344 - rr"gyahbub WW rlrlarang balam rikh utawt
semua itu adalah bahwa puasa pada hari Sabtu makruh hukumnya jika
hanya hari Sabtu itu saja. Namun, jika orang yang berpuasa menggabung-
kan dengannya puasa pada hariJum'at, Ahad, atau keduanya, hukumnya
menjaditidak makruh sebagaimana dapat kita pahamidari hadits-hadits
di atas.
Kedua. Mereka berkata, "Sesungg uhnya mengkhususkannya adalah
tasyabbuh kepada orang-orang Yahudi berkenaan dengan aspek meng-
agungkan hari itu.673 Alasan ini sekalipun disebutkan oleh sebagian Ahli
ilmu berkenaan dengan konotasi hadits tersebuttentang hikmah larangan
dalam hadits Abdullah bin Busr. Akan tetapi, orang-orang lain menyebut-
nya sebagai alasan yang berdiri sendiri,6Ta demikian pula hadits ini.
Para pencetus pendapat kedua beralasan dengan dalil-dalil:
- Hadits Ummu Salamah RadhiyallahuAn}a ketika ditanya tentang hari-
hari apa saja yang di dala mnya Rasulullah Sha llallahu Alaihi wa Sallam
banyak melakukan puasa. Maka, ia menjawab, "Sabtu dan Ahad."675
- Hadits Juwairiah Radhigallahu Anla:
:Uu rii::-ii,'^;)-Lit;.q JC *'rgr\t ;a ,;tli
!,o
et:rb
G,;; rlG:-f :Ju
"Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang kepadanya pada
hari fum'at ketika ia sedang berpuasa, maka bliau bertanya, 'Apakah
kemarin engkau berpuasa?' Ia menjawab, 'Tidak'. Beliau bertanya
lagi, 'Apakah besok engkau hendak berpuasa?$76
Hadits tersebut dan semuanya yang semakna menunjukkan bahwa
berpuasa pada hariSabtu boleh hukumnya. Bahkan itulah yang diminta.
Para pencetus pendapat kedua mendiskusikan pendapat jumhur
dengan menolak hadits Abdullah bin Busr Radhtgallahu Anhu dengan
03 Lihat Al-Kasani, op.cit.,(A79\dan lbnu Taimiyah, lqtidha ... op.cit.1115741.
67' Lihat Al-Kasani, op.cit,(21791.
ar' Musnad lmam Ahmad, Lihat As-Sa'ati, loc.cit.i lbnu Khuzaimah, loc.cit; Al-
Hakim, loc.cit AlHakim berkata,'lsnadnya shahih'. Dan disebutkan lbnu Hajardalam
Al-Fath, (41235). Tashhih lbnu Hibban mengetengahkan hadits itu namun tidak melan-
jutkannya. Dan lihat bagaimana Al-Majmu'menarik dalil dari hadits itu, An-Nawawi,
(6/439); dan lbnul Qayyim, op.cit., (znq.
076 Al-Bukhari, op.cit., hadits no. 1885, (2n01).
-wb rc rwVaffiuh bi Bihnl penfubaban- 345
menyebutkan hadits tersebut mengandu ng sgudzudz'kejanggalan' atau
nasalch'dihapus' dan 'diganti'677 dengan apa-apa yang datang berupa
hadits-hadits lain, seperti hadits Ommu Salamah dan lain-lain.
Mereka berkata, "Sedangkan alasan jika mengkhususkan (hari
Sabtu) dengan puasa adalah sikap tasyabbuh kepada orang-orang Yahudi
maka alasan itu tidak bisa diterima. Akan tetapi, ditolak oleh hadits Ummu
Sala mah di atas. Dalam hadits itu Rasululla h Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda tentang puasanya pada dua hari: Sabtu dan Ahad.
"',<.iJ-t'''-il:'lirl(rr,:# ;.A..,rb[';t$l
'ksungguhnya kedua hari iru adalah hari raya bagi onng-onng musyrik,
dan aku hendak untuk bercikap beda dengan mereka.'nB
Maka, N abi Sha//a llahu Alaihi wa Sallam menjadikan sikap berbeda
dengan Ahli Kitab pada hari-hari itu dengan berpuasa di dalamnya dan
bukan dengan meninggalkan puasa di dalamnya."67s
Jumhur memberikan jawaban atas sanggahan para pengikut maz-
hab Malik dan semua yang sepaham dengan mereka bahwa pada pokok-
nya dalil-dalil yang kenyataannya berbeda harus dilakukan penggabungan
antara keduanya jika halitu memungkinkan. Dalam halinipenggabungan
mungkin dilakukan, maka tidak ada alasan untuk mengatakan tentang
keharusan nasakh atau sgadz pada hadits Abdullah bin Busr Radhi-
gallahu Anhu. Penggabungan dalam hal ini adalah dengan membawa
hadits Abdullah bin Busr Radhigallahu Anhu kepada makna meng-
khususkan lari Sabtu. Sedangkan hadits-hadits yang menunjukkan
hukum "7'au;az sebagaimana hadits-hadits yang telah diketengahkan di-
bawa kepada makna 'puasa di hariSabtu digabung bersama hari lainnya'.
lnilah yang bisa dipahami dari makna eksplisit hadits-hadits di atas.680
677 Lihat lbnu Rusyd, op.cit., (1/311); Sunan Abu Dawud, (2t3211: dan At-
Mardawai, op.cit., (31347).
878 Musnad lmam Ahmad. Lihat As-Sa'ali, loc.cit.; lbnu Khuzaimah, loc.cit; N-
Hakim, loc.cit. Al-Hakim berkata, "lsnadnya shahih". Dan disebutkan At-Hafizh tbnu
Hajar dalam Al-Fath,141235). Tashhih lbnu Hibban mengetengahkan hadits itu namun
tidak melanjutkannya. Dan lihat bagaimana kilab Al-Majmu'menarik dalil dari hadits
itu, An-Nawawi, loc.cit.; dan lbnul Qayyim,loc.cit.
67e Lihat Al-Bahuti, op.cit.,(213411.
m LihatAn-Navtani, op.cit, (62t40); dan lbnu Qtdamah, op.cit, (414281.
346 - r asglfiub go0 Dilaung Oa[am nk$ rclam
Yang paling luat -Wallahu Ta'ala Allam- adalah pendapat jumhur
yang mengkhususkan bahwa puasa di hariSabtu adalah makruh. Hal itu
karena masih mungkin dilakukan penggabungan antara semua nashyang
munculdalam masalah ini. Sedanglon tercapainya sikap berbeda, apakah
dengan puasa atau dengan tidak puasa? Maka yang dekat kepada ke-
cocokan adalah dengan puasa. Karena mereka pada dua hari itu mem-
perbanyak makanan dan minuman, karena keduanya adalah hari raya.
Bentuk sikap beda yang paling nyata bagi orang-orang yang tidak ber-
puasa dalam permasalahan ini adalah dengan berpuasa pada keduanya.
lni adalah arti eksplisit hadits Ummu Salamah di atas.
Sama sekali tidak ada hal yang bertolak belakang pada apa-apa
yang telah kami sebutkan. Orang yang hendak menjalankan sikap me-
nyelisihi terhadap mereka khususnya dalam jalan mereka dengan ber-
puasa pada hari Sabtu dengan tujuan berbeda dengan mereka, maka
hendaknya menggabungkannya dengan puasa di hari sebelum atau sesu-
dahnya. Karena dengan mengkhususkan hari Sabtu dengan puasa di
dalamnya yang merupakan ibadah syariah dengan tujuan mengagungkan
adalah tasyabbuh kepada orang-orang musyrik karena dari satu sisi
mereka mengagungkan hariitu. Hukum yang berkaitan dengan masalah
ini adalah bahwa siapa saja yang hendak berpuasa pada hari Sabtu,
makruh baginya mengkhususkan puasa itu hanya pada hari Sabtu, dengan
demikian agar keluar dari sikap mengkhususkan hari Sabtu itu dengan
ibadah tanpa menggabungkan dengan ibadah di hari lainnya. Dengan
demikian, pada zhahirnya ia telah mengagungkan hariSabtu.ar
Sebagian para pengikut mazhab Hanbali berkata, "Bahwa hari raya
milik kalangan ahli kitab selalu mereka besar-besarkan. Maka hanya
dengan berpuasa dan bukan dengan yang lain untuk mengagungkannya.
Akan tetapi, itu makruh sebagaimana makruhnya mengkhususkanAsyura
dengan sikap mengagungkan ketika ahlikitab mengagungkannya. Juga
mengkhususkan bulan Rajab ketika orang-orang m usyrik mengagungkan-
nya.682 Hari Ahad ditambahkan kepada hari Sabtu berkenaan dengan
kemakruhan mengkhususkannya dengan berpuasa di dalamnya.ffi
oEi Sampai di situ. Alhamdulillah selesailah pendapat lbnul Qayyim
Rahimahullah. Lihat lbnul Qayyim, op.cit., (2l80l.
6e Lihat lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit., (215741
s3 Lihat Al-Ghazi, op. cit., (5/1 80A).
til * rasgffi ni Btuug perWril - - l4l
Tidak bisa dikatakan bahwa orang yang berpuasa di hari sabtu se-
kaligus berpuasa di hariAhad telah terjerumus ke daram tindakan meng-
agungkan dua hari yang biasa diagungkan di kalangan orang-orang yahudi
dan Nasrani itu. Karena keduanya adalah dua agama yang berbeda. la
tidak mengkhususkan salah satu dari dua hari itu untuk diagungkan. Demi-
kianlah yang dimaksudkan.
Itt
?aa*,s
laranEan Itdak Masuk Kerfa pada Har! lum,at sepeltl yanE
Dllakukan oleh Ahlt t0tab pada Dua Hart Sabru dan Ahad
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum tidak masuk kerja
pada hariJum'at sebagaimana yang dilakukan oleh ahri kitab pacla dua
hari: Sabtu dan Ahad. Mereka terbagi ke dalam dua pendapat:
Pendapat /. Perbuatan itu makuh hukumnya. Itulah pendapat para
pengikut mazhab Malik.e
Pendapat I/. Perbuatan itu mubah hukumnya. lni adatah pendapat
jamaah, di antaranya lbnul Qa1yim.s5
Para pendukung pendapat pertama berdalil dengan darir-dalil berilart:
1. Apa yang muncul dari sebagian para shahabat berkenaan dengan per-
masalahan ini. lmam MalikRahimahullahberkata, "Telah sampai kepa-
daku bahwa sebagian dari para shahabat Rasulullah shallailahu Alaihi
wasallam membenci jika seseorang meninggalkan pekerjaannya pada
hariJum'at sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani meninggal-
kan pekerjaan mereka pada hari Sabtu dan Ahad."ffi
2. Meninggalkan pekerjaan keduniaan pada hariJum'at adarah semacam
tasyabbuh kepada ahlikitab dimana mereka meninggalkan pekerjaan
mereka pada dua hari sabtu dan Ahad. Minimal tasyabbuh kepada
mereka itu makruh hukumnya.w
e Lihat lmam Malik, Al-Mudawwanah,lll2g4l dan tbnu Daqiq, op.cit.,(2t242).
6 Lihat lbnulQayyim, op.cit., (1/398).
ffi Lihat lmam Malik, loc.cit
s7 Lihat lbnu Daqiq, loc.cit
3 48 -'r asylfiuh yug Dilarung MIaw rW rslawt
3. Bahwasanya Allah Ta'ala telah berfirman,
"Apabila telah ditunakan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah kantnia Allah ...." (Al-Jumu'ah: 10).
Ayat diatas menunjukkan bahwa hariJum'at adalah hari berusaha
dan mencari rezeki .. .ffi orang yang meninggalkan pekerjaan bertentangan
dengan pesan ayat tersebut.
Sedangkan para pendukung pendapat kedua berdalildengan dalil-
dalilsebagai berikut:
- Mereka berkata, 'Akan lebih baik bagi semua orang kiranya pada hari
Jum'at itu total melakukan ibadah. Hari Jum'at adalah hari shalat, doa
dan dzikir .... Dan bagi setiap umat satu hari yang di dalamnya mereka
khusus beribadah. Tidak ada masalah dalam hal ini.ffi
Mereka menyanggah terjadinya tasyabbuh kepada orang-orang kafi r
jika meninggalkan pekerjaan. Tasyabbuh akan tercapai jika meninggalkan
pekerjaan dua hari: Sabtu dan Ahad; dan bukan pada hari Jum'at ....m
Pendapat yang paling knt -Wallahu Ta'ala Allam- meninggalkan
pekerjaan pada hari Jum'at, boleh hukumnya tanpa dimakruhkan bagi
orang yang bertujuan untuk khusus memenuhi ketaatan atau untuk ber-
istirahat karena lelah bekerja selama sepekan atau tujuan lainnya. Akan
tetapi, jika meninggalkan pekerjaan karena menyamai sikap orang-orang
kafirpada dua hari Sabtu danAtrad dan meneladanimereka, jika demikian
haram hukumnya disebabkan oleh prinsip kaidah bahwa haram ber-
tasyabbuh kepada orang-orang kafir. Penulis mengokohkan pendapat ini
karena menyempurnakan hak hari utama bagi kaum Muslimin itu adalah
dengan berbagaimacam ibadah membutuhkan suatu konsentrasi, seperti
bersegera untuk menghadiri shalat Jum'at dan berbagai kesiapan untuk
itu. Semua ini diperintahkan oleh syarial Apa-apa yang diperintahkan oleh
syariat tidak ada tasyabbuh dengan melaksanakannya. Demikian pula
semua sarana yang menuju kepada semua itu akan sama hukumnya.
Sedangkan beristirahat pada hari itu yang boleh juga dilakukan
pada hari yang lain adalah 'boleh', kecuali jika disertai niat tasyabbuh
sebagaimana telah disebutkan, haram hukumnya. Sedangkan yang biasa
6s Lihat Rasyid Ridha, op.cit., (4112121.
se Lihat lbnulQayyim, Zaad... op.cit., (1/398).
6s Lihat Rasyid Ridha, op.cit., (4112141.
uh rt rugalfiub br ttaug wrfuMlnn- - 349
dikatakan, "Tidak bisa dipahamijika dikatalon bahwa tasyabbuh adalah
dengan meninggalkan pekerjaan pada hari Jum'at, karena mereka
meninggalkan pekerjaan pada dua hari: Sabtu dan Ahad", adalah suatu
pemikiran yang tidak bisa diterima. Bahkan jika seseorang meninggalkan
pekerjaan pada hariJum'at dengan niat tasyabbuh kepada orang-orang
kafir yang meninggalkan pekerjaan mereka pada dua hari libumya, telah
tercapailah makna yang dilarang itu.
Kiranya telah jelas di sini bahwa menjadikan dua hari: Sabtu dan
Ahad sebagai hari libur sebagaimana dilakukan di sebagian negeri Mus-
lim bisa dianggap sebagai tasyabbuh yang nyata kepada orang-orang
kafir dan pengagungan yang tercela untuk dua hari yang keduanya adalah
hari raya orang-orang Nasrani dan orang-orang Yahudi.
Ditambah lagi, mayoritas kaum Muslimin tidak mengagungkan hari
Jum'at dengan mengonsentrasikan diri untuk beribadah dan dzikir.
*{.!f,
350 - t asfr$ yng alnmy ulau #t tslffii
?tsil6
IINIANG |ENAZAH
Fembahasan 1: Apakah berdiri ketika ada mayat sedang diusung dilarang?
Pembahasan 2: Apakah sgaqq dilarang dan lahd dianjurkan?
Pembahasan 3: l-arangan memukuli pipi, merobek kerah, dan meratap.
Pembahasan 4: l-arangan meninggikan suara di dekat jenazah.
Pembahasan 5: larangan berjalan lambat ketika mengusung jenazah'
9m*,t
Apafiah Berdlrl lrctlkaAda Malat sedang Dlusung Dllarang?
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang'berdiri' ketika sedang ada
jenazah yang diusung, hingga muncultiga pendapat:
Pendapatl. Makruh hukumnya berdiri untukjenazah ketika sedang
diusung. Ini pendapat Imam lvlalihsr Abu Hanifah,@ syaf i,ffi dan Ahmad.s
Pendapat tL Dianjurkan berdiri untukjenazah yang sedang diusung.
lni adalah pendapat sebagian pengikut mazhab Malik,6$ sebagian pengikut
mazhab Syafi'i,6s riwayat dari Ahmad,@? dan ahlwluhahtnffi
Pendapatl//. Boleh berdiri dan boleh tidak. Ini adalah riwayat dari
Ahmad,ffi pendapat sebagian para pengilart mazhab MalikiTm dan syaf i.zor
601 Lihat lbnu Al-Mundzir, op.cit., (5/395), Mukhtashar Khalil, (541, Al-Hathab,
eop.cit., $12a1\dan AFKharsyi, op.cit., (2/1 39)'
Lihat Az-Z aila'i, Tabyin ... op. cit., (1 I 2441.
6s Lihat lbnuAl-Mundzir, bc.crt; Asy-Syaf i, N-lJmm... op.cit.,(113181;,*Maimu"
s(5/280); dan An-Nawawi, Ar-Raudhah ... op'cit, (1/630)'
Lihat Al-Mardawai, op.cit., wil31. Ditetapkan bahwa pendapat itu adalah
mazhab dan Ahmad memiliki riwayat-riwayat yang lain'
665 Lihat Al-Hathab, oP.crt., @12411.
Lihat An-Nawawi, op.cit., (5/280).
@7 Lihat Al-Mardawai, loc-cit
m Lihat lbnu Hazm, AhMuhalla, (3/379)'
0 Lihat Al-Mardawai, loc.cit
7m Lihat Al-Hathab, loc.cit
7or Lihat Asy-syairazi , AhMuhadzdzab, dan dicetak menjadi satu dengan kitrab
An-Nawawi, loc.cit.
rwyffi -wb u,
bt Rtan1 perlbatul1an- 351
Para pendukung pendapat pertama berdalil sebagai berilart:
1. Apa yang telah datang dariAli bin Abu Thalib bahwa ia berkata ber-
kenaan dengan kondisi jenazah sebagai berikut,
&'l,;'i to *'tqE li,r n' ,S.J.1rit
irr*,*sesungguhnya Rasututlah Shaltattahu
wa Sattan berdiri, lalu
dttduk."
Di dalam riwayat yang lain disebutkan,
€"5'tiaj a*i iu
*Beliau berdiri, maka kami berdiri; dan beliau duduk, maka kami
duduk."m
Tblah datang darinya Ra dhiyallahu Anhu pula ketika berlalu jen"zah
didekatnya sehingga sebagian orang yang sedang bersamanya berdiri
sehingga ia bertanya,'Apa ini?"Maka mereka menjawab, "PerintahAbu
1v1rru."703 Maka, Prli Radhiyallahu Anhu berkata, "sesungguhnya
Rasulullah S hallallahu Alaihi wa Sallam berdiri hanya satu kali, kemu-
dian tidak mengulangnya lagi.Tu Serupa dengan pendapat Ni Radhi-
gallahu,\nhu ini adalah pendapat lbnu Abbas Ra dhigallahu Anhuma.76
Objek yang dijelaskan dua hadits tersebut adalah perkataan lbnu
Abdul Barq yang ternyata mereka berdua Radhiyallahu Anhuma telah
mengetahui adanya nasilch'yang menghapus' dan mansukh 'yang
dihapus'sehingga orang yang mengetahui berbeda dengan orang yang
sama sekalitidak mengetahui. Yang paling benar dalam bab ini adalah
apa yang dikatakan Ali dan lbnu Abbas bahwa keduanya tetap meme-
lihara kedua aspek dan menyampaikan kepada semua orang bahwa
duduk adalah contoh dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
setelah sebelumnya beliau berdiri.Tm
M Shahih Muslim, Kitab ALJanaE, Bab'Naskhu Al-Qiyam Liljanazah', hadits
no.962, W551-552).
7@ Yaitu Abu Musa Al-Asy'ai Radhiyallahu Anhuyangberpendapat harus bediri.
7s Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit , (8/302).
?6 tbid., (8/303).
76 tbid., (8/302).
*lt352 - r asgfiub gang ullaruug ularn ulrmr
2.Na yang datang dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Anhu bahwa
ia berlota,
di & t l';:'z € ttt*i Y\t;- I' J;., rs
t $cz ti . ..: cJ,'-'iJr,t t l
Lt 1? C e-*
i'PyrrL*r ,lG:'&:f I' *Vt';s,
* Rasulullah ,Orr,rr*u ilaihi wa Satlam jika mengiring jenazah tidak
Fnil duduk hingga jenazah iu dileakkan di dalam liang lahat. I'alu
diprliha*an kepada beliau seorang pendeta Yahudi yang kemudian
berkata, 'Demikianlah yang kami lakukan, wahai Muhammad'. Maka
Rasutullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun duduk dan bersaMa,
'Duduktah katian semua dan berskap beda dari merela."M
Mereka yang berpendapatdisunnahkannya berdiri ketika ada jenazah
yang sedang diusung, mengetengahkan dalil-dalil shahih dengan jumlah
yang banyakyang menunjukkan kepada perintah Rasulullah Slallallahu
AlaihiwaSallam yang di antaranYa:
1. Apa yang datang dari Amir bin Rabi'ah Radhiyallahu Anhu bahwa ia
berkata, "Rasulullah Slallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
€ ; ii'€k eA ri'* ;;rzsr P.i'r tiv
'lka kaliaa semua melihat ienazalt, brdirilah hingga terhalang dari
pandangan abu hingga dkebumikan."ffi
2. Nayang datang dari Jabir Radlriyallahu ltnhu bahwa ia berkata,
*3f,riii ,'r; r*', ,)r',;'qh' ;t-ar oju.> Y. .ay.
fi'*i;r-,St $l:, sy,J*',:i#-i]v 6l i' 'J'r'r E
' lewat di dekat kani iring-iringanienazah, maka berdirilah Rasulullah
Shallallahu Ataihi wa Sallam dan katni pun berdiri bersama beliau.
7o7 Sunan Abu Dawud, Ktab Al-Janaiz, Bab eAl-Qiyam Liljanazah", hadits no'
g'176, (3t2}4li Sunan At'Timidzi, Ktab Al'Janaiz, Bab "Ma Ja'a fii Al-Julus Qabla an
Tudha;, hadits no. 1020, (3/331 ) | Sunan lbnu Maiah, Kitab Al-Janaiz, Bab "Ma Ja'a fii
At-Qiyam Liljanazah", hadits no. 1545, (1/493); dan diketengahkan mengenaipaparan
dalil-dalilmazhab inioleh An-Nawawidalam kitab Al-Maimu'... op.cit., (5/280).
wh w rasgfiub u iltamg pet#ailyffi- - 353
Maka kami kaakan kepada bliau, 'Wahai Rasulullah, sesungguhaya
ini adalah jenazah seorang Yahudi'. Lalu bliau bersaMa, 'fika kalian
semua melihat jenazalt, brdfuilah'."7w
Dan hadits-hadits lain yang sangat banyak jumlahnya dan semua-
nya adalah hadits mutawatir. Dan juga dilakukan oleh para shahabat
hingga setelah wafat beliau.
Aspek yang ditunjukkan oleh hadits di atas adalah bahwa teks-teks
yang tegas adalah shahih berupa perintah untuk berdiri. Dan tidak satu
pun hadits yang baku berkaitan dengan keharusan duduk kecuali hadits
Ali di atas. Hadits itu tidak tegas dinasakh. Akan tetapi, bisa menunjukkan
kepada hukum boleh duduk. Penggabungan harus diutamakan daripada
menasakh.Tro
Mazhab jumhur diperdebatkan dengan penolakan klaim nasakh.
Hadits Ni Radhigallahu Anhu tidak tegas dalam hal nasakh ini. Akan
tetapi, tujuannya adalah memberikan artihukum sunnah atau boleh. Dan
tidak ada sesuatu yang mengharuskan untuk mengatakan nasakh
sedangkan masih sangat dimungkinkan upaya penggabungan.
Sedangkan apa yang dikeluarkan oleh sebagian mereka berupa
tambahan di bagian akhir hadits, yakni ungkapan sebagai berikut:
t.
i,*i,r,JtY:
" Dan beliau memerintahkan kepada mereka untuk duduk."
Adalah tambahan yang tidak baku, jika tambahan itu baku,Trr tentu
akan menjaditeks dalam nasakh.
Sedangkan hadits Ubadah bin Ash-shamit Radhigailahu Anhu
lemah.7r2 Karena berpangkaltiga orang lemah: Busyr bin Rafi' At-Haritsi,zr3
M Shahih Al-BuAhari, Kbb Al-Janaiz, Bab "Aleiyam", hadits no.1245, (1lffiIl;
dan Muslim, op.cit., hadits no. 958, (2/549).
7m Al-Bukhari , ibid.,Bab"Man Qama liJanazatiYahudiyyin", hadits no. 1249, (21
441), dengan lafazh darinya. Dan Muslim, ibid.,hadits no.960, (2USSO).
7r0 Lihat AnNalff€twi, op.cil, (5f&l; dan AsySyau?,ani, op.cfit, (4tTll.
7r' Lihat Asy-Syaukanl, loc.eit
7r2 Lihat NvNawawl, loc.clt
7r3 Lihat lbnu Haiar, Taqrib ... op.cit., biografi no. 685, hlm. 123. Al-Hafizh berkatra,
"Hadits lemah'.
*lt354 -'rwyrlblla$ gaug Dthtqn1 Mlm ulrmt
Abdullah bin Sulaim6n,7r4 dan ayahnya, Sulaiman bin Junadah Al-Azdi,7r5
sehingga tidak sah bersandar pada hadits ini untuk menentang hadits-
hadits shahih yang baku dari Rasulullah Shallallafui Alaihi ua Sallam
berkenaan tentang perintah berdiri.
Yang paling lou.at -Wallahu Ta'ala lilam- adalah mazhab mereka
yang mengatakan bahwa sebaiknya berdiri karena dalil-dalil tersebut di
atas. Dan ketilca mengefektifkan semua nash daliladalah jauh lebih utama
dadpada mengklaim adanya nasakh.Tr6
Sedangkan hadits Obadah yang menjadi sebab dipaparkannya
masalah ini di sini, sekalipun isnadnya lemah, tetapi sgatnhid (hadits
pendukungnya sangat banyak) menunjukkan bahwa ia memiliki dasar
yang menyampaikannya kepada derajat lasart lighairihi.TtT Oleh sebab
itu, yang tepat hadits ini tidak perlu menjadi penyebab terjadinya perbedaan
pendapat, karena ia rnunculberkenaan dengan permasalahan orang yang
turut mengiring jenazah; dan bukan berkenaan dengan orang yang ber-
temu dengan iring-iringan para Pengusung jenazah ketilo ia sedang duduk.
Di mana tradisi orang-orang Yahudi tidak duduk hingga jenazah diletaldon.
Maka hal itu disikapi beda oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan
beliau tidak mengharuskan untuk tetap berdiri.
Hikmah tidak bersikap beda terhadap orang-orang Yahudi dalam
prinsip dasar terjadinya sikap berdiri sesuai mazhab yang paling kuat
adalah dianjurkan -WallahuTa'alaltlam- adalah aPa yang telah diisyarat-
kan oleh Nabi Shalla llahu Alaihi wa Sallam berupa sikap mengagungkan
Allah la'ala dan karena keterkejutan dan ketakutan adanya kematian, di
antaranya:
Apa yang muncul dariAbdullah bin Amr bahwa seseorang bertanya
kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana berikut ini:
711 lbid., biografi no. 3369, h1m.306. Al-Hafizh berkata, "Hadits Lemah'.
713 lbid., biografi no.2542, hlm. 250. Al-Hafizh berkata, "Hadits munkaf.
7t6 Lihat lbnul Qayyim, Zaad ... op.cit., (1 15211.
717 Hadits pendukung yang paling utama adalah hadits Ali bin Abu Thalib, di
antaranya yang diriwayatkan oleh Ma'mar Abdullah bin Sakhbarah bahwa Nabi
Shaltallahu Ataihi wa Sallam bertasyabbuh kepada ahli kitab dalam hal-hal yang
belum turun wahyu berkenaan dengan semuanya itu. Beliau berdiri untuk menghor'
mat jenazah. Ketika halitu dilarang, maka beliau berhenti. Lihat lbnu AbdulBan,,4/-
lsti&kar ... op.cit., (8/301 ).
il -* tasglh$ bi Rtuul Petfunalrm- 355
,q ti'i ,4 :Jra \q tqi;Gjr i:a a'; tr ;;r s.
ry i1k'#'€yu'-#,
q y.t:tazy.o:j'; u^J:t,A tt
" 'Wahai Rasulullah, furlalu di dekat karni jenazah orang l<afir, apakah
kami harus berdiri untuktya?' Maka beliau menjawab, 'Ya benar,
berdirilah untuknya. Sesungguhnya kalian semua bukan berdiri
untuknya, tetapi berdiri untuk menghormati yang mencabut jiwa-
jiwg'."tra
Demikian pula, apa yang datang dari Jabir Radhigallahu Anhu
bahwa ia berkata,
,Lu;i ,{ d, ei *ht,*!t',iAi*i3V 6.u7
;i,t;'p i:)Vt ;ge,,ats1., JG
i G\ yt,l:;, U
"Berlalu di dekat kami jenazah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam berdiri unrulaya. Maka kami pun brdiri bersama bliau, lalu
kami brkata kepada bliau, 'Wahai Rasulullalt,sesungguhnya ia adalah
jenazah seorang Yahudi'. Maka beliau bersabda, 'Iika kalian semua
-menyakskan jenazah, brdirilah !
MenurutMuslim,
f_;*i31t fi'r, 6u,7i -";ftt
"Sesungguhnya kematian itu menahttlen. Oleh sebab itu, jka kalian
menyaksikan jenazah, brdirilrh t""o
!t**
718 Musnad lmam Ahmad. Lihat As-Sa'at, op.clt, Bab'lstihbab Al-Qiyam li Al-
Janazati Muthlaqan wa in Kanat Janazatu Kdrln", hadib no. 223, (U30); dan Musbdnk
Al-Hakim, KbbAl-Janaiz, Bab'Kana idzara'aJanazah Qama hatta Yamumr Biha, (1/
357). Al-Hakim berkata, "lni adalah hadits shahih isnadnya namun keduanya tidak
mentrakhrijnya dan ditetapkan oleh Ad-Dzahabi'.
ne Shahih AhBukhari, Kibb AlJanaiz, Bab 'Man Qama li Janazati Yahudi',
haditrs no. 1249, 111441); dan Shahlh Musllm, Kitab N.lanaiz, Bab 'A!-Qiyam li Al-
Janazah', hadits no. 960, (2/550).
*A356 - r rllyrrbbub yry alaruny ulorl. ulawr
?**t *,,2
Apakah Syaqq"o Dllaran$ dan lahd?2r Dlantulkan?
Para ahli ilmu sepakat bahwa boleh membuat s4aqq atau lahd.
Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang yang mana salah satu
dari keduanya yang dianjurkan? Mereka terbagi kepada dua pendapat:
Perdapat I. I-ahd adalah yang disunnahkan. Ini adalah pendapat
para pengikut mazhab Hanafi,7z Maliki,73 dan Hanbali.T2a
Pendapatll. Keduanya adalah sama hukumnya. Jika tanahnya keras,
Iahd lebih utama. Jika tanahnya gembur, sAaqq lebih utama. lni adalah
pendapat para pengikut mazhab Syafi';zzs dan riwayat dari Ahmad.726
Jumhur ketika berpegang dengan pendapat bahwa disunnahkannya
I-ahd adalah berdasarkan dalil-dalil, di antaranya:
- Apa yang muncul dari lbnu Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata,
"Rasulullah Slallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
t1;)'r.il$r:iLil'
'I-ahd adalah untuk kita dan syaqq adatah ,ru* ,arn kita.'m
Dalam riwayat milikAtrmad dari haditsJarir bin Abdullah disebutkan,
yry' ,y\';ltt
oo Syaqg = dharth, yaitu belahan di tengah dasar lubang kubur seperti parit.
Lihat An-Nawawi, oP.cit., (512871.
nl Lahd adalah liang yang dibuat di sisi dasar lubang kubur. Lihat Al-Ba'li, //-
zMathla', (118), yaknike arah dalam.
Lihat As-sarkhasi, op.cit.,(21611; lbnu Al-Hammam, Syarh ... op.cit. @1371;
dan Al-Kasani, oP. cit.,(1 l3'l 81.
23 Lihat Mukhtashar Khalil (531, Al-Hathab, op.cit, (212331; dan lbnu Jazi,
Qawanin ... oP.cit., (1131.
72' Uhat AFMardarrai, op.cil, (21tr45); dan lbnu Qudamah, q.cil, 1314271.
E Lihat lmam Asy-Syafi,i, Al-lJmm, (1/315); dan An-Narlrartri, Al-Majmu', (51287).
a Lihat Al-Mardawai, loc.cit
727 Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Janaiz, Bab 'Fii Al-Lahd", hadits no. 3208' (3/
213); dan Sunan At-Tirmidzi, Kitab AhJanaiz, Bab "Ma Ja'a fii Qauli An-Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam: 'Al-Lahdu Lanaa Wasysyaqqu Lighairinaa", hadits no. 1045, (3/
3541; Sunan An-Nasa'i, Kitab Al-Janaiz, Bab "Al-Lahd wa Asy-Syaqq", hadits no. 2008,
(4/384); dan sunan lbnu Majah, Ktab AhJanaiz, Bab "Ma Ja'a fii lstihbab Al-Lahd",
hadits no. 1554, (1/496).
wh * rugfi$ dr ttung petfuMbar_ - 357
"Dan syaqq adalah unruk ahli kiab."ru
Sasaran yang menjadi tunjukan hadits tersebut adalah bahwa beliau
menjadikan lahd untukumatnya. Dengan kata lain: Ketika menguburkan
mayat hendaknya dengan membuat lahd dalam kuburannya. Dan
menjadikan sAaqq untuk ahli kitab, dengan kata lain khusus untuk
mereka dan kita tidak melakukannya.
2. Bahwa sesungguhnya inilah yang dilalarkan oleh Nabi shal/a ltahu Ataihi
wasallam sebagaimana ditegaskan dalam berbagai hadits. Di antara-
nya adalah hadits Sa'ad bin Abu Waqqash Radhiyallahu Anhudi mana
ketika wafatnya ia mengatakan, "Buatlah lahd untukku dan tegakkan
bata untukku sebagaimana dilakukan kepada Rasulullah shallaltahu
Alaihi wa Sallam."72e
Apa-apa yang dilakukan untuk Nabi Shal/a llahu Alaihi wa Sallam
adalah sesuatu yang paling utama karena Allah la'ala tidak akan
memilihkan untuk Rasul-Nya, kecualiyang paling utama.
3. Para pemuka dikalangan shahabattelah mengutamakan lahddartpada
sAaqq.Di antara kasus itu adalah apa yang diriwayatkan dari Nafi' dari
lbnu omar Radhiyallahu Anhuma bahwa ia berkata, "Telah dibuatkan
/ahd untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Abu Baka4 dan
Umar. Dan lbnu Umar juga benyasiat untuk d ibuatlan lahd untuknya. "Ts
Sedangkan untuk pendapat kedua Penulis tidak mengetahui dalil
yang jelas yang mereka ketengahkan. Akan tetapi, dasar pandangan
mereka berkenaan dengan permasalahan ini -Wallahu Ta'ala A'lam-
adalah apa yang bisa memberikan kemaslahatan untuk menjaga mayt.
Apa saja yag paling menjaga maytt sesuai dengan kondisi tanah adalah
yang paling utama. Pada dasamya, tidakada kelebihan satu darikeduanya.
Berkenaan dengan hadiB,
t:#';ir,iui1irr
'Ialtd adalah untuk kita; dan syaqq adalah una* senn kita..
m Musnad lmam Ahmad, Lihat As-Sa'ati, op.cit, Ktab Abwab Ad-Dafn wa
Ahkam Al-Qub un Bab "l khtiyar AFLahd wa Asy-Syaqq ..., (8t 52).
m shahih Muslim, Kitab Al-lanaiz, Bab'FiiAl-Lahd wa Nashb Al-Labin 'ala At-
Ma1ryif, hadits no.966, (2/554).
70 Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lsti&kar... op.cit, (8/2S9).
*b358 - r asyrrffiu$ ynng a[atang Ulaw rlam
Mereka cenderung melemahkannya. An-Nawawi mengatakan ber-
kenaan dengan hadits itu, "lsnadnya lemah karena berporos pada Abdul
Ala bin AmirT3r sedangkan dia adalah lemah menurut para ahli hadits.
Juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dan lbnu Majah. Juga dari
riwayat Jarir bin Abdullah Al-Bajali, isnadnya lemah juga."zsz
Pendapat yang paling klnt -Wallahu Alam- adalah mazhab jum-
hur yang menetapkan sunnah pada lahd. Tidak perlu kembali kepada
sAaqq kecuali ketika sangat diperlukan. Seperti ketika tanahnya sangat
gembur dan sangat lembut yang tidak bisa menggumpal. Jika demikian
halnya tidak ada masalah dengan sgaqq.733 Pada dasarnya bahwa sAaqq
adalah makruh hukumnya tanpa adanya uzur.Ts
Sebab tarjih adalah karena dalil-dalil yang telah disebutkan oleh
jumhur. Sedangkan hadits al-lahdulanaa 'lahd adalah untuk kita', telah
muncul dengan jalur yang lemah. Jika shahih tentu memberikan makna
wajib karena lafalnya telah sedemikian tegas. Akan tetapi, kemunculan-
nya dari jaluryang berbeda-beda, maka ia meningkatkepada derajathasan
lighairihi,T35 maka hadits tersebut tetap bermakna anjuran.
Syaikhul Islam lbnu Tllimiyah berkata, "Hadits-hadiB tentang sAaqq
diriwayatkan dari berbagaijalur di dalam semuanya ada kelemahan. Akan
tetapi, sebagian memperkuat sebagian yang lain."7s
Sedangkan biasa dilakukan di zaman ini dan sangat tepat untuk
dijadikan sebagai contoh bahwa mayit dimakamkan dalam peti mati. Maka
yang demikian itu adalah tindakan yang bertentangan dengan sunnah.
Perbuatan seperti itu tidak pemah dinukil dari seorang Pun dari kalangan
salaf. Bahkan mereka sangat membencinya karena terbuat dari kayu.
Dan dalam perbuatan semacam itu tasyabbuh kepada ahli dunia.737
!t**
731 LihatAdz-Dzahabi, AhMughnifiiAdh-Dhuafa,lahqiq Nuruddin'Atar, (1/354),
biografi ns. U44.
7u An-Nawawi, op.cit.,(51286-2871.1a memitiki banyak jalurpada Ahmad namun
semuanya lemah. Sebagaimana semua itu telah dicek oleh Az-Zaila'l dalam kitab
Nashb Ar-Rayah, (212961.
73 Lihat lbnu Al-Hammam, Syarh ... op.crt.,, (21137); An-Nawawi, op.cit., (51
287); dan Al-Bahuti, op.cit.,(Z 1331.
7s Lihat Al-Mardawai, op.cit, @il51.
?35 Uhat Suhail, oP. cit., (fr51.
m lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit, (112041.
737 Lihat Al-Bahuli, Kasysyafu ... op.cit., (2l1Ul.
-wb re, rasgLhubDi Bi0ar6 penfrarlfi- 359
9*u*,s
laranllan Memukull Plpl,"'
Merobek l(erah,zre dan MeratapT0
Para ahli ilmu sepakat bahwa hula,rm memukul-mularl pipi, merobek
kerah baju, dan meratapTar adalah haram. Dan dinukildarisebagian para
pengikut mazhab Maliki bahwa meratap adalah boleh hukumnya.Te
Fenomena-fenomena ini diharamkan oleh para ahli ilmu bagi pria
maupun wanita berdasarkan dalil-dalil berikut:
Pertama. Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu dari Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda,
*Ot 6 )eL.G:'j ,,a'jljt'U" ,t;J.jt,4 rb ;q',;
'Bukan dari gotongan lrami orang yaag memukul-mukul pipi, neroU*
kerah @ju, dan mengungkapkan ungkapn-ungkapan orangjahiliyah."Tas
lbnu Hajar berkata, "Sabdanya: 'laisa minna'yang artinya 'bukan
dari pengikut sunnah dan jalan kami' adalah tidak dimaksudkan menge-
luarkannya dari agama. Akan tetapi, faidah penuturan dengan lafal
mubalaghah tersebut yang diterapkan untuk menghardik semua orang
agar tidak tergelincir dalam keadaan seperti itu. Hal itu sebagaimana
seorang ayah berkata kepada anaknya ketika memarahinya, 'Aku bukan
73E Jamak dari kata khadd. Dalam hal ini dikhususkan khadd'pipi' karena
bagian ini umumnya dipukuli. Jika tidak, bagian wajah yang lain dihukumi sama.
73e Jamak dari kala jaib, yaitu pakaian yang dibuka hingga kepala bisa masuk.
Dan yang dimaksud dengan bisaqihi'dibuka penuh hingga akhimya' dan ini adalah
tanda-tanda kemarahan.
7ao Niyahah adalah menangis meninggikan suara ketika meratap sambil
menyebut-nyebutsegala kebaikan mayit. LihatAn-Nawa,vi, Al-Majmu... op.cit,(513071.
7'r Lihat MukhtasharAtlrThahawi, (42);Al-Kasani, op.cit.,(11310); lbnuAbdul
tur, Al-lsti&l<atz (81312), ArFNfa,ui, op.cit., (11331), Asy-Syafi'i, Al-Umm ... op.cit., (11
318); An-Nawawi, ibid., (31307), Al-Mardawai, op.cit., (2f568); lbnu Qudamah, op.cit.,
(3/489); dan tain-lainnya.
7a2 Diisyaratkan oleh An-Nawawidan dinisbatkan kepada Al-Qadhi lyadh. Lihat
An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (6/238).
78 Shahih AhBukhari, Kbb Al-Jenaiz, Bab 'Laisa minna man Dharaba Al-
Khudud", hadits no. 1235, (1/4361: dan Shahih Muslim, Kitab Al-lman, Bab Tahrimu
Dharbi Al-Khudud wa Syaqqi Al-Juyub wa Ad-Du'a bi Daa'wa Al-Jahiliyah", hadits no.
103, (1194).
*$360 - r r"sylatfiu$ gang otlarang ulm nlrlm
darimu dan kamu bukan dariku", yang artinya "kamu tidak sejalan dengan
caraku."74
lbnu Daqiq Al-led berkata, "Ungkapan orang-orang jahiliyah disebut-
kan mencalmp dua arti: (1) ungkapan orang-orangfuab ketika dalam PePe-
rangan, dan (2) ungkapan yang menjadi makna hadits ini, yaitu aPa-aPa
yang diucapkan ketika kematian seseorang, seperti: 'aduhai gunung ...,
aduhai tempat bersandar ..., aduhails6p ...'."745
Orang yang melakukan perbuatan orang-orang jahiliyah inisebenar-
nya membahayakan dirinya sendiri untuk ditinggalkan dan dibiarkan. Maka
mereka tidak akan bisa bergabung dengan jamaah ahli sunnah sebagai
sarana mendidik mereka karena telah berjalan menurut jalan orang-orang
jahiliyah yang telah diburukkan oleh lslam sebagaimana dapat dipahami
dari hadits di atas.76
Kedua. Sesuai dengan makna hadits di atas adalah hadits yang
datang dari Abu Malik AI-Asy'an Radhigallahu,{nhu bahwa Nabi Shal-
lallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"LE,;uO -t:--\u..'*.li,'#;7y,.li^qir ;l i $i i'€tf
t ;Au',t;;.tir -,ri..tiO
'Empat hat di tengah-tengah u.rri -r*o*;rt*ioi prr*o,
ormg-orang jahiliyah tidak pnah mercka tinggalkan : brfungga-fungga
dengan harga diri, nrencela na&b, nrmina hujan kepada binbng-bintang,
dan merataP."
Beliau juga bersabda,
1ry C JCr tiVt"!qtt;iwW:; ,F'-j'ttiv'*rtr
i; qL':'
'Wanita yilg meratap jka tidak brtobat seblum ia mati, ia alcan
dibangkitkan pada hari Kiamat dan dkenakan pakaian panjang dari tet
dan pakaian yang berkudis."la7
7{ Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(311631.
7s lbnu Daqiq, oP.cit.,lA174l.
7s Lihat lbnu Hajar, op.cit.,(311641.
717 Telah ditakhrij di atas.
il rt ratgffi tt RtuW petfuban- - 361
An-Nawawi berkata, "Hadits itu menunjukkan pengharaman mera-
tap, demikian disepakati bersama.T4 Dalam hadits tersebut juga terdapat
teks bahwa meratap adalah perkara yang ada di kalangan orang-orang
jahiliyah dan merupakan urusan mereka."
Ketiga. Apa yang datang dari Ummu Athiyah Radhiyallahu Aril:a
bahwa ia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah meng-
ambil dari kami bai'at untuk tidak melakukan niyahah."Tae
Keempat. Apa yang datang dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhigallahu
Anhu bahwa ia ketika siuman dari pingsan ketika sedang sakit berkata,
.^cr, * '6-t l6u{.., tt$.r1 Vl
4.19 dll.,L.a dll J-l-l
it,:-;Ly'*l i * j,iU,3 gp,r,ar2sr ai *,) :0,
"Aku brlepas diri dari apa-apa yang Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullalt Shallallaltu
Alaihi wa Sallam brlepas diri dari wanita peratap, wanita yaag meng-
gunduli rambuttya, dan wania perobek pakaian ketika tertimpa mu-
sibah."7s
futinya, berlepas diri dari pelaku perbuatan itu. Namun, tidak muncul
keterangan yang menunjukkan bahwa pelakunya telah keluar dari lslam.ist
Shaliqah adalah wanita yang bersuara keras ketika menangis.
Haliqah adalah wanita yang menggunduli kepalanya ketika tertimpa
musibah. Sgaaqqah adalah wanita yang merobek pakaiannya.Tz
Mereka juga menetapkan dalil naqli lainnya sejalan makna di atas.
Dari aspek teori mereka berdalil sebagai berikut:
- Bahwa dalam bentukyang telah disebutkan menunjukkan adanya kece-
masan dan ketidakrelaan dengan ketetapan Allah, murka kepada-Nya753
7€ An-Nawawi, Syarh ... op.cit. (6/236).
71e Shahih Al-Bukhai, Ktab Al-Janaiz, Bab "Ma Yanha 'an An-Nuh wa Al-Buka
wa Ae-Zajr'an DzaliK, hadits no. 12U,l1l4/i0l; dan Shahih Muslim, Kitab Al-Janaiz,
Bab "Atr-uTaSsyhdaihdihfiiAAln-B-Nuikyhaahia, hK",bhbadAitlJsannoa. E9,36B,a@b5'M37a1.Yunha min Al-Halaq 'lnda Al-
Mushibah', hadib no. 12U, (114361; dan Muslim, op.cit., hadits no. 104, (1n95).
75r Lihat lbnu Haiar, Fath... op.cit.,(311il1.
7a bid., (3/16$166).
7$ Lihat Al-Bahuli, op.cit.,(Zl 63).
362 - ruffii$ yang Dtlmaw nalayy- rtb rlrrr t
dan yang demikian menyeruPai tindakan pengaduan diri merasa dizalimi.
- Dalam tindakan merobek-robek pakaian adalah pengrusakan harta yang
sama sekali tidak perlu dilakukan.Ts
Tidak diragulon bahwa aPa yang menjadi mazhab jumhur umat ini
berupa pengharaman meratap, merobek-robek kerah pakaian, memukul-
mukulpipi, dan perbuatan lainnyayang semakna dengan semua ituyang
merupakan perbuatan orang-orang jahiliyah, adalah kebenaran (haql yarts
sama sakali tidak perlu diragukan karena banyaknya nash yang menegas-
kannya dengan bentuk ungkapan yang berbeda-beda dan secara mutlak
menunjukkan hukum haram.
Sedangkan ungkapan sebagian dari para ulama besar, sepertiAsy-
Syafi'i Rahimahullah yang menyatakan bahwa hukumnya makruh,
sebagaimana iatuliskan makruhnya semua ittt,Ts maka berkenaan dengan
hal itu fui-Nawawi berkata, "Terjadinya lafal Asy-Syaf i dalam kitab AI-
Umm menunjukkan bahwa hukumnya adalah makruh dan dibawa oleh
pengilutnya kepada makna malruh tahrim, maka telah dinukildari jamaah
bahwa hal tersebut merupakan iima'.'* Dan segala bentuk kemarahan
karena suatu musibah masuk ke dalam makna meratap."757
Sedangkan apa yang dinukil dari sebagian Para pengilrut mazhab
Maliki yang mengatakan bahwa hulmmnya adalahiataz'boleh', yang
jetas kebanyakan dari mereka bermaltsud jika hal itu sebelum mati. Hal
itu karena adanya hadits Jabir bin A$k Radhigallahu llnhu yang di
dalamnya disebutkan sebagai berikut,
&'$ i:r;'; ?re ;.i' + \'r!;-,e *3 yh' ir's'-, ai
*'rf *, .t^'
h' :t J?, -,-'i;u/4 * :r'ct}t,+
y i 6'#J3?;,t Ltb s,isr 6 n'lrl:r? t:,\ :Jv 2
*"=-'rrt;'fi;,*'tql, &hr n' J?tiw'##-
"i #|->t1 tsy :Jti r.,',|li tit'S'-, r:- :r jv'^5t.
7s lbid., (u1631.
zs5 Lihat Asrz-Syaf i, Al-Umm ... op.cit., (1/3I8).
7$ An-Nawawi, op.cit, (5/307).
757 Lihat Al-Bahuti, op.cit.,(Zl 63).
-tab tt twpffi br Rtang pet$atuban- 363
"Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang membesuk
AMullah bin Tsabit dan mendapatinya telah parah sakifiya. Beliau
nrenyennya, teApi ia tidak nrenjawabnya. Beliau bristirja' fircmbaca:
'innaalillahi wa innaa ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami milik Allah
dan sesungguhnya kami kepada-Nya akan kembali)J dan bliau ber-
sabda, 'Kami sangat sedih karenamu wahai Abu Ar-Rabi.'Makapara
wania brteriak dengan histeris sehingga lbnu Atk menenangkan
mereka. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersaMa,
'Biarkan mereka, karena jka tiba saafrrya jangan seonang pun dari
wania yang menangis brlebihan'. Mereka berkata, 'Apalah saatuya
iru wahai Rasulullah?'Beliau brsaMa, 'fka meninggal'."7*
lbnu Abdul Barr Al-Maliki berkata, "Hadits itu menunjukkan diperbo-
lehkan menangis untuk orang sakit dengan jeritan, tapi bukan saat datang
proses kematian ...." Dalam qnarah hadits, ia juga mengatakan, Lleritan
dan ratapan tidak boleh sama sekali setelah kematian, sedangkan linangan
air mata dan kesedihan hati, sunnah yang baku membolehkannya. Yang
demikian ini pendapat dari jamaah para ulama.sTss
An-Nawawi menyebutkan, "Bahwa sebagian para pengikut mazhab
Maliki berpendapat bahwa meratap bukan sesuatu yang haram jika tidak
dibarengi merobek-robek kerah pakaian, memukul-mukul pipi dan menyeru
seperti seruan orang-orang jahiliyah. Halitu sebagaimana didalam hadits
Ummu Athiyah Radhigallahu,{nlta, di dalamnya ia berkata,
.tr[f-\)t'i, *\yur;;r ol1s:t,!r.t;,fvi:! i;tt
'"a-'ti') *-;"i ;;. i- rtd,r+i UV l t $;rt'ri',rk- lj G1
;i,t J rt-''.'.ia'.Ui -aEt'i ok' Uu :', ;; €irbx-\,
i *ol d,T. ,*ot e {r,-,i titr ,*y i\.1r vf
ovi jilt, * t !r\t & )t J ; rlutV:;;;i
7$ Lihat Muwaththa'Malik, Kitab Al-Janaiz, Bab "An-Nahyu 'an Al-Buka'ala Al-
Mayyit (11233); Musnad lmam Ahmad,lihat As-Sa'ati, op.cit., Bab "Ar-Rukhshatu fii Al-
Buka min Ghairi Nuh', hadits no. 97, (71133-1341;.Sunan An-Nasa'i, Kibb Ahlanab,
Bab'An-Nahyr'an Al-Buka'ala Al-tvlaffi, hadits no. 1845, @812);juga diriwayatkan
oleh lainnya. Al-Hakim berkata, "lsnadnya shahih". Dan dikukuhkan Adz-DzahaH. Uhat
op.ciL (1t#21; dan dishahihkan An-Naaaud. Uhaf Al-Maimu; (5ts04.
75e lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit , (8/310).
364 - rasyrrlh$ gang urlarung MIat tkh ulrrr
" Ketika turun ayat briktt, '.. . Dabng kepadamu perempuan-percmpuan
yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mercka tidak akan
merryersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencurt, tidak
alraa brzina, tidak akaa membunah analr-analotya, tidak akan brbuat
dusk yang mereka ada-adakan anhra tangan dan kaki mercka dan
tidak akan nendwhakaimu dalant urusn yang baik', (Al-Mumahanan:
l2), mka ia brkata, 'Di aatara semua itu adalah menap'. Ia brlcak,
'Male sya nongatakan, 'Wahai Rasulullah, kecuali kepada keluarga
si fulan. Mereka membahagiakan aku di aman jahiliyah, nnle aku
harus nrcmbahagiakan rcreka'. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam brsaMa, 'Kecuali keluarga si fulan'."1n
Mengomentari hadits di atas, fur-Nawawi Rahimahullah berkata,
"lni bisa dibawa pada makna 'keringanan unhrk Ummu Athiyah khusus
kepada keluarga fulan saja, sebagaimana dipahamidari makna eksplisit
hadits di atas. Sedangkan meratap tetap tidak halal selain untuk keluarga
ihr. Juga tidak halal dilakukan oleh Ummu Attrph selain kepada keluarga
si fulan ihr, sebagaimana ditegaskan hadits tersebut Penetap ryariat berhak
mengkhususkan sesuatu yang bersifat umum untuk siapa saja yang Dia
kehendaki. Inilah hukum yang paling tepat dalam hadits ini.'76r
Sedangkan apa yang munculdi dalam kitab shahih berupa hadits
Anas rRadh iyallahu Anhu bahwa ia berkata,
f tI,F- Jtl6 6-i$Y )i'At -^L';;ittri t:-,iG', +ei G,-
bt J'yr ,!'frr;'o1'3*iu.tbi |^*uuu ,7!(ir ^,4;r;i
alret,^1;iu'rr
7& Shahih Muslim, Kitab Al-Janaiz, Bab "At-Tasydid fii An-Niyahah", hadits no.
937, (2/537-s38).
78r An-Nawawi, Syarh... op.cit., (6/238).
wh rt rwgffi tr riiMug peribaMban- - 365
"Ketka sakit Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah sangat bnt
menjadikan beliau pingsan. Maka Fathimah berkata, ,Aduhai brantya
kesulian ayahku'. Maka Nabi brsaMa kepadanya, 'Tidak akan ada
kesulian yang brat atas ayahmu setclah hari ini'. Ketika betiau tetah
wafat, ia brkata, 'Wahai ayahku, engkau adalah orang yang brdoa
kepada Rabb yang selalu mengabulkannya, wahai ayahku, engkau adalah
yang surga Firdaus sebagai tempatuya, wahai ayahku, engkau adalah
oring ying hanya kepada libril kami mengabarkan wafattya'. Ketika
beliau dikuburkan Fathimah berkata, 'Apakah kalian tidak ingin untuk
mengambil 'secaruk' tanah untuk ditaburkan kepada Rasuluilah
Shallallahu Alaihi wa Sallam?^1a
Dalam kitab A/-Fath, Al-Hafizh berkata, "Dapat ditarik kesimpulan
dari ucapan-ucapan Fathimah, yaitu boleh hukumnya menyebut-nyebut
mayit dengan apa-apa yang menjadi sifatnya jika diketahui." Al-
KirmaniT63 berkata, "lni bukan termasuk ratapan orang-orang jahiriyah
dengan berbagai kebohongan, dengan meninggikan suara, dan tain-lain.
Akan tetapi, itu adalah nadbah (mengaduh) yang mubah hukumnya."Te
Sesuai dengan apa yang dimaksud dengan 'meratap' menurut ungkapan
Penetap syariat, maka yang seperti itu tidak memasukkan ucapan-ucapan
Fathimah. Apa-apa yang dinukil dariAbu Bakar juga dalil yang menunjuk-
kan bahwa seperti itu adalah boleh. Ada kemungkinan memang bahwa
belum sampaipada keduanya larangan perbuatan sepertiitu, selain tidak
dinukil bahwa kejadian tersebut terjadi karena dengan disaksikan semua
shahabat sehingga menjadi seperti ijma akan bolehnya perbuatan tersebut
karena setiap orang diam dan tidak seorang pun mengingkarinya.T6i
{.**
742 shahih Al-Bukhari, Ktab At-Maghazi, Bab "Maradhu An-Nabi shaltailahu
Alaihi wa Sallam wa Wafatuhtt, hadits no. 4193, (4/1619).
763 Muhammad bin Yusuf bin Ali Al-Kirmani. Dilahirkan tahun T'lr H.la adalah
seorang ahlifikih, ahli ushulfikih, ahti hadits, ahlitafsir. Di antara buku-buku karyanya:
syarh Al-Fawaid Al-Ghiyatsiyah, At-Kawakib Ad-Darai syarh At-Bukhari, oah tain-
lainnya. la wafat tahun 786 H. Lihat tbnu Hajar, AdDunr... op.cit., (4t3jo), dan Asy-
Syaukani, Al-Badr... op.cit, @292).
7il lbnu Hajar, Fath... op.cit,(81149).
76 Asy-Syaukani, op.cit, (4110t).
366 - rasyalhub gng urlarung utm rtlt ulzlrrr
?-lrh*,+
larangan Menln$iltan Suara dl dekat tenazah
Para ahliilmu sepakatbahwa makruh hularmnya meninggikan suara
didekat jenazah. Sebagaimana dikatakan oleh para shahabat Rasulullah
S/.a.llallafur Alaihi wa Sallam dan para pemuka tabi'in.76 Ini adalah maz-
hab Imam yang empat.Tn
Mereka berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut:
1. Apa yang datang dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa ia
berkata, "Rasulullah Slallallahu Alathi wa Sallam bersabda,
,>'ie'l .:6.i:9t43)
'Ienazah itu janganlah diiringi dengan api dan suara' ."78
Suara di sini mencakup rataPan, bacaan, dzikir, dan lain sebagainya.
Pada sebagian dari kegiatan tersebut terdapat dalil-dalilyang menunjuk-
kan bahwa haram hukumnya.T6e
2. f,pa-apa yang datang dari para shahabat yang menunjukkan bahwa
semua itu makruh hukumnya, diantaranya, aPa yang datang dari Qais
bin 'Abbadi7o bahwa ia berkata, 'Bahwa para shahabat Rasulullah Shal-
lallahuAlaihiwaSallam benci suara keras pada tiga hal: peperangan,
di sekitar jenazah, dan ketilo dzikir."Tr
m Lihat lbnu Al-Mundzir, op.cit, (5/389).
7d Lihat Al-Kasani, op.cit.,(1l310l; AhFatawa Al-Hindiah, (1/1621; Syarh Al-
Kharsyi 'ala Khalil, (21'137); N-Adzkar An-Nawawi, (136); As-Samiri, op.cit., (211481;
dan Al-Bahuti, op.cit.,l2l 130).
M Musnad lmam Ahmad, Lihat As.Sa'ati, op'cit, Bab "An-Nahyu 'an lttiba'i Al-
Janazati bi Shiyah au Naaf, hadits no. 21a, @2:Ol; dan Sunan Abu Dawud, Kitab Al'
JanaE. Bab "Fii An-Naar Yatba'u Biha Al-lvlayyif , hadits no. 3171 , (3/203). Dalam sanad
hadits ini ada orang yang tidak dikenal.
7ca UhatAs-Sa'al, op.cit., (U20); dan AFKharsyi bla Khalil, @1371.
zo la adatah Qais bin 'Abbad Al-Qisiy Abu Abdillah Al-Bashri. Seorang tabi'in
yang hidup di zaman jahiliyah hingga zaman lslam tepercaya (biqah). la tiba di Madinah
zaman Kekhalifahan Umar. la merlwayatkan dari jamaah para sahabat. Dan diragukan
pada periwayatannya dari beberapa sahabat. Lihat lbnu Haiar, Tahdzib ... op.cit.,
biografi no. 5802, (8/346), dan At'Taqrib,lbnu Hajar, biografi no' 5582 hlm' 457.
zi Lihat lbnu Al-Mundzir, op.cit., (5/389).
-wh * ratwth.f ti Btuno wfubolnn - 367
3. Mereka berlota, "Perbuatan seperti itu adalah tasyabbuh kepada ahli
kitab karena semua itu adalah tradisi mereka7?2 sehingga makruh
hukumnya.T?3
4. Mereka berkata, "Sikap diam dan tenang lebih menenteramkan pihran
dan memusatkan pemikiran dalam kaitan dengan adanla jenazah. lnilah
yang diminta dalam keadaan demikian itu.77a
Dalam permasalahan inimaztrab jumhur ulama adalah yang paling
tepal Sangat jelas bahwa yang menghalangi mereka untuk menentukan
pendapat bahwa haram hukumnya adalah karena nash yang tidak shahih
dalam melarang. Sedangkan orang yang melakukan halitu karena melaku-
kannya demi ibadah dengan perbuatan itu dengan keyakinan bahwa per-
buatan tersebut sunnah hukumnya. Ivlaka; Udak diragukan lagi bahwa
sikap sedemikian itu haram hukumnya. Sedangkan jika ia bertasyabbuh
kepada ahli kitab, yang demikian itu bukan di antara yang nyata dari tradisi-
tradisi mereka yang telah baku, semua itu sekarang tidak lagi diketahui
dari kalangan mereka. Jika memang demikian, perlu ditetapkan bahwa
meninggikan suara di dekat jenazah adalah haram hukumnya. Wallahu
Ta'alalilam.
+t{.
72 Lihat lbnu Taimiyah, Al-lqtidha ... op.cit., (1/316).
z3 Lihat Al-Kasani, op.cit.,(11310); dan As.Sa'at, op.cit, (8/20).
771 Lihat An-Nawawi, Al-Adzkar... op.cit., (1361.
368 -'rugb6$ gang Dilarung ulam flhb ulall
?",t"U*,, S
Laran gan Berf alan lam bat ketl ka Men gusu n I f enazah
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang hukum lambat dalam
berjalan ketika mengusung jenazah. Sehingga muncul dua pendapat:
?endapat /. Berlambat-lambat adalah makuh hularmnya. lnilah
pendapat jumhur ulama dari kalangan para pengikut mazhab Hanafi,775
Maliki,776 Syaf i,777 dan Hanbali.7?8
Pendapat //. Berlambat-lambat haram hukumnya. Ini adalah pen-
dapat ahluzluhahir.TTs
Jumhur berdalil dengan dalil-dalil berikut:
l. Apa yang datang dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa ia ber-
kata,'Aku pema h menden gar Rasululla h Shallallahu Alaihi. wa Sallam
bersabda,
'urs ol:,fr J\6'#.1'4A.t2'uL{ oy,rVLrff ,i
"''""#t?, t1 ,: . . tac t,. ..2 (U.t?
Eol
" Cepa*anlah kalian semua dalam mengusung jenazah. fika ia shalih,
maka kalian telah mendeka*an ia pada kebaikan. Dan jika ia tidak
demikian, maka keburukan yang segera kalian jauhkan dari pundak
kali^4."7E0
Hadits itu menunjukkan bersegera dalam mengusung jenazah. Makna
ini dibawa kepada hukum istihbab (sunnah).78r
775 LihatAl-Kasani, op.cit.,(11309); Syarh FathAl-QadiC (1/135), dan Mukhtashar
Ath-Thahawi, (41\.
776 Lihat Mukhtashar Khalil (531: Al-Hathab, op.cit., (21227); dan Al-Kharsyi,
op.cit., (21128).
777 LihatAsy-Syaf i, Al-Umm... op.cit., (1/311);An-Nawawi, op.cit.,(512711;dan
Ar-Raudhah, karyanya pula, (1/630).
zE Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (3/395); dan Al-Bahuti, Kasysysaf ... op.cit., (21
128).
77e Lihat lbnu Hazm, op.cit.,(3138'l).
7& Shahih Al-Bukhai, Kitab AlJanaiz, Bab "As-Sur'ah bi At-Janazah", hadits
no. 1252, (laa4; dan Shahih Muslim, Kitab AlJanaiz, Bab "Al-lsra' bi Al-Janazah",
hadits no. 944, (21543).
7tlLihatAl-lraqi, op.cit,(A291); lbnu Qudamah, op.cit., (3/395);dan An-Nawawi,
op.cit., (5127'l).
wb * ratya[k$ nt RW tetfubilan- - 369
2.Nayang munculdarinya pula bahwa ia berkata, Uika RasulullahShal-
lallahu Alaihi wa SaIIam turut mengiring jenazah bersabda,
6lg, i,#t ;: t;f Yr,\rrurir_
' Bersegeralah ketila mengusungnya dan janganlah brlanfut-larnbaf
seperti lambafrya langkah orang-orang Yahudi ketka mengusung
jenazah-jenazah mereka'."B
Dalam hadits di atas Rasulullah SlallallahuAlaihi ura Sa/lam me-
merintahkan kepada mereka agar tidak berlambat-lambat dalam ber-
jalan, karena silop sedemikian itu adalah urusan orang-orang Yahudi
dengan jenazah-jenazah mereka.Te
3. Khabar datang dari Uyainah bin AbdunahmanTs dari ayahnyaTs, dia
berkata,
ry,+ iW €:; ki nt;st €ri ot2L'!6. €&
*tin iu',k yt );' e 6.i;u,Jui L7 eiiK t
>vt,F.;
"Bahwa ia sedang mengiring jenazah Utsman bin Abu Al-Ash dn
kami brjaln dengan brjaln &cara ringan. Abu Bakrah kemudian
7a A&Dilib'befdan perlahan'. Uhat lbnu Al-Atsir, op.at, (2lg6l.
7a Musnad lmam Ahmad, Lihat As.Sa'ati, op.clt, Bab "Ma Ja'a fii Hamli Al-
Janazah wa Al-lsra' Biha min Ghairi Ramlin', hadits no.204, (8/8). Di dalam sanadnya
terdapat Abdul Hakim Qaid Sa'id bin Abu Urwah. Al-Hafizh berkata,'Ad-Daruquthni
berkata, 'Matruki Oleh sebab itu, hadlb ini menjadi lemah dengan isnad itu. Hadits
ini diriwayatkan dengan derajat mursal sebagaimana dalam Mushannaf lbnu Abu
Syaibah, Kitab Al-Janaiz, Bab'Fii Al-Janazati Yusra'u Biha ldza Kharaja Biha Am La,
(312821; MushannafAbdurazzaq, KibbAl-Janaiz, Bab'Al-Masyyu Biljanazah", hadits
no. 6249, (314411. Rijal hadits ini lsrQat'tepercaya'dan isnadnya jayid'bagus'. Lihat
Al-Fatha Ar-Rabbani, As-Sa'ati, (8/19).
ru Lihat As-S a' at, op. cit, (81 81.
7s Uyainah bin Abdunahman bin Jusyin Abu Malik Al-Bashri. Dipercaya oleh
lbnu Hibban dan lbnu Ma'ln. Abu Hatim berkata, 'la adalah orang jujuf. Waki'
menyebutkan bahwa ia mendengar darinya tahun 148 H. Lihat lbnu Hajar, Tah&ib ...
op.cit., biografi no. 5559, (812071.
7e Abdunahman bin Jusyin la dibicarakan oleh lmam Ahmad sebagai berikut,
"la tidak masyhuf. Abu Zur'ah berkata, Tsiqah". Juga ditsiqahkan oleh lbnu Sa'ad
dan lbnu Hibban. la berasal dari tingkat ketiga. Lihat lbnu Hajar, ibid., biografi no.
3966, (6/142), dan lbnu Hajar, At-Taqib ... op.cit, biografi no. 3880 htm. 338.
frh37 0 - r r*;rrrbbub pwg Dilarang ulam rcla'lr
menyusul kami, ia mengangkat cemetinya, dan berkaa, 'Engkau telah
menyaksikaa kami ketika lcami bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam bcrjalan dengan cepat'."7n
Dalam hadits itu Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu menginformasi-
kan tentang cara ia berjalan ketika mengusung jenazah bersama
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bahwa mereka semuanya
berialan dengan cepat -yaitu berjalan cePat yang dibarengi dengan
guncangan kedua belah pundak-7s dan ia mengingkari berjalan pelan-
pelan. Hadits ini menjadidalilbahwa berjalan dengan pelan-pelan ketika
mengusung jenazah adalah makruh hukumnya.
4. Apa yang muncul dari Rafi'bahwa ia berkata,
'i'rL.'oi ?'; auj=;k,p;L:t y h, J2'4t L';i
tt,
* Nabi Shallaltahu Alaihi wa Sallam berjalan dengan cepat sehingga
sandal-sandal kami putus, yaitu ketitra wafat Sa'ad bin Muadz."1e
5. Khabar datang darijamaah para shahabat dan tabi'in yang memerin-
tahkan untuk berjalan cepat ketika mengusung jbnazah dan penging-
karan mereka terhadap cara berjalan perlahan. Di antaranya adalah:
a.Apa yang datang dari lmran bin Hushain RadhigallafuiAnhubahwa
ia berkata, Uika alar mati kemudian kalian semua keluar dengan
mengusungku makacepatlah dalam berjalan dan janganlah berialan
perlahan.sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani berjalan
dengan perlahan."T$
b. Apa yang datang dari tbnu Omar Radhiyallahu llnfurma bahwa
ketito ia mendengar seseorang berlota,'Berlemah-lembutlah lolian
kepada ma)rat tersebut, semoga Allah merahmati kalian, perlahan-
lah-. Maka, dia berkata,'Berjalan cepatlah kalian atau aku memilih
781 Musnad tmam Ahmad. Lihat As-Sa'ati , op.cit, Bab 'Ma Ja'a fii Hamli Al-
Janazah wa Al-lsra' biha min Ghairi Ramlin" hadits no' 203' ($fll; sunan Abu Dawud'
Kitab AhJanaiz, Bab'Al-lsra'bial-Janazah", hadits no. 3181, (3/205) dengan lafazh
darinya. As-Sa'ati berkata, "Sanadnya bagus'.
m Lihat lbnu Al-Atsir, op.cit., (U2651.
m.Lihat Asy-Syaukani, op.cit, @nq.
7s Lihat lbnu Abu Syaibah, op.cit., (312811.
-wb rt twgalkllDi Bittarag Petffinn- 371
pulang."Tsl
c. Dari lbrahim fui-Nakha'i bahwa ia berkata, "Bersegeralah kalian
dalam bedalan ketika mengusung jenazah dan janganlah berlambat-
lambat seperti lambatnya orang-orang Yahudi.e
6. Mereka berkata, "Bahwa melambatkan dalam berjalan ketika mengu-
sung jenazah akan mengakibatkan berbangga-bangga dan sombong,
maka menjadi makruh hukumnya."Ts
Sedangkan pendapat kedua, menetapkan dalil dari makna eksplisit
perintah haditsAbu Hurairah di atas, yakniasn uu 'cepatlah dalam berjalan
yang mereka bawa kepada makna wajib. Konsekuensinya haram berlam-
bat-lambat sebagaimana mereka menetapkan dalil berjalan cepat adalah
wajib hukumnya dari perbuatan para shahabat, sepertiAbu Bakrah ....7s
Pendapat yang paling l$at -Wahahu Ta' ala lilam- adalah mazhab
lbnu Hazm karena dalil-dalilnya kuat. Nabi Slallallahu Alaihi wa Sallam
telah memerintahkan untuk cepat dalam berjalan, dan perintah adalah
berkonsekuensi wajib kecuali dengan dalil yang memalingkan dari hukum
wajib. Dan itu tidak ada.
Bahkan ketika memerintahkan untuk bedalan dengan cepat sebagai-
mana dalam sebagian haditsnya memberikan alasan untuk bersikap beda
dengan orang-orang Yahudi, dan bersikap beda dengan orang-orang
Yahudi dalam perkara-perlora ibadah adalah wajib, sebagaimana telah
dijelaskan di atas.Te'Sedangkan apa yang disebutkan berupa apa yang
pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketilca
beliau masih hidup yang wujudnya adalah berjalan dengan cepat dan
keingkaran para shahabat dan tabi'in atas orang-orang yang berjalan
dengan lambatketilo mengusung jenazah, semua itu menunjuldran haram
hukumnya berlambat-lambat dalam bedalan ketika mengusung jenazah.
Alon tetapi, hukum itu terikat kiranya dengan ketentuan jangan sam-
pai berjalan cepat itu menimbulkan kerusakan, sepertibahaya yang bisa
menimpa para pengiring jenazah.T$ Atau diketahui bahwa pada mayit
Dr Lihat Al-lraqi, Tharh At-Tatsrib ... op.cit., (312921.
rc Lihat lbnu Abu Syaibah, Mushannaf ... op.cit., (312821.
7s Lihat Asy-Syaukani, Nail Al-Authar... op.cit., (4170).
7s Lihat lbnu Hazm, Al-Muhalla ... op.cit, (3/381).
7s Uhat Pasal 4, Pembahasan 1: lGidah-kaidah Menyerupai Orang Kafir, hlm. 66.
m Lihat Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' ... op.cit.,(1 13091
37 2 - r aWfutb yang urlarang MIan frh ulam
ada kerusakan yang dikhawatirkan dengan jalan cepat itu akan menajisi,
pecah, atau berubah.isT Hal itu telah ditunjukkan dalam kitab Shahihain
berupa hadits lbnuAbbas RadhiyallahuAnhubahwa ia berkata berkenaan
dengan jenazah Maimunah Radhiyallahu An]7a,
ri'lit;'ti ,c"if.; )" W"erttY.
' lfu lralian anglat keruilanya, janganlah menggoyang-goyangkannya
dan jangan mengguncanglcannya." M
An-Nawawi berkata, "lni dibawa kepada makna kekhawatiran adanya
kerusakan yang dikarenakan berjalan dengan cepat" 7s
Sedangkan apa-apa yang tampak bertolak belakang dan dapat
dipahami darinya perintah untuk berlambat-lambat, yaitu aPa yang datang
dari Abu Musa Al-Asy'an Radhiyallahu Anhu bahwa ia berkata,
,b'1t ;zo,',,; -.Ji:o et 4L\, * ir S'-, o'y
!,:.;st'€.e :rL;15 iu' ,b i; J'-lri*
'Suatu ketika berlalu di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam jenazah dengan singat brguncangp seperti guncangnya ait
dalam kanmngnya.Eot Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, 'Hendalnya lcalian semua *derhana dalam berialaa'."w2
P Lihat An-Nawawi, op.cit., (51271-2721.
M Shahih Al-Bukhari, Kitab An-Nikah, Bab'Katsratu An-Nisa", hadits no' 4780,
(5/1950-1951); dan Shahih Muslim, Kitab Fii Ar-Radha', Bab "Jawazu Hibatiha
Naubataha Lidhanatiha", hadits no. 1465, (2/880).
7m An-Nawawi, op.cit., (512711.
w Al-Makhdhu adalah menggerakkannya dengan cepat seperti orang meng-
gerakkan tempat susu untuk mengeluarkan krimnya. Lihat Abadi, op.cit., hlm. 482.
&1 Az-Ziqq adalah kantung air dari kulit. Abadi, ibid., hlm. 1150.
m Musnad lmam Ahmad. Lihat As-Sa'ali, op.cit., Bab "Ma Ja'a fii Hamli Al-
Janazah wa Al-lsra' Biha min Ghairi Ramlin", hadits no. 205, (8/9). Dalam sanadnya
terdapat Laits bin Abu Sulaim Al-Qurasfi. Dalam A t-Taqrib, Al-Hafrzh lbnu Hajar berkata,
"la adalah orang jujur sekali, namun sangat bercampur dan tidak terpisah-pisahkan
semua haditsnya sehingga ditinggalkan. Lihat biografi no. 5685, hlm. 464.
m Lihat Asy-syaukani, op.cit., (4111), As-Sa'ali, op.cit., (8/9); dan Al-Kharsyi,
uop.cit., (?/1281.
Lihat lbnu Qudamah, op.cit., (3/395);Asy-Syaf i, Al-Umm... op.cit., (1/311);
dan op.cit, (21227).
uh * ruglhr$ nt Btuno perfuMhan- - 373
Yang dimaksud didalam hadits iniadalah tidak boleh berlebih-lebihan
didalam berjalan, namun dengan sederhana dalam mengusung jenazah.
Namun tidakada saling menafikan antara kesederhanaan dengan berjalan
cepat yang tidak mencapai ukuran berlebih-lebihan.8o3
Sedangkan ukuran cepat yang diminta adalah sesuatu yang masih
menjadi beda pendapat di antara para ahli ilmu. Maka mayoritas mengata-
kan, "Yaitu cepat yang tidak keluar dari batasan berjalan biasa.e Yang
lain berkata, "ltu jika dibawah berjalan dengan setengah melompat"so5lni
sama dengan makna pertama. Sebagian dari mereka berkata, "Berlari
kecil".ffi
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa berjalan dengan cepat
yang diminta adalah jika masih termasuk ke dalam istilah berjalan biasa
dengan tidak berlebih-lebihan. Dan pembahasan ini tidak dimaksudkan
mengupas masalah tersebut secara rincl Wallahu A'lam.
{r tt rl
w Al-Khabab adalah semacam berlari, tetapidibawah langkah besar. At-Anq
adalah langkah yang panJang. Lihat lbnu Al-Hammam, op.cit.,(1/13S). Dan tihat
berkenaan dengan ungkapan ini Al-Kasani, op.cit.,(1 l3O9).
m Lihat lbnu Qudamah, op.cit, (3/395).
37 4 - r asyffiul1 gang oitaraug Ulam fuh rclmr
Ptsil7
TENTANG PUASA
Pasal ini mencakup enam pembahasn:
Pembahasan 1. Perintah melakukan makan sahur sebagai pembeda
dengan ahli kitab.
Pembahasan 2. I-arangan menlrambung puasa wishal.
Pembahasan 3. Puasa sehari sebelum hari Asyura atau sehari
setelahnya sebagai pembeda dengan orang-orang Yahudi.
Pembahasan 4. Bersandar kepada hasil rukyat pada Puasa
Ramadhan dan ldul Fitri.
Pembahasan 5. Apakah puasa pada hari yang diragukan dilarang?
Pembahasan 6. l-arangan mendahului Ramadhan dengan Puasa
sehari atau dua hari sebelumnya.
?*AU*,,t
Perlntah Melakukan Makan sahur
sebagal Pembedadengan Ahll xltab
Para ahli ilmu sepakat akan dianjurkannya sahur bagi orang yang
melakukan puasa.807 Mereka mengetengahkan dalil-dalil, di antaranya,
hadits Anas Radhiyallahu Anhubahwa ia berkata, "Rasulullah Slallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
6;;A,eoyb;.;
'Makan sahurlah kalian semua, karena sesungguhnya dalam makan
sahur iu terdapat berkah."w
m7 Lihat lbnu Qudamah, op.cit.,$la32l;An'Nawawi, op.cit., (6/359);Al-Hathab,
op.cit., (21400't; dan lbnu Halar, Fath ... op.cit.,(41139). Sebagian para ulama menukil
nkesepakatan mereka dalam hal itu sebagaimana disebutkan didua referensiterakhir.
Shahih Al-Bukhari, Ktab Ash-Shaum, Bab "Barakatu As-Sahur min Ghairi
ljab", hadits no. 1823, (216781; dan Shahih Muslim, Kitab Ash-Shiyam, Bab "Fadhlu
As-Sahur wa Ta'kid lstihbabihi...", hadits no. 1095, (21632).
uh rt, rwyffi ir Rtung penbalrrLrun- - 375
Juga hadits Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhu yang di dalamnya
disebutkan bahwa Rasulullah Slallallahu Alaihi ura Sallam bersabda,
M l?., g? ; c"pilJ_ttJii
=9,'Perbedaan antara puasa kia dengan puasa ahli kitab adalah makan
sahur."w
Mereka berkata, "Karena makan sahurituakan menolong pelaksana-
an puasa pada siang hari,8ro maka hal itu menjadi sunnah.
Bahkan dikatakan, "Bahwa makan sahur adalah sunnah dan bukan
wajib. Padahalprinsipnya adalah haram hukumnya bertasyabbuh kepada
ahli kitab, khususnya dalam peribadatan mereka karena dua hal:
Pertama. Bahwa para ahli ilmu sepakat bahwa makan sahur sunnah
bukan wajib.srr Sedangkan ijma adalah dalilyang paling kuat. Dan tidak
demikian kecuali ketika dengan adanya dalil sekalipun belum diketahui.
Kedua. Bahwa NabiShallallahu Alaihi wa Sallam -sebagaimana
dalam hadits Abdullah bin Umar- melakukan puasa wishal yang diikuti
oleh semua orang dan akhirnya mereka keberatan. Maka beliau mela-
rang mereka. Maka mereka berkata, "Engkau melakukan puasa wishal."
Maka beliau bersabda,
&iz t o r4., {t -Jt1
&r: lyi
"Aku bukan seperti keadaan kalian semua. Sesungguhnya aku
dipayungi, diberi makan dan diberi mint,m.Dst2
lbnu Hajar berkata, "Hadits itu menunjukkan bahwa sahur bukan
keharusan yang mutlak. Karena jika keharusan mutlak, tidak mungkin
beliau melakukan puasa wishal bersama mereka. Karena puasa wbhal
mengharusl<an untuk meninggalkan makan sahui baik kita katakan bahwa
puasa wishal itu haram atau tidak.8r3
ri t[ rl
M Shahih Muslim, ibid.,hadits no. 1096, (2/633).
E10 Lihat Al-Kasani, op. cit.,(21 1 051.
Ett Lihat Al-Hathab, op.cit, @aD);dan lbnu Haiar, Fath ... op.cit,(41139).
812 ShahihAl-Bukhari, ibid.,haditsno.1822,(2l6tg);dan Shahih Mustim, op.cit.,
Bab "An-Nahyu 'an Al-Wishal fii Ash-Shaum', hadits no. 1102, (2/635).
Ei3 Lihat lbnu Hajar, Fath... op.cit,(41139).
37 6 - r ayffiub WW oilarung nalam rik$ rkn
?",AU*,9
Lalangan Menyambung Puasa Wlshal
Pembahasan ini mencakup dua subbab:
A. Definisi Wishal
Wishal didefinisikan dengan berbagai definisi, di antaranya:
- Dikatakan, "Puasa dua hari berturut-turut tanpa berbuka di antara
keduanya."8r5
- Dikatalcn, 'Artinya meninggalkan makan dan minum di malam hari di
antara dua hari yang seseorang berpuasa pada keduanya secara sengaja
tanPa t1211L"816
- Dikatakan, "Meninggalkan makan di malam-malam hari puasa karena
ia makan di siang hari dengan sengaja."8r7
- Dikatakan, "Menyabungkan imsak di siang hari hingga malam hari
sekalipun secara hukum tidak berpuasa.'8l8
- Dikatakan, "Melakukan puasa setahun penuh dan tidak berbuka di hari-
hari yang dilarang."ets
Empat definisiyang pertama hampir mirip maknanya. Yang paling
baik di antara semuanya -Wallahu Ta'ala lilam- adalah definisi kedua,
yaitu definisi yang diketengahkan oleh An-Nawawi yang menyebutkan
bahwa wishal adalah meninggalkan makan dan minum dimalam haridi
antara dua hari yang berpuasa di dalamnya dengan sengaja tanpa uzur.
Jika ia Rahimahu/lah mengatakan bahwa'meninggalkan apa-apa
yang bisa membatalkan', tentu akan lebih utama, karena akan termasuk
Er{ Lihat Al-Kasani, op.cit.,(21791; dan lihat Al-Mardawai, op.cit., (3/350). Di
dalamnya disebutkan: '3';,r';'dua hari atau lebih'.
Er5 An-Nawawi, op.cit., (6/357).
E16 fbnu Halar, Fath ... op.cit.,(412021.
8i7 As-Samiri, op.cit., (314721. Buka puasanya secara hukum dari hadits:
';rL:t'p'i'G ,rii,r !r #' ie ,,jna:rrr.-Jr 7Gir,
"Jika tiba malam hari dari sini dan tiba siang hari dari sini dan matahari telah
terbenam maka orang yang berpuasa telah berbuka."
Lihal Shahih Al-Bukhari, op.cit., Bab "Bayanu Waqti lnqidhai Ash-Shaumi wa
KhurujiAn-Nahar', hadits no. 1100, (2/634).
alE Al-Fatawa Al-Hindiah, (1 l201t.
6re Lihat Al-lraqi, Tharh At-Tatsrib, (41129).
-wh * twyfiu$ d Rtung petWtan - 377
di dalamnya bersetubuh. Sebab sama sekalitidak bisa dibayangkan bahwa
tetap disebut puasa akan ada bagi pelaku persetubuhan.sre Dan sama
dengan bersetubuh semua halyang membatalkan puasa. Meskipun prinsip
dasar puasa wishal adalah menahan makan dan minum, sebagaimana
yang menjadi makna eksplisit hadits-hadits yang ada, yakni wishal adalah
berlanjutnya kondisi tetap berpuasa. Oleh karena itu definisi yang lain
menunjukkan sikap meninggalkan semuayang membatalkan puasa pada
umumnya.
Ongkapannya dalam definisi 'antara dua puasa'menunjukkan daru-
rat menghabiskan seluruh waktu semenjak matahari terbenam hingga
fajar untuk melakukan imsak. Dengan demikian maka keluar daridefinisi
itu orang yang meninggalkan segala perkara yang membatalkan puasa
di sebagian malam. Dan ungkapannya 'sengaja' keluar dari definisi itu
jika enggan karena ia setuju dengan tidak menyengaja untuk puasa wishal.
Maka dengan demikian ia tidak termasuk orang yang melakukan puasa
wishal. Ungkapannya 'dengan tidak ada uzur' menunjukkan keluar dari
definisi itu jika enggan karena adanya uzur. Seperti sakit dan lain-lain
dengan tidak dibarengi maksud untuk melakukan puasa wishal.
Kadang-kadang wishal dimaksudkan meninggalkan semua yang
membatalkan puasa hingga tiba waktu sahur kembali.82o Yang demikian
itu boleh dilakukan karena adanya sabda Rasulullah Shallallahu Alathi
wa Sallam setelah beliau melarang puasa wishal,
vut A'kt *,)*t ;'ol ;r r't'{--X
" Siapa di antara kalian menghendaki untuk melakukan puasa wishal
maka hendaknya melakukan puasa wishal iru hingga wakn sahur."82t
lbnu Hajar berkata, "Sebenarnya penamaan imsak hingga waktu
sahur sebagaiwishal adalah karena serupa dengan kenyataan wishal."P
Bisa dibedakan antara keduanya dari aspek definisi dengan me-
ngatakan, "Wishalyang diperbolehkan adalah yang sampai waktu sahur.
Sedangkan wishal yang diperdebatkan ialah jika sampai munculnya fajar.
m Lihat lbnu Daqiq, op.cit., W4341.
at Shahlh Al-Bukhari, op.cft., hadits no. 1866, (2/694).
@ lbnu Hajar, Fath... op.cit.,(412041.
37 8 - r wffii$ gng alanng ulam rl*$ rclam
Sedangkan definisiwishal sebagai puasa setahun penuh adalah tidak
benar. lni adalah shaum ad-dahr dan telah dilarang oleh Rasulullah
Slallallahu Alaihi wa Sallam.w
B. Hukum Rrasa Wishal
Para ahli ilmu berbeda pendapat berkenaan dengan hukr,rm puasa
wishal, sehingga muncul tiga pendapat
1. Haram hukumnya. Ini adalah pendapat yang shahih dari kalangan
para pengikut mazhab Syaf iua dan merupakan ungkapan sebagian
dari para pengikut mazhab Maliki,e5 dan Hanbali.826
2. Makruh hukumnya. Ini adalah pendapat para pengikut mazhab Hanafi,E7
Maliki,es dan Hanbali.es
3. Haram hukumnya bagi yang berat melakukannya dan mubah bagi
orang yang tidak merasa berat melakukannya. lni adalah mazhab
sebagian dari para tabi'in.m
Pendapat L Mereka yang berpendapat bahwa haram hulrumnya me-
ngetengahkan dalil yang banyak jumlahnya, di antaranya:
1. Dari Abu Hurairah Radhtyallahu,\nhu bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
,. 2c .t:--"..trl \.>;,l. ,Jwir, itt
\->-'t/ r Jtj9
O-C ,, , O, t
m3 lni dalam kisah Abdullah bin Amr bin Al-Ash dalam sebuah hadits yang
panjang ketika ia bersumpah akan sungguh-sungguh berpuasa di siang hari dan
qiyamullail di malam hari sepanjang hidupnya. Hadits tersebut tertulis dalam kitab
shahihain. Lihal Shahih AhBukhari, Ktab AslrShaum, Bab "Shaum Ad-Dahf, hadits
no. 1875, (216971;dan Shahih Muslim, KtabAslt-Shiyam, Bab'An-Nahyu'an Shaum
Ad-Dahf, hadits no. 1159, (2/668).
sel Lihat An-Nawawi, op.clt, (6/357).
Lihat AFHathab, op.cit., (2/399).
m Lihat Al-Mardawai, op.cit., (3/350).
@7 Lihat Al-Kasani, op.cit.,(21791.
eE Lihat lbnu Abdul Ban, lstidzkar... op.cit., (10/153); lbnu Jauzi, op.cit., ('1331.
@e Lihat Al-Mardawai, op.cit., (3/350).
e Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,l4l204l.
* - I-wh tasga$ub it Btutq petfub$an37
*.lauhilah oleh kalian semua puasa wishal (dua kal). Maka dikatalen
kepada bliau, 'Tebpi engkau nrelakukanpuaa wishal'. Beliau brubd4
'Aku tinggal di sisi Rabbku yang membriku makan dan minum. Maka
bbanilah diri kalin dengan pekerjaan-pkerjaan yang kalian nnmpu
melakukannya'."t31
2. Dari lbnu Umar RadhigallahuAnhuma bahwa ia berkata,
*'rf:Jti,J*t; alrrt';v )u it * i' & a' J? r,#
ot,&tjy&A;,
*Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang puasa wishal.
Mereka brkata, 'Sesungguhnya engkaujuga melakukan wishal'. kliau
bersaMa, 'Aku tidak seperti kalian semua. Sesungguhnya aku dibri
makan dan minum'."832
3. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata,
Uy ,b1 Jt- J4)t r *i yht ,,* it J';, e
-, *kt&|bO, &; *\t J, :)t J';,'Jw't"t; !tj?; u"
It f
r;1;-',ti rJ t5,;;i: ;: #- il iy
'A ;$"|si,i?:rt'; ilutllUtrtir; c'; i c';- ry,
fraf;'oif;i 3o
"Rasulullah Shallaltahu Alaihi wa Saltam melarang puasa *irtut.
Seseorung dari kalangan kaum Muslimin berkaa kepada beliau, 'Tebpi
engkau melakukan puasa wishal wahai Rasulullah'. Beliau bersabda,
'Dan siapa di anara kalian yang sama denganku? Sesungguhnya aku
tinggal di malam hari dan Rabbku membriku makan dan minum'.
831 Shahih Al-Bukhari, op.cit., Bab "At-Tankil Liman Aktsara Al-Wishal", hadits
no. 1865, (216941; dan Shahih Muslim, op.cit., Bab "An-Nahyu 'an Al-WishalfiiAsh-
Shaum", hadits no. 1103, (2/636). Dan lafazhnya dail Al-Bukhari.
Ee Shahih Al-Bukhari, ibid.,Bab "Al-Wishal". Dan siapa yang mengata-kan, "Di
malam hari tidak ada puasa". Hadits no. 1861, (2/6931: dan Shahin Muslim, ibid.,
hadits no. 1102, (21635).
380 - r asyrrbbul1 gang alarung u[an fr$ rlarr
Ketika mereka enggan brhenti dari puasa wishal, maka Rasulullah
melakrkan puasa wishal bercama mercka sehari demi sehari. Lalu
mereka menyaksikan bulan sabit. Maka beliau bersabda, 'lika saja
hilal belum terlambat muncul tentu akan aku tanbah sebagai hukuman
bagi mereka ketika mereka enggan berhenti."E33
Dalam riwayat Muslim dari hadits Anas Radhigallahu r\nhu,
"# o}*At 7+'.lr;,(*trs ,'relilt tf i";
" fika bulan ini masih diperpanjang untukku tentu aku akan masih
melakukan puasa wishal sehingga mereka yang membandel meninggal-
kan sifat kebandelannya itu." 8a
Yang menunjukkan bahwa dalil-daliltersebut dan dalil-dalil lain yang
semakna dengannya menunjukkan kepada hukum haram adalah bah-
wa Rasulull ah Shallallahu Alaihi um Sallam melarang para shahabatnya
melakukan pudstiwishal dalam bermacam bentuk ungkapan larangan.
Dan prinsip dasar dalam larangan memberikan pemahaman bahwa
haram hukumnya.835
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
,-alr \; L f1f;:,/.&;i tibfrlsti iA * ,<i,a, tir,
i*,'Maka u*u melarang katian semua dari sesuatu, iauhitah oteh
kalian dan jika aku memerintahkn kepada kalian sesuant, penuhilah
perintahku itu sesuai kemamps21vp11.'836
Sebagaimana Rasulullah Slalla[ahu Alaihi wa Sallam menjelaskan
bahwa puasa wishal diperbolehkan khusus bagi dirinya. Dan selain
dirinya, umat ini tidak boleh melakukan Puasa wishal. Karena beliau
memiliki keadaan khusus, karena Allah memberinya makan dan
minum.sT
833 Shahih Al-Bukhai, ibid.,Bab'Al-Tankil Liman Aktsara Al-Wishal", hadits no.
s1864, (2/694); dan Shahih Muslim, ibid.,hadits no. 1103, (2/636).
Shahih Muslim, ibid.,hadils no. 1104, (21637).
e Lihat An-Nawawi, op.cit , (6857); dan Al-lraqi , op.cit., (4/1 30).
836 Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-llisham bi Al-Kitab wa As-Sunnah, Bab "Al-lqtida'
bi Sunani Rasulillah Shallallahu Alaihiwa Sallam', hadits no.68581; Shahih Muslim,
Kitab Al-Hajj, Bab "Fardhu Al-Hajj Manah fii Al-Umri', hadits no. 1337, engq.
87 Lihat lbnu Abdul Ban, Al-lstidzkar... op.cit., (10/154). Makna hadits itu diper-
-wb tt :iasgalhu$ tt Rtur'1 pet$abo$an- 381
4. Hadits Basyir bin Al-Khashashiyah RadtriyallahuAnhu, di mana istrinya
berkata,
\t * ,#C,'oy.:Jtis,'F. *,; e-';-i:*l of:.iri
6 fy-r'#*t,a;;2,;r,$i,FA-:J;, as * ,# *'r^lL
;';ftr:yl'Jit';:rs 6$,,F, Jtifun$i 1.r;7't
u'Aktt hendak melakukan puasa dua hari secara wishal, tetapi Basyir
metarangku'. Dan ia berkata, 'sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam melarang prbuaan ini'. Iajuga brkata, 'Perbuatan seprti
itu dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Akan tetapi, beryuasalah kalian
semua sebagaimana yang diperinahkn oleh AIIah Ta'ala kepada kalian
semua. Sempurnakan puasa hingga malam tiba. lka malam telah tiba,
brbukalah'."88
Aspek sasaran yang ditunjuk hadits adalah bahwa beliau melarang
puasa wishal. Kaidahnya adalah larangan bertasyabbuh kepada per-
ibadatan orang-orang Nasrani dan lain-lain darijenis-jenis orang kafir.
5. Dari Abdullah bin Abu Aufa Radhigallahu Anhu bahwa ia berkata,
"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
'4.ilt'*ti'*.tii {ti' $U' ir:'r,r;t^ €'Pt r'vtil
" tika telah terbenam maahari dari sini, dan malam telah tiba, onang
yang berpuasa telah brbuka."Re
debatkan, apakah harus sesuai dengan arti eksplisit atau tidak. Sedangkan teksnya
memberikan kemungkinan untuk dibawa kepada kedua makna tersebut. Sedangkan
bertahan dengan arti eksplisit teks dalil adalah lebih utama. Wallahu A'lam.
w Musnad lmam Ahmad, Lihat As-Sa'ali, op.cit., Bab "Ma Ja'a fii Al-Wishal
Lishshaim", hadits no. 149, (10/83). Oalam AhFath,(412021,A|-Hafizh berkata, "Ditakhrij
Ahmad dan Ath-Thabrani, Sa'id bin Manshur, Abd bin Hamid, lbnu Abu Hatim dengan
isnad shahih hingga Laila", istri Basyir. Al-lraqi dalam TharhAt-Tatsrib,(411321, berkata,
"Bisa jadi hadits itu dari ungkapan Basyir sendiri yang ditingkatkan ke dalam hadits".
8e Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum,Bab "Mata Yahillu Fithru Ash-Shaim",
hadits no. 1854, (2/691); dan Shahih Muslim, Ktab Ash-Shaum, Bab "Bayanu Waqti
lnqidha Ash-Shaumi wa Khuruj An-Nahaf, hadits no. 1101, (21634); dan lafazhnya
adalah dari Muslim.
382 - ragfr"lt w"s ahrang Mlam rhh slan
Aspek yang menjadi penegasan hadits adalah bahwa orang yang
melakukan puasa wishal tidak akan mendapatkan manfaat dari puasa
wishalnya itu. Karena malam adalah bukan tempat untuk berpuasa. Akan
tetapi, orang yang berpuasa harus berbuka secara hukum ketika malam
telah tiba.m
Pendapat IL Sedangkan mereka yang berpegang dengan pendapat
kedua yang menyatakan makruh berdalil dengan dalil-dalil sebagaiberikut:
1. Apa-apa yang telah muncul berupa dalil-dalil tentang larangan puasa
wishal. Mereka berkata, "Dalil-dalilitu bisa dibawa kepada makna makruh,
yang menunjukkan hal itu adalah sebagaiberikut:
a. Apa yang datang dari Aisyah RadhigallahuAnha bahwa ia berkata,
eittiu d*) )vi,f tif h' ",:. i'J?, ej
t
F-tAsi'!;-;t'
" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam . melak*an puasa
wishal sebagai tanda kasih-sayang kepada mereka. Mereka berkata,
'Sesunggahnya engkau juga melahilran puasa wishal'. Beliau brsaMa,
'Aku tidak seperti keadaan kalian semua, sesungguhnya aku diberi
makan dan minum oleh Rabbku'."8a1
Aspekyang menjadi penegasan hadits iniadalah bahwa sesungguh-
nya larangan terjadi sebagai rasa kasih sayang dan rahmat kepada
umat agar orang-orang yang berpuasa itu tidak menjadi lemah
dalam berpuasa. Itu adalah perkara yang tidak perlu dilakukan dan
tidak berhubungan dengan dosa. Jika seseorang melakukan puasa
wishal maka puasanya tidak menjadi batal, karena larangan tersebut
bukan pada puasanya sehingga tidak menjadikannya batal.rc
b. Ba hwa Nabi Sha/la llahu Alaihi wa Sallam melakukan puasa wishal
dengan para shahabatnya -sebagaimana dijelaskan di atas. Jika
hukumnya haram, tentu beliau tidak akan melakukan puasa wishal
m Lihat lbnu Abdul Ban, Al-ltidzkar... op.cit (10/154).
u1 Shahih Al-Bukhari, Ktab Ash-Shaum,Bab ?l-Wishal, wa man Qala: Laisa
fi i Al-Lail Shiyam", hadits no. 1 863, (2/693-694); dan Shahih Muslim, Ktab Ash-Shiyam,
Bab "An-Nahyu 'an Al-Wishalfii Ash-Shaum", hadits no. 1105, W637).
An-Nawawi, op.cit, (6/357); Al-Bahuti, op.cit,(21342); dan
m Lihat At-Hathab,
op.cit., (2/399).
-td rx tasyalt'lrrb ti Rtur,g w*Mnn- 383
bersama mereka. Halitu menunjukkan bahwa puasa wishalbukan
haram tetapi makruh.rc
c. Apa yang datang dari Samurah Radhigallahu Anhu bahwa ia
berkata,
q rturt Jc St ;'p', ^)Lir' &',],,*
'Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang melakukan puasa wishal
namun larangan itu bukan merupal<an larangan yang keras."w
Jelas sekali menunjukkan bahwa haltersebut bukan haram.
d. Bahwa sesungguhnya Rasulullah Slallallahu Naihi waSallam me-
nyamakan antara puasa wishal dengan mengakhirkan berbuka
dalam illat larangan. Dimana beliau selalu bersabda pada masing-
rhasing dari keduanya,
./r<.itr ,yi ,yt ft
" Sesungguhnya hal iu adalah prbuatan ahli kitao* .us
Tak seorang pun yang mengatakan bahwa mengakhirkan berbuka
haram hukumnya.
Pendapat lll.Yangnyata mereka berdalildengan sebagian dari apa-
apa yang telah disebutkan oleh mereka yang berpendapat bahwa makruh
hukumnya karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan puasa
wishal dengan para shahabatnya. Dan beliau melarang puasa wishal
adalah dalam rangka meringankan dan rasa kasih-sayang kepada mereka.
lni menunjukkan bahwa orang yang tidak merasa berat baginya puasa
wishal maka hukumnya menjadi mubah.ffi
Mereka yang berpegang kepada pendapat bahwa hukumnya adalah
haram telah mendiskusikan dalil-dalil mereka yang mengatakan bahwa
hukumnya makruh sebagai berikut:
1. Apa yang dikatakan bahwa puasa wishal adalah rahmat bagi umat,
maka tidak haram hukumnya. Sanggahannya, bahwa fllah larangannya
adalah rasa kasih-sayang bagi mereka, bukan larangan karena haram
s3 Lihat Al-Bahuli, op.cit,@U21.
4 Penulis tidak menemukan hadits ifu.
s Lihat lbnu Hajar, Fath... op.cit.,(412051.
w tbid., (412041.
384 - rasyal$ul1 yangoilarangMlamfr$ ulnm
hukumnya. Justru rahmat bagi mereka dengan mengharamkannya atas
mereka.MT
2. Mereka berkata, "Bahwa Rasulullah ShallallahuAlaihiura Sal/am me-
lakukan puasa wishal bersama para shahabatnya adalah bukan atas
dasar ketetapan. Akan tetapi, atas dasar tekanan dan hukuman. lbnu
Hajar berkata, "Pendapat mereka itu bisa saja berarti demi kemaslahatan
larangan ketika menegaskan tekanan larangan itu. Karena jika mereka
menerjang larangan itu, muncullah bagi mereka hikmah larangan itu
dan yang demikian itu biasanya lebih mengesan dalam hati karena se-
belumnya pada mereka terdapat kebosanan beribadah dan semba-
rangan terhadap apa-apa yang lebih penting daripada hal itu dan lebih
kuat daripada beban tugas berupa shalat, membaca, dan lain sebagai-
nya. Lapar yang cukup sangat akan menghilangkan semua itu."ffi
Al-lraqiee menukil kata-kata sebagian para ulama, "Ketegaran
mereka dalam halitu (puasa wishal) adalah hukuman bagimereka. Semua
yang berlatar belakang hukuman tidak mungkin merupakan bagian dari
slari61."eso
Pend apat yan g pa li n g htat -Wallahu Ta'al a A lam- ha ram h ularmnya
berpuasa wishal karena dalil-dalil yang diketengahkan oleh jumhur.
Sedangkan dalil-dalil yang diketengahkan oleh mereka yang berpendapat
bahwa makruh hukumnya telah disanggah sebagaimana di atas.
Sedangkan dalil yang datang dari Samurah Radhigallahu Anhu
tidak diketahui. Dengan demikian, ia berbeda dengan dalil yang paling
kuat keshahihan dan kejelasannya. Karena telah muncul hadits-hadits
larangan yang sangat jelas di antara sunnah-sunnah yang shahih, yaitu
dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sedangkan hadits
S amurah adalah dari pemahaman seorang shahabat Ra dhiy allahu Anhu.
Sedangkan ungkapan bahwa Rasulullah Slallallahu Alaihi wa
Sallam menyamakan antara mengakhirkan berbuka dengan mengakhir-
ut Ibkl., (4l205l; dan Al-lraqi, op. cit., (4/1 30).
m lbnu Haiar, Fath... op.cit.,l4l2o5l.
se Zainuddin Abdurrahim bin Al-Husain bin Abdunahman. Dilahirkan tahun
725 H. Dia adalah salah seorang huffadz pada zamannya. Di masa mudanya banyak
belajar di Al-Haramain (Makkah dan Madinah), dan lain-lain. Di antara karyanya:
Tharh At-Tatsrib fii Syarh At-Taqrib. Beliau wafat tahun 608 H. Lihat Syadzarat Adz-
Dzahab, lbnu Al-lmad, (7/55).
m Al-lraqi, Tharh At-Tatsrib, (4/130).
-ub tt rwyahhuh a; sfran1 Penhairihan-. 385
kan makan sahur karena keduanya adalah perbuatan ahli kitab ... sesung-
guhnya telah muncul sunnah-sunnah yang menegaskan boleh mengakhir-
kan berbuka puasa dan tidak munculdengan hukum boleh puasa wishal
sehingga mengakhirkan berbuka makuh hukumnya atau bertentangan
dengan yang lebih utama sebagai hasil penggabungan teks-teks dalilyang
ada.85r Sehingga hukum puasa wishaltetap haram.
Dalil yang muncul berkenaan dengan hal tersebut adalah sabda
Rasululla h Sha llallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits Abu Said Al-Khudri
RadhiyallahuAnhu,
"'langanlah kalian melaktkan puasa wishal. Siapa di antara kalian
menghendaki untuk melakukan puasa wishal, maka hendaknya me-
Iakukan puasa wishal itu hingga wakru sahur'. Mereka berkata, 'Teapi
engkau melakukan puasa wishal'. Beliau bersaMa, 'Sesungguhnya aku
bukan seperti keadaan kalian. Aku tinggal di malam hari dengan
Pemberi makanan yang memberiku makan dan Pemberi minuman yang
memberiku minum'."Esz
Dalam dalil inijuga terdapat penjelasan tentang puasa wishalyang
jaiz, yaitu jika sampai waktu sahur. Ini tidak berlawanan dengan yang
dihadi rkan jum hu r berupa sabda Rasulullah S lallallahu Alaihi wa Sallam,
f.Ut'*,i'*,'ji 6, J:lJ ;G'),6 6i nfur -,v tiy.
*fika matahari telah teftenam dari sini dan malam telah tiba, orang
yang berpuasa telah brbuka."tss
Karena artinya 'telah tiba waktu berbuka'. lni diperkuat oleh redaksi
lain yang ada di dalam sebagian riwayatnya: telah halal untuk berbuka.
*tt
e6' LihatAl-Mardawai, op.cit,(3/350);dan A]-Bahuti, Kasysyaf ... op.cit.,@342).
Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum,Bab "Al-Wishal ila As-Sahaf, hadits
no.1866, @6941.
83 Shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum,Bab 'Mata Yahillu Fithru Ash-Shaim",
hadits no. 1854, (2/691); dan Shahih Muslim, Kitab Ash-Shaum,Bab "Bayanu Waqti
lnqidha Ash-Shaumi wa Khuruj An-Naha/, hadits no. '1101, (21634); dan lafazhnya
adalah dari Muslim.
386 - rasWbhA gangDilarungtalamr;hh rlawr
?",*t *,,5
Puasa Seharl sebelum Harl Asyurars{ atau Setelahnya
sebagal Pembeda dengan oran*oran g Yahudl
Pembahasan ini mencakup dua subbahasan:
A. Hukum Berpuasa pada Hari fuyura dan Dalilnya
Para ahli ilmu sepakat atas dianjurkannyasss berpuasa pada hari
Asyura.
Hal itu karena beberapa hadits, di antaranya:
Apa yang telah ditakhrij oleh Muslim dari hadits Qatadah Radhi-
yallahu Anhu dari Nabi Slallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau ber-
sabda berkenaan dengan puas di hari Asyura,
* *'+l ;\Ct'oilt'y'9J'oi yt
' . . . Sesungguhnya aku brharap kepada Allah kiranya menghapus (dosa)
se ah un yang se be Iumnya." E$
Juga hadits lbnu Abbas Radhigallahu Anhuma bahwa ia berkata,
ti"' " i A ; it'L; u.yt e't *\' * ;'t J y,if
dt "''';Li4+ dJJl - qrt |;t tr-^ {jvr'oJi'* f}il,itr,ea
uli';;, *\,'u e,4t ia';}A,:
a,(ra.,,.;1i!i.)l,t-
o';*'a k.,;\
o'
. t Gio),ft,of
-m * ) ^)L
r/
e Asyura adalah nama lslam yang tidak dikenal di zaman jahiliyah, yaitu hari
ke-10 Muharram, demikian yang tepat, berbeda dengan pandapat lbnu Abbas
Radhiyallahu Anhumayang paling populertanggal9. Lihat lbnu Hajar, Fath ... op.cit.,(4l
245), An-Nawawi, op.cit., (6/383); dan lihat dalam tahqiq mazhab lbnu Abbas: lbnul
Qayyim, op.cit.,(47q.
N Para ahli ilmu sepakat, puasa Asyura dianjurkan hukumnya setelah difardhu-
kan puasa Ramadhan. Tetapi, mereka berbeda pendapat, apakah sebelum itu wajib
atau dianjurkan. Dalam hal ini lihat lbnu Al-Hammam, op.cit.,(2303); An-Nawawi,
op.cit., (6/38a); dan Al-Mardawai, op.cit., (3/346).
ffi Bagian dari hadits panjang dalam Shahih Muslim. Ktab Ash-Shiyam, Bab
"lstihbabu Shiyami Tsalatsati Ayyam min Kulli Syahr wa Shaumi Arafah wa Shaumi
Asyura ...", hadits no. 1162, (216741.
-ub *'rasgabbu$ li Bibang peibaMban-. 387
" Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah dan men-
dapati orang-orang Yahudi melakukan puasa pada hari Asyura. Mereka
ditanya bnang hal iru sehingga mereka berkata, 'Ini adalah hari di
mana Allah Musa dan bani Israil aas Fir'aun, maka
kami brpuasa pada hari ini sebagai pemuliaan untuknya'. Lalu Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Kami lebih berhak atas Musa
daripada kalian semua'. Kemudian beliau memerintahkan untuk ber-
puasa pada hari itu."is1
Juga karena hadits Muawiyah bin Abu Suffan yang di dalamnya
dijelaskan bahwa ia sedang berdirisebagai Khatib -yakni ketika ia tiba di
Madinah- tepat pada hariAsyura. Maka ia bertanya'sebagai berikut,
' \ &'i' 'i'(}Lf 4-Je dlll i,'J;r',;- t^rr*:ir $f U '€'icL';i
[i'r ,Le'€ .*ht ,3;- |2 ,i,r'4a {;,- :i]r r4.'1.,-
'fr?;,i ci'";i ;'r,nli ? A\?E -;t ?, "{.b
*Oimana para ulama kalian semua, wahai penduduk Madinah. Aku
Wrnah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersaMa
pada hari seperti ini, 'Ini hari Asyura dan Allah tidak mewajibkan
berpuasa atas kalian pada hari ini. Teapi aku berpuasa. Barangsiapa
di antara kalian ingin berpuasa hendaknya berpuasa dan barangsiapa
ingin tidak berpuasa maka hendalotya tidak berpuasa".85t
B. Hukum Mengkhususkan Hari Asyura dengan Berpuasa
Ketika petu nju k Rasulullah Sha llallahu Alai.hi wa Sallam pada prin-
sipnya adalah sikap berbeda dengan ahli kitab sebagaimana telah
ditetapkan diatas, karena sikap berbeda dengan ahlikitab bisa jadi dengan
bentuk aksijika ada di dalam syariat kita ketetapan dasar bagi mereka.
Sebagaimana sikap berbeda dengan mereka dengan aksijika perbuatan
yang telah ditetapkan untuk mereka itu telah dijadikan bid'ah atau telah
67 Shahih Al-Bukhai, Kitab Ash-Shaum, Bab "Shiyamu Yaumi Asyura", hadits
no. '1900, (217041;dan Shahih Muslim, KitabAsh-Shiyam, Bab"Shaumu YaumiAsyura",
hadits no. 1'130, (21654); dan lafazhnya dari Muslim.
M Shahih Al-Bukhari, Ktab Ash-Shaum, Bab "Shiyamu Yaumi Asyura", hadits
no. 1 899, (2nO$; dan Shahih Muslim, Ktab Ash-Shiyam, Bab "Shaumu Yaumi Asyura",
hadits no. 1129, (2/653). dengan lafazh dari Muslim.
3 88 - tasyra66 rb vow oilarang aalam r&ih rslam
dihapus. Telah datang sejumlah teks dalil yang memerintahkan untuk
berpuasa pada hari sebelum hariAsyura, hari berikutnya, atau kedua hari
tersebut sebagai sesuatu yang disunnahkan.
An-Nawawiberkata, "Mereka sepakat bila halitu dianjurkan."se Dia
menyebutkan tiga macam hikmah bila perbuatan itu dianjurkan:
1. Yang dimaksud adalah tindakan berbeda dengan Yahudi di mana
mereka mengkhususkan hari ke-10. lni diriwayatkan dari lbnu Abbas
Radhigallahu Anhuma. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dari
Ibnu Abbas, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaiht wa Sallam
bersabda,
cr:dlIPVU,c-,rrzco.clr.t+c.!7)ct'.cVtc!y, -oE|yS*-l .c1.11.. .' .c t, 202 otot
SrltFV ?StlySe
'Betpuasalah kalian semua pada hari Asyura dan bersikaplah berbda
dengan onang-orang Yahudi. Berpuasalah sehari sebelumnya aku sehari
sesudahnya."sfi
2. Yang dimaksud adalah menambah puasa Asyura dengan puasa satu
hari. Sebagaimana larangan berpuasa pada hariJum'at saja.
3. Sikap berhati-hati dalam berpuasa pada hari ke-10, khawatir karena
kurangnya tanggalyang ditunjukkan oleh bulan sabit sehingga terjadi
kesalahan. Hari ke-9 bisa jadi dalam hitungan, tetapi pada hakikatnya
hari ke-1O.ffit
Para ahli fikih sepakat bahwa makruh hukumnya mengkhususkan
hari Asyura dengan puasa:
Sebagian para pengikut mazhab Hanafise telah menetapkan kemak-
ruhan itu. Dan sebagian para pengikut mazhab Hanbaliberkata, "lni adalah
konsekuensi ungkapan Imam Ahmad."863
Sedangkan yang telah menetapkan sunnah hukumnya menambah-
kan satu hari kepada hari Asyura dengan berpuasa adalah para pengikut
se An-Nawawi, op. cit., (6/383).
ffi Musnad lmam Ahmad. Lihat Al-Fath Ar-Rabbani, As-Sa'ati. Pasa! tentrang
orang berkata, "Asyura adalah hari ke-9 ...', hadits no.249,(101'185). As-Sa'ati berkatia,
"Sanadnya bagus'. Tahqiq Ahmad Syakir terhadap kilab Musnad, (41211, berkata,
"lsnadnya hasan".
est Lihat An-Nawawi, op.cit., (6/384).
Lihat Al-Kasani, op. cit.,(2t791.
Eca Lihat Al-Mardawai, op.cit., (3/346).
-tub n' asgabhu$ bi Ritang penfuMban,. 389
mazhab Maliki,ffia Syaf i,aor dan Hanbali.str lni dipahami darinya hukum
makruh pula. Mereka menetapkan hukum makruh dengan alasan bahwa
mengkhususkan hari Asyura (dengan berpuasa di dalamnya) adalah
tasyabbuh kepada orang-orang Yahudi.sT Tidaklah haram berpuasa hanya
pada hari itu, karena hari itu adalah bagian dari hari-hari yang utama.
Maka, dianjurkan menggabungkan keutamaannya dengan berpuasa di
dalamnya sekalipun dengan tidak berpuasa seharisebelum atau sesudah-
nya.868
Apa yang menjadi mazhab mereka adalah yang paling kuat -
Wallahu Ta'ala Allam-. Maka mengkhususkan hari Asyura dengan ber-
puasa, makruh hukumnya bagi orang yang mampu menggabungkan
dengannya hari lainnya. Akan tetapi, halinitidak menghalanginya untuk
mendapatkan pahala dengan puasa pada hariitu saja. la akan tetap men-
dapatkan pahala -rnsga Allah- atas apa yang dilakukan sebagaimana
ditegaskan oleh nash. Yang dimaksud di sini adalah bahwa orang itu telah
melakukan suatu yang makuh karena meninggalkan puasa pada hari
yang lain yang digabungkan dengan hari Asyura itu. Hukum makruh
muncul karena meninggalkan puasa pada satu hari yang digabungkan
dengan puasa pada hariAsyura bukan pada materi puasanya.
Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu adalah sebagai berikut:
1 . S abd a Rasulullah Slallallahu Alaihi wa Sallam ya n g di riwayatka n oleh
lbnu Abbas Radhtgallahu Anhuma,
C;;:rx')le';'fr f,'nr,r' jijt,;l& jitr"r;e?'ify'-r
" Berpuasalah katian semua pada nari Asyura dan bersikaplah berbeda
dengan orang-oring Yahudi. Berpuasalah sehari seblumnya atau sehari
sesudahnya."s@
eB Lihat Al-Hathab, op.cit., (U4OO).
Lihat An-Nawawi, op.cit., (6/383).
ffi Lihat lbnu Qudamah, op.cit., Qlaa0; dan Al-Bahuti, op.cit.,(213381.
s7 Lihat Al-Kasani, op.cit.,(2t791.
w lbid., (21791.
6e Musnad lmam Ahmad. Lihal Al-Fath Ar-Rabbani, As-Sa'ati. Pasal tentang
orang yang berkata, "Asyura adalah hari kesembilan .. .", hadits no. 249, (10/185). As-
Sa'ati berkata, "Sanadnya bagus". Ahmad Syakir dalam tahqiqnya terhadap kitab
Musnad, (4121), berkata, "lsnadnya hasan".
390 - rasyabbuh wwDilaraugdakwrik$ tslam
Secara aksplisit hadits diatas menunjukkan adanya perintah untuk
tampil beda dengan jalan petunjuk orang-orang Yahudi, yaitu dengan
berpuasa satu harisebelum atau sesudahnya. Perintah didalam hadits
itu mengisyaratkan hukum sunnah. Karena tidak ada tekanan yang
menunjukkan bahwa puasa hari Asyura adalah wajib berdasarkan ijma'
para ahli ilmu.870 Hukum menyerupai orang-orang Yahudi adalah mak-
ruh. Karena dalam mengkhususkan hari Asyura ada kesamaan dengan
mereka dalam sifat dan gaya perbuatan yang prinsipnya telah muncul
didalam agama kita. Kesamaan dalam halsifat dan gaya yang asalnya
masyru' untuk kita maka hukumnya adalah makruh.ETr Karena prinsip
perbuatan itu bukan wajib tetapi dianjurkan, maka bersikap berbeda
dengan para ahli kitab dalam sifat dan gaya adalah dianjurkan dan
menyamakan dengan mereka hukumnya adalah makruh.
2. Khabar yang datang dari lbnu Abbas Radhigallahu Anfuna, ia berkata,
r-,Q';?ritr;G?';- *', ^)Li' ,3; it J?riw',F
;;Xi it l'-', Jta,s')21r)', ,a1r^:k'i;';\,:iJ'i'rU ', jA
*,t ;lC rtirrilr r-il, iur iulty.'S;lridr..Ltrr; Y,*',
&':& i,' J:" |'J';'.,'e'; ,F j,J' ;uir -'(
" Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa pada hari
Asyura dan memerintahkan kepada semua orung unruk berpuasa pada
hari iru, mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, iru adalah hari yang di'
agungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani'. Maka Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam brsaMa, 'Kalau tahun depan, insya Allah,
kia berpuasa pada hari kesembilan'. Ia betkata, 'Belum tiba Ahun
berikutnya namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah
ryaf11t."872
E70 Lihat An-Nawawi, Syarh ... op.cit., (814).
87r Lihat hlm. 104.
872 Shahih Mustim, Kitab Ash-Shiyam, Bab "Ayyu Yaum Yushamu fii Asyura",
hadits no. 1134, (21655).
* -tah rwgbbull bi tibaug peibaM$an- 391
An-Nawawiberkata, "Sebagian para ulama berkata, 'Bisa jadisebab
puasa pada hari ke-9 dan ke- 1 0 adalah agar tidak terjadi tasyabbuh kepada
orang-orang Yahudi yang mengkhususkan hari ke-l0. Dalam hadits ini
terdapat isyarat kepada pemahaman seperti itu.o3
*t*
?**tr*" +
Bersandar kepada Hasll Rukyat
pada Puasa Ramadhan dan tdul Ftthil
Para ahli ilmu sepakat bahwa bersandar kepada rukyat datam
mengawali puasa Ramadhan dan berbuka sesudahnya adalah maqmr'.
Tetapi mereka berbeda pendapat dalam hal boleh tidaknya bersandar
kepada hisab. Sehingga munculdari mereka dua pendapat:
Pendapat I. Tidak boleh bersandar kepada hisab untuk menetapl<an
masuk bulan Ramadhan atau keluar darinya. Akan tetapi, yang wajib
adalah bersandar kepada rukyat atau penyempurnaan bulan menjadi 30
hari. lni adalah pendapat para pengikut mazhab Hanafi,sTa Matiki,sT5
Syaf i,876 Hanbali,877 dan seluruh umat.8?8
Pendapat //. Boleh bersandar pada hisab untuk mengetahui posisi
dan menentukan masuk dan keluar dari bulan Ramadhan. Orang yang
paling masyhur atas pendapat kedua ini adalah Mutharrif bin Abdullah
873 An-Nawawi, Syarh ... op.cit, (8/13).
871 Lihat Al-Fatawa AhHindiah (N-Alamakiriyahl, (11191); At-Kasani, op.cit,l2l
80); dan lbnu Abidin, op.cit., (3/355).
875 Lihat Al-Hathab, op.cit, (21387); Al-Azhari, Jawahir At-tktit, (1t141l; dan tbnu
Jazi, Qawanin Al-Ahkam Asy-Syar'iah, 134.
876 Lihat An-Nawawi, op.cit., (61269); lbnu Hajar, Fath ... op.cit., (411221; dan Al-
lraqi, Th a rh At- Ta ts rib, (41 1 O$1 1 21.
07 Lihat lbnu Qudamah, op.cit , (41338), As-Samiri, op.cit., (313g5); dan Al-Bahuti,
Syarh Muntaha Al-lradat (1/438).
87t Lihat lbnu Abdul Ban, Ahlstidzkar... op.cit., (10/1S,19). Kepadanya Majma'
Al-Fiqh Al-lslami dalam Daurah lv tahun 1401 H kembali. Lihat Al-earan kumpulan
berbagai keputusan milik Majelis Al-Majma' Al-Fiqh Al-lslami, cabang Rabithah Al-
Alam Al-lslami sejak Daurah I hingga Vlll. Percetakan Ar-Rabithah, hlm. 66.
392 - tasyaffi yong oilarung balan rkh rclam
Asy-Syakhir,87e lbnu Qutaibah,sm lbnu Suraij,881 dan lain-lain.s2
lbnu Abdul Barr berkata, "Diriwayatkan dariMutharrif bin Asy-Syakhir
namun riwayat darinya tidak shahih. Kalaupun shahih, maka tidak wajib
mengikutinya karena keganjilannya (syadzl dan karena ia bertentangan
dengan alasan permasalahan tersebut.s Dikisahkan dari lbnu Qutaibah
riwayat yang sama. Dan ia berkata, "lni bukan kehendak lbnu Qutaibah
juga bukan mereka yang sepakat dengannya dalam bab ini".e
Jumhur sebagai kelompok yang berpegang dengan pendapat
pertama mengetengahkan dalil-dalil sebagai berikut:
1 . Khabar yang datang dari lbnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata,
'Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi usa Sallam
bersabda,
o) f irt svp*i3i,tr 16 i'fr?r ttti,f;')i)','r,ii'r t;y
'Jilca kalian menyaksikannya, berpuasalah. Dan iika kalian menyakskan-
nya, berbulcalah. Iika keadaan mendung, perh i mngkanlah fiv1217 ils' ." 88s
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
:3* i g)"iv
s7e Muthanif bin Abdullah bin Asy-Syakhir Al-Amiri. la salah seorang pembesar
para tabi'in. Meriwayatkan dari ayahnya, Utsman bin Affan, Ali, Abu Dzarr, dan lain-lain
para sahabat. la seorang yang tsiqah memiliki keutamaan, sifatwara', dan adab. la
wafattahun 95 H, ada yang mengatakan 87 H. Lahirzaman kehidupan Nabi Shallallahu
Ataihi wa Sallam. Lihat lbnu Hajar, Tahdzib ... op.cit., biografi no. 7016, (1/158).
880 Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri. Tinggal di Baghdad. Mengu-
asai ilmu lisan dan akhbar. la memiliki kitab-kitab bidang hadits, fikih, dan lain-lain.
Diantaranya LtyunAt-Akhbarwa GhaibAl-Qur'an, GharibAl-Hadrts, ....lawafattahun
276H. LihatAdz-Dzahabi, Siyar... op.cit., (13/296), biografi no. 138.
er Ahmad bin Umar bin Suraij Al-Baghdadi. Seorang qadhi bermazhab Syaf i.
Lahir tahun 240-an H. la seorang pembesar ahli fikih mazhab Syaf i. Dikatakan,
"Kitab karyanya mencapai sekitar 400 judul". la mendalami fikih dari Abu Al-Qasim Al-
Anmathi. la wafat tahun 303 H. LihatAdz-Dzahabi, Sinr...op.cit., (141201), btosrd no. 114.
s2 Berkenaan dengan permasalahan ini lihat lbnu Abdul Barr, Ahlstidzkar ...
op.cit., (10/18);dan lbnu Abidin, op.cit., (3/355).
u3 Lihat At-Tamhid,lbnu Abdul Barr,1141352).
8u lbid..
Els Shahih At-Bukhari, Kitab Ash-Shaurn, Bab "Qaul An'Nabi: 'ldza Ra'aytumul-
hilaala Fashumuu wa ldza Ra'aymuuhu Fa'afthiruu"'. Hadits no. 1807, (216741: dan
Shahih Muslim, Kitab Ash-Shiyam, Bab "Wujubu Shaumi Ramadhana Lirukyah Al-
Hilal", hadits no. 1080, (216231; dan lafazhnya dari Muslim.
-wb tt usgabh"h d fiorg penhabahan- 393
" Maka perhiungkanlah tiga puluh (har1)."eaa
Dalam riwayatnya pula disebutkan,
ie;-;>u f;,r5'"<1, ,v
"lika kondisi tertttarp mendung, uryuasahn kafian semua W puin
hari.'8E7
Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan,
+i l;a;'i r4r'u'€ .:",*Ly,q'il f|fil : *-3) f;.*
" Betpuasalah kalian karena mananya dan'Orir*irn kaln|mefi,t
nya. lka kondisi mendung bagi pandangan kalian semua, sempumakan-
lah hitungan bulan Sya'ban tiga puluh(har)" .888
objekyang menjadi penegasan hadits-hadits tersebut bahwa syariat
menggantungkan permasalahan puasa dan berbuka puasa kepada dua
perkara yang tidak ada faktor ketiganya, yaitu pengtihatan kepada bulan
sabit dan penyempurnaan bulan menjadi 30 hari, baik bulan sya'ban
maupun bulan Ramadhan. Kedua perkara ini harus secara berurutan.
Tidak akan sempurna suatu bulan kecualijika betum melihat bulan sabil
Jika berpegang kepada hisab atau lainnya adarah sesuatu yang berke-
kuatan dalam pandangan syariattentu Penetap syariat alen menunjuk-
kan hal itu. Karena kondisi sangat membutuhkan kepadanya.sse
2. Dari lbnu umar Radhigallahu Anhuma dari Nabi shallallahu Alaihi
wa Sallam bahwa beliau bersabda,
-^;, i'; * $k ),tis;')Ar clr:,x \j'& t $f Zi ty
G)u'i;;*;
'sesungguhnya kia ini adalah umat bua huntt kia tidak menulis, dan
tidak menghiung. Bulan adalah demikian dan demikian, yatai sesekali
dua puluh sembilan hari dan sesekali tiga puluh hari.sn
u Lihat Shahih Mustim, ibid.
ut lbid.
ceNNLSSihhhaaat hhAiilh-h,AHAal-tlBh-Buaubk,hkohapari.r,ci,iot,poQ.pcBi.tc.7Hit9.a,l;ddBiatasnbntb.oen. ua1uH81la0iAa,rn,@-FN6aa7hb4.1i.,..o.Lpa.caitN,l4atk1t2ubtl.u wa Laa
Nahsub'', Hadits no. 1814, (UOTS\