The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Puji Narimawati, 2022-11-23 16:50:21

PERTEMUAN PERTAMA PDF

PERTEMUAN PERTAMA PDF

DIRIMU

Oleh: Arjuna Karuniadi Limin

Hari Senin ini, jam menunjukkan pukul
delapan pagi. Upacara baru saja selesai.
Anak-anak bergegas masuk ke kelas
masing-masing. Ketika aku berjalan menuju kelas,
aku tak sengaja melihatnya tengah bercanda dengan
temannya. Di situ, jantungku berdebar kencang
seakan merasakan cinta. Namun, aku hanya bisa
menatap dirinya sekilas karena bel telah berbunyi.

Saat di kelas, aku tidak bisa berkonsentrasi
karena wajahnya selalu membayang di dalam
pikiranku. Akhirnya, pada saat istirahat aku
memberanikan diri untuk berkenalan dengan dirinya.

“Halo, boleh kenalan? Kenalkan, namaku
David aku dari Mipa 5.3,” tanyaku kepadamu.

“Hai, boleh saja. Perkenalkan, namaku
Michelle,” jawab gadis pujaan hatiku.

40

“Kalau boleh tahu kamu kelas berapa?”
“Hmm … aku kelas Mipa 3.3.”
Setelah itu aku dan dia kembali ke kelas
masing-masing. Kami berdua menjalani hari di
sekolah dengan senang.
Ketika hari sudah gelap dan jam menunjukkan
pukul sepuluh malam, tiba-tiba terlintas di pikiranku
ide untuk mengajak Michelle pergi makan siang
berdua di kantin. Keesokan harinya saat istirahat
pertama aku tak sengaja berpapasan dengan Michelle.
Aku memberanikan diri untuk menyampaikan ide
tadi malam.
“Eh, Michelle, tunggu.”
“Ya, Kenapa?”
“Emm … kamu nanti istirahat kedua sibuk
enggak?”
“Enggak, tuh, kenapa?”
“Gimana kalau nanti kita makan siang bareng.
Aku yang bayarin, deh.”
“Eh, kok tiba-tiba? Ada apa ni?”
“Enggak ada apa-apa, sih. Kamu mau enggak?”
“Emm … ya udah, deh, mau. Nanti samperin ke
kelas, ya?”
“Oke,” jawabku dengan senang.
Istirahat kedua aku menjemput Michelle di
kelasnya. Dia sudah menungguku di depan pintu.

41

“Ayo, kita ke kantin sekarang,” ajakku
padanya.

“Ayo.”
Sampai di kantin, kami memesan soto dan es
teh. Sambil menunggu pesanan, aku memberanikan
diri mengungkapkan perasaanku padannya.
“Chel, aku suka sama kamu. Kamu mau enggak
jadi pacar aku?”
“Hah???”
Michelle seketika terdiam. Ia mencoba
mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan olehku.
“Chel, kok diem aja?”
“Oh, enggak apa-apa.”
“Kamu mau enggak?”
Seketika Michelle memegang tangan David dan
berkata aku mau kok jadi pacar kamu. Senyum
mengembang di bibirnya yang mungil.

Tentang Penulis
Arjuna Karuniadi Limin biasa
dipanggil Juna adalah siswa Kelas
fase E-X-8 di SMA Negeri 1 Salatiga.
Lahir di Palangkaraya 24 Desember
2007. Ia mempunyai hobi bermain
musik, membaca, dan bermain gim. 

 

42

JALAN SETAPAK

Oleh: Arsa Yuwana Kurniawan

Pagi itu, jam menunjukkan subuh dini hari.
Terdengar sekelompok pemuda yang sangat
bising sedang sibuk merapikan tas gunungnya.
Suasana di sana sangtlah ricuh. Walaupun angin
malam yang bertiup masih sangtalah dingin, mereka
sangatlah antusias menepati janji yang mereka buat
minggu lalu, yaitu mendaki sebuah gunung. Namun
ditengah-tengah itu, seorang pemuda terlihat murung
dan tidak semangat. Pemuda itu bernama Ali. Entah
mengapa ia menunjukkan wajah yang tidak senang,
seperti ada yang mengganggu pikirannya. Waktu
menunjukkan pukul 04.30. Rombongan tersebut
akhirnya memutuskan untuk memulai pendakiannya.

“Sebelum kita memulai berjalan, mari kita
berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing,”

43

kata Andi. Sekelompok pemuda itu pun mulai berdoa
dilanjutkan berjalan menaiki gunung.

Dua jam berlalu, dan baru setengah jalan
terlewati. Tidak ada yang aneh dalam setengah
perjalanan mereka, hanya saja sinar matahari yang
tidak menembus pepohonan yang berada di hutan-
hutan gunung.

“Ini sudah jam tujuh, lo, tetapi kenapa masih
gelap?” Ali menggerutu.

Reno pun menyahut sambil menatap langit.
“Ternyata langit sedang mendung teman-teman. Kita
harus bergegas mencapai posko peristirahatan.”

Mereka panik karena ini adalah pendakian
pertama mereka. Semuanya pun bergegas menuju
puncak sembari mencari posko peristirahatan.
Mereka pun akhirnya menemukan posko
peristirahatan dengan tepat waktu. Hujan deras yang
berasal dari gelapnya awan akhirnya jatuh dan
mengguyur hutan tersebut. Mereka menghela napas
dan mulai duduk untuk sedikit mengurangi rasa letih.

“Aduh, aku kebelet banget, ni,” gumam Ali
sambil menahan. Ali yang sudah tak bisa menahan
pergi mencari toilet yang tak jauh dari posko tersebut.
Namun, ia tak berpamitan kepada teman-temannya.

Di saat Ali bergegas, begitu kagetnya saat jalan
yang tadinya beraspal berubah menjadi jalan setapak

44

yang masih berlumpur. Rasa ingin buang air yang
sangat besar berubah. Kini Ali tak menahan buang air
sedikit pun.

Setelah 15 menit berlalu, Ali berjalan dan
rasanya seperti jalan yang pernah ia lalui sebelumnya.
Di tengah rasa keputusasaan tiba-tiba Ali bertemu
dengan seorang kakek tua.

“Dek, kamu tersesat?” kata Kakek itu.
“Iya, Kek. Saya tadi ingin ke toilet.”
Kakek itu menuntun Ali berjalan keluar dari
hutan lebat yang hanya memiliki jalan setapak.
Mereka melewati jalan-jalan yang berlumpur dan
mengarungi sungai. Hingga tiba Ali dan Kakek itu di
tempat yang Ali tak permah duga bisa berada di
hutan, yaitu laut yang tak berujung.
“Dek, kakek hanya ingin pesan satu. Kamu
tidak akan bisa keluar dari tempat ini jika kamu tidak
menyadari kesalahanmu. Kamu anak yang baik, Nak.
Dan tempat ini hanyalah ilusi belaka. Kita berada di
alam yang berbeda.”
Ali merinding ketakutan dan tak berani
memandang kakek itu lagi. Sontak Ali memikirkan
pesan kakek itu dan memikirkan apa kesalahannya.
Ali ingat bahwa ibunya tak mengizinkannya untuk
menuju ke puncak. Ali berdoa kepada Tuhan dan tak
lama ia kembali ke dunia yang pernah dilihatnya. Ali

45

lemas dan pingsan. Ia terbangun dan begitu kagetnya
bahwa ia dibawa oleh tim penyelamat yang sudah
mencarinya selama tujuh hari.

Tentang Penulis
Arsa Yuwana Kurniawan adalah siswa kelas 10

di SMA Negeri 1 Salatiga. Ia lahir di Salatiga pada 20
Januari 2007. Ia merupakan anak pertama dari dua
bersaudara. Ia merupakan siswa yang baru belajar
menulis sebuah karya cerita mini. Ada dua karya yang
pernah ia bikin, yaitu “Jalan Setapak” dan “Cerca dan
Takdir”.

46

SIUMAN

Oleh: Arthur Philip Hardianto

Saat Eddie sedang bekerja, bosnya memberi
tugas tambahan untuk Eddie. Eddie merasa
tidak masalah dengan tugas dari bosnya.
Namun, tugas tambahan itu membuatnya lembur
kerja. Eddie mengabari istrinya.

“Lucy, hari ini aku kerja lembur. Tolong anak-
anak juga dikasih tahu biar enggak bingung.”

“Oke, Ed. Hati-hati pulangnya, ya.”
“Oke, Sayang.”
Pukul 10:13, tugas Eddie akhirnya selesai. Ia
bergegas pulang karena sudah larut malam dan jalan
sudah mulai sepi. Eddie masuk ke mobil dan langsung
menuju rumah. Tanpa dia sadari, ternyata bensinnya
hampir habis.
“Waduh, ada pom bensin enggak, ya?”

47

Eddie tetap melalui jalur pulang. Untungnya,
ada pom bensin seiring perjalanan. “Puji tuhan!”
Eddie langsung masuk dan mengisi bensin.

“Terima kasih. Hati-hati di jalan. Kalau capek
istirahat dulu, Pak.”

“Oke, Pak. Nggak usah, belum capek.”
Eddie melanjutkan perjalanan. Ketika hampir
sampai, Eddie mulai merasa kantuk.
Klakson truk berbunyi dari arah berlawanan.
Eddie hampir tertabrak truk. Untungnya dia sempat
menghidar.
“Hampir saja. Istirahat dulu ajalah.”
Eddie menepi dan tertidur selama 15 menit.
Setelah dia bangun, dia langsung menuju rumah.
Ketika sampai di rumah, dia merasa ada yang aneh.
“Akhirnya pulang. Lucy … Lucy …. Halo???”
Tidak ada orang di rumah. Padahal saat itu jam
11 malam. Eddie keluar untuk mencari keluarganya.
Dia melihat tetangganya sedang berjalan dengan
anjingnya. Eddie langsung berjalan menuju
tetangganya untuk menanyakan tentang keluarganya.
Anjingnya menggonggong ke Eddie, tapi Eddie tidak
peduli.
“Pak, tadi lihat keluarga saya keluar apa tidak?”
“Shhh … Momo.”
“Lo?”

48

Eddie kebingungan karena tetangganya kayak
tidak melihat Eddie sama sekali. Tetapi anjingnya
menggonggong ke Eddie.

“Jangan-jangan ....”
Eddie langsung lari ke mobilnya, tetapi
mobilnya sudah hilang. Tanpa pikir panjang, Eddie
langsung berlari ke arah jalur pulangnya tadi. Setelah
berlari lumayan jauh, dia melihat cahaya. Eddie
melanjutkan larinya. Saat tiba di cahaya tersebut,
Eddie melihat keluarganya sedang menangis. Setelah
berapa saat, Eddie sangat terkejut. Eddie sadar bahwa
Eddie tidak menghindari truk tadi. Kejadian
menghindari truk itu hanyalah imajinasi Eddie.

Tentang Penulis
Saya Arthur Philip Hardianto dari SMA Negeri

1 Salatiga, lahir pada 27 Februari 2007 di Salatiga.
Saya suka menggambar dan main game dan ingin bisa
membuat animasi.

49

TIDAK MUNGKIN

Oleh: Aryawan Seno Adi Pradana

Sore hari yang tenang bagi Fandy. Ia selalu
mengingat-ingat kembali momen-momen
indah saat kecil di rumah. Jakarta seolah
menjadi tempat yang cocok dan indah baginya. Tidak
peduli dengan kerasnya hidup di Kota Metropolitan.
Terasa seperti tidak ada kata masalah dalam kamus
hidupnya.

“Hah, bahagia bener rasanya. Enggak salah
kayaknya gua terlahir di sini.”

Fandy selalu berharap tak berpisah dengan kota
yang dianggap sudah melekat dengannya. Terus-
menerus berpikir seperti itu dan tidak terlintas di
pikirannya untuk keluar dari zona nyaman.

Langkah kaki seperti ada yang
menghampirinya. Alih-alih takut, Fandy sudah tahu
siapa yang ada di belakang.

50

“Apa sih, Dik.?” sedikit kata dari Fandy.
“Yah, Kakak. Sekali-kali jangan bengong terus
dong sore-sore gini. Entar kesamber lo nanti.”
Detik dan menit berlalu. Fandy merasa
hidupnya masih normal seperti biasa. Dua sahabat
Fandy datang seperti biasa untuk bermain di
rumahnya. Mereka adalah Kevin dan Irvan.
“Kenapa lo, Fandy? Senyum-senyum sendiri
aje, lo,” Irvan bertanya sedikit curiga.
“Ya, enggak apa-apalah. Suka-suka gua, dong,”
Fandy menjawab santai.
“Mending main, kek. Ayo ke bawah main bola,”
ajak Kevin.
Tak disangka, bak petir menyambar sore hari,
ia mendengar dari lantai dua kalau ayahnya akan
pindah tugas untuk pertama kalinya ke Samarinda.
“Pak Hartawan, Anda akan kami kirim untuk
bertugas di Samarinda seperti yang kami sampaikan
di kantor sampai waktu yang belum ditentukan. Hari
ini Anda mulai packing barang-barang Anda karena
besok Anda langsung berangkat. Terima kasih
waktunya, maaf mendadak.”
Itulah isi telepon singkat yang belum sempat
dijawab Pak Hartawan.
“Lah, Fandy? Jadi lo entar …,” Farhan
bertanya-tanya.

51

Terguncang hati Fandy mendengar itu. Ia tidak
tahu apakah ia bisa bahagia atau tidak. Itu yang
membuat Fandy berpikir tidak mungkin.

Tentang Penulis
Namanya Aryawan Seno Adi
Pradana. Ia biasa dipanggil Arya. Ia
lahir pada tanggal 28 Mei 2007 di
Tangerang. Hobinya bermain
badminton meskipun sekarang sudah
jarang bermain. Hobinya yang lain

adalah mendengar musik dan jalan-jalan.

52

FAJAR DI SIJUGAR

Oleh: Asih Istikomah

Cuaca malam itu cerah dihiasi bulan yang
bersinar terang dan kerlip bintang. Udara
terasa dingin. Dalam hati, Nirman bersorak
senang karena dinginnya udara merupakan salah satu
pertanda akan banyak ikan yang menepi untuk mijah,
proses alami ikan untuk meneruskan keturunannya.
Itu juga berarti hasil tangkapannya akan banyak.

Malam makin larut dan dingin. Nirman tertidur
lelap di gubuk kecil sebelah kolam pemijahannya.
Dia terbangun saat ayam berkokok pertama
terdengar. Dari kolam pemijahannya, terdengar suara
kecipak ikan yang cukup riuh. Ketika melihat ke
kolamnya, ia lihat banyak ikan yang masuk ke kolam
pemijahannya. Dengan sigap, Nirman menutup
dinding kolam pemijahannya yang terbuka. Setelah
meletakkan sarung yang dipakainya sebagai selimut,

53

ia mulai sibuk menjaring ikan-ikan itu dan
memasukkannya ke kepis, wadah ikan yang terbuat
dari bambu.

Di tengah kesibukannya, Nirman dikejutkan
oleh suara seperti benda yang berat tercebur ke
kedung di depannya. Sepintas dia juga melihat ada air
yang menciprat. Nirman tak habis pikir. Jika tadi batu
yang tercebur, siapa pula yang melempar malam-
malam begitu. Jika kelapa, tidak ada kelapa yang
tumbuh di sekitar kedung Sijugar. Hantu? Nirman
tidak pernah berpikir hal-hal seperti itu.

Selesai mengurusi ikan, Nirman duduk di
gubuknya. Melihat jembatan yang terbentang di atas
kedung, dia merasa heran. Dilihatnya banyak orang
yang berdatangan ke jembatan itu. Nirman bertanya-
tanya sehingga ia bergegas naik ke jembatan dengan
membawa serta ikan tangkapannya.

“Ada apa ini?” tanya Nirman penasaran.
“Gito hilang. Orang ronda di pos kamling atas
situ ada yang melihatnya berjalan ke arah sini. Kamu
tidak melihatnya Nir?” Kirawan menjawab sekaligus
balik bertanya.
Nirman menggeleng, tapi tiba-tiba dia berpikir
jangan-jangan suara yang ia dengar di sungai tadi
suara Gito yang melompat dari jembatan. Ketika
Nirman bercerita pada orang-orang yang ada di situ

54

tentang hal itu, kekhawatiran langsung menyergap
mereka.

Pencarian dengan personil dan alat seadanya
pun dilakukan. Setelah beberapa jam berlalu,
akhirnya Gito ditemukan di palung Kedung Sijugar
tidak bisa lagi melihat dunia.

Tentang Penulis
Asih Istikomah lahir di Wonosobo. Ia bekerja

sebagai guru Bahasa Inggris di SMPN 3 Kaliwiro
Wonosobo. Ia suka menulis cerpen dan puisi dalam
bahasa Indonesia dan Jawa.

55

GARA-GARA BUGENVIL

Oleh: Asih Nurdiyati

Suatu hari, saat jam istirahat kedua, ada siswa
kelas dua yang melaporkan dengan suara
terbata-bata bahwa ada anak berkelahi.
Sambil menghela napas panjang aku segera
beranjak dari tempat dudukku, bergegas
melangkahkan kaki menerobos kerumunan anak-
anak yang tengah heboh menyaksikan pertengkaran
antara Bibi dan Zan.

Kulihat Zan berlari menuju halaman sekolah
diikuti oleh Bibi yang berusaha untuk mengejar Zan.
Tiba-tiba Bibi mengambil potongan bambu dan
melemparkan ke arah Zan. Matanya menatap Zan
dengan penuh emosi.

Melihat kejadian yang mengkhawatirkan,
kuputuskan untuk mengejar Zan dan meraih
tangannya sambil berusaha menenangkan Zan karena

56

Zan hampir melakukan hal yang sama dengan apa
yang Bibi lakukan terhadapnya. Pada saat yang
bersamaan guru kelas lima dengan sigap merangkul
Bibi sambil sesekali menahan kedua tangan Bibi yang
senantiasa berusaha untuk memberontak.

Setelah keduanya berhasil ditenangkan, Zan
dan Bibi kuajak masuk ke ruang kelas untuk
didamaikan.

“Bibi, mengapa kamu melempar Zan dengan
potongan batang bambu?” tanyaku untuk memulai
interogasi.

“Zan yang melemparku dengan batang pohon,”
jawab Bibi ketus.

“Zan, coba jawab pertanyaan ibu, mengapa
kamu melempar Bibi dengan batang pohon?” tanyaku
kepada Zan.

“Dia itu!” jawab Zan. Sambil menangis Zan
menudingkan jari telunjuknya ke arah Bibi dan
sesekali memelototkan bola matanya meskipun derai
air mata mengalir deras dari kedua matanya.

“Kenapa? Mengapa kalian bertengkar?”
tanyaku kepada Zan dan Bibi.

Zan pun menjawab, “Dia itu, Bu. Dia itu yang
salah.”

Bibi tiba-tiba melotot sambil menyahut, “Dia,
Bu. Dia yang mukul aku dulu.”

57

Zan tiba-tiba berlari keluar sambil berkata,
“Sebentar, Bu.”

Zan kembali masuk ruang kelas sambil berkata,
“Dia itu, Bu! Dia yang mematahkan pohon bugenvil.
Dicabut.”

Bibi pun langsung menjawab dengan ketus.
“Zan, Bu. Bukan aku, pohonnya sudah ditopang
dengan bambu oleh Zan.”

Dengan nada lantang Zan membalas ucapan
Bibi. “Bukan aku, Bu, Bibi yang mencabut. Pohon itu
sudah aku topang dengan potongan bambu, malah
dicabut. Berarti Bibi yang membuat pohon
bugenvilnya mati.”

“Ya sudah, ibu lihat dulu pohonnya. Sementara
ibu lihat kondisi pohonnya, silakan kalian duduk dulu
di tempat duduk masing-masing. Jangan berantem,
paham?”

Setelah kulihat kondisi pohon bugenvil yang
menjadi titik awal persoalan antara Zan dan Bibi, aku
kembali berusaha untuk mendamaikan keduanya.

“Bibi, lain kali tidak boleh melempar benda ke
arah teman, apalagi potongan bambu. Coba kalau tadi
terkena bagian dari badan Zan, bagaimana jadinya?
Zan juga, tidak boleh memukul teman, apa pun
alasannya,” kataku kepada Zan dan Bibi.

58

Tiba-tiba Zan kembali berlari keluar sambil
berkata, “Sebentar, Bu.”

Aku langsung mengikuti Zan karena khawatir
Zan melakukan sesuatu yang tidak aku harapkan. Aku
menahan senyum melihat hal yang dilakukan Zan
sekaligus merasa tenang karena ternyata Zan berlari
keluar hanya untuk membersihkan muka dan ingus
yang keluar bersama dengan deraian air matanya.

“Zan, Bibi, coba sekarang kalian dengarkan
ibu. Soal pohon bugenvil, tadi ibu lihat akarnya
memang sudah membusuk. Artinya, pohon itu sudah
mati sebelum pohon itu dicabut atau ditopang dengan
bambu. Jadi, ayo berdamai, bersalaman.”

Aku merasa tenang ketika akhirnya Zan dan
Bibi bersedia untuk mengulurkan tangan masing-
masing dan saling memaafkan.

59

Tentang Penulis
Asih Nurdiyati mengajar di SDN 2 Kalisalak,

Kecamatan Kebasen. Ia dilahirkan di Cilacap pada
tanggal 17 September 1973.

60

TERLAMBAT

Oleh: Asri Mulya

Tepat pukul 07.00 WIB gadis berwajah oriental
bermata sipit, memakai kemeja biru, dan
celana hitam itu terus berlari memasuki
lorong demi lorong Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo menuju lantai dua ruang rawat anak.
Ternyata pintu ruangan sudah terkunci. Jantungnya
terus berdegup kencang, keringat dingin mulai jatuh
dari keningnya. Ia menuruni anak tangga.

“Ya Allah, beri hamba kemudahan agar
menemukan jalan menuju ruangan anak,” batin Tia
berdoa sambil terus berlari.

Ada petugas rumah sakit yang kebetulan
berjalan, Tia bertanya dengan napas tersengal, “Pak,
jalan menuju ke ruangan anak lewat mana, ya, kalau
dari sini?”

61

“Oh, lewat pintu utama, Dik," jawab bapak
berseragam hijau petugas rumah sakit itu sambil
menunjukkan arah tangga ruangan anak.

“Ada jalan lain enggak, Pak, selain pintu
utama? Soalnya pintu utama terkunci," ujar Tia.

“Ada, Adik lurus terus nanti naik tangga lewat
ruang perawatan bedah ada pintu masuk saja. Itu
pintu menuju ruangan anak.” Bapak petugas RS
memberi arahan kepada Tia.

“Oh, baik, Pak, terima kasih.” Tia lalu lanjut
berlari.

Di setiap ruangan para perawat sudah mulai
melakukan pergantian shif dari dinas malam ke dinas
pagi.

Oh, ini ruangan perawatan bedah dan itu pasti
pintunya yang menuju ruangan anak, Tia membatin.

Saat Tia memasuki pintu yang menuju ruangan
anak tempatnya praktik, dilihatnya perawat-perawat
ruangan dan teman sesama mahasiswa keluar dari
nurse stasion berjalan menuju bed-bed pasien. Tia
menunggu sampai mereka masuk ke ruangan lain
agar dirinya bisa lewat tanpa ketahuan.

Kebetulan ruang ganti mahasiswa persis di
depan nurse stasion. Setelah dirasa aman, Tia
langsung bergegas masuk ke ruang ganti, menganti

62

pakaian dengan seragam putih-putih. Setelah itu,
keluar dan segera bergabung dengan lainnya.

“Kamu terlambat, ya, Tia,” bisik Riska.
Tia hanya mengangguk.

***

“Ini pasien An. Adit usia satu tahun dengan
GEA ada syimptom SIDA.” Kak Fitri yang bertugas
shift malam menjelaskan kepada perawat shift pagi
dan kepala ruangan.

Tampak badan Adit tinggal tulang belulang,
kesadarannya apatis, terlihat selang untuk saluran
NGT terpasang lewat hidungnya.

“Riska, SIDA itu apa?” Tia bertanya dengan
berbisik.

Riska menggeleng, tanda dia pun sama belum
tahu istilah SIDA.

Ternyata percakapan Tia dan Riska didengar
oleh Kak Desty.

“SIDA itu sebutan untuk penderita dengan
gejala AIDS," bisik Kak Desty.

Selesai operan dinas, Tia mengambil stetoskop
dan termometer air raksa di meja nurse stasion, mau
melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pada pasien
anak.

63

“Tia, sini!” panggil Kak Desty.
“Iya Kak.”
“Kamu dipanggil sama Ibu Bety di
ruangannya,” ujar Kak Desty.
Seketika keringat dingin membasahi telapak
tangan Tia. Ia juga spontan memegang kening.
“Jangan-jangan aku ketahuan terlambat.”
“Kenapa, kamu kok keliatan tegang?” tanya
Kak Desty.
“Eh, enggak apa-apa, Kak.” Tia berusaha
menutupi kecemasannya.
“Udah sana kamu cepetan masuk ke ruang
kepala perawat!” seru Kak Desty.
“Baik, Kak.” Tia bergegas menemui Ibu Bety
yang terkenal galak.
Ketika masuk ke ruangan, jantung Tia semakin
berdegup kencang, apalagi melihat wajah Bu Bety
yang tidak pernah tersenyum.
“Tia, ibu panggil ke sini untuk menjadi
koodinator mahasiswa dalam mengumpulkan tugas
asuhan keperawatan.”
“Oh, baik, Bu.”
Tia merasa lega. Ternyata dirinya dipanggil
bukan untuk dimarahi karena terlambat.

64

Tentang Penulis
Asri Mulya merupakan ibu dari 3

orang anak. Ia menyukai dan terjun dalam
dunia literasi sejak tahun 2019. Kini
sudah memiliki 10 buku solo multigenre
dan 27 buku antologi. Mottonya menebar
kebaikan dan kebenaran. Bila ingin mengenal karya
penulis bisa menghubunginya via WhatsApp:
0813954377479 FB: https://www.facebook.com/
asri.mulya.90 KBM aplikasi: Asri Mulya.

65

BERTEPUK SEBELAH TANGAN

Oleh: Asrul Sani Kurniawan

Pada suatu sore yang mendung, Tono dan Aldo
sedang berbincang dengan riangnya. Mereka
membicarakan seorang Wanita yang didekati
oleh Tono.

“Ton, bagaimana soal kemarin perempuan yang
kaudekati itu?” tanya Aldo.

“Bagaimana aku menceritakannya, ya, Do.
Cintaku bertepuk sebelah tangan,” sahut Tono.

“Apakah perempuan itu menolakmu, Ton?”
tanya Aldo dengan naga tinggi.

Tiba-tiba wanita yang didekati Tono melewati
taman yang sedang mereka singgahi.

“Bukan maksud aku begitu, Kawan. Itu tengok
wanita yang kudekati itu. Lihatlah tanganya!”

66

“Alamak, pantas saja bertepuk sebelah tangan.
Kau bagaimana, sih, apa kau tidak melihat dulu,”
sahut Aldo dengan keras.

67

STOPKONTAK

Oleh: Asrul Sani Kurniawan

Di hari Minggu yang cerah, Edo dan Ayah
sedang memperbaiki rumah mereka yang
rusak akibat hantaman hujan deras. Listrik
di rumah mereka mati. Ayah menyuruh Edo untuk
membeli stopkontak di toko listrik.

“Edo, belikan ayah stopkontak di Toko Koh
Ain,” perintah ayah.

“Baik, Yah,” jawab Edo.
Edo bergegas untuk membeli stopkontak
tersebut. Sesampainya di rumah, sikap Edo tiba-tiba
berubah.
“Do, mana stopkontaknya?” tanya ayah.
Edo menyerahkan stopkontak yang ia beli tanpa
berkata-kata sambal menghindari ayahnya.
“Lo, kenapa kamu, Do, kok begitu?”

68

“Lha, kata Ayah suruh beli stopkontak. Ya, aku
beli stopkontak juga, dong, sama Ayah.”

“Astaga, bukan begitu, Do!” sahut ayah sambil
menepuk jidatnya.

69

PESTA ULANG TAHUN

Oleh: Asty Wally

Kesibukan para tetangga mulai terlihat saat
senja menghiasi langit. Aku bertanya
kepada ibu apa yang sedang terjadi di
sebelah kenapa ramai sekali. Ibu menjawab, anak
saudara mereka berulang tahun dan merayakannya di
sini.

“Oh,” jawabku polos sambil masuk ke dalam
kamar.

Beberapa jam kemudian saat orang-orang di
masjid selesai mengerjakan salat Magrib, suara
gemuruh dari luar terdengar sehingga tiang-tiang
rumah dan jendela rumah bergoyang bak gempa yang
menghantam. Kami semua dari dalam rumah keluar
dan melihat ke rumah tetangga. Ternyata bunyi
gemuruh itu berasal dari sound yang disetel tetangga
untuk mengadakan pesta nanti malam.

70

Setelah isya hingga pukul 23.00 WIT, orang-
orang berdatangan bagaikan hewan buas mencari
mangsanya untuk diterkam. Aku dan orang rumah
bahkan para tetangga lainnya tidak bisa tidur dengan
nyenyak.

Tiba-tiba, bunyi gemuruh terdengar kembali
dengan suara yang lebih kencang. Aku berpikir
mereka menaikkan volume lagunya. Akan tetapi,
suara keramaian terdengar dari luar disertai seluruh
bangunan bergoyang.

“Lari!”
“Lari!”
“Gempa!”

71

KUBURAN BARU

Oleh: Asty Wally

Pukul 06.01 WIT, terdengar suara galian dari
luar rumah. Sista terbangun dari tidurnya dan
mencari suaminya di sudut ruangan.
“Mas, suara apa itu? Berisik banget,” tanya
Sista sambil mengucek mata sipitnya.

“Coba kamu lihat!” jawab Arjun sambil
menunjukkan ke arah jendela ruang tamu.

Tanpa berpikir panjang, Sista segera mengintip
di balik tirai berwarna merah muda itu. Sontak, Sista
kaget bukan kepalang.

“Mas, siapa yang meninggal? Kenapa kuburnya
di samping rumah kita?” tanya Sista penasaran
bercampur khawatir.

“Katanya, sih, saudara mereka yang tinggal di
kampung sebelah.”

72

“Lah, kenapa dikubur samping rumah kita,
Mas. Dekat banget, lo, Mas, sama rumah kita.
Bukankah mereka masih punya tanah yang kosong di
belakang, samping, dan depan rumah?”

Sista masih saja tidak menyangka dengan apa
yang barusan dia lihat. Rasa cemas dan entah apakah
bercampur takut mulai menyelemutinya. Apalagi,
nanti malam adalah malam Jumat Kliwon.

“Sudahlah, Sayang. Biarin saja. Mau gimana
lagi sudah terjadi,” terang Arjun yang membalas
omelan istrinya sejak tadi.

Sista tetap saja mengomel dan mulai menaruh
rasa jengkel kepada tetangga yang menyebalkan itu.

“Tapi, Mas, seharusnya ‘kan mereka izin dulu
sama kita. Jangan mentang-mentang kita baru tinggal
di sini, jadi mereka seenaknya saja buat makam di
samping rumah kita!”

“Mas juga heran dengan mereka. Seharusnya
memang izin dulu.”

“Ayolah, Mas, bicara sama tetangga itu! Bilang
kenapa harus dikubur samping rumah kita.”

“Saya belum biasa dengan tetangga itu, Sayang.
Mungkin karena tanah itu masih milik mereka. Jadi ...
terserah mereka mau kubur di mana. Sudahlah,
Sayang, nanti aku bicarakan sama bapak apa
solusinya.”

73

“Solusi apa, Mas? Kalau sudah dikubur, masa
mau dipindahkan!”

“Tidak, Sayang. Mungkin akan dibuatkan pagar
saja. Karena memang dari awal, rencana rumah ini
mau dibuatkan pagar,” terang Arjun agar istrinya reda
dari omelannya.

“Oh, gitu, ya, Mas,” jawab Sista sedikit
membaik.

Tiba-tiba ada ketukan pintu dari luar rumah.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam,” jawab Sista membuka
pintu.
Seorang wanita paruh baya datang dan
menceritakan jasad yang akan mereka makamkan di
samping rumah Sista, sekaligus meminta izin untuk
membuat makam di samping rumah mereka.

74

TABRAKAN LARI

Oleh: Asty Wally

Rani sedang berjalan kaki menuju ke kampus.
Tiba-tiba terlihat keramaian di seberang
jalan. Dia pun berhenti dan segera mencari
mobil untuk meminta tolong. Semua orang yang
melihat tidak menghiraukan karena masih sibuk
dengan aktivitas pagi.

“Bagaimana, Dik, keadaannya?” tanya Rani
kepada anak remaja yang masih terbaring di atas
kasur rumah sakit.

Seorang lelaki berbadan tegar masuk ke dalam
ruangan tersebut. Rani yang sedari tadi berdiri di
samping anak remaja itu tidak dihiraukannya.

Wajah sinis pemuda paruh baya itu dia
lontarkan ke arah Rani dan menarik tangannya keluar
dari ruangan tersebut.

75

“Apa yang telah kau perbuat kepada anakku?”
tanya bapak paruh baya itu.

Rani yang masih bingung masih saja diam. Dia
tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan bapak
tersebut.

Tiba-tiba dua orang polisi datang
menghampirinya dan menjelaskan semuanya. Bapak
dari anak korban tabrakan tersebut mengahampiri
Rani dan menyodorkan sebuah amplop. Rani masih
saja tidak paham. Dia pun menolak dengan halus isi
dari amplop tersebut dan segera pergi dari rumah
sakit begitu saja.

Tentang Penulis
Asty Wally adalah nama pena dari Astuti

Wally, S.E. Ia lahir di Ambon, Maluku 2 Mei 1991.
Ia merupakan alumnus SD Negeri 88 Ambon, Mts
Negeri 1 Ambon, MAN 1 Ambon, dan lulusan
perguruan tinggi UII Yogyakarta. Ia adalah ibu
rumah tangga dan penulis yang sudah memiliki
sepuluh lebih karya berupa buku antologi dan buku
solo. Ia berdomisili di Kota Dobo, Kepulauan Aru,
Maluku. Penulis bisa dihubungi melalui IG
@AstyWally, FB Asty Astuti Wally, dan email
[email protected].

 

76

I LOVE YOU

Oleh: Atiek Dewi

Kimi membuka matanya. Samar-samar dia
berusaha mengenal sosok cantik di
depannya.
“Hai, Kimi. Selamat pagi!” seru gadis cantik
itu.

“Namaku Vika. Mulai hari ini aku yang akan
merawat dan menjaga kamu, Kimi,” ujar Vika
memperkenalkan diri.

Oh, gadis cantik ini bernama Vika. Hmmm …
cantik juga, ya. Semoga betah di sini dan kita bisa
berjodoh.

Kimi mengulet. Ia merasa bosan mendengar
ceramah dari Vika tentang kebersihan tubuh di pagi
hari. Baginya hal itu tidak penting, yang terpenting
adalah di pagi hari ada sepiring sarapan dan segelas
susu cokelat hangat. Semenjak bunda tiada, tidak ada

77

yang memperhatikannya. Semua sibuk sendiri-
sendiri.

Kimi melihat Vika sedang sibuk di dapur. Ia
beranjak dari pembaringannya dan bergegas berlari.

“Kimi, air panas sudah siap. Mandi dulu, ya,”
seru Vika, tapi tak ada balasan.

“Aduh, Kimi, ke mana kamu? Jangan sampai
hari pertama kerjaku gagal, ya!” seru Vika ketika
melihat Kimi sudah tidak ada di tempatnya.

Vika duduk di bangku taman, termenung. Kaki
dan hatinya sudah lelah mencari Kimi di setiap
penjuru rumah yang luas ini. Namun, Kimi tidak
berhasil ditemukan.

“Kimi, ini hari pertamaku bekerja. Tolong, ya,
jangan sampai aku gagal. Aku tahu, kamu itu baik
hati, pintar, dan enggak nakal seperti kata orang-
orang. Kalau sampai aku dipecat gara-gara kamu
kabur, kemana aku harus mencari pekerjaan lagi?
Aku butuh uang untuk biaya sekolah adik-adikku.
Please …,” sesengguk Vika sambil mengusap
matanya.

“Kimi, ini tadi aku bawa cokelat dan kaos
warna biru. Kata Mas Adi, cokelat dan kaos ini
kesukaan kamu. Biar, deh hari ini kamu enggak
mandi, aku juga enggak akan laporan ke Mas Adi.
Yang penting, kamu mau kembali ke sini dan aku bisa

78

kerja lagi. Kimi, Kimi! Kamu main petak umpet di
mana, sih?” Vika berteriak memanggil Kimi dengan
suara serak.

“Kimi, I love you!” teriak Vika sambil berurai
air mata.

Meoooouwww. Tiba-tiba terdengar suara di
balik rimbunan bunga melati.

79

MANA SUARAMU?

Oleh: Atiek Dewi

Kehebohan kampanye We Love Cities
(WLC) yang digaungkan oleh pemerintah
Kota Probolinggo telah membuat seluruh
ASN kebakaran jenggot.

Angan-angan pemerintah Kota Probolinggo
untuk masuk dalam jajaran 10 kota yang memiliki
voting terbanyak dari 72 kota berasal dari 31 negara
sedunia harus tercapai, apalagi kabar yang beredar
minggu lalu Kota Probolinggo berhasil masuk dalam
lima besar se-Asia Pasifik.

Keadaan ini tentu saja membuat jajaran Dinas
Komunikasi dan Informatika tempat Nanda bekerja
harus putar otak dan memeras keringat lebih ekstra
lagi agar mampu memenuhi target masuk sepuluh
besar.

80

Hari ini Nanda mengajak Raka untuk nyasar ke
rumah jompo Bunda Kasih di utara pusat kota. Konon
rumah jompo ini dihuni oleh para manula yang
mentereng. Walaupun manula, mereka tetap dibekali
gawai android oleh keluarganya. Entah paham atau
tidak, alasannya sangat sederhana, supaya bisa video
call.

Nanda dan Raka pun mulai melakukan tugas
mereka. Setelah berbagai upaya penjelasan mereka
lakukan dan tata cara ditempuh, vote pun dilakukan.
Yeah, berhasil untuk target hari ini. Hitungan kasar
pun tampak. Ada masukan 100 suara dari rumah
jompo Bunda Kasih. Nanda pun dengan bangga
melaporkan tugasnya.

“Raka, tadi link yang kamu bagikan sudah
benar, ‘kan?” tanya Nanda tiba-tiba.

“Benar. We Love Cities Kota Jakarta.” Raka
menjawab dengan polosnya.

“Rakaaaaaaa!” Merah padam muka Nanda.

81

Tentang Penulis
Atiek Dewi, seorang IRT yang menetap di Kota

Probolinggo, Jawa Timur. Beberapa antologi telah
diterbitkan, salah satunya, Kumpulan Dongeng Anak:
Jangan Lupa Katakan Insyaallah (JA 2022). Media
sosial untuk berkenalan, WA 085854565742 dan FB:
AtiekDewi.

82

GARIS BATAS

Oleh: Atiqa Sarwa

Tiga tahun tak terasa, masih kau yang ada …
Sepotong lirik dari lagu milik Juicy Luicy itu
mengalun dengan merdu di dalam kamar kos
Deo. Dengan ditemani sebatang rokok Esse yang
menyelip dijemari, angannya melayang memikirkan
sesosok wanita yang ia temui tiga tahun lalu.

Awan, nama sesosok wanita yang sempat
membuat dirinya hancur tak karuan. Wanita itu
memiliki senyuman yang manis, rambut berwarna
cokelat tua, dan suara yang sangat menenangkan bak
lagu Banda Neira. Bagi Awan, Deo adalah sahabat
terbaik yang pernah ia miliki. Namun, bagi Deo,
Awan adalah dunianya, Awan itu segalanya bagi Deo.

Sudah tiga tahun Deo menyimpan perasaannya
itu sendirian, takada yang tahu kecuali ia dan Tuhan.
Berkali-kali ingin menyampaikan perihal

83

perasaannya itu pada Awan, tetapi beribu alasan
menahannya. Ia takut nanti akan merusak pertemanan
mereka dan Awan akan menjauh darinya. Oh, itu
adalah mimpi buruk.

Hari demi hari terus berjalan seperti biasanya.
Menyusun skripsi, revisi berkali-kali, sidang, lulus
kuliah, hingga sekarang sudah bekerja, mereka masih
terus bersahabat. Sudah jalan tiga tahun dan perasaan
Deo belum berubah sama sekali. Awan masih
menjadi pemenangnya.

Hingga suatu hari, tiba-tiba dunia Deo hancur
lebur. Hari di mana Awan memberikan sebuah kertas
berwarna silver dengan tulisan The Wedding of Arga
and Awan di atasnya.

“Hah???” Satu kata yang hanya bisa terucap
dari mulutnya kala menerima surat itu.

“He-he-he. Kaget, ya? Iya, sahabat lo ini mau
nikah coy! Ha-ha-ha,” ucap Awan dengan tawa
bahagianya.

“Sejak kapan lo ada cowo, Wan? Kok enggak
ada cerita apa pun ke gue,” ucap Deo dengan lemas,
ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja
terjadi.

“Arga tuh temen SMP gue sebenarnya.
Semenjak kuliah kita udah enggak deket lagi, tapi
empat bulan kemarin tiba-tiba dia chat gue, terus dua

84

bulan kemarin gue dilamar, De. Sengaja si enggak
cerita-cerita biar surprise. Hi-hi-hi,” jelas Awan pada
Deo.

Hari berjalan dengan sangat cepat. Hari
pernikahan Awan pun tiba. Deo mengenakan setelan
batik yang pernah ia beli couple dengan Awan. Ia
berangkat dengan perasaan tak karuan. Sempat ingin
putar balik, tetapi ia kuatkan lagi hatinya.

Akad nikah akan dimulai sebentar lagi. Ingin
rasanya Deo membakar saja tempat ini agar
pernikahan sialan ini batal.

“Saya terima nikah dan kawinnya Senjakala
Awan binti Andre Atmaja dengan mas kawinnya
yang tersebut, tunai,” bacaan qabul sudah diucapkan
oleh sang memepelai pria.

“Sah!” sahut para saksi. Kini Awan sudah resmi
menjadi milik orang lain seutuhnya.

Angannya kembali ke kamar kos bau asap
rokok yang menyesakkan itu.

Selamat menempuh hidup baru, Awan. Aku
harap kamu sudah benar-benar menemukan rumah
ternyaman dan amanmu, ya. Tugasku sudah selesai,
Wan. Aku akan selamanya jadi sahabatmu. Aku
senang Wan kamu bahagia, tapi aku juga sedih
soalnya kamu bahagianya bukan sama aku. Tapi,

85

siapa aku sih? Aku gak boleh egois kan? Aku gak
boleh melewati batas.

Goodbye, my almost lover.

86

DIA

Oleh: Aulia Chita Anggraeny

“Semoga hal baik datang kepadaku hari
ini,” ucapku sambil menatap langit yang
hari ini sangat cerah dengan awan yang
indah yang membangun semangat ku pagi ini.

Turnamen. Aku sangat semangat untuk
mengikuti turnamen ini setelah satu minggu penuh di
rumah saja dengan demam yang tidak kunjung turun.
Perjalanan menuju lapangan bersama dengan
Desyana ditemani dengan jalanan yang tidak terlalu
ramai dan langit cerah indah dengan awannya.

“Mbak, Ita,” teriak Dito dari jauh saat aku dan
Desyana datang.

“Mbak, sudah sembuh?” tanya Bram karena
aku sakit seminggu yang lalu. Lama tidak sekolah,
apalagi latihan, mungkin mereka rindu padaku.

87

“Dia sakit gara-gara mikirin temanmu, Bram.
Cih, mikirin cowok sampai sakit seminggu gitu. Udah
jangan berharap jangan sakitin dirimu sendiri!” cetus
Desyana membalas pertanyaan Bram.

“Ha-ha-ha … bisa-bisanya,” jawab Bram.
“Mbak, katanya dia nanti mau nonton, lo. Nanti
main mode Ramos nih Mbak Ita ditonton dia. Ha-ha-
ha...,” bisik Bram saat Desyana berjalan
meninggalkan motornya.
“Ihh, kok aku jadi deg-degan, ya, Bram. Ha-ha-
ha,” jawabku sambil mengkhayal apa yang akan
terjadi nanti.
Mendengar bisikan Bram, aku selalu menanti-
nanti kedatangannya. Aku menaruh menaruh harapan
sangat besar dengan kedatangannya.
“Mbak, semangat, ya, mainnya. Yang lain-lain
enggak usah dipikirin. Mode Ramos sliding tackel
kaya tadi, ya,” ucap Bram secara tiba-tiba saat aku
mau pemanasan untuk permainan kedua.
“Ha-ha-ha …. Apa sih, Bram, kamu aneh
banget tiba-tiba ngasih semangat gitu,” jawabku
sambil tertawa terbahak-bahak.
“Udah, ah, sakit perutku, capek ketawa,” cetus
aku lagi.
“Kok malah ketawa, disemangatin juga. Dah,
semangat Mbak Itaa,” jawab Bram.

88

“Iya, Mbak. Semangat, ya, jangan mikirin yang
macam-macam,” cetus Dito tiba-tiba ikutan.

“Pada kenapa sih tiba-tiba kasih semangat gini.
Aneh kalian, ya, Adik-adik,” ucapku sambil tertawa
tidak berhenti-henti.

“Chita, ayo pemanasan. Ngobrol terus!” teriak
pelatihku.
Saat pemanasan pandanganku beralih ke tempat
duduk semen di bawah pohon bambu yang rindang.
Mataku berkaca-kaca. Aku merasa seperti dijatuhkan
oleh harapanku sendiri.

Dia datang menonton turnamen ini dengan
perempuan lain. Mereka duduk berdua berdekatan
sambil menonton turnamen ini. Menonton aku
bermain? Tidak. Hatiku benar-benar hancur. Aku bisa
fokus untuk bermain tidak ya, batinku.

“Chita, fokus! Jangan sekali ambil. Tahan
lawan dulu,” teriak pelatihku dengan sangat keras
saat aku bermain dengan tidak fokus. Pikiranku
sungguh kacau.

“Chita, jangan melamun! Itu pressing lawannya
satu ambil satu jangan numpuk gitu!” teriak pelatihku
lagi.

“Mbak, jangan pikirin yang macam-macam.
Fokus, Mbak,” teriak Bram dari pinggir lapangan.

89


Click to View FlipBook Version