Ilustrasi: Emi Suryani
SELAMAT DATANG
Elang melayang menyambutku
Mengiringi laju perjalananku
Selamat datang selamat datang
kurindukan kau selalu
Kusapa hutan sumanding yang angker
Elang datang melayang di atasku
Suarakan rasa cemas
Kapankah manusia kembali lindungi hutanku
214 Suara Hati Perempuan | 211
Ilustrasi: Cama Juli Rianingrum
KARANG PARANJE
Terbentang karang menghadang
ganasnya ombak pantai selatan
Membujur timur ke barat
Singgasana tegak menantang matahari terbit
Timur awal kehidupan
Pandanglah tuk belajar pada masa lalu Barat adalah tujuan,
sedetikpun masa datang tak kan pernah tahu
Hidup datang silih berganti
Titik pijak kokohkan keyakinan
Hidup sekali harus berarti
Pastikan langkah capai tujuan
212 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
PUSEUR SANCANG PANGIRUTAN
Sancang nama misteri di balik Sang Prabu
Penanda Ngahyang Raja Siliwangi
Hirup Hurip Sunda
Terpancar dalam ingatan massa
Wangsit diwedar tuk pewaris takhta
Wujud baru dalam dunia baru
Siliwangi akan tetap hidup
Menjadi Puseur kekuatan semesta
Siapa berbuat kebaikan Ilustrasi: Arleti Mochtar A.
Semesta menuntun pada perubahan
Selaras itikad, kata dan perbuatan
Tunjukkan Karisma penuh pesona
Pangirutan asal kekaguman
Tuk tebar harumnya kearifan
Tradisi merebak dalam langkah
Siliwangi kembali semarak
214 Suara Hati Perempuan | 213
Rina Mariana
Ilustrasi: Rina Mariana
PANTAI KEDAMAIAN
Saat mulai rindu
Aku hanya berdiam
memandang lautan
duduk di batu pantai
air laut menghampiri karang
buih-buih lembut di antara angin
gemericik menyandarkan diri
perjalan rutin seperti ombak
yang mampu menenangkan
sekaligus menyenangkan penuh damai
214 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
langit menguning hempasan sinar matahari
angin yang berhembus memberi napas kesejukan
pasir yang terus menghampar di celah bebatuan pantai itu.
Indahnya ciptaan-Mu
214 Suara Hati Perempuan | 215
Ilustrasi: Rina Mariana
CURUG MALELA
Air terjun terdengar begitu merdu
Air terjun jatuh ke bebatuan
Bebatuan menerima bak cintanya hadir
Burung berkicau terdengar seperti nyanyian kasih
Kasih sayang ranting pohon menyertainya
Serta suara hempasan angin air terjun menyejukkan
Perpaduan bunyi air bunyi angin bunyi kicau burung bunyi daun
di ranting
Satu di antara kasih sayang-Nya seperti air terjun, mengalir liar
dan bebas
Kesempurnaan nikmat-Mu
216 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Rina Mariana
PULAU DEWATA
Pulau Dewata penuh dengan misteri
keindahan
Keindahan alammu sangat eksotik
ragam budayamu sangat cantik menarik
Pulau surgawi disukai semua orang
Tak heran jika orang-orang di luar sana ingin mengunjungimu
Tak akan pernah ada yang bosan untuk mengaguminya
Pantainya memang sungguh mengagumkan
Pasir putih terhampar menambah keindahannya
Dihiasi banyak barisan pohon kelapa
Pohon kelapa melambai-lambai tertiup angin
Bagaikan penari yang menari dengan amat gemulainya
Lirikan mata penari yang lucu
Letikan jari penari lancip
Pakaian adat penari berwana-warni keemasan
Semuanya menambah daya tarikmu
214 Suara Hati Perempuan | 217
NYI BALAU
Bulu- bulu yang diterpa embusan angin.
Bulu-bulu penghias kepala nan Anggun
Terpasang pada kepala wanita cantik
Perangai baik sopan rupawan,
Tutur katanya yang baik, berucap penuh santun
Kepatuhannya kepada kedua orang tua.
setiap memandang mengundang decak kagum
Ilustrasi: Rina
Mariana
Bunga cantik berkembang di padang rumput
banyak kumbang yang datang tak dihiraukan
Hanya satu kumbang datang menghampiri
Nyi Balau bak bunga cantik dipinang pemuda tampan
Seorang putra lahir kebanggaan pasangan itu
Sukacita tak terkira menyelimuti semua
Tapi tak lama putra hilang
Nyi Balau diselimuti kesedihan mendalam
Pertapaan panjang membawa hasil
Kesaktian memenuhi dirimu
Balas dendammu terbebaskan padamu Antang
Antang penculik putra tercinta itu terkapar
218 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Nyi Balau menjadi pemimpin wanita terbaik
Terbaik kala itu di Kalimantan
Nyi Balau dikenang dengan ketekunan kesabarannya
214 Suara Hati Perempuan | 219
Ilustrasi: Rina Mariana
PENARI BALET
Gaun yang unik indah
Sepatumu mungil lucu
Gemulainya gerak tubuhmu
Lentiknya jemari-jemari berpadu indah
Liukan tubuhmu yang lentur
Gerak langkah dengan jari-jari yang kuat
Melodi irama mengalun syahdu
Gerakan tangan memanjakan mata penonton
Senyuman tipis manis penuh kebahagiaan
Sorot mata melirik tajam
Berubah sekejap menjadi lembut cantik
Pukulan selendang merah terikat di tongkat
menambah goyangan tubuh mengundang kekaguman
220 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Semangat menari dan terus menari
Dengan anggun senyum dan ketulusan
Kelincahannya sungguh indah
Karena menari dengan hatimu.
214 Suara Hati Perempuan | 221
Risca Nogalesa
Ilustrasi: Nita Dewi
SANG FAJAR DAN GERIMIS
Sang Fajar
Di ujung ruang berkayu
tempat duduk yang hangat
Meja yang rapuh
Bunyi gaduh dari tetesan air jatuh dari langit
Sang fajar
kita bertemu duduk bersantai di senja hari
Saat ini aku ingin menyimak
Diksi-diksi terpenggal dari secuil kisahmu
Lembaran-lembaran kertas yang masih kosong
Aku menggores tak ingin berhenti
Dari sebuah titik menjadi jiwa
Zona ambigu terbangun entah dari mana
222 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Sang Fajar
Aroma kopi tak tercium
Sudah terasa dingin mulut ini
Mengalir hangat di hati
Membangunkan sisi lain
Kita saling menatap
Ketertarikan tidak terhindar
Sang fajar
Ada batas yang tidak bisa dilewati tapi terlewati
Seakan detik ini membeku
Memberi mimpi menjadi nyata
Di dimensi lain yang tak terhingga
Percakapan ini tidak pernah usai
Seperti buku yang tak ingin kutamatkan
Sang fajar
Kelak kita akan berpisah dan kita berjumpa lagi
Dari waktu ini dan waktu nanti
Tapi di antara kita tak ada kata “selamat tinggal”
Keabadian yang fana
Sang fajar
Renjana kita terpenjara di syaraf tak kasat mata
Risalah tersimpan rapih
Seperti usai badai saat ini
Berganti gerimis seperti namaku
Mari kita pulang dalam nyata …
Bandung, 2022
Merindu sang fajar
214 Suara Hati Perempuan | 223
Ilustrasi: Gilang Cempaka
WANITA SEUTUHNYA
Kueja namamu
Dengan mendesah bermain lidah
Terlanturkan kidung-kidung murni
Mata meredup berbinar terang
Adrenalin sudah dalam darah
Tangan ini telah menari
Berkelana liar
Membelai setiap jengkal lekukmu
Semua indera terbangun
Irama nafas terlahir dari bibir yang ranum
Seakan menyanjung membawa delusi
Menjadi nyata
Peluh tercipta dari pergumulan panjang
Ketelanjangan saat ini bukan menjadi tabu
Detak jam menjadi irama dalam setiap gerakan
Wangi tubuh yang asing menyeruak
224 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
“Malam ini aku menjadi Wanita seutuhnya
Dari sebuah perjanjian suci“
Bandung 2022
Terbangun dari keterasingan
214 Suara Hati Perempuan | 225
BERANJAK
Aku bernapas di hamparan rumput mengering
Dengan jiwa rapuh
Asa seakan melayang
Menjauh, sunyi
Mantra-mantra kebencian
Terpanjat dari mulutku
Ketika lelaki meninggalkan jejak
Membekas di sekujur tubuhku
Kulit membiru tertanam di hati
Ilustrasi: Farida Wahyu
Rusuk ini telah meranggas
Kepedihan menyesatkan
Menjadikan renjana seperti sebuah permainan
Suaraku terengah dari sisa keberanian
Berbisik syahdu
“Persetan dengan sabar yang bodoh, ada saatnya aku
beranjak”
Bandung, 2022
Berpikir logis
226 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
SALAH PILIHAN
Aku berkelana di serpihan cermin
memantul wajahku
Sakit menusuk melukai pembuluh darah
Memberi bekas garis terseret dari luka tak
pernah kunjung sembuh
Aku menatap langit
Udara semakin terhimpit
Ilustrasi: Sri Rahayu
Saptawati
Bentangan lembayung tampak indah
Seperti layar tentang kenangan kecilku
Sebuah sukacita mengiringi aku pada dunia
Belaian terhangat menyentuh seluruh nadi
Dari tangan seorang Wanita
Suara selembut embun mengantarkan aku
Dari sosok lelaki pertama, cinta pertama seorang anak
Aku takut serpihan indah itu menghilang
Tak pernah terpasang kembali
Terganti tulang rusuk membusuk di dalam tubuhku
Hingga udara ini menghilang tak tersisa
Bandung, 2022
Kita berharga
214 Suara Hati Perempuan | 227
Ilustrasi: Ariani Rachman
SOSOK
Dia sudah menjadi bayangan bias
Jauh jam berputar di tempat yang sama
Tapi waktu berubah dengan kejam
Kepingan-kepingan tentang dia
Semakin lama semakin tak utuh
Ruang-ruang kehidupan aku terisi tanpamu
Aku takut
aku lupa Bagaimana dia bernafas
aku lupa bagaimana suaranya
aku lupa bagaimana hangat tubuhnya
aku lupa setiap detail tentangnya
dan dirimu seperti sebuah mitos yang diceritakan oleh diriku
kepada anakku
Bapak tidurmu terlalu cepat
Bandung, 2022
aku kehilangannya
228 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Rosida Tiurma Manurung
Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.
UNTUK ANANDA
Walaupun rumput kering
Walaupun tinggal tulang
Walaupun terjerumus lubang
Walaupun darah tertuang
Walaupun derita berkumandang
Ibumu ini tetap berjuang
214 Suara Hati Perempuan | 229
Ilustrasi: Niken Apriani
HARMONIKA KEHIDUPAN
Ini hidup
kadang senang kadang meredup
kadang tumbuh kadang layu
kadang indah kadang bernanah
kadang nyaman kadang menghantam
kadang ada dendang kadang menangis perih
harmonika hidup ada nada dan irama
harmonika hidup kita memang beda
230 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Farida Wahyu
TETESAN CERITA
Kuseka air mata
Kuusap debu di muka
Kuhapus peluh di leher
Kutelan liur di tengah panas
Kuseret langkah menapaki tanah
Kubentengi dan kusepuh wajah
Kuingin mencari cangkir
untuk menyegarkan jiwa
Kuingin bercerita tentang tetesan derita
214 Suara Hati Perempuan | 231
Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi
KEHILANGAN
Tak ada yang mekar dan harum
Yang ada hanya debu dan tanah
Tak ada lagi dedaunan dan ranting
Yang ada hanya bingkaian kerontang
Tak ada lagi batang dan akar
Yang ada telah hilang
232 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Erni Suryani
MENATAP HARAP
Dedaunan basah tanda mulainya hari
Ranting meliuk dan menari
Dedaunan tengadah menatap mentari
Ranting melukis keriangan hati
Dedaunan mendamba indahnya hari
Ranting berdendang penuh arti
Dedaunan mengharap berkat Ilahi
214 Suara Hati Perempuan | 233
Sri Rochana Widyastutieningrum
Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti
KEMEGAHAN BOROBUDUR
Sonya ruri, kesejukan hati.
Rembulan sembunyi, dingin, membalut hari.
Berisik dedaunan, menentramkan lelap malam.
Remang cahaya pelita, menyusup, membelah keheningan.
Kelembutan cahya, sinari dedaunan.
Bagai permadani, selimuti bukit Menoreh.
Sejuk, teduh, damai insan sepenuh tubuh, luruh.
Borobudur karya megah yang menakjubkan
Borobudur berdiri megah, gagah.
Meredam energi alam, air, api, tanah, angin, ruang, dan waktu
Mewujud dalam stupa berundak
Beranak pinak, tegak setinggi langit.
234 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Borobudur adalah keajaiban, mukjizat agung
Kodrat Illahi aliri Candi Borobudur
Berkah maknawi kehidupan
Mencapai kebahagiaan, ketenteraman abadi
Borobudur pancarkan cahaya terang
Borobudur pancarkan kedamaian
Sebagai anugerah Illahi di bukit Menoreh
Sebagai anugerah abadi, ketenteraman hati
214 Suara Hati Perempuan | 235
Ilustrasi: Farida Wahyu
SANG PENARI
Kehangatan, keakraban, dan keceriaan.
Pancaran daya hidup yang tak henti melekat erat
Keberadaban, keseimbangan, keselarasan
Kehangatan, kedamaian terjaga
Mengiringi nyanyian merdu, penari gemulai
Cermin ekspresi jiwa bumi.
Cahya terang benderang
Terpancar dari sinar bulan
Tubuh gemulai, luwes menyatu dengan alam
Hening, heneng, henung
Bagai pualam bermandikan cahya purnama
Eloknya taman sari, nyanyian merdu, derai tawa bahagia
Mesra memeluk tubuh sang penari.
236 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Sang penari bergerak dalam meditasi
Tubuhnya meliuk-liuk penuh spirit keabadian
Menebarkan energi positif yang menenteramkan
Menyalurkan energi penuh kedamaian
Sekujur tubuh penari bersimpuh, pasrah, jatuh, luruh
Tiada apa, tiada siapa di hadapan Sang Pencipta
Sepenuh tubuh terhempas lepas dalam pencarian
Pencerahan, pencapaian jati diri.
Sang Penari melebur bersama alam
Menyatu dengan alam.
214 Suara Hati Perempuan | 237
Ilustrasi: Siti Sartika
SIMBOK
Berderap langkah, sumringah, menyongsong cerah esok hari.
Hidup semangat, bahu-membahu.
Kebersahajaan tak henti, lumuri pertiwi.
Simbok bangkit dari tidurnya walau masih tengah malam.
Tak menghiraukan dinginnya malam
Tak memikirkan kantuk yang menggelayut di mata
Tak merasakan tubuh yang enggan untuk bangkit
Simbok bakul bergegas bangun di dini hari yang dingin.
Simbok mengambil air untuk membasuh dirinya
Menggelar tikar untuk bersujud kepada Yang Esa
Doa khusyuk dilantunkan sepenuh hati
Tuk mengawali hari yang penuh harapan
238 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Simbok memanggul bakul penuh sayuran
Sayur dipanen dari kebun dan ladangnya
Sayur diikat rapi untuk dijual ke pasar
Doa mengalir dalam embusan napasnya
Dinginnya udara pagi terasa menusuk tulang
Namun simbok tetap semangat untuk berjalan cepat
Takut pagi segera datang dan terang akan benderang
Simbok mempercepat langkah agar cepat sampai di pasar
Simbok semakin mempercepat langkahnya
Meski berat memanggul di punggungnya
Simbok tetap semangat terus berjalan.
Berjalan terus untuk mengais rezeki di pasar.
214 Suara Hati Perempuan | 239
Ilustrasi: Shitra Noor Handewi
PEREMPUAN
Perempuan,
Cantik wajahnya, luwes perilakunya
Halus tutur katanya, dan luhur budinya.
Tidak berkata keras, tertawa lepas.
Perempuan,
Terbatas gerak dan langkahnya
Tecermin pada busana kain kebaya yang dikenakannya
Karena itu ia tidak dapat berjalan cepat
Langkahnya dibatasi kain yang mengikat kakinya
Perempuan,
berbakti pada suami sepanjang hidupnya
Setia dan melayani sepanjang hari.
mengabdi sepenuh hati untuk mendapat ridlo Illahi
240 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Perempuan,
Penuh bahagia melahirkan anak-anaknya
Penuh sukacita mengasuh dan mendidik mereka
Dengan ketekunan, kegigihan, dan kecerdasannya
Menghantarkan anak-anaknya menyongsong masa depan yang
cerah
Perempuan,
Terikat pada konstruksi budaya
Norma dan etika budaya menjadi pedoman hidupnya
Agama, adat istiadat menuntunnya.
Perempuan,
Tiang bahagia bagi keluarganya
Dengan sabar dan ikhlas menjalani takdirnya.
Berdoa sepanjang waktu untuk mengagungkan-Nya
Seluruh hidupnya milik Sang Pencipta.
214 Suara Hati Perempuan | 241
Sri Rustiyanti
OBSESI#1
Sejenak...
kutermenung...
melamun...
entah... apa yang terpikirkan
orang-orang yang merasa
selalu benar menurut dirinya
hingga...
terjadi berhamburan Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi
mencuat... mengalir…menyeberang
tanpa batas
OBSESI#2
Dari balik teralis jendela
Kulihat…
Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi cuaca mendung kelabu
ibarat sendu...
malas bersenda gurau
seakan alam pun ikut
merasakan goncangan jiwa
dihadang dengan pendirian
keteguhan...
tuk bela angkara murka
dari betari durga
yang lagi murka
242 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
OBSESI#3
Satu...
dua...
tiga ...
setiap kumelangkah
kurasakan khusyuk dan
nikmatnya
berkah ...
hidup... Ilustrasi: Luki Lutvia
rezeki ...
nikmat yang tak terbatas...luas…
nikmat apalagi yang akan kau ingkari
hai manusia jelmaan
Ilustrasi: Niken Apriani OBSESI#4
Harapan... dan kenyataan…
menjadi impian
setiap insan
kawan... atau lawan
entah itu… berteman
entah itu… bermusuh
bias... kabur…samar-samar
Ya Allah mohon setitik
Petunjuk-Mu…perlindungan-Mu…
dari sifat keegoisan
214 Suara Hati Perempuan | 243
Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi
OBSESI#5
Suara adzan...
sayup terdengar dengan lantang
panggilan kita tuk menghadap
Hadirat Ilahi...
khusyuk... tenteram…nyaman
tinggalkan semua duniawi
sementara …sesaat …sejenak
menundukkan kepala…
menata hati...
jaga hati...
tuk mendapatkan berkah ilahi…
aamiin aamiin ya rabbal alamin
244 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Yuyu Saleh
KENANGAN
Samar....
Riangmu terdengar di sini
Terbawa angin
Ketika pagi datang
Dan embun enggan beranjak
Aku ingin meraih Ilustrasi: Shitra Noor Handewi
Derai tawa
Saat pagi datang
Tapi terasa jauh...
Tanganku terkulai
Tak mampu menjamah
Sesekali
Isak tangis terdengar
Rapuh...
Kembali kucari
Namun hilang tak berjejak
Ibu...aku bahagia di sini
Kudengar suaramu dalam bilik malam
Sesekali tawamu terdengar kembali
Aku diam
Menikmati kenangan
214 Suara Hati Perempuan | 245
Berharap pagi segera datang
Agar aku bisa kembali
Menata hati dan menyambut dunia
Dengan senyuman
Garut, 3 Maret 2022
246 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Mirah Rahmawati
KABUT
Sudah lama
Aku merindukan kabut turun di malam hari
Dulu...saat kabut turun
Kami akan keluar
Menari di pekatnya malam
Ditemani musik alam
Tertawa dan terus menari
Kau genggam tanganku
Erat dan tak mau lepas
Hingga...tiba-tiba kau menghilang
Setelah itu aku merasa hidupku gerah
Kabutnya hilang
Diganti hawa panas
Dan aku kehilangan malam yang indah
214 Suara Hati Perempuan | 247
Ilustrasi: Mirah Rahmawati
TSUNAMI
Jumat sore
Kami sedang menikmati senja di Pantai
Ketika gempa datang dengan dahsyatnya
Aku merasa kiamat telah datang
Kutatap langit
Langit belum runtuh
Dan tiba-tiba Tsunami datang
Aku menunggu sahabatku berlari duluan
Memastikan mereka selamat
Setelah itu aku menyusul mereka
Gaduh suara takbir dan isak tangis
Kami terpisah...
Tak tahu saling mencari di gelapnya malam
Esoknya kami bertemu kembali
Berpelukan dan berlinang air mata
Terima kasih ya Allah
Kami diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup
248 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Luki Lutvia
“AYAH”
Terbangun
Kurasakan hawa lembut di Ubun-Ubun
Kupicingkan mata yang berat kubuka
Ada wajah Ayah di dekatku
Membacakan doa dan meniup pelan ke Ubun-Ubunku
Sejak aku kehilangan arah
Ayah selalu bangun tengah malam
Berdoa dan masuk ke kamarku
Setelah Shalat tengah malam
Kala itu usiaku masih belia
Banyak cobaan hidup yang sulit aku hadapi
Ayah tidak pernah menanyakan
Tapi ayah selalu berusaha memahami apa yang aku rasakan
Dan itu cukup untukku belajar menerima
Dan aku kembali ceria
Kami menghabiskan malam-malam yang indah
214 Suara Hati Perempuan | 249
Bercerita, bersenda gurau
Andai Ayah masih hidup
Aku ingin mengabari
Kalau di sini
Semua berjalan baik
Kalau ada yang tidak baik
Aku akan menganggap semua baik-baik saja
Ayah...
Salam rindu untukmu Ayah
Semoga Ayah bahagia dalam pelukan Allah SWT
250 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Nina Fajariyah
“TRAM”
Aku melintasi taman
Setiap akan berangkat ke kampus
Tidak jauh dari situ tempat Tram melintas
Pagi yang basah
Aku kencangkan jaket dan syal
Sydney Road sudah ramai
Lalu lalang orang menambah riuh pagi
Tiba-tiba bunyi sirene mengagetkanku
Ada yang parkir di seberang toko Daging
Dapat kartu tilang dari Polisi
Orangnya keluar dari toko sambil berlari
Sudah telat
Surat tilangnya sudah diselip di kaca mobil
Kasian gumamku
214 Suara Hati Perempuan | 251
Tidak lama Tram ke kampus datang
Aku bergegas naik
Mengucapkan selamat pagi ke supir
Dan menempel Kartu Tram
Tak lama petugas datang
Memeriksa kartu penumpang
Ada dua orang yang tidak punya kartu
Mereka Tunawisma entah dari mana
Aku kasihan...biasanya pemeriksaan tidak setiap saat
Mungkin mereka hanya kena sialnya saja
Aku melamun dan tersadar telah sampai di kampus
Aku turun dari Tram dan tak lupa mengucapkan terima kasih
kepada supir Tram yang bertugas pagi ini
Melewati Galeri di bagian depan
Aku singgah sebentar
Melihat agenda acara kampus bulan ini
Setelah itu aku melangkah masuk
Tak lama kulihat Monica dosenku
Melambaikan tangan
Aku setengah berlari menghampirinya
Setelah itu kami larut dalam diskusi panjang
Dan aku melupakan dua insiden pagi tadi
252 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Lora
Ilustrasi: Gilang Cempaka
PEREMPUAN-PEREMPUAN
Menyemat napas
pada setiap jiwa dengan ketegaran meletakkan matahari di setiap
ubun kehidupan.
Menyematkan kehidupan
pada setiap ruh walau berselimut kabut tetap mengalungkan
cahaya kasih sayang.
Menyematkan kekuatan
bagi dunia dalam untaian zikir menata cinta.
Padang Panjang, 2022
214 Suara Hati Perempuan | 253
Ilustrasi: Ariesa pandanwangi
MENETESKAN CAHAYA
Perempuan-perempuan
yang meneteskan cahaya bagi perputaran alam dari malam
hingga subuh mengarak angin, terik dan pekat dengan cinta.
Perempuan-Perempuan
yang menebarkan cahaya walau dalam embun memetik bunga
menyingkirkan awan ke tepi.
Perempuan-Perempuan
yang membentangkan cahaya sepanjang pagi dan senja
menggoda burung-burung tetap pulang ke sangkar membagikan
kehidupan.
Padang Panjang, 2022
254 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti
SEPERTINYA IBU, DIRIMU
Sepertinya matahari dirimu
Menerangi siangku
Tak akan ada lagi gelap
Dan hangatnya sampai di dinding jiwa
Sepertinya bulan, dirimu
Dalam alunan malam
Bulatmu merona dalam temaram
Memeluk awan di haribaan hati
Sepertinya bintang, dirimu
Bercahaya di mana-mana
Tarianmu membelah langit
Dan di kalbu bersemayam rindu
214 Suara Hati Perempuan | 255
Sepertinya ibu, dirimu
Bersama matahari, bulan dan bintang
Aku rindu
Padang Panjang 2022
256 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Luki Lutvia
SESEPI MALAM
Terlalu dingin malam ini
Membasuh wajahku di tangga langit
Masih adakah waktu untukku
Meminang maaf dan bersujud di sajadahmu
Sehening inikah dini hariku
Menjelajahi tabir-tabir embun
membelaimu
Menakarku dalam ketakberdayaan
Senyum itu masihkah untukku
Sesepi apakah di rumahmu
Sehingga aku lupa pada takdir
Bersembunyi dalam lemari usang
Sendiri
Dan kamu masih saja ada dalam mimpiku
214 Suara Hati Perempuan | 257
Sehabis malam dan fajar datang
Belum ada lelap di mataku
Bisu dan malam ini
Mimpiku telah berjanji
Untuk tidak saling melupakan
Padang Panjang 2022
258 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Siti Sartika
TUHAN
Tuhan
Tolong buat diriku bahagia
Bersamanya di sepanjang perjalanan nasib
Meliuk-liuk dalam kancah kemesraan
Menutupi duka lara masa lalu
Tuhan
Tolong beri aku kenyamanan
Membiru di tatapan para malaikat
Yang tersenyum membius ruang hampa diriku
Tuhan
Tolong bukakan aku gerbang cinta
Agar aku selalu hadir di setiap waktu
Bersama dalam suka
Tuhan
Tolong aku dan cintaku
Padang Panjang 2022
214 Suara Hati Perempuan | 259
WLA
Ilustrasi: Luki Lutvia
MAAF
Empat huruf M.A.A.F…berbunyi MAAF
Satu kata yang menenangkan pikiran…
Satu kata yang menyejukkan hati…
Satu kata yang meringankan beban…
Satu kata yang mendamaikan perasaan…
Satu kata yang menyambungkan yang putus…
Satu kata yang merangkaikan yang berserak…
Satu kata yang menyatukan yang terpisah…
Satu kata yang membangkitkan yang jatuh…
Satu kata yang menyehatkan yang sakit…
Satu kata yang menjadikan PLONG...lahir batin…
260 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi