The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabilfaiz025, 2023-01-01 20:56:47

Studi Ilsam Indonesia BSA B

Studi Ilsam Indonesia BSA B

190

TRADISI & RITUAL KEMATIAN ORANG ISLAM JAWA

Hikmatus Sa’adah
53040190036

Pendahuluan
Dalam setiap budaya, kematian hampir pasti disertai dengan acara ritual.

Salah satu tradisi nusantara berasal dari suku Jawa yaitu tradisi Kenduri. Saat
seorang Jawa meninggal, upacara kematian berlangsung selama 7 hari.
Kemunculan agama menjadikan tradisi-tradisi nenek moyang sebagai sarana.
Kematian dalam budaya Jawa selalu dilakukan acara ritual oleh yang
ditinggal mati. Setelah orang meninggal biasanya dilakukan upacara doa,
selamatan, pembagian waris, pelunasan hutang dan sebagainya.

Dalam sudut pandang Islam sesungguhnya Allah swt adalah dzat yang
menciptakan manusia yang memberikan kehidupan dengan dilahirkannya ke
dunia, kemudian menjemputnya dengan kematian untuk mengahadap
kembali kepada-Nya. Itulah garis yang telah ditentukan oleh Allah kepada
makhluk-Nya, tidak ada yang dilahirkan ke dunia ini dan hidup untuk
selamanya.

Tradisi kematian orang Islam Jawa dilakukan dengan dengan berbagai
cara yang unik, khas, dan seringkali berbeda antar satu tempat dengan tempat
lain. Pada dasarnya, memang orang Islam Jawa membentuk keyakinan

dalam spiritualitas atas pengalaman batin. Oleh karena itu, bila dicermati
dengan seksama, praktik dan keyakinan dari orang Islam Jawa jika ditinjau
dari antropologi budaya ini menarik untuk diteliti guna mengungkap makna
ritual secara mendalam.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana tradisi & ritual kematian orang Islam Jawa?

2. Apa makna dari tradisi & ritual kematian orang Islam Jawa?

Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana tradisi & ritual kematian orang Islam
Jawa

2. Untuk mengetahui makna dari tradisi & ritual kematian orang Islam
Jawa

Manfaat penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan menambahkan keilmuan
dalam sebuah tradisi atau ritual kebudayaan lainya yang ingin
menyebar luaskan ajaran agama islam melalui media kebudayaan.

191

2. Manfaat Praktis Selain manfaat teoris harapan penulis dari hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk melengkapi
sebuah penelitian, bermanfaat sebagai referensi, sebagai bacaan bagi
peneliti, mahasiswa serta kalangan akademik pada umumnya.

Tinjauan Pustaka

1. Skripsi dengan judul "Pelestarian Tradisi Kormatan dalam Serangkaian
Upacara Adat Kematian Dimasyarakat Kecamatan Ngablak, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah" yang ditulis oleh Vina Perwitasari ini
menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu melalui wawancara,
metode ini digunakan karena beberapa pertimbangan diantaranya
metode ini lebih sesuai digunakan apabila berhadapan dengan
kenyataan yang bersifat jamak dan disajikan langsung antara peneliti
dengan informan. Hasil penelitian yang telah di temukan oleh peneliti
yaitu :

a) Tradisi Kormatan dalam serangkaian upacara adat kematian ini
merupakan budaya nenek moyang atau leluhur yang harus
dijaga dan dilestarikan, untuk itu diharapkan masyarakat
Kecamatan Ngablak melakukan sebuah dokumentasi agar
tradisi ini lestari sampai anak cucu dari masyarakat itu sendiri.

b) Bagi masyarakat Kecamatan Ngablak, jadikan tradisi
keagamaan ini sebagai aset pendidikan spiritual bagi
masyarakat Kecamatan Ngablak dan sekitarnya.

2. Jurnal dengan judul "Pesan Dakwah dalam Tradisi Kenduri Kematian
Masyarakat Suku Jawa di Desa Sipare-Pare Tengah Kabupaten Marbau
Kabupaten Labuanbatu Utara “Studi Kenduri Kematian Hari Ke-40"
yang ditulis oleh Muktarruddin, Nurhalimah & Qurnia Aini Bay ini
menggunakan metode penilaian kualitatif deskriptif. Dari hasil
penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti menyimpulkan bahwa
masyarakat Desa Sipare-pare Tengah adalah mayoritas masyarakat Jawa.
Di mana Masyarakat Jawa telah ada dari zaman dulu ketika nenek
moyang bertransmigrasi dari Pulau Jawa ke Sumatera, tinggal menetap
sampai berkeluarga. Jadi, dapat dikatakan awal mulanya masyarakat
Jawa di Desa Sipare-pare Tengah berasal dari faktor perpindahan, dan
keturunan. Tradisi masih sangat melekat pada masyarakat Jawa sampai
sekarang, dimana itu masih terus dilakukan, salah satunya adalah
kenduri kematian. Menurut masyarakat Jawa, tradisi itu wajib dilakukan
dan dilestarikan dari zaman nenek moyang, karena tradisi masih
berhubungan dengan budaya. Dari sini dapat dilihat kenduri kematian
(khususnya tema kajian hari ke-40) pada masyarakat Jawa Desa Sipare-
pare Tengah memiliki simbol makna filosofi Jawa dan pesan dakwah

192

Islam. Sebagaimana tujuan kenduri kematian adalah memberikan
penghormatan kepada orang yang telah meninggal, dan mendoakan agar
amalannya diterima Allah swt.

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan menggunakan

metode desktriptif. Di mana penelitian kualitatif adalah jenis penelitian
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata
tertulis, atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati)

Pembahasan
1. Pengertian tradisi

Secara etimologi, kata tradisi atau tradisional berarti tatanan, budaya,
atau adat yang hidup dalam sebuah komunitas masyarakat (Mastuhu, 1994:
55) Karenanya, tradisi diartikan konsensus bersama untuk ditaati serta
dijunjung tinggi oleh sebuah komunitas masyarakat setempat. Kata
tradisional juga selalu menunjuk pada hal-hal yang bersifat peninggalan
kebudayaan klasik, kuno, dan konservatif (Haedari, 2006: 13).

Tradisi dalam hal ini juga merujuk pada interpretasi masyarakat terhadap
realitas yang didekati dengan iman dan kepercayaan.Tradisi terbentuk dari
mitos, legenda, epos, sejarah aktual yang pernah ada dan cerminan dari sosok
kehidupan yang menjadi permasalahan pada masa itu.

Bentuk tradisinya sendiri sangat beragam. Mulai dari upacara
keagamaan, upacara perkawinan, upacara kematian, upacara kelahiran,
perayaan hari-hari tertentu serta tradisi dalam bentuk kesenian. Secara
umum, tradisi yang berbeda ini mengikuti pola yang sama dari satu daerah
ke daerah lain, namun terdapat sedikit perbedaan. Ini juga terkait dengan
pengetahuan yang ada di komunitas dan memiliki makna dan filosofi yang
mendasarinya.
2. Tradisi & ritual kematian orang Islam Jawa

1. Memandikan Jenazah
Bagi orang-orang yg meninggal pada keadaan biasa (bukan mati

syahid), wajib untuk dimandikan. Ini terkait fitrah waktu beliau lahir:
dari yang suci kembali ke yang suci. Manusia lahir layaknya kertas
kosong, maka buat kepulangannya pula wajib dibersihkan tubuhnya
terlebih dulu. Dalam hal ini, air membawa naturalitas buat insan sebelum
kembali. Memang, seolah tidak berkaitan jika dicermati bahwa yg lepas
(kembali) itu ruh, sedang jasad hanya akan berkalang tanah. Namun,

193

perlu buat diketahui, bahwa dimensi antara ruh & badan masih terikat.
Dengan demikian, walaupun yg dibasuh merupakan badan, tetapi
maksud buat mensucikan mayat merupakan buat membersihkan ruh
menurut sifat-sifat keduniawian yg pernah dijalani, & pula pembaruan
diri.

2. Mengafani Jenazah

Mengafani mayit sebenarnya hampir sama dengan memberinya
pakaian. Sementara itu, pakaian untuk mayit adalah pakaian yang serba
putih polos (tanpa warna lain). Pakaian putih itu juga tidak boleh ada
jahitan. Yang dibolehkan hanya ikatan di beberapa bagian saja agar tidak
terlepas. Ikatan itu pun ketika di dalam kubur (sebelum ditutup dengan
tanah) harus dilepas terlebih dulu. Ikatan untuk mayit setelah dikafani
bisanya terletak di bagian kiri tubuh agar saat mayit dimiringkan ke
kanan saat penguburan menjadi mudah untuk membukanya.

3. Mensholatkan Jenazah

Shalat mayit dilakukan dengan menghadapi tubuhnya tersebut,
bila dilakukan tanpa mayit (telah dikubur) disebut shalat gha>’ib.
Namun, tata caranya berbeda dengan shalat pada umumnya. Shalat mayit
hanya dilakukan dengan berdiri saja (tidak perlu rukuk, sujud, iktidal,
dan tahyat). Dikhawatirkan bila shalat mayit sampai sujud, seolah-olah
menyembah mayit yang ada dihadapannya. Dalam shalat mayit ini,
biasanya dilakukan oleh tetangga dan kerabat, walau tidak secara
keseluruhan. Beberapa orang perempuan juga turut menjadi makmum,
bagi yang tidak sedang berhalangan.

4. Prosesi sebelum Mengantar Jenazah ke Pemakaman

Sebelum jenazah diantar ke pemakaman, biasanya modin atau
kayim mewakili pihak akan berpidato singkat. Dalam pidato singkat,
intinya, ia ingin menyampaikan apabila almarhum pernah berbuat salah
kepada keluarga, kerabat, maupun masyarakat mohon untuk dimaafkan.
Modin atau kayim juga menanyakan kepada seluruh orang yang ada di
sekitar: bahwa jenazah tidak akan dikuburkan apabila masih memiliki
hutang. Jenazah baru akan dikuburkan apabila sudah benar-benar bersih
dari hutang juga telah dimaafkan kesalahannya selama hidup. Hal ini
dimaksudkan agar kelak hal yang tampaknya sepele tersebut dapat
menjadi siksa kubur yang pedih dan penuh derita. Setelah itu, pihak
keluarga akan melakukan Brobosan atau Tlusupan. Brobosan atau
Tlusupan dilakukan dengan cara masuk ke bawah kolong keranda
jenazah dari kiri ke kanan sewaktu akan diantar ke makam.
Brobosan/Tlusupan dilakukan oleh keluarga yang ditinggal untuk
melepas kepergian mayit ke pemakaman. Hal ini dimaksudkan agar

194

pihak yang ditinggal tidak selalu ingat kepada almarhum.
Brobosan/Tlusupan dilakukan atas dasar bahwa setelah meninggal dunia,
ruh masih sering datang ke rumah. Hal ini berlangsung selama 40 hari.
Oleh karena itu, agar almarhum tidak muncul dalam bentuk ingatan
kepada orang-orang yang ditinggal dilakukan Brobosan/Tlusupan. Boleh
dikatakan, bahwa acara ini seperti pelukan terakhir sebelum mayit
diantarkan ke pemakaman. Dengan perpisahan terakhir, diharapkan
bahwa semua anggota keluarga telah benar-benar ikhlas melepas
kepergian almarhum untuk dikuburkan.

5. Pemakaman Jenazah

Selanjutnya, jenazah tinggal dikuburkan. Jenazah dihadapkan ke
kiblat dengan posisi pipi menempel tanah (sengaja diciumkan ke bumi
sebagai tempatnya kembali, yakni manusia yang berawal dari tanah
kembali ke tanah). Selanjutnya, butiran gethuk (gelu) diselipkan pada
bagian-bagian yang berongga pada jenazah untuk keperluan cengkal agar
jenazah tidak berbaik dari penciumannya ke bumi. Menurut Somad (56),
jenazah sengaja diciumkan ke bumi juga mengambil hakikat dari orang
yang bersujud ketika sembahyang. Dalam proses penantian yang panjang
itu, ia harus bersujud. Oleh karena itu, manusia kembali kepada Allah
juga harus dalam wujud bersujud (dengan mencium bumi).

Kemudian bila dalam proses penguburan tersebut melewati
waktu shalat, maka sebelum diurug dengan tanah harus ada salah
seorang yang azan di atas telinga jenazah tersebut. Lafadz azan sama
seperti halnya azan untuk shalat lima waktu. Setelah itu, langsung saja
disambung dengan iqamat. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk turut
memanggil almarhum untuk shalat. Walaupun ia telah meninggal dunia,
namun posisinya belum dikubur sehingga ruhnya harus turut dipanggil
untuk bersujud kepada Allah SWT. Sejatinya, walaupun ia telah
meninggal dunia, namun ia belum disapa oleh Malaikat Munkar dan
Nakir sehingga belum tercatat sebagai ahli kubur.

6. Takziah

Takziah atau melayat merupakan kegiatan yang cukup lekat
dengan budaya di masyarakat. Takziah adalah sebuah kegiatan yang
dilakukan oleh masyarakat untuk mengunjungi kerabat dekat atau
keluarganya yang tertimpa musibah kematian. Bertakziah atau melayat
hukumnya adalah sunnah. Namun, beberapa ulama mengatakan bahwa
kegiatan ini sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Islam dalam
rangka menguatkan batin dan jiwa dari orang yang terkena musibah
tersebut.

7. Selametan

195

Dalam praktiknya, ada beberapa macam selamatan untuk orang
yang telah meninggal dunia. Pertama, surtanah. Upacara Surtanah yang
bertujuan agar arwah atau roh orang mati mendapat tempat yang layak di
sisi Allah. Upacara ini merupakan kenduri yang dilakukan setelah
pemakaman jenazah selesai dilakukan. Perlengkapan yang diperlukan
adalah tumpeng pungkur (nasi tumpeng yang dibelah secara vertikal
kemudian diletakkan saling membelakangi) ingkung ayam, sayur urap
(gudangan), serta laukpauk. Tumpeng ungkur-ungkuran ini merupakan
simbol penyempurnaan arwah. Sebagian masyarakat mengatakan bahwa
tumpeng ini sengaja diposisikan saling membelakangi dengan maksud
sebagai simbol perpisahan antara arwah dengan kerabatnya. Di samping
itu juga, tumpeng sebagai simbol keikhlasan keluarga terhadap
kerabatnya yang sudah meninggal. Tumpeng membelakangi sebagai
perlambang bahwa mereka tidak akan lagi saling melihat atau saling
bertemu. Kedua, selamatan tujuh hari. Selamatan tujuh hari dilakukan
selama tujuh hari berturut-turut. Selamatan ini biasanya dilakukan saat
malam hari. Ada yang seusai Magrib, ada pula yang seusai shalat Isya.
Ada juga desa yang melakukannya seusai shalat Asar. Artinya,
sebenarnya tidak ada keharusan yang pasti antara malam dan siang, yang
jelas waktunya dilakukan tujuh hari dari mulai jenazah dikuburkan
dengan membaca tahlil dan surat Yasin. Di beberapa lingkungan pondok
pesantren, tidak hanya membaca membaca tahlil dan surat yasin
berturut-turut, melainkan juga membaca al-Qur’an sampai khatam 30 juz.
Untuk membaca al-Qur’an 30 juz ini hanya dipilih beberapa orang yang
benar-benar fasih membaca al-Qur’an dan di-”beri tugas” untuk
membaca al-Qur’an selama 7 hari sampai khatam. Bagi orang desa yang
sangat agraris, rasanya susah untuk menemukan orang yang hafal al-
Qur’an dan mampu membaca secara fasih. Maka itu, budaya ini tidak
terlalu menyebar di kalangan orang Islam Jawa. secara umum. Dengan
adanya selamatan selama tujuh hari ini dimaksudkan agar ia tetap dalam
keadaan beriman kepada Allah SWT sehingga tetap mengingat Allah
SWT. Selama tujuh hari, manusia di dalam kubur akan ditanya
keimanannya oleh malaikat. Ketiga, selamatan 40 hari.

Selamatan 40 hari adalah selamatan untuk almarhum yang telah
meninggal dunia selama 40 hari, terhitung dari saat dia meninggal dunia,
bukan dari mulai dikuburnya. Keempat, selamatan 100 hari (Nyatus).
Selamatan 100 hari (nyatus) adalah selamatan untuk almarhum yang
telah meninggal dunia selama 100 hari, terhitung dari saat dia meninggal
dunia, bukan dari mulai dikuburnya. Kelima, Selamatan Setahun
(Mendak Pisan). Selamatan tahun adalah selamatan untuk almarhum
yang telah meninggal dunia selama satu tahun, terhitung dari saat dia

196

meninggal dunia, bukan dari mulai dikuburnya. Cara menghitungnya
biasanya dua tahun setelah kematian dari waktu meninggalnya si
Almarhum, yang kemudian ditambah tiga hari. Keenam, Selamatan Dua
Tahun (Mendak Pindo). Selamatan dua tahun atau dikenal sebagai
mendak pindo adalah adalah selamatan untuk almarhum yang telah
meninggal dunia selama dua tahun, terhitung dari saat dia meninggal
dunia, bukan dari mulai dikuburnya. Cara menghitungnya biasanya dua
tahun setelah kematian dari waktu meninggalnya si Almarhum, yang
kemudian ditambah satu minggu. Ketujuh, Selamatan Nyewu. Selamatan
nyewu adalah selamatan untuk almarhum yang telah meninggal dunia
selama 1000 hari, terhitung dari saat dia meninggal dunia, bukan dari
mulai dikuburnya. Biasanya, sebelum selamatan nyewu, pihak keluarga
datang terlebih dulu ke makam untuk bersih-bersih, walau ada juga yang
datangnya esok setelah selamatan nyewu sekalian menyiramkan bunga
yang telah didoakan saat selamatan.

Kesimpulan
Dari yang telah dipaparkan pada uraian di atas, maka ada beberapa hal

yang bisa disimpulkan dalam tulisan ini. Pertama, bila dipahami dengan
seksama, bahwa keyakinan dan tradisi kematian Wong Islam Jawa memiliki
nilai luhur yang dapat membuat manusia bisa memahami asal-usulnya, yakni
dari tanah. Tradisi kematian Wong Islam Jawa juga merupakan
penghormatan atas manusia yang telah hidup (menjadi khalifah) di dunia ini.
Dengan seperangkat pengetahuan tersebut, praktik dan tradisi kematian
orang Islam Jawa selalu memiliki unsur simbolik dengan alam lain. Kedua,
Wong Islam Jawadalam memaknai kematian sebagai jalan kembali karena
hakikat manusia itu berasal dari Tuhan. Untuk kembali, manusia tidak
membawa apa-apa kecuali mempertanggungjawabkan perbuatannya selama
ini. Untuk manusia yang telah mendapat pengetahuan spiritual, akan selalu
mendapatkan cahaya dari Tuhan. Adapun untuk kembali, manusia harus
dalam wujud yang suci, dan apabila banyak dosa maka anak yang shaleh
harus senantiasa mendoakannya karena Tuhan Maha pengampun.

197

TRADISI SAPARAN DI DESA TEMANGGUNG KALIANGKRIK
MAGELANG

Artifah
53040190054

Pendahuluan

Tradisi yang dilahirkan oleh manusia merupakan adat istiadat, yakni
kebiasaan namun lebih ditekankan kepada kebiasaan yang bersifat
suprantural yang meliputi dengan nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum
dan aturan yang berkaitan. Dan juga tradisi yang ada dalam suatu komunitas
merupakan hasil turun temurun dari leluhur atau dari nenek moyang.
Manusia dan budaya memang saling mempengaruhi, baik secara langsung
maupun tidak langsung.

Pengaruh tersebut dimungkinkan karena kebudayaan merupakan produk
dari manusia. Namun, di sisi lain keanekaragaman budaya merupakan
ancaman yang besar dan menakutkan bagi pelakunya juga lingkungannya,
bahkan tidak hanya individu, kelompok juga bagi bangsanya. Untuk itu
peran penting dari individu, komunitas juga semua lapisan masyarakat perlu
untuk melestaraikan budaya. Dalam budaya itu sendiri mengandung nilai
moral kepercayaan sebagai penghormatan kepada yang menciptakan suatu
budaya tersebut dan diaplikasikan dalam suatu komunitas masyarakat
melalui tradisi.

Adapun Kebudayaan dirumuskan sebagai semua hasil karya, rasa, cipta
masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan
kebendaan atau kebendaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh
manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya
dapat diabadikan untuk keperluan masyarkat. Berkaitan dengan kebudayaan.
Bangsa Indonesia pada hakikatnya mempunyai kekayaan budaya yang sangat
heterogen, karena corak masyarakat yang multi etnis, agama, kepercayaan,
dan lain sebagainya.

Dengan demikian, negara ini memiliki keberagaman budaya yang
tinggi. Melalui keragaman budaya inilah, yang merupakan identitas bangsa
yang harus dipertahankan dan dipelihara karena mempunyai keyakinan yang
kuat akan tradisi yang berkembang di sekitarnya.

Kota Magelang sendiri dikelilingi banyak gunung, dan masing-
masing warga di sekitar gunung tersebut mempunyai tradisi untuk merasa
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu tradisi saparan yang berada di
desa Temanggung Kaliangkrik Magelang dan dilaksanakan setiap setahun
sekali. Saparan dilaksanakan pada bulan Sofar atau lebih dikenal dengan

198

bulan Sapar bagi masyarakat Indonesia khususnya orang Jawa, adalah bulan
ke dua dalam penanggalan tahun hijriyah. Di berbagai daerah di pulau Jawa
banyak sekali tradisi yang dilaksanakan di bulan sapar ini. Sebut saja saparan
di sekitar lereng gunung Sumbing. Dari berbagai daerah yang melaksanakan
tradisi saparan ini masing-masing mempunyai maksud dan tujuan yang
hampir sama antara satu daerah dengan daerah lainnya. Namun secara umum
maksud dan tujuan dari pelaksanaan tradisi saparan ini adalah memohon
kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa diberi keselamatan
dalammengarungi kehidupan ini.

Rumusan masalah

Fokus permasalahan yang akan dicari jawabanya melalui penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana proses pelaksanaan saparan di Desa Temanggung ?

2. Apa Hubungan Agama Islam dengan Tradisi Saparan ?

Rumusan masalah

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitiini adalah
untuk:

1. Mengetahui bagaimana proses acara saparan di Desa
Temanggung.

2. Untuk mengetahui hubungan Agama islam dengan tradisi saparan

Manfaat penelitian

1. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan menambahkan keilmuan dalam sebuah
tradisi atau acara kebudayaan lainya yang ingin menyebar luaskan
ajaran agama islam melalui media kebudayaan.

2. Manfaat teoritis

Selain manfaat teoris harapan penulis dari hasil penelitian ini
dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk melengkapi sebuah
penelitian, bermanfaat sebagai referensi, sebagai bacaan bagi peneliti,
mahasiswa serta kalangan akademik pada umumnya.

Tinjauan Pustaka

a) Skripsi dengan judul “Tradisi Bersih Desa Dalam Pandangan
Dakwah Isalam (Studi Di Desa Sidodadi Kecamatan Padasuka
Kabupaten Pringsewu)” yang di tulis oleh Nurul Badriyah
Khomsah. Pada penelitian menggunakan metode penelitian
kualitatif, isi dari penelitia ini adalah bersih desa yang sudah

199

dilaksanakan secara turun temurun dan sudah melekat dalam
kehidupan masyarakat sidodadi.261

b) Skripsi dengan judul “Akulturasi nilai Pendidikan islam dan
budaya jawa dana kegiatan merti dusun di dusun krebet kelurahan
sendangsari kecamatan Bantul DIY 2021” Yang ditulis oleh Riska
Yun Astanti . Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif
dari penelitian ini adalah merti dusun yang selalu dilakukan setiap
satu tahun sekali secara turun temurun dan sudah melekat di
masyarakat tersebut yaitu di Dusun Krebet. 262

Landasan Teori

Landasan teori merupakan bagian penelitian yang memuat teori-teori dan
hasil penenlitian yang berasal dari studi kepustakaan yang memiliki fungsi
sebagai kerangka teori untuk menyelesaikan pekerjaan penelitian .

1. Budaya

Kebudayaan merupakan salah satu unsur pembentuk jati diri
bangsa . Dalam pengertian budaya, pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang isinya merupakan alat atau model pengetahuan
yang secara bersama-sama digunakan oleh pendukungnya untuk
memaknai dan memahami lingkungan yang dihadapi dan dijadikan
acuan atau pedoman untuk bertindak sesuai dengan lingkungan
yang ada. Dengan kata lain, budaya adalah standar nilai, etika, dan
moral yang diklasifikasikan sebagai ideal atau apa yang seharusnya
(pandangan dunia) dan operasional dan aktual dalam kehidupan sehari-
hari. Budaya Jawa memiliki karakteristik yakni religius, non doktriner,
toleran, akomodatif, dan oplimatik. Karakteristik seperti ini melahirkan
corak, sifat, dan kecenderungan yang khas bagi masyarakat Jawa.
Dalam kebudayaan Jawa terdapat beberapa nilainilai budaya Jawa
merupakan suatu penghargaan atau gagasan terhadap hasil cipta, karya,
karsa dari masyarakat Jawa pad a umumnya seperti bermacammacam
kegiatan kebudayaan nenek moyang terdahulu yang telah berkembang
seiring zaman dan pengaruhnya contoh adalah dalam kebudayaan merti
dusun.263

2. Merti Dusun

261Nurul Badriyah Khomsah, Tradisi Bersih Desa Dalam Pandangan Dakwah Islam (Studi Di Desa
Sidodadi Kecamatan Padasuka Kabaupaten Pringsewu). Lampung: Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN
Raden Intan Lampung), 2019.

262Riska Yun Astanti , “Akulturasi nilai Pendidikan islam dan budaya jawa dana kegiatan merti dusun di
dusun krebet kelurahan sendangsari kecamatan Bantul DIY 2021. Salatiga : Studi Pendidikan Agama Islam
IAIN Salatiga,2021.

263Prasasti suci . konseling indegeneous : Menggali Nilai- Nilai kearifan lokal Tradisi Sedekah Bumi dan
Tradisi Jawa. Cendekia . vol. 14 .(Oktober 2020) hal.7

200

Merti dusun atau memperingati hari dusun adalah kegiatan selametan
yang melibatkan seluruh warga yang dilaksanakan sekali dalam setahun.
Dalam melaksanakan bersih desa, secara spiritual masyarakat
membersihkan diri dari kejahatan, dosa, dan segala yang dipercaya menye
Merti dusun babkan kesengsaraan.264
3. Saparan

Tradisi Saparan menjadi momen yang begitu ditunggu tiap tahunnya.
Tradisi unik setiap bulan sapar ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur
warga desa atas melimpahnya hasil panen sekaligus tolak bala. Makna
tradisi Saparan adalah memupuk rasa persaudaraan, gotong-royong, dan
kebersamaan warga tanpa memandang status sosial dan ekonomi pada
masyarakat Desa Ngrawan. Kegiatan Saparan menjadi salah satu hal yang
sangat dirindukan. Pada momen ini seluruh masyarakat berkumpul dan
merayakan Saparan bersama-sama teman, saudara, tetangga dan kerabat

jauh dekat.265

Metode penelitian
Penelitian ini dilakukan di rumah pakdhe saya yang terletak di Desa

Temanggung Kalinagkrik Magelang karena beliau merupakan salah satu
sesepuh dan orang yang sangat berperan di desa tersebut. Dengan
menggunakan metode kualitatif . Fokus penelitian ini adalah bentuk
eksistensi upacara yang masyarakat Desa Temanggung yakini menjadi
pedoman hidup dan hambatan serta upaya yang dilakukan dalam
mempertahankan budaya asli Desa Temanggung.

Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara
Teknik pengumpulan data ini peneliti melakukan dengan meneliti ,
mengecek, dan mengamati acara saparan yang dilakukan setiap tahun sekali
dengan hasil wawancara yang akan penelti tanyakan yang diolah sedemikian
rupa dari bentuk aslinya sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk deskriptif
dan gambar secara sistematis, faktual dan akurat.

Hasil dan Pembahasan
1. Pengertian Saparan

Saparan merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat
mataram sejak mereka mengikuti penanggalan jawa sebelum 1633 Masehi,
masyarakat Jawa menggunakan kalender berdasarkan pergerakan matahari

264http://perpus.iainsalatiga.ac.id/lemari/fg/free/pdf/?file=http://perpus.iainsalatiga.ac.id/g/pdf/public
/index.php/?pdf=13203/1/RISKA%20YUN%20ASTANTI-2301017

265https://widyasari-press.com/wp-content/uploads/2021/09/6.-Angelique-Yulica-Dosmaroha-
Perkembangan-Tradisi-Saparan-di-Desa-Ngrawan-Saat-Pandemi-COVID-19.pdf

201

masehi. Sultan Agung Hanyokrokusumo selaku Raja Mataram yang telah
mengubah sistem penanggalan matahari ke bulan dengan demikian seluruh
masyarakat Jawa dan juga Madura kecuali Banten mengikuti penanggalan itu
pandangan hidup orang jawa adalah mengarah pada pembentukan kesatuan
nominous/keyakinan antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati
yang dianggap keramat. Kepercayaan yang menyembah pada roh nenek
moyang. Pelaksanaan upacara yaqowiyyu roh nenek moyang digambarkan
sebagai Kiai Ageng Gribig dan Nyai Ageng Gribig.

Penyembahan pada roh itu akhirnya memunculkan tradisi dan ritual
untuk menghormati roh nenek moyang. Tujuan ritual adalah sebagai bentuk
permohonan kepada roh leluhur agar diberikan keselamatan kepada
keturunannya yang masih hidup. Ritual adat sering dilawankan dengan
kepercayaan Islam, karena dianggap sangat bertolak belakang dengan
kepercayaan agama Islam, tetapi Muhaimin tidak berpendapat demikian,
menurutnya ritualritual adat dalam bentuknya sekarang tidak membahayakan
keyakinan Islam, bahkan telah digolonngkan sebagai manifestasi keyakinan
dan digunakan sebagai syi’ar Islam khas daerah tersebut.266

2. Proses acara saparan di Desa Temanggung Kaliangkrik Magelang

Acara saparan di Desa Temangung Kaliangkrik Magelang dilakukan
setiap setahun sekali . dilakukan pada bulan shofar . Acara ini dipimpin oleh
bapak kepala desa dan juga sesepuh di Desa tersebut . Saparan di Desa
Temanggung biasanya dilakukan pada hari rabu pahing dan kamis pon,
dimulai pada pukul 13.00 atau setelah sholat zuhur dan diakhiri pada hari
kamis pukul 14.30. Adapun acara saparan tersebut yaitu :

1. Sebelum acara saparan dimulai ada ‘nyadran’, yaitu acara bersih-bersih
ke makam, itu tujuannya selain warga bisa berkumpul bersama juga
sebagai kebersamaan karena kalau dilakukan sendiri-sendiri akan
merasa berat. Nyadran dilakukan karena makam-makam didusun tidak
dikasih nisan, hanya sebatang kayu, jadi kalau tidak dibersihkan maka
akan tumbuh rumput dan lama kelamaan kalau tidak dibersihkan nanti
akan hilang. Acara seperti itu tidak harus, misalkan tidak dilakukan juga
tidak apa-apa.

2. Pada malam hari sebelum acara inti, para warga berkumpul di rumah
bapak bayan (dukuh) untuk memanjatkan do’a kepada Yang Maha Esa,
di mulai dengan berdo’a bersama acara Sesaji yang didalamnya ada
beraneka macam makanan dan minuman, itu semua mempunyai makna,
kata sesaji itu berasal dari kata ‘ngajeni’ yaitu dengan mendatangkan

266Iqbal fauzan . Sebab Tradisi Yaqowiyu Tetap Bertahan Pada Masyarakat Di Desa Jatinom Kecamatan
Jatinom Kabupaten Klaten . Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri
Semarang, Indonesia. Vol.2 (2020) hal 271

202

orang-orang untuk ngaji bersama setelah selesai mereka di’ajeni’ atau
dijamu dengan makanan-makanan yang ada dalam sesaji tersebut. Jadi
sesaji itu bukan dipersembahkan buat makhluk halus, melainkan untuk
diri sendiri, kalau misalkan tidak dilakukan akan mendatangkan bahaya,
hal seperti itu tidak di benarkan kalau memang demikian justru harus
diluruskan.

3. Acara puncak, yaitu, dari keluarga tokoh masyarakat, mendatangkan
sanak saudara dan mengundang warga lain yang bertujuan untuk
mempererat tali silaturahmi dan bisa berkumpul bersama dengan
disuguh sebuah kesenian daerah. Acara puncak ini juga dihadiri oleh
warga lain desa, kebanyakan mereka bertujuan hanya untuk sekedar cari
keramaian.

Perlu di tinjau kembali terutama dalam hal penjamuan, karena
sangat berlebihan dalam menjamu, hanpir rata-rata satu kepala keluarga bisa
menghabiskan uang sebesar satu juta rupiah dalam satu hari, itu akan
diraskan begitu beratnya bagi mereka yang bisa dikatakan warga yang
kurang mampu dengan harus mengeluarkan dana sebesar itu, mungkin dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka sudah berjuang dengan susah payah,
apalagi harus ditambah dengan beban biaya yang lebih berat. Dari pihak
yang diundang pun mereka harus bergantian mengundang, apabila di
dusunnya ada saparan, itu juga akan menambah beban seperti mempunyai
ikatan.

3.Hubungan Agama Islam Dengan Tradisi Saparan Berkaitan dengan
Akhlak

Hubungan agama dengan tradisi saparan bisa dikatakan tidak ada( itu
jawaban Sebagian orang awam), misalnya kalau ada juga tidak terlalu
bertentangan dengan islam. Hal ini bisa disimpulkan dari hasil pemaparan
warga, bahwa kebanyakan dari mereka mengatakan acara saparan itu warisan
nenek moyang yang harus tetap di lestarikan dan tidak ada sangkut-pautnya
terhadap agama.

Tetapi yang perlu diperhatikan adalah dalam pelaksanaan seperti yang

sudah dipaparkan diatas, jadi akan muncul suatu pertanyaan apakah acara

yang ada itu sudah sesuai dengan akhlak? Sedangkan akhlak sendiri

mempunyai arti Secara bahasa akhlak berasal dari kata JΕ˴N ˴N

artinya perangai, kebiasaan, watak, peradaban yang baik. Menurut Istilah:

sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melaksanakan

perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Kenyataan sosial

semacam ini adalah tantangan bagi agama-agama, khususnya islam. Agama,

menurut klaim penulis, harus mampu berkomunikasi lebih dekat lagi dengan

masyarakat, terutama komunitas masyarakat pedesaan, seperti halnya warga

203

masyarakat dusun tersebut tentang tradisi saparan. Jika tradisi saparan masih
saja berkukuh dengan pandangannya sendiri, tanpa dikaji kembali melalui
agama, karena masyarakat lereng Sumbing adalah 100% islam, dan
semuanya adalah warga NU, bukan mustahil mereka akan mengabungkan
antara tradisi dan agama dalam acara-acara semacam itu, Inilah tantangan
baru agama islam khususnya bagi kaum intelektual muda khususnya warga
masyarakat lereng Sumbing.

Prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian tentang perilaku
manusia Contohnya, dengan patokan apa dapat dibedakan antara tindakan
yang “benar” dan yang “salah” secara moral atau akhlak? Apakah
kesenangan merupakan satu-satunya ukuran untuk menentukan sesuatu
sebagai yang “baik”? Apakah keputusan moral bersifat sewenang-wenang
atau sekehendak hati?

Maksud utama ungkapan moral atau akhlak bukanlah untuk menegaskan
bahwa demikianlah persoalan yang ada, melainkan untuk menasehati,
mengingatkan, mensyaratkan, menyatakan, atau memprotes bahwa
demikianlah yang harus dilakukan. Sesungguhnya tujuan pertama misi
diutusnya Nabi adalah kajian akhlak. Nabi SAW Bersabda:“ Aku diutus
hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa saparan yang dilakukan di

Desa Temanggung Kaliangkrik Megelang sendiri yaitu tradisi yang bermula
dari bentuk merti desa yang dilaksanakan oleh penduduk desa Temanggung
setiap tahun sekali pada bulan Sapar ( shofar ) . yang mana acara saparan
hanya dilaksanakan pada hari rabu pahing dan kamis pon . Karena Saparan
merupakan upacara syukuran atau slametan atas keberkahan dan kelimpahan
yang telah diterima oleh warga. Masyarakat Desa masih mempertahankan
tradisi Saparan karena memiliki beberapa kemanfaatan dan keberkahan.
Diantaranya yaitu bisa menjaga silaturahmi antar keluarga dan kerabat,
menambah persaudaraan antar teman ataupun orang yang bertamu, memupuk
akhlak dalam berkeluarga dan bertetangga.

204

ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL:

TRADISI SADRANAN DI DESA SEMPULUR

Adib Lutfil Hakim
53040190050

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak budaya yang
berbeda beda di setiap wilayahnya. Islam Indinesia adalah salah satu agama
yang memiliki banyak sekali kebudayaan dan adat istiadat. Islam dan budaya
memiliki relasi yang tak terpisahkan, dalam Islam sendiri ada nilai universal
dan absolut sepanjang zaman. Namun demikian, Islam sebagai dogma tidak
kaku dalam mengahadapi zaman dan perubahannya. Dari setiap masyarakat
tentunya memiliki kebudayaan yang bermacam-macam. Salah satu budaya
yang mengalami akulturasi ialah Tradisi Sadranan.

Tradisi sadranan merupakan Tradisi Islam yang ada di Jawa. Istilah
Islam Jawa dalam konteks tulisan ini dipahami sebagai sistem keyakinan dan
ibadah setempat yang berbeda dengan Tradisi Islam pada umumnya. Dengan
demikian, tradisi Islam ini juga merujuk pada beragam praktik iman, ritual,
keyakinan dan religiusitas masyarakat muslim yang berkembang pada waktu
dan wilayah tertentu terutama di Jawa. Dalam konteks ini, bisa dilihat bahwa
Islam Jawamemberi warna, menyerap bahkan meng-Islamkan budaya
pribumi. Sebagai wujud artikulasinya, bisa dicermati pada beberapa kasus
dimana unsur-unsur ibadah pra-Islam diberi makna Islam, dan dalam kasus
lain juga dilakukan interpretasi terhadap unsur-unsur Tradisi tekstual untuk
merumuskan ibadah naratif, ritual, dan sosial.

Tradisi Nyadran di bulan (Jawa) Ruwah atau yang lazim disebut
Sadranan atau ada juga yang menyebut sebagai ruwahan merupakan suatu
tradisi yang sudah kental didalam kehidupan sosial masyarakat Jawa. Tradisi
Sadranan yang rutin dilakukan pada setiap tahunnya ini sangat ramai
diadakan diberbagai wilayah di Jawa salah satunya di Desa Sempulur,
Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali. Dalam setiap wilayah
memiliki waktu perayaan yang berbeda. Masyarakat Desa Sempulur,
Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali melaksanaan tradisi nyadran
setiap bulan Ruwah dan tanggalnya tergantung pada kesepakatan masing-
masing dukuh.

Di Desa Sempulur, tradisi Sadranan sampai saat ini masih dilangsungkan
dengan meriah. Bahkan acara ini memiliki kedudukan yang penting di mata
masyarakat sekitar. Hal ini ditandai dengan banyaknya warga perantauan
yang menyempatkan untuk pulang kampung ketika tradisi Sadranan ini

205

digelar. Bahkan tidak sedikit pula yang rela mengambil cuti di hari
pelaksanaan nyadran ini. Selain itu, tradisi Sadranan digelar dengan
melibatkan seluruh warga yang ada. Tak sedikit warga asli daerah Sempulur
yang memanfaatkannya sekaligus untuk bersilaturahim dengan cara
berkunjung ke rumah saudara saudaranya.

Tradisi yang dimiliki oleh masyarakat desa sempulur ialah tradisi
kenduri, upacara pernikahan, upacara untuk orang meninggal, bersih desa,
tolak bala, haul, nyadran, wayangan, sambatan, gotong royong, dan lain-lain.

Masyarakat tentunya masih mempercayai suatu ritual yang dilakukan
ketika akan melaksanakan kegiatan, seperti nyumet menyan, sesaji atau sajen.
Mereka percaya dan beranggapan bahwa ritual diatas tentunya wajib
dilakukan ketika hendak memiliki hajat atau acara. Misal ketika ada hajatan
menikahkan putrinya maka membuat sesaji yang dilakukan oleh sesepuh atau
orang yang dianggap pintar oleh masyarakat, karena tidak sembarang orang
bisa melakukannya. Selain itu ketika hendak menikahkan putrinya, khitanan
anak laki-laki, mithoni, membangun rumah maka mereka mencari petung
(mencari hari baik dan laku baik) agar acara yang akan dilaksanakan berjalan
dengan lancar dan tidak ada halangan. Dalam mencari phetung tidak
sembarangan orang bisa, biasanya masyarakat bertanya kepada kiai, dukun,
atau orang pintar yang sudah mereka percayai atau mereka kenal.

Masyarakat terkadang kurang memahami apa yang terkandung di dalam
Tardisi Sadranan tersebut, hanya sebagian atau beberapa pelaku sejarah saja
yang memahaminya. Tetapi mereka beranggapan bahwa tradisi ini
merupakan warisan nenek moyang pada zaman dahulu yang memang harus
dilaksanakan dan tidak bisa ditinggalkan.

Rumusan Masalah

Dengan didasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti
mencoba untuk menggali lebih dalam dan mendeskripsikan beberapa nilai
penting yang ada dalam tradisi Sadranan dengan melakukan sebuah
penelitian yang berjudul Islam dan Kearifan Lokal: Tradisi Sadranan.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai nilai yang
terkandung dalam tradisi sadranan di Dukuh Sempulur, Desa Sempulur,
Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai nilai yang
terkandung dalam tradisi sadranan di Dukuh Sempulur, Desa Sempulur,
Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali.

Fokus Penelitian

206

Fokus penelitian ini adalah nilai nilai yang terkandung dalam tradisi
sadranan di Dukuh Sempulur, Desa Sempulur, Kecamatan Karanggede,
Kabupaten Boyolali.

Kajian Pustaka
Penelitian terdahulu seperti yang dilakukan oleh Akhmad Ilman Nafia

(2010), Ritual Budaya Nyadran Perspektif Pendidikan Islam (Studi kasus di
Desa Candisari Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali Propinsi
JawaTengah), penelitian ini menggunakan penelitian Kualitatif dengan
metode Deskriptif. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa Ritual Nyadran
yang dilakukan masyarakat Desa Candisari memiliki dasar dan tujuan yang
sesuai dengan pendidikan Islam, akan tetapi masih terdapat ritual-ritual yang
dilakukan oleh oknum pelaku budaya tidak sesuai dengan kaidah pendidikan
Islam.

Yussi Utami (2013), Tradisi Ngalap Berkah dalam Upacara Adat
Sadranan di Kelurahan Pundungsari, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung
Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, bentuk penelitian ini adalah penelitian
deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa kepercayaan
agama Jawa adalah Allah, Allah adalah pengatur segala kehidupan yang ada
di dunia ini, dan hanya Allah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain
Allah. Selain itu fungsi kebudayaan atau adat istiadat adalah untuk
melestarikan budaya yang sudah ada dari peninggalan nenek moyang
terdahulu.

Muhammad Wahid (2015), Tradisi Nyadran Lintas Agama di Dusun
Kemiri Desa Getas Kaloran Temanggung Penelitian ini menggunakan
metode Kualitatif-deskriptif. Hasil penelitian ini salah satunya adalah Tradisi
nyadran lintas agama memberikan kontribusi yang sangat berguna terhadap
kehidupan beragama yaitu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha
Esa sesuai dengan agama masing-masing, serta sebagai sarana untuk
meningkatkan toleransi antar umat beragama dan mempersatukan
masyarakat antar umat beragama. Penelitian ini memfokuskan Relasi
pendidikan Islam dengan tradisi sadranan di Dukuh Kadipiro, Desa Genting,
Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali.

Kajian Teori
a) Sadranan

Tradisi yang berkembang di dalam suatu kehidupan masyarakat
dapat lahir melalui dua cara. Cara yang pertama muncul dari bawah melalui
mekanisme kemunculan secara spontan dan tak diharapkan serta melibatkan

207

rakyat banyak. Cara yang ke dua muncul dari atas melalui mekanisme
paksaan.267

Tradisi yang berkembang didalam suatu masyarakat sangat beraneka
ragam. Seperti pada masyarakat Jawa yang sampai saat ini masih memegang
teguh tradisi yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang mereka. Baik tradisi
kelahiran, kematian, dan tradisi-tradisi selamatan lainnya. Salah satu tradisi
yang dipegang oleh masyarakat Jawa saat ini adalah tradisi nyadran. Tradisi
Nyadran adalah upacara selamatan di Jawa untuk menghormati arwah
leluhur yang telah meninggal dunia yang dilaksanakan rutin setahun sekali
menjelang bulan ramadhan tepatnya pada bulan Ruwah atau Sya’ban.268

Partokusumo (1995:246-247) menjelaskan bahwa Nyadran
merupakan cara untuk mengagungkan, menghormati, dan memperingati roh
leluhur. Dalam ritual Nyadran ada dua tahap yaitu tahap selametan dan tahap
ziarah. Pada tahap selametan biasanya orang membakar sesajen baik berupa
kemenyan atau menyajikan kembang setaman. Setelah selesai orang
melakukan sesajen baru orang melakukan tahap ke dua yaitu ziarah ke
makam.269

Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa tradisi nyadran
adalah suatu acara adat selamatan yang dilakukan sebagai bentuk ungkapan
rasa syukur dan penghormatan terhadap leluhur yang dilaksanakan setahun
sekali pada bulan ruwah dalam kalender Jawa. Tradisi nyadran pada
masyarakat Jawa termasuk dalam kearifan lokal.

b) Pendidikan Islam

Pendidikan berasal dari kata didik yang berarti bimbingan, arahan,
pembinaan, dan pelatihan, kemudian mendapat awalan pen dan akhiran an,
yang berarti memberikan bimbingan, arahan, pelajaran, dan sebagainya.
Dalam bahasa inggris terdapat kata education yang berarti pendidikan; dan
kata teaching yang berarti pengajaran.270

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang mulia didalam islam dan
mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebajikan bagi manusia, oleh karena itu
aktifitas manusia dapat menjadikan manusia sebagai makhluk yang
mempunyai nilai moral, baik dalam fungsinya sebagai mu‟abidd. Khalifah fil
ardh atau immarah fil ardh.271

267Sztompka, P. (2008). Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada.hal. 71-72
268Santosa, Imam Budi. (2012). Ziarah Tanah Jawa. Yogyakarta. Intan Cendekia.hal. 53
269Partokusumo, Karkono Kamajaya. 1995. Kebudayaan Jawa Perpaduannya Dengan Islam. Yogyakarta:
Ikatan Penerbit Indonesia.hal 246-247
270 Abbudin Nata. 2014. Tafsir Ayat Ayat Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.hal 59
271 Frimayanti, Ade Imelda. 2017. Implementasi Pendidikan Nilai dalam Pendidikan Agama Islam.
AlTadzkiyyah. Vol. 8, No. 2 hal. 257

208

Pendidikan yang dilaksanakan pada prinsipnya semua sama, yaitu
memberi bimbingan agar dapat hidup mandiri sehingga dapat meneruskan
dan melestarikan tradisi yang hidup di masyarakat.272

Secara bahasa kata islam berasal dari bahasa arab yang diambil dari
kata “salima” yang mempunyai arti “selamat”. Dari kata “salima” tersebut
maka terbentuk kata “aslama” yang memiliki arti “menyerah, tunduk, patuh,
dan taat”. Jadi kata islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh,
tunduk, taat, berserah diri kepada allah dalam upaya mencari keselamatan
dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.273 Menurut muhajir
pendidikan islam adalah usaha-usaha pendidikan yang didasarkan pada dua
dasar utama, yaitu al-qur’an dan hadist. Dari kedua dasar utama tersebut
pendidikan islam itu juga didasarkan pada athar (perkataan nabi), sosial
kemasyarakatan umat, nilai-nilai dan adat kebiasaan umat masyarakat dan
hasil pemikiran para pemikir muslim.274

Badrus zaman Mendefinisikan pendidikan islam ialah upaya sadar
berupa bimbingan dan pengajaran terhadap peserta didik, guna
mengembangkan potensi jasmani maupun rohani berdasarkan nilai-nilai
spiritual dan kemanusiaan agar setelah memperoleh pembelajaran setiap
peserta didik mampu mengamalkan ajaran agama islam, serta terbentuk
kepribadian muslim yang memiliki sifat dan amal perbuatan berdasarkan
ajaran islam. Pendidikan islam dapat dikatakan sebagai pendidikan menurut
islam atau pendidikan islami, yakni pendidikan yang dipahami dan
dikembangkan, dan diajarkan dalam nilai-nilai fundamental yang terkandung
dalam sumber dasarnya, yaitu Al-Qur’an dan as-sunah. Dalam pengertian ini,
pendidikan islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang
medasarkan diri atau dibangun dan dikembangkan dari sumber-sumber dasar
tersebut.275

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam
adalah pendidikan yang islami atau pendidikan yang dipahami,
dikembangkan dan diajarkan dalam nilai nilai yang berdasarkan Al Qur’an
dan As Sunah.

c) Ibadah

272 Zaman, Badrus. Pendidikan Akhlak pada Anak Jalanan di Surakarta. Jurnal Inspirasi, Vol. 2 No. 2
2018.hal. 130

273 Kastolani, & Abdullah Yusof. 2016. Relasi Islam dan Budaya Lokal Studi tentang Tradisi Nyadran di
Desa Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Kontemplasi, Vol. 04, No. 1 .hal. 55

274Muhajir, As’aril. 2011. Tujuan Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an. Jurnal Al-Tahrir, Vol. 11, No.
2.hal. 4

275 Andrioza dan Badrus Zaman. Edutainment dalam Mapel PAI. Jurnal Mudarrisa, Vol. 8, No. 1 2016..
126

209

Ibadah merupakan pengertian dari menghambakan diri atau
mengabdikan diri kepada Allah merupakan inti dari nilai ajaran Islam.
Dengan adanya konsep penghambaan ini, maka manusia tidak
mempertuhankan sesuatu yang lain selain Allah, sehingga manusia tidak
terbelenggu dengan urusan materi dan dunia semata. Dalam Islam terdapat
dua bentuk nilai ibadah yaitu: Pertama, ibadah mahdoh (hubungan langsung
dengan Allah). kedua, ibadah ghairu mahdoh yang berkaitan dengan manusia
lain. Kesemuanya itu bermuara pada satu tujuan mencari ridho Allah SWT.
Suatu nilai ibadah terletak pada dua hal yaitu sikap batin (yang mengakui
dirinya sebagai hamba Allah) dan perwujudannya dalam bentuk ucapan dan
tindakan. Nilai ibadah bukan hanya merupakan nilai moral etik, tetapi
sekaligus didalamnya terdapat unsur benar atau tidak benar dari sudut
pandang theologis. Artinya beribadah kepada Tuhan adalah baik sekaligus
benar.276

Secara etimologi ibadah artinya adalah mengabdi (menghamba).
Makna sesungguhnya dalam ibadah ketika seseorang itu diciptakan tidak
semata-mata dia didunia ini tanpa ada tujuan dibalik penciptaanya tersebut
menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa ia adalah makhluk Allah SWT
yang diciptakan sebagai insan yang mengabdi kepadaNya. Hal ini seperti
firman Allah SWT dalam QS Dzariyat 56:

ΩℷQ ˴㘮ධN Ϧ N Ε ˴

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku.277

Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan bahwa ibadah adalah
semua kegiatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan atas niat
yang ikhlas karena Allah SWT

d) Muamalah

Hubungan antar sesama manusia dalam Islam disebut dengan istilah
Muamalah. Kata muamalah berasal dari bahasa arab yang secara etimologi
sama dan semakna dengan Almufa‟alah (saling berbuat). Kata ini
menggambarkan suatu aktifitas yang dilakukan oleh seseorang dengan
seseorang atau beberapa orang dalam memenuhi kebutuhan masing-
masing.278

Menurut istilah, pengertian muamalah dapat dibagi menjadi dua
macam, yaitu pengertian muamalah dalam arti luas dan pengertian muamalah

276 Ahmad Thib Raya, Siti Musdah Mulia. 2003. Menyelami seluk beluk Ibadah dalam Islam. Bogor:
Kencana. Hal 140

277 Ahmad Thib Raya, Siti Musdah Mulia. 2003. Menyelami Seluk Beluk Ibadah Dalam Islam. Bogor:
Kencana.hal 56

278Haroen, Nasrun. 2007. Fiqh Muamalah, Jakarta: Gaya Media Pratama.hal 2

210

dalam arti sempit. Definisi muamalah dalam arti luas, menurut Muhammad
Yusuf Musa sebagaimana dikutip oleh Hendi Suhendi berpendapat bahwa
muamalah adalah peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan ditaati
dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia. Sedangkan
menurut Hendi Suhendi di dalam buku Fiqh Muamalah, Muamalah adalah
segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan manusia
dengan dengan manusia dalam hidup dan kehidupan. Dari pengertian dalam
arti luas kiranya dapat diketahui bahwa muamalah adalah aturan-aturan
(hukum) Allah untuk mengatur manusia kaitannya dalam urusan duniawi
dalam pergaulan sosial.279

Kesimpulan dari pengertian muamalah diatas adalah segala
peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan
dengan manusia dalam hidup dan kehidupan dan merupakan bagian dari
hukum Islam yang mengatur hubungan antara dua pihak atau lebih, baik
antara seorang pribadi dengan peribadi lain, maupun antar badan hukum,
seperti perseroan, firma, yayasan, negara, dan sebagainya

e) Silaturahmi

Silaturahmi menurut etimologi ialah tali persahabatan atau
persaudaraan. Silaturrahmi berasal dari kata yang artinya hubungan atau
menghubungkan. Adapun kata Qή N atau ή N jamaknya ή NN berarti rahim
atau peranakan perempuan atau kerabat. Asal katanya dari ar-rahmah (kasih
sayang). Kata ini digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena
dengan adanya hubungan rahim atau kekerabatan itu, orang-orang berkasih
sayang.280

Selain bermakna kasih sayang, kata al-rahim juga mempunyai arti
sebagai peranakan (rahim) atau kekerabatan yang masih ada pertalian darah
(persaudaraan). Sehingga dengan begitu kata silaturrahmi dapat diartikan
pula sebagai hubungan atau menghubungkan kekerabatan atau persaudaraan.
Dari sini, silaturrahmi secara bahasa adalah menjalin hubungan kasih sayang
dengan sudara dan kerabat yang masih ada hubungan darah (senasab) dengan
kita.281

Silaturahmi dapat diartikan pula sebagai hubungan atau
menghubungkan kekerabatan atau persaudaraan. Dari sini, silaturahmi secara
bahasa adalah menjalin hubungan kasihsayang dengan saudara dan kerabat
yang masih ada hubungan darah (senasab) dengan kita.282

279Suhendi, 2008. Fiqh Muamalah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.hal 1
280Darussalam. 2017. Wawasan Hadis Tentang Silaturahmi. Jurnal Tahdis. Vol.8. No.2 hal. 118
281 Darussalam. 2017. Wawasan Hadis Tentang Silaturahmi. Jurnal Tahdis. Vol.8. No.2 hal. 119
282 Darussalam. 2017. Wawasan Hadis Tentang Silaturahmi. Jurnal Tahdis. Vol.8. No.2 hal. 119

211

METODE PENELITIAN

Penelitian yang akan penulis laksanakan adalah penelitian dengan
metode penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui berbagai
kondisi, berbagai situasi dan berbagai fenomena realitas sosial yang ada di
masyarakat yang menjadi obyek penelitian.283

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode
penelitian kualitatif yang mendeskripsikan atau menggambarkan suatu
fenomena atau kejadian berdasarkan fakta atau data, kemudian mengkaji
permasalahan yaitu mengkaji dan manggambarkan nilai nilai yang digunakan
oleh masyarakat Desa Sempulur, Kecamatan Karanggede Kabupaten
Boyolali dalam melestarikan tradisi Sadranan. Metode penelitian yang
digunakan untuk mengumpulkan data adalah deskriptif kualitatif dengan
wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Teknik sampling
diambil dengan teknik purposive sampling dan teknik analisis data
menggunakan model analisis interaktif.

PEMBAHASAN

1. SADRANAN

Sadranan, atau lebih dikenal dengan nyadran, merupakan salah satu
kearifan lokal yang masih mengakar kuat pada kebudayaan Jawa. Dalam
istilah Islam Jawa kejawen, nyadran dapat diartikan sebagai kegiatan ziarah
kubur atau pergi mengunjungi makam leluhur untuk berdoa sambil
membawa kemenyan, bunga, dan air. Apabila menilik sejarahnya, nyadran
merupakan hasil dari perpaduan antara beberapa kepercayaan yang
menghasilkan kepercayaan baru antara Hindu, Islam, dan Jawa.284

Nyadran dipercaya telah dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sejak
agama Hindu berkembang di Nusantara. Pada masa itu, istilah nyadran
disebut dengan shraddha, yang memiliki arti iman. Shraddha merupakan
upacara penghormatan terhadap arwah orang-orang meninggal yang
dianggap suci. Inti dari ritual upacara shraddha adalah menunjukkan rasa
hormat kepada leluhur (nenek moyang) dan mensyukuri atas kelimpahan air
dan alam. Pelaksanaan upacara shraddha dilakukan setiap tahun, waktunya
menyesuaikan dengan tanggal kematian seseorang yang dihormati. Namun,
jika pihak keluarga tidak mengetahui tanggal kematian seseorang yang akan
didoakan dalam shraddha, maka ritual dilakukan pada hari yang luar biasa.
Seiring berjalannya waktu, agama Islam mulai masuk dan disebarkan di Jawa.
Kontak budaya antara Islam, Hindu, dan Jawa pun terjadi. Lambat laun

283 Burhan, Bungin. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana. Hal 68
284 Indra Fibiona. 2016. Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: BPNB

212

istilah shraddha berubah menjadi sadranan atau nyadran, yang tradisinya
telah mendapatkan pengaruh nilai-nilai ajaran agama Islam.285

Tradisi Islam ini juga merujuk pada beragam praktik iman, ritual,
keyakinan dan religiusitas masyarakat muslim yang berkembang pada waktu
dan wilayah tertentu terutama di Jawa. Dalam konteks ini, bisa dilihat bahwa
Islam Jawa memberi warna, menyerap bahkan meng-Islamkan budaya
pribumi. Sebagai wujud artikulasinya, bisa dicermati pada beberapa kasus
dimana unsur-unsur ibadah pra-Islam diberi makna Islam, dan dalam kasus
lain juga dilakukan interpretasi terhadap unsur-unsur Tradisi tekstual untuk
merumuskan ibadah naratif, ritual, dan sosial.286

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis pada hari minggu,
27 November 2022, pelaksanaan sadranan di desa Sempulur dilaksanakan
pada setiap tanggal 20 Sya’ban dan berlokasi di area pemakaman umum desa
Sempulur. Pada pelaksanaannya, sadranan di desa Sempulur memiliki
susunan acara yang dimulai dengan berziarah di makam ahli kubur masing
masing warga, kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an bersama
dan dilanjutkan pembacaan dzikir tahlil dan do’anya. Setelah itu ada
sambutan yang disampaikan oleh tokoh masyarakat dan ditutup dengan
membagikan sedekah yang dibawa oleh masyarakat.287

Sedekah yang dibawa masyarakat pada umumnya berupa makanan yang
beragam, seperti tumpengan, berkatan, buah buahan, dan lain lain. Didalam
prakteknya, sedekah yang dibawa oleh masyarakat sempulur dalam tradisi
sadranan ini tidak ditentukan jenisnya, sehingga masyarakat bisa membawa
apa saja yang mereka ingin sedekahkan.288

2. NILAI NILAI YANG TERKANDUNG DALAM SADRANAN

Sadranan adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Tujuan
dari pelaksanaan tradisi sadranan adalah mendoakan paha ahli kubur dan
masyarakat desa Sempulur yang telah meninggal. Dari tujuan tersebut,
sadranan memiliki nilai nilai yang terkandung didalamnya, diantaranya yaitu:

a) Nilai Ibadah

Secara bahasa ibadah berarti menyembah atau mengabdi. Dan secara
bahasa ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan
diridhoi oleh Allah SWT, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzahir
maupun bathin. Dalam Al-Qur’an surat Dzariyat ayat 57:

ΩℷQ ˴㘮ධN Ϧ N Ε ˴

285Indra Fibiona. 2016. Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: BPNB
286Sumbulah, Ummi. Islam Jawadan Akulturasi Budaya: Karakteristik, Variasi dan Ketaatan Ekspresif. el
Harakah, Vol. 14, No. 1 2012. Hal 2
287 Muh Japari. 2022. Wawancara
288Muh Japari. 2022. Wawancara

213

Artinya: dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku.289

Nilai ibadah bukan hanya merupakan nilai moral etik, tetapi sekaligus
didalamnya terdapat unsur benar atau tidak benar dari sudut pandang
theologis. Artinya beribadah kepada Tuhan adalah baik sekaligus benar.
Ibadah merupakan pengertian dari menghambakan diri atau mengabdikan
diri kepada Allah merupakan inti dari nilai ajaran Islam. Dengan adanya
konsep penghambaan ini, maka manusia tidak mempertuhankan sesuatu yang
lain selain Allah, sehingga manusia tidak terbelenggu dengan urusan materi
dan dunia semata. Dalam Islam terdapat dua bentuk nilai ibadah yaitu:
Pertama, ibadah mahdoh (hubungan langsung dengan Allah). kedua, ibadah
ghairu mahdoh yang berkaitan dengan manusia lain. Kesemuanya itu
bermuara pada satu tujuan mencari ridho Allah SWT. Artinya beribadah
kepada Tuhan adalah baik sekaligus benar. Seperti yang sudah dikatakan
Bapak Lanjar “Dalam prosesnya Sadranan mengandung proses tahlil dan doa
bersama pula yang ditujukan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah
karena kita berada di kampung Kadipiro ini, karena sudah diberi kesehatan
dan rezeki dari Allah”.290

Jadi nilai ibadah yang terkandung didalam Tradisi Sadranan merupakan
salah satu sarana untuk beribadah kepada Allah SWT, dalam prosesnya
Tradisi ini juga diiringi dengan pembacaan Tahlil yang dilaksanakan di
makam para leluhur. Selain itu masyarakat memahaminya bahwa Tradisi
Sadranan ini bertujuan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

b) Nilai Muamalah

Kata muamalah berasal dari bahasa arab ℷ N yang berarti (saling
berbuat). Sedangkan menurut istilah, pengertian muamalah dapat dibagi
menjadi dua macam, yaitu pengertian muamalah dalam arti luas dan
pengertian muamalah dalam arti sempit. Definisi muamalah dalam arti luas,
menurut Muhammad Yusuf Musa sebagaimana dikutip oleh Hendi Suhendi
berpendapat bahwa muamalah adalah peraturan-peraturan Allah yang harus
diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan
manusia. Sedangkan menurut Hendi Suhendi di dalam buku Fiqh Muamalah,
Muamalah adalah segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur
hubungan manusia dengan dengan manusia dalam hidup dan kehidupan. Dari
pengertian dalam arti luas kiranya dapat diketahui bahwa muamalah adalah

289 Ahmad Thib Raya, Siti Musdah Mulia. 2003. Menyelami Seluk Beluk Ibadah Dalam Islam. Bogor:
Kencana. Hal 56

290 Ahmad Thib Raya, Siti Musdah Mulia. 2003. Menyelami Seluk Beluk Ibadah Dalam Islam. Bogor:
Kencana. Hal 140

214

aturan-aturan (hukum) Allah untuk mengatur manusia kaitannya dalam
urusan duniawi dalam pergaulan sosial.291

Muamalah merupakan bagian dari hukum Islam yang mengatur
hubungan antara dua pihak atau lebih, baik antara seorang pribadi dengan
dengan peribadi lain, maupun antar badan hukum, seperti perseroan, firma,
yayasan, negara, dan sebagainya.292

Nilai muamalah yang terdapat dalam Tradisi Sadranan bahwa terdapat
hubungan antar warga dalam berkomunikasi dan bertujuan untuk
meneruskan Tradisi nenek moyang pada zaman dahulu. Selain itu nilai
muamalah yang terkandung dalam Tradisi Sadranan ialah terdapat hubungan
antar masyarakat yang harmonis agar terciptanya persatuan masyarakat yang
saling bergotong royong tanpa ada perbedaan satu sama lain.

c) Nilai Silaturahmi

Silaturahmi berasal dari kata yang berarti hubungan, dan kata Qή N
yang berarti rahim atau kerabat. Kata ini digunakan untuk menyebut rahim
atau kerabat karena dengan adanya hubungan rahim atau kekerabatan itu,
orang-orang berkasih sayang.293

Silaturahmi ialah istilah lain dari berbuat baik, menyayangi, mengasihi,
dan memperhatikan keadaan kaum kerabat. Silaturahmi bertujuan untuk
menanamkan dan menumbuhkan rasa persaudaraan yang mendalam sehingga
dapat saling mengetahui, memahami, dan tolong menolong antar sesama,
tanpa membedakan kedudukan, jabatan, atau kekayaan. Dengan demikian
silaturahmi berarti menghubungkan tali persaudaraan merupakan salah satu
pesan moral yang dapat menumbuhkan kepedulian dan kepekaan terhadap
orang lain.294

Nilai silaturahmi merupakan salah satu tujuan yang terkandung didalam
Tradisi Sadranan yang telah dilaksanakan oleh warga masyarakat Dukuh
Kadipiro, dengan adanya silaturahmi maka akan semakin mempererat tali
persaudaraan yang terdapat di kalangan masyarakat.

3. RESPON MASYARAKAT TERHADAP TRADISI SADRANAN

Penyebaran agama Islam di Jawa yang masif tidak dapat dipisahkan dari
peran Wali Songo. Salah satu upaya wali songo dalam penyebaran Islam
adalah memasukkan ajaran agama ke budaya yang telah ada supaya lebih
mudah diterima masyarakat. Upaya tersebut kebanyakan berbuah manis.

291 Suhendi. Fiqh Muamalah. 2008. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hal 1
292 Nurfaizal. Prinsip-Prinsip Muamalah Dan Inplementasinya Dalam Hukum Perbankan Indonesia.
Jurnal Hukum Islam, Vol. XIII, No. 1 2013. Rochimah, Nur Apriliya & Badrus Zaman. 2018. Pendid. Hal 192
293A Darussalam. Wawasan Hadis Tentang Silaturahmi. Jurnal Tahdis, Vol. 8, No. 2 2017.hal 118
294Thohir, Mohamad & Iva Novia. Bimbingan dan Konseling Islam dengan Terapi Silaturahmi pada
Seorang Remaja yang Mengalami Depresi. Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 03, No. 01 2013.hal 81

215

Ritual nyadran merupakan salah satu contoh budaya Hindu dan Jawa Kuno
yang berhasil dimasuki ajaran agama Islam. Hasil dari campuran budaya
Hindu, Jawa, dan Islam membuat kegiatan dalam nyadran sedikit
berbeda. Nyadran menjadi aktivitas kunjungan dan berdoa di kuburan
keluarga.

Tradisi Nyadran sebelum bulan Ramadan yang dilakukan di berbagai
daerah Jawa memiliki ciri khas masing-masing. Beberapa daerah
melaksanakan tradisi ini dengan cara mengunjungi makam leluhur sambil
membawa bungkusan berisi makanan hasil bumi. Bungkusan makanan
tersebut selanjutnya akan ditinggalkan di area makam. Biasanya, pihak
keluarga juga akan meninggalkan uang untuk biaya pengelolaan
makam.Lambat laun, nyadran menjadi ajang pertemuan dan perkumpulan
berbagi makanan tradisional atau saling memberi satu sama lain.Dalam
perkembangan selanjutnya, nyadran berkembang menjadi upacara yang
dilaksanakan sesaat sebelum bulan Ramadan tiba, atau bulan Ruwah dalam
penanggalan Jawa.

Didalam prakteknya sadranan di desa Sempulur masih dilaksanakan
secara rutin dan didukung oleh semua kalangan masyarakat dari yang kecil
sampai yang tua, dari bawah sampai atas dan dari laki laki dan perempuan.
Muh Japari mengatakan dalam wawancaranya bahwa masyarakat desa
Sempulur selalu menyambut dengan baik trasisi sadranan yang dilaksanakan
pada tangga 20 Sya’ban setiap tahunnya tersebut, bahkan alhamdulillah
semakin ramai dan semakin baik setiap tahunnya.295

4. DALIL DALIL SADRANAN

Nyadran merupakan reminisensi dari upacara sraddha Hindu yang
dilakukan pada zaman dahulu kala. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa
nyadran itu berasal dari bahasa Arab NQ 㘮 yang artinya nadzar, kosakata
nadzran kemudian dibaca dengan dialek Jawa menjadi nyadran. Didalam
acara sadranan tersebut terdapat acara tahlilan dan membaca Al-Qur’an yang
pahalanya ditujukan kepada orang yang sudah meninggal.

Para ulama sepakat bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an dan
kalimah thayibah kepada mayit hukumnya boleh, dan pahalanya sampai
kepada mayit. Imam Nawawi dari mazhab Syafi’i menuturkan:

ϴ 砀N Ω N Q Q Ϧ ᦈ N ᦈ Ψ ΋N Ψ

ΩΩ ᦈ Ω ᦈ ΨQ NϦ Ψ N ΕΩ ᦈ N ΕΨ N

Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk mengucapkan salam kepada
(penghuni) kubur, serta mendoakan mayit yang diziarahi dan semua
penghuni kubur. Salam serta doa lebih diutamakan menggunakan apa yang

295Muh Japari. 2022. Wawancara

216

sudah ditetapkan dalam hadis Nabi. Begitu pula, disunnahkan membaca apa
yang mudah dari Al-Qur’an, dan berdoa untuk mereka setelahnya.296

Bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa
tidak hanya tahlil dan doa, tetapi juga disunahkan bagi orang yang ziarah
kubur untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdoa
untuk mayit. Begitu juga Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa,
dalil yang dijadikan acuan oleh ulama’ kita tentang sampainya pahala kepada
mayit adalah bahwa, Rasulallah saw pernah membelah pelepah kurma untuk
ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sembari bersabda “Semoga ini
dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi
kering”. Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah kurma saja
dapat meringankan beban si mayit, lalu bagaimanakah dengan bacaan-bacaan
al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya Tentu saja bacaan-bacaan
al-Qur’an dan lainlainnyaakan lebih bermanfaat bagi si mayit.

Abul Walid Ibnu Rusyd juga mengatakan:

N ΕQ 䁒ή Ϧ N ΕQ J N N N J N

Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya
kepada mayit, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut.297

Dari dalil dan penjelasan dari para ulama tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa pelakanaan Sadranan yang dilakukan di desa Sempulur
boleh dilaksanakan. Karena amaliyah yang dilaksanakan dalam acara
sadranan tersebut memiliki dasar, yaitu fatwa dari para ulama’ serta amaliyah
tersebut tidak melanggar hukum syara’ dan tidak mendatangkan madhorot
bagi pelaksananya.

KESIMPULAN

Nyadran dipercaya sudah dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sejak
agama Hindu berkembang di Nusantara. Istilah nyadran disebut dengan
shraddha, yang memiliki arti iman. Shraddha merupakan upacara
penghormatan terhadap arwah orang-orang meninggal yang dianggap suci.
Ketika islam datang, nyadran diartikan sebagai kegiatan ziarah kubur atau
pergi mengunjungi makam leluhur untuk mendoakan leluhur sambil
menguatkan tali silaturahim antar warga desa Sempulur. Tujuan dari
pelaksanaan tradisi sadranan adalah mendoakan paha ahli kubur dan
masyarakat desa Sempulur yang telah meninggal. Dari tujuan tersebut,
sadranan memiliki nilai nilai yang terkandung didalamnya, diantaranya yaitu:
nilai ibadah, nilai muamalah, dan nilai silaturahmi. Sadranan di desa

296 Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’, juz 5, h. 311
297KH Abdul Manan A.Ghani, Ketua Lembaga Ta'mir Masjid PBNU).

217

Sempulur masih dilaksanakan secara rutin dan didukung oleh semua
kalangan masyarakat dari yang kecil sampai yang tua, dari bawah sampai
atas dan dari laki laki dan perempuan. Pelakanaan Sadranan yang dilakukan
di desa Sempulur boleh dilaksanakan, karena amaliyah yang dilaksanakan
dalam acara sadranan tersebut memiliki dasar, yaitu fatwa dari para ulama’
serta amaliyah tersebut tidak melanggar hukum syara’ dan tidak
mendatangkan madhorot bagi pelaksananya.

218

219

TRADISI LEBARAN KUPAT DI DESA KLEGO, BOYOLALI,
JAWA TENGAH

Sujatmoko Mukti Wiguna
53040190044

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yg memiliki ke aneka ragaman suku bangsa dan
budaya, dari sabang sampai marauke banyak sekali budaya dan tradisi
yang dimiliki di setiap daerahnya, seperti di daerah jawa tengah ada tradisi
tahunan yang selalu di selenggarakan oleh masyarakat sekitar yaitu upacara
wetonan, Saparan, sawalan, dan lain sebagainya. kemudian di daerah jawa
timur ada acara kebo-kebo an, grebek suro yang di lakasanakan setiap
bulan suro dan lain sebagainya. kemudian dari daerah barat kepulauan
nusa tenggara di Indonesia ada bali yang memiliki banyak sekali budaya dan
tradisi yang di yakini dan selalu di jalani oleh masyarakat sekitar, salah
satunya adalah tradisi yang paling terkenal yaitu tradisi upacara ngaben
adalah tradisi kebudayaan yang wajib dilakukan jika ada orang yang
meninggal dunia. budaya- budaya dan tradisi tradisi memiliki makna-nya
tersendiri dari segi sosial, spiritual, hingga dari segi agama dan kepercayaan
yang dianut oleh masyarakat sekitar.

Tradisi adalah kebiasaan turun temurun yang di lakukan oleh masyarakat.
tradisi merupakan cara atau salah satu ritual yang di yakini masyarakat dapat
membantu atau memperlancar perkembangan anggota masyarakat itu sendiri.
misalnya dalam membimbing anak menuju dewasa.

Agama adalah tuntunan dan pedoman yang di percaya oleh masing-
masing individu. dalam sebuah tradisi tentu nya selalu ada kaitannya dengan
agama, masyarakat meyakini bahwa tradisi yang mereka lakukan tentu ada
kaitannya dengan agama yang mereka yakini, karena di setiap tradisi tidak
sedikit masyarakat yang selalu mengaitkan nya kepada Tuhan, mereka
berdoa dan memohon kepada Tuhan dengan tradisi turun temurun yang telah
dilakukan oleh nenek moyang terdahulu.

Boyolali adalah salah satu kabupaten yang ada di provinsi jawa tengah,
Indonesia. ada banyak sekali tradisi yang diyakini oleh masyarakat boyolali
mulai dari tradisi pribadi perorangan hingga tradisi rutinan yang di
selenggarakan bersama-sama oleh masyarakat sekitar, salah satunya tradisi
lebaran Kupat. tradisi lebaran Kupat adalah tradisi keagaaman yang diyakini
oleh masyarakat sekitar khususnya umat islam yang ada di daerah boyolali.
tradisi ini dilakukan setiap bulan ramadhan dengan cara saling berbagi dan
memberi ketupat di hari raya sebagai simbol atas pengakuan kesalahan
dan kekurangan diri terhadap Allah SWT, keluarga, dan terhadap sesama.

220

Rumusan Masalah
Bagaimana nilai nilai, makna dan tujuan yang terkandung dalam tradisi

lebaran ketupat didesa Kedokan Klego Boyolali.

Tujuan Masalah
Mengetahui nilai nilai, makna dan tujuan yang terkandung dalam tradisi

lebaran ketupat didesa Kedokan Klego Boyolali.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan ilmu, memperluas

pengetahuan dan dimanfaatkan oleh semua orang.

Kajian Teori
a. Hari Raya Kupatan adalah salah satu tradisi Islam Jawa yang masih
di lestarikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Tradisi
Hari raya Kupatan merupakan perkawinan tradisi Jawa dengan Islam
yang selalu di selenggarakan setelah Hari Raya Eidul Fitri yang
kemudian di lanjutkan dengan puasa Syawal.
b. Makna/filosofis adalah pengertian atau arti dari setiap simbol atau
benda, salah satunya yaitu tradisi. Kebudayaan merupakan sesuatu
yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, adat istiadat serta kemampuan lain dan kebiasaan- kebiasaan
yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.298
c. Kebudayaan itu sendiri merupakan kesatuan dari gagasan, simbol-
simbol dan nilai yang mendasari hasil karya dan perilaku manusia.
Perilaku manusia yang berkembang pada suatu masyarakat yang
dilakukan oleh manusia secara terus menerus pada akhirnya menjadi
sebuah tradisi.299
d. Silaturahim yaitu budaya saling memaafkan. Dan biasanya,
silaturakhim itu sering di lakukan pada momen Hari Raya Idul Fitri
meskipun di luar hari raya Idul Fitri itu boleh di lakukan. Di dalam
silaturahim basanya ada tradisi sungkem yaitu tradisi meminta maaf
atas kesalahan-kesalahan terhadap orang tua.

Kajian pustaka

298 Koenjraningkrat dkk., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia , (Jakarta: Djambatan, 2004), h. 239.
299 Lihat Skripsi Jaenab, Tradisi Perang Ketupat, Sejarah Kebudayaan Islam, (Fakultas Adab, Universitas
Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta 2008), h. 1.

221

Kajian tentang “Living Hadis dalam Fenomena Tradisi lebaran Kupat
Didesa Durenan Kabupaten Trenggalek” yang ditulis oleh Wildan Rijal
Amin. Penelitian ini mengkaji tradisi lebaran Kupat didesa durenan
Trenggalek. Kajian ini fokus untuk mengetahui fenomena dan makna tradisi
lebaran Kupat didesa durenan di kabupaten Trenggalek.

Fokus Penelitian

Untuk mengetahui nilai nilai yang terkandung dalam tradisi lebaran
ketupat di Desa Kedokan Klego Boyolali.

PEMBAHASAN

Pengertian Tradisi lebaran Kupat

Dalam tradisi Jawa, hari raya setelah Ramadhan atau biasa di sebut
dengan sebutan Bhada atau Riyaya itu ada dua macam. Bhada lebaran dan
bhada kupat. Kata Bhada di ambil dari bahasa Arab “ba’da” yang artinya
sudah. Sedangkan riyaya berasal dari bahasa Indonesia “ria” yang artinya
riang gembira atau suka cita. Selanjtnya kata lebaran berasal dari akar kata
lebar yang berarti selesai. Maksud kata lebar di sini adalah sudah
selesainyanya pelaksanaan ibadah puasa dan memasuki bulan Syawwal/Idul
Fithri. Relevansinya, hari ini di sebut “riyaya” karena umat Islam merasa
bersuka cita sebagai ekspresi kegembiraan mereka lantaran menyandang
predikat kembali ke fitrah/asal kesucian.300

Adapun dalam bahasa Jawa, kupat berasal dari kata “papat” atau empat,
dan juga bentuknya yang “persegi empat”. Hal ini adalah simbol yang
hendak mengarahkan kepada esensi rukun ajaran agama Islam yang keempat,
yaitu puasa bulan Ramadhan. Kupat dalam bahasa Jawa juga konon
merupakan kependekan dari kalimat ngaku lepat yang berarti “mengakui
kesalahan”. Karena itu, saling berbagi dan memberi kupat di hari raya
lebaran idul fitri dan lebaran ketupat adalah simbol atas pengakuan kesalahan
dan kekurangan diri masing-masing terhadap Allah, terhadap keluarga, dan
juga terhadap sesame.301 Sedangkan Kupat merupakan bentuk jamak dari kafi,
yaitu kuffat yang berarti cukup, jelasnya cukup akan pengharapan hidup ini
setelah berpuasa satu bulan di bulan Ramadhan.302

Ketupat adalah simbolisasi makna permohonan ampun dan maaf yang
berhubungan dengan hak-hak Allah (habl min Allâh) dan juga hak-hak

300https://www.nu.or.id/post/read/39434/lebaran-ketupat-dan-tradisi-masyarakat-jawa edisi

301Komaruddin Amin dan M. Arskal Salim GP,Ensiklopedi Islam Nusantara
budaya(Jakarta:DirektoratPendidikanTinggiKeagamaanIslamKementrianAgamaRI,2018),h.213.
302https://www.nu.or.id/post/read/39477/kupatan

222

manusia (habl min al-nâs). Karena itulah, keberadaan kupat banyak dijumpai
saat hari raya lebaran yang merupakan hari raya kembali pensucian diri dan
momen saling memaaf-maafkan antar sesama. Ketupat seolah-olah
manifestasi dari ungkapan do’a yang lazim dipanjatkan saat hari raya Idul
Fitri, yaitu “kullu ‘âm wa nahnu ilâ Allâh wa al-hasanât aqrab.
Taqabbalallâhu minnâ wa minkum” (semoga setiap tahun kita semakin dekat
dengan Allah dan kebaikan-kebaikan. Semoga Allah memaafkan kita semua
dan menerima amal kita).

Nilai-nilai yang Terkandung dalam Lebaran Ketupat

Kupat juga merupakan kependekan dari “laku papat” atau “empat
tindakan” yang merupakan etape stasiun spiritual” (al-maqâmât al-rûhiyyah
al-arba’ah), yaitu:

a) Tindakan pertama adalah “lebaran”, yang berasal dari kata lebar
(usai atau selesai). Di sini, lebaran menandakan sudah usai dan
berakhirnya waktu menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh
di bulan Ramadhan.

b) Tindakan kedua adalah “luberan”, yang berasal dari kata luber
(meluap atau melimpah). Dalam hal ini luberan diartikan sebagai
ajakan untuk saling berbagi limpahan rizki dengan berzakat dan
bersedekah untuk kaum miskin dan mereka yang berhak
menerimanya.

c) Tindakan ketiga adalah “leburan”, yang berasal dari kata lebur
(melebur atau menghilangkan). Artinya mengakui kesalahan,
memohon maaf dan memberi maaf. Manusia dituntut untuk saling
memaafkan antar satu sama lain. Dengan demikian, dosa-dosa dan
kesalahan pun menjadi lebur.

d) Adapun tindakan yang keempat adalah “laburan”, yang berasal dari
kata labur, atau kapur untuk memutihkan dinding rumah dan
menjernihkan air. Dalam hal ini, leburan memaksudkan agar
manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.303

Dilihat dari sisi kuliner, ketupat merupakan makanan khas Indonesia
yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan selongsong yang berbahan dari
janur/daun kelapa yang dianyam berbentuk segi empat (diagonal), kemudian
direbus. Pada umumnya kupat dihidangkan oleh umat muslim tepat di hari ke
delapan lebaran Idul Fitri yang biasa di sebut dengan “KUPATAN” atau
“RIYAYA KUPAT”.

303 Komaruddin Amin dan M. Arskal Salim GP, Ensiklopedi Islam Nusantara edisi budaya
(Jakarta:Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementrian Agama RI, 2018), h. 213.

223

Ketupat dengan daun kelapa muda yang dianyam juga memiliki nilai
filosofi tersendiri. Dalam bahasa Jawa, daun kelapa muda pembungkus
ketupat dikenal juga dengan nama janur. Kata janur berasal dari bahasa Arab,
yaitu jâ’a nûr, yang atinya “telah datang seberkas cahaya terang”. Filosofi
makna yang tersimpan di balik janur sebagai bungkus kupat adalah bahwa
manusia senantiasa mengharapkan datangnya cahaya petunjuk dari Allah
SWT. yang maha memberikan petunjuk dan membimbing mereka pada jalan
kebenaran yang diridhai oleh-Nya. Janur304 juga merupakan sebuah
simbolisasi atas harapan yang dipanjatkan umat Islam dan manifestasi atas
do’a yang termaktub dalam surat al-Fâtihah; “ihdinâ-s shirâth-al mustaqîm.
Shirât-alladzîn-a an’amta ‘alaihim ghair-il maghdhûbi ‘alaihim wa lâdh-
dhâllîn” (tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan
bukan pula jalan mereka yang sesat).305
Makna Tradisi lebaran Kupat
Ada beberapa aspek yang terkandung dalam makna tradisi lebaran
Kupat. Makna tradisi lebaran Kupat sangat berpengaruh dalam
kehidupan orang yang menjalankan tradisi tersebut, adapun beberapa
aspek tersebut adalah sebagai berikut:

304 Menurut kamus besar Bahasa Indonesia janur adalah daun kelapa muda yang berwarna kuning.
305 Komaruddin Amin dan M. Arskal Salim GP, Ensiklopedi Islam Nusantara edisi budaya,h. 214.

224

a. Aspek Spirirtual

Beberapa dampak secara spiritual yang yang menjadikan
masyarakat desa Klego lebih semangat dalam menjalankan hal-hal
yang terkait dengan keagamaan diantaranya adalah:

1. Saling Bermaaf Maafan

Makna yang paling terlihat ketika perayaan tradisi lebaran
Kupat dari aspek spiritual adalah saling bermaaf-maafan, makna
ini diambil dari arti kata Kupat dalam Bahasa jawa, yang berarti
ngaku lepat atau mengakui kesalahan dengan cara saling
bermaaf- maafan.

Dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 134 yang artinya
“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang- orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang
yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134) ayat tersebut
menerangkan bahwa pentingnya saling bermaaf-maafan kepada
sesama manusia karena Allah tidak akan menerima permintaan
maaf hambanya jika orang yang disakitinya belum memberikan
maaf atas kesalahan yang diperbuat.

2. Mendatangkan Cahaya

Dampak selanjutnya dari segi spriritual adalah
mendatangkan cahaya atau mendatangkan ketenangan dan
keberkahan, yang diambil dari arti kata Janur, Kepanjangan dari
Ja’a Nur yang artinya “telah datang seberkas cahaya terang”.
Filosofi makna yang tersimpan di balik “janur” sebagai bungkus
“kupat” adalah bahwa manusia senantiasa mengharapkan
datangnya cahaya petunjuk dari Allah yang memberikan
petunjuk dan membimbing mereka pada jalan kebenaran yang
diridhai oleh-Nya, bukan pada jalan yang tidak disukai oleh-
Nya. Janur sendiri adalah pupus dari daun kelapa atau daun
kelapa yang masih muda, daun yang dipakai untuk
membungkus lepet.306

Dengan adanya kegiatan perayaan tradisi lebaran Kupat
berdampak juga pada segi beragama, yang sebelumnya ketika
hari-hari biasa enggan untuk melaksanakan sholat berjamaah di
masjid-masjid tetapi dengan adanya tradisi ini masyarakat
menjadi lebih semangat dalam menjalankan sholat berjamaah di
masjid-masjid dan mushola, terbukti dengan jumlah jamaah

306Kamus besar Bahasa Indonesia, lihat: https://kbbi.web.id/janur

225

yang bertambah ketika menjelang perayaan tradisi lebaran
kupatan.

3. Menutup Aib Orang Lain

Dampak yang terakhir dari spiritual adalah pandai-pandai
dalam menjaga aib orang lain yang di ambil dari arti kata Lepet,
kepanjangan dari silep seng rapet artinya jika mengetahui
kesalahan orang lain hendaknya jangan di kabarkan kepada
yang lain nya, pandai-pandailah menutupi kesalahan orang lain.
Lepet sendiri adalah makanan khas jawa yang selalu ada ketika
perayaan tradisi lebaran Kupat. Dalam sebuah hadits Nabi
bersabda yang artinya “Tidaklah seseorang menutupi aib orang
lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari
kiamat kelak.” (HR Muslim). Dari hadits tersebut sudah sangat
jelas bahwa kita dianjurkan untuk menjaga aib kepada sesama
manusia.

Fakta dilapangan ketika sedang berkumpul dengan banyak
orang yang harus dijaga adalah aib orang lain, karena
kedatangannya mengikuti acara perayaan tradisi lebaran Kupat
adalah saling bermaaaf maafan bukan saling membuka aib
orang lain.

b. Aspek Sosial

Aspek sosial yang paling terlihat adalah gotong royong
ketika perayaan tradisi lebaran Kupat, makna gotong royong diambil
dari makna Rontar atau Lontar, daun siwalan yang dipakai untuk
membungkus ketupat, daun ini sangat istimewa dari bentuknya yang
panjang dan sangat kuat serta mengeluarkan bau yang sedap. Daun
rontar ditata rapi dengan model anyaman, selang seling kadang di
atas dan kadang dibawah, serta saling menguatkan satu sama lainnya.
Makna yang terkadung adalah dalam menjalani kehidupan manusia
sering kali berada pada posisi yang berubah-ubah, kadang di atas
dan kadang juga di bawah, tetapi antara satu dengan yang lainnya
harus tetap saling gotong royong dan menguatkan.

Dengan adanya perayaan tradisi lebaran Kupat yang
dilaksanakan setiap setahun sekali ini sangat berdampak kepada
kebersamaan warga dalam rangka gotong royong menyiapkan acara
kupatan dari persiapan hingga pelaksanaan dilapangan, bukan hanya
dari kalangan bapak-bapak saja, tetapi semua kalangan seperti, ibu-
ibu, remaja sampai anak-anak ikut andil dan bersama-sama untuk
mensukseskan acara perayaan tradisi lebaran Kupat terserbut.

226

c. Aspek Ekonomi

Tradisi lebaran Kupat sangat berdampak bagi masyarakat
yang bermata pencaharian sebagai penjual daun lontar maupun daun
janur yang digunakan sebagai bahan utama membuat ketupat dan
lepet. Dua bahan pokok ini ketika menjelang pelaksanaan tradisi
lebaran Kupat mengalami kenaikan harga disamping permintaan
banyak dan stok barang terbatas yang menjadikan barang tersebut
mengalami kenaikan harga.

Tujuan Tradisi lebaran Kupat

Ada beberapa tujuan dilaksanakannya tradisi lebaran Kupat diantaranya
adalah:

a. Sebagai Sarana Komunikasi Dan Silaturrahmi

Silaturahmi menjadi hal yang sangat diutamakan oleh umat muslim
di seluruh indonesia melalui praktik tradisi lebaran Kupat. Melalui
tradisi inilah silaturahmi antara warga, santri, dan Kyai terjalin lebih kuat.
Sebagaimana ditekankan dalam hadist nabi yang artinya “Barangsiapa
ingin dibentangkan pintu rizki untuknya dan dipanjangkan ajalnya
hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.(HR.Bukhori)”, dengan
tujuan mendapatkan banyak manfaat, sebagaimana diakui oleh
Ismunawan bahwa “Acara ini adalah adat yang baik, adat yang Islami,
warga semangat menjalankan agar mendapat barokah.” Dengan kata lain,
melalui tradisi lebaran Kupat inilah diyakini akan tercipta ukhuwah
Islamiyah yang semakin kuat.

Kata silaturahmi terbentuk dari dua kosa kata; silahun dan ar-rahm.
Shilah artinya hubungan dan ar-rahm artinya kasih sayang, persaudaraan
atau rahmat Allah ta’ala. Ada yang suka menyebut silaturrohim atau
silaturrahmi pada dasarnya mengandung maksud yang sama. Silaturahmi
adalah hubungan persaudaraan yang terikat atas dasar kebersamaan,
persaudaraan, saling mengasihi, melindungi, sehingga rahmat Allah
menyertai ditengah ikatan persaudaraan itu.307

b. Sebagai SaranaSedekah
Tradisi lebaran Kupat terdapat makna yang sangat melekat yaitu

berbagi dengan sesama yang di kuatkan dengan salah satu dari wejangan
kanjeng Sunan Drajat yaitu “menehono mangan marang wong kang
luweh” yang artinya berilah makan kepada orang yang lapar. Wejangan
tersebut bisa dirujuk sebagai dasar bagi masyarakat desa Klego dalam
mempraktikkan tradisi open house saat acara kupatan. Sehingga, meski

307 Fatihuddin,DahsyatnyaSilaturohmi,hal.13

227

tamu yang berkunjung ke rumahnya sangat banyak, tidak lantas membuat

mereka terbebani. Justru, semakin banyak tamu yang berkunjung ke

rumah mereka untuk menikmati hidangan kupat, diyakini akan semakin

banyak pula berkah yang mereka dapatkan.

Sedekah berasal dari kata bahasa Arab yaitu J yang berarti suatu

pemberian yang diberikan oleh seorang kepada orang lain secara spontan

dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti

suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang

mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata. Sedekah secara bahasa

berasal dari huruf serta dari unsur al-Sidq yang berarti benar atau

jujur artinya sedekah adalah membenarkan sesuatu.Sedekah menunjukkan

kebenaran penghambaan seseorang kepada Allah SWT.308

Dalam tradisi lebaran Kupat di desa Klego, wejangan tentang

sedekahterwujud dalam bentuk praktik open house. Masyarakat

mempraktikkan wejangan tersebut dalam bentuk hidangan ketupat yang

mereka berikan kepada siapapun yang berkunjung ke rumahnya. Meski

ada juga dari warga desa Klego tidak mengetahui bahwa yang mereka

praktikkan sejalan dengan wejangan kanjeng Sunan Drajat, tetapi mereka

meyakini bahwa yang mereka lakukan adalah sesuai dengan yang sudah

di syari’atkan oleh agama.

Pandangan Masyarakat Tentang Tradisi Lebaran Kupat

Dalam wawancara yang penulis lakukan kepada slah satu tokoh takmir
masjid di desa klego bapak Murni penulis menanyakan pertanyaan terkait
pandangan terhadap perayaan tradisi lebaran kupat, beliau mengatakan:
“Lebaran ketupat di desa Klego ini sudah sejak lama di lakukan oleh
masyarakat dan memiliki makna yang cukup melekat yaitu sebagai salah satu
simbol permohonan maaf antar umat beragama Islam setelah menjalani
selama bertetangga atau bermasyarakat, kemudian ditandai dengan saling
bersalaman dan bermaaf-maafaan seperti melekat pada istilah kupat yakni
ngaku lepat atau mengaku salah. Jadi tidak ada salahnya untuk tetap
dilestarikan sebagai bentuk merawat tradisi yang sudah ada.”

KESIMPULAN
Persepsi masyarakat tentang lebaran ketupat di desa Klego yang

dilakukan setelah selesai melaksanakan puasa sunah selama enam hari awal
dibulan syawal, tradisi ini turun temurun dari nenk moyang. Karena tradisi
nenek moyang mereka dapat diterima oleh masyarakat dan menjadi

308 TaufiqRidha,PerbedaanZiwaf(Jakarta:TabungWakafIndonesia,tt),Hal.01

228

momentum untuk mempererat tali silaturahmi. Selain itu juga agar dapat
menjaga dan melestarikan lebaran ketupat yang ditinggalkan nenek moyang

229

ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL DI KALIWUNGU,
KENDAL(SYAWALAN DAN WEH-WEHAN)

Sofiatus Solekhah
53040190042

Abstrak

Islam memiliki ciri khas yang unik dalam melestarikan budaya
khususnya di tanah Jawa. Akulturasi budaya yang melekat dalam
penyebaran agama Islam yang dilakukan para ulama zaman dahulu. Islam
dan budaya merupakan satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Keberanekaragaman budaya, dan tradisinya menjadi solusi dalam
menghadapi dinamisme masyarakat Islam, zaman dan perubahan. Agama
menjadi simbol nilai ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, begitu pula
kebudayaan yang memiliki nilai supaya manusia berperan di dalamnya.
Keduanya memiliki nilai yang sama namun juga harus butuh dibedakan.
Agama adalah sesuatu yang bersifat abadi atau mutlak (tidak dapat
berganti). Sedangkan, budaya merupakan suatu kultur dengan sistem yang
mengutamakan pribadi di atas kepentingan umum (partikular) serta bersifat
temporer. Keduanya menjadi satu kesatuan dalam pertumbuhan suatu agama.
Karena budaya dan adat bukan menjadi kesyirikan dan bertentangan
dengan nash al-Qur’an dan Sunnah. Salah satu budaya dan tradisi yang
masih terjaga hingga kini, yakni syawalan dan weh-wehan di Kota Santri
Kaliwungu, Kabupaten Kendal.Kaliwungu merupakan daerah yang masih
menjaga tradisinya seperti tradisi syawalan. Syawalan merupakan kegiatan
ziarah atau peringatan meninggalnya Ulama K.H. Asy’ari dan ulama
setempat sebagai tanda penghormatan dalam jasanya menyebarkan Islam di
Kaliwungu. Kegiatan ini dilaksanakan di makam tepatnya di Bukit Jabal Nur,
Desa Protomulyono Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal. Tradisi ini
bukan hanya terjadi di Kaliwungu saja, namun juga terdapat di beberapa
daerah khususnya Jawa Tengah seperti Demak, Jepara dan Pekalongan.
Tidak hanya itu tradisi weh-wehan juga masih melekat di Kaliwungi, tradisi
yang diberi nama weh-wehan ini memiliki arti saling memberi. Tradisi yang
dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya
bulan Rabi’ul Awal atau orang jawa biasa menyebut bulan Maulud.
Sebagaimana ajaran Nabi kegiatan ini bertujuan untuk saling-memberi,
dimana umat Islam dianjurkan untuk menyisihkan hartanya untuk berbagi
kepada sesama makhluk Allah.

Pendahuluan

Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi sebuah tradisi.
Adanya tradisi menyatukan umat Islam dalam berbagai acara. Islam tak bisa

230

lepas dari tradisi karena tradisi bentuk silaturrahmi umat Islam untuk
menumbuhkan tali persaudaraan. Tradisi sendiri memiliki arti kebiasaan
yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Kata “tradisi” di
ambil dari bahasa latin Tradere yang berarti meneruskan dari satu tangan ke
tangan yang lain untuk dilestarikan. Tradisi yang dikenal sebagai kebiasaan
yang didalamnya terdapat berbagai upacara atau peristiwa. Tradisi sendiri
sudah ada sejak zaman dahulu yang beberapa tujuannya untuk politisi atau
budaya. Seperti halnya tradisi yang sudah berkembang di kecamatan
Kaliwungu Kabupaten Kendal yakni syawalan dan weh-wehan.

Syawalan adalah sesuatu kebiasaan yang dilakukan di bulan syawal
bulan dalam kalender Islam. Syawalan di setiap daerah memiliki tradisi yang
berbeda-beda di Kaliwungi kabupaten Kendal acara syawalan dilakukan
untuk memperingati meninggalnya ulama (haul) yakni Kyai Asy’ari dan
ulama daerah disekitar sana. Acara ini dilakukan sebelum tanggal 7 syawal.
Selain syawalan weh-wehan juga menjadi tradisi yang masih berkembang
sampai sekarang.

Weh-wehan berarti saling memberi, dimana acara ini dilakukan untuk
memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Weh-wehan ini dulunya
dikembangkan oleh Kyai Asy’ari dimana acara ini bertujuan untuk
merekatkan silaturahim dengan cara berbagi makanan dengan tetangga.
Dalam tradisi weh-wehan selain membagikan makanan tradisional dalam
acaranya terdapat tahlil dan shalawat untuk mengenang Kanjeng Nabi
Muhammad SAW. Kedua tradisi di Kaliwungu ini masih berkembang di
tengah kemoderisasi zaman.

Namun dalam pelaksanaannya, banyak masyarakat khususnya di
kabupaten Kendal yang belum memahami proses syawalan. Syawalan sendiri
dilakukan di makam Kyai Asy’ari di Jabal Kaliwungu selatan namun masih
banyak orang yang melakukan syawalan di Alun-alun Kaliwungu yang berisi
hiburan atau pasar malam. Sebagian orang bahkan tidak mengetahui letak
makam yang dijadikan tempat untuk syawalan atau haul Kyai Asy’ari.
Begitu pula dengan tradisi weh-wehan walaupun tradisi ini masih
dilestarikan namun ada beberapa yang hilang dalam tradisi tersebut salah
satunya jenis makanan yang digunakan untuk berbagi, jika dahulu weh-
wehan itu berisi makanan tradisional sekarang berisikan makanan modern.
Namun berbedanya jenis makanan tidak menghilangkan nilai-nilai keislaman
dan tujuan dalam tradisi weh-wehan ini. rumusan dalam kajian ini adalah apa
yang dimasksud dengan syawalan dan weh-wehan dan apa saya nilai-nilai
yang terkandung dalam kedua tradisi tersebut. Tujuan dalam kajian yang
dibahas ini adalah untuk mengetahui sejarah tradisi syawalan dan wewehan
serta mengetahui nilai-nilai keislaman dalam tradisi tersebut. Kajian ini juga

231

memberikan manfaat untuk menambah pengetahuan dan memperluas
wawasan tradisi di sekitar bagi pembaca. Fokus dalam kajian ini untuk
mengetahui apa itu tradisi syawalan dan weh-wehan, bagaimana prosesnya,
apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut dan abagaimana
pandangan Islam terhadap kedua tradisi tersebut.

Penelitian terdahulu juga sudah pernah meneliti kajian tersebut, pertama
Eni Kartika Nuri (2018), Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan
Komunikasi UIN Walisongo Semarang jurnal yang berjudul “Pengelolaan
Wisata Religi Makam Sunan Katong Kaliwungu Kendal (Perspekttif
Dakwah)”. Penelitian ini dilakukan di makam di makam Sunan Katong
Kaliwungu, wisata religi dilakukan untuk mengunjungi tempat-tempat suci,
makam-makam atau tempat agung lainnya. dengan tujuan adalah untuk
mendapat restu, berkah kebahagiaan dan ketentraman dalam kehidupan.
Dalam pengelolaan makam sangat penting untuk wisata religi. Skripsi ini
memfokuskan pada: 1). Bagaimana pengelolaan wisata religi makamSunan
Katong, 2). Apa faktor pendukung dan penghambat dalam pengelolaan
wisata relisi makam sunan Katong Kaliwungu Kendal.

Penelitian yang digunakan penelitis adalah penelitian kualitatif. Metode
yang digunakannya motode deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang
menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dicapai menggunakan metode
prosedur statistika. Cara mendapatkan data tersebut dengan metode
wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan analisi data dalam
penelitiannya menggunakan analisis deksriptif kualitatif.

Hasil dari penelitian menunjukan bahwa pengelola wisata religi makam
Sunan Katong Kaliwungu sudah berjalan dengan baik yaitu meliputi 1).
Pengelolaan wisata religi di makam Sunan Katong yang dikelola oleh Badan
Pengelolaan Makam (BMP) dan juru kunci. 2). Faktor pendukung yaitu
banyaknya pengunjung serta partisipasi masyarakat sekitar dalam kegiatan di
makam Sunan Ktaong. adanya sumber daya manusia, sember keuangan, dan
sumber daya alam.

Kedua, Hadiyanto (2013), Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Diponegoro yang berjudul “Calenderial Ritual Syawalan Sebagai Mediasi
“Ngalap Berkah” Masyarakat Kaliwungu Kendal” dalam penelitiannya
menghasilkan bahwa celenderial ritua syawalan adalah tradisi sistem upacara
keagamaan dalam kebudayaan orang Jawa yang masih lestari, upara tersebut
sebagai mediasi “ngalap berkah” kepada auliya atau sang cultural heroes,
kelompok “manusia linuwih” yang sedemikian lekat di hati umat dan
masyarakat serta dipercaya memiliki banyak “kekuatan karamah” semasa
hidupnya karena kesucian jiwa dan nilai ketakqwaan Tuhan.

232

Ketiga, Viro Dharma Saputra (2020), Universitar Selamat Sri yang
berjudul “Membangun Literasi Budaya Lokal Kepada Generasi Z
Melalui Tradisi Weh-Wehan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten
Kendal”. Tujuan dari peneliti ini untuk mengenalkan budaya lokal yakni
tradisi weh-wehan yang dilakukan untuk menyambut Maulid Nabi. Hasil dari
penelitian ini menghasilkan bahwa generasi Z yang lahir kisaran tahun 1995-
2010 terdampak dari penggunaan smartphone untuk mengakses berita terkini
dan tidak memperhatikan kembali budaya lokal yang ada. Penelitian ini
menggunakan deksriptif kualitatif dan snowball sampling, sebagai informan
adalah tokoh setempat mewakili generasi x oleh ketua IPNU, serta gen Z
diwakili oleh ketua karang taruna dan mahasiswa.

Keempat, Ahmad Barikli Abawaih (2020), Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan
Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang
skripsinya yang berjudul “Tradisi Wewehan di Desa Krajan Kulon
Kecamatan Kaliwungu di Bulan Maulid”. Penelitian ini memiliki rumusan
masalah 1). Bagaimana praktek tradisi wewehan yang ada di desa Krajan
Kulon Kecamatan Kaliwungu, 2). Bagaimana makna yang terkandung dalam
tradisi weh-wehan didesa Krajankulon. Peneliti menggunakan metode
kualitatif jenis penelitian berupa penelitian lapangan, teknik pengumpulan
data dengan cara observasi, wawancara serta dokumentasi. Hasil yang
didapat peneliti berupa 1). Tradisi wehwehan adalah tradisi saling memberi
satu sama lain sebagaimana yang diterapkan oleh Rasulullah didalam
hadisnya “Jangan engkau menahan-nahan (harta). Maka Allah akan menahan
pula untukmu. Karena itu keluarlah harta menurut kesanggupannya”. 2).
Praktiknya dilakukan pada tanggal 11 bulan Maulid setelah asyar anak-anak
membagikan jajanan kepada tetangga dan di tutup setelah isya’ dengan
bacaan Maulid Diba’. 3). Makna yang terkandung dalam tradisi tersebut
adalah nilai sedekah, tumbuhnya tali persaudaraan, dan ekonomi.

Kelima, Muhammad Ro’is (2020), Program Magister Pendidikan Agama
Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang tesis
yang berjudul “Pendidikan Spiritual Dalam Tradisi Syawalan Lupis
Raksasa” metode yang digunakkan dalam peneltiannya adalah kualitatif-
deskriptif yakni mencari deskripsi secara menyeluruh, mendalam dan cermat
mengenai tradisi lupis raksasa (syawalan). Pendekatan yang digunakannya
berupa fenomenologis, selanjutnya, digambarkan bagaimana pendidikan
spiritual yang ada dalam tradisi tersebut. Hasil penelitian berupa pelaksanaan
tradisi syawalan lupis raksasa yang memiliki beberapa fungsi diantaranya:
kosmologis, teologis dan antropologis. Dimensi kosmologis menjelaskan
mengenai hubungan masyarakat dalam tradisi lupis dengan alam sekitar.
Dimensi teologis menjabarkan mengenai masyarakat dalam tradisi lupis

233

mengenai hubungan dengan Allah sebagai rasa syukur. Sedangkan dimensi
antropologis menegaskan hubungan antara sesama masyarakat dalam tradisi
lupis. Dengan itu pendidikan spiritual memiliki kaitan yang sanfat kuat
dengan disiplin ilmu tasawuf yang mengetahui cara penyucian jiwa,
penjernihan akhlak dan membangun kesetaraan dan kebahagiaan abadi lahir
dan batin.

Kajian Teori
Tradisi sebuah kegiatan yang dilakukan terus menerus hingga

terlestarikan. Sebagaimana tradisi yang terus berkembang di Indonesia.
Banyak tradisi yang sudah bercampur dengan tradisi modern namun tidak
dengan tradisi di kabupaten Kendal tepatnya di kecamatan Kaliwungu. Suatu
tradisi yang mengikat antara makhluk yang hidup dan sudah berpulang,
mengkomunikasikan dan mendoakan arwah. Dalam Islam orang yang
meningggal tidak akan pernah meninggalkan amal ibadah semasa hidupnya.
Seperti halnya syawalan dimana umat muslim mengadakan zuiarah akbar
untuk mendoakan para ulama seperti Kyai Asy’asi dan ulama lainnya.
semasa hidupnya Kyai Asy’ari memberi pengaruh besar terhadap Islam
untuk masyarakat kaliwungu. Begitu pula ketika ia meninggal makan
masyarakat akan mengenangnya dengan memberikan doa-doa sebagai
ucapak terimakasih telah beliau sebagai kyai besar di Kaliwungu. Hubungan
manusia yang masih hidup dan yang sudah meninggal masing terjalin dalam
batin, ketika manusia mendoakan saudaranya yang sudah meninggal akan
merasakan kelegaan dan ikhlasan atas apa yang sudah diberikan. Dalam
tradisi weh-wehan juga menunjukan hubungan antara umat dengan sang
Nabi dimana masyarakat Kaliwungu sebagai muslim memperingati kelahiran
Nabi Muhammad dan membacakan sholawat kepada Nabi Muhammad.

Metode Penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode

deskripstif. Metode ini akan memfokuskan objek penelitian dan menganalisi
data, sehingga akan menghasilkan jawaban dari sebuah peristiwa yang terjadi.
Dalam kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapat
pemahaman yang mendalam terhadap suatu masalah yang dikaji. Dalam
penelitian ini penulis mendapatkan sumber data dengan cara mengumpulkan
data-data dengan cara wawancara, dan mengumpulkan sumber-sumber dari
internet dan jurnal. Pengelolaan datanya dengan cata setelah data terkumpul
kemudian dianalisis dengan data kualitatif untuk mendapatkan hasil
kesimpulan yang relevan.

234

Pembahasan dan Hasil Penelitian

a. Pengertian

1. Syawalan

Istilah syawal diambil dari bulan Syawal yang mana salah satu bulan
dalam kalender hijriah. Ada beberapa istilah lain syawalan seperti lomban,
sedekah laut dan pesta laut sesuai tradisi daerah masing-masing309. Daerah
Kaliwungu memaknai syawalan sebagai tradisi kegiatan ziarah atau
peringatan meninggalnya ulama (Haul) K.H Asy’ari di daerah Kaliwungu,
Kabupaten Kendal. Ziarah sendiri artinya berkunjung ke tempat-tempat yang
dianggap keramay atau mulia yang bertujuan untuk mendoakan orang yang
sudah meninggal agar mendapat kemudahan dalam alam barzah. Sedangkan
haul Kyai Ay’ari sendiri dilakukan selama 10 hari dalam haul ini
bukanhanya warha Kaliwungu namun berbagai masyarakat dari berbagai
kecamatan bahkan kota. Tradisi ini dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri
tepatnya, tanggal 7 pada setiap tahun atau biasa disebut lebaran ketupat310.

Kegiatan ziarah dulunya ini dilakukan untuk mengirim doa di makam
Kyai Asy’ari yang dilakukan oleh keluarga dan keturunanya. Akan tetapi
berkembangnya zaman kegiatan ini juga dilakukan oleh masyarakat
Kaliwungu dan sekitarnya, yang mana menjadi simbol dalam penghormatan
terhadap para ulama dengan cara mendoakan di makam311. Berbeda halnya
dengan tradisi di beberapa daerah seperti tradisi di Demak yang disebut
dengan sedekah laut sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan warga
Demak terkhusus desa Morodemak kepada Tuhan atas limpahan rizki dari
laut yang selama ini dinikmati oleh para nelayan setempat. Tradisi syawalan
juga dilaksanakan di Jepara yang biasa disebut (Lomban) sebagai ungkapan
rasa syukur kepada Tuhan, dan sebagai peringatan terhadap pahlawan Ratu
Kalinyamat yang pernah melakukan penyerangan Malaka yang dikuasai
penjajah Portugis312. Syawalan juga diperingati oleh masyarakat Krapayk
Pekalongan yang diberi nama Lupis Raksasa yang diperingati tepat pada hari
ke-8 Syawal, lupis raksasa akan diarak keliling desa dan dibagikan
dilanjutkan dengan doa dan tahlil bersama sekaligus memperingati khoul
K.H. Abdullah Riradj313.

Letak makam Kyai Asy’ari berada di ujung Jabal, Tegal Syawalan,
sebelah selatan tepatnya di desa Protomulyo kecamatan Kaliwungu

309Khoirul Anwar, Makna Kultural dan Sosial-Ekonomi Tradisi Syawalan, Vol 21, No 2, 2013, hal. 456
310Hadiyanto, Calenderial Ritual Syawalan Sebagai Mediasi “Ngalap Berkah” Masyarakat Kaliwungu
Kendal, Vol 17. No 1, Humanika, 2013, hal. 3
311 Ibid. hal.4
312 KhoirulAnwar,MaknaKulturaldanSosial-EkonomiTradisiSyawalan,Vol21,No2, 2013,hal.456-458.
313MuhammadRo’is,Tesis:PendidikanSpiritualDalamTradisiSyawalanLupisRaksasa,(Semarang:UIN
Walisonso,2020),hal.82-83.

235

Kabupaten Kendal. Adapun juga makam pangeran Mandurarejo dan makam
Sunan Katong terletak di Jabal sebelah tengah selatan, sedangkan makam
Kyai Mustofa dan Kyai Musyafa’ berada di Jabal utara sampai barat beliau
seorang panglima perang Mataram dan pengeran Pakuwaja.

Syawalan dapat dirasakan tiga hari sebelum tanggal 8 syawaln ini
dengan ditandainya pedagang pasar dan hiburan masyarakat (pasar malam)
yang berada di pasar sore Kaliwungu dan sepanjang utama Kaliwungu
sehingga hampir tidak menyisakan jalan kosong. Dua hari sebelum
pembukaan syawalan atau 5 Syawal, warga desa Protomulyo mengadakan
tahlil akbar yang dilaksanakan di makam Kyai Asy’ari yang dipimpin oleh
ulama setempat dan diikuti para jamaah. Selanjutnya pembukaan Syawal
dibuka pada tanggal 7 Syawal yang dilaksanakan dari ba’da asyar hingga
menjelang mangrib yang dibuka oleh Bupati Kendal.

Adapun rangkaian pembukaan Syawalan sebagai berikut: 1). Pembukaan
2). Pembacaan riwayat hidup singkat Kyai Asy’ari 3). Pembacaan tahlil 4).
Doa untuk para arwah leluhur, ulama yang dimakamkan di pemakaman
Protomulyo dan Kutoharjo314. Syawalan ini salah satu bentuk penghormatan
kepada ulama yang telah menyebarkan agama Islam di daerah sekitar.

2. Weh-wehan

Weh-wehan berasal dari kata “aweh-awehan” yang berarti “saling
memberi”, di dalam bahasa jawa sendiri aweh bermakna “memberi”. Weh-
wehan merupakan tradisi dari leluhur yang diwariskan untuk warga desa
Krajankulon, kecamatan Kaliwungu315. Tradisi ini dilakukan dalam
memperingati kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada
tanggal 11 Rabiu’ul Awal atau orang jawa biasan menyebut dengan bulan
maulud. Makna tradisi ini untuk mengajarkan kepada setiap umat agar
mengamalkan akhlak yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yakni
tentang ajaran saling memberi.

Tradisi ini mampir sama dengan barter, jika dalam barter tukar-menukar
dilakukan dengan kecocokan atau kesesuaian harga barang, sementara tradisi
weh- wehan dilakukan dengan penukaran yang tidak melihat kecocokan atau
sesuai harga barang yang ditukar, melainkan didasari keikhlasan menukar.5
setiap warga mempersiapkan makanan, minuman sampai cemilan dan
disediakan dalam jumlah banyak di rumah untuk dibagi-bagi dan ditukar
kepada tetangga dan sanak saudara. tradisi dalam weh- wehan ini biasanya
berupa makanan tradisional, sayangnya perubahan zaman juga menyeret
makanan yang dulunya jajanan tradisional kini berubah ke jajanan modern.

314Ibid. hal. 72
315AhmadBarikliAbawah,skripsi:TradisiWewehandiDesaKrajanKulonKecamatanKaliwungudiBulanMauli
d(KajianLivingHadist),(Semarang:UINWalisongo,2020),hal.20

236

Kegiatan ini dilakukan ketika orang tua meminta tolong kepada anak untuk
mengunjungi tetangga dengan menukar makanan apa saja yang dimiliki316.

Tradisi tersebut bukan hanya saling berbagi makanan, namun juga saling
menyapa tetangga dan sanak saudara berbaur untuk mengokohkan tali
persaudaraan dan melestarikan nilai-nilai sosial dalam mempersatukan
masyarakat dan menghalau arus individualisme agar sikap santun dan
kebudayaan yang dilandasi semangat religius dan spiritual tidak hilang oleh
zaman. Di penghujung tradisi weh-wehan berakhir pemandang yang semula
menyediakan satu jenis makanan, kini berubah dengan berbagai jenis
makanan dan warna-warni dan mengiurkan, berbagai jajanan komplit dan
serba ada.

Kecintaan masyarakat Kaliwungu terhadap Rasulullah dengan
kegembiraannya yang luar biasa dalam menyambut kelahiran Kanjeng Nabi
Muhammad SAW menjadi momen yang indah dan mempesona dalam
bentuk budaya dan agama yang menyatu.

Jelang weh-wehan masyarakat Kaliwungu membuat lampu hias atau
sejenis lampoin yang terbuat dari bambu yang dibungkus dengan kertas
warna-warni dengan bertuk beragam, ada yang berbentuk bintang, kapal laut,
kapal terbang, katak-katakan, mobil-mobilan, petromax dan bentuk lainnya
yang ditaruh di depan rumah yang diberi nama teng-teng. Nama teng-teng
sendiri diambil dari cara membawa lampu tersebut dengan ditenteng
(dijinjing). Oleh itu lampion tersebut diberi nama teng-tengan namun lambat
laun pengucapan berubah yang bermula teng-tengan menjadi teng-teng.
Teng-teng dijadikan sebagai simbol kelahiran nabi dimana saat nabi lahir
semua bintang-bintang bercahaya menunjukan rasa gembira dengan
kelahiran nabi sebagai nabi akhiruzzaman. Pada zaman dahulu teng-teng
dinyalakan dengan lampu minyak, namun berkembangnya zaman minya
lambat lahun diganti dengan bohlam listrik.

Tokoh setempat mengatakan bahwa kemeriahan menyambut bulan
kelahiran Nabi Muhammad SAW atau maulud di Kaliwungu sudah berjalan
puluhan tahun, ketika malam hari di depan rumah warga Kaliwungu
bercahaya warna-warni dengan hiasan teng-teng, masjid-masjid dan
mushola-mushola ramai dengan kegiatan dziba’an atau berjanjian,
puncaknya pada sore hari malam 12 Rabi’ul Awal atau Maulud, hilir mudik
anak-anak warga Kaliwungu membawa jajan saling mengunjungi rumah
tetangga, di disebut weh-wehan.

Teng-tengan sendiri mengambarkan rasa kegembiraan masyarakat
Kaliwungu dengan menghias rumah dengan warna-warni. Hal tersebut

316Viro Dharma Saputra, Membangun Literasi Budaya Lokal Kepada Generasi Z Melalui Tradisi Weh-
Wehan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Vol 6 No.1, Membangun Literasi,(2020), hal. 170

237

menunjukan perubahan sebelum kelahiran nabi yang gelap dan berubah
terang benderang setelah kelahiran nabi di dunia. Selain bentuk bintang yang
dijadikan simbol bersinarnya cahaya di langit saat kelahiran nabi, ada pula
bentuk lainnya untuk menunjukan karya seni dan kreasi masyarakat dalam
berkarya dan mengikuti modernisasi.

b. Nilai-Nilai Dalam Tradisi Syawalan dan Weh-wehan

1. Nilai Spiritual

Syawalan merupakan tradisi mendo’akan para Ulama yang sudah
meninggal, dimana nilai yang terdapat ketika seseorang mendoakan orang
yang sudah meninggal dapat mengingatkan kematian, dengan itu umat
muslim akan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT317. Begitu pula
dengan tradisi weh-wehan yang dilakukan untuk memperingati kelahiran
Nabi Muhammad SAW, dalam ajarannya Nabi Muhammad menganjurkan
umatnya untuk bersedekah semampunya, karena sedekah dapat mendekatkan
diri kita kepada Allah SWT dan memiliki banyak manfaat yang tidak bisa
kita dapatkan pada ibadah lainnya. memberikan sebagian harta kita untuk
orang lain Allah menjanjikan akan melipat gandakan hartanya yang sudah
diberikan ke orang lain. Terdapat juga nilai silaturahmi yang mana tradisi
weh-wehan inn dilakukan dari satu tetangga ke tetangga lainnya. Adapun
kesamaan dalam kedua tradisi tersebut yakni bacaan tahlil dan do’a.

2. Nilai Ekonomi

Adanya suatu tradisi di daerah memberikan dampak positif pada bidang
ekonomi terutama pada tradisi syawalan ini. Syawalan yang dilaksanakan di
Ujung Jabal Desa Protomulyo kecamatan Kaliwungu ini memberikan
peluang keuntungan ekonomi yang bagus pada masyarakat sekitar. Pada area
makam sendiri banyak masyarakat yang memutuskan berdagang ada warung
makan, aksesoris hingga pakaian. Warga desa Protomulyo yang kebanyakan
berprofesi petani dan karyawan swasta, namun tak sedikit pula yang
berprofesi sebagai pedagang baik pedagang di pasar pagi dan pasar sore
kaliwungu, sebagiannya berjualan di dekat makam syawalan. Selain
berjualan masyarakat juga menyediakan jasa parkir motor dan mobil. Saat
syawalan digelar para pedagang membuka usahanya 12 jam kerja dibanding
hari biasanya318.

Selain di area makam, syawalan juga memberikan dampak pada pasar
sore kaliwungu. Kemeriahan syawalan juga diramaikan dengan adanya pasar
malam yang bertempat di alun-alun Kaliwungu. Pasar malam ini dikunjungi

317 SitiMustagfiroh,BadarudinSafe’I, NilaiLokalBudayaJawa danIslamdalamTinjauanMultikulturalisme,
Vol2, No.4, Culture&Society:JournalofAntropologicalResearch,(2021),hal.182

318DewiPuspitaNingsih,NilaiKearifanLokalDalamTradisiLombanMasyarakatJepara,Vol3, No.2, (2017),
hal.177

238

masyarakat berbagai daerah bahkan sampai luar kota. Kegiatan pasar malam
sendiri berisikan permainan, hiburan, penjual jajanan, pakaian bahkan
aksesoris lainnya, tak ayal jika kegiatan ini membuka peluang besar bagi
masyarakat kaliwungu untuk meningkatkan ekonomi.

Begitu pula dengan tradisi weh-wehan juga memberikan manfaat di
bidang ekonomi salah satunya penjualan jajanan makanan bahkan makanan
mentah, yang nantinya akan diolah sendiri atau diperjual belikan. Kegiatan
weh-wehan dimana tradisi ini dilakukan masyarakat dengan cara tukar-
menukar makanan baik makanan tradisional maupun makanan modern.
Ketika mendekati bulan Rabi’ul Awal masyarakat sudah mempersiapkan
jajanan dan makanan yang akan diperdagangkan di pasar maupun di desa
masing-masing. Sehingga pada tradisi di weh-wehan memberikan dampak
yang baik untuk ekonomi sekitar.

3. Nilai Wisata Objek Religi

Bentuk kegiatan syawalan juga memiliki daya tarik pada wisata religi
yang berpotensi tinggi di bidang septo pesonanya, makam di Bukit Jabal
masih asri dengan pepohonan yang rindang dan terjaga kelestarian
pemandangan serta kesejukan dari atas bukit yang mampu manerik perhatian
para peziarah. Para peziarah disuguhi cantinya Kaliwungu dari atas bukit
serta kebersihan yang masih terawat, dengan itu peziarah akan merasakan
ketenangan saat mendatangi makam- makam para ulama.

Adanya potensi wisata dalam pengembangan objek daya tarik wisata
mengupayakan warga desa dengan mengadakan pendanaan suatu organisai
desa atau disebut dengan Badan Pengelolaan Makam (BMP). Peningkatan
kualitas yang diupayakan BMP dengan menyusun program-program kegiatan
serta menciptakan strategis di bidang kepariwisatan. Fungsi bentuk adanya
wisata relig untuk mengambil pelajaran dari ciptaan Allah SWT atau sejarah
peradaban untuk menenagkan hati sehingga menumbuhkan kesadara bahwa
hidup di dunia hanyalah sementara.

4. Nilai Sosial

Adanya tradisi tersebut mampu menjaga kerukunan bertetangga dan
mempererat persaudaraan. Terlihat antar masyarakat di desa Krajan Kulo
masih terjalin baik di dalamnya. Dilihat dari masyarakatnya yang masih kuat
memegang prinsip “tepo seliro” (tenggang rasa) dengan sesama manusia,
baik antara non muslim maupun muslim serta masyarakat lebih
mengutamakan asas persaudaraan yang menjadi bukti nyata keberlangsungan
nilai-nilai sosial masyarakat Jawa. Terbukti ketika masyarakat muslim

239


Click to View FlipBook Version