Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
secara teratur dan
sedini mungkin
Lakukan kunjungan
rumah sesuai dengan
tingkat risiko
Fasilitasi orang tua
dalam memiliki
harapan yang realistis
sesuai tingkat
kemampuan dan
perkembangan anak
Fasilitasi orang tua
dalam menerima
transisi peran
Berikan bimbingan
antisipasi yang
diperlukan sesuai
dengan tahapan usia
perkembangan anak
Fasilitasi oaring tua
dalam mengidentifikasi
temperamen unik bayi
Tingkatkan interaksi
orang tua anak dan
berikan contoh
Fasilitasi orang tua
dalam
mengembangkan dan
memelihara system
dukungan sosial
Sediakan media untuk
mengembangkan
keterampilan
pengasuhan
Fasilitasi orang tua
mengembangkan
keterampilan sosial
dan koping
Fasilitasi mengatur
penitipan anak, jika
perlu
Fasilitasi penggunaan
kontrasepsi
191
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
Edukasi :
Ajarkan orang tua untuk
menanggapi isyarat bayi
8 Penampilan Peran Setelah dilakukan tindakan Dukungan Penampilan
Tidak Efektif keperawatan 3x24 jam Peran
Definisi : diharapkan penampilan Observasi :
Pola perilaku yang berubah peran membaik. Identifikasi berbagai
atau tidak sesuai dengan Kriteria Hasil : peran dan periode
transisi sesuai tingkat
harapan, norma dan 1. Verbalisasi harapan
lingkungan terpenuhi meningkat perkembangan
2. Verbalisasi kepuasan Identifikasi peran yang
Penyebab :
1. Harapan peran tidak peran meningkat ada dalam keluarga
3. Verbalisasi perasaan Identifikasi adanya
realistis
2. Hambatan fisik bingung menjalankan peran yang tidak
3. Harga diri rendah terpenuhi
4. Perubahan citra peran menurun Terapeutik :
4. Perilaku cemas
tubuh menurun Fasilitasi adaptasi
5. Ketidakadekuatan peran keluarga
terhadap perubahan
sistem pendukung peran yang tidak
diinginkan
(support system)
6. Stres Fasilitasi bermain
7. Perubahan peran peran dalam
8. Faktor ekonomi mengantisipasi reaksi
Gejala dan Tanda Mayor orang lain terhadap
perilaku
Subjektif :
Fasilitasi diskusi
Merasa bingung tentang perubahan
menjalankan peran
Merasa tidak terpenuhi
Merasa tidak puas peran
dalam menjalankan Edukasi :
peran Diskusikan perilaku
Objektif : yang dibutuhkan untuk
Konflik peran pengembangan peran
Adaptasi tidak adekuat Diskusikan perubahan
Strategi koping tidak peran yang diperlukan
akibat penyakit atau
efektif ketidakmampuan
Gejala Tanda Minor
Subjektif : Diskusikan strategi
positif untuk mengelola
Merasa cemas perubahan peran
Objektif :
Kolaborasi :
Depresi Rujuk dalam kelompok
Dukungan sosial kurang
192
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
Kurang bertanggung untuk mempejari peran
jawab menjalankan baru
peran
9 Pencapaian Peran Setelah dilakukan tindakan Promosi Antisipasi
Menjadi Orang Tua keperawatan 3x24 jam Keluarga
Definisi : kesiapan peningkatan Observasi :
Terjadinya proses interaktif menjadi orang tua membaik Identifikasi
antar anggota keluarga Kriteria Hasil : kemungkinan krisis
(suami-istri,anggota 1. Bounding attachment situasi atau masalah
keluarga dan bayi) yang meningkat perkembangan serta
ditunjukan dengan 2. Perilaku positif menjadi dampaknya pada
perkembngan bayi yang orang tua meningkat kehidupan pasien dan
optimal 3. Interaksi perawatan keluarga
Gejala dan Tanda Mayor bayi meningkat Identifikasi metode
Subjektif : (-) pemecahan masalah
Objektif : yang sering digunakan
1. Bounding attachment keluarga
optimal. Terapeutik :
2. Perilaku positif Fasilitasi dalam
menjadi orang tua memutuskan strategi
3. Saling berinteraksi pemecahan maslah
dalam merawat bayi yang dihadapi
Gejala dan Tanda Minor keluarga
Subjektif : Libatkan seluruh
Mengungkapkan anggota dalam upaya
kepuasan dengan bayi antisipasi masalah
Objektif : kesehatan, jika
Melakukan stimulasi memungkinkan
visual taktil atau Lakukan kunjungan
pendengaran terhadap
bayi kepada keluarga
secara berkala, jika
perlu
Buat jadwal aktivitas
bersama keluarga
terkait msalah
kesehatan yang
dihadapi
Edukasi :
Jelaskan
perkembangan dan
perilaku yang normal
kepada keluarga
193
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
Kolaborasi :
Kerjasama dengan
tenaga kesehatan
terkait lainnya, jika
perlu
Promosi Pengasuhan
Observasi :
Identifikasi keluarga
risiko tinggi dalam
program tindak lanjut
Monitor status
kesehatan anak dan
status imunisasi anak
Terapeutik :
Dukung ibu menerima
dan melakukan
perawatan prenatal
secara teratur dan
sedini mungkin
Lakukan kunjungan
rumah sesuai dengan
tingkat risiko
Fasilitasi orang tua
dalam memiliki
harapan yang realistis
sesuai tingkat
kemampuan dan
perkembangan anak
Fasilitasi orang tua
dalam menerima
transisi peran
Berikan bimbingan
antisipasi yang
diperlukan sesuai
dengan tahapan usia
perkembangan anak
Fasilitasi orang tua
dalam mendapatkan
dukungan, dan
berpartisipasi dalam
parent group programs
Fasilitasi orang tua
dalam mengembangan
194
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
dan memelihara
system dukungan
sosial
Sediakan media untuk
mengembangkan
keterampilan
pengasuhan
Fasilitasi orang tua
mengembangkan
keterampilan sosial
dan koping
Fasilitasi mengatur
penitipan anak, jika
perlu
Fasilitasi penggunaan
kontrasepsi
Edukasi :
Ajarkan orangtua
untuk menanggapi
isyarat bayi
10 Risiko Gangguan Setelah dilakukan tindakan Promosi Perlekatan
Perlekatan keperawatan 3x24 jam Observasi :
Definisi : diharapkan meningkat Monitor kegiatan
Beresiko mengalami Kriteria Hasil : menyusui
gangguan interaksi antara 1. Mempraktikan perilaku Identifikasi
orang tua atau orang sehat selama hamil kemampuan bayi
terdekat dengan bayi/anak meningkat menghisap dan
menelan ASI
yang dapat mempengaruhi 2. Menyiapakan
proses asah, asih, dan perlengkapan bayi Identifikasi payudara
ibu (mis : bengkak,
asuh sebelum kelahiran putting lecet, mastitis,
nyeri pada payudara)
Penyebab : meningkat
1. Kekhawatiran 3. Verbalisasi perasaan
menjalankan peran positif terhadap bayi Monitor perlekatan
saat menyusui (mis :
sebegai orang tua meningkat aerola bagain bawah
2. Perpisahan antara 4. Mencium bayi lebih kecil dari pada
aerola bagian atas,
ibu dan bayi/anak meningkat mulut bayi terbuka
5. Tersenyum kepada lebar, bibir bayi
akibat hospitalisai terputar keluar dan
3. Penghalang fisik (mis bayi meningkat dagu bayi menempel
6. Melakukan kontak pada payudara ibu)
: inkubator, baby
mata dengan bayi
warmer)
4. Ketidakmampuan meningkat
7. Berbicara kepada bayi
orang tua memenuhi
meningkat
kebutuhan bayi/anak
195
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
5. Perawatan dalam 8. Bermain dengan bayi Terapeutik :
ruang isolasi meningkat Dihindarkan memegang
6. Prematuritas 9. Berespon dengan kepala bayi
7. Penyalahgunaan zat
8. Konflik hubungan isyarat bayi meningkat Diskusikan dengan ibu
10. Kekawatiran masalah selama proses
antara orang tua dan menyusui
menjalankan peran
anak Edukasi :
9. Perilaku bayi tidak orang tua menurun
11. Konflik hubungan Ajarkan ibu menopang
terkoordinasi seluruh bayi
orang tua dan
Anjurkan ibu melepas
bayi/anak menurun pakaian bagian atas
agar bayi dapat
menyentuh payudara
ibu
Anjurkan bayi yang
mendekati kearah
payudara ibu dari
bagian bagian bawah
Anjurkan ibu untuk
memegang payudara
menggunakan jarinya
seperti huruf C pada
posisi kam 12-6 atau
3-9 saat mengarahkan
kemulut bayi
Anjurkan ibu untuk
menyusui menunggu
mulut bayi terbuka
lebar sehingga areola
bagian bawah dapat
masuk sempurna
Ajarkan ibu mengenali
tanda bayi siap
menyusu
Promosi Keutuhan
Keluarga
Observasi:
Identifikasi
pemahaman keluarga
terhadap masalah
Identifikasi adanya
konflik prioritas antar
anggota keluarga
196
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
Identifikasi mekanisme
koping keluarga
Monitor hubungan
antara anggota
keluarga
Terapeutik :
Hargai privasi keluarga
Fasilitasi kunjungan
keluarga
Fasilitasi keluarga
melakukan
pengambilan
keputusan dan
pemecahan masalah
Fasilitasi komunikasi
terbuka antar setiap
anggota keluarga
Edukasi :
Informasikan kondisi
pasien secara berkala
kepada keluarga
Anjurkan anggota
keluarga
mempertahankan
keharmonisan
keluarga
Kolaborasi :
Rujuk untuk terapi
keluarga, jika perlu
11 Risiko Proses Setelah dilakukan tindakan Promosi Keutuhan
Pengasuhan Tidak keperawatan 3x24 jam Keluarga
Efektif diharapkan pemberian Observasi :
Definisi : asuhan membaik Identifikasi
Berisiko mengalami Kriteria Hasil : pemahaman keluarga
proses 1. Terpapar informasi terhadap masalah
kehamilan,Persalinan dan tentang proses Identifikasi adanya
setelah termasuk persalinan/pengasuha konflik prioritas antar
melahairkan perawatan n meningkat anggota keluarga
bayi baru lahir yang 2. Kekerasan dalam Identifikasi mekanisme
tidaka sesuai dengan
konteks norma dan rumah tangga koping keluarga
harapan Monitor hubungan
menurun
3. Stres psikologis antara anggota
197
Bidang Keperawatan menurun keluarga
RSAU dr. Efram Harsana Terapeutik :
Penyebab : Hargai privasi keluarga
1. Kekerasan dalam Fasilitasi kunjungan
rumah tangga keluarga
2. Kehamilan tidak Fasilitasi keluarga
diinginkan/rencanaka melakukan
n pengambilan
3. Kurang terpapar keputusan dan
informasi tentang pemecahan masalah
persalinan/pengasuh Fasilitasi komunikasi
terbuka antar setiap
an anggota keluarga
4. Ketidakbedayaan Edukasi :
maternal Informasikan kondisi
5. Distres psikologis pasien secara berkala
6. Penyalahgunaan kepada keluarga
obat Anjurkan anggota
7. Ketidakadekuatan keluarga
mempertahankan
manajemen ketidak keharmonisan keluarga
nyamanan selama Kolaborasi :
persalinan
8. Akses pelayanan Rujuk untuk terapi
kesehatan sulit keluarga, jika perlu
dijangkau Promosi Perlekatan
9. Kurangnya Observasi :
minat/proaktif dalam Monitor kegiatan
menyusui
proses persalinan
10. Ketidaksesuaian Identifikasi
kemampuan bayi
kondisi bayi dengan menghisap dan
menelan ASI
harapan
11. Ketidakamanan Identifikasi payudara
ibu (mis : bengkak,
lingkungan untuk putting lecet, mastitis,
nyeri pada payudara)
bayi
Monitor perlekatan
saat menyusui (mis :
aerola bagain bawah
lebih kecil dari pada
aerola bagian atas,
mulut bayi terbuka
lebar, bibir bayi
198
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
terputar keluar dan
dagu bayi menempel
pada payudara ibu
Terapeutik :
Hindarkan memegang
kepala bayi
Diskusikan dengan
ibu masalah selama
proses menyusui
Edukasi :
Ajarkan ibu menopang
seluruh bayi
Anjurkan ibu melepas
pakaian bagian atas
agar bayi dapat
menyentuh payudara
ibu
Anjurkan bayi yang
mendekati kearah
payudara ibu dari
bagian bagian bawah
Anjurkan ibu untuk
memegang payudara
menggunakan jarinya
seperti huruf C pada
posisi kam 12-6 atau
3-9 saat mengarahkan
kemulut bayi
Anjurkan ibu untuk
menyusui menunggu
mulut bayi terbuka
lebar sehingga areola
bagian bawah dapat
masuk sempurna
Ajarkan ibu mengenali
tanda bayi siap
menyusu
199
Bidang Keperawatan TUJUAN DAN INTERVENSI
RSAU dr. Efram Harsana KRITERIAHASIL (SIKI)
NO DIAGNOSA (SLKI) Perawatan integritas kulit
KEPERAWATAN Setelah dilakukan tindakan
(SDKI) keperawatan 3 x 24 jam Observasi :
diharapkan integritas kulit 1. Identifikasi
1. Gangguan integritas meningkat dengan kriteria penyebab
kulit hasil: gangguan integritas
Definisi : adalah kulit (perubahan
kerusakan kulit (dermis Elastisitas sirkulasi,
dan/atau epidermis) meningkat perubahan status
atau jaringan nutrisi, penurunan
(membran Hidrasi meningkat kelembaban, suhu
mukosa,kornea, fasia, Perfusi jaringan lingkungan
otot, tendon, tulang, ekstrem,
kartigo, kapsul sendi meningkat penurunan
dan/atau ligamen) Kerusakan kulit mobilitas)
PENYEBAB: menurun Terapeutik :
1. Perubahan Nyeri menurun 1. Ubah posisi tiap
sirkulasi Perdarahan 2jam jika tirah
2. Perubahan status baring
nutrisi menurun 2. Lakukan pemijatan
(kelebihan/ Kemerahan pada area
kekurangan) penonjolan tulang,
3. Kekurangan/ Menurun jika perlu
Kelebihan Hematoma 3. Bersihkan perineal
volume cairan dengan air hangat,
4. Penurunan menurun terutama selama
mobilitas Pigmentasi periode diare
5. Bahan kimia 4. Gunakan produk
iritatif abnormal menurun berbahan
6. Suhu lingkunngan Jaringan parut petrolium atau
Extrim minyak pada kulit
7. Faktor Mekanis menurun kering
atau faktor Nekrosis menurun 5. Gunakan produk
elektris Abrasi kornea berbahan ringan/
8. Efek samping alami dan
terapi radiasi menurun hipoalergik pada
9. Kelembapan Suhu kulit membaik kulit sensitif
10. Proses penuaan Sensasi membaik 6. Hindari produk
11. Neuropati perifer Tekstur membaik berbahan dasar
12. Perubahan alkohol pada kulit
pigmentasi kering
13. Perubahan
hormonal Edukasi :
14. Kurang terpapar 1. Anjurkan
informasi menggunakan
tentang upaya pelembab ( misal;
mempertahanka lotion, serum)
2. Anjurkan minum
air yang cukup
3. Anjurkan
200
Bidang Keperawatan meningkatkan
RSAU dr. Efram Harsana
asupan nutrisi
n / melindungi 4. Anjurkan
integritas
jaringan meningkatkan
buah dan sayur
201
Bidang Keperawatan 5. Anjurkan
RSAU dr. Efram Harsana menghindari
terpapar suhu
GEJALA DAN TANDA ekstrem
MAYOR :
S : (-) 6. Anjurkan
O: menggunakan tabir
surya SPF minimal
1. Kerusakan 30 saat berada di
jaringan dan atau luar rumah
lapisan kulit
7. Anjurkan mandi
GEJALA DAN dan menggunakan
TANDA MINOR : sabun secukupnya
S : (-)
O:
1. Nyeri
2. Perdarahan
3. Kemerahan
4. Hematoma
202
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
2. Hipotermia Setelah dilakukan Manajemen hipotermia
Definisi : adalah suhu tindakankeperawatan 3 x
tubuh meningkat di atas 24 jam diharapkan Observasi :
rentang normal tubuh masalah hipotermia 1. Monitor suhu
teratasi dengan kriteria tubuh
PENYEBAB : hasil: 2. Identifikasi
penyebab
1. Kerusakan Menggigil menurun hipotermia
hipotalamus Kulit merah 3. Monitor tanda
menurun dan gejala akibat
2. Konsumsi alkohol Kejang menurun hipotermia
3. Berat badan ekstrem Akrosianosis
4. Kekurangan lemak menurun Terapeutik :
Konsumsi 1. Sediakan
subkutan oksigen lingkungan yang
5. Terpapar suhu Piloereksi sangat hangat(atur
menurun suhu ruangan,
lingkungan rendah Vasokonstriksi inkubator)
6. Malnutrisi perifer 2. Ganti pakaian
7. Pemakaian pakaian Kutis memorata dan /atau linen
menurun yang basah
tipis Pucat menurun 3. Lakukan
8. Penurunan laju Takikardi penghangatan
menurun pasif(selimut,
metabolisme penutup kepala,
9. Tidak beraktivitas Takipnea pakian tebal)
10. Transfer panas menurun 4. Lakukan
11.Trauma Penghangatan
12.Proses penuaan aktif eksternal
13.Efek agen (kompres hangat,
farmakologis
14.Kurang terpapar
informasi tentang
pencegahan
hipotermia
GEJALA DAN TANDA selimut hangat,
MAYOR : metode kanguru)
S : (-) 5. Lakukan
O:
penghangatan
1. Kulit teraba dingin aktif internal
2. Menggigil (infus cairan
3. Suhu tubuh hangat,oksigen
hangat,lavase
dibawah nilai peritoneal
normal dengan cairan
GEJALA DAN TANDA hangat)
MINOR :
S : (-)
O:
1. Akrosianosis
2. Bradikardi
3. Dasar kuku
sianotik
4. Hipoksia
5. Pengisian kapiler
>3detik
6. Konsumsi oksigean
meningkat
203
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
7. Ventilasi menurun
8. Piloereksi
9. Takikardia
10. Vasokonstriksi
perifer
204
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
11. Kukis Memorata
(pada neonatus)
205
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
3. Perilaku Kekerasan Setelah dilakukan Pencegahan Perilaku
Kekerasan
Definisi : adalah tindakankeperawatan 3 x
kemarahan yang 24 jam diharapkan tanda2 Observasi :
diekspresikan secara perilaku kekerasan 1. Monitor adanya
berlebihan dan tidak menurun dengan kriteria benda yang
terkendali secara verbal hasil: berpotensi
sampai dengan membahayakan
mencederai orang lain Verbalisasi (misal; benda
dan/atau merusak ancaman kepada tajam, tali)
lingkungan orang lain 2. Monitor keamanan
menurun barang yang
PENYEBAB : dibawa oleh
Vebalisasi pengunjung
umpatan menurun 3. Monitor selama
penggunaan
1. Ketidakmampuan Perilaku barang yang
mengendalikan menyerang dapat
dorongan marah menurun membahayakan
(misal; pisau
2. Stimulus Perilaku melukai cukur)
lingkungan diri sendiri /orang
lain menurun Terapuetik :
3. Konflik 1. Pertahankan
interpersonal Perilaku merusak lingkungan bebas
lingkungan sekitar dari bahaya
4. Perubahan status menurun secara rutin
mental 2. Libatkan keluarga
Perilaku agresif dalam perawatan
5. Putus Obat /amuk menurun
6. Penyalahgunaan Edukasi :
Suara keras 1. Anjurkan
zat/ alkohol menurun pengunjung dan
keluarga untuk
GEJALA DAN TANDA Bicara Ketus mendukung
keselamatan
MAYOR : menurun pasien
2. Latih cara
S: mengungkapkan
perasaan secara
1. Mengancam asertif
3. Latih mengurangi
2. Mengumpat kemerahan secara
verbal dan
dengan kata-kata nonverbal (misal :
relaksasi,
kasar bercerita)
3. Suara keras 206
4. Bicara keras
O:
1. Menyerang orang
lain
2. Melukai diri sendiri/
orang lain
3. Merusak
lingkungan
4. Perilaku agresif/
amuk
GEJALA DAN TANDA
MINOR :
S : (-)
O:
1. Mata melotot atau
pandangan tajam
2. Tangan mengepal
3. Rahang mengatup
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
4. Wajah memerah
5. Postur tubuh kaku
207
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
4. Perlambatan Setelah dilakukan Dukungan perawatan diri
Pemulihan Pasca tindakankeperawatan 3 x
Observasi :
Bedah 24 jam diharapkan 1. Identifikasi
kebiasaan aktivitas
Definisi : adalah pemulihan pasca bedah perawatan diri
sesuai usia
pemanjangan jumlah teratasi dengan kriteria 2. Monitor tingkat
kemandirian
hari pasca bedah hasil: 3. Identifikasi
kebutuhan alt bantu
untuk memulai dan Kenyaman kebersihan diri,
melakukan aktivitas meningkat berpakaian,
sehari-hari. berhias, dan makan
Selera makan
Terapeutik :
PENYEBAB: meningkat 1. Sediakan lingkungan
Mobilitas yang terapeutik (
suasana hangat,
1. Skor klasifikasi meningkat rileks, privasi)
status fisik Kemampuan 2. Siapkan keperluan
American Society pribadi(parfum, sikat
of perawatan diri gigi, dan sabun
anesthesiologists meningkat mandi)
(ASA) >3 Kemampuan 3. Dampingi dalam
melanjutkan melakukan
perawatan diri
2. Hiperglikemi pekerjaan sampai mandiri
meningkat 4. Fasilits untuk
3. Edema pada lokasi Kemampuan menerima keadaan
pembedahan bekerja meningkat ketergantungan
Waktu 5. Fasilitas
4. Prosedur penyembuhan kemandirian, bantu
pembedahan menurun jika tidak mampu
ekstensif (luas) Area luka operasi melakukan
membaik perawatan diri
5. Usia ekstrem 6. Jadwal rutinitas
perawatan diri
6. Riwayat
perlambatan Edukasi :
1. Anjurkan melakukan
penyembuhan luka perawatan diri secara
konsisten sesuai
7. Gangguan kemampuan
mobilitas
8. Malnutrisi
9. Obesitas
10. Infeksi luka
perioperatif
11. Mual/ Muntah
persisten
12. Respon emosional
pascaoperasi
13. Perpanjangan
proses operasi
14. Gangguan
psikologis
pascaoperasi
15. Kontaminasi bedah
16. Trauma pada luka
operasi
17. Efek agen
farmakologis
GEJALA DAN TANDA
MAYOR :
S:
208
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
1. Mengeluh tidak
nyaman
209
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
O:
1. Area luka operasi
terbuka
2. Waktu
penyembuhan
yang memanjang
GEJALA DAN TANDA
MINOR :
S:
1. Selera makan
hilang
O:
1. Gangguan
mobilitas
2. Tidak mampu
melannjutkan
pekerjaan
3. Memulai pekerjaan
tertunda
4. Membutuhkan
bantuan untuk
perawatan diri
210
Bidang Keperawatan Setelah dilakukan Pencegahan Alergi
RSAU dr. Efram Harsana tindakankeperawatan 3 x
24 jam resiko alergi Observasi :
5. Resiko Alergi diharapkan dapat teratasi 1. Identifikasi riwayat
Definisi : adalah dengan kriteria hasil: alergi (obat,
beresiko mengalami makanan, debu,
stimulasi respon Gatal lokal udara)
imunitas yang menurun 2. Monitor terhadap
berlebihan akibat reaksi obat,
terpapar alergen Nyeri menurun makanan, lateks,
Sekresi mukus transfusi, darah atau
FAKTOR RESIKO : produk darah atau
1. Makanan (misal: menurun alergen lainnya
alpukat, pisang, Bersin menurun
kiwi, kacang, Eritema lokal Terapeutik :
makanan, olahan 1. Berikan tanda alergi
laut,buah tropis, menurun pada rekam medis
jamur ) Konjungtivitis 2. Pasang gelang tanda
2. Terpapar zat alergi pada lengan
alergen ( misal menurun 3. Hentikan paparan
:zat kimia, agen Rhinitis menurun alergen
farmakologis ) Edema lokal 4. Lakukan tes alergi
3. Terpapar alergen sebelum pemberikan
lingkungan (misal menurun obat
: debu, serbuk
sari) Edukasi :
4. Sengatan 1. Ajarkan menghindari
serangga dan mencegah
paparan alergen
Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan
tenaga kesehatan
dalam pencegahan
alergi (misal; dokter,
ahli gizi)
211
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
6. Resiko Bunuh Diri Setelah dilakukan Pencegahan Bunuh Diri
Definisi : adalah tindakankeperawatan 3 x Observasi :
beresiko melakukan 24 jam resiko bunuh diri
upaya menyakiti diri diharapkan dapat teratasi 1. Identifikasi gejala
sendiri untuk dengan kriteria hasil: risiko bunuh diri
mengakiri hidup. (misal: gangguan
Verbalisasi mood, halusinasi,
ancaman kepada delusi, panik,
penyalahgunaan zat,
FAKTOR RESIKO : orang lain kesedihan, gangguan
menurun kepribadian)
1. Gangguan perilaku Vebalisasi 2. Identifikasi keinginan
(misal: Euforia umpatan menurun dan pikiran renacana
mendadak setelah bunuh diri
depresi, perilaku Perilaku
mencari senjata ) menyerang 3. Monitor lingkungan
menurun bebas bahaya secara
2. Demografi (Misal: rutin9 misal barang
lansia, satatus Perilaku melukai pribadi, pisau cukur,
diri sendiri /orang jendela)
lain menurun
4. Monitor adanya
perceraian, Perilaku merusak perubahan mood
ekonomi rendah, lingkungan sekitar atau perilaku
pengangguramn) menurun
3. Gangguan fisik Terapeutik
(misal: nyeri Perilaku agresif 1. Libatkan dalam
kronis, penyakit /amuk menurun perencanaan
terminal) perawatan mandiri
Suara keras 2. Libatkan keluarga
menurun dalam perencanaan
perawatan
Bicara Ketus 3. Lakukan pendekatan
langsung dan tidak
4. Masalah sosial ( menurun menghakimin saat
membahas bunuh
misal: berduka, diri
4. Berikan
tidak berdaya, lingkungandengan
pengamanan ketat
putus asa, isolasi dan mudah dipantau
( misal: tempat tidur
sosial)
5. Gangguan
Psikologis ( misal:
penganiayaan
masa anak2,
riawayat bunuh diri
sebelumnya,
gangguan/penyakit
212
Bidang Keperawatan dekat ruang perawat)
RSAU dr. Efram Harsana 5. Tingkatkan
psikiatik) pengawasan pada
kondisi tertentu
(misal: rapat staf,
pergantian shift)
6. Lakukan intervensi
perlindungan (misal:
pembatasan area,
pengekangan fisik)
jika diperlukan
7. Hindari diskusi
berulang tentang
bunuh diri
sebelumnya, diskusi
berorientasi pada
masa sekarang dan
masa depan
213
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
7. Resiko Cidera Setelah dilakukan Pencegahan Cedera
Definisi : adalah tindakankeperawatan 3 x Observasi :
1. Identifikasi area
beresiko mengalami 24 jam resiko cidera lingkungan yang
bahaya atau diharapkan dapat teratasi berpotensi
kerusakan fisik yanga dengan kriteria hasil: menyebabkan
menyebabkan Toleransi aktivitas cedera
2. Identifikasi obat yang
meningkat berpotensi
menyebabkan
seseorang tidak lagi Nafsu makan cedera
3. Identifikasi
sepenuhnya sehat meningkat kesesuaian alas kaki
atau stoking elastis
atau dalam kondisi Tolenransi pada ekstremitas
baik. makanan bawah
meningkat
Terapeutik :
FAKTOR RESIKO : Kejadian cidera 1. Sediakan
pencahayaan yang
Eksternal : menurun memadai
1. Terpapar Luka/Lecet 2. Gunakan lampu tidur
selama jam tidur
menurun 3. Sosialisasikan pasien
dan keluarga dengan
patogen Ketegangan otot lingkungan ruang
rawat(misal
2. Terpapar zat menurun penggunaan telepon,
tempat tidur,
kimia toksik Ekspresi wajah penerangan, dan
3. Terpapar agen kesakitan kamar mandi)
menurun 4. Gunkana alas lantai
nosokomial jika beresiko
4. Ketidakamanan Gangguan mengalami cedra
mobilitas serius
transportasi menurun 5. Sediakan alas kaki
anti slip
Internal : Gangguan kognitif
menurun 6. Sediakan pispot atau
1. Ketidaknormal Tekanan darah urinal untuk
an profil darah membaik meliminasi di tempat
tidur, jika perlu
2. Perubahan Frekuensi nadi 7. Pastikan Bel
orientasi membaik panggilan atau
afektif telepon mudah
Frekuensi napas dijangkau
3. Perubahan membaik 8. Pastikan barang2
sensasi pribadi mudah
Pola istirahat dijangkau
membaik 9. Pertahankan posisi
tempat tidur di posisi
4. Disfungsi
autoimun
5. Disfungsi
biokimia
6. Hipoksia
jaringan
7. Kegagalan
mekanisme
pertahanan
tubuh
8. Malnutrisi
9. Perubahan
fungsi
psikomotor
10. Perubahan
214
Bidang Keperawatan terendah saat
RSAU dr. Efram Harsana
digunakan
fungsi kognitif 10. Pastikan roda tempat
tidur atau kursi roda
dalam kondisi
terkunci
11. Gunakan pengaman
tempat tidur sesuai
dengan kebijakan
fasilitas pelayanan
kesehatan
215
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
12. Pertimbangkan
penggunaan alarm
elektronik pribadi
atau alarm sensor
pada tempat tidur
atau kursi
13. Diskusikan mengenal
latihan dan terapi
fisik yang diperlukan
14. Diskusikan mengenai
alat bantu mobilitas
yang sesuai (misal
tongkat alat bantu
jalan)
15. Diskusikan bersama
anggota keluarga
yang dapat
mendampingi pasien
216
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
8. Resiko Cidera pada Ibu Setelah dilakukan Pencegahan Cedera pada
Definisi : adalah tindakankeperawatan 3 x ibu
beresiko mengalami 24 jam resiko cidera pada
bahaya atau kerusakan ibu diharapkan teratasi Observasi :
fisik pada ibu selama dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi area
masa kehamilan Toleransi aktivitas
lingkungan yang
meningkat
berpotensi
sampai dengan proses Nafsu makan menyebabkan
persalinan meningkat cedera
FAKTOR RESIKO : Tolenransi 2. Identifikasi obat yang
makanan berpotensi
Eksternal : meningkat menyebabkan
1. Besarnya ukuran Kejadian cidera
bayi cedera
menurun 3. Identifikasi
Luka/Lecet
kesesuaian alas kaki
2. Malposisi janin menurun atau stoking elastis
3. Induksi persalinan Ketegangan otot pada ekstremitas
4. Persalinan lama menurun bawah
kal I,II,dan III Ekspresi wajah Terapeutik :
5. Disfungsi uterus kesakitan 1. Sediakan
6. Efek metode/ menurun
pencahayaan yang
intervensi bedah Gangguan
selama persalinan mobilitas memadai
7. Kurangnya menurun 2. Gunakan lampu
dukkungan
keluarga dan Gangguan kognitif tidurselama jam
orang tua menurun
8. Kurang tidur
adekuatnya Tekanan darah 3. Sosialisasikan pasien
observasi dan membaik
antisipasi dan keluarga dengan
9. Keterlambatan Frekuensi nadi
pengambilan membaik lingkungan ruang
keputusan dan
manajeman Frekuensi napas rawat(misal
10. Skrining dan membaik
penggunaan telepon,
Pola istirahat
membaik tempat tidur,
penerangan, dan
kamar mandi)
4. Gunkana alas lantai
jika beresiko
mengalami cedera
serius
5. Sediakan alas kaki
perawatan anti slip
prenatal yang
adekuat 6. Sediakan pispot atau
11. Kecemasan
berlebihan pada urinal untuk
proses
meliminasi di tempat
tidur, jika perlu
7. Pastikan Bel
panggilan atau
persalinan telepon mudah
12. Riwayat Cedera dijangkau
217
Bidang Keperawatan 8. Pastikan barang2
RSAU dr. Efram Harsana pribadi mudah
dijangkau
pada persalinan
sebelumnya 9. Pertahankan posisi
13. Usia ibu (<15th
218
Bidang Keperawatan tempat tidur di posisi
RSAU dr. Efram Harsana terendah saat
atau >35th) digunakan
14. Paritas banyak 10. Pastikan roda tempat
15. Perubahan
tidur atau kursi roda
Hormonal dalam kondisi
16. Perubahan
terkunci
postur tubuh 11. Gunakan pengaman
17. Ketuban Pecah tempat tidur sesuai
18. Proses infeksi
19. Penyakit dengan kebijakan
penyerta fasilitas pelayanan
20. Masalah
kesehatan
kontraksi 12. Pertimbangkan
penggunaan alarm
elektronik pribadi
atau alarm sensor
pada tempat tidur
atau kursi
13. Diskusikan mengenal
latihan dan terapi
fisik yang diperlukan
14. Diskusikan mengenai
alat bantu mobilitas
yang sesuai (misal
tongkat alat bantu
jalan)
15. Diskusikan bersama
anggota keluarga
yang dapat
mendampingi pasien
219
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
9. Resiko Cidera pada Setelah dilakukan Pencegahan Cedera pada
janin tindakankeperawatan 3 x janin
Definisi : adalah 24 jam resiko cidera pada Observasi :
beresiko mengalami janin diharapkan teratasi 1. Identifikasi status
bahay atau kerusakan dengan kriteria hasil:
fisik pada janin selama Toleransi aktivitas obstetrik
2. Identifikasi riwayat
meningkat
proses kehamilan dan Nafsu makan obstetrik
persalinan. meningkat 3. Identifikasi adanya
FAKTOR RESIKO : Tolenransi penggunaan obat,
makanan diet, dan merokok
1. Besar ukuran meningkat 4. Identifikasi
janin Kejadian cidera pemeriksaan
2. Malposisi menurun kehamilan
Janin Luka/Lecet
sebelumnya
menurun 5. Periksa denyut
3. Induksi Ketegangan otot jantung janin selama
persalinan menurun 1 menit
4. Persalinan Ekspresi wajah 6. Monitor denyut janin
7. Monitor tanda vital
lama kala I, II, kesakitan
dan III menurun ibu
5. Disfungsi Gangguan
uterus mobilitas Terapeutik :
6. Kecemasan menurun 1. Atur posisi pasien
Gangguan kognitif 2. Lakukan Manuver
yang menurun Leopoid untuk
berlebihan Tekanan darah menentukan posisi
tentang membaik janin
proses
persalinan Frekuensi nadi Edukasi :
7. Riwayat membaik 1. Jelaskan tujuan dan
prosedur
Frekuensi napas
membaik
persalinan Pola istirahat pemantauan
sebelumnya membaik
2. Informasikan hasil
8. Usia ibu (<15 pemantauan, jika
th atau >35th) perlu
9. Paritas
banyak
10. Efek metode/
intervensi
beadh selama
persalinan
11. Nyeri pada
abdomen
12. Nyeri pada
jalan lahir
13. Penggunaan
alat bantu
persalinan
14. Kelelahan
15. Merokok
16. Efek agen
220
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
farmakologis
17. Pengaruh
Budaya
221
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
18. Pola makan
yang tidak
sehat
19. Faktor
ekonomi
20. Konsumsi
alkohol
21. Terpapar agen
teratogen
222
Bidang Keperawatan Setelah dilakukan Perawatan integritas kulit
RSAU dr. Efram Harsana tindakankeperawatan 3 x
24 jam resiko ganguan Observasi :
10. Resiko Gangguan integritas kulit diharapkan 1. Identifikasi penyebab
Integritas Kulit teratasi dengan kriteria gangguan integritas
Definisi : adalah hasil: kulit (perubahan
beresiko mengalami sirkulasi, perubahan
keruskan kulit (dermis Elastisitas status nutrisi,
dan/atau epidermis) meningkat penurunan
atau jaringan kelembaban, suhu
(membran mukosa, Hidrasi meningkat lingkungan ekstrem,
korne, fasia, otot, Perfusi jaringan penurunan mobilitas)
tendon, tulang,
kartilago, kapsul sendi meningkat Terapeutik :
dan/atau ligamen) Kerusakan kulit 1. Ubah posisi tiap 2jam
jika tirah baring
FAKTOR RESIKO : menurun
1. Perubahan Nyeri menurun 2. Lakukan pemijatan
sirkulasi Perdarahan
2. Perubahan pada area penonjolan
status nutrisi menurun tulang, jika perlu
(kelebihan/ Kemerahan 3. Bersihkan perineal
kekurangan) dengan air hangat,
3. Kekurangan/ Menurun terutama selama
Kelebihan Hematoma periode diare
volume cairan 4. Gunakan produk
4. Penurunan menurun berbahan petrolium
mobilitas Pigmentasi atau minyak pada kulit
5. Bahan kimia kering
iritatif abnormal menurun 5. Gunakan produk
6. Suhu Jaringan parut berbahan ringan/
lingkunngan alami dan hipoalergik
Extrim menurun pada kulit sensitif
7. Faktor Nekrosis menurun 6. Hindari produk
Mekanis atau Abrasi kornea berbahan dasar
faktor elektris alkohol pada kulit
8. Terapi radiasi menurun kering
9. Kelembaban Suhu kulit
Edukasi :
10. Proses membaik 1. Anjurkan
penuaan Sensasi membaik menggunakan
Tekstur membaik pelembab ( misal;
11. Neuropati lotion, serum)
perifer 2. Anjurkan minum air
yang cukup
12. Perubahan 3. Anjurkan
pigmentasi meningkatkan asupan
nutrisi
13. Perubahan 4. Anjurkan
hormonal meningkatkan buah
dan sayur
14. Penekanan 5. Anjurkan menghindari
pada tonjolan terpapar suhu ekstrem
tulang 6. Anjurkan
menggunakan tabir
15. Kurang surya SPF minimal
223
Bidang Keperawatan 30saat berada di luar
RSAU dr. Efram Harsana rumah
terpapar
informasi
tentang upaya
224
Bidang Keperawatan 7. Anjurkan mandi dan
RSAU dr. Efram Harsana menggunakan sabun
secukupnya
mempertahank
an/ melindungi
integritas
jaringan
225
Bidang Keperawatan Setelah dilakukan Manajemen Hipotermia
RSAU dr. Efram Harsana tindakankeperawatan 3 x
24 jam resiko hipotermia Observasi :
11. Resiko Hipotermia diharapkan teratasi 1. Monitor suhu tubuh
Definisi : adalah dengan kriteria hasil: 2. Identasi penyebab
beresiko mengalami hipotermia(misal:
kegagalan Menggigil menurun terpapar suhu
termoregulasi yang Kulit merah lingkungan
dapat mengakibatkan rendah,pakaian tipis)
suhu tubuh berada menurun 3. Monitor tanda dan
dibawah rentang Kejang menurun gejala akibat
normal. Akrosianosis hipotermia(misal:
takipnea, menggigil,
FAKTOR RESIKO : menurun diuresis,aritmia,
Konsumsi oksigen hipotensi,apatis,
1. Berat badan reflek menurun,
Ekstrem menurun edema paru,
Piloereksi menurun oliguria)
2. Kerusakan Vasokonstriksi
hipotalamus Terapeutik :
perifer menurun 1. Sediakan lingkungan
3. Konsumsi Kutis memorata yang hangat
alkohol 2. Ganti pakaian dan
menurun /atau linen yang
4. Kurangnya Pucat menurun basah
lapisan lemak Takikardi menurun 3. Lakukan
subkutan Takipnea menurun penghangatan pasif(
Bradikardi misal: selimut,
5. Suhu menutup kepala,
lingkungan menurun pakaian tebal)
rendah Dasar kuku 4. Lakukan
penghangatan aktif
6. Malnutrisi sianolik menurun eksternal (misal
7. Pemakaian Hipoksia menurun :kompres hangat,
Suhu tubuh botol hangat, selimut
pakaian tipis hangat, perawatan
8. Penurunan membaik metode kanguru)
Suhu kulit 5. Lakukan
Laju penghangatan aktif
metabolisme membaik internal(misal :infus
9. Terapi radiasi Kadar glukosa hangat, oksigen
10. Tidak hangat, lavase
beraktifitas darah membaik peritoneal dengan
11. Transfer panas Pengisian kapiler cairan hangat)
12. Trauma
13. Prematuritas membaik
14. Penuaan Ventilasi membaik
15. Bayi baru lahir Tekanan darah
16. Berat badan
rendah membaik
17. Kurang
terpapar Edukasi :
informasi 1. Anjurkan makan/
tentang minum hangat
pencegahan
hipotermia
18. Efek agen
226
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
farmakologi
227
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
12. Resiko Hipotermia Setelah dilakukan Manajemen Hipotermia
Perioteratif tindakankeperawatan 3 x
Definisi : adalah 24 jam resiko hipotermia Observasi :
beresiko mengalami perioteratif diharapkan 1. Monitor suhu tubuh
penuurnan suhu tubuh teratasi dengan kriteria 2. Identasi penyebab
dibawah 36C secara hasil: hipotermia(misal:
tiba-tiba yang terjadi terpapar suhu
stau jam sebelum Menggigil menurun lingkungan
pembedahan hingga Kulit merah rendah,pakaian tipis)
24 jam setelah 3. Monitor tanda dan
pembedahan. menurun gejala akibat
Kejang menurun hipotermia(misal:
FAKTOR RESIKO : Akrosianosis takipnea, menggigil,
diuresis,aritmia,
1. Prosedur menurun hipotensi,apatis,
pembedahan Konsumsi oksigen reflek menurun,
edema paru,
2. Kombinasi menurun oliguria)
anastesi regional Piloereksi menurun
dan umum Vasokonstriksi Terapeutik :
1. Sediakan lingkungan
3. Skor american perifer menurun yang hangat
Society of Kutis memorata 2. Ganti pakaian dan
Anestesiologist /atau linen yang
(ASA) >1 menurun basah
Pucat menurun 3. Lakukan
4. Suhu pra-operasi Takikardi menurun penghangatan pasif(
rendah (<36 C) Takipnea menurun misal: selimut,
Bradikardi menutup kepala,
5. Berat badan pakaian tebal)
rendah menurun 4. Lakukan
Dasar kuku penghangatan aktif
6. Neuropati eksternal (misal
diabetik sianolik menurun :kompres hangat,
Hipoksia menurun botol hangat, selimut
7. Komplikasi Suhu tubuh hangat, perawatan
kardiovaskuler metode kanguru)
membaik 5. Lakukan
8. Suhu lingkungan Suhu kulit penghangatan aktif
rendah internal(misal :infus
membaik hangat, oksigen
9. Transfer panas Kadar glukosa hangat, lavase
(mis : volume peritoneal dengan
tinggi infus yang darah membaik cairan hangat)
tidak Pengisian kapiler
dihangatkan,
irigasi >2 liter membaik
yang tidak Ventilasi membaik
dihangatkan Tekanan darah
membaik
Edukasi :
1. Anjurkan makan/
minum hangat
228
Bidang Keperawatan Setelah dilakukan Pencegahan Infeksi
RSAU dr. Efram Harsana tindakankeperawatan 3 x
24 jam resiko Infeksi Observasi :
13. Resiko Infeksi diharapkan teratasi 1. Monitor tanda dan
Definisi : adalah dengan kriteria hasil: gejala infeksi lokal
beresiko mengalami dan sistemik
peningkatan terserang Kebersihan badan
organisme patogenik. meningkat Terapeutik :
1. Batasi jumlah
FAKTOR RESIKO : Nafsu makan pengunjung
1. Penyakit kronis( meningkat 2. Berikan perawatan
kulit pada area
mis. Demam menurun edema
Diabetes militus) Kemerahan 3. Cuci tangan sebelum
2. Efek prosedur dan sesudah kontak
infasif menurun dengan pasien dan
3. Malnutrisi Nyeri menurun lingkungan pasien
4. Peningkatan Bengkak menurun 4. Pertahankan teknik
paparan Kadar sel darah aseptik pada pasien
organisme beresiko tinggi
patogen putih membaik
lingkungan Kultur darah Edukasi :
5. Ketidak adekuatan 1. Jelaskan tanda dan
pertahanan tubuh membaik gejala infeksi
primer: Kultur urine / feses 2. Ajarkan cara
mencuci tangan
a.Gangguan membaik dengan benar
Kultur area luka 3. Ajarkan etika batuk
peristaltik 4. Ajarkan cara
b.Kerusakan membaik memeriksa kondisi
integritas kulit luka atau luka
Kultur sputum operasi
c.Perubahan membaik 5. Ajarkan
sekresi meningkatkan
pH asupan nutrisi
d.Penurunan 6. Ajarkan
kerja meningkatkan
siliaris asupan cairan
e. Ketuban
pecah Kolaborasi :
lama 1. Kolaborasi
f. Ketuban pecah pemberian imunisasi,
sebelum jika perlu
waktunnya
g. Merokok 229
h. Statis cairan
tubuh
6. Ketidak adekuatan
pertahanan tubuh
sekunder:
a. Penurunan Hb
b.Imununosupresi
c. Leukopenia
d. Supresi respon
inflamasi
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
e. Vaksinisasi
tidak adekuat
230
Bidang Keperawatan Setelah dilakukan Pencegahan Jatuh
RSAU dr. Efram Harsana tindakankeperawatan 3 x
24 jam resiko jatuh Observasi :
14. Resiko Jatuh diharapkan dapat teratasi 1. Identifikasi Faktor
Definisi : adalah dengan kriteria hasil: risiko
beresiko mengalami jatuh (mis. usia >65
kerusakan fisik dan Jatuh dari tempat tahun,
gangguan kesehatan tidur dari penurunan tingkat
akibat terjatuh. skala 1 (meningkat) kesadaran, defisit
menjadi skala 4 kognitif,
FAKTOR RESIKO : (cukup hipotensi ortostatik,
menurun) gangguan
1. Usia >65 tahun keseimbangan,
(pada Jatuh saat berdiri gangguan
dewasa) atau < dari penglihatan,
2 tahun skala 1 (meningkat) neuropati)
(pada anak) menjadi skala 4 2. Identifikasi faktor
(cukup lingkungan yang
2. Riwayat jatuh menurun) meningkatkan risiko
3. Anggota gerak jatuh
Jatuh saat duduk (mis. lantai licin,
bawah dari skala penerangan kurang)
prostetis 1 (meningkat) 3. Monitor kemampuan
(buatan) menjadi berpindah dari
4. Penggunaan skala 4 (cukup tempat tidur
alat bantu menurun) ke kursi roda dan
berjalan sebaliknya
5. Penurunan Jatuh saat berjalan
tingkat dari Terapeutik :
kesadaran skala 1 (meningkat) 1. Orientasikan
6. Perubahan menjadi skala 4 Ruangan pada
fungsi kognitif (cukup pasien dan keluarga
7. Lingkungan menurun) 2. Pastikan roda tempat
tidak aman tidur
(mis.licin,gelap, Jatuh saat dan kursi roda selalu
lingkunga dipindahkan dalam
n asing) dari skala 1 kondisi terkunci
8. Kondisi pasca (meningkat) 3. Pasang handrall
operasi menjadi skala 4 tempat
9. Hipotensi (cukup tidur
ortostatik menurun) 4. Tempatkan pasien
10. Perubahan berisiko
kadar glukosa Jatuh saat tinggi jatuh dekat
darah naiktangga dengan
11. Anemia dari pantauan perawat
12. Kekuatan otot skala 1 (meningkat) dari nurse
menurun menjadi skala 4 station
13. Gangguan (cukup 5. Gunakan alat bantu
Pendengaran menurun) berjalan (misal: kursi
14. Gangguan roda, walker)
keseimbangan Jatuh saat di kamar
15. Gangguan mandi Edukasi :
penglihatan dari skala 1 1. Anjurkan memanggil
(mis.glaukoma, (meningkat) perawat jika
menjadi skala 4 membutuhkan
(cukup
menurun) 231
Jatuh saat
membungkuk
Bidang Keperawatan bantuan untuk
RSAU dr. Efram Harsana
berpindah
katarak, ablasio 2. Anjurkan
retina,neuritis
optikus) menggunakan alas
232
Bidang Keperawatan dari skala 1 kaki yang tidak licin
RSAU dr. Efram Harsana (meningkat) 3. Ajarkan cara
menjadi skala 4
16. Neuropati (cukup menurun) menggunakan
17. Efek agen bel pemanggil untuk
memanggil perawat
farmakologis
(misal: sedatif,
anastesi
umum)
233
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
15. Resiko Luka Tekan Setelah dilakukan Pencegahan Luka Tekan
Definisi : adalah tindakankeperawatan 3 x
beresiko mengalami 24 jam resiko luka tekan Observasi :
cedera lokal pada kulit diharapkan dapat teratasi 1. Periksa Luka Tekan
dan/atau jaringan, dengan kriteria hasil: dengan
biasanya pada tonjolan menggunakan skala(
tulang akibat tekanan Elastisitas mis: skala noton,
dan/atau gesekan. meningkat skala braden)
2. Periksa adanya luka
FAKTOR RESIKO : Hidrasi meningkat tekan sebelumnya
1. Skor skala Perfusi jaringan 3. Monitor suhu kulit
yang tertekan
Braden Q<16 meningkat 4. Monitor berat badan
(anak) atau Kerusakan kulit dan perubahannya
skor skala 5. Monitor status kulit
Braden Q<18 menurun harian
(dewasa) Nyeri menurun 6. Monitor ketat di
2. Perubahan Perdarahan atastonjolan tulang
fungsi kognitif atau titik tekan saat
3. Perubahan menurun mengubah posisi
sensasi Kemerahan 7. Monitor sumber
4. Skor ASA tekanan dan gesekan
(American in Menurun 8. Monitor dan aktivitas
Sensation Hematoma individu
Anethesiologist
)>2 menurun Terapeutik :
5. Anemia Pigmentasi 1. Keringkan daerah
6. Penurunan kulit yang lembab
mobilitas abnormal menurun akibat keringat,
7. Penurunan Jaringan parut cairan luka,dan
kadar albumin inkontinensia fekal
menurun atau urin
Nekrosis menurun 2. Gunakan barier
Abrasi kornea seperti lotion atau
bantalan penyerap
menurun air
Suhu kulit membaik 3. Ubah posisi dengan
Sensasi membaik hati2 setiap 1-2 jam
Tekstur membaik 4. Buat jadwal
perubahan posisi
8. Penurunan 5. Jaga seprei tetap
oksigen kering, bersih, dan
jaringan tidak ada
kerutan/lipatan
9. Penurunan
perfusi jaringan 6. Gunakan kasur
10. Dehidrasi khusus, jika perlu
11. Kulit kering 7. Hindari pemijatan
12. Edema
13. Peningkatan diatas tonjolan tulang
8. Hindari pemberian
suhu kulit 1-2 C
14. Periode lotion pada daerah
yang luka atau
imobilisasi kemerahan
yang lama 9. Hindari penggunaan
diatas air hangat dan sabun
permukaan
yang keras 234
(mis: prosedur
operasi>2 jam)
Bidang Keperawatan keras saat mandi
RSAU dr. Efram Harsana 10. Pastikan asupan
15. Usia > 65th makanan yang cukup
16. Berat badan terutama protein, vit
lebih
235
Bidang Keperawatan B,dan C, zat besi,
RSAU dr. Efram Harsana dan kalori
17. Fraktur tungkai Edukasi :
18. Riwayat stroke 1. Jelaskan tanda2
19. Riwayat luka kerusakan kulit
2. Anjurkan melapor
tekan jika menemukan
20. Riwayat trauma tanda2 kerusakan
21. Hipertermi kulit
22. Inkontinensia 3. Ajarkan cara
23. Ketidakadekuat merawat kulit
an nutrisi
24. Skor RAPS
(Risk
Assasment
Pressure
Score) rendah
25. Klasifikasi
fungsional
NYHA (New
York Heart
Association) >2
26. Efek agen
farmakologi
(mis : anastesi
umum,
antidepresan)
27. Imobilisasi fisk
28. Penekanan di
atas tonjolan
tulang
29. Penurunan
tebal lipatan
kulit trisep
30. Kulit bersisik
31. Gesekan
permukaan
kulit
236
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
16. Resiko Mutilasi Diri Setelah dilakukan Perilaku positif
Definisi : adalah tindakankeperawatan 3 x
beresiko sengaja 24 jam resiko mutilasi diri Observasi :
mencederai diri yang dapat teratasi dengan 1. Identifikasi
menyebabkan kriteria hasil: kemampuan mental
kerusakan fisik untuk dan kognitif untuk
memperoleh pemulihan Verbalisasi membuat kontrak
ancaman kepada 2. Identifikasi cara dan
orang lain menurun sumber daya terbaik
untuk mencapai
ketegangan. Verbalisasi umpatan tujuan
3. Identifikasi hambatan
FAKTOR RESIKO : menurun dalam menerapkan
Perilaku menyerang perilaku positif
4. Monitor pelaksanaan
1. Perkembangan menurun perilaku
remaja Perilaku melukai diri ketidaksesuaian dan
kurang komitmen
2. Individu autistik sendiri/orang lain untuk memenuhi
3. Gangguan menurun kontrak
Perikalu merusak
kepribadian lingkungan sekitar Terapeutik :
1. Ciptakan lingkungan
4. Penyakit menurun yang terbuka untuk
keturunan Perilaku membuat kontrak
perilaku
5. Penganiayaan agresif/amuk 2. Fasilitas pembuatan
(mis : fisik, menurun kontrak tertulis
psikologi, Suara keras 3. Diskusikan perilaku
seksual) menurun kesehatan yang ingin
Bicara ketus diubah
6. Gangguan menurun 4. Diskusikan tujuan
positif jangka pendek
hubungan dan jangka panjang
yang realistis dan
interpersonal dapat dicapai
5. Diskusikan
7. Perceraian pengembangan
rencana perilaku
keluarga positif
6. Diskusikan cara
8. Keterlambatan mengamati perilaku
perkembangan 7. Diskusikan
9. Riwayat penghargaan yang
diinginkan ketika
perilaku tujuan tercapai, jika
perlu
mencederai diri 8. Diskusikan
konsekuensi atau
10. Ancaman sanksi tidak
memenuhi kontrak
kehilangan 9. Tetapkan batas
waktu yang
hubungan yang dibutuhkan untuk
melaksanakan
bermakna
237
11. Ketidakmampuan
menggungkapkan
ketegangan
secara verbal
12. Ketidakmampu
an mengatasi
masalah
13. Harga diri
rendah
14. Peningkatan
ketegangan
yang tidak
dapat
Bidang Keperawatan tindakan yang
RSAU dr. Efram Harsana
realistis
ditoleransi 10. Fasilitas meninjau
238
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
ualng kontrak dan
tujuan, jika perlu
11. Pastikan kontrak
ditandatangani oleh
semua pihak yang
terlibat, jika perlu
12. Libatkan keluarga
dalam proses
kontrak, jika perlu
Edukasi :
1. Anjurkan menuliskan
tujuan sendiri, jika
perlu
239
Bidang Keperawatan
RSAU dr. Efram Harsana
17. Resiko Perilaku Setelah dilakukan Pencegahan perilaku
Kekerasan tindakankeperawatan 3 x kekerasan
Definisi : adalah 24 jam resiko perilaku
beresiko kekerasan dapat teratasi Observasi :
membahayakan secara dengan kriteria hasil: 1. Monitor adanya
fisik, emosi dan/atau benda yang
seksual pada diri Verbalisasi berpotensi
sendiri atau orang lain ancaman kepada membahayakan(mi
orang lain menurun s. Benda tajam)
FAKTOR RESIKO : 2. Monitor keamanan
Verbalisasi umpatan barang yang
1. Pemikiran menurun dibawa pengunjung
waham/delusi 3. Monitor selama
Perilaku menyerang penggunaan
2. Curiga pada menurun barang yang dapat
orang lain membahayakan
Perilaku melukai diri (mis.pisau cukur)
3. Halusinasi sendiri/orang lain
4. Berencana menurun Terapeutik :
1. Pertahankan
bunuh diri Perikalu merusak lingkunagn bebas
5. Disfungsi lingkungan sekitar dari bahaya secara
menurun rutin
sistem 2. Libatkan keluarga
keluarga Perilaku dalam perawatan
6. Keruskan agresif/amuk
kognitif menurun Edukasi :
7. Disorientasi 1. Anjurkan pengunjung
atau konfusi Suara keras dan keluarga untuk
8. Kerusakan menurun mendukung
kontrol impuls keselamatan pasien
9. Persepsi pada Bicara ketus 2. Latih cara
lingkaran tidak menurun mengungkapkan
akurat perasaan secara
10. Alam asertif
perasaan 3. Latih mengurangi
depresi kemarahan secara
11. Riwayat verbal dan
kekerasan nonverbal(
pada hewan mis.relaksasi,
12. Kelainan bercerita)
neurologis
13. Lingkungan 240
tidak teratur
14. Penganiayaan
atau
pengabaian
anak
15. Riwayat atau
ancaman
kekerasan
terhadap diri
sendiri atau