-wb tu: rlasgabbnh A; ildang taQaian, petfiiawn, Abah, .- 545
Sikap demikian ini memang sejalan dengan apa yang tertulis di dalam
kitab Shahihain dariAl-Barra bin Azib Radhiyallahu Anhu ia berkata,
c',y I lSJ ilt;; jc tt,i Jj);'k-q ifrrUt *';
,'J6J€,* :* *, ei,'e,r ju {196'€' e)'lt *
;rlr t- ,.t'lt ; ;?li ,; ; ;;ir.'j;l J;i ea.lr{ 3i:ii
ju t$..r:r,r1
'
/?' -b'4 ii e'# *oiria :uii .3;jr
*\t *J*, ilt oti-]u.;ll'$Ar dA, ff jt )
g;" rG,i jcitytri$f di"i i\?+,,t,'p'i
" Berlalu di hadapan Nabi seorang Yahudi yang tercorenglte dan telah
dihukumcambuk. Maka beliau memanggil merekadan bersaMa, 'Apa-
kah seperti iru hukuman bagi pelaku zina sebagaimana dalam kitab
kalian?'Mereka menjawab, 'Benar'. Lalu beliau memanggil salah se-
orang dari para ulama mereka, lalu beliau bersabda, 'Aku bersumpah
di hadapanmu, demi Allah yang telah menurunkan kiub Taurat kepada
Musa. Apakah sepexi itu hukuman bagi pelaku zina sebagaimana di
dalam kitab kalian?' Ia menjawab, 'Tidak, sungguh jika kiranya engkau
tidak bersumpah di hadapanku berkenaan dengan masalah ini enru aku
tidak akan membritahumu. Kami menemukan bahwa hukumannya
adalah njam. Namun sangat banyak ditakukan oleh orang-orang terpan-
dang kami, makajika kami harus menghukum orang-orang tapandang,
kani tinggallcan saja. Iilca kami harus menghukum rakyatjelaa, kami
tegakkan hukumannya iru. Maka kami mengatakan, 'Marilah ke sini
kia berkumpul unruk menyepakati sesuau yang harus ditegakkan atas
oring-orang teryaadang dan rakyatjelata'. Maka kamijadkan hukuman
pemanasan dan cambuk sebagai pengganti rajam'. Maka beliau
ats Tahmimadalah wajah yang tercoreng arang atau lainnya. Lihat lbnu Al-Atsir,
An-Nihayah ... op.cit., (114441.
'546 rasyahbrl, WW oilarang M[am rW xlam
brsabda, 'Ya Allah, sungguh aku orang pertama yang menghidupkan
perinah-Mu jika mereka mematikannya'. Maka beliau memerintahkan
sehingga ia dir4jan."tzo
Dala m hadits pertama Nabi Shalla llahu Alaihi ua S allam mengait-
kan antara kesesatan umat karena melakukan apa yang biasanya dilaku-
kan umat-umat sebelumnya berupa perbuatan sesat. Beliau melarang
perbuatan sedemikian itu. Syaikhul lslam lbnu Taimiyah Rahimahullah
berkata, "Didalamnya terdapat petunjuk bahwa hukuman yang diturunkan
untuk orang-orang sebelum kita adalah sebab pelarangan bagi kita.et
Baik menjadi pendorong suatu larangan atau mewajibkan pelarangan.
Yang demikian itu berkonsekuensi: bahwa perbuatan mereka adalah dalil
dan tanda bahwa Allah melarang kita dari perbuatan seperti itu. Atau hal
itu menjadi alasan munculnya larangan. Dengan dua kemungkinan arti
itu diketahui bahwa bersikap beda dengan mereka secara global adalah
sesuatu yang dituntut oleh Penetap syariat."42
?or&I**2
lalangan Berwlsata tanpa Tuluan
sepertl Halnya dalam Kependetaan
Berwisata di muka bumi adalah haram hukumnya jika tidak ada
tujuan sehingga seperti halnya dalam kependetaan yang merupakan suatu
bid'ah yang sangat diharamlcan. Yang demikian itu seperti ibadah orang-
orang Nasrani yang mereka ada-adakan sebagai tambahan apa yang
telah disyariatkan bagi merelo.
Syaikhul Islam lbnu Taimiyah Rahimahul/ah berkata, "Sedangkan
yang dimaksud dengan wisata di muka bumi dengan tanpa tujuan tertentu,
'2o Shahih Muslim, Kitab AhHudud, Bab "Rajmu Al-Yahud Ahla Adz-Dzimmah
fii Az-Zina", hadits no. 1700, (3/1071).
42r Yakni hukuman bagi orang-orang sebelum kita karena suatu perbuatan men-
jadi sebab pelarangan atas kita untuk melakukan sesuatu perbuatan yang sama.
12 lbnu Taimiyah, op.cit., (112931. Hal ini harus diikat dengan apa-apa yang
muncul berupa ketetapan syariat yang sebenamya merupakan syariat terdahulu.
* -na6 ttt; tasyrabbuh a', nM"g Yahalan, wr{nawn, Mab, 547
maka menjadibukan perbuatan umatini. ImamAhmad berkata, 'Berwisata
adalah bukan dari Islam sama sekali, bukan pula dari perbuatan para
nabi atau orang-orang shalihl" Kemudian Syaikhul lslam Rahrnahullah
berkata, "Sedangkan sekelompok dari saudara-sudara kita telah melaku-
kan wisata yang sangat terlarang dengan menalopilkan bahwa dalam
perbuatan seperti itu mereka tidak mendapatkan adanya larangan. Padahal
perbuatan seperti itu adalah bagian dari kerahiban yang berbau bid'ah."s
Dalil mereka yang mengharamkan adalah sebagai berikut:
1. DariAbu Umamah Radhiyallahu Anhu bahwa seorang pria berkata,
a-t'- o\,t'l-.j *ht Jb}tj$ . Lt:ilu J t;jr i]]I'rt,"
!t,b q:t4t "ri" 'Wahai Rasulullah, izinkan a!<u untuk brwisaa!" t tX, Nabi Shat-
Iallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Sesungguhnya wisaa bagi umatku
adalah jihad di jalan Allah Azza wa Jalla'."424
Dalam hadits itu terdapat isyarat yang sangat jelas bahwa wisata
dengan artinya yang paling dikenal di kalangan orang-orang Nasrani
adalah bukan dari perbuatan umat ini.
2. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, "Rasulullah Sttal-
lallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
'Al Jt L'):ri'"';'oi, r?!L',U r*f iJL fr:,:ri
iiit1
u"rL x,r ai.t:i'r r6-\L ct idr I iUe'ry |ebhr
'#6Ek
'langanlah kalian mempersulit diri sendiri sehingga Allah mempersulit
kalian. Sesungguhnya ada suatu laum yang mempersulit diri mereka
sendiri sehingga Allah mempersulit mereka. Sisa mereka adalah
orang-orang yang berada di dalam rumah ibadah para rahib dan di
a23 Syaikhul lslam lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit.,111287-288).
a2' Lihat Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Jihad, Bab "An-Nahyu 'An As-Siyahah",
hadits no. 2486, (3/5). Ditakhrij oleh Al-Hakim dalam kitabnya op.cit., (21731; dan ia
berkata, "lsnadnya shahih". Namun keduanya tidak menakhrijnya.
548 - ^rasgabbuh ynW Ditarang ba[am fihb ulanr
rumah-rumah sebagai orang yang telah mengada-ada kehidupan
kerahiban yang sebenarnya tidak kami wajibkan atas mereka."'ax
Berwisata adalah salah satu jalan untuk menyulitkan dirisendiridan
memutuskan hubungan dari dunia. Sangat dicela oleh Rasulullah
ShallallahuAlaihiwaSaltam sama dengan celaan terhadap para rahib
Nasrani umumnya.
Syaikhul Islam lbnu Taimiyah Rahimahullah memiliki sebuah
komentar yang sangat penting berkenaan dengan hadits ini yang ia
munculkan dengan teks lengkapnya di mana ia mengatakan sebagai
berikut, "Menyulitkan diri sendiri itu kadang-kadang dengan melakukan
sesuatu yang bukan wajib dan tidak pula dianjurkan seakan-akan sama
dengan sesuatu yang wajib atau dianjurkan dalam berbagai ibadah.
Dan kadang-kadang dengan meninggalkan apa-apa yang tidak haram
dan tidak pula makruh seakan-akan sesuatu itu haram atau makruh
berkenaan dengan berbagaihalyang baik-baik." Dia memberikan alasan
berkenaan dengan hal itu adalah bahwa mereka yang menyulitkan diri
sendiri dari kalangan orang-orang Nasrani telah Allah persulit mereka
itu karena sikapnya itu. Hingga mereka itu melakukan aPa-aPa yang
diada-adakan dalam kehidupan kerahiban yang juga telah mereka ada-
adakan itu. Dalam hal ini terdapat peringatan NabiShallallahu Alaihi
usa Sallam akan kebenciannya terhadap tindakan sebagaimana yang
dilakukan oleh orang-orang Nasrani itu berupa kehidupan kerahiban
yang telah mereka ada-adakan. Sekalipun banyak pula dari para ahli
ibadah di kalangan kita telah terjerumus ke dalam sebagian kegiatan
semacam itu, baik dengan menyadari hal itu dengan alasan yang
mereka kemukakan maupun tanpa menyadari halitu. Di dalam hadits
itu juga peringatan bahwa mempersulit diri sendiri adalah permulaan
dari kesulitan yang lain yang dilakukan oleh Allah, baik dengan PenetaPan
syariat tertentu maupun takdir-Nya.
azs Lihat Sunan Abu Dawud, Ktab Al-Adab, Bab "Al-Hasad", hadits no. 4904,
141276-2771. Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, namun ia bersikap diam terhadap
hadits itu. Sikap demikian itu menunjukkan bahwa ia menganggapnya hasan baginya.
Syaikhul lslam lbnu Taimiyah berkata, 'Hadits itu memiliki hadits-hadits pendukung
dalam kitab shahih". Lihat lbnu Taimiyah, op.cit., ('11261).
- -tab tlt:tasgallou,$ ]i riitarg tahaan,vertTasan, AMht 549
Sedangkan syariat adalah sebagaimana yang pernah dikhawatirkan
oleh Rasulullah Shal/al lahu Alaihi. u:a Sallam di zamannya berupa tam-
bahan sesuatu yang menjadi wajib atau sesuatu yang menjadi haram.
Sebagaimana yang beliau khawatirkan ketika mereka berkumpul untuk
melaksanakan shalat tarawih bersama beliau. Karena mereka sulo ber-
tanya tentang segala sesuatu yang tidak diharamkan. Juga seperti
kecende rungan untuk bernazar dengan melakukan suatu ketaatan yang
wajib ia lakukan. Dilarang seseorang melakukan nazar, demikian pula
berbagai kaffarah yang wajib dengan berbagai sebabnya.
Sedangkan dengan takdir sebagaimana yang telah banyak kita lihat
dan kita dengar ada orang yang mendalami berbagaihalyang akhirnya
diuji pula dengan berbagai sebab yang menyebabkan sengaja kepada
kesulitan dalam halwajib dan haram. Seperti orang yang selalu meras
terganggu dalam thaharahnya, jika mereka itu menambahi pada sesuatu
yang telah disyariatkan, ia akan diujidengan sebab-sebab yang men)re-
babkan ia wajib melakukan sesuatu )rang hakikatnya bagi mereka adalah
sesuatu yang sangat sulit dan berbahaya.Qo
3. Dari lbnu Abbas RadhiyallahuAnhuma ia berkata, "Pada pagisetelah
Aqabah, beliau di atas untanya bersabda,
W cy'sAt ;;'"",^,,>ti1rL'Cr';'.^Ai, ;; d.'Of
\'j^i$ f,orlr qf: t- :;v d firu9
9z .rtt.l.o,
,l,Stt; € J++t''
ln;:,tJcr,;lrtxUrt5'&$ rJgsuu|^Li f1y,;,-ifiutGt o $;:rlrti'.€rqt)\
"'Ambilkan kerikil untukku'. Maka aku anbilkan rujuh butir kerikil
untuk beliau yang ffmuinya adalah bau bruktran kecil untuk melontar.
Beliau mengerak-gerakkan semua kerkil iu di aas tangan beliau seraya
bersaMa, 'Sebagaimana mereka kalian haras melontar'. Lalu ber-
sabda, 'Wahai sekalian manusia, jauhilah skap berlebih-lebihan dalam
prkara agama. Sesungguhnya kaum sebelum kalian telah dihancurkan
disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan dalam perkara dgarnz'.ntzt
.20 f bnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit., (11283-2841.
.21 Sunan An-Nasa'i, Ktab Al-Hajj, Bab "lltiqathu Al-Hasha", hadits no. 3057,
(5/296); hn Sunan lbnu Majah, Ktab Al-Manasik, Bab "Qadru Hasha Ar-Ramyi',
hadits no.3029, (2/1008). An-Nawawiberkata, "Diriwayatkan oleh An-Nasa'idengan
isnad shahih menurut syarat Muslim." Lihat An-Nawawi, op.cit., (811711.
550 - tasya66tb wnsDi[arangtalolrthh rctrrn
Aspek yang menjadi tekanan hadits tersebut adalah bahwa hadits
itu menunjuk secara umum mencakup seluruh macam sikap berlebih-
lebihan dalam perkara-perkara keyakinan dan amalan yang berbentuk
sikap melampaui batas, yang di antaranya adalah menyelenggarakan
wisata dalam arti keagamaan dan ibadah.
Hadits berkenaan dengan bab ini sangat banyak dan terkenal.
Maksudnya adalah bahwa orang yang melakukan halitu telah menyerupai
orang-orang Nasranidalam peribadatan mereka. Dengan demikian telah
terjadi sebagaimana yang disitir oleh Syaikhul lslam lbnu Taimiyah Rahi'
mahullah berkenaan dengan masa di mana ia hidup. Di tengah-tengah
umat ini masih saja banyak bermunculan berbagaibentuk ibadah orang-
orang Nasrani. Khususnya berkenaan dengan hari raya dan berbagai
kegiatan keagamaan mereka yang semPat menyusup ke tengah-tengah
kaum Muslimin di sepanjang sejarah. Semua itu adalah haram hukum
melakukannya, baik pelaku itu dengan tujuan bertasyabbuh atau tidak
demikian. Karena perbuatan seperti itu adalah khusus bagi orang-orang
kafir dan dari satu sisi telah menjadikan mereka dikenal karena semua
itu. Selain halitu adalah sikap mengada-ada dan bid'ah didalam perkara
agama. Wallahu Ta' ala A' lam.
{. *,t
-tab nt: Tasyabb"b O; maW tilaaian,tertnwan A446, .- 551
?"rlrtr*,, S
Apakah Penamaan Bulan dengan Nama-nama Aslng Dllarang?
Apa Hukum Bersandar kepada lhlender Mlladlah dan Bukan
Hfirlah. Demlklan Pula dalam Angka-an[ka?
Pembahasan ini mencakup tiga subbahasan:
A. Hukum Penamaan Bulan dengan Nama-nama Asing
lmam Malik, lmam Asy-Syaf i, dan Imam Ahmad berpendapat
makuh hukum memberinama bulan-bulan dengan nama-nama asing.a28
Ahmad berdalil dengan hadits yang diriwayatkan olehnya dari
Mujahid bahwa beliau memakruhkan penamaan dengan nama-nama
aadzarmah atau dzamah.a2s Dan dengan larangan Omar akan berbicara
bahasa asing secara mutlak.6o
Yang jelas -WallahuTa'alafilam- bahwa haram hukumnya pena-
maan bulan-bulan Arab dengan nama-nama asing jika nama-nama
tersebut khusus bagi orang-orang umat kafir.a3r
'26 Lihat lbnu Muflih, op.cit., (3/432*433).
.2e lbid., (3/433).
ls Telah ditakhrij di muka.
a3r Al-Qurthubi Rahimahullah memberikan komentar kepada firman Allah:
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, di dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan
haram... (At-Taubah: 36) dengan ucapannya, "Sesungguhnya firman Allah Tabla, 'di
waktu Dia menciptakan langitdan bumi'unluk menerangkan bahwa qadha dan qadar-
Nya adalah sebelum itu dan sesungguhnya Allah Tabla lelah menetapkan bulan-
bulan itu. Lalu menamainya dengan nama-nama yang telah Dia tetapkan pula atas
semua bulan-bulan itu ketika penciptaan langit dan bumi. Lalu menurunkan hal itu
kepada para nabi-Nya didalam kitab-kitab mereka yang telah diturunkan. lnilah makna
firman Allah, 'Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan
...'." Hukumnya itu tetap abadi sebagaimana telah ditetapkan semula dan tidak bisa
dirubah oleh orang-orang musyrikin karena nama-namanya itu ... dan seterusnya.a3t
Al-Qurthubi, Al-Jamf ... op.cit., (8/85).
Terlihat jelas oleh Penulis bahwa ayat ini independen dan tidak memberikan
makna kemutlakan sesuai pendapat Al-Qurthubi bahwa semua nama-nama bulan
telah didahului oleh qadha dan qadar Allah ketika menetapkan bulan-bulan itu dan
mengatumya. Jika ayat itu bisa dipahamisesuaidengan makna itu tentu akan menjadi
dalil yang tegak untuk melarang penamaan bulan dengan nama-nama asing dalam
segala kondisi. Akan tetapi, dalil di atas terkadang bisa dimaknakan sesuai dengan
pendapat tersebut secara altematif jika dikatakan bahwa kata sandang a/ berguna
untuk menunjukkan sumpah sehingga dengan demikian menjadi isyarat yang
menunjukkan nama-nama yang dikenal oleh orang-orang Arab. Wallahu Ta'ala Alam.
552 - r;asynbbuh WS Ditaraug balaw rikh rc[am
Sedangkan jika nama-nama ini adalah nama-nama yang diguna-
kan oleh kaum Muslimin selain orang-orang Arab maka makruh menama-
kan bulan-bulan Arab dengan nama-nama itu, karena nama-nama Arab
adalah dari agama yang telah disyariatkan. Sehingga nama-nama itu ber-
laku padanya hukum syar'isebagaimana puasa, hajidan lain sebagainya.
Demikian pula pada prinsipnya adalah makruh bertasyabbuh dengan
orang-orang non-Arab Muslim pada apa-apa yang khusus bagi merel<a.62
Yang demikian ini bagi orang yang terampil berbahasa Arab. Sedangkan
kaum Muslimin yang bukan Arab dan tidak terampil berbahasa Arab, maka
tidak ada kemakruhan bagi mereka, karena dalam hal demikian itu akan
ada kesulitan yang sangat besar bagi mereka, sedangkan syariat datang
dengan segala kemudahan dan menghapuskan berbagai kesulitan.
B. Hukum Menggunakan Kalender Miladiah dan Bukan Hijriah
Yang jelas, tidak boleh menggunakan kalender Miladiah dan bukan
kalender Hijriah a33 karena beberapa hal berikut ini:
1. KalenderMiladiah pada dasarnya kembali kepada nilai-nilai keagamaan
dan ibadah bagi pihak orang-orang Nasrani, yaitu kelahiran lsa Alarhis-
salam.lni adalah bagian dari nilai-nilai keagamaan di kalangan agama
Nasrani. Tidak boleh secara mutlak bertasyabbuh kepada orang-orang
Nasraniterutama dalam hal-halyang berkaitan dengan agama mereka.
Baik berkenaan dengan ajaran-ajaran mereka yang tidak mengalami
perubahan atau yang mengalaminya. Demikian pula dalam tata laksana
yang berkaitan dengan hari-hari besar keagamaan Nasrani tahunan
yang menjadi sandaran orang-orang Nasrani untuk menjelaskan aga'
manya dan memunculkannya.
2. Kaum Muslimin memiliki kalender khusus untuk mereka yang bersejarah
yang membedakan mereka dari komunitas Nasrani dan umat-umat
yang lain. Dengan landasan itulah umat ini berbuat sejak zaman Umar
RadhigallahuAnhu hingga kini dan berlaku dengannya hukum-hukum
syar'i yang sangat banyak.
1u Lihat hlm. 117.
433 fmam Ahmad dan lmam Asy-Syaf i Rahimahumallah memilikisebuah pem-
bahasan tentang penamaan bulan-bulan. Telah berlalu penjelasannya itu dalam
pembahasan yang telah lalu. Bisa dipahami dari pembahasan itu bahwa keduanya
melarang pemakaian kalender Miladiah. Lihat hlm.521.
-ub l;;t: tasyabbuh li s;baw takaian, wrfiwon,Aa46/ -. 553
Ibnu Al-Atsir berkata, "Yang benar dan masyhur bahwa Umar bin
Al-Khaththab memerintahkan untuk menetapkan sejarah. Sebabnya
adalah karena Abu Musa Al-Asy'ari menulis surat kepada Omar bahwa
tetah sampai kepadanya surat dari Umar tanpa tanggal. Sehingga Omar
mengumpulkan orang banyak untuk diajak bermusyawarah. Sehingga
sebagian mereka berkata, 'Mulailah sejarah dari diutusnya NabiShal-
lallahu Alaihi wa Sallam.'Sebagian yang lain berkata, 'Dimulai dari
hijrah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.' Maka, Umar berkata,
'Sebaiknya kita mulai penanggalan dari hijrah Rasulullah Shallallahu
Alathi wa Sallam karena hijrah beliau itu pembeda antara hak dan
bathil.' Demikian diungkapkan oleh Asy-Sya'bi.a3a Muhammad bin Sirin
berkata, "Datang seseorang kepada Umar, lalu berkata, 'Tetapkanlah
penanggalan!'Maka, Umar berkata, 'Apa maksud 'tetapkanlah penang-
galan itu?" la menjawab, "Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-
orang asing pada bulan demikian pada tahun demikian." Maka Omar
berkata, "Bag us, tetapkanlah penanggalan. l-alu mereka sepakat u ntuk
menetapkan sistem penanggalan dari hijrahnya Rasul." Kemudian
mereka berkata, "Dari bulan-bulan apa?" Maka mereka berkata, "Dari
Ramadhan." Lalu mereka berkata, 'Akan tetapi, Muharram adalah
kepulangan banyak orang dari ibadah haji mereka dan ia adalah bulan
haram." Akhirnya semuanya sepakat dengan itu.s'
Yang dapat dipahami dari kisah permulaan penanggalan Hijriah
adalah bahwa kaum Muslimin di bawah pimpinan khalifah kedua yang
bijak sangat berkeinginan untuk tampiljauh berbeda dari kaum yang
lain, khususnya berkenaan dengan penanggalan. Jika tidaktentu mereka
akan mengambil salah satu penanggalan yang telah ada sebelum
mereka, sepertipenanggalan dari Romawi dan Persia. Dan tentu mereka
akan memelihara diri dari kelelahan mengadakan penanggalan baru
dan mensosialisasikannya kepada semua manusia. Maka bagaimana
seorang Muslim hingga meninggalkan apa yang telah menjadi kesepa-
katan umat ini dan memanfaatkan apa yang telah menjadi kesepakatan
umat ini untuk meninggalkan dan menjauhinya berupa penanggalan
kaum Nasrani.
la Lihat Ali bin Abu Al-Karam Asy-Syaibani (dikenal dengan lbnu Al-Atsir), ,tU-
eKamil fii At-Tarikh, (Beirut: Daar Al-Kitrab Al-Arabi, cet. V 1405 H), (1/9).
Lihat ibid., (11101.
554 - rroyabb"h wyuoilarungaalatnrrtih rlam
3. Dengan menggantungkan diri kepada penanggalan Miladiah sebenar-
nya adalah mengikat generasi penerus dengan penanggalan orang-
orang Nasrani, hari-hari besar mereka dan menjauhkan mereka dari
penanggalan Hijriahnya yang langsung berkaitan dengan Rasulnya
Shallallahu Alaihi wa Sailam, syiar-syiar agama dan ibadahnya.
Al-Qurthubi ketika mengomentari fi rman Allah, " Sesungguhnga
bilangan bulan p ada sisi AUah ialah dua belas b ulan, di dalam ketetap an
Allah di waktu Dia menciptalcan langit dan bumi....." (At-Taubah: 36)
berkata, 'Ayat ini menunjukkan bahwa keterikatan hukum-hukum dalam
berbagai macam ibadah dan lain-lain selalu berkaitan dengan bulan-bulan
dan tahun-tahun yang dikenal oleh bangsa Arab, dan bukan dengan bulan-
bulan yang dipegang teguh oleh orang-orang asing daribangsa Romawi
dan Qibthi sekalipun tidak pula lebih daridua belas bulan, karena semua
itu berbeda hitungannya. Diantaranya ada yang lebih daritiga puluh hari
dan sebagian ada pula yang kurang dari itu. Sedangkan bulan-bulan Arab
tidak lebih dari tiga puluh hari sekalipun di antaranya ada yang kurang
dari itu."66
Telah banyak diketahui bahwa kondisi dizaman sekarang inidi mana
yang berkuasa adalah umat Nasrani atas kebanyakan aktivitas kehidupan,
baik politik, perdagangan, kebudayaan dan lain sebagainya sehingga
menjadikan penanggalan Miladiah masuk ke dalam segala hal dengan
cara masuk yang penuh dengan kekuatan, wibawa, dan pemaksaan
sehingga secara umum tidak ada kemungkinan lagi bagi semua manusia
untuk melakukan interaksi dalam berbagai permasalahan melainkan
dengan penanggalan Miladiah. Perkara ini demikian jelas dan tidak perlu
tambahan penjelasan lagi. Telah berlalu ketentuan-ketentuan bahwa apa
yang dilarang dalam rangka menangkis bahaya bertasyabbuh boleh
dilakukan karena adanya maslahat yang sangat mendesak.a3T
Siapa saja yang dalam kondisiterpaksa atau sangat berkepentingan,
maka diperbolehkan baginya untuk menggunakan penanggalan Miladiah.
Dan akan menjadi lebih sempurna pada saatyang sama jika ia mengguna-
kan penanggalan Hijriah. Yang demikian itu telah biasa dilakukan dan
sangat populer di kalangan umat-umat modern sekarang iniyang mem-
's Al-Qurthubi, Al-Jami' op.cit., l8l85l.
137 Lihat hlm. 100.
- -oab tu, tasyra66 uh U maW wkaian, terlnasan AA4b 555
biasakan diri dengan kebudayaan dan penanggalannya sendiri.a3s Cara
ini tetap akan menjadi pembatas psikologis yang sangat penting bagi peng-
guna penanggalan Miladiah yang tidak akan menggunakannya kecuali
karena adanya kebutunan dan kepentingan yang sangat mendesak. Dan
dengan demikian itu ia masih merasa bangga dan tetap mensosialisasikan
penan ggalan Hij riah milik kaum Muslimin. Wallahu Ta' ala A lam.
C. Hukum Merubah Lambang Bilangan Arab dengan [-ainnya
Yang benar, tidak boleh menggantilambang bilangan Arab dengan
lainnya, sepertilambang bilangan Eropa atau semacamnya. Hal itu karena
beberapa hal, yang paling penting di antaranya adalah karena yang
demikian merupakan bentuk taklid dan tasyabbuh yang paling nyata
kepada selain kaum Muslimin. Padahal, lambang bilangan yang ada
sekarang iniadalah salah satu keistimewaan umat lslam zaman ini. Jadi,
permasalahan tersebut adalah bencana di zaman modern. Di antara
kelompok orang yang telah sampai kepada pandangan sedemikian adalah
M4ima' AI-Fiqh Al-lslamr€e dan Haiah Kibar Al-Ulama di Kerajaan Saudi
Arabia,e yaitu jika diganti dengan Eropa dan tidak ada bedanya antara
Eropa dan lambang bilangan lainnya.
Dalam hal ini mereka menetapkan enam dalil yang dimunculkan
dengan ringkas sebagai berikut:
1. Bahwa apa yang diketengahkan oleh para penyeru perubahan itu sama
sekalitidak baku bahwa Iambang bilangan yang di pakaidiArab adalah
lambang bilangan Arab. Akan tetapi, yang banyak dikenal adalah bukan
demikian.at Akan tetapi, kenyataan menjadi saksi bahwa perjalanan
'36 Umat tertentu di masa kini tertentu memiliki penanggalan khusus yang
dengannya mereka hendak muncul dan menunjukkan eksistensinya. Seperti bangsa
Cina, lndia, Yahudi, Persia, dan lain-lain.
13e Lihat keputusan no. lll dari hasil keputusan Konferensi Ke-7 Majma'Al-Fiqh
eAl-lslami, di Makkah Al-Mukanamah, tanggal 11-16 RabiulAwwal 1404 H.
Lihat hasil keputusan Konferensi Ke-21 Haiah Kibar A!-Ulama Kerajaan
SaudiArabia, di Riyadh, tanggal 17-28 Rabiul Akhir 1403 H.
{r Di mana sebagian omng yang mengajak sebagian budayawan masa kini
dengan merubah lambang bilangan Arab ke lambang bilangan Eropa mengatakan
bahwasanya lambang bilangan Arab itu dengan angka tetap (1,2,3,... dan seterusnya)
adalah lambang bilangan dari lndia; dan bahwasanya lambang bilangan Eropa itu
adalah lambang bilangan Arab. Lihat Qaarat Majlis Majma'Al-Fiqh N-lslamidari
periode lsampaiVlll, hlm. 129.
556 - tasyabbuh ww oilarung talam nkh rclaw
abad yang sangat panjang dengan pemakaian lambang bilangan yang
ada sekarang di dalam berbagai kondisi dan dalam berbagai bidang
menjadikannya lambang bilangan fuab.
2. Pandangan untuk mengadakan perubahan memiliki nilai yang buruk
dan pengaruh yang sangat berbahaya. Karena pandangan demikian
itu adalah langkah awal dari langkah panjang westernisasi bagi masya-
rakat Muslim secara bertahaP.
3. Pandangan sedemikian adalah langkah awal untuk merubah seluruh
huruf Arab dengan penggunaan huruf latin sebagai pengganti huruf
fuab itu sekalipun akan memakan waktu yang sangat panjang'
4. Pandangan demikian itu adalah satah satu fenomena dari fenbmena-
fenomena taklid kepada Barat dan memandang baik terhadap berbagai
cara yang mereka lakukan.
5. Mushhal kitab tafsir, kamus, dan buku yang dicetak sekarang inidalam
numerisasi atau tanda berbagai referensi, semuanya menggunakan
lambang bilangan yang ada di zaman sekarang ini . Iniadalah kekayaan
yang besar. Dan menggantikannya akan membuat para generasi yang
akan datang tidak akan bisa memanfaatkan peninggalan tersebut
dengan mudah.
6. Bahwa bukan sesuatu yang penting ketika sebagian negara-negara
fuab memulaipenggunaan lambang bilangan Eropa karena kebanyak-
an dari negara-negara tersebut telah menghilangkan sesuatu yang
paling agung dan paling penting, yaitu bertahkim kepada syariat Allah
yang semua adalah sumber kebanggaan dan kemutiaan, kebahagiaan
didunia dan di akhirat. Maka perbuatannya itu bukanlah huiiah.@
*{.rr
4'2 lbid. yang telah diringkas.
- -rabttt tasga($uhdiBtungtahwn,wr{nauu, Adab, 557
?",*n*,+
Apakah Pemberlan Nama Orang
dengan Nama-nama Aslng Dllaranot
Imam Malik,6 Asy-Syaf i,u dan Ahmad{' berpendapat bahwa
makruh hukum memberikan nama dengan nama-nama asing. Mereka
dalam halitu memandang kepada permasalahan berbicara dengan bahasa
asingffi dan penamaan bulan-bulan dengan nama-nama asingaT seba-
gaimana telah d'rjelaskan dimuka.
Yang paling jelas -WallahuTb'ala filam- bahwa semua nama terse-
but tidak akan terlepas dari salah satu dari dua hal berii<ut:
Keadaan /. Bahasa asing yang khusus bagi orang-orang kafir: lni
sama sekalitidak boleh dijadikan nama karena dalam penamaan dengan
bahasa itu adalah tasyabbuh kepada mereka dalam hal-halyang khusus
bagi mereka. Demikian itu pulalah yang dimutlakkan oleh lbnulQayym
Rahimahullah Ta'ala.4 Nama-nama yang sedem ikian itu seperti Beatric,
Jirjis, George, Diana, dan lain sebagainya.
Kadaanl/. Nama-nama itu berasal dari nama-nama orang-orang
musyrik di antara kaum Muslimin dan lainnya dari kalangan orang-orang
kafir. Dalam keadaan sedemikian tidak dilarang memberikan nama
dengan nama-nama yang demikian. Nama-nama yang sedemikian itu
seperti Isa, Sulaiman, Sala, dan lain sebagainya.4e
Halyang merambah ke tengah-tengah masyarakat lslam di dalam
kehidupan modem mereka adalah sebagaimana apa yang telah terjadi
bahwa sebagian dari mereka memberikan nama untuk anak-anak pria
dan wanita mereka nama-nama yang khusus bagi orang-orang kafir
karena kemasyhuran sebagian pembawa nama-nama itu dari kalangan
orang-orang kafir laki-laki atau perempuan.
{3 Dinukil oleh lbnu Taimiyah, Ahlgtidha, (114641, dari lmam Malik .
s1g Lihat lbnu Muflih, Al-Adab... op.cit., (3/433).
lbnu Muflih, ibid.
re Lihat hlm. 533.
117 Lihat hlm. 551.
ffi Lihat lbnul Qayyim, Ahkamu AhliAdz-Dzimmah, (2/768-769).
ue bid.en6q.
558 - rasya66"$ WS oilarung talaw tik/ rlaw
Syaikh Bakar Abu Zaidam berkenaan dengan nama-nama tersebut
berkata, "Seorang Muslim yang tenang hatinya karena agamanya itu akan
senantiasa menjauhi dan melarikan diri darinya, tidak akan berada dekat-
dekat dengannya. Telah terjadi fitnah besar karenanya di zaman kita
sekarang ini dengan mengambil nama orang-orang kafir asal Eropa,
Amerika, dan lain sebagainya. lni adalah celah tempat dosa dan jalan-
jalan bagi kehinaan. Di antaranya, Beatric, Jirjis, George, Diana, Rose,
Suzan, dan lain sebagainya sebagaimana telah ditunjukkan diatas."
Taklid kepada orang-orang kafir dalam pemberian nama dengan
nama-nama mereka, jika karena hawa nafsu dan kebodohan maka per-
buatan seperti itu adalah kemaksiatan besar dan dosa. Jika karena
keyakinan bahwa nama mereka lebih utama daripada nama-nama kaum
Muslimin, yang demikian ini adalah bahaya yang sangat besar yang akan
mengguncangkan sendi-sendi iman.
Maka dalam kedua keadaan tersebut mengandung hukum wajib
untuk segera bertobat darinya dan segera menggantinya sebagai syarat
tobatnya dari perbuatan itu.ast
!&{.*
as Bakr bin Abdullah Abu Zaid dari kalangan ahli fikih masa kini. Anggotra
Haiah Kibar Al-Ulama Saudi Arabia dan pimpinan Majma Al-Fiqh Al-lslami yang
mengikuti susunan muktamar lslam di Jeddah.
lsr Bakar Abu Zaid, Tasmiatu Al-Maulud, (Riyadh: Daar Al-Ashimah, cet. lll,
1416 H), lihat hlm. 47.
- -wbttt:twyallruh 0inilang eahnanrwr{noun,An46, 559
PENUTUP
Segala puji hanya bagiAllah. Shalawat dan salam atas Rasulullah.
Arnmaba'du.
Di akhir pembahasan yang penuh berkah ini dnsya Allah saya
hendak menegaskan beberapa nilaiyang bersifat umum dan penting yang
munculditengah-tengah pengembaraan ilmiah yang panjang ini dengan
judul At-Tasgabbuh Al-Manhi Anhu fi.i Al-Fiqh Al-lslami dan saya akan
meninggalkan nilai-nilai ilmiah yang unik itu untuk dikaji sebagai l<aidah
yang berhasil ditarik, hukum-hukum )rang disimpulkan, da n faidah-faidah
yang saya dapatkan di tengah-tengah pembaca pembahasan ini yang
telah menelaahnya secara rincidan jeli sepanjang pembahasan buku ini.
Di antara nilai-nilai umum itu adalah:
OSyari'at lslam datang dengan kesempurnaannya, berjalan dengan para
penganutnya di jalan yang terbaik dan membawa mereka kepada
keadaan yang penuh dengan kemuliaan. Tidak membutuhkan penyem-
pumaan dan pelurusan. Oleh karena itu, ia melarang umat lslam untuk
memberikan ketaatannya yang lemah kepada orang yang penuh
dengan kelemahan keagamaan dan keduniaan dengan cara bertasyab-
buh dan taklid kepada mereka. Baik mereka itu bukan dari kalangan
kaum Muslimin, seperti macam-macam orang kafir dari kalangan ahli
kitab, orang-orang bodoh, dan lain-lain; atau mereka itu darikalangan
kaum Musliminyang mencampur-adukkan apa-apa yang telah dihrrun-
kan dengan tingkat-tingkatmereka, seperti ahli bid'ah, onng-orang fasik,
dan lain-lain.
OTema tasyabbuh belum pemah dilojisebetum inidengan pembahasan
pola pandang fikih yang integralyang mencakup seluruh aspeknya dan
menggabungkan semua bagiannya menjadi satu keutuhan sehingga
layak menjadi referensiyang bisa menutup lobang dalam permasalahan
yang paling berbahaya ini. Tidak ada ditangan kita selain hukum-hukum
yang tercecer )rang membutuhkan tindakan mengkompilasi, menetapkan
kaidah dan membakukannya.
560 - rrrsyabbrb WW Dilarung talam nk:& rclam
O Pembahasan tentang tasyabbuh yang dilarang merupakan perma-
salahan yang paling berbahaya didalam kehidupan seorang Muslim di
zaman modern ini dengan segala isi dan keluasannya. Permasalahan
tasyabbuh terbentang sepanjang kehidupan seorang Muslim ditengah-
tengah masyarakatnya dan ketika ia melakukan proses interaksidengan
bangsa lain. Oleh sebab itu, harus dijelaskan bentuk-bentuk dan
batasan-batasannya, diperjelas pola-polanya dan disosialisasikan
penerapan hukum-hukumnya di tengah-tengah orang banyak, karena
dalam upaya seperti itu terdapat proses permasalahan yang telah
merasuk kepada sejumlah orang dan karenanya muncullah berbagai
musibah. Demikianlah seluk-beluk pembahasan dan kajian ilmiah dan
kajian syariah yang khusus. Tiada lain kajian ilmiah ini adalah sekedar
upaya dijalan itu.
ODalam fikih lslam -segala puji hanya bagi Allah- terdapat keluasan
dan komprehensMtasyang memberikan kepada pembahas dan pencari
ilmu suatu kemampuan untuk membahas permasalahan inidan petrna-
salahan yang lain dengan sisipandang nash-nash syariah dan ijtihad-
ijtihad yang berkaitan dengan fikih, khususnya dalam perkara menetap-
kan dasar-dasar, kaidah-kaidah, dan menarik berbagai pandangan
fikiyah yang tersebar di dalam berbagai terbitan, karya para ulama.
Penulis telah mencari hal itu ketil<a berupaya menitijalan ini di tengah-
tengah melakukan kajian tema tasyabbuh, khususnya ketika melakukan
pembahasan furu'di bidang fikih dalam dua bab, yakni bab dua dan
tiga, dan mengembalikannya kepada kaidah-kaidahnya yang
sebenarnya merupakan intisari dari dalil-dalil syar'i dan hasil menarik
kesimpulan dari berbagaijalan yang ditempuh oleh para ulama ketika
membangun furu' itu di atasnya.
O'lhsyabbuh adalah tindakan terlarang sebagaimana ditunjukkan oleh
hasil penarikan kesimpulan dari berbagai furu'di bidang fikih sebagai-
mana telah disebutkan didalam pembahasan diatas dan lainnya yang
mencakup segala yang menyebabkan kerusakan, sehingga kekuatan
dan ketegasan larangan itu tergantung besar-kecilnya kerusakan yang
ditimbulkannya. Kerusakan itu sangat bervariasi dan pada umumnya
berpusat pada kerusakan di bidang kehidupan beragama yang ber-
kenaan dengan dasar-dasar iman dan kesemPurnaannya.
-nab r't: ta;yabbuh l', t:frr"g tahaian, tet{nawu, eaa6, -. 561
Pada akhirnya, Penulis memuji Allah la'ala atas segala karunia-
Nya dan Penulis juga memohon tambahan karunia itu. Penulis memohon
ampun kepada Allah dari berbagai dosa, sesungguhnya Dia Maha
Pengasih dan Maha Pengampun.
rirt*