The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mailil hasanah, 2023-02-03 09:51:23

ilovepdf_merged (1)_merged

ilovepdf_merged (1)_merged

PESAN MAMAH SOAL ETIKA By : Mei purweni Ditengah derasnya hujan malam, aku termenung diam mentap dinding kamar kosku. Suara gemeluruh petir dan angin menjadikan fikiranku terpusat pada bayangan orang tuaku dirumah. Sedang apa mereka, sudahkan tidur atau masih terjaga, apakah mereka makan teratur, bahagiakah mereka disana. Detik demi detik pikiranku mulai kalut, ingin rasanya pulang ke kota asal, dengan penuh kecerian setiap harinya, tiada hari tanpa sepi, dan tentunya yang paling penting masih bisa seatap dan melihat aktivitas orang tua kita. Nah kenalin aku Mei purweni, orang lain memanggilku Mei. Aku anak perempuan tunggal tanpa saudara, aku lahir dibulan mei seperti namaku, tanggal 5 dan pada tahun 2004 di kota Demak. Sekarang umurku 18 tahun, iya aku tahu umur dimana aku mulai harus merantau meninggalkan rumah untuk kuliah. Berat memang meninggalkan orang tua, terlebih aku anak tunggal yang semua orang pasti tau kalau aku manja. Kata mamahku “ nikmati saja selama kamu masih bisa, tidak semua orang bisa kuliah, dan punya kesempatan yang sama seperti kamu, bersabarlah sedikit tak apa untuk merasa kesal, nangis itu wajar, kamu tidak seperti robot yang tak memiliki perasaan”. Kata mamah apapun rintangan selama prosesku jangan sampai aku menyerah, tidak apa untuk istirahat sejenak, setelah itu bangkit dan hadapi dunia, harus sarjana dan harus bisa. Inilah awal kisah perjuanganku. Sabtu, 20 agustus 2022. Hari dimana aku meninggalkan kota kelahiranku, bersama ayah dan mamah serta tanteku yang mengantarku ke kos menaiki mobil. Tak banyak kata perpisahan, hanya saja sebuah pesan untuk selalu jaga diri, sholat tepat waktu dan berbuat baik kepada sesama. Mendengar pesan dari mamah, Aku hanya bisa menunduk tak kuasa menahan air mata yang lolos terjun membasahi pipi. Setelah semua berpamitan, aku dicium keningku oleh mamah dan ayah, rasanya tidak bisa dijelaskan bagaiman, yang aku rasa hanya sedih karna harus hidup sendiri dan mandiri di kota orang lain. Namun itulah pilihanku aku bisa karna orang tua, dan aku mampu karna mereka. Selama dikos aku mencoba berbaur dengan anak kos lainnya, dan mengajak berkenalan layaknya memang aku anak baru yang mencoba bergabung bersama mereka. Dengan senyum manis, dan tutur basa yang ramah, serta panggilan “kak” itulah caraku berkenalan. Membungkukkan badan jika lewat sambil mengucapkan permisi, menawari sesuatu kepada mereka saat makan itulah sebagian etika yang harus kujaga, karna mamah juga mengajariku layaknya seperti itu, “ harus sopan terhadap siapapun, entah itu lebih tua


dari kamu, ataupun dibawah mu, mereka sama perlu dihormati dan dihargai”, itulah kata mamahku. Selama masa kuliah aku mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran, apalagi dalam melaksanakan serangkaian ospek dan juga okpt yang bahkan memerlukan banyak kesabaran dalam menjalankannya atau juga dalam melaksanakan penugasannya, seperti ingin mengumpat dan berteriakan serta mengeluh, namun dibalik itu semua aku bisa menjalankanya. Hati boleh panas namun sikap dan lisan harus tetap dingin selaras mencerminkan kepribadian, itu lah menurtku semua tata cara berperilaku kita merupakan cerminan dari etika yang kita pelajari. Hari demi hari aku lalui, awal awal masal kuliah yang sulit buat aku beradaptasi, memulai kehidupan di lingkungan yang baru, bersama orang orang yang baru, semuanya serba baru. Awalnya aku berfikir bahwa masa kuliah akan lebih menyenangkan dari pada masa SMA, karna mungkin jadwal pembelajaran yang fleksibel, outfit untuk kuliah pun bebas, dan yang aku nantikan dari masa kuliah adalah bisa terbebas dari aturan orang tua yang sering menyuruh untuk ini itu. Namun setelah aku meraskan masa kuliah saat ini, aku salah beranggapan seperti itu, ternyata jauh dari rumah dan orang tua itu tidak enak, kita dituntut semuanya sendiri, masak, mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika, menjemur baju, semua dilakukan sendiri tidak ada yang bisa dimintai tolong. Namun terlepas dari hal tersebut, aku menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bisa merasakan apa yang dilakukan mamah menjadi ibu rumah tangga tanpa beliau mengeluh capek. Jumat tanggal 26 agustus aku memutuskan untuk pulang kerumah, setelah mata kuliah di hari Jumat selesai aku pulang bersama ayah, sebelumnya aku sudah telfon ayah untuk menjemputku pulang. Ayah menungguku di depan masjid Unnes, saat aku melihat ayah semuanya tersa lebih baik, entah karna aku terlalu rindu dengan ayah, atau mungkin aku belum melihatnya selama seminggu yang lalu. Saat perjalan pulang aku banyak cerita kehidupanku selama seminggu disini. Sampai akhirnya kita istirahat dulu untuk makan mengisi perut, aku dan ayah makan nasi goreng, selama makan ada satu kejadian yang tidak aku sangka. Saat aku makan ada sepasang kekasih makan ditempat yang sama saat aku dan ayahku makan, mereka berbincang bincang layaknya seorang kekasih pada umumnya sambil menunggu pesanannya datang. Dilihat dari penampilannya bisa dikatakan mereka orang kaya, yang entah mengapa aku juga tidak tau mereka memilih makan ditempat pinggiran


jalan, tak disangka saat makanan mereka datang dan mereka memakannya, tiba tiba sepasang kekasih yang perempuan, memutahkan nasi goreng tersebut. Aku dan ayahku hanya bisa menyaksikan karna bingun harus bersikap seperti apa. Si perempuan bilang bahwa nasi goreng punya abangnya terlalu asin dan tidak layak untuk dijual, mereka bilang untuk mengambil kembali uangnya sambil mengeluarkan nada yang tidak ramah kepada abang penjual. Setelah itu mereka pergi tanpa mengucapkan satu kata pun. Setelah kejadian itu aku dan ayah melanjutkan makan makanan kami yang mungkin sempat tertunda. Akhirnya semua selesai dan habis, ayah membayar pesanan kami dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. Tibalah dirumah aku disambut mamah, kami berpelukan layaknya seorang anak dan ibu yang berpisah lama, setelah itu aku beres beres dan membersihkan diri karena aku sampai dirumah saat malam hari. Sesudah membersihkan diri aku mengobrol dengan mamah tentang kehidupan selama kuliah dan menceritakan kejadian yang tak terduga tadi, karena aku beranggapan di dunia nyata tidak ada kejadian tersebut, hanya ada di sinetron yang mungkin itu tidak nyata. Namun asumsiku salah, justu aku melihat langsung hal yang mungkin buatku hanya ada disinetron. Aku pun sangat bersemangat menceritakan kepada mamahku sampai selesai. Dari kejadian itu mamah bilang sama aku dan berpesan, “ jika kamu tidak suka sama sesuatu jangan diomongin langsung didepan orang yang bersangkutan, sama saja kamu tidak benghargai mereka. Sama halnya kejadian yang tadi, kita tau bahwa masakan abangnya mungkin kurang pas dilidah kita, karna hal tersebut wajar seorang penjual nasi goreng pun tidak selamanya bisa memasak dengan pas, mungkin suatu waktu bisa kurang asin, atau keasinan, terlalu pedas dan masih banyak lainnya, tidak ada yang sempurna. Kita hanya bisa memanusiakan manusia dengan cara menghargai, jika tidak enak tidak usah dimakan, memang iya kita rugi karna kita beli, tapi tidak perlu tindakan memutahkan makanan dan berkoar koar minta ganti uang. Bisa saja kita menegur abangnya secara pribadi atau meminta dimasakan lagi secara baik. Tidak perlu tindakan yang berlebihan yang justru kasihan sama abang penjualnya nanti tidak ada yang mau beli dagangannya”, Itulah kata mamah. Mungkin banyak seseorang diluar sana yang tidak sadar tentang perilaku mereka, aku juga sedang belajar tidak semua yang ku lakukan terlihat baik, namun sebisa mungkin aku mengontrol tindakan ku untuk selalu berbuat dan berusaha menjadi baik, aku berharap semoga bisa dan akan selalu bisa.


Nama : Monica Zahroh Kelompok : Keraban Langit Penampilan bukan Segalanya Seorang nenek yang sedang menggandeng cucunya dengan menenteng keranjang belanjaan itu berjalan menuju kasir di supermarket yang sangat terkenal di kota. Kaki kanannya terasa sakit karena penyakit rematik, dan napasnya sesak karena terlalu lama berdiri. Dalam batinnya ia berharap segera pulang untuk meminum pil seperti biasa. “Syukurlah aku sudah pensiun beberapa tahun lalu. Jika tidak, mungkin aku akan banyak absen mengajar anak-anak karena penyakitku sekarang” pikir sesaat pensiunan guru itu. Setelah tiba di depan antrean kasir yang sangat panjang, ia melihat seorang lelaki dengan empat orang anak yang bisa dibilang usianya hanya terpaut 2 tahunan beserta istrinya yang sedang hamil. Mantan guru itu tidak dapat melepaskan pandangannya dari tato dan beberapa tindik orang itu. “Pasti ia pernah masuk penjara”, ucapnya dalam hati. Ia terus memperhatikan penampilan pria itu. Dari cara pria itu berpakaian, mantan guru tersebut menyimpulkan bahwa ia adalah seorang preman. Pandangan nenek itu tambah terperanjat ketika melihat kalung yang dikenakannya, sebuah rantai besar yang berbahan dasar titanium berwana putih dengan motif karat dibeberapa titik. Dia adalah seorang preman di tempat tinggalnya dan ditakuti orang sekitarnya. Sewaktu preman ini berjalan menuju ke antrean kasir, spontan orang-orang yang semula berbaris, mereka menepi untuk menyediakan tempat kepadanya agar antre terlebih dulu. Setelah preman tersebut berjalan menuju antrean terdepan, matanya tertuju pada mantan guru itu, dan berhenti.


“Silakan Anda lebih dulu” ucap mantan guru tersebut dengan menyodorkan tangannya untuk menyilakan. “Tidak, Anda yang harus lebih dulu” jawab lelaki yang seperti preman tersebut. “Tidak, anda membawa istri dan banyak anak, anda harus antre lebih dulu” tegas nenek paruh baya itu yang masih menggandeng cucunya. “Kami sangat menghormati orang tua, jadi Anda bisa antre di depan saya, kasian juga cucu Anda sudah terlihat mengantuk” tegas lelaki itu dengan menggerakkan tangannya yang sangat sopan agar si nenek mengambil tempat didepannya. Seulas senyuman pecah pada bibirnya ketika sang mantan guru menyetujui keinginannya. Tetapi sebagai seorang yang berjiwa guru, ia tidak dapat melewatkan kejadian luar biasa itu begitu saja. Mantan guru itu pun lalu berpaling ke belakang dan bertanya. “Anda sopan sekali… terima kasih. Sebelumnya maaf, siapa yang mengajarkan ini kepada Anda?”. Dengan tersenyum dan sikap yang sangat hormat, lelaki itu berkata, “Tentu saja Anda, Ibu Wati, 33 tahun yang lalu, sewaktu saya masih duduk di kelas tiga”. Guru pensiunan tersebut tercengang sesaat sampai akhirnya lelaki yang dipikirnya seorang preman itu tersenyum dan mengambil sikap menunduk dengan hormat kemudian pergi menuju antrean yang paling belakang diikuti anak dan istrinya.


PerihalSebuahEtika Langitmasihmendungtatkalaakududuktermenungdipinggirsebuah gubugyangterletakditengah-tengahpekarangan.Anginsepoidatangmengodaku untukterusmenetapdisini,hembusanhalusyangdatangmenerpawajahku seakanmembisikuntuktinggalsajadisiniselamanya.Minimnyarerumputantinggi sertapepohonandisekitarbaksebuahsabanamembuatanginterasaseakanakanmemelukterlaluerat.Perasaaninimenenangkan,akumenyukainya. Akupunmerebahkandirikudidalamgubugsembarimelihatkelangit,entah kenapayangtadiabu-abusekaranglangitmulaiberalihsemakinmenghitam,dan anginyangkurasamenenangkanperlahanmulaiberubahmenjadigangguan karenaterlalukencanguntukdinikmati.Bagiananehnyaadalahentahkenapaaku merasasantaisaja,tidakadatakut,tidakadacemas,justruakumerasasesuatu mungkinakanterjadisebentarlagi. “Hujanbadaikah?angintopan?atauStormlagigeludsamaJeankah? Hahaha”ucapkusembariperlahanmencobaberdiri. DUARRR!!! Pandangankuseketikaberubahmenjadiputihsemua,matakujugaterasa sangatsakitnamundisatusisijugaberangsur-angsurpulih.Perlahankubuka matakudankudapatidirikusudahberadadisuatutempatyangsangatasing bagiku,bahkansemasahidupkuakutidakpernahmenemuiruangsepertiini, bahkanuntukterpintasdipikirankusebuahruangsepertiinisajatidakpernah. Sebuahruangdenganhanyawarnaputihyangmemenuhisetiapsisinya, bahkanakusendiripuntidaktauapakahruanginimemilikisebuahsisididalamnya. Akumerasaakumenginjaksesuatusepertilantainamunketikaakumelihatke bawahsepertitidakadasesuatuyangbisadisebutpijakan,begitujugasama halnyadenganbagianatasku.Rasanyasepertiruanginisangatluastapidisatu sisijugaterasasangatsempit. TINGGG!!! Entahdarimanaataubagaimanadiadatang,namunyangjelas dibelakangkusekarangadaseoranganakkecildengantatapansepertibudhayang ketikakaumelihatnyakauakanmerasatenang.Anakkecilinisedangdudukdi sebuahkursidanadamejaperjamuanminumtehuntukukuranduaorangdi depannya.Sembarimenurunkankeduatangannyayangsedangmemegang sendokjugasebuahcangkirdiaberkata. “Duduklahdisana,akusudahmenunggumudaritadi” Akuyangkebingungandengansemuahalabsurbinihanyabisamengikuti apayangdiasuruhpadaku,singkatceritaakusudahmelakukanapayangdia suruhdansetelahitutidakadaobrolankitahanyasalingmelihatsatusamalain. Cukuplamaakuberadadimomencanggungitusampaidiatiba-tibasajaberdiri


dansedikitmembungkukanbadanpadaku,akuyangmelihatkejadianitutiba-tiba sudahtentuterkejutsampaipadaakhirnyadiapunkembaliduduksambilterus tersenyumpadaku. “Kenapa?Apakahkaumerasatidaknyamandenganetikaini?”tanyanya sambilmeminumtehnya. “A-aa-ahtidak,maafkalautidaksopanakutidakbermaksudbegituhanya sajaakusedikitterkejudkarenamelakukansalamsepertiituadalahbudayaetika darinegarasebelah” Setelahmenenggaktehitudiapunmeletakkancangkiryangdipegangdi atasmejalalukembalimenatapkearahkusembaritersenyumtipis.Seketika entahkenaparuanganyangsemulahanyaberwarnaputihitumenghilangdankita sepertiberpindahtempat,anehnyaadalahkitamelayangdiudara.Pemandangan yangterlihatdariatassiniyaituadasebuahkastilbesarberwarnaputihyang terlihatsangatmegah,begitujugadengansituasitempatdisekitaristanatersebut. Mulaidarisusunanbangunanyangterlihatsangatrapi,desainbangunanyang terlihatepik,begitujugadenganbeberapatempatyangmasihterlihatasridengan alam,tidaklupasetiapjalanannyajugabersih. Namunsayangnyasemuaituterlihatmenjaditidakterlalumenariksetelah akumelihatbagaimanaperilakuorang-orangdisekitar,banyakanak-anakmuda yangmenganiayaorangtua,orang-orangsalingtidakmenghormatisatusamalain, tidakadakepeduliankepadaorangdisekitaryangmembutuhkanbantuan,dan banyaklagi. Akupunmenolehkearahorangitudandiaternyatasedangmelihat kesekitardenganwajahyangterlihatsedih.Tidaklamakemudiandiapun menghelanafasdanmenolehkearahkukemudianberkata. “Sekaranginikauberadadiduniayangjelasberbedadenganbumi,disini jugatidaksepertinovel-novelyangkaubacadimanaadasihirnagaataumakhlukmakhlukmitoslainya,duniainisebenernyaadalahsalahsatuduniadiantara miliayaranduniayangmiripdenganbumi...” “Se-sebentar...maksudmuadalahakuberpindahdunia?”ucapkutiba-tiba sembarimenggaruk-garukkepalakarenabingung. “Yaitubenar”jawabpriaitusingkatsambilmenggangukkankepala. Situasiiniterlaluanehbagiku,terlalubanyakpertanyaanmunculdikepala begitujugainformasiyangmasuk. “Haaaaah......baiklah,sebelumnyamaafkarenasudahmemotong pembicaraan,kaubisalanjutkan” “BumidisinidipanggildengansebutanMysvia,samasepertibumitempat kautinggalhanyasajaperbedaannyaadalahditempatinisepertidiabad pertengahan,danyasepertiyangkaulihat,dibumiinimerekatidakmengenalapa ituetika”


“Yaa...sesakmelihatnya” “Begitulah,dantujuankudisiniadalahakuinginkaumembantukuuntuk mengajariapaituetikakepadamerekasecaralangsung,dankaunantiakan terlahirkembalimenjadiputramahkotadarikerajaanini,sungguhironimelihat duniayangsangatmenawanininamuntertutupiolehsikapmerekayangbar-bar jugase-enaknyasendiri” “Baiklahsejujurnyaakujugabukantipeorangyangsukaberbasa-basi” “Kurasapilihankumemangtepatkarenasudahmemilihmu,baiklahkalau begitukauakankukirimsekarang”ucappriaitusembarimenjentikkanjarinya. Seketikasemuanyamenjadigelap,dantidaklamasetelahituakuperlahan membukamatakudanyangpertamakulihatadalahatapkamaryangasingdengan lukisanperempuanyangterlihatanehjugamempesonadiwaktuyangsama. Akupunberdiridanmelihatkearahcermin,kulihatbahwainisudahbukantubuhku samasekali.Sepertinyaakusudahbereinkarnasidengansukses. Dansingkatceritakumulailahperjalankuuntukmengajariapaituetika dimulaidarikeluargakuterlebihdahulu,awalnyamemangtidakmudahnamun padaakhirnyaakuberhasilkarenayaakuadalahanakkesayangankeduaorang tuaku.Setelahitu,kulanjutkandenganorang-orangdiistanamulaidaripelayan, pegawai,pejabat,sampaikeprajurit.Semuanyaberjalanlancarkarenayasekali akuakuadalahseorangpangeranmahkota,namunakujugabersyukurkarena ternyatamerekamenerimaajarankudanbeberapabahkanturutmembantu mangajarietikakepadapenduduk. Ajaranintiyangkuajarkanpadamerekaadalahuntukmununjukkansikap hormatkepadaoranglain,tidakmemandangrendahoranglain,berperilakusopan, menghargaiperbedaanpendapat,salingmembantusatusamalain. Satudekadepunberlaludanakhirnyaakumelakukanupacarakenaikan tahtakarenaprestasikumembuattingkatketentramansertakemakmurandi kerajaanitubertingkatpesat.Semuasudahkudapatkanhanyabermodalkanetika, harta,tahta,pendudukanyanghormatpadaku,hidupkusudahsempurnasekarang. “Heng,heng,heng....hengky!” Akumendengaradaseseorangyangmemanggilnamaku,perlahankubuka mataberatkuperlahandankulihatkeduaorangtuakusedangmenangissembari terusmemanggilnamaku.Entahkenapamatainiterlaluberatuntukkubuka,dan perlahanmatakukembalitertutupbahkanakusudahtidakbisalagimendengar suarayangadadisekitarku.Akupunterpejam. _____ “Turutberdukacitayabu,semogaanakibuamalibadahnyaditerimadisisi Tuhansecarakamijugamengetahuibahwaanakibujugamemilikietikayangbaik diantaraanak-anakseumurannya,diapastisudahlebihbahagiabudisurgasana”


JANGAN TINGGI Nadine dan Marine adalah sepasang sahabat yang selalu bersama. Jalan takdir persahabatan mereka selalu indah dan mereka telah bersama sedari kecil. Namun, untuk takdir kehidupan mereka. Nadine terlahir dari keluarga yang kaya sedangkan Marine terlahir dari keluarga yang serba kekurangan. Dengan ada perbedaan tersebut tidak membuat persahabatan mereka retak, tidak dengan Nadine yang malu akan status sosial Marine ataupun tidak dengan Marine yang merasa tidak percaya diri dengan Nadine, mereka bersahabat dengan tulus. Suatu hari Nadine mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang banyak pikiran. Dengan rasa khawatir Nadine, Ia pun segera menghampiri Marine dan bertanya, "Ada apa kamu ini, Rin? Ada masalah? Coba cerita sama aku sini". Marine pun menjawab, "Aku mumet Din. Bener-bener mumet sekarang. Bulan ini aku nunggak lagi, dan kata Pak Bejo kalau aku gak segera membayar aku gak bakal ikut ujian. Tapi, jika meminta uang pada orang tuaku, aku gak tega. Apalagi Bapak sedang sakit butuh uang buat berobat". Ingin Nadine merespon hal itu, Marine sudah memotongnya dengan berkata, "Gak lagi Rin, aku udah berulang kali kamu bantu. Aku belum bisa mengembalikannya, walaupun kamu ikhlas dengan itu tapi aku enggak. Aku tetap ada rasa tidak enak Rin, tolong paham posisiku ya? Aku mau mencoba cara lain, bekerja misalnya, tapi aku masih bingung dimana harus memulai" Nadine yang mendengar itu tidak bisa berkata lagi dan hanya menatap prihatin sahabatnya. Hingga tibatiba ide terlintas di otak Nadine, dan dia langsung berseru, "Bagaimana kalau kamu bikin konten saja!" "Tunggu, apa? Konten?", tanya Marine. "Iya! Konten! Kamu kan pintar bagaimana kalau kamu membuat konten seperti memberi informasi begitu. Sekarang konten seperti itu cepat trending, nanti saat kamu berhasil, kamu nanti dapat penghasilan dari kontenmu itu" jawab Nadine. Marine pun yang mendengar penjelasan itu menyetujuinya. Nadine pun membantu Marine yang akan membuat konten. Hingga akhirnya Marine mendapat popularitas dari hasil kontennya. Kehidupannya dan kepribadiannya berubah mendalam semalam. Marine lebih sering bermain handphone ketimbang belajar, dan saat di tegur oleh guru atau orang tuanya dia akan berbalik marah. Tidak cukup dia juga berlaku seenaknya kepada teman maupun orang-orang disekitarnya.


Hingga, suatu hari, Marine mendapat komentar kebencian karena perilaku yang buruk itu, karena perilakunya yang tidak memiliki etika. Nadine dengan cepat memberikan pemenangan untuk Marine,”Marine, setiap orang memiliki waktu baik dan buruk. Mungkin kemarin waktu baiknya, tapi kamu tidak memanfaatkannya dengan baik. Jadi mari kita perbaiki”. Marine pun mendengarkan saran Marine dan mencoba meminta maaf pada publik dan orang-orang yang sudah tersakiti karena perilakunya. “Terimakasih Nadine, kamu tetap jadi sahabatku dan selalu berjalan disampingku” ucap Marine. Nadine yang mendengar itu menjawabnya dengan sedikit ambigu, “Tidak apa, bukan masalah besar.Hidup memang sepeti itu asal kamu tahu”


BAYANG BULAN Malam yang dingin dan sunyi. Hanya ada lampu jalan, kerlip bintang, dan sinar bulan purnama. Mereka mengubah malam yang gelap menjadi angkasa yang terang. Kepalaku tak kunjung tunduk, pandanganku tak pernah bosan berkeliling melihat-lihat keadaan langit di malam itu. Damai sekali rasanya, sambil menikmati teh hangat di pangkuan nenekku. Hingga suatu saat ada sesuatu yang mengusik pikiranku pandanganku tertuju pada bulan purnama besar yang bulatnya amat sempurna. Aku melihat dengan serius apa benda hitam didalam bulan tersebut, rasa penasaranku membuatku bertanya kepada nenekku “nek, nenek lihat bulan itu?” tunjukku mengarah pada bulan purnama “iya kenapa? Cantik bukan?” kata nenekku sambil mendekapku. “cantik sekali namun apa bayangan hitam di tengah itu? Sangat mengganggu” masih menunjuk pada bulan. “justru itu malah memperindahnya nak, bulan akan terlihat sepi jika tak ada bayangan hitam tersebut” jawab nenekku. “tapi apa kau tahu? Ada sebuah cerita mengerikan dibalik bayangan tersebut” sambung nenekku. “apa nek?” kata sambil menoleh pada nenek. Nenekku pun diam sejenak sambil memasang senyum tipis melihat bulan, dan mulai bercerita. Dahulu kala disuatu pelosok daerah, terbangun sebuah desa terpencil yang letaknya lumayan jauh dengan kota. Penduduknya harus pergi atau mengirim sesuatu yang dapat dijual ke kota guna memperoleh uang. Kehidupan disana tergolong sulit maka dari itu sebagian besar warganya berekonomi kelas bawah. Di desa tersebut ada satu anak laki-laki yang mencuri perhatian warga karena kenakalannya yang tak terobati. Ia bernama Lan, seorang anak 12 tahun yatim piatu yang tinggal dengan paman bibinya. Kenakalannya yang sering berbual dan berbicara besar mengganggu banyak orang hingga ia tidak mempunyai teman.


Lan merupakan seorang anak yang tak punya etika, dia selalu berbohong pada siapapun dan setiap waktu, baik kepada temannya maupun orang yang lebih tua darinya. Kedua orang tuanya meninggal dunia sejak ia masih balita. Tak terbayang ia hidup tanpa tahu bagaimana wajah ayah ibunya dan tanpa merasakan kasih sayang kedua orang tua, ditambah lagi hari-hari yang ia lewati tanpa teman. Tapi lan tetap ceria menjalani hari-harinya dengan bahagia seolah-olah hal tersebut bukan masalah besar untuknya. Paman dan bibi lan membesarkannya dan mereka membiarkan lan bermain apapun yang ia sukai selama seharian penuh. Tapi semenjak pamannya megalami cedera patah tulang di kaki, paman-bibinya mewajibkan lan untuk mencari kayu bakar dipinggir hutan setiap jam 2 siang sampai pamannya sembuh dan bisa melakukan aktivitas pada biasanya. Lan merupakan anak yang patuh ia pun melaksanakannya tanpa keberatan justru dengan itulah dia bisa bermain atau menjahili beberapa burung dan kera di hutan tersebut. Setiap jam 2 siang, lan berangkat untuk mencari kayu bakar dan pulang saat jam setengah 4 sore walaupun kayu yang ia kumpulkan kecil-kecil namun ia selalu membawa kayu yang banyak. Setiap hari, lan-lah yang mengumpulkan kayu bakar untuk keperluan rumah. Kemampuan lan mencari kayu bakar bahkan lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan pamannya mungkin karena lan anak yang sangat lincah. “bagaimana bisa kamu mengumpulkan kayu bakar secepat dan sebanyak ini? apa dipinggir hutan tidak kehabisan kayu karena diperebutkan banyak warga juga?” tanya paman lan yang puas dengan kerja lan. “sebenarnya paman, aku tidak hanya mencari kayu di pinggir hutan saja karena disana banyak orang juga mengambilnya lagipula kayu dipinggir hutan besar-besar aku tidak kuat jika mengangkatnya jadi aku sedikit masuk kedalam hutan untuk mencari kayu bakar lebih kecil dan lebih banyak, hehe” jawab lan dengan menggaruk rambutnya. “kalo cari kayu bakar jangan jauh-jauh, bahaya lan” kata bibi menyambar setelah mendengar ucapan lan. “iya bi tidak jauh kok, aku juga hafal jalan” ujar lan. Hari semakin gelap bibi menggunakan kayu bakar yang terkumpul untuk memasak makanan. Saat keluarga itu mulai makan malam, lan mulai membual


“paman, bibi tau tidak tadi aku bertemu dengan pohon yang bisa berbicara katanya dia bisa mengobati penyakit......” “sudahlah diam jangan berbohong terus itu menyebalkan” ujar paman memotong perkataan lan. Lan pun sebenarnya sudah tahu kalau dia berbohong tapi ia tetap saja mengatakannya kepada orang-orang tentang cerita bohong yang entah apa tujuannya. Berbohong sudah menjadi kebiasaan lan sejak dulu dan berlanjut sampai sekarang. Sungguh kebiasaan yang sulit dihilangkan. Tetangga sudah sering menegur paman dan bibi lan agar memarahinya namun paman bibi nya tidak menghiraukan, mereka berpikir lan melakukan hal itu karena lan masih kecil nanti kalau sudah dewasa akan berubah dengan sendirinya jadi mereka tidak pernah marah kepada lan akan hal itu. Tapi siapa sangka hal tersebut akan menjadi nasib buruk pada lan sendiri nantinya. Keesokan harinya matahari terbit tertutup awan hitam, cuacanya juga dingin tak seperti biasa dan disisi lain angin kencang menggoyangkan pepohonan dan merobohkan tanaman para petani. Pagi yang seharusnya dilakukan para penduduk untuk beraktivitas, hari ini mereka harus berdiam di dalam rumah menunggu badai ini selesai. Syukurlah belum sampai siang badai sudah berhenti. Badai berlalu dengan cepat jadi tidak banyak kerugian yang ditanggung warga akibat kerusakan tanaman pangan. Kini warga mulai keluar memeriksa apa saja yang harus diperbaiki. Saat semuannya sudah stabil, desa tersebut mulai berjalan dengan normal seperti hari-hari sebelumnya. Lan pun juga mulai bermain dan berjalan-jalan mengelilingi desa sambil membagi cerita bohong yang berkaitan dengan angin kencang yang terjadi tadi kepada semua orang yang ia temui. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang dan lan pun tak lupa melaksanakan tugasnya. Ia segera menuju hutan, lan terkejud dengan kondisi hutan yang berantakan tapi itu suatu keberuntungan karena tanpa dicari ranting dan kayu sudah banyak berserakan didepan mata. Tanpa sadar lan mulai masuk kedalam hutan saat mengikuti arah jatuhnya kayu-kayu. Ia baru sadar saat ia mendengar suatu suara. Lan langsung bersembunyi di semak-semak yang ada didepan-nya karena takut jika suara itu adalah suara hewan buas. Ia sedikit mengintip di sela-sela semak untuk memastikan suara apa yang ada didekatnya. Dari dalam semak, lan melihat seekor anak rusa dan induknya yang sedang tertidur. Tentu saja lan lega itu hanya seekor rusa. Belum sempat lan bangun dari semak, ia melihat seekor rusa yang memakan daun beringin mude. Melihat hal itu lan jadi punya ide untuk kebohongan yang selanjutnya. Ia kemudian mencabut anakan


pohon beringin yang masih kecil dan membawanya pulang. Karena lan tidak kuat mengangkat semua kayu bakar dan anakan beringin dengan bersamaan, akhirnya kayu bakar pun ditinggal begitu saja. Hari ini adalah hari pertama kali lan pulang terlambat sekaligus tidak menaati peraturan paman bibinya dengan tidak membawa pulang kayu bakar padahal kayu bakar adalah hal penting bagi mereka. alhasil paman marah “kenapa kau pulang lama sekali jika tidak bawa kayu bakar?!” teriak paman. “sudahlah ini baru pertama kali jadi maafkan saja, lagipula dia mebawa kayu beringin kita bisa menjadikan itu bahan bakar pawon juga” bela bibi kepada lan. Tapi lan menolak apa yang dikatakan bibinya. Ia ingin menanam dan merawat beringin itu sampai besar. Mendengar itu paman lan bertambah marah. “apa untungnya kita jika menanam pohon itu? beringin hanya akan mempersingup halaman saja!!” ujar paman dengan nada tinggi. Tanpa berpikir terlebih dahulu, lan berkata jika beringin itu besar ia bisa terbang. Mungkin dia mengatakan itu untuk membela dirinya, namun apa yang di ucapkan lan sungguh tak masuk akal dan mebuat paman dan bibinya semakin jengkel. Lan tetap menanam beringin itu sampai pohon itu besar. Paman dan bibi yang tau halitu kemudian membuang sampah setiap harinya tepat ditempat lan menanam pohon itu. Lan kesal akhirnya sampah-sampah dipohon itu dibawa lan dan diletakkan di kamar paman, bibinya. Dari kejadian ini lah ada pertengkaran hebat, anak laki-laki yang dulu di besarkan sekarang mulai kurang ajar. Keluarga itu saling tidak berbicara satu sama lain sampai tanpa sadar pohonya mulai bertumbuh besar. Suatu Saat lan sedang duduk di teras tengah malam memandangi pohonnya. Lan berpikir tindakannya dulu salah dan besok akan meminta maaf dan berdamai dengan paman bibinya karena kebohongannya yang sangat konyol dan tidak ada gunanya. Tapi belum selesai lan berpikir, tiba-tiba tanahnya bergetar lan pikir itu gempa tapi setelah diperhatikan getaran ini berasal dari beringin didepan lan. Sedikit demi sedikit pohon beringin terlihat semakin terangkat tercabut dari akarnya dan mulai terbang keatas persis seperti ucapan lan dulu. Melihat itu, lan pun segera memeggang akarnya dan mencoba menariknya. Tapi pohon itu-lah yang justru ikut menarik lan keatas, tangan lan tidak bisa lepas dari akar setelah menyentuhnya.


Terbanglah lan beserta pohon beringin miliknya sampai ke bulan. Ia seorang diri tanpa siapa yang menemaninya. “oleh karena itu-lah jika kita perhatikan lebih cermat, bayang bulan itu membentuk seorang anak yang sedang duduk di pohon beringin sendirian” kata nenek mengakhiri ceritanya. “wahhh...kasihan juga ya nek” jawabku terkesan dengan dongeng nenek. “memang kasihan, ingat nak ucapan adalah doa dan tuhan bisa saja mengabulkannya jadi bicara lah yang baik sekalipun itu bercanda. Penyesalan itu tempatnya diakhir dan belum tentu besok kita punya waktu untuk meperbaikinya” kata nenek sambil mengelus rambutku. “iya nek, tapi jika suatu saat aku berbuat salah namun aku tidak sadar, tegur aku ya nek jangan seperti paman bibi lan yang mengabaikannya. Tapi juga jangan galak ya nek, hehe” kataku kepada nenek. Kemudian nenek mencubit pipi ku sambil berkata “sudahlah ayo tidur di kamar yang lebih hangat”. Kemudian nenekku pun menidurkanku. Sampai saat ini ceritanya akan selalu ku ingat untuk pelajaran hidupku.


Nama : Nadya Ihsanita NIM : 211142203 JARIMU HARIMAUMU Siang itu Gala mengisi jam istirahatnya dengan menyantap mie instan yang ditemani sebotol teh botol di kantin sekolahnya. Berbagai aplikasi media sosial pun dibukanya. Saking asyiknya bermedsos, Gala sampai tidak sadar kalau teh botol yang ditenggaknya ternyata sudah kosong. Tepatnya, ketika botol plastik itu diarahkan ke mulutnya dengan posisi lebih menukik, tapi air teh itu tak kunjung membasahi tenggorokannya. “Bi, pesan teh botol satu lagi!” Terdengar suara Gala menyampaikan request. Pesan yang terlempar hanya dari jarak empat meter itu terdengar cukup jelas oleh Riri, bibi penjaga kantin sekolah. “Ya, Gala. Tunggu sebentar,” sahut Bi Riri yang telah mengenal Gala meski dia tergolong siswa baru, kelas X di sekolah ini. Gayanya yang ceria dan selalu nongkrong di kantin di setiap jam istirahat, membuat bibi itu cepat mengenalinya. Bibi itu kemudian meminta Gala sedikit bersabar. Dia harus lebih dulu menyelesaikan pemesanan siswa lainnya yang telah lama mengantri. Gala memaklumi penundaan pesanan teh botolnya itu. “Braaakk!” Tiba-tiba meja tempat dia nongkrong digebrak oleh seseorang yang seakanakan dikawal oleh empat orang temannya. Hingga mangkuk wadah mie yang sudah kosong di hadapannya jatuh dan pecah berantakan. Siswa lain yang sedang berada di kantin itu ikut terkejut. Tidak mau menimbrung pada persoalan yang tidak mereka ketahui. Di tengah keterkejutannya, Gala masih sempat hendak beranjak memunguti pecahan beling mangkuk itu. Sebab, sosok laki-laki yang menggebrak meja itu telah lebih dulu menarik krah bajunya. Kenapa kau tiba-tiba berbuat kasar seperti ini?”, tanya Gala yang sudah kembali duduk dan kali ini dikelilingi oleh empat orang yang belum dikenalnya itu. Tapi dari pandangan sekilas pada emblem yang menempel dibajunya, dia tahu kalau mereka masih satu sekolah dengannya. “Gala. Kau telah mempermalukan kami di jagad maya!” Sosok yang telah menggebarak meja dan menarik krah baju itu terlihat sangat marah. Mereka kompak memelototkan mata yang mulai memerah ke muka Gala. Aku merasa tak pernah mempermalukan kalian,” sahut Gala mencoba menenangkan suasana.


Dia juga masih ingin tahu kenapa dia dituduh seperti itu oleh sosok yang dari bed namanya diketahui bernama Xander ini. “Terus, apa hubungannya dengan aku,” timpal Gala ringan. Tanpa disadari Gala, tanggapan ringannya ini justru meninggikan tensi Xander dan temannya. “Bahkan ketika kami menyuruhmu menghapus coment itu, kau tetap tak mau menghapusnya,” sergah teman lainnya, Xavier, sembari menunjukkan bagian screenshot yang telah dilingkari, tempat mereka memberikan perintah menghapus itu. “Kenapa aku tak mau menghapus, itu karena tak ada yang salah dengan komenku. Aku hanya bicara soal generasi micin, yang menurutku, suka menganggap hal yang biasa sebagai suatu yang luar biasa. Lagian di situ tidak ada satu kata pun yang menyebut nama, tim futsal, atau kelas kalian. ” Gala mencoba menetralisir tuduhan. Bahkan lebih separuh orang yang komentar di wall ini juga menyesalkan komentarmu. ” Kini giliran Alvaro membenamkan Gala pada kesalahannya. Mereka seketika mengeroyok Gala. Meski sempat bertahan, Gala akhirnya tak mampu jua menahan amarah mereka. Gala terus diserang. Untuk menghalau serangan yang membuat posisinya semakin terjepit itu, Gala membalikkan meja kantin. Saat itu juga, siswanya yang terlibat perkelahian itu langsung dibawa ke ruangan wakil kepala sekolah. Pak Evan ingin tahu apa yang menyebabkan mereka terlibat perkelahian. Untuk itu, kedua pihak yang bertikai diminta menjelaskan penyebab itu sesuai versi masing-masing. “Anak-anakku, perkelahian itu bukanlah perbuatan yang baik. Baik Gala ataupun Xander dan kawan-kawannya, hanya bisa menunduk di hadapan sosok Pak Evan yang memang selama ini terkenal sangat disegani oleh para guru dan siswa di sekolah ini. Sikap yang sama juga mereka tampilkan ketika beliau mencoba mengurai masalah yang telah menyebabkan perselisihan di antara mereka. Sebab, mereka merasa telah dipermalukan di medsos yang sebarannya sangat luas itu. Hanya saja, sikap reaktif yang diwujudkan dengan cara kekerasan tidaklah tepat. Terlebih, yang jadi objek sasarannya terbilang masih orang sendiri bahkan masih satu sekolah. Sementara kepada Gala, ujar Pak Evan lebih lanjut, sikapnya yang bersikukuh bahwa tidak ada yang salah dalam komentarnya dapat dimaklumi. Namun, Gala dinilai telah mengabaikan ketentuan tak tertulis bahwa ketika sebuah status atau komentar di-publish ke media sosial, maka yang berhak menilai adalah para


pembacanya, bukan dirinya. “Dalam undang-undang ini ada lima pasal yang mengatur etika bermedia sosial, yaitu pasal 27 hingga pasal 30,” tegasnya. Dia menjelaskan lebih lanjut, Pasal 27 memuat ketentuan penyebaran informasi dan atau dokumen elektronik yang melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan dan atau pencemaran nama baik, pemerasan dan atau pengancaman. Lalu, pasal 28, memuat ketentuan penyebaran berita bohong yang merugikan konsumen dalam transaksi elektronik, menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan . Pasal 29 memuat ketentuan pengiriman informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi. “Selanjutnya, Pasal 45 menegaskan sanksi yang bakal diterima bagi para pelanggar ketentuan sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 27 undang-undang ITE,” jelasnya. Siapa pun yang melanggar kesusilaan, sebut Pak Evan, diancam pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar. Dia menambahkan, untuk penyebar berita bohong dan menyesatkan yang merugikan konsumen diancam pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar. Sedangkan untuk yang menyebarkan kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA, dipidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 miliar. Melihat besarnya ancaman pidana itu, beliau pun berharap para pengguna media sosial untuk pandai memilah hal-hal yang akan diunggah. Paparan panjang lebar soal etika bermedsos itu mampu mencerahkan pikiran Gala, Xander, dan yang lainnya. Kami juga akan lebih bijak dalam bermedsos,” ujar Gala mewakili teman-temannya, yang langsung diikuti pamit mereka untuk meninggalkan ruang wakil kepala sekolah siang itu.


Utamakan Kejujuran Setiap hari ahad pagi, Bagas selalu pergi jalan - jalan ke daerah Mangunsarkoro bersama Reni, Rana dan Ridwan, karena mereka menghadiri event foodstreet yang diadakan oleh daerah tersebut. Sudah menjadi kebiasaan jika setelah berjalan dari ujung ke ujung mereka bertiga akan mampir ke kedainya bu Dewi. Pada saat itu, mereka berempat melihat seorang anak dengan tingkah yang mencurigakan. “Kalian lihat anak itu, mau apa ya?” Ujar Reni. Rana pun berpendapat “Mungkin mau mencuri”. Bagas pun menegur kedua temannya yang sembarang menuduh tanpa bukti. Mereka berempat pun duduk ke dalam kedai bu Dewi. Ternyata dugaan Reni salah, anak tersebut sedang bermain petak umpet dengan temannya. Anak laki-laki tersebut hampir ketahuan dan dia pun berlari ke dalam warung. Sangat disayangkan tanpa sengaja dia menyenggol gelas yang ada di atas meja dan menyebabkan jatuh hingga pecah. Sontak saja, bu Dewi dan suami pun kaget. “Siapa yang mecahin gelas?” Teriak suami bu Dewi. Suami bu Dewi yang terkenal galak membuat orang-orang diam dan tidak ada yang mengaku. Reni pun mengatakan siapa pelaku sebenarnya. Akan tetapi pelaku tidak mau mengakuinya dan menyalahkan Reni dan teman-temannya karena dia menabraknya. Merasa temannya tidak bersalah, Bagas berserta kedua teman yang lain bersikukuh jika Reni tidak menabrak anak itu. Kemudian secara tiba-tiba ada salah satu pembeli yang melihat kejadian dan menyatakan kejadian yang sebenarnya. “Pemuda itu tidak menabrak anak tersebut Pak. Anak tersebut lari kemudian menyenggol gelas yang ada di atas meja hingga gelas tersebut jatuh dan pecah” Jelas pembeli. Akhirnya anak laki-laki tersebut pun mengaku jika dialah yang memecahkan gelas tersebut. Dia mengaku salah dan meminta maaf kepada semuanya karena telah berbohong atas kejadian yang menimpanya.


Bu Dewi dan suami pun berkata: “Ya sudah tidak apa-apa nak. Lain kali jangan berbohong lagi ya. Selalu utamakan kejujuran dimanapun tempatnya.”


Jangan Pandang Umur untuk Beretika Ninda Alifa “Eh, lo adiknya Nanta kan?” Aku mendongak menatap segerombolan kakak kelas yang datang kearah mejaku. Kuhentikan sejenak kegiatanku menyalin tulisan di papan tulis untuk berdiri mensejajarkan diri dengan para gerombolan kakak kelas ini. Kalau kuhitung mereka berjumlah sekitar 5 orang yang 1 berdiri ditengah dengan kedua tangan melipat didepan dada. “Ada apa ya kak?” Tanyaku dengan lembut. Beberapa murid dikelas menatap kami, mungkin sedikit asing dengan kehadiran kakak-kakak kelas ini. “Kalau ditanya tuh jawab, bukan balik nanya!” Ucap kakak kelas yang lain dengan nada tinggi. Aku diam tak menanggapi, karena jujur sedikit bingung dengan jawaban yang harus aku berikan. Salah satu dari mereka memberiku sebuah bingkisan yang terbungkus didalam paperbag, “Nih, kasih ke abang lo, bilangin dari Naera, ceweknya,” Aku menerima bingkisan paperbag berwarna coklathitam itu. Ohh...ini cewenya aa nanta, ga sopan, bintang satu. Batinku menatap orang yang disebut kak Naera itu. Mereka pun mulai pergi keluar kelasku tanpa mengucap terima kasih. Oke, akan aku maafkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB dan aku baru saja sampai rumah, “Assalamualaikum, Ninda pulang!” Aku mulai melangkah menuju kamar yang tentu saja akan berpapasan dengan kamar abangku, Aa’ Nanta. “A’, nih dapat titipan dari ayang tercintaaaa...” Ucapku masuk kekamar abangku yang sedang sibuk didepan sebuah komputer besar, apalagi yang akan dia lakukan kecuai bermain game. Sudah selama seminggu abangku ini nganggur dirumah karena mendapatkan skors dari sekolah. Dia yang mendengar suaraku pun menoleh tak lama kembali fokus pada komputernya. “Ayang yang mana?” Celetuknya dengan nada bercanda. Aku pun menanggapinya dengan tawa garingku, “Elah A’, serius nih ambi!” Ucapku menyerahkan bingkisan titipan tadi. Melihat abangku yang lebih fokus dengan gamenya itu, aku berjalan mendekatinya lalu duduk ditepi kasurnya tepat dibelakang kursi gamenya. “Berat gak dek?” Celetuk abangku lagi memutar kursi gamenya menatapku, kulirik komputernya sudah dalam keadaan mati. “Lumayan sih, ada apa kok pakai acara kado-kadoan segala, Aa’ gak lagi ultah kan?” Tanyaku, Abangku sedikit tertawa kemudian meraih paperbag ditanganku, “Anak kecil gak boleh kepo!” Aku mendelik kemudian bangkit dari duduk untuk pergi kekamarku, namun suara abangku menghentikan langkahku, “Besok hari sabtu kamu libur kan? Bisa minta tolong temenin pacar Aa’?”


“Kenapa aku? Kenapa gak Aa’ aja? Terus emang temenin ngapain? Gak mau ahh...” Tolakku berbalik badan menatap abangku kembali. “Lah-lah belum dikasih jawaban udah gak mau aja, dengerin dulu, besok abang ada ekstra, meski diskors harus tetap masuk ekstra. Nah kamu kan free nih, temenin dia belanja baju, tadi juga udah Aa’ tanyain ke dia, dia ga keberatan kok kalo kamu yang nemenin,” “Dia emang gak keberatan, tapi aku yang keberatan Aa...” Ucapku terus menolak. Abangku berdiri dari duduknya, “Alasan kamu keberatan itu apa?” “Aku gak suka sama dia, etika nya nol!” Ucapku ceplos, toh itu benar. Lihat saja tadi siang saat dia meminta bantuanku dengan intonasi tinggi bahkan pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Abangku terdiam sebentar, “Iya, abang tau, makanya abang butuh kamu,” “Apa hubungannya sama aku?!” Sungguh, jika disuruh untuk menemui kembali orang seperti itu, aku gak mau. “Dia yatim piatu sejak lahir, dia besar di panti asuhan dan saat SD dia diadopsi salah satu keluarga. Tapi dia malah dapat perlakuan kasar dari keluarga itu. Saat kedua orang tua angkatnya bercerai dia mulai gak diurusi. Dia gak punya contoh baik untuk dia contoh, ini alasan abang butuh kamu,” Aku terdiam, “Tolong ingatkan dia saat dia salah,” Keesokan harinya tepat pukul 10.00, aku dan kak Naera sudah berada di pasar. Sejak awal dari rumah bahkan dikendaraan dan sampai pasar kita tidak mengobrol sama sekali. Karena dia selalu fokus dengan ponselnya jadi kupikir dia sedang sibuk, makanya tidak aku ajak bicara. BRUK.... Suara berasal dari gerobak seorang kakek yang tidak sengaja bersenggolan dengan tubuh kak Naera dan membuat gerobak itu jatuh. “Aduh gimana sih pak! Punya mata gak sih?!” Geram kak Naera dengan intonasi tinggi. Dari yang kulihat ini sebenarnya salah kak Naera, karena dia berjalan sambil bermain hp, apalagi jalan pasar ini cukup sempit. Arah jalannya serong kekiri sampai tanpa sadar menabrak gerobak kakek tadi. Tidak sedikit orang yang kini malah mengerumuni kak Naera dengan kakek tadi, apalagi dengan suara kak Naera yang keras yang malah semakin menarik perhatian khalayak. “Punya mata gak sih kek? Nanti kalo sampai badan aku lecet gimana? Kakek mau tanggung jawab?” Aku membantu kakek tadi untuk berdiri, kemduian membopangnya untuk duduk ditepi. “Maaf ya neng, mata kakek sudah tidak sehat,” lirih suara kakek itu. Kulihat lutut kakeknya sedikit mengeluarkan darah. “MAAF-MAAF DOANG GAK CUKUP!” Teriak kak Naera lebih keras. “Kak Naera stop!” Hentiku sebelum kak Naera berkata kasar lagi.


Beberapa orang pun mulai membantu kakek itu untuk berdiri dan pergi kerumah sakit terdekat untuk diobati lukanya. Aku berjalan mendekat ke arah kak Naera dan membopongnya menuju tempat duduk. “Nah, ini neng buat ngobatin luka temannya,” Ucap salah satu ibu-ibu kearah kami sambil menyerahkan botol obat merah. Aku baru sadar kalau ternyata kak Naera juga terluka diabgian siku tangan kanannya. “Terima kasih bu!” Ucapku, kemudian memakaikan obat merah itu kepada kak Naera. “Kak, kakak tau gak apa hal paling penting yang harus dimiliki seseorang didunia ini?” Tanyaku seraya mengoleskan obat merah. Kak Naera menatapku diam. “Etika,” Sambungku, karena tak kunjung mendapat jawaban dari kak Naera. ‘Etika?” Tanya kak Naera. Aku membalasnya dengan anggukan. “Kakak tadi gak merasa dilihat orang-orang dengan tatapan tidak suka karena kakak berkata kasar dengan kakek tadi?” “Lah? Gue gaksalah dong, jelas-jelas dia nabrak gue!” Sewot kak Naera. “Iya, aku tau, tapi kalian sama-sama korban, apalagi tadi yang kakak ajak bicara itu orang tua,” ‘Bodoamat, ,mau orang tua mau orang muda, kalo salah ya harus dimarahin!” Aku paham, kak Naera tidak terbiasa menunjukkan etikanya karena kurangnya kasih sayang dari orang tua dan salahnya memilih pergaulan. Aku meraih tangan kak Naera untuk aku genggam. “Kak, beretika dan sopan santun itu tidak memandang salah benarnya seseorang, Hal itu berlaku untuk semua orang kak, emang kakak tega kalau ternyata orang tau kakak juga di seperti itukan dengan orang lain? Diperlakui kasar bahkan didepan umum dan ditonton banyak orang, kakak gak mau kan hal itu terjadi pada orang tua kakak? Sopan santun juga bukan hanya dengan orang tua kak, dengan siapapun. Aku tau gimana perasaan kakak yang merasa diasingkan bahkan di cap jelek di sekolah, hal itu karena kakak nanam hal jelek. Kalo kakak mau mulai merubah etika kakak dari sekarang, aku jamin kakak gak akan dipandang oleh orang lain dengan sebelah mata,” Ucapku sambil mengelus genggaman tangan kak Naera. Kulihat dia mulai meneteskan air mata dan terus bergumam, “Maaf,” “Maaf karena kesadaranku yang terlambat, maaf...’ Lirihnya. Aku memeluknya untuk menenangkannya, “Gapapa kak, setiap manusia itu pasti punya kesalahan, tapi manusia yang hebat itu yang mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf,” Ucapku sambil menepuk punggungnya pelan.


Kak Naera melepas pelukanku, “Aku mau menyusul kakek tadi kerumah sakit, aku mau meminta maaf, aku salah,” Aku terenyuh mendengar kalimatnya, Manusia dapat berubah menjadi lebih baik asal kita mau merubahnya perlahan tanpa paksaan.


Berperilaku Dengan Sopan Hidup itu Damai Di sebuah sekolah bernama "SMP N INSAN CENDEKIA", ada 3 orang sahabat bernama Robin, Rozi dan Farhan yang saat ini duduk di kelas 9, kelas 9I. Masing-masing memiliki karakteristik dan karakteristik yang berbeda. Robin adalah anak yang baik, ramah, cerdas, dan kreatif. Putra Rozi itu setia, ramah, humoris, dan sopan, sedangkan Farhan memiliki kepribadian yang sedikit berbeda dari kedua temannya, keras kepala, sedikit ceroboh, terkadang menyendiri tetapi juga humoris dan cerdas. Meski ketiganya memiliki ciri khas masing-masing, dalam proses membangun persahabatan mereka menggunakan perbedaan sebagai hal yang saling melengkapi menjalin prsahabatan. Seperti biasa, pagi itu Farhan bangun dari tidurnya, sholat subuh, mandi, sarapan, dan bersiap-siap berangkat sekolah. katakan selamat tinggal. Ibu "Bu, Farhan harus sekolah dulu," teriak Farhan sambil mengayuh sepedanya. "Tunggu sebentar, Nak," jawab ibu Farhan yang mendatangi anaknya. "Ada apa, Bu?" tanya Farhan heran. "Kamu pamitan sama ibu di sepeda yang masih ada di rumah? Itu tidak sopan. Turun dan keluarkan sepedamu!" perintah Farhan. "Maaf, Bu," kata Farhan, turun dari sepedanya dan menuntunnya keluar. "Yah, itu hanya nama yang sopan dan baik," kata Bu Farhan. "Iya Bu. Farhan minta maaf," Farhan merasa bersalah. "Nah, karena kamu pergi, kamu terlambat. Ingat, jangan lakukan lagi," kata Bu Farhan. "Baiklah Bu Farhan, ayo kita pergi dulu, Assalamualaikum," kata Farhan sambil mencium punggung tangan ibunya. “Wa'alaikumussalam, hati-hati,” jawab Bu Farhan. Farhan segera melajukan mobilnya menuju sekolah yang agak jauh dari rumahnya. Ternyata sesampainya di sekolah, Farhan terlambat masuk kelas.Ia bergegas masuk ke kelas.Tak disangka, Farhan masuk begitu saja dan melihat Guru Chris yang sedang menjelaskan kelas.Ia marah sekaligus heran. “Apa kamu tidak tahu sopan santun, Farhan?” tanya Pak Chris tegas. Farhan terdiam cukup lama sebelum menjawab, "Saya tahu, Pak." “Kalau kamu tahu kenapa kamu masuk tanpa menyapa dan mengetuk pintu terlebih dahulu?” “Maaf, Pak,” jawab Farhan malu-malu. “Sebagai hukuman, kalian berdiri di depan kelas dan membacakan bab pembuka UUD 1945,” kata Pak Chris tegas dan garang. Farhan tidak banyak bicara, ia langsung menuju garis depan seperti yang diinstruksikan oleh Pak Chris, dan berhasil membacakan Pembukaan UUD 1945. Merasa waktu tidak cepat berlalu, bel istirahat pertama pun berbunyi. Semua anak bersorak. “Oke anak-anak, sesi ini sudah selesai, terima kasih. Assalammualaikum,” kata Pak Chris menutup sesi. "Robin, Farhan, ayo kita ke kantin! Aku lapar," kata rozi yang sudah lapar. Robin dan Farhan mengangguk. Mereka segera menuju ke kantin yang agak jauh dari kelas mereka. Sesampainya di kantin, mereka duduk dan memesan makanan.


Beberapa menit kemudian, pesanan datang. Farhan segera meraih bakso yang masih hangat. "Hati-hati, nanti kamu tersedak," Rozi mengingatkan. "Ya, itu tidak sopan, kamu tahu, kamu belum membaca basmara dan kemudian makan dengan tangan kirimu," lanjut Robin. "Ya, maaf, aku sangat lapar," kata Farhan dengan sendok di tangan kanannya. “Yah, ini lebih enak dipandang.” rozi berkata dengan gembira. "Saya heran hari ini saya mendengar banyak orang berbicara tentang sopan santun, sopan santun, sopan santun," keluh Farhan, sedikit kesal. "Kamu juga, kamu telah bertindak kasar akhir-akhir ini," Rhodes menjelaskan, "ya, kesopanan itu penting," tambah Robin. Farhan hanya diam dan melanjutkan makannya. "Saya heran hari ini saya mendengar banyak orang berbicara tentang sopan santun, sopan santun, sopan santun," keluh Farhan, sedikit kesal. "Kamu juga, kamu sangat kasar akhir-akhir ini," Rhodes menjelaskan, "ya, kesopanan itu penting," tambah Robin. Farhan hanya diam dan melanjutkan makannya. Lima hari berlalu dengan cepat, tetapi karakter buruk Farhan yang sering ceroboh dan tidak sopan belum juga hilang. Suatu hari, tiga orang teman sedang berada di perpustakaan membicarakan tentang etika. “Eh, apakah temanmu tidak tahu manfaat bersikap sopan?” tanya Rhodes. “Hal yang baik dari sopan santun adalah disukai banyak orang, membangun akhlak mulia, mewujudkan akhlak mulia, dan membuat kita lebih ramah kepada orang lain,” kata Robin antusias. “Mari menjadi orang baik dan memahami adat istiadat,” tambah Rozi. “Tapi teman teman bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, akhir-akhir ini aku selalu bertindak tidak sopan tanpa aku sadari. Aku ingin berubah, bagaimana kalian punya saran tidak?” keluh Farhan. Ia ingin jadi lebih baik lagi. “Memang han kalo kita belum terbiasa berprilaku sopan memang terasa sulit, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan apalagi dapat banyak pahala” kata Rozi menjelaskan. “Aku tahu bagaimana mengubah sikap burukmu itu” ujar Robin sambil tersenyum. “Aku sudah membuatkanmu gelang sopan santun” ucap Robin lalu mengeluarkan sebuah gelang dan memberikannya pada Farhan. “Gelang apa ini?” tanya Farhan sambil melihat gelang yang bertuliskan ‘sopan itu perlu’ tersebut. “Gelang itu bisa menjadi pengingat kalau kita tidak berperilaku sopan caranya sederhana kok, ketika kita ingat bahwa kita telah melakukan hal yang tidak sopan, tarik saja gelangnya kuat-kuat lalu lepaskan dan otomatis akan mengenai tanganmu dan teras sakit jadi, gelang ini seakan-akan menghukum kita” ujar Robin menjelaskan panjang lebar. “Oh seperti itu jadi kesimpulannya jika tidak ingin sakit maka bersikaplah dengan sopan” ujar Rozi menarik kesimpulan. Robin mengganguk. “Oh begitu ya, terimakasih Robin atas pemberianmu ini, mulai besok akan kupraktikan” ucap Farhan gembira kini ia dapat melatih sikap sopan santunnya. Sejak ada gelang itu kini Farhan lebih berhati-hati dalam bertindak. Kemarin ketika ia berpapasan dengan Bu Della Farhan malah memalingkan wajah dan tidak menyapa beliau, beberapa menit kemudian ia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang


tidak sopan, lalu ia menarik gelang pemberian Robin kuat-kuat dan melepaskannya, ia agak kesakitan. “Jika tak ingin sakit, bersikaplah sopan” ucapnya dalam hati sambil tersenyum malu. Hal tersebut Farhan lakukan berulang-ulang ketika ia berperilaku tidak baik dan sopan. Dua minggu pun berlalu, sekarang sifat buruk Farhan perlahan mulai hilang dan dia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Farhan lebih baik. “Wah han sekarang kamu berubah jadi semakin baik lho” puji Rozi. “Hehehe. Allhamdulillah ini semua juga berkat kalian dan gelang itu” jawab Farhan tersipu malu. “Berarti gelang buatanku itu manjur dong” kata Robin penuh percaya diri. “Iya, sejak ada gelang itu aku jadi lebih berhati hati dalam bertindak” ujar Farhan. “Aku juga mau, Robin masih punya gelang seperti itu?” tanya Rozi penuh harap. “Kebetulan aku bawa 2. Aku juga mau pakai, ini untukmu” ucap Robin sambil menyodorkan gelang pada Rozi. “Wah, sekarang kita seperti trio sopan santun saja” ujar Farhan gembira. “Hahaha. Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” teriak Robin penuh semangat. “Ya, karena berperilaku sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Rozi percaya diri. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun. SELESAI


NAMA : NOVANA IKA PUSPITA PRODI : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELOMPOK : GOA GAJAH ANDI DAN POHON PISANG Andi adalah anak dari Wahyu. Andi tinggal bersama keluarga. Andi dan kelurganya tinggal di sebuah desa yang ada kebunya . Saat tanggal 25 januari 2022, Andi berulang tahun. Kemudian Andi menemui bapaknya di kamar dan berkata: Andi : Ayah , besok tanggal 25 agustus ,Andi berulang tahun ,Andi ingin dirayakan bersama keluraga. Wahyu : Baik nak kalau itu kemauan kamu, akan ayah siapkan . Andi : Terimakasih ayah Kemudian Andi keluar dari kamar ayahnya. Ayahnya sangat bangga kepadanya, karena Andi adalah anak yang baik,rajin dan jujur. Saat ayah andi mulai menyiapkan perlengkapan untuk ulang tahun andi ayah berfikir untuk memberikan kejutan kepada anaknya berupa hadiah . kemudian di pagi hari semua keluarga sudah siap merayakan ulang tahun andi di ruang keluarga dan sudah dimulai pukul 08.00 . Semua kelurga mulai menyanyikan lagu dan andi meniup lilin. Selesai meniup lilin andi mulai memotong roti dan memberikan roti tersebut ke keluarganya. Setelah memberikan roti , ayah andi mulai memberikan hadiah tersebut ke andi. Andi sangat senang dan ingin segera membuka hadiahnya. Isi dari hadiahnya adalah kapak kecil yang baru. Kemudian Andi pergi keluar rumah , lalu ke kebun dan memotong sesuatu yang dilihatnya. Mulai dari rumput. Tak lama kemudian Andi memotong salah satu pohon kesayangan ayahnya. Setelah acara ulang tahun andi selesai, ayah andi pergi ke kebun dan melihat pohon kesayanganya rusak. Ayahnya mulai berkeliling mencari informasi siapa yang sudah merusak pohon kesayanganya. Tak lama kemudian ayah melihat andi di kebun dan memanggil andi : Ayah : Andi , ayah ingin bertanya apakah andi tadi bermain disini?


Andi mulai merasa takut melihat wajah ayahnya yang sangat marah Andi: andi pun terdiam. Ayah : Kenapa diam Andi! Saat itu andi gemetar ketakutan, tetapi dia mengakui kalau itu perbuatannya. Dia mengumpulkan keberanian dan berkata : Andi :Andi tidak bisa berbohong. Andi yang melakukanya dengan kapak baruku yang di beri oleh ayah. Ayah bertanya : Ayah : Mengapa kamu memotong pohon itu, padahal sudah ayah peringatkan untuk berhati-hati saat bermain di pohon pisang itu? Andi : Andi minta maaf ayah Kemarahan ayah Andi mereda. Ayah memeluk andi dengan lembut , katanya: Ayah : Anakku, kamu tidak perlu takut untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ayah.


PENTINGNYA SOPAN SANTUN Di pagi hari yang cerah di suatu sekolah faforit di bandung terdapat 3 sahabat yang bernama Aldi,Zaki dan roni. Masing-masing dari mereka memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Aldi anaknya baik,ramah dan kreatif suka menggambar. Zaki anaknyaa sopan, ramah dan dia suka bergaul dengan siapapun. Ada salah satu yang sifat dan karakter nya berbeda dengan lainnya yaitu Roni, dia anaknya bandel,tidak sopan bahkan keras kepala. Walaupun sifat mereka berbeda-beda tetapi mereka tetap menjalin hubungan dengan baik. Pada suatu hari Aldi dan zaki berangkat sekolah bersama . Di setiap jalan mereka bertukar cerita, di tengah perjalanan mereka baru sadar kalo dia berangkat tanpa ada Roni. Dengan wajah panik mereka langsung pergi ke rumah roni untuk mengajak berangkat pertama. Sudah 15 menit mereka membangunkan roni tetapi dia masih tertidur pulas. Pada akhirnya mereka berangkat duluan karena takut telat. Jam sudah menunjukan pukul 07.00 alarm roni berbunyi kencang, dengan wayah bingung dan lesu akhirnya dia bangun dengan wayah panik dan langsung bergegas untuk bangun dan mandi. Setelah semua nya rapi tanpa mikir Panjang dia langsung berangkat sekolah dengan mengayun sepedanya. Sesampai nya di sekolah dan pastinya terlambat dia dihukum gurunya dengan cara berdiri dibawah tiang bendera selama jm pelajaran pertama. Jam pertama akhirnya sudah berakhir pertanda hukuman roni sudah selesai. Akhirnya dengan wajah yang kesal dia masuk ke dalam ke kelas dan langsung memarahi kedua sahabatnya karena tidak mengampiri dan membangunkannya. Aldi dan zaki sontak kaget karena dia sudah mengampiri dan menggedor pintu kamar roni dengan sekeras mungkin. Roni tidak mau mendengar penjelasan dari kedua sahabatnya dan memilih pergi ke luar kelas untuk makan di kantin. Sambil makan dia berfikir keras untuk menjauh dari kedua sahabatnya. Bell sekolah berbunyi pertanda pelajaran beeikutnya akan segera dimulai. Roni tidak mengetahui kalo ada pr hari ini, karena sifat Roni yang buruk membuat dia tidak mempunyai teman selain dua sahabatnya. Tiba-tiba saat mengikuti pelajaran Bu Della,Roni dipanggil untuk mengerjakan pr di depan, tetapi roni belum mengerjakan karena biasanya Roni mencontek dua sahabatnya. Dengan penuh gelisah dia mengerjakan akan tetapi jawabannya salah, sontak dia menegur bu della karena berpendapat jawabannya benar , dengan biacara kasar dan tegas dia menjelaskan ke Bu dell jika jawabannya benar. Dengan rasa marah dia memilih keluar kelas dan tidak mengikuti pelajaran tersebut. Di keheningan pagi hari dia mencoba untuk berfikir keras betapa penting nya sahabat, dan dia menyadari kesalahannya .Tanpa mikir panjang dia Kembali ke kelas dan meminta maaf kepada semua teman-temannya terutama pada kedua sahabatnya dan bu della. Akhirnya semua nya memafkan roni dan mereka


berteman baik. Dari sini Roni belajar bagaimana pentingnya etika dan sopan santun terhadap orang lain. Dari cerpen tersebut kita belajar bagaimana pentingnya menghargai orang, berperilaku sopan,dan beretika agar kita bisa memiliki banyak teman dekat bahkan bisa menjadi sahabat.


Berperilaku Sopan agar hidup tentram Di suatu sekolah yaitu “SMP N INSAN CENDEKIA”, terdapat 3 orang sahabat yang bernama Robin, Rozi dan Farhan mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 9I. Masing masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Robin anaknya baik, ramah, cerdas dan kreatif. Rozi anaknya setia kawan, ramah, humoris dan sopan sedangkan Farhan dia mempunyai sifat agak berbeda dengan kedua sahabatnya yaitu bandel, sedikit ceroboh, terkadang cuek tetapi juga humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya mempunyai sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Seperti biasa, pagi itu Farhan sudah bangun dari tidurnya lalu sholat subuh, mandi lalu sarapan kemudian bersiap siap berangkat sekolah, Farhan hendak menggambil sepeda onthelnya yang masih berada dalam rumah dan akan berpamitan pada ibunya. “Bu, farhan mau berangkat sekolah dulu ya” teriak Farhan sambil menaiki sepedanya. “Tunggu sebentar nak” jawab ibu Farhan yang datang menghampiri anaknya. “Ada apa bu?” tanya Farhan heran. “Kamu pamitan sama ibu dengan menaiki sepeda yang masih di dalam rumah? Sungguh itu perbuatan yang tidak sopan han. Ayo turun dan keluarkan sepedamu!” perintah Ibu Farhan. “Maaf bu” sahut Farhan sambil turun dari sepedanya dan menuntunnnya keluar. “Nah seperti itu baru namanya sopan dan baik” ucap Ibu Farhan. “Iya bu. Farhan minta maaf” ucap Farhan merasa bersalah. “Ya sudah sekarang kamu berangkat nanti terlambat lho. Ingat jangan diulangi lagi ya” pesan Ibu Farhan. “Baik bu Farhan berangkat dulu, Assalamualaikum” pamit Farhan dan mencium punggung tangan ibunya. “Wa’alaikumussalam, hati-hati ya” jawab Ibu Farhan. Farhan pun segera melaju kencang menuju sekolah yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Ternyata setelah sampai di sekolah Farhan terlambat masuk kelas,


dengan tergesa-gesa ia pun masuk kelas, tanpa berpikir panjang Farhan langsung masuk begitu saja, melihat itu Pak Kris yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran. “Farhan apa kamu tidak tau sopan santun?” tanya Pak Kris dengan tegas. Lama Farhan terdiam lalu menjawab “Tahu Pak”. “Kalau tahu kenapa kamu masuk tanpa salam atau ketuk pintu terlebih dahulu?” tanya Pak Kris lagi. “Maafkan saya pak” jawab Farhan takut-takut. “Sebagai hukuman kamu berdiri di depan kelas dan bacakan pembukaan UUD 1945” perintah Pak Kris dengan tegas dan galak. Tanpa banyak bicara Farhan pun langsung ke depan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Kris, dengan lancar ia membacakan pembukaan UUD 1945. Tak terasa waktu cepat berlalu bel tanda istirahat pertama pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bersorak gembira. “Baiklah anak-anak bapak sudahi pertemuan kali ini terimakasih. Assalammualaikum” ucap Pak Kris mengakhiri pelajaran. “Wa’alaikumussalam” jawab anak-anak serempak. Mereka pun berhamburan ke luar kelas, ada yang ke kantin, kamar mandi ataupun perpustakaan. Begitupun dengan Farhan, Rozi dan Robin. “Robin, Farhan ke kantin yuk! aku lapar nih” ajak Rozi yang sudah kelaparan. Robin & Farhan mengganguk. Mereka segera menuju kantin yang jaraknya agak jauh dari kelas mereka. Sesampainya di kantin mereka duduk dan memesan makanan. Beberapa menit kemudian pesanan datang. Farhan langsung menyambar bakso yang masih panas itu. “Hati hati han nanti tersedak lho” ucap Rozi mengingatkan. “Iya, itu nggak sopan tau, kamu belum baca basmalah trus makan pakai tangan kiri lagi” sambung Robin. “Iya iya maaf habisnya lapar banget sih” kata Farhan sambil memegang sendoknya dengan tangan kanan. “Nah gitu dong kan lebih enak dipandang” ujar Rozi gembira. “Aku heran ya, hari ini aku banyak mendengar orang-orang berbicara tentang sopan, sopan dan sopan” keluh Farhan sedikit kesal. “Kamu juga sih, belakangan ini perilaku kamu kurang sopan” jelas Rozi.. “Iya, sopan itu


kan penting” tambah Robin. Farhan hanya diam saja dan melanjutkan makan. Setelah mereka selesai makan dan membayar, mereka lalu kembali ke kelas, ketika di perjalanan mereka berpapasan dengan Bu Rara. “Mari bu” sapa Robin dengan sopan. “Selamat siang bu” ucap Rozi memberi salam. Bu Rara hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian berlalu.. “Eh Farhan, kenapa kamu nggak menyapa Bu Rara tadi?” tanya Rozi heran. “Aku lagi kesal dan malas menyapa, dulu aku pernah menyapa bu guru lain tapi, tak dihiraukan dan beliau berlalu begitu saja” jawab Farhan jujur. “Nggak boleh gitu han, walau mereka tidak membalas sapaan kita, setidaknya kita sudah menyapa dan berperilaku baik” kata Rozi menasehati. “Betul itu, budayakan 5S Senyum, Salam, Sapa, Sopan Dan Santun” tambah Robin. “Iya deh dari tadi aku terus yang disalahkan” ujar Farhan memasang muka cemberut. Robin dan Rozi hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala. Mereka lalu bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Lima hari pun berlalu begitu cepat tapi, sifat Farhan yang buruk masih belum hilang, sering ia ceroboh dan tidak berperilaku sopan. Pada suatu hari 3 sahabat itu berbincang-bincang di perpustakaan tentang sopan santun. “Eh, teman teman kalian tau nggak manfaat dari perilaku sopan?” tanya Rozi memulai perbincangan. “Manfaat sopan santun adalah disenangi banyak orang, menciptakan karakter yang mulia, mencerminkan sifat yang luhur, membuat kita lebih ramah pada sesama” ujar Robin penuh semangat. “Dan menjadikan kita pribadi yang baik serta mengerti adat istiadat” tambah Rozi. “Tapi teman teman bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, akhir-akhir ini aku selalu bertindak tidak sopan tanpa aku sadari. Aku ingin berubah, bagaimana kalian punya saran tidak?” keluh Farhan. Ia ingin jadi lebih baik lagi. “Memang han kalo kita belum terbiasa berprilaku sopan memang terasa sulit, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan apalagi dapat banyak pahala” kata Rozi menjelaskan. “Aku tahu bagaimana mengubah sikap burukmu itu” ujar


Robin sambil tersenyum. “Aku sudah membuatkanmu gelang sopan santun” ucap Robin lalu mengeluarkan sebuah gelang dan memberikannya pada Farhan. “Gelang apa ini?” tanya Farhan sambil melihat gelang yang bertuliskan ‘sopan itu perlu’ tersebut. “Gelang itu bisa menjadi pengingat kalau kita tidak berperilaku sopan caranya sederhana kok, ketika kita ingat bahwa kita telah melakukan hal yang tidak sopan, tarik saja gelangnya kuat-kuat lalu lepaskan dan otomatis akan mengenai tanganmu dan teras sakit jadi, gelang ini seakan-akan menghukum kita” ujar Robin menjelaskan panjang lebar. “Oh seperti itu jadi kesimpulannya jika tidak ingin sakit maka bersikaplah dengan sopan” ujar Rozi menarik kesimpulan. Robin mengganguk. “Oh begitu ya, terimakasih Robin atas pemberianmu ini, mulai besok akan kupraktikan” ucap Farhan gembira kini ia dapat melatih sikap sopan santunnya. Sejak ada gelang itu kini Farhan lebih berhati-hati dalam bertindak. Kemarin ketika ia berpapasan dengan Bu Della Farhan malah memalingkan wajah dan tidak menyapa beliau, beberapa menit kemudian ia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan, lalu ia menarik gelang pemberian Robin kuat-kuat dan melepaskannya, ia agak kesakitan. “Jika tak ingin sakit, bersikaplah sopan” ucapnya dalam hati sambil tersenyum malu. Hal tersebut Farhan lakukan berulang-ulang ketika ia berperilaku tidak baik dan sopan. 2 minggu pun berlalu, sekarang sifat buruk Farhan perlahan mulai hilang dan dia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Farhan lebih baik. “Wah han sekarang kamu berubah jadi semakin baik lho” puji Rozi. “Hehehe. Allhamdulillah ini semua juga berkat kalian dan gelang itu” jawab Farhan tersipu malu. “Berarti gelang buatanku itu manjur dong” kata Robin penuh percaya diri. “Iya, sejak ada gelang itu aku jadi lebih berhati hati dalam bertindak” ujar Farhan. “Aku juga mau, Robin masih punya gelang seperti itu?” tanya Rozi penuh harap. “Kebetulan aku bawa 2. Aku juga mau pakai,


ini untukmu” ucap Robin sambil menyodorkan gelang pada Rozi. “Wah, sekarang kita seperti trio sopan santun saja” ujar Farhan gembira. “Hahaha. Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” teriak Robin penuh semangat. “Ya, karena berperilaku sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Rozi percaya diri. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun.


Ida Karyawan yang Jujur Ida merupakan seorang karyawan yang bekerja disalah satu toko yang ada di Jepara. Ida merupakan karyawan yang sangat teladan dan dapat diandalkan oleh pemilik toko. Karyawan yang lainpun kagum melihat Ida. Karena Ida adalah karyawan yang disiplin. Ida tidak pernah datang terlambat. Setiap pagipun ia selalu membantu untuk bersih-bersih ditempat kerjanya sebelum toko dibuka. Pada suatu hari,tepatnya hari Senin Ida sedang melayani pelanggan,ada seorang ibu paruh baya yang sedang berbelanja sembako. Ibu itu bernama Ibu Susi. Ibu Susi sudah berlangganan ditoko tempat Ida bekerja. Setiap 1 Minggu sekali Ibu Susi mengunjungi toko. Ida melayani ibu Susi seperti biasanya. Setelah selesai berbelanja,ibu Susi bergegas keluar toko untuk menuju montornya yang terparkir di depan toko. Sesaat ibu Susi keluar dari toko, si Ida melihat ada sesuatu yang jatuh dari tas yang di bawa bu Susi,Ida pun bergegas untuk melihat apa yang terjatuh dari tas itu. Dan ternyata ada sejumlah uang Ibu Susi yang jatuh. Ida lalu memanggil ibu Susi dan menghampirinya untuk mengembalikan uang tersebut. Ibu Susi sangat berterima kasih kepada Ida karena sudah mengembalikan uangnya yang jatuh. Ibu Susi juga memberikan imbalan kepada Ida,namun Ida menolaknya. Tidak lama kemudian datanglah bos Ida atau si pemilik toko yang melihat Ida bersama ibu Susi. Kemudian ibu Susi menceritakan apa yang sedang terjadi saat itu kepada bos Ida. Berkat kejujuran Ida tersebut Ida diberikan bonus oleh bosnya. Sebagai apresiasi atau rasa terima kasih sudah menjadi karyawan yang jujur. Ida sempat merasa tidak enak dan menolaknya,tapi alhasil karena bosnya yang begitu baik dan dermawan Ida pun menerima bonus tersebut. Berkat bonus itu Ida bisa membeli kado untuk hadiah ulang tahun ibunya.


CERPEN TATA KRAMA DAN SOPAN SANTUN ITU PENTING Nama: Nurul Lisa Kusumaningrum NIM: 2101422013 Suatu hari di sekolah yaitu “SMAN 1 Nusa Indah“ terdapat seorang siswa yang bernama Reno. Dia sekarang duduk di kelas 11 yaitu, kelas MIPA 2. Reno mempunyai sifat dan karakter yang baik, ramah, cerdas dan kreatif. Pagi hari saat Reno bersiap – siap pergi ke sekolah, sebelum berangkat Reno tidak lupa berpamitan kepada ibunya. “Bu, Reno berangkat sekolah dulu ya “ teriak Reno di depan rumah. “Eh bentar dulu” jawab ibu yang datang menghampiri Reno. “Ada apa bu?” tanya reno. “Kamu pamitan sama ibu hanya berteriak di depan rumah, kenapa tidak menghampiri ibu, sungguh berbuatan yang tidak sopan” ucap ibu. “Iya, maaf bu” jawab Reno dengan rasa bersalah. Lalu Reno kembali berpamitan lagi dengan ibu tidak lupa mencium tangan ibu. “ Ya sudah, Reno berangkat ya bu” ucap Reno. “Iya nak, hati – hati, ingat ya jangan di ulangi lagi, itu berbuatan yang tidak sopan” pesan ibu untuk Reno. “Baik ibu” jawab Reno. Ternyata sampai di sekolah Reno terlambat, dengan tergesa – gesa ia pun masuk kelas tanpa berpikir panjang Reno langsung masuk kelas, melihat itu Bu Hayu yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran.”Reno apa kamu tidak tau tata krama” tanya Bu Hayu dengan nada marah. Lama teridiam Reno pun menjawab “Tahu Pak”. “Tahu begitu kenapa kamu langsung nyelonong masuk tanpa ketuk pintu dahulu dan masuk tanpa salam?” tanya Bu Hayu. “Maafkan saya pak” jawab Reno takut-takut. “Sebagai hukumannya kamu, bernyayi Indonesia Raya, di depan kelas” ucap Bu Hayu. Tanpa banyak bicara Reno pun melaksanakan hukuman dari Bu Hayu. Tak terasa waktu cepat berlalu bel tanda istirahat pertama pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bersorak gembira. “Baiklah anak-anak bapak sudahi pertemuan kali ini terimakasih. Assalammualaikum” ucap Bu Hayu mengakhiri pelajaran.


“Wa’alaikumussalam” jawab anak-anak serempak. Mereka pun berhamburan ke luar kelas, ada yang ke kantin, kamar mandi ataupun perpustakaan. Lalu Bu Hayu menghampiri Reno “Hai Reno, maafkan ibu sudah memarahimu tadi”. “Iya bu, tidak apa-apa, ini memang salah saya, harusnya saya yang meminta maaf kepada ibu” jawab Reno. “Iya, sudah tidak apa-apa, yang penting jangan diulangi lagi ya,ingat tata krama apalagi kalo sudah ada guru dikelas bukan hanya dilingkungan sekolah, diluar sekolah juga sama kita harus bertata krama, tata krama itu penting karena tanpa adanya tata krama kehidupan kita akan berantakan, kita menghargai dan menghormati satu sama lainnya” pesan Bu Hayu untuk Reno. “Siap bu, saya tidak akan mengulanginnya lagi” jawab Reno dengan tegas.


R udi B el aj a r Be r et ik a H a r i Se ni n s er in gka li t id a k di au k ai o le h be b e r ap a o r an g k a r e na h a di rn ya h a r i S e nin m e na nd a k an b e r ak hi r n ya h a r i l ib u r. S am a h al n ya d e n ga n s e or a n g a n ak l aki-la ki b er n am a R udi ya n g s u d a h m e n ga ba ik an b u n yi a l a r m di m ej a s el am a ti ga p ulu h m eni t. Rin a ya n g m e r up a k an i bu R udi m e r as a ge r a m ak a n tin gk ah l a ku an a kn ya i tu l a nt as i kut s e rt a m e mb a n gun ka n a n ak n ya d e n ga n m en ep u k p el an b e r ul an g k al i p ip i t e mb am an a knya . “ R ud b an gu n, su d ah s i an g n a nti k a mu t e rl am b at k e s ek ol a h.” T e r ia k Rin a ya n g b e lum m e n ye r a h u n tu k me mb a n gun k an R udi ya n g j ust r u me n a rik s e lim ut n ya m e n utu pi ke p a la n ya . “ Li m a m e nit l a gi Bu . ” Gu m am an it u te r d e n ga r se t el ah b eb e r a pa k a li t ep uk a n ri n ga n di p ipi an a k l a ki -la k i i tu . M e n ye r a h a k a n us a h an ya , Ri n a h an ya b e r d e c a k k esa l da n m e nin gga l k a n k am a r an a kn ya i tu u nt uk m en yi a p ka n k ep e rl ua n l ai nn ya . Ia t a u b ahw a a n ak n ya a k a n m e ne p ati ja nji un tu k b a n gun s e te l ah l im a m eni t l a gi. T e rb ukt i tid ak s amp a i l im a m e ni t Ru di s ud ah b a n gun u nt uk m an di d a n s e ge r a be r a n gk a t se k ol ah . “Bu R ud i su d ah si a p m a u b e r an gk at s ek ol a h du lu ya . ” U c a p R ud i ya n g s e t el ah nya l a n gs u n g m en ingga l k a n rum a hn ya . T a np a s ad a r h a l ya n g d i l a ku ka n Ru di m em bu a t R in a s e di kit me r a s a s e dih. P as a ln ya a n a k n ya i t u ti d ak me n ya n t a p s a r a pa n ya n g t e l a h i a b u atk a n. T e r le bi h la gi Ru di m em ili ki k e bi as a an b ur uk ya i t u , tid a k b e rs al am a n k e p ad a o r an g tu a sa a t a k an p e r gi. D i p e rj al a n an se kol a h, R udi b e rt emu d e n ga n ib u gu ru ya n g j u ga a k a n pe r gi k e sek ol a h. N am un s a at ib u gu r u m em be r i s en yu m a n k e p ad a R udi ,i a h an ya m e li ri kn ya d a n me l anj ut k an p e rj al a n an . At a s t in da k an Ru di t er s e but , i bu gu r u h a n ya b i s a m en gge l e n gk an k e p al a.A k an t et ap i, s a at j am is ti r ah at Ru di di p an ggi l unt uk m e ne mu i i bu gu ru . “ A d a a pa ib u m e ma n ggi l sa ya k e s i ni? ” T a n ya R u di d en ga n r aut k e bi n gun ga n d e n gan r as a s ed iki t t a ku t. “ R udi k amu s a ya h u kum unt uk m el af a lk a n d a n m en ya l i n li ma b ut ir P an c a sil a s eb a n ya k l i m a pu luh k a li di ka r e n ak an ti n da k an mu ya n g k u r a n g s o pan t adi p a gi. ” M en d en ga r it u, R ud i h a n ya b i s a m e n ga n ggu kk a n ke p a la d an m em at uh in ya . H u ku m an it u d ib e ri ka n


u nt uk m emb e ri e f ek j e r a k e pa d a R udi d a n m e mb a ntu Rud i m e r en un gi j u ga m em e ha mi k esa l a ha nn ya s e r t a, me m b ant u Ru di m enge n a l e ti ka . S et el a h j am p ula n g s ek ol a h, Rud i su d ah m e n ye l e s ai k an h u kum a n ya n g d i be r ik a n. Ia s e ge r a m e n emu i ib un ya d e n ga n w aj ah ya n g l e s u. Ri n a ya n g s e d a n g m enj emu r p a ka i an m er a s a b in gu n g a k an e k sp r es i a na k n ya i tu ya n g m u r u n g. M a k a d a ri it u, Ri n a s e ge r a m e n gh ent ik a n pe k er j a an n ya d a n m e n gh a mpi r i an a kn ya . "K e n a p a k am u R ud? Ib u li h at k a mu se d ih d an m u ru n g, a p a a da ya n g n a k a l di s e kola h k a mu? " Ri n a b ert a n ya d e n g a n n a d a k h a w ati r. "T i d ak bu , R udi b a r u s aj a m en e rim a hu ku m an k ar en a ti d ak s op a n d en ga n t id ak m en ya p a Ib u gu r u d an ti d ak m enge r t i t e nt an g e ti k a. " Se t el ah me n d en ga r k an p enj el a sa n it u, R in a t er s e n yu m d a n m e n gus a p pe l an r am bu t an a kn ya . "R u d, eti k a d a n s op a n s a ntu n i tu pe rlu . Ap al a gi be r p amit a n d an m e n ya p a s e s eo r ang d i j al a n. H a l itu sa m a s ek al i tida k m e r u gi k an k a mu j ust r u m emba w a p ah al a u nt uk k a mu . " Ri n a me nj el a sk an h al it u t et a p d e n gan se n yu m a n. Dit at a p m at a a n a kn ya i t u y a n g m e nu nju kk a n r a s a b e rs al a h. " I ya b u , Ru di ja n ji a k an le bi h b e r et ik a dim a n ap un d an k a p an pu n. " S e te l ah l a ma m e nu nd uk u ntu k m en ye s a li p e r bu at a nn ya , R ud i m en gu c a pk a n j a nji t e rs eb ut d an b e r us a h a u nt uk me m e nu hi j a nji t e rs e bu t. "A s s al am u 'al a ik um b u , Ru di pu l an g. " S e n yu m a n it u m u ncu l d ar i b ib ir k e du a o r an g i t u, l al u di ge n gga m t an ga n Ri n a ya n g k e m udi an d ik e c up p un ggu n g t a n ga n n ya o l e h R ud i. Rin a h a n ya t e r k ek e h d an m e r as a b a n gga ak an an a kn ya ya n g m am pu b el a j ar eti k a de n ga n c ep at .


Nama: Pattriacia Roulina Br Malau Nim : 2101422176 Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Tanah lot Dunia berputar Soni Mahasiswa baru tahun 2022 di suatu kampus Jawa tengah, berteman dengan Nina yang menjadi Kaka tingkat Soni karena mahasiswa angkatan 2020 yang saat ini mereka kuliah di satu kampus dengan prodi, jurusan dan fakultas yang sama. Mereka berdua sudah dekat sejak kecil karena tetangga yang berdekatan saat dirumah. Walaupun Nina sudah kuliah dahulu tetapi sampai saat ini Nina belum mempunyai teman yang akrab seperti teman SMA nya dulu,karena Nina belum merasakan kenyamanan karena dia menganggap sampai saat ini hanya mau berteman saat ada tugas dan ada keperluan pribadi. Berbeda dengan Soni yang baru menjadi Mahasiswa sudah banyak teman yang dikenal dan dekat dengannya, bahkan sudah mempunyai grub WhatsApp kelompok nya, dan Soni menganggap bahwa temannya baik semua. Hari demi hari Soni seketika lupa dengan Nina karena keasikan dengan teman barunya, dan Soni menceritakan bahwa dia mempunyai teman kepada Nina, yang membuat Nina semakin terpuruk, Soni mengerti bahwa Nina belum mempunyai teman yang akrab seperti dirinya sendiri. Di hari perkuliahan, ada tugas yang diberikan dosen kepada Mahasiswa nya yang sangat amat sulit bagi Soni, tetapi tak disangka teman yang selama ini dianggap baik bagi Soni seketika hilang dan tidak mau membantu Soni saat kesulitan, Soni merasa kecewa dan bingung meminta bantuan kepada siapa. Dia ingat bahwa Nina satu jurusan, prodi dan fakultas dengan Nina dan berharap Nina membantu tugasnya karena Nina sudah melewati tugas ini semester sebelumnya, tetapi Soni menyadari bahwa selama ini dia sudah sombong dan melupakan Nina ketika mempunyai teman baru. Soni pergi ke cafe untuk menenangkan diri, tak lama Nina juga pergi ke cafe yang sama tetapi dengan teman yang selama ini dia nantikan, Nina dan temannya menghampiri Soni dan bertanya "Mengapa engkau sendirian,kemana temanmu?" Dan Soni terdiam. Nina mengerti bahwa Soni dilupakan oleh temannya dan kesulitan saat mengerjakan tugas, tetapi Nina dengan ringan tangan membantu tugas yang diberikan bapa/ibu dosen tanpa memikirkan masalah yang pernah dibuat oleh Nina.


Maka dari itu jangan lah kita sombong dan merendahkan bahkan melupakan apa yang dulu kita punya, kita tidak tau bagaimana kedepannya.


Nama :PutriDzakiyyatulKhotimah Nim :2101422027 Kelompok:LuhurUluwatu Prodi :PendidikanBahasadanSastraIndonesia Jarimuharimaumu SiangituRizkymengisijam istirahatnyadenganmenyantapmieinstanyangditemani sebotoltehbotoldikantinsekolahnya.Ditengahkesibukanmengisiperutkosongnyaitu,jari tangankanannyaterlihatikutsibukmenaridilayardatarsmartphone.Berbagaiaplikasimedia sosialataumedsospundibukanya.Mulaidariyoutube,facebook,whatshapp,hinggainstagram. Jari-jarinyasangatcekatanmenggeserdanmenuliskansesuatudiaplikasiitu.Ekspresiwajahnya nampakberubah-ubah.Kadangterlihattersenyum.Kadangnampakcemberut. Sakingasyiknyabermedsos,Rizkysampaitidaksadarkalautehbotolyangditenggaknya ternyatasudahkosong.Diabarumenyadarinyasetelahbeberapasaat.Tepatnya,ketikabotol plastikitudiarahkankemulutnyadenganposisilebihmenukik,tapiairtehitutakkunjung membasahitenggorokannya. “Bi,pesantehbotolsatulagi!”TerdengarsuaraRizkymenyampaikanrequest.Pesanyang terlemparhanyadarijarakempatmeterituterdengarcukupjelasolehMarni,bibipenjagakantin sekolah.“Ya,Rizky.Tunggusebentar,”sahutBiMarniyangtelahmengenalRizkymeskidia tergolongsiswabaru,kelasXdisekolahini.Gayanyayangceriadanselalunongkrongdikantin disetiapjamistirahat,membuatbibiitucepatmengenalinya.BibiitukemudianmemintaRizky sedikitbersabar.Diaharuslebihdulumenyelesaikanpemesanansiswalainnyayangtelahlama mengantri. Rizkymemaklumipenundaanpesanantehbotolnyaitu.Sejurus,diapunkembalilarut dalam keasyikannyaberselancardiduniamaya.“Braaakk!”Tiba-tibamejatempatdia nongkrongdigebrakolehseseorangyangseakan-akandikawalolehempatorangtemannya. Gebrakanitucukupkeras.Hinggamangkukwadahmieyangsudahkosongdihadapannyajatuh danpecahberantakan.Siswalainyangsedangberadadikantinituikutterkejut.Tapimereka berusahauntukcuek.Tidakmaumenimbrungpadapersoalanyangtidakmerekaketahui.Di tengahketerkejutannya,Rizkymasihsempathendakberanjakmemungutipecahanbeling mangkukitu.Namun,upayanyaituterhenti.Sebab,sosoklaki-lakiyangmenggebrakmejaitu telahlebihdulumenarikkrahbajunya.Dengankasar,diapundipaksauntukkembalidudukdi


posisisemula. “Adaapaini.Kenapakamutiba-tibaberbuatkasarsepertiini?”,tanyaRizkyyangsudah kembalidudukdankaliinidikelilingiolehempatorangyangbelumdikenalnyaitu.Tapidari pandangansekilaspadaemblemyangmenempeldibajunya,diatahukalaumerekamasihsatu sekolahdengannya.MerekaitusiswakelasXIataumasihkakakkelasnya.“Rizky.Kamukurang ajarsekali.Kamutelahmempermalukankamidijagadmaya!”Sosokyangtelahmenggebarak mejadanmenarikkrahbajuituterlihatsangatmarah.Teman-temannyatakkalahmarahnya. MerekakompakmemelototkanmatayangmulaimemerahkemukaRizky. “Sabar,teman.Memangakutelahberbuatapa.Akumerasatakpernahmempermalukan kalian,”sahutRizkymencobamenenangkansuasana.Diajugamasihingintahukenapadia dituduhsepertiituolehsosokyangdaribednamanyadiketahuibernamaRendyini.“Sudahlah, janganmengelaklagi.Inibuktinya,”sergahRendysembarimengeluarkansmartphone. Kemudiandiamenunjukkansebuahscreenshotdaritampilaninstagram.PadalayaryangdiscreenshotituterlihatgambarceriaRendydanteman-temannyasedangmenerimapialadari kepalasekolahyangdisertaicaption,“Terbukti!TimFutsalKelasXISMAGugusCintaisthe best.JuaraClassMeeting2021.#juara#futsal#classmeeting2021#smaguguscinta#kelasxi”. Postinganitumendapat659likedan275coment. “Terus,apahubungannyadenganaku,”timpalRizkyringan.TanpadisadariRizky, tanggapanringannyainijustrumeninggikantensiRendydantemannya.“Bedebah.Apa hubungannya,kamu bilang? Ini,lihatkomentarmu dipostingan itu.Kamu bukannya mengapresiasi.Tapisebaliknya,malahmenghinacapaiankami,”ujarYordan,temanRendy. “Kamujustrubilang,‘Ahbiasaazakalee…bagigenerasimicin,suatuygbiasammgsering dianggapluarrrbiasa.Cumajuaraclassmeetingcuyhehe…’.Orangsepertimusepertinyapantas diberipelajaran,”ujartemanlainnya,Arga,sambilmemukulkanbotolplastikkosongkemeja. “Bahkanketikakamimenyuruhmumenghapuscomentitu,kamutetaptakmaumenghapusnya,” sergahtemanlainnya,Firgo,sembarimenunjukkanbagianscreenshotyangtelahdilingkari, tempatmerekamemberikanperintahmenghapusitu.“Kenapaakutakmaumenghapus,itu karenatakadayangsalahdengankomenku.Akuhanyabicarasoalgenerasimicin,yang menurutku,sukamenganggaphalyangbiasasebagaisuatuyangluarbiasa.Tidakada hubungannyadengankalian.Lagiandisitutidakadasatukatapunyangmenyebutnama,tim futsal,ataukelaskalian.”Rizkymencobamenetralisirtuduhan.Baginya,tuduhanituhanyalah salahpaham.“Banyakngeles,kamu.Semuatahukalaukomentmumenyasaruntukkami. Bahkanlebihseparuhorangyangkomentardiwallinijugamenyesalkankomentarmu.”Kini giliranTonimembenamkanRizkypadakesalahannya.“Ayokawan,tungguapalagi.Kitakasih pelajaran dia!” Perintah Rendy langsung disambutteman-temannya.Mereka seketika mengeroyokRizky.Meskisempatbertahan,Rizkyakhirnyatakmampujugamenahanamarah


mereka.Beberapatendangandantinjuansempatmendaratditubuhnya. Suasanadikantinsemakingaduh.Beberapasiswaberpekikandanmemintamereka berhentiberkelahi.Tapipekikanitutidakdigubris.Rizkyterusdiserang.Untukmenghalau seranganyangmembuatposisinyasemakinterjepititu,Rizkymembalikkanmejakantin. Selanjutnya,ia mengangkatkursidan menggunakannya untuk memukullawan.Upaya pertahanannyaefektif.Rendydanteman-temannyasempatmenghentikanpukulan.Mereka kompakmundurbeberapalangkahuntukmenghindaripukulanitu.Beruntung,ketikaitu,wakil kepala sekolah bidang kesiswaan,Pak Rudi,segera datang.Dia berhasilmeleraidan menghentikanperkelahianitu.Saatitujuga,siswanyayangterlibatperkelahianitulangsung dibawakeruanganwakilkepalasekolah.PakRudiingintahuapayangmenyebabkanmereka terlibatperkelahian.Untukitu,keduapihakyangbertikaidimintamenjelaskanpenyebabitu sesuaiversimasing-masing.Setelahmendengarsemuanya,PakRudipunmemberikannasihat.


Memaksa Adalah Pelanggaran Di waktu sore yang cerah, Andi pun memutuskan untuk jalan- jalan keliling lapangan di sekitar kompleks rumahnya. Seperti biasanya Andi pun mengajak teman setianya yaitu Rudi untuk menemaninya sewaktu keliling kompleks. Sesampainya Andi di rumah Rudi, ia pun mengetok pintu rumahnya dan bertemu langsung dengan ibunya. Diwaktu yang bersamaan Andi pun menanyakan keberadaan Si Rudi kepada Ibunya Rudi. Lalu Ibunya Rudi pun menjelaskan kalo Rudi sudah lebih dulu menuju lapangan. Saat di perjalanan Andi melihat Rudi dari kejauhan sedang duduk di pinggir taman kota, tak lama juga si Andi menghampirinya lalu menyapa. “woi.. sendirian aja disini” sapa Andi kepada Rudi. “ iya nih, itung- itung cari angin” Jawab Rudi. Tak lama mereka berbincang hangat datang seorang laki – laki menawarkan minuman dan makanan ringan ke mereka. “yok di beli yok, anget – anget nih” sapa laki – laki itu sambil menjajakan dagangannya. “ ga dulu bos gua dah anget orangnya” jawab Rudi ke si pedagang itu. “ga papa dek, biar panas sekalian, sini cobain lah” jawab Si Pedagang itu sambil sedikit memaksa. “ ga lah om kita baru aja panas- panasan nih, masa nyobain yang anget- anget” singgungnya Andi. “ yah, gapapa lah dek, itung- itung biar laris dong dagangan aku” tegas si pedagang. Setelah sekian lama mereka bercakap- cakap, pedagang keliling itu terus merayu supaya mereka berdua mau membeli dagangannya. Rudi yang agak risih pun terus menghindar sambil menyindir pedagang tersebut dan akhirnya sedikit cekcok. “ woi santai aja lu, gua ga tertarik masih aja lu paksa” sahut Rudi dengan nada kesal. “ ngaca lah dek gua disini juga kerja cari duit, cari nasi, cari keringat ga kaya lu tinggal minta ortu” jawab si pedagang itu kepada Rudi. “ ya ga level kali, ga sebanding lah kalo gitu” tegas Rudi. Setelah beberapa saat Andi pun memutuskan untuk meredam suasana, Andi melerai Rudi dan si Pedagang keliling itu agar situasi menjadi dingin, walau di dalam hati Andi pun juga kesal karena ada unsur paksaan dari si pedagang tersebut agar mereka berdua bersedia membeli dagangannya. Andi pun menasehati mereka berdua agar sama – sama enak. Dengan berat hati Andi pun juga menolak untuk membeli dagangan si pedagang itu walau dalam hati ia juga tertarik dengan minuman yang di jual oleh pedagang itu. Bagi Andi pemaksaan adalah suatu pelanggaran dan tidak punya etika dan sopan santun. Walaupun dengan begitu Andi juga menyuruh si Rudi untuk meminta maaf kepada si pedagang itu meskipun itu semua bukan kesalahan Rudi juga. Dan pada akhirnya juga si pedagang itu juga sadar atas apa yang ia perbuat, dan juga memohon


maaf. Ini semua terpaksa ia lakukan karena banyaknya keperluan yang mendesak bagi dirinya dan harus kejar target dari hasil jualannya. Walau begitu Andi juga menasehati kepada pedagang itu tentang ke terpaksaan bukan jalan pintas untuk memaksakan sesuatu. Mereka bertiga pun juga sepakat berdamai dan saling memaafkan….tamat.


PENTINGNYA MENGHARGAI KEPUTUSAN Kana adalah anak yang manis dan ceria. Disekolah pun ia selalu membawa energi positif bagi teman-temannya. Kana cantik, populer dan pintar. Dikelasnya ia selalu meraih posisi di ranking satu. Kana begitu sempurna hingga rasanya sulit sekali untuk di saingi. Banyak yang suka padanya karena sifatnya. Tapi banyak juga yang iri dengan segala kesempurnaan Kana yang bisa melakukan segalanya. Tetapi, yang terlihat diluar belum tentu sama dengan isinya kan? Banyak yang mengira hidup Kana sempurna dan penuh dengan kebahagiaan. Namun pada kenyataannya, Kana hanyalah seorang anak yang kesepian akibat perceraian kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya memilih untuk berpisah akibat alasan yang bahkan tidak Kana ketahui hingga saat ini. Kana tidak mengerti dan tidak pernah diperbolehkan untuk mengerti. Setiap pulang ke rumah, yang Kana saksikan hanya pertengkaran orang tuanya tentang hak asuh yang jatuh pada siapa. Biasanya Kana hanya akan melewati mereka tanpa menghiraukan. Tetapi sore itu ia memilih untuk memberontak. BRAK!! “Kana pulang.” “Apa yang akan kamu kasih ke Kana kalo hak asuh nya jatuh ke kamu?” ujar Mamah Kana dengan teriakan. Sang papa menggebrak meja. “Aku punya uang! Kana akan hidup enak kalau tinggal dengan saya!” “Tahu apa kamu tentang Kana?” Mamah kana bertanya dengan nada sentak. “Yang kamu tahu cuma kerja, kerja, dan kerja!” “Jangan bersikap seolah kamu tahu apa yang terbaik untuk Kana!” tambah Mamah Kana. “Saya tahu apa yang paling tepat untuk Kana!” mendengar perkataan Mamah Kana, Papa ikut naik pitam. Kana yang sedari tadi memperhatikan merasa muak dan ingin mengeluarkan semua keluh kesah yang selama ini selalu ia pendam. “Stop merasa kalau kalian yang paling tahu


apa yang tepat untuk Kana!” Kana berteriak dari sudut ruangan, hingga membuat kedua orangtua nya beralih untuk menatapnya. “Kana lelah, setiap pulang selalu dengar kalian bertengkar!” “Mamah kayak gini demi kebaikan kamu Kana!” kata Mamah Kana. “Jangan jadiin Kana alasan kalian buat bertengkar!” “Papa mau kamu ikut sama Papa.” Papa Kana berujar dengan nada tegas, tanda tak mau dibantah. Kana menggeleng sambil menutup telinga nya. “Papa sama Mamah gak pernah ngehargain Kana. Papa sama Mamah cuma mentingin diri sendiri tanpa mau dengerin pendapat Kana!” Kana berteriak di hadapan keduanya. “Jaga sikap kamu Kana!” bentak Papa Kana. “Papa gak pernah ngajarin kamu kayak gini!” “Kana cuma mau di dengar. Kana cuma mau Mamah sama Papa juga dengerin pendapat Kana, jangan terus-terusan Kana yang harus ngertiin kalian.” Kana berujar sambil menangis. Membuat keduanya terdiam, ini adalah pertama kalinya Kana menangis dihadapan keduanya. Mereka tersadar bahwa mereka memang tidak pernah sekalipun mendengarkan pendapat Kana dan hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. “Gimana Kana bisa milih antara Mamah atau Papa kalau Papa sama Mamah samasama berharga buat Kana?” kata Kana disela-sela tangisan nya. Mamah Kana segera menghampiri anak satu-satunya itu, dan memeluk Kana dengan erat. “Maafkan Mamah ya Kana, maaf karena Mamah gak bisa ngertiin kamu dan malah mentingin urusan Mamah sendiri.” Sesal Mamah Kana. “Kana sayang sama Mamah, Kana juga sayang sama Papa. Tolong jangan buat Kana pilih keputusan yang gak Kana mau.” Ucap Kana sambil balas memeluk erat sang Mamah. Papa menghela napasnya, ia pun merasa bersalah karena memaksa dan terus membentak Kana sedari tadi. “Papa juga minta maaf karena bentak Kana terus dari tadi.” Ujar Papa Kana. “Papa sama Mamah gak akan lagi maksa kamu untuk milih antara kita berdua,” Mamah melonggarkan pelukan nya dan menatap anak semata wayangnya dengan sayang.


Click to View FlipBook Version