The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mailil hasanah, 2023-02-03 09:51:23

ilovepdf_merged (1)_merged

ilovepdf_merged (1)_merged

Sosialisasi berjalan dengan lancar. Respon dari para peserta pun sangat baik hingga membuat para panitia merasa senang melihat keantusiasan mereka. Setelah selama 2 jam kegiatan ini berlangsung, akhirnya selesai juga kegiatan pada hari ini. Anak-anak OSIS Unggul Jaya pun berpamitan kepada bapak dan ibu guru yang ada di sana, sebelum itu mereka juga memberikan penghargaan bagi para peserta yang berani menjawab atau bertanya. Setelah kegiatan selesai, dan evaluasi telah usai Halima duduk di halte, menunggu bus yang akan mengantarkannnya pulang ke rumah. Badannya sudah sangat letih dan terasa lengket, namun bus yang ia tunggu tak kunjung datang. Tadi Hana sudah menawarinya untuk pulang bersama. Namun, ia tolak karena rumahnya dan rumah Hana tidak searah. Setelah 15 menit, akhirnya bus yang ia tunggu pun datang. Halima segera naik ke bus itu dan duduk di kursi dekat pintu. Bus berhenti di halte berikutnya. Terlihat nenek tua yang baru saja menaiki bis kebingungan mencari tempat duduk yang kosong, ya karena memang sudah penuh. Akhirnya Halima berdiri menghampiri nenek itu dan mempersilakan nenek itu duduk di kursi yang ia tempati sebelumnya. Halima sampai di rumah pukul 16.05 ia pulang dan mendapati ibunya yang sedang duduk di depan televisi menonton acara drama yang berkisah rumah tangga. Segera ia menyalami ibunya lalu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Setelah itu ia keluar dari kamar dan duduk di samping ibunya. "Gimana tadi acaranya, lancar?" Tanya Ibu Halima dengan lembut. "Alhamdulillah, lancar Bu. Tadi adik-adik nya juga bagus responnya jadi kita seneng." Jawab Halima dengan antusias. "Oh ya? wah ... emang tadi sosialisasi tentang apa, sayang?" Tanya Ibu Halima lagi. "Tentang etika, Bu." "Wah ... bagus tuh. Sudah seharusnya pembelajaran mengenai etika itu diajarkan sedini mungkin," ucap Ibu Halima sembari mengusap rambut putrinya. "Iya Bu, etika itu kan emang sangat penting, Bu." "Benar sayang, dimanapun kita berada, kapan pun waktunya yang namanya etika itu selalu jadi yang utama."


TUGAS CERPEN GEMA BSI Nama: Yunia Fajar Khumairoh Azmi NIM: 2101422038 Prodi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kelompok: GOA LAWAH Tema cerpen: Etika Ekspektasi Terhadap Orang Lain Asya, sosok anak pertama yang biasa melakukan semua urusannya sendiri. Memegang prinsip bahwa hidup tak selamanya bergantung pada orang lain. Ia sering berekspektasi buruk terhadap manusia. Dalam artian, meminimalisasi harapannya pada orang-orang, agar alih-alih suatu hal yang buruk terjadi, ia sudah siap dengan rencana lain yang disiapkan jauh-jauh hari. Tindakannya itu tentu bukan tanpa alasan. Ia pernah mengalami banyak kekecewaan sebelumnya, saat ia masih menaruh harapan penuh pada orang lain. Apalagi jika orang itu adalah seseorang yang amat ia percaya. Oh, sungguh perempuan yang lugu, atau mungkin bodoh? Ya, bisa jadi. Bisa jadi karena pengalaman hidup belum mengajarinya. Suatu hari, Asya mendapat giliran untuk maju menerangkan suatu materi bersama kelompoknya di kelas. Di situ, ia memperoleh tugas untuk membuat dan menyimpan file materinya. Semua dirasa baik-baik saja, sampai tiba waktu di mana Asya membuka file tersebut. “Oh tidak! Filenya kosong?” Gusar Asya dalam hati. Sungguh sial dan tak pernah terbayang kan sebelumnya. File yang ia buat tak kunjung ditemukan. Asya pun tersadar, bahwa flashdisk tempat di mana ia menyimpan filenya tertukar, tak terbawa. Ia semakin panik, gusar dalam hatinya kian membuncah. Ya, bagaimana tidak? Waktu terus berjalan dan semua orang sedang menunggunya. Ia pun berbisik pada teman-teman kelompoknya, memberi tahu apa yang terjadi. Asya sudah berekspektasi bahwa teman-temannya pasti akan menyalahi dan memarahinya. Asya sudah siap dan ia tentu akan menerimanya. Ia mengakui bahwa kelalaiannya ini tak dapat dimaafkan.


Akan tetapi, respon mereka sungguh tak terduga. Teman-temannya itu seolah memahami dan memaklumi kesalahannya, bahkan mereka membut rencana baru yang disepakati bersama. Mereka berkata meyakinkan Asya, “Tak apa, Asya. Kalau begitu, mari kita presentasi secara lisan saja. Toh, masing-masing dari kita sudah memahami isi dari tiap materinya. Semangat semuanya! Kita pasti bisa!”. Etika teman-temannya tersebut membuat Asya amat terkejut. Pemikiran skeptisnya tentang ‘manusia’ yang tak dapat diandalkan pun kian menghilang. Bahwa tak semua manusia, tak semua orang yang ada di dunia ini tidak memiliki etika.


Buah dari berbakti kepada orang tua Senja sore itu mengantarkan burung perkutut pulang ke sarangnya. Begitupun dengan nisa,Mahasiswi Fakultas Kedokteran Semester lima yang baru saja menyalakan lampu ruang tamunya sepulang dari kelas siang di kampusnya. Setelah selesai membersihkan diri ,nisa menyiapkan makan malamnya dan menyalakan tv di dalam kamar kosnya agak luas itu. Beberapa waktu kemudian melihat sebuah berita ada seorang yang bekerja di pertenakan di Jakarta yang dinyatakan terkena flu burung setelah melakukan eksnpor burung dari luar negara asing. Suara penyiar tv itu membuat aktivitas nisa terhenti . Jakarta?itu kan, daerah tempat tinggalnya ku saat ini! Untuk memastikan , aku pun langsung menelepon orang kakak sulungku dengan terburu-buru mengambil ponselnya di dalam tas.Sebelum aku membuka hp ada puluhan pesan masuk berasal dari ibu, yang mengkhawatirkan keberadaan ku disini. Tak lama kemudian ibu langsung meneleponku mengabarkuan kondisi ku dan menanyakan keadaan disini. “Assalamualaikum, dek. Kamu di mana?udah pulang belum?” pertanyaan bertanda mengkhawatirkanku membuat ku menaruh sepiring mie goreng diatas meja belajarku,karena ingin fokus dengan sang ibu yang tampak cemas di sana.”Waalaikumussalam, iya bu disini nisa baik-baik saja alhamdulillah ,adek sekarang baru makan buk,ibu gimana dirumah?sehat kan?”balasku dengan tenang. Kamu ini kak.yang harus tanya itu ibu.virusnya sudah sampai Aceh,iho dek. Kamu pulang aja ya ke Jakarta?dijemput ayah besok” Garis wajah ku langsung berubah derastis,yang tadinya antusias mendapatkan telepon dari ibu.kini berubah kini berubah menjadi diam.”dek?kamu denger ibu kan ?” tanya ibu setelah beberapa waktu terlewati dengan sunyi. Aku pun bergumam kecil “tidak usah aja bu,nanti aku pulang sendiri aja naik bus. Lagi pula kelihatannya belum begitu parah ,jadi tidak usah khawatir ya bu” “nggah parah gimana,dek.itu virus sudah ada disekitar tempat tinggal mu. Kamu ini anak gadis ibu yang jauh dari rumah,gimana ibu nggak khawatir?Akupun memilih diam mendengar nasihat dari ibu.”naik bis itu juga bahaya ,nanti kamu juga bertemu banyak orang ,intinya kamu siap-siap besok dijemput ayah di sana” “besok bu?kan besok ayah masih ada jam masuk kerja.”pikiranku kemana-mana. “Jabodetabek udah ada himbauan untuk waspada.pokoknya kamu harus persiapan malam ini.besok harus pulang,nurut sama ibu” Telepon malam ini ditutp dengan nasihat ibu untuk berhati-hati dan menjaga kesehatan.aku pun hanya bisa pasrah menurut perintah ibu untuk segera mengemasi barang bawaan. “keesokan harinya ,ada yang manggil.”nisaa ada yang nunggu tuhh di depan” Aku pun mengganguk sopan pada teman kos dan berpamiatan karena ingin pulang dulu untuk sementara waktu ini juga mengucapakan terimakasih untuk semua teman satu kos. Akupun langsung keluar dari pintu gerbang kos menuju mobil ayah. “ehh dek, ini udah semua barangnya? sambil memasukkan barang dibagasi mobil” “iya yah udah” sambil berfikir barangg apa aja yang belum di masukin di koper.


Tak lama kemudian mobil hitam melaju putar balik meninggalkan kos senja. Perjalanan Aceh-Jakarta yang sudah terlewati berjam-jam itu terasa dingin dan hanya diam tak ada perkataan yang keluar dari mulut. Akupun tidak tau harus memecahkan sunyi ini gimana. Pada akhirnya sekias berfikir tentang rencana kedepan bagaiman dan apa yang harus dilakukan. Ayah pun bertanyata tiba-tiba sambil menyetir “nggak tidur dek?”akupun masih belum sadar setelah beberapa menit,”ehh iyaa pahh,Maaf-maaf adek enggak dengar pahh” Ayahpun menjawab “kamu masih mikirin kejadian ini ya dek?, Saran ayah apapun itu yang ayah dan ibu inginkan kamu pulang agar ibu sama ayah tidak akhawatir kamu disana dengan keadaan yang kaya gini” akupun menjawab “iyaa yah adek akan nurut ayah sama ibu buat dirumah aja sampai wabahnya reda dulu”. “nahh gitu dongg,ini baru anak ayah yang baik” Tak lama kemudian sampailah di rumah. Aku pun langsung bersalaman dengan ibu dan memeluk melepas rindu setelah itu mengeluarkan barang di bagasi mobil dan membersihkan diri barulah bisa berkumpul dengan keluarga di ruang tengah. Sampai larut malam aku merasa udah mengantuk dan izin untuk tidur lebih dulu karna sudah terlalu lelah diperjalanan tadi. Keesokan harinya aku pun membantu ibu untuk memasak makanan untuk sarapan pertama ku setelah lama di kos enggak merasain masakannya ibu yang enak itu.tidak lama kemudian masakan itu sudah siap untuk disajiakan di meja makan,dan memakannya bersama-sama sambil menonton tv. Tak sengaja mendengar berita ada di tv ada yang terkena virus flu burung tersebut yang paling banyak terjadi di fasilitas kendaraan umum dan tempat-tempat umum lainnya. “Ya kan dek apa kata ibu kamu dijemput ayah aja biar kamu bisa pulang dengan selamat,seandainaya kamu pakai bis pasti kamu bisa terkena virus flu burung itu” Kata ku “iya bu” Dalam hati ku berkata ,”ehh iya yaa gak kebayang kalau kemarin aku pakai bis pasti gak sampai rumah masih disana harus chek kesehatan dan lain-lain. Gak cukup waktu satu sampai dua jam bahkan lebih.buat nunggu antrian yang panjang”. Setelah itu aku bersegera buat selesai makan dan beres-beres rumah,habis itu barulah aku ambil hp ku yang dari tadi belum aku buka “ baru aku buka udah seratusan lebih yang chat di grub pada bahas ada kelas daring setelah offline sekian lamanya. Akupun agak terkejut tapi ya mau gimana lagi kalau ini yang terbaik ya jalani ajalahh” gumamku dalam benakku. Aku yang baru tiduran di dalam kamar,dari kejauhan aku mendengar suara ibu yang memanggil aku untuk ke ruang tengah.”adek sini, kamu dengar belum ?” jawabku apa bu “Alhamdulillah kamu kemarin gak jadi naik bis dek, karena Pak ikhsan temennya bapak yang rumahnya bandung itu kena virusnya gara-gara naik kendaraan umum karena terpaksa untuk pulang ditengah jalanpun di chek katanya terkena virusnya itu” aku pun seketika hanya diam dan menjawab “ iya bu, Maafkan nisa ya bu kemarin yang gak mau pulang harus di paksa ibu dulu” ibu pun memelukku dan berkata “tidak apa-apa dek, yang penting kamu udah selamat sampai rumah. “iya bu besok adek tidak ngulangi lagi bu” ibu hanya membalas senyum kepadaku. “Dengan itu semua akupun baru mengerti dan paham ternyata apapun yang orang tua lakukan untuk kita untuk kebaikan anaknya” pikirku dalam benak.


Cerpen Etika Seorang pensiunan guru berjalan menuju kasir di K-Mart, supermarket yang lumayan terkenal di kota itu. Kaki kirinya terasa sakit, ia berharap tidak lupa untuk meminum semua pilnya tadi pagi. Satu pil untuk tekanan darah tinggi, satu pil untuk pusing-pusing, dan satu pil lagi untuk penyakit rematiknya yang kadang kambuh. “Syukurlah aku telah pensiun beberapa tahun lalu” katanya kepada diri sendiri. “Masihkah aku kuat mengajar anak-anak sekarang ?” Begitu tiba di depan antrian kasir yang penuh, ia melihat seorang lelaki dengan empat orang anak beserta istrinya yang hamil. Mantan guru itu tidak dapat melepaskan pandangannya dari tato di leher orang itu. “Pasti ia pernah dipenjara” , pikirnya. Ia terus memperhatikan penampilan pria itu. Dari cara pria itu berpakaian, mantan guru itu berkesimpulan bahwa ia adalah seorang anggota geng. Mata pensiunan tua itu tambah terperanjat ketika melihat kalung yang dikenakannya, bertuliskan “Parlson” – pasti ini adalah nama orang itu. Parlson dikenal


sebagai kepala geng di daerah itu, tidak ada satupun orang yang berani padanya. Ia dikenal sebagai orang yang tidak ramah. Sewaktu Parlson datang ke rombongan antrian, spontan orang-orang menyediakan tempat kepada dia untuk antri terlebih dulu. Setelah Parlson hampir tiba di antrian terdepan, matanya tertuju pada mantan guru itu. “Silahkan Anda lebih dulu” mantan guru itu berkata. “Tidak, Anda yang harus lebih dulu..” balas lelaki itu. “Tidak, anda membawa istri dan banyak anak, anda harus antri lebih dulu” kata mantan guru itu kepada Parlson. “Kami sangat menghormati orang tua..” tegas lelaki itu. Dan bersamaan dengan itu, dengan gerak tangannya yang sangat sopan, ia menyilahkan wanita tua itu untuk mengambil tempat didepannya. Seulas senyum tergurat pada bibirnya ketika sang mantan guru lewat di depan lelaki itu. Tetapi sebagai


seorang yang berjiwa guru, ia tidak dapat melewatkan kejadian istimewa ini begitu saja. Mantan guru itu lalu berpaling ke belakang. “Anda sopan sekali.. terima kasih, siapa yang mengajarkan ini kepada Anda ?” Dengan sikap yang sangat hormat, lelaki itu berkata, “Tentu saja Anda, Ibu Simpson, sewaktu saya masih kelas tiga dulu.” Lelaki itu kemudian mengambil sikap menunduk dengan hormat – lalu pergi menuju antrian yang paling belakang.


Senja Di Langit Pesantren Gadis berjilbab merah marun itu berjalan tergesa-gesa melewati koridor asrama untuk menuju gedung di samping masjid yang sudah tampak ramai oleh puluhan santri yang sudah siap dengan kitab mereka, menunggu para ustadz yang akan mengajar sesuai kelasnya masing-masing. Hanya ada lima kelas di sini, di mana rata-rata setiap kelasnya diisi dengan 50 orang. Yah, Pondok Pesantren Nurul Huda memang tidak begitu besar. Untuk santri putri sendiri jumlahnya hanya berkisar 150. Sedangkan yang santri putra hanya 120. ***** Sesampainya di depan pintu kelas 3 gadis itu menghela nafas sesaat. Sepertinya pelajaran nahwu sudah dimulai sejak tadi, dan itu artinya dia terlambat. Mencoba membulatkan tekad, akhirnya dia memutar knop pintu dan membukanya dengan sedikit gugup. “Assalamu’alaikum…” Jantungnya berdegub semakin kencang tatkala mendapati bukan Ustadz Zakariya yang berada di depan kelas melainkan Gus Faza. Putra pertama Kyai Abdurrahman yang banyak digandrungi para santri karena memiliki wajah yang tampan dengan hidung mancung, kulit putih bersih, bibir tipis bersemu merah, dan sorot mata yang meneduhkan. Dia juga disegani karena memiliki sifat disiplin tinggi, tegas, dan menjunjung tinggi prinsipnya. Semua orang yang derada di dalam kelas menjawab salam dengan suara lirih, kecuali Gus Faza yang menjawab dengan nada tegas. “Maaf Gus, saya terlambat.” Akhirnya hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir mungilnya. Gus Faza berdehem sejenak sebelum menjawab. “Ekhm, Nasya Salsabila Mubarok, kamu masih mau mengikuti pelajaran saya?” tanya Gus Faza diiringi senyuman membuat gadis di depannya langsung menunduk. “Kalo kamu mau mengikuti pelajaran saya, silahkan datang tepat waktu. Sekarang, silahkan kamu keluar dan tulislah 100 hadits yang ada di dalam kitab Riyadus Shalikhin beserta artinya.” lanjutnya penuh penekanan. ***** Nasya pun pasrah lantas keluar dari kelas, berjalan menuju gazebo taman belakang masjid. Dia memilih tempat itu untuk menyelesaikan hukumannya. Ia pun mulai membuka kitabnya dan mengerjakan tugasnya. Di Pondok Pesantren Nurul Huda para santri benar-benar diajarkan untuk menjaga tingkah lakunya, akhlaknya, adabnya, dan menjaga kehormatan pondok pesantren serta para gurunya. Agar kelak ketika sudah keluar dari pondok pesantren mereka dapat berkhidmah


kepada masyarakat, mengamalkan ilmu yang sudah mereka pelajari selama ini. Menjadi sebaik-baik manusia dengan bermanfaat kepada orang lain sesuai dengan sabda nabi SAW : خيرالناس انفعهم للناس “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Jadi tidak heran jika mendapati santri yang melanggar peraturan pasti akan langsung dihukum dengan tujuan untuk mendidik mereka agar bisa menjunjung tinggi kedisliplinan. ***** Malam kian larut. Kegiatan belajar mengajar di pesantren telah usai setengah jam yang lalu. Namun Nasya masih berkutat dengan bolpoint dan kitabnya. Masih kurang beberapa hadits lagi. Gadis itu berhenti dari pekerjaannya sejenak, kemudian menatap hamparan langit malam yang indah bertaburkan bintang-gemintang yang bersinar terang. “Mama sama papa masih ngapain ya jam segini? Nasya rindu kalian. Kapan kalian ke sini buat jengukin Nasya?” tanyanya dalam hati. “Kalo kamu terus-terusan melamun seperti itu maka pekerjaanmu tidak akan pernah selesai. Jangan menyia-yiakan waktu karena waktu itu seperti pedang, jika kamu tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu…” tiba-tiba seseorang muncul dari arah samping, menyadarkan lamunannya. Gadis itu semakin terkejut ketika mendapati seseorang yang baru saja menegurnya adalah Gus Faza. Gus Faza pun berdehem, membuat Nasya langsung menunduk malu. “Ekhm, maaf telah membuatmu terkejut.” ucap Gus Faza sambil tersenyum, sementara gadis itu hanya mengangguk kecil sembari terus menunduk tak berani menatap wajah penuh kharisma yang kini berada di depannya. Hening beberapa saat. “Kamu tau bintang apa yang sinarnya paling terang?” tanya Gus Faza kembali membuka percakapan, sambil menatap hamparan langit luas bermandikan bulan dan bintang yang sangat indah. Nasya mengangkat wajahnya sejenak sebelum menjawab, “Bintang sirius?” “Ya, kau benar. Bintang sirius. Seorang santri harusnya bisa menjadi seperti bintang sirius. Bintang yang bersinar paling terang.” “M-maksudnya?” tanya Nasya yang tampaknya tidak paham dengan maksud perkataan Gus Faza. Gus Faza terkekeh pelan, kemudian melanjutkan perkataannya. “Ya, seorang santri harusnya bisa menjadi pribadi yang lebih baik karena dia telah dididik dengan akhlak yang baik di pesantren. Seorang santri juga harus bisa menjadi teladan yang


baik bagi orang lain di manapun dia berada. Menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya dengan ilmu yang manfaat dan akhlak yang mulia layaknya bintang sirius yang bersinar terang di kegelapan malam. Paham?” tutur Gus Faza panjang dan lebar. Sementara Nasya hanya diam mendengarkan, kemudian mengangguk pertanda bahwa ia paham akan apa yang diucapkan oleh Gus Faza. “Sekarang lebih baik kamu kembali ke kamarmu, tidak baik berada di sini sendirian malam-malam. Tugasnya bisa kamu berikan kepada saya besok.” ucap Gus Faza menatap gadis di depannya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perkataannya. Setelah membereskan buku-bukunya, Nasya pun pamit undur diri. Belum sampai tiga langkah, kakinya kembali berhenti mendengar panggilan dari Gus Faza. “Luruskan kembali niatmu berangkat ke pondok. Terus semangat Nasya, saya yakin kamu pasti bisa.” ucap Gus Faza sembari tersenyum menampilkan lesung pipitnya. Nasya mematung sejenak, namun detik berikutnya ia memasang senyum terbaik yang ia punya lalu mengucapkan terimakasih. “Assalamu’alaikum…” Setelah itu dia berbalik untuk melanjutkan perjalanannya menuju asrama putri. ***** Matahari perlahan mulai bersinar menunjukkan dirinya. Cahayanya menghangatkan suasana pagi. Nasya melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Hari ini dia sengaja berangkat lebih pagi. Entah, mungkin karena nasehat dan dorongan semangat dari Gus Faza semalam, membuat Nasya begitu bersemangat untuk menuntut ilmu pagi ini. Selain belajar ilmu agama di pesantren Nasya juga bersekolah di salah satu sekolah umum yang letaknya tidak begitu jauh dari pesantren. Karena pendidikan formal juga sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, di samping pendidikan pesantren agar tercipta generasi muda yang cerdas dan berakhlakul karimah. ***** SMA Wachid Hasyim termasuk sekolah yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak bisa dikatakan kecil dengan ratusan siswa serta dua jurusan, IPA dan IPS. Fasilitasnya juga cukup lengkap dengan 18 ruang kelas, 1 laboratorium IPA, 2 laboratorium Computer, perpustakaan, dan mushola. Nasya melangkahkan kakinya melewati koridor sekolah menuju ruang kelasnya. “Sya!” panggil seseorang dari arah belakang, membuat Nasya menolehkan kepalanya dan melihat Febi berjalan ke arahnya.


“Tumben kamu berangkat jam segini?” tanya Febi ketika sudah berdiri di samping Nasya. Yang ditanya hanya menjawab dengan senyuman. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas. “Eh, tau nggak? Bentar lagi kan Hari Santri Nasional, sekolah kita bakalan ngadain lomba nulis cerpen, kamu nggak ada niatan buat ikut gitu? Kan lumayan kalo menang hadiahnya.” “Nggak tau deh, entar lihat aja.” Jawaban Nasya membuat Febi berdecak kesal. Sahabatnya yang satu ini memang rada kurang percaya diri, padahal ia sangat berbakat dalam bidang menulis, terutama menulis cerpen. Sudah beberapa kali Febi menyuruhnya untuk mempublikasikan naskahnya di buletin sekolah, tapi dia tidak mau. “Kamu itu punya bakat itu harusnya dikembangin untuk mengasah potensi yang sudah kamu miliki.” Febi kembali bersuara. “Iya iya deh, aku ikut.” jawab Nasya. “Nah gitu donk. Sebagai pemuda kita itu harus bisa berkarya, kalo kata Nufi Wardhana mah, “tak perlu cantik yang penting berkarya”.” ucap Febi sambil tertawa. Nasya hanya tertawa kecil menanggapinya. ***** Guru yang mengajar di jam pelajaran pertama tidak masuk karena alasan mendadak, dan hanya memberikan tugas untuk mengerjakan beberapa latihan soal yang ada di buku paket. Semua murid yang ada di kelas 10 MIA 1 mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh Bu Sarah tanpa paksaan. Sampai kemudian terdengar bel tanda istirahat, beberapa anak yang sudah selesai mengerjakan tugasnya keluar untuk pergi ke kantin, namun ada juga yang memilih berdiam di kelas karena membawa bekal dari rumah. Berbeda dengan Nasya yang memilih perpustakaan untuk menghabiskan waktu istrirahatnya. Gadis itu memilih duduk di bangku yang terletak di pojok dan menempel pada tembok, kemudian mulai sibuk mencoret-coret buku bindernya. Sesekali dia mengangkat kepalanya untuk melihat suasana perpustakaan yang cukup ramai untuk kemudian kembali sibuk menulis. Yup, Nasya sedang menulis cerpen untuk mengikuti event yang diadakan oleh sekolahnya. Kertas yang semula putih kini telah penuh dengan tulisan-tulisan. Lalu dia membaca sejenak isi tulisannya yang dia beri judul “Senja di langit pesantren”, lantas menutup buku bindernya, kemudian beranjak pergi dari perpustakaan. ***** Saat ini Nasya tengah duduk di dalam masjid bersama puluhan santri lainnya untuk membaca sholawat nariyah bersama dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional yang akan jatuh besok hari Ahad, 22 Oktober 2017.


Disaat banyak anak remaja seusia mereka tengah sibuk goyang ubur-ubur di aplikasi Tiktok, atau nongkrong-nongkrong di kafe, para santri di Pondok Pesantren Nurul Huda justru tengah duduk takdzim melantunkan sholawat nariyah, sembari mengingat kembali semangat jihad para santri dahulu dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama’. Setelah pembacaan sholawat selesai, Pak Kyai Abdurrahman memberi sedikit wejangan kepada santrinya. Semua santri diam mendengarkan dengan takdzim apa yang disampaikan oleh Kyai Abdurrahman. Tidak ada yang berani berbicara ataupun mengobrol dengan temannya. “Adanya Hari Santri Nasional sejatinya adalah sebagai bentuk untuk mengingat, menghargai, dan mengapresiasi peran historis para ulama’ dan kaum santri dalam memperjuangkan dan menjaga keutuhan NKRI.” Kyai Abdurrahman diam sejenak, menatap wajah para santrinya. “72 tahun yang lalu, ketika tentara sekutu datang ke Indonesia untuk menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa yang berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan penjajah.” “Betapa besar perjuangan serta pengorbanan mereka untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, maka dari itu kita sebagai generasi penerus ulama’ harus bisa meneladani semangat juang para ulama’ dan santri dahulu. Seperti yang tertera dalam kitab Alfiyyah Ibnu Malik: وما يلي المضاف ياءتي خلفا # عنه في االعراب اذاماخدفا Makna yang terkandung di dalam nadhom tersebut adalah seorang santri harus mampu mengganti posisi dan fungsi kyai, jika kyai sudah dipanggil ke rahmatullah.” “Lho, terus bagaimana caranya? Apakah seorang santri harus menjadi seorang kyai ketika sudah keluar dari pondok? Tidak!” “Sukses terbesar seorang santri bukan menjadi kyai, tetapi ketika dia mampu mengamalkan dan menerapkan apa yang ia pelajari selama ini dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.” “Terus jihadnya santri sekarang apa? تعلم فان العلم زين الهله وفضل وعنوان لكل المحا مد Jihadnya seorang santri itu ya mencari ilmu, memerangi kebodohan. Karena ilmu itu akan menjadi penghias, menjadi keistimewaan, serta alamat suatu hal yang terpuji bagi orang yang memilikinya.”


“Makanya mantu idaman ya santri itu. Jika ada orang yang bilang punya mantu santri, terus anakku mau dikasih makan apa? Kitab? Itu jelas salah besar. Lho, kalo santri pegangannya kitab terus makannya kitab, terus polisi yang pegangnya pistol makannya pistol?” Terdengar para santri tertawa lirih, kemudian Kyai Abdurrahman melanjutkan perkataannya. وكن مستفيدا كل يوم زيادة من العلم واسبح في بحور الفوائد “Maka jadilah orang yang selalu mencari faedah di setiap harinya, kemudian selamilah lautan faedah tersebut. Jadilah santri yang mempunyai semangat tinggi, yang bisa menciptakan prestasi, dan membanggakan negeri.” ***** Tanggal 22 Oktober pun tiba, Nasya dan teman-temannya sudah berbaris rapi di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Santri Nasional. “Sya!” panggil seseorang dari arah belakang, membuat Nasya menoleh ke sumber suara. “Eh Febi? Kamu dari tadi ke mana aja, aku cariin kok?” tanya Nasya. “Hehe sorry, tadi aku ke toilet dulu. Biasah panggilan alam mendadak.” jawab Febi sambil nyengir. Nasya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Dasar! Untung aja upacaranya belum dimulai, masih gladi bersih.” ***** Upacara pun berlangsung dengan khidmat, semua siswa dan guru menjalaninya dengan tertib. Setelah upacara selesai para siswa belum diperkenankan untuk bubar, karena ada beberapa pengumuman yang akan disampaikan oleh kepala sekolah. “Wah, kayaknya pengumuman juara lomba nulis cerpen kemarin nih.” celetuk Febi tibatiba. Nasya hanya diam. “Apapun hasilnya, serahkan semuanya sama Allah, Sya. Kalah atau menang itu biasa kok. Yang penting kamu kan udah mencoba.” Kata Febi. Nasya hanya tersenyum menggapinya. Para siswa terlihat begitu antusias mendengarkan siapa pemenangnya. Terlihat euforia kemenangan dari para siswa yang namanya disebutkan sebagai juara tiga dan dua. Nasya hanya diam. Terlalu tinggi kalau dia berharap menjadi juara satu, begitu pikirnya. “Juara pertama untuk lomba menulis cerpen dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional adalaaaaah…..”


“Nasya Salsabila Mubarok dari kelas 10 MIA 1.” tiba-tiba namanya dipanggil dengan lantang. Terdengar suara teman-temannya berteriak girang, sementara Nasya masih membeku. Ia masih melongo tak percaya bahwa namanya baru saja disebut. Ketika tangan Febi menyentuh lengannya, barulah Nasya yakin bahwa memang ia yang dipanggil menjadi juara pertama. Nasya pun mengangguk dengan senyum, kemudian berjalan ke depan, berdiri berjejer dengan dua siswa yang lain untuk menerima hadiah. ***** Sore itu setelah tidak ada kegiatan Nasya memilih pergi ke rooftop yang biasanya buat jemuran baju. Sudah menjadi kebiasaannya sejak mondok di sini, setiap sore setelah tidak ada kegiatan dia akan berdiri di tepi pembatas rooftop, menatap senja yang mengawang di angkasa. Menurutnya senja itu indah meskipun hadir hanya sesaat. Mengajarkan kita bahwa hidup tidak selalu bersinar, tapi ada kalanya kita akan tenggelam tetapi bukan untuk menyerah. Karena senja juga mengajarkan kita untuk hidup memberi makna meskipun hadir hanya sesaat. Dia menghela nafas sejenak, kemudian tersenyum mengingat setiap kejadian yang telah dilaluinya di tempat ini. Semuanya memberikan kesan yang membekas di hatinya. Padahal dulu dia sempat menolak ketika mama dan papanya memasukkannya ke pesantren. Dia menganggap kehidupan di pesantren itu seperti di penjara, nggak asyik. Tapi sekarang, dia justru bangga menjadi seorang santri. “Terimakasih Ya Rabb, telah menaruhku di tempat ini. Tempat yang telah mengajarkanku banyak hal. Tentang indahnya persahabatan, pentingnya menghargai waktu, tentang bagaimana caranya bersikap dewasa dalam segala hal, belajar bersyukur dalam keadaan apapun, dan masih banyak lagi…” ucapnya dalam hati. SELESAI BIODATA PENULIS Nama : Zidna Fitriana TTL : Pekalongan, 25 November 2003 Alamat : Dk. Pejaten, RT/RW : 002/001, Ds. Kedungkebo Kc. Karangdadap, Kb.Pekalongan, Kode pos : 51174 Jawa Tengah – Indonesia


Riwayat Pendidikan : TK Dharma Wanita SDN Kedungkebo Pondok Pesantren Salaf Al-Inayah MTs NU 01 Batang Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Salafiyah Syafi’iyah MASS Proto Kedungwuni Hobi : Membaca buku, mendengarkan music,bercerita, dan menulis. Email : [email protected] Segitu aja ya, cukup kan? Yaudah terimakasih! ☺


Mie Ayam Di suatu pagi yang cerah, seorang wanita berparas cantik memulai harinya dengan membuka kedua matanya, meregangkan badannya yang terasa kaku karena semalam tertidur dalam keadaan lelah. Saat meregangkan badannya, bunyi persendian dapat terdengar jelas di telinganya. Katanya, sendi yang berbunyi itu disebabkan oleh gesekan tulang rawan sendi ketika sendi bergerak atau karena pecahnya gas nitrogen yang terdapat di dalam cairan sendi ketika sendi bergerak. Ia pernah membacanya di suatu buku di perpustakaan daerah. Kemudian, Ia mematikan alarm gawainya yang membuatnya terbangun. Dapat dilihat, sebenarnya Ia masih mengantuk, namun dengan terpaksa harus terbangun, untuk memulai kehidupan di hari yang baru. Dengan wajah lesu, wanita itu bangkit dari tempat tidurnya, berdiri sebentar untuk melamun, merapihkan tempat tidurnya yang lumayan berantakan, lalu melangkahkan kakinya dengan berat ke arah pintu kamar mandi, berniat mengguyur tubuhnya supaya merasa segar. Selesai mandi, dilanjut dengan kegiatan seperti berganti pakaian, merias dirinya, dan bingung memilih sarapan apa yang akan dia makan hari ini. Maklum, wanita yang diketahui bernama Nazilla Kinandi atau kerap dipanggil Nana adalah seorang anak kost. Setelah berperang dengan pikirannya, Nana memutuskan untuk makan roti bakar dengan segelas susu hangat. Ia mengambil Teflon kecil untuk memanggang rotinya, kemudian mengoleskan selai coklat yang memiliki cita rasa manis tersebut di atasnya. Yummy, melihatnya saja sudah bisa membuat menelan ludah, tanda tak sabar ingin menyantapnya. Selesai memanggang roti dan menuangkan susu ke dalam gelas, Ia membawa keduanya ke meja makan. Ia menyantapnya dengan fokus di meja makannya. Kini, terlihat piring dan gelas di hadapannya sudah bersih, tanpa tersisa adanya makanan. Nana menaruh piring kotornya di tempat cuci piring, kemudian mencucinya. Nana sejak kecil sudah dibiasakan oleh kedua orang tuanya untuk selalu mencuci piring yang diggunakannya sendiri. Itu pun berlaku untuk kedua adiknya. Saat sudah mulai beranjak dewasa, Ia jadi menyadari pentingnya kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dulu, ternyata sangat berpengaruh di kehidupannya yang sekarang.


Ia melirik jam yang tergantung di dinding ruang tamunya, menunjukkan pukul 06:30, sudah waktunya Ia bergegas untuk pergi ke kampusnya, tentu saja untuk menuntut ilmu dan bertemu teman-teman. Ia menyelesaikan kelasnya hari itu dengan cepat, sebenarnya tidak secepat itu, tapi karena Nana menikmati setiap proses pembelajaran, jadi terasa cepat. Karena sejauh hari ini berjalan dengan baik, Ia merasa hari ini akan terus berjalan demikian, tanpa ada perasaan takut aka n ada suatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Ia memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kost, namun Ia ingin pergi bermain terlebih dahulu bersama sahabtnya sejak SMP. Saat sedang hendak menghampiri ke kelasnya, wanita yang mana adalah sahabatnya itu keluar dari gerbang utama fakultasnya. “Risaaa! Heei heii, aku di sini.” Nana melambaikan tangannya sambil memanggil nama sahabatnya itu, di sambut dengan senyuman cerah dari sang lawan bicara. Risa dengan segera berjalan menghampirinya, kemudian melakukan tos andalan mereka. Haha sudah seperti anak kecil yang sedang bermain, ya. Mereka memang sangat lah akrab, bahkan orang yang hanya melihatnya sekali, bisa mengira bahwa mereka bersaudara. Karena jam sudah menunjukkan jam makan siang, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat tujuan selanjutnya. Cacing di perut mereka sudah demo minta diberi asupan gizi alias makanan. Tidak usah ditanyakan apa yang akan mereka makan, tentu saja Mie Ayam. Mereka berdua memiliki selera makan yang sama. Mereka menghabiskan makanannya dengan cerita satu sama lain dan bercanda. Momen yang sangat disukai oleh Nana. Namun, di tengah meeka sedang makan, terdengar suara anak lelaki berteriak. Mereka tentu saja tidak tau, kepada siapa lelaki itu berteriak. Setelah membalikkan tubuhnya mencari sumber suara, Nana membuka matanya dengan lebar karena kaget. Didapati suara teriakan itu berasal dari lelaki yang mana sedang membentak pengemis. Terlihat raut wajah marah dari lelaki itu dan wajah takut terpampang jelas di muka sang pengemis. Nana melihat sekeliling, Ia heran mengapa tidak ada orang yang menegurnya, apalagi yang berada di dekat mereka berdua. Ia menatap wajah Risa, menunjukkan mimic muka yang mengajak Risa untuk menghampiri pengemis itu. Nana merasa tidak tega melihatnya. Mereka pun


menghampiri lelaki dan pengemis itu, Risa menyuruh sang ibu untu berdiri dan duduk di salah satu kursi, sedangkan Nana menegur lelaki yang membentak pengemis tadi. Ia ingin menanyakan mengapa Ia membentaknya. “Kenapa, ya, mas? Kok kasar banget nih saya lihat. Emang gabisa gausa teriak dan nyampeinapa maksud mas ke ibu itu dengan cara yang elbih baik?” Tanya Nana meminta jawaban dari lelaki itu. Jawaban yang dilontarkan lelaki itu sangatlah membuatnya kesal. Ia melakukan itu karena merasa terganggu, padahal nyatanya pengemis itu hanya minta uang seiklasnya, y ajika tidak mau memberi tinggal tidak usah memberi, tohi bunya tidak memaksa. Memang sih Nana tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan pengemis itu, namun dengan hanya orang melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai, kita sama sekali tidak berhak untuk berperilaku menyimpang dan mempermalukan orang tersebut. Kan sama-sama sedang menjalankan hidup dan bertahan, hanya saja caranya salah. Nana memberi nasihat tersebut pada lelaki itu, Ia memberi tahu pentingnya etika berbicara dengan orang lain. Mereka berdua pulang setelah menghabiskan semangkuk mie ayam dan menyelesaikan permasalahan antara si pengemis dengan lelaki yang marah-marah tadi. Risa beerkata bila etika dan kesopanan itu nomor satu, dimanapun kamu berada, harus tetap menjaga kesopanan, agar orang lain merasa nyaman dan tidak dirugikan oleh tingkah lakumu.


DongenguntukKiara oleh:AdityaRahayu Halteyangditempatikeduaremajaberanjakdewasaitusepi.Hanyaadabeberapamobildan motorberseliweran.DelonmenilikkearahKiarayangdudukdisampingkanannya.MelihatKiara yangfokusmelihatkeduakakinyayangdiayunkan,munculideuntukmenjailigadiskakuitu. TangankanannyasedikitmendekatitangankiriKiarayangmenapakikursibesihaltebus.Lalu dengansengajasedikitmenyentuhjarikelingkingKiara. Kiaratersentakdenganpergerakanasingdijaritelunjukkanankirinya,lalumenolehpadaDelon danlangsungmengangkattangankirinyauntukiapangku.Interaksicanggungdan kekikukannyamembuatKiarasalahtingkah. "Ah,sorry.Gaksengaja." "Iya,gapapa." KiaramendengarkekehanyangternyataberasaldariDelon.DirinyatakmengertikenapaDelon tertawatapidiajugatidakmauterkesankepodanterlalupenasarankarenabertanya. "Koknggatanya?" "Apanya?" "Kenapaakutertawa?" "Kenapa?" "Nggapapa." Delonkembalitertawamelihatke-kakuanKiara,danKiarayangsalahtingkahmalahmemilih sibukdengankesepuluhjarinyadaripadalebihsalahtingkahlagi.Ketikabusberhentididepan mereka,tapiKiarayangmalahsibukdengandunianyasendiritidaksadarbahwaseseorang disampingnyasudahberdiri. "Yuk!" "Kemana?" "BusnyaudahsampeKiara,maudisinisamaakusampebesok?" Kiaramelihatbusyangmemangsudahberadadisana,dengancepatKiaramelangkahlebihdulu sampai-sampaidirinyatersandungtalisepatumiliknyayanglepas.UntungsajaKiaratidak sampaijatuh,kalaubenardirinyajatuhentahakansemaluapadirinyananti.DengansigapDelon memegangtanganKiara,berniatmembantuKiaramenyeimbangkantubuhnya.


"Hati-hati,Kia." KiaradengancepatmelepaskantanganDelondaritangannyadanberniatmengikattali sepatunya.TapiKiaraterlanjurmelihatDelonyangtiba-tibajongkokberusahameraihsepatunya dengantaliterlepas.Refleks,KiaramemundurkanlangkahnyadanmelihatDelonyang menatapnyadaribawahdengantatapanbertanya. "Anu—akubisasendirikok.Kak,"gagapKiara.DanuntungsajaDelonlangsungberdiritanpa protessesuatuapapun. "Gimanasihpak,koknggajalan-jalan,"Delonmendengarsuaraprotesandaridalambus. "Iyanihpak,udahsoretauk,"protessebuahsuaracemprenglagi. "Gimanambakmasnyamaunaikngga?"Tanyasopirbus. "BentarPak.jadinaikkok,"ucapDelon. KiaraselesaimengikattalisepatunyalalumasukkedalamlebihdulumeninggalkanDelon. DisusulDelonmengekortepatdibelakangKiara.Danuntungsaja,sepertinyasemestasedang memihakDelonkarenahanyatersisaduabuahkursikosong.Kiaramasuklebihduludisusul Delonyangdudukdisebelahnya.Lalumerekaberduasama-samamenopangtasransel dipangkuannya. Pengab,suarapengamendanpedagangyangsalingbertabrakan.Danjugakepulanasapbus danasaprokokmengumpuljadisatu.Belumlagi,cahayamatahariyangmenyengatlewat jendela.Kiaramengambilearphonewarnahitammiliknyadanmenyambungkanmelodike dalamtelinganya. Delonmemperhatikangerak-gerikKiaradenganbaik.Dansedikitkagetgadisitumemilih mendengarkanlagudanmenganggurkandirinya.Takterima,Delonmenariksatuearphonemilik Kiara. "Ajakngomong,Dong." Kiaraterdiammemilihtopikapayangiatanyakan.Kelasberapa?Ngga.Udahberapalamakenal KakBila?Nggajuga,nantikesannyakamuterlalukepo,Ra.Terus,apayangharusakutanyain?? BatinKiara,terlalubingungapayangharusdialakukan. DelonmemperhatikandahiKiarayangmengerut,sepertinyagadiskakuituterlalubingung mengangkattopik.Dirinyamembukatasranselhitammiliknyalalumenyobeklembarantengah bukutulisnya. "Cobatebak,halkonyolapayangkatanyabisamengabulkanharapan?" "Hah,apa?"GaguKiarayangterlarutdalampikirannyamengambiltopik.


"Cobakamutebak,halkonyolapayangkatanyabisangabulinpermintaan?" "Apa?Halkonyol,berartibukanberdoakanjawabannya?" "Bukan,cobatebaklagi." KiaramemperhatikanDelonyangdenganrapimelipatkertasbukutulisdisampingnya.Tak sadartangannyamenariksatuearphoneyangmasihadaditelinganya,karenaterfokuspadahal yangdilakukanDelon. "Tiuplilinkueulangtahun?" "Tiuplilinituhalkonyol?" "Berartibukan?" "Bukan,yanglain." KiaramelihatlipatanDelonyangsudahmulaimembentuksebuahbentuk. "Berarti,1001burungkertas?" "Ah,curang.Kanudahliat." "KanKakDelonngelipetnyadisini.Gimanaakunggaliat." DelontersenyummelihatkekakuanKiarayangsudahmulaisedikitmencair.Lalumemberikan sebuahorigamiburungyangialipatsendirikepadaKiara. "Kamupercaya?" "Mitos1001origamiburung?" "Iya,percayanggak?" "Nggaktahu,kalaukakaksendiri?" "Nggak." "Kenapa?" "Hukumdunianggabisasesederhanaitu,Kia." "Maksudnya?" "Maudengarsebuahcerita?" "Cerita?"


"Iya,mau?" "Boleh." "Disuatuhari,disebuahruangdanwaktu.Adaanakkecilyangdiceritakanmitos1001burung origamibisamengabulkanharapanolehibunya.Anakkecilitutaklainanakseorangpetanilabu disebuahkerajaanmakmur.Dankeinginandarisianakkeciladalahmenjadiseorangputriraja yangkayaraya,bukanmenjadianakdaripetanilabu." Delonbercerita,yangdisimakdenganbaikolehKiara. "Anakkecilitudenganpolosnyapercayapadaucapansangibu.Suatuhari,sanganakkecil meminta1001lembarkertaskepadaibunya.Yangtentusajatidakdiberikanolehsangibu. Alhasil,anakkecilitumerobeksemuabukunyauntukmembuatorigamiburung.Singkatcerita, dalamwaktulimaharisianakkecilberhasilmembuat1001origamiburungdengantangannya yangberakhirkram." "Terus?Anakkecilnyabisajadiputriraja?" "Menurutkamubisa?" "Nggak." "Bener,nggaadaapapunyangterjadi.Malahakhirnyadiadimarahihabis-habisanolehibunya dengantangannyayangkramparah." "Intinya?" "Mitos1001origamiburungitusebenernyabukansekedarmitos,Kia." "Tapi?" "Tapi,hanyasebuahperumpamaan.Melipat1001kertasjadiburungitubukanhalmudah. Memangmudahkalausatu,tapibedaceritakalauseribu.Halitumengajarkanmanusiabuat berusahakerasngeraihmimpinya,bukanmengandalkanlipatankertasapalagikeberuntungan." Kiaratakbisamemberikansecuilpunkatayangtepatsetelahmendengarkanceritasederhana Delon.Mengertiakanhalitu,Delonkembalibersuara. "Jadi,nggaperlutiuplilinataubuat1001origami.Asalkamupercayabahwaharapanmusuatu harijadikenyataan,cumaitu.Jadi,yangbisamengabulkansebuahharapanadalahharapanitu sendiri." Kiarasudahmenemukankalimatyangtepatuntukiautarakan,tapisebuahtepuktangankecildi bangkudepanmerekamenghentikanmulutKiarayangsudahsedikitterbuka.Danmuncullah


seoranganakperempuankecilberumursekitar5tahunbertepuktangandenganmeriah. "Putri,janganberisik,"peringatwanitadisampingsanggadiscilikyangmerupakanibunya.Tapi sigadiscilikmalahberdirimenghadapbelakangdikursinya,tepatmengarahketempatduduk KiaradanDelon. "Ceritanyabagus,Kak!"Ucapgadiskecilitusambilmenunjukan2jempolditanganmungilnya. "NamakuPutri,tapibukanPutriRajakak.NamakuAshilaPutri.Kakaksalahnamadiceritanya." Kiaratertawamendengarkepolosananakkecilitu.MendengartawaKiaralangsungmenarik perhatianDelonyanglangsungmenengokKiara.Merasadirinyadiperhatikan,Kiaratersedak tawanyasendiridanlangsungberhentitertawa. "Nggapapa,ketawaaja.Kamucantikkalauketawa." SeharusnyasekarangKiaraakanmenjadimalusemalu-malunya,laluwajahnyaakanmemanas. Tapisambaransuaraceriamenghentikansemuakemungkinanitu. "Kakakcantik.Kalaubesarakusecantikkakakituyamah?"PujiPutririang. "Dudukyangbener,Putri.Nantijatuhsakitloh?"Peringatibunya. "Kakakcantik!"PanggilPutri,samasekalitakmenghiraukanperingatanibunya.AlhasilibuPutri yangwas-wasmemegangiPutri. "Iya?" "Origamiituapa?" "Origami?" "Iya!?" "Inicontohnya." KiaramemberikanorigamiburungyangDelonbuatkanuntukdirinya.Tapitangannyalangsung dihentikansebelumsampaikeulurantanganmungilPutri. "Janganyangitu,akubuatinlagi,"ucapanDelonmengambilperhatianPutri. "Putri,origamiitusenimenghiaskertasuntukmembentuksesuatuyanglain.Misalnyadibuat jadiburungyangdipegangsamakakakcantik,"terangDelonyangdidengarkandenganseksama olehPutri.DanjugadiperhatikanolehKiara. "Nahudahjadi!InibuatPutri,"Delonmemberikanlipatankertasituyangditerimadenganceria olehPutri.


"Kakakganteng,ceritalagidong." "Cerita?" "Iya,ceritanyaPutriAshilakak,bukanPutriRaja." Delonterkekehmendengarnya,tapibustiba-tibaberhentiditempatyangiatuju.Tempattujuan merekaberduauntukmembeliperalatanperlombaan,danbusnyasudahberadatepatdidepan tokonya. "Yaaah,tapikakakudahsampekealamatkakak.Lainkaliajayah?" "Udah,Putri.Kakaknyamaupergi,kamujanganreweldeh." RautwajahsedihtergambardimukaPutri.Tapimerekaharusturun.DelonberdiridiikutiKiara. TapiketikamelewatikursiPutridanibunyaDelonmendekatkanmulutnyaketelingaPutriuntuk membisikansesuatu.Setelahselesai,Delondengancepatkeluardaridalambus.Kiaraikut keluartapitangannyadicekaltelapaktanganmungilPutri. "Katakakakganteng.Kakakcantikitucantikkalauketawa.Katanyakaloketawanggaboleh ditahan." "Emangkenapakalaukakaknahanketawa?" "Katakakakgantengcantiknyajadiilang." "Gitu?BerartiPutriharusketawa,biarcantikterus.Mau?" "Mau,biarsecantikkakakcantik.Kakakcantikkenapanahanketawa?Lupabelumsikatgigi yah?" KiaratertawamendengarpertanyaanPutri.Karenasudahdisuruhuntukcepat-cepatturun.Kiara mengusaphidungPutridengantelunjuknyapelan. "Lainkali,nurutsamaibuya?Gabolehnakal.Nanticantiknyanambahdaripadacumaketawa. Putrijanji?"Kiaramenawarkanjarikelingkingnyayanglangsungdisambutuluranjarikelingking Putriyangjauhlebihkecil. "Janji,kakakcantik." "Maribu,"sapaKiarapadaibuPutriyangdibalassenyumandananggukan. "Dadah,kakakcantik!" "DadahPutri!"Kiaramelambaikantangannyadanturundaribus,busnyamulaiberjalan.TibatibasenyumannyasurutmengingatperkataanPutriyangkatanyamerupakanperkataanDelon.


"Masalah: Kacamata Kehidupan" Oleh : Ainun Rahma Dani Hening, satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan ruangan kelas 12 IPS 4 saat ini. Para murid terlihat sibuk dan fokus mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka, lebih tepatnya ialah tugas melukis pemandangan di kala senja. Berbeda dari yang lain, Rinai bersama dengan Tegas berada di taman sekolahnya yang cukup sejuk sedang duduk sembari memegangi dagunya. Kalau bahasa kerennya itu sedang mencari inspirasi. "Aku mau mulai mewarnai dari mana ya?" Alis Rinai saling bertaut karena memikirkan sebuah warna yang akan ia torehkan di kanvas miliknya. Begitu pula dengan Tegas. Kanvas yang dirinya lukis hanya baru terlihat garis - garis yang saling berhubungan membentuk sebuah objek. "Kamu sudah mulai untuk mewarnai hasil coretan tangannmu?" tanya Rinai. Tegas menoleh lalu menggelengkan kepalanya. "Aku belum mewarnai. Aku bingung, kita melukis pemandangan alam saat senja tapi anehnya diantara kita berdua tidak ada yang memiliki cat berwarna orange. Di taman ini, Rinai dan Tegas sedang berbincang dan berusaha mencari jalan keluar perihal tugas hari ini. Namun, mereka berdua hanya membawa enam macam warna cat air. Enam warna itu adalah biru, hijau, merah, kuning, hitam, dan putih. Rinai memandangi seseorang yang duduk disebelahnya, Tegas. Yang memiliki postur tubuh atletis dan tinggi badan yang berbeda jauh dari dirinya. Kulitnya putih dan bersih serta daya tarik yang senantiasa melekat pada dirinya, ya benar, wajah yang rupawan. "Bagaimana kalau kita memulai untuk mewarnai objek selain langit terlebih dahulu?. Kalau tidak segera mewarnai, deadline tugas kali ini bisa habis hanya buag bengong saja, iya kan? " ujar Rinai memberitahu Tegas. Mau mengelak tapi itu benar, Tegas pun menyetujuinya. Hal itu menjadi satu- satunya jalan keluar yang terpikirkan oleh mereka. Padahal mereka bisa meminjam kepada teman yang lain, tapi jika itu dilakukan maka saya tidak bisa melanjutkan cerpen ini, hehe. Akhirnya, kedua remaja SMA itu pun kembali memulai untuk mewarnai gambarannya.


Menit demi menit terlewati, keduanya terlihat sangat serius dan fokus untuk menciptakan sebuah karya lukis yang menakjubkan. Hanya ada hening diantara mereka. Hingga tiba-tiba suara dari siswi lain memecah fokus yang sudah mereka ciptakan bermenit-menit lamanya. "Mana warna hijau?" suara Rasel menggema terdengar beberapa saat ketika fokus mereka berdua buyar. "Aku mau pakai, siniin dong!" lanjutnya memaksa. "Oh hai, Rasel. Maaf ya, kebetulan warna hijau nya sedang aku pakai," kata Rinai. "Gantian dong, kalau ada orang yang mau minjem itu dikasih bukan malah nyerocos ih hilli risil. Kuno tau ngga," kata Rasel. "Ah, kalian berdua berisik tau ngga. Dari tadi pusing-pusing aku fokus melukis malah diganggu," Tegas mulai terpancing emosi. "Asal kamu tahu ya Rinai, kamu itu tidak cocok memakai warna cewe kue. Harusnya kamu pakai warna hitam saja. Cocok tuh, seperti warna kulit wajahmu." Rasel tertawaw dengan keras setelah mengucapkan kata yang tidak sepatutnya diucapkan apalagi dirinya adalah orang yang berpendidikan. "Biar saja mukaku gelap. Yang penting badanku wangi. Tidak seperti kamu, outfit elit tapi deodorant sulit," balas Rinai dengan nafas yang memburu. Tegas memandangi kedua temannya yang masih sibuk bertengkar. Dia kesal. Karena kedua temannya itu tiba-tiba saling mengejek satu sama lain. Ada aja bahan yang bisa mereka berdua ributkan. Rasel meributkan warna kulit Rinai pada bagian wajah yang gelap. Rinai banyak mengikuti kegiatan yang berpusat diluar ruangan, apalagi Rinai masuk sebagai salah satu anggota PA yang tentunya tidak aneh lagi jika sering terpapar sinar matahari secara langsung. Sementara itu, Rinai membalas dengan cara membandingkan bau badannya yang wangi dengan badan Rasel yang mudah sekali berkeringat. Padahal berkeringat menjadi hal umum yang dialami remaja di masa pubertas, karena pubertas adalah masa ketika kelenjar keringat menjadi lebih aktif dan tubuh memproduksi lebih banyak hormon. "Berhenti, dong," keluh Tegas. "Jangan berantem terus, ingat kalau kita itu teman." Tapi, diluar dugaan rupanya Rinai dan Rasel tidak ada yang mau mendengarkannya. Mereka kini malah saling tarik wadah kecil tempat cat air berwarna merah. Tak ada yang mau mengalah. Entahlah, cat warna hijau yang tadi mereka perebutkan jadi diabaikan. Serumit itu perempuan.


Tesss... Tesss... Tesss.... Tegas memperhatikan ada beberapa tetes cat air berwarna merah yang tumpah ke atas kanvas milik Rinai. Awal melihat itu, Tegas sangat was-was karena takut terkena amukan perempuan disampingnya. Namun, dia akhirnya bisa tersenyum ceria dan mengusap dada pertanda lega. "Lihat!" Tegas berseru sembari menujuk kanvas milik Rinai. Dengan terpaksa. Rinai dan Rasel berhenti saling mengejek dan beralih melihat ke arah yang ditunjuk Tegas. Mulut mereka mengangga akibat terkejut, terutama Rinai. Ternyata sekarang kanvas yang berisi gambar milik Rinai ada yang berwarna orange! "Kok bisa, Gas?" tanya Rinai heran. "Dasar, dikasih isyarat malah ngang ngong," jawab Rasel sambil membuang buka. "Ck, apasih?!" Tegas yang semula tersenyum lega kini mulai mendatarkan raut wajahnya, ia menghela nafas lalu menghembuskannya secara perlahan. Hal ini dirinya lakukan berulang kali. "Karena warna merah," Tegas menjelaskan dengan gaya bahasa yang sangat singkat, padat, dan untungnya mudah untuk dimengerti. Rupanya, cat air berwarna merah yang diperbutkan Rinai dan Rasel tumpah mengenai gambar Rinai yang berwarna kuning. Yang dimana jika warna merah dan kuning dipadukan menjadi satu maka dapat menciptakan warna orange. Karena itu, satu masalah terselesaikan! "Wah hebat banget. Seperti teori konspirasi anak-anak piyikku. Aku baru tahu kalau warna merah dan kuning digabung bisa tercipta warna orange," seru Rinai takjub. "Norak!" gerutu Rasel pelan. Mendengar itu, Tegas seketika memandangi kedua temannya dan otakw cerdas nya dengan cepat dapat mengingat sesuatu. Senyum manis menghiasi wajahnya yang tampan. Ia memiliki ide yang bagus! Rinai dan Rasel saling berpandangan. "Rinai, ada berapa lubang hidung Rasel? Rinai memasang raut bingung. Namun, dia tetap menjawab.


"Dua." Tegas tersenyum mendengarnya, kini dia memusatkan pandangannya untuk menatap Rasel. "Sel, berapa lubang hidung Rinai?" "Lima," jawab Rasel. Melihat gerak-gerik Tegas yang seperti akan mengucapkan sesuatu, terbukti dari mulutnya yang sudah setengah terbuka. Menghindari ceramah, dengan cepat Rasel meralat jawabannya. "Dua," jawaban Rasel kali ini benar. "Nah, berarti kalian berdua sama, kan?" Mereka diam tak menjawab. Mereka memandang Tegas dengan raut wajah penuh akan tanda tanya. "Gini lho, teman-temanku yang cantik. Kalian berdua sama-sama manusia. Sama- sama mempunyai lubang hidung. Jadi, kalian tidak boleh saling mengejek lagi dong," ujar Tegas sambil tersenyum. Rinai dan Rasel tak berani menatap mata Tegas. Mereka berdua menunduk dan merasa bersalah, akan tetapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua. "Ada yang mau aku sampaikan ke kalian, lho. Aku minta tolong agar kalian dengerin aku ya, aku ngga akan sebut nama dan siapa orang yang melakukannya. Aku harap kalian mengerti, terima kasih." kata Tegas kembali. "Yang pertama, jika kita membutuhkan bantuan orang lain alangkah baiknya kita mengucapkan kata permisi dan tolong. Karena selamanya sikap sopan itu tetap diperlukan. "Yang kedua, jika ada orang lain yang ingin meminjam barang milik kita dan posisinya kita sedang tidak terlalu membutuhkannya, bisa dipinjamkan ya. Jika ingin menolaknya ucapkan kata maaf agar tidak menyinggung perasaan orang lain." "Senyum manisnya jangan lupa," sarannya. "Poin kali ini dengerin baik-baik ya. Etika dalam berkomunikasi dan berperilaku itu penting banget, salah satunya untuk menjaga perasaan orang lain. Sebisa mungkin jangan sampai kita menyakiti perasaanya," "Rinai dengan Raisa coba lihat aku. Aku minta tolong ya, tolong hargai keberadaan temanmu yang sedang berbicara," lanjutnya.


Mereka berdua mendongak, memfokuskan pandangan tepat ke arah Tegas yang sedang duduk sambil memangku hasil karyanya. "Nah, kalau kayak gini kan enak dilihatnya. Sekarang aku mau nanya ke kalian, mengapa sih menjaga perasaan orang lain itu hal yang penting?" Tegas menatap keduanya bergantian. "Karena dengan menjaga perasaan orang lain bisa membuat hidup kita jadi aman. Semua itu karena kita tidak menjadikan mereka musuh dalam kehidupan keseharian kita." jawab Rinai dengan senyuman. Tak mau kalah, Rasel juga ikut menjawab. "Hal itu bisa membuat kita terlepas dari beban pikiran akibat perlakuan orang lain atau malah perlakuan kita yang mungkin keterlaluan pada orang lain." Tegas mengangguk membenarkan. "Sekarang kalian mengerti, kan?" ucap Tegas memastikan. Rinai dan Rasel mengangguk. "Ternyata hidup dengan menerapkan kata permisi, maaf, tolong, terima kasih dan silakan itu keren lho ya bukan norak apalagi kuno." "Maafin aku juga yang tadi sempat emosi ya," ucap Tegas. Rinai dan Rasel berpandangan. Dengan senyum malu - malu merekapun saling berjabat tangan. Tegas full senyum melihatnya.


BERPERILAKU SOPAN SANTUN Pada suatu hari terdapat 3 orang sahabat yang bernama Dhito, Reza dan Wildan. Mereka bersekolah di sekolah yang sama yaitu SMAS Taman Harapan 1. Masing-masing dari mereka mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Dhito mempunyai sifat yang baik, pendiam, cerdas dan kreatif. Reza mempunyai sifat yang sopan, setia kawan dan ramah. Sedangkan Wildan mempunyai sifat yang berbeda dari kedua sahabatnya yaitu sedikit ceroboh, pecicilan, cuek, humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya memiliki sifat dan karakter yang berbeda tetapi mereka tetap menjadikan sebuah perbedaan itu sebagai suatu hal untuk saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Pagi itu Wildan terbangun dari tidur nyenyaknya. Setelah itu ia sholat subuh, mandi dan sarapan kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Wildan mengeluarkan sepeda motornya dari dalam rumah, lalu ia berpamitan dengan ibunya “Bu, mas mau berangkat sekolah dulu ya” Teriak Wildan dari luar rumah sambil menyalakan mesin motornya. “Tunggu dulu nak” Jawab ibu Wildan yang datang menghampiri putra semata wayangnya. “Ada apa bu?” Tanya Wildan heran. “Kamu pamitan sama ibu tanpa salaman dan teriak-teriak dari luar seperti itu? Tidak sopan sekali kamu. Sekarang turun dan pamitan yang benar dengan ibu.” Perintah ibu Wildan yang tidak terbantahkan. “Maaf bu” Sahut Wildan sambil turun dari motornya lalu menghampiri ibu. “Mas berangkat sekolah dulu ya bu” Pamit Wildan mencium punggung tangan ibunya. “Nah ini baru namanya sopan. Ya sudah sana berangkat, nanti kamu telat. Ingat ya jangan diulangi lagi, ibu tidak pernah mengajarkan kamu tidak sopan seperti itu” Pesan ibu kepada Wildan. Wildan menganggukan kepalanya. “Baik bu.. mas berangkat, Assalamualaikum” Ucap Wildan berjalan menghampiri motornya. “Waalaikumsalam, hati-hati nak” Jawab ibu Wildan. Wildan pun tersenyum dan mengendarai motornya menuju ke sekolah yang agak jauh dari rumahnya.


Sesampainya di sekolah Wildan langsung menuju ke dalam kelasnya dan mengikuti pelajaran dengan baik. Tak terasa waktu cepat berlalu, bel pulang sudah berbunyi. Semua anak-anak berhamburan keluar kelas termasuk ketiga sejoli ini. Ketika menuju parkiran, mereka berpaspasan dengan Pak Slamet. “Selamat siang pak” Ucap Reza memberi salam. “Mari pak” Sapa Dhito dengan sopan. Pak Slamet hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian berlalu. “Wildan kenapa kamu tidak menyapa Pak Slamet?” Tanya Reza heran. “Aku lagi malas menyapa. Waktu itu aku pernah menyapa guru lain tetapi malah dihiraukan begitu saja” Jawab Wildan kelewat jujur. “Tidak boleh begitu dan, kita harus berperilaku sopan. Setidaknya kita sudah menyapa dan berperilaku baik walau mereka tidak membalas sapaan kita” Ucap Dhito menasehati. “Betul kata Dhito, budayakan juga 5S seperti apa yang sekolah kita terapkan, senyum, salam, sapa, sopan, santun, apalagi sama yang lebih tua” Tambah Reza membuat Wildan memasang wajah kesalnya. “Ck. Aku heran, hari ini orang banyak bicara tentang sopan, sopan dan sopan bikin kepala aku pusing” Keluh Wildan sedikit kesal. “Ya itu karena perilaku kamu kurang sopan akhir-akhir ini. Aku kasih tahu, manfaat berperilaku sopan itu nantinya akan disenangi banyak orang, menciptakan karakter yang mulia, membuat kita lebih ramah pada sesama dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik” Ucap Dhito penuh semangat.


“Tapi bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, tanpa aku sadari aku selalu bersikap tidak sopan. Aku ingin berubah, kalian punya saran tidak?” Keluh Wildan. Ia ingin menjadi lebih baik lagi. “Memang sulit kalo kita belum terbiasa berperilaku sopan, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan. Saranku kamu harus belajar lebih banyak lagi, harus lebih ngerti kalau sopan itu gimana sih, agar nantinya terbiasa dan akan berguna juga untuk kehidupan kamu kedepannya” Ucap Reza. “Nanti pasti kita bantu biar kamu berubah” Tambah Dhito. “Terima kasih” Wildan merasa bersyukur karena telah dikirim sahabat yang baik dan selalu ada untuk dirinya. Hari-hari pun berlalu, sekarang sifat buruk Wildan perlahan mulai hilang dan ia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan lebih ngerti sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Wildan menjadi lebih baik. “Aku senang sekarang kamu berubah jadi lebih baik” Puji Reza. “Alhamdulillah ini semua juga berkat kalian yang dengan sabar bantu aku” Jawab Wildan tersipu malu. “Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” Teriak Dhito penuh semangat. “Ya, karena berperilaku sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Rozi percaya diri. “Terima kasih! Aku sayang kalian semua” Teriak Wildan yang dibalas canda tawa oleh kedua sahabatnya. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun demi kehidupan yang baik.


Mutiara yang Terpendam Karya : Alifya Aenatul Nabila Fajar subuh kembali menyapa. Aku merenggangkan otot-ototku sembari menunggu nyawa kembali penuh. Terbangun dari tidur yang nyenyak, menghirup udara pagi yang segar, dan tak lupa melaksanakan kewajibanku sebagai muslim yaitu melaksanakan salat subuh, aku merasa sangat bersyukur. Bersiap kembali ke sekolah dengan semangat baru. Tak lupa aku pamitan pada ibu yang sedang menyapu halaman. Ada juga bapak yang sedang bersiap berangkat kerja. Aku bangga dengan mereka yang selalu mendukungku dalam kondisi apapun. “Bu, Pak, Bunga berangkat sekolah dulu ya, assalamualaikum,” ujarku kepada mereka. “Waalaikumussalam Bunga,” ucap mereka berbarengan. “Hati-hati di jalan, semangat sekolahnya,” sambung ibu kembali. Ya. Bunga itu namaku. Nama indah pemberian mereka berdua. Aku berangkat menggunakan motor kesayangan. Diiringi angin pagi yang sejuk, seperti saling kejarmengejar dan ditemani mentari yang mulai menampakkan sosok terangnya. Dengan senyum terpatri di bibir manis ini yang terisi harapan setinggi langit dan seluas samudera, aku membawa sepotong impian yang kugenggam untuk diwujudkan. “Eh, kalian kenal anaknya Pak Roji kan ya?” ucap salah satu ibu-ibu yang sedang bergerombol mengobrol. “Iya Bu, kenal, temen-temennya kan di pesantren semua, tapi dia kok malah disekolahin di sekolah umum,” ucap ibu-ibu yang lain. “Gak tau tuh, zaman sekarang rawan, kalau tidak dipesantrenkan akhlaknya bisa kurang,” balas ibu-ibu yang lain lagi. Di perjalanan aku sempat berhenti di sebalik tembok saat segerombolan ibu-ibu sedang mengobrol, tentang diriku. Memang aku tidak dipesantrenkan oleh kedua orang tuaku karena biaya pesantren cukup mahal. Sering aku mendengar lontaran kalimat serupa oleh orang-orang tapi aku tidak ambil masalah akan hal tersebut. Aku pikir, menjadi orang baik tidak harus berada di pesantren. Di mana pun aku harus berusaha menjadi orang baik yang bermanfaat bagi sekitar. Saat aku masih mendengar pembicaraan mereka, tak sengaja mataku melihat nenek-nenek yang sedang kesulitan menyebrang akibat dari lalu-lalang kendaraan. Aku menghampirinya.


“Nek, mari saya bantu menyeberang,” ujarku ke nenek tersebut. “Wah gak usah Nduk, nanti kamu terlambat ke sekolah,” jawab nenek tersebut. “Enggak kok Nek, kan nyeberang cuma sebentar,” balasku lagi. “Kamu baik dan sopan sekali, terima kasih ya, Nduk.” kata nenek kembali. Senang rasanya bisa membantu orang lain. Kasihan nenek itu sudah berumur tetapi masih keliling untuk menjual dagangannya. Sedari aku mulai menolong, gerombolan ibuibu tadi berhenti mengobrol dan kupikir mereka melihatku menolong nenek tersebut. Aku mulai berjalan menuju motorku. Tak lupa menyapa segerombolan ibu-ibu tadi sebagai bentuk sopan santunku terhadap orang yang lebih tua. Sembari tersenyum dan mengucap salam. “Assalamualaikum Bu, permisi,” sapaku ke mereka. “Waalaikumussalam,” jawab mereka serempak. “Mau berangkat sekolah, Nak?” tanya salah satu ibu-ibu. “Iya Bu, ini mau berangkat hehe, mari Ibu-Ibu semuanya,” pamitku kepada ibu-ibu yang tadi sembari tersenyum pula. Aku melanjutkan perjalananku yang sempat tertunda. Dengan ikhlas dan penuh ringan tanganku menggerakkan gas motor. Entah setelah kejadian tadi, apa yang ibu-ibu itu pikirkan. Akankah berpikir buruk tentangku atau sebaliknya, aku tak perlu tahu. Aku selalu berprinsip bahwa kehidupanku tak seperti apa yang mereka anggapkan. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri. Biarkan waktu mengalir membawaku kepada kebaikan-kebaikan selanjutnya. Bahkan mutiara yang terpendam dalam lumpur sekalipun akan tetap bersinar. Ia akan menjadi paling menawan dengan kesederhanaannya. Kebaikan, akhlak, dan perilaku manusia memang bisa dibentuk dari tempat sekitarnya. Akan tetapi, motivasi terbesar untuk perubahan menuju arah positif berasal dari diri kita sendiri.


SITUASI YANG KONTRAS “Bangun, Nak! Jam berapa ini?” Ah, suara ibu sangat keras sampai aku tersadar dari tidurku. Sudah pagi rupanya, pantas sudah ramai suara suara bersahutan, suara motor, tetangga yang mempunyai anak kecil selalu ribut di pagi hari, dan suara burung, ah, sudah tidak ada suara burung di sini. Padahal aku selalu bersemangat ketika mendengar kicauan burung, kebiasaan tiap hari. Aku tinggal di pedesaan, di bawah kaki gunung yang dingin dan sejuk. Namun, sekarang aku sedang menginap di rumah tante, di kota besar, pertemuan keluarga besar setiap tahunnya. Tepatnya saat Idul Fitri. Tahun lalu, aku lebaran di rumah. Seperti biasa, malam takbiran menyalakan petasan, menata kue lebaran di toples, takbiran bersama, memasak lontong opor, hingga tidur. Pagi hari solat Idul Fitri, sungkeman dengan keluarga, silaturahmi dengan tetangga. Rasanya senang dan haru. Saat berjalan mengelilingi rumah tetangga, banyak anak kecil bermain petasan. Suasana yang asri dan keramahan penduduk menjadikan kenangan yang indah dan hangat setiap tahunnya. Berbeda dengan di kota saat ini, tidak ada yang namanya berkeliling satu kompleks. Setelah solat langsung pulang, tidak ada salam-salaman. Di desaku, anak kecil selalu menyapa duluan dan mengangguk sopan jika bertemu orang yang lebih tua di jalan. Di kota ini, tidak, tidak ada seperti itu. Ditambah masa corona, tidak ada jabat tangan. Tidak bisa bersalaman dengan bapak/ibu guru saat di sekolah. Menjaga jarak dan memakai masker. Dari situasi itu menjadikan kebiasaan kecil sopan santun beretika tersebut perlahan terlupakan dan tidak menjadi kebiasaan lagi. Apalagi di kota, kita hidup secara individualis. Di desa, kita hidup secara kekeluargaan.


Begitulah situasi sekarang ini. Cara beretika antara kota dan desa pun sudah berbeda, apalagi setelah ada pandemi virus Covid-19. Aku menghela nafas perlahan. Ya, seperti ini lah. Hidup terus berkembang. Namun, alangkah baiknya kita bisa terus menerapkan etika yang baik walau sekecil apapun perilaku itu. Karena sesuatu yang kecil bisa kita biasakan dan dari kebiasaan itu, tumbuh sifat yang baru. Lebaran kali ini, walau terasa berbeda di dalam hati. Namun, rasa hangat bertemu keluarga besar yang sudah dua tahun tidak bertemu ini rasanya tidak bisa digantikan dengan apapun. Aku bahagia. Dan mengenai problem kita mengenai etika untuk generasi sekarang, mungkin kita bisa mulai dari hal-hal kecil dan bisa dimulai dari diri kita sendiri. Aku akan terus menerapkan etika yang baik di mana pun aku berada dan akan meneruskannya ke anak-anak ku. Aku berjanji dan semoga bisa terlaksana dengan baik. Ini ceritaku, pengalamanku, dan tulisanku. Dari seorang perempuan berubuh tinggi ramping, berpakaian monokrom, dan berjilbab biru SMA.


Berperilaku Baik Kepada Sesama Teman Jam menunjukan pukul 04.45, Meira segera beranjak dari tempat tidur dan tidak lupa membereskan tempat tidurnya, lalu menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri. Melihat ibu nya yang sedang memasak untuk sarapan pagi, Meira datang menghampirinya. “Haii Bu, Selamat Pagii..” sapanya kepada ibunya, sambil tersenyum manis. “Selamat pagii juga anak ibu yang cantik, sudah bangun ya?” jawab si ibu sambil membalas senyumannya. “Sudah Bu, ini mau membersihkan badan terus sholat subuh, habis sholat Meira bantu ibu masak yaa”. “Wahh rajin sekali anak ibu, yasudah sana sholat”. “Baik Bu”. Meira adalah anak ke2 dari 2 bersaudara, kakanya bernama Rehan yang sudah kelas 12 SMA, sedangkan Meira sendiri masih kelas 9 SMP, ia diajarkan sejak kecil untuk selalu bangun pagi, dan melaksanakan kewajiban nya, serta selalu menghormati orang lain, tak heran ketika ia sudah tumbuh dewasa ia tumbuh menjadi anak yang rajin, dan baik hati. Selesai sholat Meira menghampiri kembali ibunya yang masih memasak, ia dan ibunya memyiapkan sarapan pagi bersama. Setelah selesai memasak Meira meminta ijin ke ibunya untuk mandi. Selesai mandi ia langsung memakai seragam sekolahnya dan menuju ke tempat makan, ditempat makan ternyata sudah ada kak rehan, ibu dan ayahnya. “Ehh sicantik nya ibu sudah siap, sini gabung sarapan bareng” ajak ibu kepada Meira. “Iya ayo sini sekk”. Ajak Rehan kepada Meira dengan panggilan pesek. “Iyaa Bu” jawab Meira kepada ibu. “Iyaa iyaa Botak” Balesan ejek Meira kepada kakanya. Selesai menyantap sarapan pagi, Ayah, Rehan dan Meira ijin kepada Ibu untuk berangkat. Meira dan Rehan pamitan kepada ayah dan ibunya dengan mencium punggung tangan orangtua nya, “Berangkat dulu ya Yah, Bu” ucap Rehan kepada kedua orang tua nya itu.


“Meira juga ijin ya Yah, Bu, Assalamu’alaikum” sambung Meira. “Wa’alaikumussalam Iyaa hati-hati dijalan ya nak, belajar yang bener, jangan nakal disekolah” Ucap ayah dan ibu. “Baik ayah, baik ibu” jawab Meira dan Rehan bersamaan. “Ayah juga pamit kerja dulu ya Bu”. “ Iya Yah, hati-hati yaa, semangat kerjanya”. Sesampainya disekolah Meira bergabung bersama teman2 nya, ia merupakan siswi yang aktif dan mudah bergaul. Jam menunjukan pukul 07.00 bel masuk pun berbunyi, semua siswa siswi masuk ke kelas, tidak berselang lama Pak Romlan, selaku wali kelas dari kelas 9A masuk bersama seorang anak yang ternyata ia adalah siswi baru di sekolah. “Haloo Assalamu’alaikum wr.wb, selamat Pagii anak-anak” sapa Pak Romlan. “Wa’alaikumussalam wr.wb, selamat Pagii juga Pak!” Jawab murid bersamaan. “Disini Bapa mau menyampaikan sesuatu, yaitu kita kedatangan murid baru yang asalnya dari Sumatra Barat, untuk nak Falia silahkan memperkenalkan diri”. “Selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Falia Putri, panggil saja Falia, asal saya dari Sumatra Barat, pindah kesini karna saya ngikut orang tua saya yang pindah ke Semarang untuk menjalankan pekerjaan nya” Ucap Falia. “Haloo Falia” sapa semua murid. “Baik untuk nak Falia silahkan bisa bergabung bersama teman-teman nya, semoga betah dan bisa belajar dengan nyaman yaa” ucap Pak Romlan. “Baik, terimakasih Pak”. Jawab Falia kemudian menuju ketempat duduk yang kosong yaitu samping meja Meira. “Okee anak-anak, bapa ijin keluar dulu, sebentar lagi Bu Devi akan datang dan mengajar mapel hari ini, semoga kalian bisa berteman baik dengan teman baru kalian yaa, Assalamu’alaikum”. Pamit Pak Romlan. “Wa’alaikumussalam, baik Pak”. Jawab semua murid bersamaan.


Tidak berselang lama Bu Devi datang dengan diawali membaca doa belajar bersama, mata pelajaran pertama pun dimulai. “Oke Assalamu’alaikum wr.wb, selamat pagi, untuk memulai mata pelajaran hari ini silahkan buka buku catetan minggu kemarin yaa” ucap Bu Devi. “Wa’aaikumussalam wr.wb baik Bu” jawab semua murid. “Oh iyaa, ibu dengar disini kedatangan teman baru yaa, namanya siapa? Tanya Bu Devi. “Saya Bu, Falia Putri asal dari Sumatra Barat” jawab Falia. “Oalah nak Falia, selamat bergabung ya”. Sambung Bu Devi. Tapi karna Falia adalah murid baru dikelas ini, jadi tidak memiliki buku catetan minggu kemarin. Tanpa Falia meminta, Meira menawarkan pinjaman buku catetan kepada Falia. “Halo Falia, kenalin aku Meira, aku mau menawarkan buku catetanku barangkali kamu mau meminjam nya” ucap Meira. “Halo Meira, aku Falia, terimakasihh banyak yaa” jawab Falia. “Sama-sama” balas Meira. ***** Jam menunjukan pukul 09.30 bel istirahat pun berbunyi, semua siswa keluar untuk membeli jajan atau hanya sekedar bermain ke kelas sebelah. Berbeda dengan Falia yang baru masuk hari ini dan belum mempunyai teman, ia hanya duduk di meja, lalu Meira mengajak temanteman nya datang menghampiri Falia untuk mengajaknya istirahat bareng. “Halo Falia, ayo kita istirahat bareng, pasti kamu lapar kan” ajak Meira. “Hai Meira, halo temen-temen, iyaa boleh, terimakasih banyak yaa” jawab Falia Mereka akhirnya menuju ke kantin untuk membeli jajan, namun sayang, uang Falia tertinggal di tas. “Falia kamu mau beli apa?” tanya Sinta salah satu teman Meira. “Aku ngga dulu deh temen-temen, uangku tertinggal di tas” jawab Falia. “Pake uangku dulu Falia, gapapa ko” tawar Meira. “Kita beli batagor sama es aja gimana?” sambung Meira lagi.


“Boleh, ayoo aku si yess” jawab Ani, yang juga salah satu teman Meira. “Aku juga yess” sambung Sinta dan Dewi. ***** Beberapa jam pun berlalu, jam pelajaran terakhir pun sudah selesai kini sudah waktunya pulang. Ikhya sebagai ketua kelas memimpin doa pulang setalah itu semuanya berpamitan kepada guru yang telah mengajarnya tadi, dengan mencium punggung tangan guru nya. Sesampainya di rumah Meira mengucapkan salam dan dibalas oleh ibunya, kemudian Meira mencium punggung tangan ibunya, setelah itu ia segera bergegas menuju kamar dan mengganti pakaian. TAMAT Pelajaran yang bisa kita ambil adalah menghormati orang tua dan guru itu wajib, dan menjadi teman yang baik untuk orang lain adalah salah satu kebaikan yang perlu dilakukan.


Aca dan Buah Kesabarannya Oleh : Amrina Rosyada Namanya Aca, tidak ada yang spesial dari dirinya. Kali pertama orang melihatnya, pandangan yang ditunjukkan ke dirinya hanya pandangan meremehkan karena penampilannya yang kelewat ndeso. Kata orang, Tuhan menggariskan hidup Aca harmonis dan baik-baik saja, hampir tidak ada sekalipun masalah yang terlihat dari hidupnya jika dilihat dari luar, siapa yang tahu kalau dia selalu menangis sebelum tidur. Aca selalu tertawa dan tersenyum ketika bersama dengan teman-temannya, dia akan sangat terbuka hanya dengan keluarganya. Pagi ini dia berjalan riang beriringan dengan teman sekelasnya untuk menuju sekolah. “Ca, kamu ikutan panitia MOS?” “Iya sa huhuuu, sebenernya aku udah males banget ikut begituan, karena pasti jadi ajang penggojlokan siswa baru.” Temannya hanya tertawa melihat Aca menjawab sambil memajukan bibirnya tanda sedang kesal. “Semangat!” Sasa, temannya hanya mengepalkan tangannya ke udara memberikan pose menyemangati untuk Aca. ---- Ramai, hanya satu kata itu yang bisa mendeskripsikan keadaan di aula SMA Juanda siang ini. Serangkaian acara untuk penyambutan siswa baru sudah dilewati sejak tadi pagi, sekarang giliran mereka dipersilahkan untuk istirahat, sholat, dan makan. Para panitia yang bertugas untuk mengatur mereka sudah sedari tadi berteriak-teriak dan membuat para siswa baru tersebut berlarian kalang kabut dengan ucapan mengumpat dari sebagian mereka. “Dek, lari dek!” “Dek, jangan lama-lama sholatnya, gantian yang lainnya, setelah ini masih ada acara!” “DEK, BISA CEPETAN DIKIT NGGAK SI DEK!” Sekiranya, begitulah suara teriakan-teriakan yang menggema di seluruh sudut lapangan utama sekolah mengingat letak masjid ada di samping lapangan utama. Aca berdiri disana, di depan jendela samping masjid menatap para teman-temannya berteriak keras di depan para siswa baru. Karena dia tidak bertugas saat ini. “Eum, permisi Kak, tempat untuk wudhu dimana ya Kak?”


Suara itu membuat pandangan Aca beralih ke samping untuk merespon pertanyaan tadi. “Oh, ayo ikut aku dek. Loh kamu sendirian?” “Ah iya Kak, soalnya tadi temen-temen aku pada panik tiba-tiba diteriakin gitu.” “Aku minta maaf ya dek mewakili temen-temen aku, mereka itu sebenernya pengen ngatur kalian aja supaya bisa terkondisikan sesuai jadwal dan rencana di acara, tapi cara mereka aja yang selalu salah karena emang dari dulu itu udah jadi sebuah adat istiadat turun temurun buat merunding siswa baru kaya gitu.” “Eh loh engga kok kak, kenapa kakaknya yang minta maaf, kakak beneran ga salah. Malah aku seneng banget bisa ketemu kakak, soalnya aku daritadi tanya ke kakak yang lain dijawabnya cuma ‘disana dek, cepet’ gitu kak sambil ngebentak.” Aca hanya tertawa melihat adik kelasnya yang baru ditemuinya ini sudah mulai nyaman dan terbuka bercerita seperti itu padanya. “Yaudah dek, ayo katanya mau wudhu.” Aca mengantarkanya ke tempat wudhu di belakang masjid dan dia tiba-tiba dikagetkan oleh teriakan temannya. “Ca! Kamu ngapain disini, cepet itu bantuin seksi konsumsi turunin nasi kotak dari mobil di depan sana.” “Sabar atuh kamu mah, aku juga baru nganterin anak ini buat wudhu soalnya daritadi kalian kerjaannya cuma ngebentak-bentak doang ga ngarahin harus kemana.” ---- Semua acara untuk siswa baru sudah selesai, tapi Aca sedang disini menunggu hujan reda. Toh dia tidak mungkin jalan kaki menuju halte terdekat dengan hujan sederas ini. Tapi siapa sangka, rezeki bisa datang darimana saja. Ketika teman-temanya yang ikut kepanitiaan MOS sedang kedinginan menunggu hujan, peserta MOS tadi yang bertanya kepada Aca dimana tempat wudhu saat siang tadi, menawarkan tumpangan kepada Aca karena dia dijemput oleh supirnya menggunakan mobil. Terima kasih untuk Tuhan dari Aca. “Aku engga ngerepotin kamu ni?” “Ya Tuhan, engga kak, engga ngerepotin sama sekali. Anggep aja ini sebagai hadiah karena kakak sabar banget seharian tadi.” Aca terkejut dan sedikit tertawa mendengar penuturan sang adik kelas yang tiba-tiba memujinya seperti ini. “Apadeh kamu, aku biasa aja kayanya seharian, emangnya aku ngelakuin apa sampe kamu bilang aku sabar banget, kamu merhatiin banget ya kayanya, hayoo ngaku.”


“Eh engga, kan tadi emang aku ketemu kakak kan, aku lihat gimana kakak ngadepin temen-temen kakak yang bentakin kakak juga, dan aku lihat cuma kakak doang satusatunya panitia yang ramah banget.” Aca hanya bisa tertawa mendengar penuturan sang adik kelas, dan mereka sempat mengobrol lama mengingat perjalanan ke rumah Aca memakan waktu hingga satu jam lamanya. Hingga Aca sempat memberikan pengertian kepada adik kelasnya tersebut yang sejak tadi bertanya bagaimana bisa punya kesabaran tingkat dewa seperti itu.. “Kesabaran itu harusnya dimiliki setiap manusia, karena sekali aja kita emosi dan ga bisa ngontrol diri, maka akibatnya bisa sangat fatal dan merugikan orang lain juga, bisa aja sampe menyakiti hati orang lain. Ga ada salahnya untuk mengalah menghadapi orang-orang yang punya pemikiran kolot kaya gitu, Tuhan memerintahkan kita untuk sabar menghadapi segala sesuatu, jadi ya memang harus begitu yang kita lakukan.”


Selisih Irama dan Etika Oleh: Anisah Ryan Putri Herlina (PBSI) Sinar mentari sudah digantikan oleh pesona cantiknya bulan. Namun, suara musik di luar sana tidak kunjung berhenti memasuki gendang telinga Yoana. Gadis manis itu jelas ingat jika musik keras tersebut sudah diputar sejak pagi buta. Apabila kalian berpikir jika musik tersebut berasal dari tetangganya yang pengangguran, maka kalian salah besar. Musik keras itu memang berasal dari rumah tetangganya, tetapi tetangga yang sedang memiliki acara hajatan. Mungkin beberapa orang berpikir, bukankah hal tersebut wajar? Iya, Yoana tahu menyalakan musik adalah hal wajar di acara hajatan. Namun, apakah tidak bisa dimatikan ketika sudah malam? Sekarang ini sudah waktunya untuk istirahat, tidak mungkin ada tamu yang datang malam-malam begini. Ia menghela napas kasar, “Apa mereka pikir yang tinggal di lingkungan ini hanya mereka?” ujarnya dengan kesal. Gadis itu kemudian pergi keluar dari kamarnya, bergabung di ruang keluarga bersama dengan ayah dan ibunya yang belum tidur. Ah, jangan lupakan manusia tiang menyebalkan yang sayangnya adalah kakaknya. Ia mendudukkan diri di sofa dengan kesal, sampai-sampai tiga orang melihatnya dengan terheran-heran. “Hai bayi, kenapa cemberut? Apakah stok susumu sudah habis?” tanya Elvano dengan senyum jailnya. Ya, nama kakak Yoana adalah Elvano. Kakak yang selalu menjengkelkan di mata adiknya. “Diamlah, Kak! Aku sedang kesal sekarang. Aku tidak bisa tidur dengan nyaman karena suara musik yang menggelegar itu,” jelasnya penuh emosi. Sang ibu yang melihat putrinya kesal hanya bisa tersenyum seraya mengelus puncak kepalanya. Kalau Elvano tidak perlu ditanyakan lagi, ia hanya memutar kedua bola matanya malas. “Mereka sedang memiliki acara hajatan, Ana. Wajar jika mereka menyalakan musik dengan suara yang keras.” Elvano menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir melihat tingkah adiknya yang terkesan kekanakan. Perkataan Elvano tentu saja membuat Yoana semakin kesal. Kemudian dia melemparkan bantal sofa di pangkuannya ke Elvano dengan keras. “Kakakku yang tampan. Kau tidak perlu memberi tahu kepadaku tentang itu karena aku pun paham. Masalahnya ini sudah malam, semua orang butuh istirahat di malam hari. Jangan samakan orang lain dengan dirimu yang setengah kelelawar itu,” ucap Yoana dengan senyum lebarnya. Ah, tentu saja itu bukan senyum yang tulus dari dalam hatinya.


“Apa yang dikatakan Yoana memang benar, El. Seharusnya pemilik hajatan memiliki kesadaran diri untuk mematikan musik jika sudah mulai larut malam. Menurut ayah, maksimal jam 21.00 malam sudah dimatikan karena orang lain pun perlu istirahat setelah seharian beraktivitas.” Ayah mereka yang sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan kakak beradik itu mulai ikut mengeluarkan pendapatnya. Perkataannya disambut anggukan kepala semangat dari Yoana, serta tatapan angkuh diberikan untuk kakaknya. “Namun ayah, jika kita menegur mereka, bukankah bisa saja menyebabkan perselisihan?” tanya Elvano kepada sang ayah. “Ya, kamu benar. Karena itulah ada baiknya jika warga sekitar berunding mengenai masalah ini dan menentukan peraturan pembatasan waktu dalam menyalakan musik ketika hajatan,” jelas sang ayah dengan santai. Yoana kebingungan, mengapa tidak langsung ditegur saja? Biarkan saja jika perselisihan terjadi, toh pemilik hajatan yang mencari masalah dahulu. “Jika menunggu berunding bukankah membutuhkan banyak waktu? Itu akan berjalan dengan lambat, Ayah. Tegur saja langsung. Biarkan orang itu menyadari kesalahannya.” Sang ayah yang mendengar itu hanya bisa terkekeh pelan. Dasar gadis remaja, batinnya. “Tidak bisa seperti itu Yoana. Kita harus punya etika dalam menegur orang lain, tidak boleh asal apalagi dengan marahmarah. Manusia itu makhluk sosial, hidup bersama di satu lingkungan. Lingkungan ini beserta isinya bukan hanya milik kita, tetapi juga milik warga lain. Jadi, semisal ada suatu permasalahan, kita harus berdiskusi juga dengan mereka,” jelasnya dengan lembut. Yoana yang mendengar itu hanya bisa menganggukkan kepala dengan pasrah dan merasa pikirannya cukup tercerahkan oleh nasihat dari sang ayah. “Dengarkan itu bayi! Jangan hanya menggunakan emosimu yang menyala itu,” ejek Elvano dengan wajah yang dibuat menyebalkan. Yoana hanya meliriknya sinis dan menunjukkan kepalan tangan ke kakaknya. “Sudah-sudah, kalian ke kamar masing-masing sekarang. Musik hajatan itu sudah berhenti, jadi kalian bisa tidur dengan nyenyak. Yoana juga. Besok kamu masuk sekolah, kan?” ujar sang ibu mencoba mencegah peperangan panjang terjadi. “Baik, Bu,” balas keduanya dengan patuh. Kemudian mereka berdiri dan berjalan menuju kamar masing-masing. Tepat dua langkah sebelum memasuki kamar, Yoana dikejutkan dengan kecupan dari sang kakak. Sedangkan Elvano langsung lari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya sambal tertawa puas. “KAKAK!” Teriakan gadis itu sepertinya lebih kencang musik hajatan tadi sampaisampai ayah dan ibu yang masih di ruang keluarga menutup kedua telinga mereka dan menghela napas penuh kesabaran.


Etika seorang Mahasiswa Pagi itu, seperti biasa Diana berangkat ke kampus setelah ia menyelesaikan kewajibannya di rumah. Yaa, sebagai mahasiswi semester dua, Diana agaknya berbeda dengan mahasiswa lain yang seusianya. Di saat anak-anak lain mungkin berangkat ke kampus dengan diantar sopir, maka Diana harus terlebih dahulu mengantarkan kue bakpau ke toko-toko yang berlangganan bakpau ke ibunya. “Bu Aris, hari ini saya naruh 3 box yaa, ibu lagi kurang enak badan jadinya ga bikin banyak.” Ucap Diana pada salah satu pemilik toko yang menjual bakpau buatan ibu Diana. “Iya nak Diana, ibu sakit apa nak? Semoga cepat sembuh ya.” Jawab bu Aris dengan lembut, yang hanya dibalas senyuman oleh Diana lalu anak itu melenggang pergi setelah mengucap ‘terima kasih’ dan ‘permisi’. Setelah semua bakpau selesai diantarkan, Diana langsung tancap gas ke kampusnya dengan naik sepeda kayuh. Diana selalu datang paling awal, tapi sungguh apes bagi Diana ketika ia harus berpapasan dengan pohon tumbang yang menutup seluruh jembatan yang menjadi satu-satunya akses ke kampus. “Astaga aku bisa telat.” Gerutu Diana dalam hati. Pasalnya, pagi ini ia harus presentasi dan datang sebelum teman-temannya tiba di kelas untuk mempersiapkan proyektor dan lain sebagainya. Tanpa pikir panjang, Diana memutar balik dan mencari jalan berupa gang kecil yang biasa dijadikan jalan alternatif para pengendara motor untuk menghindari razia polisi, tapi sayangnya jalan itu terlalu jauh sehingga Diana harus memakan waktu lebih lama jika lewat sana. Tak ingin menyerah, Diana terus mengayuh sepedanya dengan cepat, sesekali ia harus mengalah dan mengurangi kecepatan sepedanya saat ada pengendara motor yang menyalip, karena banyak yang memotong jalan lewat sini ketika pohon belum juga berhasil dipindahkan dari jembatan itu. Hingga tepat 15 menit setelah menempuh perjalanan, Diana sampai di parkiran kampus. “Ayo cepat cepat ayo cepat cepat” ucap Diana pada dirinya sendiri setelah memarkirkan sepeda dan berjalan sedikit berlari menuju kelasnya di lantai tiga. “Selamat pagi Pak Aryo” dan meskipun hampir terlambat, Diana tidak lupa menyapa orang-orang penting di kampus termasuk pak Satpam. Setelah 3 menit berlari, akhirnya Diana sampai di depan kelasnya, A3. Diana mengintip sedikit ke dalam kelas yang tertutup tirai dan benar saja, kelompok dua sudah presentasi dan dosen yang mengajar sudah stand by di kursi paling belakang untuk menilai dan mengawasi, di mana itu artinya kelompok Diana dilewati begitu saja karena belum tiba di kelas saat sudah waktunya pembelajaran dimulai. Diana mulai mengatur nafas, ia tidak boleh panik. Kuncinya adalah tenang, ucapkan salam, jaga sikap, dan jelaskan situasinya dengan jujur dan tertata rapi. Etika seorang mahasiswa harus dipegang teguh. Hingga detik


kemudian, Diana memutuskan untuk mengetuk pintu kelas yang mengalihkan seluruh atensi penghuni ruangan tersebut. “Assalamualaikum,.” Lirih Diana sambil membungkukkan badan, lalu ia berjalan ke belakang menghampiri dosennya yang juga sedang menatap kearahnya. “Selamat pagi Bu Erlin, mohon maaf sebelumnya karena saya datang terlambat, tadi ada pohon tumbang di tengah jembatan, jadi saya harus lewat gang sempit yang jaraknya jauh bu.” Ucap Diana pelan, tapi seisi kelas bisa mendengarnya. “Kenapa tidak datang lebih pagi saja?” tanya dosen yang diketahui bernama bu Erlin itu, beliau adalah dosen yang lumayan killer omong-omong. “Iya bu mohon maaf, ini memang kesalahan saya. Seharusnya tadi saya berangkat lebih pagi karena saya adalah kelompok pertama. Sekali lagi saya minta maaf bu, saya akan berusaha supaya hal ini tidak terulang kembali.” Diana menunduk dalam sebagai tanda ia benar-benar menyesali kesalahannya, sekaligus tanda bahwa ia menghormati dosennya. Diana bahkan tidak menjelaskan mengapa ia tidak datang pagi, karena ia harus mengantar bakpau dan membantu ibunya yang sedang sakit. Bagi Diana, kuliah adalah tanggungjawabnya dan ia tidak ingin menjadikan urusan pribadi sebagai alasan untuk datang terlambat atau semacamnya, padahal jika ia mengatakan demikian, dosennya pasti akan mengerti dan memberi toleransi. Tapi Diana ingin disiplin, lihatlah bagaimana Bu Erlin memberikan hukuman berupa kelompok Diana harus presentasi paling akhir karena keterlambatan ini. ‘ Tapi Diana menerimanya dengan lapang, ia merasa pantas mendapatkan hukumannya. Tapi bagaimana dengan teman-teman Diana? Ah ia sampai lupa bahwa Karin dan Helenrekan satu kelompoknya-juga belum nampak saat ini. “Saya menilai kelompok kamu sama sekali tidak niat presentasi, mana temantemanmu yang lain?” tanya Bu Erlin sedikit mengintimidasi, membuat seluruh isi kela- “-GUBRAKKK!!!” “Haduh aku terlambat, gimana ini. Heh kalian, ini sudah mulai ya? Aduhh aku tadi kena macet ada pohon tumbang, mana HP ketinggalan. Loh kok udah kelompok dua yang maju? Aku telat banget yaa duuh maaf maaf/” racau Karin, entah pada siapa. Seluruh mahasiswa, termasuk Bu Erlin menatap Karin dengan tatapan yang berbedabeda. Karin, anak itu nampaknya belum menyadari jika Bu Erlin sudah ada di kelas, tepat di kursi paling belakang. Karin mengedarkan pandangannya, ia melihat Diana ada di belakang, berdiri sambil menatap nanar kearahnya. Karin mengedarkan pandangannya lagi, kini ia melihat ada Bu


Erlin di samping Diana. Dan bukannya meminta maaf karena sudah membuat gaduh, anak itu justru berlari ke arah Bu Erlin. “Buuu maaf saya tadi kena macet duh gatau kalo udah mulai.” Ucap Karin dengan nada yang lantang. Bu Erlin hanya menatap Karin tanpa mengatakan apapun. “Duh buu jangan diem aja dong maaf ya.” Karin memang mahasiswi yang dikenal ceplas ceplos dan minus etika. Dia bahkan sering datang terlambat, meski tidak ada pohon tumbang sekalipun. Tak jauh berbeda dengan Helen. Si anak orang kaya yang sering bolos kuliah jika sedang tidak mood, dan sepertinya ia juga tidak akan datang kali ini. Sehingga reputasi kelompok presentasi Diana sedang ada di bawah ancaman. “Kamu tau ini jam berapa?” Bu Erlin membuka suara, nadanya terdengar mengintimidasi. “Jam 9, kan saya sudah bilang bu ada pohon tumbang.” Karin berusaha membela diri. “Kan ada jalan lain-“ “Ada gang sempit Cuma muat sepeda motor, mobil saya ga masuk Buuu.” Kesalnya. Diana sangat terhentak mendengar Karin bahkan berani memotong pembicaraan dosen killernya itu. Bu Erlin menarik nafas panjang, “Diana, Karin, dan Helen yang entah di mana. Saya umumkan sekali lagi. Saya melihat kelompok kalian sama sekali tidak serius dengan mata kuliah saya. Kalian saya hukum untuk presentasi paling terakhir yaitu minggu depan. Dan kalian wajib membuat makalah tentang etika yang baik, terutama kamu Karin. Perbaiki sikap kamu dan cara bicara kamu dengan orang yang lebih tua. Sebenarnya saya ingin sekali mencoret nama kalian agar mengulang mata kuliah saya di semester depan. Tapi saya masih memberikan toleransi karena Diana sudah menjelaskan kepada saya kenapa dia telat dan berjanji tidak akan mengulangnya lagi, bukannya protes dan memotong ucapan saya seperti yang kamu lakukan.” Bu Erlin menatap Karin dengan tajam, dan anak itu mulai menundukkan pandangannya. “Sekian dulu untuk kelas hari ini, silakan panggil saya ketika sikap kalian sudah diperbaiki. Sekian”. Dan Bu Erlin keluar dari kelas A3 mengakhiri kelas yang bahkan baru dimulai. Semua ini adalah tentang etika. Beliau meninggalkan kelas karena ada mahasiswi yang beretika kurang baik, dan memberikan kesempatan kedua karena sikap mahasiswi lain yang memiliki etika baik. Demikianlah pentingnya menjaga etika sebagai seorang intelektual agar kita bisa hidup saling menghargai. Nama : Anjar Jati Kusuma Kelompok : Tanah Lot


Click to View FlipBook Version