The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Editor
Novi Anoegrajekti
Ayoeningsih Dyah Woelandhary
Ariesa Pandanwangi




Kata Pengantar
Prof. Dr. Endang Caturwati, M.S.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by agung_gumelar, 2022-04-20 18:46:11

Antologi Puisi KEPAK SRIKANDI 214 Suara Hati Perempuan

Editor
Novi Anoegrajekti
Ayoeningsih Dyah Woelandhary
Ariesa Pandanwangi




Kata Pengantar
Prof. Dr. Endang Caturwati, M.S.

JAGAT RAYA…

Alam semesta ciptaan-Nya untukmu wahai saudaraku
Betapa indahnya, bukit bak relief, gunung nan menjulang
Hamparan sawah meluas bak permadani istanaku
Dihiasi dengan sungai yang berliku dan danau yang bak lautan dibendung

Manusia mana yang tak bersyukur atas alam yang indah

Tak elok pula bila kufur nikmat, rahmat Mu yang berlimpah

Untuk saudaraku semua yang pandai memanfaatkan alam indah

Semua kebutuhan saudaraku, disiapkan manfaat dan bertuah



Segala manfaat kau dapatkan nikmat dalam

hidupmu di alam raya

Sandang, pangan dan papan disiapkan tuk

memenuhi kebutuhanmu

Bersyukurlah saudaraku, bumi Indonesia

yang kaya raya

Tugasmu tinggal mengusahakan hajat hidupmu

Ilustrasi: Nita Dewi

214 Suara Hati Perempuan | 111

Kurniasih Zaitun (Tintun)

Ilustrasi: Nita Dewi

PANDEMI

Datang tak diundang
Pergi tak diantar
Tapi kedatangan dan kepergianmu
menghebohkan dan menggemparkan
Membekas pada tubuh dan ingatan
datang silih berganti
mengubah wujud berganti nama
Tapi dengan maksud yang sama
memberi PR penuh tanda tanya
mari menari dan bernyanyi
walau Luka ini semakin dalam dan pedih
Padang Panjang, 030322

112 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

SEKOLAH: ANAK DAN EMAK

Elektronik menjadi kunci utama
Buku menjadi syarat
Guru menjadi pemandu
Emak menjadi segalanya

Kita baru saja Migrasi;

Dari offline ke online

Dari normal ke new normal

Dari emak menjadi guru

Menjadi ustadzah Ilustrasi: Sussy Irma
Menjadi pengrajin

Menjadi pengusaha

Menjadi cheff

Menjadi jadi

Segalanya emak...
bapak juga harus belajar menjadi emak...

PP, 030322

214 Suara Hati Perempuan | 113

Ilustrasi: Sri Sulastri

ON-LINE

SHOPPING
(“kesukaan kita semua yaaa... meredakan stres” hiburnya)
— e-commerce —
Bukalapak, lazada, shoope, tokopedia
— IG online —
bestgold#, varianculinary#, updatefashion# danbanyaklagi#

GAMES
(“disenengin banyak orang... meredakan stres” hiburnya)
Mobile Legends, Pubg, Free Fire, Higgs Domino

BELAJAR / MEETING / SEMINAR/ WORKSHOP/
RESIDENSI/ DISKUSI
(“jangan sampe otak beku... semangat” teriak nya)
Zoom Meeting, Googlemeet, IG Live,
KONSER/PERTUNJUKAN/PAMERAN/CINEMA

114 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

(“ayoo kita intip dunia, ada perkembangan apa yaa?... semangat”
teriaknya)
Virtual, Hybrid, Webseries, Youtube
PP, 050322

214 Suara Hati Perempuan | 115

COVID-19
(VARIAN: ALFA, DELTA, OMYCRON)

—HIGIENIS —

Cuci tangan
Jaga jarak
WFH
Hindari kerumunan
Berdamailah dengan diri sendiri

Masker

Hand Sanitizer

Minyak kayu putih

Susu cap beruang

Madu lebah

Daun sungkai

Serai

Jahe

Cengkih Ilustrasi: Sri Sulastri

Aku seperti menyaksikan Tradisi versus modernity

Rapid
Antigen
PCR
Peduli lindungi
QR
Tiket pesawat
Belanja ke mall

116 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Awas ada razia
Sudah berapa vaksin di tubuhmu?
Seperti mie setan
Sampai level berapa kamu sanggup?
Aku sudah level 3
Emangnya vaksin sampai level berapa gaes?

—ISOLASI (Mandiri-Medis) —
Ventilator
APD
Medical Latex Examination Gloves
Beri aku oksigen
Oksigen
Oks

Vitamin
Sport
Online-shop
Chatt
Games
Cinema
Wajib bahagia
Tingkatkan Imun
Imun
(I miss u neh)

PP, 120322

214 Suara Hati Perempuan | 117

MENU KITA HARI INI

Batuk
Bersin
Sakit kepala
Pegal-pegal
Tenggorokan kering
Tak berasa apa-apa
Tak ada penciuman
Tak ada selera
Isoman (√)

Cinema Ilustrasi: Niken Apriani
Games
Sport
Vitamin
Chatt
Isoman (√)

Sinovac
Astrazeneca
Moderna
Sinopharm
Pfizer Inc
BioNTech
Isoman (√)

#Yang dicentang menu pilihan
PP, 130322

118 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Lesh Dewika

Ilustrasi: Lesh Dewika

PEREMPUAN

Apa yang dirimu lihat, aku bukanlah cerita
Apa yang dirimu pikir, aku bukanlah sang ratu drama
Diriku, sebagian mungkin hanyalah kumpulan jiwa yang

berserakan
Tetapi, bukanlah sesuatu yang bisa kalian anggap sebuah

kebodohan.
Terjebak!
Di antara mimpi, rasa dan cita-cita

214 Suara Hati Perempuan | 119

Berjibaku dengan budaya dan realita
Aku hanya seorang perempuan
Kartini pada awalnya,

… dan selanjutnya kalian mengenal diriku dengan banyak nama
Jakarta 21.04.2017

120 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Lesh Dewika

KAU BILANG

“Kau bilang rambutku terlalu pendek,
...lalu aku panjangkan.
Kau bilang bibirku terlalu pucat,
...lalu kupakai gincu merah itu.
Kau bilang tubuhku terlalu gemuk,
...lalu tidak lagi kesentuh coklat kesukaanku.
Kau bilang gayaku tak feminin,
...lalu kuhempaskan celana belahan hatiku.
Kau bilang aku harus di rumah,
...lalu kubuang karir impianku.
Kau bilang mulutku terlalu banyak bicara,
...lalu kukatupkan bibirku membisu.
Kau bilang aku tak berguna,
...lalu kubiarkan kau menginjak-injak harga diriku.

214 Suara Hati Perempuan | 121

Terakhir kau bilang aku tak lagi menarik. Membosankan. Tak
punya hidup.
...lalu kubilang lirih, “Aku sudah mati bertahun-tahun lalu
terpenjara dalam duniamu”.
Dan kaupun berlalu, meninggalkan aku membusuk!!”
Jakarta 8.03.2017

122 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Lesh Dewika

METEOR!

Duniaku berjalan pada satu garis lurus.
Duniaku berputar rapi pada porosnya.
Duniaku bergerak teratur pada ritmenya.

Tidak terganggu.
Tenang!

Duniaku cukup ada dua warna, hitam & putih.
Duniaku cukup ada dua rasa, pahit & manis.
Duniaku cukup ada dua kemungkinan, ya & tidak.

Tidak terganggu.
Tenang.

Duniaku, hanya tentang aku,
...dan partikel-partikel kecil lainnya yang mengelilingi bagai orbit.

Jangan biarkan penyusup masuk!
Agar semua tidak terganggu.
Tenang.

214 Suara Hati Perempuan | 123

BOOM!
Sebuah meteor datang dan menyerang!
Keteraturan, warna, rasa, kemungkinan pecah berhamburan.
Duniaku terganggu, duniaku tidak tenang!

ERROR!
Jakarta, 12.22 AM / 28.12.2021

124 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Lesh Dewika

AMPAS

Kalau kau paham bagaimana semesta bekerja,
Kalau kau paham bagaimana begitu mudah busa-busa mengalir
dari bibirmu,
yang bermain asyik dengan tarian lidah
Maka, kau akan tahu apa bagaimana hari ini bekerja!
Kalau kau bilang hidup adalah keajaiban,
Sebaliknya kubilang hidup itu membosankan!
Lalu kau tertawa sengau kembali merapal mantra,
Maka, aku kembali lupa!
Ah, seperti kopi di gelas yang mendingin dan hampir habis
Ah, seperti kertas kosong yang tak tahu harus aku tuliskan apa

Maka, aku hanya duduk menerka bersama nada,
sambil mengecap ampas yang masih kucari-cari..

Jakarta, 18.01.2022 08.36

214 Suara Hati Perempuan | 125

Ilustrasi: Lesh Dewika

COITUS

Pernahkakah kau dengar kisah tentang Benang Merah

Legenda,

Cerita,

Kisah,

Drama,

Sepotong narasi dari ribuan tahun cahaya yang bergerak tanpa lelah

Menjamahi setiap sel dalam serabut halus berwarna merah muda

di dalam rongga tempurung kepala

Alkisah, dipercaya takdir
Serupa urat nadi yang mengikat setiap sendi tubuhmu
Berwarna merah
Terang seperti darah
Bergerak tanpa henti
Namun adakalanya menghitam ketika teriris sembilu atau
terpercik Belladona!

126 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Dalam bola hijau berisi milyaran makhluk bernama manusia
Benang tak kasat mata itu tiba-tiba terentang, mengikat,
menghubungkan!
Merangkai jaring halus laba-laba yang lagi-lagi tak kasat mata
Lalu para pujangga berkata, “Tak bisa kau putuskan BENANG
SERUPA DARAH itu!“
Sejatinya, kau sudah terjebak, tanpa ada jalan keluar berputar
dalam labirin antara otak dan jantung
Ah, COITUS!
Jakarta, tengah hari 15.03.2022

214 Suara Hati Perempuan | 127

M. Heni Winahyuningsih

Ilustrasi: Yunisa Fitri Andriani

KETIKA GELAGAH MENCUMBU
BUNGA NAGA DI KAKI MENOREH

Bila kabut menyusup, menggayut langkah ragu di atas jembatan
timbang.
Akankah sampai di batas tepi kali tempat purnama ngiwi-iwi?
Ataukah akan ketlikung jungkal di dasar kali curam?

Andai ayun pucuk gelagah tebu terasa jadi sonata di telinga,

mengiring gemulai srimpi ngleter di atas hijau permadani

hampar padi.

Tak ada ragu mendera, tak ada syak di dada,

Takjub pada hempas selendang merah membara semerah bunga naga.

Entahlah,

gelagah tetaplah gelagah,

bunga naga tetaplah bunga naga,

128 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

yang pada musimnya akan datang menyapa,
dan pada saatnya layu merana.
Dan biru gunung di ujung pandang,
menjadi tirai kelambu menutup misteri goyang pucuk gelagah
kala mencumbu rekah merah bunga naga

214 Suara Hati Perempuan | 129

Ilustrasi: Wien K. Meilina

DEBU LIMA KOTA INDIA UTARA

Debu-debu lima kota di India Utara
Semarakkan lara tanpa berita
Sejenak terpukau lembah ngarai dan bukit anggun berpupur
lumuran beledug
Ah,
Coba rapatkan ceranai gesekkan pena melengking menyayat,
hempaskan rindu sisihkan pilu.
Lompatan-lompatan kecil dalam tingkah tabla dan riuh tarompet
mengitar latar kota menggugah rasa
Tak jua mampu usir dingin kering debu lima kota tanpa berita
Adakah senyum purnama pernah hantarkan riang kencur yang
belum berpupur
Sampai sayup sepasang jerit pena menyayat malam menutup hari

Nagaland, 3 Maret 2010.

130 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.

AKU SEGERA PULANG

Perempuan kelabu meretas embun,
Bayang magnolia putih redupkan purnama
Tiba datang surya dingin menusuk tulang ,
tak mampu usir kepak colibri di ujung musim semi.
Perempuan kelabu
Melintas ragu di senyap tapak
Sejenak ragu
Dalam sepi termangu disapa kepak sayap colibri kecil
Perempuan kelabu teruskan langkah,
Terbirit secepat tupai melintas, meloncat ke ujung musim semi.

(Kampus UCLA, 2 April 09)

214 Suara Hati Perempuan | 131

TIDAK HARUS KEMANA-MANA

Aku merindukan kehadiran Mu.

Bayangan kelabu terulang kembali

dalam sapa tanpa duga.

Menguak luka lama mengusik lirik

selepas siang.

Sejenak, kepalaku dipenuhi alun

lembut Pandhelori saat jelang sore

di Meiji tua itu.

Dan bidak tapak lampah

kapang-kapang itu … sunggu Ilustrasi: Nita Dewi
mendorongku untuk terus maju

berlari, naik ke perbukitan gelap, terbang melayang di tengah

gerlap lampu kota.

Lalu aroma rindu, aroma teh hijau yang menusuk gerak

menghampiri diri yang diam sendiri.

Bayang Obento terhidang bersama sasimi, sisa kecap gelas

vigno tinto, dan sekerat burrito..

Di sinilah, lembar bunga kusam menghamba kumbang.

Aku Lelah mencari jejak tapak basah Mu.

Dan kala sang candra menangkap kelebat ujung sampur merah,

aku tak bisa lagi tegakkan kaki.

Baru kusadar, tak harus ke mana…

Cukup dalam diam lanjutkan kan dendang Pandhelori atau

litany pun Ave Maria: Semua sama.

Simpuhkan kaki, katupkan jemari, pejamkan mata.

Dan aku tahu: Engkau akan menghampiri…

132 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Mulyaningsih

DIS

Suara Gemercik air...Jelas
Dingin terasa angin malam...Menusuk
Bercuit suara burung malam...Jauh
Gunung bertengger hitam, gelap...Di depan
Nikmat-Mu yang tak bisa dipungkiri
Hanya Doa yang bisa menghantarkan... Pada
Nya

Ilustrasi: Ariesa
Pandanwangi

Derap langkah berayun... Lama
Ayunan, Derap Helaan napas sampai...Ujung
Keringat, Peluh, derai air mata... terus
Tusukan, terpaan, sakit... Selalu
Seonggok berlian tertera Indah
Ikhtiar sareat seorang manusia

Senyum, sopan, tegur, sapa...ingat
Bergandeng tangan pengikat hati...usaha
Simpatik, empati, racikan rasa...tanam
Alunan rasa, keindahan, kebaikan hati...bisa
Berbagi rasa, asa, karsa dan karya biasa
Silaturahmi simpay batin manusia

Dis memiliki makna: jarak adalah sebuah pernyataan (medsos,
Inggris, dan Perancis).... Aamiin YRA dibuat pada akhir sebuah
penantian kenyataan disampaikan dalam Buku PUISI CSI... Moel

Ciapus, 13 Maret 2022

214 Suara Hati Perempuan | 133

Niken Apriani

Ilustrasi: Gilang Cempaka

DOA IBU

Kaki kecil menapak bergoyang lincah mengikuti iringan musik
Masih terdengar bias celoteh dan teriakan gembira
Kadang terjatuh dan bangkit... bangkit lagi...
Tak puas mencoba semua rintangan
Waktu berlalu tak terasa
Semakin tegap langkahnya kini menghadap hidup menata asa
Mutiara hati menapak hidup mencoba bangkit dan bangkit
diterpa badai
Doa ibu tak lepas waktu
Cimahi, Maret 2022

134 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Ayoeningsih Dyah W.

DI SEBUAH PERJALANAN

Hujan rintik membekukan jemari kaki
Menguak luka lama goreskan langkah
Halimun tipis melukis lembah pinus
Mengukir asa terpapar letih
Merangkak malam tinggalkan bulan
Sendiri sepi merangkul mimpi

Fajar terjaga di antara kicau kecil pipit
Hari baru menguak asa mencari ridho
Jalan penuh rintang menoreh luka dalam
Berharap esok fajar datang membawa harap
Rindu yang lama lepas membawa lara
Kunanti datangnya angin membelai mimpi
Kapan datang Cinta membius hati

Cimahi, Maret 2022

214 Suara Hati Perempuan | 135

Ilustrasi: Nina Fajariyah

SUARA HATI

Suara hati, mengatakan tidak
Namun langkah masih terseok ke arahnya
Mengharap belas kasih yang semakin bias
Belaian angin membius langkah
Menghantar arah menuju liang
Sudah siapkah aku yaa Rabb
Janjimu tak pernah ingkar
Cimahi, Maret 2022

136 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Risca Nogalesa Pratiwi

EMBUN PAGI

Embun jatuh menyapa pagi
Sayup terdengar tembang puji
Kaki melangkah mengais ridho-Nya
Kerikil tajam mengusik langkah
Mengayun asa menjauh ikhlas
Letihku makin bernanah
Mengoyak asa yang tersisa
Mencoba terus bertahan
Pemilik hidupku kembali

Cimahi, Maret 2022

214 Suara Hati Perempuan | 137

Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti

LARA RASA

Lara ini begitu lama melemahkan sekujur rasa
Menorehkan luka yang panjang ketidakberdayaan
Tubuh lelah merangkak asa
Memupuk cinta akan hidup tenang
Mencoba ikhlas yang tak berujung
Perjalanan ini masih berkabut
Kucoba bertahan di atas gelombang keresahan
Menanti ridho bersanding harap
Semoga umur masih menanti panjang
Membersihkan serpihan hitam perjalanan

Cimahi, Maret 2022

138 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Nina Fajariyah

Ilustrasi: Nita Dewi

DIALOG DALAM DIAM

Pada jaring kerinduan
Akan matamu yang tajam...
Senyummu yang merekah indah
Dan kehangatan pelukmu
Aku tersesat...
Aku hilang arah...
Pada pintu-pintu toko
Pada etalase yang memamerkan dagangannya
Pada setiap lantai yang dipijak oleh ratusan pengunjung
Pada senyum-senyum letih yang tergambar di wajah pelayan
Aku tersesat…
Aku hilang arah…

214 Suara Hati Perempuan | 139

Pada ilalang yang bergoyang
Pada daun yang meneteskan embun di pagi hari
Pada ranting kayu tua yang lemah termakan usia
Aku menatap...
Aku terdiam…
Aku mencintaimu..
Aku merindukanmu...
Dalam DIAM
Jakarta, 5 Maret 2022

140 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Nita Dewi

KEPADA PERASAAN

Kepada perasaan aku pergi
Di penghujung hari pada harapan yang sejengkal tersisa

Pada sisa-sisa kenangan
Yang hilang dan datang
Seperti hadirmu yang hilang dan datang

Tabuhan detak yang berpacu
Berlomba-lomba berteriak pada sepi yang fana.
Senja yang turun berganti pekat yang mengikat

Kepada perasaan
Yang selalu kubawa, pada setiap kota-kota yang kusinggahi..
Bayangmu selalu menetap di goresan warna yang kulukis
Jejakmu yang kadang menghilang ketika kabut menjelang
sebelum hujan turun.

214 Suara Hati Perempuan | 141

Dan aku masih terus melangkah..
pada gedung-gedung yang asing
Pada pantai- pantai yang selalu terlihat berbeda
Pada wajah-wajah baru yang melintas di setiap perjalananku.
Dan aku berlari
Namun perasaan
Namun rindu
Namun wajahmu
Namun bau tubuhmu
Namun pelukanmu
Enggan hilang
Dan aku terperangkap
Kepada perasaan
Jakarta, 2019

142 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti

PASANGAN JIWAKU

Ini bukan selamat tinggal
Karna tinggal bukanlah hal yang patut diselamati.
Karna tak ada satu pun dari kita yang tinggal.
Karna tinggal hanya ada di dunia maya.
Tubuh dan jiwa kita terus bergerak mengukur waktu.
Yang bisa diucap adalah sampai jumpa, akan ada saatnya kita
sampai pada perjumpaan.
Kita akan berjumpa bukan dengan kita, tapi dengan jiwa yang
mirip dengan kita.
Seperti kau yang bisa membuatku jatuh hati.
Yang bisa diucap adalah sampai nanti. Kita akan sampai pada
akhir penantian.
Waktu mendikte kita sampai pada titik nanti.
Nanti kita akan berbahagia dengan orang yang telah lama
menantikan masa tuk membahagiakan kita.
Nanti kita akan berbahagia, karna akan bertemu

214 Suara Hati Perempuan | 143

Bahwa jiwamu dan jiwaku memang ditakdirkan bersatu dalam
raga. Yang bukan kamu atau aku.
“Sampai nanti... sampai jumpa... pasangan jiwaku”
Februari 2017

144 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

SANUR, KITA, DAN PAGI

Mencoba cinta... mencoba cinta
Kita reguk anggur
Dan merasakan hangatnya

Bergelora...bergelora
Seperti ombak yang terus bergelung
Menghantam bibir pantai
Sanur... sanur

Hampir pagi,, katamu Ilustrasi: Nina Fajariyah

Biarkan... kuingin melihat bayangan pagi

Dan kita kembali mereguk anggur

Merasakannya dalam diam

Hening

Khidmat

SANUR, 17 Mei 2020
Ketika mendengarkan lagu sal priadi “malam-malam, Ubud”
Hey kenapa tak ada yang menulis tentang Sanur??

214 Suara Hati Perempuan | 145

Ilustrasi: Sri Sulastri

MENGENANGMU

Pada hamparan biru laut
Kau hanyutkan luka
Perih terasa
Liukan gelombang serupa
Ikal rambutmu
Tersaji dalam ingatan
Di tepi kawah ijen
Di antara pecahan batu
Kau hadir
Serupa jejak
Yang pekat

Kukenang harum itu
Seduhan kopi yang mengendap
Di lembah-lembah hijau

146 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Kukenang rasa itu
Jejak manis tembakau
Saat kukecup bibirmu
Bisakah kutemui kau
Dalam senyum letih
Perempuan-perempuan yang menggoreskan canting
Menuangkan malam
Di pucuk-pucuk padi
Yang meliuk mesra
Pada hamparan sawah
Bisakah aku menyentuhmu
Dalam remang petang
Ketika hutan makin muram
Dalam ingatan kotamu
2018

214 Suara Hati Perempuan | 147

Ilustrasi: Niken Apriani

BERLARI BERSAMA ANGIN

Maukah kau menari bersamaku?
Di antara patahan ranting dan tumpukan daun yang sudah
menyatu
Dengan lembabnya tanah, yang basah
Oleh hujan semalam
Tango, salsa..
Di mana tangan kita saling mengait dan tubuh kita melebur jadi
satu.

Tidak kutangkap tatapanmu yang tidak lagi hangat
Tidak kudengarkan kata-katamu yang semakin tajam menusuk...
Datang dan pergi
Rasanya aku sudah diambang patah

Maukah kau berlari denganku?
Di atas air yang mengalir di bawah kakiku

148 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Dan pasir basah yang menggelitik
Dan pagi yang merekah indah...
Merah, oranye
Di mana pelukan semakin erat
Tidak kurasakan dinginnya sentuhanmu
Tidak kupedulikan kecupanmu yang tak lagi panas membara
Kupatah, hancur, dan lebur berkali-kali
Selamat tinggal atau selamat berpisah
Jakarta, 6 Mei 2019

214 Suara Hati Perempuan | 149

Ninon Syofia

Ilustrasi: Ariani Rachman

WANITA TANGGUH

Engkau tumbuh menjadi pohon yang kuat.
Menjadi tempat bersandar yang menyejukkan
Engkau pun menjelma menjadi karang yang kuat.
Bertahan dari amukan ombak dan badai.
Engkau pun bisa menjadi jembatan yang kokoh.
Menyeberangi harapan dan keinginan keluargamu.
Engkau bisa menjadi apa saja.
Karena engkau wanita tangguh
Karena engkau wanita yang tidak mudah rapuh.
Karena engkau wanita hebat yang lahir dari gen yang kuat.

150 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Nuning Y. Damayanti

NAK, SEBELUM BERTEMU DENGANMU

Nak, sebelum bertemu denganmu
Hari-hariku dipenuhi gelora mencari jati diri

Nak, sebelum bertemu denganmu
Waktu-waktu kuhabisi dengan perlombaan eksistensi

Nak, sebelum bertemu denganmu
Pikiran-pikiranku selalu seputar target-target duniawi

Nak, saat bertemu denganmu
Mendadak kusukarela menyerahkan jiwa raga untukmu
seutuhnya
Nak, setelah bertemu denganmu
Kubagi hidupku dan cintaku tanpa ragu.
Semoga kamu kenyang dengan bahagiamu.

214 Suara Hati Perempuan | 151

Ilustrasi: Siti Sartika

FRIENDSHIP UNTILL JANNAH

Sahabat...
Kamu selalu mengerti
Seperti halnya kotak P3K
Aku butuh pertolongan pertama saat diriku merana.
Sekadar obrolan hangat atau rangkulan pelepas penat.
Tak ada tuntutan lain.
Hanya itu, sekadar berbagi cerita.
Hari-hari kita berlangsung sukacita

Kemudian...
Ketika sang waktu berkata lain.
Jalan kita tak lagi searah.
Kita punya tujuan masing-masing.
Kita harus berpacu dengan dunia.
Tapi tak apa.
Persahabatan kita akan tetap terjaga.
Hingga jannah, semoga diridhoi Allah

152 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Siti Sartika

BALADA IBU RUMAH TANGGA

Memahat siang, merenda malam.
Meniti rutinitas yang sama setiap hari.
Bergerak dalam diam
Susah payah di belakang layar

Ibu rumah tangga yang sering dipandang sebelah mata
Dianggap hanya beban pasangannya
Dinilai tak pintar, karena hanya tak bekerja di luar rumah.

Padahal ini adalah karir termahal

7/24 jam kerja nonstop

Multitugas...

Dan berani menginvestasikan seluruh potensi terbaiknya untuk

keluarga.

Harusnya digaji lebih tinggi dari jabatan apapun.
Harusnya dihargai dari pejabat manapun.

214 Suara Hati Perempuan | 153

Tapi ibu rumah tangga tak menuntut itu.
Beliau hari ke hari hanya belajar bersyukur untuk setiap takdir
dalam hidupnya.
Dengan harapan surga balasannya.

154 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Siti Sartika

PERPISAHAN BEDA DUNIA

Tiba-tiba sepasang mata teduh itu hilang
Tak memandangiku lagi
Tak menoleh lagi seperti biasanya

Pemiliknya bukan tak sudi menatapku lagi
Aku tetap pasangan yang paling dia cintai
Namun dia begitu dingin
Bukan sikapnya
Tapi karena dia kembali ke pangkuan semesta
Berpisah dijemput waktu
Berlalu tanpa bisa ditahan

Perpisahan beda dunia adalah perpisahan yang paling
menyakitkan.
Separuh ragaku ikut hilang.
Separuh jiwaku dia bawa terbang.

214 Suara Hati Perempuan | 155

Game over.
The end.
Tamatlah perjalanan kisah cinta kita di bumi ini.
Tunggu aku di surga nanti.

156 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Novi Anoegrajekti

Ilustrasi: Belinda Sukapura Dewi

PENARI (1)

Di sini, di ruang bata bersiku kayu
tersusun menata memahat

Lukisan tiga dara setengah menunduk
terus menerang

– karena dengan tetap menatap
akan lebih semakin erat tak terlupakan
parasmu lancip gemulai
bening memantulkan cahaya,
kala senja
manakala berbingkai lekuk pigura
berukir warna kuning kemilau keemasan
tak kan redup –

Di sana, persawahan berjejer rapi
Warna hijau padi memancarkan segala

214 Suara Hati Perempuan | 157

pantulan. Selaras arah mata angin
menjulur menjelma benturan
plas . . . bulir-bulir memusat berhamburan
daun-daun pepohonan persawahan

tertegun binar

Jember, Maret 2022

158 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi

Ilustrasi: Sri Sulastri

PENARI (2)

Malam ini
bertabur kerling tatap mata memandang
reka-reka dieja candra
kemasyuran melintas batas
begitu gairah mencipta rasa
dirayakan gemulai marwah mencecap
menghitung decak kalam mendesing
suara kluncing atas segala rasa
bertepuk menyatu jelita pesona
gerak rancak
langit meremas
jamuan malam

Jember, Maret 2022

214 Suara Hati Perempuan | 159

Ilustrasi: Jenar Sukaningsih

PENARI (3)

Ada berbaris patung warna bata
Ada cerita sepenggal lambaian tangan, mengapa ada
ada gegap gempita rembulan sempurna
letup-letup buih air
tertuju pada dara jelita
menggelora
tersenyum, menyemai
mencium embun basah

160 | Antologi Puisi: Kepak Srikandi


Click to View FlipBook Version