Kebaikan berbuntut kebaikan lebih manis " Alhamdulillah dapat dua penumpang". kata pemuda tukang becak motor itu. pukul 6 pagi waktu Semarang. Pasar kaget hari ini ramai. Hari ini pas sekali hari Minggu dan awal bulan. Banyak ibu ibu yang berbelanja kebutuhan untuk sebulan kedepan atau tengkulak yang ingin berdagang sayur mayur di kampung nya. Macam macam yang di bawanya. Pemuda itu ingat betul penumpang pertamanya, setelah setengah jam ia mangkal di pinggir pintu masuk pasar. Saat ia sedang melihat hp jadulnya yang tampilannya hanya layar kecil dan tombol tombol huruf atau angka.ada pesan tersemat di layar kecilnya. Belum sempat ia membacanya. Ada yang menepuk pundak nya sedikit kencang. " Mass tolong anterin saya ke depan gapura kampung A yaa". Dengan sedikit kaget ia menoleh ke belakang dan " ohh ibuu ayo Buu, apa ngga sekalian ke depan rumah Buu? " Jawabannya sopan. " Ndak usah mas, di gapura kampung aja mas di situ ada lapak sayur saya, sudah di tunggu suami saya mas, ayo cepat berangkat". Dengan tangkas dan cekatan ia atur sayur sayuran dan bumbu itu yang berplastik plastik .ia atur sedemikian rapih . Agar penumpang nya nyaman. Setelahberes. Ia langsung ambil kemudi di belakang. Di gas nya pelan pelan meninggalkan pasar. Karena pagi itu lalu lintas cukup padat. Ibu itu menyarankan lewat gang mawar. Katanya lebih dekat. Tanpa pikir panjang. Ia ambil lajur kiri terus belok di tikungan depan. Ternyata benar beberapa ratus meter lagi. Sudah mau sampai. " Depan situ mas yang ada tenda biru nya". Pemuda itu berhenti perlahan, langsung cepat cepat membantu ibu itu menurunkan barang bawaan nya. " Terimakasih yaa mas, wahh mas nya masih muda gini mau jadi tukang becak motor" ujar ibu itu ramah. " Ngisi waktu luang Buu ". Ibu itu merogoh rogoh tas selempang motif bunga bunga nya. Setelah itu menyodorkan uang lembara berwarna biru. " Ini mas kembalian nya ambil aja buat jajan atau buat adek dirumah". Tutur nya lembut dan sedikit memaksa. " Saya jadi tidak enak Buu, tadi jarak tempuh nya dekat ,dan ini lebihnya banyak sekali Buu" jawab ku tidak enak. "Sudah pegang saja semoga itu bermanfaat ". Setelah berterima kasih yang sebanyak banyaknya pemuda itu langsung pergi kembali ke pangkalannya. Dan untuk penumpang yang kedua ini. Ia harus ekstra lebih hati hati lagi. Ibu itu teriak teriak sambil meringkuk di pinggir tembok di dekat gerbang pintu pasar. Pemuda itu sedang sibuk membuka pesan yang tadi pagi belum sempat di bacanya. Mendengar itu ia langsung beranjak dari motor nya. Disana ibu itu sedang mengandung besar dan meringkuk seperti kesakitan dan di sebelah nya ada gadis kecil perempuan yang ketakutan dan menangis. " Kenapa buuu? " Tanya pemuda itu dengan wajah yang juga ikut panik. Dan tak ada respon dari ibu muda itu.hanya erangan kesakitan sambil memegang perut nya yang besar. " Adek Jangan nangis, mama mu kenapa? " Dan hanya tangis yang ia dapat. Dan kejadian itu sontak mengundang perhatian orang orang yang sedang memilih sayur,orang yang lalu lalang di jalan depan pasar , pedagang es Doger dan teman teman becak motor lainnya. Mereka pun mengerubungi ibu itu.segera salah satu tukang becak motor. Menyarankan ku untuk cepat membawanya ke klinik terdekat. Sempat ada sekelebat pikiran nya. " kenapa harus aku yang mengantarkan ibu ini?". Tak ambil pusing. ia langsung bersiap siap. Mas mas dan ibu ibu membantu menaikkan ke Becak motor ku dan gadis kecil itu di sebelah ibunya dan memegangnya erat-erat. Beberapa tukang becak motor lain membantu membuka jalan menuju ke klinik di ujung lampu merah kedua di kiri jalan. Di perjalananan perasaan nya campur aduk. Ia terus mendengar suara rintihan ibu itu dan anak kecil yang berambut pendek itu menangisi kesakitan ibunya. Ia bingung mau menenangkan nya. Ia hanya bilang " sabar yaa
Buu satu lampu merah lagi, adek jangan nangis yaa ibu mu pasti baik baik saja". Ucapnya saat menunggu lampu hijau menyala. Ia tidak bisa melihat jelas respon keduanya. Tapi setelah ucapannya gadis kecil itu tangis nya mulai mereda dan ibu itu tak ada lagi erangan. Setelah sampai di depan klinik. Aku langsung melihat keadaan ibu itu. " Ibuu buuu .." ucap ku agak keras dan sedikit tergesa gesa. Dan tak ada respon.matanya tertutup, badannya lemas. Pikiran ku sudah kemana mana. Salah satu tukang becak motor itu memanggil suster untuk segera memeriksa nya. Dari pintu UGD keluar lah tempat tidur pasien portabel. Beberapa suster membopong nya ke atas tempat tidur itu. Ibu itu sudah tak sadar kan diri. Setelah itu masuk lah ibu muda malang itu ke UGD. Entah di apakan. Ia hanya mendoakan yang terbaik. Anak kecil itu bersama nya. Wajah nya basah dengan air matanya. Hidung nya penuh Dengan ingus. Mulutnya berisi sisa sisa Isakan tangisan nya. Ia rangkul gadis kecil itu. Ia bawa ke depan ruko toko elektronik samping klinik. Disana ada tukang bubur ayam. Pasti ia lapar hari sudah mau sore. Setelah memesan dua porsi bubur ayam. Ia tentu yang pedas dan ekstra kacang dan anak kecil itu hanya bubur polos tanpa toping yang diatas nya hanya ingin di beri kecap. Ia lap wajah gadis itu dengan tisu di meja. Ia lap lembut wajah gadis itu. Setelah wajah nya bersih gadis kecil itu tampak lebih manis apalagi kalau tersenyum pasti lebih manis lagi. Gadis kecil itu tak banyak bicara . Ia hanya mengangguk dan menunduk. Dan terus memerhatikan ke arah klinik. Belum ada di 10 menit di tempat bubur ayam. Ia sudah melihat ke klinik lebih dari 10 kali. Pemuda itu mau tidak mau harus mengatur siasat agar gadis kecil ini tidak terlalu khawatir tentang ibunya yang ia sayangi. Pesanan mereka sudah tersedia di meja. Gadis kecil itu masih juga menengok ke arah klinik. " Adekk maem dulu yaa biar kuat , mama pasti baik baik saja. Ayo kalo sudah makan tar boleh lihat mama, oke ". Gadis kecil itu tak terlalu menggubris omongan pemuda itu. Kepalanya yang kecil itu pasti penuh dengan pikiran" yang seharusnya belum di pikirkan gadis sekecil itu. Pelan pelan ia mulai melahap bubur itu dan ia juga minta tambah kerupuk. Pemuda itu juga mulai melahap buburnya.entah ini sarapan atau makan siang. Ia sudah lupa semua. Kejadian ini mungkin akan tertanam di benak pemuda itu. Mereka berdua makan dengan lahap nya.tanpa ada percakapan yang menyela nya. Tukang bubur sebenarnya ingin banyak bertanya. Tapi karena melihat mereka berdua Dengan keadaan seperti itu. Ia mengurungkan niatnya. Setelah membersih kan dua mangkok , dua teh hangat dan 2 tusuk sate telur puyuh untuk makanan penutup. Datang pria berseragam coklat gagah. Menghampiri kami berdua. " Ayahhhhhh... ". Pekik gadis kecil itu kencang. Pemuda itu sedikit terkejut dan senang juga. Pria berseragam coklat itu menyalami ku dengan tanganya yang dingin dan keras. " Mas yang mengantar istri dan anak saya ke klinik yaa? Terimakasih banyak yaa mas". Sambil menggoyang goyangkan jabat tangan ku dengan cepat. Pemuda itu Hanya tersenyum dan tidak dapat berkata kata lagi. Tanpa ia ketahui air matanya sudah meleleh dari matanya. " Omm terimakasih yaa sudah bantu mama, aku takut mama kesakitan dan terimakasih juga sudah membelikan ku bubur, terimakasih omm baik". Benar dugaan nya saat tersenyum gadis kecil itu pasti manis sekali walau ada celemotan kecap di pipi kanannya. Pemuda itu hanya tersenyum dan mengelus elus kepala gadis kecil itu. " Kamu anak hebat dan kuat ". Gadis kecil itu tersenyum malu dan langsung lari memeluk kaki ayahnya. " Sekali lagi terima kasih yaa mas. Alhamdulillah istri saya melahirkan dengan normal, sekarang bayi nya Sudah di urus suster di inkubator". Kata pria berseragam coklat itu. " Alhamdulillah kalau semuanya baik baik saja". Jawabnya lega. Lalu pria berseragam coklat itu menyodorkan 3 uang lembaran merah. Itu dan menyelipkan nya
di saku kemeja ku. " Ini buat mas nya atas segala waktu dan tenaga buat istri saya, walau menurut saya ini tidak sepadan, mas besok boleh datang ke kantor saya". Kata pria berseragam coklat itu memohon. " Alhamdulillah ini sudah lebih dari cukup, sudah tugas saya pak mengantar atau menjemput,saya senang bisa menerimanya". Sekali lagi pria berseragam coklat itu menjabat tangan ku dan berterima kasih lagi dan lagi. Setelah itu pria berseragam itu minta pamit diri dengan gadis kecil itu. Untuk melihat istrinya atau ibu gadis kecil itu. Dan pria itu juga membayar bubur kami. Setelah itu pemuda itu menuju parkiran tempat terakhir kali ia tinggal kan becak motornya. Sebelum pergi , di atas becak motor ia berfikir bagaimana dulu perjuangan ibunya melahirkan nya. Pasti sungguh berat, Sampai rumah ia seperti ingin memeluk ibunya. Ia rogoh hp di kanto celana kanannya. Ia lihat jam sudah menunjukan 4.30. ia langsung tancap gas ke rumah. Rumahnya tambah jauh karena dari klinik jika dari pasar hanya 10 menit sudah sampai. Setelah sampai rumah ia langsung ke kamar bapak nya yang sedang sakit dan tadi pagi ia berjanji setelah ashar ingin membawanya ke klinik di Depan gang. Ayah nya sedang tidur berselimut jarik coklat di atas amben reyot yang di atas nya di beri kelambu. Ibu nya datang setelah beberapa menit ia datang. Ibu nya bekerja mencuci dan menggosok di rumah besar di perumahan elite sebelah kampung. Jam kerjanya kadang dari habis Zuhur Sampai kadang tak tentu habis ashar atau misal dirumah majikan nya ada acara ia di lembur kan untuk bantu bantu. Ibu ku membangun kan ayah ku pelan. Pemuda itu memijat mijat kaki ayahnya. Ia di suruh ibunya mandi dulu. Sementara ibunya membangun kan bapak nya untuk berangkat berobat. " Mandi dulu mas udah bau asem, mandi ganti baju terus anter bapak mu ke klinik yaa". Perintah ibunya lembut. " Nggih Buu". Jawabannya pelan. Rasa lelahnya hari ini lenyap melihat ayah nya terbaring di ranjang. Selesai mandi ia langsung siap siap menuntun ayah nya yang lemas itu. ke becak motor di depan rumah. Awal nya bapaknya menolak untuk di tuntun katanya masih kuat. Tapi pada akhirnya di tuntun juga. Sebelum berangkat ibu nya keluar dari dalam rumah dan bilang ke pada pemuda itu. " Tunggu!!! ibuk pinjem uang dulu ke nyonya atau Tuan majikan". Langsung ku cegah, sebelum ibu ku lari. " Ini buk apip udah punya duit tadi narik bentor ( becak motor)". Ia tunjukkan 3 lembar uang merah dan 1 lembar uang biru. Ibu nya terkejut melihat uang sebanyak itu sekali narik. " Banyak juga yaa hari ini penumpang nya Alhamdulillah,yawes ceper bawa bapak mu berobat dulu". Pemuda yang tak kenal lelah itu langsung menggas bentor nya ke klinik. Sepulangnya dari klinik ibunya menunggu di ruang tengah sudah tersedia dua gelas teh hangat dan beberapa rengginang sisa berkat kemarin dan se sisir pisang yang katanya dari majikan nya karena di keluarga majikan nya anak anaknya tidak terlalu suka buah buahan mereka katanya lebih suka makan yougert,es krim buah atau jus. Ia tuntun ayah nya duduk di kursi ruang tengah. Ia keluarkan obat obatan yang di dapat dari dokter. Ada 4 lempeng dan semuanya 3 kali sehari. Diagnosis dokter katanya ini hanya demam biasa. Pemeriksaan gula dan tensi Alhamdulillah masih bisa di bilang normal. Mungkin 2 hari lalu bapak ku mendapat tugas ronda di kampung. Ia begadang bersama bapak bapak yang lain. padahal ia tahu, bapak ku itu gampang masuk angin dan tak kuat dingin tapi kalau sudah bertemu bapak bapak se gang nya lupa semua itu. Dan benar saja besoknya demam tinggi. Seharian hanya meringkuk di kasur. Dan mulai hari itu lah ia mengganti kan tugas bapak nya. Menjadi ojek becak motor di pasar.karena jika tidak ada yang meneruskan duit dari mana untuk berobat dan makan keluarga. ibu ku gajian nya bulanan. Dan untuk membayar listrik dan beberapa iuran di kampung setelah itu sisanya untuk bensin bentor dan belanja sayur sedapat nya. Setelah memakan 2 pisang dan meminum obat nya ia antarkan bapak nya ke kamar. Sampai bapaknya tertidur ia pijit pijit lembut. Ia ingat dulu kata bapak nya " pijitan mu pancen wenak
mas". Ia hanya tersenyum mendengar itu. Setelah tidur. Ia pergi keruang tengah duduk di kursi yang diduduki bapak nya tadi. Ia meminum pelan teh nya yang sudah mau dingin. Mencomot beberapa rengginang. Lalu ibunya Duduk di depannya. " Gimana tadi narik bentor nya? Ramai penumpang? Kok bisa sampai dapat uang sebanyak itu. Bapak mu dulu butuh waktu 3 sampai 4 hari untuk dapat uang segitu". Tanya nya lembut tapi dengan penuh curiga. Lalu pemuda itu menegakkan duduk nya lalu menceritakan setiap detail hari ini. Dari berangkat Sampai tadi pulang kerumah. Ibu nya memerhatikan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut anak satu satunya itu. " Seperti itu Buu cerita nya, aku senang bisa membantu bapak nge bentor mengisi waktu senggang ku sambil menunggu pengumuman, aku jadi kenal teman teman bapak di pasar sesama bentor menceritakan kisah bapak dulu yang lucu lucu dan juga ada sedih nya. Bertemu pelanggan yang baik dan aku juga senang membantu orang lain yang dalam kesusahan ". Ibu nya pun mengangguk dan tersenyum tipis. " Kamu jadi tau kan setiap pekerjaan apapun itu mulia. Seperti bapak mu ini pekerjaan nya yaa sederhana dan tidak bergaji tiap bulan, tapi ia bersyukur bisa membantu orang. Bapak mu selalu meniatkan segalanya sesuatu untuk berbuat baik terlebih dahulu baru uang atau hasil pasti mengikuti ". Jawab nya ibunya sambil menyodorkan teh yang tinggal seperempat lagi habis. Ia pun teringat soal pesan singkat di hp nya. Segera ia rogoh kantong celana kanannya. Ia lihat ,buka bagian pesan ada dua pesan masuk yang terbaru pukul 13.00 itu dari operator kartu. Dan yang pertama itu pukul 7.30 ia buka dan disana tertulis. " Selamat siswa dengan Nama Apip nurohman di terima di jurusan sastra Inggris universitas gadjah Mada Yogyakarta. Dimohon mengurus pemberkasan di alamat dibawah ini...." Ia langsung memeluk ibunya. Dan sudah pasti ibunya bertanya ada apa? Ia tak menjawab hanya terus memeluk ibu nya dan berkata "terimakasih banyak yaa Buu aku sayang ibu ". Tamat.
MempertahankanRasaHormat Karya:AsmaraniI.K Suatuhari,suasanadiSMAKucingSaktitampakricuhsetelahberedarnyavideo salahsatumuridsekolahtersebut.Didalam video,seorangmuridbernamaRizki berusahamerebutkembaliponselnyayanghendakdiambilguru.Alasannyaadalah karena Rizkimemainkan ponselnya saatjam pelajaran masih berlangsung. Sementaraitu,Rizkijugatidakterimadengangurunyayangbertindakkasar denganmenjewertelinganya. Adegantersebutdirekam danmenyebarluashinggamenimbulkanprodankontra diantaraorang-orangyangmelihatnya.BanyakyangberkomentarjikaRizkipantas dijewerkarenamelawanguru,adajugayangmemilihuntuknetralkarenatidak tahubagaimanakejadiansebenarnya. Beberapaharisetelahkejadian,Rizkidipanggilpihaksekolahuntukmenghadap guruBK.Disanajugasudahadakeduaorangtuanyayangjugadipanggiloleh pihaksekolah.OrangtuaRizkibertanya-tanyapadaSangGuru,apayangtelah diperbuatRizki.LaluSangGurumenunjukkanvideopertikaianRizkidengansalah satuguruyangtelahberedardiinternet. Setelahmelihatvideotersebut,orangtuaRizkiterkejutsekaligusmerasamalu. MerekakecewadengantindakanRizkiyangtidaksopanterhadapgurunya. “Kenapakamubertindakkasarsepertiitupadagurumu?”tanyaAyahRizki. “Ayah tidak lihat?Pak Dodiyang menjewertelingaku lebih dulu dan ingin merampasponselkubegitusaja.” “Itukankarenakamubermainponselsaatjam pelajaranberlangsung.Kenapa tidakmemperhatikangurumusaatjampelajaran?”
GuruBKmencobameredam suasanadanbicaradarihatikehatipadaorangtua Rizki.SetelahituGuruBKmengajakRizkiuntukbicarasecaraempatmata. “Rizkicobajelaskan,kenapakamumemainkanponselsaatjam pelajaran?”tanya GuruBK. “Sayamemegangponselbukanuntukmemainkannya,Bu.Sayaberniatmengambil fotomateriyangtelahditulisPakDodidipapantulislalumencarireferensiterkait materiyangdisampaikanbeliau.Tapitiba-tibabeliaumenjewertelingasayatanpa melihat-lihatdulu.Setelahitubeliauhendakmengambilponselsayadanitu membuatsayasemakinkesal.”-JelasRizki. “Jikamemangyangkamukatakanbenar,apakamumemilikibuktiuntukmembuat ibupercaya?”-TanyaGuruBKuntukmemastikanpenjelasanRizki. Rizkimenunjukkanbeberapafotomateriyangiafoto,jugariwayatpenelusuran materiyangsempatdiketiknyadiInternet.Setelahmelihatitu,GuruBKsemakin paham,bahwa Rizkijuga memilikialasan kenapa ia melakukan perlawanan terhadapgurunyadikelas.Namunhalitujugatidakdibenarkan. Denganlembut,GuruBKberkata,“Ibumengerti.Pastikesalsekaliyasaatkita dikiramelakukansesuatuyangtidakkitaperbuat.Meskipunbegitu,Rizkiharus menghadapisegalasesuatudenganlebihtenang.Saatberhadapandenganorang yangterlanjuremosi,kitatidakbolehmembalasnyadenganemosilagi.Biar bagaimanapun,PakDodijugaadalahorangtuaRizkidisekolah.” Rizkimenunduk,“Iya,Bu.HarusnyaRizkijugatidakbolehterbawaemosi.” “Nah,bagaimana kalau Rizkisekarang berbaikan dengan Pak Dodisupaya masalahnyacepatselesai?” “Baik,Bu.”BalasRizkidengananggukan. SetelahituRizkidanGuruBKkeluaruntukkembalimenemuiorangtuaRizki. TernyatadisanajugasudahadaPakDodiyangsedangmengobroldenganorang
tuaRizki. “Pak,maafkanRizkiya.Sebagaimurid,tidakseharusnyaRizkibertindaktidak sopan.HarusnyaRizkitetapmenghormatiBapak.”UcapRizkipadaPakDodi. “Tidakapa-apa.Maafkanbapakjugaya,Rizki.Seharusnyabapaktidakasal menjewermu.”balasPakDodi.“Sayaselakuguru,memintamaafkepadaRizki besertaorangtuakarenatelahbertindakgegabah.Sayamenyadaribahwasaya jugasalahdisini.”UcapPakDodipadaorangtuaRizki. Setelahitusuasanakembalidamai.RizkidanPakDoditelahberbaikan.
Remaja santun Di suatu hari terdapat remaja perempuan yang sedang berkumpul di tempat tongkrongan dekat perkampungan. Seperti biasa mereka sedang bercengkrama dan bersenda gurau.para remaja tersebut terdiri dari empat orang yaitu Salma, Najib, Zifa, dan Imah. Mereka memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda. Dari yang baik, lugu, polos, frontal dan lain sebagainya. Seperti Salma yang ceplas ceplos, Najib memiliki sifat frontal, Zifa yang lugu dan Imah yag polos. Mereka adalah teman kelas di Sekolah Menengah Atas. Saat sedang berkumpul tibatiba ada pesan whatsapp dari ibunya Najib. Isi pesan tersebut adalah “ najib ayo pulang sudah sore” mendengar kalimat tersebut teman-teman yang lain ketawa karena pada saat itu masih siang. Setelah mengabaikan pesan dari ibunya Najib kembali melanjutkan mengobrol dengan teman-temanya. Hingga pada akhirnya ibu Najib menyusulnya di tempat tongkrongan dan menyuruh untuk berpindah tempat di rumah Najib saja karena ibunya sangat khawatir. “Kalian semua pindah ke rumah najib aja ya disana banyak jajan” kata ibunya Najib “Ayoooww!!!” sorak teman-teman Setelah berpindah tempat Salma,Zifa dan Imah disuguhkan berbagai macam makanan dan minuman sehingga membuat mereka sangat senang. Tidak lama kemudian makanan dan minuman sudah habis. Waktu juga menunjukan waktu 17.00 wib. Mereka berpamitan untuk pulang. Lalu tiba-tiba Imah menyeletuk “ Hei kita ini kan tamu ya udah disuguhkan banyak makanan lalu kita tinggal saja begini ?” “Terus harus gimana dong?” Kata Salma “ Kamu ini ya ga diajarin sopan santun apa gimana sih? “ kata Imah “ Emang kenapa sih?” imbuh Zifa Najib hanya cengengesan karena tau maksud dari Imah. “Ini lo kita ini sebgai tamu yang baik dan santun, sebaiknya kita harus membersihkan mencuci piring gitu lo membantu meringkan beban tuan rumah.” Kata Imah “Oh ya bener juga katamu im, ayo kita bersihkan dulu bareng-bareng” imbuh Zifa
Ayo ayo !! Setelah selesai membersihkan semua, mereka berpamitan dengan Najib dan Ibunya. Ibunya Najib sangat senang sekali karena sudah membantu membersihkan piring. “ Terima Kasih ya nak sudah membersihkan piring kalian sangat santun sekali Ibu bangga anak saya berteman dengan kalian” kata Ibu Najib “ Kami yang seharusnya berterima kasih bu” ungkap Salma “ Kami pamit pulang dulu ya bu terima kasih atas jamuannya” kata Zifa Setelah mereka berpamitan ibunya Najib sangat bangga sekali semoga mereka menjadi anak yang santun dan sukses. Itulah manfaat santun mendapatkan do’a dari orang yang telah kita perbuat dengan kesantunan. Sehingga hal-hal baik selalu menyertai orang-orang yang santun.
Etika di Sekolah "Kring..kringg!!" Bunyi bel pertanda masuk kelas sudah dimulai. Para murid bergegas masuk kelasnya masingmasing. Diantara banyaknya kelas, ada salah satu kelas yang paling diunggulkan oleh sekolah maupun para guru. XI IPA 1, kelas ini diisi oleh para siswa dari berbagai daerah. Uniknya, kelas ini tetap menjaga solidaritas dengan berbagai keragaman ras yang ada. Alifa Laksmana Nugroho adalah salah satu siswi yang berasal dari provinsi Jawa Tengah "Fa, katanya ada anak pindahan dari Jakarta nih!." Ucap Cici dengan menyenggol lengan Alifa yang duduk disampingnya. Cici adalah sahabat pertama Alifa sekolah, siswi dengan rambut sebahu ini berasal dari Kalimantan. "Oh Iya? Padahal udah pertengahan semester" Jawab Alifa. "Bruk!" Seseorang menggebrak meja Alifa dan Cici, sontak kedua gadis itu melotot kaget. "WOI SANTAI DONG!" Bentak Cici marah. "Hehe...Maaf, maaf. Lu pada tau ga? Gue barusan liat anak baru itu di koridor, parah tampilannya kaya berandalan tau!" Ujar Ucup menggebu. "Yang bener Cup??" Cici lama kelamaan tertarik dengan topik Ucup. Akhirnya mereka berdua membicarakan si anak baru dengan nada-nada sinis. Tak sampai disitu, Ucup juga mengajak kawan lainnya untuk bergosip ria di meja sebelah. "Iya, iya! Aku juga lihat tadi, roknya pendek banget! Kaya kurang bahan" "Make up nya juga menor ih, kaya tante-tante!" "Paling dia beban orang tua yang ngerengek pindah sekolah" Ucap Salsa. Lalu mereka terbahak bersama. "Hustt, kalian gak boleh ngomongin orang. Gak baik" Ujar Alifa. "Nanti kalau orangnya denger bisa sakit hati, gimana?." "Hehe, iya iya." Jawab Ucup sembari menggaruk lehernya yang tak gatal. Teman yang lain pun mulai kembali ke tempat masing-masing. "Selamat Pagi anak-anak." Semua murid XI IPA 1 bergegas duduk di bangkunya masingmasing. "Selamat pagi Bu Nada!" Balas semua murid bersamaan. "Hari ini Ibu tidak datang sendirian, tapi... hari ini kalian kedatangan teman baru. SiSilahk masuk Stevi" Ucap Bu Nada kepada seseorang dibalik pintu kelas. "Ayo perkenalkan nama kamu." Tubuh tinggi, kulit putih, rambut panjang dan lurus, serta seragam ketat yang melapisi tubuhnya membuat para kaum Adam melotot tak santai. "Hai, kenalin. Nama gue Stevi Zamora. Lo pada bisa panggil gue Stev." Ucap Stevi dengan nada malas. "Stevi, lain kali kamu bisa memakai bahasa yang benar didepan guru" Ujar Bu Nada.
"Gak bisa Bu, gue udah terbiasa" Sontak ucapan itu membuat seisi kelas kaget. Ternyata selain penampilannya yang urakan, Stevi juga sangat tidak sopan kepada guru. Bu Nada hanya tersenyum, kemudian beliau menata bukunya. "Baik, karena hari ini para guru ada rapat mendadak. Kalian bisa mengerjakan tugas Bahasa Jawa halaman 21." Setelah kepergian Bu Nada, semua murid menatap Stevi dengan berbagai macam tatapan. "Ngapain kalian natap gue kaya gitu? Hah?" "Idih, apaan sih. Kepedean banget jadi cewek" Balas Salsa. Stevi melangkah perlahan menghampiri meja Salsa. "Lo kalo iri bilang aja, gausah sok sinis gitu kali" "Sok cantik banget! Kamu tuh anak baru, jangan sok jagoan" Balas Salsa tak mau kalah. "Berani lo, sama gue?" "Plak!" Stevi menampar Salsa sampai pipi gadis itu memerah. "Aw! Sakit..." Salsa memegangi pipinya yang semakin perih. "Stevi! Kamu gak boleh gitu sama Salsa! Apa yang kamu lakuin itu tindak kekerasan disekolah!" Ucap Alifa sembari menenangkan Salsa yang menangis. "Alah, gitu aja sakit. Lebay" Kemudian gadis itu duduk dibangku paling belakang. Semua murid tidak ada yang berani melawan. Mereka kembali ke aktivitas masing-masing karena takut dengan sosok bar-bar Stevi. Padahal ia anak baru dan belum ada satu jam dikelas. Setelah kejadian kemarin, tidak seorang pun ingin berteman dengannya. Stevi Zamora tinggal sendirian dirumah, ia adalah anak broken home yang kedua orang tuanya bercerai sejak ia SMP. Hal itu membuat Stevi bersikap keras dan suka melakukan hal buruk untuk kesenangan semata. "Hai, Stevi!" Seorang gadis berkuncir kuda merangkul Stevi dari belakang. Sontak hal itu membuat Stevi kebingungan, pasalnya ia tak kenal siapa orang aneh ini. "Siapa lo?" "Aku Dinda, kamu tadi dipanggil Pak Samsul disuruh ke kantor guru" "Ngapain?" "Enggak tau, yaudah yuk keburu Pak Samsul marah!" Gadis itu menarik tangan Stevi kasar menuju gudang bekas belakang sekolah. "Kok kesini? Mau apa lo hah!" Stevi memberontak ketika tiba- tiba muncul dua gadis lagi yang memegangi kedua tangannya. "Hallo Stevi cantik~" Salsa muncul dibalik pintu dengan wajah sinisnya. "Oh jadi lo dalang dibalik semua ini!" Teriak Stevi marah. "Kalo iya kenapa? Guys, masukin dia ke gudang!" Perintah Salsa. Kedua anak buahnya menurut. Membuat Stevi panik seketika. "Bruk!" Stevi terjatuh akibat dorongan kedua teman Salsa, gadis itu merintih kecil. "Kalo berani satu
lawan satu! Dasar pengecut!" "Diem lo! Cewek berandalan kaya gini harus diajarin sopan santun guys. Cepet kerjain misi!" "Oke bestie" Kedua teman Salsa mengambil ember yang entah apa isinya dipojok ruangan. "Satu, dua...tiga!" Cairan berbau amis mengguyur seluruh tubuh Stevi. Kemudian Salsa berjalan mendekati Stevi. "Plak!" "Ini balasan buat yang kemarin, kita impas." Ucap Salsa setelah menampar wajah mulus Stevi dengan keras. "Ayo guys, cabut!" Ketiga orang itu pergi dan menutup pintu dengan kasar. Meninggalkan Stevi yang meringkuk ditengah rungan gelap dan lembab itu. Seminggu kemudian pihak sekolah mengetahui adanya kasus bullying disekolah. Salsa dan ketiga temannya dipanggil ke ruang BK. Tak lupa Stevi juga dipanggi menghadap. Alifa berdiam diri dikursi ruangan itu. Ia hadir sebagai saksi mata kekerasan yang Stevi lakukan pada Salsa. "Kalau kalian masih berbuat kegaduhan, saya tidak akan segan untuk mengeluarkan kalian dari sekolah" Ucap guru BK itu. "Baik Pak, kami tidak akan mengulanginya" Balas Salsa, Stevi, dan teman Salsa bersamaan. “Sekarang kalian saling meminta maaf!” “Maaf Stevi” “Maaf Salsa” Esok harinya, Stevi berangkat sekolah dengan menggunakan seragam yang sopan. Membuat teman sekelasnya terheran-heran. "Alifa, aku boleh duduk dibelakang kamu?" Ucap Stevi pada Alifa yang sibuk menulis. "Boleh... duduk aja Stev" Ujar Alifa tersenyum. "Pagi anak-anak." Sapa Bu Nada. "Pagi Buu..." Bu Nada terfokus pada Stevi yang berpenampilan sopan, "Stevi, kamu cantik sekali dengan baju rapih seperti itu" Stevi tersenyum," Terima kasih Bu" Ucapnya dengan nada lembut. Disekolah atau dimanapun, kita harus bersikap sopan terhadap guru dan orang yang lebih tua. Kekerasan fisik maupun Verbal disekolah adalah tindakan yang dilarang dan tidak boleh dicontoh, agar kita tidak menyakiti otang lain. Etika berpakaian disekolah juga sangat diperhatikan. Jadi, kita harus memakai baju yang sopan dan tertutup demi kenyamanan bersama.
Seutas Benang Kehidupan Di sore itu semua warga desa lama berkumpul untuk memeriahkan acara pentas seni yang diadakan di desa itu. Tak terkecuali Nila, ia adalah seorang gadis yang masih duduk dibangku kelas 3 SMP, di sekolahnya ia terkenal dengan gadis yang baik dan pintar. Nila juga merupakan seorang gadis yang sangat sopan, ia selalu membantu orang lain ketika ada yang memerlukan pertolongan, dan pastinya Nila adalah anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuannya. Ayah Nila sudah lama sakit-sakitan dan ibunya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan upah yang tidak seberapa. Ketika hari sudah mulai gelap Nila memutuskan untuk pulang ke rumahnya, dalam perjalanan menuju rumahnya Nila berpapasan dengan seorang pria tua yang terlihat sedang kebingungan. “ada yang bisa saya bantu kek?” Tanya Nila kepada Kakek tersebut. ”nak, bolehkah kakek meminta bantuan? Kakek ingin pergi ke tempat cucu Kakek, namun Kakek kehabisan ongkos” jawab kakek tersebut dengan raut wajah yang pucat. Dengan raut wajah kasihan Nila menjawab “ini kek ada sedikit uang, mungkin nominalnya tidak seberapa, namun siapa tahu bisa membantu” “terima kasih nak” jawab Kakek tersebut. Sebenarnya uang itu adalah uang tabungan Nila yang akan digunakan untuk membeli keperluan sekolahnya, namun Nila tidak tega melihat kakek tersebut dan lebih memilih memberikan uang tabungannya kepada kakek tersebut. Mau tidak mau Nila harus kembali menyisihkan uangnya untuk dapat membeli perlangkapan sekolah yang ia butuhkan. Sesampainya di rumah Nila disambut oleh Ibunya yang baru saja selesai memasak di dapur. “sudah pulang nak? yuk sini makan dulu” kata Ibunya dengan penuh kelembutan “iya bu. Wah, kebetulan nih, Nila juga sudah lapar” Malam itu benar-benar terasa kehangatan diantara keluarga sederhana mereka. Meskipun ayah Nila sedang sakit, hal itu tidak mempengaruhi obrolan malam yang penuh dengan canda tawa.
Keesokan harinya Nila membantu orang tuannya dengan membuat gorengan yang kemudian ia titipkan di warung sekitar tempat tinggalnya. “pagi bu, ini saya titipkan gorengan seperti biasa ya bu’ “pagi Nila, iya, seperti biasa ya” ucap Ibu penjaga warung Nila memang terkenal sebagai anak yang sopan, ia selalu menyapa setiap orang yang ditemuinya. Tak heran kalau banyak warga desa yang akrab dengannya. Sehabis menitipkan gorengan Nila bergegas pulang untuk melihat kondisi Ayahnya. Saat telah sampai di rumah Nila tidak menemui ayahnya berada di dalam kamar, Nila kemudian berteriak memanggil Ayahnya , namun tidak ada jawaban. Berselang beberapa menit, Nila terkejut melihat ayahnya sudah tergeletak tak sadarkan diri di dekat kamar mandi, Nila yang panik bergegas keluar dan meminta pertolongan kepada tetangganya. Ketika sampai di rumah sakit ayah Nila segera mendapat pertolongan medis, dan tak lama setelah itu ibu Nila tiba di rumah sakit. Selang beberapa waktu dokter yang menangani Ayah Nila keluar dan menyatakan bahwa Ayah nila sudah tidak dapat tertolong. Seketika hati Nila menjadi hancur, ia sangat sedih karena harus kehilangan sosok Ayah yang paling ia cintai. Semenjak Ayahnya meninggal ia hanya hidup berdua dengan Ibunnya, meskipun Nila mencoba untuk memulai hidupnya secara normal, namun Nila masih tetap belum bisa melupakan Ayahnya. Terlebih semenjak kematian Ayahnya Ibu Nila menjadi sering melamun dan tidak napsu makan. Nila khawatir kalau Ibunya terus begini pasti Ibunya akan sakit. “makan dulu bu, sejak kemarin ibu belum makan, kalua begini terus Ibu bisa sakit” kata Nila dengan cemas. Dengan wajah datar Ibu nila tidak mengucapkan sepatah katapun. Hal yang dikhawatirkan Nila pun terjadi, keesokan harinnya Ibunya terbaring lemas di tempat tidur, Nila kemudian meminta tolong kepada tetangga untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Selama Ibunya di rawat di rumah sakit, Nila mencoba mencari pekerjaan lain agar ia dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan dapat membayar biaya pengobatan rumah sakit ibunya. Untungnya karena Nila adalah anak yang baik banyak tetangga yang
membantunya, mulai dari memberikan pekerjaan sampai membantu merawat ibunya di rumah sakit. Berkat bantuan dari tetangganya Nila dapat mengumpulkan sejumlah uang yang cukup untuk keperluannya sehari-hari dan uang untuk membayar biaya perawatan rumah sakit sakit Ibunya. Beberapa hari kemudian Ibu Nila juga sudah membaik dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Saat ini Nila dan Ibunya sudah dapat mengikhlaskan kepergian Ayah Nila, dan kini mereka dapat menjalani kehidupan seperti biasannya. Bahkan lebih, karena Ibu Nila sudah mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih layak dan Nila juga dapat lebih fokus untuk bersekolah.
Nala dan Saputangan Ajaib Nala adalah seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun. Dia membuka hadiah yang baru saja diberikan ibunya. Hadiah itu diberikan karena Nala mendapat juara pertama di sekolah. “Selamat ya, Sayang. Ibu bangga sekali sama kamu.” “Terima kasih, Ibu." Betapa terkejutnya Nala, ketika melihat hadiah dari ibunya yang ternyata hanya sebuah saputangan. Nala sangat kecewa, meski saputangan itu sangat cocok dengan warna ungu kesukaannya juga ada kupu-kupu di setiap sisinya. Namun, itu hanyalah sebuah saputangan. Nala duduk dengan cemberut di kamarnya. Untuk apa sebuah saputangan? Kenapa ibunya tidak membelikan hadiah lain yang lebih mahal dan cantik? Saputangan pasti harganya sangat murah. Nala pasti akan malu untuk memperlihatkan hadiah itu kepada temantemannya. Padahal dia sudah bercerita kepada teman-temannya, jika ibunya pasti akan memberikan hadiah yang mahal, seperti sepeda atau boneka baru. “Kau tidak suka memilikiku, ya? Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Nala. Nala menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Namun, dia tidak menemukan siapa pun. “Ini aku,” sebuah suara kembali terdengar. Nala semakin bingung. “Nala, aku adalah saputangan yang kau pegang.” “Kau bisa bicara?” Nala menatap saputangan yang dipengangnya dengan perasan takjub. Ternyata saputangan sungguh ajaib. “Ya, tentu saja aku bisa bicara. Karena aku bukan saputangan biasa. Kalau kau mau, aku bisa mengajakmu ke mana saja.” “Benarkah itu?” Nala tidak percaya. “Tentu saja.” Kekecewaan Nala perlahan hilang. Dia mendengar dengan seksama apa yang diperintahkan saputangannya. Dia membuka saputangan itu di lantai. Saputangan itu menjadi lebih besar dan besar. Lalu Nala duduk di atasnya dengan perasaan ragu, tetapi setelah dibuktikan ternyata saputangan itu tidak berbohong. Nala sungguh takjub bisa terbang bersama
saputangan itu. Mereka pun mulai melakukan petualangan. Pertama, Nala diajak ke Negeri Kue di mana ia bisa makan kue sepuasnya di sana. Lalu ke Negeri Mainan. Di sana Nala bebas memilih mainan apa saja yang disukainya. Nala sungguh tak menyangka. Barang kecil yang disepelekan ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa. Benar kata pepatah, jangan pernah menilai sesuatu dari luarnya. Sekarang Nala paham bahwa tidak semua yang tampilannya buruk itu jelek dan tidak berguna. Buktinya saputangan kecil itu malah bisa mengajaknya berpetualang ke mana saja. Itu sangat menakjubkan. Petualangan Nala dan saputangannya belum usai. Mereka kembali terbang, kali ini mereka menuju Negeri Peri. Di sana Nala diajak ke istana peri yang sungguh indah. Nala disambut ramah dan disajikan hidangan yang sangat lezat. Dan ternyata, di sana tidak hanya Nala sajayang disambut ramah. Para pengemis dan anak-anak terlantar juga mendapat perlakuan yang sama. Di istana itu ada ratu peri yang sangat baik. Ratu peri yang sangat cantik itu tidak sama sekali menyombongkan kekayaannya. Nala jadi teringat dengan dirinya yang berencana menyombongkan hadiah dari ibunya andai diberi hadiah yang mahal. Itu sangat memalukan. Harusnya Nala bersyukur dengan apa yang diberikan ibunya. Mungkin di luar sana masih banyak anak-anak yang tidak seberuntung dirinya. Seperti anak-anak terlantar itu. Nala berjanji nanti ketika pulang dia akan meminta maaf pada ibunya karena sempat kecewa. Dia juga akan meminta maaf pada saputangan ajaib yang kini dipegangnya dan berjanji akan merawat sepenuh hati hadiah pemberian dari ibunya ini.
Nasib Pengemis Joko merupakan seorang pengemis. Ia sehari harinya mengemis di perumahan, dan di jalan jalan. Joko selalu berangkat pagi pagi. Ia kali ini tidak sendirian ia ditemani oleh Yanto. Yanto merupakan teman dekat Joko. Joko dan Yanto berangkat pukul 09.00 saat itu Joko dan Yanto jalan ke perumahan seperti biasa. Saat mengamen di suatu rumah Joko dan Yanto heran kenapa tidak ada yang keluar " Jok, kenapa ya ini rumah pintunya terbuka tapi kok kita nyanyi daritadi ga ada yang keluar." Kata Yanto . " Ya paling orangnya baru keluar To." Jawab Joko . " Lah, kalo pagernya kebuka gini orangnya pasti ada didalem Jok, coba aku cek masuk ke dalam halaman rumahnya " saut Yanto."Eh, Jangan masuk masuk To, gak sopan kamu itu, kalo gk ada yang bales kita ke yang lain aja, kita itu pengemis juga harus tau sopan santun dan etika." Kata Joko. " Halah ngomongmu kayak orang paling bener aja Jok." Kata Yanto dengan wajah kesal. "Ya kalo kamu masih kayak gitu mending kita ngamen sendiri sendiri aja !! " Ucap Joko marah kepada Yanto. "Ya udah, sana pergi nanti kalo aku kaya jangan nyesel ya." jawab Yanto. Akhirnya Joko dan Yanto pun berpisah. Yanto pun mengemis di perumahan elite. Yanto mengemis dengan cara yang kurang sopan Ia selalu masuk halaman rumah, tak jarang Ia di usir tuan rumah, hingga ia di usir dan dilarang mengemis di perumahan tersebut Ia akhirnya hidup kelaparan. Sementara Joko yang mengamen dengan sopan ia akhirnya mendapat panggung dari warga sekitar. Tak jarang pula ia tampil di acara acara kecil atau di cafe. Sopan santun merupakan sebuah perilaku yang harus diterapkan manusia setiap saat dimanapun kapanpun. Tidak peduli apapun profesinya kita sepatutnya selalu berperilaku sopan agar orang juga menghormati kita begitupun sebaliknya.
HIDUP HARUS BERPERILAKU SOPAN SANTUN Karya : Cholifia Nurchaliza Di suatu sekolah yaitu “ SMK SWADAYA TEMANGGUNG” Terdapat 4 orang yang bersahabatan bernama Icha, Aida, Olifia dan gita mereka baru saja naik kelas 12. Di SMK SWADAYA TEMANNGUNG mereka smengambil jurusan yang sama yaitu otomatisasi tata kelola perkantoran atau disebut OTKP. Mereka juga menempati kelas yang sama bahkan duduknya berjejeran. Masing-masing mempunyai karakter yang berbeda. Icha memiliki karakter pemalu, ramah. Aida anaknya setia kawan, rajin, namun sedikit membantah. Olifia memiliki sifat yang cuek, ceroboh tapi juga rajin. Sedangkan Gita memiliki sifat yang Bandel dan humoris. Meskipun ke empatnnya memiliki sifat yang berbeda tetapi mereka menjadikan perbedaan mereka sebagai suatu hal yang saling melengkapi dalam persahabatan mereka. Pagi itu gita bangun tidur agak kesiangan lalu sarapan kemudian bersiap-siap kesekolah. Gita langsung menuju tempat pertigaan sebelum arah ke SMK SWADAYA TEMANGGUNG. Seperti biasa mereka berempat selalu berangkat bareng dan janjian disitu. Namun setelah gita sampai dipertiaan baru ada olifia, ternyata Icha dan Aida belum dating. Mungkin mereka juga kesiangan. Setelah jam menunjukkan pukul 07.10 akhirnya Icha dan Aida datang. Dan mereka pun langsung berangkat menuju sekolah.mereka sampai disekolah sudah telat yaitu pukul 07.20 sedangkan bel masuk pukul 07.00. Dengan tergesa-gesa mereka pun masuk kelas, tanpa piker panjang mereka pun langsung masuk kelas begitu saja. Melihat itu pak Dani yang sedang menerangkan pelajaran marahdan heran. “hei Kalian apa kalian tidak tau sopan santun?” Tanya pak Dani dengan tegas. Lalu mereka menjawab “Tau lah pak”dengan santainnya. “jika tau mengapa kalian masuk tanpa salam/ketuk pintu terlebih dahulu, kalian telat loh” Tanya lagi pak dani. “maaf pak”jawab mereka barengan dengan takut. “kalian tau tidak ini sudah jam berapa” Tanya pak Dani. “tau pak” jawab mereka dengan nada rendah. “sebagai hukuman kalian berempat silahkan membersihkan kamar mandi sampe jam istirahat” perintah pak dani dengan galak. Tanpa banyak bicara mereka langsung melaksanakan hukuman karena tau pak Dani sudah sangat marah. Satu minggu pun berlalu setelah mereka dihukum oleh pak Dani. Sejak saat kejaian itu mereka berjanji tidak akan telat lagi dan berjanji untuk merubah sikap mereka yang tidak sopan. “harus berperilaku sopan dimanapun dan kapan pun” ujar gita. Dan yang lain pun menjawab “siap harus sopan”. Lalu mereka berjalan ke ruang guru dan menemui pak Dani untuk meminta maaf dengan pada waktu itu. Setelah keluar dari ruang guru mereka berempat tos bersama-sama dengan wajah gembira.
DITO DAN SIFATNYA Hari ini waktu menunjukkan pukul 15.20 sore, waktu dimana siswa siswi SMA pulang ke rumah mereka masing masing. Hal ini juga terjadi pada Dito, seperti biasa ia pulang dengan berjalan kaki melewati perkampungan untuk sampai ke rumahnya. Sekolah Dito berada di wilayah persawahan warga sekitar SMA ia bersekolah. Sebelah selatan, barat dan utara sekolahnya masih terdapat sawah-sawah yang baru saja ditanam, disebelah timur sekolah Dito terdapat perkampungan tempat ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Suasana yang masih terlihat sangat asri, masih terjaga kealamiannya, jauh dari jalan raya, dan masih memiliki banyak sekali sawah di sekitarnya. Tempat tinggal yang begitu nyaman bagi Dito dan keluarganya, Dito dalah anak tunggal. Walau begitu, ia memiliki banyak teman dan orang-orang yang mencintainya. Dito adalah anak yang baik hati dan juga ramah kepada banyak orang. Sikap ramahnya membuat banyak orang menyukainya. Sore hari ini seperti biasa Dito harus berjalan dari sekolah ke rumah dengan jarak yang tidak terlalu jauh, ia hanya perlu berjalan kurang lebih 6 menit untuk sampai ke rumah orang tuanya. Seperti biasa, ketika ia berjalan melewati rumah warga, pasti ia dapat melihat beberapa orang sedang berkumpul dan berbicara di salah satu halaman depan rumah warga. Warga desa tempat ia tinggal, memiliki kebiasaan berkumpul bersama saat sore hari. Berbincang-bincang bersama, menikmati waktu senja hari. Namun, hari ini jalanan di sekitar kampung cukup sepi, tidak seperti biasanya. “Tidak biasanya sepi seperti ini, atau mungkin karena, aku pulang terlambatya? Jadi orang-orang sudah kembali ke rumah masing-masing.” kataku sambil melihat sekeliling desa. Benar-benar sepi, aku tidak melihat orang-orang desa berkumpul di depan halaman rumah. Jalan desa yang tidak ramai kendaraan, suasana yang masih asri, dan sejuk. Membuat Dito dapat menikmati suasana pulang sekolah yang menyenangkan. Kemudian saat berjalan di dekat pos ronda, ia melewati dua orang pria dewasa, yaitu mas Joni dan mas Bagus. Kedua pria dewasa itu terlihat sedang asik mengobrol dengan menikmati kopi yang ada di depan mereka. “Permisi mas” ucapku ketika melewati kedua mas Joni dan mas Bagus, keduanya menjawab dengan menganggukan kepala mereka. “Lah, kok pulangnya Sore banget, Dit?” tanya mas Bagus padaku. Aku kemudian memberhentikan langkahku sejenak dan menjawab pertanyaan mas Bagus “Iya mas, tadi buat tugas kelompok dulu.” “Oh, gitu to.” jawab mas Bagus. “Iya, Mas. Pamit dulu ya, Mas.” kataku pada mas Joni dan mas Bagus. “Hati-hati di jalan Dit.” kata mas Joni, sedangkan mas Bagus hanya menganggukan kepalanya. Mas Bagus adalah tetangga dekat rumahku, kami sering mengobrol dan juga bermain futsal bersama. Aku sangat akrab dengan mas Bagus, tapi tidak dengan mas Joni, aku jarang mengobrol dengan dirinya. Bahkan, aku hanya beberapa kali melihat dirinya, mas Joni bekerja di luar kota, jadi ia jarang pulang ke rumah. Sedangkan, mas Bagus adalah seorang mahasiswa, jarak universitas dengan desa juga tidak terlalu jauh, jadi mas Bagus dapat dengan mudah berangkat ke kampusnya.
Kini aku melanjutkan perjalananku menuju ke sebuah persimpangan jalan. Saat melewati persimpangan jalan, aku melihan bu Mardinah. Bu Mardinah adalah istri dari ketua RT di desaku, aku melihatnya dan tersenyum. Aku berhenti sebentar untuk menyapa beliau “Sore Bu RT.” beliau menjawabku dengan senyum yang ramah “Sore juga nak Dito. Lah, tumben baru pulang nak?”. “Iya Bu, tadi ada kerja kelompok dulu, jadi pulang terlambat Bu.” Jawabku. “Ealah gitu to, ya udah Ibu duluan ya nak.” kata beliau padaku, “Iya, Hati-hati, Bu” jawabku. “Iya nak” jawab beliau, beliau kemudian melanjutkan langkahnya yang tidak aku ketahui kemana arah tujuannya. Aku juga tidak ingin terlalu ikut campur urusan beliau, aku pun melanjutkan perjalananku. Sampailah aku di depan halaman rumahku, rasanya begitu menyenangkan ketika aku telah sampai di rumah. “Akhirnya sampai juga aku di rumah.” kataku sambil menghela nafas. “Assalamualaikum wr. wb. Bun, Yah, Dito pulang.” salamku, “Waalaikumsalam wr. wb. nak” jawab bunda dan ayahku dari dalam rumah. Aku kemudian mendekati ayahku yang sedang duduk di kursi ruang tamu, “Yah” sapaku pada ayah, seperti biasa aku akan mencium tangan ayahku, itu adalah kebiasaan yang ayah dan bunda ajarkan padaku. “Bundamu di dapur, habis itu mandi sana.” kata ayahku, “Iya, Yah.” jawabku sambil berjalan ke arah dapur. Aku menemui bunda “Bun aku pulang.” kataku padaku bunda, kemudian aku mencium tangan bunda.”Mandi dulu sana nak, habis mandi ke ruang makan, makan dulu ya.” kata bunda. Sekolah yang melelahkan tergantikan ketika aku pulang ke rumah, semua penat yang terasa seolah menghilang ketika aku bertemu dengan bunda dan ayahku. Semoga kami selalu bahagia dan saling menyayangi satu sama lain.
Nama :DeliaEkaPutri Nim :2101422117 Kelompok :GoaLawah JadiEtisBukanMiris Dipagihariygindahterdapatseoranganakyangsedangmelamun,anakitubernama maryam.Lamunannyaterhentikarenatariakanibuyangsedangmemanggil-manggil namanya."Maryam..Maryam..Tolongkesinisebentar"ucapsiibu. Lantasmaryam segeramenghampiriibunya,"Adaapabu?Mengapamemanggilku?" tanyamaryam denganpenasaran."Tolongbelikanibubawangdanmerica,ibumau masak"jawabsiibu."Baiklahbu"katamaryam. Maryam berjalanmenujutoko,ditengahperjalananiabertemubuDewitetangganya, namunmaryam tidakmenyapa.SontakibuDewiberkata"Dasarsombong"dengan rautwajahmarah.Lalumaryam jugabertemudenganseseorangyangberjalan menggunakantongkatkarenatubuhnyayangsudahtuaitutaklagikuatberjalan normalsepertidulu.Kakektuaitumembawaplastikyangberisibuahjeruk,padasaat itubuahjerukyangdibawaolehkakektersebutterjatuhkemudiankakekitumeminta bantuanmaryam "Tolongbantusayamengambilbuahininak".Maryam tidakmau danberkata"Aduhhkenapabisajatuhbeginisih,kanjadimerepotkanoranglain begini".Denganrautwajahkesalsembarimengumpulkanbuahyangjatuh,kakek tersebuthanyamenghelanafassambilgeleng-gelengkepalamelihattingkahmaryam yangtidaksopanitu. Datanglah Verel teman sekolah maryam yang langsung ikut membantu mengumpulkanbuahyangjatuhitu,Setelahselesaimengumpulkanvereldanmaryam memberikanbuahtersebutkepadasikakek,"inikekbuahnyalainkalihati-hatiya" ucapverelkepadasikakek.Maryam dengansinisberkata"Iyakeklainkaliharus
berhati-hatibiartidakmerepotkanoranglain."verelkagetdenganucapanmaryam tersebut"Kamungomongnyakoktidaksopangitusih"ucapvereldenganmuka marah.Lantaskakektersebutmengatakan"Sudahnaktidakapa,terimakasihya sudah membantu kakek".Sembarimemberikan verel2 buah jeruk dan verel mengucapkanterimakasihkepadakakektersebutlalukakektersebutpergi.Maryam yangirimelihatvereldiberijerukolehkakektersebutberkata"Dasarorangtuayang pelitpadahalakuyangpertamakalimembantunyatapiyangdikasihjerukcuma verel."dengan berteriak.Verelkagetdengan perkataan Maryam,perkataan itu membuatverelmarah"Maryam..Kamutidakbolehberkatasepertiitu,perkataanmu sangattidaksopan.Iniambilsajajeruknyaakukesaldengansikapmuini."Laluverel langsungpergi. Maryam melanjutkanperjalanannyadengankesalkarenavarelmemarihanya,tapidia sangatsukakarenamendapatkanjeruk.Sesampainyaditoko,Maryam langsung mengambilbawangdanmericalalumembawanyakekasir,"inidimanasihkasirnya koktidakada,woy...Adaorangdisini?,akumaubeli."denganberteriak.Seseorang keluardenganrautwajahheranmelihatanakkecilyangberadadidepankasir"Ada apanak?"."Sayamaubeli"katamaryam sambilberteriak."Astagfirullahanakkecil tidaktahusopansantundalam berbicara"ucapkasirtokotersebutnamunmaryam tidakmenggubrisnya. Setelahiamembelibarangdansudahmembayarnyaialangsungbergegaspulang, sampaidirumahpunmaryam berceritatentangkejadiansaatperjalananketokotadi, pertamaiaberceritamengenaiomongantetangganyayangmengatakansombong kepadamaryam,ibunyapunbertanya"kenapabuDewibisabicarasepertiitunak?", Maryam punmenjawab"Akutidaktahubu,padahalakuhanyaberjalanmelewatinya saja,laludimanaletakkesombonganku".Ibunyapunpaham danmengatakan"Nak.. Jikakamubertemudenganorangyangkamukenal,sapalahdiaagarmembuathati merekasenangdengankeramahansikapmu."setelahpenjelasandariibunyatadi maryampunpahampentingnyamenyapadanbersikapramahkepadaorangyangdia kenal.Laluyangkeduaiaberceritakepadaibunyamengenaiseorangkakekyang buahnyajatuhtadi,ibunyapunberkata"Astagfirullahnak,sikapverelitusudahbenar,
kitaharussalingmembantukepadasiapapun,kamutidakbolehbersikapsepertiitu, karenaitutidaketis."maryam merasabersalahmendengarperkataanitu.Laluyang terakhiriaberceritasaatditokotadikasirtokomenyebutnyatidaktahusopansantun dalamberbicara,ibunyamenghelanafaslaluberkata"Benarkatapakkasirtadi,kamu memangtidaktahusopansantundalam berbicara,seharusnyakamumemanggilpak kasir1kalisaja,jikatidakada jawabanmakapanggilahlagidantunggupakkasir datang."maryamsemakinmerasabersalah. Dihariselanjutnyaketikaiapergidanbertemutetanggaiasenantiasamenyapa dengansenyum gembiradandibalassapaanolehtetangganya,karenaituiamerasa senang,laluketikaadaorangyangbutuhbantuaniamembantudanorangtersebut memberikannyaucapanterimakasihdanitujugamembuatdirinyasemakinsenang, dansejaksaatituiamenjadianakyangramahdanmemilikietikaketikabertemu, berbicara,danmembantuorangyangkesusahan.
Ini uang siapa ya? Pagi itu, sesampainya di sekolah aku melihat Aldi berputar-putar seperti kebingungan, namun aku tidak tahu apa penyebabnya. Aku memberanikan diri untuk bertanya. “Aldi, kamu kenapa? Ada yang bilang ya..?” Tanyaku. “Iya nih Ki, uang yang dikasih ibu 10.000 tadi pagi buat bayar LKS, jatuh entah dimana. Perasaan pas nyanpe pagar sekolah tadi masih di saku deh..” jawabnya. Mendengar jawaban Aldi, aku merasa kasihan dan membantunya mencari uang tersebut di sekeliling kelas. Tidak lama kenudian, lonceng masuk berbunyi, sedangkan uang Aldi yang hilang belum kunjung ditemukan. Ketika Guru masuk kelas, mula-mula kami mengucapkan salam dan berdo’a bersama-sama. Setelah itu, Pak Guru membuka pembelajaran dengan mengajukan sebuah pertanyaan. “Anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran, bapak ingin bertanya sesuatu. Ada gak yang merasa kehilangan uang..? Bapak menemukannya di bawah meja bapak ini..” tanya Pak Guru. Tiba-tiba saja Yoda dan Wira menjawab dengan spontan secara bersamaan.. “Saya pak..” Setelah itu, Aldi pun menjawab.. “itu uang saya pak..”. Karena ada 3 murid yang mengaku, akhirnya pak guru pun dibuat kebingungan. “Baiklah, untuk membuktikan uang ini milik siapa. Coba kalian bertiga sebutkan berapa jumlah uang yang bapak temukan..” tantang pak guru. Seketika, Wira dan Yoda terlihat bingung. Namun Aldi langsung menjawab.. “Tukaran 10.000 pak..” Akupun menolong Aldi dengan memberi dukungan.. “Benar pak, tadi sebelum masuk, Aldi memang sempat cerita kalau dia kehilangan uang 10.000 yang digunakan untuk membayar LKS Pak…” Jawabku. Mendengar jawaban tersebut, mata Pak Guru langsung menghadap Yoda dan Wira.. “Jadi, kalian berdua berbohong..?” Tanya Pak Guru. “I..i..i..iya pak..” jawab mereka berdua secara bersamaan dengan sedikit gugup. “Anak-anak, mulai sekarang, jangan pernah berkata bohong untuk meraih sesuatu yang bukan hak milik kita, berbohong adalah salah satu sifat tercela dan harus dihindari..” tuntas pak guru. Selepas itu, Yoda dan Wira hanya bisa bertunduk malu dan merasa sangat
bersalah.
Ketikan Jari Merusak Etika Siang hari saat jam istirahat Roni pergi kekantin.Dia memesan satu mangkuk bakso dan satu segelas es teh. Saat itu cuaca juga lumayan panas terik matahari yang begitu menyelikit tubuh membuat Roni gerah." Bu mana es tehnya" kata Roni kepada ibu kantin.Sambil nunggu minumannya datang Roni bermain gadgednya.Seperti anak milineal pada umunya dia terkadang senyum, cemberut dalam keasikannya entah dia sedang membaca chat WhatsApp atau membuka tiktok. Saking asyiknya bermedsos, Roni sampai tidak sadar kalau teh botol yang ditenggaknya sudah datang. Dia baru menyadarinya setelah beberapa saat. Tepatnya, ketika bu kantin memanggilnya 3 kali "Ini ron minumannya".Dia baru menyadari panggilan ketiga dari Bu kantin. “Oh iya Bu terimakasih " sambil tersenyum.Setah mengantarkan minuman Bu kantin pun pergi untuk melayani murid yang berdatangan.Namun selang beberapa menit minuman Roni sudah habis.Dia pun memanggil Bu kantin untuk segera membuatkannya 1 gelas es teh lagi. Ya, Roni. Tunggu sebentar,” sahut Bu kantin yang telah mengenal roni meski dia tergolong siswa baru, kelas X di sekolah ini. Gayanya yang ceria dan selalu nongkrong di kantin di setiap jam istirahat, membuat bu kantin itu cepat mengenalinya. Bu kantin itu kemudian meminta Roni sedikit bersabar. Dia harus lebih dulu menyelesaikan pemesanan siswa lainnya yang telah lama mengantri. Roni memaklumi penundaan pesanan es tehnya itu. Sejurus, dia pun kembali larut dalam keasyikannya berselancar di dunia maya. “Braaakk!” Tiba-tiba meja tempat dia nongkrong digebrak oleh seseorang niyang seakan-akan dikawal oleh empat orang temannya. Gebrakan itu cukup keras. Hingga mangkuk wadah mie yang sudah kosong di hadapannya jatuh dan pecah berantakan. Siswa lain yang sedang berada di kantin itu ikut terkejut. Tapi mereka berusaha untuk cuek. Tidak mau menimbrung pada persoalan yang tidak mereka ketahui. Di tengah keterkejutannya, Roni masih sempat hendak beranjak memunguti pecahan beling mangkuk itu. Namun, upayanya itu terhenti. Sebab, sosok laki-laki yang menggebrak meja itu telah lebih dulu menarik krah bajunya. Dengan kasar, dia pun dipaksa untuk kembali duduk di posisi semula.
“Ada apa ini. Kenapa kau tiba-tiba berbuat kasar seperti ini?”, tanya Roni yang sudah kembali duduk dan kali ini dikelilingi oleh empat orang yang belum dikenalnya itu. Tapi dari pandangan sekilas pada emblem yang menempel dibajunya, dia tahu kalau mereka masih satu sekolah dengannya. Mereka itu siswa kelas XI atau masih kakak kelasnya. Roni Kau kurang ajar sekali. Kau telah mempermalukan kami di jagad maya!” Sosok yang telah menggebarak meja dan menarik krah baju itu terlihat sangat marah. Teman-temannya tak kalah marahnya. Mereka kompak memelototkan mata yang mulai memerah ke muka Roni. “Sabar, teman. Memang aku telah berbuat apa. Aku merasa tak pernah mempermalukan kalian,” sahut Roni mencoba menenangkan suasana. Dia juga masih ingin tahu kenapa dia dituduh seperti itu oleh sosok yang dari bed namanya diketahui bernama Fredy ini. “Sudahlah, jangan mengelak lagi. Ini buktinya,” sergah Fredy sembari mengeluarkan smart phone. Kemudian dia menunjukkan sebuah screenshot dari tampilan instagram. Pada layar yang di-screenshot itu terlihat gambar ceria Fredy dan teman-temannya sedang menerima piala dari kepala sekolah yang disertai caption, “Terbukti! Tim Futsal Kelas XI SMA Gugus Cita is the best. Juara Class Meeting 2019. #juara #futsal #classmeeting2019 #smaguguscita #kelasxi”. Postingan itu mendapat 659 like dan 275 coment. “Terus, apa hubungannya dengan aku,” timpal Roni ringan. Tanpa disadari roni, tanggapan ringannya ini justru meninggikan tensi Fredy dan temannya. “Bedebah. Apa hubungannya, kau bilang? Ini, lihat komentarmu di postingan itu. Kau bukannya mengapresiasi. Tapi sebaliknya, malah menghina capaian kami,” ujar Yordan, teman Fredy. Kau justru bilang, ‘Ah biasa aza kalee…bagi generasi micin, suatu yg biasa mmg sering dianggap luarrr biasa. Cuma juara classmeeting cuy he he…’. Orang sepertimu sepertinya pantas diberi pelajaran,” ujar teman lainnya, Arga, sambil memukulkan botol plastik kosong ke meja. “Bahkan ketika kami menyuruhmu menghapus coment itu, kau tetap tak mau menghapusnya,” sergah teman lainnya, Firgo, sembari menunjukkan bagian screenshot yang telah
dilingkari,tempat mereka memberikan perintah menghapus itu. “Kenapa aku tak mau menghapus, itu karena tak ada yang salah dengan komenku. Aku hanya bicara soal generasi micin, yang menurutku, suka menganggap hal yang biasa sebagai suatu yang luar biasa. Tidak ada hubungannya dengan kalian. Lagian di situ tidak ada satu kata pun yang menyebut nama, tim futsal, atau kelas kalian.” Reno mencoba menetralisir tuduhan. Baginya, tuduhan itu hanyalah salah paham. “Banyak ngeles, kau. Semua tahu kalau komentmu menyasar kami. Bahkan lebih separuh orang yang komentar di wall ini juga menyesalkan komentarmu.” Kini giliran Toni membenamkan Reno pada kesalahannya. “Ayo kawan, tunggu apa lagi. Kita kasih pelajaran dia!” Perintah Fredy langsung disambut teman -temannya. Mereka seketika mengeroyok Reno. Meski sempat bertahan, Reno akhirnya tak mampu jua menahan amarah mereka. Beberapa tendangan dan tinjuan sempat mendarat di tubuhnya. Suasana di kantin semakin gaduh. Beberapa siswa berpekikan dan meminta mereka berhenti berkelahi. Tapi pekikan itu tidak digubris. Reno terus diserang. Untuk menghalau serangan yang membuat posisinya semakin terjepit itu, Reno membalikkan meja kantin. Selanjutnya, ia mengangkat kursi dan menggunakannya untuk memukul lawan. Upaya pertahanannya efektif. Fredy dan teman-temannya sempat menghentikan pukulan. Mereka kompak mundur beberapa langkah untuk menghindari pukulan itu.
Berubah Seorang perempuan sedang duduk di sebuah ruangan yang ramai. Ruangan tersebut dipenuhi dengan orang-orang yang sedang bekerja. Raut wajah mereka terlihat letih, menginginkan waktu senggang untuk bisa pulang ke rumah. Namun apa daya, pekerjaan mereka menghentikan mereka untuk pulang ke rumah. Di hadapan mereka duduk satu hingga tiga orang, sesuai dengan masalah masing-masing. Ada yang terlihat datar, bosan, kesal, hingga sedih, mengikuti suasana hati masing-masing. Berbeda dengan perempuan itu, ia tidak di sana untuk bekerja. Ia masih diam duduk di hadapan salah seorang pekerja di sana. Kepalanya sedikit tertunduk. Wajahnya tidak berekspresi, membuat orang yang sedang menghadap layar monitor di hadapannya ini sulit mencari jawaban yang benar. Namun, sebenarnya perempuan itu sedang merasa frustrasi dan berusaha mencari cara agar orang di depannya ini percaya dengannya. “Jadi, kau bilang bukan kau yang mencuri perhiasan di rumah Ibu Dina?” tanya wanita di depannya itu, memastikan kembali kalimat yang didengarnya dari remaja tersebut. “Benar, Bu. Saya memang anak yang nakal, tetapi saya bukan seorang kriminal,” jawab perempuan itu dengan nada kesal yang tertahan. Wanita dewasa di depannya itu mengerutkan alisnya dan memutar monitornya ke arah perempuan itu. Dengan tegas ia bertanya, “Lalu, mengapa kau muncul di sini?” Layar tersebut memutar sebuah video di mana perempuan tersebut terlihat sedang memanjat tembok lalu memasuki kediaman Bu Dina. Video tersebut didapatkan pihak polisi dari kamera pengawas yang terpasang di sudut jalan. Sayangnya, Bu Dina dan keluarga tidak memasang kamera pengawas di dalam rumah mereka meski rumah mereka lumayan besar dan mewah. Perempuan itu memejamkan matanya sebentar dan menghela napas frustrasi. Seketika ia menyesali dirinya yang terlalu nakal. “Kalau tentang itu memang saya salah, tapi bukan maksud saya untuk mencuri. Saya masuk ke rumah itu hanya karena saya penasaran dengan bagian dalam rumah mewah itu.” Sang polisi masih terus memojokkannya, “Aku mendengar banyak kesaksian dari orang-orang di sekitarmu kalau perilakumu itu sangat buruk. Memalak anak kecil, merusak tanaman, mengacaukan halaman rumah tetangga, bersikap kasar, dan lainnya. Aku sudah bertemu banyak anak nakal sepertimu dan rata-rata tidak takut melakukan hal yang melanggar hukum.”
“Sudah, Kak, lanjutkan besok saja interogasinya. Kita kan belum mendapat bukti kuat lain. Video ini tidak cukup untuk menjawab teka-tekinya. Lagipula bukankah kita belum menginterogasi para pekerja di rumah Bu Dina?” ujar seorang pria yang terlihat lebih muda dari polisi wanita yang ada di hadapan remaja itu. Sang senior pun akhirnya menyerah dan memperbolehkan perempuan itu untuk pulang karena belum ada bukti yang pasti kalau ia mencuri di rumah Bu Dina. Ia pun berpamitan dan pulang ke rumahnya. Di perjalanan ia merenungkan tingkah lakunya selama ini. Apa ia terlalu nakal? Apa ia terlalu kasar dengan orang di sekitarnya? Mengapa semua orang menyalahkan dirinya? Saat itu juga ia menyesal. Namanya adalah Vaya. Ia dikenal oleh orang-orang di sekitarnya akan kenakalan dan sikapnya yang kasar terhadap orang-orang. Terutama bagi tetangga-tetangganya. Pernah suatu kali tetangga di sebelah kanan rumahnya menangkapnya sedang memalak anak tetangga tersebut. Anak itu terlihat takut dan dengan ragu memberikan uangnya kepada Vaya. Tetangga tersebut langsung saja menghampiri Vaya dan memarahinya. Vaya segera menjelaskan bahwa ia hanya meminta uangnya saja, tidak memalaknya. Pada akhirnya, Vaya mengembalikan uangnya dengan sedikit jengkel. Lalu, hal yang paling sering terjadi adalah merusak tanaman dan mengacaukan rumah tetangga. Vaya sering sekali memasuki halaman rumah tetangga saat gerbang mereka terbuka dan mengacaukan halamannya. Iseng saja ingin memberantaki perkakas taman mereka dan menjatuhkan pot-pot bunga yang sudah disusun rapi oleh si pemilik. Saat si pemilik rumah membalikkan tubuhnya atau keluar dari rumahnya, Vaya langsung melarikan diri sembari tertawa cekikikan. Sang pemilik rumah tentunya berteriak-teriak marah dan memaki dirinya. Namun, ia tidak menyangka kalau kenakalannya ini akan menombak balik kepadanya. Di akhir pekan kemarin, Vaya melewati sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Rumah tersebut menangkap matanya karena gayanya yang modern dipadukan dengan seni tradisional Indonesia di setiap ornamen-ornamennya. Namun, oleh karena gerbang kayu yang cukup tinggi, ia hanya bisa melihat bagian tengah sampai atas rumah itu saja. Rasa penasaran memasuki benaknya. Di dalam rumah itu ada apa? Pikirnya dalam hati. Akibat dari kebiasaan buruk yang sudah melekat dalam dirinya, ia pun mencari celah yang bisa ia lalui untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Sayangnya tidak ada celah untuknya masuk dan dindingnya pun terlalu tinggi untuk dipanjat. Namun kemudian, ia melihat ada sebuah tong sampah besar yang bisa ia naiki sebagai tangga untuk memanjat
dinding rumah tersebut. Vaya pun tersenyum puas sebelum mengambil tong sampah tersebut dan membalikkannya. Sampah-sampah yang ada di dalamnya sedikit menghambur keluar, sementara sisanya tetap terkurung di dalam tong tersebut. Vaya melompat turun dengan pelan dari dinding yang cukup tinggi tersebut agar tidak ada bagian tubuhnya yang menjadi korban. Ia sedikit meringis merasakan perih di telapak tangannya yang kulitnya terkelupas karena dijadikan tumpuan untuk menopang tubuhnya. Setelah membersihkan telapak tangan dan celananya yang kotor, Vaya membalikkan tubuhnya menghadap bagian depan rumah tersebut. Ia terpukau melihat tampilan minimalis yang juga menyuguhkan ornamen khas Bali dari rumah tersebut. “Wah, andai aku punya rumah sebesar dan sebagus ini,” gumamnya merasa iri dengan penghuni rumah mewah tersebut. Puas mengamati rumah tersebut, Vaya menepuk dahinya, teringat akan dinding rumah itu yang terlalu tinggi untuk ia panjat. Nasib baik tidak ada penjaga keamanan di rumah itu dan rumah itu pun tertutup rapat, tidak menampakkan seorang penghuni rumah pun, jadi Vaya bisa lebih leluasa untuk berjalan ke sana kemari. Ia pun berjalan ke sana kemari untuk mencari barang atau celah yang bisa ia gunakan untuk keluar. Entah keberuntungan atau keajaiban, Vaya menemukan sebuah tangga yang disandarkan di dinding dekat pintu depan rumah itu. Ia tersenyum seperti habis memenangkan piala juara pertama olimpiade matematika. Vaya mengangkat tangga tersebut dan menyejajarkannya di depan dinding. Ia kemudian menaiki tangga tersebut dan memanjat keluar dari rumah besar itu. Vaya melanjutkan perjalanannya mengelilingi kompleks rumahnya untuk mencari sesuatu yang bisa ia lakukan. Biasanya ia akan melakukan hal-hal yang mengganggu serta merugikan warga sekitar lagi, tetapi hari itu suasana hatinya sedang tidak bernafsu. Ia pun pulang ke rumah saat tak menemukan satu pun hal yang bisa dilakukan. Keesokan harinya, ia terbangun karena suara bising di depan rumahnya. Ia pun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan pergi keluar rumah. Ia melihat tetanggatetangganya sedang berkerumun mengelilingi seorang wanita yang pakaiannya terlihat mewah. Vaya yang bingung pun akhirnya membuka suara. “ Ada apa ini?” tanyanya dengan suara yang lumayan keras. Suara Vaya membuat semua orang di sana berbalik badan dan menatapnya. Warga pun langsung bergumam, “Keluar juga dia.”
Di tengah Vaya yang sedang dilanda kebingungan, wanita yang berpakaian mewah tersebut berjalan melewati para warga dan berhenti tepat di depannya. Wajahnya terlihat marah dan ia berkata, “Kau kan yang mencuri perhiasanku, bocah?” Vaya menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, “Tidak. Saya tidak pernah mencuri apa-apa dari siapa pun.” “Tapi kau yang sembarangan memasuki rumah saya!” seru wanita tersebut dengan marah. Vaya semakin bingung mendengar perkataan wanita itu. Belum sempat ia berkata apa-apa, tiba-tiba seorang pria muda menghampiri mereka berdua. Wanita yang Vaya duga adalah pemilik rumah yang kemarin ia lihat mempersilahkan pria itu untuk mengambil alih. Pria tersebut kemudian mengeluarkan sebuah borgol dan memasangkannya pada kedua pergelangan tangan Vaya. “Kami dari Kepolisian Republik Indonesia menangkap anda sebagai tersangka pencurian di rumah salah satu warga kompleks ini,” ucapnya membuat Vaya terkejut. Aku? pikirnya. Ia melihat mobil polisi yang terparkir tidak jauh dari kerumunan warga dan rumahnya. Ia baru sadar kalau sedari tadi polisi sudah berjaga-jaga di sana. Ia kemudian dibawa polisi tersebut menuju mobilnya dan mereka berangkat ke kantor polisi. Sesampainya di sana, borgol yang dipakaikan kepadanya dilepaskan dan ia didudukkan di depan seorang polisi wanita. Kemudian, Vaya diinterogasi oleh polisi tersebut. Selama interogasinya, Vaya tetap jujur dan mengatakan bahwa ia benar memasuki rumah mewah itu tanpa izin, namun ia tidak mencuri apa pun di rumah itu. Ia saja tidak masuk ke dalam rumah itu sama sekali. Walaupun ia sudah jujur, polisi tersebut tetap saja tidak percaya kepadanya dan membuatnya frustrasi karena tidak ada yang bisa ia gunakan untuk membuktikan ketidakbersalahannya. Ia pun akhirnya bisa dibebaskan dari interogasi yang melelahkan dan menegangkan itu karena polisi laki-laki yang membawanya ke sana tadi. Sampailah ia di sini. Berjalan ke rumahnya setelah menaiki angkutan umum. Saat ia berada di kompleks rumahnya, para warga yang berpapasan dengannya melempar tatapan sinis dan menghindarinya. Tetangganya yang sedang bersama anaknya segera saja menarik anaknya untuk masuk ke dalam rumah ketika melihatnya. Vaya mengalihkan pandangannya pada jalan yang ia pijak. Saat ini ia sedang merenungkan perbuatan dan tingkah lakunya kepada orang di sekitarnya. Vaya baru sadar kalau perilakunya selama ini sangat buruk. Ia tidak tahu malu, tidak sopan, dan kasar dengan orang-orang di sekitarnya, baik yang tua maupun muda. Ia
sangat menyesali tingkah lakunya sekarang. Pantas saja tidak ada yang membelanya, semua tetangganya sudah tahu dan bahkan terbiasa dengan perilaku buruknya. Mungkin ketika mendengar informasi tentang dirinya memasuki rumah Bu Dina dan mencuri barangnya para tetangganya terkejut kalau Vaya benar-benar melakukan sesuatu yang jahat seperti itu. Sampai di rumahnya, Vaya masuk ke dalam dengan lesu. Rasa bersalah dan sedih masih menghantui dirinya. Beberapa menit kemudian, ia memutuskan untuk membersihkan diri. Setelah itu, sisa harinya dihabiskan dengan mengurung diri di rumah, merenungkan segala kesalahannya. Hampir seharian ia tidur dan tidak makan apa-apa dari pagi. Hari sudah menjelang malam dan akhirnya Vaya terbangun dari tidurnya yang ketiga kali. Ia tidak bernafsu melakukan apa-apa, namun tiba-tiba perutnya berbunyi dan mau tak mau ia harus makan. Setelah makan, ia bergegas untuk kembali tidur. Namun, agak sulit untuk kembali tidur karena ia sudah tidur seharian. Ia lalu kembali merenung dan berpikir. Daripada terus-terusan terjerat rasa bersalah seperti ini, ia ingin meminta maaf kepada semua orang yang pernah menjadi korban tingkah buruknya. Ia pun bertekad untuk meminta maaf kepada semua tetangganya di esok hari. Malam pun berlalu, digantikan oleh pagi. Matahari perlahan-lahan menaiki langit, membangunkan hampir semua makhluk yang ada di bumi ini. Dering alarm yang sudah disetel oleh Vaya semalam pun terdengar olehnya, membangunkan dirinya. Segera setelah bangun, ia beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Untuk mengubah perilakunya, pertama-tama ia harus mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang kecil terlebih dahulu, seperti datang terlambat ke sekolah. Setelah siap dan mantap, ia mengambil tasnya dan pergi ke sekolah. Saat berjalan, ia melihat tetangganya yang berada di luar rumah. Ingin ia hampiri, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nomor yang tertera di sana yang pastinya bukan orang yang dia kenal. Namun, ia tetap mengangkat telepon tersebut. Siapa tahu yang menelepon adalah orang yang ia kenal. “Halo?” “Halo, benar ini Vaya?” tanya seseorang wanita di seberang sana. “Iya, benar. Ini dengan siapa, ya?” tanya Vaya kembali. Orang tersebut kemudian menjawab, “Ah, ini polisi yang kemarin menginterogasimu.”
Vaya mengingat wajah polisi itu dan langsung menjawab, “Oh, iya, saya ingat. Ada apa menelepon, Bu?” “Aku ingin memberitahumu kalau pencuri di rumah Ibu Dina sudah ketemu. Ternyata asisten rumah tangganya sendiri yang mencurinya. Kami menemukan perhiasan Bu Dina yang disembunyikan di halaman belakang rumahnya sendiri. Niatnya, ia akan kabur membawa perhiasan itu, tetapi untungnya kami menemukannya di sana. Bu Dina tidak tahu karena ia hanya memeriksa kamar-kamar asisten rumah tangganya,” jelas sang polisi. Vaya menganggukkan kepalanya meski tak terlihat oleh orang yang sedang berbicara dengannya itu di telepon. Ia sangat lega karena pelaku yang sebenarnya sudah ditemukan. Ia juga lega karena sekarang ia bisa membersihkan namanya meskipun tak sepenuhnya. Ia menjawab, “Syukurlah kalau begitu, Bu. Saya turut senang mendengarnya.” Wanita tersebut kemudian berkata, “Maaf ya, kalau kemarin aku terlalu kasar saat menginterogasimu.” “Tidak apa-apa, Bu, sungguh! Saya yang salah. Sikap saya memang sangat jelek dan memang sudah seharusnya saya diberi hukuman. Maafkan saya ya, Bu,” ujar Vaya tulus. “Kalau kau merasa bersalah, minta maaflah kepada orang-orang yang telah kau sakiti. Itu akan membuat mereka setidaknya merasa lebih baik dan kau juga akan merasa lebih lega,” nasihat sang polisi kepada Vaya. “Tenang saja, Bu. Saya memang sudah bertekad untuk meminta maaf.” Percakapan tersebut berakhir dengan baik. Vaya kembali bergegas ingin menghampiri tetangganya yang lain, tetapi ia dihentikan lagi oleh sebuah mobil yang berhenti di depannya. Ia melihat Bu Dina keluar dari mobilnya dan menghampirinya. Pas sekali, pikirnya. Ia memang akan meminta maaf kepada Bu Dina juga. “Maaf ya, Nak. Saya langsung menuduh begitu saja kemarin,” ucap Bu Dina langsung ke inti. Vaya menjawab dengan sungguh-sungguh, “Tidak, Bu. Ibu tidak salah apa-apa. Saya yang bersalah. Saya tidak sopan masuk ke rumah orang begitu saja tanpa izin. Saya benar-benar menyesal, Bu.” Bu Dina tersenyum dan berkata bahwa ia sudah memaafkan Vaya. Ia pun menasihatinya untuk tidak berbuat seperti itu lagi. Vaya mengangguk setuju mendengar
perkataan Bu Dina. Selang beberapa waktu, Bu Dina pun pamit karena ia harus pergi bekerja. Setelah berpisah, Vaya memulai tekadnya lagi untuk meminta maaf. Kedua tetangga yang Vaya lihat tadi sudah tidak ada di sana karena telepon dari polisi dan pertemuannya dengan Bu Dina tadi. Ia menghela napas dan bergegas pergi ke sekolah. Tidak lama berjalan, ia melihat seorang warga lain yang tinggal di kompleks yang sama dengannya. Orang tersebut pernah ia jahili juga dan dia terlihat sedang keesusahan dengan sesuatu. Dengan perasaan gugup, Vaya langsung saja menghampirinya untuk membantu. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyanya lembut. “Iya, ini saya bingung…” perkataannya terputus ketika melihat Vaya yang berdiri di depannya sambil tersenyum. Ia langsung curiga dan menatap Vaya dengan selidik, “Ada apa kau ke sini?” “Saya ingin membantu Bapak,” ucap Vaya. Pria itu masih mempertahankan kecurigaannya terhadap Vaya. Vaya yang diperhatikan seperti itu pun menghela napas dan langsung saja membantu pria itu. Pria itu protes karena Vaya seenaknya saja membantunya. Namun, rentetan katanya terhenti saat melihat Vaya yang ternyata betul-betul hanya sekadar ingin membantu saja. Ia pun memperhatikan Vaya yang pamit kepadanya untuk melanjutkan perjalanannya. Ada apa dengan anak itu? batinnya. Ia melihat Vaya yang ke sana kemari turut membantu orang di sekitarnya yang sedang kesusahan. Ia betul-betul bingung melihat remaja itu. Mengapa ia tiba-tiba berubah seperti itu? Ia tidak tahu apa alasannya, namun ia bisa bilang kalau perubahan sikap Vaya itu tidak terlalu buruk. TAMAT
CERITA PENDEK TENTANG “ ETIKA BELAJAR DARI YANG TIDAK PERNAH ADA “ Pagi itu , aku sedang sarapan denagn sangat tenang, tiba – tiba tersendak kerana aku melihat jam sekarang pukul 7. Aku menggowe sepeda dengan laju. Sialnya gerbang sekolahanku sudah tutup, dan dengan wajah kesal pak satpam berkata kepadaku dibalik pinti gerbang. Lalu dibukakan pintu gerbang sekolah , tapi aku bersama murid lain dihukum berdiri di lapangan basket sehingga jam pertama selesai. Aku melirik pos satpam , tempat dimana laki – laki itu setiap paginya dating dan juga bekerja sampai sore hari tiba. Namanya pak Asep, tapi anak- anak sering memanggil dengan sebutan “MANG ORAY”, aku tak tau dari siapa orang pertama pencetus penggilan tersebut pada pak Asep. Dia memang sangat popular di SMA 1 karena dekat dan ramah dengan murid –murid , khususnya dengan murid – murid laki – laki . “ Dulu , memang pernah sekolah juga seperti kalian , tapi memang tidak dapat melanjutkannya sehingga selesai, karena orang tuanya memang tidak sanggup membiayai Ia bersekolah,” imbuh dengan senyum untuk menutupi rasa sakit yang pernah Ia alami. “ Kalian harus bisa memanfaatkan kesempatan waktu untuk mencari ilmu disini, makanya mamang suka banget marah pada kalian yang suka terlambat masuk,” sambungnya. Dia kemudian masih melanjutkan ceritanya. Ternyata didalam rumahnya dia menyediakan perpustakaan mini untuk para tetangganya yang ingin sekolah, tapi terkendala dengan ekonomi keluarga. Akupun menjadi sangat kagum dengan sosok perjuangan Pak Asep. Ditengah biaya hidup yang kini makin susah , kulit kian semakin keriput serta rambut mulai memutih , dia masih bisa selalu membantu orang – orang di sekitar kita. Terim kasih buat pak Asep telah mengajarkan kami pentingnya mencari ilmu. Pasti disekitar Pak Asep banyak yang suka dengan adanya perpustakaan mini.
Amanat : belajarlah dengan rajin kelak masa depanmu akan cerah,dan janganlah kamu malas belajar agar masa depanmu tidak hancur. Karena banyak sekali yang ingin sekolah tapi terkendala dengan keadaaan ekonomi. Adapula yang harus berhenti sekolah karena tidak sanggup orang tuanya menyekolahkan anaknya. NAMA : ELVIENCHI MULTYA DEWI NIM : 2101422030 KELOMPOL : TANAH LOT PRODI : PEND. BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS : BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2022
SI PENDIAM DAN CEREWET Rani anak yang pandai dan disiplin di sekolah selain pandai ia juga sangat berprestasi, di kelas teman temanya seperti berlomba lomba untuk menjadikan Rani teman dan sahabat mereka, hanya beberapa anak yang langsung dekat dengan Rani yaitu Cahya karena baginya Cahya anak yang sangat aktif untuk berteman dengan orang yang pendiam sepertinya, tentu Rani sangat menerima dan senang dengan pertemanan di kelasnya. Kringggg….. Bunyi bel istirahat berdering semua anak kelar dari kelas bersiap untuk menuju kantin sekolah. “ Ran kamu ikut ga ke kantin? Kamu harus cobain soto bu Siti yang terkenal disekolah dengan porsinya yang banyak itu,ayooo ran.. nanti kita tidak kebagian tempat ” Tanya Cahya pada Rani “ Maaf Cahya, sepertinya untuk tawaran ini aku tidak bisa ikut ke kantin, aku sudah disiapkan bekal dari rumah oleh ibuku” Jawab Rani dengan nada yang halus untuk menolak tawaran Cahya “ ishh…kali ini saja Ran, bekal itu kan bisa dimakan nanti lagi, kesempatan untuk makan soto bu siti sangat susah di dapatkan lagi” Ucap Cahya lagi berusaha untuk membujuk Rani untuk ke kantin “ Maaf, aku tidak bisa Cahya lain waktu saja ya” Jawab Rani merasa tidak enak menolak tawaran Cahya Rani mencoba menjelaskan dengan lembut dan bertutur kata sopan kepada Cahya atas tawaran yang ditolaknya, menurut Rani ia menghargai apa yang sudah di berikan oleh ibunya.Akhirnya Cahya mensetujui tolakan Rani,ia juga merasa sedikit bersalah karena memaksakan untuk mengajak Rani ke kantin, ia pun keluar menuju kantin bersama teman teman lainnya. Siang hari yang cukup membuat tubuh merasa kelelahan dan berkeringat setelah waktu istirahat 30 menit yang diberikan ,murid-murid mulai memasuki kelas lagi untuk mengikuti pelajaran jam terakhir. Pelajaran terakhir ini adalah kegemaran Rani, karena kegemaran Rani membuat cerpen ,novel yang sering dilombakan oleh sekolahnya, bu Rini sebagai guru bahasa Indonesia di kelas Rani
“Baik murid-murid sebelum memulai pelajaran salah satu memimpin untuk berdoa ya” Ucap bu Rini kepada murid-murid Muri - murid mulai mengikuti pembelajaran yang telah diberikan Kringgg….bunyi bel pulang sekolah berdering semua murid-murid mulai mengemasi barangbarang dan keluar dari kelas untuk pulang kerumah masing-masing, hanya beberapa anak yang masih disekolah untuk melanjutkan beberapa kegiatan sekolah. Diluar kelas ada Cahya yang sudah menunggu Rani untuk menawarkan pulang bersama karena rumah mereka satu arah. “Ran..ayo pulang bareng, kamu hari ini gaada kegiatan kan? Jangan terlalu sibuk dehh, sempatin main bareng, kegiatan muluu ga bosen? Ihiihihi” Ujar Cahya dengan nada sedikit kesal Candaan Cahya membuat Rani tersenyum kecil “Baiklah tuan ratu, mari pulang bersama-sama” Dengan nada sedikit merayu, mereka berdua tertawa bersama-sama dengan perkataan Rani seolah-olah mengejek karena Cahya yang sangat cerewet itu. Hari ini, jadwal yang cukup padat untuk kegiatan sepulang sekolah nanti Rani ada janji dengan Ibu untuk membantu mempersiapkan beberapa makanan untuk diantarkan ke masjid dekat rumahnya, karena sebentar lagi akan menyambut tahun baru islam, mengantarkan makanan ke masjid sudah menjadi tradisi turun temurun di kompleks halaman rumah Rani. Setelah berpisah dengan Cahya di tengah jalan, karena Rani akan berbelok menuju ke rumah “Sampai ketemu besok ya Ran, dahhh…” sambil melambaikan tangan kearah Rani “Byee Cahya, sampai ketemu di sekolah besok” melambaikan tangan kearah arah Cahya Rani pun memasuki rumah, dengan pelan-pelan mengetuk pintu “ Tok..tok..tok..Assalamualikum Bu, aku pulang” sambil mengetuk pintu “Ya Ran” ibu menjawab dengan nada tergesa gesa Setelah memasuki rumah, Rani bergegas ke kamar untuk mengganti baju, langsung membantu ibu untuk mempersiapkan keperluan yang akan dibawa ke masjid nanti. Terlihat
ibu sangat kelelahan sejak tadi pagi mempersiapkan ini sendiri, sementara ayah masih bekerja nanti sore akan pulang. Rani pun langsung menuju dapur, dan bertanya “Apa yang perlu aku bantu sekarang bu? Ibu beristirahat lah,sejak pagi tadi ibu pasti belum istirahat, biar Rani saja yang menggantikan pekerjaannya bu” dengan penuh kekhawatiran terhadap ibu karena takut kelelahan seharian bekerja di dapur Ibu pun menjelaskan tugas-tugas apa saja yang harus Rani selesaikan, dan mulai beristirahat sejenak Rani pun mulai mengerjakan yang sudah diperintahkan oleh ibu Langit menjelang sore menandakan malam akan segera berganti, setelah berjam-jam didapur untuk mempersiapkan semuanya makanan sudah ditata rapi di atas meja ,makanan ini harus segera diantarkan ke masjid sebelum adzan maghrib. “Allhamdulillah, selesai juga bu pekerjaan nya” Rani sambil berduduk di depan tumpukan kardus nasi yang sudah tertata rapi di atas meja. “Iya Rann… Allhamdullilah, Terima kasih sudah membantu ibu hari ini yaa, berbersilah dahulu dan langsung istirahat besok kamu masih bersekolah” Ucap Ibu dengan tersenyum kecil kepada rani Sekarang giliran Ayah untuk mengantarkannya ke masjid Adzan Magrib pun tiba, Rani dan ibu sudah selesai membereskan semua peralatan yang digunakan bahan bahan makanan yang berserakan dan membersihkan dapur, hari ini cukup melelahkan tapi juga menyenangkan karena bisa membantu ibu menyelesaikan perkerjaan rumah sampai selesai.
ETIKA DALAM UJIAN Kelas 12, tak terasa dalam sekejap akan menjadi mahasiswa. Apalah arti sebuah mahasiswa? Pintar? Gengsi? Status sosial? Tentunya bagi Bentari adalah sebagai gengsi untuk mengangkat ekonomi orang tuanya. Bentari adalah seorang gadis manis cantik dan pintar dikelasnya. Walau begitu, kepintarannya tidak lepas dari kebiasaan buruknya yaitu belajar SKS (Sistem Kebut Semalam). Bentari tinggal di daerah kaya kecil. Walaupun hidup pas pasan dan gaya hidup sederhana, Bentari memiliki keluarga yang harmonis dan supportif. Suatu malam yang cerah, ketika dia selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya, ibunya dengan rasa ingin tahu bertanya kepadanya, "Apa ujianmu untuk besok?" Tanpa memeriksa buku pegangannya, Bentari dengan percaya diri menjawab, “Ilmu Sosial, Bu.” Ibunya dengan rela menawarkan bantuan, "Biarkan Bentari membimbing seseorang dalam merevisi untuk subjek itu." Bentari sadar bahwa ibunya sedang sibuk dengan sesuatu dan dia tidak ingin mengambil waktu ibunya untuk sesuatu yang bisa dia lakukan sendiri. Jadi dia dengan sopan berkata, “Bentari bisa melakukannya sendiri, Bu. Bentari sangat pandai dalam hal ini! ” Dia bercseseorang. Ketika ibunya membangunkannya keesokan harinya, dia bersemangat untuk pergi ke sekolah untuk mengikuti ujian karena dia sudah siap untuk itu. Dia memiliki antisipasi yang besar untuk hari itu. Dia tahu dia akan membuat ibunya bangga dengan hasil tes. Sebelum dia berangkat ke sekolah, ibunya melambaikan tangan padanya dan berharap dia beruntung. Ketika Bentari pulang, ibunya dengan gembira bertanya, “Bagaimana hasil ujianmu?” Maria mengharapkan jawaban ceria darinya, tetapi Bentari tidak mengatakan sepatah kata pun kepada ibunya. Dia pergi ke kamarnya, duduk di tempat tidurnya dan meletakkan tangannya di wajahnya. Maria mengikutinya dan mendapati dia sangat marah. "Apa masalahnya?" Maria bertanya. Saat Bentari menjelaskan semuanya kepadanya, dia merasa kasihan pada putranya yang malang. Dia tahu bagaimana dia bekerja keras untuk ujian itu, tetapi karena kecerobohannya, semua usahanya hancur seperti gelembung yang meledak di udara tipis. Maria memeluk Bentari dengan erat untuk menghiburnya. Beberapa saat kemudian, Bentari merasa lebih baik dan mengeluarkan buku pegangannya untuk
memeriksa jadwal ujiannya. Kemudian dia berkata, “Bu, maukah Ibu membantu Bentari mencetak salinan jadwal ujian Bentari sehingga Bentari dapat menempelkannya di papan pengumuman di kamar Bentari? Maaf, Bu, jika Bentari terlalu ceroboh. Ini tidak akan pernah terjadi lagi. Bentari baru belajar bahwa kesalahan kecil dapat menyebabkan bencana yang tak terlupakan.” Belajar untuk bangkit kembali dari kegagalan, bahkan yang besar, adalah keterampilan hidup yang penting. Dalam memikirkan kegagalan, Bentari menyadari bahwa ada beberapa cerita yang Bentari ceritakan berulang-ulang, dan itu adalah cerita yang menjelaskan bahwa 1) kegagalan dapat diubah menjadi kesuksesan dan membangun ketahanan dan keterampilan lainnya, dan 2) kegagalan terkadang pesan dari alam semesta yang membantu seseorang memperjelas tujuan seseorang. Ia pun memahami pentingnya untuk jujur dalam mengerjakan ujian, supaya ia mengerjakannya dengan kemampuannya sendiri daripada harus mendapatkan nilai yang bangus hasil dari menyontek. Akan lebih baik jika ia mendapatkan hasil yang pantas didapatnya.
Etika dalam Bermain Media Sosial Twitter. Satu aplikasi yang tidak pernah Hazel absen untuk tidak membukanya. Ia merasa senang saat jarinya berseluncur di atas layar, baik untuk menyimpan meme menarik, maupun membaca cuitan orang. Seperti pagi ini, salah satu topik yang sedang trending berhasil merebut atensinya. Perempuan berdosa di Indonesia, lafalnya dalam hati. Dilihat dari waktunya, sepertinya topik ini sudah trending dari semalam. Jarinya menekan layar guna memutar sebuah video yang sudah lumayan banyak diputar. "Ketika aku mulai kehilangan teman satu demi satu, pun keluarga terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan mereka padaku, disaat itu aku mulai bertanya, apakah aku sungguh layak dibenci?" Tampaknya, perempuan itu berhasil mengguncang seluruh warga Twitter. Perempuan dengan username Jenahara itu tidak melakukan akrobat apa-apa. Ia hanya duduk, merekam dirinya yang menatap sayu ke kamera, sambil bercerita lirih. Tapi di Indonesia, memang kisah kontroversi selalu lebih menarik dari aksi atau prestasi. "Ketika aku memutuskan untuk menceritakan ini pada kalian, sesungguhnya aku sedang berjudi dengan nama baikku. Aku tidak tahu, apakah aku akan mendapatkan dukungan atau menuai hujatan dari kalian. Namun yang harus kalian tahu adalah aku tidak bermaksud menceritakan ini untuk menarik simpati." Disepanjang karier permedia-sosialan warga Indonesia, video-video seperti ini telah biasa muncul menghiasi drama dunia maya. Warga telah khatam dengan motif mereka yang merekam diri lalu mengunggah. Walau mereka mengaku alasannya berbeda-beda, tapi warga yakin muaranya tetap satu, yaitu sensasi, ketenaran dan hal-hal sejenisnya.
Hazel membaca penilaian dari berbagai warga untuk Jenahara. Entah itu menggunakan akun asli atau anonim, mereka serius menulis komentar. lala@vanilala Udah biasa ini mah, sensasi, sensasi, pengen jadi artis dia. ayuuu@akucute Sok ngomong nggak nyari simpati, lah terus ini apaan mbak? Dari cara dia ngomong juga udah jelas, mbaknya minta dikasihani. aku si@priatamvan Cantik juga mbaknya, mukanya jangan sedih gitu dong mbak, sini aku hibur. Hmmmm@anoniman Menurut gue sih mbaknya beneran lagi sedih, liat alisnya nukik ke bawah, itu tanda seseorang lagi sedih. Dari suaranya juga terdengar putus asa. Berkali-kali mbaknya meremas tangan tanda sebenarnya dia tidak nyaman di depan kamera. Duh gue jadi kasihan sama mbaknya. TETAP SEMANGAT MBAK! @user837 replying to @anoniman Sok tau lo. Warga Indonesia semakin larut dalam pembahasan ini dan mulai melabeli Jenahara dengan hal-hal buruk yang melintas di kepala mereka pertama kali, tanpa konfirmasi, tanpa nurani. Walau ada komentar yang baik dan penuh simpati, tapi butuh usaha besar untuk menemukannya. "Aku hanya berharap, kelak mereka yang menghujatku bisa memahami bahwa semua orang berpotensi besar menjadi pembunuh hanya dengan kata-kata."
Hazel refleks mengangguk, ia setuju. "Semoga kelak mereka bisa sadar bahwa bukan hanya tindakanku yang terkategori tidak manusiawi, tetapi ketika mereka meletakkan orang lain di bawah kaki ... yang demikian pun sudah termasuk tindakan yang tidak manusiawi sama sekali. Dan manusia yang tidak melaksanakan prinsip-prinsip kemanusiaan memanglah iblis. Maka pada titik ini, lantas apa bedanya kita?" Hazel jadi semakin ingin tahu, sebesar apa kesalahan yang telah dibuat si Jenahara ini. Tapi Hazel setuju dengan cara perempuan itu berpikir. "Mungkin kalian sudah bertanya-tanya, jika bukan untuk mencari simpati, lalu untuk apa aku berjudi dengan menceritakan semua ini? Kubuat singkat saja agar kalian tidak perlu merasa jijik terlalu lama. Aku perempuan. Diperk*sa. Hamil. Terbuang. Lalu memutuskan, untuk membun*h janinku. Sekarang aku tanya pada kalian, apakah aku ... sungguh layak dibenci?" Hazel sukses membulatkan mata. Sebagai sesama perempuan tentu ia merasa iba dengan Jenahara, tapi jujur ia tidak membenarkan tindakan perempuan itu. Ia kembali gereget setelah membaca komentar salah satu netizen. Harusnya kita semua bisa menjaga jari dalam bermain media sosial. Karena ketikan kita juga bisa berpotensi untuk membunuh mental orang. Bukankah itu salah satu tindakan yang tidak terpuji sama sekali? akuwu@bluesky Mbaknya pasti pas kejadian pake pakaian terbuka ya?
Beretika di Mana Saja dengan Siapa Saja Oleh Evi Nur Mala Sari Alarm jam menunjukkan pukul 05.00 pagi , suara “kring…..” dari bunyi alarm pun terdengar, Mentari mulai terbit dari ufuk timur, burung-burung berkicauan, suara ayam berkokok seakan memberi tahu bahwa pagi sudah datang. Untuk anak sekolah, bangun pagi adalah kewajiban karena mereka harus persiapan untuk sekolah, berbeda dengan bagus, dia anak yatim piatu yang hanya tinggal bersama adiknya bernama Fania, ia bangun pagi bukan untuk persiapan berangkat sekolah, melainkan bekerja untuk bisa mendapat uang dan bisa ia belikan makanan untuk dirinya dan adiknya. Bagus bergegas menuju rumah pak Anton, dia bekerja ikut dengan pak Anton sebagai kernet angkot (sudako) yang berangkat pagi untuk menjemput anak-anak sekolah dan orangorang yang akan berangkat bekerja. “Nak Bagus, kamu datang lagi?” ucap pak Anton. “Nggih bapak, kalo Bagus tidak bekerja, Bagus tidak bisa membeli makan untuk Fania adik Bagus” jawab bagus. Pak Anton merasa tidak tega karena Bagus masih anak berusia 14 tahun dan mau bekerja sebagai kernet dengan dia, dia sudah berkali-kali menolak, namun Bagus tetap teguh ingin bekerja, Pak Anton sudah sering sekali menawarkan makanan dan bantuan untuk Bagus, tapi Bagus menolak, dia tidak enak jika harus diberi bantuan terus menerus. Bagus memang dikenal sebagai anak yang baik, pekerja keras, bertanggung jawab, dan sangat perhatian dengan adiknya, karena ia merasa sekarang hanya dia harapan dari adiknya. Singkat cerita, salah satu dari beberapa anak yang sedang menaiki angkot pak Anton, melihat Bagus yang sedang duduk ditengah pintu angkot menghitung uang yang telah didapat dari penumpang angkot pak Anton, salah satu dari mereka membicarakan Bagus kepada teman temanya, “Untung aku nasibnya ga seperti Bagus, waktu untuk sekolah malah jadi bekerja, bagaimana nanti nasib masa depanya, udah hidup susah gapunya orangtua, keluarga juga gaada yang peduli, ish jangan sampai aku jadi dekat atau temenan sama Bagus, yang ada nyusahin doang nanti” ucap nando kepada teman-temanya lirih, namun masih terdengar oleh bagus. “Ish Nando… gaboleh gitu seharusnya kita malu, Bagus yang masih seumuran kita sudah mau bekerja untuk menghidupi dirinya dan adiknya, sedangkan kita apa? Cuma bisa manja minta kepada orangtua” ucap sellyna teman nando. “ Lhoh karena kita masih punya orangtua ya kita minta gapapa, kalo Bagus kan kan emang udah gapunya orangtua jadi dia gabisa minta minta haha” ucap nando tanpa memikirkan perasaan bagus yang sebenarnya mendengar pembicaraanya. “ Nando!!! Kamu jangan keterlaluan, jaga etikamu ya! Nanti kalo
Bagus dengar gimana? Kamu bisa menyakiti perasaanya” ucap sellyna lirih namun tegas. Setelah beberapa menit, rombongan Nando dan teman-temanya pun sampai di sekolah…. Pelajaran pun dimulai, disela-sela pelajaran, guru PAI selalu mengingatkan atau memberi nasehat kepada murid-muridnya. “ Anak-anak harus selalu ingat ya, menjadi anak yang pintar bukan hanya pintar dalam hal akademik, tapi kalian juga harus pintar dalam beretika, percuma kalian pintar kalau tidak beretika, itu tidak ada artinya, ingat beretika bukan hanya kepada yang lebih tua, dengan teman, adik, kakak, orang-orang sekitar yang kita temui, kita harus mengedepankan etika yang baik, dan perlu diingat lagi, beretika bukan hanya sikap kita saja yang dijaga, omongan kita, perkataan itu juga harus dijaga baik etikanya, jangan sampai hanya dengan ucapan kalian bisa menyakiti perasaan orang lain, ok paham anak-anak?” “Paham buk…” jawab anak-anak secara serentak. Di saat itu, seketika Nando teringat dengan perkataanya di angkot tadi, dia sedikit menyesal telah berbicara seperti itu, kepada Bagus, di dalam hati ia berkata “ kalau Bagus mendengar pembicaraanku tadi, pasti dia sakit hati, duh jadi merasa gaenak sama Bagus’’. Setelah beberapa jam…. Bel pun berbunyi….menandakan telah tiba waktu pulang, Ketika Nando menunggu angkot di tepi jalan untuk pulang, tidak sengaja dari kejauhan dia melihat dan memperhatikan Bagus sedang membantu ibu-ibu tua pengemis yang ingin menyebrang jalan, dan setelah selesai membantu ibu-ibu tak lupa Bagus juga memberi uang kepada ibu-ibu itu, Nando berpkir “kenapa dia ngasih uangnya juga, kan dia juga pasti butuh uang itu, kenapa dia mau membantu, disaat dia hidupnya masih kesulitan?” Setelah melihat kejadian itu, Nando menghampiri Bagus sekaligus ingin menaiki angkotnya pak Anton yang masih berhenti di tepi jalan untuk menunggu penumpang. “Hai Bagus” sapa Nando. “ Oh hai Nando, mau pulang ya? Naik aja angkotnya masih sepi kok masih muat banyak hehe” jawab Bagus. “Iya aku mau naik angkotnya nanti, aku boleh tanya sesuatu sama kamu ga? Tanya Nando. “ Boleh banget nanya apa? Jawab nando. “Hmm tadi aku ga sengaja lihat kamu lagi bantuin ibu-ibu pengemis yang mau nyebrang jalan, selain itu kamu juga ngasih uang kamu ke ibu itu, kenapa kamu kasih uang kamu? Kan kamu juga butuh? Tanya nando. “Selagi aku masih punya uang dan bisa membantu walaupun sedikit, kenapa tidak? Ibuku dulu selalu mengerjakan aku untuk saling membantu dan berbuat baik kepada siapapun nan” jawab bagus. “kamu baik banget, disaat aku yang punya uang saja aku kadang masih mikir-mikir untuk membantu “ tanggapan nando. “Membantu dan berbuat baik kepada siapapun tidak ada salahnya, yang penting niatnya baik” jawab bagus lagi. “ Aku jadi malu sama kamu, walaupun kamu tidak sekolah tapi pemikiran kamu dan etika kamu lebih baik daripada aku, aku jadi sadar bahwa
orang pintar tidak bisa dinilai dari orang yang bersekolah saja, aku juga mau minta maaf sama kamu karena udah berbicara yang tidak baik tentang kamu tadi, aku minta maaf yaa’” ucap nando dengan tulus. “Iya tidak apa-apa aku sudah memaafkanya kok, yang penting jangan diulangi lagi ya? Jawab bagus. “ Jadi kamu benar-benar mendengar pembicaraanku tentang kamu tadi pagi? Tanya nando. “ Iya aku mendengarnya tapi tidak apa-apa aku sudah melupakanya kok hehe’’ jawab bagus. “ terima kasih sudah memaafkan aku Bagus dan sekali lagi aku minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi…” ucap nando. Akhirnya mereka berjabat tangan dan Nandho berjanji tidak akan mengulanginya lagi. TAMAT
BERETIKALAH UNTUK MENYIKAPI MEDIA SOSIAL Hari-hari silih berganti duniapun mulai menginjak masa depan dimana semua orang mengenal alat-alat modern, dikenalkan juga Internet, Media Sosial dan sebagainya. Alat-alat modern ini seperti Gadget, Komputer, Laptop dan lainya semakin banyak diminati orang-orang dikarenakan penggunaannya lebih simple. Pada hari ini Aji berangkat sekolah seperti biasanya membawa buku serta alat tulis lainya, dijalan Aji bertemu Eko “Ehhh eko tugas membuat artikel dari pak Pulan udah dikerjain atau belum?” tanya Aji. Eko menjawab,”lagi proses ini Ji soalnya susah harus buka-buka dan nyari artikel dulu digoogle scholarly, nanti kita harus kewarnet lagi deh Ji”. “Boleh tuh Ko nanti kita kesana aja deh“ jawab Aji. Setibanya mereka disekolahan pembelajaran dimulai seperti biasanya, masuk dipelajaran TIK mereka mendengarkan bahwasanya sekarang makin banyak situs-situs bahaya serta penipuan berkedok hadiah dan penyebaran informasi-informasi hoax, adapun media sosial yang digunakan untuk memprovokasi ujaran kebencian terhadap sesuatu pihak, tetapi Aji tidak memperhatikan itu dia malah asik bermain handphone saat pembelajaran berjalan. “Ehh Eko aku nemu situs judi online loh, tahu tidak jika aku main ini kalo menang bisa dapat uang banyak” ujar Aji. Ekopun menjawab,”Aji jangan main gituan tahu tadi pak ahmad bilang kalo situs judi online gitu situs yang bahaya bisa merugikan bukan menguntungkan, dan itupun namanya juga judi jadi tidak boleh kita main seperti itu“. Aji menjawab “Ahhh tidak peduli aku yang penting aku bisa dapat uang“. Sepulangnya sekolah mereka berdua pergi kewarnet untuk mengerjakan tugas yang diberikan pak Pulan, mereka memanfaatkan fasilitas warnet selayaknya dan sesuai kebutahanya. Haripun berganti Eko menonton tv dan melihat adanya masalah Organisasi A dengan Organisasi B dan salah satu Organisasi tersebut diikuti oleh Aji, dan saat itu juga Eko membuka media sosialnya bahwa Aji telah membuat postingan ujaran kebencian serta ucapan provokator yang mengakibatkan dua Organisasi tersebut kian memanas. “Woyy Aji hapus tidak postingan itu, sudahlah biar mereka-mereka aja yang ngurusin semuanya kita sebagai orang awam atau orang yang tidak begitu tahu permasalahanya jangan ikut campur, bukan meredahkan tapi malah membuat semakin kacau aja, ayolah posting sesuatu hal yang membuat dua Organisasi tersebut kian dingin dan bisa terselesaikan masalahnya”, Ujar Eko membalas postingan Aji. Aji menjawab,” Ehh iya juga ya Ko, oke deh ini aku hapus postinganya”. Dengan Eko berkata seperti itu Ajipun menghapus semua postingan ujaran kebencian tersebut. Pagi harinya Eko dan Aji bertemu kembali dan Aji merasa menyesal dikarenakan uang dia habis untuk bermain judi online. “Eko benar ucapanmu main judi online bukanya banyak uang malah uang tabungku habis semua, nyesal banget aku Ko kenapa ya kemarin tidak ikut ucapanmu” Ujar penyesalan Aji. Eko menjawab,”Tuh kan apa aku bilang makanya dengerin tuh pak Ahmad ngomong, jangan cuman bisanya main HP aja pas lagi pelajaran jadinya kamu tidak tau apa yang pak Ahmad katakan, kita boleh kok main HP main game main medsos tapi jangan pas lagi pelajaran ji, itu sama aja tidak menghargai guru”. “Iya juga ya Ko merasa bersalah banget nyesal aku Ko, sudah ketipu judi online