whttt twyffiniufuil1tahdtar.,teilnvrn, - -Abab, 495
Kedua. Bahwa hadits-hadits yang melarang pemakaian pakaian
benuarna merah adalah lemah tidak bisa dengannya ditegakkan suatu
hujiah. Penjelasan hal itu adalah sebagaiberikut:
1. Mursal Al-Hasan:
9tabry4i;Si
" Warna merah adalah perhiasan syetan."
Dalil tersebut lemah. Karena dalam jajaran sanadnya terdapat Abu
Bakar Al-Hadzali232 sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh.ts3
2. Hadits Abdullah bin Amr yang di dalamnya disebutkan:
lt;Li )r:; *', J*; *', *ht * d' e'7
" Berlalu seorang pria dengan membawa dua potong pakaian berwarna
merah ..." ,
di dalam jajaran sanadnya terdapat Abu Yahya Al-8attat234 yang diper-
debatkan, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh di dalam kitabnya,
Al-Fath.a3' Asy-Syaukani di dalam kitabnya, Nail Al-Authar menukil
bahwa terdapat sikap para ulama melemahkan hadits itu.a6
Dari aspek maknanya, hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil. Ibnu
Qudamah ketika mengomentarinya berkata, "Bahwa sesungguhnya
sikap Nabi Shallallahu Naihi wa Sallam meninggalkan sikap penolakan
terhadap perbuatan pria tersebut bisa jadi karena bermakna bukan
warna merah dan bisa jadi pakaian itu dicelup, dan yang demikian itu
makruh hukumnya."ts7
232 Abu Bakar Al-Hadzali. Disebutkan bahwa namanya adalah Sulama bin
Abdullah. Disebutkan pula bemama Rauh. seorang ahlikhabardengan hadits matruk
dari keenam. la wafat pada tahun 167 H. Lihat lbnu Hajar, Taqrib... op.cit., biografi no.
8002, hlm. 625.
2s lbnu Hajar, Fath... op.cit.,('l0l306l.
2s Abu Yahya Al-Qaftat. Namanya adalahZadzan. Ada yang mengatiakan bahwa
namanya adalah Muslim, Yazid, Zaban, dan ada pula yang mengatakan bahwa
namanya selain semua yang disebutkan. Kebanyakan menganggap dia seorang
yang dhaif. Al-Hafizh berkatra, "Hadits dhaif dariyang keenam". Lihat tbnu Hajar, Tah&ib
... op.cit, biografi no. 8792, 11212481; dan At-Taqrib, biografi no.8444, htm. 684.
2$ Lihat lbnu Hajar, Fath ... loc.cit.
2$ Lihat Asy-Syaukani, op.cit, (2lg7l.
237 lbnu Qudamah, op.cit., (213021. Saya mengatakan, "Bisa jadi juga bahwa
beliau tidak mendengar ketika ia menyampaikan salam kepada beliau."
496 - Tas}affiub yang Dilaruug nalam fiklt *lnm
3. Hadits Rafi' bin Khudaij yang di dalamnya disebutkan:
uqlff. . . . .';, b1? yfr3 Jc 6ii
" Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat di atas
binaang runggangan dan unta-unta kami kantong-kantong yang padanya
benang-benang terbuat dari kapas yang berwarna merah ...",
adalah dhaif karena di dalamnya terdapat perawi yang tidak disebutkan
namanya, demikian sebagaimana dikatakan Al-Hafizh.a8
4. Hadits tentang seorang wanita dari baniAsad yang datang berkunjung
kepada Zainab,Al-Hafizh berkata, "Dalam sanadnya ada kelemahan."Be
5. Hadits yang berbunyi,
i;at;",1'i*l'lt
-sesungguhnya syetan suka warna merah.n
Al-Hafizh mengatakan berkenaan dengan hadits itu, "Lemah."zro
Asy-Syaukani, setelah diketengahkan beberapa hadits pendukung
untuk hadits di atas, seakan-akan ia merubah derajatnya menjadi hasan,
berkata, Jika inibena4 dalilmereka lebih menegaskan kepada larangan.
Akan tetapi, engkau telah mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi usa Sallam mengenakan pakaian penutup seluruh badan yang
berwarna merah bukan hanya sekali. Dan jauh dari itu bahwa beliau
mengenakan apa yang kita peringatkan dari pemakaiannya dengan
alasan seperti itu bahwa syetan suka wama merah. Tidak benar jika di-
katakan disinibahwa perbuatan beliau bertentangan dengan ucaPannya
yang khusus untuk kita saja, sebagaimana telah ditegaskan oleh para
imam ilmu ushul. Karena illah di atas memberikan kesan tidak ada
kekhususan ucapan itu hanya untuk kita. Karena menjauhi apa-apa
yang dikenakan oleh syetan, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam tentu orang yang paling berhak untuk itu."24r
2$ Lihat lbnu Hajar, Fath ... loc.cit
23e Lihat lbnu Hajar, rbid. Asy-Syaukani berkata, "Dalam jajaran sanadnya
terdapat lsmail bin Ayyasy dan anaknya. Berkenaan dengan keduanya terdapat
komentiar yang masyhufl. Lihat Asy-Syaukani, op.cit., (21961.
2s Lihat lbnu Haiar, Fath... op.cit.,(101306'1.
2'1 Asy-Syauk ani, op.cit., (21971.
- -tab tnt tru;yabbub u t:furng wkoiott, tetlnasan, Anabt 497
6. Sedangkan hadits yang berbunf,
jt-;ti J),f rsw3,*r:r,igr\t ,*:tJ"r-,ru7l
,
At;.Qt*
" Nabi Shaltaltahu Ataihi wa Sallam memerintahkan kepada kami njuh
hal dan melarang kami dari tujuh hal. Hingga disebutkan: bantalan
alas duduk dari kain sutra berwarna merah."
Maka, pesan utama di dalamnya adalah larangan penggunaan
bantalan alas duduk dari kain sutra berwarna merah. Dan di dalamnya
tidak terdapat dalil yang mengharamkan selain itu berupa pakaian atau
lainnya. lnilah yang menjadikan hadits yang menunjukkan bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengenakan pakaian penutup
seluruh tubuh benvarna merah menjadi baku.2a2
Sedangkan dalil mereka yang mengharamkan pemakaian pakaian
berwarna merah jika mumibenvama merah saja. Maka, dalilitu disanggah
bahwa pemakaian pakaian yang dicelup adalah dilarang karena munculnya
nash berkenaan dengan itu dan tidak muncul berkenaan dengan pakaian
yang diwenter dengan warna merah.2s Sedangkan dalil yang mereka sitir
berkenaan dengan larangan pemakaian pakaian warna merah telah
didiskusikan ketika mendiskusikan dalil mereka yang bermazhab dengan
mazhab kedua.
Sedangkan dalil mereka yang memakruhkan sesuatu yang diwamai
dengan warna merah masak telah didiskusikan bahwa dalil itu menunjuk-
kan larangan sesuatu yang dicelup karena hal itu muncul berkenaan
dengan penafsiran istilah mufaddam dan tidak menunjukkan larangan
dari warna merah mutlak.
Yan g jelas -Wallahu Ta'ala A lam- setelah mengetengahkan semua
pendapat berkenaan dengan masalah ini dengan semua dalilnya dan
semua yang disebutkan berkenaan dengan diskusi dalil-dalil itu bahwa
pendapat yang paling kuat adatah mazhab pertama, yakni yang mem-
bolehkan pemakaian pakaian berwama merah. Akan tetapi, dengan syiarat
bahwa wama merah itu bukan dari hasil celupan. Hal itu karena nash-
212 lbid., w97).
213 Lihat Asy-Syaukani, op.cit., (2/96).
498 - r asgthl2 gng Dtlilcn1 ulan rkb rlanr
nash yang tegas berkenaan dengan larangan pemakaian pakaian yang
dicelup.2{
Hal itu dikuatkan karena alasan-alasan berikut:
Pertama. Bahwa mazhab ini menyandarkan pendapatnya kepada
dalil-dalil yang shahih dan baku berupa perbuatan Rasulullah sha llallahu
Alaihi wa Sallam dengan tak satu pun dalil yang baku yang bertolak
belakang dengan dalil-dalil mereka atau menunjukkan bahwa perbuatan
itu khusus untuk Nabi Shalla llahu Alathi wa Sallam.
Kedua. Lemahnya dalil-dalil yang ditampilkan oleh mereka yang
melarang pemakaian pakaian berwama merah. Dalilmereka yang paling
bagus adalah hadits,
,;Jitto;" oty=,rlt'ot
"sesungguhnya syetan sulca wama merah."
Akan tetapi, hadits itu masih diperdebatkan. Ibnu Hajar cenderung
melemahkannya.2as Jika hadits itu kuat tentu akan bertentangan dengan
yang lebih kuat daripadanya.
Ketiga. Tidak ada kejelasan dan ketegasan menurut Penulis pada apa
yang menjad i pandan gan lbnul Qayyrm Rahimahullah dan lain-lain ketika
mereka membawa maksud pakaian yang menutup seluruh tubuh yang
dikenakan oleh Nabi Slallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana dalam
hadiB-hadits shahih yang dijelaskan di dalamnya bahwa pakaian penutup
seluruh tubuh itu merah wamanln, dicampuri dengan wama lain.26
Hal itu akan tampak jelas dari diskusiAsy-Syaukani Rahimahullah
dengan pendapat lbnul Qaryim sebagai berikut:
lbnulQaryim telah mengklaim bahwa pakaian penuhrp seluruh tubuh
yang berwarna merah itu adalah dua selimut asal Yaman yang ditenun
dengan bahan-bahan benang merah dengan benang hitam. Dan telah
salah orang yang mengatakan bahwa wamanya adalah merah murni. la
juga berkata bahwa pakaian itu sangat dikenal dengan nama itu. Juga
tidak rahasia lagi bagi Anda bahwa seorang shahabat telah menyifatinya
2{ Lihat hlm. 483.
2G Lihat lbnu Hajar, Fath... loc.cit
26 Lihat lbnul Qayyim, op.cit.,1111371.
-wh m rwgffi tt Btuti1 tahaia\ Peiliaslt -Anab, 499
bahwa pakaian penutup seluruh tubuh itu benvarna merah, dan mereka
itu adalah dari kalangan ahli bahasa. Maka yang wajib adalah membawa
dalil itu kepada maknanya yang hakiki, yaitu merah mumi. Sedangkan
pergeseran gaya bahasa kepada majas -yakni sebagiannya merah dan
tidak demikian bagian yang lain- maka pensifatan sedemikian itu tidak
bisa dibawa fe$aa makna tarangan kecuali dengan adanya dalil yang
mewajibkannya. Jika yang dimaksudkan dengan arti di atas adalah arti
pakaian penutup seluruh tubuh secara etimologis, dalam semua kitab
yang berkenaan dengan bahasa tidak ada yang menguatkan arti itu. Jika
dimaksudkan dengan arti tersebut adalah makna yang sesungguhnya
secara syar'i, maka kenyataan syar'i tidak mengokohkan melainkan itu
hanyalah sebuah klaim saja. Yang wajib adalah membawa ucapan seorang
shahabat tersebut kepada bahasa fuab karena bahasa Arab adalah bahasa
beliau dan bahasa kaumnya. Jika ia mengatakan bahwa dengan ditafsirkan
dengan penafsiran sedemikian itu adalah dalam rangka menggabungkan
semua dalil, dengan keadaan ungkapannya yang mengandung keeng-
ganan dengan ketegasan menyalahkan orang yang mengatakan bahwa
pakaian penutup seluruh tubuh tersebut berwarna merah murni. Tidak
ada tempat berlindung baginya untuk memungkinkan penggabungan
dengan dalilyang lain sebagaimana telah kita sebutkan, padahaldengan
membawa pakaian penutup seluruh tubuh yang benvarna merah itu seba-
gaimana telah kita sebutkan akan menafikan apa yang dijadikan hujiah
oleh mereka di tengah ucapannya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam mengingkari suatu kaum yang beliau saksikan bahwa pada
binatang-binatang tunggangan mereka terdapat kantong-kantong yang
berisi benang-benang berwarna merah.2a7
Keempat. Bahwa ungkapan itu sesuai dengan suatu kaidah yang
berkenaan dengan pakaian, di mana prinsip dasarnya adalah ibalah
(boleh). Tidak akan berubah dariprinsip dasar inimelainkan dengan ada-
nya dalillain yang merubah hukumnya. Sedangkan dalam kasus initidak
ada dalil sedemikian itu.
Sedangkan kaitan pembahasan ini dengan bab tasyabbuh adalah
bahwa darisatu sisibahwa sebagian para ulama menjadikan semua yang
diwarnai dengan pewarna merah dan yang dicelupkan hukumnya sama.
247 Asy-Syaukani, op.cit., (21971.
500 - r asyabbu$ gang oilarang dalaw tW rclam
Dan masalah pakaian yang dicelup telah ada nash yang tegas melarang
pemakaiannya. Karena pakaian sedemikian itu adalah pakaian orang-
orang ajam. sebagian ulama ketika melarang hal itu juga berdasarkan
kepada dalil hadits tentang bantar atas duduk berwarna merah yang
dilarang, demikian pula ditegaskan oteh para ulama karena itu adalah
bagian dari hiasan orang-orang asing. rni akan dibahas dalam pem-
bahasan yang tersendiri. sebagian para urama juga mengisyaratkan
bahwa warna merah dilarang bisa jadi karena tasyabbuh kepada kaum
wanita.
Yang lain-lain memberikan illah ketika menegaskan larangan dengan
dasar apa yang muncul bahwa warna merah adarah hiasan bagi syetan
dan semuanya adalah bagian dari pembahasan tentang tasyabbuh
sekalipun pembahasan permasalahan berakhir pada bukan masalah itu.
Bukan menjadi tujuan bahwa semua pembahasan harus berakhir pada
penetapan hukum haram atau makruh karena di dalamnya terdapatfaktor
tasyabbuh. sedangkan yang menjadi hrjuan adarah memunculkan semua
permasalahan yang masuk ke dalam pembahasan tentang tasyabbuh,
baik mutlak ataupun berdasarkan sangkaan. Dan penjelasan permasa-
lahan yang bukan demikian itu adalah sesuatu yang dimungkinkan bisa
terjadi. Wallahu Alam.
B. Pemakaian Pakaian Bertatahkan Permata bagi Kaum pria
sebagian para pengikut maThab syaf i menyebutkan subbahasan
ini. Dalam pembahasan inidalam kitabnya,AI-(lmm,Asy-syaf i Rahima-
hullah berkata, "Saya tidak membenci kaum pria yang mengenakan
mutiara melainkan karena perkara adab, karena mutiara adalah perhiasan
bagikaum wanita dan bukan karena haram hukumnya. saya tidak mem-
benci pemakaian permata atau intan melainkan karena aspek sikap ber-
lebih-lebihan ada rasa sombong."248
An-Nawawi berkata, "lninashnya. Demikian dinukiloteh para saha-
bat. Dan mereka sepakat bahwa hal itu bukan haram."24e
Yang jelas, bisa diketahui-WallahuTa'alaAllam- bahwa semua itu
haram hukumnya karena semua itu adalah perhiasan bagi para wanita
2{ Dinukil oleh An-Nawawi. Lihat Al-Majmu', (41466).
2.e lbid.
- -zah ttt ratyafiub tr Rttang eakaku, ter{nawr, An46, 501
dan khusus bagi mereka dari zaman dahulu hingga kini. Dalam hal ini
Imam An-Nawawi telah menolong Asy-Syafi'i Rahimahullah dengan me-
nyanggah pendapat dua orang ahli fikih dari kalangan pengikut mazhab
Syaf iyang menyatakan bahwa bertasyabbuh kepada kaum wanita adalah
makruh hukumnya dan bukan haram. Hal demikian itu karena ucapan
Syafi'i di atas dan bukan sebagaimana yang keduanya katakan. Akan
tetapi, yang benar adalah bahwa tasyabbuh kaum pria kepada kaum
wanita dan sebaliknya adalah haram. Hal itu karena hadits shahih,
|iw')u rtir'u -qA\ Jc'St 3, rt3u. a<jj.jlth'r,l
" Allah melaknat para pria yang menyerupai wanita dan para wanita
yang menyerupai pria."2n
Kemudian Rahimahullahberkata, "Sedangkan teksnya di dalam laltab
AI-Umm tidaklah bertentangan dengan itu. Karenayang menjadimaksud-
nya adalah perhiasan bagi kaum wanita bukan karena semua itu hiasan
bagi mereka, khusus bagi mereka dan hanya menjadi hak mereka.2sr
Yang jelas, dasar permasalahan ini adalah urfu 'adal'. Berhias
dengan mutiara, permata, dan sejenisnya, menurut adat terdahulu hingga
kini adalah tradisi khusus bagi kaum wanita saja. Bahkan dipakai untuk
perhiasan bagipara raja asing dan mereka para penyembah berhala pada
mahkota-mahkota dan pakaian-pakaian mereka. Oleh sebab itu, hukum-
nya dilarang karena telah baku larangan bertasyabbuh bagi kaum pria
kepada kaum wanita.
!t**
2il Shahih Al-Bukhari, Ktab Al-Libas, Bab "Al-Mutasyabbihin bi An-Nisa wa Al-
Mutasyabbihat Binijal", hadits no. 5il6, (5122071.
2sr An-Nawawi, Al-Majmu' ... op.cit., (414441.
502 - tasyabbu$ yaug Dilarang balaw rihb rc[atn
?"rt tr*,,t5
Apakah Mengenakan Thallasan Dllarang?
Pembahasan ini mencakup dua subbahasan:
A. Definisi Thailasan
secara umum, thailasan adalah sebutan bagi semacam sandang
yang dikenakan di kepala berbentuk bundar dari lilitan kain. pakaian ini
populer di kalangan orang-orang Yahudi di zaman dulu.
Ahu f6'lszr2 berkata, "Thailasan adalah pakaian kepala yang dipo-
tong kedua ujungnya, dijahit kedua sisinya, bagian yang satu di atas bagian
yang lain disatukan dengan dijahit. orang tidak mengenatnya karena
thailasan adalah pakaian orang-orang Yahudi di zaman dahulu dan
pakaian orang-orang ajam."zr: AI-Ghazi Asy-syaf i berkata, "ra adalah
pakaian yang dipotong kedua ujungnya. Ia dikatakan berbentuk berketiling
karena ia melingkar seperti tempat penyajian makanan. la adalah thaitasan
yang memanjang dari kedua sisinyal2a Al-Bahuti berkata dalam syarahnya
atas kitab Al-lqna',2n "la berbentuk seperti bentuk tharhah, memanjang
dan melingkar dari atas kepala'i2s
Thailasan kadang disebutkan untuk maksud suatu pakaian tebal.z5?
Akan tetapi, para ulama menghendaki dengan thailasn yang dilarang
adalah yang dipakai di atas kepala sebagaimana gaya yang dirakukan
oleh orang-orang Yahudi.
Dalil yang menunjukkan hal itu adalah bahwa Nabi sha/raltahu
Alaihi wa Sallarn sebagaimana ditakhrij Muslim dari hadits Anas bin Malik
Radhiyallahu Anhu bersabda,
2s2 Dia adalah Muhammad bin Al-Husain bin Muhammad bin Khalaf Al-Fana'.
Dilahirkan tahun 380 H. Dia adalah salah seorang pentahqiq di kalangan para pengikut
mazhab Hanbali. Dia sangat cerdas di bidang fikih, ushut, dan hadits. Dia beiajar
dariAbu Al-Husain As-sakari dan lbnu Hamid. Di antara kitab-kitab karyanya adatah
Al-lddah lli ushul Al-Figh, Al-Ahkam As-sutthaniyah, dan lain-lainnya. ta wafat tahun
458 H. Lihat Al-Qadhi Muhammad bin Abu ya'ta, Thabaqat At-Hanabilah, (Beirut:
Daar Al-Ma'rifah Liththiba'ah), (2/1 93).
2$ As-Safarini, op.cit, (212581.
2s Al-Ghazi, op.cit., (5/1 2SB).
2s Dia adalah Al-Hajawi Al-Hanbati.
2s Al-Bahuti, Kasysyaf ... op.cit., (1t204).
257 Lihat Asy-Syaukani, op.cit., (2lBBl.
- -sab ttt tauiyalIlub br Bihng mkaiar, telvauu,A446, 503
il(*lJt'rtT.,t-ali tij,T r,ttllr,.lt r'3a,t, J*';St'ri
*Mengikuti irliA arri or*g-orang Yahudi asA eiUnae, yang
brjumlah rujuh puluh ribu orang di atas mereka thailasan."be
HaditsAnas bin MalikRadhigallahuAnhu ini menjelaskan apa yang
dimaksud dengan thailasan. MenurutAhmad sebagaimana didalam kitab
musnadnya, "Di dalamnya disebutkan tentang Dajjal lalu bersabda,
ir;;lr, u G : tt$t'.1;T' r:-dt; t;:i ;:'r:* Ai"S"
"r*'Bersamanya iiuO Ou*O rr* Yahudi yang di atas kepala mercka
mahkota."zs Dan dalam lafazh lain: as-siijan.
Jika disebut kata sa4y, artinya adalah thailasan berwarna hijau.
Dikatakan, itu adalah thailasanyang melilit dan berbentuk kain pula.26r
Ia berkata di dalam kamus, "Thailas, tl'ailasan... adalah kata-kata
yang diarabkan yang asalnya taaliisaan. Dikatakan dalam suatu cercaan,
"Wahai anak thailasan"; artinya, "Sesungguhnya engkau adalah orang
ajam." Bentuk jamaknya adalah thagalisah. Huruf ha' dalam bentuk
jamak menunjukkan unsur serapan bahasa asing.262
B. Hukum Mengenakan Thailasan
Pendapat para ulama sangat beragam berkenaan dengan thailasan
sebagaimana akan dijelaskan berikut ini:
Pendapat /. Makruh hukumnya. lni adalah sebagian di kalangan
para pengikut mazhab Hanbali,263 didukung oleh Syaikhul lslam lbnu
2* Ashbahan adalah kota besar yang sangat terkenal karena merupakan salah
satu lambang kotra-kota di Persia. Ashbahan adalah nama untuk seluruh wilayah. la
merupakan daerah yang paling banyak orang-orang Yahudi yang tinggal dalamnya.
Lihat Ar-Raudh Al-Muthar fii Kabar At-Aqthar, Muhammad bin Abdul Mun'im Al-
Haimari. Tahqiq oleh Dr. lhsan Abbas, (Maktabah Lubnan, cet. lt, 1404 H), hlm.43.
25s Shahih Muslim, Ktab At-Fitan, Bab "Baqiyyatu Ahaditsi Ad-Daiiat", hadits
no.2944, (411792).
2@ Lihat As-Sa'ati, op.cit, (24t73). Yang dia sebutkan pada pasal lkhbaru An-
Nabi shallallahu Alaihi wa sallam bi Khuruj Ad-Dajjat wa At-Makan Afiadzi yakhruju
Minhu. Di mana beliau menyabutkan sifat-sifat dan para pengikutnya ....
261 Lihat As-Safarini, op.cit , (2l2SSl.
62 Abadi, Al-Qamus Al-Muhith, (714).
263 Lihat Al-Mardawai, op.cit., (1l4BZ).
504 - rasyabbulo VoW Dilarang balam rikh rclam
Taimiyah,26a muridnya: lbnul Qayyim.265 Juga diikuti oleh sebagian dari
para pengikut mazhab Syaf i.2tr
Pendapat //. Mubah hukumnya. lni adalah sebagian dari para
pengikut mazhab Hanbali26T dan dikuatkan oleh lbnu HajarAl-Asqalani.268
Mereka yang berpendapat bahwa hukumnya makruh mengetengah-
kan dalil-dalil sebagai berikut:
1. Mereka berkata, "Sesungguhnya dalam pemakaian thailasan adalah
merupakan adat orang-orang Yahudi. Hal itu ditunjukkan oleh hadits
Anas bin Malik Radhigallahu Anhu. Dalam hadits itu Rasulullah Shal-
lallahu Alathi wa Sallam bersabda,
@Ut. IL-1JI t ":. c'l,i.J'.l'ogror. r*, c'd\-...o,al/ ))ot#,o.U c'.Jba-taJ. lCt.o+.
'Mengikuti iaiiat dari orang-orang Yahudi *i nroi** yang ber-
jumlah rujuh puluh ribu orang di aas mereka thailasan."rc
Sejalan dengan makna hadits itu Anas Radhigallahu Anhu ketika
menyaksikan suatu kaum yang mengenakan thaisalan berkata,
"Mereka itu seperti Yahudi dari Khaibar."27o
Hadits dan atsar di atas menunjukkan bahwa thailasan adalah
pakaian orang-orang Yahudi yang menjadikan mereka dikenaldengan
pakaian itu sehingga menjadi syiar bagi mereka.2Tr
2. Bahwa mengenakannya adalah tasyabbuh kepada rahib Nasrani.z72
Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa hukumnya adalah
mubah mengetengahkan dalil-dalil sebagai berikut:
1. Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menutup kepala hingga
sebagian besar wajahnya (taqanna'),273 sebagaimana dalam persiapan
a Dinukil oleh lbnu Muflih darinya, dalam AhAdab Asy- Syafiah, (3/525).
rc Lihat lbnul Qayyim, op.cit , (11'142).
m LihatAl-Ghazi, op.cit, (5/128 B); dan N-lzz, Fatawa ... op.cit., hlm.80.
20 Lihat Al-Mardawai, op.cit., (114821.
e Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(1012751.
2@ Shahih Muslim, loc.cit.
270 Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(101274\.
27i Lihat lbnu Muflih, op.cit., (3/525).
22 Lihat Al-Bahuti, op.cit., (112841.
27t Taqannu'adalah menutup kepala dan sebagian besar wajah dengan
selendang atau lainnya. Lihat lbnu Haiar, Fath ... op.cit.,(1012741.
- -mb ttt tatyat@ br Btbaug tuhanq wrfiataurAA4b, 505
untuk berhijrah. Di dalamnya Aisyah Radhgallahu Anla berkata,
f, e,\'J'tti- ,i4' ts qT eU;L v';'i;,e
)a'L up, t trX$'*'r& iu' l-, it J'y]rt^
.t": S; 4
e,"'u'l-
"... Ketika kami sedang duduk-duduk di rumah kani di tengah hari,
tiba-tiba seseorang berseru kepada Abu Bakar, 'Ini Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam daang dengan mengenalcan penurup kepala
dengan selendang pada waktu yang fuliau tidak penah datang kepada
kia pada saat sepefii itu ...."274
-Dalam hadits itu taqanna' tathailb.z7'
2. Apa yang diriwayatkan oleh Anas dan Sahl bin Sa'd Radhigallahu
Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak
melakukan taqanna'. Dalam suatu lafal disebut gina'.na
3. Bahwa jamaah dari para shahabat melakukan taqanna' di zaman
kehidupan Rasulullah Sha llallahu Alaihi wa Sallam setelah beliau wafat,
sepertiAbu Bakar, Umar, Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu Anhum.277
Mereka yang berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh telah
menyanggah dalil-dalil mereka yang berpendapat bahwa hukumnya
adalah mubah dengan dua sanggahan:
Pertama. Taqanna'bukan tlailasan. Maka tidak ada alasan bagi
Anda semua ketika memunculkan berbagai dalil untuk mengukuhkan
bahwa boleh ber-taqaruta'.278
Kedua. Jika harus dipahami bahwa boleh mengenakan thailasan
den gan adanya dalil-dalil yang menjelaskan tentan g taq anna', sebenarnya
271 Shahih Al-Bukhai, Kitab Al-Libas, Bab "At-Taqannu'", hadits no. 5470, (5/
21871.
275 Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(101274); dan As-Safarini, op.cit , (21257).
276 At-Tinxidzi, Asy-Syama il Al-Muhammadiya h, komentar Muhamma d Fz-Za'bi,
cet. l, 1403 H, hlm. 48. Yang mentahqiq berkata, "Tahqiqnya adalah bahwa ia dari
hadils munkarYazid bin Abban Ar-Raqasyi".
277 Lihat apa-apa yang telah muncul berkenaan dengan mereka dalam kitab
As-Safarini, op.cit., (212571.
278 Lihat lbnul Qayyim , op.cit., ('11142).
506 - rasgabbull gangDilarungbalamnhh *hw
taqanna'yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam
tiada lain adalah untuk suatu kebutuhan karena dingin atau lainnya.2Te
Dalil-dalil kelompok pertama yang berpendapat bahwa hukumnya
adalah makruh bahwa thailasan adalah syiar milik orang-orang Yahudi
dizaman dahulu yang kemudian hilang setelah itu. Maka sekarang harus
menjadi mubah.
Pendapat paling kuat -Wallahu Ta'ala Allam- adalah keharaman
thailasan yang merupakan gaya di kalangan orang-orang Yahudi dan
Nasrani. Karena yang bisa disaksikan sekarang orang-orang Nasrani
paling tidak, masih mengenakannya, khususnya para pendeta mereka.
Ini adahh faktor yang memperkuat apa yang telah kita sebutkan
bahwa semua itu adalah syiar-syiar mereka. Kaidah mengatakan bahwa
haram hukumnya bertasyabbuh kepada mere&a berkenaan dengan hal-
halyang khusus bagi mereka.2e Konsekuensilang muncul dari dalil-dalil
yang diketengahkan oleh kelompok yang berpendapat bahwa hukumnya
adalah makruh adalah hukum hararn, ini yang tepat, sebagaimana
komentar yang disampaikan oleh Syaikhul lslam dan lbnul Qayyim
Rahimahumallah ketika ked uanya mem uncu l kan had its'tuju h pul uh ribu
orang yang keluar bersarna Dajial' dengan hadits:
g *lY:+,Y.ro .li o'- .d...e.
" Barangsiapa menyerupi suatu kaum, maka ia adalah bagian dari
17p1g1g2."281
Keduanya berpendapat bahwa konsekuensainya adalah pengha-
raman.282 Kiranya keduanya menghendaki hukum makruh itu adalah
pengharaman.
Sedangkan orang yang berpendapat bahwa hukumnya adalah
jawaz dalam pemakaian thailasan dengan alasan bahwa Nabi ber-
taqanna'adalah pendapat yang tidak bisa diterima sebagaimana dijelas-
kan di atas. Penjelasan hal itu bahwa thailasan adalah pakaian tertentu
27s tbid., (1t1421.
2m Lihat Pasal4, Pembahasan 1, hlm. 65.
2Er Telah ditakhrij di atas.
2e Lihat lbnu Taimiyah, op.cit,11l237l; dan lihat pula ungkapan lbnul Qayyim
dalam kitabnya yang berjudul As-Safarini, op.cit., (21257).
- -tnwb r.ruiyabbul1 A; rinang paQaian, per$iasan, Ababt 507
yang dikenakan dengan cara yang mempopulerkan orang-orang Yahudi
dan Nasrani. Sedangkan taqanna'adalah menutup kepala dan sebagian
besar wajah dengan menggunakan selendang atau kain atau selain
keduanya. Sesuai dengan artinya, maka boleh berdalil dengannya jika
diberlakukan untuk seterusnya. Bukan demikian. Akan tetapi, dilakukan
karena adanya kebutuhan dan uzur. Dan dimakruhkan oleh para ulama
jika tidak karena demikian itu.2m
***
?",*t *,,t+
larangan Menggunakan Bantalan Duduk darl Sutra
Pembahasan ini mencakup dua subbahasan:
A. Definisi Mayatsir
Matatstr adalah jamak darimiitnrah. Asalnya adalah al-watsaarah
atau urrtsrah. Sedangkan kata watsir mengandung arti kasur yang men-
jadi alas. Jika dikatakan: imra'atunwatsirratun mengandung arti 'wanita
gemuk'. Ada yang mengatakan berkenaan dengannya adalah bahwa
magatsir adalah sarana pelengkap sebagaimana pelana.
Ath-Thabari berkata, "la adalah alas yang diletakkan di atas pelana
kuda atau tempat duduk di atas unta berupa kain berwarna merah."
Dikatakan pula, "la adalah pelana-pelana yang terbuat dari sutra."
Dikatakan pula, "Pembungkus untuk pelana-pelana yang terbuat dari
sutra." Dikatakan pula, "la itu mirip dengan bantalyang dipadati bagian
dalamnya dengan kapas atau bulu."2e
Jelas bahwa tidak ada perbedaan yang besar antara semua definisi
yang telah disebutkan. Dapat dipahami darinya bahwa mayatsir terbuat
dari sutra. Sedangkan definisi-definisi yang tidak menyebutkan demikian
itu tidaklah melakukan pelarangan hal itu. Magatsir yang sedemikian itu
dan yang muncul larangan menggunakannya adalah yang berasal dari
283 Lihat misalnya ungkapan lmam Malik dalam Al-Qairawani, Al-Jami', (255).
2il Lihat definisi-definisi initerhimpun dalam lbnu Hajal op.cit., (10/307).
508 - r asyabbul1 gaug Dilarang bala.m tikh rclam
kendaraan orang-orang asing yang populer. Ath-Thabari berkata ber-
kenaan dengan hal itu, "Bahwa para wanita membuatnya untuk para
suami mereka dengan alas kain merah dan beludru, dan merupakan alas
duduk pada binatang-binatang tunggangan orang-orang asing."2e Abu
Ubaid berkata, "Magatsir yang berwarna merah yang muncul larangan
berkenaan dengannya adalah yang berasal dari alas binatang-binatang
tunggangan orang-orang asing yang terbuat dari beludru dan ss116."285
B. Hukum Menggunakan Mayatsir
Para ahli ilmu berbeda pendapat berkenaan dengan masalah ini
sehingga memunculkan dua pendapat:
Pendapat /. Penggunaan bantalan alas duduk berwarna merah
makruh hukumnya. Ini adalah pendapat para pengikut mazhab Hanbali.2s
Pendapat //. Haram hukumnya jika terbuat dari sutra dan boleh jika
terbuatdari selainnya. lni adalah pendapatpara pengikut mazhab Syafi'1.202
Dalil-dalilyang diketengahkan oleh para ulama berkenaan dengan
masalah ini adalah sama, di antaranya:
1. Dari Ni Radhigallahu Anhu, berkata,
;\ k _r';i :t'*:*\t ,ra ot J"y, c.V
" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarangku duduk di aas
bantalan alas duduk dari kain sutra."
Magatsir adalah kain dari semacam sutra untuk pelana seperti
beludru yang diwarnai merah dibuat oleh para wanita untuk para suami
mereka. Di dalam sebagian lafal lain disebutkan,
,?, . .i- \. :. \.',o, *
; X ;:;:fi* Rasut ut tahshattattah u A taih )-',:-'
26 tbid., (10/293).
2s Dinukil darinya oleh Al-Hafizh, ibid. Dan saya tidak menemukannya dalam
Gharib Al-Hadits.
2E7 Lihat As-Samiri, op.cit., (21433).
2EE Lihat An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (14133). Dan saya tidak menemukan teks
khusus bertalian dengan masalah ini menurut para pengikut mazhab Hanafi dan
Maliki selain apa yang dijelaskan berkenaan dengan pemakaian sutra untuk duduk
dan lainnya. Lihat h|m.467.
-ub m, raiyabbub ni Ribar,1 tahaian, terlnawn, Aa4b ... 509
2. Dari Al-Barra bin Azib Radhiyallahu Anhu, ia berkata,
;"- r uW s'*,*i *\t -u ar S - rvli
" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerinahkan kepada kani rujuh
hal dan melarang kami dari rujuh hal."
Dalam hadits itu disebutkan pula sebagai berikut,
,;Q..,i t j"') t? ?'oft o z, ,,-.-o,^, .ltl,. f.o"iSl f.(f ?64j
Lab,Jl ;p1
"o'c, 9j*l?t'l/t/ ,r't ':;4)t ;':
" Dan melarang kami dari cincin atau mengenakan cincin dari emas,
dari minum dengan menggunakan bejana dari perak, dari banul-banal
alas duduk dari sutra, dari qissi (pakaian yang dijahit dengan sutra),
dari pemakaian sutra tipis dan tebal."
Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan,
p)ri.Qt
"Dan bantalan alas duduk dari sutra yang berwarna merah."2%
Semua hadits inimunculdengan membawa pesan larangan meng-
gunakan bantalan alas duduk dari sutra, maka barangsiapa meng-
efehifkan larangan itu sesuai dengan makna eksplisitnya maka akan
membawanya kepada hukum haram.
Yang jelas -Wallahu Ta'ala A'lam- bahwa duduk di atas bantalan
tersebut haram hukumnya. Hal itu karena beberapa hal, di antaranya:
- Prinsip dasarnya adalah membawa bentuk larangan kepada makna
pengharaman selama tidak ada dalil perubah kepada hukum makruh.
Dan dalam kasus ini tidak ada dalilyang merubah itu.
- Karena hadits Al-Barra muncul dengan larangan pula yang disepakati
bahwa yang dimaksud adalah pengharaman, seperticincin emas untuk
kaum pria dan pemakaian sutra. lldak ada alasan untuk membedakan
28E Shahih Muslim, Kitab Al-Libas, Bab "An-Nahyu 'an At-Takhattum fiiAl-Wustha
wa AllatiTaliha", hadits no. 2078, (311321).
2s Telah ditakhrij di atas. Lihat riwayat dari Al-Bukhari dalam kitab shahihnya,
Ktab Al-Libas, Bab "Al-Mitsaratu Al-Hamra", hadits no. 5511, (5/2199).
51 0 - rlwgabbuh yang Di[arang talaw rihh utam
antara hal-hal yang dilarang yang bentuk ungkapannya sama tanpa
adanya qarinah'penyertaan khusus'.
- Karena bantalan untuk alas duduk itu terbuat dari sutra sebagaimana
kebiasaan mereka di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Hal ini terlihat jelas dalam definisi-definisi para ulama untuk bantalan
alas duduk sebagaimana telah dijelaskan di dalam subbahasan pertama.
- Karena dalam pembuatan bantal-bantal alas duduk mengandung sikap
bertasyabbuh kepada orang-orang kafir dari kalangan orang-orang
ajam.2er
Sedangkan jika bantalan alas duduk itu tidak terbuat dari sutra, tidak
haram hukumnya, karena tidak ada dalilyang melarangnya.2e2 Akan tetapi,
dalil-dalilyang ada adalah yang melarang pemakaian bantalan alas duduk
yang terbuat dari sutra sebagaimana yang dipakaioleh orang-orang ajam.
Sedangkan apa yang disebutkan oleh Ath-Thabaridan akhirnya dipastikan
oleh An-Nawawi bahwa hal itu berkemungkinan,ze3 bahwa bantalan alas
duduk jika dibuat bukan dari sutra tetap dilarang pemakaiannya, karena
dalam pemakaiannya mengandung unsur tasyabbuh kepada para
pembesar orang-orang ajam, adalah tidak muncul dengan baku menurut
pandangan saya. Karena apa yang ada di kalangan orang-orang ajam
itu adalah bantal-bantal alas duduk yang terbuat dari sutra sehingga tidak
ada tasyabbuh kepada mereka dalam hal di atas, kecuali jika bantalan
alas duduk yang banyak dipakai itu terbuat dari sutra, karena 'terbuat dari
sutra' itulah yang merupakan sifatnya yang paling menonjol pada bantalan
alas duduk di kalangan orang-orang ajam. Lebih dari itu warnanya adalah
merah sebagaimana bantalan alas duduk mereka. Dengan telah diketahui
bahwa pemakaian mereka akan bantalan alas duduk itu yang merupakan
syiar mereka telah tidak ada lagi sebagaimana kita ketahui di zaman
2er Lihat lbnu Taimiyah, Majmu Al-Fatawa ... op.cit., (2211281.
2r Yang menunjukkan hal itu adalah kisah Abdullah bin Amr dengan Asma
ketika Abdullah mengirimkan bantalan alas duduk berwarna merah kepada Asma
sebagai balasan atas apa yang dinukil dari Asma itu bahwa Abdullah dilarang
menggunakan bantalan itu. Sedangkan bantalan yang dimaksud itu adalah yang
terbuat dari wol atau lainnya. Lihat kisah itu dalam kilab Shahih Muslim, Kitab Al-
Libas, Bab Tahrim Adz-Zhahab wa Al-Harir 'ala Ar-Rijal wa lbahatuhu Linnisa", dan
lihat komentar An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (14133).
2e3 Lihat An-Nawawi, rbril.
tayffi - -tab trt
ti rlfung p&oiorr, wrlnaun AA46, 51 1
sekarang ini. Akan tetapi, hukumnya abadi karena adanya [llah 'alasan'
yang lain sehingga karenanya haram hukumnya, yaitu terbuat dari sutra.
WallahuTa'alafilam.
Dan apakah ada syarat bahwa bantalan alas duduk itu berwarna
merah atau tidak, karena halitu munculpada sebagian berbagai riwayat
yang ada?
Yang benar adalah diperryaratlon bahwa warna merah, sehingga
keterikatannya dengan wama merah lebih menjadikan khusus bagi makna
sutra yang umum itu. Sehingga dilarang karena terbuat dari sutra dan
lebih terlarang lagijika benvama merah.2s
?m*,rc
larangan Berfalan dengan Menllenakan Sebelah Sandal
Para ulama sepakatbahwa makruh hukumnya mengenakan sebelah
sandal saja. Hal itu dinukil oleh lbnu Abdul Barr dan An-Nawawi. Akan
tetapi, lbnu Abdul Barr berkata berkenaan dengan orang yang melakukan
hal tersebut, "la bukan orang yang melakukan maksiat menurut jumhur;
sekalipun ia men getahui larangan. sedangka n ahludzdzahir berkata,'Dia
telah bermaksiat jika mengetahui adanya larangan."zs Jetaslah bahwa
ungkapan ahludzdzahfr tidak benar jika mereka berpendapat bahwa
hukumnya haram. Karena sikap berlainan tidak disebut kemaksiatan,
kecuali pada hal-hal yang diharamkan. lmam Malik Rahfm ahullah mene-
gaskan dengan sangat tegas bahwa hal itu serupa dengan pengharaman.
Maka ia berkata, "Tidak boleh berjalan dengan sebelah sandal, kecuati
jika putus kaki sebelah."2$ Ketika ia ditanya tentang orang yang putus tari
depan sandalnyazeT ketika orang itu berjalan di suatu tanah yang sangat
panas, dengan pertanyaan sebagai berikut, 'Apakah ia berjalan di atas
2s Lihat lbnu Hajar, Al-Fath ... op.cit, (10/307).
2s I bnu Abdul Barr, Al- lstidzkar . -. op. cit., (261 1 94).
2s Al-Qairawanl Al-Jami', hlm. 257.
n7 Syasa'adalah trali sandal. Uhat Fairuz Abadi, AhQamus Al-Muhirth, hlm. g47.
t251 - asgabbuh yang oilarung balam tifo$ rlam
tanah itu hingga sempat memperbaikinya?" Dijawab, "Tidak. Akan tetapi,
hendaknya ia melepaskan keduanya atau untuk berhenti berjalan."2se
Para ahli ilmu menetapkan dalil-dalil sebagai berikut:
1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
|-;' :*ti).\i tAi-J., ::t, F e.{l;l..ill
'Tidak boleh salah seorang dari kalian brjalan dengan seblah san-
dal. Hendaknya ia melepaskan keduanya aau memakai kduanya."D
Di dalam riwayat yang lain disebutkan,
t1;-.6ai+
" Hendabtya ia melepaskan keduanya."
2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, 'Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu Alaihi un fullarn bersabda,
tlA;.;L a?\i q*ru |€tl[:'g;:uiy
'lika ali sandal salah seonng dari kalian putus, tidak boleh baginya
berjalan dengan sebelah sandalnya hingga dia memperfuikinya'.'N
3. Dari Jabir RadhigallahuAnhu, ia berkata, 'Rasulullah ShallallahuAlaihi
waSallam bersabda,
::0 € * n,,$5 U At u \i'€ fi'4'42r st
st r';L €rF-\ ) r'^4'€*'- rb
- lika ali sandal sann ,eormg dari kalian putus atau barangsiapa yang
putus tali sandalnya, ia tidak boleh brjalan dengan sebelah sandal
hingga ia memperbaiki ali sandalnya in. Tidak boleh juga berjalan
dengan sebelah sepatu."nl
2$ lbnu Hajar, Fath... op.cit.,(1013'11|
2* Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab "La Yamsyi fii Na'l Wahidah", hadits
no. 5518, (5122001; dan Shahih Muslim, Kitab Al-Libas, Bab "lstihbabu Lubsi An-Ni'alfii
Al-Yumna Awwalan wa Karahatu Al-Masy'yifii Na'lin Wahidah", hadits no. 2097, 13113221.
m Kedua riwayat itu pada Muslim di tempat yang telah disebutkan di atas",
hadits no. 2097, 2098, (31'1322).
N1 Shahih Muslim, Krtab Al-Libas, Bab "An-Nahyu 'an lsytimal Ash-Shamma
- -tab m: r:rsyafiub l; trUug takaian, wtnata\A046, 51 3
Mereka berkata, "Semua dalildi atas dibawa kepada makna makruh
dan larangan didalamnya adalah larangan yang bertujuan sebagai petun-
juk dan pendidikan.3oz Mereka menetapkan alasan-alasan penetapan
hukum tersebutyang disebutkan oleh sebagian darimereka ketika menge-
tengahkan dalil.s3 Di antaranya:
lbnu Al-Arabi berkata, "Dikatakan, Alasan dalam hal itu adalah
karena yang demikian itu adalah cara berjalan syetan. Dikatakan pula
bahwa yang demikian itu keluar dari keseimbangan."3s
Al-Baihaqi berkata, 'Makruh dalam halitu karena gaya itu dijadikan
kebanggaan sehingga banyak mata yang tertuju kepada gayanya itu.r'305
Dikatakan pula, "Karena gayanya itu adalah menjadikan peman-
dangan yang buruk dan bertentangan dengan cara yang tenang. Juga
karena orang yang mengenakan sebelah sandal akan menjadikan salah
satu kakinya lebih tinggi dariyang lain sehingga menyulitkannya berjalan.
Bahkan bisa jadi menjadikannya tergelincir.'ffi Dikatakan pula bahwa gaya
yang demikian itu akan menyibukkan harinya dan memberikan pengaruh
kepadanya berupa munculnya khayalan dan keguncangan dalam hati."il7
Pendapat yang paling lslot -Wallahu Ta' ala A' lam- adalah haram
hukumnya berjalan dengan sebelah sandal kecuali karena keadaan darurat
karena beberapa hal. Pertama, karena larangan itu telah baku dan jelas
berkenaan dengan perkara ini.wKedua, hadits-hadits tersebut telah me-
nyebutkan dengan jelas melarang hal itu bahkan ketika salah satunya
rusak dan memerlukan perbaikan. Prinsip dasarnya adalah bahwa hukum
makruh bisa hilang ketika ada kepentingan lain.3@ Telah diketahui bahwa
wa Al-lhtiba fiiTsaub Wahid", hadits no. 2099, (311322).
m Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit, (261194|,; An-Nawawi, Syarh ...
op.cit., (14175); dan lain-lain.
s3 Di antara mereka yang mengetengahkan alasan itu ketika sedang menge-
utengahkan dalil-dalil adalah As-Safarini, op.cit., (2/300).
lbnu Hajar, Fath... op.cit.,(1013'l0).
w
tbid. Syarh ... loc.cit
s An-Nawawi,
ss7 As-Safarini, loc, cit.
Di antiara yang berpendapat demikian adalah Ash-Shan'ani Rahimahullah
dalam syarahnya untuk kitab Bulugh Al-Manm.la berkata, 'Larangan nyata berJalan
dengan sebelah sandal adalah menunjukkan haram hukumnya. Lihat Subul As-
Salam, (413141.
m Lihat Kaidah 6, hlm. 100.
51 4 - r asyabbrb Wrg oilaruug MIam fr$ rcb^
kepentingan yang terbayang dalam hal ini adalah: putus atau rusaknya
salah satu dari dua sand al. Rasululla h S lallallahu Alaihi waSallam tidak
membolehkan manusia tetap mengenakan sebelah sandal hingga sandal
pasangannya itu sudah menjadi bagus. Malik Rahdm ahullahberpendapat
bahwa tidak boleh pula seseorang berdiri dengan mengenakan sebelah
sandal. Ia berkata, "salah satu sandal itu harus ditanggalkan pula dan
berhentijika ia sedang berada di tanah yang sangat panas dan semisalnya
di mana sangat sulit berjalan di sana hingga ia selesai memperbaikinya
atau bisa berjalan dengan tanpa alas kaki.r3r0
Memberikan isyarat kepada makna yang sama adalah lbnu Hajar
Rahimahullah di dalam kitabnya Al Fath.3tt
Pembahasan ini bisa masuk ke dalam objek pembahasan tasyab-
buh dari satu sisi sebagaimana disebutkan oleh sebagian para urama
bahwa hikmah pelarangan pemakaian sebelah sandal karena daram sikap
seperti itu terdapat tasyabbuh kepada syetan.3r2
Sebagian kecil dari para pengikut mazhab Hanbali menyebutkan
bahwa boleh berjalan dengan mengenakan sebelah sandaljika ia sedang
memperbaiki sandal yang sebelahnya, dan tidak makruh hukumnya.3t3
Mereka mengetengahkan dalilyang muncul dariAisyah, dariAli dan dari
lbnu umar berkenaan dengan masalah itu. Yang benar adalah bahwa
tidak halyang baku yang benar-benar sampai kepada beliau.
lbnu Abdul Barr berkata, "Para ahli ilmu tidak mengambil pendapat
Aisyah berkenaan dengan haldiatas, lalu berkata, "Telah muncutdariAli
dan lbnu umar bahwa keduanya melakukan hal itu seakan-akan keduanya
membawa larangan kepada makna tanzih. Atau ketika keduanya me-
lakukan halitu adalah hanya melakukannya sebentaratau keduanya belum
mengetahui adanya larangan. "'3r4
!S rt rl.
3to Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit,(1013111.
ttl tbid., (10/310).
3r2 Llhat ungkapan lbnu Al-Arabi dahm kitab Fath ALfun ...'lbld.
3r3 Meroka adalah Al-Qadhi dan lbnu Aqit. Lihat As-Safarini, toc.cit
rr4 fbnu Abdul Ban, Ahlstidzkar... op.cit., (26/i9S196). Dan lihat masatah lni
pula dalam kitab lbnu Hajar,loc.cit.
- -ub ut: rasgaffi ni Bfung tukaia.r, wr$iawrrrA0a6, 51 5
?",*t'*r,t0
larangan Menllenalon Loncen$ dan lhlung
Pembahasan ini mencalmp dua subbahasan:
A. Hukum Mengenakan Lonceng
Mayoritas ahli ilmu berpendapatbahwa mengenakan lonceng adalah
makruh hukumnya. lni adalah pendapat para pengikut mazhab fvlalik,3r5
Syafi'i,sto dan Hanbali.3rT
Mereka berdalil dengan dalil-dalil berikut:
1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
',; !ir-j? ri+ ad:;*>Clt i;*4i I
' Malaikat tidak mendampingi reketompok "ory Orr- suatuperialanan
yang di tengah
mereka aniing atau lonceng."3tg
2. Dari Abu Hurairah Radhigallahu futhu bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
guullr 4tT'r'ii
' Lonceng adalah serul ing-sera ling syetan."'te
Yang jelas -Wallahu Tb'ala lilam- bahwa mengenakan lonceng
adalah haram hukumnya karena aPa yang telah disebutkan dari kedua
hadits diatas. Karena keengganan Para malaikat mendampingi sekelom-
pok orang yang didalam perjalananyang di antara mereka lonceng mem-
berikan kesan kepada hukum yang sedemikian itu. ltu adalah bentuk
hukuman yang setimpal bagi pelaku perbuatan haram dan bukan per-
buatanyang makruh hularmnya. lniadalah sama dengan aPayang datang
3r5 Lihat Al-eairawani , AhJami',272; An-Nawawi, Syarh ... op.clt, (14/95), dl
mana An-Nawawi menulis bahwa Malik berpendapat bahwa hukumnya adalah
makruh yang harus dilauhi (nakruh bnzihl.
3'6 Lihat An-Nawawi, Syarh ... op.clt, (14195).
3r7 Lihat lbnu Muflih, Al-Adab... op.cit., (3/153)'
t1E Shahih Muslim, Kitab AhLibas. Bab "Karahah Al-Kalbi wa Al-Jarasi fii As-
Safaf, hadits no. 21'13, (3/1332).
tts lbid., hadits no.21'14.
65 1 - T asgahbub gnng Dilarung Mlnm tik$ *lam
dari Rasulullah Sha/lallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits Abu Thalhah
sebagaiberikut,
* !i', \') -K ^a t*,;.3U.i' F:t'
i^i.rru* Para malaikat tidak masuk rumah yang di
aaa aniing atau
gambar."32o
An-Nawawi ketika mengomentari hadits ini berkata, "para ulama
berkata, "Sebab keengganan mereka dengan rumah yang di dalamnya
gambar yang menggambarkan kejahatan yang sangat keji. Dalam gambar
seperti itu juga tandingan bagi ciptaan Allah ra'ala dan sebagian lain
menggambarkan suatu sesembahan yang bisa disembah selain Allah
Ta'ala. Sedangkan keengganan mereka dari rumah yang di dalamnya
anjing karena anjing banyak makan sesuatu yang najis. Dan juga karena
sebagian dari anjing-anjing itu dinamakan syetan, sebagaimana disebutkan
dalam suatu hadits, sedangkan para malaikat adalah lawan syetan. Juga
karena bau anjing yang sangat tidak sedap dan para malaikat sangat
membenci bau yang tidak sedap. Juga karena anjing adalah binatang
yang terlarang memilikinya, dan orang yang memilikinya dihukum dengan
keengganan para malaikat masuk rumahnya, enggan shalat di datamnya,
enggan beristighfar untuknya, memberikan berkah untuknya dan didalam
rumahnya dan enggap mengatasi gangguan syetan."32r Juga adanya
berita dari Rasu lullah Sha llallahu Alathi u:a Sallam bahwa lonceng adalah
seruling-seruling syetan yang harus sangat dijauhi. sudah dijelaskan dalam
tata aturan di atas bahwa pada prinsipnya apa-apa yang telah dijelaskan
oleh nash dalil bahwa sesuatu tersebut adalah bagian dari sifat-sifat syetan
dan perbuatannya adalah haram hukumnya.322
Hal di atas diperkuat oleh apa yang datang dariAisyah Radhigallahu
Anlla dan apa yang datang dari Omar bin Al-Khaththab Radhigaltahu
Anhu berkenaan dengan perkara itu, bahwa dari budak perempuan Abdur-
rahm a n bin Hibban Al-Ansha ri dari Aisyah Ra dhig allahu Anh:rl ia berkata,
32o Shahih Al-Bukhari, Ktab Al-Libas, Bab "La Tadkhulu Al-Malaikatu baitran fihi
Shurah", darijalur lbnu Umar, hadits no. 5615, (512222); dan Shahih Mustim, Kitab Al-
Libas wa Az-Zinah, Bab Tahrimu Tashwiri Shurah Al*layawan", hadits no. 2106, (3/
1326), dengan lafazh dari Muslim.
32r An-Nawawi, Asy-Syarh ... op.cit., 11 41841.
,az Lihat Pembahasan 4, hlm. 126.
-*ub w rauigtfiuh u sran1 tokoioa teiTawq rroil, 517
"Bahwa ketika ia (budak perempuan Abdurrahman bin Hayyan bernama
Bunanah, pent.) berada di dalam rumahnya (Aisyah) tiba-tiba dimasuklon
ke dalam rumahnya itu seorang anak gadis yang padanya tergantung
loncengJonceng yang dibunyikan.Itlaka ia (Aiqnh) berkata, lJangan kalian
masukkan ia ke delotku kecualijika kalian memotong lonceng-lonceng
itu'. la juga berkata, Aku telah mendengar Rasulullah Slallallahu Alaihi
wahllam bersabda,
r"y'{...#yU;x)*
'Pan malaikat tidak akan masuk suatu runah yang di dalamnya tedapat
Iotrceng'."w
Dari Amir bin Abdullah bin Az-Zubaifu RadhigallahuAnhurn bahwa
budak perempuan mereka pergidengan anak perempuan Az-Zubair me-
nuju kepada Omar bin Al-Khaththab Radhiyallahu,\nhu dan pada kakinya
beberapa buah lonceng yang akhimya diputuskan oleh UmarRadhigallahu
Anhu lalu ia berkata, 'Aku telah mendengar Rasulullah ShallallahuAlaihi
waSallam bersabda,
i;L,b;, "V-tLt
" Sesungguhnya pada setiap lonceng terdapat syetan."32s
Mengenakan lonceng juga merupakan tindakan orang-orang
jahiliyah yang sangat tercela.326 Dari Abu Basyir Al-Anshari bahwa suatu
ketilo ia bersama Rasulullah Sha llallahu Alaihi wa Sallam dalam sebagian
bepergiannya. Maka Rasulullah Stallallahu Alathi wa Sallam mengutus
seorang utusan,
e3 Sunan Abu Dawud, Ktab Al-Khatam, Bab "Ma Ja'a fii Al-Jalajil", hadits no.
4231, (41921. Hadits tersebut juga terdapat pada Ahmad. Lihat As-Sa'ali, op.cit., Bab
'Ma Ja'a fii Anna Al-Malaikata la Tadkhulu Baitan fihi Jarasun au Juljulun", (1712821.
Al-Banna As-Sa'ati berkata, "Abu Dawud dan Al-Mundziri bersikap diam terhadap
hadits itu". Hadits tersebut memiliki hadits penguat dari hadits Abu Hurairah diriwayat-
kan oleh Ahmad, Muslim dan Tirmidzi.
ea la adalah Amir bin Abdullah bin Az-Zubair bin Al-Awwam seorang yang te-
percaya dan ahli ibadah dari ke-4. la wafat tahun 121 H. Lihat At-Taqrib,lbnu Hajar,
biografi 3099, hlm. 288.
es Sunan Abu Dawud, op.cit., hadits no. 4230, (41921.
uo Banyak orang yang menuliskan demikian. Di antaranya adalah Al-Ghazi
dalam kitabnya, Khusnu At-Tanabbuh, (6/59A).
5 1 8 - rasya66uh WW Di[arung balam tklt tslam
'.*iyr iiN')i li qit\;i !, e.'#3 \
"langan sekali-kali kamu biarkan ada kalung dari ali aau kalung di
Ieher seekor una melainkan harus diputuskan."3zT
Dalam riwayat yang lain disebutkan, -
goy/ * €u'i\': i:Vi;>s'";;'t
" Iangan sekali-kali kamu biarkan ada kalung dari ali atau lonceng
tetap brada di leher seekor unta melainkan harus diputuskan."32B
B. Hukum Mengenakan Kalung
Setiap kalung yang terpasang dileher manusia atau di leher binatang
tidak terlepas dari dua hal: Bisa jadi dipakai untuk perhiasan atau semisal-
nya, untuk dipakai untuk menangkalain 'guna-guna', atau untuk suatu
upaya penyembuhan, dan lain-lainnya.
Sedangkan keadaan pertama maka hukumnya adalah mubah
menurut prinsip dasarnya dengan memperhatikan patokan-patokan dalam
hal berhias. Sedangkan keadaan kedua, maka sebuah kalung atau tali
tidak akan lepas dari salah satu dari dua hal pula: bisa jadi mengandung
ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karim, doa-doa, dan ruqyah syar'iah, atau tidak
demikian keadaannya.
Pada pembahasan berikut kita akan mendalami dua keadaan itu
dengan cara menjelaskan pertentangan antara keduanya dengan dalil-
dalil dan upaya tarjih.lnsya Allah.
327 Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Jihad Bab 'Ma Qila fii Al-Jarasi wa Nahwihi fii
Anaqi Al-lbil", hadits no. 2843, (3/1094); dan Shahih Muslim, Kitab Al-Libas, Bab
"Karaharu Qaladah Al-Watar fii Raqabah Al-Ba'ir", hadits no. 2115, (3/1333).
32s Lalazh ini ditakhrij Ad-Daruquthni dari jalur Utsman bin Umar dan dimuncul-
kan oleh Al-Hafizh dalam kitabnya, Al-Fath, dan ia bersikap diam terhadap lafazh itu.
la menganggapnya berderajat hasan. Lihat lbnu Hgar, Fath ... op.cit.,(61142).
- -tab ttt tuytfit$ dl t:drr"g rzksian, ter$vun An46, 51 9
7. Berbagat Kalungf2e dan Talr-tallsso yang Sama Sekall Tldak
Mengandung Sedlktt pun Ayat-ayqt Al-Qur'an, Doa-doa, dan
Ruqyah Syor'loh
Para ahli ilmu berbeda pendapat berkenaan dengan hukumnya
sebagaimana berikut ini:
Pendapat /. Hal itu makruh hukumnya. Di antara mereka adalah
Imam Malik berkenaan dengan tali busur saja.33r Ini juga merupakan
pendapat para pengikut mazhab Syag'psz dan Hanbali.333
Pendapat lL Hal itu haram hukumnya. lni adalah ucapan lbnu Abdul
Barr.3v Sedangkan Muhammad bin Al-Hasan mengkhususkan pelarangan
pada tali busur saja.335 Pendapat ini banyak didukung oleh para ulama
terkemudian.3s
Pendapat lll. Hal itu dilarang jika tidak ada kepentingan dan boleh
jika ada kepentingan. lni adalah pendapat yang dinukil dari Aisyah
Radhiyallahu Anha. Juga dinukil dari Ahmad.337
Pendapat M. Boleh secara mutlak, baik dengan adanya kepentingan
atau dengan tidak ada kepentingan.3s
1. Mereka yang berpendapat bahwa makruh hukumnya mengetengahkan
dalil-dalil sebagai berikut:
a. DariAbu BasyirAl-Anshari RadhigallahuAnhu bahwa suatu ketika
ia bersama dengan Rasulullah Sha llallahu Alaihi wa Sallarn dalam
suatu perjalanan beliau. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
w Qalaidbentuk jamak dari kata qiladah, yaitu suatu pefiiasan yang dipakai
di leher. Lihat Al-Fairuz Abadi, Al-Qamus Al-Muhith, hlm. 398.
N Autaradalah bentuk jamak dari kala watar; yaltu tali pada busur yang biasa
dipasang di leher binatang untuk menolak ain.Lihallbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(611421.
st Lihat Al-Qairawani, Al-Jami' ... op.cit., hlm. 272.
3r Lihat lbnu Hajar, Al-Fath ... op.cit., (611421.
333 Lihat lbnu Muflih, Al-Adab... op.cit., (3/153).
3s Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit., (26/363).
3$ Lihat lbnu Hajar, Al-Fath ... op.cit. Hal itu dengan alasan bahwa dikhawa-
tirkan jika binatang tercekik karenanya ketika merebahkan diri dengan cepat.
336 lni adalah ungkapan Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul
Wahhab, penulis kilab TaisirAl-Aziz Al-Hamid. Lihat dalam kitab At-Taisir; (164). Juga
diungkapkan oleh Hafizh Al-Hakami dalam kitabnya, Ma'arij Al-Qabul, (11470),
Percetakan As-Salafiah, Mesir. Dan juga diperkuat oleh Abdul Aziz bin Baaz dalam
kitabnya Al-Fatawa yang dicetak oleh majalah Ad-Dakwah, (1121).
s337 Lihat lbnu Abdul Ban, Ahlstidzkar... op.cit., (26/363-364).
Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(611421.
520 - r asgahb"b yog Ditarang balam tihb rlam
Sallam mengutus seorang utusan,
!$;iti,;iinuz")i z J ;.u': G'#t
fiti;>v
-,t" langan sekali-kali irr** uiu *rtrng ari ui ,nu katung di
leher seekor unta melainkan harus diputuskan."3se
b. Dari Ruwaifi' bin Tsabit Radhigallahu Anhu berkata, "Rasulullah
ShaUallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
M "ri,'o+J_3]e U ,u^6f;Ju.:rur,;^l if.'o:6.-,.q,'b.y,Y.',UP',..'.JiSit-o7r),tA.g7it+, rs,i.rF.,4i,,.eto'.-litj:,rt1Ut,.S
" Wahai Ruwaifi'! Kemungkinan hidupmu akan panjang sepeninggalku,
maka kabarkan kepada semua manusia bahwa siapa orang yang
mengeritingkan jenggotnya,l$ atau mengenakan kli busur, atau ber-
istinja dengan kotoran binatang, aau dengan tulang, maka sesungguh-
nya Muhammad furlepas diri darinya."3al
iy,yl,* *;c. DariAbdullah bin Akim dengan derajat marfu', beliau bersabda,
" Barangsiapa menggantungkan sesuatu pada dirinya, maka ia dibiarkan
dengan sesuatu itu."Y2
33s Shahih AhBukhari, Kitab AlJihad, Bab 'Ma Qila fii Al-Jarasi wa Nahwihi fii
Anaqi Al-lbil", hadits no. 2843, (3/1094); dan Shahih Muslim, Kbb N-Libas, Bab
"Karaharu Qaladah Al-Watar fii Raqabah Al-Ba'ir", hadits no. 2115, (3/1333).
w Aqada lihyatahu = melakukan suatu proses hingga jenggotnya menjadi
bergelombang dan keriting. Dikatakan bahwa mereka melakukan prcses menjadi-
kannya bergelombang dalam peperangan. Maka mereka diperintahkan untuk mem-
biarkan lepas. Mereka melakukan hal itu adalah karena rasa takabbur dan ujub.
Lihat lbnu Al-Atsir, op.cit., 1312701.
s1 Musnad lmam Ahmad. Lihat As-Sa'ali, op.cit , Bab "Ma Ja'a fii Ats-Tsulatsiyaf ,
(191282); Sunan Abu Dawud, Ktab Ath-Thaharah, Bab "Ma Yunha Anhu an Yustanja
Bihi", hadits no. 36, ('tl9). Dalam Ktab Al-Adab Asy-Syar'iayah, (3/54), lbnu Muflih
berkata, "Matan hadits ini adalah shahih. Sanad-sanad hadits yang tiga ini adalah
jaWid".Hal itu setelah memunculkan jalur-jalur hadits tersebut dan disitimya bahwa
hadits itu adalah salah satu dari dalil-dalil yang menunjukkan hukum makruh.
342 Musnad lmamAhmad, LihatAs-Sa'ali, op.cit., Bab "Ucapannya,'Man bllaqa
Tamimah Fala Atammallahu Lahu'."(171188); dan Sunan At-Tirmidzi, Abwab: Ath-Thibb,
Bab "Ma Ja'a fii Karahiyati At-Ta'liq", hadits no. 2072, (41403). Al-Banna As-Sa'ati
berkata dalam kitabnya Al-Fath Ar-Rabbani, (171188), "Hadits ini derajatnya tidak
kurang dari hasan apalagi hadits ini memiliki hadits-hadits lain yang mendukungnya".
- -846 In r4$Ju6bubliyrugtaQaian,nerfiuan, Abab, 521
d. Dari Uqbah bin Amir Radhigallahu Anhu berkata, 'Aku pernah
mend en g a r Rasu I ulla h Slallallahu Al aihi wa S allam bersabda,
** *Vl^S itr * r r>\t AeI,* J':, i' hr iti
" Barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka Altah tidak akan mem-
brikan kesempurnaan baginya; dan barangsiapa mengalungkan cang-
kang kerang, maka Allah tidak akan menjaganya."v3
Akan tetapi, yang jelas mereka membawa dalil-dalil ini kepada
makna hukum makruh.
2. Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa hukumnya adalah haram,
mengetengahkan dalil-dalil tersebut di atas juga dan dalil-dalilyang lain,
di antaranya:
a. Sabda Rasulullah S hallallahu Alaihi wa Sallam sebagaima na dalam
hadits Uqbah bin Amir RadhigallahuAnhu,
l)7ii**A
'Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah furbuat syirik.'3|
b. Sabda beliau yang diriwayatkan oleh lbnu Mas'ud Radhigallahu
Anhu,
!'; drhgt'.6$ jl,Lt
" Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan susuk adalah kemusyrikan."vs
c. Mereka berkata, Uika orang yang mengikutinya menyangka bahwa
benda tersebut bisa menolakarn (sambet) maka ia telah menyangka
Yt Musnad lmam Ahmad, Lihat Al-Fath Ar-Rabbani, Bab "Ucapannya: Man
Allaqa Tamimsh ...", (171187). Al-Haitsami, dalam kitab Majma' Az-Zawaid (5/106
berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya'la, dan Ath-Thabrani. Para perawinya
adalah tsiqaf. Dikeluarkan sebagai dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa
uhukumnya adalah makruh oleh lbnu Abdul Ban dalam kitab Al-tstidzkaC (261363).
Musnad lmam Ahmad, Lihat As-Sa'ali, op.cit., Bab "Man 'Allaqa Tamimah
..., (171188). Al-Haitsami, dalam kitab Majma'Az-Zawaid, (5/106) berkata,
'Diriwayatkan Ahmad, Abu Ya'la, dan Ath-Thabrani. Para perawiAhmad adalah tsiqaf .
3as Musnad lmam Ahmad, LihatAs-Sa'ali, op.cit., Bab "Sabdanya: lnna Ar-Ruqa
wa At-Tamaimwa At-Tlwalah Syirkun", (171186). Dan Sunan Abu Dawud, Kitab Ath-
Thibb, Bab "Fii Ta'liqi At-Tamaim", hadits no. 3883, (4/9); Sunan lbnu Majah, Kitab
Ath-Thibb, Bab "Fii Ta'liqi At-Tamaim", hadits no. 3530, (2/1166), At-Hakim datam
kitabnya op.cit., (41418).la berkata, "lni adalah hadits shahih menurut syarat Asy-
Syaikhani dan keduanya tidak mentakhrijnya. Hal itu ditetapkan oleh Adz-Dzahabi.
522 - r ayfiuh gang Dilarang talam rik./ rclam
bahwa ia mampu menolak takdir. Yang demikian itu tidak boleh
diyakini.36 Mereka membawa dalil-dalil tersebut kepada makna
pengharaman karena jelasnya makna itu di dalamnya.
Sedangkan mereka yang membolehkannya setelah munculnya
kepentingan dan bala, dan mereka yang membolehkannya baik setelah
atau sebelum adanya bala, maka Penulis tidak menemukan dalil yang
mendukung pendapat itu.
Pendapat yang paling lauat -Wallahu Ta'ala Allam- adalah bahwa
hukum mengenakan kalung, tali busur, dan sejenisnya dengan tujuan me-
nolak marabahaya, berupa afn atau penyakit, sebelum atau sesudah ter-
serang olehnya, adalah haram hukumnya. Hal itu karena jelasnya nash-
nash berkenaan dengan hal itu. Bahkan nash-nash daliltersebut memberi-
kan pengertian bahwa perbuatan semacam itu termasuk dosa besar
seba gai ma na d inam a kan oleh Nabi Shalla llahu Alaihi wa Sal lam bahwa
perbuatan tersebut adalah syirik dan beliau berlepas diri dari pelakunya.
Pelaku perbuatan sedemikian itu bergantung kepada sebab-sebab yang
tidak memberikan manfaat dan tidak pula memberikan bahaya dan tidak
dijadikan oleh Allah Ta'ala sebagai sebab-sebab yang syar'i atau sejalan
dengan takdir dalam hal menanggulangi bala.
Perbuatan sedemikian itu adalah perbuatan yang benar-benar khu-
sus perbuatan orang-orang jahiliyah yang datang lslam membatalkan
semua itu dan mencelanya.
Penulis telah membahasnya ketika mengkaji masalah yang sama
dalam buku-buku dari mazhab-mazhab tentang penyertaan penjelasan
(qarinah) yang karenanya hukum makruh dibawa kepada makna hukum
malcruh tahrim (yang mengarah kepada hukum haram). Hal itu karena
kejelasan nash-nash. Akan tetapi, Penulis tidak menemukannya. Sebagian
mereka telah dengan sengaja bermaksud pengharaman, demikian sebe-
narnya. Wallahu Ta'ala Al lam. Akan tetapi, jika kalu n g-kalung itu men gan-
dung perkara-perkara syirik atau alat-alat yang berkaitan dengan sihir, itu
haram mutlak hukumnya.
3ao Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(61142).
- -Bab fir: Tasyafiuh li Nl*g pakaian, wr$iatan, riUb, 523
2. I{alung-kalung dan Jlmat-ttmat yang Terbuat darl Ayat-ayat
Al-Qur' an, Doa-doa, dan SeJenlsnya
Para ulama telah berbeda pendapat dalam hal ini sehingga muncul
dua pendapat:
Pendapat /. Hal itu tidak boleh. Pendapat ini dinukil dari jamaah
para shahabat. Di antara mereka adalah lbnu Mas'ud, Ibnu Abbas,
Abdullah bin Ukaim, dan sebagian dari kalangan para tabi'in juga sebagian
kalangan para ulama belakangan.
Pendapat I l. Boleh memakai jimat-jimat yang terbuat dari Al-Qu r' an,
doa-doa yang diperbolehkan, dan sejenisnya. lni adalah mazhab sebagian
para shahabat, seperti Aisyah Radhigallahu Anha, Abdullah bin Amr bin
Al-Ash, dan lain-lain.il7
1. Dalam pelarangan itu mereka berdalildengan dua buah dalil, yaitu:
a. Dalil-dalil yang disebutkan di atas dalam larangan jimat-jimat dan
kalung-kalung. Lebih dari itu dalil-dalil tersebut datang berbentuk
umum dalam larangan dengan tidak memperkecualikan sesuatu
apa pun sehingga dalil-dalil tersebut tetap pada sifat umumnya.3os
b. Merelo berkata, "Dilarang dalam rangka untukmembendung bahaya
syirik. Jelasnya adalah bahwa jika jimat-jimat dari Al-Qur'an atau
lainnya diperbolehkan, akan bercampur dengan jimat-jimat lain.
Sehingga permasalahannya menjadi rancu sehingga terbukalah
jalan kesyirikan dengan menggantungkan jimat apa pun jenisnya.
Membendung keburukan)rang bisa menggiring orang kepada kesyl-
rikan adalah kaidah yang paling agung yang dibawa oleh syariat."us
2. Sedangkan mereka yang membolehkannya berkata, "Dikiaskan ke-
pada ruqyah syariah yang sudah sangat dikenal dan bukan yang
digantungkan. Darisatu sisi, keduanya bisa saja mengandung ayat-
ayat Al-Qur'an, hadits-hadiB, doa-doa, dan semisalnya."s:o
s7 Lihat dua mazhab itu dalam Mushannaf lbnu Abu Syaibah, (7l3l4l: An-
Nafrawi Al-Maliki, Al-Fawakih Ad-Dawani, @4421; Masail Al-lmam Ahmad, dengan
riwayat anaknya, Abdullah, tahqiq oleh AliAl-Mahna, (3/13a5); Sulaiman Ati Syaikh,
Taisir Al-Aziz Al-Hamid, (168); Al-Hakami, Mabrij Al-Qabul, (11469), dan tain-tain.
sE Lihat Sulaiman AliAsy-Syaikh, TaisirAhAziz Al-Hamid, (168); dan Fatawa
lbnu Baazyang dicetak oleh majalah Ad-Dakwah, (1121).
sse Lihat AFHal,am| op.cit., (1/169); dan Fabwa lbtu fuaz, (112,11.
Lihat Sulaiman AliAsy-Syaikh, loc.cit.
524 - -rasgabb"h WWDitarangdatamfikdt ulam
Mereka yang melakukan pelarangan mengkiaskan kepada jimat-
jimat yang biasa digantungkan atas jimat-jimat yang tidak sedemikian itu
adalah karena adanya pembeda. Bagaimana bisa dikiaskan aPa-aPa yang
di dalamnya ada lembaran-lembaran kertas dan kulit yang digantungkan
kepada yang tidak demikian halnyaP"
Pend apat yang pal i n g lrr.:^al -Wallahu Ta'ala Al lam- adalah m azhab
mereka yang melarang hal-hal seperti itu. Hal itu karena dalil-dalilyang
telah mereka sebutkan.
Sedangkan pengkiasan pada ruqyah tidaklah benar karena adanya
pembeda sebagaimana telah disebutkan. Selain karena ruqyah syar'iah
itu sifat-sifatrnya telah demikian baku dari perbuatan RasulullahShallallahu
Alaihiwafullam, sedangkan sabdanya yang bertentangan dengan jimat-
jimat dan kalung-kalung yang biasa digantungkan tidaklah ada.
Orang yang memikirkan kenyataan banyakorang akan mengetahui
nilai penting dalam penutupan pintu ini, karena itulah materi kebenaran
itu sendiri. Yakni sebagai upaya menanggulangi kerusakan yang ditimbul-
kan oleh kesyirikan dan bercampur aduknya semua permasalahan disuatu
masa yang didalamnya menyebar kebodohan dan bid'ah. Dan di dalam
masa yang di dalamnya ilmu dan ittiba'menjadi sangat lemah di tengah-
tengah berbagai kelompok masyarakat Muslim. Hanya Allahlah sebagai
tempat memohon pertolongan.
Penulis telah menyajikan permasalahan ini dengan sangat ringkas
untuk menyempurnakan bahasan tentang kalung-kalung dan jimat-jimat
yang asalnya adalah dari perbuatan-perbuatan orang-orang jahiliyah yang
telah dibatalkan oleh lslam.
51 lbid.
- -tab m: riasyabbul1 bi tfrang pakaian, ver{nawn, Abab, S2S
?",An*,,t2
Apakah Membentuk Sorban Dllaran!?
Pembahasan ini mencakup dua subbahasan:
A. Definisi Sorban Shamma
Menurut ungkapan para ahli ilmu yang dimaksud dengan sorban
shamma adalah sorban yang tidak ada sedikit pun dari bagiannya yang
mencapai bawah dua cambang juga tidak memilikijambul. Jika ada bagian
dari sorban itu hingga di bawah dua cambang dan memilikijambul, atau
ada salah satu dari dua hal tersebut, itu bukan sorban sha mma'.3',z Sorban
shamma adalah salah satu pakaian orang ajam.
B. Hukum Membentuk Sorban
Kebanyakan para ahli ilmu dari para pengikut mazhab berpendapat
bahwa makruh hukum sorban slamma. Dalam har ini tak seorang pun
dari orang-orang terkenalyang mengingkari ha! itu.353
Dikatakan, "Hukum makruh itu khusus di kala berjihad atau sema-
camnya yang membutuhkan pemanjangan sorban hingga di bawah ke-
rongkongan."3il
Para ahli fikih berpendapat bahwa hukumnya makruh berdasarkan
dalil-dalil sebagai berikut:
- Sesungguhnya sorban shannma adalah pakaian orang-orang ajam.355
Bertasyabbuh kepada mereka berkenaan dengan pakaiannya makruh
hukumnya. Demikian yang mereka katakan.3$
u Lihat lbnu Muflih, op.cit, (3/529). Lihat puta As-Safarini, op.cit, @2521, di
mana dia menukil makna ini dari sebagian para pengikut mazhab Hanafi dan Al-
Qarafi Al-Maliki. Disebutkan pula bahwa pendapat ini adalah pendapat yang
sdikukuhkan oleh ungkapan para pengikut mazhab Hanbali.
Lihat Al-Baghdadi, Al-Ma'unah, (3t1t2gl; lbnu At-Haj, op.cit, (1/140); tbnu
Muflih, ibid., (111631.As-safarini menukit datam Ghidza'Al-Atbab, (u2?41;.para pengi-
kut mazhab Hanafi menegaskan hal itu. Mereka menukil hal itu dari esy-syami aJp
syami dalam As-sirah An-Nabawiyahbahwasyaikh para syaikhnya, At-Kamat bin At-
Hammam dalam Al-Musayarah, berkata, "Barangsiapa yang menganggap buruk ji-
ka sorban memanjang hingga ke bawah kerongkongan, maka ia telah mLri;aoiuni."
s Lihat lbnu Muflih, rbd.
s Lihat Al-Baghdadi, op.cit., (g/t723lt lbnu Muflih, ibid.; dan tain-tain.
s Lihat Al-BagMladii, ibid.;dan AFBahr.rti, op.at,(1 p7B).
526 -'r uy#"b WW Dildrang balan ildh rclalr-
- Bahwa pakaian tersebut adalah pakaian syetan, maka makruh hukum-
nya.3',7
- Apa yang diriwayatkan bahwa NabiShallallahu Alaihi wa Sallam,
lgyi* i+:]j3u,;t
* Memerinahlan untuk talahhi' dan melarang untuk iqti'ath'."158
Talahhi adalah menjadikan sebagian sorban sampai di bawah
cambang daniqti'athadalah mencukupkan dan tidak menjadikan dibawah
dagunya sedikit pun dari sorban itu.35e
Mereka berkata, "HadiB itu dibawa kepada makna makruh dan
bukan menunjukkan hukum haram."
Sedangkan orang yang mengkhususkan hal itu ketika dalam jihad
atau semisalnya, memberikan alasan bahwa anak-anak orang yang ber-
hijrah dan orang'orang Anshar telah menukil dari mereka bahwa mereka
meninggalkannya dan membawa makna makruh kepada sikap mening-
galkan untuk memanjangkan sorban hingga di bawah cambang bagi
orang-orang yang berjihad atau semisalnya karena suatu kepentingan.3@
Pendapat yang pali ng l$at -Wallahu Ta' ala Al lam- adalah mazhab
jumhur. lni adalah jalan kaum Muslimin dan tradisi mereka. As'Safarayinist
berkata, "Para ulama kita berkata, 'Sorban yang menjuntai hingga di bawah
$7 Lihat Al-Baghdadi, ibid.;lbnu Al-Haj, op.cit, (1/140); As-Safarini, op.cit, (21
s251); dan Asy-Syaukani, op.cit., (?i109!..
Dikatakan Ath-Thurthusyi dalam kitabnya, AhHawadits wa Al-Bida':'Diriwa-
yatkan Abu Bakar Muhammad bin Yahya Ash-Shauli dalam Gharib Al-Hadib bahwa
Nabi Shatlallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan talahhi' dan melarang igtfad.'
Lihat Abu Bakar Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusyi. AhHawadits wa Al-Bida',
Tahqiq Ali Hasan Abdul Hamid, (Ad-Damman: Daar lbnu Al-Jauzi, cet. l, 1411 H), hlm.
72. Penulis tidak menemukan hadits itu dalam kitab-kitab hadits. Wallahu Tabla
sAlam.
Lihat lbnu Al-Atsir, op.cit., (4/88).
m Lihat lbnu Muflih, op.cit., (1/163).
sr Muhammad bin Salim bin Sulaiman As-Safarini. Dilahi*an tahun 1114 H di
Nablus. la adalah seorang pengikut mazhab Hanbali yang belakangan. la adalah
salah seorang yang menyerukan kepada kebaikan. la adalah orang yang banyak
ilmu dan karya. Di antara buku-bukunya adalah Syarh Tsulatsiyat Musnad Ahmad,
op.cit., dan lain-lainnya. la wafat pada tahun 1188 H. Lihat Muhammad Kamaluddin
Al-Ghazi, An-Na'h Al-Akmal li AshhabiAl-lmam Ahmad bin Hanbal, tahqiq oleh Muthi'
dan Nizar Abazhah, (Daar Al-Fikr, 1 402 Hl, hlm. 301 .
-yab nt: r.asgabbub O; *AaW paQaian, yerlliasan, Anah, .- 527
cambang adalah yang bagiannya dililitkan hingga di bawah kerongkongan
sekali atau dua kali lilitan, baik dengan jambul atau tidak. Yang demikian
ini adalah sorban kaum Muslimin dizaman beliau dan yang demikian ini
lebih rapat dan sulit terbuka'.362
Sedangkan hadits yang menunjukkan larangan iqti'ath dalam ke-
bakuannya masih perlu ditinjau kembali. Jika shahih tentu bias dimanfaat-
kan untuk menunjukkan bentuk istihbab'anjuran', sebagaimana akan
dijelaskan nanti.
Yang jelas bahwa sorban yang makruh hukum memakainya adalah
sorban yang tidak memenuhi dua sifat di atas, yakni memilikijambul atau
keadaannya memiliki kelebihan hingga dibawah kerongkongan. Jika sudah
terpenuhisalah satu dari keduanya maka kebanyakan para ahliilmu meng-
anggap tidak makruh lagi. Ini adalah pendapat yang dinukil dari keba-
nyakan mazhab.s3
Sebagaimana jelas kita ketahui bahwa tidak ada pertentangan
antara hadits ini dengan hadiB yang lalu dalam melarang iqti'ath sesuai
dengan keshahihannya. Jika ada jambulnya sekalipun tidak ada bagian
sorban yang menggantung hingga bawah kerongkongan, tidak makruh
hukumnya. Hal ini dapat dipahami dari beberapa hadits yang di dalamnya
tidak disebutkan adanya bagian sorban yang menjuntai sampai di bawah
kerongkongan. Di antaranya adalah hadits Abdurrahman bin Auf Radlrf-
gallahu Anhu yang di dalamnya disebutkan,
* r't',sx- ; q:'a *'t *\t,* lt J'--,,*
* Rasutullah Shatlattahu Alaihi wa Sallam mengenakan sorban kepada-
ku; dan beliau memanjangkan (kedua
di bagian depan dan
fulakang."364
Sedangkan apa yang dikatakan berkenaan dengan sorban yang di-
bentuk adalah pakaian syetan, karenanya menjadi makruh hukumnya,
adalah tidak shahih karena tidak ada dalil naqli yang shahih yang me-
nunjukkan hal itu. Iniadalah diantara halyang tidak baku menurut logika.
$2 As-Safarini, op.cit., (A2561.
s*3 tbid., (21252).
Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Libas, Bab "Al-Amaim", hadits no. 4079, (4/5S).
528 - 'rasgahbrh Wg oilarang balaw rikh ulam
Sedangkan memanjangkan jambul, ditinjau dari definisinya, maka
terjadi perbedaan pendapat di antara para ahli ilmu. Mayoritas mereka
menganjurkannya sedangkan sebagian dari mereka yang lain tidak ber-
pendapat demikian.365
Telah diketahui bahwa mayoritas orang ajam di zaman sekarang
ini sama sekali tidak mengenakan sorban. Bahkan demikian pula mayo-
ritas kaum Muslimin. Akan tetapi, bagi orang yang mengenakan sorban
dari kaum Muslimin harus lebih bersemangat untuk melaksanakan sunnah
dan meninggalkan segala sesuatuyang makruh berkenaan dengan sorban
yang telah dijelaskan oleh banyak nash. Jika tidak, sebagian yang berkaitan
dengan sorban telah hilang aspek yang sering menjadijalan tasyabbuh
kepada orang-orang ajam.
!f*!f
s Lihat Asy-syaukani, toc.cit; An-Nawawi, op.cit., (414571' dan lain-lain'
- -na6 ut rasyra66uly di t;lang takaian, wr$iaun, nah, 529
?tstl2
TENTANG ADAB
Pembahasan 1: Larangan untuk Tidak Membersihkan Pekarangan
Pembahasan 2: Larangan Membiarkan Rambut Kepala Semrawut seperti
Kepala Syetan
Pembahasan 3: Apakah Berbicara dengan Bahasa Asing Dilarang?
Pembahasan 4: larangan untuk Diam Mutlak
?"rt t *rrt
laran gan u ntu k ndak Mem bersl h kan Pekaran gans66
Sunnah hukum membersihkan pekarangan rumah, karena per-
buatan sedemikian itu termasuk bab kebersihan yang diperintahkan oleh
syariat. Juga dalam perbuatan itu terdapat unsur keselamatan dari berbagai
kerusakan yang disebabkan karena sikap membiarkan sampah-sampah
dan najis tetap berada di pekarangan rumah atau bahkan di dalamnya.
Hal itu karena apa yang telah diriwayatkan dari Nabi Shal/allahu Alaihi
wa Sallam dari Shalih dari Abu Hassan ia berkata, 'Aku pernah men-
dengar Sa'id bin Al-Musayyab berkata,
\t; ;'fit; ijr,itAU ry,:&st ;:-1 .nr 31
:x#urr :5\) ,€Ui - -Jv itrl r*t ;,'lljt1;
: Souoggunry, Atlah itu irru, dan suka kepada yang bagus; bersih
dan suka kebersihan; mulia dan suka kemuliaan; dermawan dan suka
kedermawanan; maka bersihkanlah -aku melihafiya berkata- pka-
ftngan lcalin ffmua. Dan jangnlah kalian bmsyabbuh dengan onng-
onng Yahudi.'
ffi Fina adalah bagian yang diluaskan di depan rumah. Bentuk jamaknya
adalah afniah. Lihat lbnu Al-Atsir, op.cit, (314771.
530 - rasya6b"h WW Dilarung balam rl<$ rclam
la berkata, 'Lalu kusampailcn halitu kepada Muhajir bin Misma4367
kemudian ia berkata, Amir bin Sa'd bin Abu Waqqash36s dari ayahnya
dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyampaikan hadits itu
kepadaku. Akan tetapi, ia mengatakan,
{4irrut D- tg
'Bersihkanlah pekarangan kalian semua'.n3@
Hadits inimasih dipersengketakan kebakuannya. Para ulama terbagi
dua kelompok: mereka yang menganggapnya dhaif dan hasan. Jika tidak
karena adanya perbedaan initentu akan dipahami sebagaidalilyang me-
nunjukkan hukum haram. Dengan demikian, siapa saja yang melakukan
hal itu karena mengikuti mereka, maka ia telah melakukan sesuatu yang
haram hukumnya karena ia telah bertasyabbuh kepada mereka dalam
perkara yang sangat tercela.3To
*trt
s' Muhajir bin Mismar Aa-Zahri. Meriwayatkan dari Amir bin Sa'd. Berkenaan
dengan hal itu ia dikatakan, "Bukan itu'. Diiinya disebut oleh lbnu Hibban termasuk
orang-orang yang tsiqat. Dia wafat tahun 105 H. Lihat lbnu Hajar, Tahdzib... op.cit,
biografiunoA.m7i2r 4b5in, (101288). Abu Waqqash Al-Madani. la meriwayatkan dari ayahnya,
Sa'd bin
Utsman, Al-Abbas, Abu A1ryub, dan lain-lain. la memiliki banyak hadits. lbnu Hibban
menyebut dirinya termasuk orang{rang yang tsiqat. la wafat tahun 104 H. Lihat lbnu
Ha1ar, ibid., biografi no. 3194, (5/58).
t0 DitakhriJTirmidzi dalam sunannya, Kitab Al-Adab, Bab "Ma Ja'a fii An-
Nadzafah", hadits no. 2799, (511111. Tirmidzi berkata, "lni adalah hadits gharib; dan
Khalid bin llyas menganggap ini hadits dhaif. Menurut Ath-Thabrani, dalam Al-Ausat
hadits ini memiliki hadits-hadits pendukung; demikian pula menurut Ad-Daulabi,
dalam Al-Kuna; dan Waqi' dalam Az-Zuhd. Sebagian dari para ulama mengangkat
derajat hadits ini menjadi hasan lighairihi. Lihat permasalahan ini lebih rinci dalam
Abdul Ghaffar, op.cit, hlm. 137-'138. Diantara mereka yang menjadikannya berderajat
hasan dengan adanya hadits-hadits pendu-kung adalah Syu'aib dan Abdul Qadir Al-
Arnauth dalam dua tahqiqnya untuk kitab Zaad Al-Mabd. Lihal Az-Zaad, (412791.
370 Dr. Muhammad Madahat Asy-Syaf i mengomentari hadits di atas berkata,
"Selamanya pekarangan itu wajib dibersihkan sehingga bebas dari sampah dan
kotoran, yaitu sesuatu yang memberikan bau menyengat dan tidak sedap akan men-
jadi sarang kuman, bakteri, lalat, nyamuk, dan tikus. Lalat akan menyebarkan kuman,
pada gilirannya akan menyebabkan timbulnya wabah seperti flu dalam usus, kera-
cunan makanan, demam, dan penyakit kulit. Sedangkan nyamuk akan menyebarkan
bakteri malaria dan leukemia. Tikus akan menyebarkan wabah pes dan seterusnya.
Lihat Dr. Muhammad Madahat Asy-Syaf i, Bahtsun min HadyiAhlslam wa At-Taftiah
Al-Jismiah, ilm. 22. Mencakup pula pembahasan-pembahasan dalam seminar para
ahlidasar-dasartarbiah lslamiyah yang diadakan di Universitas Ummu Al-Qura tahun
1400 H, dicetak Markaz Al-Buhuts (Pusat Kajian) Universitas Ummu Al-Qura.
rugffi - -wb nt
nr Rrtang eakaian, wr{nauqAi46, 53 1
?**n*,2
laranEan Memblarkan Rambut Kepala Semrawut
sepeltl Rambut Kepala Syetan
Disepakati bahwa hukumnya makruh jika seseorang membiarkan
rambut kepalanya atau jenggotnya semrawut tanpa disisir atau dibersih-
kan.37r Hal itu karena telah ada hadiB-hadiB sebagai berikut:
Apa yang telah ditakhrij oleh Malik dalam kitabnya, Al-Muwathtla
darijalur Atha bin YasaPT2 bahwa ia berkata,
i'4 rub,+.jtt .uf\r ;.G,y r'.Vi,-t-..-ii,C J'r, otE
,Ylst,P,Y) :i' Farbyt" (k,Llr ;:(,+ it i?,
;/1")t ;.ig *i ;t-oit,.,i; r*-rjf '1,' 'Ji |lw ,',^--',
\"u&'fk
*Suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang brada
di masjid. Masuklah seonng pria dengan kondisi rambut dan jenggomya
yang semrawut. Maka Rasulullah menunjuk kepadanya dengan tangan-
nya memerinakan kepadanya untuk segera keluar. Seakan-akan bliau
iru penuh perhatian kepada pengaturan rambut kepala dan jenggofiya.
Maka hal itu dilakukan oleh pria tersebut lalu kembali masuk masjid.
Maka Rasulullah bersabda,'Bulankah jka demikian lebih fuik daripada
seseorang dari kalian semua yang daang dengan keadaan rambut sem-
rawut seprti syetan? ^373
37' Lihat lbnu Abdul Barr, Al-lstidzkac (2718'll: An-Nawawi, Al-Majmu, (4146).
32 Atha' bin Yasar Al-Hilali, seorang budak Maimunah. Dia adalah seor.lng
yang tsiqah dan utama. la ahli memberi nasihat. la wafat tahun 94 H. Lihat lbnu Hajar,
At-Taqnb, biograft no. 4605, hlm. 392.
3tt Lihal Al-Muwaththa', Kbb Asy-Sya? Bab "lshlah Asy-Sya'f, (2J94:9). Hadits ini
berderajat maushul dengan jalur lain dari Jabir Radhiyallahu Anhu. Lihal Sunan Abu
Dawud, Ktab Al-Libas, Bab 'Fii Ghasli Ats-Tsaub wa Al-Khalqan", hadits no. 4062, (41
51). lbnu Abdul Ban dalam kitabnya Ahlstidzkan(271801, berkata, "Berkenaan dengan
penyerupaan kepada syetan adalah karena tergambar dalam hatl betapa buruknya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman berkenaan dengan pohon zaqqum,
'Mayangnya seperti kepala syeta*syetan'.' (Ash-Shaffat 65)
532' r asybbrh WW Dilarung balam rik/ rclam
Demikianlah maknanya . Wallahu Ta'ala lilam.
Hadits-hadits lain yang semakna dengan hadits ini cukup banyak
jumlahnya. Di antaranya adalah hadits Ismail bin Umalyah3Ta bahwa
Rasulullah Shallallahu Alathi wa Sallam sangat benci dengan keadaan
rambut yang semrawut.375
Yang demikian itu adalah makruh dan bukan haram, berbeda dengan
kaidah yang muncul berkenaan dengan tasyabbuh kepada syetan. Hal
itu karena munculnya hadits-hadits yang menunjukkan bahwa tidak wajib
meninggalkan keadaan rambutyang semrawut dengan pola hukum wajib.
Akan tetapi, menunjukkan anjuran. Diantara hadits-hadits itu adalah hadits
J abir Radhigallahu Anhu, ia berkata,
*>v) &'r+ **op ij:.tt,t.z . t''."'
6i:t hr it J"-reUl
t$,)Lj?.vL,si'r'),;:,*, k 6'r;&ik ti ilw
{y q _p-iu'r;-li; dt.f t1i:Jw a1;*,':
'Datang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada kami dan
beliau menyakikan seorang pria dengan rambut yang semrawut se-
hingga bliau bercaMa, 'Apakah onng ini tidak menemukan apa yang
bin unuk mengatur rambuatya'. Kemudian beliau menyakskan se-
onng pria lain yang mengenakan pakaian sangat kotor sehingga betiau
bersaMa, 'Apakah onng ini tidak mendapatkan apa yang bisa unuk
mencuci palaiannya'."376
Aspek yang menjadi penekanan dua hadits di atas adalah bahwa
NabiShallallahu Alaihi ua Sallam sangat mengingkari hal itu, namun
beliau tidak memerintahkan untuk merubahnya. Jika wajib hukumnya tentu
Nabi Shalla llahu Alaihi ua Sallam tida k aka n meninggalkan perintahnya
yang bersifat langsung dan tidak akan hanya cukup dengan menjauhi
perbuatan itu. Banyak hadits lain yang semakna dengan hadiB di atas.
*rt{.
371 lsmail bin Umayyah bin Amr bin Sa'id bin Al-Ash, seorang yang tsiqat dan
teguh. la wafat tahun 144 H. Lihat AbTaqrib,lbnu Hajar, biografi no.425 H, hlm. 106.
37s Lihat hadits itu dalam kitab lbnu Abdul Ban, At-lstidzkar... op.cit., (27179).
376 Sunan Abu Dawud, Kitab At-Libas, Bab "Fii Ghasli Ats-Tsaubi wa fii Al-
Khalqan", hadits no. 4062, (41511:. dan Sunan An-Nasa'i, Kitab Az-Zinah, Bab .Taskin
Asy-Sya'/, hadits no. 5251, (81567). Hadits ini adatah hadits shahih.
-tab rn: tasgahhrl1 A; nileug ruQaian, terl1iasan, AA46/ ... 5 3 3
?",,i"t^* 3
Apakah Berblcara dengan Bahasa AsinQ377 Dllarang3
Bahasa orang-orang asing ketika dipakai untuk berkomunikasi tidak
akan terlepas dari salah satu dari dua hall. Pertama, tidak bisa dipahami
maknanya atau bisa dipahamimaknanya. Jika tidakbisa dipahamimakna-
nya maka haram berbicara dengannya.378 Yang demikian itu karena di-
mungkinkan dipakai untuk membicarakan tentang kekafiran atau tentang
sesuatu yang haram dengan makna yang tak bisa dipahami. Yang demi-
kian itu juga akan memposisikan jiwa dalam posisi kepicikan, kebodohan,
dan ketololan. Karena perbuatan seperti itu adalah gaya orang yang tidak
berakal. Kedua,jika bahasa itu bisa dipahami maknanya, mayoritas ahli
ilmu pada prinsipnya memakuhkannya. lni adalah pendapat Malik,37s Asy-
Syaf i,380 Ahmad,38r dan sebagian dari para pengikut mazhab Hanafi.382
Dalil-dalil yang dimunculkan yang menunjukkan hukum tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Apa-apa yang muncul berupa atsaryang memberikan peringatan akan
hal itu, di antaranya:
a. Dari lbnu Umar Radhigallahu Anhuma berkata, "Rasulullah Shal-
lallahu Alaihi wa SaIIam bersabda,
or&t o r' i'ig,y^;u)&x yr'/urJJiJoi i;";
" Barangsiapa terampil berbahasa Arab hendaknya tidak berbicara
dengan bahasa asing karcna bisa mewariskan kemunatilcan."3Et
377 Al-Jauhari berkata, "Rathanah adalah berbicara dengan bahasa asing.
Sebagaimana jika engkau katakan rathanta lahu, rathaantan, wa raathantahu'iika
engkau berbicara menggunakan bahasa asing'.' Lihat Muhammad bin Abu Bakar Ar-
Razi, Mukhtar Ash-Shihhah, (Yayasan Ulum Al-Qur'an, 1405 H), hlm. 246-247.lbnu
Hajar berkata, "Dengan huruf ra dikasrahkan dan boleh pula dt-fathabkan. Ucapan ini
bukan dari bahasa Arab". Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(61184).
37E Syaikhul lslam lbnu Taimiyah Rahimahullah memberikan sinyal kepada
hukum yang dekat dengan hukum di atas dalam kitabnya, Ahlqtidha, (11464).
370 Lihat Al-Qairawani, Al-Jami' ... op.cit., hlm. 194.
s0 DinukildariSyaikhullslam lbnu Taimiyah, Al-lqtidha... op.cit., (1/465).
38r Lihat lbnu Muflih, op.cit., (314321.
3E2 Lihat ungkapan mereka dalam Syarhu FathiAl-Qadic (212841.
383 Ditakhrij oleh Al-Hakim, Al-Mustadrak ... op.cit., (41871. Dalamnya terdapat
Umar bin Harun seorang yang masuk kategori matruk.
534 - ras.gahhuh Vary Ditaruug dalan rik$ ulam
b. Dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu, ia berkata,
{,', } oa;; \\,1* o\* :6t"b,r'lrr ("
" Tidaklah seseorang berbicara dengan bahasa Persia, melainkan untuk
menipu, tiada lain telah sangat kurang finrwahnya."1&4
c. Apa yang muncul dariMuhammad bin Sa'ad bin Abu Waqqash3s5
bahwa ia pernah mendengar suatu kaum berbicara dengan bahasa
Persia. Maka ia berkata, "Bagaimana keadaan orang-orang Majusi
setelah para pengikut mazhab Hanafi."386
2. Mereka berkata, "Bahasa Arab adalah syiar Islam dan para pemeluknya.
Semua bahasa adalah syiaryang terbesar bagi masing-masing bangsa
yang mengistimewakan dirinya dengan bahasa itu." Asy-Syaf i ketika
memunculkan kebenciannya pada pemberian nama setiap sesuatu
dengan bahasa asing padahal memiliki nama dalam bahasa Arab
berkata, "Yang demikian itu karena bahasa yang dipilih oleh Allah Azza
toa Jalla adalah bahasa Arab. Allah menurunkan Kitab-Nya yang mulia
dengannya. Juga menjadikannya bahasa penutup para nabi, yaitu
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallarn. " Oleh sebab itu, kita menga-
takan, "Bagi setiap orang yang mampu belajar bahasa Arab untuk
mempelajarinya. Karena bahasa Arab adalah bahasa yang mula-mula
sekali. Maka harus menjadiyang pertama dicintai dengan tidak meng-
haramkan seseorang untuk berbicara dengan bahasa dsing.":az
3. Membiasakan suatu bahasa akan memberilCIn pengaruh yang sangat
nyata pada akal, moral, dan agama dengan sangatjelasnya. Oleh sebab
itu, harus berhati-hati dari hal itu untuk menghindari kerusakan yang
ditimbulkannya.3t'
u Lihat Mushannaf lbnu Abu Syaibah, Kitab Al-Adab, Bab'Fii Al-Kalam bi Al-
Farisiah man Karihahu", no. 6331, (9/11). Khabbu adalah khida'u 'tipuan'. Lihat,,4/-
Qamus AhMuhith, hlm. 99.
36 lbnu Ash-Shahabi Sa'ad bin Abu Waqqash. Seorang tabi'i asal Madinah.
Tinggaldi Kufah, seorang yang tsiqat. Dia dibunuh Al-Hajjajdalam Peperangan lbnu
Al-Asy'ats. Lihat lbnu Hajar, Tahdzib... op.cit., biografi no. 6165, (9/156).
M Mushannaf lbnu Abu Syaibah, op.cit., no. 6333, (9/11).
s7 Ungkapan itu dinukil lbnu Taimiyah dalam kitabnya, Al-lqtidha, (1/465).
N tbid., (1t4701.
-nab lnt:'tasydobu| bi Binaug ea[aian, wtlliaau, aaa6, .. 535
4. Dengan menggunakan bahasa asing berarti menanamkan rasa bangga
dan gembira ke dalam hati orang-orang kafir dengan menunjukkan
kecintaan kepada tulisan-tulisan dan bahasa mereka. Maka sikap demi-
kian adalah bagian dari sikap cenderung kepada mereka. PadahalAllah
Ta'ala telah berfirman,
" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-
orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu. kbagian
mereka menjadi pemimpin sebagian yang lain. Barangsiapa di antara
kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya
oring iru ermasuk golongan mereka." (Al-Maidah: 51)
Yang jelas -Wallahu Ta'ala lt lam- adalah makruh berbica ra dengan
bahasa asing bagi orang yang terampil berbicara dengan bahasa fuab,
demikian sebagaimana mazhab para ahli ilmu pada umumnya. Hukum
makruh itu lebih kuat daripada hukum haram, karena bahasa asing tidak
menjadi khusus bagi orang-orang kafi r saja. Orang-orang non-Arab telah
banyak yang masuk lslam dan mereka tetap dengan bahasanya. Dan
Islam tidak mewajibkan mereka untuk belajar bahasa Arab melainkan
dalam batasan yang sangat sempit yang berbeda dengan apa yang telah
dijelaskan oleh para ulama berkenaan dengan bahasa itu, seperti ta.lbiratul
ihram dalam shalat, Al-Fatihah, dzikir-dzikirwajib dalam shalat, membaca
basmalah sebelum melakukan penyembelihan binatang sembelihan, dan
lain sebagainya.
Mayoritas kaum Muslimin dizaman sekarang adalah bukan orang-
orang Arab, tidak berbicara dengan bahasa Arab. Maka bahasa mereka
tidak dianggap sebagai syiar bagi orang-orang kafir sebagaimana di zaman
awal lslamse sekalipun merupakan sarana yang paling penting untuk me-
melihara agama dan memahaminya.3e lslam adalah Qur'an dan sunnah
yang datang dengan bahasa Arab. Allah Ta'ala berfirman,
38e Bahasa Arab adalah syiar bagi kaum Muslimin di awal zaman lslam.
Sedangkan bahasa asing adalah syiar bagi orang-orang kafir. Oleh sebab itu, Umar
Radhiyallahu Anhu menelapkan sebagian syarat-syarat yang sangat terkenal untuk
ahli dzimmah agar tidak berbicara dengan bahasa Arab agar mereka bisa dikenali.
Lihat lbnul Qayyim, Al-Ahkam ... op.cit., (21766).
3s Lihat lbnu Taimiyah , Al-Fatawa, (321255), di mana ia mengisyaratkan bahwa
bahasa adalah sarana paling agung untuk memelihara dan menjaga agama.
5 36 - rasyu66uh yoW Ditaraug balam rW u[am
'Dia dibawa turun oleh Ruh Al-Amin (libril), ke dalam hatimu
(Muhammadl agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orung
yang memberi peringaan, dengan bahasa Arab yang jelas." (Asy-
Syu'araa': 193-195)
Oleh sebab itulah, seorang Muslim disunnahkan untuk mempelajari-
nya dan berbicara dengan menggunakannya. Sedangkan apa-apa yang
dimunculkan oleh para ulama berupa dalil-dalil naqlitidakada yang shahih
yang sampai pada derajat marfu'. Al-Hafizh lbnu Hajar telah mengisyarat-
kan bahwa hadiB itu lemah sebagaimana hadits lbnu (lman3er
Sedangkan atsar-atsar yang datang dari para shahabat dan tabi'in
yang shahih di antaranya adalah bahwa bahasa asing di zaman mereka
adalah syiar bagi orang-orang kafir dan umat lslam pada umumnya dan
mayoritas ketika itu adalah dari bangsa Arab.
Boleh berbicara dengan bahasa asing karena adanya suatu kepen-
tingan, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama.3e2 Al-Khuza'i3s3 Rahr-
mahullah berkata, "Sedangkan jika dalam mempelajarinya akan menda-
tangkan manfaat bagi kaum Muslimin, sebagaimana mempelajarinya
untuk kepentingan terjemah karena adanya kebutuhan seorang imam akan
hal itu, sebagaimana belajarnya Zaid Radhigallahu Anhu atas perintah
Nabi Shal/a llahu Naihi t-pa fuIlamatau karena kepentingan seorang Qadhi
untuk membuat keputusan dalam suatu sengketa dan menetapkan hak-
hak, atau untuk kepentingan seseorang yang selalu berinteraksi dan ber-
tetangga dengan ahli dzimmahyang masih bersikap bermusuhan untuk
mencari apa yang seharusnya ditarik dari mereka untukbarful maal, atau
untuk kepentingan ketika menangani keluarga yang dilanda perpecahan
dan lain sebagainya yang mendorong menjadi masalah darurat, maka
hukumnya tidak makruh.3e4
3er Lihat lbnu Hajar, Al-Fath... op.cit., (6/184), dimana seakan-akan dia mele-
mahkan semuanya.
sm Lihat Syaikhul lslam lbnu Taimiyah, loc.cit.
3e3 Ali bin Muhammad bin Ahmad Al-Khuza'i Al-Andalusi. Dilahirkan tahun 710
H. Bekeria untuk kesultanan bani Murain. la mahir dalam menulis dan merupakan
seorang sastrawan dan pakar di bidang Nahwu. la memiliki pengetahuan yang cukup
di bidang fikih dan hadits. la wafat pada tahun 789 H di kota Fas. Lihat Muqaddlmah
Ad'Doktor lhsan Abbas untuk sebuah buku berjudul rakhrij Ad-Dilalat As-sam'hh.
3s Ali bin Muhammad Al-Khuza'i, Takhrij Ad-Dalalah As-Sam'iah, tahqiq oleh
Dr. lhsan Abbas, (Beirut: Daar Al-Gharb, cet. l, 1405 H), h\m.221.
-nab m,tasgabbu$ ni Binangvakaian,per$iawn, nab, ... 537
Ungkapan ini sesuaidengan zaman kita sekarang inidi mana banyak
ilmu pengetahuan umum yang dikuasai oleh orang-orang kafir dan dibuku-
kan dengan bahasa mereka, juga berbagai penemuan baru seperti per-
senjataan dan lain sebagainya. Maka, boleh mempelajari bahasa asing
untuk kepentingan seperti itu dan kepentingan-kepentingan lain semisalnya,
seperti hubungan politik, perdagangan, dan lain sebagainya yang menjadi
suatu keharusan dizaman sekarang ini. Bahkan sebagian dari itu menjadi
wajib karena terkait dengannya keamanan kaum Muslimin dari aspek
militer, kecukupan bahan pangan, atau lainnya, karena adanya kebutuhan
yang sngat mendesak.
Sebagaimana kepentingan yang paling utama yang mendorong
untuk mempetajari bahasa asing sebagaimana di zaman kita sekarang
ini adalah untuk transfer misi Islam kepada semua manusia. Bertabligh
dan menyeru serta mengajar kaum Muslimin yang bukan dariArab tentang
hukum-hukum agama mereka. Yang demikian iniboleh bagi mereka yang
menaruh perhatian besar pada berbagai kepentingan tersebut dan tidak
ada masalah.
Seorang ahliilmu juga mengatakan, "Boleh berbicaradengan bahasa
asing jika satu kata atau beberapa kata yang berbeda-beda untuk tujuan
yang benar."
Syaikhul lslam lbnu Taimiyah berkata, "Pada pokoknya, kata demi
kata pemasalahannya sangat dekat. Minimal mereka melakukan hal itu
adalah karena orang yang menjadi lawan bicaranya adalah orang asing
atau memang sudah terbiasa dengan bahasa asing demi memudahkan
pemahaman baginya."3e5
Jelaslah bahwa ungkapan ini muncul dari apa yang telah dibicarakan
di muka. Yangjaiz dan sama sekali tidak makruh padahal tidak ada kepen-
tingan berkaitan dengan ilu -Wallahu A'lam- adalah jika kata-kata itu
telah beredar luas sehingga menjadi kata-kata yang mengandung banyak
arti atau karena kata-kata tersebut sudah sangat banyak dipakaisehingga
hampir menjadi kata-kata yang memiliki artiyang banyak. Yang demikian
ini sudah sangat dikenal dan diketahuidalam berbagai bahasa yang ada.
Para ulama menceritakan kasus sedemikian rupa ada dalam Al-Qur'an
3e5 Syaikhul lslam lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit., (11468).
538 - rasya66fi WW oilarung ulam rfi$ rlam
Al-Karim. lni sangat bertolak belakang dengan cerita yang paling populer.3$
Al-Qur'an sama sekali tidak diragukan bahwa ia adalah Arab sebagai-
mana telah sangat diketahui.
Sunnah banyak memuat kasus semacam itu yang cocok untuk
contoh di sini. Penulis akan menyebutkan satu contoh saja, yaitu hadits
Ummu Khalid bin Sa'id ia berkata,
'Ju ,',rri'*:r *3 ,tj c *j y\t J:" it'J';:r'4i
*'€':,1_,o. clo *t i?itr .'^r'{*{*i
i' *\t J:" lt J';',
*,aj--i'ju
S*** Aku daang kepada Rasutultah Shattallahu Alaihi *, Lru*u
dengan ayahku dan aku ketika itu mengenakan pakaian dicelup.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Sanah, sanah',
Abdullah berkata, 'Itu adalah bahasa Habasyah, berarti hasanah.'"3n
Sebagian dari para ulama menyebutkan bahwa pada kasus itu harus
dipahami sebagai kesamaan antara beberapa bahasa.3s
lnilah kiranya pendapat yang paling kuat berkenaan dengan ber-
bicara dengan menggunakan bahasa asing. Kecualiorang yang berbicara
dengan menggunakan bahasa khusus milik orang-orang lofifee karena
menghendaki tasyabbuh dan takjub kepada mereka. Yang demikian itu
haram hukumnya karena prinsip yang telah dijelaskan di atas.m
*rr*
3s Lihat Al-Ghazali, Al-Mustashfa, (1/105); lbnu Qudamah, Raudhah ... op.cit.,
tahqiq Abdulaziz As-Sa'id, (Universitas Al-lmam, cet. lll, 1403 H), (21641, dan kitab
ushul lainnya.
3s7 Shahih AhBukhari, Kitab Al-Jihad, Bab "Man Takallama bi Al-Farisiah wa Ar-
Rathanah", hadits no. 2906, (3/1117).
3s0 Dinukiloleh Al-Hafizh dalam syarah hadits di atas. Lihat lbnu Hajar, Fath ...
op.cit.,(611851.
3ee Sebagaimana orang yang berbicara dengan menggunakan bahasa rakyat
kafir yang tidak diketahui asal bahasa ini melainkan dari mereka.
1@ Lihat Pasal 4, Pembahasan 1, hlm. 65.
-r,ab ttt tasgahbu$ bi Biban1 pahaant wr$iawn, An46, .- 539
?",t tr*r, +
Larangan untuk Dlam Mutlak
Pembahasan ini mencakup dua subbahasan:
A. Fenielasan Apa yang Dimaksud dengan 'Diam' di Sini
Dikatakan bahwa artinya adalah bernazar untuk sama sekali tidak
berbicara sebagaimana yang ada dalam syariat sebelum kita.
Dikatakan pula bahwa artinya adalah diam sama sekalitanpa ada-
nya nazar sebelumnya
Dikatakan pula bahwa maknanya adalah berniat untuk berpuasa
yang dipersiapkan, yaitu melakukan imsak dari berbagai hal membatalkan
puasa yang tiga macam dengan tambahan niat tidak akan berbicara.4r
Yang jelas -WallahuTa'alaA'lam- adalah bahwa diam yang dimak-
sudkan disiniadalah meninggalkan aktivitas berbicara dengan tujuan iba-
dah dengan perbuatan itu. Sebagaimana yang akan dimunculkan dalam
nash-nash yang akan datang. lldak dipersyaratkan hingga malam agar
masuk bersama kita dalam masalah inisebagaimana akan kita sebutkan
irugaAllahTa'ala.
B. Hukum Diam Mutlak
Para ahli ilmu sepakat bahwa wajib diam mutlak berkenaan menyi-
kapi pembicaraan yang haram hukumnya. Dan mereka mengatakan
bahwa hukumnya sunnah terhadap ungkapan-ungkapan yang tidak pen-
ting dan mubah yang tidak mengandung faidah di dalamnya.42 Mereka
berbeda pendapat berkenaan dengan diam mutlak jika dengan tujuan
ibadah dan menjalankan agama dengan sikap demikian itu. Bukan yang
terjadi dengan bukan untuk ibadah atau taqarnb.
Muncullah perbedaan pendapat di antara mereka sehingga lahir dua
pendapat:
aoi Lihat Al-Babarti, Al-lnayah Syarh At-Hidayah, dengan hamisy lbnu At-
Hammam, FathAl-Qadir (2/398);Al-Kasani, op.cit.,(21791; Al-Bahuti, op.cit., (2/363);
dan lbnu Ha1ar, Fath... op.cit.,(711501.
a@ Lihat permasalahan itu dalam kitab lbnu Ha1ar, Fath ... op.cit.,(71150), dan
Al-Bahuti, Kasysysaf ... op.cit., (21362).
540 - rr.cy&nl, Wg oilororg balam nl<$ ulan
Pendapat L Hal itu haram hukumnya. Ini adalah pendapat sebagian
para pengikut mazhab Hanbali.s3
Pendapat IL Hal itu makruh hukumnya. lni adalah pendapat jamaah
para pengikut mazhab Hanafi,e Syaf i,s dan sebagian para pengikut
mazhab Hanbali.ffi
1. Mereka yang berpendapat bahwa hukumnya adalah haram menge-
tengahkan dalil-dalilyang di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Hadits lbnu Abbas RadhigallahuAnhuma, didalamnya disebutkan,
4i *, y *'^b. J:C tu'..u,,h . t\t'+\:.
\, U, tE
'jsl't1Jy:*;\)ik-'lt t4'oi ,u ,F)rt I fjut
*'*,A, Jb:-,1t'8" i'.),'&', \t J:"'*1, J* i;-',
L'kl',
'Ketika kami bersama Nabi Shatlaltahu Ataihi wa Sallamyang nO*,
berkhutbah, tiba-tiba datang seonng pria, lalu brdiri tegak. Maka
beliau beranya tentang orang iru. Lalu mereka menjawab, 'Ia adalah
Abu Israil yang bemazar untuk berdiri (di terik maahari), tidak duduk,
tidak berteduh, tidak berbicara, dan berpuasa'. Maka Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersaMa, 'Suruh dia untuk berbicara, berteduh,
duduk, dan tetap menyelesaikan puasanya'."4v
Aspek yang menjadi penekanan dalam hadits di atas adalah
bahwa Nab i Slalla llahu Alaihi wa Sallam meny:ruhnya untuk ber-
sikap berbeda dengan nazamya, padahal nazar adalah wajib. Yang
demikian itu karena nazarn)ra masuk ke dalam daerah terlarang
untuk dilakukan.e
aG Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (41482); dan Al-Maqdisi, op.cit., (2nq.
1s Lihat lbnu Al-Hammam, op.cit,(2/398); Al-Kasani, op.cit.,(21791: dan lbnu
Abidin, op. cit., (31 4411.
4s Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(71150\.
16 Lihat Al-Bahuti, op.cit.,(213631.
47 Shahih AhBukhai, Ktab Al-Aiman wa An-Nuzur, Bab "An-Nadzru fima la
Yamliku wa fii Ma'shiyat Allah", hadits no. 6326, (6/2465).
{E lbnu Qudamah, op.cit., (214821.
-nab m, uspabloull dt Bbang takaian, eerlna"an, rJlab, -. 541
b. Apa yang diriwayatkan oleh Qais bin Abu Hazim,am ia berkata, lcrbu
Bakar Ash-Shiddiq Radhigallahu Anhu datang kepada seorang
wanita dariAhmasyang disebutkan bahwa namanya adarah zainab.
Ia menyaksikannya tidak berbicara, maka ia bertanya, .Kenapa
wanita itu tidak mau berbicara?'Maka mereka menjawab, ,la
beribadah hajidengan sikap diam'. Maka ia berkata kepada wanita
itu, 'Berbicaralah, sikap demikian itu (diam) tidaklah halal. tni adalah
bagian dari amal perbuatan orang-orang jahiliyah'. Maka ia pun
bebicara."4l0
Aspek yang menjadi penekanan atsar adalah dengan tegas
disebutkan bahwa meninggalkan untuk berbicara sebagai ibadah
adalah suatu perbuatan yang haram hukumnya, karena perbuatan
itu adalah bagian dari perbuatan orang-orang jahiliyah yang haram
bertasyabbuh kepada mereka itu. Diartikan sebagai darir pengha-
raman menunjukka n bahwa dalil itu berderajat m arfu' karenaia tidak
mengatakan hal itu berdasarkan pendapatnya sendiri.arl
c. Hadits Ali bin Abu Thalib Radhigallahu Anhu yang dimarfu'kan,
;,pr St i;,.,1*!1 tNi., i.,,t
;; r*," Tidak berlaku istitah 'yatim' bagi tenn Urmirryi basah dan
tidak boleh membisu selama sehari hingga malam.,'4t2
Aspekyang menjadipenekanan hadits iniadalah bahwa betiau me-
larang bersikap diam hingga malam hari karena perbuatan seperti itu
sangat populer di kalangan orang-orang zaman jahiliyah.
2. sedangkan merekayang berpegang kepada pendapat kedua, yaitu para
jumhu4 berdalil dengan dalil-dalil yang sebagiannya adarah sebagai
berikut:
@ Qais bin Abu Hazim At-Bajali. la adalah seorang yang tsiqat dan dari Arab
keturunan. Dikatakan bahwa ia memilikikebiasaan melakukan rukyat. la wafat setelah
tahun sembilan puluh atau sebelumnya. la berumur lebih dari 100 tahun dan telah
sangat berubah. Lihat At-Taqrib, tbnu Hajar, biografi no. 556, hlm. 456.
alo shahih Al-Bukhari, Kitab Fadhait Ash-shahabat, Bab "Ayyam Al-Jahiliyah",
hadits no. 3622, (3/1393).
1rr Lihat lbnu Hajar, Falh... op.cit.,(Tl15}l.
.t2 Sunan Abu Dawud, Ktab Al-Washaya, Bab .Mata yanqathi'u Al-yatmu",
hadits no. 2873, (31115). Al-Hafizh, Al-Fath ... op.cit, (7/1so), bersikap diam terhadap
hadits iht.
542 - r wyabbfi WW oilarung Mlam rW ulam
a. Mereka berkata, "Bukan dari syariatkita maka makuh hukumnya."ar3
b. Hadits Ali bin Abu Thalib yang dimarfu'kannya,
,#'lti;t{*vrfg'i;H)
'Tidak bertaku istikh 'yatim' bagi anak yang tetah bermimpi basah dan
tidak boleh membisu selama sehari hingga malarn."4t4
Yang mereka bawa kepada makna makruh.
c. Hadits Abu Hurairah Radhigallahu Anhu,"Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam melarang pwrsa wishal dan puasa dengan tidak
berbiara fima sel<a[.n 4t'
d. Mereka berkata, "Di dalamnya ada tindalean bertasgabbuh kqada
orerng - o rang M4i usi," at c
Fendapat yang paling kl"nt -Wallahu Ta'ala lilam- bahwa berdiam
diri dengan niat untuk ibadah adalah haram hukumnya. Hal itu karena
dalil-dalil jumhur di atas. Nabi Sha llallahu Alaihi wa Sallam memerintah-
kan Abu lsrailRadhigallahuAnhu untuk bersikap beda dengan nazamya
sendiri. Abu Bakar Radhiyallahu,{nhu menegaskan hukum dan illah-
nya untuk kaum wanita yang menunaikan ibadah hajidengan membisu.
Maka ia berkata, "lni tidak halal. lni adalah semacam perbuatan orang-
orang jahiliyah."
Makruh bagi manusia untuk tinggal dengan membisu hingga tiba
malam harisekalipun bukan dengan niat untuk ibadah. lnidalam rangka
keluar dari tasyabbuh kepada orang-orang jahiliyah secara nyata. Juga
karena hadits,
#'Jt {;a(*rt
" Dan tidak boleh membisu selama sehari hingga malam."
WallahuTa'ala/(lam.
t:t ll
.'r Lihat lbnu Al-Hammam, Syarh ... op.clt,(213981.
"'Abu Dawud, op.cit;dan Al-Hafizh, Al-Fath... op.cit. op.cit, (3l41l.
115 Musnad Abu Hanifah. Uhat lbnu Abidin, Hasyiyah ...
lr8 Lihat Al-Kasanl, Badai' ... op.ctt., (2f791.
-tab :;lt tasy,ahb"b U filang vaka;anr te$iawn, Anabt -. 543
PtsttS
TENTANG HAt-HAt IAIN
Pembahasan 1: Larangan meninggalkan penegakan eksekusi hularman
atas orang-orang terpandang dan para pembesar
Pembahasan 2: I-arangan benvisata tanpa tujuan seperti halnya dalam
kependetaan
Pembahasan 3: Apakah penamaan bulan dengan nama-nama asing
dilarang? Dan apa hukum bersandar kepada kalender
Miladiah dan bukan kalender Hijriah. Demikian pula
dalam Angka-angka?
Pembahasan 4: Apakah pemberian nama orang dengan nama asing
dilarang?
?",*t,*,,t
laran gan Men I n goalkan penegakan E lsekusl H ukuman
atas Olanllorang Terpandano dan para pembesar
Haram hukumnya membedakan penegakan hukum antara orang-
orang terpandang dan ralryat jelata. Bahkan meninggalkan penegakan
hukum atas orang-orang terpandang dan para pembesar adatah penye-
bab kehancuran dan kesesatan. Syariatyang sucitelah tiba dengan sendi-
sendi keadilan yang sangat sempurna dengan menghancurkan apa-apa
yang menyebar berupa kezaliman di kalangan orang-orang terdahulu.
Hal itu telah ditunjukkan oleh dalil-dalilyang sangat banyak. Di antaranya
yang sejalan dengan pokok bahasan tentang tasyabbuh:
Hadits Aisyah Radhigallahu Anha yang di dalamnya disebutkan,
iiilrq'r( n:" :t7ui $? c) if;r &:31 u:-i'ol
i'r#Jfylur't*';:r-^'s;t*;ih.tt\*iJ"*fl-t
aj & p, ;**bt J:. ),t J.;:,
J ;, g t d-i,r
; k fr,J;y,l,rli 6u,,lu;:e iC'"nuur,lJi q €
544 -'rugfirb WW oitarang balam rrt$ rclam
-,bt o; 6f),i'i; Uitt a'r" 6yf;s 6'# ok
'F u; f 'A;+u t:i'i it;it,1'at ^;;rlui'1
6:i-"rLJ
"Bahwa bangsa Quraisy dibimbangkan dengan adanya seorang wania
bani Al-Makhzumiah yang melakukan tindak pencurian. Sehingga
mereka brkata, 'Siapa yang brani mengatakan kejadian ini kepada
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, siapa yang berani melakulcan
iru melainkan Usamah, onngyang dicinai oleh Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam?' Ia pun mengatakan hal iru kepada Rasulullah
Shallallalru Alaihi wa Sallam, *hingga beliau brsaM4 'Apakah engkau
akan membri pertolongan berkenaan dengan hukuman dari berbagai
hukuman Allah?'Kemudian beliau bangkit, lalu berkhutbah dan br-
sabda, 'Wahai sekalian manusia, orung-oring sebelum kalian semua
menjadi sangat sesat karcna jka di kalangan mereka terdapat seorang
terpandang melakukan tindak pencurian mereka membiarkannya; dan
jika yang melakukan pencurian orang lemah ditegakkan atas mereka
hukumannya. Demi Allah, jika kiranya Fathimah putri Muhammad
mencuri, maka pasti Muhammad memotong tangannya'."417
Syaikhul lslam lbnu Thimiyah Rah tmahullah berkata, "Bani Makhzum
adalah kelompok yang paling terpandang di kalangan suku Quraisy
sehingga menjadi sangat berat untuk melakukan pemotongan tangan
seorang perempuan dari mereka. Maka beliau menjelaskan bahwa
kehancuran bani lsrail adalah karena mereka mengkhususkan para
pemimpin dengan memberikan maaf dariberbagaihukuman. Beliau juga
menyampai kan informasi bahwa jika Fathimah putrinya -yang merupakan
wanita paling mulia- mencuri, dan Allah telah melindunginya dari perbuatan
seperti itu, tentu beliau memotong tangannya untuk menjelaskan bahwa
kewajiban berlaku adildan memberlakukan hukuman secara merata tidak
dikecualikan putri Rasul, apalagi putri selainhya."ar0
a1? Shahih Al-Bukhari, Ktab Al-Hudud, Bab "Karahiyah Asy-Syafa'ah fii Al-Hadd
ldza Rufi'a lla As-Sulthan", hadits no. 6406, 1612491); dan Shahih Muslim, Kitab Al-
Hudud, Bab "Qath'u Asy-Syarif wa Ghairihi", hadits no. 1688, (3/1062).
ar6 lbnu Taimiyah, op.cit, ('ll290-291t.