The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-06-11 00:12:01

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra

Agus Sulaeman, Goziyah

BAB X

Penelitian Pengembangan
dan Penelitian Tindakan dalam Penelitian Kualitatif

A.Pendahuluan
Metode Penelitian dan Pengembangan atau dalam bahasa Inggrisnya Research

and Development (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Untuk
menghasilkan produk tertentu terlebih dahulu dilakukan penelitian yang bersifat
analisis kebutuhan. Kemudian untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya
dapat berfungsi di masyarakat luas, maka dilakukanlah penelitian. Jadi penelitian
dan pengembangan bersifat longitudinal (bertahap bahkan multiyears).

Borg and Gall (1988) menyatakan bahwa, Penelitian dan Pengembangan
(Research and Development/R&D), merupakan metode penelitian yang digunakan
untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam
pendidikan dan pembelajaran. Jadi, penelitian dan pengembangan ini bertujuan
untuk mengembangkan produk yang sudah ada agar produk tersebut lebih baik
dan lebih tepat dalam penggunaannya.

Borg dan Gall dalam Sukmadinata (2008:45) mengemukakan bahwa pada
bagian awalnya Penelitian dan Pengembangan (R&D) bersumber dari
pengamatan berbagai gejala yang muncul di masyarakat pendidikan yang
menuntut penanganan produk pendidikan berjangka panjang yaitu proses yang
diupayakan melahirkan produk yang memiliki kesahihan dalam
pengembangannya. Selanjutnya, sebagai penelitian kualitatif hal tersebut
cenderung fenomenologis, artinya mengamati suatu gejala dengan memfokuskan
penerapannya dari segi pandangan yang diteliti, apa yang dihayati oleh subjek
peneliti dari dalam diri mereka. Selain itu, siklus dasar R&D ini selalu mencakup
siklus kajian evaluasi pengembangan.

Penelitian dan pengembangan merupakan “jembatan” antara penelitian
dasar (basic research) dengan penelitian terapan (applied research), di mana

191

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

penelitian dasar bertujuan untuk menemukan pengetahuan yang secara praktis

dapat diaplikasikan. Penelitian dan pengembangan bertujuan untuk menemukan,

mengembangkan, dan memvalidasi suatu produk.

Penelitian Dasar Penelitian dan Pengembangan Penelitian
(Penemuan Ilmu Baru) (Penemuan, Pengembangan, dan Terapan
Pengujian Produk) (Menerapkan
Ilmu/Produk)

Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang
bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya
dapat berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan penelitian untuk menguji
keefektifan produk tersebut. Jadi penelitian dan pengembangan bersifat
longitudinal (bertahap).

Sejalan dengan Borg and Gall ( 1989) menyatakan: pada umumnya
penelitian dan pengembangan (R&D) bersifat longitudinal (beberapa tahap). Untuk
penelitian analisisi kebutuhan sehingga mampu dihasilkan produk yang bersifat
hipotetik sering digunakan metode penelitian dasar. Selanjutnya untuk menguji
produk yang masih bersifat hipotetik tersebut, digunakan eksperimen atau action
research. Setelah produk teruji, maka dapat diaplikasikan.

Penelitian dan Pengembangan mencakup spektrum kegiatan dan potensi
yang luas di antaranya: (a) mencermati kajian proses dan dampak Penelitian dan
Pengambangan,(b) proses kajian tentang Penelitian dan Pengembangan
merupakan proses secara utuh juga spesifik. Sementara itu, sasaran Penelitian
dan Pengembangan mencakup: (a) Produk dan alat penelitian dan (b) Penelitian
model (model research).

Bagian terberat dalam melakukan penelitian adalah pada saat menentukan
metode dan stategi apa yang tepat sehingga menghasilkan data yang bermakna
dan kesimpulan yang bermanfaat. Jika desain penelitian kita lemah maka akan
menghabiskan waktu, bahkan hasil penelitian menjadi tidak bermakna. Ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada saat akan mendesain proyek
penelitian:

1. Menentukan validitas dari hasil penelitian (kesimpulan).

192

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

2. Menentukan kondisi sebab-akibat pada saat melakukan penelitian.
3. Mendukung dan memfasilitasi pada saat melakukan pengujian dan

interpretasi.
4. Mengantisipasi berbagai masalah yang timbul pada saat melakukan

penelitian.
Sementara Creswell (2010:233) menjelaskan beberapa komponen yang

harus dipertimbangkan pada saat menentukan desain penelitian:
1. Jenis observasi seperti apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan, sebab
hal ini terkait dengan data.
2. Strategi seperti apa yang tepat untuk mengobservasi pada metode tertentu.
3. Partisipan seperti apa pada proyek penelitian tersebut.
4. Instrumen dan pengukuran apa yang tepat.
5. Analisis data.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal yang perlu

dipertimbangkan pada saat membuat desain penelitian, yakni:
1. Sesuaikan metode dan pertanyaan penelitian.
2. Klasifikasi desain dan tujuan pengembangan penelitian.
3. Sesuaikan tujuan penelitian dan metode.
Proyek penelitian pengembangan tidak hanya pada produk tapi juga pada

pengembangan dan evalusi program, bahkan ada yang menggunakan keduanya
produk dan program. Evalusi program biasanya akan difokuskan pada Instructional
System Design (ISD) dengan melihat efektifitas dan dampak dari suatu program.
Hal ini dikemukakan oleh Sullivan, Ice, dan Niedermeyer’s (2000) study is
representative of program development research that focus on the impact of
instructional program rather than the design and development procedure.
B.Langkah-langkah Penelitian dan Pengembangan

Pola umum prosedur R&D menurut Sukmadinata (2008:137) mencakup: 1)
Pengembangan bentuk produk awal, 2) Test awal di lapangan, 3) Revisi produk, 4)
Kajian lapangan, 5) Revisi produk secara operasional, 6) Kajian lapangan
operasional, dan 7) Difusi.

193

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Sementara itu, menurut Sugiyono (2007) ada 10 langkah yang dilakukan
dalam Penelitian dan Pengembangan, yaitu:
1. Potensi dan Masalah

Penelitian dapat berangkat dari adanya potensi dan masalah. Potensi
adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah.
Sebagai contoh, dalam bidang sosial dan pendidikan, misalnya kita mempunyai
potensi penduduk usia kerja yang cukup banyak, sehingga melalui model
pendidikan tertentu dapat diberdayakan guna sebagai tenaga kerja.

Masalah adalah penyimpangan antara yang diharapakan dengan yang
terjadi. Pengangguran, korupsi dapat dipandang sebagai masalah nasional.
Masalah ini dapat diatasi melalui R&D dengan cara meneliti sehingga dapat
ditemukan suatu model, pola, atau sistem penanganan terpadu yang efektif yang
dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Model, pola, dan sistem ini
akan ditemukan dan dapat diaplikasikan secara efektif kalau dilakukan melalui
penelitian dan pengembangan. Potensi dan masalah yang dikemukakan dalam
penelitian harus ditunjukkan dengan data empirik. Masalah dapat dijadikan potensi
yang baik bila ditemukan jalan keluarnya. Sebagai contoh, sampah akan dapat
dijadikan potensi, kalau kita dapat merubahnya sebagai pupuk atau energi atau
barang lain yang bermanfaat.
2. Mengumpulkan Informasi

Setelah potensi dan masalah dapat ditunjukkan secara faktual, maka
selanjutnya perlu dikumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai
bahan untuk perencanaan produk tertentu yang diharapkan dapat mengatasi
masalah tersebut. Di sini diperlukan penelitian tersendiri yang metodenya
tergantung pada permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai. Pada tahap ini
setelah peneliti mengamati suatu masalah tertentu dalam pendidikan, ia lalu
mengumpulkan informasi atau data. Kemudian data yang diperoleh dari berbagai
sumber digali dan diarahkan pada sasaran tertentu dimana berbagai data, teori,
dan literatur dikaji.

194

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

3. Desain Produk
Dalam bidang pendidikan, produk-produk yang dihasilkan melalui penelitian

R&D diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pendidikan, misalnya lulusan
yang jumlahnya banyak, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan. Produk-
produk pendidikan misalnya kurikulum yang spesifik untuk keperluan pendidikan
tertentu, metode mengajar, media pendidikan, buku ajar, modul, kompetensi
tenaga kependidikan, sistem evaluasi, model uji kompetensi, penataan ruang kelas
untuk model pembelajaran tertentu, model unit produksi, model manajemen,
sistem pembinaan pegawai, sistem pengkajian dan lain-lain.

Misalnya, peneliti akan menghasilkan produk berupa metode mengajar baru
maka peneliti harus membuat rancangan metode mengajar baru. Rancangan
metode mengajar baru ini dibuat berdasarkan penilaian terhadap metode mengajar
lama. Sehingga dapat ditemukan kelemahan-kelemahan terhadap metode
tersebut. Selain itu peneliti juga harus melakukan penelitian kepada sekolah-
sekolah lain yang dipandang metode mengajarnya bagus. Selain itu juga harus
mengkaji referensi mutakhir yang terkait dengan metode mengajar yang modern
berikut indikator pelaksanaan dan hasil kerjanya.

Hasil akhir dari kegiatan penelitian dan pengembangan adalah berupa
desain produk baru yang lengkap dengan spesifikasinya. Desain produk harus
diwujudkan dalam gambar atau bagan, sehingga dapat digunakan sebagai
pegangan untuk menilai dan membuatnya. Pada contoh tentang produk
pendidikan, hasil akhir dari kegiatan ini adalah berupa desain metode yaitu
rancangan metode pembelajaran baru. Desain metode ini masih bersifat hipotetik.
Dikatakan hipotetik karena efektivitasnya belum terbukti dan akan dapat diketahui
setelah melalui pengujian-pengujian. Setiap desain produk perlu ditunjukkan dalam
gambar kerja, bagan, atau uraian ringkas, sehingga akan memudahkan pihak lain
untuk memahaminya. Efektivitas metode mengajar baru bisa diukur bila sudah
diimplementasikan sehingga suasana belajar menjadi kondusif dan hasil belajar
meningkat.

195

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

4. Validasi Desain
Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakan

rancangan produk, dalam hal ini metode mengajar baru secara rasional akan lebih
efektif dari yang lama atau tidak. Dikatakan secara rasional, karena validasi di sini
masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan.

Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa
pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru
yang dirancangn tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahui kelemahan dan
kekuatannya. Validasi desain dapat dilakukan dalam forum diskusi. Sebelum
diskusi, peneliti mempresentasikan proses penelitian sampai ditemukan desain
tersebut.
5. Perbaikan Desain

Setelah desain produk divalidasi melalui diskusi dengan pakar dan para ahli
lainnya, maka akan dapat diketahui kelemahannya. Kelemahan tersebut
selanjutnya dicoba untuk dikurangi dengan cara memperbaiki desain. Yang
bertugas memperbaiki desain adalah penelitian yang mau menghasilkan produk
tersebut.
6. Uji Coba Produk

Langkah selanjutnya adalah uji coba produk. Dalam bidang pendidikan,
desain produk seperti metode mengajar baru dapat langsung diuji coba, setelah
divalidasi dan revisi. Uji coba tahap awal dilakukan dengan simulasi penggunaan
metode mengajar tersebut. Setelah disimulasikan, maka dapat diuji cobakan pada
kelompok yang terbatas. Pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
informasi apakah metode mengajar baru tersebut lebih efektif dan efisien
dibandingkan metode mengajar yang lama atau yang lain.

Untuk itu pengujian dapat dilakukan dengan eksperimen, yaitu
membandingkan efektivitas metode mengajar lama dengan yang baru.
Indikatornya efektivitas metode mengajar baru adalah kecepatan pemahaman
murid pada pelajaran lebih tinggi, murid bertambah kreatif dan hasil belajar
meningkat. Percobaan ini biasanya dikaukan dengan membandingkan keadaan
sebelum dan sesudah metode baru ini digunakan.

196

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

7. Revisi Produk
Apabila uji coba produk sudah dilakukan maka langkah selanjutnya adalah

merevisi produk baru tersebut, karena produk tersebut adalah metode mengajar,
maka hal-hal yang perlu direvisi mungkin berupa perbaikan teknik-teknik yang
dilakukan dalam penerapan metode tersebut ataupun pengurangan terhadap hal-
hal yang tidak terlalu signifikan. Misalnya, pengujian efektivitas metode mengajar
baru pada sampel yang terbatas menunjukkan bahwa metode mengajar baru
ternyata yang lebih efektif dari metode lama. Namun dari hasil pengujian terlihat
bahwa kreativitas murid baru mendapat nilai 60% dari yang diharapkan. Untuk itu
maka desain metode mengajar perlu direvisi agar kreativitas murid dalam belajar
dapat meningkat pada gradasi yang tinggi. Setelah direvisi maka perlu
diujicobakan lagi pada kelas yang lebih luas.
8. Uji Coba Pemakaian

Setelah pengujian terhadap produk berhasil, dan mungkin ada revisi yang
tidak terlalu penting, maka selanjutnya produk yang berupa metode mengajar baru
tersebut diterapkan dalam lingkup lembaga pendidikan yang luas. Dalam
operasinya, metode baru tersebut tetap harus dinilai kekurangan atau hambatan
yang muncul guna untuk perbaikan lebih lanjut.

Pada tahap ini produk baru yang ditawarkan sudah harus jadi dengan
mengkaji dampak aplikasinya. Asumsi kebermaknaannya dapat dicek melalui
desain eksperimental, atau melalui observasi dan refleksi (Sukmadinata,2008).
9. Revisi Produk

Revisi produk ini dilakukan, apabila dalam pemakaian pada lembaga
pendidikan yang lebih luas terdapat kekurangan dan kelemahan. Dalam uji
pemakaian, sebaiknya pembuat produk selalu mengevaluasi bagaimana kinerja
produk dalam hal ini adalah metode mengajar tersebut untuk penyempurnaan
berikutnya.
10. Pembuatan Produk Masal

Bila produk yang berupa metode mengajar baru tersebut telah dinyatakan
efektif dalam beberapa kali pengujian, maka metode mengajar baru tersebut dapat
diterapkan pada setiap lembaga pendidikan.

197

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Sejalan dengan pendapat di atas, Borg dan Gall (1983) menyatakan 10
langkah yang dapat dilakukan dalam melakukan prosedur penelitian
pengembangan, yaitu:

1. Melakukan penelitian pendahuluan (prasurvei) untuk mengumpulkan
informasi (kajian pustaka, pengamatan kelas), identifikasi permasalahan yang
dijumpai dalam pembelajaran, dan merangkum permasalahan.

2. Melakukan perencanaan (identifikasi dan definisi keterampilan, perumusan
tujuan, penentuan urutan pembelajaran, dan uji ahli atau uji coba pada skala
kecil atau expert judgement.

3. Mengembangkan jenis/bentuk produk awal meliputi: penyiapan materi
pembelajaran, penyusunan buku pegangan, dan perangkat evaluasi.

4. Melakukan uji coba lapangan tahap awal, dilakukan terhadap 2-3 sekolah
menggunakan 6-10 subjek ahli. Pengumpulan informasi/data dengan
menggunakan observasi, wawancara, dan kuesioner, dan dilanjutkan analisis
data.

5. Melakukan revisi terhadap produk utama, berdasarkan masukan dan saran-
saran dari hasil uji lapangan awal.

6. Melakukan uji coba lapangan utama, dilakukan terhadap 3-5 sekolah. Tes
atau penilaian tentang prestasi belajar siswa dilakukan sebelum dan sesudah
proses pembelajaran.

7. Melakukan revisi terhadap produk operasional, berdasarkan masukan dan
saran-saran hasil uji lapangan utama.

8. Melakukan uji lapangan operasional (dilakukan terhadap 10-30 sekolah), data
dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner.

9. Melakukan revisi terhadap produk akhir berdasarkan saran dalam uji coba
lapangan.

10. Mengimplementasikan produk, melaporkan, dan menyebarluaskan produk
melalui pertemuan dan jurnal ilmiah, bekerjasama dengan penerbit untuk
sosialisasi produk untuk komersial dan memantau distribusi dan kontrol
kualitas.

198

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Prosedur penelitian pengembangan menurut Borg dan Gall, dapat dilakukan
dengan lebih sederhana melibatkan 5 langkah utama, yaitu:

1. Melakukan analisis produk yang akan dikembangkan
2. Mengembangkan produk awal
3. Validasi ahli dan revisi
4. Uji coba lapangan skala kecil dan revisi produk
5. Uji coba lapangan skala besar dan produk akhir

d. Sistematikan Laporan Penelitian dan Pengembangan
Sebagaimana diketahui bahwa metode R&D merupakan metode penelitian

yang digunakan untuk meneliti yang pada akhirnya menghasilkan produk baru
setelah melalui berbagai proses. Sehubungan dengan hal itu, maka laporan
penelitian yang dibuat harus selalu dilampiri dengan produk yang dihasilkan
berikut spesifikasinya dan penjelasannya. Lampiran berupa produk yang
dihasilkan tersebut dibuat dalam buku tersendiri dan dijelaskan tentang
keunggulan produk tersebut berdasarkan hasil uji coba serta cara
menggunakannya.
Sistematika Laporan Penelitian R&D
Halaman judul
Abstrak
Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat

199

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS

A. Deskripsi Teori
B. Kerangka Berpikir
C. Hipotesis (Produk yang akan dihasilkan)
BAB III PROSEDUR PENELITIAN
A. Langkah-langkah Penelitian
B. Metode Penelitian Tahap I

1. Populasi Sampel Sumber Data
2. Teknik Pengumpulan Data
3. Instrumen Penelitian
4. Analisis Data
5. Perencanaan Desain Produk
6. Validasi Desain
C. Metode Penelitian tahap II
1. Model Rancangan Eksperimen untuk Menguji Produk yang Telah

Dirancang
2. Populasi dan Sampel
3. Teknik Pengumpulan Data
4. Instrumen Penelitian
5. Teknik Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Desain Awal Produk (Gambar dan Penjelasan)
B. Hasil Pengujian Pertama
C. Revisi Produk (Gambar setelah direvisi dan penjelasannya)
D. Hasil Pengujian Tahap II
E. Revisi Produk (Gambar setelah revisi dan penjelasannya)
F. Tahap Pengujian III (bila perlu)
G. Penyempurnaan Produk (Gambar terakhir dan penjelasannya)
H. Pembahasan Produk

200

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN PENGGUNAANNYA
A. Kesimpulan
B. Saran Penggunaan

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN INSTRUMEN
LAMPIRAN DATA
LAMPIRAN PRODUK YANG DIHASILKAN DISERTAI BUKU PENJELASAN

e. Contoh Judul Penelitian dan Pengembangan
1. Pengembangan Model Bahan Ajar Bahasa Indonesia bagi Anak Berbakat
Intelektual.
2. Kosakata dan Struktur Bahasa Indonesia untuk Sekolah dasar (Sebuah
Analisis Isi) untuk Menghasilakan Materi Pelajaran.
3. Pengembangan Sistem Pembelajaran Bahasa Indonesia yang
Menyenangkan Peserta Didik.
4. Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Kurikulum Muatan Lokal
untuk Pembelajaran Matematika.

C.Penelitian Tindakan
Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan menurut

metode ilmiah yang sistematis untuk menemukan informasi ilmiah atau teknologi
baru, membuktikan kebenaran dan ketidakbenaran hipotesis sehingga dapat
dirumuskan teori atau proses gejala sosial. Penelitian juga bisa diartikan sebagai
kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan metodologi
tertentu untuk mendapatkan data atau informasi yang bermanfaat untuk
selanjutnya data tersebut dianalisis untuk dicari kesimpulannya. Penelitian
tindakan atau action research ini dipelopori oleh seorang ahli psikologi sosial
bernama Kurt Lewin pada tahun 1940-an di Amerika yang kemudian
dikembangkan tidak saja untuk bidang psikologi dan sosial, tetapi juga untuk
pendidikan. Penelitian tindakan sebagai suatu proses yang memberikan
kepercayaan untuk pengembangan kekuatan reflektif, diskusi untuk pengambilan
keputusan dan tindakan oleh orang-orang berpartisipasi dalam penelitian secara

201

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

kolektif pada masalah pribadi yang memiliki kesamaan (Mills, 2003:5). Penelitian
tindakan didasarkan atas sebuah filosofi bahwa setiap manusia tidak suka atas
hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik.
Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus-menerus sampai
tujuan tercapai, tetapi sifatnya hanya sementara, karena dilanjutkan lagi dengan
keinginan untuk lebih baik yang datang susul menyusul. Dengan kata lain,
penelitian tindakan dilakukan bukan karena ada paksaan atau permintaan dari
pihak lain, tetapi harus atas dasar sukarela, dengan senang hati, karena
menunggu hasilnya yang diharapkan lebih baik dari hasil yang lalu, yang dirasakan
belum memuaskan dan perlu ditingkatkan.

Menurut Gay (2009:486) penelitian tindakan dalam pendidikan adalah
suatu penelitian yang dilaksanakan secara sistematis oleh guru, kepala sekolah,
konselor atau pemangku kepentingan lainnya dalam lingkungan belajar mengajar
untuk mendapatkan wawasan, mengembangkan praktik reflektif, memengaruhi
perubahan positif dalam lingkungan sekolah (dan pada praktik pendidikan pada
umumnya) untuk meningkatkan hasil belajar. Aksi penelitian dalam pendidikan
adalah setiap pertanyaan sistematis yang dilakukan oleh para peneliti guru, kepala
sekolah, konselor sekolah, atau pemangku kepentingan lainnya dalam lingkungan
teaching-learning yang melibatkan pengumpulan informasi tentang cara-cara
mengajar di mana mereka bekerja.

Penelitian tindakan dideskripsikan sebagai suatu penelitian informal,
kualitatif, formatif, subjektif, interpretatif, reflektif, dan suatu model penelitian
pengalaman di mana semua individu dilibatkan dalam studi sebagai peserta yang
mengetahui dan menyokong Hopkin (Emzir, 2015:233). Hal ini dipertegas oleh
Kemmis yang dikuti oleh Hopkin (1985) bahwa penelitian tindakan adalah bentuk
penelitian reflektif diri (self-reflective) yang dilakukan oleh para partisipan dalam
situasi sosial (termasuk pendidikan) dalam rangka meningkatkan (a) keadilan dan
rasionalitas praktik sosial dan pendidikan mereka sendiri; (b) pemahaman mereka
tentang praktik tersebut; dan (c) situasi tempat praktik tersebut dilakukan. Hal ini
sangat rasional bila dilakukan oleh para partisipan.

202

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Penelitian tindakan merupakan suatu pencarian sistematik yang
dilaksanakan oleh para pelaksana program dalam kegiatannya sendiri (dalam
pendidikan dilakukan oleh guru, dosen, kepala sekolah, konselor), dalam
mengumpulkan data tentang pelaksanaan kegiatan, keberhasilan dan hambatan
yang dihadapi untuk kemudian menyusun rencana dan melakukan kegiatan-
kegiatan penyempurnaan (Sukmadinata, 2008:140). Alat untuk memecahkan
masalah yang dilakukan diagnosis tertentu. Alat pelatihan dalam jabatan sehingga
membekali guru yang bersangkutan dengan keterampilan, metode dan teknik
mengajar yang baru, mempertajam kemampuan analisisnya, dan mempertinggi
kesadaran atas kelebihan dan kekurangan pada dirinya. Alat untuk mengenalkan
pendekatan tambahan atau yang inovatif pada pengajaran. Alat untuk
meningkatkan komunikasi antara guru di lapangan dan peneliti akademis, serta
memperbaiki kegagalan penelitian tradisional. Alat untuk menyediakan alternatif
yang lebih baik untuk mengantisipasi pendekatan yang lebih subjektif,
impresionistik dalam memecahkan masalah di dalam kelas.

Penelitian tindakan memiliki ruang lingkup yang luas karena objek penelitian
tindakan tidak hanya terbatas di dalam kelas tetapi bisa di luar kelas, seperti
sekolah, organisasi, komunitas, dan masyarakat. Menurut Kurn Lewin penelitian
tindakan adalah suatu rangkaian langkah yang terdiri atas empat tahap, yakni
perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Selain itu, menurut Burns
(1999) penelitian tindakan merupakan penerapan penemuan fakta pada
pemecahan masalah dalam situasi sosial dengan pandangan untuk meningkatkan
kualitas tindakan yang dilakukan di dalamnya, yang melibatkan kolaborasi dan
kerja sama para peneliti.

Menurut Sumanto (2005: 44), tiga prinsip dalam penelitian tindakan, yaitu:
(1) adanya partisipasi dari peneliti dalam suatu program atau kegiatan; (2) adanya
tujuan untuk meningkatkan kualitas suatu program atau kegiatan melalui penelitian
tindakan tersebut; dan (3) adanya tindakan (treatment) untuk meningkatkan
kualitas suatu program atau kegiatan.

Penelitian tindakan (action research), menghadirkan suatu perkembangan
bidang penelitian pendidikan yang mengarahkan pengidentifikasian karakteristik

203

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

kebutuhan pragmatis dari praktisi bidang pendidikan untuk mengorganisasi
penyelidikan reflektif ke dalam pengajaran di kelas. Penelitian tindakan adalah
suatu proses yang dirancang untuk memberdayakan semua partisipan dalam
proses (siswa, guru, dan peserta lainnya) dengan maksud untuk meningkatkan
praktik yang diselenggarakan di dalam pengalaman pendidikan (Hopkin, 1993).
Semua partisipan merupakan anggota aktif dalam proses penilaian.

Penelitian tindakan mempunyai tujuan untuk menyediakan suatu kerangka
penyelidikan kualitatif oleh para guru dan peneliti di dalam situasi pekerjaan kelas
yang kompleks. Menurut Hopkin (1985, dalam Emzir, 2009: 234) penelitian
tindakan adalah studi sistematis dari upaya meningkatkan praktik pendidikan oleh
kelompok partisipan dengan cara tindakan praktis mereka sendiri dan dengan cara
refleksi mereka sendiri terhadap pengaruh tindakan tersebut.

Kerangka kerja penelitian tindakan merupakan yang paling sesuai untuk
para partisipan yang mengenali eksistensi kekurangan dalam aktivitas pendidikan
mereka dan yang bermaksud mengadopsi beberapa pendirian awal yang
berhubungan dengan masalah, merumuskan rancangan, melaksanakan intervensi,
mengevaluasi hasilnya, dan mengembangkan strategi lebih lanjut dalam
pertunjukan berulang. Penelitian tindakan harus dilakukan sekurang-kurangnya
dalam dua siklus tindakan yang berurutan, informasi dari siklus yang terdahulu
sangat menentukan bentuk siklus berikutnya. Oleh karena itu siklus yang kedua,
ketiga, dan seterusnya tidak dapat dirancang sebelum siklus pertama terjadi. Hasil
refleksi harus tampak digunakan sebagai bahan masukan untuk perencanaan
siklus berikutnya.

Secara sederhana penelitian tindakan merupakan “belajar dengan
melakukan” (learning by doing), suatu kelompok orang mengidentifikasi suatu
masalah, melakukan sesuatu untuk memecahkannya, mengamati bagaimana
keberhasilan usaha mereka, dan jika belum memadai mereka mencoba lagi.

Penelitian tindakan bertujuan untuk memberikan kontribusi kepada
kepedulian praktis dari orang dalam situasi problematis secara langsung dan untuk
tujuan lebih lanjut dari ilmu sosial secara serempak. Dengan demikian, ada dua
komitmen dalam penelitian tindakan untuk mengkaji suatu sistem dan secara

204

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

bersamaan untuk berkolaborasi dengan anggota dari sistem tersebut dalam
mengubah apa yang secara bersama-sama disepakati sebagai arah yang
diinginkan. Penelitian tindakan ini digunakan dalam situasi nyata karena fokus
utamanya adalah pada pemecahan masalah nyata.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
penelitian tindakan dapat dikatakan sebagai suatu bentuk penelitian reflektif diri
yang secara kolektif dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan
penalaran serta pemahaman mengenai praktik ini terhadap situasi tempat
dilakukan praktik pembelajaran. Pada umumnya penelitian ini cocok untuk
meningkatkan subjek yang diteliti. Subjek penelitian biasanya berupa kelompok
orang yang ingin meningkatkan kualitas kerjanya. Penelitian tindakan adalah
penelitian yang dilakukan oleh guru, untuk diri mereka sendiri tidak dipaksakan
pada mereka oleh orang lain. Kelas dalam hal ini tidak terikat pada pengertian
ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama
dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan ‘kelas'
adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang
sama dari guru yang sama juga.

1. Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan
Emzir (2007: 236-239) menyatakan bahwa prinsip-prinsip penelitian

tindakan mencakup kritik reflektif, kritik dialektik, sumber daya kolaboratif, ambil
resiko, struktur jamak dan teori, praktik dan transformasi.

a. Kritik reflektif
Dalam ranah sosial seringkali dokumen ataupun catatan pejabat memiliki
kebenaran yang tersirat. Dengan prinsip kritik reflektif ini meyakinkan peneliti
untuk merefleksi isu dan proses serta membuat interpretasi, asumsi dan
penyimpangan dalam dokumen tersirat menjadi lebih jelas terungkap.
Dengan cara ini, perhitungan praktis dapat memberikan kemajuan pada
pertimbangan teori.

205

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

b. Kritik Dialektika
Dalam memahami fenomena sosial, fenomena tersebut dikonseptualisasikan
dalam bentuk dialog uraian pemahaman. Oleh karena itu, suatu kritik
dialektika dibutuhkan untuk menghayati serangkaian hubungan antar
fenomena dan konteksnya, serta antar unsur-unsur pembentuk fenomena
tersebut. Dalam fenomena sosial ada kalanya unsur-unsur tersebut saling
bertentangan, yang ketidakstabilan. Kondisi yang demikian dapat
menciptakan suatu perubahan.

c. Sumber Daya Kolaboratif
Dalam penelitian tindakan, penelitian dilakukan secara kolaboratif
memberikan gagasan yang berkedudukan sama pentingnya sebagai sumber
daya potensial untuk menciptakan kategori analisis interpretasi. Walaupun
para partisipan berkedudukan sebagai pembantu peneliti. Peneliti utama
sebagai pemilik gagasan merundingkan dengan sistematis, kritis, dan
menyimpulkan segala pertentangan antara sudut pandang tunggal yang
seoptimal mungkin mengakomodasi gagasan berbagai pihak.

d. Ambil Resiko
Pemrakasa penelitian tindakan harus berani mengambil resiko dalam hal
perubahan yang terjadi, karena adanya proses perubahan yang dapat
mengancam semua cara yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini dapat
memengaruhi suasana psikis para praktisi. Salah satu masalah tersebut yang
paling krusial adalah masalah ego yang berpangkal dari perbedaan diskusi
terbuka tentang penafsiran, gagasan, dan pertimbangan seseorang. Untuk
mengatasi masalah ini, pemrakasa penelitian mengundang keikutsertaan
dengan menunjukkan bahwa mereka juga akan tunduk proses yang sama
dan apapun hasilnya pelaksanaan penelitian akan tetap berlangsung.

e. Struktur Jamak
Dengan adanya berbagai sudut pandang, gagasan dan penafsiran dari
peneliti utama dan partisipan, sifat alami penelitian menjadi serba ragam.
Dengan demikian struktur jamak dari penelitian ini memerlukan suatu teks
jamak untuk dilaporkan. Ini berarti ada ragam perhitungan perlu disusun

206

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

secara jelas dan lugas dengan mengakomodasikan pertentangan yang
muncul dan perlu juga diperhitungkan rentangan pilihan untuk tindakan yang
akan dilakukan. Oleh karena itu, suatu laporan berfungsi sebagai suatu
dukungan yang berkelanjutan antar kolaborator daripada menjadi suatu
kesimpulan final atau akhir dari fakta.
f. Teori, Praktik, dan Transformasi
Dalam penelitian tindakan teori memperkuat praktik, dan praktik memperbaiki
teori. Hal ini dilaksanakan dalam suatu transformasi yang berkelanjutan
dalam suatu tindakan yang dilakukan masyarakat berdasarkan asumsi-
asumsi yang dikemukakan secara implisit. Selanjutnya asumsi tersebut
diperkuat dengan hipotesis dan dibuktikan dengan teori untuk melakukan
praktiknya. Aplikasi berikutnya dilakukan analisis lebih lanjut dalam suatu
siklus transformatif yang secara berkelanjutan mengubah penekanan antara
teori dan praktik.

Senada dengan pendapat di atas dikemukakan juga mengenai prinsip-
prinsip penelitian tindakan berikut:

a. Kegiatan nyata dalam situasi rutin
Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi rutin.
Mengapa? Jika penelitian dilakukan dalam situasi lain, hasilnya tidak dapat
dijamin akan dapat dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya. Oleh karena itu,
penelitian tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus, tidak mengubah
jadwal yang sudah ada, peneliti tanpa mengubah situasi rutin. Mengapa? Jika
penelitian dilakukan dalam situasi lain, hasilnya tidak dapat dijamin akan
dapat dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya. Oleh karena itu, penelitian
tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus, tidak mengubah jadwal yang
sudah ada.

b. Adanya kesadaran untuk memperbaiki diri
Penelitian tindakan didasarkan atas sebuah filosofi bahwa setiap manusia
tidak suka atas hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang
lebih baik. Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus-
menerus sampai tujuan tercapai, tetapi sifatnya hanya sementara, karena

207

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

dilanjutkan lagi dengan keinginan untuk lebih baik yang datang susul
menyusul. Dengan kata lain, penelitian tindakan dilakukan bukan karena ada
paksanaan atau permintaan dari pihak lain, tetapi harus atas dasar sukarela,
dengan senang hati, karena menunggu hasilnya yang diharapkan lebih baik
dari hasil yang lalu, yang dirasakan belum memuaskan dan perlu
ditingkatkan.
c. SWOT sebagai dasar berpijak
Penelitian tindakan harus dimulai dari melakukan analisis SWOT, terdiri dari
unsur-unsur S (Strength) - kekuatan, W (Weaknesses) - kelemahan, O
(Opportunity) - kesempatan, dan T (Threat) - ancaman. Empat hal tersebut
dilihat dari sudut guru yang melaksanakan maupun siswa yang dikenai
tindakan. Dengan berpijak pada hal-hal yang disebutkan, penelitian tindakan
dapat dilaksanakan hanya apabila ada kesejalanan antara kondisi yang ada
pada guru dan juga pada siswa. Tentu saja pekerjaan guru sebelum
menentukan jenis tindakan yang akan dicobakan memerlukan pemikiran yang
matang.
d. Upaya empirik dan sistemik
Prinsip keempat ini merupakan penerapan dari prinsip ketiga. Dengan telah
dilakukannya analisis SWOT, tentu saja apabila guru melakukan penelitian
tindakan, sudah mengikuti prinsip empirik (terkait dengan pengalaman) dan
sistemik, berpijak pada unsur-unsur yang terkait dengan keseluruhan sistem
yang terkait dengan objek yang sedang digarap. Jika guru mengupayakan
cara mengajar baru, harus juga memikirkan tentang sarana pendukung dan
hal-hal yang terkait dengan cara baru tersebut.
e. Ikuti SMART dalam perencanaan
SMART adalah kata bahasa Inggris artinya cerdas, akan tetapi dalam proses
perencanaan kegiatan merupakan singkatan dari lima huruf bermakna, yaitu:
S Specific, khusus, tidak terlalu umum
M Managable, dapat dikelola, dilaksanakan
A Acceptable, dapat diterima lingkungan, atau Achievable, dapat dicapai,

dijangkau

208

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

R Realistic, operasional, tidak di luar jangkauan
T Time-bound, diikat oleh waktu, terencana
Ketika guru menyusun rencana tindakan, harus mengingat hal-hal yang
disebutkan dalam SMART. Tindakan yang dipilih peneliti harus khusus, tidak
sulit dilakukan, dapat diterima oleh subjek yang dikenai tindakan, lingkungan
nyata bermanfaat bagi dirinya, dan subjek yang dikenai tindakan. Selain itu
yang sangat penting adalah bahwa tindakan tersebut sudah tertentu jangka
waktunya. Penelitian tindakan dapat direncanakan dalam waktu satu bulan,
satu semester, atau satu tahun.
f. Bukan seperti biasanya, tetapi harus cemerlang
Penelitian tindakan harus dapat menunjukkan bahwa tindakan yang diberikan
kepada siswa memang berbeda dari apa yang sudah biasa dilakukan. Sesuai
dengan prinsip nomor 2, yaitu adanya kesadaran dan keinginan untuk
meningkatkan diri, apa yang sudah ada, tindakan yang dilakukan harus
berbeda dari biasanya, karena yang biasa sudah jelas menunjukkan hasil
yang kurang memuaskan. Oleh karena itu, guru melakukan tindakan yang
diperkirakan dapat memberikan hasil yang lebih baik.
g. Terpusat pada proses, bukan semata-mata hasil
Penelitian tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru atau
peneliti untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil, dengan mengubah cara,
metode, pendekatan, atau strategi yang berbeda dari biasanya. Cara,
metode, pendekatan, atau strategi tersebut berupa proses yang harus diamati
secara cermat, dilihat kelancarannya, kesesuaian dengan dan
penyimpangannya dari rencana, kesulitan atau hambatan yang dijumpai, dan
lain-lain aspek yang berkaitan dengan proses. Sejauh mana proses ini sudah
memenuhi harapan, lalu dikaitkan dengan hasil setelah satu atau dua kali
tindakan berakhir. Dengan kata lain, dalam melaksanakan penelitian, peneliti
tidak harus selalu berpikir dan mengejar hasil, tetapi mengamati proses yang
terjadi. Hasil yang diperoleh merupakan dampak dari prosesnya.

209

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

2. Tujuan Penelitian Tindakan (Action Research)
Tujuan penelitian tindakan adalah untuk:
a. Membantu guru/peneliti menyelesaikan masalah sehari-hari di sekolah
sehingga mereka dapat meningkatkan belajar siswa dan guru secara
efektif.
b. Membantu guru untuk mengembangkan profesional guru, agar terus
menerus belajar di kelas.
c. Menyediakan peneliti/guru dengan sebuah metode untuk memecahkan
masalah sehari-hari di sekolah sehingga mereka dapat meningkatkan
hasil belajar siswa dan efektivitas guru dalam penerapan metode yang
digunakan.
d. Peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada suatu kelompok
subjek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat
tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat
penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi
sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.
e. Guru dapat menerapkan model bagi siswa, tidak hanya keterampilan
yang diperlukan untuk belajar efektif tetapi juga rasa ingin tahu dan
semangat tentang memperoleh pengetahuan baru (Gay, 2009:494).
Kennedy lebih lanjut berpendapat bahwa salah satu tujuan penelitian
pendidikan adalah untuk meningkatkan kepastian dengan menciptakan
prediktabilitas dalam kelas. Sebuah hasil penelitian tindakan adalah bahwa hal
itu memenuhi keinginan bahwa semua guru harus meningkatkan prediktabilitas
apa yang terjadi di kelas mereka khususnya, untuk meningkatkan kemungkinan
bahwa kurikulum yang diberikan, strategi instruksional atau penggunaan
teknologi positif akan memengaruhi hasil mahasiswa. Dengan kata lain, hasil
penelitian tindakan yang relevan dengan pekerjaan peneliti guru individu.

3. Desain Penelitian Tindakan
Stephen Kemmis (dalam Emzir, 2009: 239), telah mengembangkan model

sederhana hakikat siklus proses penelitian tindakan yang mana tiap siklus
mempunyai empat tahapan, yaitu:

210

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

a. Perencanaan
Perencanaan adalah mengembangkan rencana tindakan yang secara kritis
untuk meningkatkan apa yang telah terjadi. Misalnya dalam penelitian kelas,
guru terlebih dahulu hendaknya melakukan pengamatan terhadap kelas
yang akan diteliti dan melakukan pencatatan awal mengenai hasil
pengamatan dan guru juga harus menyiapkan rencana pelaksanaan
pembelajaran yang akan dilakukan.

b. Tindakan
Tindakan yang dimaksud di sini adalah tindakan yang dilakukan secara
sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan
bijaksana. Praktik dilakukan sebagai gagasan dalam tindakan dan tindakan
itu digunakan sebagai pijakan bagi pengembangan tindakan-tindakan
berikutnya, yaitu tindakan yang disertai niat untuk memperbaiki keadaan.
Salah satu perbedaan antara penelitian tindakan dengan penelitian biasa
adalah bahwa penelitian tindakan diamati. Pelakunya mengumpulkan bukti
tentang tindakan mereka agar dapat sepenuhnya menilainya. Untuk
mempersiapkan evaluasi, sebelum bertindak mereka memikirkan jenis bukti
yang akan diperlukan untuk mengevaluasi tindakannya yang kritis jadi
dalam tindakan ini, yang dilakukan guru adalah melaksanakan rencana
pembelajaran yang telah dibuat.

c. Observasi
Observasi merupakan prosedur perekaman data mengenai proses dan
produk dari implementasi tindakan yang dirancang. Penggunaan instrumen
yang telah disiapkan sebelumnya perlu diungkap secara rinci dan lugas
termasuk cara perekamannya. Observasi berfungsi untuk
mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait. Observasi itu berorientasi
ke masa yang akan datang, memberikan dasar bagi refleksi sekarang.

211

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

d. Refleksi
Refleksi adalah mengingat dan merenungkan suatu tindakan persis seperti
yang telah dicatat dalam observasi. Jadi refleksi ini berupa uraian tentang
prosedur analisis terhadap hasil pemantauan atau refleksi berkaitan dengan
proses dan dampak tindakan perbaikan yang dilaksanakan, serta kriteria
dan rencana bagi tindakan siklus berikutnya.

4. Karakteristik Penelitian Tindakan (Action Research)
a. Bersifat situsional kontekstual yang terkait dengan mendiagnosis dan
memecahkan masalah dalam konteks tertentu.
b. Menggunakan pendekatan yang kolaboratif.
c. Bersifat partisipatori (jika penelitian tindakan dilakukan secara tim), yakni
masing-masing anggota tim ikut mengambil bagian dalam pelaksanaan
penelitiannya.
d. Bersifat self evaluative, yakni peneliti melakukan evaluasi sendiri secara
kontinu untuk meningkatkan praktik kerja. Prosedur penelitian tindakan
bersifat on the spot yang didesain untuk menangani masalah konkret yang
ada ditempat itu juga.
e. Temuannya diterapkan segera dan perspektif jangka panjang.
f. Memiliki sifat keluwesan dan adaptif.
Contoh contoh kasus yang mungkin bisa digunakan untuk dilakukan
Penelitian Tindakan (Action Research), misal :
1. Siswa kurang berminat dalam menerima pelajaran.
2. Siswa hasil ulangannya selalu dibawah standar.
3. Siswa setiap tanya jawab selalu enggan untuk menjawabnya.
Contoh-contoh kasus di atas mungkin sering kita jumpai dalam setiap
mata pelajaran. Dengan kasus-kasus di atas guru/dosen, peneliti harus bisa
merumuskan permasalahan lalu mencari penyebab terjadinya kasus di atas.
Penyebab terjadinya kasus di atas bisa terjadi karena, yaitu :
1. Dalam menerangkan materi pembelajaran guru kurang menguasai materi.
2. Terlalu cepat dalam menjelaskan / menerangkan materi.

212

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

3. Terlalu banyaknya siswa diberi catatan-catatan tanpa ada penjelasan dari
guru.

4. Terlalu panjangnya pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
5. Guru kurang memberi waktu berpikir bagi siswa.
6. Guru tidak memberi kesempatan siswa untuk bertanya.
7. Model pembelajaran yang kurang menarik bagi siswa.
8. Terlalu banyaknya siswa dalam kelas.
9. Sarana dan prasarana yang kurang memadai.

Misalnya setelah dicermati dan dianalisa kasus tersebut di atas, terjadi
karena model pembelajaran. Dalam hal ini guru/dosen harus melakukan
tindakan-tindakan perbaikan model pembelajaran. Rencana tindakan perbaikan
ini dicantumkan dalam rencana pembelajaran yang digunakan dalam
mengajaran.
Rencana perbaikan bisa menggunakan dengan beberapa siklus
Siklus 1
Tindakan

Melakukan tindakan dengan cara menggunakan metode/model
pembelajaran yang baru, yang dianngap bisa memperbaiki hasil belajar.
Refleksi
Mengumpulkan data-data selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan
dianalisis. Dari hasil analisis guru/dosen bisa membuat tolak ukur
keberhasilan dan kegagalan yang dicapainya dalam tindakan perbaikan.
Siklus 2
Siklus 2 digunakan untuk mengimplementasikan serangkain kegiatan
pembelajaran pada siklus 1 setelah dilakukan revisi-revisi terhadap kekurangan
yang terjadi pada siklus 1 yang belum tuntas. Berdasarkan hasil refleksi tersebut
dapat disimpulkan berhasil tidaknya keseluruhan tindakan implementasi
pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Apabila pada siklus II
tujuan penelitian tindakan sudah dapat tercapai, maka tidak perlu dilanjutkan
siklus berikutnya. Tetapi apabila tujuan belum tercapai, maka perlu dilanjutkan
siklus berikutnya.

213

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

D.CONTOH METODOLOGI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Judul (Peningkatan Kemampuan Membedakan Fakta dan Opini Pada tajuk
Rencana Koran Kompas dengan Menggunakan Metode Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) di SMAN 11 Kronjo Kabupaten Tangerang).

A. Pendekatan Penelitian Tindakan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan

keterampilan membaca dalam membedakan fakta dan opini dengan menggunakan
metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) pada siswa kelas XI
IPA 3 SMAN 11 Kronjo Kabupaten Tangerang. Model yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah model penelitian Kemmis dan Taggard yang menggunakan
empat komponen penelitian tindakan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan
refleksi.

Gambar .1 Desain Penelitian Tindakan Model Kemis dan Taggart

(Yoni, 2012 : 168)

Refleksi Perencanaan

Observasi

Tindakan Perencanaan
Refleksi

Observasi

Tindakan

214

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

1) Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan adalah menyusun

rancangan yang akan dilaksanakan sesuai dengan temuan masalah dan
gagasan awal. Rancangan yang akan dilaksanakan mengacu pada metode
pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC),
dalam pembelajaran ini peneliti mengembangkan rencana pembelajaran, tes
berupa tes individu, tes akhir siklus, dan lembar observasi.
2) Tindakan

Peneliti melaksanakan desain metode pembelajaran cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC) seperti yang telah dilaksanakan,
dalam usaha kearah perbaikan suatu perencanaan bersifat fleksibel dan siap
dilakukan perubahan sesuai dengan apa yang terjadi dalam proses
pelaksanaan di kelas.
3) Observasi

Observasi dilakukan selama pengamatan tindakan sebagai upaya
mengetahui jalannya pembelajaran.
4) Refleksi

Data hasil observasi dianalisis secara deskriptif, kemudian hasil tindakan
dievaluasi dan direfleksi untuk merencanakan tindakan siklus berikutnya.

Kegiatan tindakan dan observasi digabung dalam satu waktu, yaitu pada
saat dilaksanakannya observasi untuk mengamati perubahan perilaku siswa.
Hasil dari observasi kemudian direfleksikan untuk merencanakan tindakan
tahap selanjutnya. Siklus tindakan dilakukan secara terus menerus sampai
peningkatan hasil belajar sudah maksimum. Hambatan dan tindakan
keberhasilan pelaksanaan pada siklus pertama harus diobervasi, dievaluasi,
dan direfleksi untuk merancang tindakan pada siklus kedua. Siklus kedua
merupakan perbaikan dari siklus pertama, tetapi tidak menutup kemungkinan
siklus kedua merupakan pengulangan dari siklus pertama. Pengulangan
tersebut untuk meyakinkan peneliti bahwa siklus pertama telah berhasil.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

215

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Slavin, dkk dengan tujuan untuk membantu khususnya siswa yang lemah
dapat berperan serta dalam kelompok belajar.

Menurut Slavin, dkk Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC) adalah Salah satu metode yang seluruh rencana pengembangan
difokuskan pada penggunaan pembelajaran kooperatif sebagai sarana untuk
memperkenalkan teknik terbaru latihan-latihan yang berasal dari penelitian
dasar mengenai pengajaran praktis pelajaran membaca dan menulis. Metode
CIRC merupakan suatu cara pembelajaran yang dapat membuat suasana
belajar lebih bervariasi dan efektif. Untuk melaksanakan metode tersebut
diperlukan cara untuk mengatur pada tiap-tiap tahapan yaitu : tahapan
membaca dan tahapan menulis secara terpadu. Dalam tahapan tersebut
diperlukan keahlian guru untuk mengatur dan mengendalikan kelas secara
keseluruhan. Selain itu, pada pelaksanaan tahapan membaca dapat melatih
siswa untuk belajar secara individu dan mengajarkan kepada siswa untuk
tidak tergantung pada orang lain atau teman dalam kelompoknya. Hal
tersebut sejalan dengan pendapat dikemukakan Shahran CIRC merupakan
kendaraan yang bias digunakan untuk menanamkan pembelajaran terpadu
didalam tersusun program membaca, menulis dasar, dan seni berbahasa.

CIRC adalah salah satu metode penbelajaran membaca yang muncul dari
sebuah penemuan penelitian uang menekankan program pembelajaran
kooperatif terpadu antara membaca dan menulis. Di dalam CIRC para siswa
bekerja sama dalam tim yang heterogen. Semua kegiatan melibatkan
presentasi guru, latihan perorangan, latihan tim, latihan tambahan, dan
penilaian kelompok. Pembelajaran CIRC dapat melatih siswa untuk saling
bekerja sama dalam kelompoknya dan untuk saling bertanggung jawab pada
tugas dan kewajiban secara perorangan. Hal tersebut sesuai dalam model –
model pembelajaran yang efektif yang di terbitkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional yaitu CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan
menulis secara kooperatif kelompok. Sintaksisnya adalah : membentuk
kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan
sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian,

216

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

menentukan kata kunci, memberi tanggapan) terhadap wacana kemudian
menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka langkah pendekatan pembelajaran
dengan metode CIRC adalah :

Gambar . 2 Skenario Kegiatan

217

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

B. Kehadiran dan Peran Peneliti di Lapangan

Peran dan posisi peneliti dalam penelitian ini adalah untuk mengajar dalam
proses pembelajaran di kelas. Peneliti mengajar sesuai dengan perencanaan yang
dibuat untuk pembelajaran memahami informasi dari berbagai laporan. Data yang
akan dikumpulkan bersumber dari guru pengajar dan siswa sebagai sumber data
utama.
C.Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan tes dan nontes.
a. Tes

Tes terdiri dari pre-test (tes awal) dan post-test (tes akhir). Pre-test yaitu jenis
tes kemampuan awal yang dilakukan sebelum peserta didik mengalami proses
belajar dalam suatu mata pelajaran (Nurgiyantoro, 2010:112), sedangkan post-
test (tes akhir) yaitu tes yang dilakukan pada akhir pelajaran. Tes akan
mengukur kemampuan siswa dalam membedakan fakta dan opini, baik
dilaksanakan sebelum maupun sesudah tindakan.

Tabel .1 Kriteria Penilaian Kemampuan Membaca

Skor Skor yang
No. Aspek yang dinilai

Maksimum diperoleh

1. Membedakan fakta dan opini 100

Tabel .2 Daftar Rentang Keberhasilan Siswa

No Nilai Keberhasilan

1. 85 – Sangat Baik
2. 100 Baik
3. 70 – Cukup
4. 84 Kurang
5. 60 – Sangat kurang

69

50 – 218
Metodologi Penelitian Bahasa dan<S55a9s0tra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

b. Nontes

Nontes dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik melainkan
dilakukan melalui :
a. Observasi

Observasi adalah kegiatan pengamatan untuk mengambil
dokumentasi atau memotret kegiatan siswa, seberapa jauh tindakan yang
telah mereka capai. Penilaian dengan cara mengadakan pengamatan
terhadap penggunaan metode pembelajaran Cooperative Integrated Reading
and Composition (CIRC) secara langsung diteliti dan sistematis. Berdasarkan
rencana `kerja pengamat, maka observasi yang digunakan yaitu observasi
berstruktur. Isi, maksud atau apa saja yang harus diamati telah ditetapkan
dan dibatasi. Pencatatan data hanya dilakukan terhadap data-data yang
sesuai dengan kerangka kerja itu.
b. Wawancara

Maksud mengadakan wawancara ini antara lain : mengkonstruksi,
merekonstruksi, memproyeksikan dan memverifikasi mengenai orang,
kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, dan lain-lain. Wawancara dilakukan
secara random pada peserta didik.
c. Tes kemampuan membaca

Siswa membaca tajuk rencana dengan konsentrasi, mengidentifikasi
setiap paragraf-paragraf yang terdapat dalam tajuk rencana, mencari kata
kunci yaitu fakta dan opini dalam setiap paragraf-paragraf yang terdapat
dalam tajuk rencana, membedakan kalimat fakta dan kalimat opini. Teknik
tes membaca ini mengujicobakan metode Cooperative Integrated Reading
and Composition (CIRC) dalam membedakan fakta dan opini. Sekaligus
sebagai umpan balik bagi keberhasilan guru dalam upaya meningkatkan
kemampuan membaca siswa dalam membedakan fakta dan opini

Tes awal (pre test) dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa
dalam membedakan fakta dan opini setelah itu dilakukan tes akhir (post test)
untuk mengetahui kemampuan akhir siswa dalam menginterpretasikan serta
memberikan tanggapan terhadap tajuk rencana yang telah dibacanya.

219

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

d. Dokumentasi foto
Dokumentasi digunakan agar dapat merekam situasi pembelajaran dan

proses tindakan yang berlangsung di ruang kelas sehingga didapatkan bukti
yang otentik mengenai proses penelitian yang berlangsung.
C. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Arikunto (2006:46) teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
a. Teknik Tes

Data penelitian ini dapat diperoleh dengan menggunakan dua kali tes
yaitu tes yang dilakukan pada akhir pembelajaran siklus I dan siklus II yang
bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam membedakan fakta dan
opini. Hasil tes ini dapat diketahui peningkatan kemampuan peserta didik dalam
membedakan fakta dan opini pada tajuk rencana Koran kompas dengan
menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
b. Teknik Nontes

Teknik nontes yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara,
kemampuan membaca, catatan lapangan, dan dokumentasi foto. Teknik nontes
digunakan untuk mengetahui perubahan sikap dan perilaku siswa.
a. Teknik Observasi

Teknik observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar
berlangsung pada siklus I dan siklus II. Peneliti melakukan pengamatan
perilaku siswa baik yang bersifat positif maupun negatif dengan teliti serta
pencatatan secara sistematis. Pengamatan dilakukan oleh peneliti dibantu
oleh guru mata pelajaran.
b. Teknik Wawancara

Teknik ini dilakukan dengan cara wawancara bebas, dimana responden
mempunyai kebebasan untuk megutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh
patokan-patokan yang telah dibuat oleh subjek evaluasi. Tujuan wawancara
adalah untuk mengetahui pesan, kesan, serta pendapat siswa terhadap
pembelajaran membaca melalui metode Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC).

220

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

c. Teknik Kemampuan Membaca
Teknik kemampuan membaca dilakukan pada saat siswa membedakan

fakta dan opini di setiap paragraf-paragraf yang ada dalam tajuk rencana
koran kompas, mengidentifikasi setiap paragraf-paragraf yang terdapat dalam
tajuk rencana, mencari kata kunci yaitu fakta dan opini dalam setiap paragraf-
paragraf yang terdapat dalam tajuk rencana, membedakan kalimat fakta dan
kalimat opini dalam setiap paragraf yang terdapat dalam tajuk rencana koran
kompas. Teknik tes membaca ini mengujicobakan sistem pembelajaran
membedakan fakta dan opini dengan menggunakan metode Cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC) sekaligus sebagai upaya dalam
meningkatkan kemampuan membaca.
d. Teknik Dokumentasi

Teknik ini bertujuan untuk memperoleh data yang benar-benar nyata
dengan cara pengambilan gambar atau foto oleh teman sejawat pada saat
proses belajar mengajar berlangsung baik pada siklus I maupun pada siklus II.
Dokumentasi yang diambil yaitu siswa membedakan fakta dan opini dari tajuk
rencana melalui teks berita dengan melalui metode Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC). Gambar-gambar yang diambil kemudian
dideskripsikan sesuai dengan kondisi saat itu.

D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan teknik analisa deskriptif kuantitatif.

Sedangkan data untuk meningkatkan pengetahuan serta pengalaman
peserta didik dalam membaca dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif
(Yoni, 2012:60).
1. Analisis data kualitatif

Teknik kualitatif dipakai untuk menganalisis data kualitatif yang
diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun
langkah penganalisisan data kualitatif adalah dengan menganalisis
lembar observasi yang telah diisi saat pembelajaran dan
mengklarifikasikannya dengan teman peneliti yang membantu dalam

221

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

penelitian. Data wawancara dianalisis dengan cara membaca lagi

catatan wawancara, dan apabila kurang jelas dapat memutar

kembali rekaman wawancara. Data dokumentasi dianalisis dengan cara

mengambil gambar atau foto pada saat pembelajaran berlangsung serta

video proses pembelajaran. Hasil analisis tersebut untuk mengetahui

siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran membedakan

fakta dan opini, untuk mengetahui kelebihan, kekurangan pembelajaran

membedakan fakta dan opini dengan metode Cooperative Integrated

Reading and Composition (CIRC), serta untuk mengetahui peningkatan

dan perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran membedakan fakta

dan opini dengan metode Cooperative Integrated Reading and

Composition (CIRC).

2. Analisis data kuantitatif

Analisis data secara kuantitatif, data yang berupa prestasi belajar siswa

dalam bentuk kemampuan membaca yang didapat dengan cara memberikan

tes kemampuan membaca dalam membedakan fakta dan opini (tes awal, tes

akhir di setiap akhir siklus) akan dianalisa dan dilihat peningkatannya dari

setiap siklus yang direncanakan. Untuk mengukur ketuntasan belajar siswa

maka digunakan rumus :

skor yang diperoleh

Nilai = x 100

skor maksimal

a. Validitas

Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil

pemahaman, sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa

yang hendak diukur. Sebenarnya validitas bukan ditekankan pada tes itu

sendiri melainkan pada hasil pengetesan atau skornya. Teknik yang

digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi product

moment (Arikunto, 2006: 80).

222

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Rumus korelasi product moment dengan simpangan yaitu:

Di mana :
= Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua

variabel yang dikorelasikan (x=X-X dan y=Y-Y)
= Jumlah perkalian x dengan y

= Kuadrat dari x

= Kuadrat dari y

Bila ≥ maka soal valid, tapi bila Bila ≤ maka soal tidak valid.

b. Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama.

Untuk mengetahui ketetapan ini pada dasarnya dilihat dari kesejajaran hasil
(Arikunto, 2006:104).
Rumus reliabilitas K-R.20 yaitu :

Di mana :
= Relibialitas tes secara keseluruhan

P = Proporsi subjek yang menjadi item dengan benar
q = Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1p)

= Jumlah hasil prekalian antara p dan q

223

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

n = banyaknya item
S
= Standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians).
Bila
≥ maka soal reliabel, tapi bila ≤ maka soal tidak

reliabel.
E. Keabsahan Data

Peneliti menggunakan data yang dikumpulkan berupa dokumen dan
informasi tentang keterampilan membaca tajuk rencana dalam membedakan
fakta dan opini melalui teks berita dari media cetak koran kompas pada saat
proses pembelajaran di kelas. Sumber data yang diperoleh yaitu dalam kegiatan
proses pembelajaran membaca berita melalui metode Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC), siswa diminta untuk menemukan kata kunci
yaitu fakta dan opini, serta mengemukakan kembali isi berita yang di baca.
Sedangkan sumber data melalui dokumen berupa Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), foto kegiatan pembelajaran membaca dalam membedakan
fakta dan opini, hasil tes peserta didik berupa menemukan kata kunci yaitu fakta
dan opini yang terdapat dalam tajuk rencana, hasil observasi peneliti dengan
guru mata pelajaran Bahasa Indonesia serta teman sejawat, dan hasil
wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.
F. Prosedur Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan dalam beberapa siklus yaitu siklus 1 dan II,
setiap siklus dijelaskan di bawah ini (Yoni, 2012 : 168):
1) Siklus 1

a. Perencanaan
Peneliti menyusun rancangan yang diberikan sebagai berikut :
a) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang materi
yang akan diajarkan sesuai dengan metode pembelajaran kooperatif.
b) Menyusun kelompok.
c) Menyiapkan dan menyusun lembar observasi mengenai keaktifan
siswa.

224

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

d) Mempersiapkan sarana dan media pembelajaran yang akan digunakan
dalam setiap pembelajaran.

e) Mempersiapkan soal test untuk siswa yaitu tes akhir siklus.
b. Tindakan

Tahapan-tahapan dari tindakan pembelajaran kooperatif yaitu :
a) Tes penempatan siswa dan pembuatan kelompok terdiri 4. orang.
b) Presentasi guru.
c) Belajar secara individu, kemudian belajar secara kelompok.
d) Pelaksanaan tes berupa teks berita dan tes siklus akhir.
e) Perhitungan nilai kelompok.
c. Observasi

Observasi pada penelitian ini dilakukan pada tiap pertemuan,
observasi dilakukan oleh peneliti. Kegiatan penelitian ini, peneliti
menggunakan lembar observasi sebagai instrumen dalam penelitian.

d. Refleksi
Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa lembar observasi

keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Data-data hasil penelitian
terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh peneliti dan siswa
di dalam kelas yang diperoleh tersebut kemudian direfleksi oleh peneliti.
Tujuan refleksi ini adalah melakukan evaluasi hasil tindakan penelitian
yang telah dilakukan pada siklus I. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan
sebagai acuan perbaikan dalam penyusunan rencana tindakan pada
siklus selanjutanya.

Pada siklus 1 ini difokuskan pada upaya meningkatkan motivasi
belajar siswa melalui implementasi diskusi bervariasi (diskusi kelas
dengan penugasan tertentu). Indikator keberhasilan diukur dari
meningkatnya secara kuantitatif aktivitas siswa dalam belajar baik dalam
melaksanakan proses pembelajaran maupun dalam mengerjakan tugas
sesuai dengan jenis tugas yang diberikan kepada setiap siswa.

225

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

2) Siklus II
a. Perencanaan
Peneliti menyusun rancangan yang diberikan sebagai berikut :
a) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang materi
yang akan diajarkan sesuai dengan metode pembelajaran kooperatif.
b) Mempersiapkan lembar observasi.
c) Mempersiapkan sarana dan media pembelajaran yang akan digunakan
dalam setiap pembelajaran.
d) Mempersiapkan soal tes untuk tes akhir siklus.
b. Tindakan
Tahap-tahap pada siklus II ini hampir sama dengan tahapan pada
siklus I, yang membedakannya adalah pada siklus II ini tidak terdapat tes
penempatan siswa. Tes penempatan siswa ini hanya dilakukan pada awal
tindakan untuk menentukan pembagian kelompok permanen siswa.
c. Observasi
Observasi pada siklus II sama dengan pada siklus I yaitu dengan
lembar observasi keaktifan siswa.
d. Refleksi
Sama seperti siklus I, setelah selesai pembelajaran, peneliti
melakukan refleksi. Kemudian hasil refleksi pada siklus II harus
mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan siklus I. Meskipun
keterbatasan waktu penelitian membuat hasil penelitian pada siklus II ini
belum dapat meningkat secara maksimal.
Pada siklus ini merupakan perbaikan pada siklus 1 dengan
memberikan penugasan setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi.

226

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

BAB XI

Penelitian Analisis Isi dan Penelitian Sastra

A.Pendahuluan
Di dalam sebuah penelitian kualitatif, terdapat penelitian analisis isi dan

penelitian sastra. Adapun penelitian analisis isi berfokus pada pembahasan yang
mendalam mengenai isi suatu informasi, sedangkan penelitian sastra berfokus pada
pembahasan suatu karya sastra secara mendalam. Seorang peneliti dapat melakukan
analisis isi untuk menganalisis suatu karya sastra. Selain untuk menganalisis suatu
karya sastra, analisis isi dapat pula digunakan untuk menganalisis berbagai bentuk
komunikasi, seperti isi teks, surat kabar, karangan, naskah, berita radio, iklan televisi,
lirik lagu, ataupun semua bahan dokumentasi yang lain. Analisis isi dapat dikonversikan
dari data kualitatif ke dalam bentuk kuantitatif. Adapun hal tersebut dapat dilakukan
dengan cara menghitung jumlah respon yang termasuk ke dalam masing-masing
kategori (frekuensi), kemudian merangkum jumlah (atau persentase) dari respon untuk
masing-masing kategori, dan selanjutnya dapat digambarkan ke dalam sebuah tabel
analisis isi.

Analisis isi dapat digunakan di dalam penelitian sastra, contohnya untuk meneliti
nilai-nilai moral yang terkandung di dalam sebuah karya sastra. Adapun penelitian
sastra bertujuan untuk menelaah karya sastra itu sendiri secara mendalam, baik
menelaah secara intrinsik dan atau ekstrinsik. Secara umum, penelitian sastra termasuk
ke dalam penelitian kualitatif. Hal ini dikarenakan karya sastra merupakan hasil proses
imajinasi pengarang yang penuh makna dan bukan merupakan fenomena terkait gejala
ilmu alam yang mudah untuk dihitung. Oleh sebab itu, seorang peneliti diharapkan
mampu memahami sebuah karya sastra secara mendalam dengan melakukan sebuah
penelitian sastra.
B. Penelitian Analisis Isi

1. Pengertian Penelitian Analisis Isi
Mengenai pengertian analisis isi, Krippendorf (2004:18) menyatakan bahwa

analisis isi merupakan suatu teknik penelitian yang digunakan untuk membuat
inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable) dan sahih data dengan

227

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

memperhatikan konteksnya. Di dalam penelitian kualitatif, seorang peneliti
melakukan analisis isi sejak menyusun proposal, melaksanakan pengumpulan
data di lapangan, hingga peneliti memperoleh seluruh data yang dibutuhkan untuk
penelitian. Berkaitan dengan analisis isi, Holsti (1968: 601) dalam Titscher, Mayer,
Wodak, dan Vetter (2009:97) mengemukakan mengenai pengertian analisis isi,
yakni analisis isi merupakan teknik penelitian yang ditujukan untuk membuat
kesimpulan dengan cara mengidentifikasikan karakteristik tertentu pada pesan-
pesan secara sistematis dan objektif. Berdasarkan pada penjelasan tersebut,
dapat diketahui bahwa di dalam analisis isi, pesan atau informasi yang diperoleh
dicatat secara sistematis, kemudian diinterpretasikan oleh peneliti. Adapun di
dalam penelitian analisis isi, objektivitas peneliti sangat diperlukan agar
pemahaman mengenai sebuah isi dapat benar-benar terwujud.

Mengenai pengertian analisis isi, terutama dalam bidang pendidikan dan
kebahasaan, Fraenkel dan Wallen juga menguatkan bahwa analisis isi adalah
teknik yang digunakan oleh peneliti dalam mempelajari perilaku manusia secara
tidak langsung, yakni melalui analisis komunikasi yang dilakukan oleh manusia.
Berkaitan dengan hal tersebut, pada umumnya kajian dilakukan pada komunikasi
tertulis, meskipun tidak selalu demikian. Adapun bentuk komunikasi tertulis yang
dapat diteliti dengan penelitian analisis isi, contohnya buku teks, esai, koran, novel,
majalah, artikel, pidato politik, dan lainnya. Selain itu, bagaimana manusia
berperilaku, keyakinan, sikap, nilai dan gagasan orang atau sekelompok orang
yang tampak dalam interaksi komunikasi dapat pula diteliti dengan penelitian
analisis isi.
2. Proses Penelitian Analisis Isi

Terdapat beberapa proses yang harus diperhatikan dan dipahami oleh
seorang penelti di dalam sebuah penelitian analisis isi. Berkaitan dengan hal
tersebut, Afifudin dan Saebani (2009:168) menjelaskan tiga proses dalam
penelitian analisis isi, yang dapat diintisarikan sebagai berikut.
a. Proses penetapan apa yang ingin diteliti. Dalam hal ini, peneliti menetapkan

bentuk yang dianalisis isinya, contohnya isi dari novel, karangan, atau puisi.

228

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

b. Proses pencarian data pokok atau data primer, yaitu teks itu sendiri. Di dalam
penelitian analisis isi, teks merupakan objek utama yang diteliti.

c. Proses pencarian pengetahuan kontekstual agar penelitian yang dilakukan
tidak berada di ruang hampa, tetapi terlihat berkaitan dengan faktor lain.
Berkaitan dengan proses dalam penelitian analisis isi, data-data yang telah

dikumpulkan, kemudian diklasifikasikan dengan mengacu pada fokus penelitian.
Adapun data-data yang ada diinterpretasikan secara hati-hati agar hasilnya tetap
objektif. Adapun berkaitan dengan proses penelitian analisis isi, Mayring (1988:42-
68) dalam Titscher, Mayer, Wodak, dan Vetter (2009:106-109) menjelaskan
sembilan tahapan proses penelitian analisis isi yang dapat diintisarikan sebagai
berikut.
a. Penentuan materi;
b. Analisis situasi tempat asal teks;
c. Pengarakteran materi secara formal;
d. Penentuan arah analisis;
e. Diferensiasi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab sesuai dengan teori

yang ada;
f. Penyeleksian analisis, yang terdiri atas ringkasan, eksplikasi, dan penataan.

Ringkasan mencoba menyeleksi isi materi sedemikian rupa sehingga dapat
diperoleh isi materi yang sesuai. Eksplikasi berkaitan dengan pemaparan apa
yang ingin dianalisis secara detail, dan penataan berkaitan dengan penataan
teks;
g. Pendefinisian unit-unit analisis;
h. Analisis materi; dan
i. Interpretasi.

Sementara itu, Fraenkel dan Wellen (2007:485-491) mengemukakan
langkah-langkah dalam analisis isi, antara lain:
a. Menentukan tujuan

Seorang peneliti perlu menentukan tujuan penelitian analisis isi untuk
memperoleh informasi deskripsi mengenai sebuah topik ataupun memperoleh
gambaran pemahaman yang mendalam tentang sebuah topik penelitian, untuk

229

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

memeriksa penelitian lainnya, dan juga untuk memecahkan masalah dalam
pendidikan.
b. Mendefinisikan istilah
Di dalam langkah ini, istilah-istilah didefinisikan agar masalah yang ingin diteliti
lebih dapat difokuskan oleh peneliti.
c. Memfokuskan unit analisis
Peneliti memfokuskan unit analisis (dapat berupa kata, kalimat, dan
sebagainya) setelah mendefinisikan istilah-istilah.
d. Menentukan data yang relevan
Peneliti menentukan data yang ingin diteliti. Contohnya, data yang terdapat
dalam buku teks, majalah, lagu, rencana pembelajaran, dan sebagainya.
e. Mengembangkan latar belakang
Peneliti perlu mengembangkan latar belakang untuk menghindari bias.
f. Mengembangkan rencana sampel
Di dalam langkah ini, peneliti mengembangkan rencana sampel. Adapun
contohnya pada buku, sampel, yang dikembangkan dapat berupa kata, frase,
kalimat, paragraf, bab, dan sebagainya. Pada intinya, segala bentuk
komunikasi dapat dijadikan sampel, asalkan sesuai dan tepat. Berikut ini
merupakan sampling yang dapat digunakan dalam penelitian analisis isi, yakni:
1) Purposive sampling, contohnya peneliti memutuskan untuk mewawancarai

beberapa siswa yang dianggap berbakat dalam bidang menulis.
2) Random sampling, contohnya peneliti memilih sampel secara acak dari

panduan kurikulum, buku-buku sastra, dan sebagainya. Contoh lainnya,
peneliti memilih 50 puisi secara acak dari seorang penyair untuk dianalisis.
3) Stratified sampling, contohnya peneliti menentukan pembagian sekolah-
sekolah yang ingin diteliti, dimulai berdasarkan area geografis dan
lokasinya, kemudian berlanjut menentukan sekolah khusus lainnya.
4) Cluster sampling, yakni peneliti meneliti berdasarkan kelompok-kelompok.
g. Merumuskan kategori kode
Dalam langkah ini, peneliti perlu menentukan kode-kode sosial. Contohnya,
peneliti ingin meneliti gambaran perempuan dalam buku teks pelajaran ilmu

230

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

sosial. Peneliti menentukan bagaimana kategori-kategori penggambaran
perempuan dalam buku teks tersebut, contohnya peneliti meneliti gambaran
perempuan dari karakteristik fisik (yang dapat berupa warna rambut, warna
mata, dan sebagainya), karakteristik emosional, dan karakteristik sosial
(contohnya dari pekerjaan, pendapatan, ras, dan sebagainya).
h. Menentukan reliabilitas dan validitas
Reliabilitas dapat didasarkan dengan adanya penyesuaian antara satu sampel
dengan sampel lainnya, sedangkan validitas dalam penelitian analisis isi
didasarkan pada pemeriksaan secara berkelanjutan.
i. Menganalisis data
Di dalam langkah ini, analisis data dalam penelitian analisis isi, dapat dilakukan
secara deskriptif.
3. Syarat Penelitian Analisis Isi

Analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian kualitatif.
Berkaitan dengan syarat penelitian analisis isi, Afifudin dan Saebani (2009: 166)
mengemukakan tiga syarat dalam penelitian analisis isi, antara lain:
a. Data yang tersedia atas bahan-bahan yang terdokumentasi, seperti buku, surat

kabar, pita rekaman, dan naskah.
b. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori yang menandai yang berkaitan

dengan data tersebut.
c. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan-bahan atau data-

data yang dikumpulkannya.
Dalam melakukan penelitian analisis isi, seorang peneliti harus

memperhatikan syarat-syarat yang telah dijelaskan tersebut. Dengan demikian,
bahan mentah yang dianalisis nantinya dapat dibentuk menjadi sebuah analisis
yang bermanfaat. Selain itu, data yang ada nantinya dapat mengungkap makna.
4. Kedudukan Peneliti dalam Penelitian Analisis Isi

Di dalam sebuah penelitian analisis isi, seorang peneliti merupakan
instrumen penelitian. Afifuddin dan Saebani (2009:18) menjelaskan kedudukan
peneliti dalam penelitian analisis isi sebagai instrumen penelitian, antara lain:

231

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

a. Sebagai instrumen penelitian, seorang peneliti harus peka dan dapat bereaksi
terhadap segala stimulus dari lingkungan yang diperkirakan bermakna atau
tidak bermakna bagi penelitian.

b. Sebagai instrumen penelitian, seorang peneliti harus dapat menyesuaikan diri
terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data
sekaligus.

c. Tiap situasi merupakan satu keseluruhan penelitian. Adapun dalam hal ini,
tidak terdapat suatu instrumen yang dapat menangkap keseluruhan situasi,
kecuali terikat dengan manusia. Suatu situasi yang melibatkan interaksi mansia
tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata. Untuk memahami hal
tersebut, peneliti seyogyanya sering merasakannya, menyelaminya
berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

d. Sebagai instrumen penelitian, seorang peneliti harus dapat segera
menganalisis data yang diperoleh.

5. Pelaksanaan Analisis Isi
Di dalam penelitian kualitatif, analisis isi dilakukan sebelum peneliti

memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Adapun
analisis telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum
terjun ke lapangan, dan berlangsung terus hingga penulisan hasil penelitian.
Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa analisis isi data berlangsung
selama proses pengumpulan data, kemudian dilanjutkan setelah selesai
pengumpulan data.

Berkaitan dengan pelaksanaan analisis isi, berikut ini dapat dipaparkan
intisari pelaksanaan analisis isi berdasarkan penjelasan Afifuddin dan Saebani
(2009:183-186), yakni:
a. Analisis sebelum di lapangan

Di dalam penelitian analisis isi, seorang peneliti telah melakukan analisis data
sebelum memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data yang
digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Akan tetapi, fokus penelitian ini
masih bersifat sementara dan akan berkembangan setelah peneliti masuk dan
selama di lapangan.

232

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

b. Analisis selama di lapangan
Selama penelitian berlangsung dan pengumpulan data masih berlangsung,
peneliti melakukan analisis data dengan cara mengklarifikasikan data dan
menafsirkan isi data.

c. Reduksi data
Data yang diperoleh dari lapangan dimungkinkan cukup banyak, sehingga
perlu dicatat secara teliti dan terperinci. Semakin lama peneliti terjun ke
lapangan, jumlah data akan semakin banyak dan rumit. Untuk itu, peneliti
dalam penelitian analisis isi harus segera melakukan analisis data melalui
reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal pokok, dan
memfokuskan pada hal-hal yang penting. Dengan demikian, data yang telah
direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, mempermudah peneliti
untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya apabila
diperlukan.

d. Penyajian data
Setelah data direduksi, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah
menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, termasuk penelitian analisis isi,
penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, tabel, dan
teks naratif. Adapun pada analisis isi, data yang ditemukan pada saat
memasuki lapangan dan setelah berlangsung agak lama di lapangan akan
mengalami perkembangan. Oleh sebab itu, peneliti seyogyanya memahami
perkembangan tersebut.

6. Aplikasi Kategori Model Deduktif dan Pengembangan Kategori Model
Induktif dalam Penelitian Analisis Isi
Di dalam sebuah penelitian analisis isi terdapat model deduktif dan model

induktif. Adapun di dalam model deduktif, peneliti merujuk dari fokus ke fokus (dari
teori ke teori, kemudian melakukan analisis berdasarkan teori), sedangkan pada
model induktif, seorang peneliti merujuk pada temuan penelitian terlebih dahulu
yang kemudian dikaji secara teoretis. Di bawah ini merupakan skema
penggambaran aplikasi kategori model deduktif dan model induktif.

233

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Berikut ini merupakan skema penggambaran aplikasi kategori model
deduktif yang dijelaskan oleh Mayring (2000) dalam Emzir (2012: 289).

Pertanyaan Penelitian, Objek

Definisi teoretis tentang aspek-aspek analisis,
kategori utama, subkategori

Rumusan teoretis definisi, contoh-contoh, dan
pengodean aturan-aturan untuk kategori-kategori
tersebut. Mengumpulkannya dalam agenda
pengodean.

Definisi teoretis tentang aspek-aspek analisis, Cek formatif reliabilitas
kategori utama, subkategori Cek sumatif reliabilitas

Revisi kategori-kategori dan pengodean agenda

Pekerjaan final melalui teks

Interpretasi hasil, evaluasi tahap analisis kuantitatif
(seperti frekuensi)

234

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

Adapun berikut ini merupakan penggambaran pengembangan kategori
model induktif yang dijelaskan oleh Mayring (2000) dalam Emzir (2012: 288).

Pertanyaan Penelitian, Objek

Penentuan definisi kategori (kriteria seleksi) dan
level abstraksi untuk kategori induktif

Tahap demi tahap perumusan kategori di luar
materi mengenai definisi kategori dan level
abstraksi. Subsumsi (Subsumtion) kategori lama
atau perumusan kategori baru.

Revisi kategori-kategori setelah 10-50% dari materi Cek formatif reliabilitas
Cek sumatif reliabilitas
Pekerjaan final melalui teks

Interpretasi hasil, evaluasi tahap analisis kuantitatif
(seperti frekuensi)

7. Keunggulan dan Kelemahan Penelitian Analisis Isi
Menurut Fraenkel dan Wallen (2007:494), penelitian analisis isi memiliki

keunggulan dan kelemahan, sebagai berikut.
a. Keunggulan Penelitian Analisis Isi

1) Sangat berguna sebagai alat untuk menganalisis hasil data wawancara dan
observasi.

2) Peneliti tidak dibatasi ruang dan waktu.
3) Analisis isi lebih praktis dan ekonomis karena informasi sudah siap diakses.

235

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

4) Sumber informasi mudah diakses dan dapat diperbanyak, maka analisis isi
ini dapat dilakukan kembali oleh peneliti lain.

b. Kelemahan Penelitian Analisis Isi
1) Informasi yang terbatas.
2) Interpretasi yang kadang tidak utuh. Contohnya, kesalahan dalam
penggunaan bahasa pada pelajar Sekolah Menengah Atas yang
ditunjukkan dalam televisi (film, sinetron) mungkin saja kerap
diinterpretasikan sebagai penyebab kesalahan penggunaan bahasa pada
pelajar Sekolah Menengah Atas dalam kenyataan, padahal tidak selalu
demikian adanya.

8. Contoh-contoh Penelitian Analisis Isi
Berikut ini adalah contoh-contoh penelitian analisis isi. Adapun contoh-

contoh tersebut berkaitan dengan bidang pendidikan bahasa dan sastra.
a. Penelitian “Ragam Bahasa Majalah Remaja Suatu Analisis Isi” yang ditulis
oleh Kasno, Program Studi Pendidikan Bahasa, Program Pascasarjana,
Universitas Negeri Jakarta, yang selesai pada tahun 2012. Berdasarkan hasil
penelitian analisis isi (disertasi) tersebut menunjukkan bahwa ragam bahasa
majalah remaja Gadis, Kawanku, dan Hai dapat diketahui dari penggunaan
kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam bahasa Betawi,
bahasa Jawa, slang, dan bahasa Inggris.

b. Penelitian “Kesetaraan Gender pada Cerpen-Cerpen dalam Buku Pelajaran
Bahasa Indonesia (Analisis Isi pada Teks-teks Cerpen dalam Buku Pelajaran
Bahasa Indonesia SMA)” yang ditulis oleh Ade Husnul Mawadah, Program
Studi Pendidikan Bahasa, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta,
pada tahun 2015. Melalui hasil penelitian analisis isi (disertasi) tersebut,
dapat diketahui bahwa keseteraan gender yang terdapat dalam cerpen-
cerpen yang dianalisis terlihat dari sikap dan perilaku yang dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu saling memahami, saling menghargai, dan saling berbagi.

236

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

c. Penelitian “Penggunaan Bahasa dan Stereotip Remaja Perempuan dalam
Majalah Remaja (Kajian Analisis Isi)”, yang ditulis oleh Siti Rahmah, Program
Studi Pendidikan Bahasa, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta,
yang selesai pada tahun 2011. Berdasarkan hasil penelitian analisis isi
(disertasi) tersebut, dapat diketahui bahwa majalah Gadis dan Kawanku
adalah majalah remaja perempuan dengan menggunakan bahasa yang khas
dengan penggunaan unsur-unsur bahasa asing yang muncul adalah bahasa
Inggris. Unsur-unsur bahasa Inggris yang muncul meliputi kata, baster, istilah,
idiom, frasa, dan klausa. Adapun stereotip peran remaja perempuan yang
digambarkan majalah Gadis dan Kawanku adalah perspektif remaja
perempuan masa kini yang mempunyai hak dan peranan gender yang sama
dengan laki-laki, selalu gembira (fun), fashionable, dan banyak teman.

C.Penelitian Sastra
1. Pengertian dan Ciri Penelitian Sastra

Penelitian sastra merupakan cabang kegiatan penelitian dengan mengambil
objek sastra (Triyono yang disunting oleh Jabrohim (ed.), 2012:31). Di dalam
sebuah karya sastra, dapat disajikan suatu fenomena menarik dan dapat pula
berkaitan dengan realitas kehidupan manusia. Berdasarkan pada hal tersebut,
menyebabkan sebuah karya sastra dapat dianalisis. Tanpa adanya fenomena di
dalam sebuah karya sastra, maka kegiatan analisis dan interpretasi tidak dapat
terwujud dengan benar. Berkaitan dengan tujuan analisis di dalam penelitian
sastra, Siswantoro (2011:15) menjelaskan bahwa di dalam sebuah penelitian
sastra, analisis bertujuan untuk menangkap fenomena di dalam teks karya sastra
secara intensional, yakni mengarahkan pemahaman di dalam ruang kesadaran
tertentu semata pada realitas yang menampakkan diri di dalam teks sebagai objek
observasi.

Penelitian sastra merupakan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan
sastra. Berdasarkan pada hal tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian sastra
tidak bekerja atas dasar imajinatif, intuitif, atau spekulatif semata. Adapun
Siswantoro (2011:2) menguatkan bahwa seorang peneliti sastra tidak harus

237

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

menjadi sastrawan, namun peneliti tersebut melengkapi dirinya dengan metodologi
yang relevan dengan dunia sastra dengan objek kajian yang diteliti berupa karya-
karya sastra. Melalui penjelasan tersebut, seorang peneliti sastra harus
memahami teori apa yang dimanfaatkan, metode, dan teknik apa yang dapat
membantunya dalam melakukan penelitian sastra.

Berkaitan dengan ciri-ciri dari penelitian sastra, Endraswara (2008:5)
memaparkan mengenai empat ciri dari penelitian sastra, antara lain:
a) Peneliti merupakan instrumen kunci yang akan memperhatikan dengan cermat

dan teliti sebuah karya sastra;
b) Penelitian dilakukan secara terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar jika

diperlukan, lebih mengutamakan proses dibandingkan hasil;
c) Analisis secara induktif; dan
d) Makna merupakan andalan utama. Adapun makna merupakan andalan utama

karena karya sastra merupakan dunia kata dan simbol yang penuh makna.
2. Penelitian Sastra sebagai Ilmu

Sebuah karya sastra dapat diteliti oleh seorang peneliti. Hal tersebut
dikarenakan bahwa peneliti yang berhadapan dengan sastra akan berkaitan
dengan fakta yang luar biasa dan unik. Endraswara ( 2008:22) mengemukakan
bahwa di dalam sebuah karya sastra dapat tercermin fakta yang membutuhkan
kecermatan dari peneliti dalam penelitian. Sebuah karya sastra pada dasarnya
akan mengungkapkan kejadian yang mungkin saja bukan merupakan fakta yang
sesungguhnya, namun tetap merupakan sebuah fakta mental pencipta sastra.
Seorang pencipta sastra fakta objektif mengolah fakta objektif menggunakan daya
imajinasinya sehingga tercipta fakta mental imajinatif pencipta sastra. Dalam hal
ini, seorang peneliti sastra memerlukan kecermatan serta kejelian yang tinggi
untuk mengungkap fakta tersebut agar tidak menghasilkan penelitian yang bias
data.

Keberadaan sebuah karya sastra di sekitar masyarakat ditentukan oleh
perkembangan bahasa dan lingkungan. Berkaitan dengan hal tersebut,
Endraswara (2008: 22) menguatkan bahwa perkembangan lingkungan dan bahasa
menentukan eksistensi sastra. Terkait dengan hal tersebut, seorang peneliti

238

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

seyogyanya mampu mengikuti alur perkembangan bahasa dan juga lingkungan di
sekitarnya. Selain itu, seorang peneliti sastra juga diharapkan mampu memasuki
dunia sastra secara positif. Berdasarkan hal itu, untuk menuju penelitian sastra
sebagai ilmu yang konsisten, adanya perangkat keilmuan dan pengetahuan pada
peneliti sastra sangat diperlukan. Endraswara (2008:23) juga menjelaskan bahwa
penelitian sastra yang tertata dapat memengaruhi penelitian tersebut sebagai
disiplin ilmu yang ilmiah. Untuk itu, peneliti sastra harus bersikap tegas dan lugas.
Selain itu, seorang peneliti sastra tidak boleh memihak dan benar-benar
melakukan analisis berdasaran data yang ada.
3. Cara Menjaga Objektivitas Penelitian Sastra

Di dalam sebuah penelitian sastra, objektivitas dari seorang peneliti sastra
sangat diperlukan. Di dalam penelitian sastra, agar subjektivitas dapat dihindari,
maka penelitian sastra harus difokuskan agar dapat bermanfaat secara timbal
balik. Selain itu, objektivitas di dalam penelitian sastra juga harus dijaga.

Untuk menjaga objektivitas penelitian sastra, Endraswara (2008:25)
mengemukakan dua hal yang harus dilakukan oleh peneliti sastra, yakni:
a. Peneliti benar-benar berusaha menghayati suatu karya sastra, seakan-akan

peneliti sedang berbicara dengan dunia pengarang melalui medium karya
sastra.
b. Peneliti berusaha memahami struktur sastra .

Berdasarkan pada dua hal yang telah dikemukakan oleh Endraswara
tersebut, dapat diketahui bahwa apabila struktur karya sastra dapat ditelaah
peneliti dengan baik, maka objektivitas penelitian sastra akan terjaga.

Di dalam penelitian sastra, seorang peneliti harus terbuka. Teeuw (1983:7)
dalam Endraswara (2008:24) memaparkan bahwa seorang peneliti sastra
hendaknya juga memanfaatkan teori yang tepat, memiliki titik tolak dan kerangka
penelitian yang tegas. Di dalam penelitian sastra, peneliti sastra juga harus
memperhatikan sistematika yang jelas agar terhindar dari subjektivitas.
4. Jenis-jenis Pendekatan dalam Penelitian Sastra

Di dalam penelitian sastra, terdapat beragam pendekatan yang dapat
digunakan dalam penelitian berdasarkan pada sisi pandang peneliti. Semakin rinci

239

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi

jenis pendekatan yang dipilih, maka penelitian akan semakin sempit dan detail.
Adapun masing-masing pendekatan juga memiliki sasaran yang berbeda.
Berkaitan dengan jenis pendekatan dalam penelitian sastra, Ratna (2009:56-74)
mengemukakan sepuluh pendekatan dalam penelitian sastra, yakni pendekatan
biografis, pendekatan sosiologis, pendekatan psikologi, pendekatan antropologis,
pendekatan historis, pendekatan mitopoik, pendekatan ekspresif, pendekatan
mimesis, pendekatan pragmatis, dan pendekatan objektif. Berikut ini dipaparkan
intisari dari sepuluh pendekatan tersebut.
a. Pendekatan biografis, yang berhubungan dengan penelitian sastra sebagai

penelitian yang mengacu pada pencipta karya sastra. Oleh sebab itu, berkaitan
dengan pendekatan biografis ini, peneliti harus mencantumkan biografi, surat-
surat, dokumen penting pengarang, foto-foto, bahkan wawancara langsung
dengan pengarang.
b. Pendekatan sosiologis, yakni menganggap karya sastra sebagai milik
masyarakat. Oleh sebab itu, dalam pendekatan ini peneliti menganalisis karya
sastra dengan menghubungkannya ke dalam masyarakat.
c. Pendekatan psikologis, yakni karya sastra dalam penelitian sastra dianggap
sebagai hasil aktivitas atau pengamatan penulis yang kerap dikaitkan dengan
gejala kejiwaan.
d. Pendekatan antropologis, yakni berkaitan dengan aspek naratif karya sastra
dari kebudayaan yang berbeda-beda.
e. Pendekatan historis, yakni pendekatan yang memusatkan perhatian pada
masalah bagaimana hubungan suatu karya sastra terhadap karya yang lain
sehingga dapat diketahui kausalitas unsur-unsur kesejarahannya.
f. Pendekatan mitopoik, yakni berkaitan dengan analisis mitos.
g. Pendekatan ekspresif, yang menjelaskan hubungan antara pengarang,
semesta, pembaca, dan karya sastra. Hal ini berarti pada pendekatan ekspresif
bagaimana karya sastra itu diciptakan, dan apa bentuk yang terjadi dalam
karya sastra yang dihasilkan harus diperhatikan oleh peneliti.
h. Pendekatan mimesis, yang berhubungan dengan kesemestaan, contohnya
puisi Jawa dianggap meniru keindahan alam.

240

Metodologi Penelitian Bahasa dan Sastra Kuantitatif, Kualitatif dan Etnografi


Click to View FlipBook Version