling
Mendeskripsikan Menggeneralisasikan
sesuatu yang khas
terhadap sampel yang teori atau
kurang terbiasa mengembangkan
dengan kasus terkait konseptheory or
Typical Sampling concept Sampling
Sumber: Creswell (2012:207)
169
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Berdasarkan bagan tersebut, dapat dilihat bahwa penentuan sampling dalam
penelitian kualitatif dapat dilakukan sebelum pengumpulan data dan setelah proses
pengumpulan data dilakukan. Penentuan teknik sampling yang akan digunakan
berdasarkan pada tujuan penelitian itu sendiri. Oleh sebab itu istilah Purposeful
Sampling atau sering dikenal dengan Purposive Sampling digunakan karena sampling
yang digunakan berbasis tujuan penelitian kualitatif tersebut.
Beberapa teknik sampling yang dilakukan sebelum proses pengumpulan data
antara lain:
a. Maximal Variation Sampling
Strategi sampling ini bertujuan untuk mengembangkan berbagai perspektif.
Dalam hal ini, peneliti melibatkan individu atau situs pada beberapa karakteristik
yang berbeda sebagai sampel, misalnya kelompok usia yang berbeda. Prosedur
dalam strategi sampling ini diawali dengan mengidentifikasi karakteristik dan
kemudian menemukan individu atau situs yang menampilkan berbagai dimensi
karakteristik itu.
b. Critical Sampling
Teknik sampling ini digunakan untuk meneliti sampel yang memiliki kasus yang
serius dan mendeskripsikan kasus yang mengilustrasikan situasi secara
dramatis. Sebagai contohnya, peneliti ingin melakukan penelitian terhadap
kekerasan yang dilakukan remaja di sekolah di mana siswa mengancam guru
dengan sebuah pistol. Situasi ini menggambarkan suatu kejadian dramatis yang
mengilustrasikan atau memotret beberapa kenakalan remaja yang mungkin
terjadi di sekolah.
c. Extreme Case Sampling
Seringkali peneliti tertarik untuk meneliti kasus-kasus yang mengganggu atau
mencerahkan, atau kasus yang terkait dengan keberhasilan atau kegagalan.
Extreme Case Sampling ini digunakan untuk meneliti kasus yang atau
menyajikan karakteristik yang ekstrim/kuat. Sebagai contohnya, sekolah dasar
tertentu yang ditargetkan untuk memeroleh bantuan pemerintah. Dalam hal ini,
program pendidikan autis di sekolah dasar yang telah menerima penghargaan
dari pemerintah merupakan sampel yang hebat untuk penelitian terkait.
170
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
d. Homogeneous Sampling
Teknik sampling ini digunakan pada sample yang memiliki sifat atau karakteristik
yang sama. Misalnya, di komunitas rakyat pedesaan, seluruh orang tua dari
murid sekolah tersebut tergabung dalam komunitas orang tua siswa. Peneliti
memilih orang tua murid tersebut karena mereka sama-sama menjadi anggota
komunitas tersebut.
e. Typical Sampling
Typical sampling mendeskripsikan sesuatu yang khas terhadap sampel yang
tidak terbiasa dengan kasus yang diteliti. Pengertian khas dalam hal ini
merupakan lawan dari hal-hal yang normal. Sebagai contohnya, peneliti tertarik
untuk meneliti staf fakultas khusus yang bekerja di sekolah tinggi seni karena
mereka telah bekerja lebih dari 20 tahun dan terlibat dalam mewujudkan aturan
atau norma-norma budaya di sekolah tersebut.
f. Theory or Concept Sampling
Teknik sampling ini digunakan pada saat peneliti melibatkan orang atau situs
yang dapat membantu menggeneralisasikan atau menemukan teori atau konsep-
konsep khusus dalam teori tersebut. Dalam menggunakan metode sampling ini,
peneliti harus menguasai teori atau konsep-konsep yang lebih luas untuk
diangkat selama proses penelitian. Sebagai contohnya, peneliti memilih situs-
situs tersebut karena meneliti situs tersebut membantu mereka
menggeneralisasikan teori mengenai sikap mahasiswa terhadap pembelajaran
Jarak jauh.
Kategori kedua dari strategi sampling yang dapat digunakan adalah strategi
sampling yang ditentukan setelah proses pengumpulan data dilakukan atau dengan
kata lain strategi ini ditentukan pada saat proses pengumpulan data. Hal ini
biasanya terjadi karena peneliti merasa perlu untuk melakukan pengumpulan data
lebih lanjut.
Terdapat tiga strategi sampling pada kategori ini, yaitu:
171
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
a. Opportunistic Sampling
Teknik sampling ini dapat diimplementasikan setelah proses pengumpulan
data dilakukan. Di tengah proses pengumpulan data, seringkali peneliti mengubah
haluan, yaitu memeroleh informasi yang lebih menarik dan di luar tujuan awal
penelitian. Namun, cakupan penelitian tidak sepenuhnya lepas dari topik awal, justru
hasil dari penelitian ini akan lebih berkembang dan mengejutkan. Misalnya, sebuah
penelitian dilakukan untuk memeroleh informasi dari mahasiswa yang
memanfaatkan pembelajaran online (elearning) pada pendidikan jarak jauh. Pada
awalnya teknik sampling yang digunakan adalah maximal variation sampling.
Namun di tengah proses pengumpulan data, peneliti tertarik untuk memeroleh
informasi mengenai pemanfaatan mobile devices seperti smartphones oleh
mahasiswa untuk mengakses pembelajaran online dengan menggunakan teknik
opportunistic sampling. Sebagai hasilnya peneliti akan memeroleh informasi
pemanfaatan pembelajaran online, sekaligus memeroleh informasi lebih jauh
bagaimana mahasiswa menggunakan peralatan mobile untuk mengakses
pembelajaran online.
b. Confirming/Disconfirming Sampling
Teknik sampling ini dilakukan dengan meminta individu sampel atau situs
mengonfirmasi atau disconfirm temuan awal. Tujuan dari strategi ini adalah untuk
menindaklanjuti kasus-kasus tertentu serta menguji atau menjelajahi temuan
spesifik lebih lanjut selama penelitian dilakukan.
c. Snowball Sampling
Dalam situasi penelitian tertentu, peneliti mungkin tidak tahu orang-orang
terbaik yang dapat membantu pemahaman dari topik atau kompleksitas kejadian.
Seperti dalam penelitian kuantitatif, snowball sampling kualitatif merupakan bentuk
purposive sampling yang biasanya setelah penelitian dimulai dan peneliti meminta
peserta untuk memberi saran orang lain guna mengembangkan penelitian suatu
kasus atau situs.
Setelah proses penentuan sampling, langkah berikutnya menurut Creswell
adalah persiapan perijinan untuk melakukan pengumpulan data pada individu
maupun situs yang dituju. Terdapat dua sumber perijinan yang dapat dihubungi
172
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
yaitu: pertama, izin dari lembaga penelitian. Peneliti mengajukan permohonan izin
ke lembaga penelitian kampus serta memberikan penjelasan rinci terkait
penelitiannya. Hal ini penting karena pengumpulan data kualitatif terdiri dari periode
panjang pengumpulan informasi yang secara langsung melibatkan orang dan
merekam pandangan pribadi rinci dari perorangan pada lembaga tertentu. Peneliti
juga akan menghabiskan waktu di rumah orang, tempat kerja, atau situs di mana
peneliti mengumpulkan data. Kedua, untuk proses pengumpulan data kualitatif,
peneliti harus memeroleh izin dari “gatekeeper” atau pimpinan/manajer di lokasi
penelitian. Gatekeeper adalah seseorang yang memiliki peran resmi atau tidak
resmi di situs, menyediakan pintu masuk ke sebuah situs, membantu peneliti
menemukan orang-orang, dan membantu dalam identifikasi tempat untuk penelitian
(Hammersley & Atkinson, dalam Creswell, 2012:211).
Langkah selanjutnya setelah penentuan sampling dan pemerolehan ijin dari
lembaga maupun gatekeepers, peneliti melakukan pengumpulan data dapat
dilakukan dengan beberapa cara yang terangkum pada tabel sumber data kualitatif
berikut.
CARA JENIS DATA DEFINISI JENIS DATA
PENGUMPULAN Catatan lapangan dan gambaran
Data atau teks yang tidak
DATA terstruktur dan gambar yang
Observasi diambil selama observasi
Wawancara dan Transkrip wawancara terbuka Data teks yang diambil dari
Angket
pertanyaan-pertanyaan terbuka rekaman suara dan jawaban
pada angket pertanyaan terbuka
Dokumen Catatan-catatan dan dokumen- Catatan pertemuan/notulen
dokumen rapat, jurnal
173
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
CARA
PENGUMPULAN JENIS DATA DEFINISI JENIS DATA
DATA Materi audiovisual yang
mencakup gambar atau suara
Materi Audiovisual Gambar, video, foto, hasil orang di lingkungan yang
direkam.
rekaman suara
Sumber: Creswell (2012:214).
Berdasarkan tabel tersebut, observasi, wawancara, dokumen pribadi dan
resmi, foto, rekaman, gambar, dan percakapan informal merupakan sumber data
kualitatif. Emzir (2014:37) menegaskan bahwa sumber yang paling umum
digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumen yang kadang-kadang
digunakan bersama-sama maupun secara individual. Berikut rinciannya.
1. Observasi
Observasi merupakan proses pengumpulan data atau informasi yang bersifat
terbuka dan langsung dari narasumber utama dengan melakukan pengamatan
terhadap orang atau lingkungan tertentu. Emzir menambahkan definisi observasi
atau pengamatan sebagai ‘perhatian yang terfokus terhadap kejadian, gejala, atau
sesuatu’. Lebih jauh, definisi observasi ilmiah merupakan ‘perhatian terfokus
terhadap gejala, kejadian atau sesuatu dengan maksud menafsirkannya,
mengungkapkan faktor-faktor penyebabnya, dan menemukan kaidah-kaidah yang
mengaturnya’ (Garayibah, dalam Emzir, 2014:38).
Berdasarkan tingkat pengontrolannya, observasi dibagi menjadi dua macam,
yaitu: 1) observasi sederhana (simple observation), yaitu pengamatan yang tidak
terkontrol dan merupakan gambaran sederhana dari pengamatan dan pendengaran
yang diperoleh secara alami tanpa kontrol alamiah oleh peneliti, dan 2) pengamatan
sistematis (systematic observation) yaitu pengamatan ilmiah yang terkontrol dengan
setting (waktu dan tempat) yang dibatasi dengan menggunakan peralatan mekanik
seperti taperecorder, kamera, dan lain-lain.
174
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Berdasarkan peran peneliti, observasi dibagi menjadi dua. Pertama,
observasi partisipan (participant observation) yaitu observasi yang dilakukan oleh
peneliti yang menjadi bagian atau anggota dari kelompok yang diteliti. Peneliti
memiliki dua peran yaitu sebagai anggota peserta dalam kehidupan bermasyarakat
dan sekaligus sebagai peneliti yang mengumpulkan data tentang perilaku
masyarakat dan perilaku individunya. Kelebihan dari observasi partisipan adalah
kepercayaan dan kelengkapan data diperoleh secara alami dan peneliti lebih leluasa
untuk meneliti hingga bagian-bagian yang tersembunyi/tertutup sekalipun. Namun
demikian terdapat kelemahan pada jenis observasi ini, yaitu kadang-kadang posisi
peneliti diragukan, misalnya dianggap sebagai mata-mata, atau keberadaannya
menjadi kurang aman apabila identitasnya diketahui. Kedua, observasi
nonpartisipan yaitu observasi yang dilakukan dengan peneliti sebagai penonton atau
penyaksi terhadap gejala atau kejadian yang menjadi topik penelitian. Kelebihannya
adalah hasil observasi lebih objektif. Namun, terdapat kelemahan antara lain peneliti
megalami kesulitan untuk memahami hakikat situasi, karena peneliti tidak dapat
membaca makna yang terkandung dalam perilaku, gerak, ungkapan, dan wajah
mereka.
Pengumpulan data kualitatif dengan teknik observasi ini memiliki kelebihan
dan kelemahan. Kelebihan dari teknik ini adalah: a) merupakan cara langsung paling
baik untuk meneliti berbagai macam fenomena/gejala, karena terdapat berbagai
perilaku manusia yang tidak mungkin dipelajari kecuali dengan cara ini, b) tidak
memerlukan usaha yang besar dari pihak pelaku observasi bila dibandingkan
dengan teknik lain, c) ada kemungkinan peneliti mengumpulkan data di bawah
kondisi perilaku yang dikenal, d) ada kemungkinan peneliti mengumpulkan hakikat
perilaku pada saat yang sama dengan waktu diperolehnya, dan e) tidak banyak
bergantung pada pengambilan kesimpulan. Adapun kelemahan teknik observasi
adalah: a) kadang-kadang ketergantungan individu pada topik penelitian yang
diberikan dapat memberikan dampak tidak baik (misalnya karena merasa diawasi),
b) kadang kejadian yang diperkirakan tidak sesuai sehingga memakan waktu lama
untuk menunggu, c) banyak faktor yang menghambat proses observasi, misalnya
pengaruh cuaca, d) terikat pada waktu dan tempat tertentu dan kadang waktu yang
175
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
dibutuhkan sangat lama sehingga menjadikan tugas peneliti sulit, dan e) terkadang
ada hal-hal yang tidak dapat diamati secara langsung dan hanya diperoleh lewat
surat atau wawancara pribadi.
Proses observasi akan berjalan dengan baik apabila mengikuti prosedur dan
ketentuan ketentuan yang yang tepat. Creswell (2012:215-217) menawarkan
sepuluh langkah atau tahapan yang perlu diikuti agar proses observasi berjalan
dengan baik sebagai berikut.
a. Tentukan individu atau situs yang akan diamati, lalu lakukan proses perizinan
untuk melakukan observasi atau mengakses situs tersebut.
b. Pelajari situs yang akan diamati dan buat catatan penting karena hal ini penting
untuk membangun hubungan dengan individu atau situs tersebut.
c. Identifikasi siapa atau apa yang akan diamati pada situs, kapan pengamatan
akan dilakukan, dan perlu berapa lama untuk melakukan pengamatan.
Gatekeeper sangat berperan penting dalam hal ini dalam memberikan informasi
terkait situasi ataupun durasi aktivitas yang diamati.
d. Tentukan peran peneliti sebagai pengamat, apakah sebagai pengamat partisipan
atau pengamat nonpartisipan.
e. Perpanjang waktu observasi agar diperoleh pemahaman mendalam
f. Siapkan alat untuk merekam data atau catatan selama proses observasi. Data
yang direkam atau dibuat selama observasi disebut catatan lapangan aatau
fieldnote.
g. Pertimbangkan informasi yang didapat selama proses observasi.
h. Buat catatan lapangan deskriptif mau reflektif. Catatan lapangan deskriptif
adalah catatan lapangan yang menggambarkan kegiatan, orang dan segala
sesuatu yang terjadi di tempat penelitian, sedangkan catatan lapangan reflektif
adalah mencatat pemikiran seseorang terkait dengan tema atau ide selama
masa observasi.
i. Pastikan lingkungan penelitian mengenal peneliti. Peneliti harus
memperkenalkan diri sebagai peneliti dan harus bersikap positif terhadap
lingkungan penelitian, pasif, ramah dan menghargai.
176
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
j. Setelah observasi dilakukan, ucapkan terima kasih dan sampaikan bahwa data
yang didapatkan selama observasi akan menjadi data penelitian.
2. Wawancara Dan Angket/Kuesioner
Wawancara didefinisikan sebagai ‘interaksi bahasa yang berlangsung antara
dua orang dalam situasi saling berhadapan di mana salah satunya melakukan
wawancara meminta informasi atau ungkapan kepada orang lain yang diteliti terkait
pendapat dan keyakinannya’ (Garabiyah, dalam Emzir, 2014:50). Dengan
wawancara peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang
partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana
hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi (Stainback dalam Sugiyono,
2012:232).
Wawancara harus memiliki tujuan yang jelas agar proses wawancara
sistematis dan menghindari pengamatan yang tidak berujung pangkal. Emzir
(2014:50) menjelaskan tiga hal yang wajib dilakukan oleh peneliti kualitatif sebelum
melakukan wawancara, yaitu: 1) memberi tahu informan tentang hakikat penelitian
dan pentingnya kerja sama mereka dengan peneliti, 2) menghargai informan atas
kerja samanya, dan 3) memeroleh informasi dan data yang diinginkannya.
Creswell (2012:218-222) menjelaskan jenis-jenis wawancara dan pertanyaan
terbuka pada kuesioner. Terdapat beberapa jenis wawancara yang dapat digunakan
oleh peneliti untuk memperoleh informasi, antara lain: 1) wawancara satu-satu (one-
on-one interviews) di mana peneliti mengundang seorang peserta untuk
diwawancara secara pribadi, 2) wawancara fokus grup atau focus group discussion
yaitu wawancara yang dilakukan terhadap kelompok yang terdiri dari dua orang atau
lebih dan proses wawancara untuk memeroleh informasi dapat berkembang dalam
bentuk diskusi, 3) wawancara melalui telepon di mana peneliti membuat janji
terlebih dahulu dengan peserta untuk melakukan wawancara melalui telepon, dan 4)
wawancara melalui email di mana peneliti mengirimkan pertanyaan-pertanyaan
dalam bentuk tertulis dan dikirim melalui email untuk dapat dilengkapi atau dijawab
oleh peserta.
177
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Ditinjau dari karakteristik dan jenisnya, peneliti dapat memilih bermacam-
macam wawancara yang tepat digunakan untuk memeroleh informasi. Sugiyono
mengutip pendapat Esterberg mengenai jenis wawancara ditinjau dari struktur dan
tingkat keterikatannya yang terbagi menjadi tiga macam, yaitu: 1) wawancara
terstruktur (structured interview) di mana peneliti telah mengetahui dengan pasti
informasi apa yang akan diperoleh sehingga daftar pertanyaan dan kemungkinan
jawaban telah disiapkan sebelum wawancara, 2) wawancara semiterstruktur
(semistructure Interview) merupakan wawancara yang masuk kategori in-depth
interview di mana dalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan
wawancara terstruktur. Tujuan utama dari jenis wawancara ini adalah untuk
menemukan permasalahan yang lebih terbuka dan peserta diminta untuk
memberikan pendapat atau ide-idenya, dan 3) wawancara tidak berstruktur
(unstructured interview) yaitu wawancara yang bebas tanpa menggunakan pedoman
wawancara yang tersusun secara sistematis, tetapi hanya berupa garis besar
permasalahan yang ditanyakan. Biasanya jenis wawancara ini dilakukan pada
pengumpulan data awal yang hasilnya kemudian digunakan untuk melakukan
pengumpulan data yang lebih mendalam (Esterberg dalam Sugiyono, 2012:233).
Berdasarkan bentuk-bentuk pertanyaan yang diajukan, wawancara terbagi
menjadi tiga macam, yaitu: 1) wawacara tertutup yang mengajukan pertanyaan
dengan jawaban-jawaban tertentu dan biasanya digunakan untuk penelitian
kuantitatif karena mudah untuk diklasifikasi dan data dianalisis secara statistik, 2)
wawancara terbuka yaitu wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang tidak
dibatasi dan tidak ada intervensi dari peneliti dan 3) wawancara tertutup terbuka
yaitu gabungan wawancara tertutup dan terbuka. Wawancara ini diawali dengan
pertanyaan tertutup, misalnya “apakah Anda mengijinkan anak Anda yang sedang
bersekolah di SMA sambil bekerja di sore atau malam harinya?” yang kemudian
beralih ke pertanyaan terbuka, seperti: “mengapa?” atau “dapatkah Ibu menjelaskan
alasannya?” (Emzir, 2014:51-52).
Selanjutnya, terdapat empat jenis wawancara ditinjau dari tujuannya, yaitu: 1)
wawancara survey yang bertujuan untuk memeroleh data atau informasi sebagai
178
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
bukti dalam lapangan yang merupakan bagian yang representatif dari populasi dan
biasanya untuk menyurvei pendapat umum tentang permasalahan yang diteliti, 2)
wawancara diagnostik yaitu wawancara yang dipergunakan untuk memahami suatu
masalah, faktor-faktor penyebab munculnya, dimensi-dimensinya secara kasus, dan
sebagainya, 3) wawancara terapi yaitu dipergunakan untuk memungkinkan peserta
memahami dirinya secara mendalam dan bertujuan untuk membuat peserta lebih
percaya diri, dan 4) wawancara konseling yaitu wawancara untuk membantu peserta
mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi (Emzir, 2014:52-53).
Lincoln and Guba dalam Sanapiah Faisal (Sugiyono, 2011:235)
menyampaikan tujuh langkah yang dapat dilakukan peneliti kualitatif dalam
melakukan wawancara untuk pengumpulan data agar hasil proses pengumpulan
datanya optimal,
a. Menentukan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan
b. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
c. Mengawali atau membuka alur wawancara
d. Melangsungkan alur wawancara
e. Mengonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
f. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catataan lapangan
g. Mengidentifikasikan tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh
Supaya hasil wawancara terekam dengan baik dan peneliti memiliki bukti
telah melakukan wawancara kepada peserta atau sumber data, maka diperlukan
bantuan alat-alat seperti: 1) buku catatan ataupun peralatan elektronik seperti
notebook untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data, 2) recorder atau
alat perekam yang berfungsi untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan.
Peneliti sebaiknya meminta persetujuan kepada peserta terlebih dahulu sebelum
menggunakan alat perekam tersebut, dan 3) kamera untuk memotret atau merekam
dengan video proses wawancara yang dilakukan. Hal ini penting untuk
meningkatkan keabsahan penelitian sehingga lebih terjamin sebagai bukti bahwa
peneliti benar-benar melakukan pengumpulan data.
179
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
3. Dokumen
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa
berbentuk tulisan seperti catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), cerita,
biografi, peraturan, atau kebijakan, atau bisa juga dalam bentuk gambar seperti foto,
gambar hidup/video, sketsa, dan lain-lain, atau bahkan karya-karya monumental dari
seseorang seperti gambar/lukisan, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen
merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam
penelitian kualitatif.
180
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
4. Triangulasi
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan
data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data
dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data dan sekaligus
menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik
pengumpulan data dan berbagai sumber data.
C. Pemeriksaan Keabsahan dalam Penelitian Kualitatif
Pemeriksaan keabsahan data penelitian data kuantitatif dan kualitatif
berbeda. Validitas dalam penelitian kuantitatif berbeda dalam penelitian kualitatif,
begitu juga tidak sama dengan reliabilitas (uji stabilitas dan konsistensi respon) atau
generalisabilitas yang merupakan validitas eksternal atau penerapan hasil penelitian
terhadap setting, tempat atau sample yang baru. (Creswell, 2010:284). Dalam
penelitian kualitatif, Gibbs dalam Creswell (2010) menjelaskan bahwa validitas
diartikan sebagai usaha pemeriksaan akurasi hasil penelitian dengan menerapkan
prosedur-prosedur tertentu, sedangan reliabilitas merupakan indikasi terhadap
pendekatan yang digunakan oleh peneliti konsisten jika diterapkan oleh peneliti lain
dalam proyek yang berbeda.
Peneliti kualitatif harus dapat mengetahui bahwa pendekatan yang mereka
lakukan konsisten dan reliabel. Yin dalam Creswell (2010:285) menegaskan bahwa
peneliti kualitatif harus mendokumentasikan prosedur-prosedur studi kasus mereka
dan sebanyak mungkin mendokumentasikan langkah-langkah dalam prosedur
tersebut. Yin juga merekomendasikan agar peneliti kualitatif secara cermat
merancang protokol dan databases tudi kasusnya. Gibbs dalam Creswell (2010:285)
merinci sejumlah prosedur reliabilitas:
1. Memeriksa hasil transkripsi untuk memastikan tidak adanya kesalahan yang
dibuat selama proses transkripsi.
2. Pastikan tidak ada definisi dan makna yang mengambang mengenai kode-kode
selama proses coding.
181
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
3. Untuk penelitian berbentuk tim, diskusikanlah kode-kode berasama anggota tim
dalam pertemuan rutin atau sharing anlysis.
4. Lakukan cross-check dan bandingkan kode-kode yang dibuat oleh peneliti lain
dengan kode yang telah kita buat sendiri.
Lincoln dan Guba dalam Emzir (2014) mengusulkan empat kriteria untuk
menilai kualitas penelitian kualitatif:
1) Kredibilitas atau credibility. Kriteria ini memastikan bahwa hasil penelitian
kualitatif dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipercaya dari sisi partisipan.
Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menggambarkan atau memahami
fenomena menarik yang terjadi. Partisipan merupakan satu-satunya orang yang
dapat menilai secara sah kredibilitas hasil suatu penelitian kualitatif. Berbagai
strategi dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk meningkatkan kredibilitas seperti
diskusi teman sejawat, perpanjangan waktu pengamatan, ketekunan penelitian
triangulasi, analisis kasus negatif serta memberchecking.
2) Transferbilitas atau transferbility. Kriteria ini merujuk pada tingkat kemampuan
hasil penelitian kualitatif dapat ditransfer atau digeneralisasikan dalam konteks
yang berbeda. Transferbilitas merupakan tanggung jawab seseorang dalam
melakukan generalisasi. Transferbilitas dapat ditingkatkan dengan melakukan
suatu pekerjaan yang menggambarkan konteks penelitian dan asumsi yang
menjadi pusat penelitian. Jika ada seseorang yang ingin mentransfer hasil
penelitian kualitatif pada konteks yang berbeda, maka dia bertanggung jawab
pada bagaimana transfer tersebut masuk akal.
3) Dependabilitas atau dependability. Pada dasarnya kriteria depandabilitas sama
pengertiannya dengan kriteria reliabilitas yang ditemukan pada penelitian
kuantitatif. Kriteria ini merujuk pada prinsip replikabilitas (replicability) dan
keterulangan (repeatability). Prinsip dari kriteria ini adalah memastikan apakah
peneliti akan mendapatkan hasil yang sama jika dilakukan pengamatan untuk
kali kedua, meskipun faktanya peneliti tidak dapat melakukan tahapan proses
penelitian yang sama untuk kedua kalinya (jika peneliti melakukan pengukuran
dua kali maka sebenarnya peneliti mengukur dua hal yang berbeda).
182
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
4) Konfirmabilitas atau confirmability atau sering disebutkan sebagai objektifitas,
merupakan tingkat kemampuan hasil penelitian yang dapat dikonfirmasikan oleh
orang lain. Penelitian kualitatif cenderung berasumsi bahwa setiap peneliti
melibatkan perspektif yang unik ke dalam penelitian. Strategi yang dapat peneliti
lakukan untuk pemeriksaan kriteria konfirmabilitas adalah dengan
mendokumentasikan prosedur untuk mengecek kembali seluruh data penelitian.
Peneliti untuk mengukur kriteria konfirmabilitas dengan melakukan audit
terhadap keseluruhan proses penelitian. Proses audit dapat dilakukan oleh
pembimbing, jika peneliti tidak dapat menunjukkan “jejak kegiatan di lapangan”,
maka dendabilitas penelitian dapat diragukan.
Dalam penelitian kualitatif, peneliti harus menjamin bahwa temuan dan
interpretasi yang peneliti lakukan adalah akurat seperti yang disampaikan Creswell
dalam Emzir (2012:266). Validasi temuan dapat dilakukan peneliti dengan
menggunakan pengecekan anggota atau memberchecking atau proses triangulasi.
Peneliti kualitatif biasanya tidak menggunakan kata bias, penelitian yang dilakukan
merupakan hasil reflektif diri mengenai peran peneliti, bagaimana temuan
diinterpretasikan. Akurasi dan kredibilitas temuan merupakan hal penting dalam
penelitian kualitatif.
Dalam penelitian kualitatif, validitas didasarkan pada kepastian apakah hasil
penelitian sudah akurat dari sudut pandang peneliti, partisipan atau pembaca secara
umum (Cresweel dan Miller, 2000). Berbagai istilah dapat digunakan dalam
penelitian kualitatif seperti trustworthiness (terpercaya), authenticity (otentik) dan
credibility (kredibel) (Creswell dan Miller, 2000). Peneliti perlu menggunakan
berbagai strategi untuk menilai keakuratan hasil penelitian serta meyakinkan orang
lain terkait dengan hasil penelitian. Creswell (2010:286) menyampaikan ada delapan
strategi yang bisa digunakan:
1) Triangulasi atau triangulate merupakan proses mencocokan sumber data yang
berbeda dengan memeriksa bukti-bukti dari sumber tersebut dan digunakan
untuk membangun justifikasi tema secara koheren, sehingga validitas penelitian
akan bertambah. Pengecekan data dilakukan dengan berbagai cara dan waktu.
183
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
2) Member checking merupakan proses yang dilakukan untuk mengetahui akurasi
penelitian. Pada tahap ini peneliti membawa kembali hasil laporan atau deskripsi
atau tema spesifik kepada partisipan, bukan transkrip mentah melainkan bagian
hasil penelitian yang sudah matang seperti tema, analisis kasus, grounded
theory, deskripsi budaya dan lainnya. Pada proses ini peneliti melakukan
memberikan kesempatan kepada partisipan untuk berkomentar tentang hasil
penelitian melalui wawancara tindak lanjut.
3) Membuat deskripsi yang kaya dan padat atau rich and thick description yang
paling tidak harus menggambarkan setting penelitian dan membahas salah satu
elemen dari pengalaman partisipan.
4) Mengklarifikasi bias yang mungkin saja terbawa oleh peneliti. Dalam penelitian
kualitatif refleksifitas merupakan karakteristik yang dibutuhkan, pendapat peneliti
terkait interpretasi hasil penelitian turut dibentuk dan dipengaruhi latar belakang
peneliti seperti gender, kebudayaan, sejarah dan status sosial.
5) Menyajikan informasi “yang berbeda” atau “negatif” atau negative or discrepant
information. Dalam tahap ini peneliti dapat memberikan bukti atau kasus yang
kontradiktif dengan tema yang diangkat karena perbedaan akan menambah
kredibilitas hasil penelitian. Jika peneliti berhasil menyajikan bukti maka
penelitian akan semakin valid dan realistis.
6) Memanfaatkan waktu yang relatif lama atau prolonged time di lokasi penelitian
akan membuat peneliti lebih memahami fenomena yang terjadi dan mampu
menyampaikan secara detail terkait lokasi dan orang-orang yang terlibat dalam
membangun kredibilitas penelitian.
7) Melakukan tanya jawab dengan rekan sesama peneliti atau peer debriefing.
Pada tahap ini peneliti disarankan untuk mencari rekan (peer debriefer) yang
dapat mereview dan berdiskusi terkait hasil penelitian. Dalam tahapan ini akan
menambah interpretasi yang terlibat sehinggaa menambah validitas penelitian.
8) Mengajak seorang auditor untuk mereview keseluruhan objek penelitian. Jika
peer debriefer adalah orang yang akrab dengan peneliti maka eksternal auditor
adalah auditor yang tidak akrab dengan peneliti. Kehadiran eksternal auditor
adalah untuk melakukan penilaian objektif mulai dari proses hingga kesimpulan.
184
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Dari delapan strategi untuk menilai keakuratan hasil penelitian yang
disampaikan Creswell tersebut, ada tiga yang strategi yang biasa digunakan oleh
peneliti kualitatif (Emzir, 2010:82) yaitu triangulasi, member checking dan auditing
D.CONTOH METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF
Judul (Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Pada Puisi Karya Siswa Kelas VIII
SMPN 2 Mekar Baru Kabupaten Tangerang)
A. Pendekatan Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode penelitian analisis isi / analisis konsep isi. Menurut Prastowo (2011:81)
Analisis isi adalah suatu metode yang teknik penelitiannya dilakukan dengan
membuat inferensi secara kontekstual. Jadi pesan-pesan komunikasi dapat
dipahami secara utuh. Sedangkan menurut Ratna (2012:48) Isi dalam metode
analisis isi terdiri atas dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi. Isi laten
adalah isi yang terkandung dalam dokumen dan naskah, sedangkan isi
komunikasi adalah pesan yang terkandung sebagai akibat komunikasi yang
terjadi. Tiga tujuan utama penggunaan analisis isi yaitu untuk mendeskripsikan
data, menguji hipotesis dan membuat inferensi. Zuchdi (dalam Prastowo,
2011:92) mengemukakan secara prosedural, metode analisis isi terdiri dari
empat langkah utama, yaitu pengadaan data, reduksi data, inferensi dan analisis.
B. Sumber dan Jenis Data Penelitian
Sumber data yang terkait dengan penelitian bahasa dan sastra ini adalah
teks puisi siswa kelas VIII A SMPN 2 Mekar Baru Tangerang. Sedangkan jenis
data penelitian kualitatif bahasa dan sastra ini dikelompokan menjadi data primer
dan data sekunder.
185
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
1. Data primer
“Data primer adalah data utama, yaitu data yang diseleksi atau diperoleh
secara langsung dari sumbernya tanpa perantara” (Siswantoro, 2011: 70).
Data primer dalam penelitian ini adalah puisi karya siswa kelas VIII A SMPN
2 Mekar Baru Tangerang yang berjumlah 40 buah puisi.
2. Data sekunder
“Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung atau lewat
perantara, tetapi tetap bersandar kepada kategori atau parameter yang
menjadi rujukan” (Siswantoro, 2011: 71). Data sekunder dalam penelitian ini
adalah buku-buku referensi yang terkait dengan objek penelitian.
C. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian kualitatif bahasa dan sastra ini teknik pengumpulan data
yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan observasi dan studi dokumen. Studi
dokumen juga dilakukan karena data-datanya berupa teks-teks puisi siswa kelas
VIII SMPN 2 Mekar Baru Tangerang
Langkah-langkah yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi dilakukan oleh peneliti di SMPN 2 Mekar Baru Tangerang kelas
VIII A dengan jumlah siswa 40 orang. Setiap siswa diminta untuk membuat
sebuah puisi bebas dengan tema yang bebas dan meminta siswa untuk
memperhatikan penggunaan diksi yang tepat pada puisi ciptaannya.
2. Menentukan tema yang dipilih oleh siswa.
3. Mendeskripsikan plihan kata (diksi) yang dipilih oleh siswa.
186
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
4. Menarik kesimpulan dari hasil penelitian
D. Instrumen Penelitian
Menurut Siswantoro (2011:73) Instrumen berarti alat yang dipergunakan
untuk mengumpulkan data. Jadi, dalam penelitian kualitatif bahasa dan sastra,
yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri.
Mengetahui posisi peneliti sebagai alat penelitian atau instrumen terkait maka
penelitian sastra ini berorientasi kepada teks, bukan kepada sekelompok individu
yang menerima suatu perlakuan tertentu. Namun, untuk membantu peneliti
dalam menganalisi data pada penelitian ini, peneliti menggunakan alat bantu
yang dinamakan kartu pengumpul data. Setiap lembar pengumpul data diberi
label kategori unsur tertentu agar cara kerja seleksi data berjalan sistematis.
Untuk jelasnya digambarkan sebagai berikut:
Gambar.1
Kartu Pengumpul Data
Tema dan Diksi
Sumber data : ......................
Penulis : ......................
Judul puisi : .....................................................
Tema
Diksi : .....................................................
: .....................................................
…………………………………...
…………………………………...
…………………………………...
187
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
Selain itu untuk mengetahui tema-tema yang terkandung dalam puisi-puisi
karya siswa kelas VIII A tersebut dibuat instrument sebagai berikut:
Gambar. 2
Tabel Tema Puisi
No Nama Siswa Judul Puisi Tema Tema Umum
(Penulis) Khusus
E. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis konsep /
analisis isi. Zuchdi (dalam Prastowo, 2011: 92) mengemukakan secara
prosedural, metode analisis isi terdiri dari empat langkah utama, yaitu
pengadaan data, reduksi data, inferensi (simpulan) dan analisis. Namun secara
garis besar aktivitas analisis data meliputi reduksi data, penyajian data dan
kesimpulan atau verifikasi.
1. Reduksi data
Mereduksi data yaitu memfokuskan diri pada data yang dibutuhkan sesuai
kriteria yang relah ditentukan. Pada langkah ini peneliti memilih data-data
yang pokok atau hal-hal yang penting. Data-data yang dipilih hanya data yang
berkaitan dengan masalah yang akan dianalisis. Dalam penelitian ini data-
data yang dipilih tentang unsur intrinsik yang berkenaan dengan tema dan
diksi dalam puisi siswa kelas VIII A. VIII SMPN 2 Mekar Baru Kabupaten
Tangerang
188
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
2. Penyajian data
Setelah dilakukan pereduksian data, selanjutanya dilakukan penyajian data.
Pada langkah ini, data disajikan dengan menyiapkan table tema puisi dan
kartu pengumpul data. Setelah lembaran kartu pengumpulan data disiapkan,
selanjutnya dilakukan tahap menyeleksi data. Pada tahap ini peneliti
berulang kali mengamati dengan cermat terhadap tema yang dibuat dan
adanya diksi pada puisi yang ditentukan siswa. Setelah teridentifikasi data
yang diinginkan, peneliti menulisnya dilembar pengumpul data.
3. Verifikasi
Pada tahap ini dibuat kesimpulan tentang hasil dari data yang diperoleh sejak
awal penelitian. Kesimpulan ini masih memerlukan adanya verifikasi
(penelitian kembali tentang kebenaran laporan) sehingga hasil yang
diperoleh benar-benar valid.
F. Keabsahan Data
Untuk meyakinkan bahwa deskripsi data yang disajikan peneliti adalah
data yang absah dan memiliki derajat kepercayaan maka selanjutnya dilakukan
teknik penjaminan keabsahan melalui: objektivitas dan kesahihan internal.
1. Objektivitas
Objektivitas bermakna sebagai proses kerja yang dilakukan untuk mencapai
kondisi objektif. Untuk mencapai keobjektivitasan maka peneliti telah membuat
desain penelitian secara baik dan benar, fokus penelitian yang tepat, kajian
teori yang relevan, melakukan teknik pengumpulan data yang disesuaikan
dengan fokus permasalahan dalam penelitian, melakukan analisis data secara
189
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi
benar, dan berusaha memberikan hasil penelitian yang berguna atau
bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Kesahihan Internal
Validitas internal membahas seberapa jauh hasil penelitian dapat dipercaya,
oleh karena itulah untuk mencapai kepercayaan peneliti berusaha memenuhi
kriteria keabsahan data dengan cara adanya keterkaitan antara pengamat
(peneliti) dengan partisipan (siswa SMPN1 Mekar Baru kelas VIII A) saat
dilakukannya pengumpulan data. Diskusi bersama teman sejawat yang
melakukan penelitian satu kajian namun berbeda objek, serta melakukan
diskusi untuk mendapat kesepakatan dalam hal analitis, penafsiran, dan
simpulan dari data yang sebelumnya telah diorganisasikan oleh peneliti.
190
Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi