“Tapi maaf, Mamah sama Papa gak bisa kalau harus terus bersama. Apa Kana bisa mengerti keputusan kami?” tanya Mamah dengan nada lembut. Kana menatap keduanya bergantian, lalu tersenyum lembut. “Gak apa-apa Mah, Kana bisa mengerti kok kalau kalian udah gak bisa bersama. Tapi Kana gak bisa milih antara Papa dan Mamah.” Katanya yang membuat kedua orangtua nya bernapas lega dan tersenyum maklum. “maafin Kana ya Mah, Pa. Terima kasih juga sudah mau mendengarkan Kana dan menerima keputusan Kana.” Kana memeluk keduanya bergantian. Untuk kali ini mereka bertiga sama-sama menghargai keputusan masing-masing. Papa dan Mamah resmi bercerai, namun Kana masih tetap merasakan kasih sayang keduanya sama rata. Kana juga merasa lega karena kata-kata yang selama ini ia pendam bisa ia sampaikan dan diterima baik oleh kedua orang tuanya. Begitupun keputusan kedua orangtua nya yang bisa ia terima. Kana jadi paham, jika ingin dimengerti, kita harus bisa mengungkapkan pendapat tentang apa yang kita rasakan dan juga menghargai pendapat orang lain, serta menghormati kedua orang tua kita.
Di suatu sekolah yaitu “SMP BANI SALEH”, terdapat 3 orang sahabat yang bernama Robin, Rozi dan Farhan mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 91. Masing masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Robin anaknya baik, ramah, cerdas dan kreatif. Rozi anaknya setia kawan, ramah, humoris dan sopan sedangkan Farhan dia mempunyai sifat agak berbeda dengan kedua sahabatnya yaitu bandel, sedikit ceroboh, terkadang cuek tetapi juga humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya mempunyai sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Seperti biasa, pagi itu Farhan sudah bangun dari tidurnya lalu sholat subuh, mandi lalu sarapan kemudian bersiap siap berangkat sekolah, Farhan hendak menggambil sepeda onthelnya yang masih berada dalam rumah dan akan berpamitan pada ibunya. “Bu, farhan mau berangkat sekolah dulu ya” teriak Farhan sambil menaiki sepedanya. “Tunggu sebentar nak” jawab ibu Farhan yang datang menghampiri anaknya. “Ada apa bu?” tanya Farhan heran. “Kamu pamitan sama ibu dengan menaiki sepeda yang masih di dalam rumah? Sungguh itu perbuatan yang tidak sopan han. Ayo turun dan keluarkan sepedamu!” perintah Ibu Farhan. “Maaf bu” sahut Farhan sambil turun dari sepedanya dan menuntunnnya keluar. “Nah seperti itu baru namanya sopan dan baik” ucap Ibu Farhan. “Iya bu. Farhan minta maaf” ucap Farhan merasa bersalah. “Ya sudah sekarang kamu berangkat nanti terlambat lho. Ingat jangan diulangi lagi ya” pesan Ibu Farhan. “Baik bu Farhan berangkat dulu, Assalamualaikum” pamit Farhan dan mencium punggung tangan ibunya. “Wa’alaikumussalam, hati-hati ya” jawab Ibu Farhan. Farhan pun segera melaju kencang menuju sekolah yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Ternyata setelah sampai di sekolah Farhan terlambat masuk kelas, dengan tergesa-gesa ia pun masuk kelas, tanpa berpikir panjang Farhan langsung masuk begitu saja, melihat itu Pak Kris yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran. “Farhan apa kamu tidak tau sopan santun?” tanya Pak Kris dengan tegas. Lama Farhan terdiam lalu menjawab “Tahu Pak”. “Kalau tahu kenapa kamu masuk tanpa salam atau ketuk pintu terlebih dahulu?” tanya Pak Kris lagi. “Maafkan saya pak” jawab Farhan takut-takut. “Sebagai hukuman kamu berdiri di depan kelas dan bacakan pembukaan UUD 1945” perintah Pak Kris dengan tegas dan galak. Tanpa banyak bicara Farhan pun langsung ke depan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Kris, dengan lancar ia membacakan pembukaan UUD 1945. Tak terasa waktu cepat berlalu bel tanda istirahat pertama pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bersorak gembira. “Baiklah anak-anak bapak sudahi pertemuan kali ini terimakasih. Assalammualaikum” ucap Pak Kris mengakhiri pelajaran. “Wa’alaikumussalam” jawab anak-anak serempak. Mereka pun berhamburan ke luar kelas, ada yang ke kantin, kamar mandi ataupun perpustakaan. Begitupun dengan Farhan, Rozi dan Robin “Robin, Farhan ke kantin yuk! aku lapar nih” ajak Rozi yang sudah kelaparan. Robin & Farhan mengganguk. Mereka segera menuju kantin yang jaraknya agak jauh dari kelas mereka. Sesampainya di kantin mereka duduk dan memesan makanan.
Beberapa menit kemudian pesanan datang. Farhan langsung menyambar bakso yang masih panas itu. “Hati hati han nanti tersedak lho” ucap Rozi mengingatkan. “Iya, itu nggak sopan tau, kamu belum baca basmalah trus makan pakai tangan kiri lagi” sambung Robin. “Iya iya maaf habisnya lapar banget sih” kata Farhan sambil memegang sendoknya dengan tangan kanan. “Nah gitu dong kan lebih enak dipandang” ujar Rozi gembira. “Aku heran ya, hari ini aku banyak mendengar orang-orang berbicara tentang sopan, sopan dan sopan” keluh Farhan sedikit kesal. “Kamu juga sih, belakangan ini perilaku kamu kurang sopan” jelas Rozi.. “Iya, sopan itu kan penting” tambah Robin. Farhan hanya diam saja dan melanjutkan makan. Setelah mereka selesai makan dan membayar, mereka lalu kembali ke kelas, ketika di perjalanan mereka berpapasan dengan Bu Rara. “Mari bu” sapa Robin dengan sopan. “Selamat siang bu” ucap Rozi memberi salam. Bu Rara hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian berlalu.. “Eh Farhan, kenapa kamu nggak menyapa Bu Rara tadi?” tanya Rozi heran. “Aku lagi kesal dan malas menyapa, dulu aku pernah menyapa bu guru lain tapi, tak dihiraukan dan beliau berlalu begitu saja” jawab Farhan jujur. “Nggak boleh gitu han, walau mereka tidak membalas sapaan kita, setidaknya kita sudah menyapa dan berperilaku baik” kata Rozi menasehati. “Betul itu, budayakan 5S Senyum, Salam, Sapa, Sopan Dan Santun” tambah Robin. “Iya deh dari tadi aku terus yang disalahkan” ujar Farhan memasang muka cemberut. Robin dan Rozi hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala. Mereka lalu bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Lima hari pun berlalu begitu cepat tapi, sifat Farhan yang buruk masih belum hilang, sering ia ceroboh dan tidak berperilaku sopan. Pada suatu hari 3 sahabat itu berbincang-bincang di perpustakaan tentang sopan santun. “Eh, teman teman kalian tau nggak manfaat dari perilaku sopan?” tanya Rozi memulai perbincangan. “Manfaat sopan santun adalah disenangi banyak orang, menciptakan karakter yang mulia, mencerminkan sifat yang luhur, membuat kita lebih ramah pada sesama” ujar Robin penuh semangat. “Dan menjadikan kita pribadi yang baik serta mengerti adat istiadat” tambah Rozi. “Tapi teman teman bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, akhir-akhir ini aku selalu bertindak tidak sopan tanpa aku sadari. Aku ingin berubah, bagaimana kalian punya saran tidak?” keluh Farhan. Ia ingin jadi lebih baik lagi. “Memang han kalo kita belum terbiasa berprilaku sopan memang terasa sulit, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan apalagi dapat banyak pahala” kata Rozi menjelaskan. “Aku tahu bagaimana mengubah sikap burukmu itu” ujar Robin sambil tersenyum. “Aku sudah membuatkanmu gelang sopan santun” ucap Robin lalu mengeluarkan sebuah gelang dan memberikannya pada Farhan. “Gelang apa ini?” tanya Farhan sambil melihat gelang yang bertuliskan ‘sopan itu perlu’ tersebut. “Gelang itu bisa menjadi pengingat kalau kita tidak berperilaku sopan caranya sederhana kok, ketika kita ingat bahwa kita telah melakukan hal yang tidak sopan, tarik saja gelangnya kuat-kuat lalu lepaskan dan otomatis akan mengenai tanganmu dan teras sakit jadi, gelang ini seakan-akan menghukum kita” ujar Robin menjelaskan panjang lebar. “Oh seperti itu jadi kesimpulannya
jika tidak ingin sakit maka bersikaplah dengan sopan” ujar Rozi menarik kesimpulan. Robin mengganguk. “Oh begitu ya, terimakasih Robin atas pemberianmu ini, mulai besok akan kupraktikan” ucap Farhan gembira kini ia dapat melatih sikap sopan santunnya. Sejak ada gelang itu kini Farhan lebih berhati-hati dalam bertindak. Kemarin ketika ia berpapasan dengan Bu Della Farhan malah memalingkan wajah dan tidak menyapa beliau, beberapa menit kemudian ia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan, lalu ia menarik gelang pemberian Robin kuat-kuat dan melepaskannya, ia agak kesakitan. “Jika tak ingin sakit, bersikaplah sopan” ucapnya dalam hati sambil tersenyum malu. Hal tersebut Farhan lakukan berulang-ulang ketika ia berperilaku tidak baik dan sopan. 2 minggu pun berlalu, sekarang sifat buruk Farhan perlahan mulai hilang dan dia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Farhan lebih baik. “Wah han sekarang kamu berubah jadi semakin baik lho” puji Rozi. “Hehehe. Allhamdulillah ini semua juga berkat kalian dan gelang itu” jawab Farhan tersipu malu. “Berarti gelang buatanku itu manjur dong” kata Robin penuh percaya diri. “Iya, sejak ada gelang itu aku jadi lebih berhati hati dalam bertindak” ujar Farhan. “Aku juga mau, Robin masih punya gelang seperti itu?” tanya Rozi penuh harap. “Kebetulan aku bawa 2. Aku juga mau pakai, ini untukmu” ucap Robin sambil menyodorkan gelang pada Rozi. “Wah, sekarang kita seperti trio sopan santun saja” ujar Farhan gembira. “Hahaha. Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” teriak Robin penuh semangat. “Ya, karena berperilaku sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Rozi percaya diri. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun. Jadi seperti itu lah etika dalam kehidupan sehari hari, bahwa bersikap sopan santun itu wajib di tanam kan dan harus menjadi kebiasaan dalam diri masih masing Terimakasih
TANPA PANDANG USIA Pada suatu hari di perumahan elit, terdapat keluarga yang sangat kaya raya yang hidupnya selalu terpenuhi dan tak pernah berkekurangan. Keluarga itu memiliki satu anak yang segala kemauannya harus selalu terpenuhi, dia bernama Rian. Rian itu memiliki karakter pemarah, usil, egois, sering menyakiti hati orang lain dengan perkataannya, dan bahkan sering merendahkan orang lain yang ia anggap memiliki ekonomi yang sulit. Suatu ketika sekolahan Rian mengadakan study tour, dimana hampir semua anak yang mengikuti kegiatan itu adalah anak orang kaya. Namun, ada salah satu murid penerima beasiswa yang juga ikut serta dalam kegiatan tersebut, dia bernama Juna. Juna itu selalu menjadi sasaran tindakan buruk Rian yang semena-mena terhadapnya, karena Rian menganggap Juna tak pantas bersekolah di tempat kalangan orang kaya. Sesampainya di tempat tujuan, mereka di kumpulkan untuk makan terlebih dahulu di Restoran yang sudah di sewa oleh sekolah. Juna yang merasa tak nyaman akan kehadiran Rian dan teman-temannya memilih untuk makan di taman dekat Restoran itu. Rian yang melihat kepergian Juna pun mengikutinya. Sesampainya di hadapan Juna, Rian malah melempar piring makanan milik Juna yang membuat Juna tak bisa berbuat apa-apa.
Hari pun berganti, di pagi hari Rian berjalan pagi di sekitaran hotel dan ia tak sengaja melihat Juna yang membantu seorang kakek tua menyebrang jalan dan membelikan makanan pada kakek itu. Rian hanya menautkan alis nya, menganggap perbuatan Juna barusan hanya akan membuat Juna tambah miskin lagi. Siang nya saat mereka dikumpulkan oleh guru ternyata Rian dan Juna masuk dalam kelompok yang sama. Mereka di tugaskan untuk mewawancarai dan membantu warga di sekitar hotel itu yang bekerja sebagai petani atau pedagang pasar. Semua siswa berteriak histeris, termasuk Rian, mereka menganggap ini semua tak pantas untuk mereka lakukan. Tapi tidak dengan Juna yang malah bersemangat melakukan tugas itu. Tugas pun di mulai, setiap siswa hanya dibekali nasi kotak dan satu air mineral gelas di dalamnya. Dan ya, mereka tidak diperbolehkan untuk membawa uang dalam melakukan tugas itu. Rian dan Juna sepakat untuk memilih warga yang bekerja sebagai petani untuk bahan tugas mereka berwawancara. Dalam perjalan menuju tempat yang mereka tuju, Rian terus saja mengeluh karena cuaca yang begitu panas. Juna memilih untuk beristirahat di tempat yang teduh agar Rian bisa beristirahat sejenak. Tak jauh dari tempat mereka berteduh Juna melihat dua anak kecil yang memandang ke tempat warung makanan sambil memegang perut.
Hati Juna terenyuh melihat kedua anak kecil itu. Juna mengambil kotak nasi miliknya dan memberikan makanannya itu kepada kedua anak kecil yang kini ada di hadapannya. Kedua anak kecil itu sangat senang, tak lupa mereka mengucapkan terima kasih kepada Juna. Di tempatnya berteduh, Rian melihat interaksi Juna dan dua anak kecil itu. Lagi-lagi Rian melihat kebaikan Juna yang ia anggap malah merugikan diri Juna sendiri. Juna dan Rian melanjutkan perjalanan mereka, dan setelah beberapa waktu mereka berjalan akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka melewati jalan yang ada di pinggiran sawah, dan tanpa sengaja makanan Rian jatuh ke dalam lumpur yang membuat Rian sangat begitu marah dan tak terima karena kini ia sangatlah lapar. Kini ia tak bisa berbuat apa-apa dan ia pun juga tak membawa uang sama sekali. Juna berusaha menangkan Rian, lalu ia menunjukkan dua roti yang ia masukkan ke dalam kantong celana. Setelah mewawancarai para petani, Juna dan Rian ikut beristirahat bersama para petani yang kini sedang duduk di pinggir sawah. Juna memberikan salah satu roti miliknya kepada Rian sambil tersenyum tulus. Rian ingin menerima roti pemberian Juna dengan ragu-ragu, tapi Juna meyakinkan dirinya. Lagi-lagi Rian melihat sosok kebaikan Juna yang sebelumnya ia remehkan. Setelah menerima roti itu, Rian bertanya kepada Juna, kenapa dirinya begitu baik kepada semua orang apalagi terhadap dirinya yang telah menyakiti Juna berkali-kali.
Juna pun menjawab, "Hidup yang kita jalanin harus selalu kita syukuri, apa pun keadaannya. Aku selalu baik ke semua orang, karena aku merasa aku bisa berbagi kebaikan walau dengan keadaanku yang saat ini". Rian tersentuh dengan jawaban Juna, ditambah dengan ia yang melihat para petani begitu bahagia dengan kesederhanaan walau mereka hanya memakan beberapa singkong dengan segelas teh. Juna merutuki dirinya yang selama ini tak pernah bersyukur dengan apa yang ia miliki. Ia kembali mengingat kejadian dimana ia pernah melempar makanan yang telah pembantu rumah buatkan untuknya. Selama ini dia salah menilai Juna, dan ia menyesal telah berbuat se enaknya terhadap Juna. Rian pun meminta maaf kepada Juna atas perbuatan yang telah ia lakukan selama ini kepada Juna. Rian berjanji tak akan pernah mengganggu Juna lagi, apa lagi merendah ekonomi Juna. Pesan moral : Etika menghornati seseorang tidak hanya ketika kita menghornati kedua orang tua kita saja. Tapi kepada siapapun itu, baik itu adalah pembantu kita atau teman sepantaran kita yang kemungkinan ekonomi nya jauh di bawah kita. Jadi, beretika baiklah dimanapun kita berada dan kepada siapa pun itu.
Taubatnya Ucuk Cuki adalah seorang anak periang, saat ini cuki menduduki bangku sd kelas 4. Cuki memiliki banyak teman di sekolahnya dan ia pun dipanggil dengan nama khusus yaitu Ucuk. Cuki pun tidak merasa terganggu dengan panggilannya yang tidak sesuai dengan nama aslinya. Ucuk bahkan disukai oleh guru-gurunya karena sifatnya yang ceria dan ramah itu. Hari demi hari berganti hingga sekarang ini Ucuk sedang liburan kenaikan kelas. Ucuk akan menduduki kelas baru yaitu kelas 5. Suatu hari Ucuk merasa sangat bosan berada di rumah, ia ingin cepat kembali bersekolah lagi. Ucuk tidak memiliki teman di lingkungan rumahnya, karena memang di desa tempat Ucuk tinggal tidak ada anak yang usianya sama dengan Ucuk, ketika Ucuk ingin keluar rumah pergi untuk membeli makanan ringan, tiba tiba datang pria berbadan besar tepat di hadapannya. Pria tersebut adalah pamannya Ucuk, “Assalamualaikum, lho Cuki sekarang sudah besar ya” kata paman Ucuk, “Waalaikumsalam, iya paman, Cuki selalu makan teratur hehe” kata Ucuk. Pamannya tersebut membawa sebuah alat elektronik yaitu adalah laptop. Paman Ucuk mengajak Ucuk untuk menonton sebuah film aksi serta komedi. Karena Ucuk tidak mempunyai televisi, ia pun tidak paham dengan film dan sebagainya, lalu Ucuk dan pamannya menonton film tersebut bersama-sama. Ucuk pun sangat gembira bisa menonton film dengan pamannya tersebut. Setelah berminggu-minggu berlalu, akhirnya tiba saatnya Ucuk untuk bersekolah kembali dengan suasana kelas yang baru. Pada hari senin Ucuk berangkat ke sekolah dan ia datang paling awal. Ucuk meniru banyak adegan yang ada dalam film yang ditontonnya waktu liburan diantaranya adalah baju dikeluarkan, memanggil teman dengan nama hewan, membuang sampah sembarangan dan mencoret-coret meja. Teman-temannya pun kaget dengan kelakuan Ucuk di pagi hari itu. Saat pelajaran dimulai Ucuk dimarahi oleh gurunya karena telah berbuat hal tidak baik. Ucuk pun hanya bisa diam membatu, lalu pada saat jam istirahat, Ucuk dijauhi oleh teman-temannya dan kini Ucuk hanya bisa merenung karena perbuatannya itu. Saat pulang sekolah Ucuk ditemui oleh gurunya dan diceramahi banyak tentang pentingnya memiliki etika. Ucuk bertaubat dan berjanji dengan dirinya sendiri tidak akan meniru hal yang tidak sesuai dengan etika yang baik. Mulai saat itu Ucuk berubah dan tidak dijauhi lagi oleh teman-temannya.
Tidak Selalu Kebenaran Disuatu Tempat Juga Berlaku Di Tempat Yang Lain Ciptaan : RIFQI NANDANA MAHARDIKA Kisah kali ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang berasal dari desa, dia datang dan menetap di kota untuk menempuh pendidikan dijenjang perkuliahan. Pemuda itu bernama Polka. Polka merupakan pemuda yang penuh dengan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Sebelum berangkat ke kota untuk menjalani masa perkuliahan, Polka berpamitan dengan seluruh saudara dan kerabat dan juga para warga di desanya, guna meminta restu agar dilancarkan perkuliahannya. Dengan senang hati para warga memberikan doa restu dan motivasinya dan bahkan ada juga yang memberikan makanan, oleh-oleh, uang saku untuk Polka saat berangkat ke kota. Polka berangkat sendiri naik kereta api, karena dia tidak ingin merepotkan orang lain. Saat menetap di kota, Polka akan tinggal di kostan yang berisikan orang-orang dari berbagai daerah yang tentunya memiliki banyak sekali perbedaan kebudayaan. Setelah tiba di kostan yang ditinggali, Polka langsung saja berkenalan dengan teman-teman kost yang dia tinggali. Dia berkenalan dengan Mario, Purhun, dan Ajik yang berasal dari daerah yang berbeda-beda, mempumyai budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda, dan juga berbeda-beda juga karakter yang mereka miliki. Mario yang berasal dari kotakecil, Purhun yang berasal dari kota besar, dan Ajik yang berasal dari daerah pinggiran kota. Mereka saling melengkapi satu sama lain tanpa mempermasalahkan perbedaan yang mereka miliki. Dan pada suatu ketika Mario mengajak teman-temannya untuk bermain pergi ke pasar malam “Eh temen-temen nanti malam cabut yuk ke pasar malam, naik-naik wahana, sekalian cari cewek juga bisa kali, hehe”, kemudian Polka menyauti ajakan Mario tadi “Ayolah, aku juga pengen tuh naik wahana kora-kora, kayanya seru tuh, tapi gimana nih hun, jik, kalian mau nggak?”, Ajik pun membalas “Kalau aku sih tinggal berangkat aja, tapi pulange jangan kemalaman ya, soalnya besok aku ada kuliah pagi nih”. Purhun juga ikut menanggapi ajakan Mario “Kalau kalian setuju semua, yaudah deh aku terpaksa ikut”, mendengar perkataan Purhun yang sepertinya sedikit terpaksa, Ajik menanggapi “Waduh hun, kalau terpaksa jangan dipaksa, mungkin bisa diganti
tujuannya, atau ganti waktunya?, “Betul tuh jik, kalau Purhun terpaksa ya mending di undur dulu”, Ujar Polka. Kemudian Purhun menjawab “Enggak kok, nggak papa beneran, santai aja kali, hehe”, Mario berkata “Beneran nih nggak papa?, Purhun pun menjawab “Iya tementemen santai aja, aku bisa kok” Akhirnya malam hari itu pun tiba, mereka sangat menikmati wisata mereka di pasar malam. Setelah mereka puas bermain-main dan menikmati wahana akhirnya mereka sepakat untuk pulang ke kostan, ketika berjalan menuju parkiran, Polka melihat dompet yang tergeletak di tanah “eh temen-temen lihat deh, ada dompet yang tergeletak, kita ambil yuk lalu kita kembalikan kembali kepemiliknya. Kemudian Purhun yang berasal dari kota menanggapi usulan dari Polka “Eh jangan langsung ke pemiliknya, kan ditempat ini kan banyak banget orangnya, susah tuh kalau mau dicari satu-satu, kasian Ajik kalau kita langsung kembaliin ke pemiliknya soalnya bakalan makan waktu lama dan akan menyebabkan kita pulangnya juga kemaleman, menurutku lebih beretika jika diserahkan kepada pihak yang berhak menerima laporan juga lebih efisien.” Mendengar perkataan purhun, Mario membalas “ah apaan sih lu hun, sekarang kan banyak orang yang gabisa kita percaya, contohnya tuh berita yang lagi viral, seorang pengembala kambing memukuli majikan nya pake tongkat gembala karena pengin memiliki semua kambing milik majikan nya.” Purhun dengan nada tinggi menjawab “Kamu nggak kasian sama Ajik?!, positifthinking dikitlaah, kan nggak semua orang gitu”, Mario menjawab “Kalau kamu mau pulang sama Ajik, yaudah sana kalian pulang duluan!, toh nggak perlu juga kalau ditunggu kalian berdua”, Mendengar perkataan Mario, yang menurut Purhun itu menyakitkan, Purhun langsung lari meninggalkan teman-temannya. Melihat Purhun berlari meninggalkan teman-temannya, Ajik pun berkata “eh, tunggu disini bentar ya, aku tak ngejar Purhun dulu”, lantas Ajik langsung mengejar Purhun, dan nasib baiknya, Ajik berhasil mengejar Purhun, kemudian Ajik memberikan pengertian yang cukup panjang lebar tapi mudah dimengerti kepada Purhun, bahwa dengan daerah, budaya, dan juga karakteristik yang berbeda juga pasti memiliki pola pikir, cara memecahkan masalah, dan juga etika yang pastinya akan berbeda juga. Mendengar perkataaan dari Ajik, Purhun merenung sejenak, dan berpikir apa yang dijelaskan oleh Ajik ada benarnya juga.. Akhirnya Purhun mau kembali lagi bersama Ajik menuju Mario, dan Polka yang tadi mereka berdua tinggalkan. Kemudian mereka saling bermaaf-maafan dan menyadari
kesalahan yang mereka perbuat. Beberapa saat kemudian ada orang yang mencari dompet disekitar parkiran, melihat orang yang terlihat kebingungan, mereka berempat menghampiri orang itu, dan bertanya “Permisi pak, bapak disini nyari apa ya pak?”, kemudian bapak itu berkata bahwa dia sedang mencari dompet isrinya yang hilang, kemudian Polka bertanya “Mohon maaf pak, apakah ini dompet milik istri bapak? Kalau iya buktinya ada tidak ya pak?”, kemudian bapak itu menjawab “ealah iya bener ini dompet istri saya, buktinya bisa kalian lihat didalam dompet itu ada foto saya bersama istri saya, ganteng kan saya di foto itu?”, celetuk bapak itu, setelah dicek dan ternayata benar, akhirnya mereka pun mengembalikan dompet itu kepada bapaknya, dan mereka izin untuk pulang terlebih dahulu. Dan akhirnya mereka pun pulang ke kostan dengan rukun dan perjalanan mereka kembali dipenuhi dengan canda tawa.
Perilakumu Menentukan Akhirmu Pada suatu hari, terdapat seorang gadis cantik yang berasal dari sebuah desa. Gadis itu bernama Tania Nada. Didesanya, Tania dijuluki sebagai bunga desa. Julukan tersebut ia dapatkan bukan hanya sekadar dia anak kepala desa, bukan karena parasnya yang cantik dan baik hati, melainkan karena Tania pandai dalam seni bela diri dan seorang jenius. Hal itu, membuat Tania mendapatkan beasiswa di sekolah bergengsi di Jakarta. Hari ini lebih tepatnya hari senin merupakan hari Tania pertama kali masuk SMA. Ketika Tania memasuki gerbang, ia menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Dengan paras wajahnya yang khas dan menggunakan hijab putih yang semakin menambah pesonanya. “Eh.. liat deh ada murid baru, mana cakep lagi” “Bener banget coy, tapi kok penampilannya kampungan banget ya?” “Dari kampung kali” Itulah kira-kira komentar dari mereka, ada yang memuji, menghina, dan sebagainya. Namun Tania sebagai orang yang dikomentari hanya menghiraukannya saja. Daya tarik yang terdapat pada Tania membuat cemburu kaum wanita. Terutama sekumpulan perempuan yang terdiri dari 5 orang. Mereka merupakan salah satu geng yang terkenal di SMA Casandra, Geng Wacana, itulah namanya. Geng yang diketuai oleh Sherly, Wanda sebagai wakil, Shenna, Aurelia, dan Zulfa sebagai anggota. Saat Tania akan melewati Geng Wacana, ia segera dihadang oleh mereka. “Heh kampung, caper banget lo ya” ucap Wanda yang tidak direspon oleh Tania, hal itu membuat mereka naik pitam “Heh lo dengerin nggak sih gue ngomong apa?!” “Kakak ngomong sama saya? Maaf kak saya pake earphone, jadi nggak tau kalau kakak ngomong sama saya” balas Tania sambil melepas salah satu earphonenya “Songong banget lo ya?! Lo itu murid baru disini! Jadi lo itu harus hormati kita-kita!” Bentak Sherly
“Sebelumnya maaf nih kak, kakak ini siapa ya? Kakak anak dari pemilik sekolah ini kah?” “Lo?!!!” “Kenapa? Saya kan hanya tanya kak? Oh iya satu lagi, saran dari saya nih kalau kakak ingin dihormati, jaga dulu deh sikap kakak, percuma disekolahin tinggi-tinggi, tapi nggak punya etika. Dan… malu dong sama murid baru yang dari kampung ini. Permisi dulu ya kak, saya harus lapor ke kepsek dulu, tenang saja, saya nggak bakal laporin tentang ini kok. Bye..” ucap Tania sambil memakai earphonenya lagi dan berlalu pergi meninggalkan sekumpulan orang dibelakang yang tercengang melihat perilaku Tania Setelah beberapa menit, mereka (Geng Wacana) akhirrnya sadar bahwa mereka telah dipermalukan di depan semua orang. “Dasar orang kampung! Awas aja lo ya gue akan keluarin lo dari sekolah ini!!!” teriak Sherly sambil mengeluarkan ponsel yang bermerek apel yang digigit dari sakunya Sementara Tania sudah berada di ruang Kepala Sekolah. Selain Tania dan Kepala Sekolah, terdapat juga 2 orang laki-laki, 1 pria bersusia berkepala tiga dan 1 seusia Tania. “Jadi ini Tania? Kamu yang pernah mengikuti lomba internasional dan memenangkan juara pertama?” Tanya pria berkepala tiga “Iya pak saya Tania Nada” “Hmm… Bagus bagus, kenalin ini putra saya namanya Vino, dia akan sekelas dengan kamu. Dan juga pertahankan nilai kamu, saya berharap kedepannya kamu juga akan memenangkan juara pertama” “Baik pak Leonard, terimakasih karena telah-“ ‘tok tok tok’ “Masuk” Masuklah pria paruh baya yang diikuti oleh Geng Wacana yang berjalan dibelakang pria pauh baya. Ketika Geng Wacana melihat sosok Tania, mereka langsung tersenyum penuh arti.
“Permisi pak saya ingin melaporkan perilaku seorang siswi disini” ucap pria paruh baya dengan sopan “Siapa yang anda maksud pak Nando?” Tanya pak Leonard “Dia pak orangnya” bukan pak Nando yang menjawab, melainkan Sherly yang menjawab pertanyaan pak Leonard. “Kamu siapa? Berani-beraninya kamu membalas saya? Saya tidak berbicara dengan kamu” “Maafkan cucu saya pak Leonard, sebelumnya saya ingin melaporkan siswi yang duduk disamping kepala sekolah, dikarenakan dia berbicara buruk tentang cucu saya” ujar pak Nando “Benar begitu Tania?” Tanya pak Leonard kepada Tania “Tidak pak, saya bisa membuktikannya. Karena tadi saya tanpa sengaja merekam pembicaraan saya dengan kakak-kakak sekalian” jawab Tania sambil memutar rekaman Hal itu membuat Geng Wacana menjadi pucat pasi. Apalagi ketika melihat pak Leonard, kepala sekolah, Vino, dan pak Nando melihat kearah mereka dengan tidak percaya. “Baik sudah diputuskan bahwa Tania tidak bersalah dalam hal ini, tapi kalian berlima yang bersalah. Sebagai hukuman, kalian harus meminta maaf kepada Tania dan kalian akan diskors selama seminggu. Jika hal ini terulang lagi, kalian akan dikeluarkan dari sekolah ini dengan tidak terhormat. Paham?” tegas pak Leonard “Kami paham pak. Tania maafkan perilaku kami tadi pagi ya” ucap Geng Wacana bersamaan “Iya nggak papa kok kak” balas Tania sambil tersenyum ramah Sejak saat itulah Tania dapat bersekolah dengan lancar dan aman.
Maaf, Tolong, dan Terimakasih Aksa, dan Aska, adalah sepasang anak kembar, yang dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan, bahkan keluarga yang dihormati oleh orang-orang disekitarnya. Mereka berdua sekarang duduk dibangku kelas 12 di SMA ternama di kotanya itu. Masing-masing dari mereka, baik Aksa maupun Aska memiliki sifat dan karakter yang sangat berbeda, walau mereka adalah saudara kembar sekalipun. Aksa memiliki sikap yang manis, baik, ramah, sopan kepada sesama. Berbeda dengan Aska yang memiliki sikap cuek, sedikit ceroboh, acuh tak acuh dalam segala hal namun juga cerdas. Meskipun mereka mempunyai sikap dan karakter yang berbeda, ternyata mereka bisa menjadikan perbedaan itu sebagai suatu hal untuk saling melengkapi diri mereka satu sama lain. Seperti biasa, pagi ini Aksa bangun lebih awal. Aksa menyiapkan berbagai hal yang ia butuhkan untuk hari ini. Setelahnya Aska sarapan, dan menunggu Aska. Mereka biasanya berangkat bersama menggunkan mobil pribadi mereka. Sebelum berangkat ke sekolah, Aksa tak pernah lupa, untuk selalu berterimakasih pada bibi yang sudah memasakan sarapan untuknya dan juga Aska, memang, kedua orangtua anak kembar ini tidak sering berada dirumah karena urusan pekerjaan. “Bi, makasih banyak sarapannya, enak banget kaya biasa. Aksa pamit berangkat dulu sama Aska ya bi” ucap Aksa kepada bibi sembari menunjukan senyuman manis ciri khasnya. “Iya den, hati-hati ya” balas bibi sambil tersenyum pula. Aska yang melihat hal itu setiap hari hanya terdiam, padahal dia ingin sekali mengetahui mengapa Aksa selalu berkata terimakasih kepada bibi setiap harinya, padahal memang sudah kewajiban bibi untuk menyiapkan makanan jika itu alasan yang Aksa berikan. Aska bahkan sering menyanyakan hal itu kepada Aksa, dan hanya dijawab dengan senyuman oleh Aksa. Karena ya, menurut orang seperti Aska, kata-kata itu hanya sebatas kata kecil saja, yang tidak seharusnya setiap hari diucapkan setelah mendapat sesuatu dari orang lain. Mereka berdua, Aksa dan Aska kemudian pergi ke sekolah dengan mobil yang dikemudikan oleh Aksa. Perjalanan ke sekolah memang lumayan jauh, mereka biasanya saling bertukar cerita mengenai kegiatan apasaja yang akan mereka lakukan pada hari ini. Namun ditengah perjalanan, mobil yang mereka naiki mengalami masalah. Rem mobil ternyata tidak berfungsi, mereka berdua panik, terlebih Aska. Pasalnya tak jauh dari sini mereka akan melewati lampu merah yang biasanya selalu ramai pada jam jam seperti jam mereka berangkat ke sekolah ini. Sebelum mendekati lampu merah Aksa berpesan kepada Aska, apapun yang terjadi mereka harus saling membantu satu sama lain. Aksa juga berusaha
untuk meyakinkan Aska bahwa mereka akan baik-baik saja, membuat Aska untuk tenang. Namun takdir berkata lain, kecelakaan pun tak terhidarkan. Aska melihat tubuh Aksa yang keluar dari badan mobil karena hantaman yang begitu keras dari sisi sebelah kanan. Melihat hal itu Aska ingin sekali membantu Aksa, namun melihat kondisi tubuhnya yang sama sama tak berdaya Aska pun tak bisa membantu Aksa. Meskipun begitu Aska tetap memaksakan tubuhnya untuk bangun dan membantu Aksa, dari kejauhan Aska bisa melihat pergerakan mulut Aksa yang mengatakan “Aska bisa minta tolong ke orang lain buat bantu kita” Aska tidak terlalu mengerti apa yang diamksud oleh Aksa. Aksa juga tahu, Aska sangat jarang untuk berkata atau meminta tolong kepada orang lain, namun Aksa percaya kepada Aska. Tanpa berbpikir panjang, Aska akhirnya meminta pertolongan kepada orang disekitar, untuk menolong dia, dan kakaknya, Aksa. Mereka berdua dibawa ke rumah sakit, Aksa mendapatkan perawatan yang lebih seruius dibanding Aska. Dokter berkata jika Aksa tidak langsung dibawa ke rumah sakit walau telat sedikit pun mungkin Aksa tidak dapat diselamatkan. Aska bersyukur, dan Aska pun mengucapkan banyak terimakasih kepada orang-orang yang sudah membantunya. Sekarang Aska tau betapa pentingnya untuk berkata “maaf, tolong, dan terimakasih.” Walaupun terlihat sepele, namun nyatanya sekarang tidak banyak manusia yang bisa berkata maaf, tolong dan terimakasih.
Perilakumu Cerminan Dirimu Di suatu kampus ada tiga orang bersahabat. Mereka adalah Gantari, Esa, dan Elee. Mereka merupakan mahasiswa baru dan belum lama ini saling mengenal. Ketiga sahabat ini mempunyai karakter yang berbeda-beda. Gantari mempunyai sifat yang baik, ramah, kalem, dan penyabar. Esa mempunyai gaya yang tomboy dengan sifatnya yang blak-blakan dan cuek. Sedangkan Elee merupakan yang tercantik diantara ketiga sahabat itu. Dia juga pintar, namun sayangnya sifat dan perilakunya terkadang semaunya sendiri. Namun, mereka tidak menjadikan perbedaan itu sebagai suatu masalah atau penghambat bagi persahabatan mereka. Sudah seminggu mereka selalu berangkat kuliah bersama, karena kebetulan jadwal mata kuliah mereka sama. Tidak terkecuali pagi ini, Gantari dan Esa sudah berdiri di sebuah gang yang dekat dengan tempat tinggal Ele. Gantari terlihat kalem dengan setelan dres berwarna cream yang dipadukan dengan jilbab berwarna coklat. Sedangkan Esa dengan gaya tomboynya mengenakan celana kulot dengan kaos yang dibalut dengan kemeja, sangat cocok dengan rambut pendeknya. Tak lama Elee datang. Berbeda dengan Esa yang cuek, Gantari tampak geleng-geleng kepala melihat apa yang dikenakan Elee. Gadis itu mengenakan rok selutut dengan atasan kaos. “Yuk berangkat!” ajaknya dengan wajah tak berdosa. “Kamu yakin nggak mau ganti kaosmu? Rok-mu juga pendek loh itu?” Tanya Gantari sambil mulai berjalan. Elee hanya mengendikkan bahunya sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya, “Engga ah, ini tuh style kekinian,tau?!”. Sesampainya di kampus, kelas pun di mulai. Dosen memasuki kelas dan memanggil satu persatu nama mahasiswa untuk presensi. Saat nama Elee disebut, dosen itu tampak menatapnya dengan wajah heran dan sedikit menggelengkan kepala. Saat sedang menyampaikan materi perkuliahan, dosen itu sempat menyinggung tentang cara berpakaian yang baik dan sopan saat perkuliahan. Dosen tersebut menyampaikannya dengan bahasa yang baik, tapi entah mengapa Elee merasa tersinggung. Saat dosen menyampaikan itu pun ia melihat tatapan teman sekelasnya yang terlihat sinis. Perlu kalian ketahui, ini bukan petama kalinya namun dia sudah beberapa kali merasa tersinggug seperti ini. Saat kelas sudah selesai dan dosen mengucapkan salam, Elee langsung pergi begitu saja saat sebelum dosen itu keluar ruangan. Gantari yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya bisa menghela nafasnya. Sepanjang perjalana menuju kantin, Elee mendumel dengan wajah kesalnya. Ia bahkan tetap acuh tak acuh saat berpapasan dengan dosen ataupun kakak tingkatnya disaat Gantari dan Esa mengganggukkan kepala. “Kenapa sih pada nyebelin banget? Emang apa yang salah sama pakaian aku, kok mereka pada gitu banget?” Ujarnya sambil mengingat tatapan yang tidak mengenakkan itu.
Esa yang sudah hilang kesabaran-pun angkat bicara, “Ya makanya kalau kuliah itu pakainmu yang sopan dan rapi dong. Kuliah tuh mau menuntut ilmu, bukan mau nontoh dangdut.” Ucapnya dengan wajah datar. “Kalau mau bertanya di kelas juga biasain angkat tangan dulu, jangan seperti tadi. Seenaknya aja kamu memotong saat dosen tengah berbicara.” Tambahnya. Elee tidak terima dengan ucapan Esa, “Loh, aku kan bertanya karena belum paham. Katanya malu bertanya itu sesat di jalan. Daripada kamu, diem aja di kelas, ngga tau tuh paham apa engga sama materinya.” Ucapnya setengah menyindir. “Jangan mentang-mentang pinter ya,kamu. Percuma juga kamu pinter kalau ga tau sopan santun, aku-“ Sebelum Esa menyelesaikan kata-katanya, Gantari sudah lebih dulu memotong, “Sudah ya, jangan bertengkar, seperti ini, itu tidaklah baik. Lebih baik kita makan dulu, aku tahu kalian belum sarapan tadi pagi, katanya orang yang lapar itu mudah marah.” Ujarnya sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya yang berwajah masam itu ke meja kantin. Saat pesanan mereka sudah datang, mereka bersiap untuk makan. Gantari dan Elee mengadahkan tangannya untuk berdoa, sedangkan Esa yang lupa berdoa ikut mengadahkan tangannya dengan mulut yang sudah penuh. Gantari yang melihatmya-pun terkekeh geli, “Lain kali berdoanya jangan lupa ya, Sa!” Ujarnya mengigatkan. Esa hanya mengangguk dengan sedikit rasa malu, “Sorry.” Jawabnya. Sore harinya, kelas mereka sudah selesai. Dalam perjalanan pulang mereka masih berjalan bertiga walaupun dengan wajah yang masam karena masih kesal satu sama lain, terutama Esa dan Elee. Gantari yang tidak tahan melihat kedua temannya yang biasanya bercanda kini saling diam-pun segara mencari cara untuk membuat mereka berbaikan. Akhirnya, ia menyeret kedua temannya menuju sebuah gazebo terdekat. “Kalian jangan marahan lagi,ya? Masalah yang tadi coba selesaikan baik-baik. Aku ngga mau belain siapapun disini.” Ujar Gantari. Sesaat terdiam, Elee-pun mulai berbicara, “Maaf Gantari, aku mungkin kesel aja karena tesinggung tadi, jadinya kesel juga sama Esa.” Ujar Elee jujur. Esa berdeham sebentar sebelum berkata, “Aku juga minta maaf, mungkin tadi aku juga menyinggung perasaan kamu, aku juga kadang ngga mikir dulu kalau ngomong.” Gantari tersenyum lega, “Aku cuma mau ngingetin,bukan berarti aku merasa paling benar,ya! Karena kejadian hari ini kita sama-sama paham betapa pentingnya etika atau sopan santun itu. Untuk kamu Elee, cobalah untuk berpakaian rapi saat pergi ke kampus. Kamu suka style seperti ini tidak masalah, tapi saat ada kelas berpakaianlah yang sopan dan rapi, itu salah satu cara kita menghargai dan menghormati dosen. Lalu saat kamu ingin bertanya, biasakan mengangkat tanganmu dulu,ya! Jangan langsung memotong saat dosen sedang menjelaskan. Satu lagi, saat kamu berpapasan dengan orang lain, sapalah mereka,paling tidak dengan menganggukkan kepalamu dan tersenyum, oke?”
Elee terdiam sebentar menyadari kesalahannya. Dia menjadi tahu mengapa teman-teman dikelasnya menatapnya tidak suka. Itu bukan tanpa alasan, melainkan karena dirinya yang tidak sopan. Elee tersenyum kecil, “Terimakasih sudah mengingatkanku, Gantari.” Gantari ikut tersenyum, “Karena kamu belum terbiasa, mungkin hal-hal kecil seperti itu menjadi sulit bagimu, jadi cobalah ingat hari ini dan lakukan hal-hal kecil tadi.” Gantari lalu menoleh pada Esa yang dari tadi terdiam, “Kamu juga ya Esa, kalau makan jangan lupa berdo’a, kamu juga selalu terburu-buru dan makan sambil berjalan. Selain tidak sopan, itu juga tidak baik untuk pencernaanmu.” Esa tersenyum,” Aku dari tadi terdiam dan berpikir, bahwa perilaku kita adalah cerminan dari diri kita. Jadi, jika kita ingin orang lain menilai kita baik, maka sikap kita-pun harus baik. Terimakasih Gantari sudah mengingatkan kita betapa pentingnya etika yang baik.” Mereka bertiga tersenyum dan saling bepelukan, “Itulah gunanya sahabat. Mulai saat ini, kita harus saling mengingatkan disaat salah satu dari kita melakukan kesalahan,ya?” Ujar Gantari yang diangguki kedua temannya.
Pentingnya etika Namanya Cici, remaja perempuan yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. meskipun masih mempunyai orang tua yang lengkap, tetapi Cici terbiasa dirumah sendiri hanya ditemani dengan bibi, orang yang bekerja dirumahnya untuk mengurus pekerjaan rumah. Ayah dan Ibu nya adalah seorang pekerja yang sangat sibuk dan sering ke luar negeri untuk mengurus pekerjaannya. Karena itu Cici cenderung dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Hal tersebut membuat Cici tumbuh menjadi anak yang manja, malas, dan pandai berdalih untuk menghindari segala macam tanggung jawab. Minggu ini orang tua Cici bisa berkumpul bersama di rumah. Cici pun sangat senang karena dia tidak kesepian lagi ketika di rumah, dia dapat bermanja-manja dengan ayahnya, menonton dan bermain sepeda bersama bahkan meminta apa pun yang diinginkan pasti akan dikabulkan oleh ayahnya. Suatu pagi pada hari minggu Cici sedang asyik bermain game di ponselnya. Kemudian Ibu memanggil " Cici ayo sini nak bantu ibu memasak" Cici yang merasa terganggu pun akhirnya menjawab "Ibu Cici lagi asyik main game, ibu kan bisa minta tolong bibi untuk memasak, biasanya juga bibi yang selalu memasak, ibu kan sibuk bekerja" Keesokan harinya Ketika ibu meminta Cici membersihkan kamar atau sepatunya sendiri, ia dengan segera menjawab, "Aaaah Ibu. Kan ada si bibi yang bisa mengerjakan semua itu. Lagian, untuk apa dibersihkan, toh nanti kotor lagi." Demikian pula jika diminta untuk membantu membersihkan rumah atau tugas lain saat si pembantu pulang, anak itu selalu berdalih dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Ayah dan ibu sangat kecewa dan sedih melihat kelakuan anak tunggal mereka. Walaupun mereka tahu bahwa ini juga kesalahan dari mereka terlalu sibuk bekerja dan seringnya memanjakan Cici yang menjadi penyebab sang anak berbuat demikian. Akan tetapi mereka sadar bahwa etika sopan santu harus tetap diterapkan kepada anaknya, mereka tidak mau anak semata wayangnya menjadi anak yang mempunyai etika tidak sopan apalagi kepada orang yang lebih tua. Mereka pun kemudian berpikir bagaimana cara merubah sikap Cici. Mereka pun berniat memberi pelajaran kepada anak tersebut. Suatu pagi pada hari Senin, ayah dan ibu mempunyai rencana yaitu uang saku yang rutin diterima setiap hari, pagi itu tidak diberikan. Cici pun segera protes dengan kata-kata kasar,
"Mengapa Ayah tidak memberiku uang saku? Mau aku mati kelaparan di sekolah ya?" Sambil tersenyum si ayah menjawab, "Untuk apa uang saku, toh nanti habis lagi?" Demikian pula saat sarapan pagi, dia duduk di meja makan tetapi tidak ada makanan yang tersedia. Anak itu pun kembali berteriak protes, "Ma, lapar nih. Mana makanannya? Aku buru-buru mau ke sekolah." Lalu ibu menjawab "Untuk apa makan? Toh nanti lapar lagi?" jawab si ibu tenang. Cici pun bingung dengan sikap kedua orang tuanya, akhirnya Cici berangkat ke sekolah tanpa bekal uang dan perut kosong. Seharian di sekolah, dia merasa tersiksa, tidak bisa berkonsentrasi karena lapar dan jengkel. Dia merasa kalau orang tuanya sekarang sudah tidak lagi menyayanginya. Pada malam hari, seperti biasa keluarga mereka akan makan bersama di meja makan. sambil menyiapkan makan malam, sang ibu berkata, "Anakku. Saat akan makan, kita harus menyiapkan makanan di dapur. Setelah itu, ada tanggung jawab untuk membersihkan perlengkapan kotor. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya dan akan terus begitu selama kita harus makan untuk kelangsungan hidup. Sekarang makan, besok juga makan lagi. Hari ini mandi, nanti kotor, dan harus juga mandi lagi. Hidup adalah rangkaian tanggung jawab, setiap hari harus mengulangi hal-hal baik. Jangan berdalih, tidak mau melakukan ini itu karena dorongan kemalasan kamu. Ibu harap kamu mengerti." Cici menganggukkan kepala, "Ya Ayah-Ibu, Cici mengerti dan berjanji tidak akan mengulangi lagi." Ayah dan ibu pun merasa senang atas jawaban Cici yang akan berubah menjadi lebih baik lagi, “ ayah dan ibu juga berjanji akan lebih memperhatikan kamu dan akan lebih sering meluangkan waktu untuk kumpul bersama seperti ini” akhirnya mereka pun berpelukan bersama.
Temanku Rissa Di pagi hari yang cerah ini aku sudah membuat janji pada Rissa untuk berkunjung ke rumahnya. Sebelumnya akan ku ceritakan temanku Rissa. Rissa adalah anak yang ramah, baik ahklak maupun budi pekertinya, dan sopan ia juga orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, Rissa sangat mudah disukai oleh teman temanku yang lain. Berbeda denganku, hai perkenalkan namaku Nina. Aku adalah tipe orang yang cuek dan lempeng lempeng saja, kurang peduli sekitar dan yaa temanku hanya sedikit. Aku beruntung bisa berteman dengan Rissa yang notabenenya social buttefly. Betul hari ini aku akano mengunjungi kediaman Rissa, memang ini baru kali pertama aku berkunjung ke rumahnya. Aku tahu alamatnya karena pernah sekali aku mengantarkan Rissa yang sedang sakit ke rumahnya. Tapi baru kali ini aku benar benar masuk ke rumahnya Alamat rumahnya cukup jauh dari rumahku, tapi tak apa namanya juga teman pasti lebih menyenangkan bila rumah nya jauh, agar bisa jalan jalan juga. Sampailah aku di depan gerbang rumahnya Rissa, ku buka gerbangnya dan mulai terlihatlah teras depan rumah Rissa. Sudah ku pencet bell berkali kali tetapi tak kunjung juga pintu didepanku ini terbuka, entah sang empu tak ada di rumah atau memang sedang banyak urusan sampai sampai tidak bisa membukakan pintu untuk tamu. Terdengarlah suara grusak grusuk dari dalam yang menandakan ada seseorang yang tergesas gesa tanda ia akan menuju pintu depan. Ku kira akan Rissa yang membukakan pintunya, tetapi bila dilihat dengan sekilas aku bisa tahu bahwa wanita yang ada di depanku ini adalah ibunya Rissa. “Permisi bu, saya temannya Rissa. Hari ini saya dan Rissa akan mengerjakan tugas bersama di rumah Rissa. Maaf mengganggu ibu” ucapku dengan ucapan ramah sebisaku. “oh ya baik.” Singkat. Padat. Jelas. Tidak bertele tele, ibunya Rissa pun berjalan meninggalkan pintu dan memanggil Rissa 2 menit berlalu lalu Rissa muncul turun dari tangga. “Nin, lama ya? Sorry ya agak berantakan soalnya” Berantakan katanya, padahal aku tidak melihat sesuatu yang berserakan atau kotor. Rumah Rissa sangat sunyi, sepi, dan tenang. Padahal posisi rumahnya ada di pinggir jalan. Aku menghiraukan perkataan Rissa, lalu mengikutinnya ke kamar untuk mengerjakan tugas seperti apa yang kita agendakan minggu lalu. “Sa, aku boleh ambil air lagi ga?”
“oh iya nin, ambil aja di dispenser deket kulkas.” Aku berjalan menuhu dapur rumah Rissa, tetap sunyi senyap. Agak asing rasanya karena rumahku selalu ramai dengan kehadiran adikku yang berisik dan ibuku yang selalu berada di dapur bergossip dengan tetangga. *BUAGH Aku terperenjat, gelasku jatuh. Aku kira ada maling yang menerobos masuk tapi ternyata jika di lihat lihat tidak ada maling yang memakai pakaian kantoran dengan jas yang di sampirkan di bahu. Aku lari meninggalkan pecahan gelas dan air yang tumpah. “kenapa Nin? Papa ku sudah pulanh ya?” katanya. “huh? Itu papamu ya? Oh iya aku kaget dan gelasmu pecah. Maaf ya sebagai gantinua akan ku ganti dan ku bersihkan. Tapi temani aku ya ke dapurnya” Lalu kami pergi ke dapur, di dapur ibunya Rissa sudah babak belur sambil jongkok membersihkan pecahan gelas dan tumpahan air yang kujatuhkan. “Maaf bu, saya tidak sengaja menjatuhkannya karena kaget.” Ucapku merasa tidak enak pada ibunya Rissa “Oh iya gapapa, sudah saya bersihkan. Langsung ke kamar Rissa saja ya kunci pintunya” Kunci pintunya. Aku takut lalu dengan cepat bergegas kembali bersama Rissa ke kamarnya, Rissa bercerita 1 hal padaku bahwa yang ‘berantakan’ bukan rumahnya tapi keluarganya. Aku kagum pada Rissa diluar dia sangat ceria dan santun pada siapapun tetapi di rumah ia menjadi sosok pendiam dan tak banyak biacara. Lalu aku memutuskan untuk pulang ke rumah karena hati semakin sore Besok hari aku menghampiri Rissa, aku mengganti gelasnya yang pecah dan melupakan kejadian yang terjadi di rumah Rissa pada saat kunjunganku ke rumahnya. Aku tidak ikut membereskan tumpahan air dan pecahan gelas yang ku jatuhkan di rumah Rissa, tapi kata Rissa tidak apa apa. Karena memang lebih baik tidak usah, namun aku tetap bersikeras untuk mengganti gelasnya. Karena itu adalah etika dan adab yang di ajarkan oleh orang tuaku. Pada saat mengunjungi rumah orang lain datanglah dengan keadaan buta dan pulang dengan keadaan buta pula. Nama: Salma Alya Nurzakiah
Nim: 2101422187 Fakultas: Bahasa dan Seni Prodi: Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
Perilakumu Cerminan Sikapmu . Suatu hari di sore yang cerah terdapat perkumpulan anak-anak yang sedang bermain di pinggir jalan mereka nampak begitu bahagia dan ceria hingga tidak sadar bahwa waktu telah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ada salah seorang anak yang bernama Diana dia mengingatkan kepada teman-temannya bahwa sekarang adalah waktunya untuk berangkat mengaji. Akhirnya mereka sepakat untuk pulang ke rumah masing-masing dan bergegas bersiap-siap untuk berangkat mengaji.Di tengah perjalanan Tio bertanya kepada Diana "hai Diana apa kamu tidak bosan berangkat mengaji ?? j ika tidak karena ibuku Aku tidak akan mau berangkat kata Tio . Diana menjawab pertanyaan Tio penuh dengan keyakinan hey Tio ibuku berkata bahwa mengaji adalah salah satu tindakan yang baik yang dapat membuat kita menjadi anak yang memiliki etika serta sopan santun juga dapat membangun karakter kita sejak dini .Tio pun akhirnya menjawab dengan pasrah baiklah percuma juga tanya sama kamu nggak ada bedanya sama ibuku". Akirnya merekapun sampai ditempat mengaji , Saat mengaji dimulai , mereka mendapatkan materi tentang sopan santun kepada orang tua dan sesamanya . Pak ustadz sedang menjelaskan kepada anak-anak bahwa pentingnya memiliki etika beserta sopan santun kepada orang tua maupun sesama. Seseorang dapat dinilai dari perilaku dan sikapnya dalam kesehariannya. Pak ustad memberitahu di salah satu kitab l menjelaskan pentingnya sopan santun kepada orang tua, keluarga,, tamu dan yang lainlainnya. Dalam kitab tersebut mencontohkan bahwa kita harus memiliki sopan santun kepada seseorang yang lebih tua dengan contoh saat ada orang tua yang duduk di bawah kita tidak boleh duduk di atas. Saat pak ustaz sedang menjelaskan Tio pun bertanya’ kenapa pak kok kita harus duduk di bawah dan tidak di atas ? Pak ustad pun menjawab pertanyaan Tio , orang tua kedudukannya lebih tinggi daripada kita kita sebagai anak muda harus paham sopan santun beretika kepada orang tua contoh lain yang bisa kalian lakukan adalah menegur sapa ketika kita sedang lewat dan menundukkan sedikit badan kita saat ada orang yang sedang duduk di hadapan kita. Diana bertanya kenapa sih pak kita harus memiliki etika atau sopan santun? Pak ustad menjawab kenapa kita harus memiliki etika atau sopan santun karena seseorang akan dapat menilai kita dari perilaku dan sikap kita keseharian contoh jika kamu berperilaku baik maka seseorang akan menilaimu menjadi orang yang baik jika kamu berperilaku buruk dan tidak memiliki etika sama sekali seseorang bisa saja menilai dirimu sebagai orang yang tidak baik maka oleh sebab itu saya mengajari kalian untuk memiliki etika agar kalian dapat berperilaku baik sopan kepada semua orang. Diana dan teman-teman
menjawab baik pak kami setuju bahwa kita generasi muda harus memiliki etika dan perilaku yang baik. Baiklah sekarang perhatikan dan diterapkan dalam berperilaku sehari - hari.
Nama : Sherly Anida Fahrina Putri Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kelompok : Tanah Lot Etika Dengan Sebaya Mei-mei dan Susanti telah bersahabat sejak lama, persahaban mereka sudah berjalan 7 tahun. Mereka selalu berada di sekolah yang sama mulai dari SMP dan SMA dan sekarang mereka di Perguruan Tinggi yang sama yaitu Universitas Tadika Mesra. Mei-mei dan Susanti memiliki karakter yang berbeda, Mei-mei memiliki sifat yang susah diatur, keras kepala, dan kurang dalam beretika sedangkan Susanti memiliki sifat yang jauh berbeda, ia seorang yang sopan, anggun, dan lemah lembut karena itu Susanti lebih banyak disukai dan memiliki banyak teman dibandingkan Mei-mei. Karakter itu dapat terlihat pada beberapa kali kejadian ketika Mei-mei sedang berselisih paham dengan sesama mahasiswa baru. Suatu hari di Kantin Fakultas Dug “Eh hati-hati dong, kalau jalan tuh pake mata kepala bukan mata batin.” Bentak Mei-mei. “iya, maaf ya.” Balas orang yang menabrak. “maaf maaf, ini baju gue gimana yang lu tumpahin minuman, bentar lagi gue ada kelas.” Balas Mei-mei dengan nada yang masih membentak. “maaf banget ya sekali lagi, aku tadi buru-buru.” “walaupun buru-buru, mata tetep dipake ya mbak kalo jalan.” Balas Mei-mei dengan menggunakan nada sinisnya. Karena kejadian itu tidak sedikit orang yang menilai bahwa tindakan menegur yang dilakukan Meimei termasuk tindakan yang kurang sopan. “udah-udah Mei, kan Cuma kotor sedikit bisa dibersihin di kamar mandi, ayoo” Ucap Susanti untuk menengahi perselisihan dan segera membawa pergi Mei-mei keluar dari kantin fakultas. Mereka berjalan menuju toilet namun, ketika di perjalanan banyak orang yang terang-terangan menggunjing Mei-mei.
*** Toilet “Duh San, ini airnya mati mana gue gabawa Tisu basah lagi.” Ucap Mei-mei dengan wajah kesalnya. Susanti merasa prihatin dengan kesialan yang dialami Mei-mei hari ini, ketika susanti menoleh kesamping dia melihat ada seseorang yang membawa tisu basah. “Permisi kak, apakah saya boleh meminta 3 lembar tisu basahnya untuk membersihkan baju teman saya yang kotor?.” Minta Susanti kepada seseorang itu dengan kalimat yang sopan disertai dengan senyuman. “Boleh, silakan ambil saja semuanya saya sudah tidak memperlukan lagi kok.” Balas seseorang itu dengan senyuman. “itu temen kamu yang marah-marah di kantin tadi kan?.” Lanjut seseorang itu dengan pertanyaan. “iya Kak, maafin temen saya ya, sudah membuat keributan di kanti fakultas tadi.” “Iya, gapapa kok dek lain kali temennya suruh pake bahasa yang sopan ya kalo negur orang, masa seorang mahasiswa yang harusnya mempunyai etika kok malah kaya gitu cara negurnya.” Saran seseorang itu dengan menggunakan nada yang baik. “Iya Kak, makasih ya sarannya nanti kusampaikan sama temenku.” *** Di Kelas Ketika memasuki kelas Mei-mei merasa beberapa temannya menjauhi dia, bahkan dia mendengar ada yang menggunjing di belakang. Dan saat ada pembuatan kelompokpun dia merasa kesulitan untuk mendapatkan kelompok, karena banyak temannya yang tidak mau sekelompok dengan dia. Satu jam di kelas seperti satu tahun di neraka bagi Mei-mei, karena ia merasa diasingkan, diacuhkan, dan di diskriminasi. Mereka juga menanggapi opini yang disampaikan Mei-mei dengan sinis.
Di Kos “San, masa temen-temen gue sifatnya pada berubah sih, mereka kayak menjauh gitu.” Curhat Mei-mei kepada Susanti. “lah, karena apa?.” TanyaSusanti. “Gue juga gatau San.” Balas Mei-mei dengan lugunya. “Mungkin karena kejadian tadi siang di kantin Mei, oh ya tadi pas kita di toilet aku ketemu kating, dia nyuruh aku buat nasehatin kamu. Kita kan udah jadi mahasiswa seharusnya sebagai mahasiswa kita mempunyai etika yang baik dong, ga hanya ke orang tua, dosen, guru tapi kita juga harus menghargai sesama teman sebaya. Apalagi nantinya kita akan terjun ke masyarakat, harusnya kita sudah menanamkan nilai-nilai etika yang baik pada diri kita.” Setelah mendengar nasihat Susanti, Mei-mei merenung memikirkan ucapan yang dilayangkan kepada orang yang menabraknya tadi. Dia berpikir seharusnya dia tidak berkata seperti itu, dia dapat menegur orang itu dengan kalimat yang baik agar ucapannya tidak melukai lawan bicaranya. Sebulan sudah setelah kejadian tersebut, Mei-mei terlihat menjadi orang yang berbeda. Sekarang dia berhati-hati dalam berbicara, mengurangi menggunakan intonasi tinggi serta lebih menghargai orang lain entah itu orang tua, dosen, pegawai universitas serta menghargai sesama mahasiswa. -SELESAIDari cerita di atas kita dapat mengambil pesan moral. Berbicara sopan tidak hanya kepada orang yang lebih tua saja namun dengan teman sebaya juga harus menggunakan bahasa yang sopan agar terciptanya solidaritas, kerukunan, dan kedamaian sesama manusia.