The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nabilfaiz025, 2023-01-01 20:56:47

Studi Ilsam Indonesia BSA B

Studi Ilsam Indonesia BSA B

mengungkap dua sudut pandang warga Muhammadiyah terkait
tahlilan yang mana dalam perspektif Muhammadiyah itu sendiri
tahlilan adalah suatu bentuk bid’ah. Namun, di sisi lain terdapat
orang-orang Muhammadiyah yang melaksanakan tahlilan sebagai
bentuk ekspresi budaya.210

2. Ahmad Mas’ari melakukan penelitian dengan judul Tradisi
Tahlilan: Potret Akulturasi Agama dan Budaya Khas Islam
Nusantara menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil
penelitian ini adalah bahwasannya Tahlilan merupakan bentuk
akulturasi dari agama dan kearifan lokal, Tahlilan yang merupakan
tradisi Islam Nusantara yang bertujuan untuk menyatakan simpati
dan empati kepada keluarga yang ditimpa musibah kematian.
Tahlilan itu merupakan tradisi yang syar’i. Atau dengan kata lain,
tahlilan merupakan syariat yang ditradisikan.211

3. Nur Khadiantoro melakukan penelitian dengan judul Penerimaan
Tradisi Tahlilan dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Desa
Sokaraja Lor Banyumas menggunakan metode penelitian kualitatif
dengan metode wawancara semi terstruktur, observasi dan
dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat
memiliki 2 penilaian terhadap tahlilan, penilaian positif
menunjukkan bahwa tahlilan mampu untuk meningkatkan
hubungan masyarakat dan meningkatkan keimanan, sedangkan
penilaian negatif menunjukkan masyarakat memaksa dan rela
berhutang demi melaksanakan tahlilan.212

Setelah melakukan observasi yang cukup, peneliti menemukan bahwa
selama ini telah terdapat banyak kajian tentang Tahlilan yang dilakukan oleh
para peneliti lain. Kajian-kajian tersebut biasanya membahas berbagai aspek
tentang Tahlilan, seperti pro-kontra terhadap tradisi tersebut, makna yang
terkandung di dalamnya, serta dampak yang ditimbulkan oleh Tahlilan
terhadap keharmonisan sosial di masyarakat. Namun setelah melakukan
review terhadap berbagai sumber yang tersedia, peneliti menemukan bahwa
belum ada kajian yang menjadikan pandangan masyarakat Dusun Gintungan
sebagai objek kajian. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian tentang Tahlilan di Dusun Gintungan,
dengan menjadikan pandangan masyarakat sebagai objek kajian utama.

Fokus riset dari penelitian ini adalah kehidupan sosial keagamaan
masyarakat Dusun Gintungan, khususnya dalam menjalankan tradisi Tahlilan.

210Khairani Faizah, Kearifan Lokal Tahlilan-Yasinan dalam Dua Perspektif menurut Muhammadiyah,
dalam Jurnal Aqlam,Vol.3 No.2,(2018).

211 Ahmad Mas’ari, Tradisi Tahlilan: Potret Akulturasi Agama dan Budaya Khas Islam Nusantara, dalam
Jurnal Kontekstualita,Vol.32 No.1,(2017).

212Nur Khadiantoro,Penerimaan Tradisi Tahlilan dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Desa Sokaraja Lor
Banyumas,dalam Jurnal Pendidikan Sosiologi,(2017).

140


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan masyarakat
terhadap tradisi tersebut. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
mengungkap bentuk toleransi yang ditunjukkan oleh masyarakat Dusun
Gintungan terhadap perbedaan pandangan terkait Tahlilan, serta untuk
mengetahui pandangan Islam terkait tradisi Tahlilan.

Kajian Teori

1. Tradisi Tahlilan

a) Pengertian Tahlilan

Kata 'tahlilan' secara bahasa berasal dari bahasa Arab ΕQ Ω Ω
yang memiliki arti 'ekspresi kesenangan' atau 'ucapan penghormatan'. Selain
itu, kata ini juga memiliki arti mengucapkan kalimat thayyibah
yang berarti 'tiada sesembahan selain Allah', atau dengan kata lain tahlil
adalah ucapan pengakuan seorang hamba yang menegaskan bahwa tiada
sesembahan selain Allah. Selain itu,Tahlil merupakan salah satu bentuk
ucapan zikir umat Islam di antara ucapan tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil
yang lain. Ucapan zikir merupakan salah satu cara untuk mengingat Allah
SWT dan mengungkapkan kerendahan hati seseorang kepada Allah SWT.213

Tahlilan merupakan suatu rangkaian ritual yang dilakukan oleh sebagian
masyarakat Indonesia, yaitu dengan mengucapkan zikir-zikir dan doa secara
bersama-sama untuk memperingati dan mendoakan orang yang sudah
meninggal dunia dengan harapan agar dosa-dosa si mayit diampuni oleh
Allah Swt.214

Dalam praktiknya, tidak hanya kalimat tahlil (Laa Ilaaha Illa allah) yang
diucapkan, melainkan juga kalimat-kalimat zikir lainnya dan ayat-ayat suci
al-Qur’an pula, namun ucapan tahlil menjadi inti dari rangkaian bacaan
tersebut sehingga tradisi ini disebut tahlilan.215

Dalam melaksanakan tahlilan, ada beberapa bacaan yang biasanya
diucapkan dengan urutan yang telah ditentukan. Pertama, pembacaan silsilah
dan tawasul, yaitu mengucapkan nama-nama para nabi dan ulama besar serta
meminta pertolongan kepada mereka. Kedua, prmbacaan surat Yasin yang
merupakan surat yang sangat agung dalam al-Qur'an dan biasanya dibaca
sebagai bagian dari tahlilan. Ketiga, pembecaan surat-surat pendek seperti al-
Ikhlas, al-Falaq, an-Naas, dan al-Fatihah. Surat-surat pendek tersebut
merupakan surat-surat yang sering dibaca dalam kegiatan zikir dan doa,

213 Andi Warisno, Tradisi Tahlilan Upaya Menyambung Silaturahmi, dalamRI’AYAH, Vol. 2, No. 2, 2017,
hal. 71.

214Ibid
215Arif Rahman, Skripsi : Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Pelaksanaan Tahlilan, 2018, hal. 16.

141


karena dianggap memiliki kekuatan yang luar biasa. Keempat, pembacaan
surat al-Baqarah ayat 1-5, 163, 255, 284-286, yang merupakan ayat-ayat
penting dalam al-Qur'an yang sering dibaca dalam tahlilan. Kelima,
pembacaan surat Hud ayat 73, yang merupakan ayat yang menjelaskan
tentang keagungan Allah SWT. Keenam, terdapat surat al-Ahzab ayat 56,
yang merupakan ayat yang menjelaskan tentang kekuatan dan pertolongan
Allah SWT. Ketujuh, pembacaan istighfar, yaitu pengucapan kalimat
"astaghfirullah" yang berarti "aku memohon ampun kepada Allah".
Kedelapan, terdapat tasbih, tahmid, dan tahlil, yaitu pengucapan kalimat-
kalimat zikir yang sering dibaca dalam kegiatan zikir dan doa. Tasbih adalah
pengucapan kalimat "subhanallah" yang berarti "maha suci Allah", tahmid
adalah pengucapan kalimat "alhamdulillah" yang berarti "segala puji bagi
Allah", sedangkan tahlil adalah pengucapan kalimat "laa ilaaha illa allah"
yang berarti "tiada sesembahan selain Allah". Setelah melakukan rangkaian
bacaan tahlilan, biasanya dilakukan doa penutup tahlilan yang berisi doa-doa
yang ditujukan kepada Allah SWT untuk memohon ampunan, pertolongan,
dan keberkahan. Doa penutup tahlilan ini biasanya dibaca oleh seorang
khatib atau pemimpin tahlilan.216

Melalui kegiatan tahlilan, diharapkan masyarakat yang mengikuti
tahlilan dapat memperoleh keberkahan, pertolongan, dan ampunan dari Allah
SWT, serta dapat memperkuat kecintaan dan keimanannya kepada Allah
SWT."

216 Ibid, hal. 29-36.

142


b) Asal-usul Tahlilan

Ritual selamatan kematian atau yang sekarang biasa disebut tahlilan
telah ada sejak zaman animisme dan dinamisme di Indonesia. Orang-orang
pada zaman itu percaya bahwa arwah orang yang telah meninggal akan
kembali ke rumah pada malam hari untuk mengunjungi keluarganya. Jika
dalam rumah tersebut tidak diadakan ritual beramai-ramai membakar
kemenyan dan menghidangkan sesaji untuk ruh-ruh ghaib, maka arwah sang
mayit akan marah dan merasuki salah seorang dari keluarganya. Maka untuk
itu, masyarkat biasa berkumpul-kumpul di rumah keluarga sang mayit untuk
melakukan ritual-ritual tersebut maupun sekadar berkumpul-kumpul saja.

Kegiatan ini dilakukan pada malam hari pertama, ketiga, ketujuh, ke-100,
satu tahun, dua tahun, dan malam ke-1000 pasca kematian. Adat ini masih
bertahan hingga zaman Hindu-Budha dan sampai ke zaman kedatangan
Islam ke Nusantara. Para ulama' atau dikenal juga dengan sebutan Walisongo
pada saat itu tidak serta merta melarang dan memerangi adat kebiasaan ini
meskipun di dalamnya terdapat kesyirikan. Mereka lebih memilih untuk
melalui jalan halus, yaitu dengan merubah esensi ritual selamatan kematian
dari yang penuh kesyirikan menjadi bernafaskan Islam. Sesaji-sesaji yang
dihidangkan untuk para ruh ghaib diubah menjadi lauk pauk untuk dimakan
bersama dengan tujuan sedekah. Mantra-mantra diubah menjadi zikir, doa,
dan bacaan al-Qur'an. Upacara ini kemudian lebih dikenal dengan istilah
tahlilan.217

2. Nahdliyyin dan Salafiyyin

Nahdliyyin merupakan sebutan untuk orang-orang yang berafiliasi atau
menganut faham yang sesuai dengan organisasi masa Islam Nahdlatul
Ulama’ atau yang sering disebut sebagai NU.218 Golongan Nahdliyyin
merupakan suatu kelompok umat Islam di Nusantara yang secara konsisten
mempertahankan tradisi-tradisi lokal ke-islam-an yang dianggap membawa
kebaikan dan manfaat bagi masyarakat, seperti tahlilan, maulidan, ziarah
kubur, dan lain sebagainya. Mereka memandang bahwa tradisi-tradisi
tersebut merupakan bagian integral dari identitas keislaman mereka, dan
dianggap sebagai cara untuk mempererat hubungan dengan Allah SWT.219

Sedangkan Salafiyyin dapat dipahami sebagai orang-irang yang
mengikuti pemahaman Salaf(tiga generasi awal umat islam yaitu sahabat,
tabi’in,tabi’ at-tabi’in). Istilah salaf kemudian dijadikan rujukan pada upaya

217Andi Warisno, Tradisi Tahlilan Upaya Menyambung Silaturahmi, dalamRI’AYAH, Vol. 2, No. 2, 2017,
hal. 72-74.

218Glosaium Online, Nahdliyyin, https://glosarium.org/arti-nahdliyin/ (diakses pada 28 Desember 2022).
219 Zunly Nadia, Perilaku Keagamaan Komunitas Muslim Di Indonesia (Pemahaman Hadis dalam NU dan
Komunitas Salafi Wahabi di Indonesia), dalam Jurnal Living Hadis, Vol. 2, No. 2, 2017, hal. 154.

143


mengajarkan dan mengamalkan ajaran Islam secara murni, tanpa adanya
tambahan dan pengurangan. Golongan Salafiyyin merupakan suatu
kelompok umat Islam yang sangat memperhatikan pemurnian agama Islam.
Mereka menginginkan pemahaman Islam yang sesuai dengan zaman Nabi
Muhammad SAW dan para Sahabat, serta menentang segala bentuk bid'ah,
syirik, dan taqlid. Golongan ini memandang bahwa agama harus dijalankan
dengan sebaik-baiknya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW dan tidak
diperkenankan untuk mengubah atau menambah apapun dari ajaran
tersebut.220

Metode

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kualitatif, yang merupakan salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk
mengungkap fenomena yang terjadi di dalam kehidupan sosial dengan cara
mendalami dan memahami secara mendalam fenomena tersebut dari
perspektif subjek yang terlibat.221

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, peneliti akan
menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu observasi dan
penyebaran angket. Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara langsung peristiwa-
peristiwa yang terjadi di lapangan.222 Sementara itu, penyebaran angket
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
menyebarkan sejumlah pertanyaan yang telah disusun sebelumnya kepada
responden, kemudian mengumpulkan jawaban-jawaban yang diberikan oleh
responden tersebut. Penyebaran angket dapat dilakukan secara langsung atau
melalui media online, tergantung pada kebutuhan dan kondisi yang ada.
Peneliti dalam penelitian ini memilih menggunakan Google Form sebagai
angket atau kuisioner guna menghemat waktu, tenaga, dan biaya.

Dengan demikian, metode kualitatif dan teknik pengumpulan data
melalui observasi dan penyebaran angket merupakan metode yang tepat
untuk menjawab rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini.
Metode kualitatif akan membantu peneliti untuk mendapatkan informasi
yang lebih mendalam dan terperinci tentang kehidupan sosial keagamaan
masyarakat Dusun Gintungan, serta pandangan masyarakat terhadap tradisi
Tahlilan. Sedangkan teknik pengumpulan data melalui observasi dan
penyebaran angket akan membantu peneliti untuk mengumpulkan data yang

220Ibid, hal.163. Johan Setiawan, Metodologi penelitian kualitatif,(Sukabumi:CV Jejak
221 Albi Anggito dan
Publisher,2018),hal.7-9.
222 Ibid,hal.127-130.

144


cukup banyak dan bervariasi, sehingga dapat menjawab rumusan masalah
dengan lebih tepat dan akurat.

Pembahasan Dan Hasil Penelitian

1. Kondisi Sosial Keagamaan Masyarakat Dusun Gintungan

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh penulis, terdapat
dua kelompok masyarakat di dusun Gintungan yang memiliki corak
pemahaman ke-islam-an yang berbeda. Kelompok pertama adalah
golongan Aswaja atau Nahdliyin, meski sebenarnya tidak tergabung
dalam organisasi Nahdlatul Ulama', yang diwakili oleh penduduk asli
dusun Gintungan. Kelompok kedua adalah golongan Salafiyyin, yang
diwakili oleh warga Pondok Pesantren al-Irsyad al-Islamiyyah yang
pada umumnya merupakan pendatang dari luar daerah yang datang ke
dusun Gintungan karena pendidikan atau pekerjaan.

Meski sama-sama mengakui al-Qur'an dan Hadits sebagai sumber
hukum dalam Islam, namun pemahaman kedua kelompok tersebut
terkadang bertentangan satu sama lain. Kelompok Nahdliyin lebih
terbuka terhadap tradisi-tradisi lokal ke-islam-an, seperti tahlilan,
maulidan, dan lain sebagainya, sementara golongan Salafiyyin justru
menentang keras segala bentuk tradisi yang dianggap sebagai bid'ah dan
tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni. Perbedaan pandangan
tersebut menjadi sumber dinamika sosial yang cukup kompleks bagi
masyarakat dusun Gintungan

Terma bid’ah menjadi suatu pembatas yang membedakan antara
kelompok Nahdliyyin dan Salafiyyin di dusun Gintungan. Dalam
menjalani kehidupan, kaum Nahdliyyin di dusun Gintungan masih
memegang ajaran dan tradisi lokal seperti tahlilan dan selametan
meskipun sebenarnya kebanyakan tradisi lokal telah banyak
ditinggalkan karena berbagai faktor. Di sisi lain, kaum Salafiyyin tidak
melaksanakan tradisi tersebut karena memahaminya sebagai perbuatan
bid’ah atau mengada-ada dalam urusan agama.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat antara kaum Nahdliyyin
dan Salafiyyin tentang pelaksanaan tradisi tahlilan, namun dari hasil
observasi penulis, masyarakat dusun Gintungan masih terlihat toleran
terhadap perbedaan tersebut. Mereka tidak mengeluarkan sikap negatif
terhadap kelompok yang berbeda dengan pandangan mereka dan tidak
menganggap pendapat yang berbeda sebagai suatu ancaman bagi
keberlangsungan keutuhan masyarakat. Terlihat bahwa di dusun
Gintungan, masyarakat tidak menghakimi kelompok yang lain karena

145


setiap individu dianggap memiliki hak yang sama untuk memahami dan
menjalani kepercayaan mereka masing-masing. Meski tidak dapat
dipungkiri bahwa perbedaan pandangan antara kaum Nahdliyyin dan
Salafiyyin terkait tahlilan tersebut membawa suatu dinamika sosial
tersendiri di dusun Gintungan. Namun, sebagaimana yang telah
disebutkan sebelumnya, masyarakat dusun Gintungan terlihat mampu
menjaga toleransi dan saling menghargai satu sama lain.
2. Pandangan Masyarakat Gintungan Terhadap Tradisi Tahlilan

Untuk mengumpulkan data yang lebih valid, peneliti melakukan
pengumpulan data dengan menyebarkan kuisioner yang dibuat
menggunakan google form kemudian disebarkan melalui grup
WhatsApp warga dusun. Dari penyebaran angket tersebut peneliti
mendapatkan 12 respon warga. Pada angket ini responden diminta juga
untuk menuliskan alasan mendukung atau menolak tradisi Tahlilan.

Gambar 1. jumlah pendukung dan penolak tahlilan

Gambar 2. alasan dukungan/penolakan tahlilan

Dari 12 responden, diketahui 7 responden mendukung adanya tradisi
tahlilan. Sedangkan sisanya memilih untuk menolak tradisi tahlilan. Adapun
bagi yang mendukung tahlilan memiliki alasan-alasan berikut ini :

“Nguri-uri budaya, jangan smpai hilang.”
“dari dulu tahlilan”

146


“Bagus, bermanfaat, banyak doa dapet pahala”
“Mengirim doa untuk si mayat”
“Kasian mayat kalau tidak di doakan. Kyk nguburin kucing aja..”
“Untuk mendoakan almarhum yg meninggal dunia”
“Nanti kalau saya mati, siapa yang doain?”
Sedangkan golongan yang menolak tahlilan memiliki alasan-alasan
sebagai berikut:
“Bidah tidak diajarkan nabi dan sahabat”
“Amalan sia-sia karena bukan ajaran nabi”
“Bid'ah”
“Menurut saya, lebih baik tidak dilaksanakan saja karena bukan ajaran
nabi muhammad.”
“Bukan syariat Islam, Bid'ah dan sesat”
Dari hasil angket yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa di
kalangan masyarakat dusun Gintungan terdapat perbedaan pandangan terkait
tradisi tahlilan. Kelompok pro-tahlilan memandang bahwa tradisi tersebut
merupakan suatu adat kebiasaan yang sudah lama ada di masyarakat dan
memiliki manfaat positif seperti mendoakan sang mayat dan mengharap
ganjaran pahala dari doa tersebut. Namun di sisi lain, kelompok kontra-
tahlilan menolak tradisi tersebut karena dianggap sebagai bid'ah yang tidak
sesuai dengan ajaran nabi Muhammad Saw dan merasa tidak perlu untuk
melakukannya.
3. Bentuk Sikap Toleran Masyarakat atas Perbedaan Pandangan di
Dusun Gintungan
Dalam angket juga dipertanyakan bagaimana sikap responden dalam
menghargai perbedaan pandangan antara kaum Nahdliyyin yang pro-tahlilan
dan Salafiyyin yang kontra-tahlilan.

Gambar 3. sikap masyarakat dalam menghargai perbedaan

147


Kaum nahdliyyin menjawab terkait sikap mereka dalam menghargai
kaum Salafiyyin dengan jawaban sebagai berikut :

“Yasudah, mrka yg tidak mau ikut tahlilan ya tdak udah dipaksa
ikut tahlilan.”

“G maksain mereka ikut”

“Masing-masing saja”

“Tidak ngakak debat, apalagi gelud”

“Ga ngundang mereka tahlilan wkwkwk”

“Tidak gimana-gimana, hormati saja”

“Saya hormati saja, mski sy ga setuju dengan al-irsyad”

Sedangkan kaum Salfiyyin menjawab terkait sikap mereka dalam
menghargai kaum Nahdliyyin dengan jawaban sebagai berikut :

“Tidak ikut tahlilan, tapi tetap mendatangi rumah keluarga utnuk
berbelasungkawa dan memberi sedikit bantuan.”

“Saya tidak memaksa kaum mereka untuk tidak melaksanakan
tahlilan”

“Ikut tahlilan tapi sekadar untuk menghargai saja tidak ikut
membaca doa tahlilanya”

“Kadang saya bantuin rewang dan nyiapin snack buat tahlilan.”

“Ikut melayat dan membantu mendirikan tenda”

Dari tanggapan-tanggapan yang diperoleh, terlihat bahwa kaum
Nahdliyyin yang pro-tahlilan tidak memaksa atau mengundang kaum
Salafiyyin yang kontra-tahlilan untuk mengikuti tahlilan. Mereka memahami
bahwa setiap individu memiliki hak untuk memilih dan memahami ajaran
Islam sesuai dengan keyakinan masing-masing. Namun, meski tidak pro
terhadap tahlilan, kaum Salafiyyin tetap menunjukkan sikap menghormati
terhadap kaum Nahdliyyin yang pro-tahlilan dengan datang melayat dan
membantu menyiapkan keperluan seperti tenda dan snack. Selain itu, kaum
Salafiyyin juga mengikuti tahlilan namun hanya sebagai tanda rasa
belasungkawa dan menghormati orang yang meninggal, tanpa ikut serta
dalam pembacaan zikir-zikir, doa, dan ayat al-Qur'an.

Masyarakat dusun Gintungan terlihat mampu menunjukkan sikap
toleransi dan solidaritas yang tinggi terhadap perbedaan pandangan di antara
mereka. Mereka saling membantu satu sama lain dengan tidak memaksakan
pemahaman masing-masing, dan juga dengan cara ikut serta dalam kegiatan-
kegiatan keagamaan meski mungkin tidak sepenuhnya setuju dengan ajaran
yang dibacakan. Hal ini tentu menjadi bukti bahwa toleransi dan solidaritas
merupakan sifat-sifat yang sangat dihargai dan dijunjung tinggi oleh

148


masyarakat dusun Gintungan, yang membuat keharmonisan dan
keberlangsungan hidup bersama terjaga dengan baik.

4. Pandangan Islam Terhadap Tahlilan

A. Menurut Paham Nahdlatul Ulama’

Tahlilan merupakan suatu tradisi yang baik dan tidak bertentangan
dengan syariat Islam.Dalam melaksanakan tahlilan, terdapat beberapa
aspek yang mungkin menjadi pertanyaan mengenai kebolehannya
menurut hukum Islam, yaitu: 1)Apakah akan sampai pahala kepada si
mayit dengan melalui pembacaan al-Qur'an dan kalimat thayyibah?
2)Apakah mengkhususkan waktu pembacaan bacaan-bacaan tersebut
pada waktu-waktu tertentu, seperti pada malam ke-satu, ke-tiga, ke-
tujuh, dll, merupakan suatu tindakan yang diizinkan dalam Islam?
3)Apakah bersedekah atas nama si mayit, berupa pemberian hidangan
untuk peserta tahlilan, merupakan suatu tindakan yang dapat diterima
dalam prinsip-prinsip Islam?"

1) Menghadiahkan pahala

Terdapat perbedaan pendapat Ulama’ mengenai hal ini. Sebgaian
ulama’ seperti Syaikh Zaila’i, Syaikh ad-Dasuqi, Syaikh Ibnu
Taimiyah berpendapat bahwa pahala bacaan al-Qur’an dan kalimat
thayyibah dapat sampai kepada mayit. Sedangkan sebagian ulama
madzhab Maliki memandang bahwa pahala bacaan al-Qur’an kalimat
thayyibah tidak sampai kepada mayit.

2) Mengkhususkan waktu

Mayotitas Ulama’ membolehkan mengkhususkan melakukan
amalan saleh pada waktu tertentu, pendapat ini didasarkan pada hadis
riwayat ibnu Umar :

. ΩΕ NQ QΕ ΩΨ ΩJ Ψ Q Q ΩQ ℷΩ 䁒 ΩΨ 㘮 : J ΩΨℷΩ Q Q ℷΨ Ψᦈ

. ℷϟ ΩΨℷΩ Q Ω N Ωℷ㘮

“Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata: Nabi
shallallahu alaihi wasallam selalu mendatangi masjid Quba’ setiap
hari Sabtu, dengan berjalan kaki dan berkendara. Abdullah ibnu
Umar radhiyallahu anhuma juga selalu melakukannya.”

3) Bersedekah atas nama mayit

Para ulama sepakat bahwa bersedekah untuk mayit hukumnya
boleh, dan pahala sedekah sampai kepadanya. Mereka berpedoman
pada hadits riwayat Aisyah radhiyallahu anha:

ΕJ 䁒 ΩΨ ΩΨϟΨ Q 㘮ΒΩ ϟ ΩQ ℷΩ 䁒QΩΨ ΕΕ 㘮 :
Q . ΩΨℷ J 䁒 㘮 Ω . ℷΨ J

149


“Seseorang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu
berkata: ‘Hai Rasulullah. Sesungguhnya ibuku meninggal dalam
keadaan tiba-tiba, dan belum berwasiat. Saya rasa seandainya
sebelum meninggal dia sempat berbicara, dia akan bersedekah.
Apakah dia mendapatkan pahala jika saya bersedekah untuknya?’
Rasul bersabda: ‘Ya.’”

Dengan demikian, menurut pandangan Nahdliyyin tahlilan
adalah sesuatu hal yang boleh-boleh saja dilakukan sebab menurut
mayoritas ulama’ menegaskan akan kebolehannya menghadiahkan
pahala untuk sang mayit, mengkhususkan waktu uuntuk membaca al-
Qur’an dan kalimat thayyibah, dan bersedekah atas nama mayit.223
Selain itu, isi dalam kegiatan tahlilan adalah baik, bermanfaat, dan
tidak menyalahi syariat Islam.

B. Menurut Paham Salafi

Tradisi adalah sesuatu yang dihukumi boleh dalam Islam selama tidak
bertentangan dengan syari’at. Namun, tradisi berdoa dan berdzikir dengan
waktu tertentu dan dikhususkan untuk mayit merupakan suatu perkara yang
dilarang karena termasuk bid’ah. Hal tersebut dikarenakan tradisi ini
merupakan percampuran antara ibadah dan tradisi. Jadi, bid’ah juga bisa
terdapat dalam tradisi (adat) sebagaimana perkataan Asy Syatibi, “Perkara
non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah
bid’ah. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau
diposisikan sebagai ibadah, maka bisa termasuk dalam bid’ah.” (Al I’tishom,
1/348).224

Dari tulisan di atas dapat dipahami bahwa, pemahaman salafi menolak
sinkretisasi antara perkara ibadah dengan perkara non ibadah yang dalam hal
ini adalah tradisi. Manakala terjadi percampuran antara ibadah dan tradisi
maka tradisi tersebut dikhawatirkan akan diposisikan sebagai suatu bentuk
ibadah. Hal tersebut sama saja dengan berbuat bid’ah karena menambahkan
suatu ibadah yang mana tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad
Saw.

Dari tulisan di atas dapat dipahami bahwa, pemahaman salafi menolak
sinkretisasi antara perkara ibadah dengan perkara non-ibadah yang dalam hal
ini adalah tradisi atau adat istiadat. Manakala terjadi percampuran antara
ibadah dan tradisi maka tradisi tersebut dikhawatirkan akan diposisikan

223 Husnul Haq, Hukum Tahlilan Menurut Mazhab Empat (https://islam.nu.or.id/fiqih-
perbandingan/hukum-tahlilan-menurut-mazhab-empat-bpZVe, diakses pada 27 November 2022)

224Muhammad Abduh Tuasikal, Mengenal Bid’ah (7), Selamatan Kematian Kan Sudah Jadi Tradisi?
(https://rumaysho.com/892-mengenal-bidah-7-selamatan-kematian-kan-sudah-jadi-tradisi.html, diakses
pada 27 November 2022)

150


sebagai suatu bentuk ibadah. Hal tersebut sama saja dengan berbuat bid’ah
karena menambahkan suatu ibadah yang mana tidak pernah dicontohkan oleh
Nabi Muhammad Saw.

5. Analisis Hukum Tahlilan dalam Islam

Guna mencari pemahaman tentang hakikat hukum tahlilan menurut
Islam, Peneliti mendapatkan beberapa poin berikut berdasarkan hasil
pembacaan :

a. Tradisi bukanlah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Namun, suatu
problem muncul manakala dalam tradisi terdapat unsur ibadah.

b. Tahlilan adalah salah satu contoh dari tradisi yang memiliki unsur
ubudiyah, dimana kegiatan berkumpul-kumpul di rumah keluarga
mayit pada waktu tertentu adalah suatu adat kebiasaan, sedangkan
pembacaan doa, zikir, dan ayat suci al-Qur’an termasuk kedalam
ranah ibadah.

c. Percampuran antara tradisi dan ibadah memungkinkan untuk
memunculkan bid’ah, dimana masyarakat bisa saja menganggap
tradisi tersebut sebagai suatu bentuk ibadah.

d. Sehingga dapat dipahami bahwa percampuran tradisi dan ibadah
akan memunculkan ibadah baru yang tidak dicontohkan dan
diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw, dengan alasan tersebutlah
kaum Salafiyyin menolak akan adanya tradisi Tahlilan.

e. Di sisi lain, kaum Nahdliyyin tidak menolak tahlilan karena pada
esensinya, Tahlilan berada pada ranah tradisi bukan syari’at ataupun
ibadah. Sehingga tidak dapat dikatakan bid’ah karena melaksanakan
tahlilan merupakan suatu bentuk pelaksanaan tradisi dan bukan
pelaksanaan ibadah. Hanya saja, tradisi tersebut diisi dengan
kegiatan-kegiatan yang bersifat ibadah seperti membaca al-Qur’an,
berdzikir, dan berdo’a.

f. Dalam pandangan Nahdliyyin, tahlilan merupakan suatu tradisi yang
seharusnya dilestarikan karena tradisi yang baik dan di dalamnya
tidak ada pertentangan dengan syari’at Islam.

Dari poin-poin tersebut, peneliti memberikan suatu kesimpulan yaitu
bahwa perbedaan pendapat yang ada terkait tradisi Tahlilan adalah
disebabkan sudut pandang. Kaum Nahdliyyin melihat tahlilan secara esensi,
yaitu suatu tradisi lokal yang diisi nilai-nilai ke-islam-an, sehingga tradisi
tersebut tidak bertentangan dengan syariat dan justru membawa manfaat.
Sedangkat kaum Salafiyyin melihat tahlilan secara riil dikehidupan
masyarakat, dimana tahlilan bisa saja akan dianggap oleh masyarakat sebagai
suatu tuntunan syari’at. Hal tersebut membawa Tahlilan masuk ke dalam

151


ranah syari’at sehingga menjadikannya sebagai bid’ah. Maka dari itu dapat
dipahami bahwa hukum dari Tahlilan ialah boleh selama dipandang sebagai
bagian tradisi dan bukan syari’at.

Penutup
Masyarakat dusun Gintungan dapat dibagi menjadi dua kelompok

berdasarkan pemahaman ke-islam-annya, yaitu Nahdliyyin dan Salafiyyin.
Terma bid’ah adalah sesuatu yang biasa menjadi sekat antara dua kelompok
ini. Kaum Nahdliyyin di dusun Gintungan masih melestarikan tradisi
Tahlilan yang mana oleh kelompok Salafiyyin dianggap sebagai bid’ah.
Tahlilan sendiri pada dasarnya adalah tradisi yang diisi kegiatan-kegiatan ke-
islam-an, hal tersebut yang menjadi alasan Nahdliyyin tetap melaksanakan
tradisi ini. Sebaliknya, Salafiyyin menolak tradisi ini karena secara riil di
masyarakat, tradisi ini bisa saja dianggap sebagai syari’at sehingga hal
tersebut dapat memunculkan bid’ah. Meski terdapat perbedaan yang cukup
mencolok dari dua kelompok di dusun ini, warga dusun Gintungan tetap
saling menghormati satu sama lain. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh
peneliti, hukum tahlilan ialah boleh selama dianggap sebagai bagian dari
tradisi dan bukan syari’at. Analisis ini sebatas berdasarkan pemahaman
subjektif Peneliti berdasarkan hasil pembacaan dan pembandingan, oleh
karena itu penulis mengharapkan koreksi dan masukan dari pembaca.

152


TRADISI MERTI DESA YANG DIADAKAN SETAHUN SEKALI
DI DESA KEMETUL DALAM PANDANGAN MASYARAKAT

Nada Trisnawati
53040190037

Pendahuluan
Keragaman budaya, tradisi, dan agama adalah suatu keniscayaan hidup,

sebab setiap orang atau komunitas pasti mempunyai perbedaan sekaligus
persamaan. Di sisi lain pluralitas budaya, tradisi dan agama merupakan
kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Namun jika kondisi seperti itu
tidak dipahami dengan sikap toleran dan saling menghormati, maka pluralitas
budaya, agama, tradisi cenderung akan memunculkan konflik atau
perdebatan.

Tradisi merupakan bagian dari kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan
dari masyrakat karena tradisi tidak akan pernah lepas dari budaya masyarakat
yang telah melekat erat dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya tradisi maka akan terjadi kesinambungan serta rasa gotong
royong dalam masyarakat. Tradisi juga memberikan kebanggaan atas ragam
kekayaan budaya di negeri ini. Salah satunya adalah Merti Desa, sebuah
tradisi yang tak hanya lestari, namun juga semakin marak digelar di berbagai
pelosok desa. Merti desa sering disebut juga bersih desa, hakikatnya adalah
simbol rasa syukur masyarakat kepada Yang Maha Kuasa atas limpahan
karunia yang diberikanNya. Karunia tersebut bisa berwujud: kelimpahan
rezeki, keselamatan, ketentraman hidup.

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yaitu melakukan penelitian

dengan mengambil data di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah, adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini
adalah warga NU di desa Kemetul yang menyelenggarakan tradisi merti desa.
Sifat dari penelitian ini adalah deskriptif analisis, yaitu penelitian yang
menggambarkan tradisi merti desa di kalangan masyarakat NU.

Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi (pengamatan).
Observasi merupakan studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan
sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat. Setelah
semua data terkumpul, kemudian peneliti menggunakan metode deskriptif
analisis untuk memaparkan data yang didapat, kemudian menganalisa data-
data tersebut dengan dikaitkan pada teori yang ada. Adapun langkah-langkah

153


dalam menganalisa data-data adalah dengan menelaah seluruh data yang
diperoleh, kemudian menyajikan data dan menarik kesimpulan.

PEMBAHASAN

Pengertian Merti Desa
Merti Desa adalah upacara tradisi yang masih diselenggarakan di

berbagai desa di Pulau Jawa. Merti Desa pada dasarnya adalah simbol
masyarakat untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Tuhan atas karunia
yang melimpah. Seperti rezeki hasil panen yang berlimpah, keamanan,
ketenangan dan keharmonisan kehidupan masyarakat.225

Kegiatan ini dilakukan setahun sekali setelah panen antara bulan Juni,
Juli, atau Agustus dengan waktu pelaksanaan selalu pada hari Jumat Kliwon.
Merti Desa dipusatkan di Balai Desa Kemetul dan dilaksanakan setelah
panen kretek yang biasanya jatuh pada musim kemarau. Dalam pelaksanaan
Merti Desa diawali dengan upacara adat yang diberi nama Jolen sebagai
singkatan dari kata ojo/jangan lupa, maksudnya jangan lupa pada sang
pencipta. Maksud dari upacara ini adalah agar masyarakat Desa Kemetul
tidak melupakan jasa para leluhurnya sekaligus sebagai ucapan puji syukur
kepada Tuhan atas segala berkah dan hasil panen yang melimpah. Upacara
Jolen diikuti semua masyarakat Desa Kemetul yang terdiri dari 4 Dusun,
Setiap RT diwajibkan menyiapkan persembahan tumpeng hasil bumi dan
makanan. ditempatkan di gazebo, untuk kemudian diarak keliling desa dan
berakhir di Balai Desa Kemetul. Di Balai Desa persembahan disambut oleh
Bupati, Kepala Desa, tamu undangan dan masyarakat Setelah acara ritual
jolen selesai, tumpeng hasil bumi dan makanan diperebutkan masyarakat dan
tamu undangan. Selanjutnya peserta upacara, masyarakat dan tamu undangan
makan bersama sambil menyaksikan pentas tari.

Setelah siang hari bakda shalat jumat dilanjut pagelaran wayang kulit
yang dimulai dengan lakon Sri Mulih yang berhubungan dengan kepercayaan
masyarakat petani di Pulau Jawa pada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang
melambangka kesuburan. Lakon Sri Mulih mempunyai arti membawa Dewi
Sri pulang yang mengandun makna masyarakat sangat bersyukur atas
karunia Dewi Sri sehingga dapat membawa pulang hasil panen yang
melimpah dan berharap Dewi Sri akan memberikan berkahnya pada musim
tanam padi berikutnya226. Dewi Sri sebagai perwujudan Dewi Padi merupakan

225Lukman Asha, “Jurnal Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradis Merti Deso”, Vol. 9, No. 1, (Curup,
Bengkulu).

226Wahyu Duhito Sari, “Pandangan Masyarakat Terhadap Upacara Merti Desa Di Desa Cangkrep Lor
Purworejo”, Jurnal Studi Islam, Vol. 04, No. 01, (Purworejo).

154


sosok mitos Dewi pembawa kesuburan yang dipercaya oleh masyarakat
petani Desa Kemetul.

Nilai yang Terkandung

A. Nilai Keagamaan/Religius

Dalam tradisi Merti Desa terlihat jelas dalam kegiatan
pengajian/pembacaaan Yasin dan Tahlil yang dipimpin oleh sesepuh
desa Kemetul diikuti oleh masyarakat Desa Kemetul yang ditujukan
untuk arwah leluhur dan ungkapan wujud syukur kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Selain itu juga karena doa-doa yang digunakan
dalam setiap prosesi Upacara Merti Desa menggunakan doa secara
Islami.

B. Nilai Sosial

Tradisi Merti Desa banyak melibatkan warga. Warga dengan
bergotong royong mempersiapkan, melaksanakan dan setelah selesai
kegiatan Merti Desa bersama-sama membersihkan tempat yang
digunakan. Dengan bergotong royong warga melestarikan hubungan
kebersamaan sebagai perwujudan nilai sosial dalam masyarakat.
Dalam tradisi ini ditemukan nilai-nilai kebersamaan untuk saling
membantu antar warga yang satu dengan yang lainnya. Ini
merupakan salah satu bukti bahwa kehidupan masyarakat di desa
terdapat budaya saling membantu (gotong royong). Dengan adanya
rasa saling membantu secara tidak langsung tradisi Merti Desa ini
dapat menjaga kerukunan antar warga. Hal ini merupakan bentuk
kecintaan masyarakat terhadap lingkungan. Dalam tradisi yang
sudah mendarah daging dalam masyarakat Kemetul ini dapat kita
jadikan bahan renungan hidup terutama dalam hal saling membantu
antar sesama. Karena di zaman modern seperti saat ini sangat sulit
kita temukan orang- orang yang mau untuk saling bantu, terkecuali
dengan adanya uang. Bahkan terjalin hubungan yang erat antara
manusia dengan manusia lain ditunjukan dengan pada saat makan
bersama para warga saling bertukar lauk pauk yang mereka bawa
dari rumah. Hal tersebut memberikan pemahaman pada masyarakat
untuk saling peduli dengan tetangganya, tidak mempunyai sifat kikir
dan pelit.

C. Nilai Kerukunan

Tradisi Merti Desa yang diselenggarakan ternyata dapat
berperan untuk memupuk kerukunan antar warga setempat.
Kerukunan dalam arti rasa persatuan dan kesatuan warga masyarakat

155


tersebut dinyatakan adanya pembagian makanan dan makan bersama.
Interaksi yang terjalin antar umat yang beragama Islam dan non
Islam pun berjalan baik, seolah tidak ada sekat pembeda antar umat
beragama di Desa Kemetul. Oleh karena itu dorongan untuk
melaksanakan tradisi Merti Desa merupakan dasar yang kuat bagi
warga masyarakat dalam melakukan tugas-tugas yang dibebankan
kepada mereka. Sebagai contoh dalam membuat sesaji, kerja bakti
pada persiapan/pelaksanaan upacara. Bahkan pada saat pelaksanaan
upacara telah selesai, mereka bersama-sama membersihkan tempat-
tempat yang telah digunakan dan mengembalikan perabotan dan
perkakas ke tempat semula.227

D. Nilai Ekonomi

Pada saat prosesi upacara tradisi Merti Desa berlangsung
terdapat nilai ekonomi. Masyarakat Desa Kemetul mendapat
kesempatan untuk berdagang makanan, minuman, pakaian, mainan,
dll. sehingga meningkatkan nilai jual yang lebih tinggi. Jumlah
masyarakat yang berdagang diperkirakan 30 pedagang dan
keuntungan rata-rata Rp. 300.000.

E. Nilai Budaya

Nilai budaya dalam tradisi Merti Desa sudah tergambar jelas
dari awal, tradisi merupakan sebuah budaya. Budaya merupakan
hasil karya manusia yang tanpa disadari akan menjadi adat istiadat,
tradisi Merti Desa juga merupakan hasil karya manusia yang telah
menjadi kebiasaan dan diwariskan kepada generasi penerus.228 Hal
ini Merti Desa diwariskan oleh leluhur- leluhur masyarakat Desa
Kemetul kepada generasi dibawahnya dan sampai sekarang masih
terus dilestarikan dan dijaga eksistensinya.

Pandangan Masyarakat Islam Mengenai Merti Desa

Agama sangat berperan dalam menentukan perkembangan masyarakat
dan efeknya terhadap kesejahteraan masyarakat baik di bidang ekonomi,
budaya, politik, dan komunikasi. Agama bagi masyarakat merupakan
keyakinan akan sesuatu dan berperan penting dalam kehidupan karena
dengan kehidupan masyarakat akan seimbang antara kehidupan dunia dan
akhirat.229

227Ari Ratnawati, dan Emy Wuryani, “Jurnal Manfaat Nilai-Nilai Pada Upacara Tradisi Merti Desa di Desa
Kebondowo Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang”, (Semarang).

228Annisa Ayu Setyawati, dan Puji Lestari, ‘’Partisipasi Masyarakat Dalam Upacara Merti Dusun Di
Dusun Mantup Desa Baturetno Yogyakarta”.

229Ahmad Asir, ‘’Agama dan Fungsinya Dalam Kehidupan Umat Manusia”, Jurnal Penelitian dan
Pemikiran Keislaman Vol. 01, No. 01.

156


Mengenai kehidupan agama berdasarkan dari wawancara beberapa
tokoh dan masyarakat dapat disimpulkan bahwa masyarakat di desa Kemetul
dalam menjalankan agamanya semakin berkembang. Kehidupan spiritual
agama di era modern ini secara umum tampak mengalami peningkatan,
termasuk di kalangan masyarakat di desa Kemetul. Oleh sebab itu, sesuai
tuntunan masyarakat modern, unsur budaya Jawa dalam beberapa bidang
memang memerlukan reinterpretasi agar sesuai dengan perubahan yang
terjadi pada masyarakat.

Meningkatnya spiritual agama warga desa Kemetul dipengaruhi dengan
banyaknya kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan warga,
diantaranya acara pengajian Ahad pagi dengan Gus Fuad, dibaan, shalat
berjamaah yang membuat sadar warga desa Kemetul akan hal-hal yang tidak
sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam seperti dalam tradisi merti desa.
Maka dari itu masyarakat desa Kemetul mulai menyadari bahwa dengan
banyaknya hal yang berbau syirik dan musyrik di dalam pelaksanaan tradisi
merti desa, warga desa Kemetul mulai berfikir realistis. Oleh sebab itu
didalam tradisi Merti Desa tersebut meskipun warga tetap melaksanakan
tradisi setiap tahunnya hal-hal yang berbau syirik dan musrik mulai
dihilangkan, baik itu dalam pelaksanaan, makna dan tujuan upacara merti
desa mengalami pergeseran.

Kebanyakan warga desaKemetuladalahberagama islam,

terdapatbeberapa warga nonisnamun partisipasinya terhadap

kebudayaantidak luntursehinggaMerti Desa disebut sebagaihari penyatuan

antar agama. Dengan demikian,faktor agama terhadapMerti Desa sangat

besar, antara budaya dan agama salingmenyatu tanpa keluar dariaturan Islam

untuk mensejahterakan masyarakat.

PENUTUP

Kehadiran Islam ke Nusantara tidak lepas dengan nuansa di mana Islam
itu lahir. Sungguhpun demikian, ia mampu beradaptasi dengan kebudayaan
lokal di mana Islam itu datang. Kenusantaraan menjadikan Islam yang ada di
Nusantara ini mudah diterima oleh masyarakat, tidak ada resistensi.

Merti Desa adalah upacara tradisi yang masih diselenggarakan di
berbagai desa di Pulau Jawa sebagai bentuk simbol masyarakat untuk
mengucapkan rasa terima kasih/ rasa syukur hamba kepada sang pencipta
atas karunia yang melimpah. Dalam pelaksanaanya masih menggunakan
ajaran agama Islam sebagai tuntunan utama yang secara umum masyarakat
mendukung penuh tradisi tahunan yang masih berjalan sampai saat ini.

157


TRADISI RITUAL MERTI DESA DI DESA KENTENG
KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG

Muhammad Nabil Faiz Hasani
53040190045

PENDAHULUAN
Masyarakat Jawa merupakan masyarakat agraris yang sebagian besar

penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Masyarakat agraris
memiliki konsep bahwa kehidupan manusia harus tunduk atau selaras dengan
alam. Konsep hidup orang Jawa adalah kehidupan yang selaras dengan alam
semesta. Jika menemukan halangan atau misfortune dalam kehidupan,
masyarakat Jawa percaya hal tersebut terjadi karena adanya
ketidakseimbangan dengan alam sekitar. Untuk menghindari misfortune
dilaksanakan ritual atau upacara adat.

Ritual Merti desa merupakan salah satu kebudayaan masyarakat Jawa
ritual ini adalah sebagai bentuk rasa syukur masyarakat karena telah
diberikan rahmat dan nikmat oleh sang Maha Kuasa berupa tanah yang subur.
Masyarakat memberikan sedekah atau persembahan kepada bumi atau tanah
sebagai bentuk rasa syukur mereka kepada sang Maha Kuasa atas hasil bumi
yang mereka dapatkan.

Budaya Merti desa di Desa Kenteng adalah serangkaian kegiatan
kebudayaan yang dilaksanakan di Desa Kenteng. Tidak hanya terfokus pada
ritual kebudayaan saja, namun ritual ini juga memuat nilai-nilai atau pesan-
pesan Islam di dalamnya. Selain hal tersebut setiap budaya memiliki nilai
luhur yang harus tetap dijaga. Lebih -lebih di jaman global seperti saat
dimana sudah tidak ada lagi skat ataupun batas antar negara dan kebudayaan.
Sehingga kebudayaan-kebudayaan yang tidak sesuai dengan budaya luhur
kita dengan leluasa masuk dan merasuk ke dalam diri masyarakat.

Pelaksanaan Merti Desa mampu menyedot ribuan pengunjung, namun
demikian sebagian besar pengunjung tidak dapat memahami pesan dari ritual
tersebut. Sebagian besar mereka hanya datang untuk bersenang-senang atau
hanya sebatas menikmati pemandangan keramaian lautan manusia. Sebagian
yang lain hanya menikmati hiburan yang disajikan atau hanya sebatas
berwisata kuliner karena memang banyak dijajakan makanan di acara
tersebut. masyarakat. Tradisi Merti Desa dilaksanakan tidak hanya bertujuan
untuk menciptakan harmoni di masyarakat, tetapi juga merupakan
kebanggaan pada kekayaan budaya masyarakat.

Rumusan Masalah

158


Fokus permasalahan yang akan dicari jawabanya melalui penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut:

a) Bagaimana proses acara Merti Desa?
b) Bagaimana isi pesan dalam acara Merti Desa?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan peneliti ini adalah
a) Mengetahui Proses acara Merti Desa.
b) Mendeskripsikan isin pesan dalam acara Merti Desa.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a) Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan menambahkan keilmuan dalam
sebuah tradisi atau acara kebudayaan lainya yang ingin menyebar
luaskan ajaran agama islam melalui media kebudayaan.
b) Manfaat Praktis

Selain manfaat teoris harapan penulis dari hasil penelitian ini
dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk melengkapi sebuah
penelitian, bermanfaat sebagai referensi, sebagai bacaan bagi
peneliti, mahasiswa serta kalangan akademik pada umumnya.
Tinjauan Pustaka
1. Skripsi dengan judul “Istilah-Istilah Sesaji Dlam Merti Desa Di
Desa Dadapayam Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang (Kajian
Etnoliguistik)” yang ditulis oleh Ina Dinawati. Penelitian ini
memggunakan metode diskriptif kualitatif. Hasil analisi yang telah di
temukan oleh peneliti mengenai Merti Desa yaitu keseluruhan
rangkaian upacara meliputi nawu kali, beleh kebo, jolenan, dan
wayangan, beserta sesaji yang digunakan.230
2. Skripsi dengan judul “Tradisi Bersih Desa Dalam Pandangan
Dakwah Isalam (Studi Di Desa Sidodadi Kecamatan Padasuka
Kabupaten Pringsewu)” yang di tulis oleh Nurul Badriyah Khomsah.
Pada penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif, isi dari
penelitia ini adalah bersih desa yang sudah dilaksanakan secara turun

230Ina Dinawati, Istilah-Istilah Sesaji Dalam Tradisi Merti Desa Di Desa Dadapayam Kecamatan Suruh
Kabupaten Semarang (Kajian Etnolinguistik). Surakarta: Fakultas Sastra dan Seni Rupa Univeritas Sebelas
Maret, 2010.

159


temurun dan sudah melekat dalam kehidupan masyarakat
sidodadi.231

3. Skripsi dengan judul “Kajian Folklor Tradisi Merti Dhusun di
Dusun Tugono Desa Kaligono Kecamatan Kali Gesing Kabupaten
Purworejo” yang di tulis oleh Amalia Septi Puspitasari. Pada
penelitian ini penulis menggunakan metode penelitiandeskriptif
kualitatif, dari hasil penelitian ini adapun isinya yaitu mengetahui
prosesi tradisi Merti Dhusun di Dusun Tugono yaitu membersihkan
dusun dan bersih kubur, tayub siang, mengumpulkan jolen, kirab
dialnjutkan dengan hiburan tayub samapi dengan pagi hari.232

Landasan Teori

Landasan teori merupakan bagian penelitian yang memuat teori-teori
dan hasil penenlitian yang berasal dari studi kepustakaan yang memiliki
fungsi sebagai kerangka teori untuk menyelesaikan pekerjaan penelitian.

1) Pesan Dakwah

Dakwah merupakan suatu proses penyampaian ajaran Islam
dilakukan secara sadar dan sengaja, yang bersifat menyeru atau
mengajak kepada orang lain untuk mengamalkan ajaran Islam.
Dakwah adalah usaha meningkatkan pemahaman keagamaan untuk
mengubah pandangan hidup, sikap batin dan perilaku umat yang
tidak sesuai menjadi sesuai dengan tuntunan syari’at untuk
memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Semua menyadari bahwa dakwah Islam adalah tugas suci yang
dibebankan setiap muslim di mana saja berada dan dalam kondisi
bagaimanapun. Dakwah Islam bertujuan untuk memancing dan
mengharapkan potensi fitri manusia agar eksistensi mereka punya
makna dihadapan Tuhan dan sejarah. Dakwah sendiri merupakan
tugas umat secara keseluruhan, bukan hanya tugas kelompok Islam
tertentu.233

2) Budaya

Kebudayaan atau culture dalam bahasa Belanda, dan culture
dalam bahasa Inggris, berasal dari bahasa Latin colere yang berarti 8
mengolah, mengerjakan, menyuburkan,dan mengembangkan. Dari

231Nurul Badriyah Khomsah, Tradisi Bersih Desa Dalam Pandangan Dakwah Islam (Studi Di Desa
Sidodadi Kecamatan Padasuka Kabaupaten Pringsewu). Lampung: Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN
Raden Intan Lampung), 2019.

232Amalia Septi Puspitasari, Kajian Folklor Tradisi Merti Dhusun di Dusun Tugono Desa Kaligono
Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Purworwjo: Pendidikan Bahasa Jawa Universitas
Muhammadiyah Purworejo, 2012

233Al-Munawar Said, Metode Dakwah, Prenada Media, Jakarta, 2003, hal 6.

160


istilah ini berkembanglah arti culture sebagai segala daya dan
aktivitas manusia untu mengolah dan mengubah alam. Menurut
bahsa Indonesia, kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta
buddhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau
akal, atau disatukan menjadi akal budi.234

3) Merti Desa
Merti Desa atau Bersih Desa adalah kegiatan sedekah desa atas

rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang telah dilimpahkan pada
umatnya, terutama pada masyarakat Desa Kemetul Kecamatan
Susukan Kabupaten Semarang. Terlebih lagi pada saat setelah
musim panen di desa tersebut tiba. Para warga desa akan
melaksanakan kegitan tersebut utuk mengutarakan rasa syukurnya
atas panen yang diperoleh dari jerih payah para petani.

Merti desa juga sering disebut juga dengan Upacara Bersih Desa
diberbagai daerah lainnya. Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap satu
tahun sekali oleh masyarakat Desa Kenteng Kecamatan Susukan
Kabupaten Semarang setelah musim panen di desa tersebut telah
usai dilaksanakan. Dalam pelakasanaan tradisi tersebut terdapat
rentetan acara yang dilaksanakan mulai dari satu minggu sebelum
dilaksanakannya Merti Desa.

METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah

penelitian lapangan (field research).Fieled research adalah pengamatan
terhadap fenomena yang diamatati yang didasarkan pada fakta-fakta atau
yang dikumpulkan di lapangan. metode kualitatif merupakan prosedur
penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis
atau lisan dari orang-orang yang diamati. Teknik pengumpulan data yang
diperoleh yaitu berupa teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan
observasi, wawancara dan dokumentasi yang diolah sedemikian rupa dari
bentuk aslinya sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk deskriptif dan
gambar secara sistematis, faktual dan akurat.

PEMBAHASAN
PENGERTIAN RITUAL MERTI DESA

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ritual diartikan sebagai
serangkaian hal yang berkenaan dengan upacara keagamaan. Dalam

234M Arifin Hakim, Ilmu Budaya Dasar (Teori dan Konsep Ilmu Budaya), Pustaka Jaya 2001.

161


tulisannya Bryan Turner sebagaimana dituliskan oleh Aly Haedar
mendefinisikan ritual sebagai sebuah tindakan formal yang dilakukan dalam
sebuah kegiatan upacara yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap wujud
yang Agung dan memiliki kekuatan supra.

Bangsa Indonesia dan lebih khusus lagi suku Jawa memiliki sifat
seremonial. Artinya hampir setiap peristiwa yang penting selalu dilakukan
upacara atu sering disebut juga dengan slametan. Upacar-upacara tersebut
biasanya diadakan dan berhubungan dengan proses hidup manusia dari mulai
lahir sampai meninggal. Bentuk upacara yang dilakukan pada bulan-bulan
tertentu dan berkaitan dengan keagamaan, semisal Muludan, Saparan,
Rejeban, dan lain-lain. Ada juga upacara yang bersumber sejak zaman
sebelum agama Islam mempengaruhi kebudayaan Jawa, seperti ruwatan dan
sedekah bumi atau Merti desa atau bersih dusun.

Merti desa juga dapat diartikan sebagai hajat ataupun pemberian kepada
arwah leluhur. Hal ini juga dapat dilihat dengan adanya konsep memberikan
atau mengirimkan doa kepada arwah leluhur yang telah meninggal. Merti
desa merupakan satu dari sekian banyak kebudayaan di Jawa, kegiatan ini
biasa dilakukan setahun sekali dengan esensi ungkapan rasa syukur terhadap
nikmat yang telah diberikan yang Maha Kuasa kepada masyarakat desa
tersebut.

Ritual Merti desa merupakan salah satu bagian dari tradisi dan budaya
masyarakat Jawa. masyarakat Jawa memiliki banyak tradisi yang
dilaksanakan dan dijadikan sebagai pandangan hidup yang berkaitan dengan
sikap keagamaan. Masyarakat jawa memiliki keyakinan bahwa sikap
beragama dengan menggunakan tradisi merupakan bentuk bersikap
spiritual, sehingga akan tercipta keharmonisan antara manusia dengan alam
di sekitarnya. Tradisi yang dilakukan mencerminkan adanya perhatian
ataupun hubungan antara manusia dengan alam dan juga dengan Allah SWT.

162


PROSES ACARA PELAKSANAAN MERTI DESA DI DESA
KENTENG

Tradisi Merti Desa di Desa Kenteng dilaksanakan seluruh masyarakat
Desa Kenteng, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang dan dipimpin oleh
kepala Desa Kenteng. Adapun prosesinya adalah dibagi menjadi dua tahap
kegiatan, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanakan upacara. Dalam
tahap persiapan pemerintah desa dan pamong setiap RT di Desa Kenteng
melakukan rapat menentukan waktu pelaksanaan upacara tahunan budaya
Merti Desa. Waktu pelaksanaan Merti Desa pada hari sabtu legi setelah masa
panen desa di musim kemarau. Dalam penelitian ini, pelaksanaan Budaya
Merti Desa jatuh pada hari sabtu legi di bulan Juli-Agustus, masyarakat
wajib membayar iuran yang sudah di tentukan yaitu Rp. 150.000/ KK. Dana
yang sudah terkumpul dipergunakan untuk membiayai pelaksanaan tradisi
Merti Desa.

Pelaksanaan dilaksanakan pada hari sabtu legi, dimulai sejak pukul
06:00 dengan masasyarakat setiap RT melakukan kenduri di rumah ketua RT
atau RW setempat dengan membawa makanan dalam bentuk apapun seperti
nasi, sayur, beraneka ragam buah, jajan tukon pasar. Setelah semua warga
berkumpul kenduri akan dimulai dengan membaca doa tahlil bersama-sama
yang dipimpin oleh tokoh agama di lingkungan tersebut, saat doa telah
selasai dilaksanakan dilanjutkan dengan memakan bersama makanan yang
dibawa mayrakat terebut. Serta tak lupa mengambil beberapa jenis makanan
yang telah dibawa masyarakat untuk diletakkan pada jolen.

Acara selanjutnya yaitu arak-arakan atau warga Desa Kenteng sering
menyebutnya dengan istilah Jolenan. Pada prosesi ini seluruh masyarakat
desa Kenteng turut andil dalam memeriahkan, mulai dari anak-anak, remaja,
dewasa, bahkan orang lanjut usia tak jarang juga ikut memeriahkan dan ikut
merasakan proses acara Jolenanan ini. Jolenan dimulai setlah acara kenduri
di setiap RT telah selasai dilaksanakan kira-kira pukul 07.00 dan berakhir
pada pukul 11.30. untuk memanbah semangat semangat dan kemeriahan
acara kebudayaan ini ada penilaian oleh juri pada 3 posyang telah ditentkan
untuk meneilai hasil kreasi Jolen masyarakat setiap RT, kekompakan warga,
mempresentasikan hasil kreasi dengan baik. Setelah seluh RT sudah
terkumpul menjadi satu di Balai Desa Kenteng tokoh agama yang ditunjuk
untuk memimpin doa akan memulai doa bersama. Selanjutnya warga yang
mau boleh mengambil mengambil makanan, sayuran, buah-buahan, umbi,
dan hasil bumi lainnya yang terdapat di jolen. Bukan hanya masyarakat Desa
Kenteng saja namun bebas untuk semua orang seperti penonton yang berasal
dari berbagai daerah.

163


Tidak berhenti pada prosesi jolenan saja namuan sebagai lanjutan bentuk
rasa syukur masyarakat Desa Kenteng mementasakan kesenian tradisonal
seperti tari Gambyong, Tari Kuda Lumping, serta pertunjukan wayang Kulit.
Hal ini dilakukan untuk hiburan masyarakat. Bisanya wayang digelar mulai
dari jam 15.00 samapai jam 17.00 lalu setelah itu pagelaran wayang
dilanjutkan semalam suntuk. Begitu juga dengan tari kuda lumping, namun
berbeda dengan tari gambyong hanya dipentasakan 2 kali saja dengan durasi
yang singkat. Rangkaian acara tersebut dilaksanakan dalam waktu sehari
semalam berakhir pada jam 03:00 WIB.

Tradisi Membuat Jolen

Jolen adalah hasil kreasi masyarakat Desa Kenteng pada setiap RT yang
ada di Desa, seminggu sebelum acara Merti Desa setiap warga per-RT
bergotong royong membuat beraneka ragam bentuk sesui dengan
kesepakatan masyarakat yang berada di situ. Hal ini di kemukakan oleh
Mbah Gono yaitu sebagai berikut: “Jolen kui soko tembung joli seng
maknane ojo nganti lali dadi maksute jolenan kui supayane wong nom-nom
kui men ora lali karo budayane men isoh nguri-uri kebudayaan men ora
punah”.

Jolen berasal dari kata Joli yang bermakna jangan sampai lupa agar
supaya para generasi penerus utamanya para pemuda tidak lupa terhadap
budaya yang di miliki sehingga bisa melestarikan kebudayaan yang sudah
ada. Tahapan selanjutan yaitu Jolen akan diarak menuju balai desa atau
kantor kelurahan, di setiap perjalanan ada beberapa pos penilaian kreasi
Jolen yang telah dibuat oleh masyakarat per-RT untuk memeriahkan tradisi
Merti Desa serta para generasi penerus tertarik untuk melestarikan budaya
peninggalan nenek moyang.

Selanjutnya pada tahapan Jolenan ini sama adanya dengan Merti Desa di
Desa kenteng yaitu membuat kreasi bentuk apapun sesuai kreativitas
masayrakat per-RT namun terdapat pula perbedaan yaitu adanya
penyembelihan kerbau dengan tujuan untuk sesaji dan adanya makanan
khusus yang sudah ditentukan sebagai pelengkap yang di sajikan. Jolenan di
Desa Kenteng dilaksakana dengan cara arak-arakan atau seperti karnaval
sedangkan di Desa Dadapayam tidak dilaksanakan seperti itu.

Jolen yang dibuat oleh masyarakat tergantung dari tema yang telah
ditentukan dan disepakati oleh pemerintah desa serta panitia Merti Desa,
seperti yang dikatakan oleh narasumber kita: “Jolen kalau menurut saya
adalah cara untuk memeriahkan sebab setiap RT membawa Jolen karena
sebuah tradisi, kawet bien aku cilek rebutan gendero seng digowo neng Jolen
kui mau amergo koyo ngono mau tinggalane leluhur dadi budaya seng koyo
ngono mau dilestarikan karo anak putu ning deso Kenteng” (Bapak Khabib).

164


Isi Pesan Dalam Acara Merti Desa

Dalam pelaksanaan tradisi Merti Desa terdapat berbagai macam isi
pesan dakwah yang dapat kita ambil. Dalam penelitian yang penulis lakukan,
ada beberapa isi pesan dakwah yang begitu menonjol pada tradisi Merti Desa
di Desa Kenteng tersebut. Salah satunya tahlil yang dilakukan pada setiap
rututan acara Merti Desa seperti tahlil dan puncak acara Merti Desa, bukan
hanya itu saja namun dalam tujuan utama diadakannya tradisi Merti Desa itu
sendiri mengandung isi pesan dakwah yaitu wujud rasa syukur masyarakat
kepada Allah SWT.

Kita sebagai manusia sudah sepatutnya bersyukur kepada Allah SWT
yang telah memberikan nikmatnya kepada manusia tanpa terkecuali. Syukur
kepada Allah SWT berarti ucapan, sikap, dan perbuatan terimakasih kepada
Allah SWT, dan pengakuannya yang tulus atas nikmat dan karunia yang
telah diberikan Allah sangat banyak dan bermacam-macam, disetiap detik
yang dilalui manusia tidak lepas dari nikmat Allah. Sehingga manusia tidak
akan dapat menghitungnya.

Sementara itu Allah menjanjikan pada hambanya yang mau bersyukur
atas nikmat-Nya, adalah kenikmatannya akan ditambah dan dilipat gandakan
nikmat-nikmatnya yang lain. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S.
Ibrahim:7 yang berbunyi:

Q N ℷ㘮 ϟ Ψ 㘮 Ε Ψ 㘮 N

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikamat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih”.

Orang yang selalu bersyukur kepada Allah ia akan selalu mengingatNya
dalam berdiri, duduk, samapi tidur pun selalu berdzikir, dan tidurnyapun
untuk mengumpulkan energi untuk mengumpulkan energi untuk bersyukur
atas nikmatNya. Wujud rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan
nikmat yang berwujud hasil panen desa lalu dilaksanakan tradisi Merti Desa
agar masyarakat diberikan keberkahan, keselamatan dan bermanfaatnya hasil
panen masyarakat di desa Kenteng. Maka menurut Bapak Khabib yaitu:
“Merti deso kolo wau sepisan sesuai adat yang berlaku dilaksanakan setiap
panen ketigio, bar panen ketigo sedekah desa amergo wong sodakoh kui
ngadohke balak, supayane deso ayem tentrem kasembadan masyarakat seng
ono deso kenteng paringono slamet sak kabehane, syukur kui mau diujubke
kanggo nikmat soko sing kuoso awujud merti deso” (Bapak Khabib).

PESAN DAKWAH

165


Pembahasan tentang pesan dakwah dijadikan sebagai acuan untuk
melihat pesan yang disampaikan oleh ritual sebagai pesan dakwah. Pesan
secara umum diartikan sebagai pemberitahuan baik lisan ataupun tulisan
yang disampaikan kepada orang lain. Pesan dapat dikategorikan menjadi
verbal dan non verbal. Verbal adalah jenis pesan yang disampaiakan dengan
menggunakan kata – kata. Sedangkan non verbal adalah pesan yang isinya
tersirat dalam sebuah simbol ataupun ekpresi penyampainya. Seperti seorang
yang melambaikan tangan memberikan isyarat bahwa dia akan pergi, orang
tertawa karena senang, menangis karena sedih. Kesemuanya tadi merupakan
pesan yang disampaikan oleh penyampaianya.

Dari beberapa contoh diatas dapat disimpulkan bahwa pesan adalah
tafsiran dari setiap perilaku seseorang baik dengan menggunakan simbol,
sikap, gerakan, maupun dengan menggunakan suara. Bahkan menurut
Mc.Luhan sebagai mana ditulis oleh Risqiatul Hasanah menyatakan bahwa
media adalah pesan itu sendiri. Pesan dakwah adalah materi dari dakwah itu
sendiri, artinya apa yang disampaikan dalam kegiatan dakwah adalah pesan
dakwah itu sendiri. Menurut Abdul Basit sebagaimana ditulis oleh
Risqiatul Hasanah ada 3 dimensi yang salaing terkait dalam pesan dakwah.

Pertama, pesan dakwah menggambarkan tentang kata atau imajinasi
tentang dakwah yang diekpresikan dalam bentuk kata – kata. Dalam konteks
ini pesan dakwah mengandung 2 unsur, yaitu isi pesan dan simbol. Jika isi
pesan adalah ide yang disampaikan, maka simbol adalah kata- kata itu.

Kedua, pesan dakwah berkaitan dengan persepsi yang diterima oleh
seseorang. Makna merupakan proses aktif yang diciptakan dari hasil
kerjasama antara pengirim pesan dan penerima pesan. Makna tidak hanya
bergantung pada pesan saja, namun juga bergantung pada interaksi antara
pesan dengan pemahaman penerima pesan. Ketiga, adalah penerimaan pesan
dakwah yang dilakukan oleh mad‘u. Untuk membedakan pesan dakwah
dengan pesan lainnya dibuat karakteristik pesan dakwah sebagai berikut :

a) Mengandung unsur kebenaran

b) Membawa pesan perdamaian

c) Tidak bertentanangan dengan hukum universal

d) Memberikan kemudahan bagi penerima pesan

e) Menghargai perbedaan

Dengan demikian dapat disimpulkan jika pesan dakwah tidak hanya
sebatas pesan verbal saja, namun juga pesan yang disampaikan melalui
simbol – simbol yang ada. Pesan dakwah juga dapat disampaikan melalui
media apa saja termasuk ritual merti desa. Asalkan masih memenuhi kriteria

166


pesan dakwah diatas maka melalui media apapun pesan tersebut dapat
dikategorikan sebagai pesan dakwah.

KESIMPULAN
Merti Desa merupakan tradisi yang dimaknai oleh masyarakat sebagai

ungkapan syukur kepada Tuhan karena hasil panen yang melimpah. Merti
Desa dilaksanakan setalah masa panen yang kedua pada musim kemarau
yang biasanya jatuh pada hari Sabtu legi. Rentetan acaranya yaitu
pembuatan Jolen, Jolenan atau bisa di sebut juga dengan kirab yang
dilakukan oleh seluruh masyarakat desa kenteng. Acara yang terkahir yaitu
pementasan seni tradisonal yaitu tari Gambyong, Wayang Kulit, tari Kuda
Lumping.

Penelitian ini menemukan bahwa budaya Merti Desa terdapat isi pesan
dakwah yaitu agar manusia selalu bersyukur atas segala hal yang telah
diberikan oleh Allah SWT, dalam penelitian ini jelas bahwa budaya Merti
Desa itu sendiri merupakan manifestasi syukur masyarakat kepada sang
pencipta.

Ritual merti desa juga dapat menjadi sebagai sarana rekreasi atau
hiburan. Banyak pementasan kesenian rakyat yang membuat rakyat merasa
bahagian. Perasaan bahagia akan membantu masyarakat melupakan
permaslahan yang ada. Dengan demikian ritual merti desa merupakan
bagaian dari media dakwah kultural, yaitu media dakwah yang
menggunakan adat budaya dalam menyampaikan pesannya.

167


IMPLEMENTASI TRADISI MERTI DESA DALAM
MEMBENTUK KERUKUNAN MASYARAKAT DESA
PURWOREJO KECAMATAN SURUH KABUPATEN

SEMARANG

Nurul Humaidah
53040190031

PENDAHULUAN

Deksripsi Tradisi

Hubungan antara agama, budaya, dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.
Ketiganya memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia. Agama sendiri
diartikan sebagai kepercayaan yang kemudian dijadikan pedoman, maka tak
heran jika dalam kehidupan manusia tidak lepas dari budaya dan tradisi.
Desa Purworejo memiliki beragam tradisi, salah satunya tradisi “Merti Desa”.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Merti
Desa di desa Purworejo membangun kerukunan masyarakat melalui
pasrtisipasi, kerjasama, dan gotong royong.

Problem yang ada

Masyarakat desa Purworejo mempuyai perhatian da minat yang cukup
besar. Peingkatan perhatian tersebut dari anggota masyarakat untuk
memelihara, meningkatkan dan melaksakan tradisi Merti Desa. Tradisi
tersebut sebagai upaya pelestarian warisan budaya.

Partisipasi masyarkat desa Purworejo terjadi secara langsug dan gotog
royong sehingaa budaya Merti Desa dapat terlaksana. Pelaksanaan adat
tersebut sebagai salah satu unsur ketahanan sosial budaya aka memperkuat
ketahanan nasional secara keseluruhan, sehingga eksistensi bangsa dan
negara dapat terjaga.

Kajian teori

Merti Desa sering disebut juga dengan bersih Desa, hakikatnya sama
dengan makna simbol rasa syukur masyarakat kepada sang Pencipta atas apa
yang telah diberikan. Karunia tersebut dapat berupa rejeki yang melimpah,
keselamatan, ketentraman, serta keselarasan hidup di dunia.

Merti desadilaksanakan sebagai bentuk syukur sekaligus melestarikan
tradisi leluhur. Kegiatan berupai prosesi upacara adat yang meliputi kirab
budaya dan gunungan hasil bumi, pentas kesenian tari tradisional yang
digelar siang hari

Merti Desa sendiri merupakan upacara adat yang dilakukan masyarakat
dengan cara bersih-bersih di lingkungan tempat tinggal. Selain itu,

168


masyarakat akan melakukan kirab dengan memilih tempat awal dimulainya
kirab dan berakhir di sebuah tempat dan dilanjutkan dengan doa.
Tujuan penelitian

a) Mengetahui partisipasi masyarakat dalam tradisi Merta Desa
b) Mengetahui implikasi partisipasi masyarakat dalam tradisi Merti

Desa
Manfaat

a) Sebagai doa bersama warga masyarakat, ucapan syukur pada
Tuhan Yang Maha Esa.

b) Untuk menjaga gotong royong sehingga tetap terjaga erat
komunikasi di masyarakat dan membuat sebuah kekuatan sendiri
di warga masyarakat.

METODE
Metode peelitian ini bersifat deskriptif kualitatif sebab data dari hasil

obervasi, wawancara didukung oleh data kepustakaan yang merupakan data
sekunder, langkah dalam menganalisis data ini dengan cara mereduksi data,
klasifikasi data, pemahaman, interpretasi, penafsiran sehingga dapat diambil
kesimpulan yang benar.

Hasil penelitian ini adalah, pertama, tradisi Merti Desa di desa
Purworejo dilaksanakan setiap tahun, sebelum pelaksanaan acara didahului
kegiatan membersihkan makam dan lingkungan, kenduri bersama, khusus
Merti Dusun tiga tahunan ada hiburan wayang kulit setelah acara kenduri.
Masyarakat Desa Giyombong mempunyai perhatian dan minat yang cukup
besar.

PEMBAHASAN
Deskripsi Lokalitas

Masyarakat Jawa merupakan satu kesatuan masyarakat yang diikat oleh
norma-norma hidup karena sejarah, tradisi maupun agama. Selain itu,
masyarakat Jawa juga terkenal sebagai masyarakat yang memiliki banyak
ragam variasi tradisi atau adat235.

Merti desa adalah sebuah nama yang mungkin sudah tak asing lagi bagi
kita, yaitu upacara tradisi masyarakat yang memiliki makna filosofis sebagai

235Arini Sofia, “Perubahan Bentuk Tari Penyajian Tari Bedana Bandar Lampung,” Greget: Jurnal
Pengetahuan Dan Penciptaan Tari 13, no. 1 (2014).

169


wujud terimakasih dan rasa syukur kepada Allah.236 Kegiatan ini berupa
prosesi upacara adat yang meliputi kirab budaya, pentas kesenian tari
tradisional yang digelar siang hari. Sebuah tradisi ini masih terus lestari, tak
hanya menentramkan hati, tetapi juga lambang kebangaan ragam adat budaya.

Tradisi di masyarakat tidak selalu sama sejak awal tradisi ada. Tradisi
masyarakat mengalami perubahan sesuai perkembangan informasi.
Perubahan tradisi masyarakat dapat menjadi nilai tambah bagi masyarakat
tersebut. Proses tersebut menjelaskan bahwa keberadaan Merti Desa di
masyarakat mengalami adaptasi karena perkembangan teknologi
informasi.237

Nilai-nilai pada tradisi Merti Desa

1. Nilai religious

a) Pembacaan ayat Al-Qur’an, dzikir, shalawat, dan do’a pada saat
inti acara sedekah bumi. Hal ini bertujuan agar masyarakat
terbiasa dan mampu mengingat dan menghafal bacaan-bacaan
tersebut.

b) Pada prosesi kegiatan Merti Deso terdapat nilai-nilai hubungan
antara manusia dan Tuhan. Adanya sesaji yang akan bagikan
kepada seluruh masyarakat yang hadir adalah perwujudan rasa
syukur pada Tuhan atas nikmat yang diberikan. Merti Deso juga
mengingkatkan hubungan manusia dengan para leluhur.

2. Nilai sosial

Trdisi Merti Desa banyak melibatkan masyarakat. Masyarakat
bergotong-royong mempersiapkan, melaksanakan dan membersihkan
tempat yang digunakan setelah selesai kegiatan tersebut. Dengan adanya
kegiatan tersebut, masyarakat melestarikan hubungan kebersamaan
sebagai perwujudan nilai sosial dalam masyarakat.

Bahkan terjalin hubungan yang erat antara manusia dengan
manusia lain ditunjukan pada saat makan bersama para warga saling
bertukar lauk pauk yang mereka bawa dari rumah. Hal tersebut
memberikan pemahaman pada masyarakat untuk saling peduli dengan
tetangganya, tidak mempunyai sifat kikir dan pelit.

3. Nilai ekonomi

Pelaksanaan Merti Deso yang berisi mujahadah, kirab, wayang
kulit, mengundang masyarakat berkumpul. Pertunjukan tersebut banyak

236Astin Eka Tumarjio, Muhammad Iqbal Bisrsyada. Pergeseran Prosesi dan Makna dalam Tradisi Merti
Dusun Desa Wisata Budaya Dusun Kadibolo. Vol. 6, No.2 (2022).

237Benedict Anderson, Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-budaya Politik di Indonesia, (Yogyakarta: Mata
Bangsa, 1990).

170


disaksikan baik oleh orang tua maupun anak-anak. Berkumpulnya itu
memberikan peluang kepada yang ingin berjualan untuk menambah
penghasilan. Para pedagang biasanya terdiri dari penjual makanan,
kerajinan dan lain-lain.

Pandangan masyarakat terhadap adat Merti Desa

Masyarakat di desa Purworejo sebagian besar menganggap bahwa tradisi
Merti Desa merupakan hal yang positif, tetapi sebagian yang lain ada yang
menganggap tradisi tersebut adalah negative. Hal ini dikarenakan mereka
masih percaya dengan adanya suatu kepercayaan dengan makhluk-makhluk
halus yang mejaga dan melindungi kampung

Sebagian masyarakat yang non-muslim (Kristen-Katholik) juga
menganggap positif, karena mereka bertujuan ingin menhilangkan
kepercayaan animism (kepercayaan terhadap makhluk halus atau roh).
Walaupun dalam prosesi doa dalam upacara itu dilakukan oleh sebagian
masyarakat Islam, tetapi bagi masyarakat non-muslim tetap mengikuti
upacara itu bersama-sama dengan kaum muslimin.

Pandangan muslim terhadap adat Merti Desa

Tradisi dapat dijadikan dalam pelaksanaan pendidikan Islam.
Penerimaan tradisi ini memiliki beberapa syarat, yaitu tidak bertentangan
dengan ketentuan nash pokok, baik Al-Qur’an dan Sunnah, tradisi yang tidak
bertentangan dengan akal sehat dan tabiat yang sejahtera, serta tidak
mengakibatkan kedurhakaan, kerusakan dan kemunduran.238

Analisis

Berdasarkan wawancara dengan mas Alfian Prasetyo dalam pelaksanaan
upacara Merti Desa di desa Purworejo, beliau mengungkapkan bahwa acara
Merti Desa dimulai dengan bersih-bersih linkungan yang dilaksanakan oleh
semua warga, kerja bakti dan gotong-royong untuk membenahi tempat-
tempat umum yang ada di dusun. Kemudian slametan diiringi dengan
tahlilan, makan bersama, dan yang terakhir adalah pentas atau pagelaran,
seperti wayangan dll.239

Makna dari Merti Desa yang dilakukan di desa Purworejo ini menurut
mas Alfian Prasetyo selaku penduduk asli di sana, yaitu:

a. Ungkapan rasa syukur

b. Ungkapan pengharapan

c. Ungkapan persaudaraan

238Galuh Dwi Purwasih, Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menumbuhkan Motivasi
Pembelajaran di MI Al-Hikmah Karangrejo dan MI Sunan Ampel Bono, Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam
dan Kajian Keislaman 2, no. 2 (2019).

239Wawancara dengan Alfian Prasetyo, tanggal 20 November 2022.

171


Tradisi ini adalah perwujudan syukur dan doa dengan harapan agar
diberikan kebaikan dimasa mendatang dan dijauhkan dari hal-hal buruk yang
masih terjadi di masyarakat desa tersebut. Selaian menjadi perwujudan rasa
syukur, tradisi ini sering terkait dengan ritual penghormatan kepada leluhur,
sehingga menghadirkan berbagai ritual simbolik terkait dengan tokoh dan
Riwayat yang diyakini.
KESIMPULAN

Adat merupakan suatu kegiatan yang tidak bisa lepas dari masyarakat.
Salah satu adat yang ada di desa Purworejo, Kec. Suruh, Kab. Semarang
adalah adat "Merti Dea". Tradisi tersebut merupakan sebuah nama yang
mungkin sudah tak asing lagi bagi kita, yaitu upacara tradisi masyarakat yang
memiliki makna filosofis sebagai wujud terimakasih dan rasa syukur kepada
Allah.

172


173


ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL SAPARAN DI JATINOM
KLATEN

Muhammad Shahril Rifa’i
53040190026

PENDAHULUAN

Sebagaimana dalam Al-Qur’an Islam memiliki misi rahmatan lil ‘alamin
yaitu Islam sebagai agama yang menyayangi seluruh makhluk di alam ini.
Dalam perkembangnnya Islam menyebar keseluruh dunia dan tidak dapat
dipungkiri bahwa disetiap daerahnya memilki lokus berbeda-beda yang mana
mewarnai nilai-nilai islam itu sendiri240

Agama islam adalah sebagai simbol yang melambangkan ketaatan
seorang hamba kepada Tuhan yang maha Esa. Sedangkan setiap agama islam
yang berada disuatu daerah pasti kebanyakan memiliki relasinya dengan
budaya setempat yang menjadi jati diri pada masyarakat setempat, karena
kondisi kehidupan keagamaan di Indonesia saat ini diwarnai oleh
perbedaaan-perbedaan dalam mengimplikasikan agama serta praktinya
sekaligus.

Akan tetapi agama itu mutlak dengan ketetapannya sendiri sedangkan
budaya memiliki unsur-unsur budaya yang relatif disetiap lokalitas, tentu
keduanya memiliki sisi yang berbeda. Karena itulah agama tidak tergantung
oleh ruang dan waktu sedangkan budaya dapat berubah tergantung pada
lokus dimana ia berada. Akan tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan, karena
agama itu diturunkan pada suatu ruang kehidupan manusia, sedangkan
kehidupan manusia pasti memiliki budaya.241

Sebelum datangnya agama Islam di Jawa, Indonesia mayoritas beragama
Hindu, budha dan kepercayaan yang dianut oleh pribumi yaitu animism dan
dinamisme yang telah berakar di masyarakat. Sehingga ketika Islam datang
mayoritas penduduk dapat menerima Islam, tetapi belum dapat melupakan
ajaran lama, dengan ini memerlukan sikap kompromi pada hal-hal yang
berbeda. Istilah ini disebut sinkretisme, secara etimologis berasal dari kata
syin dan kretiozen, yang berarti mencampuraduk elemen-elemen yang
bertentangan. Namun dampak positifnya, ajaran-ajaran yang disinkretiskan
tersebut telah menjadi jembatan yang memudahkan masyarakat untuk
menerima Islam.242

240 Fuadi Ishom Fikri. Universalitas Islam Dan Lokalitas Budaya Dalam Bingkai Islam Nusantara. Teosifi:
Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam. Vol 8. No 1. 2018. Hal 63.

241Ibid. Hal 64.
242 khanuddin M. Simbol dan Makna Ritual Yaqowiyyu di Jatinom. Jurnal Media Wisata. Vol 12. No 2.
2014. Hal 102.

174


Salah satu sikap sinkretis ini pada prosesi upacara adat yang diadakan di
Jatinom, sebuah kecamatan Klaten Jawa Tengah yaitu Sebaran Apem, yang
diadakan setiap bulan Safar dalam penanggalan Islam oleh karena itu
penduduk, penduduk setempat sering menyebutnya Saparan. Ritual ini ada
semenjak zaman Mataram Islam, digelar untuk mengenang jasa besar Ki
Ageng Gribig. Beliau adalah salah satu penyebar islam di wilayah klaten,
khususnya Jatinom. Tradisi mengundang banyak masyarakat dari berbagai-
macam eleman diperkiraan lebih dari 25.000 orang datang ke upacara ini
berbagai plosok daerah Jawa seperti, Semarang, Jogja, Demak, dan Jawa
Timuran (Klaten Online).243

Ritual ini biasa disebut dengan sebaran apem, yang menjadikan khas
keunikan tradisi ini, penyebaran kue apem ini dilaksanakan pada saat puncak
acara. Kue bundar dari tepung beras dengan potongan kelapa ditengahnya
disebar kepada pengunjung dengan tujuan untuk mewujudkan rasa syukur
terhadap nikmat dan karunia yang diberikan. Disamping itu ritual lain adalah
ziarah ke makam Ki Ageng Gribig dan sendang air suran.

Kue apem yang digunakan pada acara tradisi tersebut merupakan ciri
khas makanan yang kemudian menjadi khas pada tradisi acara tersebut dan
menurut sejarah, Ki Ageng Gribig melakukan syiar dengan menggunakan
kue apem sebagai buah tangan kepada masyarakat. Kue ini berasal dari
bahasa arab “`Afwan” yang mermakna ampunan dengan tujuan masyarkat
agar selalu memohon ampunan kepada Tuhan yang maha Esa. Dan juga
sebagai tanya syukur dengan bersedekah apem.244

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengutip suatu masalah
bahwa terdapat persepsi masyarakat terhadap tradisi atau ritual sebaran
sebaran apem di Desa Jatinom, kabupaten Klaten. Beberapa masyarakat
masih memiliki contoh sikap dari Sinkretisme dengan arti persepsi lama
masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat. Maka perlu dilakukan
kajian persepsi masyarakat dan sedikit menelusiri sedikit makna dari nilai-
nilai tradisi sebaran apem di Jatinom. Dengan tujuan untuk menjelaskan
persepsi masyarakat terhadap tradisi ini.

KAJIAN PUSTAKA

Artikel pertama diambil dari Angger Erdina Adi dengan judul “Lokalitas
Sebagai Identitas Masyarakat Kampung Mahmud”. Dalam artikel ini
mengganakan kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi.
Sedangkan tipe penelitiannya adalah penelitian deskriftif kualitatif.
Penelitian ini bertujuan agar menjadi pemahaman mengenai lokalitas sebagai

243Ibid. Hal 103.
244 Candra Puspito Kharisma. Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Upacara Adat Sebaran Apem Di
Desa Jatinom, Klaten.Artikel Arogteknologi. Universitas Sebelas Maret.

175


identitas kultural dan memahami nilai-nilai. Adapun persamaan penelitian ini
yaitu kajian yang dikaji seperti lokalitas budaya terhadap suatu daerah.

Kedua, Jurnal milik M. Ikhsanuddin, dengan judul “Simbol dan Makna
Ritual Yaqowiyyu di Jatinom Klaten”. Dalam jurnal ini menggunakan
penelitian kualitatif dengan pendekatan intraksionisme dengan menggunakan
teori simbol dan makna. Menjadi landasanya adalah Max Weber tentang
teori. Penelitian memiliki objek yang sama, namun berbeda pada teori yang
digunakan. Pada penelitian ini hanya focus dalam persepsi dan makna pada
ritual ini.

Ketiga, jurnal milik Ishom Fuadi Fikri, dengan judul “Univerlitas Islam
dan Lokalitas Budaya dalam Bingkai Islam Nusantara”. Dalam jurnal ini
bertujuan untuk mengungkap diskursus Islam Nusantara pada aspek
universilitas ajaran Islam. Dalam hal ini, pendekatan penulisan ini adalah
paradigma deduktif-deskriptif yang mengambarkan secara utuh Islam
Nusantara.

Terakhir adalah jurnal milik Kharisma Chandra Puspito, dengan. Judul
“Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Upacara Adat Sebaran Apem di Desa
Jatinom, Kabupaten Klaten” . penelitian ini adalah metode deskriftif
kualitatif yang memahami kejadian yang dialami oleh objek penelitian.
Penelitian ini memiliki kesamaan terhadap objek penelitian namun ada
sedikit perbedaan dalam penambahan makna.

KAJIAN TEORI

Secara umum saparan berasal dari kata Sapar (Bulan Jawa), sehingga
dapat diartikan sebagai ritual atau tradisi tahunan yang dilaksanakan pada
setiap bulan sapar. Saparan merupakan tradisi budaya jawa yang dilakukan
sebagai wujud rasa syukur dengan tujuan agar diberikan keselamatan hidup
dunia akherat. Namun setiap daerah memilik lokalitasnya masing-masing,
sehingga terdapat kekreatifan budaya yang memiliki unsur-unsur nilai Islami.

Makna adalah maksud pembicaraan, pengaruh suatu bahasa, dalam
memahami presepsi atau tindak laku manusia, hubungan dalam arti
kesamaan atau tidak kesamaan antara bahasa maupun luar bahasa, atau
antara ujaran dan semua hal yang ditunjukan, atau cara menggunakan
lambing bahasa.245

Makna tidak dapat dipisahkan dengan objek yang membawanya. Untuk
mengartikan sebuah makna , harus memahami peristiwa yang menjadi tujuan
objeknya. Dalam penelitian ini menggunakan makna signifikan dan makna
infernsial. Makna signifikan adalah suatu istilah yang dihubungkan dengan
suatu konsep. Dan makna Inferensial adalah makna suatu kata (lambang)

245 Harimuti Krida Laksana, Kamus Linguistic (Jakarta: Gramedia:2003),

176


adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang ditunjukan oleh suatu rujukan
atau refensi.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriftif
kualitatif dimana penulisannya menggunakan data atau kejadian fakta yang
terjadi di masyarakat . penelitian kualitatif merupakan penelitian yang
bertujuan untuk memahami kejadian yang dialami oleh subjek penelitian,
misalnya prilaku, persepsi, motivasi dan tindakan, secara holistic dan dengan
cara mendiskriptifkan dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks
khusus yang alamiah.

Kajian ini menggunakan pendekatan analisis isi yaitu dengan melakukan
analisis secara langsung terhadap persepsi masyarakat pada tradisi upacara
adat dan sebaran apem, dan menggunakan analisis makna dari beberapa
istilah yang ada pada prosesi kegiatan ritual Saparan sebaran apem di
Jatinom Klaten.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tradisi upacara sebaran apem yang dilaksanakan pada hari jum’at
terakhir pada bulan safar telah menjadi agenda tahunan untuk masyarakat
jatinom dan sekitarnya. Bahkan dapat menghadirkan ratusan pengunjung dari
beragam-ragam daerah seperti daerah jateng dan yogyakarta bahkan jawa
timur. Awal mula adanya acara adat tradisi saparan ini atau sebaran apem
menurut sejarah Syekh Wasibagno Timur atau bergelar Ki Ageng Gribig Di
desa Jatinom, klaten ini merupakan keturunan dari Brawijaya V, atau raja
terakhir Majapahit246.

Pada masa ini merupakan termasuk masa penyiaran islam walisongo dan
beliau juga memiliki misi untuk mengislamisme daerah jatinom waktu itu
dengan membangun masjid Alit terlebih dahulu. Menurut sumber juru kunci
dan warga penduduk keposong, desa keposong juga memiliki hubungan
sejarah, yang mana dipercaya masyarakat bahwa dulu sebelum ki Ageng
Gribig mendapatkan wahyu untuk membangun masjid di jatinom, muncul
suatu cahaya yang masyarakat dipercayai yaitu suatu pusaka dari langit pada
waktu seperempat malam didesa keposong, kemudian pada waktu menjelang
subuh mencul lagi suatu cahaya tersebut didaerah Jatinom, dan untuk yang
didaerah posong pusaka tersebut ditemukan oleh syekh Idris lalu dijadikan
tempat turunya pusaka tersebut suatu masjid dan menurut sejarah putra ki

246Candra Karisma Puspito.

177


Ageng Gribig raden Bagus Kentole Alas juga membantu memakmurkan
masjid di keposong.

Kue apem yang digunakan pada acara tradisi tersebut merupakan ciri
khas makanan yang kemudian menjadi khas pada tradisi acara tersebut,
dengan begitu makna kue apem merupakan jenis dari makna Inferensial,
yaitu makna apem suatu lambang yang menunjukan arti ampunan. Dengan
artian Ki Ageng Gribig mengajak masyarakat untuk saling memaafkan
dengan saling memberi terhadap sesama. Menurut sejarah, Ki Ageng Gribig
melakukan syiar dengan menggunakan kue apem sebagai buah tangan
kepada masyarakat. Kue ini berasal dari bahasa arab “`Afwan” yang
bermakna ampunan dengan tujuan masyarkat agar selalu memohon ampunan
kepada Tuhan yang maha Esa. Dan juga sebagai tanya syukur dengan
bersedekah apem. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini
adalah :

1) Mewujudkan rasa syukur terhadap nikmat dan karunia yang
diberilan.

2) Agar Masyarakat selalu memohon ampun kepada Sang Pencipta.

3) Menumbuhkan rasa berbagi terhadap antara lain.

4) Mengetahui sejarah kisah perjuangan Ki Ageng Gribig dalam
dakwah islamnya.

5) Membantu perekonomian masyarakat sekitar.

6) Menumbuhkan sifat gotong royong masyarkat sekitar.

Disamping itu apem yang dibuat menjadi gunungan lanang yang dikenal
dengan nama Ki Kyat, dan gunungan wadon yang dikenal dengan nama Nyi
Kiyat. Makna sensori tercemin dari penataannya disusun seperti 4-2-4-4-3
yang mempunyai makna sama dengan jumlah raka’at sholat yaitu sholat,
subuh, dzuhur, asar, maghrib dan isya. Sedangkan makna gulungan menjadi
3 makna yaitu pertama gunung diasosiasikan sesuatu tempat yang letaknya
tinggi sesuatu yang letaknya tinggi dianggap suci karena dihubungkan
dengan langit dan Tuhan. Kedua Gulungan Kakung “Ki Kiyat” dikaitkan
dengan alat vital yaitu alat kelamin laki-laki yang mengacu pada nilai-nilai
kehidupan, yakni asal mula kehidupan manusia. Ketiga, Gulungan wadon
“Nyi Kiyat” dihubungkan dengan konsep induk, yakni seorang ibu yang
mengatur, mendidik dan mengayomi anak, oleh karena itu gulungan wadon
dihubungkan supaya manusia dapat mengatur alam, mengatur dan mendidik
alam supaya keseimbangan hidup bisa terwujud, baik di Jagad gedhe maupun
jagad cilik247. Dengan artian makna yang diigunakan adalah makna

247 Ikhanuddin M. Simbol dan Makna Ritual Yaqowiyyu di Jatinom. Jurnal Media Wisata. Vol 12. No 2.
2014. Hal 112.

178


signifikan yaitu suatu istilah apem yang dijadikan gunungan dapat
dihubungkan dengan konsep-konsep kehidupan.

Tradisi ini sudah berjalan kurang lebih empat abad, hingga saat ini
tradisi tersebut masih lestrari dan meriah setiap tahunnya. Namun dari
berbagaimacam sudut pandang masyarakat sekitar tak bisa lepas dari yang
namanya pro dan kontra. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar bagi
orang yang mendapatkan apem dari sebaran apem ketika waktu acara
berlangsung memiliki manfaat yang sangat baik, seperti bagi petani yang
menanam apem dibawah sawahnya maka akan panen lebih, bagi yang belum
mendapatkan jodoh maka akan mendapatkan jodoh, bagi pedagang yang
dagangnnya sepi maka akan laris manis, dan sebagainnya. Namun hal seperti
ini bukanlah musyrik jika kita memandangnya dengan sudut pandang yang
berbeda, akan tetapi hal ini adalah suatu kemurahan dari yang maha kuasa
dan keberkahan dari walinya Allah.

Dengan ini jelas bahwa agama islam yang disyiarkan oleh Ki Ageng
gribig atau Syekh Wasibagno Timur ini memberikan dampak yang baik dan
luas kepada masyarakat memalui dakwah beliau yang suka bersedekah kue
Apem kepada sesama makhluk ciptaan tuhan. Dengan ini selaras dengan
ungkapan Syekh AlJurjawi dalam kitab Faid Al-Qodir, Al-Manawi
Mengatakan :

ᦈ Ϧ JᦈN JᦈN ℷ ධN N Ϧ

(272 N Μ Μ N ϟ Q )

“Barang siapa yang murah tangan memberikan makanan kepada orang
lain, maka Allah SWT akan membalas pemberiannya itu. Dan siapa yang
kikir maka

Allah SWT akan kikir pula kepadanya”.

Maka sudah jelas ulama mengajarkan kepada umat islam untuk
senantiasa saling berbagi antar sesama, karena ini termasuk ajaran agama
Islam yang mana harus tetap kita kembangkan dan pertahankan hingga ke
generasi seterusnya.

Termasuk tradisi-tradisi yang berlaku di masyarakat Islam Indonesia,
yang mana mereka saling berbagi-bagi makanan, bergotong-royong dalam
mensukseskan acara, terutama untuk mengkokohkan tali silaturahmi.248
Tradisi budaya yang ada kaitannya dengan agama seperti tradisi upacara
adat sebaran apem di desa jatinom. Juga dijelaskan oleh nabi Muhammad
SAW dalam sabdanya :

: N Q J : J Ψᦈ Qᦈ

248Abdussomad Muhyiddin. Fiqih Tradisionalis. Pustaka Bayan Malang. 2004. Hal 369

179


Μ ΕJ Ε Ω N “

Ψ ˴ ”.Ϧ㘮N΍ ℷ

Dari Abu Dzar R.A berkata, Bahwa Rasulullah SAW bersabda: jika
kamu memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, dan bagi-bagikanlah
kepada tetanggamu” (Shahi Muslim 249)

Dengan ini mudah dipahami maksud dari perkataan kuah disini dapat
diganti dengan kue apem yang dijadikan simbol dakwa Ki Ageng Gribig,
dilihat dari setiap tahunnya. Jadi jelas menurut pandangan Islam terhadap
tradisi ini merupakan sebuah budaya yang sudah terkonsepsi dari unsur-
unsur ajaran agama Islam, maka bisa dapat dipastikan budaya ini bukanlah
budaya yang melanggar syari’at Islam.

masyarakat sekitar selalu bergotong-royong membuat kue apem
sebanyak-

banyaknya sehingga terkumpul menjadi dua gunungan lalu diirik
keliling desa hingga sampai disamping makam ki Ageng Gribig untuk
disebarkan pada masyarakat yang jumlahnya ratusan waktu itu dengan tujuan
untuk mendapatkan keberkahan.

KESIMPULAN

Tradisi upacara Saparan yang dilaksanakan di Jatinom memberikan
dampak yang luas tidak hanya sekitar klaten, bahkan Boyolali dan
Yogyakarta. Hingga sat ini masyarakat masih melestarikan budaya ini karena
masyarakat mempunyai kesadaran dan keyakinan yang tinggi terhadap
keberkahan yang terdapat dari tradisi ini. Memberikan juga dampak positif
seperti menumbuhkan tali silaturahmi dan gotong-royong yang kokoh dan
menumbuhkan rasa syukur dan sedekah yang tinggi terhadap sesama
manusia.

Kue apem yang menjadi keunikan tradisi ini dan kue apem disini dapat
makna menjadi “Afwan” yang berarti ampunan yakin secara makna
Inferensial adalah suatu objek atau gagasan bahwa kata apem ini mengajak
manusia untuk saling memaafkan dan saling memberi antar sesama.

249Abdussomad Muhyiddin. Fiqih Tradisionalis. Pustaka Bayan Malang. 2004. Hal370.

180


PERALIHAN FUNGSI SERTA PANDANGAN ISLAM
TERHADAP TRADISI KLIWONAN DI KABUPATEN BATANG

Yulita Nadaa Husniyya
53040190012

PENDAHULUAN

Deskripsi

Kliwonan berasal dari kata kliwon yang oleh masyarakat Jawa
dimaknai sebagai hari yang suci dan kental akan hal-hal mistis. Kliwon
adalah hari ke-5 pasaran jawa (manis, pahing, pon,wage, kliwon).250
Kliwonan adalah ritual sakral dengan tujuan untuk membebaskan,
membersihkan diri dari sesuatu yang dipandang tidak baik atau buruk serta
jahat.251 Di daerah kabupaten Batang, Kliwonan merupakan acara sacral yang
dilaksanakan setiap malam Jum’at Kliwon atau setiap selapan (35 hari).
Kliwonan ini biasanya dilaksanakan di alun-alun kota Batang.

Problem yang Ada
Seiring berjalannya waktu, ritual Kliwonan yang mulanya merupakan

kegiatan sakral kini beralih fungsi menjadi kegiatan yang menghibur dan
dimanfaatkan oleh para pedagang untuk mencari rezeki dengan cara
berjualan. Banyaknya pengunjung saat ritual ini menjadi peluang besar bagi
para pedagang, bahkan sekarang ini ritual kliwonan di alun-alun Batang
berubah seperti pasar malam yang ramai akan pengunjung dan pedagang.
Lantas bagaimana terkait peralihan fungsi yang terbilang cukup drastis ini?

Kajian Pustaka

Berdasarkan telaah yang sudah dilakukan terhadap beberapa sumber
kepustakaan, ada beberapa pembahasan yang memiliki keterkaitan dengan
judul penelitian ini. Berikut diantaranya:

Pertama, jurnal yang ditulis oleh Ken Widyatwati dengan judul RITUAL
“KLIWONAN” BAGI MASYARAKAT BATANG. Dalam jurnal tersebut,
dijelaskan bahwa Ritual Kliwonan adalah ritual yang diselenggarakan pada
malam jumat kliwon. Penyelenggaraan upacara ini biasanya pada sore hari.
Tradisi kliwonan adalah sebuah komunikasi yang dapat memberikan
keselamatan pada orang-orang yang mengikuti ritual tersebut. Kliwonan
dilakukan untuk memperoleh keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan hidup,
melalui upacara kliwonan masyarakat merasa terlindungi oleh kekuatan

250Itmam Aulia Rachman. Studi living qur’an dalam tradisi kliwonan santri pp. Attauhidiyyah syekh
armia bin kurdi tegal, Jurnal Madaniyah, Vol. 9, No.1, (Januari 2019), ISSN: 2548-6993

251Ken Widyatwati.”Ritual “Kliwonan” bagi Masyarakat Batang”, Jurnal Humanika, Vol. 20 No. 2, (2014),
ISSN 1412-9418

181


spiritual yang dapat menyelamatkan dari segala bencana dan marabahaya.
Kedua, jurnal yang ditulis oleh Achmad Fueqon dan Zaenal Abidin yang
berjudul ”MAKNA KLIWONAN BAGI TOKOH MASYARAKAT DI
BATANG: (Studi Kualitatif Dengan Interpretative Phenomenological
Analysis)”. Hasil penelitian menemukan bahwa dalam pengalamannya
mengikuti tradisi Kliwonan terdapat tiga hal pokok yaitu: perjalanan
melakukan tradisi Kliwonan, pemahaman nilai tradisi, dan konsekuensi
positif pasca melakukan tradisi Kliwonan. Ketiga, jurnal yang ditulis oleh
Ambar Hermawan yang berjudul ”KLIWONAN DALAM PERSPEKTIF
HISTORIS DAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT BATANG”. Di
dalamnya dijelaskan bahwa Kliwonan dilakukan sebagai ungkapan rasa
syukur dan mengenang jasa para leluhur dalam pembukaan lahan Batang dan
memperjuangkan agama Islam di wilayah Batang. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui sejarahitas, nilai dan makna Kliwonan dalam perspektif
sosial budaya masyarakat Batang.

Kajian Teori

Bagi masyarakat Batang, Kliwonan merupakan folklor lisan karena di
dalamnya terdapat doa-doa yang digunakan dalam prosesi
upacara ”kliwonan” dan juga terdapat bentuk folklor bukan lisan yang dapat
dilihat pada isi komponen, peralatan, perlengkapan dan pelaku upacara adat
Kliwonan. Folklor secara etimologis terdiri dari dua kata dasar yaitu Folk
dan lore. Folklor merupakan pengindonesiaan kata dalam bahasa Inggris
Folklor.252 Banyak ahli yang berpendapat tentang Folklor, dari berbagai
pendapat itulah dapat disimpulkan bahwa folklor merupakan kajian tentang
folk dan lore, yaitu sebuah kolektif yang masih digunakan dan dipercayai
diantara kolektif tersebut, sehingga dengan folklornya mereka membedakan
diri dengan kolektif folklore yang lainnya.253 Folklor sebagai salah satu karya
sastra yang menjadi suatu identitas budaya daerah mempunyai ciri-ciri atau
tanda-tanda pengenal yang bersifat iniversal.

Tujuan

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah, nilai dan
makna Kliwonan

Manfaat

Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tradisi Kliwonan di
Batang

METODE

252Humanika, 52.
253Mana, Lira Hayu, dkk. FOLKLOR. (Yogyakarta, Deepublish: 2018).

182


Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu dengan
mendapatkan data-data dalam rangka pendekatan terhadap tradisi Kliwonan
di Batang.

Pendekatan yang digunakan

Berdasarkan pada latar belakang dan objek penelitian yang diangkat
dalam penelitian ini, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
kualitatif. Pendekatan kualitatif dikarenakan dalam penelitian ini tidak
menggunakan prosedur analisis statistik dan kuantitatik dalam
mengumpulkan data. Penelitian ini lebih mengutamakan pengamatan serta
komunikasi tanya jawab melalui sumber langsung.

Cara Memperoleh data

Cara untuk memperoleh data pada penelitian ini adalah dengan
menggunakan:

a) Wawancara (Interview)

Yaitu teknik pengumpulan informasi dengan mengadakan
wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait dan berwenang
untuk memberikan keterangan dan informasi-informasi yang
diperlukan. Wawancara dilakukan pada penduduk asli Batang.

b) Dokumentasi

Untuk mendukung landasan teoritis sebagai referensi pendukung
penelitian ini, melalui bacaan seperti literature, hasil penelitian, buku-
buku karangan ilmiah dan dokumen-dokumen lain yang sesuai
dengan kajian penelitian.

Cara Mengolah dan menguji data

Untuk memproses data, maka perlu diteliti kredibilitas data penelitian
dengan menggunakan teknik triangulasi (mempergunakan beberapa sumber,
metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat dan pelacakan kesesuaian hasil.
Triangulasi, peneliti berusaha mengumpulkan data yang sama dari beberapa
sumber data (koran, majalah, artikel, jumal) menggunakan metode yang
bebeda untuk mengumpulkan data yang sama, menerapkan beberapa teori
untuk mebahas data yang sama sehingga hasil pembahasan dapat relevan
dengan tujuan penelitian. Diskusi dengan teman sejawat yang memiliki latar
belakang yang sama, sehingga dapat menambah wawasan peneliti dalam
pembahasan data.

PEMBAHASAN DAN HASIL

Informasi yang diperoleh

183


Dari penelitian ini, diperoleh informasi bahwa Kliwonan dulunya
dilakukan sebagai upacara untuk mengenang Bahurekso (pendahulu
masyarakat Batang) yang telah membabad atau membuka daerah Batang.
Salah satu alasan mengapa ritual ini dilaksanakan di hari Kamis malam
Jum’at Kliwon adalah karena mereka meyakini bahwa pada hari itu (Jum’at
kliwon) para Bahurekso sedang bertapa untuk mendapatkan kekuatan,
sehingga jum’at kliwon dianggap sebagai hari yang keramat. Tidak hanya
sebagai ritual untuk mengenang jasa leluhur masyarakat Batang, kliwonan
juga digunakan sebagai acara ruwatan254 bagi anak-anak balita yang sakit-
sakitan. Dengan berbagai prosesi pelaksanaan yang harus dilakukan seperti
guling terlebih dahulu, kemudian membuang baju kotor, memandikan anak
tersebut, sawuran255, berdoa, dan makan bersama. Ritual ini bertujuan untuk
menghindarkan anak dari segala keburukan,kejahatan, dan mara bahaya. Kini
tradisi Kliwonan di Batang telah beralih fungsi menjadi kegiatan yang
menghibur. Namun nilai-nilai dan makna tradisi tersebut tetaplah melekat
walaupun tak sesakral dahulu. Peralihan fungsi ini terjadi secara perlahan,
namun secara substansial nilai-nilai tradisi seperti ngalap berkah atau
mencari berkah tetap ada meski pada zaman sekarang konteks berkah
tersebut lebih di artikan sebagai rezeki atau pemasukan secara finansial yang
didapatkan melalui aktivitas-aktivitas ekonomi para pedagang kaki lima,
sehingga meskipun di era modern tradisi ini masih dijaga oleh masyarakat.256
Jadi, tak heran bila berkunjung ke alun-alun Batang saat jum’at kliwon akan
banyak ditemui orang-orang berdagangan layaknya di sebuah pasar.

Meskipun mengalami peralihan fungsi yang terbilang drastis, ritual
kliwonan tetap berjalan sesuai prosedurnya, yaitu mulai dari doa untuk
memohon keselamatan bagi peserta ruwatan yang dipimpin oleh bapak
modin. Dilanjutkan dengan upacara guling yaitu menggulingkan anak di
tanah dengan tujuan membuang segala penyakit yang diderita anak. Setelah
ritual guling dilanjutkan dengan memandikan anak dengan air di kolah (bak
air) Masjid Agung Batang yang letaknya di sebelah barat alun-alun Batang,
dengan tujuan untuk membersihkan diri dari segala penyakit dan
kesengsaraan. Setelah memandikan dilanjutkan dengan ritual membuang
baju kotor sebagai lambang membuang penyakit yang diderita anak,
kemudian dilanjutkan dengan sawuran yang bertujuan untuk mengucapkan
syukur kepada Allah. Setelah semua ritual dilakukan dilanjutkan dengan

254Ruwatan adalah salah satu upacara dalam kebudayaan Jawa yang ditujukan untuk membuang
keburukan atau menyelamatkan sesuatu dari sebuah gangguan.

255Sawuran yaitu membuang uang receh sebagai tanda syukur.
256Achmad Furqon, dan Zaenal Abidin. “Makna Kliwonan bagi Tokoh Masyarakat di Batang: (Studi

Kualitatif dengan Interpretative Phenomenological Analysis)”, Jurnal Empati, Vol. 5, No. 2,

(April 2016), hal. 357-361

184


berdoa dan makan bersama sebagai lambang rasa persatuan dan kebersamaan
dalam bermasyarakat.

Nilai-nilai yang terkandung

Dalam ritual Kliwonan ini menamapilkan beberapa nilai-nilai,
diantaranya:

a). nilai religiusitas, masyarakat Batang memandang ritual Kliwonan ini
sebagai suatu penghormatan terhadap leluhur, serta sarana untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan.

b). nilai historis, tradisi Kliwonan di Batang tentunya tidak terlepas dari
nilai historisnya. Mengingat bahwa tradisi ini pada awalnya
merupakan ritual untuk mengenang para leluhur yang telah berjuang
membuka wilayah Batang.

c). nilai mistis, kepercayaan mereka akan adanya kehidupan yang
tampak dan yang tidak tampak. Kehidapan yang tampak dan tidak
tampak ini dikuasai oleh roh-roh baik dan roh-roh jahat, yang
keduanya ini sangat berpengharuh dalam kehidupan masyarakat.

d). nilai simbolis nampak pada penggunaan air untuk mandi atau
membasuh wajah. Air dimaksudkan untuk membersihkan dan
mensucikan diri, karena dalam budaya Jawa air merupakan simbol
untuk membersihkan diri dari penyakit lahir maupun batin.

e). nilai ekonomis, kini muncul nilai baru dalam tradisi Kliwonan di
Batang, yaitu masyarakat memandang bahwa ritual ini adalah sebagai
momen ngalap rezeki melalui aktivitas-aktivitas ekonomi para
pedagang kaki lima.

f). nilai budaya

g). nilai sosial politik.

Respon Masyarakat terhadap Tradisi Kliwonan

Beragam respon masyarakat terhadap ritual kliwon, khususnya
masyarakat asli Batang. Sebagian masyarakat menunjukkan sikap sangat
setuju akan adanya acara Kliwonan, mereka beranggapan bahwa kegiatan ini
merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus
mengenang jasa-jasa para leluhurnya, dan juga kini dijadikan sebagai
kegiatan untuk berjualan, seperti dalam wawancara peneliti dengan salah satu
masyarakat Batang, didapatkan informasi bahwa ritual Kliwonan sekarang
ini sudah mengalami perbedaan dengan ritual Kliwonan pada masa dulu.
“Kliwonan pada masa kakek nenek saya masih banyak ritual-ritual
mengingat jasa para leluhur Batang, namun sekarang Kliwonan lebih banyak
difokuskan sebagai penanda event ekonomi kerakyatan masyarakat Batang

185


atau disebut dengan istilah Pasar Kliwonan Batang.” Beliau juga
menambahkan pendapat atas dukungannya terhadap kegiatan Kliwonan ini
karena mampu meningkatkan perekonomian di daerah Batang khususnya.

Disisi lain, beberapa masyarakat menanggapi bahwa Kliwonan erat
kaitannya dengan animisme dan dinamisme. Ragam respon seperti ini sesuai
dengan latar belakang masing-masing.

Pandangan Islam terhadap Kliwonan

Islam merespon adat atau tradisi di manapun dan kapanpun. Islam
membuka diri untuk menerima adat atau tradisi sepanjang adat atau tradisi
tersebut tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam Islam,
adat atau tradisi disebut dengan al-‘urf. ‘Urf ialah kebiasaan-kebiasaan baik
yang berlaku luas dalam masyarakat berupa perkataan atau perbuatan. Dalam
istilah hukum indonesia ‘Urf dapat diidentikkan dengan kearifan lokal.257

Tradisi atau ‘Urf termasuk bagian dari syariah, Allah SWT telah
menjelaskannya dalam Q.S. al-‘Araf ayat: 199

ϦQ ΩϬ N Ϧᦈ ᦈN ℷ ϟℷ N ˴

Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang

‘urf (tradisi yang baik), serta berpalinglah daripada orang-orang yang

bodoh.” Maksudnya, tradisi dan budaya termasuk bagian dari syari’ah

(aturan agama) yang harus dijadikan pertimbangan dalam setiap tindakan dan

ucapan berdasarkan ayat al-Qur’an di atas.258 ‘Urf juga ditegaskan oleh

para Sahabat, antara lain Abdullah bin Mas’ud yang berkata: “Tradisi yang

dianggap baik oleh umat Islam, adalah baik pula menurut Allah. Tradisi yang

dianggap jelek oleh umat Islam, maka jelek pula menurut Allah.” (HR.

Ahmad, Abu Ya’la dan al-Hakim).

Masyarakat dengan kemajemukannya yang semakin beragam turut andil
dalam proses perkembangan tradisi budaya. Keyakinan beberapa masyarakat
mengenai mitos sedikit demi sedikit mulai bergeser ke arah pemikiran
realistis. Meskipun sebagian masyarakat masih memegang teguh
kepercayaan tentang mitos Kliwonan dengan keyakinan bahwa mitos dapat
mempunyai peranan yang fundamental bagi kehidupan masyarakat.

Secara eksplisit, Islam tidak pernah mengajarkan tradisi Kliwonan.
Namun, tradisi ini secara alami merupakan hasil buah pemikiran masyarakat
setempat. Dalam pandangan Islam, hukum ritual Kliwonan tergantung
kepada niatnya dan bagaimana pelaksanaannya, jika diniatkan untuk suatu

257Muhammad Tahmid, dkk. Realitas ‘Urf dalam Reaktualisasi Pembaruan Hukum di Indonesia.
(Pamekasan, Duta Media Publishing: 2020)

258 Mohamad Toha Uma, Islam dalam Budaya Jawa Perspektif Al-qur’an, Jurnal Ibda, Vol. 18, No. 1,
(Mei 2020), E-ISSN: 2477-5517

186


kebaikan dan dengan praktik pelaksanaan yang sesuai (tidak bertentangan
dengan syariat (maqasid assyari’ah) hukumnya diperbolehkan, dan begitu
pula sebaliknya.

Dalam kaidah ilmu Ushul Fiqih, dijelaskan bahwa “setiap perkara yang
telah mentradisi di kalangan muslimin dan dipandang sebagai perkara yang
baik, maka perkara tersebut dipandang baik juga dihadapan Allah”. Artinya,
adat dan kebiasaan dalam suatu masyarakat (budaya lokal) adalah baik dalam
pandangan Islam, dengan syarat tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip
Islam, dan unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip Islam dengan
sendirinya harus dihilangkan dan harus diganti.259

Sejauh ini, ritual Kliwonan tidak terdapat penyimpangan terhadap agama
Islam. Namun mereka (masyarakat Batang) hingga kini masih meyakini hal-
hal mistis yang berhubungan dengan ritual tersebut, seperti contohnya
meyakini bahwa roh-roh yang ada di dalam pohon beringin akan marah
apabila tidak diberi makan (berupa sesajen). Pemberian sesajen tersebut
memunculkan pemaknaan yang berbeda dari masyarakat, sebagian
memaknainya sebagai sebuah kebudayaan yang diturunkan nenek moyang
sebagai bentuk sedekah, dan sebagian pula memaknainya sebagai sebuah
perbuatan syirik seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-
Baqarah ayat 21-22 :

Q砀N ℷ N ℷ ΩJ Ϧ Ϧ N ˴ N Q N ΩᦈN Ψ N Ω
㘮 NΕ N 㘮 N ℷ Ε JΕ Q ΕN Μ N Ϧ ˴ Ε Ψ N Ϧ 㘮 Ε Ψ Ψ N Ε N



Artinya: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
(21) “(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai
atap bagimu, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu
dengan (hujan) itu Dia hasilkan buah-buahan sebagai rezeki untukmu.
Karena itu janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah
sedang kamu mengetahui.” (22)

Dalam pelaksanaan ritual Kliwonan umumnya dilaksanakan doa
bersama. Tujuan utamanya adalah untuk memohon pertolongan dari Allah
SWT. agar dihindarkan dari bahaya, malapetaka, dan kesengsaraan. Dalam
Q.S. al-Anfal Allah SWT berfirman:

ϦQ Ϭ N Ϧ a 㘮N Q ΜQ Ψ N

259Wiwik Angrianti. Aqidah dan Ritual Budaya Muslim Jawa Studi tentang Peran Utama dalam
Aktualisasi Aqidah Islam di Desa Mentaos Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang. Jurnal Cemerlang, Vol. 3,
No. 1, (Juni 2015)

187


Artinya: “(Ingtalah), ketika kamu memohon pertolongan kepada
Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan
mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang
datang berturut-turut” (Q.S. al-Anfal: 9).

PENUTUP

Hingga saat ini, masyarakat Jawa masih mempercayai dan meyakini
hal-hal mistis. Mereka percaya bahwa bencana, sakit, kejahatan dan
malapetaka yang mengancam kehidupan adalah akibat dari ketidakadanya
keseimbangan antara kehidupan alam nyata dan kehidupan alam gaib.260
Begitu pula dalam ritual Kliwonan di Batang ini, dimana masyarakatnya
mempercayai bahwa anak balita yang sakit-sakitan disebabkan karena
penunggu pohon beringin yang terletak di tengah-tengah alun-alun kota
Batang marah tidak diberi sesaji pada malam jumat kliwon. Jika kliwonan
tidak dilaksanakan, maka penunggu pohon beringin akan marah dan
menyebarkan penyakit bagi anak-anak balita di Batang, dan anak tersebut
akan sembuh jika ritual Kliwonan dilaksanakan.

Ritual Kliwonan memiliki potensi yang cukup besar, karena mampu
menjadi daya tarik masyarakat baik warga masyarakat Batang maupun dari
luar Batang sebagai pesona wisata religi-kuliner yang berbasis budaya rakyat
dan akan terus berkembang sesuai kemajuan pada jamannya.

Kondisi sosial budaya di Batang memperlihatkan keanekaragaman
adat, dan tradisi, yang semua ini menjadi modal terbentuknya karakter sosial
budaya di Batang. Wilayahnya yang cukup luas, dengan penduduk yang
cukup padat dan sumber alam yang melimpah menjadikan Batang sebagai
kota “Berkembang” (Bersih, Kencar-kencar, Eyub, Menuju Bebrayan, Aman,
dan Tenang).

Meskipun mengalami peralihan fungsi yang cukup drastis, tradisi
Kliwonan tetap harus dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk rasa syukur
terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi tersebut tetap dimaknai sebagai
ritual untuk memohon kebaikan dan dijauhkan dari marabahaya, selebihnya
tradisi Kliwonan dijadikan lahan mencari rejeki bagi para pedagang di tengah
keramaian dan pengunjung yang sekedar berjalan-jalan untuk mencari
kesenangan di tengah keramaian kota. Tradisi Kliwonan di Batang tetap bisa
dilaksanakan dengan tidak menodai acara ritual itu sendiri dengan hal-hal
yangmenyimpang dan tidak patut dicontoh. Kita dapat memetik nilai-nilai
positif yang terkandung dalam ritual tradisi Kliwonan ini. Bagi yang meraka

260 Ken Widyatwati.”Ritual ‘Kliwonan’ bagi Masyarakat Batang”, Jurnal Humanika, Vol. 20 No. 2 (2014)
ISSN 1412-9418.

188


percayai dari serangkaian ritual tradisi kliwonan, ingatlah bahwa mitos-mitos
yang berkembang adalah sekedar adat budaya masyarakat bukan untuk
diyakini ketika berurusan masalah rejeki, keselamatan, kesejahteraan dan
nasib seseorang.

189


Click to View FlipBook Version