The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Puji Narimawati, 2022-11-23 16:50:21

PERTEMUAN PERTAMA PDF

PERTEMUAN PERTAMA PDF

HALTE BUS

Oleh: Cantika Eka N. A.

Dua perempuan duduk bersisian di halte bus
sore itu. Matahari mulai tergelincir di ufuk
barat. Jalanan mulai sepi. Orang-orang yang
berlalu-lalang dapat dihitung dengan jari. Deru mesin
kendaraan yang melintas dan sesekali ditingkahi
suara klakson menghidupkan suasana.

Halte sudah sepi. Orang-orang yang biasa
pulang kerja atau anak sekolah yang pulang dari
tempat belajarnya sudah lewat. Kedua perempuan itu
duduk berdua menunggu bus. Hanya berdua. Seorang
paruh baya yang bibirnya tampak bergerak-gerak
bersenandung kecil mengusir sepi.

“Sudah berapa bulan, Nak?” ia bertanya pada
wanita di sampingnya. Usianya jauh lebih muda,
sekitar 20-an. Rambutnya sebahu, lurus, dan hitam.

190

Perempuan muda itu sesekali mengelus perutnya
yang mulai membuncit.

“Kenapa Ibu bertanya?” Ia balik bertanya kesal.
Nada suaranya menunjukkan kalau dirinya sedang
frustasi. Namun, ekspresinya itu tidak bertahan lama.
Sejenak ia berusaha menetralkan napas, lalu
menjawab pelan, “Tujuh bulan.”

“Wah, sebentar lagi, ya. Sebentar lagi anakmu
akan lahir.” seru wanita paruh baya. “Bagaimana
perasaanmu?” tanyanya kemudian dengan tersenyum
senang. Ia teringat masa di mana dirinya juga pernah
menanti kehadiran buah hatinya.

“Tertekan,” jawab perempuan muda, “aku
sedih, tapi harus bagaimana?” Ia mulai terisak.

Wanita paruh baya terkejut. Dielusnya pundak
yang terisak itu dengan lembut menenangkan. “Ada
apa, Sayang?” tanyanya kemudian.

Tangis perempuan muda itu malah menjadi-
jadi. Jari-jarinya meremas-remas ujung sweaternya.

“Aku sudah tidak kuat lagi, Bu. Suamiku
meninggalkan keluarga kami. Kondisi ekonomi kami
tersendat. Ibuku sakit.” Ia tumpahkan segala
kegundahannya kala itu.

Wanita paruh baya tersenyum, berganti
mengelus punggung perempuan muda itu. Ia lebih
merapatkan lagi duduknya.

191

“Nak, coba lihat aku.” Tangan kirinya
mengangkat dagu perempuan muda itu sedang tangan
kanannya mengusap air matanya.

“Aku tahu apa yang kamu lalui tidaklah mudah.
Mungkin saat ini kamu merasa putus asa dan ingin
menyerah. Tapi, tolong, coba ingat anakmu yang
sebentar lagi lahir. Juga ingatlah ibumu!” ujarnya.

Dipandangnya wajah perempuan muda itu
lekat-lekat, lalu sambungnya, “Aku ini seorang ibu.
Dan aku yakin doa, restu, juga kasih sayang seorang
ibu akan selalu menyertai langkah anaknya.
Percayalah, Nak, ibumu pasti sangat ingin melihatmu
bahagia. Tidak mengapa kita bersedih. Terkadang
kita merasa putus asa dan ingin menyerah. Namun,
kita mesti bangkit lagi. Ingatlah, Nak, roda kehidupan
ini terus berputar.”

Tangis perempuan itu perlahan surut tak
terdengar lagi. Hanya menyisakan isakan kecil yang
kemudian berhasil dikendalikannya. Ditemani
dengan usapan hangat dipunggungnya dan langit
senja yang indah kala itu, ia berani menatap wanita
paruh baya dan tersenyum. Mungkin senyum
pertamanya selama beberapa hari terakhir.

Tak lama kemudian bus yang ditunggu datang.
Perempuan muda bangkit dan mengulurkan

192

tangannya, “Ayo, Ibu. Ayo kita pulang,” ujarnya
lembut.

Wanita paruh baya sedikit kebingungan.
Namun, pada akhirnya tetap meraih uluran tangan itu
dan bangkit.

Keduanya berjalan bersisian menuju pintu bus
yang terbuka. Tepat sebelum keduanya naik,
perempuan muda itu berkata, “Ibu, aku tahu doamu
akan selalu menyertaiku. Tolong restui aku dan beri
aku kekuatan. Aku menyayangimu, Ibu.”

193

RUMAH DUKA

Oleh: Cantika Eka N. A.

Suasana sedih melingkupi rumah duka sore itu.
Aroma dupa tercium. Doa-doa terdengar pun
dengan isak tangis dari mereka yang
ditinggalkan. Kehilangan seorang anak, saudara,
sahabat, teman, memang tidak menyenangkan.

Empat siswi SMA terlihat duduk lesehan
mengelilingi meja. Mereka baru saja mengirimkan
doa untuk teman dan sahabat terkasih, Shui.
Keempatnya sedang menyantap makanan yang
disediakan, sesekali masih sesenggukan, tidak
menyangka akan ditinggalkannya secepat ini.

“Shui,” ucap salah satu diantaranya, Runi,
“kenapa ninggalin kita secepat ini, sih,” lanjutnya. Ia
menghentikan santapannya dan mengangkat kepala,
menatap satu per satu teman-temannya.

194

“Enggak ada seorang pun yang mau hal ini
terjadi, Run,” ucap salah satu dari mereka, Heji, “ini
emang sudah takdirnya Shui,” lanjutnya yang
diangguki teman-teman yang lain, Misa dan Yuna.

“Iya, tapi kenapa secepat ini dan dengan cara
yang …,” ucapan Runi terputus, tidak sanggup
mengucapkan kata selanjutnya. Sahabat terkasihnya
harus meninggal setragis itu.

“Enggak ada yang tahu kapan dan dengan cara
apa kita pergi dari dunia ini. Sudahlah, Runi, tidak
perlu dibahas,” tanggap Heji sedikit dengan nada
kesal.

“Tapi, emang janggal enggak, sih,” ucap Yuna,
“kematian Shui, motif pembunuhnya apa? Selama ini
dia baik-baik saja. Dia orang baik yang dikelilingi
orang-orang baik. Enggak ada alasan dia harus
meninggal setragis itu,” lanjutnya.

“Iya, benar,” ujar Misa menyetujui,
“kejanggalannya enggak sampai situ aja. Ada satu
barang milik Shui yang sama sekali enggak ditemuin
sama pihak kepolisian. Jam tangannya, hadiah dari
Zuhi, hilang entah kemana,” tambahnya.

Memang benar hadiah jam tangan dari Zuhi,
pacar Shui, belum ditemukan oleh pihak kepolisian
maupun keluarga. Tidak ada yang tahu mengenai

195

keberadaan jam itu dan hal ini tentunya menghambat
kerja polisi.

“Kalau menurutku, pelakunya yang sudah
ambil jam tangan Shui. Iya, enggak, sih?” ujar Yuna.

“Eh, iya menurutku juga gitu. Ada gosip yang
beredar kalau …,” belum sempat Misa melanjutkan
kata-katanya, mereka dikejutkan dengan gebrakan di
meja.

“Sudah cukup. Ini rumah duka. Kita semestinya
menghormati Shui dan keluarganya. Jangan bicara
hal-hal kaya gitu di sini,” ujar Heji, si penggebrak
meja, dengan emosi.

“Iya, kita enggak perlu bicarain ini lagi biar
kepolisian aja yang kerja, oke?” ucap Runi lembut
menenangkan teman-temannya.

“Heji juga, aku paham kamu emosi, pasti sedih
banget ditinggal Shui. Kamu yang paling dekat sama
dia di antara kita,” ucap Runi sambil mengelus bahu
Heji.

Heji mulai terisak lagi. “Iya, aku enggak akan
maafin si bajingan itu,” ucapnya penuh emosi dan
kesedihan. Mereka berempat kembali menunduk dan
menyantap makanan. Hening menemani kegiatan
mereka di rumah duka itu hingga saatnya untuk
berpamitan.

196

Setelah berpamitan dengan keluarga Shui,
mereka keluar dari rumah duka. Runi berhenti
sebentar di ambang pintu, menatap ketiga temannya
yang sudah berjalan duluan. Ia kemudian
membalikkan badan dan merogoh sakunya, jam
tangan Shui.

“Maaf Shui, kalau kamu nolak Zuhi waktu itu,
kamu enggak akan kaya gini,” ucapnya, “aku enggak
bisa milikin dia begitu pun kamu.” Ia kembali
memasukkan jam tangan itu. Runi menyusul teman
yang lain dan berakting seolah tidak terjadi apa-apa.

197

TOILET

Oleh: Cantika Eka N. A.

Bau tidak sedap langsung menyeruak ketika
kubuka pintu toilet umum itu. Jaring laba-
laba terlihat di pojok atas ruangan.
Keadannya yang remang-remang membuat bulu
kudukku berdiri.

“Ah, bodo amat, selak kebelet ini. Ampun,
dah,” ujarku. Mau bagaimana lagi, perutku sudah
tidak bisa diajak kerja sama. Langsung kubuka bilik
paling ujung toilet ini, mempertimbangkan kalau saja
urusanku ini akan memakan waktu yang lebih lama.

Urusanku selesai beberapa waktu setelahnya.
Namun, aku masih betah berada di dalamnya sekadar
menunggu apakah akan ada urusan susulan atau tidak.
Well, aku sedikit banyak bersyukur karena toilet ini

198

sepi, setidaknya aku tidak perlu merasa sungkan
berlama-lama dengan urusanku.

Belum lama ucap syukurku dalam hati,
terdengar pintu toilet dibuka dengan tidak sabarnya.
Orang yang baru saja datang itu sepertinya memilih
bilik di sebelahku. Atau sebaiknya aku selesaikan saja
urusan ini nanti di rumah, pikirku mempertimbangan
kehadiran orang tadi.

Setelah kutimbang-timbang, akhirnya
kuputuskan untuk mengakhiri urusanku sampai sini
saja. Mungkin lebih tepatnya akan kusambung urusan
ini nanti di rumah. Ketika aku akan beranjak dari
toilet duduk, tidak sengaja kakiku menyenggol ember
yang isinya kosong. Bunyinya mungkin tidak
seberapa, tapi menggema ke seluruh penjuru toilet.
Ah, malunya setengah mati.

Rasa maluku itu hilang sekejap terganti dengan
keterkejutan ketika kudengar orang di bilik sebelah
berteriak ketakutan. Dalam sekejap keterkejutanku
berubah menjadi rasa geli yang menggelitik. Aduh,
bagaimana sih, kenapa orang itu malah membaca doa
tidur?

“Ha-ha-ha, aduh, kamu kenapa malah baca doa
tidur, sih?” tanyaku. “Maaf, maaf, aku enggak bisa
berhenti ketawa,” aku masih tergelak. Padahal bukan
hal yang besar, tapi sesuatu yang sepele ini bisa

199

membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Kapan ya
terakhir kali aku tertawa? Kenapa aku tidak bisa
ingat?

Tidak lama, bukan jawaban yang kudapatkan
dari orang bilik sebelah melainkan jeritan. Orang itu
membanting pintu bilik sampai suaranya menggaung.
setelahnya terdengar suara gedubraakk.

“Eh, kamu jatuh?” ujarku cepat-cepat
membuka pintu bilik. Benar saja, orang itu, seorang
laki-laki, tengah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Memangnya hanya dengan terpeleset kita bisa
pingsan, ya? tanyaku di tengah kebingungan yang
melanda.

Kudekati lelaki itu dan berjongkok di
sebelahnya, “Aduh, makanya, sudah tahu toilet buat
perempuan kok masih juga masuk sini. Ckckck,”
ujarku tak habis pikir.

Sungguh malang, lelaki ini kehilangan
kesadarannya. Namun, sepertinya ini sebagai
ganjarannya karena nekat masuk ke toilet perempuan.
Huh, ada-ada saja.

Ketika aku berpikir untuk keluar dan meminta
bantuan, secara bersamaan otakku juga bertanya,
kenapa lelaki ini menjerit dan bahkan sampai
pingsan segala? Ketika itulah aku berdiri dan melihat
ke kaca toilet. Boom.

200

“Aaaaaaaaa,” jeritku. Tak lama kemudian
hanya kegelapan yang bisa kulihat. Sebelum
kegelapan melanda, aku melihat sosok menyeramkan
berambut panjang kusut dengan wajah pucat. Apakah
itu aku? Pikirku sebelum semuanya benar-benar
gelap.

Aku tersadar, disambut dengan toilet bau dan
remang-remang dan perutku yang mules tidak karuan,
“Ah, bodo amat, selak kebelet ini, ampun dah,”
ujarku.

Serasa deja vu, aku terus mengulang adegan
yang sama lagi dan lagi.

201

Tentang Penulis
Cantika Eka Nur Azizah yang biasa disapa

Cantika adalah gadis penyuka fiksi. Mulai belajar
fiksi sejak bangku SMP dan mulai serius
menekuninya di sela-sela waktu belajarnya di SMA
Negeri 3 Salatiga. Beberapa tulisannya selama ini
memang masih sebatas menjadi koleksi pribadi,
dibaca teman-temannya, dan beberapa bapak/ibu
gurunya. Saat Disdikpora Kabupaten Wonosobo
mengadakan pelatihan Menulis Cerita Mini, Gadis
kelahiran Boyolali, 23 Agustus 2005 ini merasa
senang dapat mengikutinya. Ia ingin semakin
mengasah kemampuannya dan terlecut untuk dapat
melahirkan karyanya yang lebih bermutu.

202

29 FEBRUARI

Oleh: Catur Rochman

Siang itu suasana di rumah tampak ramai sekali.
Semua anggota keluarga sibuk menyiapkan
hari spesial yang selama ini ditunggu-tunggu.
Aku mencoba melihat secarik kertas yang ada di atas
meja. Tercatat ada 50 nama yang akan hadir di hari
spesial nanti malam. Takada balon yang menghiasi
dinding. Terlihat tulisan selamat ulang tahun
terpajang dengan indah penuh warna. Lampu warna-
warni tak kalah menunjukkan pesonanya. Bunga
plastik tertata rapi di sekitar meja untuk meletakkan
kue. Yah, hari ini adalah ulang tahun nenek. Tak
heran jika semua keluarga penuh gembira
menyambutnya.

Malam begitu cepat tiba. Aku pun mulai bersiap
diri mengenakan pakaian terbaik untuk menyambut
hari spesial nenek. Tamu mulai berdatangan. Tampak

203

saudara dan tetangga dekat mulai berdatangan
membawa buah tangan yang terbungkus rapi. Semua
anggota keluarga dan tamu berkumpul melingkar di
ruang tamu yang sengaja dijadikan ruang untuk acara
spesial nenek. Terpajang meja mini kayu jati di
tengah lingakaran para tamu.

Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Nenek
keluar dari kamar ditemani ibu. Sungguh anggun
kulihat nenek malam itu. Wajah yang mulai menua
tak terlihat jelas tertutup make up. Kebaya tradisional
yang menjadi kebanggaan nenek menjadi kostum
malam spesial. Nenek terlihat 10 tahun lebih muda
dari biasanya. Dengan senyum merekah, nenek
menyapa keluarga dan tamu.

Ayah datang membawa kue ulang tahun yang
sudah disiapkan. Kue diletakkan di atas meja mini.
Nenek segera mendekat meja disertai senyum lebar
penuh bahagia. Ibu segera menyalakan lilin yang
tertancap di atas kue. Tersentak aku melihat lilin yang
terpajang. Ternyata tamu lain pun tak kalah kagetnya,
25 adalah angka yang tertancap di atas kue. Nenek
meniup dengan kencang dilanjutkan pegang KTP
untuk kipas-kipas. Dengan pelan kuambil KTP nenek
dan kulihat. 29 Februari tertulis di sana sebagai
tanggal lahir nenek.

204

Tentang Penulis
Catur Rochman lahir di

Wonosobo, Maret 1984. Aktivitas
sehari-harinya adalah guru di MI
Ma'arif Gondang Kecamatan
Watumalang Kabupaten Wonosobo.
Selain menjadi guru di sekolah formal,
ia juga aktif menjadi guru di TPQ yang ada di
kampungnya. Komunitas Guru Belajar Nusantara
(KGBN) dan Komunitas Aksara Bermakna (KAB)
menjadi tempat bernaungnya untuk menggali
kompetensi dan keterampilan menulis. Ia dapat
dijumpai di Facebook Felix Catur Rochman maupun
Instagram Catur Rochman.

 

205

TAK AKAN SAMA

Oleh: Cherend

Perlahan aku berjalan menaiki jalan setapak
yang akan membawaku menuju ke sebuah
danau dengan rintik hujan yang menemaniku.
Aku mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.
Duniaku telah pergi. Dia lebih memilih wanita lain
dibanding diriku. Aku terus menerus berpikir.
Apakah hatimu pernah menulis namaku di antara
jutaan orang yang pernah singgah di labirin hatimu?
Atau kau hanya menjadikanku sebagai rumah singgah
sementara?

Aku tahu, pada dasarnya kita memang sangat
jauh. Seperti Neptunus dengan Bumi. Semakin aku
berlari, semakin kamu seolah menolak kehadiranku.
Terkadang aku bertanya kepada diriku. Apa yang
harus kulakukan saat ini. Sekarang, aku mendapatkan
jawabannya. Mungkin yang harus kulakukan saat ini

206

adalah merelakanmu pergi. Sesuatu yang dipaksa
tidak akan berakhir indah bukan? Terima kasih atas
segala hal yang pernah kita lalui bersama. Terima
kasih atas rasa yang pernah kauberikan padaku, baik
itu palsu atau bukan. Aku harap kamu menemukan
bulan yang lebih baik dariku ya?
Tentang Penulis

Cherend Rizqita Mecca adalah
salah satu siswi SMA Negeri 1 Salatiga.
Ia lahir pada 27 Agustus 2007.

207

SEBUAH BAYANGAN

Oleh: Chinor Jodie

Gadis itu, Adriella Van de Berg, menghiasi
ruang tamuku dengan kulitnya yang putih
pucat dan dingin. Gadis yang selama ini
menemaniku di rumah dengan hanya duduk terdiam
di ruang tamu sembari membaca buku. Mencintai dan
memuja kecantikannya adalah suatu euforia bagiku.
Orang-orang menganggapku gila. Mungkin karena
mereka belum pernah merasakan yang namanya jatuh
cinta.

“Adriella, cintaku. Mari pergi keluar bersama
Kakanda,” ajakku kepada Adriella. Namun, Adriella
tak merespons. Sulit sekali untuk bertukar kata
dengannya. Bahkan, memaksa Adriella membuka
mulutnya untuk mengeluarkan suaranya yang kecil
pun teramat susah. Beribu kali kuajak dia untuk
beranjak dari kursi goyang kesayangannya itu, tetapi

208

itu sangatlah mustahil. Ia terus menerus menolak
ajakanku dengan diam bergeming.

Pada suatu malam, aku memaksa bidadari
cantikku ini untuk beranjak dari kursi goyang
menyebalkan itu dengan menarik paksa tangan
pucatnya. Tiada respons darinya. Bibirnya mengatup.
Badannya yang kurus terombang-ambing karena
kakinya yang kecil terpaksa bekerja kembali. Saat
berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba Adriella
menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Ada apa, Cintaku?” kagetku sembari
berjongkok di hadapannya. Tak ada respons darinya.
Namun, telunjuknya yang pucat menunjuk ke arah
kamar mandi di dekat ruang tamu. Bergegaslah aku
menuju kamar mandi karena mungkin Adriella
membutuhkan sesuatu di dalam sana. Kubuka pintu
perlahan dan aku mulai memasuki area kamar mandi.
Terkejutlah aku melihat tulisan “Moordenaar”
berwarna merah darah di dinding kamar mandiku.
Tiba-tiba Adriella berjalan mengesot ke arah bak
mandi yang terletak di depanku. Kususullah dia
dengan perlahan berjalan ke arah bak mandi itu.
“Ahh!” teriakku terkaget-kaget sampai badanku
terjatuh di lantai karena melihat tubuh Adriella
terbelah-belah di dalam bak mandi itu.

209

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku
kepada Adriella yang selama ini selalu menemaniku
di ruang tamu.

“Pem-bu-nuh,” ucap Adriella.
Setelah mendengar ucapan Adriella, tiba-tiba
penglihatanku menjadi gelap. Sekarang aku ingat
bahwa selama ini akulah dalang sebenarnya yang
membuat sukma Adriella bergentayangan. Selama
ini, aku baru menyadarinya jika yang menemaniku di
ruang tamu adalah bayangan Adriella. Sebelum
kematian menjemput Adriella, aku mengurung
Adriella di kamar mandi dengan menaruhnya raganya
di bak mandiku itu. Saking cantik dan indahnya raga
Adriella membuatku terpesona sampai-sampai salah
sebagian dari tubuhnya kuiris untuk kujadikan sebuah
mahakarya dengan memajangnya di meja dekat kursi
goyang yang berada di ruang tamu.
Ternyata benar jika orang-orang
menganggapku gila. Bukannya mereka belum pernah
merasakan yang namanya jatuh cinta, tetapi aku yang
terobsesi dengan Adriella.

210

Tentang Penulis
Benedictina Andhika Chinor Jodie
Soesila adalah siswa SMA Negeri 1
Salatiga. Ia lahir di Yogyakarta
pada tanggal 8 Oktober 2006. Selain
memiliki hobi menari, bernyanyi,
dan bermusik, Chinor memiliki

ketertarikan di bidang menulis.

211

RAPOR

Oleh: Chomsatun Suciana

Pagi ini suasana sekolah sangat riuh karena
sedang ada acara pembagian rapor siswa.
Orang tua siswa sudah lalu-lalang mencari
kelas anaknya, ada yang datang berdua, ada pula yang
hanya sendiri. Sedangkan anak-anak mereka sudah
menunggu kehadiran mereka dengan wajah yang
sedikit cemas, entah cemas karena nilai atau takut
orang tua mereka tidak datang. Aku yang juga
seorang wali kelas tentu kebagian peran di pagi ini.

Setelah selesai membagikan rapor di kelas, aku
kembali ke ruang guru. Masih ada dua siswa yang
rapornya belum diambil. Kulihat kedua siswa itu ada
di taman depan ruang guru, lalu kuhampiri mereka.

“Haidar, Zafran, orang tua kalian belum ada
yang datang untuk mengambil rapor, ya? Sudah
diberi surat undangan, ‘kan?”

212

“Sudah, Bu,” jawab Haidar.
“Kalau Zafran?”
“Sudah juga, Bu,” jawab Zafran.
“Lalu, kenapa sampai jam 11 orang tua kalian
belum datang?”
“Tidak tahu, Bu,” jawab Haidar sambil
menggeleng.
Belum selesai aku menanyai mereka, tampak
dari kejauhan datang laki-laki yang kutahu dia adalah
ayah Haidar.
“Maaf, Bu, saya terlambat.”
“Tidak apa-apa, Pak. Mari masuk ke ruang guru
saya ambilkan rapor Haidar.”
“Kalau bisa sekalian rapor Zafran, ya, Bu.”
“Lo, kok rapor Zafran sekalian? Bapak masih
saudaranya Zafran, ya?”
“Saya ayahnya Zafran juga, Bu, sekarang.”
Aku kaget dan penasaran mendengar jawaban
dari ayah Haidar, tapi enggan bertanya karena itu
adalah urusan pribadi mereka. Aku mencoba
profesional. Setelah mendapat rapor dariku, laki-laki
itu pergi dengan mengandeng Zafran. Haidar hanya
mengikutinya dari belakang.
Saat itulah aku merasa heran, mengapa haya
Zafran saja yang digandeng, bukankah Haidar adalah
putranya. Mengapa wajah Haidar tampak murung?

213

Sebagai wali kelas aku penasaran. Jangan-jangan ini
yang memengaruhi Haidar, membuatnya menjadi
tidak fokus saat pelajaran. Kebalikannya, Zafran yang
dulunya sering izin tidak masuk sekolah karena sakit
menjadi sangat sehat dan rajin masuk sekolah.

Aku mencoba menghilangkan pikiran buruk
tentang keluarga mereka saat kembali ke ruang guru.
Sampai di depan pintu samar-samar aku mendengar
sebuah percakapan tentang lelaki yang tega
meninggalkan anak istrinya demi seorang janda
beranak satu dengan alasan kasihan karena anak janda
itu sakit-sakitan. Ya, lelaki itu ternyata ayah Haidar.

Tentang Penulis
Chomsatun Suciana lahir di Blora, 29

September 1994. Suci menempuh pendidikan S-1
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari
Universitas Negeri Semarang sejak tahun 2012 dan
lulus pada Januari 2017. Sejak lulus kuliah hingga
sekarang Suci sapaan akrabnya masih menjadi guru
di SMP Negeri 1 Todanan di Kabupaten Blora.

214

ASA YANG HILANG

Oleh: Cicilia Sumarti

“Maafkan aku,” bisiknya. Aku tak
paham mengapa dia hampir selalu
meminta maaf padaku. Wajahnya
sendu dan menyiratkan penyesalan yang amat dalam.
Aku hanya tersenyum karena menurutku takada yang
perlu kumaafkan. Aku sangat memahami. Mungkin
dia kelelahan yang amat sangat sehingga akhir-akhir
ini dia tak mampu memenuhi kebutuhan batinku
dengan maksimal. Namun, aku tak
mempermasalahkan.

Sebenarnya sebagai seorang istri, aku sudah
berupaya memaksimalkan hubunganku dengan Mas
Bagas. Semua kenangan manisku bersama Mas Iwan
sudah kukubur dalam-dalam agar tidak menjadi
penghalang cintaku pada Mas Bagas yang memang
harus aku bangun. Namun, Mas Bagas masih saja

215

cemburu pada masa laluku meskipun aku sudah
berulang kali meyakinkannya.

“Dik, kamu masih cinta sama mantanmu?”
Kalimat itu selalu saja diulang-ulang Mas
Bagas padaku. Dan aku juga tak bisa memahami
mengapa Mas Bagas selalu mengulang-ulang
melakukan itu.
Perkawinan yang baru seumur jagung
merupakan masa adaptasi yang cukup berat bagiku.
Selain karena hidup bersama dengan orang yang baru
kukenal, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga
sekaligus perempuan karier menjadi problem yang
harus kuhadapi sendiri. Belum lagi menghadapi sikap
cemburu suami.
Sebelum menikah dengan Mas Bagas, memang
aku sudah punya kekasih hati. Dan aku juga tahu, Mas
Bagas pun dalam keadaan yang sama. Tapi entahlah,
mengapa Mas Bagas masih belum percaya bahwa aku
sudah mengubur kenangan masa laluku. Hal itu bisa
saja menjadi penyebab Mas Bagas tidak bisa
maksimal dalam menunaikan kewajibannya memberi
nafkah batinku. Cemburu dan selalu cemburu pada
masa laluku. Akan tetapi, aku berusaha untuk sabar
menghadapinya karena aku memang beriktikad baik
menjalani pernikahanku dengan Mas Bagas agar

216

dapat terbangun keluarga yang sakinah mawadah
warohmah.

Seperti biasa, setelah bangun pagi aku
menyiapkan sarapan dan bekal yang akan kami bawa
ke kantor. Aku belajar menjadi istri yang baik dan
melayani segala kebutuhan suami semaksimal
mungkin. Walaupun pernikahan kami karena
dijodohkan, kami berusaha terus belajar untuk saling
memahami dan menyatukan hati. Kami tidak ingin
melukai hati orang tua yang menyiapkan jodoh
terbaik untuk kami. Meski kami harus mengubur
cinta kami dengan kekasih hati kami masing-masing.

Hari berganti hari, dinamika hidup sebagai
pengantin baru mulai menjadi rutinitas kami. Aku
yang terbiasa mandiri tak terlalu berharap dilayani
suami meskipun Mas Bagas sesekali menawarkan
mau mengantar dan menjemputku. Seperti hari ini,
aku pun pulang sendiri dari kantorku yang memakan
waktu 30 menit untuk sampai di rumah. Setelah
mandi sore, aku membuka pesan WhatsApp dari Mas
Bagas. Dia memberi tahu akan pulang malam karena
harus menyelesaikan tugas kantor. Aku pun
mengiyakan dan tak banyak tanya karena setiap akhir
bulan semua karyawan memang harus membuat
laporan bulanan. Dan entah dorongan darimana,
tetiba aku ingin sekali membeli ayam bakar dekat

217

kantor Mas Bagas sekalian mampir ke kantornya agar
bisa makan malam bersama. Namun, aku hanya
mampu bertanya-tanya dalam hati ketika satpam
kantor mengatakan Mas Bagas orang disiplin.
Pekerjaannya selalu tepat waktu sehingga hampir tak
pernah ikut lembur. Seketika aku teringat akan
kalimat pertanyaan Mas Bagas yang selalu diulang-
ulangnya.

“Dik, kamu masih cinta sama mantanmu?”
Pertanyaan satpam kantor Mas Bagas tak lagi
kudengar. Angin senja telah menutup pendengaranku
dan menerbangkan semua asaku.

Basecamp, 25-09-2022

218

BUKAN YANG PERTAMA

Oleh: Cicilia Sumarti

Mendapat tugas ke luar kota bukan sesuatu
yang asing bagiku. Namun, kulihat raut
sendu ketika aku menyampaikan padanya.
“Kapan?” tanya Mas Bram.
“Mulai besok Senin sampai Rabu,” jawabku
enteng.

Percakapan singkat sore itu dengan Mas Bram
terasa sangat dalam di hatiku. Aku merasakan getaran
cinta yang sangat kuat dari bahasa tubuhnya. Mas
Bram seakan tak rela aku tugas ke luar kota, padahal
tugas ke luar kota sering juga terjadi padanya.

Malam harinya aku mulai menyiapkan pakaian
yang akan aku bawa. Beliau sesekali menyebutkan
barang yang harus kubawa meski hanya lewat video
call.

219

“Hati-hati di sana. Jaga kesehatan dan jangan
lupa ada yang menunggumu di rumah.”
Kusunggingkan senyumku pada Mas Bram. Ada rasa
bangga mendapat perhatian yang begitu tulus darinya.
Dan aku makin tak meragukan cinta dan kasih sayang
Mas Bram padaku.

Meski berjauhan, perhatian Mas Bram tetap
kurasakan. Menyapa di pagi hari, selalu
dilakukannya. Dan bagiku benar-benar vitamin
penyemangat hidup. Aku benar-benar dibuatnya jatuh
cinta padanya. Dan ketika Mas Bram mengatakan
akan berusaha menjemputku, hatiku berbunga-bunga.
Dan berharap banyak hal itu akan terjadi. Terbayang
perjalanan pulangku akan mesra. Rasa rindu selama
tiga hari tak bertemu merupakan alasan kami
menikmati kemesraan kami nantinya.

Masih hangat dalam ingatanku ketika pertama
kali Mas Bram mengajakku jalan bersama. Tanpa
mawar, tanpa sepotong cokelat, tapi sekuntum
senyum penuh makna menghias bibir yang bersih tak
tersentuh kepulan asap rokok yang meracuni langit.
Senja kala itu menjadi saksi, jauh di dalam lubuk hati
menyembul sebuah rasa yang samar namun penuh
makna di antara kami berdua.

Dan sejak saat itu, kami semakin intens
berkomunikasi melalui gawai. Sapaan demi sapaan

220

dilakukannya setiap hari. Perasaan jatuh cinta pun
mulai menghiasi kami dari hari ke hari. Tanpa terasa
akhirnya tahun demi tahun pun berlalu tanpa terasa.
Cinta kami berdua seolah tak terpisahkan lagi meski
perjalanan cinta yang penuh onak dan duri.
Terkadang timbul tenggelam bagai perahu di tengah
samudra.

Ah, Mas Bram. Mengapa hadirmu di senja
hari? batinku sering bertanya demikian.

Tepuk gembira para peserta diklat
menghentikan lamunanku. Para peserta
membubarkan diri untuk keluar ruangan. Beberapa
rombongan terlihat berfoto bersama sebelum
meninggalkan ruang. Sementara yang lain terlihat
mengantre menyelesaikan administrasi, aku pun
termasuk di dalamnya.

Setelah semua selesai, aku dan Bu Ratna teman
sekamarku kembali ke kamar untuk mengambil
semua barang bawaan kami masing-masing. Dan
segera kubuka pesan WhatsApp dari Mas Bram.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat
diraih. Aku hanya mampu berserah pada pemilik
takdir ketika Mas Bram berkirim kabar bahwa dia
harus ke luar kota mengantar Mbak Lusi istri
pertamanya yang akan menengok temannya yang
sakit.

221

Aku melunglai. Senja dengan ronanya
menghilang dalam pelukan. Rebah. Teduh. Penuh
hikmat menyimpan segala asa. Aku hanya mampu
termangu ketika langit seolah diam seribu bahasa
menemaniku menyimpan luka. Aku makin terpuruk
dalam lembah pengharapan yang tak berujung. Meski
geliat asa menyembul di reruntuhan puing, aku
terdiam menanti malam yang menggelinjang
sendirian. Aku tersadar bahwa aku memang bukan
yang pertama.

Basecamp, 17-10-2022

222

KETIKA MELATI TAK LAGI
MEWANGI

Oleh: Cicilia Sumarti

Dentang jam dinding di ruang tengah
menggema. Merusak hening yang sedari
tadi tercipta. Kuhela napasku dalam-dalam.
Lelah makin memaku tubuhku yang merenta. Renta?
Senyum kulepas mengulang kata renta yang terasa
memukul batin. Ya, karena renta jua ayah gadisku
berpulang meninggalkan aku dan keempat anaknya.
Siap tidak siap aku harus merelakannya. Aku
bersyukur ketiga anak laki-laki dari istri pertama
suamiku sudah hidup mandiri. Ketiganya sudah
berkeluarga dan memberi cucu yang manis-manis
pada kami. Meski aku bukan ibu kandungnya, ketiga
anak bawaan suamiku sangat dekat denganku.
Bahkan, orang lain tak akan menduga bahwa mereka
bukan anak-anak kandungku.

223

“Mom, keluar dulu,” pamit gadisku.
“Mau ke mana?”
Gadisku hanya memberi kode bahwa dia cuma
mau ke warung depan rumah.
Kutatap punggung gadisku yang makin
menjauh dari pandangan mata. Gadisku yang semakin
tumbuh dewasa walaupun sesekali masih saja
menunjukkan sikap manjanya. Mungkin begitu naluri
anak bontot. Manja dan kadang mau menang sendiri.
Namun, aku tak mau memperlakukan dia secara
istimewa. Bagiku semua anak punya hak dan
kewajiban yang sama meskipun dengan cara dan
porsi yang berbeda.
Berkisah tentang gadisku, tak mungkin aku
lupakan kisah kehadirannya di keluargaku 18 tahun
yang lalu. Kehadiran seorang bayi perempuan satu-
satunya di rumah tanggaku. Kehadiran seorang bayi
yang terlalu cepat hadir dalam pernikahanku yang
baru seumur jagung. Namun, Pak Broto, suamiku,
sangat luar biasa dalam memperlakukan dan
menghadapiku, seorang perempuan muda yang patah
hati ditinggalkan kekasihnya. Pak Broto benar-benar
malaikat penyelamat nama baik keluargaku.
“Paket!”
Seorang pemuda pengantar paket
membuyarkan lamunanku. Aku bergegas menerima

224

bungkusan paket yang tak terlalu besar setelah
kuucapkan terima kasih. Kubaca alamat yang dituju
dan pengirimnya. Tampak dengan jelas namaku
tertulis di situ. Kucari nama pengirimnya. Jantungku
berdegup kencang. Mataku mengeja sebuah nama
yang tak asing di otakku. Sebuah nama yang
merampas kemerdekaanku untuk berdiri tegak
sebagai seorang gadis. Sebuah nama yang berlalu dan
menggoreskan luka yang teramat dalam di batinku.
Dan sebuah nama yang memaksa aku menikah
dengan seorang duda beranak tiga.

Kembali kubaca nama pengirim paket. Aku tak
tahu apa maksudnya dia mengirim paket itu untukku.
Antara ragu dan penasaran perlahan kubuka isinya.
Mukena putih bergambar bunga-bunga warna merah
muda yang sangat kusuka. Dia masih mengingat
warna kesukaanku. Dan dia pun masih mengingat
permintaanku sebelum dia menghilang. Namun,
mengapa di usia renta dia menampakkan batang
hidungnya dan kembali mengetuk-ngetuk pintu
hatiku?

Dik, bulan cantik banget malam ini, tulisnya di
WhatsApp suatu malam. Aku pun bergegas keluar
rumah untuk membuktikan. Benar kiranya apa yang
dia tulis. Malam itu kulihat bulan bulat utuh.
Warnanya perak berkilau purnama penuh. Langit

225

terlihat terang benderang. Ada beberapa awan tipis
laksana kapas menggantung dan terlihat pelan
merangkak menambah indahnya panorama malam.
Sejenak kunikmati pemandangan itu. Perlahan rasa
rindu menyusup ke dadaku. Rindu pada tatap mata
yang teduh. Rindu pada tutur kata yang lembut.
Seribu rindu akan binar cinta yang selalu terpancar
dari wajahnya. Namun, lidahku kelu membisu seiring
bulan yang lelap dalam pelukan malam.

Haruskah kuterima kembali cintanya yang 18
tahun lalu meninggalkan aku dan calon buah hatinya?

Basecamp, 27-09-2022

Tentang Penulis
Cicilia Sumarti lahir dan besar di Wonosobo.

Guru merupakan profesi yang digelutinya hingga
kini. SD Negeri Sariyoso Kecamatan Wonosobo
menjadi tempat awal mengabdi sebagai kepala
sekolah. Sejak 27 Agustus 2021 dimutasi di SDN 8
Wonosobo hingga kini.

Dunia tulis-menulis mulai aktif diikuti sejak
artikel pertamanya tahun 2018 terbit dan disusul
kemudian artikel-artikel berikutnya dimuat di salah
satu media cetak Jateng. Selain itu, dengan bergabung

226

di Media Guru Indonesia menjadi awal lahirnya

buku-buku antologi.

Untuk memperluas ilmu dan mengasah

kemampuan, berbagai komunitas penulis diikutinya.

Grup penulis melalui WhatsApp dan Facebook

semakin menambah semangatnya untuk terus

berkarya. Beberapa penghargaan kepenulisan telah

didapat. Salah satunya menjadi 15 besar penulis

cerpen terbaik yang diadakan oleh Penerbit SIPP.

Sebanyak 20 buku antologi berbagai genre

tulisan telah dicetak sebagai karya bersama teman

yang sangat disyukurinya. Karya-karya berikut

sangat dirindukan untuk segera terbit pula. Penulis

dapat dihubungi melalui surel

[email protected] atau WA

082242259058.

227

KAMAR NOMOR 99

Oleh: Cinta Bella Yuliana

Malam itu terasa sangat dingin. Aku
terbangun dengan peluh yang membasahi
sekujur tubuhku. Aku mengedarkan
pandangan ke seluruh arah. Di mana aku? batinku.

Aku pun bangkit dari tempat tidur yang asing
bagiku sambil berpikir, apakah aku sedang
bermimpi? Tidak. Aku tidak sedang bermimpi.
Semua ini nyata dengan langkah gontai dan waswas
kucoba membuka pintu kamar ini dan kulihat pintu
kamar ini bertuliskan kamar nomor 99.

“Apa ini? Kamar nomor 99? Sebenarnya aku ini
di mana? Bukanya tadi aku sedang tidur di kamarku,
lalu mengapa aku bisa di sini?’’ tanyaku heran sambil
memandangi lorong yang panjang itu.

Aku harus mencari seseorang untuk bertanya
tempat apa ini. Aku pun langsung berjalan menyusuri

228

lorong itu.Tetapi tidak ada satu orang pun di sana.
Aku pun memutuskan kembali ke kamar itu. Betapa
terkejutnya aku saat membuka pintu kamar.

“Oh, ya ampun! Siapa kamu?” tanyaku terkejut
melihat seorang anak perempuan dengan boneka
duduk dengan manis di tepi ranjang.

“Abel,” kata anak perempuan itu dengan muka
datar yang menyeramkan.

“Hei, aku mau bertanya di manakah aku ini?”
tanyaku dengan takut-takut.

“Kamar nomor 99,” kata Abel sambil
memainkan rambut bonekanya.

“Aku tahu. Maksudku tempat apa ini?” kataku
“Tempat di mana sekarang kamu berada,” kata
Abel sambil melirik ke arahku.
Aku pun menunduk dengan kebingungan dan
merasa janggal dengan semua ini. Aku berpikir aneh,
mengapa anak yang bernama Abel itu aneh sekali.
Tiba-tiba suara Abel mengejutkanku.
“Kau akan mati,” kata si Abel.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Aku pun mulai melihatnya. Betapa terkejutnya
aku saat melihat mukanya penuh dengan belatung dan
darahnya sampai menetes ke lantai. Ia melihatku
dengan tajam. Aku pun berteriak.
“Aaahhh!”

229

Setelah berteriak aku, berbalik dan berlari
membuka pintu. Alangkah terkejutnya aku karena
aku sudah berada di kamarku sendiri dan aku keluar
dari pintu kamar mandi. Aku pun mengecek kamar
mandi dan itu kamar mandiku dan bukan kamar
nomor 99. Ini sangat mengerikan, kataku dalam hati.

Tentang Penulis
Cinta Bella Yuliana kerap

dipanggil Bella atau Cinta merupakan
seorang siswi di SMAN 1 Salatiga. Ia
lahir di Salatiga pada 22 Juni 2006.
Cinta memiliki hobi membaca novel,
menonton film, dan mendengarkan
musik. Selain itu, dia juga penyuka cokelat.

230

CINTA TERTUNDA

Oleh: Citra Indriyati

“Rara ….”
“Apaan, sih, berisik banget.”
“Lebay deh, Ra, yang lain kagak ada yang
terganggu.”
“By the way, gimana perkembangan tentang
kamu dan Bagas?”
“Aku lagi malas bicara tentang dia.”
“Tita, kamu tahu ‘kan kalau aku sudah berusaha
untuk memberikan perhatian ke Bagas. Maksudnya
dia paham bahwa aku memiliki perasaan ke dia. Coba
deh diingat waktu aku kasih cokelat ke dia. Coklat
tersebut diberikannya ke teman-temannya. Terus
waktu, aku berikan t-shirt kesukaannya. Dia bilang
kalau aku salah alamat. Terus, waktu dia tanding
basket, aku nawarin minum. Dia bilang, kagak

231

penting. Sumpah deh, sikapnya benar-benar
nyebelin.”

“Maaf nih, Ra. Ngapain kamu suka cowok
seperti dia yang nyebelin. Padahal, ‘kan banyak lo
cowok yang kagak nyebelin di sekolah kita terutama
di kelas kita. Sayangnya, kamu tidak pernah
menyadari kehadirannya karena kamu terlalu sibuk
dengan makhluk Bagas. Saran gue sih mendingan
move on dan mulai perhatikan yang lainnya.”

“Ngapain lo datang ke sini, ganggu ketenangan
dunia.”

“Tita, aku mau bicara dengan Rara.”
“Gue kasih waktunya, tapi jangan pernah
membuat sohib gue sedih!”
“Ra, maaf ya atas sikapku selama ini ke kamu.”
“Kamu tuh terlalu baik buat aku. Makanya, aku
bersikap seperti itu. Aku tahu banget kalau kamu
punya rasa ke aku. Aku belum bisa balas rasa yang
kamu berikan ke aku. Berikan aku waktu untuk
memantaskan diriku. Jika waktunya telah tiba, aku
yang akan menghampirimu. Jika di saat itu kamu
masih punya rasa yang sama, please, terima aku.
Besok aku tidak lagi ke sekolah karena papa pindah
tugas.”
Setelah Bagas meninggalkan kelas, Rara diam
membisu sambil memahami kata-kata Bagas.

232

Tentang Penulis
Citra Indriyati atau lebih sering disapa Citra

merupakan seorang penulis kelahiran Kota
Palembang. Menulis merupakan bagian hidupnya
walaupun hanya dituliskan dalam sebuah diari.
Menulis cerita mini merupakan salah satu
tantangannya, biasanya Citra menulis tulisan ilmiah.
Ini merupakan cerita mini perdananya. Citra lebih
menyukai tema-tema yang romantis. Saat ini, Citra
merupakan dosen Teknik di Universitas Sriwijaya.
Untuk berkomunikasi lebih lanjut, dapat
menghubungi [email protected].

233

KETELADANAN

Oleh: Dahlia Khair

Menjadi seorang guru tentunya harus
menjadi teladan bagi murid-muridnya.
Hari ini partner mengajar saya terlambat.
Beliau merasa sangat malu pada saya dan juga anak-
anak di kelas. Hingga akhirnya ia meminta maaf saat
kami sedang membuat halakah (lingkaran), bahkan
sampai menangis. Saya dan murid-murid
mendengarkan dengan seksama ucapan-ucapan
Ustazah Yeni. Kami pun dapat merasakan bagaimana
penyesalan seorang guru jika datang terlambat.

Setelah permintaan maaf itu terjadi, saya
meminta satu anak untuk menjadi pemimpin kelas
hari ini karena pelajaran akan dimulai.

“Firoz, ayo jadi pemimpin. Siapkan. Kita mau
mulai belajarnya,” ujar saya.

“Maaf, Ustazah, yang lain aja.”

234

“Kenapa, Nak?”
“Soalnya saya terlambat salat Subuh.”
Dalam hati, saya langsung tersentak.
Masyaallah, anak usia tujuh tahun berkata demikian.
Ia merasa bahwa seorang pemimpin adalah teladan.
Firoz merasa bukan menjadi teladan dan tidak pantas
karena salatnya terlambat.

235

Tentang Penulis
Dahlia Khair adalah seorang pengajar
di salah satu sekolah informal di
Balikpapan. Sejak SMP, ia sudah
menyukai dunia literasi, hanya saja
sempat vakum bertahun-tahun. Hingga
akhirnya, ia kembali ke dunia literasi

dan menghasilkan karya antologi bersama penulis
lain. Dahlia Khair pernah memenagkan juara dua
lomba menulis cerpen bertema Abu-Abu, dan
antologi yang pernah ia tulis “Ta’aruf” dalam buku
The Story of Song, “Salam Rindu Untuknya” dalam
buku Ruang Rindu, “Jasmin’ dalam buku Jasmin,
“Dia Memilih Bersama Al-Qur’an” dalam buku
Memperjuangkan Kamu, dan beberapa puisi dalam
buku Merengkuh Cahaya. Manusia itu tidak abadi,
tetapi tulisanmu tidak akan pernah mati. Ia bisa
dihubungi melalui @dahliakhair_ @windakhair22.

236

KEJUTAN ULANG TAHUN AKU

Oleh: Damri Hasibuan

Aku tidak sabar menunggu kejutan yang akan
diberikan mama padaku. Memoriku terus
membayangkan aksesori apa yang akan
kuterima nanti.

Pulang dari sekolah, ternyata mama takada di
rumah. Seperti biasanya, ayah pasti dinas. Sementara
mama, setiap kali aku pulang dari sekolah pasti
menyambut kedatanganku dengan gembira.

Aku duduk termenung di depan pintu.
Menunggu kedatangan mama. Tapi, belum juga ada
tanda-tanda datang. Tidak berapa lama, perut pun
sudah mulai lapar karena belum makan siang. Tapi,
aku mau makan apa? Soalnya, aku tadi sempat ke
dapur untuk melihat sesuatu yang bisa dimakan,
tetapi tidak ada yang siap kusantap.

237

Hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ada
sirene ambulans berbunyi. Langkahku terhenti,
pandanganku menoleh ke mobil putih itu. Eh,
ternyata mobilnya berhenti persis di depan rumahku.

Deg. Hatiku nyaris copot. Air mataku
berjatuhan. Aku hampir pingsan tatkala melihat
ternyata yang dibawa oleh ambulans itu adalah
jenazah mamaku. Alangkah malangnya nasibku.
Dikira mama akan memberikan kejutan yang
membahagiakan diriku, ternyata jauh arang dari api.
Di hari ulang tahunku yang kedelapan ini, aku malah
dikejutkan dengan meninggalnya mama.

238

MAHDI DAN SEORANG TAMU

Oleh: Damri Hasibuan

Mahdi sedang asyik menyantap makanan
seorang diri. Menu makanan sudah
terhidang di atas meja begitu banyak. Dari
gelagatnya, dia kelihatan sangat kelaparan seolah-
olah sudah seminggu tidak makan. Makannya, juga
sangat rakus bak seekor serigala yang menerkam
mangsa.

Hendak menyuapkan makanan ke mulut, tiba-
tiba ada orang yang mengetuk pintu lumayan keras.
Awalnya, dia abaikan dengan anggapan salah dengar
atau barangkali ada orang yang melemparkan batu
mengenai pintu. Dia tidak hiraukan. Langkahnya
tidak tergerak untuk sekadar melihat siapa atau apa di
balik pintu karena citra rasa makanan yang dia santap
sangat lezat.

239


Click to View FlipBook Version