294 - r asghhrb WW Dilarang balm rhh u[m
Seba gian ahli fi kih membedakan antara bgtimal oran g-oran g Yahudi
den gan al- bytimal ash-slamma den gan men gataka n, " I sytimal ora n g-
orang Yahudi adalah apa yang kita sebutkan definisinya menurut para
ahli bahasa. Sedangkan al-bgtimal ash-shamrna adalah apa yang telah
disebutkan oleh para ahli fikih. Yang jelas keduanya adalah sama saja
karena apa yang telah datang dari beliau bahwa beliau melarang ash-
shamma isgtimal Al-Yahud."5r5 Maka larangan beliau ini menunjukkan
bahwa keduanya sama saja.
Yang jelas -WallahuTa'alalilam- bahwa definisiyang paling dekat
untuk lsytimal adalah definisi para ahli fikih. Hal itu karena nash dalil
yang shahih telah memberikan dukungan kepada pendapat itu.
Al-Bukhari dan Muslim telah menahtrij dari haditsAbu Said Al-Khudri
Radhtgallahu Anhu, ia berkata,
- ?Pt €I? er,,*,r i4!t\' & :' r?,6
r# ^Jrc Ll,rG'i:;'F- ttiitL:ti,(1drj,:":r' r#st,
qL';
dc -*': q'i.i::+t "?\it$tr,l'_oo'ci€..:rtc*;rPc :c.^: l*ttz'./,ecft
-"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang dua pakaian
hingga saManya dalam hadits- dan dua pakaian iru adalah al-isytimal
ash-shamma, yakni menjadkan pakaiannya di aas salah satu dari kedua
pundalotya sehingga pundak yang lain tcrbuka tidak ada pakaian di
atasnya, sedangkan pakaian yang lain dipakai untuk duduk berumpu
kepada pantafrya dengan mengumpulkan kedua paha ke dada sehingga
ia duduk dengan tidak brafiupi kemaluannya."st6
Al-Hafizh dalam Al-Fath berkata, "Arti zhahir redaksional dari Al-
Bukhari adalah bahwa tafsir tersebut dalamnya ada derajat marfu'. ltu
sesuai dengan apa yang dikatakan oleh para ahli fikih. Dengan penilaian
515 Disebutkan oleh Al-Baghawi, dalam Syarh As-Sunnah, @4251.
51c Shahih AhBukhari, Kitab Al-Libas, Bab "lsytimal Ash-Shamma'", hadits no.
il82, (512191); dan Shahih Muslim, Ktab Al-Buyui Bab'lbthalu Bai'Al-Mulamasah
wa Al-Munabadzah', hadits no. 1512, (31932), namun di dalamnya tidak ada tafsiran
tentang dua pakaian.
-wh rx rwya#uh Di niDary peibatuban- 295
bahwa hal itu mauquf saja bisa dijadikan huiiah, demikian yang benar.
Karena itu adalah tafsir yang datang dari perawi yang tidak bertentangan
dengan makna eksplisit lehabar (hadits).5l7
B. Hukum Isytimal
Para ahli fikih berbeda pendapat sehingga muncul dua pendapat:
Pendapat /. Perbuatan itu makruh hukumnya. Pendapat ini adalah
pilihan para pengikut mazhab Hanafi,5r8 Maliki,sre Asy-Syafi'i,520 dan
Hanbali.52r Jika di bawahnya tidak mengenakan pakaian.
Pendapat //. Perbuatan itu haram hukumnya. Ini adalah pendapat
Asy-Syaukani dari kalangan orang-orang yang datang terkemudian.r22
Mereka yang berpendapat pertama mendasarkan pendapatnya
kepada dalil-dalil dan alasan-alasan berikut:
1. Apa yang muncul berupa larangan ber-isgtima/. Di antaranya hadits
Abu Said Al-Khudri, di dalamnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam melarang al-bgtimal ash-shamma dan menekuk kedua paha
ke dada dengan satu potong kain sehingga tidak menutupikemaluan-
nya. Dan hadits-hadits lain yang semakna dengan hadits tersebut.
2. Mereka berkata, "Makuh, karena pakaian seperti itu adalah pakaian
orang-orang yang suka takabur "523
3. Karena dengan gaya pakaian sepertiitu orang tidak akan bisa mengusir
bahaya yang muncul di hadapan dirinya.52a
Sedangkan mereka yang berpendapat dengan hukum haram
dengan alasan-alasan sebagai berikut:
1. Larangan yang muncul dalam berbagai teks dalil berkenaan dengan
bgttmal menuntut adanya hukum haram sebagaimana prinsip dasar-
nya dengan tidak ada sesuatu yang memalingkan dari hukum haram
517 Lihat lbnu Hajat Fath... op.cit.,(11477).
fqhst0 ghgt Al-lGsani, q.d.,(1 2191: @r N-7ddt ... q.rfi, (1 fi64).
5re Lihat Af-Klasyr, op.cil (1 12511;dan Al{linlani, AhJami', (2$1.
Q Lihat An-Nawawi, op.cit, (3/176).
nr Lihat Al-Mardawai, op.cit., (214701.
P Lihat Asy-Syaukani, op.cit, (2nq.
e3 Lihat N-Kasani, loc.cit
52' Lihat An-Nawawi, /oc.c/.
296 - tragabbub yang Dilarang talan &tb rclam
itu. Siapa yang memalingkan kepada hukum makruh, maka harus
dengan dalil, sedangkan dalil itu tidak ada.
2. Sesungguhnya larangan isytimal karena adanya kekhawatiran terbuka-
nya aurat, sedangkan menutup aurat dalam shalat wajib hukumnya.
Demikian yang benar. Bahkan dikisahkan oleh sebagian mereka bahwa
menutup aurat wajib menurut ijma. Maka, sudah barang tentu haram
hukumnya segala yang mengarah kepada sesuatu yang merusakkan
pada hukum yang wajib ini.55
Pendapat palin g lvu,at -Wallahu Ta' ala Al lam- adalah pendapat ke-
dua, karena teks dalilnya sangat jelas munculdengan membawa larangan
tentang perbuatan tersebut, sedangkan hakikat larangan adalah peng-
haraman. Menguatkan pendapat ini karena hadits Abu Said Al-Khudri
tenta n g isy timal juga m en ga nd un g lara n gan tenta n g j ua l-beli mulamasah
(membeli dengan menyentuh barang yang tersembunyi) dan jual-beli
mirabadzah (ual-beli dengan pililihan sesuatu yang dijual melalui lem-
paran kerikil). Kedua cara itu haram hukumnya. Sedangkan dsgtfmal telah
dijadikan satu konteks dalam hadits tersebut, maka wajib dipersatukan
dua hal tersebut dalam satu hukum dengan yang lainnya. Dan ketika
dalam hal itu juga terkait dengan menjaga aurat yang wajib ditutupi dari
keterbukaan dan perbuatan itu juga bagian dari perbuatan orang-orang
Yahudi yang hanya dikenal di kalangan mereka, sedangkan prinsip
melakukan apa-apa yang khusus pada mereka adalah haram hukumnya.
tl. {. tf
525 Lihat Asy-Syaukani, op.cit., (2nq.
- -wb tt tasyffiub tt ttuug PetfuMbM 297
?",*U*rt+
laran gan Besandars26 ketlka Melaksanakan Shalat
Ungkapan para ahli fikih sangatbervariasiketika menetapkan hukum
bersandar dengan memperhatikan hukum shalat itu sendiri ketika orang
yang sedang menunaikan shalat ihr bersandar, jih shalat yang dilalatkan
adalah shalat fardhu atau shalat sunnah, sebagai berikut:
Pertama. Bersandar ketika menunaikan shalat fardhu.
Para ahliilmu pada umumnya berpendapat bahwa makruh bersan-
dar ketika menunaikan shalat fardhu tanpa kepentingan. lni adalah pen-
dapat para pengikut mazhab Hanafi,5z7 Maliki,528 dan Hanbali.5a
Mereka berdalil dengan dalil-dalil berikut:
1. Apayang ditakhrij olehAbu Dawud dari lbnu UmarRad/riyallahu,\nhu
bahwa NabiShallallahu Alaihi wa Sallam melarang seseorang ber-
sandar dengan tangannya ketika menunaikan shalat.53o
2. Bahwa dalam bersandar terdapat sikap mengurangi cara berdiri yang
wajib hukumnya. Tidak boleh mengurangi lrualitas berdiri melainkan
karena adanya uzur.53r
3. Bersandar adalah istirahat dalam shalat dan makruh hukumnya.s2
Sedangkan jika sikap bersandar seseorang yang sedang menunai-
kan shalat itu sempuma, dengan ukuran jika apa yang menjadi tempat
bersandamya itu dihilangkan ia akan terjatuh maka bersandar yang demi-
kian itu membatalkan shalat menurut pendapat jumhur.533 Karena dengan
ila Al-lttika'adalah bersandar ke alas, sesuatu yang lain ketika sedang duduk,
atau berdiri ketika sedang menunaikan shalat.
n7 Lihat As-Sarkhasi, op. cit.,(1 l2OB); dan Al-Kas ani, op. cit.,(1 I 21 81.
528 Lihat lmam Malik, Al-Mudawwanah, (1/169); Jawahir Al-lklil Syarh
Mukhtashar Khalil, Shalih Al-Azhari, Daar lhya Al-Kutub Al-Arabiah, ('ll52l.
sne Lihat lbnu Qudamah, op.cit, (2/395);dan Al-Bahuti, Syarh ... op.cit., (1/198).
Sunan Abu Dawud, Ktab Ash-Shalat, Bab "Karahiyatu Al-l'timad 'ala Al-Yad
fiiAsh-Shalaf, hadits no.992, (1/260);dan diriwayatkan dari para syaikhnya dengan
lafazh-lafazh yang saling mirip. Lafazh tersebut dari syaikhnya, lbnu Syibawaih. Abu
Dawud diam menanggapi hal itu. Ahmad Syakir menshahihkan isnadnya dalam
tahqiq Al-Musnad. Hadits no. 6U7, (911241.
$1 Lihat As-Sarkhasi, op. cit.,('l I 208); dan Al-Kas ani, op. cit.,(1 I 21 81.
s2 Lihat Al-Kasani, op.cit.,(11215). Karena dengan tindakan seperti itu meng-
shilangkan adab shalat. Lihat pula lbnu AFHammam, op.cit.,(21'71.
Lihat lbnu Jazi, op.cit., (67), dan lbnu Muflih, op.cit , (11484).
298 - ras4bbub yang Dilarung balaw rffi rclm
demikian itu ia tidak berdiri.5r
Sedangkan hukum mubah adalah jika sangat diperlukan. Hal itu
telah ditunjukkan oleh apa yang ditakhrij oleh Abu Dawud dari Hilal bin
Yusaf bahwa beliau ketika telah lanjut usia membuat suatu tiang di dalam
mushallanya untuk bersandar kepadanya.535
Kelua, bersandar ketika menunaikan shalat nafilah (sunnah):
Pendapat /. Adalah pendapat para pengikut mazhab Hanafi,536
Maliki,537 dan membolehkan bersandar dalam shalat sunnah nafilah.
Mereka beralasan, boleh meninggalkan sikap berdiri dalam shalat
tathawwu' (sunnah), apalagi hanya mengurangi saja. Selain adanya dalil
berkenaan dengan adanya kemudahan dalam shalat nafilah.5s
Pendapat //. Sebagian para pengikut mazhab Hanafi berpendapat
bahwa hukumnya adalah makruh ketika tidak ada kepentingan, termasuk
juga di dalam shalat nafilah.53s
Mereka beralasan sebagai berikut:
l.Apa yang diriwayatkan dari beliau sebagai berikut,
k :*,,)b t&:rs,: Jtai;r!x'l*'*3r ;,s?1 ft
&|4t $$,:.*;.cJ:lr, od.p : Jra-i?ir,$r $$
'Bahwa beliau menyakskaa ali terbentangpanjang, maka beliau ber-
tanya, 'Milik siapa ini?' Maka dkatakan, 'Milk fulanah yang flrenu-
nakan shalat malam. lka ia telah kelelahan, ia bersandar kepadanya'.
Beliau bersabda, 'Hendahya fulanah itu shalat malam sedang-sedang
nja. tilca lelah, hendalaya tidur'."n
#s LihatAl-Bahuli, Syarh... op.cit, (1/198).
Sunan Abu Dawud, Ktab Ash-Shalaf, Bab "Ar-Rajulu Ya'tamidu fii Ash-
sShalati 'ala 'Asha", hadits no. 948, ('112491.
Lihat As-Sarkhasi, op.cit.,(1 1208); dan Al-Kas ani, op. cit.,(1 1218).
s$7 Lihat Al-Mudawanah,lmam Malik, (1/169).
Lihat As-Sarkhasi, op.cit.,(1 12081.
ns tbid., (1/208).
m Demikianlah disebutkan oleh penulis kitab Al-Mabsuth, (1/208). Hadits ini
terdapat di dalam kllab Sunan Abu Dawud, Kibb Ash-Shalat Bab "An-Nu'as fii Ash-
Shalaf, hadits no. 1322, (21331. Nashnya yang berasal dari Anas sebagai berikut,
- -wb l, r.aiyafiul1 li tiUng petfubd)ail 299
2. Perbuatan tersebut adalah merupakan bagian dari berenak-enak dan
menyombongkan diri, maka makruh hukum melakukannya tanpa
adanya uzur.ilr
Ya n g pali n g jelas -Wallahu Ta'ala,t lam- boleh da la m shalat naftI ah.
Karena dasarnya adalah keringanan dan kemudahan. Maka orang yang
melakukan shalat boleh melakukan dengan cara yang paling sesuai
dengan kondisidirinya. Sebagaimana diisyaratkan oleh ungkapan Imam
Malik Rafumahullah, "Meninggalkannya karena tidak dibutuhkan adalah
lebih utama dan lebih sempuma."*
Sedangkan bersandar kepada salah satu tangannya atau kepada
kedua-duanya ketika seseorang shalat sambil duduk, maka sebagian para
ahli fikih berpendapat bahwa yang demikian makruh hukumnya.5o3
Sedangkan yang jelas -Wallahu Ta'ala Alam- bahwa gaya seperti itu
haram hukumnya kecuali dengan adanya kondisi darurat yang mem-
butuhkannya.
Yang demikian itu karena dalil-dalil sebagai berikut:
1. Apa yang telah ditahtrrij oleh Abu Dawud dan lain-lain dari lbnu Umar
RadhtgallahuAnhuma bahwa ia melihat orang yang bertumpu kepada
tangan kirinya ketika ia sedang shalat sambil duduk. Maka ia berkata
kepadanya, Jangan duduk seperti ini, karena sesungguhnya yang demi-
kian ini adalah duduknya orang-orang yang diadzab.w
ita';\rix *3f;foj'r: J';r,ytc,lw
cfu ,l2t'l-?.rro:r^l (,'.,i
t t. iu''V .i,t z t
i. t .c , t c la, \,'rot.,,
',#'Csf ir;,:-ivfu ,H., * :9i iu',k yt J|,|ui
nasulultah Shatlalbh; Abihi wa Sattam pada suatu hari masuk masjid dan
mendapati tali yang terbentang di antan dua tiang. Maka beliau berbnya, Tali
apakah ini?'Dikatakan, Wahai Rasulullah! Tali ini digunakan oleh Hamnah
binfu Jahsyisaat menunaikan shalat Jika kelelahan, dia akan bergelantungan
padanya'. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bercabda, 'Hendaknya
dia shalat semampunya; dan jika menasa lelah, hendaknya duduk'.'
sr Lihat As-Sarkhasi, op.cit,(1 l208l.
s2 Lihat lmam Malik, Al-Mudawwanah, (1/169).
s Lihat lbnu Qudamah, op.cit, (2/395).
s Sunan Abu Dawud. Kibb Ash-Shalat, Bab "Karahiyyatu Al-l'timad 'ala Al-
Yad fii Ash-Shalaf, hadits no. 994, (112611. Hadits ini mauquf kepada lbnu Umar
dengan isnad yang bagus. Telah diriwayatkan dengan derajat marfu'dengan sanad-
300 -'r ayffiu$ WW Di[naug M[an rW ulnrr
2. Apayang telah ditakhrij oleh Abu Dawud dan rain-lain dari lbnu Abbas
Radhiyallahu Anhuma bahwa ia berkata, "Rasulullah slallaltahu Ataihi
usa sallam melarang seseorang yang sedang menunaikan shalat ber-
sandar pada kedua tangannya."s
Ditakhrij Al-Baihaqi dari lbnu umar Radh iyallahu fuihu dengan lafal,
"Bahwa Nabi shal/allahu Alathi wa sallam merarang seseorang duduk
sambilbersandar ke tangan kirinya didalam shalat. Lalu beliau bersabda,
;itircq:t
'Sesungguhnya yang demikian itu adatah ibadahnya orung-orang
Yahudi'."%
Tidak diragukan bahwa dalil-dalilyang telah barnr ini menegaslen
hukum haram karena larangannya sangat jelas tentan g gaya tersebut.
Dari aspek lain, beliau memberikan alasan-arasan atas larangannya bahwa
yang demikian itu adalah shalatnya orang-orang yahudi, sedangkan
tasyabbuh kepada orang-orang Yahudi haram hukumnya, apalagi dalam
peribadatan mereka.
Gaya seperti itu adalah perkara baru dalam shalatyang tidakpemah
dilakukan oleh beliau. lbnu Hazm Rahimahullah berlota, "Benar dari
Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallarn bahwa beriau bersabda,
*f.nirsrp
" Shalatlah kalian semua seMgaimana kalian lihat aku shalat."v1
sanad yang shahih menurut Ahmad. Llhat Musnad Ahmad, dengan tahqiq Ahmad
Syakir, isnadnya shahih. Dan dalam sunan AhBaihaqi, Ktab Ash-shatal Bab "At-
I'timad Biyadaihi 'ala Al-Ardhi." Hadits no. 2810, (2t1gsl, Musbdrak At-Hakim, totab
Ash'Shalat 1112721. Teks dalil itu menurut keduanya bahwa Nabi Shailailahu Ataihi
wa sallam melarang omng yang sedang duduk dengan bertumpu ke atas tangannya
ketika sedang menunaikan shalat, dan beliau bersabda, "Sesungguhnya yang demi-
kian itu adalah ibadahnya orang{rang Yahudi". At-Hakim berkata, "lniadalah hadits
shahih menurut syarat kedua syaikh, namun keduanya tidak mentakhrijnya. Kemudian
*dikokohkan oleh Adz-Dzahabi.
tbid.
lbid.
il, shahih Al-Bukhari, Ktab Al-Adzan, Bab "Al-Adzan ti Al-Musafir", hadits no.
605, ('11226). Hadits ini juga datam shahih Mustim, Ktab At-Masajid wa Mawadhi'i
Ash-shalat, Bab "Man Ahaqqu biAt-tmamah", hadits no. 674, (1/390). Ungkapannya,
"shalatlah kalian semua sebagaimana aku shataf muncul dalam shahih-Al-Bukhan,
bukan pada Shahih Muslim.
* -wh ra;gafiub tr tmng peibaulnn- 301
Maka barangsiapa melakukan shalat, baik laki-laki atau perempuan
dengan cara yang berbeda dengan cara Rasulullah Shal/allahu Alaihi
ua Sallam, maka artinya ia telah melakukan shalat dengan cara yang
tidak diperintahkan oleh Allah S ubharahu wa Ta' ala. Maka shalatnya tidak
cukup baginya. Bersandarketangan dalam shalatadalah berbeda dengan
cara shalat beliau tanpa ada pertentangan dari satu orang Pun.t48
***
9*m*,rc
laranllan Mengangkat Kedua Tanllan ketlka Melalsanakan
Shalat Seakan-akan Ekor+kol Kuda Llart'e
Pembahasan ini mencala.rp dua subbahasan:
A. Fosisi Mengangkat Thngan yang Dimaksud dalam Shalat
Muncul di dalam sunnah suatu larangan mengangkat tangan di
dalam shalat seakan-akan ekor-ekor kuda liar. Para ahli ilmu berbeda pen-
dapat ketika menentukan definisi mengangkat tangan yang dilarang itu.
Para pengikut mazhab Hanafi berpendapat bahwa yang dimaksud adalah
mengangkat tangan ketika takbir untuk ruku' dan ketika bangkit darinya.sso
Oleh sebab itu, mazhab mereka berbeda dengan mazhab jumhur yang
menyebutkan bahwa mengangkat tangan di sini adalah ketika talcbiratul
ill'at11.551Mereka memiliki alasan-alasan yang lemah dalam perkara ini.552
Mereka membawa larangan yang muncul berkenaan dengan mengangkat
tangan sebagaimana disebutkan di atas kepada apa yang sesuai dengan
mazhab mereka tentang mengangkat tangan di dalam shalat.
s lbnu Hazm, op.cit,(213351.
sse AhKhail Asy-Syams adalah kuda liar. Lihat Abadi, op.cit., h\m.712.
Lihat As-Sarkhasi, AhMabsuilr, l'll14l.
s1 lbid. Lihat pula Ali Al-Manbaji, Al-Lubab fiiAl-Jam'l Baina As-Sunnah wa Ah
Ktab, tah$q Muhammad Fadhl Al-Murad, (Daar Asy-Syuruq, cet. l), 1403 H, (11256);
dan lbnu Al-Hammam, Syarh ...op.cit (11fi91.
e Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (211711; lbnul Qayyim, Badai' ... op.cit, (3/88);
Al-l raqi, At- Tabrib ... op. cit., (212521; dan lain-lain.
302 - T frltgang oilarang balam rclalm
^yobbub
Yang paling tepat -Wallahu Ta'ala lilam- bahwa larangan yang
munculadalah tentang menggerakkan tangan dan mengangkatnya ketika
salam di akhir shalat. Di mana para shahabat melakukan perbuatan itu
dengan berisyarat menggunakan tangan-tangan mereka ketika salam.
Sebagaimana muncul dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu Anhu ia
berkata, "Kami sedang melakukan shalat bersama Rasulullah Shallallahu
Alathi w a S allam, jika kami bersa lam maka ka m i men gucapka n bersa ma
gerakan tangan-tangan kami: "Ass.lanrut'alaikurn". Maka Rasulullah
Shallatlahu Alathi wa Sallam melihat kepada kami lalu bersabda,
''€Li'* /ttL.\ o*",k q6il rfk'&t\i3y5iU u
:*iu';iifii\ry
'Kenapa katian brisyarat dengan tangan-tangan kalian seakan-akan
ekor-ekor kuda liar? Iika salah seorang dari kalian bersalant, hendahya
menoleh ke arah kawannya dan tidak memberikan isyarat dengan
tangannya."ss3
Syaikhul Islam lbnu Thimiyah Rahtmahutlah berlota, 'Siapa yang
menyangka bahwa larangan mengangkat tangan dari beliau adalah
larangan mengangkatnya ke bahu ketika akan ruku'dan bangkit darinya.
Dan membawa makna larangan itu pada perbuatan tersebut ini, maka
itu salah. Karena hadits ini datang dengan menafsirkan bahwa mereka
jika bersalam dalam shalat, yaitu salam halal (salam yang dapat meng-
halalkan berbicara) dari shalat memberikan isyarat dengan tangan mereka
kepada Mustim di sebelah kanan dan kirinya." Lalu ia juga berkata, "Ten-
tang mengangkat tangan ketika akan ruku' dan bangkit darinya sama
dengan mengangkat tangan ketika hendak membaca doa iftitah. ltu adalah
perbuatan maqmr'dan telah menjadi kesepakatan kaum Muslimin. Maka,
bagaimana bisa hadits itu melarang perbuatan ini? Dan sabda beliau,
k\2 )r:hi
\. 9.t
'Tenanglah kalian semua di dalam shalat',5y
ffi Shahih Muslim, Kitab Ash-Shatat Bab "Al-Amr Bias Sukun fii Ash-shalat
s...", hadits no.431, (1127'l).
lni adalah bagian dari lafazh hadits di atas, yakni hadits Jabir bin Samurah.
-nab ttt t o"yaffiuly li tibang PeibaMban- 303
menghimpun hal itu. Juga telah mutawatir sunnah-sunnah dari Nabi
Slallallahu Alaihi wa Sallam danpara shahabatnya tentang mengangkat
tangan yang ini, maka tidak mungkin menjadi larangan akan perbuatan
itu. Sedang hadits itu tidak bertentangan. Jika keduanya saling berten-
tangan maka hadits-hadits tentang mengangkat tangan di awal shalat
jauh lebih banyak dan mutawatir, wajib mengutamakannya daripada
lchabar wahtd 'kabar dari satu orang'. Mengangkat tangan di awal shalat
adalah ketenangan di dalamnya. Maka sabdanya, "Tbnanglah lealian
semuE, di dalam shalat", tidak menghilangkan mengangkat tangan se-
bagai btiftah55' sebagaimana amalan-amalan dalam shalat yang lainnya.
Bahkan ungkapan beliau, "uskunu"'tenanglah' menuntut ketenangan di
dalam bagian dari bagian-bagian shalat. ltu mewajibkan ketenangan da-
lam ruku', sujud, dua kali i'tidal.'s
B. Hukurn Memberikan lsyarat dengan Thngan dalam Shalat
Telah berlalu pembeberan hadits Jabir Radhiyallahu,{nhu. Hadits
itu memiliki berbagai lafalyang intinya larangan akan perbuatan tersebut.
Jelas bahwa larangan di sini dimaksudkan untuk pengharaman. Hal itu
karena sabda Rasulullah SlallallahuAlaihiwaSallam di dalam sebuah
hadits shahih sebagai berikut,
,kf g'fr?rsrs*
'Shalatlah kalian semua sebagaimana zlet sfialn1."sst
s Berkenaan dengan perkara ini, Al-Baihaqi menukil dari Waki'dari diskusi
yang menyebutkan, "Saya melakukan shalatdiltlasjid Kufah. Tiba-tibaAbu Hanifiah barBkit
menunaikan shalat. lbnul Mubarak ikut menunaikan shalat pula di sisinya. Lalu Abdullah
mengangkat kedua tangannya. ltu dilakukan pada setiap akan ruku'dan akan bangkit.
Sedangkan Abu Hanffah tidak ikut melakukannya. Selesai menunaikan shalat Abu
Hanifah bertanya kepada Abdullah, nVahai Abu Abdunahman, aku melihatmu mem-
perbanyak mengangkat kedua tangan, apakah engkau hendak terbang? Abdullah
menjawab, "Wahai Abu Hanifah, kadang-kadang aku melihat engkau mengangkat
kedua trangan ketika engkau hendak beristiftah dalam shalat, engkau juga hendak
terbang7 lulaka terdiamlah Abu Hanifah. Waki'berkata, "Aku tidak mendapatkan jauaban
slebih tepat daripada jaraban AMdah kepada Abu Hanifah". Sunan Al-Bailwqi, @1171.
lbnu Taimiyah, Al-Fatawa ... op. cit, (22156'll.
st Shahih Al-Bukhai, Kibb Al-Adzan, Bab .Al-Adzan Lilmusafif, hadits no.
605, (1/226). Hadits inijuga dalam Shahih Muslim. Kbb Al-Masajid wa Mawadhi'i
Ash-Shalat Bab "Man Ahaqqu Bil lmamah', hadits no. 674, (1/390).
304 - r asgnfiub gug Dilarung balam nhh rclnw
Dalam shalat-shalat beliau yang dinukil kepada kita tidak adayang
menunjukkan bahwa beliau melakukan perbuatan tersebut. Maka, per-
buatan mengangkat tangan ketika salam adalah mengada-ada dalam
shalat yang tidak pernah dilakukan oleh beliau. Beliau telah bersabda,
',;il';i^lL,;:v;'p;
* Barangsiapa mengerjakan suafit perbuatan tanpa adanya perinAh dari
kami, maka perbuata;nnya itu tertolak."sst
Juga karena nash hadits Jabir Radhiyallahu Anhu,
iy$, *'iut'i't't ya 6;;l ;-, riY
"Iika salah seorang dari kalian bersalam hendaknya menoleh ke arah
kawarnya dan tidak memberikan isyarat dengan tangannya."sse
Didalam hadits itu beliau memerintahkan untuk menoleh dan me-
larang untuk memberikan isyarat dengan tangan. Di dalam lafal uskunu
'tenanglah'adalah bentuk perintah yang berarti wajib dan menggerakkan
tangan bukanlah ketenangan sehingga haram hukumnya.
***
w Shahih Muslim (1718 dan 18).
ffi Shahih Muslim, Ktab Ash-Shalat, Bab ?l-Amr Bissukun fiiAsh-Shalat ...",
hadits no. 431, (11271).
-tab nt rayrtbub t; *uW peibataban.- 305
?",An*,,t0
Peilntah Melaksanakan Shalat dengan Tetap Mengenal@n
Sepatu atau Sanda! dalam Rangka Berbeda dengan Orang
oran$Yahudl dan Hukum Masalah lnl dl Masa KInt
Pembahasan ini mencakup dua subbahasan:
A. Hukum Shalat dengan Mengenakan Sepatu atau Sandal
Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan hukum shalat
dengan mengenakan sepatu atau sandal, sehingga ada empat pendapat:
Pendapat /: Perbuatan itu sunnah hukumnya. Ini adalah pendapat
para pengikut mazhab Hanbali.m
Pendapat //: Perbuatan itu lebih baik dan lebih utama. lni adalah
pendapat para pengikut mazhab Hanafi.sr
Pendapatl//: Perbuatan itu mubah hukumnya. Iniadalah pendapat
Ibnu Daqiq Al-led.s2
Pendapat M Perbuatan ini makuh hulmmnya. lni adalah pendapat
yang dinisbatkan kepada sebagian para shahabat. Di antaranya adalah
Abdullah bin Umar dan Abu Musa Al-Asy'ari.ffi
Mereka yang berpegang kepada pendapat pertama mengajukan
dalil-dalil sebagai berikut:
1. Apa yang datang dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ,tnhu dengan
derajat mztrfu' sebagai berikut,
eY \ eY. et''u|\ *Y;;$rFy
"Berbedalah kalian semua dari orang-orang Yahudi karena merclca
itu tidakshalatdengan teapmengenakan sandal abu sepafrt nrereka."n
il Lihat lbnu Mvfih, op.ctt, (11268); Al-Bahnfi, op.cit,l1l285). lniadalah pendapat
jamaah para sahabat dan tabi'in. Juga dikatakan oleh Umar bin Al-Khaththab, Utsman
bin Affan, Anas bin Malik, dan lain{ainnya.
sr Lihat lbnu Abidin, op.cit, @4291.
lbnu Daqiq, op.cit, (1/236).
e
c Lihat Asy-Syaukani, op.cit , (211311.
s Sunan Abu Dawud, Kitab Ash-Shalat fii A*NaI, hadits no. 652, (11176).
Dan Al-Hakim, dalam op.cit., (1/260), dan ia berkata,'lsnadnya shahih dan keduanya
tidak mentakhrijnya". Dan ditetapkan oleh Adz-Dzahabi.
-twyffi306 gang Dilarang aalam ffib slam
Aspek yang menjadi objek penunjukan hadits adalah bahwa Nabi
shallallahu Alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap beda
dengan jalan kehidupan orang-orang yahudi, karena mereka tidak
menunaikan shalat dengan sepatu-sepatu merelca. yahudi meniru Musa
ketika Allah berfirman kepadanya,"... Maka tanggalkantah kedua
terompahmu ...." (Thaha: 12), sebagaimana mereka katakan.
Penulis l<ttab AunAl-Ma'budberlota, "paring rendah hadits ini me-
nunjukkan kepada hukum mustahabb (sunnah) ". s5
2. Na yang datang dari Syaddad bin Aus pula dengan derajat manfu,
sebagai berikut,
irilrrfi:x \ ),8y. €,f;:,
"shalatlah dengan nrengenakan nndat katian danjanganlah menyerupai
orang-orang Yahudi."ffi
Hadits iniberkenaan dengan kekuatan penunjukann)fia sama dengan
hadits pendahulunya.
3. Dari Abu sa'id dari Nabi shallauahu Alaihi wa sallarn bahwa betiau
menunaikan shalat dengan menanggalkan kedua sandalnya sehingga
semua orang menanggalkan sandal mereka. osai shalat, beliau ber-
sabda kepada mereka,
;3G9,t' 9;,trf J;; ot,luitA,;'.fu'ir6_?, fjuf$*;
iltq);,','oy ^A : . t;;v
! *fie" Bp,r1fu 3f
qH.;nr\uu;atbaf-,
sffi Syamsul Haq Al-Adzim Abadi, Aun At-Ma'bud, (1t246). Ash-shaghir
Diriwayatkan Ath-Thabrani sebagaimana dalam Al-Jami,
dengan kode dari As-suyuthi bahwa hadits itu shahih. Al-Munawi berkata, "penutis
DmiedmablaermiknaynaisaydaaraYt ab'alahwbainhsaydaitdsdinaids".halahihbedraknattaidadkalsaembaAgla-Mimizaanna,aysaenbgaigaiasanng-dkaaa.
mereka tidak berkomentar untuk mengambil sebagai hujjah, kabar darinya berbunyi,
t-aY st jtt*
'Shalailah kalian semua hingga bagian tenkhir di sini".
Dan Ya'la adalah syaikh masyhur yang jujur. lbnu Al-eaththan berkata, "saya tidak
menemukan sualu ta'dit alau tajrih pada diri ya'ta". Lihat Al-Munawi, op.cit,ittzol]I.
tt -wb rrllyalbu$ nt wnang penbabahan.- 307
' 'Kenapa kalian tanggallcan sandal kalian?' Mereka menjawab, 'Wahai
Rasulullah, kami menyakskan engkau menanggalkan maka kami juga
nrenarrygalkan'. Beliau brcaMa,'&suaggahnya libril datang kepdaku
dan membriahu bahwa pada kedua sandalku ada najis. fika salah se-
onng dari kalian daang ke masjid, hendaktya membalikkan sandalnya
dan melihatuya. lika melihatpadanya suatu najis, hendaknya diunpl<an
ke tanah, lalu hendaknya menunaikan shalat dengan mengenakan
keduanya'."fr
Aspekyang menjadi objekpenunjukan oleh hadits ini adalah bahwa
beliau bertanya kepada mereka karena sebenamya bertanya tentang sebab
mereka menanggalkan sandal. Maka menunjukkan bahwa memakainya
adalah sunnah.ffi Dalam bab ini hadits lain yang sangat banyak jumlahnya
yang semuanya membahas hal yang sama.
Sedangkan pendapat kedua, Penulis tidak melihat dalil dari mereka.
Maka dalil-dalil yang ada adalah antara dalil-dalil yang menunjukkan
hukum sunnah dan hukum mubah. Akan tetapi, disebutkan oleh Syaikh
Muhammad bin lbrahimne Rahimahullah sesuatu bisa dijadikan alasan
bagi pendapat ini, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
n,
" Kenapa kalian anggalkan?
yakni ketika para shahabat menanggalkan sandal-sandal mereka saat
shalat setelah beliau menanggalkan sandalnya, di mana ia berkata, "Sabda
beliau,' Kenapa lcalian tanggallcan?'" dikatakan bahwa ini menunjukkan
bahwa perbuatan itu adalah sunnah hukumnya. Atau dikatakan, "Sesung-
guhnya yang demikian itu berlangsung hukum bolehnya, lalu kenapa
kalian meninggalkannya?" Maka pemakaian sandal menjadi sesuatu yang
tentu lebih utama dilakukan karena syarat yang ada, yakni pengetahuan
56? Ditakhrij Ahmad. Lihat As-Sa'ati, op.cit., Kitab Abwab ljtinab An-Najasah,
Bab "Ma Ja'a lii Ash-Shalat fii An-Na'|", hadits no. 400, (3/104). As-Sa'ati berkata,
s"Sanadnya bagus". Sunan Abu Dawud, ibid., hadils no. 650, (11'1751.
Lihat Fatawa Muhammad bin lbnhim, (2/170). Akan tetapi, terkadang di-
katakan, "Sesungguhnya pertanyaan Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallammuncul
karena mereka mengadakan suatu perbuatran dalam shalat, yaitu menanggalkan
sandal yang tidak ada pengharusan padanya.' Wallahu Ta'ala A'lam.
$0 Mu'ashir Rahimahullah, pemah menjabat sebagai Mufti Pemerintah Saudi
dan mantan Ketua Majelis Al-Qadha Al-Ala. Wafat tahun 1389 H.
308 - tasya6brb Wn7oilarungnalnnmkh rclan
manusia dan perwujudannya agar (sandal tersebut) terbebas dari
kotoran.5To
Sedangkan pendapatketiga, maka mereka berkata, "lni masukpem-
bahasan tentang rukhshah (keringanan)." lbnu Daqiq Ar-red berkata,
"Karena halitu tidak masuk ke dalam makna yang diminta dalam shalat.
sekalipun itu adalah bagian dari pakaian untukperhiasan, tetapisentuhan-
nya dengan bumiyang banyak najis di atasnya, bisa saja menjadi mengu-
rangi tingkatan tersebut."rTr
Sedangkan pendapat keempat, Penulis belum mengetahui dalil-dalil
mereka )rang menunjukkan hukum makruh. Boleh jadi dasar mereka
adalah kekhawatiran adanya najis pada sandal. Wallahu lllam.
Pendapat yang paling lruat -Wallahu Tiz'ala lilam- mengenakan
sandal ketika menunaikan shalat adalah sunnah. Demikian itu karena
tegasnya teks-teks dalilyang menunjukkan haltersebut dan yang muncul
mengetengahkan alasan untuk tampil beda dengan golongan yahudi.
Kemudian dalildalilyang menunjukkan hukum wajib itu digeser kepada
hukum nadab (sunnah) karena muncul dalil-dalil yang memberikan alter-
natif antara mengenakan sandal atau tidak mengenakannya. Juga menun-
jukkan bahwa Nabi shallallahu Alaihi wa sallam tidak terikat dengan
sandal dalam semua shalatnya. Di antaranya adalah yang ditakhrij oleh
Abu Dawud dari hadits Abu Hurairah Radhrga llalut Anhubahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
*,i\*,i t i. r:ii,;adat ry, ii. * y'g,; V;:i
u,H.
"fka salalt seorang dari kalian menunakan shalat, lalu nrenanggalkan
kdua sandalnya, hendahtya tidak nrengganggt orang lain derryan kedua-
nya itu. Hendalaya menjadkan keduanya di antara kedua kakinya aau
hendabtya shalat dengan mengenakan keduanya." 5n
57o Fatawa Muhammad bin lbnhim, @1TOl.
57' lbnu Daqiq, op.cit., (1/236), dengan sedikit perubahan.
5n sunanAbu Dawud, KtabAsh-shalat, Bab "Al-Mushalli ldza Khata'a Na'taihi
Aina Yadha'uha", hadits no. 655, (11176).
tapffi -rrab rx
nt BiMn1 teibatu$an_ 309
Juga apa yang telah ditaktrrij oleh Abu Dawud dan lain-lain dari
hadits Amr bin syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, "Kami
(pemah) melihat Rasulullah Slallallahu Ataihi wa Sallam menunaikan
shalat tidak mengenakan sandal dan (pernah pula) beliau mengenakan
sandal.'573
sedangkan pendapat bahwa perbuatan tersebut adalah lebih utama
atau pendapat bahwa perbuatan tersebut mubah, maka telah bertentangan
dengan makna eksplisit dari teks-teks dalil di atas.
sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya mal<ruh
sesungguhnya sangat jauh, karena adanya perbuatan Rasulullah Shallal-
lahu Alaihi wa sallam di atas dan perintah beliau yang sedemikian tadi.
B. Hukum Masalah Ini di Zaman Modern Belakangan Ini
Tidak diragukan bahwa prinsip yang paling tegas adatah sebagai-
mana berlalu, yakni sunnah shalat dengan tetap mengenakan sandal.
Akan tetapi, dasar ini terikat dengan dua hal, yaitu:
Pertama. Pada keduanya tidak ada kotoran atau najis. Hal itu telah
ditegaskan hadits Abu said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu. Di dalamnya
disebutkan,
,'^4;,:ri y ;;,st.,ly ,ii;i;ir i?'*iie ,it
L*J:"t;
*."."-"litca salah seorang dari kalian datang ke masjid hendalaya
rksa, bila melihat pada kedua sandalnya kotoran/najis, hendaktya
menghapu snya, dan hendaktya shalat dengan mengenalcan kduanya.'stt
Kdua. Tidak menyebabkan kotomya karpet masjid, selelipun pada
dasamya suci, seperti berdebu atau basah. yang demikian ini dilarang.
Karena dalam keadaan seperti itu akan menimbulkan kerusakan yang
bisa meluas.
58 Sunan Abu Dawud, ibid., Bab.Ash-shalat fii An-Na,l,, hadits no. 653, (1/
1_761. sunan lbnu Majah, Kitab lqamafu Ash-shahat wa As-sunnah Fiha, Bab -Aih-
shalat fii An-Ni'a|", hadits no. 1038, (1/330). Al-Albani berkata, "Hasan shahih,. Lihat
Al-Albani, Shahih Sunan tbnu Majah, (1l1t}l.
Ditakhrij rmam Ahmad. Lihat As-sa'ari, op.cit., hadits no. 400, (3/104). As-
sa'ati berkatra, "sanadnya bagus'. sunanAbu Dawud, op.cit.,hadits no. oilo,1iltzsy.
31 O - T as4ffiuh yang Dilarang nala.rr wl<$ rlaw
IbnuAbidin berkata, uika dikhawatirkan akan menimbulkan Pence-
maran bagi masjid dengannya, harus ditiadakan sekalipun suci. Sedang-
kan Masjid Nabawi dialasi dengan kerikil di zaman beliau yang sangat
berbeda dengan keadaan dizaman kita sekarang ini. Kiranya inilah yang
menjadi dasar rujukan seorang Mufti bahwa masuk masjid dengan beralas
kaki adalah cerminan adab yang buruk.'r5?5
Yang paling jelas sebagai contoh boleh ditinggalkan sunnah ini ada-
lah apabila ada seorang manusia di tengah kalangan orang-orang yang
jahil dengan permasalahan agama yang bisa jadi mereka menerima fitnah
karena shalat mereka dengan tetap mengenakan kedua sandalnya. Kasus
demikian sering terjadi di tengah-tengah orang awam yang jahil. Dalam
kasus sedemikian atau yang sejalan dengannya, tidak apa-apa meninggal-
kan sunnah tersebut apabila dikhawatirkan menimbulkan kerusakan yang
nyata.
*tt{'
575 lbnu Abidin, op.cit., (21429).
* -uh rwlyubbrb u s;oorg Peibatalmn- 31 1
?$il,e
TENIANG MASITD
Pasal ini mencalmp tiga pembahasan, yaitu
Pembahasan 1: Larangan Membangun Masjid di atas l(rburan
Pembahasan 2: I-arangan Menghias lvlasjid
Pembahasan 3: larangan Membangun Balkon untuk Masjid
9-*U*,t
Laranflan Membangun Maslld dl atas Kuburan
Para ahliilmu berbeda pendapattentang hularm membangun masjid
diatas kuburan, sehingga munculdua pendapat, yaitu:
Pendapat /. Bahwa membangun masjid di atas kuburan haram
hukumnya. Ini adalah pendapat para pengikut mazhab Hanbalis?o dan
diungkapkan oleh para pengikut mazhab Hanafi577 bahwa hukumnya
makruh yang konsekuensinya adalah pengharaman.
Pendapat IL Perbuatan tersebut makruh hukumnya. lni adalah pen-
dapat para pengikut mazhab Syafi'i.r8
,0 Lihat lbnu Abdul Ban, Al-Kall,l1l470l;At-Bahuti, tesysyaf ... op.cit., (Z1a1l;
ddan Al-Maqdisi, Asy-Syarh Al-Kabin (1/579).
s77 Lihat Al-Fatawa Al-Alamkiriahyang terhimpun dalam AhFatawa AhHindiah,
(1/166). Namun, penulis katakan,'Konsskuensi makruh di siniadalah harus bersifat
pengharaman. Karena prinsipnya makruh jika diucapkan oleh para pengikut mazhab
Hanafi, yang dimaksud adalah pengharaman. sebagaimana dengan tegas hal itu
ditulis lbnu Abidin dalam hasyiyahnya. sebagaimana dapat dipahami puta dari jenis
dalit-dalil yang muncul berkenaan dengan masalah ini sebagaimana diisyamtkan
oleh lbnu Abidin pula." Lihat lbnu Abidin, ibid., (114051.
s78 Lihat Asy-Syairazi, Al-Muha&dzab, dan An-Nawawi, Al-Majmui Keduanya
dicetak dalam satu jilid, (5/316). Kebanyakan pemakaian tafazh 'makruh' oteh Asy-
syaf i Rahimahullah dan para sahabatnya dimaksudkan adalah makruh yang wajib
dijauhi. An-Nawawi Rahlmahullah sebelum masalah ini ketika memaparkan pemba-
hasan tentang duduk di atas kuburan dan mendiskusikan dengan mereka yang
mengharamkannya, berkata, "Namun, ungkapan Asy-Syaf i dalam kitabnya, AhUmm,
dan semua sahabat seiring seJalan, seluruhnya membenci duduk di atas kuburan,
dan makruh menurutnya adalah makruh yang wajib ditinggalkan, sebagaimana masy-
hur pula dalam pemakaian oleh para ahli hadits." An-Nawawi, op.cit., (slg12).
Rahimahullah dalam hal ini berkata, "semua nash-nash dari Syafi'i dan kawan-
312 - r wylahhl1 gnq otlaruug MIam ffi$ :ullar
Mereka yang mengikuti pendapat pertama beralasan dengan dalil-
dalil yang di antaranya adalah:
1. Apa yang datang dari Aisyah dan lbnu Abbas Radhiyallahu,{nhuma
keduanya berkata,
JL'i'+ *L',bi *, y\t;* yt );i$ A
,A.o'$',i6 ^F':'*rA* w,.e',:t; 'y:
l,ti
'r*t;'r4.( ij rr;;jt 6;A$'A' ,-Y
'Ketika ia (Ibnu Abbas) betktniung kepada Rasututlah Shattattahu
Alaihi wa sallam, betiau melempartcan baju tebal beliau ke waiah lbnu
Abbas. Ketilca telah sesak napasnya beliau membuka waiahnya dan
bersama, 'Demikian ini puta labtat Allah atas orang-orang Yahudi
dan Nasrani yang menjadikan kuburan pata nabi meteka sebagai
masjid-masjid'."
Dan beliau memperingatkan dengan keras atas aPa yang mereka
perbuat."57s
Aspek yang menjadi objek penunjukan hadits ini adalah bahwa
Rasulullah S hallallalu Alaihi um Sallam melaknat orang-orang Yahudi
dan Nasrani karena perbuatan mereka tersebut sehingga hadits ini
menunjukkan keharamannya. Jika perbuatan tersebut mubah hukum-
nya tentu Nabi shallaltahu Alaihi wa sallam tidak melaknat para
pelakunya.'m
2. Apayang datang dari Aisyah bahwa ummu salamah menyebutkan di
hadapan Rasulullah s hallallalu Alaihi um &llam tentang sebuah gereia
yang dilihatnya di negeri Habasyah bemama'Maria'. la menyebutkan
kepada beliau tentang segala yang ia lihat di dalamnya berupa gambar-
kawan selalu selalan dan semuanya menunjukkan bahwa makruh hukumnya mem-
tuUe""lnaifg-h"rnnmnyimn"eagdsajlindskdlaainian-tbl"a"ainhkwukbaaurepranenarb, umuaaatiakrnnsaitemursmaeyubitmuat dhtaaidldaaihtksobirloual.negAhly-dMainlaagkimuskauani ng(.a5tL/3tieh1r6ak)le'FnJaaiktlaakweiaa-
An-Nawawi, hlm. 46.
sts shahih At-Bukhari, Kitab Al-Masajid, Bab "Ash-shalat fii Al-Bi'ah", hadits no.
4"n2n5-,N(a1n/1yu68;)a;ndBainnaSahiaAhli-hMMasuasjliidm'a, laKitAalb-QAuhbMuaf,sahiaidditwsanMo'a5w3a1d, h(1i'u/3_1A5s)h' -shalat, Bab
sm Lihat Al-Maqdisi, Asy-Syarh At-Kabir... op'cit'' (1/579)'
-Mb u; Tasgahlnub nt Binau1 petfuMban- 31 3
gam bar. Maka Rasulullah Shalla llahu Alaihi. wa Sallam be rsabda,
:i,* f-,i., CUt,tr:)t rl 4r;lr Mt e.'c,r1 tsyi; u tt
;'u.Lr -rt 6ii fj rl, r*;ir a! 0", bt?'r,rlt .Z
aa a
" Mereka adalah suatu kaum yangjika ada di l<alangan merelca seorang
hamfu yang shalih atau pria yang shalih meninggal dunia, merelca mem-
bangun di atas kuburnya sebuah masjid dan mereka menggambar
gambar-gambar itu di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk
makhluk di sisi Allah."5gl
Hadits inijelas menunjukkan larangan atas perbuatan sedemikian.
3. Apa yang telah datang dariJundub Radhiyallahu Anhu, ia berkata,
'Aku mendengar Nabi Shallallahu Alaihi u;a Sallarn lima malam
sebelum beliau wafat bersabda,
tr54,y,.$a;'o.U't"''€Jti.tiqrjfyr;ii',1trlt4";oi*-y31,yr;*s'';#r;.,tr+ks'o;"igoirrYryrjy'.ttii;t,i{6jFt
U ; c € Wf j\c::*C, r'-iat,|*fi tl;t*r;
" Sesungguhnya aku berlepas diri dan kembali kepada Allah jika aku
memiliki kekasih dari anara kalian. Sesungguhnya Allah telah menjadi-
kan aku sebagai kekasih sebagaimana Allah telah menjadikan lbrahim
sebagai kekasih. Iika aku diperbolehkan untuk menenrukan kekasih di
antara kaumku, tenru kujadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah
bahwa orang-orang seblum kalian mereka menjadikan kuburan para
nabi dan orang-orang shalih mereka menjadi masjid-masjid. Ketahui-
lah, janganlah kalian semua menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid.
Sesungguhnya aku melarang kalian semua dari perbual2lr i1s."s82
n1 Shahih Al-Bukhari, KtabAhMasajid, Bab "Ash-ShalatfiiAl-Bi'ah", hadits no.
424, (1 l 1 67 l. lbnu Taimiyah Ra hima hullah berkata, "Sesungg uhnya orang{rang Nasrani
orang yang paling berlebih-lebihan dalam permasalahan ini daripada orang-orang
Yahudi". la menyebutkan berbagai berita dari mereka tentang permasalahan tersebut
dalam suaU debat dengan mereka tentang permasalahan itu. Lihat Al-Fabwa, (27146o).
ffi Shahih Muslim, Kitab Al-Masajid wa Mawadhi'i Ash-Shalat, Bab ?n-Nahyu
'an Binaai Al-Masajid 'ala Al-Qubur...", hadits no. 528, (11314).
fri31 4 - tufrily gng otlarm1 oahm rslmr
Hadits iniadalah salah satu haditsyang paling gamblang menerang-
kan larangan tentang permasalahan tersebut. Dalam hadits itu Rasulullah
Shallallahu Alaihi usa Sallam secara gamblang melarang perbuatan
tersebut. larangan beliau yang demikian itu berkonotasi pengharaman.
4.Apa yang datang dari lbnu Abbas bahwa Rasulullah SlallallahuAlaihi
unSg,llan bersabda,
W}#$,e',Jrt r7t3lt rrlir :t 1,)h' ro
"Allah melaknat para wania pezianh ktbur dan orang-orang yang
nrenjadilcan di atas kuburan masjid-masjid dan lanpu-lampu."*3
5. Mereka berkata, "lni sesungguhnya menyerupaisikap mengagungkan
berhala dengan bersujud kepadanya. Mula-mula penyembahan berhala
adalah penyembahan kepada orang-orang yang sudah meninggal
dengan cara membuat gambar-gambar mereka, mengharap berkah
darinya, dan shalat di dekatnya. Perbuatan seperti itu adalah dzari'ah
'bahaya'yang menjurus kesyirikan kepada Allah lahla dan fitnah bagi
semua makhluk."s
Untuk mereka yang berpegang kepada pendapat kedua, Penulis tidak
menemukan dalil selain yang telah disebutkan. Dimungkinkan mereka
membawa apa-apa yang telah disebutkan kepada hukum makruh.585
n3 Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Janaiz, Bab "Fii Ziyarati An-Nisa Al-Qubuf,
hadits no. 3236, (312181; Sunan AbTirmidzl, Kltab Ash-Shalat, Bab'Ma Ja'a fii Karahiyati
an Yattakhidza 'ala Al-Qabri Masjidan", hadits no. 320, (211361; Sunan An-Nasa'i,
Kitab AhJanaiz, Bab "At-Taghlizh fii lttikhadzi As-Sarji 'ala Al-Qubuf , hadits no. 2042,
(a/a00); Sunan lbnu Majah, Kitab Al-Janaiz, Bab'Ma Ja'a fii An-Nahyi 'an Ziyarati An-
Nisa Al-Qubur", hadits no. 1575, (llSO2l.Latazhnya zawwarat(parawanita penziarah).
At-Tirmidzi berkata, "Hadits lbnu Abbas adalah hadits hasan". Lihal Sunan At-Tirmidzi,
@137). Dan Ahmad Syakir, dalam tahqiqnya untuk Sunan At-Tirmidzisetelah pemba-
hasannya tentang isnad hadits dan komentar para ulama tentangnya, ia berkata,
"Minimal keadaan hadits ini adalah berderajat hasan, kemudian semua hadits
pendukung yang telah kami sebutkan yang menguatkan mengangkatnya menjadi
berderajat shahih Lighairih, jika tidak shahih dengan keshahihan isnadnya ini".
s Lihat Al-Maqdisi, loc.citt dan lbnu Taimiyah, AhFatawa ... op.cit, (2714881.
s lbnu Daqiq Al-led Rahimahullah mengisyaratkan bahwa disana ada orang
yang mengatakan bahwa perbuatan tersebut mubah hukumnya. Maka dalam mengo-
mentari hadits Aisyah dan semua yang muncul berkenaan dengan permasalahan
itu berupa laknat untuk orang€rang Yahudi dan Nasrani, ia berkata, "Dari dalil itu
dapat dipahami bahwa sangat dilarang melakukan shalat di atas kubuf. Di antara
para ahli fikih terdapat orang yang beralasan bahwa kaum Muslimin tidak boleh
shalat di kuburan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai alasan tidak boleh bagi
* -wb raulga#uly bi ritang peibaMban- 31 5
Pendapat yan g palin g kuat -Wallahu Ta'ala Al laLn- adalah pendapat per-
tama, bahkan pendapat itulah yang akan segera muncul di benak orang
yang mempelajari dalil-dalil yang berkenaan dengan permasalahan ini.
Demikian pula orang yang memiliki kelebihan kemampuan untuk mema-
hami hikmah syariat yang menetapkan pembendungan celah-celah ke-
syirikan dan kesesatan. Tidak diragukan lagi bahwa pembangunan masjid-
masjid di atas kuburan merupakan sarana terbesar yang menjuruskan
kepada tindakan mengkultuskan orang-orang yang telah meninggal,
mengagungkannya dan pada gilirannya menimbulkan fitnah karenanya.
Pemahaman ini diperlarat oleh akal sehat dan kenyataan sejarah ditengah-
tengah umat-umat terdahulu sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh
Nabi Shalla llahu Alaihi usa Sallarn.
Asy-Syaf i Rahimahul/ah berkata, 'Aku sangat membenci peng-
agungan makhluk hingga menjadilon kubumya sebagai masjid karena
khawatir fitnah atas dirinya dan orang-orang setelahnya."s
lbnul Qayyim Rahimahullah beil<ata, "Pokoknya siapa saja yang
memiliki pengetahuan tentang syirik, sebab-sebabnya, kejahatan-kejahatan
yang ditimbulkannya dan paham maksud-maksud dari Rasulullah Sha/-
lallahuAlaihiwaSallam dengan mutlak, tentu akan sepakatbahwa kata
laknat d an laran gan den gan bentuk innii anlakum (FSf ,,i! )'sesungguh-
mereka shalat di kuburan pada umumnya. Mereka membantah yang demikian itu
dengan alasan bahwa kuburan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam khusus di
luar semua ini dengan apa yang bisa dipahami dari hadits tersebut akan adanya
larangan menjadikan kuburan beliau sebagai masjid. Sebagian orang membolehkan
shalat di atas kuburan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana boleh
pula di atas kuburan yang lain, menurutnya. Pendapat itu sangat lemah karena kaum
Muslimin merasa sesuai dengan pemahaman yang menjadi kebalikannya dan juga
karena kesan larangan yang diberikan hadits di alas. Wallahu A'lam.lbnu Daqiq,
op.cit., (21173). Sesungguhnya Penulis tidak menyebutkan pendapat itu berkaitan
dengan masalah ini karena hal itu belum pemah disebutkan oleh seorang pun yang
bisa dianggap perkataannya adalah perkataan ahli ilmu. Bahkan Syaikhul lslam lbnu
Taimiyah Rahimahullah setelah penyajian masalah karena ungkapan orang menga-
takan bahwa hukumnya haram, berkata, "Sekelompok orang mengatakan hukumnya
makruh yang harus dibawa kepada makna makruh tahrimlyang diharamkan) sebagai
sikap husnudzdzan kepada para ulama. Dan agar tidak menyangka bahwa mereka
membolehkan melakukan apa-apayang mutawatirdatang dari Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam laknat atas pelakunya dan larangan mengerjakannya." Lihal Taisir
Al-Aziz Al-Hamid, (322), di mana Penulis tidak menemukan apa yang diperkirakan
menjadi sumber rujukan dalam kitab-kitab Syaikhul lslam.
w Al-Majmu'(51314) dengan makna yang sama dalam kitab At-umm, (11317).
*$631 -'rwyahhuh vow oila'ang ulam ulaw
nya aku melarang' dan dengan sighah laa taf'alu (r;Lk v) 'sesungguhnya
janganlah kalian lakukan'bukan hanya lorena alasan najis. Alon tetapi,
karena adanya najis syirik yang menyatu dengan orang yang maksiat
kepada beliau, melakukan aPa-aPa yang dilarang oleh beliau, mengikuti
hawa nafsunya dan tidak takrut kepada Rabb dan Tirhannya. Minim sekali
ia atau trtma sekali tidak merealisir kalimat la ilaha illallah. Semua ini
dan yang semacamnya yang datang dari Rasulullah shallallahu Alaihi
wa Sallam adalah dalam rangka untuk melindungi tauhid dari terkotori
oleh kesyirikan dan tenggelam didalamnya, memurnikan dari semua itu
dan dari kemurkaan Rabbnya. Adapun orang-orang musyrik, mereka
enggan menerima, malah melakukan kemaksiatan kepada perintahnya
dan melakukan apa-apa yang menjadilarangannya. Syetan telah menipu
mereka dengan anggaPan bahwa ini adalah dalam rangka mengagungkan
larburan para syaikh dan orang-orang shalih. Semakin hebatdan semakin
dahsyat pengagunganmu padanya, maka engkau akan semakin bahagia
dengan menjadi lebih dekat padanya dan lebih dijauhkan dari musuh-
musuhnya.
DemiAllah, dari bab ini saja ia telah masuk kepada penyembahan
Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr dan juga masuk golongan orang-orang yang
menyembah berhala sejak itu hingga tiba hari Kiamat ....s7
Sedangkan apa yang menjadi Pegangan orang-orang bodoh yakni
adanya kubu ran Nabi Shalla llahu Alaihi usa Sallam di dalam masjidnya,
adalah sesuatu yang tidak ada hujiah yang melegalkan perbuatan mereka
itu. Hal itu ditinjau dari berbagai aspek, di antaranya: semua itu adalah
perbuatan berkenaan dengan perkara baru yang tidak ada perintah darinya
St'atlallahu Alaihi wa Sallam, bahkan perintahnya adalah kebalikan da ri
apa yang mereka kerjakan itu. Beliau melaknat orang-orang Yahudi dan
Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka menjadi
masjid-masjid. Bahkan beliau dengan sangat jelas melarang untuk men-
jadikan kuburan beliau sebagai masjid. larangan itu benar-benar datang
daribeliau ketika beliau dalam kondisisakit di akhir hayatnya.
s7 Lihat sulaiman Ali syaikh, TaisirAl-Aziz Al-Hamid, (Al-Maktab Al-lslami, cet.
fi, 1397 H), (329), yang tidak penulis temukan dalam kitab lbnulQayyim, Ad-Durar
As-Sunniyah fii Al-Ajwibah An-Naidiah, dihimpun Abdurrahman bin Qasim, cet. V
v1413 H, (11379-570); Al-Qasimi, lshlah At-Masaiid, (Al-Maktab Al-lslami, cet. 1403
H), (164); dan Al-Hathab, op.clt., (212441.
-sab tt: lwyaffiull l; a;laug penbanaban .- 311
Diantaranya lagi, bahwa masuknya kuburan beliau didalam masjid
terjadi ketika masjid itu tidak mampu menampung semua manusia dan
sangat membutuhkan perluasan. Jika tidak maka asal mula pembangunan
masjid initidak berada di atas kuburan.
Di antaranya lagi, setelah kubur beliau masuk masjid kaum Mus-
limin selalu berupaya menertibkan semua itu dengan tujuan agar orang-
orang yang melakulon shalat tidak menghadap ke kubur.
An-Nawawi Rahimahullah berkata,'lGtika para shahab at ridfuparrur-
lah alaihim 4jma' in dan tabi'in membutuhkan perl uasan masjid Raslrlultah
shallallahu Alaihi. ua sallam, yalaiketika jumlah kaum Muslimin rnening-
kat sehingga rumah-rumah ummalatul mukntdnin inasuk ke datam area
perluasan, di antaranya adalah kamar Aisyah Radhigatlahu Anha yang
merupakan tempat kubu ran Rasulullah Shallal lahu Alathi ura Sal/am da n
kedua shahabatnya: Abu Bakar dan Umar RadhiyaltahuAnhuma, maka
mereka membangun tembokyang cukup tinggidan melingkar di sekeliting
kuburan agar tidak terlihat dari masjid sehingga orang-orang awam shalat
dengan menghadap ke arahnya yang akhirnya menyebabkan terjatuh
kepada sesuatu yang dilarang. Kemudian mereka membangun dua
tembok dari dua tiang kuburan di sebelah utara dan mereka memugamya
sehingga keduanya saling bertemu, sehingga tidak mungkin bagi
seseorang untuk menghadap kepada kuburan. oleh sebab itulah, beliau
bersabda didalam haditsnya. Jika tidak karena semua itu tentu kuburan
beliau akan menjadisangatjelas. Akan tetapi, beliau khawatirjika kuburan-
nya dijadikan masjid. Wallahu Ta'ala Allam bi Ash-Shawab.-w
Di antaranya lagi, mereka selalu menjauhkan semua perbuatan
mereka dari sikap menghadap ke kuburan dengan doa atau ibadah,
dengan tujuan menjauhi timbulnya prasangka adanya tindakan meng-
agungkan dan mengkultuskan kuburan.
ttt
s An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (5/14).
8'31 r wwbhh ynng Dilaruug ulawr nhh rclam
?**t"*,,2
lalanllan Men$h las Masll6soe
Menghiasi masjid tidak terlepas dari salah satu dari dua hal:
A. Hiasan ltu bukan dari Emas atau krak
Jika perhiasan masjid bukan dengan emas atau perak, halitu telah
mengundang perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagaimana
berikutini:
Pendapatl. Menghiasi masjid adalah suatu tindakan yang makruh
hukumnya. tnilah pendapat para pengikut mazhab syaf is$ dan Hanbali.st
Pendapatl/. Menghiasi masjid adalah suatu tindakan yang haram
hukumnya. lnitah pendapat Asy-Syaukanise2 dari kalangan generasi
belakangan.
Pendapat ///. Menghiasi masjid adalah tindakan yang boleh-boleh
saja, kecuali khusus arah kiblat dan dalam mihrab yang hukumnya adalah
makruh. Inilah pendapat para pengikut mazhab Hanafi5e3 dan Maliki.5s
Para pengikut pendapat pertama bahwa menghiasi masjid adalah
makruh hukumnya berdalil sebagai berikut:
1. Apa yang datang dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma
dengan derajat marfu',
):l*^J;lt")5o'yf6
'Aku tidak dipetintah untuk menghiasi masiid-masiid."
w Zakhnfahadalah hiasan. Awalnya dipergunakan khusus untuk benda terbuat
dari emas, tapi akhirnya untuk semua hiasan. Lihat lbnu Haiar, Fath ... op.cit.,(115401.
sgo Lihat Asy-syarbini, op.cit, (1t204); dan Al-lraqi, Tharh At-Tatsrib, eB84.)..
sr Lihat At-Ma qdisi, op.cit , (1/209); dan Al-Bahuti , op.cit.,(213661.
5m Lihat Asy-Syaukani, op.cit., (211511.
s3LihatlbnuAbidin, op.cit.,(2l43}l;danAl-FatawaAl-Hindiah,(1/209).lbnuAbidin
menyebutkan bahwa dalam mazhab sejumlah pendapat yang lain.
ss4 Lihat Al-Hathab, op.cit., (1/551). Sebagian para pengikut mazhab Maliki
rnemastikan hiasan ringan yang tidak sampai kepada tingkat harus dilarang sebagai
perhiasan untuk masjid.
* -uh rasyaffiu$ ti Uaang perbaMhan- 3l 9
Ibnu Abbas berkata,
,st(Ats"At4;),5r13;t
* Sungguh katian semua benar-beaar ,"rghirriry, seperti oruo,
onng Yahudi dan Nasrani menghiasi."s$
Hadits di atas memberikan kesan hinaan atas perbuatan di atas.
Dan bahwa perbuatan tersebut bukan dari perbuatan Rasuluttah shal-
lallahu Alaihi wa sallam. Akan tetapi, sebagaimana dikataka n oleh lbnu
Abbas perbuatan tersebut adalah kenyataan yang banyak dilakukan di
kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani.ss
2. Hadits Anas bin Malik Radhiaallahu Anhu yan! di dalamnya disebutJon,
yu;;rt €.,11t,;6- &'*tu ?.rxt
" Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga manusia brbangga-bangga
dengan flnsjid."sn
Hadits di atas memberikan kesan makruh hukumnya menghiasi
masjid-masjid.
3. Dari Atsar: Apa yang datang dariomar bin Al-Khaththab Radhiyailahu
Anhu bahwa ia berkata,
5s Al-Baghawi di dalam Syarh As-Sunnah,l2lg49l, berkata, "Tasyyiid adalah
meninggikan dan memanjangkan suatu gedung". Seperti itu pula firman Allah, "... Di
dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (An-Nisa: 78).
ffi Ungkapan lbnu Abbas yang diriwayatkan Al-Bukhari secara muallaq dalam
shahihnya. Lihat lbnu Ha1ar, Fath ... op.cit.,(11s39); dan ditakhrij Abu Dawud datam
sunannya, Kitab Ash-shalaf, Bab'Fii Bina At-Masajid", hadits no. 44g, (1t122\. Ditakhrij
pula Abdurrazzaq dalam mushanifnya, Bab razyin Al-Masajid wa Al-Mamar fii Al-
Masjid", hadits no. 5127, (31152). Hadits ini maishul menurut Abu Dawud dan
Abdurrazzaq. Hadits ini shahih hanya dipersetisihkan tentang bersambungnya
(washal1. sedangkan ungkapan lbnu Abbas derafatrrya adalah mauquf sebagaimana
disebutkan oleh semua ahli hadits. Hadits tersebut memiliki hadits-hadits pendukung
yang menunjukkan bahwa hadits tersebul marfu'. Di antara hal yang menunjukkan
keshahihannya adalah munculnya dengan kata ganti orang pertama, yakni dalam
ungkapannya: latuzakhritunnahaalrlL;'ll. Lihat SuhaitAbdulGhaffar, As-Sunan wa
Al-Atsar lliAn-Nahyi bn At-Tasyabbuh Bit Kutraa (2001.
507 Abu Dawud, ibid.,hadits no. 449, (1l12gl; Sunan An-Nasai, Ktab Al-Masajid,
Bab "Al-Mubahat fii Al-Masajid", hadits no. 688, (2/361). Dan tafazhnya adalah:
,*r:iru1r.6r,.,rr5-'oi'*ttrstTl; "Di antara tanda-tanda kiamai adalah jika manusia ber-
banggS-bangga tlalam mdsjid".
sunan lbnu Majah, Ktab Al-Masajid wa Al-Jamab{ Bab "Tasyyiid At-Masajid",
hadits no. 739, ('112441, para perawinya adalah tsiqah. Lihat Abdul Ghatfar, loc.cit.
320 - r asyurhb"h ww Dilaraug M[am nk$ slam
e:*u r;,'?: t t. i;zt,p oL c
Yl J"i
, Tiada yang pating buruk dari perbuatan sua'tu *ru. kecuali ketika
mereka menghiasi masiid'masiid nterelca." sx
g -#f#:*iri?,4 APa Yans da'[aniH**
,, Jika kalian semua menghiasi masiid-masiid dan mushaf-mushaf
kalian, aas kalian adalah kehancuran."se
5. Mereka berkata, "Menghiasi masjid menjadikan orang yang melakukan
shalat akan terlena dan terganggu darikekhusyukan melakukan shalat-
nya. Akan besar pengaruhnya kepada kekhusyukan." lbnu Daqiq Al-
led ketika memberikan komentar kepada hadits wabiah (baju tebal)
milik Abu Jahamm berkata, "Para ahli fikih telah menarik kesimpulan
dari hadits itu berupa hukum makruh atas segala sesuatu yang meng-
ganggu orang menunaikan shalat, berupa warna-warna, pahatan, dan
karya-karya yang unik. Dan hukumnya akan menjadi umum dengan
keumuman itlah-nya. /llah tersebut adalah 'mengganggu penunaian
shalat'."mr Hat ini diperkokoh oleh apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari,
ia berkata, "lrrbu Sa'id berkata, Atap masjid terbuatdari pelepah kurma'."
Dan Umar memerintahkan pekerja yang membangun masjid, dengan
berkata,
'd6t ry';;1i'p"ti'trl;, e Ft r fitrJ;l
5ss fbnu Majah, ibid., hadits no.741, (1l2$l dan di dalam isnadnya terdapat
Abu lshaq: la suki curang, keras dan pembohong. Maka haditsnya menjadi lemah-
Lihat Dhaif Sunan lbnu Majah, (57); dan Al-Albani, Silsilah "' op'cit', hadits no' 447'
ffi Mushannaf Abdunazzaq,Bab Tazyin Al-Masajid wa Al-MamarfiiAsh-Shalaf ,
hadits no. Sl32.Latazhnya: faddabaaru'ataikum(.i:*',r1tul. Ad-dabbaradalah kehan-
curan. Mushannaf tbnu Abu Syaibah, Ktab Ash-Shalawat, Bab "Fii Zinah,4/{vlasajid
wa ma Ja'a fiha (1/309); dan lafazhnya:'"!ut;3"'s!1. la menyajikannya dengan lafazh
pertama oleh Al-lraqi, dalam Tharh At-Tatsdb, (2/385).
en shahih Muslim, Kitab AhMasajid wa Mawadhiu Ash-shalat, Bab "Karahatu
Ash-Shalat fii Tsaub lahu Alam', hadits no. 556,111327); dan Shahih Al'Bukhari, Ktab
Ash-shalat fiiAts-Tsiyab, Bab "ldza Shalla fii Tsaub Lahu Alam wa Nazara ila 'Alamiha",
hadits no. 366, (1/146).
mrlbnu Daqiq, oP.cit., (2/96).
-tab tt, tasyabbu$ bi Bitang peibaMban- 32 1
"Apakah engkau akan melindungi dan menutupi orung-orang dari hujan?
Dan hati-hatilah engkau untuk mewarnai masjid dengan warna merah
aau kuning, hingga onang-orang dapat terfimah karenanya."ffi
Sedanglon mereka yang menetapkan hukum haram berdalil sebagai
berikut:
- Dengan dalil-dalil sebelumnya disebutkan oleh mereka yang berpegang
kepada hukum makruh dimana dalil-dalilitu membawa kepada makna
'haram'. Bermegah-megah adalah sifat yang muncul dalam pemaparan
hadits itu yang menunjukkan kepada hukum haram. Nabishallallahu
Alathi wa Sallam sangat sulca bersikap beda dengan orang-orang
Yahudi dan Nasrani, baik secara umum maupun khusus.ffi
- Sabda Rasulullah Slallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits Aisyah
yang sangat masyhuq
'r; iti';i {LA):L ;.* c
'Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan tanpa adanya periaah dari
kami, maka perbuatannya itu tcftolak."@4
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallarn tidak pernah memerintahkan
untuk menghias masjid bahkan melarang perbuatan itu.
Sedangkan mereka yang menetapkan hukumjauraz mengetengah-
kan dalil-dalil sebagai berikut:
- Perbuatan seperti itu adalah sikap mengagungkan masjid, dan yang
demikian itu secara umum diminta.ffi
- Perbuatan seperti itu akan menjauhkan sikap menghinakan masjid.
Karena manusia selalu memperbesar dan menghiasi rumah-rumah
mereka, akan sangat sesuai jika melakukan hal yang sama untuk
masjid-masjid mereka.6o6
- Perbuatan menghias masjid menjadikannya sangat menyenangkan dan
menarik.@7
- Generasi salaf tidak pernah sampai kepada sikap mengingkari orang
yang melakukan perbuatan tersebut. Maka sikap demikian menunjukkan
w Shahih Al-Bukhari, Ktab Al-Masajid, Bab "Bunyanu Al-Masjid", (1t171).
e@3 Lihat Asy-Syaukani, op. cit.,(21 1 511.
Diriwayatkan Muslim (1718 dan 18).
605 Lihat lbnu Abidin, op.cit.,(21431)
ffi Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(1|il1).
m7 Lihat Asy-Syaukani, loc.cit
322' t asyffi gang Di[arang MIan fikh rclan
bahwa perbuatan tersebut boleh dilakukan. Jika tidak demikian tentu
mereka mengingkari orang-orang yang melalarkannya.60'
- Potensi menjadikan lalaitergantung kepada posisinya. Halitu akan terjadi
jika hiasan berada dimihrab atau secara umum diarah kiblat. Sedangkan
jika tidak ditempat-tempat tersebut maka tidak akan terjadi gangguan
bagi orang yang melakukan shalat sehingga hukumnya boleh'ffi
Pendap at ya ng pa lin g lli"nt -wallahu Ta' ala Al lam- adalah pendapat
yang menetapkan hukum haram, karena alasan-alasan sebagai berikut:
- Karena prinsipnya adalah pengharaman taqnbbuh kepada orang-omng
Yahudi dan kepada orang-orang Nasrani, khususnya dalam perkara ibadah
atau tempat ibadah atau waktu ibadah mereka. Sedangkan hiasan seba-
gaimana disebutkan oteh lbnu Abbas Radhigallahu Anhuma yang diper-
kuat dengan sumpah adalah bagian dari perbuatan orang-orang Yahudi
dan Nasrani. Perbuatan semacam ini masih bisa ditemukan hingga
zaman kita sekarang ini. Gereja-gereja mereka selalu dihiasi dengan
berbagai hiasan dan di dalamnya diletakkan hasil-hasil karya dan
pahatan-pahatan unik yang mengundang orang untuk menatapnya.
Juga sering diperindah dengan segala cara. Jelaslah bahwa ucaPan
lbnu Abbas Radhigallahu,funhuma memberikan kesan bahwa ia telah
menerima kabar dari Al-Mushthafa Sha llallahu Alaihi wa Sallam al<an
terjadinya kasus sedemikian itu di tengah-tengah umat. oleh sebab
itulah, ia berani bersumpah bahwa Peristiwa itu terjadi. Jika tidak,
peristiwa itu adalah perkara ghaib yang tidak mungkin diketahui olehnya.
- Bahwasanya nash-nash yang marfu'menunjukkan hukum haram ber-
megah-megah dengan masjid karena pembangunannya, pahatan-
pahatan dan kuantitasnya.6ro Tidak ada dalilyang merubah hulatm itu.
- Bahwasanya khusyuk dalam shalat adalah wajib hukumnya. Segala
sesuatu yang menjurus kepada sikap meninggalkan wajib adalah haram
hukumnya. Tidak diragukan sama sekalibahwa pahatan-pahatan, wama-
wami, dan lain-lain yang ada di masjid akan berpotensi menghilangkan
kekhusyukan. Sangat sedikit orang yang selamat dari pengaruh hal-
hal tersebuL Bahkan, Nabi Shalla llahu lilaihi wa Sallam menolak baj u
tebal bergambar mitik Abu Jahm karena menjadikan beliau lalai akan
shalatnya dengan adanyra berbagai gambar padanya. Beliau mensosiali-
N tbid.
m Lihat lbnu Abidin, /o.cif.
c''o Lihat Asy-Syaukani, loc.cit.
-aab n tasyffi bi Bitang peibataban_ 323
sasikan illah'alasan' tersebut,6rr padahal Nabi shallalrahu Alaihi. wa
sallam adalah orang yang paling bagus kekhusyukannya daram shalat.
- Bahwasanya Nabi sha llallahu Alaihi wa sallamtidak pemah melakukan
atau memerintahkan perbuatan itu. sedangkan pendorong-pendorong-
nya sarananya sudah ada, jika perbuatan tersebut memang diperboleh-
kan. Yang harus ditekankan di sini adalah:
Bukan termasuk hiasan ketika orang memperindah bangunan masjid,
dari aspek kekokohan dan t4jshish6r2. Menurut pendapat yang benaq
bahkan dianjurkan.6l3 Bukan pula dari perbuatan di atas, misarnya
membersihkan, memberiwewangian, dan lain-lain. Jadi, yang dimaksud
adalah apa yang ada sampai pada kategori perhiasan yang metaraikan
orang shalat. Itulah ujian bagikaum Muslimin dizaman sekarang ini.
Apa-apa yang membolehkan telah disanggah sebagai berikut:
Alasan pertama yang di dalamnya terkandung sikap mengagungkan
masjid adalah alasan yang tertolak dari dua aspek:
1. Pengagungan masjid adalah dengan apa-apa yang dilakukan di daram-
nya berupa berbagai ibadah, dzikil dan ilmu. Juga dengan menjaga
dan memeliharanya dari apa-apa yang tidak baik berupa berbagai
kegiatan keduniaan, kotoran, bau tak sedap, dan lain sebagainya.
2. Nabi shallallahuAlaihiwasallam adalah orang yang tahu dan paling
pandai memelihara hak-hak sebuah masjid tidak pernah menghias
masjidnya dan tidak memerintahkan untuk itu.
Sedangkan pendapat meninggalkan perbuatan tersebut semacam
penghinaan kepada masjid karena manusia sering menghias rumah-
rumah mereka adalah bukan alasan yang benar. Karena atasan larangan
adalah menyibukkan dan melalaikan hati orang yang melakukan shalat.
Hukum selalu seiring sejalan dengan alasannya.6ra yang demikian tidak
berlaku untuk rumah-rumah. Tidakapa-apa jika masjid dibangun dengan
cara dan arsitekturyang terbaik sehingga tampil menawan dan berwibawa
dengan tetap menghindari hiasan baginya. Yang demikian mungkin dilaku-
6rr Telah ditakhrij di atas.
812 Tajshish adalah mengecat tembok dengan wama putih. Lihat Al-Bahuti,
op.cit.,(213661.
613 Lihat Al-Mawaq, op.cit Buku itu dicetak dengan hamisy kitab Mawahib Al-
Jalil, ('ll551l; As-Samiri, At-Mustau'ib ... op.cit., (211041; dan tain-lain.
0r' Lihat lbnu Halar, Fath ...loc.cit
324 - r asoqbbuh yang Dilaraug ulan rhh rclanr
kan dan boteh. Sedangkan anggaPan bahwa hiasan akan menjadikan
masjid lebih dicintai adalah anggaPan yang berlalm bagiorang yang ketika
datang ke masjid hanya untuk sekedar memandang meneliti dan
menganalisa. lni adalah bukan sifat seorang Muslim yang datang ke masjid
karena taat kepada Perintah Allah dengan melaksanakan shalat jamaah
dan mencari pahalanya.6r5
sedangkan sikap para salaf yang meninggalkan untuk mengingkari
hal tersebut, maka sanggahannya adalah sebagai berikut. Bahwa menghias
masjid adalah bid'ah yang dimunculkan oleh negeri-negeri "liar" yang tidak
memberikan izin bagi para ahli ilmu dan ahli keutamaan, dan mereka
mengadakan bid'ah-bid'ah yang sering tidakterhitung jumlahnya dan tak
seorang pun berani mengingkarinya. Sebagian ulama mendiamkan saja
perbuatan seperti itu karena khawatir akan tindakan kekerasan yang
mereka lakukan lantaran ridha dengan perbuatan itu. Kemudian muncul
sekelompok utama muta'akhirin yang siap menghadapi kebathilan dan
meneriakkan "kematian' di hadapan mereka.6r6
Sedangkan anggaPan bahwa ketergangguan orang yang sedang
shalat adalah jika hiasan berada di mihrab atau di arah kiblat, dan tidak
makruh diposisikan selain di tempat tersebut. Terhadap anggapan ini
berlaku suatu pandangan: kalaupun boleh mengucapkan anggaPan sePerti
itu, tarangan ini tetap berlaku karena memiliki alasan-alasan lain' Di
antaranya yang paling menonjol adalah tasyabbuh kepada orang-orang
Yahudi dan Nasrani. Ini sama sekati tidak terikat dengan suatu tempat di
mana pun dalam masjid.
Sesuatu yang sering terjadi di zaman sekarang ini adalah bahwa
manusia mencurahkan perhatian kepada hiasan untuk masjid-masjid
dengan berbagai macam hiasan dan dekorasi: pahatan, tulisan, warna,
karpet, lampu, dan lain sebagainya; yang jika dikumpulkan semua dana
yang terserap untuk itu di sebagian masjid yang ada akan menelan biaya
yang cukup untuk membangun masjid lainnya selain masjid sebelumnya.
Tidak diragukan lagi bahwa dalam kegiatan semacam ini adalah uPaya
menghilangkan manfaat besar bagi kaum Muslimin yang bisa dicapai
dengan harta sebesar harta yang sia-sia tersebut.
o'5 Lihat Asy-Syaukani, loc.cit.
610 Asy-syaukani, ibid., dengan sedikit perubahan'
-ub tt rasyahbul1 ni Binang peiwan- 325
lbnu Baththal6rT dan lain-lain berkata, "Sunnah dalam membangun
masjid adalah sederhana dan menjauhi sikap 'berlebih-lebihan' ketika
memperindahnya. Umar dengan banyaknya penaklukan di zamannya dan
banyaknya harta padanya tidak pernah merubah masjid dari apa adanya.
Akan tetapi, hanya membutuhkan untuk memugarnya karena pelepah
kurma telah hancur setelah perjalanan waktu yang cukup lama. Kemudian
datang Utsman dengan harta ditangannya yang lebih banya( melakukan
perbaikan dan memperindah masjid yang tidak membutuhkan kepada
dekorasi. Walaupun demikian sebagian shahabat ada yang mengingkari
tindakan UBman tersebut. "618
B. Hiasan Masjtd ltu dengan Emas atau Ferak
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang permasalahan tersebut
dan muncullah dua pendapat:
1. Bahwa haram menghias masjid dengan emas dan perak. lni adalah
pendapat para pengikut mazhab Hanbali.6le
2. Perbuatan tersebut mubah hukumnya. lni adalah pendapat para peng-
ikut mazhab Hanafi dengan pengertian sebagaimana disebutkan di atas
bahwa hiasan itu selain di mihrab.eo
Pembahasan permasalahan initidak keluar dari apa yang telah lalu
pembahasannya dalam permasalahan pertama. Hukumnya adalah sama
dengan hukum permasalahan pertama. Demikian yang benar. Jika para
pengikut mazhab Hanbali berpendapat bahwa hukumnya haram, yang
jelas mereka melihat, keberadaan sikap berlebih-lebihan dan pemborosan
dalam perbuatan itu untuk pembelian hiasan pada umumnya.62r
{. {. {.
.i7 Ali bin Khalaf bln Baththat Al-Bakarl Al-Qurthubl. Leblh populer dengan
nama lbnu Baththal. la ulama hadits, mensyarah Shahih Al-Bukhari, memiliki kitab
Al-l'tisham fii Al-Hadits dan lain-lain. la wafat pada tahun 449 H. Lihat Adz-Dzahabi,
Siyar ... op.cit., (18147). Biograft no. 20; dan Syajant An-Nuur Az-Zakiah, (111151.
crt fbnu Hajar, Fath... op.cit.,(1lilOl.
6t0 Lihat Al-Bahuti, op.cit.,(213661.
@0 Lihat AhFatawa Al-Hindiah, (1/110).
et Mereka menyebutkan bahwa yang pertama-tama menghias Ka'bah dengan
emas dalam lslam dan juga menghias masjid-masjid adalah At-Walid bin Abdul
Malik. Lihat lbnu Hajat Fath... op.cit.,(1lilOl.
*b326 - rasghbrb voW oilanng Mlaw tslam
?m*,s
lalangan Membanflun Balkon untuk,tlasf ld
Pembahasan ini mencakup dua subbab:
A. Makna Syurafat
Sgurafat adalah jamakdari kata-kata sAufah, yang artinya bagian
atas sesuatu. Sedangkan unhrk sebuah gedung adalah aPa )rang diletakkan
di bagian atasnya sebagai hiasan. Dikatakan "sgarafu al-bina" artinya,
dijadikan untuknya suatu kehormatan. Gedung-gedung tinggi adalah yang
ditambah dengan balkon. Sering balkon disebut sebagai bangunan di
bagian luar rumah yang diberi balkon di sekelilingnya.622
Makna yang dimaksud di siniadalah makna yang pertama karena
apa )rang telah datang dari lbnu Abbas Radhigallahu,{nhuma ia berkata,
b rub G:.b i,l;Jt'61 oi r:'r(
" I{ami diperin ahkan unuk nrembaryan koa-koa dengan balkon-fulkon
dan membangun Masjid lamman."ffi
Artinya, tanpa ada tambahan pada lantainya.
Gaya dalam membangun masjid-masjid tidak diperkenankan
dengan menambahi balkon-balkon sebagaimana makna kedua. Maka
tidak ada arti larangannya. Karena yang dimaksud adalah apa yang di-
letakkan di atas bangunan masjid dengan tujuan sebagai hiasan masjid
tersebut. Bisa berbentuk segitiga atau segi empat atau lainnya.
B. Hukum Membuat Balkon dl Masiid-masJid
Para pengikut mazhab Syafi'i beranggapan bahwa membuat balkon-
balkon masjid makruh hukumnya.ea Yang ielas -Wallahu Ta'ala frlam-
haram hukumnya membuat balkon-balkon masjid karena dalil-dalil berikut:
@ Lihat lbnu Al-Atsir, An-Nihayah fii Gharib Al-Hadlts wa Al-Atsac (?/463').
es Lihat Mushannaf lbnu Abu Syaibah, Kitab Ash-Shalawat,Bab "Fii Zinah Al-
Masajid wa Ma Ja'a Fiha", (1/309). Saya katakan,'Dalam sanad hadits ada perawi
yang tak dikenal".
821 Lihat Asy-Syarbini, op.cit., (112041.
- -tab t: tasyaffi ni nibang pertbababan 327
1. Apa yang datang dari lbnu Umar Radhi.gallahu Anhuma, bahwa ia
berkata, 'kO.r;.,r, J;aD-^,r e
oi vt;'ri t::i
" Karni dilarang atau beliau melarang l<ani shalat di masjid yang fur-
balkon."as
Konotasi hadits ini menunjukkan bahwa lbnu Umar Radhigallahu
Anhuma mengaitkan larangan kepada Nabi Shal/allahu Alaihi wa
Sallam dan Radhigallahu ,{nhu membawa larangan beliau kepada
hukum haram sebagaimana akan dijelaskan di bawah.
2.Na yang datang dari lbnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata,
G? J)ilLLyd' 1'o(erf
* Kami diperinah untuk membangun Masjid lamman dan memhngun
ko a -ko ta dengan balkon - balkon." ffi
Di dalam (sanad) hadits iniada perawi yang tak dikenal. Hadits ini
semakna dengan hadits lbnu Umar di atas.
3. Apa yang datang dari Ismail bin Abdurrahman bin Dzuaib,627 ia berkata,
eo Lihat lbnu Abu Syaibah, loc.cit Al-Haitsami, dalam Majma'Az-Zawaid (21
19) berkata, "Diriwayatkan oleh Ath-Thabranidalam kitab Al-Kabirdan para tokohnya
adalah tokoh-tokoh shahih selain Laits bin Abu Salim. Dia adalah tsiqah. Akan tetapi,
mudallas, dan telah dianggap suka memakai 'an'an."
e6 Lihat lbnu Abu Syaibah, lbid. Saya katakan, "Dalam sanad hadits ada perawi
yang tak dikenal". Juga datang dari lbnu Abbas dengan derajat maiu':
i;,s r6t k'r,Wk';A i; w e y tyui j;*!rrf
w,
'Aku melihat kalian semua benar-bener hendak membangun balkon-balkon
ma sjid ka lian sepen ingga lku sebagaimana o e ng -o ft, ng Yah udi memba ng un
balkon untuk sinagog mereka dan seperti oftrng-oft,ng Nasrani membangun
untuk gereja meteka'.
Llhat Sunan lbnu Majah, Ktab AhMasajid wa Al-lamabl Bab Tasyyiid Al-
Masajid", hadits no. 740, (112441. Di dalamnya terdapat Jabbarah bin Al-Mughlas. Al-
Hafizh lbnu Hajar berkata, "Lemah'. Lihat At-Taqrib, biografi no. 890, hlm. 137.
@ lsmai! bin Abdunahman bin Dzuaib Al-Asadi, seorang tabi'in. Dia meriwayat-
kan dari lbnu Umar, Atha bin Yasar, Tsiqah Abu Zur'ah, lbnu Sa'id, Ad-Daruquthni, dan
lbnu Hibban. Lihat lbnu Hajar, Tah&ib ... op.clt, blografi no. 503, 1112821.
328 - rasgaffiu$ gang Dilarang Aa,am rklt rlam
ee'* *.>$|jt a'P'u-,;u (r..Z .* it e'&;
!r*"c ';,ft€J4t,'u-oti/.:'rG',,' *tor,tP. 7.:t G-6\.fifCi '-;?,v9:hMt,* S- :t'-;
*Aku bersama lbnu Umar masuk suatu masjid di luhfah.as Mal<a ia
melihat balkon-balkon. Ia pun keluar ke suatu tempat lalu shalat di
dalamnya. Kemudian, ia berkaa kepada pemilik masjid itu, 'Sungguh
aku telah melihat di dalan masjid engkau ini -yaitu balkon-balkon-
yang kusetarakan dengan patung-patung kaum jahiliyah. Maka perin-
tahkanlah untuk menghancurlcannya'." ae
Hadits di atas mendukung hadits lbnu Umar dan menunjukkan
bahwa hadits itu dipahami menunjukkan larangan yang haram hukum-
nya. Maka menunjukkan haram hukumnya membuat balkon-balkon,
karena hadits itu muncul sebagai fllah, kenapa diserupakan dengan
patung-patung dan karena keberadaan semua itu ia enggan shalat di
dalam masjid.
Yang jelas -Wall ahu Ta'ala filam- bahwa balkon-balkon termasuk
ke dalam kelompok hiasan dan telah berlalu pembahasan tentang itu.
Sedangkan jika terdapat kepentingan untuk membuatnya sebagaimana
keadaan yang ada di kebanyakan masjid-masjid di zaman kita sekarang
ini, tidak apa-apa membuatnya. Sebagaimana keberadaan sesuatu yang
dikhawatirkan di lantai masjid berupa perangkat AC, jaringan air bersih,
jaringan listrik, atau lainnya, dan dibuatlah balkon-balkon untuk peng-
amanannya, melindungiorang yang biasa melakukan perbaikan, melaku-
kan pengawasan, atau kepentingan lainnya berkenaan dengan semua
perangkat tersebut berupa berbagai kemaslahatan yang nyata.630
eB Juhfah adalah nama desa yang sangat besar. Empat marhalah dari arah
Makkah. la adalah miqat warga Mesir dan Syam. Dinamakan Al-Juhfah karena aliran
air yang mengikisnya. Lihat Abdul Mukmin Al-Baghdadi, Marashid Ahlthla' 'ala Asma
Al-Amkinah wa Al-8iqa', merupakan ringkasan Mulam AhBuldan, ditahqiq Ali Al-
Bajawi, (Daar Al-Ma'rifah, cet. l, 1373 H), (1/315).
62e Dikeluarkan Syaikhul lslam lbnu Taimiyah, dalam Ahlqtidha' ... op.cit.la
berkata, "Diriwayatkan oleh Sa'id, Sufyan menyampaikan hadits kepada kami dari
lbnu Abu Najih, dari lsmail, .... Lihat Al-lqtidha',1113441.
6s Lihat kaidah keenam, hlm. 100.
-wb nt riwgaffiuh tl s; rrw tet$tulnn- 329
Dengan alasan seperti itu maka tidak apa-apa membangunnya
sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan dan dalam membangunnya
harus dengan menjauhkan dari hiasan dan dekorasi. WallahuTa'alaltlam.
***
330 - r r"tyrrl&$ yang cnlaruug ulam sl<$ tslan
?eilt5
TENTANG HARI.HARI BESAR
Pasal ini mencalop tiga pembahasan:
Pembahasan 1: l-arangan menghadiri hari-hari besar ahli kitab dan berta-
syabbuh kepada mereka dalam halyang sama.
Pembahasan 2: Larangan berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad, karena
keduanya adalah hari besar kaum musyrikin.
Pembahasan 3: l-arangan tidak masuk kerja pada hariJum'at seperti yang
dilakukan ahli kitab pada dua hari: Sabtu dan Ahad.
?aa,*,,t
laran$an Menghadlrl HarFhafl Besar Ahll Kltab dan
Bertasyabbuh kepada Mereka dalam Hal yang Sama
Para ahli ilmu sepakat mengharamkan menghadiri hari-hari besar
ahlikitab dan bertasyabbuh kepada mereka dalam halitu. Ini adalah pen-
dapat para pengikut mazhab Hanafi,ar Maliki,632 Syafi'i,633 dan Hanbali.o}
Juga menjadi mazhab para muhaqiq, seperti lbnu Tllimiyah,635 lbnul
Qayyim,636 dan lain-lain mereka dari kalangan ahli ilmu.
Dalil-dalil yang menunjukkan kepada hukum di atas terbagi atas
dalil-dalil umum dan khusus. Sebagian akan kita paparkan berikut ini:
Dalihdalil Umum
Peftama. Syariattelah memerintahkan untuk bersikap beda dengan
ahti kitab dan meninggalkan sikap untuk menyamai mereka. Dalam hal
ini teks dalil sangat banyak jumlahnya hingga tak terhitung.aT
6r Lihat lbnul Qayyim, Ahkam ... op.cit., (2n2q.
632 Lihat lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit., (215241, yang merupakan nukilan
dari kitab lbnu Al-Habib Al-Maliki, AhWadhihah.
633 Lihat lbnul Qayyim, op.cit.,l2l722l; dan di dalamnya nukilan mazhab Syaf i
dari Hibatullah bin Al-Husain Ath-Thabari Asy-Syaf i.
6s Lihat lbnu Taimiyah, op.cit, (1/461).
635 Lihat lbid., (114251, dan setelahnya, dan sebagian besar dari juz ll.
6s Lihat lbnul Qayyim, loc.cit
037 lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... loc.cit
raah tuyffi bi RtuW eerWnn- - 331
Kedn. Hal tersebut adalah bagian dari bid'ah yang diada-adakan
yang tidak pernah dibawa oleh syariat. Menghadiri hari-hari raya mereka
adalah merupakan sikap menyetujui mereka dengan segala syiar agama
mereka yang bathil, bahkan semua itu bagian dari keistimewaan yang
hanya ada pada mereka.
Syaikhul Islam lbnu lbimiyah berkata, "Semua dalil dari Kitab,
sunnah dan ijma menunjukkan bahwa bid'ah adalah sesuatu yang sangat
buruk dan makruh hukumnya, baik bersifat taruth 'dengan dasar kehati-
hatian atau haram sesuai dengan tingkatan dalam tasyabbuh kepada
mereka. Maka terhimpun dalam haltersebut bahwa perbuatan itu bid'ah
yang diada-adakan dan tasyabbuh kepada orang-oiang kafir. Masing-
masing dari dua sikap itu mewajibkan adanya larangan memperbuatnya.
Karena tasyabbuh pada pokoknya sangatterlarang. Bid'ah pada pokoknya
juga sangat terlarang sekalipun tidak dilakukan oleh orang-orang kafir.
Jika dua sikap itu terhimpun, maka akan menjadi alasan yang berdiri
sendiri dalam keburukan dan larangan."638
Permasalahan kita di sinitermasuk di dalam perpanjangan dua dalil
yang melarang itu. Apalagijika kita mengetahui bahwa hari-hari raya bagian
dari agama mereka yang mereka ada-adakan. Atau bagian dari agama
mereka yang sebenarnya telah dihapus. Semua itu adalah syiar-syiaryang
menunjukkan kepadanya, melihat betapa banyak bentuk-bentuk ibadah
mereka yang telah dihapus atau yang sudah tidak populer lagi.
Delll-dalll Khusus
Peftama. ljma (konsensuVkesepakatan) dari dua aspek:
Aspek I . Bahwasanya orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi masih
saja berada di kota-kota kaum Muslimin. Mereka merayakan hari-hari raya
mereka dan imbas dari perbuatan-perbuatan mereka masih lekat dengan
banyak jiwa. Kemudian di zaman para pendahulu kaum Muslimin tidak
pemah ada orangyang mendampingimereka dalam sedikitpun dari semua
kegiatan itu. Maka, sekiranya tidak muncul energi pelarang dalam jiwa-
jiwa umat, baikbersifatkebencian, atau pelarangan darisemua itu, tentulah
kebanyakan mereka akan terjerumus ke dalam hal yang sama, karena
suatu perbuatan itu akan terjadi apabila ada potensi. Sekiranya tidak ada
w lbid., (11424), dengan sedikit ringkasan.
*$332 - r asW$loub yang oilatang MIaw tslzr,,
penghalang tentu perbuatan tersebut akan benar-benar terjadi tanpa bisa
dihindari. Dan potensinya dalam hal inibenar-benar ada sehingga perlu
diketahui adanya pelarang (al-mani).
Felarang (al-mani) disini adalah agama. Ivlaka tentu diketahuibahwa
agama di siniadalah agama Islam yang melarang dari sikap menlama-
nyamai. lnilah yang diminta.
Aspek I/. Bahwa Umar Radhigallahu Anhu mempersyaratkan
kepada para ahli dzimmah untuktidakmenunjukkan hari-hari raya mereka.
lde ini disepakati oleh semua shahabat. Jika kaum Muslimin telah sepakat
dengan larangan bagi ahli dzimmah untuk menunjukkan hari-hari raya
mereka, bagaimana bisa bagi kaum Muslimin beralasan untuk meraya-
kannya? Bukankah perbuatan kaum Muslimin akan kegiatan-kegiatan itu
lebih parah daripada perbuatan orang-orang kafir akan perbuatan yang
sama, karena mereka menampakkannya?
Kedn. Firman Nlah Ta' ala,
' Dan onng-orung yang tidak membrilan persaksian palsu, dan apabila
mereka beftemu dengan (onng-orang) yang mengerjakan prbuakn-
perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga
kehormatan dirinya." (Al-Furqan: 72)
Zuur, ditafsirkan tidak hanya oleh satu orang dari kalangan Para
tabi'in, seperti Mujahid,Be Adh-Dhahhak,m lbnu Sirin, dan lain-lainer yang
bermakna macam-macam hari raya kaum musyrikin.
60 Mujahid bin Jabr, adalah guru bagi para gura dan mufassirun. Sufyan Ats'
Tsauri berkata, ?mbillah tafsir dari empat Muiahid, Said bin Jabir, lkrimah, dan Adh-
DhahhaK. la sangat tsiqah, menguasaiAl-Qu/an sebagaimana ia katakan' Tiga kali
bertanya kepada lbnu Abbas tentang tiaptiap ayat. la wafat tahun 100 H, dikatakan
pula 104 H. Lihat Adz-Dzahabi , Siyar... op.cit., (414491, biografi no. 175.
m Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali ialah seorang kalangan tabi'in dan ahli
tafsir. la dipercaya lmam Ahmad, lbnu Ma'in, Abu Zur'ah, dan tbnu Hibban. Diper-
selisihkan, apakah ia sempat bertemu lbnu Abbas atau tidak. la wafat tahun 105 H,
dikatakan pula 106 H. Lihat lbnu Halar, Tahdzib ... op.cit., (41417). Biografi no. 3078.
ur Lihat Tafsir lbnu Kabin $13411. Syaikhul lslam lbnu Taimiyah Rahimahullah
dalam lqtidha ... op.cit, (114281, berkata, 'Dan ungkapan para tabi'in bahwa semua
kegiatan itu adalah hari raya orang-orang kefir. Tidaklah menyelisihl perkataan seba-
gian lain. Sesungguhnya itu adalah kesylrikan atau berhala dizaman Jahiliyah'. Juga
karena ungkapan sebagian lain, "ltu adalah majelis keburukan". Serta ungkapan,'ltu
adalah nyanyian", karena seperti itulah kebiasaan kaum salaf menafsirkan ayat.
Setiap orang akan menyebutkan suatu jenis dariienis-jenis yang ada sesuai dengan
keadaan pendengar atau untuk mengingatkan akan adanya suatu ienls tertentu.
-wb n tayaffiu$ Oi tUug peibabhan- 333
Ayat inisecara sepihaktidak bermakma pengharaman semua kegiatan
tadi. Akan tetapi, menyatakan makruh hukum menghadirinya. Karena
Allah memuji orang yang meninggalkan tindakan menghadirinya sehingga
ia dijadikan sebagai seorang ibadunahman.w Sedangkan terlibat dalam
memperingati hari-hari raya tersebut, maka jelas ayat tersebut menunjuk-
ka n ke ha ram a n nya, ka rena AI Ia h ra' ala m enama ka nnya zuw. Nlah ra' ala
telah mencela kata-kata palsu dan memerintahkan untuk menjauhinya
dan pelaku kedustaan itu sama hukumnya dengan pelaku hari raya
tersebut.
Ketiga. Apa yang datang dari Anas bin Malik Radhigattahtt Anhu
bahwa ia berkata,
i;,q ; * *&\i p;| ry,.<Cf ii irr 3\,h,
,dt i'i-:
*Rasulullah shallatlahu Alaihi wa sallam tiba di Madinah)*.o"*,
(ahli Madinah) memiliki dua hari yang mereka biasa bermain-main di
kedua hari tersebut. Maka bliau bertanya, 'Apa dua hari ini?' Mereka
brkata, 'Kami suka brmain-main pada dua hari ini sejak zamanjahili-
yah'. Maka Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam bersabda, 'sesung-
guhnya Allah telah mengganti keduanya untuk katian semua dengan
yang lebih baik daripada keduanya, yairu hari raya Adha dan Fitri,..a3
Aspek yang menjadi objek penunjukan dalam hadits adalah bahwa
Nabi sha/la llahu Alaihi wa sallam tidak mengukuhkan mereka untuk te-
tap bermain-main di dalam dua hari tersebut sebagaimana tradisi mereka.
Akan tetapi, beliau menyampaikan kepada mereka bahwa Allah telah
mengganti kedua hari itu dengan dua hari yang lain. penggantian sesuatu
s2 Lihat lbnu Taimiyah , lqtidha ... op.cit, (,U4261; dan setetahnya.
u3 sunan Abu Dawud, Ktab Ash-shalat, Bab "sharat Ar-rdain", hadits no. 11 34,
(11295), sunan An-Nasa'i, Kitab shatat At-tdain, hadits no. 1sss, (3/199). Hadits ini
pada lmam Ahmad. Lihat As-sa'ati, op.cit., Kitab Abwab Al-ldain, Bab "sababu
Masyruiyyatihima", hadits no. '1621, (6/118). Syaikhullslam berkata, "lsnad inimenurut
syarat Muslim". Lihat Al-lqtidha ...op.cit, (1t4321.
334 - rasgahhl, WWoilarangbalamrik$ rslaw
mengandung konsekuensi harus meninggalkan sesuatu yang telah diganti.
Oleh karena itu, ibarat ungkapan initidak digunakan lagi, kecualijika me-
ninggalkan perkumpulan dikedua hari itu.
Ungkapan beliau kepada mereka, t-<li;f f ii,ritl 'sra;unggriitnga
Allah telah mengganti kednnya untuk kalian semua', ketika mereka
ditanya tentang dua hariyang kemudian mereka menjawab bahwa kedua-
nya adalah hari untuk bermain-main mereka di zaman jahiliyah, adalah
dalilbahwa beliau melarang mereka melakukan permainan pada dua hari
itu karena telah diganti dengan dua haridalam lslam. Jika tidak dimaksud-
kan untuk sebuah larangan, penyebutan penggantian ini menjadi sama
sekali tidak pada tempatnya. Karena prinsip pensyariatan dua hari dalam
lslam itu mereka telah mengetahuinya, dan tidak boleh bagi mereka me-
ninggalkannya hanya demi dua hari jahiliyah tersebut.
I-agi pula, aib Anda pada dua harijahiliyah itu telah 'mati' di zaman
lslam. Maka tidak ada lagi pengaruh bagi keduanya di zaman Rasulullah
Slallallahu Alaihi wa Sallam danpara khalifahnya. Jika beliau tidak mela-
rang mereka bermain dalam dua hari tersebut atau lainnya yang biasa di-
lakukan, tentu mereka masih berada dalam tradisinya selama ini. Karena
tradisitidak pemah akan berubah melainkan jika ada orang yang mengubah
dan menghilangkannya, apalagijika telah menjadi tabiat kaum wanita,
anak-anak, dan kebanyalon orang memperlihatkan hariyang akan mereka
jadikan hari raya untuk menganggur dan bermain-main.
Oleh sebab inilah, kebanyakan para raja dan para pemimpin tidak
mampu merubah tradisiorang dalam halhari raya mereka karena kuatnya
dorongan dalam jiwa-jiwa mereka dan juga karena kuatnya hasrat semua
kelompok untuk mengikutinya. Jika tidak karena kekuatan pencegah yang
datang dari Rasulullah Shalla/lahu Alaihi wa fullam, tentu tradisi itu masih
akan tetap eksis sekalipun dalam keadaannya yang paling lemah. Diketahui
bahwa potensipencegahyang lebih kuatlahyang masih eksis. Dan semua
yang dilarang Rasulull ah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan larangan
yang sangat kuat adalah haram hukumnya karena tidak dimaksudkan
untuk pengharaman melainkan yang demikian.s
s lbnu Taimiyah, lqtidha ... op.cit, (1/433, 434), dengan sedikit perubahan.
-uh u, ra,gafiu$ bi Rtuw perfubofurrr- 335
Keempat. Apa yang telah datang dari Tsabit bin Adh-Dhahhak
Radhiyallahu ,{nhu bahwa ia berkata, "seseorang di zaman Rasuruilah
Slallallalu Naihi wa fullam bemazar untuk berkurban dengan men),em-
belih unta di Buwanah. Maka datanglah ia kepada RasulullahShallallahu
Alaihi wa Sallam, lalu berkata
ok';r,,*')*ht d:"Ut Sw,'trn)")';;( ofL'r:i ;1.
, + Q1k'Ji, Jv,l : rju {;X {'tAt r(')l'r, ; t W
,!qi .:ji :lL': *\t J:" !ti;|iS ,,t :r'jurg,r$
i'l utSl&r 2l t,ann; *e,rtt.iutj'i;i
'Sesungguhnya aku brnazar unatk brktrfun dengan menyemblih
unu di Buwanah.' MaIa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
brsaMa kepadanya, 'Apakah di sana terdapatpatung di antan pafrfig-
patung kaum jahiliyah yang biasa disembah?' Mereka menjawab,
'Tidak.' Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beranya lagi,
'Apakah tempat iru biasa dipakai sebagai hari raya oleh mereka?
Mereka menjawab, 'Tidak.' Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda, 'Penuhilah nazailnu, sesungguhnya tidak boleh
memenuhi nazarjika untuk maksiat kepada Allah atau brkenaan dengan
apa-apa yang tidak dimanpui oleh anak Adarn'.na'
Objek penunjukan oleh hadits tersebut adalah bahwa NabiShal-
lallahu Alaihi wa sallam melarang melakukan penyembeli han d i tempat
di mana biasa dilakukan perayaan hari raya orang-orang kafir padahal
penanya tidak menjadikan tempat tersebut sebagai tempat perayaan hari
raya. Akan tetapi, hanya untuk tempat penyembelihan saja. Maka secara
lebih pasti hadits tersebut menunjukkan tidak boleh menyamai mereka
dalam sedikit pun dari perbuatan-perbuatan mereka berkenaan dengan
harl raya yang blasa mereka rayalon, sekalipun diketahui bahwa orang-
orang kafir tersebut telah masuk lslam. Karena sesungguhnya yang
menjadi tujuan utamanya adalah upaya membendung keburukan yang
mengarah kepada tasyabbuh kepada mereka.ffi
ils Telah ditakhrij di atas.
re Lihat lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit., (114431.
336 - r uylaffi"b wrg ularaug balam nhh rslaw
Kelima. Telah datang sejumlah afsar berkenaan dengan larangan
akan perbuatan tersebut di atas, di antaranya:
a. Datang dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu, ia berkata,
t;"#.k',f F *r-I-s li ,-r!i atv, .';Li )
. t zl
to
WJFabiltby,ey
"Ianganlah kalian semua nrengajarlcan ungkapan-unglapan aneh onng-
orang ajam dan janganlah lalian rcmua memasuki gercia-gereia orang-
onng musyrik pada hari raya mereka karena kemurkaan sedang turun
kepada mereka."s1
b. Apa yang datang dari Ali bin Abu Thalib RadhiyaUahu,\nhu bahwa
seseorang datang kepadanya dengan hadiah hari raya An-Nairuz. la
berkata,
&ul-Y- -lt f r;t- i:Ar'r'rtta rq'it'rit-:riu t.r; u
l')';;
"'Apa ini?' Mereka menjawab, 'Wahai Amirul Mukminin, ini adalah
hari raya An-Nairuz'. Maka ia berkata, 'Makaiadikanlah oleh kalian
semua hari meniadi hari raya Nairuz'."e8
Al-Baihaqine Rahimahullah berkata, "Dalam hal ini terdapat hukum
makruh karena adanya tindakan mengkhususkan suatu hari dengan
kegiatan tersebut di mana syariat tidak mengkhususkannya dengan
kegiatan itu.6s
c. Apa yang datang dari Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab Radhigallahu
Anhuma, bahwa ia berkata,
s7 Al-Baihaqi, op.cit., , (9/392), Mushannaf Abdutazzaq, Kitab Ash-Shalal
Bab "Ash-Shatat fii Al-Bi'ah", hadits no. 1609, (114111.
ffi Telah ditakhrii di atas.
s0 Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi. Lahir tahun 384 H seorang ahli
hadits, ahlifikih, dan ahli ushul. Di antara para syaikhnya adalah Al-Hakim dan Abu
lshaq Al-lsfirayini. Di antara, tulisnya adalah As-Sunan AhKubra, As'Sunan As'Sughn'
Datait An-Nubuwwah, Ma'rifatu As-Sunan wa AhAtsae dan lain sebagainya. la wafat
tahun 458 H. Lihat Adz-Dzahabi, op.cit., (18/163), biografi no. 86; dan lbnu Al-Ma'ad,
SyadzaeratAAl-dBza-ihDazqaih, aobp,.c(3it/.3, 0(94/)3. 92).
wb tt: tasyffi br tfung penhilran- - 337
.- ir:{r\'t p l!, ; ;*r'^-,rr) &");,. c z3z.t
cl,.z zo . ct.ctc't..1 ..1.'
fG!'
iq,&;** ,u,o'ji')'-';
'Barangsiapa tinggal di negeri ajam, Ialu membuat hadiah dan
mengikuti perayaan Nairuz, serta bertasyabbuh kepada mereka hingga
dia meninggal. Dan dalam keadaan seperti itu, maka ia digabungkan
dengan mereka di hari Kiamat."65t
Sedangkan dalil-dalil yang menjelaskan semua itu dari sisi teori
adalah sebagai berikut:
a. Hari raya adalah syariat dari syariat-syariat orang-ordng kafir sebagai-
mana hal itu adalah syariat dari syariat-syariat iman. Bahl<an rnerupa-
kan syariatyang paling khusus, maka haram hukum menyerupaimereka
sebagaimana yang berlaku pula pada seluruh syariat orang-orang kafir
dan syiar-syiar mereka.652
b. Bahwa tidak boleh bertasyabbuh kepada mereka dalam hal-halyang
telah baku dalam agama mereka dan bukan sesuatu yang diada-ada-
kan. Semua yang mereka lakukan dalam hari raya mereka itu adalah
kemaksiatan kepadaAllah. Karena mungkin berupa bid'ah atau sesuatu
yang telah dihapus dan diganti (marculdl. Maka larangan tasyabbuh
kepada mereka adalah sesuatu yang lebih keras lagi.653
c. Jika dipermudah bahwa boleh kaum Muslimin melakukan sedikit dari
apa yang biasa mereka lakukan dalam rangka taklid kepada orang-
orang kafir dalam hari-hari raya mereka, hal itu akan menyebabkan
kaum Muslimin terbiasa melakukan perbuatan menyerupai mereka lebih
banyak lagi. Apalagi dari kalangan orang-orang awam sehingga per-
buatan-perbuatan itu menjadi masyhur di kalangan mereka bahkan
menjadi bagian dari adat mereka, yang pada gilirannya menandingi
hari raya Allah. Bahkan bisa jadi terus akan bertambah hingga nyaris
menyebabkan kematian Islam dan kehidupan kekafiran. Oleh sebab
itu, dilarang secara total dari semua itu dengan dasar analisa akibat
yang bisa ditimbulkannya.6s4
61 lbid.
62 Lihat lbnu Taimiyah, Al-lgtidha ... op.cit, (11471-4721.
63 lbid. (1t472).
61 tbid.1114731.
338 - tasyabb"h wng Dilaruug balaw rik$ tslam
d. Bahwa tasyabbuh kepada mereka dalam sebagian kegiatan hari raya
mereka akan memastikan adanya kesenangan dalam hati karena apa-
apa yang mereka lakukan berupa kebathilan. Bahkan bisa jadi
menjadikan mereka lebih tamak untuk menghamburkan waktu dan
menghinakan orang-orang lemah. lni adalah perkara yang biasa terasa,
bagaimana berkumpul apa-apa yang mengharuskan untuk menghor-
mati mereka tanpa adanya sebab dengan menetapkan syariat kepada
anak-anak kecil demi memenuhi hak-hak mereka?65
e. Jika ditetapkan bahwa boleh bertasyabbuh kepada mereka dalam mem-
peringati hari-hari raya mereka pada perkara-perkarayang mubah, tentu
ketetapan atas hal-hal yang mubah tersebut tersembunyi bagi kalangan
awam karena mereka memang tidak mengetahuinya sehingga hal itu
akan menceburkan mereka untuk bertasyabbuh kepada mereka dalam
perkara-perkara haram atau kekafiran yang telah lekat dengan per-
buatan-perbuatan mereka itu. Jenis kemiripan dikalangan masyarakat
umum sering menjadi rancu di dalam perkara agama mereka maka
oleh sebab itulah dilarang.6tr
f. Prinsip tasyabbuh adalah mengikuti kecenderungan atau rasa cinta di
antara kedua pihak. Juga karena interaksi antara keduanya berkenaan
dengan akhlak dan sifat sebagaimana PenetaPan yang lalu. Tasyabbuh
kepada mereka berkenaan dengan hari-hari raya mereka adalah salah
satu dari apa yang memberikan pengaruh tersebut secara sangat jelas.
Maka hal itu menjadi dilarang. Sebagaimana firman Nlah Ta'ala,
" I{amu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang briman kepada Allah
dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang me-
nenang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orung-orang itu bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, atauPun keluatga meteka. Mereka itulah
orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati
mereka dan menguatkan mercka dengan pertolongan yang datang
daripada -Nya. " (Al-Muj adilah: 22)$7
Halyang harus lebih diperhatikan disiniadalah bahwa kebanyakan
manusia di zaman sekarang ini telah terjerumus ke dalam hal-hal yang
s tbid. (1/486).
M lbid..
67 Lihat lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op,cit., (114721.
-Bab u; T a$gahbub dr ubang peibablnn_ 3 39
dilarang tersebut karena beberapa perkara. Di antara yang paling penting
adalah lemahnya pengetahuan tentang syariat dan segala ketentuan dan
batasannya. Di samping cengkeraman kekafiran diatas kebudayaan dan
kebiasaan keagamaan dan keduniaan mereka. Juga karena keunggulan
mereka di bidang sains dan teknologi di dunia ini. sehingga secara umum
bisa kita lihat berbagai perubahan kondisi dan refleksi rasa kesenangan di
negeri-negeri kaum Muslimin ketika tiba perayaan Tirhun Baru Masehi,
misalnya. Bahkan terkadang sebagian negeri lslam membuat suatu prose-
dur resmi berkenaan dengan makna tahun baru itu, sepertiadanya peno-
batan-penobatan dan pesta-pesta. Minimal kegiatan seperti itu meng-
eksiskan orang-orang kafir untuk memunculkan hari raya mereka di
tengah-tengah negeri kaum Muslimin dan mengejutkan jiwa dan pan-
dangan mereka dengan berbagai kemaksiatan yang mereka rakukan.
semua itu haram mutlak sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Kita
selalu memohon kepada Allah ra'ala kiranya sudi meruba h kond isi-kond isi
kaum Muslimin, menghinakan orang-orang kafir dan meneguhkan eksis-
tensi orang-orang mukmin yang muttaqin.
?*lrU*,2
laran$an Berpuasa pada Harl sabtu dan Ahad
karena Keduanya adalah Harl Besar ]6um Musyrlkln
Ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum berpuasa pada hari
sabtu danAhad, sehingga munculdua pendapat. sebelum menyebutkan
pendapat-pendapat mereka kita paparkan terlebih dahulu sebab perbedaan
pendapat di kalangan mereka dalam permasalahan ini, yang ternyata
bermuara pada dua perkara:
l. Dalam bagaimana caranya sehingga tercapai sikap berbeda dengan
ahli kitab dalam hari raya mereka, apakah dengan berpuasa pada hari
itu atau sama sekali meninggalkan pengkhususan pengamaran pada
hari itu.6s
@ tbid., (2y569).
3 4A - r ayafiub WW Dilarung Oalaw nl<fi rltm
2. Sebagian hadits secara zhahir bertolak belakang.6te
Hadits Abdullah bin Busr dari saudara perempuannya, Ash-Shamma'
Radhiyallahu Anhwta, di dalamnya Rasulullah Sha/lallahu Alaihi wa
Sallam bersabda,
frfa, U il :rp ;j;!thr ;7rr+ vt .-1-rr ?T ri'r*',t
lr
a'-e** ort:a >-f )t Y ,*.
"tanganlah kalian semua berpuasa (kltusus) pada hari sabru kecuali
yang difardhukan oleh Allah aas kalian semua. Iika salah seoraog
dari kalian tidak menemukan nrelainkan kulit baang anggur aau fuang
poh on, h en daklah mengunyalnya. " ffi
Bertolak belakang dengan hadits OmmiSalamah ketika ditanya,
,Ur;i $ t* kf* rqr h' & n' J;, ok 7' $ti'qi
' i'';trii Li'""tr
" 'Hari-hari apa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallampaling banyak
betpuasa di dalamnya?'Maka ia menjawab, 'Sabtu dan Ahad'."61
Dan hadits-hadits lain yang semakna dengan hadits di atas.
65e Lihat lbnu Rusyd, Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayatu Al-Muqtashid, (Beirut:
DaarAl-Ma'rifah, cet. Vll, 1405 H), (1/310).
N Sunan At-Tirmidzi, Kitab Ash-Shaum, Bab "Ma Ja'a fii Shaumi Yaum As-
Sabt", hadits no.744, (3/111); Sunan Abu Dawud, Ktab Ash-Shaum, Bab ?n-Nahyu
an Yukhashshu Yaum As-Sabt bi Shaum", hadits no. 2421, (213201; Sunan lbnu Majah,
Kitab Ash-Shiyam, Bab "Ma Ja'a fii Shiyam Yaum As-Sabf, hadits no. 1726, (1/550).
At-Tirmidzi berkata, "lni adalah hadits Hasan". Lihat Sunan At-Tirmidzi, (31111). Dalam
kilab op.cit, (1/435) Al-Hakim berkata, "lni adalah hadits shahih menurut syarat Al-
Bukhari". Namun keduanya tidak mentakhriinya dan dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat
Shahih Sunan lbnu Majah, (1/288).
nt Musnad lmam Ahmad, Lihat As-Sa'ali, op.cit., Abwab Shaum Ath-Thawwu',
Bab "Ma Ja'a fii Shiyam As-Sabt wa Al-Ahad", hadits no. 284, (1012201; Shahih lbnu
Khuzaimah, Bab "Ar-Rukhshah fiiYaum As-Sabt ldza Shama Yaum Al-Ahad Ba'dahu",
hadits no. 2167, (31318); Mustadrak Al-Hakim, Kitab Ash-Shaum, "Targhib Shiyam
Yaum As-Sabtwa Al-Ahad", (1/436). Al-Hakim berkatra,'lsnadnya shahih". Dan disebut-
kan oleh Al-Hafizh lbnu Hajar dalam kitab Al-Fath, (412351. Tashhih lbnu Hibban
mengetengahkan hadits itu namun tidak melanjutkannya.
-nab tt tai1affiul1 l; tMng perlbailmn- 341
Kemudian muncul bantahan dari ulama berkenaan masalah ini:
Pendapat /. Makruh berpuasa pada hari Sabtu jika hanya pada hari
itu saja. Namun jika tidak khusus pada hari itu saja, tidak makruh. lni
adalah pendapat pengikut mazhab Hanafi,@ Syafi'i,ffi3 dan Hanbali.s
Pendapatl/. Boleh berpuasa pada hariSabtu sekalipun hanya pada
hari itu saja. lni adalah pendapat yang dinukil dari Malilff5 dan menjadi
pilihan sebagian para pengikut mazhab Hanbali.ffi
Jumhur memperkuat mazhabnya dengan dalil-dalil sebagai berikut:
Pertama. Hadits Abdullah bin Busr dari saudara perempuannya,
Ash-Sham m ak Radhi.gallahu Anhuma, bahwa Rasulullah Shalla llahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
\ €Li'l*q lLY |ilLht ;7ty )i :; I i; r;;; \
';:;"$ {fr"'t'; \i * it;s
* fanganlah kalian semua berpuasa gnusuj pada hari SwOL,'*rrurti
yang difardhukan oleh Allah aas kalian semua. Jika salah seanng
dari kalian tidak menemukan melainkan kulit baang anggur atau batang
pohon, hendaklah mengunyalnya." ffi
Objek yang ditunjukkan hadits adalah Nabi Shal/allahu Alaihi usa
Sallam melarang mengkhususkan hari Sabtu dengan berpuasa kecuali
puasa fardhu.ffi Hadits ini menegaskan tentang pengkhususan hari Sabtu
e Lihat Al-Kasani, op.cit.,(2t791.
ss3 Lihat Raudhah Ath-Thalibin, (A2531, dan An-Nawawi, op.cit., (6/439).
LihatAl-Mardawai, op.cit,(3filt), dan lbnu Qudamah, op.ctt,@la2e.
ffi Lihat An-Nawawi, op.cit., (6/439). Abu Dawud berkata, "Malik berkata, .tni
bohong, yakni hadits lbnu Busr'". Sunan Abu Dawud, (21321).
ffi la berkata dalam Al-lnshat(31347),Taqiyuddin memilih bahwa tidak makruh
walaupun hanya pada hari itu saja". Dan ini adalah pendapat kebanyakan para ulama.
67 Sunan At-Tirmidzi, Kitab Ash-Shaum, Bab "Ma Ja'a fii Shaumi yaum As-
Sabt', hadits no.744, (31111); Sunan Abu Dawud, Kitab Ash-Shaum, Bab ?n-Nahyu
an Yukhashshu Yaum As-Sabt bi Shaum", hadits no. 2421, (2lg20l; Sunan tbnu Majah,
Kitab Ash-Shiyam, Bab "Ma Ja'a fii Shiyam Yaum As-Sabf, hadits no.1726, (1/SS0).
At-Tirmidzi berkata, 'lni adalah hadits hasan'. Lihat sunan At-fTrmidzi, (3/111). Di
dalam kitab op.cit., (1/435), Al-Hakim berkata, "lni adatah hadits shahih menurut
syarat Al-Bukhari". Namun keduanya tidak mentakhrijnya dan dishahihkan oleh Al-
Albani. Lihal Shahih Sunan lbnu Majah, (112881.
ffi Lihat An-Nawawi, op.cit., (6/439).
342 - rrogaffiu$ gangcrrlarangnalamrrhh rcIawt
dengan puasa di dalamnya, karena ada hadits-hadits lain yang juga baku
dari Rasulullah Shalla llahu Alaihi wa Sallam yang membolehkan puasa
pada hari Sabtu jika dilakulon pula puasa yang lain,
Di antaranya adalah apa yang datang dari Kuraib,tre budak lbnu
Abbas bahwa lbnu Abbas dan orang-orang dari kalangan shahabat
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutusnya untuk datang
kepada Ummu Salamah untuk bertanya kepadanya:
ui fr:si'#K i *'t*bt uJ,;i!, J';;;'k TCni'qf
:Jv L\0 L,Lrr
€;:,t Hl
7i rk'r tk et* *\k q !'it- ,+;i;r<.*\r;e
r,k's 6 i,lfl
&A ots
; r'fll'|'&;A'Jt-q' rfr'h)',,v*i;;!i.a'i,;'J,';.*r't:tl roi':*,tr-,fUiiu"
f,'@ni';ri ir( e?, ,:€ * y t;;ql
" 'Hari-hari apa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam paling banyak
berpuasa di dalamnya?' Maka ia menjawab, 'Sabtu dan Ahad'." Ia
br-lcata, 'Kemudian aku pulang kepda mereka dan langsung afu kafuri
mereka, tetapi mereka seakan-akan mengingkari berita iru. Maka
mereka bangkit seluruhnya menuju Ummu Salamah, lalu mereka se-
renak berkata, 'Sesungguhnya kami mengutus kepadamu dia ini unruk
bertanya tentang hukum ini dan iu. Lalu dia mengatakan bahwa engkau
menyebukan demikian dan demikian. Maka Ummu Salanah brkata,
'Dia benar." Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
kebanyakan futpuasa adalah pada hari Sabat dan Ahad. Dan beliau
bersaMa, 'Sesungguhnya kedua hari iru adalah hari raya bagi orang-
onng musyrik, dan saya hendak berbeda dengan mereka'."6n
ss Kuraib bin Abu Muslim Al-Hasyimi, budak lbnu Abbas. la sempat bertemu
dengan jamaah para sahabat. Di antaranya adalah Utsman, Aisyah, Ummu Salamah,
Tsiqah bin Sa'ad, lbnu Ma'in, dan lbnu Hibban. la wafat pada tahun 98 H. Lihat
Tahdzib At-Tahdzib, biografi no. 5862, (813771.
670 Musnad lmam Ahmad, Lihat As-Sa'ali, op.cit., Ktab Abwab Shaum Ath-
Thawwu', Bab "Ma Ja'a fii Shiyarn As-Sabtwa Al-Ahad', hadits no.284,(1Ol22Ol, Shahih
lbnu Khuzaimah, Bab "Ar-Rukhshah fii Yaum As-Sabt idza Shama Yaum Al-Ahad
wb n rwgffi ti Bitaug perfuaahan_ - 343
Di antaranya lagi hadits Juwairiah bintu Al-Harits {lmmu Al-Muk-
minin- Radh igallahu Anla:
ttJztz"{,a;.V€}#t{;:7)L yt ;;ru':^/;.i, h, ;r,i
jdN:Uu jE,) CJf
tilb oi?'Ji Gi-;t :'.)j ;i
:
'
4Pb
"Bahwa Nabi shallallahu Araihi wa salram daang kepadanya pada
hari tum'atketika ia sedang brpuasa, maka bliau brknya, ,Apakah
kemarin engkau berpuasa?' Ia menjawab, 'Tidak'. Beliau bertanya
lagi, 'Apakah besok engkau hendak berpuasa?, Ia menjawab, ,Tidak,.
Beliau bersabda,'Batalkan puasamu sekarang,.uan
Sedangkan besok adalah hari Sabtu.
Lebih tegas dari hadits tersebut adalah hadits Abu Hurairah
Radhiyallahu Anhu yang di dalamnya disebutkan,
i:rx\i *c;il :J' ?; €ri,;rA*
"rangan salah seorang dari kalian berpuasa pada hari rum,at, kecuali
jika dilakukan puasa sehari sebelumnya aau sesudahnya..6n
Sehari yang setelahnya adalah hari Sabtu.
semakna dengan hadits-hadits di atas apa yang telah muncul bahwa
Rasulullah shallallahu Alaihi wa saltam banyak berpuasa pada bulan
Sya'ban, memerintahkan berpuasa pada buran Muharram, memerintah-
ltan berpuaeagaam al-bidh(pada tanggal-tanggal 13,14,15), dan semua
itu tentu mengandung hari sabtu dalam petaksanaannya. walhasil dari
Ba'dahu', hadits no. 2167, (31319), Mustadnk Al-Hakim, Kitab Ash-shaum,Targhib
shiyam Yaum As-sabt wa Al-Ahad', (i/436). At-Hakim berkata, "tsnadnya shaiih".
Dan disebutkan oteh At-Hafizh tbnu Hajar di dalam kitab At-Fath, (4l?3bl. Tashhih
lbnu Hibban mengetengahkan hadits itu, namun tidak melanjutkannya.'Dan lihat
bagaimana kilab AhMajmu'menarik dalil dari hadits itu, An-Nawawi,-(6/439); dan
kitab lbnul Qayyim, op.cit, (2fi9).
Ett shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-shaum, Bab "shaum yaum Al-Jumu'ah", hadits
no. 1885, 121701).
612 Shahih Al-Bukhari, ibid.,hadits no. 18g4, (2lt}Ol; dan Shahih Mustim, Kitab
Ash-shiyam, Bab "Karahatu shiyami yaum Al-Jumu'ah Munfaridan", hadits no. 144,
(2/65e).