Kejujuran selalu jadi pemenangnya Hai, ini adalah kisahku. Kisah seorang gadis remaja yang sedang dimabuk tugas-tugas yang seabrek dan tak kunjung henti. Tapi tak apa, sebanyak apapun akan tetap kukerjakan walau sambil mengeluh. Hari ini adalah hari Senin, aku sengaja berangkat lebih awal karena akan ada kegiatan upacara bendera di hari ini. Saat aku memasuki kelas, dengan terkejutnya kelasku sudah ramai, mereka semua membuka buku dan memegangi pena mereka dengan wajah yang kusam. Aku bingung, sebenarnya ada apa?. Aku pun segera pergi menuju tempat dudukku, dan mendapati teman sebangku ku yang sedang memainkan ponselnya. Lantas aku menanyakan tentang apa yang sedang terjadi di kelas ini. Dia menjawab, “biasa, pada ngerjain pr.” Aku pun terheran, bukankah itu pr dari seminggu yang lalu? Bagaimana bisa mereka baru mengerjakannya sekarang? Saat sudah berada disekolah, dan lebih parahnya lagi adalah mereka menyontek satu sama lain. Dalam hati kecilku bertanya, apakah mereka tidak bisa mngerjakan sendiri? Padahal semua jawaban sudah terterah pada lks yang mereka punya. Aku pun bertanya kepada mereka “Eh kalian kenapa baru ngerjain sekarang? Itu kan pr udah lama, nyontek lagi” Lalu beberapa dari mereka menyahuti ku dengan berkata “Emang kenapa sih? Kita yang nyontek kok kamu yang repot. Kita juga ga nyontek sama kamu kok, udah deh diem aja gak usah sok pinter.” Mendengar perkataan mereka, aku hanya bisa mengelus dada. Padahal pr adalah tanggung jawab masing-masing sebagai seorang siswa bukan? Namun tak akan ku ambil pusing. Biarkan menjadi urusan mereka, mereka sendiri yang akan merasakan akibatnya. Setelah upacara bendera berakhir, pelajaran pertama pun dimulai, guruku langsung membahas tentang pr yang telah beliau beri pada minggu lalu. Kami disuruh untuk mengumpulkan pr tersebut ke depan. Perlu beberapa menit untuk guruku mengecek semua tugas dari para muridnya. Beberapa saat kemudian, dari raut wajah guru ku terlihat seperti ada yang tidak beres, kemudian beliau berkata “Oke baik, terimakasih sudah mengumpulkan tugas ini semua dengan tepat waktu. Tetapi, saya masih ragu apakah kalian mengerjakannya dengan jujur?” Begitu cepat, seisi kelas menjadi sunyi. “Baik, saya akan menguji kalian dengan cara menanyakan beberapa hal terkait pr yang telah saya berikan. Saya akan memanggil kalian
satu persatu untuk tes lisan didepan saya.” Seketika terlihat kepanikan dari teman-teman sekelasku. Semua murid telah dipanggil satu persatu, dan guruku pun menyampaikan bahwa dari 30 siswa hanya 7 orang saja yang dapat menjawab pertanyaan pada tes lisan tadi. Akhirnya, guruku memberikan tugas tambahan kepada para siswa yang tidak dapat menjawab tes tersebut dengan pertanyaan yang berbeda setiap orangnya. Karena pada akhirnya pun kita harus tetap berusaha sendiri. Kerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita, karena kita seorang pelajar maka kita harus bertanggung jawab atas tugas yang telah guru berikan. (contoh etika dalam lingkungan sekolah: kejujuran)
Menyesal Selalu Belakangan Seina, gadis berambut sebahu itu bingung kenapa dengan nenek pemilik kost yang iya tempati itu selalu menangis melihat foto keluarga yang sudah tampak kusam, jika dilihatlihat mungkin foto itu diambil sekitar tahun 90’an atau mungkin lebih tua dari itu. ‘’Kak Rin kamu penasaran nggak si kenapa Mbah Marin sering nangis sambil liatin foto itu?’’ tanyanya pada Karin yang tengah duduk mengerjakan tugas. ‘’Oh foto itu’’. Kata Karin sambil menunjuk foto dua orang dewasa serta satu anak kecil yang tersenyum lucu. ‘’Nggak tau juga si aku tu’’. ‘’Kenapa kalian pengen tau ya?’’ ‘’AAAAAAAAA-‘’. Teriak Seina serta Karin bersamaan. ‘’HAHAHAHA kalian ini, seperti itu saja kaget’’. Tawa Mbah Marin menggema dalam ruangan itu, sedangkan kedua gadis beda satu tahun itu mengelus dada sambil menetralkan detak jantung. ‘’Mau saya ceritain?’’ Tawar Mbah Marin, keduanya mengangguk antusias, raut wajah tua itu kemudian berubah murung sambil menghela nafas. ‘’Kenapa mbah ceritanya horor ya?’’. Karin tidak habis pikir kenapa juga dengan adik tingkatnya ini bertanya seperti itu. ‘’Ckckck bukan lah, jadi gini-‘’. September 1990 Awan abu di atas sana sudah mulai menitikan bulir-bulir air yang mereka tampung, Marin dengan sebal mengangkat jemuran sebelum terguyur air hujan, belum selesai mengangkat jemuran Marin mendengar suara tangis bayi dari dalam rumahnya, Marin kesal kenapa juga bayinya harus bangun sekarang. ‘’Ah sial-sial, kenapa mas Reihan belum pulang juga jam segini!’’. Setelah berhasil mengangkat semua pakaian Marin segera masuk rumah dengan gurat emosi diwajahnya. ‘’Iya ibuk udah disini, diem dong ah’’. Katanya sambil menimang bayi berusia 2 tahun itu.
‘’HUWAAAAAAAAA’’. Bukanya berhenti menangis anak itu semakin keras menangis, Marin yang emosi karena entah kenapa sehari ini hidupnya seperti tidak tenang saja lalu menurunkan anaknya dari gendongan lalu kebelakang untuk mengambil minum. Reihan lelaki itu pulang ke rumahnya dengan keadaan basah kuyup lalu menemukan anaknya sendirian menangis keras sedang ibunya tidak terlihat, meski basah kuyup Reihan tetap menggendong anaknya itu. ‘’Rin kamu dimana, ini Lina nangis dibiarin sendirian di depan gimana sih!’’ ‘’DI BELAKANG, KAMU URUS TU ANAK KAMU ITU, AKU CAPEK!’’ Katanya berteriak dari arah dapur. ‘’Kamu kenapa lagi, tiap hari kerjanya marah terus’’. ‘’GIMANA NGGAK MARAH KERJA KAMU GITU-GITU AJA SEDANGKAN KEBUTUHAN KITA ITU MAKIN BANYAK, NGGK MIKIR?’’. Reihan mendengus Marin setiap hari selalu mengeluh seperti itu, tidak tau jika dirinya bekerja siang malam demi memenuhin kebutuhan keluarganya. Esoknya Marin terbangun dengan keadaan sepi, kemana Lina apakah sedang ditimang Reihan, tetapi ini masih pagi sekali kemana Reihan membawa putrinya, kesal Marin berjalan keluar disekitar rumahnya, namun dirinya tidak melihat Reihan sama sekali dimanapun. ‘’Eh Buk Harti lihat suami saya tidak?’’ Harti yang tidak suka dengan Marin yang terkenal sombongpun menyahut dengan ketus‘’Ya mana saya tahu buk baru aja saya keluar rumah huh!’’ Sejak hari itu Marin tidak lagi melihat anak serta suaminya, hidupnya berubah, setiap hari Marin mencari anak dan suaminya namun karena saat itu belum seperti sekarang Marin tidak bisa menemukan dimana suami serta anaknya berada. Kedua gadis itu bingung harus bagaimana menanggapi cerita Mbah Marin. ‘’Yah begitu cerita hidup saya, mungkin kalian setelah mengetahui ini akan menganggap saya adalah orang yang egois tidak tau etika dan hal-hal jahat lainnya, tapi ya memang begitu adanya saya, kalau mau tanya menyesal apa nggak jelas saya menyesal, kehilangan orang yang kita sayang karena kesalahan sendiri, mbah harap kalian tidak menjadi orang yang
egois seperti saya, ruginya itu ada pada kita sendiri’’. Nasehat Mbah Marin pada Seina dan Karin keduanya mengangguk saja sambil masih terkaget dengan cerita sedih Mbah Marin.
NAMA: TARA CANTIKA CANDRA SATITI NIM : 2101422183 PRODI: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS: BAHASA DAN SENI TEMA: ETIKA Mengajarkan Tentang Bersikap Rendah Hati Ada seorang anak bernama Fitri, dia merupakan murid kelas 6 SD yang sangat pintar dan baik hati. Di sekolah sangat banyak teman yang menyukainya karena sikapnya tersebut. Tidak jarang, semua ingin berteman dengan Fitri. Ada lagi anak perempuan bernama Ita, ia berbanding terbalik dengan Fitri. Ia pintar namun sangat sombong. Temannya hanya dua yaitu Lisa dan Lily, gadis kembar di sekolahnya. Suatu hari, Ibu guru mengumumkan bahwa akan ada perlombaan membaca pidato dua minggu lagi. Bu Yati selaku wali kelas 6 membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin ikut seleksi. Fitri dan Ita jelas ikut berpartisipasi. Setiap hari mereka selalu latihan membaca pidato agar lolos seleksi. Sampai hari penyeleksian tiba, keduanya memberikan tampilan yang memukau lalu dinyatakan lolos. Saat hari perlombaan tiba, Ita terus saja membanggakan dirinya, menyatakan bahwa pasti ia akan juara. Sebab sebelumnya dia juga pernah menjadi juara waktu kelas 5 SD di lomba pidato. Berbeda dengan Fitri, ia tidak henti-hentinya berdoa dan berlatih, mencoba menghafal kembali teks pidato. Ita pun dipanggil lebih dulu, sang juara kelas 5 SD kini mendadak lupa teks pidato yang sudah dihafalnya. Setelah itu, Fitri maju dan memberikan penampilan yang sangat bagus. Semua juri kagum termasuk Bu Yati yang saat itu datang untuk menemani mereka lomba. Pengumuman pun tiba, Fitri keluar menjadi juara 1 sedangkan Ita harus menahan air matanya karena dia tidak menang sama sekali. Cerpen pendidikan ini mengajarkan kita bahwa harus menjadi orang yang rendah hati dan jangan sombong.
Puisi Selim Malam ini dibawah gemerlap cahayanya, gemintang bertebaran bebas dihamparan cakrawala, malu-malu kadang meredup, terkalahkan dengan kuatnya cahaya milik rembulan. Tidak ada yang berbeda dari malam-malam panjang sebelum malam akhir bulan ini. Melarat adalah perkara yang terus singgah dalam hidup seorang wanita perantau dibalik jendelanya. Ia menatap lekat langit yang sudah menghitam dengan sempurna, rupanya malam ini akan ada resah yang tidak jauh berbeda dengan ceritanya kemarin malam. Begitulah wanita berparas Asia itu, mudah sekali berkeluh, seolah hanya ia yang dihajar habis oleh dunia, otaknya begitu pesimis. Namanya Nafesa, tidak banyak teman sebayanya yang ia anggap sebagai sahabat karib, barangkali terhitung jari, pasalnya anak zaman sekarang yang sebayanya begitu angkuh, begitu tinggi gaya pertemanannya, itulah alibi mengapa seorang Nafesa lebih tertarik mengobrol dengan manusia-manusia paruh baya. “Hai Na! Sedang apa kau? Malam sudah mulai larut, dan kau belum tenggelam dari rasa kantuk?” Sapa lelaki paruh baya dengan usianya yang menginjak kepala enam. Selim namanya, lelaki berdarah sumatera itu memang sudah biasa meronda di pemukiman ini, sudah lama ia memutuskan merantau ke kota Jakarta, sama seperti wanita asal Yogyakarta itu, memilih merantau dan berusaha menghidupi diri sendiri setidaknya adalah cara mengurangi beban orang tua, itu motif Nafesa yang sama dengan Selim ketika memutuskan merantau saat ia masih melajang. “Belum Pak, kehidupan masih menuntutku untuk berfikir, setidaknya sampai aku tahu cara supaya esok bisa makan, barulah aku bisa tidur kenyang malam ini” Jawab Nafesa ramah dengan dibarengi senyum dengan ketulusannya. “Pemuda yang arif, akan kutemani kau malam ini, beruntungnya ada bangku diluar rumah mu, hitung-hitung meronda sembari menciptakan sajak baru” Ujarnya lagi, sembari menggeret sebuah bangku diluar sana agar mendekat pada jendela tempat Nafesa duduk. Mengingat ucapan Selim, Nafesa kembali teringat dengan perlombaan yang harus ia ikuti dikampusnya, ia harus membacakan satu sajak yang agung untuk didengar telinga.
Barangkali mau, mungkin Selim akan membantu membuatkan sekaligus mengajari cara membacanya. “Oh aku lupa, maaf bisakah kau buatkanku satu sajak baru? Aku akan mengikuti lomba membca puisi minggu depan, jika berkenan aku akan berlatih padamu” Pinta Nafesa pada Selim berjuluk legenda sastra yang namanya harum seantero kampung ini. “Sungguh? Aku bahkan sudah menciptakan satu sajak puisi diotakku, sejak aku menyapamu tadi” Ujarnya sedikit sombong dengan bumbu kekehan diakhir kalimatnya. Tak heran, seorang maestro sastra apa yang menyulitkan untuk nya membuat sajak baru? Tidak ada, bahkan apa yang detik ini Selim pandang pun bisa langsung dituangkan dalam puisinya. Hari-hari berikutnya Nafesa lebih sering bertemu Selim, sesekali setelah berlatih ia mengajak Selim menuju pusat kota, memberikannya sedikit hadiah apresiasi atas kehebatan Selim, seperti saat ini contohnya. “Sudahlah ini yang terakhir kau mengajakku makan di pusat kota, bagaimanapun kau ini anak rantau Na! Menghidupi dirimu saja pasti rasanya engap setengah mati, bagaimana akhir bulan nanti? Kau biarkan cacing dalam tubuhmu tidak mendapat asupan?” Omel Selim sepanjang mereka makan. “Hei Pak, walaupun ke pusat kota, ini hanya bergaya sialan ala anak jaman sekarang, tolonglah ini hanya semangkuk bakso di emperan teras pusat kota, tak ada bedanya dengan memakan bakso di desa” Balas Nafesa seperti biasanya dengan iringan nada ramah khasnya. Ketika hari mulai menenggelamkan mentarinya, Nafesa beranjak pergi mengajak Selim untuk pulang, beristirahat dan bersiap untuk berlatih lebih hebat di hari esok. Petang ini mereka menaiki angkutan umum. Awalnya mereka berdua lengkap menduduki deretan kursi yang pas tersisa untuk berdua, namun setengah perjalanan makin banyak penumpang datang memasuki angkutan itu, nelangsanya banyak dari mereka yang berusia sama dengan Selim, bahkan lebih tua dari itu, membuat hati Nafesa memanggil rasa empatinya, memberikan kursinya untuk seseorang dengan usia tuanya. Lebih kurang satu jam Nafesa berdiri sebelum akhirnya tiba di halte tujuan yang terdekat dari pemukiman mereka.
“Sungguh masih tersisa kah pemuda modelan kau Na? Sungguh apik etika mu, baik hatimu seperti tetap terjaga tanpa noda” “Tidak usah berlebihan, memang sudah seharusnya begitu kan?” Responnya yang dibalas dengan anggukan dari Selim. Selusin hari telah Nafesa lewati, terus berlatih mempersiapkan diri untuk perlombaan dalam event besar dikampusnya. Tak dipungkiri, Nafesa sejak bangku pertama pendidikan pun sudah menyukai karya sastra, tak begitu sulit baginya untuk memulai kembali apa yang ia suka. Hari ini awan dan matahari tampak kompak bersahabat, menggantung tak begitu silau diatas sana, rupanya hari perlombaan telah tiba, sedang Nafesa masih terlelap dalam mimpinya sejak subuh tadi. “Hei! Kau sedang apa? Membuat puisi? Membuat cerpen? Sudahlah, Ayah muak melihat itu semua, lebih baik kau bekerja membantu Ayah, supaya kau bisa tetap sekolah” Begitulah sepenggal mimpinya. Mendiang Ayahnya kembali hadir, walau begitu kejam Nafesa sangat menyayanginya, tak ada balas jasa yang bisa Nafesa lakukan selain berterima kasih, jasanya besar dalam menghidupkan keluarga dengan anaknya yang banyak, tapi Ayahnya tetap bersikeras membanting tulang, itulah yang membuat Nafesa sangat nurut atas setiap bentakan Ayahnya. Nafesa terbangun dengan wajah gelagapan, ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya hari ini, perkataan Ayahnya dalam mimpi seperti perintah tuhan agar ia tak mengikuti perlombaan ini, namun seribu sayang jika Nafesa menggagalkan semuanya, tentu Selim akan kecewa bahwa puisinya gagal dibacakan oleh Nafesa. Dengan bergelayut seribu fikiran, Nafesa terus memandang dirinya dihadapan cermin bertanya apa yang harus dilakukannya. Biar bagaimanapun, lagi-lagi Nafesa adalah gadis penurut yang tidak mau membuat Ayahnya kecewa, sekalipun perasaannya harus dikorbankan. Perlombaan ini adalah event besar yang diidamkan seluruh penghuni kampus, begitu pula dengan Nafesa, namun hari ini rupanya ia harus menangis tergugu, menyayangkan kesempatan dan beribu harap yang harus ia patahkan sekarang juga.
“Sungguh maafkan aku Pak Selim” Ujar Nafesa dari sebalik pintu kamarnya sembari menangis merangkul naskah puisinya. Terus berlinangan air mata hingga tak sadar matahari sudah betulan mentereng, dua hari yang lalu Selim bicara bahwa ia akan ikut melihat penampilan Nafesa, namun sudah nampak siang bolong, Selim belum juga nongol, bahkan sejak kemarin seluruh penghuni kampung tak melihat tangkai hidungnya. “Permisi, Nafesa” Ujar seseorang diluar sana. Nafesa dengan cekatan bangkit, menghampiri tamu yang ia kira adalah Selim, namun lelaki dibalik pintu itu adalah Joe, lelaki pantaran Nafesa yang tinggal bersebelahan dengan Selim, terkadang Joe membantu Selim diladang, atau mungkin memberi asupan pada hewan ternak kesayangan Selim. “Selim menulis surat untukmu, segeralah kau baca” Ucapnya menodongkan selembar kertas. Terimakasih kau telah menghiburku disisa usiaku yang sepi nelangsa, kau hadir seperti anakku yang sungguh kubutuhkan, terimakasih, Na! Terimakasih karena kau telah menjadi jawaban dari do’a ku. Suatu hari aku pernah berdo’a pada yang Maha Esa bahwa aku ingin dipertemukan dengan pemuda beretika baik, berhati tulus yang tersisa dimuka bumi ini sebelum aku menutup usiaku, agar memastikan bahwa aku masih bisa mempercayakan dunia pada kepalan tangan pemudanya yang arif, sekali lagi terimakasih, Na! Jagalah bumi ini dengan etika mu yang luar biasa, sampai bertemu! Begitu isinya, sebuah tulisan menghasilkan tetesan bersahutan dari mata Nafesa, ia belum tahu apa yang terjadi dengan Selim, namun sehelai sajaknya mampu menjawab kemana Selim. Hujan deras langsung mengguyur Jakarta ditengah senja, kala pemakaman Selim berlangsung, tiada yang tahu kalkulasi usia manusia selain Tuhan. Baru kemarin Selim menjadi kakek tua yang membawa sekantung teori pelajaran hidup nya yang kuno, namun apa? Belum sampai ia memberikan lagi rumus kehidupan, namun kafan sudah lebih dulu menyelimutinya.
Tak ada yang lebih apik daripada berteman dengan orang seperti Selim, wawasannya yang luas, mengajari Nafesa mengarungi samudera kehidupan didepan sana, memberi pepatah disetiap gelak tawa yang baru saja usai. Ya, sekali lagi, Selamat jalan Selim.
Satu Paket Kaki kian terasa ringan tatkala dilangkahkan menuju tempat ternyaman. Suara klakson yang bersahutan seperti musik penyemangat agar segera sampai tujuan. Acapkali, langkah kaki harus berhenti untuk mendahulukan para pengguna kendaraan bermotor. Bukan maksud hati agar dianggap terlalu baik, tetapi demi keselamatan pribadi. Tiada yang tahu kapan ajal datang menghampiri. Kalau bisa, mohon jangan datang hari ini. “Baru pulang, Mbak?” kata seorang ibu sambil menyuapi buah hatinya. “Iya. Mari, Bu.” Jangan lupa bubuhkan senyum di akhir jawaban. Senyum itu mengandung sedikit pemanis buatan agar tak menyesal di hari kemudian. Kalau lupa, cobalah berdoa. Mohon kepada Yang Maha Kuasa supaya tidak menjadi gunjingan tetangga. Pertanyaan-pertanyaan serupa sering kali dilontarkan ibu-ibu yang duduk santai di depan rumah mereka. Rasa curiga pernah terbesit di dalam hati ketika ditanya dengan pertanyaan yang serupa. Apakah mungkin mereka adalah agen keamanan? Pertanyaan yang dilontarkan sebagai sandinya? Ah, rupanya seru sekali berimajinasi! Sampai-sampai tidak menyadari telah sampai di tempat yang dicari. “Kuncinya di sini!” teriaknya memekakkan telinga. Jemarinya menggoyang-goyangkan kunci hingga terdengar bunyi gemerincing. Aku mendongak mengikuti sumber suara. Tidak ada seorang pun kecuali dia, teman berbagi ruang melepas penat. Kaki mungilku segera menapaki anak tangga satu per satu. Merah, kuning, hijau, dan, biru. Lucu sekaligus miris. Pemilihan warna yang cerah ceria seperti berada di taman kanak-kanak. Mirisnya, warnawarna terang tersebut ditumpangi angka lima berwarna hitam. Sangat kentara, kan? Kalaulah tiada bermakna, sudah pasti biasa saja. Nyatanya, angka lima berarti tanda paling lambat untuk menyerahkan uang sewa. Urutan warna dengan kombinasi angka lima terus kudapati hingga hampir sampai ke sosok pemegang kunci. “Hampir menandingi kura-kura. Nih!” ledeknya. Tangannya bergerak mengulurkan sesuatu. Kemudian beralih membenarkan posisi benda di telinganya setelah kunci itu berpindah tangan. “Huuftt” “Kenapa? Sini,” ucapnya sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya.
“Ah, tidak. Kamar mandi kosong, kan?” terdengar basa-basi sekali. Padahal masih banyak baju yang berkibar di sini. Pertanda para penghuni lain belum kembali ke sarang. Mungkin beberapa saat lagi mereka akan meramaikan tempat ini. Hanya anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan yang kulontarkan. Sesegera mungkin, kaki kulangkahkan menuju ke tempat yang kusebut nyaman. “Ishhh!” Lelah sekali mencocokkan kunci yang tak kunjung bisa membuka gembok. Tidak hanya satu, melainkan tiga. Agar lebih aman katanya. Belum lagi lemari yang digembok di setiap pintunya. Ceklek. Kuhidu aroma dalam kamar ini. Wanginya sama seperti wewangian yang sering dipakai oleh ibu. Pun dengan pernak-perniknya. Aku bergegas ke kamar mandi, sekadar membasuh muka dan kaki sebelum imajinasi hadir menginterupsi. “Mbak” “Mbak” Suara itu terkadang terdengar jelas, terkadang sayup-sayup bersaing dengan suara gemercik air. Meskipun baru satu minggu sekamar dengan Niswari, tetapi aku hafal suaranya. Satu lagi, tidak ada penghuni kamar lain yang memanggilku dengan sebutan seperti itu. Ah, entahlah! Mungkin ini efek kelelahan saja. Segera kuakhiri ritual di kamar mandi. Saat hendak masuk ke kamar, suara itu kembali terdengar. Namun, kali ini lebih jelas. Dibarengi dengan kemunculan sesosok nenek berambut putih. “Mbak, kamu pesan paket?” suaranya lebih terdengar seperti membentak daripada bertanya. Auranya juga terasa sangat kuat. “I-iiya, Bu. Terima kasih,” jawabku sambil tersenyum kikuk. Segera kuambil kardus dari tangannya. “Dipanggil-panggil dari tadi kok tidak dijawab”. Sekali lagi, ini bukan sebuah pertanyaan. Sorot matanya begitu tajam hingga membuat nyaliku menciut. “Mohon maaf, saya kira bukan saya yang dipanggil,” balasku. Aku memang tidak merasa dipanggil. Lagi pula, tidak hanya aku yang menghuni tempat ini. Ibu itu pergi dengan terus mengucapkan kalimat yang sama. Rasa bersalah menghampiriku. Seharusnya aku jawab saja panggilan tadi, tetapi aku takut. Takut kalau yang memanggil bukanlah makhluk berwujud. “Eh, Tika!”
“Ya!” tergagap aku menjawab panggilan wanita berambut ekor kuda. Rupanya aku tak menyadari kedatangan penghuni pertama tempat ini. “Eh, Tika. Etika. Etikanya tolong dipakai!” tegasnya sambil berlalu. Segera aku mengurung diri. Berani sekali dia berkomentar tanpa mengetahui duduk perkaranya. Rasa-rasanya aku ingin segera pindah kos. Namun, apa daya. Disini yang paling terjangkau, apalagi untuk berdua. Ya sudah, tebalkan telinga saja. “Tika,” suara memanggilku. Dari cara memanggil hingga ketukan pintu, aku yakin ini pasti Niswari. “Masuk. Pintunya enggak aku kunci.” “Eh, menonton film apa sampai-sampai tisu satu boks hampir habis?” Aku membiarkan pertanyaan itu mengambang di udara. Biarlah, nanti dia juga segera tahu apa yang terjadi tanpa kuceritakan. Tangannya terus sibuk meracik sesuatu berbau sedap. “Makan bakso dulu, Tik. Maaf tadi aku ada keperluan lain.” Tanpa menunggu waktu lama, kuraih mangkok yang berisi bulatan daging. Aromanya membuat pasukan cacing di perutku meronta-ronta. Ini yang aku suka dari Niswari. Setiap kali keluar, pasti pulangnya menenteng makanan untuk berdua. Aku sadar diri. Kami samasama anak kos yang menunggu kiriman dari orang rumah. Sudah pasti aku bayar makanan yang dibawanya untukku. Meskipun, sering kali dia enggan diberi uang pengganti. “Oh iya, Tik. Sudah pernah bertemu dengan ibu dari pemilik kos ini?” tanyanya sambil mengaduk-aduk bakso. “Beliau berambut putih. Sorot matanya tegas,” lanjutnya. Aku tidak mengacuhkan penjelasannya. Rasa bakso ini terlalu sayang untuk diganggu saat menikmatinya. “Tik, orang tua cerewet berarti sayang. Kadang juga karena kesepian” Ah, satu lagi yang kusuka dari Niswari. Dia selalu memberitahu tanpa menyalahkan. Seketika, aku teringat dengan ibu. Terkadang, beliau juga seperti itu, cerewet. Namun, semua demi kebaikanku. Aku berjanji tidak akan pindah kos. Sudah cukup barang-barang berharga ibu habis demi membiayaiku. Jangan sampai ibu mengeluarkan biaya yang lebih besar karena keegoisanku. Hanya karena satu paket yang tak seberapa, aku tak mau pengeluaran ibu membengkak tak terkira.
Agustus 2022, sore itu cukup mendung, awan-awan bergumpal mengisi setiap sudut langit abuabu. Ditengah ramainya stasiun Kota Malang, diantara riuhnya orang-orang asing dan teriakan pedagang masker, enam anak akhir remaja tengah berdiri melingkar, saling memeriksa barang bawaan dan atribut yang dikenakan. Rama, yang sore ini mengenakan jaket hijau army, menatap keenam kawannya. “Dari sini jangan lupa saling ngecek, jangan kepisah dan jangan asal pergi tanpa ngomong.” Ucapnya serius, yang lain mengangguk setuju. “Jaga sikap di kota orang, guys.” Tambah Alis tersenyum hangat, yang kemudian puncak kepalanya ditepuk pelan oleh Danu. Lalu, dengan arahan Rama, enam sekawan tersebut menghampiri mobil bak sewaan untuk menuju ke posko pendakian. Panorama sepanjang jalan menuju posko pendakian Kota Malang begitu memanjakan netra, indah tak tertangguhkan, udara bersih menyegarkan paru-paru yang bekerja keras selama bernafas di kota. Tapi berbanding dengan kawan-kawannya yang tersenyum cerah, sedari menginjakkan kaki di mobil bak, raut Kamal masam tak terkendalikan. Earphone kesayangannya hilang ketika mereka terburu-buru keluar dari stasiun, bibirnya tak henti berdecak. “Capek bener, Anjing.” Keluhnya begitu sampai di posko, ia meletakkan bawaannya dikursi kayu, menghiraukan tatapan pendaki yang tengah bersiap. “Peraturan pertama, jaga bibir lo buat tetep ngeluarin kata-kata santun selama disini.” Tegur Dinar, Kamal memutar bola matanya malas. Bulan purnama menampakkan diri dilangit yang hitam legam. Mereka menyantap makan malam dengan segelas kopi berkabut. Malam itu sungguh dingin, malam ke-15 bulan Agustus, dua malam menuju kemerdekaan negeri tercinta. Enam sekawan itu memang berniat merayakannya dilereng pendakian, berusaha mengukir memori indah sebelum kembali pada tugas-tugas melelahkan sepanjang minggu. “Nanti abis sholat subuh, kita naik bareng rombongan itu,” Rama menunjuk orang-orang bersarung yang terlelap diujung ruangan.
“Sekarang langsung tidur dan istirahat, tiga hari kedepan energi kita bakal terus-terusan dipacu.” Lanjut pemuda itu, kemudian kelima kawannya mengangguk dan beranjak tidur. *** Menjelang terbitnya tuan mentari, para pendaki telah berjalan menyusuri hutan rimbun yang gelap, saling bercengkrama dan mencoba beradaptasi dengan jalur yang cukup licin. Kamal menggigit bibirnya pelan, kakinya lemas. Alisia yang merasakan langkah tidak nyaman temannya menoleh dengan tatapan bertanya. “Lis, gue kelebet pipis weh.” Ucap Kamal dengan alis mengerut, alisia kemudian meminta yang lain untuk berhenti sejenak. Setelah mendapat izin dari Bimo, pemuda 27 tahun yang memimpin pendakian hari itu, Kamal berlari menuju semak-semak dibawah pohon pinus. “Jangan kencingin batu ya, Mal!” pesan Bimo setengah berteriak, sayangnya, tak sampai di telinga Kamal. Dibalik semak, Kamal yang tengah menuntaskan hajatnya sembari bersiul tiba-tiba tersentak ringan. Jantungnya berdegup kencang saat merasa sepasang mata menatapnya tajam dengan bau busuk yang meyengat. “Anjing,” umpatnya pelan, buru-buru memakai kembali celananya dan berlari menuju rombongan yang tengah menunggu. “Tegang bener tuh muka,” Danu menatapnya heran, tak dihiraukan Kamal yang meminta untuk cepat meninggalkan area itu. Mereka terus berjalan menyusuri jalur pendakian yang mulai terang, dan memutuskan untuk beristirahat ketika melewati Oro-oro Ombo, hamparan padang rumput yang mengilangkan penat, indah tak tertangguhkan. “Nyari apa, mal?” Tanya Rama sembari menatap Kamal yang mulai mengeluarkan satu persatu barang di tasnya. “Daleman gue kok gak ada sih, anjing,” ucapnya panik.
Serentak mereka menolehkan kepala menatap pemuda itu. Kamal menggelengkan kepalanya cepat ketika Bimo menanyakan apakah ia lupa memasukannya ke tas. Ia mengerenyit ketika mengingat apakah ia mengeluarkan barang saat buang hajat pagi tadi, namun ia bahkan tidak membuka tasnya sama sekali. “Udah, pake punya gue dulu, bro.” ucap Danu menenangkan. Setelah mendapat anggukan dari Kamal, mereka kembali melanjutkan perjalanan sambil memungut sampah sepanjang jalur hingga pos selajutnya atas arahan dari Bimo. Kintan yang tengah berjongkok memungut bungkus kresek hitam ditengah hutan, membukanya perlahan dan terdiam. Ia menelan ludahnya tepat saat melihat isi kresek yang diambilnya. “Kenapa, tan?” Bimo menghampirinya, ikut berjongkok. Kintan lekas menunjukkan apa yang ia temukan, Bimo terkejut bukan main. Pasalnya kresek yang Kintan pegang telah basah dan bertanah, namun ada celana dalam yang terlipat rapi didalamnya. “Kamal, lo sini bentar! Bukan punya lo, kan?” teriak bimo. Yang dipanggil berlari mendekat, matanya melotot terkejut dan meraih kresek ditangan Kintan, “Punya Gua, bang. Kok di lo?” Bimo kemudian menatap temannya yang berdiri dibelakang Kintan, ia menggelengkan kepalanya cukup panik. Ada yang tidak beres disini. “Lo tadi pagi kencing dimana sampe setengah jam bergitu?” Tanya Rafi, pemuda yang berusan ditatap oleh Bimo. Kamal mengerutkan alisnya. “Setengah jam? Gak sampe lima menit dah bang, gua deket kok cuma dibelakang semak tadi, diatas batu” yang lain bertatapan, pasalnya mereka melihat Kamal berlari cukup jauh ke arah pepohonan besar. Bimo terdiam mendengar ucapan Kamal, kemudian memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam di tempat itu agar tak terjadi hal janggal lebih jauh karena 5 kilometer kedepan hanya ada hutan rimbun dan basah. Setelah maghrib, Bimo meminta Rama untuk memimpin do’a bersama dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, memohon perlindungan dan meminta maaf
kepada penghuni gunung ini barangkali terganggu dengan sikap dan sopan santun rombongannya. “Mal, dari sini tolong lebih jaga sikap, biar ga kejadian hal-hal janggal lebih jauh.” Ucap Bimo, Kamal mengangguk dan segera meminta maaf. Esoknya, mereka melanjutkan pendakian dan sampai di pos selanjutnya dengan selamat, Kamal pun lebih banyak diam, merasa bersalah dengan apa yang terjadi padanya dan membuat resah kawan-kawan yang mendaki bersamanya.
BELAJAR BERPERILAKU SOPAN Di suatu pagi didalam rumah, terdapat tiga orang anak, dua diantaranya orang dewasa dan satu anak remaja. Anak remaja tersebut bernama Ocean, dia baru saja memasuki Sekolah Menengah Pertama. Perilakunya disekolah kurang baik terhadap guru maupun teman sekolahnya, namun kenakalannya ini belum diketahui oleh keluarganya. Berkali kali Ocean sudah dinasehati oleh guru, namun tidak pernah didengar. Lalu suatu ketika disaat guru-guru disekolah Ocean sudah pasrah dengan tingkahnya merekapun memutuskan untuk memanggil kedua orang tua Ocean ke sekolah. Setelah sampai di sekolah dan menuju ruang BK ibu Ocean lantas bertanya “kalau boleh tau ada apa ya kami dipanggil ke sini?” Didalam ruangan pun sudah ada Ocean, wali kelas Ocean, guru BK, dan Orang tua Ocean. “Jadi begini ibu Rini, saya selaku wali kelas sudah sangat hafal perilaku dan sikap anak murid saya. Nah kebetulan Ocean ini sudah sering kali berperilaku kurang baik seperti, membuat keonaran di dalam kelas, menaruh bekas permen karet di kursi guru, bahkan saya pernah dengar dari murid-murid yang lain Ocean ini pernah memalak uang temannya. Saya sudah sering kali menasehati Ocean, tapi perilakunya tidak pernah berubah.” Bu Ratni selaku wali kelas pun juga sudah pusing dengan perilaku Ocean. “Jadi kami selaku pihak dari sekolah sudah memutuskan tindakan terbaik untuk Ocean, kami akan memberikan hukuman berupa skors selama seminggu. Lalu dengan pasrah kedua orang tua Ocean pun menyetujui itu. Ocean akan tetap menyelesaikan pelajarannya pada hari itu, lalu keesokannya dia mulai menjalankan hukumannya. Orang tua Ocean sudah lebih dulu meninggalkan sekolah setelah diberitahu hukuman Ocean. Lalu Ocean pulang di sore hari menggunakan angkutan umum. Sesampainya dirumah ternyata mereka semua, orang tua dan kedua kakak Ocean sudah menunggu di ruang tengah. “Assalamualaikum” Ocean memasuki rumah dengan raut wajah yang sedikit khawatir. Ia di tatap tajam oleh Azzam, kakak pertamanya. “Wa’alaikumusallam, langsung ganti baju habis itu kesini lagi.” Azzam berucap dengan nada sedikit ketus. Memang kakak pertama Ocean itu sedikit dingin sikapnya, bahkan wajahnya seperti tidak berekspresi.
Setelah berganti baju Ocean lantas turun tangga ke tempat yang lain sedang berkumpul, dia masih tetap berdiri. “Duduk sini.” Ayah Gavi menyuruh Ocean duduk diantara ayah dan ibunya, dan didepan mereka ada kedua kakaknya. “Kakak udah denger tadi ibu sama ayah dipanggil ke sekolah, kamu sejak kapan nakal. Sampe berani kayak gitu sama guru disekolah” “sampe di skors 7 hari loh dek.” Ucapan Azzam tadi langsung dilanjut oleh Kinan. “Kamu dirumah sama disekolah beda ya perilakunya, kamu bisa sampe kayak gitu ngikutin siapa sih dek?” Kinan memang jarang marah, tapi kalau seseorang sudah memancing emosinya, dia bisa meledak sewaktu waktu. “Kenapa kamu sampe ngelakuin itu Ocean? Ada yang suruh kamu ngelakuin itu?” Ayah bertanya. “coba kamu bayangin kak Kinan jadi guru disekolah kamu, terus kamu taruh bekas permen karet ke kursi yang mau didudukin kak Kinan. Pasti kak Kinan kesel kan? Terus pasti kak Kinan juga akan nasehatin kamu kayak guru-guru yang lain. Tapi apa nasehat kakak akan kamu dengerin?” Kinan berusaha menasehati adiknya dengan sabar “Maaf kak Ocean sadar Ocean salah selama ini.” Ocean pun akhirnya memilih berkata jujur. “Udah dari kapan kapan kamu kayak gini?” Azzam bertanya sambil mengangkat alis. “1 bulan yang lalu kak.” “Ocean, sopan santun itu bukan hanya diterapkan dirumah aja, di luar rumah pun kita harus sopan sama orang lain, apa lagi sama orang yang lebih tua, orang yang belum kamu kenal pun kamu harus tetep sopan.” Ibu berkata dengan lembut sambil mengelus rambut Ocean. “Iya bu, maaf, aku sadar selama ini aku salah” Ocean berucap demikian dengan kepala yang makin menunduk. Setelah kejadian tersebut dan sudah berlalu 7 hari dimana masa hukuman Ocean berakhir, dia kembali sekolah dengan perilaku dan sikap yang berbeda, bahkan gaya berbicaranya pun berubah. Dia sudah tidak melakukan kegiatan-kegiatan buruknya pada waktu itu, sudah tidak menjahili teman-temannya lagi.
“Berbagai arah pandang” Semilir angin pagi sangat menyejukkan hati, suasana ini sangat pas untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Dara Davinda. Perempuan berumur 25 tahun ini sedang asik melakukan kegiatan memasaknya untuk disajikan kepada suami dan anak nya. Dara tersenyum dengan cerah secerah matahari pagi ini kala masakannya sudah selesai, lalu ia beranjak menuju kamar sang anak dan menjemput suami nya yang masih bersiap siap untuk mengajak mereka sarapan bersama. “Bunda kaos kaki kakak hilang.” Tutur anak kecil itu saat sang Bunda menghampirinya. “Dicari dulu kakak, kemarin Bunda letakkan laci paling atas.” Ujar Dara. Dara berjalan menuju lemari anak kacil itu dan membuka laci paling atas dan mulai mencari kaos kaki sang anak. “Inia da kan Byzar?” Dara menunjukkan kaos kaki yang ia cari tadi. “Lain kali dicari dulu ya kak.” Pesan nya. “Maaf Bunda, tadi kakak cari gak ada.” Wajahnya menunduk takut. “Gak papa, lain kali dicari dulu oke? Nanti juga barang barang yang sebahabis kamu pakai langsung dirapihkan dan ditaruh di tempat nya masing masing.” Pesan nya lagi. “Oke Bunda, terima kasih” Bagi Dara mendidik anak usia belia sangatlah tidak mudah bagi ibu ibu muda sepertinya, perlu ilmu atau contoh pengalaman dari orang terdekatnya atau bahkan orang yang tidak ia kenal. Saat ini ilmu dan etika parenting pada anak sangat lah penting, apalagi zaman sekarang pergaulan anak hampir tidak ada batasnya. Namun sebagai orang tua harus banyak bersabar untuk menhadapi sikap anak dan tidak boleh lalai atas kewajibannya terhadap anak. ------- Setelah suami dan anaknya berangkat menuju kantor dan sekolah, orang tua dari Mas Fathur dating mengunjungi rumah kami. Ibu Maryam dan Bapak Shaleh membawa bingkisan yang sangat banyak yang katanya untuk jajanan Byzar ketika belajar malam. Dara mengambil tangan mertua nya untuk salim dengan santun, karena mau bagaimana pun orang tua suami adalah orang tua istri juga. Setelah itu Dara membawa bingkisan itu menuju meja makan dan menata nya dengan rapih.
“Bagaimana Dara, apakah ada masalah untuk mengurus keperluan dalam ruamh tangga?” Tanya ibu. Ya ibu memang selalu menanyakan hal ini padaku karena khawatir. “Alhamdulillah Bu, tidak ada masalah.” Jawab Dara dengan hormat. Ibu sering bilang jika ada masalah keluarga harus cepat cepat diselesaikan dan apapun masalah nya jangan sampai kita tidak patuh kepada suami dan juga jangan sampai dilampiaskan kepada anak. Karena dahulu sebelum orang tua Dara tutup usia, dia sangat dekat dengan orang tua nya. Dan sekarang ia lakukan kepada orang tua sang suami. Dara sangat paham mengapa diluaran sana masih banyak anak anak muda yang berperilaku sangat kurang pantas entah kepada siapapun, bisa diliat dari background keluarga dan memang sangat memungkinkan sekali bagi para orang tua memperhatikan perkembangan mental maupun fisik sang anak. Di zaman sekarang pun banyak orang yang menikah berlandasan saling mencintai tanpa adanya kesiapan dalam menjalani rumah tangga. Padahal ilmu dan etika berparenting maupun berumah tangga sangat sangat penting bagi pasangan yang sudah menikah. Ada pepatah mengatakan ilmu tanpa adab bagai api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu bagai ruh tanpa jasad. Karena setinggi apapun Pendidikan dan jabatan seseorang jika adab dan sopan santun tidak dimiliki, ia akan terlihat rendah dimata orang lain begitupun sebaliknya.
Nama : Ulfi Akhyatussyifa Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pentingnya perilaku sopan santun Di suatu sekolah yaitu "SMP N 1 Bandungan", terdapat 3 orang sahabat yang bernama Salma, Hilda dan Alisa mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 9 D. Masing-masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Salma anaknya baik, ramah, cerdas dan kreatif. Hilda anaknya setia kawan, ramah, humoris dan sopan sedangkan Alisa dia mempunyai sifat agak berbeda dengan kedua sahabatnya yaitu bandel, keras kepala, terkadang cuek tetapi juga humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya mempunyai sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Seperti biasa, pagi itu Alisa sudah bangun dari tidurnya lalu sholat subuh, mandi lalu sarapan kemudian bersiap siap berangkat sekolah, Alisa hendak menggambil sepeda onthelnya yang masih berada dalam rumah dan akan berpamitan pada ibunya. "Bu, alisa mau berangkat sekolah dulu ya" teriak Alisa sambil menaiki sepedanya. "Tunggu sebentar nak" jawab ibu Alisa yang datang menghampiri anaknya. "Ada apa bu?" tanya Alisa heran. "Kamu pamitan sama ibu dengan menaiki sepeda yang masih di dalam rumah? Sungguh itu perbuatan yang tidak sopan lisa. Ayo turun dan keluarkan sepedamu!" perintah Ibu Alisa. "Maaf bu" sahut Alisa sambil turun dari sepedanya dan menuntunnnya keluar. "Nah seperti itu baru namanya sopan dan baik" ucap Ibu Alisa. "Iya bu. Alisa minta maaf" ucap Alisa merasa bersalah. "Ya sudah sekarang kamu berangkat nanti terlambat lho. Ingat jangan diulangi lagi ya" pesan Ibu Alisa.
"Baik bu Alisa berangkat dulu, Assalamualaikum" pamit Alisa dan mencium punggung tangan ibunya. "Wa'alaikumussalam, hati-hati ya" jawab Ibu Alisa. Alisa pun segera melaju kencang menuju sekolah yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Ternyata setelah sampai di sekolah Alisa terlambat masuk kelas, dengan tergesa-gesa ia pun masuk kelas, tanpa berpikir panjang Alisa langsung masuk begitu saja, melihat itu Pak Amir yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran. "Alisa apa kamu tidak tahu sopan santun?" tanya Pak Amir dengan tegas. Lama Alisa terdiam lalu menjawab "Tahu Pak". "Kalau tahu kenapa kamu masuk tanpa salam atau ketuk pintu terlebih dahulu?" tanya Pak Amir lagi. "Maafkan saya pak" jawab Alisa takut-takut. "Sebagai hukuman kamu berdiri di depan kelas dan menyanyikan lagu Indonesia Raya" perintah Pak Amir dengan tegas dan galak. Tanpa banyak bicara pun Alisa langsung ke depan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Amir, dengan lancar ia menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian pelajaran dilanjut dan Pak Amir sedang menjelaskan tentang Perubahan Sosial Budaya dan Globalisasi, tetapi Salma tidak mendengarkan malah asik dengan bangku sebelahnya. “Salma kamu kok asik sendiri, apa kamu tidak mendengarkan saya menjelaskan?” tanya Pak Amir sedikit marah. Salma terdiam dan panik karena dia tidak mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Pak Amir. Lalu salma menjawab “maaf pak saya tidak memperhatikan bapak saat menjelaskan materi”. “Tolong jelaskan apa yang saya sampaikan tadi” perintah Pak Amir ke Salma. “Maaf pak saya tidak bias menjelaskan karena tadi tidak mendengarkan bapak” jawab Salma. “Nahhh,makanya besok kalau ada bapak/ibu guru menjelaskan tolong didengarkan” ucap Pak Amir.
“Iya pak, maaf tidak mendengarkan bapak” ucap Salma. Pesan yang dapat dipetik dari cerita tersebut adalah etika sopan santun sangatlah penting bagi kehidupan sehari-hari, dimana dengan menunjukkan sikap santunlah,seseorang dapat dihargai dan senangi keberadaannya serta dapat berkomunikasi dengan baik sesama manusia sebagai makhluk sosial dimanapun tempat kita berada.
Nama: Vina Salma NIM: 2111422071 "Cerita Pendek Tentang Etika" “Praannggg….” Bunyi itu pun terdengar sampai ke kamar Ridwan. ”suara apa itu?” ucapnya dalam hati. Iapun melangkahkan kakinya dan mencari apa yang sedang terjadi. Tampak ibunya sedang gemetar dan hanya diam terpaku di dapur. ”ada apa bu?” ucapnya. Ibunya terlihat pucat dan berkata ”ibu tak sengaja memecahkannya. Apakah ini ada pertanda buruk?”. Diapun teringat akan sosok ayahnya yang lagi terlibat konflik dengan desa sebelah. Kedua desa, yaitu desa kanjuhuran dan kusangin memang tidak pernah akur selama beberapa tahun ini dan mereka sering terlibat konflik berdarah. Ridwanpun bergegas pergi keluar tanpa memikirkan tangannya yang luka. ”kamu mau kemana nak?” ucap seorang ibu yang begitu sayang kepada anaknya itu ”lukamu belum sembuh” sambungnya. Diapun langsung pergi menemui ayahnya. ”aku ingin bertemu ayah bu” jawabnya dari kejauhan. ”Ya tuhan lindungilah anak dan suamiku” do’anya kepada sang Maha Pencipta. Sambil membersihkan beling yang berserakan, ibunya pun merasa gelisah. Bagaimana tidak perkelahian minggu lalu saja telah melukai anaknya. Saat itu Ridwan disabet menggunakan parang dan lukanya cukup serius. Untung saja ia masih bisa diselamatkan. Ia takut hal yang sama akan terjadi pada suaminya. ”kapankah semua ini akan berakhir?” tanyanya dalam hati. ”seperti tak ada habisnya” ujarnya. Diapun hanya bisa terduduk lemas di depan pintu menanti kabar sang suami. Desa Kanjuhuran dan desa Kusangin adalah dua desa yang bertetangga di kabupaten simuba. Dulunya kedua desa hidup dengan rukun. Tapi beberapa tahun terakhir ini kedua desa tampak tegang. Entah siapa yang memulai konflik ini. Tapi konflik ini terjadi tidak lama setelah pak Mukhlis, yang juga ayahnya Ridwan diangkat warga desa sebagai kepala desa. Konflik kedua desa ini dilatarbelakangi oleh batas wilayah kedua kampung. Setiap ada masalah kecil, kedua desapun menjadi tegang. Sudah beberapa kali dilakukan proses perdamaian antara kedua kampung, dan sudah beberapa kali pula perjanjian itu hanya hitam diatas putih. Sudah banyak yang harus dikorbankan dari pertikaian antara kedua kampung. Mulai dari waktu, harta benda, sampai kepada nyawa. Hidup damai dan tentram hanyalah menjadi mimpi yang mungkin suatu saat akan menjadi kenyataan bagi kedua kampung. Dari jauh terlihat seorang sosok yang sedang memapah orang yang terluka. ”mak, tolong bapak mak! Bapak terluka” suara sosok itu dari kejauhan yang tidak terdengar jelas. Sekejap saja sosok yang sedang duduk didepan pintupun beranjak dari peraduannya. Sosok itupun
segera berlari mendatangi kedua sosok itu. ”kenapa dengan bapak mu nak?” tanya ibu yang tua renta itu. ”bapak tersabet parang mak” jawabnya sambil menghela nafas. ”aku menemukannya di perbatasan desa” sambungnya. ”bawa bapakmu masuk” ucap ibu syariah-ibu Ridwan-. Akhirnya, konflik kedua desa dapat juga mereda. Pak Drajat-orang kepercayaan pak Mukhlis- mau berunding dengan pak Rahmat-kades kusangin-. Dengan adanya perundingan ini ketegangan dua desapun dapat dikurangi untuk sementara. Namun bukan berarti konflik ini benar-benar berhenti. Sudah berulang kali perjanjian hanyalah jadi perjanjian, tidak pernah direalisasikan dalam tindakan yang nyata. Kedua desa sepakat untuk menghentikan konflik yang sedang berlangsung. Mungkin mereka sudah lelah dengan semua yang terjadi. tapi demi harga diri mereka, hal itu mereka kesampingkan. Bagi mereka lebih baik mati membela kampung dari pada harus mengalah dan menyerahkan batas desa. Haripun berlalu, kini tidak tampak lagi konflik badan antara kedua desa. Tetapi suasana tegang antara kedua desa masih terasa. Warga kanjuhuran yang biasa mencari nafkah di perbatasan kedua desapun tidak berani untuk mendekat dan bekerja. Mereka hanya beraktifitas didalam kampung. "maling…maling…” terdengar suara teriakan disubuh hari. Mendengar teriakan itu, wargapun terbangun dan langsung mencari sumber teriakan. Dilihat warga dua orang suami istri yang berdaya sedang terkapar di ruang tamu rumah mereka. Pintupun dalam keadaan terbuka. Ternyata itu adalah pak Syukron dan istrinya. Maling tersebut tidak hanya mengambil harta pak Syukron tapi juga melukai keduanya. Dari kejauhan, tampak sosok yang sedang kekelahan seperti habis mengejar sesuatu. ”malingnya lari kesana” ucapnya terengeh-engeh. Ternyata itu adalah si Madin. Ia adalah penjaga pos ronda. ”kemana?” tanya seorang warga untuk memperjelas. ”itu…” ucapnya sambil. ”kemana?” tanya warga yang lain. ”kedesa sebelah”. ”apa?” wargapun mulai curiga bahwa maling tersebut adalah warga desa kusangin. Tiba-tiba ditengah mereka datanglah Ridwan yang terbangun karena teriakan tadi. ”ada apa ini?” ucapnya keheranan. ”ini…pak Syukron kemalingan. Pak Syukron juga dibacok oleh tu maling” ucap madi-salah seorang warga desa-.”malingnya lari kedesa kesebelah wan” sambar Madin. Ridwanpun merasa heran dengan semua ini. Bagaimana mungkin malingnya bisa dari desa sebelah. Perbatasan kedua desa saja dibatasi oleh dua orang penjaga di masing-masing desa. ”sudahlah, biar aku yang akan menyelesaikannya. Sekarang kalian bantu pak Syukron” Ridwanpun bergegas pergi kerumah untuk menemui ayahnya. Sesampainya di rumah, ia melihatnya ayahnya ada di ruang tamu bersama pak Drajat. Kebetulan waktu itu pak Drajat sedang bermalam di rumah pak Mukhlis. Iapun segera menghampiri ayahnya. ”apa yang terjadi tadi nak?” tanya ayahnya. ”rumah pak Syukron disatroni maling” jawabnya. ”maling?… pasti maling itu dari desa sebelah” sambung pak Drajat. ”kok bapak bisa tahu?” tanya Ridwan keheranan. ”memang benar apa yang dikatakan pak Drajat, Ridwan?” tanya ayahnya. ”kata pak Madin sih seperti itu” jawabnya.
Hati pak Mukhlispun memanas mendengar berita itu. ”bapak tenang saja. Belum tentu lagi malingnya adalah warga desa sebelah. Kita harus membuktikannya” kata Ridwan yang ingin kedua desa hidup dalam perdamaian. ”tak mungkin” sela pak Drajat. ”bapak tidak percaya dengan pak Madin. Ia penjaga pos, tentu ia melihat kemana maling itu pergi!” tambahnya. Pak Mukhlispun bingung dengan keadaan ini. Ia harus memilih antara anaknya dan orang kepercayaannya. ”pak, sudahlah pak. Kita akhiri saja semua konflik ini. Tidak ada gunanya konflik yang terus berkepanjangan ini” ucap Ridwan mencoba untuk membuka hati ayahnya. ”tidak bisa!!” sambar pak Drajat.”ini adalah demi harga diri. Kalau kita berdamai kepada mereka, berarti kita kalah” sambungnya. ”bapak jangan coba mempengaruhi bapak saya ya?” Suasana di rumahpun menjadi tegang. Perang mulut antara Ridwan dan pak Drajatpun mulai berkoar. Ridwanpun akhirnya memutuskan pergi kedesa sebelah untuk menyelesaikan kasus ini. Pada awalnya ayahnya tidak mengizinkan Ridwan untuk pergi karena dia takut terjadi sesuatu pada anak semata wayangnya itu. Tapi kemauan si Ridwan akhirnya memaksa ayahnya untuk mengizinkannya pergi kedesa sebelah. ”perdamaian itu akan datang” ucapnya sambil berlalu meninggalkan rumah. Dengan mengusung perdamaian iapun pergi kedesa sebelah untuk berunding. Ia ditemani oleh si Amar teman dekatnya. Ia harap apa yang ia lakukan ini akan membawa semilir angin perdamaian. Sesampainya di perbatasan desa ia dan Amar dicegat oleh orang yang tidak dapat ia kenali. Disitulah mereka dibacok, hingga akhirnya Ridwanpun tewas. Ternyata Amar dapat menyelamatkan diri dari peristiwa itu, walaupun ia menderita luka bacok. Amarpun kembali kedesa dengan luka parah dibagian kaki. ”pak, Ridwan kemana?” tanya bu Syariah kepada suaminya. ”Dia pergi kedesa Sebelah bu” ucap suaminya. ”perasaanku jadi tidak enak gini pak? Ada urusan apa dia pergi kesana?” tanya ibu Ridwan. ”Dia mau berunding dengan desa sebelah” ucap suaminya Datanglah Amar dengan luka parah yang dideritanya. ”ada apa Mar? Mana si Ridwan?” tanya pak Mukhlis. ”Si Ridwan Meninggal pak. Ia dibacok orang di perbatasan” ucap si Amar terengeh-engeh. ”Apa? Siapa pembunuhnya? ” tanya pak Mukhlis dengan perasaan sedih. Terlihat sosok yang sedang berlari kearah rumah Pak Mukhlis. ”ada berita pak!” ucapnya. Ternyata itu adalah si Madi. ”ternyata malingnya adalah si Udin warga desa kita” ucapnya. ”si Madin hanya berbohong pak, ia disuruh oleh pak Drajat” sambungnya. Mendengar laporan ini pak Mukhlis merasa bersalah dengan anaknya. Iapun bertekuk dan menyadari bahwa sikapnya selama ini salah. Ia pun berjanji akan mewujudkan cita-cita anaknya untuk mewujudkan perdamaian. ”kita datangi pak Drajat!” kata pak Mukhlis dengan tegas. Warga bersama kepala desapun mendatangi rumah pak Drajat. Disana mereka menemukan rumah pak Drajat dalam keadaan
kosong. Ternyata pak Drajat telah mengetahui hal ini dan segera pergi untuk menghilangkan jejak. Akhirnya, pak Mukhlis luluh hatinya setelah kematian anaknya. Kini tak ada lagi yang menghalangi ia untuk berunding dengan desa sebelah. Selama ini ketika pak Mukhlis ingin berunding dengan desa sebelah, pak Drajat selalu menghalangi perundingan itu. Hal ini dilakukan pak Drajat untuk mengambil alaih kekuasaan di desa ini. Terakhir, terdengar kabar bahwa orang yang mebunuh Ridwan adalah orang suruhan pak Drajat. Jenazah Ridwanpun akhirnya dibawa pulang untuk dimakamkan. Didepan jenazah anaknya pak Mukhlis berjanji akan mewujudkan perdamaian di dua desa. ”perdamaian yang engkau impikan akan segera terwujud nak. Terima kasih karena engkau telah membukakan pintu hatiku. Sebentar lagi kami akan merasakan nikmatnya semilir angin yang engkau perjuangkan” ucapnya.
Violita Anandhita Suseno Prodi Sastra Indonesia Dalam berteman, kita harus mempunyai tata krama, sopan santun, dan etika. Jika tidak, mungkin berawal dari teman kita bisa menjadi musuh atau bahkan menjadi seorang penjahat. Itu lah gunanya tata krama, sopan santun, dan etika dalam berteman agar pertemanan berjalan dengan baik dan dapat saling membantu. Hal-hal itu harus diperhatikan dalam memilih teman baik atau sahabat karena teman baik dapat menentukan arah tujuan hidup kita juga. Misalnya, jika kita berteman baik dengan para pengedar narkoba, secara tidak langsung kita dapat menjadi pecandu narkoba ataupun pengedar narkoba. Berteman baik dengan orang yang lebih pintar, secara tidak langsung kita akan mendapat ilmu yang bermanfaat darinya. Hati-hati lah memilih teman baik dalam hidupmu. Harus bisa memilih dan menyaring, mana yang baik dan mana yang buruk. Seperti Romi yang terlena dengan kata-kata Doni dan Lio. Romi menjadikan mereka teman baik. Doni dan Lio adalah anak yang nakal, suka merokok, dan tawuran. Mereka menghasut Romi untuk ikut merokok dan hasilnya Romi berada di rumah sakit dengan perban di kepala dan memar di tubuhnya. Teman baik bukan teman biasa, melainkan teman yang selalu berada di samping kita ketika "Temanmu adalah yang berkata benar bukan yang membenarkan kamu!" Kata-kata itu terus membayangi pikiranku, menyesali atas apa yang telah terjadi kepadaku. Kalimat itu adalah ucapan ayahku. Ayah selalu mengingatkannya kepadaku agar selalu memilih teman baik yang jujur. Hal ini karena teman yang menentukan arah hidup kita. Misalnya, temanmu adalah pemain gitar, dia akan mengajak kamu untuk bermain musik dan membentuk sebuah band. ya, aku harus membayangi kata-kata itu agar selalu mengingatnya. Saat aku makan, berangkat ke sekolah, bermain, dan ketika akan tidur aku selalu mengingatnya, mengingatnya, dan mengingatnya. tapi aku bodoh, aku tidak memegang teguh amanat ayahku itu. Hasilnya, aku mengalami suatu musibah karena salah dalam bergaul. Kejadian itu berawal ketika aku tidak sengaja membuang sampah sembarangan di dalam kelas. "Siapa yang membuang sampah di sini?" tanya Pak Kusni, guru pelajaran Pendidikan dan Kewarganegaraan. Sebelum memulai pelajaran, Pak Kusni selalu memeriksa kebersihan kelas. Aku menyadari bahwa itu adalah bekas bungkusan makananku. Aku tidak mau mengaku, aku takut dimarahi, walaupun jika jujur tidak akan dihukum, tapi aku tetap tidak mau mengaku.
Teman sebangkuku, Wahyu, menyenggol tubuhku. "Tidak ada yang mengaku?" tanya Pak Kusni dengan nada lantang. "Lebih baik jujur dan mengaku saja, daripada nanti ketahuan, akan Bapak hukum," lanjut Pak Kusni sambil memegang kumisnya yang lebat. Wahyu terus menyenggol tubuhku, mengisyaratkan agar aku mengaku. "Siapa?" suaranya kencang menggelegar. Wahyu menyenggolku lagi dan berbisik, "Sudah Rom, mengaku saja, kalau jujur tidak akan dihukum," Wahyu memperingatkanku. Brakk! Pak Kusni, memukul meja. "Kalau tidak ada yang berbicara, semua akan Bapak jemur di lapangan!" "Rom, ngaku saja, masa kamu tega teman-teman kamu dihukum gara-gara ulah kamu," Wahyu berbisik kepadaku. "Sudah diam saja, Way" aku menggubris usulannya. "Tapi Rom." Belum sempat Wahyu Berbicara, aku memotongnya, "Berisik kamu!" aku mulai geram dengannya. "Wahyu, siapa yang buang sampah di depan kelas?" tanya Pak Kusni kepada Wahyu dengan suara lantang. "R, r, r," Wahyu gagap dan tubuhnya menyenggolku. Aku langsung menginjak sepatunya. "Romi, Pak" Wahyu membeberkan semuanya. Aku lebih keras lagi menginjakkan kakiku. "Romi, benar kamu pelakunya?" tanya Pak Kusni kepadaku. "Bu... bukan Pak," jawabku dengan gemetar. Keringat dingin mulai mengucur dari setiap pori-pori kulitku, wajahku pucat pasi dan ketakutan. "Jangan bohong kamu," ucap Pak Kusni lebih keras. "I.... iya Pak, bukan aku," aku berbohong.
"Bukan Romi Pak pelakunya, tadi ada anak kelas sebelah yang bermain di dalam kelas dan dia buang sampah sembarangan," ucap Doni. "benar Pak, bukan Romi pelakunya. Tadi ada anak kelas lain yang bermain di dalam kelas kamu Pak," Lio menambahkan. Doni adalah teman sekelasku, tubuhnya tinggi sedang, kulitnya hitam, dan sedikit gemuk. Sebelumnya aku tidak begitu dekat dengan Dni karena perilakunya yang nakal. Doni tidak naik kelas sewaktu dia kelas dua. Lio juga temen sekelasku, dia teman akrabnya Doni. Lio sangat jahil, sering berbuat ulah di kelas dan terkadang suka tidur di kelas. Aku berteman dengannya tapi tidak begitu akrab. Tapi mengapa mereka tiba-tiba membelaku? Ah biarkan saja kecurigaanku ini yang penting aku selamat dari hukuman Pak Kusni. Sebenarnya aku juga tahu alasan Wahyu berbicara jujur kepada Pak Kusni. Ayahku selalu meminta Wahyu untuk berkata jujur atas semua hal yang berkaitan denganku dan aku pun dituntut agar selalu berkata jujur. Ketika dia berkata jujur kepada Pak Kusni, dia sebenarnya ingin membelaku, ingin mengawasiku, dan ingin menjalankan amanat dari ayahku. "Tapi biar lah, aku sudah kesal dengan Wahyu. Ternyata Wahyu yang kukenal sejak SD dengan mudah mencelakakan aku," ucapku dalam hati. "Oke kalau begitu, pelajaran dilanjutkan, asalkan tidak ada lagi sampah yang berserakan di bawah meja kalian," ucap Pak Kusni sebelum memulai pelajaran PKn. Kami sekelas melihat sekeliling. Jika ada sampah, kami langsung membuangnya ke tempat sampah. Setelah pelajaran Pak Kusni selesai, aku menghampiri Doni dan Lio. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada mereka. "Lio, Doni, terima kasih ya, kalian sudah menyelamatkan aku," ucapku kepada Lio dan DOni yang duduk di bangku paling belakang. "Santai aje Rom," ucap Lio dengan nada santai. "Bilangin tuh, si Wahyu, jangan bawel" ucap Doni. "Tau tuh anak, songong banget, mau nyelakain temen sendiri. Padahal aku sama Wahyu sudah berteman lama dan duduk satu bangku, masih saja mau nyelakain temen sendiri," aku merasa kesal dengan Wahyu. "Mangkanya jangan berteman sama dia, berteman saja sama kita. Kita orangnya asik, santai, dan solidaritasnya kuat," Doni membusungkan dada. "Iya-iya," aku mengangguk. "Biarin saja, aku nggak akan negor Wahyu lagi," lanjutku. Semenjak kejadian itu, aku mulai berteman dengan Lio dan Doni yang terkenal sebagai preman di sekolah. Aku sudah jarang dan bahkan tidak pernah pulang bersama Wahyu karena kecewa padanya.
Kali ini aku pulang sekolah bareng Doni dan Lio. Kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami memilih untuk duduk-duduk atau nongkrong terlebih dahulu di pinggir jalan. Berbeda seperti biasanya, sepulang sekolah aku pulang bersama Wahyu dan langsung pulang ke rumah. Sudah beberapa hari aku seperti itu, nongkrong di pinggir jalan. Suatu saat Doni membeli sebuah rokok di warung dan dia menghisap rokok itu bersama Lio dan teman-teman lainnya. Aku ditawari juga, "Rom, mau nggak kamu?" Doni menyodorkan rokoknya. "Nggak Don, makasih," tolakku dengan halus "Yaelah Rom, santai saja! Kita ini bukan di sekolah lagi, tapi di luar sekolah, nggak akan ada yang ngomelin kita," ucap Lio sambil memegang pundakku. "Udah nih," Doni memaksaku. "Rasanya enak Rom," Doni merayuku. "Nggak Don," aku menggelengkan kepala. "Ah, nggak metal lu, nggak gaul," nampaknya Lio mulai marah kepadaku. "Au lu! Mana solidaritas lu?" ucap Doni dengan nada tinggi. "Emang harus ngerokok dulu ya, baru namanya solidaritas?" tanyaku. "Iya, kalau nggak mau lu nggak usah main sama kita-kita lagi. Gue nggak nyangka ternyata lu itu orangnya nggak asik, nggak gaul, dan cemen!" ucap Doni dengan nada tinggi tepat di depan wajahku. "Boleh deh, kayaknya sih emang enak," aku mulai tergiur. "Nah, itu baru anak gaul," ucap Lio. "Nih!" Doni memberikan rokok kepadaku. Aku menghisap racun itu, tapi sekali hisap aku langsung batuk-batuk. "Pertamanya emang begitu. Coba lagi, nanti juga enak," ucap Lio. Aku menghisap dan batuk-batuk lagi, dadaku sesak. "Sekali lagi," Doni meminta. Aku hisap dengan napas panjang dan batuk-batuk lagi. Saat aku batuk-batuk, Lio dan Doni berlari, "Rom, lari ada Pak Kusni," ucap Doni. Aku masih batuk-batuk. Kami pun berlari entah ke mana menghindari dari kejaran Pak Kusni. Semua yang nongkrong di pinggir jalan lari semua/ Kira-kira ada empat orang yang bersama kami. Kami berlari masuk dan keluar gang mencari tempat persembunyian. Setelah aman, kami keluar. Sial, aku masih terbatuk-batuk, dadaku nyesak sekali, ditambah dengan lari, lengkap sudah penderitaanku. Aku mempunyai riwayat penyakit asma dan sebenarnya tidak boleh merokok apalagi berlari secara tiba-tiba, takut asmaku kambuh. Aku ngos-ngosan dan terbatuk- batuk, mencoba bernafas panjang, tapi dadaku terasa nyesak. Aku merasa tersiksa.
Kami pun meneruskan perjalanan untuk kembali ke rumah masing-masing. Malang bagi kami. Saat kami keluar dari persembunyian dan berjalan pulang ternayat kami salah jalan. Tepat di depan kami ada anak SMP lain yang sedang nongkrong. Kami terkejut ketika mereka tiba-tiba berlari mengejar kami. Niat kami ingin berjalan pulang, malah diserbu oleh SMP lain. Kami berlari menghindari karena jumlah mereka puluhan orang. AKu sudah tidak bisa berkata apa-apa, napasku sesak, dan aku masih harus berlari, aku tidak sanggup! Aku pun berusaha berlari, aku berlari sambil batuk dan terjatuh. Saat aku terjatuh, temanku Agung membangunkan tubuhku. "Bangun, Rom," kata Agung. Aku berlari dan terjatuh lagi. Kulihat Doni dan Lio sudah kabur menjauh berada di garis paling depan. Aku tersungkur, tidak ada yang menolongku lagi. Tubuhku tidak sanggup untuk berdiri, bernapas saja sulit apalagi berlari. Aku pasrah. Kulihat mereka semakin mendekat. Aku hanya berdoa saja, berharap aku tidak mati di tempat. "Tolong!" aku menjerit. Mereka semakin dekat, tidak ada orang di sekelilingku yang dapat menolongku. Tiba-tiba ada sesuatu menimpa kepalaku, rasanya sakit sekali. Setelah kulihat itu adalah batu yang mengenai kepalaku. Sekit sekali, beberapa detik kemudian, ada lagi batu yang mengenaiku, dan terus mengenaiku. Mereka sudah ada di depanku dan langsung mengeroyokku. AKu tidak bisa berbuat apaapa karena pingsan. Aku tidak sadarkan diri selama dua jam. Kubuka mataku dan samarsamar aku melihat bayangan tubuh besar. Kukedipkan mataku lagi untuk melihat lebih jelas, setelah kutegaskan itu ternyata Pak Kusni. "Jangan banyak bergerak," Pak Kusni memegang kepalaku. Aku menyadari ada perban di kepalaku dan luka memar di seluruh tubuhku. Rasanya sakit dan ngilu. Pakaian putih biruku sudah tidak berbentuk, robek-robek, dan ada bercak darah. ternyata kepalaku bocor dan luka memar akibat pukulan dari anak-anak itu. Beruntung Pak Kusni datang tepat waktu, kalau tidak aku sudah berada di tempat pemakaman umum. Tak lama, kedua orang tuaku datang dan langsung memelukku. Mereka memelukku erat, ibuku memelukku sambil menangis. Aku tidak bisa bergerak dan hanya tersenyum simpul.
CERPEN TEMA ETIKA Di suatu sekolah yaitu “SMP N 2 BAWANG”, terdapat 3 orang sahabat yang bernama Robin, Rozi dan Farhan mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 9A. Masing masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Robin anaknya baik, ramah, cerdas dan kreatif. Rozi anaknya setia kawan, ramah, humoris dan sopan sedangkan Farhan dia mempunyai sifat agak berbeda dengan kedua sahabatnya yaitu bandel, sedikit ceroboh, terkadang cuek tetapi juga humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya mempunyai sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Seperti biasa, pagi itu Farhan sudah bangun dari tidurnya lalu sholat subuh, mandi lalu sarapan kemudian bersiap siap berangkat sekolah, Farhan hendak menggambil sepeda onthelnya yang masih berada dalam rumah dan akan berpamitan pada ibunya. “Bu, farhan mau berangkat sekolah dulu ya” teriak Farhan sambil menaiki sepedanya. “Tunggu sebentar nak” jawab ibu Farhan yang datang menghampiri anaknya. “Ada apa bu?” tanya Farhan heran. “Kamu pamitan sama ibu dengan menaiki sepeda yang masih di dalam rumah? Sungguh itu perbuatan yang tidak sopan han. Ayo turun dan keluarkan sepedamu!” perintah Ibu Farhan. “Maaf bu” sahut Farhan sambil turun dari sepedanya dan menuntunnnya keluar. “Nah seperti itu baru namanya sopan dan baik” ucap Ibu Farhan. “Iya bu. Farhan minta maaf” ucap Farhan merasa bersalah. “Ya sudah sekarang kamu berangkat nanti terlambat lho. Ingat jangan diulangi lagi ya” pesan Ibu Farhan. “Baik bu Farhan berangkat dulu, Assalamualaikum” pamit Farhan dan mencium punggung tangan ibunya. “Wa’alaikumussalam, hati-hati ya” jawab Ibu Farhan. Farhan pun segera melaju kencang menuju sekolah yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Ternyata setelah sampai di sekolah Farhan terlambat masuk kelas, dengan tergesa-gesa ia pun masuk kelas, tanpa berpikir panjang Farhan langsung masuk begitu saja, melihat itu Pak Kris yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran. “Farhan apa kamu tidak tau sopan santun?” tanya Pak Kris dengan tegas. Lama Farhan terdiam lalu menjawab “Tahu Pak”. “Kalau tahu kenapa kamu masuk tanpa salam atau ketuk pintu terlebih dahulu?” tanya Pak Kris lagi. “Maafkan saya pak” jawab Farhan takut-takut. “Sebagai hukuman kamu berdiri di depan kelas dan bacakan pembukaan UUD 1945” perintah Pak Kris dengan tegas dan galak. Tanpa banyak bicara Farhan pun langsung ke depan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Kris, dengan lancar ia membacakan pembukaan UUD 1945.
Tak terasa waktu cepat berlalu bel tanda istirahat pertama pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bersorak gembira. “Baiklah anak-anak bapak sudahi pertemuan kali ini terimakasih. Assalammualaikum” ucap Pak Kris mengakhiri pelajaran. “Wa’alaikumussalam” jawab anak-anak serempak. Mereka pun berhamburan ke luar kelas, ada yang ke kantin, kamar mandi ataupun perpustakaan. Begitupun dengan Farhan, Rozi dan Robin. “Robin, Farhan ke kantin yuk! aku lapar nih” ajak Rozi yang sudah kelaparan. Robin & Farhan mengganguk. Mereka segera menuju kantin yang jaraknya agak jauh dari kelas mereka. Sesampainya di kantin mereka duduk dan memesan makanan. Beberapa menit kemudian pesanan datang. Farhan langsung menyambar bakso yang masih panas itu. “Hati hati han nanti tersedak lho” ucap Rozi mengingatkan. “Iya, itu nggak sopan tau, kamu belum baca basmalah trus makan pakai tangan kiri lagi” sambung Robin. “Iya iya maaf habisnya lapar banget sih” kata Farhan sambil memegang sendoknya dengan tangan kanan. “Nah gitu dong kan lebih enak dipandang” ujar Rozi gembira. “Aku heran ya, hari ini aku banyak mendengar orang-orang berbicara tentang sopan, sopan dan sopan” keluh Farhan sedikit kesal. “Kamu juga sih, belakangan ini perilaku kamu kurang sopan” jelas Rozi.. “Iya, sopan itu kan penting” tambah Robin. Farhan hanya diam saja dan melanjutkan makan. Setelah mereka selesai makan dan membayar, mereka lalu kembali ke kelas, ketika di perjalanan mereka berpapasan dengan Bu Rara. “Mari bu” sapa Robin dengan sopan. “Selamat siang bu” ucap Rozi memberi salam. Bu Rara hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian berlalu.. “Eh Farhan, kenapa kamu nggak menyapa Bu Rara tadi?” tanya Rozi heran. “Aku lagi kesal dan malas menyapa, dulu aku pernah menyapa bu guru lain tapi, tak dihiraukan dan beliau berlalu begitu saja” jawab Farhan jujur. “Nggak boleh gitu han, walau mereka tidak membalas sapaan kita, setidaknya kita sudah menyapa dan berperilaku baik” kata Rozi menasehati. “Betul itu, budayakan 5S Senyum, Salam, Sapa, Sopan Dan Santun” tambah Robin. “Iya deh dari tadi aku terus yang disalahkan” ujar Farhan memasang muka cemberut. Robin dan Rozi hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala. Mereka lalu bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Lima hari pun berlalu begitu cepat tapi, sifat Farhan yang buruk masih belum hilang, sering ia ceroboh dan tidak berperilaku sopan. Pada suatu hari 3 sahabat itu berbincang-bincang di perpustakaan tentang sopan santun. “Eh, teman teman kalian tau nggak manfaat dari perilaku sopan?” tanya Rozi memulai perbincangan. “Manfaat sopan santun adalah disenangi banyak orang, menciptakan karakter yang mulia, mencerminkan sifat yang luhur, membuat kita lebih ramah pada sesama” ujar Robin penuh semangat. “Dan menjadikan kita pribadi yang baik serta mengerti adat istiadat” tambah Rozi. “Tapi teman teman bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, akhir-akhir ini aku selalu bertindak tidak sopan tanpa aku
sadari. Aku ingin berubah, bagaimana kalian punya saran tidak?” keluh Farhan. Ia ingin jadi lebih baik lagi. “Memang han kalo kita belum terbiasa berprilaku sopan memang terasa sulit, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan apalagi dapat banyak pahala” kata Rozi menjelaskan. “Aku tahu bagaimana mengubah sikap burukmu itu” ujar Robin sambil tersenyum. “Aku sudah membuatkanmu gelang sopan santun” ucap Robin lalu mengeluarkan sebuah gelang dan memberikannya pada Farhan. “Gelang apa ini?” tanya Farhan sambil melihat gelang yang bertuliskan ‘sopan itu perlu’ tersebut. “Gelang itu bisa menjadi pengingat kalau kita tidak berperilaku sopan caranya sederhana kok, ketika kita ingat bahwa kita telah melakukan hal yang tidak sopan, tarik saja gelangnya kuat-kuat lalu lepaskan dan otomatis akan mengenai tanganmu dan teras sakit jadi, gelang ini seakan-akan menghukum kita” ujar Robin menjelaskan panjang lebar. “Oh seperti itu jadi kesimpulannya jika tidak ingin sakit maka bersikaplah dengan sopan” ujar Rozi menarik kesimpulan. Robin mengganguk. “Oh begitu ya, terimakasih Robin atas pemberianmu ini, mulai besok akan kupraktikan” ucap Farhan gembira kini ia dapat melatih sikap sopan santunnya. Sejak ada gelang itu kini Farhan lebih berhati-hati dalam bertindak. Kemarin ketika ia berpapasan dengan Bu Della Farhan malah memalingkan wajah dan tidak menyapa beliau, beberapa menit kemudian ia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan, lalu ia menarik gelang pemberian Robin kuat-kuat dan melepaskannya, ia agak kesakitan. “Jika tak ingin sakit, bersikaplah sopan” ucapnya dalam hati sambil tersenyum malu. Hal tersebut Farhan lakukan berulang-ulang ketika ia berperilaku tidak baik dan sopan. 2 minggu pun berlalu, sekarang sifat buruk Farhan perlahan mulai hilang dan dia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Farhan lebih baik. “Wah han sekarang kamu berubah jadi semakin baik lho” puji Rozi. “Hehehe. Allhamdulillah ini semua juga berkat kalian dan gelang itu” jawab Farhan tersipu malu. “Berarti gelang buatanku itu manjur dong” kata Robin penuh percaya diri. “Iya, sejak ada gelang itu aku jadi lebih berhati hati dalam bertindak” ujar Farhan. “Aku juga mau, Robin masih punya gelang seperti itu?” tanya Rozi penuh harap. “Kebetulan aku bawa 2. Aku juga mau pakai, ini untukmu” ucap Robin sambil menyodorkan gelang pada Rozi. “Wah, sekarang kita seperti trio sopan santun saja” ujar Farhan gembira. “Hahaha. Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” teriak Robin penuh semangat. “Ya, karena berperilaku sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Rozi percaya diri. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun.
Mungkin ini yang terakhir. Kicau merdu burung menyanyi pada saat sinar surya menyapa. Embun yang meninggalkan cerahnya mentari. Riuhnya keadaan pada saat itu. Aku pun terbangun dan berharap menemukan semangat yang baru. Aku Kala siswi dari SMA 50 Agung yang duduk di kelas 12. Aku sadar aku sudah di masa-masa akhirku menikmati bangku sekolah menengah atas. Mungkin hitungan bulan sudah kutinggalkan sekolah ini. Sudah menjadi kebiasaanku datang tidak tepat waktu. Seluruh sekolah itu tau dan mungkin hanya menegurku kecil. Tidak ada hal yang membuatku khawatir karena tingkah lakuku yang seperti itu. Aku paham aku salah, tapi ya sudah kubiarkan saja. Hari ini adalah hari Senin. Semua murid mulai ramai di lapangan untuk mengikuti upacara. Saat itu aku juga mengikuti semua murid untuk berlari ke lapangan, namun aku berbelok ke kantin tempat biasa untuk persembunyianku. Tapi anehnya, aku bertemu dengan orang misterius yang sebelumnya belum pernah aku temui di sekolah ini. Pikiranku mulai penuh akan pertanyaanpertanyaan yang aku sendiri tidak mungkin mendapatkan jawaban. “Siapa sih cowo itu ? Anak kelas mana kok aku gak pernah tau. Apa aku aja ya yang gak pernah tau perkara berangkat telat,” pertanyaanku kepada diriku sendiri. "Apa aku samperin aja ya ? Lumayan kan dapet temen ngobrol,” dengan rasa penasaranku aku datangilah pemuda itu. Aku berjalan dengan penuh keyakinan walaupun ketakutan dan kebingungan menyelimuti pikiranku. Bagaimana tidak takut, aku akan berkenalan dengan orang asing yang sebelunnya belum pernah aku ketehui dia siapa. “Halo salam kenal, namanya siapa ?” tanyaku kepada anak misterius itu. Anak itu hanya terdiam tanpa sepatah apa pun. Tanpa seizinnya aku duduk sja di sampingnya. Dengan keheningan aku membuka pertanyaan lagi, “Anak mana ? Kelas maksudnya.” Dia tidak memberikan jawaban apa pun. Dari kejauhan aku melihat seorang gur yang jalan dari lorong yang akan menuju ke kantin. Sontak aku ingin bergegas lari. Namun, anak itu tetap bediam diri dan kali ini dia menjawab ajakanku. “Eh, ada guru ayo cepetan pergi dari sini daripada gak keburu.”
“Kamu aja yang pergi. Gak mungkin keburu juga kalo kita pergi. Di pojok sana juga ada guru yang nunggu. Mending disini aja,” dia menjawab dengan muka yang datar dan aku terkejud dengan jawaban yang disampaikan olehnya. Guru yang bertugas untuk mengecek ketertiban murid tersebut sudah mengetahui kita yang tengah duduk di kantin. “Kalian ngapain di kantin ?” tanya guru dengan tegas. “Maaf pak, kami salah,” “Kalian ikut saya ke BK sekarang,” ucap bapak itu dengan nada tinggi. Kami mengikutinya dengan menunduk dan dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Sampainya di BK, bapak itu menjelaskan apa yang terjadi pada guru BK. Saat yang dinanti pun tiba. Kita di introgasi dari A sampai Z. Aku belum pernah sebelumnya mendapatkan perlakuan seperti ini. Mungkin guru semua sudah lelah dengan sikapku tapi kali ini berbeda. “Kala! Sudah berkali-kali kamu melakukan pelanggaran tapi tetap tidak ada perubahan yang kamu lakukan.” “Abi! Kamu juga sudah beberapa kali ibu lihat kamu sering terlambat, bolos, sekarang tidak mengikuti upacara. Mau kalian apa ?” pertanyaan guru BK selalu terngiang di kepalaku. Tetapi sekarang aku jadi tahu nama anak itu. Namun tujuanku bukan itu. Tujuanku adalah bagaimana cara agar cepat teluar dari ruangan yang penuh dengan penghakiman ini. Aku tidak ingin kata yang tidak inginku dengar terucap oleh guru BK yang ada di hadapanku. Keringat semakin deras keluar di dahiku. Perasaan ini sudah tidak bisa digambarkan lagi.Namun, kata kata itu pun terucap. Duniaku seakan ingin hancur. “ Kalian mau ibu keluarkan dari sekolah ini ? Dengan banyak kejadian yang telah kalian lakukan.” “Kalian harus lebih belajar bagaimana cara bersikap dengan baik. Ini bukan tentang kemauan kalian tapi ini tentang peraturan yang telah ditetapkan. Apapun yang ada harus kalian jalani, suka gak suka bagaimanapun itu. Saat nanti kalian diluarpun pasti ada aturannya. Di rumah kalian pasti adakan peraturan dari orang tua kalian sendiri. Maka dari itu kalian juga harus bisa menjaga sikap disini,” nasehat guru BK yang menyadarkanku pentingnya bertingkah laku di dunia luar. Mungkin orang-orang tidak menasehatiku bukan karena aku keren. Tapi, mereka
lelah dengan sikapku. Akanku perbaiki sikapku setelah ini. Tidak ada kata bolos lagi, tidak ada kata terlambat lagi dan yang lainnya. Aku harus bisa.
Nama : Wiwik Fitriyani Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kelompok : Taman Ayun Kejujuran Penjual Bakso Siang ini Pak Ahmat atau yang kerap di sapa Pak Mamat masih terus berjalan untuk menjajakan jualannya di salah satu komplek yang ada di Solo. Beliau sudah berjualan sejak pagi tetapi belum ada satupun yang membeli dagangan beliau. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Pak Mamat untuk terus melangkah dan tetap berpikir positif bahwa akan ada yang membeli baksonya. Pak Mamat merupakan satu-satunya tulang punggung di keluarganya, beliau mempunyai empat orang anak dan seorang istri. Untuk mencukupi kebutuhan mereka Pak Mamat berjualan bakso, walaupun terkadang pendapatan yang dihasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. “Bakso… Bakso… Bakso…” “Bakso… Bakso… Bapak.. Ibu.. Baksonya...’’ seru Pak Mamat seraya terus melangkahkan kakinya “Pak bakso pakkk,” seru seorang gadis kecil dengan langkah tergesa-gesa “Iya, Nduk. Monggo” ucap Pak Mamat “Aku beli baksonya sepuluh ribu ya pak, jangan pakai bawang goreng sama sayur. Oh ya, kecapnya sedikit tanpa sambal,” pesannya dengan semangat “Oke siap, Nduk. Di tunggu dulu ya,” balas Pak Mamat “Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya ada yang beli daganganku,” ucap syukur Pak Mamat karena ada yang membeli dangannya “Ini pesanannya, Nduk.” ucap Pak Mamat “Iya pak, ini uangnya ya,” balas gadis kecil tersebut seraya menyerahkan uang serratus ribu rupiah dan bergegas lari ke rumahnya “Eh.. eh.. ini kembaliannya belum, Nduk,” seru Pak Mamat “Permisi Bu,” ucap Pak Mamat di depan sebuah rumah bergaya minimalis itu “Iya pak, ada apa?” balas seorang ibu yang berjalan dari dalam rumah “Ini bu, saya mau memberikan uang kembalian milik putri Ibu. Tadi dia langsung lari setelah memberikan uangnya, Bu,”
“Aduh, terima kasih banyak pak. Anak saya sering seperti itu ketika membeli jajan langsung pergi tapi uangnya kembaliannya tidak diambil.” “Sama-sama, Bu. Mungkin lain kali bisa didampingi ketika anaknya beli sesuatu agar kejadian ini tidak terulang lagi.” “Iya Pak, tadi saya masih masak dan anak saya tidak sabar untuk nunggu. Jadinya dia beli sendiri. Sekali lagi terima kasih ya, Pak.” Ucap ibu tersebut “Iya Bu, kalau begitu saya permisi dahulu,” balas Pak Mamat ==o0o==
Nama : Yasmine Adzka Sajida NIM : 2111422066 Kelompok : Luhur Uluwatu Prodi : Bahasa dan Sastra Indonesia Cerpen 1 “Etika dalam Transportasi Umum” Tugas ospek jurusan ku salah satu nya membuat cerpen tentang ‘etika’ mendengar hal itu aku jadi ingat pesan orangtua ku saat aku masih menduduki bangku sekolah menengah pertama, mereka bilang setiap orang harus memiliki sikap etika dasar seenggak-nya jika kita ingin diterima masyarakat, ku kira memang semua orang sudah paham apa itu etika dasar tapi nyata nya tidak ya, aku pernah melihat beberapa kali seseorang yang kelihatannya tidak mengerti dan tahu apa itu etika dasar di ruang umum, banyak sekali contoh nya, seperti saat ini di kereta tepat di depan ku ada seseorang yang sedang menelepon dengan suara yang sangat menggangu penumpang lainnya, mengoceh panjang lebar entah apa yang mereka bicarakan, bahkan dia juga tertawa tebahak-bahak tanpa melihat sekitar, sebelum dia menaiki kereta ini juga memang sudah terlihat ia tidak memliki ilmu apa itu etika, karena aku dan dia naik kereta di stasiun yang sama dan memasuki gerbong yang sama juga, aku lihat dia saat hendak masuk kereta ia tidak ikut meng-antre dan juga ia tidak menunggu dahulu penumpang yang ingin keluar terlebih dahulu, dia langsung menerobos pintu gerbong dan sedikit mendorong penumang lainnya, tentu saja dia mendapat teguran tapi dia bahkan terlihat tidak peduli akan hal itu. Mungkin penumpang lain sudah terasa sangat terganggu hingga menegur nya, dan reaksi dia benar-benar tidak masuk akal, dia memarahi orang yang menegur tadi, aneh sekali padahal jelas ia yang bersalah dan mungkin ada penempang lain yang melaporkan kejadian tersebut ke pihak kereta karena beberapa menit kemudian pihak dari kereta menghampiri orang itu dan menegur serta mengajak nya entah kemana, dan suasana kereta akhirnya tenang.
Cerepen 2 “Etika Dasar” Tugas ospek jurusan ku salah satu nya membuat cerpen tentang ‘etika’ mendengar hal itu aku jadi ingat pesan orangtua dan abang ku. Sore itu menjelang magrhib matahari sudah berada di ujung ufuk bersembunyi dengan cahaya jingga yang indah, aku sedang menonton TV sembari menunggu azan, abang ku duduk di sebelah ku ikut menonton acara di televisi, dengan tiba-tiba ia menceletuk “Ambilin minum dong Dek.” Aku melirik sekilas dan bergumam “Ish.” Abang ku berdecak dan kembali menyuruh ku “Ambilin sih, pelit banget.” baru hendak protes Ayah ku menghampiri kami “Pakai kata ‘tolong’ dong Mas.” Kata beliau, Abang ku yang ditegur hanya bisa cengengesan “Iyaaa Yah, Dek toloongg ya ambilin minum haus banget asli parah.” Seperti nya kalimat yang dia ucapkan sedikit hiperbola, “Iyeee, tapi bagi ya kebab nya.” Tawar ku, “Iyaa etdah cepet ambilin.” Aku segera ke dapur mengambilkan minum untuk nya. Aku kembali ke ruang tengah dan memberikan gelas berisi air mineral, “Makasihh ya.” Ujar nya, aku mengulurkan tangan ku ke depan nya, dia menaikan alis seakan tak mengingat janji “Mana ih kebab nya, bagii jangan bohong.” Ucap ku, “Yah habis gimana dong?” Kata nya yang membuat ku kesal sekali, “Ayah liat! Mas bohong ihh.” Ayah ku sedikit tertawa, “Mas jangan gitu, kamu kan udah bilang iya, udah deal sama perjanjian tadi kalau adik mu ambilin minum kamu bagi kebab nya.” Ujar Ayah ku, “Tapi beneran udah habis Yah.” Kata Abang ku sambal menenteng bungkus kebab yang memang sudah habis, Ayah ku menggeleng pelan “Loh, kalau sudah habis kok di iya-in kesepakatan nya, ga boleh gitu ya, harus tepatin janji walau hanya sepele seperti ini, gak baik loh nak kalau dibiasakan nanti kamu dikucilkan di masyarakat jikaetika dasar saja tidak kamu pakai.” Kata beliau dengan nada halus, jujur aku sangat bangga dan sayang sekali memiliki sosok ayah seperti beliau, “Hehehe iyaa Yahh siapp, yaudah Abang beliin deh, ikut ga kamu?” Tanya Abang ku, “Engga ah, Males rapih-rapih.” Aku menggeleng, “Ngapain rapih-rapih dah, beli kebab dong.” Kata nya sembari mengambil kunci motor, “Ya masa ga rapih-rapih, liat, aku cuma pake kaos dong dih, dah sana beliii.” Aku sedikit mendorong nya agar ia cepat bergerak, “Nih duit nya, sekalian beli kan adik-adik mu yang lain.” Kata Ayah ku sambal mengambilkan uang di dompet, Abang ku yang mendengar itu tentu saja ia kesenengan karena dia tak perlu mengeluarkan duit untuk menepati janji nya dan dia juga bisa membeli kebab lagi untuk nya yang kedua, aish aku mau juga kan, “Asiikk, makasiih
ya Ayahh.” Katanya, dia ambil duit itu dan tak lupa mencium tangan Ayah ku sebagai tanda hormat kami kepada yang lebih tua di keluarga kami.
Berperilaku Sopan Hidup pun Tentram Di suatu sekolah yaitu “SMP N INSAN CENDEKIA”, terdapat 3 orang sahabat yang bernama Robin, Rozi dan Farhan mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 9I. Masing masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Robin anaknya baik, ramah, cerdas dan kreatif. Rozi anaknya setia kawan, ramah, humoris dan sopan sedangkan Farhan dia mempunyai sifat agak berbeda dengan kedua sahabatnya yaitu bandel, sedikit ceroboh, terkadang cuek tetapi juga humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya mempunyai sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Seperti biasa, pagi itu Farhan sudah bangun dari tidurnya lalu sholat subuh, mandi lalu sarapan kemudian bersiap siap berangkat sekolah, Farhan hendak menggambil sepeda onthelnya yang masih berada dalam rumah dan akan berpamitan pada ibunya. “Bu, farhan mau berangkat sekolah dulu ya” teriak Farhan sambil menaiki sepedanya. “Tunggu sebentar nak” jawab ibu Farhan yang datang menghampiri anaknya. “Ada apa bu?” tanya Farhan heran. “Kamu pamitan sama ibu dengan menaiki sepeda yang masih di dalam rumah? Sungguh itu perbuatan yang tidak sopan han. Ayo turun dan keluarkan sepedamu!” perintah Ibu Farhan. “Maaf bu” sahut Farhan sambil turun dari sepedanya dan menuntunnnya keluar. “Nah seperti itu baru namanya sopan dan baik” ucap Ibu Farhan. “Iya bu. Farhan minta maaf” ucap Farhan merasa bersalah. “Ya sudah sekarang kamu berangkat nanti terlambat lho. Ingat jangan diulangi lagi ya” pesan Ibu Farhan. “Baik bu Farhan berangkat dulu, Assalamualaikum” pamit Farhan dan mencium punggung tangan ibunya. “Wa’alaikumussalam, hati-hati ya” jawab Ibu Farhan. Farhan pun segera melaju kencang menuju sekolah yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Ternyata setelah sampai di sekolah Farhan terlambat masuk kelas, dengan tergesa-gesa ia pun masuk kelas, tanpa berpikir panjang Farhan langsung masuk begitu saja, melihat itu Pak Kris yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran. “Farhan apa kamu tidak tau sopan santun?” tanya Pak Kris dengan tegas. Lama Farhan terdiam lalu menjawab “Tahu Pak”. “Kalau tahu kenapa kamu masuk tanpa salam atau ketuk pintu terlebih dahulu?” tanya Pak Kris lagi. “Maafkan saya pak” jawab Farhan takut-takut. “Sebagai hukuman kamu berdiri di depan kelas dan bacakan pembukaan UUD 1945” perintah Pak Kris dengan tegas dan galak. Tanpa banyak bicara Farhan pun langsung ke depan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Kris, dengan lancar ia membacakan pembukaan UUD 1945. Tak terasa waktu cepat berlalu bel tanda istirahat pertama pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bersorak gembira. “Baiklah anak-anak bapak sudahi pertemuan kali ini terimakasih. Assalammualaikum” ucap Pak Kris mengakhiri pelajaran. “Wa’alaikumussalam” jawab anak-anak serempak. Mereka pun berhamburan ke luar kelas,
ada yang ke kantin, kamar mandi ataupun perpustakaan. Begitupun dengan Farhan, Rozi dan Robin. “Robin, Farhan ke kantin yuk! aku lapar nih” ajak Rozi yang sudah kelaparan. Robin & Farhan mengganguk. Mereka segera menuju kantin yang jaraknya agak jauh dari kelas mereka. Sesampainya di kantin mereka duduk dan memesan makanan. Beberapa menit kemudian pesanan datang. Farhan langsung menyambar bakso yang masih panas itu. “Hati hati han nanti tersedak lho” ucap Rozi mengingatkan. “Iya, itu nggak sopan tau, kamu belum baca basmalah trus makan pakai tangan kiri lagi” sambung Robin. “Iya iya maaf habisnya lapar banget sih” kata Farhan sambil memegang sendoknya dengan tangan kanan. “Nah gitu dong kan lebih enak dipandang” ujar Rozi gembira. “Aku heran ya, hari ini aku banyak mendengar orang-orang berbicara tentang sopan, sopan dan sopan” keluh Farhan sedikit kesal. “Kamu juga sih, belakangan ini perilaku kamu kurang sopan” jelas Rozi.. “Iya, sopan itu kan penting” tambah Robin. Farhan hanya diam saja dan melanjutkan makan. Setelah mereka selesai makan dan membayar, mereka lalu kembali ke kelas, ketika di perjalanan mereka berpapasan dengan Bu Rara. “Mari bu” sapa Robin dengan sopan. “Selamat siang bu” ucap Rozi memberi salam. Bu Rara hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian berlalu.. “Eh Farhan, kenapa kamu nggak menyapa Bu Rara tadi?” tanya Rozi heran. “Aku lagi kesal dan malas menyapa, dulu aku pernah menyapa bu guru lain tapi, tak dihiraukan dan beliau berlalu begitu saja” jawab Farhan jujur. “Nggak boleh gitu han, walau mereka tidak membalas sapaan kita, setidaknya kita sudah menyapa dan berperilaku baik” kata Rozi menasehati. “Betul itu, budayakan 5S Senyum, Salam, Sapa, Sopan Dan Santun” tambah Robin. “Iya deh dari tadi aku terus yang disalahkan” ujar Farhan memasang muka cemberut. Robin dan Rozi hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala. Mereka lalu bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Lima hari pun berlalu begitu cepat tapi, sifat Farhan yang buruk masih belum hilang, sering ia ceroboh dan tidak berperilaku sopan. Pada suatu hari 3 sahabat itu berbincang-bincang di perpustakaan tentang sopan santun. “Eh, teman teman kalian tau nggak manfaat dari perilaku sopan?” tanya Rozi memulai perbincangan. “Manfaat sopan santun adalah disenangi banyak orang, menciptakan karakter yang mulia, mencerminkan sifat yang luhur, membuat kita lebih ramah pada sesama” ujar Robin penuh semangat. “Dan menjadikan kita pribadi yang baik serta mengerti adat istiadat” tambah Rozi. “Tapi teman teman bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, akhir-akhir ini aku selalu bertindak tidak sopan tanpa aku sadari. Aku ingin berubah, bagaimana kalian punya saran tidak?” keluh Farhan. Ia ingin jadi lebih baik lagi. “Memang han kalo kita belum terbiasa berprilaku sopan memang terasa sulit, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan apalagi dapat banyak pahala” kata Rozi menjelaskan. “Aku tahu bagaimana mengubah sikap burukmu itu” ujar Robin sambil tersenyum. “Aku sudah membuatkanmu gelang sopan santun” ucap Robin lalu mengeluarkan sebuah gelang dan memberikannya pada Farhan. “Gelang apa ini?” tanya Farhan sambil melihat gelang yang bertuliskan ‘sopan itu perlu’ tersebut. “Gelang itu bisa menjadi pengingat kalau kita tidak berperilaku sopan caranya sederhana kok, ketika kita
ingat bahwa kita telah melakukan hal yang tidak sopan, tarik saja gelangnya kuat-kuat lalu lepaskan dan otomatis akan mengenai tanganmu dan teras sakit jadi, gelang ini seakan-akan menghukum kita” ujar Robin menjelaskan panjang lebar. “Oh seperti itu jadi kesimpulannya jika tidak ingin sakit maka bersikaplah dengan sopan” ujar Rozi menarik kesimpulan. Robin mengganguk. “Oh begitu ya, terimakasih Robin atas pemberianmu ini, mulai besok akan kupraktikan” ucap Farhan gembira kini ia dapat melatih sikap sopan santunnya. Sejak ada gelang itu kini Farhan lebih berhati-hati dalam bertindak. Kemarin ketika ia berpapasan dengan Bu Della Farhan malah memalingkan wajah dan tidak menyapa beliau, beberapa menit kemudian ia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan, lalu ia menarik gelang pemberian Robin kuat-kuat dan melepaskannya, ia agak kesakitan. “Jika tak ingin sakit, bersikaplah sopan” ucapnya dalam hati sambil tersenyum malu. Hal tersebut Farhan lakukan berulang-ulang ketika ia berperilaku tidak baik dan sopan. 2 minggu pun berlalu, sekarang sifat buruk Farhan perlahan mulai hilang dan dia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Farhan lebih baik. “Wah han sekarang kamu berubah jadi semakin baik lho” puji Rozi. “Hehehe. Allhamdulillah ini semua juga berkat kalian dan gelang itu” jawab Farhan tersipu malu. “Berarti gelang buatanku itu manjur dong” kata Robin penuh percaya diri. “Iya, sejak ada gelang itu aku jadi lebih berhati hati dalam bertindak” ujar Farhan. “Aku juga mau, Robin masih punya gelang seperti itu?” tanya Rozi penuh harap. “Kebetulan aku bawa 2. Aku juga mau pakai, ini untukmu” ucap Robin sambil menyodorkan gelang pada Rozi. “Wah, sekarang kita seperti trio sopan santun saja” ujar Farhan gembira. “Hahaha. Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” teriak Robin penuh semangat. “Ya, karena berperilaku sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Rozi percaya diri. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun.
Manusia Beretika Oleh: Yuni Sagita 2111422051 Pagi itu beda dari hari-hari biasanya. Tidak ada langit cerah, yang ada hanya awan abuabu diatas sana. Sang mentari pun, belum menampakkan dirinya. Terlihat aspal yang nampak basah, air masih menetes disudut daun-daun. Ya, hujan cukup deras di subuh tadi, membuat manusia-manusia bergelung di bawah selimut karena dingin, dan enggan melakukan aktivitas. Namun, berbeda dengan gadis yang saat ini sedang jalan tergesa-gesa, sambil sesekali melirik arloji hitam yang terpasang di tangan kirinya. Kepala gadis itu tak henti-hentinya menengok ke kanan kiri menunggu bus yang biasa ia tumpangi ketika berangkat sekolah. Setelah perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya gadis itu sampai di depan gerbang SMA Unggul Jaya. Setelah menyapa Pak Harto yang merupakan satpam di sekolahnya, gadis bernama Halima itu segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelas. Beberapa jam kemudian, bel istirahat telah berbunyi. Para siswa-siswi langsung berhamburan keluar kelas berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sudah berbunyi. Antrean di setiap stand sudah sangat penuh membuat mereka harus lebih bersabar untuk membeli makanan, termasuk Halima dan temannya bernama Ana. Mereka saat ini sedang mengantre untuk membeli soto ayam. Namun, tiba-tiba ada seorang siswa yang menyerobot antrean mereka. "Kamu! Punya mata 'kan? sudah jelas-jelas lihat banyak yang antre, seharusnya kamu juga antre lah!" Ujar Ana dengan penuh emosi. Melihat itu membuat Halima menghela nafas, ia tau sikap siswa tadi salah, tapi seharusnya Ana tidak perlu teriak-teriak yang menyebabkan banyak mata yang memperhatikan mereka. "Na, jangan teriak-teriak," tegur Halima. "Tapi dia yang salah!" Sanggah Ana. Halima lalu menghampiri siswa tadi. "Maaf kak, kami sudah mengantre dari tadi. Jadi mohon kakak juga antre ya, kak" ujar Halima. Kemudian siswa tadi pun keluar dari antrean dan pergi meninggalkan stand itu.
Sepulang sekolah Halima dan Ana tidak langsung menuju ke rumah mereka, karena hari ini hari jumat dimana mereka pulang lebih awal dan mereka memiliki jadwal organisasi “Ayo Na, Kita harus cepat ke ruang OSIS, nanti kita telat lho," Halima menarik tangan Ana lalu mereka berjalan menuju ruang OSIS. Halima dan Ana merupakan siswi kelas XI di SMA Unggul Jaya, mereka merupakan pengurus OSIS di periode ini. Saat semuanya sudah berbondong-bondong untuk pulang ke rumah masing-masing mereka malah masih harus berada di sekolah. Ya namanya juga berorganisasi, harus siap waktu, tenaga, dan pikiran tentunya. Asal kita tidak menjadikannya sebagai beban, tentu tidak akan terasa berat. Keduanya sudah sampai di kesekretariatan OSIS, terlihat nampak banyak orang di sana. "Assalamualaikum," ujar Halima dan Ana. "Silakan masuk Halima, Ana!" Ujar seorang laki-laki bernama Agan, dia sang ketua OSIS. Saat ini OSIS SMA Unggul Jaya akan mengadakan sebuah kegiatan sosialisasi yang dilakukan di salah satu SD di kota itu. Kegiatan tersebut memang rutin dilaksanakan oleh OSIS Unggul Jaya disetiap bulannya dengan mengangkat tema yang berbeda-beda. Kali ini mereka mengangkat tema 'pentingnya etika bagi manusia', tujuannya tentu mereka ingin adik-adik yang duduk disekolah dasar bisa mengetahui hal-hal mengenai kesopan-santunan, karena pembelajaran yang dimulai dari kecil akan mudah untuk diterapkan. Halima dan teman-teman yang lain berangkat menuju SD yang menjadi tempat mereka bersosialisasi saat ini. Mereka pergi menggunakan bis sekolah. Sosialisasi berlangsung dengan lancar, materi telah diberikan dan adik-adik yang datang pun terlihat antusias, bahkan beberapa dari mereka berani mengajukan pertanyaan. "Kak, mau tanya dong," ujar peserta berbaju biru dengan kuncir dua yang terlihat lucu. "Jadi kalo kita dapat bantuan dari orang lain kita harus bilang terima kasih ya, kak?" "Iya dong, ketika kita mendapatkan bantuan dari orang lain mau itu bantuan besar atau kecil terima kasih itu kata yang nggak boleh kita tinggalkan." Ucap Halima dengan penuh penuturan. "Kalo kita salah kita juga harus minta maaf kan, kak?" Sahut peserta yang lainnya. "Benar sekali adik-adik."