The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Editor
Novi Anoegrajekti
Ayoeningsih Dyah Woelandhary
Ariesa Pandanwangi




Kata Pengantar
Prof. Dr. Endang Caturwati, M.S.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by agung_gumelar, 2022-04-20 18:46:11

Antologi Puisi KEPAK SRIKANDI 214 Suara Hati Perempuan

Editor
Novi Anoegrajekti
Ayoeningsih Dyah Woelandhary
Ariesa Pandanwangi




Kata Pengantar
Prof. Dr. Endang Caturwati, M.S.

Aku seorang perempuan
Miris melihat kenyataan
Miris merasakan yang mereka lakukan
Andai aku bisa meraih mereka semua
Kan kuberikan kedamaian & kebahagian untuknya
Maret 2022

214 Suara Hati Perempuan | 61

Ilustrasi: Cama Jili Rianingrum

LENTERA INSANI

Kadang tak kumengerti
Kadang tak kupahami
Mengapa hati bisa keras seperti batu
Mengapa rasa bisa hilang ditelan bumi

Tidakkah mengerti makna hakiki
Tidakkah mengerti Insan berbudi
Tidakkah mengerti cahaya hati
Tidakkah mengerti lentera insani

Karena harta jadi lupa segalanya
Karena harta jadi ingkar dengan sesama
Karena harta menggunakan segala cara
Karena harta hilang kendali bagai kuda liar
Wahai perempuan, sadarkah akan nilai hakiki?

62 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Hidup hanya titipan hanya sementara
Duniawi bukan segalanya
Masih ada kehidupan yang kekal,
Sudahkah cukup bekal tuk menuju ke sana?
Bandung, Maret 2022

214 Suara Hati Perempuan | 63

Ilustrasi: Nida Nabilah

SETITIK DEBU

Aku ini setitik debu yang berteduh di dedaunan
Menanti indahnya sang fajar tersenyum meniup kalbu
Aku ini bagaikan angin berdesir semilir di senja hari
Menanti indahnya bunga indah nan merona

Oh… Sang Fajar, Sang Mentari yang selalu memberikan Cahaya
Sinar yang menerangi semua insan tanpa membedakan untuk siapa
Oh… Sang Fajar, Sang Mentari yang selalu menyinari alam Semesta
Sinarmu begitu indah menerangi semua insan, tanpa terkecuali

Aku terlena di kala senja, Sang Mentari tenggelam di kesunyian
Seakan menepi tuk bersujud dan akan muncul di esok hari
Andai semua insan bagai mentari yang tiada lelah menyinari bumi
Aku setitik debu, bahkan selalu merindukan hal itu terjadi

Bandung Maret 2022

64 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Enok Wartika

Ilustrasi: Ariani Rachman

KERINDUAN

Dalam hening malam…
Ketika senyap menyelimuti mereka yang terlelap
Kuterjaga, tersadarkan sebuah mimpi…yang mengusik rindu
teramat dalam.
Terbayang jelas, figur yang selalu hadir dalam setiap helaan napas
Yang kutahu, dia pemilik tatapan mata teduh itu
Yang kutahu dia sosok pekerja keras yang tak kenal kata menyerah
Yang kutahu dia selalu siap menggapai tanganku ketika aku lemah
Yang kutahu dia pendengar setia yang tidak suka banyak menyela
Yang sangat kusadari dia telah menghantarkan aku sampai dewasa…

214 Suara Hati Perempuan | 65

Namun…ketika kumulai bisa berdiri dan mencoba untuk berlari
Mengimbangi langkahmu untuk membantu mendayung bahtera
milik kita
Mencoba meringankan sarat bebanmu agar kau dapat berbahagia
Engkau seketika pergi tanpa sempat banyak menitipkan kata-kata.
Ayah…
Semua juang penuh cinta telah kau berikan
Semua waktu yang kau punya telah kau curahkan
Semua doa terindah selalu kau panjatkan
Kini…
Dalam kerinduan yang teramat dalam,
Hanya doa yang selalu kumohonkan…
Semoga Tuhan, menjaga, menerangi dan melapangkan tidur
panjangmu sampai saatnya nanti dapat bersama kembali.
Aamiin...

66 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Belinda Sukapura Dewi

PELABUHAN TENANG

Di hari yang membuat bumi terasa gelap gulita
Sang nakhoda pergi tanpa sempat banyak menitip pesan dan kata-kata
Kemudi beralih seketika…
Pada sosok halus…lembut dan sangat bersahaja

Riak-riak dan gelombang terkadang membuat perahu kita karam

Namun…kau selalu bangkit dan berjuang agar tetap mampu berlayar

Dalam kerapuhan ragamu…tersimpan kekuatan baja dalam

menjaga buah cinta yang kau punya,

Kau jaga dengan sepenuh jiwa…

Kau hantar dengan doa dan air mata…

Ibu...

Walau tidak sempurna seperti yang kita minta…

Perahu telah sampai di dermaga,

Engkau telah menjadi pelabuhan yang tenang, tempat

mendaratkan perahu ketika kami pulang

Mendekapmu dalam doa dan cinta

214 Suara Hati Perempuan | 67

Mencari kedamaian penghapus segala keresahan
Hanya padamu... hanya hatimuibu.

68 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Mirah Rahmawati

KEHADIRAN

Ada tangan terbuka lebar menggapai ketika aku terjatuh
Ada senyum tulus kulihat ketika aku banyak mengeluh
Ada kata-kata indah kudengar ketika aku nyaris terkapar
Dan…ada janji terucap ketika aku banyak berharap

Engkau hadir ketika aku butuh bahu untuk bersandar
Engkau datang ketika aku ingin menepis semua yang kelam

Arti kehadiranmu…
Membuka mata indah menatap dunia
Menikmati aroma bunga dan hangatnya sang surya
Mencoba mencapai asa dengan langkah yang seirama
Walau seirama tak harus selalu sama
Setia sekata…bijak ketika banyak hal berbeda…
Arti kehadiranmu, dulu…kini..dan nanti semoga dalam keabadian.

214 Suara Hati Perempuan | 69

Ilustrasi: Siti Wardiyah

DUNIA KECIL KITA

Dalam istana cinta penuh warna,
Tawa riang selalu menghangatkan suasana ketika bersama
Bertukar kata dan sapa sebagai penguat dunia kecil kita
Ada rindu yang selalu menghias…
Ada cerita yang selalu saling berbalas
Ada doa yang selalu terucap dengan ikhlas
Tuhan…
Semoga dunia kecilku selalu ada dalam cinta-Mu…

70 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Wien K. Meilina

DALAM DOA

Kutahu hidup ini fana
Kutahu yang ada akan binasa
Kutahu akan tiba saatnya menghadap pada Sang Pencipta
Tapi... sering kulupa, seolah semua tak akan binasa
Dalam batasku... kupanjatkan doa
Dalam lemahku... tak henti kumeminta,
Kuatkan hati dan tekad agar selalu dapat merengkuh hati-Mu
Berjalan kokoh untuk menggapai cinta-Mu
Jika saatnya tiba…
Kuingin.. kumohon...
Ada di haribaan-Mu, menatap-Mu dengan segalah kasih-Mu…
Aamiin.

214 Suara Hati Perempuan | 71

Erni Suryani

POHON

Itu aku punya
Tinggi, menjulang, berdimensi
Mengakar menusuk bumi
Sungguh…makhluk yang langka

Ingin kutebang, kubentuk Ilustrasi: Dina Lestari
Menjadi sesuatu yang bermakna

Yang dapat mengisi relung-relung hidup

Menjadi tempat perenungan

Menjadi pelindung jiwa yang meronta-ronta

Dan memimpikan masa depan yang tak pasti

Itu nun jauh di sana
Tangan-tangan terjulur berharap
Suatu keniscayaan
Tapi hijaunya masih dapat kupandang
Aku terpuruk...

(Bandung, 2022)

72 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

LABIRIN

Lurus…maju, maju, maju, dinding menghalang
Belok kiri…maju, maju, maju, dinding menghalang
Belok kanan…maju, maju, maju, dinding menghalang
Putar balik..maju, maju, maju, dinding menghalang

Berputar-putar seperti pusaran air
Kepanikan mengacak-acak pikiran
Jiwa menendang-nendang dinding pertahanan

Tenanglah wahai sang jiwa
Atur langkahmu

Maju, maju, maju…lurus

Maju, maju, maju…belok kiri

Maju, maju, maju…belok kanan

Maju, maju, maju…kuburan menghadang

Dan semua menjadi gelap gulita

Ilustrasi: Mirah Rahmawati

(Bandung, 2022)

214 Suara Hati Perempuan | 73

Ilustrasi: Farida Wahyu

PENGHARAPAN

Pernahkan melihat langit ?
Langit yang sesungguhnya
Tempat gumpalan awan raksasa bermain
Ibarat padang salju yang melayang-layang
Cahayanya berkilauan menusuk mata
Silih berganti keemasan dan keperakan
Menara-menara istana menampakkan keagungannya

Pernahkan menuju awan ?
Langkah kaki penuh asa
Menyibak sejuta warna kembang kertas
Kilau-kilau semakin membutakan pandangan
Wahai..keindahan milik siapakah ini…

74 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Pernahkan masuk ke sana ?
Pintu-pintu terbuka lebar menyambut
Sapaan angin membelai ubun-ubun
Sepasang kaki melangkah ragu
Menjelajahi segala keindahan
Inilah rumah Tuhanmu, wahai jiwa yang sepi…
Hati meleleh dilanda kegalauan
Cairan hangat menyelusuri pipi
Tangan terbuka berharap kesucian
Ada darah yang menggenggam erat tanganku
(Bandung, 2022)

214 Suara Hati Perempuan | 75

PERJALANANKU

Ketenangan air membawa perahuku
Dalam suatu perjalanan yang jauh
Menembus dingin, sepi, sunyi

Dikawal pepohonan besar berbalut sulur-sulur
Keheningan yang membekukan raga

Perahuku menuju ke sana
Ke dunia hijau yang abadi
Menuju orang-orang yang bersimpuh
Pujian keagungan-Mu terucap
Perjalananku telah berakhir
Aku tidak akan menoleh ke belakang

(Bandung, 2022)

Ilustrasi: Sri Rahayu Saptawati

76 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

PASRAH

Selalu ada perang dalam batin
Dan perjuangan dalam memenangi peperangan
Dan kekalahan yang menyakitkan

Malam-malam Dia membangunkanku
Lewat doanya burung
Tiupan angin-Nya
Nyanyian kumbang
Lolongan kesepian anjing

Dan Dia menggerakkanku

Memburu air-Nya

Dan bisikan…

Perlu keyakinan untuk menjalani nasib
Ilustrasi: Farida Wahyu


(Bandung, 2022)

214 Suara Hati Perempuan | 77

Fani Dila Sari

Ilustrasi: Dina Lestari

COVID BUKAN LAWAN KITA

Berurai cerita penuh makna..
Riuh sirene menghujam keheningan..
Sungguh mencekam bumi khatulistiwa..
Terpaan badai ketakutan memenuhi udara..
Batasan-batasan tercipta demi keselamatan..
Tak lekang asa melawan keputusasaan..
Bencana sedu sedang..
Tak kasat mata namun mengancam nyawa..
Ingatlah kawan..
Hidup itu perlawanan..
Teruslah sehat kalahkan sakit..
Redupkan ancaman lahirkan karya..

78 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Mirah Rahmawati

SETITIK HARAPAN

Dalam pengharapan..
Muncul sekilas celah akan kesempatan..
Renungan diri melihat keputusasaan..
Tak berarti sama, pun jua berbeda..
Melihat sebarisan kelayakan persamaan..
Perbedaan terus menggunjing...
Kuatkanlah tekad bulatkan semangat,,
Terus berkarya meski dalam kegaduhan...

214 Suara Hati Perempuan | 79

Ilustrasi: Mia Syarief

JERITAN ALAM

Rinai hujan menyejukkan alam..
Membasahi tanah yang dahaga..
Teriak alam terus digerogoti keserakahan manusia..
Tuntutan egoisme akan materialisme..
Alam terus bertahan demi kesenjangan umat manusia..
Hijaulah alam..
Maafkan lah penghuni sementara ini yang lupa diri..

80 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Farida Wahyu

TAHU

Sebab aku tak tahu..
Sebab aku tak ada ilmu mengenai segalanya..
Sebab itulah aku terus menggali kata demi kata..
Kalimat demi kalimat merangkai menjadi suatu harfiah menjadi
ilmu..
Sebab aku buta akan sesuatu..
Sebab itulah aku meraba sedikit demi sedikit ilmu duniawi..
Lantas dunia ini tak menjawab segalanya..
Ilmu akhiratlah yang menentukan segalanya..

214 Suara Hati Perempuan | 81

Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.

BUAH HATI

Hadirmu suatu kebahagiaan...
Suatu Anugerah tak terduga pemberian Tuhan...
Rezeki Tuhan berikan berupa titipan...
Suatu tingkat pembelajaran diri menjadi lebih dewasa...
Suatu pengukuran kepantasan menurunkan ilmu dan pandangan
hidup...
Sanggupkah aku? Demi kebahagiaan dan amal ibadah sepanjang
hidup

82 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Herlinda Mansyur

Ilustrasi: Ariesa Pandanwangi

HUJAN

butir butir air terasa jatuh
Sangat dingin
Semakin malam terasa sesak
Jalanan sepi
Di seberang sana ada payung yang tidak terpakai
Malam yang tidak bersahabat
Menunggu
Menunggu
Menunggu
Hatiku sedih

214 Suara Hati Perempuan | 83

Ilustrasi: Dini Birdieni

DI SUDUT PERSIMPANGAN

Bayang -bayang jenuh
Berbaris di pelupuk mata tua ini
Bersandar...berputar...terduduk...
Terhenyak...
Terhempas
Ada harapan ntuk bertemu
Kian kumenatap
Seakan-akan menjauh
Derai buliran kristal menghiasi pipi
Datanglah
Kumenunggu di sini
Di sudut persimpangan ini

84 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Mia Syarief

MELATI PUTIH

Warnamu sungguh indah
Baumu sangatlah harum
putih bersih tanpa noda
Setiap wanita menyukaimu
Kaki-kaki perempuan terus berjalan
Tertegun
Terpana
Terkesima
Hai melati putihku
Senyummu semakin mempesona
Tebarkan aroma di sekelilingmu..
Membuat rasa semakin lega

214 Suara Hati Perempuan | 85

Ilustrasi: Farida Wahyu

TIRAI BLACU

Onggokan Blacu Memunculkan hasrat yang menggunung
Gunting-gunting mulai menajamkan rasa
Pagi Siang malam
Tak pernah kenal lelah
Seakan hari tak pernah cukup
Kupandang tirai yang menganga
Terkuak tak berdaya
Menjerit hati ini
Membuat pikiran
Menggelora
Titipkan tirai blacu
Terpampang nyata

86 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi

PERJALANAN WAKTU

Putarannya tak mengenal lelah
Detik
Menit
Jam
Hari
Minggu
Bulan
Tahun
Terlalu indah setiap saat
Roda-roda terus berputar
Menawarkan setiap keinginan
Teruslah melangkah
Buka matamu
Pikiranmu
Roda-roda terus menggelinding
Menuntun perjalanan waktu yang tersisa

214 Suara Hati Perempuan | 87

Hirwan Kuardhani

Ilustrasi: Niken Apriani

BALADA LASIMAN

Lelaki Cadas di Kaki Bukit
Gersang Perawan
Menatap Pegunungan dengan Nyalang
Jika Hujan deras datang
Mengguyur Bumi,
Tanah dan Batuan Runtuh
Melahap Dusun Tanpa Pantang

Tangan-tangan Kokoh Lasiman
Menaburkan biji-biji Metir dan Mlandingan
Seantero Perbukitan
Dalam Diam.
Di Hari Pertama Turun Hujan
Diiring Sangsi dan Tawa Ejekan
Warga Perkampungan.

88 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Lasiman, Lelaki di Kaki Bukit
Gersang Perawan
Menggantung Harap
Di Sepanjang Musim Hujan
Biji-biji Metir dan Mlandingan
Tumbuh Mengakar Di sela Bebatuan.
Diiringi Salawat dan Puji-pujian
Ditimpa irama Hujan
Keyakinan Tak Tergoyahkan
Di sana di setiap Kecambah
Tersimpan Kehidupan Karunia Tuhan.

Puspa Indah 2022

214 Suara Hati Perempuan | 89

Ilustrasi: Siti Sartika

GAUN TETERON KEMBANG
BUAT GENDUK DI KOTA

Langkah tertatih Simbok Tua
Menggendong bakul berisi malai padi
Hasil ngasak di Sawah-sawah jauh
Segenggam demi segenggam,
bulir padi simbok kumpulkan
Simbok tua berlari kecil menuju pasar desa

Hasil tambahan derep di sawah para juragan.
Tiap Wage hari pasaran itu tiba
Dengan cekatan memilih kain cita
Teteron kembang warna jingga.
Pada si tukang jahit keliling,
dimintanya model ala putri Raja
Dengan rasa haru dan bangga.

90 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Bayangkan si genduk yang sekolah di kota
Amboi betapa cantiknya
Memakai gaun teteron kembang Jingga muda.
Simbok tua tak pernah tahu
Gaun Teteron Kembang Jingga Muda
Tercampak di sudut Almari Tua.
Karena si genduk malu memakai gaunnya
Corak yang norak, model yang kuno
Bisa jadi ejekan teman-temannya
Puspa Indah 2022
Ngasak = mengais sisa panen di sawah
Derep = buruh menuai padi

214 Suara Hati Perempuan | 91

Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.

GAYATRI NAMAKU

Gayatri,… Namaku,
putri Ayahanda Raja Kertanegara Perkasa
Yang pancangkan bersatunya Nusantara,
Jauh sebelum Gajah Mada

Gayatri,… Namaku,
Kudengarkan semua cita-cita mulia Sang Prabu
Yang penuh ketegaran mengirimkan ekspedisi Pamalayu
Dengan Garang memotong telinga utusan Cina
Tanpa ragu.

Gayatri,… Namaku.
Menangis pilu karena Ayahandaku
harus tewas sia-sia
Hanya karena dendam
si Jayakatwang

92 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Gayatri,… Namaku,
Kugenggam erat cita-cita mulia ayahku Raja Kertanegara
Kudengungkan pada Nayaka muda Gajah Mada
Untuk persatukan Nusantara dengan sumpah Amukti Palapa.

Puspa Indah 2022

214 Suara Hati Perempuan | 93

Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti

IBU KOTA NUSANTARA

Langkah demi langkah mengitari
Titik Nol, kobaran api
tak pernah padam dada Jokowi
Lantunkan dzikir tanpa henti
Seiring detak hati
membangun Negeri ini

Tapak demi tapak langkah kaki
Lafalkan doa dan puji
Pada Illahi
Setegar tekad dan nyali Jokowi
Satu kan air Tuk seantero negeri
Satukan gumpalan tanah
segala penjuru Pertiwi

94 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Di situ ada doa
Di situ ada janji
Di situ ada bakti
Bagimu negeri.
Sentosa, Jaya, Lestari

14 Maret 2022

214 Suara Hati Perempuan | 95

Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti

PANGLIMA NUSANTARA

Aneka cibiran, hujatan sampai caci maki
Dari mulut-mulut jahil dan dengki
Senantiasa bertebaran di berbagai
Lini media, tanpa henti.
Namun…
Jokowi adalah Karang tak tergoyahkan
adalah api tak kunjung padam
adalah angin menghembus di sela daunan

Segala angin badai menerpa
Segala kayu besi mendera
Semua punah ditelan hati seluas Samudra.

Grahita Wileting Tirto
Pakarti Urubing Agni
Rawe rawe rantas
Malang malang tuntas
Kau panglima Nusantara.

IKN, 14 Maret 2002

96 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Mirah Rahmawati

Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.

RINDU TAK BERUJUNG

Angin malam dingin menyapa relung hati
Berbisik tenang dalam keheningan malam
Aku terdiam sendiri memandang langit gelap
Sunyi, sepi hati ini
Ikhlas dalam kalbu melepas kepergianmu
Langit gelap seolah menyapa lembut
Akankah salamku tersampaikan padanya
Ibu...
Aku rindu
Kerinduanku tak berujung
Hanya doa kupanjatkan menerangi jalanmu menuju surga
Ibu aku rindu
Rindu tak berujung...
(Jero lelangon, Denpasar Bali, 4 Maret 2022)

214 Suara Hati Perempuan | 97

Ilustrasi: Sri Sulastri

SRIKANDI

Paras ayu tiada tanding
Cerdas dan tangguh...
Kau Srikandi
Setia dan bakti pada orang tua

Teguh jiwa raga tiada tanding
Berjiwa kesatria di jalan kebenaran
Jujur berwibawa adalah simbol keanggunanmu
Wahai…
Srikandi

Lambang kekuatan tiada tanding
Kesucian jiwa tanda kesatria sejati
Srikandi pejuang sejati
Jaya, jaya, jaya…
Srikandi

Denpasar Bali, 12 Februari 2022

98 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Mia Syarief

PEJUANG SEJATI

Konde membingkai rambutnya
Menahan senyum di cela bibirnya
Tatapan lembut dan berwibawa
Bijaksana lakunya
Berjuang demi kaumnya

Sosok kartini
Hening, sunyi...
Menghinggapi seluruh tubuh
Mematung di tengah sunyi

Dikuburnya kecemasan dan kesedihan
Dalam dalam..
Membingkai harapan akan sebuah perjuangan
Kartini…
Semangatmu selalu hidup dalam sanubari
Membangun puing-puing yang rapuh
Menata masa depan
Akan kesetaraan

Denpasar Bali, 6 Maret 2022

214 Suara Hati Perempuan | 99

Ilustrasi: Wien K. Meilina

CERITA TENTANG SENJA

Warnamu menawan memerah jingga
Pertanda menjelang malam
Seorang gadis duduk termenung menatap indahmu
Senja...

Cahaya senja membasuh wajah cantiknya
Rambut terurai diterpa angin pantai yang dingin
Seolah angin berbisik sesuatu padanya
Samar-samar suara ombak pantai terdengar
Seolah menyapa di kesunyian

Burung beterbangan kembali ke sarangnya
Angin semakin dingin
Gadis itu masih terdiam dalam kesunyian
Menatap matahari yang mulai tenggelam
Membenamkan harapannya bersama
Senja…

Kuta Bali, 28 Februari 2022

100 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Wien K. Meilina

BIDADARI SURGA

Embun pagi sejuk menyentuh kalbuku
Menatap langit biru yang indah
Kau di sana di balik awan
Tersenyum menatapku

Aku rindu padamu ibu
Kau seolah tersenyum menatapku dari kejauhan
Menjawab kesedihanku
Kukirimkan doa untukmu ibu

Kau bersama bidadari surga
Dalam pelukan semesta kumerindumu ibu
Kutitipkan doa obat rindu padamu
Semesta berbisik kaupun rindu

Keikhlasan menyertai perjalananmu ibu
Menuju surga abadi
Kau tetap ada di sanubariku
Semesta saksi cinta sejatimu padaku ibu..

214 Suara Hati Perempuan | 101

Semangatmu akan selalu hidup dalam diriku
Meneruskan perjuanganmu yang belum usai
Ibu Aku sayang padamu…
Pendopo Agung Pesraman Suci Eling Bhuana, 26 Februari 2022

102 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ieke Sartika Iriany

Ilustrasi: Yunita Fitra Andriana

KASIH...

Andai kau tahu…
Kuslalu berlari menggapaimu
Yang kudapat... Wangi parfummu...
Terbayangkan hangat pelukanmu
Dalam dekap rindu wangimu...

Aku tahu,,, bahkan sangat tahu…
Rindumu bak ombak berkejaran…
Namu sayang... Tatkala kugapai…
Hanya buih di tepian yang melekat di tanganku…
Sekadar memenuhi anganku yang gagal
Segala upaya tlah kulakukan...
Sekadar ikhtiar sebagai makhlukmu...

214 Suara Hati Perempuan | 103

Aku tahu engkau maha memahami makhluknya
Dan... Aku berupaya untuk mendapatkan…
Terima kasih padamu yang mengabulkannya

104 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Yunita Fitra Andriana

BUNDA

Garis cantik tergores di wajahmu…
Senyumanmu yang selalu berseri.
Ayam berkokok menemani bangunmu
Kasih sayangmu senantiasa berlari

Hebat, sungguh hebat
Kedua tanganmu dan kedalaman cintamu
Begitu kuat merangkul anak-anakmu dengan erat
Hingga anak-anakmu enggan jauh darimu

Sepanjang hari sarat dengan tugas dan kewajiban
Tak pernah berkeluh kesah
Tiada waktu terluang, selain bernyanyi untuk anakmu
Mulutmu yang selalu basah dengan doa

214 Suara Hati Perempuan | 105

Agar anak-anak menjadi taqwa
Dalam masa depan yang cerah
Dan berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama
Sungguh doa tulusmu begitu berkah

106 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Farida Wahyu

AYAH…

Sikap tegasmu masih tertanam dalam jiwaku
Menjanjikan segalanya hitam putih
Keputusan sungguh mengagumkanku
Sehingga alternatif terbaik yang kami pilih

Tak pernah kumeragu argumentasimu
Terbaik selalu menemani keberhasilanku
Kami anak-anak pantang menentangmu
Menjadikan bangga dan bahagiamu atas usahaku

Kharisma wibawa terpatri dalam senyummu
Sikap tegasmu yang memesona kami
Motivasi perjuangan merasuk di raga anak-anakmu
Tuhan… kokohkan kaki kami, kuatkan tangan kami

214 Suara Hati Perempuan | 107

Agar kami mampu berjuang, mampu menghargai sesama
Dengan menanamkan rasa cinta dan kasih dalam nurani
Agar kami dapat berbagi dengan sesama
Tuk menyulam, mewujudkan silaturahmi

Terima kasih Tuhan... doa kami anak-anakmu, berbahagialah

di sana, Ayah…

108 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Gilang Cempaka

ANAKKU...

Suatu saat aku bergumam… akankah anganku terwujud?
Ya Allah, apakah aku akan diberi rizki yang menjadi anganku?
Anak-anak yang manis, baik dan dapat membanggakan orang tua
Soleh, sholeha, rendah hati, dan penyayang

Di tengah heningnya malam, di antara semilir angin
Kupasti terbangun, untuk menghadap sang “maha pemberi”
Kutundukkan kepalaku, kumemohon angan
Agar aku disayang dan diberi generasi...

Hari berganti hari, minggu pun berlari cepat sang bulan melintas
Doa kupanjatkan slalu pada sang ‘Maha Pengabul’
Angan yang tak pernah henti, harapan yang pernah tuntas
Akhirnya Allah SWT, mengabulkan mimpiku, anganku terkabul

Alhamdulillah, segala puji untuk Mu…
Terima kasih yang tak terhingga, ternyata aku diberi...

214 Suara Hati Perempuan | 109

Keturunan yang dapat menjadi maraknya kehidupan, sebagai
kuasa-Mu
Dan ternyata anganku terwujud, dua orang terkasih telah Kau beri

110 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi


Click to View FlipBook Version