The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

TASYABBUH YANG DILARANG DALAM ISLAM (Sunnah Hadits Hadith Hadis Aqidah Akidah Iman Tauhid) 3

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by waroengdakwah, 2022-01-18 00:44:52

TASYABBUH YANG DILARANG DALAM ISLAM (Sunnah Hadits Hadith Hadis Aqidah Akidah Iman Tauhid) 3

TASYABBUH YANG DILARANG DALAM ISLAM (Sunnah Hadits Hadith Hadis Aqidah Akidah Iman Tauhid) 3

Keywords: aqidah,buku aqidah islam

lt -wb r.wgnbbub u srau1 tuheian, wlnatau, Anabt .- 445

Pendapat //. Bahwa hal itu mubah hukumnya, yaitu pemahaman

yang bisa ditarik dari ungkapan Malik,T dan menjadi pendapat jamaah
dari kalangan para ulama.s

Jumhur ulama mengetengahkan dalil-dalilnya yang akan kita saji-
kan yang terpenting saja:
1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu,\nhu, ia berkata, "Rasulullah Shal-

lallahu Alathi wa Sallam bersabda,

'il;iy, o'{.^b:-'t 6i6$','-,71r oy

'Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani iu tidak menyemir

rambut maka berbedalah dengan mereka'."e

Hadits diatas sangat jelas memerintahkan untuk menyemir sebagai
tindakan untuk menunjukkan sikap beda dengan orang-orang Yahudi
dan Nasrani.

2. Dari Abu Umamah Radhigallahu Anhu, ia berkata,

A..'a\i 4"tr,*&in\' J:" itJ';rt?

7qt,yl r Fy', rr:b'r,t'r:?, rt;\i'p;u' j ui p r-:-r

" Suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar menuiu
kepada para syaildt dari lcalangan Aashar yang mercka nlah memutih
jenggonya. Mala beliau berkata, 'Wahai sekalian golongan Anshar
menhkan aau kningkan dan brbdalah dengan ahli kitab'."to

3. DariAtabah binAbd RadhigallahuAnhu, ia berkata,

.>*, Gtrj 'Aat .i,silr #';U'n ',^)Lbt *arip,irr

7 Lihat lmam Malik, Al-Muwaththa', Kibb Asy-Syi\ Bab 'Ma Ja'a fii Shibghi
Asy-Sya'f, (3/950).

t Lihat Asy-Syaukani, op.cit.. (111'181, di mana Al-Qadhi lyadh menisbat-kan

hal itu kepada jamaah para ulama dengan tiada terbatas.
o Telah ditakhrij di muka.
to Musnad lmam Ahmad, Lihat As-Sa'ali, op.cit., Ktab Al-Libas wa Az'Zinah,

(17 I 237 ). Al-Haitsam i dalam Majm a' Az-Zawa id, (5/1 63 ), berkata, "Diriwayatkan oleh
Ahmad dengan para tokoh sahad yang shahih". Dalam kitab shahih terdapat potongan
dari ungkapan seperti itu, "Para tokoh sanad Ahmad adalah shahih; kecualiAl-Qasim
yang merupakan orang tsiqah dan berkenaan dengannya ada sedikit pengulasan
yang tidak membahayakan". Dalam Al-Fath, Al-Hafizh berkata, "Sanadnya hasan",
(10/354).

446 - r r,cyrahhuh gang Dilaruug nai.am rW rclaw

" Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerinahkan

untuk merubah penampilan rambut sebagai sikap beda dengan orang-
orang non-Muslim."tl

4. Dari Abu Dzarr; ia berkata, "Rasulullah Slallallahu Alaihi wa Sallam

bersabda,

.3;rttitl"i' L*lr rji, q $ u,#i"ot

'Sesungguhnya sefuik-bak apa yang dengannya dipakai mentbalt uban
adalah daun anai dan rumbuhan katam."tz

Objek yang menjadi penekanan hadie ini adalah bahwa petunjuk

Rasulullah Shallallahu Alaihi ua Sallam adalah yang paling utama

dalam hal merubah uban yang berupa perintah mewarnainya yang
menunjukkan bahwa perbuatan itu dianjurkan. t3

5. Dari Nafi' dari lbnu Umar Radhigallahu Anhuma bahwa Nabi
Shallallahu Alaihi. wa Sallam mengenakan sandal sabatigah dan

mewarnai jen ggotnya den gan tumbuh-tumbuhan u)aras dan za'faran.
Ibnu Omar juga melakukan hal yang sama.ra

Penekanan hadits ini adalah bahwa beliau menyemir jenggotnya,
maka menunjukkan bahwa sunnah hukum menyemirnya.
6. Dari lbnu Sirin, ia berkata, 'Anas bin Malik ditanya tentang semir
Rasulullah Slallallahu Alaiht wa Sallam, maka ia berkata,'Rasulullah
Slalla//alat Alaihi un fullam tidak terlihat ubannya kecuali sediltit sekali.

rr Oleh Al-Hafizh dinisbatkan pada kitab Al'MuIam Al-Kabit Ath-Thabrani, dan
ia berkomentar terhadapnya. Lihat Al-Hafizh lbnu Haiar, Al-Fath ... op.cit., (10/354).

t2 Sunan Abu Dawud, Kitab At-Tarajjul, Bab 'Fii Al'Khidhab", hadits no. 4205'
14185); Sunan At-Tirmitui, Kitab Al-Libas, Bab "Ma Ja'a fii Al-Khidhab", hadits no. 1753,
(412321; Sunan An-Nasa'i, Ktab Az-Zinah, Bab "Al-Khidhab Bil Hinna wa Al-Katm"'
hadits no. 5093, (8/51 5); Sunan lbnu Maiah, Ktab Al-Libas, Bab ?l-Khadhab Bilhinna'",

hadits no. 3622, (Af96). At-Tirmidzi berkata, 'lni adalah hadits hasan shahih'.

13 LihatAsy-syaukani, op.cit., (1l11$l,yang disaiikan untuk menunjukkan hukum
sunnah.

t' Sunan Abu Dawud, op.cit., Bab "Ma Ja'a fiiKhadhab Ash'Shufrah", hadits

no. 4210, (4/86), Sunan An-Nasa'i, op.cit., Bab "Tashffr Al'Lihyah Bilwars wa Az-
Za'faran', hadits no. 5259, (8/570). Dalam sanadnya terdapat Abdul Aziz bin Ruwwad
yang diperbincangkan. Akan tetapi, aslinya pada Al'Bukhari. Berkenaan dengannya
lbnu Umar berkata, "sedangkan upaya menguningkan maka aku pemah melihat
Rasulullah Shatlallahu Alaihi wa Sallam dengannya mewarnai'. Lihal Shahih Al-
Bukhari, Ktab At-Wudhu, Bab "Ghaslu Ar-Rijlain fiiAn-Na'lain", hadits no. 164, (1frc).

- -ub ttt:'tasyabbublislaWtahaian,wrlnatan, $ab, 447

Akan tetapi, Abu Bakar dan Umar sepeninggalnya menyemir dengan
tumbuh-tumbuhan daun anai (pacar) dan katam'."15

Objek yang menjadi penekanan hadits tersebut adalah bahwa Abu

Bakar dan Umar Radhigallahu Anhuma menyemir rambut. Maka
dengan demikian hadits itu menunjukkan bahwa menyemir rambut
sunnah hukumnya. Sebagaimana dikesankan oleh Anas bin Malik
Radhiyallahu /uthu ketika menyampaika n jawabannya. Dalam perkara
ini terdapat sejumlah hadits yang lain yang semakna dengan hadits-
hadits di atas. Sekalipun banyak tetapi di dalamnya terdapat kele-

mahan.r6

Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa hukumnya adalah
mubah, berdasar dalil-dalilyang di antaranya adalah sebagai be,ikut:
1. Apa yang datang dari lbnu Sirin bahwa ia berkata, "Anas bin Malik di-

tanya tentan g sem i r Rasululla h S hallallahu Alaihi wa Sallam, maka ia
berkata,'Rasulullah Sha llallahu Naihi wa Sallam tidak terlihat ubannya
kecuali sedikit sekali ...'." (Hadits).17

Objek yang menjadi tekanan hadits tersebut adalah bahwa Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak merubah warna ubannya dengan
Khadhabt8 dan Nabi S hallallahu Alaihi wa Sallarn tidak meninggalkan
segala sesuatu yang lebih utama.
2. Dari Ka'ab bin Murrah Radhigallahu Anhu, ia berkata, '?\ku pernah
mendenga r Rasul ullah Shallallahu Alaihi wa S allam bersabda,

; te d'*Qlc {; |)';',J'c:;rf p>r.:" y i ^;r

'Barangsiapa yang beruban satu helai saja dalam Islam, maka dia akan
memiliki cahaya di hari Kiarnat'."te

1s Shahih Al-Bukhai, Kitab Al-Libas, Bab "Ma Yudzkaru fii al-Khadhab", hadits
no. 5555, (5121'lOl; dan Shahih Muslim, Kitab Al-Fadhail, Bab "Syaibatu An-Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallanl', hadits no. 2341, (411452) dengan lafazh dari Muslim.

t6 Syaikh Hamud At-Tuwaijiri banyak mengumpulkan hadits-hadits itu dalam
kitabnya yang berjudul: Dalail Al-Atsar 'ala Tahrimi At-Tamtsil bi Asy-Sya'ri, (Riyadh:
Al-Qashim, cet. l, 1386 H), hlm. 125 dan sesudahnya.

tt Shahih Al-Bukhari, op.cit., hadits no. 5555, (5/21101; dan Shahih Muslim,

op.cit., hadits no. 2341, (411452) dengan lafazh dari Muslim.
is Lihat An-Nawawi, Syarh ... op.cit. (14180).

ts Sunan Abu Dawud, op.cit., hadits no. 4202, (4185) dari hadits Amr bin Syu'aib,
dari ayahnya, dari kakeknya. Sunan At-Tirmidzi, Kitab FadhailAl-Jihad, Bab rMa Ja'a

fii Fadhli man Syaabba Syaibah fii Sabilillah", hadits no. 1634, (41172), Sunan An-

448 - r r'sW&ub yang Dilarung balam rW slam
3. Dari lbnu Mas'ud Radhiyallahu,{nhu,

j ,*rrrrr*'u Alaihi *, ,rr*, membnci beberapa hal. I^atu

*ru,

disebutkan di anaranya, men fuh uban.ry

Dalam dua buah hadits di atas sesuatu yang menunjukkan bahwa

yang paling utama adalah tidak menyemir. Karena perbuatan itu adalah
merubah uban yang bagus, namun dibencioleh Nabi Shalla[ahuAlaihi

usa Sallam merubahnya itu.2r

Pendapat yan g pali ng l$at -Wallahu Ta' ala Al lam- ad a la h m azhab
jumhur karena munculnya nash-nash yang sangat jelas berasaldari Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam yang memerintahkan mewarnai. Nash-nash
itu menurut aslinya maka berkonotasi wajib mewarnai. Karena muncul

dengan bentuk perintah di sebagian nash-nashnya. Sebagaimana dalam
sabdanya: ghagyiruu 'rubahlah'dan juga datang dengan menyampaikan

alasan demi meninggalkan tasyabbuh kepada orang-orang Yahudi dan
Nasrani. Pada prinsipnya tasyabbuh kepada mereka adalah haram

hukumnya. lmam Ahm ad Rahimalut llah telah mem berikan isyarat kepada

makna demikian dengan mengatakan, "Aku tidak pemah melihat seseorang

yang paling banyak menyemir daripada warga Syam." l-alu berkata pula,
- Kladhab'menyemi r' ba giku sea kan-akan wajib, karena Nabi Shallallahu

Alaihi ua Sallam bersabda,

elJjy,,s'31,Ja l6t6$'it4tr1 ol.

'Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani iru tidak menyemir
rambut, maka berbedalah dengan mereka'."zz

Akan tetapi, semua perintah itu digeser kepada makna nadab (sun-
nah) sebagaimana diketahui karena beberapa hal berikut:

Nasa'i, Ktab Al-lihad, Bab Tsawabu man Rama bi Sahm ffi Sabilillah Azawa Jalla',

hadits no. 3144, (6/335).

20 Sunan Abu Dawud. Ktab Al-Khatam, Bab "Ma Ja'a fii Khatam Adz-Dzahabi",
hadits no. 4222, (41891, Sunan An-Nasa'|, Kltab Az-Zlnah, Bab "Al-Khadhab bl Ash-
Shufrah", hadits no. 1503, (8/518) dengan sanadnya hasan.

2t Lihat An-Nawawi, 9yarh... op.cit., (14/80).
n Masail lmam Ahmad,lbnu Hani, (2l1a8l; dan takhrij haditsnya sebagaimana

di bagian muka.

-ttab ttt rsgahbul1 tr RiMng Pahaiat, terlnuar, loab, ... 449

Pertama. Bahwa Rasulullah Sha llallahu Alaihi wa Sallam tidak per-
nah menyemir rambutnya Shallallahu Alaihi usa Sallam padahal telah
mulai muncul uban sebagaimana dalam hadits Anas di atas.B

Hadits di atas tidak terhapus dengan hadits yang muncul dari

Abdullah bin Mauhab2a ia berkata, 'Aku datang kepada Ummu Salamah.
Lalu ia mengeluarkan kepada kami rambut Nabi Shallallahu Alaihi uta
Sallam yang telah disemir."s

Al-Hafizh lbnu Hajar berkata, 'Al-lsmaili26 berkata, 'Tidak ada
penjelasan di dalam nya ba hwa Nabi Shalla llahu Alathi wa Sallam adalah

yang menyemimya. Bisa jadi berwama merah setelah itu karena dicampur
dengan parfum yang di dalamnya kekuning-kuningan maka kekuning-
la.rningan itu akan mendominasi."'la berkata, 'Jika memang demikian,
jika tidak maka hadits Anas yang berbunyi,

|6-| '{"- ) ^)L\t .U u;hi

'Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyemil

adalah lebih shahih." Demikian yang ia katakan. Al-Hafizh mengomentari
dengan ungkapannya, "Sesuatu yang ditunjukkan adalah sesuatu yang
memiliki arti alternatif sebagaimana dijelaskan di muka, yang sampai ke-

pada Anas berkaitan bab sifat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. la

menegaskan bahwa merahnya karena parfum. Saya mengatakan,

'Banyak rambutyang telah terpisah dari kepala, setelah sekian lama, wama
hitamnya berubah menjadi merah'."27

Dari kisah inijelaslah bahwa NabiShallallahu Alaihi u:a Sallam
tidak menyemir rambut. Bisa jadi mereka yang berpendapat bahwa Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallarn menyemir rambut permasalahannya sudah

23 Lihat catatan kaki no. 15, hlm. 447.
2. Utsman bin Abdullah bin Mauhab At-Tamimi Al-Madani sebagai budak
mereka. la terkadang dinisbatkan kepada kakeknya, ia tsiqah, peringkat keempat.
Wafat tahun 160 H. Lihat lbnu Hajar, AbTaqrib ... op.cit., biografi no. 4491, htm. 385.

rE Shahih AhBukhari, op.cit., hadits no. 5558, (5/2210).
Ahmad bin Jbrahim bin lsmail bin Al-Abbas AFlsmdl Al-Jurjani Asy-Syaf i.
Lahir tahun 277 H. Ahli hadits, ahli fiklh, dan mendengar banyak. Dan ia bepeqian
untuk menuntut ilmu hadits. Dari kitaFkitabnya yang dikarang adalah z4sfiShahih
ala Syarh AhBukhari, Al-Fawaid Al-Awali.Walal tahun 371 H. Lihat lbnu Katsir, z4l-
Bidayah ... op.cit., (111317).
27 Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit,(1013541.

*$450 - r ayfiub yaug Dilaruug u[am ulayn

rancu. Yang bisa menguatkan anggapan ini adalah apa yang muncul da-

lam Shahrh M uslim dari Jabir bin Sam urah Radhigallahu Anhu, ia berkata,

"Rasulullah Slallbllahu Naihi ua kllam telah mencampuri bagian depan

kepalanya dan jenggotnya dengan warna hitam. Jika beliau memakai
minyak rambut, menjaditidaktampak; dan jika kepala beliau dalam keada-
an semrawut, menjadijelas kelihatan."28 Maka bisa jadi mereka yang ber-

anggapan bahwa Rasulullah Slallallahu Alaihi wa Sallam menyemir

rambut telah menyaksikan rambut putih beliau; kemudian setelah beliau
memakai minyak rambut mereka menyangka bahwa minyak rambut itu

adalah semimya.2e
Sedangkan apa yang dimunculkan oleh jumhur berupa hadits lbnu

Umar Radhigallahu Anhwna bahwa beliau menyemir rambut dengan
warc danza'faran, sebenamya haditsnya tidak menunjukkan bahwa beliau
melakukan penyemiran rambul Akantetapi, itu hanya suatu kemungkinan.
Bahkan telah dikatakan, "Bahwa maksudnya adalah beliau menyemir
jenggotnya dengan warna kuning." Orang-orang yang lain berkata,

"Maksudnya adalah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

mewamai pakaiannya dengan warna kuning dan mengenakan pakaian
warna kuning."so Pendapat kedua ini diperlarat oleh riwayat yang ditakhrij
oleh Abu Dawud atas sebuah hadits yang di dalamnya disebutkan,

y\t ,k yt J;,Ui3;1.:JwvtLx'# 1.,'i'E

iq.'& $t'r3'),q g|;l?;'51'{r,Ar'#- *,

^ttbeti)t

'Maka dikatakan kepadanya, 'Kenapa engkau menyemir nmbut dengan
wama kuning?' Ia menjawab, '*sungguhnya, aku tclah menyakikan
Rasulullal, Shallallahu Alaihi wa Sallam menyemir dengan warna itu

daa tidak ada &suatu yang paling disukai oleh beliau daripadanya. Beliau

mewarnai selurah pakaiannya hingga surbannya'."3r

a Shahih Muslim, op.cit., hadits no. 2344, (4114541.
a Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(1013541.

r Lihat Syams Al-Haq Abadi, Aun ... op.cil (111771.

31 Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Libas, Bab "Al-Mashbugh bi Ash-Shufrah'. Lihat

Abadi, ibid.

- -aab m,'rwyffi it BiMu1 takaian, Yerfiasan, Anab, 451

Sebagian dari para ulama berpendapat untuk melakukan pengga-
bungan agar kenyataan yang dominan pada diri Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam m ening galkan pewa rnaan. Penjelasa n yang berkenaan
dengan perkara pewarnaan yan g dilakuka n Rasulu llah Shalla llahu Alaihi

wa Sallam adalah bagian paling kecil mengefektifkan nash-nash yang

muncul.32

Kedua. Di antara dalil-dalilyang merubah (shau:anfl hukum wajib
menjadi hukum nadab (sunnah) yang ada adalah sikap meninggalkan
penggabungan yang dilakukan oleh para shahabat tentang lchadhab (pe-
nyemiran), di antaranya adalah Ali, Ubaibin Ka'ab, Salamah bin AI-Alwa',
Anas, dan lainlain.33 Jika hal itu wajib tentu mereka tidak meninggalkannya.

Ketiga. Perubah hukum (shawarif) yang paling larat',adalah apa
yang dikisahkan oleh An-Nawawi Rahfrnahullah berupa ijma bahwa
khadhab bukan wajib hukumnya.a

Dan semua tarjih yang telah lalu yang hasilnya adalah bahwa
khadhab adalah mandtb hukumnya. Sekalipun illah-nya adalah sikap
berbeda dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, namun tetap dihukumi
demikian karena sebagaimana diterangkan dalam bahwa halitu bisaterjadi
apabila ada qarinah (penyertaan keterangan) yang memalingkan dari
hukum wajib menjadi nadab (sunnah).

B. Hukum Menyemir dengan Warna Hitam

Para ulama berbeda pendapatdalam masalah ini, sehingga muncul
dua pendapat, yaitu pengharamans dan ibalah 'boleh'.$Sebagai terlihat

bahwa permasalahan ini tidak secara langsung termasuk ke dalam

masalah tasyabbuh.3T Malo Penulis akan mencukupkan untuk menyajikan
yang paling kuat dalam dua pendapat tersebut dengan dalil-dalilnya.

o Lihat Asy-Syaukani, op.cit, (1/119).
s Lihat lbnu Hajar, Fath... op.cit,('1013551.
s An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (14/80).
s Bermazhab dengan itu, di antaranya Asy-Syaf i dan Ahmad dalam dua buah

riwayattentang keduanya. LihatAn-Nawavi, Syarh... op.cit.,(alB0l;lbnuHajar, Fath
... op.cit.,(101356); dan lbnu Muflih, Al-Adab Asy-Syar'iyah, (3/337).

s Bermazhab dengan itu Malik. Lihat Al-Muiyaththa', Kitab Asy-Sya'r, Bab "Ma

Ja'a fii Shabghi Asy-Sya'r, (a/950).

37 Bisa jadi permasalahan ini termasuk dalam perkara tasyabbuh dari aspek
jika bemiat menyemir dengan wama hitam. Ada unsur penipuan, misalnya dalam
kaitannya dengan pemikahan atau lainnya. Dimana kebanyakan para ulama hiqgga

452 - rasyffiu$ ynng Dilarung MIam r:fi$ ulam

Pend a pat ya n g pa ling kuat -Wallahu Ta'ala A' lam- adalah mazhab
yang mengharamkan karena didukung oleh dalil-dalil sebagai berikut:
1. Hadits Jabir Radhigallahu Anhu yang di dalamnya ia mengatakan

sebagaiberikut,

Ut lA $q -.;ujts'^?*r)' ,ai]r,k i! & AA €te.i
irrAu*tjbab:*,*;*\t*

*Abu Quhafah dibawa sera pada hari Penaklukan Maklcah (Fathu
Makkalr) dengan kepala danjenggoaya seryrti 'tsaghanahqt putihnya.
Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bercaMa, 'Rubahlah
oleh kalian semua ini dengan sesuatu dan jauhilah oleh kalian warna

hitan."3e

Sisi pendalilan dari hadits ini adalah bahwa Nabi Slnlla llahu Alaihi
wa Salam memerintahkan merelra untuk tidak menyemir dengan wama
hitam. Ucapan beliau ini berlaku umum untuk siapa saja, meskipun
awalnya ditujukan hanya kepada Abu Quhafah sebagaimana hukum
asal dari setiap ucapan NabiShallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan

demikian, maka tidak ada alasan bagi mereka yang berpendapat bahwa
larangan tersebut berlaku khusus untukAbu Quhafah sebab tidak ada
dalil satu pun yang mengkhususkannya.

2. Hadits Abu Umamah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, "Nabi Shalla/lahu

Alaihi wa Sallam mengunjungi tetua kaum Anshar yang sudah

memutih jenggotnya, beliau bersabda,'Wahai kaum Anshar, warnailah
menjadi merah atau kuning, serta berbedalah dengan Ahli Kitab'."4o

Objek yang menjadi tekanan hadits ini adalah bahwa beliau tidak

rnenyebutkan warna hitam. lni memperkokoh hadits Jabir yang telah
disebutkan di atas. Dalam masalah ini telah disebutkan penjelasan rinci

yang sangat panjang daripada yang ada. Ringkasannya, setelah dilakukan

mereka yang membolehkannya, dengan tegas bahwa haram hukumnya jika dibarengi

dengan niat tersebut di atas. Lihat kaidah yang telah disebutkan di hlm. 149. buah
adalah jenis tumbuh-tumbuhan yang memiliki bunga dan
s Tsaghamah

benrarna putih yang sering dipakai sebagai permisalan warna uban. Dikatakan,

"Memutih seperti salju". Lihat lbnu Al-Atsir, op.cit.,1112141.

$ Shahih Muslim, Kitab Al-Libas wa Az-Zinah, Bab "lstihbabu Khadhabi Asy-

Syaib bi Shufrah au Hamrah ira Tahrimuhu bi As-Sawad', hadits no.2102, (311324).
e Telah berlalu takhrijnya.

ayffi - -tab tttt't 453
br fiMug tohaian, wr{noun, nab,

peninjauan dan analisa terhadap masalah yang ada, adalah penguatan
pengharaman penyemiran dengan wama hitam. Wallahu Ta'ala A'lam.

*d.+

9*tA*,,5

Laran$an Mencukur Habis lenggot
dan Perlntah untuk Mengguntlng Kumls

Para ulama sepal<at bahwa mencukur habis jenggot adalah haram
hukumnya dan menggunting kumis adalah wajib hukumnya. Dalam hal
initak seorang pun dari para pendahulu para ahli ilmu menentangnya.

Ibnu Hazm dalam l<ttab Maratib Al-ljma berkata, "Mereka sepakat
bahwa mencukur habis jenggot tidak boleh.ar Sebagian orang-orang
belakangan mengatakan boleh mencukur habis.4

Dalil-Dalil yang Menunjukkan Haram Mencukur Habis Jenggot dan
Perintah Menggunting Kumls

1. Dari Abu Hurairah Radhigallahu Anhu ia berkata, "Rasulullah

Shallallahu Alathi wa Sallam bersabda,

/vs'r7^)t | ;at If'r?s,-,, rrr3Jtrlv

* Guntinglah kumis, biarkanjenggot dan bersilcaplah br-

:r**,bda dengan onang-orang Majusi."as

2. Dari lbnu Umar Radhiga[ahu Anhuma, ia berkata, "Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

q j bt Ii|, ;llr tr; r, 4 *Jt tAv

"Berskaplah berbeda dengan orung-onng musyrk, biarkan jenggot

memanjang dan guntinglah kumis."u

aiLihatlbnuHazm, MaratibAl-ljma,(BeirutDaArAl-KutubAl-llmiah),h|m.157.

12 la adalah Muhammad Rasyid Ridha.

13 Shahih Muslim, Ktab Ath-Thahanh, Bab "Khishal Al-Fitrah', hadits no. 260,
(1t187).

4 Shahih Al-Bukhari, Ktab Al-Libas, Bab Taqlim Al-Azhafif , hadits no. 5553,
(512209); dan Shahih Muslim, ibid.,hadits no. 259, (111871. Lafazh dari Al-Bukhari.

454 - rasyabhul1 yangDilarungbalauprk$ :.slam

Objek yang menjadi tekanan dua buah hadits tersebut adalah bahwa
keduanya mencakup perintah yang jelas untuk membiarkan jenggot
memanjang dan'menggunting kumis. Perintah tersebut dengan dasar
alasan untuk tampilberbeda dengan orang-orang musyrik dan orang-
orang kafir. Perintah ini berkonotasi wajib.
3. Bahwa dalam mencukur habisjenggotadalah tasyabbuh kepada kaum

wanita dan yang demikian itu haram hukumnya. Dari lbnu Abbas

Radhiyallahu Anhuma, ia berkata,

:du._ )e';t q :#At *'tf lu',* yt J;' Jr

)t*)ur,.rtro,:Gl!i$

'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melahtat para pria yang
menyerupai para wania dan pan wania yang menyerupai para pria."as
Pria yang mencukur habis jenggotnya mutlak menyerupai wanita.
Penjelasan permasalahan itu bahwa jelas jika seorang wanita mema-
sang jenggot palsu, sudah tentu ia berdosa karena perbuatannya itu
karena ia menyerupai kaum pria. Demikian pula, jika kaum pria ketika

menghilangkan jenggotnya, tentu ia telah menyerupai kaum wanita.
4. Sesungguhnya dalam mencukur habis jenggot adalah upaya merubah

ciptaan Allah tanpa adanya izin syaCi dalam perbuatan sedemikian itu.
Maka perbuatan itu haram hularmnya. NlahTa'ala befirman,

'... Dan alcan aku suruh nrerela(nerafuh ciptaan Allah), lalu bnar-

bnar mereka merubalnya." (An-Nisa: 119)
Yang demikian adalah menurut perintah syetan; sedangkan Allah
Aza wa Jalla telah membentuk kita dalam sebaik-baik bentuk. Allah
Ta'alaberfirman,

'Dia membentuk rupamu dan dibaguslcan-Nya rupamu iu." (At-

Taghabun:3)
Berkenaan dengan makna ini telah dikabarkan oleh lbnu lrtas'ud
dari Rasulullah Shallallahu Alaihi usa Sallam bahwa beliau bersabda,

s Shah ih Ah B ukhari, lbld., Bab' N-Mutasyabbihin Binnisa wa Al-Mutasyabbihat
bi Ar-Rijal', hadits no. 5il6, (5122071.

- -sab nt, twyafiul1 tt B'fung takaian, terfia,an, Abah, 455

, 4,:CjiAt, o(,'i:jit: 7\'.:*t, :gt'Jlr hr,/
l';,; :t:;iji

" Allah melaknat wasyimat dan mustausyimat, mutanammishat,
muafallijat demi kecantikan, dan para wanita yang merubah cipaan

Allah."46

Mereka dinamakan dengan parawanita perubah ciptaanAllah karena
mereka menghilangkan sebagian bulu wajah dan merubah keadaan

giginya. Memotong jenggot sejalan dengan semua itu bahwa lebih
utama. Karena berhias dengan sempuma adalah sesuatu yang dituntut
pihak kaum wanita bahkan mungkin mereka menemukan Sebagian
alasan, ini berbeda dengan kaum pria.
5. Sesungguhnya membiarkan jenggot memanjang adalah bagian dari
fitrah. Hal itu karena hadits Airyah Radhigallahu Anha, ia berkata,
"Rasulullah Slallallahu Alaihi usa Sallam bersabda,

\ oc

^.".ur,t;b1 :W T :a' knr d,:rL

" Sepuluh macam fitrah, disebutkan di anaranya 'membiarkan jenggot
memanjang'."47

As-Suyuthi berkata, "Penafsiran yang paling baiktentang fitrah adalah
bahwa itu sunnah yang terdahulu yang dipilih oleh para nabi dan sejalan
dengan syariat. Maka ia seakan-akan sesuatu yang telah ditakdirkan di
mana semua manusia diciptakan selalu dengan fitrah itu."4

Menggunting kumis dan tidak membiarkannya memanjang sehing-
ga menjadi buruk baginya memiliki hukum yang sama dengan membiar-
kan jenggot memanjang, sebagaimana demikian jelas dari arti eksplisit
nash-nash. Sedangkan dalil-dalil yang diketengahkan oleh mereka yang
membolehkan mencukur habis jenggot yang dari kalangan ulama bela-
kangan dapat diikhtisharkan sebagaimana berikut:

8 Shahih Al-Bukhai, ibid.,Bab "Al-Mutrafallijat li'Al-Husni", hadits no. 5587, (5/
22161. Dan Shahih Muslim, Ktab Al-Libas wa ,A2-Zinah, Bab Tahrimu fi'li at-Washilah

wa Al-Mustaushilah", hadits no. 2125, (3113371.

s'7 Shahih Mustim, ibid., Bab "Khishal Al-Fitrah", hadits no. 261, (1l1BT).
Lihat Sunan An-Nasa'r, dengan komentar dari As-Suyutha, (11211.

456 - rasgal*ru$ yaryDilarangtalawglk$ :,ulam

Mereka mengatakan, "Hal-halyang muncul berkenaan dengan mem-
biarkan jenggot memanjang berkonotasi bahwa upaya itu adalah musta-
habb'dianjurkan'. Karena itu (ienggot) adalah dari perlora kebiasaan dan
bukan perkara agama. ltu bagian dari fitrah yang menambah keindahan
ciptaan. Sedangkan alasan dalam nash-nash yang memerintahkan bahwa
dalam membiarkannya memanjang adalah sikap berlawanan dengan
orang-orang musyrik dan Majusi, tidak menunjukkan hulanm haram men-
cukur habis jenggot, menurut mereka.ae

Pendapatyang paling laratyang sama sekalitidak diragukan adalah

pendapat jumhur umat ini bahwa haram hukumnya mencukur habis
jenggot. Hal itu karena dalil-dalilyang telah mereka sebutkan.

Sedangkan sesuatu yang pemah disebutlran yang menentang Pen-

dapat itu, sangat lemah. Penulis ringkaskan jawaban atas sanggahan

mereka sebagai berikut:

1. Kaidah ushuliyah 'pokok' bagi para ulama mengharuskan untuk
membawa kalimat perintah itu kepada makna hukum wajib, kecuali
jika ada sharif (dalil perubah hukum) yang bisa diperhatikan menurut
ukuran syariat dari hukum wajib itu. Namun tidak pemah muncul satu
pun penentang berkenaan dengan perkara ini. Pada akhimya alasan

yang disebutkan itu tidak memiliki dalil.

2. Sesuatu yang sudah menjadi baku, sebagaimana dijelaskan di atas,
bahwa bersikap beda dengan orang-orang musyrik dan orang-orang
kafir adalah wajib hukumnya ditinjau dari prinsip dasamyas sebagai-
mana dalam penjelasan rinci di atas. Dan tidak muncul sesuatu yang
membawa perintah kepada sesuatu yang beda dengannya, yaknibentuk
istilbab'anjuran dalam masalah ini.

3. Membawa perintah-perintah kenabian kepada bentuk pengarahan
tentang keduniaan tidak terlaksana kecuali dengan dalil bukan hanya
dengan cara otomatis. Ketika perintah beliau yang munculberkenaan
dengan perkara pakaian, gaya, atau lainnya tetap tidak akan keluar

dari 'daerah perintah syar'i'. Akan tetapi, tetaP sebagai ungkapan syariat

yang mengandung semua artidi atas. Sebagaimana nash-nash yang

'se Lihat Fatawa Muhammad Rasyid Ridha,l4/l5O9l.
Lihat Pasal 4, Pembahasan 1, hlm. 65, dan setelahnya.

- -nab t:l, 'raga[$ul1 dt Bihng eakauu, wrlxatan, nab, 457

muncul berkenaan dengan pakaian, bejana, dan lain sebagainya.

sebagian orang-orang masa kini pernah melontarkan ketidakjelasan
yang lain di mana seakan-akan nash-nash yang berisi perintah untuk
membiarkan jenggot memanjang telah muncul dengan dibarengialasan
untuk bersikap beda dengan orang-orang musyrik dan orang-orang
Majusi. Dan dalam zaman kita sekarang inibanyakorang kafir membiar-
kannya tetap memanjang. Dengan adanya keadaan yang sedemikian
ini, maka kita harus memotongnya dalam rangka melakukan prinsip
dasar beda dengan mereka.

Jawaban atas sanggahan ini bisa dilakukan dari tiga aspek:

1. Bahwa membiarkanjenggottetap memanjang bukan hanya untukbeda
saja. Akan tetapi, merupakan dari fitrah pula yang semua manusia di-
ciptakan dengan itu; dan akan bagus dengan itu dan buruk tanpa itu.

2. Kita tidak bisa menerima bahwa banyak dari orang-orang kafir di zaman

sekarang ini membiarkan jenggot mereka memanjang. Akan tetapi,
kebanyakan mereka mencuktrr habis jenggot. Tidak ada dari mereka
memanjangkannya kecuali sangat sedikit sekali. Jika kita menerima

bahwa kebanyakan mereka membiarkannya memanjang, sebenamya
perbuatan mereka itu tidak akan merubah hukum karena telah baku
menurut syariat dengan diperkuat lebih dari satu alasan. Bahkan mereka

di zaman sekarang ini lebih banyak menyerupai kita dalam hal ter-

sebut.'r

3. Jika diterima bahwa maknanya telah hilang yang berisiperintah untuk
membiarkan jenggot tetap memanjang, suatu hukum jika telah hilang
sebab munculnya. Akan tetapi, sejalan dengan fitrah atau syiar dari
syiar-syiar lslam, akan tetap berlaku sekalipun telah hilang sebab
munculnya. contohnya, berlari kecil ketika sedang melalarkan thawaf,
sekalipun sebab munculnya telah hilang. Akan tetapi, Rasulultah
Slallallahu Alaihi usa Sallamtetap berlari kecil dalam haji wada'nya.52

li ,l !t

5r Lihat hlm. 93. bin Utsaimin, Majmu'Fatawa wa Rasail, (4t129).
Lihat Syaikh Muhammad
r

458 -'r asyrrbbu$ yang Dilaruug Mlam nk# :^slam

?",*U*,+

Apakah Mencukur Habls Rambut
dl Ballan Tengkuk Dllaran$?s3

Para ulama berbeda pendapatberkenaan dengan hukum mencukur
habis rambut di bagian tengkuk. Munculdua pendapat:

Pendapat /. Haram hukumnya ketika tidak diperlalarkan dilalarkan
yang demikian itu. lni adalah pendapat Ahmad.a

Pendapat //. Makruh hularmnya ketika tidak diperlukan dilalokan
yang demikian itu. Ini adalah ucapan Maliks juga dinukil dari sebagian
para pengikut mazhab Syafi'is dan riwayat dari Ahmad.'?

lmam Ahmad ketika mengharamkan mencukur habis rambut di
bagian tengkuk dengan alasan bahwa perbuatan seperti itu adalah dari
perbuatan orang-orang Majusi. Al-Manvadzis berkata, "AIar bertanya ke-
pada Abu Abdillah -yakniAhmad bin Hanbal-tentang mencukur rambut
di bagian tengkuk, maka ia berkata, 'ltu bagian dari perbuatan orang-
orang Majusi, dan barangsiapa bertasyabbuh kepada suatu kaum malea
ia adalahbagian dari mqelea'."*

Ibnu Muflihm berkata, "lni berkonotasi pengharaman."6r

53 Halgu AhQafa adalah mencukur habis rambut di bagian tengkuk.
s Lihat lbnu Qudamah, op.cit,(1l125l,lbnu Muflih, op.cit., (3/335), yang menulis
bahwa ucapan Ahmad Rahimahullah mengarah kepada makna haram.

s Lihat Al-Jamf, Al-Qirwanl, 123/,-2351.

$ Lihat Al-Ghazi, op.cit , (5/309 B); dan Al-Munawi, op.cit , (6/328).
s7 Lihat lbnu Muflih, Al- Aadab ... op.cit., (3/335).
s Ahmad bin Muhammad bin Al-Hajjaj bin Abdulaziz Abu Bakar Al-Manradzi.
Salah seorang dari para sahabat Ahmad. la adalah seorang yang wara'dan memiliki
keutamaan. la meriwayatkan masalah yang sangat banyak dari lmam Ahmad. la
wafat pada tahun 275 H. Lihat Abdunahman Al-Alimi, Al-Manhai Al-Ahmad lli Taniumi
N-lmam Ahmad, tahqiq oleh Muhammad Muhyiddin Abdulhamid, (Beirut Alamu Al-
Kutub, cet.ll,1404 H), (1/118).
s lbnu Qudamah, op.cit., (111251.
m Muhammad bin Muflih bin Muhammad Al-Maqdisi. la adalah seorang ahli
fikih, ahlinahwu, ahli Ushul. la salah seorang dari para ulama dalam mazhab Hanbali.
Menjadi murid Syaikhul lslam lbnu Taimiyah. Di antara kitab-kitabnya Al-Furu', Al'
Ushut, op.cit. dan lain-lainnya. lg wafat tahun 763 H. Lihat Yusuf bin Al-Hasan bin
Abdulhadi, Al"lawahir Al-Mundhadh lli Thabaqat Mutaakhkhiri Ashhab Ahmad,tahqiq
Dr. Abdunahman Al-Utsaimin, (Kairo: Maktabah Al-Khanji, cet. l, 1407 H), hlm. 112.
ol lbnu Muflih, op.cit., (3/335).

twgffit -tabttt
-Btun1pdreiortplil/rrsa\ Abob, 459

Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa hukumnya adalah

makruh telah menetapkan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Apa yang muncul dari Umar Radhiyallahu Anhu bahwa ia berkata,
"Mencukur habis rambut di bagian tengkuk bukan untuk berbekam

dengan model orang-orang lvlajusi.62 Seakan-akan mereka mengetahui

bahwa bertasyabbuh dengan orang-orang Majusi tidak berkonotasi

pengharaman.

2.Yang demikian itu termasuk kategori qua'63; dan qea'itu makruhs

hukumnya. Demikian kata mereka.

3. Dalam perbuatan mencukur habis rambut di bagian tengkuk adalah

upaya merubah ciptaan Allah6 yang makruh hukumnya.

Pendapat yang paling lou.at-Wallahu Ta'ala lilarn- . haram

adalah

mencukur habis rambut di bagian tengkuk selain untuk bekam atau upaya

lain yang menyerupainya. Karena prinsipnya adalah haram melakukan

perbuatan yang khusus dilakukan orang-orang kafir.6 Telah baku dan

tetap bahwa mencukur habis rambut dibagian tengkuk adalah perbuatan

khusus dilalrukan orang-orang Majusi. Sebagaimana dinukil dari Umar

bin Khaththab RadhiyallahuAnhu dan lmam Ahmad Rahimahullah.

Sejalan dengan makna di atas apa yang diriwayatkan Al-Khallal6T

@ Al-Haitsami mengeluarkan hadits tentang Umar dengan lafazh:

yry.o$r,f ,r * t &ir'?"t it l'' ;, :

'Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallam nnlarung nencukur habis rambut di
bagian tengkuk kecuali jika untuk berbekam'.

Juga berkata, "Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir dan Al-Ausath.
Dalamnya terdapat Sa'id bin Basyir yang dipercayai oleh Syu'bah dan lain-lainnya. la
dilemahkan oleh lbnu Ma'in dan lain-lain. Sedangkan sisa perawi isnadnya adalah
orang-orang kategori shahih.' Lihat Al-Haitsami, Majma' ... op.cit., (511721.

B Qaza'adalah mencukur rambut secara selang-seling. Jika dikatakan

t;-izi1fi, arlinya seseorang mencukur rambut secara selang-seting sebagaimana

digambarkan di atas. Lihat Al-Muthrazi, Al-Maghrib, hlm. 381.
s LihatAl-GhazL op.cit., (5/309 B).
6 tbid., (5/309 B).
6 Lihat Pasal 4, Pembahasan 1, hlm. 65.

c7 Dia adalah Abu Bakar Ahmad bin Muhamrnad bin Harun, salah seorang
pembesar dari kalangan pengikut lmam Ahmad. Dia mendengar dari para murid
imam dan anak-anaknya. Dia sangat menaruh perhatian terhadap kata-kata dan
segala permasalahan yang ada padanya. Dia banyak bepergian demi itu dan mampu
menyusul mereka dan lainnya sehingga menjadi imam di kalangan para pengikut
mazhab lmam Ahmad. la wafat pada tahun 311 H. Lihat Al-Bali', Al-Mathta', hlm. 430.

460 - ruyffiub gang alarung Oalarr- nkh rcln'rr.

dariAl-Haitsam bin Humaidffi ia berkata, "Mencukur habis rambut bagian
tengkuk adalah dari .bentuk orang-orang Majusi."6e

. Hadits Umar Radhigallahu,\nhu menguatkan halitu, yaitu:

yry,\\u, *,r & y\,,rv !, J.;, &

"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mencukur habis

rambut di bagian tengkuk, kecuali jka untuk berbkam."n

Hadits inisekalipun orang berbeda-beda dalam mengokohkan seba-
gian para tokoh isnadnya, namun maknanya adalah baku dari kalangan
para shahabat sebagaimana disebutkan di atas.

Sedangkan pengecualian mencukur habis rambut tersebut lmrena
untuk kepentingan bekam adalah sesuatu yang sudah termuat dalam nash.

Karena bekam telah baku merupakan sesuatu yang dilakukan oleh
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallarn tiada lain adalah dengan men-
cukur rambut di bagian tengkuk. Maka dengan demikian menunjukkan

bahwa Rasulullah Shallallahu Alathi ua Sallam sangat menganggaP

penting hal itu sebagai kepentingan.
Apa yang bisa kita saksikan di zaman kita sekarang ini bahwa seke-

lompok para pemuda kafir dari negara-negara Barat laksana kumbang
yang merayap di atas jalannya menuju sikap main-main dengan rambut
kepalanya. sebagian dari mereka mencukur habis rambutyang di bagian
tengkuk dan membiarlon rambut di bagian atas; atau memotong bagian
samping tengkuk dan membiarkan sebagian di atas kepala dan di bagian
akhimya. Dan lain-lain gaya yang tidak akan fuida temukan di negeri-
negeri kaum Muslimin, kecualipada sebagian para pemuda yang terasing
dan terpengaruh oleh ga)ra orang Barat. Sehingga mencukur habis rambut
dibagian tengkuk adalah bagian aksitasyabbuh kepada mereka di zaman
sekarang ini.

*!f*

e At-Haitsam bin Humaid Abu Ahmad. Dikatakan, "Abu Al-Harits". lbnu Ma'in
berkata, Tidak ada masalah dengan itu'. Ahmad berkata, 'Aku tidak melihatnya
melainkan kebaikan". la dilemahkan oleh Abu Mashar dan dituduh sqbagaisoorErng
Qadari. Lihat lbnu Ha\ar, Tahdzib ... op.cit, biografi no. 7679, (11/81).

@ Lihat lqtidha Ash-Shirath AhMustaqim,lbnu Taimiyah (1/180).
ro Lihat hamisy no.62, h|m.459.

- -ub nt raayabb"h U Nt takaiant per{twsan, Abah, 461

"g

?",*t *,,5

larangan Menyambunll Rambut

Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum menyambung
rambut hingga muncultiga macam pendapat:

Pendapat /. Haram mutlak hukumnya. lni adalah pendapat lmam

Malil,zt dan lain-lain,72 bahkan menjadi pendapat jumhur.?3

Pendapat //. Hukumnya jaiz mutlak. lni diriwayatkan dari Aisyah

RadhigallahuAnha.Ta

Pendapat ///. Sebagaimana dirincikan berikut ini:

Mereka berkata, Jika disambung dengan rambut manusia atau
bukan rambut manusia tetapi najis, seperti rambut mayit, pendapat
mereka, jika dalam kondisi demikian adalah sama dengan pendapat
jumhu6 bahwa haram hularmnya. lni dikatakan oleh para pengilart mazhab
Syafi'i75 dan Hanbali."76

Sedangkan jika disambung dengan sesuatu bukan rambut, seperti

wol atau sejenisnya maka hukumnya jaiz. lni pendapat para pengikut

mazhab Syafi';zz dan Hanbali.TsSedangkan jika disambung dengan bukan
rambut manusia yang suci, hal itu dilarang menurut para pengikut mazhab
Hanbali.Te lnisejalan dengan pendapat jumhur. Sedangkan para pengilat
mazhab Syafi'i berpendapat bahwa hukumnya haram, jika wanita yang
bersangkutan tidak memiliki suamiatau tuan. Sedangkan jika ia memiliki
suami atau tuan dan dilakukan dengan izinnya, hukumnya jaiz. Demikian
yang tepat.e

7i Lihat Al-Qinrani, Al-Jamf, (2361.

z Lihat An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (1411C/.1. Di mana An-Nawawi menuki!

hadits itu dari Al-Qadhi lyadh.
B Lihat lbnu Hajar, Fath,,, op.cit.,(1013751.
71 Lihat An-Nawawi, /oc.crT.

75 tbid., (14l103).

7c Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (1/131).

z Lihat An-Nawawi. loc.cit

78 Lihat lbnu Qudamah, loc.cit Dalam FathN-Bari,lbnu Hajar menisbatkannya
kepada lmam Ahmad, (10/375). Demikian pula pendapat At-Laits bin sa'ad. Lihat At-
Qinrani, loc.crt.

7e Lihat lbnu Qudamah, loc.cit
& Lihat An-Nawawi, Syarh ... loc.cit.

462 - tasyahbull yanT Dilarung balam rikh rlawr

Jumhur ulama yang berpendapat bahwa haram hukumnya menge-
tengahkan dalil-dalil, di antaranya:

1. Dari Humaid bin Abdurrahman bin AuFl bahwa dirinya mendengar
Muawiyah pada tahun haji, ketika ia di atas mimbar lalu menyaksikan
sebagian rambuts2 yang ada di tangan Harasi, berkata, "Wahaiwarga
Madinah, mana para ulama kalian semua? Aku pernah mendengar

Rasulullah sha llallahu Alaihi un kllam melarang perbuatan semacam

ini dengan sabdanya,

e:ju ot';1it',r rpt -t'. r:;'c3.1,^ Ct

" sesungguhnya bani Israil menjadi hancur ketika para wanita mereka
berbuat sedemikian."

Dan riwayat Sa'id bin Al-Musayyab di dalam kitab Shahihain, ia
berkata, "Aku tidak melihat seseorang melakukannya, kecuali orang-
orang Yahudi. Sungguh, Rasulullah Sha llallahu Alaihi wa fullam telah
mendengamya dan menamakannya penipuan.B
2. Dari Aisyah Radhigallahu Anla bahwa seorang gadis dari kalangan
Anshar menikah. Ia menderita sakit sehingga rambutnya mengalami
kerontokan.e Orang-orang hendak menyambunginya. Maka mereka
bertanya kepada Rasulullah Sha llallahu Alaihi ua Sallam. Maka beliau

bersabda,

att':L$:,*t)tio',r,

"Allah melaknat wanita penyambung rambufs dan wanita yang

tr Humaid bin Abdunahman bin Auf bin Abdul Harits Al-Qurasyi. Seorang dari
para tabi'in. Berasal dari Madinah dan seorang yang tsiqah. la meriwayatkan dari
ayah-nya, An-Nu'man, Muawiyah, dan lain-lain. la wafat tahun 105 H, dikatakan pula
bukan tahun tersebut. Lihat lbnu Hajar, Tahdzib ... op.cit, biografi no. 1629, (3/40).

a AlQushshahartinya sebagian rambut. Lihat tbnu Halar, Fath... op.ciL,(1Ol3TS).
B Kedua riwayat tersebut ditakhrij Al-Bukhari dalam Kibb Al-Libas, Bab "Al-
WashlifiiAsy-Sya'ri", hadits no. 5588; dan hadits no. 5594, (512216-2218); dan Mus-

lim dalam Ktab Al-Libas, Bab "Tahrimu fi'li Al-Washilah wa Al-Mustaushilah, Al-
Wasyimah wa AhMustausyimall, hadits no. 2127, (311338-1339).

s Minya keluar dari aslinya. Asal kata mu'th adalah madd'perpanjangan',

seakan-akan rambut itu memanjang yang akhirnya rontok. Juga dimaksudkan untuk
siapa yang rontok rambutnya. Lihat lbnu Hajar, Fath... op.cit.,(1013761.

s Wanita yang menyambung rambut untuk dirinya sendiri atau untuk orang

tain. tbid., (10/376).

-tab ttt tasgabb"h d stlong w[aian, verlnasar, fiab, -. 463

meminta rambu tnya disambungi." 86'87

Objek yang menjadi penekanan hadits ini adalah bahwa larangan
di dalamnya muncul dengan bentuk laknatyang mengandung arti peng-
haraman.ss HadiB tersebut muncul dengan bentuk umum yang berarti
berlaku untuk semua macam penyambungan rambut.e
3. DariJabir bin Abdullah Radhiyallahu,{nhuma bahwa ia berkata, "Nabi
melarang dengan tegas wanita yang menyambungi kepalanya dengan

sesuatu."eo

Hadits di atas adalah dalil paling kuat yang diketengahkan oleh
jumhur dalam rangka memutlakkan larangan menyambungi rambut.er

Sedangkan pendapat kedua dinisbatkan kepada Aisyah
Radhigattahu Anha. Yang jelas, penisbatan ini tidak benar. Hat itu

ditegaskan oleh Al-Qadhi lyadh. Halyang menunjukkan bahwa penisbatan
ini tidak benar adalah bahwa Aisyah Radhigallahu Anha adalah orang
yang meriwayatkan hadits pelaknatan wanita penyambung rambut dan
wanita yang meminta rambutnya disambung.e2

Sedangkan pendapat ketiga, ketika mereka mengharamkan me-
nyambungi rambut dengan rambut manusia menetapkan dalil berupa
hadits-hadits di atas. Karena haram memanfaatkan rambut manusia dan
semua bagiannya karena memiliki kehormatannya. Akan tetapi, rambut
dengan semua bagiannya harus dikuburkan. Sedangkan menyambung
rambut dengan bukan rambut manusia, jika najis, mereka melarangnya
karena hadits-hadiB di atas dan karena najis yang ada padanya.e3

Sedangkan diperbolehkan jika dengan wol atau sejenisnya, yang
jelas mereka menetapkan dalil berupa pengertian kata-kata'menyambung

s Wanitia yang meminta perbuatan itu untuk dirinya. lbid., (101376).
87 Shahih Al-Bukhari, Ktab Al-Libas, Bab "Al-Washl fii Asy-Sya'ri", hadits no.
5590, (5122'l7l; dan Shahih Muslim, Kbb N-Libas, Bab'l'ahrimu Fi'li Al-Washilah wa
Al-Mustaushilah', hadits no. 2123, (3/1336).
s lbnu Qudamah, op.cit., (1/130); dan lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(1013771.
Ee Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (1/131).

n Shahih Muslim, Kitab Al-Libaq Bab "Tahrimu Fi'li al-Washilah wa Al-

Mustaushilah wa Al-Wasyimah wa Al-Mustausyimah", hadits no. 21, (3/1338).
er Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(101375). Lihat pula ungkapannya dalam An-

Nawawi, Syarh ... op.cit., (141104).
e Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(1013771.
e3 Lihat An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (141103).

464 - rasyabbub yang Dilarung dalnwr rik./ ulaw

rambut'. Karena kata-kata itu tidak mungkin terjadi melainkan pada

kegiatan menyambqngi rambut dengan rambutyang sama, sebagaimana
yang mereka katakan. Juga karena aksi memanfaatkan penipuan yang
terjadi dengan menyambungi rambut dengan rambut yang sama.s

Sedangkan dalam aksi menyambung rambutdengan bukan rambut
manusia yang suci, maka yang paling tepat adalah jaiz hukumnya menu-
rut mereka. Namun mereka tidak menyebutkan dalil. Akan tetapi, mereka
mengaitkannya dengan keadaan yang bersangkutan itu telah menikah
dan dengan izin suami. Seakan-akan dengan demikian itu menghilangkan
tercapainya'penipuan .e5

Pendapat yang paling kl"tat -Wallahu Ta'ala A'Iam- adalah haram
menyambung rambut dengan rambut lain. Hal itu karena dhlil-dalilyang
diketengahkan oleh jumhur. Demikian pula menyambungi rambut dengan
sesuatu lain bukan rambut. Hal ini karena telah ada nash yang shahih
dan tegas, yaitu hadits Jabir bin Abdullah Radhigallahu ,*thu yang di

dalamnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang

dengan tegas wanita yang menyambung rambutnya dengan sesuatu.
Ini menunjukkan kepada halyang umum mencakup segala sesuatu

yang bisa disambungkan, baik berupa rambut atau lainnya. Berpegang
kepada nash adalah wajib hukumnya. Juga karena sifat umum dalam
larangan tentang penyambungan sebagaimana dalam laknat beliau bagi
wanita yang menyambung rambut dan wanita yang meminta rambutnya
disambung dengan rambut atau sesuatu yang lain yang bentuknya mutlak
(tanpa ketentuan) dengan tidak memberikan penjelasan tentang aPa yang
disambungkan kepada rambutnyra. Juga karena orangyang membolehkan
penyambungan dengan bukan rambut tidak menyebutkan alasan yang
menegakkan dalil-dalil itu. Hikmah larangan itu, sebagaimana dikatakan
oleh para ulama adalah karena dalam aksi penyambungan itu terdapat
tindak penipuan dan bahkan kadang-kadang dengan menggunakan se-
suatu yang dipersengketakan bahwa ia najis. t€bih dari semua itu, penlam-
bungan rambut adalah dari kebiasaan orang-orang Yahudiyang dikenal
dengan kebiasaannya itu. Sebagaimana dikatakan oleh MuawiyahRadhi-
yallahuAnhu, 'Aku tidak pemah menyaksikan seseorang melakukannya,

s Lihat lbnu Qudamah, op.cit, (1/131).

5 An-Nawawi, Syarh ... op.cit, (141104).

-tab t:l:'rasgahb"b U sran1 Yahaiar, wrfiasan, Anabt ... 465

kecuali orang-orang Yahudi." Ungkapannya ini sejalan dengan sabda Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam satu hadits berikut,

" Sesungguhnya bani Israil menjadi hancur ketika para wanita mereka
berbuat sedemikian."
Dapat dipahami bahwa perbuatan sedemikian itu adalah dari per-
buatan orang-orang Yahudi. Mereka di zaman sekarang inijuga termasuk
orang yang banyak menggunakannya bersama orang-orang Nasrani.
Bahkan mereka sengaja memproduksi dan memasarkannya. Sungguh
hanya Allah sebagai tempat meminta pertolongan.

*rlt

?*m*,0

la]anlan Menggunakan Alat-alat atau Pakalan
yang dl Baglan AtasnyaTertera Lambang Sallb

Yang paling tepat adalah haramsT hukum pemakaian sesuatu yang
terdapatlambang salib, baikberupa pakaian atau peralatan. Yang demikian
itu seperti kelambu dalam rumah, pintu, dan lain sebagainya. Halitu karena

beliau tidak pernah membiarkan di rumahnya sesuatu yang padanya

terdapat lambang salib melainkan beliau menghancurkannya.s Demihan,
sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu Anha.

Yang dimaksud "menghancurkan" adalah membatalkan, merusak,
dan mengganti tanda salib. Muncul hadits dalam riwayat lain:

s Kedua riwayat tersebut ditakhrij Al-Bukhari, op.cit., hadits no. 5588; dan

hadits no. 5594, (512216-2218); dan Muslim, op.cit., hadits no. 2127, (311338-1339).
e7 Hal itu juga ditegaskan oleh Al-Mardawai dan Al.Bahuti dari kalangan para

pengikut mazhab Hanbali. Hal itu jelas telah dinukil Shalih dari ayahnya, demikian
sebagaimana mereka katakan. lni bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh
sebagian para pengikut mazhab Hanbali yang lain yang menurut mereka makruh

Uhukumnya. Lihat lbnu Muflih, op.cit., (3/50a); Al-Mardawai, op.cit., Ta\ dan Al-

Bahuti, op. cit.,(1 12801.

8 Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab "Naqdhu Ash-Shuwar', hadits no.

s608, (512220).

466 - TNVhbuh gangDilarungbalawrik$ rclam

*oy

"... Tiada lain beliau memotong bagian yang ada gambar salibnya.',

Dikatakan pula bahwa an-naqdhu adalah menghilangkan gambar
dengan kain tetap utuh seperti sediakala, sedangkan al-qadhbu meng-
hilangkan gambar pada kain dengan menghilangkan bagian bergambar.s

I llah dalam hal di atas, karena salib adalah syiar orang-orang Nasrani.
Maka dengan memunculkan dan mengambilnya untuk mode apa pun
menunjultkan sesembahan dan tasyabbuh kepada orang-orang Nasrani.
IbnulQalyim Rahimahullah berkata, "Memunculkan salib sama dengan
memunculkan berhala. ltu adalah sesembahan orang-orang Nasrani,
sebagaimana berhala-berhala ada lah sesembahan para pemiliknya. Oleh
sebab itu, mereka dinamakan para penyembah salib."rm ltu bagaimana
pun adalah lambang akidah mereka yang paling utama.

Sedangkan mereka dari kaum Muslimin yang meletakkannya di atas
pakaiannya atau lainnya dalam rangka mengagungkan bukan karena tidak
mengetahui, maka sama sekalitidak diragukan lagi, ia telah kafir. Karena
dengan demikian itu ia telah mengagungkan agama orang-orang Nasrani
yang bathilyang ditetapkan oleh Allah.

Adz-Dzahabi berkata, "Ketahuilah bahwa memperjualbelikan khamar
dan membuat mangkuk-mangkuk maka atas dirinya keburukan. Demikian
pula orang yang membuat salib dan lembaran bergambar yang dipasang
di rumah-rumah adalah bagian dari sesuatu yang bisa diagungkan yang
siapa saja meyakini bahwa perbuatan demikian itu halal hukumnya dan
pemakaiannya, maka ia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata."ror

*{.*

s Lihat riwayat lain. Makna kedua riwayat itu terdapat dalam kitab tbnu Hajar,

Fath ... op.cit.,(101385); dan Asy-Syaukani, op.cit., (21102\.

im lbnul Qayyim, Al-Ahkam ... op.cit., en 19').

ioi Adz-Dzahabi, Tasybihi Al-Khasis Bil Ahli Al-Khamis", op.cit , htm. 211 .

-sab trt tasgabbuh u sitrrrl1 takaian, Perlnavrn, nah, ... 467

?*t t *,2

Laran$an Men$enakan Sutraoleh l(aum takl-lakl

Para ahli fikih sepakatbahwa haram hukumnya kaum pria memakai
sutra.ro2 Dikisahkan oleh lbnu Abdul Barr bahwa kesepakatan itu sudah
mencapai tingkat ijma.'o' Kecuali pendapat yang datang dari Abu Hanifah,
dibolehkan selain pakaian, untuk bantal, atau alas duduk, misalnya.rs lni
adalah aspek yang lemah menurut para pengikut mazhab Syaf i.r6

Para ahli ilmu ketika mengharamkan sutra bagi kaum pria berdalil
dengan sejumlah dalilyang di antaranya:
1 . Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu, ia berlota,'Aku pernah mendengar

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

\'trHt t:-i' y) CU:.*: | ),c!'nt \ );/r r;* !

,:4i €,s3,rJtur,r)i 6y,ryy €frtsu

'langanlah kalian mengenakan pakaian dari sutra dan di'baj (sutra
brkualias), jangan minum dari bejna dari emas atau perak, dan jangan
makan dari piring yang terbuat dari keduanya. Karena sesungguhnya
ia milk mereka di dunia dan milik kita di akltirat.'"t6
Objek tekanan hadits di atas adalah bahwa di dalamnya larangan

tegas berkenaan dengan pemakaian pakaian dari sutra dan penjelasan
alasan larangan itu, yakni sutra adalah pakaian orang-orang kafir di
dunia. lbnu Daqiq Al-led berkata, "Dalam hadits itu terdapat peringatan
tentang larangan bertasyabbuh kepada orang-orang kafir."toz

r@ Dalam hal ini lihat penutup dalam Al-QadhiZadah, Syarh Fah Al-Qadif (01
17), lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit., (261208l,Malik, Muwaththa' ... op.cit., (21
917), An-Nawawi, op.cit., (4/435), An-Nawawi, Ar-Raudhah ... op.cit., (1/573), lbnu
Qudamah, op.cit, (280Q; dan As-Samiri, op.cit., @4211.

i6 Lihat lbnu Abdul Ban, ibid., (261204).
ru Lihat penutup Al-Qadhi Zadah, op.cit, (10/18).
i6 Dikisahkan An-Nawawi yang ia nukit dari Ar-Raf i. Lihal Al-Majmu',1414351.
la berkata tentiangnya, Tidak dikenal (munkaff .
16 Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Ath'imah, Bab ?l-Aklu fii lna'i Mufadhdhadh",
hadits no.5110, (5/2069);dan ShahihMuslim, KbbAl-LibaswaAz-Zinah,BabTahrim
lsti'mali lna Adz-Dzahab wa Al-Fidhdhah', hadits no. 2067, (3113021.
r07 lbnu Daqiq Al-led, op.cit., (A2151.

468 - tasgabbrt W"S oilarang dalam rhh rclarl

2. Dari umar bin Al-Khaththab Radhigallahu Anhu dari Rasulullah sha/-
lallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

it ti e"*l;p$Nt C'il n'ip,;.atV*$,t

'langanlah katian mengenakan pa*aian aari sutra. Karena sesungguh-
nya siapa saja yang mengenakannya di dunia, maka ia tidak akan me-
ngenakannya di akhirat." tu

3. Dari Abdullah bin Umar Radhigattahu Anhuma ia berkata,

AA, r;u'J,t*^,i:tf:$ifr:'hirrrJL?q.,G!-:oJw\i*et^y7\tLt-l*r'au r#j'Li,i

i;i, :; r+,r.i uj!,&iql; ir * it J';:rll'o,;:riJj r*tJ

" umar bin Al-Khaththab melihat kain suta tebalo dijual di pasar.
Maka, dia mengambilnya dan membawanya kepada Rasuluttah shat-
lallahu Alaihi wa sallam. Maka ia berkata, 'wahai Rasulullah, blitah
ini untuk kaujadikanpakaian indah datam lebaran atau untukpara tamu
kehormatan'. Maka Rasulullah shallallahu Alaihi wa sailan brsaMa,
'sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang tidak memiliki fugian di
alblii;af .-tto

4.Apa yang munculdariAli bin Abu Thalib RadhigailahuAnhubahwa ia

berkata, *

t3i rri'r# e'^ikrrv t*i 'l;'ryii, * ,it'o\
'e.t,\.V el ;fi * rt; /n^ o\ilu ;,!g,:?'^iil

'sesungguhnya Nabi Allah shallallaha Alaihi wa sailam mengambil
suta dan meletakkannya di tangan kanan beliau, lalu mengambil emas

ro Ditakhrij oleh Al-Bukhari, dalam Kitab At-Libas, Bab "Lubsu At-Harir wa
lftirasyuhu", hadits no. 5496, (5/2194), dan Muslim dalam Kitab At-Libas,Bab rahrimu
lsti'mali lna Adz-Dzahab wa Al-Fidhdhah', hadits no. 2069, (3/1306).

1@ Al-lstabnq adalah sutra tebal. lstabraq adalah kata serapan dari bahasa
asing yang diarabkan. Lihat lbnu Al-Atsir, op.cit, (1147).

r10 Ditakhrij oleh Muslim, op.cit, hadits no. 206S, (3/1304).

- -tab m, rrulyrtW U sifrnrg pal<aian, prr{n*r, Atab, 469

dan meletakkannya di tangan kiri beliau lalu bersabda, 'sesungguhnya
kedua bnda ini haram bagi kaum laki-laki dalam umatku dan halal
bagi kaum wanita rneleka'.-ttt

Dalam hadits ada sifat umum yang mencakup semua macam
pemakaian sutra dan Penegasan tertulis tentang halalnya sutra untuk kaum
wanita di kalangan kaum Muslimin. Dan muncul dalil-dalil lain yang banyak
jumlahnya dalam bab ini Pula.tr2

Sedangkan mereka yang membolehkan duduk dan berbantalkan
di atasnya, mereka berdalil dengan dalil-dalil berikut:
1. Apa yang diriwayatkan bahwa Nabi Shatla llahu Alaihi wa Sallam duduk

di atas bantalyang terbuat dari sutra.rr3
2. Mereka berkata, lJika sedikit saja dari aPa yang dikenakan adalah mubah

seperti lambang pada pakaian. Demikian pula sedikit pemakaian dan

penggunaan.rra

3. Mereka berkata, "Hadits yang muncul di dalamnya sebuah larangan
bisa saja yang dimaksudkan adalah pemakaian dan duduk secara ber-

sama-sama."1l5
Jumhur ulama menyanggah semuanya dengan jawaban berikut:

1 . Apa yang dinukil dari Abu Hanifah Rafum ahullah bertentangan dengan
hadits, maka tidak ada kekuatan sebagai huiiah di dalamnya.rr6 Dalam

hadits Hudzaifah disebutkan,

111 Sunan Abu Dawud, Kitab At-Libas, Bab "Fii Al-Harir Linnisa" hadits no.

4057, (4/50), Sunan An-Nasa'i, Kbb Al-Libas, Bab Tahrimu Adz-Dzahab 'ala ar-

R'rjal", hadits no. 5159, (8/539); dan Sunan lbnu Maiah, Kitab Al-Libas, Bab "Lubsu Al-

nirir wa Adz-Dzahab Linnisa', hadits no. 3595, (2/1189). lbnu Al-Madini berkata,

"Hadits hasan dan para perawinya sangat dikenal'. Lihat lbnu Haiar, At-Talkhish ..-
op.cit., dicetak dengan kitab Al-Maimu' (1 l307l.

1r2 Lihat hal itu dalam Muhammad Abdul Hakim Al-Qadhi, Kitab Al-LiMs wa

Az-Zinah min As-Sunnah Al-Muthahhanh, (Kairo: Daar Al-Hadits, cet. ll' 1410 H),

hlm. 339 dan setelahnya. Kitab lni menghimpun semua yang berkenaan dengan
masalah pakaien dan perhiasan dali borbagai kibb sunnah.

13 Diketengahkan dalam kilab Matan AhHldaya. Llhat Zadah, op.cit , (1 0/19);
dan penulis tidak menemukan sedikit pun dari hadits sedemikian itu dalam kitrab
kitab sunnah yang PoPuler.

il{ Lihat Zadah, ibid., (101191.

ri5 Lihat lbnu Hajar, Fath... op.cit.,(1012921.

irc Lihat An-Nawawi, op.cit., (4/435).

47 0 - r asvbbub ynng Dilarung Ulam rik$ ulam

' "'ii )I,a2.;)t6-tJttlj-,'rt ui *'rqE ir .A'Ct eW

,

i'i^*;'L*:olrt" rLJ'Jit
^;'r':e';u'Nabi shallallahu Alaihi wa sallan nrelanng kia minum dengan bejana
dari emas atau perak, malen dengan wadah keduanya itu, mengenakan

pakaian dari suta atau bludru dan duduk di atasnya."uT

2. Mereka berkata, 'Jika diharamkan memakainya padahal ada kepen-
tingan dengan memakainya itu, selain pemakaian adalah lebih utama
untuk ditinggalkan."r r8

3. Mereka berkata, "Sesungguhnya sebab pengharaman pemakaian ada
di bagian akhia jadi tidak ada perbedaan."rte

4. Merelo berkata, "Apa yang dimunculkan adanya kemungkinan bahwa
yang dikehendaki adalah duduk dan memakai secara bersama-sama,

demikian itulah yang dilarang, maka yang demikian itu tertolak dengan

hadits sa'ad bin Abu waqqash yang di dalamnya Rasulullah sha llallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,

;i ;f i,r#i ;,';,i'oi:rI. 1 tUtr S, *;ii)oi

'Sanggah jika aku harus duduk di aas bara semacam pohon cen an

adalah lebih aku sukai daripada aku harus duduk di aas bmpat duduk

dari $tta'."tn

5. Mereka berkata, "Berbantaldengannya adalah bagian dari hiasan para
kaisar dan orang-orang sombong, dan bertasyabbuh kepada mereka
haram hukumnya."t2t

Pendapat ya ng pa lin g lnnt -Wallahu Ta'ala ll lam- adalah pendapat

jumhur karena didukung oleh nash-nash yang jelas dan karena kelemahan

dalildalil yang dikeluarkan oleh para penentangnya, sebagaimana jelas

117 Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab "lftirasy Al-Harif, hadits no. 5499, (S/
2195); dan Shahih Muslim, op.cit, hadits no. 2067, (3/1303). Lalazhnyadari Al-Bukhari;

dan tidak ada ungkapan Muslim, wa an khajlisa alaihi"'dan kita duduk diatasnya'.

rrt Lihat An-Nawawi, op.cit, (414351.

t'r0 Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(1012921.

r20 Disajikan lbnu Hajar dalam Al-Fath. la diam terhadapnya seakan-akan
membaguskannya. la menisbatkannya kepada Jamf lbnu wahb.Lihailbnu Haiar, ibid.

r2r lni adalah ucapan Abu Yusuf dan Muhammad keduanya adalah sahabat
Abu Hanifah. Lihat Zadah, loc.cit

* -nab lrtt tasgaffi tt BiMng Pahata\ eerlnaun, Abah, 47 1

terlihat dari diskusinya. Sedangkan hadiB yang muncul bahwa Rasulullah

Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk di atas bantal dari sutra, Penulis
belum menemukan sedikit pun di dalam kitab-kitab sunnah yang bisa
diandalkan. Jika shahih adanya, ia akan bertentangan dengan hadits

Hudzaifah di dalam kitab shahih yang tegas melarang.

Sedangkan illat yang karena kaum pria dilarang menggunakan
sutra, telah dilotakan oleh lbnu Hajar sebagai berilart, 'Ada perbedaan

pendapat dalam hal rllaf pengharaman sutra sehingga timbul dua pen-
dapat yang masyhur: Pertama, bangga dan sombong. Kedta, karena
merupakan pakaian indah dan perhiasan yang sesuai untuk kaum wanita

dan bukan untuk kaum pria. Maka ada kemungkinan alasan ketiga,yalrmi
tasyabbuh dengan orang-orang musyrik." lbnu Daqiq Al-led betkata, "lni
bisa jadi kembali kepada yang pertama. Karena merupakan tanda khusus
di kalangan orang-orang musyrik. Bisa jadi dua makna itu bisa dikukuh-

kan, hanya saja makna kedua tidak berkonotasi pengharaman."r22

Yang jelas -WallahuTa'alalllam- bahwa dalam pemakaian sutra
adalah tasyabbuh kepada orang-orang musyrik dan orang-orang lCIfir;
dan ini adalah illat yang diketengahkan sebagai dasar pengharamannya.
Ini tidak menghalangi yang lainnya. Sebuah jamaah yang di dalamnya
lbnu Abdul Barr,ra lbnu Daqiq,r2a dan Syaikhul Islam lbnu Thimiyaht25

Rahimahumullah menegaskan demikian itu.

Para ahliilmu telah memberikan keringanan berkenaan dengan lam-

bang-lambang yang terbuat dari sutrar26 untuk pakaian. Juga pemakaian-
nya karena sebab yang dipertimbangkan secara syar'i, seperti adanya
penyakit gatal.tz7 Mereka berbeda pendapat berkenaan dengan pepe-

rangan.rzs Berkenaan dengan semua perkara itu terdapat nashnya yang
muncul.r2s Hanya Allahlah Pemberi taufik.**t

12 lbnu Hajar, Fath ... op.clt,(1012851.
ra Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lsti&kar... op.cit , (2612131.
r21 Lihat lbnu Daqiq, op.cit,1212151.
r2s Lihat lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit, (113291.
ra Lihat lbnu Abdul Ban, op.cit., (2612061: An-Nawawi, op.cit, (4/438); tbnu
Qudamah, op.cit , (2l30al; danZadah, op.cil, (10/18).
t27 Lihat lbnu Qudamah, ibid., (2/304-305); dan An-Nawawi, ibid., (414401.
t2t Lihat lbnu Abdul Ban, op.clt, (2612081; lbnu Qudamah, ibid., (?305); dan
An-Nawawi, ibid., (414391.

i2e Dalam hal ini lihat semua referensi di atas. Juga Al-Qadhl, Al-Libas ...
op.cit, h|m. 339.

47 2 - t asyahhull yang Ditarung nalam nkh rclarr

?*An*,,A

Apakah Mengenakan Clncln darl Shufr'3o alau Besl Dllarang?

Para ahli fikih berbeda pendapat berkenaan dengan cincin dari
kuningan dan daribesi. Sehingga muncultiga pendapat:

Pendapat /. Hal itu mubah. Ini adatah pendapat para pengikut

mazhab Syafi'1.tst

Pendapat II. Hal itu makruh hukumnya. lni adalah ungkapan para

pengikut mazhab Hanbali,r32 sebagian para pengikut mazhab Hanafir3a
dan Syaf i.rg

Pendapat III. Hal itu haram hukumnya. lni adalah pendapat para
pengikut mazhab Hanafi.t3,

Mereka yang berpendapat bahwa hukumnya adalah mubah menge-
tengahkan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Hadits sahal bin sa'ad Radhigallahu Anhu, tentang kisah seorang

wanita yang menyerahkan dirinya kepada Nabishar/ailahu Alaihi ua

sallam. Berkenaan dengan dirinya itu betiau bersabda kepada seorang
pria yang melamamya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

*;J,-l*,yt:Jt!j1u*St

*Cari dan usahakanlalt, sekatipua cincin *rr.irn

1{ AdlSttulradalah kuningan. Lihat tbnu Fais, op.cit, (3l2g5).
r31 Lihat Raudhah Ath-Thalibin, (1/575); dan An-Nawawi, op.cit., (4t4651.
re Lihat As-Samiri, op.cit.,l2t432l; As-safarini, Ghidza' At-Atbab,12t292)yang
dalamnya ditegaskan makruh yang harus dijauhi.
f33 Lihat Al-Kasani, op.cit.,(51'133); dan ungkapannya yang paling tegas
menunjukkan makruh tanzih.
lx Lihat An-Nawawi, op.cit, (4/465).
ts Lihat Matan Al-Hidayah, datam syarh Fath Al-eadin (1ol22l,di mana penulis
kibb Al-Hidayah ucapan Muhammad dalam Al-lami'Ash-shaghi4,'Tidak mengenakan
cincin melainkan dari besi" yang dikomentari dengan ungkapannya, "lniadalah nash
yang menuniukkan bahwa mengenakan cincin dari batu atau dari besidan kuningan
haram hukumnya. Al-Qadhl zadah, penulis Takmitah syarh Fath Al-eadin "ttu tidak
diperdebatkan sama sekali". Selesai.
1{ Shahih AhBukhari, Kibb At-Libas, Bab 'Khatamu At-Hadid", hadits no. SS33,

(5t22041.

-na6 ut taryn6buhlitu"gt&a@wtliasau, AMh, - 473

Objek tekanan hadits di atas bahwasanya jikalau dalam hadits ada
sesuatu yang makruh, tentu tidak diizinkan oleh beliau.r3T
2. Hadits Mu'aiqib Ad-Dausi Radhrga llahu Anhurs berkata, "Bahwa cincin
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terbuat dari besi yang di atasnya
berlapis perak."l3e

Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa hukumnya makruh
mengetengahkan dalil-dalil sebagai berikut:
1. Hadits Buraidah RadhigallahuAnhu yang di dalamnya disebutkan,

t1 : Jw y |ic y t * t y\t,-k'o1t ;Yi- >A; oi
:Jr- ';1- qrv f;ie i ,e'*t 7r'!i e:*:i S.
|A',ii ::: at J y r 6- : Jw L:yt,rilt ;^i ^1- |!Y,s:ti J.6
qi'ft tASr:4 o't! : t
: Js ri

" Bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam dengan cincin terbuat dari syabah.t$ Beliau brsabda
kepadanya, 'Kenapa aku mencium bau patung-patung darimu?'Maka
beliau pun membuangnya. Kemudian pria iru daang lagi dengan cincin
dari besi. Maka beliau bersaMa,'Kenapa aku menyaksikan padamu

suatu hiasan ahli neraka?' Maka bliau membuangnya. Ia brkaa

kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Wallai Rasulullah,
dari apa alru harus membuafrrya?' Beliau menjawab, 'Dari penlCat
dan jangan dipenuhi seberat satu mitsqaf ."142

r37 Lihat An-Nawawi, op.cit., (4/465).

ls Lihat lbnul Qayyim, op.cit,(111281.
ls Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Khatam, Bab "Ma Ja'a fii Khatam Al-Hadid",
hadits no. 4224, (41901. An-Nawawi berkata, "lsnadnya bagus". Lihat An-Nawawi,
loc.cit., dan dimunculkan oleh lbnu Hajar dan juga dikelua*an hadits pendukungnya.

Lihat lbnu Hajar, Fath... op.cit.,(1013221.
tlo Syabah adalah kuningan. l-ihat Abadi, Al-Qamus Al-Muhlth, hlm. 1610.
1lt Wariq adalah perak. Lihat lbnu Al-Atsir, op.cit , (5/175).

tr2 Abu Dawud, op.cit, hadits no. 4223; Sunan At-Tirmi&i, Klbb Al-Ubas, Ub

'Ma Ja'a fiiAl-,Khatam Al-Hadid, hadits no. 1785, (412481; Sunan An-Nasa'i, Kitab Az-
Zinah,Bab"Mlqdar ma Yul'alu fiiAl-Khatam min Al-Fidhdhah", hadlb no. 5210, (8/553).

An-Naurawi menganggap dhaif hadits ini. Lihat An-Nawawi, op.cit., (41466,). Al-Albani
juga menganggap dhaif hadits ini. Lihat Al-Albani, Dhaff Sunan Abu Dawud, (Beirut:

Al-Maktab Al-lslami, cet. l, 1 412 H), hlm. 41 7.

47 4 - r wWhhuh gang oilarung talan tW tslau

objek tekanan dalam hadits ini adalah bahwa beliau mengingkari
seorang shahabatyang mengenakan cincin dari besi dan memberinya

. kabar bahwa cincin itu adalah hiasan ahli neraka. Mereka berkata, "lni

menunjukkan bahwa cincin dari besi makuh hukumnya." Al-Khaththabi
berkata, "Bahwa beliau bersabda, 'Aku mendapatibau patung-patung'
karena cincin yang terbuat dari kuningan." sedangkan besi dikatakan
karena baunya yang tajam dan tidak sedap'. la juga berkata, "Dan
dikatakan bahwa cincin tersebut adalah hiasan sebagian orang-orang
kafir dan mereka adalah ahli neraka."ra

2. Dari Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya,

q0 t:Jt, o1i.>i .a" * ?'o,t't*j':;aFG ?,lZo;t!*G4;ti ,tf
. :'..
,, (+6 U UG
U..i :JLai

a/
'^b L3a tciil u Uc ,;ju;aG ,r$r yl ^1- ts
*Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyakskan pada

salah seonng shahabanya sebuah cincin yang terbuat dari emas, maka

bliau brpaling darinya. Maka, bliau nrembuangnya dan nrengenakan

cincin dari besi. Kemudian bliau brsaMa, 'Ini buruk dan ini adalah

hiasan ahli neraka'. Kemudian dia membuangnya dan memhnt cincin

dari penk. Maka bliau mendiamkan hal itu.'tq

Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa hukumnya haram
berdalildengan hadits Buraidah diatas dan membawan)ra kepada makna
pengharaman.r45

Dalil-dalil semua aliran pemikiran di atas telah didiskusikan sebagai
berikut:

Ibnu Hajar menyanggah hadits-hadits yang diketengahkan oleh
mereka )rang mengatakan bahwa hukumnya adalah mubah, ia berkata

re Lihat Al-Khaththabi, op.cit, (413291; dan As-safarini, op.cit., (U29gl.
r.. Ditakrii lmam Ahmad dalam musnadnya. Lihal AhFath Ar-Rabani dalam
Kitab Al-Libas wa Az-Zinah, Bab "Karahiyah Khatam Ash-Shuff wa Al-Hadits". Dan
disunnahkan mengenakan cincin dari perak, 1171257). Al-Haitsami berkata, "para
perawinya orang{rEtng tsiqah," lihat Al-Haitsami, op.cit., (b/1S4), dan At-Hanabitah.

Mengambil dalil hadits ini dalam hukum makruh. Lihat Safarini, op.cit., (2/393).
i6 Lihat Zadah, op.cit., (101221.

- -wb m trr;yaffiub tr Rfrang PaQaian, wt$aur, Anab, 47 5

berkenaandenganhaditsyangberbunyi'

-r.i*u1.o-r U)zGz')1.u,,-i)ct

'Cari dan usahakanlah sekalipun cincin dari b*i."'oa

Bahwa tidak ada kekuatan untuk dijadikan huijah dalam hadits ini
karena'boleh membuat' tidaklah mewajibkan'boleh memakai'. Maka bisa
jadi bahwa beliau menghendaki dengan keberadaannya untuk dimanfaat-
kan harganya oleh kaum wanita.raT Tentang sanggahan terhadap hadits
Mu'aiqib dinukil sebuah pendapat dari para ahli ilmu bahwa cincin dari
besi baja muncul untuk syetan jika dilapisi perak di atasnya. I-alu ber-
kata, "lni mendukung perubahan hukum."t4 An-Nawawi menganggap
lemah hadits Buraidah.rae

Pendapat yang paling lou,at -Wallahu Ta' ala filam- bahwa jika besi

mumi tanpa sesuatu yang lain maka haram hukumnya. lni adalah hasil
akhir penggabungan semua dalilyang ada. Sebagian dari para ahli ilmu
mengisyaratkan yang demikian.rs Fenulis melihat bahwa tindalcan tarjih
akan lebih baik karena beberapa hal, di antaranya, kebakuan larangan
dari cincin dari besi sebagaimana dalam hadits Amr bin Sy.r'aib. Hadits-
hadiB ini para perawinya dapat diperc aya (tsiqat) dan telah muncul dengan
lafalyang lain, yaitu

$t;:+fu' fv,f'{-- ) ^11\t * *at J t- .

"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang pemakaian cincin

dari emas dan dari penk.'

Dimunculkan oleh Ibnu Abdul Barr di dalam kttab At-Tarnhfd$r dan
dia tidak berkomentar tentangnya. Para perawinya adalah para perawi
hadits pertama yang ditakhrij oleh Ahmad dan Ath:Thabrani.r52 Hadits itu

1$ Shahih N-Bukhari, op.cit, hadits no. 5533, (5/2204).
t'7 lbnu HaJar, Fath ... op.clt,(1013231.
ts lbld., (1013231.
ile Lihat An-Nawawi, op.cit, (4/466).
ts Lihat lbnu Hajar, loc.cit.; dan Al-Munani, op.cit, (6/328).

16i Lihat ucapannya dalam kitab At-Tamhid, (1711131.
rs Lihat catatan kaki 144,h1m.474.

47 6 - T asryffiuh yng oilarung aalam nkh *lan

dishahihkan oleh Al-Albani dari kalangan ulama belakangan.l53 Hakikat
larangan adalah pengharaman, kecuali dengan adanya Sharif. Sedangkan
.hadits Buraidah adalah lemah.rsJika hadits itu shahih tentu akan menjadi
dalildalam bab ini.

Sedangkan dua buah hadits yang membolehkannya maka bisa
dibawa kepada altematif-altematif makna yang bisa diterima, sebagaimana
diisyaratkan oleh lbnu Hajar Rahimahullah. Dengan adanya berbagai
kemungkinan makna hadits itu, maka sudah cukup untuk menegaskan
hukum'boleh'. Bagaimana bisa terjadi, padahal telah muncul nash-nash
yang jelas berkenaan dengan larangan.

Sedangkan hadits Mu'aiqib, maka sesungguhnya besi didalamnya
bulon murni. Bisa jadi hiasan orang-orang kafir adalah besi murniseba-
gaimana makna eksplisit hadits di atas.

Aspek yang berkaitan dengan pembahasan tentang tasyabbuh
sejalan dengan munculnya pembahasan iniadalah aPayang telah disebut-
kan oleh ahli ilmu berdasarkan hadits Buraidah dan hadits Amr bin Syu'aib
bahwa beliau membenci cincin dari besisebagaihiasan para ahlineraka.
Mereka adalah orang-orang kafir.

+:t t

rs Lihat Auni Asy-Syarif, Tartib Shahih Al-Jami'Aslt-Shaghic (Riyadh: Maktabah
Al-Ma'arif, Riyadh, cet. l, 1407 H), (3/300).

fs lbnu Hajar Rahimahultah, dalam AhFath ... op.cit., (10/323) berkata sebagai
berikut, "Dalam jajaran sanadnya terdapat Abu Thaibah yang namanya adalah
Abdullah bin Muslim Al-Manrazi'. Abu Hatim Ar-Razi berkata,'Haditsnya ditulis namun
tidak digunakan sebagai hujiah". lbnu Hibban, dalam Ats-Tsigaf berkata, "Salah dan
bertentangan". Lihat ungkapannya dalam Tahdzib ... op.cit., (6/29), biografi no. 3739.

-wh ttt'ratyrtbul1 d t;Uug pahaiar, perlnawn, Atab, .- 477

?**lr*,,g

Larangan Menllenakan Sandal Berbunyl dan Hukum
Mengenakan Sandal Slndlah dan Sandal darl Kullt Sapl'ss

Cabang pembahasan ini disebutkan oleh para pengikut mazhab
Hanbali. Penulis lqtab Al-lnshafs mengatakan, "lmam Ahmad dan para
shahabatnya sangat membenci pemakaian pakaian orang-orang ajam.
Seperti sorban berlilit dan sandal berbunyi untuk hiasan dan bukan untuk
berwudhu atau lainnya."r57

lmam Ahmad ditanya tentang sandal sindiah, maka ia berkata,
"Kalau aku, maka aku tidak mengenakannya. Akan tetapi, jika untuk me-
nginjaktanah atau untuk keluar; aku mengharapkannya. Sedangkan siapa
yang hendak memakainya sebagai hiasan, maka tidaklah demikian."r$
Sa'id bin Amirrs ketika ditanya tentang pemakaian sandaldari kulit sapi,
malo ia menjawab, "Pakaian Nabi klta adalah pakaian yang paling kita
cintai daripada pakaian Bakihin raja lndia."ro

Illah makruhnya memakai jenis sandal ini adalah karena sandal

tersebut merupalon sejenis sandalyang dipakai oleh orang-orang ajam.
Mereka sangat membencinya ketika dipakaidemi keindahannya. Sedang-
kan orang yang mengenakannya demi merendahkannya, seperti mengena-
kannya untuk berwudhu atau kebutuhan dan kepentingan lainnya. Maka,
dalam pemakaian seperti itu tidakmengandung taqnabbuh kepada mereka.
Hal itu karena arti eksplisit dari ungkapan para pengikut mazhab Hanbali

tss Yang jelas dari ucapan mereka bahwa na'l sharar adalah suatu sandal
yang bisa menimbulkan suara ketika dipakai untuk berjalan. Sharrah artinya suara
tinggi. Sedangkan Ni'al As-Sindiah adalah sanda! yang dikaitkan dengan sanad.
Sebagaimana dijelaskan dalam As-Safarini, op.cit., (2/339). Sedangkan rVi?D
Sabatiah dikatakan bahwa ia adalah sandal yang terbuat dari kulit sapi. Dikatakan
pula ia adalah yang dicukur bulunya. Dikatakan pula ia adalah kulit yang disamak.
Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(1013081.

ts la adalah Alauddin Ali bin Sulaiman Al-Mardawai.
t57 Al-Mardawai, op.cit, (11473).
is Lihat lbnu Taimiyah, op.cit, (112401; dan lbnu Hani, Masail Ahmad, (211451.
ls Sa'id bin Amir Ash-Shafuhi yang dilahirkan pada tahun 122 H. la adalah
lmam warga Bashrah di bidang ilmu maupun agama. Salah seorang dari guru lmam
Ahmad. la dipercayaioleh lbnu Ma'in dan tbnu Hibban. At-Ajali berkata, Tsiqah'. ta

adalah orang shalih dan orang pilihan. la wafat pada tahun 208 H. Lihat lbnu Taimiyah,
op.cit (11242); lbnu Hajar, Tahdzib... op.cit., biografi no. 2430, (414445).

rs Lihat lbnu Taimiyah, op.cit, (112411.

t47 8 - wybbull yaug Dilatang balayr rik$ :.sla'ln

adalah bahwa orang-orang ajam di zamannya mengenakannya sebagai
bagian dari pakaian resmi mereka sehari-hariyang mana mereka meng-
hias diri dengannya. Telah berlalu ucaPan Ahmad berkenaan dengan per-
masalahan lain yang berkonotasi kepada pemindahan hukum makruh

menjadi hukum haram.r6r

Di antara halyang memperkuat itu adalah apa yang diungkapkan
lbnu Muflih dalam kitabAl-Aadab Asg-Syariah, di mana ia berkata, "lbnu
Al-Jauzir62 mengisahkan tentang lbnu Aqilt63 tentang pengharaman san-

dalberbunyi ketika diinjak dan membawanya kepada ucaPan Ahmad.nr64

Jelas bahwa ini tidak sah berkenaan dengan sandal dari kulit sapi.
Karena telah baku bahwa Nabi Shalla llahu lilaihi wa fullam mengenakan-
nya. Sebagaimana dalam hadits lbnu Umar Radhiyallahu Anhuma di
dalam kitab shahih ketika ia ditanya tentang pemakaiannya sandal dari
kulit sapi. Maka ia menjawab, "Sedangkan tentang sandal dari kulit sapi,

maka sungguh aku telah melihat Rasulullah ShallallahuAlaihiwafullam

mengenakan sandalyang tidak ada bulu padanya dan memakainya untuk
berwudhu. Maka, saya juga suka mengenakannya."r6s Pemakaian beliau
akan sandal itu menunjukkan bahwa boleh memakainya dan sandal itu
bukan dari sandal orang asing yang khusus biasa mereka pakai. Jika

tidak, tentu beliau tidak mengenakannya.16

tct Lihat misalnya ungkapan lmam Ahmad berkenaan mencukur habis rambut
bagian tengkuk. Hlm. 458.

ra Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Abu Al-Faraj. Dilahirkan pada tahun
509 H atau 510 H. Seorang hafrzhdan mufassir, pemberi nasihat keagamaan, dan
salah seorang tokoh dari para pengikut mazhab Hanbali. la disifati dengan husnu ab
hadits. Karya-karyanya adalah Zaad At-Musalyar fii At-Tafsin thffatu Ash'Shafwah,
Jami'Al-Masanid, At-Muntazhim,dan lain-lain. la wafattahun 597 H. LihatAdz-Dzahabi,
op.cit, (211365), biografi no. 192.

rB Dia adatah Ali bin Uqait bin Muhammad Al-Baghdadi. Dilahirkan tahun 430
H. ta adatah salah seorang tokoh terkenal dari para pengikut mazhab Hanbali dan
para pengikutnya yang setia. la menguasai berbagai ilmu ushul dan furu'. la iuga
menyusun buku-buku yang berbobot, di antaranya Al-Funun. Dikatakan, 'Mencapai
dua ratus iilid" dan buku-bukunya yang lain. la wafut pada tahun 513 H. Lihat Al-Ba'li,
Al-Muththali', hlm. 444; Adz-Dzahabi, op.cit., (19/443). Biografi no' 259.

la lbnu Muflih, op.cit., (3/540).
16 Shahih Al-Bukhari, Kitab AhLibas, Bab ?n-Ni'al As'Sabatiah wa Ghairuha",
hadits no. 5513, (5/2199).
16 Karena telah datang darinya larangan sesuatu yang disebabkan karena
syiarorangorang kafir. Sebagaimana akan datang penjelasannya pada Pembahasan
11 tentang pemakaian bahan celupan, h1m.482.

tugffi -wh ttt
-ti Rtur11 tahnaA terliasat, Abab, 479

Sebagaimana yang Penulis ketahui, bahwa di antara barang-barang
itu sudah tidak ada lagi di zaman kita sekarang ini. Juga sangat sedikit
selcli adanya sepatu-sepatu yang khusus di kalangan orang-orang kafir
dan bukan untuk orang lain dizaman sekarang ini. Jika ada, hukumnya
sangatterlarang, sesuaidengan loidah umum yang telah ada. Kebanyakan

fenomena yang dilarang dalam perkara sandal di zaman sekarang ini

yang tergambar salib padanya. Atau gambar-gambar, lambang-lambang,
tulisan-tulisan, dan lain-lain. Mungkin sebagian jenis sepatu menjadimak-
ruh pemakaiannya di zaman kita sekarang ini karena biasa dipakai oleh
orang-orang fasik. Atau karena memiliki mata kaki yang terlalu tinggi
sehingga dilarang pemakaiannya untuk kaum pria karena dengan mema-
kainya adalah tasyabbuh kepada kaum wanita. Atau karena biasa dipakai
oleh kaum wanita, seperti sepatu-sepatu yang bergelang atau memiliki
gaya tertentu di zaman sekarang inidan khusus untuk kaum wanita. Hanya
Allahlah tempat meminta pertolongan.

9",*U*rrt0

lanngan Membuat Busur-busurr67 Model Persla

lbnu Qudamah Rahr'mahullah menukil ijma yang menghalalkan
memanah dengan menggunakan busur model Persia. Juga menghalalkan
membawanya. Dia juga berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar bin Abu
Ja'farr$ sangat membencinya karena diriwayatkan dari Ali bahwa ia
berkata,'Ketika Rasulullah Sha llallahu Alaihi u:a Sallam bersandar kepada
sebuah busur miliknya yang bermodelkan fuab, tiba-tiba beliau menyak-
sikan seorang pria yang membawa busur modelPersia. Maka beliau ber-
sabda,

to Qissiy adalah bentuk jamak dari kata-kata qausyang berarti busur, yaitu

alat perang yang populer.
tc la adalah Abu Bakar Ubaidullah bin Abu JaTar Al-Mishri. Seorang ahli fikih,

dipercaya dan Jujur. la wafat p0da tahun 135 H atau 136 H. Lihat lbnu Hajar, Tahdzib
... op.cit, biografi no. 4494, 17 16l.

480 - r asyffi yang Dilarang balam Ehh :ulam

v,at 16 /r:,{?t "'*r\'{& w,br*, 6y 4l

ir rg-

f '\i e'€r',kwrr,U-"t* Ini buanglah, karena terlaktat. Hendaklah engkau menggunakan busur

dan anakpanah model Arab. Sungguh dengan keduanya itu Allah akan
nreaopaag dan mengokohkan kemuliaan agama kalian di muka buni't6e

Berkenaan dengan hal ini ucapan-ucapan lmam Ahmad banyak
menunjukkan keraguannya.tTo Inti ucapannya menunjukkan bahwa ia

cenderung membolehkan memanah dengan menggunakannya. Dari satu

sisi orang-orang salaf memakai dan membawanya. Maka hal itu dari
petunjuk kaum salaf.rTr Aspek yang membingungkannya dalam hal ini
adalah bahwa para pembawanya di zamannya adalah or€tng-orang ajam.
Ivlaka png tepat adalah bahwa boleh menggunakannya karena aspek yang

berkenaan dengan manfaatnya yang nyata dan masih termasuk ke dalam
sifat umum firman NlahTa'ala,

" Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuaan apa saja yang

kamu sanggupi .... " (Al-Anfal: 60)

Oleh sebab itulah dinukil dari sebagian kaum salaf pemakaian
mereka. Dengan dasar itu kaum Muslimin melakukannya di abad-abad
terdahulu. lbnu Qudamah Rahdmahullah berkata, "Kita harus mengada-
kan ijma bahwa boleh memanah dengannya, boleh membawanya, karena
sesungguhnya halitu diperbolehkan dikebanyakan zaman. Semua itulah
yang karenanya terlaksana jihad di zaman kita sekarang inijuga di ke-
banyakan zaman terdahulu.r'r72

Sedangkan hadits yang diriwayatlon dari Ali adalah dlta'if. Karena
dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Bisyr dan dia adalah lemah,r73
Asy'ats bin Sa'id dan ia adalah matuk,tTa dan senjata yang seperti itu
telah habis masa penggunaannya sebagaimana diketahui. Akan tetapi,

r6e Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (1314321. Sedangkan haditsnya ditakhrij lbnu
Majah dalam sunannya, Ktab AlJihad, Bab "As-Silah", hadits no. 2810, (2/939).

r70 Lihat lbnu Taimiyah, Al-lgtidha ... op.cit., (1/356).
't71 tbidq (1/359).
r72 lbnu Qudamah, op.cit., (1314321.
r73 Lihat lbnu Hajar, Tahdzib ... op.cit, biografi no. 3338, (51142).
t71 lbid., biografi no. 571, (1/318). Dan lihat puta At-Albani, Dha'if Sunan lbnu
Majah, (Beirut Al-Maktab Al-lslami, cet. l, 1408 Hl,hlm.227.

tt -nab riatyahh"b a; srar,1 laluian, wrfirasan, Ababt .- 481

yang dimaksud di sini adalah penjelasan tentang salah satu PeneraPan
kaidah yang lalu berupa diperbolehkan melakukan sesuatu yang sudah
jelas manfaatnya dengan adanya unsur yang merusak karena tasyabbuh.
Hal serupa sangat banyak di zaman modern ini. Baik di bidang Persen-

jataan yang hampir-hampir tidak banyak dibuat kecuali dalam negeri-negeri

kafir. Atau di bidang penemuan-Penemuan baru di bidang ilmu atau di
bidang kehidupan material dan bidang-bidang lainnya. Sehingga kaum
Muslimin hanya menjadi penghalang di depan pintu-pintu kaum kuffaq
seperti orang-orang ateis, paganis, Yahudi, dan Nasrani. Hanya Allahlah
sebagai tempat meminta pertolongan.

Syaikhul lslam lbnu Taimiyah Rahimahullah ketika mengomentari
tentang apa-apa yang dinukil dari lmam Ahmad berkata, "Sahabat-sahabat
kita memiliki ulasan yang panjang-lebar berkenaan dengan busur model
Persia dan semacamnya. lni bukan pada tempatnya. Akan tetapi, saya
hendak memberikan peringatan berkenaan dengan itu bahwa aPa-apa
yang bukan dari petunjuk kaum Muslimin. Akan tetapi, dari petunjuk
orang ajam dan semacam mereka itu, sekalipun faidah dan manfaatnya
demikian jelas, makaAnda melihatmereka ragu-ragu dalam halitu. Mereka
juga berbeda pendapatkarena adanya dua dalilyang berbeda: daliltentang
berpegang-teguh dengan petunjuk pertamarT5 dan dalil tentang Peng-
gunaan apa-apa yang mengandung manfaat tanpa adanya bahaya. Pada-
halsemua itu bukan bagian dari ibadah dan segala kelengkapannya. Akan
tetapi, semua itu adalah bagian dari perkara-perkara duniawi. Anda juga
melihat secara umum ucapan lmam Ahmad yang menunjukkan bahwa
ia menetapkan suatu keringanan dengan atsar yang datang dari Umar
atau berupa perbuatan Khalid bin Ma'danr76 untuk menetapkan bahwa
hal itu dilalarkan di zaman kaum salaf. Sehingga menjadi bagian dari
petunjuk kaum Muslimin dan bukan dari petunjuk orang ajam dan Ahli
Kitab. Inilah aspekyang menjadi hujiah, bukan karena aPa yang dilakukan
oleh Khalid bin Ma'dan adalah hujia[."tzz*'r'r

r75 Yakni meninggalkan apa yang dalamnya terdapat tasyabbuh.
170 Khalid bin Ma'dan Al-Kila'iAl-Hamshi. Dia adalah seorang yang tsiqah dan
disaksikan sebagai orang yang memiliki keutamaan. Para penyusun Kutub Sittah
meriwayatkan untuknya. lbnu Hajar berkata, 'Ahli ibadah yang tsiqah dan banyak
mengirim utusan". la wafattahun 103 H. Lihat lbnu Hajar, Tahdzib... op.cit., biografi
no. 1754, (3/108); dan lbnu Haiar, At-Taqrib ... op.cit., biografi no. 1678, hlm. 190.
177 l bnu Taimiyah, Al- lqtidha ... op. cit., (1 /358-359).

482 - r uglrhub gang ularung UIam frh *lam

?a,n*,,n

larangan bagl takl-lakl Mengenakan Pakalan yang Dlcelup'78

Para ahli ilmu berbeda pendapattentang hukum priayang mengena-
kan pakaian yang dicelup. Muncullah tiga macam pendapat:

Pendapat I. Pemakaian pakaian yang dicelup bagi kaum pria mubah

hukumnya. lni menjadi pendapat para pengikut mazhab Hanafi,r7s

Syaf i,re dan Malik.181 Akan tetapi, Malik berkata, "Selain pakaian yang
demikian itu lebih aku sukai."r82 Pendapat itu adalah riwayat di kalangan
para pengikut mazhab Hanbali.

Pendapat II. Hal itu makruh hukumnya. lni adalah riwayat yang

masyhur di kalangan para pengikut mazhab Hanbali.ts
Pendapat lll.Hal itu haram hukumnya. lniadalah pendapatjamaah

para ulama, di antara mereka adalah lbnu Hazm,ru Asy-Syaukani,rs dan
lain-lain.rffi

Dari ungkapan mereka yang memilih hukum mubah terlihat jelas

bahwa tidak ada kekualan hukum pengharaman di kalangan mereka.

lmam Malik, berkenaan dengan kondisi kain-kain dan lain-lain yang dicelup
berkata, 'Aku tidak melihat sedikit pun hal yang menjadikan semua itu

haram hukumnya. Akan tetapi, pakaian selain yang demikian itu lebih

kusukai."r87

Asy-Syaf i berkata, "Sesungguhnya, aku hendak memberikan ke-

ringanan berkenaan dengan pakaian yang dicelup karena aku belum pemah

17E Ushfur adalah tumbuh-tumbuhan yang dapat melunakkan daging yang

alol. Ashfara tsaubahu artinya mencelupkan pakaiannya hingga lembut. Lihat Abadi,

Al-Qa m us Al- Muh ith, 1567 ).

r7e Dinukiloleh lbnu Abdul Ban, dalam Al-lstidzkar... op.cit., (26/169).

re Lihat Al-Majmu', (4/450); dan An-Nawawi, Ar-Raudhah ... op.cit, (115741.

rEr fmam Malik, Muwaththa', (219121.
ia Lihat Al-Mardawai, op.cit, (1/481 ).

ra Lihat lbnu Qudamah, op.cit, (21299); As-Samiri, op.cit., (212ail; dan Al-

Mardawai, op.cit, (1 14811.

rr Llhat lbnu Hazm, AhMuhalla, (213891.

iai Lihat Asy-Syaukani, op.cit., @94). op.cit., (261'1741.
Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lsti&kar...
tr

It7 lmam Malik, loc.cit

-tab tt: rasyahb"h l; n;lo"g palaian, tet$iasan, eAa6, ... 483

menemukan seseorang mengisahkan dari Nabi Sha//allahu Alaihi wa
Sallam adanya larangan daribeliau. Kecuali sesuatu yang dikatakan oleh
Ni Radhtg allahu Anhu seba ga i be ri kut, " B ahaani" (Beliau tela h mela ran g -
ku) dan bukan dengan ungkapan, "Bahaakum" (Beliau melarang kalian

semua). r88

Sejak awal lbnu Sirin berkata, "Pakaian yang dicelup adalah pakaian
orang-orang Arab. Saya tidak melihat sesuatu yang digugurkan hukumnya
di zaman lslam. Tidak ada masalah dalam hal itu."r8e

Juga pemakaian pakaian yang dicelup telah diriwayatkan dari
kalangan para shahabat, di antaranya Thalhah bin Ubaidillah, Al-Barra

bin Azib, dan lain-lain.reo

Sedangkan mereka yang mengangkat hukum makruh berdalil
dengan dalil-dalil yang di antaranya:

1. DariAbdullah bin Amr bin Al-Ash Radhigallahu Anhu, ia berkata,

,; Ll :lw ,i.'l>-" i';",p ej *\t*Utd;

r*riOx, r?u(U,JOlLi;

" Nabi Shallallahu Alaihi wa Saltam melihatku ketika padaAa aua rcmbar
pakaian yang dicelup. Lalu beliau bersabda, 'sesungguhnya ini adatah
pakaian orung-orung kafir, maka jangan engkau memakainya,.,,

Di dalam riwayat yang lain disebutkan,

s,lfi ,'J\-b ,j:.'r& ;;';, ej ^lL ht **'Jt or,
* Lii v+u;i
;i'5,',ss taj*;f
'

" Nabi shallallahu Alaihi wa sallam melihatku ketikapadaku dua rembar

pakaian yang dicelup. Maka beliau bersaMa, 'Apakah ibumu yang

memerintahmu demikian iru?' Saya katakan, 'Apakah saya harus

mencucinya?' Beliau menjawab,'Bahkan bakarlah keduanya,.,,tet

rEE Lihat An-Nawawi, op.cit., (414501.

lse lbnu Abdul Barr, Al-lstidzkar... op.cit., (261170).
1s lbid., (261169).

rer Telah ditakhrij di atas.

484 - Tasgabbvh gaug Dilaruug nalam nhh rlan

2. Dari Af i bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

;'*', fuArr"'kir A & &')ii; ir & o',1"-rLt

rtfitL'f\' e.l'?' ;ir ; *',

" Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang

pemakaian busur-busur, pakaian yang dicelup, pemakaian cincin dari
emas, dan membaca Al-Qur'an ketika ruku'."te
Nash-nash yang lain sejalan dengan hadits ini banyak jumlahnya.
Yang jelas mereka memahami daridalil-dalil itu hukum makruh.
Sedangkan yang mengatakan bahwa hukumnya adalah haram,
berdalil dengan dalil-dalil di atas, seperti hadits Abdullah bin Amr dan Ali.
Mereka juga berkata, "Semua dalil tersebut menunjukkan hukum haram.
Ini adalah arti eksplisit sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

t1:;;r)" )(iito6.:!u\

'Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orung kafir, maka jangan
engka u fiie maka inya. "' tel
Pendapat ini paling l<u,at -Wallahu Ta'ala AIam- karena dalil-dalil nya

cukup jelas. Menetapkan batasan bahwa dalil-dalilitu menunjukkan hukum
makruh memerlukan peninjauan kembali. Beliau telah menjelaskan bahwa
pemakaian pakaian yang dicelup adalah khusus bagi orang-orang kafir. Ber-
dasarkan itulah beliau mengingkari dan mengeluarkan larangan, yang
mengandung pengertian pengharaman secara mutlak. Juga jika kiranya
larangan beliau karena kebenciannya, tentu beliau tidak akan memerintah
Abdullah bin Amr bin Al-Ash untuk membakar kedua pakaian itu.

Sedangkan apa yang diklaim sebagian yang lain bahwa hukumnya
di sini adalah khusus untuk Abdullah bin Amr adalah tidak bisa diterima.
Bahkan larangan beliau untuk satu orang di dalam umat adalah larangan
untuk umat itu. Demikian yang tepat. Kecualijika ada dalilyang menunjuk-
kan pengkhususan.r% Sedangkan kali initidak ada dalil.

'@ Shahih Musllm, Kltab AhLibas wa Az-Zlnah, Bab "An-Nahyu an Lubsl Ar-
Rajuli Ats-Tsauba Al-Mu'ashfara ", hadits no. 2078, (3113111.

re3 Lihat Asy-Syaukani, op.cit., @941.
rs lni adalah pendapat para pengikut mazhab Hanbali. Lihal Syarh Al-kaukab
Al-Munir Al-Fitihi, (31223); dan setelahnya.

- -wb tttt tasgffi bi ilbang tahaian, perfuaan, nab, 485

Sedangkan mereka yang bermazhab kepada hukum mubah, ter-
bantah oleh dalil-dalilyang muncul dalam hal ini. Yang jelas bahwa belum
sampai kepada mereka apa-apa yang muncul. An-Nawawi berkata, 'Al-
Baihaqi mendalami permasalahan. Maka, ia berkata, Asy-Syaf i melarang

pria memakaipakaian yang dicelup dengan za'faran(saffronle5 dan mem-

bolehkan pakaian yang dicelup dengan ushfur.'Asy-Syaf i mengatakan,

'Sesungguhnya, aku hendak memberikan keringanan berkenaan dengan
pakaian yang dicelup dengan ushfur karena aku belum pernah menemu-

kan seseorang mengisahkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

adanya larangan dari beliau. Kecuali sesuatu yang dikatakan oleh Ali
Radhigallahu Anhu sebagai berikut: bahaani'beliau telah melarangku'
dan bukan dengan ungkapan bahaakum 'beliau melarang kalian semua'.'
Al-Baihaqi berkata, 'Telah datang hadits-hadits yang menunjukkan
larangan yang bersifat umum.' Lalu ia menyebutkan hadits Abdullah bin
Amr bin Al-Ash, lalu hadits-hadits yang lain. Kemudian berkata, lJika hadits-

hadits ini sampai kepada Asy-Syafi'i, tentu ia akan mengucapkan pendapat-

nya berdasarkan semua hadits itu. Insya Allah.' Lalu ia menyebutkan
dengan isnadnya apa-apa yang benar dari Asy-Syafi'i bahwa ia telah
berkata, Jika hadits Nabi Sha//allahu Alaihi usa Sallam berbeda dengan

ucapanku maka laksanakanlah hadits itu dan tinggalkan ucapanku.'Dalam
riwayat lain ia mengatakan, 'Maka hadits itu adalah mazhabku'."'rs

Sedangkan diperbolehkannya untuk kaum wanita ditunjukkan oleh
apa-apa yang diriwayatkan oleh Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakek-
nya berkata,

a-a r ej o)F*l

rs Yaitu pakaian yang dicelup dengan za'taran. Perbedaan antara keduanya
adalah pakaian yang dicelup dengan ushfur akan lebih tua warnanya.

1$ An-Nawawi, Ar-Raudhah ... op.cit, (4145'l).

486 - r asgabbu$ gaug Dikraug talam rik$ rlaw

" Kami turun bersama Rasulultah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari
tsaniyyah (bukiA, Beliau menoleh kepadaku dan padaku pakaian tipis

dan halus yang dicelup. Maka beliau bersabda, 'Kenapa pakaian tipis

halus ini padamu?' Aku mengerti in tidak disukai beliau. Maka aku

pulang kepada keluargaku ketika mereka menyalakan rungku. Aku
lemparkan pakaian iru ke dalamnya. Aku datang lagi kepada beliau
keesokan harinya. Maka beliau bnabda, 'Wahai Abdullah, bagaimana
pakaian tipis halus kemarin itu?'Maka aku sampaikan kepada beliau
tentangnya. Maka betiau bersabda, 'Apakah tidak engkau kenakan
kepada sebagian keluargamu. Karena sesungguhnya pakaian seperti
itu tidak apa-apa untuk kaum wanita'."tfl

*r*

?-lA*,,t2

laran$an Mengenakim Pakalan Merah

dan Pakalan yang Dlhlasl dengan Permata untuk l6um takl{akl

Pembahasan ini dua subbahasan:

A. Hukum Mengenakan Pakaian Merah bagi Kaum Pria

Para ahliilmu berbeda pendapatberkenaan dengan hukum menge-
nakan pakaian berwarna merah sehingga muncul beberapa pendapat,
yaitu:

Pendapat t. Ibahah(boleh). lniadalah pendapatpara pengilart maz-
hab Syaf i,re8 Maliki,lss dan sebagian Para pengikut mazhab Hanbali.2@
Demikian pula dikatakan oleh sebagian mereka, Uika pewamaan itu dilaku-

1s7 Musnad lnam Ahmad. LihatAs-sa'alt, op.cit., Bab "Karahatu Al-Ushfur liAr-
Rijal wa lbahatuhu Linnisa, (17t2441; Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Libas, Bab "Al-
Humrah", hadits no. 4066, (4/52); Sunan lbnu Maiah, Kitab Al'Libas, Bab "Karahiyatu
Al-Ushfur Linijal", hadits no. 3603, (2/1191), As-Sa'atiberkata, "Para perawinya tsiqah".
Lihat As-Sa'a li, Al- Fath Ar' Ra bbani ... op. cit., 117 1244).

ls Lihat An-Nawawi, Raudhah ... op.cit.,(115751: Al-Majmui karyanya pula (4/

452); dan lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(10l305l.

rs Lihat ucapan Malik tentang pakaian yang dicelup. AhMuwaththa', 121912).

Asy-Syaukani menisbatkannya kepadanya dalam kitabnya, Al-Authar, (2/96).
2m Lihat lbnu Qudamah, op.cit,l2l302l; dan Al-Mardawai, op.cit., (114821.

-tab ttt: tasyabbub d Nlang yaQaian,ler$iasan, lJlab, .- 487

kan sebelum penenunan2or atau padanya juga terdapat warna yang lain2o2
atau dipuda rkan (mumtahinahl."zos

Pendapat ll. Haram. Inidinuki oleh lbnu Hajar dan ia tidak menisbat-
kannya kepada seseorang tertentu.zoa Dan dikatakan, lJika pakaian itu di-
wenter dengan warna merah setelah ditenun."205

Pendapat ///. Makruh. Para pengikut mazhab Hanafi mengatakan
bahwa hukumnya makruh mutlak.206 sedangkan para pengikut mazhab
Hanbali mengatakan bahwa hukumnya adalah makruh jika warnanya
adalah merah murni." Dalam riwayat mereka berkata, uika warnanya
merah masak (merah sekali)."zoz sebagian yang lain berkata, "Makruh
hukumnya jika dimaksudkan untuk keindahan dan kebanggdan."zoa

Para pendukung pendapat pertama yang sepakat dengan hukum
ibahah (boleh) berdasar kepada dalil-dalil berikut:

1. DariAl-Barra bin Azib Radhigallahu Anhu, ia berkata,

,rydt;u \G'i:;*r'.:r*': +\, .A i, J\-., oe
L:;i ,i;itna| U;*,;uG;,)o z z o 1',:,'o.' .io1'..o.
1, q? *"ir,qil"*"

r*," Rasututtah Shaltattahu Ataihi w; Sa;;m aaatin ,"orurr berpera-

wakan sedang(tidak terlalu tinggi dan tidak tertatu rendah), antara dua

pundalotya cukup bidang, ia memilki rambut hingga daun telinga, bliau

mengenakan pakaian penudry seluruh rubuh berwana menh. Aku tidak

pernah menyaksikan sesuatu yang paling baik daripada beliau..M

20r ltu adalah ungkapan Al-Khaththabi. Lihat At-Khaththabi, op.cit., (4/338).
Dicetak dengan kilab sunan Abu Dawud, (Beirut: Daar Al-Hadits, cet. l, 1393 H).

2@ ltu adalah pendapat para pengikut mazhab Hanbali. Lihat As-samiri, op.cit.,

(21a$): Al-Mardawai, op. cit., (1 I 481 ).

203 Pendapat mazhab rbnu Abbas. Lihailbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(101306).
2u tbid., (10i305).

26 ltu adalah ucapan At-Khaththabi. Lihat Al-Khaththabi, loc.cit
26 Asy-syaukani menisbatkannya pada para pengikut mazhab Hanafi. Lihat
Asy-Syaukani, op.cit.,(2196). Lihat puta lbnu At-Hammam, op.cit.,(2171-72).

207 ltu adalah riwayat dari para pengikut mazhab Hanbali. Lihat lbnu Muflih,
op.cit., (3/515).

200 ltu adalah mazhab tbnu Abbas. Lihat lbnu Hajar, AhFath... op.cit,(l0/306).
2@ shahih At-Bukhai, Kitab Ar-Libas, Bab "Ats-Tsaub Ar-Ahmaf, hadits no.
5510, (5/2198); dan Shahih Mustim, Kitab At-Fadhait, Bab "Fii Shifati An_Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam ...", hadits no. 2337, (4|t4SO).

488 - r atybbuh gang Dilarang balam nhh rclam

2. Apayang muncul datang dari Abu Juhaifah Radhigallahu Anhu,

&,-i-:i,;n I e c'; *j y \t t:" Ut ul'rfr

;6) ,/6t.:';\ A.

,, Bahwa ia menyaksikan Nabi shatlallahu Alaihi wa sallam keluar

dengan mengenakan pakaian penutup seluruh rubuh dengan warna
merah dengan keadaan tersingsing. Beliau shalat menghadap tongkat
yang teftancap dua rakaat dengan orang banyak'"zl0

3. Dari Hilal bin Amir dari ayahnya berkata,

;e'+X"& *i*,r J,X",'j. &'s
'ioo. h' \,. *t'J';'ri;?,
,Ar.r-jra,.,r.Ltrtloq.,
a:i altl .. ! ,,. .t. c I
5"b ) { S f '

,, Aku menyaksikan Rasulullah shatlaltahu Ataihi wa sallam di Mina
berkhutbah di atas baghal danpada beliau selendang metah. sedangkan

Ali Radhiyatlahu Anhu di depan beliau mengulang semua ucapan

beliau."ztt

objek yang menjadi penegasan hadits di atas adalah bahwa beliau
mengenakan pakaian wama merah dalam beberapa tempat. Maka hal
itu menunjukkan bahwa boleh mengenakan pakaian warna merah.
4. Mereka berkata, "Merah adalah suatu warna. Maka, ia sama dengan
warna-warna yang lain dalam hal boleh mengenakannya'"2r2

Tidak pernah disebutkan siapa yang mensyaratkan bahwa pakaian
harus diwarnai sebelum ditenun atau dipudarkan agar bisa menjadi mubah

210 Shahih At-Bukhari, Ktab Ash-shatal Bab "Ash-shalat fii Ats'Tsuab Al-Ahmaf '

hadits no. 369, (1/147).
211 Sunan Abu Dawud, Kitab At-Libas, Bab "Fii Al-Khumrah Ar-Rukhshah Fiha",
kitab Aun At-Ma',budmenukil ucapan Al-Mundziri ber-
hadits no. 4073, (4154). Penulis mengatakan, "Terjadi perbedaan pendapat tentang

x"n""n dengan hadits itu. la
i.n"onvr". Dlt<atatan, "Dalam haditsnya, Abu Muawiyah Adh-Dharir sendirian (dalam
ski"aurriietunatinVgink'taaVt"O's,iinldsaiUlanbhasipeda"b;ra.agBsieaarnnkeamndea)"ra.enDkadikeamntagekamannb,heat"uDdlkiitaasnmituyeamianilgbikeiprkekeartstaaam,la'Dgh'aaArnimdHriildainal ilbaaimndanAlyamahr'
anak"VR"atfi'Al-Muzani disebutt<an di kalangan para sahabat Merela mengucapkan
n"oit" inl kepadanya. sebagian mereka mengatakan tentang hadits itu, "Dari Amr bin
Abu Rafi' dari ayahnya"' Lihat Abadi, Aun ..' op'cit', (11/86)'

212 Lihat lbnu Qudamah, op.cit, (21302).

tt: -aab rasyahhnl1 l; t;Oang Paftaiar,, perfiasan, Anabt -. 489

hukumnya berdasarkan nash tentang itu. Akan tetapi, disebutkan bahwa
orang yang mensyaratkan pewarnaan sebelum penenunan karena Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sa//am mengenakan pakaian penutup seluruh badan
berwarna merah. Semua pakaian penutup seluruh badan dan mantelyang
mereka miliki berasal dariYaman. Semua pakaian penutup seluruh tubuh
yang berasal dariYaman diwarnai dulu benangnya kemudian ditenun.2r3

Sedangkan orang yang mensyaratkan keharusan ada warna lain
bersama warna merah menggunakan dalil yang datang dari beliau yang
mengenakan pakaian penutup seluruh badan berwarna merah. Ia berkata,
"la berasal dariYaman dan tidak berwarna merah saja. Akan tetapi, warna
merah itu dicampuri warna lain." Ibnul Qayyim Rahimahu//ah berkata,
"Hullah adalah sarung dan selendang. Hullah tiada lain adalah nama
dua benda secara bersama-sama. Maka, banyak orang yang salah sangka
bahwa ia merah seluruhnya dan tidak ada campuran warna yang lain.
Sesungguhnyahullah (pakaian yang menutup seluruh tubuh) merah ada-
lah dua mantel asal Yaman yang ditenun dari benang merah dan hitam
sebagaimana mantel-mantel asal Yaman pada umumnya. la sangat di-
kenaldengan nama ini dengan dasar bahwa di dalamnya banyak benang-
nya berwarna merah."2la

Sedangkan mereka yang mengetengahkan pendapat kedua yang
mengatakan bahwa hukumnya adalah haram berdalil dengan dalil-dalil
yang sangat banyak. Dalil mereka itu terbagi menjadi dua macam:
1. Yang menunjukkan haram hukumnya mengenakan pakaian yang

dicelup. Mereka berkata, "Karena celupan2rs warna merah.'2r6
Di antara hadits-hadits itu adalah:

a. Apa yang datang dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu
AnhtJ, ia berkata,

:y Arza\:Jtii,;jX /.; *'rLi *\'* 4r s|;
ti[l)c\,ru. <AtJo'lrq

2r3 Lihat Al-Khaththabi, loc.cit
2i1 f bnul Qayyim, op.cit., (111371.
215 Telah didefinisikan di atas.
2t6 Lihat lbnu Hajat Fath ... op.cit.,(11305); dan Abadi, Aun ... op.cit,l11l%).

*b490 - r asglh$ gang oilarary MIam rlawr

* Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatku ketika aku sedang
mengenakan dua lembar pakaian yang dicelup. Lalu bliau bersaMa,
'Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kaf,ir, maka jangan

memakainya'."

Di dalam riwayat yang lain disebutkan,

'alff ,sw ,;;>;tt;i;tii'""yb.:J&sjet^;)i-L;f\t't*-i'jCy.t.i*lGl,:t;,i

* Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatku ketika aku mengenakan
dua lembar pakaian yang dicelup. Maka beliau bersabda, 'Apakah

ibumu yang memerintahmu demikian itu?'Saya katakan, 'Apakah saya

harus mencucinya?' Beliau menjawab,'Bahkan balcarlah kduanya'."2ts

b. Dari lbnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata,

f r+ -*1:-ti5t i,-
il,r it J? t e:

*Rasulullah Shaltallahu Akihi wa Sallam melarang.r7r44n .""'

Mufaddam adalah pakaian yang benuarna merah masak.2re

3. Apa-apa yang datang dengan larangan mengenakan pakaian berwama

merah murni. Dalil-dalil itu adalah:

a. Dari Al-Hasan dengan derajat mursal,

i ;at'4 yotb;l1, or l^lilr q?Fii

" Warna merah adalah perhiasan milk syetan; dan syetan suka warna

merah."

b. Di dalam lafalyang lain disebutkan,

rxi q, u'; J? ii:;ir, € (*i';*=;lt'.i. ora=et ot

217 Telah ditakhrij di atas.

218 Sunan lbnu Majah, Ktab Al-Libas, Bab "Karahiyatu Al-Mu'ashfar liAr-Rijal",
hadits no. 3601, (2/1191). Dishahihkan Al-Albani. Lihat Al-Albani, Shahih Sunan lbnu
Majah, (Al-Maktab Al-lslami), (21283), hadits no.2901.

2re Yazid bin Abu Ziyad berkata, "Saya katakan kepada Al-Hasan bin Suhail,
'Apakah mufaddamilu?'" la menjawab, Yang dipenuhi celupan." Keduanya dari para
perawi hadits ini dari lbnu Umar. Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit., (2611721.

- -sab tt: tasgabh"b A; ffiang wQaian, ter$iasan, nab, 491

" Sesungguhnya syean menyukai warna merah, maka jauhilah pakaian
berwarna merah, dan setiap pakaian kebanggaan.'z2}

Objek yang menjadi penekanan hadits ini adalah bahwa ia men-
cakup larangan yang tegas dariwama merah dan berisipula penje-
lasan bahwa illah larangan itu adalah karena warna merah bagian
dari perhiasan syetan sehingga hal itu menjadi sesuatu yang paling
dijauhi.

c. DariAbdullah bin Amr berkata,

*?* "1t-Li iL:;***t;J*-,\*''*t *\t J2 4t *,

a'*"'i'*

" Berlalu seorang pria dengan membawa dua potong pakaian berwarna
merah. Ia pun mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa
sallam dan Nabi shallallahu Alaihi wa sallam tidak menjawab saramnya
ittt."Dl

objek tekanan hadits di atas adalah bahwa Rasulullah sha ttailahu

Alaihi wa Sallam meninggalkan menjawab salam seorang pria,

padahal hukumnya wajib, menunjukkan haram hukumnya me-

ngenakan pakaian merah. Kalaulah tidak demikian tentu Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak meninggalkan kewajiban

menjawab salam.

m Mushannif AbdiAnRazzaq, Bab'Al-Khazzu wa Al-Ushfur", no. 19975, (11/
80). Al-Hafidz berkata, 'Dianggap maushul oleh Abu Ali bin As-sakan dan Abu
Muhammad bin Adiy. Darijalur Al-Baihaqi dalam kitab Asy-syu'ab dari riwayat Abu
BakarAl-Hadzalidan ilu dhaif, Dari Al-Hasan bin Rafi'bin yazid Ats-Tsaqafi mengang-

gap itu marftr', yaitu hadits:

'sesunssuhnyasyetanitusuka",.;;:i*rfrfj;#)j;;",#)l

wama merah ....
Dan ditakhrij lbnu Mandah dan memasukkan ke dalam riwayatnya antara Al-
Hasan dan Rafi'. Hadits tersebut adatah dhaif.Lihat tbnu Hajar, At-Fath, (10/306).
21 Sunan Abu Dawud, Kibb AhLibas, Bab "Fii Al-Humrah", hadits no. 4069, (4/
53); sunan At-Tirmidzi, Krtab Al-Adab, Bab "Ma Ja'a fii Karahiyati LubsiAl-Mu'ashiar
Lirrajuli wa Al-Qissiy", hadits no. 2807, (s/i16). Namun didhaifkan At-Atbani. Lihat
Dhaif sunan Abu Dawud", hadits no. 878, htm. 403. Datam kitab At-Fath, (10/306) At-
Hafizh berkata, "Dalamnya ada Abu Yahya Al-eattat, seorang yang dipersengketakan".

492 - r asgallou,lt ynu| Dilarang ulam ttkb rclm

d. DariRafi'bin Khudaij RadhiyallahuAnhu, ia berkata,

VL' fJb G?j a, *'t Y?" .v it J'v., (v7
t#qryI
,t35, ul,-;r',.* *ri'li,tJw,";, k

t*.)'.fx o; e 6G?Gr.*, r*i

" Kami keluar bepergian dengan Rasututlah Shallallahu etani *a

Sallam. Tiba-tiba betiau melihat di atas binaAng tunggangan dan unta-
unta kami kantong-kantong yang padanya benang-benang terbuat dari
kapas yang berwarna merah. Maka Rasulullah shallallahu Alaihi wa
sallam bersabda, 'Tidaklcah aku melihat bahwa merah-merah ini tclah
menyuli*an katian?'Kami segera berditi dan mencabufiya sehingga

sebagian unta-unta kami melatkan diri."u

e. Dari seorang wanita dari BaniAsad, ia berkata,

*,;'-b ",F o'rr;, A);.;:5 tLG,.:i C; fit e't
'pt *;'ntu *v,e, pt i"t
*i'.,r; *t J-, Y

"Aku sedang di rumah Zainab, isni Rasulullah Shallallahu Alaihi wa

Satlan dan kami ketika iU sedang mewentcr baiunya dengan Anah
merah.z3 Ketika kami sedang melakukan hal itu, tiba-tiba muncul
terlihat oleh kami Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika

betiau melihat Anah merah iru langsung pergi keluar. Ketika Zainab
melihat kejadian im ia mengeni bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi

m sunan Abu Dawud, Kitab At-Libas, Bab "Fii Al-Humrah", hadits no. 4070, (41

53). Al-Hafizh dalam kitab / l-Fafi, (10t306) berkata, 'Dalam jajaran sanadnya terdapat

seorang perawi yang tidak disebut namanya".
23 Magharah adalah tanah merah yang kering yang dipakai untuk mewamai

pakaian. Lihat lbnu Al-Atsir, op-cit., (4l3/,5l.

- -nab ttr riwgahb"b U rim"g ukoior,, terlnasan, Abab) 4g3

wa sallam tidak suka dengan apayang ia lakukan. Maka ia mengambil
pakaian itu dan mencucinya dan mewenter dengan tanah merah yang

kering. setelah iru Rasulullah shallallahu Ataihi wa sallam pulang.

Dan ketika beliau tidak melihat apa-apa maka beliau pun masuk..22a

objek yang menjadi tekanan dua buah hadits di atas adalah bahwa
beliau mengingkari pemanfaatan warna merah dengan bentuk ucapan
sebagaimana disebutkan dalam hadits pertama dan dengan bentuk
perbuatan sebagaimana dalam hadits kedua.

DariAl-Barra bin Puib Radhigallahu Anhu, berkata,

:Jv',slr J\,*?(V:,& &j,A;\t** ttr S-ru;i

f_,)ti,a,t

" Nabi shallallahu Alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami rujuh
hal dan melarang kami dari rujuh hal. Hingga disebutkan bantalan alas
duduk dari kain sutra berwarna merall."zzs

objek yang menjadi tekanan hadits di atas adalah bahwa seakan-
akan orang yang berdalil dengan hadits berpendapat bahwa larangan
menggunakan bantal-bantal untuk duduk dari kain sutra berwarna merah
adalah khusus berkenaan dengan warna merahnya saja dan tidak berlaku
larangan itu atas apa yang dipakai.

orang yang berpendapat bahwa hal itu dilarang adalah jika kainnya
diwarnai dengan warna merah setelah ditenun. Telah dijelaskan di atas
alasannya.

sedangkan mereka yang mengatakan bahwa hukumnya adatah
makruh berpegang kepada dalil daridalil-daril mereka yang berpendapat
bahwa haram hukumnya.226 Bisa jadi mereka menggeser dalil-dalil itu
kepada makna makruh disebabkan adanya hadits yang menerangkan
bahwa Rasulullah shallauahu Alaihi. usa sailam mengenakan wama
merah. sedangkan orang yang tidak suka warna merah murni berpegang

na sunanAbu Dawud, KitabAt-Libas, Bab"FiiAr-Humrah", hadits no. 4011,(4t
53). Dalam Al-Fath, (10/306), Al-Hafizh berkata,'Ditakhrij oleh Abu Dawud dan dalam
sanadnya ada kelemahan".

25 shahih AhBukhari, Kibb Al-Libas, Bab "Al-Mitsaratu Al-Hamrak", hadits no.
5511, (5/2199). Akan datang pembahasan khusus tentang bantal-bantal untuk duduk.

2c Lihat Asy-Syaukani, op.cit., (2U96).

494 - Tasgafirh WW urlarun1 nalam nklt tslnm

kepada daliltentang pakaian yang dicelup. Juga berpegang kepada apa-
apa yang dimunculkan oleh orang-orang yang melarang pemakaian warna
merah.z7 Telah berlalu hal itu di muka.z8

Sedangkan orang yang membenci lembab-lembab sedikit saja tentu
jika pewamaan itu hanya sedikit saja. Ia berdalil dengan hadits Abdullah

bin Umar Radhiyallahu Anhuma di atas. Dalam hadits itu Rasulullah

Shaltatlahu Alaihi wa Sallam melarang pakaian berwama merah mumi.ze
Arti eksplisit hadits itu sebagaimana mereka ketahui menunjukkan bahwa
pakaian yang diwarnai dengan selain warna merah tidaklah mengaPa.

Orangyang hanya menetapkan hukum makruh jika diniatkan untuk
perhiasan dan kebanggaan tidak menyebutkan dalil yang menjelaskan
bahwa warna itu adalah merah.

Dalil-dalil mazhab pertama yang menunjukkan larangan yang
dikeluarkan oleh kelompok pendukung pendapat kedua telah didiskusikan'
Mereka yang melarang pemakaian warna merah menyanggah apa yang

dimunculkan bahwa Rasulullah Sha llallahu Alaihi wa kllam mengenakan

warna merah bahwa warna merah tersebut tidaklah murni merah saja.
Akan tetapi, beliau mengenakan pakaian penutup seluruh tubuh asal
Yaman. Semua pakaian penutup seluruh tubuh dan selimut tidak berwarna
merah murni. Akan tetapi, bercampur dengan warna yang lain.}o

Sedangkan aPa-aPa yang dimunculkan oleh mereka yang melarang
pemakaian warna merah berupa dalil-dalil itu ditentang dari dua aspek:

Pertama. Bahwa penetapan dalilyang mereka lala,rkan berupa jenis
pertama dari hadits-hadits yang mereka munculkan, yaitu hadits-hadits
yang muncutdengan larangan pemakaian pakaian warna merah tidaklah
benar. Karena hadits-hadits tersebut lebih bersifat khusus daripada sekedar
klaim. Yang benar dan balar sebagaimana ditegaskan oleh dalil-dalil bahwa
pakaian yang dicetup adalah tidak halal dikenakan.Br

227 Lihat lbnul eayyim , op.cit., (1/13S): dan As-Safarini, op.cit., (21175).
22E Lihat dalil-dalil yang muncul berkenaan ushfur, hlm. 483. Juga dalil-dalil
yang muncul dengan larangan pemakaian warna merah, hlm. 489; dan setelahnya.
2e Telah dltakhrij di atas'
2s Lihat ucapan lbnulQayyim berkenaan dengan haltersebut dalam kitabnya,
Zaad Al-Ma'ad, (11137), yang telah disitir di atas.
23r Lihat Asy-syaukani, op.cit., (2/96)'


Click to View FlipBook Version