The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabilfaiz025, 2023-01-01 20:56:47

Studi Ilsam Indonesia BSA B

Studi Ilsam Indonesia BSA B

STUDI ISLAM INDONESIA

ISLAM DAN LOKALITAS BUDAYA



STUDI ISLAM INDONESIA

ISLAM DAN LOKALITAS BUDAYA
*

BSA B 2019

SAGARA PUBLISHER

STUDI ISLAM INDONESIA

ISLAM DAN LOKALITAS BUDAYA

Editor : Yulita Nadaa Husniyya

Desain Layout : Yulita Nadaa Husniyya dan Ervina Desi Anggraeni

Desain Sampul : Ervina Desi Anggraeni

Produksi : M. Nabil Faiz Hasani

Jumlah Halaman : xi + 292 halaman
Ukuran Buku : 15 cm x 24 cm
Cetakan ke-1 : Desember 2022

Diterbitkan oleh :
SAGARA PUBLISHER
Salatiga, Jawa Tengah 50722

v

Kata Pengantar
*

Puji syukur kepada Allah SWT, atas segala anugerah dan karunia-Nya
ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahan atas junjungan
Nabi Muhammad SAW. Tak bisa dipungkiri, hanya semata-mata berkat
rahmat Allah SWT, buku ini bisa tersaji dihadapan para pembaca. Buku ini
kami persembahkan sebagai tugas akhir semester tujuh tahun 2022 pada mata
kuliah Studi Islam Indonesia yang diampu oleh dosen tercinta, Bapak Dr.
Muhammad Aji Nugroho, L.C., M.Pd.I.

Kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara yang dikenal sebagai negara
majemuk yang kaya akan suku, Bahasa dan budayanya. Tradisi di Indonesia
ini berbeda-beda dan bermacam-macam entah tradisi yang sudah ada sejak
zaman nenek moyang ataupun tradisi yang ada karena adanya proses
pembetukan yang dipengaruhi oleh situasi atau kondisi di lingkungan yang
ada di sekitarnya.

Dan di dalam buku ini seluruh mahasiswa/mahasiswi Bahasa dan Satra
Arab kelas A memberikan berbagai tradisi yang ada di Indonesia terkhusus
didaerahnya masing-masing yang mungkin belum semua pembaca ketahui,
dan mungkin masiih banyak tradisi yang ada di daerah lain yang tentunya
tidak tercantum atau dibahas dalam buku ini.

Penulis menyampaikan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada semua pihak yang turut andil memberikan tulisannya, penelitiannya,
motivasi, inspirasi, kritik dan saran dalam penulisan buku ini. Terima kasih
sudah memberikan kesempatan bagi kami untuk menjadikan penelitian ini
atau tugas akhir semester ini menjadi sebuah buku, hingga kami
mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru tentang tradisi-tradisi yang ada
didaerah masing-masing.

Berkat arahan Bapak Dr. Muhammad Aji Nugroho, L.C., M.Pd.I. buku
ini akhirnya bisa hadir sebagai kenang-kenangan yang kemudian bisa dicetak.
Terima kasih kembali kepada semua teman-teman BSA B 2019 selaku pihak
yang turut andil besar dalam hadirnya buku ini.

Salatiga, 30 Desember 2022

vi

vii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................v
DAFTAR ISI..........................................................................................viii

1. RITUAL NYADRAN MENJELANG BULAN RAMADHAN
Novita Nurul Latifah................................................................ 1

2. TRADISI ACARA SLAMETAN TUJUH HARIAN BAYI
YANG BARU LAHIR (PETETAN) DI DESA
BANJARWINANGUN, KABUPATEN KEBUMEN
Hamdan Nur Shohib.................................................................7

3. NILAI-NILAI SOSIAL DAN RELIGIUS DALAM TRADISI
MITONI DI DESA PULOSARI, KABUPATEN
PEMALANG
Ika Ismawati........................................................................... 17

4. NYANGKU: PELESTARIAN UPACARA ADAT
PEMBERSIHAN BENDA-BENDA PUSAKA DI DESA
PANJALU
Ulpah Sayidah........................................................................ 24

5. TRADISI TAHLILAN SETIAP MALAM JUM’AT

MASYARAKAT PERUMAHAN PASPAMPRES

KECAMATAN CILEUNGSI KABUPATEN BOGOR

Ananda Bryan Harwanto........................................................33

6. TRADISI BUANG SIAL (RUWAH DESA) DI TROWULAN
MOJOKERTO
Mustika Dewi......................................................................... 42

7. ANALISIS RUWATAN RAMBUT GIMBAL DI DIENG
JAWA TENGAH DALAM PERSPEKTIF STUDI ISLAM
Kamilia Mufidah.................................................................... 48

8. TRADISI PADUSAN DI SENDANG KALIMAH
TOYYIBAH NYATNYONO PADA MASYARAKAT
UNGARAN DAN SEKITARNYA
Tiya Indah Nila Sari............................................................... 63

9. NILAI-NILAI ISLAM PADA TRADISI SADRANAN DI
DESA TLOGOPUCANG, KECAMATAN KANDANGAN,
KABUPATEN TEMANGGUNG
Ervina Desi Anggraeni........................................................... 75

10. TRADISI TEMON NGANTEN DI DESA RECO
KABUPATEN WONOSOBO
Elisatun Munawaroh...............................................................88

viii

11. ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL DI DESA SUMBEREJO
NGABLAK MAGELANG
Silvia Febrina Ningrum.......................................................... 99

12. WARAK NGENDOG SALAH SATU TRADISI RITUAL
DUGDERAN DI KOTA SEMARANG
Zhahra Laela Ramadhani..................................................... 106

13. TRADISI GREBEG BESAR MASYARAKAT DI
KABUPATEN DEMAK
Zuli kurniawati..................................................................... 124

14. TRADISI TAHLILAN DI DUSUN GINTUNGAN

(Pro-Kontra dan Toleransi antara Kaum Nahdliyyin dan Salafiyyin)

Muhammad Naufal Annaji...................................................137

15. TRADISI MERTI DESA YANG DIADAKAN SETAHUN
SEKALI DI DESA KEMETUL DALAM PANDANGAN
MASYARAKAT
Nada Trisnawati................................................................... 152

16. TRADISI RITUAL MERTI DESA DI DESA KENTENG
KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG
Muhammad Nabil Faiz Hasani.............................................158

17. IMPLEMENTASI TRADISI MERTI DESA DALAM
MEMBENTUK KERUKUNAN MASYARAKAT DESA
PURWOREJO KECAMATAN SURUH KABUPATEN
SEMARANG
Nurul Humaidah................................................................... 168

18. ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL SAPARAN DI
JATINOM KLATEN
Muhammad Shahril Rifa’i....................................................174

19. PERALIHAN FUNGSI SERTA PANDANGAN ISLAM
TERHADAP TRADISI KLIWONAN DI KABUPATEN
BATANG
Yulita Nadaa Husniyya........................................................ 181

20. TRADISI & RITUAL KEMATIAN ORANG ISLAM JAWA
Hikmatus Sa’adah.................................................................191

21. TRADISI SAPARAN DI DESA TEMANGGUNG
KALIANGKRIK MAGELANG
Artifah...................................................................................198

22. TRADISI SADRANAN DI DESA SEMPULUR
Adib Lutfil Hakim................................................................ 205

23. TRADISI LEBARAN KUPAT DI DESA KLEGO,
BOYOLALI, JAWA TENGAH
Sujatmoko Mukti Wiguna.................................................... 220

ix

24. ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL DI KALIWUNGU,
KENDAL(SYAWALAN DAN WEH-WEHAN)
Sofiatus Solekhah................................................................. 230

25. RITUAL LABUHAN MERAPI YOGYAKARTA:
MENGHORMATI ALAM BUKTI BERSYUKUR PADA
TUHAN
Imam Anuriansyah...............................................................247

26. TRADISI MEGENGAN DALAM MENYAMBUT
RAMADHAN DI DESA CANGGU KECAMATAN JETIS
KABUPATEN MOJOKERTO
Nailatul Chumairoh..............................................................253

DAFTAR PUSTAKA........................................................................... 261

x



RITUAL NYADRAN MENJELANG BULAN RAMADHAN
(Studi Kasus di Desa Ketitang Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali)

Novita Nurul Latifah
53040190002

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan masyarakat terdapat sesuatu yang dilakukan secara

berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasan-kebiasaan tersebut
dipahami oleh masyarakat sehingga dalam sistem sosial terbentuklah suatu
budaya dan tradisi. Kebudayaan yang Indonesia miliki beranekaragam dan
masing-masing daerah memiliki karakteristik yang membedakan antara satu
daerah dengan daerah lainnya. Salah satu adat kebiasaan atau tradisi yang
masih dilakukan sampai sekarang yaitu tradisi nyadran.

Tradisi dan budaya tidak hanya memberikan warna dalam percaturan
kenegaraan Indonesia, melainkan juga berpengaruh dalam kenyakinan
praktek-praktek keagamaan. Demikian halnya dengan Islam yang
berkembang di masyarakat yang sangat kental dengan tradisi dan budayanya.
Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam hingga sekarang
belum bisa meninggalkan tradisi dan budaya, meskipun terkadang tradisi dan
budaya itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Bagi masyarakat
kegiatan tahunan yang bernama nyadran merupakan ungkapan refleksi
social-keagamaan. Nyadran dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada
bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya’ban atau
Ruwah.

Demikian halnya dengan Islam yang berkembang di masyarakat Jawa
yang sangat kental dengan tradisi dan budayanya. Tradisi dan budaya Jawa
hingga akhir-akhir ini masih mendominasi tradisi dan budaya nasional di
Indonesia dan termasuk di Desa Ketitang Kecamatan Nogosari Kabupaten
Boyolali. Hal ini membuktikan bahwa tradisi dan budaya Jawa cukup
memberi warna dalam berbagai permasalahan bangsa dan negara di
Indonesia. Di sisi lain, ternyata tradisi dan budaya Jawa tidak hanya
memberikan warna dalam percaturan kenegaraan Indonesia, melainkan juga
berpengaruh dalam keyakinan dan praktek-praktek keagamaan.

Gambaran masyarakat Jawa seperti di atas menjadi penting untuk dikaji,
terutama terkait praktek keagamaan kita sekarang. Karena itulah, dalam
tulisan yang singkat ini mencoba mengungkapkan masalah tradisi nyadran,
tata cara dan nilai-nilai yang ingin ditampilkan dalam tradisi Nyadran.

METODE PENELITIAN

1

Penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan folklor
modern. Pendekatan folklor modern memfokuskan dalam dua aspek yang
ada di dalamnya, yaitu folk dan lore. Metode penelitian kualitatif deskriptif
berfungsi untuk memberi gambaran yang jelas dan rinci mengenai subjek
penelitian dalam bentuk kata-kata.

Sumber data dalam penelitian tradisi nyadran ini diperoleh melalui
metode pengumpulan data berupa dokumentasi serta hasil wawancara
terbuka dari beberapa informan yang dianggap memiliki pengetahuan tentang
tradisi nyadran. Dalam hal ini informan yang dipilih antara lain sesepuh desa
dan masyarakat pendukung tradisi.

Teknik pengumpulan data dalam menggunakan teknik observasi, teknik
wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik
analisis deskriptif kualitatif. Data yang terkumpul dari penelitian baik berupa
hasil wawancara maupun pengamatan yang ditulis dalam catatan lapangan,
foto, gambar dan sebagainya kemudian dianalisis dan dideskripsikan secara
menyeluruh.

PEMBAHASAN

1. Tradisi Nyadran

Upacara tradisional Nyadran disebarkan dan diwariskan secara turun
temurun dari suatu generasi ke generasi yang lain, oleh karena itu tradisi ini
dapat digolongkan dalam bentuk folklore. Menurut Danandjaja, Folklore
adalah sebagian kebudayaansuatu kolektif yang tersebar dan diwariskan
turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional baik
dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai degan gerak isyarat atau alat
pengingat.1 Bedasarkan adat Jawa, Nyadran adalah “Berziarah ke makam
atau pergi ke makam nenek moyang dengan membawa kemenyan, bunga dan
air doa. Nyadran mempunyai arti menziarahi kembali makam atau tempat
yang dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya desa.

Nyadaran dengan ziarrah kubur nerupakan dua ekspresi kultural
keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritus dan objeknya.
Perbedaannya hanya terletak pada pelaksanaannya, di mana nyadran
biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah,
dan pelaksanaannya dilakukan secara kolektif. Upacara tradisi nyadran
terdapat bentuk foklor lisan, yaitu doa-doa yang digunakan dalam upacara
dan juga terdapat bentuk foklor bukan lisan berupa rampe dalam upacara.

2. Tata Cara Pelaksanaan Nyadran

1Kastolani Abdul, Relasi Islam dan Budaya Lokal, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya Malaysia,
Vol. 04, No. 01, Agustus 2016, hlm. 60.

2

Menjelang bulan Ramadhan, masyarakat melaksanakan upacara nyadran,
kegiatan keagamaan tahunan yang diwujudkan dengan ziarah ke makam
menjelang bulan Ramadhan. Kegiatan dalam ziarah tersebut di antaranya
membersihkan makam leluhur, memanjatkan doa dan tabur bunga. Dalam
konteks inilah pentingnya pemeliharaan tradisi itu karena ia tumbuh dalam
masyarakat itu sendiri.

Nyadran dilakukan setiap bulan Sya’ban atau dalam kalender Jawa
disebut bulan Ruwah. Kegiatan nyadran dilakukan dengan ziarah ke makam-
makam leluhur atau orang besar (para tokoh) yang berpengaruh dalam
menyiarkan agama Islam pada masa lalu. Setelah melaksanakan nyadran,
masyarakat melakukan tradisi padusan. Padusan merupakan kegiatan mandi
yang mempunyai makna persiapan lahir dan batin menuju bulan Ramadhan.
Biasanya padusan dilakukan di sumber-sumber air.2

Ketika masyarakat melaksankan nyadran, mereka harus bekerja sama.
Ada unsur gotong-royong, kebersamaan, kasih saying dan pengorbanan
didalamnya. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi antar angota
masyarakat.

3. Nilai-Nilai yang Ingin Ditampilkan

a) Rasional Instrumental

Adalah tindakan yang dilakukan dengan pertimbangan
tujuan dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan.3 Dalam hal
ini pelaksanaan tradisi nyadran di Desa Ketitang dapat dijelaskan ke
dalam jenis-jenis tindakan sosial baik yang rasional maupun non
rasional. Tradisi nyadran dilakukan dengan tujuan untuk
meningkatkan hubungan sosial masyarakat, hal ini dilakukan
dengan cara melaukan aktivitas secara bersama-sama pada waktu
nyadran.

b) Value Oriented Rasionality

Adalah tindakan rasional yang berorientasi nilai suatu
kondisi dimana masyarakat melihat nilai sebagai potensi hidup.4
Dalam hal ini pelaksanaan tradisi nyadran di Desa Ketitang saat ini
juga merupakan tindakan rasional yang berorientasi pada nilai.
Tujuan yang ingin dicapai sudah ditentukan dalam nilai-nilai agama
Islam, alat-alat yang digunakan dalam mencapai tujuan bersifat
rasioanl.

2Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta : Gama Media, 2000, hlm. 72
3 I.B. Wirawan, Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Pradigma: Fakta Sosial, Definisi Sosial & Perilaku Sosial,
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012, hlm. 101.
4Agus Salim, Perubahan Sosial: Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia, Yogyakarta: Tiara
Wacana, 2002, hlm. 39.

3

c) Tradisional Action

Adalah tindakan perjuangan nilai yang berasal dari tradisi
kehidupan masyarakat atau dengan kata lain tindakan yang hanya
merujuk pada kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang sudah ada.5
Nyadran memiliki tujuan yaitu tujuan untuk menghasilkan sesuatu
dan tujuan protektif atau untuk mendapatkan perlindungan,
keselamatan, terhindar dari bahaya, sial dan sebagainya.

d) Tindakan Afektif

Nyadran merupakan simbol keterkaitan antara kondisi
masyarakat saat ini dengan sejarah masa lalunya.6 Masyarakat tidak
akan pernah menjadi masyarakat bila kaitan dengan masa lalunya
tidak ada.

Hasil Analisis

Dalam penelitian ini, karakteristik subjek adalah sebagai berikut: subjek
peneliti ini adalah masyarakat Desa Ketitang Kecamatan Nogosari
Kabupaten Boyolali, tokoh pemuda dan tokoh sesepuh Desa Ketitang
Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali dengan subjek dalam penelitian ini
adalah 3 orang.

Analisis data merupakan upaya mencari secara sistematis catatan hasil
observasi, wawancara dan lainnya. Bagi masyarakat Desa Ketitang
Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali hubungan agama dengan
kebudayaan dapat digambarkan sebagai hubungan yang berlangsung secara
timbal balik. Agama secara praksis merupakan produksi dari pemahaman dan
pengalaman masyarakat berdasarkan kebudayaan yang telah dimilikinya.
Sedangkan kebudayaan selalu berubah mengikuti agama yang diyakini oleh
masyarakat. Jadi hubungan agama dan kebudayaan bersifat dialogis.

Masyarakat Desa Ketitang Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali
merupakan suatu kesatuan masyarakat yang dikuat dengan norma-norma
hidup karena tradisi sejarah maupun agama. Hal ini dapat dilihat dari ciri
masyarakat secara kekerabatan. Sistem hidup kekeluargaan di Desa Ketitang
tergambar dari kekerabatan masyarakatnya. Kebudayaan Desa Ketitang
sampai sekarang masih kental dengan budaya Islam yang bercampur Hindu-
Budha, animisme dan dinamisme. Salah satu dari kebudayaan yang masih
kental akan kepercayaan animisme dan dinamisme adalah tradisi nyadran.

Upacara nyadran ini merupakan penghormatan kepada leluhur dan bisa
menjadi bentuk syukuran massal. Desa Ketitang Kecamatan Nogosari

5Ibid, hlm. 39.
6Shills dalam Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada Media, 2007, hlm. 65.

4

Kabupaten Boyolali menggelar tradisi nyadran di pemakaman menjelang
bulan puasa (Sya’ban).
PENUTUP

Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam hingga sekarang
belum bisa meninggalkan tradisi dan budaya, meskipun terkadang tradisi dan
budaya itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Bagi masyarakat
kegiatan tahunan yang bernama nyadran merupakan ungkapan refleksi
sosial-keagamaan. Nyadran dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada
bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya’ban atau
Ruwah. Upacara nyadran ini merupakan penghormatan kepada leluhur dan
bisa menjadi bentuk syukuran massal. Desa Ketitang Kecamatan Nogosari
Kabupaten Boyolali menggelar tradisi nyadran di pemakaman menjelang
bulan puasa (Sya’ban).

5

6

TRADISI ACARA SLAMETAN TUJUH HARIAN BAYI YANG
BARU LAHIR (PETETAN) DI DESA BANJARWINANGUN,
KABUPATEN KEBUMEN

Hamdan Nur Shohib
53040190023

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Kelahiran seorang bayi tentunya menjadi suatu penghormatan atas
anugerah apa yang telah Tuhan berikan. Biasanya kelahiran seorang bayi
disambut dengan adanya perayaan ataupun acara sebagai wujud rasa syukur
atas kelahiran buah hati mereka. Indonesia terkenal akan kaya adat dan
budaya leluhurnya, termasuk salah satunya dalam melakukan upacara
kelahiran anak ini. Upacara ini dilakukan untuk menghormati leluhur dan
rasa syukur atas kelahiran si anak.

Perayaan upacara kelahiran dengan adat memiliki tata cara maupun arti
yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Di setiap daerah memiliki tradisi
upacara kelahiran bayi dengan keunikannya tersendiri. Disini penulis
mengangkat sebuah judul penelitian tradisi slametan petetan atau upacara
kelahiran bayi umur tujuh hari dalam adat Jawa, khususnya di desa
Banjarwinangun, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Yang mana
ada bacaan maulid al-barzanji disertai doa yang dikemas dalam upacara
tersebut.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :
1. Apa definisi dari slametan petetan yang ada di Desa Banjarwinangun
Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen?
2. Bagaimana nilai-nilai yang terdapat acara slametan petetan yang ada
di Desa Banjarwinangun Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen?
3. Bagaimana respon masyarakat dan pandangan Islam pada acara
slametan petetan yang ada di Desa Banjarwinangun Kecamatan
Petanahan, Kabupaten Kebumen?

Tujuan dan Manfaat Penelitian

7

1. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

a) Untuk mengetahui definisi dari slametan petetan yang ada di Desa
Banjarwinangun Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen.

b) Untuk mengetahui nilai-nilai yang terdapat acara slametan petetan
yang ada di Desa Banjarwinangun Kecamatan Petanahan,
Kabupaten Kebumen.

c) Untuk mengetahui respon masyarakat dan pandangan Islam pada
acara slametan petetan yang ada di Desa Banjarwinangun
Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen

2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini penulis

membagi dalam dua kelompok, yaitu :

a. Manfaat Teoritis
1. Memperluas wawasan tentang tradisi upacara slametan petetan
yang ada di Desa Banjarwinangun Kecamatan Petanahan,
Kabupaten Kebumen.
2. Mampu mendorong para peneliti lain untuk lebih intensif lagi
dalam menggali tradisi-tradisi yang berkembang di masyarakat.

b. Manfaat Praktis
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi bagi
peneliti yang akan mengkaji tentang topik yang sama mengenai
tradisi.
2. Menambah koleksi bacaan sebagai sumber acuan dalam
menambah wawasan bagi masyarakat di Kebumen tentang
budaya dan tradisi lokal yang ada.
3. Melestarikan kebudayaan khususnya tradisi slametan petetan
yang ada di Desa Banjarwinangun Kecamatan Petanahan,
Kabupaten Kebumen.

Kajian Pustaka
Kajian Pustaka merupakan bahan-bahan bacaan ataupun referensi yang

penulis pilih dan dijadikan sebagai contoh dari pada objek yang sedang
penulis teliti dan secara khusus berkaitan dengan objek penelitian yang
sedang dikaji. Penilitian mengenai semiotika dalam lirik lagu Arab ini juga
bukan lagi permasalahan yang baru untuk diteliti, melainkan sudah banyak

8

dari para peneliti-peneliti sebelumnya yang mengkaji. Berikut beberapa
skripsi, artikel, jurnal, maupun karya ilmiah lainnya yang dijadikan sebagai
kajian pustaka oleh peneliti :

Artikel dengan judul Tradisi Pethet Rekma Bayi Desa Pejengkolan karya
Isya Rohmah Nurhayati yang di publish pada 12 September 2021 di blog
Desa Pejengkolan.7 Dalam artikel tersebut dijelaskan tata cara pada dan
runtutan acara pada tradisi petetan. Perbedaannya dengan penelitian ini
adalah dalam artikel tersebut belum dijelaskan nilai-nilai yang ada, respon
masyarakat maupun pandangan Islam dalam tradisi tersebut, sedangakan
dalam penelitian ini penulis akan mengangkat nilai-nilai yang ada, respon
masyarakat dan pandangan Islam pada tradisi ini.

Kajian Teori

Tradisi/Adat

Adat adalah kebiasaan masyarakat, dan kelompok-kelompok masyarakat
lambat laun menjadikan adat itu sebagai adat yang seharusnya berlaku bagi
semua anggota masyarakat.8Tradisi biasanya didalamnya mengadung pesan,
tetapi ia adalah pesan yang tidak tertulis, pemeliharaan pesan ini merupakan
tugas dari generasi ke generasi secara beriringan. Sedangkanmenurut Ki
Sodong Mandali seorang budayawan jawa, tradisi yang juga banyak
diistilahkan sebagai adat istiadat merupakan aturan-aturan tak tertulis tentang
penyelenggaraan hidup bersama.

Dari beberapa pendapat diatas ditarik kesimpulan bahwa tradisi yang
juga dapat diistilahkan sebagai adat merupakan pesan yang tidak tertulis
yang didalamnya berisikan kebisaan masyarakat tentang penyelenggaraan
hidup bersama. Banyak tradisi yang dipelajari dari generasi ke generasi
dengan cara ditiru.

Slametan

Slametan merupakan upacara keagamaan yang melambangkan kesatuan
mistis dan sosial bagi warga masyarakat yang ikut serta didalamnya.
Slametan merupakan semacam wadah bersama masyarakat, yang
mempertemukan berbagai aspek kehidupan sosial dan pengalaman
perseorangan, dengan suatu cara yang memperkecil ketidakpastian,
ketegangan dan konflik atau setidak-tidaknya dianggap berbuat
demikian.9Slametan merupakan laku budaya Jawa yang menunjukkan bahwa

7Tradisi Pethet Rekma Bayi Desa Pejengkolan - Website Resmi Desa Pejengkolan Kecamatan
Padureso Kabupaten Kebumen (kebumenkab.go.id)

8 Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat, (Cet. II, Bandung : Mandar Maju, 2003), hlm.1.
9 Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1981), hlm.
13

9

manusia adalah makhluk beradab, berakal, berperasaan, dan memilki daya
spiritual. Atas dasar berpikir, merasakan, dan mampu memahami “makna”
dengan adanya daya spiritual maka manusia itu melaksanakan slametan yang
dipahaminya.

Slametan ini merupakan sebagai wujud ucapan syukur kepada sang
pencipta dengan cara dan metode Jawa yang biasanya dilaksanakan di malam
hari. Dengan mengundang banyak tamu undangan untuk ikut serta
mendoakan apa yang menjadi hajat tuan rumah. Tamu laki-laki yang berada
di depan dan ikut mendoakan, sementara tamu perempuan berada di
belakang atau di dapur untuk ikut serta dalammenyiapkan makanan yang
dibutuhkan dalam acara slametan tersebut.

Nilai Budaya
Nilai budaya merupakan konsep-konsep mengenai sesuatu yang ada
dalam alam pikiran sebagian besar dari masyarakat yang mereka anggap
bernilai, berharga, dan penting dalam hidup sehingga dapat berfungsi sebagai
suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan para warga
masyarakat itu sendiri.10

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa nilai budaya adalah suatu
nilai di masyarakat yang dianggap bernilai, berharga, dan penting yang
berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah kepada kehidupan yang
lebih baik dan sebagai acuan masyarakat dalam bertingkah laku. Nilai
budaya berkonsep abstrak karena nilai budaya berada dalam pikiran manusia
dan sulit untuk diungkapkan secara rasional. Selain itu nilai budaya tidak
mudah tergantikan, hal ini disebabkan oleh proses dari nilai budaya itu
sendiri yang sudah mendarah daging dan diturunkan dari generasi ke
generasi.

Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Untuk mendapatkan pemahaman dan ilmu dari penelitian ini yang

berobjek dari slametan petetan maka peneliti menggunakan metode-metode
yang digunakan agar tercapainya tujuan dari pada penulisan penelitian ini.
Metode penelitian adalah bagaimana suatu objek penelitian diprosesdan
diolah data ataupun langkah-langkah, dan bagaimana data suatu objek itu
dianalisis menggunakan metode-metode tertentu. Metode penelitian peneliti
ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dilanjutkan dengan kuisioner
melalui wawancara dari peneliti ke tokoh agama di Desa Banjarwinangun.

10Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta. 2015), hlm. 153.

10

2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian merupakan sebuah rancangan bagaimana suatu
penelitian akan dilakukan. Rancangan tersebut digunakan untuk
mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan penelitian yang di rumuskan.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif atau penelitian penjelasan yaitu penelitian yang menganalisa
hubungan antara variabel-variabel penelitian dan hipotesis yang harus di
buktikan.11 Dalam penelitian kualitatif peneliti adalah insrumen. Validitas dan
metode-metode kualitatif banyak bergantung pada keterampilan, kemampuan,
dan kecermatan yang melakukana kerja lapangan.

3. Teknik Memperoleh Data
Teknik yang dilakukan peneliti dalam penelitan ini yaitu dengan melalui
wawancara langsung dengan tokoh agama yang ada di Desa
Banjarwinanagun. Dengan berbagai pertanyaan diajukan oleh peneliti yang
meliputi 5W+1H.

4. Teknik Mengolah Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Teknik analisis data dilakukan dengan menyajikan hasil wawancara dan juga
melakukan analisa terhadap masalah yang ditemukan, dikuatkan dengan
beberapa referensi bacaan yang ada juga. Sehingga dapat diperoleh gambaran
yang jelas tentang objek yang diteliti dan menarik kesimpulan. Kemudian di
kelompokkan dan dirincikan secara detail.

5. Teknik Menguji Data
Teknik menguji data dalam penelitian ini lebih bersifat sejalan seiring
dengan proses penelitian itu berlangsung. Keabsahan data kualitatif diambil
sejak awal pengambilan data yaitu dengan melakukan reduksi data, display
data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Pembahasan dan Hasil Penelitian
1. Tradisi Slametan Petetan
Tradisi masyarakat jawa tidak terlepas dari yang namanya slametan.

Menurut Clifford Gerrtz seorang antropolog dari Amerika, kata slametan
berasal dari kata slamet yang mana adalah sebuah istilah dari Islam. Dikutip
dari kamus Arab-Inggris, Nakamura seorang antropolog Jepang juga juga
berpendapat bahwasannya kata slamet berasal dari bahasa arab salam
sebagaimana kata Islam yang berarti menjadi baik atau selamat. Kemudian
Nakamura mengutip Sir Thomas Raffles yang menyebutkan bahwa sebutan

11 Mudrajad Kuncoro, Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi, (Jakarta: Erlangga, 2003), hlm. 54

11

bagi ritual slametan masyarakat Jawa berasal dari kata salamatan dalam
bahasa Arab. Itulah sebabnya mengapa dalam dalam slametan doa itu untuk
kesejahteraan dan kemakmuran selalu dibacakan.12Kegiatan selamatan tidak
ditemukan dalil yang menerangkan tentang hal itu, baik di dalam Al-Qur’an
maupun hadis. Tetapi, acara itu merupakan sesuatu yang baik dan boleh
dilakukan karena memohon keselamatan. Memohon keselamatan termasuk
doa dan zikir.13

Petetan adalah suatu tradisi potong rambut bagi seorang bayi baru lahir
yang berusia tujuh hari.14 Sebagian masyarakat lain ada juga yang menyebut
tradisi ini dengan sebutan puputan. Maksud dari petetan atau puputan adalah
terlepasnya tali pusar yang sudah kering secara sendirinya. Tradisi ini
biasanya dilakukan dimalam hari. Memotong rambut bayi ini paling sedikit
sehelai rambut. Dalam ajaran Islam, prosesi mencukur rambut bagi bayi
disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana hadist yang
diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Seorang anak itu tergadaikan dengan
aqiqahnya, yang disembelih pada hari ke tujuh dan diberi nama dan dicukur
rambutnya”.15

Selain memotong rambut bayi, sekaligus memberikan nama pada sang
bayi serta tasyakuran aqiqah bagi yang sudah mampu. Dalam kitab Asbabul
Wurud aqiqah dalam syariat Islam, menyembelih dua ekor kambing jika
anaknya laki-laki, dan seekor kambing jika anaknya perempuan itu sudah
dikenal dan biasa dilakukan orang sejak zaman jahiliyah.16 Tujuan acara ini
adalah rasa syukur atas lahirnya bayi dan memohon kepada Allah mengenai
keselamatan sang bayi.

2. Tata Cara Pelaksanaan Petetan

Adapun tahapan-tahapan acara petetan yang dilakukan pada masyarakat
Kebumen adalah sebagai berikut. Sebelum dimulai acara petetan, hal yang
diperlu disiapkan meliputi, nampan, payung, daun tawa, berbagai bunga, air,
gunting, dan parfum wewangian. Dimulai dengan sambutan dari keluarga
dilanjut dengan doa untuk kebaikan sang bayi yang dipimpin oleh seorang
kyai. Kemudian dilanjut dengan pembacaan maulid Al-Barzanji dengan
beberapa ‘atiril yang dibaca hadirin secara bergantian, dan dilanjut dengan
mahalul qiyam. Berdasarkan hasil wawancara saya dengan tokoh agama di

12Bambang Pranowo, Memahami Islam Jawa, (Cet. II, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2011), hlm. 11.
13https://fitk.uinjkt.ac.id/hukum-selamatan-berbeda-dengan-hukum-aqiqah/
14Tradisi Pethet Rekma Bayi Desa Pejengkolan - Website Resmi Desa Pejengkolan Kecamatan Padureso
Kabupaten Kebumen (kebumenkab.go.id)
15https://www.kebumenupdate.com/news/cukur-rambut-bayi-tandai-aqiqah-anak-kelima-wabup-
kebumen/
16M. Khoir Al-Kusyairi, Nilai-Nilai Pendidikan dalam Hadist Ibadah Aqiqah, (Jurnal Al-Hikmah, Vol. 12, No.
2, Oktober 2015), hlm. 159.

12

desa saya, adat ini sudah dari zaman dahulu sebelum adanya listrik, dan
sudah mendarah daging hingga sampai sekarang.

Setelah sampai pada mahalul qiyam, salah satu orang membawa nampan
yang berisi alat-alat yang disiapkan untuk memotong rambut, dan ada satu
orang lagi yang membawa parfum wewangian. Disusul sang bayi keluar
yang digendong oleh ayahnya serta dipayungi oleh salah satu keluarganya.
Setelah itu, mereka semua berputar tujuh kali dalam putaran para hadirin.
Kemudian ada tujuh tokoh masyarakat dan keluargannya yang diberikan
amanah untuk memotong beberapa helai rambut sang bayi. Rambut yang
sudah dipotong kemudian dimasukan kedalam wadah yang berisi air dan
bunga. Saat pemotongan rambut berlangsung, bacaan mahalul qiyam tetap
dibacakan secara bersama-sama dan hadirin berdiri semua. Sembari berputar
seseorang yang membawa parfum wewangian ini menyemprotkan
parfumnya ke pakaian para hadirin semua. Setelah semuanya selesai dengan
tujuh kali putaran, mereka pun kembali masuk ke dalam rumah. Dilanjutkan
dengan doa dan pembagian berkat yang berupa nasi, sayur dan lauk pauk.
Keesokan harinya, rambut bayi yang sudah dipotong oleh tujuh orang
semalam ditimbang. Hasil berat rambutnya dibelikan emas atau dalam
bentuk uang yang nantinya akan diberikan kepada orang yang tidak
mampu. Tradisi ini terus dilestarikan hingga saat ini oleh seluruh
masyarakat Kebumen sekaligus untuk mensyiarkan agama Islam.

13

3. Nilai-Nilai yang Ingin Ditampilkan

a) Nilai Religi

Tradisi ini walaupun tidak diajarkan dalam Islam, namun juga tidak
bertentangan dengan agama Islam karena didalamnya ada muatan nilai-nilai
yang diajarkan dalam Islam, yaitu sikap rasa syukur dan juga meminta
keselamatan kepada Allah dengan membaca doa dan maulid al-barzanji
bersama-sama.

b) Nilai Budaya

Ada hal yang menarik tentang ungkapan bahwa “antara agama dan
budaya tidak bisa berjalan bersamaan akan tetapi harus berjalan sendiri baik
budaya maupun agama”.17 Dengan kata lain budaya akan terus berjalan sesuai
adat kebudayaan daerah setempatnya tanpa memandang agama apa yang
menjalankannya. Dalam sumber tersebut dituliskan bahwasannya selagi
masih tinggal di Jawa yang kental akan tradisi budayanya walaupun orang itu
Islam maupun non Islam tetap harus menjalankannya. Karena itu memang
sudah jadi tradisi dan turun-temurun.

Dalam tradisi ini terkandung nilai-nilai filosofis dalam kehidupan, antara
lain; melestarikan tradisi leluhur, memperkenalkan si bayi dengan Nabinya
melalui bacaan al-barzanji dan berharap bisa meneladaninya. Perlu kita
ketahui dalam Islam ketika seorang bayi baru lahir maka sang ayah
mengadzankannya dengan tujuan untuk memperkenalkan sang bayi dengan
tuhannya yaitu Allah, sedangkan dalam acara ini melalui bacaan maulid al-
barzanji dengan tujuan untuk memperkenalkan sang bayi dengan rosululloh.
Dengan harapan sang bayi bisa meneladaninya dari segi sifat, sikap dan
sebagainya.

c) Nilai Sosial

Nilai sosial yang terkandung dalam acara ini adalah; dimana para hadirin
bisa bertatap muka, bersosialisasi dan ikut andil dalam acara tersebut. Ikut
juga dalam mensukseskan acara tersebut, tanpa adanya bantuan dari pihak
masyarakat tentu acara ini belum tentu akan berjalan mulus.

4. Pandangan Islam tentang Tradisi Petetan

Dalam tradisi Jawa petetan artinya menyelenggarakan slametan tujuh
harian untuk bayi yang baru lahir, yang didalamnya mencakup pemberian
nama, potong rambut dan ada juga yang dibarengi dengan aqiqah (jika sudah
mampu). Dengan melibatkan para hadirin masyarakat untuk memberi doa
kepada sang bayi agar kelak menjadi anak yang bisa meneladani sifat
Rosululloh.

17Laelatul Badriah, Akulturasi Nilai – Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi Kelahiran di Daerah Pondok
Pesantren Krapyak Yogyakarta, (KNPI 2020, Universitas Islam Malang), hlm. 236.

14

Dengan demikian acara ini tidak bertentangan dengan ajaran agama
Islam, apalagi ada bacaan maulid al-barzanji yang dikemas dalam acara ini,
dan ada pula yang digabungkan dengan aqiqah, yang mana aqiqah ini adalah
ajaran Islam. Dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu disebutkan tentang
hikmah aqiqah adalah :

Q J N N J QQJ Ψ N N Qϴ Q Ψ , N ℷ ℷ㘮
ϟ N N Ω N Q , ℷJ N ᦈ Ωℷ J N

Yang artinya: “Ungkapan syukur kepada Allah Swt atas diberi rezeki
seorang anak. Menumbuhkan keutamaan berbagi dan sifat kedermawanan.
Melembutkan hati keluarga, kerabat dan para sahabat dengan mengumpulkan
mereka dengan makan bersama. Menebarkan kasih sayang, cinta kasih dan
kebersamaan”.18

5. Analisa Penulis terkait Petetan

Ritual keagamaan tradisional atau slametan merupakan bagian dari
kebudayaan yang dipercayai sejak zaman nenek moyang terdahulu, yang
sudah mendarah daging hingga saat ini. Yang dipercayai juga sebagai
penunjang keselamatan dalam hidup. Banyak sekali acara slametan dalam
budaya Jawa, salah satunya yaitu Petetan. Petetan merupakan slametan tujuh
harian untuk bayi yang baru lahir, yang didalamnya mencakup pemberian
nama, potong rambut dan ada juga yang dibarengi dengan aqiqah (jika sudah
mampu) melalui bacaan maulid al-barzanji disertai dengan doa.

Yang menjadi akar permasalahannya adalah apakah acara ini yang sudah
mendarah daging bagi masyarakat Kebumen bertentangan dengan Islam,
apakah maksud dari pembacaan maulid al-barzanji tersebut, dan adakah
kaitannya dengan baginda nabi kita yang sebagaimana lantunan ini biasa
dilantunkan ketika acara maulidan.

Tradisi ini merupakan adat kebiasaan yang baik dan sama sekali tidak
menyimpang ajaran agama Islam, karena didalamnya sama sekali tidak ada
tanda-tanda unsur yang menyimpang, dan memiliki tujuan baik dan sudah
mendarah daging. Dalam ushul fiqh dijelaskan al-‘adatu muhakkamah.
Bahwasannya adat ini bisa dijadikan dasar untuk menetapkan hukum Islam
apabila tradisi tersebut telah berlaku secara umum di masyarakat tertentu.
Sebaliknya, jika sebuah tradisi tidak berlaku secara umum, maka ia tidak
dapat dijadikan pedoman dalam menentukan boleh atau tidaknya tradisi
tersebut dilakukan.19

18M. Khoir Al-Kusyairi, Nilai-Nilai Pendidikan dalam Hadist Ibadah Aqiqah, (Jurnal Al-Hikmah, Vol. 12, No.
2, Oktober 2015), hlm. 161.

19Susi Susanti, Implementasi Kaidah Al’adatu Muhakkamah Pada Tradisi Marosok Dalam Akad Jual Beli
Di Pasar Ternak Nagari PalangkiKecamatan IV Nagari KabupatenSijunjung Provinsi Sumatera Barat, Skripsi
(Riau: UIN Suska, 2020) hlm. 39-40

15

Dari hasil wawancara saya dengan tokoh agama di desa saya,
pembacaan maulid al-barzanji itu bertujuan untuk memperkenalkan sang
baginda kita kepada sang bayi. Dengan kharisma dan keagungan beliau,
berharap sang bayi bisa seperti beliau dan bisa meneladani beliau. Perlu kita
ketahui dalam Islam bahwasaannya ketika seorang bayi baru lahir maka sang
ayah mengadzankannya dengan tujuan untuk memperkenalkan sang bayi
dengan tuhannya yaitu Allah, sedangkan dalam acara ini melalui bacaan
maulid al-barzanji dengan tujuan untuk memperkenalkan sang bayi dengan
rosululloh, dengan harapan sang bayi bisa seperti beliau dan bisa meneladani
beliau.

PENUTUP
Melestarikan dan menjaga budaya atau tradisi adalah salah satu bentuk

rasa syukur terhadap Tuhan YME. Selagi dalam budaya dan tradisi itu tidak
mengandung unsur negatif atau merusak etika dan moral, tidak menyimpang
agama dan tidak menentang pemerintahan setempat maka tradisi tersebut
tetap bisa dilaksanakan. Tradisi petetan ini merupakan tradisi slametan tujuh
harian bayi yang baru lahir yang merupakan akulturasi budaya lokal dengan
Islam. Selain itu kita juga dapat mengambil nilai-nilai terkandung
didalamnya. Dan selagi itu baik dan tidak menentang agama, maka
lestarikanlah budaya tersebut. Karena peran kita adalah sebagai penerus di
zaman sekarang.

16

NILAI-NILAI SOSIAL DAN RELIGIUS DALAM TRADISI
MITONI DI DESA PULOSARI, KABUPATEN PEMALANG

Ika Ismawati
53040190022

Pendahuluan
Masyarakat Jawa memiliki banyak tradisi yang masih dilestarikan

hingga saat ini. Salah satunya adalah tradisi mitoni atau selametan saat usia
kehamilan sudah genap tujuh bulan. Pada penelitian ini, penulis meneliti
tradisi mitoni di Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang,
Jawa Tengah. Ada ritual yang menarik pada prosesi mitoni di Desa Pulosari
yaitu, ritual pecah kendi yang diyakini masyarakat dapat mempengaruhi
proses kelahiran nantinya.

Setiap daerah ritual tradisi mitoni berbeda-beda namun tentu tidak
merubah eksistansi nilai yang terkandung didalamnya. Fokus studi ini ialah
meneliti tradisi mitoni dari segi nilai sosial dan religious di desa Pulosari.
Studi mitoni sebelumnya ialah sebagai berikut: Mustaqim menemukan
bahwa ritual mitoni yang dilakukan di tengah masyarakat sudah mengalami
pergeseran, dari sisi makna maupun kualitas ritual (Mustaqim, 2017: 120).
Mitoni ditinjau dari sisi Islam oleh Adriana dan Buhori. Menurut Adriana,
sebagian ulama melarang ritual mitoni, karena tidak ada syarî’at yang
mendasarinya (Adriana, 2012: 246). Sementara itu, Buhori menjelaskan
bahwa Islam cukup mengakomodir tradisi atau budaya yang berkembang di
tengah-tengah masyarakat (Buhori, 2017: 245).

Studi mitoni sebelumnya tidak mengkaji nilai-nilai sosial dan religius
mitoni. Oleh sebab itu, studi ini akan mengkaji nilai-nilai sosial dan religious
dalam tradisi mitoni. Nilai sosial adalah pedoman hidup kelompok tentang
sesuatu yang dianggap baik dan dianggap buruk. Salah satu ciri nilai sosial
berasal dari proses interaksi bukan bawaan dari lahir. Nilai religius adalah
salah satu nilai karakter yang dijadikan sebagai sikap dan perilaku yang
patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap
pelaksanaan agama lain, dan hidup rukun dengan agama lain. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai religious yang terkandung
dalam tradisi mitoni dan bagaimana pandangana islam mengenai tradisi ini.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai rujukan untuk
penelitian selanjutnya.

Metode Penelitian

17

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis
penelitian lapangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah deskriptif kualitatif. Yaitu suatu pendekatan penelitian yang
menghasilkan data yang bersifat deskriptif atau tidak berhubungan dengan
angka. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara. Wawancara
dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka kepada informan yang
merupakan tokoh masyarakat desa Pulosari.

Hasil danPembahasan

Mitoni adalah tradisi yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur saat
usia kehamilan genap tujuh bulan. Mitoni berasal dari kata pitu yang artinya
tujuh. Seiring berkembangnya zaman, tradisi mitoni mengalami pergeseran
dan pengurangan unsur-unsur ritual, dari ritual yang serba lengkap kini
menjadi tradisi instan dengan tidak meninggalkan inti tradisi. Hal ini
menyebabkan ikut hilangnya beberapa makna simbol dan nilai-nilai religius
dalam tradisi mitoni.20 Pada awalnya ada banyak tahapan pada prosesi mitoni,
diantaranya: siraman, memasukan telur ayam kampung ke dalam sarung
calon ibu, brojolan kelapa muda, upacara lilitan memutus janur, upacara
ganti kain batik 7 kali, rujakan, dan kenduri.21

Berbeda dengan tradisi mitoni di Desa Pulosari, prosesi hanya terdiri
dari dua tahapan yaitu, selametan dan ritual pecah kendi. Selametan
dilakukan dengan membaca Al Quran 30 juz kemudian dilanjutkan tahlil.
Sebelum acara selametan dimulai, calon ibu harus menyediakan air di dalam
kendi yang nantinya setelah pembacaan Al Quran dan tahlil selesai air
tersebut digunakan untuk berwudhu dan mandi. Setelah itu, kendi tersebut
dijatuhkan oleh calon ibu, dimana ritual ini mempunyai makna jika kendi
tersebut pecah maka proses melahirkan akan diberi kemudahan dan
kelancaran. Tentu setiap tradisi yang diwarisi nenek moyang memiliki nilai-
nilai di dalamnya. Tradisi ini membuat masyarakat mempunyai ruang atau
kesempatan untuk bersilaturahim dengan kerabat melaluli bacaan Al Quran
dan dzikir. Artinya, masyarakat tidak melupakan kalam Allah sebagai bentuk
ungkapan rasa syukur. Kemudian, prosesi pecah kendi hanyalah simbolis
yang sudah menjadi adat turun menurun di desa tersebut, dimana masyarakat
tetap hanya bergantung pada Allah lewat bacaan Al Quran dan dzikir. Tidak
ada yang tau bagaimana asal usul ritual pecah kendi, masyarakat Desa
Pulosari hanya melestarikan tradisi yang ada sejak zaman dulu sebagai

20 Retno Intani dan Novita Damayanti, “Pemaknaan Tradisi Mitoni Adat Jawa Tengah pada Pasangan
Jawa dan Padang”, Prosidinging Konferensi Komunikasi, Vol.2 No.1 (2018), hlm. 540.

21 Siti Muniroh, “Tradisi Nujuh Bulanan Masyarakat Jawa di Desa Sialang Baru Kecamatan Kabupaten
Siak”, Jom Fisip, Vol. 2 No. 2 (2015), hlm. 9-11.

18

warisan nenek moyang. Jadi, tidak ada salahnya melakukan ritual tersebut
selagi keyakinan kita tetap bergantung pada Allah karena itu hanyalah
sebuah simbolis.22Dalam proses kehamilan pasti muncul harapan-harapan
agar bayi dalam kandungan mampu menjadi generasi baik sesuai yang
diinginkan oleh orang tuanya. Maka dari itu, dilakukanlah beberapa tradisi
yang dianggap mampu untuk mewujudkan harapan-harapan tersebut salah
satunya yaitu mitoni.23

Tradisi mitoni mempunyai makna bahwa pendidikan bukan sesudah
dewasa saja, namun semenjak benih tertanam di dalam rahim ibu.24Tradisi ini
dimaksudkan untuk mendoakan jabang bayi agar kelak menjadi anak yang
shalih atau shalihah dan sang ibu agar saat persalinan diberi kelancaran dan
kemudahan. Adapun dipilih waktu tujuh bulan, karena pada saat ini bayi
sudah manggon (menetap atau siap), keluar ke dunia.25

Tidak ada dalil Al Quran maupun Hadis, baik anjuran, atau perintah
khusus yang secara langsung menyebutkan nama kegiatan mitoni, dan tak
akan pernah ditemukan di sumber hukum Islam manapun. Namun jika kita
mau mempelajari dengan benar pada dasarnya kita akan menemukan alasan
secara substansi menjadi dasar keabsahan melakukan acara selamatan 7
bulanan. Salah satu alasan keabsahan melakukan acara mitoni ini tidak
diajarkan secara asal. Acara ini diajarkan oleh para ulama atas dasar firman
Allah QS. Al A’raf ayat 189 yang berbunyi:

Ε ϟΕ Qϟ˴ ΕΕ ή Ε ή ΩϬ ΩQ Ϧ ΨQ Ω ΩΨ ℷ ήϬ ˴ϟ㘮 Ϧ ˴ ˴

Ϧ Ϭ ˴ Ϧ Ϧ㘮 Ψ Ε Ϭ Ψ Q N ϦϨ Ω Q ˴ N ᦈ Ε

Artinya: “Dia lah dzat yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu
dan darinya Dia ciptakan istrinya agar ia merasa senang kepadanya. Maka
ketika ia telah mencampurinya, sang istri mengandung dengan kandungan
yang ringan dan teruslah ia dengan kandungan ringan itu. Lalu ketika ia
merasa berat kandungannya keduanya berdoa kepada Allah Tuhannya,
“Apabila Engkau beri kami anak yang saleh maka pastilah kami termasuk
orang-orang yang bersyukur.”(QS. Al A’raf: 189)

Imam Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya menuturkan Ayat di atas
bercerita tentang Nabi Adam dan Ibu Hawa sebagai pasangan suami istri.
Bahwa ketika awal kehamilan Ibu Hawa terasa ringan, tidak merasa berat. Ia
bangkit dan duduk seperti biasa. Namun, ketika anak itu tumbuh di dalam

22 Wawancara dengan Nuriyah, Pulosari, 20 November 2022.
23 M. Mukhlish Rahman, “Tradisi Bacaan Al-Qur’an Untuk Ibu Hamil (Studi Murottal Al-Qur’an Dalam
Media Youtube)”, Al-Dzikra, Vol. 14 No. 2 (2020), hlm. 251.
24 Udin Juhrodin dan Gania febriyanti, “Analisis Urf Terhadap Tradisi Acara Tujuh Bulanan Kandungan”,
JIMMI, Vol. 2 No. 2 (2017) , hlm. 10.
25 Muhammad Fuad Zain, “Aktualisasi 7 Surat Dalam Tradisi Mitoni”, Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, IAIN Purwokerto, Vol. 3 No. 1 (2018), hlm. 47.

19

rahimnya, Ibu Hawa merasa rahimnya semakin berat dan waktu
kelahirannyasemakin dekat. Kemudian Nabi Adam dan istrinya berdoa
kepada Allah agar anak menjadi seorang anak yang saleh sempurna seperti
mereka. Berdasarkan hal tersebut para ulama di tanah air saat itu
menyarankan umat Islam untuk mendoakan bayi dalam kandungan yang
berada tahap akhir kehamilan. Dan untuk tujuan itu dianjurkan agar kita
mengumpulkan tetangga kita dan berpartisipasi dalam doa bersama karena
dengan banyaknya orang yang mendoakan maka kemungkinan besar do’a
akan dikabulkan oleh Allah.26

Secara historis, tradisi mitoni berkembang dari mulut ke mulut semenjak
zaman dahulu. Pada zaman kerajaan Kediri diperintah oleh Raja Jayabaya,
ada seorang wanita yang bernama Niken Satingkeb. Ia menikah dengan
seorang punggawa kerajaan yang bernama Sadiyo. Dari perkawinan ini,
lahirlah sembilan orang anak. Akan tetapi, nasib malang menimpa mereka,
karena dari kesembilan anak tersebut tak ada seorangpun yang berumur
panjang. Sadiyo dan Niken Satingkeb tidak putus asa dalam berusaha dan
selalu berdoa agar mempunyai anak lagi yang kelak tidak bernasib malang
seperti anak-anak mereka sebelumnya. Segala petuah dan petunjuk dari siapa
saja selalu mereka perhatikan, tetapi tidak ada juga tanda-tanda bahwa
istrinya mengandung. Maka, pergilah suami istri tersebut menghadap raja
untuk mengadukan kepedihan hatinya dan mohon petunjuk sarana apakah
yang harus mereka lakukan agar dianugerahi seorang anak lagi yang tidak
mengalami nasib seperti anak-anaknya terdahulu. Sang raja yang arif
bijaksana itu terharu mendengar pengaduan Nyai Niken Satingkeb dan
suaminya.

Maka, beliau memberikan petunjuk agar Nyai satingkeb pada setiap hari
Tumbak (Rabu) dan Budha (Sabtu) harus mandi dengan air suci dengan
gayung berupa tempurung kepala yang disebut bathok disertai dengan
membaca doa seperti "Hong Hyang Hanging Amarta, Martini Sarwa Huma,
humaningsun ia wasesaningsun, ingsun pudyo sampurno dadyo manungso."
Setelah mandi, ia memakai pakaian yang serba bersih. Kemudian dijatuhkan
dua butir kelapa gading melalui jarak neloni, mitoni atau tingkeban antara
perut dan pakaian. Kelapa gading tersebut digambari Sang Hyang Wisnu dan
Dewi Sri atau Arjuna dan Sumbadara. Maksudnya adalah agar jika kelak
anaknya lahir, ia mempunyai paras elok atau cantik seperti yang dimaksud
dalam gambar itu.

26 Sabbrina Laila Rosa dan Syamsul Bakhri, “Realitas Subjektif dan Objektif Al Quran dalam Tradisi
Mitoni”, Jurnal Penelitian Mahasiswa Ilmu Sosial, Ekonomi, dan Bisnis Islam, Vol. 2 No.1 (2022), hlm.
93-94.

20

Selanjutnya, wanita yang hamil itu harus melilitkan daun tebu wulung
pada perutnya yang kemudian dipotong dengan keris. Segala petuah dan
anjuran sang raja itu dijalankannya dengan cermat, dan ternyata segala yang
mereka minta dikabulkan. Semenjak itu, upacara ini diwariskan turun-
temurun dan menjadi tradisi wajib bagi masyarakat Jawa.27 Budaya Jawa
merupakan suatu sistem yang menjadi pedoman bagi masyarakat Jawa dalam
berperilaku dan bersikap. Hal ini dikarenakan budaya Jawa memiliki kearifan
lokal yang berfungsi sebagai pendorong yang kuat dalam kehidupan
masyarakat Jawa. Salah satunya yaitu ritual seputar kelahiran.28 Pelaksanaan
tradisi 7 (tujuh) bulanan merupakan suatu tradisi yang baik bagi masyarakat
dalam menyambut kelahiran anggota keluarga baru yaitu dapat menjalin
hubungan sosial antara masyarakat dan keluarga. Sehingga tradisi ini
merupakan suatu hal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Hal ini sebagaimana Hadis Nabi Muhammad Saw yang berbunyi :

Dari Anas bin Malik ra dari Nabi Muhammad Saw bersabda, “Demi
Dzat yang diriku ada di tangannya. Tidak beriman seorang hamba mukmin,
hingga ia mencintai tetangganya (atau saudaranya) sebagaimana ia mencintai
dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan pada hadis tersebut diatas maka dapat dikaitkan bahwa
salah satu media atau wadah untuk menjalin erat tali silaturahim antara
sesama umat Islam dan menjaga keharmonisan hidup rukun bertetangga
melalui pelaksanaan kenduri kelahiran dan 7 (Tujuh) Bulanan. Selain itu
manfaat dari pelaksanaan tahlilan ini juga dapat melatih masyarakat untuk
berzikir dengan khusyuk serta berdoa kepada Allah dan membentuk jiwa
sosial karena pada dasarnya mempunyai latar belakang akidah yang sama
yakni ahli sunnah wal jamaah.29 Dengan adanya konsep pembacaan alquran
yang dipadukan dengan budaya mitoni terlihat bagaimana Al Quran mulai
masuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sehingga digunakan dalam
pelaksanaan tradisi mitoni. Ajaran agama Islam akan menjadi filter yang
dapat menyaring budaya masyarakat. Selama tidak bertentangan dengan
ajaran agama maka dapat ditolerir bahkan dapat dikembangkan sebagai
khazanah budaya Islam dalam kehidupan masyarakat.30

27Iswah Adriana, “Neloni, Mitoni atau Tingkeban: (Perpaduan antara Tradisi Jawa dan Ritualitas
Masyarakat Muslim)”, KARSA, Vol. 19 No. 2 (2011), hlm. 242-243.
28 Yohanes Boanergis, “Tradisi Mitoni sebagai Perekat Sosial Budaya Masyarakat Jawa”, Jurnal Ilmu
Budaya, Vol. 16 No. 1 (2019), hlm. 50.
29Sinta Meilani dkk, “Tradisi Tujuh Bulanan Usia Kehamilan Dalam Perspektif Mazhab Syafi’i (Studi
Kasus Di Kecamatan Hinai)”, Journal Of Law, Vol. 1 No. 1 (2022), hlm. 8.
30Laili Choirul Ummah, “Islamisasi Budaya dalam Tradisi Tujuh Bulanan (mitoni) dengan Pembacaan
Surat yusuf dan Maryam pada Jamaah Simaan Al Quran di Desa Jurug Kecamatan Mojosongo Kabupaten
Boyolali”, Al Itqon, Vol. 4 No. 2 (2018), hlm. 118.

21

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, tradisi mitoni adalah salah
satu bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah akan datangnya anggota
keluarga baru, dimana cara yang dilakukan setiap daerah berbeda-beda.
Mereka yang melakukan tradisi ini bukan berarti mengimani ritual-ritual
yang dilakukan karena hal tersebut hanyalah simbolis yang sudah menjadi
adat secara turun-menurun. Jadi, tidak masalah bagaimanapun bentuk
ritualnya karena inti dari tradisi mitoni adalah pembacaan doa kepada Sang
Pencipta agar diberikan kemudahan dan kelancaran saat melahirkan dan
kelak anak tersebut tumbuh menjadi anak yang baik. Nilai sosial yang
terkandung dalam tradisi mitoni diantaranya sebagai media untuk menjalin
silaturrahim, menjaga keharmonisan hidup rukun bertetangga. Sedangkan
nilai religious yang terkandung dalam tradisi mitoni diantaranya melatih
masyarakat untuk berzikir dengan khusyuk serta berdoa kepada Allah dan
meningkatkan rasa syukur kepada Allah. Hal ini jelas tidak bertentangan
dengan ajaran Islam.

Penutup
Tradisi mitoni di Desa Pulosari hanya terdiri dari dua prosesi yaitu :

selametan (pembacaan Al Quran dan tahlil) dan ritual pecah kendi sebagai
simbol lancar atau tidaknya proses melahirkan. Ada beberapa nilai yang
terkandung dalam tradisi ini. Adapun nilai sosial diantaranya: sebagai media
untuk menjalin silaturrahim, menjaga keharmonisan hidup rukun bertetangga,
sedangkan nilai religious diantaranya: melatih masyarakat untuk berzikir
dengan khusyuk serta berdoa kepada Allah dan meningkatkan rasa syukur
kepada Allah. Tradisi ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam karena
masyarakat tetap hanya mengimani Allah bukan ritual unik yang dilakukan.

22

23

NYANGKU: PELESTARIAN UPACARA ADAT PEMBERSIHAN
BENDA-BENDA PUSAKA DI DESA PANJALU

Ulpah Sayidah
53040190045

PENDAHULUAN
Latar belakang

Islam sebagai agama wad’un ilāhiyyun31, senantiasa sejalan dengan
budaya masyarakat selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan
doktrin Islam, karena doktrin tersebut memasuki masyarakat dan
mewujudkan diri dalam konteks sosial budaya (Islamicate) pada masing-
masing wilayah atau kawasan. Namun, terkadang dialektika antara agama
dan budaya berubah menjadi ketegangan karena budaya sering dianggap
tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran ilahiyat yang bersifat absolut.

Agama melambangkan nilai ketaatan kepada tuhan, sedangkan
kebudayaan mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa dinamis
dalam kehidupannya. Keberadaan sistem agama yang melingkupi masyarakat,
mengandung makna kolektifitas yang saling memberi pengaruh terhadap
tatanan sosial keberagamaan secara totalitas, namun tidak dapat dipandang
sebagai sistem yang berlaku secara abadi di masyarakat.

Sementara kebudayaan merupakan ekspresi cipta, karya, dan karsa
manusia yang berisi nilai-nilai dan pesan-pesan religiusitas, wawasan
filosofis dan kearifan lokal (local wisdom). Agama maupun kebudayaan,
keduanya memberikan wawasan dan cara pandang dalam menyikapi
kehidupan sesuai kehendak Tuhan dan kemanusiaannya.

Panjalu adalah sebuah desa di kabupaten Ciamis bekas kerajaan,
masyarakatnya sampai sekarang masih memegang tradisi upacara adat
nyangku. Masyarakat Panjalu menganggap tradisi tersebut sakral karena
berhubungan dengan asal keberadaan dan penyebaran agama Islam di
kerajaan Panjalu dan tatar Priangan. Acara inti upacara adat nyangku adalah
ceramah keagamaan (Islam), pembersihan benda-benda pusaka, dan
beberapa rangakaian acara lainnya. Secara teoretis tradisi tersebut
berhubungan secara ekstrinsik dengan masyarakat pemiliknya.

Pelestarian sebagai kegiatan atau yang dilakukan secara terus menerus,
terararah, dan terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan
adanya sesuatu yang tetap abadi, bersifat dinamis, luwes, dan selektif. Begitu
juga dengan upacara adat nyangku Panjalu ini yang syarat akan makna dan

31Wahyu allah yang diturunkan untuk manusia

24

fungsi bagi masyarakat umum khususnya masyarakat Panjalu. Uraian diatas
menjadi landasan penulis mengangkat masalah ini kedalam penelitian,
bagaimana pandangan Islam dalam pelestarian upacara adat nyangku yang
mana upacara adat nyangku merupakan upacara adat pembersihan benda-
benda pusaka di Desa Panjalu Kabupaten Ciamis?.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, agar sebuah

penelitian ini berfokus pada satu tujuan, maka penulis hanya membatasi pada
praktik dan peran Upacara Adat Nyangku saja. Yang kemudian, batasan
masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

a) Apa nilai yang terkandung dalam Upacara Nyangku?
b) Bagaimana pandangan Islam terhadap Upacara Nyangku?

Tujuan Penelitian
Menindak lanjuti hasil kajian, seperti yang telah diterangkan. Maka,

penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai yang terkandung dalam
upacara Nyangku bagi masyarakat Panjalu dan menjelaskan bagaimana
pandangan Islam terhadap upacara Nyangk. Selain itu, penelitian ini ingin
mengetahui bagaimana pandangan dan respon umat Islam di Panjalu
terhadap keberadaan upacara Nyangku yang terus dilestarikan hingga saat ini.
Data dan Informasi tersebut diperoleh penulis dari Jurnal Penelitian, Laporan
Penelitian, Buku-buku ilmiah, Skripsi, Tesis, dan sumber-sumber lainnya.

Kajian Pustaka
Pertama, penelitian yang berjudul “Partisipasi Masyarakat dalam upaya

Pelestarian Upacara Adat Nyangku di Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa
Barat” penelitian ini ditulis oleh Andri Priyanto Universitas Negeri
Yogyakarta, Tahun 2011. Kesamaan penelitian ini, menjelaskan tentang
prosesi Upacara Adat Nyangku membutuhkan partisipasi masyarakat dalam
upaya melestarikan Upacara Adat Nyangku. Perbedaan penelitian ini dengan
penelitian yang Penulis angkat, terletak pada penelitian ini tidak mengangkat
terkait dengan pengaruh Islam dalam upcara Nyangku.

Selanjutnya pada penelitian Herlina berjudul “Panjalu dari Masa ke
Masa” yang ditulis pada tahun 2016. Kesamaan pada penelitian ini terletak
pada subjek yang ditelit yaitu Panjalu dimana dalam penelitian ini salah
satunya membahas tentang prosesi upacara dan makna Nyangku. Adapun

25

perbedaan yaitu, penelitian ini tidak membahas tentang pengaruh Islam
dalam perkembangan upacara Nyangku itu sendiri.

Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis melaksanakan penelitian studi kepustakaan

(Lybrary Research), peneliti mengumpulkan beberapa data dan informasi
tertulis yang mendukung terhadap penelitian dan dianggap releven dengan
topic penelitian.

Kemudian penulis menganalisis dari data pustaka, merangkum dan
memilah data yang akan disusun dalam penelitian ini agar mudah dipahami
bagi penulis dan pembaca.

a) Reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal
pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, mencari pola dan
membuang hal-hal yang tidak diperlukan.

b) Penyajian Data. Merupakan penemuan makna-makna dan
kemungkinan penarikan kesimpulan yang dibentuk secara
sistematis, dalam informasi yang kompleks menjadi sederhana dan
kolektif. Data yang ditemukan dari hasil penelitian disajikan dalam
bentuk teks, dan diuraikan secara naratif.

c) Penarikan Kesimpulan, merupakan kesimpulan dalam penelitian
diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum
pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu
objek yang sebelumnya masih remang-remang atau belum jelas
sehingga setelah diteliti menjadi lebih jelas.

PEMBAHASAN
Deskripsi Lokalitas Upacara Adat Nyangku

Nyangku adalah suatau rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda
pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan Para Raja serta Bupati
Panjalu. Istilah nyangku berasal dari kata bahasa Arab “Yanko“ yang artinya
membersihkan, mungking karena kesalahan pengucapan orang sunda
sehingga kata Yanko berubah menjadi Nyangku. Nyangku berarti “nyaangan
laku” (Bahasa Sunda) yaitu menerangi perilaku.32

Panjalu adalah nama suatu desa dimana juga sebagai salah satu kota
kecamatan di wilayah Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Peranan yang menonjol
dari Panjalu adalah sebagai daerah wisata termasuklah wisata alam, wisata

32 Alia Abdullah, Nyangku : Implementasi Nilai-Nilai Sosial Melalui Ritual Upacara Adat Desa Panjalu
Ciamis Jawa Barat, Jurnal Studi Masyarakat Dan Pendidikan, 2018, Vol I, No.2, h.68

26

budaya maupun sebagai wisata ziarah. Masyarakat Desa Panjalu mayoritas
adalah beragama Islam dan hingga kini masih setia menjunjung tinggi adat-
istiadat yang menjadi warisan leluhur mereka dibuktikan dengan adanya
Yayasan Borosngora yang bertanggung jawab untuk melaksanakan Upacara
Adat dan yang dipercaya sebagai juru kunci bagi tempat-tempat ziarah yang
ada di Desa Panjalu.33

Kegiatan-kegiatan nyangku ini merupakan kebudayaan dan adat istiadat
masyarakat panjalu yang berlangsung turun temurun sejak ratusan tahun
yang lalu. Kegiatan nyangku juga di maksudkan untuk mengenang jasa
Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam kepada
rakyat dan keturunannya. Tradisi nyangku ini konon telah di laksanakan
sejak zaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, pada waktu itu,
Sang Prabu menjadikan prosesi adat ini sebagai salah satu mediasi siar Islam
bagi rakyat Panjalu dan sekitarnya. Selanjutnya menjadi adat istiadat dan
kebudayaan sampai saat ini dan tetap dilestarikan.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Upacara Adat Nyangku Panjalu

a) Nilai Spiritual
Nilai spiritual dalam pelaksanaan upacara adat tersebut selalu
berhubungan dengan pemujaan manusia untuk memohon keselamatan pada
Allah SWT. Upacara adat nyangku ini berfungsi spiritual karena dapat
membangkitkan emosi keagamaan, menimbulkan rasa aman, tenang, tentram,
dan keselamatan dalam diri masing-masing masyarakatnya.

b) Nilai Sosial
Nilai sosial, setiap masyarakat akan memperoleh kesempatan menyerap
pesan-pesan dan nilai-nilai positif yang disampaikan dari upacara adat
tersebut. Dalam situasi seperti itu rasa kebersamaan, gotong royong,
kerjasama, dalam kehidupan masyarakat dapat tumbuh subur sehingga dapat
memperkokoh ikatan antar warga, nilai silaturhmi, dan kerukunan hidup
dapat ditingkatkan. Upacara tradisional tersebut dapat dipakai sebagai
kontrol sosial (pengendalian sosial), interaksi, integrasi dan komunikasi antar
warga masyarakat. Tidak hanya itu upacara adat nyangku ini juga berfungsi
sebagai pengembangan pariwisata karena dapat dilihat banyaknya
pengunjung dari luar daerah yang sengaja datang untuk menyaksikan
jalannya upacara.

33Ucu Nuraidah, Islam Dan Tradisi Nyangku Di Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa
Barat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2022, h. 45

27

c) Nilai pendidikan

Upacara adat Nyangku memiliki nilai pendidikan, yakni sebagai media
pendidikan. Upacara adat Nyangku dijadikan media untuk menyampaikan
nilainilai traadisional dan kearifan lokal yang hidup di masyarakat Panjalu.
Nilai-nilai yang dikembangkan adalah keimanan kepada Allah SWT dan
Trisilas yakni silih asah. Silih asih, silih asuh.

d) Nilai Kearifan Lokal

Upacara Adat Nyangku juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang
menyangkut pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, khususnya
pemeliharaan sumber mata air di Desa Panjalu serta terjaganya habitat flora
dan fauna di kawasan Pulau Nusa Gede, Danau Situ Lengkong Panjalu dan
sekitarnya.

Pendapat Masyarakat Tentang Upacara Adat Nyangku Panjalu
Ada sebagian masyarakat yang menganggap upacara adat nyangku itu

adalah sebuah proses upacara untuk memuja benda-benda pusaka, karena
objek dalam upacara itu adalah benda-benda keramat seperti pedang dan
keris. Dalam upacara adat nyangku ini, benda-benda pusaka itu sangat dielu-
elukan dan dihormati seperti dalam pemujaan. Dan karena hal ini dari
sebagaian masyarakat yang belum begitu faham dengan upacara adat
nyangku ini mengalami salah pemahaman.

Adapun menurut bapak Engkon Komara ( Bupati Ciamis Periode 2009-
2014) bahwa upacara adat nyangku yang diadakan setiap bulan maulud di
Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat bukanlah
perbuatan musyrik yang dilarang agama. Beliau mengatakan :

“Acara adat nyangku ini bukan musyrik, bukan menyembah alat-alat,
bukan untuk menyembah keris, melainkan sebagai symbol penghormatan
dan ungkapan terimakasih atas jasa-jasa leluhur Panjalu yang telah
mendirikan Negara dan menyebarluaskan agama Islam di Tatar Galuh
Ciamis Panjalu. Raja borosngora merupakan salah satu muridnya sayyidina
ali bin abi thalib dan beliau di hadiahi pedang sebgai bentuk untuk penjagaan
diri. Kemudian pedang tersebut menjadi benda pusaka yang masih
dilestarikan dan dijaga dengan baik oleh masyarakat panjalu, hingga pada
saat upacara nyangku benda tersebut selalu dibersihkan.”34

Prosesi Pelaksanaan Upacara Adat Nyangku Panjalu
Penyelenggaraan Upacara Adat Nyangku saat ini dilaksanakan oleh

Yayasan Borosngora yang didukung oleh sesepuh Panjalu, Pemerintah Desa

34 Ciamis, nuonline

28

Panjalu, para tokoh masyarakat, juru kunci makam keramat, keturunan Raja
Panjalu dan pihak terkait lainnya.

Dalam prosesi budaya nyangku ada beberapa hal yang perlu
dilaksanakan, yaitu:35

a) Upacara nyangku dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis akhir
bulan Maulud (Robiul Awal);

b) Pengambilan air suci untuk membersihkan benda-benda pusaka
yang berasal dari tujuh sumber mata air, yaitu : Sumber air Situ
Lengkong; Sumber Air Karantenan Gunung Syawal; Sumber Air
Kapunduhan (Makam Prabu Rahyang Kuning); Sumber Air
Cipanjalu; Sumber Air Kubang Kelong; Sumber Air Pasanggrahan;
Sumber Air Bongbang Kancana; Sumber Air Gunung Bitung;
Sumber Air Ciomas;

c) Pengadaan bahan-bahan lain yang diperlukan dalam pelaksanaan
upacara nyangku adalah tujuh macam sesaji termasuk umbi-
umbian, yaitu : tumpeng nasi merah ; tumpeng nasi kuning; ayam
panggang; ikan dari Situ Lengkong; sayur daun kelor; telor ayam
kampung; umbi-umbian. Selanjutnya di sertakan tujuh macam
minuman, yaitu : kopi pahit; kopi manis; air putih; air teh; air
mawar; air bajigur; rujak pisang;

d) Pada malam harinya sebelum upacara nyangku, di laksanakannya
acara muludan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW;

e) Prosesinya adalah dengan berpakaian adat kerajaan para sesepuh
panjalu menuju bumi alit tempat benda-benda pusaka di simpan.
Benda-benda pusaka yang telah di bungkus kain putih mulai di
siapakan untuk di arak menuju Nusa Gede/Nusa Larang
menyeberang Situ Lengkong. Perjalanannya di iringi dengan irama
gembyung (Rebana) dan pembacaan solawat Nabi. Pusaka-pusaka
kemudian di arak lagi menuju tempat penyucian/pembersihan
benda-benda pusaka yang telah disiapkan.

Tujuan Pelaksanaan Upacara Adat Nyangku Panjalu

Maksud dari upacara adat Nyangku adalah untuk mengenang jasa Prabu
Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam kepada
rakyat dan keturunannya. Masyarakat Panjalu percaya bahwa di samping
melestarikan tradisi warisan leluhur, di balik upacara adat tersebut terdapat
nilai-nilai yang baik bagi kehidupan mereka. Dengan membersihkan benda

35 Heri Jauhari, Makna Dan Fungsi Upacara Adat Nyangku Bagi Masyarakat Panjalu Al-Tsaqafa, 2018,
Vol. 15 No.2, h.14

29

pusaka tersebut, dianggap sebagai penghormatan terhadap leluhur Panjalu
yang telah menyebarkan agama Islam sekaligus sebagai simbol
membersihkan diri.

Lebih lanjut, pelaksanaan upacara adat Nyangku menjadi waktu untuk
berpikir dan mengevaluasi diri dengan cara mengkritisi diri sendiri, dan
mengakui perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan norma adat dan
norma agama, Selain itu, upacara adat Nyangku menjadi salah satu upaya
agar keturunan Panjalu dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Pandangan Islam Terkait Upacara Adat Nyangku

Persoalan antara agama dengan budaya merupakan persoalan krusial
yang menjadikan berbagai penilaian dalam masyarakat, sebagian dari
masyarakat ada yang bersemangat untuk mensterilkan agama dari akulturasi
budaya setempat, sementara sebagian yang lainnya fokus untuk membangun
dialog antara agama Islam dengan budaya Indonesia yang sudah ada.36

Pada perkembangannya proses Islamisasi di Indonesia cukup unik,
berbeda dengan belahan bumi yang lainnya, proses penyebaran Islam di
belahan bumi lainnya sebagian besar dengan perang atau penaklukan
sedangkan proses Islamisasi di Indonesia dengan berdagang, berdakwah dan
mengakulturasikan ajaran Islam dengan budaya setempat atau lokal atau
biasa juga disebut dengan local wisdom, sehingga menjadikan Islam terlihat
lebih toleran dan dapat diterima oleh masyarakat setempat. Salah satu hasil
dari akulturasi dari budaya lokal dengan ajaran Islam adalah upacara adat
Nyangku yang berada di daerah Panjalu Ciamis.

Upacara Adat Nyangku mempunyai keunikan tersendiri, yaitu selalu
dilaksanakan setiap minggu terakhir pada bulan Rabiul Awal atau Bulan
Maulud Nabi Muhammad SAW. Penyelenggaraan upacara dilaksanakan
setiap hari senin atau hari kamis diakhir bulan maulud.

Terlepas dari tidak adanya kepastian kapan upacara tersebut bermula,
akan tetapi indikasi agama sudah masuk sejak awal upacara tersebut dimulai.
Dimulai dari pemaparan oleh bapak KH. Subhki Hasanuddin, bahwa
diambilnya tanggal tersebut karena ada pengaruh besar dari benda pusaka
yang dianggap sebagai benda suci yang datang dari Mekkah, sebagai berikut:

“Diperingati hari senin terakhir, karena ada benda pusaka peninggalan
dari Mekah jadi diperingati saat hari besar Islam yaitu pada saat maulid nabi.
Tetapi untuk sekarang diperingati setiap hari senin, karena hasil musyawarah
ditentukan bahwa Upacara Adat Nyangku dilaksanakan pada hari senin,
dengan maksud agar tidak menghalangi kegiatan dari masyarakat, seperti
pekerjaan baik yang di perkantoran, pemerintahan, dll”

36 Badrudin, Antara Islam Dan Kebudayaan, IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, h.8

30

Ditinjau dari makna dan arti dasarnya pengaruh peranan Islam sangat
kental, ada dalam tradisi Nyangku ini. Makna dan substansi dari Upacara
Adat Nyangku merupakan instrumen pembersihan diri dari segala hal yang
dilarang oleh Agama Islam. Upacara Adat Nyangku juga berfungsi untuk
memperingati Maulid Nabi besar Muhammad SAW, serta sebagai kegiatan
untuk mempererat silaturahmi dan jiwa kebersamaan masyarakat Kecamatan
Panjalu. Hal tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang di mana dengan
adanya acara tersebut semakin menambah eratnya tali persaudaraan antara
baik sesama umat Islam maupun masyarakat non muslim yang tinggal di
daerah Panjalu dan mengikuti upacara Adat Nyangku.

Penutup
Nyangku merupakan suatu acara ritual yang dianggap agung,

dikarenakan adanya suatu maksud tertentu dari pada kerajaan panjalu sendiri.
Maksud tersebut yaitu menggunakan Upacara Adat Nyangku sebagai suatu
sarana penyebaran Agama Islam. Upacara Adat Nyangku biasanya diadakan
satu kali dalam setahun yaitu pada Bulan Rabiul Awal Tahun Hijriyah
minggu terakhir yang bisa dilaksankan pada hari Senin atau hari Kamis.

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa tujuan dari Upacara Adat Nyangku
pada zaman dahulu adalah untuk membersihkan pusaka Kerajaan Panjalu
dan sebagai salah satu misi penyebaran Agama Islam. Tujuan dari
penyelenggaraan Upacara Adat Nyangku sekarang hanyalah sebatas
membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu. Hakekat
dari Upacara Adat Nyangku adalah membersihkan diri dari segala sesuatu
yang dilarang oleh Agama Islam. Upacara Adat Nyangku juga bertujuan
untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, serta sebagai sarana
untuk mempererat tali persaudaraan masyarakat Panjalu.

Pengaruh Islam terlihat pada aspek tanggal perayaan yang bertepatan
Maulid Nabi Muhammad SAW. Serta penyucian benda pusaka dianggap
sebagai pembersihan hati karena Islam adalah agama yang suci dan juga
melambangkan toleransi antar sesama.

31

32

TRADISI TAHLILAN SETIAP MALAM JUM’AT MASYARAKAT
PERUMAHAN PASPAMPRES KECAMATAN CILEUNGSI
KABUPATEN BOGOR

Ananda Bryan Harwanto
53040190016

Pendahuluan

Hampir dipastikan bahwa agama-agama mengalami keterkaitan dengan
tradisi lokal. Tradisi itu nantinya berujung saling mempengaruhi. Agama
mempengaruhi tradisi lokal, dan sebaliknya tradisi lokal mempengaruhi
agama, bahkan juga bisa berujung ketegangan. Ketegangan akibat saling
mempengaruhi ini merupakan keniscayaan dalam rangka negosiasi antara
keduanya. Dalam menilai akulturasi agama dan tradisi lokal lama terdapat
dua paradigma, konfrontatif dan akomodatif. Paradigma konfrontatif
menganggap bahwa agama telah ternoda dan tercampur oleh tradisi, sehingga
harus dilakukan pemurnian (purifikasi) dan hendak menghadirkan Islam
yang otentik. Islam yang persis sama dengan Islam yang dibawa dari tempat
kelahirannya (Makkah). Sedangkan paradigma akomodatif menganggap
bahwa disisi inilah keunikan Islam Indonesia, yang membedakannya dengan
corak keislaman di teritori lain. Islam bisa menyatu dengan tradisi lokal
sehingga Islam mudah diterima di Indonesia.37

Tradisi dan kebiasaan di sini diartikan sebagai sistem budaya dan sistem
sosial, yaitu pedoman yang membimbing interaksi sekelompok orang.
Sedangkan sistem sosial diartikan sebagai bentuk kongkrit dari interaksi itu
sendiri. Keadaan sosial suatu desa dapat dilihat dari bagaimana kondisi dan
aktifitas tradisi budaya yang masih dilaksanakan oleh masyarakatnya.38
Tradisi tahlilan yang memuat nilai-nilai keagamaan, menjadi salah satu
praktek keagamaan yang begitu khas di Indonesia. Tahlilan merupakan
ibadah ghairu mahdhah sekaligus praktek keagamaan yang sampai saat ini
masih terus dilakukan oleh masyarakat Islam khususnya warga nahdliyin.
Sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat di Indonesia, tentunya
praktek ibadah tahlilan mejadikan karakteristik bagi warga nahdliyin yang
begitu melekat terhadap budaya lokal.

Seiring perkembangan zaman, tahlilan masih dilakukan di kalangan
masyarakat Nusantara khususnya di Jawa. Meskipun ada beberapa golongan
yang berpendapat bahwa Tahlilan itu bid’ah dan tidak ada tuntunannya

37 Ahmad Mas’ari, Tradisi Tahlilan: Potret Akulturasi Agama dan Budaya Khas Islam Nusantara, Jurnal
Penelitian Sosial dan Keagamaan, Vol. 33, No. 1, (Juni 2017), hal. 80.

38 Ana Riskasari, Pengaruh Persepsi Tradisi Tahlilan di Kalangan Masyarakat Muhammadiyah Terhadap
Relasi Sosial di Desa Gulurejo Lendah Kulon Progo Yogyakarta, Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat,
Vol. 2, No. 2, (Desember 2018), hal. 195.

33

dalam Islam, namun mayoritas penduduk Indonesia masih tetap melakukan
budaya lokal ini.39 Pada awalnya tahlilan sebagai suatu prosesi untuk
menenangkan orang yang sedang berduka dan untuk mendoakan orang yang
telah meninggal dengan membaca do’a dan dzikir tertentu. Kegiatan tahlilan
ini dilaksanakan sebagai rangkaian takziyah yang membawa nilai luhur
dalam mengembangkan agama Islam. Hal ini sudah bertahun-tahun lamanya
menjadi suatu tradisi yang telah turun-temurun di tengah-tengah masyarakat
yang dilakukan mulai dari 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, sampai 1000 hari,
bahkan sampai 1 tahun yang kemudian dikenal dengan istilah haul.

Setiap daerah pasti memiliki lokalitas budaya yang berbeda-beda dan
ada beberapa tradisi yang keterkaitan dengan agama, salah satunya tahlilan.
Disini peneliti akan mengupas lebih dalam mengenai tradisi tahlilan yang
dilakukan setiap malam jum’at oleh masyarakat Perumahan Paspampres
Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Responden dalam penelitian ini
adalah ibu kandung saya sendiri, selaku warga asli perumahan Paspampres.
Adapun tujuan penelitian ini ialah mengulik nilai-nilai dalam tradisi tahlilan
yang dilakukan warga setempat, respon masyarakat terhadap tradisi tahlilan,
dan pandangan islam terkait lokalitas budaya atau tradisi tahlilan dengan
basis argumentasi dalil Al-Qur’an, Sunnah maupun pendapat para ulama.

Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tradisi tahlilan apa saja yang dilakukan oleh
warga perumahan Paspampres.
2. Untuk mengetahui perbedaan tradisi tahlilan pada zaman dulu
dengan tradisi tahlilan saat ini.
3. Untuk mengetahui sudut pandang dari warga perumahan
Paspampres terkait tradisi tahlilan yang dilakukan Bersama.

Manfaat Penelitian
1. Penelitian yang diteliti diharapkan dapat bermanfaat bagi para
pembaca agar maksud dari penelitian ini bisa tersampaikan dengan
baik.
2. Peneliti berharap penelitian ini mampu memberikan pandangan
terhadap pembaca, terkait tradisi tahlilan yang dilakukan oleh warga
perumahan Paspampres.

39 Mohammad Dzulkifli, Konsistensi Tradisi Tahlilan dan Kenduri di Kampung Sapen Perspektif
Fenomenologi Agama, Jurnal Pemikiran dan Kebudayaan Islam, Vol. 30, No. 1, (Januari 2021), hal. 32.

34

Kajian Pustaka

Kajian pustaka dalam penelitian ini tujuannya adalah untuk
membedakan penelitian yang sedang diteliti dengan penelitian terdahulu atau
bebas plagiasi. Maka penulisan menjelaskan tentang kajian terdahulu
diantaranya :

Ada beberapa penelitian yang telah mengkaji tema-tema yang relevan
dengan penelitian ini diantaranya adalah Skripsi Nur Fatku Rohman (2018),
mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Tulungagung
yang berjudul “Pembacaan surat yasin dalam tradisi tahlilan kajian Livung
Qur’an di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat”40 dalam penelitiannya
menjelaskan Tradisi tahlilan bagi masyarakat Desa Pelem merupakan
kegiatan yang telah menjadi budaya atau kebiasaan. Sehingga memunculkan
paradigma bahwa tahlilan itu wajib dilakukan untuk mengiringi sebuah
kematian. Masyarakat Desa Pelem menyebut tahlilan itu dengan sebutan
Darusan. Karena menurut mereka bahasa Darusan lebih gampang
penyebutannya dan sering mereka dengar sejak dahulu. Sedangkan pada
tradisi tahlilan di perumahan Paspampres tidak ada penyebutan khusus pada
tahlilan. Hanya berpacu pada kalimat tahlilan.

Ada juga penelitian dari Jurnal yang berjudul “Pembinaan Jama’ah At-
Tawwabin (Jama’ah Yasin Dan Tahlil) Di Desa Brodot Kecamatan Bandar
Kedungmulyo Jombang”41 yang ditulis oleh Lailatul Mathoriyah. Jurnal ini
membahas tentang kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh
PKM di berbagai desa berupa kegiatan yasin dan tahlil. Dimana didalamnya
juga terdapat tausiyah atau ceramah yang dimpin oleh salah satu ustadz dari
perwakilan PKM tersebut. Sedangkan warga perumahan Paspampres
mengadakan tradisi tahlil secara kemasyarakatan atau sudah turun temurun,
dan dibantu oleh remaja masjid.

Dalam jurnal lain yang berjudul “Makna simbolik dalam tahlilan
masyarakat Gorontalo di Desa Panggulo”42 yang ditulis oleh Sri Wulandari.
Jurnal ini menjelaskan tentang proses tahlilan yang dilakukan oleh
masyarakat Gorontalo, cukup berbeda dari segi pelaksanaannya karena di
Gorontalo tradisi tahlilan bercampur dengan adat yang disebut dengan
WUBODU (bantuan) yang bermakna agar kepada mayat dikurangkannya
dari siksa kubur. Sedangkan tradisi tahlilan warga Perumahan Paspampres

40 Nur Fatku Rohman, Pembacaan surat yasin dalam tradisi tahlilan kajian Livung Qur’an di Desa Pelem
Kecamatan Campurdarat, Skripsi (Tulungagung: Program Studi S1 IAIN Tulungagung, 2018), 63.

41 Lailatul Mathoriyah, Pembinaan Jama’ah At-Tawwabin (Jama’ah Yasin Dan Tahlil) Di Desa Brodot
Kecamatan Bandar Kedungmulyo Jombang, Jurnal Pengabdian Masyarakat, Vol. 2, No. 1, (April 2021), hal.
4.

42 Sri Wulandari, Makna simbolik dalam tahlilan masyarakat Gorontalo di Desa Panggulo, Jurnal Tradisi
Lisan Nusantara, Vol. 1, No. 1, (September 2022), hal. 67.

35

tidak menggunakan adat apapun, seperti halnya yasin dan tahlil yang biasa
dilakukan oleh masyarakat umum.

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan peneliti ialah metode deskriptif
kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi. Fenomenologi adalah ilmu
berorientasi untuk mendapatkan penjelasan tentang realitas yang tampak.43
Peneliti juga terjun langsung kelapangan untuk melihat situasi dan kondisi
yang ada di perumahan Paspampres. Peneliti juga mewawancarai salah satu
narasumber yang berkedudukan asli warga perumahan Paspampres.

Peroleh Data

Informan yang peneliti jumpai ialah seorang ibu rumah tangga asli
penduduk perumahan Paspampres bernama ibu Hartik. Kemudian peneliti
mengulik lebih dalam lagi terkait tradisi tahlilan yang dilakukan oleh warga
setempat. Peneliti juga mengikuti serangkaian acara tahlilan Bersama para
jama’ah.

Pembahasan

1. Tahlilan

Tahlilan berasal dari kata ή Ϧ artinya membaca kalimat N N

. Kata tahlilan merupakan kata yang disingkat dari kalimat N N .

Penyingkatan ini sama seperti takbir, hamdalah, hauqalah, basmalah, dan lain

sebagainya.44 Tahlilan adalah tradisi ritual yang bacaannya terdiri dari

beberapa ayat Al-quran, tahlil, tasbih, tahmid, sholawat, dan lain-lain.

Bacaan tersebut dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal. Hal

tersebut kadang dilakukan secara berjamaah dan kadang pula dilakukan

sendirian.

Dalam realitas sosial ditemukan adanya tradisi masyarakat jawa, jika ada
keluarga yang meninggal, malam harinya banyak sekali para tamu yang
bersilaturahim, baik tetangga dekat maupun jauh. Mereka semua ikut berbela
sungkawa atas segala yang menimpa, sambil mendoakan orang yang
meninggal dan keluarga yang ditinggalkan.45 Acara tahlilan ini sudah menjadi

43 Soerdjono Soekanto, Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1993). hal. 68.

44Rahmi Nasir, Tradisi Tahlilan Dalam Kehidupan Masyarakat Kelurahan Manongkoki Kecamatan
Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar (Tinjauan Pendidikan Islam), Skripsi (Makassar: Program Studi
S1 Universitas Muhammadiyah Makasar, 2018), 14.

45Apip Rahman Hakim, Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Tahlilan: Studi Terhadap Masyarakat
Kampung Arab Al Munawar 13 Ulu Palembang, Skripsi (Palembang: Program Studi S1 UIN Raden Fatah,
2019), 28.

36

suatu kebiasaan yang digunakan dalam berbagai macam kegiatan keagamaan.
Sedangkan dalam persoalan ada atau tidaknya makanan merupakan suatu hal
yang tidak penting, tetapi dengan adanya pertemuan majlis silaturahmi akan
lebih berguna jika didalam kegiatan tersebut diisi dengan berdzikir bersama.46

2. Tahlilan masyarakat Perumahan Paspampres

Tahlilan merupakan kegiatan keagamaan yang telah menjadi tradisi di
perumahan Paspampres. Tradisi ini pada dasarnya menjadi sarana untuk
mengirim do’a bagi orang yang telah meninggal. Namun pada hakikatnya
tradisi ini bukan hanya menjadi sarana untuk mengirim do’a kepada orang
yang telah meninggal, namun tradisi ini juga dapat menjadi media dakwah
untuk masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara, ibu Hartik menjelaskan
bahwasannya di perumahan Paspampres terdapat tradisi tahlilan yang
dilakukan setiap malam jum’at, tahlilan ini diikuti oleh semua kalangan
masyarakat dari remaja, bapak-bapak, dan ibu-ibu, tahlilan dilakukan di
Masjid Al-Hidayah Paspampres ba’da Isya.

Tidak hanya tahlilan, didalamnya juga terdapat tausiyah dari Ustadz
ataupun Ustadzah. Biasanya pengurus Ta’mir Masjid Al-Hidayah
mengundang Ustadz dari luar kota untuk memberikan tausiyah terhadap
masyarakat Paspampres. Rangkaian kegiatan tahlilan yang pertama ialah
pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Ustadz yang bersangkutan, yang kedua
adalah tausiyah, terakhir do’a sekaligus penutup. Rangkaian tahlilan ini
diperkirakan selesai pada pukul 21.00 WIB. Itulah tradisi tahlilan yang
dilakukan oleh masyarakat perumahan Paspampres.

3. Nilai-nilai yang terdapat pada tradisi tahlilan

Ada empat aspek nilai agama pada tradisi tahlilan. Seperti adanya
penyampaian pesan agama, penambahan pengetahuan ilmu agama,
pengajaran ilmu agama dan penguatan nilai-nilai agama Islam. Keempat
aspek tersebut merupakan proses nilai agama yang ada dalam tradisi
tahlilan.47 Tahlilan berasal dari tradisi yang mana Indonesia sendiri agama
yang bercampur dengan adat istiadat, maka tahlilan ini diambil dari budaya-
budaya terdahulu yang kemudian dikemas dalam Islam. Karena di dalam
tahlilan tersebut diselipkan sebuah nilai ibadah, di dalamnya terdapat bacaan-
bacaan Al-Qur’an, shalawat dan lain sebagainya. Nilai adalah sesuatu yang
sangat penting atau yang paling berharga bagi kehidupan manusia. Tanpa
adanya nilai, manusia tidak akan memiliki arti dalam kehidupannya, karena
nilai merupakan dasar hidup manusia yang harus dimiliki.

46Hisny Fajrussalam, Eksplorasi Kebudayaan Tahlil Dalam Perspektif Agama Islam dan Masyarakat di
Indonesia, Jurnal Of Islamic Studies, Vol. 7, No. 1, (Juni 2022), hal. 19.

47 Zaenal Mukarom, Budaya Tahlilan Sebagai Media Dakwah, Scientific and Research Journal of
Broadcoasting, Vol. 5, No. 1, (Juni 2019), hal. 9.

37

Salah satu nilai baiknya ialah selalu mengingatkan kita akan yang
meninggalkan kita dan yang lebih penting lagi tentunya mengingatkan
kematian bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Jadi tahlilan tujuan
utamanya adalah menenangkan keluarga yang sedang mendapat musibah.
Yang kedua di sanalah berkumpulnya orang-orang atau para tetangga,
keluarga dan ahli waris. Dan masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut,
saling bahu-membahu untuk membantu sesama, bergotong-royong untuk
membantu keluarga yang sedang terkena musibah.48

Terdapat 3 keutamaan nilai-nilai islam dalam tradisi tahlilan,
diantaranya :

a) Nilai sedekah

Bersedekah dijalan Allah adalah perbuatan mulia. Sedekah
tidak hanya berupa uang atau benda yang berharga, tetapi bisa
berupa makanan ataupun minuman. Seperti pada tradisi tahlilan
yang dilakukan oleh masyarakat perumahan Paspampres.
Biasanya setelah tahlilan masyarakat makan bersama dengan
makanan yang dihidangkan. Tentu yang memberikan makanan
dari masyarakat Paspampres sendiri, dan memasaknya secara
bergantian atau dibagi per RT, jadi tiap RT memberikan makanan
seikhlasnya atau tergantung apa yang ingin disajikan untuk
masyarakat perumahan Paspampres.

b) Nilai tolong-menolong

Tolong menolong sudah menjadi bagian yang tidak dapat
dihilangkan dari ajaran agama Islam. Karena sejatinya kita sebagai
manusia juga harus saling membantu satu sama lain saat saudara
kita sedang terkena musibah atau sedang berduka. Hal tersebut
juga dilakukan pada masyarakat perumahan Paspampres, dimana
mereka saling membantu untuk mempersiapkan tradisi rutinan
tahlilan setiap malam Jum’at. Ada yang menyiapkan karpet,
membantu merapikan barisan, mempersiapkan sound system,
menata kue, air mineral, dan lain sebagainya.

c) Nilai Silaturahim

Dengan tradisi tahlilan ini juga, secara tidak langsung
masyarakat bisa saling bersilaturahim kembali. Karena tentunya
yang mengikuti tradisi ini cukup banyak, sehingga masyarakat
baik yang jauh maupun dekat bisa berkumpul kembali. Sehingga
dapat dilihat dari nilai-nilai Islam pada pelaksanaannya yang

48 Husnul Hatimah, Tradisi Tahlilan Masyarakat Banjar di Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya,
Jurnal Studi Keislaman, Vol. 2, No. 1, (Juni 2021), hal. 4.

38

paling erat adalah silaturahim. Dan juga menjadi sebuah sarana
untuk berkumpulnya umat Islam dan juga wadah untuk melakukan
hal-hal yang positif.

4. Respon masyarakat terhadap tradisi tahlilan

Terkait respon masyarakat terhadap tradisi tahlilan, ternyata ada
beberapa masyarakat yang menuai pro dan kontra terhadap tahlilan. Untuk
beberapa masyarakat berpendapat bahwa tahlilan hanya membuang waktu
saja, membuat kantuk tidak bersemangat, membosankan, sehingga ada juga
masyarakat yang meninggalkan masjid saat tahlilan berlangsung. Itu semua
kembali kepada masing-masing individu. Karena tahlilan ini tidak ada
keterpaksaan bagi siapa yang ingin mengikutinya.

Dan selebihnya masyarakat yang pro terhadap tahlilan, tentu mengikuti
dengan seksama hingga usai. Mereka berpendapat bahwa tahlilan ini
merupakan kegiatan yang positif untuk dilakukan umat muslim, karena bisa
mendapatkan pahala atau ganjaran yang baik dari Allah. Selain itu juga
banyak manfaat dari tradisi tahlilan ini, bisa berdzikir sekaligus mengaji
dengan tokoh agama yang terkemuka. Sehingga bisa menyerap ilmu-ilmu
agama sebagai pengetahuan umat muslim semua.

5. Pandangan Islam terkait Tahlil dan budaya dengan dalil Al-Qur’an
ataupun Hadis

Dalam hadis Rasulullah SAW, telah menjelaskan bahwa tahlil itu ada
sejak zaman baginda Rasulullah SAW. Beliau pernah melakukan tahlil yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad sahabat Jabir bin Abdullah Al-Anshari
dalam sebuah hadis,49

Ϧᦈ JQ N 䁒㘮砀N ᦈ Q Ϧ ℷ Ψ ή Ϧ N Ϧᦈ Ψ ή ℷ Ψ ή

Ψ ˴ J Q 䁒㘮砀N Ωᦈ Ϧ Ϧᦈ N Ϧ ᦈ Ϧ Ϧ ή N Ωᦈ Ϧ

Q ᦈ J ϦQή ℷ Ϧ ℷ Qᦈ Q

㘮 Ω Ω Ε Ψ ΩΨ Qᦈ Q Ω Qᦈ ΩJ

ή ΩJ 䁒 N Ωℷ N N ᦈ ϴ JΕ Ω Ε Ω QQ

( ήN N Q) Ψᦈ ᦈ

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Ya’kub telah menceritakan
kepada kami bapakku dari ibnu Ishak telah menceritakan kepadaku Mu’adz
bn Rifa’ah Al-Anshari, Az-Zuraqi dari Mahmud bin Abdurrahman bin ‘Amr
bin Al-Jamuh dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, dia berkata, kami pernah
keluar bersama Rasulullah SAW. Di hari saat Sa’ad bin Mu’adz meninggal,
ketika Rasulullah SAW selesai menshalatkannya dan jenazahnya dikubur dan
diratakan, Rasulullah SAW membaca tasbih dan kami mengikutinya dengan

49 Siti Rahmah, Resistensi Budaya Tahlilan Pada Masyarakat Pragaan Daya, Jurnal Riset Agama, Vol. 2,
No. 1, (April 2022), hal. 233.

39


Click to View FlipBook Version