The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabilfaiz025, 2023-01-01 20:56:47

Studi Ilsam Indonesia BSA B

Studi Ilsam Indonesia BSA B

bacaan yang lama, beliau lalu membaca takbir dan kami juga mengikutinya.
Setelah itu beliau ditanya “ya Rasul, kenapa tadi engkau membaca tasbih dan
takbir? Beliau menjawab, “sungguh kuburan hamba yang shaleh ini
menyempit untuknya, hingga kemudian Allah lapangkan berkat bacaan tadi”
(HR. Ahmad No 14.344).

Dalam hadis ini terdapat pandangan bahwa tradisi tahlil sudah ada sejak
zaman baginda Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan
kepada sahabatnya agar memasakkan makanan atas kematian keluarga yang
terkena musibah. Melaksanakan suatu perkumpulan di rumah ahli mayit itu
bukanlah sesuatu yang menjadikan seseorang kufur, apalagi di dalam
pelaksanaannya diisi dengan sesuatu yang mendorong umat Islam untuk
mengingat Allah dan bersalawat kepada Nabi SAW. Bukan suatu hal yang
tercela pula menghadiahkan bacaan al-Qur’an untuk orang yang meninggal
dunia.

Dalil lain juga menyebutkan dalam tradisi yang memperkuat
dibolehkannya tahlil diantaranya adalah, 50

Q N NQ Ψ N N N ΕQ ᦈ ᦈ Ϧ Q ᦈ J
Ωᦈ Ϧ N Ϧᦈ ΋ ΨΨ N

Artinya : “Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menolong mayit
dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an dan Dzikir, maka Allah
memastikan surga baginya.” (HR. ad-Darimy dan Nasa’i dari Ibnu ‘Abbas).

Pada hadits diatas baginda Nabi Muhamad SAW menyampaikan
bahwasannya bacaan ayat suci Al-Qur’an dan Dzikir sesungguhnya dapat
menolong mayit dan dapat menhantarkan ke surga, dalam tradisi tahlilan
didalamnya terdapat bacaan Al-Quran dan Dzikir yang dihadiahkan kepada
mayit.

ᦈ ΨQ N N Ϧ ΕN 砀N ΋N Ψℷ Ψ Ω N ΨN J

砀N Q ᦈ ϟ N ℷ N Q ᦈ 㘮 ΩΩ ᦈ Ω

Artinya : “Dalam Syarah Al-Muhadzab Imam An-Nawawi berkata,
adalah disunahkan seorang berzirah kepada orang mati lalu membaca ayat-
ayat Al-Qur’an sekedarnya dan berdo’a untuknya. Keterangan ini diambil
dari teks Imam Syafi’I dan disepakati oleh para ulama yang lainnya.”

Pada keterangan diatas seorang ulama besar bernama Imam Nawawi
menjelaskan dalam kitabnya yakni Syarah Al- Muhadzab beliau menukil dari
Imam Syafi’I bahwasannya seseorang yang membacakan Al-Qur’an dan doa
kepada mayit merupakan perbuatan sunnah.

N Ωή Ϧ N Ϧ N N N ήN N Q ˴ ᦈN J

50 Sofa Mudzakir, Nilai-nilai Pendidikan Tauhid dalam Tahlilan, Skripsi (Cilacap: Program Studi S1
Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghozali, 2022), 44.

40

Artinya : “Bacalah atas orang-orangmu yang telah mati, akan Surat
Yasin.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-hakim).

Pada hadits tersebut Nabi Muhamad SAW memerintahkan membaca
surah yasin bagi mayit. Bacaan Yasin biasanya juga dibaca dalam tradisi
tahlilan. Perlu diketahui ternyata lokalitas budaya bisa menyatu dengan
ajaran Islam, selagi budaya tersebut tidak menyimpang dari ajaran agama
Islam, maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar bisa
berjalan dengan baik.

6. Analisa terkait kajian yang dilakukan
Hasil penelitian yang di dapat adalah masyarakat Perumahan

Paspampres dalam mengikuti kegiatan tradisi tahlilan cukup antusias, namun
tidak terpungkiri bahwasannya tradisi tahlilan menuai Pro dan Kontra,
sehingga masyarakat ada yang terpecah belah dalam mengikuti rangkaian
tahlillan. Maksud dari terpecah belah ialah beberapa masyarakat ada yang
tidak menyetujui tradisi tahlilan dilaksanakan, dan mereka memilih untuk
meninggalkan masjid lebih awal.

Rupanya di Perumahan Paspampres terdapat beberapa aliran juga yang
dianut oleh Masyarakat, yang peneliti ketahui hanya 2 yakni Nahdhotul
‘Ulama dan Muhammadiyah. Alhamdulillah sampai saat ini masyarakat
Perumahan Paspampres cukup damai terkait soal aliran yang dianut,
perselisihan pendapat kerap sering terjadi, tetapi tidak sampai menuai konflik.
Masyarakat bisa mengatasinya dengan kepala dingin atau saling menghargai
satu sama lain. Perumahan Paspampres tidak hanya dihuni oleh masyarakat
yang beragama Islam, tetapi juga terdapat agama lain seperti Katolik,
Protestan, Hindu, dan Buddha. 80% di huni oleh masyarakat beragama Islam,
dan 20% di huni oleh agama lain.

Kesimpulan
Peneliti menyimpulkan bahwasannya tradisi Tahlilan ini sering

dijumpai dikalangan Masyarakat Indonesia, tradisi ini sudah dilakukan dari
zaman dahulu kala saat Era Wali Songo. Tradisi ini dikemas dengan sebaik
mungkin, agar masyarakat bisa menerima dan mengikuti dengan baik.
Dengan kata lain tradisi tahlilan ini merupakan akulturasi budaya lokal dan
ajaran Islam untuk menyatakan belas kasih atau berempati kepada keluarga
yang ditinggalkan, serta untuk mendoakan orang yang sudah meninggal.

41

TRADISI BUANG SIAL (RUWAH DESA) DI TROWULAN
MOJOKERTO

Mustika Dewi
53040190028

Pendahuluan
Desa Trowulan merupakan desa dengan banyak reruntuhan Sejarah

zaman Majapahit dan memiliki banyak tradisi. Diantaranya ialah tradisi
ruwah desa, bantengan, kuda lumping, hadrah dll. Itulah mengapa dengan
banyaknya tradisi keagamaan maupun budaya di Desa Trowulan dapat
membentuk masyarakat yang menjunjung tinggi nilai pluralisme. Sedangkan
tradisi ruwah desa sendiri merupakan tradisi persembahan wujud syukur
serta untuk mengenang para leluhur, ada juga yang menyebut tradisi ini
merupakan ritual buang sial. Tradisi ruwah desa ini diadakan pada
pertengahan bulan ruwah dalam kalender hijriyah. Ritual ini biasakan
diselenggarakan dengan acara tahlil bersama lalu disusul dengan kirab
keliling desa dengan membawa hasil panen seperti buah-buahan dan sayur
mayur yang dihias dengan berbagai bentuk. Tidak hanya itu, biasanya tradisi
ini juga diramaikan dengan seni kebudayaan seperti bantengan, kuda
lumping, patrol, wayang kulit dan pertunjukan seni lainnya. Selain terdapat
pertunjukkan seni kebudayaan tradisi ruwah desa ini juga biasanya
diramaikan dengan pesta miras. Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap
ritual ini? Berikut penulis akan mengkaji lebih jauh tentang pandangan islam
terhadap ritual ruwah desa beserta ibaroh dari Al Qur’an, Hadist dan juga
pendapat para ulama’.

Tujuan
Berdasarkan uraian tersebut tujuan dalam penelitian ini adalah

memaparkan konsep-konsep dalam tradisi ruwah desa. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui apakah konsep ritual ruwah desa ini bertolak belak
belakang atau tidak dalam pandangan syariat Islam.

Metode
Dalam analisis kali ini penulis menggunakan metode studi literatur yaitu

penulisan karya ilmian yang persiapannya sama dengan penulisan karya
ilmiah lainnya, akan tetapi sumber dan metode pengumpulan data dengan
mengambil beberapa jurnal penelitian dan wawancara.

42

Pembahasan

1. Ritual Ruwah Desa

Ritual ruwah desa merupakan upacara adat suatu kelompok masyarakat
yang bertujuan untuk memohon perlindungan dari segala bala’ seperti
bencana alam. Ritual ini berasal dari kisah Batara Kara, raksasa yang suka
memakan manusia. Oleh sebab itu, Ruwahan harus diberi berbagai macam
sesajen yang melambangkan harapan dan rasa syukur.51

Orang Jawa percaya bahwa arwah orang yang meninggal memberikan
perhatian dan perlindungan kepada keluarga yang ditinggalkan. Sehubungan
dengan itu, keluarga yang masih hidup memiliki rangkaian upacara dan acara
yang berhubungan dengan arwah leluhur, seperti Sadranan, mengunjungi
makam leluhur dan kerabatnya dan Sadranan ini selalu dilakukan pada bulan
Ruwah yaitu bulan sebelum Ramadhan.52

Sementara itu dalam skripsi yang ditulis oleh Ahmad Jauhari Falafi yang
berjudul “Eksistensi Tradisi Ruwahan Dalam Masyarakat Di Desa
Kecamatan Wonoayu Sidoarjo" yang berfokus pada praktik tradisi Ruwahan
di Desa Karampuri Kecamatan Wonoayu Sidoarjo. Tradisi ini menciptakan
rasa kebersamaan, saling berbaik hati, mengabaikan perbedaan latar belakang
ideologi Islam. Sebagai warga yang mengikuti tradisi Luwahan dengan
memahami falsafah hidup Mba Galen, mereka akan bercerita tentang
kearifan lokal, termasuk tradisi Attar Attar. Pertunjukan seni wayang. dan
perilaku teladan.53

2. Nilai Nilai Yang Terkandung Dalam Tradisi Ruwah Desa

Tradisi ruwah desa di Desa Trowulan merupakan acara adat yang
diselenggarakan pada bulan Ruwah atau sebulan sebelum menjelang bulan
Ramadhan. Tujuan dari ritual ini tidak lain merupakan bentuk wujud syukur
terhadap rizki yang didapat dari hasil panen dll, atau disebut juga dengan
sedekah bumi.

Adat atau tradisi ini biasanya diselenggarakan dengan doa atau tahlil
bersama dengan setiap warga membawa makanan atau disebut juga
tumpengan yang nantinya akan saling tukar menukar dengan yang lain.
Filosofi yang terkandung dari kegiatan ini yaitu agar setiap warga dapat
berbagi rasa syukur dengan sesama. Selain itu para pemuka adat atau yang
biasa disebut pamong mereka biasanya memberikan sesaji kepada sebuah
sumur yang di yakini merupakan tempat yang sakral. Nama sumur tersebut
adalah Sumur Windu.

51Imam Subqi, dkk. Islam dan Budaya Jawa (Surakarta: Taujih, 2018).
52 Thomas W B, Upacara Tradisional Masyarakat Jawa (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1993).
53 Ahmad Jauhari F, “Eksistensi Tradisi Ruwahan Dalam Masyarakat Di Desa Kecamatan Wonoayu
Sidoarjo”, Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2015, hlm. 18.

43

Acara adat ini juga biasanya diramaikan dengan seni pertunjukan
wayang, patrol, kuda lumping, campur sari dll. Selain diramaikan dengan
acara kesenian acara adat ini juga diramaikan dengan pesta miras.54

3. Respon Masyarakat Terhadap Tradisi Ruwah Desa

Berdasarkan dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis
kepada salah satu warga desa setempat terdapat prespektif yang pro sekaligus
kontra terhadap tradisi tersebut. Nilai-nilai yang di anggap pro ialah dalam
segi budayanya, karena itu sudah merupakan tradisi turun temurun. Warga
juga berpendapat bahwa memberi sajen itu bukan suatu tindakan yang
musyrik. Menurutnya musyrik itu suatu tindakan yang menyekutukan Alloh
SWT seperti menyembah pohon dll, akan tetapi dalam konteks memberi
sajen ini hanya sebuah bentuk pemberian kepada para leluhur. Sedangkan
nilai yang kontra yaitu dalam acara tersebut terdapat pesta miras, yang mana
itu sudah bukan merupakan adat dari tradisi Ruwah Desa.55

4. Pandangan Islam Terhadap Tradisi Ruwah Desa

Kamil Hamid Baidawi dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam di
Jawa membahas tentang perpaduan antara Islam dengan adat budaya di Jawa,
maka disebutnya Islam Kejawen. Basis pandangan Islam kejawen adalah
sinkretis dan toleran. Dari segi agama, sinkretis merupakan sikap yang tidak
mempersoalkan benar atau salahnya agama. Dengan demikian, dalam Islam
Kejawen para pemeluknya gemar memadukan unsur-unsur dari berbagai
agama. Pada titik inilah yang menjadi alasan para tokoh Islam memandang
adanya penyimpangan dalam Islam Kejawen meskipun dalam beberapa hal
terdapat nilai positif yang menjadikan masyarakat jawa hidup damai
meskipun dalam kalangan yang berbeda keyakinan.56

Dalam pengertian kaidah ushul fiqh tradisi disebut juga dengan ‘Urf atau
Al-‘adah. ‘Urf dibagi menjadi dua yaitu ‘urf sohih dan ‘urf fasid. ‘Urf sohih
merupakan suatu tradisi yang sudah dikenal masyrakat sejak lama dan tidak
bertentangan dengan dalil syara’, tidak menghalalkan yang haram dan juga
sebaliknya.57 Sedangkan ‘urf fasid merupakan suatu kebiasaan yang menjadi
tradisi masyarakat akan tetapi tradisi tersebut bertentangan dengan syara’.

Terdapat kaidah ushul fiqih tentang tradisi dimasyarakat yang bisa
dijadikan hukum

ℷ N58

54Wawancara dengan Muslikhah (warga desa) yang dilakukan pada hari Selasa, 22 November 2022.
55Wawancara dengan Besari (warga desa) yang dilakukan pada hari Selasa, 22 November 2022.
56Kamil Baidawi, Sejarah Islam Di Jawa (Yogtakarta, Araska, 2020) hlm. 221-222.
57Rachmat, Syafi’, Ilmu Ushul Fiqih, cet.ke-1 (Bandung: Pustaka Setia,1999), hlm128.
58Moh. Fadal, Kaidah-Kaidah Ushul Fiqih, (Jakarta: CV Artha Rivera, 2008), hlm 68

44

Dalam Al-qur’an maupun hadist tidak ada perintah maupun larangan
terhadap tradisi tahlilan atau sedekah bumi akan tetapi terdapat hadist yang
masyhur, yaitu:

ϦΨή Ε Ψᦈ Ω ΨΨή Ψ N Q
Sisi argumentatif hadist tersebut adalah bahwa segala sesuatu yang
dipandangan oleh umat islam baik dalam artian tidak melanggar syari’at
maka itu diperbolehkan.59 Dalam Al-quran Alloh SWT berfirman:

199 N ℷ N ϦQ N Ϧᦈ ᦈ ℷ ϟℷ N ˴
Diksi ℷ N dalam ayat tersebut dimaksudkan sebagai adat kebiasaan
masyarakat, dan sesuatu yang menjadi rutinitasnya. Dalam hal ini Imam Al-
Qadhi Ibnu Athiyyah menjelaskan bahwa yang dimaksud bi’l ‘urf dalam ayat
tersebut adalah sesuatu yang telah diketahui oleh masyarakat dan tidak
bertentangan dengan syariat.60
Berdasarkan uraian dalil di atas penulis mampu menarik beberapa
analisis yaitu:

1) Tahlilan tumpengan yang merupakan rangkaian dalam acara adat
Ruwah Desa bukan merupakan hal yang dilarang oleh Islam,
karena tahlilan merupakan bentuk dzikrulloh atas nikmat yang
telah di limpahkan oleh Alloh SWT.

2) Dalam kaidah ushul fiqih terdapat istilah ‘urf sohih dan ‘urf fasiq,
sementara itu dalam acara adat ini terdapat adat pesta miras yang
merupakan ‘urf fasiq yaitu menghalalkan sesuatu yang diharamkan
oleh Islam.

59 Alfa Syahriar, “FIQH KEJAWEN; Menelisik Validitas Ijtihad Sunan Kalijaga dalam Perspektif Ushul
Fiqh”, 17.

60Ibid., hlm. 17

45

Kesimpulan
Tradisi Ruwah Desa merupakan adat yang sudah lama berkembang di

masyarakat Desa Trowulan. Tradisi ini memberikan dampak yang luas
terhadap pelestarian budaya di sana. Akan tetapi, terdapat beberapa
rangkaian acara adat Ruwah Desa ini yang di menyimpang dalam ajaran
Agama Islam yaitu pesta miras. Namun, terdapat juga raingkaian acara adat
yang diperbolehkan dalam ajaran Islam seperti tahlilan bersama karena
mengingat acara adat ini merupakan bentuk rasa syukur mayarakat terhadap
nikmat hasil bumi yang telah dipanen.

46

47

ANALISIS RUWATAN RAMBUT GIMBAL DI DIENG JAWA
TENGAH DALAM PERSPEKTIF STUDI ISLAM

Kamilia Mufidah
53040190017

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki
keanekaragamaan suku bangsa, budaya dan agamanya. Keanekaragaman
tersebut menciptakan sebuah kebudayaan dan tradisi. Keanekaragaman
budaya yang dimiliki Indonesia salah satunya yaitu kearifan lokalnya,
menjadi daya tarik wisatawan untuk bertanda dan menyaksikan kemeriahan
dari beragam budaya yang ada di setiap daerah. Hal ini pun memikat para
turis mancanegara untuk secara tidak langsung menjadi bagian dari
pelestarian budaya tersebut dan ketika kearifan lokal itu meluas namanya dan
menjadi sesuatu yang bernilai sejarah, ini akan berdampak pada
perekenomian terkhusus dibagian pariwisata dan dapat menjadi invertasi
kekayaan bangsa Indonesia.

Dalam pelaksanaanya menurut Cahyono (2007), dalam salah kutipan
jurnal, menyimpulkan bahwa pemaknaan ritual cukur rambut gimbal tidak
serta merta dilakukan oleh masyarakat atau lembaga, tetapi melalui proses
yang cukup panjang bahkan mungkin juga telah berurat syaraf di kehidupan
masyarakat Dieng. sedangkan, menurut Pularsih (2015), ruwatan massal
secara instrumental tidak mengalami banyak perubahan dibandingkan
dengan ruwatan secara individual, akan tetapi secara esensial terjadi
pergeseran fungsi dan tujuan, dari semula untuk kepentingan sakral menjadi
untuk kepentingan dari agenda pariwisata pemerintah. Ruwatan yang semula
hanya untuk kepentingan internal masyarakat mengalami perubahan tujuan
sebagai pemberi kepuasan kepada para pariwisata.

Setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikan yang mewakili setiap
daerahnya masing-masing. Salah satunya kebudayaan adat Dieng. Orang-
orang jawa dikenal sebagai orang yang berkepribadian ramah, lembut dan
sangat menjunjung tinggi tradisi sebagai warisan dari para leluhur
terdahulunya, dan sebagai bentuk penghormatan dengan cara tetap menjaga,
meneruskan dan melestarikannya.

Salah satu yang sangat menyita perhatian di dataran tinggi Dieng yakni
adanya anak berambut gimbal yang tumbuh secara alami dan bukan buatan.
Masyakarat setempat menyakini bahwa anak-anak yang bergimbal adalah
anak istimewa yang merupakan titisan leluhur. Rambut gimbal ini akan
tumbuh terus jika dipotong tanpa melalui ritual ruwatan. Oleh karena itu,

48

dalam proses pencukuran rambut gimbal proses ruwatan menjadi prosesi
yang penting untuk dilakukan.

Para pemuda-pemuda di dataran tinggi Dieng berusaha mengupayakan
kelestarian adat-adat yang masih ada dengan mendirikan sebuah kegiatan
tahunan yang disebut dengan Dieng Culture Festival sekitar tahun 2010.
Event tersebut menjadi wadah alternatif yang bermanfaat untuk pelestarian
adat Dieng supaya semakin dikenal luas ke berbagai wilayah Indonesia,
termasuk didalamnya ruwatan potong rambut gimbal yang dilaksanakan
sekitar setahun sekali, bisa bertepatan dengan liburan sekolah atau pada saat
bulan Agustus. Ruwatan adalah tradisi cukur rambut gimbal yang sudah ada
sejak dulu dan memperolehnya secara turun-temurun.

Kentalnya akan nilai-nilai budaya leluhur dan kepercayaan terhadap hal-
hal berbau mitos menimbulkan konflik tentang tradisi ruwatan ini jika dilihat
dari segi keagamaan. konflik ini berawal dari kepercayaan nenek moyang
yang tidak sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Dalam tradisi
ruwatan bila ditelisik dari kacamata Islam, terdapat prosesi yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai ajaran Islam bisa dikatakan terdapat unsur penyimpangan
yang mengandung kemusyrikan dan kesyirikan. Contohnya adalah
masyarakat dieng percaya bahwa menghilangkan nasib buruk seorang anak
kecil berambut gimbal dengan cara dibungkus kain kafan kemudian dilarung
dilaut. Hal ini dapat dikatakan bahwa terdapat keraguan dan tidak percaya
akan nasib dan takdir seseorang itu datangnya hanya dari Allah, bukan sebab
suatu hal bahkan sesuatu yang mitos, belum tentu kebenarannya. Dalam al-
Qur’an maupun hadits telah dijelaskan tidak ada nasib buruk. Karena semua
datangnya dari Allah semata.

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis akan menganalisis dan mencari
kebenaran akan berbagai spekulasi yang datang dari ruwatan rambut gimbal
tersebut. Apakah benar dalam tradisi ruwatan rambut gimbal terdapat
penyimpangan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan bagaimana al-
Qur’an meluruskannnya. Serta bagaimana pula sikap dan persepektif
masyarakat Dieng terhadap rumor yang beredar yang secara tidak langsung
menyinggung salah satu warisan leluhur yang sudah mereka jaga bertahun-
tahun lamanya. Yang pada akhirnya Islam dan budaya dapat saling berjalan
tanpa saling menyalahkan dan tanpa saling menjatuhkan terlepas bahwa
Dieng sebelum datang Islam sudah ada tercemar oleh ajaran Hindu-Buddha.
Kearifan lokal diberbagai daerah di Indonesia masih terus dilestarikan
dengan syarat tetap mematuhi rambu-rambu yaitu ajaran Islam yang menjadi
agama yang menduduk mayoritas di dataran tinggi Dieng.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebenaran adanya unsur
penyimpangan dalam ruwatan rambut gimbal di Dieng, Wonosobo, untuk

49

mengetahui apakah tradisi tersebut sudah sesuai dengan ajaran Islam serta
mengetahui bagaimana perspektif masyarakat Dieng terhadap rumor dan
mitos yang menyatakan kebenaran dari spekulatif masyarakat dalam
perspektif Islam.

Manfaat penelitian ini dapat dilihat dari dua sisi, yaitu secara teoritis,
penelitian ini bermanfaat untuk menambah literatur penelitian dan untuk
mengetahui dengan jelas permasalahan dalam kejadian-kejadian yang ada
dalam ruwatan rambut gimbal di Dieng. Secara praktis, penelitian ini
diharapkan mampu memberi kontribusi bagi dan dapat menjadi bahan acuan
serta informasi bagi penelitian sejenis atau penelitian selanjutnya.

Manfaat penelitian kearifan lokal ini sebagai warisan sejarah membuka
wawasan pengetahuan akan kekayaan keanekaragaman budaya yang dimiliki
Indonesia serta mengetahui bahwa warisan leluhur di berbagai daerah masih
terjaga dan terus dilestarikan sebagai salah satu ciri khas ragam budaya di
daerah masing-masing dipenjuru wilayah di Indonesia.

Kajian Pustaka
Berdasarkan penelusuran yang telah peneliti lakukan, objek penelitian

yang membahas tentang tradisi atau ritual rambut gimbal di dataran tinggi
Dieng ini sudah terbukti banyak menarik peminat para peneliti dalam
berbagai bidang keilmuan, terkhusus yang berkonsentrasi dalam bidang
kearifan lokal dan budaya. Penelitian yang serupa terkait ruwatan rambut
gimbal ini dapat diakses dan ditemukan diberbagai situs mdia massa. Ritual
rambut gimbal banyak dikaji beberapa alasannya adalah ritual ini merupakan
salah satu kearifan lokal yang dimiliki Indonesia sebagai warisan budaya
yang sarat akan nilai-nilai dan mempunyai nilai keunikan tersendiri. Berikut
beberapa karya ilmiah dalam bentuk jurnal maupun skripsi yang relevan dan
berkaitan dengan penelitian ini, diantaranya sebagai berikut :

1. Penelitian Musianto Prihatin (2018) yang berjudul Dinamika
Makna Ritual Cukur Rambut Gimbal Di Dataran Tinggi Dieng
(Studi Living Al-Qur’an) Wonosobo. Jurnal Mahasiswa
Pascasarjana UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo.

2. Ustadi Hamsah (2020) yang judul Religi Masyarakat Periferi :
Analisis Rites Of Passage Atas Ruwatan Rambut Gimbal Di Dieng.
Univeristas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Fikrah
dalam Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan. Vol 8 No. 1

3. Alfi Ma’rifatun Nisa. 2020. Islam dan Akulturasi Budaya Lokal di
Wonosobo (Studi Terhadap Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal Di

50

Desa Batur, Dieng, Wonosobo). Jurnal Lentera : Kajian
Keagamaan, Keilmuan Dan Teknologi. Vol 19 No. 1

4. Irinna Ika Wulandari. 2016. Prosesi Adat Ruwatan Rambut
Gimbal Dalam Perspektif Fiqh Imam Abu Hanifah Di Sembungan,
Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah. Skrispsi Mahasiswa IAIN
Salatiga.

5. Musianto Prihatin (2018) dengan penelitian jurnalnya yang
berjudul Dinamika Makna Ritual Cukur Rambut Gimbal Didataran
Tinggi Dieng (Studi Living Al-Qur’an). Penelitian ini membahas
tentang makna yang terkandung dalam ruwatan rambut gimbal
apakah sudah tercermin dan sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama
Islam atau simbol yang dipakai selama ini ternyata mengandung
unsur yang dapat menyesatkan dan berakibat fatal hingga
mengakibatkan pelakunya berbuat kesyirikan dan dicap musyrik.
Penelitian ini bertujuan ingin memahami lebih mendalam
mengenai ruwatan ini dalam kacamata al-Qur’an. Hasil penelitian
ini menjadikan peneliti dan pembaca dapat membedakan sebuah
kebenaran atau kesalahpahaman yang terjadi dalam prosesi
ruwatan rambut gimbal di dataran tinggi Dieng dalam
fenomenology living al-Qur’an.

6. Ustadi Hamsah (2020), dengen penelitian artikelnya yang berjudul
Religi Masyarakat Periferi : Analisis Rites Of Passage Atas
Ruwatan Rambut Gimbal di Dieng, Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk
melihat tradisi yang terkait dengan eksistensi Yang Maha Mutlak
sehingga persoalan mengenai pemaknaan tradisi ruwatan ini bisa
dimaknai sebagai sebuah religiusitas terkhusus oleh masyarakat
dieng. Hasil penelitian ini adalah adanya kompromi positif antara
konsep kesucian dengan konsep-konsep yang lebi duniawi seperti
kepentingan ekonomi (pariwisata) yang merupakan bentuk
reagregasi budaya di dieng.

7. Alfi Ma’rifatun Nisa (2020) dengan penelitian jurnalnya yang
berjudul Islam dan Akulturasi Budaya Lokal di Wonosobo (Studi
Terhadap Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal di Desa Batur, Dieng,
Wonosobo). Penelitian bertujuan untuk memastikan kebenaran
atas tradisi ini yang dianggap menyimpang dan melanggar dari
ajaran Islam. hasil penelitian ditemukan bahwa memang terdapat
unsur penyimpangan dalam tradisi ini Seperti kepercayaan bahwa
anak yang berambut gimbal adalah keturunan leluhur atau akan
menimbulkan musibah, sebelum dicukur si anak dimandikan

51

menggunakan air keramat dan di asapi menggunakan kemenyan,
setelah dicukur rambutnya dibungkus kain putih kemudian
dilenyapkan ke telaga warna.

8. Irinna Ika Wulandari (2016) dengan penelitian skrispinya yang

berjudul Prosesi Adat Ruwatan Rambut Gimbal dalam Perspektif
Fiqh Imam Abu Hanifah di Sembungan, Kejajar, Wonosobo, Jawa
Tengah. Penelitian dimaksudkan untuk menegaskan bahwa unsur-
unsur budaya lokal yang dapat menjadi sumber hukum Islam ialah
yang sekurang-kurangnya tidak bertentangan dengan prinsip-
prinsip Islam, seperti kepeceryaan bahwa dengan mencukur
rambut gimbal akan menghilangkan bala’/bencana, akan
menghilangkan nasib buruk maka termasuk Thiyaroh (merasa
bernasib sial) dan berujung pada kemusyrikan dengan alasan
misalnya jika rambut tidak dipotong hidupnya akan celaka. Karena
hal seperti itu jelas bertentangan dengan hukum Islam.
Kepercayaan kepada yang lain misalnya Bhatara Kala, hingga
meyakini jika dengan diadakan ruwatan maka dapat terhindar dari
mangsa Bhatara Kala atau terbuang sialnya. Penelitian ini
bertujuan Untuk mengetahui bagaimana pandangan Fiqh Imam
Abu Hanifah terhadap prosesi ruwatan rambut gimbal. Dalam Al
Qur’an maupun hadis telah dijelaskan tidak ada nasib buruk.
Karena Semua itu datangnya hanya dari Allah semata.

Landasan Teori
1. Ruwatan Rambut Gimbal

Kata ruwatan dalam bahasa jawa kuno artinya salah; rusak. Runawat
berarti dirusak, dilepaskan. Ruwat diartikan juga dibuat tidak berdaya.
Ngruwat adalah membebaskan dari roh jahat. Dari arti kata tersebut jelas
bahwa arah pokok ruwatan ialah membebaskan manusia dari kutukan, roh
jahat, dan dari pengaruh roh-roh yang membawa malapetaka61.

Rambut gimbal adalah merekatnya helai-helai rambut yang kemudian
menjadi gimbal. Umumnya rambut gimbal tumbuh di usia anak satu sampai
duabelas tahun, dan biasanya anak yang tumbuh rambut gimbal dianggap
sebagai anak istimewa dan diistimewakan oleh keluarga dan masyarakat
sekitar. Tumbuhnya gimbal ditandai dengan sakit panas, kejang-kejang dan

61S. Reksosusilo. Ruwatan dalam Budaya Jawa. STFT Widya Sasana, Malang. 2006. Studia Philosophica
Et Theological. Vol. 6 No. 1. hal 32

52

tanda-tanda lainnya. Pemotongannya pun dilakukan harus sesuai dengan adat
dan ritual yang berlaku tidak boleh dilakukan pemotongan atas dasar
kemauan orangtua dan tidak boleh dilakukan pemotongan seperti cukur
rambut biasa.

Budaya ruwatan yang dilakukan oleh masyarakat di dataran tinggi Dieng
menunjukan bahwa masyarakat tersebut masih memegang teguh tradisi-
tradisi yang berasal dari nenek moyang mereka, meski seiring perkembangan
zaman proses dan tata caranya mengalami pergeseran, namun esensi dari
ruwatan tersebut tetap sama. Alasan subjek melakukan ruwatan adalah
karena mengikuti adat yang menyatakan bahwa setiap anak yang memiliki
rambut gimbal harus diruwat62.

Ritual ruwatan merupakan acara kunci dan akhir bagi keseluruhan mitos
tentang rambut gimbal. Ruwatan dilakukan saat anak berusia diatas 6 tahun
dan dilakukan ruwatan ketika si anak meminta di ruwat dengan persyaratan
atas permintaan si anak yang diajukan kepada orangtuanya.63

Ruwatan dalam tradisi pemotongan rambut gimbal dipengaruhi oleh dua
faktor utama yiatu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah
usia dan kondisi kesehatan. Adapun faktor eksternal terdiri dari kepercayaan
terhadap tradisi ruwatan, prosesi ruwatan, pengasuhan, latar belakang
demografi. Setelah diruwat anak akan semakin pintar dan semakin kuat.
Anak juga jarang mengalami sakit-sakitan saat rambut gimbal dipotong,
pengakuan saat si anak diruwat anak tersebut akan menjadi lebih penurut dan
tidak terlalu menuntut permintaanya untuk dituruti. Memang perubahan
dirasakan oleh sebagai anak namun ada pula anak yang masih seperti
dahulu64.
2. Dieng dan Kearifan Lokal

Secara garis besar “kearifan lokal” dapat diartikan sebagai kearifan
dalam kebudayaan tradisional, dengan catatan bahwa yang dimaksud dalam
hal ini adalah kebudayaan tradisional suku-suku bangsa. Kearifan lokal
bersifat dinamis menyesuaikan dengan zaman. Menurut Suardiman kearifan
lokal identik dengan perilaku manusia berhubungan dengan: Tuhan, tanda-
tanda alam, lingkungan hidup/pertanian, rumah, pendidikan, upacara

62Eugenius Eko Yuliyanto & Zaenal Abidin. Ruwatan Rambut Gembel. Jurnal Empati. 2016. Vol. 5 No. 3
hal. 465

63Ustadi Hamsah. Religi Masyarakat Periferi : Analisis Rites Of Passage Atas Ruwatan Rambut Gimbal
Di Dieng. Junral Fikrah. 2020. Vol. 8 No. 1. hal 264

64Op.cit., hal 465

53

perkawinan dan kelahiran, makanan, siklus kehidupan manusia dan watak,
kesehatan, bencana alam65.

Budaya lokal atau kearifan lokal itu lebih khusus berdasarkan golongan
etnis, profesi, wilayah, atau daerah. Contohnya, budaya Dieng. Kearifan
lokal dengan demikian terkait semua mengenai budaya lokal baik suku, adat
istiadat, kesenian, maupun pandangan hidup masyarakat setempat dalam
berbagai aktivitas masyarakat local dalam memenuhi kebutuhan seluruh
aspek kehidupan masyarakat.

Nilai budaya yang terkandung dalam (Dieng Cultural Festival) DCF
yang dapat ditranformasikan dalam kehidupan bermasyarakat adalah (1) nilai
religius: kejujuran, keadilan, kebenaran, dan kesholehan yang ditampilkan
oleh pemangku adat Dieng(keindahan): nilai estetika ini ditampilkan dalam
bentuk karya seni baik itu berupa suara, musik, maupun tarian. Dalam ritual
cukur rambut dari awal sampai ritual selesai, diiringi oleh tembang macapat
dan gamelan. (3) nilai kemanusiaan: nilai kemanusiaan ini ditampilkan dalam
prosesi ngalab berkah, yang mengajarkan untuk berbagi dan memberikan
sebagian rezeki kepada orang lain. Prosesi pelarungan mengajarkan untuk
berbagi rezeki kepada makhluk Allah yang lain seperti hewan dan tumbuhan.
(4) nilai kebersamaan: nilai kebersamaan ditampilkan dalam keterlibatan
masyarakat dalam ritual cukur rambut gimbal yang dibungkus dengan DCF.
Gotong royong dilaksanakan untuk mempersiapkan ritual cukur rambut
massal. Cukur rambut massal ini adalah untuk meringankan beban biaya
ritual kepada para orang tua dan sekaligus melestarika n dan
memperkenalkan budaya lokal Dieng kepada para wisatawan. nilai
demokratis: nilai demokratis terlihat dalam persiapan menjelang ritual massal
cukur rambut gimbal. 66

3. Sejarah Islam di Dataran Tinggi Dieng

Awal mula Islam datang ke Dieng, perbatasan kabupaten Banjarnegara
dan kabupaten Wonosobo, berawal dari masa kerajaan Mataram Islam
dengan rajanya bernama Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pada masa
pemerintahannya, Maratam Islam mengalami masa kejayaan dan
keberhasilan yang maju serta pesat. Sultan Agung bercita-cita
mempersatukan kerajaan-kerajaan Jawa di bawah mataram Islam. Pad masa
pemerintahnya pun, Sultan Agung berhasil mengembangkan Islam ke
berbagai daerah, termasuk Wonosobo. Wonosobo yang merupakan wilayah

65Gayatri Dyah Suprobowati. DCF, Wujud Harmonisasi Antara Kearifan Lokal, Agama dan Sosial
Ekonomi di Masyarakat Dataran Tinggi Dieng. Jurnal Jolsic Of Law, Society, And Islamic Civilzation. 2012.
Universitas Sebelas Maret Surakarta. hal. 24

66Ibid., hal. 24-25

54

pedalaman tidak luput dari perhatian Sultan Agung dalam menyebarkan
Islam.

Penyebaran Islam di Wonosobo, dilakukan oleh tiga tokoh utusan yaitu
Kiai Walik, Kiai Kolodete, dan Kiai Karim. Kemudian pada
perkembangannya, Kyai Karim berada di daerah Ledok, Kiai Kolodete
berada di dataran tinggi Dieng, sedangkan Kiai Walik berada di sekitar kota
Wonosobo sekarang ini.

Dari ketiga tokoh tersebut, ialah kaia kolodete yang menyebarkan Islam
ke Dieng. Beliau menyebarkan Islam ke Dieng dengan metode memadukan
nilai Islam dengan kebudayaan Jawa yang telah tercampur dengan pengaruh
Hindu-Buddha.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Kiai Kolodete datang ke Dieng
sekitar tahun 1628 M. Dimana Kiai Klodete merupakan seorang raja besar di
Jawa Timur. Pasca peristiwa runtuhnya Majapahit kiai kolodeta bersama 2
rekan lari ke Wonsobo, dan beliau menempati dataran tinggi dieng.

METODE PENELITIAN

Setiap penelitian tidak lepas dari metode. Metode penelitian dalam
kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan menggunakan
jenis penelitian studi pustaka (library research) yaitu metode dengan
pengumpulan data dengan cara memahami dan mempelajari teori-teori dari
berbagai literatur yang berhubungan dengan metode penelitian tersebut67.
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenology yaitu dengan cara
memahami dan mempelajari hakikat manusia atau aktivitasnya dalam
ruwatan rambut gimbal di dataran tinggi Dieng.68

Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber
data sekunder. Sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dari
sumber lain di luar dari sumber data utama seperti hasil penelitian
sebelumnya, tulisan berupa buku, jurnal, artikel dan lain-lain sebagai
pendukung maupun pelengkap data.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara mengumpulkan
sumber dan merekontruksi dari berbagai sumber yang berasal dari buku,
jurnal dan riset-riset yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.69
Adapun teknik analisis data digunakan dalam penelitian ini di bagi menjadi
tiga jenis yakni reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi.

67Miza Nina Adlini, Anisya Hanifa Dinda, dkk. Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka. Edumaspul -
Jurnal Pendidikan. 2022. Vol. 6 No. 1, hal 2

68Ibid., hal 4
69Ibid., hal 2

55

HASIL PENELITIAN

1. Tradisi Potong Rambut Gimbal

Menurut cerita rakyat yang berkembang, bahwa anak-anak yang
rambutnya gimbal adalah titisan roh dari kiai Kolodete. dimana pada waktu
itu, sekitar tahun 1628 M seorang raja besar dari salah satu kerajaan di Jawa
Timur bernama Kolodete datang ke daratan tinggi Dieng.70 Fenomena anak
gimbal dianggap sesuatu yang unik, masyarakat setempat beranggapan
rambut gimbal tidak dapat dihilangkan karena merupakan keturunan leluhur
atau hadir dari sumpah yang dilakukan oleh kiai Kolodete71.

Sejarah anak gimbal atau awal mula munculnya gimbal tidak diketahui
pasti namun masyakarat Dieng menyakini anak gimbal tidak lepas dari para
leluhur Dieng yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Temanggung
Kolodete, beliau adalah sosok dibalik anak berambut gimbal. Kedatangan
Kyai Kolodete dan dua temannya yakni Kyai Karim dan juga Kyai Walik ke
daratan tinggi Dieng bermula dari runtuhnya kerajaan Majapahit.

Tradisi potong rambut gimbal adalah tradisi memotong rambut gimbal
yang tumbuhnya secara alami bagi masyarakat Wonosobo dan sekitarnya.
masyakarat yang memiliki anak gimbal, tidak diperbolehkan untuk
memotong begitu saja. Melainkan harus menggunakan upacara adat ritual
khusus dan lengkap dengan beberapa persyaratannya yang telah ditetapkan
sebagaimana tradisi yang sudah dijalankan secara turun-temurun. Selain di
dataran tinggi dieng, tradisi menyebar di seluruh pelosok di Kabupaten
Wonosobo dan sebagian di desa Kabupaten Banjarnegara. Hal ini dibuktikan
dari banyaknya jurnal dan sejenisnya dari para peneliti yang melakukan
penelitian terkait hal tersebut. 72

Peristiwa rambut gimbal ini biasanya terjadi pada anak-anak usia 3-6
tahun, bisa terjadi pada anak usia 7 tahun ke atas bahkan saat usia beranjak
dewasa. Untuk kasus gimbal yang terjadi pada usia dewasa itu atas
permintaan pribadi untuk dipanjang gimbalnya dari mulai usia anak-anak.
Sumber lain mengatakan pada anak-anak dibawah usia 2 tahun.73 Biasanya
anak tersebut ditandai dengan sakit-sakitan bahkan sampai demam dan
kejang-kejang selama beberapa hari. Kemudian, sakit akan sembuh ditandai
dengan sedikit tumbuh gumpalan rambut yang terlihat gimbal dan semakin

70Nurul Mubin (2016). Dinamika Makna Ritual Cukur Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng. hal. 125
71Alfi Ma’rifatun Nisa. (2020). Islam dan Akultursi Budaya Lokal di Wonosobo (Studi Terhadap Tradisi
Ruwatan Rambut Gimbal di Desa Batur, Dieng, Wonosobo). Jurnal Lentera Kajian Keagamaan, Keilmuwan,
dan Teknologi. Vol. 19. No. 1 Maret, hal. 49
72Ahmad Taqwin. (2022). Tradisi potong rambut gimbal dalam Perspektif Dakwah Masyarakat Desa
Tlogojati. Arkana, Jurnal Komunikasi dan Media. Vol. 01. No. 01. hal. 44
73Pernyaatan ini didapat dari beberapa Channel YouTube yang melakukan penelusuran adat Dieng dan
mewawamcarai beberapa orang tua dan masyarakat setempat di berbagai desa yang ada di kabupaten
Wonosobo dan sekitarnya.

56

banyak. Jika sudah demikian orangtua tidak berani untuk memotong sampai
anak sendiri yang memintanya disertai permintaan tertentu. Permintaan sang
anak sebisanya mungkin harus dipenuhi, apabila tidak dikhawatirkan rambut
akan tumbuh terus.

Keinginan yang diminta oleh anak seringkali permintaan yang aneh dan
menyulitkan bagi orangtua yang berada diekonomi menengah kebawah, hal
ini yang menjadi faktor rambut gimbal atas tumbuh kembali dikarenakan
pemotongan dilakukan secara mandiri. Dan ini menjadi keuntungan dan
kemudahan ketika si anak meminta sesuatu yang dapat segera dikabulkan
oleh orangtua masing-masing anak. Keinginan aneh misalkan meminta
kambing beberapa ekor, meminta memakan suatu makanan dengan porsi
yang banyak dan sebagainya. Hal ini perlu dilakukan observasi mendalam
langsung dengan mewawancarai orangtua atau orang sekitar yang
menyaksikan langsung kejadin tersebut.

Tradisi potong rambut gimbal di Dieng dikenal dengan istilah ruwatan.
Ruwatan adalah pencukuran atau pemotongan rambut gimbal untuk
mensucikan dan membersihkan anak-anak yang memiliki rambut gimbal dari
gangguan ghaib, karena anak-anak yang memiliki rambut gimbal ini
cenderung melakukan hal-hal diluar akal manusia dengan kenakalan dan
keaktifannya daripada anak diusia yang sama pada umumnya. Oleh karena
itu di Dieng sendiri, anak-anak yang memiliki keistimewaan tersebut perlu
diruwat untuk terlepas dari hal tersebut agar dapat hidup sama dan normal
seperti umumnya.

Ruwatan atau upacara cukur rambut gimbal bertujuan untuk
menghilangkan rambut gimbal agar si anak memiliki rambut yang normal.
Selain itu, agar mendapat keberkahan dan kesehatan. Prosesi ruwatan cukur
rambut gimbal dilengkapi sesajen berupa tumpeng putih dengen dihiasi
buah-buah yang ditancapkan, jajanan pasar, 15 jenis minuman dan
permintaan si anak.74 Setelah memanjatkan doa, sang tokoh adat mengusap
kepala si anak dengan kemenyan, barulah memotong rambut gimbal tersebut
satu persatu, dengan sebelumnya rambut gimbal tersebut telah dimasuki
cincin magis. Rambut yang telah dicukur lalu dibungkus dengan kain putih
kemudian di larung di sungai serayu, telaga warna maupun telaga, tergantung
prosesi ruwatan tersebut dilakukan secara pribadi maupun secara bersama-
sama. Peristiwa pemotongan rambut gimbal dilakukan setelah acara ruwatan
dilakukan. Biasanya ruwatan di dieng dilaksanakan pada tanggla satu suro
atau satu muharram.

2. Nilai-Nilai Yang Terdapat Dalam tradisi Rambut Gimbal

74t.n. Pesona Wonosobo. Diakses di https://suryawibowodua.wordpress.com/tradisi/. Diakses pada
tanggal 26 november 2022.

57

Berdasarkan penelitian mengenai tradisi tersebut, ditemukan adanya
nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya yang akan diurai berdasarkan sisi
negatif dan sisi positifnya, sebagai berikut :

a) Sisi positif

1) Di dalam proses pelaksanaanya ada proses yang disebut dengan
buju rombyong atau nasi tumpeng (nasi yang berbentuk
kerucut). Mengajarkan akan makna kerukunan dan saling
gotong-royong karena dilakukan bersama-sama dan melibatkan
dalam pihak.

2) Mengingat kematian.

3) Melestarikan jajan tradisional atau jajan pasar untuk lebih
dikenal oleh masyarakat luas, supaya tidak kalah populer
dengan makanan-makanan perkotaan. Ini merupakan ciri khas
untuk masyarakat perdesaan yang kental akan nuansa
tradisionalnya.

b) Sisi negatif

1) Orangtua diwajibkan untuk mengabulkan apapun permintaan
anak ketika akan mendekati hari dimana waktunya rambut
gimbal tersebut di potong. Tidak semua orangtua mampu, ada
sebagian orangtua yang berasal dari keluarga sederhana yang
merasakan kesulitan ketika permintaan yang diajukan
membutuhkan biaya yang banyak sehingga antisipasi sejak dini
perlu dilakukan dengan cara menabung untuk pelaksaaan tradisi
ruwatan tersebut, tak jarang juga ada sebagian orangtua merasa
tidak terbebani ketika permintaan tersebut mudah diwujudkan.

2) Islam datang membawa ajaran tauhid yang berarti mengesakan

Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berkah disembah,
diminta pertolongan dan perlindungan, dipatuhi perintah-Nya
dan dijauhi larangan-Nya. Ini menjelaskan bahwa Islam agama
murni yang disemestinya tidak boleh dicampurkan oleh sesuatu
yang tidak ada dasar ajarannya, seperti halnya sesajen dan
ritual-ritual yang diyakini sebagai pelindung dari nasib buruk
dan sebagai perantara doa. Perkara perantara doa yang dalam
proses tradisi potong rambut gimbal ini penulis dapat artikan
bahwa kurangnya kepercayaan akan sifat-sifat Allah, Yang
Maha Mendengar sekalipun apa yang diucapkan hanya di dalam
hati. Ini jelas bahwa doa akan sampai kepada Allah tanpa perlu
ada perantara yang melatarbelakanginya.

3. Prespektif Masyarakat Terhadap Tradisi Potong Rambut Gimbal

58

Masyakarat setempat menyakini bahwa tradisi potong rambu gimbal
merupakan warisan dari leluhur yang berperan dalam penyebaran ajaran
agama Islam di Dieng, bernama kyai Kolodete. Masyarakat percaya bahwa
ketika seorang anak kecil yang memiliki rambut gimbal dipotong itu akan
mencegah tolak bala, bencana dan penyakit yang tidak diinginkan. Dengan
adanya tradisi tersebut juga menjadi salah satu pelestarian peninggalan
leluhur.

Bercerita salah satu masyarakat setempat bahwa pernah ada kejadian di
mana seorang berambut gimbal mengalami gangguan kejiwaan dikarenakan
tidak dikabulkannya permintaan sang anak gimbal tersebut sewaktu kecil.
Cerita lain juga datang dari salah satu warga Dieng, bahwa rambut
gimbalnya tumbuh kembali dikarenakan permintaan yang sempat dikabulkan
dalam acara ruwatan tahunan dijual oleh salah satu anggota keluarga, hal
demikian membuat prosesi ruwatan sebelumnya gugur dan diharuskan
mengulang kembali.

Adanya tradisi potong rambut gimbal oleh sebagai masyarakat disambut
dengan antusias dan suka cita. Hal ini menjadi salah satu wujud dalam
pelestarian budaya dan pengenalan tempat wisata yang ada di Dieng. Walau
demikian ada sebagai masyarakat yang tidak setuju dengan tradisi ini, tidak
setuju karena dalam rangkaian prosesi tersebut terdapat unsur kemusyrikan
yang meragukan keagungan dan keesaan Allah dalam menentukan takdir
setiap manusia. Kepercayaan dan keyakinan akan bernasib buruk jika tidak
dijalankan, maka diadakan ruwatan untuk mencegah nasib buruk tersebut.
Pendapat lain datang dari sebagai masyarakat yang setuju, mereka
membatahkan bahwa tradisi ini terdapat nilai akidahnya, misalkan saja
adanya do’a yang ditunjukan kepada Allah, pembacaan ayat-ayat al-Qur’an
dan dzikir bersama.

4. Perspektif Islam Terhadap Tradisi Rambut Gimbal

Ruwatan merupakan tradisi yang sebenarnya sudah mengadopsi ajaran
Islam. Ruwatan yang dilakukan masyarakat di dataran tinggi Dieng dan
sebagian desa di kabupaten Banjarnegara merupakan prosesi pemotongan
rambut anak gimbal dengan tujuan untuk keselamatan dari anak yang akan
diruwat, di dalam Islam sendiri slametan berarti doa, ucapan pernyataan dan
sebagiannya yang mengandung harapan supaya sejahtera, beruntung tidak
kurang satu apapun, dan bertujuan menghindarkan suatu hal yang tidak
diinginkan atau untuk meminta keselamatan dan kesehatan kepada Allah.
Dalam proses akan dilakukan makan maupun doa bersama. Makanan yang
dihidangkan merupakan sedekah, untuk keselamatan, yang bermakna
keberuntungan bagi orang-orang yang diundang, ada rezeki orang
didalamnya. Selain itu, ada pembacaan sholawat, sholawat yang berarti

59

memuji, mengagungkan Rasulullah, dan membuat wasilah dengan membaca
sholawat. Barang siapa yang membaca sholawat untuk Nabi, maka akan
menjadi cahaya nanti di hari akhir.

Berikut definisi adat menurut para ulama, sebagai berikut :

Q ᦈ JΕᦈ Qℷ Ϧ Q N 砀N

“sesuatu yang dikerjakan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan
rasional”

definisi ini menunjukkan bahwa apabila suatu perbuatan dilakukan
secara berulang-ulang menurut hukum akal, tidak dinamakan adat. adapun
menurut ulama fiqh lain adalah :

ℷ J JQ Ω ᦈ

“kebiasaan mayoritas kaum, baik dalam perkataan atau perbuatan.”

Di dalam al-Qur’an, Allah telah menjelaskan bahwa jika meminta
perlindungan kepada-Ku bukan terhadap sesuatu hal, sesuatu yang mitos dan
mistis karena hal tersebut termasuk kemusyrikan yang dilarang, sebagaimana
Firmannya:

ϦQ ˶ N Ϧ NΕ N Ϧ㘮 Ε ℷ Ύ ϴ ϦℷϟΨ ϦΕ

“Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat
memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu. Jika kamu
berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu dengan demikian, termasuk
orang-orang yang berbuat dhalim (musyrik).” (QS. Yunus : 106).

Dan juga dalam QS Yunus: 107, yang bunyi artinya: “Dan jika Allah
menimpakan kepadamy suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat
menghilangkannya selain Dia; sedangkan jika Allah menghendaki untukmu
sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya... “

Dasar kaidah yang lainnya dalam Firman Allah, Surat al-A’raf :
199, sebagai berikut :

ϦQ N Ϧᦈ ᦈN ℷ ϟℷ N ˴

“Berikanlah maaf dan perintahkanlah mengerjakan ma’ruf dan
berpalinglah dari orang-orang jahil atau bodoh.” (QS. Al-A’raf : 199).75

5. Analisis Peneliti Terhadap Tradisi Rambut Gimbal

Masyarakat jawa erat kaitannya terhadap budaya tradisi dan ritual. Tidak
dapat dipungkiri akan penghormatanya terhadap warisan leluhur yang sangat
dijaga dan senantiasa dilestarikan. Sebagaimana masyarakat jawa di
kabupaten Wonosobo di dataran tinggi dieng.

75Irinna Ika Wulandari. (2016). Prosesi Adat Ruwatan Rambut Gimbal dalam Perspektif Fiqh Imam Abu
Hanifah di Sembungan, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah. hal. 18-21

60

Dieng terletak diperbatasan kabupaten Wonosobo dan kabupaten
Banjarnegara. Hadirnya Dieng tidak lepas dari jasa para pendirinya, Kiai
Kolodete, Kiai Walik dan Kiai Karim. Kiai Kolodete diceritakan merupakan
sosok berambut gimbal panjang, dari ia wariskan gimbal turun-temurun
kepada generasi sesudahnya.

Sebelum Islam datang ke Indonesia khususnya di daerah Jawa,
masyarakat banyak menganut kepercayaan animisme dan dinamisme,
animisme adalah keyakinan kepada mahluk halus dan roh serta mitos.
Kepercayaan terhadap mitos tersebut masih melekat kepada masyarakat
setelah berpindah agama menjadi beragama Islam. Hal ini yang menjadikan
adanya pencampuan antara budaya dengan ajaran Islam.

Menurut peneliti dan didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh para
peneliti sebelumnya, dapat dikatakan bahwa ruwatan rambut gimbal ini
dalam perpsektif studi Islam tidak sesuai dengan ajaran Islam, ada
pekercayaan dan keyakinan dari tradisi tersebut yang ternyata menyimpang
dari nilai-nilai ajaran agama Islam seperti sesaji. Sesaji merupakan ritual
yang biasa digunakan dalam peribadatan agama budha dan hindu yang
kemudian dimasukkan dan dilegalkan menjadi bagian dari Islam oleh
beberapa masyarakat yang masih kental akan nilai-nilai warisan nenek
moyang. “Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda ‘Barangsiapa
menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu
Dawud, hasan). Kemudian, kepercayaan masyarakat dieng dan sekitarnya
akan nasib buruk yang datang dari rambut gimbal maka dilakukan
pemotongan dengan tujuan menghilangkan kesialan. Padahal dalam Islam
tidak ada yang namanya nasib sial atau thiyarah. Rasulullah shallallahu alaihi
wassalam bersabda “Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya dan
tidak ada anggapan sial”.

Mari menjadi muslim yang cerdas dengan tauhid dan tidak mudah
percaya dengan khurafat dan takhayyul. Memaknai kejadian dan ujian yang
dialami oleh setiap manusia tidak lain adalah kebaikan dari Allah untuk bisa
kita ambil hikmah dan pelajarannya. Semua yang datangnya dari Allah
adalah kebaikan, firman-firmannya dalam al-Qur’an adalah kebenaran, Rasul
utusannya adalah pembawa risalah kebenaran dan teladan bagi umat manusia.

KESIMPULAN

Tujuan diadakan ruwatan pada dasarnya adalah untuk pembebasan
malapetaka atau nasib sial, dan peristiwa buruk. Ruwatan merupakan
peninggalan adat-istiadat nenek moyang jawa kuno yang masih tercampur
dengan adat sebelum Islam datang. Kehadiran tokoh yang menjadikan ada
Dieng yang masuk bagian kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonosobo

61

ini tidak lepas dari jasa Kiai kolodete. Sejarah mencatat bahwa penyebaran
yang dilakukannnya dengan cara mencampurkan ajaran Islam dengan ajaran
agama lain yaitu Hindu-Buddha.

Hal ini yang menjadikannya sesuatu yang tidaklah heran jika pada
penelitian yang dilakukan terhadap ruwatan rambut gimbal di dataran tinggi
Dieng masih terindikasi kegiatan yang bersebrangan dengan ajaran Islam.
Untuk kasus contohnya sudah terjabarkan dengan gamblang dan rinci dalam
berbagai penelitian yang mengungkapkan kasus serupa. Yang paling terlihat
jelas kegiatan ruwatan yang mengandung kesyirikan adalah kepercayaan dan
keyakinan bahwa sesuatu yang dianggap mistis bisa mendatangkan
pelindungan dan menjaganya dari nasih buruk dan kesialan.

Mengenai nasih buruk dan kesialan dalam al-Qur’an sudah Allah
jelaskan, bahkan terdapat dalam sabda Rasulullah dan untuk mau tidak
menyakini ini kembali kepada tiap-tiap manusia. Untuk mencapai
pemahaman ini diperlukannya wawasan yang mendalam terhadap ajaran
agama Islam, karena sejatinya ilmu adalah benteng dan jendela pembuka,
yang dapat membentengi diri dari hal-hal yang dapat membodohkan dan
tentunya membedakan kebenaran akan ketauhidan dan kesyirikan dan jalan
yang lurus yang Allah ridhai.

62

TRADISI PADUSAN DI SENDANG KALIMAH TOYYIBAH
NYATNYONO PADA MASYARAKAT UNGARAN DAN
SEKITARNYA

Tiya Indah Nila Sari
53040190003

Pendahuluan

Tulisan ini membahas bagaimana harmoni antara islam dan tradisi lokal
yang ada di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi dimana islam
sebagai agama berinteraksi dengan kepercayaan dan budaya yang ada.
Kemudian diantara keduanya perlahan mengalami akulturasi dengan budaya
lokal yang mana masih kental dengan animisme, dinamisme dan Hindu-
Budha. Islamisasi budaya terjadi walaupun tidak semua budaya lokal dengan
corak islam. Sebab masih banyak ditemukan adat budaya lokal yang masih
eksis dan menjadi sistem nilai yang dipegang teguh oleh suatu masyarakat.
Sisa kepercayaan masa lalu yang berakar animisme, dinamisme dan Hindu-
Budha tidak serta merta sepenuhnya hilang begitu saja, namun justru menjadi
pelangi dalam keislaman mereka.

Manusia tidak bisa terlepas dari kebudayaan yang ada disekitarnya,
sebab dalam masyarakat akan menghasilkan suatu kebudayaan. Dimana
sesorang tinggal pasti ada suatu tradisi atau budaya yang melekat serta
menjadi ciri khas dalam daerah tersebut. Sebaliknya tidak akan ada
kebudayaan tanpa adanya masyarakat, sebab masyarakatlah faktor dari
munculnya kebudayaan sekaligus wadah dan pelestari kebudayaan yang
diciptakan. Terlebih di Indonesia sendiri merupakan bangsa dengan
keanekaragaman yang komplek, meliputi bahasa, agama, suku, budaya dan
lain sebagainya. Salah satu keanekaragaman yang ada pada masyarakat
khususnya masyarakat muslim adalah tradisi padusan.

Istilah padusan berasal dari kata “adus” atau mandi yang mana
merupakan suatu kegiatan yang umumnya dilaksanakan menjelang bulan
suci Ramadhan oleh sebagian besar masyarakat muslim. Kegiatan ini
dilakukan sebagai symbol membersihkan atau mensucikan diri dari kotoran
yang ada dalam jasmani maupun rohani sebelum menemui bulan yang suci
yaitu bulan Ramadhan. Padusan biasany0a dilakukan di sungai, sendang
ataupum kolam dan biasanya dilaksanakan secara masal oleh masyarakat.

Kegiatan padusan yang dilaksanakan di Sendang Kalimah Thoyyibah
desa Nyatnyono Ungaran tidak hanya berlangsung ketika menjelang bulan
suci Ramadhan saja. Namun ramai khalayak masyarakat baik dari sekitar
Ungaran sendiri, luar kota bahkan negara tetangga yang berbondong-
bondong padusan di sendang ini. Dengan beragam kepercayaan dan

63

pemaknaan mengenai kegiatan padusan yang dilakukan masyarakat, sendang
ini tidak pernah sepi dari para pengunjung setiap harinya dari pagi bahkan
malam hari. Lalu apa sebenarnya nilai atau keyakinan dari pengunjung yang
melakukan padusan di Sendang Kalimah Thoyyibah ini serta bagaimana jika
dipandang dalam kacamata islam? Kemudian bagaimana respon masyarakat
sekitar dengan ramainya pengunjung di sendang?

Sudah banyak penelitian yang dilakukan berkaitan dengan analisis
tradisi kebudayaan dalam suatu masyarakat terkhusus pada tradisi padusan
pada Sendang Kalimah Thoyyibah Nyatnyono. Pertama, Sai Alvian. Skripsi
dari Sai Alvian (2018) yang berjudul “Pengelolaan Wisata Religi Makam
Mbah Hasan Munadi Dan Hasan Dipuro diNyatnyono Kabupaten Semarang
Perspektif Sapta Pesona” yang mana meneliti bagaimana pengelolaan wisata
religi makam di Nyatnyono dan data yang diperoleh menggunakan metode
penelitian lapangan (field research) dengan jenis penelitian kualitatif
deskriptif. Data primer merupakan hasil wawancara mendalam (in depth
interview) dan observasi. Data sekunder yaitu library research (penelitian
kepustakaan). Teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa makam Nyatnyono Kabupaten
Semarang memiliki potensi dan daya Tarik wisata yang cukup besar. Kedua,
Widyastutik (2010) yang berjudul “Pandangan Masyarakat Mengenai Tradisi
Padusan” dimana hasil penelitian tersebut menghasilkan data tentang
persepsi masyarakat sekitar Desa Cokro mengenai tradisi padusan, alasan
pengunjung datang waktu padusan serta dampak tradisi padusan terhadap
perekonomian masyarakat sekitar di desa Cokro.

Tujuan penelitian ini yakni untuk menganalisis antara tradisi padusan
yang dilakukan di Sendang Kalimah Thoyyibah Nyatnyono dengan
perspektif islam. Dimana antara kebudyaan dan ajaran islam tumbuh
berkembang Bersama di tengah-tengah masyarakat Desa Nyatnyono.
Bagaimana akulturasi yang terjadi akulturasi antara keduanya sejak saat
tradisi itu ada dan berkembangnya ajaran islam di tengah masyarakat. Serta
penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai rujukan penelitian-
penelitian yang akan datang dan andil dalam khasanah keilmuan. Serta
menginspirasi khususnya bagi para penuntut ilmu dengan memperhatikan
makna yang hendak disampaikan dalam tradisi yang dilakukan.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research)
dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif . Penelitian kualitatif atau
qualitative research merupakan jenis penelitian yang menghasilkan
penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan

64

prosedur-prosedur statistik atau dengan cara kuantitatif lainnya. penelitian
kualitatif merupakan prosedur penelitian yang mampu menghasilkan data
deskriptif berupa ucapan, tulisan, dan perilaku dari orang-orang yang diamati.

Dari metode deskriptif ini data yang diperoleh ada dua sumber yaitu
sumber primer dan sekunder. Sumber primer dari penelitian ini diperoleh
dari hasil wawancara mendalam (in dept interview) oleh narasumber dan
observasi terkait yang akan diteliti. Peneliti datang menemui narasumber dan
menggali data dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Selain itu
untuk memperkuat hasil data wawancara dari narasumber juga menggunakan
data sekunder yakni penelitian kepustakaan (library research) menggunakan
beberapa referensi dari beberapa jurnal, buku dan lain-lain Jadi peneliti
mengkaji beberapa pustaka untuk mengumpulkan data yang diperlukan.
Sedangkan tekhnik pengumpulan data dengan observasi dan interview atau
wawancara. Analisis data menggunakan deskriptif analisis.

Hasil Penelitian

1. Hakikat Islam dan Budaya

Secara etimologi kata islam berasal dari bahasa Arab “salima” yang
artinya selamat lalu membentuk kata “aslama” yang artinya menyerah,
tunduk, patuh dan taat maka orang yang melakukan “aslama” tersebut atau
masuk islam dinamakan muslim. Artinya, orang tersebut telah menyatakan
dirinya taat, menyerahkan diri dan patuh kepada Allah. Jadi dapat dikatakan
bahwa orang yang masuk islam telah berserah diri kepada Allah dalam upaya
mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirart. Hal
tersebut dilakukan atas kesadaran dan kemauan tanpa paksaan melainkan
fitrah dari Allah.

Islam dari segi istilah telah didefinisikan oleh beberapa ahli diantaranya
Harun Nasution. Harun mengatakan bahwa islam menurut istilah adalah
agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui
Nabi Muhammad sebagai utusanNya. Sementara itu Maulana Muhammad
Ali mengatakan bahwa islam adalah agam perdamaian dan dua ajaran
pokoknya yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia
menjadi bukti nyata bahwa agama islam selaras benar dengan namanya.
Islam merupakan agama sepanjang sejarah manusia. Agama dari seluruh
Nabi dan Rasul yang telah diutus Allah kepada berbagai kelompok manusia
di berbagai bangsa di dunia.

Islam memiliki suatu hubungan yang tidak dapat terpisahlan dengan
budaya, sebaliknya suatu budaya dapat melekat pada suatu agama termasuk
islam karena keduanya memiliki symbol. Agama merupakan symbol nilai

65

ketaatan kepada Tuhan, sedangkan kebudayaan mengandung nilai dan
symbol supaya manusia dapat hidup didalamnya. Agama tanpa kebudayaan
memang dapat berkembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan
agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat76. Islam tampil dalam
bentuk yang luwes ketika menghadapi masyarakat masyarakat dengan
keanekaragamn budaya bahkan kepercayaan.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu budhha-
yah bentuk jamak dari kata budhhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal
yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Menurut Koentjoroningrat,
kebudayaan mempunyai paling sedikit tiga wujud, yaitu (1) suatu ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma peraturan, (2) suatu aktfitas kelakuan pola
dari manusia dalam sebuah komunitas masyarakat, (3) benda-benda hasil
karya manusia77. Tradisi diartikan sebagai adat kebiasaan turun-temurun dari
nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyrakat, dapat pula diartikan
sebagai penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan
yang paling baik dan benar.

Indonesia sendiri merupakan bangsa dengan keberagaman local yang
sangat elok. Oleh karena itu sangat tepat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”
yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua menjadi symbol pemersatu
atas realitas yang ada pada bangsa Indonesia. Tradisi sesepuh terdahulu yang
sangat kental di setiap penjuru daerah yang mengakibatkan munculnya cerita
yang kemudian dijadikan kepercayaan dan praktek keagamaan masyarakat
setempat. Kepercayaan tersebut oleh sebagian masyrakat diangkat menjadi
nilai adat atau norma yang harus dijalankan, dijaga bahkna dilestarikan.
Namun, kebudayaan sendiri bersifat dinamis seiring berjalannya waktu dan
perkembangan manusia itu sendiri.

Sebagaimana kita ketahui bahwasannya adat merupakan hasil kreasi
manusia yang bersifat kebiasaan kemudian berlaku dalam suatu budaya
masyarakat secara turun temurun dan dipegang teguh oleh generasi ke
generasi. Lalu hal tersebut berpengaruh hampir dalam segala aspek
kehidupan masyarakat. Adat sendiri juga dipandang sebagai karya dari para
leluhur yang senantiasa dipertahankan keberadaannya oleh keturunannya
atau yang disebut sebagai pewaris budaya.

Ketika adat berhadapan dengan ajaran agama maka keduanya akan
saling mempgenaruhi satu sama lain. Akibatnya, tidaklah mustahil jika jika
ada ajaran agama yang dikurangi atau ditambah dalam suatu masyarakat atau
bahkan hilang dari ajaran yang semestinya. Hal ini dikenal dengan dalam

76 Darori Amin , Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hal 11
77Mohammad Toha Umar, “Islam dalam Budaya Jawa Perspektif Al Quran”. Vol. 18 No. 1, Mei 2020, Hal.
71

66

ilmu antropologi dengan istilah akulturasi, yang secara teoritis akulturasi
merupakan percampuran dua kebudayaan atau lebih, saling bertemu dan
saling mempengaruhi. Menurut Robert H. Lauer bukan berarti kebudayaan
yang kuat mempengaruhi yang lemah, namun tergantung dengan jenis kontak
antar kedua kebudayaan yang terjadi78.

Walaupun tidak selamanya pengaruh kebudayaan yang kuat atas
kebudayaan yang lemah akulturasi terjadi, tetapi tergantung pada jenis
kontak kedua kebudayaan tersebut, yaitu seberapa besar kemampuan anggota
masyarakat pendukung satu kebudayaan memaksakan pengintegrasian
kebudayaan kepada anggota masyarakat pendukung kebudayaan lain79.
Adapun menurut Koentjoroningrat akulturasi itu sendiri timbul bila suatu
kelompok masyarakat dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan
unsur-unsur asing yang berbeda, unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat
laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan
hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri80.

2. Budaya Padusan

Padusan berasal dari bahasa Jawa yang berarti mandi. Namun makna
lain dari kata padusan sendiri yaitu membersihkan segala kotoran yang
menempel di badan atau di jiwa kita, sehingga dalam melakukan ibadah
kepada Allah dalam keadaan bersih jasmani maupun secara rohani. Padusan
dilakukan pada sumber-sumber air atau orang jawa biasa menyebut dengan
umbul, padusan bisa juga dilakukan di kamar mandi rumah masing-masing,
di kali atau sungai, danau atau kolam renang yang biasanya dilakukan secara
massal81. Seperti halnya padusan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat
local Jawa Tengah di Sendang Kalimah Thoyyibah Nyatnyono Ungaran.
Salah satu alasan umbul atau sumber mata air dijadikan lokasi padusan yaitu
karena air dari sumbernya masih bersih. Maka dari itu diharapkan dengan
mensucikan diri dengan air dari umbul tersebut jiwa dan raga dapat bersih
sebersih mata air tersebut.

Saat ini filosofi dari padusan sudah mulai bergeser, sebab pemakaan
oleh sebagian masyarakat terhadap tradisi ini beragam. Pemaknaan tersebut
muncul dapat bersifat positif maupun negative, tergantung persepsi dan sikap
masyarakat terhadap tradisi padusan tersebut. Tentunya semua itu ada suatu
hal yang menjadi faktor untuk memengaruhinya. Sehingga tak jarang

78 Robert H. Lauer, Pespective on Social Change, terj. Alimandan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), Hal.
404-405.

79 Jaques Scheuer, “Inculturation”, dalam Lumen Vitae, International Review of Religius Education,
Washington: International Center for Studies in Religious Education, 1985, Hal. 12.

80Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Jakarta: Aksara Baru, 1974, hal. 152.
81Retno Widyastutik, “Pandangan Masyarakat Mengenai Tradisi Padusan”(Surakarta: Universitas
Sebelas Maret, 2010) hal. 44.

67

masyarakat yang memaknai padusan sebagai media maksiat dan timbul sikap
yang betentangan dengan nilai asal dari padusan bahkan bertentangan dengan
ajaran agama islam.

3. Padusan di Sendang Kalimah Thoyyibah Nyatnyono Ungaran

Sebagian besar dari penduduk desa Nyatnyono adalah beragama islam.
Hal ini dikarenakan oleh latar belakang kehadiran desa Nyatnyono yang
menjadi desa petilasan82 oleh Waliyullah Simbah Hasan Munadi dan putranya
Simbah Hasan Dipuro untuk menyebarkan agama islam. Latar belakang
masyarakat yang dahulu sebelum Mbah Hasan Munadi menyampaikan
ajaran-ajaran agama Islam di desa Nytanyono, kebanyakan masyrakat masih
hidup dalam kegelapan iman. Mereka masih bimbang dalam memilih tata
cara yang baik untuk beribadah kepada Sang Maha Pencipta. Masih banyak
diantara mereka menyembah batu, pohon, setan dan lain-lain.

Sendang keramat Kalimah Thoyyibah ini berada di desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Penuturan dari Simbah
Ahmaji, yang telah 32 tahun menjadi penjaga serta sesepuh atau juru kunci
dari sendang Kalimah Thoyyibah ini mengatakan bahwasannya sedang ini
dahulunya hanya sumber mata air yang kecil. Selain itu sendang ini sangat
erat kaitannya dengan Waliyullah Simbah Hasan Munadi serta masjid yang
dibangun berlokasi di dekat sendang dan tempat peziarahan. Simbah Hasan
Munadi sendiri merupakan kang mas atau kakak laki-laki dari Raden Fatah
Demak hanya saja satu bapak beda ibu. Simbah Hasan Munadi juga
merupakan salah satu tokoh penyebar agama islam yang seperjuangan
dengan Walisongo pada masa itu.

Berawal dari masjid peninggalan yang dibangun oleh simbah Hasan
Munadi bersama putranya, dimana masjid tersebut oleh walisongo
diambilkan satu cagak dari masjid di Demak. Masjid peninggalan Mbah
Hasan Munadi lebih tua usianya disbanding dengan Masjid Demak. Dahulu
masjid berbentuk seperti payung dengan satu cagak sebagai penyangga.
Kemudian Mbah Purwohaji ngendika “iki masjid peninggalan wali kok
cagak e mung siji sok yen ono rerejaning jaman ndak dadi pengeram-eram
anak putu” lalu beliau melakukan pertapaan selama satu tahun di
pengimanan masjid dan akhirnya setelah selesai bertapa, cagak satu tadi
dibagi menjadi empat cagak utama yang berada di tengah sebagai penyangga
bangunan masjid.

Masjid sendiri sudah direnovasi sebanyak tiga kali sebab kondisi masjid
yang sudah tua sehingga setiap ada kegiatan di masjid diwaktu hujan akan
bocor dengan iuran dari masyarakat. Sebelumnya para tokoh masyarakat para

82Petilasan merupakan istilah yang diambil dari bahasa Jawa (kata dasar “telas” atau bekas) yang
menunjuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang (yang penting).

68

ulama sowan ke ndalem Simbah Kyai Mad (Watu Congol Muntilan) dan
Simbah Abdul Hamid (Kajuran Magelang) supaya dilancarkan kegiatan
renovasi masjid. Kemudian Simbah Kyai Mad dan Simbah Hamid tindak ke
Nyatnyono berziarah ke makam Simbah Hasan Munadi lalu ke masjid untuk
sholat dhuhur berjamaah. Setelah sholat, simbah Chamid ngendiko atau
memberi sedikit wejangan, Mbah Chamid berpesan “masjid Nyatnyono ojo
dimis-misake gawe ngrumat Mbah Hasan, Simbah Hasan Munadi isih sugih
sesuk dugi mili”. Awalnya masyarakat tidak paham dengan wejangan dari
Mbah Chamid, namun semakin kesini dengan ramainya para pengunjung
sendang mereka paham pesan yang disampaikan Mbah Chamid.

Nama Sendang Kalimah Thoyyibah ini pula pemberian dari Mbah Mad
dan Mah Chamid dengan berharap kepada Allah semoga dengan air dari
sendang ini dapat menjadi lantaran atau obat dari segala hajat orang yang
menggunakan airnya. Selain itu tata cara sebelum melakukan padusan serta
doa-doa yang sudah ditempel di area sendang yang merupakan ijazah dari
simbah Chamid. “Semua itu dari Allah, jadi harus berdoa. Jadi jika
berkunjung kesini dengan membawa hajat kesembuhan, kelancaran rejeki
atau untuk meminta ketenangan ya itu semua datangnya dari Allah. Semua
yang ada di sini hanya menjadi perantara,” ungkap Simbah Ahmaji.

Doa sebelum padusan dan membawa air yakni membaca: (1)
Assalamualaika Ya Nabiyullah Khidhir Balyan bin Malkan ‘Alaihissalam. (2)
Laa ilaa ha Illallah 3x. (3) Asyhadu Anlaa Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna
Muhammadarasulullah. (4) ilaa hadroti waliyullah Hasan Munadi wa
waliyullah Hasan Dipuro Al Fatihah. (5) Sholawat 3x. Adapula tata cara
membawa air pulang dan digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat atau
tawasul terlebih dulu membaca Al Fatihah 7x dan Sholawat 7x. Adapun
larangan untuk para pengunjung yang hendak padusan yaitu tidak boleh
buang hajat diarea sendang, tidak boleh padusan dengan keadaan telanjang
dan untuk perempuan yang sedang udzur disediakan tempat khusus untuk
padusan.

Sendang ditemukan kurang lebih pada tahun 1980 merupakan sumber
mata air yang berada di bawah pohon beringin. Sendang terletak 10 meter
dari tempat padusan yang kemudian disalurkan dengan pralon-pralon dan
bak besar. Air dari sendang tidak pernah habis meskipun musim kemarau
justru semakin banyak pengunjung air semakin deras mengalir. Sedangkan
lokasi mandi dibagi menjadi dua bagian yaitu untuk laki-laki dan perempuan.

4. Nilai-nilai dalam Budaya Padusan

Kultur masyarakat Nusantara cukup familiar dengan sesuatu yang baru
dan membawa perubahan kea rah kebaikan tanpa harus bersikap frontal dan

69

menentangnya83. Kedatangan islam di Nusantara mempengaruhi tradisi yang
berkembang di masyarakat hingga saat ini, meskipun tidak seluruhnya yang
dapat dipengaruhi. Sebelum islam datang sudah ada suata adat atau budaya
yang melekat dalam masyarakat. Namun, dengan datangnya islam telah
membawa warna dan perubahan dalam kebudayaan tersebut. Ada warna
lokalitas dan warna keislaman didalamnya. Selain itu masyarakat Nusantara
juga terbuka dalam hal akulturasi terhadap budaya laindan dalam hal ini
yaitu budaya islam.

Telah dipaparkan di atas bahwasannya pemaknaan atau penilaian dalam
suatu budaya atau tradisi antara satu orang dengan orang lain akan berbeda.
Akan muncul perspektif positif maupun negative yang kemudian
menimbulkan sikap yang terjadi terhadap suatu budaya. Seperti halnya
penilaian atau pemaknaan yang terkandung dalam tradisi padusan oleh
sebagian besar pengunjung di Sendang Kalimah Thoyyibah Nyatnyono.
Tentu ada sebagian pengunjung yang benar-benar memanfaatkan
sebagaimana filosofi yang ada namun tak dapat disangkal jika ada pula yang
menyeleweng dari semestinya.

Sebagaimana kegiatan padusan yang dilakukan di sendang Kalimah
Thoyyibah ini tidak semata-mata mandi, namun siapa saja yang
berkeyakinan atau mempunyai hajat apapun dengan lantaran doa dan air
sendang Kalimah Thoyyibah dapat diijabah oleh Allah. Para pengunjung
yang padusan atau membawa pulang air biasanya memiliki hajat seperti sakit
atau untuk bertawasul lainnya. Bahkan masyarakat sekitar sendangpun
mengunjungi sendang hanya saat mereka memiliki hajat saja. “wong seng
loro lahir loro batin do padus lan zaroh mriki”, tutur Mbah Ahmadi.

Sebenarnya nilai yang terkandung dalam kegiatan padusan ini
tergantung siapa yang melakukan dan bagaimana mereka memknai apa yang
mereka lakukan. Jika niat mereka ke sendang untuk perkara yang baik
Insyaallah akan mendapat kebaikan pula, begitupun sebaliknya. Sebab
pengurus sendang tidak pernah membatasi siapa saja yang boleh berkunjung
ke sendang, entah itu orang muslim atau bukan, berniat baik atau tidak.

Terdapat contoh kecil atas keyakinkannya menggunakan air sendang
sebagai lantaran doa kepada Allah, ada seorang sales pedagang nasrani yang
sering berkunjung ke Mbah Ahmadi , dia sudah lama sakit-sakitan dan
dibawa ke beberapa rumah sakit namun tak kunjung sembuh. Akhirnya oleh
Mbah Ahmadi disarankan untuk berziarah sebisanya asal mantep ke makam
Mbah Hasan Munadi lalu mandi di sendang. Setelah seminggu penyakit yang

83Muhammad Taufik, “Harmoni Islam dan Budaya Lokal”. Vol. 12 No. 2, Juli 2013, Hal 267

70

dialami orang tersebut sembuh kemudian dia masuk islam atas keyakinannya
tadi.

Bahkan beberapa siswa sekolah mulai dikenalkan sendang Kalimah
Thoyyibah dan berziarah ke makam Mbah Hasan Munadi. Biasanya mereka
berkunjung ketika hendak melaksanakan ujian dengan berharap lantaran air
serta bertawasul dengan waliyullah Mbah Hasan Munadi dan Hasan Dipuro
dapat dilancarkan ujiannya. Selain itu salah satu pengunjung mengatakan
“asal mantep dan yang dituju itu bukan airnya tapi tetap berdoanya sama
Allah tapi melalui lantaran air dari sendang dan bertawasul dengan
Waliyullah Mbah Hasan Munadi dan Mbah Dipuro supaya kabul hajta-
hajatnya” (wawancara dengan Ulya Milatun Nadya, 24 November 2022).

5. Pandangan Masyarakat

Bagi sebagian masyarakat hubungan agama dan budaya digambarkan
sebagai hubungan timbal balik. Secara praktis, agama merupakan produk
pemahaman dan pemahaman masyarakat terhadap kebudyaan yang dimiliki.
Sedangkan kebudayaan selalu berubah mengikuti agama yang diyakini oleh
masyarakat itu sendiri, maka hubungan antara agama dan budaya bersifat
dialogis. Selain itu agama menggunakan kerangka atau alat kebudayaan
sehingga muncul perbedaan pemahaman dan praktek keagamaan.

Masyarakat desa Nyatnyono dapat dikatakan sebagai masyarakat yang
tidak buta akan ajaran islam. Hal tersebut dapat dilihat dari histori sejarah
bahwa ada seorang Waliyullah yang mendakwahkan ajaran islam di desa
tersebut yakni beliau Simbah Hasan Munadi dan putranya Simbah Hasan
Dipuro. Namun pada saat itu dapat dikatakan jika perekonomian masyarakat
sekitar masih minim. Kemudian lambat laun dengan bertambahnya
pengunjung di sendang dan peziarah di desa Nyatnyono dapat meningkatkan
perekonomian masyarakat setempat.

Dilihat dari segi ekonomi, keberadaan makam Mbah Hasan Munadi dan
sendang Kalimah Thoyyibah membawa dampak positif bagi masyarakat
yaitu selain pembangunan sarana dan prasarana yang baik dan yang pasti
menjamin kesejahteraan masyarakat meningkat84. Masyarakat sekitar sendang
begitu diuntungkan dengan kedatangan para pengunjung sendang setiap
harinya. Sebab, sebagian masyarakat sekitar dapat menggunakan kesempatan
untuk melakukan jual beli serta sewa menyewa. “Untuk biaya masuk gratis,
kami hanya menyediakan kotak amal untuk merawat makam, sendang dan
masjid”, tutur Mbah Ahmaji

84 Alvian Sai, “Pengelolaan Wisata Religi Makam Mbah Hasan Munadi Dan Hasan Dipuro di Nyatnyono
Kabupaten Semarang Perspektif Sapta Pesona” (Semarang: UIN Walisongo,2018) Hal.91

71

Tidak sedikit dari mereka yang berjualan di kios sepanjang jalan menuju
makam dan sendang. Pedagang menjual berbagai jenis barang dagangan
sebab banyak pengunjung dari anak-anak sampai orang tua, sehingga
dimanfaatkan untuk berjualan makanan, oleh-oleh, pernak pernik, baju,
mainan, bunga, kemenyan, lukisan, buku-buku agama botol dan lain-lain.
Kios-kios tersebut buka selama 24 jam non-stop karena sendang tidak pernah
sepi dari pengunjung baik itu pagi, siang maupun malam hari. Biasanya jauh-
jauh hari pengunjung dari luar kota akan menghungi pihak penjual makanan
untuk memesan makanan bagi para rombongan.

Selain itu, ada juga yang menawarkan penyewaan sarung untuk mandi
atau padusan oleh para pengunjung dengan dibandrol harga kurang dari Rp.
10.000/ sarung. Terdapat juga penginapan milik masyarakat setempat untuk
disewakan pengunjung dan biasanya pengunjung dari luar kota ataupun luar
negeri yang melakukan perjalanan jauh akan menginap. Ada juga ojek
sepeda motor yang akan mengantar pengunjung dari sendang naik menuju
ke area peziarahan. Adapula jerigen untuk membawa pulang air dibandrol
dengan harga Rp. 5.000 sampai Rp. 10.000 tergantung ukurannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat setempat tidak
mempermasalahkan dengan ramainya pengunjung di sendang Kalimah
Thoyyibah Nyatnyono justru mereka juga bisa mendapat penghasilan dari
para pengunjung . Dapat dikatakan dengan banyaknya pengunjung
meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Namun tidak semua
masyarakat terkhusus para remaja sekitar ikut andil dalam merawat sendang
ini karena sibuk dengan pekerjaan dan kebanyakan anak muda di kawasan
sendang berada di pondok pesantren diluar kota. Struktur keanggotaan dari
sendanglah yang selalu berada di kawasan sendang serta merekalah yang
selalu merawat area sendang.

Rutinan slametan pada setiap tanggal satu suro dana acara haul di
makam Mbah Hasan Munadi atau sering disebut dengan Selikuran pada
tanggal 21 Ramadhan juga merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan
proses saling mengenal antar warga masyarakat Nyatnyono ddengan
masyarakat desa atau kota lainnya. Karena dengan kedatangan para
pengunjung yang berasal dari berbagai daerah menimbulkan rasa solidaritas
yang tinggi dan rasa persaudaraan sesame umat muslim.

6. Islam dan Tradisi Padusan di Sendang Kalimah Thoyyibah
Islam merespon budaya local, adat atau tradisi dimanapun dan kapanpun

serta membuka diri untuk menerima budaya local adat atau tradisi sepanjang

72

budaya local atau adat tersebut tidak bertentangan dengan spirit nash Al
Quran dan Sunnah85

Ajaran islam merupakan konsepsi yang sempurna dan komprehensif,
karena ia meliputi segala aspek kehidupan manusia betapa pun hanya garis
besarnya saja yang baik bersifat duniawi maupun ukhrawi. sesuai dengan
firman Allah dalam surat Al Maidah ayat tiga :

ΨΕ Ε N ΕQ Q ℷ㘮 Q ᦈ Ε N Ψ Ε N Q N

Artinya : “pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kapadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai islam
sebagai agamamu.”

Selain itu menurut ulama’ tujuan dari berziarah atau zaroh ke makam
waliyullah sendiri yaitu “ngalap berkahe kekasihe Gusti Allah mergane dewe
kui udu wong suci seng dongone iso langsung tekan tur langsung diijabah
marang Gusti Allah lajeng sakmeniko butuh lantaran”. (tutur Gus Wildan
Attamimi). Dapat diibaratkan seorang yang sering melakukan maksiat ingin
doa-doanya dikabulkan oleh Allah tentu saja tidak akan secepat orang-orang
alim yang berdoa kepada Allah. Oleh karena itu sebagian orang percaya
bahwa berdoa bertawasul melalui orang-orang yang dikasihi Allah akan lebih
mudah didengar oleh Allah dan dikabulkan.

Kesimpulan

Sendang Kalimah Thoyyibah ini diyakini sebagian orang sebagai
wasilah melalui Waliyullah Simbah Hasan Munadi kepada Allah untuk
mengabulkan hajat seorang yang padusan atau membawa pulang air. Banyak
orang dari beberapa daerah bahkan luar negeri dengan berbagai hajat
berkunjung ke sendang untuk padusan dan membawa pulang air sendang.
Biasanya mereka yang melakukan padusan juga melakukan ziarah di makam
Waliyullah Simbah Hasan Munadi dan Simbah Hasan Dipuro yang letaknya
tidak jauh dari sendang dan masjid yang dibangun beliau. Kemantapan dan
keyakinan sebagian orang yang berkunjung menjadikan sendang dan lokasi
peziarahan tidak pernah sepi baik pagi, siang bahkan tengah malam.

Jadi bukan kita menduakan Allah dengan minta untuk dikabulkan
hajatnya oleh air sendang dan Mbah Hasan Munadi, namun keduanya hanya
sebagai lantaran atau wasilah terpanjatnya doa-doa kita kepada Allah. Jadi
salah satu upaya kita supaya tidak terjadi kekeliruan persepsi dalam
memaknai suatu perkara yakni dengan memperdalam filosofinya. Selain itu
kita harus giat dalam mensyiarkan ajaran agama islam agar orang-orang

85 Baedhowi, Kearifan Lokal Kosmologi Kejawen dalam Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan
Global, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008). Hal 65

73

awam tidak terjerumus dalam suatu tindakan yang tidak sesuai dengan
perintah Allah. Tidak salah pula kita tetap melestarikan budaya nenek
moyang asal didalamnya tidak mengandung nilai kemusrikan akan tetapi
budaya tersebut dapat dipadu padankan dengan nilai-nilai islam.

74

NILAI-NILAI ISLAM PADA TRADISI SADRANAN DI DESA
TLOGOPUCANG, KECAMATAN KANDANGAN, KABUPATEN

TEMANGGUNG

Ervina Desi Anggraeni
53040190046

Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak suku di

dalamnya. Di dalam suku tersebut tentu saja masing-masing suku memiliki
budayanya sendiri. Walaupun masih terdapat di dalam satu suku, banyak
tradisi yang sama dan pastinya banyak yang berbeda. Hal tersebut sebagian
besar disebabkan karena peninggalan nenek moyang di setiap daerahnya.

Islam dan budaya memiliki hubungan yang erat. Di dalam Islam sendiri
terdapat nilai universal dan absolut. Namun, Islam sebagai dogma tidak kaku
dalam mengahadapi zaman dan perubahannya. Islam selalu mengenalkan
dirinya dengan luwes, ketika menghadapi masyarakat yang dijumpainya
dengan beraneka ragam budaya, adat kebiasaan atau Tradisi.86

Seiring dengan berjalannya waktu, budaya dan praktik keagamaan umat
Islam di Indonesia sangat beragam. Indonesia semakin modern, tradisi-tradisi
khas Islam di Indonesia harus dijaga dan dikuatkan. Karena selain inovasi
teknologi, budaya dan agama juga rentan tercerabut dari akarnya.

Islam dan budaya memiliki relasi yang tak terpisahkan, dalam Islam
sendiri ada nilai universal dan absolut sepanjang zaman. Namun demikian,
Islam sebagai dogma tidak kaku dalam mengahadapi zaman dan
perubahannya. Islam selalu memunculkan dirinya dalam bentuk yang luwes,
ketika menghadapi masyarakat yang dijumpainya dengan beraneka ragam
budaya, adat kebiasaan atau Tradisi.87

Sebagai sebuah kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling
mempengaruhi, agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya
perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi
(parennial) dan tidak mengenal perubahan (absolute). Sedangkan
kebudayaanbersifat partikular, relatif, dan temporer. Agama tanpa
kebudayaan memang dapat berkembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa
kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat. Islam

86 Kastolani dan Abdullah Yusuf, “Relasi Islam dan Budaya Lokal. Studi Tentang Tradisi Nyadran di Desa
Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang”, Kontemplasi, Vol. 04 No. 01 (2016), hal. 2

87 Ibid

75

merespon budaya lokal, adat atau tradisi sepanjang budaya lokal, adat atau
tradisi tersebut tidak bertentangan dengan spirit nash Al-Quran dan Sunnah.88

Sehingga dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan Islam adalah suatu
budaya yang dihasilkan oleh sekelompok masyarakat yang tidak
menyimpang dari ajaran agama Islam. Salah satu cara untuk
mengembangkan kebudayaan yaitu dengan cara akulturasi melalui berbagai
bentuk kultur yang ada.

Seperti halnya tradisi kebudayaan di suku Jawa. Masing-masing daerah
yang bersuku Jawa memiliki banyak tradisi kebudayaan yang berbeda.
Dengan demikian, di setiap daerah tersebut memiliki tradisi kebudayaan
masing-masing yang memiliki nilai-nilai Islam di dalamnya. Salah satu
tradisi kebudayaan yang berakulturasi adalah tradisi Sadranan.

Tradisi berasal dari bahasa Latin, yaitu tradition yang berarti “diteruskan
‟ atau “kebiasaan”. Dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu
yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu
kelompok masyarakat.89

Sadranan atau nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang
berarti keyakinan. Ketika nyadran, masyarakat di pedesaan membersihkan
makam. Selain itu, masyarakat juga melakukan nyekar atau tabur bunga dan
mendoakan leluhur masing-masing agar mendapat tempat yang baik disisi
Tuhan. Puncak dari upacara nyadran adalah kenduri selamatan di rumah
masing-masing.90

Tradisi Sadranan adalah suatu adat istidat peninggalan nenek moyang di
suatu daerah tertentu yang dilaksanakan oleh masyarakat dengan memiliki
tujuan untuk dicapai.Tradisi Ini merupakan tradisi Islam yang ada di Jawa.
Istilah Islam Jawa dalam konteks tulisan ini dipahami sebagai sistem
keyakinan dan ibadah setempat yang berbeda dengan Tradisi Islam pada
umumnya. Dengan demikian, tradisi Islam ini juga merujuk pada beragam
praktik iman, ritual, keyakinan dan religiusitas masyarakat muslim yang
berkembang pada waktu dan wilayah tertentu terutama di Jawa. Dalam
konteks ini, bisa dilihat bahwa Islam Jawamemberi warna, menyerap bahkan
meng-Islamkan budaya pribumi. Sebagai wujud artikulasinya, bisa dicermati
pada beberapa kasus dimana unsur-unsur ibadah pra-Islam diberi makna

88Kastolani dan Abdullah Yusuf, “Relasi Islam dan Budaya Lokal. Studi Tentang Tradisi Nyadran di Desa
Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang”, Kontemplasi, Vol. 04 No. 01 (2016), hal. 3

89Anton dan Marwati, “Ungkapan Tradisi Onal dalam Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Bajo di
Pulau Balu Kabupaten Muna Barat”, Jurnal Dinamika, Vol. 03 No. 15 (2015), hal. 3

90Gesta Bayuadhy, Tradisi-Tradisi Adiluhung Para Leluhur Jawa, Yogyakarta: DIPTA, 2015, hal. 98

76

Islam, dan dalam kasus lain juga dilakukan interpretasi terhadap unsur-unsur
Tradisi tekstual untuk merumuskan ibadah naratif, ritual, dan sosial.91

Salah satu daerah yang melakukan tradisi Sadranan di pulau Jawa yaitu
kabupaten Temanggung, tepatnya di desa Tlogopucang kecamatan
Kandangan. Sadranan di desa Tlogopucang dilaksanakan pada 11 Muharram.
Tradisi ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan yang sudah ada sejak
dulu.

Tradisi Sadranan merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki
warga desa Tlogopucang. Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local
wisdom) terdiri dari dua kata kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam
kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hasan Sadily, local berarti
setempat, sedangkan wisdom sama dengan kebijaksanaan. Secara umum,
maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-
gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan bernilai
baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.92

Banyak sekali kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat desa
Tlogopucang selain Sadranan, ialah tradisi Kenduri, Upacara Pernikahan,
peringatan untuk orang meninggal, bersih desa, Haul,Gotong Royong, dan
lain-lain.

Kebanyakan masyarakat terkadang masih kurang memahami kandungan
atau nilai yang ada di dalam tardisi Sadranan tersebut, hanya sebagian atau
beberapa pelaku sejarah saja. Tetapi mereka beranggapan bahwa tradisi ini
merupakan warisan nenek moyang pada zaman dahulu yang memang harus
dilaksanakan dan tidak bisa ditinggalkan.

Nilai dalam bahasa Inggris berarti value, bahasa latin valere (berguna,
mampu akan, berdaya, berlaku, kuat). Nilai adalah rujukan dan keyakinan
dalam menentukan pilihan.93

Nilai ialah sesuatu yang berbentuk abstrak, yang bernilai mensifati dan
disifatkan terhadap sesuatu hal yang ciri-cirinya dapat dilihat dari perilaku
seseorang yang memiliki hubungan yang berkaitan dengan fakta, tindakan,
norma, moral, dan keyakinan.94

Nilai merupakan konsep abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang
baik dan apa yang buruk. Nilai dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak
yang artinya “keberhargaan” (worth) atau “kebaikan” (goodness). Nilai pada

91Ummi Sumbulah, “Islam Jawa dan Akulturasi Budaya: Karakteristik, Variasi, dan Ketaatan Ekspresif”,
El Harakah, Vol. 14 No. 01 (2012), hal. 2

92Sulpi Afandi, “Penanaman Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Meningkatkan Perilaku Keberagaman
Peserta Didik”, Jurnal Atthulab, Vol. 02, No 2 (2007), hal. 5

93Dudung Rahmat Hidayat, Hakikat dan Makna Nilai, 2006, hal.4
94Ade Imelda Frimayanti, “Implementasi Pendidikan Islam dalam Pendidikan agama Islam”, Al
Tadzkiyyah, Vol. 8, No. 2 2017, hal. 230

77

hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada objek. Nilai pada
manusia dipakai dan diperlukan untuk menjadi landasan alasan, motivasi
dalam segala sikap, tingkah laku dan perbuatannya.95

Nilai dapat diartikan sebagai suatu tipe kepercayaan yang menjadi dasar
bagi seseorang maupun sekelompok masyarakat, dijadikan pijakan dalam
tindakannya, dansudah melekat pada suatu sistem kepercayaan yang
berhubungandengan manusia yang meyakininya.96

Tradisi Sadranan merupakan adat istiadat yang sampai saat ini masih
terus berjalan di desa Tlogopucang tanpa ada yang bisa merusak ataupun
meninggalkannya.

Dengan didasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti
mencoba untuk menggali lebih dalam dan mendeskripsikan beberapa nilai
penting dengan melakukan sebuah penelitian yang berjudul “Nilai-Nilai
Islam Pada Tradisi Sadranan di Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan,
Kabupaten Temanggung”.

Berdasarkan judul penelitian di atas, maka peneliti memfokuskan
penelitian pada nilai-nilai Islam apa saja yang terkandung dalam
tradisiSadranan di desa Tlogopucang, kecamatan Kandangan, kabupaten
Temanggung?

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan nilai-nilai Islam yang terkandung
pada tradisi Sadranan di desa Tlogopucang, kecamatan Kandangan,
kabupaten Temanggung.

Dari hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat untuk para
penulis sendiri, bahwasannya tradisi Sadranan memiliki nilai-nilai Islam
yang terkandung di dalamnya. Dari informasi tersebut dapat memberikan
informasi secara teoritis dan praktis, yaitu: (1) Manfaat Teoritis, diharapkan
dapat memperkaya hasanah ilmu pendidikan

dalam bermasyarakat yang didapatkan dari penelitian di lapangan ini;
(2)Manfaat Praktis, diharapkan masyarakat mampu memahami nilai dan
makna yang terdapat didalam prosesi tradisi Sadranan yang telah
dilaksanakan dengan mempraktikkan sikap atau perilaku positif
dalamkehidupan bermasyarakat.

Penelitian terdahulu seperti yang dilakukan oleh Yussi Utami (2013),
Tradisi Ngalap Berkah dalam Upacara Adat Sadranan di Kelurahan
Pundungsari, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa

95Muhammad Saefullah, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi Nyadran di Desa Traji Kecamatan
Parakan Kabupaten Magelang”, Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, 2018, hal. 81

96Nuraini, “Internalisasi Nilai-Nilai PAI Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Rohaniah Islam”, Jurnal ANSIRU
PAI, Vol. 3 No. 2, 2019, hal. 51

78

Yogyakarta, bentuk penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil
penelitian ini ditemukan bahwa kepercayaan agama Jawa adalah Allah, Allah
adalah pengatur segala kehidupan yang ada di dunia ini, dan hanya Allah
Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Allah. Selain itu fungsi
kebudayaan atau adat istiadat adalah untuk melestarikan budaya yang sudah
ada dari peninggalan nenek moyang terdahulu.

Muhammad Wahid (2015), Tradisi Nyadran Lintas Agama di Dusun
Kemiri Desa Getas Kaloran Temanggung Penelitian ini menggunakan
metode Kualitatif-deskriptif. Hasil penelitian ini salah satunya adalah Tradisi
nyadran lintas agama memberikan kontribusi yang sangat berguna terhadap
kehidupan beragama yaitu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha
Esa sesuai dengan agama masing-masing, serta sebagai sarana untuk
meningkatkan toleransi antar umat beragama dan mempersatukan
masyarakat antar umat beragama.

Metode

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan
metode penelitian lapangan (field research). Penelitian kualitatif atau
qualitative research merupakan jenis penelitian yang menghasilkan
penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan
prosedur-prosedur statistik atau dengan cara kuantitatif lainnya. penelitian
kualitatif merupakan prosedur penelitian yang mampu menghasilkan data
deskriptif berupa ucapan, tulisan, dan perilaku dari orang-orang yang diamati.

Melalui metode deskriptif ini, diperoleh dua sumber data yaitu sumber
primer dan sekunder. Sumber primer dari penelitian ini diperoleh dari hasil
wawancara mendalam (in dept interview) oleh narasumber dan observasi
terkait yang akan diteliti. Peneliti datang menemui narasumber dan menggali
data dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Informan penelitian ini
yaitu salah satu warga di desa Tlogopucang.

Selain itu untuk memperkuat hasil data wawancara dari narasumber juga
menggunakan data sekunder yakni penelitian kepustakaan (library research)
menggunakan beberapa referensi dari beberapa jurnal, buku dan lain-lain.
Jadi, peneliti mengkaji beberapa pustaka untuk mengumpulkan data yang
diperlukan.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan
interview atau wawancara. Analisis data menggunakan deskriptif analisis.

Hasil dan Pembahasan
1. Tradisi Sadranan

79

Tradisi berasal dari kata Latin traditio yang berkata dasartrodere,
memiliki arti menyerahkan, meneruskan, turun temurun. Tradisi menurut
etimologi adalah kebiasaan, sedangkan menurut terminologi adalah adat atau
kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun (dari nenek moyang) yang
masih dijalankan masyarakat.97

Sadranan adalah ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Sadranan ialah sebagai proses membersihkan hati. Pengertian Sadranan
dalam pemahaman ini didasarkan pada asal kata Sadran “ sodrun, sadran,
sudra” yang berarti dada atau hati, berkumpul dengan orang awam dalam
situasi sama. Mengartikan nyadran sebagai Tradisi mengunjungi makam
leluhur yang diambil dari bahasa sanskerta “ sadra ” . Pada sebagian
masyarakat Jawa, kata sadra kemudian dirubah dengan sadran atau nyadran
yang memiliki arti ziarah kubur.

Tradisi Sadranan adalah suatu adat istidat peninggalan nenek moyang di
suatu daerah tertentu yang dilaksanakan oleh masyarakat dengan memiliki
tujuan untuk dicapai.Tradisi Ini merupakan tradisi Islam yang ada di Jawa.
Istilah Islam Jawa dalam konteks tulisan ini dipahami sebagai sistem
keyakinan dan ibadah setempat yang berbeda dengan Tradisi Islam pada
umumnya.

Sadranan adalah upacara tradisi lokalyang sangat umum dilaksanakan
oleh masyarakat Islam yang secara umum merupakan ritual doa-doa dan
sedekahan makanan, yang dimaksudkan untuk mendoakan arwah atau orang-
orang yang sudah meninggal yang didahului dengan prosesi doa bersama
(tahlil dan doa bagi arwah) memintakan pengampunan dosa bagi arwah
masing-masing. Lalusedekah dimaksudkan agar pahalanya dilimpahkan
kepada para arwah yang ada di alam barzah. Jadi inti dari nyadran itu adalah
untuk mengirimkan doa dan pahala amal untuk orang yang sudah meninggal
dunia.98

Bentuk komunikasi sosial dari tradisi upacara Sadranan adalah
penyampaian pesan atau nasihat dari orang-orang tua zaman dahulu kepada
generasi mudanya agar tetap hormat kepada arwah nenek moyang atau
leluhurnya yang diharapkan berimbas kepada menghormati orang tua yang
masih hidup. Selain itu dalam Tradisi Sadranan terdapat bentuk aktualisasi
diri masyarakat sebagai wujud eksistensi diri dalam aktivitas sosial, serta
memupuk hubungan yang baik antar warga.

97Muhammad Saefullah, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi Nyadran di Desa Traji Kecamatan
Parakan Kabupaten Magelang”, Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, 2018, hal. 84

98 Muhammad Saefullah, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi Nyadran di Desa Traji Kecamatan
Parakan Kabupaten Magelang”, Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2, 2018, hal. 85

80

Pada awalnya, Sadranan adalah tradisi Hindu-Buddha. Kemudian sejak
abad ke-15 Wali Songo menggabungkan Tradisi tersebut dalam dakwah agar
agama Islam mudah diterima oleh masyarakat. Para wali berusaha
meluruskan kepercayaan masyarakat Jawayang waktu itu memuja roh.
Dalam ajaran agama Islam, hal itu dinilai musyrik. Supaya tidak berbenturan
dengan Tradisi Jawasaat itu, maka para wali tidak menghapuskan Tradisi
tersebut. Para walimengisi kegiatan nyadran sesuai ajaran agama Islam, yaitu
dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an, Tahlil, dan Doa.99

Dengan demikian, tradisi Islam ini juga merujuk pada beragam praktik
iman, ritual, keyakinan dan religiusitas masyarakat muslim yang berkembang
pada waktu dan wilayah tertentu terutama di Jawa. Dalam konteks ini, bisa
dilihat bahwa Islam Jawamemberi warna, menyerap bahkan meng-Islamkan
budaya pribumi. Sebagai wujud artikulasinya, bisa dicermati pada beberapa
kasus dimana unsur-unsur ibadah pra-Islam diberi makna Islam, dan dalam
kasus lain juga dilakukan interpretasi terhadap unsur-unsur Tradisi tekstual
untuk merumuskan ibadah naratif, ritual, dan sosial.100

Sadranan merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan sebagai
bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah melahirkan mereka dan
rasa syukur masih diberikan kehidupan.101 Upacara tradisional Sadranan
merupakan warisan turun-temurun dari generasi ke generasi102, oleh karena
itu tradisi ini dapat digolongkan dalam bentuk folklor. John Harold Bruvant
mengelompokkan folklor berdasarkan tipenya menjadi tiga kelompok:103

a) Folklor lisan, yaitu folklor yang bentuknya murni lisan. Misalnya
ungkapan tradisional, pernyataan tradisional, cerita prosa rakyat,
dan nyanyian rakyat;

b) Folklor sebagian lisan, yaitu folklor yang bentuknya merupakan
campuran unsur lisan dan unsur buka lisan. Misalnya kepercayaan
rakyat, permainan rakyat, adat-istiadat, upacara dan pesta rakyat;

c) Folklor bukan lisan, yaitu folklor yang bentuknya bukan lisan
walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folklor ini
ada yang bentuk material dan nonmaterial. Yang berbentuk
material bisa berupa arsitektur rakyat, kerajinan tanga, pakaian
serta perhiasan adat, makanan, alat musik, dan senjata.

99 Gesta Bayuadhy, Tradisi-Tradisi Adiluhung Para Leluhur Jawa, Yogyakarta: DIPTA, 2015, hal. 97
100Ummi Sumbulah, “Islam Jawa dan Akulturasi Budaya: Karakteristik, Variasi, dan Ketaatan Ekspresif”,
El Harakah, Vol. 14 No. 01 (2012), hal. 2
101Made Prasta Yostitia Pradipta, “Pariwisata Berbasis Masyarakat Sebagai Pelestari Tradisi di Desa
Samiran”, Jurnal Kepariwisataan: Destinasi, Hospitalitas dan Perjalanan, Vol. 5 No. 2 (2021), hal. 104
102 Hanun Wuryaningsih, dkk, “Sadranan Sebagai Bentuk Komunikasi Sosial”, Jurnal ASPIKOM, Vol. 2 No.
3 (2014), hal. 200
103Kastolani dan Abdullah Yusuf, “Relasi Islam dan Budaya Lokal. Studi Tentang Tradisi Nyadran di Desa
Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang”, Kontemplasi, Vol. 04 No. 01 (2016), hal. 61

81

Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, tradisi Sadranan masuk ke
dalam kelompok folklor sebagian lisan. Karena selama proses upacaranya
memuat doa-doa (folklor lisan) dan juga uba rampe (folklor bukan lisan).

2. Tradisi Sadranan di Desa Tlogopucang

Tradisi Sadranan di desa Tlogopucang dilaksanakan pada tanggal 11
Muharram yang bertempat di makam Kiai Kramat. Kiai Kramat dipercayai
sebagai Kiai yang menyebarkan agama Islam di desa Tlogopucang.104 Konon
katanya, dahulu ketika zaman penjajahan, desa Tlogopucang tidak terlihat
dari mata para penjajah. Sehingga pemimpin desa Tlogopucang melakukan
nadzar untuk melaksanakan syukuran di makam Kiai Kramat.105
Dilaksanakan pada tanggal 11 Muharram, karena penganut agama Islam
banyak yang melaksanakan puasa sunnah selama 10 hari di awal bulan
Muharram. Sehingga pada tanggal 11-nya dilakukan perayaan tradisi
Sadranan.

Secara garis besar, tradisi Sadranan di desa Tlogopucang dilaksanakan
sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas segala yang telah diberikan-
Nya untuk desa Tlogopucang. Karena sampai saat ini desa Tlogopucang
masih diberi keamanan, kesejahteraan, dan dipermudahkan rezekinya. Selain
itu, juga dilakukan pengiriman doa kepada pendiri desa Tlogopucang dan
para leluhur.

Pelaksanaan acara Sadranan biasanya dimulai pagi hari, dimana seluruh
masyarakat berangkat dari rumah masing-masing membawa tenong. Tenong
merupakan salah satu tempat untuk menaruh makanan yang terbuat dari
bambu dan berbentuk tabung. Di dalamnya terdapat bucu, yaitu nasi yang
dibentuk menjadi kerucut. Kemudian diisi sayur, lauk pauk, dan buah-buahan.
Tidak ada ketentuan khusus harus membawa makanan apa, cukup dengan
membawa makanan sehari-hari.

Setelah dilakukan tahlil dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan
acara makan-makan yang dilakukan di tempat yang sama. Tidak hanya
memakan makanan yang dibawa sendiri, masyarakat biasanya saling
bertukar makanan. Setelah itu warga desa Tlogopucang bersama-sama
membersihkan makam-makam leluhur yang terdapat di gunung Keramat.

Masyarakat desa Tlogopucang sangat antusias untuk melaksanakan
kegiatan tradisi Sadranan di setiap tahunnya. Hal ini dibuktikan dengan
wawancara yang sudah peneliti lakukan bersama salah satu warga desa
Tlogopucan, “Warga desa Tlogopucang sangat antusias untuk ikut andil

104Laura Andri R. M., “Konservasi Budaya Seni Tradisi Desa Tlogopucang Kabupaten Temanggung”,
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, Vol. 3 No. 2 (2020), hal. 185

82

dalam setiap rangkaian kegiatan Sadranan ini. Mereka berbondong-bondong
datang ke hutan Kramat untuk melaksanakan doa bersama. Sehari sebelum
kegiatan Sadranan dilaksanakan, mereka menyiapkan makanan yang akan
dibawa besok pagi” ucap salah satu warga desa Tlogopucang bernama Kiky
Tadzkirotul.

Dari ucapan beliau, dipastikan bahwa masyarakat desa Tlogopucang
sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Sadranan dari pagi
sampai siang. Bahkan untuk mempersiapkan apa saja yang harus mereka
bawa, mereka mempersiapkannya dari sehari sebelum kegiatan dilaksanakan.
3. Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Sadranan di Desa Tlogopucang

a) Nilai Ibadah

Secara etimologi, ibadah memiliki arti mengabdi atau menghamba.
Makna sesungguhnya dalam ibadah ketika seseorang itu diciptakan tidak
semata-mata dia di dunia ini tanpa ada tujuan dibalik penciptaannya tersebut
menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa ia adalah makhluk Allah SWT
yang diciptakan sebagai insan yang mengabdi kepadaNya. Hal ini seperti
firman ALLAH SWT dalam QS Dzariyat 56:

혀 ΩℷQ ΨΨ N Ψ ˴
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku.”

Bahwasanya manusia diciptakan di dunia ini hanya untuk beribadah
kepada Allah. Ibadah tidak hanya sebatas tentang sholat, puasa atau
membaca Al-Qur’an tetapi ibadah juga berarti segala sesuatu yang Allah
sukai dan ridhoi, baik perkataan maupun perbuatan, secara terang-terangan
maupun diam-diam.

Ibadah dibagi menjadi dua macam, antara lain:

Ibadah khassah (khusus) atau ibadah madhah (ibadah yang memiliki
ketentuan pasti), adalah ibadah yang ketentuan atau pelaksanaannya
ditetapkan oleh nash dan merupakan sari ibadah kepada Allah SWT,
contohya seperti sholat, puasa, zakat, dan haji.

Ibadah ammah (umum), adalah semua perbuatan yang mendatangkan
kebaikan dan dilaksanakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, contohnya
seperti makan, minum, bekerja, dan mencari nafkah. Hubungan dengan Allah
SWT merupakan ibadah yang langsung dan sering disebut dengan ibadah
madhah dan ghoiru madhah.106

106. Desi Nur Arifah dan Badrus Zaman, “Relasi Pendidikan Islam dan Budaya Lokal: Studi Tradisi
Sadranan”, ASNA: Jurnal Kependidikan Islam dan Keagamaan, Vol. 3 No. 1 (2021), hal. 77

83

Adapun bentuk nilai ibadah pada tradisi Sadranan di desa Tlogopucang
yaitu pada saat proses ziarah kubur. Makna ziarah tidak hanya mengunjungi
pemakman semata, akan tetapi terdapat niat untuk mendoakan dan
mengambil pelajaran dari kegiatan ziarah tersebut.107 Di dalam tradisi
Sadranan di desa Tlogopucang terdapat kegiatan tahlilan dan doa bersama
untuk mendoakan para leluhur desa Tlogopucang.

b) Nilai Silaturahmi

Silaturahmi adalah sebuah muamalah yang sederhana namun sangat
fudamental. Kepedulian terhadap keluarga, teman, kerabat, ataupun orang
lain merupakan syariat yang ditegaskan dalam Islam.108 Kata silaturahmi
berasal dari kata yang artinya hubungan atau menghubungkan. Adapun
kata Qή N atau N jamaknya ήQ N berarti rahim atau peranakan
perempuan atau kerabat. Asal katanya dari ar-rahman (kasih sayang), kata ini
digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena dengan adanya
hubunga rahim atau kekerabatan itu, orang-orang berkasih sayang.109

Silat al-rahmi atau biasa disebut denga silaturahmi merupakan tradisi
yang mengakar kuat di Indonesia. Istilah silat al-rahmi juga digunakan dalam
kegiatan masyarakat seperti silat al-rahmi budaya, silat al-rahmi politik, silat
al-rahmi antar umat beragama dan lain-lain. Budaya ini merupakan
implementasi dari anjuran Rasulullah SAW., yang terekam dalam beberapa
riwayat. Salah satunya terdapat dalam kitab Sahih Muslim:110

Ψ N Q ήQ 䁒Q N ΨΨ J Q ΨΩ N ήN Ϧ

Artinya: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan
ajalnya maka hendaklah ia bersilaturahmi” (HR. Muslim)

Adapun nilai silaturahmi pada tradisi Sadranan di desa Tlogopucang
yaitu pada saat masyarakat saling bertemu di dalam tempat dan waktu yang
sama. Adapun tujuan silaturahmi sendiri yaitu untuk mempererat tali
persaudaraan yang terdapat di kalangan masyarakat.

c) Nilai Muamalah

Muamalah adalah tukar-menukar barang atau sesuatu yang memberi
manfaat dengan cara yang ditentukan seperti jual beli, sewa menyewa, upah
mengupah, pinjam-meminjam, dan lainnya.111 Secara etimologi, kata

107. M. Misbahul Mujib, “Tradisi Ziarah dalam Masyarakat Jawa”, Ibda: Jurnal Kebudayaan Islam, Vol. 14
No. 2 (2016), hal. 207

108. I Made Cahyana, dkk., “Silaturahmi Melalui Media Sosial Prespektif Hadits”, Al-Hikmah: Jurnal
Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam, Vol. 3 No. 2 (2021), hal. 213

109. A. Darussalam, “Wawasan Hadis Tentang Silaturahmi”, Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Hadis, Vol. 8 No. 2
(2017), hal. 118

110. Lilik Ummi Kaltsum, “Hubungan Kekeluargaan Prespektif Al-Quran: Studi Term Silaturahmi Dengan
Metode Tematis”, Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Vol. 6 No. 1, (2021), hal. 12

111. Nur Afifah, Muamalah dalam Islam, (Semarang: Mutiara Aksara, 2019), hal. 1

84

muamalah berasal dari ,,,,,,,,, yang berarti saling bertindak, saling berbuat,
saling mengamalkan. Secara terminologi, muamalah terbagi menjadi dua arti
yaitu muamalah secara luas dan muamalah secara sempit. Pengertian
muamalah secara luas, al-Dimyati memberikan rumusan:

˴ ΩΩ Q Q㘮 N Q䁒 N

Artinya: “Menghasilkan dunawi, supaya menjadi sebab suksesnya
masalah ukhrawi”

Muhammada Yusuf Musa mengatakan, muamalah adalah peraturan-
peraturan Allah yang harus diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat
untuk menjaga kepentingan manusia. Dari pengertian para ahli tersebut,
mengartikan muamalah secara luas sebagai peraturan yang Allah ciptakan
untuk mengatur hubungan manusia dengan sesamanya untuk mencapai
kesuksesan kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Adapun muamalah dalam arti sempit, Hudhari Bek memberikan
rumusan pengertian yaitu:

ΩℷϟΨ Ω Ω N ℷ N Q ΕΕ ℷ N
Artinya: “Muamalah adalah semua akad yang membolehkan manusia
saling menukar manfaat”

Sedangkan ulama lain, Rasyid Ridha mengartikan muamalah adalah
tukar menukar barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang
telah ditentukan. Dari pengertian kedua ahli tersebut, didapat kesimpulan
muamalah secara sempit adalah atura-aturan Allah yang mengatur hubungan
manusia denga sesamanya dalam kaitannya untuk memperoleh dan
mengembangkan harta benda.112

Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai muamalah pada tradisi
Sadranan di desa Tlogopucang yaitu pada saat kegiatan makan bersama
setelah proses ziarah dilakukan. Contohnya yaitu pada saat masyarakat saling
bertukar makanan, sehingga masing-masing dari mereka bisa menikmati
makanan satu sama lain.

Kesimpulan
Islam berkembang di Indonesia salah satunya melalui akulturasi budaya.

Salah satu tradisi yang mengalami akulturasi budaya yaitu tradisi Sadranandi
desa Tlogopucang, kecamatan Kandangan, kabupaten Temanggung.
Terdapat nilai-nilai Islam yang terkandung pada tradisi Sadranandi desa
Tlogopucang ini, antara lain (1) nilai ibadah, yaitu pada saat dilaksanakannya

112. Fathurrahman Azhari, Qawaid Fiqhiyyah Muamalah, (Banjarmasin: Lembaga Pemberdayaan Kualitas
Ummat, 2015), hal. 133

85

ziarah kubur untuk mendoakan para leluhur desa Tlogopucang; (2) nilai
silaturahmi, yang terjadi pada saat masyarakat desa Tlogopucang bertemu di
satu tempat yang sama, sehingga dapat mempererat tali persaudaraan; (3)
nilai muamalah, terjadi pada saat warga desa Tlogopucang saling bertukar
makanan saat makan bersama setelah dilakukannya prosesi ziarah kubur.

86

87

TRADISI TEMON NGANTEN DI DESA RECO KABUPATEN
WONOSOBO

Elisatun Munawaroh
53040190006

Pendahuluan

Tradisi upacara yang dilakukan untuk menjaga kebudayaan kita agar
kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur kita tidak hilang, maka tidak
sedikit juga seseorang yang akan melakukan pernikahan menjalankan tradisi
atau upacara-upacara yang diwariskan.113Wonosobo merupakan kabupaten di
Jawa Tengah yang masih kental dengan adanya tradisi dan kebudayaan.
Temon nganten adalah acara pra pernikahan yang terjadi di desa Reco,
kecamatan Kertek, kabupaten Wonosobo. Acara ini biasanya dilakukan
sebelum acara pernikahan untuk mempertemukan pengantin laki-laki dan
pengantin perempuan beserta keluarga besar dari keduanya. Temon berarti
bertemu dan nganten berarti pernikahan. Jadi temon nganten yaitu acara
untuk bertemunya antara kedua belah pihak antara pengantin laki-laki dan
pengantin perempuan sebelum acara pernikahan.114

Tradisi temon nganten ini sudah turun temurun dilakukan oleh calon
pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan yang dilakukan sebelum
acara pernikahan. Maka dengan adanya temon nganten ini perlu dikaji apa
manfaat yang bisa didapatkan dari acara ini. Banyak masyarakat yang tidak
tahu bahkan tidak mau tahu tentang manfaat dan hukum dari tradisi temon
nganten ini dari sudut pandang agama. Maka diperlukan penelitian ini untuk
mengetahui tentang hukum dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi
temon nganten tersebut.

Kajian pustaka merupakan kajian teori-teori yang diperoleh dari pustaka-
pustaka yang berkaitan dan mendukung penelitian yang akan dilakukan.
Perlu adanya tinjauan pustaka dengan tujuan untuk mengetahui persamaan
dan perbedaan serta teori yang digunakan dalam penelitian terdahulu
sehingga dapat diketahui kebaruan yang ada. Pertama, penelitian yang ditulis
Fatichatus Sa’diyah (2020) dengan judul : upacara pernikahan Adat Jawa
( Kajian Akulturasi Nilai-Nilai Islam Dalam Pernikahan Adat Jawa Di Desa
Jatirembe Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik). Pada penelitian ini
menggunakan penelitian kualitatif ,peneliti meneliti tentang bagaimana
pelaksanaan pernikahan adat Jawa di Desa Jatirembe , nilai- nilai apa yang
terkandung didalamnya. Adapun akulturasi nilai-nilai Islam yang terdapat
dalam upacara pernikahan adat tersebut berhubungan dengan akhlak seorang

113 Djoko Mulyono, Jawa Mutiara dibalik Tata Cara Pengantin Jawa, (Jakarta rawangun 2002) h. 23
114Wawancara dengan Kurniawati (Mahasiswa) yang dilakukan pada hari Kamis 24 November 2022.

88

istri terhadap suaminya yang tercerminkan dalam beberapa upacara, juga
akhlak seorang anak kepada kedua orang tua-nya.115 Kedua, penelitian yang
ditulis Misgiharjo Alias Gigih, dkk ( 2021) dengan judul : Eksistensi
Perkawinan Adat Jawa Di Desa Kalibalangan Kecamatan Abung Selatan
Kabupaten Lampung Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian
deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data
menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat melakukan
perkawinan adat Jawa dengan motivasi untuk melestarikan budaya yang
sudah ada, menunjukkan identitas orang Jawa. Adapun nilai yang terkandung
didalamnya yaitu : nilai kemanusiaan, seperti : gotong royong, tolong
menolong sesama masyarkat dan nilai solidaritas.116 Ketiga, penelitian yang
dilakukan oleh Achmad Fajar Anantiyo (2020) dengan judul : Tradisi
Upacara Temon Nganten Pra Nikah Dalam Pandangan Hukum Islam ( Studi
Analisis Di Desa Reco Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo). Penelitian
ini meneliti bagaimana praktik dari tradisi temon nganten dan bagaimana
pandangan hukum Islam dalam menyikapinya. Jenis penelitian yang
digunakan menggunakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif
yang bersifat deskriptif.117

1. Tradisi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tradisi diartikan sebagai adat
kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam
masyarakat atau juga penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah
ada merupakan yang paling baik dan benar.118Secara terminologi, tradisi,
yang berasal dari kata bahasa Inggris tradition, sering juga disamakan dengan
lafadz bahasa Arab ‘adah. Setiap masyarakat bangsa di dunia memiliki
kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat
bangsa lainnya.119

2. Pengertian Pernikahan

Nikah berasal dari bahasa arab, yaitu ( Ψ N ), adapula yang mengatakan
perkawinan menurut istilah fiqh dipakai perkataan nikah dan perkataan

115Fatichatus Sa’diyah, Upacara Penikahan Adat Jawa ( Kajian Akulturasi Nilai-Nilai Islam Dalam
Pernikahan Adat Jawa Di Desa Jatirembe Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik), Al- Thiqah Vol. 3, No. 2
(2020), h. 171

116Misgiharjo Alias Gigih, dkk, Eksistensi Perkawinan Adat Jawa Di Desa Kalibalangan Kecamatan Abung
Selatan Kabupaten Lampung Utara, Jurnal PEKAN Vol.6, No2 (2021), h. 201

117 Achmad Fajar Anantiyo, Tradisi Upacara Temon Nganten Pra Nikah Dalam Pandangan Hukum Islam
( Studi Analisis Di Desa Reco Kec. Kertek, Kab. Wonosobo), Skripsi (Purwokerto : Program Studi Hukum
Keluarga Islam S1 IAIN Purwokerto, 2021).
118 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Pusat Bahasa, 2008),
h.1543
119Rafael Raga Maran, Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta :
PT.Rineka Cipta Karta, 2007), h. 15.

89


Click to View FlipBook Version