t244 - asyabbuh yang Dilar ang nakm fikb tslau
Hammamm berkata dalam memberikan alasan ketika menetaPkan bahwa
hukumnya adatah makruh, "Karena ibadah memilikitabiattertentu di tem-
pat itu dan menjadi berat di tempat yang lain. Jika ibadah menjadi memiliki
tabiat, jalannya adalah dengan ditinggalkan, dan oleh sebab itulah haram
puasa sepanjang zaman.*3or
lbnu Hajar berkata, "Hilanahnya, Perbuatan semacam itu akan meng-
akibatkan kepada mencari popularitas, riya, sum'ah (gila nama baik), ter-
ikatdengan hawa-nafsu dan tundukkepada syahwatnya' Semua iniadalah
bencana yang benar-benar bencana yang jelas-jelas harus menjauhi se-
gala apa yang bisa menjurus kepada semua itu sebisa mungkin."3o2
Yang mendukung pendapat ini -Wallahu Ta'ala Alam-' aPa yang
diisyaratkan sebagian para ahli ilmu berupa sunnah hukumnya berpindah
dari tempat mengerjakan shalat fardhu ke tempat lainnya jika orang yang
melakukan shalat hendak mengerjakan shalat nafilah. Dalam hal ini
mereka berkata, "Dalam tindakan berpindah itu ada uPaya memperbanyak
tempat sujud karena semua itu akan menjadi saksi baginya karena dalam
tindakan itu ada upaya menghidupkan suatu lembah dengan ibadah"'3o3
sebagian pakar fikih menyebutkan adanya kemungkinan tidak ada
kemakruhan jika dikaitkan dengan tempat-tempat mulia.3G Dikuatkannya
bahwa s alamah Radhiy atlahu Anhu bersung guh-sung g uh melakukan
shalat dekat usthuwanah'tiang'yang ada mushhaf" dan ia berkata, 'Akt't
menyaksikan Nabi Shallaltahu Alaihi wa Sallam sangat bersungguh-
sungguh untuk shalat di dekatnyeil3Elnilah yang benar'
lbnu 3@ Muhammad bin Abdulwahid As-siwasiAs-sakandari, dikenal dengan nama
Al-Hammam Al-Hanafi. Lahir tahun 790 H. Dia terkenal di kalangan pengikut
mazhab Hanafi. la sangat mahir di bidang fikih, tafsir, dan faraidh' Kitab-kitab karyanya
antara tain adatah fatn ntQadir,At'Tahrir dan lain-lain' la wafat tahun 861 H'
Syiin
Lihat Al-A'la m, (6/255).
3ol lbnu Al-Hammam, op-cit.,(1 14221.
302 Dinukil dari muhaqqiq, Al-Baghawi, op.ciL, footnote no. 3, (3/162)' Kami
tidakmenemukanpenggatan.yangmeniaoipusatprasangka.Akantetapi,penulis
menetapkannya karena cli dalamnya terdapat faidah'
s3 Lihat Ar-Ramli, Nihayah Al-Muhtaj, (1/551)'
3s Lihat lbnu Muflih, op.cit., (1/268)'
M Shahih Muslim, Kitab Ash-shatal Bab "Dunuwwu Al-Mushatli min sutrah"
hmwaaadnitsasalndlaoam.laspmoaglis,ne(g1o/ab3ge0irsah)na. tiii-sihwtha;utyiwadatannMabuhesarluidmpaa.layVaha'tnmiagenjlgaek't.auskMabnaakhsnwhaaanl.aystae,nmNaufaialbaih.iStudhiatselliartumll'aaShseuubAkalagbiahaiib-
menjadikan tiang tlrsebut iebagai sutrah'pembatas' baginya'
- -tab *, tuyaffirh u t:frr"g peribadal1m Z4S
Ketika menjelaskan hadits ini, An-Nawawi berkata, "Dalam hal ini
tidak ada masalah selalu melakukan shalat pada satu tempat jika tempat
itu terdapat keutamaan. sedangkan larangan berkenaan dengan meng-
khususkan satu tempat dalam masjid dengan tidak ada keutamaan
padanya dan tidak diperlukan sikap yang berlaku demikian."36
Maksudnya -wallahu Al lam- diperbolehkan perpindahan itu untuk
shalat nafilah dan bukan shalat fardhu. Yang demikian itu karena adanya
sebagian lafal dalam kitab shahih Muslim bahwa ia -saramah- selatu
bertempat di suatu tempat yang terdapat mushaf untuk shalat di dekatnya.
la menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi ua sallam selalu
bersungguh-sungguh dan berupaya untuk mendapatkan tempat itu.3o?
Ini jelas, bahwa Rasulullah sha llallahu Alaihi wa sallam merakukan
shalat fardhu bersama orang banyak selalu sebagai imam di depan orang
banyak itu dan bukan pada usthuuaah tersebut.
ttlrrl
9"rt U*,,5
laranflan Rebah sepe]fi Unta Rebah
Para ahli ilmu berbeda pendapat dalam masalah turun untuk ber-
sujud, bagaimana seharusnya, yang akhirnya menimbulkan berbagai per-
bedaan pendapat yang akan Penulis sajikan di sini iraya Allahra'alayang
kemudian masing-masing pendapat diikuti dengan dalil-dalilnya masing-
masing dengan penjelasan tentang pendapat yang paling kuat, diikuti
dengan dalil yang menunjukkan kekuatannya dengan tetap memperhatikan
penyajian secara singkat. Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya.
Alasan sehingga dimunculkan permasalahan ini adalah sangatjelas.
Yakni karena Nabi shallallahuAlaihiur,asallam melarang gaya tertentu
disiniyang mirip dengan cara unta rebah.
Pendapat /. Sunnahnya adalah jika hendak sujud dalam shalat agar
memulai dengan kedua lutut diikuti kedua tangan. Demikian ini adatah
s An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (412261.
s7 Telah ditakhrij di atas dan ini salah satu riwayatnya.
246 - T usryabW Wne Ditarang talaw rikh rclam
mazhab ahli ilmu umumnya. lni adalah mazhab Abu Hanifah,3m Asy-
Syaf i,3m riwayat dariMalik,3ro masyhur menurutAhmad,3rr dan juga men-
jadi mazhab para shahabat dan tabi'in.3r2
Pendapat //. sunnahnya adalah dengan memulai dengan kedua
tangan lalu disusut oleh kedua lutut. lni adalah yang masyhur bagiMalik,3r3
dan merupakan riwayat di kalangan Para pengikut mazhab Hanbali.3ra
Jumhur mengetengahkan dalil-dalil, di antaranya:
1. Dari Wailbin Hajar RadhigallahuAnhu bahwa ia berkata,
yr-iiyJ',-,i--'r'';-','1# 'oi'zkJe',;5J,'# rit &': \t S;'"uat U-?t
^g'trv.,*^.-;uEr'fr
" Aku telah menyaksikan bahwa Rasutullah Shallallahu Alaihi wa
Sattam jika bersuiud betiau meletakkan kedua lutufrrya sebelum kedua
tangannya. Dan iika bangkit beliau mengangkat kedua tangannya se-
bel um ked ua I u tu ttYa." }ts
2. Ppa yang diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Arthu disebutkan,
iUirs'r';r,F,}Eau"v:rt
3s Lihat As-sarkhasi, op.cit., (1/31.32}; dan Al.Kasani, op.cit, |11210|.
3m Lihat Asy-Syaf i, At-umm ... op.cit., (1/136); An-Nawawi, Al4linhai, dengan
Syarh At-Jatat At-ituiatta, (1/161); dan ApGhazali, AhWasith ... op.cit., (A6261.
3ro Lihat lbnu Abdul Bar, Al-Kafi fri Fiqhi Ahli Al'Madinah Al'Maliki, tahqiq
Muhammad Walad Madik, (1399 H), (1/175};dan Al-Hathab, op.cit., (1/193).
3n Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (2/193); Al-Mardawai, op.cit., (2/65); dan Al-
Bahuti, op. cit.,(1 I 3501.
3r2 Dinukil dari umar bin Al-Khaththab, Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Umar'
An-Nakha,i, lbnu sirin, dan lain-lain. Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (2/193).
3r3 Lihat Mukhtashar Khalit,(3O); dan lbnu Ghanim An-Nafrawi, Al'Fawakih Ad-
Dawani Syartt Risalah bin Abu Zaid AhQainwani, (Beirut Daar Al-Ma'rifah)' (1/213).
311 Lihat Al-Mardawai, op.cit., (2/65).
315 Sunan Abu Dawud, Kbb Astrshalat, Bab "Kaifa Yadha'u Rukbataihi Qabla
yadaihi", haditsno. au,(7,Dbl; &nanAt-Timi&i, KbbAbwab,asltshalatBab"tvlaJa'afii
A*Wadh,i Ar-Rukbataini QaOn ei-Yadaini
Nasa'i, Kbb At-Tathbiq, Bab "Awwalu
naois'no. 108S, (21553); Shahih tbnu
fiiAs-Sujud, hadits no. 268, (21561; Sunan
ma Yashilu ila Al-Ardhi min Al'lnsan fii Sujudihi"'
Khuzaimah, Kitab Ash'shalaf, Bab'Al-Bad u bi
Wadh'i Ar-Rukba'taini 'iia At-Ardhi ...", hadits no.626, (1ts18); dan Mtffidrak Al-Hakim,
lOb b AslrSha lat (1 I 226',.
- -tab tt: tasyahh"b li illo"g perrbtuban 247
" Dan beliau rurun (untuk sujud) dengan takbir hingga kedua lututnya
mendahu I u i kedu a tangannya." 3t 6
3. DariSa'ad bin Abu Waqqash, ia berkata,
t.t J5,f\u)(lli,#1t,P ;lt e g
"Kami meletaklcan kedua tangan sebelum kedua lutut, kemudian rami
diperinahkan meletakkan kdua luut sebelum kedua tangan."
Hadits ini menunjukkan bahwa turun dengan kedua lutut adarah yang
terakhir diperintahkan diantara dua perkara itu. Hadits ini menjadi nasil<h
(penghapus dan pengganti) bagi hadits sebelumnya yang menjelaskan
bahwa turun dengan kedua tangan.
4. Dari Abu Hurairah sebuah hadits marfu',
^3t * !U'g r, 4t't;-us'!';>\',! ti't; ts1
"fka salah seorang dari lcalian bersujud maka hendaknyajangan mere-
bah seperti seekor unta merebahkan diri. Hendakrya meletakkan kedua
tangannya se belum kedua lutu tuya."3t?
sekalipun hadits ini adalah dalil mereka yang mengatakan bahwa
merendah dengan kedua tangan sebagaimana akan dijetaskan. Akan
tetapi, dijadikan dalil pula oleh para pengikut mazhab Hanafi3r8 bahwa
sunnahnya adalah merendah dengan kedua lutut. sebagaimana ada
dalam riwayat darinya,
f g! t;gjlt :s'r'j)l j,l r, .;-"- l:i i; q
f;i rsy
3to Al-Hakim, op.cit., Ktab Ash-Shalat (112261, dengan sanad di mana At-Ala'
bin lsmailsendirian dari Hafsh bin Ghayyats. Al-Hakim berkata, "lniadalah isnad yang
shahih menurut syaral Asy-syaikhani, dan aku tidak menemukan cacat. Namun,
keduanya tidak mentakhrijnya dan dikukuhkan oleh Adz-Dzahabi. Diriwayatkan lbnu
Hazm, dalam Al-Muhalla, (4117s1, dari jalur Ahmad bin Zuhair bin Harb dari At-Ala'.
Dan tidak dicela berkenaan dengan keshahihannya. Akan tetapi, lbnul eayyim, dalam
Zaad Al-Ma'ad, (11229), berkata, "At-Ala' adalah orang yang tidak dikenat, tidak
disebutkan dalam berbagai kitab". Jelas bagi penutis bahwa At-Hakim, Adz-Dzahabi,
dan lbnu Hazm mengetahui sifat profesionalitasnya, maka mereka tidak mencelanya
berkenaan dengan haditsnya karena permasalahan tersebut.
rtt sunan Abu Dawud, Kitab Ash-shalat, Bab "Kaifa yadha'u Rukbataihi eabla
Yadaihi", hadits no. 840, (11222); Sunan At-Tirmidzi, Abwab: Ash-Shalat, Bab "Maa
Ja'a fii wadh'i Ar-Rukbataini Qabla Al-Yadaini fii As-sujud", hadits no. 269, (2tsrl:
sunan An-Nasai, Kitab At-Tathbiq, Bab "Awwatu ma Yashilu ila Al-Ardhi min Al-tnsan
fiiSujudihi", hadits no. 1089, (2/553).
316 Lihat As-Sarkhasi, op.cit., (1131-921.
248 - rasyl$u$ gang oilarung M[am uhh rlam
,, lika salah seofing dari kalian semua betsujud, hendaknya memulai
dengan kedua lutufiya dan hendaknya tidak merebah seperti seekor
unta iantan merebahkan diri."3te
Mereka berkata, "unta ketika merebahkan diri mulai dengan kedua
tangannya maka seseorang yang melakukan shalat hendaknya memulai
dengan kedua kakinya."32o
5. Mereka berkata, "Orang yang sedang melakukan shalat merendah de-
ngan kedua lututnya adatah perbuatan yang lebih lembut baginya dan
lebih bagus bentuk dalam pandangan mata."32r
sedangkan mereka yang berpegang dengan pendapat kedua men-
dasarkan pendapat kepada dua dalil, yaitu:
1. Dari Abu Hurairah Radhigaltahu Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
Slallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
fl ,e i"'&j i At'!:; K'!:;>v'7 :;i''; tiY
*lika satah seorang dari kalian betsuiud, hendaknyaiangan."rro*
sewrti seekor unta merebahkan diri. Hendaknya meleakkan kedua
tangannya sebelum kedua lufrtfrtya."12
2. Apayang datang darilbnu umarRadhigallahuAnhuma bahwa dirinya
metetakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya, lalu berkata,
"Nabi Shallallahu Ataiht wa Sallam melakukannya'"323
Dtslcust seftltor Dalll-dalll dan NlenJelaskan yang Pallng Kuat
Dalil-dalil jumhur yang didiskusikan adalah:
Mereka berkata bahwa hadits Wail bin Hujr Radhiya llahu Anhu ada
sanadnya yang sendirian, yaitu Syarik bin Abdullah An-Nakha'i dari Ashim
31s Mushannaf lbnu Abu syaibah, Ktab Ash-shalal Bab "Fii Ar-Rajuli tdza
lnhaththa ila As-sujud Ayyu syaiin Yaqa'u minhu Qabla ila Al-Ardhf, (1/263).
ao Lihat As-Sarkhasi, op.cit, (1/31).
ei Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (2|/193).
32 Sunan Abu Dawud, Kitab Ash-shalal Bab "Kaifa Yadha u Rukbataihi Qabla
At-Tirmidzi, Ktab Abwab Ash-shalal Bab
Yadaihi', hadits no. 840, (11222), Sunan Al-Yadaini fii As-Sujud', hadits no. 269, (A
"Maa Ja:a fii Wadh'i Rr-RufOataini Qabla
571, Sunan An-Nasai, Ktab At-Tathbiq, Bab "Awwalu ma Yashilu ila Al'Ardhi min Al-
lnsan fii Sujudihi', hadits no. 1089, (2/553).
Ktab Aus3h-ASlh-HalaaktimBa,bo;pD.zciikt,ru(2Kt2a2b6ar)i,ndRaunwdiyisah'aahnihAkna-nNnaybai ,ShsahlalahllaihhulbAnluaihKihwuazaSiamllaahm,
fii Bad ihibiWadh'iAl-Yadain ...", hadib no. 627, (1/$18). At-Bukhari berkomentarbahwa
iU adalah perhratan lbnu Umar saja. Lihat lbnu Haiar, Fah ... opat',(?l2ff)'
l: -r,ab tasgabbull li s;Aang peibababan -. 249
bin Kulaib dari ayahnya dariwail bin Hujr. Ad-DaruquthniRahr'mahullah
berkata, "Syarik tidak kuat."
Aspekyang menjadikannya tidak kuat adalah kebanyakan kesalahan
padanya dan lemah hafalannya. Abu Hatim berkata, "Saya katakan ke-
pada Abu Zur'ah,'Syarik bisa dipercaya pada hafalannya?' ta menjawab,
'la banyak kesalahan. Punya hadits namun kadang-kadang salah'."324
Karena itu hadits tersebut lemah tidak bisa dijadikan alasan.
Sedangkan hadits Anas bin Malik Radhigallahu Anhu bahwa Al-
'Ala' bin Ismail adalah sanad yang sendirian, dari Hafsh bin Ghalyats,
sebagaimana dikatakan Ad-Daruquthni.35 Al-'Ala' bin Ismail adatah orang
yang tidak dikenal.326 Ad-Daruquthni berkata, "la berbeda dengan Omar
bin Hafsh bin Ghayyats salah seorang yang paling kokoh dari aphnya.
la meriwayatlon dari ayahnya dari Al-Amasy dari lbrahim dari Alqamah
dan lain-lain dari Amar dan mauquf padanya. lnilah disebutmahfudz."
lbnu Hazm berkata, "Dalam hadits ini tidak ada kekuatan alasan
karena dua hal: (1) ltu bukan hadits Anas, bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi toa Sallam meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.
Sedangkan dalam hadits itu sekedar kedua lutut mendahului kedua tangan
saja. Bisa jadi hat ini hanya mendahului dalam masalah gerakannya saja
bukan pada meletakkan keduanya .... (21Bahwa jika di dalamnya ada
penjelasan tentang meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan tentu
hal itu sesuaidengan yang dipersiapkan oleh dalil bahwa keduanya adalah
boleh. Dan kabar Abu Hurairah muncul dengan syariat yang lebih yang
menghilangkan hukum boleh yang lalu tanpa diragukan, melarang hal itu
secara meyakinkan. Dan tidak boleh meninggalkan yang yakin demi
sebuah zhann'prasangka' yang dusta."327
Sedangkan hadits Sa'ad bin Abu Waqqash, di dalam kitab Al-Fath,
Al-Hafizh lbnu Hajar telah berkata, "Para perawinya meriwayatl<an dari
Ibrahim bin lsmait bin Yahya bin Salamah bin Kuhail dari ayahnya. Sedang-
kan keduanya adalah lemah."328
ua Lihat lbnu Hajat Tahdzib... op.cit., biografi no.2883, 1413041.
32s Daruquthni, Sunan Ad-Daruquthni, (1/345).
326 Lihat lbnul Qayyim, op.cit., (11229).
32' fbnu Hazm, AhMuhalla, @451.
uE lbnu H{ar, Fath ... op.cit., (4291).
tW250 - "rasyabbuh gang oilaruug Mkn rclant
sedangkan mengambildalil dengan hadits Abu Hurairah berkenaan
dengan larangan merebahkan diri seperti seekor unta merebahkan diri,
maka hadits tersebut memiliki riwayat-riwayat yang lain yang menegaskan
merendahkan diri dengan kedua tangan sebelum kedua lutut. Maka tidak
ada kekuatan alasan dalam hadits tersebut.
sedangkan dalil-dalil pendapat kedua telah didiskusikan sebagai-
mana berikut:
HadiB Abu Hurairah yang menjadi rujukan kuat bagi pendapat ini
telah dilemahkan karena hal-hal berilant:
Peruma. Bahwa porosnya adalah Ali Abdulaziz Ad-Darawardi dari
Muhammad bin Abdullah bin Al-Hasan Al-Alawi dari Abu Az-Zinad dan
Al-Araj dariAbu Hurairah. lmam Ahmad berkenaan dengan Ad-Darawardi
berkata, 'Jika ia mengeluarkan hadits dari kitab orang lain, lemah. la mem-
baca dari kitab-kitab mereka dan salah." Abu Zur'ah berkata, "Hafalannya
buruk." Abu Hatim berkata, "Tidak bisa dijadikan alasan." An-Nasa'i ber-
kata, "Tidaft lq;61.,32e
Kedua. Bahwa hadits itu dari jalur Muhammad bin Abdullah Al-
Hasan Al-Alawi. Setelah pembahasan hal ini dalam kitab At-Tarikh Al-
Kabir dengan tanpa mengulasnya Al-Bukhari berkata, 'Apakah ia menge-
tahui bahwa aku mendengar dari Abu Az-Zinad atau tidak?":ro
m Tidak bisa dibantah hal itu, karena Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayat'
kannya dalam kitab shahih keduanya. Al-Hafizh dalam mukadimah Fath AhBari, (4201'
setelah menukil beberapa perkataan tentang dirinya dalam rangka melakukan /arft
wa ta'ditberkata,'Al-Bukhari meriwayatkan darinya dua buah hadits yang didamping'
kan dengan Abdulaziz bin Abu Hazim dan lain-lain. Dan hadits-hadits lain yang sedikit
dengan bentuk
',miumu'alalhlanqya di mana ia disendirikan. Akan tetapi, ia membawakannya membersihkan
dan sifatnya sebagai mutaba'at. Sedangkan Muslim lebih
riwayatnya dari hadits orang{rang lemah, kecuali yang shahih dan kuat- Oleh sebab
itu, ia tidak mentakhrij hadits ini karena di dalamnya ada keanehan. An-Nawawi
Rahimahuttahtelah'menjauhkan diri'dari hadits itu di dalam mukadimah syarahnya
terhadap kitab shahihnya, (1t24l.la membantahnya dengan bantahan yang sangat
bagus. Pada bagian aknir ia berkata, "Sebagaimana yang saya sebutkan adalah
daiit bafrwa siapa sala yang menetapkan sesuatu atas seseorang hanya karena
riwayat Muslim tentrang dirinya di datam katab shahihnya karena termasuk dari syarat
shahih menurut Muslim, maka orang itu telah lupa dan salah. Akan tetapi, hal itu ter-
sgantung pada penelitian tentang bagaimana ia meriwayatkan darinya."
Muhammad bin tsmail Al-Bukhari, At-Tarikh Al-Kabic (Beirut Daar lhya At-
Turats Al-Arabi), (1/139), no. 418.
wb *tuyffi -li Bihng pet#atdtan- 251
Yang memperkuat bahwa hadits iniglarib 'ganjil' adalah bahwa tak
seorang pun dari para murid Abu Hurairah yang berjumlah lebih dari
delapan ratus orang meriwayatkan hadits ini, kecuali Al-Araj. Dan tak
seorang pun dari para murid Al-Araj meriwayatkannya, kecuali Abu Az-
Zinad. Dan tak seorang pun dari para murid Abu Az-Zinad meriwayatkan-
nya, kecualiMuhammad bin Abdullah bin Al-Hasan Al-Alaw{.33r
Kettga. HadiB itu mudhtharib matannya (teks haditsnya kacau).
Dalam riwayatAt:Tirmidzi tidak ada penyebutan 'kedua tangan dan 'kedua
lutut' sama sekali. Akan tetapi, ada dalam riwayat Al-Baihaqi dari Sa'id
bin Manshur dari Ad-Darawardi,
^f$,*j+'fi':
" Hendaknya ia meleakkan kedua bngannya seblum kedua lunfiya."
Kemudian oleh Al-Baihaqidibawa kepada makna bahwa maksudnya
adalah meletakkan keduanya diatas kedua lutut ketika merendah untuk
bersujud. Menurut lbnu Abu Syraibah bunyinya adalah,
;r f g Ll'";S-,"it':)');'! r, lU Ji ,ri e 7 t;y.
'lika salah seorang dari kalian semua bersujud hendalaya memulai
dengan kedua lurumya dan hendabtya tidak merebah sepeni unta janan
merebahkan diri." Dan lain-lain.332
Kekacauan di dalam matan inilah yang menjadikan lemah hadits
inidan mendorong kepada keraguan dalam kepastiannya.
Keempat. Ibnul Qaryim Rahimahullah mendukung kekuatan hadits
ini sekalipun menurut sebagian para perawinya bahwa hadits ini maqlub
(terbalik). Sesungguhnya asalnya adalah,
;.{,k+,K)'e$t
'Hendaknya ia meletakkan kedua lutufrrya seOetum *eaua bngannya.-
Ia memperkokoh itu dengan berbagai hadits. Di antaranya datang
dari lbnu Abu Syaibah seperti disebutkan tadidi dalamnya ungkapan,
33t Lihat komentar Dr. Abdullah bin Jibdn tentang Muhammad bin Abdullah Az-
eZarkasyi, dicetak oleh Syirkah Al-Ubaikan, Riyadh, 1410 H, lihat hamisy 1, (1/565).
Lihat lbnul Qayyim, op.cit., (1/230).
252 - rrapabbuh gaugDilaruugtalamrik$ rslam
f fr7;\1";jrt':)3;'! ru!.n'# ti q *i'-,; tiY
"fika salah seorang dari lcalian semua bersuiud hendalaya memulai
dengan kedua lutunya dan hendahya tidak merebah seperti untaiankn
merebahkan diri."
la Rahimahutlah mengambil hadits ini untuk mempertemukan
semua teksnya dan juga untuk mengakurkan bagian awal hadits dengan
bagian akhimya sebagaimana akan dijelaskan nanti.333
Kelima. Mereka berkata, "Nyata-nyata hadits ini saling berbeda
karena yang dikenal dari seekor unta adalah meletakkan kedua tangannya
sebelum kedua kakinya, lalu bagaimana setelah itu diperintahkan untuk
men)rerupainya dengan kata-katanya,
^g)Jr^;*'CA't
rrn^. f**' Hendaknya ia meleakkan kedua tangannya
Iutufrrya.'
Siapa yang mengklaim bahwa kedua lutut unta adalah pada kedua
tangannya maka ia telah benar-benar salah. Yang demikian itu sama sekali
tidak dikenal datam bahasa atau dalam syariat. Lutut adalah pada kaki
manusia dan binata[g."3rr
Kemudian membawanya kepada makna lutut pada tangan adalah
upaya menghitangkan faidah hadits ketika membuat tasgbih 'persamaan
sehingga lengkapnya sebagai berikut 'Maka hendaknya ia meletakkan
kedua tangannya sebetum kedua lututnya. Dan agar tidak seperti seekor
unta yang meletakkan kedua lututnya sebelum kedua kakinya."
Dalam ungkapan selengkap seperti itu justru mengandung kele-
mahan yang sudah pasti akan dijauhi oleh lisan manusia paling fasih.335
Keenam.Mereka berkata, "sesungguhn)ra yang dipahami oleh orang-
orang berakal adalah bahwa duduk manusia sesuaidengan gayanya ada-
lah sampainya kedua lutut ke permukaan bumi sebelum kedua tangannya.
tni adalah cara duduk yang biasa tanPa ada main-main yang diperbuat-
nya. Ini adalah sesuatu yang paling jauh dari keserupaan dengan unta
s tbid.,(1t2261.
s Lihat komentar Dr. Abdullah bin Jibrin atas Syarh Az-Zarkasyi untuk kitab
sMukh tash ar Al-Kha rqi, ( 1 /565).
tbid., (1/567).
-sah tt tasgabbub l; Ndang peibabahan-. 253
ketika ia hendak merebahkan dirinya. Telah diriwayatkan oleh lbnu Abu
Syaibah dari lbrahim An-Nakha'i bahwa ia ditanya tentang meletakkan
kedua tangan sebelum kedua lutut, maka ia tidak menyukai hal itu dan
berkata, "Tidakkah dilalmkan kecuali oleh seorang tolol dan sinting?"ffi
Sedangkan dalil kedua, laitu yang dinukil dari lbnu (lmar adalah
telah diriwayatkan Al-Bukhari dengan derajat mauquf kepada lbnu Umar.
Sedangkan hadits tersebutjika dikatakan marfu', maka demjatnya lemah
disebabkan ketersendirian Ad-Darawardi yang telah berlalu adanya sebuah
isyarat dalam ketersendiriannya. Yakni, sekalipun ia meriwayatkannya dari
Ubaidillah bin Umar bin Hafsh seorang yang bisa dipercaya dan masyhur.
Akan tetapi, hadits terbalik karenanya. Sebagaimana dikatakan oleh lmam
Ahmad bahwa ia meriwayatkan dari dirinya. lni adalah dari hadits
Ubaidillah bin Umar, sedangkan ia adalah lemah. An-Nasa'i berkata,
"Haditsnya dari Ubaidillah bin Umar adalah hadits munkar."337
Dari uraian di atas jelas-WallahuTa'ala/ilam- menunjukkan ke-
kuatan mazhab jumhur yang disebabkan oleh kelemahan dalil-dalilyang
diketengahkan oleh para penyanggahnya. Sedangkan yang dimunculkan
menghadapi dalil-daliljumhur maka pada sebagiannya harus dilakukan
peninjauan. Berkenaan dengan hadits Wail bin Hujr Radhtgallahu Anhu
dengan apa yang dikatakan bahwa Syarik adalah seorang sanad yang
sendirian, namun para imam telah mempercayaiSyarik itu. Akan tetapi,
mereka hanya menyebutkan bahwa dirinya banyak melakukan kesalahan
yang tidak mengharuskan menghilangkan hadits-hadits darinya. Hadits
initelah dianggap bagus dan menggunakan lafal-lafalyang tidak mengarah
kepada adanya suatu kesalahan dan kelupaan yang menjadi aib baginya.
Kemudian haditsnya memiliki hadits-hadits penguat yang lain yang
menunjukkan bahwa haditsnya memiliki dasar yang terpelihara. Di antara-
nya adalah hadits Anas dan hadits Sa'ad bin Abu Waqqash sebagaimana
telah disebutkan sebelumnya.
Sedangkan yang disebutkan berkenaan dengan haditsAnas Radhi-
gallahu Anhu yang di dalamnya terdapat Al-Ala bin lsmail yang sendirian
38 Mushannaf lbnu Abi Syaibah, Kitab Ash-Shalawat, Bab "Fii Ar-Rajuti tdza
lnhaththa ila As-Sujud ...", (DAq.
337 Oleh sebab itu, yang jelas Al-Bukhari memilih menganggap hadits ini ber-
derajat mauquf. Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit., (21291).
254 - tasylloull yang oilarang MIo nk$ s[a^
sebagai orang tidak dikenal. Akan tetapi, Al-Hakim berkata, "Menurut syarat
dua syalkh (Al-Buktrari dan Muslim) dan saya tidak menemukan kelemahan
padanya." Dan disepakati Adz-Dzahabi dan ditakhrij lbnu Hazm dari jalur
Ahmad bin Zuhair bin Harb dan bersikap diam terhadap hadits tersebut.
Yang jelas mereka mengetahui keprofesionalan Al-Ala bin lsmail tersebut
sehingga mereka tidak melakukan tha'n'menganggap cacat' kepada hadits
tersebut karenanya.338
Mazhab jumhur diperkokoh oleh tindakan kelompok para shahabat
dan para pemuka tabi'in. Hadits itu dinukil dari Omar bin Al-Khaththab,
lbnu Mas'ud, Ibrahim An-Nakha'i, Abu Qilabah, Al-Hasan, Ibnu sirin, dan
lain sebagainya.
walhasil, bahwa Nabi strallal lahu Alaihi um fullam melarang orang
yang melakukan shalat bersifat sebagaimana sifat bagaimana unta rebah.
Yang demikian itu bermakna bahwa semua perbuatanyang munculseruPa
dengan perbuatan binatang adalah makruh.33e
:t rt rt
33s Lihat Al-Hakim, op.cit., (112261; dan lbnu Hazm' Al-Muhalla' (41179)'
33e Lihat hlm. 146.
-tab tt:'rayabbub d; rllang teibaba$an.- 255
?"r,t lr*,rO
Apakah Dllaran! Melakukan Sadl?
Muncul larangan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang
sadl. Sebagian dari para shahabat menyebutnya sebagai perbuatan
Yahudi. sebagian yang lain mengatakan bahwa dengan perbuatan seperti
itu dikhawatirkan bisa menampakkan aurat. Sebagian orang-orang sataf
tidak melihat suatu masalah dalam cara berdiri seperti itu sehingga mereka
melakukannya. sebab perbedaan pandangan itu adalah perbedaan mereka
dalam memandang keshahihan hadits yang muncul dan perbedaan
mereka tentang makna sadl dan hikmah pelarangannya.
Kita akan membahas permasalahan ini dalam dua subbahasan.
A. Deftnisi Sadl
Sadl menurut arti etimologis adalah menjulurkan pakaian sampai
ke tanah. Huruf-huruf sin, dal, dan lam adalah asal yang satu yang
menunjukkan turunnya sesuatu dari atas ke bawah yang menutupinya.m
Sedangkan defi nisi sadl secara terminologis masih dipertentangkan
oleh para ahli ilmu sehingga muncul banyak pendapat akan kita sebutkan
di antaranya yang paling populer:
- Dikatakan, "Menjadikan pakaian terletak di atas kepala atau kedua pun-
dak dengan bagian tepinya dibiarkan menggantung begitu s€rja."3nt
- Dikatakan pula, "Menjadikan pakaian di atas kepala atau diatas kedua
pundak dengan membiarkan ujung-ujungnya di bagian tepijika tidak
mengenakan celana panjang."34
- Dikatakan pula, "Meletakkan bagian tengah kain di atas kepala dan
membiarkan kedua ujungnya menjulur ke sebelah kanan dan kirinya
dengan tidak menjadikan keduanya di atas kedua pundak.":nr
- Dikatakan pula, "Membiarkan kedua ujung selendang di kedua sisi."s
s lbnu Fans, Mulam... op.cit., (3/149).
si Lihat Az-Zaila'i, Tabyin AhHaqaiq, (1t164); dan At-Muthrazi, At-Maghrib, (221).
s2 lniadalah pendapatAl-Karkhidari kalangan pengukut mazhab Hanafi. Lihat
I bnu Abidin, op. cit.,(21 4051.
ss3 lbnu Al-Atsir, op.cit., (2/355).
Lihat Al-Muhadzdzab dengan AhMajmu', (3/176). An-Nawawi Rahimahuttah
berkata, "Para ahli bahasa berkata, membiarkan pakaian hingga menyentuh bumi".
Kata-kata penulis dibawa kepada arti ini. Lihat Al-Majmu', (31116).
256 - r asgaffirb ooW oilarung bakw rk$ rchw
- Dikatakan pula, "Membiarkan kedua ujung selendang dikedua sisinya
dan tidak menyelempangkan salah satu ujungnya di atas pundak yang
lain.tr345 Sebagian dari mereka menambahkan, "Dan tidak me-
ngumpulkan kedua ujungnya dengan menggunakan tangan."s
- Dikatakan pula, "Memanjangkan pakaian hingga menyentuh bumi
dengan membiarkannya ke atas salah satu pundak."rT
- Dikatakan pula, 'Meletakkan bagian tengah selendang di atas kepala
dan membiarkan sisanya di belakang punggungnya."ffi
- Dikatakan pula bahwa artinya, "Berselimut dengan pakaian dengan
memasukkan kedua tangan dari dalam lalu ruku'dan sujud dengan ke-
adaan sedemikian itu."34e
lnilah sejumlah definisi dari para ahli ilmu tentang kata sadl. Yang
jelas -Wallahu Ta'ala Allam- definisi tersebut bahwa sadl membiarkan
kedua ujung selendang, baik bagian tengahnya di atas kepala atau tidak
demikian, dengan tidak mengembalikan salah satu ujungnya berada di
atas ujung yang lain. Sedangkan makna yang menyebutlon bahwa sese-
orang berselimut dengan pakaianrryra, maka yang paling dekat yang demikian
itu adalah bentuk yang disebut slamma, sebagaimana akan dijelaskan
nanti.
Asy-syaukani berkata, "Tidak ada masalah membawa hadits3sr
kepada semua makna yang disebutkan inijika kata sadl adalah kata yang
mtsgtarak (memiliki lebih dari satu arti)."3'r
Kata yang musgtarak dibawa kepada semua maknanya adalah
mazhab yang paling kuat.352
Jelaslah bahwa sadl yang terlarang itu tidak mencakup aPa yang
telah menjadi gaya berpakaian. lstilah sadl menurut sebagian ahli fikih,
s Lihat As-Samiri, AhMustau'ib, @2441.
M Lihat lbnu Qudamah, oP.cit, @2971.
ss7 Lihat Al-Mardawai, op.cit, (f /469).
lbid.
sse lbnu Al-Atsir, op.clt., (2/355).
Yakni hadits Abu Hurairah yang di dalamnya Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam melarang perbuatan sadl.
sr Asy-syaukani Rahimahutlah menyebutkan beberapa definisi sebelum kali'
mat ini. Lihal Nait At-Authar,l2l77l. Dan tidak mencakup apa-apa yang kami sebutkan.
Akan tetapi, ungkapannya berlaku untuk semua makna sadliika memang benar.
$2 Asy-Syaukani, ibid.
-*ub ttt tasgrthub t, firrg peibaMban 257
apalagi menurut para pengikut mazhab Malik dimaksudkan memanjang-
kan kedua tangan dan tidak memegang keduanya itu353 sebagaimana
dimaksudkan dengannya membiarkan rambut.3il Akan tetapi, kedua arti
inibukanlah yang dimaksud didalam pembahasan ini.
B. Hukum Sadl
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum sadl sehingga
muncul pendapat-pendapat berikut:
Pendapat /. Perbuatan itu makruh hukumnya. lni pendapat para
pengikut mazhab syafi'|r:: dan mazhab para pengikut mazhab Hanbali.3tr
Pendapat //. Hukumnya makruh tahrim (yang diharamkan). Ini
adalah pendapat para pengikut mazhab Hanafi3,7 dan diharamkan oreh
para pengikut mazhab Hanbali dalam suatu riwayat.3m
Pendapat lll. Hal itu mubah hukumnya. lni adalah riwayat di l<a-
langan para pengikut mazhab Hanbali35e dan dinukil pura dari sebagian
kalangan salaf.36o
Mereka yang bermazhab kepada hukum makruh mengetengahkan
dalil-dalil sebagai berikut:
a. Apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,
iv tro:;t',y.lf r,,>$:t,tj:ilt *,# e, *?rt S* olt"oi
" Nabi shallallahu Alaihi wa sallam melarang melakukan sadr datam
shalat dan hendaknya seseonng menutup muluttya.',361
sffi Lihat Mukhtashar Khalil, (30); dan At-Kharsyi, At-Kharsyi ... op.cit., (1t286).
s Asy-Syauk ani, loc. cit
Lihat An-Nawawi, op.cit., (3/176); dan mereka memberikan syarat, yaitu
stidak menyombongkan diri. Jika tidak dipenuhi syarat ini, maka hukumnya haram.
Lihat Al-Mardawai, op.cit, (1/469).
ss7 LihatAz-Zaila'i, Tabyin ... op.cit.,(1t164); dan tbnu Abidin, op.cit., (Zl4OSl.
Lihat Al-Mardawai, op.cit., (1/469). Juga dikatakan oleh Asy-Syaukani dari
kalangan orang-orang yang datang kemudian. Lihat NailAt-Autha4 (2t77l.
so Al-Mardawai, ibid.
m Juga dikatakan oleh Jabir, lbnu Umar, Makhul, Az-Zuhri, dan lain sebagai-
nya. Llhat lbnu Qudamah, op.clt., (212971.
nt sunan At'Tirmidzi, Ash-shalal Bab "Ma Ja'a fii KarahiyatiAs-sadtfiiAsh-
Shalaf, hadits no. 378, (212171; Sunan Abu Dawud, Kitab Ash-Shatat, Bab "Maa Ja'a
fiiAs-Sadl", hadits no. 643, (111741.
258 - rr"swhb"b yang oilarung nalam fikb nlaw
Kemudian mereka membawa hadits ini kepada makna makruh.
b. Semua hadits yang ada melarang tindakan isbal.362
Mereka yang bermazhab kepada hukum haram mengetengahkan
dalil-dalil sebagai berlkut:
a. Hadits Abu Hurairah di atas karena sangat tegas melarang. Tidak ada
alasan untuk meninggalkan hukum haram itu karena tidak ada dalil
yang menjadikan boleh berpaling dari hukum pertama.3$
b. Dalam tindakan sadl ada kemungkinan terbukanya aurat.3e
c. Apa yang di dalamnya ada tasyabbuh kepada orang-orang Yahudi.$5
Sebagaimana diriwayatkan Ali bin Abu Thalib RadhiyallahuAnhubahwa
ia melihat suatu kaum melakukan sadl dalam shalat mereka. Maka ia
berkata,
t;*qri;!'frt'&k
" Mereka seperti orang-orang Yahudi yang keluar dari tempat ibadah
mereka."36
Bertasyabbuh kepada orang-orang Yahudi haram hukumnya, apa-
lagididalam ibadah.
Mereka yang bermazhab kepada hukum mubah, yang jelas mereka
mengetengahkan dalil-dalil yang dinukil dari sebagian para shahabat dan
tabi'in bahwa sadl adalah boleh dan bisa dilakukan,367 atau mereka me-
lemahkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.
Pendapat paling ltuat -Wallahu Ta'ala fr lam- adalah pendapat yang
mengatakan bahwa hukum melakukan sadl adalah haram dalam pelak-
sanaan shalat, karena hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu demikian
$2 An-Nawawi Rahimahuttah berkata, "Dan seakan-akan ia menyaksikan bah-
wa sadt harustermasukdalamnya ispt4armenjaditerlarang".LrhatAl4lainru', (U176).
ss3 Uhat Az-Zaila'i, toc.cit ; dnAqrSFukani, q.dt, (2t78).
Lihat lbnu Abidin, op.cit.,(2l4OS). Pengambilan dalil ini menjadiakan diterima
sdengan syarat tiada celana paniang atau sarung agar benar-benar tedadi sadlilu.
Lihat Az-Zaila'L op.cit.; dan lbnu Abidin, op.cit.,(214051.
ffi Abdunazz aq, At-Mushannat Kbb Ash-shalat Bab "As-sadl", atsar no. 1423,
(11364). Fuhuruhum, artinya rumah-rumah ibadah mereka; sebagaimana ditafsirkan
Abdurrazzaq. Al-Fairuz Abadi (dihlm. 589) berkata, "Dengan di'dhummabkan, artinya
menjadi perkumpulan orang-orang Yahudi di hari raya mereka atau hari di mana
mereka makan dan minum di dalamnya.
s7 Lihat catatan kaki nomor 360 di halaman sebelumnya.
-ub tt tasgbhuh li nrbaug peibablnn- 259
tegas. Sedangkan upaya melemahkan hadits karena sanadnya terdapat
Asal bin Sufuan3tr telah dilemahkan oleh jumhur. Karena dia tidak sendiri
dalam meriwayatkan hadits, tetapijuga disertai Al-Hasan bin Dzal<wan36e
sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud. Walaupun, dirinya diperselisih-
kan. Hadits inijuga dimuat dalam Al-Mustadrak darijalur Al-Husain bin
Dzakvan Al-Mu'allim.370 la adalah orang yang tsiqah'tepercaya'.
Dengan demikian hadits itu berubah menjadi kuat dan meningkat
menjadi sah untuk dijadikan dasar alasan.
Juga ketika disebutkan adanya sikap serupa dengan orang-orang
Yahudi; jika alasan ini menjadi kuat dengan adanya hadits, tidak diragukan
akan menunjukkan keharaman. Karena masing-masing dari keduanya
cukup untuk dasar alasan sekalipun sendirian.
Sedangkan apa yang disebut An-Nawawi bahwa dasar keharaman
sadl adalah keumuman teks-teks dalilyang mengandung larangan per-
buatan isbal, ini bukan sesuatu yang jelas, karena kebanyakan para ulama
tidak mempersyaratkan sadl mencapai derajat dsbal )rang dilarang menurut
syariat. Kalaupun ucapan kalian itu bena4 tentu halitu menunjukkan ke-
pada keharaman dan bukan kepada kemakruhan, dikarenakan keharaman
melakukan bbal. Demikian yang benar.
Yang jelas, bahwa larangan melakukan sadl adalah karena serupa
dengan orang-orang Yahudi atau karena perbuatan itu adalah suatu gaya
yang kadang-kadang dibarengi dengan perasaan sombong. Sedangkan
perkara bbal adalah sesuatu yang telah ada larangannya yang sangat
tegas dalam teks-teks dalilyang sangat banyak.
*titt
ffi Berkenaan dengan itu Ahmad mengatakan, "Menurutku haditsnya tidak
kuaf . lbnu Ma'in berkata, "Lemah'. Al-Bukhari berkata, "Dia memiliki berbagai hadits
munkar". Disebutkan lbnu Hibban bahwa ia masuk dalam golongan orang-orang
tsiqah. Dan ia berkata, "la sering salah dan bertentangan karena sedikitnya riwayaf.
Lihat lbnu Haiar, Tahdzib ... op.cit., biografi no.4740, (7/169).
$e Dilemahkan Ahmad dan jamaah. Disebutkan oleh lbnu Hibban dalam de-
retan orang-orang tsiqah. Dikatakan, "Hadits itu dilemahkan karena ia adalah pengikut
aliran Qadariyah. Lihat lbnu Hajar, ibid.,biografi no.'1311, (212541.
370 Dia tsiqah sebagaimana dikatakan oleh lbnu Ma'in, Ad-Daruquthni, Al-Bazzar,
dan lain-lainnya. Lihat lbnu Hajar, ibid.,biografi no. 1391, (21307). Lihat pula Al-Hakim,
op.cit., Ktab Ash-Shalat, (21253). Suatu hal yang sangat mungkin adalah bahwa para
penasikh telah melakukan kesalahan, yakni dia ini adalah Al-Hasan bin Dzal<wan,
sekiranya Adz-Dzahabitidak menegaskan bahwa dia itu adalah Al-Mu'allim. Al-Hakim
berkata, "Shahih menurut syarat Asy-Syaikhani, namun keduanya tidak mentakhrijnya.
Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi."
260 - ra$Whhuh ynng Dilarung balam rhh rclam
?",t t'r*,,2
laranEan Tamayul dalam Shalat
Pembahasan ini mencakup dua subbahasan:
A. Definisi Thmayul
Tamagul maknanya banyak ber-murawahah pada kaki.37r
Dikatakan bahwa murawahah (memberikan istirahat) adalah sikap
bertumpu kepada satu kakidan memajukan kakiyang lain dan tidak ber-
tumpu kepadanya atau mengangkatnya dan meletakkan pada betisnya.372
Dilotakan pula, "Tidak mendekatkan keduanya dan tidak bertumpu
kepada kedua-duanya secara bersama-sama. Akan tetapi, memisahkan
keduanya dan bertumpu kadang-kadang di atas yang satu dan kadang-
kadang di atas yang lain dan kadang-kadang juga kepada keduanya agar
istirahat dapat dicapai oleh keduanya."
Dikatakan pula, "Mengangkat yang satu dan bertumpu pada yang
lain. s373 Sedangkan penyusun Vttab Al-Rnt' mendefi nisikan sebagai bedlct,
"Kadang-kadang bertumpu pada salah satu, kemudian pada yang lain
jika berdiri terlalu lama."37a
B. Hukum Tamayul dalam Shalat
Jumhur ulama bermazhab bahwa makruh hukum tamayul3Ts dalam
shalat, kecuali yang dinukil dari para pengikut mazhab Malik yang mengata-
kan bahwa boleh melakukannya jika tidak meyakini bahwa perbuatan itu
adalah sesuatu yang dituntut dalam shalat.376
3TrLihat lbnu Muflih, op.cit., (1/198).
32 Lihat Al-Hathab, op.cit., (1/550).
t73 lbid.' dan lbnu Al-Atsir, op.cit., (4274).
sTl Lihat lbnu Muflih, op.cit., (1/198).
375 Lihat Al-Ghazi, op.cit., (5/129 B); Minhaj Ath-Thalibin bi Syarhi Al-Jalal Al-
Muhalla, dicetak dengan dua hasyiyah Qalyubi dan Umairah, (1/193). Lihat pula lbnu
Qudamah, op.cit.,(21397); lbnu Muflih, op.cit.; dan Al-Hanbali, op.cit., (1/483).
376 Lihat Mukhtashar Khalil, (31); Al-Hathab, op.cit., (1/550); dan As-Sarkhasi
'ala Khalil,1112931.
- -tab tt: rlasyahhull ar ri,ung pen6rtbaban 261
Jumhur ulama beralasan dengan dalil-dalil berikut:
1. Apa yang diriwayatkan dari sabda NabiShallallahu Alaihi ua Sallam,
'op,' rpt k'[t*;t 1,'iryl',# * e €.f,if iv s1
,#t#4:t*<)i';Fu
" lka salah seorang dari kalian brdiri untuk melakukan shalat, hendak-
nya menenangkan anggota badannya dan tidak menggoyang-goyang-
kannya seperti orang-onag Yahudi. I(arena sesungguhnya menenang-
kan anggoa badan adalah bagian dari kesempurnaan shalat."tn
Dalam teks hadits tersebut terdapat larangan yang jelas yang didasarkan
dengan dua alasan, yakniyang demikian itu adalah perbuatan orang-
orang Yahudi dan tamagul adalah tindakan yang menghilanglon ke-
khusyukan dalam shalat.
2. Pefiuatan itu akan menjurus kepada banyaknya gerakanyang akan men-
jadikan seseorang lalai akan kekhusyrkan.3T8
Sedangkan apa yang dinukil dari para pengikut m azhab Maliki bahwa
perbuatan itu diperbolehkan untuk dilakukan adalah sekedar apa yang di-
pahami dari pekataan mereka sendiri berkenaan dengan murawahah.
Yang jelas -WallahuAllam- bahwa kebanyakan dari mereka itu tidak ber-
tentangan dengan jumhur berkenaan dengan kemakruhan tamagul di
dalam shalat yang artinya adalah banyak melakukan murawaltah. Se-
dangkan berkenaan dengan mwawalnh kebanyakan mereka mengata-
kan bahwa perbuatan itu boleh, termasuk jumhur; selama tidak terlalu
banyak. lni adalah sesuatu yang jelas yang telah dituliskan.3Te
Sedangkan tarawwuh (memberikan istirahat) di dalam shalat ada-
lah makruh jika dibarengi keyaknan bahwa hal itu diminta dalam shalat
tidak ada pertentangan berkenaan dengan halitu. Bahkan, mengharuskan
hukum haram karena merupakan bid'ah. Murawahahjika tidak terlalu
377 Abu Nu'aim, Hilyah Al-Auliya wa ThabaqatAl-Ashfrya, (Beiru[ Daar Al-Kitab
Al-Arabi, cet. ll, 1387 H), (9/304).
376 fbnu Abdul Barr, Al-Kafi, (111731; Muhammad Ulayyisy, Minah Al-Jalil 'ata
Mukhtashar Al-Allamah Khalil, (Libia: Maktabah An-Najah), (1t164). Lihat Syarh At-
Jalal Al-Muhalla bla Minhaj Ath-Thalibin, (1/193).
37e Lihat Al-Hathab, op.cit., (1/550); Muhammad bin Atrmad bin Jazyi At-tvtatiki,
Qawanin Al-Ahkam Al-Fiqhiah, (Beirut: DaarAl-llm !iAl-Malayin, 1974 M), htm. 66.
262 - rwylahbub gang alauug balan rikb rclawr
banyak,jaiz'boleh' hukumnya dan tidak masalah berkenaan dengannya.
Sedangkan hadits yang dijadikan dasar alasan bagijumhur adalah
sangat lemah sekali.38o Maknanya shahih, bahwa menenangkan anggota
badan adalah indikasi adanya kekhusyukan, sebagaimana tamagul ada-
lah bagian dari kebiasaan orang-orang Yahudi ketika mereka membaca
Thurat di mana mereka selalu bergoyang-goyang. Ada yang mengatakan
bahwa karena sikap mereka seperti itulah mereka dinamakan Yahudi
karena mereka selalu yataha wwadun, yakni selalu bergerak ketika sedang
membaca Taurat. Mereka mengatakan, "Sesungguhnya langit dan bumi
bergerak ketika Allah memberikan Thurat kepada Musa."
rf*rt
?**t *,,A
larangan Memelamkan Kedua Mata ketlka Melaksanakan Shalat
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang hularm memejamkan
kedua mata ketika melakukan shalat. Dalam haliniada dua pendapat:
Pendapat l. Bahwa perbuatan tersebut makuh hularmnya. Demikian
pendapat para pengikut mazhab Hanafi,38r Maliki,382 dan Hanbali.3B
Pendapat //. Perbuatan itu mubah dan bukan makruh. lni adalah
pendapat para pengikut mazhab Syaf i.3&
s0 Karena ada tiga orang yang sedang diperbincangkan dalam isnadnya,
mereka adalah: Al-Haitsam bin Khalid, Muawiyah bin Yahya Ath-Tharabulusi, dan Al-
Hakam bin Abdullah bin Sa'ad Al-Ayyili. Lihat Suhail Abdul Ghaffar, As-Sunan wa Al-
Atsar lli An-Nahyi 'an At-Tasyabbuh Bil Kuffac (83).
38r Lihat Az-Zaila'i, Tabyin ... op.cit., (1/164); dan Abdullah bin Mahmud Al-
(Maushilei ALl-ihHaatnMafui k,hAtal-slkhhatriyKahraLliilt,a('3li1l
Al-Mukhtan 1621. dan Ulayyisy, op. cit.,
); Al-Hathab,
op. cit., (1 /550);
(1/163).
s Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (2/396); Al-Bahuti, Syarh Muntaha Al-ldarat, ('ll
s196);dan lbnu Muflih, op.cit., (1/483).
Lihat Ar-Ramli, op.cit., (1/546). Di dalamnya ia berkata, "Sesungguhnya
orang yang mengatakan bahwa perbuatan itu makruh dari kalangan para pengikut
mazhab Syafi'i adalah Al-Abdari". Hasyiyah l'anati Ath-Thalibib, (1/183), di mana ia
berkata, "lni bertentangan dengan yang utama. Kadang wajib memejamkan mata
jika shaf dipenuhi orang-orang telanjang. Dan kadang sunnah sebagaimana shalat
menghadap ke dinding terhias dan semacamnya yang bisa mengacaukan pikiran",
demikian dikatakan Al-lzz bin Abdussalam.
-nah n tasyrtbub d; s;bo1 peibatuban-. 263
Al-Jumhur berpegang kepada hukum makruh dengan dasar dalil-
dalil sebagai berikuk
1 . Sabda Rasulullah Shallallahua Alaihi usa Sallam,
f {',ry->l ;>,2r,g *f iv 61.
"fika salah seorang dari kalian brdiri untuk menunailcan shalat, hendak-
nya tidak memejamkan kedua matanya."t&5
2. Mereka berkata, "ltu adalah perbuatan orang-orang Yahudi, sebagaimana
ditegaskan hal itu oleh jamaah dari kalangan para tabi'in."3eo
3. Mereka berkata bahwa hal itu tidak dinukil dari Nabi ShallallahuAlaihi
wa Sallam dan tidak pula dari salah seorang shahabat Radhigatlahu
Anhum. Jika hal itu masyru' tentu akan dinukil kepada kita. Apalagi
perbuatan itu di dalam perkara shalat yang merupakan tiang Islam.m
4. Dikatakan, "Makruh, karena bisa dianggap sedang tidur."3ffi
5. Dikatakan, "Karena perbuatan itu menghilangkan kekhusyukan.":eo
6. Dikatakan, "Karena perbuatan itu termasuk sia-sia dan kesia-siaan sangat
dilarang dalam shalat."3s
7. Dilctakan, "Makuh, agar tidak diyahni sebagai sesuatu yang fardhu di
dalam shalat.r'3st
Hukum makuh menurut jumhur adalah ketika dalam keadaan tidak
diperlukan untuk menutup mata. Jika ada kepentingannya, tidaklah me-
ngapa. Seperti ketika di depannya ada sesuatu yang bisa mengacaukan
dan menghilangkan kekhusyrkannya.3e2 Akan tetapi, mereka berkata,
3s lni darijalur lbnu Abbas RadhiyallahuAnhuma. Ditakhrij Ath-Thabranidalam
ma'ajimnya yang berjumlah tiga jilid. Al-Haitsami datam Majma'Az-Zawaid, (2t$6l,
berkata, "Di dalamnya terdapat Laits bin Abu Sulaim, dia adalah mudallas dan
menjadikannya selalu memakai katra-kata bn-anah'."
ffi Lihat lbnu Qudamah, op.cit, (2/396). Lihat Syarh At-Jatat At-Muhailabta
Minhaj Ath-Thalibin (111731. Di antara yang mengatakan demikian itu adalah sufyan
bin Uyainah, Mujahid, Ats-Tsauri, Al-Auza'i, dan ditegaskan lmam Ahmad.
ss7 Lihat Hasyiltah lbnati AtlrThaltbin, dicetak dengan Nihayah ,A|-Muhbi (1/165).
Lihat lbnu Muflih, op.cit., ('11483); dan Al-Banufi, op.cit.,(1l3TOl.
se Lihat Az-Zaila'i, Tabyin ... op.cit., (111641.
3n lbid., (11164). Lihat lbnu Muflih, op.cit., (11484).
3el Disebutkan oleh Ulayyisy dari kalangan para pengikut mazhab Maliki di
dalam kitab Minah Al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, (11163).
3u Lihat Al-Bahuti, loc.cit.i Al-Hathab, op.cit. (1lS5O); dan Al-Mun awl op.cit , (11
414).
264 - rasgabbuh VoS oitarang balaw tifuh rclr.r
"Wajib baginya menutup kedua mata jika di depannya ada sesuatu yang
tidak halal melihatnya, seperti seorang wanita atau ada di depan shaf
barisan orang-orang telanjang atau semacu- i1u.i'3s3
Sedangkan mereka yang berpegang dengan pendapat kedua berdalil
dengan tidak adanya larangan untuk memejamkan kedua mata ketika
menunaikan shalat.3ea
Sedangkan pendapat yang paling kuat -Wallahu Ta'ala Allam-
adalah larangan memejamkan kedua mata ketika menunaikan shalatdan
tidak sah bahwa boleh memejamkan keduanya ketika diperlukan dengan
alasan tidak ada larangan. Jadi pada prinsipnya dalam shalat tidak boleh
mengadakan apa-apa yang tidak pernah disyariatkan dan bukan dari
tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalam shalatnya bahwa
harus memejamkan kedua mata. Inilah yang paling kuat yang dijadikan
alasan oleh jumhufs5 dengan alasan bahwa perbuatan demikian adalah
dari perbuatan orang-orang Yahudi sedanglon bertaqrcbbuh kepada orang-
orang Yahudi adalah haram mutlak. Maka bagaimana di dalam shalat?
Tidak apa-apa memejamkan mata untuk menjaga hati dari hal-hal
yang mengganggu berupa pemandangan-Pemandangan jika seseorang
tidak bisa menahan hatinya dari semua itu, karena kekhusyukan dalam
shalat adalah tuntutannya yang paling besar.3s Sedangkan beliau sangat
antusias kepada kekhusyu'an itu dengan antusiasme yang luar biasa dan
sangat menjauhi segala sesuatu yang menghilangkannya atau meng-
hilangkan sebagian darinya. Sebagaimana terjadi pada diri beliau ketika
mengembalikan pakaian tebal bergambar dari Abu Jahm, maka dari
3s3 Lihat Al-Bahuti, op.cit.,(1 13701.
3s Lihat Ar-Ramti, op.cit., (1/546); Hasyiyah lbnati Ath-Thalibin, (1/165); dan
Minhaj Ath-Thalibin Syarh Al-Jalal Al-Muhalla, (111731.
3s Lihat permasalahan ini dalam lbnul Qayyim, op.cit., (112941.|a telah menge-
tengahkan beberapa hadits dan sikap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamketika
beliau menunaikan shalat yang menunjukkan bahwa beliau tidak pernah memeiam'
kan kedua matanya ketika menunaikan shalat.
3$ lbnul Qayyim, dalam Zaad Al'Ma'ad, (11294), berkata, "Yang benar agar di-
katakan 'sesungguhnya membuka mata tidak mempengaruhi kekhusyukan dan ini
yang lebih utama; dan jika menghalangi antara dia dan khusyuk dalam menghadap
iriasan-hiasan, ukiran-ukiran, atau lainnya yang dapat mengganggu hatinya, di situ
tidak menjadi makruh menutup mata secara pasti dan yang mengatakan anjuran
dalam keadaan ini tebih mendekati kepada pokok-pokok syariat dan tujuan-tujuannya
daripada mengatakan tentang kemakruhannya. Wallahu A'lam.-
* -wb rasgafiul1 Ai rlUrg peibaMhan- 265
Aisyah Radhigallahu Anla ia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam bangkit untuk menunaikan shalat dengan mengenakan pakaian
yang berbentuk empat persegi panjang yang memiliki dua lambang. Ketile
beliau selesai menunaikan shalatnya bersabda,
r*t#t,* * Y #' 6y*H\nio t* r'$;t
"
'Pergilah kalian semua dengan membawa pakaianku yang brgambar
ini kepada Abu lahm dan bawa kepadaku pakaian tebal tidak brlamfung
darinya. Sesungguhnya palcaian ini nrelalaikanku dari shalatku tadi.' "3e'
Dalam riwayat pada Al-Bukhari secara mtnllaq yang berbunyi,
*ug; oi i-,L el2t e6 t ry a'*:i
" Dan aku melihat kepda ganMnya itu ketilca afu sedang dalam shalat
sehingga aku khawatir akan npmfiaahku."
Dan dalam riwayat Muslim adalah sebagai berikut,
:1,iY-i iitl-,
" Gambar-gambar ini nrengacaukanku."ses
*:i tt
*t Shahih Muslim, Ktab Al-Masajld wa Mawadhiu Ash-Shalat, Bab'Karahatu
Ash-Shalat fii Tsaub Lahu Alam', hadits no. 556, (1/327); dan Shahih N-Bukhari,
Ktab Ash-Shalat fii Ats-kinb, Bab "ldza Shalla fii Tsaub lahu a'lam wa Nazara ila
'Alamiha', hadits no. 366, (l/146).
M tbid.
266 - r rcyrrbfluh gaug Dilarung lalan nklt rclawr
?*t t *,,g
laranllan Menllanyam larl (TasyblkFee 0","m Shalat
Pembahasan ini mencala,rp dua subbahasan:
A. Hukum Menganyam Jari dalarn Shalat
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum menganyam jari
ketika sedang menunaikan shalat. Dari mereka munculdua pendapat:
Pendapat /. Perbuatan tersebut makruh hukumnya. Iniadalah pen-
dapat jumhur ulama dan merupakan pendapat mereka yang mengikuti
mazhab Hanafi,o Maliki,or Syaf i,@ dan Hanbali.43
Pendapat IL Perbuatan tersebut makruh yang diharamkan. lni adalah
ungkapan lbnu Abidin dari kalangan para pengikut mazhab Hanafi.oa
lbnu Hazm beralasan bahwa perbuatan tersebut membatalkan shalat jika
dilakukan dengan sengaja.&
Jumhur ulama menetapkan hukumnya makruh beralasan dengan
dalil-dalil, di antaranya:
1. Apa yang datang dariAbu Said Al-Khudri Radhiyallahu,\nhu bahwa
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
e l*:aX l^z)r €i66 G JUW *i t:{1
" fika salah seoring dari kalian di dalam masiid, hendaknya iangan
sekali-kali menganyam jari-jarinya. Karena perbuatan menganyam jari
adalah dari syetan. Dan sesungguhnya salah seorang dati kalian masih
t* Tasybik adalah memasukkan jari-jari salah satu tangan ke sela-sela jari-
jaritangan yang lain. Lihat lbnu Abidin, op.cit., (2409)..
@LihatAz-Zaila'i,op.cit,('ll162l;lbnuAbidin, op.cit.,(2409);Al-Kasani, op.cit,(11
{'215\; AhFatawa Al-Khatimah, (111171; dan Al-Fatawa Al-Alamakiiah, (1/105)'
Lihat Mukhtashar Khalil, (31); Al-Kharsyi, op.cit., (11292); Al-Hathab, op.cit.,
(1/550); dan lbnu Jiziy, Qawanin Al-Ahkan Al-Fiqhiah, (671.
@ Lihat Asy-Syarbini, op.cit., (112021.
{3 LihatAs-Samif., op.cit.,(212481: lbnu Qudamah, op.cit., (2/39a);dan Al-Bahuti,
op.cit., (113251.
4 Lihat lbnu Abidin, op.cit., W409l,.
6 Lihat lbnu Hazm, Al-Muhalla, (4/49).
* - -wb ra;yabbuh li $nang penkulun 267
dalam kondisi shalat selama masih berada di masjid hingga ia keluar
darinya."M
2. Apa yang diriwayatkan dari Ka'ab bin Ujrah bahwa ia berkata, 'iAku
pernah mendengar Rasulullah Sha llallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
,ou^=iJr ,'ryf6\t,!t#-\, t^At g.€Li ors ri1
ie'H ;, u*)t €ir' 6 yb e J6.\'€'r;i"0tt
"fika salah seorang dari kalian brwudhu lalu keluar dengan tujuan
menuju shalat, hendaktya sama selcali tidak menganyam antana kedua
tangannya, karena sesungguhnya ia dalam keadaan shalat."&
3.Apa yang datang dari Ka'ab bin Ojrah pula bahwa Nabi Sfiallallahu
AlaihiwaSallam menyaksikan seorang pria yang menganyam jarinya
ketika sedang menunaikan shalat, maka Rasulullah SlallallahuAlaihi
wa Sallam langsung memisahkan jari-jarinya.&
4.Nayang telah datang dari lbnu Umat RadhiyallahuAnhubahwa ia ber-
kata tentang orang yang shalat dengan menganyam jari-jari tangannya,
o o1. I o, o.o l' o
*q"ra;Jt;y'p'di,
" Yangdemikian iru adalah shalat orung-orang yang dimurkai (Ailalr) ."q8
Dan mereka beralasan sebagai berikut:
1. Bahwa dalam gaya seperti itu adalah tasyabbuh kepada syetan. Seba-
gaimana hal itu telah ditunjukkan oleh teks dalil. Sedangkan bertasyab-
buh kepada syetan sangat dilarang.aro
G Diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya. Lihat As-Sa'ati, op.cit., Kitab Ab-
wab Al-Masajid, Bab "Karahatu Al-lhtiba wa At-Tasybik fii Al-Masjid", hadits no. 316, (3/
52). Al-Haitsami dalam Majma',A2-Zawaid, (Z28) berkata, "lsnadnya hasan".
aot Sunan At-Tirmidzi, Kitab Abwab Ash-Shalat, Bab "Ma Ja'a fii Karahiyati At-
Tasybik baina Al-Ashabi' fii Ash-Shalaf, hadits no. 386, (21228). Menurut Ahmad
demikian pula. Lihat Al-Fath Ar-Rabbani, Kitab Abwab Al-Masajid, Bab "Karahatu Al-
lhtiba wa At-Tasybik fii aFMasjid". Hadits no. 317, (3/53); dan isnadnya bagus.
a8 Sunan lbnu Majah, Kitab lqamatu As-Sunnah wa As-Sunnah Fiha,Bab"Ma
Yakrahu fii Ash-Shalaf, hadits no. 967, (1/310); dan hadits dengan isnad ini temah.
Lihat Al-Albani, ltwa ... op.cit., (211001.
M Sunan Abu Dawud, Kitab Ash-Shalal Bab "Karahatu At-t'timad 'ata At-Yad fii
Ash-Shalaf, hadits no. 993, (1/261). Al-Albani berkata, "lsnadnya shahih". Lihat At-
Albani, ltwa ... op.cit., (A103).
'r0 Lihat Al-Ghazi, op. cit, dinukil dari Al-Hafizh Al-l ra qi, (4 1 1 2't A). Dan tihat Asy-
268 - r aWbbuh yang Dilarung balam r;kh tslam
2. Di dalam perbuatan tersebut terkandung kesia-siaan dan kesia-siaan
sangat terlarang dalam shalat.arl
3. Dalam perbuatan tersebut terkandung sikap meninggalkan sunnah ten-
tang meletakkan kedua tangan.ar2
4.Gaya seperti itu akan mengakibatkan tidur dan tidur menimbulkan kecuri-
gaan terjadinya hadats.ar3
5. Gaya seperti itu akan menimbulkan pandangan orang adanya perma-
salahan yang rumit dan menjadi sulit yang dialami pelakunya.ara
Sedangkan mereka yang berpegang kepada pendapat kedua berdalil
dengan tekstual teks dalil-dalil yang lalu di mana Nabi Sha/lallahu Alaihi
usa Sallam melarang untuk menganyam jari-jari. Pada prinsipnya lara ngan
bermakna pengharaman.4r5
Yang kuat -Wallahu Ta'ala Alam- adalah mazhab jumhur yang
menetapkan bahwa gaya tersebut makruh hukumnya.
Sedangkan larangan yang muncul di dalam teks-teks dalil tidaklah
mengandung hukum pengharaman sekalipun demikianlah arti tekstualnya.
Demikian itu karena adanya sebab terhadap hadits Abu Said Al-Khudri
yang lalu sebagaimana datang dari Imam Ahmad dan lain-lainnya. Dari
budak milik Abu Said Al-Khudri Radhigallahu Anhu, ia berkata,
l,'.;j;::r$tt,yf ,{A&tily:pzh;A.,\Ja,*i,?\itA{;rWer,r.j-*:ir sri etlit L
-,ru\.b)t H.**t
y:;:t{ ti1 :Jt;t eri *j e}g
J|.girvh,t&J,r*!:,oJt';,jt!1,.
')€'-L')ti
d-rgl ... -t^*Jt ug
Syaukani, op.cit., @33/.1. Lihat pula Dhawabith At-Tasyabbuh bi Asy-Syaithan yang
telah disebutkan di atas.
1rt Lihat dua referensi sebelumnya.
'i2 Lihat Al-Kasani, op.cit.,(l12151.
'f3 Lihat Ahmad bin Muhammad Ath-Thahlhawi, Hasyiyah Ath-Thahawi 'ala
MamgiAl-Falah, (Mushthafa Al-Babi Al-Halabi, 1366 H), hlm. 190.
a'a Uhat AspSyaul<ani, q.cit. QB34'I; dan Minah Al-,Jalll li UWsy, (1/1 63).
't5 Lihat lbnu Abidin, op.cit,@40gl.
-ub n: rasyabbrh o; nitong reihM$an ... ZOg
"Ketika aku bersama Abu Sa'id dan ketika iru ia bersama Rasutultah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba-tiba seorang pria sedang duduk di
tengah-tengah masjid dengan bersila dan menganyam jari-jari sebelah
tangan dengan sebelah yang lain. Maka Rasulullah shallallahu Ataihi
wa Sallam memberi isyarat kepadanya. Akan tetapi, orang itu tidak
mengetahui isyarat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka
aku menoleh kepada Abu Sa'id dan ia furkak, 'lika salah seorang di
intan kalian sedang di dalam masjid ...'. " (Al-Hadits;rto
Aspekyang menjadiobjek penunjukan oleh dalildari hadits tersebut
adalah bahwa NabiShallallahu Alaihi wa Sallam cukup hanya dengan
isyarat yang tidak diketahui oleh pria tersebut. Jika menganyam jari-jari
tangan haram hukumnya, tentu ditetapt<an oleh Nabi shal/a ttahu Alaihi
wa Sallam pelarangannya yang bisa dipahami oleh pria itu. Sanggahan
yang muncul berkenaan dengan peristiwa ini bahwa pria tersebut bukan
dalam keadaan shalat, maka jawaban atas sanggahan tersebut sudah
demikian jelas bahwa Rasulullah sha llallahu Alaihi wa sallam menyama-
kan antara menganyam jari-jari tangan ketika sedang menunaikan shalat
dan sedang menunggu waktu shalat, sebagaimana disebutkan pada hadrts
yang sama dan hadits Ka'ab bin Ojrah baru lalu.
Sedangkan yang pernah muncul berkenaan dengan peristirva
tersebut bahwa Nabi shallallahu Alaihi un sallam bangkit menuju seorang
pria yang menganyam jari-jari tangannya ketika sedang menunaikan shalat
lalu memisahkan antara jari-jarinya -hadits ini adalah daliljumhur unhrk
mendukung pendapat mereka bahwa hukum menganyam jari-jariadalah
makruh- bisa dikatakan bahwa hadits itu menunjukkan hukum haram
dari aspek bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bangkit menuju
seseorang yang sedang menunaikan shalat. Jika hukumnya makruh tentu
beliau akan mengakhirkan perintah dan tidak akan mengganggu pria itu
dengan memisahkan jari-jari tangannya.
Maka, jawaban atas sanggahan itu bahwa hadits ini pada dasarnya
lemah. Jilra hadits ini shahih, sanggahan itu tentu benar pula. Hadits lemah
tidak bisa dijadikan hujiah.atT
'r0 Telah ditakhrij sebelumnya, lihat catatan kaki no. 406.
1t7 LihatAl-Albani, lrua... op.cit., (2/100).
27 0 - r asybhll yang Dilarang ba[aw tW rlan
Dari hadits-hadits dalam bab inijelas bahwa pangkal-tolak kedua
kelompok adalah upaya menunjukkan alasan-alasan dilarangnya meng-
anyam jari-jari tangan karena mengandung silop tasyabbuh kepada sye-
tan sebagaimana diisyaratkan sebagian ahli ilmu dengan dasar Pema-
haman atasteks dalil.ars Dengan demikian, sabda Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam,
gra$tq|rr:Atoy
" Maka sesungguhnya mengilyam iari-iari tangan itu dail perbuatan
syetan."
Pada dasamya, yang dimaksudkan adalah semua perbuatan atau
lainnya yakni dari perbuatan syetan. Pada prinsiPnya semua perbuatan
yang dinisbatkan kepada syetan haram hukumnya, kecualijika adasharif
(pemaling) dari hukum itu, sedangkan shanf-nya telah ada sebagaimana
pada halaman sebelumnya.4rs
Dikatakan makna hadits adalah bahwa ditunjukkan oleh syetan dan
ia memerintahkan untuk melakukannya. Ungkapan inisesuai untuk kedua
makna itu.lldak menghalangi halitu dengan adanya alasan-alasan lain,
seperti keserupaan dengan shalat orang yang dimurkaiAllah, kesia-siaan
atau dicurigai akan mendorong untuk tidun dan lain sebagainya.
B. Hukum Menganyam Jari-iari Tlrngan ketika Berangkat untuk
Menunaikan Shalat, Menunggu Felaksanaannya' atau Selesai
Penunaiannya
Menganyam jari-jari tangan di luar shalat, yakni ketika keluar atau
ketika menunggu waktu pelaksanaannya di dalam masjid makruh pula
hukumnya menurut ahli ilmu.a2o Hal itu karena hadits Ka'ab bin Ujrah
Radhigallahu Anhu. Dalam hadits itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda,
1r0 Lihat Asy-syaukani, Nail ... op.cit., (213341.
1ts Lihat hlm. 126.
120 Lihat lbnu Abidin, op.cit., Qla09l:Ar-Ramli, Nihayah ... op.cit., (?59);dan Al-
Bahuti, op. cit.,(1 13251.
* * -vb tasgaffiu| Oi nllang terrbatal1an 271
';E:;f_ )", ^St J\t? i,;?*)';#'$'€;li U; 61
:*eit;*r,*i;
" Iika salah seorang dari kalian beruudhu kemudian ttremprbaiki wudhu-
nya, lalu keluar dengan rujuan menuju shalat, hendalaya sama sekali
tidak menganyam antaru kedua tangannya, karena sesungguhnya ia
dalam keadaan shnlat."azl
Juga karena hadits Rasulullah Slra llallahu Alaihi un *llamsebagai-
mana hadits Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa ia berkata,
9,h!rtt4'ry: ovjc|$.\' -#t q{L( ors riy
:e;i.e:3t {siGitt6-?e,rp Jt;\ o1j
"Iika seorang dari kalian di dalam masjid, hendalarya jangan sekali-
kali menganyam jari-jarinya. Karena perbuatan menganyam jari dari
syean. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian masih dalam
kondisi shalat selama masih berada di masjid hingga ia keluar
darinya."ozz
Dan hadits-hadits lain yang semakna dengan haditstersebutdiatas.
Sebagian para pengikut mazhab lvlalik menentang hal itu dan mereka
berkata, "ltu bertentangan dengan )rang paling utama."€
Dan diperbolehkan bagi orang yang menunaikan shalat untuk
menganyam jari-jari tangannya jika telah usai menunaikan shalat sekalipun
masih tinggaldidalam masjid. Halitu karena adanya hadits dzual-yadain
yang di dalamnya dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam menganyam antara jari-jari tangannya ketika telah bersalam dari
'21 Sunan At-Timidzi, Ktab Abwab Ash-Shalat, Bab "Ma Ja'a fii Karahiyati At-
Tasybik Baina Al-Ashabi' fii Ash-Shalat", hadits no. 386, (212281. Menurut Ahmad
demikian pula. Lihat Al-Fath AnRabbani, Ktab Abwab Al-Masajid, Bab "Karahatu At-
lhtiba wa At-Tasybik fiiAl-Masjid'. Hadits no. 317, (3/53), dan isnadnya bagus.
122 Diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya. Lihat As-Sa'ati, op.cit., Kitab Ab-
wab Al-Masajid, Bab "Karahatu Al-lhtiba wa At-Tasybik fiiAl-Masjid", hadits no. 316, (3/
52). Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawa id (21281 berkata, "l snad nya hasan'.
123 Lihat Al-Kharsyi, Hasyiyah ... op.cit., (112921.
27 2 - rasy[h$ gang Dilarang balam rlqh ulawt
shalat yang belum sempurna rakaatnya.42a Dan dengan pembedaan
antara ketika sedang menunggu waktu shalat di mana dalam keadaan
demikian ia masih dalam kondisi shalat sekalipun masih menunggu
waktunya dengan kondisi ketika pelaku shalat telah selesai menunaikannya,
maka bisa dilakukan penggabungan antara beberapa teks dalil.45
Yang benar boleh menganyam jari-jari tangan bagi orang yang tidak
sedang shalat dan tidak sedang menunggu pelaksanaan shalat sekalipun
didalam masjid. Sebagaimana jika menganyam jari-jari tangannya untuk
memberinya istirahat atau lainnya karena tidak ada larangan.
rf {. {.
12'Teksnya adalah dariAbu Hurairah Radhiyallahu Anhubahwa ia berkata,
Y.Ja . oAt';LcG;\*t y\t ,* ar J't-r6.J2
,!,7i'fk riiLAv '^it €'*jVf ;yrAJrL'i ,F,
:.,..1.'tr, € )) W.,,, ,1.o..,t'.. S C .,c-Jt',t.P:. ,;*mri.tt. o* ge ))
*"1
P f")l o-i- toa;-Wt,t.
' i,fj6' ;t* r ki;)rt :
:t*;J,r',1 1'1;,,La :,s )Jr
"Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallam shalat bersama kamisalah satu shalat
sore ..., maka beliau shalat dua rakaat dengan kami lalu bersalam dan berdiri
menuju sebuah papan yang terpancang di dalam masjid. Beliau bersandar
kepadanya seakan-akan beliau sedang marah. Beliau meletakkan tangan
kanannya di atas tangan kirinya dan menganyam antara jari-jainya. Beliau
meletakkan pipikanannya di atas punggung telapak tangan kirinya. Lalu keluar-
lah sekelompok orang dari pintu-pintu masjid, lalu mereka berkata, Shalatnya
diqashar..." dst.
Shahih Al-Bukhari, Ktab Abwab AhMasajid, Bab "Tasybik Al-Ashabi' fii Al-
Masjid wa Ghairihi", hadits no. 468, (111821; dan Shahih Muslim, Ktab Al-Masajid wa
Mawadhi'Ash-Shalal Bab "As-Sahwu fii Ash-Shalat wa As-Sujud Lahu', hadits no.
573, (1/337).
'25 Lihat Al-Bahuli, Kasysyaf ... op.cit., (113251.
-wb tt, tugrtbrl1 U ffiorrg peibatuhan .- 27 3
?*,t t *,,t0
larangan Menutup Mulut426 ketlka Melaksanakan Shalat
Pendapat /. Kebanyakan ahli ilmu berpendapat bahwa menutup
mulut ketika sedang shalat hukumnya makruh tanzih (dengan dasar ke-
hati-hatian). lni adalah pendapat mazhab jumhur salaf dan imam empat.€7
Pendapat II. Perbuatan tersebut makruh yang diharamkan. Iniadalah
pendapat sebagian pengikut mazhab Hanafi.a28
Pendapat ///. Perbuatan itu mubah hukumnya. Iniadalah pendapat
yang diriwayatkan dari para pengikut mazhab Hanbali.4e
Mereka yang berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh, yaitu
jumhu4 mengambil dalil-dalil dan alasan-alasan berikut ini:
- Apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhigallahu ,\nhu bahwa
Nabi Sta/la llahu Alaihi un kllam melarang sadl ketika sedang menunai"
kan shalat dan seseorang menutup mulutnya.60
- Dalam perbuatan initasyabbuh kepada orang-orang Majusi ketika merelc
menyembah api.€1
a26 Menutup mulut di sini bisa dengan tangan atau juga cadar, sama saja.
427 Lihat masalah itu dalam As-Sarkhasi, op.cit.,(1131), Tibyan Al-Haqaiq, Az-
Zaila'i, (1125'll, Al-Kharsyi bla Al-Khalil, (11164), Al-Fawakih Ad-Dawani, An-Nafrawi,
(11251), An-Nawawi, op.cit., (3/179), lbnu Muflih, op.cit.,(114841, KasysyatuAl-Qina,
(1/373), dan lain-lainnya. lbnu Umar dan Abu Hurairah juga berpendapat makruh
hukumnya. Demikian pula dikatakan Atha', lbnu Al-Musayyab, An-Nakha'i, Salim, Asy-
Sya'bi, Al-Auza'i, dan lshaq. Sedangkan ALHasan Al-Bashri berbeda pendapat, namun
dinukil darinya suatu pendapat yang mengatakan makruh dan dalam hal itu tidak ada
masalah. Sedangkan yang ada pada lbnu Abu Syaibah darijalur Qatadah dari Al-
Hasan bahwa makruh menutup kedua hidung dan mulut. Dan tidak ada masalah
menutup mulut tanpa menutup hidung, (21347). Abdurrazzaq meriwayatkan darijalur
Qatadah bahwa Al-Hasan memberikan rukhshah'keringanan' bagi seseorang yang
shalat memperkuat kain penutup mulut dan hidung jika disebabkan cuaca dingin
atau uzur, (21255). Sedangkan apa yang dinukil dari Al-Hasan Rahimahullah jika
benar darinya bahwa tidak makruh menutup mulut ketika sedang menunaikan shalat
yang berten-tangan dengan taks dalil yang jelas yang melarang perbuatan itu. Lihat
lbnu Al-Mundzir, op.cit., (31264); dan lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit., (1/395).
128 Lihat lbnu Abidin, op.cit., (214231.
12e Lihat Al-Mardawai, op.cit., (114701.
as Telah ditakhrij di atas.
si LihatAs€arl<hasi, op.cit.,(11311;dan tu-zaila'i, Tabyin... op.cil,(111il).
27 4 - rasyabbuh WW o;larang balan fihb ulm
- Dalam perbuatan tersebut terdapat tindakan berlebih-lebihan dalam
perkara agama karena darisatu sisi perbuatan itu adalah suatu'tambahan'
yang tidak ada di dalam sunnah.€2
- Hal itu akan menghilangkan kekhusy.rkan yang dituntut dalam shalat.a3
- Dalam perbuatan tersebut terdapat adab buruk kepada Allah karena ke-
adaannya adalah keadaan munajat kepada Nlah Ta'ala.e
- Dikatakan, "Dasar kemakruhan dalam perbuatan tersebutadalah karena
mereka makan bawang putih lalu menutup mulutmereka sehingga sam-
pailah mereka kepada kondisi itu sehingga mereka dilarang untuk itu.a5
Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa hukum perbuatan
tersebut adalah makruh yang diharamkan, Penulis tidak mengetahuidalil
yang mereka pakai. Yang jelas mereka mengambil makna eksplisit dalil
yang mengandung arti pengharaman karena didalamnya terdapattasyab-
buh kepada orang-orang Majusi. Sedangkan mereka yang berpendapat
hukumnya adalah mubah, yang merupakan riwayat dari para pengikut
mazhab Hanbali, Penulis juga tidak mengetahui dalil yang mereka pakai.
Yang paling lsrat -Wallahu Ta'ala lilam- larangan dari perbuatan
tersebut kecuali karena ada kepentingan tertentu. Hal itu karena dalil-dalil
yang telah disebutkan. Karena inilah konsekuensisebuah larangan. Juga
karena alasan-alasan yang telah disebutkan.
Sedangkan jika dilakukan ketika menunaikan shalat karena suatu
kepentingan, maka tidak ada masalah dengan itu, seperti ketika seseorang
menguap dan tidak bisa membendungnya. Maka, masym' ketika sese-
orang menutup mulutnya dengan tangan. Hal itu karena sabda Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah
RadhigallahuAnhu:
ILWt (, i:,:* € Li ;irt titp,,t(biilr -,,jrAr
" Menguap adalah dari syetan, jilca salah seorang dari kalian menguap,
hendalotya menalnnnya dengan &mampunya." ax
e LihatAl-l(Jlrarslrg, Al-Kharcyi... op.cit dan Hasy$ah ... op.cit.dengan hamisytya,
(112501. Barangkali yang dimaksud dengan 'tambahan' adalah bahwa di dalamnya
ada perubahan pada kondisi orang yang sedang shalat.
s€3 Lihat An-Nafrawi, Al-Fawakih ... op.cit ,1112511.
Lihat lbnu Al-Mundzir, op.cit, (3/266).
e Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit., (1/395).
ae Shahih Al-Bukhai, Kitab Bad'u AhKhalgi, Bab "Shlfatu lblis wa Junudihi',
-Bab tI; Tasyrtbul1 Ar nrAang peibababan -. 27 5
Dalam riwayat pada Muslim sebagai berikut:
Jr'i;tbilro1t,*,*iq#
"Maka, hendaknya ia melealckan tangannya ira, .rtury, karena
sesungguhnya syetan nlasuk.D 437
Diantara contoh kepentingan adalah memakaikain penutup mulut
dan hidung karena dingin yang amat sangat sebagaimana dituliskan
Hasan Al-Bashri Rahimahullah.43T Seperti itu pula suatu penyakit yang
membutuhkan seseorang menutup mulut dan hidungnya dengan kain
penutup dan tidak membukanya. Dan kepentingan-kepentingan yang lain
yang semisal itu.
.Sebagian para ahli fikih telah mengisyaratkan bahwa perbuatan itu
makruh di luar shalatjika perbuatan itu bukan suatu adat, karena merupa-
kan bagian dari perbuatan orang-orang sombong.6eYang jelas, penetapan
hukum makruh atau tidak jika dilakukan di luar shalat, terpulang pada
kebiasaan orang. Jika perbuatan demikian adalah perbuatan sombong,
kebiasaan pencuri, tradisiyang tertimpa musibah, jalan pembeda antar
orang, atau lainnya, maka hukumnya adalah makruh. Jika tidak demikian,
tidakada masalah. Setiap tempatberbeda dalam halini. Bahkan diantara
bangsa-bangsa Muslim ada bangsa yang sama sekali tidak pernah lepas
dari kain penutup mulut dan hidung.WallahuA'lam.
|t*rl
hadits no. 3115, (3/1197); dan Shahih Muslim, Ktab Az-Zuhdu wa AnRaqaiq, Bab
Tasymit Al-'Athis wa Karahatu At-Tatsaub", hadits no. 2994, (411813).
137 Hadits itu dari Abu Said Al-Khudri, Kitab ,42-Zuhdu wa Ar-Raqaiq, Bab
"Tasymit Al-'Athis wa Karahatu At-Tatsaub", hadits no. 2995, (4/1813).
sE Lihat catatan kaki 427, hlm. 273.
se Lihat An-Nafrawi, Al-Fawakih ... op.cit., (1125'll.
27 6 - r rcybbo,lt gonT ularuug ulaw nlqh ulaw
?*l,t *,,n
lanngan MeletakkanTirnoan dl atas Plnggang
ketlka Mehlsanakan Shalar
Dalam pembahasan ini ada dua subbahasan:
A. Makna Ikhtlehar
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang artt ilehtislaryang muncul
dalam teks-teks dalil, sehingga mengundang beragam pendapat yaitu:
a. Yang ini adalah pendapat para ahli ilmu pada umumnya. Mereka ber-
kata, "Meletakkan tangan di atas pinggang."4
b. Dikatakan, "Memegang tongkat dengan tangan, yakni tongkat dipegang
untuk bertumpu kepadanya keUka menunaikan shalat."er
c. Dikatakan, "Memendekkan surat, lalu membacaannya hanya bagian
akhimya satu atau dua ayat."4
d. Dikatakan, "Memendekkan shalat sehingga tidak tepat sampai batas
selesainya dan tidak thumakninah di dalam mengerjakannya."4
e. Dikatakan, "Mengkhususkan ayat-ayat yang di dalamnya sajadah dan
bersujud di dalam membacanya."*
f. Dikatakan, "Tidak membaca ayatyang didalamnya sajadah jika melewati-
nya ketika membacanya sehingga tidak melakukan sujud ketika menu-
naikan shalat ketika membacanya."us
{0 Definisi ini menjadi pegangan jumhur ulama ahli fikih, ahli hadits, dan ahli
bahasa. Lihat lbnu Al-Hammam, op.cit.,(11410);As-Sarkhasi, op.cit.,(1126);Al-Kasani,
op.cit.,(112151; Aa-Zaila'i, Tabyin ... op.cit., (111621; Al-Mawwaq, op.cit., dengan hamisy
Mawahib Al-Jalil, (1/550); Al-Kharsyi, 'Hasyiyah ... op.cit., (1/293); Ulayyisy, op.cit (11
163); An-NawaM , ,A|-Majmu' ... op.cit., 14197); Asy-Syarbini, op.cit., ('l l2O2); lbnu Qudamah,
op.cit,(21393);As-Samiri, op.cit.,(212a$; lbnu Muflih, op.cit., (1/a83); AlBahuti, Syarh
... op. cit., (1 /1 96). Lihat Al-Muth razi, Al-Maghrib, (1 46); dan lain-lain.
{r Dalam lbnu Hajar, Al-Fath... op.cit., dinisbatkan ke Al-Khathabi, (3/89). Dan
tanpa dinisbatkan ke lbnu Al-Hammam, ibid.; A*Zaila'i, ibid.; dan An-Nawawi, rbi,d
{2 Lihat lbnu Hajat Fath... op.cit.,(31891; dan Asy-Syarbini, ibid.; oleh Al-Hafizh
dinisbatkan kepada Al-Hanltri.
6 Uhat lbnu Al-Hammam, q.cflt,(114101; Az-Zaila", Tabyin ... op.cit, (1/162); An-
sNawawi, op.cit., $1971: dan lbnu Haiar, Fath ... op.cit.
Lihat Asy-Syarbini, op.cit., (112021.
{t Lihat lbnu Al-Hammam, loc.cit: AsyEyarbini, ibid.; Al-Muthrazi, loc.cit., berkata,
"Al-Azhari berkatra ikhtishar dalam ayat-ayat tentang sujud, 'Hal itu ada dua macam:
(1) langsung membaca ayat yang di dalamnya surat Sajadah lalu bersujud setelah
- -#tr'rugal/lvlt DiniDan6 Penbatuhm 277
Yang paling kuatdari semua definisidiatas adalah yang paling awal,
yaitu definisiyang diridhaioleh jumhur ulama dari kalangan para ahli fikih,
para ahli hadits dan para ahli bahasa sebagaimana telah kita katakan.
Definisi ini diperkuat oleh apa yang diriwayatlon oleh Abu Dawud
dan An-Nasa'i dari jalur Sa'id bin Ziyad, ia berkata,
,iu J*fr,GnG Jc'UU'a4'* ir.,L A'4)
'^L,#- *; *\,,-k -ilt,i€:ar J t-, or,'r,,.>,1a)t
" Aku melakukan shalat di sisi lbnu Umar dengan meletakkan kedua
tanganku di pinggang. Ketika shalat selesai dirunaikan ia berkata, 'Ini
palang salib dalam shalat'. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa SaIIam
melarang perbuatan seperti itu."%
Juga yang diriwayatkan Aisyah RadhiyallahuArila bahwa ia mela-
rang orang yang menjadikan jari-jari tangannya berada di pinggangnya
ketika menunaikan shalat sebagaimana dilakukan orang-orang Yahudi.{7
B. Hukum lkhtishar
Para ahli ilmu berbeda pendapattentang hukum ildltishati sehingga
memunculkan dua pendapat:
Pertama. Bahwa perbuatan itu makruh hulrumnya. Pendapat ini
menjadi pilihan jumhur'ulama dari lolangan pengikut mazhab Maliki,4
Syaf i,ae Hanbali,ffi dan mayoritas dari para pengikut mazhab Hanafi.sr
membacanya, (2) membaca surat dan ketika tiba pada surat Sajadah, dilewatinya
4sehingga tidak sujud karenanya. Dan ini adalah pendapat yang paling bena/."
Sunan Abu Dawud, Ktab Ash-Shalat, Bab "At-Takhashshur wa Al-lq'a",
hadits no. 903, (1/237); Sunan An-Nasa'i, Kitab Ahlfiitah, Bab ?n-Nahyu 'an At-
Takhashshur fii Ash-Shalaf , hadits no. 890, (2l484l.Hadits ini ada pada Ahmad. Uhat Al-
Mrcnaddergan syarah Ahmad Syakif, hadits no. 5836, (U126). Ahmad Syakk berkata,
"lsnadnya shahih".
11? Ditakhrii oleh Abdurrazzaq dari Masruq, Ktab Ash-Shalat, Bab nVadha'a
Ar-Rajulu Yadahu fii Khashiratihi fii Ash-Shalafl, hadits no. 3338, (21273); dan oleh
lbnu Abu Syaibah dariAl-Amasy, KtabAsh-Shalawat,Bab"N-Rajulu Yadha'u Yadahu
d'ala Khashiratihi fii Ash-Shalat, (21471.
Lihat Khalil, (31), dengan syarahnya yang bermacam-macam.
{e Lihat An-Nawawi, op.cit., (4197).
ffi Lihat As-Samiri, loc.cit.; lbnu Qudamah, loc.cit.; dan lbnu Muflih, loc.cit.
6i Lihat As-Sarkhasi, loc.cit; Al-Kasani, loc.cit Dan lihat pula yang mengatakan
sedemikian dalam lbnu Al-Mundzir, op.cit., (312631.
t frh27 8 - wgbloull gang Dilnvaug aalam rclam
Kedua. Perbuatan itu haram hukumnya. Ini adalah pendapat rbnu
Hazm.a,2 Dan menjadikannya makruh yang diharamkan oreh sebagian
para pengikut mazhab Hanafi.63
Jumhur berdalil dengan dalil yang banyak jumlahnya, yaitu
a. Apa yang telah baku di dalam kitab shahihain dan lain-lainnya dari
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi slallaltahu Araihi wa
sallam bahwa beliau melarang orang yang shalat dengan meretakkan
tangannya di pinggang. Di dalam suatu lafal disebutkan,
i#t ept f *, *ht J* lt J';, &
" Beliau melarang bertolak pinggang dalan shalat."av
b. Apa yang datang dari Abu Hurairah Radhigallahu Anhu bahwa
Rasulullah Slallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
e'r,lt;h S^l z;t, a:>tbt
" Meletakkan tangan di pinggang dalan shatat adalah istirahafiya ahli
neraka."455
c. Apa-apa yang muncul berupa berbagaiatsar berkenaan dengan perrna-
salahan ini dari para shahabat, di antaranya:
- Dari lbnu Abbas bahwa ia berkata, uika salah seorang dari karian
shalat, janganlah menjadikan kedua tangannya di atas pinggang-
nya, karena syetan akan datang dengan perbuatan itu."a$
- DariAbu Hurairah Radhiyallahu,{nhu bahwa ia berkata, r.lika sarah
seorang dari kalian bangkit agar tidak menjadikan kedua tangannya
di atas pinggangnya, karena syetan akan datang dengan perbuatan
e Llhat lbnu Hazm, op.cit.,(213341.
sc3 Llhat lbnu Abidin, op.cit.,(2t4091.
shahih AhBukhari, Kitab AhAmat fii Ash-shata4 Bab "At-Khashru fii Ash-
Shalaf, hadlts no. 1161-1162, (1/408); dan Shahih Mustim, KttabAhMasajidwa Mawa-
Ash-shalaf,
dhfu Bab "Karahiyatu Al-tkhtisharfiiAsh-shataf, hadlts no. 545, (1tg2gl.
& shahih lbnu Khuzaimah, Kitab Jima'Abwab Al-Afal Al-Makruhah fri Ash-
shalat..., Bab'An-Nahyu 'an Al-lkhtisharfiiAsh-shalaf, hadits no. 339, (2/s7). lsnadnya
dishahlhkan oleh Dr. Muhammad Al-Adzaml di dalam tahqlqnya untuk shahih lbnu
Khuzaimah setelah menyebutkan perkataan para ahli ilmu berkenaan dengan itu.
Llhat Shahlh lbnu Khuzaimah, (A57), hamisy 909.
M Mushannaf lbnu Abi Syaibah, Ktab Ash-Shatawat, Bab.Ar-Rajulu yadha'u
Yadahu fii Khashiratihi fii Ash-Shalat (2147).
wb tt tuyffi ni Rinaw wiffian .- - 27I
itu.n457
- Dari lbnu UmarRadhiyallahuAnhu, bahwa ia berkata kepada sese-
orang yang melakukan shalat di sisinya dengan meletakkan kedua
tangannya di atas pinggangnya. la berkata,
& & ;*')'^:? ^lLht ty*t J oK.i,e<)le)t i)br w
'Ini adalah salib dalam shalat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
melarang perbuaal i1s.ta58
- Dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa ia melarang jika orang
menjadikan jari-jari tangannya di atas pinggangnya ketika sedang
shalat sebagaimana yang diperbuat oleh orang-orang Yahudi.a'e
Diantara alasan-alasan yang disebutkan berkenaan dengan hukum
makruh dalam bertolak pinggang diambil dari atsar-atsar yang telah
disebutkan di atas yang berderajat mafu' dan mauquf:
a. Terkandung tasyabbuh kepada orang-orang Yahudi karena merelo
melakukannya ketika sedang shalat. Thsyabbuh kepada orang-orang
Yahudi makruh hukumnya di luar shalat, apalagi di dalam shalat.@
b. Terkandung tasyabbuh kepada ahli neraka dan telah disebutkan di atas.
Karena sikap sedemikian itu adalah istirahat mereka di dalamnya.6t
c. Terkandung tasyabbuh kepada lblis di mana ia diturunkan dalam
keadaan bertolak pinggang.62
$7 Mushannaf Abdi Ar-Razzaq, Bab "Wadh'u Ar-Rajul Yadahu fii Khashiratihi
fiiAsh-Shalaf, hadits no. 3339, (21274).
a* Sunan Abu Dawud, Ktab Ash-Shalaf, Bab "At-Takhashshur wa Al-lq'a",
hadits no. 903, (112371t Sunan An-Nasa'i, Kitab Al-lftitah, Bab "An-Nahyu 'an At-
Takhashshur fii Ash-Shalaf, hadits no. 890, (21464). Hadits ini adalah pada Ahmad.
Lihat Al-Musnaddengan syarh oleh Ahmad Syakir", hadits no. 5836, (8/126). Ahmad
Syakir berkata, "lsnadnya shahih".
se Ditakhrij oleh Abdunazzaq dari Masruq. Ktab Ash-Shalat Bab nVadha'a Ar-
Rajulu Yadahu fii Khashiratihi fii Ash-Shalaf , hadits no. 3338, (21273); dan lbnu Abu
Syaibah dari Al-Amasy, Ktab Ash-Shalawat, Bab "Ar-Rajulu Yadha'u Yadahu 'ala
eKhashiratihi fii Ash-Shala{, (2147).
Lihat Hasyiyah Al-Adawiyang tercetak menjadi satu dengan Al-Kharsyi,
'ala l(halila, (11293); lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(31891; Al-Kasani, op.cit.,(11215). Semua
ahli fikih beralasan dengan itu.
161 Lihat lbnu Al-Mundzir, op.cit., (31262); Asy-Syarbini, op.cit. (11202); dan
Zakariya Al-Anshari, Hasyiyah Bujairami'ala Syarh Manhaj Ath-Thullab, (Iurki: Al-
Maktabah Al-lslamiyah), (1 1253).
@ Lihat Al-Kasani, op.cit.,(112'15); dan Asy-Syarbini, ibid.
280 - T Nvallnuh gug Dilarung talam trhh rclawr
d. Terkandung tasyabbuh kepada orang-orang yang tertimpa musibah,
dan yang demikian itu tidak sesuai dengan kedudukan shalat.6
e. Terkandung tasyabbuh kepada perbuatan orang-orang sombong.
Perbuatan orang-orang sombong tercela khususnya dalam shalat.e
f. Terkandung tasyabbuh kepada penyanyr ketika berdendang; dan gaya
seperti itu tidak layak ketika sedang shalat.65
g. Terlcandung sikap meninggalkan sunnah dalam meletakkan tangan.ffi
Mereka yang berpegang kepada pendapat kedua beralasan:
- Hadits Abu Hurairah; karena mengandung larangan gaya tersebut.6T
- Siapa saja yang bertolak pinggang dengan sengaja, maka ia telah me-
lakukan suatu pekerjaan yang tidak diperintahkan oleh Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang demikian itu haram hukumnya.d
Pendapat yang paling l$at -Wahalut Ta'ala Al lam- adalah pendapat
yang mengharamkan bertolakpinggang ketika dalam shalat Halitu karena
adanya larangan yang tegas yang datang dari Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam dan tidak ada dalil lain yang memalingkan dari hukum haram
tersebut. Bahkan disifati oleh Nabi Slallallahu Alaihi wa Sallam bahwa
perbuatan itu adalah istirahatnya ahli neraka. Ungkapan ini memberikan
kesan betapa kerasnya larangan melakukannya.
Demikian pula perbuatan tersebut adalah gaya orang-orang Yahudi
ketika mereka melakukan ibadahnya. Yang menjadi dasar adalah haram
bertasyabbuh kepada orang-orang Yahudi dalam melalarkan ibadah dan
kegiatan lainnya. lni adalah dasar yang sangat agung di mana syariat
datang dengan penuh perhatian permasalahan ini. Alasan ini telah ditetap-
kan oleh Ummul Mukminin ketika ia melarang orang yang bertolak ping-
gang. Alasan paling dekat di antara alasan-alasan lain yang karenanya
muncul larangan bertolak pinggang adalah makna yang disebutkan bahwa
bertolak pinggang adalah sifat ahli neraka. lbnu Hibban6e menjelaskan
bahwa sabda Rasulullah Slallallahu Alaihi wa Sallam,
6 Lihat A.s-Sarkhasi, op.cit.,(11261; dan lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(31891.
u Lihat An-Nawawi, op.cit., (4/98); danZakanya, loc.cit
6 Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit,(3189).
6 Lihat Al-Kasani, op.cit.,(1 12151.
67 Lihat catatan kaki 278.
o Lihat lbnu Hazm, AhMuhalla... op.cit., @334I
e0 Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban Al-Basti. Lahir sekitar
tahun 270-an H. la termasuk huffadz yang tsiqah. Al-Hakim berkata, "la termasuk
-wb rc rr"cgahbul2 ni Btang teibabolnn- 281
,th S^iLt,
" Istirahatuya ahli neraka,,,
yakniYahudi dan Nasrani, mereka itu adarah ahli neraka.aio Sedangkan,
jika seseorang sakitpada bagian pinggangnya, lalu dia meletakkan tangan_
nya di atas bagian yang sakit itu untuk mengurangi rasa sakit, perbuatan
seperti itu tidak ada masalah karena adanya kepentingan.
sebagian para pengikut mazhab syafi'pzr dan Hanafiaz2 cenderung
kepada hukum makruh di luar shalat. Mereka beralasan bahwa bertolak
pinggang adalah bagian dari perbuatan orang-orang sombong di luar
shalat ltu adalah gaya yang dilakukan para wanita dan banci ketika menga-
lami ketakjuban. Demikianlah mereka berkata. Demikian pula perbuatan
itu adalah istirahat bagi para ahli neraka. Karena tblis dibuang dari surga
karena sedemikian itu pula. Dengan demikian menurut mereka, shalat
tidak bisa menjadi pengikat larangan perbuatan itu.473
*t*
orang yang menguasaiilmu fikih, bahasa, hadits, ceramah, dan termasuk pula kaum
93la5'k14i9-lHrayk.riLyiyhasanut gtAvd"cnze-rDsdyzauas'hb"aalb"hJi,)n,oyupgm.c.gitKo.,ia.(or1y6fa/l-9rk-2as)r.yyEiatniroryg,ardaaattnnntaorr.aa7in0r-.raarinn:nTyaa.rirkahwAatisa-tTpsraqdaat (yang
tahun
arc Dinukilnya dari Asy-syarbtni, op.cit, (112021.
47i Lihat Zakaiya, toc.cit,
1n At-Fatawa At-Hindiah, (1/106).
1B Lihat Zakanya, toc.cit
*b282 - 'rasgabbu$ yaug Dilaraug lalam *lanr
?*AU*,,t2
larangan Berdlrl dl belakang lmam dengan Dudukdalam Shalat
Pembahasan ini mencakup dua subbahasan:
A. Menentuton Sesuatu yang Dlpercellsthkan
Para ahli ilmu pada umumnya berpendapat bahwa diperbolehkan
bagi seorang untuk menjadi imam sambil duduk. Pendapat ini diilafti oleh
para pengikut mazhab Hanafia7a, Syaf iaTs; dan merupakan riwayat dari
MalilCTo dan lmam Ahmad dengan syarat menjadi imam untuk orang
hidup dan masih bisa diharapkan kesembuhannya.aTT
Sedangkan yang populer di kalangan Para pengikutmazhabMalilCTs
dan menjadi pendapat Muhammad bin Al-Hasan Asy-SyaibaniaTe dari
kalangan para pengikut mazhab Hanafi adalah bahwa imam yang sambil
duduk tidak boleh. Perbedaan pendapat yang kami ketengahkan di sini
adalah perkara shalat dengan berdiri di belakang imam yang sambil duduk.
Menurut pendapat mereka, menjadi imam sambil duduk adalah boleh.
Dan mereka itu adalah kelompok pertama tersebut di atas.
B. Hukum Shalat Berdiri di belakang lmam yang Duduk
Para ahli ilmu berbeda pendapat dalam permasalahan ini sehingga
timbul dua pendapat yang sama-sama populer; yaitu:
Pendapatl. Makmum boleh berdiri di belakang imam yang duduk.
Ini adalah pendapat Para Pengikut mazhab Hanafi,€o Syaf i,4r dan
171 Lihat tUnu RfHamam, op.cit,(1/36S).
175 Lihat Asy-Syaf i, Ar-Rasalah, (256); dan Zakanya, op.cit., (11252).
a76 Lihat lbnu Abdul Ban, Ahlstitukar... op.cit., (5/391).
1z Lihat Al-Mardawai, op.cit., l2l260lt Al-Bahuti, op.cit.; dan lbnu Qudamah,
op.cit., (3/60).
'7E Lihat lbnu Jaziy, Al-Qawanin N-Fiqhiah, (481.
17e Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani. Dilahirkan tahun 132 H. Dia sebagai
pembesar dan pimpinan dari pengikut mazhab Hanafi. Kitatrkitab karyanya: Al-Ashl,
As-Sair Al-Kabir wa Ash-ShaghiC Al-Huiiah bla Ahli Al-Madinah, dan lain-lain. Dia
memiliki pengaruh luas dalam mengokohkan mazhab Hanafi dan penyebarannya.
la wafat tahun 189 H. Lihat Adz-Dzahabi, op.cit., (9/'134), dan biografi no. 45.
1m Lihat lbnu Al-Hammam, loc.cit
41 Lihat An-Nawawi, op.cit., (412641.
-wh tx tasyathu$ tr Rtung perbrdxltau_ 283
merupakan salah satu riwayat dari Malik.e
Pendapatl/. Makmum harus duduk di belakang imam yang duduk,
dengan syarat bahwa imam tersebut adalah imam tetap dan masih bisa
diharapkan kesembuhannya. lni adalah pendapat para pengikut Imam
Ahmad6 dan mazhab ahli zhahir.e
Jumhur beralasan dengan dalil-dalil berikut:
1. Hadits Aisyah Radhigallahu fuiha ketika Nabisha/lailahu Alathi wa
sallam sedang sakit. Didalam hadits itu disebutkan sebagaiberikut,
e*+ * * *'; qr;i'e', h, 4''ot';
k **fii') t;;l., p,,
r,r3)u.,'
1: itr, r;l;li:fu,oh,
*,,?:ti-, t'I *\t,v dt flt'6;S,?ta.'+t ;)
f * yF f ,tu,iq ,rJ iltr:L:u €.ryi : Juj
f e,i :Y-,6t: * t yht,* 4t :Ye.ut. Jt;
*, ;,:::,f*i*rf):** . . . Kem u dian Rasututtah
ringanpada tubuhnya, maka bliau dipapah ketuarduapria, salah satu-
nya adalah Al-Abbas unuk shalat zltuhur. Dan Abu Batcar sdang meng-
imami shalat dengan onang Mnyak. Ketika Abu Bakar melihat bliau,
ia mencoba untuk mundur, lalu Nabi shallallahu Alaihi wa sallam
membrkan isyant kepadanya agar tidak usah mundur. Beliau brsafla
kepada kedua pria tadi, 'Dudukkan aku di seblahnya'. Maka keduanya
mendudukkan beliau di sebrah Abu Bakar. Latu Abu Bakar shatat
dengan berdiri dengan mengikuti sharat Nabi shailallahu Alaihi wa
sallam sedangkan orang banyak mengikuti shalat Abu Bakar. sedang-
kan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk...."4E5
se Lihat lbnu Abdul Ban, Al-tsfi&kar... toc.cit loc.cit
6 Lihat lbnu Qudamah, loc.citi dan At-Mardarrnal,
lmam l&i YLsuhikhataahtmihlbmnAaul-BbHuiahkzihm',a,hriA,atdK-MiittsaubhnaoAl.lla-6J.as..m5o,ap(a1.ch1it2.w,4a@3)A:1l-dl}magnal.mshaha,hiBhaMb u"lsntnimam, aKiJtaub'ilaAAshl--
284 - rr;usgaffiu$ gangDilarangbalamfrb rclam
Apa yang ditegaskan dari hadits tersebut adalah bahwa NabiShal-
lallahu Alaihi wa sallam shalat dengan duduk, sedangkan orang-or-
ang yang shalat dibelakangnya dengan berdiri. Itu terjadiketika beliau
sakit yang menyampaikan beliau kepada ajalnya. Peristiwa itu adalah
yang terakhir yang datang dari beliau sehingga menjadi nasildt (Peng-
hapus dan pengganti) bagi hadits-hadits yang lain.s
2. Berdiri adalah rukun yang dimampui oleh makmum, maka tidak boleh
ditinggalkan seperti rukun-rukun yang lain.47 Asy-Syaf iRahimahullah
berkata, "Dalam hal itu -menunjuk kepada apa yang menjadi pendapat-
nya yang menghapuskan duduk di belakang imam yang tidak mamPu
berdiri- dalil yang dibawa sunnah dan disepakati oleh semua orang
yang menunjukkan bahwa shalat dengan berdiri adalah jika mampu
melakukannya dan dengan duduk jika tidak mampu melakukannya.
orang yang shalat sendirian dan mampu berdiri tidak boleh shalat
dengan duduk."s
Mereka yang berpegang pada pendapat kedua beralasan dengan
dalil-dalil berikut:
1. HaditsJabir bin Abdullah RadhigallahuAtthu, di dalamnya disebutkan
sebagaiberikut,
t0
$\hf*e't3s.v
ShalatBab"lstikhlafuAl-lmam ldza'Aradha lahu Udzf, hadits no' 418,('1126'l). Lafazh
Al-Bukhari adalah, '8€'l"tt'-';'r'l'F' .f'J|f;*
'sedatgkan Abu Bakar shalat dengan sempumd'.
o Lihat lbnu Abdul Ban,Ahlsti&kar... op.cit., (5/398).
e Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (3/62).
s Muhammad bin ldris Asy-syaf i, Ar-Risalah, tahqiq Ahmad syakir, (Beirut:
Daar Al-Kutub Al-llmiah), hlm. 254.
* -wb ralgafiul1 u suug perrbtulnn_ 285
* Rasulullah shallallahu Alaihi wa saltam shatat dalam keadaan duduk
saat menderita sakit, dan kani shalat di belakang betiau. Abu Bakar
memprdengarkan takbinya kepda orang banyak. Beliau nrenoleh
kepada kanti dan melihat kami dalam keadaan brdiri sehingga btiau
membrkan isyarat kepada kami, maka kami pun duduk dan kanti
tcrus melaksanakan shalat dengan beliau sambil duduk. Ketika telah
mengucapkan salam, bliau brsabda, ,sungguh kalian adi hampir
mengerjakan perbuatan orung-orung Persia dan Romawi yang berdiri
untuk nja-raja mereka dan nja-nja mercka in duduk. ranganlah tralian
semua melakukannya. Ikutilah imam-imam kalian, jka mereka shalat
sambil berdiri, shalatlah kalian semua sambil berdiri; dan jka shatat
sambil duduk, shalatlah kalian sambil duduk'.,,ale
lnti yang menjadi penunjukan dalil hadits tersebut adalah bahwa
Nabi sha/la llahu Alaihi wa sallam memberikan isyarat kepada mereka
ketika beliau sedang shalat untuk duduk. Kemudian beliau memerintah-
kan untuk mengikutiimam dalam duduk atau berdiri. Beliau memberi-
kan alasan atas larangan berdiri ketika imam shalat sambil duduk
karena perbuatan seperti itu adalah perbuatan orang-orang persia dan
orang-orang Romawi ketika berhadapan dengan raja-raja mereka.
2. Dari Aisyah Radhiyallahur|nha, bahwa ia berkata,
tur* J;gelj y e,*, *ht * at Jy, &
Cy,iG J r*;t 15 d'i,lt ofd\')a'u,tq'7,; iitr r'b )
p ,*til: d'.#'rv et 6b ,rrk v € , tsg ,:rii'i),i6)i
L")Lflb[Jr;
"Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam pernah menunakan shalat
di rumahnya ketika sakit sambil duduk. Di blakangnya ada sekerompok
orang mengikuti shalat beliau sambil brdiri. Kemudian Rasulultah
shallallahu Alaihi wa sallam menunaikan shalat sambit duduk. Mercka
shalat dengan beliau sambil brdiri. Rasutulrah membrkan isyarat
kepada merelca untuk duduk. Ketka tclah setesai shalat bliau brsbda,
e shahih Muslim, Ktab Ash-shalatBab'ltmam Al-Makmum Bil lmam", hadits
no. 413, (11259).
286 - T Asryahbub yug Dilaraug nalan rifuh rclatn
'sesungguhnya imam diadakan adalatt untuk diikrtti. lka ia ruku, rukulah
kalian semua; jika ia bangkit, bangkitlah kalian semua; dan jika ia
shatat sambit duduk, shatatlah katian semua sanbil duduk''"ae
'4,& Lf ,i 4; *i y\t -u tt3. Dari Anas bin Malik Radtriyallahu Anhu, ia berkata, s'-, oi
+,rrii ;it ri tii,uu'J,1i,>()1a),t'niy* J:^';:-\i
t,i,r, ;*
t;;.
k.v i;' ttr,:,? i6ti',* tit,iu r:k:t t5
iu'"* ils5 ,rrfse)$9 ,r1{{'rv€,ttg
euy *u ttf.r',tfi rfu *.o $yr,:":;it'l;l*s 6r''i'i
J;J;iL')*f)2t
,,Bahwa Rasulullah shallatlahu Ataihi wa sallam menunggang kuda
tatu beliau teriatuh sehingga beliau terluka lcaki kanannya. Kemudian
ketika betiau melakukan suatu shalat sambit duduk. Maka kami shalat
di betakang betiau sambit duduk pula. Ketika beliau berbalk (setelah
selesai shata\ brsabda, 'sesungguhnya imam diadakan untuk diikuti
shalaarya. tika ia shalat sambit berdiri, shalatlah kalian semua sanbil
brdiri. tilca ia ntku', ruku'lah lcalian semua. Ika ia bangkit, bangkitlah
lcalian semua. Iila ia mengucaplan: 'sami'Allahu liman hamidah'(Al-
tah Maha Mendengar siapa saia yang memuii-Nya), ucapkan:
,Rabbaaaa walakat hamdu'(wahai Tfuhan kami, bagi-Mu segala pujr).
Iika ia shalat sambil berdiri, shalattah kalian semua sambil berdiri'
tka ia shalat sambit duduk, shatatlah katian semua sambil duduk'."ael
Dalil-dalil yang diambil oleh kelompok Pertama, yaitu jumhur
dibantah oleh kelompok kedua, sebagai berikut:
1. lmam Atrmad Rahrm ahultahmenotak pendapat den gan nasldt dengan
berdalil kepada shalat Rasulullah Shattallahu Alaihi wa Sallam ketika
beliau sedang menderita sakit, dengan ungkapannya, "Tidakada kelatat-
t* Shahih At-Bukhari, op.cit.,hadits no. 656, (112441; dan Shahih Muslim, ibid.,
hadits no.412'
a$ shahih Al-Bukhari, ibid.,hadiB no. 657; dan Shahih Muslim, rbr'il., hadits no.
411, (11258\.
- -tab rx rwWffiuh ni BIMW terrbabal1ar 287
an huijah di dalamnya karena Abu Bakar memulainya sambil berdiri
dan menyelesaikannya demikian itu. Maka menggabungkan dalillebih
baik daripada menasakh.'4e2
Bisa dimungkinkan bahwa Abu Bakar selaku imam, dari Aisyah,
7'i q.A-b; ,f.f i'dt ,k *r *ht ;* ,;t ol
\*i
'Bahwa Nabi Shallattahu Alaihi wa SaUam shalat di bliang Abu
Bakar ketika bliau sedang nrenderia sakit dalam pakaian (selimut)
yang diselempangkannya."
Juga diriwayatkan Anas: "Dan kamijuga tidak mengetahui bahwa
beliau shalat di belakang Abu Bakal melainkan di dalam hadits ini."
Sedangkan Malik berkomentar sebagai berikut, "Menurut kami harus
diamalkan hadits itu."4s3
2. Mereka berkata, "Tidak bisa dikatakan: Uika ia imam, tentu akan berada
di sisi hri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallarn Karena bisa dipahami
bahwa ia melakukan itu karena dibelakangnya ada shaf yang lain,"'4e4
3. lbnu Khuzaimaha% Rahimahullah berkata, "Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam telah memerintahkan kepada para makmum untuk meng-
ikuti imam. Juga memerintahkan dudukjika imam shalatsambilduduk.
Beliau melarang keras jika ada orang shalat sambil berdiri sedangkan
imam shalat sambil duduk. Mereka berbeda pendapat tentang peng-
hapusan permasalahan tersebut. Dan tidak ada berita yang dapat
dikukuhkan yang dinukil bahwa ada penghapusan apa yang telah datang
'Q Lihd Al-Bahvli, op.cit , (1l4Vl; Mn lbnu Qudamah, op.at , (3162).
as Sunan At-Tirmidzi, Kitab Abwab Ash-Shalat, Bab "Ma Ja'a: ldza Shalla Al-
lmam Qaidan fa Shallu Qu'udan', hadits no. 363. Sedangkan At-Tirmidzi mengatakan
sebagai berikut, "lni hadits hasan shahih".
.s Lihat Al-Bahuti, loc.cit.; dan lbnu Qudamah, loc.cit
as Abu Bakar Muhammad bln lshaq bln Khuzaimah An-Naisaburi. Dilahirkan
pada tahun 223 H.la adalah salah seorang imam dan hafizh. lbnu Hibban berkata,
Tak pemah kutemukan di muka bumiorang yang sangat profesionaldalam menyusun
sunan dan menghafal lafazh-lafazhnya ... sehingga seakan-akan semua sunnah di
antara kedua matanya melainkan Muhammad bin lshaq saja'. Di antara kitab-kitab
karangannya adalah kitab shahih, trauhid, dan lain-lainnya. la wafat tahun 3'tl H. Lihat
Adz-Dzahabi, Sinr... op.cit.,(141365).
288 - rasyrrffiul1 gng Dilnrang balnm rkh rclm
dari Rasulullah Shalla llahu Alaihi wa Sallam sebagaimana yang telah
kita sebutkan berupa perbuatan dan perintah beliau. Apa-apa yang
shahih telah datang dari Rasulullah SlallallahuAlaihiwaSallam dan
telah menjadikesepakatan Para ahli ilmu tentang keshahihannya, maka
bisa diyakini. Sedangkan apa-aPa yang mereka perselisihkan dan bahwa
belum ada kepastian bahwa suatu kabar benar dari Nabi Slallallahu
AlaihiusaSallam, maka itu diragukan. Dan tidak boleh meninggalkan
apa-apa yang diyakini demi apa-aPa yang diragukan. Akan tetapi, boleh
meninggalkan sesuatu yang diyakinidemi sesuatu yang diyakini pula.as
4. Terus berlangsung amalan para shahabat yang duduk di belakang
imam yang shalat sambil duduk di zaman kehidupan Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam dan setelah beliau wafat. Di antaranya
adalah yang diriwayatkan Osaid bin Al-Hudhair dan Jabir bin Abdullah
dan lain-lain.as
Sedangkan dalil pendapat kedua dibantah jumhur sebagai berikut:
1. Asy-Syaf i Rahimahullah berkata, *Ketika NabiShallallahuAlaihi wa
Sallam dalam keadaan sakit, beliau shalat sambil duduk; dan semua
orang di belakang beliau shalat sambil berdiri. Jadi, kami menarik
kesimpulan bahwa perintah beliau agar duduk adalah ketika beliau
terjatuh dari kudanya sebelum beliau sakit hingga wafat dengan sakitnya
itu. Maka, 'shalat beliau ketika sakit yang menyebabkan kematiannya,
beliau shalat sambil duduk; sedangkan orang-orang (para Shahabat)
di belakang beliau berdiri'(perintah ini) dihapus (maruukh) dengan
keharusan semua orang untuk mengikuti duduknya imam.aeT
Dia Rahimahullahjuga mengatakan, "Kami tidak menentang hadits-
hadits yang paling pertama hingga ada hadits yang memerintahkan
untuk menjadikannya pertasildt (penghapus dan pengganti). Hadits-
hadits utama itu adalah tepat pada waktunya (sesuai dengan kondisi
waktu itu, ed.) lalu dinasakh sehingga yang benar adalah pada penasikh-
nya. Demikianlah yang terjadi setiap yang dihapus, maka kebenaran
adalah apa-apa yang tidak dihapus (dinasakh). Jika sesuatu dinasakh,
kebenaran berada pada penasikhnya.as
au Shahih lbnu Khuzaimah, (3/56-57).
s' Lihat lbnu Al-Mundzir, op. cit.,(412051.
.s Asy-Syaf i, Ar-Risalah, (254).
.s Asy-Syaf i, tkhtilaf AhHadi'ite dicetak di bagian akhir kitab Al-Umm, (8/609).
-tab rt ratyal*ru$ dr ttuug peibaMlnn-. 2Bg
2. Mereka berkata, "sesungguhnya dalam ungkapan yang mengatakan
bahwa 'duduk'telah dihapus sesuaidengan apa yang dibawa oteh sun-
nah dan telah disepakatioleh orang banyakbahwa manusia boleh shalat
sesuai dengan kemampuannya. Padahal dalam konteks hadits tersebut
mereka mampu berdiri dan shalat yang mereka lakukan adalah shalat
fardhu. orang yang mampu tidak boleh shalat sambit duduk sekalipun
imamnya lorena adanya uzu[ shalat sambil duduk.m
3. Di antara mereka ada yang berkata, "sesungguhnya yang dimaksud
dengan perintah untuk duduk kepada para malonum ketika imam shalat
sambil duduk adalah ketika dalam tasyahhud. Yaknijika imam berta-
syahhud sambil duduk maka semua malnnum bertasyahhud sambil
duduk seluruhnya.sr
4. sedangkan yang disebutkan berupa apa yang dilakukan oreh sebagian
para shahabat bahwa mereka 'duduk'di masa kehidupan Rasulullah
shallallahu Alaihi wa sallam dan sepeninggal beriau terah disanggah
oleh,Asy-syaf idalam ungkapannya, "Dalam peristiwa ini menunjukkan
bahwa seseorang mengetahuisesuatu dari Rasulullah, dan tidak menge-
tahuiselain dari Rasulullah. Maka, ia mengungkapkan apa yang dike-
tahui saja, kemudian ia tidak bersandar dengan ucapan yang ia katakan-
nya, lalu meriwayatkan huiiah pada seseorang )rang mengetahui bahwa
Rasulullah mengatakan atau melakukan sesuatu. Di mana perbuatan
itu menasakh yang dikatakan orang lain dan orang rain itu mengetahui
haltersebut."m
5. sedangkan tentang perbedaan hadits-hadits tentang shatat Rasuluilah
shallauahu Alaihi wa sallam ketika beliau sakit yang berakhir dengan
ajal, maka telah disanggah oleh lbnu Abdul Barr dengan ungkapannya
sebagai berikut, "lni bukan suatu perbedaan. Karena terkadang boleh
saja bahwa Abu Bakar di depan pada suatu waktu dan Rasulullah shal-
m Lihat Zakanya, op.cit., (1tZS2l.
Lihat Asy-syaukani, op. cit., (3/1 70). Asy-syaukan i Rahimahuttah berkata,
"la sebagaimana dikatakan oleh lbnu Hibban adatah merupakan penyelewengan
sebuah kabar dari sifatnya umum tanpa dalil. Lalu ia menolak pendapai itu dengan
menjelaskdn bahwa beliau memberikan isyarat kepada mereka (para makmum)
untuk duduk. Dalam hal itu (sikap berdiri) ada alasan yakni keserupaan dengan
orang-ouranLgihaatjaAmsyn-soyna-Mf ui,stlkimhtityaafnAgt-bHearddiibri,
untuk para,eja mereka., akhir kitabnya,
dan dicetak pada bagian
At-Umm, (8/609).
290 - Tasgaffiuh gaug alarung to[au trt/ :,l;lam
lallahu Alathi. wa Sallam yang maju di waktu yang lain lagi. Karena
sakit beliau itu dalam beberapa hari dan beliau selalu keluar rumah
untuk menunaikan shalat.s
Setelah memaparkan dalildalildari kedua belah pihak, maka jelaslah
bagi Penulis -Wallahu Ta'ala /(lam- kela.ratan mazhab Imam Ahmad
Rahimahullah yang menetapkan a gar'duduk' di belakang seorang imam
yang shalat sambil duduk dan bukan berdiri. Hal itu menjadi jelas karena
dalil-dalil dan diskusi tentangnya diatas.
Mazhab ini dikokohkan oleh:
Pqtama. Nash-nash yang jelas yang diambil sebagai dasar; sebagai-
mana dalam hadits Anas dan Aisyah yang menggunakan kata-kata jelas
yang menegaskan perintah dengan jelas dengan tidak ada kerancuan di
dalamnya selaras dengan konteksnya. Sebagaimana juga diakui oleh
mereka yang menentangnya.s
Kedua. Tidak mungkin mengularhkan klaim penghapusan karena
perbedaan beberapa hadits yang ada berkenaan dengan shalat Rasulullah
Slallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau sedang menderita sakit yang
berakhir dengan tibanya ajal beliau, apakah beliau sebagai imam atau
sebagai makmum. Hadits-hadits saling tumpang tindih tentang pelrnasa-
lahan tersebut sehingga menjadi sangat lemah untuk dijadikan dasa6 apa-
lagi untuk dijadikan penasikh (penghapus dan pengganti) untuk hadits
lain yang berbeda dengan hadits tersebut. Karena sama-sama kuatnya
maka dimungkinkan bisa dilakukan penggabungan antara kedua hadits
sebagaimana diisyaratlon oleh Imam Atrmad. Penggabungan adalah lebih
utama daripada menasakh.
Ketiga. Sesungguhnya hadits-hadits yang melarang berdiri di bela-
kang imam yang shalat sambilduduk, sebagiannya telah munculdengan
alasan bahwa yang demikian itu adalah perbuatan orang-orang Persia
dan orang-orang Romawi di mana mereka selalu berdiri untuk para raja
mereka. Dan sangatlah tidak mungkin bahwa fllah initelah hilang. Orang-
orang Persia dan orang-orang Romawi kedua kelompok ini ada dizaman
wafat Rasulullah Shalla[ahu Alaihi wa Sallam. Sedangkan hukum akan
terus berjalan sejalan dengan illah-nya.
s lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit., (5/398).
s Tinjau peristiwa ini dalam kitab Asy-Syafi, Ar-Risalah, (2521.
- -uh n' ruyahbu$ dr ttang penbaMban 291
lbnul Qaryim Rahimahullah ketika memaparkan hadits tentang
sadd adz-dzarar' (membendung bahaya) berkata, "Di antaranya beliau
memerintahkan kepada para makmum agar menunaikan shalat sambil
duduk jika imam mereka menunaikan shalatnya sambil duduk, sebagai
upaya membendung bahaya tasyabbuh kepada orang-orang Fersia dan
orang-orang Romawi dengan sikap berdiri yang mereka lakukan untuk
para raja mereka sedangkan para raja itu duduk.s
Keempat. Mazhab ini adalah perbuatan yang dilakukan segolongan
para shahabat ketika Rasulullah Sha llallahu Alathi wa Sallam masih hidup
dan setelah beliau wafat, tanpa adanya penentangan hingga sebagian
darimereka mengira bahwa itu hasilijma. lbnu Hibban setelah menyebut-
kan hadits-haditsnya yang memerintahkan untuk duduk di belakang se-
orang imam yang shalat sambilduduk berkata, "... yang memfatwakan
demikian dari kalangan para shahabat adalah Jabir bin Abdullah, Abu
Hurairah, Usaid bin Hudhair; dan Qais bin Qahd. Dan tidak diriwayatlon
dari shahabat lain selain mereka. Fendapatyang berbeda dengan pendapat
ini baik dengan isnad muftashrl'bersambung' ataupu n mwtqathf ''terpu-
tus'. Sehingga bisa dianggap ijma. Dan ijma yang berlaku menurut hemat
kami adalah ijma para shahabat. Dari pihak tabi'in, yang mengeluarkan
fatwa dengan menggunakan dalil hadits ini adalah Jabir bin Zaid. Dan
tidak diriwayatkan dari selainnya, yakni dari kalangan tabi'in akan adanya
penentang baik dengan isnad shahih ataupun lemah. Maka perbuatan
tersebut adalah ijma para tabi'in pula ....s Klaim lbnu Hibban bahwa
perbuatantersebutadalah ijma dikokohkan oleh perbuatan dan fatwa seba-
gian dari para shahabat dengan disebutkan bahwa tidak ada penentangan
kepada mereka.
Kelima. Sesungguhnya dalam ungkapan tersebut ada kesesuaian
dengan perintah-perintah yang pasti untuk mengikuti imam dan tidak
bersikap menentangnya. lidak ada perbedaan pendapat yang paling
banyak daripada perbedaan pendapat dalam hal rukun-rukun shalat.
*!tt
s lbnul Qayyim, lghatsah Al-Lahfan min Mashaid Asy-Syaithan, (Kairo: Daar
sAt-Turats Al-Arabi, cet. l, 1403 H), (1/301 ).
Lihat Pe-Zailai', Nashbu AnRayah, (11245).
292 - t asyffi gang alarung nalam nk$ rclarr
9*lrh*JS
laranoan Ber-ls,ytlmal sebaoalmana lsytlmal Yahudl ketlka
Melalsanalan Shalat
Pembahasan ini mencalmp dua subbahasan:
A. Definisi Isytimal
Ungkapan para ahli fikih berbeda-beda ketika mendefinisikan al-
isgtimal ash-sltamma.w
Dikatakan, "Al-isytimal ash-slamma adalah (Pakaian) yang mem-
bungkus kedua pundak dengan mengeluarkan tangan kiri dari bagian
bawah baju dengan tanpa dilengkapi kain. Jika dilengkapi dengan kain,
maka tidak apa-apa." lni adalah pendapat Malik Rahrmahullah.m
Dikatakan pula, "Menggabungkan kedua ujung pakaian kemudian
mengeluarkan keduanya dari bawah salah satu tangan diatas salah satu
dari pundak jika tidak dilengkapi dengan celana panjang."m
Dikatakan pula, "Membungkus dengan pakaian sehingga mem-
besarkan sekujur badan dari kepala hingga kedua kaki dan tidak meninggi-
kan bagian sebelahnya sehingga mengeluarkan kedua tangan darinya."5ro
Dikatakan pula, "Berselimut dengan pakaian lalu mengeluarkan
tangan dari arah dada.il5rr
Dikatakan pula, "Memasukkan badan ke dalam pakaian lalu meng-
angkat kedua ujungnya ke atas pundak kiri.n5r2
s7 Dikatakan, "Dinamakan shamma'karena tidak ada lubang untuk memuncul-
kan kedua tangan darinya. Seperti ash-shakhrah ash-shammd." Lihat Az-Zaila'i,
Tabyin ... op.cit., (11'l€r). Dan akan menyusul bahwa di sana ada orang yang mem-
sbedakan antara isytimal asfushamma'dan isrtimal al-yahud.
Lihat lbnu Abu Zaid Al-Qinrvani, Al-lami', h1m.255.
m lni adalah pendapat Al-Karkhi dari kalangan para pengikut mazhab Hanafi.
Lihat Al-Kasa ni, op. cit.,(1 12191.
510 Lihat Az-Zaila'i, op.cit., (1/164). Pendapat ini juga menjadi mazhab Al-
Khaththabi, dan ia berkata, "lni adalah lsylimal Al-Yahu{. 'lni adalah penafsiran para
ahll bahasa', demlklan menurut AFAshmu'|. Lihat AFBaghava, op.cit, (214241.
5rt Disebutkan Asy-Syairazi penulis kitab AhMuhadzdzab.Lihal Al-Majmu'Syarh
Al-Muhadzdzab, (3/1 76).
512 Lihal Al-Majmu'(3/176). Disebutkan Al-Baghawi bahwa para ahli fikih meng-
ambil pendapat ini. Lihat Al-Baghawi, op.cit., (U4251.
-*aab rayafiub d yrlaW peibaMhan* 293
Dikatakan pula, "Seseorang yang memasukkan pakaiannya dari
bawah ketiak kanan dan menutup pundak kiri dengan pal<aian itu. Tidak
ada sarung padanya sehingga terlihat dari pakaiannya itu sisi badan dan
auratnya."5r3
Dikatakan pula selain semua di atas namun semua tidak keluar
dari apa-apa yang telah disebutkan.
Dengan mencermati semua definisi tentang bytimal tersebut, maka
kita membutuhkan kejelasan akan sebagian permasalahan berikut ini, yakni
Apa perbedaan antara idhthiba'dengan rsytimal dalam definisi yang
disebutkan terakhir, yang merupakan definisi yang diajukan oleh para
pengikut mazhab Hanbali?
Jawaban pertanyaan ini akan menjadi jelas dengan menjelaskan
definisi idhthiba' menurut mereka sebagaimana telah mereka definisikan
sebagai berikut, "ldhthiba' adalah menjadikan bagian tengah selendang
berada di bawah pundak kanan dan kedua ujungnya berada di atas
pundak kiri."514
Di atasnya dengan keadaan seperti itu adalah pemakaian sarung,
yaitu pakaian orang berihram. Yang demikian itu telah dilakukan oleh Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam. Isgtimal ini sangat berbeda dengan
idhthiba', karena orang yang ber-rsgtimal ttdak mengenakan sesuatu,
baik berupa celana panjang atau sarung di bawah selendangnya.
Dengan mengkitisi definisi-definisi di atas juga akan menjadi sangat
jelas bagi kita bahwa para ahli bahasa memiliki definisi yang berbeda
dengan definisiyang diketengahkan oleh para ahlifikih. Mereka berpendapat
bahwa bgtimal yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang telah dise-
butkan di atas berupa tindakan membesarkan badan dengan pakaian
dan membiarkannya menjuntai tanpa dinaikkan ujungnya. Sedangkan
para ahli fikih, kebanyakan mereka berpendapat bahwa i.sgtimal mengan-
dung keharusan mengangkat salah satu ujung selendang di atas pundak-
nya untuk menegaskan bentuk dan gaya isytimal yang sebenamya.
613 lnl dinukil darl Ahmad bln Hanbal Rahlmahullah. Llhat lbnu Qudamah,
op.cit., (21295). Di dalam Al-lnshat ia berkata, "Pendapat inilah yang menjadi mazhab,
(1t470l,.
51 1 Lihal Ar- Ra udh N- Murabba' yang digabu ng ka n den gan Ha syiya h Ibn u easim
(4/93). Jika dikatakan bahwa di bawah ketiak kanan, maka ini lebih utama.