The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by purinugroho77, 2022-03-07 01:30:15

Petualangan Huckleberry Finn

Petualangan Huckleberry Finn

Penerjemah
DJOKOLELONO

PeTUaLanGan hUCKLeBerrY FInn

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

PeTUaLanGan hUCKLeBerrY FInn

http://facebook.com/indonesiapustaka Undang-Undang Republik Indonesia

Nom or 28 Tahun 20 14 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta

Pasal 1
Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang tim bul secara otom atis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujud-
kan dalam bentuk nyata tanpa m engurangi pem batasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Pidana

Pasal 113
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak m elakukan pelanggaran hak ekonom i sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf

i untuk Penggunaan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 1 (satu) tahun dan/ atau pidana denda pal-
ing banyak Rp10 0 .0 0 0 .0 0 0 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/ atau tanpa izin Pencipta atau pem egang Hak Cipta m elakukan pelanggaran hak
ekonom i Pencipta sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/ atau huruf h untuk Peng-
gunaan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 3 (tiga) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak
Rp50 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/ atau tanpa izin Pencipta atau pem egang Hak Cipta m elakukan pelanggaran hak
ekonom i Pencipta sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/ atau huruf g untuk Penggu-
naan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 4 (em pat) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak
Rp1.0 0 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (satu m iliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang m em enuhi unsur sebagaim ana dim aksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pem bajakan, dipidana
dengan pidana penjara paling lam a 10 (sepuluh) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp4.0 0 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (em pat
miliar rupiah).

PeTUaLanGan hUCKLeBerrY FInn

PENERJEMAH
DJOKOLELONO

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka Petualangan Huckleberry Finn
Mark Twain
Judul Asli
The Adventure of Huckleberry Finn
KPG 59 16 0 120 3
Cetakan pertam a, J uni 20 16
Sebelum nya diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka J aya
Cetakan Pertam a, 1973
Cetakan Keenam (Edisi Khusus), 20 0 8
Pe n e rje m ah
Djokolelon o
Perancang Sam pul
Teguh Tri Erdyan
Deborah Am adis Mawa
Pe n atale tak
Teguh Tri Erdyan

TWAIN, Mark
Petualangan Huckleberry Finn
J akarta: KPG (Kepustakaan Populer Gram edia), 20 16
vii+383 halam an; 14 cm x 21 cm
ISBN 978-60 2-424-0 69-1

Dicetak oleh PT Gramedia, J akarta.
Isi di luar tanggung jawab percetakan.

DAFTAR ISI

Daftar Isi v
Pengum um an v ii

Aku Berkenalan dengan Musa dan Para Pengum pul Rum put Purun 1

Sum pah Gerom bolan Kam i 6

Kam i Menyergap Orang-orang “Arab” 15

Nujum an Bola Ram but 21

Bapak Mem ulai Hidup Baru 26

Bapak Bertarung dengan Malaikat Maut 32

Aku Berhasil Mengelabui Bapak dan Melarikan Diri 41

Aku Menolong J im , Budak Nona Watson 49

Rum ah Kem atian Hanyut 63

Pantangan terhadap Kulit Ular 68

http://facebook.com/indonesiapustaka Kam i Dikejar 73

J angan Cari Kesulitan 83

Ram pasan Halal dari Kapal Uap Walter Scott 92

Bijaksanakah Sulaim an? 99

Menggoda J im 10 5

Akibat Melanggar Pantangan terhadap Kulit Ular 113

http://facebook.com/indonesiapustaka vi Mark Twain 125
137
Aku Tinggal pada Keluarga Grangerford 153
Mengapa Harney Pergi Mengam bil Topinya 164
Sang Pangeran dan Sang Raja Ikut Rakit Kam i 176
Apa yang Dikerjakan Sang Raja di Parkville 18 9
Suatu Kesukaran di Arkansas 197
Mengapa Sherbun Tak J adi Digantung 205
Kenekatan Sang Raja dan Sang Pangeran 214
Sang Raja J adi Pendeta 224
Hujan Air Mata 235
Aku Mencuri Hasil Ram pokan Sang Raja 245
Mayat Peter Menyim pan Uangnya Kem bali 258
Dusta Tak Menguntungkan 270
Aku Menghindari Badai 275
Em as Menolong Kedua Penipu 286
Dusta Tak Dapat Didoakan 294
Aku Mendapat Nam a Baru 303
Riwayat Sang Raja dan Sang Pangeran Berakhir Sedih 310
Kam i Menghibur Hati J im 319
Rencana Gelap dan Rumit 327
Mencoba Menolong J im 336
J im Mendapat Kue Hantu 345
Di Sini Hati Seorang Tawanan Pecah 353
Tom Menulis Surat Kaleng 361
Kekalutan dan Rencana yang Sangat Berhasil 370
Pastilah Dibantu Para Hantu 381
Mengapa J im Tak J adi Digantung
Tak Ada Lagi yang Harus Ditulis

PENGUMUMAN

BARANG SIAPAm encoba m enem ukan suatu m aksud tersem bunyi
dalam karangan ini akan dituntut di muka hakim; barang siapa
mencoba memahami inti sari karangan ini akan dihukum buang;
barang siapa memahami jalan cerita karangan ini akan ditembak
m a t i.

ATAS PERINTAH PENGARANG,
ATAS NAMA GUBERNUR J ENDERAL.

Ter t a n d a ,
Panglim a Daerah Militer

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka AKU BERKENALAN DENGAN
MUSA DAN PARA PENGUMPUL
RUMPUT PURUN

KALIAN TAK akan kenal padaku tanpa terlebih dahulu m em baca
sebuah buku berjudul Petualangan Tom Saw y er. Tapi tak apalah.
Buku itu ditulis oleh Tuan Mark Twain, kebanyakan tentang
peristiwa-peristiwa yang betul-betul terjadi, walaupun di sana-
sini terdapat pula beberapa hal yang dilebih-lebihkannya. Itu
tidak apa-apa. Tak pernah kukenal seseorang yang sam a sekali
tak pernah berdusta, kecuali Bibi Polly, atau Nyonya J anda, atau
m ungkin juga Mary. Bibi Polly—Bibi Polly-nya Tom —dan Mary
serta Nyonya J anda Douglas sem uanya diceritakan dalam buku
itu, sebuah buku kisah nyata dengan beberapa bualan seperti
yang kukatakan.

Buku tersebut berakhir sebagai berikut: Tom dan aku m e-
nem ukan uang yang disem bunyikan oleh para peram pok di
dalam gua. Uang itu m em buat kam i kaya, kam i m asing-m asing
m endapat enam ribu dolar m ata uang em as. Betapa luar biasanya

http://facebook.com/indonesiapustaka 2 Mark Twain

uang sejumlah itu tertumpuk di atas meja. Nah, Hakim Thatcher
m en yim pan kan uan g itu di ban k, den gan berbun ga. Kam i
mendapat sedolar masing-masing tiap hari sepanjang tahun,
jum lah yang cukup m em buat bingung untuk m em belanjakannya
waktu itu. Nyonya J anda m engam bilku sebagai anaknya dan
berjanji untuk mendidikku menjadi orang baik-baik. Tapi
bagiku sungguh tak m enyenangkan tinggal di rum ahnya, dengan
peraturan tata cara yang ketat dan m engesalkan. Akhirnya aku
tak betah lagi, suatu hari aku m elarikan diri dari rum ah Nyonya
J anda, kembali memakai pakaian compang-camping dan tidur di
tong-tong kosong, kembali merasa bebas dan bahagia. Tapi Tom
Sawyer m encari dan m enem ukanku. Katanya ia akan m endirikan
suatu gerom bolan peram pok dan aku bisa m enjadi anggotanya
hanya bila aku kem bali ke Nyonya J anda dan m enjadi orang baik-
baik. Tak ada jalan lain, terpaksa aku kembali.

Betapa Nyonya J anda m enangisiku, m enyebutku sebagai
dom ba yang hilang serta banyak lagi sebutan lain untuk m e-
nyatakan rasa sayangnya padaku. Ia m enyuruhku m em akai
baju-baju baruku lagi, dan terpaksa aku hanya bisa berkeringat
sementara seluruh tubuhku terasa kaku-kaku. Nah, mulailah
sem uanya berjalan seperti sem ula. Nyonya J anda m em bunyikan
sebuah lonceng tanda makan malam dimulai dan kita harus
datang ke m eja m akan tepat pada waktunya. Sesam painya di
m eja m akan kita tak bisa segera m enyerbu m akanan yang telah
terhidang, nam un harus m enunggu dulu sam pai Nyonya J anda
selesai menundukkan kepala serta bersungut-sungut sedikit di
atas m akanan-m akanan itu. Tak tahu aku apa yang kurang kecuali
bahwa makanan-makanan itu seakan-akan menjadi masak dan
terhidang dengan sendirinya. Datang sebagai bahan m entah
berbagai ragam macam bumbu, dan beres sudah, terhidang
sebagai m akanan yang lezat.

Selesai m akan m alam , Nyonya J anda m engeluarkan bukunya,
membacakan tentang Musa dan para Pengumpul Rumput Purun

Petualangan Huckleberry Finn 3

http://facebook.com/indonesiapustaka padaku. Musa sangat menarik hatiku, penuh perhatian aku
m endengarkan cerita tentangnya, nam un akhirnya Nyonya J anda
memberi tahu bahwa Musa itu sudah mati lama sekali. Hilanglah
perhatianku, karena aku sam a sekali tak peduli pada orang yang
telah lama tiada.

Segera setelah itu aku merasa ingin sekali merokok, kukatakan
hal itu pada Nyonya J anda. Nyonya J anda tak m engizinkanku
m erokok. Katanya m erokok adalah kebiasaan m anusia. Sesuatu
yang m ereka tak tahu faedahnya dianggap sangat buruk. Nyonya
J anda ini telah m eributkan soal Musa yang sam a sekali bukan
sanak keluarganya dan tak ada gunanya untuk diperbincangkan
lagi karena telah lam a m eninggal, yang sam a sekali tak berfaedah
bagiku untuk kupelajari. Sedangkan m erokok yang sangat ber-
faedah bagiku dilarangnya. Ia tak m enyalahkan kebiasaan
m engisap tem bakau cium , sebab ia sendiri m em punyai kebiasaan
itu.

Saudara Nyonya J anda, Nona Watson, seorang perawan tua
yang am at kurus dan berkacam ata, kini tinggal bersam anya. Dan
ia selalu m enyiksaku dengan pelajaran m em baca dan m engeja.
Sejam aku harus m enderita sebelum Nyonya J anda m enyuruhnya
m em beriku sedikit kelonggaran. Aku betul-betul tak tahan. Sejam
lam anya sangat m em bosankan, aku jadi gelisah. Nona Watson
segera m enegurku, “J angan taruh kakim u di situ, Huckleberry!”
dan “J an gan duduk m em bun gkuk seperti itu, H uckleberry,
duduklah tegak-tegak!” tak lam a kem udian, “J angan m enguap
dan m enggeliat seperti itu, Huckleberry, m engapa kau tak m au
m encoba untuk bersikap sopan santun?” Kem udian ia bercerita
tentang neraka, dan aku berkata betapa senangnya bila aku
berada di tempat itu. Nona Watson jadi amat marah mendengar
itu, walaupun sesungguhnya aku hanya bergurau. Aku hanya
ingin pergi, tak peduli ke mana asal bisa lepas dari cengkeraman
Nona Watson, itulah keinginanku sebenarnya. Betapapun Nona

http://facebook.com/indonesiapustaka 4 Mark Twain

Watson berkata bahwa aku jahat karena m engatakan yang tadi,
dan ia sendiri tak akan sudi mengatakan kalimat itu walaupun
diupah berapa saja, ia akan hidup dengan jalan baik hingga ia bisa
pergi ke surga. Aku tahu, aku tak akan punya kesem patan untuk
pergi ke surga, jadi aku tak m au bersusah payah m encobanya.
Tentu saja itu tak kukatakan pada Nona Watson, bisa berabe
n a n t i.

Agaknya karena aku terdiam , Nona Watson m engira aku
sangat m em perhatikan kata-katanya. Ia m ulai m enceritakan
secara panjang lebar tentang surga padaku. Dikatakannya bahwa
di tem pat itu tak ada yang harus dikerjakan kecuali m ondar-
m andir m em etik kecapi dan m enyanyi sepanjang hari untuk
selam a-lam anya. Ini m alah m em buatku sam a sekali tak tertarik
untuk pergi ke surga, tapi tak kuucapkan. Aku bertanya apakah
kira-kira Tom Sawyer bisa m asuk Surga. Nona Watson berkata
hal itu takkan m ungkin terjadi. Aku gem bira karenanya, aku ingin
agar Tom dan aku selalu bersama-sama.

Masih lam a lagi Nona Watson m enyiksaku dengan pelajaran-
nya, sam pai tiba saatnya untuk m engum pulkan seluruh budak
negro di rumah itu untuk berdoa bersama-sama dan kemudian
semua orang diharuskan pergi tidur.

Aku naik ke kam arku dengan m em bawa sebatang lilin.
Kutaruh lilin itu di m eja, kem udian aku duduk di kursi dekat
jendela, m encoba m em ikirkan sesuatu yang m enggem birakan
hatiku, tapi tak berhasil. Aku begitu m erasa kesepian, hingga
kupikir lebih baik bila aku m ati saja. Bintang-bintang gem erlapan,
daun-daun di hutan berdesau-desau m enyedihkan. Di kejauhan
seekor burung hantu m enyanyikan tentang seseorang yang telah
m ati. Seekor burung m alam lainnya serta seekor anjing m enye-
rukan tentang seseorang yang akan m eninggal. Angin m encoba
m enceritakan sesuatu padaku, sesuatu yang sam a sekali tak bisa
kupahami hingga seluruh tubuhku gemetar. J auh di dalam hutan

Petualangan Huckleberry Finn 5

http://facebook.com/indonesiapustaka terdengar suara hantu yang ingin m enyatakan sesuatu, tapi sadar
bahwa pernyataannya itu tak akan bisa dim engerti oleh m anusia,
hingga ia menjadi gelisah dalam kubur dan terpaksa tiap malam
mengeluh sedih. Semua suara itu membuat takut dan ngeri, dan
alangkah senangnya bila waktu itu aku berkawan. Seekor laba-laba
m eram bati bahuku. Kujentik laba-laba itu hingga terlem par ke api
lilin. Sebelum aku bisa berbuat apa-apa, binatang itu telah mati
hangus. Astaga, suatu alam at yang am at buruk! Takutku m enjadi-
jadi. Kukibaskan bajuku. Kuberjalan berputar-putar tiga kali dan
tiap kali kubuat tanda silang di dadaku. Kem udian kuikat sedikit
rambutku dengan benang untuk mengusir roh jahat. Namun aku
tak m erasa yakin. Itu penolak bala bila kita kehilangan sepatu
kuda yang kita dapatkan di jalan dan seharusnya kita pakukan
di atas pintu. Tak pernah kudengar digunakan untuk mencegah
m ara bahaya yang disebabkan oleh m em bunuh seekor laba-laba.

Aku duduk lagi. Gem etar seluruh tubuhku. Kukeluarkan
pipaku. Kini rum ah telah sunyi senyap, jadi Nyonya J anda tak
akan tahu bila aku m erokok. Lam a sekali kem udian kudengar
lonceng di kota berbunyi teng-teng-teng dua belas kali. Setelah
itu sunyi lagi, lebih sunyi dari tadi. Tapi segera juga kudengar
suara dahan patah di kegelapan. Di antara semak-semak sesuatu
sedang bergerak. Aku m enahan napas, m endengarkannya. Ketika
itu juga terdengar sebuah suara, perlahan sekali, “Meeeowww!
Meeeowww!” di bawah san a. Bagus sekali! Aku m en jawab,
“Meeeowww! Meeeow!” selem but aku bisa. Kum atikan lilin, aku
naik ke luar jendela, merangkak di atas atap menuju gudang
kayu dan dari sana m eluncur ke tanah. Aku m erangkak ke dalam
sem ak-sem ak. Tepat dugaanku, di sana kudapati Tom Sawyer
sedang menunggu.

http://facebook.com/indonesiapustaka SUMPAH GEROMBOLAN KAMI

KAMI BERJ INGKAT di sepan jan g jalan an tara pepohon an
ke arah ujung kebun Nyonya J anda, terpaksa m em bungkuk-
bungkuk agar kepala kami tak tertampar oleh dahan-dahan.
Ketika kam i m elewati dapur, aku terjegal sebatang akar dan jatuh
hingga m enim bulkan suara ribut. Cepat-cepat kam i m erangkak
bersem bunyi dan m enahan napas. Budak negro Nona Watson
yang bernam a J im dan bertubuh besar itu sedang duduk di
pintu dapur. Kam i bisa m elihatnya dengan jelas sebab ia duduk
m em belakangi lam pu. J im bangkit m engulurkan kepalanya dan
m em asang telinga sesaat, kem udian berseru, “Siapa itu?”

Ia mendengarkan sekali lagi, kemudian berjingkat mendekat,
berdiri tepat di antara aku dan Tom sehingga bila aku mau, aku
bisa m enyentuhnya. Lam a sekali rasanya waktu berlalu dan tak
seorang pun di antara kam i bertiga yang bergerak. Pergelangan
kakiku terasa gatal. Tapi aku tak berani m enggaruknya. Kupingku
pun menjadi gatal pula, disusul oleh suatu tempat di antara

Petualangan Huckleberry Finn 7

http://facebook.com/indonesiapustaka pundakku. Rasanya akan m am pus aku bila tak segera kugaruk.
Memang begitu selalu, bila kita sedang menghadiri upacara
penguburan, atau berada di hadapan orang-orang terhormat, atau
m encoba untuk tidur padahal tidak m engantuk, pokoknya pada
saat-saat keadaan tak m engizinkan kita untuk m enggaruk-garuk,
pasti rasa gatal muncul di seribu tempat di tubuh kita.

J im berkata, “Katakan, siapa kau? Di m ana kau? Aku yakin
aku m endengar sesuatu. Aku tahu apa yang akan kuperbuat.
Aku akan duduk di sini dan m endengarkan sam pai suara tadi
kudengar lagi!”

Betul-betul ia duduk di antara aku dan Tom , bersandar
di pohon dan m enjulurkan kakinya jauh-jauh hingga ham pir
m enyentuh kakiku. Hidungku m ulai terasa gatal, begitu gatal
hingga air m ataku keluar. Kem udian rasa gatal itu m uncul di
bawah hidung. Aku tak tahu bagaim ana aku bisa diam tanpa ber-
suara. Siksaan berat itu berlangsung kira-kira enam atau tujuh
m enit, nam un rasanya bertahun-tahun. Rasa gatal kurasakan
kira-kira di sebelas tem pat yang terbesar di tubuhku. Kupikir aku
tak akan bisa bertahan semenit lagi, tapi kukertakkan gigiku dan
kucoba juga untuk m enahannya. Tepat saat itu terdengar suara
napas J im memberat, kemudian ia mendengkur, maka perasa-
anku jadi enak lagi.

Dengan suara-suara perlahan dari m ulutnya, Tom m em beri
isyarat padaku, dan kam i m erangkak m enjauh. Sepuluh kaki dari
J im, Tom berkata bahwa ia ingin mempermainkan J im dengan
m engikatnya ke pohon. Aku tak setuju, salah-salah J im ter-
bangun dan membuat ribut hingga aku akan ketahuan berada
di luar rum ah. Kem udian Tom berkata bahwa ia tak m em punyai
cukup lilin, ia akan m enyelinap m asuk dapur untuk m engam bil
beberapa batan g. Aku m elaran gn ya, aku takut J im ban gun
dan m enyusulnya. Tapi Tom berani m enanggung akibatnya,
m aka kam i m enyelinap m asuk dan m engam bil tiga batang lilin.

http://facebook.com/indonesiapustaka 8 Mark Twain

Tom meletakkan sekeping mata uang lima sen di meja sebagai
pem bayar lilin itu. Kem udian kam i keluar, aku ingin sekali segera
pergi menjauh, tapi Tom tidak. Ia merangkak mendekati J im dan
entah apa yang diperbuatnya. Agak lam a kutunggu, suasananya
amat sepi.

Segera setelah Tom kembali, kami melintasi jalan, menge-
lilingi pagar kebun dan akhirnya m encapai puncak bukit di
balik rumah. Tom berkata bahwa ia mencopot topi J im dan
m enggantungkannya di dahan di atas kepala negro itu. J im
bergerak sedikit, namun tak terbangun. Setelah kejadian itu, J im
berkata bahwa roh-roh jahat telah m enenungnya, m em bawanya
berkeliling negeri kem udian m engem balikannya ke bawah pohon
tem patnya berbaring. Roh jahat itu m enggantungkan topinya di
pohon agar J im tahu siapa yang berbuat. Saat berikutnya J im
bercerita bahwa ia dinaiki sampai ke New Orleans, dan setelah
itu, tiap kali bercerita, daerahnya m akin lam a m akin luas hingga
akhirnya ia berkata bahwa ia dinaiki berkeliling dunia hingga
am at letih dan punggungnya lecet-lecet. J im sangat bangga akan
‘pengalam annya’ itu, begitu bangga hingga ia tak m em andang
sebelah m ata pada orang negro lainnya. Dari tem pat-tem pat jauh
berdatangan orang negro untuk mendengarkan cerita J im, dan
J im menjadi amat terkenal. Orang-orang negro selalu bercerita
tentang hantu di malam hari, di sekitar api dapur. Tapi bila ada
seorang negro sedang bercerita tentang hantu dan kebetulan
J im m endengarnya, J im selalu m endekat dan m encibirkan bibir
sam bil berkata, “Hm ! Apa yang kalian ketahui tentang hantu?”
Dan negro yang sedang berbicara terpaksa tutup m ulut dan
m undur. Uang lim a sen yang ditaruh Tom di dapur dianggap
sebagai jim at oleh J im , dengan seutas tali dikalungkannya di
leher. Katanya uang itu pem berian iblis, diberikan padanya secara
langsung. Dengan jim at itu ia bisa m enyem buhkan segala m acam
penyakit, dan ia bisa m em anggil sem ua roh jahat kapan saja ia

Petualangan Huckleberry Finn 9

http://facebook.com/indonesiapustaka m au, hanya dengan m em bisikkan sesuatu pada uang tersebut.
Tapi tak pernah dikatakannya apa yang dibisikkan itu. Orang-
orang negro yang datang dari jauh m em beri J im apa saja yang
dim intanya, asal m ereka diperbolehkan m elihat uang lim a sen
itu. Tapi m ereka sam a sekali tak berani m enyentuhnya. J im betul-
betul m enjadi budak yang paling m alas karena pengalam annya
melihat iblis dan dinaiki roh-roh jahat.

Nah, ketika Tom dan aku sampai ke puncak bukit, kami
berhenti untuk m em perhatikan desa kam i di kejauhan. Kam i
lihat tiga atau em pat cahaya lam pu berkedip-kedip, m ungkin di
rum ah-rum ah yang terdapat orang sakit. Di atas kam i bintang-
bintang bersinar terang, dan di bawah desa tampak sungai
Mississippi selebar satu mil mengalir dengan tenang dan agung.
Kam i m enuruni bukit, dan kam i tem ui J oe Harper dan Ben
Rogers, serta dua atau tiga orang anak lainnya, bersem bunyi di
bekas tem pat penyam akan kulit. Kam i m elepaskan tam batan
sebuah sam pan kecil, kem udian berdayung m enghilir sungai kira-
kira dua setengah mil, sampai terdapat sebuah karang curam di
bukit, lalu mendarat.

Kam i m endekati sebuah sem ak rim bun, Tom m enyuruh
semua bersumpah untuk merahasiakan tempat itu. Ia menun-
jukkan sebuah gua, tepat di antara sem ak-sem ak yang lebat.
Kam i m en yalakan lilin -lilin dan m eran gkak m asuk. Setelah
m erangkak dalam terowongan sejauh kita-kira dua ratus yard,
sampailah kami di dalam gua. Tom meraba-raba di antara gang-
gang yang ada dan kem udian m enerobos m asuk ke dalam sebuah
lubang yang tadinya tak tam pak. Kam i m engikutinya lewat celah
sem pit hingga sam pai ke suatu tem pat yang m irip kam ar, lem bap
dan dingin. Di situlah kam i berhenti. Tom berkata, “Nah, kini
kita mulai membentuk gerombolan perampok, kita namakan
Gerom bolan Tom Sawyer. Sem ua yang ingin m enjadi anggota
harus angkat sum pah dan m enuliskan nam anya dengan darah.”

http://facebook.com/indonesiapustaka 10 Mark Twain

Sem ua setuju. Tom m engeluarkan secarik kertas yang
bertuliskan suatu sum pah dan m em bacakannya pada kam i.
Sumpah itu mengikat semua anggota untuk tetap setia pada
gerom bolan dan sam a sekali tak boleh m em buka rahasia. Bila
seseorang m enyakiti salah seorang anggota, setiap anggota lain
yang ditunjuk untuk m em balas dendam harus m elakukannya.
Adapun pem balasan dendam itu berupa pem bunuhan terhadap
orang tadi beserta seluruh keluarganya. Anggota yang ditunjuk
tadi tak boleh m akan atau tidur sebelum tugasnya selesai, yaitu
m em bunuh serta m em buat luka silang di atas dada korbannya,
karena luka silang itu menjadi lambang gerombolan kami. Tak
seorang pun di luar keanggotaan Gerom bolan Tom Sawyer di-
perbolehkan mempergunakan tanda itu, bila ini dilanggar setelah
pelanggaran pertama ia akan dituntut di muka pengadilan dan
setelah pelanggaran kedua akan dibunuh. Bila seorang anggota
m em buka rahasia gerom bolan, lehernya harus digorok putus,
m ayatnya dibakar, dan abunya disebarkan ke segala penjuru;
nam anya dihapuskan dari daftar dengan coretan darah, dan nam a
itu tak boleh disebutkan lagi oleh anggota gerombolan, karena
m erupakan nam a terkutuk dan harus dilupakan selam anya.

Sem ua setuju bahwa sum pah itu sangat indah dan bertanya
apakah Tom sendiri yang m engarangnya. Kata Tom sebagian
karangannya, sebagian lagi diam bilnya dari buku-buku perom pak
dan peram pok, dan sem ua gerom bolan tingkat tinggi m em punyai
sumpah semacam itu.

Beberapa oran g m en gusulkan agar keluarga an ggota
gerom bolan yang berkhianat juga dibunuh habis. Tom setuju
usul itu dan m enam bahkannya di kertas sum pah. Kem udian
Ben Rogers berkata, “Tapi bagaim ana dengan Huck Finn? Ia tak
punya keluarga, apa yang kita kerjakan kalau ia berkhianat?”

“Hm , bukankah ia m em punyai seorang ayah?” tanya Tom
Sa wye r .

Petualangan Huckleberry Finn 11

http://facebook.com/indonesiapustaka “Benar, tapi ayahnya tak pernah m uncul lagi akhir-akhir ini.
Biasanya ia berbaring-baring m abuk di antara babi-babi di tem pat
penyam akan. Tapi sudah setahun lebih ia tak tam pak lagi.”

Mereka lama sekali memperbincangkan hal itu, dan hampir
saja aku dikeluarkan dari gerombolan karena setiap anggota
harus m em punyai sanak keluarga yang harus dibunuh, supaya
adil bagi sesam a anggota. Tak ada yang m enem ukan jalan lain
lagi. Sem uanya terpaku terdiam . Ham pir saja aku m enangis
waktu mendadak aku menemukan suatu jalan: kutawarkan pada
mereka Nona Watson untuk dibunuh bila aku berkhianat. Semua
m engangguk setuju, “Oh, benar, dia bisa diterim a. Baiklah, Huck
boleh menjadi anggota.”

Kam i m asin g-m asin g m en usuk jari den gan pen iti agar
darah keluar untuk m enandatangani sum pah. Aku pun ikut
membubuhkan tanda di kertas itu.

“Nah,” kata Ben Rogers setelah upacara penandatanganan
sum pah selesai, “apa sebenarnya rencana gerom bolan ini?”

“Tidak lain kecuali peram pokan dan pem bunuhan,” jawab
Tom .

“Tapi siapa yan g akan kita ram pok? Rum ah, tern ak,
a t a u ka h —”

“Cih! Meram pok ternak dan lainnya itu bukanlah peram pokan
nam anya, tapi pencurian kelas kam bing,” kata Tom Sawyer. “Kita
bukanlah pencuri kelas kambing, kita perampok kelas utama.
Kita adalah penyam un. Kita hadang kereta dan kendaraan-
kendaraan di jalan raya dengan m em akai topeng, kita bunuh
semua penumpang, kita rampas arloji dan uang mereka.”

“Apakah orang-orang itu harus selalu kita bunuh?”
“Tentu saja. Itulah jalan terbaik. Beberapa tokoh punya
pikiran lain, tapi kebanyakan berpendapat bahwa lebih baik
m em bunuh korban—kecuali beberapa orang yang harus kita bawa
ke dalam gua ini dan kita tahan sampai mereka ditebus.”

http://facebook.com/indonesiapustaka 12 Mark Twain

“Ditebus? Apakah itu?”
“Aku tak tahu. Tetapi begitulah selalu. Sering kali kubaca di
buku-buku. Karena itu kita pun harus berbuat begitu.”
“Tapi bagaim ana kita bisa m engerjakannya bila kita tak tahu
ca r a n ya ?”
“Pokoknya kita harus m engerjakannya! Bukankah kukatakan
itu ada di buku-buku? Adakah kalian ingin berbuat m enyim pang
dari apa yang disebutkan di buku-buku? Sehingga sem uanya
campur aduk tak keruan?”
“Oh, m udah sekali kau berbicara, Tom Sawyer, tapi bagaim ana
kita harus berbuat bila kita tak tahu bagaim ana caranya orang-
orang itu ditebus? Itulah yang ingin kuketahui. Nah, bagaim ana
caranya m enurut perkiraanm u?”
“Hm m , aku tak tahu. Tapi m ungkin bila kita m enawan
mereka sampai mereka ditebus, mungkin itu berarti bahwa kita
harus menawan sampai mereka mati.”
“Nah, itu agak m asuk akal. Agaknya begitulah. Mengapa
tak kau katakan dari tadi? Kita m enahan m ereka sam pai m ere-
ka m am pus. Dan betapa m enyulitkannya m ereka itu, kita harus
m enyediakan m akanan terus sem entara m ereka selalu berusaha
untuk melarikan diri.”
“Betapa pan dain ya kau bicara, Ben Rogers! Bagaim an a
m ereka bisa m elarikan diri bila selalu ada seorang penjaga yang
mengawasi dan siap menembak mati bila mereka berani bergerak
sedikit saja?”
“Seorang penjaga! Wah, bagus sekali. J adi seseorang harus
menjaga mereka sepanjang malam dan sama sekali tidak tidur.
Kupikir itu suatu ketololan. Mengapa tidak kita pukul saja
tawanan itu dengan penggada dan m enebusnya begitu m ereka
sampai di sini?”
“Karena bukan begitu cara yang disebutkan di buku, itulah!
Dengar, Ben Rogers, apakah kau m engingini segala sesuatu

Petualangan Huckleberry Finn 13

http://facebook.com/indonesiapustaka berjalan seperti seharusnya terjadi atau kau m au m em buat
peraturan sendiri? Apakah kau pikir orang yang m enulis buku
itu tak m engerti apa yang ditulisnya? Kau pikir kau lebih pandai
dari para penulis buku itu? Tak mungkin. Tidak, Tuan, kita harus
melakukan seperti di buku, menawan dan menunggu tebusan
seperti biasa terjadi.”

“Baiklah. Aku tak keberatan, betapapun kukira cara itu
adalah yang paling tolol. He, apakah wanita juga kita bunuh?”

“Hm , Ben Rogers, bila aku setolol engkau, tak akan ku-
tunjukkan ketololanku itu. Membunuh para wanita? Tidak! Hal
itu tak pernah terjadi dalam buku. Kita m enawan m ereka dalam
gua, kita selalu bersikap sopan pada m ereka sehingga akhirnya
mereka akan jatuh cinta pada kita dan tak pulang lagi.”

“Nah, bila m em ang dem ikian harusnya, aku setuju saja, tapi
kukira itu juga suatu ketololan. Pastilah sekejap saja gua kita ini
penuh sesak oleh wanita dan orang yang m enunggu ditebus. Tak
akan ada tempat lagi bagi kita para perampok. Tapi lanjutkan
keteranganmu, aku tak akan membantah lagi.”

Si kecil Tom m y Barnes waktu itu sudah tidur. Waktu diba-
ngunkan, ia ketakutan dan m enangis. Ia ingin pulang pada ibunya
serta tak ingin jadi perampok lagi.

Kawan -kawan m em perolok-olokn ya, m en gatakan n ya ce-
ngeng, dan ini membuat Tommy marah. Ia mengancam akan
m em buka rahasia gerom bolan kam i pada orang banyak. Tapi
Tom segera m em berinya uang lim a sen untuk m enutup m ulutnya,
dan berkata bahwa kini sudah saatnya untuk pulang dan bertem u
lagi di tem pat yang sam a m inggu depan, untuk m eram pok dan
membunuh seseorang.

Ben Rogers berkata ia tak bisa terlalu sering keluar rum ah,
kecuali pada hari-hari Minggu, jadi ia ingin memulai perampokan
di hari Minggu depan. Anak-anak yang lain berkata sungguh jahat
untuk berbuat dosa di hari Minggu, dan itu tak bisa ditawar-tawar

14 Mark Twain

lagi. Mereka akhirnya m em utuskan untuk berkum pul lagi secepat
m ungkin untuk m enentukan saat yang tepat bagi gerom bolan
untuk bertindak. Kem udian kam i m em ilih Tom Sawyer sebagai
kapten gerom bolan dan J oe Harper sebagai wakilnya. Sesudah
itu kami pulang.

Aku m em anjat gudang, m enyelinap m em asuki jendelaku
sebelum matahari terbit. Pakaian baruku bernoda bekas lilin dan
lumpur, dan aku capek sekali.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka KAMI MENYERGAP
ORANG-ORANG “ARAB”

PAGI HARINYA aku dim arahi habis-habisan oleh Nona Watson
karena pakaianku yang tak keruan itu. Nyonya J anda tak
memarahiku, diam-diam ia membersihkan bekas-bekas lilin
serta lumpur dengan wajah begitu sedih, hingga dalam hati aku
terharu. Kem udian Nona Watson m engajakku ke kam ar untuk
berdoa, tapi tak terlihat hasilnya sam a sekali. Nona Watson
pernah m enyuruhku berdoa tiap hari untuk m em inta apa yang
aku inginkan dan permintaan itu pasti dikabulkan Tuhan. Tapi
ternyata tidak dem ikian. Aku pernah m encobanya. Sekali aku
menemukan seutas tali kail tapi tanpa mata kail. Tentu tak
akan berguna tanpa m ata kail. Aku berdoa tiga atau em pat kali,
meminta kail, tapi betapa pun aku berdoa, permintaan itu tak
pernah terkabulkan. Akhirnya suatu hari aku m inta bantuan
Nona Watson untuk berdoa. Nam un ia hanya berkata aku tolol,
dan aku pun tak bisa m em ikirkanya.

http://facebook.com/indonesiapustaka 16 Mark Twain

Sekali aku lama sekali duduk sendirian di hutan untuk
m em ikirkan hal itu. Aku bertanya pada diriku sendiri, bila
seseorang bisa m endapatkan apa yang diinginkan dengan berdoa,
m engapa Pendeta Winn tak bisa m endapatkan kem bali uangnya
waktu ia merugi dalam perdagangan daging babi? Mengapa
Nyonya J anda tak bisa m endapatkan kem bali kotak tem bakau
cium peraknya yang dicuri orang? Mengapa Nona Watson tak
bisa gem uk? Tidak, agaknya sem ua yang disebutkan Nona
Watson tentang doa hanyalah om ong kosong belaka. Kutem ui
Nyonya J anda untuk m enanyakan hal ini. Katanya pem berian
yang bisa kita dapat dari berdoa adalah anugerah kejiwaan.
Ini m alah m em buatku bingung, tapi diterangkannya apa yang
dim aksud—aku harus m en olon g oran g lain , m em perhatikan
mereka selalu, dan sama sekali tak boleh memikirkan diriku
sendiri. Ini agaknya term asuk Nona Watson juga. Kem bali aku
pergi ke hutan untuk m em ikirkan kata-kata Nyonya J anda itu;
lam a sekali kupikirkan, nam un tak bisa kutem ui apa untungnya
m enolong orang lain—yang m endapat untung pastilah orang
lain itu. Akhirnya kuputuskan un tuk tidak m em ikirkan hal
itu lagi. Kadang-kadang Nyonya J anda m engajakku berbicara
berdua saja tentang Yang Maha Kuasa. Caranya bercerita sangat
m enarik hati. Keesokan harinya Nona Watson bercerita pula
tentang Yang Maha Kuasa, tapi lain sekali dari cerita Nyonya
J anda, bahkan sangat bertentangan. Kupikir agaknya ada dua
Yang Maha Kuasa, seseorang yang m alang m ungkin berdiri di
pihak Tuhan Nyonya J anda; tapi bila ia berhadapan dengan
Tuhan Nona Watson, tak ada am pun lagi kiranya. Kuputuskan
untuk m engikuti Tuhan Nyonya J anda bila saja Ia m enginginiku,
walaupun tak bisa kupikirkan bagaimana Ia bisa berbuat lebih
baik padaku, mengingat aku begini tolol, penuh dosa, dan keras
kepala.

Sudah lebih dari setahun Bapak tak terlihat, dan ini m alah
m em buatku sen ang. Aku tak in gin m elihatn ya lagi. Bila ia

Petualangan Huckleberry Finn 17

http://facebook.com/indonesiapustaka tak mabuk, ia selalu menghajarku mati-matian setiap ada
kesem patan, walaupun sesungguhnya setiap kali ia tam pak,
aku selalu m elarikan diri ke dalam hutan. Akhir-akhir ini terde-
ngar kabar bahwa Bapak diketem ukan tenggelam di sebelah
hilir sungai, kira-kira dua belas mil dari desa. Orang-orang tak
begitu yakin, nam un m elihat ukuran tubuhnya, pakaiannya, dan
ram butnya yang gondrong, m ereka m engira m ayat itu adalah
Bapak. Muka m ayat tadi tak bisa dikenal lagi, agaknya telah
terlalu lama terbenam dalam air hingga tak mirip wajah manusia
lagi. Kata orang, m ayat itu terapung-apung telentang di air. Mayat
itu dikubur di tepi sungai. Tapi cerita itu malah membuatku
gelisah. Aku tahu betul bahwa m ayat seorang yang terbenam bila
terapung tidaklah telentang, tapi menelungkup. J adi aku merasa
pasti bahwa itu bukanlah m ayat Bapak, tapi m ayat seorang
wanita yang m em akai pakaian lelaki. Inilah yang m em buatku
sangat gelisah. Kupikir suatu waktu pastilah Bapak akan m uncul,
walaupun aku sama sekali tak mengharapkan hal itu terjadi.

Selama kira-kira sebulan kami bermain rampok-rampokan,
kem udian aku berhenti jadi peram pok. Anak-anak lain juga
m enyatakan keluar dari Gerom bolan Tom Sawyer, sebab ternyata
kami tak pernah merampok atau membunuh seseorang, kami
hanya berpura-pura saja. Biasanya kam i m enyerbu keluar dari
hutan, m enyerang gem bala-gem bala babi atau wanita-wanita
yang m engiringkan kereta-kereta sayuran ke pasar, tapi tak
pernah kam i m em bunuh m ereka. Kata Tom Sawyer, babi-babi
itu adalah ‘batang-batang em as’, sedang sayur-m ayurnya ada-
lah ‘perm ata-perm ata’. Selesai penyerangan, kam i berkum pul
di dalam gua untuk berbincang-bincang tentang berapa orang
yang kam i bunuh dan kam i lukai. Tak tahu aku apa untungnya
perbincangan itu. Suatu hari Tom m enyuruh seorang anak
berlari-lari keliling kota dengan membawa obor dahan kering
yang m enurut Tom adalah ‘slogan’ (tanda bagi gerom bolan

http://facebook.com/indonesiapustaka 18 Mark Twain

kam i untuk berkum pul). Kem udian ia m em beritahukan bahwa
mata-matanya membawa berita rahasia kailah Arab yang akan
berkemah di Gua Hollow bersama dua ratus gajah, enam ratus
ekor unta dan lebih dari seribu ekor keledai, penuh dimuati
intan berlian, dan sem ua itu hanya dijaga oleh em pat ratus
orang perajurit. Kam i m erencanakan untuk m enyergap m ereka,
m em bun uh sem ua oran g, dan m eram pas hartan ya. Bahkan
waktu kam i akan m enyerang pedati-pedati sayur, kam i pun
diharuskannya m engasah pedang dan m em bersihkan senjata,
walaupun sesungguhnya senjata-senjata itu hanyalah pelepah
kayu serta tongkat sapu, yang walaupun diasah hingga m am pus
pun tak akan bertam bah am puh dari sem ula. Aku tak percaya
kam i bisa m engalahkan rom bongan besar orang Arab dan orang
Spanyol itu, tapi aku sangat ingin m elihat unta dan gajah. J adi
pada hari Sabtu itu aku ikut bersem bunyi di tepi hutan, siap
untuk m enyergap. Begitu perintah diberikan, kam i m enyerbu ke
luar, m enerjang m enuruni bukit. Tapi ternyata tak ada orang-
orang Spanyol ataupun Arab, juga tak ada unta atau gajah.
Yang ada hanyalah rom bongan m urid Sekolah Minggu yang
sedang berpiknik, kelas persiapan lagi. Kam i m encerai-beraikan
rom bongan itu, m enghalau anak-anak itu ke gua. Tapi yang
kam i dapat hanyalah beberapa kue donat dan selai, walaupun
Ben Rogers m endapatkan sebuah boneka kain dan J oe Harper
dapat sebuah buku nyanyian dan surat selebaran. Kem udian
guru yang m enyertai rom bongan tadi balas m enyerang, hingga
terpaksa kami menjatuhkan semua barang rampasan kami dan
m undur. Aku tak m elihat intan sebutir pun, dan kukatakan hal itu
pada Tom Sawyer. Kata Tom intan-intan itu ada, bahkan orang-
orang Arab dan gajah serta lain-lainnya ada. Ketika aku bertanya
m engapa aku tak m elihat sem ua itu, aku dikatakannya tolol,
dan bila saja aku pernah m em baca buku Don Kisot aku tak akan
bertanya setolol itu. Kata Tom sem ua itu dikerjakan dengan sihir.

Petualangan Huckleberry Finn 19

http://facebook.com/indonesiapustaka Katanya ada banyak sekali prajurit, ratusan, juga gajah-gajah dan
harta karun, nam un m usuh kam i agaknya m em punyai seorang
ahli sihir yang am at kuat, yang dengan kekuatan sihir sem uanya
itu dijadikannya rom bongan anak-anak m urid Sekolah Minggu.
Kukatakan kalau begitu lebih baik kam i m enyerang ahli sihirnya
saja. Tom mengatakan aku tak berotak.

“Wah,” kata Tom , “seorang ahli sihir bisa m em anggil banyak
sekali jin, dan mereka bisa menghancurkan kau menjadi debu
dalam sekejap mata. J in-jin itu setinggi pohon dan sebesar
gereja.”

“Hm , bagaim ana kalau kita m inta tolong pada jin itu?”
“Bagaim ana kau akan m inta tolong pada jin-jin lain untuk
m enyerang jin-jin itu?”
“Aku tak tahu. Bagaim ana caranya ahli sihir itu m em anggil
jin ?”
“Mereka m enggosok sebuah lam pu tua atau sebentuk cincin
tua. Sebentar saja jin-jin itu akan muncul dengan tergesa-
gesa diiringi oleh dentuman halilintar dan kilat serta gumpalan
asap, karena semua kata ahli sihir itu pasti dituruti oleh jin-jin
tadi. Dengan mudah mereka bisa mencabut sebuah menara
dan m enggem purkannya ke kepala seorang pengawas Sekolah
Minggu, atau orang lain.”
“Siapa yang m enyuruh m ereka datang dengan tergesa-gesa?”
“Siapa saja yang m enggosok lam pu atau cincin itu. J in-jin itu
menjadi milik si pemakai cincin dan harus mengerjakan apa saja
yang diperintahkannya. Meskipun diperintah untuk m em buat
istana sepanjang empat puluh mil terbuat dari intan dan meng-
isinya dengan perm en karet atau apa pun yang aku kehendaki,
dan m enculik istri kaisar Cina untuk kau peristri, jin-jin itu harus
m engerjakan sebelum m atahari terbit keesokan harinya. Lagi
pula m ereka harus m enem patkan istana itu di tem pat yang kau
keh en d a ki.”

20 Mark Twain

“Hm ,” kataku, “kupikir jin-jin itu sangat tolol, m engapa
mereka tak mau memakai istana-istana itu untuk diri mereka
sendiri. Dan lagi sungguh gila bila m ereka m au datang hanya
karena seseorang menggosok sebuah lampu tua.”

“Pandai benar kau om ong, Huck! Bila kau jadi jin, kau harus
datang, tak peduli kau mau atau tidak.”

“Apa? Bukankah jin itu setinggi pohon dan sebesar gereja?
Baiklah, bila aku jin, aku akan datang dan akan kupaksa m anusia
yang m em anggilku itu untuk m em anjat pohon yang paling tinggi
di negeri ini.”

“Huh! Sam a sekali tak ada gunanya berbicara denganm u,
Huck. Tam paknya kau tak bisa m engerti apa pun, kepalam u
betul-betul kosong melompong.”

Dua atau tiga hari kupikirkan betul kata-kata Tom.
Kuputuskan untuk m encobanya. Kubawa sebuah lam pu tua
serta sebentuk cincin tua ke dalam hutan, dan kugosok hingga
aku bermandikan keringat. Tapi semua itu tak memberikan
hasil apa-apa, tak ada satu pun jin yang datang. Kesim pulanku
pastilah sem ua itu hanya isapan jem pol Tom Sawyer saja. Biarlah
ia percaya bahwa yang diserbunya adalah orang-orang Arab dan
gajah-gajah, tapi aku tetap berpendirian sem uanya itu hanyalah
serombongan anak Sekolah Minggu.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka NUJUMAN BOLA RAMBUT

TIGA ATAU em pat bulan berlalu dengan cepatnya, kini m usim
dingin telah tiba. Selama itu aku pergi ke sekolah, dan kini telah
bisa m engeja, m em baca, m enulis sedikit, serta m enghafalkan
perkalian-perkalian sampai enam kali tujuh sama dengan tiga
puluh lim a. Kukira perkalian selanjutnya tak akan bisa kuhafalkan
walaupun kupelajari seum ur hidupku. Betapa pun aku sam a
sekali tak menaruh perhatian pada ilmu berhitung.

Mula-m ula aku sangat benci pada sekolah, nam un akhirnya
tahan juga. Bila aku m erasa bosan, aku m em bolos dan cam bukan
yang kuterim a esok harinya sebagai hukum an m alah m em buatku
gem bira. Makin lam a aku bersekolah, m akin m udah rasanya.
Aku pun m ulai terbiasa akan tata cara Nyonya J anda, dan aku
tak m erasa begitu tersiksa lagi. Kadang-kadang m em ang sesak
sekali rasanya tinggal di dalam rum ah dan tidur di tem pat tidur,
tapi sebelum m usim dingin tiba aku sering sekali m enyelinap
keluar dan tidur di hutan, begitu itu m erupakan istirahat yang

http://facebook.com/indonesiapustaka 22 Mark Twain

nyam an. Aku m asih m enyukai cara hidupku yang lam a, nam un
cara hidup yang baru juga m ulai kusukai sedikit. Kata Nyonya
J anda, walaupun lam bat tetapi telah banyak perubahan yang
m enggem birakan pada kehidupanku. Katanya ia tak usah m erasa
m alu m em punyai anak angkat aku.

Suatu pagi tanpa sengaja aku mengeluarkan tangan meng-
ambil sejimpit garam untuk kulemparkan lewat punggungku guna
menolak bala, tapi Nona Watson lebih cepat dariku, mencegahku
sam bil berkata, “Sin gkirkan tan gan m u, H uckleberry, akan
m em buat kotor saja!” Nyonya J anda m em belaku, tapi tak guna
lagi, nasib jahat pasti akan menimpaku. Selesai sarapan aku
keluar rumah, merasa khawatir dan gemetar, berpikir-pikir di
mana aku akan mendapat nasib jahat dan dalam bentuk apa.
Banyak cara untuk m enolak datangnya nasib jahat, nam un nasib
jahat yang disebabkan oleh terjatuhnya tem pat garam , tak tahu
aku penolaknya. Maka aku tak m encoba berbuat apa pun, hanya
mondar-mandir gelisah penuh perhatian.

Aku pergi ke kebun depan, m em anjat tiang pintu pagar yang
terbuat dari papan. Tanah telah diliputi salju kira-kira seinci,
dan kulihat ada tapak kaki seseorang. J ejak-jejak itu berasal
dari lubang galian, berhenti di sekitar tiang pintu kemudian
m engitari pagar kebun. Lucu juga bahwa jejak itu tak langsung
m em asuki pagar walaupun kelihatan pem iliknya lam a sekali
m ondar-m andir di situ. Aku ingin m engikuti jejak itu. Mula-m ula
tak ada yang m enarik, tapi kem udian kulihat bahwa pada jejak
tumit sepatu kiri terlihat bekas paku bersilang, suatu alat untuk
menghalau iblis.

Sekejap kemudian aku telah berlari menuruni bukit. Sesekali
aku m enoleh ke belakang, tapi tak kulihat siapa pun. Aku ingin
mencapai rumah Hakim Thatcher secepat mungkin. Hakim
Thatcher berkata, “He, Nak, kau berlari sam pai kehabisan napas.
Apakah kau datang untuk m engam bil bunga uangm u?”

Petualangan Huckleberry Finn 23

http://facebook.com/indonesiapustaka “Tidak, Tuan,” jawabku, “apakah bunga ada?”
“Oh, ya! Bunga tengah tahunan datang m alam tadi, lebih dari
seratus lim a puluh dolar. Keuntungan yang lum ayan, Nak. Lebih
baik kau tanamkan lagi bunga itu beserta enam ribu dolar, kalau
tidak pasti kau habiskan cuma-cuma.”
“Tidak, Tuan,” kataku, “tak akan kuhabiskan. Malahan aku
tak m enginginkan sem ua uang itu, juga yang enam ribu. Kuingin
Tuan m engam bilnya, sem ua.”
H akim Thatcher tam pak san gat tercen gan g, “Wah, apa
sebenarnya m aksudm u, Nak?”
“J angan bertanya apa-apa lagi, Tuan. Tuan m au bukan,
m enerim anya?”
“Aku bingung sekali. Apa sebenarnya yang terjadi?”
“Am billah uangku sem ua, dan jangan bertanya lagi, jadi tak
usah aku berdusta pada Tuan.”
Ia mempertahankan aku untuk beberapa saat baru berkata,
“Oh-o! Aku kira aku m engerti m aksudm u. Kau ingin m enjual
sem ua m ilikm u padaku, bukan m em berikannya. Begitu, bukan?”
Ia m enulis sesuatu di secarik kertas, m em bacanya sekali dan
berkata, “Nah, kau lihat, di sini ditulis ‘untuk dipertim bangkan’.
Itu berarti aku m em beli hartam u dan m em bayarnya. Ini sedolar
dan tanda tanganilah kertas ini.”
Aku m enandatangani kertas itu dan pulang.
J im , budak negro Nona Watson, m em punyai sebuah bola
rambut sebesar tinju, diambil dari perut keempat seekor sapi
dan digunakan sebagai bola peram al. Kata J im di dalam bola itu
terdapat roh yang m engetahui segala-galanya. Malam itu aku
mengunjungi J im, mengatakan bahwa bapakku telah muncul
kem bali sebab kutem ui jejaknya di salju. Aku ingin m engetahui
apa yang akan diperbuat Bapak, apakah ia akan tinggal di sini
terus. J im m engeluarkan bola ram butnya, berbisik sesuatu di atas
bola itu dan m enjatuhkannya ke lantai. Berat sekali tam paknya,

http://facebook.com/indonesiapustaka 24 Mark Twain

dan hanya berguling kira-kira satu inci. J im m encoba lagi,
dan sekali lagi, bola itu tetap saja berbuat serupa. J im berlutut
m enem patkan kupingnya ke bola itu dan m endengarkan. Tak
ada gunanya, kata J im bola itu tak m au berkata tanpa terlebih
dulu diberi uang. Kukatakan pada J im aku m em punyai sebuah
m ata uang talen yang palsu, yang tak bisa dibelanjakan karena
kasar sekali buatannya dan tam pak tem baganya di bawah lapisan
perak. Walaupun tem baganya tak tam pak pun tak akan laku
karena terasa seakan berm inyak, sehingga setiap orang akan tahu
bahwa uang itu palsu. (Kupikir lebih baik tak kukatakan pada
J im uang sedolar yang kudapat dari Hakim Thatcher). Kukatakan
m eskipun uang itu sangat buruk m ungkin bola ram butnya m au
m enerim a, m ungkin aku bisa m engetahui kepalsuannya. J im
m encium uang palsu tadi, m engigit serta m enggosok-gosoknya.
Kata J im ia bisa m em buat uang itu tam pak bagus sehingga bola
ram butnya tak akan tahu. Ia akan m em belah jadi dua sebuah
kentang Irlandia, menaruh uang palsu tadi di antara kedua
belahan itu, dan m em biarkannya sem alam suntuk. Paginya
tak akan terlihat lagi bagian tem baganya serta tak akan terasa
berlemak lagi, dan bisa dibelanjakan di kota, jadi pasti juga bisa
untuk m enipu si bola ram but. Aku tahu juga tentang cara itu, tapi
aku lupa.

J im menaruh uang talen palsu tersebut di bawah bola
ram but, kem udian berlutut dan m em asang telinga lagi. Kali
ini berkata bahwa bola ram butnya bekerja, bisa m eram alkan
peruntungan bila aku m enghendakinya. Aku m engangguk setuju,
m aka bola ram butnya bekerja, bisa m eram alkan. Bola ram but
itu berbicara pada J im , yang kem udian m enerangkan padaku,
“Bapakm u belum tahu apa yang diperbuat terhadapm u. Kadang-
kadang ia bermasud untuk pergi lagi, tapi kadang-kadang juga ia
berm aksud untuk tinggal terus di sini. J alan yang terbaik adalah
menunggu saja dan membiarkan si orang tua itu mengambil

Petualangan Huckleberry Finn 25

jalannya sendiri. Ada dua orang m alaikat terbang berkitaran di
atasnya. Satu m alaikat serba putih dan berkilauan, yang lainnya
hitam legam . Si putih akan m em bawanya ke jalan kehidupan
yang baik, tapi si hitam akan m enghancurkan hasil kerja si putih.
Belum bisa diketahui siapa yang akan m enang di antara kedua
m alaikat itu dalam m em perebutkan bapakm u. Kau sendiri beres.
Dalam kehidupanmu nanti kau akan menemui beberapa kesulitan
dan kebahagiaan. Kadang-kadang kau akan terluka dan kadang-
kadang kau akan jatuh sakit, tapi tiap kali kau akan kembali
sembuh dan sehat.

“Ada dua oran g gadis dalam kehidupan m u. Yan g satu
berkulit cerah, yang lainnya gelap. Yang satu kaya, yang lainnya
m iskin. Kau akan kawin dengan yang m iskin dahulu kem udian
dengan yang kaya. Kau harus m enjauhi air dan jangan berbuat
serampangan, sebab menurut ramalan kau akan mati di tiang
ga n t u n ga n .”

Waktu aku membawa lilinku dan naik ke kamar tidurku
m alam itu, kulihat Bapak sudah duduk di tiang gantungan.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka BAPAK MEMULAI HIDUP BARU

KUTUTUP DAN kukun ci pin tu. Aku berpalin g, dan aku
berhadapan dengan Bapak. Dulu aku sangat takut padanya, ia
selalu m enghajarku. Kini pun agaknya aku sangat ketakutan,
tetapi kiranya hanya sem enit, yaitu pada waktu aku pertam a
kali m elihatnya dan aku sangat terkejut sam pai lupa bernapas.
Namun setelah itu rasa takutku hilang.

Bapak kelihatan tua, um urnya kira-kira sudah lim a puluh
tahun. Ram butnya panjang, awut-awutan dan berm inyak, terjurai
ke bawah ham pir m enutupi m ukanya. Kedua m atanya bersinar
di antara rambut itu bagaikan di balik semak belukar. Rambut
itu hitam legam , tak ada ubannya, begitu juga jenggotnya yang
panjang. Wajahnya tak berwarna, putih tak seperti wajah orang
lain, nam un putih yang m enjijikan, putih seperti perut ikan
atau katak pohon. Sedang pakaiannya hanya kain-kain rom beng
saja. Ia duduk dengan sebuah kaki tertumpang di atas kaki
yang lain, sepatu kaki yang tertum pang itu telah hancur hingga

Petualangan Huckleberry Finn 27

http://facebook.com/indonesiapustaka dua buah jarinya tam pak, dan sekali-sekali jari-jari itu digerak-
gerakkannya. Topinya teronggok di lantai, kem pis seperti tutup
p a n ci.

Aku berdiri terpaku m em perhatikannya, ia duduk m em -
perhatikanku dengan bersandar ke kursi yang agak condong
ke belakang. Kuletakkan lilin di m eja, kulihat jendela terbuka,
agaknya ia m asuk dengan jalan naik m elalui gudang kayu. Ia terus
m em perhatikanku dengan teliti dan akhirnya berkata, “Pakaian
setrikaan, sangat rapi. Kau pikir kau ini tuan besar, ya?”

“Mungkin ya, m ungkin tidak,” jawabku.
“J angan banyak om ong! Kau jadi sangat angkuh ya, sejak
kutinggalkan. Sebelum kita selesai berembuk akan kurendahkan
derajat keangkuhanm u setingkat. Kata orang kau ini terpelajar,
bisa m em baca dan m enulis. Kini kau m erasa lebih pandai dari
bapakm u, karena ia tak bisa m em baca? Kesom bonganm u itu
akan kuhilangkan darim u. Siapa yang m enyuruhm u bergelim ang
dalam ketololan itu, he? Siapa?”
“Nyonya J anda.”
“Nyonya J anda, he? Siapa yang m em beri hak pada Nyonya
J anda untuk ikut cam pur dalam hal yang sam a sekali bukan
u r u sa n n ya ?”
“Tak seorang pun.”
“Hm , akan kuberi ia pelajaran agar tidak suka ikut cam pur
urusan orang lagi. Akan kuberi pelajaran orang-orang yang
ikut mengurus anak orang hingga anak itu jadi sangat angkuh
terhadap bapaknya sendiri. Awas, kalau kulihat kau m asih m a-
suk sekolah. Dengar! Ibumu tak bisa membaca, tak bisa menulis
sam pai m ati. Tak ada keluarga kita yang bisa m em baca m enulis.
Aku pun tidak. Dan kini kau m em busungkan dada karena bisa.
Aku tak tahan m elihat keangkuhanm u. Hm , coba, aku ingin
mendengarmu membaca.”
Aku m engam bil sebuah buku dan m ulai m em baca tentang
J enderal Washington dalam pertempuran. Setelah aku membaca

http://facebook.com/indonesiapustaka 28 Mark Twain

selama kira-kira setengah menit, ia merampas dan menghem-
paskan bukuku ke lantai.

“Benar juga! Kau bisa m em baca! Tadinya aku m asih belum
percaya. Lihat kem ari. Aku sam a sekali tak suka kau punya lagak
angkuh ini. Benci aku! Aku akan selalu m engawasim u, Tuan
Muda, dan bila ketahuan olehku kau masih masuk sekolah,
kukuliti kau hidup-hidup. Tak lama lagi pastilah kau menjadi
seorang alim . Kecewa aku punya anak seperti engkau!”

Ia mengambil sebuah gambar beberapa ekor sapi dan seorang
anak yang berwana biru dan kuning, bertanya, “Apa ini?”

“Hadiah karena aku m enghafalkan pelajaranku dengan baik.”
Bapak m erobek gam bar itu dan berkata, “Kuberi kau hadiah
yang lebih, cam buk kulit sapi!”
Beberapa saat ia m enggeram dan m enggerutu kem udian
berkata lagi, “Kau betul-betul seorang tuan m uda pesolek, yah?
Tempat tidur dengan kasur dan sprei, kaca, permadani, sedang
ayahm u terpaksa tidur bersam a babi-babi di tem pat penyam akan.
Belum pernah kulihat seorang anak seperti engkau. Aku berani
bertaruh, bila kau ada dalam tanganku semua kesombonganmu
akan lenyap. Tak ada batasnya keangkuhanm u, he, kata orang kau
sangat kaya. Betulkah kabar itu, he?”
“Itu hanya kabar bohong.”
“Dengar, hati-hati berbicara denganku. Yang sopan! Aku
sudah ham pir tak tahan lagi m elihat keangkuhanm u. Aku telah
berada di kota ini selam a dua hari, dan yang kudengar hanyalah
tentang kekakayaanm u. Bahkan berita itu telah kudengar jauh
sekali di hilir sungai. Itulah sebabnya aku pulang kem ari. Kau
am bil uang itu untukku besok, aku m enginginkannya.”
“Aku tak punya uang.”
“Bohong! Hakim Thatcher m enyim pannya. Am billah! Aku
m em erlukannya.”
“Aku tak punya uang. Kalau tak percaya tanyakan pada
Hakim Thatcher, ia pasti membenarkan kataku.”

Petualangan Huckleberry Finn 29

http://facebook.com/indonesiapustaka “Baik, akan kutanyakan, dan akan kuajar kesopanan dia.
Berapa uang yang ada di sakum u? Berikan padaku.”

“Hanya sedolar, dan akan kugunakan untuk....”
“Tak peduli akan kau apakan, tapi cepat berikan padaku!”
Bapak m enerim a uangku dan m enggigitnya untuk m em e-
riksa apakah tidak palsu, kemudian berkata bahwa ia akan pergi
m inum , katanya sehari penuh ia belum m inum . Baru saja ia
m encapai gudang kayu, ia kem bali m enjengukkan kepalanya
ke dalam dan memakiku serta memperingatkanku agar tidak
berlaku som bong padanya. Dan ketika kukira ia sudah pergi
jauh, ia muncul lagi di jendela untuk memberi peringatan agar
aku meninggalkan sekolahku, kalau tidak ia akan menghajarku
sampai mampus.
Hari berikutnya, Bapak sangat m abuk. Ia pergi ke rum ah
H akim Thatcher dan m em aki-m akinya, berusaha m em inta
uangku. Dan ketika tak berhasil, ia bersumpah untuk mengajukan
perkara ke pengadilan.
Hakim Thatcher dan Nyonya J anda m inta agar pengadilan
m em bebaskan aku dari Bapak dan m em ilih satu di antara m ereka
berdua untuk menjadi waliku. Tapi kini pengadilan diketuai
oleh seorang hakim baru yang tak m engenal keadaan daerah itu
dan belum kenal pada Bapak. Hakim baru itu m enolak untuk
m em isahkan aku dari Bapak. Terpaksa Hakim Thatcher dan
Nyonya J anda m enghentikan usahanya.
Keputusan pengadilan ini sangat m enggem birakan Bapak. Ia
berkata akan mencambuk badanku sampai biru-hitam bila aku
tak bisa m em berinya uang. Aku m em injam uang tiga dolar dari
Hakim Thatcher. Uang itu dipakai Bapak untuk m inum sam pai
mabuk. Ia berteriak-teriak keliling kota sambil memukul kaleng
hingga tengah malam, sampai ia ditangkap dan dimasukkan ke
dalam penjara. Hari berikutnya ia diadili dan dipenjarakan lagi
seminggu. Tapi ia berkata bahwa ia merasa puas menguasai lagi
a n a kn ya .

30 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Waktu hukum annya habis, hakim baru berkata akan
m engubah Bapak m enjadi m anusia baru. Diajaknya Bapak ke
rum ahnya, disuruh m andi dan diberi pakaian rapi, diajaknya
m akan pagi, siang, dan m alam bersam a keluarganya. Sem uanya
bersikap sopan pada Bapak. Selesai m akan m alam , hakim baru
itu m engajak Bapak berbicara tentang cara-cara hidup yang layak
dan sebagainya, sehingga akhirnya Bapak m encucurkan air m ata.
Bapak berkata betapa tolol ia telah m enghabiskan hidupnya, dan
kini ia akan membuka lembaran kehidupan dengan cara baru
hingga tak ada orang yang jijik padanya. Ia berharap agar hakim
m au m enolongnya dan tak m em andang rendah padanya. Hakim
berkata betapa gem biranya m endengar kata-kata itu, begitu
gem bira hingga ia dan istrinya sam pai m enangis. Bapak berkata
bahwa orang selalu salah m engerti tentang dirinya, dan yang
diperlukan oleh orang yang sedang jatuh di lem bah kehinaan
adalah pengertian. Sam pai waktunya tidur, Bapak berdiri dan
m engulurkan tangan seraya berkata, “Lihatlah, Tuan-tuan dan
Nyonya-nyonya, lihat tangan ini, peganglah, jabatlah. Tangan
ini tadinya tangan babi yang sangat kotor, tapi kini tidak lagi.
Ini adalah tangan orang yang akan m em ulai hidup baru, dan
m erasa lebih baik m ati daripada m engulangi kehidupannya yang
lalu. Ingatlah kata-kata ini, jangan lupakan bahwa akulah yang
m engatakannya. Tangan ini telah bersih kini, jabatlah, jangan
takut.”

Bergantian yang hadir m enjabat tangannya, kebanyakan
sambil menangis, malah istri hakim baru itu mencium tangan
tersebut. Kem udian Bapak m enandatangani sebuah pernyataan,
dengan tanda saja. Hakim berkata saat itu adalah saat yang pa-
ling suci dalam sejarah, atau kurang lebih begitulah. Semua
m engantarkan Bapak ke sebuah kam ar tidur khusus untuk tam u
yang besar dan indah. Malam harinya, Bapak m erasa haus. Ia
keluar lewat jendela, merambati atap beranda dan meluncur ke

Petualangan Huckleberry Finn 31

tanah melalui sebatang tiang. Ia pergi ke sebuah kedai minum,
m enukarkan bajunya yang baru dengan seguci besar arak dan
naik kem bali ke kam arnya untuk bersenang-senang m inum .
Menjelang pagi, ia keluar jendela lagi, sudah amat mabuk. Ia
terguling dari atap beranda dan jatuh hingga tangannya patah di
dua tem pat. Pagi harinya seseorang m enem ukannya, terbaring
ham pir m ati beku. Kam ar tidurnya telah berantakan tak keruan.

Betapa gem asn ya hati hakim baru itu. Katan ya, Bapak
tak lagi bisa diperbaiki, kecuali dengan menggunakan sepucuk
senapan. Tak ada cara lain yang m am pu.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka BAPAK BERTARUNG DENGAN
MALAIKAT MAUT

SEGERA SETELAH sem buh kem bali, Bapak m ulai m enuntut
Hakim Thatcher di pengadilan untuk m elepaskan haknya atas
uangku. Ia pun m ulai m enyakiti aku karena aku tak m au berhenti
bersekolah. Dua kali ia berhasil menangkap dan menghajarku,
tetapi aku tetap saja masuk sekolah. Sering kali aku berhasil
m en gelakkan diri dari Bapak atau lari m en in ggalkan n ya.
Sebelum nya aku tak begitu suka bersekolah, tapi kini untuk
m em anaskan hati Bapak, aku jadi senang sekali. Pengadilan
berjalan sangat lam bat, bahkan agaknya tak pernah m aju sam a
sekali. Maka aku terpaksa meminjam dua atau tiga dolar dari
Hakim Thatcher untuk m enghindari cam bukan Bapak. Uang
itu selalu digunakannya untuk m abuk, dan tiap kali m abuk ia
selalu membuat keributan besar di kota, dan tiap kali ia membuat
keributan, ia selalu dilem parkan ke dalam penjara. Agaknya
kehidupan beginilah yang paling cocok baginya.

Petualangan Huckleberry Finn 33

http://facebook.com/indonesiapustaka Ia begitu sering berkeliaran dekat rum ah Nyonya J anda
hingga akhirnya Nyonya J anda m engancam akan m enggunakan
kekerasan bila ia tidak m enghentikan kebiasaan itu. Bapak
menjadi amat marah, ia berkata akan membuktikan siapa
sebenarnya yang berkuasa atas diri Huck Finn.

Suatu hari di musim semi ia berhasil menangkapku,
m em bawaku ke dalam perahu dan berkayuh ke arah m udik. Setelah
m enem puh jarak kira-kira tiga m il, perahu itu dikem udikannya
m enyeberangi sungai arah tepi Illinois yang hutannya sangat
lebat dan tak berpenduduk. Di antara kelebatan hutan itu terdapat
sebuah gubuk dari balok kayu yang sangat tersem bunyi. Ke gubuk
itu aku dibawa Bapak.

Ia selalu mengawasiku dengan ketat, hingga tak pernah aku
dapat kesem patan untuk m elarikan diri. Kam i berdua tinggal
dalam pondok itu, pintunya senantiasa terkunci dan selalu dibawa
Bapak, bila m alam kunci itu ditaruhnya di bawah kepalanya.
Bapak m em punyai sepucuk bedil, m ungkin hasil curian. Kam i
hidup dari m engail dan berburu. Sesekali Bapak m engunciku di
dalam rumah, dan ia pergi ke kedai kira-kira tiga mil di arah hilir,
ke tempat tambangan, untuk menukarkan ikan atau hasil buruan
dengan wiski. Wiski itu dibawanya pulang, dim inum nya di rum ah
dan seraya m abuk ia m enghajarku. Akhirnya Nyonya J anda tahu
juga di m ana Bapak m enyem bunyikan aku. Disuruhnya seseorang
datang untuk m eram pasku dari Bapak, nam un Bapak berhasil
m engusir orang itu dengan bedilnya. Tak lam a setelah kejadian
itu, aku m erasa kerasan di tem patku yang baru itu dan m enyukai
kehidupan di situ, kecuali cam buk kulit lem bu Bapak.

Sungguh senang, bermalas-malasan sepanjang hari, bebas
m erokok dan m engail, tanpa buku dan tak usah belajar. Cepat
sekali dua bulan atau lebih lewat. Bajuku telah com pang-cam ping
dan kotor. Aku tak m engerti bagaim ana dulu aku bisa tahan di
rum ah Nyonya J anda, di m ana aku harus m em bersihkan diri,

http://facebook.com/indonesiapustaka 34 Mark Twain

m akan di piring, m enyisir ram but, pergi tidur dan bangun pada
waktu tertentu, selalu disibukkan oleh buku dan selalu diawasi
oleh Nona Watson. Aku tak m au lagi kem bali ke kehidupan itu.
Pernah aku sama sekali berhenti memaki, karena dilarang oleh
Nyonya J anda, kini aku gem ar m em aki lagi karena Bapak tak
berkeberatan. Pokoknya cukup senang kehidupan di hutan itu.

Tapi lam a-kelam aan Bapak terlalu sering m enggunakan
tongkat pem ukulnya hingga akhirnya aku tak tahan juga. Seluruh
tubuhku telah penuh bilur bekas pukulan. Bapak pun lebih sering
lagi pergi keluar, mengunciku di dalam rumah. Sekali pernah aku
dikuncinya selam a tiga hari berturut-turut. Sangat sepi terasa.
Kukira Bapak telah m ati terbenam dan aku tak akan bisa keluar lagi
selam a-lam anya. Aku jadi sangat ketakutan. Kuputuskan untuk
mencari suatu jalan keluar. Tapi usahaku selalu tak berhasil. Tak
ada jendela yang cukup besar bahkan untuk seekor anjing kurus
pun. Cerobong asapnya juga am at sem pit. Pintunya terbuat dari
lem pengan kayu oak yang tebal dan keras. Bapak cukup berhati-
hati untuk tidak m eninggalkan pisau atau benda tajam lainnya
di rumah bila ia pergi. Ratusan kali aku mencoba mencari benda
tajam , m alahan ham pir selalu itulah yang kukerjakan untuk
m elewatkan waktu bila aku sendirian, dan hasilnya nihil. Nam un
kali ini agaknya aku beruntung, kutem ukan sebilah gergaji
kayu tanpa pegangan, terselip di antara rusuk atap. Kum inyaki
gergaji itu dan aku mulai bekerja. Di bagian belakang pondok,
di belakang m eja, dindingnya ditutup dengan selim ut kuda yang
dipakukan untuk m encegah m asuknya angin lewat celah-celah
balok. Aku m asuk ke bawah m eja dan m engangkat selim ut itu dan
mulai menggergaji balok dasar dinding, untuk membuat lubang
cukup besar bagiku. Pekerjaan berat dan lama sekali, tapi peker-
jaan itu sudah ham pir selesai waktu kudengar suara bedil Bapak
di hutan. Cepat-cepat kusem bunyikan bekas-bekas pekerjaanku,

Petualangan Huckleberry Finn 35

http://facebook.com/indonesiapustaka kututupkan kem bali selim utnya dan kusem bunyikan gergajiku.
Baru saja aku selesai, Bapak m asuk.

Bapak sedang dalam keadaan biasa, yaitu sedang m arah-
m arah. Katanya ia baru saja datang dari kota, dan keadaannya
sam a sekali tak beres. Pengacaranya berkata bahwa ia bisa
m em enangkan perkaranya di pengadilan asal saja perkara itu bisa
segera disidangkan. Tetapi banyak cara untuk m enunda-nunda
persidangan itu, dan Hakim Thatcher sangat berpengalaman
dalam hal ini. Kata orang akan disidangkan lagi perkara untuk
m em isahkan aku dari Bapak dan m em berikan aku pada Nyonya
J anda yang agaknya kali ini akan berhasil. Ini m em buatku
khawatir, aku tak ingin kem bali lagi ke rum ah Nyonya J anda
untuk dikekang dan dididik m enjadi orang baik-baik. Kem udian
Bapak m ulai m em aki-m aki siapa yang diingatnya, dan diulangi
lagi satu per satu untuk m eyakinkan dirinya bahwa tak ada yang
kelewat, setelah itu ia m elengkapi daftar m akian itu untuk sem ua
orang, term asuk beberapa orang yang tak diketahui nam anya,
dan terpaksa dipanggilnya sebagai si ‘anu’ bila sam pai pada
gilir a n n ya .

Bapak ingin sekali m elihat bagaim ana Nyonya J anda bisa
m eram pas diriku darinya. Ia akan selalu waspada, bila ada
gejala-gejala tidak baik, aku akan disem bunyikan di suatu tem pat
enam atau tujuh m il dari tem pat itu, begitu tersem bunyi hingga
tak mungkin bisa diketemukan oleh siapa saja. Ini membuatku
khawatir sekali, tetapi hanya sesaat, kukira bila saat itu tiba aku
telah lolos dari cengkeraman bapak.

Bapak m enyuruhku pergi ke biduk, dan m engam bil barang-
barang bawaannya. Barang-barang itu adalah sekarung jagung
makanan dengan berat lima puluh pon, sepotong besar daging
babi, m esiu, seguci wiski sebanyak em pat galon, sebuah buku tua
dan dua lembar karton untuk sumbat, serta beberapa helai tali
rami. Selesai membawa beban aku duduk beristirahat di haluan

36 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka biduk itu. Kupikir aku akan m elarikan diri dengan m am bawa
senjata Bapak dan beberapa tali kail kem udian m asuk hutan. Aku
tak akan tinggal terus di suatu tempat, tetapi terus saja menjelajahi
seluruh daerah dan berburu serta mengail untuk hidup. Dengan
berjalan hanya di waktu m alam , kupikir aku akan bisa jauh sekali
m eninggalkan Bapak serta tak bisa ditem ui olehnya ataupun
oleh Nyonya J anda. Bila m alam nanti Bapak m abuk berat, akan
kuselesaikan lubang di dinding gubuk kem udian pergi. Begitu
terbenam aku dalam pikiran-pikiran itu hingga aku lupa waktu
dan sadar kem bali waktu Bapak berteriak m em anggilku, bertanya
apakah aku tertidur ataukah mati terbenam.

Aku telah selesai m em bawa barang-barang waktu m atahari
terbenam . Waktu aku m em asak untuk m akan m alam , Bapak
m eneguk m inum an kerasnya untuk m enghangatkan tubuh, dan
mulai mabuk lagi. Ia telah mabuk di kota, dan semalam tidur
di selokan hingga rupanya tak keruan. Seluruh tubuhnya pe-
nuh lum pur hingga rupanya tak berbeda dengan Nabi Adam
waktu baru saja diciptakan oleh Tuhan. Bilam ana m inum an
keras m ulai m enguasai dirinya, ia selalu m enyerang pem erintah.
Kali ini ia berkata, “Inilah yang dinam ai pem erintah? Cih,
lihatlah! Hukum dipersiapkan untuk merebut seorang anak dari
ayahnya, seorang anaknya sendiri yang telah dibesarkannya
dengan bersusah payah. Ya, pada waktu anak itu sudah siap untuk
bekerja m em bantu ayahnya agar si ayah bisa istirahat, hukum
bangkit dan m erebutnya! Inikah pem erintah yang baik? Bukan
hanya itu. Hukum juga m em bantu si tua Hakim Thatcher itu
untuk m eram pas hartaku. Inilah yang dikerjakan hukum , hukum
m elem parkan seseorang yang m em punyai harta enam ribu dolar
lebih ke dalam gubuk jelek seperti ini dan m em buatnya ber-
keliaran dengan pakaian yang untuk seekor babi pun tidak pantas.
Inilah yang m ereka nam akan pem erintah. Kadang-kadang tim bul
keinginanku untuk minggat saja dari sini, pergi dan tak akan

Petualangan Huckleberry Finn 37

http://facebook.com/indonesiapustaka kem bali lagi. Ya, dan telah kukatakan pula hal ini pada m ereka,
kukatakan juga pada si tua Thatcher itu. Banyak saksinya. Kataku,
diupah dua sen saja mau aku meninggalkan daerah ini untuk
selam a-lam anya. Itulah kata-kata yang kupergunakan. Kataku,
lihatlah topiku—bila saja kalian m asih bisa m enyebutnya sebagai
topi—tutup kepalanya naik ke atas sedang yang lainnya turun
hingga menutupi daguku, boleh dikatakan aku tidak memakai
topi sama sekali melainkan kumasukkan kepalaku pada sebuah
potongan cerobong kom por. Lihat aku, kataku, yang harus
memakai topi semacam ini, padahal aku adalah salah seorang
terkaya di kota ini bila saja aku bisa m endapatkan hakku. Oh, ya,
betapa bagusnya pem erintahan ini. Sangat bagus! Coba dengar.
Ada seorang negro bebas yang datang dari Ohio. Ia berdarah
cam puran, kulitnya sudah ham pir seputih kulit orang putih.
Ia m em akai baju paling putih yang pernah kau lihat, dan topi
yang paling indah. Tak ada orang di kota ini yang punya pakaian
sebagus m iliknya. Dia m em akai rantai arloji dari em as, m em -
bawa tongkat berkepala perak. Agaknya dialah orang terkaya
di negara bagian ini. Dan tahukah kau, kata orang dia adalah
seorang profesor di perguruan tinggi, dan bisa berbicara dalam
berbagai bahasa. Bukan itu saja. Kata orang di tem pat asalnya,
ia punya hak pilih! Terlalu. Kupikir, apa jadinya negara ini
nanti? Waktu itu hari pem ilihan um um . Aku akan m enggunakan
hak pilihku, dan bila saja aku sedang tidak mabuk pastilah aku
telah memasukkan kartu suaraku. Tapi ketika aku diberi tahu
bahwa ada sebuah negara bagian di mana seorang negro dibo-
lehkan memilih, aku memutuskan untuk sama sekali tak akan
m em ilih lagi. Aku bilang, biarlah negeri ini m em busuk, aku tak
akan m em ilih lagi. Banyak yang m endengar kata-kataku itu. Dan
betapa tenangnya negro tadi, yang tak m au m enyingkir waktu aku
akan lewat bila saja ia tak kudorong ke sam ping. Aku bertanya
pada orang-orang, mengapa negro ini tidak dijual di pasar lelang?

38 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Itulah yang ingin kuketahui. Dan tahukah kau apa jawab m ereka?
Kata m ereka, negro itu tak bisa dijual karena ia belum berada di
daerah ini selam a enam bulan. Itulah undang-undangnya. Itulah
yang dinam akan pem erintah yang tak bisa m enjual seorang negro
bebas karena ia belum enam bulan di sini. Itulah pemerintah
yang m enam akan dirinya pem erintah, dan berbuat seolah-olah
pem erintah, dan berpikir bahwa dirinya adalah pem erintah,
tapi harus menunggu selama enam bulan untuk bisa menguasai
seorang negro bebas yang bergelandangan, tukang curi, tak punya
kesopanan, berpakaian putih, dan....”

Bapak begitu sibuk hingga tak m em perhatikan ke m ana
kakinya m elangkah. Ia tersandung pada bak tem pat daging babi
asin, jatuh tunggang langgang hingga kedua tulang keringnya
lecet-lecet. Makiannya jadi m enghebat, kebanyakan ditujukan
pada pem erintah, bukannya pada bak yang m em buatnya jatuh.
Ia berlompatan berkeliling ruangan, sekali dengan kaki kiri,
sekali dengan kaki kanan, bergantian pula ia mengusap-usap
tulang keringnya yang kesakitan. Akhirnya ia m engayunkan kaki
kirinya untuk m enendang bak tadi sekeras-kerasnya. Nam un itu
adalah tindakan yang tak m enguntungkan, sebab ternyata kaki
itulah yang m em akai sepatu berlubang ujungnya hingga terpaksa
ia m enjerit kesakitan. J eritan itu sangat hebatnya, m em buat
bulu kudukku berdiri. Kini ia berguling-guling di lantai sam bil
m em egang-m egang jari kakinya yang kesakitan, m aki-m akian
yang diucapkannya m engatasi m aki-m akian sebelum nya. Itu
diakuinya sendiri kem udian waktu ia sadarkan diri. Ia pernah
m endengar Sowberry Hagan, si juara m em aki. Dan katanya m aki-
m akiannya waktu kesakitan jari kakinya itu bahkan m engalahkan
m aki-m akian Sowberry Hagan. Nam un agaknya Bapak m elebih-
lebihkan saja. Mungkin.

Selesai m akan m alam , Bapak m inum lagi dari gucinya. Ia
berkata wiski di guci itu cukup untuk m em buatnya dua kali

Petualangan Huckleberry Finn 39

http://facebook.com/indonesiapustaka m abuk dan m ata gelap. Itulah selalu kata-katanya. Kukira dalam
waktu sejam ia akan mabuk sekali sehingga aku bisa mencuri
kunci pintu atau m enggergaji dinding, salah satu. Bapak terus
saja m inum , sam pai akhirnya ia jatuh terguling ke selim utnya.
Nam un agaknya aku sedang tak beruntung, ia tak segera tidur
nyenyak, sangat gelisah. Lam a sekali ia m enggeram , m engeluh,
dan berguling-guling ke sana-kem ari. Akhirnya aku begitu m e-
ngantuk hingga berat sekali terasa untuk membuka mata. Tanpa
terasa aku tertidur, lilin m asih m enyala.

Aku tak tahu berapa lam a aku tidur, aku tersentak terba-
ngun oleh suatu jeritan yang m engerikan. Bapak kelihatannya
liar sekali, m elom pat-lom pat dan berteriak tentang ular. Katanya
kakinya diram bati banyak sekali ular. Sam bil m elom pat dan
m enjerit, ia berkata bahwa seekor ular telah m enggigit lehernya. Ia
berlari berkeliling ruangan m enjerit-jerit, “Lepaskan! Lepaskan!
Ia m enggigit leherku!” Tak pernah kulihat seseorang berm ata
sebuas itu. Segera juga ia roboh kehabisan napas. Ia berguling-
guling di lantai, m enyepak sem ua benda yang ada dalam
jangkauan kakinya, sem entara tangannya m em ukul-m ukul dan
m erenggut-renggut udara. Kini ia m enjerit-jerit tentang iblis yang
hendak m enangkapnya. Setelah agak lam a ia berbaring dengan
diam kelelahan, m ulutnya m engaduh. Kem udian ia berbaring
lebih diam lagi, tak bersuara. Aku bisa m endengar suara burung
hantu dan serigala di hutan. Suara itu membuat suasana makin
sunyi terasa. Bapak terbaring di sudut ruangan. Akhirnya ia
bangkit perlahan, m em asang telinga, kem udian berbisik, “Blug-
blug-blug-blug, itulah langkah m alaikat m aut. Blug-blug-blug-
blug, mereka datang untuk mengambilku, tapi aku tak akan mau
pergi bersama mereka. Oh, mereka ada di sini! J angan sentuh
aku, jangan! J angan pegang aku, tanganm u dingin! Lepaskan!
Lepaskan aku!”

Bapak m erangkak pergi sem entara m ulutnya tak putus-
putusnya m inta agar dia dilepaskan. Ia m em bungkus dirinya

40 Mark Twain

dengan selim ut dan bersem bunyi di bawah m eja. Kudengar ia
m en a n gis.

Tiba-tiba ia berguling keluar dari bawah m eja dan selim utnya,
dengan buas ia m elom pat ke arahku. Sam bil m enghunus pisaunya,
ia berlari mengejarku, memanggilku sebagai Si Malaikat Maut. Ia
berkata akan m em bunuhku agar aku tak bisa m em bawanya pergi.
Aku berteriak bahwa aku hanyalah Huck, tapi ia m alah tertawa
m enyeram kan, m enggeram dan m em aki, terus saja m engejarku.
Sekali aku berputar terlalu dekat di bawah tangannya, ia berhasil
m encengkeram leher baju jaketku. Kupikir habis sudah riwayatku,
namun aku berhasil dengan cepat melepaskan jaketku hingga aku
lolos. Segera juga Bapak kehabisan tenaga, roboh bersandar di
pintu. Katanya ia akan beristirahat, sem enit, kem udian akan
m em bunuhku. Ditaruhnya pisau di bawah tubuhnya, dan ia
berkata akan tidur untuk mengumpulkan tenaga.

Tak lama ia telah mendengkur. Perlahan sekali aku
m engam bil kursi lipat, berdiri di atasnya untuk m engam bil
senapan. Kuperiksa betul-betul untuk m eyakinkan diriku bahwa
senapan itu berisi peluru, kem udian kutaruh di atas tong sayuran,
m enghadap ke arah Bapak. Aku duduk di balik tong, di belakang
senjata itu, m enunggu sam pai Bapak terbangun. Betapa pelannya
waktu berlalu.

http://facebook.com/indonesiapustaka


Click to View FlipBook Version