The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Puji Narimawati, 2022-11-23 16:50:21

PERTEMUAN PERTAMA PDF

PERTEMUAN PERTAMA PDF

Ternyata ketukan itu tidak hanya sekali dua kali
saja. Terus ketukan pintu itu berbunyi. Siapa
gerangan? Dia menduga pasti orang, bukan yang lain.
Ternyata benar, di balik pintu ada orang. Tapi, Mahdi
belum tahu entah siapa. Suara itu berucap agar pintu
dibuka untuknya.

Mahdi takut kalau hidangan yang belum sempat
habis bakal ikut dinikmati oleh pria yang akan masuk
itu. Dia tak mau. Takut rasa laparnya belum
terpuaskan. Tangannya pun langsung bergerak
dengan cekatan memasukkan semua makanan itu ke
dalam lemari yang ada di depannya.

Setelah rapi dan tidak ada jejak bahwa dirinya
sedang makan, dia pun membuka pintu. Eh, ternyata
pria itu adalah Darel, teman dekatnya yang sudah
lama tak bertemu. Dulu, ia dikenal nakal oleh teman-
temannya, tapi di samping itu ia juga sebagai jawara
kelas.

Dia persilakan masuk. Plastik hitam yang ada di
tangan Darel, ia berikan sama Mahdi. Lalu, Mahdi
menerimanya dengan senang hati. Dia menganggap
itu sebagai hadiah karena sudah lama sekali mereka
tidak bertemu.

Obrolan pun mengalir. Mahdi merasa tidak
enak tak mengeluarkan apa-apa. Apalagi, karena
pengaruh hadiah dari Darel itu. Dia ingin langsung

240

membalasnya. Akhirnya, dengan sedikit terpaksa
makanan lezat tadi dia keluarkan lagi dari dalam
lemari. Lalu mereka santap sambil mengingat-ingat
masa lalu. Semuanya habis tidak ada yang tersisa,
kecuali kue bolu.

Mahdi senang tatkala melihat Darel dapat
menikmati makanannya. Dia rela tidak memuaskan
perutnya sepuas-puasnya asalkan temannya kenyang.
Dengan makanan yang disantap, Mahdi merasa lega
karena sudah membayar oleh-oleh yang dibawa
Darel. Meskipun sebenarnya Mahdi belum tahu apa
isinya.

Ketika pria itu hendak pulang, kue bolu yang
tersisa dalam piring, Mahdi masukkan semuanya ke
dalam plastik untuk dibawakan Darel. Dia tak lupa
berpesan agar sering datang ke rumahnya.

Darel pun sudah pergi. Hatinya tak sabar
membuka plastik yang dia terima dari Darel tadi.
Dag-dig-dug. Mahdi berharap agar isinya barang
antik. Plastiknya sangat bagus. Bismillah, waduh!
Ternyata isinya hanya bongkahan batu. Akhirnya dia
pun merasa kesal dan tertawa sendiri karena sudah
dikerjai Darrel.

241

PAK HARTO DAN BOCAH KREATIF

Oleh: Damri Hasibuan

Pagi ini pandangan Pak Harto terganggu
melihat botol air mineral kosong yang ada di
teras rumah. Dibiarkan di atas meja tamu.
Sejak tadi, ia mengharapkan Bu Marni untuk
membuangnya. Tapi, istrinya itu masih ada saja
kesibukan lain yang harus dia selesaikan. Ia juga takut
diomelin kalau memerintah Bu Marni untuk
membuang sampah tersebut.

Demi menghindari omelan, Pak Harto
mengambil kedua botol itu. Kemudian ia buang ke
tong sampah yang ada di pojok kiri rumah.

Tidak pakai lama tiba-tiba, botol plastik itu
langsung dipungut oleh seorang bocah yang bernama
Fakhri. Dia dikenal anak yang gokil dan kreatif di
kampungnya.

242

Pak Harto mengintip perlahan dari celah pagar
rumahnya. Hendak melihat botol itu mau diapain oleh
Fakhri.

What! Ternyata kedua botol itu dia sulap
menjadi sandal jepit yang lucu. Ia menganggapnya
demikian, bisa jadi tidak bagi si bocah.

Beberapa saat kemudian, Pak Harto
menyodorkan sebuah kotak sandal baru ke Fakhri,
lalu ia lekas pergi tanpa berucap sepatah kata.

Alangkah senangnya hati Fakhri. Sebelum dia
buka kotak itu, sandal hasil kreativitasnya tadi, dia
buang kembali ke tong sampah. Pasti dong dia sangat
penasaran dengan isi kotak. Tapi, setelah dia buka,
isinya hanyalah kresek putih doang. Bukan sandal
beneran.

243

Tentang Penulis
Dia adalah Damri Hasibuan. Anak
ke-4 dari 6 bersaudara. Saat ini, dia
sudah berkeluarga dan mempunyai
dua anak yang masih lugu-lugu. Pria
usia 32 tahun tersebut, menerbitkan
karya adalah impiannya sejak dia

kuliah di Mesir. Hanya saja, sejak kuliah, lingkungan
yang kurang mendukung buat menulis. Hal itu
membuat dirinya belum berhasil mencapai
impiannya. Saat ini, selain menjadi guru di salah satu
sekolah favorit swasta di Tangerang Selatan. Dia aktif
mengikuti kepenulisan dan perlahan apa yang
didambakannya bisa dia raih. Dia juga berharap agar
impiannya itu bisa benar-benar nyata. Dia bisa
dihubungi melalui nomor 082180659450.

244

GADIS DI POJOK KAFE

Oleh: Danang Dwi N.H.

Di suatu sore aku sedang berada di kafe
tempat nongkrong yang biasanya aku
berkumpul bersama teman-temanku.
Terlihat sangat ramai muda-mudi sedang
menghabiskan waktu di malam minggu. Saat itu aku
sedang pada fase jonis atau jomblo kronis sebutan
untuk seseorang yang sudah terlalu lama menyendiri.

Sore itu aku bersama satu teman cowok yang
sama-sama seorang jonis berikrar untuk bisa
mendapatkan seorang cewek pada malam itu. Melihat
seorang cewek yang sedang duduk sendiri di sudut
ruangan yang terlihat sibuk mengoperasikan laptop
yang ada didepanya. Sepuluh jemarinya yang lentik
nan indah terlihat sangat cepat menekan tombol
keyboard berupa huruf dan angka yang ada di laptop.

245

Pasti dia seorang penulis/ penerjemah film, pikirku
dalam hati.

Wajahnya yang memakai kacamata dengan
frame yang transparan menambah kagumku padanya.
Gadis tersebut terlihat cantik dan pintar, bisik hatiku.
Tanpa disadari kekagumanku padanya membuatku
memberanikan diri untuk berjalan ke arahnya.

“Permisi, Mbak,” ucapku agak gugup.
“Iya, gimana, Mas?” jawab gadis itu.
“Eee … bolehkah aku duduk di sini? Mbaknya
sedang sendiri, ‘kan?” Usahaku untuk bisa duduk
menemani gadis tersebut sambil deg-degan.
“Silakan saja, Mas. Kebetulan saya juga lagi
sendiri,” jawabnya dengan ramah. Dengan sangat
senang saya pun duduk di depannya.
Singkat cerita aku dan gadis itu yang bernama
Vivi, seorang penulis novel, berkenalan dan saling
bertukar informasi. Setelah ngobrol banyak di antara
kami banyak sekali kecocokan mulai hobi, film,
makanan kesukaan, dan warna favorit juga sama.
Seketika itu pun aku langsung jatuh cinta padanya.
Aku pun terus terang kepadanya tentang perasaan
yang kurasakan.
“Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi
temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta denganmu
benar-benar di luar dayaku,” ucapku.

246

“Meski kita baru bertemu sekali, aku tidak bisa
mengeluarkanmu dari pikiranku. Aku pikir ini
mungkin yang dicari oleh hatiku yang kesepian,”
jawaban Vivi yang sangat mengejutkan.

Kita pun akhirnya jadian dan percaya pada cinta
pada pandangan yang pertama dan mereka berdua
akhirnya menikah dan hidup bahagia untuk selama-
lamanya.

Itulah cerita yang ditulis oleh seorang gadis
penulis cerpen yang duduk di pojok kafe.

247

Tentang Penulis
Danang Dwi Nugroho Hadi lahir di Wonosobo,

25 Januari 1989 Ia sekarang menetap di Wonosobo.
Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN
Kalikuning tahun 2001 dan melanjutkan pendidikan
di SMP N 1 Kalikajar pada tahun 2004. Kemudian ia
melanjutkan pendidikan menengah di SMAN 2
Wonosobo tahun 2007. Tahun 2012 telah lulus
menyelesaikan strata 1 perguruan tinggi negeri di
Universitas Negeri Yogyakarta dan dilanjutkan
Universitas Terbuka pada tahun 2016. Terakhir
menempuh pendidikan profesi guru di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta pada Tahun 2021.
Untuk saat ini bekerja sebagai guru di salah satu
sekolah negeri, yaitu di SDN Wringinanom.

248

KEHILANGAN SEORANG
SAHABAT

Oleh: Darsiti

Nova, Rafid, Tio, dan Ali bersahabat. Rumah
mereka berdekatan. Mereka selalu bermain
bersama-sama. Hari Minggu mereka
bermain ke sungai.

“Hari panas begini pasti segar kita mandi di
sungai,” kata Rafid.

“Ya, betul,” Tio menyahut.
Mereka tampak sangat bersemangat berjalan
menuju ke sungai.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB.
Matahari masih terasa panas. Mereka berjalan ke arah
timur. Tujuan mereka bermain ke Sungai Tajum tepat
di dekat jembatan. Tio mengajak teman-temannya
mandi. Air sungai yang sangat jernih sehingga

249

tampak ikan-ikan kecil berenang ke sana kemari
dengan lincah.

“Ayo, teman-teman kita turun,” ajak Ali penuh
semangat. Mereka bertiga menjawab hampir
bersamaan.

“Ayo, siapa takut!”
Tak lama kemudian Nova, Rafid, dan Tio
membuka baju menyusul Ali yang sudah turun
terlebih dahulu ke sungai. Tempat itu memang
dangkal. Selain itu, sering anak-anak bermain mandi
di sungai juga sering dijadikan orang-orang yang
hendak memancing ikan. Sambil bermain ciprat-
cipratan air, mereka sangat bergembira. Saking
senangnya mereka tak terasa melaju ke tengah sungai.
Tiba-tiba Rafid sudah berada di tengah sungai
terpisah dengan teman-temannya. Rafid meminta
tolong dan melambai-lambaikan tangannya.
“Tolong aku! Tolong, tolong!” teriak Rafid.
Mendengar teriakan temannya, Ali, Tio, Nova
panik dan berusaha menolong Rafid. Ali bergegas
naik ke atas daratan meminta pertolongan. Namun,
tidak ada orang yang lewat atau datang di sungai,
padahal biasanya ada satu dua orang yang mancing
ikan atau sekadar lewat.

250

Selang beberapa menit ada tiga orang warga
yang mendengar teriakan Ali. Seorang lelaki
menghampiri Ali.

“Tolong, Pak, teman saya … teman saya
tenggelam,” Ali sambil menangis. Bergegas tiga
orang lelaki bertubuh kekar langsung turun ke sungai.
Dengan sigap berenang dan memegang tangan Tio
dan bergantian membawa Nova ke tepian sungai.

“Mana Rafid, Pak?” tanya Ali tak sabar.
Satu orang belum ketemu. Mereka memberikan
pertolongan dengan menekan dada Tio dan Nova
untuk mengeluarkan air yang tak sengaja tertelan saat
berada di sungai. Perlahan Nova dan Tio membuka
matanya. Mereka berdua selamat.
Kemudian berdatangan warga di sekitar sungai
mendengar berita anak tenggelam. Seorang
melaporkan kejadian ke kepala desa kemudian
laporan juga ke kepolisan sektor lewat HP. Orang tua
mereka panik mendengar kabar anak-anaknya mereka
tenggelam. Ibu Rafid menanggis sejadi-jadinya.
“Kamu di mana, Nak?” isak ibu Rafid.
Beberapa orang menenangkan ibu Rafid.
“Sabar, Bu, kita doakan yang terbaik semoga
Rafid selamat.”
Tiba-tiba ibu Rafid pingsan.

251

Hari semakin malam. Pencarian terus
dilakukan, tapi Rafid belum berhasil ditemukan. Tim
SAR, rombongan dari Polsek, Koramil berdatangan.
Tim SAR langsung diterjunkan ke lokasi.

“Kita hentikan dulu pencariannya, besok kita
lanjut kan lagi,” perintah komando Tim SAR.

Keesokan harinya, mulai pukul 06.00 WIB
mulai pencarian di lokasi kejadian. Warga
berdatangan memadati sekitar sungai. Mereka
menunggu dengan gelisah. Mereka sangat menyesal
dengan kejadian ini. Ali, Tio, dan Nova tak berhenti
berdoa . Tepat pukul 08.15 WIB Rafid ditemukan
sudah meninggal dunia. Mereka sangat terpukul
dengan kepergian seorang sahabat yang baik.

252

Tentang Penulis
Darsiti, S.Pd.SD adalah Kepala SDN 2
Karanganyar, Korwilcam Dindik
Jatilawang, Kab. Banyumas. Ia
beralamat di Adisara, RT 03 RW 01
Jatilawang, Banyumas KP 53174. Karya
yang telah diterbitkan, antologi puisi

Setetes Embun, 2020 (Satria Publisher), antologi puisi
Cerita dari Bangku Sekolah, 2021 (SIP Publishing),
antologi geguritan Rahayuning Lampah, 2021 (SIP
Publishing), antologi puisi Merayakan Kehilangan,
2021 (SIP Publishing), antologi puisi Pada Suatu
Siang Menghitung Kesedihan, 2021 (SIP Publishing),
antologi Puisi Separuh Perjalanan, 2022 (Satria
Publisher), antologi flash fiction bersama Gol A Gong
Di Simpang Jalan, Juni 2022 (SIP publishing). Ia
bisa hihubungi melalui nomor HP/WA
081325260899 dan IG @darsitibunda.

253

SANG ATLET

Oleh: Deanes Darathea Pandulu

Siang itu, seragam putih biru tua berdesakan
mencari jalan keluar dari ruangan kelas
masing-masing. Tak sengaja di tengah jalan
menuju gerbang utama sekolah, aku melihatnya.
Setelah dua tahun tidak bertemu karena pandemi
virus corona. Dirinya bertambah tinggi menjulang,
ketampanannya tiada banding dengan pangeran-
pangeran di cerita rakyat.

Kami sudah menjalankan hubungan manis
selama dua bulan. Tak menyangka aku bisa
mendekati laki-laki idaman para perempuan satu
sekolah. Siapa sih yang tidak ingin bersama atlet
basket yang tampan dan terkenal?

Dia mendekatiku, membungkukkan badannya
di sebelahku dan berbisik. “Bagaimana pelajaran di
kelas tadi, menyenangkan?”

254

Aku tersentak kaget dari tempatku berdiri.
Betapa indah suara berat khasnya yang kurindukan.

Aku menjawab, “Luar biasa menyenangkan.
Hm ... ya bagaimana dengan pertandingan basketnya?
Maaf aku tidak bisa datang,” kataku dengan suara
manja.

“Timku menang mengalahkan SMP sebelah,”
jawabnya. Aku tersenyum bangga di balik masker
yang menutupi hidung hingga daguku.

Ternyata ibuku sudah dua kali memanggil
namaku dari motor merah kesayangannya. Aku
meninggalkan tubuh tinggi itu bersama teman-teman
tim basketnya menuju motor ibuku. Sebelum
meninggalkan parkiran, aku melambaikan tanganku
kepadanya dan ia membalas dengan senyuman
manisnya. Betapa indahnya hari sekolahku diwarnai
dengan bumbu cinta. Cukup membuatku melupakan
rasa kesal dengan pelajaran matematika di kelas tadi.

Bel sekolah berdering. Menandakan saatnya
kita pulang ke habitat masing-masing. Sembari
menunggu motor merah datang, aku sudah tidak sabar
melihat kehadirannya di depan gerbang sekolah. Dia
datang, batinku.

Dia berjalan ke arahku dengan tangan kiri
merangkul perempuan cantik jelita.

255

“Maafkan aku telah mengkhianatimu. Cinta
kita hanyalah ilusi.”

256

AFFA

Oleh: Dessy Anggraini

Kampung Biru, rumah biru, ruang tamu biru,
cat dinding biru. Fotonya, berlatar belakang
biru. Yang terbaring di depanku pun, biru-
biru. Suasana biru, kelabu. Biasanya sangat sangat
kusuka sekali warna biru. Tapi, tidak kali ini,
gemuruh di ulu.

Dari balik jas ungu ketua OSIS, tampak bingkai
dominasi biru. Bakal foto ijazahmu. Diberikannya
pada sang bapak yang penuh luka. Foto Affa, teman
seangkatan yang meninggal menjadi korban tragedi
sepak bola. Pecah. Hati semua orang yang ada di
sana. Sang bapak yang tampak tegar kuat berjam-jam
lalu, tiba-tiba tertunduk. Menangis, tangis yang
dalam, sesenggukan.

Wanita yang duduk bersandar pada tembok biru
terus memeluk seragam kotak-kotak biru, seragam

257

khas sekolah kami. Tak bicara apa pun. Matanya
sudah menonjol, merah. Terlalu banyak menangis.
Air mata ibu versus gas air mata.

Ah, Affa, seharusnya aku kemari menghibur
ayah ibumu. Kenapa aku malah ikut menangis di
sini? batinku. Memburu.

“Ngapunten, Mbah. Apa Affa punya kakak?”
tanyaku.

“Ora, Nduk, Affa kuwi mbarep. Ana adhine isih
kelas 4,” jawab Kakek Affa .

“La, yang wajahnya mirip Affa di sebelah
tembok ruang tamu, di depan kamar itu, Mbah?”

Kakek Affa diam. Entah suaraku tidak
terdengar atau tak mau jawab.

Sungguh, Kek, ada anak laki-laki seusia dan
wajahnya sangat mirip Affa. Dia tersenyum padaku.
Mengangguk pelan padaku. Makin jadi tangisku.
Affa, baru kali pertama ini aku merasa rindu. Affaku,
teman sebangkuku. Surga, rumah barumu.

258

Tentang Penulis
Dessy Anggraini atau yang lebih

sering disapa Dessy merupakan
seorang ibu, istri, dan guru muda
kelahiran Malang, 8 Maret 1994. Ia
menjadi guru Bahasa Jawa dan Bahasa
Indonesia di SMP Negeri 8 Kota Malang. Membaca
ternyata sudah menjadi hobinya sejak masih duduk di
bangku sekolah dasar. Hal ini kemudian membuat
Dessy tertarik untuk berkuliah di jurusan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Ia
bersemangat dan berharap, gemar baca dan gemar
menulis dapat dibagikan dan ditularkan juga pada
anak didiknya.

259

KEJUTAN KELABU

Oleh: Deswita Mustika Erviana

Petang itu seorang gadis yang masih
mengenakan seragam SMP sedang terduduk
mengistirahatkan diri di depan pagar
rumahnya. Ia terlihat sangat kelelahan. Di sebelahnya
ada sebuah boneka beruang yang ukurannya hampir
sebesar tubuhnya. Rupa-rupanya sang puan baru saja
kembali setelah berlarian ke sana kemari
menghampiri satu per satu toko boneka demi
mendapatkan boneka terbaik untuk ia berikan pada
bunda sebagai kejutan ulang tahun. Dengan uang
yang sudah ia kumpulkan selama beberapa bulan
terakhir dan menahan nafsu dari lezatnya pizza
berlapis keju kesukaannya, akhirnya ia mendapatkan
boneka beruang besar untuk Bunda. Membayangkan
Bunda yang akan menciumnya dengan sayang setelah
menerima kejutan ini membuat ia tersenyum bahagia

260

walaupun tidak dapat dipungkiri wajahnya terlihat
sangat kelelahan.

Sebelum masuk ke dalam rumah, ia sempatkan
untuk menulis sebuah surat yang berisi curahan kasih
sayangnya kepada bunda. Rajutan angan terindah
gadis itu ciptakan sembari terus menulis surat kasih
sayang. Sang puan mengaharapkan adegan manis
untuk menutup petang hari.

Setidaknya itu yang gadis tersebut bayangkan
ketika membuka pintu rumah. Bukan mendapati
dirinya membeku bak disiram oleh setangki air es. Ia
terduduk, lidahnya kelu luar biasa sehingga ia hanya
bisa terbungkam tanpa mengeluarkan satu dari sekian
banyak bentuk emosional. Tatapannya teramat
kosong, perasaan bahagia yang menggebu tadi seolah
menghilang begitu saja dibawa angin petang itu.
Bahkan, ketika sang kakak datang dan berteriak
histeris, ia masih di tempat yang sama dan tidak
bergerak seinchi pun dari posisi awal sembari
memeluk lemah boneka beruang besar yang ia beli.

Sampai akhirnya ia mulai mendongakkan
kepalanya, menatap pemandangan menyakitkan yang
ia saksikan saat ini. Tatapannya tetap kosong, masih
berharap apa yang terjadi saat ini hanya mimpi buruk
yang biasa datang di kala badai hujan menerpa. Sang
puan masih berada di sana tanpa mengeluarkan satu

261

emosi berarti hingga ia menjumpai petir menyambar
dunianya.

“Bunda.”
Tubuhnya mulai bergetar hebat ketika ia tidak
mendapat jawaban atas panggilannya pada bunda,
melainkan hanya mendapati sang ibu yang sudah
memucat dan tergantung dengan seutas tali membelit
leher.

Tentang Penulis

Deswita Mustika Erviana

merupakan siswi SMA Negeri 1

Salatiga yang saat ini berada di

kelas E/X-12. Dengan

bermodalkan ide yang absurd,

Deswita mencoba mencari

pengalaman menulis dengan membuat sebuah cerita

mini.

262

IBU

Oleh: Devinta Eka Wulansari

Kini yang kudengar ibu tidak lekas pulang
bukan lantaran bapak sakit. Namun, ibu
memutuskan untuk bekerja di sana bersama
bapak, meninggalkanku sendiri bersama simbah.
Sontak dadaku terasa sesak dan mataku berkunang-
kunang. Seketika badanku menggigil dan tergolek tak
berdaya.

Malam ini, tak kudengar kidung simbah yang
selalu menjadi pengantar tidur, lantaran simbah sibuk
mengompresku yang demam. Suhu badanku semakin
meningkat dan kudapati darah menetes dari hidung.
Berbeda dari biasanya, pandangku mulai kabur dan
aku memanggil ibu berulang kali.

Simbah tetap sabar dan mencoba menghiburku
dengan kidung yang biasanya dia lantunkan. Namun
sayang, demamku semakin menjadi hingga napasku

263

tersengal-sengal sambil mengucap kata ibu. Wajahku
memucat dan lamat-lamat kidung simbah tak
terdengar. Aku pun terlelap bersama demam dan
rindu yang menyelimuti tubuh.

264

PAYUNG MERAH HARENDRA

Oleh: Devinta Eka Wulansari

Setelah menjalani hari yang melelahkan, aku
pulang dengan langkah gontai dan seketika
hujan turun tiba-tiba.
“Ah, bukankah tadi matahari terbit dengan
cerah? Sial, aku tidak membawa payung,” teriakku
sambil berlari menuju sebuah ayunan berkanopi hijau
untuk berteduh.

Sekali lagi aku melihat gadis itu. Tiga hari lalu
dia berteduh di ayunan. Sekarang pun sama. Dia
duduk menanti hujan reda sembari menadahkan
tangan menampung tetesan air hujan. Sungguh
kekanakan, ucapku dalam hati.

Aku tak mengerti apa yang dia pikirkan. Dia
terlihat asyik duduk sambil memandang hujan. Kali
ini takada pilihan untukku, selain duduk di
sampingnya seraya memberi salam tak acuh.

265

“Permisi, saya duduk di sini,” kataku singkat.
“Ya,” jawabnya dingin.
Lima belas menit berlalu, aku duduk di
sampingnya tanpa sepatah kata. Entah sadar atau
tidak, selama itu aku mengamatinya. Kudapati dia
membawa payung merah kecil di tasnya. Sesekali aku
mencuri pandang ketika dia menyibak poni yang
menutupi sebelah mata.
Mendadak dia mengambil payung dari tas dan
memukulkannya pelan ke kepalaku. Mataku
membelalak, tak terima atas sikapnya.
“Hei! Apa-apaan ini?” bentakku sambil
memegang ujung payung.
“Gunakanlah payung ini jika kamu terburu-
buru,” ujarnya sambil menunjukkan senyum simpul.
“Payung? Kamu bahkan tidak seperti
menawarkan bantuan,” timpalku sinis sambil
membuang muka dan hujan semakin deras
menambah percakapan kami menjadi lebih dingin.
“Sudah kuduga. Harendra pasti melupakan
Arisa,” katanya lirih dengan menundukkan kepala
dan memegang erat payung itu.
“Bagaimana kamu tahu namaku? Siapa Arisa?”
tanyaku bingung.
“Tiga tahun aku berharap dapat bertemu
denganmu hanya untuk mengembalikan payung

266

merah ini. Arisa adalah aku,” jelasnya sambil
menyodorkan payung merah itu padaku lantas pergi
di tengah guyuran hujan.

Aku yang duduk di ayunan masih bingung
dengan apa yang terjadi. Kuperhatikan payung merah
itu baik-baik dan di bagian pegangan payung tertulis
Harendra (XII IPA 2).

267

SECARIK KERTAS BIRU MUDA

Oleh: Devinta Eka Wulansari

“Terima kasih kepada Mama dan Papa tercinta
yang telah memberikan kasih sayang kepadaku.
Mungkin terlalu awal untukku menulis semua
ini,” kata Gavin membaca secarik kertas biru muda di
balkon rumahnya.

“Maaf telah mengecewakan kalian selama aku
hidup. Rasanya banyak kebohongan yang aku tutupi
dari kalian. Merasa baik-baik saja adalah kebohongan
yang kumaksud,” lanjut Gavin membaca sambil
bertanya-tanya.

“Meskipun ada banyak orang di sekitarku,
tetapi aku merasa hidup sendirian. Aku pikir ada yang
salah denganku. Aku juga sering menangis tanpa
kalian ketahui. Rasanya aku selalu bersama dengan
kegelapan, tanpa berjumpa pelita yang berpijar,”

268

sambungnya seraya memaknai tiap kalimat yang
telah diucap.

“Ketika Mama dan Papa membaca tulisan ini,
kuharap kalian tidak menangis. Tetaplah tersenyum
dan anggap aku masih ada, meski terkadang membuat
kalian bosan dan kewalahan. Terima kasih untuk
semua yang kalian berikan. Maaf, jika dalam hidupku
ini belum bisa membahagiakan kalian,” tuturnya
mengharu.

Dilanjutkannya membaca, “Teruntuk adikku.”
Mendadak suasana menjadi lengang lantas
membuatnya memandang Dhatu, perempuan yang
ada di hadapannya
Sambil mengerutkan dahi dan tersenyum,
perempuan itu berkata, “Lanjutkan baca, Dik!”
Gavin mengangguk. “Maaf telah menzalimimu
sejak kecil. Aku merasa sangat berdosa ketika pernah
memiliki niatan buruk saat iri dan dengki
menyelimutiku. Aku bahkan tak dapat melindungimu
sebagai seorang kakak. Maafkan aku yang telah
membuatmu selalu menangis dengan mencubit atau
memukulmu, bahkan mengimpit jari-jari tanganmu
pada engsel pintu,” kata Gavin perlahan dan tanpa
sengaja meneteskan air mata.
“Maafkan kesalahanku selama ini, Dik,” kata
Dhatu sambil mengusap kepala adiknya.

269

“Sebenarnya, aku tak bisa menerima semua ini,
Kak. Mengapa Kak Dhatu membuat tulisan itu?
Untuk apa?” ujar Gavin seraya menangkis tangan
Dhatu.

“Aku hanya tidak bisa menyampaikan secara
langsung. Aku pikir lewat tulisan, Papa, Mama, dan
kamu dapat mengerti. Suatu saat nanti, sampaikan
secarik kertas biru muda itu kepada Papa dan Mama,
ya. Untuk saat ini, kakak masih harus berjuang,” kata
Dhatu tersenyum.

270

Tentang Penulis
Devinta Eka Wulansari lahir di
Wonogiri pada 14 Desember 1992 dan
sekarang menetap di Kudus. Ia adalah
guru di SMP 1 Bae. Ia menamatkan
kuliah di Universitas Negeri Semarang
pada tahun 2018. Bagi Devinta menulis

merupakan suatu kegiatan untuk mencurahkan
pikiran, mengungkapkan perasaan, dan
menggerakkan hati. Beberapa waktu lalu ia menulis
cerita anak yang berjudul Sigi Minum Obat Flu dan
cerita pendek yang berjudul “Cuma
Berdua”.Kesibukannya saat ini selain mengajar
adalah membuat konten di YouTube (Nyiur Hijau
Channel), menulis puisi, dan cerpen, serta
membimbing ekstrakurikuler majalah dinding di
sekolah.

271

ROSSA

Oleh: Dewi Kartikasari

Panggil saja namaku Rino (24 tahun), pemuda
desa yang mengadu nasib di Kota
Metropolitan menjadi ojol. Pekerjaan ini aku
jalani hampir empat tahun berjalan dan sempat off
lama karena ada pandemi Corona-19. Saat pandemi
merajalela aku memutuskan pulang kampung dan
membantu orang tua di sawah. Setelah kondisi mulai
bersahabat, aku memutuskan untuk kembali ke Ibu
Kota melanjutkan pekerjaan sebagai ojol. Pendapatan
mulai membaik karena kondisi ekonomi warga juga
mulai membaik. Suasana sudah membaik seperti
sebelum adanya pandemi Corona.

Berawal dari iseng mengisi waktu luang ketika
menunggu penumpang, seperti kebanyakan anak
muda yang suka dengan sosmed, aku pun sering

272

muncul status di dunia maya. Kenalan melalui dunia
maya itu sudah hal biasa saat ini.

Panggil saja Rossa (20 tahun), gadis berkulit
putih dan bermata sipit yang aku kenal lewat dunia
maya hampir dua tahun. Sering DM dengan obrolan
ringan sebagai pengisi waktu luang dan akhirnya
obrolan itu berlanjut di WA. Hampir tiap hari kami
telpon/video call, seperti kebanyakan anak muda
yang sedang jatuh cinta. Setiap ada kesempatan kami
saling menghubungi. Meskipun kami kenal hampir
dua tahun, kami belum pernah bertemu langsung.
Pada suatu hari aku hubungi Rossa mengajak untuk
ketemu. Rossa pun memberikan alamat rumahnya.

Dengan memilih baju yang paling bagus yang
aku miliki dan berdandan serapi mungkin, aku
berangkat menuju alamat yang dikirim lewat WA.
Kira-kira 30 menit aku sampai di lokasi dekat alamat
rumah Rossa. Jarak 200 m aku berhenti dan sempat
ragu karena yang ada di depan mata rumah mewah
dengan pagar tinggi. Sebelum aku memutuskan
ketemu dengan Rossa, aku baca Al-Fatihah tiga kali
untuk memastikan bahwa aku berani masuk ke rumah
mewah tersebut dengan harapan diterima oleh orang
tuanya dengan baik. Aku nyalakan lagi sepeda
motorku, dan tepat depan pintu gerbang yang tinggi

273

aku pencet bel pintu. Keluarlah seorang satpam dan
menanyakan maksud kedatanganku.

Aku standar sepeda motorku dekat pos satpam.
Aku ikuti satpam masuk ke rumah mewah itu melalui
garasi mobil yang berisi dua mobil mewah. Aku
dipersilakan duduk dekat dapur, keluarlah Rossa yang
ternyata lebih cantik.

Pertemuan pertama yang canggung yang
membuat kami bingung memulai pembicaraan. Baru
sekitar 10 menit Rossa menemui aku, datanglah laki-
laki paruh baya menyuruh Rossa untuk
membersihkan meja makan. Rossa pun segera masuk
dan diikuti olah laki-laki tersebut.

Saat itu aku hanya bertanya-tanya, siapakah
laki-laki tersebut. Kenapa menyuruh Rossa
membersihkan meja makan dan tidak ramah sama
sekali denganku. Aku merasa tidak nyaman dan
beberapa menit kemudian Rossa menghampiri aku.
Aku pun langsung pamit pulang. Rossa mengantar
sampai pintu gerbang. Dalam perjalanan pulang aku
masih penasaran dengan laki-laki paruh baya
tersebut. Meskipun kami kenal lama, aku belum tahu
banyak tentang Rossa dan keluarganya.

Beberapa hari setelah pertemuan kami, tanpa
sengaja aku bertemu dengan satpamnya Rossa. Kami
ngobrol banyak dan rasa penasaranku terjawab. Rossa

274

adalah seorang pembantu dan menjadi piaraan
majikannya yang sudah menduda lama.
Tentang Penulis

Dewi Kartikasari, S.Pd. biasa di panggil Bu Ika
lahir di Tegal, 22 Desember 1972. Saat ini, ia
mengajar di SMAN 1 Selomerto. Ia memiliki hobi
menari dan menyanyi. Ia sedang belajar menulis.

275

GURU

Oleh: Dewi Laxmi

Hari itu waktu belum menunjukkan pukul tiga
sore, tetapi anak-anak sudah ramai di
halaman Taman Pendidikan Al-Qur'an
(TPA) Nurul Iman. Padahal pengajian baru akan
dimulai setelah salat Asar. Ada yang lari-larian,
bermain lompat karet, bermain kelereng, atau
bermain petak umpet. Teriakan demi teriakan mulai
terdengar. Bukan hanya dari para santri TPA,
melainkan juga dari para ibu yang menunggui
anaknya belajar.

TPA yang baru tiga tahun didirikan dan
dipimpin oleh Ustaz Hamid serta dibantu oleh
istrinya—Ustazah Ifah, memang terkenal banyak
muridnya. Bukan hanya dari warga sekitar, tetapi juga
dari kampung-kampung yang bersebelahan dengan
kampung tempat TPA itu berada. Ketika lelah

276

bemain, pasti ada saja anak-anak yang menangis.
Suasana pun bertambah riuh.

Seperti kejadian hari itu, Rani seorang
santriwati yang baru berusia enam tahun, menangis
tersedu. Dia juga memarahi Maman, temannya.

“Kamu, tuh, coba kalau buang ludah jangan
sembarangan! ‘Kan jadi kena jilbabku. Bau tahu!
Aku jijik.” Tangis Rani makin keras.

“Salahmu sendiri, kenapa berdiri di situ.”
Maman membela diri. Namun, Rani tak mau
kalah, dia membalas semua pengelakan dari Maman,
hingga halaman TPA pun menjadi ramai karena
keributan yang disebabkan keduanya. Ustaz Hamid
keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa. Dia
segera mendatangi murid-muridnya yang sedang
beradu mulut.
“Rani, Maman, ada apa ini? Kok kalian ribut?”
tanya Ustaz Hamid.
“Maman tuh Ustaz. Dia meludahi saya,” ujar
Rani masih dengan isakannya.
Ustazah Ifah yang juga turut serta ke halaman
segera mendekati Rani.
“Benar yang tadi Rani ucapkan?” tanya Ustazah
Ifah. Rani mengangguk.
“Ini jilbab Rani jadi bau. Terus bagaimana
harus mengaji?” isak Rani.

277

“Rani masih boleh mengaji. Kebetulan Ustazah
menyimpan beberapa jilbab anak-anak di laci kitab-
kitab. Rani boleh meminjamnya.” Ustazah Ifah
menenangkan santriwatinya.

Kemudian Ustaz Hamid bertanya kepada
Maman.

“Man, kenapa kamu meludahi Rani? Apa salah
Rani?” tanya Ustaz Hamid.

Maman terlihat ketakutan. Ustaz Hamid
merangkul bahunya, memberikan kenyamanan pada
santrinya. Akhirnya dengan terbata-bata Maman pun
menjelaskan.

“Sa-saya cuma mau meludah karena saya tadi
batuk. Terus kena Rani.” Maman menundukkan
kepala.

“Memangnya di mana Maman membuang
ludah?” tanya Ustaz Hamid.

Maman pun menunjuk tempat di mana dia
membuang ludah tadi.

“Itu tempat Rani berdiri?” tanya Ustaz Hamid.
Maman menggeleng. Kemudian dia menunjuk
ke satu arah, tempat Rani berdiri. Ustaz Hamid
penasaran. Karena antara tempat Maman membuang
ludah dengan tempat Rani berdiri itu masih
mempunyai jarak.

278

“Maman buang ludahnya bagaimana?” tanya
Ustazah Ifah.

Maman pun mempraktekkannya di hadapan
kedua guru mengajinya. Namun, sebelumnya Maman
menyuruh teman- temannya untuk menjauh. Ustaz
Hamid dan Ustazah Ifah saling berpandangan.

“Kenapa Maman membuang ludahnya dengan
menyemprotkan seperti itu?” tanya Ustaz Hamid,
merasa tak enak.

Dengan rasa takut, anak laki-laki berusia enam
tahun itu pun menjawab,

“Maman lihat, Ustaz juga seperti itu kalau
membuang ludah.”

Balikpapan, 6 Oktober 2022

279

CALON MENANTU JURAGAN
TANAH

Oleh: Dewi Laxmi

Hubungan Melati dan Angga sepertinya tak
direstui oleh Pak Suyitno, bapak Melati. Ini
terlihat setiap kali Angga menjemput atau
mengantar Melati sepulang dari mengajar. Tangan
Angga selalu ditepis ketika ingin bersalaman. Melati
menjadi bingung. Namun, setiap kali dia menanyakan
alasannya, sang bapak hanya mengatakan bahwa dia
harus menuruti apa yang dikatakan orang tuanya.
Melati tentu tak bisa begitu saja menerima apa yang
dikatakan oleh bapaknya. Dia terus merengek agar
diberi tahu, tetapi sang bapak tetep kekeh pada
pendiriannya. Akhirnya Melati memutuskan untuk
bertanya langsung kepada ibunya.

Malam itu setelah menjalankan salat Isa, Melati
mendatangi ibunya yang sedang menonton televisi

280

sendirian di ruang keluarga. Sedangkan bapaknya
sejak sore tidak ada di rumah karena sedang
mengurus proyek perumahan di kampung sebelah.

“Bu, apa sih alasan Bapak tidak menyetujui
hubungan Melati dengan Mas Angga? Kami saling
mencintai. Lagi pula Mas Angga ‘kan sudah diangkat
jadi PNS. Apa itu masih kurang cukup sebagai syarat
untuk menjadi menantu Bapak?” Melati langsung
memberondong pertanyaan.

Bu Maryam hanya geleng-geleng. Kemudian
menatap anak gadisnya dengan lembut.

“Nduk, hubungan laki-laki dan perempuan
yang tujuannya atau muaranya pada pernikahan, itu
tidak sembarangan. Harus dilihat bibit, bebet dan
bobotnya.”

“Bukankah Mas Angga berasal dari keturunan
baik-baik? Ibu kenal ‘kan dengan orang tuanya?”
Dengan menggebu Melati langsung memotong
perkataan ibunya.

Bu Maryam mengangguk.
“Tapi mereka tidak seperti yang kamu lihat,
Nduk.”
Melati kesal. Jawaban ibunya sama saja dengan
bapaknya, masih belum memuaskan. Melati ingin
meninggalkan ibunya. Namun, tiba-tiba HP dalam
genggamannya berdering.

281

[Dek, bapakmu habis beli tanah lagi, ya?] Suara
Angga di seberang telepon.
[Mas ini, bukannya mengucapkan salam dulu, malah
tanya hal yang tidak penting.]
[Lho, tidak penting bagaimana, Dek? Sebagai calon
menantu yang baik, Mas harus tahu apa saja aset yang
dimiliki oleh calon mertua.] Melati terkejut
mendengar ucapan kekasihnya.
[Maksud, Mas?]
[Sudahlah, Dek. Bapak beli tanah berapa hektar?]
[Bapak memang tadi siang beli tanah...,]
[Wah, hebat memang mertuaku ini.] Angga langsung
merespon.
Melati mendengkus. Hatinya yang sedang kesal
bertambah kesal mendengar ucapan Angga.
[Berapa hektar, Dek?] Angga mengulangi
pertanyaannya dengan nada riang.
[Bapak beli tanah lima truk untuk nguruk halaman
samping rumah.]

Balikpapan, 6 Oktober 2022

282

PENGUSAHA BAKSO

Oleh: Dewi Laxmi

Sebagai pedagang bakso yang besar aku bisa
disebut seorang pengusaha sukses. Bagaimana
tidak? Selain punya seratus gerobak dengan
seratus orang pendorongnya, aku juga memiliki
sepuluh kios di pusat kota, pusat perbelanjaan dan
pusat perkantoran. Aku bersama istriku hanya
memeriksanya sesekali. Kadang dua hari sekali, atau
seminggu sekali. Bukan apa-apa, baik aku dan istriku
sama-sama sibuk. Istriku tentu saja sibuk perawatan
di salon, arisan dengan grup-grup sosialitanya hingga
shopping sana-sini. Kadang di dalam negeri, atau
malah lebih sering ke luar negri, seperti Singapura
dan rumah model dunia, Italia. Tentunya sambil
perempuan yang telah memberikan aku dua orang
anak itu menikmati traveling ke tempat-tempat yang
dia suka.

283

Aku memang membebaskan istriku agar
menikmati jerih payah kami. Sedangkan aku sendiri
harus sering bolak-balik ke sebuah gunung di daerah
Malang, Jawa Timur. Aku juga harus rajin-rajin
memantau pedagang bakso yang menggunakan kios.
Setiap saat aku berusaha untuk menekan pedagang
bakso yang mulai tumbuh besar. Tentu saja hal ini ada
hubungan yang erat dengan usahaku. Mana ada orang
yang mau usahanya bangkrut. Begitupun diriku.

Suatu sore, saat itu aku sedang bercengkerama
dengan burung-burung kesayangan, Jhoni pelayan
kepercayaanku yang baru datang menghadap.

“Bos, sudah dengar kabar tentang warung
bakso yang baru sebulan buka?”

“Yang mana, Jhon?” tanyaku pura-pura
taktahu.

“Itu loh Bos yang ada di persimpangan Jalan
Ahmad Yani. Yang kemaren Bos menyuruh aku ke
sana.”

“O, itu. Yang katanya mobil-mobil banyak
antre di situ?” tanyaku.

“Nah, si Bos ingat tuh,” ujar Jhoni sambil
memamerkan giginya yang baru di-bleaching.

“Berita apa yang kamu bawa, nih?” tanyaku
sesantai mungkin.

284

“Sekarang kios itu tutup, Bos. Berita yang
santer terdengar, bakso-bakso di kios itu berbelatung.
Pemiliknya langsung jatuh sakit kemudian langsung
dibawa pulang ke kampung sama karyawannya.”

“O,” jawabku.
“Berarti tugasmu berhasil, ya,” ungkapku.
Jhoni tersenyum lagi sambil memamerkan
giginya yang putih.
“Emang yang kemaren saya sebar di warung
itu, apaan Bos?” tanya Jhoni.
“Tanah kuburan,” kataku sambil berjalan
masuk ke rumah.

Balikpapan, 6 Oktober 2022

Tentang Penulis
Dewi Laxmi, lahir di Jakarta. Seorang
istri dan ibu lima anak, dua laki-laki
dan tiga perempuan. Kini berdomisili
di Balikpapan karena mengikuti tugas
suami. Suka menulis dan tergabung

dalam beberapa grup kepenulisan. Dewi Laxmi bisa
dijumpai di: Dewi Salam Amirudin (FB) dan
dewilaxmi_ (IG).

285

SEPERTI BIASANYA

Oleh: Dewi Septiani

Sengaja kurebahkan badan di ujung ranjang,
membuat kakiku terjulur karena ukuran
kasurnya. Kubuka aplikasi drakor favoritku
dan memilih episode yang terbaru. Saat sedang
menertawakan jalan ceritanya, dari sudut mata
kuperhatikan suamiku masuk ke dalam kamar. Aku
segera menghentikan tawaku memasang wajah datar.
Tidak lama, suamiku segera memelukku dari
belakang mencoba meruntuhkan amarahku. Ya,
sudah dua hari ini aku tak bertegur sapa dengan
suamiku sendiri. Gara-garanya dia tidak mau
membantuku memesankan payung khusus mobil di
toko online. Padahal, aku sangat memerlukan payung
itu, tapi dia malah tidak setuju dengan permintaanku.
Katanya, payungnya tidak punya kelebihan, masih
ada payung yang lama, dan payung itu tidak berguna.

286

Waktu itu, ia selalu mendebat pendapatku, bahkan
setelah kukirimkan video manfaat payung itu.
Menyebalkan sekali. Biasanya dia tidak seperti ini
jika kumintai pendapat selalu menyerahkan
semuanya padaku. Begitu juga jika kumintai tolong
selalu mengiyakan.

“Kenapa sih, Sayangku?” katanya bertanya
sambil menahan tawanya.

“Enggak apa-apa,” jawabku masih sebal
kepadanya.

“Kenapa, sih, kok cemberut terus?”
“Enggak apa-apa.”
Dia masih mencoba membuatku tertawa sambil
memelukku dan mencoba membuatku bertatap muka
dengannya. Tapi, aku selalu mengelak karena masih
kesal dengan apa yang dilakukannya. Sambil
kulanjutkan tontonanku, suamiku berkata, “Kemarin
yang nyuruh aku buat jadi orang yang ngeyel siapa?”
“Ha-ha-ha….” Sontak aku tertawa teringat
perkataanku padanya seminggu yang lalu.
“Sayang, kamu tu jadi suami jangan nurut terus.
Masa aku bilang ini kamu nurut. Nyuruh ini kamu
nurut. Jadi suami tu yang ngeyel gitu lho.”
Dengan malu kupeluk dia, masih sambil
tertawa.

287

Tentang Penulis
Dewi Septiani merupakan seorang guru yang

bercita-cita menjadi penulis. Ia lahir di Wonosobo 29
tahun yang lalu. Mengajar membaca dan menulis
menjadi fokus utamanya saat ini agar anak-anak di
desa pun bisa menikmati literasi.

288

JADI SEDEKAH

Oleh: Febrian Virijai

Seorang kakek sedang duduk di depan sebuah
restoran. Badannya kurus dengan pakaiannya
yang kumuh. Ia duduk melantai di teras sambil
melihat kotak di depannya yang hanya berisi uang
recehan.

Tak jauh dari kakek, berdiri seorang gadis kecil.
Ia menangis sambal memegang perutnya. Tangisan
gadis itu membuat kakek merasa kasihan melihatnya.

“Kenapa kamu menangis, Nak?” tanya kakek
iba.

“Aku mau burger itu, Kek, tetapi aku tak punya
uang,” kata gadis kecil itu masih merengek.

Tanpa pikir panjang kakek memberikan
uangnya yang ada di kotak kepada gadis kecil,
“Ambil dan belilah burger yang kamu mau, Nak.”

289


Click to View FlipBook Version