Ilustrasi: Jenar Sukaningsih
PARA PEREMPUAN
Perempuan satu, dua, tiga
semangatmu menembus cakrawala
terus melangit
langit terbuka, menabur semesta
merangkai asmara
membunga putik
sekuntum mawar belum berduri
sebenarnya bukan legenda, apalagi rimba raya
merangkum sejarah
tiada lara
Jember, Maret 2022
214 Suara Hati Perempuan | 161
Ilustrasi: Jenar Sukaningsih
RITUAL PENARI
Aroma mewangi
kristal pepohonan
sesembahan 9 leluhur
penghuni desa
gulir-gulir padi menguning menggelantung,
buah ranum, janur mengipas
ritual selamatan dirayakan
kentongan, bedug masjid, petasan, dan kembang api
maka bumi berguncang
penari tak henti menggerak kaki penuh arti
Jember, Maret 2022
162 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Nuning Yanti Damayanti
Ibu Bumi (1)
Ilustrasi: Nuning Yanti Damayanti
MEGATRUH KABUT SENJA
Kabut senja perlahan menebal.
dan bunga kamboja berguguran
di tepi jalanan di seberang sana.
di pinggir jalan trotoar,
di dekat hamparan ilalang yang mulai mengering,
aku duduk di trotoar,
dengan tetesan air mata
di antara hiruk pikuk menusuk gendang telinga
dan alunan Megatruh mengembara
Mengapa Negara ini teramat bising.
Dan bangsa yang rentan,
Gara-gara hoax media sosial
214 Suara Hati Perempuan | 163
Tersulut emosi membara
Entah apa ujung pangkalnya
Memicu kekerasan merajalela
Rumah-rumah ibadah digelanggang
Kampung pinggiran kota dibakar
Bilik-bilik kolong jembatan dibongkar
Warung-warung digusur
Semua atas nama mimpi pembangunan.
Kekuasaan setiap zaman selalu sama suaranya
Yang mana benar, yang mana salah
Tetapi aku bergeming
menimang akal sehat dan suara ruh,
biarpun terhempas di parit zaman yang mendua.
Bandung, 2 Februari 2022
164 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ibu Bumi (2)
Ilustrasi: Nuning Yanti Damayanti
MEGATRUH IBU PERTIWI
Anak-anak-ku! Dengar!
Alunan Megatruh merintih pilu
Lihatlah ibu Pertiwi terhanyut,
Oleh gelombang zaman yang paradok ini.
Cita-citanya oleng dilindas waktu,
Akupun letih didera hempasan angin senja.
Matahari yang merayap turun dari ufuk Barat
telah melampaui pohon kemboja.
Udara yang menggigit menyapa tubuhku.
Menyebar bau maranggi bakar di trotoar jalan sana.
Dalam bawah ambang sadar kudengar
Dengungan sepasang kunang-kunang
yang bersanggama di udara.
Suamiku datang menghampiri.
Ia melihat pipiku basah oleh air mata.
214 Suara Hati Perempuan | 165
Aku bangkit hendak berucap, tetapi
Telunjuknya menutup bibirku! bisiknya,
Jangan menangis!
Ini penamu, tulislah puisi, jangan bicara!
karena tidak akan ada yang mendengarmu
Bandung, 28 Februari 2022
166 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ibu Bumi (3)
Ilustrasi: Nuning Yanti Damayanti
AKU DAN BURUNG DARA
Waktu itu,
Aku ditemani angin kering dingin
Yang meluruhkan daun-daun cokelat
Di antara langkah kakiku
Menapaki bata-bata kelabu bisu
Ada burung dara yang tapaknya cuma sendiri
Mematuk dan mengais di sela bebatuan
Di pelataran Eiffel yang tua
Si besi tua itu masih tampak gagah dan angkuh
Tetesan air menerpaku dingin, menggigit daun telingaku
Burung dara itu berlomba dengan langkah kakiku
Kita sama-sama mencari naungan
Di bawah menara raksasa tua
Ekornya mengkerut rapat di bawah sayapnya
Dia menghampiriku ketika kuulurkan tangan
214 Suara Hati Perempuan | 167
Dalam kebisuan ada dialog di antara kita
Tentang sepi
Tentang dingin
Tentang kesendirian
Aku tahu kita sama-sama tertinggal di sini
Di antara beton-beton tua yang menyesatkan
Terdampar di bawah menara besi tua
Lalu kita sama-sama tertidur
Ketika seorang berseragam hijau tua datang,
Mengusik kehangatan mimpi indah kita
Katanya badai sebentar lagi datang
Kita harus pergi ajakku
Tapi burung dara terbang ke tungkai menara
Mata hitam dengan lingkaran merahnya menatapku
Setahun lalu aku kembali menapaki
Bata-bata kelabu tua yang sekarang tampak hangat
Menara Eiffel tampak muda dengan atribut-atribut musim panas
Aku tiba-tiba merasakan sembilu di ulu hati
Lidahku kaku, di pojok sana pernah kulihat
Burung dara membeku, ketika itu badai musim dingin mereda,
Saat itu aku terlambat menjemputnya.
Paris, November 1989-Agustus 2019
168 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ibu Bumi (4)
Ilustrasi: Nuning Yanti Damayanti
MIMPI PULANG
Musim gugur akan berakhir
Burung putih mulai gelisah
Bersahutan
Mungkin saling berpesan
Sebentar lagi musim gugur akan bergegas pergi
Dan hari-hari dingin akan datang
Di sini aku berdiri, berteman angin
Saat daun-daun cokelat berguguran
Meninggalkan ranting pohon oak yang meranggas
Dingin mulai menggigit telingaku
Kuperpanjang langkah kakiku
Menyusuri trotoar yang seperti tidak berujung
Di antara beton-beton tua yang tidak ramah mengawasiku
Gelap mulai merayap menyusul langkah kakiku
214 Suara Hati Perempuan | 169
Ah, Gott Sei Dank! Di sana masih ada burung-burung putih itu
Aku bagaikan pohon Oak
Ditemani musim gugur yang masih tersisa
Aku ingin pulang!
Samar-samar ada Gunung Tangkuban Perahu di sana
Sayup-sayup kecapi suling mendayu tentang rindu
Kilau matahari membias di mataku
Aku bermimpi, mimpi pulang
Mannheim, Oktober 1994-Agustus 2019
170 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ibu Bumi (5)
Ilustrasi: Nuning Yanti Damayanti
SABTU MALAM DI ROPPONGI
Aku, kau menyusuri jalan panjang di Roppongi
Penuh rasa ingin tahu, Katanya :
Di sana bisa melihat Tokyo Tower mandi cahaya
Surga buat kaum muda
Di sana,
Semerbak wewangian menyeruak
Ke dalam rongga hidungku, rupanya
Ada gadis Nippon melewati wajahku
Menyodorkan bungkusan kecil pada jemarimu
Tidak pada jemariku
Tersenyum ramah, cantik
Sayang gincunya terlalu membara
Panorama itu aku lupakan
Ketika kudengar alunan musik gaya 60’s
Kulewati pintu masuk Kento’s Club
214 Suara Hati Perempuan | 171
Kemudian kau kelupas bungkusan kecil itu
Di situ ada Tissue dan kartu cantik berwarna rosa
Bergambar siluet wanita dan tulisan kanji
Aku penuh tanya, lalu kau membacakannya
“Hubungi aku di nomor ini bila kau merasa sepi,
Aku akan jadi seperti apapun yang kau mau”
Aku kelu, kehilangan kata-kata.
Entah mengapa Sushi itu berasa hambar, berbau.
Menyesakkan rongga dadaku, aku mual.
Tokyo, April 1994-Desember 2014
172 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Nurlina Syahrir
TANJUNG BUNGA
Hamparan laut Makassar Memerah
Matahari berat tinggalkan indahnya
Angin mamiri sepoi basah
Hembusan menghangat
Penari dalam alunan pakanjara
Menggeliat di bibir pantai
Desah membasah
Geliat tubuh bermesra dengan ombak
Burung kondo malu bernyanyi
Nyanyian sunyi menunggu Ilustrasi: Ariesa Pandanwangi
Menunggu sang matahari
214 Suara Hati Perempuan | 173
Ilustrasi: Mia Syarief
LAUT YANG CEDERA
Perutku luas
Kerelaanku lapang
Keluhku tak terucap
Indahku terkagumi
Satuku tak mengerti
Kau campakkan sampahmu ke mukaku
Kau lempar aroma busukmu di tubuhku
Dan kau koyak keanggunanku demi egomu
Aku yang terkoyak hanya bisa diam
Masih adakah setitik cinta
Itu cukup buatku
174 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Wien K. Meilina
PESAN IBU (ANGGIA)
Anggiaaaaaa…
Pakinta ki
Apa puasmu kalau kau bisa telan Balla’-Balla’
Apa puasmu kalau kau bisa hisap banyak manusia
Dan... Apa puasmu kalau kau bisa kuasai dunia fana
Pakinta ki
Kau terlahir dari buah cinta
Bukan dari benih nistha dan kemaksiatan
Aku… ibumu… Tak kan lepas darimu
Walau engkau jatuh… terkapar … dan tersesat
Angggiaaaaa…
214 Suara Hati Perempuan | 175
Jelajahilah duniamu
Jadilah pemberani bagaikan Elang yang terbang tinggi
Bukan di jelai-jelai yang kotor
Kepakkan sayap putihmu
Tebarkan cinta kepada sesama
Kalau aku, ibumu sudah tiada
Buatlah aku bangga dan tersenyum di surga sana
176 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Dini Birdieni
PAKARENA
Tak butuh gemulai
Tak butuh kilauan
Tak butuh pujian
Diamku kekuatanku
BUKAN PEREMPUAN
Kerudung jingga merona
Lenggang di tengah keramaian
Aurat berbalut celana ketat
Nyanyian religi hilang makna
Celoteh hitam berbalut mukena
214 Suara Hati Perempuan | 177
Nurwani
Ilustrasi: Ariesa Pandanwangi
KOTA DAN KISAH
Kota-kota basah dalam kisah yang mengenang di setiap sudut jalan.
Lorong-lorong kian kemari menganga dalam gonggongan luka,
yang tak sempat kering.
Tidak ada lagi kisah yang dapat dinantikan.
Belum sempat menunggu pagi. Luka kembali tergelincir!
Entahlah,... pagi kembali datang.
178 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Ariesa Pandanwangi
LENTERA USANG
Sibiji mata telah kembali bermain-main dalam kelopak waktu.
Tangan-tangan dan kisah kembali menunggu jalan pulang. Telah
tua dalam penatnya penantian.
Kata-kata menyesak dalam ingatan. Mencabik hingga
memorakporanda memori.
Gelap kembali menjadi pilihan jalan. Kini lentera kembali
menggantung di tirai-tirai semu. Berharap sumbu-sumbu ingatan
kian menerang.
Kini, tirai-tirai kembali terbuka!
214 Suara Hati Perempuan | 179
Ilustrasi: Niken Apriani
MEREKAM ASA
Doa-doa tersimpan di lemari pagi.
Segelas cinta yang selalu hangat dalam cangkir waktu.
Kisah-kisah telah kembali melakoni hari.
Detik menjadi menit
Menit menjadi waktu, waktu menjelma menjadi asa.
Teruslah berjalan!
Semudah itu kau gagal, dan semudah itulah kau akan menang.
Ambil kendali pagi, lakoni hidup sebaik mungkin.
180 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi
TUHAN DALAM PARAGRAF AKHIR
Perjalanan masih panjang. Tanda baca terus menjadi pilihan.
Diksi zaman kembali memecah dalam ingatan.
Pertanyaan-pertanyaan telah menjadi hutan.
Tuhan. Jika bumi adalah ibu. Izinkan semesta menjadi kawan.
Aku titipkan cinta dalam ingatan. Terus menapak dan mendekat
dalam mimpi yang tertulis.
Perjalanan terus menuju singgasana.
Selalulah dalam hati sang-PEJALAN!
214 Suara Hati Perempuan | 181
Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti
BATU TAGAK
Kini kisah kembali berjalan. Anak-anak lidah telah melipat batu-
batu di daun telinga.
Mimpi tak kunjung menemukan jalan pulang.
Terus berjalan... menyisir mata air. Tak adalagi suara “MAK” .
Belum sempat menyeduh pagi. Malam memaksa badan untuk
terus terjaga!
Kini kaki menapak dan membatu di badan bumi
Medan, 15 Maret 2022
182 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Pola Martiana
Ilustrasi: Ariesa Pandanwangi
NEGERIKU
Tanah airku bumi pertiwi
Bunga nan molek beraneka warna
Pegunungan indah memesona
Berbagai suku walau berbeda
Tetap satu dalam kesatuan
Tertuang kasih tunas-tunas untuk Tanah airku
Membela dan berjuang bumi berpijak
Titik darah penghabisan para pahlawan
Bumi peradaban tanah kucinta
Elok nan nyaman selalu kubela
214 Suara Hati Perempuan | 183
Kehidupan merdeka terbangun bersama
Ramah tamah senyum penduduknya
Bulan, matahari menyertai sempurna
Membara asa sarat dengan makna
Semua ada di negeriku
Indonesia...
2022
184 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Sri Sulastri
REMBULAN
Jadilah engkau rembulan
Buanglah keraguan
Dalam menghadapi kehidupan
Kegetiran manis, dalam perjuangan
Kuatlah engkau seperti rembulan
Tak terusik awan menutup
Tak terhenyak angin berhembus
Tetaplah kuat kokoh berdiri
Menyapa keraguan terus mengoyak
Rembulan menyinarkan sinar merasuk
Riuh canda tawa membahana
Menggeliat kegembiraan sempurna
Jiwa, raga, hati penuh pesona
Rembulan menyinar penuh cinta
Menyinari bumi Ibu pertiwi
Pohon dan segala makhluk menikmati terang cahayamu
Mahluk sempurna segala alam
214 Suara Hati Perempuan | 185
Memanjatkan doa teruntuk maha pencipta
Karunia syukur telah kurasa
Menghidupkan tulang dalam relung
Sempurna...
Bulan kau datang dengan bersuka
Menyinar cinta indah dan meredup
Perlahan menghilang...
Dan berganti fajar
2022
186 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Farida Wahyu
AYAH
Guratan dan peluh menetes
Membasahi dalam usapan wajah
Garis keras telah kautuangkan
Seluruh jiwa dan raga kau pertaruhkan
Menghidupi seluruh keluarga
Ayah...
Tak seorangpun mengerti
Rautan wajah perlahan menua
Sorotan mata tajam tapi kosong
Penatkah?
Seakan kau sembunyikan keraguan
Menata hari penuh lantang
Dalam dekapan kokoh ragamu
Kau membesarkan anakmu sampai ujung dunia
Tapi...
Segala penyakit kau sembunyikan
214 Suara Hati Perempuan | 187
Kandas juga kau tinggalkan kami
Sosokmu membuat kami harus bangkit tanpamu
Sangat membekas dalam hati
Jelu dan kelu...
Kutapak hidupku seorang diri
Ayah, kerinduan itu selalu ada untukmu
2022
188 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Gilang Cempaka
DIAM
Hembusan angin memberontak ombak
Dalam gelora dan pecah berbuih
Ombak dalam diam dan sepi menyendiri
Kala mematung dalam diam itu
Kucentik capung datang menggoda
Sedikit menghilangkan kegaduhan
Terlamun godaan menghilang
Nyanyian laut merenda kata
Masuk sukma mendalam relung
Terik di atas kepala tak kurasa
Berpeluk kasih membayang impian
Hmm... terhentak dan kusadar
Kusimpan kerinduan dalam jalinan lagu
Kuulang dalam bibir yang kelu
Indah dan dalam maknanya
Kutitip rindu hanya untuk kamu
2022
214 Suara Hati Perempuan | 189
Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi
LAMUNAN BATIN
Sunyi menggelepak hening
Datang dewi malam menyembul bulan
Hening dalam bintang kubersimpuh
Doa teruntuk rasa syukurku
Sayupan angin memuja relung
Tak terasa menyeberang waktu
Raga dan jiwa berpadu penat
Tak terasa kuterlelap
Matahari menyeruak dari timur
Terkesiap dari kelelapan
Terduduk dan termangu dalam spontan
Lamunan angan-angan di depan
190 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Kubuka senggok piano
Tutsnya kesentuh menyusun nada
Tertuang lirik dalam sukma
Jalinan nada dan lirik meronta
Tumpah ruah jalinan batin
Kepuasan jiwa menuju akhir
Kebahagian datang menjelma
Kuhidup dengan kemerdekaan, kebebasan
2022
214 Suara Hati Perempuan | 191
RSF
KEMATIAN
Kematian ...
lebih dekat dari yang kita kira
Setiap saat Malaikat Izrail bersiap
melaksanakan tugas dari-Nya
mengunjungi manusia
70 kali dalam sehari
Saat ruh terpisah dari raga
Saat nadi tak lagi berdenyut
Saat jantung tak lagi berdetak
Saat nafas tak lagi berhembus
Saat berada di alam barzah
Semua pergi meninggalkan
Dan, yang kan menemani Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi
amalan saat masih hidup
Dan, yang kan menolong
amalan saleh
amal jariyah
Ilmu bermanfaat
doa anak saleh
dan doa yang dari
orang-orang istimewa
Kematian lebih dekat
dari yang kita kira
1532022
192 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
FOKUS
Tetap fokus untuk hal positif
Isi waktu dengan hal produktif
Pantang menyerah tekad masif
Selalu berdoa & bekerja aktif
1232022
Ilustrasi: Siti Sartika
HIDUP
...
hidup hanya satu kali
hidup harus punya arti
hidup harus berarti
karena hidup yang hakiki
adalah mendapatkan
berkah & cinta ILLAHI
Ilustrasi: Arleti Mochtar Apin
tiada daya & upaya tanpa pertolongan Allah ❤
542022
214 Suara Hati Perempuan | 193
Ilustrasi: Arleti Mochtar Apin
MIMPI
... setiap orang punya mimpi
mimpi indah, mimpi besar, mimpi spesial
jangan pernah takut akan mimpi-mimpi itu
jangan tidak percaya diri dengan mimpi itu
jangan pesimis bahwa mimpi itu hanya ilusi
karena...
di balik mimpi itu
ada doa, kerja keras, & perjuangan
di balik mimpi itu
ada takdir, kehendak, & rida-Nya.
di balik mimpi itu
ada harapan
ada kenyataan
ada senyuman
194 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
dan suatu hari
impian pun jadi nyata
selamat bermimpi indah ❤
23022022
214 Suara Hati Perempuan | 195
ASA
...
menaiki tangga satu per satu
melewati beragam episode
suka, duka, tangis, & tawa
selalu semangat wujudkan asa
semoga menjadi nyata & indah
pun mendapatkan Berkah-Nya ❤
Ilustrasi: Arleti Mochtar A. 20022020
HIDUP
Hidup bukan siapa yang terbaik
Namun,
Siapa yang berbuat baik dengan tulus
Apapun keadaannya
Karena menebar kebaikan itu
tak memilah dan memilih
Hanya selalu berharap
Kebaikan dari-Nya
1432022
Ilustrasi: Mirah Rahmawati
196 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Rasmida
Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.
DERU HATI DAN SI BUAH HATI
Di saat hatiku sedang sedih
Sedih … sedih…dan …sedih
Dalam menjalani dinamika kehidupan
Yang penuh dengan suka dan duka
Datang silih berganti tiada henti
Kutermenung sendiri…memaknai hidup ini
Hari ini …,
Saatku berada di kota Solo indah berseri
Malam yang begitu dingin dan sunyi
Termenung di kamar yang kecil penuh arti
Menghadapi si gadis yang memilukan hati
Yang memang butuh untuk dihadapi
214 Suara Hati Perempuan | 197
Ilustrasi: Yunisa Fitri Andriani
KESEDIHAN PENUH ARTI
Deru mobil memecah kesunyian hati
Di sela itu…
Terdengar bunyi yang mengisyaratkan…
Sebuah pesan yg mengejutkan hati
Jemari ini bermain cepat mencari …
Mencari pesan yang penuh arti
Dialah sahabat sejati dari CSI
Citra Srikandi Indonesia yang selalu di hati
198 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
SILATURAHMI MENGHIBUR HATI
Menyadari arti sahabat sejati
Jemari ini mencari huruf demi huruf
yang dirangkai kata demi kata
Yang tersusun jadi kalimat pelipur lara
Kutemui letak keindahan bersemayam
Yang berada di dalam lubuk hati
Saling mengingatkan mengoreksi hati
Pelipur lara bangkitkan gairah literasi
Kutulis puisi mengasah ruang hati
Menjawab pesan dari sahabat di CSI
Silaturahmi telah menghibur hati
Solo, 16 Maret 2022
Ilustrasi: Arleti
Mochtar Apin
214 Suara Hati Perempuan | 199
Ratnadewi
Ilustrasi: Deborah Ram Mozes
KEKUATAN DOA
Di setiap doa kuberserah
Di setiap doa kumemohon belas kasihan-MU
Di setiap doa kumengikuti-MU
Di setiap doa kumohon ampunan-MU
Semua masalah…
Semua hambatan…
Semua ampunan…
Semua permohonan...
Kita yang sering lupa…
Kita yang sering alpa…
Kita yang sering lalai…
Kita yang sering salah…
200 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Allah selalu menerima…
Allah selalu merangkul…
Allah selalu mengasihi…
Allah selalu mencintai…
Larilah kepada-Nya…
Larilah mencari-Nya…
Larilah memeluk-Nya…
Larilah mencintai-Nya…
Bandung, Maret 2022
214 Suara Hati Perempuan | 201
BERTUMBUH
Indahnya alam…
Daun-daun hijau…
Semilir angin sepoi-sepoi menyingkap …
Wangi bunga semerbak menggelitik …
Anak ayam menciap…
Berlari ke sana ke mari…
Bulu-bulu halus berwarna kuning…
Mengejar bayang yang bergerak…
Bayi mungil menangis… Ilustrasi: Risca Nogalesa
Pertanda lapar menerpa… Pratiwi
Popok basah membuat tak nyaman…
Menyeruak keheningan di pagi hari…
Orang tidak berkata pohon menjadi tua…
Orang berkata pohon terus tumbuh…
Mari kita ambil maknanya untuk kita semua…
Kita tidak menjadi tua, tetapi kita sedang bertumbuh…
Itulah semangat kehidupan…
Bandung, Maret 2022
202 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Dini Lestari
BERJUANG
Sering kali hidup terasa berat…
Dunia seakan kiamat…
Kerikil tajam menghadang di setiap langkah…
Menoreh luka serasa menggigit…
Sering kali napas terhenti…
Menahan perih yang tak kunjung henti…
Hidup penuh tantangan…
Akankah menyerah begitu saja…
Sering kali kita lupa…
Ujian hidup membuat kita kuat…
Mengukir hidup agar bermakna…
Membuat warna-warni indah di sepanjang hidup…
214 Suara Hati Perempuan | 203
Sering kali kita lemah…
Tidak mengamati sekeliling…
Berjuang terus mencari solusi…
Hidup akan indah pada waktunya…
Bandung, Maret 2022
204 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Dini Lestari
BERSYUKUR
Setiap tarikan napas…
Setiap helaan napas…
Terasa begitu besar karunia-MU …
Terasa begitu nyata belas kasih-MU …
Setiap seteguk air…
Setiap sesuap makanan…
Terasa begitu besar keagungan-MU…
Terasa begitu nyata karya-MU…
Setiap gerakan tangan…
Setiap gerakan kaki…
Terasa begitu besar ciptaan-MU…
Terasa begitu nyata kreasi-MU…
214 Suara Hati Perempuan | 205
Mari kita bersyukur atas RIDHO-NYA…
Mari kita bersyukur atas KEIKHLASAN-NYA…
Mari kita bersyukur atas KASIH-NYA…
Mari kita bersyukur atas KARUNIA-NYA…
Bandung, Maret 2022
206 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Ariani Rachman
KEMBALI HIDUP
Apakah ini nyata?
Apakah ini mimpi?
Begitu senyap…
Begitu hening…
Hanya terdengar bunyi rintik hujan…
Sayup-sayup terdengar bunyi kicauan burung…
Serasa mengurai benang kusut…
Satu-persatu terurai ….
Hanya karena Ridho-MU ya Allah…
Hanya karena Belas Kasih-MU ya Allah…
Hanya karena Rahmat-MU ya Allah….
Hanya karena Cinta-MU ya Allah…
Bagi manusia tidaklah mungkin…
Bagi manusia di luar nalar…
Bagi manusia impian kosong…
Bagi manusia jauh dari nyata…
214 Suara Hati Perempuan | 207
Bagi manusia tak tergapai…
Bagi manusia gelap…
Karena keyakinan akan pimpinan-MU…
Karena keikhlasan bimbingan-MU…
Karena berserah pada-MU…
Karena memohon pertolongan-MU…
Semua datang…
Semua tumbuh…
Semua kembali…
Semua HIDUP…
Terima kasih ALLAH…
Bandung, Maret 2022
208 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Retno Dwimarwati
ALAMKU
Biru laut selatan menyuarakan keresahan
Alam kini tak bersahabat
Manusia terus merusak dan menggasak
Tak ada lahan tersisa penuh eksploitasi
Semua berlomba meraih ekonomi
Jerit ibu Pertiwi semakin miris
Siapa pelindungku kini?
Generasi tak kenal lagi ekosistem
Lingkungan poranda menjerit histeris
Ilustrasi: Cama
Juli Rianingrum
Adakah manusia lestarikan alamku?
Pekik elang menghiba
214 Suara Hati Perempuan | 209
Ilustrasi: Shitra Noor Handewi
SELATAN ITU IBU
Selatan adalah ilmu
Utara adalah harta
Jika kau ingin pintar datanglah ke selatan
Ibu Pertiwi akan mengajarkan kearifan hidup
Jika kau ingin bijaksana datanglah ke selatan
Alam indah mengajarkan kau hormat pada sesama
Jika kau ingin kesalihan datanglah ke selatan
Kuasa Tuhan bersemayam di sana
Ibu mu mengajarkan pentingnya hormat pada alam, sesama dan
Tuhan
Lihatlah imanensi Maha Kaya Maha Kuasa
Belajarlah pada ibu-Mu
210 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi