JAGAT RAYA…
Alam semesta ciptaan-Nya untukmu wahai saudaraku
Betapa indahnya, bukit bak relief, gunung nan menjulang
Hamparan sawah meluas bak permadani istanaku
Dihiasi dengan sungai yang berliku dan danau yang bak lautan dibendung
Manusia mana yang tak bersyukur atas alam yang indah
Tak elok pula bila kufur nikmat, rahmat Mu yang berlimpah
Untuk saudaraku semua yang pandai memanfaatkan alam indah
Semua kebutuhan saudaraku, disiapkan manfaat dan bertuah
Segala manfaat kau dapatkan nikmat dalam
hidupmu di alam raya
Sandang, pangan dan papan disiapkan tuk
memenuhi kebutuhanmu
Bersyukurlah saudaraku, bumi Indonesia
yang kaya raya
Tugasmu tinggal mengusahakan hajat hidupmu
Ilustrasi: Nita Dewi
214 Suara Hati Perempuan | 111
Kurniasih Zaitun (Tintun)
Ilustrasi: Nita Dewi
PANDEMI
Datang tak diundang
Pergi tak diantar
Tapi kedatangan dan kepergianmu
menghebohkan dan menggemparkan
Membekas pada tubuh dan ingatan
datang silih berganti
mengubah wujud berganti nama
Tapi dengan maksud yang sama
memberi PR penuh tanda tanya
mari menari dan bernyanyi
walau Luka ini semakin dalam dan pedih
Padang Panjang, 030322
112 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
SEKOLAH: ANAK DAN EMAK
Elektronik menjadi kunci utama
Buku menjadi syarat
Guru menjadi pemandu
Emak menjadi segalanya
Kita baru saja Migrasi;
Dari offline ke online
Dari normal ke new normal
Dari emak menjadi guru
Menjadi ustadzah Ilustrasi: Sussy Irma
Menjadi pengrajin
Menjadi pengusaha
Menjadi cheff
Menjadi jadi
Segalanya emak...
bapak juga harus belajar menjadi emak...
PP, 030322
214 Suara Hati Perempuan | 113
Ilustrasi: Sri Sulastri
ON-LINE
SHOPPING
(“kesukaan kita semua yaaa... meredakan stres” hiburnya)
— e-commerce —
Bukalapak, lazada, shoope, tokopedia
— IG online —
bestgold#, varianculinary#, updatefashion# danbanyaklagi#
GAMES
(“disenengin banyak orang... meredakan stres” hiburnya)
Mobile Legends, Pubg, Free Fire, Higgs Domino
BELAJAR / MEETING / SEMINAR/ WORKSHOP/
RESIDENSI/ DISKUSI
(“jangan sampe otak beku... semangat” teriak nya)
Zoom Meeting, Googlemeet, IG Live,
KONSER/PERTUNJUKAN/PAMERAN/CINEMA
114 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
(“ayoo kita intip dunia, ada perkembangan apa yaa?... semangat”
teriaknya)
Virtual, Hybrid, Webseries, Youtube
PP, 050322
214 Suara Hati Perempuan | 115
COVID-19
(VARIAN: ALFA, DELTA, OMYCRON)
—HIGIENIS —
Cuci tangan
Jaga jarak
WFH
Hindari kerumunan
Berdamailah dengan diri sendiri
Masker
Hand Sanitizer
Minyak kayu putih
Susu cap beruang
Madu lebah
Daun sungkai
Serai
Jahe
Cengkih Ilustrasi: Sri Sulastri
Aku seperti menyaksikan Tradisi versus modernity
Rapid
Antigen
PCR
Peduli lindungi
QR
Tiket pesawat
Belanja ke mall
116 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Awas ada razia
Sudah berapa vaksin di tubuhmu?
Seperti mie setan
Sampai level berapa kamu sanggup?
Aku sudah level 3
Emangnya vaksin sampai level berapa gaes?
—ISOLASI (Mandiri-Medis) —
Ventilator
APD
Medical Latex Examination Gloves
Beri aku oksigen
Oksigen
Oks
Vitamin
Sport
Online-shop
Chatt
Games
Cinema
Wajib bahagia
Tingkatkan Imun
Imun
(I miss u neh)
PP, 120322
214 Suara Hati Perempuan | 117
MENU KITA HARI INI
Batuk
Bersin
Sakit kepala
Pegal-pegal
Tenggorokan kering
Tak berasa apa-apa
Tak ada penciuman
Tak ada selera
Isoman (√)
Cinema Ilustrasi: Niken Apriani
Games
Sport
Vitamin
Chatt
Isoman (√)
Sinovac
Astrazeneca
Moderna
Sinopharm
Pfizer Inc
BioNTech
Isoman (√)
#Yang dicentang menu pilihan
PP, 130322
118 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Lesh Dewika
Ilustrasi: Lesh Dewika
PEREMPUAN
Apa yang dirimu lihat, aku bukanlah cerita
Apa yang dirimu pikir, aku bukanlah sang ratu drama
Diriku, sebagian mungkin hanyalah kumpulan jiwa yang
berserakan
Tetapi, bukanlah sesuatu yang bisa kalian anggap sebuah
kebodohan.
Terjebak!
Di antara mimpi, rasa dan cita-cita
214 Suara Hati Perempuan | 119
Berjibaku dengan budaya dan realita
Aku hanya seorang perempuan
Kartini pada awalnya,
… dan selanjutnya kalian mengenal diriku dengan banyak nama
Jakarta 21.04.2017
120 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Lesh Dewika
KAU BILANG
“Kau bilang rambutku terlalu pendek,
...lalu aku panjangkan.
Kau bilang bibirku terlalu pucat,
...lalu kupakai gincu merah itu.
Kau bilang tubuhku terlalu gemuk,
...lalu tidak lagi kesentuh coklat kesukaanku.
Kau bilang gayaku tak feminin,
...lalu kuhempaskan celana belahan hatiku.
Kau bilang aku harus di rumah,
...lalu kubuang karir impianku.
Kau bilang mulutku terlalu banyak bicara,
...lalu kukatupkan bibirku membisu.
Kau bilang aku tak berguna,
...lalu kubiarkan kau menginjak-injak harga diriku.
214 Suara Hati Perempuan | 121
Terakhir kau bilang aku tak lagi menarik. Membosankan. Tak
punya hidup.
...lalu kubilang lirih, “Aku sudah mati bertahun-tahun lalu
terpenjara dalam duniamu”.
Dan kaupun berlalu, meninggalkan aku membusuk!!”
Jakarta 8.03.2017
122 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Lesh Dewika
METEOR!
Duniaku berjalan pada satu garis lurus.
Duniaku berputar rapi pada porosnya.
Duniaku bergerak teratur pada ritmenya.
Tidak terganggu.
Tenang!
Duniaku cukup ada dua warna, hitam & putih.
Duniaku cukup ada dua rasa, pahit & manis.
Duniaku cukup ada dua kemungkinan, ya & tidak.
Tidak terganggu.
Tenang.
Duniaku, hanya tentang aku,
...dan partikel-partikel kecil lainnya yang mengelilingi bagai orbit.
Jangan biarkan penyusup masuk!
Agar semua tidak terganggu.
Tenang.
214 Suara Hati Perempuan | 123
BOOM!
Sebuah meteor datang dan menyerang!
Keteraturan, warna, rasa, kemungkinan pecah berhamburan.
Duniaku terganggu, duniaku tidak tenang!
ERROR!
Jakarta, 12.22 AM / 28.12.2021
124 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Lesh Dewika
AMPAS
Kalau kau paham bagaimana semesta bekerja,
Kalau kau paham bagaimana begitu mudah busa-busa mengalir
dari bibirmu,
yang bermain asyik dengan tarian lidah
Maka, kau akan tahu apa bagaimana hari ini bekerja!
Kalau kau bilang hidup adalah keajaiban,
Sebaliknya kubilang hidup itu membosankan!
Lalu kau tertawa sengau kembali merapal mantra,
Maka, aku kembali lupa!
Ah, seperti kopi di gelas yang mendingin dan hampir habis
Ah, seperti kertas kosong yang tak tahu harus aku tuliskan apa
Maka, aku hanya duduk menerka bersama nada,
sambil mengecap ampas yang masih kucari-cari..
Jakarta, 18.01.2022 08.36
214 Suara Hati Perempuan | 125
Ilustrasi: Lesh Dewika
COITUS
Pernahkakah kau dengar kisah tentang Benang Merah
Legenda,
Cerita,
Kisah,
Drama,
Sepotong narasi dari ribuan tahun cahaya yang bergerak tanpa lelah
Menjamahi setiap sel dalam serabut halus berwarna merah muda
di dalam rongga tempurung kepala
Alkisah, dipercaya takdir
Serupa urat nadi yang mengikat setiap sendi tubuhmu
Berwarna merah
Terang seperti darah
Bergerak tanpa henti
Namun adakalanya menghitam ketika teriris sembilu atau
terpercik Belladona!
126 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Dalam bola hijau berisi milyaran makhluk bernama manusia
Benang tak kasat mata itu tiba-tiba terentang, mengikat,
menghubungkan!
Merangkai jaring halus laba-laba yang lagi-lagi tak kasat mata
Lalu para pujangga berkata, “Tak bisa kau putuskan BENANG
SERUPA DARAH itu!“
Sejatinya, kau sudah terjebak, tanpa ada jalan keluar berputar
dalam labirin antara otak dan jantung
Ah, COITUS!
Jakarta, tengah hari 15.03.2022
214 Suara Hati Perempuan | 127
M. Heni Winahyuningsih
Ilustrasi: Yunisa Fitri Andriani
KETIKA GELAGAH MENCUMBU
BUNGA NAGA DI KAKI MENOREH
Bila kabut menyusup, menggayut langkah ragu di atas jembatan
timbang.
Akankah sampai di batas tepi kali tempat purnama ngiwi-iwi?
Ataukah akan ketlikung jungkal di dasar kali curam?
Andai ayun pucuk gelagah tebu terasa jadi sonata di telinga,
mengiring gemulai srimpi ngleter di atas hijau permadani
hampar padi.
Tak ada ragu mendera, tak ada syak di dada,
Takjub pada hempas selendang merah membara semerah bunga naga.
Entahlah,
gelagah tetaplah gelagah,
bunga naga tetaplah bunga naga,
128 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
yang pada musimnya akan datang menyapa,
dan pada saatnya layu merana.
Dan biru gunung di ujung pandang,
menjadi tirai kelambu menutup misteri goyang pucuk gelagah
kala mencumbu rekah merah bunga naga
214 Suara Hati Perempuan | 129
Ilustrasi: Wien K. Meilina
DEBU LIMA KOTA INDIA UTARA
Debu-debu lima kota di India Utara
Semarakkan lara tanpa berita
Sejenak terpukau lembah ngarai dan bukit anggun berpupur
lumuran beledug
Ah,
Coba rapatkan ceranai gesekkan pena melengking menyayat,
hempaskan rindu sisihkan pilu.
Lompatan-lompatan kecil dalam tingkah tabla dan riuh tarompet
mengitar latar kota menggugah rasa
Tak jua mampu usir dingin kering debu lima kota tanpa berita
Adakah senyum purnama pernah hantarkan riang kencur yang
belum berpupur
Sampai sayup sepasang jerit pena menyayat malam menutup hari
Nagaland, 3 Maret 2010.
130 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.
AKU SEGERA PULANG
Perempuan kelabu meretas embun,
Bayang magnolia putih redupkan purnama
Tiba datang surya dingin menusuk tulang ,
tak mampu usir kepak colibri di ujung musim semi.
Perempuan kelabu
Melintas ragu di senyap tapak
Sejenak ragu
Dalam sepi termangu disapa kepak sayap colibri kecil
Perempuan kelabu teruskan langkah,
Terbirit secepat tupai melintas, meloncat ke ujung musim semi.
(Kampus UCLA, 2 April 09)
214 Suara Hati Perempuan | 131
TIDAK HARUS KEMANA-MANA
Aku merindukan kehadiran Mu.
Bayangan kelabu terulang kembali
dalam sapa tanpa duga.
Menguak luka lama mengusik lirik
selepas siang.
Sejenak, kepalaku dipenuhi alun
lembut Pandhelori saat jelang sore
di Meiji tua itu.
Dan bidak tapak lampah
kapang-kapang itu … sunggu Ilustrasi: Nita Dewi
mendorongku untuk terus maju
berlari, naik ke perbukitan gelap, terbang melayang di tengah
gerlap lampu kota.
Lalu aroma rindu, aroma teh hijau yang menusuk gerak
menghampiri diri yang diam sendiri.
Bayang Obento terhidang bersama sasimi, sisa kecap gelas
vigno tinto, dan sekerat burrito..
Di sinilah, lembar bunga kusam menghamba kumbang.
Aku Lelah mencari jejak tapak basah Mu.
Dan kala sang candra menangkap kelebat ujung sampur merah,
aku tak bisa lagi tegakkan kaki.
Baru kusadar, tak harus ke mana…
Cukup dalam diam lanjutkan kan dendang Pandhelori atau
litany pun Ave Maria: Semua sama.
Simpuhkan kaki, katupkan jemari, pejamkan mata.
Dan aku tahu: Engkau akan menghampiri…
132 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Mulyaningsih
DIS
Suara Gemercik air...Jelas
Dingin terasa angin malam...Menusuk
Bercuit suara burung malam...Jauh
Gunung bertengger hitam, gelap...Di depan
Nikmat-Mu yang tak bisa dipungkiri
Hanya Doa yang bisa menghantarkan... Pada
Nya
Ilustrasi: Ariesa
Pandanwangi
Derap langkah berayun... Lama
Ayunan, Derap Helaan napas sampai...Ujung
Keringat, Peluh, derai air mata... terus
Tusukan, terpaan, sakit... Selalu
Seonggok berlian tertera Indah
Ikhtiar sareat seorang manusia
Senyum, sopan, tegur, sapa...ingat
Bergandeng tangan pengikat hati...usaha
Simpatik, empati, racikan rasa...tanam
Alunan rasa, keindahan, kebaikan hati...bisa
Berbagi rasa, asa, karsa dan karya biasa
Silaturahmi simpay batin manusia
Dis memiliki makna: jarak adalah sebuah pernyataan (medsos,
Inggris, dan Perancis).... Aamiin YRA dibuat pada akhir sebuah
penantian kenyataan disampaikan dalam Buku PUISI CSI... Moel
Ciapus, 13 Maret 2022
214 Suara Hati Perempuan | 133
Niken Apriani
Ilustrasi: Gilang Cempaka
DOA IBU
Kaki kecil menapak bergoyang lincah mengikuti iringan musik
Masih terdengar bias celoteh dan teriakan gembira
Kadang terjatuh dan bangkit... bangkit lagi...
Tak puas mencoba semua rintangan
Waktu berlalu tak terasa
Semakin tegap langkahnya kini menghadap hidup menata asa
Mutiara hati menapak hidup mencoba bangkit dan bangkit
diterpa badai
Doa ibu tak lepas waktu
Cimahi, Maret 2022
134 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.
DI SEBUAH PERJALANAN
Hujan rintik membekukan jemari kaki
Menguak luka lama goreskan langkah
Halimun tipis melukis lembah pinus
Mengukir asa terpapar letih
Merangkak malam tinggalkan bulan
Sendiri sepi merangkul mimpi
Fajar terjaga di antara kicau kecil pipit
Hari baru menguak asa mencari ridho
Jalan penuh rintang menoreh luka dalam
Berharap esok fajar datang membawa harap
Rindu yang lama lepas membawa lara
Kunanti datangnya angin membelai mimpi
Kapan datang Cinta membius hati
Cimahi, Maret 2022
214 Suara Hati Perempuan | 135
Ilustrasi: Nina Fajariyah
SUARA HATI
Suara hati, mengatakan tidak
Namun langkah masih terseok ke arahnya
Mengharap belas kasih yang semakin bias
Belaian angin membius langkah
Menghantar arah menuju liang
Sudah siapkah aku yaa Rabb
Janjimu tak pernah ingkar
Cimahi, Maret 2022
136 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi
EMBUN PAGI
Embun jatuh menyapa pagi
Sayup terdengar tembang puji
Kaki melangkah mengais ridho-Nya
Kerikil tajam mengusik langkah
Mengayun asa menjauh ikhlas
Letihku makin bernanah
Mengoyak asa yang tersisa
Mencoba terus bertahan
Pemilik hidupku kembali
Cimahi, Maret 2022
214 Suara Hati Perempuan | 137
Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti
LARA RASA
Lara ini begitu lama melemahkan sekujur rasa
Menorehkan luka yang panjang ketidakberdayaan
Tubuh lelah merangkak asa
Memupuk cinta akan hidup tenang
Mencoba ikhlas yang tak berujung
Perjalanan ini masih berkabut
Kucoba bertahan di atas gelombang keresahan
Menanti ridho bersanding harap
Semoga umur masih menanti panjang
Membersihkan serpihan hitam perjalanan
Cimahi, Maret 2022
138 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Nina Fajariyah
Ilustrasi: Nita Dewi
DIALOG DALAM DIAM
Pada jaring kerinduan
Akan matamu yang tajam...
Senyummu yang merekah indah
Dan kehangatan pelukmu
Aku tersesat...
Aku hilang arah...
Pada pintu-pintu toko
Pada etalase yang memamerkan dagangannya
Pada setiap lantai yang dipijak oleh ratusan pengunjung
Pada senyum-senyum letih yang tergambar di wajah pelayan
Aku tersesat…
Aku hilang arah…
214 Suara Hati Perempuan | 139
Pada ilalang yang bergoyang
Pada daun yang meneteskan embun di pagi hari
Pada ranting kayu tua yang lemah termakan usia
Aku menatap...
Aku terdiam…
Aku mencintaimu..
Aku merindukanmu...
Dalam DIAM
Jakarta, 5 Maret 2022
140 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Nita Dewi
KEPADA PERASAAN
Kepada perasaan aku pergi
Di penghujung hari pada harapan yang sejengkal tersisa
Pada sisa-sisa kenangan
Yang hilang dan datang
Seperti hadirmu yang hilang dan datang
Tabuhan detak yang berpacu
Berlomba-lomba berteriak pada sepi yang fana.
Senja yang turun berganti pekat yang mengikat
Kepada perasaan
Yang selalu kubawa, pada setiap kota-kota yang kusinggahi..
Bayangmu selalu menetap di goresan warna yang kulukis
Jejakmu yang kadang menghilang ketika kabut menjelang
sebelum hujan turun.
214 Suara Hati Perempuan | 141
Dan aku masih terus melangkah..
pada gedung-gedung yang asing
Pada pantai- pantai yang selalu terlihat berbeda
Pada wajah-wajah baru yang melintas di setiap perjalananku.
Dan aku berlari
Namun perasaan
Namun rindu
Namun wajahmu
Namun bau tubuhmu
Namun pelukanmu
Enggan hilang
Dan aku terperangkap
Kepada perasaan
Jakarta, 2019
142 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti
PASANGAN JIWAKU
Ini bukan selamat tinggal
Karna tinggal bukanlah hal yang patut diselamati.
Karna tak ada satu pun dari kita yang tinggal.
Karna tinggal hanya ada di dunia maya.
Tubuh dan jiwa kita terus bergerak mengukur waktu.
Yang bisa diucap adalah sampai jumpa, akan ada saatnya kita
sampai pada perjumpaan.
Kita akan berjumpa bukan dengan kita, tapi dengan jiwa yang
mirip dengan kita.
Seperti kau yang bisa membuatku jatuh hati.
Yang bisa diucap adalah sampai nanti. Kita akan sampai pada
akhir penantian.
Waktu mendikte kita sampai pada titik nanti.
Nanti kita akan berbahagia dengan orang yang telah lama
menantikan masa tuk membahagiakan kita.
Nanti kita akan berbahagia, karna akan bertemu
214 Suara Hati Perempuan | 143
Bahwa jiwamu dan jiwaku memang ditakdirkan bersatu dalam
raga. Yang bukan kamu atau aku.
“Sampai nanti... sampai jumpa... pasangan jiwaku”
Februari 2017
144 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
SANUR, KITA, DAN PAGI
Mencoba cinta... mencoba cinta
Kita reguk anggur
Dan merasakan hangatnya
Bergelora...bergelora
Seperti ombak yang terus bergelung
Menghantam bibir pantai
Sanur... sanur
Hampir pagi,, katamu Ilustrasi: Nina Fajariyah
Biarkan... kuingin melihat bayangan pagi
Dan kita kembali mereguk anggur
Merasakannya dalam diam
Hening
Khidmat
SANUR, 17 Mei 2020
Ketika mendengarkan lagu sal priadi “malam-malam, Ubud”
Hey kenapa tak ada yang menulis tentang Sanur??
214 Suara Hati Perempuan | 145
Ilustrasi: Sri Sulastri
MENGENANGMU
Pada hamparan biru laut
Kau hanyutkan luka
Perih terasa
Liukan gelombang serupa
Ikal rambutmu
Tersaji dalam ingatan
Di tepi kawah ijen
Di antara pecahan batu
Kau hadir
Serupa jejak
Yang pekat
Kukenang harum itu
Seduhan kopi yang mengendap
Di lembah-lembah hijau
146 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Kukenang rasa itu
Jejak manis tembakau
Saat kukecup bibirmu
Bisakah kutemui kau
Dalam senyum letih
Perempuan-perempuan yang menggoreskan canting
Menuangkan malam
Di pucuk-pucuk padi
Yang meliuk mesra
Pada hamparan sawah
Bisakah aku menyentuhmu
Dalam remang petang
Ketika hutan makin muram
Dalam ingatan kotamu
2018
214 Suara Hati Perempuan | 147
Ilustrasi: Niken Apriani
BERLARI BERSAMA ANGIN
Maukah kau menari bersamaku?
Di antara patahan ranting dan tumpukan daun yang sudah
menyatu
Dengan lembabnya tanah, yang basah
Oleh hujan semalam
Tango, salsa..
Di mana tangan kita saling mengait dan tubuh kita melebur jadi
satu.
Tidak kutangkap tatapanmu yang tidak lagi hangat
Tidak kudengarkan kata-katamu yang semakin tajam menusuk...
Datang dan pergi
Rasanya aku sudah diambang patah
Maukah kau berlari denganku?
Di atas air yang mengalir di bawah kakiku
148 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Dan pasir basah yang menggelitik
Dan pagi yang merekah indah...
Merah, oranye
Di mana pelukan semakin erat
Tidak kurasakan dinginnya sentuhanmu
Tidak kupedulikan kecupanmu yang tak lagi panas membara
Kupatah, hancur, dan lebur berkali-kali
Selamat tinggal atau selamat berpisah
Jakarta, 6 Mei 2019
214 Suara Hati Perempuan | 149
Ninon Syofia
Ilustrasi: Ariani Rachman
WANITA TANGGUH
Engkau tumbuh menjadi pohon yang kuat.
Menjadi tempat bersandar yang menyejukkan
Engkau pun menjelma menjadi karang yang kuat.
Bertahan dari amukan ombak dan badai.
Engkau pun bisa menjadi jembatan yang kokoh.
Menyeberangi harapan dan keinginan keluargamu.
Engkau bisa menjadi apa saja.
Karena engkau wanita tangguh
Karena engkau wanita yang tidak mudah rapuh.
Karena engkau wanita hebat yang lahir dari gen yang kuat.
150 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti
NAK, SEBELUM BERTEMU DENGANMU
Nak, sebelum bertemu denganmu
Hari-hariku dipenuhi gelora mencari jati diri
Nak, sebelum bertemu denganmu
Waktu-waktu kuhabisi dengan perlombaan eksistensi
Nak, sebelum bertemu denganmu
Pikiran-pikiranku selalu seputar target-target duniawi
Nak, saat bertemu denganmu
Mendadak kusukarela menyerahkan jiwa raga untukmu
seutuhnya
Nak, setelah bertemu denganmu
Kubagi hidupku dan cintaku tanpa ragu.
Semoga kamu kenyang dengan bahagiamu.
214 Suara Hati Perempuan | 151
Ilustrasi: Siti Sartika
FRIENDSHIP UNTILL JANNAH
Sahabat...
Kamu selalu mengerti
Seperti halnya kotak P3K
Aku butuh pertolongan pertama saat diriku merana.
Sekadar obrolan hangat atau rangkulan pelepas penat.
Tak ada tuntutan lain.
Hanya itu, sekadar berbagi cerita.
Hari-hari kita berlangsung sukacita
Kemudian...
Ketika sang waktu berkata lain.
Jalan kita tak lagi searah.
Kita punya tujuan masing-masing.
Kita harus berpacu dengan dunia.
Tapi tak apa.
Persahabatan kita akan tetap terjaga.
Hingga jannah, semoga diridhoi Allah
152 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Siti Sartika
BALADA IBU RUMAH TANGGA
Memahat siang, merenda malam.
Meniti rutinitas yang sama setiap hari.
Bergerak dalam diam
Susah payah di belakang layar
Ibu rumah tangga yang sering dipandang sebelah mata
Dianggap hanya beban pasangannya
Dinilai tak pintar, karena hanya tak bekerja di luar rumah.
Padahal ini adalah karir termahal
7/24 jam kerja nonstop
Multitugas...
Dan berani menginvestasikan seluruh potensi terbaiknya untuk
keluarga.
Harusnya digaji lebih tinggi dari jabatan apapun.
Harusnya dihargai dari pejabat manapun.
214 Suara Hati Perempuan | 153
Tapi ibu rumah tangga tak menuntut itu.
Beliau hari ke hari hanya belajar bersyukur untuk setiap takdir
dalam hidupnya.
Dengan harapan surga balasannya.
154 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Siti Sartika
PERPISAHAN BEDA DUNIA
Tiba-tiba sepasang mata teduh itu hilang
Tak memandangiku lagi
Tak menoleh lagi seperti biasanya
Pemiliknya bukan tak sudi menatapku lagi
Aku tetap pasangan yang paling dia cintai
Namun dia begitu dingin
Bukan sikapnya
Tapi karena dia kembali ke pangkuan semesta
Berpisah dijemput waktu
Berlalu tanpa bisa ditahan
Perpisahan beda dunia adalah perpisahan yang paling
menyakitkan.
Separuh ragaku ikut hilang.
Separuh jiwaku dia bawa terbang.
214 Suara Hati Perempuan | 155
Game over.
The end.
Tamatlah perjalanan kisah cinta kita di bumi ini.
Tunggu aku di surga nanti.
156 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Novi Anoegrajekti
Ilustrasi: Belinda Sukapura Dewi
PENARI (1)
Di sini, di ruang bata bersiku kayu
tersusun menata memahat
Lukisan tiga dara setengah menunduk
terus menerang
– karena dengan tetap menatap
akan lebih semakin erat tak terlupakan
parasmu lancip gemulai
bening memantulkan cahaya,
kala senja
manakala berbingkai lekuk pigura
berukir warna kuning kemilau keemasan
tak kan redup –
Di sana, persawahan berjejer rapi
Warna hijau padi memancarkan segala
214 Suara Hati Perempuan | 157
pantulan. Selaras arah mata angin
menjulur menjelma benturan
plas . . . bulir-bulir memusat berhamburan
daun-daun pepohonan persawahan
tertegun binar
Jember, Maret 2022
158 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi
Ilustrasi: Sri Sulastri
PENARI (2)
Malam ini
bertabur kerling tatap mata memandang
reka-reka dieja candra
kemasyuran melintas batas
begitu gairah mencipta rasa
dirayakan gemulai marwah mencecap
menghitung decak kalam mendesing
suara kluncing atas segala rasa
bertepuk menyatu jelita pesona
gerak rancak
langit meremas
jamuan malam
Jember, Maret 2022
214 Suara Hati Perempuan | 159
Ilustrasi: Jenar Sukaningsih
PENARI (3)
Ada berbaris patung warna bata
Ada cerita sepenggal lambaian tangan, mengapa ada
ada gegap gempita rembulan sempurna
letup-letup buih air
tertuju pada dara jelita
menggelora
tersenyum, menyemai
mencium embun basah
160 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi