RUMAH DI KAKI BUKIT
Oleh: Banyubiru
Dari atas bukit yang landai, sebuah rumah
mungil berdiri dikelilingi pepohonan hijau.
Rumah itu memilih menyendiri. Namun,
Sepertinya rumah itu tidak pernah merasa kesepian
karena setiap kali aku mampir ke tempat ini selalu ada
kendaaraan beroda dua atau beroda empat nongkrong
di halamannya. Saat pemilik kendaraan rumah itu
masuk, seorang pria paruh baya akan menunggunya
sambil menyesap minuman dan menghisap rokok.
Cetak biru pada otakku saat datang ke tempat
ini bukan pada rumah itu. Kuas yang kugunakan tidak
pernah kuperintahkan untuk menangkap objek itu.
Rasa penasaran perlahan menumpuk dan mulai
membeludak di dadaku. Aku tidak bisa fokus pada
kanvas yang ada dihadapanku sekarang. Fajar yang
menjadi tujuan utama malah luput dari perhatian,
140
terlebih pagi ini aku melihat seorang gadis berdiri di
ambang pintu. Aku rasa ia memperhatikanku.
Pada suatu pagi, aku sengaja mengabaikan
fajar. Aku menuruni bukit melewati jalan setapak
menuju rumah itu. Aku ingin bertemu gadis itu. Dari
atas bukit wajahnya tidak begitu jelas, tetapi justru
aku merasa dia lebih cantik daripada fajar yang
kutunggu setiap pagi. Setiap ia mendongak, aku
merasa dia sedang memanggilku. Pintu sudah terbuka
ketika aku tiba. Rumah yang terlihat mungil dari atas
bukit ternyata masih kalah bila dibandingkan dengan
beberapa gadis di dalamnya. Bibir mereka
membentuk bulan sabit sempurna. Mereka
mendekatiku lalu beradu memberikan tawaran harga,
bergerak manja, dan menggoda agar aku mau
memilih dan menikmati tubuh salah satu dari mereka.
141
HARGA DIRI
Oleh: Banyubiru
Pria yang terdiam dalam kerumunan itu
bernama Denis. Di saat semua orang
melompat-lompat kegirangan, menyanyikan
lirik lagu dengan suara sumbang, Denis tetap merasa
sendiri. Ia tak marah ketika manusia-manusia yang
lain menginjak kakinya karena memang ia berada di
tengah lautan manusia yang bergerak sesukanya.
Denis selalu berpikir bahwa ia adalah tokoh
utama dalam kisah hidupnya. Ternyata tidak, ia hanya
figuran di dalam kisah orang lain sehingga ia gagal
memerankan perannya dalam cerita hidupnya. Malam
ini buktinya, ia tidak bisa mempertahankan prinsip
bahwa ia tidak akan memasuki dunia yang gemerlap
dan glamor ini. Lampu sorot yang menyilaukan mata
dan ingar-bingar musik yang memekakkan telinganya
merupakan hadiah dari teman-teman kantornya.
Mereka menyebut ini pesta. Tidak masuk ke sini
142
berarti banci. Di sinilah kejantanan seorang pria diuji.
Di dalam ruangan ini, semua sekat-sekat lepas. Kamu
bisa menjadi siapa saja, bebas berbuat apa saja. Kamu
bebas bercumbu dengan orang baru, masuk ke dalam
ruangan khusus tanpa perlu takut gunjingan orang.
“Hai, baru pertama?” tanya seorang gadis
berambut gelombang. Matanya menyipit nakal. Bibir
segarnya memantulkan cahaya lampu.
Denis tidak menanggapi. Hanya merasa sedikit
gugup.
“Kamu merasa berdosa karena mengingkari
prinsip dalam dirimu sendiri?” Gadis itu seperti
memahami arti diam Denis.
“Tenang saja, pertama kali aku ke sini, aku juga
sepertimu. Bingung, merasa bersalah, iya, ‘kan?”
katanya lagi sambil melenggak-lenggok lembut
namun menggoda.
“Aku tak seharusnya di sini,” kata Denis
pendek.
“Semua orang memang tak seharusnya di sini,
tetapi tempat ini menjanjikan kebahagiaan. Di sini
kamu tidak perlu takut jika ingin mencolekku. Tidak
akan ada yang memarahimu. Kita hanya perlu sama-
sama mau. Setelah kita pulang, kita bisa melupakan
semuanya.”
143
“Kau harusnya membuat dirimu lebih
berharga,” ujar Denis.
“Berharga? Di sini aku dihargai dengan sangat
mahal. Kita perlu nego, jika kau perlu.” Gadis itu
mengelus dada Denis.
“Maaf, aku harus pergi.” Denis menepis tangan
itu, berusaha mencari teman-temannya. Matanya
berhenti, menyipit. Mendapati teman-temannya
sedang asyik menggoda banyak wanita dengan
alkohol di genggaman mereka. Tak tahan lagi, ia
pergi meninggalkan gadis itu. Meninggalkan tempat
yang selama ini ia kutuki.
Denis berjalan pelan di trotoar, merogoh saku
celana dan mengeluarkan dompet. Ia berhenti di
bawah lampu merah. Sambil menunggu lampu hijau
berganti, ia mengamati potret kecil di dalam dompet
tipisnya. Foto ayah dan ibunya. Ia menghirup udara
malam, lalu senyum lebar dilepaskan. Ia mencium
foto itu sebentar lalu memasukkannya kembali,
berterima kasih pada sosok di dalam foto itu. Mereka
mengajarkan untuk hidup dalam kebajikan dan
bermartabat. Selama ini ia merasa ajaran keduanya
membatasinya dalam bergaul dan justru malam ini
keduanya menyelamatkan dirinya dari salah satu
lubang kekehancuran.
“Tunggu!”
144
Suara itu berhasil membuat Denis menoleh. Eh,
tepatnya semua orang, Denis hanya salah satunya.
Namun, akhirnya Denis menyadari kalau panggilan
itu tertuju padanya. Itu adalah suara yang bersumber
dari seorang gadis yang baru saja menggodanya.
Entah kenapa Denis memutuskan berhenti saat gadis
itu berlalu kecil menghampirinya. Gadis itu tidak lagi
berpakain ketat yang minim memamerkan bentuk
dadanya. Ia terlihat berbeda, menggunakan jins
dengan sepatu kets, dan hoodie hitam polos sangat
cocok dengannya.
“Terima kasih telah mengembalikan
kesadaranku malam ini. Menurutmu apa aku masih
berharga?”
145
Tentang Penulis
Banyubiru, nama pena dari Rapael
Sianturi, laki-laki berdarah Batak
kelahiran 28 Juli 1999. Sekarang ia
menetap di Lampung Selatan
menjalankan tugasnya sebagai
seorang pengajar di sebuah sekolah
swasta. Ia menyukai air dan filosofinya. Ia
menanamkan prinsip untuk menyelesaikan apa yang
telah ia mulai. Ia memutuskan untuk terjun dalam
dunia kepenulisan dan sedang berusaha menjaga
komitmen untuk membaca dan menulis sebanyak-
banyaknya.
146
HIDANGAN SANG PENAGIH
UTANG
Oleh: Bayu Dwi Hannas
Tok-tok-tok. Riko panik mendengar suara
ketukan pintu rumahnya. Dengan bergegas ia
segera mengenakan baju dan bangkit dari
kasurnya.
“Riko!” seru suara dari balik pintu itu.
“Ah, Beni lagi. Pasti mau menagih utang,”
keluhnya, “mana persediaan rokok menipis lagi.”
Riko lalu berjalan dengan malas menuju pintu
masuk rumah kontrakannya yang hanya berjarak satu
meter dari kamar tidurnya. Ketika ia membuka pintu,
Beni sudah berdiri dengan wajah datar menahan kesal
karena Riko sudah beberapa kali menunda
pembayaran utangnya.
“Ben, silakan masuk dulu biar kita bisa sambil
bicara,” ujar Riko berusaha ramah.
147
Awalnya Beni hendak menolak. Dia berpikir itu
hanya basa-basi saja. Pasti Riko hendak beralasan
lagi, begitu pikirnya. Namun, kemudian ia berpikir
lagi siapa tahu Riko akan membayar hutangnya di
dalam rumah.
“Oke. Tapi, aku enggak bisa lama-lama karena
ada keperluan,” ujarnya.
“Enggak akan lama. Kita sambil minum-
minum dulu, deh,” balas Riko.
“Enggak usah repot-repot, Rik,” balas Beni.
“Enggak repot, kok, ‘kan kita lama enggak
ketemu langsung.”
Setelah Beni masuk dan duduk beralaskan
keramik di ruang tamu seluas dua kali satu meter itu,
Riko bergegas ke dapur untuk menyiapkan hidangan.
Hanya ada sekaleng susu kental manis yang masih
tersisa dari satu bulan yang lalu ketika ia makan roti
bersama pacarnya. Meskipun warnanya sudah sedikit
menguning, Riko tetap saja menuangkannya ke
sebuah cangkir seraya meniup-niupnya untuk
menyingkirkan semut-semut yang berkerumun di
sekitar kaleng. Hingga ke lelehan yang terakhir,
sebuah benda kecil yang panjang menyembul dari
bibir kaleng. Karena penasaran, Riko menyendoknya
keluar. Ternyata itu adalah seekor cicak besar yang
148
telah mati. Entah sudah berapa lama hewan tersebut
terjebak di dalamnya.
“Ah, biarkan saja. Biar si Beni tahu rasa,”
ucapnya dalam hati.
Dengan memasang senyum palsu Riko kembali
ke ruang tamu di mana Beni masih menunggu.
“Silakan minum dulu, Ben,” ucapnya.
Beni melihat ke minuman yang dihidangkan
Riko dan menduga bahwa hidangan itu sengaja dibuat
agar ia menerima alasan Riko kembali untuk
menunda membayar hutang. Maka ia pun segera
mempersiapkan argumennya agar tak digombali
kembali olehnya seperti yang sudah-sudah.
“Begini, Rik, aku langsung saja, ya. Sudah
hampir dua tahun utangmu belum kamu bayar.
Jumlahnya enggak sedikit, lo. Kan aku perlu uang
juga buat bayar kuliah,” ujar Beni sedikit tegas.
“Maaf, Ben. Bisa enggak kamu kasih aku waktu
lagi? Bulan depan janji aku bayar.”
Sesuai dugaannya, Riko pasti beralasan lagi.
“Oke. Aku sudah capek nagih kamu terus. Aku
enggak akan balik lagi ke sini. Tapi, kalau ada apa-
apa lagi, aku enggak akan mau membantumu lagi,”
jawab Beni dengan nada marah.
Beni lalu berdiri dan langsung berjalan keluar
tanpa pamit. Riko yang kelaparan karena belum
149
memasukkan apa pun ke dalam perutnya semenjak
pagi, kecuali dua batang rokok, tertegun melihat
sebungkus roti tergeletak di lantai tempat Beni duduk.
“Pasti Beni tidak sengaja menjatuhkannya atau
tertinggal?” pikirnya.
Tanpa berpikir panjang ia pun membuka
bungkusan berwarna cokelat itu. Dengan lahap ia
memakannya. Sampai ia merasakan sesuatu yang
aneh. Riko melihat ke roti tersebut. Ada separuh
badan kecoa, yang separuhnya lagi sudah di
mulutnya.
Tentang Penulis
Bayu Dwi Hannas, S.Pd. lahir di Balikpapan,
23 Juli 1992. Ia berprofesi sebagai guru bahasa
Inggris. Hobinya adalah menonton film dan
mengarang cerita, terutama untuk bahan mengajar.
150
MINYAK WANGI
Oleh: Bella Puspita
Cuaca siang hari diselimuti dengan awan yang
sangat pekat. Di mana angin berembus
dengan kencang. Daun-daun berjatuhan ke
segala arah. Terdengar pula suara angin yang begitu
menakutkan. Tampak awan dengan perlahan
menghitam sampai tidak ada satu pun cahaya. Hujan
mengguyur dengan derasnya. Di pinggir jalan dengan
sebuah toko kecil menjadi peneduh. Ditemani dengan
percikan hujan yang mengenai tubuhku. Guntur-
guntur yang mendengarkan suaranya secara
bersahutan membuatku takut. Hanya aroma parfum
darinya yang menenangkanku. Bersandar dengannya
membuat tenang hingga aku tertidur dengan lelap.
Percikan hujan yang membangunkanku dengan
sepatah kata bisikan darinya, Mbak sudah, yang
membuatku malu. Ketika terbangun aku sadar hanya
151
bersandar di etalase penjual minyak wangi, bukan di
pundak pria yang aku maksudkan. Aduh nyesek.
Kukira kisahku dengannya, ternyata menunggu
penjual minyak wangi mengisi ulang parfumku ketika
hujan.
Tentang Penulis
Bella Puspita atau biasa dipanggil Bella
merupakan siswa kelas 10 di SMA Negeri 1 Salatiga.
Ia lahir di Salatiga 13 Juli 2006. Sekarang ia berusia
16 tahun. Ia memiliki hobi mendengarkan lagu dan
menuangkan ceritanya ke sebuah buku diari.
152
ON AIR
Oleh: Benedict Esa Yuwana
Lampu tanda on air menyala. Itulah panggilan
untukku.
“Kembali lagi bersama saya, Maria, host
favorit Anda di The 9 a.m. Show.”
Kata-kata itu melekat didalam pikiranku
layaknya sebuah tato. Sudah empat tahun sejak aku
pergi dari kampung halaman untuk mengejar
mimpiku menjadi penyiar radio.
Pada awal-awal memang aku hanya
mendapatkan bagian-bagian kecil. Namun, setahun
yang lalu aku mendapatkan tawaran untuk menjadi
host sebuah acara malam. Pada waktu itu aku sangat
bahagia dan langsung menyetujuinya. Setelah
kupikir, mungkin aku seharusnya tidak menerima
tawaran itu. Hidupku terasa lebih berat sejak aku
menjadi host. Aku merasa tidak bebas dan terbebani.
153
Bahkan, mau pulang kampung pun tidak bisa karena
belum ada orang lain yang mau menggantikanku. Hal
inilah yang membuatku sedih karena aku tidak bisa
berjumpa dengan ibu. Ibulah yang mendukungku
selama ini. Meskipun ayah menentang aku menjadi
penyiar radio, ibu tetap berada di sisiku.
Malam itu seperti malam biasanya, tidak ada
satu hal pun yang spesial. Aku membawakan acara
seperti biasanya. Hingga pada sesi tanya jawab,
sesuatu yang tidak kuduga terjadi. Seorang penelpon
memiliki suara yang sangat familiar.
“Permisi, dengan ibu siapa di sini?”, tanyaku.
“Saya Ibu Lisa Setiawan”, jawabnya.
“I-ibu Setiawan", jawabku dengan terbata bata.
“Iya, saya sedang ingin ketemu dengan anak
saya Maria Setiawan.
“I-ibu, ini Maria, Bu,” kataku sambil terharu.
“Nak, kapan kamu bisa pulang? Ibu kangen
banget sama kamu,” tanya ibuku.
“Aku juga kangen sama, Ibu,” jawabku.
“Ayo, Nak, kita kumpul sama-sama lagi. Jalan-
jalan, terus makan-makan,” kata ibuku.
“Iya, Bu, aku juga masih berusaha untuk
pulang,” balasku.
“Ya udah, kalau gitu, Nak. Ibu pamit dulu, ya.”
154
Pembicaraan itu hanyalah sebentar. Namun, itu
sudah cukup untuk mengobati luka rindu di hatiku.
Waktu menunjukkan pukul 22.00, sudah
waktunya untuk berganti siaran. Siaran terakhir
adalah berita malam. Karena malam itu hujan,
akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di studio.
Berita pertama merupakan berita tentang kecelakaan
maut yang melibatkan satu mobil. Kecelakaan itu
terjadi pada pukul 20.00 tadi. Kabarnya, kecelakaan
disebabkan oleh kondisi jalan yang licin. Salah satu
korban telah teridentifikasi.
“Korban adalah Lisa Setiawan yang berusia 55
tahun,” kata pembawa berita.
Setelah mendengar hal itu, aku langsung
menangis hingga tidak bisa berdiri. Rekan-rekan
kerjaku berusaha menenangkanku. Setelah agak
tenang, aku mulai berpikir. Siapa yang berbicara
denganku di telepon tadi. Apakah itu ibu yang ingin
berbicara denganku sebelum ia berpulang.
Tentang Penulis
Benedict Esa Yuwana lahir pada 25 Agustus 2006. IA
merupakan seorang pelajar di SMK Negeri 3 Batu. Ia
gemar menulis sebagai sebuah hobi di waktu luang.
155
CINTA
Oleh: Berlinda Agustina Saputri
Pada September ini aku menemukan seorang
laki-laki di sebuah sosial mediaku. Story
hariannya membuatku tertarik. Kubaca dan
kulihat isi story-nya lalu aku merespons dan ia
membalas. Tidak lama kami langsung akrab hingga
akhirnya kami berdua saling bertukar cerita.
Laki-laki itu memang sangatlah tampan.
Membuatku jatuh hati padanya. Orangnya pun
sangatlah baik dan bisa menjadi seorang penghibur di
kala ceritaku yang begitu membuatku ingin
menangis. Aku ingat saat berkenalan dia
menyebutkan identitas dirinya. Begitu sebaliknya aku
juga berkenalan dengan dia. Aku dan dia berkenalan
pada pukul 18.00 petang hingga akrab pada pukul
20.00 malam.
156
Setelah keakraban kami berdua, jujur akhirnya
aku benar-benar jatuh cinta. Hingga pada pukul
20.55, aku mengungkapkan perasaanku kepadanya.
Ia sungguh kaget bukan main lalu bertanya kepadaku.
“Kamu serius?” tanyanya seakan masih tidak
percaya.
“Iya aku serius,” jawabku dan dalam hati aku
bilang sangat serius.
Sejak malam itu kami pun menjalin hubungan.
Kami berdua bisa saling melengkapi kekurangan dan
kelebihan yang ada.
Aku sangat bersyukur hubungan kami berjalan
sangat baik. Hari-hari kami berdua diiringi dengan
senyum penuh cinta. Dia sangatlah menyayangiku.
Sepertinya aku dianggap sebagai seorang ratu
baginya. Setiap hari setiap akan ke sekolah, setiap
satu jam, setiap menit, bahkan setiap detik tak lupa
dia mengabariku dan menanyakan banyak hal.
“Sudah makan, Sayang?”
“Alhamdulillah, sudah.”
Juga pertanyaan-pertanyaan lainnya yang
menggambarkan perhatiannya padaku sungguh
membuatku bahagia.
Merasakan jalinan cinta kami, aku selalu
berharap dan berdoa semoga hubungan aku dan dia
akan sampai ke pelaminan nantinya.
157
“Berkahi hubungan kami ini, Ya Allah,”
pintaku pada Sang Pemberi cinta sejati.
Tentang Penulis
Berlinda Agustina Saputri, ia
merupakan anak kedua dari dua
bersaudara. Ia bersekolah di SMAN 1
Salatiga. Ia tinggal di Jalan K.H.
Ahmad Dahlan, Soka RT 04 RW 15,
Kec. Sidorejo, Salatiga. Ia lahir di
Salatiga, 20 Agustus 2006. Hobinya adalah menyanyi
dan menari.
158
GELAS JATUH
Oleh: Bernadeta Ayunila Kanahaya
Petang itu, aku menapakkan kaki di sebuah
rumah makan. Kebetulan hari itu hari Minggu,
hari libur yang biasanya digunakan untuk
bersantai bersama orang tersayang. Tentunya aku pun
tidak sendiri. Aku memesan kopi dan sepiring nasi
goreng, membayar dan duduk di dekat jendela sambil
menikmati angin sore. Dalam benakku berisi banyak
sekali hal yang mendesak. Aku pun menghela napas
sambil mengacak-acak rambutku hingga tidak rapi
lagi.
Gelas kopi yang berada di depanku jatuh karena
kelalaianku ketika memegangnya. Panas. Itulah yang
aku rasakan. Seorang ibu di sebelahku mendekat dan
memberi bantuan. Selesai membantu, ia kembali
duduk di sebelahku dan bertanya mengapa sedari tadi
aku terus melamun, bahkan sampai mengacak-acak
159
rambutku. Aku pun dengan menghela napas sesak
bercerita bahwa aku harus bekerja dan tetap
melanjutkan pendidikan demi memenuhi kebutuhan
hidupku dan ibuku. Aku takut menghadapi semua itu.
Ya, aku hanya tinggal berdua dengan ibuku dan ia
sakit. Ibu yang membantuku tadi tersenyum dan
berkata bahwa memang sulit harus menjalani
kehidupan yang bisa dibilang jauh dari kata biasa. Ia
memberi banyak pepatah kata dan sangat
menenangkan hatiku. Kami pun pada akhirnya makan
bersama.
Gelas jatuh hari ini membawaku pada
ketenangan dan mengawali pertemuanku dengan ibu
ini. Ha-ha-ha … tidak. Ini bukan pertemuan kami
yang pertama atau kedua kali. Kata terakhir yang aku
lontarkan pada saat itu, “Mari, Bu, kita pulang ke
rumah.”
Iya, ini ibukku yang sedari tadi berbincang
bersamaku, ibuku mengidap penyakit alzheimer di
usia tuanya dan aku akan terus menjaganya dengan
sepenuh hati.
160
Tentang Penulis
Bernadeta Ayunila Kanahaya adalah nama
lengkap dari penulis cerita mini yang berjudul “Gelas
Jatuh”. Ia lahir di Kota Salatiga pada tanggal 31
Januari 2007. Ia berdomisili di Jalan Taman
Pahlawan No. 33 B, Kota Salatiga. Saat ini, ia tercatat
sebagai murid SMA Negeri 1 Salatiga dan berada di
kelas fase E/X.8. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected] atau melalui
akun Instagram @ayun1la.
161
ADA APA DENGAN AYUNDA?
Oleh: Betty Soesanto
Ayunda sedang menyetir mobilnya untuk
mengantarkan Irma pulang ke hotel seusai
menghadiri acara reuni akbar sekolah mereka yang
diadakan malam hari. Irma yang datang dari luar kota
dan sudah lama tak berjumpa dengan sahabatnya.
Melihat kesempatan semobil akan menjadi reuni kecil
mereka walau mungkin hanya untuk belasan menit ke
depan saja.
Sepanjang perjalanan pulang menuju hotel,
alih-alih ingin memanfaatkan waktu untuk
bernostalgia bersama, Irma malah harus mendengar
Ayunda berbicara dan sekaligus berkeluh kesah
tentang keluarganya. Terlebih saat Ayunda mulai
mangeluhkan tentang Hannah, putri remaja semata
wayangnya, yang makin lama makin sulit dipahami
olehnya.
162
Keluh kesah Ayunda yang seakan tak berujung
membuat Irma mulai merasa tak nyaman duduk
semobil dengan sahabatnya. Namun, demi
menghargai perasaan Ayunda, Irma memutuskan
untuk diam saja sambil bertanya-tanya dalam hatinya,
Ada apa dengan Ayunda? Mengapa Ayunda sekarang
lebih banyak berkeluh kesah tentang hal yang
seharusnya ia syukuri?
Untung saja, tak lama kenudian mobil sudah
berbelok memasuki area hotel. Sebelum berpamitan,
Irma sempat berpesan.
“Ayunda, syukurilah semua yang telah kamu
miliki saat ini. Kamu dan suamimu jauh lebih
beruntung karena kalian memiliki Hannah daripada
pasangan lain yang ada di luar sana yang belum
memiliki buah hati. Tahu jugakah kamu, kalau salah
satu di antara pasangan yang kurang beruntung itu
adalah aku.
Ayunda tertegun tanpa dapat berkata apa-apa
untuk melukiskan bagaimana perasaannya saat itu.
Namun, satu hal yang pasti, ia merasa sangat malu
pada dirinya sendiri karena terlalu banyak mengeluh
sampai-sampai ia lupa untuk bersyukur.
163
KEJUTAN YANG TAK
DIHARAPKAN
Oleh: Betty Soesanto
Ayunda bertanya manja kepada suaminya saat
mereka berdua sedang jalan pagi di taman
kota.
“Semalam, Mas Anta berjanji akan memberiku
kejutan. Bolehkah kutahu apa kejutannya, Mas?”
Mas Anta hanya menjawab singkat. “Rahasia,
dong. Lagian kejutan untukmu juga masih belum siap
saat ini.”
Dengan GR-nya Ayunda bergumam, “Pastilah
Mas Anta sedang menyiapkan kejutan manis
untukku. Asyik!”
Setelah berjalan dua putaran, Ayunda
memutuskan untuk rehat, tapi Mas Anta masih
melanjutkan acara berlarinya. Seusai berlari beberapa
putaran, dengan napas terengah-engah dan keringat
164
yang bercucuran ia menghampiri Ayunda yang telah
bersiap menyambutnya dengan riang sambil
menyodorkan kaus kering. Alih-alih akan mengambil
kaus kering dari tangan Ayunda, Mas Anta malah
menarik tubuh istrinya erat-erat ke dalam dekapannya
sehingga kausnya yang basah kuyup karena keringat
langsung membasahi kaus Ayunda yang mulai
mengering. Spontan Ayunda mendorong jauh-jauh
tubuh suaminya seraya berteriak dengan nada tinggi.
“Apa-apaan ini, Mas Anta?”
Dengan wajah merah padam Ayunda berbalik
dan membelakangi suaminya. Mas Anta
membalikkan tubuh Ayunda yang sedang ngambek
seraya berkata dengan lembut.
“Sayang, ini kejutan yang kujanjikan semalam.
Sungguh, aku sangat terobesesi untuk membuatmu
tidak alergi dengan keringatku ini. Dan tampaknya
usaha kerasku tadi sudah mulai menunjukkan hasil,
ya. He-he-he.”
Melihat seringai Mas Anta penuh kemenangan
membuat Ayunda tak bisa berkata-kata lagi. Ayunda
tak tahu apakah ia harus sedih atau marah atau bahkan
mungkin kedua-duanya. Ia hanya dapat berteriak
dengan satu kata, “Awas!”
165
Tentang Penulis
Betty Tjahjawati Soesanto
lahir di Kota Semarang, 29 April
1970. Ia lulus S-1 dari Fakultas
Ekonomi UKSW Salatiga tahun
1993. Ia pernah bekerja di Kota
Surabaya selama 2,5 tahun dan
kemudian bekerja pada sebuah perusahaan di Kota
Semarang selama 23 tahun. Saat ini ia adalah seorang
ibu rumah tangga dan telah menghasilkan sebuah
tulisan dengan nama pena Betty Soesanto di koran
Jawa Pos dalam rubrik “Me & My Dog” dengan judul
“Menjadi Warna Indah di Rainbow Bridge”. Ia dapat
dihubungi melalui Facebook Tirza Betty Tjahjawati
Soesanto.
166
INSTROPEKSI
Oleh: Bety Yuni Hariyanti
“Aaaaaaaaarghhh, aaaaaargghhh,
aaaaaaaarrggghhhh….!!!”
Tiba-tiba Minggu pagi yang cukup
lengang itu terusik oleh jeritan. Suara itu sepertinya
bersumber dari salah satu rumah di ujung perempatan
jalan di kampung itu. Spontan saja beberapa orang
melongok dari pintu rumah, bahkan pagar mereka dan
saling tatap. Seperti yang sudah bisa diduga, kejadian
seperti ini akan berbuntut menjadi bisik-bisik, apalagi
di perkampungan seperti ini.
Bu Patmi yang rumahnya paling dekat dengan
suara teriakan itu, yang tadinya sedang menggoreng
ikan di dapur, langsung mematikan kompornya dan
berlari ke halaman rumah. Matanya menggelinjang,
mencari-cari sumber suara itu. Suaminya yang sedang
mengelap motor bututnya hanya melongo mengikuti
167
tingkah polah istrinya. Sejurus kemudian dia sudah
menyeret suaminya dan mulai melancarkan
kebiasaanya menyerocos ke sana kemari. Peristiwa
seperti pagi ini adalah sesuatu yang sangat dia
nantikan sebagai bahan gunjingan seperti biasanya
dengan suaminya sebagai pendengar setia. Ia mulai
menduga-duga dengan berbagai macam “jangan-
jangan”.
Jeritan itu sudah pasti juga berimbas di
segerombol ibu-ibu yang sedang memilah-milah
sayuran di tukang sayur keliling langganan mereka.
Tiba-tiba mereka menyangkut-nyangkutkan suara
jeritan itu dengan kasus salah satu artis di televisi
sekarang ini. Sambil meraup cabai di hadapannya,
tanpa sedikit pun memperhatikan apa yang
dipegangnya. Bu Surti sedang asyik menimpali
omongan Bu Sela dan Bu Rumpi, teman sejawatnya,
setelah mendengar jeritan itu. Tangannya mungkin
tak terasa panas karena bahan obrolan mereka terasa
lebih panas.
“Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh…!!!”
Kali ini jeritan itu terdengar lebih panjang dan
menyayat. Jeritan yang keluar dari mulut Bu Patmi
ketika beradu mulut dengan suaminya sendiri, disahut
dengan jeritan dari Bu Rumpi pada waktu ada
penagih utang datang ke rumahnya, disusul jeritan
168
dari Bu Surti karena ia mengucek matanya dengan
tangannya yang berbau cabai.
Tentang Penulis
Bety Yuni Hariyanti lahir di bulan Juni,
di Bumi Wali, Tuban. Cukup lama ia
tertarik di bidang literasi sejak berkuliah
di jurusan PBSI Unesa (angkatan 2022).
Menikmati karya sastra (terlebih fiksi)
dengan membaca adalah keasyikan
tersendiri baginya. Beberapa karya prosa mulai
menggeliat sejak 2022 melalui terbitan SIP
Publishing di beberapa antologi cerita mini. Sebagai
ibu dari satu anak dan salah satu pengajar di SMAN
1 Kerek bisa dihubungi melalui e-mail
[email protected] dan FB: Bety Del Piero.
169
SECANGKIR TEH
Oleh: Blessing From Heaven
Setelah sekitar 1—2 tahun berpisah, akhirnya
Zio bertemu dengan ayahnya yang tinggal di
luar kota. Zio merasa sangat senang bertemu
dengan ayahnya. Mereka berdua berbincang-bincang
di ruang tamu.
Pada saat mereka berbincang-bincang, seorang
wanita datang. Wanita itu adalah teman ayahnya. Ia
ikut berbincang-bincang di ruang tamu. Ayah Zio
berulang kali meminta maaf kepada Zio karena
sikapnya selama ini. Namun, Zio tidak
mempermasalahkan hal tersebut.
Zio ingin menenangkan suasana dengan
membuatkan teh untuk ayah dan temannya. Ia pergi
ke dapur untuk membuatkan teh, lalu ia
membawakannya ke ruang tamu dan mereka
meminumnya.
170
Ayah bertanya, “Zio, kamu tadi ke dapur
melewati kamar tidur, ya? Apakah pintunya
terbuka?”
“Iya, Yah, tadi ada kamar pintunya terbuka,”
jawab Zio.
Seketika Ayah Zio menjelaskan sambil
meminta maaf mengenai apa yang ada di dalam
kamar tersebut. Namun, Zio hanya tersenyum.
Lama-kelamaan suara ayah yang berisik
menjadi sunyi senyap. Ayah Zio dan wanita tadi telah
tersungkur di lantai. Kini Zio bingung mengenai apa
yang akan dilakukannya dengan bayi tersebut.
Tentang Penulis
Blessing From Heaven adalah murid SMA
Negeri 1 Salatiga. Ia lahir di Jepara pada tanggal 1
Januari 2007. Ini adalah kali keduanya membuat
cermin.
171
MANA ANI
Oleh: Brytje Geradus
Pak Rahman duduk di dekat jendela. Dari
jendela itu tampak pekarangan sekolah,
beberapa anak sedang bermain, berlari, dan
ada yang duduk-duduk sambil bercengkwrama
tertawa lepas. Pemandangan yang selalu dinantikan
tiap hari ini mungkin akan dirindukannya sebab tidak
lama lagi ia akan purna bakti.
Tiba-tiba suara berat Pak Kasman
membuyarkan lamunannya. Rapat para guru, staf, dan
kepala sekolah yang selalu diadakan tiap awal
semester sudah dua kali diadakan. Namun, baru kali
ini diikuti Pak Rahman. Setelah pandemi ia tak
pernah masuk mengajar karena kesehatannya
terganggu.
“Baiklah, Bapak Ibu, rapat akan saya tutup.
Jika masih ada keluhan yang masih ingin
172
disampaikan sehubungan kurikulum Merdeka
Belajar, silakan ke ruangan saya atau tanyakan pada
Ibu Dona. Semoga semua bisa berjalan dengan lancar.
Terima kasih atas kehadirannya. Rapat ini saya tutup
dengan uca ….”
“Maaf, Pak, saya mau bicara.” Tiba-tiba Pak
Rahman menyela ucapan kepala sekolah. “Pak,
apakah ini harus dilakukan oleh semua guru?”
“Iya, Pak.”
“Lima bulan lagi saya akan pensiun, apakah
saya juga harus menyusun ulang strategi
pembelajaran saya, Pak?”
“Iya, Pak,” tegas kepala sekolah, “pengawas
yang akan datang minggu depan akan memeriksa
perangkat pembelajaran kita.”
“Begini, Pak … laptop yang dipinjamkan
sekolah sejak awal masa pandemi itu sudah tidak bisa
terpakai.”
“Rusak, ya, Pak?” tanya Bu Nurlina.
“Kalau rusak kembalikan ke sekolah, Pak. Biar
besok bisa diperbaiki dan bisa digunakan lagi,” kata
Bu Amma yang membidangi urusan sarana dan
prasarana di sekolah.
“Tidak rusak, Bu,” jawab Pak Rahman sambil
tersenyum, “hanya saja saya tidak bisa lagi
menggunakan laptop itu. Pertama karena mata saya
173
sudah kurang awas, lalu jari tangan saya sudah kaku
untuk mengetik. Saya juga tidak mampu
mengoperasikan laptop yang perintahnya kebanyakan
bahasa Inggris. Jadi, selama empat tahun ini saya
dibantu oleh Ani, anak honorer titipan yang
dipekerjakan Diknas. Tapi, sejak pandemi, saya tidak
pernah bertemu Ani lagi. Sejak itu, saya tak pernah
menggunakan laptop itu,” kata Pak Rahman
tertunduk.
“Bu Sulfi, tolong, Pak Rahman. Bukakan
laptopnya dan download materi Merdeka Belajar
untuk mata pelajaran Matematika kelas tujuh,”
ucapku pada Bu Sulfi tata usaha yang biasa
mengoperasikan komputer sekolah.
“Maaf, belum saya cas,” kata Pak Rahman
sambil mengeluarkan kabel cas laptopnya. “Selama
ini saya bergantung penuh pada Ani karena saya
memang tak mampu mengoperasikan alat ini. Kata
sandi untuk masuk laptop ini juga dibuatkan oleh
Ani.”
Ooo … pantas saja sejak awal semester Pak
Rahman tidak memasukkan perangkat
pembelajarannya. Sejak sekolah dibuka lagi setelah
pandemi, laptop itu malah diabaikan. Tiap hari
laptop itu teronggok di sudut mejanya, batinku.
174
Seisi ruangan terdiam. Pak Rahman tak tahu
jika Ani sudah pergi meninggalkan sekolah ini karena
pandemi.
Makassar, 15 Oktober 2022
175
SEKOLAH BARU
Oleh: Brytje Geradus
Akhirnya aku akan melewati malam pertama
seorang diri di rumah dinas sekolah yang
disediakan oleh pemerintah bagi guru yang
berdomisili jauh dari tempat mengajar.
Aku memacu mobil memasuki perkampungan.
Ada sepuluh unit rumah guru yang disediakan.
Letaknya dekat perkampungan.
Malam itu suasana kampung cukup ramai. Para
penghuni banyak yang beraktivitas di luar rumah,
padahal besok masih hari Jumat. Aku sempat
menginjak pedal rem karena hampir saja menabrak
anak kecil yang tiba-tiba muncul di depan mobilku.
Saat parkir di depan rumah, sebuah ketukan di
kaca mobil membuatku terkejut. Seraut wajah ayu
sudah menempel di jendela. Ia tersenyum ramah, lalu
176
mundur beberapa langkah. Aku pun turun dan
menyapanya.
“Selamat malam.”
“Hai, saya Darmi.”
“Saya Bernadetha. Saya guru pindahan,”
kataku sambil menatap gedung sekolah yang berdiri
kokoh dalam kegelapan, hanya papan nama sekolah
yang diterangi lampu neon itu pun cahayanya sudah
redup.
“Oh, aku guru matematika di sekolah itu,”
katanya tersenyum. Ia tampak manis, kulitnya kuning
pucat, serasi dengan dres putih selutut yang ia
kenakan.
Aku mengangguk. “Maaf, aku belum sempat
berkunjung ke rumah teman seprofesi untuk
berkenalan.”
“Tidak apa-apa. Kalau mau, aku bisa
mengantarmu, mumpung semua penghuni sedang ada
di luar,” kata Darmi.
Setelah mengunci mobil, aku berjdiri di sisi
Darmi. Kemudian ia mulai menunjuk dan
menyebutkan nama satu per satu penghuni rumah
dinas sekolah itu dan menyapa beberapa orang yang
lewat di hadapan kami.
177
“Nah, kalau nenek itu namanya Kindo* Uni.
Lebih baik menghindar darinya. Dia kerjanya
mengganggu kesenangan penghuni kampung ini.”
Tampak seorang nenek berdiri di teras rumah
sambil membawa sapu lidi. Ia mengayun-ayunkan
sapu lidi mengusir orang-orang yang lewat depan
rumahnya.
“Dia caraka di sekolah itu.”
Aku menganggukkan kepala saat ia menatapku.
“Kalau rumah Ibu yang mana?”
Bu Darmi terdiam sebentar, kemudin menunjuk
ke rumah paling ujung.
“Di situ. Di dekat tembok sekolah. Kapan-
kapan Ibu berkunjung, ya, ke rumahku,” undangnya
kemudian ia berpamitan.
Keesokan harinya, saat membuka pintu, aku
tidak melihat anak-anak berangkat ke sekolah.
Perkampungan tampak sepi, tidak seperti
suasana tadi malam.
Udara dingin dan kabut pagi masih
menggantung di udara. Suasana kampung terlihat
lebih kusam dan kumuh. Aku melewati beberapa
rumah guru yang seperti tidak berpenghuni, bahkan
ada yang terbengkalai sampai plafon dan atapnya
terlihat hampir roboh.
178
Sesampai di depan sekolah aku mengedarkan
pandangan.
“Selamat pagi, Bu!”
Kindo Uni sudah berdiri di hadapanku.
“Selamat pagi, Nek. Guru yang lain mana, ya?”
“Sekolah tutup sejak pandemi. Kepala sekolah
dan guru-guru kembali ke rumah mereka di kota.
Minggu lalu ada pengumuman sekolah dibuka lagi,
tapi tatap muka hanya seminggu dua kali.”
“Nek, rumah Bu Darmi yang mana? Mumpung
belum masuk kelas, aku mau ke rumah Bu Darmi.”
Mata Kindo Uni melotot. Aku mundur
selangkah, jangan-jangan dia memang menakutkan
seperti yang diceritakan Bu Darmi.
Dia membalikkan badan dan menunjuk ke
sudut pagar luar sekolah.
Tampak batu nisan bertuliskan,
DARMI LAKSANA
Lahir, 7 Januari 1990
Wafat, 17 Juni 2021
Aku terdiam dan merasakan angin dingin
yang tiba-tiba menelusup di tengkukku.
Makassar, 15 Oktober 2022
Catatan:
179
Kindo: panggilan pada orang yang lebih tua/
ibu (Bahasa Mandar)
Tentang Penulis
Brytje Kapa’ Geradus lahir di
Makassar, 13 Agustus 1969. Ia
merupakan tenaga pengajar pada
SMP Negeri 47 Kota Makassar.
Berolahraga, membaca, dan
mencoret-coret idenya di kertas
merupakan kesukaannya. Ia lulusan Sastra Indonesia,
UNHAS. Setelah ikut Kelas Pena Kreatif dan
bergabung dengan beberapa kelompok menulis dan
literasi, ia melahirkan antologi dengan berbagai
genre. Ia ingin meninggalkan jejak lewat tulisan dan
berniat memajukan literasi. Mottonya, belajar dan
terus belajar. Brytje bisa di follow di Instagramnya
@brytjegeradus atau Facebook Brytje Geradus
https://www.facebook.com/brytje.geradus.
180
TAK SEBAIK YANG TERPIKIR
Oleh: Bunga Faizatul Anggraeni
Sesekali dari seberang jalan aku melihat
matanya mencuri-curi pandang ke arahku.
Tanpa kusadari, aku pun berbuat sama. Dia
bertubuh tinggi menjulang, menjadikanku harus
mendongakkan kepala saat di depannya. Sorot
matanya tajam hingga membuatku selalu tertunduk
saat bertemu. Senyum yang memikat lebar terlihat
rapi gigi putih berjajar.
Katanya, dia sosok baik hati dan berbudi. Bela
mengorbankan diri demi mengabdi dan menolong
mereka yang terpuji. Siap sedia menyumbangkan
tenaga pada mereka yang berbuat benar. Sungguh
pemberani bagai kesatria. Hatiku berdegup kencang
hampir tak percaya ketika melihatnya dari teras
181
rumahku pada suatu hari. Hingga beberapa purnama
pun, dia masih tegap menatapku.
“Bu, aku takut. Aku masuk masuk ke rumah.
Aku tidak mau melihatnya terlalu lama.” Suara
seorang anak lirih berbisik di telinga sambil menutup
mata dan mendekapku erat.
“Ya, Nak. Ayo kita masuk!”
Sebelum bangkit, kulempar pandangan ke
seberang jalan. Kutatap sosok yang terlihat
mengerikan dan menakutkan bagiku. Tampak giginya
yang runcing dan matanya merah menyala. Aku pun
buru-buru menggendong anakku, anak laki-laki yang
tadi berbisik kepadaku, untuk meninggalkan patung
Hanoman sisa karnaval yang membuat trauma
anakku.
182
AYAH DAN STROBERI
Oleh: Burhanudin
Pagi ini cuaca cerah, mentari tersenyum seakan
menyambut orang-orang yang sedang
beraktivitas dengan kesibukannya masing-
masing, tak terkecuali dengan aku. Pagi itu aku
berangkat ke sekolah dasar (SD) dengan semangat.
Sepeda motor tua jenis bebek rakitan tahun 1997
kunyalakan di halaman rumah. Kuraih tangan kanan
istri dengan tatapan sayang.
“Ayah berangkat dulu, Bunda,” kataku sambil
tanganku dicium penuh hormat olehnya.
“Waalaikumussalaam, hati-hati di jalan, Ayah.
Jangan lupa berdoa,” sahutnya sambil mengantarkan
aku di depan pintu.
“Iya, Bunda,” jawabku.
Bismillahirrahmaanirrahiim. Perlahan aku
mulai meninggalkan rumah melewati jalan yang
183
cukup menegangkan karena harus mengaspal di jalan
yang rusak, berlubang, dan terjal menuju lereng
Gunung Sumbing.
Tepat setelah aku selesai menunaikan salat
Zuhur di musala SD, tiba-tiba langit mendung diiringi
terpaan angin yang sangat kuat berselimut kabut tebal
yang mengurangi jarak pandang. Tak berselang lama,
secara perlahan hujan mulai turun dengan sangat
deras hingga waktunya absen pulang tiba belum juga
reda.
Jas hujan dan helm kupakai, sepatu kulepas,
dan aku tinggal di bawah meja kantor sekolah,
handphone berdering keras tertera nama istriku di
panggilan masuk. Tak berselang lama panggilan
kuterima.
“Assalaamualaikum, Ayah” sapa istriku.
“Waalaikumussalaam, Bunda,” jawabku.
“Ayah, anak kita nangis minta stroberi,”
katanya melanjutkan.
“Oh ya? Ya sudah ayah langsung ke toko buah,
ya, Bunda,” jawabku lagi.
“Iya, Ayah, tolong ya, Yah. Kasihan anak kita
dari pagi belum mau makan sebelum makan
stroberi,” sahutnya.
“Baik, Bunda, semoga dapat,” sahutku kembali.
184
Kabut tebal, angin kencang, hujan deras kulalui
hingga air mulai masuk membasahi bajuku. Namun,
tak menyurutkan niatku demi senyum si buah hati.
Sampailah aku di toko buah yang cukup besar di kota.
Namun, tak terlihat ada stroberi di display buah.
“Maaf, Mbak, ada stroberi?” tanyaku pada
salah satu pramuniaga.
“Maaf, Pak, stok kosong,” jawabnya.
“Oh, ya sudah, Mbak. Makasih,” sahutku.
Hampir saja aku menyerah, tapi tak semudah
itu. Aku terus berusaha mencari ke toko buah yang
lain. Dua toko buah tak ada stok semua. Badan
semakin basah dan dingin serasa menusuk kulit. Aku
terus mencari. Hingga sampai di kebun stroberi milik
seorang petani, ternyata tak sesuai harapan. Stroberi
habis dipanen pagi tadi.
“Astagfirullahal ‘adziim, bagaimana ini, ya
Allah,” hatiku merintih kepada Allah. Tak berselang
lama, sang petani menemuiku lagi sambil membawa
satu mika kecil berisi 15 buah stroberi.
“Pak, ini ada sisa stroberi yang aku ambil dari
kulkas, apa Bapak mau?” tanya petani itu.
“Alhamdulillah, ya Allah. Baik, Pak, ini saya
beli, ya, Pak. Berapa harganya?” jawabku dengan
sangat antusias dan penuh syukur.
“Lima ribu rupiah saja, Pak,” jawabnya.
185
“Baik, Pak. Ini uangnya dan terima kasih
banyak, Pak,” jawabku sambil memberikan uang
kepada petani itu. Aku pulang dengan hati lega.
Anakku sudah menungguku di ruang tamu
rumah.
“Ayah, aku mau stroberi,” kata anakku sambil
memeluk erat tubuhku yang basah kuyup.
“Ini, Nak, ayah bawakan stroberi untukmu,”
jawabku.
“Terima kasih, Ayah,” katanya lagi.
“Sama-sama, Nak,” jawabku.
Bahagia dan puas. Itulah itulah perasaanku.
Capek, kedinginan sembuh seketika melihat senyum
bahagia di wajah anak perempuanku yang baru
berumur 2,2 tahun. Ditambah lagi ungkapan tulus
istriku bahwa ayah adalah pahlawan kami.
Tentang Penulis
Burhanudin lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 36
tahun yang lalu. Ia merupakan seorang guru PAI yang
senang membaca buku-buku tentang agama tentunya
dan traveling adalah salah satu hobinya. Ia bisa
dihubungi melalui akun media sosial Instagram:
masburhan86.
186
JAUH
Oleh: Camelina Safira Grandis
Ani sangat bersemangat di pagi yang cerah ini.
Pasalnya, ia akan bertemu pacarnya yang
sudah lama ia temui karena terhalang jarak.
Saat Ani bersiap siap, tiba-tiba teleponnya berdering.
Ia pun melihat layar handphone-nya dan ternyata
pacarnya menelepon.
“Halo, Ani apakah kamu sudah siap?” tanya
Rega pacar Ani.
“Halo, Rega, aku sudah siap. Kau bisa
menjemputku sekarang,” kata Ani dengan senang dan
semangat.
“Baiklah. Aku akan menjemputmu. Tunggu
aku!” pinta Rega lalu telepon di tutup oleh Rega.
Beberapa menit kemudian Rega pun sampai di
kos Ani. Ani yang melihat Rega datang pun segera
masuk ke dalam mobil Rega. Mereka pun berpelukan
187
untuk saling menyalurkan rasa rindu yang sudah
mereka simpan selama ini karena terhalang jarak.
Sepanjang perjalanan meraka bercanda ria
sampai mereka tak tahu kalau di depan mereka ada
mobil yang akan bertabrakan. Rega pun kaget dan
membanting setir agar tidak bertabrakan dengan
mobil itu, tetapi mereka malah tertabrak sebuah
pohon. Braakkkk.
Ani yang masih setengah sadar melihat Rega
penuh dengan darah pun khawatir.
“Rega,” berkata dengan susah payah. Ia pun tak
sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Tak
berselang lama bantuan pun datang dan mereka
dilarikan ke rumah sakit.
Keesokan harinya, Ani sadar dan menanyakan
kondisi Rega pada keluarganya.
“Bagaimana kondisi Rega, Bu?”
Ibunya pun mendengar itu langsung terlihat
murung dan sedih di wajahnya. Ani yang merasa ada
yang tidak beres pun bertanya kembali kepada
ibunya.
Ibu, ada apa? Bagaimana kondisi Rega?” tanya
Ani.
Ibunya pun dengan berat hati berkata, “Rega
tidak bisa di selamatkan,” ujar ibu dengan sedih.
188
Ani pun syok dan berkata, “Bu jangan
bercanda.”
Ibunya pun langsung memeluk Ani dan
mengelus punggungnya. Ani pun menangis tersedu-
sedu dipelukan sang ibu. Ia tidak menyangka itu
adalah pertemuan terakhirnya dengan Rega setelah
sekian lama tidak bertemu.
Tentang Penulis
Camelina Safira Grandis
seorang siswa dari SMA Negeri 1
Salatiga. Kini ia berada di bangku
kelas 10. Hobinya memasak dan ia
memiliki usaha roti yang bernama
Barka Cake. Satu cermin telah
dibuatnya, yang berjudul “Ganti
Rugi”.
189