The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Puji Narimawati, 2022-11-23 16:50:21

PERTEMUAN PERTAMA PDF

PERTEMUAN PERTAMA PDF

“Melamun lagi tak ganti, lo, kamu, Chita!”
teriak pelatihku lagi dan lagi karena melihat
kesalahanku.

Ini adalah pertandingan final babak penentuan.
Akhirnya, karena aku sudah tidak fokus, aku diganti
dengan temanku.

“Mbak, lupain, ya! Dia udah nunjukin secara
langsung yang sebenarnya gimana. Dia udah punya
cewek baru. Udah, ya, Mbak. Move on. Semangat
Mbak It. Tak bantu,” ucap Bram sambil
menghampiriku yang keluar dari lapangan.

“Lepasin, ya, Mbak. Jangan berharap lagi.
Pelan-pelan pasti bisa, kok. Nanti juga terbiasa
sendiri. Yang penting, Mbak Ita jangan cari-cari lagi
tentang dia. Fokus, Mbak. Mbak Ita lagi turnamen
jangan malah mikirin dia,” ucap Dito sambil
mengasih minum kepadaku.

“Ita, enggak apa-apa, ya. Ikhlasin. Kalau pergi
berarti bukan yang terbaik,” ucap Desyana padaku
saat permainan selesai.

Badanku panas. Aku merasa panas dingin.
Kepalaku sangat pusing. Sampai di rumah, aku jatuh
sakit lagi. Aku benar-benar merasa sangat hancur.

“Sudah, ya, Sayangku. Dia sudah tidak mau.
Jangan kamu kejar lagi. Pikirin kesehatan fisik dan

90

mentalmu sendiri. Semangat, Sayangku,” ucap Mama
sambil memberiku kompres untuk demamku.
Tentang Penulis

Aulia Chita Anggraeny adalah siswa dari SMA
Negeri 1 Salatiga. Chita adalah panggilan akrab
teman-teman, sedangkan Ita adalah panggilan akrab
orang orang terdekatnya. Ia lahir di Salatiga 5
Februari 2007. Ia mempunyai hobi sepak bola, tetapi
tidak boleh menjadi pemain sepak bola. Ia dapat
dihubungi melalui Instagram @chitagryn.

91

SENANDIKA

Oleh: Aura Azaria

Asap mengumpul di udara. Rokok terselip di
kedua jarinya. Udara Subang yang sejuk,
tidak membuat Manggala lega.
“Kopimu, Kang.”
Tangan keriput itu sedikit bergetar kala
memberikan kopi hitam panas itu. Manggala
menoleh.

“Oh, iya ni. Hatur nuhun, ya.”
Kemudian ia mematikan rokok yang tinggal
setengah jari di asbak, lalu menyesap nikmat kopi
favoritnya. Kafe mana pun tidak akan pernah bisa
menyaingi kopi buatan nininya. Diracik dengan
hangat, penuh cinta, katanya.
Nini tua itu duduk di kursi goyang
kesayangannya, menghadap kebuh the yang
emberikan pemandangan menenangkan pikiran.

92

“Kali ini apa lagi, Kang?” Tangannya yang
keriput sibuk merajut, yang ditanya sibuk
menggeleng.

“Dunia memang seperti itu, jelek, ya?”
Sekarang ia sibuk mengangguk.

“Kang, Kang, Nini ingat 15 tahun yang lalu,
kamu bilang ke Nini mau makan ikan gabus biar cepat
besar, biar bisa menerbangkan pesawat.” Tangan
keriputnya sekrang sibuk mengusap rambut tebal
cucunya itu. Bibirnya tersenyum.

Manggala menangis, dipeluknya nini tua itu.
“Masih sama, ya, Kang?”
Yang dipanggil Kang mengangguk perlahan.
Tangannya mengelus punggung cucu kesayangannya
itu.
“Mau sampai kapan, Kang? Mau sampai kapan
kamu begini terus? Kepalamu pasti ramai terus, ya?
Damai, Kang, damai. Mau sampai kapan bertengkar
dengan diri sendiri? Ketakutan, resah, sesak di dada,
enggak akan pernah hilang. Kalau kamu gak mau
peluk pelikmu sendiri, susah.”
“Sebentar lagi, enggak apa-apa, kok. Kalau
peluk Nini semua masalah menguap begitu aja.”
“Kang, mau seberapa erat kamu peluk Nini,
biar masalah hilang, maaf, susah. Enggak bisa. Satu-
satunya cara, peluk pelikmu. Memang susah, tapi

93

belajar, ya, Kang? Yang tabah, ikhlas. Kejadian itu
bukan salah kamu.” Semakin deras air matanya saat
nininya menyelesaikan kalimatnya.

“Diberi nama Manggala, jadi doa dan harapan
Mama sama Papamu biar kamu bisa selalu menjadi
pelindung siapa pun.”

Manggala melepaskan pelukannya, mendongak
menatap nininya bak batita yang menangis ingin
permen.

“Arti nama yang sia-sia. Nyatanya gagal, Ni.
Gagal total.”

“Apanya yang gagal? Enggak. Arti namamu
enggak sia-sia, Kang. Kamu sudah jadi pelindung
bagi siapa pun.”

“Kalau enggak sia-sia, Kara enggak akan tidur
panjang, Ni. Apa Kara enggak capek, ya? Dunia
sekejam itu, ya, sama Kara sampai dia tidur lima
tahun lamanya?” Manggala tertawa, terdengar miris.

“Coba kalau Gala waktu itu dengerin Kara dan
datang lebih cepat, pasti Kara enggak akan koma.
Kara enggak akan terjun diri dari gedung sialan itu,
Ni. Coba kalau Gala lima tahun yang lalu enggak
seegois itu, Kara pasti bakal duduk di kursi goyang
Nini sambil baca novel-novelnya. Kara akan bantuin
Ceu Atik buat metik teh, lalu meracik teh yang selalu

94

jadi kesukaan Aki. Kara juga pasti akan meminta Nini
untuk dibuatkan Karedok.”

Air matanya mengalir lagi. Kini Manggala tak
menangis sendiri, mata nininya juga ikut basah.

“Kang, yang ada dipikiranmu itu coba dilawan.
Cukup doain Kara agar cepat sembuh. Jengukin Kara,
Kang. Sia bisa dengar suaramu. Peluk dia, Kang. Dia
bisa merasakan hangatmu. Kara pasti sedih kalau tahu
Aa’ kesayangannya kayak gini, terus-menerus
meyalahkan dirinya, padahal Nini yakin Kara juga
akan berpikiran yang sama kayak Nini. Kamu,
enggak salah, Kang. Aa’ Manggla nu bageur jeung
kasep. Di coba, peluk pelikmu, ya?”

Tentang Penulis
Aura Azaria Yaffa Ananta adalah penulis

cermin. “Senandika” bukanlah cermin pertamanya.
Judul cermin lainnya ialah “Bretagne”. Ia kerap
dipanggil Aura. Lahir di Salatiga, 20 Mei 2006. Aura
adalah salah satu siswi SMAN 1 Salatiga. Hobinya
selama ini adalah membaca juga menulis.

95

LORONG WAKTU

Oleh Ay Dwianna Al Hakim

Hari sudah sore, kampus mulai sepi. Azzura
berdiri memperhatikan seorang pria yang
tampak kusut duduk di halte seberang
kampus. Gadis berdarah Minang dan Jepang itu
memberi spasi walau sangat meridukannya.

“Mas, apa yang kamu lakukan di sini?”
gumamnya. Tangannya menyeka dahi yang tertutup
jilbab lalu mencengkeram kuat tasnya hingga tak
menyadari jika sebuah mobil sedan hitam berhenti di
depannya.

“Neng, sudah samperin 1atuh!” teriak Alya
sembari membuka jendela mobil. Tiga detik berlalu
tanpa respons, pemilik kendaraan tersebut akhirnya
membunyikan klakson. Tin-tin.

“Astaghfirullah, Al!”

                                                           

1 Sana

96

“Lagian bengong, masuk!”
“Apaan, sih!”
“Ra, masih kusut?”
“Begitulah.”
“Tak baik, lo,” celoteh Alya, “sebaiknya temui,
dengarkan alasannya. Jangan biarkan setan tertawa
atas prasangka.”
Sepanjang perjalanan Azzura memejam mata.
Ia tidak tidur, melainkan mencerna kalimat
sahabatnya.
Jubah keemasan yang terbentang di angkasa
raya beberapa menit lalu sudah berganti hitam. Tentu
tak kalah indahnya dengan senja tadi. Benda angkasa
segi lima telah bertaburan. Lukisan alam yang sangat
kontras dengan hati dan pikirannya.
“Kok, ke sini, Al?”
“Lapar,” ujar Alya sambil memarkirkan
mobilnya di sebuah caffe.
Sesampainya di dalam, Alya mencari tempat
yang tadi di-chat seseorang. “Ah, ayo kita duduk di
sana,” Ajak Alya.
“Kenapa, Mas, di sini? Al, Kam ….”
“Jangan marahi Alya. Aku yang memaksa agar
mempertemukan denganmu.”
“Untuk apa? Untuk disakiti kali kedua dan
mempermalukan keluargaku lagi?”

97

“Tidak, Dik. Mas mohon beri sedikit waktu
untuk menjelaskan semua. Setelah itu, keputusan ada
padamu.”

“Baiklah. Lima menit.”
“Lima belas menit.”
“Sepuluh menit atau tidak sama sekali.”
Segaris lengkung terbentuk dari bibir yang tak
pernah tersentuh tembakau itu. Bagi Langit,
kesempatan yang diberikan padanya adalah setitik
cahaya untuk menyatukan cinta yang telah terjeda
walau jawabannya ketus.
“Oke. Dik, aku tahu aku salah tidak memenuhi
janji padamu dan keluarga. Waktu itu, Ak ….”
“Jangan berkelit. Katakan!”
“Tolong jangan diputus. Aku janji, setelah ini
apa pun keputusanmu, aku terima.”
“Baiklah, katakan!”
Langit menarik napas panjang. Bagaimanapun
juga dengan menceritakannya, lukanya kembali
terbuka.
“Hari itu, setelah kita bertemu, aku sudah tidak
sabar untuk membicarakannya kepada Bunda. Tapi
sesampainya, rumah terlihat sepi. Rasa panik
menggerus pikiran. Aku langsung ke kamar
mengambil HP yang tertinggal. Di situlah belasan
panggilan dari Gemintang.”

98

Langit menjeda sesaat, dadanya terasa semakin
sesak. “Bunda masuk ICU. Pembulu darah di kepala
pecah. Nahasnya, malam itu juga Malaikat Izrail
menjemput.”

“Innalillahi wainnailaihi raaji’un, maafkan
aku, Mas. Tapi kenapa tidak berkabar?”

“Maafkan aku, Dik. Saat itu aku rapuh. Aku
putus asa setiap mengingat keinginan Bunda agar aku
tidak pergi waktu itu. Seandainya aku tidak pergi,
mungkin aku masih bisa mencium punggung tangan
dan keningnya sampai sekarang.”

“Mas, ikhlaskan.”
“Tentu saja, adikku membutuhkan sandaran.”
“Bagaimana kondisi Gemintang?”
“Sudah mulai kuliah lagi.”
“Syukurlah.”
“Dik, bagaimana? Masih adakah kesempatan?”
Azzura menunduk.
“Dik, jika masih ada detak, yakinlah jika aku
adalah takdirmu.”
Pria itu mencoba merajut masa depan di sela
embun membisikan kata bathinnya. Benar saja,
semesta menggiring. Azzura mengangguk.
“Alhamdulillah.”
Begitulah, jika ingin mengakhiri kepahitan
dalam hidup, tentu saja mencari penawarnya. Karena

99

untuk bisa keluar dari masa lalu, tentunya
membutuhkan tangan masa depan yang akan
menggenggamnya melewati lorong waktu.

100

MELODI UMAH JERAMBAH

Oleh: Ay Dwianna Al Hakim

Kampung laut terang oleh purnama. Semilir
angin laut membawa hawa dingin. Sebagian
rumah panggung menutup pintu dan
jendela, sementara di salah satu 2umah jerambah
pintunya dibiarkan terbuka. Seorang gadis duduk di
serambi umah, menghadap hamparan laut. Hal yang
biasa ia lakukan dengan almarhum ayahnya. Ya, dua
hari sudah ia berada di kampung, menjemput ibunya
untuk menghadiri wisuda.

Segara semakin hanyut pada kubang kenangan
bersamanya. Malam itu, seakan Tuhan mengizinkan
setiap reka adegan diputarnya kembali.

***

                                                           

2 Rumah panggung di atas laut

101

Hari itu, di suatu sore yang teduh, Ismanto
memanggil putrinya untuk duduk bersama.

“Nduk, 3rene!” panggil Ismanto. Gadis yang
baru lulus kelas enam itu mendekat duduk di 4dipan
sembari menikmati kudapan tempe mendoan dan teh
hangat. “Nduk, besok kita ke kota daftar sekolah.”

“Ara tidak mau sekolah, Pane. Sekolah di kota
harus punya uang banyak. Ara kasihan sama Pane.”

“Nduk, kamu jangan pikirkan masalah biaya.
Itu tanggung jawab Pane sebagai orang tuamu.”

“Tapi…”
“Sssut!”
“Pane dan Bune ndak sayang sama Ara.”
“Tidak seperti itu, Nduk. Justru sebaliknya,
Bune dan Pane melakukan ini karena sangat sayang
5karo kowe. Suatu hari nanti kamu akan mengerti
alasannya.”
“Ara tetap ndak mau sekolah!”
Tangis Segara pecah. Ia berlari ke kamar.
Wulansari mencoba mengejar, tapi dilarang Ismanto.
“Biarkan dulu, Bune. Kalau sudah tenang baru diajak
bicara lagi.”

                                                           

3 Sini
4 Tempat duduk dari kayu
5 Sama kamu

102

Sebagai seorang suami, Ismanto sangat
mengerti, mendukung keinginan terbesar istrinya,
perempuan berparas ayu yang mengorbankan
hidupnya dan menikah dengan lelaki buta aksara.

Setengah jam berlalu. Suara dari bilik kamar
pun mereda. Wulansari pun menyambangi putri
semata wayangnya.

“Nduk, Bue masuk njeh?” Sunyi. Wulansari
memanggilnya kembali, “Cah ayu…,”

“6Ndalem, masuk saja.”
“Alhamdulillah.”
Wulansari duduk di pinggir kasur, salah satu
tangannya menggenggam tangan putrinya “Nduk,
cukup orang tuamu ini yang bodoh.”
“Kenapa Bune ndak sekolah?”
“Bune dulu ingin sekolah, tapi Bune harus
bantu simbah menjadi buruh mengupas 7rajungan
agar bisa makan, sedangkan Simbah waktu itu sering
sakit. Ketika Bune berusia sepuluh tahun, mbahmu
8sedo. Sejak itulah Bune melupakan cita-citanya.
Bune fokus bekerja agar tetap bisa hidup. Untuk
itulah, Bune berharap agar 9putrine Bune sing ayu iki
mampu melanjutkan cita-citanya, jadi orang hebat.”

                                                           

6 saya
7 Salah satu jenis kepiting
8 Meninggal dunia
9 Anaknya Ibu yang cantik ini

103

“Bune,” Segara merebahkan kepalanya di atas
pangkuan.

Subuh sendu. Keluarga kecil itu sudah berada
di atas perahu. “Bismillahirrahmaanirrahiim,” ucap
Ismanto sebelum menjalankan perahu layarnya.
Begitu juga dengan Wulansari, bibirnya tak henti
berkomat-kamit memanjat doa keselamatan.

Dalam kesederhanaan tidak membuat pasangan
itu mengepakkan sayap. Memberikan pendidikan
terbaik, cemooh dari para tetangga dijadikan cambuk
dan bukti nyata.

Perjuangannya pun tak sampai di sana, tepat di
hari pengumuman kelulusan SMP, berita duka
datang. Ismanto karam saat melaut bersama dua
temannya. Ombak besar menghantam. Setelah tiga
hari mayatnya baru ditemukan. Sejak itulah
Wulansari berjuang menjadi tulang punggung
keluarga.

Malam semakin larut. Debur ombak semakin
nyaring. Hawa dingin yang menusuk menyadarkan
lamunannya. Sejenak ia menarik napas dan mengusap
bening dari kedua mata. “Pane, terima kasih atas
perjuangan dan cinta kasihmu. Dua hari lagi Ara akan
diwisuda.”

104

Tentang Penulis
Muslimah ini bernama Ay

Dwianna Al Hakim. Sejak hijrah ke
Bali dan menerbitkan buku, ia terus
mengembangkan minatnya dalam
dunia tulis-menulis dengan mencoba
mengikuti beberapa event menulis
untuk men-challenge dirinya
sekaligus merefleksikan emosi dan pemikirannya
dalam bentuk karya fiksi. Hal tersebut terbukti 5
novel dan 14 buku antologi cerpen diterbitkan dan
mendapatkan penghargaan. Selain menjadi penulis,
Dwianna mengabdikan dirinya menjadi pekerja sosial
di salah satu yayasan pemberdayaan perempuan dan
anak sebagai Leader Education Programme.

105

SEBUAH CINTA

Oleh: Aylin Sharliz

Pagi itu di hari pertama aku masuk di sekolah
ini. Sekolah yang menyimpan beberapa
kenangan kecil bersamanya. Hari itu, hari saat
diriku sangat senang. Hari pertama kali aku melihat
dia, lelaki dengan tinggi 175 cm itu. Lelaki yang
cenderung cuek dan pendiam. Hari-hariku berjalan
biasa saja. Namun, sejak siang itu, perasaanku sudah
berbeda kepadanya. Sejak saat itu aku mulai
mengaguminya.

Kami teman sekelas. Walau jarang
bercengkerama, setidaknya pandanganku terus
tertuju padanya. Aku tak pernah merasakan ini
sebelumnya. Rasanya aneh, tapi aku menyukainya.
Dia membuat hari-hariku lebih berwarna. Sebenarnya
dia biasa saja, tidak terlalu tampan dan tidak terlalu

106

pintar. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa suka
padanya.

Siang itu dia mengatakan yang sejujurnya. Dia
mengatakan bahwa dia menyukai perempuan lain.
Dia mengatakannya kepadaku, padahal selama ini
aku menyukainya. Hatiku hancur, tetapi aku mencoba
untuk terlihat biasa saja. Lagi pula, aku tak
mengatakan hal yang sebenarnya. Aku mencoba
untuk selalu bersikap biasa saja kepadanya seolah aku
tak menyukainya.

Hari-hari kujalani dengan terus mengaguminya.
Aku selalu menikmati setiap waktu-waktu itu.
Sampai suatu sore, hatiku benar-benar dibuat hancur
olehnya. Dia meninggalkan sekolah ini untuk
selamanya. Dia pergi begitu cepat, bahkan untuk
melupakannya pun tak bisa secepat itu. Hujan di
malam itu membuatku tersadar bahwa itu terakhir
kalinya aku melihat dia. Andaikan aku tahu itu adalah
hari terakhir aku melihatmu, mungkin pandanganku
tak akan lepas darimu. Aku tak tahu kapan aku bisa
bertemu lagi denganmu.

Aku sangat senang bisa mengenal lelaki itu.
Lelaki yang kerap menggunakan jaket hitam dengan
rambut belah tengah andalannya. Memori-memori
kecil tentangnya selalu melekat di kepalaku. Semua
hal bisa membuatku mengingat akan dirinya. Lagu

107

kesukannya, tempat kesukaannya, bahkan sekolah ini
yang selalu mengingatkanku tentangnya. Semua itu
sudah kulalui. Hari-hari tanpa hadirmu lagi. Kini
hanya rindu yang menemani malamku yang sepi. Ah,
sudahlah itu hanyalah asmara masa lalu. Sebuah cinta
pertama yang tak terbalaskan karena sesungguhnya
mencintai tak harus memiliki.

Tentang Penulis
Aylin Sharliz Maulidia Hermawan adalah siswa

SMA Negeri 1 Salatiga. Aylin adalah anak pertama
dari dua bersaudara. Cermin ini adalah karya
keduanya setelah “Salah Sambung yang Tak Biasa.”
Semua karya-karyanya yang merupakan kisah nyata
di dalam kehidupannya yang dibuatnya dalam cerita
mini.

108

TARI TOPENG ADIT

Oleh: Ayu Eka Lestari

Adit sedang berada di kelas seperti biasa siang
itu. Dia sedang berlatih tari topeng sesuai
kegemarannya. Bu Dewi pun
menghampirinya dan mereka bercakap-cakap.

“Adit, tarianmu sungguh indah sekali,” ujar bu
Dewi.

“Terima kasih, Bu” jawab Adit sambil menari.
Bu Dewi membalas dengan senyuman. “Oh iya,
Adit, kemarin kenapa kamu tidak masuk?” tanya Bu
Dewi.
“Masuk angin, Bu,” respons Adit.
“Kenapa tidak kirim surat?” balas Bu Dewi
“Emmm … itu Bu soalnya orang tua saya lagi
bertengkar pas pagi itu,” jelas Adit dengan suara lirih
dan menghentikan tariannya.

109

Seketika bu Dewi terdiam tak berucap apa pun.
Bu Dewi ingin memegang pundak Adit untuk
menunjukkan simpatinya. Namun, Adit menghindar.
Dia merasa tidak nyaman tangan Bu Dewi ingin
menyentuhnya.

“Kenapa Adit?” tanya bu Dewi.
“Punggung kiri saya cedera nih, Bu, dan kepala
saya sedikit pusing sebenarnya,” jelas Adit
“Cedera karena apa?” desak Bu Dewi
“Emmm … itu Bu di pukul Bapak saya pakai
ulegan batu pas bapak kelahi dengan Ibu saya,”
gumam Adit.
“Astaghfirullah, Adit,” lirih Bu Dewi sambil
mengusap wajahnya.
“Ibu akan panggil ibu kamu,” sahut Bu Dewi
penuh dengan emosi.
“Jangan, Bu,” cegah Adit, “nanti Bapak saya
tambah marah. Kasihan Ibu saya. Saya sudah biasa
kok, Bu, diperlakukan begini. He-he-he,” seloroh
Adit sambil cengengesan.
“Ya, Bu, ya, jangan panggil Ibu saya ke
sekolah,” mohon Adit.
“Ya sudah, ibu tidak akan panggil, tapi kalau
ada apa-apa sama kamu, lapor saya, ya,” balas Bu
Dewi dengan terpaksa.

110

“Pasti, Bu. Oke, Bu, terima kasih. Saya ke
kantin dulu, ya, Bu, saya lapar,” izin Adit dengan
tersenyum.

Bu Dewi pun hanya tersenyum kecil melihat
Adit berlalu dan menghilang di antara teman-
temannya.

Tiba-tiba ada Bu Ratna menepuk punggung Bu
Dewi dan mengagetkannya.

“Bu Dewi, ayo kita berangkat ke
pemakamannya Adit, sudah ditunggu ini. Jangan
melamun sendirian di kelas ini!” tutur Bu Ratna
dengan lembut sambil merangkul pundak Bu Dewi
dan berjalan perlahan keluar dari kelasnya Adit.

Tentang Penulis
Ayu Eka Lestari,S.Pd. lahir di

Kediri, 17 April 1983. Ia merupakan
lulusan dari IKIP PGRI Kediri, Jawa
Timur, jurusan Pendidikan Bahasa
Inggris dan lulus pada tahun 2006. Saat
ini dia bekerja sebagai ASN mengajar
mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 1
Kalikajar, Wonosobo Jawa Tengah. Karya yang telah
ia susun, yaitu Diktat Bahasa Inggris kelas 7 semester
gasal dan genap tahun pelajaran 2018/2019. Artikel

111

populer juga pernah ditulis dan dimuat di media
cetak, yaitu “Cooperative Learning Jigsaw dalam
Pembelajaran Degree of Comparison” dan “Gallery
Walk Tingkatkan Speaking Skill dalam Pembelajaran
Narrative Text” (Jateng Pos). Selain itu, dia juga
sudah memublikasikan karya inovatif berupa
kumpulan puisi dengan judul Meraih Mimpi.

Saat ini Ayu tinggal di Jl. lingkar Utara Dusun
Bomerto RT 2 RW 1, Desa Bomerto, Kecamatan
Wonosobo bersama suaminya Hamid Fatkhurohman
dan ketiga putra tercinta, Zidni Najwa Rahman,
Fahim Rahman Husaini, dan Muhammad Abbiyya
Rahman. Penulis berharap bisa lebih banyak belajar
menulis dan bisa menulis apa saja, baik tulisan fiksi
maupun nonfiksi.

112

BERTABRAK

Oleh: Ayunita Lova Nanda

Amara tahu dirinya terlambat. Dia harus
segera menyusul temannya yang menunggu
di tengah keramaian pusat perbelanjaan.
Ada banyak anak kecil, remaja, hingga orang tua
yang berlalu-lalang. Cukup sulit untuk Amara
menemukan temannya, Nita. Sayangnya, terdapat
masalah jaringan pada ponselnya yang menyebabkan
Amara memerlukan waktu untuk menghubungi Nita.
Sambil menatap layar ponsel dan mengharapkan
jaringan, Amara terus berjalan.

“Aduh,” ucap gadis kecil yang tak sengaja
bertabrakan dengan Amara.

“Adik, maaf, ya. Kakak enggak sengaja,” kata
Amara yang berjongkok menyamakan tingginya.

“Mbak, hati-hati kalau jalan. Banyak anak kecil.
Kalau tadi anak saya jatuh, terus luka, Mbak mau

113

tanggung jawab?” Ayah dari gadis kecil itu marah
sembari memeluk putrinya. Amara terkejut. Ia pun
kembali berdiri, tapi dengan kepala yang menunduk.

“Maaf, Pak. Lain kali saya hati-hati,” ujar Amara
yang merasa sangat bersalah.

Ayah dan anak itu pergi. Tidak lama kemudian,
Nita datang menghampiri. Ia bingung dengan
temannya yang terlambat, tapi masih saja diam di
tempat. Dengan kesal, Nita menepuk pundak Amara
sedikit keras. Gadis itu mengerutkan keningnya
seolah tak terima.

“Apa sih, Nit, pukul-pukul?” tanya Amara.
“Kamu, tuh, kenapa bengong di sini? Sudah tahu
terlambat.”
“Nita,” ucap Amara dengan wajah memelas.
“Apa? Apa lagi alasanmu sekarang?”
“Aku barusan enggak sengaja tabrak anak orang,
Nit.”
“Kok bisa? Enggak ada yang luka, ‘kan?”
“Nita, dulu waktu aku kecil, aku dimarahi orang
karena kami tabrakan. Padahal, aku sudah jalan hati-
hati, tapi tetap dimarahi. Mungkin karena waktu
kecil, aku tidak punya ayah yang menemani. Sudah
dewasa pun aku justru dimarahi ayahku karena tidak
sengaja menabrak anaknya.”

114

Amara menangis begitu Nita memelukknya. Nita
tidak ingin banyak bertanya ataupun berkomentar.
Pantas saja Amara terdiam walau ayah dan anak itu
sudah pergi. Ia pasti lebih sedih dengan kenyataan
bahwa ayahnya tidak mengenali putrinya sendiri.

115

BANGUN TIDUR

Oleh: Ayunita Lova Nanda

Boni tertidur setelah lelah bermain game
online. Cukup lama ia tertidur dengan posisi
yang sangat nyaman. Boni bahkan tidak
bangun saat ibunya memanggil. Padahal, ia sudah
diperingatkan untuk tidak tidur di sore hari. Namun,
Boni tetaplah Boni yang sering menjawab perkataan
ibunya.

“Boni, kamu lagi siap-siap apa tidur?” ibu masih
meneriaki Boni dari arah dapur sembari menyiapkan
makanan.

Boni masih tak membuka matanya. Anak itu
justru menarik guling dan semakin nyenyak dalam
tidurnya. Jika saja ibu sedang tidak repot dengan
masakan, mungkin ibu sudah membawa air segayung
penuh untuk putranya tercinta. Yang bisa
membangunkan Boni dengan cepat hanya ayahnya.

116

Beberapa saat kemudian, terdengar suara motor
tua sang ayah. Tak lama Boni mulai mengerjapkan
mata dan langsung duduk sambil mengumpulkan
kesadaran. Boni akhirnya merasa cukup sadar untuk
berlari ke kamar mandi dan bersiap mengenakan
seragam. Ia semakin sibuk karena lupa menyiapkan
buku pelajaran.

“Aduh, Ayah sudah panaskan motor. Kalau ibu
tahu, pasti aku kena marah lagi,” kata Boni yang
dengan cepat memasukkan buku ke dalam tasnya.

“Boni!” Itu suara ayah. Pasti ayah takut terlambat
kerja karena menunggu Boni yang lama.

“Sebentar, Yah. Sebentar lagi aku siap.” Boni
memikul tas dan memakai kaos kakinya.

Suara motor dan harum masakan ibu adalah
tanda-tanda bahwa Boni harus bergerak dengan cepat.
Boni keluar dari kamarnya. Melewati ayah yang
sedang mengantongi dompetnya dan menghampiri
ibu di dapur.

“Bu, sangu.” Boni menengadahkan tangan.
“Lo, kok sangu? Kamu ngapain pakai seragam
magrib-magrib begini?”
“Lo, Bu? Ini malam, ta?” tanya Boni yang
kemudian menoleh ke ayahnya. Bapak beranak satu
itu sudah siap dengan baju koko dan kopiah.

117

“Siap-siap ke masjid, Le. Besok pagi baru
sekolah,” ujar ayah dengan tertawa. Ibu hanya bisa
menggelengkan kepala saja. Itulah kenapa Boni
selalu dilarang untuk tidur di sore hari.

“Ya Allah, aku jadi mandi tiga kali hari ini,” kata
Boni yang berjalan dengan wajah lesu ke kamar.

Tentang Penulis

Ayunita Lova Nanda adalah

nama lengkapnya. Kini ia berusia 21

tahun. IA tertarik dengan tanaman

dan tulisan sejak usia 16 tahun. Saat

ini berkuliah di Universitas

Mulawarman, Samarinda,

Kalimantan Timur dengan jurusan

Agroekoteknologi. Ia lahir di Jakarta pada tanggal 29

Juni 2001. Impinannya mempunyai rumah pertanian

dan memiliki sebuah buku. Di luar kesibukan kuliah,

ia lebih suka menghabiskan waktu dengan menulis

cerita di salah satu aplikasi. Selain menulis, ia juga

senang membaca buku dengan genre thriller,

romansa, horor. Menulis cerita mini adalah

pengalaman baru. Ia banyak menonton film kartun,

membaca, dan mendengarkan lagu.

118

Pada sebuah aplikasi, terdapat satu cerita yang
masih bersambung. Ceritanya cukup mendapat
dukungan. Anak ddari tiga bersaudara ini sering sibuk
dengan ponselnya karena harus mengedit gambar
sebagai bahan cerita. Ia juga mengedit beberapa video
untuk mempromosikan ceritanya di Tiktok. Ayunita
memanfaatkan beberapa media sosial agar orang-
orang tertarik dengan ceritanya. Menonton dan
membaca bukan hanya untuk bermalas-malasan, tapi
juga mencari inspirasi. Dia juga banyak
mendengarkan lagu, menelaah setiap lirik lagu yang
menarik perhatiannya.

Berawal dari kegiatan inilah Ayunita
menemukan banyak hal baru. Sebelumnya, ia
menyepelekan cerita mini. Namun, saat harus
membuatnya sendiri, ia kesulitan. Menulis bukan
sekadar hobi, tapi juga cara untuk ia menyalurkan
emosi. Respons pembaca selalu menjadi sumber
penyemangatnya. Menulis seolah dapat membantu
Ayunita menghilangkan stres.

119

BUKAN SENJA

Oleh: Azalya Davina

Sejak kecil, aku punya kelebihan yang hanya
dimiliki oleh beberapa orang saja. Aku bisa
melihat hantu. Sebenarnya , aku merasa tidak
nyaman dengan kelebihan ini, tetapi aku berusaha
berdamai dengan diriku sendiri dan mengabaikan
mereka.

Hari ini aku mulai bersekolah lagi di sekolah
baru. Mencari suasana baru, tentunya dengan
makhluk yang baru juga. Aku pergi dengan sepeda
kesayanganku. Angin yang terasa sendu menemani
perjalananku. Di sekolah aku hanya diam. Terlalu
takut untuk berkenalan. Suasana di sekolah sangatlah
ramai, tetapi aku masih diselimuti dengan rasa
kesepian.

Bel istirahat berbunyi. Semua anak mulai
makan dan bermain bersama. Aku membawa bekalku
pergi untuk mencari ketenangan. Aku merasa atap

120

sekolah cukup tenang untuk orang sepertiku. Namun,
ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba aku
melihat siluet seorang laki-laki. Kukira itu hanya
imajinasiku. Saat berbalik, aku terkejut setengah mati
dibuatnya.

Mati aku, gumamku dalam hati setelah tersadar
kalau aku terkejut.

“Eh, ternyata kau bisa melihatku, ya?” ucapnya
sambil terkekeh.

Aku sudah bersiap-siap kabur darinya, tetapi
dia tahu niatku.

“Tenang saja, aku enggak bakal ngapa-ngapain
kamu, kok.” Laki-laki itu tersenyum. Menurutku itu
membuatnya terlihat lebih menyeramkan. Bagaimana
tak takut, dia saja muncul dengan wujud yang
menyeramkan. Memakai seragam sekolah yang
dipenuhi dengan darah dan luka di sekujur tubuhnya.

“Sebentar lagi sudah masuk, aku kembali ke
kelas saja,” ucapku dengan tubuh gemetar.

“Hmm … padahal baru saja istirahat. Kamu
makan saja dulu, aku enggak bakal macam-macam,
kok,” katanya sambil mengubah wujudnya untuk
meyakinkanku.

Aku merasa dia tidak berniat jahat padaku.
Karena sudah sangat lapar, jadi aku duduk dan makan
di sebelahnya. Tidak terlalu buruk. Kami hanya diam,

121

tidak ada yang membuka suara. Rasanya lebih
nyaman daripada saat bersama manusia.

Bel pun berbunyi. Aku merapikan bekalku
untuk kembali ke kelas.

“Aku pergi dulu, terima kasih sudah
menemaniku,” kataku sambil membawa bekalku.

Dia hanya tersenyum melihatku pergi. Di kelas
aku hanya diam. Meskipun banyak orang, aku masih
merasa kesepian. Berbeda saat bersama dengannya.

Keesokan harinya aku kembali ke atap untuk
mencari ketenangan dan sedikit berharap dia akan
datang. Harapanku terkabul. Dia datang lagi. Kami
berdua duduk memandangi langit biru yang cantik
dan sedikit berbincang. Sejak saat itu aku mulai dekat
dengannya. Kami saling berbagi cerita tentang hobi
dan keseharian masing-masing. Ini sudah berjalan
tiga bulan sejak aku pindah ke sekolah ini.

Sepulang sekolah aku tidak langsung pulang.
Aku pergi ke atap sekolah. Seperti biasa, untuk
mencari ketenangan. Aku duduk memandangi langit
senja sambil mendengarkan musik.

“Hai, lagi apa?” Dia duduk disebelahku.
“Dengerin musik, mau dengar juga?” tawarku.
“Boleh,” katanya sambil tersenyum lembut.

122

Pas sekali, lagu kesukaanku mulai berputar
“Just the two of us. We can make it if we try. Just the
two of us.”

Rasanya sangat damai. Hatiku terasa tenang.
Tanpa kusadari air mataku mengalir. Aku berdiri
sambil tersennyum melihatnya, “Terima kasih, ya,
sudah mau menemaniku.”

Lagi-lagi dia hanya mebalasku dengan
senyuman.

“Sekarang aku sudah sangat siap. Aku sudah
memikirkannya matang-matang.”

Aku berjalan ke ujung melihat ke bawah.
Tinggi, itu yang terpikirkan olehku. Setidaknya
sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini,
aku telah melihat hal terindah. Lebih indah daripada
senja.

Tentang Penulis

Azalya Davina Josephine
Putri Wibowo adalah siswa SMA
Negeri 1 Salatiga. Ia Lahir di
Ambon pada tanggal 6 November
2006.

123

KATA TERAKHIR

Oleh: Azzaera Flora Anantaya

Di kala hujan deras turun di malam hari, Arno
terbaring lemah di tempat tidur depan
televisi rumahnya. Istrinya bersama dengan
anak-anaknya berada di sisinya dengan penuh
kekhawatiran. Arno demam, badannya menggigil
membuat istrinya sangat khawatir akan keadaannya.
Tak seperti biasa, Arno yang jarang sakit tiba-tiba
demam seperti ini.

Ari anak lelakinya pun bergegas mencari
bantuan pinjaman mobil ke saudara-saudara sekitar
untuk membawa Arno menuju ke rumah sakit.
Namun malangnya, mobil saudaranya sedang
digunakan semua. Pada saat Ari mencari bantuan
mobil, Arno terbangun dari tidurnya.

“Di mana Rea?” tanya Arno mencari cucunya
itu.

124

“Itu dia. Rea sedang tidur di kamar sebelah,”
jawab Awa anak perempuanya yang merupakan ibu
dari Rea. Karena samar-samar mendengar namanya
disebut, Rea yang mengantuk dan belum sepenuhnya
tidur itu pun melihat ke arah pintu kamar yang
terbuka. Rea melihat kakeknya itu dari jarak yang
lumayan jauh, kakeknya berada di kasur depan
televisi sedang terbaring lemah. Lalu ia tertidur
kembali karena rasa kantuknya itu benar-benar
menyerang.

Baru saja Rea tertidur, kakeknya itu melihat ke
samping ke arah pintu kamar. Ia melihat cucunya
tertidur pulas. Rasanya ia rindu dengan cucunya itu
karena beberapa hari tidak melihatnya.

Malam yang hujan berlalu begitu cepat hingga
terbitlah matahari yang menyinari pagi. Tampak juga
Rea yang terbangun dari tidurnya. Ia bergegas keluar
kamar mencari kakeknya, tetapi dia tidak
menemukannya. Melihat ibunya berada di situ ia
bertanya, “Di mana kakek, Bu?”

“Kakek sudah dibawa ke rumah sakit, Rea,”
jawab ibunya.

Rea pun terkejut karena kakeknya sampai harus
dibawa ke rumah sakit.

“Sejak kapan? Kenapa harus dibawa ke rumah
sakit?”

125

“Sejak tadi malam. Kamu tertidur makanya
tidak tahu. Demam kakek semakin tinggi dan kakek
mengigau juga menggigil. Om Ari juga sudah dapat
bantuan mobil maka dari itu kakek dibawa ke rumah
sakit,” jawab ibu.

Melihat anaknya khawatir pun, Awa sebagai
ibu menenangkan anaknya.

“Tenang, Rea, ibu tahu kamu khawatir. Ibu pun
begitu. Kita doakan Kakek sama-sama, ya. Semoga
Kakek cepat sembuh.”

“Iya, Bu. Semoga Kakek cepat kembali ke
rumah,” sambung Rea.

Pagi itu, Rea bersama saudara-saudara iparnya
menjenguk kakek di rumah sakit. Namun malangnya,
di saat Rea ingin masuk ke ruangannya, anak kecil
tidak boleh masuk ke ruang ICU, hanya orang
dewasalah yang dibolehkan masuk. Karena usia Rea
yang saat itu masih sembilan tahun, ia tidak
diperbolehkan masuk. Rea begitu sedih, tetapi ia
berdoa agar Allah SWT menyembuhkan kakeknya
dan segera pulang ke rumah agar ia bisa bertemu
kembali.

Hari berlalu begitu cepat. Karena semua anak-
anak Arno menemaninya di rumah sakit, cucu-
cucunya pun termasuk Rea berkumpul di rumah
saudaranya. Di saat ia sedang berkumpul di rumah

126

saudaranya, tiba-tiba mereka mendapatkan kabar
bahwa kakeknya yang sedang dirawat di rumah sakit
itu meninggal dunia. Rea dan saudara-saudaranya pun
terkejut dan tak sanggup menahan tangisan. Mereka
bergegas berganti baju dan menuju ke rumah
kakeknya. Saat sudah sampai, rumah kakeknya itu
begitu ramai. Orang-orang sudah berada di sana
karena mengetahui kabar kakek. Rea dan saudaranya
pun bergegas masuk ke dalam rumah. Rea tak
sanggup menahan tangisnya saat melihat kakeknya
dimandikan. Dengan tangan bergetar, ia menyentuh
kaki kakeknya, benar-benar dingin. Rea masih tak
percaya, kakeknya meninggalkannya. Saat kakeknya
dikafani, ia baru tersadar bahwa ternyata kali terakhir
ia mendengar suara kakeknya ialah di saat malam itu
kakeknya menanyakannya. Dimana Rea? Dua kata
yang menjadi kata terakhir yang diucapkan kakeknya
dan suara terakhir yang ia dengar dari kakeknya.

127

Tentang Penulis
Azzaera Flora Anantaya berumur 15 tahun. Ia

lahir di Kabupaten Semarang. Ia merupakan salah
satu siswi yang sedang menempuh pendidikan di
SMAN 1 Salatiga. Cerita ini ia ambil dari kisah nyata
dengan nama yang disamarkan. Semoga cerita ini
bisa menghibur walaupun alurnya sedih.

128

BUNGA MAWAR

Oleh: Azzahra Taufika Putri

Malam itu suasana sangat sejuk. Entah
mengapa, padahal akhir-akhir ini terasa
cukup panas. Aku pulang kerja seorang
diri, seperti biasanya. Mengendarai motor matik
berwarna hitam milikku.

Sampai di depan sebuah minimarket, aku
terheran-heran banyak orang yang berkerumun. Aku
pun memutuskan untuk melihat apa sebenarnya yang
terjadi. Ternyata sebuah kecelakaan.

“Meninggal,” kata seorang lelaki berjaket
hitam.

Aku terkejut bukan main. Seorang anak kecil
tewas akibat kecelakaan dan orang yang menabrak
melarikan diri.

Aku melanjutkan perjalanan. Di tengah-tengah
berkendara, aku melihat seorang anak perempuan

129

berjalan seorang diri. Dia memiliki rambut lurus nan
panjang serta mengenakan dress hitam dengan
membawa sesuatu di tangannya.

Aku tidak habis pikir dengan apa yang baru saja
kulihat. Bagaimana mungkin seorang anak kecil
berjalan seorang diri di malam hari. Tanpa berpikir
panjang, aku memberhentikan motorku, kemudian
menghampiri anak itu.

“Dik, sendirian aja?” tanyaku pada anak itu.
“Iya, Kak, sendiri.”
Heran rasanya, seorang anak kecil berjalan
sendirian di malam hari.
“Dik, mau kakak antar pulang?” Aku
menawarkan padanya.
“Boleh, Kak. Rumahku di Jalan Kasuari Nomor
1.”
Kemudian, kuantar anak itu. Jujur, ternyata
rumah anak itu sangat jauh dan aku belum pernah ke
daerah itu sebelumnya. Selama perjalanan, anak itu
hanya diam. Aku pun fokus dalam berkendara.
Sekitar 20 menit, kami sampai di tempat tujuan.
Rasa heranku bertambah ketika melihat
lingkungan tempat tinggal anak itu. Lingkungannya
sangat sepi dan hanya ada beberapa rumah saja.
“Sampai, Dik,” kataku pada anak itu.

130

“Terima kasih, Kak,” Anak itu menjawab
pelan.

Anak itu pun turun dari motor, kemudian dia
memberiku setangkai bunga mawar yang ia bawa
sedari tadi. Kemudian, dia masuk ke rumahnya.
Anehnya, selama perjalanan hingga tiba di rumah
anak itu, aku mencium bau yang aneh. Baunya seperti
bunga yang bercampur dengan tanah. Entah bau apa
itu.

Setelah anak itu masuk ke rumahnya, aku
melihat ponselku. Waktu menunjukkan pukul 22.00
WIB. Aku pun bergegas untuk pulang. Saat hendak
menyalakan motorku, seseorang menepuk pundakku.
Aku pun menoleh. Ternyata seorang tukang ojek
online.

“Mbak, ada apa di depan makam sendirian?”
tanya orang itu.

“Hah, bagaimana, Pak?”
Aku pun terheran-heran dengan pertanyaan
yang dilontarkan bapak itu.
“Mbak, kenapa di depan makam sendirian?”
tanya bapak itu lagi.
Seketika itu, aku melihat ke sekeliling. Tak ada
makam, tapi bapak itu terus berkata makam padaku.
Aku semakin bingung.

131

“Pak, tidak ada makam di sini,” jawabku pada
bapak itu.

“Mbak, coba lihat tulisan itu.” Bapak itu
menunjuk ke arah sebuah tulisan.

Benar saja, terdapat tulisan TPU Kasuari,
padahal sedari tadi aku tak melihat tulisan itu. Hal
yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika aku tak
melihat rumah anak perempuan yang kuantar tadi.

Aku mengedarkan pandangan, dan hasilnya
tetap saja sama. Tak kutemukan rumah anak itu, yang
kulihat hanyalah kawasan pemakaman. Aku
mencubit diriku berkali-kali memastikan bahwa
kejadian itu bukanlah mimpi. Tangan kiriku masih
menggenggam bunga mawar dari anak perempuan
itu.

Kulihat bunga itu, terdapat kertas kecil yang
bertuliskan sesuatu yang membuatku takut. Seketika
itu aku merinding. Tak percaya dengan kejadian yang
baru saja kualami.

Kertas itu bertuliskan, Terima kasih telah
mengantarkanku pulang.

132

Tentang Penulis
Azzahra Taufika Putri

adalah seorang siswi SMAN 1
Salatiga. Ia lahir di Pabelan pada
tanggal 9 Desember 2006.
Cermin ini adalah karya
keduanya setelah “Perpisahan”.
Ia pendengar setia lagu-lagu Olivia Rodrigo.

133

PERTEMUAN TERAKHIR

Oleh: Baniyah

Di teras rumah, Aan makan bakso bersama
nenek dan juga kakaknya. Mereka makan
bakso sambil bercerita. Datanglah kucing
kesayangan Aan yang bernama Dorin dan ikut duduk
bersama mereka.

“Hai, Dorin, kamu dari mana saja dari tadi baru
kelihatan?” sapa Aan pada kucing kesayangannya.

Wajah Dorin nampak lesu, tidak ceria, dan
keluar air mata dari kedua matanya.

“Dorin, kenapa kamu menangis atau kamu
barusan makan sisa bakso yang pedas hingga keluar
ari mata?” ucap Aan.

Mata dorin terus mengeluarkan air mata dan
sesekali dia mengendus-endus di pangkuan Aan.
Seolah-olah ingin dimanja, dia minta dielus-elus dan
duduk di pangkuan Aan.

134

Selesai makan bakso, Aan merapikan peralatan
makan kemudian membersihkan teras. Dorin masih
setia menemani Aan bersih-bersih teras. Sesekali
dorin tiduran dengan tubuh yang tampak tidak
bersemangat dan seperti tidak punya tenaga. Selesai
beres-beres, Aan beristirahat di dalam rumah,
rebahan sambil nonton televisi. Dorin pun ikut
beristirahat.

Aan tertidur pulas. Ketika bangun, Aan melihat
ke samping, tapi Dorin sudah tidak ada di sebelahnya.
Aan sempat khawatir melihat Dorin yang tidak ada di
sampingya karena tubuh Dorin sepertinya tidak
dalam keadaan baik-baik saja. Aan keluar rumah
untuk mencari Dorin, ternyata Dorin ada di pinggir
jalan depan rumah. Baru saja Aan akan menghampiri
Dorin, dari arah bawah ada sepeda motor melaju
dengan cepat. Dorin menyebrang jalan dan brakkk.
Sepeda jatuh karena rem mendadak, tubuh Dorin
terpental.

Melihat hal itu Aan tercengang dan diam seperti
patung. Aan menghampiri Dorin yang sedang dalam
keadaan lemas tidak bertenaga. Tubuhnya kejang-
kejang. Dari mulutnya keluar cairan putih. Tidak ada
luka yang terlihat di tubuhnya, tapi Dorin sudah tidak
bisa apa-apa, sepertinya Dorin sedang menghadapi
sakaratul maut. Aan menangis seraya memegang

135

tubuh Dorin. Tak lama kemudian hilanglah nyawa
Dorin.

“Doriiiinn,” teriak Aan sambil menangis,
“kenapa kau tinggalkan aka secepat ini?”

Aan menangis tersedu-sedu tiada hentinya
akibat kehilangan kucing kesayangannya. Dengan
hati yang sedih, Aan mengubur Dorin di dekat rumah.
Tidak ada firasat apa pun, tidak mengira akan
kehilangan Dorin secepat itu. Rupanya hari itu adalah
hari terakhir mereka bisa bersama.

 

136

PENCURI HATI

Oleh: Banyubiru

Kalau tidak salah, pertemuanmu dengannya
dimulai dari halte Poris Plawad. Entah
karena hawa panas atau rasa lelah bekerja
seharian, kau memilih bersandar sembarangan di
bahu orang asing. Ia tidak mengenalmu, apalagi
sebaliknya. Kecuali memang kau sudah
mengamatinya untuk mengambil kesempatan itu.
Yang pasti, kau terlihat begitu nyaman.

Ia tampaknya tak tega membangunkan
sehingga ia berusaha mengatur posisinya agar kau
semakin nyaman. Ada yang pura-pura bersikap biasa
melihat kejanggalan ini, tetapi yakinlah, pasti lebih
banyak cibiran dalam hati mereka daripada iba. Itu
terlihat dari beberapa pasang mata yang diam-diam
melirik lalu memalingkan muka segera ketika tak
sengaja mata pria itu bertemu dengan mata para
penumpang itu.

137

Dua orang asing seperti tak ingin saling
mengusik. Pria asing itu biarkan kepalamu di
bahunya dan berusaha tetap terjaga. Sekarang pasti ia
bisa mencium wangi rambutmu. Namun, ia tidak
berbuat lebih. Tampaknya tidak ingin mencari untung
dengan mencuri kesempatan darimu.

Dekat halte Bundaran Senayan kau terbangun.
Agaknya kau terkejut, ketika mendongak dan melihat
wajah asing yang posisinya begitu dekat. Lantas, kau
mengambil jarak dan mendesak wanita paruh baya di
sampingmu sehingga membuat kursinya semakin
sempit walau kau tak bermaksud demikian.

“Maaf, tadi Anda sangat pulas, saya tak berani
membangunkan. Tetapi tenang saja, saya tidak
macam-macam,” tambahnya meyakinkan.

Gurat wajahmu terlihat ragu. Bola matamu
berkeliling mencari jawaban, mengonfirmasi
penjelasan pria itu dalam sorot mata orang-orang
asing yang mengerubungi kalian tak terkecuali wanita
paruh baya tadi. Kau mengangguk pada kode kedipan
yang diberikan wanita paruh baya itu. Menganggap
itu sebagai jawaban walaupun jadinya lebih kepada
tatapan sinis.

“Saya yang minta maaf. Saya sudah lancang,”
katamu kemudian setelah perkataannya terbukti
benar.

138

“Saya Jenar. Kalau Anda?”
“Ini Anda serius mau kenal saya atau saya yang
harus mengenal Anda?”
“Maaf?” Raut wajahmu berubah, memerah.
Cepat-cepat kau menarik tangan yang sudah terulur.
Kau tak berani lagi mengangkat wajahmu. Raut
wajah para penumpang juga macam-macam.
Bingung, senyam-senyum, datar, tidak peduli.
Tak ingin mempertahankan kecanggungan, pria
itu mengulurkan tangan, “Saya pencuri ... hati.”
Kemudian busway dipenuhi dengan dehem
yang dipaksakan. Orang-orang itu tertawa. Beberapa
menggeleng sambil tersenyum. Termasuk kau.
Wajahmu masih memerah, tetapi kepalamu sudah
menegak. Kalian berjabat tangan.
Orang-orang mengira pria itu sedang
menggombal. Bukan. Ia menyatakan yang
sebenarnya. Jadi, bukan kau yang ingin minta
dikenal, tetapi dia yang harus mengenalmu. Mungkin
kau akan menjadi target berikutnya. Akan lebih
mudah jika semua rencana berjalan tanpa paksaan,
bukan?

Jati Agung, 6 Oktober 2022

139


Click to View FlipBook Version