mengadakan acara keagamaan seperti santunan maka warga non muslim juga
membantunya319.
c.Respon Masyarakat terhadap Tradisi yang terdapat di Kaliwungu
Hasil wawancara masyarakat sekitar terhadap tradisi syawalan dapat
disimpulkan bahwa kegiatan syawalan ini dilakukan untuk mendo’akan para
ulama yang menyebarkan Islam di Kaliwungu, sebagai wujud terimakasih
murid ke pada sang guru. Namun ada yang disayangkan dalam tradisi ini
dimana masyarakat tidak mendatangi makam untuk mendo’akan para ulama
melainkan pergi ke pasar malam di Alun-alun kaliwungu. Sebagian
masyarakat itu lebih memilih hiburan ketimbang mendo’akan para Ulama.
Adapun hasil wawancara masyarakat. yakni Bapak Hadi ketuwin artinya
saling mengunjungi tetangga, sanak saudara, kerabat dengan saling bertukar
jajanaan yang bertujuan untuk bersilaturrahmian. Adapula menurut Bapak
Usman tradisi weh-wehan ini merupakan tradisi peninggalan dari Kyai
Asy’Ari semasa hidupnya, hingga tradisi ini berkembang dan diikuti
kampung-kampung lainnya di seluruh Kaliwungu. Tradisi ini dilaksanakan
pada sore hari, anak-anak berkeliling untuk menukarkan jajan yang dibuat
oleh keluarganya ke para tetangga. Dengan adanya lampu-lampu hias kerlap-
kerlip dan juga lampu teng-teng yang dipasang di depan rumah menjadi
tanda bulan Maulid tiba yang mana tradisi weh-wehan dilaksanakan. Anak-
anak masyarakat Kaliwungu sangat gembira datangnya bulan maulud ini,
mereka mangatakan senang sekali pas aweh-awehan bisa dapat banyak jajan,
saling tukar jajan sama teman-teman rasanya seperti lebaran Hari Raya Idul
Fitri saling main ke rumah tetangga dan dapat jajan.
d. Padangan Islam Terhadap Tradisi Syawalan dan Weh-wehan
Islam memandang syawalan sebagai pengingat akan kematian, serta
menyakini bahwa hidup di dunia hanya sekali dan tidak kekal. Mendoakan
orang yang sudah meninggal juga mendapat manfaat doa kesejahteraan dan
permohonan ampun. Nabi Muhammad SAW pernah melarang ziarah kubur,
namun kemudian beliau memperbolehkan. Sebagaimana Rasulullah SAW
menganjurkan ziarah kubur.
˴ N ϦQℷ N N 㘮Β Q Q Ω N Q Ϧᦈ QΩ㘮 ΕΨ
ΕN
Artinya: "Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang)
berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati,
319Ghurfon Hamzah, Iman Fadhilah, Tradisi Teng-Tengan, Ketuwinan dan Weh-wehan di Kaliwungu
Kendal Jawa Tengah (Kajian Living Hadist Pendekatan Antropologi Interpretatif Simbolik), Vol 2 No. 2, 2022,
hal. 60-63
240
menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian
berkata buruk (pada saat ziarah)." (HR. Muslim)
Anjuran ziarah kubur dengan memanjatkan do’a kepada yang meninggal
agar mendapat syafaat dan permohonan ampun serta mengingatkan manusia
yang masih hidup untuk mengingat Allah, bahwa kematian tidak ada yang
mengetahui kecuali sang pencipta.
Sebagaimana tercantum dalam hadist Rasulullah dari Aisyah Ra, ia
berkata bahwa Rasulullah pada akhir malam pergi ke makam Baqi dan
berdoa;
Artinya: "Salam sejahatera bagi kalian semua, wahai penghuni tempat
bersemayam dari kaum mukmin, akan datang kepada kalian janji Allah yang
sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian."
(HR. Muslim).
e. Nilai-Nilai Dalam Tradisi Syawalan dan Weh-wehan
1. Nilai Spiritual
Syawalan merupakan tradisi mendo’akan para Ulama yang sudah
meninggal, dimana nilai yang terdapat ketika seseorang mendoakan orang
yang sudah meninggal dapat mengingatkan kematian, dengan itu umat
muslim akan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT320. Begitu pula
dengan tradisi weh-wehan yang dilakukan untuk memperingati kelahiran
Nabi Muhammad SAW, dalam ajarannya Nabi Muhammad menganjurkan
umatnya untuk bersedekah semampunya, karena sedekah dapat mendekatkan
diri kita kepada Allah SWT dan memiliki banyak manfaat yang tidak bisa
kita dapatkan pada ibadah lainnya. memberikan sebagian harta kita untuk
orang lain Allah menjanjikan akan melipat gandakan hartanya yang sudah
diberikan ke orang lain. Terdapat juga nilai silaturahmi yang mana tradisi
weh-wehan inn dilakukan dari satu tetangga ke tetangga lainnya. Adapun
kesamaan dalam kedua tradisi tersebut yakni bacaan tahlil dan do’a.
2. Nilai Ekonomi
Adanya suatu tradisi di daerah memberikan dampak positif pada bidang
ekonomi terutama pada tradisi syawalan ini. Syawalan yang dilaksanakan di
Ujung Jabal Desa Protomulyo kecamatan Kaliwungu ini memberikan
peluang keuntungan ekonomi yang bagus pada masyarakat sekitar. Pada area
makam sendiri banyak masyarakat yang memutuskan berdagang ada warung
makan, aksesoris hingga pakaian. Warga desa Protomulyo yang kebanyakan
berprofesi petani dan karyawan swasta, namun tak sedikit pula yang
berprofesi sebagai pedagang baik pedagang di pasar pagi dan pasar sore
320 SitiMustagfiroh,BadarudinSafe’I, NilaiLokalBudayaJawa danIslamdalamTinjauanMultikulturalisme,
Vol2, No.4, Culture&Society:JournalofAntropologicalResearch,(2021),hal.182
241
kaliwungu, sebagiannya berjualan di dekat makam syawalan. Selain
berjualan masyarakat juga menyediakan jasa parkir motor dan mobil. Saat
syawalan digelar para pedagang membuka usahanya 12 jam kerja dibanding
hari biasanya321.
Selain di area makam, syawalan juga memberikan dampak pada pasar
sore kaliwungu. Kemeriahan syawalan juga diramaikan dengan adanya pasar
malam yang bertempat di alun-alun Kaliwungu. Pasar malam ini dikunjungi
masyarakat berbagai daerah bahkan sampai luar kota. Kegiatan pasar malam
sendiri berisikan permainan, hiburan, penjual jajanan, pakaian bahkan
aksesoris lainnya, tak ayal jika kegiatan ini membuka peluang besar bagi
masyarakat kaliwungu untuk meningkatkan ekonomi.
Begitu pula dengan tradisi weh-wehan juga memberikan manfaat di
bidang ekonomi salah satunya penjualan jajanan makanan bahkan makanan
mentah, yang nantinya akan diolah sendiri atau diperjual belikan. Kegiatan
weh-wehan dimana tradisi ini dilakukan masyarakat dengan cara tukar-
menukar makanan baik makanan tradisional maupun makanan modern.
Ketika mendekati bulan Rabi’ul Awal masyarakat sudah mempersiapkan
jajanan dan makanan yang akan diperdagangkan di pasar maupun di desa
masing-masing. Sehingga pada tradisi di weh-wehan memberikan dampak
yang baik untuk ekonomi sekitar.
3. Nilai Wisata Objek Religi
Bentuk kegiatan syawalan juga memiliki daya tarik pada wisata religi
yang berpotensi tinggi di bidang septo pesonanya, makam di Bukit Jabal
masih asri dengan pepohonan yang rindang dan terjaga kelestarian
pemandangan serta kesejukan dari atas bukit yang mampu manerik perhatian
para peziarah. Para peziarah disuguhi cantinya Kaliwungu dari atas bukit
serta kebersihan yang masih terawat, dengan itu peziarah akan merasakan
ketenangan saat mendatangi makam- makam para ulama.
Adanya potensi wisata dalam pengembangan objek daya tarik wisata
mengupayakan warga desa dengan mengadakan pendanaan suatu
organisai desa atau disebut dengan Badan Pengelolaan Makam (BMP).
Peningkatan kualitas yang diupayakan BMP dengan menyusun program-
program kegiatan serta menciptakan strategis di bidang kepariwisatan.
Fungsi bentuk adanya wisata relig untuk mengambil pelajaran dari
ciptaan Allah SWT atau sejarah peradaban untuk menenagkan hati
sehingga menumbuhkan kesadara bahwa hidup di dunia hanyalah
sementara.
321 DewiPuspitaNingsih,NilaiKearifanLokalDalamTradisiLombanMasyarakatJepara,Vol3, No.2, (2017),
hal.177
242
4. Nilai Sosial
Adanya tradisi tersebut mampu menjaga kerukunan bertetangga dan
mempererat persaudaraan. Terlihat antar masyarakat di desa Krajan Kulo
masih terjalin baik di dalamnya. Dilihat dari masyarakatnya yang masih kuat
memegang prinsip “tepo seliro” (tenggang rasa) dengan sesama manusia,
baik antara non muslim maupun muslim serta masyarakat lebih
mengutamakan asas persaudaraan yang menjadi bukti nyata keberlangsungan
nilai-nilai sosial masyarakat Jawa. Terbukti ketika masyarakat muslim
mengadakan acara keagamaan seperti santunan maka warga non muslim juga
membantunya.322
f. Respon Masyarakat terhadap Tradisi yang terdapat di Kaliwungu
Hasil wawancara masyarakat sekitar terhadap tradisi syawalan dapat
disimpulkan bahwa kegiatan syawalan ini dilakukan untuk mendo’akan para
ulama yang menyebarkan Islam di Kaliwungu, sebagai wujud terimakasih
murid ke pada sang guru. Namun ada yang disayangkan dalam tradisi ini
dimana masyarakat tidak mendatangi makam untuk mendo’akan para ulama
melainkan pergi ke pasar malam di Alun-alun kaliwungu. Sebagian
masyarakat itu lebih memilih hiburan ketimbang mendo’akan para Ulama.
Adapun hasil wawancara masyarakat. yakni Bapak Hadi ketuwin artinya
saling mengunjungi tetangga, sanak saudara, kerabat dengan saling bertukar
jajanaan yang bertujuan untuk bersilaturrahmian. Adapula menurut Bapak
Usman tradisi weh-wehan ini merupakan tradisi peninggalan dari Kyai
Asy’Ari semasa hidupnya, hingga tradisi ini berkembang dan diikuti
kampung-kampung lainnya di seluruh Kaliwungu. Tradisi ini dilaksanakan
pada sore hari, anak-anak berkeliling untuk menukarkan jajan yang dibuat
oleh keluarganya ke para tetangga. Dengan adanya lampu-lampu hias kerlap-
kerlip dan juga lampu teng-teng yang dipasang di depan rumah menjadi
tanda bulan Maulid tiba yang mana tradisi weh-wehan dilaksanakan. Anak-
anak masyarakat Kaliwungu sangat gembira datangnya bulan maulud ini,
mereka mangatakan senang sekali pas aweh-awehan bisa dapat banyak jajan,
saling tukar jajan sama teman-teman rasanya seperti lebaran Hari Raya Idul
Fitri saling main ke rumah tetangga dan dapat jajan.
322 Ghurfon Hamzah, Iman Fadhilah, Tradisi Teng-Tengan, Ketuwinan dan Weh-wehan di Kaliwungu
Kendal Jawa Tengah (Kajian Living Hadist Pendekatan Antropologi Interpretatif Simbolik), Vol 2 No. 2, 2022,
hal. 60-63
243
g. Padangan Islam Terhadap Tradisi Syawalan dan Weh-wehan
Islam memandang syawalan sebagai pengingat akan kematian, serta
menyakini bahwa hidup di dunia hanya sekali dan tidak kekal. Mendoakan
orang yang sudah meninggal juga mendapat manfaat doa kesejahteraan dan
permohonan ampun. Nabi Muhammad SAW pernah melarang ziarah kubur,
namun kemudian beliau memperbolehkan. Sebagaimana Rasulullah SAW
menganjurkan ziarah kubur.
˴ N ϦQℷ N N 㘮Β Q Q Ω N Q Ϧᦈ QΩ㘮 ΕΨ
ΕN
Artinya: "Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang)
berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati,
menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian
berkata buruk (pada saat ziarah)." (HR. Muslim)
Anjuran ziarah kubur dengan memanjatkan do’a kepada yang meninggal
agar mendapat syafaat dan permohonan ampun serta mengingatkan manusia
yang masih hidup untuk mengingat Allah, bahwa kematian tidak ada yang
mengetahui kecuali sang pencipta.
Sebagaimana tercantum dalam hadist Rasulullah dari Aisyah Ra, ia
berkata bahwa Rasulullah pada akhir malam pergi ke makam Baqi dan
berdoa;
Artinya: "Salam sejahatera bagi kalian semua, wahai penghuni tempat
bersemayam dari kaum mukmin, akan datang kepada kalian janji Allah yang
sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian."
(HR. Muslim).
h. Analisis Tradisi Syawalan dan Weh-wehan
Tradisi syawalan dan weh-wehan yang berkembang di masyarakat
Kaliwungu sudah berkembang sejak dulu. Tradisi weh-wehan merupakan
tradisi yang didirika oleh Kyai Asy’ari (Guru Kyai) yang dimaknai dengan
saling memberi, lama- kelamaan tradisi ini berkembang ke desa-desa yang
berada di Kaliwungu. Tradisi yang dilaksanakan setiap Bulan Maulud
tepatnya 12 Maulud atau 12 Rabi’ul awal. Weh yang berarti memberi
merupakan ajaran Nabi Muhammad untuk memberikan Sebagian harta kita.
Ketika sore anak-anak menukarkan jajanan yang dibawakan oleh orang
tuanya ke para tetangga. Setelah menukarkan jajan anak-anak akan kembali
ke rumah dengan membawa jajan yang berbeda. Kegiatan ini berbeda dengan
barter yang mana barter memiliki kesepakatan dalam bertukar dan nilai yang
ditukarkan pun sama berbeda halnya dengan weh-wehan dengan menukarkan
jajanan apa saja yang mereka punya dengan rasa ikhlas.
244
Jika Kyai Asy’ari semasa hidupnya memberikan manfaat banyak bagi
murid dan masyarakatnya, maka setelah beliau wafat para murid dan
masyarakat sekitar memanjatkan do’a kepadanya. Kegiatan itu disebut
dengan syawalan, merupakan acara ziarah untuk mendo’akan Kyai Asy’ari
dan ulama lainnya. Kyai Asy’ari merupakan salah satu ulama besar dalam
menyebarkan Islam di Kaliwungu, Kendal. Syawal sendiri diambil dari bulan
Syawal yakni bulan Hari raya Umat Islam tepatnya 7 hari setelah Hri raya
Idhul Fitri syawalan dilaksanakan.
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk menghormati dan mendoakan para
Ulama yang telah menyebarkan Islam di Kaliwungu. Perayaan yang
diadakan setiap tahunya di Ujung Jabal desa Protomulyo kecamatan
Kaliwungu. Syawalan kini semakin berkembang bukan hanya di Kaliwungu
namun juga di Pekalongan, Demak dan Jepara denga nisi tradisi yang
berbeda-beda. Dalam tradisi ini memberikan makna bahwa islam
menganjurkan manusia yang masih hidup mendoakan orang yang sudah
meninggal, dengan itu manusia akan selalu mengingat kematian dan selalu
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tradisi weh-wehan yang dicetus oleh Kyai Asy’ari, sedangkan syawalan
dilakukan untuk mengingat dan mendoakan Kyai Asy’ari. Kedua tradisi ini
tidak lepas dari sosok Kyai Asy’ari, beliau ulama besar sekitar tahun 1781-an
di daerah Kaliwungu dan Kendal. Beliau merupakan kyai yang berkarismatik
dengan metode dakwahnya yang unik dan menarik. Kiprahnya menyebarkan
Islam dikalangan masyarakat yang awam akan agama menjadi yang agamis
dan religius. Kepribadianya yang santun, sederhana dan berkarismatik sangat
disegani oleh masyarakat sehingga beliau selalu dikenang.
Lahir si Wonotoro Yogyakarta, kira-kira pada tahun 1745 dengan nama
kecilnya Asy’ari bin Ismail bin H. Abdurrahman bin Ibrahim. Sesuai garis
silsilah yang masih termasuk keluarga Sayyidina Ali dan dengan Nabi
Muhammad SAW bertemu pada keluarga Abdul Muthalid bin Hasyim bin
Abdul bin Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah Ka’ab. Kyai Asy’ari.
Dibesarkan pada masa Kerajaan Mataram Islam, dengan harapan kelak
mampu melanjutkan perjuangan dakwah Islam seperti yang dilakukan para
waliyullah, auliya’ dan para syuhuda’. Ketika menginjak dewasa beliau
melanjutkan belajarnya di Mekkah selama 10 Tahun. Setelah belajarnya di
Mekkah beliau mendapat tugas dari susuhanan Mataram untuk berdakwah,
menyebarkan ajaran-ajaran Islam khususnya didaerah Kaliwungu Kabupaten
Kendal.
Pada usia 35 tahun beliau dateng ke Kaliwungu, beliau kemudian
bermukim dan menetap di kampung yang saat ini terkenal dengan nama
Kampung Pesantren Desa Krajankulon Kecamatan Kaliwungu Kabupaten
245
Kendal. Di kampung itu Kyai Asy’ari memulai dakwahnya dan mengajarkan
Islam dengan kitab kuningnya dengan mendirikan pondok pesantren salaf
yang skarang menjadi pondok APIP (Asrama Pelajar Islam Pesantren),
karena saat itu sarana dan prasarana untuk belajar belum memadai beliau
menggunakan musholla sebagai tempat belajar para santrinya.
Selama masa hidupnya beliau kerahkan semuanya untuk umat Islam di
daerah Kaliwungu. Beliau wafat setelah Kyai Ahmad Rifa’i beliau
dimakamkan di Bukit Jabal Nur, sebelah selatan Desa Protomulyo atau
Protowetan Kaliwungu.323
KESIMPULAN
Tradisi syawalan adalah tradisi ziarah kubur atau mendoakan para ulama
yang telah menyebarkan Islam di Kaliwungu, bentuk kegiatan ini dilakukan
untuk menghormati dan mendo’akan para arwah agar selalu mendapatkan
pertolongan Allah dan sebagai pengingat bahwa hidup hanya sekali, dan kita
akan kembali kepada sang Ilahi, tradisi syawalan ini dilakukan pada tanggal
7 Syawal atau setelah Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan tradisi weh-wehan
merupakan tradisi saling memberi makanan satu sama lain, tradisi ini
dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Weh-
wehan ini hampir mirip dengan barter hanya saja weh- wehan dilakukan
tanpa melihat nominal atau harga yang ditukarkan karena nilai yang terdapat
dari tradisi ini adalh keikhlasan. Seperti halnya sedekah, sebagimana yang
diajarkan oleh Nabi untuk saling memberi (bersedekah). Dengan sedekah
Allah akan melipat gandakan sedekah yang kita berikan kepada orang lain
323Diyah Faiqotur Rohmah, Skripsi: Strategi Pengembangan Objek Daya Tarik Wisata Religi di Makam
Kyai Asy’ari Kaliwungu Kendal Perspektif Sapta Pesona, (Semarang: UIN Semarang, 2020), hal. 37-41
246
Ritual Labuhan Merapi Yogyakarta: Menghormati Alam Bukti
Bersyukur Pada Tuhan
Imam Anuriansyah
53040190048
PENDAHULAN
Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan provinsi yang terletak di
selatan pulau Jawa. Wilayah selatan Yogyakarta berbeatasan dengan laut,
sedangkan utaranya bermuara pada gundukan tanah yang indah yaitu,
Gunung Merapi. Diapit dua wujud alam yang berseberangan membuat
Yogyakarta kental dengan nilai-nilai filosofis yang mengakar dan terus
tumbuh hingga saat ini. Seperti halnya tata kota yang mengacu kepada garis
imajiner yang lurus dari Pantai Parangtritis hingga ke puncak Gunung
Merapi. Garis imajiner merupakan gagasan dari Sri Sultan
Hamengkubuwono I yang memiliki makna mengenai filosofi perjalanan
hidup manusia, yakni lambang keselarasan dan keseimbangan hubungan
manusia dengan Tuhan (Hablun min Allah), manusia dengan alam (Hablun
min Alam) dan dengan sesama manusia (Hablun min Annas).
Keselarasan dan keseimbangan hubungan dengan Tuhan dan alam
diwujudkan melalui ritual rasa syukur yang dilaksanakan setiap tahunnya
pada tanggal 1 Ruwah (red; Jawa) atau pada tahun ini jatuh pada tanggal 5
Maret 2022. Upacara Adat (ritual) Labuhan di Gunung Merapi digelar oleh
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. “Labuh” sendiri memiliki arti
“persembahan”. Upacara ini merupakan rangkaian peringatan Tingalan
Dalem Jumenengan atau bertahtanya Sri Sultan Hamengkubuwana X sebagai
Raja Keraton Yogyakarta.
PEMBAHASAN
a. Sejarah Labuhan Merapi
Menurut hasil wawancara pada tanggal 1 Desember 2022 dengan Bapak
Purwadi selaku sesepuh dan merupakan anggota yang ikut aktif dalam ritual
labuhan tersebut, mengatakan bahwa sejarah labuhan gunung Merapi
dahulunya merupakan pertapa an Panembahan Senopati di pantai
Parangkusumo. Ketika sedang bertapa Panembahan Senopati ini ditemui
seorang putri yang juga merupakan penguasa alam di bagian selatan Jogja
yaitu Ratu Laut Selatan. Ratu Laut Selatan pun bertanya kepada Panmebahan
Senopati mengenai tujuan tapa yang dilakukannya. Panembahan pun
menjawab dan mencurahkan keluh kesahnya terkait masalah yang sedang
247
melanda kehidupan di kraton yaitu adanya peperangan antara Kerajaan
Mataram dengan Kerajaan Pajang yang membuat kraton tidak aman dan
tentram.
Lalu Ratu Laut Selatan pun menyuruhnya pulang dan memberi suatu
jimat berupa telur jagat. Sesampainya di Kraton pengawal Panembahan
Senopati disuruh memberikan telur tersebut kepada juru taman dikarenakan
telur tersebut berbahaya bila dimakan oleh Panembahan Senopati. Ahirnya
telur tersebut dimakan oleh juru taman setelah dimakan langsung berubah
menjadi raksasa yang membuat juru taman ini protes dengan Panembahan
Senopati menagapa saya menjadi raksasa seperti ini dan Panembahan
Senopati menjawab mengapa telur itu kamu makan saya tidak menyuruhmu
untuk mamakan telur tersebut. Juru taman ini tidak lagi hidup di Kraton
namun diberi tugas hidup di Merapi, yaitu menjaga gunung Merapi agar
masyarakat Yogyakarta terhindar dari bencana gunung Merapi dan setiap
tahun akan dikirimi barang-barang kesukaan juru taman dan kesukaan raja
yaitu berupa uborampe.
Gunung Merapi diyakini sebagai tempat hantu dan roh seperti di Kraton
Yogyakarta. Gunung Merapi juga diyakini sebagai karakter yang kuat dan
jiwa yang kuat dikarenakan adanya mitos perjanjian suci antara Kerajaan
Maratam, Sapu Jagat dan Ratu Laut Selatan. Mitos tersebut memunculkan
konsep-konsep tentang “sedulur lima pancer” yaitu tentang mitos geografis
(Istana Gunung Merapi dan Laut Selatan) dan lokasi arwah orang yang sudah
meninggal.
Sedangkan menurut Tirtahamidjaja (2002: 5) mengatakan bahwa awal
mula upacara labuhan itu terkait dengan upacara Panembahan Senopati yang
mencari dukungan moral guna memperkuat keduduknya menjadi raja di
kerajaan Mataram. Dukungan yang diharapkan diperoleh dari Ratu Laut
Selatan, yakni mahkluk halus penguasa Laut Selatan. Munculah kemudian
adanya semacam perjanjian bahwa Ratu Laut Selatan bersedia membantu
segala kesultanan Panembahan Senopati beserta anak dan keturunannya.
Sebagai imbalannya, Panembahan Senopati dan anak keturunannya wajib
memberi persembahan kepada para penunggu gunung Mearapi dalam bentuk
upacara labuhan. Seiring berjalanya waktu, upacara labuhan gunung Merapi
menjadi tradisi dari kerajaan Mataram semenjak adanya Perjanjian Giyanti,
13 Februari 1755 (Palihan Nagari) terpecah menjadi dua, yakni Kesultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
b. Prosesi Pelaksanaan Ritual Labuhan Merapi
Upacara Labuhan Merapi dilaksanakan tepat di lereng gunung Merapi.
Prosesi pelaksanaan tradisi labuhan gunung Merapi yaitu meliputi: serah
terima uborampe dari pihak Keraton Yogyakarta kepada juru kunci gunung
248
Merapi, kenduri, tirakatan di malam hari. Sebelum dilaksanakannya labuhan
gunung Merapi pada pagi harinya jam 06.00 pagi tepatnya di depan pendopo,
yaitu diadakannya sebuah upacara atau persiapan untuk melaksanakan
labuhan gunung Merapi. Setelah selesai upacara tersebut baik itu juru kunci,
abdi dalem gunung Merapi, maupun masyarakat sekitar lereng merapi
barulah mereka berbondong-bondong menuju ke lereng gunung Merapi yaitu
tepatnya berada di Bangsal Sela Pengantin. Bangsal Sela Pengantin
merupakan tempat diadakannya labuhan gunung Merapi dan di Bagsal Sela
Pengantin ini terdapat sebuah selo atau batu kembar yang dahulunya
digunakan untuk pertemuan antara Empu Rama, Empu Ramadi, Kyai
Sapujagad, Kyai Krincing Wesi, Kyai Branjang Kawat, Kyai Sapu Angin,
Kyai Petruk, Kiyai Megantoro dan Nyai Gadhung Mlati.. Setelah sampai di
lokasi dan semua uborampe diletakkan ditempat yang telah ditentukan yaitu
di lereng gunung Merapi tepatnya di Petilasan Rumah Mbah Maridjan.
Barulah pelaksanaan labuhan gunung Merapi dimulai dan dipimpin oleh juru
kunci gunung Merapi.
c. Nilai-nilai Ritual Labuhan Merapi
Ritual labuhan ini bertujuan sebagai wujud ungkapan rasa terimakasih
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, alam dan mendoakan para leluhur baik
yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Berkat Karunia Tuhan-lah
masyarakat dapat hidup makmur dan aman dari bencana yang sewaktu-waktu
bisa melanda mereka.
d. Respon Masyarakat terhadap Ritual Labuhan Merapi
Dalam suatu tradisi disetiap daerah sudah menjadi hal yang wajar
terdapat pro dan kontra dikalangan masyarakat. Tidak terkecuali dengan
Ritual Labuhan Merapi yang dilaksanakan di setiap tahunnya ini. Melihat
dari arah tujuan dan manfaat yang dapat disaksikan langsung oleh warga
sekitar, banyak yang turut aktif mengikuti bahkan merelakan harta dan hasil
buminya untuk kesuksesan ritual tersebut. Namun tidak sedikit pula warga
masyarakat yang masih takut dan tidak berkenan dengan ritual tersebut.
Dengan alasan faktor keselamatan yang sewaktu-waktu bisa mengancam
nyawa orang-orang yang mengikuti ritual Labuhan Merapi. Karena telah kita
ketahui bahwa ritual Labuhan Merapi dilaksanakan tepat dilereng gunung
Merapi dirumah Petilasan Mbah Maridjan yang merupakan daerah rawan
bencana.
e. Pandangan Islam mengenai Ritual Labuhan Merapi
Di zaman postmodernisme, kita memahami bahwa masyarakat Jawa
masih memiliki akulturasi yang tinggi terhadap nilai-nilai Islam. Adanya
kebudayaan Jawa yang berkembang di daerah-daerah menunjukkan Islam
menyebar di Indonesia melalui kultur kebudayaan. Tradisi masyarakat di
249
Pulau Jawa masih sangat kental dengan budaya dan adat istiadat kejawen
atau tradisional. Seperti tradisi ritual Labuhan Merapi di Yogyakarta yang
merupakan simbol kedamaian alam dan manusia. Dan pada prinsipnya
masyarakat Jawa adalah masyarakat yang religius, yakni masyarakat yang
memiliki kesadaran untuk memeluk suatu agama. Dengan melihat tujuan
serta apa yang dilakukan dalam ritual Labuhan Merapi tersebut, sama sekali
tidak ada unsur kemusyrikan yang mana musyrik sendiri adalah dosa yang
sangat besar karena dalam ritual tersebut murni berdoa kepada Tuhan dan
tidak kepada penunggu gunung Merapi. Seperti telah dijelaskan dalam al-
Qur’an surah An-Nisa ayat 116:
NΕ Qℷ ΕΕ Ϭ ϼ Ύ Ϧ Ϧ ϦϬ ϟ Ύ ϟ˴
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan
(sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa
yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu)
dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
Adat Jawa memang kental dengan hal-hal mistis, akan tetapi selagi
masyarakat tidak meyakini bahwa makhluk halus atau roh yang
menyebabkan terjadinya sesuatu, maka iman terselamatkan. Sedangkan
ziarah dan berdoa dalam rangkaian ritual Labuhan Merapi di rumah Petilasan
Mbah Maridjan tidak bisa dikatakan syirik karena Nabi Muhammad dalam
haditsnya juga menjelaskan bahwa ziarah kubur diperbolehkan. Sebagaimana
sabda Nabi Muhammad SAW:
˴ N ϦQℷ N N 㘮Β Q Q Ω N Q Ϧᦈ QΩ㘮 ΕΨ
ΕN
Artinya: “Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang)
berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati,
menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian
berkata buruk (pada saat ziarah).” (HR. Hakim).
f. Analisis Ritual Labuhan Merapi
Ritual Labuhan Merapi merupakan ungkapan rasa syukur yang
diwujudkan dalam bentuk sedekah hasil bumi yang telah ditentukan
komposisi nya dan waktu pelaksanaannya oleh warga masyarakat sekitar
gunung Merapi dan dipimpin oleh juru kunci utusan kraton Ngayogyakarta.
Bukanlah ritual pemujaan akan tetapi doa-doa yang dipanjatkan untuk
mendoakan keselamatan baik untuk leluhur yang telah meninggal maupun
masyarakat yang masih hidup. Banyak peserta yang mengikuti ritual ini
beragama Islam sehingga tata cara dan prosesinya pun tidak melanggar
syariat agama. Segala persembahan (uborampe ) tidak dibuang begitu saja
namun dibagikan kepada para peserta ritual setelah proses labuhan selesai.
250
Nilai moral dan keagaman dalam ritual ini sangat kental sehingga
dipertahankan sampai saat ini.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil di atas penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa
upacara labuhan sebagai wujud penghormatan kerabat Kraton Yogyakarta
pada budaya leluhur. Upacara labuhan ini sudah ada sejak Panembahan
Senopati menjadi raja Mataram. Labuhan ini dilaksanakan setiap satu tahun
sekali yaitu pada tanggal 1 ruwah. Labuhan ini diselenggarakan untuk
mempringati kenaikan tahta sultan. Untuk tahun ini prosesi labuhan gunung
Merapi dilaksanakan pada tanggal 5 Maret 2022 dikediaman petisan Mbah
Maridjan. Labuhan ini diselenggarakan untuk persebahan para penunggu
gunung Merapi, dikarenakan para penunggu gunung Merapi sangat dihormati
dan diperlakukan sebagai leluhur dari raja-raja Mataram. Oleh karena itu
setiap tokoh yang dianggap sebagai leluhur selalu diberi persembahan setiap
kali dilaksanakan labuhan gunung Merapi, yaitu berupa uborampe dan sajian
yang disiapkan oleh pihak Kraton Yogyakarta. Tradisi labuhan ini
mempunyai makna sebai alat komunikasi antara manusia dengan Tuhan
maupun dengan alam. Tradisi labuhan gunung Merapi ini masih
dilaksanakan dengan baik dan diyakini sebagai peninggalan leluhur,
sehingga masyarakat masih menjalankan dan melestarikan tradisi labuhan
gunung Merapi hingga sampai saat ini.
251
252
TRADISI MEGENGAN DALAM MENYAMBUT RAMADHAN DI
DESA CANGGU KECAMATAN JETIS KABUPATEN
MOJOKERTO
Nailatul Chumairoh
53040190029
Abstrak
Tradisi adalah suatu kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama dan
menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari
suatu wilayah, negara, kebudayaan, golongan/agama yang sama.Masyarakat
jawa terkenal dengan beragam jenis tradisi atau budaya yang ada di
dalamnya. Baik tradisi cultural yang semuanya ada dalam tradisi atau budaya
jawa tanpa terkecuali. Diantara bentuk tradisi yang hingga saat ini masih
menjadi corak keberagamaan masyarakat tanah Jawa yang dilakukan setiap
datangnya bulan Ramadhan adalah tradisi Megengan. Tradisi sedekah
Megengan merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di
pulau jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang
orang jawa zaman dahulu. Dalam budaya Jawa, Megengan merupakan
budaya yang dikenal dengan upacara yang disakralkan secara tradisi yang
masih di pegang teguh dan masih tetap berlangsung salah satunya di daerah
Jawa Timur Dusun Penompo, Desa Canggu, Kecamatan Jetis Kabupaten
Mojokerto.
Kata Kunci : Tradisi, Budaya Jawa, Megengan
PENDAHULUAN
Tradisi adalah suatu kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama dan
menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari
suatu wilayah, negara, kebudayaan, golongan/agama yang sama.324 Hal yang
paling mendasar dari tradisi yaitu adanya informasiyang diteruskan dari
generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya ini,
suatu tradisi akan punah. Secara termologi perkataan tradisi mengandung
suatu pengertian yang tersembunyi tentang adanya kaitan masa lalu dengan
masa kini. Ia merujuk kepada sesuatu yang diwariskan oleh masa lalu tetapi
masih berwujud dan berfungsi pada masa sekarang.
Hasan Hanafi, mendefinisikan bahwa tradisi (Turats) merupakan segala
warisan masa lampau yang masa pada kita dan masuk ke dalam kebudayaan
yang sekarang berlaku. Berarti bagi pandangan Hanafi bahwa turats itu tidak
324Suyanto, Pandangan Hidup Jawa, (Semarang, Dahana Priz, 1990), 144
253
hanya peninggalan sejarah, tetapi juga sekaligus merupakan persoalan zaman
kini dengan berbagai tingkatannya.
Masyarakat jawa memang terkenal dengan beragam jenis tradisi atau
budaya yang ada di dalamnya. Baik tradisi cultural yang semuanya ada
dalam tradisi atau budaya jawa tanpa terkecuali. Salah satu tradisi
masyarakat jawa yang hingga sekarang masih tetap eksis dilaksanakan dan
sudah mendarah daging serta menjadi rutinitas setiap tahunnya adalah tradisi
Megengan. Tradisi sedekah Megengan merupakan salah satu bentuk ritual
tradisional masyarakat di pulau jawa yang sudah berlangsung secara turun-
temurun dari nenek moyang orang jawa zaman dahulu. Dalam acara
Megengan terdapat kegiatan melantunkan doa bersama-sama yang dilakukan
oleh masyarakat, ritual tradisi Megengan yang sudah menjadi rutinitas bagi
masyarakat jawa ini merupakan salah satu jalan dan sebagai simbol rasa
syukur kepada Yang Maha Pencipta karena masih dipertemukan dengan
bulan ramadhan kembali.
Rumusan masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah
bagaimana proses dilakukannya budaya Megengan di Kecamatan Jetis, desa
Canggu. Penelitian ini mengangkat budaya Megengan karena Megengan
merupakan keanekaragaman budaya yang memiliki nilai-nilai yang perlu
dilestarikan, dikembangkan dan dihormati sebagai warisan terdahulu yang
menambah keberagaman budaya di Indonesia.
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi4. Data yang ada dianalisis secara kritis dan mendalam, dan
dengan menggunakan berbagai literatur
yang relevan. Teknik pengambilan data dilakukan degan melakukan
wawancara kepada beberapa masyarakat mengenai budaya Megengan yang
dilaksanakan. Data berisi mengenai proses dilakukannya budayaMegengan.
PEMBAHASAN
3. Deskripsi Lokalitas Budaya Megengan
Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya lokal masyarakat
setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas, meskipun bernilai lokal
tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal, Satriani
(dalam Bakhtiar,2016:658).
Menurut Zulkarnain, dkk (2008:72), kearifan lokal merupakan prinsip-
prinsip dan cara-cara tertentu yang dianut, dipahami, dan diaplikasikan oleh
254
masyarakat lokal dalam berinteraksi dan berinterelasi dengan lingkungannya
dan ditransformasikan dalam bentuk sistem nilai dan norma adat.
Kearifan lokal yang tercermin dalam kebiasaan hidup masyarakat yang
telah berlangsung lama dalam perkembangannya dapat berubah wujud
menjadi tradisi, meskipun prosesnya membutuhkan waktu yang sangat
panjang. Suatu kebiasaan yang turun temurun dalam sebuah masyarakat
dengan sifatnya yang luas disebut dengan tradisi, yang meliputi segala
kompleks kehidupan, sehingga tidak mudah disisihkan dengan perincian
yang tepat dan pasti, terutama sulit diperlakukan serupa atau mirip, karena
tradisi bukan objek yang mati, melainkan alat yang hidup untuk melayani
manusia yang hidup pula, Pintenate dan Bukhari (2017:911). Diantara bentuk
tradisi yang hingga saat ini masih menjadi corak keberagamaan masyarakat
tanah Jawa yang dilakukan setiap datangnya bulan Ramadhan adalah tradisi
Megengan.
Dalam budaya Jawa, Megengan merupakan budaya yang dikenal dengan
upacara yang disakralkan secara tradisi. Dalam Islam terdapat delapan bulan
yang dinyatakan sebagai bulan suci, yaitu bulan Muharram (Suro), Shafar
(Sapar), Rabi'ul Awal (Mulud), Rajab (Rejeb), Sya'ban (Ruwah), Ramadhan
(Poso), Dzulqa'dah (Selo), dan Dzulhijjah (Besar). Pada bulan-bulan tersebut
umat Islam Indonesia khususnya masyarakat Jawa melakukan banyak ritual
atau perayaan untuk memperingatinya, dan memang dalam delapan bulan
tersebut mempunyai arti penting sehingga harus diperingati. Melalui
peringatan atau perayaan itu keterkaitan dengan identitas sebagai Muslim
diekspresikan melalui simbol- simbol tertentu.
4. Nilai-nilai dan Respon Masyarakat
Kegiatan megengan ini mempunyai banyak arti dalam pelaksanaannya.
Selain untuk mengumpulkan majelis dalam satu forum, megengan juga
bermanfaat sebagai, pertama, wujud do'a kepada leluhur. Didalam megengan
terdapat suatu makanan yang disebut kue apem. Konon filosofi apem sendiri
berasal dari bahasa arab al-‘afw yang berarti meminta maaf kepada leluhur
agar mereka ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah, dan diberikan
berbagai kenikmatan surga Allah. Kue apem dalam tradisi megengan juga
mempunyai makna bahwa, saling memaafkan adalah satu di antara ajaran
Islam yang luhur dan mulia. Meminta maaf kepada orang lain jika berbuat
kesalahan, menurut Islam adalah perbuatan baik dan suatu keharusan. Akan
tetapi memaafkan, atau memberi maaf orang lain yang mempunyai kesalahan
kepada kita adalah suatu perbuatan mulia. Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah saw
bersabda: ”Musa bin Imran a.s, berkata: Wahai Tuhanku diantara hamba-
hamba-Mu, siapakah orang yang paling mulia dalam pandangan-Mu? Allah
255
Azza Wajalla menjawab: Orang yang memaafkan walaupun ia mampu
membalas.” (HR. Imam Baihaqi).
Dalam al-Qurcan, perintah untuk memaafkan orang lain, antara lain
terdapat dalam beberapa ayat berikut, tersebut dalam Surat al-A'raf/7: 199.
Artinya: "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf,
serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh."
Kedua, sebagai wujud sedekah. Didalam tradisi Megengan juga terdapat
pengamalan sebuah anjuran nabi, yakni untuk bersedekah makanan kepada
orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Nabi. Artinya:
“Dari Abi Dzar ra. ia berkata: “Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Abu Dzar,
jika kamu memasaka kuah, maka perbanyaklah airnya, dan bagi-
bagikanlahkepada tetanggamu.”
Dalam Megengan sendiri sedekahnya dapat berupa nasi kuning, bubur,
tumpeng atau kue apem. Sesungguhnya sedekah menumbuhkan rasa kasih
sayang dalam hati, dan membantu menghilangkan selubungnya. Allah Swt.,
berfirman dalam QS. At-Taubah: 103
"Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkandan menyucikan
mereka, dan berdo'alah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu
(menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar,
Maha Mengetahui."
Ketika menafsirkan ayat diatas Imam Asy-Sya'rawi mengatakan: ini
adalah sedekah yang tidak wajib. Sebab, jika yang dimaksud adalah sedekah
wajib, niscaya tidak membutuhkan perintah baru. Tetapi ini adalah sedekah
kafarat (penebus dosa). Oleh karena itu, para ulama selalu mengajarkan
untuk memperbanyak sedekah sepanjang waktu, khususnya pada waktu-
waktu yang penting. Imam an-Nawawi menjelaskan:
“para ulama syafi'iyyah berkata, disunnahkan untuk memperbanyak
sedekah ketika menghadapi urusan-urusan penting”.
Ketiga, sebagai sarana untuk membangun persaudaraan dan rasa kasih
sayang antar umat islam. Tradisi dalam Megengan ini seringkali dibuat oleh
pemimpin masyarakat setempat sebagai sarana untuk mengeratkan rasa
persaudaraan dan kasih sayang antar masyarakat. Agar ketika terjadi sebuah
permasalahan atau bencana dalam suatu rumah, maka rumah yang lain akan
membantu dengan senang hati menyelesaikan permasalahan yang terjadi
dalam rumah tersebut.
Di dalam beberapa hadits, Rasulullah Saw. menerangkan akan persoalan
ini, diantaranya adalah sebagai berikut: " Dari Anas bin Malik bahwa
Rasulullah SAW bersabda: " Siapa yang suka rezekinya akan diperluas dan
256
umurnya bertambah panjang maka hendaklah ia menjalin shilaturrahim."
(H.R Bukhari).
.Sebagai sebuah keyakinan, Islam sangat menjunjung tinggi nilai
persaudaraan, kasih sayang dan saling mencintai antar sesama manusia,
terlebih khusus terhadap sesama Muslim. Sedemikian penting dan tingginya
perhatian Islam tentang menjalin persaudaraan dan cinta kasih sayang
sehingga persoalan ini dikaitkan dengan kesempurnaan iman. Bentuk acara
Megengan, selain menumbuhkan kegemaran untuk melaksanakan sedekah
dan memuliakan tetangga, ternyata juga mempunyai fungsi melekatkan nilai-
nilai persaudaraan diantara sesama muslim hingga antar umat manusia.
Sedangkan untuk pro dan kontra terhadap kegiatan ini masyarakat di
desa Canggu Mojokerto ini bersikap terbuka dan tanpa adanya halangan tetap
melakukan kegiatan ini guna untuk mengirimkan do'a terhadap para leluhur
yang telah mati. Warga desa masih beranggapan bahwa jika mereka tidak
melakukan Megengan atau mengirim do'a pada leluhur mereka mereka masih
meyakini bahwa sang leluhur akan bertanya-tanya mengapa anak cucunya
tidak mengirimkan do'a.
Adapun ketika ada warga yang tidak melaksanakan Megengan ini
mereka biasanya akan menggantinya dengan Banca'an atau berbagi makanan
kepada warga lain.
Pandangan Islam terkait Lokalitas Budaya
Dalam konteks dakwah Islam, tradisi semacam ini bisa dijadikan sebagai
media dakwah melalui pelaksaan tradisi, yakni Megengan. Seperti upacara
Panca Makara SunanBonang yang diubah substansinya namun tetap pada
bentuknya. Yaitu terdapat perkumpulan orang yang duduk melingkar,
terdapat makanan sebagai tanda syukur kepada Allah, dan mengganti ritual
persetubuhan, pertapaan, dan ekstase dengan berdoa pada Allah. “Ma Lima”
sebagai istilah yang digunakan dalam penyebutan syarat-syarat Panca
Makara pun diubah maknanya sebagai lima larangan "ma", yaitu madat
(minuman keras), madon (bermain perempuan), maling (mencuri), main
(judi), dan maksiat (perbuatan buruk).
Dimana hal tersebut lebih mudah dipahami oleh kalangan masyarakat
awam, dan dengan model perubahan semacam ini, masyarakat tidak terlalu
kaget dan terlalu banyak beradaptasi. Oleh karena itu, perubahan-perubahan
yang diupayakan oleh Walisongo dalam masyarakat Jawa adalah perubahan
pemikiran dan keyakinan, bukan pada perubahan adat dan tradisi yang
memang tidak diharuskan dalam Islam, tanpa terkecuali tradisi Megengan.
Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah Swt :
257
"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar,
tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu,
maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian, apabila
engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."
Hasil Analisis
Pada era modern ini terdapat salah satu upacara atau tradisi yakni
Megenganmasih di pegang teguh dan masih tetap berlangsung salah satunya
di daerah Jawa Timur Dusun Penompo, Desa Canggu, Kecamatan Jetis
Kabupaten Mojokerto. Pertama, Megengan adalah untuk meyiarkan ajaran
Islam ke dalam masyarakat setelah masyarakat mulai mengenal Islam. Kedua,
sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. sebagai atas diberikannya
berbagai macam bentuk nikmat. Ketiga, bentuk daripada doa kepada para
leluhur yang telah berpulang kehadirat Allah SWT. Keempat, wujud
pemberian sedekah berupa makanan kepada tetangga. Kelima, meneguhkan
Al-Akhwah dan Alshilah al-Rahim (Persaudaraan dan Kasih Sayang).
Tradisi Megengan ini bisa dipandang sebagai fenomena living Qur'an karena
adanya variabel atau unsur yang menentukan sesuatu sebagai fenomena
living Qur'an yaitu bahwa fenomena tersebut berhubungan atau bersumber,
baik langsung maupun tidak langsung, al-Qur'an al-Karim.
Kesimpulan
Masyarakat jawa memang terkenal dengan beragam jenis tradisi atau
budaya yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah tradisi sedekah
Megengan merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di
pulau jawa yang sudah berlangsung secara turuntemurun dari nenek moyang
orang jawa zaman dahulu. Megengan dalam bahasa Jawa diartikan sebagai
ngempet atau menahan yang mempunyai makna, untuk mengingatkan
bahwasanya akan datang bulan puasa, yang mana dalam bulan tersebut kita
menahan segala bentuk nafsu. Kegiatan megengan ini mempunyai banyak
arti dalam pelaksanaannya. 1) sebagai wujud do'a kepada leluhur 2) sebagai
wujud sedekah terhadap sesama 3) sebagai sarana untuk membangun
persaudaraan dan rasa kasih sayang antar umat islam dan antar umat manusia
lainnya.
Tradisi Megengan bisa dipandang sebagai fenomena living Qur'an
karena fenomena tersebut berhubungan atau bersumber baik langsung
258
maupun tidak langsung, al-Qur'an al-Karim. Pertama, tujuan utama awal dari
Tradisi Megengan adalah untuk meyiarkan ajaran Islam ke dalam masyarakat
setelah masyarakat mulai mengenal Islam. Kedua, sebagai ungkapan rasa
syukur kepada Allah Swt., sebagai atas diberikannya berbagai macam bentuk
nikmat. Ketiga, bentuk daripada doa kepada para leluhur yang telah
berpulang kehadirat Allah Azza wa Jalla. Keempat, wujud pemberian
sedekah berupa makanan kepada tetangga. Kelima, meneguhkan Al-Akhwah
dan Al-shilah alRahim (Persaudaraan dan Kasih Sayang).
259
260
DAFTAR PUSTAKA
A Darussalam. Wawasan Hadis Tentang Silaturahmi. Jurnal Tahdis, Vol. 8,
No. 2 2017.hal 118
A rriyono dan Siregar, Aminuddi. Kamus Antropologi.(Jakarta : Akademik
Pressindo,1985) hal. 4
A.Kasah, Hamid, Grebeg Besar Kota Wali Demak, ( Demak : CV.Cipta Adi
Grafika, 20060
Abbudin Nata. 2014. Tafsir Ayat Ayat Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.hal
59
Abdullah, Alia (2018), Nyangku : Implementasi Nilai-Nilai Sosial Melalui
Ritual Upacara Adat Desa Panjalu Ciamis Jawa Barat, Jurnal Studi
Masyarakat Dan Pendidikan, Vol I, No.2
Abimanyu, Soedjipto, Babad Tanah Jawi, ( Jogyakarta: Laksana, 2014)
Achmad, Nur, “Perayaan Grebeg Besar Sebagai Sarana Komunikasi Dakwah,
“ At- Tabsyir Vol. 1 dan 2, (Juli-Desember 2013)
Adlini, Miza Nina. Anisya Hanifa Dinda, dkk. Metode Penelitian Kualitatif
Studi Pustaka. Edumaspul - Jurnal Pendidikan. 2022. Vol. 6 No. 1
Adriana, Iswah. 2011. “Neloni, Mitoni atau Tingkeban: (Perpaduan antara
Tradisi Jawa dan
Afifah,Emi Nur. 2015.Korelasi Konsep Syukur Dalam Budaya Jawa dan
Ajaran Islam (studi Kasus Sedekah Bumi di Desa Tegalharjo
Kecamatan TRangkil Kabupaten Pati). UIN Wali Songo Semarang .
AgusSalim,PerubahanSosial:SketsaTeoridanRefleksiMetodologiKasusIndon
esia,Yogyakarta:TiaraWacana, 2002.
Ahmad Thib Raya, Siti Musdah Mulia. 2003. Menyelami seluk beluk Ibadah
dalam Islam. Bogor: Kencana. Hal 140
Ali, Mukti. 2017. Komunikasi Antar Budaya Dalam Tradisi Jawa.
Yogyakarta: Pustaka Ilmu.
Al-Kusyairi, M. Khoir. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Hadist Ibadah Aqiqah,
Jurnal Al-
Amin Darori. 2000. Islam dan Budaya Jawa. Yogyakarta: Gama Media.
Amin, Komaruddin dan M. Arskal Salim GP. 2018. Ensiklopedi
Islam Nusantara edisi budaya
261
Amin, Komaruddin dan M. Arskal Salim GP. 2018. Ensiklopedi
Islam Nusantara edisi budaya. Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi
Keagamaan Islam Kementrian Agama RI
Amin, Sidik Muslihun. (2020). Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam
Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal di Desa Dieng Kulon Kabupaten
Banjarnegara. Skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Anantiyo, Achmad Fajar. 2021. Tradisi Upacara Temon Nganten Pra Nikah
Dalam Pandangan Hukum Islam ( Studi Analisis Di Desa Reco Kec.
Kertek, Kab. Wonosobo), Skripsi (Purwokerto : Program Studi
Hukum Keluarga Islam S1 IAIN Purwokerto,
Andayani, Natalia Tri. 2013. Eksistensi Tradisi Saparan pada Masyarakat
Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang.
Semarang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Anderson, Benedict. 1990. Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-budaya Politik di
Indonesia, Yogyakarta: Mata Bangsa.
Andrioza dan Badrus Zaman. Edutainment dalam Mapel PAI. Jurnal
Mudarrisa, Vol. 8, No. 1 2016.. 126
Anggito, A and Johan Setiawan.(2018).Metodologi penelitian kualitatif.
Sukabumi: CV Jejak Publisher.
Angrianti, Wiwik. 2015. Aqidah Dan Ritual Budaya Muslim Jawa Studi
Tentang Peran Utama Dalam Aktualisasi Aqidah Islam Di Desa
Mentaos Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang. Jurnal Cemerlang
Vol. 3, No. 1
Anwar, Khoirul. 2013.MaknaKulturaldanSosial-
EkonomiTradisiSyawalan,Vol21,No2.
Arif, Syamsuddin dkk. 2006. Wanita Dan Keluarga Citra Sebuah Peradaban.
Jakarta : Lembaga Kajian dan Pengembangan Al-Insan.
Arifani, Moh. Anif,” Model Pengembangan Dakwah Berbasis Budaya Lokal
( Analisis Tentang Akulturasi Islam dan Budaya Lokal Dakwah
Sunan Kalijaga)”. Ilmu dakwah vol. 4 ol No. (15 januari-juni 2020).
Arifin, Muhammad. 2016. Islam Dan Akulturasi Budaya Lokal Di Aceh
(Studi Terhadap Ritual Rah Ulei Di Kuburan Dalam Masyarakat
Pidie Aceh. Islam Futura. Vol. 15, No. 2
Asir, Ahmad., 2014. ‘Agama dan Fungsinya Dalam Kehidupan Umat
Manusia, Jurnal Penelitian dan Pemikiran Keislaman Vol. 01, No.
01.
262
Astanti ,Riska Yun . Akulturasi nilai Pendidikan islam dan budaya jawa dana
kegiatan merti dusun di dusun krebet kelurahan sendangsari
kecamatan Bantul DIY 2021. Salatiga : Studi Pendidikan Agama
Islam IAIN Salatiga,2021.
Ayu, Aniisa Setyawati. dan Puji Lestari, ‘’Partisipasi Masyarakat Dalam
Upacara Merti Dusun Di Dusun Mantup Desa Baturetno
Yogyakarta”.
Badriah, Laelatul. Akulturasi Nilai – Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi
Kelahiran di Daerah
Badrudin, Antara Islam Dan Kebudayaan, IAIN Sultan Maulana Hasanuddin
Banten.
Baedhowi. 2008. Kearifan Lokal Kosmologi Kejawen dalam Agama dan
Kearifan Lokal dalam Tantangan Global. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Baidawi, Kamil.2020. Sejarah Islam Di Jawa. Yogtakarta: Araska.
Boanergis, Yohanes. 2019. “Tradisi Mitoni sebagai Perekat Sosial Budaya
Masyarakat Jawa”.
Budaya lokal yang dimaksudkan di sini adalah perilaku sehari-hari
masyarakat Semarang yang berbasis pada nilai-nilai tradisi yakni
ekspresi budaya yang berorientasi pada spirit Jawa pesisiran.
Burhan, Bungin. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana. Hal
68
Bustanul Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia ( Raja Grafindo Persada,
2006 ), 96-97.
Bustanul Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi
Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 95
Chayadi, Ashadi, 2018. Ejurnal IAIN Bengkulu: Pengembangan Dakwah
Melalui Gerakan Kebudayaan. Vo. 18 No.2
Chrisanti, Serafina Indah. (2021). Persepsi Masyarakat Dieng Terhadap
Ruwatan Rambut Gimbal: Sebuah Tinjauan Literatur. Jurnal
Komunikasi dan Media. Vol. 01 No. 02.
Clifford Greertz, Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa (Jakarta:
Pustaka Jaya, 1989). 13.
Dahlan, Abd. Rahman. 2010. Ushul Fiqih. Jakarta: Amzah.
263
Dalam Akad Jual Beli di Pasar Ternak Nagari Palangki Kecamatan IV
Nagari
dalam Tradisi Mitoni”. Jurnal Penelitian Mahasiswa Ilmu Sosial, Ekonomi,
dan Bisnis Islam. 2(1): 93-94.
Damayanti, Puspa Ayu. (2011). Dinamika Perilaku “Nalak” Anak Berambut
Gimbal di Dataran Tinggi Dieng. Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta. Psikoislamika. Jurnal Psikologi Islam (JPI). Vol. 8 No.
2
Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa (Yogyakarta: Gama Media,
2002), 95
Darori Amin, IslamdanKebudayaan Jawa,Yogyakarta:Gama
Media,2000.KastolaniAbdul,RelasiIslamdanBudayaLokal,AkademiP
engajianIslam Universiti
MalayaMalaysia,Vol.04,No.01,Agustus2016.
Darsono, Sony Kartika. 2013.”Budaya Nusantara Pendekatan Filsafat
Mistika” (Mystical Philosophy).
Desember 2022, pukul 10:00 wib.
Diah, Naomi, 2018, Budaya Lokal di Era Global,JurnalEkspresi Seni,
Vol.20, No. 2
Dinawati, I. 2010. Istilah-Istilah Sesaji Dalam Tradisi Merti Desa Di Desa
Dadapayam Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang (Kajian
Etnolinguistik). Surakarta: Fakultas Sastra dan Seni Rupa Univeritas
Sebelas Maret.
Dozan, W. (2020). HADITS-HADITS TAHLILAN: ANALISIS KONFLIK
DAN NILAI-NILAI SOSIAL MASYARAKAT. Al-Bayan, 3(2).
Duhito, Wahyu Sari., 2014. Jurnal Studi Islam, Vol. 04, No. 01.
Dwi, Galuh Purwasih. 2019.Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam
Menumbuhkan Motivasi Pembelajaran di MI Al-Hikmah Karangrejo
dan MI Sunan Ampel Bono, Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan
Kajian Keislaman.
Dzulkifli, Mohammad. 2021. Konsistensi Tradisi Tahlilan dan Kenduri di
Kampung Sapen Perspektif Fenomenologi Agama, Jurnal Pemikiran
dan Kebudayaan Islam, Vol. 30, No. 1.
Edy Muspriyanto dkk, Semarang Tempo Doeloe Meretas Masa, (Semarang:
Terang Publishing, 2006), hlm. 65
264
Edy Muspriyanto, Semarang Tempo Doeloe: Meretas Masa (Semarang:
Terang Publishing, 2006), 114.
Efendy, Iwan, 2004, Dinamika Grebeg Besar Demak pada Tahun 1999-2003,
Semarang. Journal of Indonesian History, 3 (1).
Eka, Astin Tumarjio, Muhammad Iqbal Bisrsyada. 2022. Pergeseran Prosesi
dan Makna dalam Tradisi Merti Dusun Desa Wisata Budaya Dusun
Kadibolo.
F, Ahmad Jauhari.2015. Eksistensi Tradisi Ruwahan Dalam Masyarakat Di
Desa Kecamatan Wonoayu
Fadal, Moh.2008. Kaidah-Kaidah Ushul Fiqih. Jakarta: CV Artha Rivera
Faiqotur Rohmah, Diyah. 2020. Skripsi: Strategi Pengembangan Objek
Daya Tarik Wisata Religi di Makam Kyai Asy’ari Kaliwungu Kendal
Perspektif Sapta Pesona. Semarang: UIN Semarang.
Faizah, K.(2018).Kearifan Lokal Tahlilan-Yasinan dalam Dua Perspektif
menurut Muhammadiyah.Jurnal Aqlam, 3(2).
Fajrussalam, Hisny. 2022. Eksplorasi Kebudayaan Tahlil Dalam Perspektif
Agama Islam dan Masyarakat di Indonesia, Jurnal Of Islamic
Studies, Vol. 7, No. 1.
Fathoni, Abdurahmat. 2006. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan
Skripsi. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Fatihuddin, Dahsyatnya Silaturohmi
Fauzan ,Iqbal . Sebab Tradisi Yaqowiyu Tetap Bertahan Pada Masyarakat
Di Desa Jatinom Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten . Jurusan
Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri
Semarang, Indonesia. Vol.2 (2020)
Fikri Fuadi Ishom. Universalitas Islam Dan Lokalitas Budaya Dalam
Bingkai Islam Nusantara. Teosifi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran
Islam. Vol 8. No 1. 2018.
Firmansyah, Fani. (2021). Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal di Kalangan
Masyarakat Muslim di Desa Dieng Wonosobo (Studi Perbandingan
Antara Pandangan Tokoh Adat dan Tokoh Agama). Skripsi,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Freek Colombijn dan Martine Barwegen, Kota Lama, Kota Baru: Sejarah
Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan, terj.
Purnawan Basundoro dan Johny Alfian Kusyairi (Yogyakarta:
Ombak, 2005), 150-151.
265
Frimayanti, Ade Imelda. 2017. Implementasi Pendidikan Nilai dalam
Pendidikan Agama Islam. AlTadzkiyyah. Vol. 8, No. 2 hal. 257
Furqon, Achmad, dan Zaenal Abidin. 2016. “Makna Kliwonan Bagi Tokoh
Masyarakat Di Batang: (Studi Kualitatif Dengan Interpretative
Phenomenological Analysis)”. Jurnal Empati, , Vol. 5, No. 2
Geertz, Clifford. 1981.Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa.
Jakarta: Pustaka
Ghozali, Abdul Rahman. 2010. Fiqih Munakahat. Jakarta : Kencana Prenada
Media.
Gigih, Misgiharjo Alias dkk. 2021. Eksistensi Perkawinan Adat Jawa Di
Desa Kalibalangan Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung
Utara. Jurnal PEKAN , Vol.6, No.2.
Giri, W., 2010. Sajen dan Ritual Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi.
Glosarium.Nahdliyyin.Retrieved December 28,2022, from glosarium online
website: https://glosarium.org/arti-nahdliyin/,
Greg Fealy dan Sally White, Ustadz Seleb, Bisnis Moral dan Fatwa Online:
Ekspresi Islam Kontemporer (Jakarta: Komunitas Bambu, 2012), 54.
Hadikusuma, Hilman. 2003. Pengantar Ilmu Hukum Adat. Bandung :
Mandar Maju
Hadiyanto.2013.CalenderialRitualSyawalanSebagaiMediasi“NgalapBerkah
”MasyarakatKaliwungiKendal.Semarang:UIN Walisongo.DOI:
https://doi.org/10.14710/humanika.17.1.
Hakim, Apip Rahman. 2019. Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Tahlilan:
Studi Terhadap Masyarakat Kampung Arab Al Munawar 13 Ulu
Palembang. Skripsi. Palembang: UIN Raden Fatah.
Hakim, M Arifin, 2001. Ilmu Budaya Dasar (Teori dan Konsep Ilmu
Budaya), Pustaka Jaya.
Hamsah, Ustadi. Religi Masyarakat Periferi : Analisis Rites Of Passage Atas
Ruwatan Rambut Gimbal di Dieng. Junral Fikrah. 2020. Vol. 8 No. 1
Hamzah Sahal, “Ihwal Warak Ngendok dan Dugderan,” NU Online, 2011,
http://www.nu.or.id/post/read/33261/ihwal-warak-ngendok-dan-
dugderan. Diakses 30 Maret 2018
Hamzah Sahal, Ihwal Warak Neendok dan Dugderan, Senin, 0l Agustus
2011, NU Online Diakses pada 10 April 2010
266
Hamzah, Ghurfon. Iman Fadhilah, 2022. Tradisi Teng-Tengan, Ketuwinan
dan Weh-wehan di Kaliwungu Kendal Jawa Tengah (Kajian Living
Hadist Pendekatan Antropologi Interpretatif Simbolik). Vol 2 No. 2.
Semarang: JASNA
Haq, H. (2019, December 30). Hukum Tahlilan Menurut Mazhab Empat.
Retrieved November 27, 2022, from nu.or.id website:
https://islam.nu.or.id/fiqih-perbandingan/hukum-tahlilan-menurut-
mazhab-empat-bpZVe.
Harmawati, Yuni., Dkk. (2016). Nilai Budaya Tradisi Dieng Culture Festival
Sebagai Kearifan Lokal untuk Membangun Karakter Bangsa. Jurnal,
Journal Of Urban Societys Arts Vol. 3 No. 2. Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Haroen, Nasrun. 2007. Fiqh Muamalah, Jakarta: Gaya Media Pratama.hal 2
Hasibuan, H. R. (2017). ALIRAN ASY’ARIYAH(Kajian Historis dan
Pengaruh Aliran Kalam Asy’ariyah). Al-Hadi, 2(2).
Hasil Wawancara dengan Ibu Hartik, Warga Mayarakat Perumahan
Paspampres, tanggal 30 September 2022.
Hatimah, Husnul. 2021. Tradisi Tahlilan Masyarakat Banjar di Kecamatan
Pahandut Kota Palangka Raya, Jurnal Studi Keislaman, Vol. 2, No.
1.
Hermawan, Ambar. 2017. Kliwonan Dalam Perspektif Historis Dan Sosial
Budaya Masyarakat Batang. Jurnal Penelitian. Vol. 14, No. 1
Hikmah, Vol. 12, No. 2, Oktober 2015
I.B. Wirawan, Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Pradigma: Fakta Sosial,
Definisi Sosial&Perilaku
Sosial,Jakarta:KencanaPrenadaMediaGroup, 2012.
Indra, Fibiona. 2016. Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa
Yogyakarta. Yogyakarta: BPNB
Intani, Retno dan Novita Damayanti. 2018. “Pemaknaan Tradisi Mitoni Adat
Jawa Tengah pada
Interview dengan Djawahir Muhammad, budayawan Semarang, pada tanggal
27 Maret 2017 dilakukan di kediamannya, di Semarang.
Jaques Scheuer.1985. “Inculturation”, dalam Lumen Vitae, International
Review of Religius Education, Washington: International Center for
Studies in Religious Education.
267
Jauhari, Heri, (2018), Makna Dan Fungsi Upacara Adat Nyangku Bagi
Masyarakat Panjalu Al-Tsaqafa, Vol. 15 No.2
Jaya.
Jefry, Erik, Moh, Nilai-Nilai Tradisi Grebeg Besar di Demak. JIIP-Jurnal
Ilmiah Ilmu Pendidikan Volume 5, No. 2, Februari 2022
Jongkie Tio, Kota Semarang dalam Kenangan (Semarang: Lembaga
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, 2007), 37.
Juhrodin, Udin dan Gania febriyanti. 2017. “Analisis Urf Terhadap Tradisi
Acara Tujuh Bulanan
Jurnal Ilmu Budaya. 16(1): 50.
JURNAL THEOLOGIA — Volume 29, Nomor 2, Desember 2018
Kabupaten Siak”. Jom Fisip. 2(2): 9-11.
Kabupaten Sijunjung Provinsi Sumatera Barat, Skripsi (Riau: UIN Suska)
Kaddore, Lebba, (2017), Islam Dan Budaya Local Kajian Antropologi
Agama, Kaukaba Dipantara : Yogyakarta.
Kandungan”. JIMMI. 2(2): 10.
Karim, Abdul, 2017. Makna Ritual Kematian dalam Tradisi Islam
Jawa. Sabda Vol.12, No.2
Karisma Candra Puspito. Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Upacara
Adat Sebaran Apem Di Desa Jatinom, Klaten.Artikel Arogteknologi.
Universitas Sebelas Maret.
Kastolani dan Abdullah yusuf, Relasi islam dan budaya lokal, Malaysia,
2019
Kastolani, & Abdullah Yusof. 2016. Relasi Islam dan Budaya Lokal Studi
tentang Tradisi Nyadran di Desa Sumogawe Kecamatan Getasan
Kabupaten Semarang. Kontemplasi, Vol. 04, No. 1 .hal. 55
KH Abdul Manan A.Ghani, Ketua Lembaga Ta'mir Masjid PBNU).
Kh. Muhyiddin Abdusshomad. Fiqih Tradisionalis. Pustaka Bayan Malang.
2004. pp Nurul Islam Jember.
Khadiantoro, N.(2017).Penerimaan Tradisi Tahlilan dalam Kehidupan Sosial
Masyarakat Desa Sokaraja Lor Banyuma.Jurnal Pendidikan
Sosiologi.
Khadziq.2009. Islam Dan Budaya Lokal. Yogyakarta: Sukses Offset.
Khallaf, Abdul Wahab. 1978. Usul Fiqh. Bairut: Dar al-Fikr.
268
Khomsah, N. B. 2019. Tradisi Bersih Desa Dalam Pandangan Dakwah
Islam (Studi Di Desa Sidodadi Kecamatan Padasuka Kabaupaten
Pringsewu). Lampung: Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Raden
Intan Lampung).
Khomsah, Nurul Badriyah. Tradisi Bersih Desa Dalam Pandangan Dakwah
Islam (Studi Di Desa Sidodadi Kecamatan Padasuka Kabaupaten
Pringsewu). Lampung: Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Raden
Intan Lampung), 2019.
Koenjraningkrat dkk. 2004. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.
Jakarta: Djambatan
Koenjraningrat., 2007. Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Jakarta,
Djambatan.
Koentjaraningrat. 1974. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Koentjaraningrat. 2015. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Koentjraningrat. 1985. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia.
Kompas.com,2021, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di
Indonesia,diunduh 2022
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta :
Erlangga.
Kurniawati. “Berbincang tentang Temon Manten (Mahasiswi)”. Wawancara
Mandiri. 24 November 2022.
Kutha Ratna, Nyoman, 2007.”Estetika Sastra dan Budaya”. Yogyakarta,
Penerbit, Pustaka Pelajar.
Lestari, W. (2006). Ruwatan (Merti Desa) Masyarakat Gunungkidul pasca
gempa bumi tektonik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam
Harmonia. Vol. 7, No.3.
Librianti, E. O. I., Mukarom, Z., & Rosyidi, I. (2019). Budaya Tahlilan
sebagai Media Dakwah. Prophetica, 5(1).
Lihat Skripsi Jaenab. 2008. Tradisi Perang Ketupat, Sejarah
Kebudayaan Islam. Fakultas Adab, Universitas Islam Sunan
Kalijaga Yogyakarta
M. Ikhanuddin. Simbol dan Makna Ritual Yaqowiyyu di Jatinom. Jurnal
Media Wisata. Vol 12. No 2. 2014.
269
Mana, Lira Hayu, dkk. 2018. Folklor. Deepublish: Yogyakarta
Maran, Rafael Raga. 2007.Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu
Budaya Dasar. Jakarta :PT.Rineka Cipta Karta.
Marzuki, Tradisi Dan Budaya Masyarakat Jawa. “Dalam perspektif
Islam.”Tersedia: http://eprints. Uny.ac. id/id/eprint/2609 diunduh 12
(2006)
Mas’ari, A., & Syamsuatir. (2017). Tradisi Tahlilan: Potret Akulturasi
Agama dan Budaya Khas Islam Nusantara. Kontekstualita, 33(1).
Mas’ari, Ahmad. 2017. Tradisi Tahlilan: Potret Akulturasi Agama dan
Budaya Khas Islam Nusantara, Jurnal Penelitian Sosial dan
Keagamaan, Vol. 33, No. 1.
Mattulada, Kebudayaan Kemanusiaan Dan Lingkungan Hidup, (Hasanuddin
University Press, 1997), Hal. 1
Meilani, Sinta dkk. 2022. “Tradisi Tujuh Bulanan Usia Kehamilan Dalam
Perspektif Mazhab
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia janur adalah daun kelapa
muda yang berwarna kuning.
Moleong, J. Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 11.
Muawanah, Siti, “ Penjamasan Pusaka Sunan Kalijaga”, Analisa Volume
XVII No. 1, (Januari-Juni 2010)
Mudzakir, Sofa. 2022. Nilai-nilai Pendidikan Tauhid dalam Tahlilan. Skripsi.
Cilacap: Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghozali.
Muh Japari. 2022. Wawancara
Muhajir, Afifuddin. 2017. Fiqh Tata Negara. IRCiSoD: Yogyakarta
Muhajir, As’aril. 2011. Tujuan Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an.
Jurnal Al-Tahrir, Vol. 11, No. 2.hal. 4
Muhammad, Semarangan Lintas Sejarah dan Budaya, 104.
Mukarom, Zaenal. 2019. Budaya Tahlilan Sebagai Media Dakwah,
Scientific and Research Journal of Broadcoasting, Vol. 5, No. 1.
Mukhtar, Kamal. 1974. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan.
Jakarta : Bulan Bintang.
Muktarruddin, dkk, 2021. Pesan Dakwah dalam Tradisi Kenduri
Kematian Masyarakat Suku Jawa di Desa Sipare-Pare Tengah
Kabupaten Marbau Kabupaten Labuhanbatu Utara "Studi Kenduri
270
Kematian Hari Ke-40” Al-amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya
Islam Vol. 4, No.2
Mulyono, Djoko. 2002. Jawa Mutiara dibalik Tata Cara Pengantin Jawa.
Jakarta : rawangun.
Munawaroh, Siti., 2013. Jantra Jurnal Sejarah dan Budaya. Vol. 08, No. 2.
Muniroh, Siti. 2015. “Tradisi Nujuh Bulanan Masyarakat Jawa di Desa
Sialang Baru Kecamatan
Mustaghfiroh,Siti,BadarudinSafe’I,
2021,NilaiLokalBudayaJawadanIslamdalam Tinjauan
Multikulturalisme, Culture&Society: Journal of
AnthropologicResearch. Ningsih,DewiPuspita.2017.
NilaiKearifanLokalDalamTradisiLombanMasyarakatJepara, Vol3
No. 2. NTB: JIME
Nadia, Z. (2017). Perilaku Keagamaan Komunitas Muslim Di Indonesia
(Pemahaman Hadis dalam NU dan Komunitas Salafi Wahabi di
Indonesia). Jurnal Living Hadis, 2(2).
NanikHerawati,KearifanLokalBagianBudayaJawa,(MagistraN0.79.2012),
Nanik Herawati, Kearifan Lokal Budaya Jawa, Magistra No. 79, 2012.
Naomi Diah Budi Setyaningrum.2018.”Jurnal Ekspresi Seni,Vol.20,No 2.
Nasional, Departemen Pendidikan. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta : Pusat Bahasa.
Nasir, Rahmi. 2018. Tradisi Tahlilan Dalam Kehidupan Masyarakat
Kelurahan Manongkoki Kecamatan Polongbangkeng Utara
Kabupaten Takalar (Tinjauan Pendidikan Islam). Skripsi. Makassar:
Universitas Muhammadiyah Makassar.
Nisa, Alfi Ma’rifatun. (2020). Islam dan Akultursi Budaya Lokal di
Wonosobo (Studi Terhadap Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal di
Desa Batur, Dieng, Wonosobo). Jurnal Lentera Kajian Keagamaan,
Keilmuwan, dan Teknologi. Vol. 19 No. 1.
Nugrahani Farida. 2014. Metode Penelitian Kualitatif (dalam penelitian
pendidikan bahasa Indonesia). Surakarta.
Nuha, Afria Ulin dan Farah Fahrun Nisak. 2020. Kearifan Lokal : Nilai
Dalam Mandi Kembang Leson Di Desa Gemblengan Kabupaten
Wonosobo. ASNA : Jurnal Kependidikan Islam dan Keagamaan.
Vol. 2 No.1
271
Nuraidah, Ucu. (2022), Islam Dan Tradisi Nyangku Di Kecamatan Panjalu
Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nurfaizal. Prinsip-Prinsip Muamalah Dan Inplementasinya Dalam Hukum
Perbankan Indonesia. Jurnal Hukum Islam, Vol. XIII, No. 1 2013.
Rochimah, Nur Apriliya & Badrus Zaman. 2018. Pendid. Hal 192
Nuriyah. 2022. Pulosari.
Parida. (2020). Islam Indonesia/Nusantaratahlilan: Salah Satu Integrasi
Budaya Dan Agama. Literasiologi, 3(4).
Partokusumo, Karkono Kamajaya. 1995. Kebudayaan Jawa Perpaduannya
Dengan Islam. Yogyakarta: Ikatan Penerbit Indonesia.hal 246-247
Pasangan Jawa dan Padang”. Prosidinging Konferensi Komunikasi. 2(1): 540.
Pembacaan Surat yusuf dan Maryam pada Jamaah Simaan Al Quran di Desa
Jurug Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali”. Al Itqon. 4(2):
118.
Penghayatan spiritualitas orang Jawa kental dengan ritus-ritus lokalitas.
Kesadaran manusia dalam pencapaiannya akan kehadiran realitas
ketuhanan dapat ditempuh melalui pengalaman titah dari pusat hati,
lewat suara tanpa rupa sebagai upaya menemukan kesucian sejati.
Lihat: Setyo Hajar Dewantoro, Suwung Ajaran Rahasia Leluhur
Jawa (Banten: Javanica, 2017), 10.
Perwitasari, Vina, Pelestarian Tradisi Kormatan dalam Serangkaian
Upacara Adat Kematian di Masyarakat Kecamatan Ngablak,
Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, (Skripsi, Universitas Negeri
Yogyakarta, 2016)
Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, ( Jakarta: Prenada Media Grup,
2007), Hal. 69
Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, KNPI 2020, Malang: Universitas
Islam Malang.
Pranowo, Bambang. 2011. Memahami Islam Jawa, Jakarta: Pustaka Alvabet.
Puji Astuti Hanum Jazimah, 2017. Islam Nusantara: Sebuah Argumentasi
Beragama Dalam Bingkai Kultural. Inject: Jurnal Interdiscipplinary.
Vol. 2, No 1
Puspitasari, A. S. 2012. Kajian Folklor Tradisi Merti Dhusun di Dusun
Tugono Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo.
272
Purworwjo: Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Muhammadiyah
Purworejo
Qur’an Dalam Media Youtube)”. Al-Dzikra. 14(2): 251.
Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, IAIN
Purwokerto. 3(1): 47.
Rahmah, Siti. 2022. Resistensi Budaya Tahlilan Pada Masyarakat Pragaan
Daya, Jurnal Riset Agama, Vol. 2, No. 1.
Rahman, A. (2018). Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pelaksanaan
Tahlilan (Skripsi). Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.
Rahman, M. Mukhlish. 2020. “Tradisi Bacaan Al-Qur’an Untuk Ibu Hamil
(Studi Murottal Al
Ranchman, Itmam Aulia. (2019). Studi Living Qur’an Dalam Tradisi
Kliwonan Santri Pp. Attauhidiyyah Syekh Armia Bin Kurdi Tegal.
Jurnal Madaniyah. Vol. 9, No.1.
Ratnawati, Ari dan Emy Wuryani. “Jurnal Manfaat Nilai-Nilai Pada Upacara
Tradisi Merti Desa di Desa Kebondowo Kecamatan Banyubiru”.
Reksosusilo, S. Ruwatan dalam Budaya Jawa. STFT Widya Sasana, Malang.
2006. Studia Philosophica Et Theological. Vol. 6 No. 1
Retno Kartini Savitaningrum Imansyah. Deskripsi Masjid Alit Ki Ageng
Gribig Dan Dakwah Kuktural Awal di Klaten. Puslitbang lektur dan
Khazanah Keagamaan Kemenag RI. Vol 13 No 1.
Ridha, Taufiq. Perbedaan Ziwaf . Jakarta: Tabung Wakaf Indonesia
Riskasari, Ana. 2018. Pengaruh Persepsi Tradisi Tahlilan di Kalangan
Masyarakat Muhammadiyah Terhadap Relasi Sosial di Desa
Gulurejo Lendah Kulon Progo Yogyakarta, Jurnal Penelitian Agama
dan Masyarakat, Vol. 2, No. 2.
Risqiatul Hasanah, Ritual Magaomo sebagai Media Dakwah Suku Kokoda
Papua Barat,(Tesis,UniversitasIslamNegeriSunanAmpel
Surabaya,2017).
Ritualitas Masyarakat Muslim)”. KARSA. 19(2): 242-243.
Ro’is,Muhammad.2020.PendidikanSpiritualDalamTradisiSyawalanLupisRa
ksasa,
Rohmah,DiyahFaiqotur.2020.StrategiPengembanganObjekDayaTar
ikWisataReligi di
MakamKyaiAsy’ariKaliwunguKendalPerspektifSaptaPesona.Semara
ng:UIN
273
Robert H. Lauer.2003. Pespective on Social Change, terj. Alimandan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Rofhani Rofhani, “Budaya Urban Muslim Kelas Menengah,” Teosofi: Jurnal
Tasawuf dan Pemikiran Islam 3, no. 1 (2015): 181–210,
https://doi.org/10.15642/teosofi.2013.3.1.181-210.
Rosa, Sabbrina Laila dan Syamsul Bakhri. 2022. “Realitas Subjektif dan
Objektif Al Quran
Sa’diyah, Fatichatus. 2020. Upacara Penikahan Adat Jawa ( Kajian
Akulturasi Nilai-Nilai Islam Dalam Pernikahan Adat Jawa Di Desa
Jatirembe Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik), Al- Thiqah Vol.
3, No. 2.
Sai Alvian. 2018. Pengelolaan Wisata Religi Makam Mbah Hasan Munadi
Dan Hasan Dipuro di Nyatnyono Kabupaten Semarang Perspektif
Sapta Pesona. Semarang: Skripsi UIN Walisongo.
Said, Al-Munawar, 2003. Metode Dakwah, Prenada Media, Jakarta. Al-
Munawar
Said, Hasani Ahmad, 2011. Meneguhkan Kembali Tradisi Pesantren
di Nusantara. Jurnal Kebudayaan Islam Vol. 9, No.2
Salmon Priaji Martana. (2006). Problematika Penerapan Metode Field
Research Untuk Penelitian Arsitektur Vernakular Di Indonesia.
DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur), 34(1), 59–66.
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ars/article/view/16458
Santosa, Imam Budi. (2012). Ziarah Tanah Jawa. Yogyakarta. Intan
Cendekia.hal. 53
Santoso, Dwi. “Berbincang tentang Temon Manten (Petani)”. Wawancara
Mandiri. 25 November 2022.
Santoso, H. D., 2013. Apitan: Pelestarian Tradisi Agraris Lokal Masyarakat
Jawa. Semarang: Unimus
Setiawan Agung, (Jurnal Esensia) Budaya Local Dalam Perspektif Agama,
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Vol 12, No 2 Juli 2022.
ShillsdalamPiotrSztompka,SosiologiPerubahanSosial,Jakarta:PrenadaMedia,
2007.
SKRIPSI, Komodifikasi Budaya Pada Tradisi Dugderan Di Kampung
Kauman Semarang Tengah. Yogyakarta,17 February 2017.
SKRIPSI, Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual di Kota Semarang.
25 Agustus 2007
274
Soekanto, Kamus Sosiologi. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,1993), hal.
459
Sofia, Arini. 2014. Perubahan Bentuk Tari Penyajian Tari Bedana Bandar
Lampung. Greget: Jurnal Pengetahuan Dan Penciptaan.
Subqi, Imam, dkk.2018. Islam dan Budaya Jawa. Surakarta: Taujih.
Suci ,Prasasti .konseling indegeneous : Menggali Nilai- Nilai kearifan lokal
Tradisi Sedekah Bumi dan Tradisi Jawa. Cendekia . vol.
14 .(Oktober 2020)
Suhendi, 2008. Fiqh Muamalah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.hal 1
Sukatno, Otto. (2021). Dieng: Antara Mitos dan Informasi Kesejarahan.
Jakarta : Perpustakaan Nasional RI – Nusamedia.
Sulistyo Basuki, Metode Pnelitian, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2006),
hal. 92
Sumbulah, Umi “ Islam Jawa dan Akulturasi Budaya : Karakteristik, Variasi
dan Ketaatan Ekspresi, “ El Harakah Vol. 14. No. 1, 2012
Sumbulah, Ummi. Islam Jawadan Akulturasi Budaya: Karakteristik, Variasi
dan Ketaatan Ekspresif. el Harakah, Vol. 14, No. 1 2012. Hal 2
Sumintarsih., 2007. “Dewi Sri dalam Tradisi Jawa.” Yogyakarta: Jantra: 136.
Supramono, “Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota
Semarang” (Universitas Negeri Semarang, 2007), 93-95.
Supramono, “Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan...” 88-
9.
Supramono, Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota
Semarang.Tesis, Universitas Negeri Semarang,2007, hlm. 50.
Suprobowati, Gayatri Dyah. DCF, Wujud Harmonisasi Antara Kearifan
Lokal, Agama dan Sosial Ekonomi di Masyarakat Dataran Tinggi
Dieng. Jurnal Jolsic Of Law, Society, And Islamic Civilzation. 2012.
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Susanti, Susi. 2020. Implementasi Kaidah Al’adatu Muhakkamah Pada
Tradisi Marosok
Suwito, dkk, 2015. Tradisi dan Ritual Kematian Wong Islam Jawa.
Jurnal Kebudayaan Islam Vol. 13, No. 2
Syafi’, Rachmat.1999. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: Pustaka.
Syafi’i (Studi Kasus Di Kecamatan Hinai)”. Journal Of Law. 1(1): 8.
275
Syahriar, Alfa.FIQH KEJAWEN; Menelisik Validitas Ijtihad Sunan Kalijaga
dalam Perspektif Ushul Fiqh.
Syahriar, Alfa.FIQH KEJAWEN; Menelisik Validitas Ijtihad Sunan Kalijaga
dalam Perspektif Ushul Fiqh.
Syam, M. Si, Islam Lokalitas & kebhinekaan, Dialektika, Yogyakarta 2020.
Sztompka, P. (2008). Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada.hal. 71-
72
Tahmid, Muhammad, dkk. 2020. Realitas ‘Urf Dalam Reaktualisasi
Pembaruan Hukum Di Indonesia. Duta Media Publishing:
Pamekasan
Taqwin, Ahmad. (2022). Tradisi Potong Rambut Gimbal dalam Perspektif
Dakwah Masyarakat Desa Tlogojati. Jurnal, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Arkana Jurnal Komunikasi dan
Media. Vol. 01. No. 01.
Taufik Muhammad. 2013. Harmoni Islam dan Budaya Lokal. 12 (2), 267.
Teguh. “Berbincang tentang Temon Manten (MUA)”. Wawancara Mandiri.
24 November 2022.
Thohir, M., 2007. Memahami Kebudayaan Teori, Metodologi, dan Aplikasi.
Semarang: Fasindo
Thohir, Mohamad & Iva Novia. Bimbingan dan Konseling Islam dengan
Terapi Silaturahmi pada Seorang Remaja yang Mengalami Depresi.
Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 03, No. 01 2013.hal 81
Tim Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, (2018),
Ensiklopedia Islam Edisi Budaya, Jakarta.
Tradisi Pethet Rekma Bayi Desa Pejengkolan - Website Resmi Desa
Pejengkolan Kecamatan Padureso Kabupaten Kebumen
(kebumenkab.go.id) diakses pada 01 Desember 2022, pukul
Tuasikal, M. A. (2010, March 16). Mengenal Bid’ah (7), Selamatan
Kematian Kan Sudah Jadi Tradisi? Retrieved November 27, 2022,
from Rumaysho.com website: https://rumaysho.com/892-mengenal-
bidah-7-selamatan-kematian-kan-sudah-jadi-tradisi.html
Umar Mohamad Toha. 2020. Islam Dalam Budaya Jawa Perspektif Al-
Qur’an. 18 (1), 71.
Umar, Mohamad Toha.2020. Islam Dalam Budaya Jawa Perspektif
Perspektif Al-Qur’an. Ibda. Vol. 18, No. 1
276
Ummah, Laili Choirul. 2018. “Islamisasi Budaya dalam Tradisi Tujuh
Bulanan (mitoni) dengan
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
W B, Thomas.1993. Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan. Sidoarjo Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Warisno, A. (2017). Tradisi TahlilanUpaya Menyambung Silaturahmi.
RI’AYAH, 2(2). Retrieved from https://e-
journal.metrouniv.ac.id/index.php/riayah/article/view/981/822
Wawancara dengan Alfian Prasetyo, tanggal 20 November 2022.
Wicaksono, Dwiky Pandu. (2018). Tradisi Ruwatan Rambut Gembel Dieng
Sebagai Inspirasi Karya Ilustrasi. Skripsi, Jurusan Seni Rupa,
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Widyastutik Retno. 2010. Pandangan Masyarakat Mengenai Tradisi Padusan.
Surakarta: Skripsi Universitas Sebelas Maret
Widyatwati, Ken. 2014. “Ritual “Kliwonan” Bagi Masyarakat Batang”.
Humanika. Vol. 20 No. 2
Wiranto, Bagus. 2018. Tradisi Jumat Kliwonan Sebagai Kearifan Lokal
Masyarakat Nelayan Di Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Sabda.
Vol. 13, No. 1
Wulandari, Irinna Ika. (2016). Prosesi Adat Ruwatan Rambut Gimbal dalam
Perspektif Fiqh Imam Abu Hanifah di Sembungan, Kejajar,
Wonosobo, Jawa Tengah. Skripsi, Jurusan Ahwal Al-
Asyakhashiyyah, Fakultas Syari’ah, Institut Agama Islam Negeri
Salatiga.
Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’, juz 5, h. 311
Yanuar Regi, Widhia Dinnata. 2021. “Cerita tentang tradisi saparan di
ngablak magelang”, https://www.ayoyogya.com/explore/amp/pr-
39471160/Cerita-Tentang-Tradisi-Saparan-di-Ngablak-Magelang
Yusuf, Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu. 2011. Kaedah-kaedah Praktis,
Memahami Fiqih Islam. Gresik: Pustaka Al-Furqan.
Zain, Muhammad Fuad. 2018. “Aktualisasi 7 Surat Dalam Tradisi
Mitoni”.Jurnal Ilmu Al
Zaman, Badrus. Pendidikan Akhlak pada Anak Jalanan di Surakarta. Jurnal
Inspirasi, Vol. 2 No. 2 2018.hal. 130
277
http://ejournal.staimnglawak.ac.id/index.php/lentera/article/view/211/117
http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/801/
http://journal.uta45jakarta.ac.id/index.php/kom/article/view/4086
http://perpus.iainsalatiga.ac.id/lemari/fg/free/pdf/?file=http://perpus.iainsal
atiga.ac.id/g/pdf/public/index.php/?pdf=13203/1/RISKA%20YUN%
20ASTANTI-2301017
http://www.pkspedurungan.or.id/ di unduh pada 17 maret 2016
https://fitk.uinjkt.ac.id/hukum-selamatan-berbeda-dengan-hukum-aqiqah/
diakses pada 01
https://kbbi.web.id/janur
https://ojs.unsiq.ac.id/index.php/qaf/article/view/2027
https://widyasari-press.com/wp-content/uploads/2021/09/6.-Angelique-
Yulica-Dosmaroha-Perkembangan-Tradisi-Saparan-di-Desa-
Ngrawan-Saat-Pandemi-COVID-19.pdf
https://www.kebumenupdate.com/news/cukur-rambut-bayi-tandai-aqiqah-
anak-kelima-wabup-kebumen/ diakses pada 01 Desember 2022,
pukul 10:10 wib.
https://www.nu.or.id/post/read/39434/lebaran-ketupat-dan-tradisi-
masyarakat-jawa
https://www.nu.or.id/post/read/39477/kupatan
https://www.orami.co.id/magazine/hadis-dan-ayat-alquran-tentang-
silaturahmi
https://www.researchgate.net/profile/Ustadi-Hamsah/publication/348072167
278
279