terus kemarin juga kebawa-bawa masalah organisasi, pelajaran malah mainan tiktok, parah banget sih aku ini ko” jawab Aji. “Nah itulah kenapa kita harus bisa menghargai sebuah tekhnolgi saat ini dengan baik Ji, agar kita tau mana baik dan mana buruk efek negatif dari penggunakan internet, media sosial dan tekhnologi masa kini”, jawab Eko. Dan Ajipun menyesali perbuatanya, dan tidak akan mengulanginya lagi serta akan memanfaatkan media sosial serta internet dengan baik dan benar. Harus banyak belajar tentang menyikapi penggunaan media sosial, serta gunakanlah media sosial, Gadget, Komputer serta Internet dengan baik dan jangan disalah gunakan untuk kepentingan pribadi yang buruk atau menyebarkan ujaran kebencian serta provokator, gunakanlah media yang sudah disediakan ini dengan sebaik baiknya untuk menyebarkan hal-hal positif kepada masyarakat.
Sepanjang mata kuliah pertama tadi, perhatian Vina terus tertuju pada satu sosok yang duduk di pojok depan. Tak seperti mahasiswa lain yang sibuk bercengkrama satu sama lain, gadis tadi hanya duduk diam di bangkunya. Rasa penasaran terus menggelitik membuat Vina beranjak begitu kelas berakhir. Dirinya mendekati gadis itu. “Hai.” Merasa harus beramah tamah, Vina mengulurkan tangan dengan canggung lalu berkenalan dengan cara paling klise yang dirinya tahu. “Nama aku Vina, kamu?” “Yuni,” jawab gadis cantik itu, tanpa menyambut uluran tangan Vina. Vina buru-buru menurunkan tangan karena merasa tak dianggap. Dirinya berpikir bahwa ia bisa mengajak mahasiswa baru ini untuk berkenalan dan membuatnya tak sendirian seperti tadi, tetapi ternyata Yuni tidak seperti ekspektasinya. Dia tak menyambut keramahtamahan yang Vina coba berikan. Dahi Vina berkerut, heran. Namun ia mencoba untuk tak menggubris dan memberikan senyum terbaiknya. Di tahun pertama kuliah, dia harus bisa memaklumi kepribadian mahasiswa yang tentu saja berbeda-beda. Gadis itu tidak akan menyerah sampai sana. Ia keluar kelas, mengikuti Yuni yang sudah terlebih dulu meninggalkannya. “Yuni!” panggil Vina dengan agak tergesa. “Apa?” jawab Yuni dengan ketus. “Pulpen kamu.” Vina tersenyum lagi. “Ketinggalan.” Yuni menatap pulpen merah muda yang dipegang Vina, lalu menariknya tanpa mengucap terima kasih. Vina mencoba untuk bersikap biasa saja dan kini mencoba menyamakan kecepatan jalannya dengan Yuni, mengajak gadis itu mengobrol. Dirinya berpikir, mungkin ia bisa berteman dengan Yuni. “Kamu tahu nggak, sih? Materi hari ini susah banget, aku nggak paham.” Vina kini memulai curhatnya, berharap percakapan mampu mengalir dari sana. Dirinya berharap arah pembicaraan mereka tak hanya satu arah saja. “Terus ya, aku nggak ada duit lagi bulan ini. Duitku habis buat tugas ini dan itu. Entah kemana delapan ratus ribuku yang diberikan di awal bulan itu.”
“Ah, kamu mah masih mending. Lah aku?” Yuni justru menyela cerita Vina. “Kamu mah enak, cuma minta-minta dari orang tua. Aku harus kerja part time, capek. Lagian materi gituan aja nggak paham, niat kuliah nggak sih, kamu?” Vina terdiam, karena bukan jawaban itu yang dia harapkan. “Mak—maksud aku, kalau kamu ngerti, siapa tahu kamu bisa ngajarin aku materi hari ini.” “Belajar aja sendiri, gitu aja nggak ngerti.” “Oke kalau gitu, maaf …” Vina kini mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain. Ia menatap kerumunan orang di salah satu kantin dan lampu ide di kepalanya kini muncul. “Yun, mau beli makan, nggak? Coba ke sana, yuk? Kayaknya di situ enak deh.” Yuni mengangguk dan keduanya kini memasuki kantin. Vina mengantre di belakang, sedangkan Yuni mencoba untuk menerobos kerumunan. Seorang mahasiswa yang terdorong kini berteriak dengan kesal karena es tehnya tumpah akibat tersenggol Yuni, “Hei! Antre yang benar, dong! Punya etika nggak, sih?” “Apaan, sih! Aku juga bayar di sini, jangan sok!” Yuni justru ikut berteriak. “Salah kok nggak mau ngaku salah.” “Kamu yang harusnya jalan pake mata!” “Ada ribut-ribut apa?” Syifa menepuk pundak Vina. Vina menoleh dan melihat teman satu prodinya itu. Dengan tubuh tingginya, Syifa kini tahu darimana asal muasal keributan itu terjadi. “Yuni lagi, ya?” Vina terhenyak mendengar pertanyaan Syifa. “Aku nyoba buat berteman sama dia, tapi kayaknya dia emang nggak mau berteman sama aku.” Seolah memahami kegelisahan Vina, Syifa menjawab. “Itu bukan salahmu.” “Lalu?” “Yuni emang begitu, cantik tapi problematic. Nggak punya etika. Selalu ingin dihormati padahal dia tidak pernah menghormati orang lain,” ujar Syifa. “Kamu tahu? Minggu lalu dia jadi anggota kelompokku, dan hampir setiap saat dia nggak pernah konstribusi atau ikutan kerja dengan berbagai alasan. Kerja part time emang susah, tapi bukan
berarti itu bisa jadi pemakluman untuk melalaikan tanggungjawab kuliah. Sifatnya yang begitu membuat kami sebagai temen sekelas, jadi males berteman sama dia.” Vina terdiam sejenak. “Oalah, ternyata memang begitu, ya. Kirain dia dijauhin tanpa alasan, makanya aku bermaksud nolongin.” “Kamu udah lihat sendiri, kan?” Vina mengangguk, menatap kedua orang yang sibuk jambak-jambakan di kantin setelah sibuk adu mulut. Syifa menghela napas panjang. “Tidak semua orang sendirian karena dia introvert atau nggak bisa berkomunikasi. Ada juga yang sendirian karena memang sifatnya jelek dan dia nggak mau mengubah itu.” Vina seperti menyayangkan hal itu. “Sayang ya, padahal cantik.” “Buat apa cantik tapi nggak punya attitude. Dah yuk, balik.” Vina memilih untuk meninggalkan kantin dan pergi bersama Syifa. Saat melangkahkan kaki dirinya mendapatkan satu pelajaran berharga, bahwa etika sangatlah penting khususnya di masyarakat. Masyarakat akan menerima orang dengan senang hati apabila orang tersebut memiliki etika, serta sebaliknya. Tidak seorang pun ingin berteman dengan orang yang tidak memiliki etika yang baik.
NAMA : FEESYA DIVA ZAFIERA JURUSAN : PBSI KELOMPOK: TAMAN BEJI CERPEN "ETIKA" Di suatu sekolah yaitu “SMP N INSAN CENDEKIA”, terdapat 3 orang sahabat yang bernama Robin, Rozi dan Farhan mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 9I. Masing masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Robin anaknya baik, ramah, cerdas dan kreatif. Rozi anaknya setia kawan, ramah, humoris dan sopan sedangkan Farhan dia mempunyai sifat agak berbeda dengan kedua sahabatnya yaitu bandel, sedikit ceroboh, terkadang cuek tetapi juga humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya mempunyai sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Seperti biasa, pagi itu Farhan sudah bangun dari tidurnya lalu sholat subuh, mandi lalu sarapan kemudian bersiap siap berangkat sekolah, Farhan hendak menggambil sepeda onthelnya yang masih berada dalam rumah dan akan berpamitan pada ibunya. “Bu, farhan mau berangkat sekolah dulu ya” teriak Farhan sambil menaiki sepedanya. “Tunggu sebentar nak” jawab ibu Farhan yang datang menghampiri anaknya. “Ada apa bu?” tanya Farhan heran. “Kamu pamitan sama ibu dengan menaiki sepeda yang masih di dalam rumah? Sungguh itu perbuatan yang tidak sopan han. Ayo turun dan keluarkan sepedamu!” perintah Ibu Farhan. “Maaf bu” sahut Farhan sambil turun dari sepedanya dan menuntunnnya keluar. “Nah seperti itu baru namanya sopan dan baik” ucap Ibu Farhan. “Iya bu. Farhan minta maaf” ucap Farhan merasa bersalah. “Ya sudah sekarang kamu berangkat nanti terlambat lho. Ingat jangan diulangi lagi ya” pesan Ibu Farhan.
“Baik bu Farhan berangkat dulu, Assalamualaikum” pamit Farhan dan mencium punggung tangan ibunya. “Wa’alaikumussalam, hati-hati ya” jawab Ibu Farhan. Farhan pun segera melaju kencang menuju sekolah yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Ternyata setelah sampai di sekolah Farhan terlambat masuk kelas, dengan tergesa-gesa ia pun masuk kelas, tanpa berpikir panjang Farhan langsung masuk begitu saja, melihat itu Pak Kris yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran. “Farhan apa kamu tidak tau sopan santun?” tanya Pak Kris dengan tegas. Lama Farhan terdiam lalu menjawab “Tahu Pak”. “Kalau tahu kenapa kamu masuk tanpa salam atau ketuk pintu terlebih dahulu?” tanya Pak Kris lagi. “Maafkan saya pak” jawab Farhan takut-takut. “Sebagai hukuman kamu berdiri di depan kelas dan bacakan pembukaan UUD 1945” perintah Pak Kris dengan tegas dan galak. Tanpa banyak bicara Farhan pun langsung ke depan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Kris, dengan lancar ia membacakan pembukaan UUD 1945. Tak terasa waktu cepat berlalu bel tanda istirahat pertama pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bersorak gembira. “Baiklah anak-anak bapak sudahi pertemuan kali ini terimakasih. Assalammualaikum” ucap Pak Kris mengakhiri pelajaran. “Wa’alaikumussalam” jawab anak-anak serempak. Mereka pun berhamburan ke luar kelas, ada yang ke kantin, kamar mandi ataupun perpustakaan. Begitupun dengan Farhan, Rozi dan Robin. “Robin, Farhan ke kantin yuk! aku lapar nih” ajak Rozi yang sudah kelaparan. Robin & Farhan mengganguk. Mereka segera menuju kantin yang jaraknya agak jauh dari kelas mereka. Sesampainya di kantin mereka duduk dan memesan makanan. Beberapa menit kemudian pesanan datang. Farhan langsung menyambar bakso yang masih panas itu. “Hati hati han nanti tersedak lho” ucap Rozi mengingatkan. “Iya, itu nggak sopan tau, kamu belum baca basmalah trus makan pakai tangan kiri lagi” sambung Robin. “Iya iya maaf habisnya lapar banget sih” kata Farhan sambil memegang sendoknya dengan tangan kanan. “Nah gitu dong kan lebih enak dipandang” ujar Rozi gembira.
“Aku heran ya, hari ini aku banyak mendengar orang-orang berbicara tentang sopan, sopan dan sopan” keluh Farhan sedikit kesal. “Kamu juga sih, belakangan ini perilaku kamu kurang sopan” jelas Rozi.. “Iya, sopan itu kan penting” tambah Robin. Farhan hanya diam saja dan melanjutkan makan. Setelah mereka selesai makan dan membayar, mereka lalu kembali ke kelas, ketika di perjalanan mereka berpapasan dengan Bu Rara. “Mari bu” sapa Robin dengan sopan. “Selamat siang bu” ucap Rozi memberi salam. Bu Rara hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian berlalu.. “Eh Farhan, kenapa kamu nggak menyapa Bu Rara tadi?” tanya Rozi heran. “Aku lagi kesal dan malas menyapa, dulu aku pernah menyapa bu guru lain tapi, tak dihiraukan dan beliau berlalu begitu saja” jawab Farhan jujur. “Nggak boleh gitu han, walau mereka tidak membalas sapaan kita, setidaknya kita sudah menyapa dan berperilaku baik” kata Rozi menasehati. “Betul itu, budayakan 5S Senyum, Salam, Sapa, Sopan Dan Santun” tambah Robin. “Iya deh dari tadi aku terus yang disalahkan” ujar Farhan memasang muka cemberut. Robin dan Rozi hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala. Mereka lalu bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Lima hari pun berlalu begitu cepat tapi, sifat Farhan yang buruk masih belum hilang, sering ia ceroboh dan tidak berperilaku sopan. Pada suatu hari 3 sahabat itu berbincang-bincang di perpustakaan tentang sopan santun. “Eh, teman teman kalian tau nggak manfaat dari perilaku sopan?” tanya Rozi memulai perbincangan. “Manfaat sopan santun adalah disenangi banyak orang, menciptakan karakter yang mulia, mencerminkan sifat yang luhur, membuat kita lebih ramah pada sesama” ujar Robin penuh semangat. “Dan menjadikan kita pribadi yang baik serta mengerti adat istiadat” tambah Rozi. “Tapi teman teman bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, akhir-akhir ini aku selalu bertindak tidak sopan tanpa aku sadari. Aku ingin berubah, bagaimana kalian punya saran tidak?” keluh Farhan. Ia ingin jadi lebih baik lagi. “Memang han kalo kita belum terbiasa berprilaku sopan memang terasa sulit, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan apalagi dapat banyak pahala” kata Rozi menjelaskan. “Aku tahu bagaimana mengubah sikap burukmu itu” ujar Robin sambil tersenyum. “Aku sudah membuatkanmu gelang sopan santun” ucap Robin lalu mengeluarkan sebuah gelang dan
memberikannya pada Farhan. “Gelang apa ini?” tanya Farhan sambil melihat gelang yang bertuliskan ‘sopan itu perlu’ tersebut. “Gelang itu bisa menjadi pengingat kalau kita tidak berperilaku sopan caranya sederhana kok, ketika kita ingat bahwa kita telah melakukan hal yang tidak sopan, tarik saja gelangnya kuat-kuat lalu lepaskan dan otomatis akan mengenai tanganmu dan teras sakit jadi, gelang ini seakan-akan menghukum kita” ujar Robin menjelaskan panjang lebar. “Oh seperti itu jadi kesimpulannya jika tidak ingin sakit maka bersikaplah dengan sopan” ujar Rozi menarik kesimpulan. Robin mengganguk. “Oh begitu ya, terimakasih Robin atas pemberianmu ini, mulai besok akan kupraktikan” ucap Farhan gembira kini ia dapat melatih sikap sopan santunnya. Sejak ada gelang itu kini Farhan lebih berhati-hati dalam bertindak. Kemarin ketika ia berpapasan dengan Bu Della Farhan malah memalingkan wajah dan tidak menyapa beliau, beberapa menit kemudian ia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan, lalu ia menarik gelang pemberian Robin kuat-kuat dan melepaskannya, ia agak kesakitan. “Jika tak ingin sakit, bersikaplah sopan” ucapnya dalam hati sambil tersenyum malu. Hal tersebut Farhan lakukan berulang-ulang ketika ia berperilaku tidak baik dan sopan. 2 minggu pun berlalu, sekarang sifat buruk Farhan perlahan mulai hilang dan dia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Farhan lebih baik. “Wah han sekarang kamu berubah jadi semakin baik lho” puji Rozi. “Hehehe. Allhamdulillah ini semua juga berkat kalian dan gelang itu” jawab Farhan tersipu malu. “Berarti gelang buatanku itu manjur dong” kata Robin penuh percaya diri. “Iya, sejak ada gelang itu aku jadi lebih berhati hati dalam bertindak” ujar Farhan. “Aku juga mau, Robin masih punya gelang seperti itu?” tanya Rozi penuh harap. “Kebetulan aku bawa 2. Aku juga mau pakai, ini untukmu” ucap Robin sambil menyodorkan gelang pada Rozi. “Wah, sekarang kita seperti trio sopan santun saja” ujar Farhan gembira. “Hahaha. Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” teriak Robin penuh semangat. “Ya, karena berperilaku sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Rozi percaya diri. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun.
SELESAI
MAWAR MERAH PELERAI AMARAH Terlahir dari keluarga yang sederhana membuat gadis kecil bernama Fiona Esmeralda menjadi sosok anak yang baik hati, penyayang, dan apa adanya. Fiona merupakan gadis mungil berusia 8 tahun yang berparas cantik dengan rambut panjang berwarna hitam dan berkulit putih. Dia sangat ramah dan berkat keramahannya itu membuat dia disenangi oleh banyak orang yang tinggal di sekitar rumahnya. Orang tuanya selalu mengajarkan halhal baik kepada Fiona sehingga membuat Fiona tumbuh menjadi pribadi yang baik meskipun baru menginjak usia anak-anak. Suatu ketika, Fiona ingin sekali pergi jalan-jalan ke taman yang ada di dekat rumahnya sembari melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran di sore hari. Fiona memang sangat menyukai bunga, terutama bunga mawar merah sehingga dia dijuluki sebagai si cantik mawar merah. Baginya, bunga mawar bisa membuatnya merasa damai dan bahagia. Ditambah warna merah nya yang sangat cantik dan juga menenangkan. Fiona tidak pernah keluar rumah sendirian. Oleh karena itu, dia meminta ibunya untuk bisa menemaninya berjalan-jalan ke taman sore ini. “Ibu, sudah lama aku tidak pergi ke taman dan sore ini aku sangat ingin pergi kesana. Apakah ibu bisa menemaniku?” ucap Fiona. “Tentu bisa, Fiona sayang. Mana bisa ibu membiarkan kamu pergi sendirian diluar sana tanpa pengawasan ibu” ucap sang ibu sembari tersenyum mengelus rambut Fiona. “Asyik, sore ini kita ke taman. Terima kasih ibu” “Sama-sama sayangnya ibu” Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Fiona dan ibunya pun bergegas untuk menuju ke tempat yang diinginkan Fiona, yaitu taman. Setelah sampai, Fiona langsung lari ke tempat dimana ada banyak bunga mawar merah disana. Dia merasa sangat senang karena akhirnya bisa bermain dengan bunga mawar lagi. Sedangkan ibunya hanya bisa duduk manis sembari tersenyum melihat anaknya yang aktif dan terlihat bahagia. “Wah, bunganya cantik sekali. Warnanya indah dan baunya sangat harum” ucap Fiona sembari menghirup aroma bunga mawar merah. “Bagaimana sayang? Kamu senang kan bisa main lagi kesini” tanya sang ibu.
“Senang sekali, ibu. Aku sangat senang bisa bermain ke taman lagi. Apalagi ada ibu yang mau nemenin aku” jawab Fiona. Selang beberapa waktu kemudian, ada dua orang anak kecil yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Fiona yang sedang bertengkar memperebutkan sebuah makanan. Fiona yang melihat kejadian itu langsung bergegas menghampiri mereka. Dengan keberaniannya, Fiona langsung melerai keduanya. Meskipun usia nya masih muda, namun dia sudah paham tentang apa yang seharusnya dia lakukan jika melihat sesuatu yang tidak baik. Melihat anaknya yang mau menghampiri kedua anak yang sedang bertengkar itu, sang ibu juga bergegas menghampiri mereka karena khawatir akan keselamatan anaknya sendiri “Hey, kalian. Jangan bertengkar dong. Kalian ini kan masih kecil jadi gaboleh bertengkar. Kata ibuku, kalo kita sedang ada masalah itu bukan diselesaikan dengan cara bertengar seperti itu. Tapi harus dibicarakan baik-baik. Allah itu gasuka sama orang yang suka bertengkar. Iya kan ibu?” tanya Fiona kepada ibunya. “Iya sayang, itu benar. Buat kalian berdua, kenapa bisa bertengkar seperti ini? Apa hanya gara-gara roti ini saja kalian jadi bertengkar. Kalo kalian sama-sama mau kan bisa rotinya dibagi jadi dua biar adil. Ini di tempat umum loh, gabaik bertengkar seperti ini yaa” ucap sang ibu dengan penuh perhatian. “Nah, bener apa yang dibilang sama ibu. Sini rotinya aku bagi jadi dua” ucap Fiona. Setelah rotinya sudah terbagi menjadi dua, Fiona pun membaginya secara adil kepada dua anak itu. Mereka pun saling menerima dan akhirnya tersenyum kepada Fiona. Mereka berdua sama-sama mengucapkan terima kasih kepada Fiona dan juga ibunya atas apa yang sudah dilakukan untuk mendamaikan mereka. Melihat hal itu, Fiona dan ibunya pun tersenyum lega atas apa yang sudah terjadi. Sang ibu bangga kepada Fiona atas apa yang sudah dilakukannya untuk menyadarkan kedua anak itu. Dia tidak menyangka bahwa anaknya bisa seberani itu di tempat umum. Tanpa disadari, waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB. Fiona dan ibunya pun bergegas pulang ke rumah dengan perasaan yang bahagia atas apa yang sudah mereka lakukan hari ini di taman.
Etika Itu Harus Galang Ahmad Haqiqi merupakan seorang murid kelas 8 di SMP Bina Nusantara. Seperti biasa, pagi itu Galang bersiap untuk berangkat sekolah, dia menyiapkan sepedanya sambil berpamitan kepada sang Ibu "Bu, Galang berangkat sekolah dulu ya" teriak Galang sambil menjalankan sepedanya. "Tunggu sebentar nak!" jawab Ibu Galang dengan menghampiri anaknya. "Ada apa Bu?" tanya Galang heran. "Kamu pamitan sama Ibu teriak teriak sambil menaiki sepeda itu apakah sopan? ayo turun dan pamitan lagi dengan sopan!" perintah Ibu Galang. "Iya Bu, maafin Galang ya" sahut Galang sambil turun dari sepedanya. "Iya gapapa, jangan diulangi lagi ya" jawab Ibu Galang. "Yaudah Bu kalau gitu Galang berangkat sekolah dulu ya, assalamu'alaikum" pamit Galang dengan sopan. "Wa'alaikumussalam, hati hati nak" sahut Ibu Galang. Galang pun segera melajukan sepedanya menuju ke sekolah. Ternyata setelah sampai di sekolah Galang telat masuk kelas, dengan tergesa gesa ia pun masuk kelas. Tanpa berpikir panjang Galang langsung menuju ke bangkunya begitu saja. Melihat itu, Pak Rahmat yang sedang menerangkan pelajaran marah karena merasa tidak dihargai, "Galang apakah kamu tidak tau sopan santun?" tanya Pak Rahmat dengan tegas. Lama Galang terdiam kemudian menjawab "tau Pak" sahut Galang pelan. "Kalau begitu kenapa kamu langsung masuk begitu saja, bahkan mengetuk pintu ataupun salam pun tidak kamu lakukan" koreksi Pak Rahmat. "Maafkan saya Pak" jawab Galang takut takut. "Yasudah jangan sampai diulangi lagi lain kali, kalau begitu Bapak kasih kamu tugas untuk membacakan Undang Undang Dasar 1945 saat upacara Senin depan" perintah Pak Rahmat. Dengan patuh Galang menerima perintah dari Pak Rahmat tersebut. Setelah kejadian yang terjadi kepada Galang tersebut, dia berpikir untuk mencoba memperbaiki diri dalam bertindak. Sedikit demi sedikit dia mulai merubah kebiasaan buruknya yang kurang sopan tersebut dengan menjadi pribadi yang lebih ramah, sopan, dan selalu berhati-hati dalam bertindak. Dengan begitu sekarang dia menjadi seorang yang disenangi banyak orang. Karena hidup dengan etika yang baik akan membawa kita kepada segala hal yang baik pula.
Nama : Fitria Hapsari Kelompok : agung besakih CERPEN TENTANG ETIKA Ani seorang karyawan yang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta. Ani merupakan salah satu karyawan yang teladan serta dapat diandalkan dalam bidangnya. Ani seorang karyawan yang teliti serta rajin. Ani tidak pernah datang ke kantor terlambat kecuali ada halangan yang mendesak yang menyebabkan Ani datang terlambat ke kantor. Dalam jangka waktu lima tahun Ani sudah dapat menikmati hasil kerja kerasnya dengan menjabat sebagi manager di perusahaan tempat Ani bekerja dari karyawan biasa. Selama tiga tahun Ani menjabat sebagai manajer di perusahaan tersebut. Secara perlahan perusahaan yang Ani pimpin mengalami kebangkrutan , karena sikap Ani dalam menjalankan kinerja di dalamnya tidak sesuai dengan prosedur yang ada di dalamnya yang sbelumnya prosedur itu sudah ada tercantum sebagai prosedur di dalam perusahaan tersebut yang di jadikan pedoman untuk seluruh karyawan dalam mengambil keputusan. Dari cerita diatas hikmah yang dapat kita ambil adalah etika dalam menjalankan profesi. Hendaknay mengambil keputusan berdasarkan prosedur yang diberlakukan pada perusahaan tersebut. Dan tetap menjaga kerahasiaan perusahaan dan perilaku yang baik yang tertanam dalam diri kita masing-masing sebagai manusia tentunya .
Memanusiakan manusia itu kewajiban Dunia sudah gelap kenapa hidupku ikut sama gelapnyaa. Suara keras itu terus membentur kepalaku, duniaku sudah luluh lantah, kenapa semua harus terjadi kepadaku? Tuhan apa kesalahanku begitu besar sampai-sampai aku menjadi korban dari segala korban yang ada? Tubuhku pagi ini sama sakitnya dengan sebelumnya, tidak ada tidur nyenyak, tidak ada mimpi indah, hari-hariku sudah suram, selamat datang kesialan. Hanya itu yang setiap hari kukatakan kepada diriku karena di setiap langkahku tidak ada lagi ketenangan untuk sekedar berjalan santai di koridor sekolah. Dug Aduh kakiku, ini dimulai lagi. Sebutku dalam hati “Masih berani nampakin wajah di sekolah ini Lo?” sebut salah satu yang paling garang “Ga cukup siraman air kotor kemarin? Gak malu Lo masuk sini lagi?” lanjut teman sebelahnya yang tampilannya seperti tante-tante. Menor. “Nomong! Jangan diam aja! Bisa ngomong gak sih? Bisu?” decaknya pongah Aku terdiam, sesak sekali sangat sesak. Semuanya nampak berkunang-kunang, janganjangan saat ini kumohon “Maaf kalian bisa jangan mengerubungiku, tolong…to..long,” jawabku tersendat sesak nafasku sesak Kecemasanku kambuh “Woi! Minggir! Dasar tante-tante nutupin jalan,” tidak tau dari mana tapi udara mulai bisa kuhirup lagi dengan tenang, dia siapa aku sangat berterimakasih “Yang kalian lakukan itu ga membuat nama kalian keren, minggir kalian itu cuma nambahnambahin beban hidup masyarakat tau gak!” ujar manusia itu Dia berjalan ke arahku dengan berani wanita ini keren sekali atau aku yang terlalu lemah ya “Ayok bangun kita ke UKS, badan kamu dingin banget, ayok tarik nafas dan buang perlahan, semua akan baik-baik aja percaya sama aku, terima kasih kamu masih mau bertahan ya”
Dia menuntunku berjalan ke UKS ternyata kakiku terkilir aku sampai tidak sadar karena sudah biasa menjadi korban pembulian aku merasa ini semakin wajar ditubuhku, trauma masa kecil dan juga berpisahnya orang-orang tersayang membuatku kadang kehabisan akal sehat untuk merasa aku harus baik-baik saja hingga aku merasa aku pantas untuk dibuli karena tidak akan ada yang peduli denganku. “Namaku Haifa, mungkin keliatan sok-sokan tapi aku paling benci ketidak adilan seperti itu mereka sekolah tapi seperti tidak sekolah,” ucapnya menggebu dan aku hanya sesekali melihat ke arahnya Aku masih tidak percaya, ternyata masih ada orang baik di dunia ini. “Aku Andhira, maaf aku belum pernah lihat kamu atau memang kacamataku yang terlalu sempit tentang sekolah ini?” tanyaku “Ohh iya aku murid baru, baru banget ini hari pertamaku, maaf tapi arti nama kamu itu bagus sekali Andhira artinya kuat dan berani, harusnya kamu sekuat dan seberani namamu, Ra. Maaf kalau aku lancang” jawabnya sambil melihatku “Seharusnya bukan berarti benar-benar terjadi kan? Aku pengecualian” jawabku sambil berusaha berjalan dengan baik kembali ke kelas “Aku mau jadi temanmu kamu jangan begini,” ucapnya Jadi temanku? Yang ada dia jadi korban selanjutnya. “Tenang aku jamin tante-tante itu ga akan ganggu kamu lagi,” jawabnya seakan tahu apa yang kupikirkan Aku terhenti “Menjadi temanku itu rumit,” jawabku kemudian melaju tanpa menunggunya Dia masih membersamai langkahku dan terus mengikutiku sampai kelas yang ternyata kami satu kelas, lalu mengikutiku sampai jam pulang tiba “Raa, aku tau kamu baik karena itu aku mau jadi temanmu,” jawabnya “Tau apa kamu tentang baik tidaknya aku,” jawabku terkekeh sinis, aku ini sudah krisis kepercayaan “Ra, menjadi baik itu tidak perlu menggunakan karena, jadi baik tidak perlu pakai alasan,” jawabnya kekeh sambil terus membersamai langkahku
“Maaf terlihat menggurui tapi aku cuma mau bilang manusia itu memang sama-sama belajar tapi yang mempelajari itu sedikit. Sebagai manusia, menghargai sesama bukannya sudah jadi hal yang tidak lagi perlu diajari ya? apalagi diingatkan atau bahkan disuruhsuruh, jadi tidak hanya tentang dia memilih menjadi jahat, tapi lingkungan yang membuatnya terjerumus menjadi manusia yang tidak beretika,” jawabnya terus aku hanya memperhatikannya “Bumi tidak butuh manusia yang tidak menghargai manusia lainnya seperti itu, menjadi baik itu wajib, karena saat menjadi baik itu dia akan terlihat beretika, dia sopan, dia mulai pandai mengatur emosinya, dia tidak semena-mena, dan dia tidak sembrono,” jawabnya lagi “Iya,” jawabku “Dunia tidak kekurangan orang jahat tapi kekurangan orang-orang baik yang tulus dari dalam hati jadi jangan sampai kita kehilangan orang-orang yang baik, dan kamu salah satu orang baik itu, Raa. Jangan sampai kamu memilih menjadi jahat karena kamu pernah menjadi korban dari ketidak adilan” “Aku ga pernah kepikiran jadi jahat, aku cuma ragu kalo di dunia ini tidak kekurangan manusia yang baik,” jawabku “Yang baik banyak tapi mereka asik bersembunyi, tapi engga jarang juga yang berani menampakkan diri, kamu cuma belum ketemu aja, jadi temanku ya? Nanti kita berburu orang-orang baik,” pintanya sambil tersenyum mengikutiku ke pemberhentian bus “Oke,” jawabku “Oke apa?” tanya dia kepadaku sambil tersenyum “Oke kita berteman,” jawabku sambil berjalan menaiki bus “Berarti kita sudah resmi berteman ya? Jangan takut mengenal manusia baru Andhira, kamu manusia dan kamu bukan badut. Menjadi baik harus menjadi tujuan dan baik yang kuucapkan ini definisinya luas, nanti kita pelajari emosi-emosi kebaikan itu yaa,” lanjutnya sambil berhenti di pintu bus sedikit berteriak “Oke, iya kita resmi berteman” jawabku tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya Selesai
JANGAN MENILAI ORANG DARI LUARNYA, LIHATLAH KEBAIKAN HATINYA Di suatu antrian mall kota, ada seorang laki-laki separuh baya yang berprofesi sebagai guru, sebut saja Pak Didik, berjalan menuju kasir untuk membayar benda yang dibelinya. Kaki kirinya terasa sakit, karena beberapa bulan lalu mengalami sakit yang begitu berat, ia berharap tidak lupa untuk meminum semua pilnya tadi pagi. Satu pil untuk tekanan darah tinggi, satu pil untuk pusing-pusing, dan satu pil lagi untuk penyakit rematiknya yang kadang kambuh. “Syukurlah saya telah pensiun beberapa tahun lalu, menjadi seorang guru adalah amanah besar bagi saya ” katanya kepada diri sendiri. “Masihkah aku kuat mengajar anak-anak sekarang yang teknologi semakin canggih dan kebudayaan semakin berkembang?” Begitu tiba di depan antrian kasir yang penuh, ia melihat seorang lelaki dengan badan gagah,tiga orang anak yang masih kecil beserta istrinya yang hamil. Mantan guru itu tidak dapat melepaskan pandangannya dari tato di leher orang itu. “Pasti ia pernah dipenjara”, pikirnya. Ia terus memperhatikan penampilan pria itu. Dari cara pria itu berpakaian, mantan guru itu berkesimpulan bahwa ia adalah seorang anggota geng. Mata pensiunan tua itu tambah terperanjat ketika melihat kalung yang dikenakannya, bertuliskan “Samson” – pasti ini adalah nama orang itu. Samson dikenal sebagai kepala geng di daerah itu, tidak ada satupun orang yang berani padanya. Ia dikenal sebagai orang yang tidak ramah. Sewaktu Samson datang untuk mengantri, spontan orang-orang menyediakan tempat kepada dia untuk antri terlebih dulu. Setelah Samson hampir tiba di antrian terdepan, matanya tertuju pada mantan guru itu. “Silahkan Anda lebih dulu” mantan guru itu berkata. “Tidak, Anda yang harus lebih dulu..” balas lelaki berbadan gagah itu. “Tidak, Anda membawa istri yang hamil dan banyak anak, Anda harus antri lebih dulu” kata mantan guru itu kepada Samson. “Kami sangat menghormati orang tua, pak.” tegas lelaki itu. Dan bersamaan dengan itu, dengan gerak tangannya yang sangat sopan, ia menyilahkan wanita tua itu untuk mengambil tempat antrian didepannya. Seulas senyum tergurat pada bibirnya ketika sang mantan guru lewat di depan lelaki itu. Tetapi sebagai seorang yang berjiwa guru, ia tidak dapat melewatkan kejadian istimewa ini begitu saja. Mantan guru itu lalu berpaling ke belakang.
“Anda sopan sekali.. terima kasih, siapa yang mengajarkan ini kepada Anda ?” Dengan sikap yang sangat hormat, lelaki itu berkata, “Tentu saja Anda, Ibu saya, sewaktu saya masih kecil diajarkan banyak hal tentang kebaikan kepada orang lain.” Lelaki itu kemudian mengambil sikap menunduk dengan hormat – lalu pergi menuju antrian yang paling belakang. Seusai mengantri Pak Didik keluar mall, kemudian melihat seorang anak kecil yang sedang dimarahi ibunya, mungkin karena dia minta mainan tapi tidak dibelikan akhirnya anak itu menangis dan tiba-tiba menghampiri saya untuk meminta tolong, karena merasa tidak tega dengannya akhirnya saya menasehati ibunya dan juga anaknya. “Ibu jika anak meminta mainan itu wajar namanya juga anak-anak, seharusnya ibu menasehati dengan bijak agar si anak paham”. “Iya pak, maaf ini salah saya mendidik anak dengan keras, lain kali saya akan lebih bijak lagi demi kebaikan si anak, terimakasihh atas nasehatnya” “Iya sama-sama, bu.” Akhirnya keduanya pergi ke parkiran mengambil kendaraan masing-masing.
POJOK PARKIRAN Oleh : Ika Rizki Refima Putri “Eh, nanti jam 2 kita masih ada kelas, kan?” Aku mengalihkan pandang dari ramainya tempat parkir fakultas kepada sosok perempuan berambut panjang yang berjalan di sebelahku. “MKU kan, ya? Pendidikan Pancasila?” “Yap.” Riri mengangguk. “Kuota-ku masih berapa MB doang lagi, kayaknya nggak nyukup buat zoom nanti.” “Males banget nggak, siiihhh,” keluhku. “Padahal jam 2 itu waktu yang enak buat tidur siang.” “Eh, iyaaa.” Riri tiba-tiba menjetikkan jarinya di depan wajahku, seolah dirinya baru saja teringat sesuatu. “Nanti pas lagi zoom jangan kayak kemarin, malu-maluin aja di depan dosen.” Sebelah alisku terangkat. “Emang kemarin kenapa?” Riri berdecak. “Itu, lhoo, pas matkul Pengantar Ilmu Pendidikan kemarin pagi-pagi itu. Udah kamu datengnya telat, nggak menghargai dosen banget. Mana kamu off-cam pula, walaupun dosen nggak nyuruh on-cam, tapi seenggaknya kita tahu aturan lah buat inisiatif off-cam.” “Lah, bukannya kemarin aku off-cam?” Aku tertawa terbahak-bahak mengingat kegilaanku kemarin. Riri memutar bola matanya malas. “Apaan orang kamu off-cam habis disuruh dosen, mana pakaiannya masih pakai baju tidur lagi. Padahal yaa… pakai pakaian rapi itu bagian dari aturan tidak tertulis gitu, walaupun kita lagi daring.” “Iya tau, Ri. Tapi kan, itu aku lagi cepet-cepet, soalnya habis daring itu kita langsungan ada kelas luring, kan? Makanya aku kayak mau siap-siapnya agak susah,” alibiku. “Janji nggak ngulangin lagi?” Tawaku mengudara mendengar pertanyaannya. “Udah jadi mahasiswa lho, ini,” ucap Riri kembali. “Kerenan dikit, kek. Etikanya lebih dijaga.” “Iya, kamu juga. Kalau kita ada kesalahan, saling ngingetin, ya… Kayak siapa tuh yang kemarin masuk kelas nggak pakai salam, padahal udah ada dosen yang masuk? Untung beliau nggak marah karena kelasnya yang tadinya kondusif langsung keganggu.” “Nggak sengaja itu! Aku kira nggak ada dosennya kan soalnya aku datengnya nggak telat, tuh dosen aja yang datengnya kecepeten.” Riri mendengus. “Ada dosen atau nggak, tetep salam dong kalau mau masuk kelas. Minimal ngasih sapaan gitu lah, say hello gitu. Itu juga bagian dari etika tidak tertulis yang kamu jelasin tadi.” “Betul!” seru Riri. “Tapi yang kita bahas tadi cuma sebagian kecil dari etika itu, lho. Sebenernya masih ada banyak bangettt.”
“Iya, contohnya kayak gitu,” ucapku sembari menunjuk seorang laki-laki berkemeja merah maroon baru saja turun dari motornya. Sayangnya, motor yang ditumpanginya itu diparkir sembarangan di tengah jalan yang menghalangi lalu lalang kendaraan lain untuk masuk. “Pengen ngingetin sebenernya buat parkir di tempat yang lebih kosong, tapi takut soalnya kelihatannya dia kating,” cetus Riri. “Nggak apa-apa kali, nggak masalah mau kating atau seangkatan, selama dia ada kesalahan tuh boleh kok buat kita ingetin. Asal ngingetinnya secara baik-baik. Soalnya yang tua belum tentu selalu bener dan yang muda belum tentu selalu salah.” “Jadi gimana?” “Samperin?” tanyaku balik. “Boleh, tapi bentar, kita atur kata-katanya dulu biar sekiranya pas ngomong tuh kita nggak nyinggung kating itu.” “Gimana tuh, kata-katanya?” “Gini aja, ‘Permisi, Kak, sebelumnya saya mohon maaf jika saya jadi kelihatan menggurui atau mungkin dibilang caper. Tapi saya cuma mau ngingetin kalau motor Kakak parkir sembarangan di tengah jalan masuk, itu bisa ganggu lalu lalang kendaraan lain, Kak. Lebih baik motor Kakak dipindah aja, itu kan di sebelah motor Supra itu masih ada tempat yang kosong.” “Nice, nice. Semoga aja kakaknya nggak tersinggung.” “Kayaknya nggak bakal, deh. Soalnya dilihat dari tampangnya tuh dia baik hati gitu. Udah lah, ayo samperin aja. Niat kita kan baik.” “Gasss!!!”
SOPAN ITU INDAH Di suatu sekolah yaitu “SMP N TUNAS PELITA”, terdapat 3 orang sahabat yang bernama Rama, Reza dan Fadil mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 9I. Masing masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Rama anaknya baik, ramah, cerdas dan kreatif. Reza anaknya setia kawan, ramah, humoris dan sopan sedangkan Fadil dia mempunyai sifat agak berbeda dengan kedua sahabatnya yaitu bandel, sedikit ceroboh, terkadang cuek tetapi juga humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya mempunyai sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Seperti biasa, pagi itu Fadil sudah bangun dari tidurnya lalu sholat subuh, mandi lalu sarapan kemudian bersiap siap berangkat sekolah, Fadil hendak menggambil sepeda onthelnya yang masih berada dalam rumah dan akan berpamitan pada ibunya. “Bu, fadil mau berangkat sekolah dulu ya” teriak Fadil sambil menaiki sepedanya. “Tunggu sebentar nak” jawab ibu Fadil yang datang menghampiri anaknya. “Ada apa bu?” tanya Fadil heran. “Kamu pamitan sama ibu dengan menaiki sepeda yang masih di dalam rumah? Sungguh itu perbuatan yang tidak sopan dil. Ayo turun dan keluarkan sepedamu!” perintah Ibu Fadil. “Maaf bu” sahut Fadil sambil turun dari sepedanya dan menuntunnnya keluar. “Nah seperti itu baru namanya sopan dan baik” ucap Ibu Fadil. “Iya bu. Fadil minta maaf” ucap Fadil merasa bersalah. “Ya sudah sekarang kamu berangkat nanti terlambat lho. Ingat jangan diulangi lagi ya” pesan Ibu Fadil. “Baik bu Fadil berangkat dulu, Assalamualaikum” pamit Fadil dan mencium punggung tangan ibunya. “Wa‟alaikumussalam, hati-hati ya” jawab Ibu Fadil. Fadil pun segera melaju kencang menuju sekolah yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Ternyata setelah sampai di sekolah Fadil terlambat masuk kelas, dengan tergesa-gesa ia pun masuk kelas, tanpa berpikir panjang Fadil langsung masuk begitu saja, melihat itu Pak Kris yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran. “Fadil apa kamu tidak tau sopan santun?” tanya Pak Kris dengan tegas. Lama Fadil terdiam lalu menjawab “Tahu Pak”. “Kalau tahu kenapa kamu masuk tanpa salam atau ketuk pintu terlebih dahulu?” tanya Pak Kris lagi. “Maafkan saya pak” jawab Fadil takut-takut. “Sebagai hukuman kamu berdiri di depan kelas dan bacakan pembukaan UUD 1945” perintah Pak Kris dengan tegas dan galak. Tanpa banyak bicara Fadil pun langsung ke depan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Kris, dengan lancar ia membacakan pembukaan UUD 1945.
Tak terasa waktu cepat berlalu bel tanda istirahat pertama pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bersorak gembira. “Baiklah anak-anak bapak sudahi pertemuan kali ini terimakasih. Assalammualaikum” ucap Pak Kris mengakhiri pelajaran. “Wa‟alaikumussalam” jawab anak-anak serempak. Mereka pun berhamburan ke luar kelas, ada yang ke kantin, kamar mandi ataupun perpustakaan. Begitupun dengan Fadil, Reza dan Rama. “Rama, Fadil ke kantin yuk! aku lapar nih” ajak Reza yang sudah kelaparan. Rama & Fadil mengganguk. Mereka segera menuju kantin yang jaraknya agak jauh dari kelas mereka. Sesampainya di kantin mereka duduk dan memesan makanan. Beberapa menit kemudian pesanan datang. Fadil langsung menyambar bakso yang masih panas itu. “Hati hati han nanti tersedak lho” ucap Reza mengingatkan. “Iya, itu nggak sopan tau, kamu belum baca basmalah trus makan pakai tangan kiri lagi” sambung Rama. “Iya iya maaf habisnya lapar banget sih” kata Fadil sambil memegang sendoknya dengan tangan kanan. “Nah gitu dong kan lebih enak dipandang” ujar Reza gembira. “Aku heran ya, hari ini aku banyak mendengar orang-orang berbicara tentang sopan, sopan dan sopan” keluh Fadil sedikit kesal. “Kamu juga sih, belakangan ini perilaku kamu kurang sopan” jelas Reza.. “Iya, sopan itu kan penting” tambah Rama. Fadil hanya diam saja dan melanjutkan makan. Setelah mereka selesai makan dan membayar, mereka lalu kembali ke kelas, ketika di perjalanan mereka berpapasan dengan Bu Rara. “Mari bu” sapa Rama dengan sopan. “Selamat siang bu” ucap Reza memberi salam. Bu Rara hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian berlalu.. “Eh Fadil, kenapa kamu nggak menyapa Bu Rara tadi?” tanya Reza heran. “Aku lagi kesal dan malas menyapa, dulu aku pernah menyapa bu guru lain tapi, tak dihiraukan dan beliau berlalu begitu saja” jawab Fadil jujur. “Nggak boleh gitu dil, walau mereka tidak membalas sapaan kita, setidaknya kita sudah menyapa dan berperilaku baik” kata Reza menasehati. “Betul itu, budayakan 5S Senyum, Salam, Sapa, Sopan Dan Santun” tambah Rama. “Iya deh dari tadi aku terus yang disalahkan” ujar Fadil memasang muka cemberut. Rama dan Reza hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala. Mereka lalu bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Lima hari pun berlalu begitu cepat tapi, sifat Fadil yang buruk masih belum hilang, sering ia ceroboh dan tidak berperilaku sopan. Pada suatu hari 3 sahabat itu berbincang-
bincang di perpustakaan tentang sopan santun. “Eh, teman teman kalian tau nggak manfaat dari perilaku sopan?” tanya Reza memulai perbincangan. “Manfaat sopan santun adalah disenangi banyak orang, menciptakan karakter yang mulia, mencerminkan sifat yang luhur, membuat kita lebih ramah pada sesama” ujar Rama penuh semangat. “Dan menjadikan kita pribadi yang baik serta mengerti adat istiadat” tambah Reza. “Tapi teman teman bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, akhir-akhir ini aku selalu bertindak tidak sopan tanpa aku sadari. Aku ingin berubah, bagaimana kalian punya saran tidak?” keluh Fadil. Ia ingin jadi lebih baik lagi. “Memang dil kalo kita belum terbiasa berprilaku sopan memang terasa sulit, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan apalagi dapat banyak pahala” kata Reza menjelaskan. “Aku tahu bagaimana mengubah sikap burukmu itu” ujar Rama sambil tersenyum. “Aku sudah membuatkanmu gelang sopan santun” ucap Rama lalu mengeluarkan sebuah gelang dan memberikannya pada Fadil. “Gelang apa ini?” tanya Fadil sambil melihat gelang yang bertuliskan „sopan itu perlu‟ tersebut. “Gelang itu bisa menjadi pengingat kalau kita tidak berperilaku sopan caranya sederhana kok, ketika kita ingat bahwa kita telah melakukan hal yang tidak sopan, tarik saja gelangnya kuat-kuat lalu lepaskan dan otomatis akan mengenai tanganmu dan teras sakit jadi, gelang ini seakan-akan menghukum kita” ujar Rama menjelaskan panjang lebar. “Oh seperti itu jadi kesimpulannya jika tidak ingin sakit maka bersikaplah dengan sopan” ujar Reza menarik kesimpulan. Rama mengganguk. “Oh begitu ya, terimakasih Rama atas pemberianmu ini, mulai besok akan kupraktikan” ucap Fadil gembira kini ia dapat melatih sikap sopan santunnya. Sejak ada gelang itu kini Fadil lebih berhati-hati dalam bertindak. Kemarin ketika ia berpapasan dengan Bu Della Fadil malah memalingkan wajah dan tidak menyapa beliau, beberapa menit kemudian ia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan, lalu ia menarik gelang pemberian Rama kuat-kuat dan melepaskannya, ia agak kesakitan. “Jika tak ingin sakit, bersikaplah sopan” ucapnya dalam hati sambil tersenyum malu. Hal tersebut Fadil lakukan berulang-ulang ketika ia berperilaku tidak baik dan sopan. 2 minggu pun berlalu, sekarang sifat buruk Fadil perlahan mulai hilang dan dia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Fadil lebih baik. “Wah dil sekarang kamu berubah jadi semakin baik lho” puji Reza. “Hehehe. Allhamdulillah ini semua juga berkat kalian dan gelang itu” jawab Fadil tersipu malu. “Berarti gelang buatanku itu manjur dong” kata Reza penuh percaya diri. “Iya, sejak ada gelang itu aku jadi lebih berhati hati dalam bertindak” ujar Fadil. “Aku juga mau, Rama
masih punya gelang seperti itu?” tanya Reza penuh harap. “Kebetulan aku bawa 2. Aku juga mau pakai, ini untukmu” ucap Rama sambil menyodorkan gelang pada Reza. “Wah, sekarang kita seperti trio sopan santun saja” ujar Fadil gembira. “Hahaha. Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” teriak Rama penuh semangat. “Ya, karena berperilaku sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Reza percaya diri. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun. SELESAI
Buah Etika “Anna, tolong bantu Ibu mengantarkan pesanan kue ini.” Tidak ada sahutan dari anak perempuan yang bernama Anna. Ibu Fatima pun pergi menuju kamar Anna untuk mengetahui apa yang putrinya lakukan sehingga tidak memedulikan permintaannya. Kamar Anna dikunci. Itu yang Ibu Fatima dapatkan. Tidak ada kunci cadangan, jadi terpaksa Ibu Fatima mengetuk pintu kayu nan rapuh itu. “Anna, kamu sedang apa? Ibu meminta tolong kepadamu, apa kamu sedang sibuk?” Tidak ada jawaban lagi. Ibu Fatima berpikir bahwa Anna sedang tidak ingin diganggu, karena Anna juga sudah duduk di bangku akhir SMA. Oleh karena itu, Ibu Fatima kembali ke dapur untuk membuat beberapa pesanan kue. Satu jam lamanya, Ibu Fatima telah selesai membuat semua pesanan kue. Ia pun kembali mengecek kamar Anna, siapa tahu putrinya sudah selesai dalam aktivitasnya. Namun perkiraannya salah, kamar Anna tetap tertutup rapat. Ibu Fatima kembali mengetuk pintu kamar putrinya. Tok…tok…tok…. “Anna? Kamu sedang apa? Kenapa pintumu tertutup terus?” Hening. Ibu Fatima pun bingung harus bagaimana. Kemudian Ibu Fatima memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Saat hendak masuk ke kamar, kebetulan sekali Pak Teguh atau yang tidak lain adalah suami dari Ibu Fatima baru pulang. Ibu Fatima pun menghampiri Pak Teguh lalu berkata, “Bagaimana Pak? Apakah sudah mendapatkan pekerjaan lain?” Pak Teguh menghela napas. “Belum Bu. Tadi Bapak sudah keliling ke sana ke mari, tetapi tidak ada satu pun lowongan pekerjaan. Bapak meminta maaf ya Bu,” ujar Pak Teguh dengan raut wajah murung. Pak Teguh hanya seorang buruh bangunan yang tentunya tidak selalu mendapatkan penghasilan dalam satu hari. Dan memang saat ini sedang sepi permintaan. Ibu Fatima yang mendengar hal tersebut pun tersenyum hangat sambil berkata, “Tidak apa-apa Pak, saat ini kita sedang diuji. Semoga saja ke depannya akan ada hal
indah yang kita dapatkan. Ibu juga masih bisa membantu Bapak dengan berjualan kue. Ya sudah lebih baik Bapak istirahat, ini sudah cukup malam.” Ibu Fatima dan Pak Teguh pun menuju kamar mereka untuk mengistirahatkan badan mereka. Berbanding terbalik dengan Anna, ia justru sedang asyik membalas pesan dari para temannya. Ia memang mendengar panggilan ibunya, tetapi ia abaikan dan lebih memilih untuk pura-pura tidak mendengar. Anna, perempuan berkacamata dengan postur tubuh yang ramping, tetapi selalu mengabaikan keberadaan orang tuanya. “Buat apa membantu Ibu, lebih baik aku berdiam diri di kamar sambil berkirim pesan dengan teman-temanku. Lagian sebentar lagi aku tidak membutuhkan Ibu dan Bapak, karena „kan aku mau lulus dan selepas itu aku akan bekerja sesuai ucapan Kak Avira. Hanya menghitung bulan, maka hal itu akan terwujud.” Tiga bulan kemudian, hari kelulusan telah tiba. Anna menjadi salah satu siswi yang berhasil menempuh pendidikan SMA dengan baik. Namun hal tersebut membuat dirinya menjadi anak yang congkak. Ia melupakan jasa orang tuanya. Ia melupakan kerja keras orang tuanya untuk membiayai sekolahnya. Dan mulai hari ini, ia melupakan segala kewajibannya sebagai seorang anak. “Anna, apa keputusan kamu sudah tepat? Sayang, ini terlalu berisiko. Kamu tidak mengenal Avira dengan baik, bahkan kamu hanya bertemu dia melalui sosial media. Lebih baik kamu melanjutkan studi kamu, Anna. Bapak dan Ibu masih sanggup untuk menyekolahkan kamu. Jika kamu ingin bekerja, Bapak bisa mencarikan kamu pekerjaan di sini.” “Betul apa yang Bapak ucapkan, Anna. Ibu khawatir kamu ditipu. Bekerja dengan memberikan uang terlebih dahulu sudah tidak lazim, sayang. Apalagi uangnya dalam jumlah besar.” Anna memalingkan wajahnya karena muak dengan ucapan Pak Teguh dan Ibu Fatima. “Bilang saja Ibu dan Bapak tidak mau membantuku! Tidak mau aku bahagia! Aku muak! Muak, asal kalian tahu! Dari kecil hidupku seperti ini terus, aku diejek teman dan selalu dikucilkan. Jika boleh memilih, aku tidak ingin menjadi anak kalian! Sudah miskin, tidak bisa membuat aku bahagia, semuanya serba kekurangan, lalu apa? Hendak menyekolahkanku kembali?! Berkacalah Ibu! Berkacalah Bapak! Berapa banyak utang
kalian di sana-sini? Ingin membuat aku tersiksa karena harus melunasi utang-utang itu? Tidak sudi aku!” “Anna, jaga nada bicaramu. Kami masih orang tuamu. Bapak tahu kamu lelah dengan keadaan ekonomi keluarga kita, tetapi Bapak mohon pertimbangkan kembali keputusanmu itu.” Anna terkekeh dan melihat Pak Teguh dengan sinis. “Tidak bisa Bapak, aku sudah menggadaikan surat tanah dan juga barang-barang berharga di rumah ini. Uangnya juga sudah aku kirim ke Kak Avira.” Pak Teguh tercengang, sedangkan Ibu Fatima mulai menangis. “Ya Tuhan, Anna, apa yang kamu pikirkan? Kamu terlalu gegabah. Ibu tidak pernah mendidikmu menjadi anak yang pembangkang, Anna. Apa salahku, Ya Tuhan?” Bukannya merasa bersalah, Anna justru tertawa. “Ibu, tidak perlu banyak drama. Ibu dan Bapak masih bisa tidur di kolong jembatan. Bukankah dahulu kalian hidup di sana? Itulah yang kalian dapatkan karena tidak bisa membuat diriku bahagia. Sudahlah, aku akan pergi. Tidak perlu mencariku.” Anna pun pergi dari hadapan Pak Teguh dan Ibu Fatima. Anna pergi dengan menorehkan luka dan memberi kesakitan yang luar biasa. Terputar kembali memori itu. Memori kelam di masa lalu yang seharusnya tidak Anna lakukan. Kini ia sadar bahwa yang ia perbuat dahulu itu adalah kesalahan besar. Seorang anak seharusnya bisa berbakti kepada orang tua dalam keadaan apapun, sulit ataupun senang. Tidak sepatutnya seorang anak berlaku buruk kepada orang tua yang sudah mengayomi, mengasihi, dan melimpahkan segala sesuatu yang mereka miliki. Orang tua selalu mencintai anaknya dengan sepenuh hati, tanpa meminta imbalan. Dan seharusnya itu juga dilakukan oleh seorang anak kepada orang tuanya dengan bersikap sopan dan santun, berperilaku baik, menghormati mereka, dan menyayangi mereka dengan tulus. Anna tersenyum sendu. Ia melihat dua sosok yang tengah tertidur pulas di sampingnya dengan penuh perasaan bersalah. Maafkan aku yang dulu, Ibu, Bapak. Aku sadar jika aku salah. Dan aku sangat berterima kasih karena kalian masih mau menerima diriku kembali. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku akan selalu menghormati kalian, Ibu dan Bapak. Aku sangat mencintai kalian.
Hal Kecil “ Apabila engkau bertemu dengan orang yang lebih tua maka pasang dalam otakmu bahwa dia lebih baik daripada saya sebab dia lebih dulu beriman daripada saya dan ketika engkau bertemu dengan anak kecil pasang pula pada otakmu bahwa dia lebih baik daripada saya sebab saya lebih dulu bermaksiat daripada dia maka engkau akan rendah hati di hadapan manusia dan rendah diri di hadapan Allah” Reni memasak sambil melamun sampai bau gosong menyadarkannya. “ Yah gosong, lagian aku ngapain sih melamun “ gerutu Reni sambil membereskan alat-alat dapur. Alhasil dia berangkat sekolah tanpa sarapan. Dikarenakan jarak antara rumah Reni dengan Sekolah agak jauh dia biasa menggunakan sepeda motor. Dipertengahan jalan, Reni melihat tukang parkir yang berpakaian lusuh “ Apakah dia tidak pernah mandi? ” pikir Reni merasa jijik. Dia berlalu begitu saja melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Kegiatan belajar mengajar hari ini berjalan seperti biasanya. Reni pulang ke rumah meletakkan tas nya di meja belajar. Setelah berganti baju dia turun untuk makan siang. Di Ruang makan ternyata ada Mama Reni dan juga Cikho adik Reni. “ Sudah pulang sayang? Bagaimana sekolah hari ini? “ tanya Mama Reni. “ Sudah Ma, sekolah hari ini seperti biasanya “ jawab Reni sambil menyomot tempe goreng yang ada di atas meja makan. Namun sebelum masuk mulut sang Mama sudah menegurnya “Cuci tangan dulu sayang!” . “ Hehehe, lupa Ma “ jawab Reni sambil beranjak ke wastafel, sang Mama hanya menggelengkan kepala. Semua sudah duduk di tempat masing masing dengan masi berserta lauk di depannya. Karena lapar Reni langsung saja melahap makan siangnya. “ Berdo’a dulu Kakak.. “ kata Chiko. “ Bodo amat “ jawab Reni cuek, Chiko menggelengkan kepalanya. Selesai makan mereka membereskan alat makannya sendiri sendiri. “ Jangan lupa sholat ashar Kak! “ seru Mama Reni, “ Iya Ma, nanti “ jawab Reni. Bukannya langsung beranjak mengambil wudhu Reni malah bermain hp sampai ketiduran. Karena ingin meminjam laptop sang kakak Chiko berjalan ke kamar Reni. Toktok toktok Chiko mengetuk pintuk kamar Reni. Karena tidak ada respon dia inisiatif untuk membuka pintu kamar sang kakak. Ceklek “ Kak… “ panggil Chiko,
ternyata sang kakak tidur sambil memegangi hp. Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, dan Chiko yakin kakak nya belum melaksanakan shalat. “ Kak, bangun udah jam 5 ini “ sambil berusaha membangunkan Reni. “ Hmmm.. Apasih gak usah sok sokan!!” gerutu Reni merasa tidurnya diganggu. Chiko memilih untuk meninggalkan kamar Kakak nya sebab malas berdebat biar sang Mama saja yang membangunkan. Sang Mama beranjak ke kamar Reni setelah mendapat laporan dari Chiko. “ Kak! Bangun ih tadi disuruh sholat engga buru buru sholat giliran dibangunin adiknya malah ngata- ngatain “ kata sang Mama sambil berusaha membangunkan Reni. “ Iya iya Ma… “ Reni beranjak dari tempat tidur sambil malas malas an. Mama Reni menunggu Reni selesai sholat, setelah Reni selesai Mama Reni memanggil Reni “ Reni, sini duduk disamping Mama”, Reni menghampiri Mamanya sambil cemberut. “ Bersyukurlah ketika masih ada orang yang mau mengingatkan kita bukan malah cemberut kayak gini, Adikmu memang lebih muda dari kamu tapi selagi dia mengingatkan hal hal baik ya berterimakasih lah bukan malah marah marah. Makan itu kan termasuk hal kecil tapi kita sering lupa bagaimana cara makan yang baik, kalau Kakak tidak diingatkan bisa bisa keterusan nanti. Begitupun dengan sholat, sudah kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk melaksanakannya“, “ Iya Ma, terimakasih sudah diingatkan. Nanti Reni minta maaf ke Chiko “ jawab Reni . Keesokan harinya, waktu perjalanan pulang sekolah Reni terjatuh dari sepeda motor sebab dia tidak hati hati. “ Apakah ada yang terluka dik? “ tanya tukang parkir yang menolongnya. “ tidak apa apa Pak, hanya tergores sedikit “ jawab Reni sambil menahan sakit. “ Mari ikut Bapak “ ajak tukang parkir. Diajaknya Reni ke serambi masjid “ duduk dulu, Saya ambilkan obat merah “ kata tukang parkir sambil mempersilahkan. “ sepertinya ini tukang parkir yang kemarin “ batin Reni sambil menyernyit. Tukang parkir tadi kembali bersama Ibu ibu yang membawakan obat merah, minum dan beberapa cemilan. “ Nduk, kamu biar diobati Ibu Jinah dulu ya.. Ibu ini istri saya “ , “Buk, titip anak ini ya.. Bapak tak lanjut kerja dulu “ pinta tukang perkir kepada istrinya, “ Iya Pak, ati ati “ jawab sang istri. “ Sini nduk.. Ibu bantu obati “ , “ Ah, iya Buk “ jawab Reni. Selesai mengobati Reni Ibu itu mempersilahkan Reni memakan cemilan yang sudah dibawakan. Dalam batin nya Reni bertanya-tanya mengapa tinggal di Masjid. Dengan ragu-ragu Reni bertanya kepada Ibu Jinah, “ Apakah Bapak dan Ibu memang tinggal di sini? “ tanya Reni. “ Iya nduk, Alhamdulillah Saya dan Bapak diperbolehkan untuk tinggal di sini oleh Pak Kyai di sini.
Sebetulnya Saya dan Bapak tidak tinggal di Masjid persis, tapi di rumah kecil samping masjid ini dan kebetulan diamanahi Pak Kyai untuk mengurus masjid ini juga. Dulunya rumah itu milik Pak Kyai namun karena sudah tidak digunakan rumah itu boleh kami rawat dengan amanah untuk merawat masjid ini juga “ cerita Ibu Jinah. Karena tertarik dengan cerita Ibu Jinah Reni bertannya lagi “ Maaf bu, kalau boleh tau bagaimana Bapak dan Ibu bisa sampai disini? “ , Ibu menanggapi dengan senyuman sebelum menjawab. Karena merasa tidak enak Reni berucap lagi “ Maaf bu, kalau kesannya lancang tidak usah dijawab tidak apa apa “. “ Ah tidak nak, saya hanya teringat anak saya mungkin jika dia masih hidup, sekarang sudah sebesar kamu juga “ sambil tersenyum dengan tatapan redup. Reni mendekat untuk merangkul Ibu Jinah, “ Dahulu Rumah saya hangus karena kebakaran, dan anak saya termasuk korban dalam tragedi tersebut, dikarenakan keadaan yang tidak memungkinkan Saya dan Bapak bertekad memperbaiki hidup dengan merantau ke kota. Kerja apapun yang penting halal dan Alhamdulillah Allah beri pertolongan lewat Pak Kyai untuk menolong kami “ . Terjawablah rasa penasaran Reni, karena merasa cukup Reni berpamitan seraya berterimakasih atas bantuan yang diberikan. “ Terimakasih atas bantuannya Ibu, Semoga lain waktu saya bisa berkunjung lagi” , “ Berkunjunglah kapanpun nduk, lain kali hati hati mengendarai motornya “ pesan Ibu Jinah. Reni berlalu sambil berkata dalam hati “ Betapa tidak sopannya saya kemarin, hanya karena penampilan luar mengolok olok” . Sampainya di rumah Reni merenungkan hal itu, dia jadi teringat ada seseorang yang mengatakan kutipan yang dulunya ia tidak tau maksud dari kutipan tersebut dan kini Ia paham apa yang dimaksud “ Apabila engkau bertemu dengan orang yang lebih tua maka pasang dalam otakmu bahwa dia lebih baik daripada saya sebab dia lebih dulu beriman daripada saya dan ketika engkau bertemu dengan anak kecil pasang pula pada otakmu bahwa dia lebih baik daripada saya sebab saya lebih dulu bermaksiat daripada dia maka engkau akan rendah hati di hadapan manusia dan rendah diri di hadapan Allah” . Atas apa yang dilakukannya terhadap Bapak tukang parkir tadi maupun terhadap adiknya, Ia bertekad untuk memperbaiki itu, belajar memperbaiki diri dan belajar beretika yang baik sesama makhluk Allah.
Etika buruk akibat 2 kepribadian Ada seseorang dimana dia memiliki 2 kepribadian, dia bisa menjadi baik dan jahat. Jika dia menjadi baik maka dia bisa sopan dan suka menolong, tetapi jika dia menjadi jahat maka dia akan sombong dan suka berkata kotor. Ada saatnya dia akan berbaik hati kepada seseorang, dia tidak akan pernah acuh kepada satu orang pun. Saat dia menjadi jahat dia bisa menjahat semua orang seolah dia tidak mengenal semua orang yang sedang dia sakiti. Kapan pun dia bisa berubah 2 kepribadian tersebut dalam jangka waktu pendek, tetapi saat dia melakukan kepribadian jahat dia seperti tidak merasakan bahwa dia telah melakukan sebuah tindakan jahat, seperti tidak menyadarkan diri. Diri nya sama sekali tidak bisa mengontrol diri sendiri sesuai dengan emosinya, jadinya diri nya sendiri pun menjadi lepas control dan menjadikan etika dia bergitu buruk dipandang oleh masyarakat atau teman selingkungannya.
Fasih Berhasa Asing, Pandai Tata Krama Unggah-ungguh atau tata krama, masih melekat kental dalam masyarakat Jawa. Mulai dari cara bertutur kata hingga bertingkah laku, semua sudah diatur dengan luwes. Setiap orangtua di Jawa akan mengajarkan tata krama kepada anak-anaknya. Seperti Nickyta, siswa kelas sepuluh SMK yang manis. ia lahir, tinggal, dan tumbuh besar di lingkungan keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Di sekolah, nickyta juga berprestasi. Sudah ada penghargaan yang didapat selama beberapa minggu ia bersekolah di SMK. Bisa dikatakan, Nickyta itu Jawa banget. Awal masuk sekolah, Nickyta sudah dikenal temantemannya sebagai anak yang baik nan sopan. Minggu ke tiga Nickyta bersekolah, ada lomba story telling. Karena dari SMP Nickyta sudah hebat berbahasa inggris, jelas nickyta akan berpartisipasi dalam perlombaan tersebut. Sepulangnya bersekolah, Nickyta langsung memberitahu keinginannya kepada sang kakak. "Kak Ran, aku mau ikut lomba story telling di sekolah." Beritanya kepada Rana, sang kakak. "Wah, harus ikut tuh. Kapan, Nic?" Rana meletakkan laptop yang sebelumnya ia pangku. "Minggu depan, kak. Nanti malam aku minta tolong, Kak Rana lihatin aku latihan, ya?" "Siap. Ya sudah, kamu siapkan dulu story nya. Kakak mau berangkat ke kampus, nih." "Iya, kak. Hati-hati, ya, kak!" Tanpa membuang swaktu lagi, Nickyta langsung menyiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk perlombaan. Gadis kelas 1 SMA itu terlihat sangat menikmati kegiatannya. Sampai suara ketukan pintu terdengar, Nickyta langsung beranjak. "Nggih, Pak Lek, wonten nopo? Monggo pinarak rumiyin" (Ya, Om, ada apa? Silakan duduk dulu.) Nickyta menggeser posisinya, mempersilakan Pak Lek Slamet masuk ke rumahnya. "Bapakmu wes ning omah durung?" (Bapakmu udah di rumah belum?) Tanya Pak Lek Slamet yang sepertinya tidak berniat masuk.
"Dereng kundur, Pak Lek. Mangkih jam 4 lagi kundur. Bade kula sanjangaken nopo pripun Pak Lek?” (Belum pulang, Apk Lek. Nanti jam 4 baru pulang. Mau titip pesan atau bagaimana Pak Lek?) "Wes, ora usah, matur nuwun. Koe lagi sinahu opo?" ( Sudah, tidak perlu, Terimakasih. Kamu lagi Belajar apa?) Tanya Pak Lek Slamet yang melihat buku serta alat tulis ada di meja. "Sek ndamel teks story telling damel lomba wonten sekolah." (Sedang membuat teks story telling untuk lomba di sekolah.) "Pinter banget, koe, nduk. Wes pinter basa jawa sik apik, yo pinter bahasa inggris." (Pintar banget, kamu, nak. Sudah pintar bahasa jawa yang baik, pintar juga berbahasa inggris.) "Amin, Pak Lek, matur nuwun." (Amin, Pak Lek, Terimakasih.) Jawab Nickyta sambil menganggukkan kepalanya. "Mugio lancar ya nduk lombane. Pak Lek tak langsung pamit wae, mengko sore tak rene meneh." (Semoga lancar ya nak lombanya. Pak Lek mau langsung pamit saja, nanti sore kesini lagi.) "Nggih, Pak Lek. Mangkeh kula sanjangaken bapak, nek Pak Lek sangking mriki." (Ya, Pak Lek. Nanti saya sampaikan ke bapak, kalau Pak Lek dari sini.) Ya, itulah Nickyta. Remaja yang pantas menjadi contoh. Pandai Berbahasa asing, tidak membuat Nickyta melupakan adat istiadat di lingkungannya. Ia masih fasih berbahasa jawa, bahkan dengan tata krama.
Kenyataan Lila Mulutnya terbungkam sesaat setelah teman-temannya mulai mengatakan kenyataan padanya. Pasalnya, Lila adalah anak yang terkenal keras kepala dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain. Lila adalah gadis remaja berusia 17 tahun yang duduk di bangku SMA. Lia termasuk anak yang pandai dalam kelasnya dan selalu mendaptkan nilai yang bagus dan tak pernah tak mendapatkan peringkat 1 di kelas. Namun disisi lain, Lia adalah anak yang sombong, keras kepala dan seenaknya sendiri, terutama kepada teman-teman yang dianggapnya lemah. Suatu hari di sekolah, seperti biasa seperti anak–anak SMA pada umumnya, Lila dan teman–teman berangkat ke sekolah dengan tenang dan sewajarnya. Dengan raut wajah yang tidak mengenakkan, Lila berjalan dari depan sekolah menuju kelasnya. Lila memang selalu seperti itu, ia ingin ditakuti oleh orang-orang disekitarnya dengan memperlihatkan wajah yang kini ia tampakkan itu. “Hai Lila” sapa Dara, teman dekatnya. “Kemana aja kamu, kemarin sepi banget ga ada kamu” sambung Siska. “Apaan sih, aku libur sehari aja lebay banget” jawab Lila “Kenapa? Ngga ada yang nyontekin kalian? Hahaaha” tambah Lila diikuti tertawanya seperti ada sebuah lelucon yang ada diantara mereka. Lila memang selalu bersikap seperti itu, kepada siapapun bahkan kepada Dara dan Siska yang notabennya mereka adalah teman dekatnya. Dara dan Siska menyadari setiap ada kesalahan yang keluar dari diri Lila namun mereka tak ingin ambil pusing jika harus berdebat dengan temannya itu karena mereka tau sebenar apapun mereka, Lila tetap saja terus tak mau salah dan mempertahankan sifat keras kepalanya itu. Bel sekolah tanda masuk berbunyi, semua siswa dan siswi di sekolah itu bergegas masuk ke dalam kelas untuk memulai pembelajaran. Berbeda dengan teman-temannya Lila tak ingin terburu-buru masuk malah asik bermain ponsel didepan kelas. “Lila, ayo buruan masuk” Dara mengingatkan Lila “La, ayoo” tambah Dara karena melihat Lila yang tak berkutik dari tadi dan terus asik bermain ponsel. “Ini jam nya Pak Eko loh, La” ucap Siska yang sontak berhasil membuat Lila segera menutup ponselnya dan bergegas masuk ke dalam kelas. “Eh iya ya ini jamnya Pak Eko? Ko ngga bilang dari tadi sih” omel Lila “Lah, gini amat sih ini orang” kata Siska Tak lama pembelajaran pertama pun dimulai, dan semuanya berjalan semestinya. Tak ada yang aneh dan mengejutkan pada pembeajaran kali ini. Tak terasa sudah pukul 09.30 a.m dan bel sekolah pun berbunyi tanda jam istirahat dimulai.
“Eh, mau ke kantin ga?” tanya Dara, “Yuk, mau ikut ga kamu?” timpal Siska, “Ngga ah males, kalian aja berdua sana”, jawab Lila dengan santai “Tumben” sahut Dara Dara dan Siska pun akhirnya pergi ke kantin berdua saja tanpa Lila teman dekatnya itu. Rasanya seperti aneh karena biasanya Lila tak pernah absen ke kantin setiap jam istirahat. Sementara itu di kelas, “Eh kamu bawa apa itu?” tanya Lila kepada salah satu temannya di kelas “Ini aku bawa roti tawar, ibuku yang nyiapin. Kamu mau La?” “Dih, apaan roti kek begini ditawarin ke aku” jawab Lila yang membuat tak enak hati Putri teman sekelasnya itu “Anak mama ya kamu? Dibawain bekel segala, roti tawar pula. Ngga mampu beli yang lain? Hahahaha” ejek Lila Tak sengaja ternyata Dara dan Siska mendengar apa yang telah dikatakan Lila dan memang setiap hari Lila selalu begitu kepada teman temannya yang lain. Namun yang membuat kedua temannya ini tercengang adalah ketika Lila berani beraninya sampai menjegal Putri sampai terjatuh dan membuat bekel berupa roti yang iya bawa itu jatuh dan tidak dapat dimakan lagi. “Eh La, Kamu udah keterlaluan ya jadi orang” seru Siska dengan emosi yang meradang, “Bisa ngga kalo ngga ngatain orang sehari aja” tambah Dara yang sedang membantu Putri untuk bangun “Kita selama ini diem aja bukan berarti setuju sama apapun yang kamu perbuat ya La” “Asal kamu tau, kalo bisa milih kita lebih baik ga punya temen dari pada temenan sama orang kaya kamu. Udah semena-mena sama orang, keras kepala, dan ga mau dengerin apa yang benar dan salah”. “Kamu udah keterlaluan sih La, Untung Putri ngga kenapa-kenapa” Ucap Dara dan Siska berurutan. Mulut Lila seketika terbungkam sesaat setelah teman-temannya mulai mengatakan kenyataan padanya. Alih- alih meminta maaf, Lila malah mengambil tasnya dan pergi kembali kerumah walau jam pembelajan belum selesai. Tak tahu apa yang sebenarnya salah dan sudah mempengaruhi Lila hingga ia selalu bersikap seperti itu kepada teman-temannya. Sejak saat itu, Dara dan Siska tak lagi menjadi teman dekat Lila, mereka sadar bahwa dengan terus diam dan berteman dengannya Lila tak akan pernah bisa menyadari kesalahan-kesalahannya, Namun ini tak menjadikan Dara dan Siska membenci Lila. Mereka tetap akan menjadi temannya dan akan kembali menjadi
teman dekat Lila setelah Lila sadar akan kesalahannya lalu memperbaiki perilaku yang salah pada dirinya selama ini.
Nama : Lilis Sefiana Kelompok : Keraban Langit Prodi : Sastra Indonesia
Lelaku Hari itu sepertinya Tuhan tengah menghukum Kota Semarang, pasalnya matahari sudah nyalang meski jam masih menunjukkan pukul 9 pagi. Amanda mengusap butir peluh yang mengalir sepanjang pipi sejak keluar mobil lima belas menit yang lalu. Panas matahari benar-benar membuat otaknya mendidih dan berpengaruh pada kondisi hatinya yang kacau. Ini hari pertama kepindahannya dari Bandung ke indekos sebelum masa orientasi kampus nanti. Air matanya sudah ia habiskan di sepanjang perjalanan sembari memeluk sang ibu tercinta. Lekas ia masuk ke dalam kamar setelah melepas pergi mobil silver milik ayah. Melepas penat, setengah hari itu hanya Amanda habiskan dengan rebahan di kasur sembari membaca pesan penyemangat dari teman-teman SMA-nya. Amanda tidak ingin susah-susah memperkenalkan diri dengan tetangga kamarnya. Ia bukan tipe orang yang mudah bersosialisasi apalagi basa-basi, Amanda benci terlihat menyedihkan. Sejak kecil orang lain lah yang mendekatinya terlebih dulu, macam-macam motifnya, ada yang penasaran, ingin dekat, bahkan ada yang terang-terang mengatakan suka. Mungkin ini lah alasan mengapa semua orang memandang Amanda sebagai pribadi yang angkuh meski memang terkadang ia merasakan seperti itu. Pengaruh pencahayaan remang-remang kamar membuat Amanda dilanda ngantuk berat. Namun, sebelum ia benar-benar terbawa dalam mimpi, tiba-tiba saja terdengar musik EDM dari kamar sebelah membuat dwinetra Amanda yang semula sayu kini dipaksa melotot. Amanda tidak bisa tidur jika keadaan sekitarnya berisik. Ia langsung mengambil guling guna untuk menutup kedua telinganya tetapi musiknya makin keras. Amanda menggertakkan giginya guna untuk menyalurkan emosi. Namun, begitu ia memukul dinding sebanyak dua kali, baru musiknya terhenti. Mungkin penghuni kamar itu paham bahwa Amanda memang terganggu dengan musik itu. Persetan soal perasaan tidak enak, yang penting Amanda bisa tidur dengan nyenyak. Lagipula bukan ia yang salah, orang waras mana yang menyalakan musik keras-keras di indekos, seperti rumah sendiri saja. Pukul 4 sore Amanda baru terbangun dari tidur panjangnya. Ia keluar dari kamar untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Di lorong kamar ia bertemu dengan seorang gadis yang seumuran dengannya, sepertinya sama-sama mahasiswa baru. Gadis itu menegur dengan senyum ceria menampakkan gigi kelincinya. “Hallo! Penghuni baru ya?” katanya. Amanda tersenyum canggung sambil menjawab, “Ah iya. Baru sampe tadi pagi.”
“Oalah ... aku Pingkan. Tinggal di kamar nomor 3, sebelah kamu.” Amanda mengerutkan dahi kemudian menoleh ke arah kamar nomor 3 yang terletak tepat disebelahnya. Air mukanya yang tadi menerima kehadiran gadis yang mengaku bernama Pingkan itu, kini malah menampakkan wajah malas. Amanda menarik kesimpulan bahwa gadis ini adalah penghuni yang menyalakan musik EDM keras-keras dan mengganggu tidurnya tadi siang. “Nama kamu siapa?” tanya Pingkan, dwinetranya berbinar menunggu Amanda menjawab pertanyaannya. “Amanda,” jawab Amanda singkat. “Kamu mau mandi ya?” Amanda mengangguk sebagai jawaban. Tidak ada lagi senyum untuk Pingkan. Gadis itu sudah menunjukkan kesan pertama yang buruk bagi Amanda. Namun, sebelum Amanda kembali ingin melangkahkan kaki, suara sopran Pingkan menghentikannya. “Airnya mati, Man,” katanya. Amanda menatap Pingkan dengan air muka bertanya-tanya. “Sering kejadian kok. Ibu kos lagi nggak ada di rumah. Ikut aku aja yuk mandi di masjid!” Amanda kembali mengerutkan dahi, serebrumnya mencoba untuk mencerna perkataan Pingkan. Mandi di masjid? Yang benar saja, tadi pagi ia sudah bayar kontan uang sewa selama satu tahun, tapi di hari pertama mengapa ia tidak bisa menikmati fasilitas indekos. “Kan, jadi nggak mandi di masjid?” Seorang gadis keluar dari kamar nomor 7 bergabung dengan mereka. “Jadi, Nay. Oh iya ini penghuni baru. Namanya Amanda, cantik banget ya.” Pingkan tampak bersemangat memperkenalkan Amanda pada gadis itu. “Oh hallo, Amanda. Aku Nayla, kamar nomor 7. Selamat datang di Vivian Kos, kos elit tapi air sulit,” kata gadis bernama Nayla diiringi suara tawa dari Pingkan. Amanda tidak tertawa, ia masih memikirkan bagaimana ia bisa mandi jika tidak ada air. “Ini aku mandinya di mana?” “Di masjid aja bareng sama kita,” jawab Pingkan. “Masjid mana?” “Masjid universitas hehe ... deket dari kos kok,” sahut Nayla. “Kalian serius nggak sih?” tanya Amanda memastikan sekali lagi.
“Ya iya masak kita bercanda. Jadi ikut nggak? Daripada nggak mandi ye kan? Ibu kos pulang malam juga kayaknya.” Amanda tidak pernah mandi di tempat umum apalagi masjid. Puncak komedi. “Nggak deh, aku tunggu ibu kos dateng aja.” Pingkan mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian pergi diikuti Nayla meninggalkan Amanda yang sedang berperang dengan otaknya. Ia masuk kembali ke dalam kamarnya dan membanting pintu saking kesalnya. Entah kenapa hari ini banyak sekali yang membuatnya kesal. Cuaca panas, tetangga annoying, dan air mati. Disela-sela detik-detik penyiksaan badan lengket tanpa mandi, tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nomor kekasihnya, Fahri. Amanda lekas menerima telepon ingin berkeluh kesah tentang kesan pertama indekos tempat ia tinggal. “Cepet banget ngangkatnya, biasanya dering ketiga baru diangkat,” kata Fahri di seberang sana, suaranya terdengar seperti sedang tersenyum. “Aku mau ngadu sama kamu! Kamu sengaja mau nyiksa aku?” Amanda menaikkan oktaf nadanya. “Maksudnya? Oh iya gimana sama kos-kosan yang aku cariin? Nyaman nggak?” “Kamu tuh surveinya bener nggak sih? Masak kos-kosan nggak ada airnya kamu kasih ke aku? Kamu mau aku nggak mandi?” “Hah? Pas aku survei baik-baik aja kok. Ya udah kamu bilang sama ibu kosnya, nanti pasti dibenerin.” Amanda berdesis kesal. “Ibu kos nggak ada di rumah, aku jadi nggak bisa mandi sekarang, Fahri! Masak tadi aku ditawarin sama penghuni lain mandi di masjid, gila kali ya. Nggak punya malu apa gimana? Tahu gitu aku ambil yang kamar mandi dalem aja, bodo amat mahal yang penting ada air.” “Amanda, jangan marah-marah mulu. Aku temenin kamu sampe ibu kos pulang deh. Ayo cerita fasilitas yang lain gimana? Seenggaknya kamarnya bagus kan?” “Biasa saja, lebih gede kamar aku di Bandung. Dindingnya juga banyak bekas double tape begitu. Lemarinya juga banyak tempelan stiker. Kasurnya kecil, nggak bisa leluasa tidurnya. Yang paling bikin aku marah itu penghuninya!” “Ya waktu aku survei kan nggak mungkin aku survei tetangga kamu dong.” “Iiih dengerin dulu! Masak tadi aku mau tidur, sebelah malah setel lagu EDM kenceng-kenceng. Sok akrab banget ngajak kenalan suaranya diimut-imutin. Biar apa? Caper?”
“Kamu tuh nggak boleh gitu. Mereka tetangga kosmu loh, kalo kamu kenapa-napa kan mereka yang bakal nolongin kamu.” “Ah kamu nggak bakal ngerti, Ri. Udahlah aku matiin!” Tanpa menunggu persetujuan dari Fahri, Amanda langsung mematikan panggilan tersebut. Ia langsung melempar asal ponselnya, ia mengambil dompet berencana keluar indekos untuk mencari makan. Namun saat membuka pintu, ia terkejut saat mendapati ibu kos berdiri di depan pintunya dengan membawa sebuah paket ditangannya. “Ada paket buat kamu,” katanya dengan raut wajah datar. Dengan nada terbata-bata, Amanda menjawab, “A-ah makasih, Bu.” Tanpa mengatakan apapun, ibu pemilik kos langsung pergi meninggalkan Amanda yang masih terpaku di lantai yang sama. Ia melempar pandang pada Nayla dan Pingkan yang ternyata sudah berdiri di depan kamar Pingkan sejak tadi. Amanda menelan salivanya dalam-dalam ketika keduanya sama-sama menatapnya dengan tatapan sengit. “Kalian udah pulang?” Amanda memberanikan diri bertanya. Bukannya menjawab, Pingkan malah memasukkan kunci ke dalam lubang pintu. Sebelum masuk ke dalam kamar setelah merasa kunci pintunya berhasil dibuka, Pingkan menatap Amanda dengan tatapan dalam. “Maaf ya kalo aku berisik.” Perkataan itu berhasil menohok relung hati Amanda paling dalam. Sekarang ia sudah bisa berspekulasi bahwa semua orang mendengar obrolannya dengan Fahri tadi. Dengan tatapan hati-hati, Amanda menatap Nayla yang tersisa di sana. Dari seluruh tatapan yang menghujaminya sejak tadi, tatapan Nayla lah yang paling membuat Amanda takut. Nayla berjalan gontai ke arahnya kemudian berkata, “Kalo ngomong yang ati-ati, Mbak. Repot kan jadinya sekarang.” Sepeninggal Nayla, Amanda menutup pintu. Logikanya mengevaluasi tindakannya barusan. Ia masih terbayang bagaimana tatapan Pingkan yang memandangnya dengan raut wajah kecewa. Sepertinya ia benar-benar menyakiti perasaannya. Juga dengan ibu kos, untuk beberapa hari ke depan kehidupannya tidak akan lagi nyaman. Setiap hari ia akan disambut dengan tatapan benci dari orang lain.
Dengan Sopan Hidup pun Tenteram Di suatu sekolah yaitu “SMP N di Tegal”, terdapat 3 orang sahabat yang bernama Robin, Rozi dan Farhan mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 9I. Masing masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Robin anaknya baik, ramah, cerdas dan kreatif. Rozi anaknya setia kawan, ramah, humoris dan sopan sedangkan Farhan dia mempunyai sifat agak berbeda dengan kedua yaitu bandel, sedikit ceroboh, sahabatnya terkadang cuek tetapi juga humoris dan cerdas. Meskipun ketiganya mempunyai sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam menjalin persahabatan. Seperti biasa, pagi itu Farhan sudah bangun dari tidurnya lalu sholat subuh, mandi lalu sarapan kemudian bersiap siap berangkat sekolah, Farhan hendak menggambil sepeda onthelnya yang masih berada dalam rumah dan akan berpamitan pada ibunya. “Bu, farhan mau berangkat sekolah dulu ya” teriak Farhan sambil menaiki sepedanya. “Tunggu sebentar nak” jawab ibu Farhan yang datang menghampiri anaknya. “Ada apa bu?” tanya Farhan heran. “Kamu pamitan sama ibu dengan menaiki sepeda yang masih di dalam rumah? Sungguh itu perbuatan yang tidak sopan han. Ayo turun dan keluarkan sepedamu!” perintah Ibu Farhan. “Maaf bu” sahut Farhan sambil turun dari sepedanya dan menuntunnnya keluar. “Nah seperti itu baru namanya sopan dan baik” ucap Ibu Farhan. “Iya bu. Farhan minta maaf” ucap Farhan merasa bersalah. “Ya sudah sekarang kamu berangkat nanti terlambat lho. Ingat jangan diulangi lagi ya” pesan Ibu Farhan. “Baik bu Farhan berangkat dulu, Assalamualaikum” pamit Farhan dan mencium punggung tangan ibunya. “Wa’alaikumussalam, hati-hati ya” jawab Ibu Farhan. Farhan pun segera melaju kencang menuju sekolah yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Ternyata setelah sampai di sekolah Farhan terlambat masuk kelas, dengan tergesagesa ia pun masuk kelas, tanpa berpikir panjang Farhan langsung masuk begitu saja, melihat itu Pak Kris yang sedang menerangkan pelajaran marah sekaligus heran. “Farhan apa kamu tidak tau sopan santun?” tanya Pak Kris dengan tegas. Lama Farhan terdiam lalu menjawab “Tahu Pak”. “Kalau tahu kenapa kamu masuk tanpa salam atau ketuk pintu terlebih dahulu?” tanya Pak Kris lagi. “Maafkan saya pak” jawab Farhan takut-takut. “Sebagai hukuman kamu berdiri di depan kelas dan bacakan pembukaan UUD 1945” perintah Pak Kris dengan tegas dan galak. Tanpa banyak bicara Farhan pun langsung ke depan melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Kris, dengan lancar ia membacakan pembukaan UUD 1945.
Tak terasa waktu cepat berlalu bel tanda istirahat pertama pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bersorak gembira. “Baiklah anak-anak bapak sudahi pertemuan kali ini terimakasih. Assalammualaikum” ucap Pak Kris mengakhiri pelajaran. “Wa’alaikumussalam” jawab anak-anak serempak. Mereka pun berhamburan ke luar kelas, ada yang ke kantin, kamar mandi ataupun perpustakaan. Begitupun dengan Farhan, Rozi dan Robin. “Robin, Farhan ke kantin yuk! Aku lapar nih” ajak Rozi yang sudah kelaparan. Robin & Farhan mengganguk. Mereka segera menuju kantin yang jaraknya agak jauh dari kelas mereka. Sesampainya di kantin mereka duduk dan memesan makanan. Beberapa menit kemudian pesanan datang. Farhan langsung menyambar bakso yang masih panas itu. “Hati hati han nanti tersedak lho” ucap Rozi mengingatkan. “Iya, itu nggak sopan tau, kamu belum baca basmalah trus makan pakai tangan kiri lagi” sambung Robin. “Iya iya maaf habisnya lapar banget sih” kata Farhan sambil memegang sendoknya dengan tangan kanan. “Nah gitu dong kan lebih enak dipandang” ujar Rozi gembira. “Aku heran ya, hari ini aku banyak mendengar orang-orang berbicara tentang sopan, sopan dan sopan” keluh Farhan sedikit kesal. “Kamu juga sih, belakangan ini perilaku kamu kurang sopan” jelas Rozi.. “Iya, sopan itu kan penting” tambah Robin. Farhan hanya diam saja dan melanjutkan makan. Setelah mereka selesai makan dan membayar, mereka lalu kembali ke kelas, ketika di perjalanan mereka berpapasan dengan Bu Rara. “Mari bu” sapa Robin dengan sopan. “Selamat siang bu” ucap Rozi memberi salam. Bu Rara hanya membalas dengan anggukan dan senyuman kemudian berlalu.. “Eh Farhan, kenapa kamu nggak menyapa Bu Rara tadi?” tanya Rozi heran. “Aku lagi kesal dan malas menyapa, dulu aku pernah menyapa bu guru lain tapi, tak dihiraukan dan beliau berlalu begitu saja” jawab Farhan jujur. “Nggak boleh gitu han, walau mereka tidak membalas sapaan kita, setidaknya kita sudah menyapa dan berperilaku baik” kata Rozi menasehati. “Betul itu, budayakan 5S Senyum, Salam, Sapa, Sopan Dan Santun” tambah Robin. “Iya deh dari tadi aku terus yang disalahkan” ujar Farhan memasang muka cemberut. Robin dan Rozi hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala. Mereka lalu bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Lima hari pun berlalu begitu cepat tapi, sifat Farhan yang buruk masih belum hilang, sering ia ceroboh dan tidak berperilaku sopan. Pada suatu hari 3 sahabat itu berbincang-bincang di perpustakaan tentang sopan santun. “Eh, teman teman kalian tau nggak manfaat dari perilaku sopan?” tanya Rozi memulai perbincangan. “Manfaat sopan santun adalah disenangi banyak orang, menciptakan karakter yang mulia, mencerminkan
sifat yang luhur, membuat kita lebih ramah pada sesama” ujar Robin penuh semangat. “Dan menjadikan kita pribadi yang baik serta mengerti adat istiadat” tambah Rozi. “Tapi teman teman bersikap sopan itu terasa sulit dilakukan, akhir-akhir ini aku selalu bertindak tidak sopan tanpa aku sadari. Aku ingin berubah, bagaimana kalian punya saran tidak?” keluh Farhan. Ia ingin jadi lebih baik lagi. “Memang han kalo kita belum terbiasa berprilaku sopan memang terasa sulit, tapi jika sudah terbiasa akan terasa mudah dan menyenangkan apalagi dapat banyak pahala” kata Rozi menjelaskan. “Aku tahu bagaimana mengubah sikap burukmu itu” ujar Robin sambil tersenyum. “Aku sudah membuatkanmu gelang sopan santun” ucap Robin lalu mengeluarkan sebuah gelang dan memberikannya pada Farhan. “Gelang apa ini?” tanya Farhan sambil melihat gelang yang bertuliskan ‘sopan itu perlu’ tersebut. “Gelang itu bisa menjadi pengingat kalau kita tidak berperilaku sopan caranya sederhana kok, ketika kita ingat bahwa kita telah melakukan hal yang tidak sopan, tarik saja gelangnya kuat-kuat lalu lepaskan dan otomatis akan mengenai tanganmu dan teras sakit jadi, gelang ini seakan-akan menghukum kita” ujar Robin menjelaskan panjang lebar. “Oh seperti itu jadi kesimpulannya jika tidak ingin sakit maka bersikaplah dengan sopan” ujar Rozi menarik kesimpulan. Robin mengganguk. “Oh begitu ya, terimakasih Robin atas pemberianmu ini, mulai besok akan kupraktikan” ucap Farhan gembira kini ia dapat melatih sikap sopan santunnya. Sejak ada gelang itu kini Farhan lebih berhati-hati dalam bertindak. Kemarin ketika ia berpapasan dengan Bu Della Farhan malah memalingkan wajah dan tidak menyapa beliau, beberapa menit kemudian ia sadar bahwa itu adalah perbuatan yang tidak sopan, lalu ia menarik gelang pemberian Robin kuat-kuat dan melepaskannya, ia agak kesakitan. “Jika tak ingin sakit, bersikaplah sopan” ucapnya dalam hati sambil tersenyum malu. Hal tersebut Farhan lakukan berulang-ulang ketika ia berperilaku tidak baik dan sopan. Dua minggu pun berlalu, sekarang sifat buruk Farhan perlahan mulai hilang dan dia menjadi lebih ramah, tidak ceroboh dan sopan santun. Setiap bertemu siapapun ia selalu tersenyum dan menyapa, selalu hati-hati dalam bertindak, dan perubahan lain yang membuat Farhan lebih baik. “Wah han sekarang kamu berubah jadi semakin baik lho” puji Rozi. “Hehehe. Allhamdulillah ini semua juga berkat kalian dan gelang itu” jawab Farhan tersipu malu. “Berarti gelang buatanku itu manjur dong” kata Robin penuh percaya diri. “Iya, sejak ada gelang itu aku jadi lebih berhati hati dalam bertindak” ujar Farhan. “Aku juga mau, Robin masih punya gelang seperti itu?” tanya Rozi penuh harap. “Kebetulan aku bawa 2. Aku juga mau pakai, ini untukmu” ucap Robin sambil menyodorkan gelang pada Rozi. “Wah, sekarang kita seperti trio sopan santun saja” ujar Farhan gembira. “Hahaha.
Ayo berperilaku sopan. Karena sopan santun mencerminkan budi luhur” teriak Robin penuh semangat. “Ya, sopan hidup pun nyaman dan tentram!” ujar Rozi percaya diri. Ketiga sahabat itu pun tos bersama-sama, dan berjanji akan membudidayakan sikap sopan santun.
“ BURUNG DALAM SANGKAR “ “ Awan menangis namun taman terlihat bahagia Cah ayu yang manis, sudahkah Anda bergembira ria ?” Cit cit cit cit cit....... terdengar derap suara langkah yang memekikan telinga , terlihat jauh dilorong sana pemilik suara itu , sosoknya kecil sambil menyeret sebuah tas koper mini berwarna pink dengan gambar kartun yang indah nan lucu. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai mampu mengiringi sepinya kondisi bangunan yang tidak terlalu luas itu. Ketika mendekat terlihat jelas garis wajahnya yang cantik dengan bentuk hidungnya yang tidak begitu tinggi dan rambutnya yang pendek keriting dengan tambahan hiasan manik-manik yang berwarna-warni. Almira Mufidah namanya gadis mungil dengan kulit sawo matang dan berambut keriting, putri tunggal dari pasangan Ibu Lita dan Bapak Tono , tingkahnya yang centil dan tidak bisa diam itu memberikan kesan lucu untuk anak usianya. Di umurnya yang 5 tahun itu dia sudah bisa masuk ke sekolah dasar dimana sekolah itu letaknya sangat dekat dengan rumah neneknya , tidak membutuhkan waktu yang lama serta transportasi dan biaya ongkos yang mahal , hanya bermodalkan tenaga dan kedua kaki saja untuk berjalan tidak sampai 5 menit sudah dapat menginjakkannya di gedung itu. Sekolahnya tidak terlalu luas hanya 2 kelas saja dan bangunannya itu berbaur dengan kantor milik desanya atau biasa disebut Balai Desa. Pagi itu Mira diantarkan oleh ibunya dimana hari ini adalah hari pertama masuk sekolah , hari pertama dia berkenalan dengan anak-anak lain , hari dimana dia mulai diajarkan hal-hal yang menyangkut dengan belajar dan hari pertama dimana dia mulai harus belajar mandiri di sekolah bersama teman-temannya. Ibu Mira hanya mengantarkan sampai kelasnya dia tidak menungu sampai pulang sekolah padahal anak-anak yang lain setia ditunggu oleh para orang tua mereka , entah apa alasannya yang pasti Ibu Mira tidak ingin anaknya menjadi manja karena selalu di temani dan ditunggu kemana saja termasuk sekolah. “ Ya sudah ibu tinggal ya .” ( kata ibu Lita ) “ Iya buuu.” ( jawab Mira ) “ Kamu jangan nakal , jangan nangis nurut sama bu guru ya.” ( perintah si ibu )
“ Iya iya bu aku nggak nakal, nggak nangis juga .” ( jawab Mira sambil melipatkan tangannya tanda jika dia sedikit kesal ). Setelah ditinggal ibunya Mira pun masuk kelas dan melihat lihat ruang kelasnya , dia berjalan dan mengelilingi tiap sudut ruangan itu, terdapat banyak berbagai mainan di atas lemari sana tidak hanya itu kondisi ruangan kelasnya juga dihiasi oleh hiasan yang berwarna-warni dari berbagai macam bahan , dari mulai hiasan dengan bentuk hewan dan buah-buahan yang dibuat dari kertas, ada juga peralatan tulis yang berwarnawarni serta dihiasi kursi-kursi dengan berbagai macam warna. Sungguh indah nan lucu pemandangan hari itu. Di dalam ruang kelasnya itu baru sedikit murid yang masuk hanya beberapa orang saja termasuk Mira padahal sudah pukul 07.00 WIB dimana seharusnya untuk pertama kali masuk sekolah pasti ramai dipenuhi oleh anakanak yang masuk sekolah. Almira membayangkan betapa asiknya belajar bersama teman teman disekolah ini , dia dapat bermain bebas , dia juga dapat jajan dengan bebas. Sosok Almira yang memang termasuk anak yang tidak dibebaskan oleh kedua orang tuanya membuat dirinya merasa senang merasakan kebebasan seperti ini. Berbeda dengan saat dirumah dia hanya bermain dirumah saja , tidak diijinkan oleh bergaul dengan teman sebayanya , kegiatannya dirumah hanya belajar dan bermain sendiri. Sebenernya untuk anak seusianya hal tersebut sangat terasa jenuh dan bosan bahkan membuat sang anak merasa terkurung. Oleh sebab itu sangat tergambar jelas diraut wajahnya bahwa dia menyukai awal mulai dia menginjakkan kaki di sekolahnya. Hari demi hari , minggu demi minggu telah berganti, Almira merasakan bagaimana senangnya bersekolah disini, mendapat teman yang banyak dan juga guru gurunya yang banyak. Setiap pagi dia bersemangat untuk bersekolah, namun dibalik itu semuanya ternyata rasanya bersekolah tidak selalu enak rasanya, Almira merasakan bahwa dirinya lebih dikekang , dituntut bahkan dipaksa untuk menjadi anak yang berprestasi oleh orang tuanya. Dia merasa dirinya tidak sanggup bahkan merasakan bahwa orang tua nya tidak sebaik orang tua mereka. Dirumah dia dikurung seperti burung oleh ibunya yang hanya bisa berdiam diri ditempat. “Almiraaa Ayo, belajar “ ( kata ibu) “Iya bu” ( jawab Almira ) “Kamu ini harus pintar agar dapat peringkat satu “ ( balas sang ibu ) “Tapi Almira cape Bu “ ( keluh Almira ) “Sudah sudah, ayo buka bukumu, ini itu juga demi kebaikanmu” ( jawab ibu ) Mau tidak mau Almira menuruti semua kata ibunya, dia dengan berat hati menerima dengan lapang dada. Di usianya yang terlalu kecil memang menggap bahwa hal tersebut sangatlah dianggap kejam, padahal pasti ada tujuan yang terselubung dari orang tuanya Almira.
Di tahun-tahun berikutnya Almira tumbuh menjadi anak yang pintar, perkembangan otaknya berkembang cukup pesat, usahanya dalam belajar pun kini jadi tambah giat, dia mulai menunjukkan eksistensinya untuk menjadi yang terbaik. Hal ini dibuktikan saat dia mulai kelas 2 dimana dia mendapatkan peringkat pertama dari 21 siswa yang sebelumnya saat kelas 1 mendapatkan peringkat ke 3 kini saat kelas 2 dia naik menjadi peringkat pertama. Bangga rasanya bisa berkembang pesat dalam hal akademik. Perkembangan Almira dalam hal akademik berlanjut sampai ke kelas 3 dimana dia mendapatkan kembali peringkat pertama saat kenaikan kelas , dia masih mampu mempertahankan posisinya di peringkat pertama sebagai siswa yang mendapatkan nilai tinggi di kelasnya. Usahanya dalam belajar tidak pernah kendur sedikitpun, dia tetap egois dalam mempertahankan posisinya tidak mau di geser oleh siapapun karena menurutnya memperhatikan untuk menjadi yang pertama lebih susah daripada mengejar untuk menjadi yang pertama. Saat mempertahankan posisi ada 2 kemungkinan yang akan terjadi yaitu bertahan dalam posisi itu atau malah sebaliknya yaitu tergeser turun ke posisi bawah. Jika kita lengah sedikit saja pasti akan mempengaruhi posisi kita. Maka dari itu mempertahankan lebih sulit daripada mengejar. Sementara itu sayang sekali ketika dia sudah mulai memasuki kelas 4 dimana dia juga disibukan dengan lomba-lombanya yang dia ikuti itu mempengaruhi pencapaian dia di kelas , saat kenaikan kelas tiba dia mendapatkan peringkat ke 3 kembali seperti saat kelas 1 , rasanya hancur sekali mendapatkan posisi tersebut entah mengapa walaupun itu tidak terlalu buruk namun rasanya kecewa karena tidak bisa mempertahankan apa yang diperoleh sebelumnya. Salah satu penyebab dia tidak fokus dalam hal belajar nya yaitu karena selain dia pintar di bidang akademik dia juga selalu ditunjuk untuk mengikuti perlombaan-perlombaan dibidang non akademik seperti lomba siaga, Pramuka, cipta dan baca puisi serta masih banyak lagi. Dia disibukan oleh kegiatannya yang di luar jam pelajaran. Misalnya saat dia masih duduk di kelas 4 dia di pilih sebagai tim siaga, siaga ini merupakan perlombaan yang dilakukan oleh anak usia 9 tahun bentuknya seperti Pramuka , dimana kita lomba dengan peserta beregu jadi kunci untuk menangnya yaitu kompak. Kebetulan sekali Almira ditunjuk sebagai ketua regu dari tim putri dimana mempunyai tanggung jawab yang besar dibandingkan teman-temannya, dia harus berani tampil tegas ketika menyiapkan barisannya. Suaranya harus lantang dan keras agar terkesan tegas dan menarik perhatian juri. Bentuk perlombaan pesta siaga ini dibagi menjadi beberapa pos dimana setiap pos itu memperlombakan beberapa perlombaan seperti ada pos yang melombakan pertunjukan seni tari, ada juga pos yang melombakan menghafalkan nama-nama pahlawan ada juga menghafalkan Pancasila , lomba yel-yel dan masih banyak lagi , nah kemudian nanti point yang didapat setiap pos di akumulasikan menjadi satu dan selanjutnya di putuskan siapa yang juara. Tidak terbayangkan betapa capeknya Almira , dimana selain dia harus fokus pada akademik nya dia juga harus fokus pada non akademik nya, dia harus mampu menyeimbangkan antara pelajar dan di luar pelajaran. Walaupun lombanya yang kemarin-kemarin dia berlatih belum membuahkan hasil, namun dia harus tetap semangat dan ikhlas dalam menjalankan kewajibannya. Ketika guru sudah percaya kepada diri kita itu artinya kita harus menjaga kepercayaan begitu juga saat Almira sudah ditunjuk untuk menjadi salah satu wakil sekolahnya maka dia juga harus bisa menjalankan tugas
sebaik-sebaiknya memberikan hasil yang maksimal dengan usaha yang maksimal juga ketika belum dapat membuahkan hasil yang memuaskan tidak apa itu semua sudah takdir yang harus kita syukuri. Namun ternyata dibalik ini semua , sosok Almira sangat terpuruk, dia merasa cape badan dan mentalnya. Tuntutan seorang ibu yang mengharuskan anaknya berprestasi membuat dirinya jenuh dan tertekan. Sampai akhirnya dimana dia sakitsakitan mengeluh bahwa dirinya merasakan pusing sangat hebat, bahkan setiap dia merasa cape dia selalu keluar darah dari hidungnya, hal ini membuat ibunya panik, khawatir bahkan sangat takut akan terjadi apa apa oleh gadisnya. Karena peristiwa inilah sang ibu merasa bahwa dirinya sudah sangat keterlaluan untuk menekan dan mengharuskan sang anak berprestasi, dia mengorbankan anaknya sendiri demi kemauannya sendiri. Dia tau bahwa sebenernya apa yang dilakukannya itu demi kebaikan anaknya, namun dia lupa bahwa kesehatan fisik dan mental sang anak sangat penting. Setelah adanya kejadian itu kini Almira sudah menjadi gadis yang mampu melakukan apapun untuk dirinya sendiri tanpa harus ada kemauan dari ibunya sendiri. Ibunya pun kini mulai berdamai dan sedikit membebaskan Almira untuk mampu dan dapat memilih pilihannya sendiri. Setelah beranjak dewasa Almira tau bahwa apa yang dilakukan oleh ibunya itu demi kebaikan dirinya , kini dia tau betapa berharga dan bermanfaat bagi dirinya untuk menjadi anak yang ambis dan berprestasi. Dia mulai tau bahwa ibunya tak sejahat apa yang dipikirkan, pikiran itu hanya ada pada anak 5 taun dulu yang belum tau apa apa dan belum mengetahui banyak hal.