zawaj.120 Ikatan perkawinan adalah suatu ikatan erat yang menyatukan antara
seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Dalam ikatan perkawinan,
suami dan istri diikat dengan komitmen untuk saling memenuhi berbagai hak
dan kewajiban yang telah ditetapkan.121 Dalam Islam pernikahan merupakan
sunatullah pada hamba-hambaNya dan berlaku pada semua makhluk-Nya
baik pada manusia, hewan ataupun tumbuhan. Dengan adanya pernikahan
tersebut diharapkan nanti terciptannya keturunan baru.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974
tentang perkawinan pada pasal 1 menyebutkan bahwa perkawinan ialah
ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami
istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.122
3. Dasar Hukum Pernikahan
Pernikahan adalah hukum alam di dunia. Meskipun pada dasarnya Islam
menganjurkan perkawinan, apabila ditinjau dari keadaan yang
melaksanakannya perkawinan dapat dikenai hukum : wajib, sunah, haram,
makhruh dan mubah.
a) Pernikahan wajib
Pernikahan hukumnya wajib bagi orang yang telah mempunyai
keinginan kuat untuk menikah dan sudah mempunyai modal cukup untuk
menjalankan pernikahan, dan dikhawatirkan apabila tidak segera menikah
akan tergelincir untuk berbuat zina.
b) Pernikahan Sunah
Pernikahan hukumnya sunah bagi orang yang telah berkeinginan
kuat untuk menikah dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan
nya dan mempunyai modal dan apabila tidak menikah tidak
dikhawatirkanakan berbuat zina.
c) Pernikahan Haram
Pernikahan hukumnya haram bagi orang yang belum berkeinginan
menikah serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan
pernikahan dan masih belum mampu maka dikhawatirkan apabila menikah
akan berakibat menyusahkan istrinya.
d) Pernikahan Makruh
Pernikahan hukumnya makruh bagi seseorang yang mampu dalam
segi materi dan tidak dikhawatirkan akan terseret dalam perbuatan zina,
120Kamal Mukhtar, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1974) , h.79
121Syamsuddin Arif, dkk, Wanita Dan Keluarga Citra Sebuah Peradaban, ( Jakarta : Lembaga Kajian dan
Pengembangan Al-Insan, 2006), h.17
122Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
90
tetapi dikhawatirkan tidak bisa memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap
istrinya, meskipun tidak akan menyusahkan istrinya.
e) Pernikahan mubah
Pernikahan hukumnya mubah bagi orang cukup dalam segi materi,
tidak dikhawatirkan akan berbuat zina.
4. Syarat dan Rukun Nikah
Dalam melaksanakan suatu pernikahan terdapat rukun dan syarat yang
harus dipenuhi. Menurut bahasa rukun adalah yang harus dipenuhi untuk
sahnya suatu pekerjaan, sedangkan syarat adalah ketentun yang harus
diindahkan dan dilakukan.123
a) Rukun dalam pernikahan ada 5, yaitu :
b) Mempelai laki-laki
c) Mempelai perempuan
d) Wali
e) Dua orang saksi
f) Sighat ijab qabul
g) Syarat sah dalam pernikahan :
h) Beragama Islam
i) Bukan Laki-Laki mahrom bagi calon istri
j) Wali akad nikah
k) Tidak sedang melaksanakan ihram
l) Bukan paksaan
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan memfokuskan
pada nilai kearifan lokal dalam tradisi temon nganten. Banyak masyarakat
yang tidak tahu akan manfaat yang terkandung dalam tradisi temon nganten
tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan tradisi temon nganten di Desa Reco Kecamatan Kertek, Kabupaten
Wonosobo dan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi
temon nganten serta pandangan Islam terkait tradisi temon nganten. Manfaat
teoritis dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan tambahan
ilmu pengetahuan terkhusus terkait tradisi temon nganten dan mengetahui
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sedangkan manfaat praktis untuk
masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk
mempelajari dan memahami secara mendalam terkait tradisi temon nganten
dan nilai-nilai apa yang terkandung didalamnya. Fokus riset pada penelitian
ini adalah untuk mengetahui pengertian dari temon nganten, nilai-nilai yang
123Abdul Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat, ( Jakarta : Kencana Prenada Media, 2010), h. 45-46
91
terkandung didalamnya serta bagaimana pandangan Islam terkait tradisi
temon nganten.
Metode
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian pada penelitian ini adalah penelitian lapangan (field
research) yaitu suatu penelitian disuatu tempat yang dipilih sebagai lokasi
untuk menyelidiki gejala obyektif di lokasi tersebut yang dilakukan juga
untuk penyusunan laporan ilmiah.124 Dalam penelitian ini penulis melakukan
observasi dan wawancara secara online kepada masyarakat untuk mengetahui
secara langsung serta mengetahui bagaimana praktik tradisi pernikahan
temon nganten yang dilakukan oleh masyarakat Desa Reco Kecamatan
Kertek Kabupaten Wonosobo.
2. Pendekatan
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian dengan
pendekatan kualitatif deskriptif.
3. Cara memperoleh data
Sumber data penelitian ini adalah hal yang sangat penting dalam
penelitian ini yang akan dijadikan untuk sumber pengumpulan data. Dalam
penelitian ini, sumber data yang digunakan oleh penulis sebagai berikut : (1)
Data primer , yaitu sumber pertama dimana sebuah data dihasilkan, maka
informasi dilakukan dengan cara wawancara. Wawancara yang dilakukan
pada penelitian ini yaitu : masyarakat desa Reco, Mahasiswi dan seorang
MUA yang mengetahui terkait tradisi upaca temon nganten dalam
pernikahan. (2) Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber lain,
seperti : buku, jurnal dan lain sebagainya.
4. Cara mengolah dan menguji data
Setelah mengumpulkan data-data , langkah selanjutnya adalah
menganalisis data. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis
deskriptif kualitatif, yaitu penulis menjabarkan data yang diperoleh di
lapangan.
Pembahasan dan Hasil Penelitian
1. Pengertian Tradisi Temon Nganten
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tradisi diartikan sebagai adat
kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam
124Abdurahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi ( Jakarta : PT Rineka
Cipta, 2006), h. 96
92
masyarakat atau juga penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah
ada merupakan yang paling baik dan benar.125 Secara terminologi, tradisi,
yang berasal dari kata bahasa Inggris tradition, sering juga disamakan dengan
lafadz bahasa Arab ‘adah. Setiap masyarakat bangsa di dunia memiliki
kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat
bangsa lainnya.126
Tradisi upacara yang dilakukan untuk menjaga kebudayaan kita agar
kebudayaan yang diwariskan oleh leluhur kita tidak hilang, maka tidak
sedikit juga seseorang yang akan melakukan pernikahan menjalankan tradisi
atau upacara-upacara yang diwariskan.127Wonosobo merupakan kabupaten di
Jawa Tengah yang masih kental dengan adanya tradisi dan kebudayaan.
Temon nganten adalah acara pra pernikahan yang terjadi di desa Reco,
kecamatan Kertek, kabupaten Wonosobo. Acara ini biasanya dilakukan
sebelum acara pernikahan untuk mempertemukan pengantin laki-laki dan
pengantin perempuan beserta keluarga besar dari keduanya. Temon berarti
bertemu dan nganten berarti pernikahan. Jadi temon nganten yaitu acara
untuk bertemunya antara kedua belah pihak antara pengantin laki-laki dan
pengantin perempuan sebelum acara pernikahan.128
125Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Pusat Bahasa, 2008),
h.1543
126Rafael Raga Maran, Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta :
PT.Rineka Cipta Karta, 2007), h. 15.
127 Djoko Mulyono, Jawa Mutiara dibalik Tata Cara Pengantin Jawa, (Jakarta rawangun 2002) h. 23
128Wawancara dengan Kurniawati (Mahasiswi) yang dilakukan pada hari Kamis 24 November 2022.
93
2. Nilai-Nilai yang Terdapat dalam Tradisi Temon Nganten
Sama halnya dengan budaya atau tradisi yang merupakan kegiatan yang
turun-temurun yang pastinya mengandung banyak nilai didalamnya,
sehingga dirasa penting keberadaannya yang melatarbelakangi keeksisan
budaya tersebut tetap terjaga.129 Tradisi temon nganten memiliki banyak nilai
kearifan lokal yang dapat kita ambil. Nilai-nilai tersebut meliputi : nilai
spiritual, nilai moral dan nilai kebudayaan.
Pertama, nilai spiritual yang terkandung di dalamnya yaitu mengajarkan
kepada kita bahwa diperlukannya acara untuk mempertemukan kedua
pengantin yaitu pengantin laki-laki dan pengantin perempuan beserta
keluarga besarnya diharapkan agar keduanya bisa lebih mengenal dan lebih
mantap untuk ke jenjang selanjutnya yaitu pernikahan. Dengan adanya tradisi
temon nganten ini diharapkan keduanya bisa saling memahami,
menyanyangi dan bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan
warahmah.
Kedua, nilai moral yang terkandung di dalamnya yaitu tentang
menghargai adanya rasa menghargai dan menerima antara satu sama lain
dalam membangun keluarga, dengan adanya tradisi temon nganten di
harapkan kedua mempelai lebih bisa menghargai antara satu dan lainnya dan
menerima dengan ikhlas dan tulus dengan kekurangan dan kelebihan yang
ada dalam diri pasangan masing-masing.
Ketiga, nilai kebudayaan yaitu sebagai salah satu upaya masyarakat
untuk melestarikan salah satu tradisi budaya yang ada di daerah Reco yang
biasa disebut tradisi temon nganten.
3. Respon Masyarakat terhadap Tradisi Temon Nganten
Perspepsi masyarakat desa Reco terhadap tradisi temon nganten
berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan, respon dari warga desa
Reco adalah setuju dengan adanya tradisi temon nganten tersebut, seperti
wawancara yang penulis lakukan dengan salah satu warga desa Reco :
“ bagaimana pendapat bapak terkait adanya tradisi temon nganten di desa
Reco?”, dan beliau menjawab : “ setuju, karena dengan temon nganten kita
bisa melestarikan budaya”.130 Ada juga yang berpendapat lain yang juga
setuju, seorang mahasiswa yang penulis wawancarai berpendapat : ” setuju,
karena selain mengekspor tradisi yang sudah jarang dipakai, juga bisa untuk
edukasi bagi kaum millennial akan tradisi yang ada sejak jaman dahulu”.131
129 Afria Ulin Nuha dan Farah Fahrun Nisak, Kearifan Lokal : Nilai Dalam Mandi Kembang Leson Di Desa
Gemblengan Kabupaten Wonosobo, ASNA : Jurnal Kependidikan Islam dan Keagamaan, Vol. 2 No.1 (2020),
h.7
130Wawancara dengan Dwi Santoso (Petani) yang dilakukan pada hari Jum’at 25 November 2022.
131Wawancara dengan Teguh ( MUA) yang dilakukan pada hari Kamis 24 November 2022
94
Berdasarkan hasil wawancara yang penulis dapat, kebanyakan warga
desa Reco setuju dengan adanya tradisi temon nganten tersebut, karena
dianggap bisa melestarikan budaya yang ada dan sebagai edukasi bagi kaum
millennial yang di jaman sekarang sudah banyak melupakan tradisi yang ada
dan agar tradisi tersebut tetep terjaga.
4. Pandangan Islam tentang Tradisi Temon Nganten
Umumnya pada setiap lingkungan yang sudah dimasuki ajaran Islam
terdapat norma yang mengatur kehidupan masyarakat yang bersangkutan
dengan hukum Islam meskipun dalam bentuk yang tidak tertulis yang disebut
adat.132 Adat secara bahasa berarti kebiasaan dan secara syar’i diartikan
dengan apa yang sudah dikenal dan dipraktekkan oleh manusia, baik berupa
perkataan, perbuatan, meninggalkan sesuatu perbuatan.133 Adat (kebiasaan)
yang telah menjadi suatu ketentuan yang harus ditaati dan dilaksanakan suatu
masyarakat, menjadi pijakan hukum Islam dengan mengakui keefektifan adat
istiadat dalam interpretasi hukum. Sebagaimana sebuah kaidah fikih yang
berbunyi:
ℷN
Adat kebiasaan dapat dijadikan pijakan hukum134
Di desa Reco kabupaten Wonosobo, tradisi temon nganten diartikan
sebagai salah satu prosesi dalam upacara pra nikah yang dilaksanakan
masyarakat tersebut. Prosesi temon nganten dalam perkawinan adat
masyarakat desa Reco ini tidak dapat ditinggalkan karena sudah mendarah
daging dalam diri masyarakat. Penerimaan adat di dasarkan pada sesuatu
yang telah dilakukan oleh suatu masyarakat atau sebagiannya dan telah
menyatu dalam kehidupan sehari-hari adalah baik selama tidak dinyatakan
lain oleh hukum, sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat maka baik
pula menurut Allah SWT seperti ucapan sahabat Rasulullah saw; Abdullah
bin Mas’ud ra:
Ε ΨΨή Ψᦈ Ω ΕΨΨή Ψ N NQ
Apa yang dipandang oleh orang Islam baik, maka baik pula di sisi
Allah135
132 Achmad Fajar Anantiyo, Tradisi Upacara Temon Nganten Pra Nikah Dalam Pandangan Hukum Islam
( Studi Analisis Di Desa Reco Kec. Kertek, Kab. Wonosobo), Skripsi (Purwokerto : Program Studi Hukum
Keluarga Islam S1 IAIN Purwokerto, 2021). h. 52
133Abdul Wahab Khallaf, Usul Fiqh (Bairut: Dar al-Fikr, 1978), h. 86.
134Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf, Kaedah-kaedah Praktis, Memahami Fiqih Islam (Gresik:
Pustaka Al-Furqan, 2011),h. 114.
135Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fiqih (Jakarta: Amzah, 2010), h. 212.
95
Analisis Terkait dengan Tradisi Temon Nganten
Tradisi temon nganten di desa Reco ini merupakan acara yang dilakukan
sebelum menikah, dalam tradisi ini terdapat acara yang dilakukan sebelum
acara temon nganten, diantaranya :
a) Selantan / mule ( tasyakuran)
Selantan yaitu rangkain acara temon nganten yang dilakukan di
pagi hari. Acara ini dilakukan sebelum prosesi temon nganten yang
akan dilaksanakan pada malam harinya. Acara mule di awali dengan
melakukan ziaroh ke tempat orangtuanya atau simbahnya dan
mendatangi pundi tempat kesepuhan atau tempat kramat untuk
meminta doa restu memohon izin supaya pernikahan diberkati dan di
restui. Setelah berziarah ke makam leluhur mereka melakukan
syukuran bancakan makan bersama dengan satu tumpeng yang berisi
ingkung. Adanya acara mule tersebut dilakukan sebagai bentuk dari
rasa syukur warga yang akan menyatukan anaknya untuk melakukan
pernikahan.
b) Tegal Ngunduh / Peletakan Sajen
Tegal ngunduh merupakan ritual adat yang dilakukan oleh orang
yang mempunyai hajat yang berupa peletakan sajen pada tempat-
tempat tertentu yang dianggap masyarakat sebagai tempat
bersemayamnya dhanyang desa atau roh leluhur dengan maksud
untuk njaluk slamet atau minta keselamatan.
c) Acara Kesenian Tledek (Ronggeng)
Sebelum proses temon nganten dilakukan orang yang memiliki
hajat mengadakan acara kesenian dan kebudayaan. acara ini
dilakukan pada sore hari. Kesenian dan kebudayaan yang biasa
ditampilkan yaitu tledek atau bisa disebut ronggeng atau pertunjukan
wayang kulit. Acara kesenian ini ada, tetapi untuk kesenian tledek itu
tidak wajib, dan hanya beberapa orang yang melakukannya. Orang
yang melakukannya kemungkinan yang mempunyai drajat lebih
tinggi atau orang yang mempunyai ekonomi pada tingkat tinggi.
d) Prosesi Acara Temon Nganten
Setelah mengetahui proses acara sebelum masuk ke acara temon
nganten yang telah penulis sebutkan tersebut, maka puncak acaranya
yaitu acara temon nganten itu sendiri. Temon nganten merupakan
pertemuan antara calon mempelai laki-laki dan mempelai perempuan
juga tak lepas mempertemukan keluarga besar calon mempelai laki-
laki dan calon mempelai perempuan. Acara temon nganten harus
96
dengan penentuan shahat atau waktu penentuan jam pertemuan pada
malam hari sebelum akad nikah dilakukan, dalam penentuan
shahat/waktu ini di tentukan dari weton kelahiran masing-masing
mempelai yang ditentukan oleh dukun nganten atau kepercayaan
desa tersebut sebagai kesepuhan desa Reco. Karena hanya dukun
nganten yang mengetahui kapan waktu yang terbaik kedua mempelai
ditemukan. Kebiasaan ini dilakukan secara turun temurun oleh
masyarakat desa Reco agar tidak terjadi balak petaka kedua belah
pihak untuk memulai kehidupan baru dalam berumah tangga.
Penutup
Tradisi temon nganten memiliki nilai kearian lokal yang harus dijaga
kelestariannya. Tradisi temon nganten adalah sebuah tradisi yang dilakukan
sebelum acara pernikahana yang dilakukan oleh calon penggantin laki-laki
dan calon penggantin perempuan agar lebih mantap melanjutkan ke jenjang
selanjutnya yaitu pernikahan. Tradisi tersebut masih ada sampai saat ini
meskipun tidak semua warga desa Reco melakukannya. Tradisi temon
nganten dalam pandangan Islam tidak ada hukum yang melarangnya.
Adapun hukum melakukan pernikahan ditinjau dari keadaan yang
melaksanakannya perkawinan dapat dikenai hukum : wajib, sunah, haram,
makhruh dan mubah.
Rukun dalam pernikahan ada 5, yaitu : mempelai laki-laki, mempelai
perempuan, wali, dua orang saksi, dan sighat ijab qabul. Adapun syarat sah
dalam pernikahan yaitu : beragama Islam, bukan laki-laki mahrom bagi
calon istri, wali akad nikah, tidak sedang melakukan ihram dan bukan
paksaan. Sedangkan nilai kearifan lokal yang dapat ditemukan dalam tradisi
ini adalah meliputi : nilai spiritual, nilai moral dan nilai kebudayaan.
Pandangan Islam terkait tradisi temon nganten yaitu boleh apabila tidak
bertentangan dengan ajaran agama Islam. Acara yang dilakukan sebelum
acara temon nganten yaitu : selantanan / mule ( tasyakuran), tegal ngunduh /
peletakan sajen, acara kesenian tledek (ronggeng), prosesi acara temon
nganten.
97
98
ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL DI DESA SUMBEREJO
NGABLAK MAGELANG
Silvia Febrina Ningrum
53040190030
Abstrak
Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak sekali tradisi yang
tersebar di seluruh penjuru daerah. Seperti halnya tradisi saparan di
kecamatan Sambungrejo Kabupaten Magelang. Tradisi saparan merupakan
ritual masyarakat Desa Sumberejo untuk melestarikan budaya turun-temurun
dari leluhurnya. karena dengan tradisi akan terlihat corak kebudayaan suatu
masyarakat. Desa Sambungrejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang
berada dibawah lereng Merbabu. Saparan diwariskan dari satu generasi ke
generasi lain dalam masyarakat Sebagai warisan lokal. Saparan memegang
peran penting sebagai pengingat. Masyarakat diingatkan untuk bersyukur
kepada penjaga desa, karena telah melindungi dan member kehidupan yang
aman dari bencana. Ucapan syukur dan ritual yang dilakukan masyarakat
disampaikan melalui Saparan. Saparan berasal dari kata Sapar sehingga
diartikan sebagai ritual acara tahunan pada bulan sapar dalam kalender Jawa.
Pendahuluan
Isu tentang relasi Islam dan Budaya lokal telah menjadi perhatian
menarik di kalangan akademisi. Persoalan agama dan budaya terus menjadi
perbincangan hangat untuk dikaji dan diteliti. Sebagian kelompok
berpendapat bahwa agama harus terpisah dari budaya, karena agama bukan
menjadi unsur penting dalam tatanan sosial masyarakat. Agama dan budaya
memiliki relasi yang tak terpisahkan, keduanya merupakan dua hal yang
melekat erat dalam diri manusia. Budaya lokal merupakan sumber nilai yang
penting dalam kehidupan masyarakat. Budaya lokal bisa dijadikan sebagai
salah satu pendekatan dalam menyampaikan nilai-nilai pendidikan agama
Islam karena sifatnya yang melekat dan telah menjadi kebiasaan dalam
kehidupan masyarakat.
Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan.
Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup
di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol, dengan kata lain agama
memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama
tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai agama pribadi, tetapi
tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat.
Islam merespon budaya lokal, adat atau tradisi di manapun dan kapanpun,
99
dan membuka diri untuk menerima budaya lokal, adat atau tradisi sepanjang
budaya lokal, adat atau tradisi tersebut tidak bertentangan dengan spirit nash
al-Qur’an dan Sunnah.
Terdapat beberapa masyarakat yang masih memilih untuk
mempertahankan warisan budaya mereka.Salah satunya adalah sebuah
masyarakat di desa yang terletak dilereng gunung Merbabu, yaitu desa
Sumberejo, kecamatan Ngablak, kabupaten Magelang. Desa ini masih
menghormati salah satu bentuk kebudayaan yang mereka miliki, yaitu
Saparan. Saparan yang selalu dilaksanakan di Bulan Sapar kalender Jawa
bermula sebagai bentuk tradisi Merti Desa dengan tujuan agar desa tersebut
selalu mendapatkan kesejahteraan dan jauh dari malapetaka. Dalam Saparan
mereka saling berkunjung antar desa untuk bertamu kerumah orang-orang
yang mereka kenal. Mereka yang datang bertamu akan dijamu dengan baik
oleh pemilik rumah. Desa juga mempertunjukkan kesenian-kesenian Jawa
untuk menjadi hiburan para tamu yang datang ke desa mereka. Tidak
tanggung-tanggung, mereka seringkali mendatangkan kesenian tersebut dari
luar daerah.
Masyarakat Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak secara konsisten
masih melaksanakan tradisi Saparan. Meskipun dahulu pernah ada aturan
larangan mengenai pelaksanaan tradisi Saparan. Hamper semua penduduk
disebagian besar desa di Kecamatan Ngablak masih melaksanakan saparan
hingga kini. Desa sumberejo, Jogonayan, Genikan, Keditan, Pandean,
Girirejo, Jogoyasan, Tejosari, dan Bandungrejo adalah desa-desa yang masih
melaksanakan tradisi ini di bulan sapar. Sedangkan Pagergunung dan
Seloprojo sebagian besar penduduknya melaksanakan pada bulan Agustus
kalender Masehi. Untuk desa-desa lain juga melaksanakan walaupun tidak
semeriah desa-desa tersebut.
Kajian penelitian mengenai berbagai ritual atau ritus masyarakat telah
banyak dilakukan. Mengingat ragam budaya yang beraneka disetiap
daerahnya masing-masing. Dari judul penelitian ini yaitu ISLAM DAN
KEARIFAN LOKAL DI DESA SUMBEREJO NGABLAK MAGELANG,
menyimpulkan bahwa masyarakat Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak
Kabupaten Magelang tersebut masih memilih melaksanakan tradisi Saparan
dengan besar-besaran dan mengeluarkan banyak biaya. Saparan masih
dipertahankan didesa tersebut karena ternyata memiliki fungsi yang
diperoleh masyarakatnya, yaitu fungsi sosial, fungsi ekonomi dan fungsi
religi.
Dalam penelitian ini permasalahan yang akan dikaji
adalah : ”Bagaimana masyarakat Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak,
Kabupaten Magelang melaksanakan tradisi Saparan dalam kehidupan sosial
100
mereka??” Dan “Mengapa masyarakat desa Sumberejo, kecamatan Ngablak,
Kabupaten Magelang masih mempertahankan tradisi Saparan??”
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan jawaban dari
rumusan masalah yang telah dicantumkan. Maka tujuan penelitian ini adalah:
(1) Mengetahui pelaksanaan tradisi Saparan dalam kehidupan masyarakat
desa Sumberejo, kecamatan Ngablak, kabupaten Magelang. (2) Mengetahui
alasan masyarakat desa Sumberejo, kecamatan Ngablak, kabupaten
Magelang masih mempertahankan tradisi Saparan.
Manfaat dari penelitian ini adalah a) Menambah khasanah ilmu
pengetahuan sosial khususnya dalam bidang kajian tradisi yang
menggunakan pendekatan fungsionalisme. (b) Dapat memberikan
pengetahuan dan wawasan kepada pembaca mengenai salah satu tradisi
budaya bangsa Indonesia yang masih terjaga keberadaannya oleh masyarakat
itu sendiri. (c) Memberikan penggambaran jelas mengenai proses
pelaksanaan dan eksistensi Saparan dalam masyarakat desa Sumberejo.
Penelitian ini difokuskan pada penggambaran pelaksanaan Saparan di
desa Sumberejo dan sebab-sebab mengapa masyarakat desa Sumberejo
masih melakukan tradisi Saparan. Memaparkan fungsi tradisi Saparan bagi
kehidupan masyarakat desa Sumberejo serta eksistensi Saparan dalam rangka
kelangsungan tradisi budaya Saparan tersebut di masyarakat desa Sumberejo,
kecamatan Ngablak, kabupaten Magelang.
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kualitatif deskriptif, dengan sumber data utama berupa kata-kata. Teknik
analisis data dan pengumpulan data dengan cara melakukan observasi
langsung dengan melakukan wawancara terhadap 1 orang. Subjek penelitian
ini adalah masyarakat Dusun Sambungrejo Kecamatan Ngablak Kabupaten
Magelang.
PEMBAHASAN
Islam datang ke Wilayah Indonesia khususnya Magelang jauh sebelum
Wali Songo dating. Penyebaran Islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-
ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek kejawen sebagai jalur
penyebarannya. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran islam di
Tanah Jawa. Magelang berada di tengah-tengah pulau Jawa , baik kea rah
timur, maupun arah barat, begitu kea rah utara maupun ke selatan. Di tengah-
tengah itu ada sebuah gunung kecil yang bernama gunung Tidar. Menurut
101
cerita tempat itulah pertama kali seorang Muslim memijakkan kakinya di
tanah Jawa dan beliau juga di makamkan di sana.136
Kota Magelang dikelilingi banyak gunung, dan masing-masing warga di
sekitar gunung tersebut mempunyai tradisi untuk mengapresiasikan rasa
syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu dengan mengadakan
saparan yang berada di desa Ngablak dan dilaksanakan setiap setahun sekali.
Bulan Safar atau lebih dikenal dengan bulan Sapar bagi masyarakat
Indonesia khususnya orang Jawa, adalah bulan ke dua dalam penanggalan
tahun hijriyah. Di berbagai daerah di pulau Jawa banyak sekali tradisi yang
dilaksanakan di bulan sapar ini. Sebut saja saparan di sekitar lereng Gunung
Andong.137 Dari berbagai daerah yang melaksanakan tradisi saparan ini
masing-masing mempunyai maksud dan tujuan yang hampir sama antara satu
daerah dengan daerah lainnya. Namun secara umum maksud dan tujuan dari
pelaksanaan tradisi saparan ini adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha
Esa agar senantiasa diberi keselamatan dalam mengarungi kehidupan ini. Di
beberapa desa menganggap pelaksanaan tradisi saparan tidak lengkap bila
tidak menggelar aneka pagelaran kesenian tradisional. Salah satu kesenian
tradisional yang seakan-akan wajib dilaksanakan di beberapa desa adalah
wayang kulit, dendangan lagu-lagu jawa, cerita-cerita kuno, hingga upacara-
upacara tradisi yang dikembangkan di masyarakat.138
Bulan sapar bagi sebagian warga merupakan bulan yang dinanti-nanti.
Sebagian anak-anak (bahkan juga orang dewasa) menyebutnya sebagai bulan
penuh gizi. Mengapa tidak? Pada bulan sapar, sudah menjadi tradisi mereka
saling berkunjung. Salah satu rangkaian pelaksanaan tradisi saparan di
daerah ini adalah saling mengundang. Biasanya yang diundang adalah
saudara dekat, teman, kenalan sampai relasi bisnisnya. Waktu pelaksanaan
saparan yang berbeda antara desa yang satu dengan yang lainnya,
memungkinkan mereka saling berkunjung. Bahkan tidak jarang mereka juga
mengundang saudara atau rekan dari luar kota. Bagi sebagian warga yang
sedang merantau diluar kota juga menyempatkan untuk pulang kampung
sekedar merayakan saparan ini.139
Tradisi Saparan ini biasanya digelar di desa-desa dengan membawa nasi
tumpeng dan ayam jawa utuh atau dikenal dengan sebutan ingkung di setiap
untuk dibawa ke tempat sesepuh. Kemudian mereka berdoa membaca tahlil
memohon kepada Allah SWT untuk diselamatkan dari berbagai masalah
136Kompas.com,2021, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia,diunduh 2022
137Andayani, Natalia Tri. 2013. Eksistensi Tradisi Saparan pada Masyarakat Desa Sumberejo Kecamatan
Ngablak Kabupaten Magelang. Semarang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
138 Kompas.com,2021, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia,diunduh 2022
139Afifah,Emi Nur. 2015.Korelasi Konsep Syukur Dalam Budaya Jawa dan Ajaran Islam (studi Kasus
Sedekah Bumi di Desa Tegalharjo Kecamatan TRangkil Kabupaten Pati). UIN Wali Songo Semarang .
102
serta ingin dikabulkan segala permintaanya. Setelah selesai berdoa biasanya
mereka akan menyantap nasi tumpeng dan ingkung bersama-sama.140
Masyarakat Desa Sumberejo secara konsisten masih melaksanakan tradisi
Saparan. Meskipun dahulu pernah ada aturan larangan mengenai pelaksanaan
tradisi Saparan. 141
Tradisi Saparan ini dilaksanakan setiap setahun sekali di bulan Safar
selama tiga hari berturut-turut. Sebelum tiba waktu Saparan, warga desa
mengadakan iuran uang untuk mengundang kesenian seperti wayang kulit,
Sekar rimba, atau pun pengajian akbar. Tidak hanya itu, untuk memeriahkan
acara tersebut biasanya juga terdapat pasar malam yang menjual berbagai
makanan, pakaian, aksesoris, mainan anak,dan juga wahana permainan untuk
anak- anak. Saparan ini akan dilaksanakan di setiap desa dan akan berpindah
ke desa lain pada waktu yang sama yakni bulan Safar. Setiap rumah akan
menyajikan berbagai makanan khas dari desa tersebut untuk menyambut para
tamu yang datang.142
Adapun Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini yaitu:
a) Sebagai ungkapan rasa syukur
Tujuan diadakanya tradisi tersebut sebagai bentuk rasa syukur
masyarakat Sumberejo karena masih diberi hidup aman, tenteram,
dan rejeki lancer, selain itu tradisi tersebut sudah dijalankan turun-
temurun.
b) Mempererat tali silaturahim dan hubungan persaudaraan
Sebagai sarana bertemu kerabat, saudara, agar yang jauh
menjadi dekat, dan yang sudah dekat menjadi akrab.
c) Mengenalkan tradisi kepada kaum penerus agar budaya tetap di
lestarikan
Ajang untuk mengkaji agama islam lebih dalam mengenalkan
budaya kepada generasi penerus
d) Hidup rukun,gotong royong, masyarakat peduli terhadap
lingkungan, kerja keras,dan kekeluargaan
Adanya tradisi saparan ini, dari berbagai sudut pandang masyarakat
sekitar tidak lepas dari yang namanya pro dan kontra, dari adanya saparan
banyak memberikan nilai positif diantaranya: sebagai ungkapan rasa syukur,
dapat mempererat hubungan persaudaraan, mengenalkan budaya kepada
140Khadziq.2009. Islam Dan Budaya Lokal. Yogyakarta: Sukses Offset.
141Yanuar Regi, Widhia Dinnata. 2021. “Cerita tentang tradisi saparan di ngablak magelang”,
https://www.ayoyogya.com/explore/amp/pr-39471160/Cerita-Tentang-Tradisi-Saparan-di-Ngablak-
Magelang
142Darsono, Sony Kartika. 2013.”Budaya Nusantara Pendekatan Filsafat Mistika” (Mystical Philosophy).
103
generasi muda tapi disisi lain saparan juga mempunyai nilai negativ
diantaranya: biaya yang besar, untuk dapat melaksanakan tradisi Saparan
memerlukan dana. Iuan dana untuk memberikan hiburan kesenian dan dana
pribadi yang harus dikeluarkan untuk menjamu para tamu yang diundang,
maka semakin banyak pula dana yang harus disiapkan.143 Tapi walaupun ada
nilai negativnya, masyarakat dominan bahagia setiap akan tiba waktunya
Saparan, mereka senang dan sangat bersemangat dalam mempersiapkan
segala sesuatunya dalam menyambut acara saparan tersebut. Walaupun
Saparan itu dalam agama Islam tidak ada apalagi diajarkan, tapi karena
saparan termasuk budaya dan suatu adat warisan dari nenek moyang atau
leluhur kita. Apalagi agama Islam tidak bias lepas dari budaya. Jadi antara
agama dan budaya itu ikatannya kuat. Tradisi saparan juga merupakan
budaya yang mengajakan tentang pentingnya silaturahmi.144
Silaturahmi juga menjadi amalan utama karena mampu menyambung
apa-apa yang putus. Oleh karena itu, silaturahmi memiliki keutamaan atau
manfaat yang luar biasa.
Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, di antaranya
mengajarkan agar menjalin tali shilaturrahim sebagaimana dalam (QS. An-
Nisa’ [4]: 1).
Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang
telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah
menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang
biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu
saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Dari ayat di atas bahwa perintah shilaturrahim dirangkai dengan perintah
untuk bertaqwa kepada Allah. Dalam menjalin tali persaudaraan sesama
umat manusia hendaknya dibina berdasarkan ketaqwaan, bukan berdasarkan
kekayaan, kecantikan, keturunan, pangkat maupun jabatan.
Kemudian dalil Berikut ini juga membahas tentang silaturahmi.
J 䁒 N J Ψ N ή N ᦈ J ϦQ Ψ N ᦈ
Artinya: “Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah, dan terhadap
keluarga sendiri mendapat dua pahala sedekah dan silaturahmi.” (HR
Tirmidzi).145
143 Yanuar Regi, Widhia Dinnata. 2021. “Cerita tentang tradisi saparan di ngablak magelang”,
144Naomi Diah Budi Setyaningrum.2018.”Jurnal Ekspresi Seni,Vol.20,No 2.
145 https://www.orami.co.id/magazine/hadis-dan-ayat-alquran-tentang-silaturahmi
104
Dalam al-Qur’an QS. Al-Nisa [4]: 1) dan (QS. Al-Hujurat [59]: 10) kata
taqwa dan shilaturrahim selalu dirangkai/disandingkan, itu artinya ada dua
hal pokok yang tidak dapat dipisahkan. Jadi orang yang bertaqwa kepada
Allah, tentu akan menyambungkan tali shilaturrahim. Karena shilaturrahim
merupakan salah satu karakteristik bagi orang-orang yang beriman (Rakhmat,
1999, p. 174).146
Kesimpulan
Dari penelitian dan pembahasan mengenai studi tradisi Saparan pada
masyarakat Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang
dapat disimpulkan bahwa Tradisi Saparan merupakan tradisi yang bermula
dari bentuk merti desa yang dilaksanakan oleh penduduk desa Sumberejo
setiap tahun sekali pada bulan Sapar (tanggal jawa). Saparan merupakan
upacara syukuran atau slametan atas keberkahan dan kelimpahan yang telah
di dapat oleh warga. Masyarakat Desa masih mempertahankan tradisi
Saparan karena memiliki beberapa fungsi. Diantaranya fungsi pembawa
kemakmuran, menjaga ikatan kekerabatan, kerukunan warga, menjaga dan
melestarikan warisan budaya.
105
WARAK NGENDOG SALAH SATU TRADISI RITUAL
DUGDERAN DI KOTA SEMARANG
Zhahra Laela Ramadhani
53040190014
PENDAHULUAN
Menilik sejarah lahirnya Kota Semarang, kita dapat diarahkan pada
beberapa karya seperti yang ditulis Liem, dan Amen Budiman, bahwa
lahirnya Kota Semarang bermula dari penamaan suatu daerah (kota, dusun,
kampung, sungai, gunung) berdasarkan pada ciri khas daerah itu, keadaan
alam atau pemandangan mencolok di sekitarnya. Menurut Serat Kandaning
Ringgit Purwa Naskah KBG NR.7, lahirnya Kota Semarang diawali pada
tahun 1938 Saka (1476 M), dengan datangnya utusan Kerajaan Demak (Ki
Pandan Arang) yang meng- emban tugas pengislaman di wilayah barat
Kerajaan Demak, di Semenanjung Pulau Tirang (sekarang daerah Mugas dan
Bergota, Semarang). Sesampainya di daerah ini, ia mendirikan pesantren. Di
daerah yang subur ini tumbuh pohon asam (Jawa: asem) yang masih jarang
(Jawa: arang). Muridnya dari waktu ke waktu semakin banyak, dan tempat
itu kemudian semakin dikenal banyak orang: daerah asem-arang, diucapkan
Semarang.147
Tradisi, Ritual, atau Adat Istiadat merupakan aktifitas dan ekspresi dari
sistem keyakinan sebagai bagian dari tahapan upacara yang bersifat sakral.
Masyarakat Indonesia memiliki tradisi yang berbeda-beda dalam
menyambut bulan suci ramadhan. Di berbagai daerah di Indonesia
mempunyai kultur masyarakat yang beragam, sehingga menghasilkan tradisi
yang berbeda pula dalam penyambutan bulan suci ramadhan. Misalnya
tradisi Munggahan dilakukan oleh orang-orang Sunda, tradisi padusan yang
dilakukan oleh masyarakat sekitar Klaten, Boyolali, Salatiga dan Yogyakarta.
Di wilayah Jawa Tengah, khususnya wilayah Semarang terdapat tradisi
Dudgeran. Dalam hal ini peneliti memfokuskan kajian pada tradisi Dugderan
di wilayah kota Semarang.
Dugderan bersal dari kata "dug" dan kata "der". Kata dug berasal dari
tabuhan bedug, sedangkan der berasal dari suara petasan. Medengar suara
bedug dan petasan yang berkali-kali pada akhirnya digabungkan menjadi
istilah Dugderan. Tradisi dugderan saat in bisa dikatakan sebagai pesta
rakyat dimana pada upacara tersebut juga diramaikan dengan berbagai
macam kegiatan diantaranya pasar rakyat yang digelar selama satu minggu
147 Freek Colombijn dan Martine Barwegen, Kota Lama, Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia
Sebelum dan Setelah Kemerdekaan, terj. Purnawan Basundoro dan Johny Alfian Kusyairi (Yogyakarta:
Ombak, 2005), 150-151.
106
sebelum upacara dugderan, ada juga karnaval, drumband, serta warak
ngendog yang menjadi maskot dugderan.148
Berbicara mengenai asal usul atau sejarah Tradisi Dugderan, kita tidak
bisa terlepas dari Warak Ngendog yang menjadi ciri khas dari upacara ini.
Ikon utama dalam penyelenggaraan tradisi in adalah binatang warak
ngendhog. Binatang ini dibuat oleh Kiai Abdul Hadi, guru adipati
Surohadimenggolo atas perintah sang adipati. Kiai Hadi merangkai kayu Dan
rambut menjadi hewan simbol nafsu manusia. Yaitu bersisik, mulutnya
menganga dengan gigi bertaring, serta bermuka seram dengan badan seperti
kambing. Itu gambaran nafsu yang harus dikalahkan dengan puasa. Bermula
dari kerapnya perbedaan pendapat dalam menentukan hari dimulainya bulan
Puasa. Pada tahun 1881 Pemerintah Kanjeng Bupati RMT Aryo Purbaningral,
memberanikan diri menentukan awal puasa, yaitu dengan membunyikan
Bedug masjid Agung dan meriam di halaman kabupaten masing masing
sebanyak tiga kali.149
Warak Ngendog memiliki makna yakni "Warak" yang berasal dari kata
dalam bahasa Arab "Wara'i" yang berarti suci sedangkan "Ngendog" atau
dalam bahasa Indonesianya berarti bertelur, dimaknai sebagai hasil pahala
yang diperoleh setelah sebelumnya menjalani Ritual Suci (Puasa Ramadhan).
Secara harfiah. Warak Ngendog bisa diartikan sebagai siapa saja yang
menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan
mendapatkan pahala di hari lebaran.
Tujuan dari diciptakannya tradisi Dugderan tersebut untuk
mengumpulkan lapisan masyarakat dalam suasana suka cita untuk bersatu,
berbaur dan bertegur sapa tanpa pembedaan. Selain Itu dapat dipastikan pula
awal bulan Ramadhan secara tegas dan serentak untuk semua panam agama
Islam berdasarkan kesepakatan Bupati dengan imam Masjid. Sehingga
terlihat semangat pemersatu yang luar biasa dalam sebuah tradisi yang
diciptakan150
Tradisi Dugderan kala itu digunakan sebagai pemberitahuan kepada
masvarakat tentang penentuan awal bulan puasa bagi masyarakat dari
berbagai golongan. Selain itu ada pula ajakan untuk selalu meningkatkan tali
silaturrahim dan ajakan untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah.
148http://www.pkspedurungan.or.id/ di unduh pada 17 maret 2016
149 Hamzah Sahal, Ihwal Warak Neendok dan Dugderan, Senin, 0l Agustus 2011, NU Online Diakses
pada 10 April 2010
150 Supramono, Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota Semarang.Tesis,
Universitas Negeri Semarang,2007, hlm. 50.
107
Tradisi Dugderan ini berjalan berulang-ulang dan dilestarikan menjadi
sebuah tradisi yang rutin digelar setiap tahunnya.151
Prosesi tradisi Dugderan yang dulunya hanya sebagai penentuan awal
puasa dan menjalin silaturahiim. Namun, seiring perkembangan zaman,
tradisi Dugderan pada saat ini dibentuk sedemikian rupa oleh Pemerintah
Kota Semarang guna membuat tradisi ini lebih menarik masyarakat. Tradisi
Dugderan pada saat ini terdiri dari tiga agenda yakni pasar malam Dugder,
prosesi ritual pengumuman awal puasa dan kirab budaya Warak Ngendog.
Tiga agenda tersebut merupakan serangkaian dari tradisi Dugderan. Awal
mula perkembangan tradisi Dugderan in ditujukan agar masyarakat memiliki
rasa peduli yang lebih perayaan tradisi Dugderan. arena setiap tahun kegiatan
Dugderan dianggap monoton, maka dengan ide dari Pemerintah Kota
Semarang dan Jamaah Peduli Dugder untuk membuat kegiatan ini lebih
menarik lagi. Contoh nya saja setiap tahun tradisi Dugderan ini memiliki
tema yang diusung sebagai patokan pelaksanaan kegiatan. Tentu hal ini
memiliki tujuan penting yakni salah satunya sebagai peningkatan destinasi
wisata di Kota Semarang dan pasti memberikan dampak ekonomi bagi
sebagian masyarakat yang memanfaatkan momen ini.
Tradisi Dugderan yang unik ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi
wisatawan untuk datang ke Kota Semarang. Tentunya pandangan utama
selain menjadi fungi hiburan juga menjadi fungi meningkatkan ekonomi dari
berbagai elemen masyarakat. Fenomena yang muncul pada saat ini adalah
budaya dan religiusitas dalam menyambut bulan suci Ramadhan ditempatkan
pada aktivitas industripariwisata. Fenomena tersebut antara lain yaitu
meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke wilayah kota Semarang,
baik wisatawan lokal maupun asing. Hal ini berdampak pada peningkatan
jumlah pedagang yang omental keuntungan dalam perayaan tersebut. Fungsi
keagamaan sebagai konsep awal munculnya tradisi ini mulai mengalami
pergeseran sehingga mempengaruhi perilaku masyarakat dalam menyambut
Ramadhan. Munculnya pedagang dari berbagai wilayah diluar Kota
Semarang tentu meningkatkan pajak daerah, sehingga kepentingan bisnis
muncul dengan memanfaatkan tradisi Dugderan ini.
Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu adalah telaah pustaka yang dilakukan penulis dalam
sebuah penelitian. Dari hasil pencarian yang penulis lakukan baik di
perpustakaan ataupun beberapa web pencarian jurnal lainya belum ada yang
151 Edy Muspriyanto dkk, Semarang Tempo Doeloe Meretas Masa, (Semarang: Terang Publishing, 2006),
hlm. 65
108
membahas tentang rumusan masalah diatas. Adapaun beberapa penulis yang
mempunyai kemiripan dengan pembahasan ini, diantaranya adalah:
Jurnal, dalam Jurnal ini yang berjudul “Warak Ngendog dalam Tradisi
Dugderan sebagai Representasi Identitas Muslim Urban di Kota Semarang”
berisikan Tradisi Dugderan seperti dipaparkan pada makna Warak Ngendog
merupakan simbol identitas masyarakat Kota Semarang sebagai representasi
agama sipil yang di dalamnya mengandung nilai-nilai kesetaraan, solidaritas,
dan keterbukaan. Religiositas masyarakat Muslim urban di Kota Semarang
ditopang oleh kekuatan kultur dan tradisi yang masih dijaga dalam
lingkungan masyarakatnya.152
Skripsi, dalam Skripsi ini yang berjudul “Komodifikasi Budaya Pada
Tradisi Dugderan Di Kampung Kauman Semarang Tengah” yang ditulis oleh
Iin Fajarwati berisikan tentang Proses komodifikasi yang terjadi pada tradisi
Dugderan dipengaruhi oleh regulasi pemerintah serta kepentingan dalam
industri pariwisata. Modernisasi serta pemekaran wilayah yang terjadi di
Kota Semarang merupakan awal terjadinya proses komodifikasi. Regulasi
pemerintah yang mengatur pelaksanaan Dugderan mengharuskan Dugderan
tunduk kepada aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah.153
Skripsi, dalam Skripsi ini yang berjudul “Makna Warak Ngendog dalam
Tradisi Ritual di Kota Semarang” yang ditulis oleh SUPARMONO berisikan
tentang Warak Ngendog muncul dari keterkaitan antarunsur adanya wara-
wara (Jawa: berita atau pengumuman) penting Sang Bupati Semarang
tentang kepastian awal puasa, kandungan pesan-pesan agama berupa ajakan
wara (Arab: taSat atau menjaga), serta kesepakatan bentuk estetis dan nama
yang amat menarik perhatian berupa binatang khayal Warak Ngendog.154
152JURNAL THEOLOGIA — Volume 29, Nomor 2, Desember 2018
153SKRIPSI, Komodifikasi Budaya Pada Tradisi Dugderan Di Kampung Kauman Semarang Tengah.
Yogyakarta,17 February 2017.
154 SKRIPSI, Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual di Kota Semarang. 25 Agustus 2007
109
Simbol Warak Ngendog sebagai Identitas Muslim Urban di Kota
Semarang
Dinamika keagamaan Muslim Urban Kota Semarang mengalami
perubah- an secara signifikan. Pengaruh teknologi yang terjejaring di dunia
menjadi ladang ekspresi keagamaan yang sangat terbuka. Dukungan televisi
dan media sosial memudahkan perkembangan ekspresi keagamaan, seperti
dakwah- dakwah serta majlis dzikir sebagai salah satu aktivitas spiritualitas
masyarakat Muslim urban. Ungkapan-ungkapan sufisme baru di Indonesia,
misalnya yang mengandung tren global dalam pemikiran keagamaan dan
kultur sekuler telah menjadi menarik bagi Muslim urban sejak akhir abad
yang lalu. Di mana bentuk- bentuk sufisme ini telah dipromosikan melalui
jalur-jalur komunikasi baru, terutama institusi-institusi pendidikan Islam
bergaya universitas dan siaran- siaran di televisi Islami.155
Kesadaran komunal masyarakat Muslim urban diiringi dengan
tumbuhnya komunitas-komunitas pengajian di masjid-masjid. Bangkitnya
modernitas yang diiringi dengan munculnya budaya global pada akhirnya
menimbulkan alienasi hingga melahirkan krisis kepercayaan dan identitas
pribadi. Dengan per- kembangan dunia yang serba modern, kepercayaan
terhadap prinsip impersonal maupun terhadap orang lain yang tidak dikenal
menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi sosial.156
Gejala modernisme di atas berdampak pada kedangkalan dalam
beragama, bersosial dan identitas Indonesia. Mempertahankan tradisi
lokalitas yang dirumuskan di publik merupakan identitas baru masyarakat
urban sebagai eksistensi sosialnya, sehingga kesadaran komunal sebagai
identitas masyarakat urban dapat dielaborasi dengan lahirnya hibriditas
kebudayan serta kolektifitas masyarakat urban dalam multikulturalisme ini.
Karenanya, Kota Semarang sebagai kota multikultural dapat dirumuskan
melalui relasi kebudayaan antar etnis yang telah berkembang menjadi sebuah
identitas baru.
Ciri masyarakat Muslim urban kota Semarang terlihat di beberapa
bagian wilayah kota ini dengan tradisi keagamaannya yang sangat tradisional,
misalnya di kawasan Kauman kota lama, Gunungpati, dan Tembalang.
155 Greg Fealy dan Sally White, Ustadz Seleb, Bisnis Moral dan Fatwa Online: Ekspresi Islam
Kontemporer (Jakarta: Komunitas Bambu, 2012), 54.
156Rofhani Rofhani, “Budaya Urban Muslim Kelas Menengah,” Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran
Islam 3, no. 1 (2015): 181–210, https://doi.org/10.15642/teosofi.2013.3.1.181-210.
110
Mereka masih melakukan kegiatan amalan keagamaan tradisional,157 dan dari
cara beribadah- nya teridentifikasi warga Nahdlatul Ulama.158
Secara geografis, masyarakat Muslim tradisional di Kota Semarang,
lebih dominan di wilayah pinggir yang berbatasan dengan Kabupaten Demak,
Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang. Kebudayaan masyarakat
Muslim yang berada di pinggir itu merefleksikan sebuah pola keberagamaan
yang berbeda dengan mereka yang berada di tengah. Warga Kota Semarang
yang berada di pinggir lebih banyak memerankan pola-pola solidaritas
mekanis. Ciri seperti ini, sangat melekat pada kategori masyarakat tradisional.
Pada masyarakat Mulim urban di Kota Semarang, situasi zaman di era
pasca reformasi menjadikannya lebih terbuka. Salah satu karakteristik
masyarakat urban kota Semarang adalah berasal dari berbagai etnis. Seiring
dengan pergumulan budaya dengan beragam bangsa dan sub-sub etnis di
Nusantara yang terjadi selama berabad-abad, terbentuklah budaya lokal
Semarangan.159 Mereka tetap mempertahankan nilai-nilai lokalnya160 di satu
sisi, tetapi juga me- nerima unsur-unsur luar. Hal itu misalnya terlihat pada
ekspresi budaya dalam tradisi Dugderan yang bernuansa religious Islam, dan
budaya hybrid yang memadukan beragam elemen budaya, etnis dan agama.161
Pada tahun 1881an, Warak Ngendog sebagai simbol dalam tradisi Dug-
deran, terbuat dari bahan yang sangat sederhana seperti kayu, bambu dan
sabut kelapa. Namun sekarang ini, bahan-bahan yang digunakan lebih
kompleks, meliputi kayu, kertas minyak ditambah berbagai ornamen dari
kertas karton, gabus dan sebagainya. Amin Budiman dan Djawahir
Muhammad, tidak bisa menyebutkan siapa pembuat Warak Ngendog karena
tidak pernah ada dalam catatan sejarah.162 Menurut Supramono, bahwa ide
Warak Ngendog berkaitan dengan tradisi Dugderan dalam menyambut bulan
157Semarang memiliki upacara rutin sebagai tradisi masyarakat Semarang, yakni Tradisi Dugderan, salah
satu tradisi yang selalu ditunggu-tunggu oleh warga Kota Semarang dalam setiap tahunnya. Tradisi ini
berawal dari adanya suara dug-dug-dug bedug Masjid Agung Kauman yang kini diistilahkan Masjid Agung
Semarang, dan der-der-der suara petasan yang dinyalakan di Kanjengan. Suara tersebut merupakan tanda
bahwa esok hari adalah pertama bulan Ramadhan. Dalam perkembangannya, terciptalah tradisi Dugderan
dan diakhiri dengan karnaval. Pada awalnya karnaval tersebut diikuti oleh masyarakat Kauman. Seiring
perkembangannya kini selain masyara- kat Kauman, karnaval ini telah pula diikuti oleh warga Semarang
khususnya yang beragama Islam. Lihat: Wijanarka, Semarang Tempo Dulu: Teori Desain Kawasan
Bersejarah (Yogyakarta: Ombak, 2007), 16.
158 Interview dengan Djawahir Muhammad, budayawan Semarang, pada tanggal 27 Maret 2017
dilakukan di kediamannya, di Semarang.
159 Budaya lokal yang dimaksudkan di sini adalah perilaku sehari-hari masyarakat Semarang yang
berbasis pada nilai-nilai tradisi yakni ekspresi budaya yang berorientasi pada spirit Jawa pesisiran.
160 Penghayatan spiritualitas orang Jawa kental dengan ritus-ritus lokalitas. Kesadaran manusia dalam
pencapaiannya akan kehadiran realitas ketuhanan dapat ditempuh melalui pengalaman titah dari pusat
hati, lewat suara tanpa rupa sebagai upaya menemukan kesucian sejati. Lihat: Setyo Hajar Dewantoro,
Suwung Ajaran Rahasia Leluhur Jawa (Banten: Javanica, 2017), 10.
161 Muhammad, Semarangan Lintas Sejarah dan Budaya, 104.
162 Supramono, “Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan di Kota Semarang” (Universitas
Negeri Semarang, 2007), 93-95.
111
Ramadlan untuk me- meriahkan acara seusai ritual musyawarah dan
pembacaan pengumuman awal puasa bahwa perlu dipukul bedug dan
disulutnya meriam sebagai simbol pemersatu antara ulama dengan
pemerintahan. Dalam perkembangannya ditemukan tiga kelompok Warak
Ngendog berdasarkan bentuknya, yaitu: 1) Menilik bentuk Warak Ngendog
klasik, yakni Warak Ngendog yang masih menampilkan unsur dan struktur
asli serta diciptakan turun-temurun dalam wujud yang sama. Di mana
kepalanya terdiri dari bagian mulut bergigi tajam, mata melotot, telinga tegak
atau tanduk, jenggot yang panjang lebat. Begitu pun dengan badan, leher dan
keempat kakinya ditutup bulu yang terbalik dengan warna berselang-seling
merah, kuning, putih, hijau dan biru. Warak Ngendog klasik juga terdapat
ekor panjang, kaku melengkung berbulu serupa badan dan terdapat surai di
ujungnya. Bentuk telur atau endhog terletak di antara dua kaki belakangnya.
2) Warak Ngendog yang bentuknya sudah dimodifikasi, secara umum sama
dengan Warak Ngendog klasik. Perbedaannya hanya di bagian kepala yang
mirip dengan kepala naga. Ada kesamaan bentuk naga Cina atau naga Jawa.
Mocong yang mirip buaya dengan deretan gigi tajam, lidah bercabang
menjulur, mata melotot, berkumis dan berjanggut, bertanduk kecil bercabang
seperti rusa, kulit bersisik, bersurai di bagian belakang kepala. Naga Jawa
biasanya memakai mahkota di atas kepalanya. 3) Warak Ngendog
kontemporer, secara struktur bentuknya sama dengan Warak Ngendog klasik,
namun detail- detail kepala dan bulu tidak sesuai. Misalnya kepalanya seperti
harimau, bulunya tidak terbalik, tidak berbulu tapi bersisik dan sebagainya.163
Ada ragam pendapat mengenai binatang Warak ini. Ada yang
berpendapat bahwa binatang Warak ini merupakan perwujudan dari binatang
sakti dalam kebudayaan Islam. Ada pula yang mengatakan, karena kota
Semarang me- rupakan kota pelabuhan, maka tidak mustahil terjadi
pembauran kebudayaan berbagai bangsa pendatang, di mana Warak ini
menyerupai binatang dalam mitos kebudayaan Cina.164
Perbedaan pandangan tentang binatang yang disebut Warak ini diakui
oleh Supramono dalam penelitiannya. Supramono mengatakan bahwa ada
anggapan bahwa Warak ini berasal dari perpaduan beberapa simbol budaya.
Binatang itu berkepala Kilin sebagai lambang binatang paling berkuasan dan
berpengaruh di Cina dan badan Buroq sebagai binatang Nabi Muhammad
saat Isra’ Mi’raj. Ada juga yang berpendapat bahwa Warak berkepala naga,
binatang simbol milik orang Cina dan badan kambing, binatang yang banyak
163 Suparmono
164 Jongkie Tio, Kota Semarang dalam Kenangan (Semarang: Lembaga Kotamadya Daerah Tingkat II
Semarang, 2007), 37.
112
dimiliki orang pribumi Jawa dan sering digunakan untuk berkorban saat Idul
Adha.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa Warak merupakan hadiah dari
warga Cina agar digunakan untuk memeriahkan tradisi ritual Dugderan
sebagai bukti ketulusan mereka untuk bersatu dan berdamai guna menebus
kesalahan- nya waktu membakar masjid besar saat pemberontakan warga
Pecinan dulu. Namun pendapat tersebut sangat lemah dasarnya, karena hanya
mengacu pada pembentukan kepala Kilin atau naga pada Warak Ngendog.
Sementara dari unsur nama, bentuk keseluruhan dan makna karya lebih
dominan pengaruh ke- budayaan Jawa dan Islam.165 Disebutkan dalam buku
Semarang Tempo Doeloe, bahwa Legirah, seorang pembuat Warak Ngendog
dari Kampung Purwodinatan Semarang, tidak mengetahui warak itu binatang
apa, dia hanya bisa membuat. Dia menuturkan bahwa dia juga berpikir terus
kenapa binatang kakinya empat dan punya daun telinga tapi bisa memiliki
telur. 166
Belum lama ini, ada warga Trimulyo Genuk, H Kholid yang mengaku
mem- punyai sanad kesaksian atas sejarah awal mula Warak Ngendog dan
tradisi Dugderan. Dia mengaku bahwa Warak Ngendog diciptakan oleh Kyai
Abdul Hadi seorang seniman, mantan tukang kayu dan pandai mendalang
dan membuat patung hewan yang sampai sekarang dikenal dengan Warak
Ngendog. Menurut- nya, Kyai Abdul Hadi merangkai kayu dan rumput
menjadi hewan sebagai simbol nafsu manusia, yaitu bersisik, mulutnya
menganga dengan gigi bertaring, serta bermuka seram dengan badan seperti
kambing. Itu gambaran nafsu yang harus dikalahkan dengan puasa. Maskot
yang dilengkapi dengan telur (endhog) ini maksudnya apabila seseorang bisa
bersikap wira’i atau warak yang artinya menjaga nafsunya, maka akan
mendapatkan ganjaran yang disimbolkan dengan telur atau endhog.
Demikianlah, keragaman budaya multietnik terlihat dalam keutuhan karya
yang disebut dengan Warak Ngendog.
Kesaksian H. Kholid tersebut seperti tertuang dalam beberapa
pernyataan berikut:
“Guru saya, Kiai Masrur mendapat cerita dari gurunya, Kiai Zaid. Kiai
Zaid yang merupakan kakek dari Mbah Munif Girikusumo ini mendapat
riwayat dari gurunya, Kiai Abdul Hadi. Mbah Hadi inilah sahabat sekaligus
guru ngaji Adipati Surohadimenggolo alias Simbah Terboyo. Kita tahu,
165Supramono, “Makna Warak Ngendog dalam Tradisi Ritual Dugderan...” 88-9.
166Edy Muspriyanto, Semarang Tempo Doeloe: Meretas Masa (Semarang: Terang Publishing, 2006), 114.
113
beliau adalah waliyullah yang makamnya ada di belakang masjid keramat
Terboyo.”167
Inti dari kisah bersambung tersebut, jelas Kholid, Adipati
Surohadimeng- golo yang memerintah di masa VOC berkeluh kesah kepada
gurunya, Mbah Hadi. Sang Adipati ingin berbuat sesuatu untuk membimbing
ibadah rakyatnya dalam berpuasa. Mbah Hadi menyarankan agar Bupati
membuat pertemuan dengan rakyat dan membuat tengara masuknya bulan
puasa. Usul Kiai Abdul Hadi diterima Adipati Surohadimenggolo. Dia pun
meminta tolong guru sekaligus sahabatnya itu untuk membuat maskot acara
pertemuan besar yang digagasnya itu. Kiai Abdul Hadi yang seorang
seniman, mantan tukang kayu dan pandai mendalang, membuat patung
hewan yang sampai sekarang kita kenal sebagai Warak Ngendog.
“Mbah Hadi merangkai kayu dan rumput menjadi hewan simbol nafsu
manusia. Yaitu bersisik, mulutnya menganga dengan gigi bertaring, serta
bermuka seram dengan badan seperti kambing. Itu gambaran nafsu yang
harus dikalahkan dengan puasa. Maskot ciptaan Kiai Hadi itu dilengkapi
telur. Sang guru ini menerangkan kepada adipati muridnya, bahwa jika orang
bisa bersikap wira’i atau warak yang artinya menjaga nafsunya, maka akan
dapat ganjaran. Simbolnya telur alias endog. Puas dengan maskot tersebut,
Adipati Hadimenggolo lantas mengumumkan kepada warga Semarang untuk
berkumpul di alun-alun (depan Masjid Kauman sekarang). Dia lalu meminta
takmir masjid Kauman membunyikan meriam tanda akan datangnya bulan
Ramadhan. Sejak saat itu, masyarakat membuat Warak Ngendog sebagai
simbol datangnya Ramadhan”.168
Bunyi meriam dug dan der itulah yang kemudian melahirkan istilah
Dug- deran, yaitu nama festival menyambut bulan puasa. Sedangkan
masyarakat desa, termasuk Demak, mengenal istilah Megengan untuk
menyebut masa itu. Megengan dalam bahasa Jawa berarti mengekang atau
manahan. Maksudnya mengekang hawa nafsu yang istilah Arabnya Warak
itu (wara’). Lantas, per- tanyaan pun muncul mengapa selama ini Pemkot
Semarang menyebut festival Dugderan dicanangkan oleh Adipati Aria
Purbaningrat pada tahun 1881. Ber- kaitan dengan hal ini Kholid sebagai
sejarawan Semarang, mengaku tidak tahu dasar Pemkot mengambil tokoh
tersebut. Yang jelas, Kholid mendapat cerita seperti yang selama ini beredar
di masyarakat.
Sampai sekarang, orang desa menyebut festival jelang Ramadhan adalah
megengan. Kalau orang kota lebih sering mendengar istilah Dugderan. Sebab
167Hamzah Sahal, “Ihwal Warak Ngendok dan Dugderan,” NU Online, 2011,
http://www.nu.or.id/post/read/33261/ihwal-warak-ngendok-dan-dugderan. Diakses 30 Maret 2018
168 Sahal.
114
memang penanda datangnya puasa adalah bunyi meriam di masjid Kauman,
Dug dan Der. Saya mendapat cerita secara mutawatir (ber- kesinambungan)
dari jalur keilmuan guru saya hingga gurunya Adipati. Saya kira sejarah
Semarang memang perlu diteliti kembali dan dicari titik temunya”.169
Melalui tradisi Dugderan ini Muslim urban kota Semarang mampu me-
rumuskan simbol-simbol ritual warisan leluhur sebagai tameng tradisi yang
kuat sebagai masyarakat urban. Terlihat di sini, masyarakat urban
membangun tradisi kolektif tidak melulu dihubungkan dengan pembagian
kerja, namun masih banyak masyarakat urban yang memiliki perayaan
kebudayaan mengikat sebagai solidaritas sosial.
Salah satu fungsi ritual adalah menghadirkan kembali nilai-nilai yang
sering dilupakan karena kesibukan keseharian. Fungsi ritual ini, selain
menguatkan kembali masyarakat Muslim urban juga sebagai pengingat hal-
hal penting lain ketimbang kesibukan bekerja. Ritual merupakan indeks bagi
sebuah struktur yang terbangun dari kelompok-kelompok itu. Ritual lebih
penting dari struktur karena merupakan ekspresi langsung dari struktur
pengelompokan itu sendiri. Ritual tidak hanya mengekspresikan tetapi juga
menguatkan kembali peng- hormatan yang dimiliki seseorang terhadap
objek-objek sakral. Di sini masya- rakat Muslim urban telah mewujudkannya
dalam bentuk ritual Dugderan.
Menilik proses ritual yang berkembang sepanjang sejarah secara intens
setiap tahunnya, penulis melihat setidaknya Warak Ngendog dalam tradisi
Dugderan merupakan bagian dari representasi identitas Muslim urban di
Kota Semarang. Terlihat, pola relasi keberagamaan dan ritual simbol-simbol
ke- budayaan menjadi khas bagi kalangan masyarakat Muslim urban di Kota
Semarang. Masyarakat yang notabenenya sangat individualis dan rasional,
namun masih menjaga tradisi lokalitasnya. Barangkali ini terjadi tidak hanya
di Kota Semarang, tetapi paling tidak Semarang merupakan salah satu dari
kota- kota lain di Indonesia yang masih kental denga nuansa santri dan
hibriditasnya.
Pengertian Tradisi
Tradisi dalam kamus antropologi sama dengan adat istiadat, yakni
kebiasaan-kebiasaan yang bersifat magsi-religius dari kehidupan suatu
penduduk asli yang meliputi mengenai nilai-nilai budaya, norma-norma,
hukum dan aturan- aturan yang saling berkaitan, dan kemudian menjadi
suatu sistem atau peraturan yang sudah mantap serta mencakup segala
konsepsi sistem budaya dari suatu kebudayaan untuk mengatur tindakan
169Ibid.
115
sosial.170 Sedangkan dalam kamus sosiologi, diartikan sebagai adat istiadat
dan kepercayaan yang secara turun temurun dapat dipelihara.171
Tradisi adalah kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari
masa lalu namun masih ada hingga kini dan belum dihancurkan atau dirusak.
Tradisi dapat di artikan sebagai warisan yang benar atau warisan masa lalu.
Namun demikian tradisi yang terjadi berulang-ulang bukanlah dilakukan
secara kebetulan atau disengaja.172 Lebih khusus lagi, tradisi dapat melahirkan
kebudayaan dalam masyarakat itu sendiri. Kebudayaan yang merupakan
hasil dari tradisi memiliki paling sedikit tiga wujud, yaitu:173
a) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan,
nilai- nilai, norma-norma, peraturan (ideas);
b) wujud kebudayaan sebagai sebagai kompleks aktivitas serta
tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat (activities);
c) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia
(artifact)
Fungsi Tradisi174
Suatu tradisi memiliki fungsi bagi masyarakat, antara lain :
a) Tradisi adalah kebijakan turun temurun. Tempatnya di dalam
kesadaran, keyakinan, norm, dan nilai yang kita anut kini serta
di dalam benda yang diciptakan di masa lalu. Tradisi pun
menyediakan fragmen warisan historis yang dipandang
bermanfaat. Tradisi seperti onggokan gagasan dan material
yang dapat digunakann dalam tindakan kini dan untuk
membangun masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu.
b) Memberikan legitimasi terhadap pandangan hidup, keyakinan,
pranata, dan aturan yang sudah ada. semua ini memerlukan
pembenaran agar dapat mengikat anggotanya. Salah satu
sumber legitimasi terdapat dalam tradisi. Biasa dikatakan:
“selalu seperti itu” atau “orang selalu mempunyai keyakinan
demikian”, meski dengan resiko yang paradoksal yakni bahwa
tindakan tertentu hanya dilakukan karena orang lain melakukan
hal yang sama di masa lalu atau keyakinan tertentu diterima
semata-mata karena mereka telah menerimanya sebelumnya.
170A rriyono dan Siregar, Aminuddi. Kamus Antropologi.(Jakarta : Akademik Pressindo,1985) hal. 4
171Soekanto, Kamus Sosiologi. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,1993), hal. 459
172Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, ( Jakarta: Prenada Media Grup, 2007), Hal. 69
173 Mattulada, Kebudayaan Kemanusiaan Dan Lingkungan Hidup, (Hasanuddin University Press, 1997),
Hal. 1
174Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, ( Jakarta: Prenada Media Grup, 2007), hal. 74-75
116
c) Menyediakan simbol identitas kolektif yang meyakinkan,
memperkuat loyalitas primordial terhadap bangsa, komunitas
dan kelompok. Tradisi nasional dengan lagu, bendera, emblem,
mitologi, dan ritual umum adalah contoh utama. Tradisi
nasional selalu dikaitkan dengan sejarah, menggunakan masa
lalu untuk memelihara persatuan bangsa.
d) Membantu menyediakan tempat pelarian dari keluhan,
ketidakpuasan, dan kekecewaan kehidupan modern. Tradisi
yang mengesankan masa lalu yang lebih bahagia menyediakan
sumber pengganti kebanggaan bila masyarakat berada dalam
krisis.
Pengertian Ritual
Ritual merupakan teknik (cara, metode) membuat suatu adat kebiasaan
menjadi suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, juga adat sosial dan
agama, karena ritual merupakan agama dalam tindakan.175 Ritual bisa pribadi
atau berkelompok, serta membentuk disposisi pribadi dari pelaku ritual
sesuai dengan adat dan budaya masing-masing. Sebagai kata sifat, ritual
adalah dari segala yang dihubungkan atau disangkutkan dengan upacara
keagamaan, seperti upacara kelahiran, kematian, pernikahan dan juga ritual
sehari-hari untuk menunjukan diri kepada kesakralan suatu menuntut
diperlakukan secara khusus.176
Menurut Susane Longer, yang dikutip oleh Mariasusai Dhavarnony,
mengatakan bahwa ritual adalah sesuatu ungkapan yang lebih bersifat logis
dari pada yang bersifat psikologis, ritual memperlihatkan tatanan atas
simbul-simbul yang diobjekkan, simbul- simbul ini memperlihatkan perilaku
dan peranan serta bentuk pribadi para pemuja dan mengikuti mengikuti
masing-masing.177
Menurut Mercea Eliade, sebagaimana dikutip oleh Mariasusai
Dhavamory, menyatakan bahwa “ritual adalah sesuatu yang mengakibatkan
suatu perubahan ontologis pada manusia dan mentransformasikannya pada
situasi keberadaan yang baru, misalnya; penempatan-penempatan pada
lingkup yang kudus”. Dalam makna religiusnya, ritual merupakan gambaran
yang suci dari pergulatan tingkat dan tindakan, ritual mengingatkan
peristiwa-peristiwa primordial dan juga memelihara serta menyalur pada
masyarakat, para pelaku menjadi setara dengan masa lampau yang suci dan
175 Mariasusai Dhavamony, Fenomologi Agama ( Yogyakarta: Kanisius, 1995), 167.
176Bustanul Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2006), 95
177Ibid., 174.
117
melanggengkan tradisi suci serta memperbaharui fungsi-fungsi hidup
anggota kelompok tersebut.178
Ritual dibedakan menjadi empat macam, yaitu :179
a) Tindakan magis, yang dikaitkan dengan penggunaan bahan-bahan
yang bekerja karena daya-daya mistis.
b) Tindaka religius, kultur para leluhur juga bekerja dengan cara ini.
c) Ritual konstitutif, yang mengugkapkan atau mengubah hubungan
sosial dengan merujuk pada pengertian mistis, dengan cara ini
upacara-upacara kehidupan menjadi khas.
d) Ritual faktitif, yang meningkatkan produktivitas atau kekuatan
pemurnian dan perlindungan atau dengan cara meningkatkan
kesejahteraan materi suatu kelompok. Oleh karena itu, menjadi
jelas bahwa terdapat karakter dari pengalaman para peserta dalam
upacara ritual yang meliputi takut dan tertarik, negatif dan positif,
sikap tabu dan sikap preservasi serta proteksi.
Macam-macam Ritual
Sesuai dengan kebutuhan individu dalam memperkokoh keimanan dan
mempererat hubungan dengan Yang Maha Kuasa dalam kehidupan manusia,
terbentuk beberapa macam ritual diantaranya:
1. Ritual Suku-Suku Primitif
Kepercayaan suku-suku primitif terhadap ritual adalah berupa bentuk-
bentuk dari sesajian sederhana buah-buahan pertama yang ditaruh di hutan
atau di ladang, sampai pada upacara-upacara yang rumit di tempat-tempat
yang dianggap suci. Suku-suku primitif ini melakukan ritual dengan cara
tari-tarian dan melakukan upacara yang rumit. Pada upacara tersebut, para
peserta menggunakan topeng- topeng dengan maksud untuk mengidentikkan
diri mereka dengan roh-roh. Tujuan dari ritual ini adalah untuk mewujudkan
atau mengulangi peristiwa primordial, sehingga dunia, kekuatan-kekuatan
vital, hujan, dan kesuburan diperbaharui serta roh-roh leluhur atau dewa-
dewa dipuaskan dan keamanan mereka dijamin.180
2. Ritual Hindu
Ada 2 macam ritual orang Hindu, yakni ritual keagamaan vedis dan
agamis.181 Ritual vedis pada pokoknya meliputi korban- korban kepada para
dewa. Suatu korban berupa melakukan persembahan, seperti mentega cair,
butir-butir padi, sari buah soma, dan dalam kesempatan tertentu juga
178Ibid., 183
179 Dhavamony, Fenomenologi.,175.
180Mariasusai, Fenomenologi., 168.
181Ibid, 171.
118
binatang, kepada suatu dewata. Biasanya, sesajian ini ditempatkan pada baki
suci kemudian dilemparkan ke dalam api suci yang telah dinyatakan di atas
altar pengorbanan. Imam-imam mempersembahkan korban-korban melalui
perantara dewi api (Agni) yang menjadi perantara dewa dengan manusia.
Ritual vedis tidak hanya bertujuan untuk mengangkat dan memperkuat
prosedur-prosedur sekuler yang berkaitan, namun lebih dari itu ritual-ritual
ini menetapkan suatu hubungan antara dunia Illahi dengan dunia manusia,
bahkan memberi wawasan tentang hakikat yang Illahi.
Sedangkan ritual agamis memusatkan perhatian pada penyembahan
puja-pujaan, pelaksanaan puasa serta pesta-pesta yang termasuk bagian
agama Hindu. Orang Hindu tidak memandang pujaan sebagai penyerapan
seluruh keberadaan Tuhan. Mereka memandang gambaran itu sebagai suatu
lambang untuk Tuhan, dan bahkan ketika menyembah alam, mereka melihat
manifestasi dari kekuatan yang Illahi di dalamnya.182
3. Ritual Jawa
Jawa memiliki tradisi dan bermacam ritual yang beragam, ritual Jawa
ditujukan untuk keselamatan, baik diri sendiri, keluarga dan orang lain.
Dalam istilah Jawa ritual disebut slametan. Slametan merupakan suatu
kegiatan mistik yang bertujuan untuk memohon keselamatan baik didunia
dan diakhirat, ritual juga sebagai wadah bersama masyarakat, yang
mempertemukan berbagai aspek kehidupan sosial dan perseorangan pada
saat-saat tertentu.183 Contohnya: Ritual Kematian. Kematian merupakan
proses menuju kehidupan selanjutnya, pada masyarakat Jawa, kematian
adalah suatu hal yang sakral yang mana harus diadakan ritual supaya mayat
bisa sempurna dan arwahnya bisa diterima oleh yang maha kuasa, dalam
kebiasaan orang Jawa kerabat dan keluarga mengadakan beberapa acara
ritual, diantaranya, ritual surtanah, slametan telung dino, mitung Dino,
metang puluh dino, nyatus dino, nyewu dino dan terahir slametan mendak.184
Tujuan Ritual
Dalam antropologi, upacara ritual dikenal dengan istilah ritus. Ritus
dilakukan untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, agar mendapatkan
berkah atau rizki yang banyak dari suatu pekerjaan, seperti upacara sakral
ketika akan turun kesawah, ada yang untuk menolak bahaya yang telah atau
diperkirakan akan datang, ritual untuk meminta perlindungan juga
pengampunan dari dosa ada ritual untuk mengobati penyakit (rites of
healing), ritual karena perubahan atau siklus dalam kehidupan manusia.
Seperti pernikahan, mulai dari kehamilah, kelahiran (rites of passage cyclic
182Ibid, 172.
183Clifford Greertz, Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989). 13.
184Darori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa (Yogyakarta: Gama Media, 2002), 95
119
rites), kematian dan ada pula upacara berupa kebalikan dari kebiasaan
kehidupan harian (rites of reversal), seperti puasa pada bulan atau hari
tertentu, kebalikan dari hari lain yang mereka makan dan minum pada hari
tersebut. Memakai pakaian tidak berjahit ketika berihram haji atau umrah
adalah kebalikan dari ketika tidak berihram.185
Dalam setiap ritual penerimaan,ada tiga tahap, yaitu perpisahan,
peralihan dan penggabungan. Pada tahap persiapan, individu dipisahkan dari
suatu tempat atau kelompok atau status. Dalam setiap peralihan, ia disucikan
dan menjadi subjek bagi prosedur-prosedur perubahan. Sedangakan prosedur
pada masa penggabungan ia secara resmi ditempatkanpada suatu tempat,
kelompok atau status yang baru. Ritual penrimaan cenderung dikaitkan
dengan krisis-krisis hidup individu-individu, mereka mengajukan pendapat
untuk menambahkan suatu katagori baru, namun mirip secara fundamental,
yakni ritual intensifikasi. Ini merupakan lebih dari pada individu yang
terpusat meliputi upaca- upacara seperti tahun baru, yang mengantisipasi
akhir musim dingin dan permulaan musim semi, serta ritual-ritual perburuan
dan pertanian, serta ketersediaan buruan dan panenan.186
Ritual sebagai kontrol sosial bermaksud mengontrol perilaku
kesejahteraan individu bayangan. Hal itu semua dimaksudkan untuk
mengontrol, dengan cara konservatif, perilaku, keadaan hati, perasaan dan
nilai-nilai dalam kelompok demi komunitas secara keseluruhan.
Dalam semua kelompok masyarakat, ada dua macam inisiasi. Untuk itu,
diperlukan ritual yang menjamin keberhasilan, yakni perubahan peran dan
perpindahan geografis. Dalam kedua inisiasi ini, orang-orang yang
bersangkutan harus melepaskan keterkaitan dan kebiasaan lamanya serta
membentuk yang baru. Dengan kata lain, mereka harus belajar. Perubahan-
perubaha peran terjadi secara kurang lebih teratur dan dapat diramalkan pada
lingkaran-lingkaran hidup individu-individu. Meskipun perubahan peran ini
dan waktunya berbeda dari satu budaya dengan budaya yag lain, pada
umumnya terkaitan dengan kematangan fisiologi. Kelahiran, puberitas, dan
kematian merupakan objek-objek ritual yang universal. Melalui peristiwa-
peristiwa itu, pribadi masuk ke dalam relasi baru dengan dunia dan
komunikasi.
Memperoleh kesempatan-kesempatan baru bisa terkena bahaya- bahaya
baru, serta tanggung jawab yang baru pula. Tingkatan-tingkatan lain dalam
siklus kehidupan tampak jelas, perkawinan, belajar, perpindahan tingkat usia,
dan kelompok-kelompok sosial yang lain, mengemban tugas-tugas jabatan
atau melepaskan itu semua merupakan pokok-pokok dari ritual inisiasi.
185Bustanul Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia ( Raja Grafindo Persada, 2006 ), 96-97.
186Ibid.
120
Tidak semua perubahan peran dapat dicocokan dengan mudah ke dalam
kerangka lingkungan hidup.187
METODE PENELITIAN
Metode adalah keseluruhan proses ilmiah yang dipakai untuk mencari
solusi atas suatu masalah. Metode penelitian sendiri bisa didefinisikan
sebagai suatu prosedur yang dipakai untuk meraih tujuan akhir188. Sesuai
dengan objek penelitian yang adalah fenomena dan terjadi di lokasi
penelitian. Maka untuk penyusunan skripsi atau karya ilmiah, metode
penelitian yang akan digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian
kualitatif di lapangan dan akan menghasilkan data secara deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari pelaku dan dapat diamati secara langsung di
lokasi penelitian. Adapun penjelasan mengenai metode penelitian ini sebagai
berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang akan digunakan oleh peneliti pada penelitian ini
adalah jenis penelitian lapangan (Field research) yaitu merupakan bentuk
penelitian yang memiliki tujuan mengungkapkan makna yang diberikan oleh
anggota masyarakat kepada perilakunya dan fakta di sekitarnya.189. pada
penelitian ini akan menggunakan pendekatan secara Kualitatif dengan
penyampaian secara naratif deskriptif, artinya data yang nantinya diperoleh
akan dikumpulkan terlebih dahulu dan nantinya akan diwujudkan secara
langsung dalam bentuk deskripsi atau gambaran tentang keadaan atau
suasana objek secara keseluruhan dan apa adanya berupa kata-kata lisan atau
tulisan dari perilaku narasumber yang diamati oleh peneliti.190 Dan juga
peneliti dalam penelitian ini bermaksud untuk memahami fenomena tentang
apa yang terjadi dan dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan, dan lainya.191
Penelitian dengan metode kualitatif secara umum dapat digunakan untuk
penelitian tentang kehidupan di masyarakat, sejarah tingkah laku
fungsionalisasi organisasi, aktivis sosial dan lainya. Alasan menggunakan
pendekatan kualitatif salah satunya adalah pengelaman para peneliti dimana
187Ibid., 189-190.
188Sulistyo Basuki, Metode Pnelitian, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2006), hal. 92
189Salmon Priaji Martana. (2006). Problematika Penerapan Metode Field Research Untuk Penelitian
Arsitektur Vernakular Di Indonesia. DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur), 34(1), 59–66.
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ars/article/view/16458
190Moleong, J. Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2012), hlm. 11
191Rusmayanti, R., & Cristiana, E. (2013). Penggunaan Metode Pembiasaan Dalam Meningkatkan
Perilaku Moral Anak Kelompok B Di Tk Bina Anak Sholeh Tuban. Bk Unesa, Vol 4(1), 334.
http://ejournal.unesa.ac.id/article/9186/13/article.pdf
121
metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang ada
di balik suatu fenomena yang terkadang susah untuk dipahami.192
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan. Tempat penelitian adalah
wilayah Kota Semarang dan sekitarnya sesuai keperluan. Penelitian ini tidak
terbatas pada satu lingkup wilayah tertentu saja, tetapi secara selektif akan
menggali data di wilayah manapun yang memungkinkan. Tempat tempat
yang didatangi untuk penelitian antra lain kompleks Masjid Bear Kauman,
kantor-kantor pemerintah kota Semarang yang berkompeten (Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan, Badan Pusat Statistik), museum, perpustakaan,
dan wilayah-wilayah kecamatan yang terdapat perajin serta aktif mengikuti
prosesi Dugderan, serta tokoh-tokoh masyarakat, pelaku seni, dan akademisi
yang berkompeten.
3. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik untuk
mengumpulkan data dari sampel yang ada, yaitu:
a) Observasi
Observasi adalah teknik penelitian yang melakukan
pengamatan dan pencatatan terhadap suatu objek penelitian
menggunakan sistematika fenomena yang diamati berdasarkan
data yang ada, yaitu fakta mengenai fakta yang diperoleh melalui
observasi. Kemudian observasi terdapat tiga jenis, yaitu observasi
partisipatif (participant observation), observasi terang-terangan
dan tersamar (overt observation and convert observation), dan
observasi tidak terstruktur (unstructured observation).193
b) Wawancara
wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan
secara tatap muka antara peneliti dan narasumber sebagai sampel
dari objek penelitian. Metode wawancara ini juga bisa dilakukan
melalui media lainya, seperti zoom, whatsapp dan telepon seluler.
Teknik wawancara sendiri dilakukan secara langsung yaitu
mendengarkan secara langsung dari narasumber. Teknik
wawancara dibagi menjadi 2 yaitu: 1) wawancara terstruktur,
biasanya wawancara dengan metode ini dilakukan ketika
melakukan wawancara tahap awal dan biasanya dilakukan secara
formal. 2) Wawancara mendalam, wawancara dengan metode ini
192Saeful Rahmat, P. (2019). Resume Ragam Penelitian Kualitatif. Equilibrium, 2(9), 2.
https://doi.org/10.31227/osf.io/wtncz
193Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung” Alfabeta, 2016), hlm. 91
122
dilakukan dengan teknik deep interview yaitu mencari data dari
narasumber dengan tidak menimbulkan kesan bahwa peneliti
sedang melakukan wawancara.
c) Dokumentasi
Dokumentasi adalah perolehan dan pencarian data yang
diperlukan untuk penelitian melalui data yang sudah terkumpul.
Dokumentasi juga digunakan guna melengkapi data dalam
penelitian. Untuk dokumen dapat berupa tulisan, gambar atau
karya-karya dari objek penelitian. Dokumentasi bisa berbentuk
tulisan seperti catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi
dan sejenisnya.
4. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif, yaitu analisis yang tidak mengedepankan penghitungan
angka-angka, namun berupapernyataan-pernyataan deskriptif.
Proses analisis data dilaksanakan secara sistematis dan serempak
mulai dari proses pengumpulan data lewat beberapa teknik,
mereduksi, mengklarifikasi, mendeskripsikan, menyajikan data,
menyimpulkan, dan menginterpretasikan semua informasi secara
selektif194
KESIMPULAN
Tradisi Dugderan yang diwarnai dengan simbol Warak Ngendog dapat
dijadikan sebagai relasi multiagama dalam perspektif agama-gama. Simbol
Warak Ngendog dapat merepresentasikan keterbukaan bagi sesama manusia,
di mana Semarang menjadi salah satu contoh kota yang memiliki masyarakat
multikultural.
Tradisi Dugderan seperti dipaparkan pada makna Warak Ngendog me-
rupakan simbol identitas masyarakat Kota Semarang sebagai representasi
agama sipil yang di dalamnya mengandung nilai-nilai kesetaraan, solidaritas,
dan keterbukaan. Religiositas masyarakat Muslim urban di Kota Semarang
ditopang oleh kekuatan kultur dan tradisi yang masih dijaga dalam
lingkungan masyarakatnya.
Tradisi Dugderan dengan beragam simbol etnisitas di dalamnya me-
rupakan salah satu tradisi yang berkembang sejak tahun 1881 M di Masjid
Besar Kauman Semarang, dan ia menjadi jembatan bertahannya Islam
tradisional di Kota Semarang. Sebagaimana perkembangan permukiman
194Miles dan Huberman, 1994:10).
123
dengan nuansa santri di beberapa wilayah pinggiran kota misalnya, kota
Semarang bisa dikatakan menjadi salah satu kota santri di Indonesia.
Terbentuknya identitas dan karakteristik masyarakat Muslim urban kota
Semarang merupakan salah satu ekspresi keberagamaan dalam
multikulturalisme di Indonesia.
124
TRADISI GREBEG BESAR MASYARAKAT DI KABUPATEN
DEMAK
Zuli kurniawati
53040190033
Abstrak
Tradisi Grebeg besar merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap
setahun sekali pada bulan dzulhijjah di Kabupaten Demak. Tradisi Grebeg
besar ini diyaini sudah ada sejak kesultanan islam pertama di Demak saat di
pimpin oleh Sultan Fattah. Tradisi ini awalnya bertujuan untuk menyiarkan
agama Islam yang dilakukan Wali Songo. Tradisi ini terus berlangsungg
sampai sekarang dan terus dilestarikan di Kabupaten Demak. Tradisi ini
merupakan rangkaian acara yang dimulai dengan pembukaan dan acara
puncaknya adalah penjamasan pustaka Sunan kalijaga.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tradisi
Grebeg Besar di Demak yang dapat berlangsung hingga saat ini, dan untuk
mengetahui nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam tradisi Grebeg Besar
di Kabupaten Demak. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode
deskriptif kualitatif yaitu dengan penelitian lapangan. Sedangkan
pengumpulan datanya, dilakukan dengan cara wawancara.
Dari penelitian ini, ditemukan bertahannya tradisi Grebeg Besar di
Demak sampai sekarang karena adanya peran aktif dari pemerintah
Kabupaten Demak yang menjadikan Grebeg Besar sebagai agenda wisata
budaya tahunan unggulan Kabupaten Demak. Pendapatan daerah kabupaten
Demak juga meningkat selama prosesi Grebeg Besar. Adapun Nilai-nilai
yang terdapat dalam Grebeg Besar yaitu meliputi nilai religius, nilai gotong-
royong, nilai estetika, nilai kepimimpinan dan nilai ekonomi.
Kata kunci: Tradisi Grebeg Besar, nilai budaya
Pendahuluan
Agama islam di jawa memiliki karakter dan eskpresi keberagaman yang
unik, hal ini dikarenakan adanya akulturasi budaya dalam penyebaran agama
islam di tanah jawa yang dilakukan oleh Wali songo terutama Sunan
Kalijaga195. Agama islam masuk ke tanah jawa saat budaya dan tradisi nenek
moyang masih mengakar kuat dalam masyarakat Jawa196. Pola akulturasi
195Ummi Sumbulah, “ islam Jawa dan Akulturasi Budaya : Karakteristik, variasi, dan ketaatan Ekspresi”,
El harakah vol. 14 No. 1, (2012), h. 51
196 Ibid., h. 52
125
islam dengan budaya jawa dapat dilihat dari ekspetasi tradisi yang
dilaksanakan di daerah Jawa termasuk salah satunya tradisi Grebeg Besar di
Demak. Banyaknya sumber Islam di Jawa bagian selatan dianggap bahwa
islam di Jawa bagian selatan lebih unik karena dinilai sinkretik. Padahal
praktik keagamaan Islam di pesisir utara pun tidak kalah menarik untuk di
teliti lebih dalam. Salah satu praktik keagamaan yang dimaksud adalah
Tradisi Grebeg Besar yang sampai saat ini tetap dilestarikan di Kabupaten
Demak197.
Demak merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Jawa
Tengah bagian utara, berbatasan dengan langsung dengan Kota Semarang
sebagai pusat pemerintahan di Jawa Tengah. Keberadaan Demak sebagai
kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan tokoh utamanya Sunan kalijaga
dan Raden Fattah 198yang di akui merupakan tokoh besar dan berpengaruh
dalam lintas sejarah kabupaten Demak. Pada abad XV agama Islam mulai
memasuki pulau Jawa, penyebarannya di pelopori oleh Wali Sembilan atau
lebih di kenal dengan sebutan Wali Songo. Salah satu Wali yang terkenal
adalah sunan Kalijaga. Cara sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama
Islam mudah diterima oleh semua kalangan, karena sunan kalijaga tidak
memperlakukan agama Islam sebagai sebuah ancaman kebudayaan Jawa
yang sudah mengakar199. Dalam berdakwah Sunan kalijaga mengenalkan
islam dengan pertunjukan wayang yang sangat digemari oleh masyarakat
saat itu200. Kehidupan social dan budaya masyarakat Demak lebih
berdasarkan pada agama dan budaya Islam, pada dasarnya Demak menjadi
pusat penyebaran agama Islam dan tempat berkumpulya wali201.
Masyarakat Demak sangat membanggakan dirinya sebagai warga kota
Wali. Tidaklah mengherankan jika kemudian beragam acara atau ritual yang
diperkenalkan oleh para wali masih berlangsung sampai saat ini dan menjadi
semacam acara ritual yang selalu di nantikan oleh masyarakat Demak. Salah
satu upacara ritual yang di selenggarakan masyarakat Demak adalah Grebeg
Besar.202
197 Siti Muawanah, “penjamasan pusaka sunan kalijaga”, Analisa Volume XVII no. 1, (januari-juni 2010),
h.73
198 Raden Fattah adalah Putra Majapahit, Brawijaya V dengan seorang selir dariCempa. Raden Fattah
kemudian berguru dengan sunan Ampel dan menikah dengan anak sulung dari Nyai Ageng Maloka, cucu
sunan Ampel, raden Fattah di angkat oleh Brawijaya V sebagai Adipati di Glagahwangi (demak) denga
sebutannn Adipati Natapraja (lihat : Ahmad Khalil, Islam Jawa Sufisme Dalam Etika dan Tradisi Jawa,
Malang : UIN Malang Press, 2008, h.61
199Siti Muawanah, “penjamasan pusaka sunan kalijaga”, Analisa Volume XVII no. 1, (januari-juni 2010),
h.75
200Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, (Depok: Pustaka IIMan, 2016), h. 267
201Soedjipto, Abimanyu, Babad Tanah Jawi, (jogyakarta:Laksana, 2014), h. 324
202Hamid, A. kasah, Grebeg Besar Kota Wali Demak, (Demak : CV. Cipta Adi Grafika, 2006), h.6
126
Tradisi Grebeg Besar merupakan upacara tradisional yang mempunyai
nilai ritual keagamaan bagi masyarakat Demak dalam rangkaian Hari Raya
Idul Adha diselenggarakan pada tanggal 10 Dzulhijjah yang dimaksudkan
sebagai tradisi penghormatan dan rasa syukur atas perjuangan para wali
dalam menyebarkan agama Islam terutama sunan Kalijaga. Grebeg besar
Berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa yaitu 'grebeg' dan 'besar'. Kata
grebeg yang menyerupai bunyi angin yang menderu diartikan sebagai
pengiring atau perkumpulan. Dan kata Besar penyebutan dari kata Bulan
Dzulhijjah dalam Bahasa Jawa. Sehingga dari tersebut dapat diartikan
sebagai perkumpulan besar pada bulan Dzulhijjah. Perkumpulan ini
dilakukan di Masjid Agung Demak
Berdasarkan wawancara dengan pembina yayasan Kadilangu
mengatakan bahwa acara grebeg besar dimulai dengan pembukaan dan acara
puncaknya adalah penjamasan pusaka Sunan Kalijaga. Bentuk kegiatannya
adalah ziarah ke makam para sultan kesultanan demak dan ke makam Sunan
Kalijaga. Pada malam hari menjelang tanggal 10 Zulhijah, diadakan
acara Tumpeng Sanga dan di Kadilangu diadakan Selamatan Ancakan. Pagi
hari pada tanggal 10 Dzulhijah, masyarakat melaksanakan salat idul adha di
Masjid Agung Demak. Setelah itu, dilakukan ritual utama dalam Grebeg
Besar Demak berupa penyucian benda pusaka yang disebut
dengan uborampe. 203
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraiakan diatas, maka peneliti
merumuskan permasalahan yaitu:
a) Bagaimana prosesi pelaksanaan tradisi Grebeg Besar di kabupaten
Demak?
b) Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Grebeg Besar di
Kabupaten Demak?
Tujuan Penelitian
merupakan merupakan apa yang ingin dicapai oleh peneliti dalam
melakukan penelitiannya. Maka tujuan penelitian ini yaitu:
a) Untuk mengetahui prosesi pelaksanaan tradisi Grebeg Besar di
kabupaten Demak?
b) Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi grebeg
besar di Kabupaten Demak
Manfaat Penelitian
203Setiyani (2011) “ Ritual Grebeg Besar di Demak Kajian Makna, fungsi dan Nilai”. Jurnal PP. 1 (2): 168
127
a) Dapat memberikan pengetahuan mengenai pelaksanaan grebeg besar
di Kabupaten Demak
b) Memberikan wawasan serta pemahaman terkait nilai-nilai yang
terkandung dalam grebeg besar di kabupaten Demak
Kajian Pustaka
Grebeg Besar merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan setahun sekali
di Kabupaten Demak, tradisi ini mampu bertahan ditengah-tengah
masyarakat modern sehingga tradisi ini tetap terjaga dan terus dilestarikan
sampai sekarang. Grebeg besar juga mampu mendatangkan banyak
pengunjungg sehingga sangt menarik untuk di teliti. Beberapa karya yang
berkaitan dengan Grebeg Besar bank ditemukan seperti buku, artikel, jurnal,
dan skripsi. Di bawah ini beberpa sumber yang dijadikan rujukan dalam
penulisan artikel ini, di antaranya:
Artikel yang ditulis oleh jefry Setya Ardianto dkk dalam jurnal ilmiah
dan ilmu pendidikan volume 5, no.2, February 2022 Mahasiswa Universitas
Muria kudus yang berjudul “Nilai-nilai Tradisi Grebeg Besar Di Demak”
menjelaskan beberapa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi grebeg besar
yang berkaitan dengan nilai dalam pendidikan karakter yaitu di antaranya
nilai kepemimpinan, nilai gotong-royong, nilai estetika, dan nilai religius
yang nilai nilai ini dapat memberikan pemahaman yang didalamnya mampu
diimplementasikan pada siswa sekolah dasar. Tidak hanya sekedar acara
sakral akan tetapi menjadi media silaturahmi dan persatuan. Artikel ini
sangat membantu penulis untuk memperoleh pengetahuan mengenai nilai-
nilai tradisi grebeg besar di demak.
Dalam Skripsi yang ditulis oleh Durrotul Muazah mahasiswa Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 29 April 2019 dengan judul
“pelestarian tradisi Grebeg Besar di Demak (1974-2016)” menjelaskan
bagaimana upaya pemerintah dalam melestaikan budaya tradisi grebeg besar
di Demak. Penulis menjadikan skripsi ini sebagai rujukan karena banyak
sekali informasi yang dapat di ambil berkiatan dengan tradisi grebeg besar di
demak dan nilai nillai yang terkandung didalamnya, seperti gambaran
tentang masyarakat demak, kondisi keagamaan masyarakat demak, kondisi
sosial dan budaya masyarakat demak, kondisi ekonomi masyarakat demak,
dan sumber lainya terkait asal usul grebeg besar, pelaksaan tradisi grebeg
besar dsb.
Artikel yang ditulis oleh Setiyanu dalam jurnal PP Volume 1, no.2,
Desember 2011 yang berjudul “Ritual Grebeg Besar Di Demak Kajian
makna, Fungsi dan Nilai” menjelaskan bahwa grebeg besar merupakan
sebuah ritual yang dilaksanakan setahun sekali padaa bulan besar (Dzulhjjah)
sebagai wujud penghormatan dan rasa syukur atas semua jasa paraleluhur
128
dalam mensyiarkan agama islam yang dilakukan oleh walisongo khususnya
sunan kalijaga. Dalam tulisannya dijelaskan makna dari setiap proses ritual
Grebeg Besar, fungsi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi grebeg
besar mempunyai fungsi sebagai upacara adat, media komunikasi, hiburan,
integrasi masyarakat, dan objek wisata. Kemudian nilai-nilai yang
terkandung dalam grebeg besar antara lain religi/ibadah, kerukunan,
solidaritas, kepemimpinan, tanggung jawab, gotong royong, estetika, etika
dan ekonomi. Tulisan in sangat bermanfaat bagi penulis untuk memperoleh
gambaran dari makna setiap proses ritual tradisi Grebeg Besar, fungsi dan
Nilainya.
Kajian Teori
a) Grebeg Besar Demak
Kata bahasa jawa Garebeg, Grebeg, Gerbeg, bermakna suara angin
yang merdu. Grebeg bisa juga diartikan dikumpulkan, digiring dan
dikepung. Adapun Grebeg Besar yang terkenal di Demak, kata besar
mengambil nama bulan yaitu bulan Besar (Dzul Hijjah).
Maka makna Grebeg Besar adalah kumpulnya masyarakat Islam pada
bulan Besar, sekali dalam setahun yaitu untuk suatu kepentingan dakwah
Islamiah di Masjid Agung Demak204. Grebeg Besar Demak merupakan
sebuah acara budaya tradisional Besar yang menjadi salah satu ciri khas
Demak. Tradisi Grebeg Besar Demak ini berlangsung setiap tahun pada
tanggal 10 Dzulhijjahsaat Idul Adha. Dimeriahkan dengan karnaval kirap
budaya yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak hingga ke Makam
Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Kadilangu205. Adapun prosesi
pelaksanaan upacara grebeg besar Demak ini meliputi:
1. Selamatan Tumpeng Sembilan
2. Selamatan Ancak
3. Tahlil dan Do’a
4. Proses minyak jamas dan prajurit patang puluhan
5. Acara puncak
6. Selametan Riyayan
7. Acara jabatan tangan
b) Nilai-Nilai Tradisi Grebeg Besar
1. Nilai Religius
204Muhammad Khafid Kasri Pujo Sumedi, Sejarah Demak Matahari Terbit Di Glagahwangi,
(Demak :Syukur, 2008), hlm.110
205 http://id.wikipedia.org/wiki/grebeg besar demak
129
Grebeg Besar merupakan suatu tradisi menyambut datangnya
lebaran haji yang bertepatan tanggal 10 Zulhijjah, menurut Ahmad Nur
(2013: 10) setiap acara dalam Grebeg Besar Demak mempunyai nilai
religi sebab Grebeg Besar merupakan suatu kegiatan yang memiliki
ajaran kepercayaan bagi umat Islam. Upacara Grebeg Besar dianggap
sebagai sarana upacara yang memiliki nilai ritual didalamnya, nilai
religius dalam tradisi Grebeg Besar dapat dilihat dari: Kesakralan acara,
Acara Tumpeng Sembilan, selametan ancak.
2. Nilai Gotong-Royong
Menurut Handayani (200:12), Gotong-royong merupakan bentuk
kerja sama masyarakat dalam mencapai tujuan bersama dan tradisi
gotong-royong ini sudah ada dan dilaksanakan masyarakat sejak zaman
dulu, Menurut Pamungkas (2018:86) Nilai gotong royong mengandung
tiga konsep dalam sistem nilai budaya masyarakat Indonesia yaitu:
Manusia tidak dapat hidup sendiri, Manusia merupakan makhluk yang
bergantung kepada sesamanya dalam segala aspek kehidupan, Manusia
harus selalu menjalin dan memelihara hubungan baik dengan
sesamanya.
3. Nilai Seni atau estetika
Tradisi Grebeg Besar mempunyai nilai seni dapat disaksikan
dalam acara iring-iringan minyak jamas sunan Kalijaga, selain itu juga
terdapat kesenian yaitu terdapat penampilan tari Bedaya tunggal jiwa
yang dibawakan oleh sembilan penari cantik dengan pakaian yang
indah. Menurut Pebrianti (2013: 123) gerak tari Bedhaya Tunggal Jiwa
memiliki makna yang terkadang di dalamnya yakni berisi tentang
ajaran-ajaran agama yang disebarkan oleh para wali. Tari bedhaya
sebagai wujud ekspresi nilai-nilai yang hidup lebih menanamkan sikap
gerak halus sebagaimana sesuai dengan ciri masyarakat jawa yang
sopan dan mengerti tata krama. Para penari juga menggunakan tasbih
sebagai sarana dzikir kepada allah.
4. Nilai Kepemimpinan
Pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin. Perbedaanya
terletak pada bagaimana potensi tersebut dikembangkan. Jhon (2008:6)
berpendapat bahwa nilai yang paling mendasar dalam kepemimpinan
adalah menghargai kemuliaan, keberanian dan kerendahan hati, nilai
kepemimpinan yang terdapat dalam tradisi Grebeg Besar terlihat dalam
acara pembukaan dan beberapa upacara yang dipimpin oleh Bupati
Demak.
5. Nilai Ekonomi
130
Menurut Muawanah (2010:85) Pemerintah selain melestarikan
budaya lokal juga mendapatkan pendapatan dari tradisi Grebeg Besar,
adanya keramaian di area tradisi Grebeg Besar memberi peluang
pemerintah menyewakan tempat berdagang, selain itu masyarakat juga
dapat memperoleh keuntungan dengan berjualan selama tradisi Grebeg
Besar berlangsung. Tradisi Grebeg Besar juga mengandung nilai
pariwisata, penyelenggaraan ritual Grebeg Besar juga dapat juga
dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan ekonomi masyarakat
kabupaten Demak, sebagai masyarakat Demak, warga dapat turut
mensukseskan serta meramaikan perayaan Grebeg Besar. Perayaan
Grebeg Besar mampu memberikan kesempatan yang luas bagi
masyarakat untuk mendapatkan sumber penghasilan dalam kegiatan
ekonomi produktif.
Fokus Penelitian
Peneletian ini difokuskan pada penggambaran prosesi pelaksanaan
Grebeg Besar di Demak dan pemahaman nilai-nilai yang terkandung dalam
tradisi grebeg besar di Kabupaten Demak.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library
research) yakni dengan mengumpulkan bahan-bahan daari berbagai tulisan
baik dari buku-buku, makalah, jurnal, internet dan lain sebsgainya yang
mempunyai keterkaitan dengan permasalahan yang dibahasa, sekaligus
penelitian lapangan (Field research). Penelitian lapangan yaitu kegiatan
penelitian dengan cara mengumpulkan data dengan berada langsung pada
objeknya, terutama dalam usahanya mengumpulkan data dan berbagai
informasi. Peneliti terjun ke lapangan untuk melaksanakan penelitian secara
langsung ke beberapa tempat di antaranya Makam Kadilangu, Masjid Agung
Demak, dan lingkungan sekitar kota Demak, teknik pengumpulan data ini
melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Tahap analisis data dalam penelitian sugiono (2008:91) meliputi reduksi
data, penyajian data atau display data dan kesimpulan. Penelitian ini
melibatkan Pembina yayasan kadilangu dan masyarakat kabupaten Demak.
Penelitian ini menganalisis bagaimana pelaksanaan tradisi grebeg besar yang
mengandung nilai-nilai didalamnya, nilai yang terdapat dalam tradisi grebeg
besar yaitu nilai religius, nilai gotong-royong, nilai estetika, nilai
kepemimpinan, dan nilai ekonomi.
Pembahasan
131
Grebeg besar Berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa yaitu 'grebeg' dan
'besar'. Kata grebeg yang menyerupai bunyi angin yang menderu diartikan
sebagai pengiring atau perkumpulan. Jadi grebeg bisa berarti dikumpulkan
dalam suatu tempat untuk kepentingan khusus. Adapun, kata “Besar” adalah
mengambil nama bulan yaitu bulan Besar (Dzulhijah). Maka makna Grebeg
Besar adalah kumpulnya masyarakat Islam pada bulan Besar, sekali dalam
setahun yaitu untuk suatu kepentingan da’wah Islamiyah di Masjid agung
Demak. Tradisi Grebeg Besar ini merupakan perwujudan rasa syukur
terhadap perjuangan para wali yang telah berjasa meyebarkan agama islam di
Demak terutama Sunan Kalijaga. Tradisi Grebeg Besar juga djadikan sarana
dakwah Islamiyah. Tradisi Grebeg di Demak yang jatuh pada bulan
Dzulhijjahh diyakini pertama kali diadakan pada tanggal 10 Dzulhijjah tahun
1428 (tahun 1506 Masehi) bersamaan dengan datangnya peringatan Hari
Raya Iidul Adha ( Qurban) atau hari Raya Haji206. Tradisi Grebeg besar
merupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh raja-raja islam di tanah Jawa
seperti kesultanan Yogyakarta, kesultanan Surakarta, maupun Kesultanan
Demak. Tradisi Grebeg banyak macamnya seperti Grebeg Syawal, Tradisi
grebeg maulud, dan tradisi Grebeg Besar207.
Tradisi grebeg besar yang diadakan setahun sekali di Kabupaten Demak
ini mendatangkan banyak pengunjung, yang datang dari Demak sendiri
maupun yang datang dari kota kota lain. Pengunjung biasanya datang untuk
menyaksikan tradisi Grebeg besar sekaligus ziarah ke makam Raden Fatah
yang terletak di komplek Masjid Agung Demak dan ziarah ke makam sunan
kalijaga di kadilangu. Bagi masyarakat Demak, adanya grebeg besar
merupakan bentuk pelestarian budaya dengan ikut serta meramaikan dan
mengikuti rangkaian acara dalam acara tradisi Grebeg Besar. Masyarakat
selain mendapatkan hiburan dengan adanya keramaian di Tembiring Jogo
Indah. Masyarakat juga yakin akan merasakan ketentraman dengan
mengikuti serangkaian prosesi Grebeg Besar di Demak. 208
Tradisi Grebeg Besar ini merupakan tradisi religius yang diwariskan
secara turun temurun. Tradisi ini dipercaya merupakan perwujudan yang kuat
terhadap adat istiadat yang diwariskan leluhur dan diyakini dapat dapat
memberikan keseimbangan dalam kehidupan. Tradisi ini terus dilestarikan
dan di kembangkan dengan menambah beberapa rangkaian acara seperti
206 Hartati, dkk, Upacara Tradisonal Jawa Tengah, (Semarang : Proyek Inventaris dan Dokumentasi
Kebudayaan Daerah Jawa Tengah, 1989), h. 12
207 Nur Achmad, “Perayaan Grebeg Besar Sebagai Sarana Komunikasi Dakwah, “ At Tabsyir Vol. 1 dan 2,
(Juli-Desember 2013), h. 12
208Nur Achmad, “Perayaan Grebeg Besar Sebagai Sarana Komunikasi Dakwah, “ At Tabsyir Vol. 1 dan 2,
(Juli-Desember 2013), h. 5
132
ziarah ke makam Raden Fattah di komplek Masjid Agung Demak dan
makam Sunan Kalijaga di kadilangu, serta penjamasan pusaka sunan
Kalijaga di Kadilangu. Untuk prosesi pelaksanaan upacara grebeg besar
Demak ini meliputi:
a. Selamatan Tumpeng Sembilan
b. Selamatan Ancak
c. Tahlil dan Do’a
d. Proses minyak jamas dan prajurit patang puluhan
e. Acara puncak
f. Selametan Riyayan
g. Acara jabatan tangan
Dari acara keseluruhan grebeg besar ada yang menarik yaitu pada malam
tanggal 9 Dzulhijjah di serambi Masjid Agung Demak diadakan tumpeng
Sembilan atau tumpeng songo yang berbentuk gunungan atau kerucut yang
mencerminkan jumlah Wali Songo. Dalam acara tumpeng Sembilan yang
dijadikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas segala
kenikmatan, namun juga digunakan sebagai dakwah islamiyah yang di hadiri
masyarakat demak dan kota sekitarnya. Setelah acara resmi berupa selamatan
yang dihadiri oleh Bupati Demak, para pejabat dan sesepuh masyarakat
setempat, tumpeng sembilan diperebutkan atau diraya pengunjung. Dengan
memperoleh bagian tumpeng para pengunjung mempunyai suatu
kepercayaan. Hidupnya akan dekat dengan rezeki yang dianugerakan oleh
Allah SWT. Bahkan potongan-potangan bambu yang dipakai untuk membuat
ancakan atau welat menurut mereka mempunyai keampuhan. Dapat
dipergunakan untuk penangkal serangan hama disawah, serta panen
perkebunan dan pertanian lainnya. Yang juga banyak mengundang perhatian
baik warga Demak maupun para pengunjung dari Grebeg Besar adalah
mengarak dari pendopo kebupaten ke komplek makam Kadilangu dilakukan
setelah selesai salat Idul Adha dan khatbah pada 10 Zulhijah. Menjelang
pemberangkatan minyak jamas pusaka kutang ontokusuma 209dan keris Kyai
Carubuk, diawali dengan penabuhan gamelan hidup hingga nampak (regeng)
meriah dan para tamu yang semuanya berbusana kejawen dihibur dengan
Tari-tarian Budaya Jawa. Pensucian pusaka Sunan Kaljjaga merupakan
209 Kutang Ontokusuma adalah sejenis baju tanpa lengan, yang dalam bahasa jawa disebut kutang.
Menurut Babad tanah jawa, begitu pembangunan masjid Agung Demak selesai dan orang-orang selesai
melaksanakan sholat subuh, Sunan Bonang melihat sebuah bungkusan aneh tergantung di atas mihrab.
Sunan boning kemudian memerintahkan sunan kalijaga untuk mengambilnya. Menurut kepercayaan
setempat, begitu membuka bungkusan menemukan surat yang mengatakan bahwa baju tersebut berasal
dari Nabi Muhammad SAW. Para wali mencobanya tapi tak seorangpun yang pas memakianya kecuali
Sunan Kalijaga. (Lihat dalam Artikel yang ditulis oleh Siti Muawanah, Penjemasan Pusaka Sunan Kalijaga,
Analisa Volume XVII No. 1. Januari-Juni 2010,h. 78-79
133
lambang bahwa ajaran yang telah diberikan kepada murid-muridnya maupun
anak cucunya, jangan sampai dilupakan, harus tetap dilestarikan, ditaati serta
diamalkan dalam kehidupan.
Namun saat ini tradisi Grebeg Besar banyak diisi dengan wahana
permainan dan hiburan dangdut dibandingkan sebagai media pelestarian
budaya sehingga menghilangkan makna dari Grebeg Besar itu sendiri.
Permasalahan yang ditemukan adalah kurangnya pengetahuan remaja
kabupaten Demak tentang sejarah dan nilai-nilai penting dari perayaan
Grebeg Besar Demak. Pengaruh modernisai mengakibatkan sejarah dan
kebudayaan Demak semakin tersingkirkan, bahkan seolah hanya menjadi
kisah kesuksesan di masa lalu yang cenderung terlupakan. Saat ini
pemaknaan pelaksanaan budaya Grebeg Besar mengalami pergeseran, dari
sebagai wujud bulu bekti kepada para wali menjadi sarana memenuhi target
pasar dan hiburan. Maka dari itu sudah menjadi kewajiban masyarakat
khususnya pemerintah kabupaten Demak untuk nguri-nguri atau
melestarikan tradisi ini.
Adapun Nilai-Nilai yang terkandung dalam Tradisi Grebeg Besar adalah
sebagai berikut:
1. Nilai Religius
Grebeg Besar merupakan suatu tradisi menyambut datangnya lebaran
haji yang bertepatan tanggal 10 Zulhijjah, menurut Ahmad Nur (2013: 10)
setiap acara dalam Grebeg Besar Demak mempunyai nilai religi sebab
Grebeg Besar merupakan suatu kegiatan yang memiliki ajaran kepercayaan
bagi umat Islam. Upacara Grebeg Besar dianggap sebagai sarana upacara
yang memiliki nilai ritual didalamnya, nilai religius dalam tradisi Grebeg
Besar dapat dilihat dari:
a. Kesakralan acara
Grebeg besar merupakan suatu ritual yang dilaksanakan penuh
dengan makna sebagai penghormatan terhadap walisongo dalam
penyebaran agama Islam khusunya di Pulau Jawa, maka dari itu,
setiap kegiatan yang dilakukan didalamnya dilaksanakan dengan
khidmat dan sakral, contoh kegiatan yang dilaksanakan secara
sakral adalah ziarah ke makam leluhur Sultan Bintoro dan dan
Sunan Kalijaga di Kadilangu. Ziarah makam merupakan suatu
ungkapan kehormatan terhadap sultan-sultan Demak atau Wali
yang berjasa dalam penyebaran Agama Islam di pulau Jawa,
khususnya di Demak. Ziarah merupakan pelestarian budaya secara
turun-temurun di masyarakat. Kegiatan yang dilakukan selama
ziarah antara lain adalah doa dan menabur bunga, Menurut
Purwadi (2006: 3) ziarah kubur merupakan bentuk ibadah yang
134
bertujuan agar peziarah dapat mengambil pelajaran dengan selalu
mengingat kematian, dalam melakukan ritual dan tradisi ziarah
kubur selain sebagai sarana untuk mendoaakan para wali, peziarah
juga akan mendapatkan karomah dari para wali tersebut.
b. Acara Tumpeng Sembilan
yang melambangkan sembilan wali, kegiatan yang menarik
dalam tradisi Grebeg Besar adalah pada malam 9 zulhijjah yaitu
acara tumpeng sembilan, Tumpeng berbentuk kerucut menjulang
ke atas mempunyai makna agar manusia selalu ingat kepada Allah.
Tumpeng yang berbentuk kerucut yang lancip mempunyai makna
do’a yang dipanjatkan manusia kepada Allah. Effendy (2014:23)
berpendapat bahwa tumpeng sembilan merupakan acara selamatan
dengan tujuan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
diberikan keselamatan.
c. Selamatan ancak
Selamatan ancak merupakan doa bersama yang dihadiri oleh
ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga, Ancakan sendiri adalah tempat
nasi dan lauk pauk yang terbuat dari anyaman bambu, tumpeng
ancakan biasanya terdiri dari nasi lauk pauk dan kuluban.
Selamatan ancak ini diawali dengan prakata dari sesepuh ahli waris
Kanjeng Sunan Kalijaga yang mengatakan bahwa tujuan dari
selamatan ancak adalah untuk memohon kepada allah SWT agar
diberikan keselamatan dan harapan dalam pelaksanaan penjamasan
pusaka yang dilakukan kesesokan harinya
2. Nilai Gotong-Royong
Menurut Handayani (200:12), Gotong-royong merupakan bentuk kerja
sama masyarakat dalam mencapai tujuan bersama dan tradisi gotong-royong
ini sudah ada dan dilaksanakan masyarakat sejak zaman dulu, Menurut
Pamungkas (2018:86) Nilai gotong royong mengandung tiga konsep dalam
sistem nilai budaya masyarakat Indonesia yaitu:
a. Manusia tidak dapat hidup sendiri.
b. Manusia merupakan makhluk yang bergantung kepada sesamanya
dalam segala aspek kehidupan
c. Manusia harus selalu menjalin dan memelihara hubungan baik
dengan sesamanya.
Bentuk nilai gotong-royong dalam tradisi Grebeg Besar dapat dilihat
dalam pembentukan panitia acara persiapan pengajian, pembawaan tumpeng
135
sembilan yang dibantu oleh beberapa warga, selain itu juga terdapat
kerukunan yang dapat dilihat antara sesama penjual dengan tidak berebut
pembeli. Setyarini (2011:168).
3. Nilai Seni atau estetika
Tradisi Grebeg Besar mempunyai nilai seni dapat disaksikan dalam
acara iring-iringan minyak jamas sunan Kalijaga, selain itu juga terdapat
kesenian yaitu terdapat penampilan tari Bedaya tunggal jiwa yang dibawakan
oleh sembilan penari cantik dengan pakaian yang indah. Menurut Pebrianti
(2013: 123) gerak tari Bedhaya Tunggal Jiwa memiliki makna yang
terkadang di dalamnya yakni berisi tentang ajaran-ajaran agama yang
disebarkan oleh para wali. Tari bedhaya sebagai wujud ekspresi nilai-nilai
yang hidup lebih menanamkan sikap gerak halus sebagaimana sesuai dengan
ciri masyarakat jawa yang sopan dan mengerti tata krama. Para penari juga
menggunakan tasbih sebagai sarana dzikir kepada allah (Setyaningsih
(1998:13). Selain itu seni lain yang terlihat dalam tradisi Grebeg Besar
adalah kostum yang dipakai dalam acara penjamasan pusaka sunan Kalijaga
pada acara tumpeng sembilan yaitu menggunakan pakaian khas Jawa.
1. Nilai Kepemimpinan
Pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin. Perbedaanya terletak
pada bagaimana potensi tersebut dikembangkan. Jhon (2008:6) berpendapat
bahwa nilai yang paling mendasar dalam kepemimpinan adalah menghargai
kemuliaan, keberanian dan kerendahan hati, nilai kepemimpinan yang
terdapat dalam tradisi Grebeg Besar terlihat dalam acara pembukaan dan
beberapa upacara yang dipimpin oleh Bupati Demak.
2. Nilai Ekonomi
Menurut Muawanah (2010:85) Pemerintah selain melestarikan budaya
lokal juga mendapatkan pendapatan dari tradisi Grebeg Besar, adanya
keramaian di area tradisi Grebeg Besar memberi peluang pemerintah
menyewakan tempat berdagang, selain itu masyarakat juga dapat
memperoleh keuntungan dengan berjualan selama tradisi Grebeg Besar
berlangsung. Tradisi Grebeg Besar juga mengandung nilai pariwisata,
penyelenggaraan ritual Grebeg Besar juga dapat juga dijadikan sebagai salah
satu sumber pendapatan ekonomi masyarakat kabupaten Demak, sebagai
masyarakat Demak, warga dapat turut mensukseskan serta meramaikan
perayaan Grebeg Besar. Perayaan Grebeg Besar mampu memberikan
kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mendapatkan sumber
penghasilan dalam kegiatan ekonomi produktif.
PENUTUP
136
Berdasarkan hasil dari analisis keseluruhan pembahasan yang telah
dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa Tradisi Grebeg Besar merupakan
tradisi yang dilaksanakan setiap setahun sekali pada bulan dzulhijjah di
kabupaten demak. Tradisi grebeg besar ini diyakini sudah ada sejak
kesultanan islam pertama di Demak saat di pimpin oleh Sultan Fattah.
Tradisi ini awalnya bertujuan untuk menyiarkan agama islam yang dilakukan
oleh Wali Songo. Akan tetapi saat ini dilestarikan dengan tujuan sebagai
bentuk rasa syukur atas segala kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada
masyarakat demak, dan sebagai bentuk penghormatan terhadap Wali Songo
terutama Sunan kalijaga yang telah menyebarkan agama islam di kabupaten
demak. Tradisi ini masih berlangsung hingga sampai sekarang dan terus
dilestarikan di Kabupaten Demak.
Untuk prosesi pelaksanaan upacara grebeg besar Demak ini meliput i:
Selamatan Tumpeng Sembilan, Selamatan Ancak, Tahlil dan Do’a, Proses
minyak jamas dan prajurit patang puluhan, Acara puncak, Selametan
Riyayan, Acara jabatan tangan. Tradisi ini merupakan serangkaian acara
yang dimulai dengan pembukaan dan acara puncaknya adalah penjemasan
pusaka sunan kalijaga. Dan nilai-nilai yang terkandng dalam tradisi grebeg
besar yaitu diantaranya nilai religius, nilai gotong-royong, nilai estetika, nilai
kepemimpinan, dan nilai ekonomi.
137
TRADISI TAHLILAN DI DUSUN GINTUNGAN
(Pro-Kontra dan Toleransi antara Kaum Nahdliyyin dan Salafiyyin)
Muhammad Naufal Annaji
53040190035
Pendahuluan
Dusun Gintungan merupakan sebuah dusun yang terletak di Desa Butuh,
Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sebagaimana
pada umumnya masyarakat Indonesia, mayoritas penduduk Dusun
Gintungan merupakan kaum Nahdliyyin dan menjalankan berbagai kultur
lokal yang khas, seperti Tahlilan. Tahlilan adalah tradisi membaca surat-surat
tertentu dari Al-Quran sebagai bentuk ibadah dan doa untuk orang yang telah
meninggal. Namun, di sisi lain, dengan adanya Pondok Pesantren al-Irsyad
al-Islamiyyah di Dusun Gintungan, banyak pendatang dari luar daerah yang
berpaham Salafiy juga tinggal di sana. Kaum Salafiyyin adalah sekelompok
orang yang mengikuti ajaran Salaf, yaitu para sahabat dan generasi pertama
setelahnya dari Islam. Mereka berpegang teguh pada ajaran yang
dipraktikkan oleh para sahabat dan menolak tindakan atau tradisi yang
dianggap bid’ah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang
sesungguhnya.
Dalam sudut pandang kaum Salafiyyin, Tahlilan dianggap sebagai
bentuk bid’ah dalam agama dan seharusnya tidak diadakan. Mereka
berpendapat bahwa ajaran Islam sudah cukup jelas dan lengkap, sehingga
tidak perlu ada tindakan atau tradisi baru yang dianggap dapat menambah
kebaikan atau keberkahan bagi orang yang telah meninggal. Hal ini
membawa suatu dinamika sosial tersendiri bagi masyarakat Dusun
Gintungan, karena ada perbedaan pendapat tentang apa yang dianggap benar
dan salah dalam agama. Namun, meskipun terdapat perbedaan pandangan,
masyarakat Dusun Gintungan masih dapat hidup damai dan saling
menghargai satu sama lain. Mereka tetap menghormati kepercayaan dan
ajaran masing-masing, dan berusaha untuk tidak mengganggu keharmonisan
sosial yang terjalin di komunitas mereka.
Berdasarkan paragraf di atas, rumusan masalah dari penelitian ini antara
lain: Apa itu tradisi Tahlilan dan bagaimana asal usulnya?; Bagaimana
kehidupan sosial keagamaan masyarakat di dusun Gintungan?; Bagaimana
pandangan masyarakat Gintungan terhadap tradisi Tahlilan?; Bagaimana
bentuk toleransi masyarakat Gintungan terhadap perbedaan pandangan
terkait tradisi Tahlilan?; Bagaimana pandangan Islam terkait tradisi Tahlilan?.
138
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami
bagaimana kehidupan sosial keagamaan masyarakat Dusun Gintungan,
khususnya dalam menjalankan tradisi Tahlilan, serta pandangan masyarakat
terhadap tradisi tersebut. Selain itu, tujuan lain dari penelitian ini adalah
untuk mengungkap bentuk toleransi yang ditunjukkan oleh masyarakat
Dusun Gintungan terhadap perbedaan pandangan terkait tradisi Tahlilan,
serta untuk mengungkap pandangan Islam terkait tradisi Tahlilan.
Dengan demikian, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang terkait dengan kehidupan
sosial keagamaan di Dusun Gintungan, seperti ulama, tokoh agama, dan
masyarakat Dusun Gintungan sendiri, serta dapat dijadikan sebagai acuan
bagi pihak-pihak yang ingin mengembangkan program-program atau
kegiatan yang terkait dengan tradisi Tahlilan di daerah tersebut.
Ada beberapa manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini.
Manfaat-manfaat tersebut dapat dibagi menjadi manfaat teoretis dan praktis.
Manfaat teoretis yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini
adalah:
1. Menambah wawasan dan pemahaman tentang kehidupan sosial
keagamaan masyarakat Dusun Gintungan, khususnya dalam
menjalankan tradisi Tahlilan.
2. Menambah pengetahuan tentang pandangan masyarakat Dusun
Gintungan terhadap tradisi Tahlilan, baik dari kaum Nahdliyyin
maupun kaum Salafiyyin.
3. Menambah pengetahuan tentang bentuk toleransi yang
ditunjukkan oleh masyarakat Dusun Gintungan terhadap
perbedaan pandangan terkait tradisi Tahlilan.
4. Menambah pengetahuan tentang pandangan Islam secara umum
terkait tradisi Tahlilan, apakah dianggap sebagai bentuk bid’ah
atau diizinkan dalam agama.
Manfaat praktis yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini
adalah:
1. Dapat memberikan sumbangan bagi peningkatan keharmonisan
sosial di Dusun Gintungan, khususnya dalam menghadapi
perbedaan pandangan terkait tradisi Tahlilan.
Adapun kajian tentang tahlilan telah banyak dilakukan sebelumnya,
diantanya adalah:
1. Khairani Faizah melakukan penelitian tentang pandangan terhadap
tahlilan dalam penelitian nya yang berjudul Kearifan Lokal
Tahlilan-Yasinan dalam Dua Perspektif Menurut Muhammadiyah
menggunakan metode penelitian kualitatif yang berbasis
eksplorasi pustaka dan observasi lapangan. Penelitian ini
139